Film Maria Magdalena: Terlepas Dari Malu (Released From Shame)

Film Maria Magdalena Terlepas Dari MaluKlik di sini untuk menonton online Film Maria Magdalena: Released From Shame (bahasa Inggris).  Film untuk semua umur.

Pada tahun 2007 film ”Maria Magdalena: Terlepas dari malu” ini telah disambut dengan hangat di 22 negara, lebih dari 300 pertunjukan di bioskop, gereja-gereja, rumah-rumah pribadi, pusat-pusat pertokoan, desa-desa terpencil bahkan di penjara seluruh Asia Tengah, Timur Tengah, Amerika Selatan dan Afrika. Terlibat juga di dalam Hari Wanita Internasional di bulan Maret, film ini juga ditayangkan pad Persatuan Bangsa-bangsa di Kota New York untuk para diplomat, duta besar dan pemimpin lainnya yang mewakili 70 negera. Telah menjangkau 3,6 juta jiwa dan 4013 mengambil keputusan untuk mengikut Ha Mashia hanya dalam periode Maret ke September 2007. Data lengkap bisa dilihat di sini.

Dikeluarkan oleh Nordine Productons bekerja sama dengan Inspirational Films, Maria Magdalena: Terlepas dari Malu (Released From Shame) menggambarkan kisah Yeshua (Yesus/ Isa) yang nampak melalui mata Maria Magdalena, dan mendemontrasikan bagaimana Yeshua menghargai para wanita dengan berfokus pada catatan sejarah dari interaksi-Nya dengan mereka.

Film Magdalena: Terlepas dari Malu menjalin cerita-cerita empat wanita di dalam Alkitab – Maria Magdalena, wanita Samaria di sumur, wanita yang menyentuh jubah Yeshua, dan wanita yang tertangkap di dalam perzinahan – ke dalam adegan film baru. Film ini menekankan belas kasihan Yeshua kepada para wanita dan kemampuan-Nya merestorasi martabat dan indentitas mereka melalui pertemuan pribadi dengan Dia.

Tersedia di dalam multibahasa: Albania, Arab (Algeria), China, Jerman, Inggris, Perancis, Italia, Kurdis (Sorani), Farsi, Portugis, Spanyol, Rusia, Tamil, Thailand, Turki

Situs resmi: Magdalena: Released From Shame

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Syria: Terbukti ‘Indomie’ telah dapat memurtadkan banyak orang Islam.

Banyak orang Islam di Indonesia telah mendengar bahwa tidak sedikit saudara-saudara mereka menjadi murtad (pindah ke Kristen) karena menerima ‘Indomie’ (paket lima bahan pokok) dari orang-orang Kristen. Kejadian ini juga telah terjadi di Syria, dimana perang sipil masih masih berlangsung sementara berita ini ditulis. Paket bantuan makanan untuk orang Syria

Berikut ini laporan dari sebuah organisasi Kristen yang beroperasi di Syria.

Diakui perang yang pecah di Syria telah membuat kehancuran dan penderitaan yang memilukan hati (bagi orang Syria). namun Elohim bekerja secara  luar biasa di negara ini. Para Muslim (Orang-orang Islam) berdatangan ke pada Ha Mashiah (Kristus) dan kehidupan mereka dirubah selamanya.

Kekacauan di Syria yang diawali dari demo politik pada Maret 2011, telah membuat lebih 60.000 korban jiwa dari lebih dari satu juta rakyat Syria terusir dari negaranya sendiri, menjadi pengungsi di negara-negara tetanga dan sebagian tetap tinggal. Kedua kelompok masyarakat ini menanggung kondisi kehidupan yang sangat berat untuk bisa hidup.

Organisasi Operation Mobilization telah membuat belasan kelompok kecil beberapa tahun lamanya di Syria. Para pekerja asing telah keluar dari Syria, namun para pekerja lokal Kristen tetap terus beroperasi.

Para Kristen Syria membagi-bagikan bantuan darurat kepada masyarakat-masyarakat yang membutuhkan. Mereka secara rutin mengunjungi para keluarga yang terlantar ini, membawakan bungkusan-bungkusan makanan, dan minyak pemanas supaya mereka bisa tetap hidup di musim salju dalam kondisi tersebut (tinggal  ditenda-tenda atau rumah yang tanpa listrik)

Dampaknya luar biasa, kelompok Kristen ini diijinkan memutar film-film Kristen secara terbuka di lebih 300 (tiga ratus) desa dan beberapa sekolah. Elohim jelas sekali bekerja: sejak awal dari kericuhan politik di Syria ini kelompok pertemuan-pertemuan rumah telah berlipat ganda jumlahnya.

Kesaksian murtad karena pengaruh pemberian ’Indomie’:
1. Ali (nama samaran) bapa dari lima anak, telah berkunjung secara rutin ke gereja sejak ia menerima bungkusan-bungkusan makanan setiap bulan. Suatu hari ia diundang Pendeta gereja tersebut untuk makan siang dirumah pendeta. Ali sangat malu untuk memakannya, jadi pendeta ini membungkuskan makanan tersebut bagi Ali untuk dibawa pulang. Ditengah jalan menuju rumah, Ali teringat para tetangganya yang sedang berjuang untuk hidup, didorong oleh perbuatan dari perubahan hidupnya, Ali memilih untuk memberikan makanan tersebut kepada para tetangganya.

2. Ahmed (nama samaran) bapa dari enam anak. Merasa tidak mampu lagi untuk menghidupi keluargannya, pekerjaan tidak di dapat, sementara anak perempuannya yang terkena kanker sangat perlu obat, namun sama sekali tidak punya uang, Ahmed suatu malam memutuskan untuk menghabiskan hidupnya.
Sementara ia menaruh tali gantungan kedalam  lehernya, ia mendengar suara yang jelad di dalam hatinya berkata, ”Apa yang akan terjadi dengan anak-anakmu? Siapa yang akan merawat mereka ketika kamu telah pergi?” Ahmed hancur hatinya dan menangis. Ia meras bersalah dan menceritakan pengalaman tersebut ke pendeta setempat esok harinya. Pendeta ini membagikan cerita pada Ahmed apa yang Yeshua telah lakukan dan betapa banyak Dia mengasihi Ahmed dan keluarganya.

Ahmed mulai menangis dan memohon pengampunan dari Elohim . Pendeta ini berdoa untuk anak yang terkena kanker tersebut. Kemudian, ketika Ahmed membawa anaknya ini ke dokter, test darah menunjukkan tidak ada jejak kanker pada tubuh gadis kecil ini. Iman dari keluarga ini menjalar, beberapa anggota keluarga juga telah datang kepada Ha Mashiah. Kamp Pengungsi Syria dalam dan luar negeri

3. Belum lama ini , sebuah team Kristen Kurdi mengalami kuasa transformasi Elohim pada keluarga Islam di Syria sementara membagi-bagikan makanan dan bungkusan lainnya.  Mereka mengetuk pintu sebuah rumah, ibu tua menjawab dengan suara ketakutan “Siapkah kalian?” Team ini mengatakan bahwa mereka adalah kelompok anak muda yang menolong orang-orang miskin di daerah tersebut. Ibu ini dengan penuh semangat memanggil dua puterinya. Segera setelah kedua gadis ini melihat anggota team mereka mulai mencurahkan penghargaan mereka atas paket makanan tersebut. Mereka menerangkan bahwa ayah mereka baru saja meninggal tiga bulan lalu dan mereka tidak lagi memiliki uang untuk makanan.

Para gadis ini ingin tahu apakah team ini datang dari partai politik; team menyatakan mereka datang membawa pertolongan dari Elohim, orang-orang Kurdi yang percaya kepada Yeshua. Lalu keluarga ini mengundang mereka masuk rumahnya  untuk minun kopi bersama mereka. Pada wanita tertarik ingin tahu bagaimana mereka bisa ada sebagai orang Kurdi dan juga percaya Yeshua (Kristen dan bukan Islam). Team ini bersaksi pada keluarga ini tentang kasih, pengampunan Elohim dan penebusan dosa melalui Ha Mashiah. Salah satu gadis ini begitu tertarik sehingga team ini bersaksi tentang mujizat-mujizat dari Yeshua. Gadis ini meminta Alkitab dan ia sangat bergembira menerimanya.

Ya situasi di Syria adalah parah, tidak dapat dibayangkan penderitaanya. Namun Elohim, dengan hikmat dan belas kasihan-Nya yang besar, memakai situasi yang menyakitkan tersebut  untuk membalikkannya menjadi membawa orang-orang ke pada Diri-Nya.

Perhatikan: Bukanlah ‘indomie’ (paket bantuan makanan) yang telah membuat orang-orang Islam berpindah ke Kristen atau percaya kepada Yeshua Ha Mashiah, tetapi kuasa kasih dan belas kasihan Elohim YAHWEH melalui ketaatan, pengorbanan diri dan kerendahan hati para pengikut-Nya yang telah menghancurkan hati-hati batu dan para selaput mata banyak orang Islam – di manapun di dunia termasuk di Indonesia. Paket bantuan makanan itu sendiri tidaklah memiliki kekuatan magis apapun, dan nilai nominalnya tidak seberapa besar, tetapi kasih, kerendahan hati dan pengorbanan (siap mati tertembak saat membawa paket tersebut) yang disertai belas kasihan dari orang Kristen kepada orang yang miskin dan terbuang itulah yang sesungguhnya memiliki kekuatan dahsyat yang mampu merubah hati-batu menjadi hati-daging, meruntuhkan kebutaan rohani yang didasarkan atas kebencian dan kecurigaan yang tidak berdasar menjadi melek rohani, betapa sesungguhnya Yeshua Ha Mashiah dan para pengikut-Nya sungguh mengasihi dan berelas kasihan kepada mereka – sekalipun mereka membenci dan menganiaya orang Kristen dari tahun ke tahun, abad ke abad.

Kasih tidak dapat dikalahkan oleh apapun; inilah arti kasih di dalam ajaran Kristen:
Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu.
Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. …
Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. (1 Korintus 13:4-7, 13)

Sumber kutipan: 
God’s transforming power in a war-torn nation (13/12/2012)
Local believers deliver food packages in Syria (3/01/2013)

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Kesaksian Claude Ezagouri, Yahudi kelahiran Algeria, berjumpa Yeshua

Artikel ini diterjemahkan dari buku Sons of Abraham worshipping God Together As A Blessing On the Earth ditulis oleh Tom Hess. Kesaksian yang sama dalam bentuk Audio bisa di dengar dari The Olive Tree: Week 117 to 119 – Claude EzagouriBeliau sekarang adalah seorang pendeta jemaat Yahudi yang percaya Yeshua berlokasi di Tiberias, kota tepi danau Galilea.  Ini suatu kesaksian nyata mengenai kuasa doa syafaat dan pekerjaan YAHWEH memulihkan hubungan persaudaraan antara orang Yahudi (keturunan Ishak) dengan orang Arab Kanaan (keturunan Ismael, putra Hagar; tidak semua orang Arab adalah keturunan dari Ismael).

Sementara Iblis membangkitkan konflik Israel-Arab yang semakin panas, YAHWEH melalui Putra Tunggal-Nya, Adonai Yeshua Ha Mashiah, melakukan perdamaian abadi diantara kedua suku bangsa yang berasal dari satu benih, yakni benih Abraham; nubuatan yang dikatakan oleh nabi Yesaya sedang terjadi saat ini, Pada hari itu akan ada sebuah jalan raya dari Mesir menuju Ashur, maka orang Ashur akan datang ke MesiBuku Sons of Abraham by Tom Hessr, juga orang Mesir ke Ashur, dan orang Mesir akan melayani oran Ashur. Pada waktu itu Israel akan menjadi yang ketiga setelah Mesir dan Asyur, suatu berkat di tengah-tengah bumi, yang YAHWEH Tsebaot berkati, dengan berkata: Diberkatilah Mesir umat-Ku, dan Ashur buatan tangan-Ku, dan Israel milik pusaka-Ku.” (Yes 19:23-25; ILT). Dan rasul Paulus, berdasarkan nubuatan nabi Yesaya ini, memproklamasikan perdamaian antara bangsa Yahudi dengan bukan-Yahudi melalui darah Yeshua Ha Mashiah di kayu salib: Namun sekarang, di dalam Kristus YESUS (Mashiah Yeshua), kamu yang dahulu berjauhan sudah menjadi dekat oleh darah Kristus (Mashiah). Sebab Dia sendiri adalah damai sejahtera kita yang sudah membuat keduanya satu, dan yang sudah merobohkan tembok pemisah, dengan melenyapkan perseteruan di dalam tubuh-Nya yaitu torat tentang perintah-perintah di dalam dogma-dogma[1], supaya Dia menciptakan keduanya sebagai satu manusia baru di dalam diri-Nya sendiri dengan membuat damai sejahtera … melalui salib. Sebab melalui Dia, kita keduanya dalam satu Roh memperoleh jalan masuk kepada Bapa.” (Efesus 2:13-18; ILT). Buku Sons of Abraham ini berisi puluhan kesaksian pemulihan hubungan yang ajaib antara kedua suku bangsa dari latar belakang Yahudi dan Arab (Mesir, Asyur) melalui kasih dan kuasa Yeshua Ha Mashiah.

[Latar belakang keluarga dan pendidikan; aliyah; dari agama tradisi ke agama-agama tradisi lainnya]
Saya berasal dari latar belakang orang Yahudi Sephardim.[2] Lahir di tahun 1949, saya menghabiskan 13 tahun pertama kanak-kanak saya di Algeria dan hidup di dalam kondisi perang dari 1954-62. Khususnya diantara mayarakat berbahasa Perancis telah ada ketidak percayaan yang besar dan curiga kepada orang-orang Arab. Ini adalah cara kami telah dididik.

Saya telah dididik untuk memiliki perasaan yang sama kepada orang-orang Kristen (Katolik), oleh sebab sejarah penganiayaan mereka terhadap orang-orang Yahudi. Para rabbi akanlah mengatakan tujuan orang-orang Kristen untuk memurtadkan dan memindah orang-orang Yahudi ke percayaan Kristen, yang secara eklusif berarti pindah ke agama Katolik. Sebagaimana kami hati-hati akan orang Arab yang anti-orang Yahudi kami juga hati-hati akan orang Kristen yang anti-orang Yahudi. Saya juga telah diajar untuk merasakan cara ini terhadap orang-orang Rusia juga. Pendidikan awal ini nampak keluar ketika saya menoleh kebelakang untuk melihat apa yang Adonai telah kerjakan di dalam kehidupan dan pelayananku.

Selama bulan JunPeta Algeriai 1962, satu juta orang berbahasa Perancis di Algeria keluar. Itu adalah pengugsian keluar yang besar ke Perancis. Di Perancis adalah bagian dari masyarakat agama Yahudi yang sedang menjalankan tradisi Bar-Mitzvahed[3] dan pergi ke synagogue secara rutin. Ketika saya menikahi isteriku, yang adalah Katolik nominal (tidak serius), ia memutuskan untuk pindah ke agama tradisi Yahudi dibawah rabbi-rabbi orthodox. Selama waktu perpindahannya kami mulai masuk mendalami agama tradisi Yahudi (Judaism). Saya belajar Talmud dan sebagainya. Saya teringat para rabbi memeriksa rumah kami dan praktek-praktek untuk menyelesaikan perpindahan agama isteri saya. Setelah isteri saya dinyatakan layak untuk berpindah agama, kami melakukan aliyah (kata Ibrani yang berarti migrasi ke tanah leluhur) ke Israel.

Ketika saya migrasi ke Israel di tahun 1975 saya datang dengan pemikiran yang sama anti-Arab, anti-Kristen, dan anti-Russia. Setelah beberapa tahun di kibbutz (permukiman sebuah masyarakat; seperti ”banjar” bagi orang Bali) di Galilea saya merasa bahwa saya harus melalukan sesuatu untuk melindungi agama tradisi Yahudi. Saya telah mengganjurkan kepada kibbutz untuk melarang siapapun orang bukan Yahudi untuk menjadi bagian dari kibbutz bagaimanapun caranya. Karena kibbutz ini bukanlah keagamaan ide ini tentunya ditolak, tetapi itu menunjukkan posisi pikirang saya pada saat itu.

Di awal tahun delapanpuluhan kibbutz kami mulai menerima beberapa sukarelawan Kristen. Orang-orang Kristen ini memcoba berbicara kepada ku tentang Yeshua (Yesus), tetapi saya tolak. Pada waktu itu, meskipun saya berdoa setiap pagi dengan talith (kerudung sembayang Yahudi) dan tali-tali sembayang (phylacteries)[4] dan buku doa. Saya memimpin sebuah pencarian rohani sebab  saya merasakan ada sesuatu yang kurang, sesuatu yang saya tidak tahu. Saya mencari kebenaran. Saya mulai melihat ke dalam agama-agama lain. Saya beralih ke ajaran Buddha, lalu Hindu dan kemudian ke meditasi kebatinan.

Dari tahun 1980-1983 saya praktek meditasi kebatinan, setiap hari. Itu tidak bagus untuk keluargaku. Selama waktu saya seharusnya ada bersama keluargaku, saya melakukan meditasi. Saya melalukan hal-hal yang berbahaya seperti berdoa kepada bulan, mengisi diri dengan kekuatan bulan, dan segala macam praktek perdukunan. Saya berpikir saya mendapatkan kebenaran yang  sedang saya cari, tetapi sesungguhnya saya mendapatkan damai yang palsu melalui meditasi kebatinan dan yoga.

[Terkail Elohim melalui buku meditasi dan radio SW; percaya kepada Yeshua, apa yang harus saya lakukan?]
Di tahun 1983 isteriku membeli sebuah buku untuk ku berjudul ”The Art of Meditation” (Seni Bermeditasi) ditulis oleh sebuah guru. Isteri saya berpikir bahwa itu adalah sejenis buku yang saya pastilah akan suka dan tertarik. Saya menerimanya, tetapi ketika saya memulai membacanya saya sungguh terkejut melihat bahwa itu adalah meditasi berdasarkan ayat-ayat Alkitab. Saya tidak tahu saat ini jika guru tersebut telah menerima Adonai atau belum, tetapi Adonai telah memakai buku tersebut untuk menjamah hatiku.

Ketika saya mendapatkaPendeta Claude Ezagourin ayat-ayat dari Perjanjian Baru itu, saya merasakan bahwa sesuatu terjadi di dalam saya. Itu adalah perjumpaan pertama saya dengan Perjanjian Baru dan merasakan ada pengaruh yang kuat padaku, khususnya kata-kata Yeshua tentang iman. Itu tertulis di Alkitab bahwa Yeshua berbicara dengan penuh kuasa dan ini adalah bagaimana saya menyadarinya. Perkara lainnya yang ditemukan di Perjanjian Baru yang saya tidak temukan di dalam agama tradisi Yahudi (Judaism) adalah kasih. Saya tersentuh oleh kata-kata Yeshua dan mulai percaya, tetapi berpikir itu gila. Saya berpikir bahwa saya sedang menuju keproses sakit mental: Saya seorang Yahudi dan percaya pada seorang Juruselamat orang Kristen. Saya bahkan tidak dapat berdoa di dalam nama Yesus (Jesus). Nama Yesus telah dilarang bahkan diucapkan oleh pengajaran-pengajaran para Rabbi. Jadi saya singkirkan buku tersebut dan berkata kepada diri sendiri untuk melupakan tentang hal tersebut. Tetapi Adonai mempunyai ‘jebakan’ lain untuk ku.

Pada saat itu saya memiliki hobby dengan perangkat radio. Saya dapat mendengarkan stasiun-stasiun radio dari seluruh dunia. Setiap pagi saya mencari stasiun baru. Suatu pagi mendengar suara dalam bahasa Inggris, tetapi saya tidak mengenali stasiunnya. Saya berpikir itu sebuah stasiun baru atau dari tempat yang sangat jauh. Sesungguhnya itu dipancarkan dari Libanon Selatan. Seorang pengkotbah sedang berkotbah pada nubuatan tentang Yeshua di kitab Yesaya [pasal 53?]. Saya tahu bahwa Yesaya ada di dalam Alkitab Yahudi saya dan saya pikir itu tidak mungkin. Dia menggundang para pendengarnya untuk menulis surat kepadanya, jadi saya menulis. Ia mengirim 12 pita kaset membahas kitab Yesaya.

Saya bekerja pada sebuah perkebunan pisang saat itu, jadi saya sepanjang waktu di dunia untuk mendengarkan pita-pita kaset sementara saya bekerja. Sementara saya bekerja, saya memeriksa semua ayat-ayat pada Alkitab Ibrani saya. Saya akhirnya menemukan kebenaran. Saya memiliki seluruh pewahyuan tentang Yeshua adalah Juruselamat (Mashiah) orang Yahudi. Saya bertanya kepada diri sendiri, ”Apa yang saya harus lakukan sekarang? Saya satu-satunya orang di Israel yang mengetahui kebenaran ini?” Saya berkesimpulan mungkin saya harus menulis sebuah buku, tetapi pertama-tama harus perlu bercerita kepada isteriku.

[Masuk iman kepada Yeshua tetapi terancam cerai dari isteri; disadarkan ia tidak sendirian; doa-doa syafaat yang berkuasa]
Ketika saya kembali kerumah dan menceritakan isteri saya kabar indah tersebut. Dia tidak menanggapinya dengan sungguh baik. Dia berkata, ”Kamu adalah seorang yang telah biasa kedalam ajaran Budha, kemudian kamu pergi ke ajaran Hindu, kemudian kamu pergi ke meditasi kebatinan, dan sekarang kamu bercerita bahwa Yesus (Yeshua) adalah Ha Mashiah orang Yahudi. Engkau gila?” Dia tidak ingin mendengar tentang itu atau sesuatu tentang Alkitab dari diriku. Dua tahun berikutnya adalah masa yang sangat sulit, sebab kami tidak memiliki kesamaan bahasa. Saya tidak tahu bagaimana melakukan iman ku dan membuat banyak kesalahan. Kami memutuskan untuk bercerai.Peta kota Tiberias dan Danau Galilea

Ketika kami memutuskan untuk memulai proses perceraian, seorang sukarelawan (wanita) Kristen bekerja dengan isteriku. Ketika ia datang kerumah kami saya katakan padanya bahwa saya adalah seorang Yahudi, tetapi saya percaya kepada Yesus dan pastilah saya adalah satu-satunya orang di Israel. Wanita ini berkata bahwa saya tidaklah satu-satunya, tetapi ada yang lainnya yang percaya seperti saya, bahkan ada persekutuan-persekutuan orang Yahudi beriman di Israel. Saya sungguh terkejut dan ingin bertemu mereka. Melalui wanita ini saya bertemu orang-orang Yahudi percaya Yeshua (Yesus) dan menerangkan kepada mereka bahwa setelah saya mulai percaya isteriku ingin menceraikan saya. Mereka katakan kepada ku bahwa itu tidaklah masalah dan saya harus berdoa setiap hari untuk keselamatan isteri saya.

Senaif itu kedengarannya saya ambil ini sebagai tugasku. Saya berdoa setiap hari tanpa kapok untuk keselamatan isteriku meskipun kami tidak berbicara satu sama lain. Setelah beberapa minggu berdoa saya melihat isteriku membaca Alkitab setiap hari dari pagi sampai malam. Melalui firman Elohim, doa dan pekerjaan orang-orang beriman lainnya Adonai melakukan pekerjaan kilat di dalam kehidupannya. Adonai tidak hanya menyelamatkan isteriku, tetapi juga Dia menyelamatkan pernikahanku. Saya berpikir bahwa ini luar biasa. Itu adalah pengalaman mujizat pertama saya: saya berdoa untuk keselamatan isteriku dan hanya didalam sedikit minggu dia diselamatkan meskipun dia telah begitu keras melawan iman percayaku. Sekarang mempercayai kuasa doa, saya memutuskan berdoa untuk anak-anakku. Saya berdoa untuk mereka setiap hari dan mereka menerima Adonai.

Elohim telah memberi saya lampu hijau untuk mendadopsi seorang pemuda remaja yang datang dari keluarga bermasalah. Keluarganya dan kibbutnya telah memperingatkan dia bahwa kami adalah missionari dan jika kami berbicara kepadnya tentang Alkitab dia tidak perlu dengarkan.[5] Pemuda ini sangat curiga dengan kami, khususnya ketika kami berkumpul sebagai sebuah keluarga dengan Alkitab untuk berbicara dan berdoa kepada Adonai. Saya mulai berdoa untuk dia setiap hari sebagaimana telah saya lakukan untuk isteriku. Setelah setahun berdoa dengan setia dia datang kepadaku dan berkata, ”Sesuatu sedang berputar di dalam hatiku,saya tidak tahu apa yang sedang terjadi padaku. Saya merasa tertarik oleh peribadi Yeshua. Itu sungguh tidak dapat dipercaya setiap kali saya ada ujian di sekolah dan saya berdoa di dalam nama Yeshua, saya lulus.” Dia menerima Yeshua dan menjadi orang beriman. Itu adalah pengalaman mujizat kedua saya dan konfirmasi bahwa Adonai mendengarkan kepada doa-doaku.

[Bersyafaat dan menginjili Orthodox fanatik-ibunya sendiri; jadi hamba YAHWEH; menjalin hubungan dengan para pemimpin Arab Kristen]
Saya memutuskan berdoa untuk ibuku. Saya tahu itu akanlah ada tugas yang sulit sebab ibuku adalah seorang yang telah mengajar keluarganya untuk menentang para Arab, Kristen dan Russia. Saya mulai berdoa setiap hari sama seperti saya telah berdoa untuk keluargaku. Setelah setahun berdoa ibuku datang ke Israel dimana saya membagikan imanku kepadanya. Dia menjadi marah dan berkata bahwa Yeshua bukanlah untuk orang-orang Yahudi. Dia pergi dan kembali ke Perancis.

Saya tidak menjadi lemah dan terus berdoa untuknya. Beberapa lama kemudian saya pergi ke Perancis mengunjunginya. Disana, sekali lagi membagikan iman saya kepadanya membawa khususnya ayat-ayat dari Perjanjian Lama, Alkitab orang Yahudi, menyatakan bahwa Yeshua (Yesus) adalah Ha Mashiah bagi para Yahudi. Dia meresponi dengan berkata, ”Itu adalah mustahil. Jika itu adalah benar, maka para rabbi akanlah sudah mengatakannya kepada kita. Saya akan hanya percaya itu jika kamu menunjukkan hal itu kepadaku dari Alkitab ayahku.”

Kakek saya adalah seorang Yahudi Orthodox yang telah menghabiskan waktunya mempelajari Talmud dengan para rabbi lainnya  di synagogue. Itu adalah Alkitab yang sangat tua, dari tahun 1906. Ketika ibu saya memberikan Alkitab itu kepadaku saya sungguh terkejut melihatnya sebab itu ada keduanya Perjanjian Lama dan Baru, sebuah Alkitab yang lengkap! Itu tidak terlalu susah menunjukkan kepada ibuku dalam Alkitab ayahnya bahwa Yeshua adalah Ha Mashiah orang Yahudi. Dia menerima Adonai. Tahun-tahun berikutnya saya juga berdoa untuk keselamatan tiga saudari-saudariku dan mereka semua menerima Adonai juga.

Elohim secara praktek menyelamatkan seluruh keluargaku melalui doa. Dia memberi saya kasih terhadap orang-orang Kristen, Arab dan beban untuk orang-orang (Yahudi) Russia yang kembali ke Israel.

Sebelum saya datang ke Israel saya tidak mempunyai hubungan apapun dengan orang-orang Arab. Bahkan di Algeria, kami telah hidup dalam lokasi-lokasi yang terpisah dan hubungan sangat jarang. Setelah saya menjadi orang percaya di Israel, sikapku berubah terhadap orang Arab. Saya telah berubah bahkan lebih lagi ketika saya pertama kali bertemu orang-orang Arab percaya di Israel. Ketika saya masuk pelayanan, saya lebih terlibat. Itu menakjubkan saya melihat orang-orang Arab yang percaya seperti aku dan yang telah diisi kasih Elohim. Kepada pikiranku sebelumnya, para Arab adalah orang-orang buruk dan musuh. Meskipun tidak ada peristiwa yang dramatik untuk menandai apa yang Adonai telah lakukan di dalam kehidupanku sehubungan dengan pola pikir anti-Arab, sebagaimana saya bertemu saudara-saudara Arabku pada pertemuan-pertemuan (rohani), saya mengingat-ingat kebelakang dan kagum pada apa yang Adonai telah lakukan di dalam hatiku.

Di Galelia kami memiBuku kesaksian Yahudi dan Arab didamaikan ke Mashiahliki hubungan-hubungan jangka panjang yang sangat bagus dengan saudara-saudara Arab kami. Sebelum saya memasuki dunia pelayanan, saya telah menggembangkan suatu hubungan yang khusus dengan saudara Anis Barhoun di Galelia. Kami terbiasa berkunjung kepadanya dan keluarga kami dihubungkan dalam suatu cara yang special. Hubungan-hubungan berlanjut dengan para pemimpin Arab dalam cara persahabatan yang serupa. Hal ini terus berkembang setelah saya menjadi pendeta.

Pada pertemuan-pertemuan yang terpisah dimana fellowship-fellowship orang Yahudi dan fellowship-fellowship orang Arab bergabung saya melayani bersama dengan para pemimpin Arab percaya dan menghadiri pertemuan-pertemuan dengan para pemimpin Arab dan Yahudi. Juga ada pertemuan-pertemuan yang diprakarsai oleh Tom White.[6] Membagi waktu setiap tahun bersama, Adonai menggembangkan hubungan yang sangat kuat. Selama masa-masa retreat ini kami bersama selama tiga hari bertukar makanan dan masalah-masalah pribadi yang sangat dalam diantara kami. Tidak ada perbedaan antara Arab dan Yahudi. Ketika kami bersama kami melupakan permusuhan diantara kami.

Saat pertama saya keluar negeri dengan seorang pemimpin Arab kira-kira tiga tahun yang lalu dengan Nizar Touma.[7] Sejak itu kami melakukannya setiap tahun. Dengan kesaksian Yeshua yang sama, tidak ada perbedaan antara Yahudi dan Arab. Nyatanya, sekarang keluargaku dan keluarga Nizar adalah dekat. Kami kadang-kadang pergi mengunjungi mereka di Nazaret.

[Pelayanan dengan pemimpin Arab ke Singapore, namun diserang roh jahat; penyakitnya dipakai Elohim untuk mempererat persaudaraan Yahudi dan Arab]
Sekali saya ada di Singapore dengan N. (namanya dirahasiakan), seorang pendeta Arab dari sebuah negara Arab di Teluk Timur Tengah; Saya diserang (roh jahat) secara rohani dan menjadi sakit. N. adalah penolong saya yang sangat khusus. Selama siang hari saya dikelilingi orang-orang dan saya mendapatkan pertolongan dari mereka, tetapi pada malam hari saya memiliki banyak masalah yang datang dari serangan tersebut. Saya harus membangunkan dia (saudara N.) kadang-kadang pukul 4 pagi dan dia merawat saya, bahkan membawa saya kerumah sakit. Suatu malam serangan-serangan berlipat kali ganda. Saya memohon kepada N. bolehkan saya membangungkan dia  apabila serangan datang kembali di tengah-tengah malam. Dia berkata tidak masalah, dan lakukan saja.

Saya kasihan kepadanya ketika saya membangunkan dia pada pukul empat pagi. Dia datang kepada saya dan berdoa dengan saya dan menunggu sampai saya kembali tertidur. Pada suatu malam dia terus terbangun berdoa sepanjang malam sampai pagi hari. N. sungguh  teladan yang sempurna dan berkat. Saya terkagum oleh saudara Arab ini yang bersama saya tidak seperti orang lain sebelumnya. Adonai menunjukkan dan mengatakan kepadaku, ”Ini adalah saudara Arabmu untuk ada beserta mu dan pergi melalui kesulitan ini bersama kamu.”

Pagi berikutnya N. akan berkotbah setelah hanya sedikit jam tidur. Saya sungguh bersyukur kepada Adonai untuk N. Kemudian N. bercerita bahwa pengalaman tersebut (menolong saudara Yahudinya) telah bekerja sangat dalam di dalam kehidupannya. Elohim telah memakai saat-saat itu untuk sungguh-sungguh membuka hati saudara N untuk masyarakat Yahudi di dalam cara yang sangat dalam. Ketika saya melihat kebelakang, saya terkagum melihat apa yang Adonai telah kerjakan di dalam merubah pemikiran anti-Arabku. TAMAT.


[1] Dokma-dokma: Pokok ajaran yang disusun manusia, sangat mungkin bersifat legalistik; referensi dari ILT. Torat (Torah/Taurat) arti literalnya adalah petunjuk dan perintah, tidaklah dihapus atau diakhiri, seperti Yeshua sendiri berkata (Mat. 5:18-20), namun dogma dan peraturan teknisnya yang dihapuskan.

[2] Sephardim atau Separdi  adalah orang Yahudi yang berasal dari Spanyol, Portugis dan Timur Tengah dan keturunan mereka memiliki budaya yang berbeda dari orang-orang Yahudi asli di seluruh dunia. Orang Yahudi dari Afrika Utara dan Timur  Tengah sering digambarkan secara terpisah sebagai orang Yahudi Mizrachi; www.jewfaq.org. Sephardim datang dari kata “Sepharad” kata Ibrani untuk Spanyol.  Mereka adalah keturunan dari orang-orang Yahudi yang tinggal di Spanyol dan Portugal di Abad Pertengahan sampai meningkatnya penganiayaan di tahun 1492 yang memaksa mereka untuk pergi dari kedua negara tersebut atau pindah dengan paksa kedalam agama Katolik.

[3]  Tradisi Yahudi dimana laki-laki yang menginjak usia 13 tahun harus belajar kitab Torah dibawah pimpinan rabbi dan dianggap mulai bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

[4]  Tali sembayang ini berisi dua perintah utama dari seluruh perintah YAHWEH: Dengarlah, hai orang Israel: YAHWEH itu Elohim kita, YAHWEH yang esa! Kasihilah YAHWEH, Elohimmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu (Ulangan 6:4-5), ayat-ayat ini di taruh di dahi mereka (pada sebuah kotak kecil) dan pada tangan mereka (tertulis pada tali kulit yang dibelitkan pada lengan mereka); bahkan juga pada tiang pintu rumah dan pintu gerbang mereka. Baca ayat 8-9.

Pada Matius 23:1-10 Yeshua menunjukkan kepada murid-murid-Nya bahwa perintah YAHWEH melalui Musa tersebut telah dirubah oleh para rabbi (pemimpin agama Yahudi saat itu) menjadi tanda kebanggaan dan kehormatan rohani diri sendiri, makna yang sebenarnya telah diganti oleh kelompok tertentu.

[5] Orang-orang Yahudi yang beriman kepada Yeshua juga digelari sebagai ”missionary” oleh para pengikut agama tradisi Yahudi (Orthodox). Kata ini juga berkonotasi “penghianat Israel” = bekerja sama dengan Roma, penjajah Israel. Sekarang ini telah banyak orang Israel bisa membedakan antara orang Kristen yang mengikuti ajaran Yeshua dengan pengikut ajaran gereja Roma Katolik.

[6] Direktur eksekutif yayasan The Voice of the Martyrs (VOM); almarhum.

[7] Pendeta dari Nazarene Church, Nasaret, Israel.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

 

 

Kesaksian Mike Shreve, ex-guru New Age bertemu Yeshua

Mike Shreve adalah seorang guru Yoga Kundalini yang telah mengajar di empat universitas di Florida, Amerika. Hingga sampai suatu pengalaman Kenyataan Hakiki atau Realitas Tertinggi (Ultimate Reality)[1] akhirnya itu merubah pola pikirnya secara radikal.

Tulisan kesaksian ini adalah ringkasan dari buku tulisan Mike Shreve sendiri: Encountering GOD. Kesaksian serupa juga di dapat pada buku In Search of the True Light pada Bab 3-Monumental Moments. Material asli adalah Copyright (2011). Dipakai dan diterjemahkan sesuai persyaratan dari pemilik, yakni tidak untuk diperdagangkan.

Kesaksian Mike Shreve juga terdapat di buku Truth Seekers, Sid Roth & Mike Shreve,  di dalamnya terdapat 9 kesaksian orang lain yang telah menemukan Kebenaran Sejati yang mereka cari.

Catatan dari penterjemah: Semua catatan kaki berasal dari penterjemah, kecuali itu ditulis. Artikel ini dapat dipakai dengan bebas, namun catatan kaki harus disertakan. Penjala Baja.

Mike Shreve on It’s Supernatural with Sid Roth – Truth Seekers

[Perubahan dari hidup duniawi ke agama New Age, dunia roh]
Itu sekarang mudah melihat kebelakang dan melihat titik-titik balik utama: lagu-lagu, buku-buku, pengertian-pengertian, pengalamaan-pengalaman, hubungan-hubungan dan ide-ide yang membangkitkan perubahan-perubahan fundamental di dalam sistem keyakinanku. Saat-saat monumental adalah titik balik yang bernilai dalam kehidupan kita.

Menurut tradisi Buddha, Siddhartha Gautama ditemui seperti ‘saat monumental’ sekitar usia dua puluh sembilan. Para Pemikir modern bahkan dapat mengistilahkan hal itu ’pergeseran paradigma yang bersifat pribadi’ (transformasi pribadi dalam gaya hidup dan keyakinan yang mengakibatkan adanya sebuah perubahan sosial).

Meskipun terlindung sepanjang hidupnya dalam batas-batas sebuah istana kerajaan, ia berani untuk menjelajah kedalam ‘dunia luar.’ Menurutu tradisi, itulah saat Siddhartha melihat apa yang disebut “Empat Pemandangan” – orang sakit, pria tua, mayat dan petapa.
Setelah menyaksikan penderitaan yang berlimpah di dunia ini, ia terguncang, tersentak dari mentalitas melayani diri sendiri. Keputusasaan yang dihasilkan untuk menemukan jawaban menjadi, penulis William Burrough katakan sebagai, “bahan baku perubahan drastis.”
Kemudian setelah beberapa tahun, sementara bermeditasi di bawah pohon Bodhi, ia mengklaim menerima sebuah pengalaman Kenyataan Hakiki (Ultimate Reality). Pada saat itu, menurut mereka yang mempraktekkan filosofinya [filosofi si Siddhartha Gautama], ia (Siddartha) menjadi “Buddha,”  (artinya) “Yang Tercerahkan,” “Enlightened One.”[2]
Pengalaman menjelang kematian di tahun pertama kuliahku terbukti menjadi ‘titik penting’ bagi saya.
Pada malam hampir-tragis itu, saya memiliki kesan bahwa jiwa saya benar-benar meninggalkan tubuh saya dan masuk ke dalam kekosongan yang sangat menakutkan dan gelap. Saya merasa benar-benar tidak siap. Saya telah mendengar bahwa mereka yang ingin mati dengan baik, terlebih dahulu harus belajar untuk hidup dengan baik. Saya jelas belum hidup dengan baik, jadi saya belum siap untuk mati dengan baik tentunya.

Mendapatkan gelar sarjana? Mengejar karir? Menjadi aman secara finansial? Untuk apa-jika akhirnya kuburan menunggu di suatu tempat di masa depan saya? Itu suara dari dalam terus menyelidik dan mendorong dengan peringatan serupa dengan yang diberikan kepada Horatio, dalam drama Shakespeare, “Hamlet“: “Ada banyak hal di sorga dan bumi … daripada yang diimpikan dalam filsafat Anda”
Seperti orang buta aku tersandung dalam kegelapan, menggenggam sesuatu benda. Saya sangat ingin melampaui batas-batas yang dikenakan pada diriku dan putus asa untuk jawaban abadi. Sekali lagi, rasa putus asa ini telah menjadi “bahan baku perubahan drastis.”
Agama[3] telah mengambil kepentingan yang diperbaharui. Saya telah dibesarkan sebagai seorang Roma Katolik. Sampai awal remajaku, saya sangat setia, tetapi gagasan bahwa Kristianiti adalah satunya jalan kepada Elohim, dengan mengesampingkan semua agama lain, hanya tampak terlalu sempit, terlalu tidak masuk akal. Selain itu, saya memutuskan untuk tidak bisa lagi menerima sesuatu hanya karena itu adalah bagian dari budaya saya atau ’sistem keyakinan’ keluarga.

Socrates berkata, “Kehidupan yang tak teruji tidak layak dijalani.” Saya memutuskan bahwa kepercayaan-kepercayaan yang belum diuji tidak juga banyak berarti … setidaknya, bagi saya pribadi. Bermaksud untuk mengeksplorasi berbagai agama dunia dengan pikiran terbuka, aku berangkat pada sebuah pencarian demi “Terang Yang Sesungguhnya.” (True Light).[4] Meskipun saya sedang belajar wahyu, teori dan pendapat orang lain saat itu, dengan tujuan utamaku adalah untuk mengalami Elohim untuk diriku sendiri. Saya beriman bahwa sesuatu di suatu tempat akan terbukti menjadi koneksi saya dengan Kenyataan Terakhir.

Sebuah Encounter Dengan Agama New Age atau agama Asia Timur  (Far East)[5]
Saya mulai membaca banyak literatur tentang agama-agama Asia Timur dan mata pelajaran terkait. Fraseologi (Phraseology) baru mengisi pikiran saya: yoga, proyeksi astral, mantra, cakra, mata ketiga, Nirvana, kesadaran-Ilah – semua hal ini terdengar sangat menantang dan menarik. [Bagi orang sekuler dan atheis, banyak orang Barat saat mereka sadari bahwa hal-hal yang bersifat kebendaan (materialsm) tidak dapat memuaskan jiwa mereka, umumnya akan jatuh pada titik ektrim yang sebaliknya, yaitu alam roh, spritualism]
Kemudian pada musim gugur tahun 1969 saya pergi untuk mendengar Yogi Bhajan: seorang guru dari India yang mengaku dia datang ke Amerika Utara untuk membantu ‘anak bunga’, ‘generasi perdamaian’ menemukan jalan yang bersifar roh. Dia mengajarkan kami tentang yoga[6] (secara harfiah yoga berarti ‘untuk dibebani’).

Mengemasi barang-barangku, saya meninggalkan kampus Universitas Florida State di Tallahassee, Florida, untuk membantu memulai sebuah pondok meditasi (ashram) di Pantai Daytona. [Disini Make dan yang lainnya berjam-jam dan setiap hari belajar dan praktek meditasi Hindu, mantera[7] yoga, dan pengendalian nafas dan pikiran untuk mendapatkan pencerahan jiwa, dengan tujuan menjadi serupa Elohim] Kami bertekad secara penuh pada proses tersebut.

Hal-hal aneh mulai terjadi padaku: rasa damai dan keterpisahan dari dunia, jiwa terkadang keluar dari tubuh berkunjung ke beberapa jenis alam yang lebih tinggi, mimpi rohani. Saya, dalam hal seperti-Adam, rindu suatu hari terbangun dari mimpi rohani menemukan diri saya sendiri mengamati wajah Penciptaku. Adakah yang lebih baik dari itu?

[Menjadi guru Yoga di empat universitas, surat Larry]
Saya tidak dapat lagi mengabaikan penderitaan ras manusia yang tertutup oleh kebodohan rohani. Setelah berunding dengan para pemimpin, saya meninggalkan pondok meditasi pergi ke kota lainnya dan memulai kelas-kelas pengajaran untuk saya sendiri.

Dengan dorongan yang kuat, saya pindah ke kota berkembang Tampa, Florida. Empat universitas di wilayah ini (the University of South Florida, the University of Tampa, Florida Presbyterian and New College) membuka pintu mereka, Beberapa ratus mahasiswa mulai hadir. Rindu untuk menabdikan diri mereka lebih lagi, sejumlah murid-muridku miminta saya untuk menyewa tempat dan menjadikan itu pondok meditasi kecil. Degan senang hati saya menuruti.

Suatu malam, selama waktu itu, saya mengalami apa orang lain sebut sebagai ’cahaya putih.’ Saya mendapat kesan yang berbeda jiwaku keluar dari tubuhku dan ditarik ke dalam cahaya yang sangat kuat dan abadi.[8] Meskipun sekarang saya memiliki interpretasi yang berbeda dari apa yang sebenarnya telah terjadi pada diriku, pada saat itu, aku merasa aku melewati suatu kondisi tertinggi dari meditasi. Lebih jakin dari sebelumnya bahwa saya benar-benar pada ‘jalan’ saya, saya diintensifkan usaha saya.
Lalu hal itu terjadi! Sangat tiba-tiba … sangat tak terduga … suatu perjanjian ilahi telah mengganggu apa yang telah menjadi pola kehidupan yang dapat diduga. Saya bahkan tidak mencari arah baru, tapi Elohim tahu hati saya. Dia tahu kasih saya kepada Dia dan ketulusanku dari tujuan. Jadi Dia turun tangan bagi saya melalui pembuatan beberapa peristiwa yang sangat bernilai yang membawa …

Sebuah Perubahan Dramatis [Surat Larry yang menantang, Di doa syafaati dan dipuasai oleh orang-orang Kristen, menguji ke-elohim-an Yeshua, ujian diterima Elohim]
Beberapa kejadian kunci telah terjadi dalam beberapa minggu yang menyebabkan ’titik balik’ terpenting dalam hidupku.
Pertama, koran Tribune Tampa menerbitkan sebuah wawancara dengan saya setengah halaman. Reporter itu menanyai saya tentang keyakinan saya sebagai guru Yoga Kundalini dan melaporkan semua yang saya lakukan di daerah Tampa. Saya bersyukur untuk pemaparan itu, yakin bahwa publisitas gratis ini akan meningkatkan kehadiran di kelas-kelasku.

Sedikit yang saya tahu bahwa hal itu juga akan menyadarkan kelompok doa Kristen setempat mulai mendoakan saya.
Seorang anggota kelompok doa memotong artikel dari koran tersebut, menempelkan nya ke papan doa mereka dan meminta orang-orang untuk berpuasa dan berdoa bagi saya setiap hari sampai pertobatanku terjadi. Selama periode yang sama ini, saya menerima surat dari teman kuliahku yang meninggalkan sekolah pada saat yang sama saya tinggalkan, karena alasan yang sama. Isi dari surat Larry cukup mengejutkan. Ini menggambarkan perubahan mendadak yang baru saja terjadi dalam hidupnya. Meskipun ia telah mengkhususkan diri untuk agama-agama Asia Timur dan disiplin-disiplin yoga tertentu, sesuatu telah berubah secara radikal seluruh pendekatannya pada hal-hal tentang Elohim. Larry menjelaskan bagaimana ia menerima berkat, pengalaman supranatural dengan Yeshua, yang disebut sebagai “dilahirkan kembali.”
Larry juga mengklaim pengalaman ini berbeda daripada pengalaman yang diperoleh melalui yoga dan itu meneguhkan klaim Yeshua sebagai satu-satunya cara untuk keselamatan. Kata-kata Larry adalah tegas, “Mike, kamu tidak akan pernah menemukan kedamaian yang sesungguhnya melalui yoga dan meditasi. Kamu harus melalui salib. Kamu harus dilahirkan kembali. Yeshua adalah jalan kepada kehidupan kekal.”

Saya balas menulis kawan kuliah saya, menjelaskan bagaimana senangnya saya  bahwa ia telah menemukan ‘jalan Kristianiti’ tepat baginya. Namun, saya menyatakan dengan tegas bahwa klaim Kristianiti terlalu eksklusif bagi saya. Keyakinan saya dahulu mencakup semua agama di dunia. Semua ‘jalan’ berbeda-beda untuk (menuju) Elohim yang sama: ini adalah keyakinan saya dahulu. Anehnya, meskipun, saya tidak bisa mengluarkan surat Larry dari pikiran saya. Kata-katanya terus bergema dalam diri saya, meskipun logika dari kata-kata Larry itu tidak saya terima.
Setelah beberapa minggu, saya memutuskan bahwa saya harus menangani masalah ini. Mengabaikan Kristianiti tanpa sepenuhnya mengeksplorasi klaim-klaimnya akanlah menjadi tidak adil – tidak adil bagi saya dan tidak adil bagi Dia yang telah mengklaim sebagai Juruselamat dunia. Aku sadar bahwa aku belum pernah benar-benar telah memberikan Yeshua kesempatan untuk membuktikan dirinya sendiri. Jadi saya menyimpulkan, “Jika dia benar-benar ialah siapa dia telah mengklaim, dan jika saya tidak menguji ajaran-ajarannya, saya mungkin akan kehilangan hal yang saya telah cari selama ini … Selain itu, jika Yeshua membiarkan dirinya untuk disalibkan bagi keselamatan umat manusia, saya berutang kepadanya untuk setidaknya membuka hati saya untuk kemungkinan klaimnya yang benar.” Jadi suatu pagi, meskipun melibatkan perjuangan batin, sebagai ganti mengikuti rutinitas yoga kebiasaanku, saya memutuskan untuk …
Mendedikasikan Satu Hari Untuk Adonai[9] Yeshua Ha Mashiah!
Aku bangun, seperti biasa, sekitar 3:15  pagi. Itu adalah waktu normal kami bangun di pondok meditasi. Dimulai pada pukul 3:30, kami akan menghabiskan sekitar satu jam melakukan berbagai latihan badan dan pernapasan. Lalu 4:30-6:30 kami akan duduk bersila dan tanpa bergerak, dalam apa yang disebut ‘posisi teratai,’ melakukan berbagai macam meditasi. Biasanya kami mempraktekkan Yoga Mantra. Pada pagi  yang penting itu, bagaimanapun, saya memutuskan untuk melepaskan diri dari kebiasaan tersebut.
Dengan sengaja, saya masuk ke sebuah ruangan sendirian dan duduk. Meskipun tampaknya salah secara rohani, saya mendedikasikan sepanjang hari itu berdoa sungguh-sungguh kepada Pribadi yang Larry klaim sebagai satu-satunya “pengantara antara Elohim dan manusia” ini. (1 Timotius 2:5). Beberapa kali saya mengaku, Adonai Yeshua, saya menyerahkan hari ini kepada Engkau. Saya percaya, jika Engkau nyata dan jika Engkau adalah Juruselamat dunia, Engkau akan tunjukkan itu pada hari ini.”

Lalu saya mulai membaca Alkitab, menghabiskan sebagian besar waktu saya tenggelam dalam Injil Yohanes dan kitab Wahyu. Aku sangat tergugah pada kitab terakhir (kitab Wahyu), dengan kuasanya, gambaran nubuatannya, terutama ayat-ayatnya yang meramalkan bahwa konflik terakhir antara kekuatan baik dan jahat di medan pertempuran di Israel disebut Armageddon (Lembah Megido).
Saat saya membaca, saya terus berdoa. Meskipun saya sepenuhnya mengharapkan semacam kunjungan yang bersifat kuat, gaib (penglihatan, suara yang terdengar) pada awalnya, hal itu tidak terjadi seperti itu. Selama sekitar sepuluh jam hari itu saya telah bertahan, membaca Alkitab dan mencari Adonai Yeshua. Kemudian, tepat ketika saya akan menyerah dan menolak klaim Mashiah (Kristus atau Masih),[10] Elohim campur tangan … dan saya tiba pada…

My Momen Of Destiny!
Kent Sullivan adalah seorang senior di University of South Florida. Dia adalah seorang mahasiswa berprestasi, tetapi pengejaran pendidikannya tidak membawanya pada jawaban-jawaban atas kehidupan atau ketenangan pikiran yang dia harapkan. Beberapa bulan sebelumnya, ia telah mempelajari ajaran mistik (hal-hal yang bersifat roh) Asia Timur. Secara khusus, ia telah mengikuti ajaran Yogananda, seorang guru terkenal India yang menulis sebuah buku populer disebut, The Autobiography of a Yogi (Catatan Pribadi seorang Yogi). Tiba-tiba, bagaimanapun, Kent telah beralih dari Kriya Yoga ke Kristianiti.
Meskipun saya belum pernah bertemu Kent secara pribadi, saya sangat menyadari perpindahan tak terduganya. Itu adalah telah menjadi ‘percakapan sekota’ di antara mereka yang terlibat dalam yoga dan meditasi. Kami semua bertanya-tanya, “Bagaimana dia dapat melakukannya? Ia telah dikenal sebagai salah satu siswa paling maju tentang yoga di daerah Tampa? Bagaimana dia bisa terlibat dengan orang yang mengajarkan bahwa Yeshua adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan?” Bukan saja kami tertegun atas ‘murtadnya’ Kent, penilaian kami adalah bahwa ia telah memilih jalan yang lebih rendah. Saya merenung, “Bagaimana mungkin orang yang mengerti konsep ‘semua agama menjadi satu’[11] bahkan murtad dari itu? Apa yang telah merubah pikirannya?” Tentu saja, saat saya merenungkan hal-hal ini, saya tidak tahu bahwa ….
Kent ternyata anggota dari kelompok doa yang sedang berdoa untuk saya.
Hari yang ditetapkan secara ilahi tersebut Kent memutuskan untuk mencuci pakaian-pakaian kotornya. Dia memiliki jam kosong antara kelas-kelas. Itu adalah waktu yang tepat untuk mengurus tugas yang membosankan, tapi perlu. Dengan setumpuk pakaian hingga dagunya, sekitar pertengahan jalan melalui pintu cuci pakaian, Roh Elohim menghentikannya. Dia mendengar suara yang lembut dalam rohnya mengatakan, “Jangan masuk ke sana saya memiliki sesuatu yang lain untuk kamu lakukan.. Kembali di dalam (mobil) van dan nyetir kemana Saya pimpin kamu.” Semuanya tampak tidak praktis dan tidak logis. Selain itu, sebagai seorang Kristen baru, Kent belum terbiasa rencananya terganggu oleh Roh Kudus. Dia menyerah kepada rencana Elohim, meskipun, berpikir itu cukup aneh bahwa untuk beberapa alasan Elohim tidak ingin dia mencuci pakaian kotornya. Tentu saja, dia tidak tahu bahwa sekitar dua mil jauhnya …
Guru yoga yang menjadi objek doa-doanya selama beberapa minggu itu mencari tumpangan, berusaha mendapatkan tumpangan ke University of South Florida.
Meskipun saya telah menghabiskan hari itu berfokus pada klaim Kristianiti, saya sedang dalam perjalanan sore itu untuk melakukan salah satu kelas yoga saya. (Karena saya telah meninggalkan semua harta benda yang tidak perlu, jadi saya biasa berjalan atau menumpang di mana-mana.) Sementara berdiri di sisi jalan, saya tetap berdoa bahwa jika Yeshua adalah “Jalan,” ia tentunya entah bagaimana menyatakan dirinya sendiri.
Sebagai Kent mengemudi, Roh Elohim membuat dia kagum untuk melakukan beberapa belokan-belokang yang tertentu, akhirnya menuntun dia menyusuri jalan tepat di belakang Busch Gardens. Dia masih bertanya-tanya mengapa ia melakukan semua ini ketika ia melihat suatu yang tampak unik, anak muda ‘memberi tanda jempol’ untuk numpang. Dengan rambut panjang, keriting, coklat, jenggot panjang dan pakaian longgar gaya-India, saya tampak secara jelas bagian dari Orang Barat pemuja agama-agama Asia Timur. Kent tidak pernah mengambil para penumpang jalanan, tapi merasa aneh ‘dipimpin’ untuk menepi. Saat aku membuka pintu dan melangkah ke dalam van, hati saya mulai memacu keras di dada saya, karena …
Tempelan di langit-langit mobil Kent adalah sebuah foto besar bergambar Yeshua.
Saya tahu ini bukan kebetulan, saya tahu ini adalah jawaban untuk saya. Pikiran dan hati saya merasa dibebankan dengan antisipasi. Setelah beberapa menit sunyi, Kent berbicara, “Teman, dapatkah saya mengajukan sebuah pertanyaan?” Tanpa ragu, saya menjawab, “Ya!” Dia segera bertanya, “Apakah Anda pernah mengalami Yeshua datang ke dalam hati Anda?” Aku segera menjawab, “Tidak, tetapi kapan saya bisa dapat? Saya telah berdoa tentang pengalaman tersebut sepanjang hari.”
Wajah Kent berubah menjadi ekspresi terkejut. Dia tentu tidak mengharapkan saya merespon begitu cepat. Dia menawarkan, “Kamu bisa datang ke pertemuan doa kami malam ini.” Saya menjawab, “Saya tidak ingin menunggu untuk pertemuan doa saya telah berdoa sepanjang hari. Jika ini adalah pendekatan yang valid untuk Elohim, saya ingin mengalami Yeshua sekarang.” Tertarik atas kesungguhanku, Kent keluar dari jalur jalan menuju tempat parkir pertama yang bisa dia temukan. Setelah mematikan mesin, ia mengundang saya untuk duduk bersamanya di lantai mobil van tersebut. Menarik tirai di belakang kursi depan sehingga kami memiliki kesendirian, ia mulai hati-hati menjelaskan jalan keselamatan. Kemudian, tepat ketika saya masih di ambang menjangkau pendekatan Kristen untuk keselamatan, kecerdasan saya sendiri menjadi ….
Sebuah Batu sandungan yang Sangat Susah!
Sebuah pikiran mendorong kuat mencengkeram pikiran saya. Jika saya akan tulus selama waktu doa, saya harus pertama-tama berurusan dengan masalah-masalah doktrinal yang mengganggu. Satu per satu, saya mengeluarkan konsep-konsep alkitabiah tradisional yang sangat membingungkan saya. Setiap pertanyaan atau komentar Kent dengan tenang meyakinkan saya dengan kata-kata, “Jangan khawatir tentang itu HANYA COBALAH  (JUST TRY) YESHUA!.” Saat aku menunjuk kepercayaan Asia Timur tertentu yang saya merasa saya tidak pernah bisa lepaskan, Kent terus menekankan, “Jangan khawatirkan diri Anda dengan hal-hal tersebut, HANYA COBALAH YESHUA!”[12]
Menjadi seorang mantan mahasiswa yoga sendiri, Kent mengerti ketakutanku. Dia bisa mengkaitkan kepada perlindungan yang saya rasakan terhadap sistem kepercayaan saya. Dia menunjukkan kebijaksanaan yang luar biasa. Dia tahu bahwa jika kami terlibat dalam beberapa diskusi mendalam atas doktrin, saya bisa mengubah hati saya jauh dari pengalaman Yeshua sama sekali. Jadi ia terus menekankan hal yang penting. Mengulangi kata-kata Yeshua, ia menjelaskan, “Jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Elohim.” (Yohanes 3:3 KJV)
Kent telah memahami sesuatu yang saya sangat yakin sekarang. Dibutuhkan kelahiran kembali rohaniah sebelum siapapun dapat melihat atau memahami rahasia kerajaan Elohim. Karena Yeshua adalah “kebenaran,” begitu Dia datang ke dalam hati seseorang, ’Dia menggerakan proses memimpin orang tersebut, oleh Roh Kudus, ke dalam seluruh kebenaran. (Lihat Yohanes 14:6). Jadi, hal yang paling penting bagi para pencari adalah pertama-pertama mengalami realitas dari kehadiran pribadi Yeshua. Kemudian mereka dapat lebih jauh dengan mudah mencari-cari semua kebenaran terkait yang mengelilingi ini tema sentral dari Kekristenan sejati. Itu bukanlah AGAMA, itu adalah HUBUNGAN – sebuah perbedaan yang besar!

Jadi, hal yang paling penting bagi para pencari adalah pertama-pertama mengalami realitas dari kehadiran pribadi Yeshua.

Kent akhirnya menyakinkan saya. Logikanya cukup kuat untuk menyenggol saya ke yang tidak diketahui. Selain itu, saya sangat lapar untuk mengenal Elohim; menyingkirkan kecerdasanku untuk sementara ternyata tidaklah terlalu susah. Kami menundukkan kepala kami dan teman baru-ketemu ini menuntun saya kedalam doa untuk keselamatan:

Adonai Yeshua, datang ke dalam hatiku. Bersihkanlah saya dalam darah-Mu. Maafkan saya atas dosa-dosaku. Berikan saya hidup yang kekal. Penuhilah saya dengan kehadiran-Mu dan kasih-Mu. Saya mengakui bahwa Engkau telah mati bagi dosa-dosa dunia dan bahwa Engkau telah bangkit dari kematian. Saya menerima Engkau sekarang sebagai Adonai (Tuhan, artinya: Pemilik, Raja, Tuan) atas hidupku.”

Saya merasakan sensasi hangat di bagian terdalam dari hatiku. Sesuatu yang berbeda itu telah terjadi, jauh berbeda dari apa yang pernah saya alami. Sebagai seorang anak saya menghadiri misa secara teratur di berbagai gereja-gereja Katolik. Saya melayani selama bertahun-tahun sebagai putra altar dan menghadiri sekolah paroki. Para biarawati dan pendeta yang mempengaruhi saya selama tahap pembentukan hidupku telah mengilhamiku dengan kerendahan hati, ketulusan dan komitmen mereka. Tetapi tetap saja, dalam tahun-tahun tersebut – diisi dengan tradisi-tradisi dan upacara-upacara yang berarti – Saya belum pernah menerima sejenis perjumpaan nyata dengan Elohim.
Rasul Paulus, menyebut pengalaman ini “pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, (Titus 3:5). Meskipun saya masih banyak pertanyaan bercampur aduk di hatiku, batin ‘mengetahui’ bahwa saya akhirnya telah dikembalikan ke hubungan yang benar dengan Elohim telah mengisi diriku. Saya yakin bahwa jika saya mati, saya akan menghabiskan kekekalan di surga. Ketenangan yang tak terlukiskan dari Elohim menetap seperti embun segar di jiwaku. Saya telah berubah … dan aku tahu itu.
Kenyataan Hidup

Seorang Vietnam Buddha, Thich Nhat Hanh, menulis, “Jika kita menyentuh Roh Kudus, kita menyentuh Elohim, bukan sebagai sebuah konsep, melainkan sebagai realitas hidup.”[13]  Ini adalah pola pikirku secara pasti sebagai seorang (bekas) guru yoga dan saya masih yakini saat ini. Namun, saya sekarang mengerti bahwa mengalami sesuatu yang ‘supranatural’ dapat dan tidak dapat menunjukkan sebuah pengalaman sebenarnya tentang Elohim. Saya berpikir dengan jujur (seperti Thich Nhat Hanh harus pasti) bahwa saya mengalami “realitas hidup” Roh Kudus selama masa disiplin yogaku, tapi setelah dilahirkan kembali, saya melihat pengetahuan pengalaman ini dari perspektif baru sepenuhnya. [sepertinya sama namun sangat berbeda, Iblis juga dapat menyamar menjadi malaikat terang, namun kedamaian sejati hanya datang dari Elohim].

Selama beberapa hari mengikuti pengalaman yang mengubah kehidupan ini, saya mengumumkan kepada semua siswa saya bahwa saya akhirnya menemukan “realitas hidup” ini. Saya mengakui bahwa saya telah salah dalam penilaianku sebelumnya tentang Kenyataan Hakiki, bahwa saya sebelumnya tidak pernah bertemu dengan Roh Elohim yang sejati sampai saya pergi melalui Yeshua, dan akibatnya, semua kelas yoga saya akanlah dibatalkan. Meskipun perubahan tiba-tiba sedemikian mengejutkan para muridku, banyak dari mereka telah percaya pada wawasan-wawasan penemuan baruku dan secara antusias menerima Yeshua sebagai Adonai dari kehidupan mereka.

Seperti biasa, kegairahan saya adalah berbagi pengalamanku dengan orang lain, yang saya lakukan sangat penuh semangat. Setelah berjuang begitu keras untuk menemukan Pencipta saya, begitu saya menemukan Dia, sangatlah penting untuk menyatakan wahyu penting ini kepada setiap orang yang terbuka hatinya yang saya temukan. Saya menutup pondok meditasi dan pindah ke lokasi yang berbeda. Belajar Alkitab berjam-jam dan berdoa. Itu merupakan salah satu titik penting bagi saya pribadi, musim transisi radikal, waktu yang sangat penting dari belajar untuk melihat perbedaan antara doktrin yang salah dan benar. Seperti Plato pernah berkata, “Elohim adalah kebenaran dan cahaya bayangan-Nya.” Karena Elohim yang di sorga akhirnya membayangi saya dengan pribadi dan pengaruh pengasihan-Nya, terang kebenaran mulai bersinar semakin banyak dari hari ke hari.

[Perbandingan-perbandingan yang menjadi perhatian]
Polytheism or Monotheism?
Semua guruku dan para pelatih New Age meninggikan kehadiran dan penyembahan banyak dewa dan dewi. Sering ada gambar-gambar atau patung-patung tersebut di berbagai studio dan pondok meditasi yoga yang saya pernah kunjungi. sebagai seorang yang buta rohani, saya dahulu tidak pernah mempertanyakan keberadaan mereka.

Saya terkejut Yeshua (lambang tokoh yang tidak bercacat!) menerangkan beribadah kepada dewa-dewa sebagai kesalahan rohani yang serius. Ketika ditanya oleh seorang ahli kitab perintah apa yang terbesar di seluruh Perjanjian Lama, Dia menjawab:
Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel: YAHWEH itu Elohim kita, YAHWEH itu esa! (Markus 12:29, Ulangan 6:4)
Megutip ayat pada Perjanjian Lama ini, Yeshua berpegang pada konsep Yahudi yang kukuh tentang monotheism – persepsi bahwa hanya ada satu Elohim yang benar. Dia adalah personal, tidak terbatas, mahahadir (omnypresent), mahatahu (omnyscient), mahakuasa (omnipotent), dan sempurna dalam segala jalan-Nya. Dengan mengutip Ulangan 6:4 Yeshua juga meneguhkan seluruh bagian dari Kitab Suci yang juga dengan kuat memerintahkan umat Elohim: Janganlah kamu mengikuti elohim (gods/ ilah-ilah) lain, …(Ulangan 6:14). Hal ini telah dikatakan sebelumnya, ketika Elohim, dengan jari-Nya yang menakutkan menulis Sepuluh Perintah pada dua loh batu:  Jangan ada padamu elohim lain di hadapan-Ku. Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. (Keluaran 20:3-4). Kita tahu bahwa Yeshau setuju dengan pernyataan ini, Dia berkata: Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Elohim.” (Matius 19:17)

Sebagai seorang guru yoga, saya telah mencoba untuk mencampur agama Budha, Hindu, Jain, Sikh dan agama-agama lainnya kedalam satu pola pikir, namun saya sadar bahwa melakukan hal itu adalah seperti mencoba mencampurkan minyak dengan air. Semuanya agama tersebut tidak sejalan dengan Kristianiti.

Ketika orang Hindu berkata, ”Hanya ada satu Elohe (bentuk tunggal),” ia merefer kepada sebuah kekuatan cosmik yang tidak berpribadi, dipanggil Brahman. Pada sisi lainnya, ketika Yeshua atau pengikut-Nya yang sejati berkata, ”Hanya ada satu Elohim (tunggal namun bisa berarti jamak),” pernyataan ini berarti satu Elohim yang diluar dari lainnya. Dia adalah Elohim yang personal, bukan sebuah kekuatan yang tidak berkepribadian. Dia adalah tiga di dalam satu secara alami: menggabungkan Bapa, Putra dan Roh Kudus.

Satu Jalan atau Banyak Jalan?
Guruku juga telah mengajar banyak jalan menuju Elohim, tetapi Yeshua mengklaim hanya ada satu jalan, satu jalan kecil[14] yang memimpin ke kehidupan kekal: Akulah pintu; barang siapa masuk melalui Aku, ia akan selamat… (John 10:9)

Yeshua bahkan menyegaskan: Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. (Yoh.  10:8). Itu termasuk: Lao Tzu, Krishna, Buddha, Zoroaster atau pribadi-pribadi lainnya (nyata atau mistik) yang telah mengklaim sebagai guru besar yang memimpin orang kepada kenyataan yang tertinggi. Umumnya, mereka jujur di dalam menerangkan kehidupan dan kerohanian sebagaimana mereka telah lihat. (Hanya Yeshua yang mengklaim) : “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. (Yohanes 14:6) Pada ayat yang sama Ia menegaskan: Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Pentingnya Penyaliban Yeshua
Guruku berkata bahwa kematian Yeshua di salib tidak dapat menebus dosa siapapun, hanya memberikan contoh keteladanan. Namun, pada Perjamuan Suci terakhir,  Dia memberikan cawan berisi air anggur kepada murid-murid-Nya . Kemudian Dia memberi sebuah nubuatan penting yang ekstrim:
Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa. (Matius 26:28)

Karma atau Pengampunan dari Elohim?
Bhajan Yogi mengajar bahwa tidak ada yang kebetulan. Segala sesuatu yang datang pada kita – positive atau negative – kita tarik karena hal-hal yang telah kita lakukan pada kehidupan sebelumnya.
Yeshua mengajar sama sekali berbeda, melalui pertobatan dan iman mereka yang datang kepada Elohim akan dilepaskan dari dosa-dosa lampau mereka. Dia bahkan mengajar berdoa:  Bapa kami yang di sorga, … ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; (Matius 6:9, 12)
Kalimat yang sering dikutip dari doa (Bapa Kami) mengingatkan secara terus-menerus pewahyuan bahwa Elohim adalah Elohim yang personal (sebagaimana Yeshua mengajar), bukan sebuah kekuatan tidak-berkepribadian [benda mati] (sebagaimana semua guru-guru New Age saya telah mengajar).
Kekuatan tidak mengampuni, pribadi dapat (1 Yohanes 1:9).

Mengucapkan mantra-mantra atau Berdoa dengan perasaan hati
Bhajan Yogi mengajar kami untuk mengucapkan berulang-ulang mantra-mantra agar supaya ’membakar’ karma dan menerima kesatuan dengan Elohim. Semua guru yoga yang pernah saya ikuti menegaskan bahwa Yeshua menghabiskan tahun-tahun persembunyiannya, dari usia 12 sampai 30, di Asia Timur, belajar mentera-mantera. Jika itu benar, kenapa kemudian Dia kembali ke negara-Nya, Israel, hanya untuk melawan praktek-praktek agama Asia Timur ini? Pada korbah utama pertama-Nya Dia bahkan melarang:  Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele  (pengulangan yang sia-sia/ vain repetitions; KJV) seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. (Matius 6:7)
Meskipun Mahatma Gandhi seorang Hindu, sangat terbiasa dengan Mantra Yoga, dia mengaungkan penulis Kristen, John Bunyan, yang berkata: Di dalam doa, adalah lebih biak memiliki hati daripada kata-kata namun tanpa hati[15]

Pantheism atau Theism?
Satu dari hal-hal yang sangat terpenting dalam daftar perbandingan adalah Pantheism lawan Theism.
Kebanyakan dari para penganut New Age dan murid-murid  agama Asia Timur percaya dalam pantheism (kepercayaan “Semua benda adalah Elohim/ Allah”). Dalam kebanyakan pola pikir mereka kenyataan yang tertinggi adalah Itu (It; benda) bukan “Dia” (pribadi). Jagat alam adalah kenyataan Deity yang menyelimuti dirinya sendiri dalam ‘perwujudan’ benda nyata. Namun pada kenyataannya (pantheism mengajar), dunia nyata adalah sebuah illusi, orang Hindu menyebutnya maya.
Sebaliknya, theism percaya bahwa Elohim telah menciptakan jagat raya dan dunia yang bersifat benda adalah nyata.

(Dalam) pantheism tidak hanya pepohonan, bunga-bunga dan binatang ekpresi dari keilahian – semua manusia, jahat maupun yang baik adalah ekpressi ilahi juga. Mempercayai hal-hal ini adalah sebuah dilemma ilmu agama yang serius. (Dengan kata lain) “Dia” menjadi sumber baik dan jahat, kegelapan dan terang (tepat seperti arti symbol dari yin-yang.[16]

(Dalam) pantheism … semua manusia, jahat maupun yang baik adalah ekpressi ilahi juga. Mempercayai hal-hal ini adalah sebuah dilemma ilmu agama yang serius.

Kitab Suci menyatakan:

  • ”Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Elohim adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. (1 Yoh. 1:5)
  • bahwa YAHWEH itu benar, … dan tidak ada kecurangan pada-Nya. (Mazmur 92:16)

Reincarnation atau Resurrection?
Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum. (Yoh. 5:28-29)
Ketika saya masih sebagai guru yoga, saya berpikir itu lebih masuk kalau bahwa kita akan berinkarnasi (berubah bentuk) menjadi mahluk roh tanpa bentuk tubuh [atau jadi monyet atau binatang lainnya jika hidup sebelumnya jahat]. Agama Buddha mengajar tujuan akhir manusia adalah menjadi kosong (nirvana – akhir dari keberadaan pribadi). Agama Hindu mengajar kita menjadi segala sesuatu (bersatu dengan Brahman). Tetapi Kristianiti adalah berbeda sama sekali. Kita akan selalu ada bersama dengan Elohim dan memiliki semua di sorga dan di bumi.

Berubahlah secara rohani!
Berdoalah doa ini dengan seluruh jiwamu:
”Adonai YESHUA. Saya menerima Engkau kedalam hatiku sebagai Juruselamat dan Adonaiku. Saya dengan tulus bertobat dari semua dosaku dan kebiasaan-kebiasaan yang salah. Ampuni saya sesuai janji-Mu. Basuhlah saya di dalam darah-Mu yang telah tercurah di Kalvari.
Oleh iman, saya menerima karunia kehidupan kekal-Mu. Saya berdoa kiranya Engkau memenuhi saya dengan Roh Kudus, kebaikkan-Mu dan kasih-Mu. Saya mengakui bahwa Engkau telah mati untuk dosa-dosa dunia ini dan Engkau telah bangkit dari kematian untuk memerintah selamanya. Saya terima Engkau sekarang sebagai Adonai hidupku dan saya percaya saya akan berada dalam kekekalan dalam hadirat-Mu.”

Yakinlah bahwa kami perduli secara tulus akan kamu dan akan pertumbuhan rohani kamu. Kami mendorong kamu untuk menghubungi kami dan biarkan kami tahu bahwa kamu telah memberikan hatimu dan kehidupanmu kepada Adonai Yeshua. Kami ingin menolong kamu dalam perjalanan (rohani) kamu.

“In Search of the True Light” ©2002 copyright by Mike Shreve.
All articles unless otherwise noted are copyright by Mike Shreve.
Personal Stories are the work of the individuals.
All Rights Reserved.


[1] Kenyataan yang Hakiki  atau Realitas Tertinggi (Ultimate Reality) adalah suatu istilah yang memiliki banyak arti.  Dalam ilmu philosophy, itu produk tertinggi dari kesimpulan  (berdasar pengalaman dan atau penemuan) pribadi masing-masing, ilmu pengetahuan bagi para Scientist, atau sebuah ”pencerahan kehidupan manusia” yang didapat oleh seorang guru (seperti Sidartha Gautama atau Kong Fucie).  Bagi penganut Anisme itu adalah suatu kesadaran bahwa benda-benda (an impersonal being) bernyawa dan itulah target mereka untuk ada sebagai. Bagi orang Kristen itu adalah suatu pengertian bahwa Elohimlah pencipta semua benda-benda di langit dan di bumi dan Dia berkuasa atas semua yang ada baik dunia nyata maupun roh (tidak nyata) dan kita, manusia, diciptakan sempurna pada awalnya, namun kemudian terjatuh kedalam dosa. Melalui Putra Elohim saja, kita bisa kembali bersama-sama dengan Pencipta semesta alam tersebut.

[2]  Sejarah Budhisim pada awalnya adalah sebuah philosophy (ajaran yang bersumber dari pengalaman hidup Siddhartha Gautama), dan berkembang menjadi agama – patung Buddha yang pada awalnya objek dari fokus tujuan mereka (ingin serupa seperti) telah menjadi sebuah ilah (god), dikenal sebagai ”berhala.” Penyembahan/ pemujaan pada berhala dan juga  ajaran manusia tidak akan pernah meraih Elohim (God/ Allah). Sebab Elohim adalah Pribadi yang bersifat roh dan maha kudus.

[3] Agama adalah ciptaan manusia, ”cara-cara manusia untuk mencapai kepada Elohim (Allah) melalui perbuatan-perbuatan baik, meditasi, mempersembahkan korban. Menyenangkan agar mendapat pembenaran adalah inti dari semua agama.” Kristianiti sama sekali berbeda, Elohim, Pencipta manusia, menjelma menjadi manusia daging, Yeshua Ha Mashiah, berusaha mencapai manusia, ciptaan-Nya, yang telah terhilang (terputus hubungan karena dosa)  untuk mengembalikan mereka pada tujuan yang semula – hidup kekal bersama dengan Dia.

[4] Alkitab berkata Terang Yang Sesungguhnya adalah Yeshua (Yesus) Ha Mashiah. Titel itu disandang dan diklaim oleh Yeshua sendiri: ”Akulah terang dunia,” (Lihat Yohanes 8:12 & 9:5 & 12:46. Baca seluruh Injil Yohanes bab 1 dan Matius 4:12-17.

[5] Far East diartikan sebagai negara-negara Asia Timur [Afganistan, Pakistan, India, Nepal], termasuk Cina, Jepang, Korea dan Indonesia; Cambridge Dictionaries

[6] Inti dari ajaran Yoga adalah mengontrol pikiran sendiri  dengan cara mengosongkannya, lalu membiarkan alam roh masuk memimpin pikiran tersebut. Mike Shreve juga mengakui bahwa praktek ini membuka   dan meninggikan praktek penyembahan berhala

[7] Mantra adalah praktek umum di dalam kebanyakkan agama-agama Asia Timur, mengucapkan kalimat tertentu berulang-ulang untuk mendapatkan ‘iman.’ Sesungguh mantra keagamaan tidaklah berbeda dengan mantra sekule, dikenal dengan nama “berpikir positif” yang dipraktekkan di dalam dunia sekuler yang dibawa oleh Dr.  Norman Vincent Peale pada pertengahan abad 20.

[8] Inilah pengalaman tertinggi bagi penganut agama-agama Asia Timur yang serius atau sekarang disebut agama New Age, yakni roh keluar dari  tubuh mereka berhubungan dengan dunia alam roh. Alkitab menyatakan hal ini sebagai ‘berkomunikasi dengan roh-roh jahat.’ Suatu hal yang dilarang oleh YAHWEH. Baca Imamat 20:6-8, 27 dan Ulangan 18:10-14. Hanyalah  perkataan Yeshua Ha Mashiah yang harus umat –Nya dengarkan sungguh-sungguh (Ul. 18:15-22).

[9] Adonai adalah kata Ibrani di Alkitab yang diterjemahkan sebagai “Tuhan” atau “the Lord.” Di Perjanjian Lama umunya menunjuk kepada nama Elohim Israel, Elohim semesta alam, yaitu YAHWEH (diterjemahkan degan kata ”TUHAN”). Di Perjanjian Baru itu adalah titel Yeshua, yang menunjukkan sifat ke-Elohim-an diri-Nya dan juga panggilan hormat sama seperti ”Tuan/ Master.”

[10]  Ha Mashiah bahasa Ibrani di Alkitab yang diterjemahkan menjadi ”The  Christ”  oleh orang Eropa atau ”Al-Masih” dalam Islam. Artinya literalnya ”yang diurapi.” raja dan nabi di Perjanjian Lama dinobatkan dengan pencurahan urapan minyak minyak di kepala mereka. Namun pada semua agama Monotheism itu adalah TITEL atau JABATAN yang dimiliki oleh Yeshua (Yesus atau Isa).

[11] ”Semua agama menjadi satu” adalah gerakan baru yang maju pesat di negara-negara Barat yang dikenal dengan nama agama ”New Age.” Mike Shreve, mengutip suatu data statistik, berkata di Amerika Serikat itu pernah mencapai peningkatan 240% hanya dalam priode 1990-2000, menjadikan itu sebagai perkembangan agama tercepat di Amerika.

[12]  Sikap keras Mike Shreve untuk tidak mau mencoba mengalami ”bertemu Yeshua” adalah hal yang umum, oleh sebab salah pengertian dan salah pengajaran tentang siapakah sebenarnya Yeshua Ha Mashiah, hal ini digambarkan secara baik oleh seorang Kristen pada artikelnya ”Tiga botol racun.” Diperlukan keberanian untuk ”JUST TRY JESUS.”

[13] Thich Nhat Hanh, Living Buddha, Living Christ (New York, New York: Riverhead Books, 1995) p. xvi. Dari sumber aslinya

[14]  Yeshua menggambarkan ”Jalan menuju Surga” adalah jalan yang sempit, sebaliknya jalan yang lebar (mudah dan bebas hambatan) sesungguhnya menuju kepada kebinasaan, lihat Matius 7:13-18.

[15] Mahatma Ghandi and John Bunyan, http://www.quotesdaddy.com/quote/1020048/

Mahatma+Gandhi/in-prayer-it-is-better-to-have-aheart-without-words. Dari sumber aslinya.

[16]  Jin Yang adalah filosophi Korea atau agama Buddha Korea yang percaya kebaikan dan kejahatan tidak bisa dipisahkan, ajaran ini berasumsi bahwa pada setiap yang baik (putih) terdapat bagian yang jahat (hitam), dan pada setiap yang jahat (hitam) terdapat bagian yang baik. Konsep ini juga dianut oleh agama Hindu. Alkitab menyatakan bahwa kedua hal itu tidak dapat terjadi, HARUS dipisahkan. Lihat Matius 7:15-23 tentang nabi palsu dan 1 Yohanes 8-11 tentang kebaikan dan kejahatan.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Kesaksian Perdamaian antara Yahudi dan Palestina melalui Yeshua

Diterjemahkan dari Forbidden Peace by Naomi Rothstein

Cerita Dari Seorang Tentara (A Soldier’s Story)
[Perjumpaan seorang tentara Yahudi dengan kebenaran Alkitab: Yeshua adalah Mashiah yang dijanjikan]
Ketika Moran beremigrasi dari Israel ke Amerika Serikat, ia merasa putus asa mengenai situasi di Timur Tengah: “Orang-orang sekarat dari kanan dan dari kiri; tidak ada yang melakukan sesuatu, dan saya memutuskan untuk pindah.”  Kekerasan di Israel telah menyerang Moran secara pribadi, seorang pembom bunuh diri Palestina telah menelan korban tujuh dari teman-temannya di unit IDF-nya. Jadi dia datang ke AS, mencari “realitas yang berbeda.” IDF Israel Defent Force, sejenis TNI.

Bekas tentara ini hanya sedikit menyadari bahwa realitas itu akan berubah begitu drastis untuk menyertakan dua kelompok orang yang sebelumnya terlarang baginya [Kristen dan Arab].
Pada tahun 1998, Moran menemukan dirinya di Los Angeles, pergi ke kebaktian di gereja atas undangan seorang teman. Moran meninggalkan ibadah dengan gelisah, dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Elohim. Dia ingin jawaban dan di tangtang untuk membaca Alkitab, baik Tanakh (Bahasa Ibrani untuk Perjanjian Lama)* dan Perjanjian Baru.

“Sepanjang seluruh Kitab Suci, Anda menemukan bahwa Elohim mengasihi umat-Nya, Israel. Dia mengasihi mereka sehingga bahkan ketika kita terus berbuat dosa terhadap dia dan menolak Dia. Dia  tetap setia kepada kita dan Dia memberi telah memberikan kita Mashiah (Mesias/ Kristus) yang dijanjikan. untuk menyelamatkan kita dari semua kejahatan kita. Elohim telah membuka mata saya untuk kebenaran tersebut,” Moran berkata.

Apa yang Moran baca di Alkitab telah meyakinkan dia bahwa Yeshua (Yesus) adalah Mashiah, dan Moran telah berkomitmen menyerahkan hidupnya untuk pribadi yang dia selalu menganggap itu bukan untuknya.
Tapi meskipun iman barunya memberinya cinta dan damai yang ia tidak pernah kenal sebelumnya, pertanyaannya adalah, apakah itu akan cukup untuk memadamkan kepahitan terhadap orang Arab yang masih melekat dalam hatinya? Mungkinkah bahwa cinta dan perdamaian yang benar-benar menggantikan kemarahan yang berabad-abad?

Persahabatan Yang Terlarang (Forbidden Friendship).
[Moran besaksi; bertemu muka dengan Tass, mantan pejuang PLO;  Tass dihadapakan dengan Alkitab; Berdamai]
Moran telah pergi dari mempertanyakan entah ada atau tidaknya Elohim (a God)  untuk percaya sepenuh hati pada Elohim dan pada klaim-klaim Yeshua sebagai Putra Elohim dan Juruselamat pribadinya (Moran) dari dosa. Namun, dalam hatinya, dia masih tidak mempercayai orang-orang Arab.

Suatu hari di bulan Maret, 2001, Moran diundang untuk membagikan kesaksiannya di sebuah konferensi yang dihadiri oleh orang-orang Yahudi dan Arab yang percaya dalam Yeshua. Di podium, ia berbicara tentang bagaimana teman-temannya dibunuh oleh seorang pembom bunuh diri dan tentang bagaimana ia telah datang untuk percaya bahwa Yeshua adalah siapa yang Dia telah klaim.
Ketika dia selesai, Moran bergabung dengan sekelompok teman-temannya. Saat ia berbicara dengan mereka dia melihat seorang lelaki Arab mendekat. Orang Arab berdiri di depan Moran dan berkata, “Nama saya adalah Tass Abu Saada.” Moran menyapanya dengan cukup baik, tapi dalam hati bertanya-tanya, “Apa yang dia inginkan dari saya?” Lalu Tass mengatakan, “Saya dahulu adalah seorang pejuang Fatah.” Ketika Moran mendengar bahwa orang ini telah bekerja di PLO, ia melangkah mundur dengan syok.
Tapi Tass melanjutkan: “Tapi aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”
“Ya?” Moran bertanya.
Tass menjawab, “Aku ingin kamu tahu bahwa aku mengasihimu.” Moran tidak bisa mempercayai telinganya.

Tahun sebelumnya, Tass telah mengalami perubahan radikal dalam dirinya terhadap orang-orang Yahudi. Sebagai seorang pria muda yang lahir di Gaza, ia tidak merasakan apa pun tapi kejahatan bagi orang Yahudi: “Saya percaya bahwa mereka adalah orang-orang yang mengambil tanah saya, yang mencuri dariku, jadi aku membenci mereka dengan napsu yang besar.”
Kemarahannya mendorong dia untuk berjuang bersama para pasukan Yaser Arafat. Bertahun-tahun kemudian, ketika ia berangkat ke AS dan menjadi pengusaha restoran yang sukses, ia membawa kebencian tersebut bersamanya. Dia mengakui untuk memiliki impian meracuni para pelanggan Yahudi.
Akhirnya, Tass berteman dengan Charlie, seorang pelanggan yang telah membuat Tass berkesan dengan kebaikannya. Charlie memberitahu Tass, seorang Islam, bahwa Yeshua adalah Elohim (Allah). Tass percaya bahwa Yeshua adalah seorang nabi, namun tidak lebih. Jadi dia berketetapan tidak setuju dengan teman barunya. “Tidak mungkin!” kata Tass.
Tapi Charlie bertahan dan kembali dengan Alkitabnya, dan meletakkannya di meja di antara dirinya dan Tass. Tass melompat mundur. “Aku tidak bisa menyentuh itu,” dia berseru. Ketika temannya bertanya mengapa, Tass tidak dapat bicara, dia memiliki kesan yang jelas bahwa apa yang di depan mereka adalah firman Elohim. Pewahyuan ini bahkan mengejutkan Tass, yang tidak pernah menganggap Alkitab adalah benar [Orang Islam telah diajar sejak kecil bahwa Alkitab telah dipalsukan, jelas tanpa bukti]. Tapi ketika Charlie mulai membaca apa yang Alkitab katakan tentang Yeshua, Tass merasakan beban telah terangkat dari dirinya. Dia mengalami kedamaian dan sukacita yang instan dalam dirinya dan mulai percaya bahwa apa yang Alkitab katakan adalah benar. Seperti hari-hari berlalu dan dia mulai membaca buku ini untuk dirinya sendiri, ia terdorang untuk berdoa. Dan apa yang ia doakan mengejutkan dirinya sendiri:

“Tiba-tiba aku mendengar diriku sendiri berdoa untuk orang-orang Yahudi .. Aku mendengar diriku berdoa, ‘YAHWEH, berkati orang yang Engkau telah pilih dan bawa mereka kembali ke tanah perjanjian.’” Aku mulai ingin menutup mulut saya dengan tanganku, tetapi aku tidak dapat sebab itu meletup-letup di dalam diriku.”
Tass menemukan keinginan yang dalam untuk membuang kebencian terhadap orang Yahudi yang ia telah bawa begitu lama. Saat dia ingat kata-kata Yeshua akan pengampunan, Tass menyimpulkan: “Sekarang itu adalah model bagi saya Jika ia bisa memaafkan begitu banyak, saya bisa memaafkan setidaknya sedikit.”
Tass diundang untuk bersaksi di sebuah konferensi Arab-Yahudi, di mana ia melihat Moran bersaksi tentang perjalanan sendiri. Tass terdorong untuk mendekati Moran dan memperkenalkan dirinya sebagai seorang pejuang mantan Fatah dan percaya kepada Yeshua.

Dia mengatakan kepada Moran bahwa ia mengasihinya dan kemudian dia minta maaf atas nama bangsanya untuk apa yang telah terjadi pada teman-teman Moran. Pada saat itu, Moran merasa kekerasan hatinya terhadap orang-orang Arab lumer, dan giliran Moran memohon kepada Tass untuk memaafkannya atas ketidak mampuannya mempercayai atau mengasihi orang-orang Arab.
Moran berkata, “Apa yang Elohim telah dilakukan pada saat itu, Dia telah mengangkat keluar beban dari bahu saya dan Dia memberiku kasih. Dia memberiku begitu banyak kasih.”

Sekarang, mantan musuh-musuh ini adalah teman-teman yang terbaik. Menurut Tass, “Ketika orang-orang Yahudi dan orang-orang Palestina datang bersama-sama dalam nama Elohim, Elohim yang benar, maka akan ada kedamaian sejati. Jika Elohim dapat melakukan perubahan ini di dalam hati orang sembrono seperti saya sendiri, saya percaya bahwa ada harapan bagi siapa saja, dan itu bukan hanya untuk konflik di Timur Tengah, melainkan untuk konflik dalam kehidupan mereka sendiri.”

Kesimpulan: Tidak lagi terlarang.
Itu nampaknya mustahil bahwa masyarakat Yahudi dan masyarakat Arab dengan history konflik panjang telah dapat mencapai damai dengan satu sama lain melalui Yeshua. Pada akhirnya, keduanya Yeshua dan Kitab yang berisi peristiwa-peristiwa tentang kehidupan-Nya yang adalah terlarang bagi kedua kelompok masyarakat … telah menjangkau banyak hubungan …
Dapatkah itu ada bahwa konflik-konflik dan problem kita ialah bukan semata-mata bersifat politik atau sosial atau ekonomi, tetapi bersifat rohani? Adakah itu hanya mungkin jika masyarakat Yahudi, Arab atau lainnya berdamai dengan Elohim, mereka dapat sungguh-sunguh diperdamaikan kepada satu dengan lainnya? Dan jika demikian adanya, dapakah kita melawan arus meskipun jika kita harus beralih ke subjek-subjek yang dianggap terlarang?

*) Christian OT and the Jewish Tanakh

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Janet Boynes: dibebaskan dari gaya hidup lesbian

Kesaksian pribadi Janet Boynes bagaimana Yeshua membebaskan dirinya dari keterikatan gaya hidup lesbian (hubungan homosex antara wanita dengan wanita). Diterjemahkan dari Janet Boynes: Lesbian Lifestyle Left Behing dan ditambahkan dari tulisan Janet sendiri di Janet Boynes Ministries pada judul:  Change Comes From the inside out.

Yeshua Ha Mashiah adalah jawaban dari setiap pergumulan dan keterikatan setiap manusia, Yeshua juga mampu menolong Anda. Doa saya, kiranya kesaksian ini dapat menguatkan iman dan memberi penghibur jiwa bagi setiap yang membacanya, bahwa Elohim itu setia dan berkuasa menolong setiap orang yang berseru kepada Dia. Salam kasih, Penjala Baja.

Janet Boynes dibesarkan dalam sebuah keluarga yang memiliki 7 anak, Janet anak ke empat, dari ayah yang berbeda. Pria yang membesarkan Janet adalah seorang peminum bir. Polisi selalu ada diluar rumah keluarga Boynes. Ibu Janet di abuse ketika Janet dalam masa pertumbuhan.

“Saya pikir kecenderungan Anda melakukan sesuatu adalah disebabkan oleh apa yang telah dilakukan orang lain kepada Anda,” Janet berkata. “Saya tahu ibu saya telah berkeinginan melakukan terbaik kepada saya, tetapi abuse yang ia telah lakukan lebih dari batas. Saya tidak dapat mengingat saat ini sebagai seorang anak kecil ibuku pernah memeluk saya atau berkata kepada saya bahwa ia mengasihi saya.”

Kekerasan yang ia alami dirumah  membawa Jenes pada perkelahian-perkelahian di sekolah . Janet menumbuhkan reputasi sebagai seorang pengganggu dan seorang tomboy (wanita berlaku  seperti laki-laki).

Ketika ia berumur 12 tahun, seorang familinya menjamah tubuhnya dengan paksa. Dan beberapa bulan berikutnya, ia diperkosa oleh seorang altar boy pada pada sebuah gereja.  Mengatasi rasa sakit hatinya, Janet melarikan diri kepada rokok dan obat-obat terlarang. (Altar boy: pria remaja yang bertugas membantu seorang pastor untuk pelayanan mimbar, jenis pekerjaan ini biasanya ada pada gereja-gereja tradisional).  Janet tidak menceritakan perlakuan sex abuse ini kepada ibunya, sebab ia berpikir bahwa ia akan ada disalahkan untuk kejadian itu. [Ini adalah kesalahan umum para remaja, mereka tidak melaporkan kepada orang tua mereka atau kepada polisi apa yang telah terjadi pada diri mereka, akibat nya remaja tersebut akan semakin dalam jatuh di dalam permasalahan mereka]

Janet menyelesaikan Sekolah Tingginya dan masuk ke College (sejenis Akademi). Ia masih menggunakan obat-obatan terlarang, tetapi ada masalah lainnya. “Saya mulai tertarik kepada wanita-wanita,” Janet berkata, dan memberikan alasan, “Begitu banyak pria telah melukai diriku, wanita, saya berpikir, akan ada lebih suka kepada saya.” [Penelian membuktikan bahwa tingkah laku homosex terjadi umumnya karena faktor pengalaman hidup (trauma, contoh gaya hidup, pendidikan dsb.)  dan bukan sama sekali oleh karena kelahiran (genetik)]

Janet bergumul untuk membuang pikiran tersebut. Ia mulai berkunjung ke sebuah gereja dan menerima Kristus sebagai Juruselamat. Ia berhenti dari obat-obatan dan mulai pacaran dengan seorang pria yang ia temui di sebuah gereja. Ketika pria ini meminta Janet untuk menikahinya, segala sesuatu sepertinya sempurna.

”Keluargaku suka kepadanya. Dan mereka berpikir bahwa kami akan menjadi pasangan yang baik,” Jenet berkata. “Saya menanti untuk menikahi pria ini, tetapi karena ia adalah pembalap sepeda profesional, ia melakukan pekerjaannya pada akhir minggu (weekend), yang membuat saya kebanyakan sendirian saja.”

Janet mulai menghabiskan banyak waktu dengan seorang teman kerja wanitanya. ”Dia memperkenalkan saya kepada keluarganya, yang adalah keluarga Kristen. Ayahnya adalah seorang pastor dari sebuah gereja di St. Paul, dan bertemu dengan ibunya,” Janet bercerita. “Karena terlalu malam maka saya bermalam di sana dan berakibat tidur bersama.” Janet menjadi bingung dan takut, ia pergi ke pendetanya untuk mendapat nasehat.

Partornya menasehati, “batalkan pernikahan, berkonseling, dan ceritakan kepada tunanganmu,” Janet mengingat perkataan pastornya. ”Well, saya lakukan satu dari tiga. Saya ceritakan kepada tunungan saya, mengembalikan cincin tunangan kepadanya dan saya melarikan diri dari Adonai.”

Ia semakin dalam di dalam dosa. Selama 14 tahun lamanya Janet hidup  dalam gaya hidup homosex dan berpindah dari wanita ke wanita. Ia semakin terikat secara dalam oleh obat-obatan, cocaine dan  mengembangkan bulimia (penyakit mental, makan melampau batas).

Ia dan teman wanitanya memutuskan untuk menikah (pernikahan homosex). ”Kami pergi menemui seorang pastor. ”Pastor ini berkata kepada kami bahwa apa yang kami lakukan adalah okay, bahwa kami akan tetap pergi ke sorga. Jadi kami pergi keluar dan mendapatkan dua cincin tunangan, sebab kami berpikir kami akan menikah, pastor berkata itu okay. Saya ingin keduanya. Saya ingin Elohim, dan saya ingin hidup dengan kehidupan homosex.” [Di Amerika Serikat ada gereja-gereja tertentu pastornya berpikir pernikahan homosex adalah tidak dosa, bahkan lima tahun belakangan ini muncul gereja-gereja yang khusus untuk para homosex].

Selama waktu itu, sesuatu yang aneh terjadi.

“Ada sebuah gedung gereja dekat rumah saya bernama Gereja Maple Grove Assemblies of God.  Setiap kali saya melewati gereja ini, itu hampir seperti saya ingin melangkah keluar dari diriku sendiri dan ada di dalam gereja itu,” Janet berkata. “Suara hati berkata kepada saya bahwa suatu hari saya akan pergi ke Gereja tersebut.”  Perasaan ini begitu kuat sehingga saya bercerita kepada teman perempuan saya, dan dia melihat kepadaku dengan wajah seperti mengatakan ‘apa yang sedang engkau bicarakan?’” [Sebab temannya tahu bahwa Janet sedang berada di dalam lumpur dosa, dan ia berpikir Janet sudah terlambat untuk hidup benar]

Janet memulai bisnis pribadinya membersihkan klub-klub kesehatan. Suatu malam. dia berhadapan dengan seuatu yang ganjil ketika ia sedang berjalan.

“Saya meninggalkan tempat pada pukul 03:00 pagi. Dan berkata kepada mereka saya sekarang pergi ke toko.” Di tempat parkir toko itu ia terlibat dalam suatu percakapan dengan seorang ibu. Saya berkata,

”Ibu, apa yang Anda lakukan di sini pukul 3 pagi dengan barang-barang ini?”
Ibu ini menjawab: “Ya, saya baru saja menghantar  putra saya ke collage.” Ibu ini menolong anaknya pindah ke penginapan kampus.
”Akademi apa yang buka pada waktu malam begini?
“Akademi  Norhcentral Bible, ” ia balas menjawab

“Saya tahu dengan segera bahwa ia seorang Kristen. Saya mulai bercerita kepadanya  bahwa saya adalah orang Kristen yang tersesat dan hidup dalam kehidupan homosex, dan ia mengambil brosur dari tasnya – Maple Grove Assemblies of God,” Janet berkata.

Ibu ini mengundang Janet ke pelajaran Alkitab wanita.

”Dan saya tanpa berpikir, saya berkata ’tentu, saya akan datang,’ dan saya datang dengan celana  sederhana, Nampak kotor, tidak mengetahui apa yang diharapkan. Saya berada di sebuah ruangan dengan sembilan wanita lainnya, wanita-wanita cantik, feminine, dan saya berpikir, ”apa yang saya telah libatkan diri saya sendiri? Jadi, saya duduk di sana dengan kepala tertunduk, merasa sungguh malu, berpikir wanita-wanita ini adalah sadir, mereka akan mengunyah saya dan membuang saya dari mulut mereka.”

Setiap orang memperkenalkan diri, ketika pada giliran saya, mereka bertanya nama saya, dan saya berkata ”nama saya Janet, saya hidup dalam kehidupan homosex. Tetapi jika kalian menolong saya, saya akan hidup untuk Adonai.”

Janet terkejut dengan reaksi mereka. ”Mereka tidak bicara tentang saya. Mereka tidak mengatakan kepada saya bahwa saya berpakaian dengan bodoh. Mereka menginjikan Elohim merubah saya, mereka tidak berusaha merubah saya,” Janet bercerita.

Kesembilan wanita ini mengasihi saya sebagaimana saya ada. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dan menolong setiap cara yang mereka dapat lakukan. Mereka memberi saya petunjuk-petunjuk bagaimana berpakaian dan memakai make-up.

Mereka mendidik saya tentang peperangan rohani, dan menolong saya menghancurkan benteng-benteng setan yang telah dibangunnya di dalam kehidupanku.

”Seorang dari mereka datang kepada saya beberapa bulan kemudian, [bercerita kepada saya bahwa] wanita ini bersama suaminya ketika sedang berdoa, dan merasa di dalam hati mereka bahwa saya seharusnya datang dan tinggal bersama mereka. Jadi saya jual rumah saya, meminta teman wanita saya pergi. Pada usia 40 tahun saya pindah ke rumah keluarga Kristen ini selama satu tahun. Itu adalah hal yang sangat ajaib untuk melihat keluarga ini memiliki sesuatu yang belum pernah saya alami.”

Dan luka hati Janet mulai sembuh.

”Elohim memulai menaruh pria-pria yang  hidup benar di dalam kehidupanku, Janet berkata, ”pria-pria  gereja  ini ketika bertemu [dengan saya] memberikan pelukan” [ini Budaya Barat yang baik, sebagai tanda bahwa Anda diterima oleh mereka; dalam Gereja, ini berarti Anda dianggap sebagai saudara dan saudari mereka]. “Dan sebagimana saya terus ada disekitar orang-orang yang mengasihi saya dan perduli tentang saya, Elohim melanjutkan menyembuhkan saya dari bagian dalam (jiwa) ke bagian luar (tubuh).”

Sepuluh tahun kemudian, Janet aktif di dalam gereja barunya ini dan mulai melayani orang-orang yang ingin meninggal kehidupan homosex mereka. Ia ingin mereka tahu bahwa kesembuhan adalah sebuah proses, tetapi  mereka dapat mengalami kebebasan yang penuh di dalam Yeshua Ha Mashiah.

”Saya ingin setiap orang yang hidup dalam kehidupan homosex, yang tidak memiliki ibu yang baik atau ayah yang baik untuk mengalami bahwa Elohim adalah Bapa untuk mereka yang tidak memiliki bapa dan tidak memiliki ibu. Itulah yang Ia telah lakukan kepada saya, Ia akan lakukan hal yang sama juga,” Janet berkata. Tamat.

Kesaksian Janet ini mengingatkan saya pada cerita Injil:
Pada suatu ketika Yeshua memanggil Matius untuk mengikuti-Nya, menjadi murid Yeshua. Matius adalah tukang pungut pajak untuk keuntungan pemimpin Roma di Israel. Segera Matiu mengundang Yeshua dan murid-murid lainnya untuk makan di rumah Matius, ’orang berdosa tersebut.’ Hadir pula di perjamuan makan tersebut ‘beberapa orang berdosa’ pemungut pajak lainnya. Ketika orang-orang Farisi (dari luar nampak sebagai orang yang sangat beragama) melihat hal ini  mereka marah dan berkata kepada salah satu murid Yeshua: “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang-orang berdosa?” Yeshua mendengar suara mereka dan menjawab: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa, supaya mereka bertobat.” [Matius 9:9-13/ Markus 2:14-17/ Lukas 5:27-32/ Hosea 6:6/ Mika 6:8]. Terlalu sering kita menghakimi orang lain oleh karena tampak luarnya, dan membunuh mereka dengan pikiran kita bahkan menyiksa tubuh mereka. Namun Yeshua melihat isi hati manusia, dan Ia selalu siap memuaskan kehausan dan dahaga hati mereka dengan Air Kehidupan. Ajarlah saya untuk dapat hidup seperti Engkau Yeshua.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Kesaksian Mujizat atas Tariku Tewodros dari Ethopia

Ini adalah sebuah bukti kuasa dan kemurahan YAHWEH kepada siapa yang berseru kepada Nama-Nya dan menghormati Firman-Nya, Alkitab.* Pemuda desa yang tidak bisa membaca dan menulis,  sekarang telah menjadi pendeta dan berkotbah firman Elohim (God) diberbagai negara.

Kesaksian Tariku ini didasarkan pada terjemahan langsung saudara Abraham, dari kesaksian Tariku sendiri dalam bahasa Amharic di video YouTube (lihat di bawah), dan dikemas bersama dengan kesaksian Tariku dari sumber lainnya. Abraham adalah  seorang Ethopia Kristen lahir-baru, teman saya. Terima kasih banyak kepada Abraham K!

Tariku menghabiskan masa kecilnya di sebuah desa selatan Ethiopia. Ia berasal dari sebuah keluarga tradisi yang menyembah berhala. Tariku juga tidak pernah makan bangku sekolah, sehingga ia tidak mampu membaca dan menulis. Ketika ia remaja, ia pindah rumah dan tinggal bersama Bibinya di Kera, bagian dari Addis Abeba [Itu artinya ”Bunga Baru”], ibukota Ethiopia. Di rumah ini, sepupu Tariku, anak perempuan dari bibinya, berhasil membawa Tariku lebih dekat kepada Yeshua, dan mereka berkunjung ke Jemaat (Gereja) yang percaya Alkitab (sepenuhnya sebagai Firman Elohim), dimana gadis ini bersekutu. Di Jemaat inilah Tariku menjadikan Yeshua sebagai Juruselamat pribadi hidupnya.

Di bagian utara Ethiopia, sekarang dikenal sebagai Eritrea, ingin melepaskan diri yang berakibat perang sipil. Ethiopia saat itu masih di bawah pemerintahan ideologi Komunis. Terdorong oleh jiwa nasionalisnya.

Dia mendaftar untuk menjadi tentara. Tariku bergabung ke militer. Sementara ia dimiliter, teman-temannya terbiasa menolong dia di dalam membaca dan menulis surat-surat. Tariku akan memakai sidik jari untuk urusan-urusan resmi. Tariku mendapatkan Alkitab dan buku nyanyian rohani ketika ia meninggalkan rumah bibinya untuk masuk militer. Ia menerima mereka sekalipun ia tahu bahwa ia tidak bisa membaca.

Tariku di medan perang. Kerohanian Tariku semakin kuat. Ia sering berdoa dan Elohim berbicara kepadanya melalui mimpi-mimpi. Dari gaji pertamanya ia membeli radio transistor untuk dapat mendengarkan siaran-siaran Kristen yang dipancarkan dalam bahasa  Amharic dari Kenya. Bahasa Amharic adalah bahasa nasional negara Ethiopia. Dia rindu untuk bisa membaca firman Elohim, namun Tariku adalah seorang pria yang tidak pernah mendapat pendidikan sekolah. Ia bergantung penuh kepada teman-temannya di dalam membaca dan menulis. Doa dan berdiam diri di hadapan YAHWEH adalah satu-satunya yang ia bisa lakukan untuk mengerti kehendak Bapa Sorgawinya.

Tariku berdoa terus-menerus. Dia berdoa seperti ini:
”O Elohim, saya tahu bahwa Engkau telah menyelamatkan hidupku, Engkau telah merubah hidupku, Engkau berbicara kepadaku melalui mimpi-mimpi. Jadi saya percaya bahwa Engkau hidup.
Engkau telah menghidupkan kembali Lazarus. Engkau memberi penglihatan kepada Bartolemeous yang buta untuk  mampu melihat. Jadi saya percaya bahwa Engkau mampu membuka mata saya juga.”

Sementara ia memanjatkan doanya, ia berdiri dengan mengangkat Alkitab ke udara, satu-satunya Kitab yang selalu bersamanya sejak ia memilikinya. Ia berkata kepada YAHWEH sementara Alkitab masih berada di udara,
”Saya tidak dapat baca kitab ini, tetapi saya selalu membawanya, sebab ini adalah firman-Mu.” Saya telah mendengar bahwa Engkau telah melakukan mujizat kepada Lazarus dan Bartolomeus. Jadi Engkau mampu juga membuka mataku.”

Demikianlah ia berdoa hari ke hari, sebab ia sangat ingin membaca firman Elohim tersebut. Ia haus akan Firman-Nya.

Pada suatu hari, sekitar pukul enam pagi, kuasa Roh Kudus turun ke atas diriku dan saya mendengar suara yang berkata kepadaku, ”Bangun dan bukalah Alkitab, baca!” Hadirat Roh Kudus sungguh kuat dan untuk pertama kalinya ia mendengar suara YAHWEH melalui telinga jasmaninya. ”Saya gemetar, dan saya bangun dan membuka Alkitabku. Alkitab itu terbuka pada Mazmur pasal 91, kemudian saya membaca seluruh pasal tersebut.”

Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada YAHWEH: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Elohimku, yang kupercayai.”

Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya. Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku.” [Kuperlihatkan kepadanya Y’shua-Ku; Hebraic Roots Bible]. Y’shua, dalam bahasa Ibrani artinya Keselamatan, dan juga nama Yesus jika ditulis dalam bahasa Ibrani.

Saya mampu membaca! Saya berteriak-teriak kegirangan sementara air mata sukacita mengali membasahi wajahku, hatiku dipenuhi dengan sukacita.”   Peristiwa ini terjadi di medan peperangan. Beberapa teman tentara berdatangan menghampiri Tariku, ”Mereka ingin tahu apa yang terjadi pada diriku,” Tariku berkata. Saya bercerita kepada mereka apa yang telah terjadi. Beberapa dari mereka berpikir saya telah menjadi gila.

”Saya tidak gila (mad),” jawab Tariku, ”tetapi saya telah melihat firman Elohim yang telah membebaskan orang-orang dari kebodohan (madness); memberi kebebasan kepada yang terpenjara; dan penglihatan kepada yang buta.” Sebagian lainnya sungguh tersentuh dengan ceritaku, kuasa Elohim menguasai mereka dan air mata suka cita mengalir membasahi wajah mereka,” Tariku berkata.

Cerita mujizat yang terjadi atas Tariku segera sampai kepada komandan battalion. ”Saya dipanggil untuk menghadap komandan, untuk menceritakan kejadian tersebut. Saya ambil kesempatan ini sebaik mungkin untuk menceritakan Kebenaran. Saya ceritakan kepada dia segala sesuatu yang telah terjadi kepadaku, mengingatkan dia bahwa ia telah mengetahui bahwa saya tidak bisa membaca dan menulis, sampai akhirnya peristiwa mujizat pada pagi hari itu terjadi: ”Elohim telah membuat saya mampu membaca.”

Lalu komandan ini mengambil sebuah majalah SERTOADER (majalah komunis, Sertoader artinya Masyarakat Buruh dalam bahasa Amharic)  dan memberikan itu kepadaku untuk membacanya. Saya baca dengan bersuara majalah itu di depan komandan ini. “Air mata mengalir dari wajah komandan, ia menangis dan berkata: “Kita sudah sekian lama menolak keberadaan Elohim di negeri ini, tetapi sekarang Elohim telah berbicara kepada kamu,” Tariku bercerita, dan menambahkan, “dan dia berkata kepada saya ‘Elohim adalah hidup.’ Sejarah Ethopia mencatat bahwa pemerintahan komunis berkuasa di Ethopia selama 17 tahun, dan ditumbangkan oleh mujizat-mujizat YAHWEH yang terjadi di Ethopia.

Tariku juga telah dapat menulis.  Ia menulis surat pertamanya kepada sepupunya, putri dari bibinya yang telah membawa Tariku mengenal Yeshua Ha Mashiah, dan telah menjadikan Dia sebagai Juru Selamat pribadinya.

Tariku pada video kesaksiannya ini sering kali berkata: ”Firman Elohim, tetap selamanya; Firman Elohim tetap selamanya (stand forefer),” ia mengutip Yesaya 40:8, Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Elohim kita tetap untuk selama-lamanya.”

Ia sangat percaya perkataan YAHWEH yang tertulis pada Yesaya 55 ayat 10 dan 11:

Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.

Saat ini Tariku Tewodros adalah seorang pendeta di Addis Abeba, Ethopia. Ia travel ke banyak negara bersaksi tentang kuasa Elohim dan berkotbah firman Elohim.

Amin! Haleluyah!

Pada waktu itu juga bergembiralah Yeshua dalam Roh Kudus dan berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Adonai langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil [English: bayi-bayi; to children. Gambaran dari ”tidak berpendidikan” dan ”sederhana dalam berpikir”].
Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” [English: Dia; the Son will reveal Him (the Father)].
Sesudah itu berpalinglah Yeshua kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.” (Luk 10:21-24)

* Mazmur 50:15, Yeremiah 33:3, Matius 7:7 and Yohanes 15:7-11
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Amazing Testimony of Tariku Tewodros from Ethiopia.

This is an evidence of YAHWEH’s power and mercy to anyone who cry out to His Name and honor His Word, the HOLY BIBLE*. Tariku Tewodros, a countryside youth who could not read and write, now he becomes a pastor and preaching the Word of Elohim (God) in different countries.

This testimony of Tariku is based on direct translation of Abraham from Tariku’s own testimony in Amharic language on the YouTube video (here in the bottom), and packed in together with Tariku’s testimony from another source.   Abraham is an  Ethiopian man born-again Christian, a friend of mine. Thanks a lot to you Abraham K.!

Tariku spent his childhood in a countryside of south of Ethiopia. He came from a tradition family who worship idols, Tariku never went to school, so he was not able to read and write. When he became a teenager, he moved and lived in hes aunt’s house in Addis Abeba, [It means "New Flower"], the capital of Ethiopia. Then, in Addis Abeba, he joined a youth gang group named Bombard, which is known as wicked gang.

In this house, Tariku cousin, the daughter of his aunt, succeeded to bring Tariku came closer to Yeshua, and they went togather to a believing Bible Congregation (Church), where she was belong. In this Congregation, Tariku made Yeshua become his personal Savior.

In the northern part of Ethiopia, nowadays it is known as Eritrea, was unrest; the people there would like independent, which caused a civil war. Ethiopia was at that time under the rule of Communistic ideology.

He signed up a call to become a soldier. Tariku joined the military. While he was in military, his friends used to help him in reading and writing letters. Tariku would use his fingerprints for legal isues. Tariku got a Bible and a spiritual songbook  when he left his aunt’s house for military. He received them even though he knew that he could not read them.

Tariku was in the battlefield. Tariku’s faith became stronger. He often prayed and Elohim spoke to him through dreams. By his first salary, he bought a transistor radio for listening Christian programs broadcasted in Amharic from Kenya. The Amharic is the national language of Ethiopia. He was longing to be able to read the Word of Elohim, but Tariku was a man who never got any school education. He did fully depend on his friends for reading and writing. Prayer and silence in the present of YAHWEH are the only things he could do to understand the will of his Heavenly Father.

Tariku prayed intensively. He prayed like this:
“O Elohim,  I know that You thou has saved my life, You have changed my life, You spoke to me through dreams. So, I believe that You are alive.
You have rose Lazarus up. You give sight to Bartholomew, the blind man, to be able to see. So, I believe that You are able to open my eyes too.”

While he was praying, he stood up by lifting the Bible into the air, the only book that was always with him since he had it. He said to YAHWEH when the Bible was still in the air,
“I cannot read this Holy Book, but it has been being carried by me always, because this is Your Word.”  I have heard that You have done wonders to Lazarus and Bartholomew. So, You can also open my eyes.”

Tariku prayed like that day after day. He was really  eager to be able to read the Word of Elohim. He was thirsty for His’ Word.

One day, about six o’clock in the morning, Tariku said, the power of  the Holy Spirit has come upon me and I heard a voice saying to me, “Wake up and open the Bible, read it!” The presence of  Holy Spirit was strong and for the first time he heard the sound of Adonai through his physical ears. “I was shaking, and I woke up and opened my Bible. The Bible was open at Psalm 91, then I read the whole chapter.”

He who dwells in the secret place of  the Most High shall abide in the shade of the Almighty.
I will say to YAHWEH: My Refuge and my Fortress, my Elohim; I will trust in Him.

He shall call on Me and I will answer Him; I will be with Him in distress; I will rescue Him and honor Him.
I will satisfy him with length of  days, and will make Him see My Y’shua. [Hebraic Roots Bible]
(Y’shua, in Hebrew, it means Salvation,  as well as the name of Jesus written in Hebrew)

“I can read!,” I was screaming with joy as tears of joy running down on my faces, my heart filled up with joy.” This happened in the army camp on a battlefield. Some soldiers came over Tariku, “They want to know what happened to me,” said Tariku. I told them what had happened. Some of them think I have become mad.

 “I am not mad,” I replayed, “but I saw the Word of Elohim which set people free from madness; give freedom to those imprisoned, and sight to the blind.” Others were truly touched by the story, the power of God to rule over them and the tears of joy flowed down wetting on their faces.”

This Miracle story that occurred over Tariku immediately arrived to the battalion commander. “I was summoned to appear before the commander, to recount the incident. I took this opportunity confidenly to tell the Truth. I told him everything that had happened to me, reminding him that he had learned that I could not read and write, until finally the miracle taken place on that morning: “God has made me able to read.”
Then the commander took a SERTOADER magazine (a communist magazine, Sertoader means  “labor society” in Amharic language) and give it to me to read it. I read the magazine aloud in front of the commander. “Tears flowed from the commander’s faces, he cried and said: “We have long been denying the existence of God in this country, but now Elohim has spoken to you,”  Tariku told, and added,  “and he said to me that ‘Elohim is alive.’” History of Ethiopia notes that the communist government was in power in Ethiopia for 17 years.

Tariku also can write. He wrote his first letter to his cousin, the daughter of his aunt who had brought Tariku to know Yeshua Ha Mashiach and made Him as his own personal Savior.

Tariku in his testimony video often says: “The Word of God, stand forever, the Word of God stand forever.” He was quoting this scripture from Isaiah 40:8, The grass withers; the flower fades; but the Word of our Elohim shall rise forever.” (or “stand forever”).

He strongly believes that the written Words of YAHWEH in Isaiah 55 verses 10 and 11 can be trusted, it says:

For as the rain and the snow comes down from the heavens and do not return there, except it waters the earth and make it bring forth and bud, and give seed to the sower and bread to the eater, so shall My Word be, which goes out of My mouth; it shall not return to Me void, but it shall accomplish that which I please, and it shall prosper in what I sent it to do!

 Amen! Hallelujah!

 In the same hour Yahshua rejoiced in the Spirit, and said,
I praise You, Father, Master of  Heaven and of earth, that You hid these things from the wise and prudent and revealed them to children; yes, Father, because so it was pleasing before You.
All things were delivered to Me by My Father, and no one knows who the Son is except the Father; and who is the Father, except the Son, and he to whom the Son may desire to reveal Him.
And having turned to the disciples alone, He said,
Blessed are the eyes seeing what you see. Luke 10:21-24

* Psalm 50:15, Jeremiah 33:3, Matthew 7:7 and John 15:7-11
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Ikutlah Serta Dalam Kereta Kencana bg. 3 (16-20)

Ikutlah Serta Dalam Kereta Kencana bg.1
Ikutlah Serta Dalam Kereta Kencan bg. 2 bab 8-15)

16. KAUM WANITA TIDAK KETINGGALAN

Amanat untuk memenangkan jiwa tersebut dan bersaksi tentang Ha Mashiah di luar dari lingkungan Gereja sendiri ditujukan juga bagi kaum wanita.

Di dalam pasal ini kami sengaja memasukkan pembahasan persoalan ini, oleh karena kaum wanita terdiri dari suatu barisan besar yang bisa turut mengambil bagian di dalam usaha memenangkan jiwa seperti yang diamanatkan oleh Ha Mashiah di dalam kegiatan penginjilan itu.

Di dalam banyak gereja atau organisasi, maka kaum wanita itu dilarang atau tidak diperkenankan untuk berbicara atau mengajar, berdasarkan tafsiran yang pernah diberikan oleh Rasul Paulus, yang ucapan itu memang terdorong oleh keadaan yang lain dan berbeda sekali dengan keadaan generasi gerejani sekarang ini.

Di dalam tempat beribadah orang Yahudi memang ada ditekankan enam golongan yang diwajibkan oleh keharusan agama mereka. Ke enam pembatasan yang terpisah-pisah itu adalah:

1). Ruangan untuk orang kafir atau orang asing, yang berada di bagian pekarangan sebelah luar sama sekali.
2). Ru­ang suci tempat berhimpun, di mana tak diperkenankan adanya orang kafir atau orang asing masuk ke dalamnya. Bila mereka masuk, maka mereka akan mati.
3). Ruang khusus bagi kaum wanita.
4). Ruang untuk bani Israel dari golongan kaum pria.
5). Ruang khusus hanya untuk imam.
6). Ruang maha suci tempat Elohim bersemayam.

Tetapi dengan usainya tugas penebusan Ha Mashiah, maka semua pembagian itu telah diruntuhkan dan setiap orang percaya, tidak peduli ia dari bangsa mana, atau apa pun jenis kelamin atau kedudukan sosialnya, semuanya berdiri pada tingkat yang sama di hadapan Elohim Elohim.

Hukum Kristen yang baru ini memasuki suatu kurun jaman yang baru. Di dalam Ha Mashiah semua pembagian itu perbedaan antara orang Yahudi dan kafir itu telah dihapuskan. (Rum 10:12) Demikian pula tak ada perbedaan derajat antara pria dan wanita (Galatia 3:28). Tak ada pula perbedaan antara kaum imam dan anggota jemaat atau kaum awam biasa. (Wahyu 1:6).

Walaupun demikian, tidaklah mudah bagi umat Kristen yang pertama itu untuk menerapkan persamaan derajat bersama dengan kaum wanita itu. Orang hampir-hampir tidak memperkenankan kaum wanita itu untuk turut serta mengam­bil bagian dalam upacara keagamaan, sebab dianggap kurang menjamin kesucian suasana keagamaan. Bahkan kadang-ka­dang mereka sama sekali tidak boleh menghampiri tempat beribadat itu.

Orang-orang Yahudi yang telah bertobat dan menerima Ha Mashiah di dalam hidupnya masih berpegang teguh pada banyak adat kebiasaan mereka yang lama. Sebagian di antara mereka itu ada yang menolak untuk makan daging tertentu. Yang lainnya lagi tetap meneruskan adat kebiasaan menyunat.

Memang banyak hal-hal yang membingungkan disebabkan oleh orang-orang yang masih tetap saja taat dibawah ikatan hukum taurat yang ketat, termasuk juga mengizinkan kaum wanita untuk boleh ikut beribadat di dalam rumah kebaktian bersama-sama dengan kaum pria.

Di kalangan umat Yahudi tempat pertemuan kaum wanita memang terpisah sama sekali. Bagi mereka tersedia ruangan khusus di bagian belakang agar segala obrolan dan nafsu bergunjing mereka itu boleh berlangsung dengan leluasa tanpa mengganggu jalannya upacara keagamaan. Kaum pria yang selama ini menjadi alat di tangan YAHWEH yang serba suci, lalu menduduki jabatan yang utama di dalam pelaksanaan upacara agama. Mereka dengan bebas boleh melakukan pertemuan untuk berbakti, berdiskusi teritang masalah kehidupan sehari-­hari yang mereka hadapi, tentang urusan dagang dan berbagai macam masalah di samping menjalankan upacara agama secara resmi. (Gereja-gereja di negara-negara tertentu juga masih menempatkan kaum wanita secara terpisah dalam kebaktian).

Memang sejauh menyangkut kedudukan kaum wanita pada jamannya Rasul Paulus itu, mereka dianggap lebih rendah derajatnya dari pada kaum lelaki. Pada umumnya orang memandang mereka kurang terpelajar, kurang beroleh pan­dangan luas tentang peradaban umum, dan kurang bisa menyesuaikan diri dengan kemajuan jaman.

Di dalam revolusi paham Kristen yang baru itu, maka umat Yahudi terutama kaum prianya yang telah menganut agama Kristen, masih kurang begitu senang melihat kenyataan bahwa kaum wanita pun boleh memperoleh keselamatan. Oleh karena mereka itu dianggap mahluk yang lebih rendah derajatnya,

maka tidaklah diperkenankan bagi mereka untuk mempunyai jabatan apa lagi mengajar di lingkungan pekerjaan YAHWEH. Kaum pria yang merasa kedudukan mereka itu lebih tinggi tak dapat mentolerir penggeseran hak dan tingkat derajat itu.

Kemerdekaan derajat kaum wanita yang dicetuskan dalam paham Kristen itu lalu mesti berhadapan dengan adat kebiasaan umat Yahudi yang ketat itu. ltulah sebabnya masih terdapatnya pembatasan yang ketat antara pria dan wanita di kalangan umat Kristen yang pertama itu.

Oleh karena kaum wanita ini kurang begitu terpelajar dibandingkan dengan kaum pria, maka dengan sendirinya mereka sangatlah berbangga hati begitu memperoleh kemerde­kaan. Sikap mereka tak bedanya dengan orang-orang yang telah lama menderita tekanan lalu beroleh emansipasi. Soalnya selama ini mereka senantiasa dikucilkan di ruang belakang dari rumah ibadat itu. Tetapi sekarang, mereka sudah boleh masuk dengan bebas ke dalam rumah kebaktian dan dapat mellhat dan mendengar segala sesuatunya dengan leluasa.

Keadaan ini memang menggoncangkan juga. Jiwa mereka gempar. Yang sebagian malah terlampau kegirangan. Yang lainnya menjadi sombong dan berbangga-bangga. Yang lainnya lagi sampai-sampai tidak terkendalikan lagi. Timbullah Ialu suatu dimensi yang baru lagi. Kehadiran mereka kemudian menjadi kejengkelan bagi kaum pria yang pada dasarnya memang sudah tidak senang dengan kebebasan yang tak terbatas itu.

Apabila wanita-wanita ini berada dalam suasana diskusi di dalam rumah kebaktian, sebagian ada yang tidak bisa menguasai diri untuk berteriak-teriak dan memaki-maki suami mereka. Ada pula kaum wanita yang menentang suatu pendapat, memasuki gelanggang perdebatan, atau mengajukan usul-usul, bahkan ada yang bernubuat atau memberikan tafsiran-dan umumnya dilakuk;mnya dengan cara yang sembarangan saja, terutama sekali memandangnya dari segi tuntutan hak kaum wanita, agar mendapat perhatian dari plhak kaum pria.

Kita mesti ingat bahwa ekses ini timbul sebagai reaksi kaum wanita yang baru untuk pertama kalInya di dunia beroleh emansipasi. Mereka sama sekali tidak terlatlh atau belum terdidik dalam disiplin mengenai kemerdekaan pribadi yang mereka peroleh itu dalam peranan dunia mereka yang baru.

Untuk duduk di dalam rumah kebaktian untuk melihat dan mendengar dalam suasana bebas yang pertama sekali adalah suatu pengalaman yang istimewa. Karenanya mereka tidak pernah belajar atau tidak terlatlh dalam mengatur diri mereka sendiri. Maka mereka pun mengobral apa saja seenaknya apa yang mereka pikirkan atau rasakan.

Oleh sebab itu Rasul Paulus kemudian bermaksud hendak melakukan semacam penertiban terhadap kebebasan baru di dalam alam Kristen yang telah mengangkat derajat kaum wanita itu. Bagi Rasul Paulus nampaknya kurang serasi apabila kaum wanita terlalu bersikap berleblh-leblhan di dalam kemerdekaan mereka yang baru ini. Tidaklah pantas bagi wanita untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan, atau menya­takan kebebasan mereka itu dengan jalan bernubuat atau mengajukan bantahan terhadap doktrin agama atau berusaha mengajar kaum pria dengan semena-mena. Sambil meng­gendong anak dalam pelukan dan berteriak-teriak untuk menarik perhatian kaum pria merupakan adegan yang memalukan bagi kaum pria Yahudi itu. Itulah sebabnya Rasul Paulus harus mencari sesuatu untuk mengatasi persoalan ini. Sebab kaum wanita itu telah menyalah gunakan kebebasan hak mereka. Paulus ingin agar mereka belajar menyesuaikan diri dengan peranan mereka yang baru itu di dalam Ha Mashiah.

Dalam hal inilah kaitannya anjuran Rasul Paulus itu yang berbunyi: YAHWEH bukanlah Elohim kekacauan, melainkan Elohim sejahtera. Maka seperti di dalam segala sidang jemaat orang suci, hendaklah segala perempuan berdiam dirinya di dalam sidang-sidang jemaat itu. Karena tiada diizinkan kepada mereka itu berkata-kata melainkan wajiblah mereka itu takluk, seperti kata taurat itu juga. Jikalau mereka itu suka belajar sesuatu, biarlah mereka itu bertanya kepada suaminya sendirl di rumah, karena menjadi suatu aib bagi perempuan berkata-kata di dalam sidang jemaat. 1 Kor. 14:33-35.

["Sebab Elohim tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera. Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat. (1 Kor. 14:33-35, ITB]

Inilah sebabnya mengapa Paulus mengemukakan di dalam 1 Timotius 2:11-12 “Adapun perempuan itu hendaklah ia belajar dengan diam-diam, dan bersungguh-sungguh merendahkan dirinya.” Tetapi tiada aku mengizinkan seorang perempuan mengajar, atau memerintah laki-laki, melainkan hendaklah ia berdiam diri.”
[Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri. (1Tim 2:11-12; ITB]

Maksudnya ialah bahwa tidaklah pantas bagi kaum wanita yang belum bisa mengendalikan dirinya dan masih belum matang jiwanya untuk berdiri di hadapan Jemaat, karena bisa mengganggu khidmatnya jalan kebaktian. Sebab sebagian di antara mereka itu ada yang terlampau urakan sifatnya, sehingga di hadapan umum tidak segan-segan untuk berdebat dengan kaum pria, bertengkar dan menggugat pendapat umum dengan cara mengemukakan pendiriannya secara terbuka.

Kita tentu saja sudah bisa membayangkan betapa kacaunya suasana yang bisa ditimbulkan oleh agitasi semacam itu. Maka di dalam keadaan semacam itulah Rasul Paulus memperingat­kan, “Saya tak dapat menerima keadaan semacam itu.” Maka selanjutnya ia menegur agar “Biarlah kaum wanita itu belajar secara diam-diam saja.” Dan apabila mereka itu mempunyai pertanyaan, “Biarlah mereka bertanya kepada suami mereka di rumah.”

Saya dapat memahami hai ini, oleh karena saya sudah pemah mengunjungi banyak negara di dunia ini. Saya pernah melihat bagaimana kaum wanita itu masih terbelenggu oleh adat-istiadat kesukuan mereka. Ada yang masih diperjual-beli­kan seperti binatang, menjadi milik pribadi kaum pria seperti memiliki benda biasa yang bisa dipakai begitu saja. Di berbagai macam bangsa yang kafir pun kaum wanita itu tidak diperkenankan untuk turut mengambil bagian di dalam upacara adat atau keagamaan maupun menghadiri upacara korban persembahan. Mereka adalah kaum yang tertindas dan tidak memiliki kebebasan mengeluarkan pendapat sama sekali.

Di bidang kegiatan dunia kekeristenan sekarang ini, apabila orang-orang semacam ini bertobat dan memperoleh kemerde­kaannya yang baru di dalam Ha Mashiah, maka akan makan waktu beberapa lamanya bagi mereka untuk menyesuaikan dengan peranan mereka yang baru itu sebagai wanita-wanita Kristen yang bebas.

Di daerah-daerah yang masih terkebelakang keadaannya, maka saya pun pemah menyaksikan keadaan kacau balau seperti yang pemah dialami Rasul Paulus itu. Saya terpaksa harus memberi anjuran kepada wanita-wanita yang maslh sedang perlu dibina kepribadiannya itu agar mereka bersikap diam dan tenang, duduk dengan tenteram, membiarkan kaum pria memimpin jalannya pertukaran pikiran, dan menunggu sampai mereka tiba di rumah untuk memperbincangkannya dengan para suami mereka. Adalah tidak pantas sama sekali bagi seorang wanita kampung untuk berdiri dengan dada terbuka sambil menggendong anaknya berdiri di hadapan banyak orang dan bertingkah laku seperti orang di pasar umum.

Di daerah-daerah yang beragama Islam di mana kaum wanita masih diselubungi dengan cadar seluruh tubuh dan wajahnya, adalah suatu cela apabila mereka mempertunjukkan bagian badannya kepada kaum lelaki, kecuali suaminya sendiri. Apa lagi berdiri di depan umum, hal itu merupakan suatu aib di tengah masyarakatnya. Saya sering kali menganjurkan kaum pria itu untuk membawa serta isteri-isteri mereka. Tentu saja peristiwa semacam ini dirasakan sangat janggal oleh para kaum isteri itu. Saya pernah menyaksikan bagaimana mereka itu menjadi demikian bersemangatnya mengenai berita Injil, sehingga mereka sangat mengganggu jalannya pertemuan ini. Mereka membuka suara keras dalam diskusi, dan bertanya dengan suara setengah berteriak kepada suami mereka dan meminta penjelasan tentang apa yang telah saya kemukakan itu. Keadaan semacam inilah yang pernah dihadapi Rasul Paulus, maka di dalam suasana dunia modern sekarang ini pun keadaan semacam ini tak dapat kita terima.

Namun apabila kita melarang kaum wanita modern yang sudah maju untuk berbicara di depan umum atau kita suruh mereka itu sebagai orang Kristen berdiam diri, maka tindakan semacam itu adalah tindakan yang kolot. Tidak ada perbuatan yang begitu kuno di anggap oleh masyarakat kita selain menghidupkan kembali tradisi kolot itu di kalangan umat yang modern. Kehilangan kaum wanita berarti kehilangan besar bagian gereja. Sedangkan waktu berjalan dengan cepat. Oleh sebab itu gereja harus membuka belenggu barisan kaum wanita ini dan menyusunnya menjadi satu barisan penginjil yang bisa mencapai dan memenangkan JUTAAN JIWA EKSTRA bagi YAHWEH.

Di negara-negara modern kedudukan kaum wanita adalah sama derajatnya dengan kaum pria. Kebudayaan kita telah lebih meningkat kehalusannya. Pertemuan keagamaan tldak lagi menjadi gelanggang pertengkaran yang terbuka dan perdebatan yang tidak karuan. Semua acara biasanya sudah tersusun rapi dan teratur. Begitu pula soal tempat duduk tidaklah lagi kaku ketat seperti yang dibatasi oleh kebiasaan masa Perjanjian Lama. Sebab Rasul Paulus sendiri berkata: “Kita bukan lagi orang Yahudi atau Yunani, bukan lagi hamba atau manusia merdeka, atau kita tak mengenal perbedaan antara pria maupun wanita, akan tetapi kita semua adalah sama, sebab KITA ADALAH UMAT KRISTEN. Kita adalah satu saja di dalam Yeshua Ha Mashiah.” Gal. 3:28

Dalam abad modern ini kita tidak lagi dalam jaman kegelapan. Kaum wanita adalah sama pintar dan cekatannya di bidang usaha perdagangan, ilmu pendidikan dan ilmu pengeta­huan seperti juga halnya kaum pria. Negara-negara tertentu malah ada yang dipimpln oleh kaum wanita. Sebagian besar lembaga usaha perdagangan di negara modern termasuk toko-toko diselenggarakan oleh tangan-tangan kaum wanita.

Maka adalah betul-betul kolot sekali apabila kita harus membungkam kaum wanita itu di bidang kegiatan pekerjaan YAHWEH, cuma karena kita berpegang pada ayat yang dikemuka­kan Rasul Paulus, yang ditujukan terhadap keadaan yang sama sekali berbeda dengan keadaan kita sekarang ini. (Keadaan itu berlaku bagi kaum wanita di daerah yang masih terkebelakang dan baru mengenal kebebasan setelah menerima pertobatan baru). Bagi masyarakat modern dan maju, maka meredam atau membatasi gerak kaum wanita adalah suatu tindakan yang tidak sesuai lagi. Sama saja halnya kita mewajibkan seorang Kristen harus mencuci kaki seorang tamunya cuma karena kebiasaan itu pemah dijalankan pada jaman dahulu kala itu. Bagi seorang tamu jaman sekarang ini, yang datang berkunjung ke rumah kita dengan mengendarai mobil yang memakai air-condition, dan memakai sepatu yang mengkilat, maka tidaklah perlu sama sekali untuk mencuci kaki orang itu. Tetapi pada jaman dahulu kala, seorang tamu yang datang berkunjung itu, biasanya adalah orang yang telah menempuh jarak bermil-mil jauhnya, melewati jalan yang panas dan berdebu dengan hanya memakai sandal jepit. Maka tak ada yang lebih menyegarkan dan menyenangkan seorang tamu dari pada menyiram kakinya dengan air yang dingin setelah menempuh perjalanan yang begitu meletihkan itu.

Firman Elohim dengan jelas mengemukakan bahwa YAHWEH telah menempatkan kaum pria sebagai kepala rumah tangga, sedangkan kaum wanita diwajibkan tunduk kepada suami mereka di dalam YAHWEH. Bahwa kaum pria harus mengasihi isteri mereka seperti mengasihi dirinya sendiri, dan bahwa kaum wanita itu diciptakan YAHWEH untuk melengkapi kehidupan kaum pria, dan bukannya sebaliknya. Tetapi ketentuan ini bukanlah dimaksud untuk menutup kaum wanita di dalam tugas penginjilan mereka. Juga tidaklah untuk mereng­gut hak mereka di dalam pelayanan gerejani untuk memenangkan jiwa-jiwa.

Apabila kita meninjau ayat-ayat Alkitab itu secara tepat, maka adalah tidak mungkin bagi kita hanya menerapkan dua buah ayat ucapan Rasul Paulus untuk kondisi yang sama sekali lain susunan masyarakatnya, sedangkan ayat-ayat lain yang jumlahnya lebih banyak lagi tentang soal wanita itu kita harus kesampingkan. Hal ini bertentangan dengan logika.

Di sepanjang kisah Alkitab maka kita melihat bahwa kaum wanita turut mengambil peranan yang penting sekali di dalam pekerjaan YAHWEH. Mereka tidaklah diperjual-belikan macam hewan, tidak dilarang untuk menghadiri kebaktian, dan tidak pula dikekang dalam menuntut pelajaran dan pendidikan.

Sekalipun dalam masyarakat terdapat rintangan-rintangan yang hebat terhadap kedudukan mereka, namun mereka telah menempati peranan raksasa yang penub arti di dalam perjalanan sejarah. Kita tengoklah kepada Miriam, Debora, Hulda, Noadia, Anna, puteri Pilipus, Athalia, Esther, dan Ratu Sheba. Belum lagi kita harus menyebut nama-nama seperti Rut, Hanna, atau Abigail, yang cukup terkenal dalam Alkitab itu.

Orang yang paling penghabisan meninggalkan salib tatkala Yeshua disalib adalah seorang wanita. (Markus 15:47)
Orang yang pertama datang menjenguk kuburan YAHWEH Yeshua adalah wanita. (Yohanes 20:1)
Orang pertama yang menyatakan kabar kesukaan tentang kebangkitan YAHWEH adalah seorang wanita. (Matius 28:8)
Pengkhotbah pertama kepada orang Yahudi dan memberi­takan Injil kepada mereka adalah seorang wanita. (Lukas 2:37,38).
Di antara orang-orang yang mula pertama menghadiri kebaktian doa adalah sejumlah kaum wanita. (Kisah 1: 14)
Di antara mereka yang mula-mula sekali menerima ketuangan Roh Kudus agar bisa bersaksi tentang Ha Mashiah adalah kaum wanita. (Kisah 2:4; Kisah 1 :8)
Orang-orang yang pertama menyambut para pemberita Injil di Eropa -  waktu itu Paulus dan Silas-adalah kaum wanita. (Kisah 16:13)
Orang yang pertama menyatakan dirinya bertobat dan menerima Ha Mashiah sebagai Juru selamatnya adalah seorang wanita. (Kisah 16: 14)

Buku ini membahas tentang pelayanan orang Kristen DILUAR LINGKUNGAN GEREJA. Sungguh tepat dan menyenangkan bagi kaum wanita untuk mengetahui bahwa satu-satunya tempat di mana mereka pernah dilarang berbicara ialah “di dalam gereja” – yakni di dalam gedung gereja. (Bahasa Yunani yang dipakai oleh Rasul Paulus ialah “sidang jemaat”, “himpunan orang beriman”, “gedung sinagoge Yahu­di”).

Jadi, sekalipun larangan kolot ini seandainya diteruskan juga kepada kaum wanita modern, namun tak ada ketentuan adat istiadat kuno atau pun ayat Alkitab yang melarang pelayanan wanita Kristen untuk berkecimpung DI LUAR GEDUNG GEREJA. Dan justru di situlah tempat kita memenangkan jiwa yang paling tepat.

Ibu Osborn selalu berkata: “Mengapa kaum wanita mesti merasa kagok atau terbatas ruang geraknya di dalam pelayanan mereka cuma oleh karena mereka pernah dibatasi di dalam ruangan gereja?”

“Amanat Kristen dan kesaksian kita serta pelayanan kaum wanita itu sangat diperlukan sekali, bahkan berjuta kali lebih penting dari pada di dalam batas ruang gereja itu sendiri. Seluruh dunia ini adalah ladang kita.”

“Kita tak perlu kecewa bilamana kita tidak diizinkan berbicara di dalam gereja. Sebab pelayanan dan tugas kita yang paling besar adalah DI LUAR DI MANA ORANG-ORANG BERDOSA ITU BERADA.”

“Jadi, daripada berkeluh kesah tentang ruang sempit pajok gereja kita yang begitu terbatas sekali kemungkinannya, maka alangkah baiknya apabila kita sebagai wanita mengangkat muka kita dan menengok ke ladang yang luas itu, yakni SELURUH DUNIA, di mana tidak ada tradisi maupun batasan Rasul Paulus itu yang perlu diterapkan di dalam pelayanan kita tersebut.”

“Kalau kita memang merasa wajib mematuhi anjuran Paulus itu tentang “keadaan di dalam gedung gereja” itu, mengapa kita tidak harus merasa patut untuk mentaati pula anjuran YAHWEH kita Yeshua Ha Mashiah untuk bekerja di luar batas ruangan gereja itu? Apakah kita harus lebih banyak mendengar Paulus ataukah justru harus taat kepada Ha Mashiah?

Ketika Yeshua memerintahkan: “Pergilah kamu ke seluruh dunia dan beritakanlah Injil itu kepada sekalian mahluk,” maka anjuran itu adalah ditujukan bagi setiap orang yang percaya, tidak pandang bulu, tak peduli laki-laki atau perempuan, tidak pandang asal keturunan, warna kulit ataupun kebudayaan yang dianutnya.

Ketika Ia memberikan ciri-ciri kepada tanda-tanda yang akan mengiringi pelayanan itu, maka dengan tandas Ia kemukakan: “Maka tanda-tanda inilah yang akan mengiringi MEREKA YANG PERCAY A.” Ini berarti sudah termasuk di dalamnya kedua jenis kelamin umat manusia.

Yeshua berkata: “Barang siapa yang percaya kepada Ku, maka apa yang telah Ku lakukan hendaklah ia lakukan pula.” Di dalam hal ini sudah terangkum baik laki-laki maupun perempuan.

Banyak pemimpin kaum wanita yang terkenal telah beroleh kekuatan jiwa dan menjadi berani bertindak oleh dorongan Yeshua ini. Yohanes 14:12-14 berlaku bagi kaum pria maupun kaum wanita. Jadi, di dalamnya termasuk KAUM WANITA. APABILA KAUM WANITA MEMPUNYAI CUKUP IMAN UNTUK PERCAYA AKAN HAL INI MAKA IA AKAN BERTINDAK SESUAI DENGAN HAL ITU.

Jika sekiranya saya adalah seorang wanita, maka saya pun bisa menunjuk kepada Yohanes pasal 15 sebagai pegangan pribadi. Sebab kalau tidak demikian hanyalah kaum pria saja yang bisa diselamatkan.

Ketika Yeshua berkata di dalam kisah Rasul 1:8: “Kamu akan menerima kuasa setelah Roh Kudus datang di atas kamu”, maka janji itu juga berlaku bagi kaum wanita. Hal ini terbukti di dalam ayat 14: “Mereka semua bersekutu di dalam doa dan pengajaran”, BERSAMA DENGAN KAUM WANI­TA” … Dan mereka itu SEMUA telah dipenuhi Roh Kudus.”

Kisah 2:4. Untuk apa? Demi memenuhi Kisah 1:8: “Dan kamu hendaklah menjadi saksi bagiKu.” Di dalamnya jelas termasuk kedua golongan itu, baik pria maupun wanita.

Apabila kita sorot betul-betul kedudukan kaum wanita yang tertindas itu di bawah tata krama bangsa Yahudi, serta kenyataan bahwa mereka tidak diperkenankan sama sekali berada di sekitar tempat ibadat, selain boleh duduk di pekarangan luar tempat menampung kaum wanita, maka bukanlah secara kebetulan bahwa Roh Kudus itu menekankan secara khusus kenyataan “BERSAMA DENGAN KAUM WANITA”. Maka mereka itu semua pun dipenuhi oleh Roh Kudus, sehingga mereka SEMUA pun bisa melakukan pekerjaan penginjilan itu.

J adi, di manakah batas kedudukan kaum wanita itu harus kita tetapkan?

Jawaban dari segi tradisi bunyinya: ”Adalah baik bahwa kaum wanita itu mengajar sekolah minggu bagi anak-anak, atau bahkan berdiri di dalam gereja dan bersaksi apa yang telah dilakukan oleh Ha Mashiah bagi dia, atau menjadi pendeta atau pekerja gerejani, atau berkunjung ke rumah tangga kaum anggota, tetapi ia tidak boleh menginjil atau mengajar. “

Tetapi dalam hal ini kita harus berhati-hati sekali. Kalau tidak kita bisa terjerumus dalam kemelut yang serba tanggung dan ruwet nantinya. Misalnya saja: Apabila ada seorang wanita yang pergi keluar lingkungan gereja lalu bersaksi, apakah ia boleh merangkum ayat-ayat Alkitab di dalam kesaksiannya itu? Apabila boleh, maka berapa banyakkah batasnya itu? Betapa jauhnya pembatasan itu yang tidak memperkenankan seorang wanita itu mengajar? Jika sekiranya ia berkesempatan untuk bersaksi kepada seorang yang berdosa, dan sekumpulan orang telah berhasil dihimpunnya. Apakah ia boleh bersaksi kepada sepuluh orang, ataukah seratus orang, ataukah seribu orang? Sampai berapa jauhkah batas baginya untuk bersaksi? Berapakah jumlah sidang jemaat agar ia harus berdiam diri untuk kemudian menyerahkan pimpinan itu kepada seorang pria?

Apabila ia boleh bersaksi kepada seorang jiwa yang terhilang, apakah ia boleh bersaksi di stasiun kereta api atau di rumah perorangan, bolehkah ia menginjil di tepi jalan, di tengah taman, atau di bawah kemah yang ia dirikan? Sampai batas manakah peri hal kesaksiannya itu harus kita larang?

Jika misalnya ia boleh bersaksi di jalan kecil di sebuah taman. Umpamanya saja serombongan orang lalu berkumpul. Apakah boleh ia berdiri di atas sebuah batu agar ia boleh kelihatan oleh semua hadirin? Misalkan ia menginjil di pingglr jalan raya, bolehkah ia menaiki salah sebuah tangga rumah orang di dekat-dekat situ sehlngga semua orang bisa mende­ngarkan dia? Kalau demikian halnya, apakah boleh ia berdiri di atas sebuah peti kemas, sebuah kursi atau panggung?  Secara tepatnya berapa kerasnya suaranya itu boleh bergema dan berapa tingginya ia boleh berdiri di hadapan orang banyak sebelum ia dinyatakan telah melewati batas bagi seorang wanita dan telah merembes ke dalam wilayah kekuasaan orang laki-laki?

Apabilaa ia boleh memimpin doa bagi seorang yang berdosa, apakah ia boleh berdoa dengan dua, ataukah sepuluh atau seratus orang sekaligus? Berapakah sebenarnya batas jumlah yang dianggap sudah terlampau banyak bagi seorang wanita?

Apabila ia boleh bersaksi, apakah dalam kesaksiannya itu dia boleh mengajar dan berkhotbah? Apakah bedanya? Siapakah yang bisa memberikan batas-batas yang pelik itu antara apa yang disebut bersaksi, berkhotbah, mengajar, menginjil, dan berbicara, sehingga kaum wanita itu bisa mengetahui apakah mereka harus mengikuti petunjuk Yeshua untuk mengabarkan Injil DILUAR LINGKUNGAN GEREJA seperti halnya juga mereka harus mentaati petunjuk Paulus DI DALAM BATAS ruang gereja.

Apakah wanita-wanita Kristen yang sudah terpelajar, berkebudayaan tinggi, memiliki kemampuan yang mantap di segala bidang, harus terus berdiam diri dan tidak mengabarkan Injil cuma karena adanya teguran Paulus terhadap kaum wanita yang masih kurang terpelajar, kurang terdidik, yang suka meneriaki suami mereka dari antara himpunan sidang jemaat tentang hal-hal yang pada waktu itu mereka belum berwenang dan belum terlatih kematangannya untuk memperdebatkannya?

Apakah kaum wanita Kristen modern harus dikekang oleh adat istiadat yang kolot ini?

Bagi saya, sungguh suatu tindakan yang terbelakang dan kolot sekali apabila kita harus mencekoki barisan kaum wanita kita dengan paham yang melarang mereka melakukan kegiatan penginjilan kepada dunia. Kita tidak mungkin melarang mereka menjadi saksi yang hidup buat Ha Mashiah, sedangkan abad ke dua puluh sekarang ini sudah berlalu begitu cepatnya. Sebab ada ribuan kaum wanita Kristen yang dengan riang gembira mau maju mematuhi perintah YAHWEH, lalu buat apakah kita harus menerapkan larangan yang kolot itu? Bagaimanakah kita kaum pria harus bertanggung jawab terhadap jutaan umat manusia yang jiwanya perlu diselamatkan? Yang hanya bisa diselamatkan melalui kegiatan penginjilan oleh pihak kaum wanita yang taat kepada YAHWEH, yang mempunyai semangat juang untuk maju di ladang YAHWEH?

Saya tak dapat berkata lain dari pada menganggap hal ini sebagai satu dosa besar bagi kita, apabila kita harus melarang kaum wanita pergi ke segenap penjuru bumi untuk menginjil dan memenangkan jiwa-ratusan bahkan ribuan jiwa – cuma karena kita mengorbankan mereka sama dengan kedudukan kaum wanita yang masih belum maju di jaman dahulu itu.

Saya malah membuka satu tantangan bagi kaum wanita sekarang untuk berani pula mencapai hal-hal yang luar biasa suksesnya di bidang penginjilan seperti halnya mereka juga begitu sukses di dalam bidang usaha perdagangan, pertokoan, perkantoran. dan lain-lain kegiatan sosial masyarakat. Dan kalau sampai mereka itu dianggap berdosa cuma karena mereka menginjil dan mencari jiwa buat YAHWEH, maka biarlah segala dosa mereka itu saya yang memikulnya. Dan saya pun yakin bahwa ada banyak lagi pemimpin-pemimpin Kristen lainnya yang mempunyai pendapat yang sama dengan saya ini.

Marilah kita justru harus berdoa agar terbentuklah satu barisan pejuang-pejuang rohani macam Joan of Arc di bidang penginjilan ini agar dunia boleh menyaksikan kebebasan Ha Mashiah di mana-mana.

Salah satu ayat yang paling gemilang di dalam Alkitab ialah Yohanes 20:18, yang bunyinya bernada sebagai berikut: “Mari Magdalena bertemu dengan para murid YAHWEH dan menyampaikan kepada mereka berita “Saya telah melihat YAHWEH”. Lalu ia pun memberitahukan kepada mereka ita amanat yang disampaikan YAHWEH.”

Saya kurang paham apa sebabnya maka kaum pria itu tidak berada di pekuburan YAHWEH pada pagi hari tatkala YAHWEH bangkit. Padahal mereka sudah menerima firman YAHWEH. YAHWEH telah menyatakan kepada mereka bahwa Ia akan bangkit. Tetapi mereka itu bersikap terlampau alim dan terlalu hati-hati, bahkan ragu-ragu sikapnya. Tetapi Maria Magdalena hadir di sana. Dialah yang mula pertama melihat YAHWEH telah bangkit, dan YAHWEH memanggil dia pada namanya. Maka ia pun beroleh rahmat anugerah dari YAHWEH yang telah bangkit itu.

Yeshua telah memilih seorang wanita untuk menjadi orang pertama yang harus menerima kabar kesukaan tentang kebangkitanNya itu. Maria Magdalena-lah orang pertama yang telah mengabarkan berita kesukaan yang pertama kepada semua orang. dan dialah orang pertama yang menyatakan bahwa Ha Mashiah telah bangkit dari antara orang mati.

Berita tentang kebangkitan ini merupakan denyut jantung kehidupan agama Kristen. “Apabila Ha Mashiah itu tidak bangkit. maka iman kita itu hampa. sedangkan kita masih saja tetap dalam keadaan dosa kita.” 1 Kor. 15:17; Roma 10:9-10 mengikat keselamatan setiap orang percaya bahwa “YAHWEH telah bangkit dari maut.” Dan oleh karena itu kita wajib mengakuinya pula kenyataan ini di hadapan dunia.

KEBANGKITAN itu merupakan berita kesukaan yang paling besar bagi gereja, sedangkan Yeshua telah memilih seorang wanita sebagai pembawa berita pertama tentang hal itu. Ia berkata, “Pergilah kepada sekalian saudara-saudaraKu dan beritahukanlah bahwa Aku telah bangkit dan akan pergi kepada BapaKu dan BapaMu. Kepada ElohimKu dan Elohimmu.”

Coba bayangkan: Yeshua mengutus seorang wanita untuk menyatakan berita yang terbesar di kalangan gereja, yakni kepada MURID-MURID YAHWEH ITU SENDIRI.

Apakah kita berhak melarang kaum wanita yang telah diutus oleh Yeshua sendiri untuk melakukan apa yang Ia amanatkan?

Apakah kita harus membuat pembatasan-pembatasan terhadap seorang saksi wanita, sedangkan Yeshua sendiri telah memilih seorang wanita untuk membawa berita yang pertama itu kepada gereja setelah Ia bangkit dari antara orang mati? Padahal berita itu adalah berita yang paling vital dan paling besar artinya di dalam agama Kristen – yakni, bahwa HA MASHIAH TELAH BANGKIT!

Apakah kita harus membatasi kaum wanita itu atau jumlah orang yang harus mereka hubungi untuk bersaksi, sedangkan Yeshua sendiri telah memberikan wewenang kepada kaum wanita untuk menyatakan dengan bebas amanat kesukaan yang besar tersebut? Bahkan wanitalah yang menyampaikan berita itu kepada murid-murid dan para rasul, – yang justru adalah para pemimpin gereja. Maria Magdalena-lah yang “menyampaikan kepada mereka tentang amanat Ha Mashiah itu.”

Dapatkah kaum wanita Kristen disuruh terus berdiam diri jaman sekarang ini, padahal di sepanjang kisah Alkitab sejak jaman dahulu kala begitu banyaknya kaum wanita telah dipakai YAHWEH sebagai pembawa amanat dari YAHWEH?

Apakah kaum wanita Kristen itu menggunakan anjuran Paulus itu sebagai alasan untuk tidak berbuat sesuatu atau berbuat sedikit saja di dalam pelayanan penginjilan itu? Bukankah hal itu justru mengurangi kegembiraan mereka dalam mengabdi kepada YAHWEH serta memenangkan jiwa buat YAHWEH?

Apakah kaum wanita Kristen bersedia menerima begitu banyak pembatasan di dalam pelayanan pekerjaan YAHWEH, sementara kaum wanita lainnya begitu bebas melakukan kegiatan di bidang usaha, ilmu pengetahuan, suster Rumah Sakit, kegiatan politik, dan pemerintahan?

Jika sekiranya saya adalah seorang wanita, maka saya pun tidak mau dianggap dan diperlakukan sebagai kaum wanita dari masa abad pertengahan di masa lampau itu, yang masih jauh ketinggalan dan belum begitu tinggi taraf pengetahuan dan kemajuan peradabannya.

Jika seandainya saya ini adalah seorang wanita, maka saya ingin mematuhi perintah Yeshua untuk menyampaikan kabar kesukaan itu di luar lingkungan gereja, tidak kurang semaraknya seperti pembatasan Paulus untuk tidak bergiat di dalam lingkungan ruang gereja.

Jika sekiranya saya inl adalah seorang wanita, maka saya ingin dipandang orang sebagai seorang Kristen yang sejati, seorang yang beriman, seorang pengikut Ha Mashiah, seorang saksi buat Dia, seorang utusan pembawa amanatNya, seorang pemberita tentang kebangkitanNya, seorang pemenang jiwa.

Bila seandainya saya ini dilahirkan sebagai seorang wanita, maka saya akan terjun dalam kegiatan pelayanan pekerjaan YAHWEH, yang diamanatkan YAHWEH bagi setiap orang Kristen, ­tak peduli siapa pun juga. Saya ingin membuktian kenyataan bahwa Ha Mashiah itu hidup di dalam diri saya. Bahwa Ia melayani sesamaku manusia melalui saya. Bahwa Ia berbicara melalui cermin kehidupan saya. Bahwa tubuhku adalah tubuhNya juga. Bahwa Ia menghendaki saya menerus­kan pelayananNya MELALUI diri saya. Bahwa “sebagaimana YAHWEH telah mengirim Ha Mashiah ke dalam dunia ini, maka Ha Mashiah pun telah mengirim saya pula ke dalam dunia ini.” Yohanes 17:18; 20:21.

Jika seumpamanya saya ini adalah seorang wanita, maka saya akan melakukan hal-hal yang dianjurkan Ha Mashiah bagi para pengikutNya untuk dikerjakan. Tidak peduli sekalipun saya harus menderita aniaya atau sengsara untuk tujuan itu. Sebab YAHWEH sudah menderita buat saya,  maka saya pun bersedia menderita buat Dia.

Jika saya ini adalah seorang wanita, maka saya akan menjadi salah satu di antara orang-orang yang bijaksana, yang “mendengarkan ucapan Ha Mashiah dan MELAKSANAKANnya,” Matius 7:24. Saya akan membangun iman saya di atas batu karang iman dan pelayanan saya.

Jika sekiranya saya ini adalah tergolong kaum wanita, yang telah dipenuhi oleh Roh Kudus, (Kisah 1:8), maka saya ingin jadi SAKSI buat Ha Mashiah, “baik di Yerusalem, di seluruh tanah Yudea, dan di Samaria, bahkan sampai kepada ujung bumi sekalipun. “

Andai kata saya ini adalah berstatus wanita, saya akan bergembira sekall, sebab nabi Yoel berkata: “YAHWEH akan mencurahkan RohNya ke atas SEMUA orang. Maka PUTERA-PUTERIMU akan benubuat,” Yoel. 2:28. Sebab Rasul Petrus pun telah berkata: “dan ke atas segala hambaku laki-laki dan PEREMPUAN pun, aku akan mencurahkan Rohku pada masa itu, dan mereka itu akan benubuat,” Kisah 2:18. Saya senang sekali menerima arti bahasa Ibrani yang digunakan oleh nabi Yoel itu, yakni: Berbicara atau menyanyi oleh dorongan ilham. Bernubuat atau memberi pengarahan. Sedangkan perkataan yang dipakai Petrus berarti: Berbicara di bawah bimbingan hikmat YAHWEH; menjalankan tugas nubuatan; menjadi seorang pembicara yang menaruh hikmat kebljaksanaan.

Jika sekiranya saya ini adalah seorang wanita, saya akan bergirang sekali karena Yeshua tidak pemah melakukan tindak perbedaan antara kaum pria dan wanita. Saya akan sangat terkesan sekali oleh sesama kaum wanita yang begitu tekun dan penuh pengabdian melayani pekerjaan YAHWEH. Saya ingin menjadi semacam wanita Samaria itu, yang begitu percaya kepada Yeshua Ha Mashiah, segera pula menuangkan air dan mengabarkan Injil kesukaan itu kepada seluruh isi kota tentang Yeshua itu. Di dalam Yohanes 4 di katakan bahwa “orang-orang pun keluar dari tempat mereka dan pergi mendatangi Dia.” ….. “Dan banyak di antara penduduk kota di Samaria itu lalu percaya kepadaNya,” Berkat adanya kesaksian dan pemberita­an Injil dari SEORANG WANITA. (ayat 30, 39).

Ibu Osborn berpendapat, bahwa kaum wanita itu mempunyai panggilan yang suci dari Elohim di dalam jalan kehidupan mereka. Sebab tugasnya istimewa. Ia memikul tanggung jawab keadaan rumah tangga, sementara ia selalu taat kepada suaminya di dalam YAHWEH. Tetapi di atas segala-galanya ia pun mempunyai pengaruh yang tidak bisa sama dengan suaminya itu baik terhadap suaminya sendiri maupun anak-anaknya.

Seseorang pernah berkata, bahwa “tangan yang pernah menggoyang-goyang ayunan bayi itulah adalah tangan yang mengatur jalannva kehidupan di dunia ini.”

Ibu Osborn berpendapat bahwa hak keibuan itu adalah suatu hak istimewa, yang begitu suci di dalam hidup ini, sehingga ia melebihi segala pahala dan kegirangan yang bisa dialami oleh kaum pria yang yang manapun juga.

Ia melihat keagungan dan pengaruh yang mulia dari seorang wanita itu sebagai sesuatu yang indah dan tinggi nilainya tiada tara di dunia.

Ia berkata bahwa kaum wanita memiliki misi pelayanan yang tidak terbatas ruang lingkupnya, apabila mereka memenu­hi anjuran Ha Mashiah untuk dilaksanakan itu. Mereka boleh bersaksi, memenangkan jiwa buat YAHWEH, memberitakan Injil. Lapangan tugas mereka itu adalah DUNIA itu sendiri. Ia berkata: Jangan ada seorang wanita pun yang mau dikung­kung oleh pembatasan-pembatasan dalam pelayanannya, se­hingga ia harus meringkuk saja di pojok ruang gereja. Padahal Ha Mashiah memberikan kepada kita keleluasaan yang tak terbatas DILUAR LINGKUNGAN GEREJA.”

Pelayanan yang diamanatkan Yeshua kepada para pengikut­Nya tatkala Ia naik ke surga adalah hanya bisa dilaksanakan di luar lingkungan gereja. Dan untung sekali bahwa di dalam Alkitab tidak ada pembatasan apa pun bagi kaum wanita di luar lingkungan gerejani itu.

Jadi, intisari amanat yang terkandung dalam buku ini ialah tertuju bagi kaum pria maupun kaum wanita, keduanya sama saja, untuk pergi keluar di mana orang-orang berdosa itu berada. Kita harus pergi KE LUAR DARI LlNGKUNGAN GEREJA KITA SENDIRI. Pergi ke tempat yang ramai dengan kegiatan hidup ini, di jalan-jalan raya dan persimpangan orang banyak, di tempat-tempat pertemuan umum, di bioskop, taman-taman, tenda-tenda, di rumah-rumah orang, di tengah kaum kafilah, di bawah naungan pohon rindang, di gedung pementasan sandiwara, dan menceritakan kepada dunia bahwa “Saya telah melihat YAHWEH.”- lalu SAMPAIKAN KEPADA MEREKA BERITA KESUKAAN lTU. (Yohanes 20:18).

Pada buku “Why Not Women?”,   Loren Cunningham dan David Joel Hamilton mengatakan bahwa pelarangan wanita terlibat di dunia penginjilan dan misi adalah tipu daya iblis untuk menghambat rencana Elohim bagi memenangkan jiwa dan interpretasi pemimpin Gereja yang salah atas tulisan Rasul Paulus. Bp. L. Cunningham adalah pendiri organisasi misi internasional, dan Bp Hamilton ahli budaya kuno Ibrani, Yunani dan Romawi. Penjala Baja

17. BAGAIMANA MENDEKATI ORANG BERDOSA

Maksud saya menulis buku ini bukanlah untuk mengajarkan kepada anda tehnik memenangkan jiwa. Sebab untuk keperluan itu kita butuhkan pembahasan tersendiri lagi. Dengan uraian singkat ini saya hanya ingin menggugah perhatian pihak gereja, bahwa tradisi yang kaku sangatlah membatasi pelayanan gereja terhadap orang-­orang berdosa yang ingin datang ke gereja. Sembilan puluh persen dari orang yang belum bertobat itu hanya bisa diberitakan Injil kepada mereka itu, DI LUAR DARI LlNGKUNGAN GEREJA. Oleh karena kita diperintahkan untuk menggapai “semua mahluk” untuk menyampaikan Injil itu kepada mereka, maka kita pun harus membawa Injil itu kepada orang-orang yang berdosa di tempat mereka itu berada.

Walaupun demikian, saya ingin menyisihkan satu pasal ini khusus untuk membicarakan bagaimana cara yang baik melaksanakan tugas penginjilan itu. Jadi pembahasan saya ini hanyalah berupa suatu pendekatan ke arah memenangkan jiwa yang terhilang itu. – yakni apa yang dapat diucapkan oleh seorang Kristen kepada seorang berdosa untuk menarik dia pada suatu pembicaraan, sehingga kita boleh bersaksi kepada­nya tentang Ha Mashiah dan keselamatan bagi dirinya itu.

Saya persembahkan cara ini sebagai suatu usaha untuk menunjukkan kepada kaum awam betapa mudahnya sebenar­nya memenangkan jiwa. Yang meruwetkannya sebenamya hanyalah tradisi manusia itu.

Tradisi mewajibkan seseorang harus menjadi manusia yang hafal ayat-ayat Alkitab apabila ia harus pergi memberi kesaksian. Tradisi mewajibkan kaum awam harus menguasai isi Alkitab itu dengan pengetahuan yang cukup mantap, agar bisa memojokkan seorang berdosa. Atau kita harus senantiasa siap sedia dengan senjata ampuh “Maka demikianlah sabda YAHWEH Elohim!” Tradisi memaksakan seseorang harus menjadi seorang manusia suci sebelum ia berusaha hendak memenangkan jiwa orang lain. Tradisi itu membuat suatu pelayanan yang bersahaja itu serba rumit segala-galanya. Tradisi itu merenggut berkat yang paling berlimpah-limpah dari pihak kaum awarn dan menetapkannya sebagai hak istimewa kaum profesional saja, yang kadang kala malah tidak becus untuk melaksanakan pekerjaan itu dengan hasil yang baik.

Seorang pastor atau pendeta menyampaikan pengumuman kepada anggota jemaatnya pada suatu hari Minggu: “Kalian serahkan saja tugas penginjilan dan bersaksi itu kepada gembala sidang. Tempat kalian ialah cukup saja hadir dengan setia di dalam gedung gereja ini.” Itulah tradisi!

Padahal apa yang disebut bersaksi sebenarnya hanyalah suatu percakapan yang sederhana antara seorang Kristen dengan seorang jiwa yang terhilang tentang suatu rencana penyelamatan. Setiap orang awamn dapat melakukannya. Yang terpenting ialah bagaimana kita melibatkan diri dalam percakapan itu tanpa membangkitkan rasa pertentangan.

Apabila anda bisa belajar melakukan hal itu, maka anda bisa memenangkan jiwa buat Ha Mashiah. Itulah sebabnya mengapa saya membatasi diri dalam pasal ini pada teknik bagaimana datang kepada persoalan pokok itu.
Mungkin anda sudah berapa puluh kali ingin bersaksi kepada seseorang, tetapi anda tidak dapat mengarahkan pembicaraan itu dengan tepat. Oleh karena kuatir akan mengalami kegagalan, maka anda membiarkan saja kesempat­an itu berlalu.
Saya ingin membantu anda bagaimana bertindak bijaksana dalam berhubungan dengan seorang jiwa yang terhilang untuk dimenangkan buat Ha Mashiah.
Di sini saya kemukakan beberapa petunjuk sederhana dalam melakukan “pendekatan” yang anda bisa pergunakan dalam keadaan yang bagaimana pun juga agar bisa memperlan­car jalannya pembicaraan anda itu.

***

Pertama: “PERNAKAH ANDA MEMIKIRKAN SECARA MENDALAM SOAL-SOAL YANG BERSANGKUTAN DE­NGAN PERKARA ROHANI?”

Kemukakanlah pertanyaan ini dalam bentuk yang hati-hati dan bijaksana sekali. Jangan kentara seperti dirancang, melainkan buatlah sedemikian rupa sehingga pertanyaan itu terasa seolah-olah wajar saja.
Maksud dari pada pertanyaan ini ialah untuk memusatkan jalan pikiran jiwa yang terhilang itu ke arah perkara-perkara yang bernilai rohani sehingga ia tidak merasa langsung dikejutkan.
Tetapi hendaklah anda tetap usahakan bahwa pembicaraan anda itu berada di atas rel yang wajar dan santai sifatnya. Anda boleh mengajukan pertanyaan ini apabila anda sudah merasa jalannya pembicaraan itu sudah cukup licin. Misalnya setelah beberapa menit anda bercakap-cakap itu anda berkata :

“Kami datang berkunjung ke tempat anda sebenarya dengan maksud agar kita bisa berkenalan lebih erat dan akrab lagi. Mary dan saya telah memperoleh banyak kawan melalui cara ini. Kami telah menjadi orang Kristen selama bertahun-­tahun lamanya dan kami merasa diri kami sangat berbahagia. Saya tidak tahu bagaimana sikap dan pandangan anda terhadap YAHWEH. Tetapi saya kira kita mempunyai banyak perbedaan dalam hal ini. Oh ya, ngomong-ngomong apakah anda pernah merenungkan tentang nilai-nilai rohani dalam kehidupan kita ini?”

Jawabannya: “Oh, rasanya saya sudah pernah. Meskipun tidak begitu mendalam.”

Bisa juga anda beroleh suatu jawaban yang terlalu umum sifatnya. Sebagian orang ada yang perlu waktu sepuluh menit baru tiba pada jawabannya yang sebenarnya. Yang lainnya lagi hanya sekadar menjawab “ya” atau “tidak” secara singkat saja.

Tetapi janganlah anda menyela terhadap jawabannya itu. Biarkanlah dia berbicara terus. Dengarkan saja dulu. Nilailah dirinya itu lewat ucapan-ucapannya tersebut. Pelajari baik-baik bagaimana jalan pikirannya.

Pertanyaan “pendekatan” itu hanyalah sekadar untuk memancing dia bagaimana sebenarnya pendiriannya mengenai hal itu, agar dia mengungkapkan hal itu. Saat bagi anda untuk berbicara ialah setelah anda mendapat jawaban terhadap “pertanyaan pendekatan” itu dan pintu kelihatannya terbuka sudah. Apabila anda adalah seorang pendengar yang baik, maka anda pun akan didengarkannya apabila anda mengemu­kakan kesaksian kelak.

Yang terpentlng ialah: Apa pun jawaban orang itu terhadap pertanyaan pendekatan anda itu, entah panjang atau pendek, hendakIah anda terus melangkah kepada pertanyaan yang berikutnya! Anda hanya bisa memimpin terus pembicaraan itu apabila anda tetap bertaut pada pertanyaan “pendekatan” tadi itu.

Kedua: “APAKAH PENDAPAT ANDA TENTANG KE­ BUTUHAN NILAI ROHANI TERBESAR DAGI SESEORANG?”

Dalam hal ini anda harus bertindak sebagai seorang penanya yang betul-betul menaruh minat  dan jangan sama sekali bersikap seperti seorang guru. Dengarkanlah kepada jawabannya. Mungkin saja ia akan mengemukakan masalah hidupnya sendiri.

Bersikaplah tetap santai. Berdirilah tetap pada garis umum. Biarlah kawan bicara anda itu menaruh kepercayaan kepada diri anda, bahwa dia boleh membicarakan hal ini tanpa beroleh tekanan dari pihak anda. Malah ada kemungkinan ia akan mengemukakan sendiri kebutuhannya untuk merindukan kese­lamatan itu. Apabila hal ini dinyatakannya demikian, maka ini berari “pendekatan” anda itu telah sempat membuka pintu lebar-Iebar bagi pembicraan anda lebih lanjut.

Anda boleh mengajukan pertanyaan pendekatan yang kedua di atas tadi dalam susunan kata-kata dan percakapan yang sangat wajar sekali, seperti misalnya: “Anda tahu bukan, betapa ramainya orang berbicara soal kebutuhan jasmani dalam hidup kita belakangan ini. Akan tetapi kebutuhan rohani pun tidak kalah pentingnya bagi kita. Menurut pendapat anda, apakah kebutuhan utama bagi kita dalam mengemban nilai-nilai rohani itu?”

Jawaban: “Oh, saya tidak tahu. Mungkin saja pergi ke rumah ibadat dan percaya kepada YAHWEH, atau semacam itulah kira-kira.

Tentu saja anda bisa harapkan bahwa anda akan beroleh macam-macam jawaban terhadap pertanyaan anda di atas tadi itu.
Janganlah memotong pembicaraannya. Dengarkan saja dulu! Kesempatan itu akan memberikan gambaran kepada anda bagaimana sebenarnya pendirian orang itu. Apa pun jawabannya, maka hendaklah anda bergerak melangkah kepada pertanyaan yang herikutnya.

Ketiga: “SEPERTI ANDA KETAHUI MAKA KEBUTUHAN MANUSIA AKAN NILAI-NILAI ROHANI YANG TERBESAR ADALAH PENGAMALAN TENTANG KESELAMATAN (KEKAL). APAKAH ANDA PERNAH MEMIKIRKAN SOAL KESELAMATAN (KEKAL) DIRI ANDA SENDIRI?”

Pokoknya anda beranggapan bahwa ia belum beroleh keselamatan itu, tetapi walaupun demikian janganlah anda berkata bahwa dia belum beroleh keselamatan itu. Tunggulah dahulu dari ungkapan jawaban-jawaban yang ia berikan. Ia akan berpikir dulu mengenai sesuatu waktu atau hal yang mungkin pernah ia alami. Entah sesuatu yang meyakinkan dia tentang nilai hidup itu, entah pengalaman hampir mendekati maut dan sebagainya. Dari penjelasannya anda bisa beroleh petunjuk bagaimana sikap orang itu sebenarnya terhadap agama.

Apabila ia pernah mengalaml hal yang meyakinkan dia tentang keselamatan tidak apa-apa. Pertanyaan anda itu masih tetap juga bermanfaat untuk membuka pintu bagi anda untuk mengetahui pengalaman hidup orang itu. Kemungkinan besar jawabannya akan berbunnyi sebagai berikut:

Jawaban: “Saya yakin, setiap orang memerlukan keselamat­an kekal tersebut.”

Hampir selalu pertanyaan pendekatan ketiga ini membang­kitkan ingatan pada sesuatu pengalaman. Apabila ia mengemukakannya, DENGARKANLAH baik-baik! Hendaklah anda pasang telinga dan menaruh minat terhadap keterangannya itu. Lalu anda melangkah maju langsung kepada langkah yang ke empat, tidak peduli apa pun jawaban yang ia berikan.

***

Keempat: “BAGAIMANA PENDAPAT ANDA, APAKAH YANG BARUS DIPERBUAT SESEORANG AGAR IA BEROLEH KESELAMATAN TERSEBUT?”

Bersikaplah polos dalam mengajukan pertanyaan itu. Sebab pertanyaan ini sangat vital sekali sifatnya. Dari jawabannya maka anda akan bisa menilai sampai berapa jauh ia memahami Injil itu.

Mungkin saja anda akan terpesona, bahwa anda harus menerima jawaban semacam ini misalnya: Kebanyakan orang yang belum mengenal kesela­matan mengemukakan jawaban “tepergantung pada diri anda sendiri”. “Kita hendaknya selalu berbuat baik sedapat mungkin, membayar segala hutang kita, bersikap baik hati terhadap hewan.” Atau mungkin pula jawaban itu berbunyi begini, “Bergabunglah dengan salah satu gereja, dibaptis, lalu berdoalah.” Atau ada kemungkinan pula jawaban itu akan bernada protes dari sikap pribadinya dengan berkata, “Oh, saya tidak pemah menyakiti hati orang lain. Pokoknya saya rasa diri saya bereslah.”

Perhatikan baik-baik. bahwa dengan pertanyaan yang keempat ini anda sedang meneliti sasaran anda itu apakah ia sudah mengenal keselamatan itu atau belum, tanpa ia menyadarinya. Sebab apabila anda bertanya langsung kepada­nya, “Apakah anda sudah diselamatkan?” atau “Apakah anda sudah menjadi seorang Kristen?” maka bisa saja ia langsung

menjawab “Ya” Dengan demikian anda tidak beroleh kesempatan untuk mengetahui pengalamannya tersebut, selain itu kemungkinan timbulnya perdebatan.

Apabila kemungkinan pertentangan paham itu timbul di dalam percakapan anda berdua itu, maka besar kemungkinan, anda akan menang dalam perdebatan itu, akan tetapi anda akan kehilangan jiwa tersebut. Oleh sebab itu hindari sebanyak mungkin adanya perbedaan paham atau perdebatan sengit dalam soal ini. Tetaplah berdiri di atas garis di mana anda nampaknya tetap bisa sejalan dengan cara pikir kawan bicara anda itu, tetapi anda tetap memegang kendali pembicaraan tersebut.

PERKECUALIAN: Apabila kawan anda bicara itu membe­rikan jawaban terhadap pertanyaan “pendekatan” yang keem­pat ini secara jujur dalam pengakuannya misalnya: Entahlah, saya tidak tahu.” atau Saya belum bisa menjawabnya, maka hendaklah anda segera meloncat ke pertanyaan yang kelima, dengan maksud menunjukkan kepadanya tentang firman Elohim itu kepadanya.

Tetapi pada umumnya pertanyaan yang keempat ini akan menarik perhatiannya atau menggeser dia keluar dari garis pembicaraan itu. Sebab kebanyakan orang biasanya sudah punya pendapat atau pendirian tertentu mengenai hal ini. Banyak yang percaya akan perbuatan baik atau hal-hal semacam itu. Tidak apa, bilamana ia memberikan jawaban kepada anda berupa pendirian pribadinya itu, terimalah, dengarkanlah baik-baik! Hal ini penting bagi anda agar anda bisa mengetahui bagaimana jalan pikiran dia yang sebenarya. Lalu melangkahlah ke pada pertanyaan anda yang ke lima.

Kelima: “YA, ANDA BENAR. SETIAP ORANG ME­MANG WAJIB BERBUAT HAL SEPERTI ITU. AKAN TETAPI APA YANG SAYA MAKSUDKAN SEBENARNYA IALAH: BAGAIMANA CARANYA ANDA MELAKSANAKAN HAL ITU UNTUK BEROLEH KESELAMATAN KEKAL TERSEBUT.”

Jawaban: Apa pun yang dikemukakan kawan bicara anda itu sebagai jawaban, berbuatlah diri anda seakan-akan setuju  dengan dia, dan bahwa buah pikirannya itu adalah baik. (dan biasanya juga hal itu akan membawa pabala), akan tetapi hendaklah anda melangkah kepada “pertanyaan pendekatan” yang keenam.

***

Keenam : “YA, ANDA BENAR DALAM HAL INI. MEMANG KESELAMATAN ITU SEBENARNYA ADALAH JAUH LEBIH SEDERHANA DARI APA YANG KlTA DUGA. IZINKANLAH SAYA MENUNJUKKAN KEPADA ANDA TIGA ATAU EMPAT KEJADIAN (sementera itu anda boleh mengambil keluar Alkitab anda) YANG MENUNJUKKAN APA SEBENARNYA YANG PATUT DIPERBUAT SESEORANG UNTUK BEROLEH KESELAMATAN ITU.”

Jawaban : Biasanya kawan bicara anda itu akan berkata, “Ya, silakan.” atau, “Tentu saja, saya tidak keberatan.”

PERHATIAN: Mungkin ada sesorang yang berkata, “Ah, saya sudah pernah membaca Alkitab.” Dalam hal semacam ini berkatalah singkat, “Ya, saya tahu hal itu, bahwa anda telah paham soal itu. Saya yakin anda merasakannya sungguh menarik, bukan? Coba perhatikan, di sini ada terdapat dua buah ayat yang menarik seperti yang anda katakan ltu.” Maka tentu saja ia akan ikut mendengarkan.

***

Sekarang pintu telah terbuka bagi anda untuk mengemukakan lima buah kesaksian anda. Akan tetapi janganlah anda sama sekali berkhotbah!
Gunakanlab jangan lebih Dari dua atau tiga ayat saja dari Alkitab itu.
Kemukakanlah apa yang hendak anda utarakan itu secara tegas dan gamblang agar betul-betul terarah baginya untuk mengambil satu keputusan.

Saya sarankan ayat-ayat yang berikut ini bersama dengan lima titik pakok dalam garis besarnya:

1. KEBUTUHAN MANUSIA. -Roma 3:23.
2. HUKUMAN ATAS DOSA. -Roma 6:23a.
3. JALAN KELUAR MELALUI HA MASHIAH. -Roma 5:8.
4. ANUGERAH ELOHIM BAGI MANUSIA. -Roma 6:23b.
5. BAGAIMANA MENERIMA KESELAMATAN. -Roma 10:9, 10, 13.

(Anda bisa memberi tanda pada tepi halaman ayat-ayat ini dengan pinsil merah misalnya, untuk memudahkan anda mencarinya dan memperlancar penggunaan urutannya di dalam pelaksanaan pembicaraan itu nanti).

Di dalam kesaksian anda itu hendaklah anda berbicara serba singkat dan jangan sama sekali mengajukan pertanyaan kepada orang yang bersangkutan. Kemukakan kenyataan-kenyataan!
Marilah kita bayangkan misalnya orang yang bersangkutan itu setuju dengan kesaksian anda itu.
Walaupun demikian hendaklah anda bersikap positif. Berikanlah kesan bahwa anda yakin bahwa dia setuju sepenuhnya di dalam segala hal tentang apa yang anda kemukakan itu. Hendaklah anda yakin betul bahwa dia senang dan gembira dengan adanya kenyataan tentang keselamatan itu.

Maka segeralah anda memberi kesipulan dengan segera dengan cara memberi saran-saran seperti ini misalnya, “John, semuanya ini merupakan kebenaran yang betul-betul indah. Saya telah yakin bahwa anda sangat menghargai betapa mudahnya dan sederhananya YAHWEH telah membuat bagi kita kesempatan untuk diselamatkan itu. YAHWEH bersabda agar kita mengaku dosa kita dan meminta agar Ha Mashiah mengampuni kita agar bisa diselamatkan. Apabila anda mau melakukan hal ini, maka Ia akan datang ke dalam hatimu dan masuk ke dalam kehidupanmu. Maka Ia akan betul-betul (mengampuni dosa-dosa masa lalu dan) menyelamatkan anda!”

***

LALU BERKATALAH DENGAN SUARA PERLAHAN:
“Apabila anda tidak keberatan, maka saya ingin agar kita boleh berdoa bersama-sama sebentar.”
Janganlah menunggu izin yang akan dia berikan. Tundukkanlah langsung kepala anda, tutuplah mata anda­ dan teruskanlah ucapan anda dengan berkata:
“Sementara saya berdoa untuk anda, saya mohon anda pun turut menutup mata dan menundukkan kepala bersama dengan saya. Biarlah kita membayangkan bahwa YAHWEH berada sungguh-sungguh di samping kita berdua in! Saya yakin betul bahwa YAHWEH mengasihi anda, oleh sebab itu Ia pun ingin memberkati anda dengan seluruh keluarga isi rumah anda.”

***

SEKARANG BERDOALAH:
“Yahweh Yeshua, terima kasih atas kesempatan yang Engkau berikan bagi kami untuk dapat diselamatkan. Tolonglah saudara John ini juga melihat keselamatan baginya itu sekarang ini juga. Tolonglah dia berseru akan nama Yeshua sebagai Juru Selamatnya. Selamatkan saudara John ini sekarang juga.
YAHWEH, biarlah kegirangan dalam beroleh keampunan dosa dan damai dari padaMu itu datang atas saudara kami ini pada saat ini juga.”
Apabila kawan bicara anda itu adalah seorang tua, maka berdoalah juga kepada YAHWEH agar Dia menganugerahkan sanak keluarga dan anak-anaknya itu satu rumah tangga Kristen yang berbahagia. Tetapi hendaknya semuanya serba singkat. Kemukakan saja hal-hal pokok, dan tepat pada sasaran.

***

PENTING: Janganlah menutup doa anda! Jangan berkata, “Di dalam nama Yeshua, Amin!” Apabila anda lakukan hal ini, maka ia akan mengangkat muka dan kesempatan bagi anda untuk memperoleh keputusan dari padanya akan hilang.

Janganlah tutup doa anda itu! Mulailah berbicara lagi dengan dia sementara kepala anda masih menunduk.
Berkatalah: “John, sementara matamu tertutup dan kepalamu tertunduk maukah anda meminta di dalam hati anda agar Yeshua menyelamatkan anda? Anda bisa melakukan­nya hal itu sekarang ini juga. [Ikulah doa saya.]
Berkatalah: Ya YAHWEH, saya mengaku bahwa saya ini manusia yang berdosa.”

Tunggulah sampai ia mengulangi ucapan anda itu. Anda telah melakukan apa yang anda mampu perbuat. Ha Mashiah beserta dengan anda. Oleh sebab itu kawan bicara anda itu hendaknya menjawab “Ya” atau “Tidak” kepada YAHWEH. Apabila ia memang tertarik oleh Roh YAHWEH, dan apabila ia memang telah mengambil keputusan untuk mengiring Ha Mashiah, maka ia akan mulai berdoa.

Kadang kala orang itu akan melanjutkan doa itu tanpa perlu lagi kita memberi saran-saran kepadanya. Jika keadaan­nya demikian, maka hendaklah anda menggabungkan diri di dalam hati anda bersama dengan dia. Atau mungkin juga ia meniru ucapan anda yang pertama, lalu anda hendaklah berhenti sejenak menunggu. Waspadalah. Kemudian anda boleh teruskan.

“Saya berseru kepadaMu YAHWEH.”
“Ampunilah segala dosaku.”
“Saya percaya Engkau telah mati bagi saya.”
“SAYA MENERIMA ENGKAU SEBAGAI JURU SELA­MAT PRIBADIKU.”
“Saya percaya bahwa Engkau telah bangkit dari antara orang mati sesuai dengan bunyi Alkitab.”
“Saya menerima Engkau di dalam kehidupanku.”
“Saya percaya Engkau telah menyelamatkan saya sekarang ini.”
”Terima kasih YAHWEH Yeshua untak keselamatan itu. Amin!”

***

Setelah kawan anda itu menerima Ha Mashiah, maka anda dapat menolong dia dalam banyak hal.

Sekarang ia menaruh kepercayaan pada diri anda. Ia merasa bahwa ia boleh mempercayai anda sepenuhnya. Ia tahu bahwa anda MENARUH PERHATIAN atas nasibnya. Maka ia pun kemungkinan besar akan mau menghadiri kebaktian di dalam gereja anda, sebab kini ia telah sama-sama percaya apa yang anda yakini itu.

Aturlah waktu agar anda bisa ke gereja bersama dengan dia, atau anda hendaknya sudah berada di pintu gereja apabila ia datang, sehingga anda boleh menyambutnya dengan baik. [Menjemputnya untuk ke gereja untuk pertama kali adalah tindakan terbaik, menghindari teman anda ini dari rasa malu atau ’tidak aman’ berada di tempat yang baru] Perkenalkanlah dia kepada kawan-kawan anda serta saudara-­saudara anggota gereja lainnya yang seiman. Antarkanlah dia kepada pendeta anda secara pribadi. Ceritakanlah kepada pendeta anda tentang pertobatan yang telah ia lakukan.

Doronglah dia dengan saran-saran untuk membaca Alkitab setiap hari!

Berikanlah kepadanya bahan bacaan pilihan.

Berkunjunglah ke rumahnya secara tetap. Bacalah Alkitab bersama dengan dia. Sambutlah dengan ramah apabila ia menghadiri pelajaran Alkitab. Ia adalah saudara seiman anda. Maka tidak akan makan waktu lama, ia pasti akan mengikuti anda berkunjung ke rumah jiwa orang yang terhilang lainnya, belajar bagaimana bersaksi itu, maka dalam waktu singkat anda telah menghasilkan seorang pemenang jiwa yang baru pula. Gereja anda telah diperkaya dengan satu pemenang jiwa lagi.

***

Untuk kepentingan anda, yang sewaktu-waktu mungkin anda bisa gunakan, di sini kami sajikan enam buah “pertanyaan pendekatan” sebagai bahan pembuka pembicaraan dengan seorang jiwa yang terhilang itu:

1. Pernahkah anda memikirkan secara mendalam peri hal nilai rohani dalam hidup ini?
2. Apakah pendapat anda tentang kebutuhan manusia yang terbesar dalam kehidupan rohaninya?
3. Pemahkah anda memikirkan tentang perlunya anda membutuhkan suatu keselamatan bagi hidup anda?
4. Bagaimanakah pendapat anda, apakah yang diperlukan seseorang untuk diperbuat agar beroleh keselamatan itu?
5. Bagaimanakah sikap anda untuk beroleh selamat itu?
6. Dapatkah saya menunjukkan kepada anda satu dua ayat Alkitab yang berisi sesuatu petunjuk bagaimana seseorang bisa beroleh keselamatan?

Saya sarankan agar pertanyaan-pertanyaan ini dihafal dengan baik urutannya dan demikian pula ayat-ayat yang menjadi pendam­ping bagi 5 pokok kesaksin anda. Inilah garis besar dari apa yang diperlukan seorang Kristen dalam untuk ia ketahui apabila pergi keluar dari lingkungan gereja dan memenang­ kan jiwa buat Ha Mashiah.

“Mereka yang bertindak bijaksana akan bercahaya gemer­lap bagaikan cuaca terang di langit, sedangkan mereka yang membawa banyak orang kepada kebenaran akan bersinar cemerlang bagaikan bintang-bintang yang kekal seIama-lama­nya.” (Daniel 12:3)

18. SASARAN PENGINJILAN DAN BARISAN BELAKANG

Saya tidak percaya akan penanggulangan masalah. Yang saya yakini ialah kebijaksanaan dalam mengam­bil keputusan untuk menanggulangi masalah itu.

Oleh karena kami telah menyelenggarakan misi di ladang YAHWEH hampir ke seluruh dunia, maka YAHWEH telah memberi kesan kepadaku dari waktu ke waktu, bahwa dengan keputusan yang bijaksana kita bisa menanggulangi kesulitan itu. Salah satu dari keputusan itu ialah menghasilkan dan memperkembangkan sejumlah peralatan bagi keperluan memenangkan jiwa. Alat-alat penginjilan ini, seperti yang biasanya kami menyebutkannya, terbukti sangatlah bermanfaat dalam penggu­naannya selama bertahun-tahun.

***

BAHAN CETAKAN YANG BERBICARA
Dalam menghadapi pembaca yang baru melek huruf di daerah-daerah yang masih sederhana tingkat peradabannya, maka saya telah menulis traktat atau selebaran dengan gaya yang demikian sederhananya, sehingga seorang anak kecil pun bisa mengertinya – di dalam delapan belas macam berita keselamatan.

Dengan bantuan ahli-ahli penterjemah, maka bahan bacaan itu telah dicetak kembali dalam lebih dari 100 macam bahasa. Sekarang ini bahan-bahan bacaan itu mengalir keluar dari mesin percetakan dalam jumlah satu TON perharinya. Penyampaiannya sedemikian sederhana dan jelas sehingga penginjil di seluruh dunia yang meliputi lebih dari dua ratus organisasi dapat memanfaatkannya. Banyak ladang YAHWEH betul-betul merasakan betapa besar manfaatnva alat-alat penginjilan itu.

Kaum yang tidak percaya adanya Elohim justru telah menyebarkan paham mereka secara luas di seluruh dunia dengan penyebaran bahan cetakan yang luar biasa banyaknya.
Alkitab itu sendiri sebenarya adalah iman Kristen dalam bentuk CETAKAN. Dan kita tidak perIu memperbincangkan lagi betapa besar nilainya bahan-bahan cetakan itu bagi para pembaca.
Saya melihat betapa besar pula peranan barisan belakang untuk medan penginjilan yang luas itu. Betapa besarnya para pendeta, kaum penginjil dan anggota-anggota gereja sebagai pekerja nasional membutuhkan bantuan dari garis belakang Ini. ltuIah sebabnya mengapa kami juga membuat alat-alat pemenang jiwa ini juga di bagian barisan belakang.

Brosur dan pamflet adaIah cukup sederhana isinya bagi pembaca di pedesaan Afrika dan Amerika Selatan, tetapi sama efektifnya bagi desa-desa di Amerika Utara dan Eropa. Berita keselamatan yang terkandung di dalamnya tidak mengandung bahasa yang tinggi-tinggi atau muluk-muluk. Tak ada alat yang begitu praktis penggunaannya di dalam tugas memenangkan jiwa seperti traktat-traktat Penginjilan yang kami terbitkan itu.

Suatu senyuman, sambil menyodorkan selembar traktat dan kata-kata kesaksian yang meyakinkan, dapat membuka jalan ke arah memenangkan jiwa yang dapat membawa seorang jiwa yang terhilang datang berdoa dan berlutut di kaki Ha Mashiah untuk bertobat.

Oleh sebab itu perlengkapilah diri anda beserta rekan-re­kan anda yang seiman dengan traktat-traktat itu. Dengan demikian anda berada di ambang pintu langkah keluar untuk menemui pengalaman di bidang memenangkan jiwa. Kami mempersiapkan ke delapan belas macam traktat dalam jumlah yang besar, dengan CUMA-CUMA kepada para pemenang jiwa. Anda cukup saja membayar ongkos perangko pengirimannya beserta biaya penyerahan sebesar ($ 1 dolar setiap 1000 lembarnya. Data lama, Penjala Baja). Anda boleh menyampaikan permintaan itu kepada perwakilan kantor kami yang terdekat dengan negara atau daerah anda.

***

AMANAT YANG MAGNETIS
Salah satu masalah yang dihadapi orang di bidang penginjilan ialah bahwa sebagian besar jumlah orang-orang Kristen setempat di berbagai negara itu masih merasa sulit, terutama dalam tahap pertama kalinya, untuk memberitakan Injil dengan tepat dan teliti, oleh karena sebagian besar di antara mereka itu belum begitu menguasai kisah-kisah dalam Alkitab.

Saya merasa mendapat tantangan untuk membantu para pekerja nasional di tiap negara di mana pun mereka itu berada, agar mereka bisa berbuat apa yang saya bisa perbuat jika sekiranya mereka adalah bertugas seperti saya juga. Oleh sebab itulah saya menciptakan suatu alat yang bisa membantu para pekerja itu menginjil dengan Iancar seperti pekerja YAHWEH yang berpengalaman. Dengan bantuan alat perekam magnetis, maka saya bisa merekam khotbah-khotbah yang temyata bisa efektif, sebab sudah diterjemahkan pula ke dalam berbagai bahasa dan dialek oleh para penterjemah.

Dengan membawa perlengkapan alat-alat rekamanan ini (lingua tape units), maka kita membuka kemungkinan bagi orang-orang Kristen untuk membawa amanat penginjilan itu ke tempat-tem­pat yang tidak pemah kita bayangkan sebelumnya.

Sekarang ini alat-alat itu telah membawa kita pada suatu kenyataan. Peralatan dengan memakai kemampuan tape itu telah membuka kemungkinan penyebaran Injil itu ke seluruh permukaan bumi. Lebih banyak jiwa telah berhasil dimenang­kan lewat penggunaan tape itu dari pada penginjilan yang saya sendiri harus datangi. Dan sementara jiwa-jiwa itu diselamat­kan, maka bertambah pula jumlah kaum pekerja yang harus dididik. Setelah mereka mendengarkan khotbah-khotbah itu sampai beberapa kali, maka mereka lalu pergi berkhotbah pula ke mana-mana. Tidak makan banyak waktu bagi mereka untuk berkhotbah secara efektif seperti yang saya lakukan – tanpa perlu menggunakan seorang juru bahasa untuk menterjemahan­nya langsung.

Di markas bagian belakang ini kita memperoleh hasil yang cukup memuaskan pula. Karena kami beroleh kenyataan bahwa alat perekam atau alat pemutar piringan hitam [sekarang CD, DVD, USB serta Internet] yang mudah dibawa ke mana-mana itu dapat merupakan bantuan yang besar dalam memenangkan jiwa.

Coba ingat akan rasul Paulus. Ia harus bekerja berhari-hari lamanya untuk sekadar menulis dengan tangan untuk dapat menghasilkan sebuah surat kiriman kepada sidang jemaat.

Pada waktu itu ia tidak menggunakan kertas karbon ataupun mesin ketik. Bagaimana jika sekiranya pada jaman Rasul Paulus itu sudah dikenal tape-recorder seperti sekarang? Tentu saja Paulus pasti menggunakan tape recorder [komputer] untuk keperluan penginjilan seperti yang kita gunakan sekarang ini. Ia pasti telah memperbanyak surat-surat ajarannya itu sebanyak mungkin dengan tape [disc dan usb], agar bisa dikirimkan ke segenap pelosok dunia untuk memberitakan Ha Mashiah kepada sekalian bangsa itu. Dengan bantuan alat tape recorder dan piringan hitam itu kita bisa melaksanakan kampanye penginjilan selama dua minggu berturut-turut di dalam suatu rumah keluarga, ruang pertemuan umum, salon kecantikan, penjara, rumah sakit, atau bahkan di samping sebuah tempat tidur seorang yang sakit atau cacat bila anda menghendakinya. (Anda dapat menggunakan alat pendengar yang bisa dipasang di telinga sambil mendengar­kan rekaman itu tanpa mengganggu orang-orang di sekitar anda, sebab suaranya bisa disumbat pula). Sedangkan alat amplifair memungkinkan anda bisa berkhotbah kepada sejum­lah besar orang-di tengah ribuan kaum pekerja, di pasar-pasar yang ramai, atau di mana saja tempat orang-orang banyak bisa beroleh kesempatan untuk mendengarkannya.

Tim-tim yang tersusun rapi dan terdiri dari para penginjil dan barisan pekerja YAHWEH dari kalangan sesama rekan orang Kristen, dapat menggunakan alat ini dengan berhasil baik dalam memenangkan jiwa. Dengan hanya menekan knop saja maka anda sudah bisa memenangkan jiwa dengan sistim yang sungguh modern.

Seorang wanita tua berusia 73 tahun di Ohio membeli sebuah tape recorder portable, sehingga ia bersama dengan kakaknya yang berusia 76 tahun umumya bisa berkeliling melakukan kunjungan ke berbagai rumah sakit, penjara setempat, balai-balai desa, dan kawan-kawan mereka yang sudah lama tidak muncul di gereja. Ia menulis kepada kami sebagai berikut, “Saya berusia 73 tahun, tetapi itu hanyalah ukuran lahiriah saja. Tetapi jiwaku tetap muda untuk bersaksi tentang YAHWEH. Kita orang-orang tua yang sudah beruban patut pula berbuat sesuatu dalam sisa hidup kita ini.”

Setiap gereja hendaknya memiliki sejumlah tape recorder atau pick-up piringan hitam untuk keperluan penginjilan pribadi, dan meminjamkan kepada orang-orang Kristen yang mau bekerja untuk penyebaran Injil YAHWEH dan memenangkan jiwa buat YAHWEH. Sampai sekarang masih sedikit sekali gereja YAHWEH yang memanfaatkan tehnologi modern! Padahal tidak ada salahnya kita menggunakan kemajuan peralatan itu.

Di dalam peralatan yang berkembang luas itu kami menyebar luaskan suara kami, khotbah kami, pengalaman memenangkan jiwa yang kami bersama dengan kaki, tangan, dan hati ribuan umat Kristen yang awam lainnya, sambil memenangkan jiwa dan menambahkan jiwa-jiwa itu menjadi anggota gereja YAHWEH.

***

PERPUSTAKAAN AGAMA MODEL ABAD KE DUAPULUH
Buku-buku yang memberi penerangan dan merupakan berkat bagi jalan pikiran orang banyak betul-betul merupakan satu harta yang tak ternilai harganya. Saya telah berkesempatan menulis dan menerbitkan sejumlah buku-buku yang murah, yang berisi kebangunan iman, keselamatan, penyembuhan ilahi serta cara memenangkan jiwa buat YAHWEH.

Perpustakaan agama model abad ke dua puluh yang kami miliki ini, yang kami sebut “20th Century Faith Library”, merupakan sebuah gedung besar dan luas, tempat menampung peralatan bagi penginjilan. Di gedung ini seorang pencari jiwa yang terhilang dapat bertekun diri dan mempersiapkan hati dan pikirannya dengan membaca-baca persediaan buku yang terdapat di situ, belajar bagaimana harus menjawab pertanya­an-pertanyaan yang timbul dalam masyarakat, bagaimana menghilangkan keragu-raguan, sebelum atau sesudah ia memenangkan jiwa-jiwa yang terhilang itu.
Perorangan dapat memesannya untuk dikirim atau dibeli atas minat seseorang (bagi perpustakaan gereja atau pembeli dalam jumlah besar dapat beroleh potongan. yang lumayan).

Sebuah gereja, atau perorangan pun dapat mendirikan perpustakaan untuk dipinjamkan tentang buku-buku dan bahan bacaan di bidang agama, baik bagi orang-orang yang belum bertobat maupun bagi pengukuhan iman mereka yang sudah berada di dalam YAHWEH. Apabila sebuah buku itu telah membawa berkat buat kita dan kita menganggapnya sangat penting, maka pantaslah bagi kita untuk meneruskannya kepada orang lain. Buku-buku kami itu justru ditujukan untuk keperluan yang semacam itu.

BERITA BULANAN BERKALA
Majalah kami bemama “Faith Digest,” yakni majalah bulanan yang memuat berita perkembangan penginjilan di seluruh dunia. Majalah ini pun dapat merupakan “alat” pendorong dan pemberi semangat bagi anda bila anda memintanya. Majalah itu diterbitkan di dalam bahasa Inggris dan Jerman. Majalah itu akan dapat dikirimkan dengan CUMA-CUMA kepada setiap orang Kristen yang nama dan alamatnya anda serahkan kepada kami. Ada terdapat enam belas majalah berukuran tabloid, yang kami kirimkan dengan slogan, “Anda telab memberikan buat YAHWEH begitu banyaknya sehingga pantaslab bagi anda untuk menerima majalah FAITH DIGEST ini.”

***

ALAT YANG TAK TERKALAHKAN
Belum ada alat, baik dari jenis yang kuno maupun modern, yang mampu menyaingi daya tarik Film-film Mujizat sebagai penarik jiwa di dalam negeri maupun di berbagai negara di luar negeri. Kami menyebut film-film itu dengan julukan Film-film mujuzat yang tidak terkalahkan.

Dari berbagai macam negara kami telah menerima laporan yang sama nadanya: Tak ada yang lebih mampu menandingi daya tarik terhadap orang banyak dari pada film-film mujizat itu. Perhatian orang sungguh-sungguh tertarik akan berita-beri­ta peristiwa yang mengagumkan berupa dokumen penginjilan itu. Tak ada yang bisa menyaingi daya kerja pemberitaan Injil terhadap orang banyak dari pada film-film yang berisi pesan yang sangat berkesan secara audo-visual itu, di mana orang banyak bisa menyaksikan kuasa YAHWEH itu bekerja di mana-mana.

Film-film itu telah dibuat selama penginjilan massal yang kami lakukan dalam rangka perjalanan kampanye penginjilan kami. Belum ada film yang begitu mengagumkan sebelum ini, yang menarik perhatian begitu banyak orang serta berisi begitu banyak mujizat YAHWEH yang justru terjadi di dalam abad cinematografi modern ini. (Perlu saya sebutkan bahwa film ini adalah merupakan kombinasi pengalaman penginjilan yang berisi unsur:

1. Perjalanan keliling.
2. Penginjilan massal.
3. Peristiwa dan adegan-adegan mujizat.

Kami telah memelo­pori pembuatan film ini sebagai film dokumenter non-fiksi yang terbesar selama kampanye keliling yang kami selenggarakan di pulau Jawa. Maka suatu masa penginjilan yang baru pun merekahlah.

Film-film ini tidak ditujukan untuk sekadar menjadi alat hiburan bagi para anggota gereja. Tetapi film-film itu diperuntukkan bagi alat daya tarik buat orang-orang yang belum percaya YAHWEH, atau orang-orang yang belum diselamat­kan, atau orang-orang yang belum mengenal kehidupan gerejani, agar mereka, boleh mendengar, melibat dan yakin tentang kuasa Elohim pada abad sekarang ini.

Gereja-gereja sering menyewa film ini untuk satu malam sebagai pertunjukan selingan apabila sang pendeta sudah terlampau lelah, atau mungkin tidak berada di tempat, atau untuk keperluan tambahan lain-lainnya. Tetapi kesempatan semacam ini sangatlah terbatas sifatnya.

Industri film selalu menghasilkan film dalam bentuk SERI agar bisa dapat melanjutkan daya tarik pertunjukkannya itu sampai berulang kali – dan tidak mungkin hanya untuk pertunjukan satu malam saja. Memang, para pengusaha industri film cukup bijaksana dan mengetahui bahwa orang akan bercerita kepada orang lain tentang apa yang mereka telah lihat, sehingga mereka pun menganjurkan kepada sahabat kenalan mereka untuk datang menontonnya. Para pemimpin orang Kristen pun haruslah bersikap demikian pula, artinya paling kurang, tidaklah kalah gesitnya dibandingkan dengan orang-orang yang belum mengenal YAHWEH itu.

Kami tekankan di sini bahwa film-film DOKUMENTER kami mempunyai pengaruh yang lain sama sekali terhadap orang banyak serta peri kehidupan iman mereka. Orang-orang berdosa-bahkan kaum atheis dan yang bersikap sinis-bisa menemukan bukti-bukti tentang kekuasaan YAHWEH di dalam film ini, suatu hal yang nampaknya seperti mustahil. Kami menganjurkan agar film-film ini diputar berulang kali di daerah-daerah yang tertentu, sehingga cukup lama bagi film itu untuk menyusupkan pengaruhnya yang menyangkut bidang pelayanan Ha Mashiah itu.

Ingatlah baik-baik, bahwa suatu film DOKUMENTER mempunyai pengaruh yang berbeda sama sekali terhadap orang banyak bila dibandingkan dengan sebuah film cerita dengan suatu plot yang mengandung rahasia. Apabila masalahnya sudah terpecahkan di hadapan mata si penonton, demikianlah sifat sebuah film cerita, maka ia tidak lagi mempunyai daya tarik lebih lanjut. Akan tetapi sebuah film dokumenter akan ditonton orang lebih dari satu kali oleh orang yang sama itu juga. Sedangkan film-film kami ini adalah jelas-jelas merupa­kan suatu rentetan KAMPANYE BAGI KRlSTUS DALAM TINDAK PELAYANANNYA! Itulah sebabnya mengapa film-film ini sangat cocok sekali bagi orang-orang Kristen untuk menggunakan film-film ini bagi keperluan menggapai orang­ orang yang belum diselamatkan itu.

Sejumlah daftar mengenai film-film  kami ada terdapat pada bagian terakhir buku ini. Mintalah keterangan dan formulir Film Kampanye dari kami, maka anda pun bisa turut memperkembangkan penginjilan massal di luar lingkungan gereja sendiri.

Alat penginjilan ini dapat memberikan perlengkapan bagi tujuan penyebaran Injil itu dengan skala sasaran yang lebih luas dan banyak lagi. Film-film dokumenter semacam ini dapat membuka pintu bagi sejumlah besar tempat, yang mungkin anda sendiri barangkali tidak diizinkan untuk menginjil di situ.

***

SASARAN-SASARAN DI LUAR LINGKUNGAN GEREJA SENDIRI

Lembaga-Iembaga Pendidikan.
Dalam meneliti bidang penginjilan kita, maka hendaklah kita camkan, bahwa film-film dokumenter ini merupakan sarana yang efektif sekali bagi penginjilan di sekolah-sekolah, perguruan tinggi, universitas, sekolah juru rawat, rumah yatim piatu, lembaga rehabilitasi, asrama-asrama bagi anak-anak putera maupun puteri dan sebagainya.
Film-film itu dapat diperkenankan atas dasar nilai pendidik­an yang terkandung di dalamnya. Anda biasanya diberikan kebebasan untuk memberikan sepatah dua kata sebelum atau sesudah film itu diputar.
Saya rasa inilah alat yang paling bagus dan lebih meyakinkan sifatnya, yang dapat digunakan untuk membawa kesaksian bagi generasi muda sekarang ini.

Cobalah lihat bagaimana Iblis telah memanfaatkan sebaik baiknya film-film ini di dalam gedung bioskop sekarang ini. Bandingkanlah betapa hebatnya pengaruh film-film itu di bidang kejahatan terhadap umat manusia sekarang ini.

Oleh sebab itu apa salahnya bila kita pun memberikan pengaruh yang baik kepada generasi muda kita melalui film-film penginjilan itu. Saya rasa kita bertanggung jawab untuk menyelamatkan generasi muda kita itu. Sayang sekali apabila kita tidak melakukannya.

Lembaga-Iembaga Umum.
Rumah-rumah sakit, rumah-rumah peristirahatan, rumah atau panti asuhan orang jompo, sanatorium, dan rumah pemulihan orang-orang cacad dan sebagainya adalah ladang yang subur bagi penyebaran Injil. Ingatlah, bahwa sekarang ini orang tuli sekali pun sudah dapat menikmati film pada saat ia menonton film. Sedangkan orang buta dapat mendengar pita suara rekaman atau piringan hitam yang berisi penginjilan. (Salah sebuah dari pada buku kami malah sudah diterbitkan dalam huruf Braille).
Kemudian ada lagi terdapat lowongan kesempatan yang luas sekali di lingkungan.

Lembaga Rehabilitasi.
Kita sebutkan saja seperti gedung-gedung penjara, rumah penampungan, orang-orang terlantar, panti asuhan anak-anak nakal dan lembaga pertanian bagi nara pidana.
Boleh juga kita garap penghuni rumah-rumah kaum janda, para pemabuk yang telah ketagihan alkohol, para penyedot madat atau lembaga ketergantungan obat bius, projek-projek pemerintah, basis-basis militer, dan daerah permukiman kelompok orang-orang tertentu.
Sudahkah terlintas dalam benak anda tentang kemungki­nan di KAMP PENGUNGSIAN?

Di mana saja anda temukan sekelompok orang dari kebangsaan tertentu, maka anda pun dapat menemukan suatu ladang penginjilan di dalam negeri anda sendiri. Film-film kami, tape, traktat, dan buku-buku dapat diperoleh hampir dalam segala macam bahasa utama di dunia ini. (Bahasa Spanyol bagi bangsa-bangsa yang berbahasa Spanyol, baik di Spanyol sendiri maupun kepulauan dan jajahannya. Bahasa Urdu, Hindi, Tamil atau India bagian Timur; Bahasa Mandarin atau Kanton bagi orang Cina; Bahasa Tagalog, Cebu atau IIongo bagi orang-orang penduduk Pilipina; Bahasa Perancis bagi bangsa-bangsa dan kepulauan yang berbahasa Perancis; Bahasa Italia; Jerman; atau hampir setiap jenis bahasa apa saja yang anda butuhkan). Mungkin anda punya panggilan besar untuk menginjil, tetapi anda tidak mampu untuk terjun sendiri ke dalam ladang YAHWEH ltu. Inilah cara yang paling serasi bagi anda untuk menjadi penginjil dari markas barisan belakang. Mungkin dengan cara ini anda bisa memenangkan lebih banyak jiwa lagi dari pada anda sendiri pergi berkunjung ke luar negeri dengan hasil yang belum beroleh ketentuan.

Dan bagaimana pula pendapat anda tentang tempat-tempat hiburan umum semacam balai hiburan, pasar malam, gelang­gang pameran dan semacamnya? Kesempatan ini pun membuka lowongan yang luas pula bagi penginjilan lewat film dan lain-lainnya itu. Rumah-rumah penginapan, pabrik-pabrik, klab-klab hiburan, bar dan restoran, rumah pembinaan, kedai minum dan sebagainya. Gedung-gedung apartemen, pojok-pojok jalanan, taman umum, plaza, pasar. Di mana saja ada terdapat manasia, maka di situ kita dapat memenangkan jiwa!

Alat ini dapat membuka pintu orang-orang atau keluarga yang kaya-kaya maupun lingkungan gubuk-gubuk orang miskin di perkampungan kota. Misi-misi penyelamatan, hostel milik Bala Keselamatan, panti pendidikan anak-anak nakal, tempat berenang dan banyak lagi tempat-tempat lainnya.

Anda bisa mempertunjukkan film itu pada kampanye penginjilan, kampanye kebangunan rohani bagi perkumpulan kaum muda, pertemuan Pemuda untuk Ha Mashiah, dan lain-lain kelompok sosiaI. Boleh juga di putar di kalangan YMCA dan YWCA (organisasi pemuda dan pemudi Kristen se dunia) atau di lain-lain tempat di mana kaum muda biasanya senang berkumpul.

Dengan menggunakan film-film yang berisikan mujizat YAHWEH itu, maka gereja boleh bersaksi kepada wilayah-wilayah yang jauh sekali bidang penjangkauannya. Begitu pula segala buku-buku, piringan hitam, pita rekaman, traktat untuk disebarkan dari rumah ke rumah, semuanya berguna untuk memenangkan jiwa. Suatu undangan untuk menyaksikan film mujizat ini di tempat yang dipandang netral akan menarik banyak orang berdosa yang tidak mungkin mau datang ke gereja.

Ingatlah baik-baik, pemenang jiwa yang aktif adalah orang-orang Kristen yang berbahagia. Seorang gembala sidang dapat saja mendorong semangat para anggotanya yang awam untuk PERGI KELUAR UNTUK MENGINJIL DI LUAR LINGKUNGAN GEREJA SENDIRI. Dengan demikian dapat­ dapatlah kita uji sampai di mana kemampuan kita sebagai pemenang jiwa secara pribadi.

Saya yakin sepenuhnya bahwa kebangunan rohani di dalam lingkungan gereja akan berhasil dan kelak membangkitkan satu kebangunan perorangan dalam memenangkan jiwa DILUAR LINGKUNGAN GEREJA SENDIRI.  <:::><

19. ADAKAH SUATU ALAT YANG LEBIH BESAR LAGI?

Seorang ahli filsafat Perancis pernah berkata: “Publik tidak lagi menengok kepada Gereja untuk mencari kebenaran. – mereka telah berpaling ke gedung-gedung bios­kop.” Yang ia maksudkan dengan ucapan ini ialah bahwa Gereja telah tenggelam demikian dalam dan tekunnya di bidang ritual atau berbagai macam upacara keagamaan sehingga gereja sudah tidak sanggup lagi menarik perhatian generasi muda sekarang ini. Dari sini kita berkesimpulan bahwa kaum muda itu menyerap fatsafah hidup ini melalui perantaraan film. Akibatnya ialah suatu masyarakat yang penuh dengan pembe­rontakan, kekejaman dan prinsip hidup yang serba kacau balau. Bukan karena film itu sendiri adalah suatu alat yang jahat, melainkan disebabkan oleh apa yang dipertontonkan di dalam film itu.

Di dalam tahun 1947 YAHWEH muncul di hadapan peman­dangan mataku. Saya menjadi yakin sepenuhnya, bahwa mujizat yang sama seperti dikisahkan dalam Alkitab itu berlaku pula sekarang ini. Karenanya hanyalah mujizat di bidang penginjilan saja yang dapat meyakinkan kaum muda jaman sekarang babwa Ha Mashiah itu masih hidup.

Saya lalu menyadari, bahwa di banyak negeri dewa-dewa yang mati banyak disembah orang, oleh karena orang-orang itu tidak mengetahui atau tidak mengenal apa yang disebut Elohim yang hidup itu. Maka itulah pula sebabnya mengapa saya sampai berangkat meninggalkan tempatku lalu berlayar untuk mengabarkan Injil ke tempat-tempat yang jauh, lewat lautan. Kepadaku ditekankan bahwa apabila orang banyak yang belum mengenal Ha Mashiah itu bisa menyaksikan kuasa Elohim itu bisa menyembuhkan orang sakit, seperti halnya pada jaman Alkitab, maka mereka akan menerima Yeshua Ha Mashiah sebagai juru selamat dan menjadi orang-orang Kristen yang setia.

Kami lalu mulai menjelajahi negara demi negara, dan mengabarkan Injil di tempat-tempat yang terbuka. Kami memberitakan kabar selamat, lalu berdoa untuk orang sakit.

Setiap mujizat yang terjadi merupakan bukti bahwa Ha Mashiah itu satu kenyataan dan bahwa janji Elohim itu benar adanya. Puluhan ribu umat yang beragama Islam, Budha, Shinto, Hindu, orang-orang kafir, dan para kaum penyembah berhala telah bertobat dan mengambil keputusan di hadapan umum untuk menerima Ha Mashiah. Ribuan orang telah menyatakan diri hendak menggabungkan diri dengan salah satu gereja yang mengkoordinir kegiatan kampanye yang diselenggarakan itu.

KEBIJAKSANAAN DI DALAM PENGINJILAN KAMI MELALUI FILM adalah kebijaksanaan berdasarkan pandang­an untuk memperlihatkan kampanye besar-besaran itu berlang­sung DALAM KENYATAANNYA, dalam suara dan tatawarna­ untuk menjadi bahan catatan atau laporan tentang amanat iman itu DISAMPAIKAN KEPADA ORANG BANYAK, serta mengabadikan dalam film peristiwa-peristiwa ajaib YANG TELAH TERJADI seperti yang dialami orang-orang dalam rangka kampanye itu. Dengan perantaraan ALA T FILM itu, maka seluruh dunia boleh menyaksikan lagi satu dokumentasi, kesaksian bahwa Yeshua Ha Mashiah itu tidak pernah berobah sama sekali. Juga sekarang ini tidak!

Sekarang ini ada terdapat ratusan film dokumenter penginjilan itu yang beredar dalam lebih dari 50 macam bahasa. Misi-misi yang berkecimpung di bidang pekerjaan YAHWEH di luar negeri. menggunakan film ini untuk menarik ribuan massa agar mendengarkan Injil. Film-fiIm itu terbukti telah merupa­kan “alat penginjilan yang paling ampuh” baik bagi keperluan penginjilan di ladang YAHWEH di luar negeri maupun di dalam wilayah lingkungan tempat sendiri.

Film-film ini bukanlah film fiktif di bidang keagamaan dan dibintangi oleh aktris dan aktor, melainkan merupakan BAHAN DOKUMEN OTENTIK TENTANG KUASA ELOHIM DAN HA MASHIAH YANG HIDUP DI DALAM KENYATAAN YANG SEBENARNYA. Bukti-bukti macam yang dikandung oleh film-film kita itu yang justru diperlukan oleh generasi muda yang sinis masa kini, agar supaya mereka boleh datang kepada Ha Mashiah untuk percaya dan beroleh selamat.

Sekarang ini industri perusahaan film telah mempesona dan menjerat jutaan jalan pikiran anak muda di seluruh dunia. Bintang-bintang layar putih yang tingkah lakunya merangsang nafsu seks yang rendah, tetap saja terus mempunyai pengaruh di kalangan anak muda sekalipun bintang tenar itu telah lama meninggal dunia ataupun menarik diri dari dunia film. Mengapa? Karena alat film itu lebih langgeng sifatnya.

Itulah sebabnya sudah sepantasnya bila kita suguhkan kepada generasi muda sekarang ini film-film mujizat penginjil­an – bukan film agama yang fiktif yang dibintangi oleh aktor atau aktris terkenal. Tetapi satu film dokumenter yang memberikan bukti kebenaran tentang Yeshua Ha Mashiah yang Hidup itu.

Penyakit modernisme, atheisme, skeptisme merongrong sikap hidup dan jalan pikiran orang-orang yang terpelajar maupun lembaga-lembaga pembina kemajuan dalam masyara­kat itu. Anak-anak muda jaman sekarang ada juga yang tidak mengakui YAHWEH sama sekali, sekurang-kurangnya bersikap masa bodoh terhadap adanya YAHWEH itu dengan sikap seakan-akan berkata: ”Apa sih bedanya? Hidup beriman kepada YAHWEH dan tidak mengenal YAHWEH bagi saya sama saja.”

Tak ada lagi alat yang lebib besar peranannya dari pada film di dalam abad manusia lagi gandrung televisi dan bioskop sekarang ini. Tetapi film-film ini adalah film kisah dokumentasi yang membuktikan kuasa HA MASHIAH SEDANG BERLANG­SUNG DALAM KENYATAAN. Film bukti tentang caranya mencapai orang banyak berupa JIWA-JIWA YANG TERHILANG ITU.

Kita telah memanfaatkan alat modern ini untuk menjadi alat yang ampuh dalam penginjilan. Perusahaan-perusahaan besar menggunakan film untuk mempromosikan barang dagangan mereka sampai ke seberang lautan kepada jutaan umat manusia. Kaum yang tidak ber-YAHWEH juga telah mempergunakan film sebagai alat mencapai tujuan cita-cita mereka. Holywood telah lama menggunakannya untuk meracu­ni anak-anak muda dengan kuasa kegelapan yang jahat. Akan tetapi sekarang ini Film Penginjilan merupakan alat yang paling agung dan efektif untuk pelebaran kerajaan YAHWEH – ba­ik di lingkungan sendiri maupun di luar negeri.

OSBORN FOUNDATION telah membagi-bagikan film-film ini kepada para misionaris selama bertahun-tahun lamanya, berlandaskan semboyan prioritas “penginjilan terlebib dahulu.”

Permintaan akan film-film itu demikian besarya mengalir kepada kami, di bagian garis belakang, sehingga film-film ini sangat terkenal dan dianggap vital sekali sebagai sarana ampuh di tangan para kaum pendeta, penginjil-pengin­jil, para misionaris yang sedang bercuti, sekolah-sekolah Alkitab, maupun orang-orang Kristen awam yang terpercaya, baik laki-laki maupun wanita. untuk keperluan memenangkan  jiwa buat YAHWEH.

­

20. WAKTU TIDAKLAH MENGUNTUNGKAN KITA

Secara umum haruslah kita akui bahwa amanat Ha Mashiah yang patut kita sebar luaskan itu kurang cukup lancar dan kurang cepat jalannya. Sebab setiap kali Gereja memenangkan satu jiwa, sudah ada tiga puluh jiwa lagi yang lahir di dalam lingkungan rumah tangga orang Kristen.

Dunia perusahaan dagang memanfaatkan segala macam metode baru apa saja untuk keperluan promosi barang dagangan mereka itu, Banyak nama-nama produksi pabrik­-pabrik telah berhasil menyusup sampai ke daerah-daerah terpencil sekali pun-sedangkan Injil BELUM sempat menyen­tuh daerah itu barang sedikit pun juga.

Sering kati kita menyesali atau meratapi betapa cepatnya kejahatan itu meluas dalam masyarakat. pada hal kita bisa pula mencapai kemajuan yang sama cepatnya dalam memenangkan jiwa asal saja kita mau dan bersedia menggunakan kesempatan itu. Akan tetapi sayang sekali. Banyak orang terlampau sibuk dan tekun dengan perkara-perkara di balik pintu tertutup, sehingga mereka malah buta-tuli terhadap lowongan yang terdapat di balik pintu terbuka itu.

Golongan kaum yang tidak percaya YAHWEH telah merang­kum alat-alat modern dan memperkembangkan suatu tehnik yang efektif dan luar biasa besarya untuk keperluan propaganda, dengan maksud hendak mempengaruhi jalan pikiran berbagai macam bangsa itu. Film-film, piringan hitam, pita rekaman, dan bahan-bahan cetakan bagi mereka adalah jauh lebih berharga dari pada nilai kegunaan bom, tank baja, dan senapan. Ajaran mereka yang menyesatkan itu telah menyusup sampai ke dalam ribuan desa-desa di mana Injil belum pernah di dengar sedikit pun oleh penduduk di desa-desa itu. Mengapa kaum yang tidak beriman itu begitu cepat mencapai sasarannya, sedangkan bagi gereja usaha ini merupakan suatu kegagalan sementara untuk mengejarya memerlukan waktu yang cukup panjang?

Gereja itu tidak hanya berhadapan dengan tantangan yang hebat di luar negeri. Bahkan di bagian barisan garis belakang pun gereja itu diserang oleh atheisme dan sinisme. Dari semenjak masa kanak-kanak di sekolah sampai menduduki bangku sekolah tinggi pengaruh PERLAWANAN terhadap YAHWEH itu makin bertambah pesat juga dari hari ke hari, sampai banyak anak-anak muda yang berasal dari rumah tangga Kristen kembali ke masyarakat mereka-dengan hati yang buta terhadap YAHWEH.

Seorang pengabar Injil yang bijaksana akan mengambil sikap yang waspada tentunya dan menyadari betapa bobroknya sudah pengaruh buruk terhadap generasi muda sekarang ini.

Adegan-adegan televisi dan bioskop betul-betul meracuni jiwa anak-anak dan pemuda masa kini. Setiap hari hal itu berlangsung terus. Suatu siaran televisi yang berlangsung selama 30 menit atau film yang sangat merangsang dalam waktu yang sesingkat itu bisa memberi kesan yang lebih dalam dan merusak jiwa anak muda kita dari pada apa yang dikerjakan oleh gereja dalam usaha pembinaannya dalam memperbaiki moral generasi muda masa kini.

Waktu memang betul-betul tidak berada di pihak kita, ia tidak menguntungkan kita. Oleh sebab itu gereja harus bergerak lebih capat berlipat ganda untuk dapat mengejar ketinggalan itu. Apalagi bila kita prihatin terhadap nasib orang-orang yang belum mengenal Injil itu. Alat-alat yang diciptakan oleh Osborn Foundation itu merupakan semacam TALENTA bagi kaum awam Kristen, bagi para penginjil, bagi para pendeta, bagi siswa-siswa sekolah Alkitab, dan bagi Gereja. Mereka mempunyai tanggung jawab untuk mengguna­kan talenta itu sebaik-baiknya.

Kita lebih baik tidak usah mengkhayalkan hari esok. Kesempatan untuk hari besok biarlah besok pula kita tangani. Sebab yang penting ialah hari sekarang. Alat apakah sekarang ini yang dapat kita peroleh untuk menambah kemampuan kita memenangkan jiwa di tempat yang jauh-jauh?

Orang laki-laki yang digambarkan didalam Matius.25:14-30 menyerahkan barang.barangnya ke dalam tangan para rekan­nya sesama hamba Elohim. Saya berdoa bagi setiap orang Kristen awam, penginjil, pendeta, dan pengajar agama, yang telah menyadari adanya “telenta” itu, agar menempatkan miliknya itu menjadi bermanfaat, dan agar supaya talentanya itu boleh berlipat ganda leblh banyak lagi, sehingga pada suatu saat berkatalah sang majikan :

Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, (Mat 25:23). Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. (Mat 25:29)

Semoga YAHWEH mengaruniakan hal itu kepada anda, tidak peduli anda seorang pria, wanita, anak laki-laki atau anak perempuan, agar supaya anda boleh menemukan suatu metode baru yang segar di dalam pelayanan anda untuk memenangkan jiwa yang terhilang itu. Semoga anda akan IKUT SERTA DI DALAM KERETA YAHWEH untuk menuju ladang penginjilan. Bahwa anda akan meninggalkan lingkungan anda sendiri dan pergi ke tempat di mana Roh Kudus akan membimbing anda untuk mencari jiwa yang terhilang, agar bisa bersaksi kepadanya tentang Ha Mashiah.

Mudah-mudahan anda akan melakukan tugas seperti yang telah dijalankan oleh Pilipus (Kisah 8:32-33), sampai tiba saatnya pada suatu hari orang akan berkata kepada anda, tak bedanya seperti kepala pemerintahan di Ethiopia itu berkata kepada Pilipus : “Ya, saya percaya bahwa Yeshua Ha Mashiah adalah Anak Elohim,”

TAMAT

Buku T.L Orbon lainnya:

  • Bagaimana Anda Bisa Dilahirkan Kembali (How To Be Born Again)
  • Rahasia Hidup Berkelimpahan (How To Enjoy Planty)
  • Jalan Hidup Sejahtera (How To Have The Good Live)
  • Panggilan Yang Agung (Soul Winning Out Where The Sinner Are)
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Ikutlah Serta Dalam Kereta Kencana bg.2 (8-15)

8. HIDUP MATINYA PENGINJILAN

Marilah kita tinjau sekilas sejarah perkembangan Gereja Kristen dan menelusuri asal mulanya gerakan penginjilan itu. Lalu kenapa penginjilan itu kemudian surut menghilang, dan nanti bela­kangan muncul kembali lagi?

Alkitab berkata: “Yeshua Ha Mashiah telah datang ke dalam dunia ini untuk MENYELAMATKAN ORANG BERDOSA.” 1 Timotius 1: 15. Itulah penginjilan. Sebab Ha Mashiah sendiri yang memberikan contoh teladan.

Orang-orang Kristen yang pertama itu meniru contoh Ha Mashiah. Mereka menyadari bahwah amanat yang mereka pikul adalah mencari orang yang berdosa. Mereka ingat betul apa yang Ia katakan:

Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Rasul 1:8)

Roh Kudus telah dicurahkan kepada mereka untuk mem­berikan kekuatan untuk BERSAKSI, pergi keluar dan berkunjung dari rumah ke rumah, seorang berbicara dengan seorang lainnya, dengan tujuan untuk mengajak orang-orang itu percaya kepada Yeshua Ha Mashiah dan menjadi pengikut Dia.

Metode mereka sangat bersahaja dan praktis:
“Maka setiap hari mereka itu berhimpun di dalam bait Elohim, dan di dalam tiap rumah, dan mereka tidak pernah berhenti mengabarkan Injil.” Kisah 5:42. Maka jamlah murid YAHWEH pun bertambahlah.Kisah 6:7. Akibatnya banyak di antara mereka malah mengalami aniaya. Tetapi dengan peristiwa itu malah “mereka lalu tersebar luas ke berbagai negeri.” … karena itu mereka lalu pergi ke mana-mana untuk menyampaikan firman YAHWEH.” Kisah 8:1,4. “Mereka menyampaikannya di hadapan orang hanyak dan dari rumah ke rumah.” Kisah 20:20.

“Dan hal ini terus berlangsung sampai kira-kira dua tahun lamanya, sehingga orang-orang yang tinggal di tanah Asia pun mendengar kabar Injil tentang Yeshua Ha Mashiah itu, baik orang Yahudi mau pun Yunani” Kisah 19:10.

Hal ini tak bisa diragukan lagi. Bahwa orang-orang Kristen yang pertama itu meniru teladan Ha Mashiah. Mereka semua adalah nelayan-nelayan penangkap jiwa buat YAHWEH. Mereka memahami bahwa dengan cara inilah jiwa mereka sendiri pernah diselamatkan. Itulah sebabnya tugas mereka pun ialah harus bersaksi kepada jlwa-jiwa yang terhilang.

Apakah akibatnya bagi gereja yang pertama itu?

Dengan cepat sekali mereka menginjil ke seluruh dunia yang dikenal waktu itu. Seluruh Asia Kecil telah berhasil di datang. Banyak kota-kota besar seperti Yerusalem, Damsyik, Epesus, dan sejumlah kota-kota lainnya serta desa-desa telah mereka datangi untuk menginjil. Mereka bahkan memberitakan Injil sampai ke tempat-tempat yang terlarang dan terkucil seperti Samaria, daerah padang rumput dengan suku-suku nomad yang berpindah-pindah tempat, dan orang-orang kafir yang tinggal di sekeliling pesisir atau pulau-pulau yang terdekat. Semuanya bagi mereka hanya memakan waktu dua puluh empat bulan saja!

Bayangkan bagaimana sulitnya mereka telah mencapai hasil yang gemilang itu. Padahal waktu itu belum ada listrik, radio, televisi, tape-rekorder, film, alat pengeras suara, pesawat terbang atau Mobil. Bahkan belum ada sepeda atau pun mesin cetak. Tetapi mereka berhasil menyelesalkan tugas mereka hanya dalam dua tahun saja!

Kemudian mereka menyebar dan menginjil ke wilayah Afrika Utara dan Eropa Selatan. Mereka bahkan mencapal daratan Spanyol dan menyusup sampai ke daerah orang-orang kafir di sebelah Utara yang sekarang terkenal dengan nama Skandinavia dan Britania Raya.

Orang-orang Kristen yang pertama itu adalah saksi-saksl yang sejati. Mereka adalah pemenang jiwa. Mereka memenang­kan jiwa di hadapan orang banyak dan dari rumah ke rumah.–SETIAP HARI!

Apakah yang bisa terjadi apabila semangat dan api perjuangan yang sejati ini terus berkobar menghangatkan daya juang gereja? Tetapi kenyataannya apa yang kita harapkan itu justru tidaklah terjadi. Di dalam abad ke dua agama Kristen terlibat dalam pertentangan ajaran teologi yang hebat. Mereka bukannya pergi keluar hendak mencapai pelosok-pelo­sok dunia atau menginjil sampai ke ujung bumi. Mereka mulai sibuk mempertengkarkan soal-soal titik-titik perbedaan doktrin, dan mulai melakukan pembagian-pembagian tingkat keduduk­an.

Dalam abad ke tiga Masehi maka orang-orang Kristen telah betul-betul terbenam dalam ajaran para rasul yang sejati.

Dalam abad ke empat jurang antara pertentangan yang hebat itu dapat dijembatani, dan para penganut yang telah murtad dapat di ajak kembali dan terjadilah semacam kompromi yang lengkap.

Tetapi setelah itu, maka agama Kristen seolah-olah hanyut tenggelam ke dalam satu masa yang kelam–Masa Kegelapan. Dan masa seribu tahun yang gelap itu merupakan tabir mengerikan yang memisahkan Gereja dari doktrin berdasarkan Alkitab Perjanjian Baru.

Ini hanya merupakan pandangan yang sekilas mengenai asal mulanya mengapa semangat perjuangan penginjilan dari umat Kristen yang pertama itu telah musnah. Dan marilah kita tinjau mengapa sampai semangat itu bisa muncul kembali. <:::><

9. MUNCULNYA KEMBALI CARA MEMENANGKAN JIWA

Martin Luther adalab orang pertama yang menemukan kembali nilai Kekeristenan dalam Alkitab Perjanji­an Baru dengan wahyu berdasarkan “orang benar akan hidup oleh iman.” [Roma 1:17]

Gereja yang pertama menyadari betul kebenaran ini, tetapi kebenaran itu telah hilang lenyap ditelan Abad Kegelapan.

Tetapi abad Reformasi dalam abad ke enam belas mencetuskan mula-mula suatu perobahan dalam paham teologia–suatu jalan kembali firman Elohim yang sejati. Sebab kalau tidak, maka kekeristenan itu sangatlah sempit artinya. Misalnya saja, orang-orang Kristen tidak lagi menaruh perhatian terhadap penginjilan kepada banyak orang, penyuci­an diri, melakukan misi, baptisan dengan Rob  Kudus, atau mengalami karunia Roh, atau tentang kedatangan Ha Mashiah kedua kalinya, yang kesemuanya merupakan kebenaran yang hakiki di dalam lingkungan Gereja YAHWEH yang pertama.

Setelah Martin Luther menemukan kembali iman pribadi bagi setiap orang, maka muncul pula Wesley dalam pertengahan tahun 1700-an dengan penemuan kembali tentang penginjilan kepada orang-orang banyak secara besar-besaran, penyucian serta kuasa Roh Kudus di kalangan umat Kristen.

Meskipun hal ini mendapat tantangan dan ditolak mentah-­mentah oleh gereja yang ortodoks atau kolot, namun Wesley menemukan kembali nilai kekeristenan semula. Bahwa seseo­rang boleh pergi keluar menelusuri taman umum, lapangan luas, jalan-jalan raya dan tempat-tempat pertemuan umum untuk menyatakan kabar selamat itu kepada banyak orang. Di situlah ratusan kaum pria dan wanita dapat diselamatkan sekaligus.

Martin Luther telah menemukan bahwa seorang manusia itu dapat datang seeara pribadi kepada Ha Mashiah untuk kepentingan dirinya sendiri. Ia boleh saja membaca Alkitab, berseru dan berdoa kepada YAHWEH secara langsung dan boleh diselamatkan OLEH IMANNYA SENDIRI. Tetapi Wesley juga menemukan bahwa seluruh rombongan orang dalam jumlah yang besar pun dapat juga sekaligus diselamatkan, asal saja mereka itu percaya dan menerima Ha Mashiah sebagai Juru selamat mereka.

Gereja yang pertama mempraktekkan penginjilan secara massal, tetapi cara ini telah hanyut lenyap di dalam Abad Kegelapan tatkala agama Kristen dinyatakan hanya terbatas dalam lingkungan gereja dan mimbar untuk para imam saja. Namun kebenaran itu telah muncul kembali yang ditekankan berulang kali oleh orang-orang macam Finney, dan kemudian Moody di dalam abad kita yang modem ini.

William Carey muncul kira-kira sekitar tahun 1790 dan menemukan bahwa Injil itu pun diperuntukkan bagi orang-­orang kafir. Maka mulailah Gereja menjalankan sistim missinya.

Padahal orang-orang Kristen yang pertama adalah misionaris-­misionaris agung. Tetapi selama Abad Kegelapan konsep tentang evangelisasi kepada berbagai macam bangsa itu lalu luntur untuk akhirnya lenyap sama sekali.

Barulah pada menjelang akhir tahun 1800-an dan awal tahun 1900-an banyak dari kebenaran sejati itu dipulihkan kembali di kalangan gereja Kristen. Seperti pencurahan Roh Kudus, karunia Roh Kudus, doktrin tentang kepercayaan akan dunia akhirat, dan tentang kedatang­an kembali Yeshua Ha Mashiah untuk kedua kalinya. Martin Luther maupun Carey tidak pernah menyinggung-nyinggung kebenaran hakiki ini. Bahkan Wesley pun kurang sekali memberikan tekanan pada hal-hal semacam ini.

Di seberang dunia Barat atau Eropa, maka pada waktu yang bersamaan orang-orang Kristen mulai menemukan apa arti sebenarnya dari baptisan Roh Kudus yang diikuti oleh tanda-tanda mujizat. Lalu mulailah karunia Roh itu bekerja, termasuk di dalamnya kuasa dari pada Ha Mashiah untuk menyembuhkan orang sakit, serta kebenaran tentang akan datangnya Ha Mashiah untuk kedua kalinya.

Orang-orang Kristen yang pertama semuanya mengetahui hal ini, tetapi selama seribu tahun gereja telah bungkem tentang kebenaran yang tercantum dalam Alkitab, Perjanjian Baru. Selama seribu tahun ini orang-orang Kristen lalu menjadi terbiasa akan konsep dan sikap agama yang sama sekali asing dari isi kitab Perjanjian Baru tersebut.

Apabila kita ingat akan 1000 tahun yang merupakan tabir kegelapan bagi kita itu dan mengaburkan pandangan kita tentang Gereja YAHWEH yang pertama, maka kita akan lebih dalam lagi memahami segala, tradisi yang berlaku sekarang ini tanpa perlu melancarkan kritik atau sesuatu penilaian.

SEMUANYA KECUALI SATU

Semenjak Martin Luther melancarkan suatu gerakan reformasi maka terjadilah suatu rentetan pengungkapan kebenaran bagi gereja. Cuma sayangnya ialah belum semua kebenaran yang hakiki itu sempat digali kembali di dalam lingkungan gereja sebagai suatu lembaga. Ada satu hal yang belum ditemukan kembali: Memenangkan jiwa secara perorangan diantara orang yang berdosa!

Semua kebenaran yang utama dari Gereja yang pertama telah sempat diketemukan kembali KECUALI motif kebenaran yang menggerakkan Gereja harus keluar mencari orang yang berdosa, bersaksi dan memenangkan jiwa buat Ha Mashiah.

Sebagai akibatnya maka gereja itu sifatnya tertutup di balik tembok, jauh dari pada jangkauan orang-orang yang berdosa, sehingga tradisi kaku terhadap orang-orang yang segan masuk ke dalamnya untuk minta diselamatkan itu memberikan kesan bahwa gereja tidak mau banyak pusing soal itu.

Dengan kata lain, Gereja seolah-olah berkata, “Orang-orang berdosa mengetahui kami berada di sini. Kalau mereka ingin diselamatkan, silakan saja datang pada kebaktian kami dan mendengarkan khotbah. Di sini di dalam gereja inilah kami akan berbuat sesuatu bagi mereka untuk menolong mereka menemukan Ha Mashiah. Kami mencintai mereka. Kami menyeleng­garakan kebaktian khusus untuk mereka. Kami senantiasa berdoa secara khusus untuk mereka. Di sini, di dalam gedung gereja ini, kami lengkap dengan peralatan kami untuk menolong mereka. Kami punya rombongan penyanyi koor kami, pekerja-pekerja kami, pendeta kami, kamar konsultasi kami. Kami bersedia melakukan sesuatu bagi mereka dalam batas kemampuan kami. Kami siap berkorban untuk menolong seorang berdosa untuk memperoleh Ha Mashiah DI SINI, DI DALAM GEDUNG GEREJA KAMI.”

Tentu saja tidak ada salahnya sama sekali pada pendirian semacam ini. Akan teapi ia hanya bisa menguntungkan SATU golongan saja, yakni mereka yang bersedia untuk datang menghadiri kebaktian di gereja. Ia tidak mempunyai arti sama sekali bagi sejumlah 90% orang-orang berdosa yang segan atau takut-takut untuk datang masuk ke gereja. Dengan kata lain, kenyataan ini menunjukkan bahwa Gereja belum menemukan tingkat kesadaran seperti yang dimiliki Gereja YAHWEH yang pertama, yakni penginjilan perorangan – di luar lingkungan gereja kita sendiri – di tempat para jiwa yang terhilang itu berada.

Kita harus sadari sekarang ini bahwa Gereja YAHWEH telah hampir pulih sama sekali dalam menyamai keadaan Gereja YAHWEH yang pertama menurut konsep Alkitab Perjanjian Baru. Semuanya sudah hampir sempurna, KECUALI SATU hal yang masih ketinggalan, yang justru merupakan kunci sukses perkembangan Gereja YAHWEH yang pertama itu, yakni: SEMANGAT BERSAKSI SECARA PERSEORANGAN -EVANGELISASI PERSEORANGAN!

Itulah sebabnya kami terdorong untuk menulis buku ini, yang berjudul “IKUTLAH SERTA DI DALAM KERETA YAHWEH”. Berbuatlah seperti Pilipus, yang pergi keluar MENCARI JIWA YANG TERHILANG DI LUAR LINGKUNGAN GEREJA SENDIRI. Kita harus pergi di jalan-jalan raya, di tengah orang kaya maupun miskin, di antara orang pengemis maupun para penguasa yang agung, berjalan dan bercakap-cakap bersama mereka untuk mencari arti hidup yang sesungguhnya. Kita mencari mereka di mana saja mereka berada. Di sanalah kita menemukan mereka, dan memenang­kan jiwa mereka. Ke sanalah Ha Mashiah menghendaki kita pergi untuk “mencari dan menyelamatkan domba yang tersesat.” Di sanalah di mana Roh YAHWEH akan bekerja di dalam hati kita seperti halnya juga YAHWEH telah berbicara kepada Pilipus untuk “turut serta di dalam kereta” di mana kita akan ketemu dengan banyak orang yang berada dalam keadaan bingung, haus akan kebenaran, yang tidak bakalan datang ke gereja untuk minta diselamatkan.  <:::><

10. BUKALAH MATA LEBAR-LEBAR

Di dalam buku “Agama Kristen Masa Kini” Howard E.Butt Jr. mengemukakan satu pesan yang sangat menarik,  yaitu tentang peranan “Kaum Awam sebagai Saksi Ha Mashiah.”

Ia berkata, “Alkitab menekankan kepada kita bahwa setiap orang Kristen adalah imam.” Doktrin Reformasi yang dilancarkan Martin Luther tentang imamat bagi setiap orang yang percaya bukankah berarti TAK ADA LAGI IMAM atau KITA TIDAK MEMERLUKAN PENDETA. Tetapi dengan itu ia maksudkan bahwa KITA SEMUA SEBENARNYA ADALAH IMAM-IMAM DI HADAPAN ELOHIM. Lalu ia menunjukkan isi Alkitab Perjanjian Baru tentang perkataan pleros (akar kata dari imamat) dan laos (akar kata dari kaum awam), yang keduanya memasukkan golongan orang yang sama juga. Ia meresa perlu mengemukakan hal itu karena menganggap seseorang yang mencari nafkahnya dengan cara melakukan pekerjaan duniawi pun tidak dipandang oleh YAHWEH sebagai manusia yang setengah beriman.

Howard E. Butt mempersalahkan gereja atas pandangan yang keliru tentang pemikiran “bahwa kaum pendeta adalah pejuang tunggal di garis depan dalam medan pertempuran di ladang YAHWEH, sedangkan para anggota cukup saja berada di belakang layar memberi sokongan kepada pendeta bayaran itu untuk bekerja lebih keras atau berjuang lebih keras lagi untuk pekerjaan YAHWEH,” ia berkata bahwa justru haruslah sebaliknya. Para prajurit yang terdiri dari KAUM AWAM-lah yang harus berada di garis depan (DI LUAR LINGKUNGAN GEREJA) – yakni di rumahnya, di kantornya, di toko, di perkumpulan di tengah masyarakat tempat ia berkecimpung. Orang awam itu berdiri di sana sebagai seorang prajurit YAHWEH.

Tatkala Ha Mashiah menyampaikan amanat “Pergilah kamu kepada sekalian bangsa dan beritakanlah Injil,” Ia tidak maksudkan hanyalah Afrika, Korea, India dan lain benua, tetapi dunia di sini juga berarti dunianya orang-orang pedagang, ahli-ahli hukum, para pendidik, para pekerja mesin, para seniman, pemain musik, pegawai pemerintahan, para petani. Demikian pendapat Butt.

Dengan kata lain, pergilah sampai ke ujung dunia dan kabarkanlah Injil di sana – ke dalam dunia anda bisa memberikan pengaruh anda, dunia sahabat kenalan anda, dan berbicaralah dengan mereka tentang Ha Mashiah dengan memberi pandangan kepada mereka agar mereka boleh mengambil keputusan untuk menerima Ha Mashiah.

Kitab Perjanjian Baru mulai dengan amanat Yeshua kepada setiap orang penganut kepercayaan Kristen, baik murid-murid-Nya maupun orang-orang awam biasa, untuk “pergi ke segenap pelosok dunia dan memberitakan Injil kepada sekalian mahluk.”

Tetapi apa yang telah dimulai sebagai gerakan kaum awam telah merosot demikian rupa sehingga menjadi semacam gerakan mimbar gereja yang profesionil dengan kaum pendana di balik layar upah dan sumbangan.

Selanjutuya tuan Butt berkata: “Banyak orang mencapai tangga tingkatan pengabdiannya. Yang paling tinggi adalah para misionaris yang bekerja di seberang lautan. Kemudian datang para pendeta yang menggembala sidang. Kemudian kaum pekerja YAHWEH yang profesionil. Akhirnya yang paling di bawah sekali terletak kedudukan yang paling rendah bagi kaum awam, yang tugas utamanya ialah menyokong keuangan bagi biaya para pendeta dan misionaris dan memenuhi bangku gereja pada hari kebaktian berlangsung.”

Ini merupakan suatu abad penonton – tak bedanya dengan peristiwa gelanggang olah raga di mana sebagian besar kita hanya jadi penonton saja apa yang orang lain peragakan kepada kita. Dan cara hidup sebagai pirsawan ini telah merembet dari stadion olahraga sampai ke dalam rumah tiap-tiap orang. Sebab melalui televisi dan mass media lainnya kita lalu membentuk semacam dunia pirsawan yang profesional.”

Secara lucu Fred Allen meramalkan bahwa jika keadaan begini terus berlangsung, maka bentuk manusia pada suatu hari akan berobah. Kepalanya akan menjadi kecil, sedangkan matanya akan menjadi lebar sebesar piring. Sebab otaknya tidak perlu digunakan lagi! Kebanyakan segi kehidupan hanyalah cukup ditonton saja sambil duduk enak-enak. Oleh sebab itu bentuk badannya akan menjadi gepeng dengan kepala kecil dan mata besar pada puncak ubun-ubunnya.

Sungguh suatu ramalan yang menggelikan, tetapi bila kecenderungan hidup kita kelak demikian terus menerus berlangsung, dimana orang tidak perlu lagi jadi peserta di dalam kegiatan gerejani, maka ramalan ini tidaklah menggeli­kan sama sekali.

Canon Bryan Green dari Inggris meramalkan apa yang akan terjadi di Amerika apabila kecenderungan yang sekarang ini berlangsung di dalam lingkungan gereja itu tidak mengalami perobahan : “Tatkala saya masih sebagai seorang anak muda, maka gereja kami di Inggris adalah penuh sesak dengan anggota seperti halnya keadaan gereja-gereja di Amerika sekarang ini. Tetapi kami lalu cepat menjadi puas dengan jumlah anggota jemaat yang besar yang berpatokan kepada mimbar sang pendeta. Para anggota datang begitu saja menghadiri kebaktian rutin dengan keyakinan dan penghayatan iman Kristen yang dangkal. Sebagai akibatnya lalu orang-orang itu menjadi kecewa terhadap kelesuan gereja yang kurang efektif dan mereka menjadi masa bodoh terhadap amanat Kekeristenan yang sejati. Dan kenyataannya sekarang gereja kami itu kosong melom­pong.”

”Gereja-gereja di Amerika sekarang ini penuh sesak dengan pengunjung, tetapi saya melihat tak ada pemahaman yang mendalam tentang ajaran Alkitab serta urapan Roh Kudus di kalangan kaum awamnya. Agama Lalu hanya menjadi semacam peristiwa yang sentimental pada hari Minggu, yang sama sekali tidak menyentuh kehidupan orang sehari-hari. Apabila hal ini tidak dirobah, maka gereja-gereja itu pun akan mengalami nasib yang sama, akan menjadi kosong seperti halnya gereja-gereja di negeri kami sekarang ini.”

Tuan Butt berkata: “Kita telah memperkembangkan suatu ke-Kekristenan yang bercorak penonton, di mana satu dua orang saja yang berbicara dan yang kebanyakan selebihnya cukup mendengar saja.”

“Gereja itu dimaksudkan sebagai suatu lembaga masyarakat yang hidup, bergerak, yang dijiwai oleh jalan penebusan Ha Mashiah terhadap orang berdosa, harus menjalankan missi, pelayanan, kesaksian, cinta kasih, dan pengabdian – dan bukannya suatu  perkumpulan orang-orang penggemar iman!”

Penonton-penonton yang profesional hampir rata-rata memiliki sifat cenderung hanya untuk mengeritik saja, baik di dalam lingkungan dunia olahraga ataupun dunia panggung sandiwara sampai kepada gelanggang pemerintahan. Penonton­-penonton itu tidak pernah merasa dirinya terlibat dalam kegiatan itu secara langsung, oleh sebab itu mereka enak saja melancarkan kritik tajam secara sinis bahwa semua kaum politikus misalnya adalah penipu.”

Begitu pula di kalangan umat Kristen. Manusia Kristen yang hanya jadi penonton hanya bersikap sinis dan mengejek, dingin dan masa bodoh, steril atau mandul tanpa menghasilkan apa-apa. Mereka hanya melihat dari jauh saja sambil mengeritik orang lain, tetapi tidak pemah terjun sendiri dalam gelanggang keterlibatan hidupnya dengan Yeshua Ha Mashiah.

Theodorus Roosevelt pernah melukiskan watak jiwa orang-­orang yang segan-segan semacam itu, yang takut dirinya ikut terlibat dalam kegiatan bermanfaat sebagai berikut:

Bukan kritiklah yang menghasilkan sesuatu. Juga bukan orang yang hanya pintar menuding seseorang kuat yang jatuh tergelincir. Juga bukan orang yang hanya pintar mengatakan bahwa merekalah yang sanggup berbuat lebih baik daripada orang lain.
Tetapi kehormatan patut kita berikan kepada orang-orang yang betul-betul langsung terjun dalam gelanggang. Mereka yang mukanya penuh berlumuran dengan keringat dan debu, bahkan kadang- kadang darah. Mereka yang sering membuat kesalahan, yang serba kekurangan dalam tindak tanduknya, oleh sebab tak ada satu usaha apa pun yang tak kenal kekurangan dan kesalahan. Mereka yang terus giat dalam gelanggang pekerjaan yang bermanfaat. Mereka yang mengenal kegagalan, tetapi sekalipun gagal masih mempunyai kemauan berusaha yang besar. Mereka yang kedudukannya tidak sama dengan orang-orang yang bersikap dingin dan berjiwa segan dalam melakukan perjuangan yang tidak pernah mengenal kemenangan maupun kekalahan.”

“Seorang Kristen yang sejati adalah seorang yang betul-betul berjuang di lapangan. Ia tak boleh menghindari tanggung jawabnya. Ia adalah seorang peserta aktif di dalam misi penyelamatan jiwa-jiwa. Seorang Kristen bukanlah seorang penonton yang kerjanya cuma tahu mengeritik. Seorang Kristen adalah seorang pejuang yang terlibat di dalam kehidupan di dalam dunia ini, – baik di dalam urusan dagang, dalam kegiatan pemerintahan, dalam kegiatan sosial budaya, di dalam derita kelaparan, di dalam kerja membanting tulang, di dalam tangis dan ratap sediholeh karena ia mencintai sesama manusia.

Yeshua berkata: “Aku berdoa agar Engkau jangan menarik mereka dari dalam dunia ini. Oleh karena Engkau telah mengirim Aku ke dalam dunia ini, maka demikianlah Aku akan mengirim mereka ke dalam dunia ini.” Jelaslah, bahwa kaum awam pun terpanggil untuk dikirim ke dalam dunia ini tak bedanya seperti Ha Mashiah telah dikirim oleh AIIah. – sebagai Juru penebus bagi dosa umat manusia.”

Tuan Butt berkata: “Orang Kristen yang awam memang mempunyai peranan yang hidup dalam lingkungan gereja, baik dalam kebaktian, dalam doa sembahyang, dalam persekutuan persaudaraan, dalam latihan bimbingan, dalam peningkatan nilai rohani. Tetapi dari sini ia harus KELUAR DARI LINGKUNGAN GEREJANYA SENDIRI. Masuk ke dalam dunia di mana terdapat orang-orang yang belum beriman, bersaksi kepada mereka, menjadi juru pendamai, menjadi hamba Tuhah. Ha Mashiah telah memperdamaikan kita dengan Elohim dengan mengorbankan diriNya sendiri di kayu salib.”

Maka itulah sebabnya Ia pun mengamanatkan kepada kita pelayanan perdamaian (2 Kor. 5:14-20). Jadi apabila amanat perdamaian itu adalah bagi semua orang, maka dengan sendirinya pelayanan itu pun adalah menjadi tugas semua orang pula.” <:::><

11. KEBENARAN YANG BELUM DIPULlHKAN

Amanat pelayanan satu-satunya yang dimiliki oleh umat Kristen yang pertama adalah MEMBERITA­KAN INJIL! Mereka memahami mengapa perlunya Roh Ku­dus itu datang ke atas diri mereka untuk memberi kuasa kepada mereka untuk BERSAKSI – di mana-mana.

Satu-satunya hasrat yang mereka hayati ialah keinginan untuk memberitakan kepada setiap orang tentang Yeshua Ha Mashiah dan mengajak setiap orang secara pribadi untuk menjadi pengikut Yeshua.

Mereka melakukan hal itu dengan dua macam cara: Evangelisasi secara massal dan evangelisasi secara perorangan.

Penginjilan secara massal memang sering kali pula diadakan pada setiap kesempatan yang memungkinkan. Tetapi sebagai akibatnya sering para pcmyelenggaranya mengalami penganiaya­an besar-besaran di kota-kota kampanye, sedangkan para pengabar Injil itu sering dijebloskan ke dalam penjara.

Tetapi penginjilan PRIBADI merupakan KUNCI bagi mereka. Setiap hari mereka berada di dalam bait Elohim dan di dalam setiap rumah, sedangkan mereka tidak pernah berhenti mengajar orang dan memberitakan Injil tentang Yeshua Ha Mashiah”. Kisah 5:42.

Gereja sekarang ini telah menemukan kembali cara penginjilan massal itu, tetapi penginjilan pribadi masih belum dipulihkan menurut kedudukannya yang sediakala.

Penginjilan pribadi baru mencapai taraf diperbincangkan saja. Orang-orang Kristen menulis buku tentang soal itu. Kaum pendeta berkhotbah dengan penuh semangat tentang perlunya hal itu dijalankan. Dan di dalam angkatan generasi anda kita sudah mulai melihat adanya satu dua orang yang mulai mempraktekkan penginjilan pribadi itu, tetapi ini pun masih berupa gejala perkecuallan. Masih belum merupakan gejala yang umum.

Belum ada kegiatan penginjilan pribadi yang menjiwai sesuatu gereja. Apalagi secara besar-besaran belum ada sama sekali. Yang ada barulah pertanda-pertanda yang menuju ke arah itu. Dan jumlah ini nampaknya mulai bertambah dari hari ke hari. Walaupun demikian masih belum menjadi  kegiatan resmi di dalam lembaga kegerejaan.

Gene Edwards berkata: “Tidak pernah ada satu saat pun dalam masa 1800 tahun belakangan ini di mana satu gerakan penginjilan pribadi itu berlangsung secara besar-besaran di kalangan umat Kristen. Cobalah buku sejarah anda dan telusurilah masa hampir dua ribu tahun ini. Maka anda akan perhatikan bahwa tak ada satu peristiwa pun yang disebut-se­but semacam itu. Setelah 1800 tahun gereja belum juga menemukan kembali semangat perjuangan penginjilan pribadi itu.”
“Konsep yang paling utama dan paling diperlukan oleh umat Kristen itu justru masih dalam keadaan mati! Seolah-olah kita ini memiliki mobil tanpa mesin; sebuah pesawat terbang tanpa sayap; suatu amanat – bahkan satu-satunya amanat – tetapi tidak memiliki cara yang efektif untuk menyampaikannya kepada sekalian mahluk.”

“Suatu penemuan kembali di bidang penginjilan pribadi akan betul-betul merupakan penemuan kembali dari semangat Alkitab Perjanjian Baru bagi umat Kristen.”

Kita patut bersyukur bahwa bibit penginjilan pribadi itu yang sudah mulai disebarkan melalui buku-buku semacam ini sudah nampak mengarah pada perkembangan dan pertumbuh­an. Ada terdapat tanda-tanda yang menggembirakan di seluruh dunia bahwa konsep ini sedang mendapat perhatian yang makin besar. Memang di beberapa bagian dunia kita ini hasil-hasil yang revolusioner sedang dicapai orang. Tetapi sekali lagi saya peringatkan: Semuanya ini berlangsung di kalangan kelompok-­kelompok perhimpunan, golongan dan kalangan orang-orang yang berada di luar kawasan lembaga kegerejaan.

Tetapi Pilipus-Pilipus modern sekarang ini memang sedang banyak tumbuh di mana-mana dari hari ke hari dan mereka sedang mengerahkan orang-orang untuk ikut serta naik di dalam kereta YAHWEH, yakni orang-orang yang bergerak maju, bergerak keluar ke tempat banyak orang bermukim, berlibur dan bekerja. Berbondong-bondong jumlah manu­sia sedang digapai oleh kabar keselamatan Itu. Mudah.mudah­an hal ini bisa mendorong kita ke arab TINDAKAN KELUAR DARI LINGKUNGAN GEREJA SENDIRI. Semua orang Kristen harus menyebar ke seluruh pelosok dunia dan menyampaikan berita Injil itu kepada sekalian mahluk. <:::><

12. GEREJA YANG BELUM KONSEKWEN

Gereja Kristen yang pertama memiliki amanat keselamatan yang sama dengan gereja kita jaman sekarang ini.
Baptisan Roh Kudus adalah suatu hal yang lumrah pada masa gereja yang pertama, tidak bedanya dengan pengalaman ribuan orang jaman sekarang ini.
Kebenaran yang mereka miliki tidak banyak bedanya dengan kebenaran yang kita miliki jaman sekarang, berkat anugerah Yeshua Ha Mashiah.
Penyucian yang mereka alami tidaklah lebih tinggi derajat­nya dari pada penyucian yang kita alami jaman modern Ini.
Karonia Roh Kudus waktu itu tidaklah lebih nyata daripada karunia Roh yang dialami manusia jaman sekarang.
Pengetahuan mereka tentang amanat keselamatan jiwa-jiwa terhilang serta praktek kesembahan Ilahi yang mereka jalankan tidaklah lebih bermutu dibandingkan dengan yang kita jalankan pada abad ke dua pulah ini.

Tetapi bedanya ialah bahwa orang-orang Kristen yang pertama itu tahu betul apa yang harus mereka perbuat dengan kehidupan mereka yang penuh diurapi dengan Roh Kudus. Tetapi kebanyakan orang Kristen sekarang ini tidak menemukan rahasia suksesnya itu.

Sebagai akibatnya maka gereja jaman sekarang ini sudah merasa cukup puas dengan keempat dinding tembok gereja mereka, berbuat seolab-olah mereka menaruh perhatian terhadap orang-orang yang berdosa. Malahan gereja berdoa untuk jiwa-jiwa yang sesat, mengundang mereka untuk datang ke gereja agar bisa diselamatkan. Tetapi dalam kenyataannya gereja sebenarnya tetap saja jauh dari pada jangkauan orang-orang yang berdosa itu.

Padahal gereja yang pertama itu cukup sibuk dengan kegiatan kunjungan dari rumah ke rumah, dari pasar ke pasar, mengabarkan Injil dari seorang kepada seorang yang lainnya. Mereka tahu di mana tempat jiwa-jiwa yang tersesat itu, Ialu mereka membawa Injil itu kepada mereka dengan metode tatap-muka. Inilah yang harus dijiwai kembali oleh pihak gereja abad ke dua puluh sekarang ini. Inilah yang harus dipraktek­kan oleh gereja jaman sekarang ini. Gereja sekarang ini haruslah membuktikan dalam kenyataan dan perbuatan bahwa Gereja itu betul-betul menaruh prihatin terhadap nasib jiwa-jiwa yang tersesat itu – mereka yang tidak mungkin kita harapkan bisa datang sendiri untuk minta diselamatkan di dalam gedung gereja kita.

Kini Gereja itu sudah merangkak keluar dari Abad Kegelapan. la sudab menemukan kembali kebenaran sejati dari Gereja YAHWEH yang pertama. Tetapi ia rupanya demikian terpesonanya oleh berkat rohani yang ia terima itu sebagai wahyu, maka ia pun sampai lalai terhadap aspek praktis dari kehidupan yang dipenuhi Roh Kudus itu. Bukannya melaksa­nakan ajaran Kristen itu dalam praktek serta mencapai setiap mahluk di manapun mereka itu berada, tetapi ia malah menjadi terkurung kaku di tengah dinding gerejanya sendiri sambil menikmati berkat yang telah ia terima itu. la makin memperdalam arti hidup yang telab ia peroleh dan menikmati karunia Roh yang makin besar saja di dalam hidupnya, tetapi semuanya serba terkurung dalam gedung gereja. la tidak keluar untuk memenangkan jiwa yang terhilang – tidak keluar ke tempat orang-orang yang tersesat itu berada.

Saya teringat akan usaha berbagai macam bangsa yang saling berlomba menuju ke planet lain, sementara umat manusia di atas planet kita sendiri ini berjuta-juta jumlahnya yang masih memerlukan makanan, pakaian dan perumahan.

Gereja-gereja pun saling berlomba dalam memperebutkan kemuliaan Ilahi, ruang angkasa kemuliaan yang dipenuhi Roh Kudus, padahal DILUAR LINGKUNGAN GEREJA ITU SENDIRI terdapat berjuta-juta manusia yang sama sekali belum tahu bagaimana mereka bisa diselamatkan.

Dalam perlombaan mengejar “hidup rohani” dan apa yang disebut “memiliki hidup berarti yang lebih mendalam,” maka ribuan orang telah terjerumus ke dalam sikap ekstrim dan fanatisme rohani, sehingga mendatangkan satu penyesalan dan kekecewaan bagi gereja itu sendiri. Saya pernah mendengar seorang wanita yang menyatakan dirinya menerima karunia Roh Kudus dan memiliki kuasa untuk mengusir roh setan dengan jalan berkata-kata dalam bahasa lidah. Maka setiap kali ia duduk di tengah kebaktian sidang jemaat, maka ia pun dikuasai oleh “kekuatan” gaib itu. la pun berdiri dari duduknya, maka dengan keadaan seperti tidak sadar ia pun “berbicara dalam lidah asing” untuk mengusir Roh Iblis. Tetapi apakah benar demikian? Dia sama sekali tidak tahu di mana Roh lblis itu berdiam atau pada siapa roh setan itu sedang bermukim. Walaupun begitu mulut perempuan itu terus saja nyerocos seraya mengusir setan itu, tidak peduli entah di mana setan itu berada.

Sesungguhnya Gereja telah tenggelam ke dalam berkat rohani Allah, sehingga mereka lupa dan lalai untuk menemukan kembali pelayanan utama mereka agar supaya memenangkan jiwa yang terhilang. Jadi, tanpa memperhatikan sasaran utama untuk bersaksi kepada orang-orang yang terhilang, maka gereja telah tenggelam dalam kesibukan memperkembangkan “kehidupan rohani yang lebih dalam,” sehingga akibat yang dipetiknya ialah sikap yang fanatik dan ekstrim dari para penganutnya.

Sekarang ini, ditinjau dari segi status kedudukan nilai rohani, maka apa yang disebut “glossalalia” yang karismatis itu, sudah hampir menjadi suatu mode yang murahan saja.

Jika sekiranya saya tergolong salah satu di antara sekian banyak orang yang pernah menerima karunia lidah asing itu sebagai bukti bahwa saya telah dibaptis oleh Roh Kudus, maka sayalah orang yang pertama-tama sekali harus menyatakan kekecewaan saya. Sebab sekarang ini ternyata sudab terlampau banyak orang yang merasa dirinya beroleh anugerah karunia lidah asing, yang sebenarnya tidaklah sam seperti apa yang pernah dialami oleh gereja YAHWEH yang pertama itu. Tetapi yang saya terima adalah KUASA UNTUK BERSAKSI ­ke tempat di mana jiwa-jiwa yang terhilang itu berada. Kisab Rasul 1:8 perlu kita telaah dengan hati-hati dan harus kita nilai kembali dengan saksama pada masa kini.

Apa yang kita perlukan sekarang ini adalah mengurangi bicara dalam bahasa “lain” yang tidak dimengerti orang, tetapi lebih banyak biceara di dalam bahasa yang “dikenal” – agar supaya lebih jelas bagi kita dalam bersaksi – dan memenangkan jiwa yang terhilang.

Sementara perlombaan untuk hidup rohani yang lebih mendalam itu terus berlangsung, terus mempertontonkan jumlah karunia Roh Kudus yang mereka terima itu, maka penemuan kembali pentingnya nilai penginjilan pribadi itu pun sedang dilakukan pula. Hal ini akan merupakan KUNCI ke arah nilai kekeristenan yang bercorak Alkitab Perjanjian Baru. Orang-orang Kristen sudah mulai menyadari babwa segala kuasa rohani yang mereka miliki itu serta karunia Roh Kudus itu tidaklah punya arti apa-apa jika tidak dipergunakan untuk bersaksi dan memenangkan jiwa. Inilah hakekat dari baptisan Roh Kudus yang sesungguhnya. Yakni, memperleng­kapi orang-orang Kristen dengan kemampuan untuk BERSAK­SI – mendorong dan menempatkan mereka PERGI MENCARl JIWA DI LUAR LlNGKUNGAN MEREKA SENDIRI. <:::><

13. KEKERISTENAN YANG MENDALAM

Kuasa dari Roh Kudus telah dipulihkan kembali di lingkungan generasi umat manusia sekarang ini di kalangan gereja. Sebab tak tersangkal lagi kenyataan betapa berlipat kali gandanya jumlah pengikut orang beriman yang telah dipenubi Roh Kudus seperti halnya orang-orang Kristen yang pertama. Baptisan Roh Kudus yang kita terima sekarang ini tidak bedanya dengan baptisan Roh Kudus pada waktu orang-orang Kristen dahulu kala.

Oleh sebab itu, maka gereja patutlah menjajagi kembali tujuan dari pada kuasa Roh Kudus 1ni. Mengapa YAHWEH memperlengkapi kita dengan kuasa ini? Agar supaya orang-orang Kristen itu pergi keluar untuk bersaksi kepada semua orang dan membawa mereka kepada Ha Mashiah.

Tetapi masih banyak Gereja yang belum menemukan kembali kewajiban itu dalam pelayanan mereka. Jadi, mereka utamakan ialah untuk bagaimana beroleh pengalaman itu. Mereka pergi ke ibadah gereja untuk mempertontonkan betapa mendalamnya kerohanian mereka itu. Mereka sengaja mempertun­jukkan hal itu kepada orang lain, sementara pendeta mereka juga kerjanya mencari pengalaman yang mendalam bagi kehidupan rohani dirinya dan sidang jemaatnya.

Dan hal semacam ini bisa terjadi oleh karena gereja belum menemukan KEMANTAPAN ROHANI YANG PALING BE­SAR, yakni amanat untuk pergi keluar dan mencari jiwa-jiwa yang terhilang untuk dibawa kepada Yeshua Ha Mashiah.

Ada seseorang yang pernah memegang jabatan sebagai Direktur Lembaga Penginjilan di suatu Gereja yang besar selama 33 tahun lamanya. Tetapi Gereja itu tidak pernah merupakan Gereja yang memenangkan jiwa buat YAHWEH. Tetapi seorang pendeta muda yang baru saja diangkat jadi gembala di lingkungan Gereja ini dengan penuh semangat telah menjadi seorang pemenang jiwa yang luar biasa.

Pendeta muda itu merenungkan kenyataan laki-laki tua yang selama 33 tahun memimpin badan penginjilan tetapi tidak pemah memenangkan jiwa buat YAHWEH itu. Maka pendeta muda itu pun memutuskan untuk melakukan sesuatu tindakan.

Ia mengundang Direktur Lembaga Penginjilan itu untuk menemani dia barang sehari saja untuk mengikuti kunjungan acara dari rumah ke rumah untuk bersaksi. Pada malam itu setelah usai kunjungan itu, sejumlah jiwa telah menyatakan diri menerima Ha Mashiah sebagai Juru Selamat mereka di dalam rumah mereka.

Sambil memasuki kamar pendeta muda itu, maka pendeta yang tua itu duduk terhenyak sambit menangis. Sambil berpaling kepada temannya yang muda itu ia berucap: “Sahabatku, saya telah beroleh pelajaran yang mahal di dalam YAHWEH hari ini, yang selama ini tidak pernah saya sadari sama sekali.”

Sekarang ia telah turut membantu membawa banyak jiwa yang terhitang untuk datang kepada Ha Mashiah.

Ada terdapat rahasia di bidang ke-rohanian untuk menghayati bagaimana memenangkan jiwa buat YAHWEH, yakni suatu  penghayatan yang tidak mungkin kita alami dalam pelajaran Alkitab atau pun perkumpulan doa keluarga.

Billy Graham berkata: “Kenyataan yang paling menyedih­kan sekarang ini ialah bahwa para ahli-ahli Alkitab kita adalah justru orang-orang yang hampir tidak pemah memenangkan jiwa buat YAHWEH.”

Seorang penginjil berbicara di hadapan kelompok doa dan penyelidikan Alkitab tentang kewajiban untuk keluar bersaksi tentang Ha Mashiah dari rumah ke rumah.
Tetapi apa kata pemimpin mereka? “Kita tak mungkin melakukan hal itu. Kerohanian kita masih belum cukup mendalam untuk melakukan pekerjaan itu.”
Penginjil itu lalu bertanya: “Sudah berapa lamakah anda menyelenggarakan kelompok penyelidikan Alkitab dan kelom­pok doa ini?”
“Baru dua tahun!”

Di dalam kampanye kami di kota Kansas terdapat seorang pemimpin gang remaja berusia 17 tahun, yang terkenal sangat giat dalam tindak kriminal. Tetapi pada suatu hari Jumat malam ia bertobat dan menerima hidup baru. Pada keesokan harinya, hari Sabtu ia pergi membagi-bagikan traktat kepada beberapa kawan-kawan anggota gang-nya, sehingga mereka pun ikut datang ke pertemuan penginjilan itu dan diselamatkan. Pada hari Minggu mereka semua pergi keluar membagi-bagi traktat dan bersaksi kepada sisa dari anggota-anggota gang itu. Maka seluruh anggota gang itu pun selamatlah. Pada hari Senin saudaranya yang perempuan telah bertobat dan diselamatkan. Maka seluruh gang itu pun menjadi suatu gang pemenang jiwa buat YAHWEH. Sama sekali tidak memakan waktu sampai dua tahun bagi mereka untuk mempersiapkan tindakan penyelamat­an itu, bukan ?

Apabila seorang Kristen berbicara kepada seorang jiwa yang terhilang, mengajak dia untuk menerima Ha Mashiah, merangkul dia dengan hangat pada bahunya, atau menjabat tangannya dengan mesra sambil membimbing jiwa itu di dalam doa, maka – entah di dalam gedung gereja, atau di bangku sebuah taman terbuka, entah di dalam sebuah rumah atau restoran, entah di tengah jalan atau di pojok persimpangan, maka orang yang semacam itu adalah sama dengan Kristus di dalam pelayanannya dan tak dapat dibandingkan dengan pengalaman rohani apa pun juga.

Membawa seorang jiwa yang terhilang kepada Yeshua merupakan satu pengalaman rohani yang paling besar dalam kehidupan Kristen seseorang. Tak ada kedalaman rohani yang lebih indah lagi dari pada itu!

Seorang penginjil yang bersemangat berusaha memberi saran kepada suatu jemaat yang kecil agar lebih berorientasi kepada pengabaran Injil keluar. Pendetanya menjawab: “Kamu ini tidak mengerti apa-apa. Kita tidak membutuhkan kelompok yang besar. Kita hanya membutuhkan satu kelompok kecil yang tiap kali bisa bertemu dengan tenang untuk mempelajari firman YAHWEH dan belajar memperdalam kehidupan kerohanian kita di dalam Ha Mashiah!”
Sikap semacam itu harus berobah apabila Gereja ingin menjadi pemenang jiwa buat YAHWEH.

Bilamana kita menitik beratkan pada pentingnya meme­nangkan jiwa, dan bukannya hanya memperdalam kerohanian pribadi terus-menerus, maka Gereja akan menemukan suatu kedalaman yang baru di dalam Ha Mashiah, suatu pengalaman rohani yang lebih  indah dari pada pengalaman biasa di dalam lingkungan Gereja sendiri.

Dunia sekarang ini tidak memerlukan orang-orang Kristen yang profesional. Yang diperlukan ialah orang-orang Kristen yang bersaksi dan memenangkan jiwa. Inilah KEDALAMAN ROHANI itu INILAH PEKABARAN INJIL itu!

Apabila gereja sungguh-sungguh mau menyelamatkan dunia kita sekarang ini dari jiwa-jiwa yang terhilang, yang tidak mau datang masuk ke gedung gereja untuk beroleh selamat, maka Gereja harus belajar rahasia ini. Dan dunia memang betul-betul sedang MENANTI apakah ada tanda-tanda yang diperlihatkan oleh Gereja bahwa Gereja itu menaruh perhatian terhadap jiwa-jiwa yang terhilang tersebut.

Dr. Harry Denman, Sekjen Lembaga Penginjilan Gereja Metodis selama 25 tahun, pernah berucap: “Apabila kaum awam Kristen tidak menyadari panggilan mereka untuk memenangkan jiwa secara pribadi, maka dunia ini akan terhilang untuk selamanya.”

Billy Graham berkata: “Kebutuhan yang paling besar dirasakan dunia kita sekarang ini ialah penginjilan kepada perorangan – bukan oleh kaum rohaniwan yang ahli, melainkan,oleh orang-orang Kristen yang awam!”

Apabila Gereja tidak keluar mengabarkan Injil, maka dunia pun tidak mungkin bisa mendengar Injil itu.

Tatkala Paulus bicara tentang orang Kristen yang sejati, maka ia bicara soal pelayanan: Jadi siapa yang ada di dalam Ha Mashiah, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Ha Mashiah telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. (2Co 5:17-18)

“Setiap orang” yang berada di dalam Ha Mashiah adalah “manusia baru” dan ia telah menerima satu “pelayanan, perdamaian.” Setiap orang Kristen mempunyai kewajiban untuk memberikan pelayanan perdamaian itu terhadap sesama manusia oleh karena YAHWEH. Itulah yang kita sebut memenankan jiwa. Tanpa pandang bulu, entah apa pun warna kulitnya, kebangsaannya, kedudukannya, atau jenis kelaminnya! Setiap pendengar adalah proklamator juga. Setiap penerima berkat hendaknya menjadi pembagil berkat pula. Setiap orang Kristen adalah misionaris-penginjil-seorang salesman yang hidup! Inilah arti rahasia kekristenan YANG DALAM. Inilah kedalaman arti kehidupan seorang Kristen yang dapat dialami seseorang. <:::><

14. MANUSIA SEBAGAI SALURAN

Apabila setiap orang Kristen menemu­kan kembali KUNCI rahasia keberhasilan Gereja yang pertama di dalam memenangkan jiwa maka hendaklah ia sadari bahwa penginjilan dan memenangkan jiwa ini telah dijalankan dengan efektif apabila dijalankan DI LUAR DARI LING­KUNGAN GEREJA ITU SENDIRI.

Gereja sekarang ini harus lebih banyak prihatin terhadap nasib jiwa-jiwa yang terhilang. Gereja harus meninjau kembali titik orientasinya mengenai kekeristenan yang sejati di dalam hidup ini. Gereja harus membuktikan melalui perbuatan bahwa GEREJA MENARUH PERHATIAN TERHADAP ORANG­-ORANG BERDOSA!

Sebab gereja itu adalah tubuh Ha Mashiah – SuaraNya – Kaki dan tangan-Nya – Gereja itu adalah ANDA sendiri, anda sebagai perorangan.

Apa sebabnya Injil belum tersebar kepada setiap mahluk? Karena orang-orang Kristen telah salah menafsirkan apa makna Gereja itu sesungguhnya. Bagi mereka Gereja itu hanyalah sarana keagamaan, tempat berhimpun, sidang jemaat mereka sendiri. (Dan memang tepat apabila kita katakan bahwa Gereja itu adalah persekutuan kolektif orang-orang Kristen).

Tetapi dipandang dari segi perorangan, maka Gereja itu sebenamya adalah ANDA sendiri! Tubuh anda adalah milik Ha Mashiah, tubuh Ha Mashiah. Ia hanya bisa bersaksi dan melayani dengan perantaraan Anda! [Itulah sebabnya pada web blog ini saya bedakan antara "Gereja" sebagai kumpulan Jemaat, dan "gereja" sebagai gedung ibadah atau organisasi rohani. Pada terjemahan aslinya semua kata "gereja" huruf kecil. Kata "jemaat" di Alkitab telah diterjemahkan secara salah. Penjala Baja]

Gereja tak dapat mengirim keluar Ha Mashiah, di dalam RohNya, untuk membawa berkat bagi orang-orang miskin, menghibur orang-orang yang menderita batin, berkunjung kepada orang-orang sakit, dan meyakinkan orang-orang yang berdosa.

Ha Mashiah telah mengirim Roh-Nya kepada ANDA! Andalah Gereja itu! Jadi, satu-satunya jalan bahwa Ha Mashiah boleh melawat orang sakit dan bersaksi kepada orang berdosa hanyalah tubuhNya. Dan tubuhNya itu ialah ANDA!

Pelayanan Ha Mashiah di tengah masyarakat anda hanyalah terbatas kepada ANDA! Ia ingin bicara tentang keselamatan bagi jiwa-jiwa, ingin supaya mereka bertobat dari dosa mereka, ingin meyakinkan mereka tentang kebenaran Injil – suatu pekerjaan dari Roh Kudus – tak lain tak bukan HANYALAH MELALUI ANDA! Ia tidak pandang siapa anda. Ia mau bersaksi melalui MULUT ANDA. Apabila anda tidak pergi dan bersaksi untuk menyampaikan amanat itu, maka masyarakat kita akan terhilang. Ha Mashiah mau hidup di dalam DIRI ANDA. Ia tak dapat berkunjung kepada orang-orang yang tersebar di mana-mana itu tanpa ANDA. Ia tak dapat berdiri di tengah lapangan luas dan mengabarkan Injil tanpa seorang penginjil.

Kita sering berdoa agar kepada kita dikirimi Roh Kudus yang dapat menggerakkan hati kita dan mengawal kita di dalam segala hal. Memang hal ini bisa menyelamatkan kita dari kesulitan. Hal ini meringankan beban hidup kita di samping kesibukan kita – menonton siaran televisi, kegiatan perkumpulan kita, kegiatan rekreasi kita, dan urusan pribadi kita.

Tidaklah heran apabila orang-orang yang belum bertobat itu suka mengejek umat Kristen!
Itulah sebabnya mengapa kaum yang anti Tuhun menerta­wakan kita [yang mengaku sebagai] umat Kristen.
Inilah salah satu sebabnya mengapa orang-orang Yahudi misalnya tidak menerima agama Kristen. Pemimpin agama kaum Yahudi itu membaca Alkitab Perjanjian Baru. Mereka tahu siapa Yeshua itu. Mereka tahu bahwa Yeshua adalah seorang Yahudi. Mereka tahu bagaimana Ia hidup. Dan mereka pun tahu apa yang diamanatkan oleh Ha Mashiah itu kepada umatNya untuk dikerjakan – dan mereka tahu betapa bedanya orang Kristen sekarang ini dibandingkan dengan orang Kristen yang pertama.

Yeshua adalah seorang pemenang jiwa. la bergaul dengan masyarakat umum. Ia bertindak sebagai sahabat terhadap orang-orang yang berada dalam kebutuhan. Ia menyembuhkan orang sakit. Ia bicara tentang kabar keselamat­an bagi orang-orang yang berdosa. Ia menolong orang-orang. Tanpa mementingkan diri-Nya sendiri – sepanjang waktu.

IA TlDAK PERNAH BEROBAH! Ia pun menghendaki hal yang sama sekarang ini. Ia ingin bekerja di dalam anda, agar anda mau berbuat dan sungguh-sungguh bertindak melakukan hal-hal yang berkenan bagi Dia.

INILAH MAKNA KEKERISTENAN YANG DALAM! Yang lainnya hanyalah serba dibuat-buat dan dangkal sifatnya. Ha Mashiah berada di dalam diri ANDA. Anda kini mempunyai tujuan tertentu di dalam hidup ini dan di dalam bersaksi. Anda telah dipenuhi oleh Roh Kudus oleh karena sesuatu alasan. Jadi, bukanlah sekadar hanya pergi ke gereja lalu berusaha menjadi dalam di bidang rohani. Tetapi pergilah juga keluar dari gedung gereja anda dan ceritakanlah kepada siapa saja tentang Ha Mashiah itu.

Marilah kita camkan baik-baik bahwa Roh Kudus itu bekerja MELALUI KITA. Kita adalah bait-Nya. Apabila kita terlampau sibuk dan tidak mempunyai waktu untuk bersaksi, maka Ia tidak mempunyai saluran yang lain untuk melayani masyarakat. Itulah sebabnya Ia tinggal di dalam diri KITA.

Orang-orang berdosa di tengah masyarakat kita tidak mungkin beroleh kunjungan dari YAHWEH kita, apabila ANDA tidak pergi dan berbicara atas namaNya.
Orang-orang yang berada dalam kesakitan serta meringkuk dalam penjara tidak akan disentuh oleh Roh YAHWEH apabila Anda tidak bersaksi tentang NamaNya.
Manusia tidak mungkin bisa melihat YAHWEH – kecuali bisa melihat kebesaran YAHWEH melalui tindakan ANDA.
Kasih Ha Mashiah itu hanyalah bisa dinyatakan melalui KEHIDUPAN anda! Hasrat dan rasa prihtin-Nya terhadap jiwa-jiwa yang terhilang hanyalah bisa dilakukan melalui ANDA.
Yeshua Ha Mashiah mengunjungi orang-orang berdosa di ling­kungan masyarakat sekitarnya apabila ANDA pun berbuat hal yang sama.

Itulah sebabnya apabila kita megabarkan Injil maka haruslah KELUAR DARI LINGKUNGAN GEREJA kita SENDlRI. lTULAH tempat di mana orang berdosa itu berada. Dan itulah pula merupakan amanat utama dari umat Kristen, yakni menggapai orang-orang berdosa dengan bantuan Injil. Itulah namanya menyampaikan kabar selamat! la memerintahkan kepada kita untuk mengabarkan Injil kepada sekalian mahluk. Hal ini hanya bisa dilangsungkan DILUAR GEREJA SENDIRI.

Kebangunan rohani adalah untuk kepentingan di dalam lingkungan anggota-anggota gereja sendiri. Tetapi penginjilan dalam arti yang setinggi-tingginya adalah pergi keluar ke tempat orang-orang berdosa itu berada. Itulah pula sebabnya mengapa orang Kristen HARUS KELUAR DARI lingkungan gerejanya sendiri.

Orang-orang Kristen memerlukan “kebangunan” rohani sewaktu-waktu. Buku ini ditujukan bagi mereka yang berada di dalam gereja atau dilingkungan gereja. Buku ini adalah untuk memberi petunjuk, bahkan memberi satu kebangunan rohani bagi anda untuk memenangkan jiwa agar anda berhasrat dan menaruh prihatin terhadap jumlah besar manusia yang belum diselamatkan itu.

Tetapi apabila kebangunan rohani itu hidup di dalam diri kita, maka kita pun akan mengabarkan Injil itu. Kita akan melancarkan gerakan yang penuh semangat untuk memenang­kan jiwa. Dan kita akan melakukannya di luar lingkungan gereja kita sendiri. ltulah yang menjadi inti sari dari buku ini.

Itulah pula yang menjadi amanat YAHWEH bagi setiap orang Kristen tatkala Ia berseru kepada Filipus “IKUTLAH SERTA DI DALAM KERETA YAHWEH.” Dengan kata lain Ia ingin berkata: Pergilah ke gelanggang hidup yang ramai, pergilah ke tengah kesibukan hidup dunia, dan carilah seseorang yang terhilang jiwanya, bersaksilah kepada mereka, dan menangkan­lah jiwa itu untuk Ha Mashiah.

Selama anda cuma membatasi kesaksian anda itu di antara dinding gedung gereja anda saja, maka YAHWEH tidak mungkin mengajak anda ikut serta di dalam keretaNya untuk pergi mencari jiwa yang perlu diselamatkan.

Oleh sebab itu, keluarlah – pergi ke tempat orang-orang berdosa itu berada – PERGlLAH KELUAR, berangkatlah ke tempat-tempat kesibukan manusia, di tempat-tempat terbuka, maka Roh Kudus akan membimbing anda ke dalam kereta maha YAHWEH, agar anda bisa mencari jiwa yang terhilang buat Ha Mashiah.

lnilah amanat pelayanan bagi setiap orang Kristen tanpa pandang umur, jenis kelamin, suku bangsa, atau kedudukan sosial apa pun. Sebab ini adalah amanat bagi setiap orang, baik laki-laki maupun wanita, putera maupun puteri yang telah menerima Ha Mashiah dalam hidupnya.  <:::><

15. BERKUNJUNG ATAU MEMENANGKAN JIWA

Adalah penting bagi kita untuk membedakan antara melakukan kunjungan dalam rangka acara pelayanan gerejani dan memenangkan jiwa.

Gereja telah menemukan kembali sebagian besar ajaran dasar dari gereja yang pertama, tetapi barulah setelah Abad Kegelapan maka memenangkan jiwa secara perorangan di kalangan orang-orang berdosa itu mendapat perhatian dari padanya.

Membangkitkan kembali kebenaran ini adalah penting sekali. Sebab justru inilah yang menunjukkan ciri gereja yang lahir pada hari Pantekosta. Oleh sebab itu gereja yang semacam ini pulalah yang dimaksudkan Ha Mashiah sebagai mempelainya pada saat Ia datang kembali kelak untuk menjemputuya.

Ada terdapat bukti-bukti bahwa kebenaran tentang pengin­jilan pribadi itu sedang mulai berkembang giat dan mekar sepenuhnya. Di mana-mana para kaum rohaniwan dan orang-orang Kristen yang penuh pengabdian memperbincang­kan soal itu. Para pengarang buku berbicara soal itu. Para pendeta menaruh perhatian besar dalam hal itu. Program-program baru lalu diterapkan dalam bidang ini.

Tetapi sebagian besar cara pendekatan yang ditempuh itu selama ini kurang begitu lancar rasanya, sebab kecenderungan yang kita lihat sekarang ini ialah bahwa orang melakukan “kunjungan,” ada yang menyebutnya dengan istilah “besuk” atau “penginjilan statistik”. Dalam hal ini ada terdapat banyak macam versi dan pola, tetapi sebagian besar diantara­nya masih kurang memenuhi syarat bagi memenangkan jiwa-di luar dari lingkungan gerejani. Sejumlah besar “kunjungan” atau penginjilan statistik itu adalah paling banyak memenuhi lembaran acara kegiatan suatu gereja. Buku-buku dan tulisan-tullsan banyak sekali memuat cara pelaksanaan dari pada bentuk penginjilan apapun juga.

Dan kita harus akui secara jujur bahwa bentuk penginjilan inl bertanggungjawab atas segala jiwa yang patut dijangkau, meskipun hasilnya bagi gereja hanyalah 10 persen. Lalu apakah yang harus kita perbuat dengan yang 90 persen selebihnya itu? Yang tidak tahu datang ke dalam gereja?

Ide yang dimiliki banyak orang kurang memperhitungkan nasib yang 90 persen jiwa-jiwa ini. Konsep yang umum adalah bagaimana ramai-ramai orang pergi keluar dan menghubungi sebanyak mungkin orang lalu mengundang mereka ke gereja. Agar menghadiri suatu program, atau makan-minum, atau suatu pertemuan, suatu klab, suatu acara khusus yang istimewa, entah apa saja yang bia kita pikirkan untuk mengajak orang datang ke gereja.

Kita menganggap bahwa tugas penyelamatan itu adalah suatu pekerjaan berupa seni yang tinggi, yang diperuntukkan saja bagi pendeta atau pekerja profesional di kalangan gereja. Sebab pada umumnya orang beranggapan bahwa orang awam adalah tidak mampu untuk membawa jiwa kepada keselamatan. Tugas mereka cukup saja pergi keluar dan mendaftarkan orang-orang untuk datang hadir ke gereja. Selanjutnya gereja dengan gedungnya yang megah itulah yang jadi sasaran. Nanti bapak pendetalah yang akan bertindak untuk keselamatan mereka.

Acara semacam ini harus kita akui baik, tak ada salahnya. Tetapi terlampau mengabaikan jumlah yang 90 persen itu yang berada di luar pagar gereja.

Mereka itu pun PATUT kita perhitungkan!

Seorang pemuda Kristen di Inggris berkobar-kobar sema­ngatnya setelah mendengar ceramah tentang memenangkan jiwa yang diselenggarakan oleh salah seorang anggota kita. Anak muda itu lalu pergi keluar dan bersaksi di kalangan kelompok pemuda nakal, dan dalam waktu beberapa hari saja ia telah memenangkan mereka itu untuk Ha Mashiah.

Anak muda itu bertanya kepada pendetanya apakah ia boleh membawa serta rombongan teman-temannya yang baru itu untuk berbakti di dalam gereja. Pada waktu itu ia lupa menjelaskan bahwa keadaan lahiriah mereka, cara berpakaian dan dandanan rambut mereka adalah tidak sesuai dengan ukuran kerapihan yang tradisional.

Pada waktu mereka memasuki gedung gereja bersama dengan rombongan itu, maka dengan tajam sekali anak muda itu mendapat teguran, karena telah membawa serta golongan orang yang begitu duniawi dan tiak pantas ke dalam tempat yang suci. Mereka dianjurkan untuk pergi dan hanya boleh kembali apabila dandanan pakaian dan rambut mereka itu sesuai dengan standar yang dimillkl oleh “gereja.” Kepada anak muda itu ditekankan satu peringatan keras: “Tempatmu adalah di dalam gereja. Di sini kamu harus belajar bagaimana untuk menjadi seorang Kristen yang pantas. Kau tidak punya urusan apa-apa untuk pergi keluar dan membawa kesaksian semacam itu. Kau harus serahkan tugas bersaksi itu kepada kami yang berwenang untuk melakukan hal semacam ltu.”

Akan tetapi apa yang dilakukan anak muda itu adalah tepat sama dengan perempuan Samaria setelab ia bertobat. Memang sangat sedikit sekali kaum profesional itu bisa bersaksi tentang sukses Yeshua sebagai pribadi. Padahal dunia tidak memerlukan nasehat seorang profesional. Yang diperlukan orang ialah Yeshua Ha Mashiah. Mereka ingin tahu tentang Ha Mashiah. Dalam bentuknya yang sesederhana mungkin – dengan istilah-istilah yang mereka bisa pahami semudah mungkin tanpa berbelit-belit.

Kaum awam Kristen harus kita bimbing dan dorong untuk pergi keluar ke tempat rumah-rumah orang berdosa agar membawa orang berdosa itu mengambil kesimpulan untuk menerima Ha Mashiah. Di tempat itu juga mereka boleh bersaksi. Seseorang bisa saja pergi ke suatu toko buku dan memborong sejumIah buku-buku rohani, merancang sejumlah kunjungan rumah tangga, mempersiapkan diri menyebarkan Injil dan sebagainya. Pendeknya apa saja yang bermanfaatlah.

Selama seratus tabun belakangan ini memang acara penginjilan telah berkembang demikian pesatnya sehingga banyak sekali rencana telah disusun orang, bahan bacaan dicetak, dan selama dua puluh tahun terakhir ini orang sibuknya bukan main. Kegiatan itu timbul di mana-mana bagaikan cendawan di musim hujan. Lebih besar lagi jumIah orang Kristen yang berkunjung ke rumah-rumah untuk menggapai jiwa-jiwa terhilang. Acara seperti ini sungguh bagus. Langkah ini merupakan satu langkah lebih dekat ke arah apa yang berkenan bagi Ha Mashiah. Dan saya sendiri juga sangat berbesar hati melihat kemajuan rencana penginjilan yang begitu hebat itu.

Tetapi di lingkungan sebagian besar gereja rencana penginjilan semacam ini tidak memanfaatkan tenaga kaum awam. Mereka TIDAK didorong atau diberi semangat untuk pergi dan membawa jiwa-jiwa untuk mengambil keputusan mengenai sikapnya terhadap Ha Mashiah. Gereja menganggap tugas ini hanya boleh dilakukan di dalam gedung gereja. Dan tugas kaum awam hanyalah mendaftarkan saja orang-orang yang mereka hubungi.

Akan tetapi kenyataannya menunjukkan babwa 90 persen dari jiwa-jiwa yang terhilang itu berada di luar garis lingkungan gereja. Dan mereka tidak mungkin datang langsung sendiri ke gereja. Itulah sebabnya kaum awam harus siap sedia untuk berjuang di luar pagar dan memenangkan jiwa-jiwa itu. Kaum awam harus bersaksi kepada mereka itu.

Marilah kita bayangkan peri keadaan sebuah perusahaan alat pembersih ruangan yang terbuat dari listrik. Misalkan saja perusahaan itu mengirim perwakilannya yang serba parlente dan sopan santun terjun ke masyarakat sambil berkunjung dari satu rumah ke rumah yang lainnya sambil berkata : “Kami adalah dari perusahaan alat-alat pembersih ruangan. Kami ingin mengundang anda hadir beserta keluarga anda untuk datang ke ruang pameran yang kami selenggarakan. Kami telah menyusun acara yang menarik, termasuk di dalamnya rombongan koor dari perusahaan kami. Distrik Sales Manager kami akan memberi ceramah kepada anda. Dia adalah seorang pembicara yang ulung dan anda pasti menyukai kepribadiannya.”

Strategi yang dipasang dalam hal ini ialah: Asal kita bisa menggiring orang-orang itu ke tempat pertemuan, maka baru di situlah kita hendak menjual alat-alat keperluan rumah tangga itu.

Tentu saja strategi semacam itu tidaklah buruk. Setiap tindakan semacam ini pasti bisa memajukan kepentingan perusahaan. Cuma masalahnya ialah bahwa perusahaan itu bisa jatuh bangkrut-bukan saja karena alat-alat yang dijualnya itu kurang baik, tetapi karena terutama sekali jumlah pembeli yang ingin dicapai itu hanya terbatas pada persentase yang kecil sekali. Hanya mereka yang berhasil disuruh berpakaian rapih yang mempunyai mobil untuk datang ke pusat kota untuk menyaksikan pertemuan dan pameran promosi barang-barang itu.

Dan tahukah anda bahwa suatu perusahaan tidak mungkin melakukan hal semacam itu? Yang mereka lakukan ialah melatih sungguh-sungguh petugas-petugas perwakilan mereka, lalu mengirim mereka ke segala penjuru angin sambit membawa alat produksi pabrik mereka itu. Mereka berkelilng dari rumah ke rumah dan menjual langsung alat-alat itu kepada pembeli. Tidaklah heran kita menyaksikan Yeshua pernah berkata: “Anak-anak dunia ini dari generasi mereka adalah lebih bijaksana dari pada anak-anak di dalam terang.” Lukas 16:8.

Ciri khas dari Gereja yang pertama ialah bersaksi kepada setiap orang dan memenangkan jiwa buat YAHWEH, di manapun mereka temukan jiwa itu. Hal ini adalah wajar bagi seorang Kristen. Tetapi baru kemudian orang terjerumus dalam sikap yang kaku dan menjadi tradisionil, Ialu meninggalkan cara memenangkan jiwa itu sebagai tugas para pendeta dan pekerja profesional saja.

Pemilik sebuah hotel di negeri Belanda telah bertobat dan menerima Ha Mashiah pada waktu kami melakukan kampanye di sana. Berhari-hari setelah itu ia terus saja bersaksi kepada para tamunya dan menganjurkan mereka untuk menerima YAHWEH dalam hidupnya.

Adalan suatu hal yang lumrah bagi orang yang baru bertobat itu untuk menyampaikan kabar kesukaan ini kepada orang lain, agar orang lain itu pun turut diselamatkan. Oleh sebab itu hendaklah gereja menganjurkan hal ini. Tetapi apa yang dikerjakan gereja? Ia malah membela tradisi yang serba kaku itu.

Pikiran yang umum berlaku adalah bahwa orang-orang Kristen itu tidak mampu untuk berhubungan dengan orang-orang berdosa. Sebab orang menganggap mereka kelak berhadapan dengan masalah-masalah perdebatan atau perlawanan sengit dalam pendirian orang, yang seorang awam tidak mampu untuk mengatasinya.

Maka justru karena itulah kita harus AJARKAN cara memenangkan jiwa itu!

Biasanya Gereja memang tidak memperkenankan seorang anggota baru untuk memberikan pelajaran agama dalam sekolah minggu atau perkumpulan bersama. Gereja-gereja yang baik sering kali menyelenggarakan kursus latihan kepemimpin­an untuk melatih dan membentuk kader pengajar.

Maka dengan cara yang sama pun gereja hendaknya menyelenggarakan kursus latihan eara memenangkan jiwa, untuk membina dan melatih serta memajukan pelayanannya yang terbesar di atas muka bumi ini. Kursus latihan pembinaan itu hendaknya diberikan kepada anggota-anggota kaum awam biasa dan dilakukan secara tetap dan teratur.

Perusahaan-perusahaan melatih salesman mereka. Saksi-saksi Yehova melatih anggota-anggota mereka.

Gereja-gereja yang sejati melatih guru-guru mereka. Kelas-kelas dan konferensi tertentu diselenggarakan khusus untuk mengarahkan orang-orang pada program “kunjungan rumah” itu.

Tetapi hampir tidak ada gereja yang melatih anggotanya di dalam seni memenangkan jiwa. Jarang sekali kita menemukan Sekolah Alkitab atau seminari yang mempunyai kurikulum atau jadwal pelajaran yang mengandung seni memajukan cara memenangkan jiwa, dan melatih mereka berkecimpung di luar gereja sendiri. Padahal justru hal itulah – yang merupakan kunci emas – ke arah sukses dari pada Gereja yang pertama.

Dengan ajaran dan kebenaran utama dari gereja yang pertama itu yang kita gali kembali sekarang ini, maka sudah tiba saatnya kita harus berbuat sesuatu sesuai dengan kebenaran itu. Kita harus keluar dan membagi-bagi berkat YAHWEH kepada orang-orang yang berdosa.

Sekali kebenaran ini beroleh kembali ke landasannya yang tepat, maka Alkitab akan merupakan sebuah buku yang baru dan segar bagi Gereja. Para pengarang akan menghasilkan buku-buku yang bermanfaat sekali tentang caranya memenang­kan jiwa. Kursus-kursus yang intensif akan diselenggarakan, konferensi, pelajaran rutin, dilakukan untuk tujuan itu, dan para pendeta akan menemukan sumber yang tak kunjung habis-habisnya untuk mengajarkan kepada sidang jemaatnya, baik pria maupun wanita, bagaimana keluar untuk bersaksi dan memenangkan jiwa yang terhilang seperti yang pemah dikerjakan oleh Gereja yang pertama-DILUAR LINGKUNG­AN SENDIRI.

Oleh sebab itu sangat dibutuhkan guru-guru yang bisa mengajar seni memenangkan jiwa. Baik pria maupun wanita akan menemukan suatu dimensi yang baru dalam pelayanan­nya. Penginjil-penginjil akan mengajar seni bersaksi di dalam bagian pelayanan mereka. Kelompok-kelompok pemuda akan beroleh harapan baru di dalam kekeristenan mereka. Sidang jemaat yang tadinya melempem akan beroleh kesegaran kembali. Suatu masa baru di dalam dunia kekristenan akan menampilkan adegan-adegan dari dalam panggung riwayat kekristenan kita. Mungkin saja gereja itu akan merupakan Gereja yang teraniaya, tetapi ia akan merupakan satu Gereja yang bergerak dan hidup di tengah masyarakat.

Sudah terdapat kecenderungan di kalangan orang-orang beriman di mana-mana untuk bergerak. Mereka berkata: “Kita tidak merasa betah hanya duduk-duduk di dalam gedung gereja saja. Kita merasa ada sesuatu yang kekurangan pada diri kita. Kita mempunyai pendeta yang bai dan gedung yang bagus. Tetapi kita belum merasa puas. Sebab kita tidak memenangkan jiwa. Kita mempunyai program kunjungan yang bagus, tetapi orang-orang yang berdosa itu tidak mau hadir di antara kita.”

Ini adalah kehendak YAHWEH, agar kita mencari jiwa-jiwa yang terhilang itu-di luar dari pada lingkungan kita sendiri.

“Kunjungan” itu berarti anggota-anggota gereja yang harus keluar mengundang orang untuk ikut serta dalam kegiatan atau acara gerejani. Tetapi “memenangkan jiwa secara perorangan” adalah satu orang bicara kepada lain orang tentang kebutuhan orang lain akan Yeshua Ha Mashiah sebagai Juru Selamatnya, dengan tujuan agar orang itu mengambil keputusan langsung di tempat ita juga. TUGAS PELAYANAN INI ADALAH KEWAJIBAN SETIAP ORANG BERIMAN BAIK PRIA MAUPUN WANITA.

Kami sama sekali tidaklah bermaksud hendak mengurangi arti dari “kunjungan rumah tangga” itu. Selama ini cara itu telah merupakan satu kegiatan yang menguntungkan bagi gereja. Tetapi perlu saya ulangi lagi: Bahwa kita harus menjangkau sedapat mungkin setiap jiwa yang terhilang agar bisa datang ke gereja dan kita harus menyelamatkan mereka apabila mereka datang ke tempat kita.

Tetapi janganlah kita ANDALKAN cara memenangkan jiwa itu pada gedung gereja kita sama sekali.

Kita harus memperbaharui rencana dan cara kerja kita. Kita harus menyelenggarakan kursus-kursus latihan dan program untuk PENGINJILAN PERORANGAN. Kita harus mengajar orang Kristen bagaimana bertindak untuk membim­bing jiwa yang terhilang agar menerima Ha Mashiah dan dilahirkan kembali. Baik laki-Iaki maupun kaum wanita wajib melakukan­nya.

Kita harus membuktikan kepada 90 persen orang-orang yang belum mengenal gereja itu bahwa kita pun turut prihatin atas nasib mereka juga – bahwa Ha Mashiah yang kita miliki itu akan mau menyelamatkan orang berdosa juga di dalam rumahnya sendiri, atau di dalam pabrik tempat ia bekerja, atau di tengah taman terbuka bagi umum, sama dan cukup mulia seperti pertobatan yang terjadi di dalam gedung gereja.

Pergilah keluar lingkungan gereja anda sendiri dan bersaksilah tentang kekristenenan anda itu, di tengah jalan raya dan kesibukan hidup ini, maka Roh Kudus akan menunjukkan kepada anda – seperti Ia juga telah menunjukkan kepada Pilipus – kepada jiwa mana anda harus berbicara dan ANDA AKAN MENJADI SEORANG PEMENANG JIWA YANG TERHILANG – dan bukannya hanya sekadar seorang yang datang melakukan kunjungan rumah tangga atau sekadar pertemuan biasa saja dengan seseorng itu.

Sambungan dari bagian 1 (Pendahuluan-bab 7)
Bersambung ke bagian 3 (16-20)

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Son of Hamas (Putra Hamas). Bab 1-4

Bab 1 – Tertangkap
1996

Aku mengemudikan mobil Subaru putihku yang kecil di sudut jalan sempit yang menuju ke jalan bebas hambatan di luar kota Tepi Barat Ramallah. Dengan menginjak pedal rem perlahan, aku mendekati satu pos pemeriksaan yang terdapat di sepanjang jalanan ke dan dari Yerusalem.

“Matikan mesin! Hentikan mobil!” seseorang berteriak dalam bahasa Arab yang kurang baik.
Tanpa peringatan apapun, enam prajurit Israel meloncat keluar dari semak tempat persembunyian dan menghalangi mobilku, setiap orang membawa senapan otomatis, dan setiap senapan ditodongkan langsung pada kepalaku.

Rasa panik mencekik tenggorokanku. Aku hentikan mobil dan melempar kunci mobil ke luar jendela.
“Keluar! Keluar!”
Tanpa menunda lagi, salah seorang prajurit membuka pintu dan melemparkan aku ke tanah berdebu. Aku tidak sempat melindungi wajahku ketika pemukulan dilakukan. Tapi meskipun aku mencoba melindungi mukaku, sepatu² bot prajurit yang berat dengan cepat menemukan target lain: iga, ginjal, punggung, leher, kepala.

Dua dari mereka menyeretku dan memasukkanku ke dalam pos pemeriksaan, di mana aku dipaksa berlutut di belakang barikade yang terbuat dari semen. Tanganku diikat di belakang punggung dengan tali plastik tajam yang diikat terlalu erat. Seseorang lalu menutup mataku dan mendorongku masuk ke dalam sebuah jip dan jatuh ke lantai. Rasa takut bercampur marah kurasakan sewaktu aku bertanya-tanya kemanakah mereka akan membawaku dan berapa lama aku akan berada di sana. Aku hampir mencapai usia 18 tahun dan dua minggu lagi akan menjalani ujian akhir SMA. Apakah yang akan terjadi padaku?

Setelah perjalanan singkat, mobil Jeep itu berhenti. Seorang prajurit menarik diriku keluar dari bagian belakang Jeep dan membuka penutup mataku. Sambil memicingkan mata karena silau cahaya matahari, aku menyadari bahwa aku berada di Pusat Tentara Ofer. Tempat ini adalah pusat pertahanan militer Israel, dan Ofer merupakan fasilitas militer terbesar dan terketat di seluruh Tepi Barat.

Sewaktu kami berjalan ke bangunan utama, kami melewati beberapa tank bersenjata, yang ditutupi kanvas. Tank raksasa ini selalu membuatku ingin tahu setiap kali melihatnya dari luar daerah militer Israel. Tank² ini tampak seperti batu raksasa yang sangat besar.

Setelah berada di dalam gedung, kami bertemu dengan seorang dokter yang memeriksaku dengan cepat, untuk memastikan apakah aku mampu menanggulangi pemeriksaan keras. Tampaknya aku lulus karena dalam beberapa menit saja tanganku diikat dan mataku ditutup lagi, dan aku lalu didorong kembali masuk Jeep.

Tempatku berbaring kecil sekali, hanya cukup untuk kaki orang. Ketika aku berusaha menggerakkan badanku di tempat kecil itu, seorang prajurit kekar meletakkan sepatu botnya di pinggangku dan menekankan laras senjata M 16-nya pada dadaku. Uap bensin panas yang memenuhi bagian lantai Jeep menyesakkan tenggorokanku. Setiap kali aku berusaha menyesuaikan diri di tempat kecil tersebut, prajurit itu menekankan laras senjatanya lebih dalam ke dadaku.

Tanpa peringatan apapun, rasa sakit menusuk tajam di seluruh tubuhku dan membuat jari² kakiku mengejang kaku. Rasanya bagaikan sebuah roket meledakkan kepalaku. Pukulan di kepala ini datang dari bagian tempat duduk depan, dan aku lalu mengetahui bahwa salah satu prajurit tentunya telah menggunakan popor senapan untuk memukul kepalaku. Sebelum aku mampu melindungi diriku, dia memukulku lagi lebih keras di bagian mata. Aku mencoba menghindar dari jangkauannya tapi prajurit yang menggunakan tubuhku sebagai alas kakinya menarikku ke depan.

“Jangan bergerak atau aku tembak kamu!” bentaknya.
Tapi aku tidak bisa tak bergerak. Setiap kali temannya memukulku, tubuhku terhentak ke belakang dengan sendirinya.

Di bawah kain penutup, mataku mulai membengkak, dan mukaku terasa beku. Aku tidak merasa ada sirkulasi darah di bagian kakiku. Nafasku tersengal-sengal. Aku belum pernah mengalami rasa sakit sehebat itu. Tapi yang lebih buruk daripada rasa sakit adalah rasa takut berada di bawah kekuasaan orang² yang tak mengenal ampun dan tak manusiawi. Pikiranku melayang sewaktu aku berusaha mengerti motivasi para penyiksaku. Aku mengerti bahwa berperang dan membunuh karena rasa benci, amarah, balas dendam, dan bahkan karena terpaksa melakukannya. Tapi aku kan tidak melakukan apapun pada para prajurit ini. Aku bukanlah ancaman bagi mereka. Aku diikat, ditutup mata, dan tidak bersenjata. Apakah yang ada dalam diri mereka sehingga mereka begitu suka menyakitiku? Bahkan binatang yang paling sederhana sekalipun membunuh karena suatu alasan, dan bukan hanya karena kesenangan saja.

Aku memikirkan bagaimana perasaan ibuku jika dia mengetahui aku ditangkap. Karena ayahku sudah berada di penjara Israel, maka akulah satu²nya pria dalam keluargaku. Apakah aku akan dipenjara selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun seperti ayahku? Jika memang itu yang terjadi, apakah ibu kuat kehilangan aku pula? Aku mulai mengerti perasaan ayahku – khawatir akan keluarganya dan merasa sedih sekali membayangkan penderitaan keluarga yang mengkhawatirkan dirinya. Airmataku bergulir membayangkan wajah ibuku.

Aku juga berpikir apakah tahun² di SMA akan berlalu percuma begitu saja. Jika aku dipenjara di Israel, tentunya aku tidak akan bisa ikut ujian akhir SMA bulan depan. Pertanyaan dan jeritan berpacu dalam pikiranku kala pukulan² terus menerjang: Mengapa kau lakukan ini padaku? Apa yang telah aku lakukan padamu? Aku bukan seorang teroris! Aku hanyalah pemuda biasa saja. Mengapa kau memukuliku seperti ini?
Aku yakin aku pingsan berkali-kali, tapi setiap kali aku siuman, para prajurit masih berada di sana untuk kembali memukuliku. Aku tidak bisa menghindari serangan mereka. Yang dapat kulakukan hanyalah menjerit. Aku merasakan rasa mual dari tenggorakanku dan aku muntah².
Aku merasa sangat sedih sebelum akhirnya kehilangan kesadaran. Apakah ini akhir hidupku? Apakah aku akan mati sebelum hidupku benar² dimulai?

Bab 2 – Tangga Iman
1955-1977

Namaku adalah MOSAB HASSAN YOUSEF.
Aku adalah putra sulung dari Syeikh Hassan Yousef, yang merupakan satu dari tujuh pendiri organisasi Hamas. Aku lahir di desa Tepi Barat dekat Ramallah, dan aku adalah bagian dari keluarga² Islam yang paling relijius di Timur Tengah.

Kisahku dimulai dari kakekku, yakni Syeikh Yousef Dawood, yang merupakan pemimpin agama – atau imam – bagi desa Al-Janiya, yang terletak di bagian Israel yang disebut Alkitab sebagai Yudea dan Samaria. Aku sangat mencintai kakekku. Jenggotnya yang lembut dan putih menyentuh pipiku saat dia memelukku, dan aku bisa duduk berjam-jam mendengarkan suaranya yang lembut dalam melafalkan adhan – panggilan Muslim untuk sholat. Dan aku punya banyak kesempatan melakukan ini karena Muslim harus sholat lima kali sehari. Melafalkan adhan dan Qur’an tidaklah mudah, tapi jikalau kakekku melakukannya, suaranya sungguh mempesona.

Ketika aku masih kecil, sebagian pelafal adhan sangat menggangguku sehingga aku ingin menutup telinga. Tapi ayahku adalah adalah orang yang sabar, dan dia membawa pendengar untuk larut memahami makna adhan sewaktu dia menyanyikannya. Dia percaya setiap kata yang diucapkannya.

Sekitar 400 orang hidup di Al-Janiya sewaktu berada di bawah kekuasaan Yordania dan pendudukan Israel. Tapi masyarakat dusun kecil ini tidak tertarik akan politik. Terletak di daerah lembah beberapa mil barat daya Ramallah, Al-Janiya adalah tempat yang damai dan indah. Sinar mentari pagi mewarnai semua bagian dengan warna jingga dan ungu. Udaranya segar dan bersih, dan dari puncak bukit kau bisa melihat seluruh pemandangan dengan jelas sampai ke Mediterania.

Setiap jam 4 pagi, kakekku bangun untuk pergi ke mesjid. Setelah dia selesai melakukan sholat subuh, dia akan membawa keledai kecilnya ke lahan taninya, mengolah tanah, mengurus pohon² zaitun, dan minum air segar dari mata air yang keluar dari gunung. Tiada polusi udara karena hanya seorang saja di Al-Janiya yang punya mobil.

Ketika dia berada di rumah, kakekku mempersilakan para tamu berdatangan. Dia itu lebih dari sekedar imam – dia adalah segalanya bagi masyarakat desa. Dia berdoa bagi setiap bayi yang baru lahir dan membisikkan adhan di telinga mereka. Ketika ada orang mati, kakekku akan memandikannya dan mengurapi tubuhnya dan membungkusnya dengan kain. Dia pula yang menikahkan masyarakat, dan menguburkan masyarakat.

Ayahku, Hassan, adalah putra yang paling disayangi kakek. Bahkan sejak kecil, meskipun bukan kewajibannya, ayah sering ikut kakekku ke mesjid. Tiada saudara²nya yang lain yang peduli akan Islam seperti ayahku.

Sambil duduk di sebelah ayahnya, Hassa belajar melafalkan adhan. Dan juga seperti ayahnya, dia pun memiliki suara dan ketertarikan yang membuat orang menjawab panggilannya. Kakekku sangat bangga akan ayahku. Ketika ayah masih berusia 12 tahun, kakek berkata, “Hassan, kau telah menunjukkan bahwa kau berminat akan Elohim dan Islam. Maka aku akan mengirimmu ke Yerusalem untuk belajar Syariah.” Syariah adalah hukum agama Islam yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, dari keluarga dan kesehatan sampai ke bidang politik dan ekonomi.

Hassan tidak mengerti dan tidak tertarik bidang politik dan ekonomi. Dia hanya ingin menjadi seperti ayahnya saja. Dia ingin membaca dan melafalkan Qur’an untuk melayani masyarakat. Tapi dia nantinya akan mengetahui bahwa ayahnya bukanlah sekedar imam dan pelayan masyarakat yang dicintai saja.

Karena nilai² budaya dan tradisi selalu lebih berharga bagi orang² Arab daripada aturan dan hukum Pemerintah, maka orang seperti kakekku jadi pemimpin hukum tertinggi dalam masyarakat. Hal ini terutama terjadi jika pemimpin² negara adalah orang² sekuler yang lemah dan korup, sehingga perkataan imam berpengaruh lebih dianggap sebagai hukum.

Ayahku tidak dikirim ke Yerusalem hanya untuk belajar agama Islam saja; kakek ternyata hendak mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang pemimpin. Selama beberapa tahun setelah itu, ayahku hidup dan tinggal di kota tua Yerusalem, di sebelah mesjid Al-Aqsa – yang berkubah emas dan menjadi ciri khas Yerusalem di mata penduduk dunia. Di usia 18 tahun, ayah menyelesaikan studinya dan pindah ke Ramallah, di mana dia langsung ditunjuk menjadi imam mesjid. Karena besarnya keinginan untuk melayani Allah dan umat Muslim, ayah memulai pelayanan masyarakat dengan penuh semangat, sama seperti yang dilakukan kakek di Al-Janiya.

Tapi Ramallah bukanlah Al-Janiya. Ramallah adalah kota yang ramai, sedangkan Al-Janiya adalah dusun kecil nan sepi. Sewaktu ayah pertama kali masuk mesjid di Ramallah, dia sangat terkejut karena hanya mendapatkan lima orang tua saja yang sedang menunggunya. Umat Muslim yang lain tampaknya lebih suka mengunjungi kedai kopi, bioskop film porno, mabuk²an, atau berjudi. Bahkan orang yang seharusnya menyuarakan adhan lebih memilih memasang rekaman suara saja agar permainan kartunya tidak terganggu.

Hati ayah hancur melihat keadaan orang² ini, meskipun dia tidak tahu bagaimana caranya menyentuh hati mereka. Bahkan lima orang tua di mesjid mengakui bahwa mereka berada di mesjid karena merasa ajal sudah dekat dan ingin masuk surga, tapi setidaknya mereka bersedia berada di mesjid untuk mendengarkan khotbah. Maka ayah memulai kerja dengan sedikit orang yang ada. Dia memimpin orang² ini untuk bersholat, dan mengajari mereka Qur’an. Dalam waktu singkat saja mereka mengasihi ayah bagaikan malaikat yang dikirim dari surga.

Tapi di luar mesjid sih, lain ceritanya. Bagi kebanyakan orang, rasa cinta ayahku pada tuhan Qur’an hanya menunjukkan dengan jelas sikap mereka yang acuh tak acuh pada Islam, dan ini membuat mereka tersinggung.
“Mengapa anak kecil ini melafalkan adhan?” gerutu orang² itu, sambil menunjuk pada wajah ayahku yang masih muda. “Dia tidak layak tinggal di sini. Dia hanya pengacau saja.”
“Mengapa sih anak kecil ini mempermalukan kita? Hanya orang tua saja yang mau pergi ke mesjid.”
“Aku lebih suka jadi anjing daripada jadi orang seperti kamu,”
bentak salah satu dari mereka ke wajah ayah.

Ayahku diam saja menghadapi penindasan ini, dan tidak pernah balas membentak atau membela diri. Tapi rasa cinta dan kasihnya pada masyarakat ini tidak membuatnya putus asa. Dan dia terus saja melakukan pekerjaan yang diberikan kepadanya: memanggil umat Muslim untuk kembali pada Islam dan Allâh.

Dia membagi kekhawatirannya pada kakekku, yang dengan cepat menyadari bahwa ayahku memiliki ketangguhan dan potensi yang lebih besar daripadanya yang diperkirakannya. Kakek lalu mengirim ayah melanjutkan studi Islam ke Yordania. Nantinya kalian akan mengetahui bahwa orang² yang ditemui ayah di sana akhirnya akan mengubah sejarah keluargaku dan bahkan sejarah konflik Timur Tengah. Tapi sebelum aku melanjutkan, aku ingin berhenti sejenak untuk menjelaskan beberapa hal penting dalam sejarah Islam yang akan membantu kalian untuk mengerti mengapa berbagai solusi diplomatik yang tak terhingga jumlahnya kandas semua dan perdamaian tetap tak kunjung terjadi.

Diantara tahun 1517 sampai 1923, Islam – diwakili oleh kekalifahan Ottoman – menyebar dari pusatnya di Turki ke tiga benua. Tapi setelah beberapa ratus tahun penuh kejayaan dan kekuasaan, kekalifahan Ottoman jadi terpusat dan korup, sehingga mulai lemah.

Di bawah kekuasaan Turki, desa² Muslim di seluruh Timur Tengah jadi korban penindasan dan pemerasan pajak yang tinggi. Istanbul terletak terlalu jauh bagi sang Kalifah untuk melindungi umat Muslim yang setia dari penindasan para prajurit dan penguasa lokal.

Di abad ke 20, banyak Muslim yang kehilangan iman dan mulai mencari jalan keluar lain. Banyak dari mereka yang jadi atheis karena pengaruh komunisme. Umat Muslim yang lain mengubur masalah mereka dengan minuman keras, judi, dan pornografi, yang kebanyakan diperkenalkan oleh orang² Barat yang datang ke Timur Tengah karena perkembangan industri mineral.

Di Kairo, Mesir, seorang guru sekolah yang taat Islam bernama Hassan al-Banna menangisi keadaan masyarakatnya yang miskin, tak punya pekerjaan, dan tak bertuhan. Tapi dia menyalahkan pihak Barat, dan bukan pihak Turki, dan dia yakin bahwa satu²nya harapan bagi masyarakatnya, terutama generasi muda, adalah kembali pada Islam yang asli dan murni.

Dia lalu pergi ke kedai kopi, naik di atas meja, dan mulai berkhotbah tentang Allâh. Orang² mabuk menghinanya. Para pemimpin agama Islam menentangnya. Tapi kebanyakan orang mencintainya karena dia memberikan harapan bagi mereka.

Di bulan Maret 1928, Hassan al-Banna mendirikan Masyarakat Persaudaraan Muslim (Society of the Muslim Brothers). Tujuan organisasi baru ini adalah untuk membangun kembali umat Muslim sesuai dengan aturan Islam. Dalam waktu satu dasawarsa, setiap propinsi di Mesir telah memiliki cabang organisasi. Saudara laki al-Banna mendirikan cabang lain di daerah Palestina di tahun 1935. Dua puluh tahun kemudian, organisasi Persaudaraan Muslim ini memiliki anggota sebanyak setengah juta orang di Kairo saja.

Anggota² Persaudaraan Muslim kebanyakan berasal dari kalangan miskin dan kelas rendah – tapi mereka sangat setia pada tujuan perjuangan. Mereka menyumbang uang dari kantong mereka sendiri untuk menolong sesama Muslim, sama seperti yang diperintahkan Qur’an.

Banyak orang Barat yang menyamaratakan semua Muslim sebagai teroris, tidak mengerti akan sisi Islam yang menyiratkan kasih dan pengampunan. Sisi ini peduli akan kaum miskin, para janda, dan anak yatim, juga menyediakan pendidikan dan bantuan sosial. Hal ini menyatukan dan menguatkan umat Muslim. Sisi Islam inilah yang jadi motivasi utama para pemimpin Persaudaraan Muslim awal. Tentu saja ada sisi lain Islam yang mengajak semua Muslim melakukan Jihad melawan seluruh dunia sampai umat Muslim berhasil mendirikan kekalifahan Islam atas seluruh dunia, dipimpin oleh seorang manusia suci yang berkuasa dan berbicara bagi Allâh. Hal ini penting untuk dimengerti dan diingat sebelum maju ke kisah selanjutnya. Sekarang balik dulu lagi ke pelajaran sejarah …

Di tahun 1948, Persaudaraan Muslim berusaha melakukan kudeta terhadap Pemerintah Mesir, karena Persaudaraan Muslim menganggap Pemerintah Mesir bertanggung jawab atas keadaan Mesir yang semakin sekuler. Usaha penggulingan kekuasaan ini terhenti sebelum berakibat apapun, karena berhentinya Mandat Pemerintah Inggris dan Israel memproklamasikan diri sebagai negara Yahudi yang berdaulat.

Umat Muslim di seluruh Timur Tengah sangat marah. Berdasarkan Qur’an, jikalau musuh menyerang negara Muslim manapun, semua Muslim harus bersatu untuk berperang membela tanah Muslim. Menurut sudut pandang dunia Arab, orang asing telah menyerang dan menguasai Palestina, tempat Mesjid Al-Aqsa, yang merupakan tempat Islam paling suci ketiga setelah Mekah dan Medinah. Mesjid itu dibangun di tempat yang diyakini sebagai tempat di mana Muhammad dan Jibril pergi ke surga dan berbicara dengan Abraham, Musa, dan Yesus.

Mesir, Lebanon, Syria, Yordania, dan Iraq seketika menyerang negara baru Yahudi. Diantara 10.000 pasukan Mesir terdapat ribuan sukarelawan Persaudaraan Muslim. Akan tetapi persekutuan Arab ini kalah perang. Kurang dari setahun kemudian, tentara Arab telah diusir keluar Palestina.

Sebagai akibat perang, sekitar 3/4 juta masyarakat Arab Palestina lari atau keluar dari rumah² mereka di daerah yang sekarang menjadi milik Negara Israel.

Meskipun PBB mengeluarkan Resolusi 194, yang menetapkan bahwa “para pengungsi yang ingin kembali ke rumah mereka dan hidup dama dengan para tetangga lainnya diijinkan untuk melakukan itu” dan “ganti rugi dibayarkan atas barang milik orang² yang memilih untuk tidak kembali,” anjuran ini ternyata tidak pernah dilaksanakan. Puluhan ribu orang² Palestina yang meninggalkan Israel sewaktu Perang Arab-Israel tidak pernah mendapatkan kembali rumah² dan tanah mereka. Banyak para pengungsi dan keturunannya yang hidup di kamp² pengungsian yang diatur oleh PBB hingga saat ini.

Ketika para anggota Persaudaraan Muslim yang sekarang bersenjata kembali dari medan perang ke Mesir, usaha penggulingan kekuasaan atas Pemerintah Mesir dilakukan lagi. Namun rencana kudeta ini bocor, dan Pemerintah Mesir lalu melarang organisasi Persaudaraan Muslim, menyita semua asetnya, dan memenjarakan banyak anggotanya. Mereka yang berhasil melarikan diri lalu membunuh Perdana Menteri Mesir beberapa minggu kemudian.

Hassan al-Banna dibunuh pada tanggal 12 Februari, 1949, diperkirakan oleh pasukan keamanan rahasia Pemerintah. Tapi organisasi Persaudaraan Muslim tidak jadi hancur. Dalam waktu 20 tahun saja, hassan al-Banna telah membangkitkan Islam dari tidurnya dan menciptakan revolusi Islam dengan pasukan bersenjatanya. Dalam beberapa tahun berikutnya, organisasi ini terus berhasil menambah anggota dan pengaruh diantara umat Muslim, tidak hanya di Mesir saja, tapi juga di Syria dan Yordania.

Saat ayahku tiba di Yordania di pertengahan tahun 1970-an untuk belajar Islam, Persaudaraan Muslim telah berdiri dengan kuat dan dicintai masyarakat Muslim. Anggota² Persaudaraan Muslim melakukan segala hal yang disetujui ayahku – memperkuat iman Islam diantara umat Muslim, menyembuhkan mereka yang terluka, dan mencoba menyelamatkan masyarakat dari pengaruh korup lingkungannya. Ayah yakin bahwa orang² ini adalah pembaru relijius Islam, sama seperti Martin Luther dan William Tyndale bagi umat Kristen. Mereka hanya ingin menyelamatkan dan memperbaiki nasib rakyat, dan bukan untuk membunuh dan menghancurkan. Ketika ayah bertemu dengan sebagian pemimpin awal Persaudaraan Muslim, dia berkata, “Ya, inilah yang aku cari.”
Apa yang ayahku lihat di saat² awal jaman itu adalah Islam yang mencerminkan kasih dan pengampunan. Apa yang tak dilihatnya, yang mungkin dia sendiri tidak mau lihat, adalah sisi lain dari Islam.

Islam itu bagaikan sebuah tangga. Bagian tangga paling bawah adalah sholat dan pujian bagi Allâh. Tangga yang berikutnya adalah menolong Muslim mikin dan membutuhkan bantuan, mendirikan sekolah², dan mengadakan zakat. Tangga yang paling atas adalah Jihad.

Tangga ini tinggi. Hanya segelintir orang saja yang mau melihat apa yang ada di tangga paling atas. Dan kesadaran akan hal itu hanya perlahan saja berlangsung, dan bahkan hampir tidak mungkin terjadi. Hal ini bagaikan kucing mengincar burung. Si burung tidak pernah mengalihkan pandangan mata dari kucing, tapi dia diam saja sambil terus mengamati kucing maju mundur mengambil ancang² untuk menerkamnya. Burung itu tidak bisa menghitung jarak, dan tidak menyadari bahwa si kucing semakin datang mendekatinya sedikit demi sedikit, sampai, dalam waktu sekejap mata saja, cakar kucing telah basah oleh darah burung.

Muslim² tradisional berdiri di atas tangga paling bawah, hidup dalam rasa bersalah karena tidak melakukan ibadah Islam dengan taat. Di tangga paling atas terdapat Muslim fundamentalis, dan mereka inilah yang kalian lihat di berbagai berita membunuhi para wanita dan anak² demi kemuliaan tuhan Qur’an. Muslim moderat itu terletak di antara bagian bawah dan atas tangga.

Seorang Muslim moderat sebenarnya lebih berbahaya daripada Muslim fundamentalis. Akan tetapi, karena orang ini tampaknya tak berbahaya, kalian tidak akan tahu kapan orang ini akan naik memanjat tangga yang teratas. Kebanyakan para pembom bunuh diri awalnya adalah Muslim moderat.

Saat di mana ayahku menginjakkan kaki pertama kali di tangga paling bawah, dia tidak bisa membayangkan berapa jauh dia akan meninggalkan angan² Islam idealnya tatkala terus menaiki tangga. Setelah 35 tahun kemudian, aku ingin bertanya padanya:

Apakah kau ingat di mana kau memulai? Kau melihat semua Muslim tersesat, dan hatimu hancur akan mereka, dan kau ingin mereka kembali pada Allâh dan diselamatkan. Sekarang lihat para pembom bunuh diri yang membunuhi orang² yang tak bersalah. Apakah ini sesuai dengan niat awalmu?

Tapi bicara seperti itu pada ayah sendiri tidaklah lumrah dilakukan dalam masyarakat kami. Karenanya, dia terus saja menjalani jalan berbahaya tersebut.

Bab 3 – Persaudaraan Muslim (Muslim Brotherhood)
1977 – 1987

Ketika ayahku kembali ke daerah yang diduduki Israel setelah menyelesaikan studi di Yordania, dia sangat bersikap optimis dan penuh harapan bagi umat Muslim di mana pun. Dalam benaknya dia melihat masa depan cerah melalui organisasi Persaudaraan Muslim yang tampaknya moderat.

Ayah datang bersama Ibrahim Abu Salem, salah satu pendiri Persaudaraan Muslim di Yordania. Abu Salem datang untuk membawa nafas baru bagi organisasi Persaudaraan Muslim yang mandeg di Palestina. Dia dan ayah bekerja sama dengan baik, merekrut anggota pemuda² yang memiliki impian sama dan menyusun mereka dalam kelompok² aktivis kecil.
Di tahun 1977, dengan uang sebanyak 50 dinar di saku, Hassan menikahi saudara perempuan Ibrahim Abu Salem yakni Sabha Abu Salem. Aku lahir setahun kemudian.

Ketika aku berusia 7 tahun, keluarga kami pindah ke Al-Bireh, kota kembar dari Ramallah, dan ayahku menjadi imam di kamp pengungsian Al-Amari, yang  terletak di daerah perbatasan Al-Bireh. Sembilan belas kamp pengungsian terdapat di Tepi Barat, dan Al-Amari telah didirikan sejak tahun 1949 dan luasnya adalah 22 acre (8.9 hektar). Di tahun 1957, tenda² terpal diganti dengan perumahan bertembok yang saling berderet. Jalanan hanyalah selebar besar mobil, dan selokan padat dengan kotoran seperti sungai jamban. Kamp ini juga terlalu padat penduduk; airnya terlalu kotor untuk bisa diminum. Sebuah pohon berdiri sendirian di tengah² kamp. Para pengungsi bergantung sepenuhnya pada PBB untuk segala keperluan – perumahan, makanan, pakaian, obat²an, dan pendidikan.

Ketika ayahku mengunjungi mesjid untuk pertama kali, dia merasa kecewa karena hanya melihat dua baris orang bersholat, dengan jumlah 20 orang setiap baris. Beberapa bulan setelah dia berkhotbah di kamp, orang² mulai memenuhi mesjid dan lalu berlimpah ruah sampai ke jalanan. Selain sangat bertakwa pada Allâh, ayahku juga sangat mengasihi umat Muslim. Sebagai balasan, umat Muslim pun sangat mengasihinya.

Hassan Yousef sangat disukai masyarakat karena dia sama seperti mereka. Dia tidak pernah menganggap dirinya lebih tinggi daripada orang lain yang dilayaninya. Dia hidup sama seperti mereka hidup, makan makanan yang sama yang mereka makan, sholat sama seperti mereka sholat. Dia tidak mengenakan pakaian mewah. Dia dapat sedikit gaji dari Pemerintah Yordania – tak cukup untuk memenuhi kebutuhannya – yang adalah menyediakan fasilitas dan perawatan tempat² ibadah. Hari libur resminya adalah Senin, tapi dia tidak pernah memanfaatkannya. Dia tidak bekerja karena ingin dapat gaji; dia bekerja untuk menyenangkan Allâh. Baginya, ini merupakan tugas sucinya, tujuan hidupnya.

Di bulan September 1987, ayahku mengambil pekerjaan kedua sebagai guru Islam bagi murid² Muslim yang sekolah di sekolah Kristen di Tepi Barat. Karena ini kami sekeluarga makin jarang melihatnya – ini tidak dilakukannya karena dia tidak mencintai kami, tapi karena dia memang lebih mencintai Allâh daripada keluarganya. Yang tak kami sadari adalah semakin dekatnya saat di mana kami tidak lagi melihatnya sama sekali.

Sewaktu ayahku bekerja di luar, ibuku membesarkan anak² sendirian. Dia mengajarkan kami bagaimana menjadi Muslim yang baik, membangunkan kami untuk melakukansholat subuh ketika kami sudah cukup besar dan menganjurkan kami untuk puasa di bulan Ramadan. Kami enam bersaudara – saudara² lakiku Sohayb, Seif, dan Oways; saudara perempuanku Sabila dan Tasnim; dan aku sendiri. Bahkan dengan dua gaji dari dua pekerjaan ayah, kami pun masih kekurangan uang untuk bayar berbagai keperluan. Ibuku berusaha keras berhemat sekuat tenaga.

Sabila dan Tasnim mulai membantu ibu sejak usia yang sangat muda. Manis, murni dan cantik jelita, saudara² perempuanku ini tidak pernah mengeluh, meskipun mainan² mereka berdebu karena mereka tak punya kesempatan bermain. Mainan mereka malah berubah jadi peralatan rumah tangga di dapur.

“Kau bekerja terlalu keras, Sabila,” kata ibu pada saudara perempuaku yang tertua.
“Berhenti bekerja dan beristirahatlah.” Tapi Sabila hanya tersenyum dan terus bekerja.

Saudara lakiku Sohayb dan aku belajar dengan cepat bagaimana membuat api dan menggunakan oven. Kami membagi tugas memasak dan mencuci piring, dan kami semua mengurus Oways yang masih bayi.
Permainan kesenangan kami adalah Bintang². Ibuku menulis nama² kami di sebuah kertas, dan setiap malam sebelum tidur, kami berkumpul dalam sebuah lingkaran agar ibu bisa menghadiahi kami dengan “bintang²” tergantung dari apa yang telah kami lakukan hari itu. Di akhir bulan, anak yang dapat bintang terbanyak adalah pemenang; dan biasanya anak itu adalah Sabila. Tentu saja kami tak punya uang untuk membeli hadiah betulan, tapi tak jadi masalah. Bintang² itu lebih merupakan cara kami mendapatkan penghargaan dan penghormatan dari ibu, dan kami selalu menunggu dengan penuh semangat untuk melakukan permainan ini.

Mesjid Ali terletak setengah mil saja dari rumah kami, dan aku merasa bangga bisa berjalan sendiri ke sana. Aku sangat ingin jadi seperti ayahku, sama seperti dia dulu ingin jadi seperti ayahnya.

Di seberang jalan Mesjid Ali terdapat sebuah kuburan terbesar yang pernah aku lihat. Ini adalah kuburan bagi masyarakat Ramallah, Al-Bireh, dan kamp² pengungsian. Luas kuburan ini lima kali lebih besar dari seluruh kompleks perumahan kami, dan dikelilingi tembok setinggi 2 kaki (0,6 meter). Lima kali  sehari, ketika adhan berkumandang, aku berjalan ke mesjid dan nantinya pulang dari mesjid, dan selalu harus melalui ribuan kuburan ini. Bagi anak kecil seusiaku, tempat ini sangat seram, terutama di malam hari yang gelap pekat. Aku membayangkan akar² pohon besar memakan mayat² kubur.

Suatu kali seorang imam memanggil kami untuk sholat Zuhr (siang hari), aku membersihkan diri, memakai wewangian, berbaju rapih seperti ayahku, dan berjalan ke mesjid. Hari itu adalah hari yang cerah. Sewaktu aku sudah dekat mesjid, aku melihat lebih banyak mobil diparkir di luar Mesjid daripada hari biasa. Sekelompok orang tampak berdiri di pintu masuk. Aku melepaskan sepatu seperti biasa dan masuk mesjid. Dekat pintu bagian dalam tampak sebuah mayat yang ditutupi dengan kain katun putih dalam kotak terbuka. Aku belum pernah melihat mayat sebelumnya, dan meskipun aku seharusnya tidak terus memandangnya, tapi aku tetap tak bisa mengalihkan mata. Mayat itu dibungkus kain, dan hanya wajahnya saja yang tampak. Aku mengamati bagian dadanya dengan sedikit harapan dia akan mulai bernafas lagi.

Sang Imam memanggil kami untuk berbaris dan sholat. Aku berdiri di baris paling depan dengan orang² lain, dan mataku tetap terpaku pada mayat dalam kotak tersebut. Ketika kami selesai melafalkan ayat, sang Imam meminta mayat dibawa ke muka untuk didoakan. Delapan pria mengangkat kotak di atas bahu mereka dan seseorang berteriak, “La ilaha illallah! (Tiada ilah selain Allâh)” Bagaikan sudah diatur, orang² lain lalu menyahut, “La ilaha illallah! La ilaha illallah!”

Aku mengenakan sepatuku secepatnya dan mengikuti rombongan orang pergi ke kuburan. Karena aku pendek, aku harus berlari untuk bisa mengimbangi langkah kaki orang² dewasa agar tidak ketinggalan. Sebelumnya aku belum pernah masuk kuburan, tapi kali ini memberanikah diri karena masuk bersama banyak orang.
“Jangan injak kuburan orang,” seseorang berteriak. “Itu dilarang!”
Aku dengan hati² menyusup diantara orang² banyak sampai kami tiba di liang kuburan yang dalam dan terbuka. Aku melihat dasar lubang kubur selebar 8 kaki (2,4 meter), di mana seorang tua sedang berdiri. Aku mendengar anak² tetangga bicara tentang orang ini, namanya adalah Juma’a. Mereka bilang dia tidak pernah datang ke mesjid dan tidak percaya tuhan Qur’an, tapi dia menguburkan orang mati, kadangkala dua atau tiga mayat per hari.

Apakah dia tidak takut kematian sama sekali? Aku bertanya-tanya.
Orang² menurunkan mayat ke tangan² kokoh Juma’a. Mereka lalu memberinya botol cologne dan cairan hijau yang berbau segar dan enak. Juma’a membuka kain kafan dan menaburkan cairan² wewangian itu di atas tubuh mayat.
Juma’a lalu memiringkan mayat sehingga berbaring di sebelah kanan tubuh mayat, menghadap Mekah, dan memagari sekujur tubuh mayat dengan bongkahan semen. Empat orang lalu menutup kubur dengan sekop, dan imam lalu mulai berkhotbah. Dia memulainya seperti ayahku.
“Orang ini telah pergi,” dia berkata, pada saat yang sama tanah jatuh menutupi wajah, leher, dan tangan mayat. “Dia meninggalkan segalanya – uang, rumah, anak perempuan dan laki, dan istrinya. Begitulah nasib bagi kita semua.”

Dia mengajak kami untuk bertobat dan berhenti berbuat dosa. Lalu dia mengatakan hal yang belum pernah kudengar dari ayahku: “Jiwa orang ini akan segera kembali padanya dan dua malaikat maut Munkar dan Nakir akan datang dari langit untuk memeriksanya. Mereka akan mencekal tubuhnya dan mengguncangnya, sambil bertanya, ‘Siapakah Elohimmu?’ Jika dia menjawab dengan salah, maka para malaikat ini akan memukulinya dengan palu besar dan mengirim dia kembali masuk ke dalam tanah selama 70 tahun. “Allâh, kami minta kau memberi kami jawaban² yang benar jika saat kematian kami tiba!”

Aku melotot melihat kuburan dengan rasa takut. Tubuh itu hampir terkubur semuanya, dan aku bertanya-tanya berapa lama lagi sebelum pertanyaan² diajukan baginya.
“Dan jika jawaban²nya tidak memuaskan, berat tanah di atas tubuhnya akan menghancurkan tulang² rusuknya. Cacing² akan memakan tubuhnya secara perlahan. Dia akan disiksa ular berkepala 99 dan kalajengking berukuran sebesar leher unta sampai hari kiamat, tatkala penderitaannya mungkin mendapat pengampunan Allâh.”

Aku sungguh tak bisa percaya semua ini terjadi di dekat rumahku setiap kali mereka mengubur seseorang. Aku tidak pernah merasa nyaman dengan kuburan ini; tapi sekarang aku malah merasa lebih takut lagi. Aku merasa harus mengingat pertanyaan² itu, sehingga jika nanti aku mati dan ditanyai malaikat maut, aku bisa menjawab dengan benar.

Sang imam berkata bahwa pertanyaan akan langsung diajukan setelah orang terakhir meninggalkan kuburan. Aku pulang ke rumah, tapi tidak bisa melupakan apa yang dikatakannya. Aku lalu ingin kembali ke kuburan untuk mendengarkan siksa kubur. Aku ajak beberapa teman untuk menemaniku, tapi mereka semua menganggap aku gila. Karena itu aku harus datang sendirian saja. Dalam perjalanan kembali ke kuburan, tubuhku gemetar oleh rasa takut. Aku sungguh tak dapat menguasai rasa takut itu. Tak lama kemudian aku tiba di lautan kuburan. Aku ingin berlari, tapi rasa ingin tahuku lebih besar. Aku ingin mendengar pertanyaan² diucapkan, jeritan² – atau apa sajalah. Tapi aku ternyata tak mendengar apapun. Aku berjalan mendekat sampai bisa menyentuh batu nisan. Hanya sunyi senyap saja. Sejam berlalu, dan aku jadi bosan dan kembali pulang ke rumah.

Ibuku sedang sibuk di dapur. Aku katakan padanya bahwa aku pergi ke penguburan di mana imam mengatakan akan terjadi penyiksaan.
“Lalu bagaimana…?”
“Lalu aku kembali setelah orang² meninggalkan mayat itu, tapi aku tidak mendengar apapun tuh.”
“Penyiksaan hanya bisa didengar oleh binatang² saja,” jawab ibu, “orang sih tak bisa mendengarnya.”
Bagi anak usia 8 tahun, penjelasan ini masuk akal.

Setelah saat itu, aku memperhatikan penguburan yang dilakukan di tempat itu. Lama kelamaan aku jadi terbiasa dan hanya melihat untuk mengetahui siapakah yang mati. Kemaren, seorang wanita. Hari ini, seorang pria. Suatu hari, mereka menguburkan dua orang, dan lalu sejam kemudian, mereka membawa mayat baru. Ketika tiada mayat yang harus dikubur, aku berjalan-jalan di antara kuburan dan membaca keterangan orang² yang dikubur di situ. Seseorang telah mati sejak 100 tahun yang lalu. Yang lain sejak 25 tahun yang lalu. Siapa ya namanya? Asalnya dari mana? Kuburan itu jadi tempat bermainku.

Sama seperti aku, para temanku juga awalnya takut akan kuburan tersebut. Tapi kami saling menantang siapa yang berani memanjat tembok kuburan di malam hari. Karena tiada seorang pun yang mau disebut pengecut, maka kami semua akhirnya bisa menguasai rasa takut kami. Kami bahkan lalu bermain sepak bola di tanah lapang kuburan tersebut.

*****************

Sewaktu keluarga kami bertambah besar, begitu pula yang terjadi dengan organisasi Persaudaraan Muslim. Dalam waktu singkat, organisasi yang tadinya beranggotakan orang² miskin dan para pengungsi, mulai berubah dengan mengikutseratakan anggota² pria dan wanita muda yang berpendidikan, orang² bisnis dan profesional yang menyumbangkan uang mereka untuk mendirikan berbagai sekolah, badan sosial, dan klinik kesehatan.

Melihat perkembangan ini, banyak pemuda dalam gerakan Islam, terutama di Gaza, yang menganggap Persaudaraan Muslim perlu menempatkan diri dalam menghadapi pendudukan Israel. Kami telah mengurus masyarakat, kata mereka, dan kami akan terus melakukan hal itu. Tapi apakah kami akan terus menerima pendudukan wilayah untuk selamanya? Bukankah Qur’an telah memerintahkan kita untuk mengusir para penyerang Yahudi? Para pemuda ini tidak bersenjata, tapi mereka tangguh dan penuh tekad perang.

Ayahku dan para pemimpin Tepi Barat lainnya tidak setuju. Mereka tidak siap untuk mengulangi kesalahan Mesir dan Syria, di mana Persaudaraan Muslim berusaha melakukan kudeta dan gagal. Di Yordania, kata mereka, para saudara kami tidak berperang. Mereka berpartisipasi dalam Pemilu dan punya pengaruh kuat dalam masyarakat. Ayahku tidak menentang kekerasan, tapi dia berpendapat masyarakatnya cukup kuat untuk melawan militer Israel.

Selama beberapa tahun, perdebatan dalam Persaudaraan Muslim terus berlangsung dan tekanan untuk melakukan kekerasan bertambah besar. Karena frustasi melihat Persaudaraan Muslim tidak juga melakukan apapun, Fathi Shaqaqi mendirikan Palestina Islamic Jihad di akhir tahun 1970-an. Meskipun begitu, Persaudaraan Muslim tetap tidak melakukan kekerasan sampai 10 tahun kemudian.

Di tahun 1986, pertemuan rahasia dan bersejarah terjadi di Hebron, sebelah selatan Bethlehem. Ayahku juga hadir dalam pertemuan ini, meskipun dia tidak memberitahuku sampai bertahun-tahun kemudian. Tidak seperti penjelasan sejarah sebelumnya yang kurang tepat, tujuh orang berikut hadir dalam pertemuan tersebut:

○ Syeikh Ahmed Yassin yang memakai kursi roda, dan jadi pemimpin rohani organisasi baru
○ Muhammad Jamal al-Natsheh dari Hebron
○ Jamal Mansour dari Nablus
○ Syeikh Hassan Yousef (ayahku)
○ Mahmud Muslih dari Ramallah
○ Jamil Hamami dari Yerusalem
○ Ayman Abu Taha dari Gaza

Orang² yang menghadiri pertemuan ini akhirnya sudah siap untuk perang. Mereka sepakat untuk memulai pemberontakan sipil kecil²an – melempari batu dan membakar ban. Tujuan mereka adalah untuk membangkitkan, menyatukan, dan mengumpulkan masyarakat Palestina dan membuat mereka mengerti perlunya independen di bawah bendera Allâh dan Islam. [1]
Hamas lahir dari pertemuan itu. Dan ayahku memanjat beberapa tangga lagi untuk lebih dekat ke puncak tangga Islam.

[1] Tiada seorang pun yang tahu akan hal ini sebelumnya. Tiada penjelasan sejarah yang benar² tepat tentang terbentuknya Hamas. Contoh, Wikipedia mengatakan “Hamas didirikan di tahun 1987 oleh Syeikh Akhmed Yassin, Abdel Aziz al-Rantissi, dan Mohammad Taha oleh cabang Persaudaraan Muslim cabang Palestina di awal Intifada pertama…”
Penjelasan ini benar tentang dua orang dari tujuh tokoh pendiri Hamas, dan meleset satu tahun. Lihat Wiki: Hamas (diakses tanggal 20 November, 2009).
Website MidEastWeb mengatakan, “Hamas dibentuk sekitar bulan Februari 1988 untuk mengijinkan Persaudaraan Muslim ikut serta dalam Intifada pertama. Para pendiri Hamas adalah: Ahmad Yassin, ‘Abd al-Fattah Dukhan, Muhammed Shama’, Ibrahim al-Yazuri, Issa al-Najjar, Salah Shehadeh (dari Bayt Hanun) dan ‘Abd al-Aziz Rantisi. Dr. Mahmud Zahari biasanya juga tercantum sebagai pendiri asli Hamas. Para pemimpin lainnya adalah: Syeikh Khalil Qawqa, Isa al-Ashar, Musa Abu Marzuq, Ibrahim Ghusha, Khalid Mish’al.” Keterangan ini malah lebih tidak tepat dibandingkan Wikipedia. Lihat Hamas History (diakses pada tanggal 20 November, 2009).

Bab 4 – Melempar Batu
1987-1989

Hamas membutuhkan suatu peristiwa – peristiwa apapun – yang bisa membenarkan tindakan perlawanan. Peristiwa ini terjadi di bulan Desember 1987, meskipun semuanya berawal dari salah pengertian tragis semata.

Di Gaza, seorang penjual plastik Israel bernama Shlomo Sakal ditusuk sampai mati. Beberapa hari kemudian, empat orang dari kamp pengungsi Jabalia di Gaza terbunuh dalam kecelakaan lalu lintas biasa. Tapi lalu tersebar kabar bahwa mereka dibunuh orang² Israel yang membalas dendam atas kematian Sakal. Keributan massal lalu terjadi di Jabalia. Seorang pemuda berusia 17 tahun melempar bom molotov dan ditembak mati oleh prajurit Israel. Di Gaza dan Tepi Barat, semua orang turun ke jalanan. Hamas memimpin gerakan ini, membakar kemarahan massa yang kemudian jadi cara berperang baru melawan Israel. Anak² melemparkan batu² pada tank² Israel, dan foto² mereka bermunculan di berbagai sampul depan majalah² internasional di minggu yang sama.

Intifada pertama telah terjadi, dan perjuangan rakyat Palestina menjadi berita dunia. Ketika intifada dimulai, kuburan tempat bermain kami jadi berubah total. Setiap hari, mayat berdatangan lebih sering dari semula. Kemarahan dan dendam bergandengan tangan bercampur rasa sedih. Orang² Palestina mulai melemparkan batu pada orang² Yahudi yang berkendaraan melalui kuburan untuk mencapai perumahan Israel yang jauhnya satu mil dari tempat itu. Para penduduk Israel yang bersenjata dibunuhi. Ketika Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defence Force = IDF) datang di tempat itu, terjadi lebih banyak lagi baku tembak, luka², dan kematian.

Rumah kami terletak di tengah² segala kekacauan. Seringkali gentong² penampungan air di atas rumah kami bocor tertembak peluru² Israel. Tubuh² tak bernyawa para feda’iyin atau pejuang kemerdekaan yang dibawa ke kuburan kami tidak lagi hanya orang² lanjut usia saja. Kadangkala mayat masih berlumuran darah dan belum dimandikan, tidak dibungkus kain kafan. Setiap orang yang mati syahid dikubur secepatnya agar mayatnya tidak dicuri, diambil organ² tubuhnya, dijejali kain untuk kemudian dikembalikan ke keluarganya.

Terjadi begitu banyak kekerasan sehingga aku jadi bosan jika suasana kadangkala tenang. Teman² dan aku juga mulai melemparkan batu² – untuk membuat kekacauan dan juga agar dihormati orang lain karena mau berjuang bersama. Kami bisa melihat perumahan Israel dari kuburan, yang terletak di puncak gunung, dikelilingi pagar tinggi dan menara² penjaga. Aku terkadang berpikir tentang 500 penduduk yang hidup di sana dan mengendarai mobil baru – banyak dari mereka yang bersenjata. Mereka membawa senapan otomatis dan tampaknya bisa bebas menembaki siapapun yang mereka arah. Bagi anak usia 10 tahun, mereka tampak seperti makhluk asing dari planet lain.

Di suatu sore sebelum sholat maghrib, aku dan beberapa temanku bersembunyi di jalanan dan menunggu. Kami ingin melempari bus karena bus berukuran besar dan lebih mudah dilempar. Kami tahu bus datang setiap hari dengan jadwal yang sama. Selagi kami menunggu, terdengar suara imam dari pengeras suara, “Hayya ‘alas-salah” (Bergegaslah bersholat).

Ketika kami akhirnya mendengar derungan mesin disel, masing² lalu mengambil dua buah batu. Meskipun kami bersembunyi dan tidak dapat melihat jalanan, kami sangat mengenal suara bus tersebut. Di waktu yang tepat, kami loncat dan melemparkan batu² itu. Suara benturan batu dengan metal meyakinkan kami bahwa setidaknya beberapa batu tepat mengenai sasaran.

Tapi yang lewat ternyata bukan bus, melainkan sebuah mobil militer besar penuh dengan serdadu Israel yang jengkel dan marah. Kami cepat bersembunyi di dalam selokan karena mobil itu berhenti. Kami tak bisa melihat para prajurit dan mereka pun tidak bisa melihat kami. Maka mereka lalu mulai menembaki udara. Mereka terus menembak tanpa sasaran selama dua menit, dan dengan merunduk kami berhasil melarikan diri ke mesjid yang tak jauh dari situ.

Sholat sudah dimulai, tapi kupikir tak ada yang dapat berkonsentrasi akan apa yang mereka lafalkan. Setiap orang mendengarkan tembakan senjata otomatis di luar dan bertanya-tanya apakah yang telah terjadi. Aku dan temanku menyelip masuk di baris paling belakang, dengan harapan tak ada seorang pun yang tahu. Tapi setelah imam selesai mengucapkan doa, semua mata marah tertuju pada kami.

Dalam waktu beberapa detik saja, kendaraan IDF terdengar direm kuat² di bagian depan mesjid. Para prajurit lalu masuk memenuhi ruangan, memaksa kami semua keluar dan memerintahkan kami berbaring dengan muka menghadap tanah dan mereka lalu memeriksa KTP kami. Aku adalah orang terakhir yang keluar dan merasa takut jangan² para prajurit tahu bahwa akulah yang bertanggungjawab atas masalah yang terjadi. Kupikir tentunya mereka akan memukuliku sampai mati. Tapi ternyata tak ada yang menaruh perhatian padaku. Mungkin mereka pikir anak kecil seperti aku tidak akan berani melempar batu pada kendaraan IDF. Apapun alasannya, aku merasa lega karena mereka tidak mengarah padaku. Interogasi berlangsung berjam-jam, dan aku tahu banyak orang yang merasa marah padaku. Mereka mungkin tak tahu persis apa yang kulakukan, tapi mereka tampak yakin bahwa akulah yang melakukan penyerangan. Aku tak peduli. Sebenarnya aku merasa girang. Aku dan teman²ku telah berani menentang pasukan Israel yang kuat dan berhasil selamat tanpa segores luka pun. Rasa kemenangan ini membuat kami ketagihan dan bertindak semakin berani.

Aku dan seorang temanku bersembunyi lagi di lain hari, kali ini dekat dengan jalan raya. Sebuah mobil datang, dan aku berdiri lalu melempar batu sekeras mungkin. Batu itu mengenai jendela mobil dengan suara sangat keras, tapi tidak menghancurkan jendela. Aku bisa melihat wajah pengemudi, dan aku tahu dia ketakutan. Dia terus menyetir mobilnya sampai sejauh 40 yard, menginjak rem, dan lalu berbalik menuju ke arahku.

Aku lari menuju kuburan. Dia mengikutiku tapi berada di luar sambil memegang senjata M16 dekat tembok dan mengawasi kuburan untuk mencari diriku. Temanku lari ke arah yang berlawanan, membiarkan aku sendirian menghadapi seorang penduduk Israel yang marah dan bersenjata.

Aku tiarap di tanah diantara kuburan orang², karena mengetahui pengemudi mobil itu menunggu sampai aku mendongakkan kepala. Akhirnya aku tak tahan lagi mengekang rasa tegang, sehingga aku lalu loncat dan lari secepat mungkin. Untungnya saat itu hari sudah mulai gelap dan tampaknya orang itu takut masuk ke dalam daerah kuburan.

Aku belum berlari jauh tatkala kakiku menginjak lubang kuburan kosong. Aku jatuh ke dalam kubur ternganga yang dipersiapkan bagi mayat baru. Apa yang harus kulakukan, pikirku. Di atasku, orang Israel itu menembaki kuburan dengan pelurunya. Serpihan batu berjatuhan masuk ke dalam lubang kubur.

Aku meringkuk di sana tanpa bisa berkutik. Setelah sekitar setengah jam kemudian, aku mendengar orang bicara, jadi aku tahu orang itu sudah pergi dan aku bisa keluar kubur dengan aman.

Dua hari kemudian, aku sedang berjalan di jalanan, dan mobil yang sama lewat di depanku. Kali ini ada dua orang di dalam mobil, tapi pengemudinya adalah orang yang sama. Dia mengenalku dan dengan cepat meloncat keluar dari mobil. Aku berusaha melarikan diri, tapi kali ini aku kurang beruntung. Dia berhasil menangkapku, menampar mukaku dengan keras, dan menarikku masuk ke dalam mobil. Tiada yang berkata sepatah kata pun ketika kami melaju ke perumahan Israel. Kedua orang itu tampak gelisah dan memegang erat² senjata mereka, sambil kadang² melihat diriku yang duduk di bagian belakang. Aku bukanlah seorang teroris; aku hanyalah anak kecil yang ketakutan. Tapi mereka berlaku seperti pemburu ulung yang berhasil menangkap macan besar.

Di pintu gerbang, seorang prajurit memeriksa SIM pengemudi dan mempersilakan dia masuk. Apakah prajurit itu tidak merasa heran melihat kedua orang ini bersama seorang anak kecil Palestina bersama mereka? Aku tahu seharusnya aku merasa takut – dan memang aku takut – tapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat lingkungan sekitarku. Aku belum pernah masuk ke daerah perumahan Israel. Bagus sekali keadaannya. Jalanan bersih, kolam renang, pemandangan lembah yang indah dari puncak gunung.

Pengemudi membawaku ke pusat IDF di daerah itu, di mana prajurit merampas sepatuku dan menyuruhku duduk di lantai. Kukira mereka akan menembakku dan membiarkan tubuhku di jalanan. Tapi ketika hari mulai gelap, mereka menyuruhku pulang.
“Tapi aku tidak tahu jalan pulang,” protesku.
“Cepat mulai berjalan, atau kutembak kau,” kata salah satu dari antara mereka.
“Mohon kembalikan sepatuku.”
“Tidak. Cepat berjalan. Lain kali kalau kau melempar batu lagi, aku akan bunuh kamu.”

Rumahku terletak satu mil jauhnya dari tempat itu. Aku berjalan kaki hanya dengan kaos kaki, sambil mengertakkan gigi saat batu tajam menusuk tapak kakiku. Ketika ibuku melihat aku datang, dia berlari di tepi jalan dan memelukku erat² sampai aku sesak nafas. Dia diberitahu bahwa aku diculik penduduk Israel, dan dia sangat khawatir mereka akan membunuhku. Dia berkali-kali menegurku karena bertindak bodoh, sambil menghujani ciuman pada kepalaku dan memelukku erat² dalam dadanya.

Orang mungkin mengira aku tentunya sudah jera, tapi aku adalah anak kecil yang bodoh. Aku tidak sabar menunggu memberitahu teman²ku yang pengecut tentang pengalaman kepahlawananku. Di tahun 1989, sudah sering terjadi pasukan Israel mengetuk pintu rumah² kami dan masuk ke dalam rumah. Mereka selalu mencari orang² yang melempar batu yang melarikan diri lewat halaman belakang. Para prajurit ini bersenjata lengkap, dan aku tidak mengerti mereka begitu terganggu hanya karena beberapa batu saja.

Karena Israel mengontrol daerah² perbatasan, sangat sukar bagi orang² Palestina untuk mendapatkan senjata di Intifada Pertama. Aku tidak ingin seorang Palestina pun yang memiliki senjata di saat itu – mereka hanya punya batu dan bom molotov. Meskipun begitu kami mendengar berbagai kisah bahwa IDF menembaki orang² tak bersenjata dan memukuli orang dengan pentungan. Laporan lain mengatakan sebanyak 30.000 anak² Palestina terluka parah sehingga memerlukan perawatan medis. Semua itu sungguh tak masuk akal bagiku.

Di suatu malam, ayahku pulang ke rumah sangat larut. Aku duduk di jendela, mengamati mobil kecilnya yang berbelok ke sudut jalan, perutku mengeluarkan suara karena rasa lapar. Meskipun ibu menyuruhku untuk makan dengan anak² yang lebih kecil, aku menolak, karena ingin menunggu sampai ayah pulang. Akhirnya aku mendengar suara mesin mobil tuanya dan berteriak bahwa ayah sudah pulang. Ibuku seketika menyajikan makanan² hangat dan mangkok² di meja makan.

“Maaf aku datang sangat lambat,” kata ayah. “Aku harus pergi ke luar kota untuk menyelesaikan pertikaian antara dua keluarga. Mengapa kau tidak makan?”
Dia lalu berganti baju dengan cepat, mencuci tangannya, dan duduk di ruang makan.
“Aku sangat lapar,” katanya sambil tersenyum. “Aku belum makan apapun sepanjang hari.” Hal ini memang sudah biasa karena dia tidak punya cukup uang untuk makan di luar. Aroma sedap masakan ibu zukini yang dipenuhi bumbu merebak ke seluruh ruangan.

Sewaktu kami duduk dan mulai makan, aku merasakan rasa bangga yang meluap atas ayahku. Aku bisa melihat kelelahan di wajahnya, tapi aku tahu dia sangat senang melakukan tugasnya. Rasa sayangnya terhadap masyarakatnya hanya bisa tersaingi oleh pelayanannya pada Allâh. Sewaktu aku melihat dia berbicara pada ibu dan saudara²ku, aku berpikir bahwa dia sangat berbeda dari kebanyakan pria Muslim. Dia tidak pernah berpikir dua kali untuk membantu ibuku di rumah atau mengurus kami anak²nya. Dia mencuci kaos kakinya sendiri setiap malam, agar ibuku tidak usah melakukannya. Hal ini tidak lumrah dalam masyarakat yang menganggap sudah jadi penghargaan bagi wanita untuk bisa membersihkan kaki lelaki setelah keluar sepanjang hari.

Saat kami bersama di meja makan, masing² anak bergilir menceritakan pada ayahku apa yang mereka pelajari di sekolah dan apa yang mereka lakukan. Karena aku adalah anak tertua, aku membiarkan adik²ku bicara terlebih dahulu. Tapi ketika giliranku tiba untuk bicara, terdengar suara ketukan di pintu belakang. Siapakah yang bertamu di malam selarut ini? Mungkin ada yang butuh pertolongan.

Aku lari ke pintu dan membuka jendela kecil di pintu untuk mengintip. Aku tidak mengenal orang itu.

“Abuk mawjud?” dia bertanya dalam bahasa Arab yang lancar, yang berarti, “Apakah ayahmu ada di rumah?” Dia berpakaian seperti orang Arab, tapi aku bisa merasakan ada yang janggal dari orang ini.
“Ya, dia ada di rumah,” kataku. “Biar kupanggil dia.” Aku tidak membuka pintu rumah.
Ayahku ternyata telah berdiri di belakangku. Dia membuka pintu dan beberapa prajurit Israel masuk ke dalam rumah kami. Ibuku cepat² mengenakan jilbabnya. Tak mengenakan penutup kepala di depan keluarga sendiri tidak jadi masalah, tapi tidak jika di hadapan orang² asing.

“Apakah kau Syeikh Hassan?” tanya orang asing itu.
“Ya,” jawab ayahku, “Akulah Syeikh Hassan.”
Orang itu memperkenalkan diri sebagai Kapten Shai dan menjabat tangan ayahku.
“Bagaimana kabarnya?” tanya prajurit itu dengan sopan. “Bagaimana keadaan sekitar? Kami dari IDF, dan kami ingin kau ikut dengan kami untuk lima menit saja.”

Apakah yang mereka inginkan dari ayahku? Aku memandang wajahnya untuk membaca ekspresinya. Dia tersenyum ramah pada orang itu, tanpa sedikit pun rasa curiga atau marah di matanya.
“Baiklah, aku akan pergi denganmu,” katanya sambil mengangguk pada ibuku dan berjalan menuju pintu.
“Tunggu di dalam rumah dan ayahmu akan segera kembali,” kata prajurit itu padaku. Aku mengikuti mereka keluar, memandangi sekitar untuk mencari apakah ada prajurit yang lain. Ternyata tidak ada. Aku duduk di tangga depan untuk menunggu ayahku kembali. Sepuluh menit berlalu. Satu jam. Dua jam. Ayah tetap tak kunjung datang.

Kami tak pernah melewatkan malam hari tanpa ayah sebelumnya. Meskipun dia sibuk terus-menerus, dia selalu pulang ke rumah di malam hari. Dia membangunkan kami di saat subuh untuk melakukan sholat setiap pagi, dan dia juga yang mengantar kami ke sekolah setiap hari. Apa yang kami lakukan jika dia tidak pulang malam hari itu?

Ketika aku kembali masuk, saudara perempuanku Tasnim sudah tertidur di sofa. Airmata masih nampak basah di pipinya. Ibuku mencoba menyibukkan diri di dapur, tapi setelah jam² berlalu, dia tampak semakin gelisah dan marah.

Keesokan harinya, kami pergi ke Palang Merah untuk mencari tahu ke mana ayah dibawa. Orang yang bertugas di sana mengatakan bahwa ayah sudah jelas ditangkap IDF tapi IDF tidak mau memberi keterangan apapun pada Palang Merah selama sedikitnya 18 hari.

Kami kembali pulang ke rumah sambil terus menghitung hari selama dua setengah minggu. Selama waktu menunggu, kami tidak mendengar apapun. Ketika 18 hari telah berlalu, aku mengunjungi Palang Merah lagi untuk mencari keterangan. Mereka mengatakan belum mendapat keterangan baru.

“Tapi kau mengatakan 18 hari!” kataku, sambil berusaha keras menahan airmata. “Katakan saja di mana ayahku berada.”
“Nak, pulanglah,” kata orang itu. “Kau bisa kembali minggu depan.”

Aku kembali lagi dan lagi selama 40 hari, dan aku mendapatkan jawaban yang selalu sama: “Tiada keterangan baru. Kembali minggu depan.” Ini sangat aneh. Biasanya keluarga² para tahanan Palestina tahu di mana anggota keluarga mereka ditahan dalam waktu dua minggu penahanan.

Ketika seorang tahanan dibebaskan, kami bertanya padanya apakah dia melihat ayahku. Mereka semua tahu dia telah ditahan, tapi mereka tak tahu keterangan lain apapun. Bahkan pengacaranya juga tidak tahu apapun karena dia dilarang menemuinya.

Kami kemudian mengetahui bahwa dia dibawa ke Maskobiyeh, pusat interogasi Israel, di mana dia disiksa dan ditanyai. Shin Bet, badan rahasia keamanan Israel, tahu bahwa ayah adalah tokoh utama Hamas dan mengira dia mengetahui semua yang terjadi dan sedang direncanakan. Mereka bertekad mencari tahu akan hal itu dari dirinya.

Bertahun-tahun kemudian ayah akhirnya memberitahu aku apa yang terjadi dengannya. Selama berhari-hari dia diborgol dan digantung di langit². Mereka menyetrumnya sampai dia pingsan. Mereka menempatkan dia dengan orang² yang bekerja bagi IDF, dengan harapan ayah akan bicara dengan mereka. Tapi setelah ini gagal, mereka lalu memukulinya lagi. Tapi ayah tetap kuat. Dia tetap diam saja, tidak menyerahkan informasi apapun pada Israel yang bisa mencelakakan Hamas atau masyarakat Palestina.

Bersambung ke Bab 5-8
Bab 1-4 Bab 9-12 ; Bab 13-16 ; Bab 17-20 ; Bab 21-24 ; Bab 25-Tamat

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Buku SON OF HAMAS (PUTRA HAMAS). Pendahuluan

Son of Hamas (Putra Hamas) adalah sebuah buku otobiografi seorang pemuda Palestina, Mosab Hassan Yousef, anak dari seorang pemimpin Organisasi Islam Hamas. Sebuah buku yang penuh dengan masalah politik, konflik antara bangsa Israel dan Arab-Palestina yang berakar pada agama, dan setelah ”putra Hamas” melewati jalan-jalan kehidupan yang keras dan menyakitkan, akhirnya ia menemukan kedamaian yang teguh dalam jiwanya, segera setelah ia keluar dari penjara, yang ia yakin bahwa apa yang ia telah temukan ini adalah juga jawaban bagi bangsanya – Arab Palestina yang selalu jauh dari ketenangan dan kedamaian lebih dari setengah abad lamanya.

Edisi Indonesianya ini adalah hasil kerja keras Saudara Adadeh. Naskah asli diambil dari Indonesia.FaithFreedom.org pada “Buku-buku Inggris yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.”

Wawancara video:  Mosab “Son Of Hamas – Now A Christian” by Risen Magazine

Di bawah ini terjemahan buku Son of Hamas. Selamat membaca,
Salam sejahtera, Penjala Baja.

———————

SON OF HAMAS (PUTRA HAMAS)

Oleh Mosab Hassan Yousef, dibantu oleh Ron Brackin

Kisah mencekam penuh teror, pengkhianatan, intrik politik, dan pilihan² yang tak terbayangkan.

Bagi yang tercinta ayahku dan keluargaku yang terluka
Bagi korban² perseteruan Palestina – Israel
Bagi setiap umat manusia yang telah diselamatkan oleh Elohimku

Wahai keluargaku, aku sangat bangga dengan kalian; hanya Elohimku saja yang mengetahui segala hal yang telah kalian alami. Aku menyadari bahwa apa yang telah kulakukan menyebabkan luka yang dalam yang mungkin tak akan bisa sembuh di masa hidup ini dan mungkin kalian harus hidup dengan rasa malu untuk selamanya.

Aku bisa saja jadi seorang pahlawan dan membuat masyarakatku bangga akan diriku. Aku tahu jenis pahlawan apa yang mereka inginkan: seorang pejuang yang membaktikan dirinya dan keluarganya bagi kepentingan negara. Jikalau aku terbunuh, maka mereka akan menyampaikan kisah diriku pada generasi mendatang dan mereka akan merasa bangga terhadap diriku untuk selamanya, tapi pada kenyataannya aku bukanlah pahlawan yang mereka harapkan.

Sebaliknya, aku telah jadi pengkhianat di mata bangsaku. Meskipun dulu aku pernah membuat kalian bangga akan diriku, sekarang aku hanya membawa malu saja. Meskipun dulu aku adalah seorang pangeran bagimu, sekarang aku adalah orang asing di negeri orang yang melawan kesepian dan kegelapan.

Aku tahu kalian memandang aku sebagai seorang pengkhianat; tapi mohon untuk mengerti bahwa aku tidak bermaksud berkhianat pada kalian, tapi aku berkhianat pada angan² kalian akan sosok seorang pahlawan. Ketika negara² Timur Tengah – Yahudi dan Arab – mulai mengerti apa yang kumengerti, maka akan timbul perdamaian. Dan jika Elohimku telah ditolak karena menyelamatkan seluruh dunia dari hukuman neraka, maka aku tidak keberatan ditolak!

Aku tak tahu apa yang akan terjadi di masa datang, tapi aku tahu aku tidak merasa takut. Sekarang aku berikan apa yang menolong diriku untuk bisa selamat sampai sekarang: semua rasa bersalah dan rasa malu yang kutanggung selama bertahun-tahun hanyalah bayaran yang kecil saja jika semua ini bisa menyelamatkan bahkan satu nyawa seorang manusia saja.

Berapa banyak orang yang bisa menghargai apa yang telah kulakukan? Tidak banyak. Tapi itu tak jadi masalah. Aku percaya apa yang kulakukan dan aku tetap yakin sampai sekarang, dan keyakinan ini menjadi bahan bakar satu²nya bagiku dalam perjalanan panjang ini. Setiap tetesan darah orang tak berdosa yang berhasil diselamatkan dari kematian memberi harapan bagiku untuk terus berjuang sampai hari akhir.

Aku telah bayar, kau pun telah bayar, tapi tagihan perang dan damai terus berdatangan. Elohim menyertai kita semua dan memberi apa yang kita butuhkan untuk menanggung beban berat ini.

Daftar Isi
Peta Israel dan Daerah yang Diduduki
Sepatah Kata dari Pengarang
Kata Pengantar
Bab 1 – Tertangkap
Bab 2 – Tangga Iman
Bab 3 – Muslim Brotherhood (Persaudaraan Muslim)
Bab 4 – Melempar Batu
Bab 5 – Menyelamatkan Diri
Bab 6 – Kembalinya Seorang Pahlawan
Bab 7 – Radikal
Bab 8 – Mengipas Api
Bab 9 – Senjata²
Bab 10 – Rumah Jagal
Bab 11 – Penawaran
Bab 12 – Nomer 823
Bab 13 – Jangan Percaya Siapapun
Bab 14 – Kekacauan di Penjara
Bab 15 – Jalan ke Damaskus
Bab 16 – Intifada Kedua
Bab 17 – Tugas Rahasia
Bab 18 – Orang yang Paling Dicari
Bab 19 – Sepatu²
Bab 20 – Duri
Bab 21 – Permainan
Bab 22 – Perisai Pertahanan
Bab 23 – Perlindungan Illahi
Bab 24 – Tahanan yang Dilindungi
Bab 25 – Saleh
Bab 26 – Pandangan (Sebuah Visi) bagi Hamas
Bab 27 – Selamat Tinggal
Bagian Akhir
Catatan Tambahan
Waktu Kejadian

———————

Sepatah Kata dari Penulis
Waktu adalah tahapan – bagaikan sebuah benang yang merentang diantara jarak kelahiran dan kematian.
Akan tetapi, kejadian² adalah bagaikan sebuah permadani Persia – ribuan benang kaya warna tersulam membentuk pola dan gambar. Usaha apapun yang mencoba menyusun kejadian² dalam sekedar urutan kronologi belaka adalah bagaikan menguraikan benang² permadani dan merentangkannya jadi satu baris. Benang itu jadi tampak sederhana, tapi hilang sudah semua desain permadani yang utuh.

Kejadian² dalam buku ini adalah hasil terbaik usahaku mengingat ulang, dimulai dari pengalamanku saat ditawan di daerah yang dikuasai Israel. Peristiwa² yang terjadi kemudian terjalin bersama secara berurutan dan berhubungan satu sama lain.

Untuk memberikan referensi dan penjelasan nama² dan istilah² Arab, aku mencantumkan urutan waktu singkat di bagian Apendix, juga kamus, dan daftar para tokoh pelaku.

Karena alasan keamanan, aku sengaja tidak mencantumkan keterangan terinci tentang berbagai operasi rahasia yang dilakukan oleh Badan Keamanan Israel, yakni Shin Bet. Keterangan di buku ini tidak akan membahayakan perang global yang tengah berlangsung melawan terorisme, di mana Israel memerankan peranan utama.

Akhirnya, buku Son of Hamas, sama seperti Timur Tengah, adalah kisah yang terus berlanjut. Aku undang kalian untuk berhubungan denganku di blog-ku yakni http://www.sonofhamas.com, di mana aku akan membagi pandangan²ku tentang perkembangan berbagai daerah. Aku juga akan mencantumkan apa yang Elohim lakukan dengan bukuku, keluargaku, dan bagaimana Dia membimbingku saat ini.
MHY.

Kata Pengantar
Perdamaian di Timur Tengah telah jadi tujuan suci bagi para diplomat, perdana menteri, dan presiden selama lebih dari lima dasawarsa. Setiap wajah baru di panggung dunia mengira dia akan jadi orang yang berhasil memecahkan konflik Arab-Israel. Dan satu per satu gagal total sama seperti orang² yang dahulu telah mencoba.

Faktanya adalah, hanya segelintir orang² Barat yang bisa mengerti kepelikan Timur Tengah dan masyarakatnya. Tapi aku mengenal mereka – melalui latar belakangku yang unik. Aku adalah putra daerah di mana konflik itu terjadi. Aku adalah putra Islam, dan anak dari seseorang yang dituduh sebagai seorang teroris. Aku juga pengikut Yeshua.

Sebelum usia 21 tahun, aku sudah melihat hal² yang seharusnya tidak dilihat seorang pun: kemiskinan terparah, penyalahgunaan kekuasaan, penyiksaan, dan kematian. Aku menyaksikan perjanjian² di belakang layar antara para pemimpin utama Timur Tengah yang menjadi berita utama di seluruh dunia. Aku dipercaya dalam kalangan atas Hamas, dan aku juga berpartisipasi melakukan Intifada. Aku ditahan di penjara Israel yang paling ditakuti. Dan nantinya kalian akan lihat, aku menentukan pilihan² yang membuatku tampak sebagai pengkhianat di mata masyarakat yang kucintai.

Perjalanan hidupku yang tak lumrah telah membawaku ke tempat² gelap dan memberiku jalan masuk untuk mengetahui rahasia² besar. Dalam halaman² buku ini, aku akhirnya mengemukakan rahasia² yang lama tersembunyi, mengutarakan kejadian² dan proses² yang dulunya hanya diketahui oleh segelintir orang saja.

Mengungkapkan fakta seperti ini tampaknya akan membangkitkan gelombang kejut di sebagian Timur Tengah, tapi aku berharap hal ini akan mendatangkan ketenteraman bagi para keluarga koraban konflik yang tak berkesudahan ini.

Setelah pindah dan hidup bersama masyarakat Amerika sekarang, aku mengetahui banyak dari mereka yang bertanya-tanya tentang konflik Arab-Israel, tapi hanya sedikit jawaban² dan informasi yang tersedia.

Ini contoh beberapa pertanyaan yang kudengar:
○ Kenapa sih mereka itu tidak bisa hidup rukun di Timur Tengah?
○ Siapa sih yang benar? Orang Israel atau orang Arab?
○ Yang punya tanah itu siapa sih sebenarnya? Mengapa orang² Palestina tidak pindah saja ke negara² Arab?
○ Mengapa Israel tidak menyerahkan kembali saja tanah dan harta milik yang mereka kuasai setelah menang di Perang Enam Hari di tahun 1967?
○ Mengapa masih banyak orang² Palestina yang hidup di kamp pengungsian? Kenapa mereka tidak bikin negara sendiri saja?
○ Mengapa sih orang² Palestina sangat membenci orang² Israel?
○ Bagaimana Israel melindungi diri mereka dari para pembom bunuh diri dan serangan roket yang terus-menerus?

Semua ini adalah pertanyaan² yang baik. Tapi tak ada satu pun yang menyentuh akar permasalahan. Konflik masa kini sebenarnya berkaitan dengan permusuhan antara Sarah dan Hagar yang dijabarkan di Kitab Kejadian di Alkitab. Akan tetapi, untuk mengetahui realita politik dan budaya Timur Tengah, kita hanya perlu melihat apa yang terjadi setelah Perang Dunia I.

Ketika PD I berakhir, daerah Palestina, yang merupakan tempat tinggal bangsa Palestina selama beratus-ratus tahun, jatuh ke tangan kekuasaan Inggris. Pemerintah Inggris menentukan ketetapan aneh bagi daerah itu, yang tercantum dalam Deklarasi Balfour di tahun 1917: “Pemerintah sang Paduka menetapkan Palestina sebagai negara tempat tiinggal masyarakat Yahudi.”

Karena terdorong keputusan Pemerintah Inggris tersebut, maka ratusan ribu imigran Yahudi, terutama dari Eropa Timur, datang membanjiri daerah² Palestina. Setelah itu, pertikaian antara orang² Arab dan Yahudi tidak terhindari lagi.

Israel menjadi negara berdaulat di tahun 1948. Akan tetapi, daerah Palestina tetap tak punya kedaulatan. Tanpa adanya hukum negara yang berkuasa mengatur, maka yang jadi hukum tertinggi adalah hukum agama. Dan jika setiap orang bebas mengartikan dan memaksakan hukum seenaknya, maka terjadilah kekacauan. Bagi dunia luar, konflik Timur Tengah tak lain adalah adu tarik tambang memperebutkan tanah sejengkal saja. Tapi masalah sebenarnya adalah tiada seorang pun yang mengetahui akar permasalahan. Karena itulah, para negosiator dari Camp David sampai Oslo dengan penuh percaya diri terus memlintir kaki dan tangan pasien yang menderita sakit jantung.

Harap mengerti bahwa aku tidak lebih cerdas daripada para pemikir besar dunia. Aku sama sekali tidak. Tapi aku percaya bahwa Elohim telah memberiku sudut pandang yang unik dengan cara meletakkan diriku di berbagai pihak yang tengah menghadapi konflik yang seakan tak terpecahkan. Hidupku terpecah-belah bagaikan tanah kecil di Timur Tengah yang dikenal dengan nama Israel bagi sebagian orang, atau dengan nama Palestina bagi orang lain, atau tanah terjajah bagi pihak lain lagi.

Tujuanku adalah untuk menjelaskan dengan benar kejadian² penting, mengungkapkan rahasia², dan jika semua berlangsung dengan baik, maka kau akan mempunyai harapan bahwa hal yang mustahil akan bisa terjadi.

Bersambung ke Bab 1-4

Bab 5-8 Bab 9-12 ; Bab 13-16 ; Bab 17-20 ; Bab 21-24

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

R.R.Cina: Lilis Among Thorns

Bunga-bunga Bakung diantara Duri-duri ialah kisah keindahan iman dan kasih sebuah keluarga Kristen di Henan, Cina yang teraniaya oleh pemerintah komunis. Dalam perlakuan yang sangat sadis yang mereka dapat, hanya oleh sebab mereka orang Kristen, mereka tetap memancarkan keindahan dan  keharuman iman mereka bukan hanya kepada sesama saudara seiman mereka, tapi juga kepada para penganiaya mereka dan negara mereka, RRC.

Sumber: China’s Christian Martyrs by Paul Hattaway.

Suatu tindakan belas kasihan berakhir dengan korban sebuah keluarga Kristen yang terkasih selama penghancuran melawan kejahatan dan agama secara nasional di tahun 1983, demikian cerita ini berawal.

Untuk mempermudah para pembaca mengerti isi cerita ini, ada baiknya nama para pribadi yang terlibat dipaparkan terlebih dahulu, Keluarga Shi tinggal di desa Zunzhuang, propinsi Henan. Shi Gushen (ayah) dan Shi Lishi (ibu) memiliki 3 putra; Wuting, Wuming, Wuhao) dan 2 putri (Xiaoxiu dan adiknya). Di rumah ini juga tinggal Meiying (istri dari putra pertama keluarga Shi, bernama Wuting) dan beberapa family lagi. Total ada sebelas orang hidup dalam rumah tersebut.

Ibu Lishi menderita sakit yang berat pada tahun 1976. Para dokter telah menyerah. Nenek dari ibu Lishi, yang telah percaya Yahweh bertahun-tahun, bercerita kepada keluarga Shi bahwa mereka seharusnya percaya kepada Yahweh Yeshua. Mereka melakukannya, segera setelah mereka menjadi orang percaya ibu ini disembuhkan dari penyakitnya. Lalu mereka memulai mendirikan gereja-rumah di desa mereka.

Pada musim panas 1983, Meichun (kakak wanita dari Meiying), menjadi sangat sakit. Para dokter mendiagnosa penyakit wanita ini dan berkata tidak satupun yang para dokter bisa lakukan. Pihak Rumah Sakit  menasehatkan Meichun pulang dan bersiap untuk meninggal. Ia tidak pulang kerumahnya, tetapi berkunjung kerumah adiknya Meiying (keluarga Shi) dan meminta keluarga ini berdoa untuknya. Beberapa hari kemudian kondisinya antara memuaskan dan buruk – tidak banyak perubahan. Tepat ketika ia bersiap-siap pulang kerumahnya, tiba-tiba ia meninggal dunia. Di Cina, ketika seorang meninggal dunia sementara bertamu, maka tuan rumah itu bertanggung jawab.

Karena keluarga Shi telah dikenal secara umum mengoperasikan gereja-rumah, – yang adalah ilegal dalam negara Komunis RRC, hanya gereja yang ’terdaftar’ saja (dikontrol oleh Negara) yang dianggap legal di RRC – keluarga Shi menjadi kuatir bahwa pemerintah akan memakai kematian ini untuk menjadi alasan menganiaya mereka. Wuming, putra tertua, pergi melapor kematian ini ke kantor polisi. Keluarga lainnya tinggal di rumah  dan mengepak tas-tas mereka untuk persiapan jika ditahan. [Sejak Mao menguasai RRC, penangkapan kepada orang Kristen bisa kapan saja dan dengan alasan apapun, hampir sama dengan nasip orang Kristen di negara Islam Pakistan]. Mereka berdoa dengan serius, menyerahkan semua kehidupan mereka kedalam tangan Elohim. Beberapa petugas keamanan negara datang dan menangkap semua keluarga Shi kecuali anak yang terkecil.

Keluarga dari wanita yang mati membawa masalah ini kepengadilan, mendaftarkan Lishi dan Wuting sebagai pembunuh. Sidang dibuka besok harinya. Lishi adalah yang pertama di adili. Ia bercerita apa adanya tentang penyakit anak mantunya (para dokter telah menyerah) dan hanya mencoba berdoa untuk Meichun. Hakim yang marah ini memerintahkan para penjaga untuk menendang Lishi ke lantai. Kemudian mereka memukuli ibu malang ini dengan tongkot sampai pingsan. Seember air dingin ditumpahkan kepada ibu ini untuk menyadarkannya, tetapi dia tetap menolak mengakui kejahatan yang memang ia tidak lakukan – tuduhan membunuh. Hakim yang marah ini memerintah dia untuk dikirim balik ke selnya. Menuju sel, ibu ini melewati anak-anaknya yang sedang menangis. Ia berbisik kepada mereka, ”Anak-anak, tetaplah kuat. Kita terhitung layak untuk menderita hinaan bagi Yahweh.”

Kemudian gilirang Shi Wuting untuk diintrogasi, diikuiti oleh Wuming. Dua kakak-beradik ini dipukuli dengan keras oleh para keamanan sehingga ketika mereka kembali ke sel, mereka sukar mengenali luka-luka mereka yang banyak dan berdarah tersebut; kondisi setengah sadar.

Kemudian dihadirkan tiga tertuduh lainnya dari keluarga Shi, kembali hakim ini terkecut dan kagum kepada keluarga Shi ini, mereka mengakui bertanggung jawab atas kematian famili mereka. Hakim ini tidak pernah milihat sesuatu seperti ini di dalam persidangan selama bertahun-tahun. Pada semua masalah para pembunuh yang tertuduh umumnya akan mencoba apapun untuk menolak bersalah, tetapi di sini setiap saksi telah mengakui bertanggung jawab. Sedimikianlah kasih keluarga ini ada kepada Elohim dan kepada sesamanya! Mereka telah memilih untuk mengambil penghukuman ke atas mereka sendiri daripada melihat saudara lainnya menderita untuk sebuah kesalahan yang mereka tidak lakukan.

Akhirnya Shi Xiaoxiu umur 16 tahun dibawa ke ruang sidang. Hakim ini yakin bahwa ia akan berhasil membuat gadis kurus ini menyatakan ”sipembunuh” yang sesungguhnya, jadi hakim ini berbicara kepadanya dengan cara yang manis. Xiaoxiu dengan tenang menolak bila ada hukum-hukum telah dilanggar, dan bercerita kepada hakim ini bahwa jika ada seorang yang telah bertanggung jawab [atas kematian kakak ipar mereka, Meichun], itu pastilah dirinya sendiri dan adik perempuannya, sebab mereka telah berdoa untuk Meichun lebih dari orang-orang lainnya! Hakim dengan marah memukul kursi hakimnya dan berteriak, ”Kamu memiliki keberanian! Kamu masih terlalu kecil dan namun kamu berani membohongi orang-orang pemerintah. Anak kecil, saya janjikan kepadamu, tidak ada sorga di sini untuk kamu. Jika kamu terus keras kepala dan menolak saya akan putuskan kamu untuk dipenjara. Masa depanmu akan tamat! Jangan berpikir bahwa ini sebuah permainan.”

Menjaga ketenangannya, Xiaoxiu menjawab, ”Masa depanku tidak ditentukan oleh dunia ini tetapi oleh Sorga. Sejak saya jatuh ketangan Anda, saya tidak punya rencana untuk kembali ke rumah. Keluargaku telah memutuskan untuk menyelesaikan kursus yang Yahweh Yeshua kami telah putuskan untuk kami.”

Sementara keluarga Shi ditahan di penjara hakim memikirkan keputusan hukuman.
Keputusan hukuman atas keluarga Shi jatuh pada pagi hari tanggal 30 Agustus 1983. Sebuah theatre dipakai untuk itu dan semua masyarakat hadir, tidak satu kursipun ada yang kosong.

Para hadirin tergagap dan berteriak marah ketika Shi Lishi (ibu) dan Shi Wuting (pria tertua) dipidani hukuman mati. Meiying (isteri Wuting), adik perempuan dari yang meninggal dijatuhi hukuman seumur hidup untuk keterlibatannya di dalam ’pembunuhan’, sementara  Meizhen dihukum 15 tahun penjara. Anak laki termuda, Shi Wuhao, 10 tahun penjara, Shi Wuming (pria kedua tertua) 4 tahun penjara, sementara Xiaoxiu umur 16 tahun dihukum 2 tahun penjara, ’kesalahnya’ ialah berani berbicara benar di pengadilan. Bapa dari keluarga, Shi Gushen, dan saudara kandungnya masing-masing dihukum penjara 2 bulan.

Tiba-tiba sebuah suara keras seperti seseorang jatuh ke lantai ruang pengadilan, diikuti rintihan yang keras. ”Anak-anak perempuan, saya telah mencelakakan kalian!” jeritan duka ibu Meiying. Ia tidak menyangka bahwa perbuatannya itu bukan saja merusak keluarga Shi, tapi puterinya sendiri – yang dihukum seumur hidup. Dia sadar sekarang bahwa ia tidak akan pernah lagi melihat putrinya.

Ketika Shi Wuting melewati isterinya di gang pengadilan menuju penjara, pria 35 tahun yang terborgol dan luka-luka ini berkata kepada isterinya, ”Meiying, isteri ku tersayang, mengapa kamu menangis? Bagaimana dapat saya tidak meminum cawan yang Yahweh telah berikan kepada saya? Tidakkah kamu sadar bahwa kita hidup untuk Yahweh, dan jika kita mati, kita mati untuk Yahweh? Jadi, entah kita hidup atau mati kita adalah milik Yahweh! Meiying tersayang, itu adalah hanya bahwa saya akan ada satu langkah di depan kamu. Sebelum terlalu lama, kita akan ada bersama lagi, tidak akan terpisah lagi. Jangan sedih. Beranilah dan jadilah kuat. Apapun yang terjadi kamu harus hidup secara penuh untuk Yahweh. Jangan buang waktu.”

Untuk dua minggu terakhir kehidupannya, Meiying ada dalam satu sel dengan ibu mertuanya. Pada suatu malam mereka melihat diri mereka sendiri berpakaian jubah putih dan terbang menembus langit-langit pergi ke Sorga! Kemudian mereka melihat Yahweh Yeshua.  Tangan-Nya terentang menyembut mereka. Dengan perasaan yang besar mereka pergi menuju kepada Yeshua, dan dengan tangan-Nya yang berbekas luka Dia menyeka air mata dari mata mereka berdua.

Pada tanggal 14 September 1983 Shi Lishi dan Shi Wuting diambil untuk dibawa ketempat eksekusi tempat ini dikenal sebagai Gunung Kodok. Wuting sekilas melihat isterinya, dan berkata, ”Meiying, saya akan pergi duluan. Saya akan menunggu kamu di rumah Bapa. Selamat tinggal!” Kedua dari orang Kristen tertuduh ini benar-benar tenang dan tersenyum kepada teman-teman dan sanak famili. Tidak ada ketakutan.

Danyun, sejarahwan Gereja-Rumah, mengingat saat itu ketika ibu dan anaknya meninggalkan dunia ini untuk upah surgawi mereka:

Ibu Shi berpaling kepada tentara yang berada disampingnya dan dengan tersenyum bertanya padanya, ”Dapatkah saya diijinkan berdoa?” Tentara mengangungkan kepala tanda setuju tanpa suara. Ibu dan anak berlutut, mengangkat tangan-tangan mereka ke langit dan berdoa kepada Juruselamat yang telah menciptakan langit dan bumi: ”Kami meminta Engkau untuk mengampuni negeri kami dan bangsa kami atas dosa-dosa  menganiaya kami. Selamatkan negeri dan bangsa kami. Yahweh, kami memohon Engkau untuk menerima roh-roh kami.”

Bang!
Bang!

Darah muncrat dari kepala ibu ini dan jiwanya masuk ke Sorga.  Wuting, bagaimanapun, belum mati. Dia berpaling melihat kepada tentara-tentara di kebelakang dirinya dan melihat mereka sungguh kaku dengan ketakutan  mereka tidak dapat menembak untuk kedua kalinya. Tetapi dua tentara lainnya mengangkat pistol-pistol mereka dan menembakannya kepada Wuting. Dia tergeletak, otaknya dan darahnya tersebar disemua lantai. Tiba-tiba turun hujan deras yang sangat besar, disertai cahaya halilintar dan geledek. Tetapi semua hujan tidak dapat menghapus darah orang tidak berdosa yang telah tercurah di sana pada lantai eksekusi.

Ketika anggota-anggota keluarga yang masih hidup mengumpulkan tubuh dua martir untuk penguburan mereka menemukan sebuah catatan di kantong jaket Wuting. Itu tertulis: “Itu sekarang selesai. Jangan bersedih atas saya. Saya hanya pergi ke tempat tersebut sebelum kamu. Kasihilah Yahweh dengan sungguh dan peganglah kuat-kuat Firman-Nya. Dikemudian waktu , kalian akan juga pergi ke Bapa Sorgawi dan bertemu saya. Ia yang bertahan sampai akhir akan diselamatkan. Untuk penguburanku, buat itu dengan sangat sederhana. Peliharalah dua anak saya dan buatlah mereka tahu bahwa saya telah mati untuk Yahweh.” Tamat.

Pembaca yang terkasih, mereka belum 7 tahun menjadi pengikut Yeshua (1976 ke pertengahan 1983), iman, kesetian serta kasih keluarga Shi terhadap Yeshua, Yahweh mereka, telah mengalami ujian yang berat. Mereka tentunya dapat dibenarkan jika mereka marah dan kecewa kepada para penuduh dan penganiaya mereka, dan mungkin kepada  Elohim mereka. Tetapi sebaliknya, mereka mengampuni bahkan berdua untuk keselamat negara dan bangsa mereka. Dapatkah kita juga melakukan itu untuk Indonesia? Roh Kudus akan memampukan kita sebagaiman Ia telah memampukan keluarga Shi.

Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.
Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. (1 Korintus 13:12-13)

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Begitulah Saya Mengenal Elohim; Ex-Jihadist. Pt.2

Sambungan dari Bab 8  Ex-Jihadist Pt.1

[Pergumulan batin ajaran jihad vs kasih, dibawa kepengadilan, Yeshua datang ke kamarnya, dianggap gila, menuai ‘buah kehidupan lama’, penampakan Yeshua yang kedua, berdamai dengan semua ‘musuh’-nya, semuanya indah, mengajari para Muslim teladan Ha Mashiah]

Saya merasa Elohim mengililingi saya dengan bukti-bukti dan saya tidak punya cara untuk menolak panggilan Ha Mashiah atas diriku untuk mengikuti Dia. Saya bahkan menemukan banyak referensi kematian Ha Mashiah. Saya membaca tafsir Ibnu Kathir tentang Surah 4:157 dan ayat-ayat lainnya dari Surah 3 yang berbicara tentang kematian Ha Mashiah. Sebenarnya, orang-orang yang berbeda pendapat, bukan pada kematian Ha Mashiah, tetapi pada berapa lama Ia mati. Interpretasi bervariasi antara 3 jam, satu hari dan dua hari. Ini membuktikan kematian Ha Mashiah.

Saya semakin marah dan frustasi karena saya ingin menemukan apa pun untuk menolak keyakinan Kristen. Saya telah bangga pada agamaku dan saya sendiri, dan saya benci orang Kristen. Sementara itu, saya tidak punya pilihan selain menyesuaikan diri dengan situasi baru, tapi bagaimana?

Saya tidak pernah berhenti membaca Alkitab. Ini menjadi teman saya. Semakin saya membaca, semakin saya mencicipi manisnya. Suatu kali saat membaca, saya tertegun oleh ayat-ayat berikut, “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. (Mat. 6:5-6)
Saya kagum bagaimana Alkitab mencatat, dua ribu tahun yang lalu, hal-hal yang terjadi di saat ini. Saya ingat saat saat saya biasa menempatkan sesuatu yang keras di bawah dahi saya ketika saya berlutut dalam berdoa untuk membual ’tanda doa’-ku. Saya biasa membual tentang puasa saya dan ibadah. Saya bahkan mengenakan pakaian tertentu untuk menunjukkan bahwa saya adalah orang beragama.

Saya mencari masalah kematian dan penyaliban Ha Mashiah, dan apakah Ha Mashiah benar-benar mati. Saya mengamati semua buku-buku Kristen dan referensi yang berurusan dengan ‘Kurban Kematian Ha Mashiah’. Akhirnya, pikiran saya hampir yakin akan keilahian dan penyaliban Ha Mashiah. Beberapa orang mungkin berpikir bahwa saya senang dengan temuan saya. Sebaliknya, saya begitu marah, frustrasi dan tegang. Saya berharap Elohim membunuh saya sebelum saya menemukan bahwa saya telah hidup sepanjang hidupku dengan keyakinan palsu. Sangat sulit bagiku untuk mengetahui bahwa orang-orang menjijikkan, kotor Kristen benar dan saya yang salah.

Saya tak bisa tidur sekejap pun. Saya menjelajahi jalan-jalan berbicara sendiri. Pikiran merobek-robek; keraguan menguncang saya setiap kali saya mulai berdoa. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya meminta teman-temanku untuk mengurangi kunjungan mereka kepadaku. Saya menciptakan alasan bahwa saya berada di bawah pengawasan polisi. Secara bertahap, saya semakin jauh dari seluruh kelompok. Saya akan merasa mengantuk setiap kali saya mengafal Kuran sehari-hari seperti biasa. Di sisi lain, saya tidak bisa membaca Alkitab dengan cukup. Saya sangat dekat dengan Kitab itu. Suatu hari, Emir mengunjungi saya dan menemukan bahwa saya belum membuat kemajuan memadai dalam penelitian saya. Dia berkata padaku, “Ini kehendak Allah! Berikan Alkitab itu kepada kami dan kami akan menemukan orang lain untuk melakukan pekerjaan itu ganti kamu. Tampaknya kamu tidak cocok untuk tugas seperti itu.”

Saya seharusnya bahagia karena itulah yang saya inginkan pada awalnya, tetapi hal-hal telah berbeda. Saya meminta kepadanya untuk memberikan saya satu bulan lagi karena saya telah berhasil menemukan beberapa petunjuk penting. Sebenarnya saya tidak ingin kehilangan izin untuk membaca Alkitab, dan memiliki Kitab itu sendiri. Emir setuju. Saya tidak tahu mengapa saya melakukannya. Saya bisa saja setuju untuk memberikan Alkitab kembali dan menyelamatkan diri dari semua tekanan dan masa depan yang belum diketahui sedang menuju kemana. Setiap kali saya bersiap-siap untuk berdoa, saya mendengar suara batin saya bertanya, “Bagaimana kamu dapat berdoa kepada sebuah ilah yang kamu tidak yakin ada?” Itu membuat saya menangis.

Suatu waktu, saya menolak suara batin itu dan mulai membaca Kuran. Saya tiba di sebuah ayat yang menarik perhatian saya: Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang lalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri”. (S. 29:46)

Saya ingin belajar ayat ini lebih mendalam, jadi saya merefer ke komentar-komentar yang ditulis oleh Ibnu Kathir, Kortobi dan Zamakhshary. Hal pertama yang saya temukan adalah bahwa mereka semua sepakat bahwa ayat ini telah dihapus oleh ayat terkenal, ayat ‘Pedang’ pada Surah 9. Pembatalan hanyalah sebagian dari masalah. Saya menyadari bahwa ayat ini menyatakan bahwa Elohim kita dan Elohim Ahli Kitab itu adalah satu dan sama. Saya tak bisa melanjutkan; pikiran saya berhenti! Elohim Muslim, Allah,  telah mencabut semua kebaikan sebelumnya terhadap non-Muslim dan menggantinya dengan pembunuhan, penyiksaan dan Pelukaan. Dia bahkan membuat kita, para Muslim, instrumen penyiksaan-Nya: Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka (S. 9:14)

Di dalam Kuran, ada lebih dari 27 ayat berbicara tentang fakta bahwa muslim diwajibkan untuk memerangi non-Muslim. Sementara itu, Elohim orang Kristen mengatakan,
“Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. (Luk 6:27-28)
Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. (Mat 5:39-41)

Saya mulai membandingkan ayat-ayat ini untuk apa Kuran mengatakan:
Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. (S. 2:194)
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu (S. 8:60)
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, (S. 48:29)

Mustahil Putih dan Hitam akan menjadi salah, atau baik dan jahat akan menjadi salah satu, atau Siang dan Malam akan menjadi satu! Salah satu harus jelas unik. Jadi, harus ada hanya satu Elohim. Saya yakin menemukan Elohim tersebut, karena saya mencintai-Nya. Tidak ada orang yang akan mencegah saya dari percaya kepada Satu Elohim Yang Benar, bahkan jika Dia adalah elohim orang-orang Yahudi!

Dalam pikiran saya, saya berbicara kepada Elohim, “Oh, Elohim, saya membutuhkan bantuan Engkau. Janganlah tinggalkan saya karena saya sekarang bingung. Saya tidak tahu di mana Engkau berada. Jika saya telah tersesat, itu bukanlah dengan sengaja. Engkau tahu betapa saya mengasihi Engkau, dan betapa saya telah menderita demi Engkau. Oh, Elohim, jika Engkau menghukum saya untuk dosa-dosa yang telah saya lakukan, saya minta maaf. Engkau adalah satu-satunya Elohim dan saya ini hamba-Mu, yang menaati perintah-perintah-Mu. Saya mengaku dosa-dosaku dan bertobat. Harap jangan terlalu keras pada hukuman-Mu.”

Pikiran-pikiran tertentu membuat saya merinding dari kekaguman dan ketakutan. Saya berpikir bahwa Kuran dan Alkitab tidak bisa keduanya ialah Firman Elohim. Salah satu harus membatalkan yang lain. Saya jadi panik ketika pikiran ini terlintas di benakku. Setiap kali saya mendengar suara aneh, saya berpikir bahwa Allah akan menghancurkan rumahku dan membuatnya jatuh di atas kepalaku karena sikap saya terhadap Kuran. Hidupku menjadi tak tertahankan! Itu bahkan lebih berat daripada saat saya terpenjara dan disiksa.

Segera, perasaan ini reda dan saya memutuskan untuk mempelajari lagi Kuran untuk meninjau setiap aspek yang mungkin dan untuk mengevaluasi ayat secara objektif: Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (S. 4:82)

Sebagai sebuah fakta, saya telah tidak objektif. Saya ingin menemukan sesuatu dalam Kuran untuk memimpin saya untuk percaya bahwa itu bukan dari Allah. Saya telah kepahitan yang mendalam terhadap orang-orang Kristen. Saya akan menerima apa pun kecuali untuk menjadi seorang Kristen. Kata ‘Kristen’ memprovokasi saya, dan membangkitkan dalam diriku keinginan yang kuat dari agresi dan balas dendam terhadap apapun yang berhubungan dengan orang Kristen. Saya tidak tahu mengapa saya merasa seperti ini, mungkin, itu adalah karena saya dibesarkan dalam keluarga yang ketat yang mengasihi Islam dan membenci Kristen, dengan asumsi yang kedua [, Kristen,] adalah kafir. Orangtua kami biasa memperingatkan kami untuk tidak bermain dengan anak-anak Kristen karena mereka pengkhianat, dan tidak memakan makanan mereka karena mereka dapat meracuni kita. Kami dibesarkan untuk berpikir bahwa orang Kristen tidak mimiliki Elohim, tidak memiliki iman  dan tidak dapat dipercaya.

Saya mulai mempelajari Kuran secara mendalam dan saya menemukan hal-hal menakjubkan yang belum pernah saya perhatikan sebelumnya. Saya akhirnya menyelesaikan penelitian saya dan menberikan judul padanya, “Apakah Kuran Firman Elohim?” Itu butuh waktu sekitar enam bulan untuk menyelesaikannya.

Suatu hari, Emir mengunjungi saya dengan sebuah kunjungan tak terduga. Saya berada di kamar kecil ketika ia datang. Ibuku membiarkan dia masuk ke kamar saya karena dia telah dikenal oleh keluargaku, karena kami telah ada di penjara bersama-sama. Emir melihat kertas-kertas yang tersebar di seluruh ruangan dan berpikir bahwa saya telah menyelesaikan sebagian besar tugas saya. Saya mendengar dia berkata, “Allah memberkati kamu! Kamulah orangnya! Saya telah benar; kamu satu-satunya yang bisa melakukannya!” Saya berpikir dalam hatiku, “Kamu tidak tahu apa yang ada di kertas-kertas ini!”

Beberapa saat kemudian, saya datang untuk menemuinya. Wajahnya merah dan ia tampak terperangah. Dia meraih kerah bajuku dengan kedua tanganya dan mengangkatku dan berteriak di wajahku, “Apa ini? Apakah kamu yang menulis itu? Itu pastilah bukan kamu? Siapa yang telah menyesatkan kamu? Siapa yang telah menipumu? Siapa yang telah menggoda kamu untuk menjual agama kamu?”

Saya berkata kepadanya, “Jika ada kecurangan, itu tentunya milikmu, jika ada godaan, itu tentunya dari kamu, apabila saya telah melakukan dosa, itu tentunya akan ada di kepala kamu! Kaulah yang telah mendorong saya untuk semua ini. Saya telah ingin dibebaskan dari penelitian ini dan kamu menolaknya. Kamu tahu betapa saya telah membenci Kristianiti dan orang Kristen, tetapi kamu bersikeras untuk saya membaca buku-buku mereka. Saya bersumpah kepada kamu, saya telah berkehendak bahwa semua yang saya tahu itu tidak benar. Kamu dan saya telah berbagi masa paling sulit dalam hidup kita, bukankah begitu?” Dia berkata, “Ya.” Saya berkata, “Apakah kamu melihat sesuatu yang tidak biasa?” Dia berkata, “Tidak.” Kataku, “Maaf, itu diluar jangkauan tanganku. Ini bukan hanya soal informasi; itu hatiku, dimana saya tidak punya kuasa. Saya berharap kamu telah membaca apa yang saya telah baca dan telah mempelajari apa yang saya telah pelajari!”

Dia ngamuk dan ingin merobek semua kertas saya (Keilahian Ha Mashiah, Kuran bukan Firman Elohim, dan lain-lain). Kami memiliki sebuah argumen yang besar yang membuat ibuku datang ke kamar. Sebelum meninggalkan rumahku, Emir mengatakan kepada saya, “Sekarang kami tahu apa yang salah dengan kamu, tapi saya punya permintaan jika kamu ingin tetap hidup.” Kataku, “Apa itu?” Dia berkata, “Jangan pernah kamu cerita kepada kelompokmu tentang racun ini yang kamu sedang tulis. Saya akan memberitahu mereka bahwa kamu telah murtad, tapi saya tidak akan memberi mereka alasan apapun. Jika kamu mengatakan kepada mereka hal lain, kamu tahu yang terbaik apa yang akan terjadi pada dirimu.”

Saya berkata kepadanya, “Apa yang kamu tidak tahu adalah bahwa hal-hal telah berubah, waktu telah berubah. Kamu tahu yang terbaik bahwa saya tidak dapat diancam karena kamu tidak dapat melaksanakan apapun ancaman-ancamanmu. Untuk informasi kamu, saya setia kepada saudara-saudara saya ketika saya meminta mereka untuk tidak mengunjungi saya. Saya tidak bisa terus mengajar mereka sesuatu saya tidak yakin benar. Saya mendorong mereka pergi karena saya perduli kepada mereka. Saya yakinkan kamu, Saya mengasihi Allah, dan saya berdoa agar Dia akan membawa saya kembali jika saya sesat.”

Saya menangis dengan bercucuran air mata saat saya teringat kenangan indah kami, kehidupan kami bersama-sama di penjara dan bagaimana kami menghadapi kesulitan bersama-sama. Sejujurnya, terlalu banyak bagi saya untuk menghadapi ini. Tapi jika ini adalah kehendak Elohim, selamat tinggal untuk semua kenangan manis, terpisah dari Dia dan selamat datang untuk semua duri pada sisi-Nya.

Kelompok saya mulai memutuskan semua hubungan dengan saya. Anggota-anggotanya menghindari saya, dan bahkan tidak menyapa saya di jalan. Saya langsung tahu bahwa saya telah dicap kafir. Mereka mengambil kembali uang yang biasa diberikan kepada saya dari kelompok ‘Rumah Perbendaharaan’ untuk biaya pribadi saya. Mereka berpikir bahwa itu akan menghentikan saya dan memaksa saya kembali ke kelompok. Mereka tidak pernah mengerti saya.

Emir dan saya, bersama-sama dengan beberapa orang lain, memiliki sebuah perusahaan investasi. Kami menggunakan sejumlah besar uang yang kita bawa dari luar negeri untuk membeli dan menjual pakaian. Saya adalah manajer resmi yang menandatangani cek. Saya secara hukum bertanggung jawab untuk bisnis itu. Ketika saya menolak untuk bertobat, mereka tidak membayar bagian saya dan membawa saya ke pengadilan. Mereka mengharapkan saya untuk meminta maaf dan bertobat untuk ketidaksetiaan saya. Di gedung pengadilan, Emir datang padaku dan berbisik, “Kita bisa membatalkan tuntutan jika kamu menyesal dan bertobat kepada Allah, dan bercerita kepada kami siapa yang telah menyesatkan kamu.” Saya tidak menjawab.

Pengadilan menghukum saya untuk membayar uang itu kembali dalam bentuk angsuran bulanan sebesar 160 Pounds Mesir. Ini merupakan pukulan bagi mereka karena [sesungguhnya] mereka ingin melihat saya masuk penjara. Saya bersyukur kepada Elohim bahwa persidangan tersebut berjalan lancar, tapi saya berbicara kepada Elohim dengan kepahitan, dengan cara yang marah: “Oh, Elohim, mengapa Engkau melakukan ini padaku? Mengapa saya harus menderita? Sejak saya kecil, saya telah menderita dan bergumul. Saya tidak memiliki banyak teman karena mereka tidak percaya pada Engkau. Saya kehilangan kasih keluargaku karena mereka tidak menerima Engkau. Saya kehilangan studi-studiku karena mereka berdiri di antara Engkau dan saya. Sekarang, saya tidak tahu penderitaan apa yang ada tersedia untuk saya. Harap kasihanilah saya. Saya lemah dan tak berdaya. Janganalah tinggalkan saya pada gelombang-gelombang yang melemparkan saya pada laut yang kasar ini. Saya tidak tahu ke mana harus pergi. Katakan padaku di mana Engkau berada. Apakah Anda Elohim orang Kristen? Elohimnya Musa? Elohimnya Muhammad? Jika Engkau adalah Elohimnya Muhammad, mengapa Engkau meninggalkan saya untuk menderita dan meragukan Engkau? Saya memohon, Elohim, janganlah tinggalkan saya sendirian. Saya berjanji akan mengikuti Engkau dimanapun Engkau berada. Saya tidak takut kepada siapapun, tetapi kepada Engkau, dan Engkau tahu itu dengan baik sekali.”

Tiba-tiba, kereta pikiranku terganggu oleh suara ibuku meminta saya untuk memakan makananku. Saya tidak makan dengan ibuku karena saya percaya seorang muslim tidak boleh makan dengan orang kafir – dan menurut kelompokku, ibuku adalah salah satunya.

Saya kemudian datang ke sebuah hal yang sangat penting: Jika Kuran itu bukan dari Elohim, maka siapakah Muhammad boleh jadi? Dia tentunya ada sebagai nabi palsu. Tapi bagaimana saya membuktikannya? Saya tiba-tiba panik dan berpikir, “Itu tentulah tidak mungkin! Muhammad adalah nabi palsu? Bagaimana dengan mujizat-mujizatnya dan kerajaannya, dan semua orang banyak yang mengikutinya?”

Saya merasa seperti saya akan menghadapi murka dan penyiksaan Elohim. Ketika saya menjadi tenang, saya merasa sebuah keberanian yang ajaib dan sebuah kehendak yang kuat untuk memfokuskan penelitian saya tentang siapa Muhammad itu, dan apakah dia seorang nabi atau tidak. Saya menemukan bahwa klaim kenabian Mohammed didasarkan pada dua aspek: dia buta huruf tapi dia menerima Kuran, dan ia sempurna – sebelum dia menjadi seorang nabi, ia tidak pernah melakukan dosa.

Buta Aksara:
Ini benar-benar diluar dari pikiranku untuk menemukan sebuah bukti bahwa Muhammad bisa membaca dan menulis. Semua yang saya telah tahu adalah bahwa tidak mungkin bahwa Muhammad bisa membaca dan menulis. Masalah ini memotivasi saya untuk membaca sekali lagi biografi-biografi Nabi. Kenyataanya, saya telah menemukan banyak hal yang saya tidak perhatikan sebelumnya, kepada keheranan saya yang besar. Saya menemukan bahwa Muhammad biasa pergi ke tempat yang sama di mana Al-Nadr Ibn Al-Hareth, Waraka Ibn Nofal dan Ibn Sa’eda, imam terkenal. Saya juga menemukan bahwa Mohammad biasa melakukan bisnis untuk Khadijah, wanita kaya raya, bahwa ia membuat banyak kontrak dan perjanjian dengan para pedagang dari Yaman dan Suriah Raya.

Dikatakan bahwa Muhammad membawa bersamanya sebuah cap yang ia biasa pakai sebagai pengganti tanda tangan, yang berarti bahwa ia buta huruf. Tapi membawa cap itu tidak berarti bahwa ia buta huruf, sebab itu adalah hal yang umum di kalangan pedagang waktu itu untuk menulis kontrak antara pedagang dan pelanggan, dan kemudian menstempelnya untuk otorisasi, sama seperti stempel kenegaraan saat ini.

Saya menemukan bahwa, setelah perjanjian damai Al-Hudaibiya, Muhammad menulis perjanjian rekonsiliasi dengan tangannya sendiri, bahwa ia berada di bawah pengawasan pamannya Abu Taleb, dan bahwa ia lebih tua dari Ali. Ali bisa membaca dan menulis, dan itu tak terbayangkan bahwa Muhammad tidaklah belajar sedikitnya tingkat dasar membaca dan menulis.

Saya menemukan bahwa Mohammad biasa duduk dengan Yassar Al-Nusrani (orang Kristen) dan untuk mengambil darinya teks-teks Alkitab dan membacanya. Saya sadar ketika malaikat Jibril datang kepada Muhammad dan memintanya untuk membaca, itu tidaklah logis pada sisi Jibril meminta Muhammad membaca, mengetahui bahwa dia adalah buta huruf!

Jika Anda menambahkan semua hal yang disebutkan di atas apa yang saya temukan tentang keaslian kenabian Mohammad, kamu akan datang kepada kenyataan bahwa Muhammad bukanlah seorang nabi atau seorang yang benar. Kamu dapat menemukan semua rincian masalah ini dalam sebuah buku yang saya juduli Mohammad di dalam Taurat dan Alkitab.

Ketidak-mungkinan-bersalah (bebas dosa):
Ketidak-mungkinan-bersalah Muhammad, ada banyak ditulis seperti “Al-Seera Al-Halabiya,” “Al-Tabakaat Al-Kubra” dan “Seerat Ibnu Hisyam” bahkan komentar-komentar yang berhubungan dengan Surah 16: Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan (S. 16:67)

Ada banyak Hadis otentik yang menyatakan dengan jelas bahwa Muhammad biasa minum anggur / wine dan merekomendasikan teman-temannya untuk menambahi air kedalamnya jika wine itu sangat tinggi (kadar alkoholnya). Dia biasa makan dari hewan kurban yang telah dipersembahkan kepada berhala di Kabah yang ditawarkan oleh orangKuraish. Dia mengijinkan apa yang dilarang dan melarang apa yang diizinkan oleh Allah. Dia memandangi pada wanita teman-temannya, dan ia tidak pernah ragu-ragu untuk mengambil salah satu dari mereka jika ia senang pada wanita tersebut. Pada hari Kheibar, safiyya, putri Yehiah Ibn Akhtab, melalui lotre jatuh kepada Abdullah bin Umar. Tapi Muhammad mengambil wanita ini dari Abdullah dan menikahinya. Dia juga mengambil Zainab, putri Gahsh, istri Zaid (anak angkatnya), menjadikan bagian dari  salah satu para istrinya.

Semua peristiwa itu meruntuhkan setiap gambar kesucian Mohammad dan memporak-porandakan status suci yang saya biasa gambarkan ke nabi Muhammad. Untuk jujur kepada kamu, saya telah menderita setiap kali saya menemukan hal-hal seperti ini.

Dengan semua yang saya telah temukan tentang Muhammad, jujur bicara, saya masih berharap untuk menemukan kebajikan di dalam Islam untuk tetap bersandar supaya tetap tinggal sebagai seorang Muslim. Sulit bagi saya untuk meninggalkan agama masa kecilku. Setiap kali saya bermain-main dengan gagasan meninggalkan Islam, perasaan ketakutan yang aneh, kebingungan dan kekacauan akan menyerang pikiranku. Dahulu setiap kali saya membaca teks yang luar biasa dan bermakna dalam Alkitab, kebencian, permusuhan dan kekejamanku akan meningkat terhadap umat Kristen. Saya punya rekan Kristen. Setiap kali setelah saya menemukan sesuatu yang hebat dalam Alkitab, kemarahan saya menyala dan saya pergi dan menghancurkan harta miliknya untuk mengeluarkan kemarahan yang ada di dalamku. Saya membayar uang untuk orang lain berkomplot melawan dia dan mengirim pengaduan palsu terhadap dirinya kepada pihak berwenang yang tinggi. Suatu hari, saya membakar semua pakaiannya dan ia harus pulang dengan baju seragamnya.

Saya biasa berdiri di depan salah satu toko yang dimiliki oleh orang Kristen, mencegah orang-orang membeli dari dia dan menuduhnya penipu. Saya akan berkata kepada orang-orang di jalan, “Jangan membeli dari orang-orang Kristen, mereka adalah penipu licik. Mereka ingin menghancurkan Islam. Kuran berkata, ‘Mereka tidak memiliki iman.” Orang Kristen tua ini hanya berkata kepada saya: “Oh anakku, [kesalahan] apa yang sudah saya lakukan terhadap kamu? Kasihanilah, saya, saya harus mendapatkan uang untuk membesarkan anak-anak saya.”

Pada lain-lain waktu, saya akan memperingatkan teman-teman saya untuk tidak berjabat tangan dengan para Kristen, menuruti Hadis, “Jangan berjabat tangan dengan para Ahli Kitab, jangan menyapa mereka dan buat jalan mereka sempit.” Saya sering berteriak, “Mereka berbahaya , menunjukkan kasih yang palsu tetapi mereka adalah musuh dibalik selimut terhadap Allah dan para orang beriman yang sejati. Jangan tertipu oleh kerendahan palsu mereka. Allah berkata: “Mereka diliputi kehinaan dan penderitaan.”

Pada salah satu hari-hari sibuk, dipenuhi dengan semua perbuatan tersebut terhadap umat Kristen, saya merasakan sebuah firasat di dalam nuraniku. Ada suara batin mengatakan kepaku, “Jujurlah dengan diri kamu sendiri. Apakah kamu pikir semua tindakan yang demikian bisa menghapus semua yang kamu telah pelajari dari Kitab-kitab mereka? Kamu telah mengatakan bahwa kamu akan mengikuti Elohim ke mana pun itu akan menuntun kamu, lalu mengapa, kapanpun Elohim mengungkapkan kepada mu beberapa cahaya inspirasi, apakah kamu mencoba memadamkannya? Jujurlah  dengan dirimu sendiri supaya bisa mendapat hati nurani yang bersih. Periksalah motivasi-motivasi nuranimu dalam rangka untuk memiliki hati nurani yang jelas. Periksa motif batinmu. Apakah kamu benar-benar ingin Elohim? Jika sebaliknya, apa yang kamu inginkan? Itu semua terserah kamu. Itu semua ada di tanganmu dan tidak ada seorangpun yang akan memaksa kamu menjadi apapun.” [Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. (Wahyu 3:20)]
Saya pulang kerumah, dibebani dengan banyak beban. Saya mencoba untuk berdoa, tapi saya tidak bisa. Saya mulai membaca Alkitab dan mulai berdoa Doa Bapa Kami yang tertulis di dalam Injil Matius. Ketika saya membaca doa tersebut, tiba-tiba saya merasakan perasaan damai yang ajaib, kedamian dan ketenangan meliputi saya. Itu seolah-olah orang telah menuang air untuk membersihkan memoriku dari sesuatu hal. Saya berkata dari dalam hatiku yang terdalam, “Oh Elohimku, dapatkah Engkau  memberikan kedamaian, kesabaran, kasih, dan daya tahan seperti  yang orang-orang Kristen umumnya miliki jika saya berdoa persis seperti yang tertulis dalam Alkitab?”

Saya bersukacita dengan kesadaran penuh sebagaimana jika saya telah mendengar jawabannya, “Ya.” Wajahku terangkat dengan kesenangan, dan saya memutuskan untuk berdoa Doa Bapa Kami secara teratur. Sebagaimana biasa saya bangun saat fajar, waktu yang sama bagi doa-doa ritual, tetapi kali ini akan berdoa Doa Bapa. Saya juga membersihkan badan (wudhu) dan membuka karpet doa di tanah seperti biasa saya lakukan di masa lalu. Lalu saya berdiri di atasnya dan berkata:

Bapa kami yang di sorga,
Dikuduskanlah nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu,
jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah biarkan kami masuk ke dalam pencobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.
Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya.  Amin. (Matius 6:9-13)
Dan saya tutup dengan perkataan:
“Damai turun atas Mu dan rahmat Elohim,
Damai turun atas Mu dan rahkmat Elohim.”
[Ini 'doa penutup' cara Islam. Orang Kristen tidak berkata demikian sebab Yeshua ialah Raja Damai dan Rahmat itu sendiri, bacalah Yesaya 9:5-6]

Saya terus seperti itu untuk waktu yang cukup lama, tapi saya tidak melihat adanya perubahan dalam karakterku. Saya masih agresif dengan keluargaku dan dengan orang-orang Kristen. Jadi, saya memutuskan untuk menyingkirkan semua agama. Baik Islam aktivitas dan juga Kristianiti. Mungkin setelah berpindah ke Kristen, saya akan membaca buku lainnya, hanya untuk menemukan suatu agama lain, sebuah agama yang lebih baik setelah beberapa waktu, menghabiskan semua sisa hidupku melompat dari satu agama ke agama lainnya. Hal terbaik, pikirku, dalam kasus seperti itu adalah menjalani hidup normal seperti orang lain, seperti orang biasa. Mengapa saya harus membebani pikiranku dengan semua hal-hal agama? Biarkan saya menikmati hidup yang bebas dan ketika saya mati, biarlah Elohim melakukan apa saja yang dikehendaki terhadap saya!

Tapi itu bukanlah suatu pemecahan yang nyata. Tiba-tiba, ide datang ke pikiranku. Saya berkata kepada diriku sendiri bahwa alasan semua masalah ini dan kebingungan ialah Kitab tersebut, yaitu Taurat dan Alkitab, jadi biarkanlah saya  merubek-robeknya  menjadi potongan-potongan dan selesai dengan itu selamanya. Ketika saya berkehendak melakukannya, tapi saya merasakan suatu guncangan dalam dalam tubuhku dan suara batin berbisik dalam pikiranku, “Tinggalkan maksudmu itu. Kamu mungkin memerlukannya suatu kali kelak. Mengapa kamu ingin bebas dari Kitab sejenis itu? Kuran telah menyebabkan kamu jauh lebih banyak kesulitan. Mengapa kamu tidak ingin merobeknya menjadi potongan-potongan?”

Setiap kali saya naik mobil, saya berdoa agar mobil tersebut mengalami kecelakaan dan setiap orang di dalamnya diselamatkan kecuali saya sendiri. Saya juga berharap, dari lubuk hati saya, rumah runtuh atas kepalaku, sehingga saya sendiri yang akan mati. “Oh Elohim,” Saya berkata, “jika Engkau tidak berkehendak memberi saya bimbingan, lebih baik Engkau mengakhiri hidupku dan biarkan saya keluar dari dilemaku.”

Saya berada di tengah-tengah kekacauan pikiran yang saling bertentangan. Saat itu pukul empat sore di suatu hari musim panas bulan Juli. Saya sedang duduk sendirian, mengingat kembali, berpikir tentang asosiasi lama saya dengan Islam, Kelompok Islam dan terorisme, dan akhirnya, dengan Perjanjian Baru dan Taurat. Saya berdoa: “Ya Elohim, Engkau tahu itu, dalam semua peristiwa ini, saya sedang mencari Engkau. Apakah adil untuk meninggalkan saya dalam kondisi seperti ini? Dimana keadilan dan kasih-Mu? Bahkan jika Engkau ingin menghukum saya untuk kejahatan yang saya telah lakukan, saya pikir, sekarang, saya sudah membayar semua kejahatan saya. Kejahatan apa membutuhkan hukuman seberat  ini? Tolong  Elohim, jangan tinggalkan saya sendirian di dalam sebuah pergumulan yang demikian.”

Tiba-tiba, saya melihat pintu kamarku terbuka. Saya pikir itu ibuku membawa saya sesuatu untuk dimakan. Dan lihatlah, ada seorang besar dengan rambut panjang dan jenggot tebal dan pilar cahaya putih memancar di sampingnya. Itu seperti cahaya yang berasal dari sejumlah besar dari lampu neon yang disatukan. Saya tidak bisa melihat wajahnya atau menatap mataku kepada-Nya. Saya mendengar dia memanggilku, “Berdirilah, Ha Mashiah menghendaki  kamu.” Tampa buang waktu, saya melompat keluar dari kamarku. Saya terpana dan saya memanggil ayah, ibu dan saudara-saudaraku untuk datang dan melihat Ha Mashiah (Tuan kita Isa) karena ini ditulis dalam buku Al-Bukhari bahwa siapa yang melihat seorang nabi telah melihat ‘petunjuk,’ karena setan tidak mengambil bentuk nabi. Saya berkata kepada diriku sendiri bahwa keluargaku bisa percaya jika mereka melihat Ha Mashiah.

Saya kembali ke kamar saya dan tidak melihat siapa-siapa. Saya terkejut dari kepala sampai kaki. Saya sangat sedih. Bagaimana saya bisa membuktikan ini kepada keluargaku? Saya menyalahkan Elohim karena tidak membantu saya, “Kenapa kau tidak menunggu di kamar sehingga mereka akan melihat Engkau dan menjadi percaya? Mereka akan menganggap saya sebagai orang yang telah kehilangan pikirannya.”

Itulah yang tepatnya terjadi. Semua anggota keluargaku pergi ke kamarku hanya untuk tidak menemukan sesuatu yang tidak luar biasa. Ibuku berkata, “Oh Allah, mengapa kamu membiarkan semua ini terjadi pada kami. Kami senang memiliki putra kami kembali dan sekarang Engkau membiarkan dia menjadi tidak waras.” Dia mulai menangis dengan sedihnya dan memelukku. Saudaraku bilang kepadaku tidak perlu khawatir dia akan membawa saya ke psikiater terbaik di Mesir. Saudari-saudariku berkata, “Semua itu terjadi oleh karena apa yang kamu tulis di malam hari. Akhir dari semua ini adalah ketidak warasan. Oh Allah, tolong sembuhkanlah dia.”

Setelah mereka semua selesai dengan ratapan mereka, saya bilang kepada mereka, “Bukankah kalian begitu dan begitu?” Setiap mereka berkata, “Ya.” Saya pergi ke ibuku dan berkata, “Bukankah engkau ibuku?” Dia berkata, “Ya.” Kepada kakakku, “Bukankah kamu saudaraku?” Dia berkata, “Ya.” Saya pergi ke adik saya dan berkata, “Bukankah kamu adikku” Dia berkata, “Ya.” Saya berkata kepada mereka , “Jika saya telah gila seperti kalian pikir, bagaimana mungkin  saya dapat tahu kalian semua dengan nama? Mengapa kamu tidak percaya padaku? Saya telah melihat-Nya sebagai suatu terang yang besar. Dia berbicara kepada saya.” Tetapi pandangan mereka lebih kuat dari argumenku. Akhirnya, saya mulai percaya mereka. Saya pastilah telah menjadi gila. Jadi, saya pergi ke tempat tidur dan tinggal di sana. Saya pastilah telah kehilangan indra saya. Apa yang saya katakan tidak memiliki akal sehat. Saya tetap di kamar saya dan saudara saya datang untuk menghiburku, tapi saya tidak mengadakan apapun. Saya mengatasi situasi ini dengan diam seribu kata.

Keesokan paginya, kakakku mengajak saya ke salah satu psikiater terbaik di negeri ini. Kami pergi ke klinik dan saya menunggu giliran saya. Akhirnya, mereka memanggil saya menghadap dokter. Saya duduk di depan dia dan dia bertanya, “Bagaimana saya bisa membantu Anda?” Saya menjawab, “Saya tidak tahu.  kakakku memutuskan untuk membawa saya kepada Anda.” Dia berkata,” Kakakmu mengatakan bahwa Anda telah melihat Tuan kita Ha Mashiah! “Saya berkata,” Ya, saya sungguh telah melihat Dia.” Dia berkata: “Bisakah Anda menggambarkan-Nya kepada saya? Saya bertanya kepada dokter ini, “Apakah Anda pernah melihat Dia sebelumnya?” Dia berkata, “Belum.” Saya berkata, “Jika Anda tidak tahu seperti apa rupa-Nya, bagaimana Anda bisa tahu jika saya benar atau salah?” Dokter ini berkata, “Kasus Anda ini suatu kasus yang sangat sukar.”

Ia memanggil adikku dari ruang tunggu. Ketika dia masuk ke ruang periksa, dokter mengatakan bahwa saya punya kasus depresi yang parah dan saya memerlukan perawatan dengan listrik secepatnya. Saya mulai dengan enam sesi pengobatan listrik dan secara bertahap, itu berkurang menjadi dua. Dia meminta kakak saya untuk membawa saya ke rumah sakit dua kali seminggu. Kakakku mengatakan bahwa itu sulit dilakukan karena kami tinggal di sebuah kota yang jauh dari Kairo dan akan menyita dua setengah jam mengemudi. Kakakku menyarankan agar dokter memberitahu kami bagaimana kami bisa mendapatkan perawatan sejenis di kota kami melalui dokter lainnya. Dia setuju dan demikian juga dengan saya. Saya bercerita kepada dokter ini bahwa saya tidak takut terhadap pengobatan listrik karena saya sudah mengalaminya ketika saya disiksa di kamp-kamp konsentrasi. Saya yakin bahwa pengobatan medis akan kurang parah dibandingkan sengatan listrik yang kami telah biasa hadapi di kamar-kamar penyiksaan.

Saya tidak menemukan alasan untuk menolak pengobatan listrik. Jika saya benar-benar gila, ini akan membantu saya mendapatkan kewarasan saya kembali. Jika tidak, rasa sakit ini akan ditambahkan ke dalam pengalaman menyakitkan lainnya yang saya miliki selama pencarianku kepada Elohim; mudah-mudahan Elohim akan mengambil itu sebagai  suatu yang dapat diperhitungkan dan ada mengasihi saya.

Akhirnya, saya menyelesaikan sesi perawatanku dan saya mengambil semua obat yang diberikan dokter. Saya berharap bahwa saya akan sembuh pada saat itu dan akan melupakan semua pikiran yang biasa menyiksa saya yang telah membawa  kegilaan atau ketegangan psikosomatik. Namun, saya mendapati diriku didesak untuk membaca lebih banyak Alkitab. Saya tidak akan bisa tidur kecuali saya membaca bagian dari Alkitab. Saya memutuskan untuk menyimpan semua temuan saya untuk diriku sendiri dan tidak memberitahukan siapapun pengalamanku yang mungkin saya dapatkan saat itu dan dikemudian hari. Saya memutuskan untuk hidup sebagai orang Kristen untuk melihat pekerjaan Elohim. Jika ini adalah jalannya, pasti saya akan melihat buah-buahnya. Saya ingin melihat dukungan Elohim atas pilihan ini, jika tidak, saya akan singkirkan.

Seperti saya telah katakan sebelumnya, saya biasa berdoa secara teratur, dengan cara saya sendiri, lima kali per hari: subuh, siang, sore, matahari terbenam, dan malam. Saya tidak membaca apa pun dalam doa saya kecuali Doa Bapa Kami. Tapi saya bingung melaksanakan ritual keagamaan bagaimana saya harus melakukan untuk membuat doa-doaku yang lengkap dan dapat diterima dalam rangka untuk mendapatkan pahala di hadapan Allah. Saya harus pergi ke gereja untuk belajar bagaimana saya bisa menyembah Elohim. Saya tidak suka pergi ke gereja. Bagaimana mungkin saya pergi ke gereja dalam keadaan seperti itu? Bagaimana mungkin saya pergi ke gereja dalam kerendahan hati dan kepatuhan saya begitu menentangnya di masa lalu? “Tidak, saya tidak akan pergi ke gereja. Mungkin lain kali,” kataku pada diriku sendiri.

Saya mencoba bertanya beberapa orang Kristen untuk membantu, tapi siapa yang akan bersedia untuk berbicara dengan saya setelah semua yang telah saya lakukan atas mereka? Mereka semua menolak untuk bertemu dengan saya. Mereka berpikir entah saya ingin membunuh mereka atau memaksa mereka untuk masuk Islam. Akhirnya, salah satu dari mereka setuju untuk bertemu saya di bulan mendatang. Saya harus menunggu untuk waktu itu. Saya memutuskan untuk menggunakan waktu itu untuk membaca lebih banyak tentang kepercayaan dan konsep Kristen. Saya ingin tahu apa yang mereka akan katakan dan apakah mereka memiliki buku-buku Kristen sendiri yang serupa dengan apa yang dimiliki kaum Muslim.

Pertama-tama, saya memutuskan untuk mencukur bersih jenggotku hanya untuk terlihat normal. Saya meminjam kemeja dan sepasang celana ganti ‘Galabia’ (baju Islam) yang saya biasa pakai semua hidupku. Saya pergi ke toko buku untuk mendapatkan Alkitab bagi diriku sendiri. Saya tidak suka buku- buku di toko buku itu, jadi saya memutuskan untuk pergi ke toko lainnya yang ada di dekatnya. Saya mulai melihat buku-buku di rak, dari luar toko, untuk melihat jenis buku apa yang mereka punya. Sebelumnya, saya tidak berani untuk masuk kedalam sebuah toku buku Kristen. Saya bahkan tidak bisa melihat apa pun tentang Kristen; jadi bagaimana sekarang saya bisa masuk kesebuah tempat Kristen? Saya takut mereka akan meminta untuk memperlihatkan KTP saya (Di negara Mesir, Islam adalah satu-satunya agama resmi) dan mereka akan menelepon polisi. Saya kemudian akan jatuh ke tangan Intelijen Rahasia Negara, yang mana seperti pergi ke jurang maut.

Setelah lama ragu-ragu, saya meneguhkan hati  dan masuk ke toko buku tersebut. Beberapa buku menarik perhatianku. Saya tidak tahu buku jenis apa yang saya ingin baca. Setiap kali saya melihat sebuah judul yang yang menarik perhatian saya, saya akan membeli buku tersebut. Saya mengambil sebuah buku berjudul Bukti Yang Meminta Sebuah Keputusan (Evidence That Requests A Decision), My Faith, dan Kurban Tebusan Ha Mashiah (Atonement of Christ). Begitu saya selesai membaca salah satu buku tersebut, saya langsung membakarnya.

Ketika saya selesai dengan semua buku-buku tersebut, saya kembali ke toko buku untuk mendapatkan yang lainnya. Saya menemukan dua buku: Monoteisme dan Trinity, dan Teologi Alkitabiah. Ketika saya melihat harga dari dua buku itu, saya tahu bahwa saya tidak punya cukup uang untuk membelinya. Jadi saya kembalikan mereka ke rak-rak. Pada saat itu, seorang lelaki tua mendekati saya dan bertanya, “Mengapa Anda meletakkan buku kembali?” Saya berkata, “Saya tidak ingin mereka?”  Jika Anda tidak ingin mereka, mengapa Engkau mengambil mereka dalam tempat pertama?” katanya. Saya berkata, “Itu bukan urusan Anda. Apakah Anda menginterogasi saya?” Dia meletakkan tangannya di pundakku dan wajahnya menunjukkan senyum lembut. Dia berkata: “Anakku, ambilah buku-buku itu dan saya akan membayarnya bagi Anda. Saya akan berikan alamat saya. Jika Anda suka mereka, Anda dapat membayar kepada saya kemudian. Jika tidak, Anda dapat menyingkirkan mereka atau membakar mereka dan Anda tidak kerugian apa-apa.” Saya bertanya bagaimana dia tahu bahwa saya tidak punya uang untuk membeli buku. Dia bilang bahwa Roh Kudus yang memberitahukan dia. Saya berkata dalam hatiku yan terdalam, “Seperti apa Roh Kudus itu nampaknya?” Saya banyak berpikir tentang subjek ini. Saya pergi dengan dia ke rumahnya. Kami duduk bersama-sama selama beberapa menit. Saya takut dia akan meminta untuk memperlihatkan KTPku. Dalam hal ini, ia tentunya tahu yang sebenarnya. Tapi semua hal berjalan lancar, terima kasih kepada Elohim. Bapa itu bahkan tidak menanyakan nama saya.

Saya terus membaca buku-buku tersebut dan lainnya dengan rajin, baik di rumah maupun menyewa kamar hotel untuk menikmati semua waktu membaca sendiri tanpa gangguan apapun. Saya tidak ingin membuang waktu bahkan untuk makan. Saya ingin melahap semua Kata-kata Ha Mashiah yang akan membawaku setidaknya satu langkah lebih lanjut ke jalan baru dari kehidupan baruku. saya sering mampir ke warung kopi, milik seorang Kristen. Di sana saya akan membaca semua buku-buku Kristen yang telah saya beli. Saya menyukai ajaran-ajaran Alkitab. Untuk lebih tepatnya, saya rindu untuk menjadi model orang yang digambarkan dalam Alkitab. Jika saya hidup sesuai dengan ajarn tersebut, saya akan berubah menjadi malaikat berjalan di bumi. Saya dipenuhi dengan satu pertanyaan: “Yahweh, apakah mungkin, jika saya menerima Engkau dan berjalan sesuai dengan Firman-Mu, untuk Engkau membuat saya lebih baik? Dapatkah saya memiliki beberapa teman bahkan jika mereka tidak percaya seperti yang saya percaya? Dapatkah saya mencintai ibu, ayah, saudara-saudaraku bahkan jika mereka tidak menerima keyakinan baru saya? Dapatkah saya mengasihi teman-teman saya bahkan jika mereka tidak menerima imanku atau percaya apa yang saya katakan? Dapatkah Engkau melakukan ini untuk saya, Yahweh? Dapatkah saya mengasihi negeriku dan merasakan loyalitas yang sama dengan orang lain? Saya berharap hal ini bisa terjadi.”

Langkah pertama kelompok Islam memuridkan setiap pendatang baru adalah untuk mencabut setiap kesetiaan apapun, entah itu ke pada tanah air, keluarga atau hal lain. Ia harus tidak memiliki loyalitas lainnya kecuali kepada Allah, dan tidak ada pengabdian lainnya selain kepada Emir. Itu sebabnya mengapa saya tidak percaya sebelumnya bahwa saya bisa berubah dan mengasihi. Penglihatan pertama saya dimana Seorang berkata kepadku, “Berdirilah, Ha Mashiah menginginkan kamu,” telah membuat saya sangat bingung. Saya tahu bahwa visi dari salah seorang nabi adalah sebuah petunjuk Ilahi, tapi jenis bimbingan Ilahi yang bagaimana? Apakah itu pedoman menuju iman Kristen atau Muslim?

Pikiranku begitu terombang-ambing oleh semua gelombang pikiran tersebut yang membuat saya berjalan di jalan dengan langkah cepat seakan-akan orang sedang mengejar saya. Saya tidak tahu ke mana harus pergi. Itu sungguh saat yang tidak menyenangkan. Akhirnya, saya memutuskan untuk pergi ke gereja. Saya ingin menjadi seorang anak yang Yahweh ingin saya ada. Saya mendengar suara batin berkata, “Sekarang kamu telah mendengar suara itu dan kamu harus mengikutinya. Kamu telah hidup dalam Islam sepanjang hidupmu, tetapi kamu belum hidup dalam Kekristenan untuk mengetahui bagaimana rasanya. Kamu belum hidup di dalam iman Kristen untuk mengetahui yang mana yang lebih baik atau lebih dekat kepada Elohim, Kristen atau Islam.”

Saya pergi ke banyak gereja. Tidak mudah untuk melakukannya. Saya harus berjuang melawan Iblis setiap kali saya memutuskan untuk masuk sebuah gereja. Iblis akan berbisik di telinga saya, “Sudahkan kamu sampai pada status yang menyedihkan sehingga pergi ke gereja? Malu! Berapa banyak perbedaan antara pergi ke gereja sekarang dalam penghinaan dan ketika kamu pergi ke sana untuk meninggikan Firman Allah. Apakah kamu sudah lupa apa yang kamu telah lakukan terhadap gereja di masa lalu? Jika kamu lupa, saya bisa mengingatkan kamu.  Kamu sering berkata: Kebenaran telah tiba, dan Kebohongan telah hancur; karena kebohongan ialah secara alami akan hancur.” Dimana kebenaran yang kamu telah nyatakan hidupmu untuk mati? Kamu tidak pergi kemanapun kecuali ke gereja – lubang kekafiran, polytheisme dan penghinaan. Apakah kamu sedang percaya kepada banyak ilah, setelah perjalanan jauh dedikasi dan kesetiaan hanya kepada Allah? Bangun; bertobatlah kepada Allah dan mintalah pengampunannya dan ulangi dua kalimat Shahadat: ”saya bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah rasul Allah.” Bangunlah dan cucilah dirimu dari semua kejahatan pikiran tersebut dan ambil perlindungan dalam Allah melawan kekejian Iblis.”

Setelah itu, saya tahu diriku sendiri pergi kegerja tanpa sadar. Itu tetap susah, dan saya dapat merasakan seolah-olah seseorang menarik saya mundur untuk mencegah saya masuk gereja. Saya bahkan terkadang berteriak dengan keras, ”Saya akan pergi ke gereja. Saya akan ke gereja, apapun yang akan terjadi. Saya akan pergi ke gereja, apapun alasanan.” Sudahlah cukup dimasa lalu saya tidak memiliki teman dan keluarga. Tidak mengenal rahmat selama masa hidupku yang lalu. Saya telah membunuh dan merampok, dan sekarang saya berdiri tanpa famili, tanpa teman, tanpa seorangpun yang menemani. Mungkinkah Elohim berbahagia pada ku dengan semua itu? Mungkinkah Elohim membenarkan pembunuhan, kebencian, permusuhan dan kekerasan terhadapa semua orang yang menolak menerima apa yang kita katakan?”

Saya berkata: ”Oh Elohim kasihanilah saya. Saya menderita dan orang yang kesepian. Saya ingin dimpimpin kepada sebuah kehidupan yang normal, mengasihi negeriku, keluargaku, dan teman-temanku,  tetapi bagaimana saya dapat melakukannya? Jalan mana yang harus saya ambil?”

Jadi saya putuskan untuk pergi ke gereja bahkan jika itu bayarannya hidupku. Saya lari dengan cepat menuju gereja. Sikap dari pendeta gereja tersebut tidaklah seperti yang saya harapkan. Dia menolak mendengarkan saya, yang menambah minyak kepada api dan serangan roh jahat melawant saya. Ketika saya keluar dari gereja hari itu, saya merasa sedikit lega di batin meskipun gagal meyakinkan pendeta itu untuk mendengarkan saya. Itu mendorong saya untuk mencobanya lagi. Sialnya, saya gagal dalam semua usahaku untuk berbicara dengan seorang pendetapun dan untuk belajar apa yang harus saya lakukan untuk layak menerima keselamatan dari Ha Mashiah. Firman berkata: Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, (Mar 16:16a)

Saya dipenuhi dengan pertanyaan, “Bagaimana saya dapat percaya? Apa yang dapat saya lakukan? Bagaimana saya dapat berdoa, berpuasa, pergi siarah, atau membayar sakat?”

Waktu terakhir saya meninggalkan gereja, saya sungguh susah dan berbeban berat, sebagaimana mereka berkata,  “dibungkus dengan malu yang menyala-nyala.” Iblis berbisik di telingaku, ”Mereka telah menolak kamu. Itu layak. Kamu layak lebih dari pada itu dan Allah akan menunjukkan padamu latihan-latihan yang lebih keras.” Tetapi tekanan roh jahat tidaklah bertahan lama. Saya mendengar suatu suara tenang dan lembut dari dalam hatiku berkata, ”Hey kamu, kamu tidak menyembah manusia, jangan bersedih karena kelakuan mereka kepadamu. Karena kamu menyembah Elohim, hanya Dia yang tidak akan memutuskan semangatmu. Dia tidak akan pernah mengecewakanmu atau membiarkan kamu tersesat.  Bersabarlah dan berpeganglah kuat-kuat kepada Dia jika kamu benar-benar mencari Dia. Hari-hari penderitaanmu tidak akan ada lama lagi. Elohim tidaklah akan pernah menolak setiap mereka yang mencari Dia. Tidak pernahkah kamu baca, Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”  (Mat 11:28)

Saya berkata kepada Elohim, ”Saya telah baca itu Yahweh, jika tidak sekarang, sedikitnya saya telah membacanya beberapa kali tertulis pada tembok gereja  yang saya lewati setiap hari ketika menuju ke sekolah kedokteran.” Saya telah tahu ayat tersebut di luar kepala dan dimana itu terletak yang saya biasa untuk menutup mataku untuk mencoba tidak melihatnya.

Suara itu berkata, ”Berilah hidupmu kepada Elohim dan Dia akan menyelesaikannya.” Saya berkata, ”Oh Elohim, saya berikan hidupku pada Mu. Tolonglah selamatkan saya dari hambatan-hambatan saya.  Ajarlah saya jalan-jalan Mu. Saya tersesat. Saya bingung. Yahweh, hal ini terjadi pada saya cukup sering.”

Setiap kali saya melewati masalah keras, saya akan kembali ke Alkitab untuk menemukan rasa damai yang indah dan ketenangan batin.

Setelah itu, saya berpikir untuk berhubungan dengan beberapa orang Kristen yang biasa bekerja dengan saya, tetapi mereka tidak menyambut saya. Mereka takut padaku. Mereka pikir saya akan menjebak mereka untuk menyakiti mereka seperti biasa saya lakukan di masa lalu. Beberapa orang Kristen menolak untuk berbicara dengan saya, percaya bahwa saya bertujuan untuk menarik mereka ke Islam. Tapi jika Elohim menginginkan sesuatu, tidak ada seorangpun yang bisa melawan Dia. Suatu kali, saya pergi dengan temanku, seorang insinyur, untuk mengunjungi salah satu temannya. Dalam perjalanan, dia meminta saya dengan sinis untuk mengunjungi seorang teman Kristen-nya. Dia tahu betapa saya benci orang Kristen. Dia berpikir dengan cara ini, ia dapat mempermainkan saya dan tidak mengharapkan saya setuju begitu mudah. Dia bertanya padaku, sekali lagi, “Apakah kamu yakin ingin mengunjungi orang itu? Apakah kamu tahu dia adalah seorang Kristen?” Saya berkata, “Ya, aku tahu, dan saya setuju untuk pergi dengan Anda dan mengunjunginya.” Dia memintaku untuk tidak menjahati orang itu. Saya berjanji padanya untuk berperilaku baik dan sopan.

Kami pergi ke teman Kristen itu yang benar-benar mengenal saya. Saya biasa menyusahkan dia di jalan dan memprovokasi umat Islam lainnya melawan dirinya, mencoba untuk memaksa dia untuk menjadi seorang Muslim. Baru saja melihat saya berdiri di pintunya, ia tercengang. Dengan cepat ia menutup pintu dan mundur. Teman saya terus mengetuk pintu jadi akhirnya, ia membuka dan mulai menyalahkan teman saya. Dia berkata, “Bagaimana bisa kamu membawa orang itu bersamamu ke rumah saya? Apakah kamu lupa apa yang dia sudah lakukan kepada saya? Kasihanilah saya. Saya orang yang pendamai dan saya sudah cukup memiliki masalah.”

Setelah perdebatan panjangan, ia mengijinkan kami masuk ke apartemennya, sebuah Alkitab besar menarik perhatian saya. Itu terletak di meja kecil di tengah ruangan. Saya mengambil Alkitab dan membuka beberapa halaman. Tiba-tiba saya bertanya kepadanya, “Apakah ini Alkitabmu?” Dia berguman dan terhuyung dengan suara gemetar, “Ya benar, dan Kuran juga sebuah kitab suci. Semua Kitab berasal dari Elohim. keduanya ‘OK,’ Kuran da Alkitab,  Muhammad dan Ha Mashiah. Semua baik.” Itu jelas sekali dia begitu ketakutan. Dia begitu takut padaku setiap kali saya mencoba mendekati dia, dia akan mundur. Kami akhirnya berkeliling-keliling, melintasi ruang tamu ke sana kemari seolah-olah kita sedang bermain petak umpet. Akhirnya, dia berada di sudut dan saya berdiri tepat di depannya sehingga dia tidak bisa pergi ke mana pun. Saya berkata kepadanya, “Mengapa kau melakukan ini? Saya hanya ingin berbicara dengan kamu?”

Menyadari ini teman yang mengantar saya telah pergi ke ruangan lain untuk beristirahat, saya mengambil kesempatan dan mencoba memulai percakapan dengan tuan rumah saya, Kerinduan untuk mencapai tujuan saya mempelajari jalan orang Kristen kepada Elohim, tetapi ia tidak bekerja sama dengan saya. Saya bertanya apakah saya bisa mengunjunginya lain waktu. Dia setuju, dengan syarat bahwa kami tidak akan sendirian. Dia lebih suka jika ada beberapa temannya pada waktu pertemuan itu. Saya katakan bahwa itu baik bagi saya untuk memiliki beberapa orang lain. Dia menuliskan alamatnya dan waktu pertemuan. Saat saya berkunjung lagi, setengah lusin teman-temannya ada di apartemennya.

Dia begitu takut padaku. Saya berbicara dengan dia untuk sementara waktu, dan saya tidak menyangkal bahwa saya berbicara seperti seorang komandan militer yang kalah yang sedang membuat perjanjian damai dengan komandan yang menang. Saya menundukkan kepalaku. Saya begitu malu sehingga saya melihat ke bawah sepanjang waktu. Saya ingat apa saya dahulu biasa lakukan. Sekarang di sinilah saya, mengemis kepada seorang Kristen untuk beberapa kata yang akan menuntun saya untuk apa yang saya biasa lawan sebelumnya. Tapi Damai sejahtera Allah dan keinginan untuk keselamatanlah yang mendorong saya untuk mengorbankan semua untuk mendapatkan hak istimewa memasuki Kerajaan Elohim yang tak henti-hentinya saya telah cari. Tidak ada satu batupun yang  Saya tingggalkan tanpa tergeser, mencari setiap sudut dan celah untuk mencapai tujuanku yang mulia dan lama ditunggu-tunggu. Sekarang, saya hanya melempar sebuat batu ke tujuan. Saya menemukan bahwa tujuan saya tidak akan dapat ditemukan dimanapun, tapi diantara halaman-halaman Kitab milik teman Kristen saya.

Saya siap tidak meninggalkan satu batupon tanpa digeser untuk mengenal jalan Yahweh. Teman saya memiliki sedikit pengetahuan tentang Alkitab, jadi dia tidak bisa memberikan informasi lebih lanjut. Dia punya beberapa masalah keluarga. Saya mendengar dari beberapa teman bahwa dia sedang mempertimbangkan berpindah  ke Islam agar dapat menikah perempuan yang lain. Saya begitu kesal dengan solusi tersebut. Saya penuh penghinaan terhadap dia. Saya merasa bahwa ia tidak dapat memberikan saya dengan apa yang saya butuhkan.

Setelah beberapa saat, hubungan saya dengan dia semakin kuat, dan saya memiliki kesempatan untuk mengunjunginya lebih dari sekali. Dia menyediakan bagi saya tempat yang tenang di mana saya bisa membaca dengan bebas. Dia tidak mencoba untuk memaksa saya untuk menerima segala macam pikiran tertentu. Saya punya satu pendekatan khusus dan itu adalah untuk mengenal Yahweh Yeshua Ha Mashiah terlepas dari semua faksi dan denominasi, menghindari apa yang saya telah derita dalam Islam.

Hal-hal tidak jalan seperti yang seharusnya mereka ada. Persahabatan kami tidak berlangsung lama, tapi saya menemukan seorang Kristen lainnya yang berpengalaman dalam pengetahuan Alkitab. Namun, kami bertentangan satu sama lain, sedikitnya. Di masa lalu, setiap kali dia akan meminta saya untuk melakukan sesuatu untuknya dalam pekerjaan saya, saya akan memberikan informasi yang salah dan bahkan terkadang saya akan menghasut orang melawan dia. Saya akan memberi mereka hadiah setiap kali mereka berhasil melukainya.

Saya tidak mengharapkan dia bersedia untuk bertemu dengan saya. Namun, ia setuju untuk bertemu dengan saya satu bulan kemudian. Dia meminta saya untuk mengkonfirmasi kunjungan saya dengan menelponnya satu minggu sebelumnya.

Saya merasa bahwa lingkaran di sekitar saya semakin kecil. Tidak ada pendeta-pendeta dari banyak gereja mendengarkan saya, tidak ada individu bersedia untuk bertemu dengan saya. posisiku diragukan di mata semua orang Kristen. Sulit bagi mereka meskipun hanya untuk menyebutkan nama saya. Jika ada yang ingin mengancam orang lain, itu sudah cukup untuk memberitahu mereka, “Saya akan memberitahukan Mr. A dan B.” Saya seperti sebuah boneka yang menakut-nakuti burung di sawah. Tiga minggu kemudian, saya ingin menghubungi orang itu untuk mengkonfirmasi kunjungan saya ke dia. Karena saya tidak memiliki telepon di rumahku, saya harus pergi keluar untuk menggunakan telepon umum.

Setiap kali saya akan pergi keluar rumah, saya biasa mengambil serta semua  kertas dan catatanku untuk memastikan mereka tidak akan jatuh ke tangan yang salah. Ini akan sangat berbahaya jika ada yang melihat catatan-catatan itu karena saya punya banyak halaman dari penelitian tentang Keilahian Ha Mashiah, kesalahan Kuran, kesalahan kenabian Muhammad dan apakah dia benar-benar seorang nabi, dll. Saya biasa membawa semua kertas-kertas itu, bersama dengan Alkitab, dalam sebuah kantong plastik setiap kali saya pergi, ke mana pun saya pergi.

Ketika saya keluar untuk menelepon orang itu dari kios telepon di depan stasiun kereta api kota saya, saya terkejut menemukan bahwa seluruh kantong plastik dengan semua kertasnya lenyap ke udara. Semuanya sudah lenyap – dompetku, KTP, Alkitab dan semua penelitianku. Namun, di dalam saya memiliki semacam damai yang ajaib, ketenangan dan penguasaan diri yang saya kembangkan dahulu dalam berurusan dengan petugas keamanan dan polisi rahasia. Satu hal yang menguasai pikiranku pada waktu itu berpusat pada dua hal.

Pertama, orang yang mencuri tas saya kemungkinan membaca semua kertaku dan mengirimkan mereka ke Departemen Investigasi Keamanan Negara. Saya kemudian akan menjadi mangsa yang mudah di tangan mereka sebab kartu KTPku ada bersama dengan surat kertas-kertas tersebut, sehingga sangatlah mudah untuk mengidentifikasi diriku. Saya bisa dieksekusi karena menyerang Kuran; keputusan hukuman mati adalah hanya mungkin dalam kasus seperti itu. Namun, hal ini tidak mengganggu saya begitu banyak karena saya cukup yakin bahwa bila waktu saya datang untuk bertemu dengan Penciptaku, saya tidak bisa menunda bahkan untuk separoh detik. Setiap jiwa, pasti, akan mengalami maut.

Kedua, sebuah bisikan licik diam-diam masuk ke dalam pikiran saya, mengendalikan semua pikiran dan perasaan. Pesan licik untuk mempegaruhi bahwa Allah sangat mencintaiku begitu rupa sehingga Dia ingin memberikan bukti jelas bahwa saya berjalan menuju kekristenan yang  adalah sebuah kepalsuan. Sebuah firasat samar melayang-layang di atas langit-langit pikiranku bahwa agama Kristen hanyalah jalan Setan, karena itulah Allah telah menghapus semua serangan terhadap Kuran-Nya, Rasul-Nya dan juga menghapus semua racun-racun dari Alkitab. Perasaan itu kemudian berkata, “Sekarang kamu memiliki bukti yang jelas bahwa kamu berjalan di jalan salah Kekristenan dan menyimpang dari kebenaran. Bangunlah sekarang dan bertobat. Jangan berlambat untuk meminta pengampunan dari Allah karena Ia adalah Pengampun yang berkemurahan lagi Maha Penyayang kepada semua orang-orang yang bertobat dan melakukannya yang baik. Berdiri dan bersihkan diri dari semua pikiran najis yang berasal dari Iblis, mencemarkan Anda dan memikat Anda terhadap politeisme, hujatan dan kekafiran.” Saya tidak bisa membantu tetapi untuk menyerah kepada teguran Iblis.

Ketika teman Kristenku tahu bahwa saya telah kehilangan semua kertas tersebut, ia terpukul oleh ketakutan sampai ke sumsum tulangnya. Dia memintaku untuk tidak melihat atau menghubungi dia untuk beberapa waktu sampai kami bisa melihat pengaruh dari hilangnya kertas-kertas itu. Ini adalah jerami terakhir pada apa saya berpegang dan sekarang saya telah kehilangan semua sumber dukungan untuk meneruskan perjalanan saya dalam Kekristenan. Jadi, saya merasa seolah-olah Allah ingin saya untuk meninggalkan agama itu, mungkin karena saya tidak mampu melanjutkan pertempuran itu. Meskipun saya menikmati dari lubuk hati saya dan kedalaman jiwaku setiap kata dari Alkitab dan melakukan yang terbaik untuk terus mengucapkan Doa Bapa Kami dengan rajin, tidak ada yang benar-benar berubah dalam karakter saya. Saya masih penuh kebencian dan iri hati terhadap orang Kristen. Saya tidak bisa memaafkan orang. Saya bahkan tidak bisa mengatakan “Selamat pagi” kepada ibuku. Saya biasa keluar dari rumah saya dengan jejak kemarahan, kebencian dan permusuhan terukir di wajahku. Saya sengaja menunjukkan kemarahan terhadap orang tua dan saudara-saudara saya agar mereka tahu tahu bahwa mereka adalah kafir dan saya membenci mereka karena alasan itu. Saya begitu penuh dengan semangat pemberontakan dan permusuhan bahkan saya meragukan keaslian apa yang saya baca dalam Alkitab.

Semua faktor-faktor tersebut datang bersama-sama dengan hilangnya dokumen tersebut; itu adalah serangan tanpa ampun untuk menghambat pekerjaan Elohim dalam hidupku, sebuah usaha untuk mematahkan tekad saya dan kasihku yang semakin membesar atas Alkitab. Sekali lagi, saya hancur ke dalam tangisan, menyalahkan Elohim untuk semua yang terjadi di sekitar saya. Saya mulai bertanya-tanya apakah itu Elohim  sendiri yang melakukannya setiap kali saya mengambil langkah menuju kepada Dia, hal-hal akan jadi salah. “Mengapa, Elohim, melakukan semua hal ini terjadi padaku? Mengapa saya? Apa yang saya telah lakukan sehingga menerima semua ganjaran ini? Bila Engkau menghukum saya untuk sesuatu yang salah yang telah saya lakukan atas orang Kristen, ampuni saya sekarang sebagaimana saya bertobat di hadapan Engkau. Kasihanilah saya berdasarkan kematian-Mu di kayu salib untuk saya, atau bagi orang lain salib-Mu tidak berarti apa-apa seperti biasa kami berpikir. Siapakah Engkau bahwa Engkau melayakan orang seperti saya untuk mendekati Engkau? Apa yang bisa saya lakukan untuk menyenangkan Engkau? Hidup saya telah menjadi begitu menyedihkan. Jika terus seperti itu, kematian akan lebih mudah bagi saya daripada terus hidup seperti saya ada saat ini. Elohim ambillah jiwaku. Jika Engkau tidak mengasihi saya, saya akan bunuh diri. Itu tidak akan menambah penderitaan masuk neraka, karena jika Engkau tidak memberikan rahmat-Mu kepada saya, saya akan masuk neraka bagaimanapun juga.”

Saya menangis begitu banyak, berkubang dalam rasa sakit dan penderitaan. Saya berdiri, dengan air mataku yang bercucuran di wajahku seperti sungai. Ibuku melihat saya dan mengelus kedua pundakku, dan dia menangis bersamaku. Dia bertanya padaku ada masalah apa dengan saya. Saya berkata padanya, “Jangan ganggu saya. Saya tidak ingin berbicara dengan siapa pun. Saya pernah berbicara dengan kamu dan kamu menuduh saya gila. Semoga Allah memaafkanmu.” Saya pergi dengan cepat ke kamarku dan mandi untuk membersihkan tubuh dari semua kenajisan pikiran Kristen, saya juga harus mencuci diri dari semua yang telah saya lakukan.

Saya terus berpikir, merenungkan apakah Allah akan memaafkan saya untuk semua yang telah saya katakan tentang nabi-Nyan, Muhammad, dan Kuran-Nya. Saya merasa seakan-akan orang berbicara kepada saya mengatakan, “Kau tidak menyerang siapa pun atau berbicara segala jenis dusta. Semua menyimpulkan bahwa itu bukan buatanmu ; mereka adalah bukti itu sendiri.” Saya berdiri, membuka, karpet doaku, dan saya mengulangi dua Kalimat Kesaksian Islam untuk kembali ke Islam. Saya mencoba untuk berdoa, tetapi tidak berhasil. Saya tidak bisa mengucapkan sepatah katapun dari Kuran, bahkan saya tidak bisa sembayang. Jadi, saya meletakkan kepala saya di antara telapak tangan untuk sementara waktu. Kemudian, saya pergi mengatakan hanya beberapa kata, “Oh Yahweh, jika Engkau tidak marah padaku, tidak membahayakan saya. Jika Engkau menghukum saya sekarang untuk beberapa pelanggaran yang saya telah lakukan, saya meminta Engkau untuk mengampuni saya dan meringankan hukuman saya. Jika Engkau melawan caraku, yang asing bagi Mu. Oh Yahweh, saya tidak punya kekuatan lebih untuk menghadapi situasi saya. Jika Engkau tidak menyatakan diri-Mu sendiri kepada saya, saya akan tersesat. Saya mengasihi-Mu, Yahweh. Saya telah melakukan apa yang telah diperintahkan pada ku untuk dilakukan. Saya melakukan apa yang lain tidak bisa lakukan, hanyanya untuk menyenangkan Engkau, sebagaimana karena saya telah berpikir. Ketika Engkau menunjukkan cahaya-Mu kepada saya dan memanggilku, saya tidak menundanya. Berapa lama Engkau tinggalkan saya meraba-raba dalam lubang kegelapan? Semua yang terjadi dalam hidupku hanyalah sebuah ujian kasih yang telah Engkau siapkan bagi saya untuk membawa saya ke sisi-Mu. Engaku adalah Gembala yang Baik. Tolong berilah saya kasih-Mu dan bimbingan-Mu  lebih lagi untuk membawa saya lebih ke arah menemukan Anda.”

Malam itu, saya tidur begitu nyenyak, tidak seperti sebelumnya seumur hidupku. Ketika hampir subuh, saya melihat sebuah visi saat tidur. Ada seorang tinggi besar dengan bahu lebar, jenggot tebal, muka berwarna perunggu, rambut panjang dan kulitnya sangat indah. Dia memegang bahu saya dan mengguncang tubuhku dengan lembut berkata, “Apakah kamu masih ragu-ragu tentang Saya?” Kataku, “Siapa Engkau bahwa saya memiliki keraguan di dalam kamu? Saya tidak tahu Engkau.” Dia berkata, “Saya adalah Dia yang kamu sedang cari.” Saya berkata, “Tidak ingat, harap ingatkan keluapaan saya.” Dia berkata, “Bacalah dalam Alkitab. Mengapa kamu tidak membaca Alkitab?” Saya berkata, “Tidakkah Engkau tahu bahwa saya telah kehilangan Alkitab dan semua kertasku?, jadi bagaimana bisa saya membaca sekarang?” Dia berkata, Alkitab tidak dapat terhilang. Bangunlah dan bukalah lemarimu dan kamu akan menemukannya di sana, dan semua kertas lainnya akan kembali kepada kamu dalam waktu seminggu.”

Saya bergidik, seakan terbangun oleh pukulan cemeti dan saya pergi dengan cepat ke lemari kecil di salah satu sudut kamarku. Saya menggigil ketika saya membukanya dan saya terheran-heran, di sana saya menemukan Alkitab yang telah hilang. Saya terpaku sejenak. Saya menggigil seolah-olah itu adalah malam yang sangat dingin di musim dingin. Saya memeluk Alkitab tersebut erat-erat dengan lenganku seperti anak yang kembali kepada ibunya setelah waktu yang lama.

Saya berlari ke ibu saya, membangunkan dia dan membasahinya dengan ciuman. Saya berkata padanya dengan sukacita yang besar apa yang terjadi pada pagi itu. Saya berkata, “Saya tidak pernah lagi mengijinkan ibu menyebutku gila.” Saya menjatuhkan diriku ke dalam pelukannya, menangis dan berkata, “Maafkan saya Bu, atas perlakuan yang kasar kepada ibu. Saya pikir itu adalah menurut iman yang benar. Tapi sekarang saya tahu apa iman yang benar tersebut. Biarkanlah saya mencium kaki Ibu dan  itu cukup bagiku.”
Dia berkata, “Katakan anakku, apa yang terjadi padamu?”
Saya menjawab, “Saya akan memberitahu Ibu, tapi tolong bersumpah kepada saya oleh semua yang sayang Ibu, bahwa jangan berpikir bahwa saya telah gila. Ibuku, Elohim telah membimbing saya.”
Dia bertanya, “Dan dari mana saja kau sebelumnya?”
Saya menjawab, “Elohim yang membimbing saya sekarang bukanlah dialah yang saya telah ikuti sebelumnya.”
Dia menjawab, “Apakah ada Elohim lainnya?”
Saya berkata, “Ya, ada satu Elohim yang memerintahkan saya untuk mengasihi Ibu dan mematuhi Ibu.”
Dia bertanya, “Siapa itu Elohim tersebut?”
Saya bercerita padanya, “Ha Mashiah, Isa sebagai Kuran mengatakan.”
Dia mendesak saya, “Tolong anakku, jangan mengatakan demikian di depan saudara-saudara kamu. Mereka akan berpikir bahwa kamu benar-benar gila.”
Saya berkata, “Baiklah, saya akan melakukan seperti yang fIbu katakan, tetapi apakah Ibu percaya padaku?”
Dia mengamati, “Mengapa saya tidak percaya. Saya telah melihat buktinya, kamu tidak pernah memperlakukan saya seperti ini selama dua puluh tahun. Pergilah, dan Elohim tidak akan meninggalkan engkau. Tapi rahasiakan hal ini.”

Saya pastikan, “Tempatkan diri kamu pada posisi saya, dan kamu akan mengerti perasaanku yang sebenarnya. Saya berharap bisa berdiri di tempat umum dan berteriak sekeras mungkin menyatakan bahwa Ha Mashiah adalah Yahweh dan Dia telah mengubah saya. Ia telah melakukan apa yang Allah Muhammad tidak mampu melakukan.” Ibuku menaruh tangannya di mulutku untuk mencegah saya berbicara.

Sejak saat itu, dari sore hari sampai terbitnya matahari, saya pergi kepada orang-orang seolah-olah saya adalah bayi yang baru lahir, melihat kehidupan untuk pertama kalinya. Saya keluar pagi-pagi hari, melihat segala sesuatu di sekitar saya. Saya mampu melihat segalanya ditutupi dengan keindahan. Semua orang baik di mata saya. Saya mulai bersalaman dengan semua orang yang saya temui, entah saya mengenal mereka atau tidak. Saya pergi ke toko Kristen. Saya biasa menyakiti dia begitu banyak dan ketika ia melihat saya, ia berpikir bahwa saya akan datang untuk menyerang dia. Dengan cepat ia menutup tokonya. Saya berteriak padanya, “Jangan takut.” Dia bingung dan tidak mengucapkan apa-apa. Saya memeluknya dan memintanya untuk memaafkan saya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali untuk menangis. Dia mengatakan beberapa kata, yang saya tidak bisa mengerti saat ini. Hanya kemudian, saya menyadari arti sepenuhnya kata-kata itu. Dia berkata, “Haleluya, Terpujilah Yahweh.” Kataku, “Apa yang Anda telah katakan?” Dia menjawab, “Pada waktu-Nya, kamu akan tahu apa artinya itu.” Setelah itu, dia pergi.

Saya melihat orang-orang dari perspektif yang baru. Saya bertanya-tanya apakah saya telah kehilangan kewarasan saya. Orang-orang menatapku dan bertanya-tanya apa yang telah terjadi padaku. Bahkan para kolegaku benar-benar kagum mengenai perubahan tiba-tiba dan radikal dari perilaku saya. Saya bisa membaca keterkejutan pada wajah mereka berkata, “Orang ini biasa meludahi kita dahulu. Sekarang lihat dia, ia seperti seekor domba yang lembut! Apa yang sedang terjadi? Apakah ini taktik baru atau rencana melawan kita?” Saya melihat keraguan dan kebingungan yang tercermin di wajah-wajah mereka?, Alis-alis yang tinggi dan mata-mata yang terbuka lebar. Mereka tidak percaya bahwa perilaku saya bisa berubah 180 derajat. Tapi saya tidak memberi perhatian pada reaksi mereka. Semua yang saya perduli adalah membayar balik mereka yang telah saya serang, permalukan dan hina. Saya berada dalam kesadaran penuh dengan sukacita yang memenuhi hati saya. Lemah lembut dan ketenangan dilengkapi kelembutan batin saya yang terdalam untuk pertama kalinya dalam sepanjang hidupku. Kadang-kadang, saya berpikir bahwa saya berada dalam mimpi yang indah. Saya tidak ingin bangun dari mimpi itu. Tapi kuasa Elohim. Saya terburu-buru untuk mendapatkan lebih banyak pengalaman yang akan membuktikan bahwa saya benar-benar berubah selamanya, bukan hanya sementara.

Saya terus berpikir tentang apa yang dikatakan Pribadi tersebut yang saya lihat dalam penglihatan saya telah berkata – Saya akan menemukan kertas-kertas tersebut dalam seminggu. Hari berlalu dan saya mulai meragukan visi tersebut. Saya takut bahwa saya tidak bisa menemukan kertas saya. Hal ini sepertinya merusak kebahagiaan saya. Saya terus menghitung hari-hari sampai ada satu hari tersisa sebelum batas waktu yang diberikan dalam visi itu. Pada hari itu, saya berada di dekat stasiun kereta dan saya ingin menelepon, jadi saya harus pergi ke warung telepon yang sama di mana saya telah kehilangan surat-surat saya seminggu yang lalu. Saya ragu-ragu untuk beberapa saat. Saya pergi ke depan dan kemudian mundur kembali. Pemilik warung membaca hal ini, jadi dia bertanya padaku, “Saya melihat Anda berada dalam keragu-raguan. Apakah Anda punya masalah?”Kataku, “Tidak, telpon ini merupakan setan buruk bagi saya karena saya menggunakannya minggu lalu dan saya kehilangan tas saya. Saya tidak ingin menggunakannya lagi karena saya tidak tahu apa lagi yang saya akan kehilangan.” Dia bertanya, “Apakah itu tas Anda?” Saya menjawab, Ya, Anda tahu di mana itu berada?” Dia menjawab, “Berikan saya beberapa penjelasan dari tas tersebut untuk menunjukkan bahwa itu benar-benar milik Anda dan saya akan memberitahu kepada Anda di mana tempatnya.” Kataku kepadanya bahwa itu adalah kantong plastik dengan beberapa lembar kertas, sebuah kitab seperti Kuran, KTP saya, dan paspor saya. Tidak ada uang dalam tas itu. Dia mengangguk dan berkata, “Itu tepat!” Dia mengatakan kepada saya untuk datang keesokan harinya dan dia akan membawa saya ke orang yang menemukannya.

Hari berikutnya adalah hari ketujuh sejak saya melihat visi tersebut. Kami pergi ke sebuah desa di pinggiran kota Kairo menuju selatan. Kami bertemu orang yang menemukan tas itu. Dia memberikannya kembali padaku. Saya cepat-cepat membukanya tapi saya tidak menemukan Kitab itu. Saya berkata kepadanya, “Ada sebuah kitab hilang.” Dia berkata, “Saya bersumpah demi Nama Allah, Saya tidak mengambil apa-apa dari kantong itu. Itu termasuk kertas-kertas, paspor, KTP, dan sebuah Kuran.” Saya senang mendengar itu dan saya mengatakan kepadanya bahwa saya benar-benar percaya padanya. Itu berarti bahwa Elohim telah memenuhi janji-Nya kepada saya bahwa Dia akan memberi saya kembali Kitab yang hilang.

Saya berada di langit kesembilan; dalam semua kehidupan Islamku, saya belum pernah mengalami meminta sesuatu dari Allah dan menerima jawabannya. Ini adalah keajaiban yang super bagi saya. Saya merasa begitu kecil dan rendah hati di depan kasih karunia Elohim. Saya berkata kepada-Nya, “Siapakah saya sehingga Engkau telah memberiku semua kemurahan ini?” Segera, jawabannya datang kepada saya, “Saya telah melakukannya dan Saya akan terus melakukan hal-hal yang lebih besar bagi mereka yang mengasihi Elohim.” Saya bicara kepada diriku sendiri, berharap bahwa Elohim melayakan saya pergi melalui suatu pengalaman yang akan membuat saya cukup yakin bahwa saya benar-benar berubah. Yang benar-benar akan membuat saya senang.

Tak lama kemudian, Elohim menjawab doa saya. Dia memberiku pengalaman pertama saya dalam hubungan baru dengan Ha Mashiah. Pada kantorku, karyawan biasa menerima penghargaan keuangan secara periodik, masing-masing pada gilirannya. Saya akan ancam petugas pemberi gaji, memaksa dia untuk menempatkan saya di daftar teratas. Saya juga biasa mengambil persentase semua penghargaan karena uang itu milik kafir-kafir Kristen; karenanya, itu tidak harus disebarkan secara merata.

Suatu hari, tiba saatnya untuk menerima uang dari kasir perusahaan. Salah satu rekan saya memiliki situasi yang sangat sulit di rumah, jadi dia datang ke manajer dan memintanya untuk memberikan uang kepadanya saat ini sehingga ia bisa keluar dari dilema keuangan. Manajer mengatakan bahwa daftar itu sudah diatur dan semua orang sudah ada gilirannya. Manajer berkata kepadanya, “Tuan X adalah pada bagian atas daftar dan kamu tahu bahwa dia adalah orang yang jahat dan kita tidak bisa membiarkan dia menunggu. Kita harus menyenangkan hatinya dengan cara apapun untuk menghindari kejahatannya.” Pada saat itu, saya memasuki kantor manajer sedang dia berbisik dengan rekan saya. Saya bertanya mereka dengan cepat, Apakah kalian membicarakan penghargaan itu?” Jawab Manajer dengan terburu-buru disertai kecanggungan dan kekikukan: “Ya, tapi jangan khawatir. Nama Anda berada di atas daftar.” Saya bertanya, “Jadi, apa yang rekan saya inginkan?” Dia menjawab, “Dia ingin mendapat giliran itu bulan ini untuk keluar dari kesulitan keuangan, tapi saya menolak permintaannya.” Saya bertanya, “Mengapa? Kamu dapat meletakkan namanya ganti namaku.” Manajer mengira bahwa saya mengolok-oloknya. Dia berkata, “Nama Anda ada pada bagian atas daftar dan tidak ada seorangpun yang dapat menghapus itu.” Kataku, “Tapi saya ingin menyerah itu padanya bulan ini.” Dia berkata, “Itu tidak mungkin. Anda … Anda dapat melakukannya?” Saya berkata, “Ya.” Dia bertanya-tanya, “Bagaimana?” Saya jawab, “Saya bilang kepada kamu; silakan hapus nama saya dan tempatkan dia di tempat saya. Akanlah lebih baik bila semua rekan kita juga menyerah giliran untuk dia.” Saya mendengar dia berkata, “Terpujilah Elohim yang mampu mengubah keadaan. Apa yang sedang terjadi? Apa yang telah terjadi? Mungkin hari ini Hari Kiamat! Orang itu bisa melakukannya! Saya tidak percaya itu.” Kataku, “Elohim adalah Mahakuasa dan Dia bisa melakukan ”Dari yang makan keluar makanan, dari yang kuat keluar manisan.” [Hakim-hakim 14:14]

Mataku basah dengan air mata dalam situasi itu, yang mana ialah pertama kalinya hal sedimikian ada di seluruh hidup saya. Saya biasa mengambil bagian yang terbesar dari segalanya, secara legal atau ilegal. Tapi sekarang, Ha Mashiah telah mengajarkan saya bagaimana untuk memberi. Saya sangat senang untuk menikmati keindahan memberi.

Keluarga saya mulai merasakan perubahan dalam hidup saya. Mereka biasanya mematikan TV dan melarikan diri segera setelah mereka melihat saya, terutama saudari-saudariku. Setelah hari transformasi, saya memasuki rumahku dan membiarkan mereka menonton TV. Saya hanya meminta mereka untuk menghindari program-progam yang tidak senonoh. Mereka berkata, “Itu tidak mungkin. Anda mengijinkan kami untuk menonton TV? Tidak mungkin!” Saya menjawab, “Mengapa tidak? Jika kalian tahu apa yang kurasakan terhadap kalian, kalian tidak akan percaya betapa saya mengasihi kalian semua. Saya ingin kalian memaafkan saya untuk semua perilaku buruk saya terhadap kalian.” Segera, mereka semua menangis. Setiap kali saya keluar, dan kembali, saya akan mencium ibuku, membawa hadiah untuknya sejak itu dan seterusnya. Reaksi ibuku ialah menangis. Saya bersyukur kepada Elohim ketika dia meninggal, kami baik-baik dan saya telah berhasil menebus apa yang telah saya lakukan padanya. Saya sangat bersyukur bahwa Elohim yang mengembalikan senyum kepada semua anggota keluarga kami, orang-orang beriman dan bukan Kristen.

Teman-teman Kristen saya sudah mengikuti semua peristiwa yang terjadi dan takut bahwa orang-orang desa akan mengetahui perubahan saya dan kemudian akan menaruh kembali baraapi keatas kepala mereka karena mereka adalah teman saya. Jadi, mereka meminta saya untuk meninggalkan Mesir dan pergi ke luar negeri, tapi saya menolak mentah-mentah. Saya masih menyadari apa yang telah saya lakukan terhadap Ha Mashiah dan orang-orang Kristen. Oleh karena itu, saya mengatakan kepada mereka bahwa saya telah berdoa sejak hari pertama hidupku berubah meminta Elohim membantu saya untuk melayani Ha Mashiah sebagaimana saya telah menentang Dia. Saya telah menganiaya umat-Nya di Mesir, jadi saya tidak akan meninggalkan Mesir. Saya berjanji kepada mereka bahwa saya tidak akan menyebutkan nama mereka jika saya ditangkap. Suatu hari, mereka meminta saya untuk pergi ke gereja yang saya belum pernah kunjungi sebelumnya dan saya setuju tanpa diskusi. Saya bertemu beberapa Pemimpin Gereja dan saya mengatakan kepada mereka semua apa yang Elohim telah lakukan pada saya. Wajah mereka berseri-seri kesenangan, dan mereka senang untuk tanda-tanda ajaib yang besar yang Elohim lakukan dalam hidupku. Saya ingin dibaptis. Mereka menanggapi permintaan saya. Saya dibaptis pada 9 Mei 1993. Saya masih ingat hari itu karena saya menganggap itu ulang tahunku yang sebenarnya. Hal ini berkaitan erat dengan waktu saya lahir kembali [“born again”: istilah dalam Kristenan ketika seorang bertobat dan menjadikan Yeshua sebagai Tuan dan Juruselamat bagi hidupnya]

Buah-buah Iman:
Saya telah berbicara secara rinci tentang hidup saya sebelum pertobatan saya. Sekarang lebih tepat untuk saya berbicara tentang pekerjaan Elohim dalam hidupku setelah saya datang mengenal-Nya. Semua kerabat saya, teman-teman dan kenalan tidak bisa percaya bahwa saya bisa berubah secara radikal. Tidak ada yang bisa percaya apa yang terjadi setelah kelahiran baru saya. Suatu kali saya meminta kepada Elohim untuk memberi saya beberapa pengalaman membuktikan kepada saya bahwa saya benar-benar telah berubah. Sebenarnya, Elohim memberi saya banyak pengalaman, tidak hanya untuk membuktikan perubahan tersebut dalam hidupku, tetapi juga untuk melatih saya untuk menghadapi  datangnya tantangan-tantangan keras dan berduri. Saya tidak memilih cara baru, bahkan hidup saya dengan Ha Mashiah. Sebaliknya, saya berusaha untuk menyangkal apa yang saya lihat. Ha Mashiah yang memilih saya. Dia tidak memilih saya sembarangan tapi jelas untuk tujuan dan pelayanan tertentu yang Dia sudah sediakan bagi saya. Dalam hal ini, saya ingin menyebutkan beberapa pengalaman berbahaya yang saya hadapi dan apa yang Tuhan lakukan dengan saya.

Saya biasa bekerja di kantor dengan tiga rekan lainnya. Kami bekerja secara bergiliran, jadi kita jarang berkumpul. Setiap kami memiliki loker sendiri untuk menjaga barang-barang pribadinya. Suatu hari, saya terkejut menemukan bahwa beberapa barang saya hilang. Saya tidak memiliki kecurigaan terhadap salah satu rekan saya. Hari berikutnya, hal yang sama terjadi dan saya menemukan hilangnya beberapa item lainnya. Saya umumnya menyalahkan istriku, tetapi ketika hal yang sama terjadi untuk ketiga kalinya dan semua gaji saya dicuri, saya akhirnya menyadari bahwa kunci rusak. Saya tahu pasti bahwa salah satu rekan saya yang bertanggung jawab. Tiba-tiba, roh setan kemarahan yang mengerikan mengontrol saya. Saya mulai bersumpah dan mengutuk dengan cara lama, seperti sebelum saya diselamatkan. Saya berkata, “Jika saya telah menerima Ha Mashiah dan kalian telah melihat Saya lemah lembut seperti anak domba, itu tidak berarti bahwa kalian bisa mempermainkan saya, membuat saya mangsa yang mudah bagi kalian.” Saya bersumpah untuk membalas dendam kepada mereka dan membalas dendam secara ganda. Saya memutuskan untuk memecahkan loker mereka dan mengambil semua milik mereka dan kemudian membakarnya, meninggalkan semua loker terbuka, seperti Abraham telah lakukan dengan berhala-berhala. Saya ingin mereka tahu perasaan orang-orang yang dirampok dan dijarah. Saya pergi dan mengambil palu besar untuk melaksanakan rencana saya. Saya menutup kantor dan setelah yakin tak seorang pun yang melihat, saya meraih palu dengan kedua tangan dan mengayunkannya ke udara. Saya bau dengan kemarahan dan menggigil dengan keinginan membara untuk membalas dendam. Saat saya hendak memukul loker saya merasakan sesuatu memegang tangan saya dan suara lembut berkata, “Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan atau penghinaan dengan penghinaan, tetapi dengan berkat; jadilah pembuat damai.” Saya menengok untuk melihat siapa yang berbicara, tapi tidak ada seorangpun. Saya berkata kepada diri sendiri, “Oh Elohim, apakah Engkau setuju dengan apa yang telah terjadi padaku? Kehendak-Mu jadilah. Padamkanlah amarahku dan matikan api murkaku. Saya susah mengendalikan diriku sendiri. Berikanlah saya damai.” Tiba-tiba, saya merasakan kedamaian yang aneh di sekitar saya, seolah-olah tidak ada yang terjadi. Saya mendengar suara yang meminta saya untuk menulis pada sebuah kertas sebagai berikut:
“Saudarku yang terhormat yang membuka loker saya,
Saya minta maaf karena tidak dapat memenuhi kebutuhan mu. Harap tuliskan semua yang kamu butuhkan dan saya, oleh kasih karunia Elohim, akan melakukan yang terbaik untuk membantu mu. Untuk membuktikan niat baik dan kejujuranku, saya tidak akan memperbaiki kunci yang rusak. Saya tahu bahwa kasih Elohim adalah sangat besar bagi kita semua manusia. Akhirnya, saya berharap bahwa damai sejahtera Elohim yang melampaui semua pikiran akan memelihara hidup Anda selamanya.
[Filipi 4.7]
Saudaramu

Setelah menulis surat itu, saya taruh di lokerku dan meninggalkannya seperti sebelumnya. Saya berdoa dan mengucap syukur kepada Elohim yang mencegah saya dari yang sesat oleh pikiran-pikiran setan. Saya pulang dan memeluk istri saya secepat ia membuka pintu untukku. Dia berkata, “Jangan takut. Jika Elohim di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?

Adapun uang yang dicuri, Alkitab mengatakan, “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; Elohim  mampu memenuhi semua kebutuhan kita sebab Dia adalah YAHWEH Jireh [TUHAN Yang Menyediakan] kita. [Roma 8:31 dan Mazmur 37:25]

Dua hari kemudian, kami mendapat kejutan. Salah satu rekan saya datang ke kantor saat saya bertugas. Itu tidak biasa. Saya bertanya kepadanya, “Ada apa?” Dia berkata, “Saya ingin bicara dengan kamu.” Apa yang ingin kamu bicarakan?” saya bertanya. Dia bilang lebih baik pergi ke tempat yang sunyi berbicara berdua. Jadi, kami duduk saling berhadapan. Dia menunduk dan berkata, “Saya tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada kamu. Saya tidak tahu harus berbuat apa.” Kataku, “Ceritakan apa yang telah terjadi.” Dia membuka sebuah tas kecil dan menunjukkan semua item yang ia telah ambil dari lokerku. Saya tidak bisa mempercayai mataku. Saya tidak yakin bahwa hal-hal yang demikian bisa terjadi padaku bahwa item-item itu dapat kembali. Saya tidak mengharapkan seorang pria seperti dia menjadi pencuri. Dia adalah orang yang religius yang biasa menjaga doa-doa secara teratur. Dia berkata: “Itu semua adalah barang-barang yang saya ambil dari lokermu; silahkan ambil mereka kembali dan jangan memberitahu siapa pun. Tentang uang, saya tidak dapat membayar kamu kembali sekarang, karena anak-anak saya telah sakit parah dan saya harus membawa mereka ke dokter. Saya dapat membayar kamu kembali secara bulanan.” Saya berkata, “Kamu dapat mengambil semua ini. Mereka adalah milikmu sekarang. Saya tidak berbohong ketika saya menulis surat kepada kamu. Yahweh akan memberikan kompensasi pada saya untuk semuanya, kamu ambil uang itu. Saya yakin Yahweh akan menyediakan untuk segala sesuatunya. Seandainya saya tidak jujur, saya tidak akan meninggalkan loker terbuka dengan kunci rusaknya.” Dia berkata, “Saya hanya punya satu pertanyaan. Saya ingin kamu menjawabnya terus terang.” Saya menjawab, “Apakah saya berbohong kepada kamu sebelumnya.” Dia berkata, “Tidak.” Saya bertanya, “Apa pertanyaan kamu?” Dia mulai, “Kau bicara seperti orang Kristen berkata, ”Yahweh, Yahweh.” Kamu menggunakan kata-kata dan ungkapan yang sama yang saya sering dengar dari Gergis tukang kayu, tetanggaku, yang adalah orang Kristen.” Saya berkata kepadanya, “Bahkan, ketika saya menemukan bahwa barang-barang saya tercuri, saya punya dua pilihan, entah membayar agresi dengan agresi, dan gigi ganti gigi sesuai dengan Hadis yang mengatakan, “Dia yang meninggal tanpa uang, ia adalah seorang martir,” dan ”Jangan seorang pun dari kamu menjadi pengecut, hanya ambil hak-hak mu jagan perduli yang lainnya.” Dengan kata lain, saya memiliki pilihan tentang cara apa mana saya bisa mendapatkan kembali barang-barang saya. Pilihan lainnya adalah untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan dan tidak untuk membalas dendam untuk diriku. Jika seseorang ingin menuntut saya dan mengambil kemejaku, saya harus membiarkan dia memiliki jubah saya juga [Matius 5:38-42]. Yang mana dari kedua cara tersebut lebih baik menurut pendapat kamu?” Dia berkata, “Pilihan kedua tentunya jauh lebih baik.” Saya berkata, Itulah yang saya telah lakukan. Saya berperilaku dalam cara demikian, untuk menjaga ikatan kasih dan kebaikan, mengabaikan perilaku yang bersumber entah itu dari Islam, Kristen atau Yudaisme. Yang penting adalah perilaku itu sendiri. Jika saya menemukan perilaku seperti itu dalam Islam, misalnya, saya akan berlaku seperti itu tanpa ragu-ragu.” Dia bertanya-tanya, “Dari mana kamu mendapat ini? Dimana kamu telah mempelajari konsep-konsep tersebut?” Saya menjawab, “Saya akan memberi tahu Anda kemudian. Sekarang kamu tegang. Beberapa waktu kemudian, ketika kamu beristirahat, saya akan menceritakannya, mungkin setelah beberapa hari atau satu bulan. Jika kamu masih tertarik untuk tahu, saya tidak akan ragu-ragu untuk memberitahu kamu.”

Dua minggu kemudian, setelah ia selesai giliran tugasnya, rekan saya ini datang kepadaku dan berkata, “Sekarang ketegangan saya telah turun dan saya masih tertarik untuk mengetahui sumber ajaran kamu, sebagaimana kamu telah berjanji.” Saya berkata kepadanya, “Saya akan menemui kamu besok untuk memberitahu kamu semua yang kamu ingin tahu.” Keesokan harinya, ia bertemu dengan saya dan menanyakan pertanyaan yang sama. Saya berkata kepadanya, “Sebentar.” Saya mengambil Alkitab dan berkata padanya, “Jika kamu benar-benar ingin tahu dari mana saya telah belajar semua itu, bacalah buku ini!” Dia berkata, “Itu adalah Alkitab! Allah melarang.” Saya berkata, “Ya, ini adalah Alkitab dan kamu benar-benar bebas untuk membacanya jika kamu ingin tahu. Kamu dapat mengambilnya jika kamu ingin. Jika tidak, itu terserah Anda.” Dia mengambil AlKitab tersebut dan terus membulak-balik kedua sisi dan melihatnya dengan terheran-heran. Akhirnya, ia mengambilnya dan pergi. Saya berkata, “Jika kamu mengalami kesulitan apapun, kamu bisa bertanya kepada saya.”

Selama dua minggu, dia terus datang ke saya dengan berbagai pertanyaan. Dia terus membaca Alkitab sampai suatu kali saya melihat perubahan besar dalam hidupnya. Cintanya kepada Alkitab sangat meningkat. Suatu hari, ia berkata, “Buku ini berisi berkat yang besar. Sejak saya membacanya, hubungan saya dengan istri saya semakin bertambah baik dan semua perbedaan kami telah lenyap.” Kataku, “Bacalah lebih lanjut untuk mengetahui apa yang harus kamu lakukan.” Ia menyerap isi Alkitab dengan cepat. [Iblis sangat sadar, jika seorang membaca Alkitab, orang tersebut akan mengetahui kebohongannya, itulah sebabnya ia melarang!]

Suatu hari, dia datang padaku dan tiba-tiba meminta saya untuk mengajarkan kepadanya doa cara Kristen. Dia ingin tahu bagaimana itu nampaknya. Saya katakan kepadanya bahwa itu tidak memiliki aturan tertentu. “Kamu dapat berdoa dalam posisi apapun, dengan gaya apapun,” kataku. Tiga bulan kemudian, kejutan besar terjadi, dia datang memeluk dan merangkul saya dengan hangat. Dia bertanya bagaimana ia dapat dibaptis. Teman saya ini menerima Yahweh dan dia menjadi berkat yang luar biasa untuk seluruh keluarganya. Saya senang merasa bahwa Elohim benar-benar telah memilih saya untuk bekerja di kebun anggur-Nya dan menjadi salah satu dari domba-Nya. Ini adalah suatu kehormatan untuk menjadi salah satu dari orang-orang yang memimpin sesamanya, bukan untuk khayalan dan penipuan tetapi untuk Keselamatan dan Hidup Kekal. Di masa lalu, saya biasa menangkap orang-orang untuk membawa mereka kepada kehancuran. Betapa indahnya bekerja dengan Yahweh, Gunung Batu Yang berabad-abad, Juruselamat Yeshua Ha Mashiah.

Untuk pertama kalinya, saya mulai merasa bahwa saya mencintai negeriku dan bangsaku. Saya mulai mencintai pengampunan dan toleransi. Sungguh, saya menjadi ciptaan baru. Elohim memakai saya menarik banyak jiwa kepada Ha Mashiah, membawa kembali banyak domba yang tersesat yang telah meninggalkan-Nya. Saya melewati banyak pengalaman masa lalu yang masih tersisa. Serangan Iblis datang melalui kehidupan lama pada rohku dan juga tubuhku.

Suatu hari, saya pergi untuk mengunjungi keluargaku. Saya [pergi ke stasiun untuk] naik minibus. Saya mendengar sopir memanggil penumpang untuk masuk dan mengambil tempat mereka, saya masuk dan supir itu menyuruh saya duduk di kursi yang menampung tiga penumpang – tapi saya adalah orang keempat. Disebelah saya, duduk seorang yang besar yang ketat dalam beragama, berjenggot,  dan disampingnya duduk istrinya yang berjilbab. Pria ini tidak bersahabat terhadap saya. Dia menatapku dan menekan saya dan menyisahkan sedikit tempat. Dia meregangkan kaki, memberikan ruang pada saya hanya beberapa centimeter. Ketika saya melihat ini, saya meninggalkan mobil. Sopir bertanya padaku apa yang salah. Saya bilang tidak ada tempat untuk saya. Dia bilang kursi untuk empat penumpang, dan ia meminta Syekh untuk memberi saya beberapa ruang. Tapi saya merasa bahwa orang yang tidak ingin ada yang duduk di sampingnya sehingga tidak ada seorang pun mengganggu istrinya. Akibatnya, saya keluar dan membayar ‘tempat’ keempat tersebut agar tidak seorang pun akan duduk di samping mereka. Saya meminta sopir untuk memberikan seluruh ruang sehingga tidak ada seorang pun mengganggu istrinya. Penumpang pria itu menyadari apa yang terjadi, kejantanan, kegentelman dan kesopanannya tiba-tiba terbangun dalam dirinya. Dia bersikeras bahwa saya duduk di sampingnya. Saya katakana itu tidak perlu, nanti saya akan mendesak tubuh mereka, tapi dia tetap bersikeras untuk saya duduk bersama mereka. Dia memberiku ruang yang cukup.  Minibus itu bergerak untuk beberapa meter dan orang itu bertanya padaku pertanyaan yang tidak terduga, “Apakah Anda seorang Muslim atau Kristen?” Saya bertanya kepadanya, “Mengapa Anda ingin tahu?” Dia berkata, “Saya hanya ingin tahu?” Saya menjawab, “Saya seorang Kristen.” Dia mengeluh, “Celaka, jika Anda seorang muslim, perilaku Anda ini akan lebih berharaga.” Saya bertanya, “Apakah Anda mengenal siapa saya?” Dia berkata, “Tidak.” Kataku, “Saya pun tidak mengenal Anda. Tetapi mengapa Anda berpikir bahwa saya akan melakukan itu untuk Anda?” Dia menjawab, “Yah, saya tidak tahu.” Saya katakan kepadanya bahwa kami (orang-orang Kristen) memiliki teks dalam Alkitab yang memperingatkan kami untuk mengasihi semua orang, termasuk orang-orang yang menyakiti kami. “Saya menyadari betapa keras Anda telah berlaku kepada saya dan saya hanya ingin menunjukkan jenis kasih yang mengisi kami terhadap semua yang membenci kita. Saya tidak bisa membantu kecuali berkelakuan sama seperti itu.” Dia bertanya, ”Apakah Anda memiliki Kitab Suci.” Saya menjawab, “Ya.” Dia bertanya, “Apakah kamu menyembah Elohim (Allah)?” Kataku, “Siapa lagi yang dapat kita sembah?” Dia meneruskan, “Saya tahu bahwa Anda menyembah Ha Mashiah, para imam dan biarawan, sebagamana Kuran berkata.” Saya berkata, “Tidak semua yang Anda tahu tentang kami adalah benar. Jika tidak, Anda tidak akan mengagumi perilaku saya terhadap Anda. Dapatkah saya menyarankan sesuatu?” Dia berkata, “Dapat.” Saya memberi kepadanya sebuah Alkitab. Dan berkata kepadanya, “Alkitab ini mencakup Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Bacalah itu dan lihatlah apa yang ada di dalamnya. Jika Anda suka, bagus. Jika tidak, Anda tidak kehilangan apapun.” Saya beri ia Alkitab dan kami sepakat untuk bertemu di suatu tempat di lain waktu.

Kami sering bertemu setiap minggu untuk membahas pertanyaan-pertanyaannya. Setelah itu, kami mulai berdoa bersama. Dia mulai memiliki beberapa argumen dengan istrinya dan dia ingin menceraikannya. Saya katakan kepadanya bahwa perceraian bertentangan dengan kehendak Elohim. Kami berdoa untuk istrinya, damai yang berkesinambungan dan keakraban keluarganya. Saya katakan kepadanya bahwa Kekristenan adalah jenis kehidupan yang mengumpulkan orang – bukan membuyarkan, dan mengutip untuknya, Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya.”  [1Korintus 7:14]

Teman saya gembira dengan ajaran Alkitab. Yahweh memasuki rumahnya dan membawa kesatuan, damai dan berkat.

Saya tidak ingin menyelesaikan kesaksian saya. Sebenarnya, ini adalah sebuah kesaksian yang berkelanjutan. Selama Yahweh bekerja dalam diriku kesaksian akan berlanjut.

Singkatnya, saya ingin mengatakan bahwa Elohimlah yang telah memberi saya kehidupan ini secara gratis. Jika kita mempertimbangkan pilihan lain, kita tidak akan menemukan apapun kecuali kerusakan, kehancuran dan dosa. Elohim tidak menyebutkan dosa-dosa kita lagi. Kita menikmati kebebasan karena Putera [Elohim] telah membebaskan kita, Kita menjadi sungguh-sungguh bebas. [Artinya: bebas dari ikatan dan kuasa dosa, dan mampu mengalahkan keinginan dosa; 1Yohanes 5:1-21] Hidup adalah Ha Mashiah dan mati adalah keuntungan. Saya dipenuhkan dengan perasaan demikian untuk pertama kalinya dalam seumur hidupku. Di masa lalu, kematian adalah hantu yang menjijikan dan menakutkan. Dahulu saya takut akan siksaan neraka dan pertanyaan dua malaikat, dll.

Sekarang, saya ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Anda, pembacaku yang budiman, sampai kita bertemu di suatu pengalaman baru yang mendebarkan dari urusan mulia sorgawi yang tidak pernah berakhir dari Yahweh yang mampu menjaga mereka yang telah dipercayakan kepada-Nya.

Salam,
Paul

Bersambung ke Bab 9. Dahulu Saya Mati Tetapi Sekarang Saya Hidup

  1. Pendahuluan
  2. Dibelakang Kerudung
  3. Diberkatilah Bangsa Mesirku
  4. Dari Tanahair Mashiah Anak-anak Ismail Akan Kembali
  5. Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid
  6. Orang-orang Pilihan Mashiah
  7. Dari Kristen nominal Ke Islam dan Kemudian Ke Mashiah
  8. Begitulah Bagaimana Saya Telah Mengenal Elohim
  9. Dahulu Saya Mati Tetapi Sekarang Saya Hidup
  10. Instruksi-instruksi Penting
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Begitulah Saya Mengenal Elohim; Ex-Jihadist. Pt.1

[Pendahuluan, menjadi Muslim fanatik, semua kafir!, berjihad, meneliti Alkitab untuk menyerang Kristen, Kuran meneguhkan keilahian Yeshua]

Judul ini adalah bagian dari buku kesaksian Anak-anak Ismail.

Buku Anak-anak Ismail (The Children of Ismael) adalah kisah-kisah nyata yang mengharukan dan menyentuh hati setiap pembacanya. Mereka bersaksi bagamana Elohim telah merubah gurun pasir kehidupan menjadi padang rumput yang indah, rantai-rantai ikatan protokol keagamaan yang berat menjadi hubungan kasih yang manis dengan Pencipta mereka. Dilampirkan Ayat-ayat Kuran terjemahan Yusuf Ali (YA) dan Alkitab Indonesia Terjemahan Baru (ITB). Selamat membaca!

Bab 8A. Sebelum Pembaca membaca kesaksian ini, lihat dahulu videonya, maka tulisan ini (yang jauh lebih komplit dan detil dari versi videonya) akan semakin menggairahkan untuk dibaca. Saya akan bagi cerita ini dalam dua bagian. Dalam versi video ia memakai nama Khalil, namun pada buku kesaksian ini ialah Paul, namun isi ceritanya sama.

Pendahuluan
Cara terbaik untuk memulai kesaksian saya adalah berterima kasih kepada Elohim dari lubuk hatiku untuk perubahan besar dalam hidupku dan dalam kehidupan semua orang yang setia mencari Dia. Elohim telah menuntun saya dengan kekuatan kuasa-Nya dan menyelamatkan saya dari gua singa. Anehnya, perubahan ini bukan hasil dari keinginanku, [bukan juga] suatu reaksi terhadap sesuatu yang telah saya dengar atau khotbah oleh seorang pendeta atau penginjil. Sebaliknya, ketika saya sedang lari berkeliling menyerangi Firman-Nya dan orang-orang-Nya, Dia telah mempersiapkan segala sesuatu untuk menangkap saya dengan sebuah jala yang saya tidak bisa lolos! Dia adalah Elohim Yang Hidup yang mencari anak yang hilang. Ia membentangkan tangan-Nya kepada siapa pun yang bertobat, Dia menyebarkan cahaya-Nya kepada siapa saja yang hilang di dunia; Dia mengetuk dengan lembut pada pintu setiap rumah yang miskin dan hancur untuk mengisinya dengan kekayaan spiritual, kemurnian dan kesucian. Dia memberikan secara berlimpah-limpah dan tidak menyesal melakukannya. Dia tidak memberikan kita menurut tindakan kita, tetapi menurut rahmat-Nya.

Saya sangat ragu-ragu setiap kali saya mencoba untuk menuliskan kesaksianku. Saya takut untuk membesar-besarkan. Saya tidak ingin memakai sebuah alas. Saya tidak layak menerima kredit apapun. Semua kemuliaan milik Elohim. Saya juga telah meninggalkan beberapa kesombongan dalam diriku. Saya berpikir bahwa memberitakan karya Elohim dalam hidupku akan menjadi penghinaan terhadap egoku, karena saya dahulu adalah orang yang kejam terhadap pengikut Elohim Yang Hidup – Elohim yan sama yang telah mencari saya dan membuka mata saya untuk melihat cahaya yang belum pernah saya kenal sebelumnya.

Seperti yang akan Anda baca pada halaman berikut, saya tak punya pilihan selain menyerah dalam pertempuran antara iblis, yang tinggal dalam diriku, dan Elohim Yang Kudus yang menawarkan keselamatan-Nya dan membuka lengan-Nya untuk memegang saya. Saya benar-benar bisa mengatakan seperti Ayub, Hanya dari kata orang saja saya mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. (Ayub 42:5) dan memohon seperti Daud, Jadikanlah hatiku tahir, ya Elohim dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! (Maz. 51:10)

Ini adalah Adonai Yeshua Ha Mashiah, Firman kekal dan Roh Elohim. Dia adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup; siapapun yang percaya kepada-Nya tidak akan mati, siapapun yang  datang kepada-Nya tidak akan haus atau lapar, Dia adalah yang pertama dan terakhir, alfa dan omega, Adonai Yeshua Ha Mashiah!

Hidup saya sebelum saya percaya Ha Mashiah
Saya harus bicara singkat tentang hidupku sebelum saya percaya Ha Mashiah karena itu akan menunjukkan betapa Ia mengasihi kita. Bahkan ketika kita berperang melawan-Nya, Dia mencari kita seperti gembala yang mencari domba-Nya yang telah tersesat di padang gurun.

Saya lahir dan dibesarkan di sebuah keluarga yang sangat fundamental. Saya mengikuti teladan mereka dengan kehendak bebasku, meskipun mungkin keluargaku mempengaruhi saya. Saya mulai di ‘Kottab’ kecil (tempat belajar Islam) yang berada di daerah terpencil dekat desa kecil kami di Mesir Hulu, 200 km selatan Kairo.

Pada awalnya, minat saya terfokus hanya sekedar menghafal bagian Kuran yang merupakan bagian dari kurikulum sekolah kami. Secara bertahap, minatku menjadi lebih pribadi. Saya terdorong oleh kecintaanku terhadap firman Allah. Pada saat itu, Dewan Tertinggi Urusan Islam biasa menjalankan sebuah kompetisi tahunan sekolah dalam menghafal Kuran, dan semua sekolah Negara berpartisipasi. Ibu saya meminta saya untuk mengambil bagian di dalamnya. Jadi saya lakukan. Saya mendapat nilai terbaik, maka saya memenangkan hadiah pertama, yang merupakan penghargaan keuangan 10 Pounds Mesir. Ayahku sangat senang mendengarnya. Dia selalu mendorong saya untuk terus berpartisipasi dalam kompetisi yang setiap tahun hanya untuk mendapatkan penghargaan keuangan.

Saya terus mempelajari Kuran dengan tekun. Saya akhirnya menghafal lebih dari 15 bagian dari Kuran sebelum saya menyelesaikan SMP. Saya menyelesaikan menghafal seluruh Kuran selama di SMA. Pada saat itu, saya tinggal bersama orang tuaku serumah dengan keluarga besar kami, termasuk semua pamanku dan para sepupu. Salah satu para sepupuku adalah seorang Muslim fanatik. Dia adalah seorang mahasiswa di Al-Azhar, Universitas Islam. Dia biasa membujuk saya untuk membaca buku-buku. Kadang-kadang ia akan membelikan saya beberapa buku untuk dibaca.

Pada satu saat, keluarga dekat kami pindah ke sebuah rumah terpisah jauh dari keluarga besar. Sepupu saya juga pergi ke sebuah negara Arab untuk bekerja sebagai pengkotbah Islam di salah satu Masjid di sana. Dia tinggal di sana selama dua tahun. Ketika ia kembali, ia mengatakan bahwa kita tidak tahu Islam yang benar melalui mana kita bisa pergi ke “Al-Jannah” (sorga), karena kita tahu sangat sedikit. Dia bilang juga bahwa ia telah bertemu dengan beberapa pemimpin Islam dan Imam yang berhasil melarikan diri dari tirani penguasa di sini, [Mesir]. Dia meminta saya untuk pergi lebih dalam dalam studiku melalui beberapa buku tulisan Imam Ibnu Tammemah, Syeikh Sayed Kotb dan Ibn Hazem Al-Zahery. Meskipun ada kesulitan dari beberapa buku tersebut, saya sangat mengagumi mereka. Mereka mengusulkan sebuah jalan yang sangat menantang bagi siapa saja untuk diikuti. Sebagai contoh, saya menemukan salah satu Hadis yang mengatakan, “Setiap orang yang makan bersama atau tinggal bersama orang kafir, menjadi seperti dia.”

Sejak saat itu, saya bertujuan masuk kedalam sebuah tahap baru dalam kehidupan beragamaku. Saya mulai memeriksa orang di sekitar saya untuk tahu siapa yang kafir dan siapa yang Muslim. Saya juga mulai mengumpulkan ayat-ayat Kuran yang akan membantu saya untuk membedakan antara Muslim sejati dan Non-Muslim, saya ingin melukiskan sifat hubungan saya dengan masing-masing jenis. Akhirnya, saya berakhir di situasi situasi sangat ketat, menemukan bahwa ayahku, sesuai dengan kriteria hadis, adalah salah satu dari orang-orang kafir karena ia merokok dan tidak memelihara janggutnya. Ibuku tidak berdoa, ia sangat biasa memanggil nama orang. Saudaraku juga kafir karena mereka menonton TV atau merokok. Beberapa dari mereka tidak melakukan shalat lima waktu. Beberapa dari mereka tidak memelihara janggutnya.

Saya begitu marah dengan saudara-saudaraku sehingga saya mencegah mereka meneruskan tahap tertentu dari studi mereka. Saya juga meminta ayahku untuk menceraikan ibuku karena dia tidak mematuhi saya, hal yang sepertinya membuat marah ayahku sangat besar. Saya sampai pada kesimpulan akhir bahwa ayahku, ibuku dan saudara-saudaraku semuanya kafir. Saya bertanya sepupuku apakah saya harus tinggalkan mereka, dan ia menjawab saya positif. Saya bertanya kepadanya jika saya mengakhiri hubunganku dengan mereka, kemana saya pergi? Dia meminta saya untuk datang dan tinggal bersamanya.

“Apakah kamu memiliki keraguan dengan sepupumu dan istrinya tentang iman mereka?” Tanyanya padaku. Saya berkata kepadanya, “Tidak, kalian adalah benar-benar orang-orang percaya.” Dia berkata, “Jadi, datang dan bawa semua harta milikmu dan tinggal dengan saya pergi dari kehidupan perselingkuhan dan ketidaksetiaan rumahmu.” Jadi, saya mengemasi barang-barang saya dan meninggalkan keluargaku. Dengan air mata, ibu saya dan saudara mengucapkan selamat tinggal kepada saya. Saya tidak ambil perduli dengan air mata mereka. Saya benar-benar bertekad untuk tidak ada bersama dengan orang-orang kafir lagi. Saya yakin dengan sukacita untuk meninggalkan rumahku demi Allah.

Sepupuku menetap di Kairo. Dia menyewa sebuah apartemen di dekat Universitas Al-Azhar. Dia berada di tahun terakhir studi akademisnya, jadi saya harus kembali ke rumah ayahku dengan malu dan terhina. Saya tanya sepupuku, “Tidakkah kamu pikir bahwa kedatanganku kembali ke rumah ayahku adalah sebuah pelanggaran?” Dia menjawab: “Tidak, karena kebutuhan tidak mengenal hukum dan larangan perlu pembenaran.” Dia membaca: Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (S. 2:173.) [Islam mengajar kebenaran relatif]

Saya berada di langit sembilan, mendengar itu. Saya berada di tahun terakhir di sekolah tinggi, dan saya memutuskan untuk belajar keras sehingga tidak ada orang akan mengatakan bahwa agama adalah hambatan bagi keberhasilan akademis. Saya berhasil mendapat nilai yang tinggi dalam Ijasah Umum Pendidikan; saya berhasil bergabung dengan Fakultas Kedokteran, Universitas Kairo.

Sedikit demi sedikit, pikiran saya dibebaskan dari semua pola pikiran sepupuku yang biasa menekan. Saya membaca banyak buku yang ia biasanya larang dengan berkata, “Mereka membawa pikiran kelompok Islam ‘Takfeer dan Al-Hijrah’ atau penjahat abad kedua puluh. Kata-katanya memotivasi saya untuk pergi dan menemukan apa yang orang-orang tersebut katakan.

Di sekolah kedokteran, saya menemukan banyak aliran politik yang diwakili oleh kelompok-kelompok kecil yang sah. Saya memutuskan untuk bergabung dengan kelompok keagamaan untuk menjaga keseimbangan dengan kelompok lain. Pemimpin kelompok adalah anggota fakultas. Dia juga sekretaris umum. Kami memiliki orang lain yang bertanggung jawab untuk membuat kontak di dalam anggota kelompok.

Tidak diragukan lagi, saya menghadapi banyak kesulitan dalam kelompok ini; mereka menjalani kehidupan Islam tradisional yang jauh dari pemahaman yang benar tentang Islam dalam hubungan dengan non-Muslim (saya tidak maksudkan para Kristen, tetapi para Muslim nominal). Dengan demikian, ambisi agamaku tumbuh lebih dan lebih. Saya fanatik dalam usahaku mencapai status seperti mereka yang telah berpetualangan melawan pemerintah dan rezim. Jadi, saya mulai sebuah sel, sebuah kelompok kecil. Saya mengajar mereka Islam, sebagaimana saya memahaminya. Saya merasa ketaatan dan komitmen mereka. Kami terbiasa berdoa bersama di tempat terpencil jauh dari masjid karena kami berpendapat bahwa ini adalah sama dengan apa yang orang Yahudi telah bangun untuk menghambat nabi Muhammad.

Jadi, saya mulai menyortir hubungan saya dengan orang-orang sesuai dengan posisi mereka dan pemahaman Islam. Jika seseorang menolak apa yang kami katakan, ia akan dianggap kafir dan akan diperlakukan seperti kafir,  “Janganlah orang-orang mukmim/ beriman mengambil teman-teman atau penolong dari orang-orang kafir kecuali orang-orang mukmin …” (S. 3:28) atau Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin… (S. 3:28 YA)

Saya tidak ada kesulitan melakukan itu. Kita semua yang merupakan bagian dari kelompok itu didorong oleh keinginan yang besar dan antusiasme untuk mengikuti contoh dari nabi Muhammad.

  • Kami selalu membayangkan Abu Obeida anak Garah, yang digambarkan oleh nabi Muhammad sebagai pemimpin bangsa, membunuh ayahnya saat terakhir menolak untuk bergabung Islam;
  • Mosaab anak Omair, yang tidak pernah mendengarkan permohonan ibunya dan membiarkan ia mati karena ia menolak Islam;
  • dan Abu Bakar, yang mengatakan kepada ayahnya bahwa dia akan membunuhnya jika ia tidak masuk Islam. Semua gambaran ini membuat kami lebih kejam terhadap keluarga kami dan teman-teman kami jika mereka menolak Islam versi kami. Sungguh menyakitkan berteriak pada ibuku dan ayahku, dan bersumpah pada saudara-saudaraku, mengancam akan membunuh mereka, tetapi satu-satunya motif saya adalah untuk mematuhi Allah dan nabi. Saya ingin mencapai status mereka mentaati Allah. Saya terus mengingatkan diriku dari Hadis nabi Muhammad, “Setiap orang dari kalian belum menjadi orang percaya sejati sampai dia mencintai Allah dan nabi lebih daripada uangnya, anak-anaknya atau bahkan dirinya sendiri.” [mengutip Injil Lukas 14:26 tanpa pengertian yang benar]

Ada sebuah sekte dengan siapa kami perlu mendefinisikan hubungan kami, sesuai dengan Kuran dan Sunnah. Itu adalah para Ahli Kitab (People of the Book), dan para Kristen khususnya karena tidak ada orang Yahudi tinggal di Mesir, bahkan jika mereka ada tinggal di sana, mereka tidak memiliki hubungan dengan siapa pun. Setelah mencari sikap Nabi Muhammad terhadap orang Kristen, kami menemukan gambaran itu sangat gelap. Namun, hal ini baik-baik saja dengan kami karena kami cemburu kesederhanaan mereka, sopan dan keramahan yang luar biasa mereka dengan para Muslim nominal. Mereka memiliki semacam ketenangan yang aneh dalam menghadapi semua kesusahan dan penyerangan yang kami lakukan pada mereka. Kami telah menafsirkan bahwa itu ialah upaya kotor mereka untuk keluar dari pengasingan mereka sebagai minoritas di antara mayoritas Muslim. Kami beralasan bahwa satu-satunya hal yang dapat mereka lakukan adalah berlaku licik dan jahat dengan berpura-pura berlaku baik kepada umat Islam, jika tidak, mereka akan tidak ada tempat di antara kami. Itulah yang dikatakan Kuran tentang mereka, Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. (S.. 2:61)
Kebencian kami terhadap orang-orang Kristen mengambil bentuk pelecehan dan penyerangan terhadap mereka di jalan-jalan, tetapi mereka menjawab serangan kita dengan lemah lembut yang tidak masuk akal. Kami menanggapi dengan menjadi lebih agresif terhadap mereka, dan kami mulai merencanakan bagaimana kami bisa menyiksa dan mengintimidasi mereka. Kami belajar bahwa Allah telah melegalikan untuk membunuh mereka, merampas harta mereka dan menjarah rumah-rumah mereka. Menurut Kuran, semua harta milik mereka untuk ada dipertimbangkan “hadiah” dari Allah untuk umat Islam.
Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, (S.. 59:7) [Islam melegalkan tindakan dosa; pembunuhan dan perampasan]

Ini berarti bahwa semua milik mereka harus diambil dari mereka tanpa perang seperti nabi telah lakukan terhadap para Yahudi Bani Kurais ketika ia mengepung mereka, membunuh orang-orang muda mereka, mengambil tawanan wanita mereka dan menduduki tanah mereka dengan semua pohon-pohon palem dan menendang mereka dari kota mereka.

Meskipun kami tidak bisa melakukan apa yang nabi lakukan, kami berhasil masuk ke toko-toko orang Kristen dan merampok mereka. Permusuhan dan kebencian di dalam hati kami mencapai puncaknya ketika kami menyerang gereja-gereja mereka di berbagai desa di mana saya dulu tinggal. Bagian atas operasi adalah rencana untuk menyerang dan menghancurkan salah satu gereja. Serangan ini mengganggu pemerintah ketika orang-orang Kristen Koptik berdemonstrasi menentang kejadian itu. Pada saat yang sama, pemerintah tampak bahagia atas kejadian itu karena mereka memperlakukan kami dengan sangat baik di penjara.

Setelah kami menjalani hukuman kami, para penduduk desa menerima kami seperti pahlawan. Ini merupakan motivasi yang baik bagi kami untuk terus menganiaya orang-orang Kristen tetapi dengan kearifan dan kehati-hatian lebih untuk menghindari ditangkap oleh polisi. Semua peristiwa ini terjadi dalam waktu singkat. Saya telah lebih banyak terlibat dan berita yang terus seperti api liar di antara sesama siswaku. Akibatnya, salah satu pemimpin puncak Kelompok Islam yang disebut “al-Takfeer wal-Hijrah” ingin duduk bersama saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang mendalam atas keberanian saya dan kasih kepada Allah dan nabi-Nya. Saya tahu bahwa ia anggota kelompok Syukri dan saya menjadi sangat bahagia tentang hal itu. Saya ingin menjadi salah satu dari mereka. Pemimpin itu sangat berhati-hati dalam pembicaraan dengan saya. Dalam salah satu liburan musim panas, kami mengatur sebuah kamp untuk group Islam Sekolah Medis. Kami mendapat dukungan keuangan untuk kamp dari administrasi sekolah. Tujuan dari kamp yang menghabiskan banyak waktu membahas konsep-konsep Islam.

Setelah kamp, teman saya meminta saya pandanganku mengenai Kelompok Islam itu dan bertanya apakah saya ingin bergabung dengan mereka jika saya mendapat kesempatan. Dia terus mengutip dari para Hadis tentang perlunya bergabung dengan sebuah kelompok yang mengikuti Allah, sunnah-Nya dan Nabi-Nya. Satu pernyataan itu, “Dia yang mati tanpa sebuah kesetiaan, mati seperti kafir Pra-Islam” Dia juga berkata, “Tidak ada Islam tanpa kelompok;  tidak ada kelompok tanpa Emir.”

Saya merasa, karena saya mengasihi Allah dan Nabi, jadi hal terbaik untuk dilakukan adalah bergabung dengan Kelompok Islam. Kelompok sejenis ini adalah yang paling dekat dengan gagasan saya tentang Islam. Mereka mengatur bagi saya untuk bertemu kelompok Emir di rumah seorang anggota di Kairo. Saya menjabat tangan Emir Shokry dan berkata kepadanya, “Saya berkomitmen kepada Anda untuk mendengarkan dan taat, melalui tebal dan tipis, dan untuk menempatkan Anda di depan diri saya  sendiri, kecuali saya menyaksikan ketidaksetiaan dari Anda.” Adalah kesetiaan bukan hanya kata-kata Anda mengulangi. ; Anda secara nyata menaruh hidup Anda di tangan Emir. Anda akan menjual diri kepada Allah dan Nabi.” [Sumpah semacam ini umum dipakai pada sekte-sekte sesat. tanpa sadar menjadikan manusia sederajat Pencipta mereka bahkan secara praktek perkataan dan perbuatan pemimpin menjadi sederat dengan Elohim].

Saya begitu senang hari itu, satu-satunya saat saya lebih bahagia adalah hari saya dibaptis nanti. Setia membuat saya tunduk kepada Emir tanpa keraguan. Saya melakukan apapun yang ia inginkan tanpa memikirkan rasa sakit dan pergumulan-pergumulan yang saya akan hadapi karena saya merasa saya mematuhi Allah dan Nabi. Saya siap untuk melakukan bahkan lebih banyak daripada apa saya diminta untuk lakukan. Saya mulai memperlakukan keluargaku dengan kasar. Saya berhenti menyapa mereka. Ketika mereka menanyai saya, saya akan membacakan kepada mereka, Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orangorang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaikbaiknya. (S. 18:103-4 )

Ayahku meminta saya untuk menceritakan apa yang, menurut saya, akan membuat dia seorang Muslim yang sejati. Saya bilang kepadanya tumbuhkan jenggot dan tidak mendengarkan radio. Dia setuju. Saya kemudian berkata kepadanya, “Ibuku tidak berdoa, karenanya, ia adalah seorang kafir dan Ayah tidak bisa hidup dengan dia. …” Ayahku sangat marah. Dia mencukur jenggot dan hampir memukul saya dengan batu besar, tapi saya lari.

Saya harus mengatakan bahwa hal pertama yang memotivasi saya untuk bergabung dengan Kelompok Islam adalah bahwa mereka begitu jahat terhadap orang Kristen, orang yang saya benci sekali. Saya selalu mencari ayat-ayat Kuran untuk membenarkan kebencian saya dan memberikan saya hati nurani yang jelas dalam apa yang saya lakukan.

Shokry menunjuk saya sebagai seorang Emir untuk kelompok yang lebih kecil di pinggiran Kairo. Dia begitu bangga padaku dan komitmen saya terhadap penyebabnya. Dia memanggilku ‘Abu Obeida’. Masing-masing anggota kelompok memiliki nama panggilan, kami tidak pernah tahu nama asli masing-masing.

Shokry percaya saya lebih dan lebih. Dia mengirim saya ke beberapa negara Arab dan asing untuk melakukan kontak dengan anggota Kelompok. Kami bekerja sama bersama untuk menarik anggota baru untuk bergabung dengan kami dan menerima kesetiaan mereka atas nama Emir Shokry Mustafa.

Pemerintah telah mengganggu kami, sehingga kami harus melarikan diri untuk waktu yang singkat ke bukit-bukit di luar Menia, Badary dan Assiut. Setiap kali kami ditangkap, kami dikirim ke Kairo dan kemudian dilepaskan. Kita semua merasakan perlunya perubahan lokasi karena kami tidak bisa lagi tinggal di antara orang-orang kafir, menurut Hadis nabi, “Saya menolak orang yang tinggal di antara orang-orang kafir” Kami harus mengirim anggota untuk memeriksa tempat terbaik untuk ‘pindah.” Kami mencari tempat permanen untuk hidup, kembali hanya untuk menghukum rezim sekuler yang tidak mengikuti perintah Allah.

Suatu hari pada tahun 1977, anggota lain dan saya diperintahkan untuk mencari kamar apartemen di daerah,berpenduduk sangat miskin, tidak ada pertanyaan yang diajukan. Kami menemukan apartemen yang cocok dan kami menyewa itu, masih tidak tahu kenapa. Hari berikutnya kami tahu bahwa Syekh Muhammad telah diculik oleh beberapa anggota kami. Beberapa menit kemudian, anggota lain mengunjungi kami dan memberitahu kami keseluruhan cerita. Sheikh Mohammed selalu menyerang kelompok kami. Sejujurnya, ia biasa menulis hal-hal yang salah tentang kami, menyatakan kami akan menikah seorang wanita untuk lebih dari satu pria. Kelompok kami memperingatkan dia berkali-kali untuk menghentikan serangan, namun ia menganggap ringan.

Kami diberitahu bahwa tujuan operasi itu adalah untuk lebih menekan pemerintah untuk melepaskan beberapa pemimpin yang telah ditangkap sehubungan dengan insiden Akademi Teknik Militer. Kelompok kami juga ingin meminta tebusan uang untuk menutupi sebagian besar biaya kami.

Beberapa jam kemudian, sebagian besar, jika tidak semua anggota kelompok kami ditangkap di seluruh Mesir. Bahkan orang yang memiliki hubungan jauh dengan kelompok kami ditangkap juga. Kami dipindahkan ke Penjara Kalla di mana kami menghabiskan 2 tahun disiksa dan diinterogasi dalam apa yang berlabel ‘kasus milik sebuah kelompok anti-pemerintah.’  Dua tahun kemudian, kami dibebaskan. Kami harus meninggalkan negara itu secepat mungkin. Kami membagi  kelompok kami dan menyebar ke beberapa negara Arab, menunggu perintah dari Emir, yang Shokry telah tunjuk untuk mengisi tempatnya. Itu adalah awal dari akhir untuk kelompok ini. Saya jujur mengatakan bahwa jika bukan karena “Operasi Sheikh Mohammed” kelompok kami akan memiliki kekuatan besar dalam menjalankan hal-hal di Mesir.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, beberapa dari kami sedang mencari untuk sebuah kota yang kami bisa pindah dalam persiapan untuk jihad yang besar. Kami diberitahu bahwa tempat itu ditemukan, dan banyak saudara sudah pergi ke sana. Pada awal 1980, saya bergabung dengan anggota kelompok lainnya di daerah itu. Itu adalah wilayah gurun dengan tidak ada orang di sekitarnya, dengan perkecualian beberapa Badui yang melewati. Kami sediakan tempat untuk tinggal dan mulai bergerak dalam kelompok kecil, karena kita hanya memiliki satu mobil. Banyak anggota kami dibesarkan di daerah ini, sehingga mereka membantu kita banyak untuk mengenal medan dan tradisi komunitas baru. Kami berhasil menggali sumur air di kamp kami. Kami memiliki kode rahasia untuk masuk dan keluar. Kami meronda kamp secara bergiliran. Kami terlatih dalam penembakan senjata dan memberikan setiap orang senapan untuk membela diri dalam kasus serangan.

Selama beberapa hari pertama, semua berjalan baik dan kami senang. Kami ingat saat nabi Muhammad bermigrasi ke Madinah. Kami menanti hari kami kembali ke Mesir dan menaklukkannya seperti  nabi lakukan terhadap Mekah. Kami memiliki tradisi setiap kami masing-masing, telah meninggalkan keluarga kafir kami dan berhijrah demi Allah, mengulangi bait puisi berikut:

“Selamat tinggal, tanah air saya, itu mungkin untuk  waktu yang lama!
bangsamu dan milikku telah meninggalkan Kuran!
Sulit bagi saya untuk pergi, tapi
saya mencari kebenaran! ”


Kami mengulangi kata-kata dengan penuh antusias. Kami tidak peduli apapun selain Panggilan Islam. Kami siap untuk menghadapi semua kesulitan demi Allah. Kami pikir jika kita mati, kami akan masuk surga, jika tidak, kami akan memenangkan pertempuran. Bait puitis ini mengisi kami dengan sukacita dan kebanggaan, tetapi juga mengisi mata kami dengan air mata dan kesedihan, hilang teman dan keluarga.

Kota yang kemana kami berimigrasi menderita masalah, kerusuhan dan perang gerilya. Semua orang kota bersenjata, yang membuat lebih mudah bagi kami untuk membawa senjata tanpa kerumitan apapun. Pihak berwenang setempat mendengar kehadiran kami melalui para Badui, yang kadang-kadang tersesat di gurun di daerah ini dan biasanya datang kepada kami untuk menunjukkan jalan kembali. Suatu hari, salah satu penjaga kami melihat, melalui teleskop, dua mobil bersenjata datang ke perkemahan kami. Ketika mereka hanya beberapa meter jauhnya, ia menghentikan mereka dan bertanya kepada mereka apa yang mereka inginkan. Mereka ingin bertemu dengan kami untuk mencari tahu siapa kami, mengapa kami tinggal di daerah tersebut dan kelompok mana kami tergabung. Mereka takut bahwa kami anggota pembangkang daerah itu. Setelah percakapan panjang, di mana saya ambil bagian, mereka tahu bahwa kami tidak penduduk setempat tapi pendatang ke daerah tersebut, yang membuat mereka lebih curiga. Setelah banyak diskusi, kami dengan sedih harus meninggalkan kamp kami dan meninggalkan impian kami di daerah tersebut.

Karena kami berada di sebuah negara di sebelah Mesir, kembali itu mudah dan murah. Kami tidak punya pilihan selain untuk melanjutkan rencana kami. Kita semua memutuskan untuk kembali ke Kairo, tetapi beberapa kawan dan saya, untuk beberapa alasan yang tak terduga, tinggal di belakang untuk waktu yang lama. Selama waktu itu, kita harus mengetahui beberapa saudara yang berpartisipasi dalam perang Afghanistan. Kami berhasil meyakinkan mereka bahwa perang Afghanistan bukan demi Allah dan Islam. Mereka menyatakan kesetiaan kepada kelompok kami dan banyak membantu kami sampai kami kembali ke Mesir melalui  pejalanan darat pada awal 1990.

Ketika kami mendekati Kairo, kami ditangkap dan dibawa ke Departemen Dalam Negeri. Setelah beberapa waktu interogasi, mereka merilis kami. Kami mencoba, bersama-sama dengan orang-orang yang tetap setia, untuk membangun kembali kelompok tersebut. Kami biasa bertemu dua kali sebulan untuk mempelajari dan merumuskan ide-ide utama kelompok. Tugas ini selesai pada Februari 1990.

Suatu hari, salah satu saudara kami yang bertugas untuk meninjau buku, majalah dan koran, mengumpulkan informasi tentang kelompok Islam serupa di seluruh dunia, datang kepada kami. Dia sedih dan wajahnya tampak merah. Dia bertanya kepada kami, “Apakah kalian membaca koran hari ini” Kami berkata, “Tidak, ada apa?” Dia berkata, “Mereka menahan sekelompok misionaris yang mempertobatkan Muslim nominal ke Kristen.  Memikat mereka dengan uang atau melibatkan mereka dalam hubungan seksual…. “ Kami sangat malu, terutama karena itu merupakan bulan Suci Ramadan. Kami harus mengambil sikap terhadap orang-orang yang mempromosikan kejahatan. Tapi bagaimana kita dapat merubah kejahatan? Dengan tangan? Itu akan sangat sulit. Dengan kata-kata? Itu akan sedikit yang bisa kami lakukan, tapi bagaimana dan kapan? [Menurut Dr. Mark A. Gabriel, dalam bukunya "Islam and Terrorisism", berita ini hanyalah gossip, dibuat untuk membangkitkan kebencian]

Tahap permulaan:
Ketika kami membaca koran itu, kami merasa malu bahwa kami telah gagal berdiri untuk Allah. Kami memutuskan untuk memainkan peranan  yang efektif terhadap penginjilan Kristen untuk menghentikannya dengan segala cara. Setelah argumen panjang, kita mengesampingkan solusi militer karena berbagai alasan. Sebagai contoh, sistem keamanan negara telah berkembang di Mesir secara luar biasa dibanding pada 1970-an, para pemimpin kelompok kami aktif, para pemimpin aktif kelompok kami , yang berhasil menyelinapkan kami ke dalam  wilayah  bahaya di luar negeri, sudah pergi dan kami tidak memiliki pengganti yang memadai. Beberapa dari pemimpin tersebut telah dihukum mati; lainnya melayani hukuman seumur hidup.

Oleh karena itu, kita tidak tinggalkan pilihan militer dan mencari jalan lain untuk mengatasi penginjilan Kristen. Akhirnya, kami berpikir tentang ‘confrontation’ logis – mengekspos ajaran-ajaran palsu dan korupsi di dalam Taurat dan Alkitab. Semua pemimpin memuji pendekatan itu, dan kami mulai mencari orang yang dianggap mampu untuk tanggung jawab besar ini menunjukkan kebenaran dan mengalahkan orang-orang kafir. Saya tak pernah berharap menjadi calon untuk tugas itu, bukan karena kurangnya kemampuan tetapi karena semua orang tahu betapa saya benci orang Kristen. Setelah lama berdiam diri tegang, suara Emir mengumumkan nama orang yang memilih untuk melakukan pekerjaan itu. Saya hampir pingsan ketika mendengar namaku. Saya bersih keras dengan pendirian ku disertai kemarahan. Bagaimana mungkin mereka meminta saya untuk melakukan pekerjaan itu, salah satu syaratnya tentunya, membaca buku Yahudi dan Kristen?

Emir kami  menatapku dan berkata,“Ini perintah! Kamu tidak punya pilihan selain mematuhi jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Terakhir.” Dia mengutip dari Kuran, Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. (S. 33:36)

Saya mencoba meyakinkan Emir untuk memilih orang lain, tapi ia menolak. Dia berkata padaku, “Saya merasa bahwa kamu  adalah orang terbaik untuk tugas ini. Jika kamu melakukannya dengan baik, kamu akan membunuh 2 burung dengan satu batu. Pertama, kamu akan mendidik semua umat Islam dan membuka mata mereka kepada fakta-fakta yang mereka tidak dapat melihat, kedua, kamu akan mendapatkan banyak ‘uang yang baik’, karena penelitian kamu akan diterjemahkan dan diterbitkan di seluruh dunia …. ”

Kata-katanya membuatku begitu ingin untuk mengambil topik tersebut dan sifat penelitian. Emir mengatakan, “Penelitian kamu harus memiliki 2 bagian:

Pertama, untuk membuktikan dari Taurat dan Alkitab keaslian panggilan Muhammad sebagai nabi, seperti Kuran katakan; (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, (S. 7:157);
Kedua, untuk membuktikan, menemukan kontradiksi, bahwa Taurat dan Alkitab yang orang-orang miliki pada saat ini tidak sama dengan Kitab yang diilhami oleh Allah, dan mereka telah berubah dan dirusak ….”

Dengan enggan, saya menerima misi ini. Saya berkata kepada Emir, “Tapi tugas ini menuntut bahwa saya membeli Taurat dan Alkitab untuk dibaca.” Dia mengatakan kepada saya bahwa kami akan pergi ke pusat kota Kairo untuk membelinya. Kami berjalan di Jalan Gomhoria sampai kami menemukan sebuah toko buku yang menjual buku-buku ini. Kita tidak bisa mausk ke toko buku memakai pakaian tradisional kami karena itu mencolok. Orang-orang di toko buku kemungkinan besar akan telepon polisi berpikir bahwa kami datang untuk merusaknya. Seorang pria melewati tempat itu, dan kami menghentikannya dan bertanya tentang namanya. Kami memintanya untuk pergi ke toko buku dan membeli buku untuk kami. Dia.

Emir dan saya kemudian pergi ke rumah saya di selatan Kairo. Kami membutuhkan waktu lebih dari beberapa jam, untuk saya mencoba menyingkirkan Alkitab. Sekali saya tinggalkan itu di kursi, waktu lain, saya pura-pura lupa. Tapi setiap kali, Emir akan membawanya kepada saya dan mengingatkan saya untuk Kitab itu tetap bersamaku. Akhirnya, kami sampai di rumah. Emir berangkat ke kota asalnya dan meninggalkan saya untuk memulai perjalanan sulit dengan Taurat dan Alkitab.

Hari pertama ialah saat-saat yang paling sulit. Saya berada di bawah kesan bahwa Alkitab itu bukan dari Allah, dan bahwa hal itu bisa membawa setan ke rumah saya dan saya tidak akan bisa berdoa. Oleh karena itu, saya menyimpannya di luar kamarku. Selama beberapa hari, saya paranoid. Setiap kali saya mendengar suara di rumah, saya pikir Allah telah mengirimkan setan untuk menghukum saya karena kehadiran buku ini. Saya tidak menyimpan Alkitab di ruang di mana saya berdoa karena saya pikir malaikat tidak akan masuk ke kamar jika itu  ada di sana.

Saya mengalami ketakutan untuk waktu yang lama sampai saya menyadari bahwa saya tidak memilih untuk memiliki kitab ini di rumahku. Saya hanya mentaati Allah, melalui mematuhi Emir. Nabi Muhammad memerintahkan kita dalam Hadisnya untuk mematuhi Emir, “Barangsiapa menuruti Emirku telah mematuhi saya, dan siapa mendurhakai Emirku telah mendurhakaiku.” Saya sampai pada kesimpulan bahwa saya melaksanakan perintah Emir yang dipilih-Allah, dan, karena itu, Alkitab tidak akan membahayakan saya jika saya menyimpannya di kamarku; Allah akan membantu saya.

Kelompok ini memberikan saya semua yang saya butuhkan. Mereka memberiku 500 £ Mesir setiap bulan sebagai uang saku sebagai imbalan untuk penelitian penuh waktu. Setiap kali saya mencoba melupakan penelitian itu, saya akan mengingat Hadis, “Barangsiapa mentaati Emirku telah mematuhi saya, dan siapa mendurhakai Emirku telah mendurhakaiku” Saya meminta Allah  tiga kali untuk pengampunan dan kemudian berdoa.. Tidak ada yang mengalihkan perhatianku dari melakukan pekerjaan itu. Saya punya banyak referensi yang membantu saya melakukan yang terbaik, dan saya sudah memiliki pengetahuan yang baik tentang masalah Kristen. Jadi, saya membuat keputusan untuk memulai perjalanan keras ini.

Saya khawatir karena saya tidak tahu di mana atau bagaimana untuk memulai. Saya tidak memiliki metode khusus untuk mendekati dua bagian dari penelitian. Misalnya, mengenai isu membuktikan kenabian Muhammad, saya berharap menemukan nama yang tepat ‘Muhammad’ di dalam Taurat dan Alkitab, atau setidaknya ‘Ahmed’ atau ‘Mahmoud’. Saya tidak tahu di mana atau bagaimana untuk memulai. Situasi kacau di pikiran saya. Saya tidak yakin nama apa yang saya harus cari di dalam Taurat: Mohammed? Ahmed? Mahmoud?

Saya jadi bingung, jadi saya memutuskan untuk pindah ke bagian kedua dari penelitianku, yaitu untuk mencari perbedaan dan kontradiksi untuk membuktikan bahwa Taurat dan Alkitab tidak dari Allah [dalam arti: YAHWEH]. Demikian juga, saya gagal untuk menentukan standar yang saya bisa mengukur Taurat dan Alkitab dan menyangkal mereka. Saya marah karena hal-hal ini, entah bagaimana, membuat saya merasa tidak kompeten dalam melakukan penelitian ini. Menyerah bukanlah salah satu kualitas saya, jadi saya memutuskan untuk fokus dan tidak menyimpan upaya untuk mencapai tujuan saya.

Emir dan saya bertemu sebulan sekali untuk membahas penelitian. Setiap kali saya memintanya untuk berubah pikiran dan menugaskan ke orang lain dan saya akan membantu. Namun, ia dengan aneh akan bersikeras bahwa saya adalah orangnya untuk pekerjaan itu.

Saya berdoa dan meminta Elohim untuk kekuatan. Saya merasa luar biasa berani dan mulai membaca Alkitab, tetapi tanpa sistem atau metode. Saya mulai dengan kitab Kejadian dan saya tidak tahu apa yang harus dicari. Saya menemukan nama-nama aneh yang belum pernah saya dengar sebelumnya dalam hidupku, yang membuat saya marah. Saya melemparkan buku di sudut dan berkata dengan marah, “Orang-orang Yahudi dan orang Kristen bodoh. Bagaimana mereka bisa mengatakan  bahwa sebuah buku yang aneh  seperti  ini, penuh dengan nama-nama aneh, berasal dari Allah? Mereka gila. ” Saya berhenti membaca!

Dua hari kemudian, saya kembali membaca Alkitab. Kali ini, saya tidak membaca dalam Kejadian karena saya tidak ingin menemukan nama-nama dan kata-kata yang sulit. Saya membalik-balik halaman dan membaca terus. Saya terkesan dengan tulisan-tulisan dalam kitab Bilangan, Keluaran dan Ulangan. Saya menemukan banyak informasi tentang Musa, Firaun dan Bani Israel, yang ditulis secara rinci, yang memuaskan rasa ingin tahuku.

Saya selesai membaca Perjanjian Lama dalam 2 bulan, tapi membaca asal-asalan, tidak secara mendalam. Saya membacanya sekali lagi, kali ini mencari sesuatu yang relevan kepada Mohammed, Ahmed atau Mahmoud, tapi tidak menemukan apa-apa. Saya pindah ke pembacaan Perjanjian Baru. Saya benar-benar membacanya, tetapi tidak mencapai kesimpulan saya tidak tahan akan semuanya. Saya merasa marah dengan Emir yang membuat saya terjebak dalam penelitian ini dari awal.

Ketika Emir mengunjungi saya, saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak bisa menemukan petunjuk yang bisa menuntun saya untuk apa yang kita cari. Saya telah membaca Taurat dan Alkitab dan tidak menemukan apa pun. Emir mengatakan kepada saya bahwa ada sebuah buku yang digunakan untuk studi di luar negeri yang akan banyak membantu saya dalam penelitiaku. Ini berjudul “Mengungkap Kebenaran”, yang ditulis oleh Al Sheikh Hindi. Saya mencari buku di perpustakaan pribadi saya sampai saya menemukannya.

“Mengungkap Kebenaran” adalah referensi berharga bagi kami, terutama ketika kami berdebat dengan orang Kristen untuk meyakinkan mereka bahwa Islam adalah agama yang benar. Itu berisi kutipan yang salah dari Taurat dan Alkitab, yang kami biasa pakai untuk memberitahu orang Kristen yang telah masuk Islam. Kami menggunakannya dengan sukses pada tiga orang berturut-turut.

Saya mulai penelitian cara baru, dengan bantuan dari beberapa buku lain yang Emir kasih saya, seperti Sekte-sekte dan Denominasi -denomiinasi oleh Shahristani, Menentukan Sekte-sekte dan Bidat-bidat oleh Ibn Hazm, dan beberapa tulisan-tulisan historis dan biografis lainnya yang menyerang Kekristenan. Saya menuliskan semua ayat yang Ibn Hazm katakan semua itu bertentangan dan melihat mereka dalam Taurat dan Alkitab. Sebagian besar ayat-ayat saya temukan yang diungkapkan secara berbeda, atau disebut beberapa orang yang berbeda. Saya tidak menemukan banyak kontradiksi, tapi jika kita menggunakan ayat-ayat ini sebagai dasar untuk membuktikan bahwa Taurat itu tidak asli, kita harus menerima ayat-ayat serupa dalam Al Qur’an, dan itu juga akan menjadi tidak berasal dari Allah. (Saya kemudian menuliskan temuanku dalam sebuah penelitian berjudul Menjawab Ibn Hazm”).

Saya mencari dengan tulus, termotivasi hanya karena kasihku terhadap Allah dan Nabi. Kelompok saya melihat peningkatan daya tarik saya dengan Alkitab. Mereka selalu bertanya tentang itu dan saya selalu berbohong kepada mereka. Saya harus menyusun alasan, jadi saya mengatakan kepada mereka bahwa kita bertemu dengan beberapa orang muda Kristen untuk mengundang mereka untuk Islam dan kami harus mengetahui latar belakang mereka.

Setelah gagal dalam usaha saya untuk merusak Taurat dengan membuktikan kontradiksi, saya memutuskan untuk mencoba bagian kedua dari tugas saya, yaitu untuk membangun dari ayat-ayat Taurat dan Alkitab bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Saya menatap buku Al’s Hindi, Mengungkap Kebenaran, dan saya sangat gembira untuk menemukan apa yang saya inginkan. Saya berdoa dengan sukacita dan bersyukur pada Allah bahwa Ia telah memimpin saya untuk ayat-ayat ini. Saya mulai menuliskannya dalam urutan sebagai berikut:

Kejadian 17:20 & 49:10
Ulangan 18:18-20 & 32:21 & 33:1-3
Yesesaya 42:9  & 54: 1-3 & 65: 1-2
Maz. 45: 1-3 & 149:3
Daniel 2: 31-32
Matius 3:2 & 13:31 & 20:1 & 21:33
Yohanes 14:15
Wahyu 2:27

Ayat-ayat ini bukanlah satu-satunya ayat yang Al-Hindi sebutkan untuk membuktikan kenabian Muhammad. Ada beberapa ayat lain, yang saya keluarkan karena mereka tidak jelas. Saya belajar ayat-ayat ini dengan sangat hati-hati dan obyektif. Kami, sebagai kelompok orang percaya yang unik, tidak pernah menerima informasi apapun tanpa bukti yang kuat dari sumber yang dapat dipercaya. Ayat-ayat itu, di permukaan, sangat menarik bagi setiap Muslim untuk diterima, tetapi melalui penelitian – metode Muslim fundamental – seorang akan menemukan bahwa pemotongan berdasarkan bukti tidaklah valid.

Oleh karena itu, saya mengumpulkan semua buku yang saya pikir akan membantu saya dalam penelitian saya. Saya mulai membayangkan masa depan saya setelah keberhasilan penelitian saya. Saya pastilah akan melakukan suatu bantuan besar kepada Allah dan Nabi dan memperoleh jumlah uang yang mengiurkan. Berbicara tentang uang, Emir dan saya pergi ke toko buku Sunnah Advokat dan menjelaskan kepada mereka ide buku saya. Mereka terkesan. Mereka meminta satu bab sebagai sampel dan ditawarkan untuk membeli hak cipta tersebut. Saya bermimpi menjadi kaya dan terkenal karena buku yang saya tulis, tapi motivasi utama saya adalah untuk menyatakan kemenangan bagi Islam.

Saya mulai membaca Alkitab sekali lagi. Saya menjadi kecanduan membaca Alkitab. Saya menulis banyak bukti untuk membuktikan, dengan logika dan penugehan, bahwa Taurat dan Alkitab mengkonfirmasikan kenabian Muhammad. Hasilnya adalah tidak baik karena saya terlalu teliti dalam penelitian saya, saya pikir, demi untuk konfirmasi mutlak pesan ilahi Mohammad. Saya telah bergantung banyak pada referensi, seperti The Dictionary  of Countries oleh Yakot Al-Hamawi. Saya datang di kota bernama Faran. Saya periksa untuk melihat dari mana dan apa nama modernnya. Saya juga menggunakan kamus linguistik seperti Arab’ Tonge dan bahkan kamus-kamus Ibrani untuk memahami makna kata-kata seperti’ Shelon’, misalnya.

Saya ingin menghasilkan sebuah buku yang tidak satu orang bisa membantah, bahkan satu kata dari itu. Sayangnya, hal itu tidak seperti yang kuinginkan. Semua logika dan pemotongan linguistikku gagal, satu demi satu. Saya tidak bisa menemukan satu ayat yang menopang teoriku. (Sementara itu, saya menulis buku lain disebut “Kebenaran Tertahan” (The Stifled Truth), di mana saya sebutkan semua ayat yang saya telah pelayari dan bagaimana saya telah mencapai kesimpulan bahwa mereka tidak merujuk kepada Nabi Muhammad).

Saya selesai mempelajari semua ayat-ayat ini, tetapi tidak menemukan apa yang saya cari. perasaan saya adalah campuran dari kesedihan, keputusasaan, kecemasan dan kebingungan. Sebelumnya tak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa Muhammad bukan seorang nabi. Saya mencoba menenangkan diri dengan kesimpulan bahwa saya gagal untuk menghubungkan bukti dengan karakter Nabi.

Saya memutuskan untuk memberikan masalah ini kesempatan lainnya. Kali ini saya menggunakan buku-buku lainnya, seperti Bukti-bukti Kenabian, (Evidences of Prophet-hood), Kamus Negara (Dictionary of Countries) dan The Arabic Encyclopedia. Saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak gagal kali ini. Kegagalan, setelah semua masalah telah dilewati, berarti kehancuran seluruh hidupku. Yah, waktu kedua adalah tidak lebih baik daripada yang pertama, tetapi lebih buruk lagi! Pada kedua kalinya, saya datang di banyak titik yang menentang teori saya.

Kadang-kadang, saya melihat pada banyaknya buku-buku Islam dan referensi dan bertanya-tanya, “Mungkinkah bahwa semua buku ini telah menipu kita dan menyajikan kita dengan karakter imajiner? Jika itu terjadi, Allah tentunya tidak layak disembah … “ Saya tidak akan turun jalan ini.. Kemudian, saya dengan cepat akan berdoa dan meminta kepada Allah untuk pengampunan.

Tanpa sadar, saya mendapati diriku menghadap subjek penelitianku dan kembali membaca Alkitab untuk ketiga kalinya. Saya menemukan kenikmatan aneh dalam membaca Alkitab, begitu banyak sehingga saya takut saya jatuh di bawah mantra. Kami sering berkata bahwa orang Kristen adalah ahli-ahli sihir yang mengembangkan sihir mereka dari Taurat dan Alkitab. Namun demikian, Alkitab telah menarik saya dengan cara yang aneh, tak tertahankan.

Emir mengunjungi saya secara teratur. Setiap kali saya berharap dia akan marah kepada saya karena tidak mencapai tujuan dan untuk melepaskan saya dari tugasku. Sebaliknya, setiap kali ia tampak lebih antusias dari sebelumnya, meyakinkan saya bahwa saya adalah yang terbaik untuk pekerjaan itu.

Saya mulai membaca Injil Matius dan sudah tersandung bahkan sebelum saya menyelesaikan bab pertama. Saya melihat bahwa mereka menelusuri silsilah Ha Mashiah mundur ke Daud. Saya pikir mereka gila. Saya menghibur diri dengan pikiran ini, berharap menemukan apa yang saya cari. Saya benar-benar tertarik dengan bab empat, lima dan enam dari Injil Matius. Saya telah membaca sebagian dua kali sebelumnya, tapi kali ini, saya merasa seolah-olah saya membacanya untuk pertama kalinya dalam hidupku. Saya merasa seolah-olah ada tangan menekan kepalaku dan membuka pikiranku. Saya mendengar suara dalam diriku berkata, “Sudah saatnya kamu memahami apa yang sedang kamu baca tanpa kuatir tentang siapa yang benar dan siapa yang salah ….” Saya menggigil tanpa alasan yang jelas, dan merasa seolah-olah saya berada dalam setengah kesurupan .

Saya menemukan Alkitab berbicara tentang apa yang kita lakukan kepada orang-orang Kristen seolah-olah itu mencatat peristiwa ini. Saya membaca apa yang Alkitab katakan tentang penganiayaan, penghinaan dan pembunuhan – ide kita dari mematuhi Allah. “Aneh sekali bahwa Alkitab ini tahu apa yang kita katakan dan lakukan untuk orang Kristen! Mungkinkah orang Kristen baru-baru ini menambahkan bagian itu? ”

Kita selalu menafsikan kasih Kristen dan kerendahan hati sebagai rasa takut kepada kita sebagai muslim karena mereka adalah minoritas yang lemah, seperti Kuran katakan, Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan (S. 2: 61).

Saya menemukan banyak ayat mempromosikan kasih, ketaatan, penundukan dan bahkan kasih terhadap musuh. Saya bingung, “Bagaimana mungkin seseorang menuliskan penyebab penghinaan sendiri?”

Setiap kali saya membaca perintah Elohim bagi orang Kristen untuk mengasihi musuh-musuh mereka, saya teringat perlakuan kasar saya kepada orang tuaku. Saya terlalu kejam kepada mereka. Saya selalu menemukan cara baru untuk menyakiti mereka. Satu waktu, saya harus mengalami sakit dan menjalani operasi serius di rumah sakit. Ayahku ingin bertemu saya, tapi saya menolak dan mengatakan bahwa saya tidak ingin melihat seorang kafir. Ibuku biasa mengirimkan saya makanan melalui pihak ketiga, jika tidak, saya akan menolak untuk menerimanya. Dia sering berdiri selama berjam-jam di luar jendela rumah sakit ku, dalam panas terik, hanya untuk mencuri melihat saya melalui jendela.

Kenangan ini selalu membuat saya menangis dan mengutuk hari saya mengenal Allah. Saya sering menghibur diri dengan memikirkan apa yang Abu Obeida bin Garah, dan Abu Bakar Al-Sedeek telah lakukan kepada ayah-ayah mereka sendiri; dan Mosaab bin Omira, kepada ibunya. Itu akan menangkan perasaan saya.

Saya selesai membaca Injil Matius
, tetapi kata-katanya telah terukir dalam ingatanku. Mereka mengejar saya siang dan malam, dan setiap kali saya ingin melakukan sesuatu yang buruk, saya membaca seluruh Injil dan Surat-surat dan takjub untuk mendapatkan bahwa filsafat dan retorikanya lebih unggul daripada Kuran. Karena Alkitab ditulis 630 tahun sebelum Islam, bagaimana mungkin kita katakan bahwa Kuran adalah unik dalam retorika?

Suatu malam salju yang dingin, saya membaca sebuah Surah dari Kuran berharap untuk menghapus kata-kata Injil Matius dari pikiranku. Para Muslim dan saya cemburu, selalu iri pada orang Kristen karena mereka menikmati persahabatan yang erat dengan banyak orang. Sebaliknya, kita tidak bisa membangun bahkan hubungan biasa dengan toleransi minimum, untuk mengundang orang bergabung ke Islam. Ini merupakan hambatan besar dalam cara kita. Panggilan Islam tidak mengizinkan kita setiap peluang untuk membangun hubungan yang akan membawa kita lebih dekat kepada orang – hal yang sangat kita butuhkan dalam rangka untuk menarik mereka ke Islam.

Hidup kita penuh dengan kekerasan, kekejaman dan terorisme. Ini bukan perilaku normal kita. Kita merasa bahwa jika kita tidak bertindak seperti ini, kita tidak akan patuh kepada Allah. Allah telah menyatakan dalam Kuran dengan cara kita memperlakukan orang-orang kafir, baik Ahli Kitab, pagan atau Muslim palsu. Kuran mengatakan tentang Ahli Kitab,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim. (S. 5:51.)

Adapun jenis lain dari kafir, seperti umat Islam yang tidak berdoa, perpuluhan, tumbuh jenggot atau melakukan dosa dan menolak untuk bertobat, Kuran mengatakan,  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. (S. 4:144)

Adapun mengenai anggota keluarga dan kerabat, Kuran menyatakan,  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.  (S. 9:23)
Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. (S. 58:22)

Jika kita tambahkan ayat-ayat Kuran ini, Hadis otentik diceritakan oleh Al-Bokhary oleh Muslim dan oleh Al-Termezy; menurut Omar, nabi Muhammad berkata, “Jangan berjabat tangan dengan Ahli Kitab, jangan membalas salam mereka , jika mereka bertemu kamu di jalan, dorong mereka ke samping.”

Ada puluhan ayat-ayat ini yang telah didefinisikan tentang hubungan kita dengan keluarga, teman dan non-Muslim. Kita tidak mengatakan atau memilih dalam mendefinisikan hubungan ini karena pemikiran Islam adalah umum, dan Kuran pada khususnya, tidak memberikan ruang untuk setiap muslim menggunakan pikirannya. Sebaliknya, orang yang menggunakan pikirannya untuk menjelaskan sebuah ayat [Kuran] atau Hadis akan diberi label ‘kafir’. Anda harus menerima saja hal-hal sebagai Mohammad telah menafsirkan mereka. Jika ada sesuatu yang tidak disebut-sebut oleh Muhamad, kamu jauh-jauh dari itu. Al-Bokhary menyebutkan sebuah hadis. Menurut Ibnu Abbass, Nabi Muhammad berkata, “Siapa pun menyatakan pendapat sendiri tentang Kuran, akan menyediakan tempatnya di neraka.” [Menakut-nakuti orang yang mempertanyakan Kuran]

Setelah semua ayat-ayat Kuran dan Hadis ini, bagaimana kita bisa bersikap baik atau ramah terhadap orang-orang yang berbeda dari kita? Kami tidak bisa melakukan itu, sebagai Kuran mengatakan, Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang lalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka,” (S. 11:113)

Oleh karena itu, hati saya penuh dengan kemarahan dan kebencian setiap kali saya membaca Alkitab ayat apa saja yang berbicara tentang cinta dan pengampunan. Banyak kali, saya merasa malu saat membaca Alkitab yang kita diklaim sebagai rusak. Saya bertanya-tanya, “Jika orang Kristen mengubah Alkitab dan masih memperoleh kasih dan menghormati rakyat, bagaimana dengan perbuatan yang telah kita lakukan – yang tidak mengubah firman Allah, tetapi gagal dalam hal itu?” Sesuatu pastilah ada yang salah.

Saya berusaha menyisihkan pikiran-pikiran ini. Sebuah pikiran terus kembali. Bagaimana jika saya tidak mencapai kesimpulan dalam penelitian saya? Saya berjuang begitu banyak setiap kali saya mengalami pikiran-pikiran ini, saya menangis dengan suara keras, “Semoga Allah mengampuni saya.” Saya menyatakan bahwa tidak ada ilah selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya. Maka kemudian saya akan bergegas untuk berdoa untuk membuang pikiran-pikiran ini. Saya berkata pada diriku sendiri bahwa sebenarnya Muhammad Rasul Allah, bahkan jika saya tidak bisa membuktikan itu dari Taurat dan Alkitab.

Masalah saya menjadi lebih serius. Daripada mencari kenyataan untuk membuktikan kenabian Muhammad, saya menemukan diri saya tertarik dengan kata-kata manis dari Taurat dan Alkitab. Saya bertanya-tanya, “Bagaimana saya bisa menghilangkan pengaruh mereka pada saya.” Bagaimana saya dapat membuktikan bahwa Taurat dan Alkitab itu bukan dari YAHWEH?” Semua ide-ide yang tertulis dalam mereka berdua adalah baik dan tidak mungkin ditulis oleh manusia. Bagaimana mungkin orang menembus kedalaman masa depan dan berbicara, dua ribu tahun yang lalu, tentang hal-hal yang terjadi di saat ini? Jika kita mengasumsikan, demi argumen, bahwa Taurat dan Alkitab disusun oleh manusia belaka, kita akan menempatkan manusia pada tingkat yang sama dengan Elohim dalam pengetahuan dan kebijaksanaan. Kita tentu tahu bahwa Elohim adalah Maha Tahu, Maha Kuasa dan tidak ada kesamaanya.

Tiba-tiba saya mendapati diriku membaca Kitab Mazmur, dan kemudian Kitab Amsal. Saya belajar ayat-ayat dari Mazmur 23 dan 143 dan meulang mereka dalam doa-doa saya. Siapapun yang mendengar saya berdoa telah tersentuh oleh ayat-ayat ini dan meminta saya untuk menuliskannya sehingga mereka bisa menggunakannya dalam doa. Saya masih mencoba menemukan bukti kenabian Muhammad dan kesalahan Alkitab, tapi tidak bisa menemukan apa-apa. Saya berjuang dengan keraguan dan pikiran yang bertentangan dalam diriku. Saya mencoba untuk mengabaikan mereka, tapi mereka bertambah kuat setiap hari. Saya mengasihi Elohim, tetapi latar belakang saya dan cinta saya kepada agama saya selalu mencegah saya berpikir bahwa Islam tidak mungkin agama yang benar yang diberikan oleh Elohim. Saya jadi bingung dan gelisah. Saya tidak bisa menikmati tidur nyenyak seperti sebelumnya.

Satu waktu, saya sedang berdoa pagi. Sementara mengucapkan ayat-ayat Kuran, saya tiba-tiba berhenti dan pikiran saya mengembara. Saya bertanya pada diriku sendiri, “Apa yang akan kamu lakukan jika, misalnya, Islam ternyata tidak menjadi jalan ke surga?” Saya berusaha menyisihkan pertanyaan ini, tapi saya tidak bisa. Saya bahkan tidak bisa menyelesaikan doa pagi. Saya menangis berat sampai saya tertidur di karpet. Beberapa jam kemudian, ibu saya membangunkan saya. Saya pergi bekerja dengan linglung. Saya tidak tahu dimana saya sedang berjalan atau kepada siapa saya bicara.

Ketika saya kembali ke rumah, saya merasakan ada keinginan yang kuat untuk membaca Alkitab. Saya membaca Injil Yohanes, bab 1-15. Saya menemukan jenis retorika, filsafat dan ekspresi linguistik yang sangat tinggi yang sangat elegan dan kohesif – terutama ketika Alkitab berbicara tentang domba dan gembala, pokok anggur dan tukang kebun, cabang-cabang yang berbuah dan orang-orang yang tidak akan dilemparkan ke api.

Saya menjerit di bagian atas suara saya, “Oh, Elohim, kasihanilah hamba-Mu! Tolong beritahu saya di mana Engkau berada dan di sisi mana: Engkau dengan orang-orang Yahudi dan Kristen? atau dengan Muslim?

Harap kasihanilah saya. Saya ini hamba-Mu. Saya berkomitmen hidupku untuk mengikuti Engkau. Saya bersyukur untuk semua nikmat-Mu. Saya tidak bisa berdiri di depan Engkau, dan Engkau tidak akan mengundurkan diri di depan sebuah napas-Mu.

Engkau adalah Elohim Yang Maha Esa dan saya manusia yang tak berdaya yang tidak bisa melakukan apa-apa sampai Engkau mengijinkan saya melakukannya. Engkau adalah Maha Penyayang, Maha Pengasih dan saya ini hamba yang tidak memiliki kekuatan atau kebijaksanaan. Seluruh hidupku ada di tangan Engkau.

Saya mengasihi Engkau sejak kecil. Saya mengorbankan diri demi surga dan kasih-Mu. Saya tidak peduli dengan penjara atau penyiksaan – bahkan seluruh dunia tidak tahan dengan cara saya mencari Engkau. Kenapa Engkau memperlakukan saya seperti ini? Saya mengasihi-Mu dan berusaha untuk menyenangkan-Mu dengan cara Nabi Muhammad-Mu mengajarkan kami, tapi di sinilah saya – tak berdaya dan tidak mampu untuk melanjutkan.

Masing-masing pihak mengatakan bahwa Engkau adalah Elohim mereka. Saya tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Oh, Elohim, akankah saya bersumpah kepada Engkau bahwa saya mengasihi-Mu? Saya rasa tidak, karena Engkau tahu semuanya. Oh, betapa saya menderita dalam pencarianku untuk Engkau! Saya meninggalkan studiku, keluargaku dan teman-temanku. Saya mengembara seperti seorang asing. Saya ditahan dan disiksa demi Engkau. Mengapa kau tidak menjawab?

Jika Engkau adalah Elohimnya para Muslim, ambillah segala sesuatu dari pikiranku kecuali Islam, dan jika Engkau adalah Elohimnya para Kristen, beri saya cahaya untuk mengikuti …. “

Saya tak bisa tidur dan pikiranku berputar: “Bagaimana jika Islam bukan jalan Elohim? Bagaimana jika jalan Elohim adalah Taurat dan Alkitab? Apakah kamu akan mengikuti orang-orang Kristen?” Saya akan menggigil memikirkan apa yang bisa terjadi padaku, sebagaimana jika Allah dan orang-orang akan menyalahkan saya?”

Suatu hari, saya menepis semua ketakutan dan berkata pada diriku sendiri, “Apa yang kamu inginkan? Enough is enough! Kamu tidak lagi seperti kamu yang dulu. Kamu memiliki dua jalan didepanmu, dan keduanya tampak lurus. Jangan buang waktumu dan cari jalan Elohim dengan semua kekuatanmu.

Tidak peduli jika itu ialah orang Yahudi, Kristen atau Muslim, satu-satunya hal penting jika itu ialah jalan Elohim – begitulah, jika kamu benar-benar mencari Elohim. Ini adalah tujuanmu dan kamu harus menerimanya. Pastikan bahwa Elohim akan merespon kepada kamu sesuai dengan ketulusan kamu. Lupakan bahwa kamu adalah seorang Muslim dan mulai mencari lagi. Apa yang akan mencegah kamu?”

Saya berpikir tentang hal itu dan berkata, “Oh, Elohim, harap pimpin langkah-langkahku dan berikan saya kekuatan karena saya menghadapi percobaan keras. Jika Engkau tidak membantu saya, setan akan merobek-robek saya. Saya akan mengembara di muka bumi, tanpa tujuan dan gelisah. Oh, Elohim, tolonglah saya. Saya berjanji akan mengikuti Engkau di manapun Engkau berada, bahkan dengan orang-orang Kristen yang saya tidak tahan.” Tiba-tiba saya merasakan kedamaian dan ketenangan luar biasa pada seluruh keberadaanku. Untuk pertama kalinya, saya berpikir logis.

Saya mencapai sebuah kesimpulan: orang Kristen sesat dan menjadi kafir karena dua alasan. Pertama, mereka mengatakan bahwa Mashiah, Isa, putra Maryam (Maria), adalah Elohim, kedua, mereka mengatakan bahwa Dia mati di kayu salib dan bangkit untuk menebus manusia dari dosa-dosa mereka. Mengapa saya tidak fokus penelitian saya tentang dua masalah ini  dan memeriksa mereka dari sudut pandang Islam? Saya ingin tahu apa yang para ulama Islam memikirkan masalah ini.

Saya mulai memeriksa buku-buku sejarah Islam, biografi dan penafsiran. Saya mencari apapun yang berhubungan dengan Ha Mashiah dan apakah Dia terwujud di dalam atribut Elohim sebagaimana disebutkan dalam Kuran. Saya menggunakan referensi yang handal dan otentik seperti The Interpretation oleh Ibnu Katsir, Sejarah Islam oleh Dhahabi, Awal dan Akhir oleh Ibnu Katsir, Sects and Denominations oleh Sherhristani, Menentukan Sekte dan Bidat (Deciding on Sects and Cults) oleh Ibn Hazm (juga dikenal sebagai Abu Muhammad), Kitab-kitab Suci sebelum Islam, dan Kristianity antara Logika dan Penghitungan ulang (Christianity between Logic and Recount).

Sebagai hasil dari penelitian yang intensif, saya menemukan beberapa atribut Mashiah yang bahkan orang Kristen tidak menyentuh itu dalam buku-buku mereka. Sebagai contoh:

1) Kemampuan untuk membuat:
Kuran mengatakan, [perhatian!, dalam kitab suci Islam: kata Tuhan ialah titel, sama artinya dengan God atau Elohim, dan Allah adalah nama, seperti YAHWEH di dalam Alkitab]

(Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.  (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian) ”itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, (maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.) (S. 6:101-102)

Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. (S. 15:86)
Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya” (S. 22:73)

Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apa pun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (S. 16:20)
Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. (S. 16:17?)


Semua ini adalah beberapa ayat yang membatasi kemampuan untuk menciptakan yang dimiliki oleh Elohim saja. Ketika Elohim ingin membedakan diri dari dewa yang lain, Dia menegaskan atribut-Nya yang melampaui segala ilah lainnya. Sementara itu, Kuran dengan jelas mengakui bahwa Ha Mashiah telah menciptakan:
Saya membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian saya meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah;” (S. 5:110)

Ketika saya membaca ayat-ayat ini, saya pikir dalam hati saya: Itu adalah Elohim yang memberikan Ha Mashia kemampuan ini, bukan bagian dari esensi-Nya meskipun, Ha Mashiah adalah satu-satunya Pribadi pada siapa Elohim telah memberikan salah satu sifat ilahi-Nya. Mengapa Ha Mashiah dan bukan Muhammad? Elohim berkata kepada Muhammad, “Apakah kamu dapat menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan?” (S. 27:80) ; yang adalah jauh lebih mudah daripada penciptaan. Elohim tidak memberikan kepada Muhammad, [yang telah mengklaim] yang terbaik dari umat-Nya dan penutup para nabi, kemampuan untuk membuat orang tuli mendengar. Dia menantang orang untuk menciptakan seekor lalat, namun Ha Mashiah telah diberikan kemampuan untuk menciptakan burung. Burung adalah makhluk kecil, tetapi bukan masalah ukuran, tapi prinsip. Dia yang menciptakan makhluk kecil dapat membuat yang besar. Ini tidak dapat ada sebagai manusia, melainkan dari Elohim.

2) Mengetahui apa yang tersembunyi:
Allah [dalam arti YAHWEH] berbicara tentang diriNya dalam Kuran,
Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah [dalam arti YAHWEH]“, (S. 27:65)
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri,” (S. 06:59).

Dalam ayat pertama, Kuran menekankan tanpa ragu bahwa mengetahui apa yang tersembunyi hanyalah milik Elohim dan bukan orang lain. Ayat kedua meenggaris bawahi fakta bahwa hanya Elohim yang mengetahui yang gaib dan masa depan. Sementara itu, Kuran mengajarkan tentang Muhammad yang ia biasa menegur siapa saja yang dikaitkan dengannya kemampuan untuk mengetahui apa yang tersembunyi,

Katakanlah: “Saya tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) saya mengetahui yang gaib” (S. 6:50)

Suatu kali Moaz berkata kepada Mohammad, “… insya Allah dan Anda berkehendak,” dan Muhammad menyela dia dan berkata, “Bagaimana kau bisa membuat saya setara dengan Allah? Tak seorang pun di langit atau di bumi mengetahui apa yang tersembunyi selain Allah.”

Adapun Ha Mashiah, kita menemukan semua keterbatasan dihapus. Dia tahu dan melakukan apa yang setiap orang lain tidak bisa. Kuran mengatakan,
dan saya kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu.” (S.. 03:49).

Hal ini sangat tidak umum bahwa dalam ayat-ayat ini Ha Mashiah berbicara dalam bentuk orang pertama; itu harus Elohim sendiri yang berbicara. Di sisi lain, Muhammad selalu mengatakan apa yang harus ‘dikatakan. Ha Mashiah adalah unik karena Dia berbicara tentang dirinya sendiri, yang berarti bahwa kemampuan-Nya adalah milik-Nya dan tidak diperoleh dari orang lain.

Pada buku Awal dan Akhir Ibnu Katsir, bagian 2 dan halaman 86, saya membaca sebuah cerita yang membuat saya malu. Ini adalah suatu bukti tanpa diragukan bahwa Ha Mashiah memiliki kekuatan gaib untuk mengetahui apa yang tersembunyi. (Ini adalah kisah panjang; mereka yang tertarik dapat mengacu pada buku karangan Ibnu Katsir).

3) Penyembuhan orang sakit:
Kuran menyebutkan kata-kata Abraham bahwa Elohim adalah satu-satunya penyembuh, “Dan apabila saya sakit, Dialah yang menyembuhkan saya” (S. 26:80).
Muhammad berkata dalam sebuah hadis otentik, “Oh, Elohim, tidak ada penyembuhan tapi Anda.” Sementara itu, Dalam Kuran kita menemukan Ha Mashiah katakan tentang diri-Nya,  saya menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak/ kusta” (S. 03:49)

4) Memberikan hidup dan mati:
Elohim adalah Pribadi satu-satunya yang memegang hidup dan mati di tangan-Nya, tidak ada orang lain yang bisa memberikan hidup atau mati. Kuran mengatakan,

”Dan sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan Kami (pulalah) yang mewarisi.” (S. 15:23),
”Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” (S. 36:12),
”Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Kamilah tempat kembali (semua makhluk).” (S. 50:43).
Adapun Ha Mashiah, Kuran menyebutkan bahwa Dia berkata tentang diri-Nya,
”dan saya menghidupkan orang mati dengan seizin Allah;” (S. 3:49)

Dalam bukunya Awal dan Akhir, Ibnu Katsir menceritakan sebuah cerita yang membuktikan bahwa Ha Mashiah memiliki kewenangan untuk memberikan kematian serta kehidupan. Diceritakan bahwa Ha Mashiah melihat seorang wanita menangis atas putrinya, yang sudah lama meninggal.

Dia bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, perempuan?” Perempuan ini berkata, “Putri saya meninggal dan saya tidak memiliki anak lagi.” Ha Mashiah bertanya padanya, “Apakah kamu ingin Saya untuk mengangkatnya dari antara orang mati?” Dia berkata, ” Ya , O Roh Elohim!” Jadi Ha Mashiah berdiri dekat kubur itu dan memanggil gadis itu tiga kali. Pada ketiga kalinya, gadis cilik keluar dan berbicara dengan ibunya. Kemudian gadis itu meminta kepada Ha Mashiah untuk membiarkan dia kembali. Dia berkata, “Kembalilah!” Kuburan tertutup dan ia kembali mati. (Awal dan Akhir Ibnu Katsir, bagian 2, halaman 84)

5) Memberikan makanan:
Kuran mengatakan, Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (S. 51:58).
Hal ini jelas dinyatakan bahwa Elohim adalah satu-satunya yang dapat memberikan rezeki. Elohim menegur orang yang mengaku mampu untuk memberi rezeki kepada orang-orang. Adapun Ha Mashiah, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Dia memiliki kemampuan khusus untuk memberi rezeki kepada siapa pun yang Dia mau. Contoh terbaik adalah memberi makan lima ribu orang dengan sedikit roti dan beberapa ikan.

6) Tidak ada kesetaraan:
Kuran mengatakan tentang Allah,
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (S. 42:11)
Adapun Ha Mashiah, tak perlu dikatakan bahwa Dia adalah tak ada taranya. Ia lahir dari seorang perawan tanpa seorang pria. Dia adalah Pribadi satu-satunya yang digambarkan sebagai ‘Firman Allah [dalam arti YAHWEH] dan Roh dari-Nya”. Dia adalah Pribadi satu-satunya atas siapa Setan tidak memiliki kewenangan apapun. Dia adalah Pribadi satu-satunya yang memiliki karakteristik ilahi.

7) Perintah yang berwenang:
Kuran menyebutkan ini atribut Allah, terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Kun (jadilah)”, maka jadilah ia. (S. 16:40), Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”. Lalu jadilah ia. (S. 2:117).

Ini merupakan atribut yang unik dari Elohim, mampu memanggil sesuatu menjadi ada. Menurut Ibnu Katsir, Ha Mashiah telah mewujudkan atribut ini ketika Dia mengubah air menjadi anggur (Awal dan Akhir Ibnu Katsir, bagian 1, halaman 85).

8) Takhta-Nya di atas perairan:
Kuran mengatakan tentang takhta Elohim,  dan takhta-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, (S. 11:7).

Kortobi dan Al-Hadathi mengatakan bahwa ayat ini juga diterapkan kepada Ha Mashiah, takhta yang dibuat oleh Allah di atas air untuk menguji iman orang-orang. Ha Mashiah berjalan di Laut Tiberias menuju murid-murid-Nya untuk menguji iman mereka. Dia kemudian berkata kepada mereka, “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya? ” (Matius 8: 26)

9) Hakim dan Penguasa:
Kuran mengatakan tentang Elohim,  Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik. (S. 06:57), maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya. (S. 7:87).

Al-Bokhary menjelaskan bahwa ia mendengar dari Ibnu Abbas, yang telah mendengar nabi Muhammad berkata tentang Ha Mashiah, “Hari Terakhir tidak akan datang hingga putra Maryam datang kembali sebagai Hakim yang adil untuk menegakkan keadilan dan menghapus ketidakadilan.”

10) Sebuah pemahaman atas segala penglihatan/ visi:
Kuran mengatakan tentang Allah,  Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (S. 6:103)
Ini adalah satu lagi atribut Elohim yang Ha Mashiah telah terwujud. Ibnu Katsir dan Kortobi bercerita bahwa Ha Mashiah adalah satu hari di gunung dan orang-orang Romawi ingin menangkap Dia. Ia langsung melalui mereka dan mereka tidak bisa melihat-Nya, tetapi Dia melihat mereka semua. (Sekte dan Denominasi oleh Sheheristani, halaman 27)

11) Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang:
Kuran mengatakan, Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (S. 2:163),
“Tidak seorang pun dari makhluk-makhluk di langit dan di bumi tetapi harus datang ke Yang Maha Pemurah sebagai seorang hamba.” (S. 19:93)

Dalam buku mereka, Sects and Denominations dan Bukti-bukti dari Kenabian, Sheheristani dan Azraki telah menyebutkan bahwa Yeshua Ha Mashiah adalah gambar Elohim. Dia penuh kasih sayang. Dia mengangkat putri Yairus dari kematian dan menyembuhkan banyak orang sakit. Dia menciptakan mata untuk yang lahir buta dengan meletakkan lumpur pada mata orang itu karena itulah bagaimana Allah menciptakan pada awalnya.

12) Berbicara dengan Perumpamaan:
Kuran menyatakan bahwa hanya Elohim yang bisa berbicara dalam Perumpamaan-perumpamaan.
“Sesungguhnya Allah yang ditetapkan Perumpamaan untuk laki-laki: dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu” (S. 24:35)
“Maka Allah menetapkan Perumpamaan untuk laki-laki, agar mereka dapat menerima pelajaran” (S. 14:25)


Dalam ‘Al-Kashaf’, Ibnu Katsir, Kortobi dan Zamakhshary mengatakan bahwa Elohim menggunakan perumpamaan untuk mendekatkan manusia kepada-Nya, dan demikian pula Ha Mashiah. Perjanjian Baru penuh dengan perumpamaan yang nabi-nabi lainnya tidak berbicara dengan cara demikian.

13) Mengirim rasul-rasul dan memberi mereka kekuatan:
Kuran mengatakan, Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka;  (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.” (S. 36:13-14)
Ibnu Kathir dan semua penafsir setuju bahwa yang dimaksud adalah kota Antiokhia, dan orang-orang itu ialah rasul-rasul Ha Mashiah. Mereka memiliki otoritas dari Ha Mashiah. Apa ada orang lain memiliki kuasa sedemikian?

14) Untuk disembah:
Kuran mengatakan, Orang-orang Yahudi menyebut Uzair seorang putra Allah, dan orang-orang Nasrani menyebut Al Masih Putra Allah. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. … Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan disamping Allah, dan Al Masih putra Maryam (S. 9:30-31)

Ibnu Kotaiba melihat ini sebagai sebuah ayat bermasalah, karena menempatkan Allah dan Al Masih (Ha Mashiah) untuk disembah sebagai sebuah perintah. Jadi, Ibnu Kotaiba pikir untuk menghindari masalah ini, ungkapan “Ha Mashiah putra Maryam” harus sintaktis ditafsirkan sebagai ’objek kedua’ untuk kata kerja ’menjadikan’ dan bukan ’annexment’ untuk kata ‘Allah’. Dengan cara ini ayat tersebut tidak akan mendukung pandangan Kristen tentang keilahian Ha Mashiah.

15) Datang dalam awan-awan:
Kuran mengatakan, Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, (S. 2:210)
Ibnu Al-Fadl Al-Hadathi mengatakan bahwa ayat ini menunjuk ke Ha Mashiah yang akan datang kembali pada Hari Terakhir dalam awan-awan. Dia juga menafsirkan ayat berikut ini sebagai merujuk kepada Ha Mashiah juga, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris. (S. 89:22)

Nyatanya, saya menemukan lebih dari yang saya cari atau inginkan. Saya telah menulis temuan saya di sebuah buku kecil yang terpisah berjudul ‘Tidak terelakkan Keilahian Ha Mashiah.” Awalnya saya menyebutnya “Keilahian Ha Mashiah,” tapi setelah saya menyelesaikan penelitian saya, saya harus mengubah judulnya dengan ”Tidak terelakkan Keilahian Ha Mashiah.” Saya menyimpulkan buklet itu dengan kalimat berikut,

“Bahkan jika orang-orang Kristen tidak mengklaim Ha Mashiah adalah Elohim, Dia pastilah Elohim.”

Adapun bagian kedua, yaitu kematian Ha Mashiah sebagai kurban bagi orang-orang berdosa, Islam selalu menolak gagasan ini karena Kuran berkata, Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, (S. 17:15).
Bagaimana mungkin orang yang tidak bersalah mati bagi para orang berdosa? Yah, kita telah memiliki dilema lain: apakah Ha Mashiah benar-benar mati? Saya sangat percaya diri – Saya tidak tahu kenapa – bahwa saya telah mungkin tidak akan menemukan apapun untuk membuktikan kematian Ha Mashiah. Saya telah mencari dan tidak menemukan bukti yang akan menenangkan hati nurani saya dan memperkuat iman saya dalam Islam. Oleh karena itu, saya sangat ingin melawan bukti Keilahian Ha Mashiah dengan membuktikan bahwa Dia tidak mati, dan tidak bisa mati untuk orang berdosa.

Saya berusaha untuk membantah ide ‘Kurban Kematian’ ketika saya datang di ayat berikut dalam Kuran,
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertobatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; ( S. 2: 54)

Saya membaca tafsir Ibnu Katsir tentang ayat ini. Dia mengatakan bahwa Israel ingin bertobat dari dosa mereka menyembah anak sapi, tetapi Elohim tidak menerima pertobatan mereka. Ketika Musa bermeditasi, Elohim menyuruhnya untuk memberitahu orang-orang Israel bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan pengampunan adalah bahwa setiap orang harus membunuh semua orang yang ia temui. Dikatakan bahwa mereka memakai penutup mata sehingga mereka tidak akan memiliki belas kasihan pada keluarga mereka tetapi akan punya keberanian untuk mematuhi perintah Elohim. Ibnu Kathir mengatakan bahwa setidaknya tujuh puluh ribu orang tewas hari itu, dan darah mengalir seperti sungai. Ketika Elohim melihat itu sudah cukup, Dia menyuruh Musa untuk mengatakan kepada bangsa Israel untuk berhenti. Elohim menerima pertobatan mereka melalui darah mereka yang meninggal. Jika seseorang tidak menyembah anak sapi dan mati sebagai penebusan bagi mereka yang melakukannya, mengapa kita menolak gagasan bahwa Ha Mashiah tidak berdosa mati untuk orang berdosa, dan bahwa Dia masih hidup?
Bersambung ke bab 8B

Pendahuluan

  1. Di Belakang Kerudung
  2. Diberkatilah Bangsa Mesirku
  3. Dari Tanah Air Mashiah Anak-anak Ismail Akan Kembali
  4. Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid
  5. Orang-orang Pilihan Mashiah
  6. Dari Kristen nominal Ke Islam dan Kemudian Ke Mashiah
  7. Begitulah Bagaimana Saya Telah Mengenal Elohim
  8. Dahulu Saya Mati Tetapi Sekarang Saya Hidup
  9. Instruksi-instruksi Penting
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala baja.

 

 

Daftar Buku Bacaan Yang Dianjurkan

Takut akan YAHWEH adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan. Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu.  (Amsal 1:7-9)

Penjalabaja tidak punya hubungan bisnis dengan toko-toko buku atau pencetak buku, tetapi hanya merekomendasikan buku-buku yang baik dan berguna untuk pertumbuhan iman para pembaca. Penjalabaja.

Books you must read before your 18th birthday!
Author(s); Title
Bilquis Sheikh; I DARED to call Him FATHER – Cerita mujizat pertemuan seorang wanita Muslim dengan Elohim
Esther Gulshan Fatima; The Torn Veil – Autobiografi wanita keturunan Muhammad saw bertemu Yeshua
Esther Gulshan; Beyond the veil
Dr & Mrs Howard Taylor; Biography of James Hudson Taylor – Missionary Inggris untuk Daratan China
Dr & Mrs Howard Taylor; Hudson Taylor’s Spiritual Secret
Janet & Geoff Benge; Sundar Singh: Footprints over the Mountains – Seorang Sikh terpanggil menjadi Shadu Kristen, jalan memberitakan Injil di pengungan Himalaya tanpa sandal
John Bunyan; Pilgrims Progress (modern language edition)
Eileen Crossman; James Fraser: Mountain Rain
Elisabeth Elliot; A Chance to Die: The Life and Legacy of Amy Carmichael Elisabeth Elliot; Shadow of the Almighty – Life and Testament of John Elliot Elisabeth Elliot; Through Gates of Splendor
Melody Green; Keith Green: No Compromise – Gospel Musician
Hannah Hurnard Hinds; Feet on High places
Isobel Khun; Nests above the Abyss - Cerita suku Lisu di Selatan RRC dari gelap menuju terang
C.S. Lewi; Screwtape Letters
John Pollock; George Whitefield and the great awakening
John Pollock; Wesley – the preacher
John Pollock; Moody – without Sankey
John Pollock; Newton – the liberator
Roger Steer; George Muller – Delighted in God
Roger Steer; Catherine Booth
Eileen Vincent; No Sacrifice too great (CT Studd)
Eileen Vincent; Lillies amongst Thorns
David Wilkerson; The Cross and the Switchblade – Kisah nyata Pdt. David dengan gang-gang NY.
Nicky Cruz; Run Baby Run
Brother Yun; Heavenly Man – Kesaksian ajaib seorang China terbebas dari penjara RRC.

Heroes of the faith series – buku seri singkat pahlawan misi
Author(s); Title
C.S. Lewis; The Problem of Pain
C.S. Lewis; Perelandra, Out of Silent Planet, That Hideous Strength
C.S. Lewis; The  Pilgrims Regress – A allegorical fiction, cerita pribadi Lewis mencari arti dan kepuasan rohani. Seorang professor yang menjadi Kristen.
David Watson; My God is Real – In Search of God, Hidden Warfare
David Watson; I believe in the Church
Don Carson; The Gagging of God
Don Richardson; Eternity In their Hearts – Elohim mengasihi  setiap suku cerita dari Missionary Australia
Francis Schaeffer; Trilogy – God who is there, Escape from reason, He is there and He is not silent
Dr & Mrs Howard Taylor; Hudson Taylor in Early Years: The Growth of a Soul
Dr & Mrs Howard Taylor; Hudson Taylor and the China Inland Mission: The Growth of a Work of God
Mrs. H. Taylor; The triumph of John and Betty Stam
John Bunyan; Holy War
J.C. Ryle; Christian Leaders of the C18th
Jack Deere; Surprised by the Power of the Spirit
J.I. Packer; Knowing God
John Stott; The Cross of Christ
John Stott; New Issues facing Christians Today
Michael Green; I Believe in Satan’s Downfall
Michel Van Dyke; Dietrich Bonhoeffer – Going Deeper
Norman Geisler Baker; Encyclopaedia of Apologetics
Roy Hession; The Calvary Road
Ruth Tucker; From Jerusalem to Irian Jaya
The Lion Handbook of the Early Church

Further Reading and Advanced Apologetics
Author(s) Title
Alister McGrath; Dawkins’ God
Alister McGrath; The Twilight of Atheism
Alister McGrath; Bridge Building: Creative Christian Apologetics
Alister McGrath; The Science of God
Josh McDowell; Evidence that Demands a Verdict
John Piper; Desiring God
Lee Strobel; The Case for Faith
Lee Strobel; The Case for Christ
Michael J. Behe; Darwin’s Black Box
Norman Geisler; Christian Apologetics
Norman Geisler; Christian Ethics
Norman Geisler; When Sceptics Ask
Norman Geisler; When Critics Ask
Paul Copan; True for you but not for Me
Paul Copan; That’s just your interpretation
Phillip Johnson; Darwin on Trial
Philosophy: Christian Perspectives for the New Millennium
Science: Christian Perspectives for the New Millennium
Ravi Zacharias; The Real Face of Atheism
Ravi Zacharias; Can Man Live Without God?

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Yeshua: Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang! Cerita Martir

Pernyataan Yeshua Ha Mashiah ini dikatakannya kepada para pengikut-Nya, bukan kepada masyarakat umum. Tepatnya Yeshua mengatakan ini kepada dua belas murid yang dipilihnya menjadi rasul-rasul-Nya, itu tidak dikatakan-Nya kepada orang-orang dipinggir jalan atau di sebuah pasar terbuka. Ini dikatakan-Nya kepada para rasul yang baru saja dilantiknya tersebut.

Lengkapnya ayat diatas berbunyi seperti ini: “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. (Injil Matius 10:34)

Ada beberapa orang Muslim yang tidak mengerti isi Alkitab ini memakai ayat ini untuk menghubungkannya dengan tindakan para Crusader yang membunuh banyak orang Muslim, … dan tentunya banyak jatuh korban pula dipihak para Crusader itu sendiri.

Ayat ini sesungguhnya adalah perkataan nubuatan Yeshua Ha Mashiah, bahwa kehadiran-Nya di Bumi ini membawa ”pedang” untuk setiap orang yang mengikuti ajaran-Nya. Pada hari terakhir Yeshua bersama-sama dengan kesebelas murid-Nya, pesan-Nya kepada mereka ialah: Maka kata Yeshua kepadanya: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. (Injil Matius 26:52)

Mungkin diantara pembaca ada yang berpikir bahwa Yeshua menarik ulang perkataan-Nya yang Ia katakan tiga setengah tahun lalu tersebut, yang tertulis pada Injil Matius 10:34 tersebut. Tidak sama sekali!! Yeshua tidaklah seperti para politikus atau para pemimpin agama yang suka merubah janji atau pernyataan mereka.

Yeshua berkata: Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu. (Injil Matius 24:35), tetapi perkataan politikus dan pemimpin agama selalu berubah disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang ada.  Itu sebabnya raja Daud menulis dalam Mazmurnya demikian: Lebih baik berlindung pada YAHWEH dari pada percaya kepada manusia. Lebih baik berlindung pada YAHWEH dari pada percaya kepada para bangsawan. (Mazmur 118:8-9)

Kita kembali kepada masalah pedang. Yang pasti ialah Yeshua tidak pernah membawa pedang selama kehadiran-Nya di Bumi, dan Ia tidak pernah mengajar para rasul-Nya dan pengikut-Nya untuk memberitakan berita Injil dengan pedang di tangan, tidak pernah juga Ia mengajar para rasul-Nya dan pengikut-Nya untuk membela ajaran-Nya dengan kekuatan pedang. Itulah fakta dan kebenaran ajaran Yeshua, Alkitab mencatat semua itu dengan baik!

Mungkin Anda berkata: ”Sebentar! Bagaimana dengan ayat pada Injil Lukas 22:36-38, bahwa Yeshua menyuruh rasul-rasul-Nya untuk mebeli pedang, dan mereka dapat dua pedang.” Ayat pada Injil Lukas ini tertulis untuk menggenapi pasal nubuatan kedatangan Yeshua dan bagaimana caranya Ia meninggal dunia pada kitab Yesaya 53. Ayat 12 tertulis: Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak (Yesaha 53:12). Injil Lukas pasal yang sama di atas ayat ke 37 sangat jelas menyatakannya: Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi.” Malam itu juga nubuatan Yesaya abad 700 BC ini tergenapi, Lukas 22:52-53 tertulis demikian: “Maka Yeshua berkata kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Elohim serta tua-tua yang datang untuk menangkap Dia, kata-Nya: Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung? Padahal tiap-tiap hari Aku ada di tengah-tengah kamu di dalam Bait Elohim, dan kamu tidak menangkap Aku. Tetapi inilah saat kamu, dan inilah kuasa kegelapan itu.” Alkitab penuh dengan nubuatan-nubuatan dan pengenapan-pengenapannya!

Jadi apa makud ayat ini? : “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. (Injil Matius 10:34)

Inilah maksud perkataan nubuatan Yeshua pada ayat di atas:

Kehadiran Yeshua di satu pihak membawa damai bagi Dunia ini. Manusia yang telah terpisah dengan Pencipta mereka, YAHWEH, oleh karena pemberontakan (jiwa, pikiran dan perbuatan) kita diperdamaikan oleh korban darah-Nya sendiri di kayu salib. Roma 5:8 dan Injil Yohanes 3:16. Mereka yang menerima pengorbanan-Nya ini dan mengikuti perintah-perintah ajaran-Nya hidup damai kembali dengan Pencipta mereka.

Di lain sisi, tindakan dan perkataan orang-orang yang mengikuti ajaran-ajaran-Nya, yaitu orang-orang yang telah diperdamaikan dengan YAHWEH mendapat ancaman pedang-pedang! Yakni aniaya bahkan kematian oleh pedang!!

Bagaimana mungkin ajaran damai Yeshua ini membawa pedang (aniaya dan kematian) bagi pengikut-Nya? Susah dipercaya, tetapi itulah faktanya, Sejak Yeshua tersalib sampai saat ini ratusan juta orang Kristen telah meninggal dunia oleh pedang dan  api karena iman mereka kepada Yeshua Ha Mashiah.

Di bawah ini daftar kasar jumlah martir Yeshua:

Hak gambar dimiliki oleh Art Renewal Center

Doa terakhir Martir-martir Kristen

  • Dari tahun 54-323, terdapat 10 kaisar Romawi yang menganiaya orang Kristen, mulai dari Kaisar Nero sampai Diocletian. Para martir ini disalib, dibakar hidup-hidup, di bawa ke arena terbuka untuk dicabik-cabik oleh singa-singa, anjing-anjing buas, diikat lalu ditarik oleh binatang oleh karena iman percaya mereka.
  • Polycarp (abad 2 A.D.) ditangkap dan dibawa ke Amphitheather Smirna. Ditonton ribuan orang kaisar meminta ia menolak iman percayanya: “Hina Mashiah (Kristus), dan saya akan lepaskan kamu!” Polycarp menjawab: ”Delapan puluh enam tahun saya telah melayani Dia, dan Dia tidak pernah melakukan yang salah kepadaku; Bagaimana dapat saya menghina Dia, Rajaku, yang telah menyelamatkan saya!?” Saya seorang Kristen,” ia menegaskan. Kaisar lalu berteriak kepada para hadirin, ”Polycarp sudah mengaku sendiri sebagai orang Kristen.” Disambut suara para penonton, ”Bakar dia!” Kayu dikumpulkan dan ditumpuk untuk membakar orang Kristen ini. Seorang berkata kepadanya, ”Saya akan bakar kamu dengan api, kecuali kamu meruba pikiranmu.” Polycarp menjawab, ”Kamu mengancam dengan api yang membakar untuk sejam dan segera padam; namun kamu mengabaikan api penghukuman yang akan datang dan api hukuman kekal yang tersedia untuk orang-orang jahat.” Sejarah mencatat ia mati martir tahun 156.
  • Roma 165 A.D. Justin dipecutin dan kemudian dipenggal kepalanya. Kata-kata terakhirnya ialah: ”Kami tidak meninginkan apa-apa lebih dari pada menderita untuk Yahweh Yeshua Ha Mashiah (Lord Jesus Christ) kami.” Dia dikenal sampai sekarang sebagai Martir Justin.
  • Dalam waktu kurang lebih 30 tahun (1540-1570) lebih dari satu juta (1000.000) Protestan dibunuh dimuka umum di negara-negara Europa dibawah perintah Gereja Roma Katolik inquisition of Roma Catholic Church
  • Pada abad 19, secara keseluruhan sekitar 50 juta orang Kristen mati martir di bawah Inkuisisi Gereja Roma Katolik. Inkuisisi: pengadilan yang menghakimi setiap orang yang menentang ajaran Gereja Roma Katolik.
  • Lebih dari 20 juta mati martir di Rusia selama 70 tahun kekuasaan ajaran komunis.
  • Tahun 1916, sekitar 1 juta Kristen Armenia martir ditangan  ”Turki-turki Muda”
  • Pada 9 September 1922 orang Kristen Yunani mati martir di daerah Smirna saja oleh Turki Muslim
  • Dalam tahun 2008 lebih dari 200 juta Kristen di seluruh dunia dianiaya, oleh orang-orang Muslim karena imam mereka kepada Yeshua
  • Baca Foxe’s Book of Martyrs edisi abad 21 telah diterbitkan.New Foxe's Book of Martyrs

David Barrett dalam statistik World Christian Encyclopedia yang dicetak oleh percetakan Oxford University melaporkan 45 juta orang Kristen mati martir sepanjang abad ke 20 ini. Dan Voice of the Martyrs pada video presentasinya memperkirakan 450 orang Kristen perhari atau 162,000 pertahun dianiaya di seluruh dunia (negara Islam, Komunis termasuk negara Indonesia).

Perhatian: Martir atau Martyr (English) bersumber dari kata Yunani yang berarti ”saksi” Martir dalam iman Kristen artinya seorang yang dipanggil untuk bersaksi tentang kepercayaannya dan karena kesaksiannya ini ia menderita dan mati, dengan kata lain seorang martir Kristen adalah seorang beriman yang mati diadili karena mempertahankan imannya. Hal ini tidak sama dengan ”mati sahid” dalam ajaran Islam. Sahid (bahasa Arab) artinya juga ”saksi”, namun maknanya berbeda: Dalam Islam seorang dikatakan mati sahid lebih dari sekedar mempertahankan imannya, yaitu mati di dalam berjihad, mati berperang atau berjuang demi Allah dan dan nabi Muhammad untuk perkembangan Islam.

Nubuatan Yeshua tentang “pedang” akan mengikuti orang-orang yang beriman kepada ajaran Alkitab telah terbukti dan tergenapi. 10 tahun terakhir ini India yang mayoritas penduduknya beragama Hindu juga telah mengirim “pedang” kepada orang-orang Kristen di India. Anda bertanya, mengapa banyak aliran agama dan ajaran komunis membenci Kekristenan atau iman Kristen yang bersumber dari Yeshua ini?

Yeshua menjawab pertanyaan Anda di atas. ”Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. ” (Injil Yohanes 15:19)

Yeshua adalah Kebenaran (Injil Yohanes 14:6) dan Bumi ini telah direbut oleh Iblis dari tangan manusia, yang dipercayakan YAHWEH untuk merawat Bumi ini (Kejadian 1:26-28). Itulah juga sebabnya  waktu Yeshua berumur dua tahun, raja Herodes, penguasa kerajaan Romawi untuk Israel dan Samaria, memerintahkan tentara-nya untuk membunuh semua bayi di Berlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun kebawah (Injil Matius 2:16). Herodes tidak ingin ada Juru Selamat datang membebaskan umat Israel dan penduduk dunia ini.

Iblis dan malaikat-malaikat hitamnya tidak senang kebenaran dinyatakan kepada penduduk Bumi ini, itulah sebabnya penguasa-penguasa alam roh ini memakai siapa saja yang dapat mereka tipu untuk menghentikan pekerjaan pemberitaan Kabar Kesukaan yang diajari oleh Yeshua dan para pengikut-Nya: yaitu bahwa keselamatan hanya melalui iman kepada Yeshua Ha Mashiah saja, seperti tertulis: Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Elohim yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Elohim, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.” (Roma 1:16-17)

Jadi jelas apa yang dimaksud oleh Yeshua bahwa Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” (Injil Matius 10:34), Injil Lukas menulis ayat sama sebagai berikut: Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. (Injil Lukas 12:51)

Pedang atau pertentangan terjadi oleh karena pemimpin-pemimpin dunia ini yang cinta kegelapan dan kejahatan tidak ingin perbuatan jahat mereka dibongkar.

Itulah sebabnya mengapa penterjemah-penterjemah Alkitab dianiaya dan dibakar hidup-hidup oleh pemimpin Gereja Roma Katolik, dan setelah diterjemahkan Alkitab dilarang dibaca oleh masyarakat di beberapa negara Europa dahulu kala. Dan untuk kita ingat sampai sekarang Alkitab adalah satu-satunya buku yang dilarang dimiliki di negara-negara Islam dan Komunis!!

Menarik untuk diingat bahwa bab terakhir pada kitab terakhir dari Alkitab tertulis: Lalu Ia berkata kepadaku: “Perkataan-perkataan ini tepat dan benar, dan YAHWEH, Elohim yang memberi roh kepada para nabi, telah mengutus malaikat-Nya untuk menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi.” “Sesungguhnya Aku datang segera. Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini!” (Wahyu 22:6-7)

Sumber kutipan:

  1. The Christian Martyrs, Chapter 7
  2. The Persecuted Church
  3. The Century of Martyrs, 20th Century persecutions
  4. Christians Are Persecuted, Martyred, and Killed Worldwide. Voice of the Martyr video presentasi
  5. Christian Martyrs
  6. Inkuisisi
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Elizabeth dari Indonesia Diperlihatkan Sorga dan Neraka

Elizabeth bersaksi tentang neraka

Kata Pengantar dari Moderator PenjalaBaja.wordpress.com: Puji syukur kepada Bapa Sorgawi, yang begitu bermurah hati bersedia membukakan perkara-perkara yang begitu penting – Kehidupan kekal setelah kematian dari tubuh yang fana; yakni kehidupan di Sorga dan di Neraka. Dalam abad yang semakin tidak perduli dengan hati nurani dan kehidupan bermoral sekarang ini, Dia masih tetap bekerja dan berbicara – untuk menunjukkan Jalan Keselamatan menuju Sorga – melalui cara-Nya sendiri yang unik; membawa beberapa orang dari berbagai negara untuk melihat dengan mata-rohani mereka sendiri bahwa Sorga dan Neraka sungguh ada, dan sekali lagi kita bersyukur kepada Dia, bahwa Dia juga memberi kita saksi hidup untuk menyaksikan perkara-perkara ini kepada kita melalui seorang wanita Indonesia, bernama Elizabeth.

Sebagian kesaksian Saudari Elizabeth dapat dilihat pada video ini Video Kesaksian Pertama ; Video Kesaksian Kedua.
Kesaksian Elizabeth dalam bentuk tulisan di bawah ini (lebih lengkap dari yang di video) diadopsi dari  Pedson.blogspot yang berjudul Sorga dan Neraka.
Semoga menjadi berkat bagi setiap Anda yang membacanya. Moderator.

[Elizabeth memulai kesaksiannya]
Shalom saudara, selamat sore, saya mengucap syukur kalau sampai saat ini saya masih boleh ada dan diberi kesempatan oleh YAHWEH untuk hidup dan untuk bersaksi semuanya ini oleh karena kasih karunia YAHWEH
Kejadiannya pada bulan September 2001, ketika itu saya dan team sedang berdoa syafaat di gereja.
Saat itu saya sadar masih ada di dalam gereja, tapi saya juga merasakan bahwa roh saya dibawa oleh Adonai Yeshua ke suatu tempat lain.

N E R A K A

Saya tiba di sana dan tempat itu sangat mengerikan. Berbau busuk, amis, bau darah, bau benda-benda terbakar, bahkan lebih busuk dari bau pasar ikan.
Saya lihat disana ada banyak hal-hal yang mengerikan. Dan yang paling membuat saya tidak tahan adalah begitu banyaknya orang-orang yang menjerit ketakutan, minta tolong, minta ampun kepada Adonai. Mereka berkata ”Lepaskan saya Adonai, tolong saya Adonai, ampuni saya Adonai, saya sudah tidak kuat lagi berada disini” tetapi Adonai Yeshua hanya berkata, “Pengampunan yang Aku berikan sudah terlambat kesempatan itu sudah tidak ada lagi ketika kamu masih ada di dunia kamu tidak mau pakai kesempatan itu tapi kamu sia-siakan, tetapi jika kamu minta ampun sekarang itu sudah terlambat.”
[Setelah seorang mati, roh dan jiwanya keluar dari tubuhnya, maka sejak saat itu segala penyesalan dan permintaan ampun sudah terlambat. Jiwanya langsung dilempar ke Neraka, tubuh kebangkitannya akan menyusul dan disatukan kembali setelah Hari Penghakiman.]
Disana saya juga melihat berbagai macam hal-hal yang sangat mengerikan, jutaan orang di sisi kanan saya dibakar api hingga tubuh mereka meleleh. Anehnya tubuh yang meleleh tadi kemudian kembali tumbuh normal dan utuh, tapi kemudian dibakar lagi sampai habis, dan hal ini terjadi berulang kali, sehingga sakitnya itu tidak terkira dan tidak pernah berhenti. Sifatnya kekal.
Di sisi kanan itu juga saya melihat ada orang yang digerogoti ulat-ulat kecil, seperti yang sudah disampaikan dalam Firman YAHWEH bahwa di Neraka terdapat api tidak pernah padam dan ulat-ulatnya tidak pernah mati itu adalah benar. Jutaan orang berteriak-teriak kesakitan karena dibakar api dan digerogoti ulat-ulat.

Tubuh-tubuh tersebut digerogoti dari bawah sampai atas sampai habis tidak bersisah, tapi kemudian dagingnya muncul lagi lalu digerogoti lagi. Itu terjadi terus menerus dan saya lihat bahwa kebanyakan orang-orang yang digerogoti ulat itu adalah para pemimpin dari agama sepupu kita (Islam), yang dapat saya kenali dari pakaian mereka, seperti juga ada yang menggunakan sorban, dll. Mereka ini menjerit minta tolong dan minta ampun, tapi Adonai berkata, “Semuanya sudah terlambat.”

Keadaan Neraka sangat mengerikan, panas, berbau busuk, jalanan dan dindingnya pun lembek, seperti ingus, lengket dan berwarna busuk.
Waktu itu Adonai berkata pada saya “Setiap kamu bertemu dengan orang lain, terutama orang-orang yang belum dan tidak percaya Aku, sampaikan kesaksian ini, bahwa Neraka itu benar ada, bahwa Sorga itu benar-benar ada. Jika mereka tidak percaya itu terserah mereka apabila mereka percaya itu bagus, Haleluyah; tetapi apabila mereka tidak percaya ya sudah, biarkan saja, tidak usah bingung, yang penting kamu sudah menyampaikan dan mereka sudah mendengar, keputusan ada di tangan mereka masing-masing.”

Saya dan Adonai Yeshua terus berjalan hingga tiba di sebuah persimpangan, ada jalan yang ke kiri dan ada jalan yang ke kanan. Saya melihat ada banyak sel-sel yang diisi dengan orang yang jumlahnya banyak sekali. 1 sel diisi 1 orang, kemudian juga ada iblis yang sedang tertawa kesenangan diantara banyak orang yang menangis menjerit karena tidak tahan oleh siksaan. Ada yang matanya dicungkil sampai darahnya mengalir deras sekali, tapi anehnya bisa muncul lagi mata yang baru dan dicungkil lagi.  Ada yang tangannya dikuliti, ada yang lidahnya dipotong-potong, tetapi sama seperti diawal kesaksian saya, mata, tangan, lidah, dan lain-lain itu bisa kembali normal utuh kembali, namun setelah itu kembali disiksa. Tiada henti-hentinya, siksaan di Neraka itu sifatnya kekal. Saya dengar lagi semua orang menangis, minta tolong dan minta ampun, tapi Adonai tetap tidak bisa menolong, karena semua memang sudah terlambat.

Saya kemudian bertanya pada Dia, “Adonai, orang-orang yang ada disini pasti orang-orang yang tidak percaya Engkau ya?” Tetapi Adonai menjawab, “Oh tidak. Justru yang ada disini adalah orang-orang Kristen yang sudah percaya Aku.” Saya kaget sekali, lalu saya bertanya kenapa orang-orang Kristen tersebut juga ada di Neraka, bukankah mereka sudah percaya dan menerima Yeshua. Adonai pun menjawab, “Mereka memang orang Kristen yang percaya dan menerima Yeshua, tetapi kehidupan yang mereka jalani bukanlah kehidupan kudus yang diinginkan YAHWEH. Mereka diberi anggota tubuh yang lengkap seperti tangan yang seharusnya untuk menyembah YAHWEH, tetapi digunakan untuk memukul dan membunuh. Diberi mulut untuk memuji YAHWEH tetapi digunakan untuk menggerutu, mengomel dan mencaci maki orang. Memakai mata untuk menonton video porno atau buku-buku yang tidak benar.”
Jadi hal-hal itu tidak berkenan bagi YAHWEH. Kita harus dapat mempergunakan tubuh yang diberikan YAHWEH dengan benar dan selalu menjaga kekudusannya, karena apapun yang kita lakukan di dunia ini akan kita pertanggungjawabkan kepada YAHWEH setelah kita dipanggil kembali. Kita tidak dapat menyembunyikan apapun dari YAHWEH karena YAHWEH mengetahui segala apa yang kita lakukan, walaupun ditempat yang tersembunyi sekalipun.
Saya pun diajak jalan – yang dinding temboknya berlendir seperti cairan ingus, lengket dan sangat bau – ke dalam ke pusat Neraka. Dipusat Neraka ada ada sebuah sumur yang menyerupai kawah belerang. Didalam sumur itu saya melihat ada orang-orang yang diikat berdua-duaan, perempuan dengan perempuan dan laki-laki dengan laki-laki. Adonai pun menjelaskan kepada saya bahwa mereka yang diikat berduaan itu adalah para lesbian, waria dan homo. Yang walaupun mereka mengaku bahwa mereka menerima dan percaya Yeshua, tetapi kehidupan mereka tetap seperti itu (tidak berhenti dari praktek kehidupan yang dilarang Elohim), maka mereka akan di tempatkan YAHWEH di sana.

Tidak jauh dari sana, di pusat Neraka juga ada juga orang-orang yang dihukum di kawah belerang ini, yaitu orang-orang yang suka dengan perdukunan, suka cari penglarisan, cari paranormal, kemudian ada juga sel-sel, dimana 1 sel diisi 1 org, yang didalamnya terdapat orang-orang yang alat kelaminnya digerogoti ulat-ulat sampai darahnya mengalir deras kemudian bentuknya kembali normal dan utuh lagi, kemudian digerogoti lagi dan hal itu terjadi berulang-ulang, tidak pernah berhenti. Adonai bilang kepada saya bahwa itu adalah tempat untuk orang-orang yang mengaku sudah Kristen tetapi masih tetap bermain-main dengan dosa, masih ke tempat-tempat yang tidak benar, sudah punya isteri tapi punya simpanan (gundik), itu akan masuk ke sana, karena menganggap masih ada waktu buat bertobat, padahal kita tidak tahu kapan kita akan menghadap YAHWEH.

Semakin kedalam lorong Neraka, keadaan semakin gelap dan pengap, terus saya melihat ada iblis-iblis yang berkata “Ayo pak pendeta, khotbah lagi pak pendeta, kamu kan didunia khotbah, kenapa disini tidak mau khotbah.” Saya jadi bingung kok ada pendeta yang masuk Neraka? Pendeta kan hidupnya suci dan percaya Yeshua. Tapi Adonai berkata, pendeta itu memang rajin berkhotbah, mengabarkan Firman YAHWEH, tetapi dia sendiri tidak menjalankan Firman itu dalam kehidupannya; dia menggelapkan dan menggunakan uang jemaat, hidup tidak kudus, punya istri simpanan, dll. Merekalah yang ditempatkan disana oleh Adonai. Saya melihat pendeta itu berusaha keluar, tetapi tidak bisa, kemudian mulutnya dirobek dan dicakar oleh iblis sampai tidak berbentuk, darah mengalir, tetapi mulut dan wajahnya kembali normal lagi, terus dicakar disobek lagi, dst, dst. Disana juga para pendeta itu berteriak kepada Adoanai, minta ampun, tapi Adonai tetap berkata, bahwa semua itu sudah terlambat, ketika orang-orang tiba di Neraka kesempatan bertobat itu sudah tidak ada.

Setelah melihat semua ini, saya bilang ke Adonai, ”Adonai saya tidak mau tinggal disini, saya tidak mau masuk kesini lagi,” bahkan sampai saya sadar dan roh saya telah kembali ke tubuh saya pun, bau busuk Neraka itu masih tercium, padahal didekat saya tidak ada sampah atau kotoran berbau busuk (saking bau busuknya, setelah sadar, elizabeth sampai 40 hari tidak makan, hanya minum saja. Haleluyah dia tetap kuat, tidak lemas, menurutnya mungkin karena dia makan buah yang diberikan Adonai pada saat mereka berada di taman dalam Sorga).
Ketika saya bilang ke Adonai kalo saya sudah tidak kuat lagi, lalu Adonai memeluk saya dengan hangat, menghibur saya dan akhirnya membawa saya ke suatu tempat lain yang sangat jauh berbeda dengan Neraka. Tempat yang sangat indah, teramat sangat indah sekali.

S O R G A

[Jenis rumah yang berbeda; Bertemu nabi Musa, raja Daud dan rasul Yohanes dan rasul Paulus]
Disana saya melihat ada banyak sekali rumah, ada yang kecil dan ada yang besar, ada yang sudah jadi dan ada yang belum jadi. Lalu saya bertanya kepada Adonai, rumah-rumah siapakah itu. Dia menjawab kalo itu adalah rumah untuk anak-anak-Ku. Nanti apabila pulang sudah disediakan rumah tinggal. Saudara, apa yang dikatakan Alkitab itu benar bahwa Adonai Yeshua pergi kepada Bapa Sorgawi untuk menyediakan tempat tinggal bagi kita semua.

Yang disediakan untuk kita yang percaya kepada Adonai Yeshua, yang percaya dan mau melayani-Nya dengan kudus, tulus dan murni hatinya.
Saya juga bertanya kok rumahnya ada yang kecil dan ada yang besar, Adonai menjawab bahwa itu semua tergantung dari ketulusan pelayanan kita…bukan dari banyaknya pelayanan yang dilakukan, tapi dari ketulusan dalam melayani Dia, motivasi dalam melayani. Semakin kita tulus dan dekat maka semakin Dia memberikan tempat yang terbaik.
Terus diantara rumah-rumah itu ada yang separoh jadi dan ada yang sudah jadi, Tuhan bilang bahwa yang sudah jadi artinya orangnya sudah meninggal dan sudah bersama dengan Dia, sedangkan yang baru separuh jadi artinya orangnya masih belum meninggal.
Sorga itu sangat terang sekali, tidak menyilaukan tidak panas di kulit walalupun terang sekali, tapi sejuk di kulit.

Di ujungnya Sorga saya melihat ada barak, ada suatu tempat besar tapi untuk rombongan banyak orang, yang ternyata itu adalah tempat untuk orang-orang yang tidak percaya Adonai Yeshua tetapi waktu mau meninggal, misalnya dalam keadaan sakit atau koma, terus didoakan dan mau bertobat, menerima Yeshua Ha Mashiah terus langsung meninggal, maka mereka akan ditempatkan disana. [Masuk Sorga dengan perasaan malu atau pas-pasan, kata Pendeta  Yong Gyu Park dari Korea Selatan]

Jalan yang ada di Sorga, di rumah-rumah itu indah sekali, seperti butiran kaca. Ada banyak pohon buah-buahan. Saya juga sempat diberi buah oleh Adonai dan ajaib, begitu buahnya dipetik, langsung numbuh lagi. Jadi kehidupan di Sorga maupun di Neraka itu semua adalah kekal.
Tidak jauh dari situ saya melihat ada istana yang indah sekali, Adonai katakan itu adalah Istana-Nya dan akhirnya mengajak saya kesana.

Disana saya melihat banyak orang memuji dan menyembah Adonai setiap saat tanpa ada rasa capek, ngantuk dan lelah. Mereka memuji Adonai setiap saat, setiap waktu. Sesuai dengan Firman YAHWEH, saya lihat istana itu benar terdiri dari emas permata. Lantainya terbuat dari emas, dindingnya dari batu permata yang indah sekali. Adonai adalah Raja diatas segala raja, Dia adalah Raja yang sangat kaya sekali.
Saya lihat juga ada malaikat. Malaikat itu ada dua macam, ada yang bersayap dan ada yang tidak bersayap.

Malaikat yang bersayap itu adalah untuk peperangan rohani dan yang tidak bersayap untuk puji-pujian.
Kemudian karena kasih dan kemuarahan hati Bapa, saya juga dipertemukan dengan Yohanes, murid yang paling dikasihi Adonai. Yohanes berkata pada saya, “Kamu ingini hati-Nya saja, ingini dekat sama Adonai saja, janganlah mengingini yang lainnya.”

Setelah itu saya diajak ke pekarangan dan disana saya bertemu dengan Raja Daud yang masih berpakaian seorang raja lengkap, kemudian dia berkata pada saya kalo dia ada di sana hanya karena kasih dan kemurahan hati Adonai. Saya takjub sekali karena setahuu saya Raja Daud itu kan intim sekali dengan YAHWEH, tetapi kok dia sendiri bisa berkata bahwa dia ada disana hanyalah karena kemurahan hati YAHWEH. Kemudian bagaimana dengan kita yang hidup di dunia ini dan tidak intim dengan Dia? Raja Daud juga berpesan pada saya untuk menyampaikan kepada anak-anak YAHWEH untuk selalu menjaga kekudusan apalagi anak-anak muda jaman sekarang yang gampang jatuh dalam ketidak kudusan seperti melakukan perzinahan dan kenajisan.
Saya juga bertemu dengan Musa yang hanya berkata “Aku menyesal karena tidak dapat masuk ke Tanah Perjanjian (Israel).”

Saya juga ketemu Paulus yang bilang bahwa jika kamu menghadapi pencobaan yakinlah bahwa itu tidak akan melebihi kekuatannmu. Jadi saudara-saudara, yakinlah saat kita menghadapi kesulitan yang luar biasa yakinlah bahwa Adonai pasti akan menolong dan pencobaan itu tidak akan melebihi kekuatan kita.
Kemudian saya bertanya pada Adonai, apa kunci untuk bisa masuk istana-Nya, Dia pun menjawab, “Hal itu gampang sekali, kamu cuma harus intim hanya sama Aku, deket dengan Aku, melekat pada Aku, tidak ada yg lain.”

Saya bersyukur sekali bisa ketemu Adonai Yeshua yang memulihkan kehidupan saya, karena hanya pertemuan pribadi ini yang memulihkan saya.
Adonai Yeshua wajahnya lembut dan penuh kasih, jauh berbeda denga gambar-gambar yang ada. Wajahnya mulia dan bisa membuat kita terkesima melihat-Nya.
Tokoh-tokoh Alkitab yang kita baca umurnya ratusan tahun juga waktu saya temui di Sorga, mereka umurnya masih muda, sedang gagah-gagahnya, sekitar umur 30 – 40 tahun. Sayapun waktu dibawa Adonai, di alam roh, saya seperti anak kecil berumur 10 tahun, padahal dalam kehidupan nyata, umur saya sudah 21 tahun.

Jadi saudara-saudara, bersiap-siaplah, supaya kita selalu layak di hadapan Adonai, hidup kudus dan dekat melekat denga Dia. Kita tidak tahu kapan kita dipanggil, jadi harus cepat bertobat dan hidup kudus.
Buat saudara-saudara yang belum percaya, cepat-cepatlah percaya karena hanya Adonai Yeshua Ha Mashiah lah yang punya Kerajaan Sorga, hanya Adonai Yeshua lah satu-satunya jalan menuju keselamatan dan Sorga.
Praise The Lord….

Karena begitu besar kasih Elohim akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Elohim mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Elohim. (Injil Yohanes 3:16-18)

Yeshua inilah yang dibangkitkan Elohim, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. Jadi seluruh kaum Israel [dan bangsa-bangsa lain di dunia] harus tahu dengan pasti, bahwa Elohim telah membuat Yeshua, yang kamu salibkan itu, menjadi Yahweh dan Ha Mashiah.” Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: “Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?” Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yeshua Ha Mashiah untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Yahweh Elohim kita.” (Kisah para Rasul 2:32, 36-39)

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja