Kesaksian Tom Doyle: Bagaimana Yeshua Ha Mashiah melawat negara-negara Islam di abad ke 21

“Aku ini, YAHWEH, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara.
Aku ini YAHWEH itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung.  (Yesaya 42:6-8)
Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” (Yesaya 49:6). Nubuatan Firman YAHWEH ini sedang terjadi saat ini, saat kamu membacanya, dan sedang menuju pada kesempurnaan tugasnya!! Di bawah ini beberapa contoh dari buah-buah pelayanan hamba YAHWEH tersebut, Adonai Yeshua Ha Mashiah, yang di kenal juga sebagai Tuhan Yesus Kristus atau Isa al-Masih. Setelah negara Israel dibangun-Nya kembali (1948), sekarang Yeshua melawat bangsa-bangsa lain, dalam hal ini umat Islam, keturunan Ismail secara daging (Mesir dan sekitarnya) dan secara rohani (Indonesia dan negara-negara Asia lainnya).

Peta Dunia Muslim“Selamat datang di dunia Islam.” Tom Doyle berkata. “Hal-hal telah berubah. Peristiwa-peristiwa supernatural yang tidak dapat diterangkan telah membuat lebih banyak Muslim (orang Islam) di negara-negara Islam menjadi orang-orang percaya kepada Adonai Yeshua  Ha Mashiah di dalam sepuluh tahun terakhir daripada dibandingkan dalam lima belas (15) abad terakhir Islam [Muhammad memulai ajarannya tahun 610 Masehi, ketika ia berusia 40 tahun)]. 16.000 Muslim (di benua Afrika) perhati telah berpindah ke Kristianiti,’ seorang tokoh Islam dari Timur Tengah di TV Aljazeera mengakui. David Baret menulis sedikitnya 82.000 orang perhari diselamatakan di seluruh dunia. Saat ini adalah masa penuaian,“ Tom Doyle berkata mengawali kesaksiannya di sebuah Jemaat.

Tom Doyle telah dipanggil YAHWEH untuk melayani keturunan Ismael di Timur Tengah dan Asia Tengah seperti Iran, Afghanistan, Irak, Syria, Israel, Lebanon dan Turki. Tom telah bertemu dan mencatat cerita-cerita kesaksian dari orang-orang yang berlatar belakang Islam yang diperkenalkan kepada Yeshua Ha Mashiah melalui entah mimpi atau penglihatan yang berkuasa membuka hati-hati mereka untuk menjadi pengikut Ha Mashiah.

Tom Doyle telah menulis lima buku, bukunya yang terbaru (terbit akhir tahun 2012) berjudul Dreams and Visions: Is Jesus Awakening the Muslim World? (Mimpi-mimpi dan penglihatan-penglihatan: Apakah Yeshua membangunkan Dunia Islam?). Berisi 25 kesaksian.
Kamal Saleem merekomendasikan buku sebagai buku yang harus dibaca. “Saya percaya bahwa saat-saat ini kita hidup di awal hari-hari (kitab) Yoel 2:28. Orang-orang tua akan memimpikan mimpi-mimpi dan orang-orang muda melihat penglihatan-penglihatan. Itu dapat mengejutkan Anda, tetapi para Muslim sedang mengalami ’Yeshua mengunjungi’ dan banyak dari mereka akhirnya menjadi pengikut-pengikut yang berdedikasi.” Kamal Saleem adalah seorang bekas terroris Islam. Kesaksian pertobatanya tertulis dibukunya: The Blood of Lamb: A Former Terrorist’s Memoir of Death and Redemptian.

Di bawah ini sebagian kesaksian Tom Doyle yang saya ambil dari Dreams and Visions in the Muslim World – Tom Doyle:

Yordania. Rena ketika sedang saat teduh membaca Alkitab, YAHWEH berkata kepadanya ”Hari ini kamu pergi kepada orang-orang Muslim dan memberikan Alkitab.” Lalu ia berkata kepada Kamal suaminya [bukan Kamal Saleem penulis buku "The Blood of Lamb"] tentang niatnya tersebut; suaminya menjawab, ”Aduh, kita tidak dapat melakukan hal itu, kamu bisa dilemparkan kedalam penjara. Kalau kamu bertemu orang radikal dan imam mereka bisa melukai kamu. Kita haruslah hati-hati.” Rena berkata: ”Tidak, saya ada satu kotak berisi beberapa Alkitab, dan saya akan pergi ketempat yang harus saya pergi. Kamu pergi dengan saya atau tidak saya akan tetap melakukannya.” Setelah percakapan tarik dan ulur yang cukup lama akhirnya suaminya turut serta, menyetir mobil untuk isterinya membagikan Alkitab-alkitab.Buku Dreams and Visions oleh Tom Doyle

Di suatu tempat Rena melihat seorang bapa berdiri di sudut jalan. Bapa ini adalah seorang iman, dengan bewok dan janggutnya yang lebat bertopi dan berjubah keagamanan Islamnya.
”Saya akan ke pria itu disudut sana” Rena berkata kepada suaminya yang sementara menyetir mobil.
”Tidak!, Kamu tidak pergi! Saya tahu orang itu, dia adalah orang jahat dia akan melukai mu,” suaminya melarang keras.
”Saya akan pergi,” tandas Rena, ”Jika kamu tidak stop saya akan loncat keluar dari mobil yang sedang melaju ini!” Kamal mengalah.
Rena keluar dari mobil dengan Alkitab ditanganya, menghampiri iman tersebut dan berkata ”Saya ada Alkitab untuk Anda.” Dan pembicaraan antara Rena dengan Imam terjadilah.

Kamal memperhatikan keduanya dari mobil dengan was-was. Kamal melihat cara bicara imam ini kepada Rena, nampaknya iman tersebut marah. [Di dalam adat Islam seorang wanita asing mendekati imam adalah hal yang sangat tabu, khususnya di Timur Tengah, apalagi memberikan Kitab Suci Alkitab kepada seorang Muslim khusunya pemimpin Islam, dan itu terjadinya ditengah jalan, Anda bisa bayangkan, apa yang ada dipikiran suami Rena ini]. Percakapan apa yang sesungguhnya sedang berlangsung?

Setelah imam ini menerima Alkitab, ia bercerita kepada Rena, “Kamu tahu, saya sudah menanti di sudut ini sejak pagi hari sebab saya telah mengalami mimpi-mimpi tentang Yeshua, dan semalam saya bermimpi kembali hal yang sama. Saya bertanya ”Yeshua apa artinya ini?  Yeshua menjawab: ‘Pergi berdiri di sudut jalan ini, besok pagi seorang wanita bermobil akan memberi kamu sebuah Alkitab, jadi pergilah berdiri disana.’ Kemudian Imam ini sambil mengangkat tanganya memperlihatkan jam tangannya dan berkata kepada Rena, “Wanita, sekarang pukul 12.30, kamu telat!”
Hal-hal seperti ini sekarang sedang terjadi di Timur Tengah!, Tom menekankan.

Di suatu negara Arab Teluk, Timur Tengah. Aisah adalah seorang dosen muda di sebuah universitas mengajar Hukum Islam dan Hukum Sharia  kepada para mahasiwi.
Ia mulai bermimpi mimpi-mimpi tentang Yeshua, dan beberapa orang Kristen membagikan berita Injil kepadanya. Singkat cerita dosen muda ini menerima Yeshua sebagai Juruselamat dan Tuannya, suka citanya mengalir. Ia sekarang mulai dimuridkan dan terlibat di dalam akitvitas Gereja Rumah.

Mesir. Tom Doyle bertemu dengan seorang wanita yang hidup di tengah-tengah lingkungan Islam, Mona, nama wanita ini, berpakaian tradisinoal Islam dan Tom melihat pancaran mata wanita yang penuh dengan sukacita, jadi ia menghampirinya dan bertanya, “Permisi, boleh saya bertanya kepadamu?” “Ya,” jawab Mona.
“Apakah kamu tahu sesuatu tentang Yeshua,” Tom bertanya
Dengan mendekatkan kepalanya ke arah Tom dan menaruh tangannya di sisi mulutnya, ia berkata dengan berbisik, ”saya mengasihi Yeshua, saya adalah pengikut Yeshua.” Kemudian wanita ini menyisihkan lengan baju Islamnya, menunjukkan kepada Tom tato berberntuk sebuah salib di tanganya. [Kebiasaan umum orang Mesir, memberi tanda salib pada tubuhnya ketika seorang menjadi Kristen]
“Bagaimana hal itu terjadi? Tom bertanya
“Saya mendapat mimpi-mimpi. Saya belum pernah begitu dikasihi dan begitu merasa aman sebelumnya. Saya tidak dapat menolak Dia. Saya sekarang telah dua bulan dimuridkan. Hal-hal buruk telah terjadi sejak itu, suamiku mencoba membunuh ku.” 
Bagaimana kamu bisa bertahan? Tom bertanya kembali ingin tahu
“Tom, Elohim hanya memberi kehidupan sehari dalam setiap waktu, tidak seminggu, tidak sebulan dan tidak setahun.; hanya hari ke hari, dan setiap hari kita memberi yang terbaik kepada Yeshua,” Mona menjelaskan rahasianya.

Kuwait. Sofia dibawa orang tuanya ke Mekka, Arab Saudi ketika berusia delapan tahun. Di dekat Kaaba, ada terdapat banyak orang, ia berpikir bahwa ia sedang dalam antrian untuk sembayang, ternyata bukan. Mereka sedang membawa seorang wanita muslim dengan tangan terikat kebelakang untuk ditempatkan ke tempat tinggi seperti panggung. Lalu seorang pria di panggung itu berdoa di atas sebuah karpet sembayang, setelah pria tersebut berdoa, dengan disaksikan oleh banyak orang dan gadis usia delapan tahun tersebut, pria ini berdiri dan menundukkan kepala wanita tersebut. Wanita tersebut meninggal dieksekusi (seperti seekor kambing disembelih).

Sofia bertanya kepada kedua orang tuanya, mengapa hal itu terjadi. Mereka menjawab, ”Itulah yang juga akan terjadi kepada kamu, jika kamu tidak mentaati kami dan mentaati Kuran.”
Mereka pindah ke Amerika Serikat, di sekolah tinggi Sofia sadar bahwa ia harus berlaku baik jika ingin tetap hidup; hidupnya dipenuhi dengan ketakutan dan mimpi buruk, penglihatan mengerikan di Mekah menghantui hidupnya.
Singkat cerita, ia menceritakan ketakutanya kepada temannya. Seorang wanita Kristen mengajak ia ke sebuah ibadah Kristen.
Sofia, dengan pakaian hijabnya yang menutup dirinya dari kepala sampai ke kakinya tiba di gedung Gereja. I meghadapi sesuatu yang asing yang sama sekali aneh yang ia belum pernah alaami sebagai orang Muslim: setiap orang di Gereja itu menyambutnya dan mereka semua berebutan untuk duduk di sisinya. Di hari itu untuk pertama kalinya ia mendengan berita Injil (artinya Kabar Baik). Sofia di masa mudanya ini sekarang melayani di sebuah organisasi bernama ”Gospel for Muslims”

Afganistan.  Tom memiliki teman bernama George yang melayani di Afganistan sebagai seorang misionari. Segera setiba George di Afganistan ia menemukan bahwa negara tersebut memiliki masalah berat di dalam kehidupan homosex (termasuk pria dewasa memakai pria remaja sebagai pelacur).
Suatu hari ketika George sedang duduk makan di sebuah restoran, ia melihat seorang pria dewasa berpakain suku Pashtun mengawasi dirinya terus menerus. George sungguh tidak nyaman dibuatnya. Dan tiba-tiba pria asing tersebut menghampiri George dan berkata kepadanya, ”Kamu harus datang bersama ku ke rumahku!” Dalam hatinya George berkata, “mayatku sekalipun tidak akan mau pergi bersamamu.” Pria Pashtun menyadari keengganan George untuk pergi bersamanya, maka ia berkata kembali, “Saya tahu, kamu tidak mengenal saya, tetapi ada baiknya kamu datang kerumahku,  isteriku dan anak-anakku akan senang bertemu kamu, dan itu penting untuk keluargaku.” Lanjutnya, “Jika kamu takut, kamu bisa ajak temanmu ikut  serta.”
Roh Elohim di dalam George memberi damai, “Itu tidak apa-apa, pergilah.”Laki-laki suku Pashtun

George pergi bersama pria Pashtun ini, ia disambut keluarga pria tersebut. Sementara duduk di sofa dan menikmati tehnya, bapa ini memulai percakapan seriusnya, “Mengapa kamu ada di sini di Afganistan?”
“Ya, saya hanya ingin menolong masyarakat, membuat sesuatu lebih baik dan menjadikan Afganistan menjadi tempat yang lebih baik,” George menjawab.
“Tidak, tidak, tidak!. Mengapa kamu ada di sini, di negara ini?” bapa ini ngotot ingin tahu
”Mengapa itu menjadi masalah bagimu?” George balik bertanya
“Itu penting, sebab kamu ada di dalam mimpiku tentang Yeshua selama tujuh malam. Dan juga semalam, dalam mimpi itu kamu  berpakai persis sama seperti hari ini,” kepala keluarga ini menjelaskan. ”Saya berkata kepada Yeshua ’saya ingin mengetahui tentang Engkau lebih lagi.’ Dan Yeshua menjawab, “Kamu akan bertemu dengan sahabat-Ku besok, ia membawa pesan untuk mu,” pria tersebut menerangkan.
“Mr. George, apakah pesan Yeshua untuk ku?” bapa ini sekarang bertanya dengan emosi yang sedikit terkendali
Sepanjang sore itu George menceritakan Injil kepada bapa tersebut di hadiri isterinya. Kepala keluarga ini pada hari itu juga berdoa menerima Yeshua. Dan mereka dimuridkan di dalam sebuah Gereja Rumah di Afganistan.

Tom Doyle berkata bahwa Afganistan adalah negara di urutan kedua dimana Kristianiti tumbuh tercepat di dunia perkapita saat ini, dan negara Iran di urutan pertama perkapita. RRC yang terbanyak secara jumlah, namun bukan perkapita.

Negara Arab Teluk. Peristiwa satu ini baru saja terjadi di Timur Tengah. Fatima wanita muda yang sedang menyelesaikan progam S3nya mendapat mimpi-mimpi tentang Yeshua. Ia pergi ke Australia bersama putrinya untuk tujuan akhir dari program S3; di negara baru ini mimpi tentang Yeshua terus berlanjut. Ia mencari seorang Kristen untuk menjelaskannya, dan kemudian Fatima menjadi Kristen. Setelah lulus ia kembali ke negara asalnya. Pada hari pesta perayaan S3-nya, Fatima dengan kegembiraan yang meluap-luap dihadapan seluruh keluarga besarnya ia berkata: ”Saya bukan orang Muslim lagi, saya sekarang mengikuti Yeshua.” Ruangan yang tadinya ramai dengan tertawa tiba-tiba hening. Para wanita Saudi Arabia sedang berjemur matahari

Dua malam kemudian ketika ia sedang tidur, ia mendengar suara gaduh. Ketika ia membuka matanya ia melihat dua pria berdiri di dekat ranjangnya dengan pisau terhunus di tangan mereka. Kedua pamannya siap membunuhnya dengan senjata tajam. Tidak ada waktu untuk melarikan diri, jadi Fatimah hanya berdoa, ”Yeshua, kedalam tangan-Mu aku menyerahkan rohku.”

Kedua pria tersebut tidak menusuk Fatimah, berdiri seperti beku dan kemudian keluar dari kamar tidurnya.  Di dekat pintu kamar tidur putrinya yang masih kecil melihat kejadian yang baru saja terjadi. Fatimah langsung berlari dan memeluk putrinya yang juga telah menjadi orang Kristen dan berkata, ”Maafkan ibu, kamu telah melihat hal yang tidak bagus. Kita harus pergi, tidak aman di sini.” Putrinya berkata ”Saya tahu bahwa ibu akan aman.”

”Darimana kamu telah tahu hal itu,” ibunya bertanya. ”Ibu, tidakkah kamu melihat bahwa Yeshua telah berdiri di antara kalian untuk melindungimu!?” putrina balik bertanya. Ibunya tidak melihat Yeshua, tetapi ia telah lulus test sebagai pengikut Yeshua.

PESAN TERPENTING DARI TOM – untuk  Jemaat Yeshua Ha Mashiah. Pada kesaksian Tom Doyle ini ada pesan yang sangat penting untuk kalian yang percaya kepada Yeshua, pesan ini terdapat di menit ke 36 ke atas, intinya pesannya:

  • ”Jika kita takut atau benci kepada orang Muslim, kita tidak akan dapat menjangkau mereka.” Setan memakai Islam radikal (menurut Doyle mereka hanya 10% dari seluruh umat Islam) dengan segala aksi terrornya yang dimuat di halaman muka media di seluruh dunia merupakan strategi Setan untuk menakut-nakuti Jemaat Yeshua dengan tujuan membuat orang-orang Muslim yang mencari kebenaran tidak terjangkau oleh berita Injil. Perang fisik yang sesungguhnya sedang meletus di Timur Tengah adalah Perang rohani antara Kerajaan Elohim (Terang) melawan Kerajaan Setan (Kegelapan), Setan mencoba menghentikan berita Injil di Timur Tengah.
  • Aturan Permainan telah dirubah oleh Adonai Yeshua Ha Masiah, seluruh dunia ada di dalam kuasa tanganya. Ia hadir maka semua berubah.
  • Jangan takut atau menbenci orang Muslim yang karena perbuatan yang 10% tersebut. Mulailah bangkit untuk menjangkau orang-orang Muslim, melalui:
    - Doa;  jika kita melewati sebuah mesjid, berhentilah sejenak berdoalah bagi kebanguan rohani untuk mereka, minta Yeshua hadir dalam mimpi-mimpi dan penglhatan-penglihatan dalam kehidupan mereka.
    - Beritakan Injil; luangkan waktu untuk terlibat di dalam misi jangka pendek dan jangka panjang. Undang mereka untuk bersahabat dan saksikan kuasa dan kasih Yeshua.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Kesaksian ex-Muslim Faisal Malick, Kamal Saleem dan Khalida Wukawitz

Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: “Ini Aku, ini Aku!” kepada bangsa yang tidak memanggil nama-Ku. Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada suku bangsa yang memberontak, yang menempuh jalan yang tidak baik dan mengikuti rancangannya sendiri; Yesaya 65:1-2

Video Kesaksian Faisal Malick  dan Khalida Wukawitz yang lengkap bisa di temukan di bawah artikel ini.

Video Kesaksian: Guests: Faisal Malick & Khalida Wukawitz
August 27 – September 2, 2012
Orang Muslim sedang mengalami kunjungan-kunjungan supernatural dari Yeshua. Beberapa dibawa ke sorga, lainnya mendapatkan mimpi-mimpi dan penglihatan-penglihatan! Dan mereka bergeraka dalam mujizat-mujizat. Bertemu dua ex-Muslim,  Fasil Malick dan Khalida Wukawitz, orang-orang yang berjalan di dalam kuasa Elohim secara supernatural!

Teks Wawancara Kesaksian Faisal Malick (orang Pakistan) dan Khalida Wukawitz (orang Palestina Arab) di bawah ini diterjemahkan dari teks video kesaksian di atas di  It’s Supernatural!

SID: Hallo Sid Roth lagi. Selamat datang ke duniaku yang mana adalah secara alamiah supernatural.
Ada sesuatu peristiwa baru pada Planet Bumi. Para Muslim di dalam jumlah yang sangat besar mendapatkan kunjungan-kunjungan Yeshua. Dan beberapa pergi (berkunjung secara roh) ke Sorga. Banyak yang mendapatkan mimpi-mimpi dan penglihatan-penglihatan. Hal yang sangat fenomenal sedang terjadi. Dan ketika mereka menjadi dewasa di dalam Elohim mereka bukan orang-orang Krsiten Amerika normal. Mereka bergerak di dalam tanda-tanda dan keajaiban yang sangat luar biasa (the most extraordinary), dan mujizat-mujizat.

Dan (saat ini) kita ada dua dari mereka yang kalian akan dengarkan dari mereka. Saat kalian selesai mendengarkan yang kedua, kalian tidak lagi akan kecewa tentang apapun yang sedang berlangsung di dalam kehidupan kalian.

Saat ini ada tekanan udara rendah Sorga  pada program ini. Ini membuat suatu yang berbeda dari sesuatu yang kalian pernah lihat sebelumnya. Tamu saya lahir di Pakistan. Namanya adalah Fasel Malick. Dahulu Islam adalah seluruh kehidupannya. Berjam-jam setiap hari dia mempelajari Kuran. Dia datang ke Kanada. Terlibat di dalam pemasaran jaringan (bisnis). Tetapi Islam tetap seluruh kehidupannya. Dia pergi ke satu dari pertemuan-pertemuan mereka. Suatu pertemuan yang besar, 20.000 hadirin. Dan kepadanya diceritakan jika dia pergi ke pertemuan pertama dia akanlah ada di baris pertama untuk pertemuan kedua dengan para ahli utama di bidang pemasaran jaringan (bisnis). Jadi dia berkata, ”Saya akan pergi,” Dia tidak tahu bahwa itu ibadah Kristen. Dia berkata (kepada dirinya sendiri) ”O saya tahu apa yang mereka lakukan. Mereka memakai pemasaran jaringan ini untuk memasarkan Yeshua. Saya akan mengamati apa yang mereka lakukan dan saya akan lakukan hal yang sama untuk Islam.” [Catatan: Pertemuan ini adalah bagian dari kegiatan organisasi Kristen  untuk para Usahawan; boss dan eksekutip, yang bernama Business Men’s Fellowship]

Kesaksian Faisal Malick

Dan dia pergi ke pertemuanya yang ketiga seperti ini dan mereka berdiri untuk menerima Yeshua sebagai Mashiah (Kristus; artinya ”Yang Diurapi”), dan dia berdiri untuk menghormati (si pembicara). Dan tiba-tiba, (Sid beralih kepada tamunya) Faisal, hal terakhir di dunia yang kamu harapkan, apa yang terjadi? Faisal Malick dan bukunya Ten Amazing Muslims Touched by GOD

FAISAL: Nah, tiba-tiba Elohim hadir. Saya tidaklah tahu bahwa ini dapat terjadi. Saya ingat berdiri di sana dan kehadiran-Nya langsung kepada ku, mengelilingi ku. Saya dikelilingi secara penuh dengan kehadiran Elohim. Saat itu semua pertanyaan berkecamuk di hati dan pikiranku seperti, apa yang sedang terjadi, bagaimana ini mungkin. Pertama dari semuanya, saat itu saya tidak mengerti mengapa Elohim (yang ia tahu sebagai Allah) mau menampakkan kehadiran-Nya di antara orang-orang yang yang pikir sedang menghujat (Elohim) melalui menyembah Yeshua. Itu terjadi padaku.  Saya dihadirat-Nya, semua pertanyaan tersebut lenyap, kecuali satu pertanyaan yang membakar hariku. Saya berkata, ”Elohim, apa yang Engkau lakukan di sini? Saya telah berpikir semua (di ruangan tersebut) adalah orang-orang tidak baik,” artinya orang-orang Kristen tersebut. Lalu saya mendengar suara yang terdegar di telinga (audible), Dia berkata, ”Tidak, mereka adalah anak-anak-Ku.” Dan Dia mengatakan itu lagi, ”Tidak, mereka adalah anak-anak-Ku.” Dan ketiga kalinya, ”Tidak, mereka adalah anak-anak-Ku.” Ketika Dia berkata demikian, itu seperti segala sesuatu yang saya telah alami sebagai seorang Muslim, semua yang telah saya tahu tentang Elohim segera lenyap, dan saya hanya menyadari satu kenyataan, bahwa Yeshua, Engkau adalah Putra Elohim.

SID: OK. Mari saya bawa Anda sekarang ke 24 Febuari. Anda mengalami sungai kasih Elohim. Ceritakanlah itu pada ku.

FAISAL: Saya sebelumnya belum tahu bahwa Elohim benar-benar dapat datang melihat secara pribadi. Sebelumnya saya berpikir Dia muncul di kerumunan besar seperti pertemuan tersebut. Jadi terjadilah kepadaku, pada pukul 07:30 pagi, kehadiran nyata Elohim, realitas Elohim mulai mengisi seluruh ruangan bawah tanah, ruangan bawah tanah dimana saya tinggal. Itu semakin kuat dan semakin kuat, dan semakin kuat, saya merasakan suatu sungai yang nyata mengalir melewati keberadaanku. Terus menerus seperti sebuah sungai air terjun, mengalir dengan kuat sekali. Tetapi itu adalah kasih, kehidupan, dan substansi. Itu sesuatu yang saya belum pernah alami sebelumnya, itu mengalir melewati ku terus menerus selama tiga jam. Saya ingat mendengar suara (audible) yang indah namun penuh otoritas, ini adalah suara Bapi kita, Elohim Bapa. Dia berkata, ”Aku mengasihimu, putra; Aku mengasihimu, putra; Aku mengasihimu, putra,” tiga kali.

SID: Tapi Anda seharusnya tahu itu di dalam Islam [Sid Roth bercanda, sebab ia tahu tentang Islam, tidak ada kata ”kasih.”]

FAISAL: Tidak. Tepatnya seluruh hidupku, Sid, saya belum pernah mendengar kata-kata itu ketika bertembuh sebagai orang Muslim. Saya tidak pernah ingat mendengar kata-kata “Saya mengasihi mu.” Saya ingat mendengar ”saya berharap, kamu tidak terlahir.” Saya ingat mendengar hal-hal seperti itu. Tetapi sesuatu seperti kata-kata itu, ketika Dia berkata, ”Saya mengasihimu, putra,” hal itu mulai melakukan sesuatu kepada ku. Saya bahkan tidak tahu bagaimana bereaksi kecuali mengatakan, ”Saya mengasihi Engkau, Bapa, saya mengasihi Engkau, Bapa.” Itu adalah pertukaran kasih supernatural di dalam bentuk sebuah sungai yang kongkrit.

Semua yang saya dapat ceritakan adalah tiga hal sebagai hasilnya.

  • Nomor satu, saat itu saya memiliki kasih dan kelaparan yang besar akan Bapa. Saya memiliki kasih kepada Elohim yang sebelumnya saya tidak miliki sampai saat itu terjadi di dalam kehidupanku.
  • Nomor dua, saya memiliki kasih kepada orang-orang. Kita semua bertumbuh di dalam kasih. Jadi saya segera menyadari saya telah mengasihi orang-orang lebih dari sebelumnya setelah waktu tersebut.
  • Dan hal yang ketiga, saya, sejak saat itu memiliki kasih dan kelaparan yang besar akan Firman Elohim. Saya ingat mengambil Alkitab dan secara ajaib saya membaca seluruh Alkitab selama 36 (tiga puluh enam) jam. Saya tidak makan apapun, hanya mencerna Firman Elohim. Dan itu supernatural, ketika saya melihat pada halaman Alkitab halaman atau bagian darinya pada saat itu keluar dari kertasnya, masuk kedalam hatiku dan mengerti apa yang dikatakan. Saya sadar sama sekali apa yang  terjadi. Namun saya tidak tahu bagaimana menyebutnya, itu adalah pewahyuan, Elohim mulai menulis firman-Nya di loh hatiku. Saya mulai memiliki pewahyuan realitas Elohim sebagai kebenaran, mulai menerapkan semua itu kedalam kehidupanku. Begitulah bagaimana itu berawal.

SID: (berbicara kepada hadirin) Kalian tahu hal apa yang sungguh ajaib bagi ku? Kepada siapa dia berbicara, sungai ini yang dia miliki di dalam dirinya sebagai cairan kasih, telah mulai mengalir keluar dari dirinya dan menjamah sekitar 1500 orang.

[Istirahat]

SID: (berbicara kepada hadirin) Hallo. Sid Roth di sini. Saya sangat senang dapat berbicara dengan kalian. Kalian tahu mengapa? Sebab saya mendapatkan dua bekas Muslim yang telah mimiliki pertemuan dengan Elohim Yanghidup. Saya sungguh terkesan dengan begitu banyak orang yang dari Islam memiliki pertemuan-pertemuan dengan Elohim. Sebagaimana mereka radikal untuk Islam, mereka bahkan lebih radikal sekali mereka mengenal kasih Elohim. Mereka telah percaya kepada Elohim di dalam Islam (yang adalah Allah), tetapi mereka belum pernah tahu kasih Elohim.
Faisal, ceritakanlah saya tentang Kamal [Saleem].

FAISAL: Pada usia lima tahun, dia telah mengimpikan membunuhi (apa yang dahulu dia pikir sebagai) para kafir; orang-orang Israel dan Amerika. Pada usia tujuh, dia bergabung dengan PLO (Palestine Libration Organization) mereka mengajari dia bagaimana memakai AK47, dan dia memulai karir terroristnya. Dia mulai melatih anak-anak dan membawa mereka ke Dataran Tinggi Golan di Israel, menyelundupkan amunisi, TNT, bom dan bahan-bahan peledak untuk memulai ancaman-ancaman bom dan pembunuhan. Itu yang dia dahulu lakukan pada usia mudanya, dan dia sungguh serius.

Begitulah bagaimana ia bertumbuh. Dan itu benar-benar menakjubkan melalui perjalanan bagaimana Elohim sungguh menjamah dia.

SID: Dia menderita kecelakaan mobil yang sangat mengerikan (di Amerika). Dan dokter merasa kasihan. Dia telah datang ke Amerika (Serikat) untuk memenangkan sebanyak mungkin orang untuk Islam. Ngomong-ngomong, saya temukan itu menarik, mereka memakai wanita-wanita untuk memenangkan jiwa.

FAISAL: Kamal menyelaskan bagaimana ia berusaha melakukan apa yang mereka sebut “Jihad budaya.” Jadi mereka datang ke Amerika dan menemukan wanita-wanita untuk menikah sehingga mereka dapat kewarganegaraan atau kartu-katu ijin tinggal, apapun yang mereka perlukan untuk menyebarkan Islam melalui keluarga-keluarga mereka. Perjalanan seperti ini yang ia ada. Dia juga mengunjungi orang miskin, orang-orang Amerika-Afrika. Semua ini adalah bagian dari trategi mereka yang mereka rasa untuk menyebarkan Islam. Kemudian kecelakaan terjadi seperti yang Anda telah nyatakan, begitulah kenyataannya.

SID: (berbicara kepada hadirin) Dokter merawat dia dan suka padanya. Kamal di sana, sungguh dia membenci setiap orang. Tetapi mereka menerima dia. Dokter membawa dia kerumahnya. Dia tidak dapat bertahan terhadap anak-anak (dokter tersebut). Anak-anak ini mengasihi mereka. Kasih mereka telah mengebom Kamal. Biarkan dia berbicara dalam kata-katanya sendiri.

KAMAL: Anak-anak ini meletakkan tangan-tangan kecil mereka pada tubuhku. Mereka mulai melakuan Doa Bapa kami. Saya telah dilatih bertarung melawan segala sesuatu di dalam kehidupan, meruntuhkan raksaksa besar apapun.  Tetapi anak-anak kecil yang terkasih ini yang bermain dan menyentuh tanganku, melumerkan hatiku. Ada perang di dalamku. Para pria dewasa yang datang seminggu sekali membuat lubang (pada hati-batunya?) membuat lingkaran disekelilingku, menaruhku ditengah-tengah dan mereka berdoa untuk Elohim kiranya memberkatiku, kiranya Elohim sinar wajah-Nya menerangiku, dan memberkatiku.

Mereka lakukan ini di dalam nama Yeshua. Saat itu saya mengerti bahwa orang-orang ini bukanlah orang-orang jahat seperti yang sebelumnya saya pikir. (Saya berkata kepada Allah) ”Allah orang-orang ini memiliki hubungan akrab dengan Elohim mereka. Saya juga ingin memiliki hubungan yang sama dengan Engkau. Saya ingin mendengar Engkau berkata bahwa Engkau mengasihiku. Saya ingin mengenal Engkau. Jika Engkau benar nyata, berbicaralah kepada ku.”

Harap ingat (Kamal mencoba memberi pengertian apa yang ia maksudkan) para pria dan wanita ini, mereka berdoa untuk kesembuhan dan mereka menerimanya; mereka berdoa untuk terobosan, mereka menerima terobosan. Mereka berdoa, mereka memohon dan saya mendengar mereka berkata, ”Saya mendengar Elohim berkata ini dan ini.” Saya akan, saya ingin memiliki hubungan indah tersebut. Jika ini adalah nyata saya ingin memiliki itu sebab saya telah menyembah Allah sepanjang kehidupanku, saya layak mendapatkannya. [Hadirin pada bertepuk tangan]

SID: (kepada hadirin) Kalian tahu, Kamal menjadi sangat frustasi sebab elohimnya (allahnya) tidak mengasihi dia seperti orang-orang Kristen tersebut miliki. Allahnya bahkan tidak berbicara kepada dia. Tidak ada. Jadi dia menjadi putus asa memutuskan untuk bunuh diri. Apa yang terjadi kemudian? (Sid bertanya kepada Faisal).

FAISAL: Yah dia mengambil pistolnya dan mencoba untuk menembak dirinya sendiri, namun dia mendengar suara ini, suara ini berkata dengan sangat lembut, ”Kamal, para Muslim menyembah Elohim Abraham (God of Abraham) dan berdoa kepada Dia, para Yahudi berdoa kepada Elohim Abraham dan para Kristen berdoa kepada Elohim Abraham. Mengapa kamu tidak berdoa dan berseru kepada Elohim Abraham, Ishak dan Yakub.”

Jadi dia berkata, baiklah saya coba cara ini. Jadi dia berdoa, “O Elohim Abraham, jika Engkau nyata, tunjukkanlah diri-Mu, nyatakanlah diri-Mu.”

Dan dengan segera terang mulai mengisi ruangannya, kemulian ini, dia berkata, memasuki ruangan tersebut dan Yeshua berjalan masuk. Kamal bertanya, “Siapakah Engkau, Yahweh?” seperti bagaimana rasul Paulus berkata. Kamal mendengar Yeshua berkata kepadanya, “Aku ADALAH Aku (I AM THAT I AM).”

“Apakah itu artinya,” Kamal bertanya
Aku adalah Alpha dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir.”

Kamal sungguh tersentuh oleh Yeshua. Ia langsung sembuh, lehernya, tulang bahunya (collarbone) dan tulang-tulangnya, sembuh secara tiba-tiba.

SID: Ia sungguh parah sehingga dia tidak bisa melakukan apa-apa sendiri.

FAISAL: Dia tidak dapat. Tetapi secara tiba-tiba dia disembuhkan dan dia merasakan cairan api dan kasih mengalir melalui tubuhnya, dia secara ajaib sembuh saat itu juga.

SID: Oke. Sebelum Anda datang ke sini Anda berkata kepada saya bahwa Elohim telah berkata-kata kepada Anda hari ini. Apa yang Dia telah katakan?

FAISAL: Sid, sudah ada begitu banyak aksi-aksi kebencian kepada bangsa Yahudi dari para saudara dan saudariku, orang-orang Muslim di seluruh dunia. Banyak penghinaan dan kebencian terhadapa orang-orang Yahudi. Saya sungguh merasa untuk memohon kepada Anda, karena Anda adalah orang Yahudi dan mengasihi Ha Mashiah. Saya merasakan Elohim meminta kepaku ku untuk memohon Anda mengampuni para saudara dan saudariku, bangsaku atas kekejaman, penghinaan dan kebencian yang telah mereka tunjukkan kepada bangsa Yahudi. Elohim telah berkata kepadaku, jika Anda melalukan hal ini jutaan Muslim akan mengalami keselamatan di seluruh dunia, dan begitu banyak orang-orang Yahudi akan mengalaminya juga dan mengenal siapakah Ha Mashiah adalah, sebab hati Elohim ada (untuk) bangsa Yahudi dan Goyim (gentile), Yahudi dan Muslim (juga tergolong goyim) melalui salib (Yeshua Ha Mashiah) menjadi satu manusia baru dan mengalami Dia di dalam satu tubuh (yang adalah Jemaat/ Gereja-Nya). Dan saya sungguh percaya   sesuatu yang bernilah harulah terjadi di sini. Dan saya percaya dan seharusnya memohon dari Anda. Jadi karenanya saya memohon pada Anda, harap Anda memaaafkan kami atas apa yang telah kami lakukan (kepada bangsa Yahudi).

SID: Saya harus menceritakan kepada Anda sesuatu. Saya sendiri telah melakukan beberapa hal yang tercela, dan Elohim telah mengampuni diriku. Siapakah saya sehingga saya tidak memaafkan, sebab Elohim telah memaafkanku. (Sid Roth sekarang berbicara kepada semua pendengarnya:) Saya benar-benar memaafkan kalian atas segala sesuatu yang kalian pernah lakukan kepada setiap pribadi orang Yahudi, segala sesuatu yang kalian pernah katakan melawan negaraku, Israel. Saya sungguh-sungguh memaafkan oleh sebab darah Yeshua, yang telah mengampuni diriku dan oleh sebab darah Yeshua adalah juga tersedia bagi kalian sekarang ini.

Kami akan kembali bersama satu dari beberapa Muslim yang paling menakjubkan yang pernah saya bertemu di dalam hidupku.
[Istirahat]

Kesaksian Kalida Wukawitz 

SID: Hallo Sid Roth di sini bersama Kalida. Kalida adalah seorang Arab Palestina. (Berbicara kepada Kalida:) Saya belum pernah mendengar, saya tidak tahu bagaimana kamu bisa tetap hidup (survived), Kalida. Saya mangsudkan, dan kamu memiliki senyum di wajahmu. Khalida Wukawitz dan John, suaminya

(Bicara kepada hadirin) Baiklah saya bercerita sedikit kepada kalian tentang Kalida. Ketika dia (berumur) 11 hari, ibunya meninggal dunia, ayahnya meninggalkan dia dan dia dimasukkan kedalam panti asuhan. Tinggal di pasti tersebut sampai usia sembilan tahun. Dia pergi ke luar untuk mendapatkan air untuk diminum dan sebuah bom menghantam panti asuhan tersebut, keluarga barunya tersapu habis.

Lalu entah bagaimana mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan dia. (Sekarang berbicara kepada Kalida:) Kamu baru saja berusia sembilan tahun dan mereka menjual kamu sebagai budak ke orang-orang Beduin (bangsa Arab yang tinggal di tenda dan selalu berpindah-pindah). Kamu lebih buruk dari budak. Mereka memukuli kamu.

Makanan yang hanya kamu miliki hanyalah makanan sisa (mereka). Akhirnya para tentara menbebaskan kamu dan menaruhmu ke dalam panti asuhan lainnya. Lalu mereka menemukan ayah kandungmu, tetapi dia tidak menginginkanmu. Maksudku, (dari sebuah) penolakan (ke) penolakan (lainnya). Berapa banyak penolakan manusia dapat tanggung? Saya tidak tahu bagaimana manusia dapat menanggung begitu banyak penolakan. Lalu ayahmu menjadikanmu budak. Ia tidak menginginkan kamu. Ia memaksa dia (Kalida) kedalam pernikahan. Suaminya setelah beberapa lama dan melahirkan seorang anak, menendangnya keluar, menceraikan dia, malu besar. Ayahnya masih terus ingin bebas dari dia. Ayahmu mengambil anakmu satu-satunya dan menikahi kamu lagi dengan seorang pria. Kamu pergi ke Amerika Serikat dan pria ini (suaminya), menurut catatan saya di sini, mematahkan tulang rahangmu. Mengapa dia melakukan hal itu?

KALIDA: Yah dia seorang pria yang pemarah, itulah suamiku. Dalam Islam mereka mengajar para pria bahwa mereka perlu mengkoreksi para isteri mereka. Jadi dia hanyalah memberikan saya sebuah pelajaran yang baik, dan dia sungguh baik … mematahkan tulang rahangku. Saya tidak belajar apapun, bagaimanapun (Kalida tertawa ngakak, dan semua hadirin tertawa juga).

SID: Saya yakin. Oke. Kamu memiliki tiga anak, menikah dengan seorang suami yang berlaku kasar (abuse). Saya tidak mengerti, bagaimana kamu bisa menanggung semua ini? Tidak hanya suamimu, tetapi seluruh hidupmu, bagaimana kamu bisa melakukannya?

KALIDA: Ya ketika itu saya hampir gila, tetapi kasih karunia Elohim.

SID: Kemudian itu bertambah buruk. Suaminya memberi tahu bahwa ia akan membunuhnya. Apa yang kamu lakukan atas hal itu?

KALIDA: Saya perlu melarikan diri, saya perlu  lari untuk kehidupanku. Saya takut.

SID: Kamu tepatnya mendengar sebuah suara.

KALIDA: Saya mendengar suara. Saya ingat, senang menceritakannya kepada Anda, mencoba  membunuh diri sebelum mendengar suatu tersebut. Dan kemudian saya mendengar audible suara berkata kepadaku, ”Tinggalkan kegelapan masuklah ke dalam terang.” Saat itu saya berpikir saya menjadi gila, bagaimanapun saya mengikuti petunjuk suara tersebut, toh saya tidak rugi apapun.

SID: Oke. Tetapi bagaimana seorang wanita yang tidak bisa bicara Inggris, tidak memiliki uang  dan memiliki tiga anak kecil dapat lakukan berkeliling dijalan-jalan? Apa yang terjadi padamu?

KHALIDA: Saya bertemu dengan seorang wanita Kristen yang menerima saya sebagai anak perempuannya sendiri dan bercerita kepada ku tentang kasih Yeshua.

SID: Tetapi kamu mengasihi Islam. Kamu sungguh mengasihi Islam.

KHALIDA: Ya saya saat itu mengasihi Islam.

SID: Jadi kamu mengasihi wanita ini atas apa yang dia lakukan untuk mu, tetapi kamu tidak ingin Yeshua wanita ini.

KHALIDA: Tepatnya begitu. Itulah konflikku selalu, bagaimana Elohim memiliki seorang putra, sebab mereka telah mengajar kami di dalam Islam bahwa Elohim (Allah) tidaklah bisa menjadi lemah dan memiliki putra – adalah tanda kelemahan.* Jadi saya bertarung dengan hal itu. Saya menginginkan kasih yang wanita itu miliki, inilah titik awalnya. Saya melihat sukacitanya, kasihnya, saya melihat kehidupannya ada sebagai contoh, tetapi dia selalu berhubungan kepada Elohim, dan saya lapar untuk itu.

SID: Lalu kamu memutuskan, itu saatnya kamu ingin mengetahui kebenaran. Ceritakan pada ku apakah doamu dan apa yang telah terjadi.

KHALIDA: Saya ingat, saya merasa sakit, cape menderita sakit. Saya berdoa, memohon kepada Yeshua ”Jika Engkau sungguh adalah (Yahweh), seperti apa yang orang-orang katakan tentang Engkau, karena saya tidak tahu itu benar atau tidak. Sungguh, jika orang-orang berkata Engkau adalah Putra Elohim maka tunjukkan padaku, datanglah kepadaku, tunjukkanlah kepadaku bahwa Engkau adalah Putra Elohim.”  

Saya saat itu tidak berpikir sesuatu akan ada terjadi dari doaku. Namun hasil dari doa sederhana tersebut adalah Yeshua menampakkan diri kepada ku dan saya bertemu dengan Yahweh dalam cara yang luar biasa.

SID: Itu pastilah sudah cukup (bukti). Kemudian dia pergi ke Sorga. Apa yang kamu lihat di Sorga?

KHALIDA: Saya melihat penyembahan. Saya melihat bagaimana Sorga sungguh memuja Yeshua sebagai Putra Elohim, dimuliakan sebagai raja. Beberapa yang saya lihat, bayi-bayi, orang-orang meletakkan mahkota-mahkota pada kaki Yeshua. Dia sungguh kuat dan mulia.

SID: Kamu tidak tahu ini ada di  dalam Alkitab?

KHALIDA: Saya tidak tahu (saat itu). Saya belum pernah membaca Alkitab sebelum saya memiliki pengalaman tersebut. Semua yang saya tahu adalah bahwa apa yang saya sedang lihat ada nyata sebab itu begitu hidup dan sungguh nyata, dan saya menjadi bagian dari Sorga. Tidak ada cara apapun kita bisa menolaknya. Satu hal di Sorga adalah Yeshua ialah Firman Elohim, dan sebagaimana Anda melihat pada wajah-Nya dan kaki-Nya, dan kemulian-Nya, pewahyuan mencadi begitu hidup dan sungguh nyata. Kamu tidak dapat keluar dari itu, pastilah tidak dapat melarikan diri dari itu.

SID: (berbicara kepada hadirin) Kalian tahu apa yang menarik bagi saya adalah dia berdoa untuk orang-orang; orang-orang yang menderita kanker disembuhkan. Namun apa yang lebih menarik bagi ku adalah beberapa pewahyuan yang dia telah belajar tentang menyembah. Dia adalah penyembah Elohim yang kalian belum pernah lihat sebelumnya, seperti kalian akan lihat sebab kalian sedang menjadi penyembah Elohim.

Saya meminta Khalida menyembah Elohim dengan cara kamu lakukan di rumahmu, ketika tidak ada siapapun, tetapi hanya Elohim. Beberapa dari kalian yang hadir di sini dan beberapa kalian yang mendengarkan dari rumah, saya ingin kalian menyembah Elohim. Jika kalian menyembah seperti ini Elohim akan menampakan diri. Silahkan kamu (Khalida) menyembah Elohim sekarang ini.

KHALIDA: Baik. Saya ingin melihat orang-orang sekarang pada wajah mereka dan menyatakan bahwa ada kuasa  dalam berbicara di dalam bahasa sorgawi kalian (bahasa roh). Ada kuasa. Alkitab menyebutitu anugerah sempurna kepada Elohim. Kamu tidak dapat disesatkan. Nyatanya adalah kita diciptakan untuk menyembah Dia, ketika kita memasuki kedalam iman maka Dia pastilah menampakkan diri. Alkitab berkata Dia berdiam di dalam puji-pujian.

SID: Berdoalah sekarang sebagaimana kamu berdoa di rumahmu.

KHALIDA: – ia berbicara dalam bahasa roh – (lalu ia memberi penafsiran dari doa bahasa rohnya itu; 1 Korintus 14:12-13). Saya merasakan di dalam rohku, (doa yang barusan saja Khalida ucapkan) itu adalah meninggikan Yeshua di atas segala sesuatu, di atas hambatan-hambatan kalian, di atas perjuangan dari perceraian kalian, di atas penyakit kalian, di atas segala sesuatu yang kalian sedang berurusan. Bahkan dalam sehari-hari kalian meninggikan Raja di atas segala semua masalah-masalah kalian, saya menjamin, kalian akan memiliki pengalaman seperti Hagar miliki dengan Elohim, banyak orang di Alkitab seperti kita para Muslim. Sebagaimana kita meninggikan Yeshua kita menjadi penyembah yang benar dari Elohim. Kita sungguh berserah kepada Roh Elohim sebab itu adalah perlengkapan senjata kita. Kalian tidak akan pernah kalah di dalam pertempuran untuk Elohim jika kalian menyembah Dia di dalam Roh dan Kebenaran.

Tamat.    

* [analogi Islam: hubungan sex suami-isteri – dari mana anak lahir - adalah suatu kelemahan manusia? Firman Elohim berkata sex antara saumi-isteri adalah kudus dan diberkati].

Link Video kesaksian Faisal Malick dan Khalida yang lebih lengkap:
Faisal Malick’s Testimony with teks bahasa Arab ; by escapeislam.blogspot.com
Faisal Malick’s Testimony  (September 2007) by Sid Roth
Khalida Wukawitz; situsnya
Kesaksian Khalida  WATCH (disertai text Arabnya) nomor 58.

 

 

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

 

 

 

Murtad-murtad Iran membawa kehidupan kepada Gereja Jerman

BERLIN—Bagian dari Jerman yang adalah wilayah-wilayah sangat tanpa-iman di dunia. Pengumpulan suara menunjukkan bahwa percaya kepada Elohim di timur komunis tua ini (Berlin Timur adalah bekas bagian dari Komunis Rusia) hanyalah 13 persent.

Tetapi pengunjung gereja bertambah, terima kasih kepada para bekas orang Islam dari Iran. Pada Gereja Pertolongan Rumah Elohim (The House of God’s Help) di Berlin, oran-orang Persia yang berpindah ke Kristen telah membuat jumlah jemaat menjadi dua kali lipat.

“Itu telah datang seperti hujan dimusim panas yang tidak diduga,” diakon gereja Rosemarie Götz berkata. “Tiba-tiba orang-orang baru mulai berdatangan setiap minggu dan minta untuk ada dibaptis.”

“Pada mulanya hanya lima atau enam orang-orang Iran datang… dan kemudian mereka membawa teman-teman dan tetangga-tetangga mereka.”

Video dapat dilihat pada sumber aslinya (link tersedia di bawah).

Jerman telah menggalami suatu pertumbuhan agama Islam tahun ini. Para orang Islam telah melakukan kampanye nasional memberi Kuran di negara ini yang secara besar telah meninggalkan Kristianiti.

Tetapi para immigran  Iran, atau orang-orang Persia, telah mengalami kegelapan dan tekanan Islam di dalam negara asli mereka, dan mereka lapar akan kebebasan dan sukacita Kristianiti.

”Saya telah bertemu beberapa kali dengan teman-teman di Tehran (ibukota Iran) di sebuah gereja bawah tanah (sebutan untuk ”gereja rahasia”) dalam sebuah apartment dan mereka berbicara tentang Yeshua,” seorang pemuda bernama Michael, yang menghadiri gereja berkata kepada CBN News. ”Kami melakukan pelajaran-pelajaran Alkitab, tetapi terkadang tanpa Alkitab” [sebab tidak mudah didapat di Iran]. Dan lima tahun lalu saya dibaptis di dalam sebuah bakmandi.”

Semua orang Persia yang berbicara kepada CBN News berkata mereka menerima Ha Mashiah (Kristus) di Iran dan kemudian harus melarikan diri atau resiko penjara atau mati.

”Saya suatu hari sedang pergi ke sebuah pertemuan gereja rumah ketika saya melihat polisi diluar gedung, jadi saya tidak jadi masuk,” anggota gereja lainnya bernama David bercerita kepada CBN News. ”Dan kemudian saya telpon kerumah dan ibuku berkata, ’Polisi telah disini mencari kamu.’ Jadi saya tahu saya tidak dapat pulang kerumah, jadi mereka menolong saya lari dari negara.”

Seorang wanita bernama Nafiseh berkata itu sungguh susah belajar tentang  Kristianiti di Iran, ”Sebab itu dilarang jika seorang Islam dan ingin menjadi Kristen, suamiku pada waktu itu orang Islam dan ketika ia tahu bahwa saya ingin menjadi Kristen, dia melarang saya.”

“Saat itu sungguh sulit; saya harus meninggalkan kedua orang tua saya, jadi saya kehilangan rumahku, keluargaku,” wanita ini berkata.

Murtad-murtad beneran?
Götz berkata beberapa orang murtad tersebut terkejut mengetahui begitu banyak orang Jerman tidak tertarik di dalam Kristianiti. Ibu ini berkata, Kebanyakan mereka telah menjadi Kristen di Iran dan tahu lebih banyak tentang Kristianiti dari apa yang kamu harap. Mereka lebih didepan dari kita secara umum sebab mereka sudah dianiaya karena Mashiah dan mereka telah mengetahui dengan sangat cepat bahwa banyak orang Jerman adalah Kristen dalam panggilan saja. Dan mereka kecewa para Jerman menyia-nyiakan kebebasan beragama.”

Beberapa orang Jerman curiga kemurtadan mereka, sebab ada di baptis dapat menolong seorang pengungsi tinggal di Jerman dari pada di deportasi. Jadi Götz membuat para Persian murtad tersebut pergi melewati jadwal ketat kelas-kelas Alkitab.

”Saya telah curiga bahwa beberapa dari mereka hanya ingin dibaptis supaya mereka dapat ijin tinggal mereka di Jerman, ternyata yagn demikian hanyalah sedikit,” ibu ini berkata. ”Nyatanya, mereka yang telah dibaptis telah kembali kepada iman kita (Kristianiti) dan mengikuti kelas baptisan untuk keempat kalinya.”

Phenomena seluruh negara.
Tidaklah diketahui berapa banyak immigran Persia telah murtad dan bergabung di gereja-gereja Jerman, tetapi itu telah menjadi phenomena seluruh negara Jerman, dan yang dibaptis telah mencapai jumlah ribuan.

Pada (gereja) Pertolongan Rumah Elohim itu telah menguatkan jemaatnya.

”Orang-orang muda ini, berenergi, Kristen-kristen Iran yang rajin telah membawa sedikit kebangunan rohani dari Iran ke jemaat kami,” Götz berkata. ”Dan saya mengucap syukur bahwa jemaat lokal membuka hati-hati  mereka untuk mereka (orang Persia tersebut).”

Diterjemahkan dari:  Iranian Converts Bringing Life to German Church; ditulis oleh Dale Hurd; Dale Hurd adalah CBN News Senior Reporter (18/12/2012)

Baca juga:
Iran: Kebangunan rohani besar-besaran telah datangRibuan Muslim tinggalakan Islam di IrakSatelit SAT-7 semakin laris di Timur TengahKebangunan rohani di UkraniaRoh Kudus melawat Aceh dan Pekan BaruKebangunan Rohani di Indonesia; Penglihatan

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

 

 

 

 

Mimpi dan Penglihatan Memindahkan Para Muslim kepada Ha Mashiah (Kristus)

Diterjemahkan dari artikel CBN: Dreams, Visions Moving Muslims to Christ

Pada artikel bahasa Indonesia ini, telah ditambahkan kalimat-kalimat yang berasal dari video clip yang tidak tertulis di artikel bahasa Inggrisnya.
Selamat membaca dan semoga menjadi berkat. Penjala Baja

JERUSALEM, Israel – Beberapa tahun lalu, Ali berziarah Muslim ke Mekah yang dikenal sebagai (naik) Haji.
“Tentu saja ketika saya pergi ke Mekah saya dengan tujuan membayar penghormatan kepada Kabba dan untuk memenuhi persyaratan-persyaratan didalam (agama) Islam,” katanya.
Tapi perjalanan menjadi lebih dari sebuah perjalanan keagamaan dari yang dia pernah bisa bayangkan.

“Malam itu saya melihat Yeshua dalam mimpi. Pertama, Yeshua menyentuh dahiku dengan jari-Nya. Dan setelah menyentuh saya, Dia berkata, ‘Kamu milik-Ku‘, Ali mengenang.
“Kemudian Dia menyentuh saya di atas hati saya,” lanjutnya. ‘Kamu telah diselamatkan, ikutilah Aku. Kamu milik-Ku,’ katanya.”

Kisah Ali di Mekkah diceritakan dan didramatisasi dalam DVD berjudul “More Than Dreams.”

“Saya memutuskan saya tidak akan menyelesaikan haji tersebut, naik haji. Apapun alasannya, saya akan mengikuti suara tersebut,” dia menerangkan.
Dokumen-dokumen film dan cerita Ali ini dan beberapa Muslim lainnya yang telah beriman di dalam Yeshua melalui mimpi atau visi.

“Kami melihat itu di mana-mana. Kami mendengar tentang orang-orang yang bahkan tidak pernah berpikir tentang Yeshua sebagai penyelamat,” mereka Muslim-muslim sungguhan dan mereka sedang mengalami mimpi terus-menerus.” kata Tom Doyle, dari E3 Ministries.

Doyle dan istrinya Joanna membawa Injil ke dunia Muslim. Dia juga penulis buku yang akan datang, Dreams and Visions: Is Jesus Awakening the Muslim World? (Mimpi-mimpi dan Penglihatan-penglihatan: Apakah Yeshua sedang membankitkan Dunia Muslim?)

“Saya pikir Elohim kita adalah Elohim yang adil, Dia adalah benar dan adil, dan orang-orang sedang mencari dan mereka tidak tahu ke mana harus pergi,” kata Doyle.

“Mungkin mereka tidak memiliki Alkitab, mungkin tidak ada misionaris di desa tersebut,” katanya. “Dia akan menyampaikan pesan tersebut kepada mereka entah bagaimana.”

Fenomena mimpi-mimpi dan penglihatan-penglihatan telah muncul di seluruh dunia Muslim, dari Indonesia ke Maroko.
“Di gereja jika Anda bertanya berapa banyak orang telah datang kepada Mashiah, 80 persen akan mengatakan, ‘Saya telah melihat Dia dalam mimpi,” seorang wanita di Asia Tengah mengatakan kepada CBN News. Identitasnya dirahasiakan untuk alasan keamanan.

Seorang teman Kristen telah menantang wanita ini untuk meminta Elohim berbicara kepada dia secara pribadi.
“Jadi saya memutuskan untuk meminta kepada-Nya,” wanita ini berkata. “Keesokan harinya … dalam mimpiku aku melihat Yeshua, Yeshua sebagai Jembatan … Saya memutuskan untuk datang kepada-Nya.”

Hazem Farraj tuan rumah dari pelayanan “Reflections“, sebuah program satelit bagi umat Islam. Dia mengatakan dia sering mendapat tanggapan tentang mimpi-mimpi dan penglihatan-penglihatan.

“Seorang wanita menulis kepada saya bahwa ia tidak dapat tidur … wanita ini berkata, ‘lalu saya menyalakan televisi dan kamu ada disana … kata-kata yang keluar dari mulut Anda begitu damai saya jadi tertidur,’” Farraj mengenang.

Dia berkata, “Ketika saya tertidur akhirnya saya memiliki sebuah penglihatan tentang Yeshua, dan saya melihat Adonai (Tuhan) Yeshua berjubah putih bercahaya menunjuk kepada seorang pria, saya tahu itu adalah Abraham, sedang mempersembahkan Ishak, begitu saya selesai menoleh saya tahu bahwa Yeshua, Ha Mashiah (The Christ/ Kristus) adalah korbanya, Putra Elohim.”

Doyle mengatakan mimpi atau penglihatna biasanya awal, bukan akhir, dari perpindahan seorang Muslim.
“Tidak ada seorang Muslim yang pergi tidur dan bangun seorang Kristen, tetapi menghancurkan hambatan palsu yang melekat dalam Islam; ‘orang Kristen memiliki tiga Elohim (Allah)’ dan ‘Alkitab telah dikorupsi,’ “ jelas Doyle.

Doyle mengatakan bawah revolusi politik di Timur Tengah saat ini, itu dapat dilihat sebagai sebuah gempa bumi rohani.
“Sebagai mana hal-hal memanaskan secara politik dan agama di dalam Islam, Roh Kudus bergerak bahkan lebih kuat,” kata Joanna (Isterinya Tom).
“Ini adalah waktu ketika hati terbuka, orang-orang putus asa, para pemerintah bertukar,” suaminya menambahkan. “Fondasi semua orang mengalami keretakan besar di dalamnya dan Yeshua adalah jawaban yang dapat masuk dan mengisi kebutuhan tersebut.”

Banyak veteran misionaris bagi dunia Muslim mengatakan mimpi-mimpi dan penglihatan-penglihatan, beserta dengan televisi satelit, sedang memperkenalkan para Muslim kepada Yeshua dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Mereka menambahkan bahwa lebih banyak Muslim yang datang kepada Yeshua sekarang dibanding pada waktu lainnya dalam sejarah 1.400 tahun Islam.

Keluarag Doyle ingin orang percaya di Barat untuk bergabung dengan revolusi rohani ini.
“Tidak semua orang akan pergi ke Timur Tengah. Tapi mereka dapat berdoa [sedikitnya],” kata Doyle.
“Dan tidak ada pemerintah, tidak ada pemimpin yang dapat memblokir doa syafaat di seluruh dunia,” katanya. “Jadi kita perlu berdoa sebagai orang-orang percaya bahwa Elohim akanlah terus mendorong keluar Injil sampai ke ujung bumi.”

Komentar dari beberapa pembaca: (penekanan ditambahkan, huruf besar dari aslinya).
Susan – Ini adalah satu hal dimana pemerintah dan para demokrat TIDAK DAPAT MENGHENTIKAN ATAU MENGKLAIM!!! ELOHIM SEKARANG MENGGERAKKAN HATI-HATI ORANG … YESHUA HA MASHIAH SEDANG PADA JALAN-NYA

Doug – Ini adalah kabar terbaik saya pernah baca dalam periode yang lama. Saya harus akui, belakangan ini saya telah berada dalam kamp “bunuh mereka semua.” Banyak hal-hal yang telah saya baca di media telah mengisi saya dengan kebencian terhadap Islam. Bagaimana pun beberapa minggu yang baru saja berlalu Roh kembali mengingatkan saya tentang perbedaan antara Islam dan para Muslim. Orang-orang Muslim adalah tangan Elohim, Dia rindu melihat mereka datang kepada-Nya persis sebagimana kebanyakan kita telah datang. Dia memanggil mereka melalui nama dan mereka menjawab; sungguh terpujilah Elohim!

Sekarang Elohim telah merendahkan saya, saya melihat jelas dosa saya sendiri. Saya tidak berdoa untuk orang-orang ini sebagaimana saya seharusnya berdoa….Teman-teman, jangan biarkan judul-judul utama berita harian membelokkan kalian dari senjata yang sangat berkuasa yang kita miliki, Doa!
Kepada mereka yang baru saja berpindah dari Islam, selamat datang para saudara dan saudari saya, saya merindukan melihat kamu segera.

Bygrace – Betapa Setia dan  Belas kasihan Yeshua yang kita miliki. Firman-Nya ”Saya telah memanggil domba-Ku, mereka tahu suara-Ku dan mereka datang kepada-Ku.” Ini adalah akhir jaman dan Dia sedang mengumpulkan Milik-Nya kepada-Nya. Saya tidak dapat cukup   memuji Adonai untuk Kasih-Nya. Dia mengasihi setiap pribadi secara tersendiri sebagaimana mereka ada, sebagaimana Dia telah ciptakan mereka.

Bybee – Terima kasih Elohim Yang Mahakuasa untuk melayakkan saya  melihat kegerakan besar ini di dalam hati-hati orang Muslim sebelum saya meninggal!!!
Saya sungguh mengucap syukur Elohim bahwa Engkau telah meletakkan di dalam banyak hati untuk berdoa bagi para saudari dan saudara kami yang terhilang. Elohim, kami juga memohon Engkau menjagai mereka aman. Saya merasakan kesukan besar sedemikian rupa!  … Saya inging terus bertepuk tangan untuk Engkau! TERIMA KASIH … TERIMA KASIH … TERIMA KASIH!

 

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja
 

Azar, Seorang Muslim Iran Menemukan Jalan ke Sorga!

Diterjemahkan dari  AZAR, FORMER MUSLIM FINDS THE WAY TO HEAVEN!

Azar datang ke Amerika Serikat untuk sebuah pendidikan. Dia merencanakan untuk kembali ke tempat aslinyaIran, tapi pergolakan politik di negara itu melarang hat tersebut. Jadi Azar, seorang Muslim, tetap di Amerika, dan bekerja sangat keras untuk menjadi sukses.
“Ketika Anda harus melakukan itu di negara lain, Anda juga fokus pada perlunya menjadi seseorang. Saya ingin melakukan yang terbaik dan tidak hanya puas hanya dengan biasa-biasa,” ia berkata.
Azar bekerja keras untuk menjadi Muslim yang baik, seperti yang dia lakukan untuk menjadi seorang perencana keuangan. Dia percaya perbuatan-perbuatan baiknya akan mengupah dirinya ke sebuah tempat di surga. Namun setelah bertahun-tahun melakukan ibadah mencuci-diri dan shalat lima kali sehari, dia menjadi lelah akan rutinitas.
“Tiba-tiba, saya menyadari bahwa aku berdiri di sana tertutup dan saya tidak tahu apa yang saya katakan. Apakah saya telah berbicara dengan Elohim? Saya merasa hal seperti ini tidaklah mungkin terjadi. Ini bukan apa yang Elohim inginkan dari saya.”
Selama 21 tahun, Azar sedikit berurusan dengan iman Islamnya. Kemudian beberapa teman Iran mengundang dia ke sebuah pertemuan.
“Jujur, aku tidak pernah mendengar tentang orang-orang Iran yang Muslim dan kemudian menjadi Kristen. Saya berkata, ’Apa?’”
Namun, Azar tertarik dan setuju untuk bertemu dengan orang-orang tersebut.

“Untuk pertama kalinya, saya melihat orang-orang Iran yang Muslim dan telah menjadi orang-orang Kristen. Mereka bernyanyi untuk Elohim dan menyembah. Saya pikir bahwa itu sangat menarik bahwa mereka begitu bebas.”
Tapi lebih dari itu, Azar tidak puas dengan kehidupannya sendiri. Meskipun dia memiliki semua perangkap keberhasilan, ada sesuatu yang hilang.
“Saya bekerja enam atau tujuh hari seminggu. Saya sangat terkendali. Apa tujuannya?”
Azar berpikir tentang pertemuan orang Kristen yang ia telah hadiri. Segera, dia pergi ke lagi untuk mengetahui lebih lanjut. Di sana ia mendengarkan dengan saksama apa yang dikatakan.
Seorang (pria) Kristen di pertemuan itu berkata, “Siapa di sini yang tahu bahwa mereka akan ke surga?”
“Yah, sebagai seorang Muslim Anda tidak tahu jika Anda pergi ke surga atau tidak, karena Allah akan meninjau masa lalu Anda, dan itu tergantung pada seberapa baik Anda telah perbuat. Dia memutuskan aku tidak akan tahu. Jadi beberapa orang mengangkat tangan mereka dan saya berpikir, ‘Bagaimana kamu tahu?
Apa yang Azar dengar adalah pesan keselamatan dari salib. Dia tidak mengerti dan ingin sebuah penjelasan.
“Setelah pertemuan tersebut, saya pergi kepadanya dan berkata, Apa maksudmu Yeshua mati bagi saya? Saya tidak ada disana. Saya mati untuk dosa-dosa saya sendiri.
Terus menerus, dia memohon Elohim menunjukkan kebenaran kepada dirinya.
“Suatu hari tampa sengaja, saya menyalakan TV. Dan saya bahkan tidak tahu mengapa (kanal TV) The 700 Club terpancar. Ini bukan satu dari beberapa program yang saya telah tonton  setiap hari. Dan begitu saya menyalakannya, wajah Gordon tepat di layar. Siaran itu telah membahas seluruh siaran dan dia berkata, Beberapa dari Anda sangat bingung, Anda tidak tahu siapa Elohim yang sebenarnya adalah.
Ketika Gordon berdoa, Azar mendengarkan dengan penuh perhatian.
Gordon berdoa, “Adonai YAHWEH, saya tidak tahu jika Engkau nyata. Tetapi YAHWEH, jika Engkau nyata, saya memohon Engkau menunjukkannya kepada saya.”
“Dan kemudian saya berpikir, ‘Wow, saya tidak tahu apakah saya telah mematikan TV, namun saya tidak mendengar apa-apa setelah itu. Karena itu apa yang saya telah cari, saya bertanya mengapa?’”
Sebagaimana hari-hari berlalu, Azar telah memfokuskan pikirannya pada Elohim. Sekali lagi, orang-orang Kristen Iran mengundang dia untuk bertemu dengan mereka. Mereka menganjurkan dia untuk membaca Alkitab, dan Azar mulai mengalami Elohim dalam sebuah cara yang baru.
“Ada sesuatu tentang Kristianiti ini. Saya tidak tahu apa-apa tentang Roh Kudus, saya tidak pernah membuka Alkitab, dan saya tidak tahu apa-apa. Tapi itu terasa begitu kuat. Ada sesuatu yang berbeda tentang saya,” Azar teringat.
Keesokan harinya, Azar pergi ke gereja. Dia tidak bisa menunggu untuk tiba di sana. Kali ini ia berhadapan muka dengan muka dengan kebenaran.
“Ketika saya berbicara dengan Elohim, saya berkata, Saya tidak punya alasan untuk berubah. Saya Muslim, Engkau baik padaku, dan Saya tidak punya berubah. Tetapi jika Enkau memiliki suatu alasan, Engkau tunjukan suatu tanda.’
“Saya melihat seorang tepat di depan saya, dan wajahnya tepat di depan wajahku. Saya dapat melihat seluruh tubuhnya. Perlahan-lahan ia membuka kedua matanya, dan mereka seperti dua matahari kecil. Keduanya menjadi lebih terang dan lebih terang dan mulai bersinar di wajah saya. “

Azar mengenali bahwa orang yang telah dilihatnya adalah Yeshua dan berdoa untuk menerima Dia sebagai  Adonai (the Lord artinya Pemilik atau Penguasa atau Tuan) dan Juruselamat-nya.
“Saya merasakan sesuatu yang saya belum pernah rasakan sebelumnya. Saya merasa seperti berat berton-ton  telah diangkat dari bahu saya. Saya sangat ringan dan begitu bahagia. Itu sangat tidak biasa, sungguh berbeda,” ia berkata.
Melalui imannya di dalam Yeshua Ha Mashiah, Azar telah menemukan tujuan hidup. Sejak itu, dia telah terlibat di dalam gerejanya dan melayani di sebuah pelayanan penjara di Florida Selatan. Sekarang, dia bersinar saat ia berbicara. Dia tahu kebenaran yang membebaskan dirinya.
“Itu hanya luar biasa, itu luar biasa. Sebelumnya, saya mencoba untuk melakukannya dengan cara saya sendiri. Saya terah berusaha begitu keras untuk menyenangkan Elohim, untuk menjadi baik, dan tidak tahu saya dapat pergi ke surga. Tapi sekarang itu adalah Dia. Yeshua telah turun untuk saya, dan Dia mengubah saya setiap hari.”

 

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Pencarian Fatemeh Devanbeigi (orang Persia / Iran) Akan Elohim

Diterjemahkan dari laporan Tim Smith, The 700 Club, Fatemeh’s Quest for God

“Di dalam, saya merasakan ada sebuah batu besar bergantung di dalam hatiku,” kata Fatemeh. “Itu sungguh nyata, dan it sungguh menyakitkan. Itu seperi sesuatu yang menarik saya kebawah dan tidak membiarkan saya hidup. Tidak ada harapan di situ. Dan tidak ada harapan untuk masa depan.”

Fatemeh telah dibesarkan di Iran sebagai Muslim (atau seorang Islam).

“Ada sebagai Muslim adalah bukan karena pilihan, itu adalah sebagai warisan. Jadi jika orang tua adalah Muslim, maka kamu secara otomatis Muslim.”

Fatemeh melawan iman Islam orang tuanya.
“Pada usia yang baru menginjak remaja, saya telah memulai mempertanyakan entah Elohim (God atau Allah) ada atau tidak. Saya telah menghabiskan berjam-jam memikirkan, “Seperti akakah Elohim itu nampaknya? Dimanakah Dia berada?” Tetapi secara tradisi, di dalam budaya bersifat Islam, kamu tidak mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Mereka tabu. Jika kamu memulai bertanya pertanyaan-pertanyaan seperti demikian, mereka akan memanggil kamu [sebagai] orang tidak beriman.”

Menjadi besar, elohim (god atau ilah) Kuran adalah satu-satunya elohim yang hanya Fatemeh telah tahu.

“Dia (Elohim/ Allah Islam) bukanlah elohim yang personal, dia jauh, dan tidak seoranpun yang tahu siapakah dia adalah. Tidak seorangpun yang tahu (unsur) alam-nya. Tidak seorangpun tahu Pekerjaan mustahilrencana-rencana-nya. Kamu hanya tahu bahwa dia perduli tentang hal moral dan untuk supaya menuju Sorga, kamu harus melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik.”

Sebagai seorang remaja, Fatemeh telah mencari jawaban-jawaban dalam ramalan dan melalui pembacaan (bentuk gambar) bubuk kopi.  [Membaca nasip melalui bubuk kopi atau serbuk daun teh sama dengan ramalan horoskop dan sejenisnya adalah pekerjaan yang sia-sia, sebab semuanya hanyalah imajinasi dan  pengharapan buatan manusia].

“Saya berpikir pada diri sendiri, ini dapat ada sesuatu. Mungkin saya akan mendapatkan pesan-pesan. Praktek ini telah gagal membawa saya mengenal Elohim. Namun tetap saya cari. Saya tidak punya pilihan.” Sesuatu di dalam saya tidak akan beristirahat. Dan akhirnya saya mencapai pada suatu kesimpulan. Saya berkata. ”Elohim, entah Engkau  sungguh terbelit-belit sehingga saya tidak akan pernah tahu Kamu, atau Engkau tepat di depan mata saya, dan saya tidak dapat melihat Engkau.”

”Saya ingat setiap hari, saya hanya menangis dan menangis, dan meminta Elohim untuk menunjukkan saya diri-Nya sendiri. Saya melihat kepada matahari. Apakah kamu matahari? Kemana seharusnya saya melihat?”

Doanya terjawab ketika Fatemeh berkata bahwa Yeshua nampak kepada dirinya dalam sebuah mimpi.

"Follow Me!"”Saya bermimpi bahwa Yeshua dan saya berjalan-jalan di sebuah taman rose. Cerita ini membuat saya menangis. Di dalam mimpi tersebut, saya berpikir Dia adalah seorang nabi. Dia berjalan, dan saya mingikuti, dan Dia berkata, ‘Apakah kamu ingin datang kepada Aku?’ dan saya berkata, ’Ya.’ Dan kemudian Ia berkata, ‘Maka ikutlah Aku.’”

”Saya berkata, ’Hmm. Bagaimana dapat saya mengikuti seorang yang adalah nabi di masa yang lalu? Bagaimana dapat kamu mengikuti seorang dan bukan perintah-perintahnya?” Sungguh suatu pertanyaan. Mengapa Dia bertanya itu kepada saya?”

Malam demi malam, Fatemeh mendapat ngimpi tentang Yeshua, Elohim  – dan gereja-gereja.

Gereja-gereja tua, baru dan modern. Dan saya bermimpi bahwa ibuku dan semua keluargaku bergandengan tangan, pergi ke gereja.”

Fatemeh pindah ke Amerika Serikat ketika dia berusia dua puluh tahun. Dia bertemu seorang teman kerja yang bercerita kepada dia tentang Yeshua.

”Itu setelah dia (teman kerjanya) menerima Adonai Yeshua dia menemukan sukacita dan damai sejahtera, dan keduanya begitu saja muncul kepermukaan. Saya berkata, ”Wow, ini sungguh bagus.” Saya berkata, saya ingin itu. Saya ingin sukacita dan damai sejahtera.”

Jadi Fatemeh pergi ke sebuah gereja Kristen, dan seorang wanita disana bertanya kepadanya, ”Apakah kamu percaya Yeshua Ha Mashiah adalah Elohim?” dan saya berkata, ”Apakah Dia berkata demikian? Apakah Dia adalah Elohim?”

Dan wanita itu berkata, ”Ya, Dia berkata demikian.” Saya berkata, ”Baiklah, percaya saya, saya akan temukan jika Dia adalah bukan. Saya hanya mencoba jika sesuatu tidak benar. Tetapi saya berkehendak memberi Yeshua sebuah kesempatan. Sungguh-sungguh.”

”Wanita ini berkata, ’Akakah kamu ingin berdoa Doa Keselamatan? ’Absolutely.’ Sebab saya berpikir Elohim telah melunakkan saya kepada suatu titik dimana saya lunak terhadap Elohim dan saya tidak melawan.”

Malam itu, setelah bertahun-tahun mencari, Fatemeh berdoa untuk menjadi seorang Kristen.

”Hal-hal segera mulai berubah. Itu yang berat, hati yang berat, batu tersebut, bahkan tajam, kamu dapat rasakan betapa tajam dan menyakitkan tersebut, adalah lenyap. Itu lenyap seluruhnya.”

Malam itu, Adonai menaruh tangan-Nya kedalam hatiku dan mengambil batu tersebut keluar secara permanent. Satu hal yang sangat bernilai yang Mashiah telah lakukan kepada saya adalah Dia menaruh harapan di dalam hatiku. Sebuah harapan permanent.

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat,  Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.”  (Matius 11:28-30)

Dan sebagaimana saya telah mengenal Adonai lebih lagi, Dia memberi lagi mimpi-mimpi, hanya untuk menunjukkan bahwa ayat-ayat Alkitab adalah benar, dan setiap yang say abaca, Elohim menopang semuanya.

Sekarang, ibu Fatemeh, saudara laki-lakinya, dua saudari perempuannya adalah semuanya Kristen. Fatemeh adalah seorang broker real estate, dan belajar menjadi psychologist. Dia juga menikah dan memiliki dua putra.

Fatemeh mengerti para Muslim yang penasaran tentang Yesus, dan mereka yang sungguh tidak mengerti siapakah Yeshua adalah.

[Saran Fatemeh kepada para Muslim], “Saya akanlah mengatakan ‘jangan katakan tidak,’ hanya karena orang tuamu adalah Muslim, dan nenek moyangmu adalah Muslim, dan ini adalah apa yang kamu selalu diajar. Kamu harus temukan Elohim untuk dirimu sendiri. Dia siap, Jika Yeshua berkata Dia adalah Elohim, maka Dia akan membuktikan itu.

Semua yang harus kamu miliki adalah sebuah hati yang terbuka untuk mengijinkan Yeshua masuk kedalam, dan maka kamu akan tahu untuk dirimu sendiri jika Dia adalah Elohim atau bukan.”  

Janji Yeshua adalah pasti, seperti fajar yang selalu bersinar setiap hari!  Dengarkan melodi lagu ini “JanjiMu Seperti Fajar.”

 

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

 

Penulis dan sejarawan Kurdi jadi Kristen karena menterjemahkan Alkitab

Seorang pemimpin suku Kurdi yang dikenal baik, penulis dan sejarawan baru-baru ini menjadi seorang Kristen setelah bekerja pada perterjemahan Alkitab Perjanjian Baru berbahasa Kurdi. Inilah kesaksiannya.

Peta Kurdistan

”Saya dari sebuah keluarga Muslim – ayah saya seorang yang dikenal baik dan pemimpin Islam yang berkuasa dan kami telah dibesarkan sebagai orang-orang Muslim yang baik. Sebagai seorang mahasiswa saya adalah seorang pencari yang tidak pernah letih, membaca ilmu agama Islam, sejarah, filsafat dan mitologi, tetapi saya tanpa iman di dalam hatiku.”

”Pada suatu hari di tahun 1993 saya dihampiri oleh organisasi the Bible Society yang meminta saya untuk terlibat  di dalam penterjemahan Perjanjian Baru bahasa Kurdi. Saya terima dengan sukacita dan rasa hormat. ’Sekarang bangsaku akan mampu membaca sesuatu di dalam bahasa mereka sendiri,’ saya berpikit, dan itu akan menguatkan budaya kami.”

Kasihilah musuhmu?
”Saya memulai menterjemahkan kitab (Injil) Matius. Ketika saya tiba pada Matius 5:44 - Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Saya kagum dengan apa yan saya sedang baca – Saya tidak dapat mengerti bagaimana seorang manusia dapat mengasihi musuhnya. Di dalam tradisi saya, ’mata ganti mata, gigi ganti gigi’ telah mengisi makna keadilan. Saya belum pernah membaca sesuatu seperti ini sebelumnya dan saya terguncang.

Kecil dan tidak berarti
”Saya menutup mata saya dan melihat Yeshua berdiri di depan saya. Saya merasa kecil dan tidak berarti. Saya melihat kepada Yeshua dan menerima Dia sebagai Juruselamat saya. Hati saya bersukacita. Telah bertahun-tahun saya telah rindu untuk sesuatu yang tidak dapat saya jelaskan tetapi sekarang saya telah merasakan telah menemukan damai dan telah menjadi milik Elohim.”

”Saya telah banyak bepergian  dalam kehidupan saya, Syria, Irak dan negara-negara lain di Asia. Saya tidak ingin terlibat di dalam politik tetapi saya telah melihat begitu banyak rasa sakit dan penderitaan yang disebabkan ol h kebencian dan kejahatan. Saya ingin meneruskan kasih Elohim kepada orang-orang lain dan mendirikan sebuah Gereja berbahasa Kurdi untuk suku bangsa saya.

”Saya merasa sangat beruntung telah menemukan Mashiah. Saya masih mempunyai teman-teman imam dari agama Islam dan banyak profesor universitas yang adalah teman-teman pribadi saya. Saya tidak akan melewatkan kesempatan untuk menerangkan iman saya kepada mereka, dan mereka menghormati saya atas apa yang saya yakini.”

“Saya baru-baru ini menyumbang sebuah perpustakaan besar yang terdiri dari 4000 buku kepada yayasan akademi Kurdi, di dalamnya koleksi penting buku-buku agama Islam dan juga tulisan-tulisan Kristen. Saya member mereka suatu kondisi bahwa buku-buku Kristen tidaklah boleh pernah dipisahkan dari yang lainnya.”

“Saya sungguh berterima kasih kepada the Bible Society untuk pekerjaan mereka di Turkey dan untuk meminta saya berpartisipasi dalam terjemahan Terjemahan Baru berbahasa Kurdi.”

Diterjemahkan dari situs Christianity in Kurdistan blogspot.com, “Kurdish writer finds God through Bible”

 

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja


 

 

Abdullah (Saudi): Dari Neraka, ke Penjara karena Iman Kristennya.

“Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Mat 13:44-46)

Abdullah adalah seorang Islam (Muslim) yang setia. Dia tinggal dekat Mecca, hanya satu jam perjalanan dengan mobil, berdoa di mesjid lima kali sekali dalam sehari, melakukan semua ajaran Islam, dan tentu secara tetap berkunjung ke Mecca. Seperti banyak orang Islam, ia telah diajar bahwa orang-orang Kristen memiliki roh-roh jahat dan ia harus jauh-jauh dari mereka.

Suatu malam Abdullah bermimpi ia berada di neraka, terbakar di api yang menyala-nyala. Esok paginya, sangat kuatir, ia berdoa kepada Allah, “Saya telah melakukan segala sesuatu dengan baik; mengapa saya harus pergi ke neraka?” Hari-hari berikutnya kekuatirannya semakin membesar. Suatu malam ia tidak bisa tidur karena takut, pada tengah malam itu sebuah sinar terang memasuki kamarnya dan sebuah suara berkata: “Saya Yeshua. Datanglah kepadaku. Saya adalah Jalan ke Sorga. Ikutilah Aku dan kamu akan diselamatkan dari Neraka.” Abdullah tersungkur dengan muka ke tanah menangis dan berkata, ”Harap tolonglah saya menemukan Engkau.”

Hanya dalam beberapa hari Abdullah menemukan Alkitab dan mulai membacanya. Dia segera memberikan hidupnya kepada Yeshua. Dipenuhi dengan suka cita, dia mulai membagikan iman yang baru ia temukan kepada keluarganya dan teman-temannya. Melalui hukum negaranya, Arab Saudi, seorang Islam yang meninggalkan imannya haruslah ada dibunuh. Keluarga Abdullah menyeret dia ke pemerintah. Dia dipenjara dan dianiaya berbulan-bulan.

Ketika Abdullah menolak untuk menyangkal Yeshua, dia dibawa ke Pengadilan Sharia, dimana para criminal yang paling berbahaya diadili. Hakim berkata kepada Abdullah, “Sangkal iman barumu dan kamu akan keluar sebagai orang bebas; jika kamu menolak, kamu akan digorok (beheaded).

“Saya tidak akan menyangkal Yeshua,” Abdullah menjawab, “Jika kamu membunuh aku saya akan pergi ke Sorga, tetapi darahku akan ada pada tanganmu” [idiom, artinya: kamu bertanggung jawab atas kematianku]. Abdullah diputuskan untuk digorok pada hari Jumat mendatang.

Dia dikembalikan ke penjara, tangan dan kakinya terantai. Pada hari hukuman matinya, bagaimanapun, tidak seorangpun muncul.  Pada hari Senin pagi beberapa penjaga penjara mencabut rantai-rantainya dan berkata, ”Lari, kamu setan, kami tidak ingin melihatmu lagi.” Tidak percaya apa yang teliganya telah dengar, Abdullah bertanya apa alasannya. Para petugas ini berkata bahwa di hari dimana Abdullah harus ada dihukum mati putra dari hakim (yang mengadilinya) tiba-tiba mati. Itulah sebabnya hakim menarik keputusannya.

Seperti kebanyakan orang Saudi, Abdullah berasal dari keluarga yang kaya raya dan memiliki segala sesuatu yang ia perlukan. Tidak hanya dia ditolak oleh keluarganya, dia tidak memiliki sumber penghasilan, dan tidak mendapat sebuah pekerjaan sebab dianggap sebagai penghianat Islam. Semua surat-surat indentitasnya diambil dari dirinya dan dia dapat ditangkap lagi kapan saja. Namun meskipun tekanan-tekanan Abdullah tetap tinggal di Arab Saudi selama beberapa tahun, secara aktiv bercerita tentang Yeshua kepada orang lain.

Artikel ini ditulis oleh ”Pendeta Daniel” yang telah bertemu ”Abdullah” (bukan nama aslinya) di Arab Saudi. ”Pendeta Daniel” melayani di negara ini dari 1995 sampai 1998, sekarang tinggal di Australia. Sumber: Missions Update, dibuat oleh AOG World Missions. PO Box 254, Mitcham, Victoria, 3132, Australia, July/Sept 1998, page 17.

Artikel berbahasa Inggris dapat dibaca di : Muslim Encounters with Jesus. Hell

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Kesaksian Kamal Saleem; Dari mentor Jihad Menjadi Pembawa Terang Yeshua

Berjihad sejak umur 7 tahun untuk PLO, bekerja untuk beberapa pemimpin Arab  dan organisasi Islam radikal terkenal lainnya, lalu direkrut oleh pangeran Saudi untuk meng-Islam-kan AS. Sesuatu terjadi di dalam perjalanan jihadnya, yang membawa Kamal Saleem sekarang menjadi saksi Yeshua Ha Mashiah.

Beberapa catatan dari penulis: 1. Tulisan ini merupakan gabungan  dari beberapa sumber yang disunting dan digabung sehingga menjadi sebuah kesaksian bapak Kamal Saleem. Jika pembaca ingin mengetahui lebih lengkap masa lalu bapak Kamal silahkan lihat pada sumber-sumber yang tersedia di bawah. 2. Pemakian kata YAHWEH, Elohim, dan Allah pada artikel ini: ”YAHWEH” adalah nama dari Penguasa dan Pencipta jagat raya dan isinya, yakni nama dari ”Elohim” (God atau Allah dalam Alkitab Indonesia). Dan ”Allah” dipakai untuk mengacu kepada ”God” atau ”Ilah” yang disembah oleh nabi Muhammad dan umat Islam.

[Kenyang dengan doktrin Islam; misi ke Eropa dan AS]
Bapak Kamal Saleem lahir di tahun 1957 dalam sebuah keluarga besar Sunni Muslim di Libanon. Disusui dengan ajaran Islam radikal sejak kecil oleh ibunya untuk membenci musuh-musuhnya, dan bapanya mengajari dia untuk merendahkan orang Yahudi dan Kristen. Saudara sepupunya adalah Guru Besar Islam (Grand Mufti) untuk kota Beirut. Ia direkrut oleh orgnanisasi Islam radikal Persaudaraan Muslim (Muslim Brotherhood) dan dilatih di kamp PLO (Palestinian Liberation Organization) dan operasi misi berdarah pertamanya untuk PLO adalah menyelundupkan senjata api kedalam negara Israel, itu terjadi ketika ia berusia baru  7 tahun. Keberhasilannya ini membuat ia bekerja pada Yaser Arafat untuk tugas-tugas aksi terror melawan Israel,

Pada karya tulisnya yang berjudul “The Blood of Lambs: A Former Terrorist’s Memoir of Death and Redemption,” (Darah Domba-domba) ia menulis tentang masa kecilnya: Ajaran di Mesjid adalah seperti ajaran di meja dapur ibuku. Orang-orang Islam yang sesungguhnya, para imam berkata, adalah menyelesaikan penguasaan yang Muhammad telah mulai, menciptakan sebuah caliphate yang global, atau penguasaan dunia … kami telah belajar doktrin al taquijah (berbohong kepada musuh-musuh kami demi Islam). Dan kami telah belajar bahwa semua milik musuh-musuh kami – wanita-wanita dari seorang pria (his women; suami dan ayah), anak-anaknya, uangnya, rumahnya – milik kami. Kami telah tidur dengan para wanita musuh kami dan memenuhi dunia dengan anak-anak Islam yang setia. ”Tidak ada tentara lebih hebat dari tentara Allah!,” seorang imam atau lainnya berteriak dari mimbar,  terkadang sambil mengacungkan tongkat atau pedang. ”Tidak ada sebuah negara lebih kaya dari negara Muslim … kalian harus mencanangkan hukum Shariah!” Sebagai jawabannya kami meneriakkan slogan organisasi Persaudaraan Muslim: ”Allah adalah tujuan kita! Nabi (Muhammad) adalah pemimpin kita! Kuran adalah hukum kita! Jihad adalah jalan kita! Kematian di dalam jalan Allah (mati berjihad) adalah harapan tertinggi kita!

Ketika Kamal tinggal beberapa lama di Eropa, beberapa pangeran Saudi mengirim dia ke Amerika Serikat untuk menyebarkan ideology Islam radikal.

Dia sedang berada pada puncak dunia Islam – posisi atas di organisasi Persaudaraan Muslim, PLO dan Islam terror internasional lainnya -  ketika ia direkrut oleh keluarga pangeran Saudi, pengakuannya dalam suatu wawancara dengan rengan media Amerika. ”Kebanyakan dari para pengeran (sheikh) Saudi adalah penganut Islam Wahhabi. … Wahhabi dan Sufi menyerukan untuk pemerintahan negara dibawah hukum Shariah.” Itulah yang Kamal telah ingin bawa untuk disebarkan di Amerika Serikat.

Tugas pertama Kamal adalah mulai bekerja di dalam penjara-penjara Amerika. ”Di sinilah kami sukses pada orang-orang hitam Afrika.” Ratusan ribu dari mereka berada ditahanan.

“Mereka berpikir  kami datang menawarkan sesuatu yang lain kepada mereka. Kami berkata kepada mereka bahwa kami datang untuk membebaskan mereka dari perbudakan, keluar dari perbudakan budaya ini. Kami tidak berkata kepada mereka bahwa secara atomatis, Islam tidak berarti penundukan diri, (Islam)  itu berarti perbudakkan itu sendiri.” Saleem berkata.

Kamal mengakui (Islam Amerika) memakai mesin-mesin sistem kebebasan Amerika Serikat: First Amandment (kebebasan beragama, berbicara dan surat kabar) untuk memproklamasikan f

ilsafat Islam dengan tujuan menghancurkan kebebasan-kebabasan itu sendiri. Dalam Islam, mengejar kebahagiaan dan kebebasan-kebebasan berpikir kita adalah dianggap sebagai ilah-ilah (false gods).

Pemikiran Kamal ini sejalan dengan pernyataan Sheikh Anjem Choudary, seorang Islam yang tinggal di Inggris bahwa orang-orang Islam yang benar menolak demokrasi; ”Ada beberapa hal yang adalah terkutuk bagi orang Islam, seperti demokrasi dan kebebasan, kami menolak sama sekali. Mereka (demokrasi dan kebebasan berpikir) tidak memiliki dasar fondasi di dalam Islam.”

Yang terjadi adalah bahwa untuk menjadi orang Islam kamu harus menjadi seorang budak dari aturan-aturan dan regulasi-regulasi hukum Shariah, sebab hukum tersebut mengatakan kepada kamu bagaimana makan, bagaimana tidur, bagaimana minum, bagaimana pergi ke kamar mandi, bagaimana menikah. Segala sesuatu diperintahkan kepada kamu dan itu adalah oleh Islam politik itu sendiri,”  Saleem berkata. ”Untuk menikmati Surga bersama Allah dan mendapatkan semua yang dijanjikan adalah jika mereka (orang Islam) mati sebagai martir. Jadi oleh karena itu saya tentu saja menyerahkan seluruh mengasihi Allah, dan mengasihi Islam untuk mengembangkan Islamisasi dunia.”

”Dia harus bersedia memberikan sebagian darahnya, Sebagaimana dia telah diajar sejak masa kanak-kanak oleh keluarganya, dan oleh Persaudaraan Islam, organisasi yang paling radikal di bumi sebagaimana kita tahu itu,” Kamal bercerita mengingat masa lalunya.

Namun di-tengah-tengah misinya sesuatu yang besar terjadi dan merubah ajaran Islam yang ia telah dapat sejak balita.

[Kecelakaan mobil, ditolong oleh para ’musuhnya’]
”Mobil saya sangat kecil dan memiliki T-top [atap jenis T], jadi ketika (truck) dengan 18 roda (“18-wheeler”) menabrak saya, saya terpental dari mobil dan mendarat dengan kepala saya duluan dalam sebuah lubang lumpur.” Tabrakan mobil ini terjadi di tahun 1985. Ketika ia berusia 28 tahun.

”Saya berteriak minta tolong kepada Allah, tetapi Allah tidak datang menyelamatkanku. Saya berteriak, ”Allah dimanakah engkau?”

Seorang dokter datang menyelamatkan Kamal, ”Kata-kata pertamanya adalah, ’Son (anak laki) kami akan merawat kamu dan segala sesuatu akan beres.’ Dia (dokter ini) memberi jaminan kepadaku bahwa segala sesuatu akan ada terurus  dan ’kami akan pergi bersama kamu,’” Saleem bercerita.

”Dia menyingkirkan lumpur dari wajahku dan kemudian ambulan datang membawa saya ke rumah sakit. Dokter bedah ortopedi membaca tabel ku dan berkata kepadaku, ”Namamu Kamal; kamu warganegara Perancis. Kamu tidak memiliki keluarga; tidak memiliki teman-teman. Kamu tidak punya asuransi, atau ini atau ini.”

”Tetapi ia tersenyum dengan kumisnya yang sedikit dan dengan aksen Selatannya ia berkata, ‘Son, kami akan merawat kamu dan segala sesuatu akan beres.’”

”Itu bahasa yang sama, sama pesannya.”

”Apa yang mereka miliki secara bersama, semua mereka tersenyum. Ada senyum keyakinan keluar dari mereka. Firman Elohim berkata ”Kamu akan tahu mereka dari buahnya.” Orang-orang ini tidak menunjukkan diri mereka sendiri, mereka menunjukkan karakter dari Yang Mahatinggi.”

Banyak orang membaca Alkitab tentang Yunus dan ikan paus, tetapi saya adalah Kamal dan truck 18-roda. Hari kedua pemimpin dari therapy badan datang dan melakukan hal yang sama. Pada hari kelima, mereka datang bersamaan, satu setelah yang lain untuk mengunjungi saya. ”Mereka memulai pertemuan mereka dengan saling berpelukan, menunjukkan kepada satu sama lain bahwa mereka saling mengasihi. Mereka adalah orang-orang Kristen. Ketika saya sadari bahwa mereka adalah orang-orang Kristen. Saya menjadi sangat takut sebab saya perpikir bahwa itu adalah suatu konspirasi,” tutur Saleem pada saat itu.

”Saya berpikir  konspirasi datang dari roh-roh jahat sebab saya berpikir bahwa roh-roh jahat tersebut telah mendapatkan saya. Tetapi pria-pria memiliki sesuatu yang sangat khusus. Saya belum mengerti saat itu Firman Elohim di dalam 2 Korintus: yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Ha Mashiah, yang adalah gambaran Elohim. (2 Korintus 4:4)

Saleem bercerita bahwa para dokter dan pekerja Rumah Sakit memperkenalkan dia kepada sesuatu yang ia belum pernah lihat: kasih Elohim yang tanpa-syarat,  sesuatu yang adalah asing untuk Islam.

”Di dalam Islam, segala sesuatu adalah bersyarat. Sebagai contoh, dalam Kuran, tidak ada satu tempat dimana Allah berkata “Aku mengasihi umat-Ku,” tidak sekalipun. Kata kasih tidak disebutkan di dalam Kuran.”

Setelah ia keluar dari rumah sakit ia ditampung di rumah dokter bedahnya, Saleem kagum dengan kasih setiap orang yang mereka tunjukkan kepadanya. Di rumah dokter ini juga ia sadari sesuatu yang khusus tentang pernikahan Kristen dan perlakuan kepada para wanita.

”Para wanita di dalam budaya Islam tidak berarti. Mereka setara dengan kambing atau kosetan. Tujuan hidupnya adalah untuk menikah kepada suaminya untuk memberikan suaminya kepuasan. Ketika seorang suami menikahi seorang wanita, dia membeli organ-organ sex wanita tersebut. Tujuan hidupnya adalah memberi kepuasan kepada pria tersebut dan memberi anak-anak kepadanya,”

“Ibuku selalu sakit, Kami memiliki 14 bersaudara, dia adalah mesin hamil sepanjang waktu dan bapaku (tetap saja) menggerutu tentang tidak cukup mendapatkan sex.”

Kenangan akan orang tuanya telah membuat pengalaman di rumah dokter ini sesuatu yang benar-benar asing. Ia bercerita tentang apa yang ia lihat di rumah dokter ini:

”Suami dan isteri bersama; mereka rekan kerja. Itu sungguh indah, dua lebih baik dari satu. Dan mereka berlomba untuk saling melayani. Mereka melayani anak-anak mereka; mereka melayani komunitas mereka dan pria ini adalah seorang dokter bedah orthopedi, satu dari yang terbaik, dan dokter ini membersihkan kamar mandi!”

Saleem berkata Kuran mengajar bahwa wanita-wanita dapat dipukuli, bahkan diceraikan atau dibunuh di dalam honor killing (membunuh mengatas namakan keharuman nama keluarga) jika ia tidak menuruti suaminya.

”Di sini (mayarakat Kristen) saya menemukan para wanita memiliki suara untuk berbicara kepada suami-suami mereka. Wanita ini sederajat dengan suaminya dan tebak apa! Suami mendengarkan!”

Pengalaman Saleem ketika orang-orang Kristen menjadikan dia pokok rantai doa mereka untuk menolong kesembuhan dan hidupnya di negeri asing ini, reaksi pertama Saleem ialah  dia ”alergi” dengan Yeshua dan menolak bantuan doa-doa mereka.

”Mereka tidak pernah berkata kepada saya bahwa saya adalah seorang Islam dan tidak layak untuk hidup. Mereka tidak berkata bahwa saya tidak berharga. Mereka mengasihi saya tanpa-syarat dan menaruh sebuah keranjang yang bertuliskan, ”Untuk Kamal Saleem,” Saleem mengingat masa-masa penyembuhan dirinya.

”Keranjang tersebut penuh dengan dollar dan kertas-kertas cek, dan memaafkan hutangku secara penuh. Mereka membeli mobil yang baru untuk menggantikan mobil tuaku. Saya melihat sesuatu (perbedaan). Di dalam Islam, jika kamu bukan orang Islam, itu adalah hak penuh saya mengambil tanahmu, mengambil para wanitamu, mengambil anak-anakmu, mengambil apapun,” Saleem menerangkan.

Saleem berkata bahwa Muhammad telah memerintahkan harta milik bukan orang Islam dapat dirampas hanya karena mereka bukan orang Islam. Proses ini akan terus berlangsung sampai setiap orang mengakui bahwa Allah adalah ilah (god) dan Muhammad adalah nabinya. Keterangan Kamal Saleem tentang masalah ini tepat dengan artikel Anwar al-Awlaki pada edisi Winter 2010 di .al-Qaida’s magazine “Inspire.”, reporter berkata.

Saleem menambahkan perbedaan ini: “Dalam Islam, kamu tidak dapat mewarisi harta milik musuh sedikitnya kamu bunuh kepala dari keluarga tersebut, … maka semuanya menjadi hak resminya, ini disebut perbudakan kemasyarakatan. Hanya dalam Islam perbudakan diperbolehkan dan diterima, sekarang saya berbicara tentang keluarga dokter Kristen, sungguh berbeda. Sekarang, saya  adalah bagian dari keluarga mereka.”

Jadi Firmah Elohim bekerja dihadapan saya dan saya menjadi tahu kebenaran jeleknya tentang Islam dan kebenaran yang indah yang adalah Kristianiti,”

Saya telah melihat dua elohim di depan saya. Satu Elohim yang telah datang menyelamatkan saya (dan yang kedua) ilah yang saya telah layani dan melarikan diri dari saya,” Saleem menambahkan.

“Saya dahulu sungguh buta, hal-hal yang baik terlihat gelap dan hal-hal yang buruk terlihat terang,” Kamal Saleem berkata

[Keluar dari sarangnya; membawa terang ke segala tempat]
Sejak peristiwa 11 September di New York Amerika, yang membunuh banyak masyarakat sipil, akhirnya Kamal keluar menyatakan kepada umum tentang masa lalunya. Ia mulai berbicara pada badan-badan keagamaan (termasuk Islam moderat)  dan sosial untuk memperingatkan mereka akan bahaya gerakan Islam fundamental. Saat ini Kamal Saleem mengajar para pemimpin negara dan federal, pemimpin militer, ahli-ahli intelegen, gereja, synagog, universitas, akademi militer dan sebagainnya.

Kamal Saleem yang baru ini percaya bahwa “Damai di Bumi” yang sesungguhnya datang melalui pesan Yeshua Ha Mashiah yang datang dari Surga, bukan melalui kekeran mesin-mesin manusia. Ia juga yakin bahwa Amerika Serikat tidak dapat mengalahkan faham dan taktik-taktik yang tidak mengenal aturan dari keyakinan Islam melalui atau dengan metode multibudaya.

Sebuah komentar yang menantang orang Islam dan Kristen yang sungguh-sungguh mencari KEBENARAN:
Teresa Minton: After being brainwashed into the ways of Islam, and believing that Allah is the only God…I still feel sorry for all of the Muslim who die and that next breath is in HELL…They are born into deception, raised with deception and hate and they die deceived and will spend an eternity in HELL. Anyone claiming to be a Christian who does not fell compassion and sadness for the Muslim, is not a TRUE Christian…

Sumber-sumber tulisan: 
Kamal Saleem Biography
Confessions of a trained Islamic terrorist
Terrorist: What happens when Allah doesn’t answer
Kamal’s dramatic experience which changed his life and directed it away from terrorism
Kamal’s greatest drive in his new calling

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Walid: Dari pencinta Hitler ke Yeshua

Kesaksian seorang Muslim Betlehem, Israel yang berjumpa Yeshua. Diterjemahkan  dari situs www.bible-koran.com.

Nama saya Walid, saya lahir di Betlehem, Israel. Ayah saya adalah seorang Muslim Palestina yang mengajar pelajaran bahasa Inggris dan agama Islam di Tanah Suci, dan ibu saya adalah seorang Amerika yang menikah dengan ayah saya selama studinya di Amerika Serikat pada tahun 1956.

Khawatir dengan cara hidup Amerika, orang tua saya pindah ke Israel pada tahun 1960 dengan dua anak dan sementara ibu saya masih mengandung saya, ketika kami tiba di Betlehem saya lahir, dan kemudian kami pindah ke tempat terendah di bumi, Yerikho.

Saya tidak lupa lagu pertama yang saya pernah pelajari di sekolah sebelum Perang Enam Hari terjadi berjudul “Arabs our beloved and Jews our dogs.” (orang-orang Arab ialah kekasih kami dan orang-orang Yahudi ialah anjing-anjing kami). Saya sering bertanya-tanya pada waktu itu siapakah orang-orang Yahudi, tetapi saya mengulangi kata-kata tersebut dengan sisa anak-anak lainnya tanpa mengerti maknanya.

Kemudian kami pindah kembali ke Betlehem dan ayahku mendaftarkan kami pada sebuah sekolah Anglikan-Lutheran karena sekolah ini memiliki kursus bahasa Inggris yang lebih baik, kakak laki-laki dan perempuan saya dan saya sendiri yang adalah Muslim di sekolah ini, kemudian ayah saya memindahkan saya ke sekolah pemerintah dimana saya tumbuh dalam iman Islam. Selama masa mudaku seperti ayah saya, saya selalu berkiblat ke Islam dan apa yang para guru muslim kami ajarkan. Percaya kepada nubuatan Muhammad, aku menawarkan hidup saya untuk ‘Jihad’ atau ‘Perang Suci’ sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan baik kemenangan atau mati syahid. Dalam Islam mati syahid adalah satu-satunya cara Anda dapat memastikan keselamatan dan masuk ke surga, terutama karena Allah [Islam] dan nabi-Nya Muhammad berjanji, sebagaimana Quran menyatakannya:

“Jangan berpikir tentang siapa yang dibunuh untuk jalan Allah (dalam Perang Suci), untuk mati, melainkan hidup dengan Allah mereka menerima berkat-Nya.”

Saat itu aku bersumpah untuk melawan musuh saya Yahudi, dengan keyakian bahwa saya melakukan kehendak Allah di bumi, dan saya menepati kata-kata saya karena saya telah ikut serta dalam banyak kerusuhan melawan tentara Israel, tidak ada yang bisa mengubah hati saya,  mati atau mukjizat dibutuhkan untuk merubahnya . Cara paling mudah untuk menggambarkan diri saya adalah bahwa saya adalah salah satu dari orang-orang yang dapat di lihat pada CNN melemparkan batu dan bom molotov di hari-hari Intifadah atau ‘Pemberontakan’, saya adalah salah satu dari teroris yang orang Yahudi menyebut kami, hal yang menarik ialah bahwa saya tidak hanya meneror tapi saya diteror oleh kepercayaan saya, karena saya harus mendapatkan kelayakan  [Allah] dan perbuatan baik yang cukup untuk masuk surga tapi tidak pernah yakin apakah perbuatan baik saya akan melebihi perbuatan buruk saya dalam skala ketika saya dihakimi oleh Allah, tentu mati memerangi orang-orang Yahudi akan memudahkan amarah Allah terhadap dosa saya dan saya akan diamankan di tempat yang bagus di surga dengan wanita-wanita cantik bermata lebar ["kismis-kismis putih" pada Quran bahasa Syro-Aramnya, harap baca buku Syro-Aramaic Reading of the Kuran] untuk memenuhi keinginan saya yang paling terdalam, cara lainya saya akan menang, dan teror adalah satunya.

Saya ingat murid-murid biasa bertanya kepada guru selama pelajaran-pelajaran agama Islam kami di Sekolah Tinggi Bethlehem, apakah orang-orang Muslim diijinkan memperkosa wanita-wanita Yahudi setelah kami mengalahkan mereka, jawaban guru ini adalah ”Para wanita yang tertangkap di medan perang harus memilih masalah ini, mereka adalah selir-selir dan perlu taat kepada tuan-tuan mereka, melakukan sex dengan tawanan budak adalah bukan sebuah ”masalah pilihan untuk para budak,” ini adalah bukti apa yang tertulis di Quran, itu dikatakan:

Diharamkan bagimu juga menikahi para perempuan, kecuali mereka yang berada di tanganmu sebagai budak, ini adalah hukum Allah untuk kamu. (An-Nisa/4:20) [Dari terjemahan asli artikelnya]

Dan dalam ayat lainnya Quran berkata:

O Prophet! We have made lawful to thee thy wives to whom thou hast paid their dowers; and those whom thy right hand possesses out of the prisoners of war whom Allah has assigned to thee; and daughters of thy paternal uncles and aunts, and daughters of thy maternal uncles and aunts, who migrated (from Makka) with thee; and any believing woman who dedicates her soul to the Prophet if the Prophet wishes to wed her;- this only for thee, and not for the Believers (at large); We know what We have appointed for them as to their wives and the captives whom their right hands possess;- in order that there should be no difficulty for thee. And Allah is Oft-Forgiving, Most Merciful. (al-Ahzab/33:50) [penekanan ditambahkan]

Kami tidak memiliki masalah dengan Muhammad mengambil keuntungan dari hak istimewa ini sebagaimana ia telah menikahi 14 wanita untuk dirinya sendiri dan beberapa selir yang ia telah kumpulkan dari rampasan perang, kami tidak pernah tahu berapa banyak isteri dia telah punya dan pertanyaan ini selalu diperdebatkan oleh kami, satu dari isteri-isteri ini diambil dari putra angkatnya sendiri Zaid, lainnya ialah para tawanan Yahudi yang dipaksa menjadi budak setelah Muhammad memenggal suami dan keluarga mereka.

Ibuku di sisi lain mencoba untuk mengajari saya pemikiran yang berbeda di rumah yang dia sebut ”rencana Elohim (Allah),” ia berbicara kepada saya tentang nubuatan Alkitab, dia mengatakan bahwa kembalinya orang Yahudi adalah pra-rencana  Elohim (Allah Israel) dan terpenuhi. Dia juga mengatakan kepada saya tentang banyaknya kejadian di masa depan harus dipenuhi dalam generasi kita yang mana sekarang ada dipermukaan setiap hari, dia mengatakan kepada saya tentang  para Meshiah (Kristus atau al-Masih) sesat dan palsu, tetapi semua itu tak banyak berpengaruh, karena hati saya telah diset pada memerangi orang Yahudi.

Ibuku dipengaruhi oleh beberapa Misionaris Amerika, yang diam-diam ia meminta untuk membaptisnya, dan ketika dia menolak untuk dibaptis di kolam yang penuh ganggang hijau, misionaris harus memohon ke YMCA di Yerusalem untuk mengosongkan kolam renang dari laki-laki, dan ibu saya dibaptis, tidak ada yang tahu dari keluarga kami.

Sering kali ibu saya membawa saya berkunjung ke beberapa museum di Israel, dan aku jatuh cinta dengan arkeologi, dan terpesona dengan itu, dalam banyak argumen dengan dia aku terus terang berkata bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen mengubah Alkitab, dia menjawab dengan membawa saya ke museum gulungan kitab suci di Yerusalem dan menunjukkan padaku kitab Yesaya, masih utuh tidak ada satu pengambilan gambar-gambar dari apapun kesalah Alkitab untuk membuktikan suatu korupsi, dan saya tidak bisa menanggapi ibuku.

Saya ingat ketika aku masih menyiksa ibu saya dengan menyebut dia seorang “kafir” dan Imperialis Amerika terkutuk yang menyatakan bahwa Yeshua adalah Anak Elohim. Aku akan menunjukkan padanya gambar-gambar di surat kabar tentang para remaja seharusnya martir sebagai akibat kekerasan dan menuntut dia untuk menjawab, saya benci dia dan selalu minta kepada ayahu saya ntuk menceraikannya dan menikah kembali dengan seorang wanita Muslim yang baik.
Orang tua saya khawatir banyak tentang saya saat aku dilempar ke dalam penjara oleh tentara Israel, ibu saya pergi kepada Perwakilan Amerika di Yerusalem untuk mencoba mengeluarkan saya, ia begitu stres rambutnya mulai gugur, di penjara saya belajar lebih banyak tentang seni terorisme dan ketika saya keluar saya lebih fanatik daripada sebelumnya.

Ketika saya lulus dari sekolah tinggi mereka mengirim saya ke Amerika Serikat untuk mencari perguran tinggi, dan tentu saja saya terlibat dengan banyak kegiatan sosial dan politik anti-Israel. Aku masih ingat lelucon sakit favorit saya, memberitahu teman-teman saya, bahwa saya benci Hitler sangat banyak karena dia tidak pernah menyelesaikan pekerjaan, yaitu: ia tidak pernah menyelesaikan masalah  orang Yahudi “sekali dan untuk semua”. [maksud Walid ialah memusnahkan orang Yahudi selama-lamanya. Alkitab menulis, bangsa Israel akan ada untuk selamanya].

Dengan Hitler menjadi idola saya, dan Muhammad nabi saya, saya melanjutkan hidup saya dengan memandang  rendah orang-orang Yahudi, Kristen, atau siapa saja yang tidak Muslim. Saya percaya bahwa suatu hari seluruh dunia akan menerima Islam, inilah yang diajar orang Muslim, mereka juga mengajarkan bahwa Muhammad adalah satu-satunya penebus kami dan nabi yang disukai Elohim.

Saya akan jujur; Sepanjang hidupku saya takut setiap kali saya membaca Quran, dari ayat satu ke ayat yang lainnya selalu ancaman api neraka untuk dosa ini dan itu, aku selalu bertanya-tanya tentang takdir saya, hilang dalam ketakutan dan keraguanku, aku benar-benar benci terhadap gagasan membunuh untuk keselamatan saya.

Pada suatu waktu di tahun 1992 saya terpesona ketika saya membaca sebuah buku  berjudul ARMAGEDDON, Appointment With Destiny, (Armageddon, Pertemuan janji dengan Tujuan,” oleh Grant Jeffrey. Beberapa hal yang dijelaskan dalam buku ini terdapat banyak nubuat terperinci tentang Yeshua: kelahiran, kehidupan, kematian dan kebangkitan-Nya, dan penciptaan kembali negara Israel. Banyak dari nubuatan yang terjadi tepat sebagaimana Elohim meletakkan mereka di dalam Alkitab! Yang juga mengagumkan saya, adalah untuk mengetahui –peluang-peluang bagi seorang manusia untuk memprediksi ratusan peristiwa bersejarah yang ditulis ratusan dan ribuan tahun sebelum mereka genap adalah satu dalam milyaran … apa yang lebih menarik adalah bahwa margin kesalahan haruslah ada nol (tidak ada sama sekali), khususnya ketika penggenapan dari banyaknya nubuat-nubuat ini adalah terjadi dalam generasi saya.

Pergumulan dimulai, saya bingung, bagaimana mungkin Alkitab ada palsu dan telah dikorupsi oleh orang-orang Yahudi jika tanah di mana saya telah menjadi besar telah berbicara dan berteriak, sebagaimana ribuan kepingan bukti arkeologi muncul dari tanah Israel, meneguhkan Alkitab, dan kitab Yesaya yang ditemukan di gua-gua Qumran oleh seorang Muslim kota tetangga Betlehem yang bernama Muhammad Deib, ia sedang mencari domba yang hilang, dari penemuan itu mereka menemukan sisa dari Perjanjian Lama yang mengkonfirmasikan Alkitab Perjanjian Lama di tangan kita hari ini dengan ratusan ayat-ayat yang meramalkan kedatangan Yeshua Ha Mashiah.

Saya harus membaca (past perfect tents) Alkitab untuk mengetahui siapakah Yeshua sesungguhnya adalah, dan akhirnya Elohim melayakkan saya mengerti sesungguhnya, saya membaca apa yang Yeshua katakan:

“Aku adalah Alfa dan Omega, firman Elohim YAHWEH, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.” (Wahyu 1:8)
Mashiah berkata juga kepada orang-orang Yahudi:
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku (I AM, God) telah ada.” (Yoh. 8:58)

Itu mengejutkan saya menemukan klaim-klaim sejenis antara Yeshua dan Mohammad. Klaim ini serius, sebagaimana Mohammad berkata:

“Aku adalah awal dari semua ciptaan dan nabi terakhir”,
dia juga mengatakan:
“Aku adalah nabi Allah, sementara Adam masih dibentuk dari tanah liat”,

Dan lebih lanjut ia mengklaim ada sebagai pendoa syafaat untuk para Muslim di hari Penghakiman, melalui semua klaim ini ia menjadi nabi terakhir dunia dan penyelamat.

Hal-hal ini telah membingungkan saya. Jika Muhammad mengklaim semua apa yang ia telah klaim maka siapakah Yeshua yang telah mengklaim sebagai penebus dan juruselamat kita, pertanyaan ini mengganggu saya banyak sekali, satu dari dua klaim pastilah ada bohong, jika ada dua penebus ini tentunya ada berhubungan dengan Elohim, sebab Elohim adalah satu-satunya penebus.

[Salah satu dari keduanya ini] Ha Mashiah atau Muhammad harus menjadi penebus dan perantara bagi umat manusia, Alkitab atau Quran harus benar. Saya menyadari bahwa kematian nabi Islam berbeda dari kematian Yesus, seperti Muhammad meninggal di pangkuan favorit istrinya “Aisha” sementara Yeshua mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia.

Bersumpah untuk membuat keputusan untuk “Kebenaran”, saya telat tidur sampai beberapa malam membandingkan banyak detail antara Quran dan Alkitab, di beberapa titik selama penelitian saya berdoa berkata: “ELOHIM, Engkau adalah pencipta langit dan bumi, Elohim Abraham, Musa, dan Yakub, Engkau adalah permulaan dan akhir, Engkau adalah ‘Kebenaran’, ‘satu-satunya Kebenaran’, pembuat kitab yang sejati, satu-satunya dan firman Elohim, Saya menderita untuk menemukan kebenaran-Mu, saya ingin melakukan kehendak-Mu dalam hidup saya, saya merindukan kasih-Mu dan dalam nama ‘Kebenaran’ aku meminta. AMIN!!!”

Hal itu mengejutkan saya menemukan bahwa Muslim dan seluruh Dunia mengakui tiga agama utama yang menyembah Elohim (God/Allah), meskipun Elohim berkata bahwa Dia adalah Satu dan Firman-Nya adalah Satu.

Saya dulu buta, tetapi hanya dengan Alkitab saya telah mulai melihat, maksud saya benar-benar MELIHAT!!!, dengan begitu banyak nubuatan Alkitab terpenuhi, menunjukkan kembalinya Israel dari kuburan. Yahweh mulai menunjukkan pengaruh setan yang telah mempengaruhi cara berpikir saya terlepas dari latar belakang Islamku yang mana saya telah biasa berpikir itu berasal dari Elohim.

Saya juga belajar bahwa Yeshua, orang yang berasal kampung saya ‘Beth-Lechem’ (Betlehem), yang berarti ‘Rumah Roti’, ketika ia berkata:

“Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. (Yohanes 6:35)

Kebenaran di depan mata saya sendiri, terus-menerus mengetuk hatiku, dan ingin masuk. Saya telah memanggil Kebenaran dan Ia telah menjawab, aku dulu buta dan mencari kebenaran, dan sekarang saya melihat, Dia telah mengetuk pintu saya dan saya telah membukanya, dan sekarang Ia telah membebaskan saya! Mashiah berkata:
Kata Yeshua kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yohanes 14:6)

Cara saya berpikir, perasaan saya, dan tujuan saya dalam hidup mulai berubah, mengetahui Kebenaran telah mentransfer cara berpikir saya dari percaya Hitler kepada percaya Mashiah, dari percaya kebohongan kepada mengetahui kebenaran, dari sakit rohani menjadi sembuh, dari hidup dalam kegelapan kepada melihat cahaya, dari terkutuk menjadi diselamatkan, dari keraguan kepada iman, dari benci kepada mengasihi, dan dari perbuatan jahat kepada kasih karunia Elohim melalui Ha Mashiah. Transformasi ini mengajarkan saya bahwa tanpa firman elohim (yang benar) hal-hal dapat terlihat baik di permukaan tetapi dalam intinya terletak penipuan. Saya lalu menerima Yeshua Ha Mashiah, sebagai Tuanku dan Juruselamat, yang mati untuk semua dosa kita, kepada Dia saya taat.

Yeshua berkata:

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (Matius 11:28)

Terima kasih Adonai Yeshua untuk penggenapan janji-Mu.

Jika Anda berkendak menghubungi Walid, Anda dapat mengirim e-mail ke padanya. [Dapat ditemukan di www.bible-koran.com]

Kesaksian lainnya dari bible-loran.com dapat ditemukan di sini:

  1. My testimony
  2. Mohammed: I knew the one true God
  3. Testimony of Siniraj Mohammed
  4. Thayer: Mhightier than death
  5. Son of the desert
  6. The testimony of Leah
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Son of Hamas (Putra Hamas). Bab 25-Bagian Akhir

Bab 25 – Saleh
Musim Dingin 2003 – Musim Semi 2006

Tidak sukar untuk mengetahui di mana Saleh dan teman²nya baru saja berada sebelumnya. Darah yang mereka tinggalkan di tempat kejadian sangatlah jelas. Tapi sampai sekarang tiada seorang pun yang bisa menangkap mereka.

Keterangan dari Shin Bet bahwa mereka telah menemukan Saleh membuat hatiku sedih. Saleh adalah teman dekatku. Dia telah menolongku dalam studiku. Aku telah makan bersamanya dan istrinya, dan aku telah bermain-main dengan anak²nya. Tapi Saleh juga adalah seorang teroris. Dulu sewaktu dia dipenjara oleh PA, dia terus belajar melalui Universitas Terbuka Al-Quds dan menggunakan apa yang dipelajarinya untuk menjadi perakit bom yang hebat, sehingga dia bahkan bisa membuat bom dari bahan² di tempat sampah.

Setelah Saleh keluar dari penjara PA, Shin Bet mengawasi dia dan teman²nya untuk mengetahui berapa lama yang dibutuhkan mereka untuk membangun kembali Brigade Al-Qassam. Ternyata mereka tak butuh waktu lama. Organisasi yang baru memang tidak sebesar yang lama, tapi tetap mematikan.

Maher Odeh adalah otak operasi pemboman; Saleh adalah teknisi perakit bom; dan Bilal Barghouti merekrut pelaku bom bunuh diri. Sebenarnya, bagian militer Hamas hanya terdiri dari sepuluh orang yang masing² bekerja sendiri², memiliki dana tersendiri, dan tidak pernah saling bertemu kecuali jika ada urusan yang sangat penting. Saleh bisa menghasilkan beberapa sabuk bom bunuh diri dalam semalam saja, dan Bilal memiliki daftar orang² yang bersedia mati syahid melakukan serangan bom bunuh diri.

Jika aku yakin Saleh tidak bersalah, aku tentu akan memperingatkan bahwa dia akan segera diciduk. Tapi ketika akhirnya kami menghubungkan berbagai kejadian dan informasi, aku menyadari bahwa dia sebenarnya bertanggung jawab atas pemboman Universitas Ibrani dan tempat² lainnya. Aku mengerti bahwa dia harus dipenjara. Mungkin yang seharusnya kulakukan dulu adalah memperkenalkan ajaran Yesus padanya dan mengajaknya mengikuti ajaran tersebut, sama seperti yang telah kulakukan. Tapi aku juga tahu betul bahwa dia terlalu dibutakan oleh amarah, semangat balas dendam, dan kesetiaan pada Islam sehingga tak akan sudi mendengar nasehat temannya. Aku lalu memohon pada Shin Bet untuk menangkap Saleh dan orang² buronan lainnya dan jangan membunuh mereka. Meskipun awalnya sangat ragu, mereka akhirnya setuju.

Agen² keamanan Israel telah mengamati Saleh selama lebih dari dua bulan. Mereka tahu saat dia meninggalkan apartemennya untuk bertemu dengan Hasaneen Rummanah di sebuah rumah kosong. Mereka juga melihat saat dia kembali pulang, dan tetap tinggal di tempatnya selama seminggu. Mereka melihat teman Saleh bernama Sayyed al-Syeikh Qassem lebih sering keluar meninggalkan tempatnya, tapi lalu kembali pulang. Mereka sangat berhati-hati, sehingga sukar dilacak. Tapi begitu jejak mereka tercium, yang Shin Bet perlu lakukan hanyalah menyelusuri siapa para penghubung di sekitar mereka, yang ternyata jumlahnya mencapai empat puluh sampai lima puluh orang.

Kami telah menemukan tiga dari lima orang yang paling kami cari. Dua orang lainnya yakni Ibrahim Hamed dan Maher Odeh masih buron. Kami harus membuat keputusan apakah kami tetap harus menunggu sampai ada penghubung kepada kedua buronan itu, atau segera mematahkan tulang punggung Brigade Al-Qassam di Tepi Barat dengan menangkapi orang² yang sudah kami ketahui lokasinya. Kami menetapkan untuk melakukan pilihan kedua, dengan pertimbangan keadaan mungkin tidak akan jadi lebih menguntungkan, dan kemungkinan bisa menangkap Hamed atau Odeh jika mendapat keterangan tentang mereka dari tawanan² lainnya.

Di suatu malam tanggal 1 Desember, 2003, pasukan keamanan khusus mengepung lebih dari lima puluh lokasi yang dicurigai pada waktu yang bersamaan. Semua pasukan yang ada dipanggil dari seluruh Tepi Barat. Para ketua Hamas berkumpul di gedung Al-Kiswani di Ramallah, dan mereka tidak bereaksi ketika diminta menyerah. Saleh dan Sayyed punya banyak senjata, termasuk senapan otomatis berat, dan senapan tempur yang biasanya digunakan di kendaraan² militer.

Baku tembak dimulai pada jam 10 malam dan terus berlansung sampai larut malam. Ketika saling tembak dimulai, aku bisa mendengarnya dari rumahku. Lalu terdengar tembakan kanon tank Merkava yang khas menggelegar di pagi hari dan setelah itu tak terdengar apapun lagi. Pada jam 6 pagi, teleponku berdering.

“Temanmu sudah mati,” kata Loai padaku. “Maaf sekali. Kau tentunya tahu kami sudah berusaha untuk tidak membunuh jika memang keadaan memungkinkan. Tapi kuberitahu ya. Jika orang ini …” suara Loai terhenti dan dia melanjutkan lagi, “jika orang ini tumbuh besar di lingkungan lain, dia tentunya tidak akan jadi seperti itu. Dia akan jadi orang biasa seperti kita. Dia mengira, dan dia benar² yakin, bahwa apa yang dilakukannya adalah baik bagi masyarakatnya. Tapi dia sangat salah.”

Loai tahu aku mengasihi Saleh dan tidak ingin dia mati. Dia tahu bahwa Saleh berjuang melawan sesuatu yang dia yakini sebagai hal yang jahat dan merugikan masyarakatnya. Dan mungkin karena itu pula, Loai juga jadi peduli akan nasib Saleh.
“Apakah mereka semua mati?”
“Aku belum melihat tubuh² mereka. Mereka membawa mayat² korban ke Rumah Sakit Ramallah. Kami ingin kau pergi ke sana juga untuk mengenali mayat² tersebut. Kau satu²nya yang mengetahui orang² ini.”

Aku ambil jaketku dan menyetir ke rumah sakit, dengan sangat berharap mayat Saleh tidak berada di situ dan mungkin Saleh tidak terbunuh. Ketika aku tiba, keadaan di rumah sakit kacau-balau. Para aktivis Hamas yang marah berteriak-teriak di jalanan, dan terlihat banyak polisi dimana pun. Tiada seorang pun yang boleh masuk ke dalam, tapi karena semua tahu siapa aku, maka petugas rumah sakit mempersilakan aku masuk. Seorang petugas medis membimbingku ke ruangan pendingin. Dia membuka pintu kulkas dan dengan perlahan menarik sebuah laci yang mengeluarkan semerbak kematian di seluruh ruangan.

Aku melihat ke dalam laci itu dan tampak wajah Saleh. Dia tampak hampir tersenyum. Tapi sebagian besar kepalanya telah hilang. Laci Sayyed terdiri dari kumpulan bagian² tubuh – kaki², kepala, dan lain² – semuanya dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam. Hasaneen Rummanah telah terbelah dua. Aku tidak yakin bahwa itu adalah dia karena wajahnya bercukur dan Hasaneen selalu berjanggut coklat lembut. Meskipun media melaporkan bahwa Ibrahim Hamed juga berada diantara orang² yang terbunuh, pada kenyataannya, dia masih belum tertangkap. Ibrahim memerintahkan orang² ini untuk bertempur sampai mati, tapi dia sendiri lebih memilih melarikan diri menyelamatkan nyawanya.

Karena pada hakekatnya semua ketua Hamas di Tepi Barat mati atau sedang dipenjara, maka aku jadi penghubung bagi para pemimpin Hamas lainnya di Gaza dan Damaskus. Aku juga jadi penghubung utama seluruh jaringan organisasi², sekte², dan sel² di Palestina – termasuk sel² teroris. Juga hanya segelintir orang² Shin Bet yang mengetahui siapa aku sebenarnya. Hal ini sebenarnya sungguh mengherankan.

Karena peranan baruku ini, maka aku pun dengan sedih harus mengurus penguburan Saleh dan rekan²nya. Ketika aku melakukan hal ini, aku mengamati setiap gerakan dan mendengar setiap bisikan marah dan sedih orang² di sekitarku, yang mungkin bisa mengungkapkan di mana Ibrahim Hamed bersembunyi.

“Karena kabar burung sudah terbang ke mana²,” kata Loai, “dan kau duduk menggantikan para pemimpin yang kami tangkap, mari kita buat berita bahwa Ibrahim Hamed bekerja sama dengan Shin Bet. Masyarakat Palestina umumnya tidak mengetahui apa yang terjadi sehingga mereka akan percaya berita seperti ini. Akibatnya, Ibrahim Hamed harus keluar dari persembunyiannya untuk membela diri di muka umum atau setidaknya menghubungi pemimpin² politik Hamas di Gaza atau Damaskus. Apapun pilihannya, kita mungkin bisa melacaknya.”

Itu adalah gagasan yang baik, tapi ditolak oleh boss-nya karena khawatir Ibrahim akan membom penduduk sipil sebagai aksi balas dendam – ini sungguh pertimbangan yang tak masuk akal karena Ibrahim tentunya sudah sangat marah atas kematian teman²nya dan penangkapan separuh anggota organisasinya. Maka kami pun menerapkan cara lain yang lebih sulit dilakukan.

Agen² Shin Bet menempatkan alat² penyadap suara di rumah Ibrahem Hamdi, dengan harapan istri dan anak²nya tanpa sengaja mengatakan dimana dia berada. Tapi ternyata rumah itu adalah rumah tersepi di Palestina. Sekali waktu kami mendengar putranya yang paling bungsu, Ali, bertanya pada ibunya, ”Mana ayah?”
“Kita tidak membicarakan tentang hal itu sama sekali,” bentak ibunya.
Jika keluarganya saja sudah sedemikian berhati-hati, tentunya terlebih lagi Ibrahim Hamed. Bulan² berlalu tanpa ada jejak darinya.

***************

Di akhir bulan Oktober 2004, Yasser Arafat jatuh sakit saat rapat. Orang² di sekitarnya mengatakan dia sakit flu. Tapi keadaannya semakin memburuk, dan dia akhirnya diterbangkan dari Tepi Barat ke rumah sakit di luar kota Paris. Di tanggal 3 November, dia jatuh koma. Seseorang berkata bahwa dia sebenarnya telah diracun. Yang lain berkata dia kena AIDS. Dia mati di tanggal 11 November di usia tujuh puluh tiga tahun.

Seminggu lebih kemudian, ayahku dibebaskan dari penjara, dan tiada seorang pun yang lebih kaget atas pembebasannya selain dia sendiri. Loai dan beberapa pejabat Shin Bet bertemu dengannya di pagi hari dia dilepaskan dari penjara.

“Syeikh Hassan,” kata mereka, “sudah saatnya untuk mengadakan perdamaian. Orang² di luar memerlukan orang seperti kau. Arafat sudah wafat; sudah banyak orang yang terbunuh. Kau adalah orang yang bisa berpikir terang. Kita harus melakukan sesuatu bersama sebelum keadaan jadi memburuk.”

“Tinggalkan Tepi Barat, dan beri kami negara berdaulat,” jawab ayah, “dan masalah akan berakhir.” Tentu saja baik ayah maupun Shin Bet tahu bahwa Hamas tetap akan terus menyerang sampai negara Israel tidak ada lagi, meskipun negara Israel yang berdaulat mungkin bisa mendamaikan sekitar satu atau dua dasawarsa.

Di luar Penjara Ofer, aku menunggu bersama ratusan wartawan dari seluruh dunia. Sambil membawa barang² miliknya dalam sebuah kantung plastik hitam, ayah memicingkan mata karena silau sinar mentari sewaktu dua orang prajurit Israel membimbingnya keluar pintu.

Kami berpelukan dan berciuman, dan dia memintaku untuk segera membawanya ke kuburan Yasser Arafat sebelum kami pulang. Aku melihat matanya dan mengerti bahwa ini merupakan langkah yang sangat penting baginya. Karena Arafat telah mati, Fatah menjadi lemah dan jalanan kembali penuh dengan kekerasan. Para pemimpin Fatah khawatir Hamas akan mengambil alih kekuasaan dan usaha ini akan mengobarkan perang saudara. Amerika Serikat, Israel, dan masyarakat internasional juga takut hal itu akan terjadi. Kunjungan ketua top Hamas di Tepi Barat ke kuburan Arafat mengejutkan semua orang, tapi tiada seorang pun yang tak menangkap pesannya: Tenanglah, semua pihak. Hamas tidak akan mengambil kesempatan dari kematian Arafat. Tiada perang saudara.

Sebenarnya, setelah satu dasawarsa menangkap, memenjarakan, dan membunuh, Shin Bet masih saja tidak tahu siapakah yang berkuasa dalam Hamas. Dan tiada seorang pun yang tahu. Aku telah menolong mereka menangkap aktivis² buronan, orang² yang sangat terlibat dalam gerakan perlawanan, dengan harapan kami bisa menangkap orang² yang mengatur Hamas. Kami memenjarakan orang² sampai bertahun-tahun, kadang² hanya karena kecurigaan saja. Tapi Hamas tampak tidak kehilangan apapun.

Maka, siapakah sebenarnya yang mengatur Hamas?
Fakta bahwa yang berkuasa atas Hamas bukanlah ayahku tentunya mengejutkan siapapun – bahkan aku sendiri. Kami menyadap kantor dan mobilnya, memonitor setiap gerakannya. Dan sudah jelas bahwa dia bukanlah yang memberi perintah.

Hamas itu bagaikan hantu. Dia tidak punya pusat pemerintahan atau kantor² cabang, tiada tempat di mana orang bisa berkunjung untuk bicara dengan wakil organisasi. Banyak orang² Palestina yang berkunjung ke kantor ayahku, menyampaikan masalah² mereka, dan minta tolong, terutama para keluarga tawanan dan yang terbunuh yang kehilangan suami² dan bapak² mereka dalam intifada. Tapi bahkan Syeikh Hassan Yousef sendiri tidak sanggup menolong mereka. Setiap orang mengira dia punya jawaban masalah, tapi dia sebenarnya tidak berbeda dengan kami semua: dia tak punya jawaban.

Suatu kali dia memberitahuku bahwa dia sedang mempertimbangkan menutup kantornya.
“Mengapa? Di mana kau akan bertemu dengan media?” tanyaku.
“Aku tak peduli. Orang² datang dari mana², berharap aku bisa menolong. Tapi aku tak mungkin bisa menyediakan dana bagi yang membutuhkan; terlalu banyak yang datang minta tolong.”
“Mengapa Hamas tidak membantu mereka? Mereka adalah sanak keluarga para anggota Hamas. Hamas kan punya banyak uang.”
“Ya, tapi organisasi Hamas tidak memberikannya padaku.”
“Ya minta saja dong. Katakan pada mereka tentang orang² yang butuh bantuan.”
“Aku tak tahu siapa mereka atau bagaimana menemui mereka.”
“Tapi kau kan ketuanya,”
protesku.
“Aku bukan ketuanya.”
“Kau mendirikan Hamas, ayah. Jika kau bukan ketuanya, lalu siapa dong?”
“Tiada seorang pun yang jadi ketua!”

Aku sangat terkejut. Shin Bet merekam semua pembicaraan, dan mereka juga terkejut.
Suatu hari, aku menerima telepon dari Majeda Talahme, istri Saleh. Kami belum sempat bicara setelah penguburan suaminya.
“Apa kabar? Bagaimana kabarnya Mosab dan adik²nya?”
Majeda mulai menangis.

“Aku tak punya uang untuk memberi makan anak².”
Aku berpikir, semoga Elohim mengampunimu, Saleh, atas apa yang kau perbuat terhadap keluargamu!
“Baiklah, saudaraku, tenang, dan aku akan mencoba berbuat sesuatu.”
Aku lalu menemui ayah.
“Istri Saleh baru saja menelepon. Dia tidak punya uang untuk membeli makanan bagi anak²nya.”
“Sedihnya, Mosab, dia bukanlah satu²nya yang mengalami masalah seperti itu.”
“Ya, tapi Saleh adalah sahabatku. Kita harus segera berbuat sesuatu!”
“Nak, aku sudah memberitahu padamu. Aku tak punya uang.”
“Oke, tapi mestinya ada seseorang yang mengatur keuangan. Seseorang yang punya banyak uang. Ini sungguh tak adil! Saleh mati demi perjuangan Hamas!”

Ayahku mengatakan dia akan melakukan apa yang dia bisa. Dia menulis surat, yang kedengarannya seperti “bagi yang bersangkutan,” dan memasukkan surat ke dalam kotak pesan. Kami tidak bisa menelusuri siapa yang akan menerima surat itu, tapi kami tahu orang itu berada di Ramallah.

Beberapa bulan sebelumnya, Shin Bet telah mengirim aku ke sebuah warung internet di tengah kota. Kami tahu seseorang menggunakan salah satu komputer di warung itu untuk berkomunikasi dengan pemimpin² Hamas di Damaskus. Kami tidak tahu siapa para pemimpin tersebut, tapi tak disangsikan lagi bahwa Syria merupakan pusat kekuatan Hamas. Sudah masuk akal jika Hamas ingin mengontrol seluruh organsasi – kantor, persenjataan, dan kamp² militer – diluar jangkauan palu Israel.

“Kami tidak tahu siapa yang berhubungan dengan Damaskus,” kata Loai, “tapi tampaknya orang ini berbahaya.”

Sewaktu aku berjalan masuk ke warung internet tersebut, aku melihat dua puluh orang duduk di depan komputer² yang tersedia. Tiada seorang pun yang berjenggot. Tiada yang tampak mencurigakan. Tapi salah seorang dari mereka menarik perhatianku, meskipun aku tidak tahu mengapa. Aku tidak mengenalnya, tapi naluriku mengatakan bahwa aku harus mengawasi orang ini. Aku tahu ini hanya dugaan saja, tapi setelah bertahun-tahun bekerja sama, Shin Bet tahu bahwa mereka bisa percaya pada naluriku.

Kami yakin bahwa siapapun orang ini , dia kemungkinan berbahaya. Hanya orang yang sangat dipercaya saja yang bisa berkomunikasi dengan para pemimpin Hamas di Damaskus. Kami berharap dia akan membimbing kami untuk mengetahui siapa sebenarnya yang berkuasa atas Hamas. Kami sebarkan foto wajahnya, tapi tiada seorang pun yang mengenalnya. Aku mulai mempertanyakan ketajaman naluriku.

Beberapa bulan kemudian, aku berusaha menjual sebuah rumah di Ramallah. Beberapa orang datang untuk melihat, tapi tiada seorang pun yang mengajukan tawaran. Di sore harinya, ketika aku telah menutup rumah itu dan pulang, seseorang meneleponku dan bertanya apakah aku masih berada di rumah tersebut. Aku saat itu sudah sangat lelah, tapi aku mempersilakannya berkunjung dan bertemu denganku di rumah itu. Aku kembali ke rumah yang akan kujual, dan tak lama kemudian orang itu datang.

Ternyata orang ini adalah orang yang kucurigai di warung internet. Dia mengatakan namanya adalah Aziz Kayed. Dia bercukur rapih dan tampak sangat profesional. Aku bisa menduga bahwa dia berpendidikan tinggi, dan dia mengatakan bahwa dia memiliki pusat pendidikan Islam bernama Al-Buraq Center yang dihormati. Kelihatannya dia bukanlah orang yang kami cari. Tapi daripada membuat Shin Bet semakin bingung, aku tidak mengatakan pada siapapun.

Tak lama setelah bertemu dengan Kayed, ayah dan aku mengunjungi berbagai kota, desa, dan kamp² penampungan di seluruh Tepi Barat. Di satu kota, lebih dari 50.000 orang berkumpul untuk bertemu dengan Syeikh Hassan Yousef. Mereka semua ingin menyentuhnya dan mendengar apa yang akan dia katakan. Dia masih sangat dicintai masyarakat.

Di Nablus, yang merupakan pusat Hamas yang kuat, kami bertemu dengan para pemimpin organisasi, dan aku bisa menebak siapa dari mereka yang menjadi anggota² konsul shurah – kelompok kecil beranggotakan tujuh orang yang membuat keputusan akan masalah strategis dan kegiatan sehari-hari gerakan di daerah mereka. Sama seperti ayah, mereka juga merupakan ketua² Hamas yang paling senior, tapi mereka bukanlah “pembuat keputusan” yang sedang kami cari.

Setelah bertahun-tahun, aku tidak percaya bahwa kontrol akan Hamas ternyata sudah terlepas dan jatuh ke tangan² yang tak diketahui. Jika aku sendiri, yang lahir dan dibesarkan di jantung Hamas, tidak tahu siapakah yang berperan menggerakkan Hamas, lalu siapa yang bisa tahu?

Jawabannya datang tiba² saja, entah dari mana. Salah seorang konsul shurah di Nablus menyebut nama Aziz Kayed. Dia menganjurkan agar ayah mengunjungi Al-Buraq dan bertemu dengan “orang baik” ini. Kupingku tiba² menjadi sangat waspada. Mengapa ketua Hamas lokal memberi anjuran seperti itu? Terlalu banyak kebetulan yang tampak: pertama, Aziz tampak mencurigakan di warung internet; lalu dia muncul di tempat aku menjual sebuah rumah; dan sekarang, anggota konsul memberitahu ayah untuk bertemu dengan orang ini. Apakah ini pertanda bahwa naluriku benar dan Aziz Kayed adalah seorang penting dalam organisasi Hamas?

Apakah kami demikian beruntung sehingga menemukan orang yang paling berkuasa? Meskipun masih ragu, aku tetap mengikuti naluriku. Aku kembali dengan cepat ke Ramallah, menelepon Loai dan memintanya untuk mencari keterangan tentang Aziz Kayed melalui komputer.

Beberapa Aziz Kayed muncul, tapi tak seorang pun cocok dengan keterangan akan yang dicari. Kami lalu mengadakan rapat darurat, dan aku meminta Loai memperluas pencarian nama Aziz Kayed di seluruh Tepi Barat. Mereka mengira aku gila, tapi tetap melaksanakan permintaanku.

Kali ini, kami menemukan keterangan tentang dirinya.
Aziz Kayed lahir di Nablus dan bekas anggota gerakan pelajar Islam. Dia menghentikan aktivitasnya sepuluh tahun yang lalu. Dia menikah dan punya beberapa anak, dan bisa dengan bebas keluar masuk negara Israel. Kebanyakan dari temannya adalah orang² sekuler. Kami tak menemukan keterangan yang mencurigakan.
Aku menjelaskan pada Shin Bet semua yang terjadi, dari saat aku melihatnya di warung internet sampai pada kunjungan ke Nablus bersama ayahku. Mereka mengatakan bahwa meskipun mereka sangat percaya padaku, kami tidak mempunyai cukup bukti.
Ketika kami sedang bicara, aku teringat sesuatu.

“Kayed mengingatkanku akan tiga orang yang kukenal,” kataku pada Loai. “Salah Hussein dari Ramallah, Adib Zeyadeh dari Yerusalem, dan Najeh Madi dari Salfeet. Ketiga orang ini punya gelar sarjana dan pernah aktif di Hamas. Tapi karena suatu alasan, mereka tiba² menghilang begitu saja sepuluh tahun yang lalu. Sekarang mereka hidup normal, tidak berhubungan dengan kegiatan politik apapun. Aku heran mengapa orang yang tadinya begitu bersemangat dengan Hamas, tiba² saja berhenti.”

Loai setuju bahwa mungkin hal ini perlu dicurigai. Kami mulai mempelajari kegiatan tiap orang tersebut. Ternyata ketiga orang ini masih berkomunikasi satu sama lain dan juga dengan Aziz Kayed. Mereka semua bekerja bagi Al-Buraq. Ini jelas lebih dari sekedar kebetulan saja.

Apakah keempat orang ini adalah para penggerak Hamas, bahkan mengontrol bagian militer Hamas pula? Apakah mereka selama ini menghindar radar pengamatan kami sewaktu kami mengarah pada tokoh² Hamas yang telah diketahui umum? Kami terus memonitor, menggali keterangan, dan menunggu. Akhirnya kesabaran kami terbayar dengan memuaskan.

Kami mengetahui bahwa keempat pria berusia 30-an ini menguasai total keuangan Hamas dan mengatur seluruh kegiatan Hamas di Tepi Barat. Mereka membawa uang sebesar jutaan dollar dari luar negeri, yang lalu mereka gunakan untuk membeli persenjataan, bom², merekrut sukarelawan, melindungi para buronan, menyediakan logistik, semuanya – semuanya dilakukan di bawah Al-Buraq, yang merupakan salah satu badan pendidikan Islam yang tampaknya tidak berbahaya.

Tiada yang tahu akan mereka. Mereka tidak pernah muncul di TV. Mereka hanya berkomunikasi melalui surat² yang dimasukkan ke dalam kotak² pesan. Sudah jelas bahwa mereka tidak percaya siapapun – buktinya bahkan ayahku sendiri tidak tahu keberadaan mereka.

Suatu hari, kami mengikuti Najeh Madi dari apartemennya ke penyewaan garasi umum yang jaraknya satu blok dari rumahnya. Dia berjalan ke salah satu bagian dan mengangkat pintu penutup ruang garasi. Apa yang dilakukannya di situ? Mengapa dia menyewa sebuah garasi tertutup yang jauh dari rumahnya?

Selama dua minggu, kami terus mengamati garasi sialan itu, tapi tiada yang datang mengunjungi tempat itu. Akhirnya pintu garasi dibuka – bukan dari luar, tapi dari dalam – dan Ibrahim Hamed keluar dari garasi tersebut!

Shin Bet menunggu cukup lama sampai dia kembali ke dalam garasi sebelum akhirnya ditangkap. Tapi ketika Ibrahim Hamed dikepung pasukan keamanan khusus, dia tidak berkelahi sampai mati seperti yang dia perintahkan pada Saleh dan teman²nya yang lain.
“Lepaskan bajumu dan keluar!”
Tiada jawaban.
“Kau punya waktu sepuluh menit. Setelah itu kami akan menghancurkan gedung!”

Dua menit berlalu, pemimpin bagian militer Hamas di Tepi Barat berjalan keluar pintu dengan hanya mengenakan celana dalam.
“Lepaskan semua bajumu!”
Dia ragu², lalu melepas celana dalamnya, dan berdiri telanjang di hadapan para prajurit Israel.

Ibrahim Hamed secara pribadi bertanggung jawab atas kematian lebih dari delapan puluh orang yang bisa kami buktikan. Mungkin kedengarannya tidaklah seperti anjuran Yesus, tapi jika semuanya terserah padaku, aku akan mengembalikan dia ke dalam garasi joroknya, menguncinya dalam tempat itu seumur hidup, dan Pemerintah Israel tidak perlu membayar ongkos proses pengadilan bagi dirinya.

Menangkap Ibrahim Hamed dan mengungkapkan pemimpin² Hamas yang sebenarnya merupakan operasi rahasiaku yang paling penting bagi Shin Bet. Dan ini juga merupakan yang terakhir.

Bab 26 – Ramalan bagi Hamas
2005

Saat ayah dipenjara yang terakhir kali, dia seakan mengalami pencerahan illahi.
Ayah adalah orang yang terbuka pikirannya. Dia bersedia duduk dan bicara dengan orang² Kristen, orang² tak beragama, dan bahkan orang² Yahudi. Dia mendengarkan baik² para wartawan, ilmuwan, dan analis, dan dia menghadiri berbagai ceramah di universitas². Dan dia juga mendengarkan aku – yang merupakan pembantu, penasehat, dan pelindungnya. Akibatnya, dia juga jadi berpandangan lebih luas dan bijaksana dibandingkan para pemimpin Hamas lainnya.

Dia melihat Israel sebagai kenyataan yang kekal dan mengakui bahwa banyak tujuan perjuangan Hamas yang tak masuk akal dan tak mungkin bisa dicapai. Dia ingin menemukan titik tengah bagi Israel dan Palestina, dan kedua pihak tak perlu kehilangan muka. Ayah lalu menyampaikan pidato pertama di muka umum setelah keluar dari penjara, dimana dia menyampaikan kemungkinan pemecahan masalah melalui terbentuknya negara Israel dan negara Palestina yang hidup berdampingan. Tiada satu pun ketua Hamas yang pernah mengatakan kemungkinan seperti itu. Paling² yang dulu mereka pernah lakukan hanyalah berjabatan tangan untuk mengumumkan jeda perang barang sebentar saja. Tapi ayahku mengakui hak Israel untuk eksis! Sejak itu, teleponnya terus berdering tak putus²nya.

Para diplomat dari setiap negara, termasuk Amerika Serikat, menghubungi kami untuk meminta bertemu secara rahasia dengan ayah. Mereka ingin tahu apakah dia benar² berpendapat begitu. Aku menjadi penerjemahnya, dan tak pernah meninggalkan sisinya. Teman² Kristenku mendukungnya secara tulus, dan dia mengasihi mereka karenanya.

Tak heran bahwa setelah itu, dia segera menghadapi masalah. Meskipun dia bicara atas nama Hamas, sudah jelas bahwa yang disampaikannya tidak sesuai dengan hati Hamas. Meskipun perasaan ayah sudah tidak sesuai lagi dengan perasaan Hamas, dia tidak bisa meninggalkan Hamas. Kematian Yasser Arafat telah mengakibatkan kekosongan kepemimpinan dan membuat jalanan kembali penuh pertikaian. Pemuda² radikal tampak di mana² – mereka bersenjata, hati mereka penuh kebencian, dan tanpa pemimpin.

Ini bukan berarti sukar mencari pengganti Arafat. Setiap politikus korup bisa saja muncul sebagai Arafat yang baru. Maasalahnya adalah dia telah begitu memusatkan PLO dan PA. Dia bukanlah orang yang bersedia bekerja sama dengan kelompok lain. Dia menguasai semua kekuasaan dan koneksinya. Dan namanya juga tercantum di semua akun bank.

Sekarang Fatah penuh dengan orang² yang ingin jadi seperti Arafat. Tapi siapakah diantara mereka yang bisa diterima oleh seluruh masyarakat Palestina dan international – dan cukup kuat untuk mengontrol berbagai organisasi yang berbeda? Bahkan Arafat sendiri kerepotan melakukan hal itu.

Ketika Hamas mengambil keputusan untuk berpartisipasi dalam pemilu parlemen Palestina beberapa bulan kemudian, ayahku tidak begitu antusias. Setelah sayap militer ditambahkan pada Hamas sewaktu Intifada Al-Aqsa, dia melihat Hamas berubah menjadi makhluk yang asing yang aneh, yang berjalan timpang dengan satu kaki militer yang panjang dan satu kaki politik yang pendek. Sudah jelas bahwa Hamas tidak mampu membentuk negara yang berfungsi sebagaimana adanya.

Untuk melakukan revolusi, diperlukan sikap yang murni dan tegas. Tapi untuk memerintah negara, diperlukan sikap kompromi dan flexibel. Jika Hamas ingin berkuasa, kemampuan berunding bukan hanya sekedar pilihan, tapi bahkan suatu kewajiban. Sebagai orang² yang dipilih masyarakat, mereka harus bertanggung jawab atas anggaran negara, air, makanan, listrik, dan pembuangan sampah. Dan ini semua harus datang dari pihak Israel. Negara Palestina yang mandiri harus bersedia bekerja sama dengan Israel.

Ayahku ingat dalam rapat²nya dengan para ketua negara² Barat, pihak Hamas selalu menolak setiap rekomendasi yang mereka ajukan. Sikap berpikiran sempit dan penuh penolakan itu rupanya sudah mendarah daging pada diri mereka. Dan jika para pemimpin Hamas tidak mau berunding dengan pihak AS dan Eropa, maka, pikir ayahku, bagaimana mungkin mereka akan bersedia berunding dengan Israel?

Ayahku tidak peduli bahwa Hamas punya banyak calon kandidat dalam pemilu. Dia hanya tidak ingin para senior Hamas seperti dirinya, yang dicintai masyarakat dan sangat berpengaruh, ikut serta dalam pemilu bagi Hamas, karena khawatir Hamas nantinya akan menang. Dia tahu bahwa jika Hamas menang pemilu, maka ini merupakan bencana bagi masyarakat. Kejadian di waktu selanjutnya membuktikan bahwa dia benar.

“Sudah jelas ada kekhawatiran dari pihak kami bahwa Israel, dan kemungkinan pihak lain juga, akan menghukum masyarakat Palestina karena mereka memilih Hamas,” aku mendengar ucapannya pada wartawan Haaretz. “Mereka akan berkata ‘kau memilih Hamas dan karenanya kami akan meningkatkan pengepungan terhadapmu dan membuat hidupmu semakin sulit.’” [13]
[13] Danny Rubinstein, “Ketua Hamas: Kau Tak Bisa Menyingkirkan Kami,” Haaretz,

Tapi banyak anggota² Hamas yang tergiur saat mencium bau uang, kekuasaan, dan kemegahan. Bahkan para bekas pemimpin yang sudah tidak aktif lagi, tiba² muncul dalam usaha memenangkan kedudukan dalam pemilu. Ayahku sangat muak dengan sikap serakah, tak bertanggung jawab, dan kebodohan mereka. Orang² ini bahkan tidak bisa membedakan antara CIA dan USAID. Siapa yang mau bekerja bagi mereka?

*******************

Aku juga merasa frustasi dalam berbagai hal.
Aku frustasi dengan korupsi yang terus terjadi dalam PA, kekejaman dan kebodohan Hamas, dan barisan panjang tanpa henti para teroris yang telah dipenjara dan dibunuh. Aku merasa lelah karena harus terus berpura-pura dan menanggung resiko besar setiap hari. Aku ingin kehidupan yang normal.
Ketika aku sedang berjalan-jalan di Ramallah pada bulan Agustus, aku melihat seorang membawa komputernya naik tangga menuju toko reparasi komputer. Tiba² muncul gagasan dalam benakku bahwa mungkin ada prospek baik bagi bisnis perawatan komputer pribadi dan membuat tim kerja seperti America Geek Squad (geek = orang² kikuk tapi sangat melek teknologi) versi Palestina. Sejak aku tak bekerja lagi bagi USAID dan ingin membuka suatu usaha, kupikir sebaiknya gagasan ini direalisasikan saja.

Aku berteman baik dengan manajer IT (Information Technology) di USAID, yang sangat berpengetahuan dalam bidang komputer. Ketika kuberitahu dia akan gagasanku, kami mengambil keputusan untuk jadi partner bisnis bersama. Aku menyediakan dana, dan dia menyediakan kemampuan teknis, dan kami memperkerjakan beberapa insinyur komputer lainnya, termasuk karyawan² wanita agar kami bisa lebih banyak mendorong kemajuan kaum wanita dalam budaya masyarakat Arab.

Kami namai perusahaan kami sebagai Electronic Computer Systems, dan aku juga membuat beberapa iklan untuk mempromosikan perusahaanku. Iklan² kami tampil dengan gambar karikatur seorang pria membawa komputer sambil naik tangga, dan putranya berkata padanya, “Ayah, kau tidak perlu melakukan itu” dan menganjurkan ayahnya untuk menelepon nomer telepon kami.

Panggilan telepon datang dari mana², dan kami tiba² saja jadi sangat sukses. Aku membeli sebuah mobil van untuk perusahaan, dan kami mendapatkan ijin menggunakan produk Hewlett-Packard yang kemudian kami gunakan untuk memperluas jaringan bisnis. Ini merupakan saat yang menggembirakan dalam hidupku. Aku sebelumnya tidak kesulitan uang, tapi kegiatan bisnis ini menyenangkan dan membuatku jadi produktif.

***************

Sejak aku memulai perjalanan rohaniku, aku kadang² membicarakan hal ini dengan rekan² Shin Bet dan kami beberapa kali melakukan pembicaraan yang menarik tentang Yesus dan perubahan imanku.

“Silakan percaya apapun yang kau kehendaki,” kata mereka. “Kau dapat membagi pendapatmu dengan kami. Tapi jangan bilang pada orang² lain. Dan jangan pernah dibaptis, karena ini merupakan pernyataan resmi umum. Jika orang² tahu kau telah jadi pemeluk Kristen dan meninggalkan agama Islam, kau akan menghadapi masalah besar.”

Kupikir mereka sebenarnya lebih khawatir akan masa depan mereka tanpa diriku daripada masa depanku sendiri. Tapi Elohim merubah hidupku sedemikian rupa sehingga aku tidak mungkin bisa tetap seperti sediakala. Suatu hari, temanku Jamal sedang memasak makanan malam bagiku. “Mosab,” katanya, “Aku mempunyai kejutan bagimu.”

Dia mengganti saluran TV dan berkata dengan mata berseri-seri, “Coba lihat program TV Al-Hayat. Kau mungkin tertarik untuk melihatnya.” Aku nonton TV dan melihat mata pendeta Koptik tua Zakaria Botros. Dia tampak baik hati, lemah lembut, dan berkata dengan suara yang dalam dan meyakinkan. Aku suka padanya – sampai aku menyadari apa yang dikatakannya. Dia secara sistematis melakukan bedah Qur’an, membelahnya dan menunjukkan setiap tulang, otot, urat daging, dan organ tubuh, dan lalu mengamati semuanya satu persatu di bawah mikroskop kebenaran dan menunjukkan bahwa seluruh buku Qur’an ternyata mengandung virus kanker.

Kesalahan sejarah dan fakta, kontradiksi² – dia jabarkan semuanya secara persis dan sopan, tapi dengan tegas dan penuh keyakinan. Naluriku pertama adalah ingin marah dan mematikan TV. Tapi perasaan ini hanya berlangsung selama beberapa detik saja sebelum aku menyadari bahwa ini sebenarnya adalah jawaban Elohim atas doa²ku. Bapak Zakaria sedang memotongi semua potongan² daging mati Allâh yang masih menempel padaku, yang masih menghubungkan diriku dengan Islam, dan membutakan diriku pada kebenaran bahwa Yesus adalah benar² Anak Elohim. Sebelum itu, aku tidak bisa mengalami kemajuan dalam mengikuti Yesus. Tapi semua ini tentunya bukanlah perubahan yang mudah. Bayangkan saja rasa sakit yang dialami ketika kau bangun pagi dan menyadari bahwa ayah yang kau kenal selama ini ternyata bukanlah ayahmu yang sebenarnya.

Aku tidak bisa mengatakan dengan tepat kapan hari dan jam aku “jadi Kristen,” karena semua proses ini berlangsung selama enam tahun. Tapi aku tahu bahwa aku sangat ingin dibaptis, tidak peduli Shin Bet bilang apa. Di saat itu, sekelompok orang² Kristen Amerika datang ke Israel untuk tamasya di Tanah Suci dan mendatangi cabang gereja mereka di Yerusalem, yakni gereja yang selama ini kukunjungi.

Tak lama setelah itu, aku berkawan baik dengan seorang gadis dari kelompok tersebut. Aku suka bicara dengannya, dan aku langsung mempercayainya. Ketika aku menyampaikan sedikit kisah rohaniku dengan dirinya, dia sangat mendukung diriku, dan mengingatkanku bahwa Elohim seringkali menggunakan orang² yang tak kau duga untuk melakukan pekerjaanNya. Keterangan ini sangat sesuai dengan pengalamanku.

Di suatu petang ketika kami sedang makan malam bersama di Restoran Koloni Amerika di Yerusalem Timur, temanku bertanya mengapa aku belum juga dibaptis. Aku tidak bisa menjawab bahwa hal itu karena aku adalah seorang agen Shin Bet dan karena aku sangat terlibat dengan semua perkembangan politik dan aktivitas keamanan di daerah itu. Tapi pertanyaannya merupakan pertanyaan yang tepat, dan aku pun sering mempertanyakan hal itu pada diriku sendiri.

“Dapatkah kau membaptisku?” tanyaku.
Dia bilang dia dapat melakukannya.
“Dapatkah kau merahasiakan hal ini diantara kita berdua saja?”
Dia bilang dia sanggup, dan menambahkan, “Pantai tidak jauh letaknya dari sana. Mari kita pergi ke sana.”
“Serius nih?”
“Iya, dong. Mengapa tidak?”
“Baiklah. Mengapa tidak?”

Aku agak bingung ketika kami naik bus untuk pergi ke Tel Aviv. Apakah aku sudah lupa siapa diriku? Apakah aku benar² mempercayai gadis dari San Diego ini? Empat puluh lima menit kemudian, kami berjalan di pantai yang penuh orang, sambil minum minuman di udara petang yang segar dan hangat. Tiada seorang pun dari kumpulan orang ramai itu yang tahu bahwa putra ketua Hamas – organisasi teroris yang bertanggung jawab membunuh dua puluh satu remaja di disko Dolphinarium yang tak jauh dari sini – akan segera dibaptis jadi Kristen.
Aku melepaskan kaosku dan kami berjalan ke laut.

***************

Di hari Jum’at, tanggal 23 September, 2005, sewaktu aku mengantarkan ayahku kembali dari kamp penampungan dekat Ramallah, dia menerima panggilan telepon.
“Apa yang terjadi?” aku mendengar teriakan ayah ke teleponnya. “Apa?”
Suara ayahku terdengar sangat gusar.
Ketika dia menutup teleponnya, dia menjelaskan padaku bahwa yang meneleponnya adalah juru bicara Hamas yakni Sami Abu Zuhri di Gaza, yang memberitahunya bahwa Israel baru saja membunuh sejumlah besar anggota² Hasa saat rapat umum di kamp pengungsi Jebaliya. Dia mengatakan bahwa dia menyaksikan sendiri pesawat Israel meluncurkan misil² ke kumpulan orang². Mereka melanggar gencatan senjata, katanya.

Ayahku telah bekerja sangat keras untuk merundingkan gencatan senjata tujuh bulan sebelumnya. Sekarang tampaknya usahanya sia² belaka. Dia merasa tidak bisa mempercayai Israel dan sangat marah dengan sikap Israel yang haus darah.

Tapi aku tak percaya akan hal ini. Meskipun aku tidak mengatakan apapun pada ayah, laporan yang kudengar itu tak masuk akal.

Al-Jazira menelepon. Mereka ingin ayah tampil di siaran TV begitu kami tiba di Ramallah. Dua puluh menit kemudian, kami sudah berada di studio mereka.

Ketika mereka sedang mempersiapkan mikrofon untuk ayah, aku menelepon Loai. Dia meyakinkan diriku bahwa Israel tidak melakukan serangan apapun. Aku merasa lega. Aku minta produser untuk menunjukkan padaku rekaman video tentang serangan tersebut. Dia membawaku ke ruang kontrol, dan kami melihat video itu berulang kali. Tampak jelas bahwa ledakan berasal dari daratan dan bukan karena tembakan dari udara.

Syeikh Hassan Yousef sudah berbicara di TV, mencaci pengkhianatan Israel, mengancam akan menyudahi gencatan senjata, dan menuntut pemeriksaan internasional.
“Apakah kau sudah merasa lebih baik sekarang?” aku bertanya padanya setelah dia berjalan keluar ruangan studio.
“Apa maksudmu?”
“Maksudmu setelah kau mengucapkan pernyataanmu.”
“Mengapa aku harus merasa lebih baik? Sungguh sukar dipercaya mereka bisa melakukan hal itu.”
“Bagus, sebab mereka ternyata tidak melakukannya. Hamaslah yang melakukan itu. Zuhri itu pendusta. Mari masuk ke ruang kontrol; aku ingin kau melihat sesuatu.”
Ayahku mengikutiku kembali ke ruang kecil di mana kami melihat video itu beberapa kali.
“Lihatlah ledakan itu. Lihat. Ledakan terjadi dari atas ke bawah. Ledakan ini tidak berasal dari udara.”

Kami nantinya mengetahui bahwa orang² militer Hamas di Gaza saat itu telah muncul sambil mengacungkan senjata² mereka untuk demonstrasi. Di saat yang bersamaan, sebuah misil Qasam yang diletakkan di bak belakang truk tak sengaja meledak dan membunuh lima belas orang dan melukai lebih banyak orang lagi.

Ayahku terkejut akan kebohongan yang dilakukan Hamas. Tapi Hamas tidak sendirian saja dalam melakukan penipuan ini. Selain hanya mempertontonkan video itu di siaran beritanya sendiri saja, Al-Jazira juga terus-meneruskan menyebarkan dusta tersebut. Setelah itu keadaan jadi memburuk. Sangat amat memburuk. [Penipuan yang sangat kotor: membunuh teman-teman seperjuangan sendiri dan kemudian menuduh orang lain! Penipu yang ahli!!]

Sebagai balasan atas serangan palsu di Gaza, Hamas melontarkan empat puluh misil ke berbagai kota di Israel selatan. Ini merupakan serangan besar pertama sejak Israel telah mengundurkan diri sepenuhnya seminggu sebelumnya. Di rumahku, aku dan ayah menonton berita TV bersama seluruh masyarakat dunia. Keesokan harinya, Loai memperingatkan aku bahwa kabinet Pemerintahan Israel menetapkan bahwa Hamas telah membatalkan gencatan senjata.

Sebuah laporan berita mengutip perkataan Mayor Jendral Yisrael Ziv, kepala operasi tentara Israel: “Sudah ditetapkan untuk melakukan serangan panjang dan terus-menerus terhadap Hamas,” dan wartawan menambahkan, “bahwa Israel sedang bersiap-siap untuk menyerang lagi para pemimpin Hamas,” hal yang tak dilakukan lagi setelah gencatan senjata dulu. [14]
[14] Israel Bersumpah untuk ‘Meremukkan’ Hamas setelah Serangan,” Fox News, 25 September, 2005,  (dibaca di tanggal 5 Oktober, 2009).
“Ayahmu harus masuk penjara lagi,” kata Loai.
“Apakah kau meminta persetujuanku?”
“Tidak. Mereka memintanya secara pribadi, dan tak ada yang bisa kami lakukan akan hal itu.”

Aku sangat marah.
“Tapi ayah tidak memerintahkan penyerangan misil tadi malam. Dia tidak memerintahkan hal itu. Dia tidak berhubungan apapun dengan semua ini. Orang² idiot di Gazalah yang mengatur semua ini.”

Akhirnya aku kehabisan napas. Aku sangat terpukul. Loai memecahkan kesunyian.
“Apakah kau masih disana?”
“Ya.” Aku duduk. “Ini sungguh tak adil … aku tak mengerti.”
“Kau juga,” katanya perlahan.
“Aku juga, apa? Masuk penjara lagi? Tidak! Aku tak mau kembali lagi. Aku tak peduli melindungi perananku lagi. Semuanya sudah usai bagiku. Aku tidak mau lagi melakukan ini.”
“Saudaraku,” dia berbisik, “apakah kau pikir aku ingin kau ditangkap? Ini semua terserah padamu. Jika kau ingin tetap berada di luar, silakan berada diluar. Tapi sekarang keadaannya jauh lebih berbahaya daripada waktu kapanpun. Kau terus-menerus berada di samping ayahmu sepanjang tahun. Setiap orang mengetahui kau sangat terlibat dengan Hamas. Bahkan banyak yang percaya kau adalah bagian dari pemimpin Hamas … Jika kami tidak menangkapmu, maka kau akan mati dalam beberapa minggu saja.”

Bab 27 – Selamat Tinggal
2005-2007

“Ada apa?” tanya ayahku ketika melihatku menangis.
Ketika aku tidak mengatakan apapun, dia mengajakku memasak makan malam untuk ibu dan saudara² perempuanku. Ayah dan aku sudah menjadi begitu dekat selama bertahun-tahun terakhir, dan dia mengerti bahwa aku kadang² harus menyelesaikan masalahku seorang diri saja.
Tapi ketika aku mempersiapkan makanan bersamanya, hatiku bertambah hancur membayangkan bahwa ini mungkin jam² terakhir kami bisa bersama untuk jangka waktu yang lama di masa depan. Aku mengambil keputusan agar dia tidak ditangkap seorang diri saja. Setelah makan malam, aku menelepon Loai.

Hari itu tanggal 25 September, 2005. Aku mendaki lembah² Ramallah untuk mencapai tempat favoritku, dimana aku sering berdoa dan membaca Alkitab. Aku berdoa lebih lama lagi, menangis lagi, dan meminta belas kasih Elohim bagiku dan keluargaku. Ketika aku pulang, aku duduk dan menunggu. Ayahku yang tak mengetahui apa yang akan terjadi, telah tidur. Tak lama kemudian setelah jam 12 malam, pasukan keamanan Israel datang.

Mereka membawa kami ke Penjara Ofer, dimana kami digiring masuk ke aula besar dan disatukan bersama ratusan tawanan lainnya yang diciduk dari seluruh kota. Kali ini mereka juga menangkap saudara² lakiku Oways dan Mohammad. Loai memberitahuku diam² bahwa mereka berdua diduga terlibat dalam kasus pembunuhan. Salah seorang teman sekolah mereka telah menculik, menyiksa, dan membunuh orang Israel, dan Shin Bet telah menyadap panggilan telepon yang dilakukan oleh pembunuh kepada Oways beberapa hari sebelumnya. Mohammad akan dibebaskan beberapa hari kemudian. Oways dipenjara selama empat bulan sebelum akhirnya dinyatakan tidak terlibat dalam kasus pembunuhan ini.

Kami duduk di atas lutut kami di aula tersebut selama sepuluh jam dengan tangan diborgol di belakang tubuh. Aku diam² berterima kasih pada Elohim karena seseorang memberi sebuah kursi pada ayah, dan aku melihat dia diperlakukan dengan hormat.

Aku dihukum tiga bulan di penjara administratif. Teman² Kristenku memberiku sebuah Alkitab, dan aku menjalani masa hukuman sambil mempelajari Alkitab. Aku dibebaskan di hari Natal 2005. Ayahku masih belum bebas. Sampai saat aku menulis buku ini, dia masih berada di penjara.

***************

Pemilu Parlemen akan segera berlangsung, dan setiap pemimpin Hamas ingin berkuasa. Mereka masih tetap memuakkan bagiku. Mereka bisa berjalan-jalan dengan bebasnya, sedangkan satu²nya orang yang mampu memimpin masyarakat malahan ditahan di belakang pagar berkawat silet. Setelah kami ditangkap, ayah enggan berpartisipasi dalam pemilu. Dia meminta aku untuk menyampaikan pesannya kepada Mohammad Daraghmeh, wartawan pengamat politik bagi Associated Press dan teman baiknya.

Kabar bahwa ayah tidak ikut Pemilu tersebar dua jam kemudian, dan teleponku mulai berdering. Para pemimpin Hamas mencoba menghubungi ayah di penjara, tapi dia tak mau bicara dengan mereka.

“Apa yang terjadi?” tanya mereka padaku. “Ini sungguh celaka! Kami akan kalah pemilu jika ayahmu tidak bersedia mencalonkan diri jadi pemimpin, dan ini akan tampak seakan dia tidak merestui seluruh proses pemilu!”

“Jika dia tidak mau ikut pemilu,” kataku pada mereka, “maka kalian harus menghormati keputusannya.”

Lalu datang panggilan telepon dari Ismail Haniyah, yang merupakan tokoh penting Hamas dan akan jadi perdana menteri PA yang baru.
“Mosab, sebagai pemimpin gerakan, aku meminta kau untuk mengatur acara jumpa press dan mengumumkan bahwa ayahmu masih tetap berperanan penting dalam Hamas. Katakan pada mereka bahwa laporan AP itu salah.”
Sekarang mereka minta aku berdusta. Apakah mereka lupa bahwa Islam melarang untuk berbohong pada sesama Muslim, atau mereka pikir hal itu boleh² saja karena politik tak mengenal agama?

“Aku tak bisa melakukan itu,” kataku padanya. “Aku menghormati kau, tapi aku lebih menghormati ayah dan kejujuranku.” Aku menutup telepon.
Tiga puluh menit kemudian, aku menerima ancaman kematian. “Buat jumpa press sekarang juga,” begitu kata penelepon, “atau kami akan bunuh kamu!”
“Kalau begitu, silakan datang dan bunuh aku.”

Aku menutup telepon dan menelepon Loai. Beberapa jam kemudian, pria yang mengancam ini sudah ditangkap.

Aku tidak begitu peduli dengan ancaman² mati. Tapi ketika ayah mendengar akan hal itu, dia menelepon Daraghmeh dan mengatakan padanya bahwa dia akan mencalonkan diri dalam pemilu. Lalu dia mengatakan padaku untuk bersikap tenang dan menunggu saatnya dia dibebaskan. Dia akan berurusan dengan Hamas, begitu penjelasannya padaku.

Tentu saja ayah tidak bisa kampanye pemilu lewat penjara. Tapi dia tak perlu melakukan itu. Hamas memajang wajahnya di mana², sebagai bujukan agar orang² mencoblos Hamas dalam pemilu. Saat persiapan pemilu berlangsung, Syeikh Hassan Yousef digiring masuk ke dalam parlemen sambil membawa banyak orang lain bersamanya bagaikan kotoran² dalam rambut singa.

***************

Aku menjual bagian kepemilikan perusahaanku Electric Computer Systems kepada rekan bisnisku karena aku merasakan banyak perubahan yang akan terjadi dengan hidupku.
Siapakah aku sebenarnya? Masa depan apakah yang akan kumiliki jika keadaan tetap berlangsung seperti ini?
Usiaku telah mencapai dua puluh tujuh tahun, tapi aku tidak bisa pacaran. Gadis Kristen akan takut dengan reputasiku sebagai putra pemimpin Hamas. Gadis Muslim juga tak akan tertarik pada pria Kristen Arab. Dan mana ada gadis Yahudi yang mau pacaran dengan putra Hassan Yousef? Bahkan jikalau sekiranya ada gadis yang bersedia pergi keluar bersamaku, apakah yang akan kami bicarakan? Apakah aku bisa bebas membagi pengalaman hidupku? Hidup seperti apakah ini? Sebenarnya untuk siapakah aku berkorban selama ini? Palestina? Israel? Perdamaian?

Apa yang telah kucapai sebagai mata² Shin Bet? Apakah keadaan masyarakatku jadi membaik? Apakah pertumpahan darah berhenti? Apakah ayah berada di rumah bersama keluarganya? Apakah Israel lebih aman? Apakah aku telah menjadi contoh yang lebih baik bagi saudara²ku? Aku merasa aku telah mengorbankan sepertiga hidup untuk hal yang percuma, “semuanya sia-sia seperti usaha mengejar angin,” begitu kata Raja Salomo di Pengkhotbah 4:16.

Aku bahkan tidak bisa menyampaikan apa yang telah kupelajari, karena posisiku sekarang. Siapa yang akan percaya padaku?

Aku menelepon Loai. “Aku tak bisa bekerja bagimu lagi.”
“Mengapa? Apa yang terjadi?”
“Tak ada masalah. Aku mencintai kalian semua. Dan aku suka bekerja sebagai mata². Kupikir aku malah jadi ketagihan melakukan pekerjaan itu. Tapi kita tidak mencapai hasil apapun. Kita berperang dalam perang yang tidak bisa dimenangkan melalui penangkapan, interogasi, dan pembunuhan. Musuh kita sebenarnya adalah pandangan ideologi, dan ideologi tidak peduli akan serangan dan jam malam. Kita tidak bisa menghancurkan ideologi melalui tembakan Merkava. Kau bukan masalah bagi kami, dan kami pun bukan masalah bagimu. Kita semua bagaikan tikus² yang terperangkap dalam jaringan jalan yang ruwet. Aku tidak bisa lagi melakukan hal ini. Waktuku sudah selesai.”

Aku tahu ini merupakan pukulan berat bagi Shin Bet. Kami sedang berada di tengah peperangan.

“Baiklah,” kata Loai. “Aku akan menyampaikan ini pada pemimpin dan tunggu apa yang mereka katakan.”

Ketika kami bertemu lagi, dia berkata, “Inilah tawaran pemimpin kami bagimu. Israel memiliki perusahaan komunikasi yang besar. Kami akan memberimu semua uang yang kau butuhkan untuk mendirikan perusahaan serupa yang dulu kau miliki di Palestina. Ini adalah kesempatan besar dan akan membuatmu aman seumur hidupmu.”

“Kau tidak mengerti. Masalahku bukanlah masalah uang. Masalahku adalah aku tidak mencapai apapun.”
“Orang² di sini membutuhkanmu, Mosab.”
“Aku akan menemukan cara lain untuk menolong mereka, tapi aku tidak bisa menolong mereka dengan melakukan hal yang sama. Bahkan Shin Bet sendiri juga tidak tahu harus mengarah ke mana.”
“Lalu apa dong yang kau inginkan?”
“Aku ingin meninggalkan negara ini.”

Dia menyampaikan pembicaraan kami dengan atasannya. Kami bolak-balik seperti itu, sang pemimpin bersikeras aku harus tetap tinggal, sedangkan aku bersikeras ingin pergi.

“Baiklah,” kata mereka. “Kami akan memperbolehkan kau pergi ke Eropa selama beberapa bulan, mungkin barang setahun, tapi kau harus berjanji untuk kembali.”

“Aku tak mau pergi ke Eropa. Aku ingin pergi ke Amerika Serikat. Aku punya beberapa teman di sana. Mungkin aku akan kembali dalam waktu setahun, dua tahun, atau lima tahun. Aku tak tahu. Yang kutahu adalah sekarang aku butuh saat jeda.”

“Pergi ke Amerika sih susah bagimu. Di sini kau punya uang, kedudukan, dan perlindungan dari berbagai pihak. Kau telah punya reputasi terkenal, membangun perusahaan yang menguntungkan, dan hidup nyaman. Apakah kau tahu bagaimana hidupmu di AS? Kau akan jadi sangat kecil dan tak punya pengaruh apapun.”

Aku katakan pada mereka bahwa aku tak peduli andaikata sekalipun aku harus bekerja sebagai pencuci piring di sana. Dan ketika aku terus bersikeras, mereka menetapkan keputusan tegas.

“Tidak,” kata mereka. “Tidak boleh ke Amerika Serikat. Hanya boleh ke Eropa dan hanya untuk jangka waktu singkat saja. Pergilah dan nikmati hidupmu. Kami akan tetap membayar gajimu. Silakan pergi dan bersenang-senang. Nikmati waktu jedamu. Lalu kembali ke sini.”

“Baiklah,” kataku akhirnya. “Aku akan pulang. Aku tak mau melakukan apapun bagi kalian. Aku tak akan meninggalkan rumah karena aku tak mau kebetulan melihat pembom bunuh diri dan harus melaporkan hal itu pada kalian. Jangan meneleponku lagi. Aku tak bekerja lagi bagi kalian.”

Aku kembali pulang ke rumah orangtuaku dan mematikan ponselku. Aku membiarkan jenggotku tumbuh panjang dan tebal. Ibuku jadi sangat khawatir melihatku, dan dia sering menjenguk ke kamarku untuk melihat keadaanku sambil bertanya apakah semuanya baik² saja.
Dari hari ke hari, aku membaca Alkitab, mendengarkan musik, menonton TV, memikirkan semua yang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir, dan bergulat dengan rasa depresiku.
Pada akhir bulan ketiga, ibuku mengatakan aku menerima telepon dari seseorang. Aku katakan pada ibu bahwa aku tak mau bicara dengan siapapun. Tapi ibu berkata penelepon mengatakan hal ini sangat penting, dan dia adalah teman lama yang juga mengenal ayahku.
Aku turun tangga dan mengangkat gagang telepon. Ternyata dia adalah salah seorang dari Shin Bet.

“Kami ingin bertemu denganmu,” katanya. “Ini sangat penting. Kami punya kabar baik bagimu.”

Aku lalu menemui mereka dalam rapat. Karena aku tidak mau lagi bekerja bagi mereka, maka mereka pun tidak mendapatkan keuntungan apapun dari keadaan ini. Mereka menyadari bahwa aku benar² ingin berhenti bekerja bagi mereka.

“Baiklah, kami akan memperbolehkan kau pergi ke Amerika Serikat, tapi hanya untuk beberapa bulan saja, dan kau harus berjanji untuk kembali.”
“Aku tak mengerti mengapa kau bersikeras meminta sesuatu yang kau pasti tak akan dapatkan,” kataku pada mereka dengan tenang tapi tegas.

Akhirnya mereka berkata, “Baiklah, kami akan memperbolehkan kau pergi dengan dua persyaratan. Pertama, kau harus menyewa pengacara dan mengajukan surat permohonan pada kami bahwa kau ingin meninggalkan negeri ini untuk alasan kesehatan. Jika tidak begitu, maka kau akan ketahuan sebagai mata². Kedua, kau kembali ke sini.”

Shin Bet tidak pernah mengijinkan anggota² Hamas keluar perbatasan kecuali mereka membutuhkan perawatan medis yang tak tersedia di daerah Palestina. Aku sebenarnya punya masalah dengan rahang bawahku yang membuatku sukar mengatupkan gigi rapat² dan aku tak bisa mendapatkan perawatan operasi untuk masalah ini di Tepi Barat. Masalah rahang ini tidak pernah terlalu menggangguku, tapi ini merupakan alasan baik. Maka aku lalu menyewa seorang pengacara untuk melaporkan kondisi medis ke pengadilan, meminta ijin untuk pergi ke Amerika Serikat untuk menjalani operasi.

Tujuan semua ini adalah untuk menampakkan bukti administrasi yang jelas bahwa aku menjalani semua prosedur yang benar dan sulit untuk keluar dari Israel. Jika Shin Bet menyingkirkan semua kesulitan, maka tentunya ini tampak sebagai tindakan yang tak adil dan orang² akan curiga mengapa aku mendapat perlakuan istimewa dari Shin Bet. Jadi kami harus membuat semua proses ini tampak sukar dan aku harus berjuang keras untuk setiap kemajuan yang kudapatkan.

Tapi pengacara yang kusewa ternyata malah jadi masalah tersendiri. Dia rupanya tidak yakin aku bisa mendapatkan ijin keluar negeri, sehingga dia minta pembayaran di muka – dan aku lalu membayarnya – tapi setelah itu dia enak² duduk dan tidak melakukan apapun. Shin Bet juga tak menerima surat laporan diriku untuk diurus karena pengacaraku tidak mengirim apapun. Minggu demi minggu, aku terus meneleponnya dan bertanya apakah ada kemajuan dalam kasusku. Yang perlu dilakukannya hanyalah mengurus surat² saja, tapi dia tetap menunda-nunda dengan berbagai alasan. Ada masalah, katanya. Kasus ini lebih rumit. Dia minta uang berkali-kali lagi, dan aku pun membayarnya berkali-kali pula.

Semua ini terus berlangsung sampai enam bulan. Akhirnya di Tahun Baru 2007, aku menerima panggilan telepon.
“Kau sudah diperbolehkan pergi,” kata pengacaraku, yang lagaknya bagaikan telah memecahkan masalah kelaparan di seluruh dunia.

***************

“Apakah kau bisa sekali lagi bertemu dengan salah satu ketua Hamas di kamp penampungan Jalazone?” tanya Loai. “Kaulah satu²nya orang yang …”

“Aku akan meninggalkan negeri ini dalam waktu lima jam lagi.”

“Baiklah,” katanya menyerah. “Jaga dirimu baik² dan terus berhubungan dengan kami. Telepon aku begitu kau sudah melampaui perbatasan agar semua berjalan lancar.”

Aku telepon beberapa orang yang kukenal di California dan mengatakan pada mereka bahwa aku akan datang. Tentu saja mereka tidak mengira aku adalah putra ketua Hamas dan mata² bagi Shin Bet. Tapi mereka sangat senang mendengar kedatanganku. Aku mulai memasukkan beberapa buah baju ke dalam koper kecil dan turun tangga untuk memberitahu ibuku. Dia saat itu sudah berada di ranjang.

Aku berlutut di sampingnya dan menjelaskan bahwa aku akan pergi dalam waktu beberapa jam, melampaui perbatasan ke Yordania dan terbang ke Amerika Serikat. Aku bahkan tak bisa menjelaskan mengapa aku harus pergi.

Mata ibu mengatakan semuanya. Ayahmu sedang berada di penjara. Kau berperan sebagai ayah bagi saudara² laki dan perempuanmu. Apa yang akan kau lakukan di Amerika? Aku tahu ibu tidak mau melihat aku pergi, tapi di saat yang sama, ibu ingin aku hidup dengan damai. Dia berkata bahwa dia berharap aku bisa mendapatkan kehidupan yang menyenangkan di sana setelah hidup penuh bahaya di rumah. Ibu tentu tidak mengetahui bahwa aku sudah melihat begitu banyak bahaya.

“Mari kucium kau sebelum pergi,” katanya. “Bangunkan aku di pagi hari sebelum kau berangkat.”

Ibu memberkati aku, dan aku katakan padanya bahwa aku akan berangkat di waktu subuh dan dia tak perlu melihat aku pergi. Tapi dia adalah ibuku. Dia menungguiku sepanjang malam di ruang tengah kami, bersama saudara² laki dan perempuanku dan juga sahabatku Jamal.

Sewaktu aku mempersiapkan semua barang² yang akan kubawa sebelum pergi, aku hampir saja membawa serta Alkitabku – yang penuh catatan², Alkitab yang sama yang kupelajari selama bertahun-tahun, bahkan di penjara – tapi sekarang aku memiliki dorongan keras untuk memberikannya pada Jamal.

“Aku tak punya hadiah lebih mahal yang bisa kuberikan padamu sebelum aku pergi,” kataku padanya. “Inilah Alkitabku. Bacalah dan ikutilah.” Aku tahu dia akan melakukan permintaanku dan mungkin akan membacanya kapanpun dia teringat padaku. Aku membawa cukup uang untuk hidup di tempat baru untuk sementara, lalu pergi meninggalkan rumah, dan menuju ke Jembatan Allenby yang menghubungkan Israel dan Yordania.

Aku tak menemukan masalah melintasi pos pemeriksaan Israel. Aku telah membayar $35 pajak keluar dan masuk ke terminal imigrasi yang sangat luas dan dilengkapi dengan alat pendeteksi metal, mesin² X-ray, dan Ruang 13 yang terkenal menyeramkan, tempat interogasi orang² yang dicurigai. Tapi alat² ini pada umumnya digunakan bagi orang² yang mau masuk Israel dari Yordania dan bukan orang² yang meninggalkan Israel.

Terminal padat dengan berbagai orang dalam berbagai bentuk, yang mengenakan yarmulke (tutup kepala kecil bundar pria Yahudi) dan berpakaian Arab, pakai jilbab atau topi biasa, sebagian memanggul ransel dan yang lain mendorong kereta penuh kopor. Akhirnya, aku naik ke bus JETT – satu² alat transportasi publik yang diperbolehkan melintasi jembatan.

Baiklah, pikirku, sudah hampir sampai nih.

Tapi aku masih saja gelisah. Shin Bet biasanya tidak mengijinkan orang seperti aku meninggalkan Israel. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan Loai sendiri heran bagaimana aku bisa mendapatkan ijin pergi.

Ketika aku tiba di daerah Yordania, aku menunjukkan passportku. Aku khawatir karena meskipun aku dapat ijin tinggal selama tiga tahun di AS, passportku hampir kadaluwarsa dalam waktu kurang dari tiga puluh hari.

Aduh, tolong dong, aku berdoa, perbolehkan aku masuk Yordania meskipun sehari saja. Hanya itu yang kuinginkan.

Tapi sebenarnya aku tak perlu khawatir. Tiada masalah apapun. Aku naik taxi ke Amman dan membeli tiket pesawat terbang Air France. Aku tinggal di hotel selama beberapa jam, lalu menuju Queen Alia International Airport di Yordania dan masuk ke pesawat terbang yang menuju California melalui Paris.

Sewaktu aku duduk di pesawat, aku merenungkan apa yang kutinggalkan di belakang, semua hal yang baik dan buruk – keluarga dan teman²ku dan juga pertumpahan darah, kesia-siaan, dan kegagalan yang tak ada habisnya.
Aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan kemerdekaanku yang baru. Aku merdeka untuk menjadi diriku sendiri, merdeka dari pertemuan² rahasia dan penjara² Israel, merdeka dari sikap curiga ada yang mengetahui posisiku.
Sungguh hal ini terasa aneh dan juga sangat menyenangkan.

***************

Suatu hari sewaktu aku sedang berjalan di trotoar di California, aku melihat wajah yang kukenal berjalan ke arahku. Itu adalah wajah Maher Odeh, otak dari begitu banyak serangan bom bunuh diri – aku melihat orang ini di tahun 2000 ketika dikunjungi tukang pukul Arafat. Aku dulu mengungkapkan pada Shin Bet bahwa dia dan teman²nya adalah pendiri Brigade Syahid Al-Aqsa.

Awalnya aku tak yakin bahwa orang itu adalah Odeh. Orang² memang bisa tampak berbeda di lingkungan yang amat berbeda. Aku harap aku salah. Hamas tidak berani melakukan serangan bom bunuh diri di AS. Akan jelek akibatnya bagi AS jika Odeh berada di California. Tentunya hal itu juga akan berdampak jelek bagiku.

Mata kami bertemu dan saling tatap selama sedetik. Aku sangat yakin melihat percikan sinar matanya yang menandakan dia mengenaliku sebelum dia terus berjalan melewatiku.

Bagian Akhir

Di bulan Juli 2008, aku duduk di sebuah restoran dan menikmati makan malam bersama dengan teman baikku Avi Issacharoff, wartawan dari koran Israel Haaretz. Aku sampaikan padanya kisah hidupku menjadi orang Kristen karena aku ingin berita ini datang dari Israel dan bukan dari Barat. Kisahku ini lalu muncul di korannya, dengan judul artikel Anak yang Hilang.”

Seperti umumnya kasus Muslim murtad dan lalu mengikuti Yeshua, pengumumanku pindah agama juga menghancurkan hati ibu, ayah, saudara² laki dan perempuanku dan teman²ku.

Temanku Jamal adalah satu dari sedikit orang yang berdiri bersama keluargaku dalam menghadapi rasa malu, dan dia pun ikut menangis bersamanya. Jamal sangat kesepian setelah aku pergi, tapi untungnya dia bertemu dengan seorang gadis jelita. Mereka lalu bertunangan dan menikah dua minggu setelah artikel Haaretz muncul.

Sewaktu menghadiri pernikahannya, keluargaku tak mampu membendung air mata karena pernikahan Jamal mengingatkan mereka akan diriku, bagaimana aku telah menghancurkan masa depanku, dan bagaimana aku tidak akan pernah menikah dengan Muslimah dan punya keluarga Muslim. Melihat kesedihan mereka, maka pengantin pria pun juga mulai menangis. Tamu² lainnya ikut menangis pula, tapi aku yakin karena alasan yang berbeda.

“Tidak dapatkah kau menunggu mengeluarkan pengumuman sampai dua minggu setelah aku menikah?” tanya Jamal di telepon kemudian. “Kau membuat saat terbahagia dalam hidupku jadi hancur berantakan.”
Aku merasa sangat sedih. Tapi setelah itu, Jamal tetap menjadi sahabatku yang terbaik.
Ayah menerima laporan murtadku di penjara. Dia bangun tidur dan mengetahui bahwa putra sulungnya sudah beralih iman dan memeluk Kristen. Dari sudut pandangnya, aku telah menghancurkan masa depanku dan juga masa depan keluarganya. Dia yakin bahwa suatu hari aku akan dibawa ke neraka di hadapannya, dan kami tak akan berhubungan lagi untuk selamanya.
Ayah menangis bagaikan bayi dan tidak mau meninggalkan sel penjaranya.
Para tawanan dari berbagai organisasi mengunjunginya. “Kami semua putra²mu, Abu Mosab,” hibur mereka padanya. “Mohon tenangkan dirimu.”

Ayah tak percaya keterangan dari koran. Tapi seminggu kemudian, adik perempuanku yang berusia tujuh belas tahun, Anhar, yang merupakan satu²nya anggota keluarga yang boleh menjenguk ayah, datang menemui ayah. Seketika ayah dapat melihat dari mata Anhar bahwa berita koran itu memang benar. Ayah tak dapat lagi menguasai diri. Tawanan² lain meninggalkan sanak keluarga mereka yang menjenguk untuk datang dan mencium kepala ayah dan menangis bersamanya. Ayah mencoba bernapas tenang untuk meminta maaf pada mereka, tapi dia bahkan menangis lebih keras lagi. Bahkan para penjaga Israel, yang menghormatinya, juga ikut menangis.

Aku mengirim surat sepanjang enam halaman pada ayah. Aku katakan padanya bahwa sangat penting bagiku untuk menemukan sifat asli Elohim yang selalu dicintainya, tapi tidak dikenalnya.

Paman²ku dengan gelisah menunggu ayah memutuskan hubungan keluarga denganku. Tapi ayah menolak melakukan itu, dan para pamanku memalingkan punggung mereka terhadap istrinya dan anak²nya. Tapi ayah tahu bahwa jika dia memutuskan hubungan denganku, para teroris Hamas akan membunuhku. Dan dia terus berusaha melindungiku, tidak peduli betapa dalamnya sakit hati yang ditanggungnya.

Delapan minggu kemudian, orang² dari penjara Ktzi’ot di Negev mengancam mengadakan kekacauan. Maka Shabas, Pasukan Keamanan Penjara Israel, meminta ayah untuk menenangkan keadaan.
Aku dan ibu selalu berbicara lewat telepon seminggu sekali setelah aku datang di Amerika. Suatu hari, ibu meneleponku.
“Ayahmu sedang berada di Negev. Beberapa tawanan berhasil menyelundupkan ponsel. Apakah kau bersedia bicara dengannya?”
Aku tak bisa percaya akan tawaran ini. Kupikir aku tak akan bisa bicara dengan ayahku sampai dia dikeluarkan dari penjara.
Aku memencet nomer telepon ayah. Tiada jawaban. Kucoba menelepon lagi.
“Alo!”
Suara ayah. Aku hampir tak bisa berbicara.
“Hai, ayah.”
“Hai juga.”
“Aku rindu suaramu.”
“Bagaimana keadaanmu?”
“Baik² saja. Tak penting tentang keadaanku. Apa kabarmu?”
“Aku baik² saja. Kami datang ke sini untuk bicara dengan para tawanan dan mencoba menenangkan suasana.”

Ayah ternyata masih sama seperti dulu. Minatnya yang paling utama selalu adalah kepentingan orang lain. Dia akan terus begitu.
“Bagaimana hidupmu di AS sekarang ini?”
“Hidupku menyenangkan. Aku sedang menulis sebuah buku …”

Setiap tawanan diberi waktu bicara selama sepuluh menit, dan ayah tidak pernah menggunakan jabatannya untuk mendapat perkecualian. Aku ingin bicara tentang hidupku yang baru padanya, tapi dia tidak mau bicara tentang hal itu.
“Apapun yang terjadi,” katanya padaku, “kau tetap adalah putraku. Kau adalah bagian dari diriku, dan tiada yang berubah. Kau punya pendapat yang berbeda, tapi kau masih putraku.”
Aku sangat terkejut. Orang ini sungguh luar biasa.

Aku meneleponnya lagi keesokan harinya. Hatinya terasa sakit, tapi dia bersedia mendengarkan.

“Aku punya rahasia yang ingin kusampaikan padamu,” kataku. “Aku ingin memberitahu sekarang juga, agar kau tidak mendengarnya dari media berita.”

Aku menjelaskan bahwa aku telah bekerja bagi Shin Bet selama sepuluh tahun. Bahwasanya dia masih hidup hari ini adalah karena aku setuju agar dia ditempatkan di dalam penjara sebagai perlindungan baginya. Namanya tercantum di dalam daftar bunuh urutan yang teratas – dan dia sekarang berada di penjara karena aku tidak lagi bisa melindunginya.
Diam. Ayah tak berkata apapun.
“Aku mencintaimu,” kataku akhirnya. “Kau adalah ayahku senantiasa.”

Catatan Tambahan

Harapan terbesarku dalam menyampaikan kisah hidupku adalah agar aku bisa menunjukkan pada masyarakatku – orang² Palestina adalah umat Islam yang dimanfaatkan oleh rezim² korup selama ratusan tahun – bahwa kebenaran bisa memerdekakan mereka.

Melalui kisahku ini, aku harap masyarakat Israel juga mengetahui bahwa ada harapan. Jika aku, putra organisasi teroris yang berjuang bagi kepunahan Israel, dapat mencapai titik dimana aku tidak hanya belajar mencintai masyarakat Yahudi tapi bahkan juga mempertaruhkan nyawa bagi mereka, maka tentunya ada sinar harapan.

Kisahku juga mengandung pesan bagi orang² Kristen. Kita harus belajar dari penderitaan masyarakatku, yang menanggung beban berat dalam usaha menyenangkan elohim mereka. Kita harus melangkah lebih jauh daripada sekedar mengetahui aturan² agama sendiri. Sebaliknya, kita harus menerapkan ajaran itu dengan mengasihi umat manusia – dari segala penjuru dunia – tanpa syarat. Jika kita ingin menunjukkan Yeshua pada dunia, maka kita pun harus hidup sesuai dengan pesanNya. Jika kita ingin mengikuti Yeshua, kita pun harus bersiap-siap untuk ditindas. Kita harus bersyukur karena ditindas demi diriNya.

Untuk para ahli masalah Timur Tengah, para pejabat Pemerintahan², dan para pemimpin agen² rahasia, aku harap kisahku yang sederhana ini bisa memberi sumbangan untuk mengerti masalah dan solusi di daerah² yang paling banyak berperang di dunia.

Aku sampaikan kisahku dengan kesadaran bahwa banyak orang, termasuk mereka yang paling kucintai, tidak akan pernah bisa menerima motivasi dan cara pikirku.

Sebagian orang akan menuduhku bahwa aku menjadi mata² Israel karena alasan uang. Ironisnya adalah aku dulu tidak punya masalah keuangan, tapi sekarang aku benar² hidup kekurangan. Memang benar bahwa dulu keluargaku hidup sengsara, terutama saat ayah dipenjara, tapi akhirnya aku di Palestina bisa menjadi pemuda yang beruang. Dengan gaji dari Pemerintah Israel, aku dulu berpendapatan sepuluh kali lebih banyak daripada pendapatan rata² masyarakatku. Aku dulu hidup senang, punya dua rumah, dan punya mobil sport baru. Bahkan sebenarnya aku bisa mendapat uang lebih banyak lagi.

Ketika aku memberitahu pihak Israel bahwa aku tak mau lagi bekerja bagi mereka, mereka menawarkan untuk memberi modal membangun perusahaan komunikasi yang memungkinkan aku memperoleh jutaan dollar jika aku bersedia tinggal di Israel. Tapi aku menolak tawaran mereka dan datang ke Amerika Serikat, di mana sampai sekarang aku tidak bisa mendapatkan pekerjaan penuh dan tidak memiliki tempat tinggal. Memang aku berharap suatu hari nanti aku tidak kesulitan keuangan lagi, tapi aku telah belajar bahwa uang saja tidak akan pernah bisa membahagiakan diriku. Jika uang adalah tujuan utamaku, tentunya aku sekarang tetap akan tinggal di Palestina dan tetap bekerja bagi Israel. Sejak datang ke AS, aku bisa saja menerima sumbangan dari orang² di sekitarku. Tapi itu tak kulakukan, karena uang memang bukanlah prioritas utama bagiku – dan juga aku tak mau memberi kesan bahwa uanglah yang mendorongku berbuat sesuatu.

Sebagian orang mengira aku suka mendapatkan perhatian, tapi aku telah mendapatkan itu pula di tempat tinggalku dulu.

Yang sukar tergantikan adalah kekuasaan dan otoritas yang dulu kunikmati sebagai putra ketua senior Hamas. Setelah mencicipi kekuasaan, aku tahu bahwa itu bisa membuat orang ketagihan – jauh lebih kuat daripada uang. Aku menikmati kekuasaanku dalam hidupku yang dulu, tapi jika kau ketagihan sesuatu, misalnya kekuasaan, maka kau sendiri akan terbelenggu olehnya.

Kemerdekaan, rindu akan kemerdekaan, adalah pesan utama sebenarnya dari kisahku.
Aku adalah putra dari masyarakat yang telah diperbudak oleh sistem² korup selama berabad-abad.
Aku adalah tawanan pihak Israel saat mataku terbuka dan melihat fakta bahwa orang² Palestina sebenarnya ditindas oleh para pemimpin mereka sendiri, selain juga oleh Israel.
Aku dulu adalah pengikut setia agama yang mewajibkan ketaatan penuh untuk melakukan ibadah berat guna menyenangkan elohim Qur’an, dan agar bisa masuk surga.
Aku dulu punya uang, kekuasaan, dan kedudukan, tapi yang benar² kuinginkan adalah kemerdekaan. Dan kemerdekaan ini juga berarti meninggalkan segala kebencian, kecurigaan, dan keinginan balas dendam.

Pesan Yeshua – Kasihi musuhmu – inilah yang akhirnya memerdekakan diriku. Sudah tidak jadi masalah siapakah temanku atau musuhku; aku wajib mengasihi mereka semua. Dan aku juga bisa memiliki hubungan penuh kasih dengan Elohim yang akan menolongku mengasihi orang lain.

Memiliki hubungan seperti itu dengan Elohim bukan hanya merupakan sumber kemerdekaanku, tapi juga kunci untuk menjalani hidupku yang baru.

***************

Setelah membaca buku ini, mohon jangan mengira bahwa aku adalah pengikut Yeshua yang hebat. Aku masih berjuang sampai sekarang. Semua pengetahuanku yang sedikit tentang imanku kudapat dari belajar dan membaca Alkitab. Dengan kata lain, aku adalah pengikut Yeshua Ha Mashiah tapi aku baru mulai saja menjadi muridNya.

Aku lahir dan dibesarkan di lingkungan relijius yang menetapkan bahwa keselamatan hanya bisa dicapai melalui kerja keras. Aku harus berjuang keras menyingkirkan pandangan ini untuk menerima kebenaran:

Efesus 4:22-24: yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Elohim di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

Sama seperti banyak pengikut Yeshua lainnya, aku telah meminta ampun atas dosa²ku, dan aku tahu bahwa Yeshua adalah Anak Elohim yang telah jadi manusia, mati bagi dosa² kita, bangkit dari kematian, dan duduk di sebelah kanan Bapak. Aku telah dibaptis. Meskipun demikian aku merasa baru saja berada di pintu gerbang Kerajaan Elohim. Aku diberitahu bahwa akan jauh lebih banyak lagi daripada ini. Tentunya aku ingin mengalami semuanya itu.

Di saat ini, aku masih berjuang melawan nafsu duniawi, nafsu daging dan setan. Aku masih sering salah mengerti dan bingung. Aku kadang² bergumul dengan permasalahan yang sebenarnya tak nampak. Tapi aku berharap, sama seperti Rasul Paulus menjabarkan dirinya pada Timotius sebagai “orang yang paling berdosa” (1 Timotius 1:16), bahwa aku bisa menjadi orang yang dibentuk Elohim, selama aku tidak menyerah.

Maka jika bertemu aku di jalanan, mohon jangan minta nasehat atau jawaban tentang arti ayat Alkitab tertentu, karena kemungkinan besar kau jauh lebih berpengetahuan daripada aku. Jangan melihat diriku sebagai piala kemenangan agama Kristen, tapi berdoalah bagiku agar aku bisa terus tumbuh dalam iman dan tidak menginjak banyak jari kaki orang lain sewaktu aku belajar menari bersama Sang Pengantin.

***************

Selama kita mencari musuh di luar dan tidak di dalam diri kita sendiri, maka masalah Timur Tengah akan terus terjadi.

Agama bukanlah solusi masalah Timur Tengah. Agama tanpa Yeshua hanyalah keyakinan membenarkan diri sendiri saja. Merdeka dari penindasan juga tidak akan mampu memecahkan permasalahan. Setelah merdeka dari penindasan di Eropa, Israel malah jadi penindas orang lain pula. Jikalau nantinya telah merdeka dari penindasan, umat Muslim akan menjadi penindas orang lain pula. Anak² yang ditindas kelak akan tumbuh besar menjadi orang² yang suka menindas orang lain juga. Hal ini merupakan hal yang klise tapi benar: orang² yang disakiti, jika belum disembuhkan, maka nantinya akan menyakiti orang lain pula.

Karena dimanipulasi dusta dan didorong sikap rasis, kebencian, dan nafsu balas dendam, aku dulu pun menuju jalan yang akan membuatku jadi serupa dengan masyarakatku. Tapi di tahun 1999, aku bertemu dengan Elohim yang sejati. Dia adalah Bapak yang kasihNya melebihi apapun, yang rela mengorbankan PutraNya yang tunggal untuk mati di kayu salib demi menebus dosa dunia. Dia adalah Elohim, yang tiga hari kemudian menunjukkan kekuasaan dan kemulianNya dengan membangkitkan Yeshua dari kematian. Dia adalah Elohim yang tidak hanya memerintahkan diriku untuk mencintai dan mengampuni musuh²ku sama seperti Dia pun telah mencintai dan mengampuniku, tapi menguatkanku pula.

Kebenaran dan pengampunan merupakan satu²nya jalan keluar bagi Timur Tengah. Tantangannya, terutama bagi masyarakat Israel dan Palestina, bukanlah untuk mencari solusi. Tantangannya adalah untuk jadi pihak pertama yang berani untuk melakukannya.

[ Yeshua Ha Mashiah berkata: Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu.

Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.

Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku."  (Injil Yohanes 10:11-18)]

Waktu Kejadian
1923 – Akhir Kekalifahan Ottoman
1928 – Hassan al-Banna mendirikan Masyarakat Persaudaraan Muslim (Society of Muslim Brothers)
1935 – Persaudaraan Muslim (Muslim Brotherhood) didirikan di Palestina
1948 – Persaudaraan Muslim melakuan perlawanan penuh kekerasan terhadap Pemerintah Mesir; Israel memproklamirkan kedaulatannya; Mesir, Lebanon, Syria, Yordania, dan Iraq menyerang Israel.
1949 – Hassan al-Banna dibunuh; kamp penampungan Al-Amari didirikan di Tepi Barat
1964 – Palestine Liberation Organization (PLO) dibentuk
1967 – Perang Enam Hari
1968 – Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP) membajak pesawat El Al 707 dan menerbangkannya ke Aljeria; tiada korban jiwa
1970 – September Hitam, dimana ribuan pejuang PLO dibunuh oleh tentara Yordania, sewaktu Yordania mengusir PLO keluar dari wilayahnya
1972 – Sebelas atlet Israel dibunuh oleh Black September di Olimpiade Munich
1973 – Perang Yom Kippur
1977 – Hassan Yousef menikahi Sabha Abu Salem
1978 – Mosab Hassan Yousef lahir; tiga puluh delapan orang terbunuh sewaktu Fatah menyerang jalan raya pantai Israel di bagian utara Tel Aviv
1979 – Palestinian Islamic Jihad dibentuk
1982 – Israel menyerang Lebanon dan mengusir keluar PLO
1985 – Hasan Yousef dan keluarganya pindah ke Al-Bireh
1986 – Hamas didirikan di Hebron
1987 – Hassan Yousef mendapat pekerjaan kedua, mengajar agama Islam bagi murid Muslim di sekolah Kristen di Ramallah; Intifada Pertama dimulai
1989 – Penangkapan Hassan Yousef yang pertama kali; Amer Abu Sarhan dari Hamas membunuh tiga warga Israel
1990 – Saddam Hussein menyerang Kuwait
1992 – Keluarga Mosab pindah ke Betunia; Hassan Yousef ditangkap; teroris² Hamas menculik dan membunuh polisi Israel Nissim Toledano; para pemimpin Palestina dideportasi ke Lebanon
1993 – Perjanjian Oslo
1994 – Baruch Goldstein membunuh dua puluh sembilan warga Palestina di Hebron; penyerangan pertama bom bunuh diri; Yasser Arafat kembali dengan gemilang ke Gaza untuk mendirikan pusat pemerintahan Palestinian Authority (PA)
1995 – Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin dibunuh; Hassan Yousef ditangkap oleh PA; Mosab membeli senjata² gelap yang ternyata rusak
1996 – Pembuat bom Hamas Yahya Ayyash dibunuh; Mosab ditangkap dan dipenjara untuk pertama kali
1997 – Mosab dibebaskan dari penjara; Mossad gagal membunuh Khalid Meshaal
1999 – Mosab ikut kegiatan Belajar Alkitab
2000 – Pertemuan Camp David; Intifada Kedua (juga dikenal sebagai Intifada Al-Aqsa) dimulai
2001 – Bom bunuh diri di Bukit Perancis; bom bunuh diri di diskotik Dolphinarium dan toko pizza Sbarro; sekretaris jendral PFLP yakni Abu Ali Mustafa dibunuh oleh Israel; Menteri Turisme Israel yakni Rehavam Ze’evi dibunuh oleh penembak² PFLP
2002 – Israel melakukan Operasi Perisai Pertahanan (Operation Defense Shield); sembilan orang terbunuh dalam bom bunuh diri Universitas Ibrani; Mosab dan ayahnya ditangkap dan dipenjara
2003 – Tentara sekutu Barat membebaskan Iraq; teroris² Hamas Saleh Talahme, Hasaneen Rummanah, dan Sayyed al-Syeikh Qassem dibunuh oleh Israel
2004 – Yaser Arafat mati; Hassan Yousef dibebaskan dari penjara
2005 – Mosab dibaptis; gencatan senjata antara Hamas dan Israel berakhir; penangkapan dan penjara ketiga bagi Mosab; Mosab dibebaskan dari penjara
2006 – Ismail Haniyeh terpilih jadi Perdana Menteri Palestina
2007 – Mosab meninggalkan wilayah Palestina untuk pergi ke Amerika Serikat.

TAMAT

Son of Hamas:  Bab 1-4 ; Bab 5-8 Bab 9-12 ; Bab 13-16 ; Bab 17-20 ; Bab 21-24

Dapat di baca juga di:

SCRIBD PDF:
FFI Son of Hamas

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Son of Hamas (Putra Hamas). Bab 1-4

Bab 1 – Tertangkap
1996

Aku mengemudikan mobil Subaru putihku yang kecil di sudut jalan sempit yang menuju ke jalan bebas hambatan di luar kota Tepi Barat Ramallah. Dengan menginjak pedal rem perlahan, aku mendekati satu pos pemeriksaan yang terdapat di sepanjang jalanan ke dan dari Yerusalem.

“Matikan mesin! Hentikan mobil!” seseorang berteriak dalam bahasa Arab yang kurang baik.
Tanpa peringatan apapun, enam prajurit Israel meloncat keluar dari semak tempat persembunyian dan menghalangi mobilku, setiap orang membawa senapan otomatis, dan setiap senapan ditodongkan langsung pada kepalaku.

Rasa panik mencekik tenggorokanku. Aku hentikan mobil dan melempar kunci mobil ke luar jendela.
“Keluar! Keluar!”
Tanpa menunda lagi, salah seorang prajurit membuka pintu dan melemparkan aku ke tanah berdebu. Aku tidak sempat melindungi wajahku ketika pemukulan dilakukan. Tapi meskipun aku mencoba melindungi mukaku, sepatu² bot prajurit yang berat dengan cepat menemukan target lain: iga, ginjal, punggung, leher, kepala.

Dua dari mereka menyeretku dan memasukkanku ke dalam pos pemeriksaan, di mana aku dipaksa berlutut di belakang barikade yang terbuat dari semen. Tanganku diikat di belakang punggung dengan tali plastik tajam yang diikat terlalu erat. Seseorang lalu menutup mataku dan mendorongku masuk ke dalam sebuah jip dan jatuh ke lantai. Rasa takut bercampur marah kurasakan sewaktu aku bertanya-tanya kemanakah mereka akan membawaku dan berapa lama aku akan berada di sana. Aku hampir mencapai usia 18 tahun dan dua minggu lagi akan menjalani ujian akhir SMA. Apakah yang akan terjadi padaku?

Setelah perjalanan singkat, mobil Jeep itu berhenti. Seorang prajurit menarik diriku keluar dari bagian belakang Jeep dan membuka penutup mataku. Sambil memicingkan mata karena silau cahaya matahari, aku menyadari bahwa aku berada di Pusat Tentara Ofer. Tempat ini adalah pusat pertahanan militer Israel, dan Ofer merupakan fasilitas militer terbesar dan terketat di seluruh Tepi Barat.

Sewaktu kami berjalan ke bangunan utama, kami melewati beberapa tank bersenjata, yang ditutupi kanvas. Tank raksasa ini selalu membuatku ingin tahu setiap kali melihatnya dari luar daerah militer Israel. Tank² ini tampak seperti batu raksasa yang sangat besar.

Setelah berada di dalam gedung, kami bertemu dengan seorang dokter yang memeriksaku dengan cepat, untuk memastikan apakah aku mampu menanggulangi pemeriksaan keras. Tampaknya aku lulus karena dalam beberapa menit saja tanganku diikat dan mataku ditutup lagi, dan aku lalu didorong kembali masuk Jeep.

Tempatku berbaring kecil sekali, hanya cukup untuk kaki orang. Ketika aku berusaha menggerakkan badanku di tempat kecil itu, seorang prajurit kekar meletakkan sepatu botnya di pinggangku dan menekankan laras senjata M 16-nya pada dadaku. Uap bensin panas yang memenuhi bagian lantai Jeep menyesakkan tenggorokanku. Setiap kali aku berusaha menyesuaikan diri di tempat kecil tersebut, prajurit itu menekankan laras senjatanya lebih dalam ke dadaku.

Tanpa peringatan apapun, rasa sakit menusuk tajam di seluruh tubuhku dan membuat jari² kakiku mengejang kaku. Rasanya bagaikan sebuah roket meledakkan kepalaku. Pukulan di kepala ini datang dari bagian tempat duduk depan, dan aku lalu mengetahui bahwa salah satu prajurit tentunya telah menggunakan popor senapan untuk memukul kepalaku. Sebelum aku mampu melindungi diriku, dia memukulku lagi lebih keras di bagian mata. Aku mencoba menghindar dari jangkauannya tapi prajurit yang menggunakan tubuhku sebagai alas kakinya menarikku ke depan.

“Jangan bergerak atau aku tembak kamu!” bentaknya.
Tapi aku tidak bisa tak bergerak. Setiap kali temannya memukulku, tubuhku terhentak ke belakang dengan sendirinya.

Di bawah kain penutup, mataku mulai membengkak, dan mukaku terasa beku. Aku tidak merasa ada sirkulasi darah di bagian kakiku. Nafasku tersengal-sengal. Aku belum pernah mengalami rasa sakit sehebat itu. Tapi yang lebih buruk daripada rasa sakit adalah rasa takut berada di bawah kekuasaan orang² yang tak mengenal ampun dan tak manusiawi. Pikiranku melayang sewaktu aku berusaha mengerti motivasi para penyiksaku. Aku mengerti bahwa berperang dan membunuh karena rasa benci, amarah, balas dendam, dan bahkan karena terpaksa melakukannya. Tapi aku kan tidak melakukan apapun pada para prajurit ini. Aku bukanlah ancaman bagi mereka. Aku diikat, ditutup mata, dan tidak bersenjata. Apakah yang ada dalam diri mereka sehingga mereka begitu suka menyakitiku? Bahkan binatang yang paling sederhana sekalipun membunuh karena suatu alasan, dan bukan hanya karena kesenangan saja.

Aku memikirkan bagaimana perasaan ibuku jika dia mengetahui aku ditangkap. Karena ayahku sudah berada di penjara Israel, maka akulah satu²nya pria dalam keluargaku. Apakah aku akan dipenjara selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun seperti ayahku? Jika memang itu yang terjadi, apakah ibu kuat kehilangan aku pula? Aku mulai mengerti perasaan ayahku – khawatir akan keluarganya dan merasa sedih sekali membayangkan penderitaan keluarga yang mengkhawatirkan dirinya. Airmataku bergulir membayangkan wajah ibuku.

Aku juga berpikir apakah tahun² di SMA akan berlalu percuma begitu saja. Jika aku dipenjara di Israel, tentunya aku tidak akan bisa ikut ujian akhir SMA bulan depan. Pertanyaan dan jeritan berpacu dalam pikiranku kala pukulan² terus menerjang: Mengapa kau lakukan ini padaku? Apa yang telah aku lakukan padamu? Aku bukan seorang teroris! Aku hanyalah pemuda biasa saja. Mengapa kau memukuliku seperti ini?
Aku yakin aku pingsan berkali-kali, tapi setiap kali aku siuman, para prajurit masih berada di sana untuk kembali memukuliku. Aku tidak bisa menghindari serangan mereka. Yang dapat kulakukan hanyalah menjerit. Aku merasakan rasa mual dari tenggorakanku dan aku muntah².
Aku merasa sangat sedih sebelum akhirnya kehilangan kesadaran. Apakah ini akhir hidupku? Apakah aku akan mati sebelum hidupku benar² dimulai?

Bab 2 – Tangga Iman
1955-1977

Namaku adalah MOSAB HASSAN YOUSEF.
Aku adalah putra sulung dari Syeikh Hassan Yousef, yang merupakan satu dari tujuh pendiri organisasi Hamas. Aku lahir di desa Tepi Barat dekat Ramallah, dan aku adalah bagian dari keluarga² Islam yang paling relijius di Timur Tengah.

Kisahku dimulai dari kakekku, yakni Syeikh Yousef Dawood, yang merupakan pemimpin agama – atau imam – bagi desa Al-Janiya, yang terletak di bagian Israel yang disebut Alkitab sebagai Yudea dan Samaria. Aku sangat mencintai kakekku. Jenggotnya yang lembut dan putih menyentuh pipiku saat dia memelukku, dan aku bisa duduk berjam-jam mendengarkan suaranya yang lembut dalam melafalkan adhan – panggilan Muslim untuk sholat. Dan aku punya banyak kesempatan melakukan ini karena Muslim harus sholat lima kali sehari. Melafalkan adhan dan Qur’an tidaklah mudah, tapi jikalau kakekku melakukannya, suaranya sungguh mempesona.

Ketika aku masih kecil, sebagian pelafal adhan sangat menggangguku sehingga aku ingin menutup telinga. Tapi ayahku adalah adalah orang yang sabar, dan dia membawa pendengar untuk larut memahami makna adhan sewaktu dia menyanyikannya. Dia percaya setiap kata yang diucapkannya.

Sekitar 400 orang hidup di Al-Janiya sewaktu berada di bawah kekuasaan Yordania dan pendudukan Israel. Tapi masyarakat dusun kecil ini tidak tertarik akan politik. Terletak di daerah lembah beberapa mil barat daya Ramallah, Al-Janiya adalah tempat yang damai dan indah. Sinar mentari pagi mewarnai semua bagian dengan warna jingga dan ungu. Udaranya segar dan bersih, dan dari puncak bukit kau bisa melihat seluruh pemandangan dengan jelas sampai ke Mediterania.

Setiap jam 4 pagi, kakekku bangun untuk pergi ke mesjid. Setelah dia selesai melakukan sholat subuh, dia akan membawa keledai kecilnya ke lahan taninya, mengolah tanah, mengurus pohon² zaitun, dan minum air segar dari mata air yang keluar dari gunung. Tiada polusi udara karena hanya seorang saja di Al-Janiya yang punya mobil.

Ketika dia berada di rumah, kakekku mempersilakan para tamu berdatangan. Dia itu lebih dari sekedar imam – dia adalah segalanya bagi masyarakat desa. Dia berdoa bagi setiap bayi yang baru lahir dan membisikkan adhan di telinga mereka. Ketika ada orang mati, kakekku akan memandikannya dan mengurapi tubuhnya dan membungkusnya dengan kain. Dia pula yang menikahkan masyarakat, dan menguburkan masyarakat.

Ayahku, Hassan, adalah putra yang paling disayangi kakek. Bahkan sejak kecil, meskipun bukan kewajibannya, ayah sering ikut kakekku ke mesjid. Tiada saudara²nya yang lain yang peduli akan Islam seperti ayahku.

Sambil duduk di sebelah ayahnya, Hassa belajar melafalkan adhan. Dan juga seperti ayahnya, dia pun memiliki suara dan ketertarikan yang membuat orang menjawab panggilannya. Kakekku sangat bangga akan ayahku. Ketika ayah masih berusia 12 tahun, kakek berkata, “Hassan, kau telah menunjukkan bahwa kau berminat akan Elohim dan Islam. Maka aku akan mengirimmu ke Yerusalem untuk belajar Syariah.” Syariah adalah hukum agama Islam yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, dari keluarga dan kesehatan sampai ke bidang politik dan ekonomi.

Hassan tidak mengerti dan tidak tertarik bidang politik dan ekonomi. Dia hanya ingin menjadi seperti ayahnya saja. Dia ingin membaca dan melafalkan Qur’an untuk melayani masyarakat. Tapi dia nantinya akan mengetahui bahwa ayahnya bukanlah sekedar imam dan pelayan masyarakat yang dicintai saja.

Karena nilai² budaya dan tradisi selalu lebih berharga bagi orang² Arab daripada aturan dan hukum Pemerintah, maka orang seperti kakekku jadi pemimpin hukum tertinggi dalam masyarakat. Hal ini terutama terjadi jika pemimpin² negara adalah orang² sekuler yang lemah dan korup, sehingga perkataan imam berpengaruh lebih dianggap sebagai hukum.

Ayahku tidak dikirim ke Yerusalem hanya untuk belajar agama Islam saja; kakek ternyata hendak mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang pemimpin. Selama beberapa tahun setelah itu, ayahku hidup dan tinggal di kota tua Yerusalem, di sebelah mesjid Al-Aqsa – yang berkubah emas dan menjadi ciri khas Yerusalem di mata penduduk dunia. Di usia 18 tahun, ayah menyelesaikan studinya dan pindah ke Ramallah, di mana dia langsung ditunjuk menjadi imam mesjid. Karena besarnya keinginan untuk melayani Allah dan umat Muslim, ayah memulai pelayanan masyarakat dengan penuh semangat, sama seperti yang dilakukan kakek di Al-Janiya.

Tapi Ramallah bukanlah Al-Janiya. Ramallah adalah kota yang ramai, sedangkan Al-Janiya adalah dusun kecil nan sepi. Sewaktu ayah pertama kali masuk mesjid di Ramallah, dia sangat terkejut karena hanya mendapatkan lima orang tua saja yang sedang menunggunya. Umat Muslim yang lain tampaknya lebih suka mengunjungi kedai kopi, bioskop film porno, mabuk²an, atau berjudi. Bahkan orang yang seharusnya menyuarakan adhan lebih memilih memasang rekaman suara saja agar permainan kartunya tidak terganggu.

Hati ayah hancur melihat keadaan orang² ini, meskipun dia tidak tahu bagaimana caranya menyentuh hati mereka. Bahkan lima orang tua di mesjid mengakui bahwa mereka berada di mesjid karena merasa ajal sudah dekat dan ingin masuk surga, tapi setidaknya mereka bersedia berada di mesjid untuk mendengarkan khotbah. Maka ayah memulai kerja dengan sedikit orang yang ada. Dia memimpin orang² ini untuk bersholat, dan mengajari mereka Qur’an. Dalam waktu singkat saja mereka mengasihi ayah bagaikan malaikat yang dikirim dari surga.

Tapi di luar mesjid sih, lain ceritanya. Bagi kebanyakan orang, rasa cinta ayahku pada tuhan Qur’an hanya menunjukkan dengan jelas sikap mereka yang acuh tak acuh pada Islam, dan ini membuat mereka tersinggung.
“Mengapa anak kecil ini melafalkan adhan?” gerutu orang² itu, sambil menunjuk pada wajah ayahku yang masih muda. “Dia tidak layak tinggal di sini. Dia hanya pengacau saja.”
“Mengapa sih anak kecil ini mempermalukan kita? Hanya orang tua saja yang mau pergi ke mesjid.”
“Aku lebih suka jadi anjing daripada jadi orang seperti kamu,”
bentak salah satu dari mereka ke wajah ayah.

Ayahku diam saja menghadapi penindasan ini, dan tidak pernah balas membentak atau membela diri. Tapi rasa cinta dan kasihnya pada masyarakat ini tidak membuatnya putus asa. Dan dia terus saja melakukan pekerjaan yang diberikan kepadanya: memanggil umat Muslim untuk kembali pada Islam dan Allâh.

Dia membagi kekhawatirannya pada kakekku, yang dengan cepat menyadari bahwa ayahku memiliki ketangguhan dan potensi yang lebih besar daripadanya yang diperkirakannya. Kakek lalu mengirim ayah melanjutkan studi Islam ke Yordania. Nantinya kalian akan mengetahui bahwa orang² yang ditemui ayah di sana akhirnya akan mengubah sejarah keluargaku dan bahkan sejarah konflik Timur Tengah. Tapi sebelum aku melanjutkan, aku ingin berhenti sejenak untuk menjelaskan beberapa hal penting dalam sejarah Islam yang akan membantu kalian untuk mengerti mengapa berbagai solusi diplomatik yang tak terhingga jumlahnya kandas semua dan perdamaian tetap tak kunjung terjadi.

Diantara tahun 1517 sampai 1923, Islam – diwakili oleh kekalifahan Ottoman – menyebar dari pusatnya di Turki ke tiga benua. Tapi setelah beberapa ratus tahun penuh kejayaan dan kekuasaan, kekalifahan Ottoman jadi terpusat dan korup, sehingga mulai lemah.

Di bawah kekuasaan Turki, desa² Muslim di seluruh Timur Tengah jadi korban penindasan dan pemerasan pajak yang tinggi. Istanbul terletak terlalu jauh bagi sang Kalifah untuk melindungi umat Muslim yang setia dari penindasan para prajurit dan penguasa lokal.

Di abad ke 20, banyak Muslim yang kehilangan iman dan mulai mencari jalan keluar lain. Banyak dari mereka yang jadi atheis karena pengaruh komunisme. Umat Muslim yang lain mengubur masalah mereka dengan minuman keras, judi, dan pornografi, yang kebanyakan diperkenalkan oleh orang² Barat yang datang ke Timur Tengah karena perkembangan industri mineral.

Di Kairo, Mesir, seorang guru sekolah yang taat Islam bernama Hassan al-Banna menangisi keadaan masyarakatnya yang miskin, tak punya pekerjaan, dan tak bertuhan. Tapi dia menyalahkan pihak Barat, dan bukan pihak Turki, dan dia yakin bahwa satu²nya harapan bagi masyarakatnya, terutama generasi muda, adalah kembali pada Islam yang asli dan murni.

Dia lalu pergi ke kedai kopi, naik di atas meja, dan mulai berkhotbah tentang Allâh. Orang² mabuk menghinanya. Para pemimpin agama Islam menentangnya. Tapi kebanyakan orang mencintainya karena dia memberikan harapan bagi mereka.

Di bulan Maret 1928, Hassan al-Banna mendirikan Masyarakat Persaudaraan Muslim (Society of the Muslim Brothers). Tujuan organisasi baru ini adalah untuk membangun kembali umat Muslim sesuai dengan aturan Islam. Dalam waktu satu dasawarsa, setiap propinsi di Mesir telah memiliki cabang organisasi. Saudara laki al-Banna mendirikan cabang lain di daerah Palestina di tahun 1935. Dua puluh tahun kemudian, organisasi Persaudaraan Muslim ini memiliki anggota sebanyak setengah juta orang di Kairo saja.

Anggota² Persaudaraan Muslim kebanyakan berasal dari kalangan miskin dan kelas rendah – tapi mereka sangat setia pada tujuan perjuangan. Mereka menyumbang uang dari kantong mereka sendiri untuk menolong sesama Muslim, sama seperti yang diperintahkan Qur’an.

Banyak orang Barat yang menyamaratakan semua Muslim sebagai teroris, tidak mengerti akan sisi Islam yang menyiratkan kasih dan pengampunan. Sisi ini peduli akan kaum miskin, para janda, dan anak yatim, juga menyediakan pendidikan dan bantuan sosial. Hal ini menyatukan dan menguatkan umat Muslim. Sisi Islam inilah yang jadi motivasi utama para pemimpin Persaudaraan Muslim awal. Tentu saja ada sisi lain Islam yang mengajak semua Muslim melakukan Jihad melawan seluruh dunia sampai umat Muslim berhasil mendirikan kekalifahan Islam atas seluruh dunia, dipimpin oleh seorang manusia suci yang berkuasa dan berbicara bagi Allâh. Hal ini penting untuk dimengerti dan diingat sebelum maju ke kisah selanjutnya. Sekarang balik dulu lagi ke pelajaran sejarah …

Di tahun 1948, Persaudaraan Muslim berusaha melakukan kudeta terhadap Pemerintah Mesir, karena Persaudaraan Muslim menganggap Pemerintah Mesir bertanggung jawab atas keadaan Mesir yang semakin sekuler. Usaha penggulingan kekuasaan ini terhenti sebelum berakibat apapun, karena berhentinya Mandat Pemerintah Inggris dan Israel memproklamasikan diri sebagai negara Yahudi yang berdaulat.

Umat Muslim di seluruh Timur Tengah sangat marah. Berdasarkan Qur’an, jikalau musuh menyerang negara Muslim manapun, semua Muslim harus bersatu untuk berperang membela tanah Muslim. Menurut sudut pandang dunia Arab, orang asing telah menyerang dan menguasai Palestina, tempat Mesjid Al-Aqsa, yang merupakan tempat Islam paling suci ketiga setelah Mekah dan Medinah. Mesjid itu dibangun di tempat yang diyakini sebagai tempat di mana Muhammad dan Jibril pergi ke surga dan berbicara dengan Abraham, Musa, dan Yesus.

Mesir, Lebanon, Syria, Yordania, dan Iraq seketika menyerang negara baru Yahudi. Diantara 10.000 pasukan Mesir terdapat ribuan sukarelawan Persaudaraan Muslim. Akan tetapi persekutuan Arab ini kalah perang. Kurang dari setahun kemudian, tentara Arab telah diusir keluar Palestina.

Sebagai akibat perang, sekitar 3/4 juta masyarakat Arab Palestina lari atau keluar dari rumah² mereka di daerah yang sekarang menjadi milik Negara Israel.

Meskipun PBB mengeluarkan Resolusi 194, yang menetapkan bahwa “para pengungsi yang ingin kembali ke rumah mereka dan hidup dama dengan para tetangga lainnya diijinkan untuk melakukan itu” dan “ganti rugi dibayarkan atas barang milik orang² yang memilih untuk tidak kembali,” anjuran ini ternyata tidak pernah dilaksanakan. Puluhan ribu orang² Palestina yang meninggalkan Israel sewaktu Perang Arab-Israel tidak pernah mendapatkan kembali rumah² dan tanah mereka. Banyak para pengungsi dan keturunannya yang hidup di kamp² pengungsian yang diatur oleh PBB hingga saat ini.

Ketika para anggota Persaudaraan Muslim yang sekarang bersenjata kembali dari medan perang ke Mesir, usaha penggulingan kekuasaan atas Pemerintah Mesir dilakukan lagi. Namun rencana kudeta ini bocor, dan Pemerintah Mesir lalu melarang organisasi Persaudaraan Muslim, menyita semua asetnya, dan memenjarakan banyak anggotanya. Mereka yang berhasil melarikan diri lalu membunuh Perdana Menteri Mesir beberapa minggu kemudian.

Hassan al-Banna dibunuh pada tanggal 12 Februari, 1949, diperkirakan oleh pasukan keamanan rahasia Pemerintah. Tapi organisasi Persaudaraan Muslim tidak jadi hancur. Dalam waktu 20 tahun saja, hassan al-Banna telah membangkitkan Islam dari tidurnya dan menciptakan revolusi Islam dengan pasukan bersenjatanya. Dalam beberapa tahun berikutnya, organisasi ini terus berhasil menambah anggota dan pengaruh diantara umat Muslim, tidak hanya di Mesir saja, tapi juga di Syria dan Yordania.

Saat ayahku tiba di Yordania di pertengahan tahun 1970-an untuk belajar Islam, Persaudaraan Muslim telah berdiri dengan kuat dan dicintai masyarakat Muslim. Anggota² Persaudaraan Muslim melakukan segala hal yang disetujui ayahku – memperkuat iman Islam diantara umat Muslim, menyembuhkan mereka yang terluka, dan mencoba menyelamatkan masyarakat dari pengaruh korup lingkungannya. Ayah yakin bahwa orang² ini adalah pembaru relijius Islam, sama seperti Martin Luther dan William Tyndale bagi umat Kristen. Mereka hanya ingin menyelamatkan dan memperbaiki nasib rakyat, dan bukan untuk membunuh dan menghancurkan. Ketika ayah bertemu dengan sebagian pemimpin awal Persaudaraan Muslim, dia berkata, “Ya, inilah yang aku cari.”
Apa yang ayahku lihat di saat² awal jaman itu adalah Islam yang mencerminkan kasih dan pengampunan. Apa yang tak dilihatnya, yang mungkin dia sendiri tidak mau lihat, adalah sisi lain dari Islam.

Islam itu bagaikan sebuah tangga. Bagian tangga paling bawah adalah sholat dan pujian bagi Allâh. Tangga yang berikutnya adalah menolong Muslim mikin dan membutuhkan bantuan, mendirikan sekolah², dan mengadakan zakat. Tangga yang paling atas adalah Jihad.

Tangga ini tinggi. Hanya segelintir orang saja yang mau melihat apa yang ada di tangga paling atas. Dan kesadaran akan hal itu hanya perlahan saja berlangsung, dan bahkan hampir tidak mungkin terjadi. Hal ini bagaikan kucing mengincar burung. Si burung tidak pernah mengalihkan pandangan mata dari kucing, tapi dia diam saja sambil terus mengamati kucing maju mundur mengambil ancang² untuk menerkamnya. Burung itu tidak bisa menghitung jarak, dan tidak menyadari bahwa si kucing semakin datang mendekatinya sedikit demi sedikit, sampai, dalam waktu sekejap mata saja, cakar kucing telah basah oleh darah burung.

Muslim² tradisional berdiri di atas tangga paling bawah, hidup dalam rasa bersalah karena tidak melakukan ibadah Islam dengan taat. Di tangga paling atas terdapat Muslim fundamentalis, dan mereka inilah yang kalian lihat di berbagai berita membunuhi para wanita dan anak² demi kemuliaan tuhan Qur’an. Muslim moderat itu terletak di antara bagian bawah dan atas tangga.

Seorang Muslim moderat sebenarnya lebih berbahaya daripada Muslim fundamentalis. Akan tetapi, karena orang ini tampaknya tak berbahaya, kalian tidak akan tahu kapan orang ini akan naik memanjat tangga yang teratas. Kebanyakan para pembom bunuh diri awalnya adalah Muslim moderat.

Saat di mana ayahku menginjakkan kaki pertama kali di tangga paling bawah, dia tidak bisa membayangkan berapa jauh dia akan meninggalkan angan² Islam idealnya tatkala terus menaiki tangga. Setelah 35 tahun kemudian, aku ingin bertanya padanya:

Apakah kau ingat di mana kau memulai? Kau melihat semua Muslim tersesat, dan hatimu hancur akan mereka, dan kau ingin mereka kembali pada Allâh dan diselamatkan. Sekarang lihat para pembom bunuh diri yang membunuhi orang² yang tak bersalah. Apakah ini sesuai dengan niat awalmu?

Tapi bicara seperti itu pada ayah sendiri tidaklah lumrah dilakukan dalam masyarakat kami. Karenanya, dia terus saja menjalani jalan berbahaya tersebut.

Bab 3 – Persaudaraan Muslim (Muslim Brotherhood)
1977 – 1987

Ketika ayahku kembali ke daerah yang diduduki Israel setelah menyelesaikan studi di Yordania, dia sangat bersikap optimis dan penuh harapan bagi umat Muslim di mana pun. Dalam benaknya dia melihat masa depan cerah melalui organisasi Persaudaraan Muslim yang tampaknya moderat.

Ayah datang bersama Ibrahim Abu Salem, salah satu pendiri Persaudaraan Muslim di Yordania. Abu Salem datang untuk membawa nafas baru bagi organisasi Persaudaraan Muslim yang mandeg di Palestina. Dia dan ayah bekerja sama dengan baik, merekrut anggota pemuda² yang memiliki impian sama dan menyusun mereka dalam kelompok² aktivis kecil.
Di tahun 1977, dengan uang sebanyak 50 dinar di saku, Hassan menikahi saudara perempuan Ibrahim Abu Salem yakni Sabha Abu Salem. Aku lahir setahun kemudian.

Ketika aku berusia 7 tahun, keluarga kami pindah ke Al-Bireh, kota kembar dari Ramallah, dan ayahku menjadi imam di kamp pengungsian Al-Amari, yang  terletak di daerah perbatasan Al-Bireh. Sembilan belas kamp pengungsian terdapat di Tepi Barat, dan Al-Amari telah didirikan sejak tahun 1949 dan luasnya adalah 22 acre (8.9 hektar). Di tahun 1957, tenda² terpal diganti dengan perumahan bertembok yang saling berderet. Jalanan hanyalah selebar besar mobil, dan selokan padat dengan kotoran seperti sungai jamban. Kamp ini juga terlalu padat penduduk; airnya terlalu kotor untuk bisa diminum. Sebuah pohon berdiri sendirian di tengah² kamp. Para pengungsi bergantung sepenuhnya pada PBB untuk segala keperluan – perumahan, makanan, pakaian, obat²an, dan pendidikan.

Ketika ayahku mengunjungi mesjid untuk pertama kali, dia merasa kecewa karena hanya melihat dua baris orang bersholat, dengan jumlah 20 orang setiap baris. Beberapa bulan setelah dia berkhotbah di kamp, orang² mulai memenuhi mesjid dan lalu berlimpah ruah sampai ke jalanan. Selain sangat bertakwa pada Allâh, ayahku juga sangat mengasihi umat Muslim. Sebagai balasan, umat Muslim pun sangat mengasihinya.

Hassan Yousef sangat disukai masyarakat karena dia sama seperti mereka. Dia tidak pernah menganggap dirinya lebih tinggi daripada orang lain yang dilayaninya. Dia hidup sama seperti mereka hidup, makan makanan yang sama yang mereka makan, sholat sama seperti mereka sholat. Dia tidak mengenakan pakaian mewah. Dia dapat sedikit gaji dari Pemerintah Yordania – tak cukup untuk memenuhi kebutuhannya – yang adalah menyediakan fasilitas dan perawatan tempat² ibadah. Hari libur resminya adalah Senin, tapi dia tidak pernah memanfaatkannya. Dia tidak bekerja karena ingin dapat gaji; dia bekerja untuk menyenangkan Allâh. Baginya, ini merupakan tugas sucinya, tujuan hidupnya.

Di bulan September 1987, ayahku mengambil pekerjaan kedua sebagai guru Islam bagi murid² Muslim yang sekolah di sekolah Kristen di Tepi Barat. Karena ini kami sekeluarga makin jarang melihatnya – ini tidak dilakukannya karena dia tidak mencintai kami, tapi karena dia memang lebih mencintai Allâh daripada keluarganya. Yang tak kami sadari adalah semakin dekatnya saat di mana kami tidak lagi melihatnya sama sekali.

Sewaktu ayahku bekerja di luar, ibuku membesarkan anak² sendirian. Dia mengajarkan kami bagaimana menjadi Muslim yang baik, membangunkan kami untuk melakukansholat subuh ketika kami sudah cukup besar dan menganjurkan kami untuk puasa di bulan Ramadan. Kami enam bersaudara – saudara² lakiku Sohayb, Seif, dan Oways; saudara perempuanku Sabila dan Tasnim; dan aku sendiri. Bahkan dengan dua gaji dari dua pekerjaan ayah, kami pun masih kekurangan uang untuk bayar berbagai keperluan. Ibuku berusaha keras berhemat sekuat tenaga.

Sabila dan Tasnim mulai membantu ibu sejak usia yang sangat muda. Manis, murni dan cantik jelita, saudara² perempuanku ini tidak pernah mengeluh, meskipun mainan² mereka berdebu karena mereka tak punya kesempatan bermain. Mainan mereka malah berubah jadi peralatan rumah tangga di dapur.

“Kau bekerja terlalu keras, Sabila,” kata ibu pada saudara perempuaku yang tertua.
“Berhenti bekerja dan beristirahatlah.” Tapi Sabila hanya tersenyum dan terus bekerja.

Saudara lakiku Sohayb dan aku belajar dengan cepat bagaimana membuat api dan menggunakan oven. Kami membagi tugas memasak dan mencuci piring, dan kami semua mengurus Oways yang masih bayi.
Permainan kesenangan kami adalah Bintang². Ibuku menulis nama² kami di sebuah kertas, dan setiap malam sebelum tidur, kami berkumpul dalam sebuah lingkaran agar ibu bisa menghadiahi kami dengan “bintang²” tergantung dari apa yang telah kami lakukan hari itu. Di akhir bulan, anak yang dapat bintang terbanyak adalah pemenang; dan biasanya anak itu adalah Sabila. Tentu saja kami tak punya uang untuk membeli hadiah betulan, tapi tak jadi masalah. Bintang² itu lebih merupakan cara kami mendapatkan penghargaan dan penghormatan dari ibu, dan kami selalu menunggu dengan penuh semangat untuk melakukan permainan ini.

Mesjid Ali terletak setengah mil saja dari rumah kami, dan aku merasa bangga bisa berjalan sendiri ke sana. Aku sangat ingin jadi seperti ayahku, sama seperti dia dulu ingin jadi seperti ayahnya.

Di seberang jalan Mesjid Ali terdapat sebuah kuburan terbesar yang pernah aku lihat. Ini adalah kuburan bagi masyarakat Ramallah, Al-Bireh, dan kamp² pengungsian. Luas kuburan ini lima kali lebih besar dari seluruh kompleks perumahan kami, dan dikelilingi tembok setinggi 2 kaki (0,6 meter). Lima kali  sehari, ketika adhan berkumandang, aku berjalan ke mesjid dan nantinya pulang dari mesjid, dan selalu harus melalui ribuan kuburan ini. Bagi anak kecil seusiaku, tempat ini sangat seram, terutama di malam hari yang gelap pekat. Aku membayangkan akar² pohon besar memakan mayat² kubur.

Suatu kali seorang imam memanggil kami untuk sholat Zuhr (siang hari), aku membersihkan diri, memakai wewangian, berbaju rapih seperti ayahku, dan berjalan ke mesjid. Hari itu adalah hari yang cerah. Sewaktu aku sudah dekat mesjid, aku melihat lebih banyak mobil diparkir di luar Mesjid daripada hari biasa. Sekelompok orang tampak berdiri di pintu masuk. Aku melepaskan sepatu seperti biasa dan masuk mesjid. Dekat pintu bagian dalam tampak sebuah mayat yang ditutupi dengan kain katun putih dalam kotak terbuka. Aku belum pernah melihat mayat sebelumnya, dan meskipun aku seharusnya tidak terus memandangnya, tapi aku tetap tak bisa mengalihkan mata. Mayat itu dibungkus kain, dan hanya wajahnya saja yang tampak. Aku mengamati bagian dadanya dengan sedikit harapan dia akan mulai bernafas lagi.

Sang Imam memanggil kami untuk berbaris dan sholat. Aku berdiri di baris paling depan dengan orang² lain, dan mataku tetap terpaku pada mayat dalam kotak tersebut. Ketika kami selesai melafalkan ayat, sang Imam meminta mayat dibawa ke muka untuk didoakan. Delapan pria mengangkat kotak di atas bahu mereka dan seseorang berteriak, “La ilaha illallah! (Tiada ilah selain Allâh)” Bagaikan sudah diatur, orang² lain lalu menyahut, “La ilaha illallah! La ilaha illallah!”

Aku mengenakan sepatuku secepatnya dan mengikuti rombongan orang pergi ke kuburan. Karena aku pendek, aku harus berlari untuk bisa mengimbangi langkah kaki orang² dewasa agar tidak ketinggalan. Sebelumnya aku belum pernah masuk kuburan, tapi kali ini memberanikah diri karena masuk bersama banyak orang.
“Jangan injak kuburan orang,” seseorang berteriak. “Itu dilarang!”
Aku dengan hati² menyusup diantara orang² banyak sampai kami tiba di liang kuburan yang dalam dan terbuka. Aku melihat dasar lubang kubur selebar 8 kaki (2,4 meter), di mana seorang tua sedang berdiri. Aku mendengar anak² tetangga bicara tentang orang ini, namanya adalah Juma’a. Mereka bilang dia tidak pernah datang ke mesjid dan tidak percaya tuhan Qur’an, tapi dia menguburkan orang mati, kadangkala dua atau tiga mayat per hari.

Apakah dia tidak takut kematian sama sekali? Aku bertanya-tanya.
Orang² menurunkan mayat ke tangan² kokoh Juma’a. Mereka lalu memberinya botol cologne dan cairan hijau yang berbau segar dan enak. Juma’a membuka kain kafan dan menaburkan cairan² wewangian itu di atas tubuh mayat.
Juma’a lalu memiringkan mayat sehingga berbaring di sebelah kanan tubuh mayat, menghadap Mekah, dan memagari sekujur tubuh mayat dengan bongkahan semen. Empat orang lalu menutup kubur dengan sekop, dan imam lalu mulai berkhotbah. Dia memulainya seperti ayahku.
“Orang ini telah pergi,” dia berkata, pada saat yang sama tanah jatuh menutupi wajah, leher, dan tangan mayat. “Dia meninggalkan segalanya – uang, rumah, anak perempuan dan laki, dan istrinya. Begitulah nasib bagi kita semua.”

Dia mengajak kami untuk bertobat dan berhenti berbuat dosa. Lalu dia mengatakan hal yang belum pernah kudengar dari ayahku: “Jiwa orang ini akan segera kembali padanya dan dua malaikat maut Munkar dan Nakir akan datang dari langit untuk memeriksanya. Mereka akan mencekal tubuhnya dan mengguncangnya, sambil bertanya, ‘Siapakah Elohimmu?’ Jika dia menjawab dengan salah, maka para malaikat ini akan memukulinya dengan palu besar dan mengirim dia kembali masuk ke dalam tanah selama 70 tahun. “Allâh, kami minta kau memberi kami jawaban² yang benar jika saat kematian kami tiba!”

Aku melotot melihat kuburan dengan rasa takut. Tubuh itu hampir terkubur semuanya, dan aku bertanya-tanya berapa lama lagi sebelum pertanyaan² diajukan baginya.
“Dan jika jawaban²nya tidak memuaskan, berat tanah di atas tubuhnya akan menghancurkan tulang² rusuknya. Cacing² akan memakan tubuhnya secara perlahan. Dia akan disiksa ular berkepala 99 dan kalajengking berukuran sebesar leher unta sampai hari kiamat, tatkala penderitaannya mungkin mendapat pengampunan Allâh.”

Aku sungguh tak bisa percaya semua ini terjadi di dekat rumahku setiap kali mereka mengubur seseorang. Aku tidak pernah merasa nyaman dengan kuburan ini; tapi sekarang aku malah merasa lebih takut lagi. Aku merasa harus mengingat pertanyaan² itu, sehingga jika nanti aku mati dan ditanyai malaikat maut, aku bisa menjawab dengan benar.

Sang imam berkata bahwa pertanyaan akan langsung diajukan setelah orang terakhir meninggalkan kuburan. Aku pulang ke rumah, tapi tidak bisa melupakan apa yang dikatakannya. Aku lalu ingin kembali ke kuburan untuk mendengarkan siksa kubur. Aku ajak beberapa teman untuk menemaniku, tapi mereka semua menganggap aku gila. Karena itu aku harus datang sendirian saja. Dalam perjalanan kembali ke kuburan, tubuhku gemetar oleh rasa takut. Aku sungguh tak dapat menguasai rasa takut itu. Tak lama kemudian aku tiba di lautan kuburan. Aku ingin berlari, tapi rasa ingin tahuku lebih besar. Aku ingin mendengar pertanyaan² diucapkan, jeritan² – atau apa sajalah. Tapi aku ternyata tak mendengar apapun. Aku berjalan mendekat sampai bisa menyentuh batu nisan. Hanya sunyi senyap saja. Sejam berlalu, dan aku jadi bosan dan kembali pulang ke rumah.

Ibuku sedang sibuk di dapur. Aku katakan padanya bahwa aku pergi ke penguburan di mana imam mengatakan akan terjadi penyiksaan.
“Lalu bagaimana…?”
“Lalu aku kembali setelah orang² meninggalkan mayat itu, tapi aku tidak mendengar apapun tuh.”
“Penyiksaan hanya bisa didengar oleh binatang² saja,” jawab ibu, “orang sih tak bisa mendengarnya.”
Bagi anak usia 8 tahun, penjelasan ini masuk akal.

Setelah saat itu, aku memperhatikan penguburan yang dilakukan di tempat itu. Lama kelamaan aku jadi terbiasa dan hanya melihat untuk mengetahui siapakah yang mati. Kemaren, seorang wanita. Hari ini, seorang pria. Suatu hari, mereka menguburkan dua orang, dan lalu sejam kemudian, mereka membawa mayat baru. Ketika tiada mayat yang harus dikubur, aku berjalan-jalan di antara kuburan dan membaca keterangan orang² yang dikubur di situ. Seseorang telah mati sejak 100 tahun yang lalu. Yang lain sejak 25 tahun yang lalu. Siapa ya namanya? Asalnya dari mana? Kuburan itu jadi tempat bermainku.

Sama seperti aku, para temanku juga awalnya takut akan kuburan tersebut. Tapi kami saling menantang siapa yang berani memanjat tembok kuburan di malam hari. Karena tiada seorang pun yang mau disebut pengecut, maka kami semua akhirnya bisa menguasai rasa takut kami. Kami bahkan lalu bermain sepak bola di tanah lapang kuburan tersebut.

*****************

Sewaktu keluarga kami bertambah besar, begitu pula yang terjadi dengan organisasi Persaudaraan Muslim. Dalam waktu singkat, organisasi yang tadinya beranggotakan orang² miskin dan para pengungsi, mulai berubah dengan mengikutseratakan anggota² pria dan wanita muda yang berpendidikan, orang² bisnis dan profesional yang menyumbangkan uang mereka untuk mendirikan berbagai sekolah, badan sosial, dan klinik kesehatan.

Melihat perkembangan ini, banyak pemuda dalam gerakan Islam, terutama di Gaza, yang menganggap Persaudaraan Muslim perlu menempatkan diri dalam menghadapi pendudukan Israel. Kami telah mengurus masyarakat, kata mereka, dan kami akan terus melakukan hal itu. Tapi apakah kami akan terus menerima pendudukan wilayah untuk selamanya? Bukankah Qur’an telah memerintahkan kita untuk mengusir para penyerang Yahudi? Para pemuda ini tidak bersenjata, tapi mereka tangguh dan penuh tekad perang.

Ayahku dan para pemimpin Tepi Barat lainnya tidak setuju. Mereka tidak siap untuk mengulangi kesalahan Mesir dan Syria, di mana Persaudaraan Muslim berusaha melakukan kudeta dan gagal. Di Yordania, kata mereka, para saudara kami tidak berperang. Mereka berpartisipasi dalam Pemilu dan punya pengaruh kuat dalam masyarakat. Ayahku tidak menentang kekerasan, tapi dia berpendapat masyarakatnya cukup kuat untuk melawan militer Israel.

Selama beberapa tahun, perdebatan dalam Persaudaraan Muslim terus berlangsung dan tekanan untuk melakukan kekerasan bertambah besar. Karena frustasi melihat Persaudaraan Muslim tidak juga melakukan apapun, Fathi Shaqaqi mendirikan Palestina Islamic Jihad di akhir tahun 1970-an. Meskipun begitu, Persaudaraan Muslim tetap tidak melakukan kekerasan sampai 10 tahun kemudian.

Di tahun 1986, pertemuan rahasia dan bersejarah terjadi di Hebron, sebelah selatan Bethlehem. Ayahku juga hadir dalam pertemuan ini, meskipun dia tidak memberitahuku sampai bertahun-tahun kemudian. Tidak seperti penjelasan sejarah sebelumnya yang kurang tepat, tujuh orang berikut hadir dalam pertemuan tersebut:

○ Syeikh Ahmed Yassin yang memakai kursi roda, dan jadi pemimpin rohani organisasi baru
○ Muhammad Jamal al-Natsheh dari Hebron
○ Jamal Mansour dari Nablus
○ Syeikh Hassan Yousef (ayahku)
○ Mahmud Muslih dari Ramallah
○ Jamil Hamami dari Yerusalem
○ Ayman Abu Taha dari Gaza

Orang² yang menghadiri pertemuan ini akhirnya sudah siap untuk perang. Mereka sepakat untuk memulai pemberontakan sipil kecil²an – melempari batu dan membakar ban. Tujuan mereka adalah untuk membangkitkan, menyatukan, dan mengumpulkan masyarakat Palestina dan membuat mereka mengerti perlunya independen di bawah bendera Allâh dan Islam. [1]
Hamas lahir dari pertemuan itu. Dan ayahku memanjat beberapa tangga lagi untuk lebih dekat ke puncak tangga Islam.

[1] Tiada seorang pun yang tahu akan hal ini sebelumnya. Tiada penjelasan sejarah yang benar² tepat tentang terbentuknya Hamas. Contoh, Wikipedia mengatakan “Hamas didirikan di tahun 1987 oleh Syeikh Akhmed Yassin, Abdel Aziz al-Rantissi, dan Mohammad Taha oleh cabang Persaudaraan Muslim cabang Palestina di awal Intifada pertama…”
Penjelasan ini benar tentang dua orang dari tujuh tokoh pendiri Hamas, dan meleset satu tahun. Lihat Wiki: Hamas (diakses tanggal 20 November, 2009).
Website MidEastWeb mengatakan, “Hamas dibentuk sekitar bulan Februari 1988 untuk mengijinkan Persaudaraan Muslim ikut serta dalam Intifada pertama. Para pendiri Hamas adalah: Ahmad Yassin, ‘Abd al-Fattah Dukhan, Muhammed Shama’, Ibrahim al-Yazuri, Issa al-Najjar, Salah Shehadeh (dari Bayt Hanun) dan ‘Abd al-Aziz Rantisi. Dr. Mahmud Zahari biasanya juga tercantum sebagai pendiri asli Hamas. Para pemimpin lainnya adalah: Syeikh Khalil Qawqa, Isa al-Ashar, Musa Abu Marzuq, Ibrahim Ghusha, Khalid Mish’al.” Keterangan ini malah lebih tidak tepat dibandingkan Wikipedia. Lihat Hamas History (diakses pada tanggal 20 November, 2009).

Bab 4 – Melempar Batu
1987-1989

Hamas membutuhkan suatu peristiwa – peristiwa apapun – yang bisa membenarkan tindakan perlawanan. Peristiwa ini terjadi di bulan Desember 1987, meskipun semuanya berawal dari salah pengertian tragis semata.

Di Gaza, seorang penjual plastik Israel bernama Shlomo Sakal ditusuk sampai mati. Beberapa hari kemudian, empat orang dari kamp pengungsi Jabalia di Gaza terbunuh dalam kecelakaan lalu lintas biasa. Tapi lalu tersebar kabar bahwa mereka dibunuh orang² Israel yang membalas dendam atas kematian Sakal. Keributan massal lalu terjadi di Jabalia. Seorang pemuda berusia 17 tahun melempar bom molotov dan ditembak mati oleh prajurit Israel. Di Gaza dan Tepi Barat, semua orang turun ke jalanan. Hamas memimpin gerakan ini, membakar kemarahan massa yang kemudian jadi cara berperang baru melawan Israel. Anak² melemparkan batu² pada tank² Israel, dan foto² mereka bermunculan di berbagai sampul depan majalah² internasional di minggu yang sama.

Intifada pertama telah terjadi, dan perjuangan rakyat Palestina menjadi berita dunia. Ketika intifada dimulai, kuburan tempat bermain kami jadi berubah total. Setiap hari, mayat berdatangan lebih sering dari semula. Kemarahan dan dendam bergandengan tangan bercampur rasa sedih. Orang² Palestina mulai melemparkan batu pada orang² Yahudi yang berkendaraan melalui kuburan untuk mencapai perumahan Israel yang jauhnya satu mil dari tempat itu. Para penduduk Israel yang bersenjata dibunuhi. Ketika Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defence Force = IDF) datang di tempat itu, terjadi lebih banyak lagi baku tembak, luka², dan kematian.

Rumah kami terletak di tengah² segala kekacauan. Seringkali gentong² penampungan air di atas rumah kami bocor tertembak peluru² Israel. Tubuh² tak bernyawa para feda’iyin atau pejuang kemerdekaan yang dibawa ke kuburan kami tidak lagi hanya orang² lanjut usia saja. Kadangkala mayat masih berlumuran darah dan belum dimandikan, tidak dibungkus kain kafan. Setiap orang yang mati syahid dikubur secepatnya agar mayatnya tidak dicuri, diambil organ² tubuhnya, dijejali kain untuk kemudian dikembalikan ke keluarganya.

Terjadi begitu banyak kekerasan sehingga aku jadi bosan jika suasana kadangkala tenang. Teman² dan aku juga mulai melemparkan batu² – untuk membuat kekacauan dan juga agar dihormati orang lain karena mau berjuang bersama. Kami bisa melihat perumahan Israel dari kuburan, yang terletak di puncak gunung, dikelilingi pagar tinggi dan menara² penjaga. Aku terkadang berpikir tentang 500 penduduk yang hidup di sana dan mengendarai mobil baru – banyak dari mereka yang bersenjata. Mereka membawa senapan otomatis dan tampaknya bisa bebas menembaki siapapun yang mereka arah. Bagi anak usia 10 tahun, mereka tampak seperti makhluk asing dari planet lain.

Di suatu sore sebelum sholat maghrib, aku dan beberapa temanku bersembunyi di jalanan dan menunggu. Kami ingin melempari bus karena bus berukuran besar dan lebih mudah dilempar. Kami tahu bus datang setiap hari dengan jadwal yang sama. Selagi kami menunggu, terdengar suara imam dari pengeras suara, “Hayya ‘alas-salah” (Bergegaslah bersholat).

Ketika kami akhirnya mendengar derungan mesin disel, masing² lalu mengambil dua buah batu. Meskipun kami bersembunyi dan tidak dapat melihat jalanan, kami sangat mengenal suara bus tersebut. Di waktu yang tepat, kami loncat dan melemparkan batu² itu. Suara benturan batu dengan metal meyakinkan kami bahwa setidaknya beberapa batu tepat mengenai sasaran.

Tapi yang lewat ternyata bukan bus, melainkan sebuah mobil militer besar penuh dengan serdadu Israel yang jengkel dan marah. Kami cepat bersembunyi di dalam selokan karena mobil itu berhenti. Kami tak bisa melihat para prajurit dan mereka pun tidak bisa melihat kami. Maka mereka lalu mulai menembaki udara. Mereka terus menembak tanpa sasaran selama dua menit, dan dengan merunduk kami berhasil melarikan diri ke mesjid yang tak jauh dari situ.

Sholat sudah dimulai, tapi kupikir tak ada yang dapat berkonsentrasi akan apa yang mereka lafalkan. Setiap orang mendengarkan tembakan senjata otomatis di luar dan bertanya-tanya apakah yang telah terjadi. Aku dan temanku menyelip masuk di baris paling belakang, dengan harapan tak ada seorang pun yang tahu. Tapi setelah imam selesai mengucapkan doa, semua mata marah tertuju pada kami.

Dalam waktu beberapa detik saja, kendaraan IDF terdengar direm kuat² di bagian depan mesjid. Para prajurit lalu masuk memenuhi ruangan, memaksa kami semua keluar dan memerintahkan kami berbaring dengan muka menghadap tanah dan mereka lalu memeriksa KTP kami. Aku adalah orang terakhir yang keluar dan merasa takut jangan² para prajurit tahu bahwa akulah yang bertanggungjawab atas masalah yang terjadi. Kupikir tentunya mereka akan memukuliku sampai mati. Tapi ternyata tak ada yang menaruh perhatian padaku. Mungkin mereka pikir anak kecil seperti aku tidak akan berani melempar batu pada kendaraan IDF. Apapun alasannya, aku merasa lega karena mereka tidak mengarah padaku. Interogasi berlangsung berjam-jam, dan aku tahu banyak orang yang merasa marah padaku. Mereka mungkin tak tahu persis apa yang kulakukan, tapi mereka tampak yakin bahwa akulah yang melakukan penyerangan. Aku tak peduli. Sebenarnya aku merasa girang. Aku dan teman²ku telah berani menentang pasukan Israel yang kuat dan berhasil selamat tanpa segores luka pun. Rasa kemenangan ini membuat kami ketagihan dan bertindak semakin berani.

Aku dan seorang temanku bersembunyi lagi di lain hari, kali ini dekat dengan jalan raya. Sebuah mobil datang, dan aku berdiri lalu melempar batu sekeras mungkin. Batu itu mengenai jendela mobil dengan suara sangat keras, tapi tidak menghancurkan jendela. Aku bisa melihat wajah pengemudi, dan aku tahu dia ketakutan. Dia terus menyetir mobilnya sampai sejauh 40 yard, menginjak rem, dan lalu berbalik menuju ke arahku.

Aku lari menuju kuburan. Dia mengikutiku tapi berada di luar sambil memegang senjata M16 dekat tembok dan mengawasi kuburan untuk mencari diriku. Temanku lari ke arah yang berlawanan, membiarkan aku sendirian menghadapi seorang penduduk Israel yang marah dan bersenjata.

Aku tiarap di tanah diantara kuburan orang², karena mengetahui pengemudi mobil itu menunggu sampai aku mendongakkan kepala. Akhirnya aku tak tahan lagi mengekang rasa tegang, sehingga aku lalu loncat dan lari secepat mungkin. Untungnya saat itu hari sudah mulai gelap dan tampaknya orang itu takut masuk ke dalam daerah kuburan.

Aku belum berlari jauh tatkala kakiku menginjak lubang kuburan kosong. Aku jatuh ke dalam kubur ternganga yang dipersiapkan bagi mayat baru. Apa yang harus kulakukan, pikirku. Di atasku, orang Israel itu menembaki kuburan dengan pelurunya. Serpihan batu berjatuhan masuk ke dalam lubang kubur.

Aku meringkuk di sana tanpa bisa berkutik. Setelah sekitar setengah jam kemudian, aku mendengar orang bicara, jadi aku tahu orang itu sudah pergi dan aku bisa keluar kubur dengan aman.

Dua hari kemudian, aku sedang berjalan di jalanan, dan mobil yang sama lewat di depanku. Kali ini ada dua orang di dalam mobil, tapi pengemudinya adalah orang yang sama. Dia mengenalku dan dengan cepat meloncat keluar dari mobil. Aku berusaha melarikan diri, tapi kali ini aku kurang beruntung. Dia berhasil menangkapku, menampar mukaku dengan keras, dan menarikku masuk ke dalam mobil. Tiada yang berkata sepatah kata pun ketika kami melaju ke perumahan Israel. Kedua orang itu tampak gelisah dan memegang erat² senjata mereka, sambil kadang² melihat diriku yang duduk di bagian belakang. Aku bukanlah seorang teroris; aku hanyalah anak kecil yang ketakutan. Tapi mereka berlaku seperti pemburu ulung yang berhasil menangkap macan besar.

Di pintu gerbang, seorang prajurit memeriksa SIM pengemudi dan mempersilakan dia masuk. Apakah prajurit itu tidak merasa heran melihat kedua orang ini bersama seorang anak kecil Palestina bersama mereka? Aku tahu seharusnya aku merasa takut – dan memang aku takut – tapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat lingkungan sekitarku. Aku belum pernah masuk ke daerah perumahan Israel. Bagus sekali keadaannya. Jalanan bersih, kolam renang, pemandangan lembah yang indah dari puncak gunung.

Pengemudi membawaku ke pusat IDF di daerah itu, di mana prajurit merampas sepatuku dan menyuruhku duduk di lantai. Kukira mereka akan menembakku dan membiarkan tubuhku di jalanan. Tapi ketika hari mulai gelap, mereka menyuruhku pulang.
“Tapi aku tidak tahu jalan pulang,” protesku.
“Cepat mulai berjalan, atau kutembak kau,” kata salah satu dari antara mereka.
“Mohon kembalikan sepatuku.”
“Tidak. Cepat berjalan. Lain kali kalau kau melempar batu lagi, aku akan bunuh kamu.”

Rumahku terletak satu mil jauhnya dari tempat itu. Aku berjalan kaki hanya dengan kaos kaki, sambil mengertakkan gigi saat batu tajam menusuk tapak kakiku. Ketika ibuku melihat aku datang, dia berlari di tepi jalan dan memelukku erat² sampai aku sesak nafas. Dia diberitahu bahwa aku diculik penduduk Israel, dan dia sangat khawatir mereka akan membunuhku. Dia berkali-kali menegurku karena bertindak bodoh, sambil menghujani ciuman pada kepalaku dan memelukku erat² dalam dadanya.

Orang mungkin mengira aku tentunya sudah jera, tapi aku adalah anak kecil yang bodoh. Aku tidak sabar menunggu memberitahu teman²ku yang pengecut tentang pengalaman kepahlawananku. Di tahun 1989, sudah sering terjadi pasukan Israel mengetuk pintu rumah² kami dan masuk ke dalam rumah. Mereka selalu mencari orang² yang melempar batu yang melarikan diri lewat halaman belakang. Para prajurit ini bersenjata lengkap, dan aku tidak mengerti mereka begitu terganggu hanya karena beberapa batu saja.

Karena Israel mengontrol daerah² perbatasan, sangat sukar bagi orang² Palestina untuk mendapatkan senjata di Intifada Pertama. Aku tidak ingin seorang Palestina pun yang memiliki senjata di saat itu – mereka hanya punya batu dan bom molotov. Meskipun begitu kami mendengar berbagai kisah bahwa IDF menembaki orang² tak bersenjata dan memukuli orang dengan pentungan. Laporan lain mengatakan sebanyak 30.000 anak² Palestina terluka parah sehingga memerlukan perawatan medis. Semua itu sungguh tak masuk akal bagiku.

Di suatu malam, ayahku pulang ke rumah sangat larut. Aku duduk di jendela, mengamati mobil kecilnya yang berbelok ke sudut jalan, perutku mengeluarkan suara karena rasa lapar. Meskipun ibu menyuruhku untuk makan dengan anak² yang lebih kecil, aku menolak, karena ingin menunggu sampai ayah pulang. Akhirnya aku mendengar suara mesin mobil tuanya dan berteriak bahwa ayah sudah pulang. Ibuku seketika menyajikan makanan² hangat dan mangkok² di meja makan.

“Maaf aku datang sangat lambat,” kata ayah. “Aku harus pergi ke luar kota untuk menyelesaikan pertikaian antara dua keluarga. Mengapa kau tidak makan?”
Dia lalu berganti baju dengan cepat, mencuci tangannya, dan duduk di ruang makan.
“Aku sangat lapar,” katanya sambil tersenyum. “Aku belum makan apapun sepanjang hari.” Hal ini memang sudah biasa karena dia tidak punya cukup uang untuk makan di luar. Aroma sedap masakan ibu zukini yang dipenuhi bumbu merebak ke seluruh ruangan.

Sewaktu kami duduk dan mulai makan, aku merasakan rasa bangga yang meluap atas ayahku. Aku bisa melihat kelelahan di wajahnya, tapi aku tahu dia sangat senang melakukan tugasnya. Rasa sayangnya terhadap masyarakatnya hanya bisa tersaingi oleh pelayanannya pada Allâh. Sewaktu aku melihat dia berbicara pada ibu dan saudara²ku, aku berpikir bahwa dia sangat berbeda dari kebanyakan pria Muslim. Dia tidak pernah berpikir dua kali untuk membantu ibuku di rumah atau mengurus kami anak²nya. Dia mencuci kaos kakinya sendiri setiap malam, agar ibuku tidak usah melakukannya. Hal ini tidak lumrah dalam masyarakat yang menganggap sudah jadi penghargaan bagi wanita untuk bisa membersihkan kaki lelaki setelah keluar sepanjang hari.

Saat kami bersama di meja makan, masing² anak bergilir menceritakan pada ayahku apa yang mereka pelajari di sekolah dan apa yang mereka lakukan. Karena aku adalah anak tertua, aku membiarkan adik²ku bicara terlebih dahulu. Tapi ketika giliranku tiba untuk bicara, terdengar suara ketukan di pintu belakang. Siapakah yang bertamu di malam selarut ini? Mungkin ada yang butuh pertolongan.

Aku lari ke pintu dan membuka jendela kecil di pintu untuk mengintip. Aku tidak mengenal orang itu.

“Abuk mawjud?” dia bertanya dalam bahasa Arab yang lancar, yang berarti, “Apakah ayahmu ada di rumah?” Dia berpakaian seperti orang Arab, tapi aku bisa merasakan ada yang janggal dari orang ini.
“Ya, dia ada di rumah,” kataku. “Biar kupanggil dia.” Aku tidak membuka pintu rumah.
Ayahku ternyata telah berdiri di belakangku. Dia membuka pintu dan beberapa prajurit Israel masuk ke dalam rumah kami. Ibuku cepat² mengenakan jilbabnya. Tak mengenakan penutup kepala di depan keluarga sendiri tidak jadi masalah, tapi tidak jika di hadapan orang² asing.

“Apakah kau Syeikh Hassan?” tanya orang asing itu.
“Ya,” jawab ayahku, “Akulah Syeikh Hassan.”
Orang itu memperkenalkan diri sebagai Kapten Shai dan menjabat tangan ayahku.
“Bagaimana kabarnya?” tanya prajurit itu dengan sopan. “Bagaimana keadaan sekitar? Kami dari IDF, dan kami ingin kau ikut dengan kami untuk lima menit saja.”

Apakah yang mereka inginkan dari ayahku? Aku memandang wajahnya untuk membaca ekspresinya. Dia tersenyum ramah pada orang itu, tanpa sedikit pun rasa curiga atau marah di matanya.
“Baiklah, aku akan pergi denganmu,” katanya sambil mengangguk pada ibuku dan berjalan menuju pintu.
“Tunggu di dalam rumah dan ayahmu akan segera kembali,” kata prajurit itu padaku. Aku mengikuti mereka keluar, memandangi sekitar untuk mencari apakah ada prajurit yang lain. Ternyata tidak ada. Aku duduk di tangga depan untuk menunggu ayahku kembali. Sepuluh menit berlalu. Satu jam. Dua jam. Ayah tetap tak kunjung datang.

Kami tak pernah melewatkan malam hari tanpa ayah sebelumnya. Meskipun dia sibuk terus-menerus, dia selalu pulang ke rumah di malam hari. Dia membangunkan kami di saat subuh untuk melakukan sholat setiap pagi, dan dia juga yang mengantar kami ke sekolah setiap hari. Apa yang kami lakukan jika dia tidak pulang malam hari itu?

Ketika aku kembali masuk, saudara perempuanku Tasnim sudah tertidur di sofa. Airmata masih nampak basah di pipinya. Ibuku mencoba menyibukkan diri di dapur, tapi setelah jam² berlalu, dia tampak semakin gelisah dan marah.

Keesokan harinya, kami pergi ke Palang Merah untuk mencari tahu ke mana ayah dibawa. Orang yang bertugas di sana mengatakan bahwa ayah sudah jelas ditangkap IDF tapi IDF tidak mau memberi keterangan apapun pada Palang Merah selama sedikitnya 18 hari.

Kami kembali pulang ke rumah sambil terus menghitung hari selama dua setengah minggu. Selama waktu menunggu, kami tidak mendengar apapun. Ketika 18 hari telah berlalu, aku mengunjungi Palang Merah lagi untuk mencari keterangan. Mereka mengatakan belum mendapat keterangan baru.

“Tapi kau mengatakan 18 hari!” kataku, sambil berusaha keras menahan airmata. “Katakan saja di mana ayahku berada.”
“Nak, pulanglah,” kata orang itu. “Kau bisa kembali minggu depan.”

Aku kembali lagi dan lagi selama 40 hari, dan aku mendapatkan jawaban yang selalu sama: “Tiada keterangan baru. Kembali minggu depan.” Ini sangat aneh. Biasanya keluarga² para tahanan Palestina tahu di mana anggota keluarga mereka ditahan dalam waktu dua minggu penahanan.

Ketika seorang tahanan dibebaskan, kami bertanya padanya apakah dia melihat ayahku. Mereka semua tahu dia telah ditahan, tapi mereka tak tahu keterangan lain apapun. Bahkan pengacaranya juga tidak tahu apapun karena dia dilarang menemuinya.

Kami kemudian mengetahui bahwa dia dibawa ke Maskobiyeh, pusat interogasi Israel, di mana dia disiksa dan ditanyai. Shin Bet, badan rahasia keamanan Israel, tahu bahwa ayah adalah tokoh utama Hamas dan mengira dia mengetahui semua yang terjadi dan sedang direncanakan. Mereka bertekad mencari tahu akan hal itu dari dirinya.

Bertahun-tahun kemudian ayah akhirnya memberitahu aku apa yang terjadi dengannya. Selama berhari-hari dia diborgol dan digantung di langit². Mereka menyetrumnya sampai dia pingsan. Mereka menempatkan dia dengan orang² yang bekerja bagi IDF, dengan harapan ayah akan bicara dengan mereka. Tapi setelah ini gagal, mereka lalu memukulinya lagi. Tapi ayah tetap kuat. Dia tetap diam saja, tidak menyerahkan informasi apapun pada Israel yang bisa mencelakakan Hamas atau masyarakat Palestina.

Bersambung ke Bab 5-8
Bab 1-4 Bab 9-12 ; Bab 13-16 ; Bab 17-20 ; Bab 21-24 ; Bab 25-Tamat

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Buku SON OF HAMAS (PUTRA HAMAS). Pendahuluan

Son of Hamas (Putra Hamas) adalah sebuah buku otobiografi seorang pemuda Palestina, Mosab Hassan Yousef, anak dari seorang pemimpin Organisasi Islam Hamas. Sebuah buku yang penuh dengan masalah politik, konflik antara bangsa Israel dan Arab-Palestina yang berakar pada agama, dan setelah ”putra Hamas” melewati jalan-jalan kehidupan yang keras dan menyakitkan, akhirnya ia menemukan kedamaian yang teguh dalam jiwanya, segera setelah ia keluar dari penjara, yang ia yakin bahwa apa yang ia telah temukan ini adalah juga jawaban bagi bangsanya – Arab Palestina yang selalu jauh dari ketenangan dan kedamaian lebih dari setengah abad lamanya.

Edisi Indonesianya ini adalah hasil kerja keras Saudara Adadeh. Naskah asli diambil dari Indonesia.FaithFreedom.org pada “Buku-buku Inggris yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.”

Wawancara video:  Mosab “Son Of Hamas – Now A Christian” by Risen Magazine

Di bawah ini terjemahan buku Son of Hamas. Selamat membaca,
Salam sejahtera, Penjala Baja.

———————

SON OF HAMAS (PUTRA HAMAS)

Oleh Mosab Hassan Yousef, dibantu oleh Ron Brackin

Kisah mencekam penuh teror, pengkhianatan, intrik politik, dan pilihan² yang tak terbayangkan.

Bagi yang tercinta ayahku dan keluargaku yang terluka
Bagi korban² perseteruan Palestina – Israel
Bagi setiap umat manusia yang telah diselamatkan oleh Elohimku

Wahai keluargaku, aku sangat bangga dengan kalian; hanya Elohimku saja yang mengetahui segala hal yang telah kalian alami. Aku menyadari bahwa apa yang telah kulakukan menyebabkan luka yang dalam yang mungkin tak akan bisa sembuh di masa hidup ini dan mungkin kalian harus hidup dengan rasa malu untuk selamanya.

Aku bisa saja jadi seorang pahlawan dan membuat masyarakatku bangga akan diriku. Aku tahu jenis pahlawan apa yang mereka inginkan: seorang pejuang yang membaktikan dirinya dan keluarganya bagi kepentingan negara. Jikalau aku terbunuh, maka mereka akan menyampaikan kisah diriku pada generasi mendatang dan mereka akan merasa bangga terhadap diriku untuk selamanya, tapi pada kenyataannya aku bukanlah pahlawan yang mereka harapkan.

Sebaliknya, aku telah jadi pengkhianat di mata bangsaku. Meskipun dulu aku pernah membuat kalian bangga akan diriku, sekarang aku hanya membawa malu saja. Meskipun dulu aku adalah seorang pangeran bagimu, sekarang aku adalah orang asing di negeri orang yang melawan kesepian dan kegelapan.

Aku tahu kalian memandang aku sebagai seorang pengkhianat; tapi mohon untuk mengerti bahwa aku tidak bermaksud berkhianat pada kalian, tapi aku berkhianat pada angan² kalian akan sosok seorang pahlawan. Ketika negara² Timur Tengah – Yahudi dan Arab – mulai mengerti apa yang kumengerti, maka akan timbul perdamaian. Dan jika Elohimku telah ditolak karena menyelamatkan seluruh dunia dari hukuman neraka, maka aku tidak keberatan ditolak!

Aku tak tahu apa yang akan terjadi di masa datang, tapi aku tahu aku tidak merasa takut. Sekarang aku berikan apa yang menolong diriku untuk bisa selamat sampai sekarang: semua rasa bersalah dan rasa malu yang kutanggung selama bertahun-tahun hanyalah bayaran yang kecil saja jika semua ini bisa menyelamatkan bahkan satu nyawa seorang manusia saja.

Berapa banyak orang yang bisa menghargai apa yang telah kulakukan? Tidak banyak. Tapi itu tak jadi masalah. Aku percaya apa yang kulakukan dan aku tetap yakin sampai sekarang, dan keyakinan ini menjadi bahan bakar satu²nya bagiku dalam perjalanan panjang ini. Setiap tetesan darah orang tak berdosa yang berhasil diselamatkan dari kematian memberi harapan bagiku untuk terus berjuang sampai hari akhir.

Aku telah bayar, kau pun telah bayar, tapi tagihan perang dan damai terus berdatangan. Elohim menyertai kita semua dan memberi apa yang kita butuhkan untuk menanggung beban berat ini.

Daftar Isi
Peta Israel dan Daerah yang Diduduki
Sepatah Kata dari Pengarang
Kata Pengantar
Bab 1 – Tertangkap
Bab 2 – Tangga Iman
Bab 3 – Muslim Brotherhood (Persaudaraan Muslim)
Bab 4 – Melempar Batu
Bab 5 – Menyelamatkan Diri
Bab 6 – Kembalinya Seorang Pahlawan
Bab 7 – Radikal
Bab 8 – Mengipas Api
Bab 9 – Senjata²
Bab 10 – Rumah Jagal
Bab 11 – Penawaran
Bab 12 – Nomer 823
Bab 13 – Jangan Percaya Siapapun
Bab 14 – Kekacauan di Penjara
Bab 15 – Jalan ke Damaskus
Bab 16 – Intifada Kedua
Bab 17 – Tugas Rahasia
Bab 18 – Orang yang Paling Dicari
Bab 19 – Sepatu²
Bab 20 – Duri
Bab 21 – Permainan
Bab 22 – Perisai Pertahanan
Bab 23 – Perlindungan Illahi
Bab 24 – Tahanan yang Dilindungi
Bab 25 – Saleh
Bab 26 – Pandangan (Sebuah Visi) bagi Hamas
Bab 27 – Selamat Tinggal
Bagian Akhir
Catatan Tambahan
Waktu Kejadian

———————

Sepatah Kata dari Penulis
Waktu adalah tahapan – bagaikan sebuah benang yang merentang diantara jarak kelahiran dan kematian.
Akan tetapi, kejadian² adalah bagaikan sebuah permadani Persia – ribuan benang kaya warna tersulam membentuk pola dan gambar. Usaha apapun yang mencoba menyusun kejadian² dalam sekedar urutan kronologi belaka adalah bagaikan menguraikan benang² permadani dan merentangkannya jadi satu baris. Benang itu jadi tampak sederhana, tapi hilang sudah semua desain permadani yang utuh.

Kejadian² dalam buku ini adalah hasil terbaik usahaku mengingat ulang, dimulai dari pengalamanku saat ditawan di daerah yang dikuasai Israel. Peristiwa² yang terjadi kemudian terjalin bersama secara berurutan dan berhubungan satu sama lain.

Untuk memberikan referensi dan penjelasan nama² dan istilah² Arab, aku mencantumkan urutan waktu singkat di bagian Apendix, juga kamus, dan daftar para tokoh pelaku.

Karena alasan keamanan, aku sengaja tidak mencantumkan keterangan terinci tentang berbagai operasi rahasia yang dilakukan oleh Badan Keamanan Israel, yakni Shin Bet. Keterangan di buku ini tidak akan membahayakan perang global yang tengah berlangsung melawan terorisme, di mana Israel memerankan peranan utama.

Akhirnya, buku Son of Hamas, sama seperti Timur Tengah, adalah kisah yang terus berlanjut. Aku undang kalian untuk berhubungan denganku di blog-ku yakni http://www.sonofhamas.com, di mana aku akan membagi pandangan²ku tentang perkembangan berbagai daerah. Aku juga akan mencantumkan apa yang Elohim lakukan dengan bukuku, keluargaku, dan bagaimana Dia membimbingku saat ini.
MHY.

Kata Pengantar
Perdamaian di Timur Tengah telah jadi tujuan suci bagi para diplomat, perdana menteri, dan presiden selama lebih dari lima dasawarsa. Setiap wajah baru di panggung dunia mengira dia akan jadi orang yang berhasil memecahkan konflik Arab-Israel. Dan satu per satu gagal total sama seperti orang² yang dahulu telah mencoba.

Faktanya adalah, hanya segelintir orang² Barat yang bisa mengerti kepelikan Timur Tengah dan masyarakatnya. Tapi aku mengenal mereka – melalui latar belakangku yang unik. Aku adalah putra daerah di mana konflik itu terjadi. Aku adalah putra Islam, dan anak dari seseorang yang dituduh sebagai seorang teroris. Aku juga pengikut Yeshua.

Sebelum usia 21 tahun, aku sudah melihat hal² yang seharusnya tidak dilihat seorang pun: kemiskinan terparah, penyalahgunaan kekuasaan, penyiksaan, dan kematian. Aku menyaksikan perjanjian² di belakang layar antara para pemimpin utama Timur Tengah yang menjadi berita utama di seluruh dunia. Aku dipercaya dalam kalangan atas Hamas, dan aku juga berpartisipasi melakukan Intifada. Aku ditahan di penjara Israel yang paling ditakuti. Dan nantinya kalian akan lihat, aku menentukan pilihan² yang membuatku tampak sebagai pengkhianat di mata masyarakat yang kucintai.

Perjalanan hidupku yang tak lumrah telah membawaku ke tempat² gelap dan memberiku jalan masuk untuk mengetahui rahasia² besar. Dalam halaman² buku ini, aku akhirnya mengemukakan rahasia² yang lama tersembunyi, mengutarakan kejadian² dan proses² yang dulunya hanya diketahui oleh segelintir orang saja.

Mengungkapkan fakta seperti ini tampaknya akan membangkitkan gelombang kejut di sebagian Timur Tengah, tapi aku berharap hal ini akan mendatangkan ketenteraman bagi para keluarga koraban konflik yang tak berkesudahan ini.

Setelah pindah dan hidup bersama masyarakat Amerika sekarang, aku mengetahui banyak dari mereka yang bertanya-tanya tentang konflik Arab-Israel, tapi hanya sedikit jawaban² dan informasi yang tersedia.

Ini contoh beberapa pertanyaan yang kudengar:
○ Kenapa sih mereka itu tidak bisa hidup rukun di Timur Tengah?
○ Siapa sih yang benar? Orang Israel atau orang Arab?
○ Yang punya tanah itu siapa sih sebenarnya? Mengapa orang² Palestina tidak pindah saja ke negara² Arab?
○ Mengapa Israel tidak menyerahkan kembali saja tanah dan harta milik yang mereka kuasai setelah menang di Perang Enam Hari di tahun 1967?
○ Mengapa masih banyak orang² Palestina yang hidup di kamp pengungsian? Kenapa mereka tidak bikin negara sendiri saja?
○ Mengapa sih orang² Palestina sangat membenci orang² Israel?
○ Bagaimana Israel melindungi diri mereka dari para pembom bunuh diri dan serangan roket yang terus-menerus?

Semua ini adalah pertanyaan² yang baik. Tapi tak ada satu pun yang menyentuh akar permasalahan. Konflik masa kini sebenarnya berkaitan dengan permusuhan antara Sarah dan Hagar yang dijabarkan di Kitab Kejadian di Alkitab. Akan tetapi, untuk mengetahui realita politik dan budaya Timur Tengah, kita hanya perlu melihat apa yang terjadi setelah Perang Dunia I.

Ketika PD I berakhir, daerah Palestina, yang merupakan tempat tinggal bangsa Palestina selama beratus-ratus tahun, jatuh ke tangan kekuasaan Inggris. Pemerintah Inggris menentukan ketetapan aneh bagi daerah itu, yang tercantum dalam Deklarasi Balfour di tahun 1917: “Pemerintah sang Paduka menetapkan Palestina sebagai negara tempat tiinggal masyarakat Yahudi.”

Karena terdorong keputusan Pemerintah Inggris tersebut, maka ratusan ribu imigran Yahudi, terutama dari Eropa Timur, datang membanjiri daerah² Palestina. Setelah itu, pertikaian antara orang² Arab dan Yahudi tidak terhindari lagi.

Israel menjadi negara berdaulat di tahun 1948. Akan tetapi, daerah Palestina tetap tak punya kedaulatan. Tanpa adanya hukum negara yang berkuasa mengatur, maka yang jadi hukum tertinggi adalah hukum agama. Dan jika setiap orang bebas mengartikan dan memaksakan hukum seenaknya, maka terjadilah kekacauan. Bagi dunia luar, konflik Timur Tengah tak lain adalah adu tarik tambang memperebutkan tanah sejengkal saja. Tapi masalah sebenarnya adalah tiada seorang pun yang mengetahui akar permasalahan. Karena itulah, para negosiator dari Camp David sampai Oslo dengan penuh percaya diri terus memlintir kaki dan tangan pasien yang menderita sakit jantung.

Harap mengerti bahwa aku tidak lebih cerdas daripada para pemikir besar dunia. Aku sama sekali tidak. Tapi aku percaya bahwa Elohim telah memberiku sudut pandang yang unik dengan cara meletakkan diriku di berbagai pihak yang tengah menghadapi konflik yang seakan tak terpecahkan. Hidupku terpecah-belah bagaikan tanah kecil di Timur Tengah yang dikenal dengan nama Israel bagi sebagian orang, atau dengan nama Palestina bagi orang lain, atau tanah terjajah bagi pihak lain lagi.

Tujuanku adalah untuk menjelaskan dengan benar kejadian² penting, mengungkapkan rahasia², dan jika semua berlangsung dengan baik, maka kau akan mempunyai harapan bahwa hal yang mustahil akan bisa terjadi.

Bersambung ke Bab 1-4

Bab 5-8 Bab 9-12 ; Bab 13-16 ; Bab 17-20 ; Bab 21-24

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Perjalanan menuju kebenaran yang abadi

Kisah nyata dari seorang Muslim Indonesia keturunan Arab yang menemukan Yahweh, Yeshua Ha Masiah, sebagai Juruselamat pribadinya.
Sumber tulisan diambil dari Kisahmencarituhan.blogspot.com

Carilah YAHWEH, hai semua orang yang rendah hati di negeri, yang melakukan hukum-Nya; carilah keadilan, carilah kerendahan hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan YAHWEH. (Zefanya 2:3)

Selamat membaca,
Penjala Baja.

Awalnya saya adalah seorang muslim, anak seorang Imam besar disalah satu kota propinsi di Indonesia.
Dimana ayah saya, yang saya panggil “Abi” adalah keturunan Arab, dan nama saya Husen Al-Habsyi, dan keluarga kami sangat dihormati dikalangan Muslim di kota kami.
Tapi untuk apa semuanya itu? kalau tidak pernah tahu kebenaran yang tertutup tanpa akhir, kalau bukan dari kita sendiri yang mencari kebenaran itu dengan hati tulus dan ikhlas.
Hal itu dimulai sejak saya tahu dan percaya “Dia”lah Yahweh, Elohim (God atau Allah) yang sebenar-benarnya. (aslinya tertulis: Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan). Dialah Yahweh Yeshua Ha Masiah Juru selamat manusia, maka saya mau semua orang tahu, jangan dikalahkan sama Dadjal, syaitan atau apapun.
Inilah ringkasan riwayatku dalam mencari Yahweh.

Awalnya hidupku tanpa arah tujuan yang pasti, karena hidup dalam kedustaan yang tertutup, yang membuatku tidak tenang dalam menjalani hidup ini.
Dengan rutinitas keseharian yang menjenuhkan, karena hidup hanya berdasarkan Syariat-syariat yang keras tanpa hasil yang nyata, ada apa sebenarnya dengan keadaan ini ?
Saya yang sejak kecil diajarkan Syariat yang sebenar-benarnya dengan aturan yang sangat keras sekali, tidak seperti keadaan umat muslim disekeliling saya tinggal.
Sejak kecil saya sudah tertanam dengan kuat dalam Iman dan pikiran bahwa “Tidak ada Tuhan Selain Allah.” [Terjemahan kalimat sahadat ini tepatnya: ”Tidak ada ilah selain Allah” – There is no god, excep God. Orang Kristen tidak punya masalah dengan pengakuan ini, sebab Alkitab jelas menulis bahwa Elohim/ God / Allah adalah satu-satunya Penguasa semesta alam, nama-Nya ialah YAHWEH].

Karena kalimat tersebut sudah merupakan sebuah kesimpulan bagi saya dulu, maka tidak akan mungkin terpikir mengapa saya harus mencari  Elohim (Ilah atau God) lainnya  lagi!
Dengan berjalannya waktu sampai saya diusia dewasa tetap saya menjalankan semua yang diajarkan, rutinitas membuka ayat-ayat AlQuran untuk melakukan pengajian secara pribadi itu suatu kebiasaan yang saya lakukan.

Oleh karena itulah, maka saya selalu mencari ada apa dibalik misteri kebenaran yang sesungguhnya dan ada apa dengan jalan Shiraathum mustaqiim yang sesungguhnya ? Dimana saya selalu apabila mengkaji AlQuran pada surat pertama yaitu minta ditunjukan jalan Shiraathum mustaqiim, hal itu diulang-ulang dari saya kecil sampai dewasa !  Setelah sekian lama saya mempelajari AlQuran kemudian timbul lagi dalam pikiran saya bahwa kami umat Mumin harus mengImani semua Kitab selain AlQuran yaitu Taurat (Lima kitab Musa), Zabur (Mazmur) dan Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes), tetapi apa yang saya harus Imani sedangkan memegang saja tidak pernah, itulah yang ada dalam logika pikiran saya.
Memang kenyataannya saya sadari bahwa anjuran baca Injil diabaikan bahkan dilarang oleh abi dan semua saudara muslim pada umumnya, jadi ada apa dengan Injil?, itulah pikiran saya selama itu.

Kenapa anjuran membaca Injil seperti tertulis di Q.5:68 tidak pernah dilakukan?, padahal dari Injillah kita bisa tahu kebenaran yang tertutup selama ini. [Penekanan ditambahkan]

Singkat cerita. Karena larangan itu, maka saya ingin tahu ada apa  dengan Injil?
Hal itu terus berkecamuk dibenak saya, hampir semua saudara dari abi maupun umi yang saya tanya tentang Injil, selalu mereka bilang Injil sekarang sudah palsu dan katanya sudah diselewengkan dari isi yang sebenarnya, jawaban itu tidak memuaskan saya karena tanpa ada bukti yang mana aslinya ?

Dari hari kehari selalu dalam benak saya bertanya-tanya, mengapa Injil seakan ditakuti untuk dibaca, apagunanya kalau selama ini saya sudah punya keyakinan kuat yang sempurna? Oleh karena itu mengapa saya harus takut hanya soal baca Injil saja!, apalagi Injil yang dikatakan itu sudah palsu, berarti tidak punya kehebatan lagi, itulah pikiran saya waktu itu.
Suatu saat saya ambil keputusan untuk membaca Injil dan mempelajarinya.

Singkat cerita, tanpa harus saya sebutkan bagaimana cara dan dari siapa saya bisa mendapatkan Injil itu, memang unik ceritanya yang pasti itu saya yakini adalah Jalan Yahweh.  Akhirnya setelah saya mendapat Injil tersebut, suatu malam sebelum saya membuka Injil dengan rasa was-was, saya memohon kekuatan dan mohon ampun kepada Allah (Elohimnya orang Islam) yang saya yakini, kalau saya memang berdosa membaca Injil, karena seumur hidup saya baru pernah memegang Injil dan membukanya dimalam itu.
Kemudian dengan tekat dan hati yang tulus penuh keikhlasan, saya harus baca Injil itu dan saya ber doa layaknya seperti mau membuka AlQuran, untuk menyingkirkan Dajal, syaitan yang setiap saat mengganggu agar kita lupa dengan kebenaran-kebenaran yang hakiki.

Mulailah saya baca Injil, saya pelajari ayat demi ayat dengan benar dan teliti sampai berulang ulang ulang dan ber ulang lagi, dan pada akhirnya datang keinginan saya dari dalam hati, ingin bertanya siapa Yeshua Ha Masiah? Elohim kah Dia???
Tapi saya tidak tahu bagaimana caranya, dalam pikiran saya kalau bertanya kepada orang Nasrani, dengan pasti mereka bilang Elohim, kalau bertanya sama Abi dan Umi atau saudara pasti saya dikatakan kafir atau ditanya macam-macam seperti yang saya sudah alami, hal itu disebabkan memang sudah tertanam pengertian sesuai dengan bunyi kalimat yaitu “Tidak ada Tuhan selain Allah!” [Terjemahan tepatnya: ”Tidak ada ilah selain Allah!"]

Rasa keingin tahuan itu selalu datang dan semakin kuat.
Perjalanan hidupku baru dimulai.
Pada suatu malam hari pukul 01.00, saya berwudhu, ingin ber Tahadjud, karena dengan cara ini lah saya anggap benar untuk bertanya hanya kepada Allah yang saya yakini selama ini, niat dimalam itu timbul setelah beberapa hari saya membaca Injil tetapi masih juga ragu akan kebenarannya, oleh karena saya “ingat” apa yang tertulis di Q.2:46, dengan lugunya ayat tersebut saya baca berulang-ulang sambil dihayati akan pengertian dari maknanya, sehingga Q.2:46 saya anggap benar untuk menemui Yahweh, Elohim yang sebenar-benarnya!”

Setelah saya berwudhu dan mau melakukan awal shalat Tahadjud, yang terjadi diluar dugaan saya sama sekali, saya merasa takut yang tiba-tiba dan kemudian kejadian yang saya rasakan takut teramat sangat / dimalam itu adalah ketakutan yang luar biasa dalam hidup saya, yaitu dengan mata telanjang dan kesadaran penuh saya menyaksikan sosok bayang putih dengan jelas dan agak samar dibagian atas dan bawah, ber jalan-jalan didepan saya dalam kamar yang agak gelap dengan keadaan temaram hanya cahaya luar lewat dari kisi kisi jendela.
Dalam ketakutan saya sadar inikah syaitan?, yang terus mengganggu dan menghalangi keinginan saya, dalam ketakutan tersebut saya langsung mengucapkan Ayatulqursi, Yasiin , Al Faatihah, doa syalawat nabi serta doa-doa kecil lainnya, akan tetapi yang terjadi bayangan tersebut semakin banyak dan semakin dekat, oleh karena itu terakhir saya mengatakan nabi Isa tolong saya, tetapi tetap saja keadaan semakin mencekam !

Dalam ketakutan yang sangat terdesak oleh syaitan tersebut, dalam pikiran saya terlintas minta pertolongan Yahweh Yeshua, tetapi dalam benak pikiran saya timbul juga perlawanan: apa gunanya, Yeshua itu bukan Elohim saya!
Dengan berjalannya waktu menit demi menit dan ketakutan semakin menjadi-jadi, timbul dalam hati dan pikiran saya apa salahnya saya menyebut nama Yeshua, sedangkan saya dalam Tahadjud juga mau bertanya akan nama tersebut kepada Allah?
Oleh karena keadaan tersebut agak cukup lama serta semakin amat sangat ketakutan dan apa yang sudah saya lakukan tidak ada perubahan, maka saya langsung mencoba minta pertolongan “Yahweh Yeshua”, karena saya niat bertanya dan ingin tahu benarkah kebesaranNya, dan kemudian mulut saya berkata: atas nama Yahweh Yeshua keluar dan usir roh jahat syaitan, Dajal atau apapun yang menghalangi keinginan niat saya, untuk menemui Mu !

Ket,
Sebelum saya mengucapkan perkataan tersebut, dikarenakan saya ingin bertanya siapa “Yeshua” ?, apabila Dia “Yahweh Yeshua” dan benar-benar ada, sehingga saat itu dalam pikiran saya terlintas mau tahu, apakah Dia bisa tolong saya?, dan saya disaat itu yakin bila benar, pasti “Yahweh Yeshua” bisa tolong saya.

Pengetahuan hal tentang kuasa atas nama “Yeshua”, pada saat itu bisa timbul dalam pikiran saya, oleh karena saya sudah membaca Injil.
Jadi saya bisa simpulkan bahwa setiap orang yang membaca Injil dengan benar dan hati Ikhlas maka akan tahu makna dari kuasa nama “Yeshua”, rupanya hal itu yang membuat syaitan sejak dulu berusaha menghalangi saya untuk membaca Injil, dan misteri penghalang tersebut terjadi sampai saat ini kepada hampir semua pembaca AlQuran, dimana masalah tersebut tanpa disadari oleh hampir semua orang Mumin, seperti saya dulu.

Dimalam itu setelah mengucapkan kalimat perintah pengusiran syaitan atas nama Yeshua, kemudian tidak beberapa lama bayangan syaitan seperti keadaan sebelumnya sirna dan keadaan itu bisa dilalui dengan tenang serta perasaan takutpun hilang.

Kemudian saya mengulangi lagi ambil wudhu, maka dengan kesadaran penuh saya mulai berTahadjud, kali ini saya ingin berTahadjud menemui Elohim yang sebenar-benarnya Elohim!
Dalam Doa saya memohon kepada Allah [Elohimnya orang Muslim] yang selama ini saya sembah dan percaya, seperti Tahadjud yang selama ini saya lakukan tetapi tidak ada satu Tahadjud sayapun yang didengar, “mungkin kali ini” adalah Tahadjud yang benar !, itulah yang ada dalam benak pikiran saya malam itu.

Di tengah malam itu setelah menyelesaikan dua rakaat, kira-kira pukul 02.00, saya berkata kepada Allah dalam Tahadjud tersebut:
Ya Allah saya mohon tunjukan dan perlihatkan sedikit bukti, apa benar “Yahweh Yeshua” itu Elohim ? dan benarkah “Dia” ada ??
Saya terdiam dalam beberapa saat, kemudian Mujizat itu benar nyata buat saya, dengan perasan terharu menyaksikan itulah “Dia” Yahweh Yeshua datang menampakan wujud dihadapan saya, benar Dia [adalah] Elohim!
Karena saya tidak pernah seumur hidup melihat wudjud nyata seperti yang saya lihat dihadapan saya, wangian yang tercium begitu damai, sejuk dalam hati, perasaan saya saat itu sangat “terharu”.

Terima kasih Yahweh, Kau telah datang kepadaku sungguh Kau sangat mengasihiku.

Dialah Yahweh, Elohim yang sebenar-benarnya!”
Dimana wujud dari Yahweh Yeshua yang saya lihat sama dengan gambar-gambar yang dimiliki teman saya yang Nasrani, tetapi wujud yang saya lihat dimalam itu sungguh sangat menajubkan sekali melebihi gambar-gambar tersebut.

Yahweh Yeshua penyelamat manusia, maka percayalah dengan janji Yahweh : Janji Yahweh Yeshua, yang berjanji damai di bumi bahagia di Surga.
Jangan pernah ragu dengan kasih Yahweh, yakin dan percaya Dialah Yahweh Yeshua juru selamat.
Mulai saat itu saya menjalani hidup tanpa beban, damai sejahtera.
Saya yakin kita percaya pasti Yahweh Yeshua dekat dan selalu memberi pertolongan buat kita, dan untuk lebih mendekatkan diri kepada Yahweh sayapun sangat rindu ke gereja untuk mendengarkan FirmanNya.

Kemudian saya mulai mencari tahu tentang gereja dengan sangat hati-hati.
Entah kenapa selalu ada jalan, maka saya bertemu dengan seseorang yang mendapatkan keyakinannya terhadap Yeshua hampir sama seperti saya, pertemuannya juga tanpa terduga, dan maaf tidak saya sebutkan namanya.

Dari orang tersebut saya banyak mendapat penjelasan semua tentang gereja-gereja yang ada di Indonesia, mulai dari kelompok, tata Ibadah, karunia dari kelompok masing-masing gereja serta hubungan komunitas antar orang-orang yang datang kegereja yang bersangkutan, berdasarkan dari salah satu pertimbangan tersebut, maka saya coba mencari gereja Kristen Katholik yang jauh dari kotaku.

Pertimbangan tersebut karena saya masih sangat takut akan ketahuan keadaan saya sekarang, sehingga saya masih mencari situasi dimana orang-orang tidak terlalu tahu tentang saya, walaupun itu saya sadari adalah kekurangan bahkan kesalahan bagi mereka yang percaya Elohimnya.

Dalam doa, saya selalu mohon agar Elohim Yang Maha Tahu memakai saya dengan cara-Nya untuk bersaksi.
Alhasil sudah ada beberapa situs yang saya buat di Internet yang dapat dikunjungi.

Haleluya, Terpujilah YAHWEH saya bisa dijamah Elohim.
Karena Elohim Maha Tahu, pengalaman inilah Mujizat terbesar dalam hidup saya, yang sebelumnya tidak pernah terpikir sama sekali untuk bisa percaya bahwa Adonai Ha Masiah itu adalah Yahweh, Elohim yang sebenar-benarnya.
Karena sejujurnya sebelum Mujizat itu datang di malam Tahadjud, saya paling benci dengan nama Yeshua beserta para pengikutnya.

Tetapi setelah saya renungkan dan rasakan sekarang ini, bahwa Elohim Maha Baik memberikan rahmatNYA kepadaku, tentang rahmatNYA itu memang sudah tertulis didalam Injil maupun tertulis dengan jelas di AlQuran setelah saya analisa.

Terima kasih Yahweh Yeshua, Engkaulah Elohim yang sebenar-benarnya.
Elohim menyertai dan memberkati kita semua, Amien.

Marilah kita kembali kehati yang fitrah, hati yang belum dikotori dengan kebohongan yang menyesatkan.
Ikhlaskan hati, Yahweh Yeshua penuh kasih, Dia Maha Tahu, mintalah pertolonganNya, pasti kebohongan akan terungkap.

Cobalah mohon petunjuk dalam Tahadjud, mintalah kepada Allah dibuktikan dengan bertanya dengan benar dengan nama asli yang YAHWEH berikan yaitu “Yeshua Ha Masiah”.

Buat yang mau tahu lebih banyak dari kisah saya dan perjalanan hidup saya, sampai saya bisa menemui Yahweh, Elohim yang sebenar-benarnya, nanti akan saya berikan alamat untuk menghubungi saya.
Suatu ketika sudah saatnya tiba, saya akan memberikan kesaksian tersebut secara terbuka untuk umat manusia semua.

Inilah sebagian dari kisah saya dan masih banyak lagi kejadian-kejadian yang nyata saya rasakan setelah saya benar-benar punya Elohim, yaitu Yahweh Yeshua.
Haleluya, Terpujilah YAHWEH.

Yahweh Yeshua memberkati, Amien.
By: Husen ALHABSYI.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Dahulu Saya Mati Tapi Sekarang Saya Hidup!

[Kemiskinan dan guru Sekolah Minggu, Mabuk sebagai pelarian, koma dan mati, dibangkitkan Yeshua, mencari bekas guru SM;  Panggilan bertobat]

Ini adalah bagian dari sebuah buku kesaksian Anak-anak Ismail, kesaksian yang mengharukan dan luar biasa indahnya.

Saya anak ketujuh dari empat belas. Kami tinggal di salah satu lokasi orang miskin yang padat penduduk, di mana Muslim dan Kristen hidup bersama. Saya dibesarkan di sebuah keluarga Muslim. Ayah saya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan. Dia bekerja siang dan malam untuk mencari nafkah bagi kami. Kami anak laki-laki sering menghabiskan sebagian besar waktu kami nongkrong di jalanan. Kelaparan akan memotivasi kami, dalam banyak kasus, mencuri beberapa potong roti atau beberapa botol susu yang telah didistribusikan di pagi hari di depan toko-toko yang belum dibuka.

Sebagai seorang anak, saya tidak menyukai pendidikan. Belum lama, saya dikeluarkan dari sekolah. Saya masih ingat betul akan wanita Kristen yang saleh yang sering mengumpulkan anak-anak dari jalanan memberi mereka pelajaran Sekolah Minggu. Dia sering mengajar kami tentang kasih Yeshua Ha Mashiah kepada semua orang, memutarkan film rohani dan membacakan beberapa bagian dari Alkitab. Pada akhir pertemuan, dia akan memberi kita permen dan minuman. Dia memperlakukan kami sangat baik dan lembut, sehingga, kita akan merasa malu pada diri kami sendiri bila kami melakukan sesuatu yang tidak patut di depan wanita tersebut!

Tidak ada kegiatan-kegiatan untuk anak-anak yang disediakan oleh lembaga-lembaga kebudayaan atau klub, hanya dari wanita yang penuh kasih tersebut. Sebagai anak laki-laki, saya menikmati festival Kristen pada hari Natal dan Paskah. Mereka kegiatan-kegiatan yang menyenangkan bagi saya.
Saya berhenti sekolah, setelah dikeluarkan. Saya mulai bekerja sebagai buruh di pelabuhan dan beberapa tempat lainnya. Namun, saya hidup di dalam kekosongan yang besar. Kekosongan yang mengerikan. Saya kesepian tanpa teman atau pendamping untuk perduli akan diruku. Saya dibesarkan dalam keluarga dengan salah satu prinsip – cinta uang. Saya materialistis. Saya diperbudak oleh uang.

Dikeluarkan dari sekolah memiliki pengaruh negatif pada saya. Saya mencari perlindungan pada alkohol untuk melupakan masalah saya. Saya mencoba mencari pemecahan di perjudian dan minuman. Saya melihat kehidupan dalam bersenang-senang dan mengumpulkan uang. Saudara-saudaraku bergabung dengan bisnis dan mulai membuat banyak. Saya iri dan saya memutuskan juga untuk memulai bisnis sendiri. Saya berhasil membuka sebuah toko kecil dan

uang mengalir ke kantong saya tapi tidak ada kedamaian atau ketenangan!

Saya tidak memiliki kedamaian batin. Saya selalu merasa kekosongan yang mematikan. Ini berlangsung selama enam tahun. Masalah keluarga mulai muncul. Saudara-saudara saya memiliki masalah perkawinan, ayah saya menjadi tua, dan ibu saya jatuh sakit. Semua masalah terjatuh di atas pundak saya. Pada tahun 1982, hutang-hutang menghantui saya. Semua tekanan yang terus menerus dari berbagai masalah menyebabkan depresi berat. Akhirnya tahun 1986 saya hancur.

Melihat kembali kehidupan saya sebelum runtuh, saya adalah seorang pecandu alkohol. Antara 1982 dan 1984, saya minum kebanyakan dan dengan kepanikan. Pada tahun 1984, saya pergi ke Perancis untuk mendapatkan perawatan bagi masalah-masalah psikologis yang parah. Saya dirawat selama satu bulan lalu saya pulang ke rumah. Saya terkejut menemukan bahwa toko dan bisnis yang telah saya dirikan sudah hancur total.

Pada bulan Agustus 1986, saya mulai merasakan kesakitan di perut saya dan bagian-bagian lainnya di tubuh saya. Saya di rumah sakitkan dalam keadaan koma. Saya berada dalam kondisi serius. Mekanisme dalam tubuh saya hampir berhenti. Selama 17 hari, teman-teman dan kerabat mengunjungi saya di rumah sakit. Mereka mengharapkan saya segera mati. Salah satunya adalah seorang pendeta Kristen. Saya masih ingat akan dia untuk kasih dan kerendahan hatinya. Beberapa teman Kristen yang lain juga mengunjungi saya dan berdoa untuk saya.

Pada saat ini, para perawat melakukan mogok kerja di rumah sakit dimana saya dirawat, dan mereka harus menyingkirkan pasien yang tidak sakit parah. Saya, bagaimanapun, harus tetap di rumah sakit. Setelah 17 hari perawatan medis, saya menjadi histeris. Saya melompat dari tempat tidur saya dan menyerang semua orang di sekitar saya, dan saya memotong tabung oksigen; segera, saya kehilangan kesadaran. Para dokter berpikir bahwa kematianku tiba. Para dokter memeriksa saya dan setelah satu jam, mereka memutuskan bahwa saya sudah mati! Mereka menelepon keluarga saya untuk datang dalam rangka untuk mengeluarkan surat kematian saya. Sementara saya berada dalam kondisi itu, saya melihat sebuah cahaya yang kuat menyentuh saya, dan saya mendengar suara tiga kali berkata, “Berdirilah” Saya melihat pribadi Yeshua Ha Mashiah. Dia nampak kepada saya melalui terang yang besar.

Keluarga saya membawa peti mati untuk mengambil mayat saya dari rumah sakit. Namun, setelah Yeshua menampakkan diri kepada saya, saya dikembalikan kepada kehidupan dan saya sembuh. Ketika dokter datang kepada saya dan melihat saya, mereka terkejut. Mereka menulis sebuah laporan medis dan menggambarkan kasus saya sebagai “aneh, sangat langka, kasus tak bisa dijelaskan!!!” Saya yakin itu adalah Yeshua Ha Mashiah yang telah membawa saya kembali kepada kehidupan. Dia berkata, “Aku jalan dan kebenaran dan hidup” (Yohanes 14:6)
Saya meninggalkan rumah sakit dalam kondisi lemah, tapi saya lahir baru, karena saya telah percaya pada Yeshua Ha Mashiah sebagai Juruselamat saya. Saya berkata kepada-Nya, “Yahweh, jika Engkau ingin memberikan saya kehidupan, biarlah itu untuk kemuliaan nama-Mu.” Saya menjadi, sekali lagi, kekanak-kanakan.. Saya mulai melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang baru. Saya ingin ada bersama saudara-saudara Kristen. Ketika saya berjalan di jalan, orang-orang menunjuk pada saya dan berkata, “Dahulu dia mati tetapi sekarang dia hidup.”

Bahkan, Yahweh Yeshua telah mengubah hidup saya. Suatu hari, saya sedang berjalan dan saya melewati sebuah toko buku. Setelah ragu-ragu, saya mengetuk. Seorang wanita lembut membuka pintu dan menyambut saya masuk antara buku-buku lain, saya melihat sebuah Alkitab. Saya ingat wanita Kristen yang sering mengajar kami di Kelas Sekolah Minggu ketika saya masih kecil. Saya pikir wanita ini mungkin tahu sesuatu tentang dia, jadi saya bertanya padanya. Dia berkata, “Tentu saja saya kenal dia, dia ada di sebuah rumah rawat para manula, tapi mungkin dia sudah mati sekarang.”

Saya memutuskan untuk mengunjungi dia keesokan harinya. Saya memasuki rumah itu dan melihat seorang wanita tidur di kursi. Saya teringat lagu sekolah Minggu, dan saya mulai bernyanyi. Dia membuka mata dan bertanya, “Siapakah kamu?” Kataku, “Saya Sayed. Apakah Anda ingat saya? Itu adalah 35 tahun yang lalu.” Saya bercerita padanya hidup saya dan bagaimana saya menjadi seorang Kristen. Dia berkata, “Bagus, tapi hati-hati, Sayed. Setialah dalam hidupmu kepada Yahweh!

Saya mulai perjalananku dengan menempatkan imanku dalam Yeshua Ha Mashiah. Saya mulai membaca Alkitab dan mengalami hidup nyata dengan Yahweh. Saya sangat haus. Saya sering membaca Firman Hidup untuk memuaskan kehausanku. Dengan segala kelemahan dan kekurangan, saya bisa melihat Yahweh memulihkan saya. Itu adalah Yahweh yang memberi kita janji, Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20). Dia juga berkata: Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yohanes 8:12.)
Pengalaman bersekutu dengan Elohim sangatlah indah. Setiap kali saya mencari Yahweh, saya mendapatkan kedamaian batin yang tak terbayangkan mengisi manusia rohku. Saya benar-benar dapat mengidentifikasi itu dengan ayah yang mengatakan tentang anak yang hilang itu, Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Lukas 15:32) Jadi mereka mulai membuat pesta. Dahulu saya mati, tetapi sekarang saya hidup; Dahuku saya hilang, tetapi sekarang saya ditemukan.

Petunjuk Penting
Saudara-saudara dan saudari-saudari yang kami kasihi,

Apa yang baru saja Anda baca bukanlah tenuan dongeng imajinasi kami. Ini adalah kenyataan. Kami hidup dalam fakta-fakta ini; ini adalah hidup kami. Kami tidak berbicara tentang seorang Mashiah yang kami tidak tahu, tapi kami telah berbicara tentang apa yang telah kami lihat dengan mata kami sendiri … telah menyentuh dengan tangan kami … disadari oleh pikiran kami… dipahami oleh hati kami.

Karena kami hidup di negara yang tidak memberikan kebebasan percaya dalam Yahweh dan Juruselamat kami Yeshua Ha Mashiah, kami tidak dapat mempublikasikan nama-nama kami, alamat dan foto-foto. Namun, biarlah semua orang tahu bahwa di negara-negara yang menghujat Ha Mashiah dengan menolak untuk mengakui Dia sebagai Yahweh dan Elohim, ribuan lutut akan bertelut, menyembah dan hidup bagi Yeshua Ha Mashiah.

Iman dalam Yeshua Ha Mashiah sebagai Yahweh dan Juruselamat tidaklah tidak mungkin tidak juga sesulit yang Anda dapat bayangkan. Anda hanya perlu:
• Percaya bahwa Yeshua Ha Mashiah adalah Yahweh dan Juruselamat karena Dia adalah satu-satunya Jalan, Kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorang pun kecuali Dia dan tidak ada Elohim yang lain.
• Bertobatlah dari semua dosa, egoisme Anda dan semua hal-hal yang menghalangi kedewasaan perjalanan hidupmu.
• Buatlah keputusan untuk hidup sepenuhnya bagi Dia, ijinkan Dia untuk menyucikan kamu dengan memperbaharui niat hati dan perilaku Anda. Dia akan menjadikan engkau suatu cahaya dalam kegelapan, dan Anda akan menjadi garam dunia.

Saudara dan saudariku yang terkasih, saya ingin Anda mengetahui bahwa Yahweh dan Juruselamat kami Yeshua Ha Mashiah tidak memaksa kami untuk mengikuti Dia sebagai budak. Dia tidak ingin kami untuk mewartakan iman kami di lapangan-lapangan terbuka atau pada sudut-sudut jalan. Dia tidak ingin kami berpuasa untuk mengubah wajah kami agar diketahui semua orang sebagai orang yang sedang berpuasa. Yahweh dan Juruselamat kami Yeshua Ha Mashiah menentang segala macam kesombongan, penipuan, tingkah laku palsu atau kemunafikan. Dia adalah Elohim yang melihat rahasia keinginan hati dan batin realitas sejati Anda. Dia meminta agar iman Anda berasal dari hati serta puasa dan doa Anda dilakukan secara diam-diam. Hubungan Anda dengan Dia adalah persekutuan pribadi, dan jauh dari sekedar sebuah moto palsu yang hampa.

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?  (Mat 16:26)

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. (Mat 7:7)

Anak-anak Ismail:

  1. Pendahuluan
  2. Dibelakang Kerudung
  3. Diberkatilah Bangsa Mesirku
  4. Dari Tanahair Mashiah Anak-anak Ismail Akan Kembali
  5. Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid
  6. Orang-orang Pilihan Mashiah
  7. Dari Kristen nominal Ke Islam dan Kemudian Ke Mashiah
  8. Begitulah Saya Mengenal Elohim; Ex-Jihadest  Pt.1 Pt.2
  9. Dahulu Aku Mati Tetapi Sekarang Aku Hidup
  10. Instruksi-instruksi Penting

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Orang-orang Pilihan Mashiah

[Pengalaman pertama dengan orang Kristen, mimpi tenggelam tiga kali]

Judul ini adalah bagian dari buku Anak-anak Ismail (The Children of Ismael), kumpulan kisah-kisah nyata yang mengharukan dan menyentuh hati setiap pembacanya. Mereka bersaksi bagaimana Elohim telah merubah gurun pasir kehidupan menjadi padang rumput yang indah, rantai-rantai ikatan protokol keagamaan yang berat menjadi hubungan kasih yang manis dengan Pencipta mereka. Selamat membaca!

Bab 6. Ketika kami kanak-kanak, ayah kami mengajari kami cara sembayang. Dia selalu berkomitmen untuk sembayang. Orang tuaku adalah orang-orang sederhana, tapi tulus dalam ibadah mereka dan gaya hidup. Ayahku adalah seorang pegawai dan memberi kita hidup yang layak. Aku pergi ke sekolah perawat. Aku tidak tahu banyak tentang agamaku selain berdoa dan mengenakan kerudung. Aku tidak pernah peduli dengan Kristianiti atau  orang-orang Kristen. Saya pikir itu dilarang memikirkan agama yang telah rusak.

Setelah lulus, aku bekerja di sebuah rumah sakit swasta, di mana aku tinggal dengan beberapa perawat Kristen. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berhubungan dengan orang-orang agama itu. Aku tinggal bersama mereka sebagian besar bulan itu, kecuali selama beberapa hari aku bebas setiap bulan. Bertentangan dengan harapanku, mereka memperlakukan diriku dengan cara yang penuh kasih dan ramah. Aku pikir mereka akan menganiaya saya karena mereka mayoritas di rumah sakit ini, dan kami Muslim minoritas.

Aku  tertarik dengan orang-orang Kristen ini. Aku mulai bertanya pada salah satu dokter tentang hal-hal kecil yang menarik perhatianku, seperti gambar Ha Mashiah di salib. Dia menjawab semua pertanyaanku, dan aku ingin tahu lebih banyak. Dia mulai memberi aku kaset khotbah yang menjelaskan banyak hal yang aku gunakan untuk mendengar tapi tidak mengerti. Aku mendengarkan kaset ini diam-diam. Banyak hal mulai masuk akal. Aku melihat karakter Kristus dalam Kuran dan mulai mencari semua ayat Kuran yang berbicara tentang Dia.

Aku biasa untuk membaca ayat-ayat ini dan merenungkan maknanya. Aku menemukan bahwa ayat-ayat tersebut yang dihubungkan dengan beberapa karakteristik Ha Mashiah yang tidak pernah dikaitkan dengan seorang nabi – ayat-ayat tersebut tepatnya adalah sifat-sifat Elohim. Aku merasa seolah-olah aku sedang membaca ayat-ayat ini untuk pertama kalinya. Mataku dibuka untuk yang lebih dalam arti dan makna penting ayat-ayat ini selain penjelasan dangkal dari keyakinan yang aku dapat saat kecil.

Aku menjadi lebih yakin, jadi aku tanya dokter itu untuk menjelaskan kepada aku arti dari Trinitas dan Penyaliban itu. Dia menjawab semua pertanyaanku. Semuanya katanya menunjuk fakta bahwa Ha Mashiah benar-benar Elohim, bahkan Kuran memberi pernyataan.

Dokter tutorku bepergian selama setahun, tapi aku masih terus membaca dan mencari. Setiap hari aku menjadi lebih yakin bahwa Yeshua Ha Mashiah adalah Elohim, sampai aku mendapati diriku berdoa kepada Yeshua dan mengakui Dia sebagai Elohim! Suatu malam, aku berada di asrama perawat berbaring di tempat tidurku, memikirkan Ha Mashiah dan apa yang harus aku lakukan untuk dapat dibaptis dan mengubah agamaku. Aku ingin hidup dengan agama baru itu dengan segenap hatiku, tapi aku takut apa yang akan terjadi pada aku jika keluargaku tahu.

Aku lelah berpikir dan memutuskan untuk tidur. Ruangan itu gelap, tapi kemudian tiba-tiba aku melihat Ha Mashiah berdiri di atas padang rumput luas dengan membentang tangan-Nya kepada aku, sementara aku tenggelam di laut yang dalam, dikelilingi oleh banyak orang, namun tidak satupun dari mereka bisa menyelamatkan aku. Aku melihat penglihatan ini tiga kali berturut-turut sebelum aku tiba pada kenyataanya. Aku sangat gembira! Aku terus berteriak bahwa aku melihat-Nya dan bahwa Ia menampakkan diri kepada aku! Ketika teman aku menanyakan apa yang terjadi, aku tertawa namun tidak mengatakan kepada mereka apa-apa. Aku merasa malam itu adalah paling bahagia dalam hidup aku. Aku dipenuhi dengan sukacita dan damai yang belum pernah aku alami sebelumnya.

Aku kemudian menghadapi krisis nyata. Aku tidak menyangkal imanku dan keluarga aku menuduhku gila. Selama tiga tahun, mereka terus mengatur bagi aku untuk menikah dan aku tetap menolak. Suatu kali seorang pria melamarku, dan keluarga aku bersikeras bahwa aku menikahnya. Kami berada di resort musim panas Alexandria [Mesir], bermain di pantai, ketika ayahku dan kakakku mengajak aku ke laut. Mereka mencoba menenggelamkan aku. Aku menangis dan bertanya kepada mereka mengapa mereka melakukan itu. Mereka berkata, “Kami tidak akan membunuhmu, tapi kami ingin menunjukkan bahwa kami dapat jika kamu tidak berubah dan menikahi lelaki tersebut.”

Aku berbohong kepada mereka dan memberitahu mereka bahwa aku akan menikah dengan orang itu. Aku bertunangan dan kembali ke pekerjaan aku di rumah sakit. Aku yakin hal-hal akan berubah. Aku berhenti menghubungi keluargaku dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku hanya tahu bahwa aku mengasihi Ha Mashiah dan hidup bagi-Nya, apapun masalah yang aku mungkin hadapi.
Fatma

Bersambung ke Bab 7:  Dari Kristen nominal Ke Islam dan Kemudian Ke Mashiah

  1. Pendahuluan
  2. Dibelakang Kerudung
  3. Diberkatilah Bangsa Mesirku
  4. Dari Tanahair Mashiah Anak-anak Ismail Akan Kembali
  5. Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid
  6. Orang-orang Pilihan Mashiah
  7. Dari Kristen nominal Ke Islam dan Kemudian Ke Mashiah
  8. Begitulah Bagaimana Saya Telah Mengenal Elohim
  9. Dahulu Saya Mati dan Sekarang Saya Hidup
  10. Instruksi-instruksi Penting
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid

Judul ini adalah bagian dari buku Anak-anak Ismail (The Children of Ismael), kumpulan kisah-kisah nyata yang mengharukan dan menyentuh hati setiap pembacanya. Mereka bersaksi bagaimana Elohim telah merubah gurun pasir kehidupan menjadi padang rumput yang indah, rantai-rantai ikatan protokol keagamaan yang berat menjadi hubungan kasih yang manis dengan Pencipta mereka. Selamat membaca!

Bab 5. Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid
[Pengkotbah kecil, perbandingan yang sangat berbeda, teraniaya namun tidak patah]

Ini adalah kisah tentang perpindahan [saya] ke Kristianiti. Nama saya Ibrahim. Saya sangat bangga dengan nama Arab saya karena itu adalah nama dari patriark besar. Nama baru saya adalah Timotius, tapi itu tidak mengubah fakta bahwa saya Ibrahim, panggilan sehari-hari “Abu-Khalil,”’ anak dari pasangan petani sederhana. Saya dibesarkan di tempat sederhana, beralas tikar kayu sebagai karpet, sebuah lampu minyak cahaya dan keju keras untuk makanan. Aku biasa belajar pelajaran-pelajaran saya di dekat sungai kecil, saya mengenakan ‘Galabia’ putih. Aku masih mengenakan ‘Galabia’ sampai sekarang.

Ketika saya masih kecil, ibu saya menuntun saya untuk pergi ke desa ‘Kottab’ (tempat belajar agama Islam), dimana Imam mengajar kami membaca, menulis dan melantun Alquran. Dia meminta pembayaran 10 sent USD dari kami pada akhir setiap minggu. Pada ‘Kottab,’ inilah  pikiran dan hati saya dipenuhi dengan ketaatan untuk Allah [Elohim], Pencipta langit dan bumi.

Ketika saya bergabung dengan sekolah persiapan [SMP], saya menjadi lebih tertarik pada kelas-kelas  Dhekr (ibadah mistik) di mesjid. Saya mulai menghadiri kelas mistik kelompok Sufi di desa itu. Kami terbiasa untuk memuji nabi Muhammad dalam segala kondisi, mengulang kata: “Oh, Rasul Allah, tolonglah!”

Suatu hari setelah doa magrib di masjid Stasiun, dua pria mendatangi saya dan memperkenalkan diri. Salah satunya bernama Muhammad, yang lain Salomo. Mereka menyapa saya dengan cara yang saleh (sopan sesuai ajaran agama). Saya melihat dalam diri mereka kebaikan yang unik dan keinginan nyata untuk menyenangkan Allah. Mereka memperkenalkan saya ke seluruh teman-teman mereka. Mereka mencintai satu sama lain dan mendorong satu sama lain untuk mentaati Elohim. Saya terkesan dengan kesatuan mereka. Mereka adalah anak muda elit kota kami. Mereka telah melihat dedikasi saya untuk menyembah Allah dan keterampilan saya berbicara di depan orang.

Setiap hari Senin pertama dalam penanggalan Arab, kelompok kami mengadakan pertemuan, di mana saya biasa memberikan pidato setelah khotbah seorang ‘Emir’ (pemimpin kelompok). Sebenarnya saya mulai berkhotbah di mesjid ketika aku baru 14 tahun. Saya kira itu baik untuk melakukannya; Imam Shafai biasa memberikan ‘fatwa’ (nasihat agama) ketika ia 6 atau 9 tahun. Aku ingat khotbah pertama saya di masjid itu tentang cara ideal untuk merayakan ulang tahun nabi. Kami biasa berpuasa dan makan bersama di masjid, mengikuti ajaran-ajaran dari nabi Muhammad, bahkan sampai sedetil mungkin, seperti cara berjalan, berbicara, berdoa, makan, minum, berpakaian, dll.

Saya berutang kepada orang-orang ini karena mereka telah mendorong saya untuk membaca, mencari dan meneliti. Faktor-faktor ini tepatnya yang telah membawa saya ke tempat saya sekarang ini. Suatu hari, seorang teman saya berkata kepada ayahku, “bahwa Ibrahim adalah salah satu pembicara umum Kelompok Sunni, ia menghadiri semua pertemuan umum dan rahasia mereka. …” Saya terkejut dan marah karena orang itu adalah orang yang sama yang mendorong saya pada awalnya untuk berkomitmen pada Panggilan Islam dan bergabung dengan Kelompok Persaudaraan Muslim (Muslim Brotherhood Group). Kami sering pergi bersama-sama dari satu masjid ke yang lain, mewartakan Panggil Islam. Aku selalu berharap bahwa ayahku dapat hadir ketika saya menyampaikan khotbah saya.

Setelah rahasia saya terbongkar, ayah saya mulai memperingatkan saya dan mengancam saya berkali-kali, berharap bahwa saya akan merubah pikiran saya dan meninggalkan Kelompok Persaudaraan Muslim (KPM). Kelompok kami menjadi terkenal di mata seorang informan bernama Muhammad. Dia biasa mengikuti semua berita dan gerakan kami dan melaporkannya ke kantor Penyelidik Keamanan Negara (PKN). Dia digunakan untuk merekam semua pidato-pidato kita dan menyerahkan mereka ke kantor PKN lokal. Aku bangga melihat Mohammed merekam pidato-pidatoku di mesjid.

Di sisi lain, ayahku dan saya tidak senang bahwa PKN memiliki namaku. Ayahku sangat khawatir tentang keselamatanku sehingga dia pergi ke KPM di masjid dan berteriak pada mereka di depan semua orang dan meminta mereka untuk tidak berhubungan dengan diriku. Dia pulang dan memukul saya sehingga gigiku patah. Sampai sekarang salah satu gigi depanku masih rusak, aku tetap berhubungan denngan KPM.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, ayahku membakar semua buku-buku agamaku. Dia begitu prihatin tentang diriku dan takut bahwa aku mungkin akan bermasalah karena kelompok Sunni tersebut. Dia bahkan mengancam akan menceraikan ibuku jika saya terus pergi ke masjid Sunni. Saya memintanya untuk mengizinkan saya hanya duduk di luar masjid sehingga saya bisa mendengarkan guru dari Persaudaraan Muslim tanpa benar-benar pergi ke masjid. Dia setuju dengan syarat bahwa ia harus pergi dengan saya. Kami biasanya duduk di luar masjid. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian.

Ancaman tidak menghalangi saya dari menyebarkan Panggilan Islam. Di sekolah, aku biasa memberikan pidato umum Islam setiap pagi. Aku memaksa kakakku memakai kerudung. Aku tidak lagi berjabat tangan dengan wanita-wanita dan mendengarkan lagu karena takut hukuman Allah pada Hari Kiamat, hukuman dalam bentuk timah panas yang akan dituang ke dalam telinga. Tetangga-tetanggaku mengolok-olok aku karena radikalanku dalam menerapkan semua perintah Kuran dan Sunnah. Bukan salahku, aku telah diajarkan bahwa Islam itu relevan dan berlaku untuk setiap usia dan setiap negara, dan bahwa Islam adalah pemecahan!

Sementara berjuang untuk menyebarkan Panggilan Islam, aku medapat sebuah ide. Aku berpikir aku harus memenangkan teman-teman Kristenku bagi Islam sehingga kita semua akan pergi ke Jannah (surga). Pada saat itu, jika kalian bertanya padaku tentang pendapatku mengenai orang-orang Kristen, aku tentunya akan berkata bahwa mereka kafir dan musyrik (penyembah banyak ilah), tapi aku menemukan bahwa Kuran sendiri mengajarkan sebaliknya.

Dalam Surah 5: 82 Kuran berkata, “Terkuat di antara orang-orang dalam permusuhan dengan orang-orang beriman akan kamu temukan orang-orang Yahudi dan orang Pagan, dan terdekat di antara mereka dalam kasih kepada orang-orang beriman akan kamu temukan mereka  yang berkata, “Kami adalah orang-orang Kristen”: karena diantara ini adalah orang-orang serius belajar, dan orang-orang yang telah meninggalkan keduniawian, dan mereka tidak sombong.”

Menurut ayat ini, Kuran membuat perbedaan antara orang Kristen dan kafir (pagan), jika orang-orang Kristen itu harus dilihat sebagai kafir, Kuran akan menempatkan mereka dalam kategori yang sama.

Dalam Surah 2: 62 Kuran mengatakan, “Dan orang-orang Kristen dan Sabian – barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Terakhir, dan bekerja benar, akan mendapat pahala mereka dari Adonai mereka (from ”Lord”), mereka tidak akan ada ketakutan, tidak juga kesedihan.”

Aku berusaha meyakinkan orang-orang Kristen yang aku temui di sekolah atau di lingkunganku bahwa Islam adalah agama yang benar. Aku bahkan berkorespondensi dengan beberapa orang Kristen untuk berpindah ke Islam. Akibatnya, aku memiliki hasrat yang membara di dalam hatiku untuk membandingkan Islam dan Kristianiti, secara menyeluruh, yang benar dan yang salah; yang mana ialah jalan Allah (Elohim) dan yang jalan Iblis.

Selama dua tahun, saya telah bersusah payah. Sering kali saya memutuskan untuk mengakhiri pertempuran batin ini dengan menghentikan membaca buku-buku Kristen, dengan cara berfokus pada membaca Kuran setiap pagi, dan dengan mengikuti contoh nabi Muhammad. Aku ingin menemukan kedamaian dan mematuhi Allah melalui agama yang benar. Oleh karena itu, aku menyingkirkan semua buku-buku Kristenku supaya menjadi seorang Muslim yang nyata, dipersembahkan kepada satu Elohim yang benar, Allah.

Tapi Elohim (God) tidak meninggalkan aku sendiri. Roh Kudus-Nya sering untuk membangkitkan saya di tidurku. Setiap kali aku pergi tidur, aku tegang. Hati nuraniku gelisah. Pada akhirnya aku tak bisa tidur di malam hari. Aku bertanya-tanya, “Jika Muhammad benar-benar nabi yang dijanjikan, mengapa dia tidak datang pada hari penghakiman, sebagai gantinya Ha Mashiah sebagai hakim yang adil? Dalam hal ini, Mohammed akan menjadi salah satu tanda-tanda Hari Terakhir dan bukan Ha Mashiah.” Aku bertanya-tanya tentang rahasia di balik status tertinggi Ha Mashiah di antara semua nabi, begitu banyak sehingga Dia menjadi pusat sejarah. “Apakah kami tidak mengatakan bahwa peristiwa bersejarah tertentu terjadi Sebelum Masehi [artinya Mashiah atau Kristus] (SM/BC) dan lainnya Setelah Masehi (AC/AD)? Apa rahasia kemuliaan Engkau, Isa (Yeshua/ Yesus) Putra Maryam/ Maria?”

Pertanyaan-pertanyaan ini, dan banyak lagi, membuat aku serius memperbandingkan antara Mashiah dan Muhammad. Setelah menghabiskan waktu yang lama membandingkan mereka, aku menemukan bahwa itu adalah perbandingan yang nyata berbeda, bahkan di dalam Kuran itu sendiri.

Di dalam Kuran, kita tidak pernah menemukan Ha Mashiah meminta pengampunan Elohim untuk dosa atau kesalahan, sebagaiman telah dilakukan oleh para nabi dan rasul lainnya. Ha Mashiah adalah benar ketika Dia menantang para pemimpin Yahudi dengan berkata, Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? (Yoh. 8:46). Dia bahkan menegur orang-orang Yahudi untuk kesalehan palsu mereka ketika mereka menangkap basah perempuan yang berzinah: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Yoh. 8:7)

Di sisi lain, aku menemukan dari Kuran itu sendiri bahwa Muhammad hanyalah seorang manusia biasa seperti yang lain, dengan dosa-dosanya, kebencian terhadap orang-orang kafir dan kematiannya. Kuran mengatakan,

“Dan mintalah ampun untuk kesalahan kamu, dan untuk pria dan wanita yang beriman” (Surah 47:19.)
“Supaya Allah boleh mengampuni kamu, kesalahan-kesalahan kamu yang lalu dan kemudian …” (Surah. 48:2)
“Dan jika Kami tidak memberikan kekuatan kepadamu, kamu pastilah sudah condong kepada mereka sedikit.” (Surah 17: 74)

Dalam tafsiran Kurannya, Imam El-Syouty menjelaskan alasan di balik Surah 17:74:
“Menurut Muhammad, anak Kaab, dari suku Karz, Nabi Muhammad membaca Surah 53 ia berkata, “Apakah kamu melihat ‘Lat’ dan ‘Uzza’ … “(nama-nama berhala), Iblis membuat ia berkata bahwa umat Islam bisa menyembah mereka, dan Syafaat dari berhala-berhala yang harus dicari. Jadi, itu menjadi sebuah ayat dalam Kuran. [Ini satu dari ayat-ayat yang disebut ”ayat-ayat Iblis” di dalam Kuran]
Nabi Muhammad begitu sedih tentang apa yang telah terjadi sampai Allah mengilhaminya dengan ayat lain: “Tidak pernah Kami mengirim seorang utusan sebelum kamu, tetapi, ketika dia menetapkan sebuah keinginan, Setan melemparkan beberapa (kejahatan) kedalam keinginannya, tetapi Allah akan membatalkan apa-apa (sia-sia) yang Setan telah lemparkan, dan Allah akan mengkonfirmasi (dan membangun) tanda-tanda-Nya” (Surah 22:52).

Itulah alasan untuk Surah 17:73-74: “Dan tujuan mereka adalah untuk mencobai engkau menjauh dari apa yang Kami telah turunkan kepadamu, untuk menggantikan sesuatu yang berbeda atas nama Kami: Lihatlah! Mereka tentu sudah akan membuat kamu teman (mereka). Dan jika tidak Kami memberikan kekuatan kepadamu, kamu telah hampir condong kepada mereka sedikit.”

Saya tidak bisa menemukan sebuah ayatpun di dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Ha Mashiah bergabung dengan orang-orang kafir jika Allah tidak tolong. Alasan di balik fakta ini, seperti yang saya pelajari dari studi saya, adalah bahwa Ha Mashiah adalah Firman Elohim [Yoh. 1]. Perjanjian Baru, yang aslinya ditulis dalam bahasa Yunani, menyatakan bahwa Ha Mashiah adalah Firman Elohim dalam arti ”pikiran yang diucapkan Elohim.” Ha Mashiah adalah pikiran Elohim. Elohim dan pikiran Elohim adalah keberadaan yang sama dan dasar yang sama, tanpa perbedaan apapun, divisi atau pemisahan. Ha Mashiah adalah Firman berinkarnasi atau menjelma, Elohim yang datang dalam daging. sifat elohim-Nya tidak pernah berangkat dari sifat manusia-Nya, bahkan untuk sesaat atau sebuah kedipan mata.

Semua pikiran ini telah terikat dalam pikiranku dan berjuang dalam hatiku. Aku takut murka Allah yang datang pada orang-orang kafir. Setiap kali Aku berlutut untuk berdoa, Aku berteriak dari dasar hatiku, “Oh, Elohim, tunjukkan kebenaran. Jika Muhammad benar, saya akan mengikutinya sampai aku mati, jika Ha Mashiah adalah benar, saya akan mengikuti Dia sampai aku mati. Aku akan memberikan seluruh hidupku kepada Engkau dan melayani Engkau sepanjang hidupku, apapun harganya mungkin …. “

Aku terus mengulang-ulang doa ini sampai Ha Mashiah datang kepada saya dalam sebuah penglihatan, dalam sebuah mimpi. Dia berkata kepada saya dengan suara lembut-Nya, “Aku mengasihimu.” Aku merenungkan pada kasih tak berujung Ha Mashiah dan pengorbanan-Nya di kayu salib untuk menyelamatkan dan menebus kita. Dengan air mata mengalir di wajahku, saya berkata kepada Ha Mashiah, “Aku mengasihimu. Aku tahu Enkau. Aku tahu bahwa Engkau adalah Alfa dan Omega. Aku tahu bahwa Engkau adalah kekal dan bahwa Engkau adalah Yang Awal dan Yang Akhir …. ”

Aku sangat bahagia, menari seperti anak kecil dan memuji Elohim. Menjadi seorang hakim yang adil, Elohim telah menghukum Putera-Nya untuk mati menggantikan kita sehingga kita tidak perlu menghabiskan keabadian kita di dalam neraka. Kami tidak mengatakan bahwa Elohim Yang Mahakuasa memiliki putra, dari istri – Elohim melarang! Kita menganggap seorang adalah kafir kalau mereka bilang begitu. Elohim tidak pernah punya istri atau anak fisik. Kami mengatakan bahwa Ha Mashiah adalah Putera Elohim dalam pengertian yang sama ”terang lahir dari cahaya.” Itu adalah keputeraan rohani. Kami orang Mesir disebut “anak-anak Sungai Nil”, tetapi kami tidak mengatakan bahwa Sungai Nil telah menikah.

Kami menyatakan dalam Pengakuan Nicea: “Kami percaya … dalam satu Adonai Yeshua Ha Mashiah, Anak Tunggal Elohim, diperanakkan dari Bapa-Nya sebelum alam semesta, Elohim dari Elohim, Terang dari Terang, sungguh Elohim dari sungguh Elohim, diperanakkan, bukan dibuat, menjadi satu substansi dengan Bapa, oleh siapa segala sesuatu diciptakan … “ Pada saat yang sama, kami bersaksi bahwa tidak ada ilah (elohim) selain YAHWEH, dan kami menyembah Dia saja.

Beberapa minggu kemudian, aku dibaptis pada tanggal 6 September 1987 di rumah seorang pendeta. Dalam hati saya, baptisanku adalah penanggalan kedua dari kelahiranku. Saya telah menjadi seorang Kristen selama 11 tahun sekarang. Aku mengatakan kepada istriku, ketika aku mati, aku ingin batu nisanku terbaca, “Ha Mashiah adalah Kemenangan!”

Semua manusia di muka bumi ini adalah fana. Hanya Ha Mashiah yang abadi. Semua nabi terkubur di kuburan yang kita kenal dan kunjungi, tapi hanya makam Ha Mashiah yang kosong karena Ia ada di surga, seorang Raja Yang Berkemenangan. Melalui kematian-Nya di kayu salib, Ha Mashiah menaklukkan kuasa maut. Pujian dan kemuliaan kepada Anda, Yeshua kekasihku!

Seorang teman saya mencuri buku harianku dan memberikannya kepada Sulaiman seorang anggota KPM. Salomo dan para pengikutnya bersekongkol bersama-sama untuk menjebak saya. Mereka fotokopi buku harian saya, di mana saya menjelaskan keyakinan saya dalam Ha Mashiah, dan didistribusikan mereka di antara orang-orang di desa saya. Rasanya seperti skandal, tetapi karena Yusuf berkata ketika saudara-saudaranya bersekongkol untuk menyakitinya, Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, …” (Kej. 50:20)

Firman Tuhan berkata, Kita tahu sekarang, bahwa Elohim turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Elohim.” (Roma 8:28)

Anggota-anggota keluargaku merasa malu atas diriku. Ibuku tidak berani muncul di depan umum. Orang-orang sering menuding karena anaknya telah membawa malu karena menjadi seorang Kristen. Dia mengatakan kepada saya bahwa ia tidak mengakui aku sampai Kiamat. Tidak ada yang dapat mematahkan hatiku lebih dari luka hati, penghinaan dan aib yang aku sebabkan atas keluargaku, terutama ibuku. Tapi apa yang aku bisa lakukan?

Saya sangat mengasihi ibuku, tetapi tidak mungkin bagiku meninggalkan keyakinanku dalam Kristus untuknya. Suatu hari, ia memukul kepalaku dengan sepatunya. Lain waktu, dia berpakaian kain hitam dan mengumumkan kepada semua orang bahwa ia berkabung atas kematian anaknya, Abraham.

Suatu hari semua orang dari desa saya datang bersama untuk memukul dan menyiksa saya untuk mengubah saya kembali ke Islam. Mereka menendang dan menampar saya di depan keluargaku. Ibu berlutut saya turun dan meminta mereka tidak menyakiti saya, tapi mereka menginjaknya dengan kaki mereka. Ibuku yang malang menangis di lantai, sementara mereka berteriak atas keluargaku, “Kalian mempermalukan kami!” Di tengah kekacauan ini, salah satu guru agama desa berteriak pada orang-orang, “Apa kejahatan wanita malang ini jika puteranya telah memilih jalan yang salah!” Aku bersyukur kepada YAHWEH. Jika bukan karena rahmat-Nya, aku pastilah sudah lama menjadi seorang martir.

Setelah itu, semua temanku menghindari saya. Mereka pikir saya akan memberikan reputasi buruk di kota. Saya menjadi seorang ’tamu’ terkenal di kantor polisi setempat dan kantor Penyelidik Keamanan Negara (PKN). Aku harus menghabiskan banyak malam di kantor polisi demi keselamatan jiwaku. Suatu malam, orang-orang di desaku berkerumun di sekitar rumahku dan ingin membakarnya. Mereka membakar beberapa buku Kristen saya, sementara polisi menyita sisanya sebagai layaknya jika mereka menyita milik seorang pengedar obat bius.

Polisi telah mengawasi rumahku 24-jam untuk mencegah barang-barang Kristen datang kepada saya. Namun, Firman Elohim datang kepada saya dalam bentuk halaman koran yang membungkus roti saya! Ini adalah halaman depan surat kabar, termasuk sebuah artikel dari Paus Shenouda. Dia menyebutkan banyak ayat-ayat Alkitab seperti, “Jangan takut … sebab Aku menyertai engkau,” (Kejadian 26:24) dan Sebab YAHWEH, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.” (Ul. 31:6-8) [tertulis hanya ayat 8]

Itu adalah sebuah keajaiban dan tanda dari langit untuk memiliki surat kabar ini dibawa kepadaku di bawah pengepungan polisi di sekitar rumahku. Hal ini mendorong dan mengangkat saya di waktu aku sangat membutuhkan pertolongan Elohim. Segera selesai aku membaca halaman surat kabar tersebut, seorang perwira polisi mengetuk pintu. Takut untuk hidupku, seseorang dalam keluargaku menyambar koran dan membakarnya. Aku sangat sedih kehilangan sumber penghiburanku, tapi saya terkejut, pada hari berikutnya ketika aku sedang berjalan di sudut lain aku menemukan salinan dari halaman yang sama tergeletak di tanah! Aku sering bangun setiap pagi pukul 4 pagi karena suara ibuku menjerit kepada Allah untuk membawa saya kembali ke Islam.

Kristen tidak lebih berharga bagi saya daripada ibuku sendiri. Sebagai fakta, ibu saya lebih berharga bagiku daripada seorang Muslim atau Kristen. Di sisi lain, aku memiliki seorang yang lebih berharga dari ibuku atau bahkan kehidupanku sendiri – Adonai Yeshua Ha Mashiah! Jika saya tidak mengasihi Dia lebih dari diriku sendiri, aku tidak akan layak untuk berbagi dengan-Nya.

Ibuku meninggalkan satu kemungkinanpun untuk mendapatkan saya kembali ke Islam. Dia mengunjungi seorang penyihir untuk membaca mantra atas diriku. Muslim-muslim berpikir bahwa Jin (malaikat jahat) percaya Kuran. Yah, ahli sihir tidak bisa lakukan apapun untuk mempengaruhi saya. Aku berdoa kepada Yang Maha Esa dalam nama Yeshua Ha Mashiah, Nama yang menakutkan semua setan dan jin. Anehnya, tukang sihir itu berkata kepada ibuku, “Anakmu mengikuti sebuah jalan yang dia tidak akan pernah tinggalkan!”

Elohim telah melakukan banyak tanda dan keajaiban dalam hidup saya. Aku merasa dikuatkan setiap kali aku meningat salah satu dari mereka. Mereka adalah batu-batu berpijak di sepanjang jalan kasih kebapakan Elohim yang telah membawa saya dari awal dan memperlihatkan aku melaluinya, dan membawa saya ke tempat ini 10 tahun yang lalu. Elohim belum pernah meninggalkan aku, bahkan tidak untuk sesaat pun!

Ibrahim

Bersambung ke Bab 6. Orang-orang Pilihan Mashiah

  1. Pendahuluan
  2. Dibelakang Kerudung
  3. Diberkatilah Bangsa Mesirku
  4. Dari Tanah air Mashiah Anak-anak Ismail Akan Kembali
  5. Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid
  6. Orang-orang Pilihan Mashiah
  7. Dari Kristen nominal Ke Islam dan Kemudian Ke Mashiah
  8. Begitulah Saya Mengenal Elohim; Ex-Jihadist Pt.1
  9. Dahulu Saya Mati dan Sekarang Saya Hidup
  10. Instruksi-instruksi Penting
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Gulshan Fatima; Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1

Ini adalah kesaksian Gulshan Fatima, puteri bungsu dari sebuah keluarga Islam Sayed yang merupakan keturunan langsung Nabi Muhammad melalui puterinya Fatima.

Tulisan ini merupakan sebuah buku berjudul THE TORN VEIL atau KERUDUNG YANG TERKOYAK, diterbitkan oleh Marshal Paperblacks.

Naskah asli: Kesaksian seorang keturunan langsung nabi muhammad saw; disebarkan oleh Rainy di Indonesia Faith Freedom International.org.

Naskah asli dihasilkan dari alat scanner, jadi ada kemungkinan terdapat kata-kata yang aneh. saya telah berusaha sebaik mungkin untuk memperbaikinya, dan menambahkan warna untuk memperindah pembacaan. Selamat membaca, dan ucapan terima kasih saya kepada Rainy.
Penjalabaja

[Perhatian. Kata Tuhan dalam artikel ini  ditulis sebagaimana naskah aslinya, yang  diartikan sebagai Elohim / God atau Ilah dalam pengertian agama Islam. Dalam Islam: Allah adalah nama dan Tuhan adalah titel, Alkitab Indonesia menulis sebaliknya. Terjemahan yang tepat untuk nama Pencipta manusia dan univers ialah YAHWEH, dan jabatan-Nya ialah Elohim / God / Ilah. The God = Al-Ilah = Allah. Penjalabaja]

Susunan per bab sbb:
1. Ke Mekkah
2. Naik Haji
3. Air Kehidupan
4. Pesta Kawin
5. Getirnya Kematian
6. Mobil Ayah
7. Kemasyhuran
8. Alkitab
9. Baptisan
10. Hubungan Persaudaraan
11. Terperangkap
12. Godaan
13. Lilin Yang Menyala
14. Bersaksi
15. Penutup

Bab 1. Ke Mekkah [Latar belakang keluarga, berobat ke London, didikan ayah]
Dalam keadaan yang biasa, tidak akan terbit keinginan dalam hatiku untuk mengunjungi Inggris pada musim semi tahun 1966 itu. Saya, Gulshan Fatima, yang adalah puteri bungsu dari sebuah keluarga Islam Sayed yang merupakan keturunan langsung Nabi Muhammad melalui puterinya Fatima. Sepanjang masa hidupku selama ini menjalani suatu kehidupan yang sunyi dan tersendiri di dalam sebuah rumah di Punyab, Pakistan. Keadaan seperti ini bukanlah merupakan satu-satunya alasan kenapa saya dibesarkan dibagian rumah yang terpisah (purdah) sejak berusia 7 tahun, menaati ajaran Islam Shiah Orthodoks, tapi juga karena saya adalah seorang yang lumpuh dan bahkan tidak sanggup meninggalkan kamarku sendiri tanpa dibantu. Saya mengenakan kerudung untuk menutupi wajahku dari pandangan para pria, karena hal ini hanya diperbolehkan bagi kaum keluargaku yang dekat, misalnya ayah, kedua kakak lelaki dan pamanku Bagian terlama dari masa empat belas tahun pertama waktu awal hidupku yang suram, dibatasi oleh dinding-dinding vang mengelilingi halaman rumah kami yang luas di Jhang, kira¬kira 450 km dari Lahore dan dinding-dinding ini merupakan pembatas gerak dan pandangku.

Ayahlah yang membawaku ke lnggris walaupun beliau sendiri memandang rendah orang-orang Inggris karena mereka menyembah tiga Elohim dan bukannya Allah Yang Maha Esa. Malah beliau tidak memperbolehkan saya mempelajari bahasa kafir itu waktu saya diajar oleh guruku Razia, karena takut jangan sampai saya tercemar oleh dosa dan dapat men jauhkan saya dan iman kepercayaan kami. Walaupun demikian beliau tokh membawa saya ke Inggris setelah kami mengeluarkan banyak biaya dan usaha pengobatan dokter yang terbaik.

Beliau melakukan hal ini karena adanya dorongan kasih sayang serta keprihatinannya yang begitu besar untuk kebahagiaanku di masa datang. Namun, waktu kami mendarat di lapangan terbang Heathrow pada awal April itu, betapa kami tidak menyadari akan datangnya kesulitan serta kesedihan yang bakal menimpa keluarga kami. Yang aneh kemudian ialah, saya, anak lumpuh yang dinilai dan dianggap paling lemah dari antara anak-anak ayah, pada akhirnya malah menjadi yang terkuat diantara semua kami serta menjadi batu karang yang menghancurkan semua yang telah beliau pelihara dan jaga dengan penuh kasih sayang. Bahkan sesudah saya dewasa ini, dengan memejamkan mataku, dapat muncul satu gambaran di depanku yaitu ayahku, Aba-Jan tercinta, begitu tinggi, kurus, mengenakan jubah hitam yang dijahit rapih berleher panjang dihiasi kancing-kancing emas diatas celana longgar dan memakai ikat kepala putih, dijalin dengan sutera biru.

Kenanganku terhadap beliau muncul sama halnya dulu beliau begitu sering masuk kekamarku untuk mengajar saya tentang agama kami. Saya teringat ketika beliau berdiri disisi tempat tidurku yang ditempatkan berseberangan dengan tempat paling suci bagi kami yaitu Kaabah yang menurut kisah-kisahnya dibangun oleh Nabi Ibrahim [Abraham] dan dipugar oleh Nabi Muhammad. Ayah mengambil Al Qur’an suci dari rak penyimpanannya ditempat yang paling tinggi letaknya didalam kamarku karena tidak diperbolehkan menempatkan sesuatu barang lain lebih tinggi dari Al Qur’an. Pertama-tama beliau akan mencium kain sutera penutup yang berwarna hijau seraya mengucapkan “Bismillah i-Rahman-ir Rahim (saya memuliakannya dalam nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang).” Lalu beliau akan membuka tutup sutera hijau tapi sebelumnya beliau mengambil air wudhu dan dengan khidmat melaksanakan pencucian menurut tata cara agama yang perlu dilakukan sebelum menyentuh atau membawa kitah suci tersebut. Beliau mengulangi lagi ucapan Bismillah, kemudian menempatkan Al Qur’an itu di atas sebuah tempat khusus berbentuk huruf X, menyentuhnya dengan ujung-ujung jarinya. Beliau duduk sedemikian caranya sehingga sambil bersandar dikursi, saya dapat memandang ke Kitab itu. Sebelumnya sayapun harus sudah melaksanakan wudhu dengan bantuan pembantu wanitaku. Dengan telunjuknya ayah menelusuri huruf-huruf suci bertulisan Arab dekoratip dan saya, yang ingin sekali menyenangkan hati beliau, menguianginya mengikuti beliau membaca Al Fatiha.

Pembukaan ini adalah kata-kata yang mengikat erat seluruh umat Islam dimanapun mereka berada.
“Puji bagi Allah, Tuhan  Pencipta. Maha Pengasih. Maha Penyayang, Raja dihari Penghakiman ! *) Engkau sendirilah vang kami sembah dan padaMu sendirilah kami memohon doa meminta pertolongan. Tunjukkanlah kami kearah jalan yang lurus. Jalan bagi mereka yang Engkau kasihi, bukannya bagi mereka yang Engkau murkai atau bagi mereka yang murtad”.
Hari ini kami membaca Sura Ali Imran:
“Ya Allah! Tiada Tuhan selain Dia Yang Hidup dan Kekal”. “Ia telah mewahyukan kepadamu Kitab berisi kebenaran yang mengukuhkan kitah-kitab suci vang mendahuluinya: karena la telah mewahyukan Taurat dan Injil sebagai petunjuk bagi umat manusia untuk membedakan vang baik dan yang jahat”
*) Lihat catatan di atas.

Saya menjalani tahapan hidup sehagaimana yang ditempuh oleh seriap kanak-kanak Islam sewaktu mereka dibesarkan dalam keluarga orthodoks sejak awal masa kanak-kanak, membaca Al Qur’an suci dalam tulisan Arab. Kami umat Islam memahami bahwa kitab tersebut tidak boleh diterjemahkan, tidak seperti halnya buku yang lain tanpa mengalami kehilangan pengertiannya vang sebenarnya oleh karena nilainya yang keramat. Ketika saya hampir menyelesaikan pembacaannya untuk pertama kalinya, sekitar umur 7 tahun. Yang merupakan umur vang dinilai mulai memperlihatkan gejala kewaspadaan maka diadakan suatu jamuan vang kami namakan “amin” dari Al Qur’an suci dimana anggota-anggota keluarga, kawan-kawan serta para tetangga diundang. Di bagian tengah halaman terbuka di bungalow kami, para pria duduk ditempat yang dipisahkan dari para wanita oleh sebuah tirai pemisah, disitulah guru agama (mullah) akan mengucapkan doa vang menandakan sampainya saya pada suatu tahap baru yang penting dalam hidup ini dan pada saat itu para wanita yang duduk dibagian dalam dari halaman itu akan menghentikan bisik-bisik antara mereka untuk mengikuti upacara tersebut.

Sekarang kami telah sampai pada akhir pembacaan Sura itu, lalu ayahku memandangku dengan senyum tersungging dibibirnya: “Kau telah melakukannya dengan baik, Beiti (anak perempuan kecil),” katanya

Sekarang jawablah pertanyaan-pertanyaan ini :
‘Dimanakah Allah?’

Dengan malu-malu saya mengulangi pelajaran vang telah saya ketahui dengan baik :
‘Allah ada dimana-mana’
‘Apakah Allah mengetahui akan segala tindak tandukmu di dunia ?’
Ya. Allah tahu akan segala tindak tanduk yang saya lakukan didunia, mau yang baik demikian pula yang jahat’.
‘Apa yang telah Allah lakukan bagimu?

‘Allah telah menciptakan saya, begitu pula seluruh dunia. Ia mencintai saya dan membuatku senang. la akan memherikan pahala bagiku di sorga bagi semua tingkah laku saya yang baik dan menghukumku dalam neraka bagi semua perbuatanku yang jahat’.

‘Bagaimana caranya engkau memperoleh cintanya Allah ?’
‘Saya dapat memperoleh cinta kasih Allah dengan penyerahan penuh pada kehendakNya serta mematuhi perintah¬perintahNya’.

`Bagaimana engkau dapat mengetahui kehendak dan perintah – perintah Allah?”
‘Saya dapat mengetahui kehendak dan perintah Allah dari Al Qur’an suci dan juga Hadits dari Nabi kita Muhammad (kiranya damai dan berkat Allah menyertainya).
“Bagus sekali,”
kata ayah.
“Sekarang apakah ada sesuatu yang ingin kau ketahui’?”
“Ya, ayah; katakanlah mengapa Islam lebih baik dari agama lainnya?”

Saya menanyakan hal ini bukan karena saya mempunyai pengetahuan tentang agama lain tapi karena saya ingin mendengar sendiri dari ayahku penjelasan tentang agama kami. Jawaban ayah jelas dan tegas.

‘Gulshan, saya mau engkau mengingat akan hal ini. Agama kita lehih besar dari agama lainnya karena:
Pertama, kemenangan Allah adalah Muhammad yang membawa berita terakhir dari bagi umat manusla dan tidak lagi diperlukan nabi lain sesudahnya.
Kedua, Muhammad adalah sahabat Allah. Ia menghancurkan semua berhala dan semua orang diubahnya dari penyembah berhala menjadi penganut agama Islam.
Ketiga, Allah mengaruniakan Al Qur’ an kepada Muhammad setelah semua kitab suci lainnya. Ini adalah Firman Tuhan [Elohim] yang terakhir dan kita harus mematuhinya. Semua tulisan lainnya tidak lengkap.”

Saya mendengarkan penjelasan beliau yang membentuk tulisan sendiri dalam pikiran dan hatiku. Jika masih ada waktu, saya masih meminta beliau menjelaskan kepadaku tentang gambar yang tergantung dikamarku.
Bagaimana rasanya menunaikan ibadah Haji dikota suci Mekkah yang merupakan magnit kearah mana setiap umat Islam berkiblat sewaktu berdoa lima kali sehari? Didalam kotaku, kamipun berkiblat kesana, sewaktu Muazzin mengumandangkan azan dari kubah masjid. Suara tersebut memantul sepanjang jalan-jalan mengatasi keributan lalu-lintas dan bazaar serta memasuki jendela kami yang dipasangkan gorden, balk diwaktu fajar, tengah hari, sore serta malam hari memanggil umat yang setia untuk berdoa dengan Allah `Maha Besar’. Tidak ada Tuhan [Elohim] selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!” Ayah memberi penjelasan tentang semua ini. Beliau telah dua kali menunaikan Ibadah Haji. Sekali sendirian dan kami berikutnya bersama ibu. Bagi setiap umat Islam merupakan kewajiban untuk menunaikannya sekurang-¬kurangnya sekali seumur hidup atau lebih asal mampu. Menunaikan ibadah haji adalah Rukun Islam ke lima, yang mempersatukan berjuta-juta umat Islam dari berbagai negara yang berbeda, serta memberi keyakinan terhadap kesinambungan bagi iman kami.

`Apakah saya akan ke Mekkah, ayah?’ tanyaku.
Beliau tertawa seraya membungkuk mencium keningku. `Engkau akan kesana, Gulshan kecil, apabila kau sudah lebih besar dan barangkali…..’ Ayah tidak menyelesaikan kalimat tersebut, namun saya mengerti bahwa beliau hendak mengatakan….. `apabila doa kita untukmu telah dijawab’.
Dengan berpedoman pada perintah-perintah ini, saya belajar berbakti kepada Allah, terikat dengan agamaku serta tradisinya. memiliki perasaan bangga yang menyala-nyala terhadap gans keturunan nenek moyangku sejak nabi Muhammad melalui menantunya Ali, dengan memahami martabat ayahku yang bukan hanya merupakan kepala keluarga tapi juga sebagai keturunan nabi, seorang sayed dan seorang Shah. Beliau juga adalah seorang Pir, pemimpin agama serta seorang tuan tanah yang memiiiki tanah luas dipedalaman dan sebuah bungalow yang luas dipinggiran kota kediaman kami.

Saya mulai memahami mengapa keluarga kami begitu disegani, baik oleh para pemuka agama (mullah) atau maulvi yang datang bertanya kepada ayah masalah keagamaan yang tidak dimengertinya. Sambil mengenangkan kembali semuanya, kini saya dapat melihat akan adanya suatu maksud vang terkandung selama masa saya terkungkung begitu lama seumpama kuncup bunga mawar dipekarangan kami yang dipeiihara begitu baik oleh tukang kebun.

Namaku Gulshan, yang dalam bahasa Urdu artinya ”tempat bunga-bunga berkembang”, yaitu ”taman.” Keadaan saya malah merupakan sebuah tanaman yang sakit-sakitan untuk dapat menyandang nama seperti itu, juga dipelihara dengan penuh kasih oleh ayahku. Beliau mencintai kami semua, Safdar Shah, Alim Shah. Anis Bibi, Samina dan saya sendiri. Walaupun beliau kecewa karena waktu lahir ternyata saya seorang perempuan, kemudian waktu berumur 6 bulan menjadi lumpuh karena terserang penyakit typhus, namun ayah tetap mencintaiku malah kurasakan melebihi kasihnya terhadap saudara-saudaraku yang lain. Bukankah ibuku pada saat-saat terakhir hayat dipembaringan kematiannya mengajukan permintaan kepada ayah untuk memelihara saya?

‘Saya memohon kepadamu Sah-Ji, janganlah kawin lagi demi si Gulshan kecil’, pinta ibu sambil menghembuskan nafas yang terakhir. Beliau ingin melindungiku, karena kehadiran seorang ibu tiri dengan anak-anaknya akan menyebabkan hak warisan bagi anak perempuan dari istri pertama akan berkurang. ‘Tambahan pula mereka dapat memperlakukannya dengan buruk jika anak perempuan itu sakit-sakitan, apalagi kalau sampai tidak kawin. Telah bertahun-tahun lamanya sejak ayah berjanji pada ibu dan beliau tetap menepatinya walaupun ayah hidup disuatu lingkungan dimana seorang pria diizinkan beristri sampai empat orang, jika ia cukup kaya untuk memperlakukan masing-masing istrinya dengan adil sesuai Al Qur’ an.

Keadaan inilah yang merupakan pola hidupku sampai waktu saya mengunjungi Inggris pada usia 14 tahun Secara terselubung, keadaan ini berangsur-angsur mengubah segala sesuatu, tersusun menjadi gerakan yang merupakan mata rantai yang membawa dampak yang tidak terduga. Tentu saja saya tidak merasakan firasat bahwa hal ini akan terjadi pada waktu saya menunggu dalam sebuah kamar hotel di London pada hari ketiga sejak kami tiba disana dengan ditemani oleh para pembantuku Salima dan Sema. Waktu itu kami menantikan keputusan seorang dokter spesialis, seorang Inggris yang direkomendasikan kepada ayahku, ketika beliau mencari-cari pengobatan bagiku di Pakistan. Dokter ini akan menetapkan sekali dan untuk selamanya tontang masa depanku.
Jika saya dapat disembuhkan dari penyakit yang telah melumpuhkan bagian kiri tubuhku sejak bayi, maka sava akan bebas untuk menikah dengan sepupuku yang telah dipertunangkan dengan saya sejak berusia 3 bulan dan sekarang sedang menunggu-nunggu di Multan Punjab. Jika tidak sembuh, maka pertunanganku akan diputuskan dan perasaan maluku akan lebih besar lagi dibandingkan dengan keadaan bila dikawinkan lalu diceraikan kembali. Kami mendengar bunyi langkah mendekat. Salima dan Sema berlompatan berdiri dan dengan gugup mengatur dopattanya yang panjang berbentuk seperti selendang. Salima menarik gaunku sampai ke wajahku dan saya sendirl berbaring diatas tempat tidurku. Saya menggigil bukan karena kedinginan. Malah terpaksa saya mengatupkan gigiku agar berhenti gemeretak.

Pintu terbuka dan ayah masuk bersama dokter. `Selamat pagi’, sapanya dengan suara yang amat menyenangkan dan sopan. Saya tidak dapat melihat wajah dokter David tersebut, namun rasanya beliau adalah seorang yang berwibawa dan terpelajar. Tangan-tangannya yang kokoh mengangkat gaunku keatas lalu melakukan pengujian pada lengan kiriku yang lemas, sesudah itu pada kakiku yang sudah tidak berdaya.

‘Tidak ada obat untuk sakit ini kecuali doa’, kata dokter David kepada ayahku. Rasanya tidak terdengar ada ucapan yang salah pada kata akhirnya yang lemah itu. Sambil berbaring di dipan terdengar olehku suara dokter Inggris yang asing itu menyebut nama Allah. Saya bingung. Bagaimana gerangan ia mengetahui tentang Allah? Dan cara-caranya yang baik dan simpatik saya merasakan bahwa beliau sedang membangkitkan harapan kami terhadap kesembuhanku, malah ia mengajarkan kepada kami cara berdoa.

Ayah mengantarkannya sampai kepintu. Ketika kembali beliau berkata: `Alangkah baiknya orang Inggris itu mengajari kita caranya berdoa. Salima membalikkan dopatt aku seraya membantuku duduk. `Ayah, apakah beliau tidak dapat membuat keadaanku menjadi tebih baik?. Saya tidak dapat menahan suaraku agar tidak terdengar gemetar. Air mata menumpuk di pelupuk mataku. Ayah mengusap tanganku yang tidak berdaya. Katanya dengan cepat: ‘Hanya ada satu jalan lagi sekarang. Mari kita mengetuk pintu sorga. Kita akan ke Mekkah sesuar rencana kita. Allah akan mendengar doa-doa kita dan kita masih dapat pulang dengan perasaan syukur.’ Beliau tersenyum kepadaku dan saya berusaha untuk tersenyum kembali.

Kesedihanku sama besarnya dengan kesedihannya namun beliau tidak berputus asa. Pada suaranya terdengar adanya harapan baru. “Tentu saja di Rumah Allah atau pada mata air Zam-zam, mata air kesembuhan, bukankah kita akan memperoleh apa yang menjadi keinginan hati kita?”
Kami masih tinggal di hotel itu beberapa hari dan kesempatan ini digunakan ayah untuk mengurus penerbangan kami ke Jedah, lapangan terbang yang biasa digunakan para jemaah haji untuk menuju Mekkah. Sebelum itu beliau belum mengurus hal ini karena masih menunggu hasii pengobatan yang telah dianjurkan bagiku. Kunjungan ini telah beliau rencanakan sedemikian rupa agar bertepatan dengan masa menjelang bulan haji tahunan, sehingga sesudah peagobatan, kami dapat menuju Mekkah untuk mengucapkan syukur.
Selama waktu penantian mi ayah berkesempatan mengunjungi kawan-kawan masyarakat Pakistan atau sebaliknya mereka datang mengunjungi beliau. Biasanya para wanita dari keluarga-keluarga tersebut akan mengunjungi saya. Tapi saya merasa malu dengan keadaanku serta tidak terbiasa menemui tamu-tamu asing dirumah sehingga hanya sedikit dari mereka yang datang mengetuk pintu kamarku.
Siapakah yang suka melihat lengan yang layu, kulit yang menghitam berkeriput dan lemah lunglai serta jari-jarinya terjalin bersama dengan otot sehingga bentuknya seperti selai? Pada usia dimana kawan-kawan sebayaku mulai berangan-¬angan tentang waktu akan mengenakan gaun pengantin berwarna merah dengan sulaman emas, kemudian berlalan¬-jalan mengenakan perhiasan dengan membawa mas kawin yang bagus kerumah suaminya, maka keadaanku sebaliknya sedang menghadapi masa depan yang sunyi, terputus dari hubungan dengan kawan-kawan sebayaku. Suatu makhluk non manusia, tidak akan pernah sembuh, menjadi perempuan yang sempurna ditudungi dengan kerudung yang memalukan.

Tempat kami terletak pada tingkat dua hotel itu, kamarnya menyenangkan persis disebelah kamar ayah. Ruangan itu beralaskan permadani tebal dan mempunyai kamarmandi sendiri. Disampmg merawatku serta mencuci pakaian kami. Salima dan Sema yang tidur dikamarku secara bergantian duduk menjaga dan melayani kebutuhanku. Hampir tidak ada tugas lain untuk mereka kerjakan, namun sambil membaca buku- ¬buku. melaksanakan sholat lima waktu, jam rasanya berjalan cukup cepat karena disamping memberi makan seorang yang cacat selalu membutuhkan waktu yang iebih lama. Saya pernah mendengarkan keduanya berkasak-¬kusuk menggelikan. Sesekali mereka menyelinap ke lobby bawah, namun terlalu takut untuk keluar sendirian. Mereka merasa puas dengan melewatkan waktu-waktunya separti itu, berkesempatan melihat dunia luar melalui jendela dan melaporkan kepadaku apa yang mereka lihat. Reaksinya polos sebagaimana layaknya gadis-gadis desa Pakistan dan hal ini membuat saya tertawa.

`Oh, lihat kota yang indah ini’, kata Salima. ‘Banyak yang lalu lalang dan banyak sekali mobil’. Kemudian Sema menjerit. ‘Oh, para wanita tidak mempunyai perasaan malu. Mereka tidak menutupi kakinya. Lelaki dan perempuan berjalan bersama, bergandengan tangan. Mereka berciuman. Oh, mereka langsung ke neraka.

Kami tetah diajarkan tentang peraturan yang ketat tentang tatacara berpakaian serta berperilaku sejak kecil. Kami menutup diri kami dengan sopan dari leher sampai ke pergelangan kaki mengenakan ‘shalwar kameeze’ dari Punjab, jubah longgar dan celana panjang yang ujungnya terkumpul dipergelangan kaki. Di leher kami mengenakan sehelai selendang lebar atau dopatta yang dapat ber-fungsi sebagai penutup kepaia bila diperlukan atau ditarik menutupi wajah dan dengan demikian kamipun dapat menutupi diri memakai syal bila dingin. Jika kami harus keluar maka kami mengenakan burka, sebuah kerudung yang panjang yang tidak tembus pandang menutupi diri kami dari krpala sampai ke tumit, terkumpul menjadi sepotong pelindung kepala yang mempunyai celah didepan untuk keperluan meiihat. Dengan demikian, secara biasa tidak mungkin untuk dapat bercakap-cakap dijalanan serta mengurangi kemampuan, pemakai untuk melihai dan mendengarkan lalu lintas.
Pada waktu itu kami tidak mempertanyakan tentang atura – aturan yang diberikan kepada kami dan tentu saja takut untuk. menentang kebiasaan-kebiasaan tersebut. Pada kenyataannya kami merasakan bahwa kerudung itu malah merupakan pelindung. Kami dapat melihat ke dunia luar sebagaimana adanya, tapi dunia tidak dapat melihat kami.
Waktu kami menyaksikan bagaimana para wanita di London memamerkan dirinya dengan mengenakan mini skirt yang tidak sopan dimana ujungnya cukup jauh diatas lutut, maka jelas bagi kami bertiga bahwa kota ini merupakan kota yang paling maksiat didunia.

Di negen kami, terutama di kotaku, untuk bercakap-cakap dengan seorang pria yang bukan kerabat dekat ataupun kepada pembantu pria dapat menyebabkan kami dianggap hina. Manfaat ‘purdah’ secara menyeluruh tentu saja sebagai pelindung kehormatan keluarga. Tidak boleh terlihat adanya gejala atau noda sedikitpun yang mencurigakan melekat pada diri para puteri keluarga Islam. Hukuman terhadap kesembronoan dalam hal ini bisa fatal.

Tiga kali dalam sehari seorang pelayan mengantarkan makanan dengan menggunakan rak dorong. Pembantu akan mengambil dari pelayan itu di depan pintu. Kadang-kadang seorang pembantu wanita menyertainya, diwaktu mana saya akan menutup mataku agar tidak melihat kaki-kakinya. Saya mulai merasa bosan dengan makanan-makanan hotel itu. Tiap hari ayah memesan masakan ayam bagi kami karena inilah yang halal, daging yang diperkenankan, dipotong mengikuti tatacara yang diperbolehkan oleh agama.
Babi merupakan daging yang haram dan dilarang, bahkan untuk menyebut kata ‘babi’ saja dapat menyebabkan mulut seseorang menjadi najis. Sampai sekarang saya masih mengenakan kata Punyabi “barta” yang berarti ‘barang luar’ jika berbicara tentang binatang itu. Jadi, dapat dibayangkan betapa kuatnya pengaruh hasil didikan dasar sejak kecil. Setiap daging yang lainpun dapat dicurigai bahwa mungkin dapat dimasak memakai minyak babi. Sayur-sayuran dihidangkan bersama ayam ditambah pelezatnya, es krim. Minuman kami Coca Cola dan cukup banyak persediaan di dalam kamar.

Saya mengharapkan kiranya muncul masakan memakai bumbu `kari’ atau `kebab’ namun sia-sia saja, begitu juga buah-buahan misalnya buah persik atau mangga dan pepohonan di halaman rumahku.

Ayah membantu membangkitkan kegembiraanku dengan membawa saya berkeliling ke luar- sebentar. 2 atau 3 kali. Sekali saya diajak berkeliling sekitar hotel dan sekali bersama kedua pembantuku memakai taksi. Beliau memberikan penjelasan padaku tentang kenapa orang-orang Inggris berbeda dengan kami ialah :

“Negeri ini adalah sebuah negeri Kristen. Mereka percaya kepada nabi Isa, Yeshua Ha Mashiah sebagai Anak Elohim’.
Tentu saja mereka salah, karena Allah tidak pernah kawin dan bagaimana mungkin Allah beranak? Tetapi mereka juga memiliki sebuah kitab suci sebagaimana halnya dengan kita Umat Islam dan umat Kristen mendasarkan imannya pada kuab suci yang sama itu. Hal ini merupakan teka-teki bagiku. Kenapa kita mempunyai dasar kitab suci yang sama namun perbedaannya begitu banyak?”
Mereka bebas melakukan banyak hal, sedangkan tidak demikian dengan kita,” kata ayah. ‘Mereka bebas makan daging babi serta minum minuman keras tidak ada pembatasan antara pria dan wanita. Mereka hidup bersama tanpa nikah dan bila anak-anaknva dewasa mereka tidak menghormati orang – orang tuanya.Namun mereka orang-orang baik, sangat tepat waktu serta memiliki prinsip – prinsip yang baik. Bila berjanji mereka menepatinya, tidak seperti orang Asia.”
Ayah, berpengalaman dan terpandang dalam bidang perdagangan. Beliau selalu berhubungan dengan orang-orang asing dalam mengekspor katun yang ditanamnya di Pakistan. ‘Kita dapat saja berbeda agama dengan mereka, namun mereka merupakan orang-orang yang simpatik bila bekerjasama serta memililai perasaan perikemanusiaan,” kata ayah mengakhiri penjelasannya.

Saya merenungkan kontradiksi tentang orang Inggris ini, bangsa yang memiliki kasih, tinggal di negara yang orang–orangnya lemah lembut. Dimana hujan sering turun dan kitab sucinya memberikan begitu banyak kemerdekaan bagi mereka. Malah kitab suci kami masih mempunyai kaitan dengan kitab sucinya. Apakah sebenarnya kunci perbedaan ini? Bagi seorang gadis berusia 14 tahun, hal ini masih terlalu dalam.
Pertanyaan itu saya hilangkan dalam pikiranku lalu bersiap- siap menyongsong peralanan berikutnya. Diperlukan waktu bertahun-tahun lamanya bagiku sebelum hal ini menjadi jeias dan sesudah menemukan kejelasan itu maka saya tidak dapat menganggap pertanyaan !ersebut sehagai hal yang sepele.

Bersambung ke Bab 2. Naik Haji

Gulshan Esther (Fatimah); Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2 ; Bg. 3 ; Bg. 4 ; Bg. 5 ; Bg.6 ; Bg. 7 ; Bg. 8

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Ethiopia: Muhammad Ahmad, imam dari 40 mesjid menjadi penjala manusia

Terlahir sebagai seorang Muslim yang taat di tengah keluarga Muslim yang dihormati oleh lingkungannya. Bapanya adalah seorang guru Kuran, sedangkan Muhammad Ahmad sendiri melayani di 40 mesjid. Yeshua Ha Mashiah menampakan diriNya dan berbicara kepada Muhammad melalui mimpi-mimpi. Ketika ia menerima Yeshua sebagai Juruselamatnya, bapanya ingin membunuhnya dan isterinyapun meninggalkan dia. Untuk keselamatan jiwanya, jemaat setempat mengirim dia keluar kota dan belajar Alkitab. Dia kembali ke kotanya dan membawa terang Injil  kepada keluarganya bahkan ke dalam Mesjid-mesjid.

Ini adalah kesaksian Muhammad sendiri bagaimana ia berpindah dari seorang Muslim yang fanatik menjadi penjala manusia untuk Juruselamatnya, Yeshua Ha Mashiah. Haleluyah!

“Sepanjang hidup saya, saya adalah seorang muslim yang taat. Tujuan keluarga saya adalah mendirikan Islam di mana-mana, untuk menyebarkan agama Islam. Sebagai pemimpin Mesjid saya juga membuat gang untuk menangkapi orang-orang Kristen dan menganiaya mereka, mereka yang pergi kegereja. Dan membakar 7 Alkitab.”

Suatu hari ia mendengar suara dari Sorga di dalam mimpinya memanggil namanya: ”Muhammad … Muhammad kamu hidup di dalam  kegelapan. Kamu melakukan pekerjaan-pekerjaan yang besar, tetapi itu bukan pekerjaan yang baik, semua itu bukan pekerjaan-Ku. Keluarlah dari situ, ikutlah Aku maka Aku akan tunjukan kepadamu jalan yang benar.” Dia tahu bahwa itu adalah suara Elohimnya orang Kristen. Ketika ia ceritakan mimpinya tersebut kepada ibunya. Ia dimarahi oleh ibunya. Karena ia lahir di keluarga Islam yang ketat, ia memutuskan untuk tidak mengikuti perintah yang ia dapat dari mimpinya tersebut. Dan kembali ia mendapat mimpi yang sama, namun kali ini suara tersebut nampak sebagai perintah yang tegas untuk dia meninggalkan hidupnya yang gelap tersebut dan mengikuti Yeshua. Muhammad tetap menolak perintah tersebut, lalu ia mengalami sakit yang berat, tidak dapat makan dan berjalan, ia merasa beban yang berat telah jatuh di atas pundaknya. Ia mencoba berkunjung ke beberapa rumah sakit, namun tidak membantu.

Ia teringat kepada seorang penginjil yang pernah mencoba menginjili dia beberapa waktu yang lalu. Saya berusaha menghubunginya, sekalipun takut akan keluarga dan teman-temannya. Singkat cerita mereka bertemu, dan penginjil ini menceritakan kepadanya tentang Alkitab dan menasehat dia untuk menerima Yeshua sebagai Juruselamatnya. Dia menerima nasehat tersebut, pada hari itu juga, Muhammad berkata, bahwa beban beratnya terangkat keluar dari padanya, dan ia disembuhkan dari semua sakitnya. Ketika orang tuanya tahu bahwa ia telah berpindah ke Kristen, ia diusir dari rumahnya dan terancam untuk dibunuh.

Sekembalinya dari sekolah Alkitab, ia bercerita kepada ibunya, dan anggota-anggota keluarganya bagaimana ia telah disembuhkan dan menggalami kedamaian di hatinya, mereka juga menggambil keputusan untuk menerima Yeshua sebagai Yahweh mereka. Langkah selanjutnya yang Muhammad lakukan adalah meminta maaf kepada orang-orang Kristen yang ia pernah aniaya. Dan belajar bagaimana ia bisa memberitakan Injil kepada orang-orang Muslim lainnya yang hidup di dalam kegelapan seperti masa lalunya. Muhammad berkata, ”Saya tidak malu-malu lagi menyatakan bahwah Yeshua adalah nyata, kesembuhanku, damai sejahteraku, pelayananku dan Juruselamatku.”

Dia memohon dukungan doa saudara-saudara seiman, untuk mendapatkan kekuatan sorgawi di dalam pelayanannya, terlebih ketika memasuki mesjid-mesjid dan memberitakan Injil kepada guru-guru agama Islam .

Sumber bacaan:

Ethiopia: Violent Muslim IMAM Finds Jesus Christ

dan lainnya.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Ribuan Muslim Tinggalkan Islam di Irak

Di saat Paskah ini ratusan ribu masyarakat Iraq merayakan hari raya tersebut, tapi tahukah Anda bahwa terjadi peningkatan jumlah Muslim Iraq murtad ke Kristen yang semakin besar? Apa sih latar belakang kejadian ini? Mari kita tanyakan pada Presiden dari Joshua Fund, pengarang buku Dead Heat, yang bernama Joel Rosenberg. Dia adalah penulis best selling dalam bidang Penginjilan Kristen, terutama di Iraq. Dia baru aja kembali dari Iraq. Inilah wawancaranya: Video

Fox News (FN) : Selamat pagi, Pak.

Joel Rosemberg (JR): Selamat pagi, selamat Paskah.

FN: Selamat Paskah juga. Pertama-tama, mari kita bicara mengenai masyarakat Kristen di Iraq. Tempat itu berbahaya bagi orang Kristen, sebagaimana kita telah mengetahuinya. Seorang Bishop Iraq dibunuh di Mosul baru2 ini. Sesukar apa sih sekarang untuk beribadah Kristen di Iraq?

JR: Sangat amat sukar. Terdapat berbagai kekerasan yang harus dihadapi setiap orang di sana, dan lalu ditambah dengan kenyataan para radikal jihad Muslim benci banget akan konsep Muslim murtad dan jadi pengikut Yeshua Ha Mashiah. Terdapat sekitar 750.000 masyarakat Kristen Iraq sejak lahir (Katolik, Kristen Kaldean, dll). Tapi terdapat kecenderungan (trend) di 15 tahun terakhir di mana semakin banyak orang2 Muslim Iraq yang murtad dan lalu memeluk Kristen. Ini merupakan perpindahan agama yang terbesar dalam sejarak Iraq.

FN: Mengapa kok hal ini bisa terjadi? Bukankah sekarang malah bahaya banget untuk jadi Kristen di Iraq? Tapi kok sekarang malah ada sekitar 20.000 Muslim murtad dan memeluk Kristen. Kenapa seeh?

JR: Sekitar 20.000 Muslim Iraq murtad dan memeluk Kristen di lima tahun terakhir. 70.000 Muslim Iraq murtad setelah Perang Teluk I (Gulf War I). Mengapa kok bisa begitu? Setelah tinggal di Iraq selama 9 hari dan bicara dengan 19 Pendeta Iraq, mereka menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena begitu banyak masyarakat Muslim yang menyaksikan para Muslim radikal membunuhi sesama Muslim. Ini membuat iman mereka goyah dan mempertanyakan jati diri mereka, “Apakah kita ini memang begitu?” Mereka menyatakan mereka tidak mau menjadi seperti itu, sebagian dari mereka malah jadi agnostik, sebagian murtad ke Kristen.

FN: Apakah ini bisa jadi serangan balik terhadap keberadaan tentara AS di Iraq? Nanti jangan2 akan timbul kecurigaan Kristenisasi oleh AS di Iraq. Banyak tuh website2 yang menuduhkan hal seperti ini.

JR: Engga’ juga tuh. Satu hal yang sangat mengesankan diriku saat aku berada di sana untuk pelayanan sosial Joshua Fund, adalah pertemua dengan para pendeta Iraq. Yang terjadi adalah orang2 Iraq membimbing orang2 Iraq lainnya untuk murtad dan beralih ke Kristen. Banyak para ex-Muslim teroris, ex-Sunni teroris yang mengalami penglihatan bertemu Yeshua Ha Mashiah dan sekarang mereka malah menjadi pendeta dan pengInjil. Kejadian ini mirip dengan yang dialami Rasul Paulus yang dulu giat sekali membunuh orang2 Kristen tapi berubah setelah mendapat penglihatan bertemu Yeshua di Damaskus. Meskipun ada sedikit misionaris Barat, tapi yang paling berperan dalam memurtadkan Muslim adalah para pendeta Iraq itu sendiri. Kecenderungan murtad ini juga tidak hanya terjadi di Iraq, tapi juga di berbagai daerah Timur Tengah lainnya. Sejuta Muslim Syiah telah murtad ke Kristen di Iran dalam jangka waktu tiga tahun terakhir. Lebih dari lima juta masyarakat Sudan Muslim murtad ke Kristen dalam jangka waktu limabelas tahun terakhir. Jadi kecenderungan ini terjadi di seluruh Timur Tengah, dan media berita utama tidak pernah melaporkan kejadian Muslim murtad massal ke Kristen.

Sumber: Ribuan Tinggalkan Islam di Irak & Pakistan.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja