Mark A. Gabriel: Izinkan saya memperkenalkan Anda pada Yeshua/ Yesus dan Muhammad.

Kesaksian pribadinya ini diambil dari bukunya yang berjudul Jesus and Muhammad; Profound Differences and Surprising Similaritie. Bagian 1.

Dr. Mark a. Gabriel adalah seorang bekas professor sejarah Islam pada Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Ia menguasai bahasa Arab Klasik, bahasa asli Kuran, mampu mengafal seluruh isi Kuran sejak usia 12 tahun.

 

TUMBUH DALAM ISLAM
Pada suatu hari yang indah di musim dingin di Mesir, udara terasa sangat dingin, dan matahari bersinar terang. Saya baru saja menyelesaikan sarapan di rumah di mana saya tinggal bersama Bapak, Ibu, Adik, Kakak, Kakek, dan Paman. Saya berusia lima tahun waktu itu, tetapi saya ingat hari itu secara jelas.

Paman berkata kepada saya, ”Kita akan membaca Alkuran secara bersama-sama. Sudahkah kamu mengambil Kuranmu?” Segera saya mengambil sebuah buku tipis yang paman berikan pada saya. Itu bukanlah seluruh bagian Kuran tapi hanya sepertinganya.

Paman saya baru saja lulus dari kampus Islam paling terkenal di dunia, Al-Azhar di Kairo. Dam usia ketiga puluh, dia sekarang adalah imam di masjid terbesar di daerah kami dan orang yang dihormati oleh semua Muslim saleh.

Kami berjalan bergandengan tangan menyeberangi jalan ke kebun keluarga kami yang ditanami dengan anggur, buah ara dan pohon jeruk. Kebun itu berada setelah kanal dan saat kami duduk di pinggiran, kami dapat melihat pemancing, perahu dayung, dan petani membawa air untuk minum dan mandi kerbau mereka.

Pamanku mulai membaca. Kata-kata yang akrab karena saya sering mendengar kata-kata itu sepanjang hidup saya di Masjid, radio, dan dari pembaca Kuran yang kami bayar untuk datang ke rumah kami. Paman saya membaca ayat pertama dari bab terakhir dari Kuran, kemudian dia meminta saya untuk mengulanginya kembali. Kemudan, saya melakukannya. Kemudian dia memperbaiki pengucapan saya dalam bahasa Arab klasik dan meminta saya untuk mengulanginya kembali. Saya melakukannya. Kami melakukannya beberapa kali saya mengingat ayat ini secara sempurna. Lalu kami menuju ayat yang kedua.

Kami melakukan 3 sampai 4 ayat dengan cara ini. Lalu kemudian kami dihentikan. Orang selalu ingin bertanya kepada paman saya mengenai iman dan hukum Islam karena ia adalah salah satu dari sedikit sarjana yang tinggal di daerah kami. Saat saya menunggunya, saya bermain air di pinggir sungai. Kemudian dia memanggil saya, ”Kembali ke Ibumu dan minta dia menyiapkan kamu untuk pergi ke Masjid.”

Saya berlari kembali ke rumah saya, dan saat saya sampai di pintu depan, saya mendengar kakek saya memanggil, ”Kemari, kemari.” dari kamarnya. Kakek saya sudah berusia 80 tahun dan menjadi buta. Saya sangat menyayangi dia, dan saya lari ke kamarnya dan mencium tangannya saat dia berbaring di tempat tidurnya. Lalu saya melompat ke tempat tidur dan memeluknya. Ia berkata, ”Katakan kepada saya apakah kamu sudah membaca Kuran?”
Saya menjawab, ”Iya.”.
Dia berkata, ”Ucapkan kepada saya.” Dan saya melakukannya.
Dia sangat senang mendengarnya. ”Anak muda,” Dia berkata, ”Saya mengucap syukur kepada Allah untukmu. Kamu akan mengingat seluruh Alkuran. Kamu akan menjadi cahaya di rumah kita.” Saya mengangguk dan kemudian keluar dari kamar dan bersiap ke masjid. Hari itu adalah hari Jumat, hari khusus di Islam saat khotbah diberitakan di Masjid. Ibu saya membantu memakaikan baju putih dan peci–pakaian tradisional kami untuk pergi ke Masjid, Setelah paman saya siap, kami berjalan setengah mil ke Masjid bersama sekeluarga. Paman saya memberikan khotbah. Ayah saya, Kakak saya, dan saya duduk di barisan depan laki-laki. Ibu saya, Adik saya, dan saudara wanita saya duduk di belakang di bagian perempuan. Itu adalah yang saya ingat dari hari pertama saya membaca Alkuran.

JALAN HIDUP
Dari hari itu dan seterusnya, paman saya menjadi pembimbing saya. Dia mengajarkan saya hampir setiap hari.
Saat berusia enam tahun, dia mengirim saya ke sekolah dasar Al-Azhar. Ada lima puluh sekolah dasar di provinsi kami. Tetapi, hanya ada satu sekolah dasar Al-Azhar. Ini adalah sekolah elit yang fokus kepada ajaran agama Islam. Tidak ada satupun dari saudaraku yang sekolah di sini, tetapi tidak ada yang iri atau marah tentang hal ini. Mereka hanya bangga dan merayakan apa yang saya capai. Orang mulai memanggil saya ”Kyai kecil”.

Saya mengingat lebih dari apa yang sekolah minta. Akibat dari apa yang paman saya lakukan bersama saya untuk mengingat seluruh isi Kuran (yang hampir sama panjangnya dengan isi Perjanjian Baru) pada usia muda.

Hampir setiap pagi, saya pergi bersama ayah dan paman saya untuk melakukan doa pagi di Masjid, yang mulai pada pukul 03.30. Dan selesai sekitar pukul 04.30 (tergantung dari waktu tahun itu). Setelah doa, Ayah dan Paman saya bisanya pulang ke rumah untuk tidur 2 jam lagi sebelum berangkat kerja. Saya biasanya tinggal di Masjid dengan Kuran saya. Sebelum saya memulai mengingat ayat baru, saya mencoba untuk mengingat ayat yang saya ingat 2 hari yang lau. Setelah saya yakin ingatan saya OK, saya mulai dengan ayat yang baru.

Saya membaca ayat pertama dari sebuah bagian. Lalu saya menutup Kuran dan mengulangi ayat sembari berjalan dari ujung ke ujung ke ujung dari Masjid. Saat saya selesai dengan ayat pertama, saya membuka Kuran saya dan mulai mebaca ayat kedua. Saya teus melakukan ini sampai saya mengingatnya dengan baik.

Saya sangat hati-hati untuk menjaga apa yang saya pelajari, jadi saya menghabiskan dua atau tiga hari dalam sebulan untuk mengulang. Jika anda bertanya kepada saya tentang apa yang sya ingat bulan lalu, itu semua ada di pikiran saya.

SETELAH TUJUH TAHUN…
Paman tidak hanya membantu saya mengingat, tetapi dia juga memastikan bahasa Arab klasik-bahasa asli dari Alkuran. Pembicara Arab rata-rata tidak bisa mengerti tipe bahasa ini dengan baik, dan mempelajari bahasa ini adalah bagian penting dari pendidikan agama.

Selama 7 tahun paman mengajari saya, ayat demi ayat dan bab demi bab. Saat saya 12 tahun, saya telah selesai mengingat Quran. Menurut sistem belajar Al-Azhar, saya tidak perlu mengingat Kuran sampai saya menyelesaikan sarjana empat tahun di universitas. Jadi, saya yang masih sangat muda sudah dapat melakukannya.

Tidak perlu dikatakan, keluarga saya sangat bahagia. Mereka mengadakan perayaan besar untuk seluruh kaum kami di sebuah aula yang besar yang dibangun untuk perayaan spesial kaum kami. Saya tidak akan pernah lupa, Kakekku yang buta ada di sana, memanggil saya, ”Anakku, d mana Anakku?” Saya berlari kepadanya, dan dia hanya memelukku, ia meneteskan air mata dari wajahnya.

Dapat mempelajari Kuran membuat saya memiliki porsi hormat yang tidak biasa sebagai anak kecil. Orang meperlakukan saya sebagai orang suci karena saya membawa Kitab Suci di pikiran saya.
Sejak saat itu, saya secara teratur membaca dan mengulang Alkuran untuk mnyakinkan saya tidak lupa apa yang sudah saya pelajari.

SUKSES DI BEASISWA
Saat saya memasuki sekolah menengah atas Al-Azhar, salah satu tugas utama kami adalah mengahapal bagian-bagian utama dari hadist.
Banyak orang barat tidak tahu apa itu hadist, jadi ijinkan saya untuk menjelaskannya. Hadist, diucapkan ha-DEETH, adalah catatan dari pengajaran dan tindakan Muhammad. Catatan ini dicatat oleh murid-murid terdekatnya dan bahkan istri-istrinya. Contoh, sebuah hadist dapat menggambarkan bagaimana Muhammad berdoa, bagaimana dia menyeleaikan pertikaian antara 2 muslim, atau peristiwa yang terjadi seama peperangan. Beberapa hadist hanya satu kalmat panjangnya, sementara yang 1 atau 2 halaman. Biasanya, panjangnya sekitar 3 paragraf.

Pengikut Muhammad sangat berdedikasi untuk menyimpan catatan apa yang dia lakukan atau katakan. Terdapat lebih dari setengah juta hadist! (untuk informasi lebih lanjut, lihat Appendix A [tidak dilampirkan pada tulisan ini]).

Tentu saja, tidak ada di antara kami harus menghapal semua hadist. Tapi sekolah memiliki beberapa hadist pilihan untuk diingat setiap semester. Pada hari pertama dari kelas hadist, guru akan membagikan buku berisi hadist yang harus kami hapalkan selama semester itu. Terdapat beberapa ratus hadist di tiap buku.

Kami menghapal 1 sampai 3 hadist per hari selama masa sekolah. Paman saya biasa mengajarkan saya untuk megingat beberapa hadist tambahan, dan saya mengingat beberapa hadist lainnya untuk diri sendiri. Paman saya mengajarkan saya untuk berkhotbah di Masjid, yang saya mulai lakukan dari waktu ke waktu walau saat saya masih di SMA. Setelah menyelesaikan SMA, saya telah menghapalkan kira-kira 500 sampai 600 hadist.

Tidak perlu dikatakan, pendidikan agama d SMA sangat cermat. Saat siswa lulus dari SMA AL-Azhar pada usia 18 tahun, mereka dapat memimpin doa dan mengajar di Masjid tanpa pendidikan lebih lanjut.
Saya adalah seorang Muslim yang taat pada waktu itu, hati saya hanya untuk mengikuti teladan Muhammad dalam apa yang saya lakukan.

MEMASUKI UNIVERSITAS
Setelah lulus SMA, kakak saya menyarankan saya untuk masuk di fakultas farmasi. Tapi, yang lainnya mendesak untuk melanjutkan ilmu agama saya. Jadi saya masuk ke Unversitas Al-Azhar di Kairo dan memilih belajar di fakultas bahasa Arab seperti paman saya, yang adalah pemimoin saya, lakukan sebelum saya.

Siap saja dari latar belakang Muslim pasti tahu Universitas Al-Azhar karena itu adalah kampus paling terkenal di dunia Islam. Pengaruhnya susah digambarkan oleh orang barat karena tidak ada kampus di dunia barat dengan status yang sama. Kampusnya sangat besar-sampai 90.000 mahasiswa pada kampus-kampus yang tersebar di seluruh Mesir. Luar biasa tua-Masjid Agung di Al-Azhar diselesaikan pada tahun 972 dan proses akademis dimulai tiga setengah tahun kemudian1. Memiliki pengaruh yang luar biasa besar-dan media Islami menjulukinya sebagai ”otoritas Islam Sunni terbesar’’.

Saya selalu menikmati belajar sejarah, jadi saya memilih jurusan sejarah dan budaya Islam. Saya ingin belajar lebih mengenai kesabaran, keberanian, dan komitmen Muhammad dan pengikutnya yang saya sangat kagumi.

Pada hari pertama pelajaran, saya menerima pengenalan kejutan dari tipe pengaaran yang saya akan terima. Sheikh yang mngajarkan pelajaran pertama hari itu adalah orang pendek dengan kulit gelap, kumis tipis, dan kacamata tebal. Dia mengatakan kepada kami, ”Saat saya mengatakan sesuatu, kamu harus menerimanya sebagai kebenaran. Saya tidak mengijinkan setiap bentuk diskusi. Apa yang tidak saya katakan, itu tidak layak dipelajari. Dengar dan taat, dan jangan bertanya satu pertanyaan pun.”
Saya sangat terganggu dengan filosofi ini, dan saya berdiri untuk bicara. Sheikh segera menyadari hal tersebut karena saya duduk di baris kedua. Saya berkata, ”Tuan Sheikh, bagaimana bisa mengajar tanpa pertanyaan?”
”Dari mana engkau berasal, anak muda?”
dia bertanya.
“Dari Mesir.” saya menjawab, lupa bahwa saya jelas sekali adalah seorang Mesir.
“Aku tahu-tapi dari mananya Mesir?”
Saya menyebutkan nama kota saya., lalu ia menjawab dengan pedas, ”Jadi, kamu adalah orang tolol!” Dia mengatakan begitu karena orang dari daerah saya selalu melihat ke bawah.
Saya menjawab, ”Ya, saya pasti seekor keledai untuk meninggalkan rumah saya untuk datang ke sini dan dihina!”
Kelas menjadi sunyi. Saya bangun dari kursi saya dan menuju intu untuk meninggalkan ruangan. Sheikh berteriak kepada saya, ”Stop! Kamu binatang! Siapa namamu?”
”Tidaklah sopan bagi saya untuk memberitahu Anda,” kata saya dengan dingin.
Saat itu Sheikh menjadi sangat marah dan membuat saya keluar dari kampus dan mendepak saya ke jalanan. Saya meninggalkan ruangan dan menuju ke dekanfakultas. Saya memberitahu dia apa yang terjadi. Setelah Sheikh tersebut selesai mengaja, dekan memanggil dia ke kantornya.

Dekan secara ahli menyakinkan Sheikh untuk memaafkan saya, dan dia juga membujuk saya untuk lebih toleran kepadanya. ”Terima dia sebag figur Ayah. Dia berkat yang hanya ingin untuk mengoreksi kamu, bukan untuk menghina kamu.”

Kejadian itu memperkenalkan saya cara untuk diam dan penundukan yang diharuskan di Universits. Cara belajar kami adalah membaca buku yang ditulis ilmuwan besar Islam, baik modern maupun kuno. Lalu kami membuat daftar dari poin-poin kunci dari tiap buku dan menghapal poin-poin itu. Kami harus mengambil tes tertulis untuk setiap kelas, dan beberapa dosen akan memina sebuah laporam. Saya juga membaca literatur Arab tambahan dan puisi untuk kesenangan pribadi.

Walaupun saya sudah tahu, saya masih sering bertanya kepada Professor apa yang tidak mereka sukai

TERLALU BANYAK BERTANYA
Sebagai contoh, saya bertanya kepada seorang Professor, ”Mengapa Muhammad memberitahu kita untuk hidup damai dengan orang Krisen, lalu ia menyuruh kita untuk membunuh mereka?’’
Professor itu menjawab, ”Apa yang nabi katakan kepadamu, lakukanlah. Apa yang ia larang, jangan kamu lakukan. Saat ia membolehkan, kamu boleh makukannya. Kamu bukan Muslim sejati jika kamu tidak tunduk pada perkataan Muhammad.”
Saya bertanya kepada Professor yang lain. “Megapa nabi Muhammad boleh menikahi 13 wanita, dan kita perintahkan tidak boleh menikah lebih dari 4? Kuran berkata Muhammad hanyalah orang biasa, mengapa ia mempunyai hak ekstra?’
Professor itu menjawab, ”Tidak. Jika kamu lihat secara saksama, kamu akan melihat Allah memberkan kamu hak lebih dari nabi itu sendiri. Allah mengijinkan kamu menikah tidak lebih dari 4, tapi kamu dapat bercerai. Jadi kamu dapat menikah 4 hari ini dan bercerai dengan mereka besok, dan menikah 4 lagi yang lain. Jadi kamu dapat memiliki jumlah istri tidak terhingga.”

Bagi saya, ini adalah jawaban tidak logis. Khususnya karena ajaran Islam mengindikasikan Muhammad juga punya hak untuk bercerai. Muhammad memiliki banyak masalah dengan istrinya pada suatu waktu dan mengancam untuk menceraikan mereka semua.
Saya juga pernah bertanya kepada Sheikh Omar Abdel Rahman, yang terkenal karena menjadi otak di balik serangan bom WTC pada tahun 1993. Saat saya di Al-Azhar, dia adalah Professor di kelas interpretasi Kuran.

Ia memberikan kepada kami kesempatan untuk bertanya, jadi saya berdiri di depan 500 siswa dan bertanya, “Mengapa anda mengajarkan kami semua sepanjang waktu tentang jihad? Bagaimana tentang ayat lain di Kuran tentang kasih, damai, dan pengampunan?”

Wajahnya langung berubah menjadi merah dan saya dapat melihat kemarahannya, tapi saya juga melihat ia memilih untuk mengontrol emosinya. Dia mengambil kesempatan untuk memperbaiki posisinya ”Saudaraku,” dia berkata, ”Ada sebuah surat bernama ’Rampasan Perang’. Tidak ada surat disebut ’damai’. Jihad dan pembunuhan adalah kepala dari Islam. Jika kamu memutuskannya, kamu memotong kepala dari Islam.” Jawaban yang saya terima darinya dan dari Professor lain tidak memuaskan saya.

Beberapa orang menjuluki saya si pembuat onar, tetapi yang lain yang toleran, percaya bahwa saya tulus ingin belajar.
Pada saat yang bersamaan, saya melampaui pendidikan saya. Setelah 4 tahun, saya lulus kedua terbaik di kelas dari 600 orang mahasiswa. Peringkat ini berdasarkan dari tes lisan dan menulis yang diberikan di setiap akhir tahun pelajaran. Tes lisan fokus pada mengingat Alkuran dan hadist, dan tes tertulsmeliputi subjek yang kami pelajari di kelas. Setiap tahunnya, anda dapat mendapatkan 1500 poin.

GELAR S2 DAN MENGAJAR
Sebelum saya dapat melanjutkan studi S2 saya, saya menghabiskan wajib militer di angkatan bersenjata. Seelah selesai, saya lanjt ke Al-Azhar, saya memutuskan pada titik ini tidak ada Professor atau Sheikh yang dapat menjawa pertanyaan saya. Saya harus mencari jawabannya sendiri. Melakukan penelitian thesis S2 saya adalah kesempata sempurna untuk itu.

Saya tidak memberitahu siapapun apa yang harus saya baca, jadi saya harus mencari materi yang luas tentang Islam. Alih-alih menemukan bagaimaapun, say lebih kecewa dengan Islam tanpa pernyataan yang dilebih-lebihkan, saya dapa menceritakan sejarah Islam adalah kisah yang penuh kekerasan dan pertumpahan darah dari saat Muhammad sampai saat ini. Saat saya melihat pengajaran dari Muhammad dan Alkuran, saya dapat melihat saya berkembang dengan cara ini. Saya berpikir, bagaimana Yahweh dapat mengampuni orang yang menghancurkan kehidupan manusia sedemikian buruknya? Tapi saya menyimpan pertanyaan in untuk diri saya sendiri.

Thesis S2 saya menghasilkan sedikit kegemparan. Saya mengekang diri saya untuk mempertanyakan pertanyaan Islam Tapi saya menyentuh isu kontroversi dari model pemerintahan dari semua negara Islam seharunya. Pemerintah Mesir menykai ide saya da mengatur penyiaran langsung dari thesis saya yang didukung oleh Alkuran di radio nasional.

Dari luar, saya tampak begitu sukses. Pihak universitas meminta saya mengajar di bidang keahlian saya-sejarah dan budaya Islam. Saat berusia 28 tahun saya salah satu dari osen termuda yang mereka punya. Saya juga memimpin doa dan mengajar di sebuah Masjid di pinggiran Kairo. Bagaimanapun juga, di dalam hat saya masih mencari jawaban yang sesunggunhnya.

Pada titik ini, saya tidak dapat mengontrol hidup saya lagi. Saya tidak dapat berhenti dan mencari ekerjaan lain. Kampus, keluarga saya, komunitas saya akan bertanya mengapa kamu akan melakukan ini? Tidak logis untuk meninggalkan semua pekerjaan ini. Saya tidak punya jalan untuk pergi tapi melanjutkan perjalanan ini, Saya mulai melanjutkan studi S3 saya.

Bab 2. Meninggalkan Universitas
Saya menghabiskan dua tahun melakukan penelitian S3. sementara waktu itu saya memiliki dua kewajiban utama. Saya mengajar untuk Al-Azhar baik Universitas Al-Azhar di Kairo dan di Universitas Islam lain diseluruh Timur Tengah. Dan saya adalah pemimpin sebuah Masjid kecil. Saya memimpin doa pertama, ke empat dan ke lima setiap hari. Dan pada Jum’at saya memberikan kotbah dan memimpin doa sepanjang hari.
Saya suka mengajar dan bicara pada para mahasiswa. Setelah beberapa saat saya memulai cara baru mengajar: saya mengizinkan debar, dan saya membiarkan mahasiswa mengajukan pertanyaan. Hal ini adalah suatu hal yang berbahaya untuk dilakukan. Sebagai contog, saat saya mengajarkan tentang pemimpin awal dinasti Islam, kami sampai kisah Muawiya (Moo-uh-WEE-Yuh) dan anaknya, isi dari Thesis S2 saya. Muawiya adalah salah satu orang yang menuliskan wahyu Quran untuk Muhammad, yang tidak dapat membaca dan menulis. Dia menjadi pemimpin ke lima dari pemimpin dunia Islam stelah Muhammad. Sebelum meninggal, dia menyarankan anaknya untuk memburu dan membunuh 4 orang tertentu yang dapat mengancam kapasitas anaknya menjadi pemimpin Islam berikutnya. Anaknya menuruti sarannya; lebih jauh ia membunuh cucu Muhammad untuk mengamankan posisinya. Saya berkata pada para mahasiswa: “Mari lihat sudut pandang Allah pada situasi ini, kita perlu melihat secara belas kasihan dan kasih pada situasi ini”

Saya ingin membentuk semangat baru dari kelas ini. Saya tidak diizinkan melakukan ini saat saya masih mahasiswa. Saya mau mereka berfikir bebas dan mengunakan intelektual mereka tanpa takut penolakan.

Kebanyakan mahasiswa memiliki keinginan untuk berfikir kritis, seorang bertanya ”apakah hadist itu benar? Mungkin orang Yahudi yang membuatnya” saya membawanya melihat sumbernya dan menjawab ”itu asli, tidak palsu” jadi mereka hanya memiliki gagasan mengenai pertanyaan itu. Tapi mahasiwa radikal merasa saya menuduh Islam. ”Allah ampuni kamu!’ teriak mereka. ”kamu adalah profesor kami. Ajari kami mengenai Islam. Kamu membuat kami bingung”

Mahasiswa ini pergi ke pimpinan universitas dan berkata ”professor ini berbahaya. Kita tidak tahu apakah ia masih seorang muslim atau telah murtad”

Al-Azhar memiliki ketakutan yang besar terhadap pengaruh asing yang masuk dari dalam. Kepala departemen memanggil saya untuk menemuinya. Saya berfikir universitas mungkin telajh berfikir jelek terhadap saya. Tapi saya juga berfikir “professor ini kenal saya, mereka tahu hati saya dan keinginan untuk belajar. Mereka juga tahu pertanyaan saya tidak ada yang baru.”

Dalam pertemuan kami, kepala departement mengetehui perkembangan pemikiran saya. Ia menjadi takut. ”Anak ku,” ia berkata ”kita tidak dapat berhadapan dengan isu ini dengan cara ini. Ada panduan dan kita harus tunduk. Kita tidak boleh berfikir lebih dari nabi atau Allah itu sendiri. Saat kamu bingung, katakan, ’ hanya katakan Allah dan nabinya tahu kebenaran’ pegang ini, dan teruskan hidupmu”. Tapi ia sadar saya perlu berhadapan dengan masalah ini.

Saya kemudian dipanggil pada pertemuan laiinya dengan komite universitas untuk pelaksanaan kebijakan. Awalnya pertemuan berjalan lancar. Mereka tidak mau saya keluar dari universitas dan mengeritik Islam.

Pada awalnya, mereka menunjukan pengendalian. Mereka bertanya mengenai hidup saya, rumah dan keluarga. Lalu mereka bicara mengenai kelas dan siswa. Akhirnya mereka menegur saya: ”Mengapa kamu bertanya seperti itu? Tidak tahu kah kamu harus memperlakukan hal ini seperti yang telah kita pelajari? Kamu tau banyak hal, tapi tidak penting berapa banyak yang kita tahu, kita akan akan jauh dari kebenaran. Harap tertib. Bicara mengenai apa yang kamu ketahui. Saat kamu bergumul, katakan. ”Allah dan nabinya tahu”

Mereka bertanya, ”Apakah kamu telah belajar (dari buku) Pedang di leher orang yang tidak percaya? Seperti kami minta? Ini adalah buku yang memanggil semua muslim untuk menerima pengajar Muhammad tanpa bertanya.” Saya menjawab, ”Saya sudah membacanya sering kali, saya hampir menghapalnya seperi Alkuran”.
Pada titik ini, saya sudah memilih. Saya tidak dapat lagi menyangkal setiap kesalahan, setuju untuk mengajar dengan cara tradisional, dan itu akan baik baik saja. Sebaliknya, saya mengatakan kepada mereka apa yang sebenarnya saya pikirkan. Saya menjawab: ”Dengar, apa yang saya katakan pada kalian sekarang bukan karena saya ingin menuduh Islam atau sang nabi. Saya percaya ini kuat di dalam hati saya. Kamu semua kenal saya. Kamu mengasih saya. Tolong jangan tuduh saya. Hanya tolong bantu saya dan jawab pertanyaan saya.

”Kita mengatakan Alkuran langsung dari Elohim, tapi saya ragu itu, saya lihat itu adalah pemikiran manusia, bukan kata-kata Elohim yang sebenarnya.” Suasana pertemua berubah. Seorang pria berubah marah, dia bangun dari kursinya, berdiri didepan saya, dan berkata ”Kamu penghujat” dia membentak ”saya bersumpah, ibumu adalah bajingan.” saya bisa lihat di wajahnya, jika saja tidak dalam pertemuan dengan banyak orang, dia pasti sudah membunuh saya saat itu. ”Keluar!,” perintahnya.

Saya berdiri dan keluar. Pada saar itu seluruh tubuh saya bergetar, dan saya berkeringat. Saya khawatir. Akankah mereka membunuh saya? Bagiamana? Kapan? Siapa? Apakah keluarga saya yang akan melakukannya? Orang dari masjidku? Mahasiswaku?

Ini adalah saat paling mengerikan dalam hidup saya.
Saya meninggalkan pertemuan dan kembali kerumah. Saya tidak mengatakan sesuatu kepada keluarga saya mengenai apa yang terjadi., tapi mereka bisa lihat saya sedih tentang sesuatu. Saya tidur lebih awal malam itu

PERJALANAN KE PENJARA
Jam 3 pagi hari yang sama, ayah saya mendengar ketukan di pintu rumah kami. Saat ia membuka pintu, lima belas atau dua puluh pria masuk membawa senjata Kalashnikov Rusia. Mereka berlari ke atas, dan ke seluruh kamar, membangunkan orang dan mencari saya.

Salah seorang dari mereka menemukan saya tidur di kamar. Seluruh keluarga kami bangun, meratap dan ketakutan, saat orang orang itu menyeret saya keluar dari pintu depan dan medorong saya duduk di belakang mobil dan mengemudikan mobil menjauh. Saya kaget, tapi saya sadar ini adala hasil dari apa yang terjadi di universitas hari sebelumnya. Saya dibawa kesuatu tempat seperti penjara. Dimana saya di taruh di sel beton bersama tahanan lainnya.

Pagi harinya orang tua saya dalam ketakutan mencoba mencari apa yang terjadi pada saya di kantor polisi. Segera mereka tiba di kantor polisi dan bertanya ”Dimana anak kami?” tapi tidak ada yang tahu sesuatu tentang saya.
Saya ditangan polisi rahasia Mesir.

DITUDUH MENJADI KRISTEN
Selama tiga hari penjaga tidak memberi saya makan dan minum.
Pada hari ke empat interogasi dimulai. Selama empat hari kedepan tujuan dari polisi rahasia ialah untuk membuat saya mengaku meninggalkan Islam dan menjelaskan bagaimana itu bisa terjadi. Pola mereka ialah membiarkan saya sendiri siang hari dan membawa saya keluar sel pada malam hari untuk interogasi.

Malam pertama pertanyaan dimuali di ruangan dengan meja besar. Sang interogator duduk di belakang meja dengan rokok di tangan, dan saya duduk di sisi lainnya. Dia yakin saya sudah murtad menjadi Kristen. Jadi dia terus mendesak saya, ”dengan Pastor siapa kamu bicara? Gereja apa yang kamu kunjungi? Mengapa kamu menghianati Islam?”
Dia melakukan lebih dari bicara. Saya memiliki luka bekas terbakar di tangan, lengan dan wajah dari rokok dan korek apinya.
Dia ingin saya mengaku telah murtad, tapi saya berkata: ”Saya tidak menghianati Islam. Saya hanya mengatakan apa yang saya percayai. Saya seorang pria terdidik, seorang pemikir, saya punya hak untuk berdiskusi tentang apapun dari Islam. Ini adalah bagian dari tugas dan kehidupan akademis saya. Saya tidak punya mimpi murtad dari Islam-itu ada di dalam darah saya, budaya saya, bahasa saya, keluarga saya dan hidup saya. Tapi jika kamu menuduh saya murtad dari Islam dari apa yang saya katakan padamu, maka bawa saya keluar dari Islam. Saya tidak keberatan keluar dari Islam”

Penjaga menarik saya dan membawa saya kembali ke sel untuk sehari. Teman satu sel saya berfikir saya sedang dihukum karena menjadi Islamacist, memberikan sebagian makanan dan minumanya.
Malam berikutnya saya di bawa ke kamar dengan ranjang besi di dalamnya. Penjaga selalu menyumpah dan menghina saya, mencoba mendapatkan pengakuan dari saya. Mereka mengikat saya di ranjang dan memuku kaki saya dengan cambuk sampai saya kehilangan kesadaran.

Saat saya sadar. Mereka membawa saya ke dalam tangki kecil berisi air es dingin. Mereka memaksa saya masuk kedalamnya, dan tidak lama sebelum akhirnya saya tidak sadar lagi. Saat saya bangun saya sedang terbaring kembali di ranjang dimana mereka memukul saya, masih dengan pakaian basah.

Saya menghabiskan hari lainnya di sell dan pada sore berikutnya saya dibawa keluar belakang gedung. Saya melihat sel beton kecil tanpa pintu dan jendela. Sat satunya jalan masuk ialah atap diatasnya. Penjaga memaksa saya memanjat tangga untuk sampai diatas dan memerintahkan saya: ”Masuk!”

Saya meluncur masuk ke dalam dan merasakan air di seluruh badan. Tapi saya terkejut, kaki saya menginjak permukaan padat. Air cuma sampai bahu saya. Lalu saya melihat sesuatu berenang di air: tikus-tikus. ”pria ini adalah pemikir muslim” mereka berkata ”jadi kami akan membiarkan tikus-tikus memakan kepalanya”.

Mereka lalu menutup atap, dan saya tidak dapat melihat apapun. Saya berdiri ditengah air dan menunggu dalam gelap. Menit berlalu, lalu jam-jam berlalu. Besok paginya penjaga datang untuk melihat apakah saya masih hidup. Saya tidak akan melupakan pemandangan matahari saat atap dibuka. Sepanjang malam tikus-tikus berjalan disekujur pundak dan kepala saya. Tapi tidak ada satupun yang mengigit saya. Penjaga lalu membawa saya kembali ke sel dengan muak.

Malam terakhir penjaga membawa saya ke pintu dari ruangan kecil dan berkata ”ada seorang yang sangat mengasihimu dan ingin betemu denganmu.”

Saya berharap itu adalah salah satu anggota keluarga saya atau teman yang mengunjungi untuk mengeluarkan saya dari penjara. Mereka membuka pintu ruangan itu, dan di dalamnya saya melihat anjing besar dan tidak ada yang lain di sana. Mereka lalu mendorong saya dan menutup pintunya.

Di dalam hati saya menangis kepada Pencipta saya ”Kamulah Yahwehku, Kamu yang menjaga ku, bagaimana bisa Kau membiarkan aku ada di tangan yang jahat? Aku tidak tahu apa yang orang coba perbuat padaku, tapi aku tahu Kau selalu sertaku, dan suatu hari akukan melihat MU dan bertemu dengan ENGKAU”

Saya berjalan ke tengah ruangan kosong dan perlahan duduk bersila. Anjing itu menghampiri dan duduk di depan saya. Beberapa menit lamanya anjing itu memperhatikan saya.
Anjing itu kemudian bangun dan mulai berjalan mengelilingi saya, seperti binatang hendak makan sesuatu. Lalu ia datang di kanan saya menjilati telinga saya dan duduk. Saya sangat lelah. Setelah anjing itu duduk beberapa saat, saya tertidur.
Saat saya bangun, anjing itu berada di sudut ruangan, dia berlari mendekat dan duduk di kanan saya lagi.
Saat penjaga membuka pintu, mereka melihat saya sedang sholat, dengan anjing duduk di sebelah saya. Mereka mulai sangat bingung tentang saya.

Itu adalah hari terakhir pemeriksaan. Saya dipindahkan ke penjara permanen. Pada titik ini, di hati saya, saya menolak Islam sepenuhnya. Selama waktu itu keluarga saya mencoba mencari saya.sampai kakak ibu saya, yang merupakan orang penting di parlemen Mesir, kembali dari perjalanan luar negri, ibu saya menelpon dia, menangis dan berceria: “selama dua minggu, kami tidak tau dimana anak kami, dia hilang.” Pamanku punya kenalan yang tepat. Limabelas hari stelah aku diculik, dia datang sendiri ke penjara dengan surat pelepasan dan membawa saya ke rumah.

PERUBAHAN KECIL
Beberapa orang mungkin berkata, ”tidak heran orang ini meninggalkan Islam, dia sedih karena telah disiksa oleh muslim”. Ya itu benar. Saat saya disiksa atas nama melindungi Islam, saya tidak membuat perbedaan antara muslim dan pengajaran Islam. Jadi penyiksaan adalah dorongan terakhir yang memisahkan saya dari Islam.

Tapi faktanya, saya telah mempertanyakan Islam selama bertahun-tahun sebelum di penjara. Pertanyaan saya bukan berdasarkan kelakuan Muslim, tapi tindakan Muhammad dan pengikutnya dalam pengajaran Kuran. Berada di penjara hanya mendorong saya sedikit lebih cepat ke mana saya sudah melangkah.
Saya pulang kembali ke rumah orang tua saya untuk memikirkan apa yang akan saya lakukan selanjutnya.
Lalu polisi itu memberi ayah saya laporanan:
Kami telah menerima sebuah fax dari Universitas Al-Azhar yang menuduh anakmu meninggalkan Islam. Tapi setelah pemeriksaan lima belas hari kami tidak menemukan bukti yang mendukung itu.

Ayah saya lega mendegar itu. Dia tidak pernah bermimpi anaknya meninggalkan Islam. Dan saya tidak menceritakan perasaan saya sesungguhnya. Dia menghubungkan seluruh kejadian dengan tingkah buruk beasiswaku bagian dari orang di universitas. Saya meyakinkannya untuk percaya itu. ”Kita tidak butuh mereka,” katanya. Dan ia meminta saya untuk segera mulai bekerja sebagai direktur penjualan untuk pabriknya. Dia tidak pernah mengerti kegelisahan dalam hati saya.

Bab 3. Hari aku melihat Yeshua / Yesus dan Muhammad Berdampingan
Waktu itu saatnya doa pagi (sekitar jam 3 pagi), dan saya dapat mendengar suara orang rumah bangun untuk bersiap. Saya juga ikut bangun, tapi tidak berniat meninggalkan kamar saya.

Sudah beberapa bulan berlalu sejak saya lepas dari penjara, dan saya tidak berdoa di masjid lagi. Sebagai ganti pergi ke masjid, saya duduk di tempat tidur, atau di meja, berdoa agar Elohim yang sejati menyatakan diriNYA pada saya, Yahweh yang membuat saya tetap hidup di penjara. Terkadang saya tidak tau harus berdoa apa, saya hanya duduk dan menangis. Kenangan dari penjara kerapa datang kembali ke pikiran saya.
Ibuku mengetuk pintu dengan lembut. ”Apakah kamu akan ke mesjid hari ini ?” dia bertanya.
”Tidak” Aku berkata . ”Aku tidak mau bertemu siapapun.”
Dalam adat istiadat Islam, jika kamu berdoa di dalam kamar, iman mu tidak akan dipertanyakan karena kamu masih berdoa kepada Allah, yang artinya kamu masih seorang muslim. Keluargaku berfikir aku hanya memerlukan waktu untuk membaik. Mereka berfikir aku hanya tidak mau berada diantara banyak orang .

PERGUMULAN DALAM DIRIKU
Saya keluar dari penjara dengan rasa marah pada Islam tapi yakin pada kekuatan yang mahakuasa yang membuat aku tetap hidup. Tiap hari, dahagaku unbtuk menemukan Yahweh ini meningkat. Setiap hari aku bertanya pada diriku, siapakah Yahweh ini? Saya tidak pernah berfikir Yahweh dari orang Kristen atau Yahudi. Kenapa? saya masih terpengaruh oleh Alkuran dan pengajaran Muhammad. Alkuran mengatakan orang Kristen menyembah tiga Elohim – Elohim Bapa, Yeshua, dan Maria ibu Yeshua. Saya masih mencari satu Yahweh sejati, bukan tiga. Dan Alkran berkata bahwa Yahudi adalah orang jahat kerena merubah kitab suci. Jadi saya tidak melihat ke Yahweh mereka.

Ini memaksa saya melihat agama dari timur jauh – Hindu dan Budha . saya sudah belajar tentang agama ini saat melakukan studi S1 saya, dan saya masih menemukan banyak buku untuk mempelajari tentang mereka. Apakah dia Yahweh dari Hindhu? Saya berfikir. Apakah dia Yahweh dari Budha? Setelah penelusuran saya, saya menyimpulkan, Tidak.

Saat saya ingin berfikir, saya akan duduk dipinggiran kanal dan melihat ke air. Air, tanaman hijau, langit, alam-ini memberikan saya harapan pada sebuah jawaban dari pertanyaan saya.

Setiap hari setelah bekerja dengan ayah saya, saya kembali kerumah dan makan malam dengan ibu, ayah, dan dua adik laki-laki yang belum menikah. Setelah makan malam pada hari kamis, sudah menjadi kebiasaan bagi saya untuk bercerita kisah dari hadist, yang sangat disukai oleh adik saya. Saya berhenti melakukan semua ini setelah saya keluar dari penjara. Adikku selalu bertanya, ”Kenapa kamu tidak menceritakan pada kami kisah-kisah lagi?”

Setelah menyelesaikan makan malam, saya pergi keluar untuk menghabiskan waktu bersama teman. Kadang saya duduk di kafe, memainkan domino atau catur. Kadang saya menonton olah raga di tv. Kadang kami berjalan dipinggiran sungai nil.

Saya akan kembali kerumah setelah merasa lelah sekitar jam sebelas malam atau tengah malam. Saat saya sendirian, saya seperti orang paling tidak punya harapan didunia karena saya belum menemukan siapa itu Yahweh. Saya menghabiskan satu atau dua jam tiap malam mencoba untuk tertidur. Lalu saya bangun lebih awal seperti biasa. Tubuh saya sangat lelah. Saya mulai terkena sakit kepala berat.

Saya beberapa kali pergi ke dokter untuk scan otak. Sepanjang waktu, sakit kepala itu tidak menghentikan saya dari pekerjaan dan aktivitas saya. Jika saya sibuk, saya dapat melupakannya. Tapi jika saya sendirian pada malam hari, mencoba untuk tidur, sakitnya sangat kuat. Dokter meresepkan analgesik yang harus saya minum setiap malam.

RESEP BARU
Saya mengalami hal ini sekitar setahun. Suatu hari sakit kepalanya sangat berat, jadi saya pergi ke apotik untuk mendapatkan obat lagi. Seperti kebanyakan apoteker di Mesir, dia (wanita) adalah seorang Kristen. Saya sudah sering bertemu dengannya untuk waktu yang lama, jadi saya nyaman berbicara padanya. Saya mulai mengelu, ”Obat – obatan ini tak lagi bekerja seperti dulu!”.

Dia menjawab, ”Kamu ada pada titik yang berbahaya. Kamu mulai ketagihan pada obat-obat ini. Kamu tidak hanya meminumnya untuk rasa sakit. Kamu meminumnya karena tidak dapat berhenti.”

Dia bertanya secara lembut, ”Apa yang terjadi pada hidupmu?” . dia tau keluarga saya cukup terhormat dan saya lulus dari Al-azhar. Saya mengatakan padanya saya mencari seorang Adonai /Tuhan/ Lord. Dia terkejut. “Bagaimana dengan Allah dan agama mu?” dia berkata. Lalu saya menceritakan padanya kisah saya.

Dia mengambil sebuah buku dari bawah konter dan mengatakan perlahan, “Saya akan memberikan kamu buku ini. Sebelum kamu minum obat kamu malam ini, coba membacanya sedikit. Lihat bagaimana hasilnya.”

Saya mengambil tablet disatu tangan dan buku ditangan lain. Itu adalah buku dengan kulit hitam dengan kata ”ALKITAB / KITAB SUCI” dalam bahasa Arab didepannya. ”OK. Aku akan mencobanya”. Saya keluar dari toko dan balik sampul buku menghadap tubuhku sehingga namanya tidak kelihatan. Lalu saya berjalan kembali ke rumah dan masuk kekamar saya. Itu adalah pertama kali dalam hidup saya membawa sebuah Alkitab. Usia saya 35 tahun waktu itu. [Di Mesir, tindakan wanita ini tergolong sangat berbahaya, jika Mark Gabriel protes atau seorang Muslim lainnya melihat perbuatannya tersebut, wanita ini bisa masuk penjara yang berakibat dihukum mati, namun "kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan!"]

MEMBACA ALKITAB
Itu adalah malam pada musim panas, sekitar jam sepuluh malam. Sakit kepala saya begitu berat, tapi saya tidak meminum obat. Saya menaruh mereka dimeja, dan saya melihat ke arah Alkitab. Saya tidak tahu harus memulai darimana, jadi saya hanya membiarkannya terbuka. Ini adalah Alkitab kepunyaan apoteker itu, dan saya mengetahuinya dari catatan dilembar Alkitab. Halaman yang terbuka adalah Matius 5.
Saya mulai membaca khotbah Yeshua dibukit. Saya melihat gambaran-Yeshua dibukit mengajar kerumunan orang disekitarnya. Saat saya terus membaca, saya lupa bahwa saya masih dirumah. Saya tidak dapat merasakan sekitar saya. Saya tidak sadar akan waktu. Alkitab membawa saya dari satu kisah kepada kisah yang lain di Injil Matius.

Otak saya mulai bekerja seperti komputer. Dari buku didepan saya, saya melihat gambaran dari Yeshua. Dipikiran saya, saya melihat gambaran dari Muhammad. Otak saya tidak berhenti melakukan perbandingan. Otak saya penuh dengan Alkuran dan kehidupan Muhammad jadi saya tidak perlu usaha untuk mengingat mereka kembali. Itu sudah ada disana.

Saya terus membaca Alkitab tanpa ingat waktu sampai saya mendengar adzan dari mesjid.

BACA BERSAMA SAYA
Pembaca yang budiman, kita sampai pada saat pada hidup saya yang saya ingin anda ketahui. Jika anda ingin mengetahui apa yang terjadi pada diri saya setelah malam itu, anda dapat membacanya pada akhir buku. Tapi saya ingin berhenti disini sementara dan mengulang situasi bersama anda.
Sebelumnya saya, seorang sarjana yang menghabiskan tigapuluh tahun mempelajari Islam dan kehidupan Muhammad. Saya tidak hanya mempraktekkan ajaran Islam; saya menghapalnya. Sekarang saya mamiliki sebuah Alkitab didepan saya yang memperkenalkan saya pada Yeshua.

Pada halaman – halaman yang akan anda baca, saya ingin anda mengalami apa yang saya lihat pada malam dikamar saya di Mesir dan apa yang saya terus temukan sebelas tahun belakangan ini.tidak ada teologi, komentar-komentar, kata kata khayalan. Saya tidak mempunyai seseorang yang membantu menafsirkan “arti dari Alkitab”. Saya hanya membaca apa yang dikatakan Alkitab langsung kepada saya. Saya tidak perlu seseorang mengatakan pada saya ”ini yang dimaksudkan oleh Muhammad” saya mengingatnya langsung dari sumber aslinya.

Izinkan saya memperkenalkan anda pada Yeshua /Yesus dan Muhammad.

[Artikel kesaksian ini selesai sampai di sini. Jika Saudara dan Saudari ingin membaca kelanjutannya silahkan baca pada situs-situs di bawah ini. Terima kasih untuk pengertian Anda. Hormat saya, Penjala Baja]

Daftar isi dari lanjutan buku di atas ialah:
BAGIAN 2
KEHIDUPAN YESUS DAN MUHAMMAD
BAGIAN 3
WARISAN MEREKA
DALAM PERKATAAN DAN PERBUATAN
BAGIAN 4
KONKLUSI
Lampiran A
Sumber informasi tentang Yesus dan Muhammad

Buku Yeshua /Yesus dan Muhammad versi Indonesia bisa dibaca lengkap pada situs:

Jesus versus Muhammad
Yesus dan Muhammad, pdf

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

About these ads

1 Komentar

  1. inspired me


Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s