Kesaksian Perdamaian antara Yahudi dan Palestina melalui Yeshua

Diterjemahkan dari Forbidden Peace by Naomi Rothstein

Cerita Dari Seorang Tentara (A Soldier’s Story)
[Perjumpaan seorang tentara Yahudi dengan kebenaran Alkitab: Yeshua adalah Mashiah yang dijanjikan]
Ketika Moran beremigrasi dari Israel ke Amerika Serikat, ia merasa putus asa mengenai situasi di Timur Tengah: “Orang-orang sekarat dari kanan dan dari kiri; tidak ada yang melakukan sesuatu, dan saya memutuskan untuk pindah.”  Kekerasan di Israel telah menyerang Moran secara pribadi, seorang pembom bunuh diri Palestina telah menelan korban tujuh dari teman-temannya di unit IDF-nya. Jadi dia datang ke AS, mencari “realitas yang berbeda.” IDF Israel Defent Force, sejenis TNI.

Bekas tentara ini hanya sedikit menyadari bahwa realitas itu akan berubah begitu drastis untuk menyertakan dua kelompok orang yang sebelumnya terlarang baginya [Kristen dan Arab].
Pada tahun 1998, Moran menemukan dirinya di Los Angeles, pergi ke kebaktian di gereja atas undangan seorang teman. Moran meninggalkan ibadah dengan gelisah, dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Elohim. Dia ingin jawaban dan di tangtang untuk membaca Alkitab, baik Tanakh (Bahasa Ibrani untuk Perjanjian Lama)* dan Perjanjian Baru.

“Sepanjang seluruh Kitab Suci, Anda menemukan bahwa Elohim mengasihi umat-Nya, Israel. Dia mengasihi mereka sehingga bahkan ketika kita terus berbuat dosa terhadap dia dan menolak Dia. Dia  tetap setia kepada kita dan Dia memberi telah memberikan kita Mashiah (Mesias/ Kristus) yang dijanjikan. untuk menyelamatkan kita dari semua kejahatan kita. Elohim telah membuka mata saya untuk kebenaran tersebut,” Moran berkata.

Apa yang Moran baca di Alkitab telah meyakinkan dia bahwa Yeshua (Yesus) adalah Mashiah, dan Moran telah berkomitmen menyerahkan hidupnya untuk pribadi yang dia selalu menganggap itu bukan untuknya.
Tapi meskipun iman barunya memberinya cinta dan damai yang ia tidak pernah kenal sebelumnya, pertanyaannya adalah, apakah itu akan cukup untuk memadamkan kepahitan terhadap orang Arab yang masih melekat dalam hatinya? Mungkinkah bahwa cinta dan perdamaian yang benar-benar menggantikan kemarahan yang berabad-abad?

Persahabatan Yang Terlarang (Forbidden Friendship).
[Moran besaksi; bertemu muka dengan Tass, mantan pejuang PLO;  Tass dihadapakan dengan Alkitab; Berdamai]
Moran telah pergi dari mempertanyakan entah ada atau tidaknya Elohim (a God)  untuk percaya sepenuh hati pada Elohim dan pada klaim-klaim Yeshua sebagai Putra Elohim dan Juruselamat pribadinya (Moran) dari dosa. Namun, dalam hatinya, dia masih tidak mempercayai orang-orang Arab.

Suatu hari di bulan Maret, 2001, Moran diundang untuk membagikan kesaksiannya di sebuah konferensi yang dihadiri oleh orang-orang Yahudi dan Arab yang percaya dalam Yeshua. Di podium, ia berbicara tentang bagaimana teman-temannya dibunuh oleh seorang pembom bunuh diri dan tentang bagaimana ia telah datang untuk percaya bahwa Yeshua adalah siapa yang Dia telah klaim.
Ketika dia selesai, Moran bergabung dengan sekelompok teman-temannya. Saat ia berbicara dengan mereka dia melihat seorang lelaki Arab mendekat. Orang Arab berdiri di depan Moran dan berkata, “Nama saya adalah Tass Abu Saada.” Moran menyapanya dengan cukup baik, tapi dalam hati bertanya-tanya, “Apa yang dia inginkan dari saya?” Lalu Tass mengatakan, “Saya dahulu adalah seorang pejuang Fatah.” Ketika Moran mendengar bahwa orang ini telah bekerja di PLO, ia melangkah mundur dengan syok.
Tapi Tass melanjutkan: “Tapi aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”
“Ya?” Moran bertanya.
Tass menjawab, “Aku ingin kamu tahu bahwa aku mengasihimu.” Moran tidak bisa mempercayai telinganya.

Tahun sebelumnya, Tass telah mengalami perubahan radikal dalam dirinya terhadap orang-orang Yahudi. Sebagai seorang pria muda yang lahir di Gaza, ia tidak merasakan apa pun tapi kejahatan bagi orang Yahudi: “Saya percaya bahwa mereka adalah orang-orang yang mengambil tanah saya, yang mencuri dariku, jadi aku membenci mereka dengan napsu yang besar.”
Kemarahannya mendorong dia untuk berjuang bersama para pasukan Yaser Arafat. Bertahun-tahun kemudian, ketika ia berangkat ke AS dan menjadi pengusaha restoran yang sukses, ia membawa kebencian tersebut bersamanya. Dia mengakui untuk memiliki impian meracuni para pelanggan Yahudi.
Akhirnya, Tass berteman dengan Charlie, seorang pelanggan yang telah membuat Tass berkesan dengan kebaikannya. Charlie memberitahu Tass, seorang Islam, bahwa Yeshua adalah Elohim (Allah). Tass percaya bahwa Yeshua adalah seorang nabi, namun tidak lebih. Jadi dia berketetapan tidak setuju dengan teman barunya. “Tidak mungkin!” kata Tass.
Tapi Charlie bertahan dan kembali dengan Alkitabnya, dan meletakkannya di meja di antara dirinya dan Tass. Tass melompat mundur. “Aku tidak bisa menyentuh itu,” dia berseru. Ketika temannya bertanya mengapa, Tass tidak dapat bicara, dia memiliki kesan yang jelas bahwa apa yang di depan mereka adalah firman Elohim. Pewahyuan ini bahkan mengejutkan Tass, yang tidak pernah menganggap Alkitab adalah benar [Orang Islam telah diajar sejak kecil bahwa Alkitab telah dipalsukan, jelas tanpa bukti]. Tapi ketika Charlie mulai membaca apa yang Alkitab katakan tentang Yeshua, Tass merasakan beban telah terangkat dari dirinya. Dia mengalami kedamaian dan sukacita yang instan dalam dirinya dan mulai percaya bahwa apa yang Alkitab katakan adalah benar. Seperti hari-hari berlalu dan dia mulai membaca buku ini untuk dirinya sendiri, ia terdorang untuk berdoa. Dan apa yang ia doakan mengejutkan dirinya sendiri:

“Tiba-tiba aku mendengar diriku sendiri berdoa untuk orang-orang Yahudi .. Aku mendengar diriku berdoa, ‘YAHWEH, berkati orang yang Engkau telah pilih dan bawa mereka kembali ke tanah perjanjian.’” Aku mulai ingin menutup mulut saya dengan tanganku, tetapi aku tidak dapat sebab itu meletup-letup di dalam diriku.”
Tass menemukan keinginan yang dalam untuk membuang kebencian terhadap orang Yahudi yang ia telah bawa begitu lama. Saat dia ingat kata-kata Yeshua akan pengampunan, Tass menyimpulkan: “Sekarang itu adalah model bagi saya Jika ia bisa memaafkan begitu banyak, saya bisa memaafkan setidaknya sedikit.”
Tass diundang untuk bersaksi di sebuah konferensi Arab-Yahudi, di mana ia melihat Moran bersaksi tentang perjalanan sendiri. Tass terdorong untuk mendekati Moran dan memperkenalkan dirinya sebagai seorang pejuang mantan Fatah dan percaya kepada Yeshua.

Dia mengatakan kepada Moran bahwa ia mengasihinya dan kemudian dia minta maaf atas nama bangsanya untuk apa yang telah terjadi pada teman-teman Moran. Pada saat itu, Moran merasa kekerasan hatinya terhadap orang-orang Arab lumer, dan giliran Moran memohon kepada Tass untuk memaafkannya atas ketidak mampuannya mempercayai atau mengasihi orang-orang Arab.
Moran berkata, “Apa yang Elohim telah dilakukan pada saat itu, Dia telah mengangkat keluar beban dari bahu saya dan Dia memberiku kasih. Dia memberiku begitu banyak kasih.”

Sekarang, mantan musuh-musuh ini adalah teman-teman yang terbaik. Menurut Tass, “Ketika orang-orang Yahudi dan orang-orang Palestina datang bersama-sama dalam nama Elohim, Elohim yang benar, maka akan ada kedamaian sejati. Jika Elohim dapat melakukan perubahan ini di dalam hati orang sembrono seperti saya sendiri, saya percaya bahwa ada harapan bagi siapa saja, dan itu bukan hanya untuk konflik di Timur Tengah, melainkan untuk konflik dalam kehidupan mereka sendiri.”

Kesimpulan: Tidak lagi terlarang.
Itu nampaknya mustahil bahwa masyarakat Yahudi dan masyarakat Arab dengan history konflik panjang telah dapat mencapai damai dengan satu sama lain melalui Yeshua. Pada akhirnya, keduanya Yeshua dan Kitab yang berisi peristiwa-peristiwa tentang kehidupan-Nya yang adalah terlarang bagi kedua kelompok masyarakat … telah menjangkau banyak hubungan …
Dapatkah itu ada bahwa konflik-konflik dan problem kita ialah bukan semata-mata bersifat politik atau sosial atau ekonomi, tetapi bersifat rohani? Adakah itu hanya mungkin jika masyarakat Yahudi, Arab atau lainnya berdamai dengan Elohim, mereka dapat sungguh-sunguh diperdamaikan kepada satu dengan lainnya? Dan jika demikian adanya, dapakah kita melawan arus meskipun jika kita harus beralih ke subjek-subjek yang dianggap terlarang?

*) Christian OT and the Jewish Tanakh

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

About these ads

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s