Iman seorang pembantu Kristen di Pakistan.

Kisah nyata.
Diterjemahkan dari:
The Voice of the Martyrs
20090308_1064
Parveen M. seorang pembantu rumah tangga berusia 23 tahun, ia bekerja di sebuah keluarga Muslim. Dengan gaji 17 USD sebulan ia boleh menopang keuangan keluargannya. Bapa dan abangnya yang berpenghasilan tidak menentu. Pakistan adalah satu dari beberapa negara Islam dimana orang Kristen diperlakukan sangat buruk, mereka sangat miskin secara jasmani dan material.

Setiap minggu Parveen berkunjung ke gereja dan aktif di paduan suara. Malamnya ia membaca Alkitab di rumah dengan keluarganya. Pada suatu hari Sabtu mulailah pengalaman pahit yang panjang menimpa dirinya, Fatima nyonyanya berkata, ”Besok kamu tidak libur. Datang kerja. Beberapa tamu akan datang besok ke sini.” ”Besok adalah hari Minggu, nyonya, dan itu adalah hari libur saya”, jawab Parveen lembut. Apa yang khusus pada hari Minggu? Mengapa kamu tidak bisa datang kerja pada hari Minggu?, nyonyanya bertanya. “Kami kegereja setiap hari Minggu,” kata Parveen.

Sejak Saptu ini keluarga Fatima merencanakan penganiayaan kepada Perveen. Esoknya Perveen sebagaimana biasanya setiap Minggu, ia saat itu sedang bersiap-siap untuk pergi kegereja. Nyonya memanggil dia untuk datang kerumahnya dan bertanya ada apa. Fatima meminta ia membersihkan rumah. ”Saya sedang bersiapa-siap untuk berangkat ke gereja, saya telat nyonya.” jawab Parveen.
Maka keluarlah apa alasan sebenarnya Fatima memanggil pemudi ini: ”Mengapa mengikuti Yeshua Ha Mashiah dan memanggil Dia Anak Elohim? Mengapa pergi ke gereja? Tidak benar bahwa Yeshua adalah Anak Elohim. Nabi suci kami Muhammad adalah yang terakhir dan nabi yang dicintai Allah.”
Parveen menjawab dengan singkat: ”Tetapi adalah benar bahwa Yeshua Ha Mashiah adalah Yahweh kami. Saya mengasihi Dia dan ingin melayani Dia.”
Maka meledaklah kemarahan Fatima, ia berteriak: ”Kalian orang Kristen adalah manusia golongan kelas ketiga. .(dan kata-kata kutukan lainnya keluar)..:” [Begitulah orang Kristen dipandang oleh orang Muslim di Pakitstan].

Di depan rumah nyonya ini, Parveen dipukuli, ditendang dan dikutuki. Tidak cukup di situ Fatima menarik Parveen kedalam rumahnya. Ia memerintahkan kedua anak perempuannya dan suaminya, Muhammad Tariq, membantu dirinya untuk memukuli gadis malang ini. Seperti kesurupan keempat orang ini memukuli dan berteriak-teriak: “Berhenti berkata, bahwa Yeshua Ha Mashiah adalah Yahweh-mu. Tariq berkata sambil memukul: “Akui Islam, katakan dua kalimat Sahadat kami.” ”Tidak, saya tidak bisa lakukan”, jawab Parveen.
Kemudian Fatima berkata, ”Kamu hanyalah seorang pembersih rumah. Jika kamu mau menerima Islam, kami akan menghadiahkan kamu 100 ribu rupii. Kamu bisa gunakan untuk keluargamu.” Melihat keatas, kewajah nyonyanya, Parveen berkata: ”Meskipun kalian menawarkan kepadaku 10 juta, saya tidak akan menjadi orang Muslim.”
Mereka mengancam dia dan berkata: ”Jika kamu tidak mengakui agama kami, kami akan memukuli kamu, kami akan tuduh kamu mencuri uang kami dan menghina nabi Muhammad.” Setelah tiga jam Perveen ’dihakimi’, dengan luka-luka di seluruh tubuhnya ia disekap di sebuah kamar.

Malamnya Muhammad Tariq dan putranya membuka gembok kamar di mana Parveen terkurung. Tariq dengan memeras kuat-kuat tangan Parveen ia berkata: ”Apa keputusanmu? Menerima agama kami atau tidak?”
Dengan penolakan yang tegas ia berkata: “Tidak, saya tidak bisa menerima agama Islam.” Dua malam ia hanya diberi roti dan sedikit sayur, tanpa air.

Orang tua Parveen, Majeed dan Nasreen, mencari putri mereka. Namun mereka diusir oleh keluarga Tariq dengan perkataan bohong: ”Kami ada beberapa tamu dan Parveen sedang bekerja. Besok ia pulang kerumah.”

Hari Senin pukul 6 malam orang tuanya datang lagi kali ini bersama dengan beberapa orang seiman untuk menjemput putri mereka. Dan mereka berhasil.

Parveen bercerita tentang hari-hari penyiksaannya di rumah tuannya itu: “Pemukulan mereka begitu buruk, tapi saya tidak nangis sedikitpun, sebab saya ingin menunjukkan kepada mereka bahwa saya bahagia bersama Yeshua saya. … Saya berbahagia menderita sebagai saksi dari Ha Mashiah Yeshua. Saya bangga atas Dia. Saya berdoa dan bernyanyi Mazmur 23 di dalam hati saya: ”YAHWEH adalah gembalaku… aku tidak takut bahaya,”

Berkat bantuan doa dan dana para saudara seiman di seluruh dunia Parveen sekarang bisa bebas dan mandiri dengan hadiah mesin jahit yang ia dapatkan. Dan ia juga mengajari wanita-wanita lainnya untuk belajar menjahit.
”Sekarang saya bebas dari ketakutan dera, ancaman dan penghinaan, di rumah saya bekerja, berdoa dan melayani YAHWEH … kapanpun saya mau. Haleluyah!”, ia berkata dengan suka cita.

Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Mashiah? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Elohim, yang ada dalam Ha Mashiah Yeshua, Yahweh kita. (Rom 8:35-39 )

Berdoalah dan ingatlah saudara-saudarimu yang tertindas oleh karena nama-Nya. Mereka memerlukan bantuan Kita.

 

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja
About these ads

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s