Kesaksian Samaa Habib Berhadapan Muka Dengan Yeshua

Buku Face to face with Jesus kesaksian Samaa HabibIni adaalah kisah nyata perjalanan rohani seorang wanita ex-Muslim dari sebuah negara di Timur Tengah yang sedang menghadapi perang sipil. Ringkasan cerita di bawah ini diambil dari buku kesaksiannya: Face to Face with Jesus: A Former Muslim’s Extraordinary Journey to Heaven and Encounter with the God of Love by Samaa Habib & Bodie Thoene

Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut. (Wahyu 12:11)

Perang Sipil membawanya ke kursus Taekwondo dan berjumpa Yeshua
Samaa Habib lahir dari keluarga Muslim di sebuah negara Islam yang berpenduduk 98% Muslim dan dimana para radikal Muslim menganggap mutad ke Kristianiti sebagai penghianat yang layak untuk dihukum mati.
Ayah Samaa adalah seorang ahli hukum dan professor dalam bidang philosophy dan sekaligus seorang Mullah, pemimpin dan guru agama Islam. Ibunya juga seorang professor dalam bidang bahasa menguasai tiga bahasa; ibunya memberi sepuluh anak laki dan perempuan bagi ayahnya dan Samaa adalah puteri bungsu mereka.

Perang sipil antara Muslim Sunni dan Shia* telah membuat ekonomi negaranya menjadi sulit sampai tingkat kelaparan. Kekerasan yang dibuat oleh kedua pihak yang berperang telah menbuat banyak orang muslim termasuk Samaa haus mencari hubungan intim dengan Allah. Namun Allah tidak menjawab.
Kehidupan Samaa berubah secara drastis ketika ia mulai mengikuti kelas gratis Taekwondo (ilmu bela diri asal Korea), yang dipimpin oleh seorang missionari. Pria Kristen ini dengan berani berbicara secara terbuka tentang Yeshua dan Injil pada kelas-kelas Taekwondonya. Di sinilah Samaa menerima Alkitab untuk Anak-anak, saat itu ia berumur 14 tahun.
Ia mulai berkunjung ke gereja dan menerima mimpi dimana Yeshua menampakkan diri-Nya kepada dia. Sejak itu dia mulai berdoa untuk keluarganya. Anianya mulai melanda dirinya; saudara laki-lakinya memukulinya, dibenci oleh ayahnya dan mendapat ancaman dari par tetangganya. Ia sempat diserang beberapa kali, namun bagaimanapun ia mendapatkan perlindungan yang khusus dari Elohim dan tetap bersaksi.
Tentang pindahnya Samaa dan kakak-kakak wanitanya dari Islam ke Kristianiti ia menulis, ”Dalam Islam ayahku akanlah ada dibenarkan untuk membunuh kami.” [Namun, sama sekali tidak dibenarkan di dalam Kristianiti; pindah agama tidak bisa dijadikan alasan untuk melanggar 10 Perintah YAHWEH: "Jangan Membunuh!", Keluaran 20:13]
Singkat cerita, enam dari 10 anak-anak Habib dan juga isterinya sudah berpindah ke Kristianiti, sementara ayahnya tetap di dalam Islam. Perang sesama kelompok Islam di negaranya dan prilaku baik dari keluarganya yang Kristen telah membuka mata ayahnya – menjadikan ia toleran terhadap Kristianiti.

Ibadah Minggu Gereja yang tidak terlupakan; “Itu bukanlah pesan yang menggembirakan, namun …”
“Kamu perlu makan pagi,” kakaknya berkata kepada Samaa sambil memberikan secangkir teh ketika melihat adiknya memeluk semua saudara-saudarinya dan memberi mereka ciuman pagi untuk segera pergi ke latihan koor bagi ibadah Minggu yang tidak akan terlupakan bagi keluarga Habib, khususnya dirinya sendiri.

Saya minun teh itu secepatnya sebelum mengambil sebuah delima dari mangkok buah dan berkata, “Tidak punya waktu lagi. Saya akan bernyanyi di koor dan ingin mengunjungi Adila sebelum praktek.” Adila kakak kandung perempuan Saaba hanya satu tahun lebih tua darinya. Adila sedang menjalani praktek kerja pelayanan gereja setelah ia menyelesaikan pelajaran Alkitab di Eropa, dan ia tinggal di gereja.
Bapanya memasuki dapur. “Sampaikan kasihku pada saudari mu Aila. Bawa dia pulang ke rumah. Mengapa ia tinggal di gereja sementara ia memiliki rumah dan ibu dan bapa?”
Saya akan sampaikan ke dia, papa. Tetapi papa tahukan itu adalah bagian dari sekolahnya.”
”Katakan kepadanya bahwa saya sayang padanya. Dan saya sayang kamu juga, putri kesayanganku,” papa bekata.
Saya mencium dia dan lari ke luar pintu.
”Selamat ya, putriku tersayang,” ia menjerit kepada ku. Pada saat itu, apakah ayahku merasakan sesuatu yang akan terjadi?
Saya secara pribadi tidak merasakan ancaman dari para terorris. Sebaliknya gereja kami telah diancam oleh orang pemerintah, Komisi untuk Masalah-masalah Agama telah mengancam untuk mencabut ijin gereja sebab kami telah mengadakan penginjilan di ibukota.
Kami semua tidak takut sama sekali. Sukacita dan damai Yeshua, yang melampaui segala pengertian telah memenuhi hati-hati dan pikiran-pikiran kami.
Pada ibadah Minggu itu, setelah jemaat menyanyikan lagu-lagu pujian, Missionari Johnny berkotbah sebab pendeta sedang pergi ke tempat lain. Johnny berkotbah tentang ”bersiap menghadapi aniaya” – ia menceritakan suatu cerita bagaimana seorang missionari di RRC dianiaya oleh karena imanya. Ketika akhirnya ia berhasil lolos ia harus hidup di atas kursi roda dan hidungnya telah terpotong. ”Itu bukan sebuah pesan yang menggembirakan, namun YAHWEH telah berkata kepada ku bahwa aniaya sedang datang,” kata Johnny dengan suara yang bergetar dan menambahkan, ”Kita harus ada siap untuk itu. Yeshua telah dianiaya saat hidup-Nya. Ia menderita dan kita akan juga. Apakah kalian siap dianiaya demi Dia? Apakah kalian siap mati untuk Dia?”

Dan setelah Johnny selesai berbicara ia kembali ke kursinya, asisten pendeta maju ke muka membacakan Matius 16:13-19 - ”Ia bertanya kepada para murid-Nya, ’Kata orang, siapakah Anak Manusia itu ? ….Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini? ….Maka jawab Simon Petrus: Engkau adalah Mashiah (Mesias), Putra Elohim yang hidup! …’
Ia kemudian berhenti sebentar lalu bertanya ke jemaat, ”Ketika seorang berkata kepada kalian, ’Siapakah Yeshua ini yang kamu bicarakan itu, Siapakah Dia?’ akankah kalian ada cukup berani , meskipun jika kamu akanlah ada dianiaya , untuk berkata seperti Petrus berkata: ‘Dia adalah Mashiah, Putra dari Elohim yang hidup.’”
Kolekte dilakukan dan lagu Glory, Glory Halleluyah dinyanyikan, dan tiba-tiba kilatan cahaya memancar diikuti suara yang menulikan telinga terdengar! Seluruh auditorium tiba-tiba diliputi asap hitam yang pekat.
Samaa melihat rohnya meninggalkan tubuhnya, meninggal dunia. Rohnya dibawa ke Sorga, melihat Yeshua. Dan Adonai memberi dia pilihan untuk kembali ke bumi. Samaa memilih kembali ke bumi untuk memberi hidupnya melayani Yeshua. Dia secara ajaib kembali sembuh dari luka-lukanya yang parah meskipun ada dianiaya oleh para dokter dan suster Muslim.
Dikemudian hari ia baru tahu bahwa para terroris telah menaruh bom di gereja mereka, dan ia berdiri tepat disebelah kanan bom yang meledak tersebut. Bom tersebut menelan beberapa korban jiwa dan melukai banyak jemaat. Itu terjadi pada waktu ia berusia 19 tahun.

Ia tetap bersaksi, pertama sebagai pelayan restoran, lalu sebagai seorang model dan karyawati real estate. Secara ajaib ia pergi ke Amerika Serikat untuk sekolah misi. Sekarang ia berkeliling dunia untuk membagikan kesaksiannya yang luar biasa tersebut.
Bodie Thoene adalah penyusun cerita kesaksian Samaa Habib. Ia penulis Amerika yang terkenal, telah menulis lebih dari 65 novel, dan telah menjual lebih dari 35 juta buku dan memenangkan delapan kali ECPA Gold Medallion Award.

*) Sunni dalam bahasa Arab mengandung arti ”seorang yang mengikuti tradisi-tradisi Nabi Muhammad” dan Shia dalam bahasa Arab mengandung arti ”kelompok atau pendukung partai rakyat (a group or supportive party of people). Tidak lama setelah Muhammad meninggal dunia, pengikut Sunni selalu memerangi pengikut Shia. Hal ini terjadi sampai hari ini.

Nama-nama tokoh di buku ini (terkecuali nama penyusun cerita) bukanlah nama sebenarnya, nama negara juga tidak disebut hal ini dilakukan demi keselamatan mereka dan penduduk Kristen dimana mereka tinggal.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Kesaksian Majed El Shafie, ex-Muslim Mesir, diselamatkan Yeshua

Majed El Shafie, mantan Muslim, bersaksiBanyak orang di Timur Tengah, yang bahasa Arab adalah bahasa ibu mereka, sedang mengalami pengalaman nyata kebenaran isi Alkitab, Yeshua menampakan diri-Nya dan melakukan mujizat-mujizat yang luar biasa. Pengalaman pribadi Majed El Shafie, seorang mahasiswa hukum lahir dan besar  di Mesir adalah suatu kesaksian bahwa Alkitab adalah Firman Elohim dan Yeshua adalah Elohim Yang Mahakuasa.

Tulisan kesaksian di bawah ini adalah kumpulan dari beberapa sumber.  Semoga menjadi berkat bagi setiap orang yang membaca dan menyaksikan video kesaksian ini.

Kesaksian: Mantan Muslim Merasakan Mukjizat Yesus
Sid Roth: Jesus Supernaturally rescues Moslem from Islamic Police! (Judul asli video kesaksian)
Rev. Majed El Shafie – Egyptian Ex-Muslim Torture spurs man to fight for religious freedom by MIKE MASLANIK

Tujuh hari siksaan yang sangat berat di penjara yang paling  ditakuti di seluruh Mesir tidak membuat iman kepada Yeshua dari Majed El Shafie gugur, sebaliknya siksaan berat tersebut memacu dirinya untuk menolong orang-orang Kristen yang teraniaya di seluruh dunia.  Majed saat ini adalah pendiri One Free World Ministires yang berpusat di Toronto, Kanada.

Majed terlahir di sebuah  keluarga Muslim sangat terpandang di Kairo, ibukota Mesir. Bapanya dan saudara laki-lakinya adalah para penasehat hukum yang sukses dan pamanya bekerja sebagai Hakim  Mahkamah Agung, Majed sendiri adalah seorang yang mahasiswa hukum  sebelum ia pindah dari Islam dan menjadi seorang Kristen.

”Ketika kamu lahir kedalam  sebuah keluarga seperti ini, kamu memiliki banyak buku tentang hukum, keadilan dan kebebasan,” Majed mengawali kesaksiannya.
Pada tahun ketiga pada kuliah  ilmu hukumnya di Alexandria, Majed terkejut mengetahui adalnya hukum yang melarang pembangunan gedung-gedung gereja, namun mengijinkan membangun bar-bar dan diskotik-diskotik. Dan hukum itu juga melarang merenovasi bangunan-bangunan gereja kuno. Orang-orang Kristen diperlakukan  lebih buruk dari masyarakat-masyarakat kelas dua.
[Mesir, dan negara-negara Afrika Utara, adalah negra-negara mayoritas Kristen sebelum orang-orang Islam merebut negara tersebut dengan pedang].

Terpukul oleh ketidak toleransian yang tidak masuk akal tersebut, ia mulai mencurigai ajaran Islam dan bertanya kepada dirinya sendiri, ”Mengapa ada pengainayaan terhadap pengikut ajaran Kristianiti?” Sebagai seorang calon sarjana hukum, dan di besarkan dalam keluarga yang selalu berurusan dengan masalah hukum,  ia berkesimpulan: “Musuh mencoba untuk menutupi sesuatu, ada sesuatu yang disembunyikan.” Pencarian kepada keadilan dan kebenaran mulai berlangsung dalam jiwa mahasiswa hukum ini.

Majed menghubungi teman baiknya, Tamer, seorang Kristen, menanyakan pertanyaan yang sama, “Tamer, kenapa ada penganiayaan terhadap orang-orang Kristen?”

Teman takut hubungan persahabatan mereka menjadi terpecah karena pertanyaan tersebut, maka ia memberikan Alkitabnya, dan berkata, ”Pada kitab ini, kamu dapat menemukan jawaban-jawaban untuk setiap pertanyaan yang kamu miliki.”

Saat pertama kali Majed membuka Alkitab tersebut ia membaca Injil Yohanes pasal 8 cerita tentang bagaimana Yeshua menangani kasus seorang wanita yang tertangkap basah saat berzinah, ”Saya temukan bahwa Alkitab berisi tentang keadilan, kasih dan pengampunan, lebih dari sekedar tentang hukum.” ia berkata. ”Ini adalah pertaman kalinya saya melihat pengampunan sejati.” 

Sejak itu ia mulai membaca Alkitab bersamaan dengna Kuran untuk memperbandingkan keduanya. Hampir setahun kemudian, ia datang kepada Tamer dan berkata, ”Tamer, saya sekarang tahu apa itu Kristianiti. Kristianiti bukanlah suatu agama. Kristianiti bukanlah pergi ke gereja setiap minggu dan bernyanyi “Haleluya,” “terpujilah YAHWEH” dan begitu lagi sampai Minggu depan. Kristianiti adalah suatu hubungan intim bersama Elohim. Saya percaya dan mau menerima Yeshua ke dalam hatiku.”

Majed berpindah ke dalam keyakinan Kristianiti dan memulai mengorganisasi jemaat bawah tanah yang telah menarik 24.000 (dua puluh empat ribu) jemaat hanya di dalam dua tahun saja. Ini benar-benar gereja bawah tanah, sebab mereka mengadakan ibadah mereka di goa-goa dipinggiran kota Alexandria.
Sementara ia memimpin gereja bawah tanah tersebut, ia berdiri melawan dua Goliat; hukum pemerintah yang tidak adil dan ajaran Kuran, yang dipakai pemerintah untuk membenarkan menganiaya para Kristen melalui bukunya.

Tahun 1998, pagi-pagi sekali  lima tentara dan dua polisi mendobrak pintu rumahnya  dan membawanya ke kantor polisi untuk diinPenganiayaan terhadap orang Kristen di Mesirtrogasi, polisi mencoba mendapatkan dari Majed nama-nama orang Kristen yang berhubungan dengan dirinya. Majed menolak. Polisi mengancam: ”Jika kamu ingin bermain keras, kami dapat bermain keras!”

Dia segera digiring ke Penjara Abu Za’abel di Kairo, suatu tempat yang dikenal di Timur Tengah sebagai  ”Neraka di Bumi.” Dia dipenjara dengan tuduhan perkara membangkitkan revolusi, mencoba merubah agama Mesir dari Islam menjadi Kristianiti dan ”menyembah dan mengasihi Yeshua Ha Mashiah.”

Di Abu Za’abal, nama dan indentitas resminya diganti, agar keluarga dan organisasi kemanusia tidak bisa menemukan dirinya; ini adalah praktek umum petugas penjara tersebut.

Sementara ia dipenjarakan, petugas penjara mengancam. Pada hari yang sama mereka membawa Majed ke bagian bawah penjara dan menyiksa dia selama tujuh hari berturut-turut; setiap hari tingkat siksaan semakin berat.

Pada hari pertama, kembali mereka bertanya siapa nama-nama rekan Kristennya. Majed tetap tutup mulut untuk hal itu. Maka mereka membotaki kepalanya dan menguyurnya dengan air panas dan kemudian air yang sangat dingin. Majed tetap tidak membuka rahasia

Hari kedua, mereka lalu menggantung dia terbalik, kaki diatas kepala dibawah. Dalam posisi seperti ini ia dipukuli dengan ban pinggang, disunduti oleh rokok yang membara dan jempol kuku kakinya dirusak. Majed tidak terguncang.

Hari ketiga, ia dibawah ke sebuah sel dan sementara ia berada di sana dengan segala lukanya, mereka memasukkan tiga anjing  ke dalam sel penjara tersebut. Anjing-anjing ini adalah binatang yang telah dilatih untuk menyerang manusia dan memakan daging manusia.
Ketika ia melihat tiga anjing digiring ke kamar selnya, ia pergi kepojok sel dan duduk disitu menutup wajah dengan tangannya menantikan penderitaan yang akan menimpa dirinya.

Anjing-anjing semakin dekat, namun tiba-tiba keajaiban terjadi, ia tidak lagi mendengar suara-suara mereka. Ia tidak mengerti, apa yang sedang terjadi, maka, “Saya angkat kedua tanganku dari mukaku untuk melihat apa yang sedang terjadi.” Ternyata ketiga anjing tersebut hanya duduk-duduk saja, sekalipun tuan mereka memerintahkan untuk menyerang. Merasa tidak percaya apa yang petugas ini saksikan, ia membawa ketiga anjing itu keluar dan meminta kepada rekannya tiga anjing yang lain. Ternyata peristiwa mujizat itu berulang lagi, bahkan seekor anjing menghampirinya dan mulai menjilati mukanya. [Telah diketahui umum, luka-luka pada kulit akan sembuh segera melalui air liur anjing]. Mereka melihat mujizat Elohim di depan mata mereka terjadi pada pemuda Kristen ini.

Hari keempat, petugas nomor 27, orang yang tinggi besar, memasuki selnya dan berkata, “Dengarkan, berikan nama-nama teman kamu dan saya akan melepaskanmu. Saya akan berikan kamu apa saja yang kamu mau, rumah besar, mobil baru, wanita-wanita cantik? Akan saya berikan!

”Saya terima tawaran kamu!” Majed berkata, ”Namun pertama-tama, saya belum makan selama tiga hari, bawalah makanan dan setelah itu kita bisa bicara.” Ia mendapat makanan.
”Sekarang kamu beri saya tahu nama orang-orang yang bekerja denganmu?” petugas itu berkata.
”Dengar, kelompok kami adalah kelompok yang sangat besar. Saya tidak bisa memberikan semua nama mereka dan saya sendiri tidak bisa mengingat semuanya. Namun, saya akan memberikan nama ketua kami. Kamu bisa tangkap dia dan dia bisa memberikan dengan tepat nama semua anggota.”
”Saya pikir kamu adalah pemimpinya.”
”Bukan tuan, saya hanyalah seorang pelayan,” Majed menjawab
”Nama ketua kami adalah Yeshua Ha Mashiah. Jika Anda bisa menangkap-Nya, tangkaplah.”

Penjaga nomor 27 ini marah besar. Ia menempeleng Majed sehingga terlempar ke tembok dan memerintahkan rekannya untuk membawa Majed ke ruang lainnya untuk  … di salibkan.

“Dalam penghinaan terakhir, para penjaga mencabut pakaianku, lalu mengikat kedua tangan dan kakiku serta leherku ke sebuah balok salib dan membiarkan saya tergantung di kayu salib tersebut selama dua dan setengah (2,5) hari. Diakhir 2,5 hari tersebut, mereka menoreh-noreh bahu sebelah kananku dengan pisau, lalu menaruh lemon (jeruk nipis) dan garam pada daging yang robek tersebut.”

Majed kehilangan kesadarannya, dan ketika ia terbangun ia ternyata ada dirumah sakit. ”Hanya satu hal yang saya ingat saat itu adalah rasa dan bau dari darahku sendiri,” Majed mengingat.

Ia sungguh kehausan saat itu, lalu dalam penglihatan malam, ia melihat Adonai Yeshua datang kepadanya dan memberi minum dari tangan-Nya dan berkata, “Jika kamu minum air-Ku, mengapa kamu masih butuh air yang lain?” Seminggu kemudian dia pulih total.
Seorang  penjaga penjara di rumah sakit itu memberikan informasi kepadanya bahwa langkah berikutnya ia akan ada dieksekusi, jadi ia melarikan diri melalui sebuah jendela belakang rumah sakit.

Pemerintah mengumumkan fatwa 100.000 dollar hadiah bagi kepalanya, ”Wajahku munjul di TV dan di koran-koran, jadi saya tahu bahwa saya tidak dapat tetap tinggal di Mesir,” katanya.
Dengan mengendarai sebuah jet ski ia melintasi Laut Merah, menyeberangi Padang gurun Sinai dan menyerahkan dirinyatah Israel, dimana di Israel yang ditahan selama 16 bulan sementara PBB dan Amnesty Internasional menyelidiki ceritanya sebelum pada akhirnya ia dianugrahi status pengungsi politik dan berimigrasi ke Toronto, Kanada.

[Perlu diingat berada di tahanan Israel bagi orang yang memiliki kasus seperti Majed ini, itu adalah tempat teraman. Hal ini disadari dengan baik oleh Mosab Hassan Yousef, putra dari pendiri dan pemimpin senior Organisasi Hamas, Sheikh Hassan Yousef. Ketika Mosab akhirnya membuka dirinya ke media bahwa ia telah pindah dari pembela Hamas menjadi agen mata-mata Israel, yang membuat pengikut Hamas mencap dia sebagai ”penghianat Islam” dan berita murtadnya Mosab sempat hangat dimedia internasional selama berbulan-bulan, dari pengakuan dirinya sendiri, baik di media maupun di bukunya Son of Hamas kita tahu bahwa Hassan Yousef, ayahnya, masih berada dipenjara Israel, dan Mosab berterima kasih kepada pemerintah Israel untuk keamanan ayahnya.]

Pada kesaksian ini ia berkata, ”Semua hal ini telah merubah kehidupanku. Saya sekarang tidak akan menyerah sebab saya tahu banyak orang sedang melalui itu (aniaya berat yang ia juga pernah alami).” – Setiap tahun, 165,000 orang Kristen dibunuh karena iman-iman mereka, ia memberi gambaran.

Kepada semua pemerintah yang menaniaya orang Kristen, Majed El Shafie menawarkan pesan ini:

”Orang-orang Kristen yang teraniaya mati berjatuhan, tetapi mereka tetap tersenyum. Mereka ada di dalam sebuah tanah pertambangan yang dalam, tetapi mereka memegang lampu YAHWEH, Kalian dapat membunuh pemimpi tersebut, namun kalian tidak akan dapat membunuh mimpinya.”  

Kesaksian serupa:
Hampir 100 Remaja Kristen Koptik Mesir Disiksa Pemerintah
Mark A. Gabriel, Ph.D.: Mengapa saya meninggalkan Islam
Abdullah (Saudi): Dari Neraka, ke Penjara karena Iman Kristennya.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Pakistan: Gadis cacat ditahan atas tuduhan menghina Islam

BBC: Polisi Pakistan telah menahan gadis 11 tahun berpenyakit mental Down syndrome, setelah sekelompok orang-orang yang marah menuduh gadis tersebut merusak beberapa halaman Kuran.  Mereka mendesak gadis Kristen ini ditangkap untuk menerima hukuman mati dan mengancam membakar rumah-rumah orang Kristen diluar ibukota Islamabad, koran lokal berkata.

WND: Rimsha Masih, nama dari gadis ini malang ini, ternyata hanya membakar halaman-halaman “Noorani Qaida,” yakni buku petunjuk yang dipakai untuk belajar dasar-dasar Kuran. Lapor Barnabas Aid (yayasan kemanusia) kepada WND.

Tuduhan ini berawal dari tetangga Rimsha, dan menyebar seperti kebakaran hutan yang tidak terkendali oleh karena tuduhan disebarkan di mesjid-mesjid.

Para orang Islam yang marah besar ini sempat memukul dengan keras gadis ini, keluarganya dan beberapa orang Kristen setempat. Dua rumah Kristen juga dibakar dan beberapa rumah mereka dirusak pagarnya juga pintu-pintu dan jendela-jendela. [Mengapa orang-orang Muslim begitu mudah dihasut dan berbuat dosa atas dasar hasutan? Seorang murid sekolah Alkitab di Sumatra dipukuli oleh masyarakat sampai mati hanya karena membakar kertas jimad bertulisan Arab, di awal th 90an]

Akibat penyalah gunaan hukum penghinaan agama Islam ini, sekarang Rimsha tinggal dipenjara Rawalpindi setelah penangkapannya pada tanggal 16 Agustus.   Lebih dari 800 orang Kristen terpaksa harus meninggalkan rumah mereka demi keselamatan. Untuk pemimpin gereja dan para yayasan kemanusia datang menolong memberikan makanan dan minuman.

Aidan Clay dari International Christian Concern’s Pakistan menyatakan lebih dari 46 orang yang dituduh menghina Islam sejak 1986 sampai 2011 telah terbunuh oleh kekerasan masyarakat yang marah sementara menunggu sidang pengadilan.

“Keadilan akanlah hanya berjalan ketika ratusan Muslim yang menuntut Rimsha dan menyerang rumah-rumah Kristen di Islamabad ditangkap dan diadili,” Clay berkata.

Clay atas nama umat Kristen meminta Presiden Asif Ali Zardari menahan mereka yang terlibat.

Para pembela HAM telah mendorong Pakistan untuk mereformasi hukum-hukum penghinaan kepada Allah (blasphemy) yang kontroversi tersebut, yang mana seorang dapat ada diperjarakan seumur hidup hanya karena menghina Koran.

Kebanyakan dari mereka yang dituduh mengina Allah telah dibunuh oleh orang-orang brutal tersebut, sementara para politikus yang menasehati untuk merubah hukum telah juga jadi sasaran kemarahan.

Tahun kemarin, Shahbaz Bhatti, menteri untuk masalah-masalah kaum minoritas dibunuh setelah meminta mencabut hukum penghinaan tersebut.

Kematiannya tiba hanya beberapa bulan setelah pembunuhan Salman Taseer Gubernur Punjab, yang juga berbicara tentang hal yang sama. Tamat.

Yeshua mengajar orang Kristen: Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. (Matius 5:43-45)

Berdoalah bagi saudara-saudari kita di Pakistan, agar iman mereka semakin kuat kepada Yeshua Ha Mashiah di dalam penganiayaan ini. Dan melalui kejadian ini, kiranya banyak orang-orang Islam dibukakan mata rohani mereka.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Paul, remaja Afrika, mengorbankan dirinya demi keselamatan banyak orang

Kisah nyata seorang anak Afrika yang tertangkap oleh para pemuda bersenjata pada masa perang sipil di Kongo. Artikel ini adalah potongan  dari bab Pendahuluan buku Living Sacrifice yang ditulis oleh Dr. Helen Roseveare. Harapan saya cerita Paul, dan Dr. Helen, ini bisa menjadi kekuatan iman bagi setiap pembaca, khusunya bagi mereka yang hidupnya terancam oleh karena iman percaya mereka kepada Adonai Yeshua, dan mendorong minat  orang lain untuk mencintai dunia misi: mendoakan, mendanai, dan bahkan jika Elohim berkendak memberi diri Anda sendiri sebagai ambassador-Nya. Penjala Baja

Sedikit tentang Dr. Helen Roseveare. Dr. Helen Roseveare (lahir 1925) adalah dokter medis dari Inggris yang bekerja sebagai seorang misionari  melalui WEC (Evangelical Missions Agency) di Kongo, Afika dari tahun 1953-1973. Ia berada di sana menyaksikan sendiri kekerasan dan ketidak stabilan politik yang berbahaya di Kongo. Ibu telah membangun beberapa rumah sakit dan membuka sekolah medis di Kongo sementara ia memberitakan Injil Adonai Yeshua dan melakukan perawatan medisnya. Beliau juga fasih berbahasa Perancis dan bahasa setempat. Pelayanan kehidupannya telah difilmkan: Mama Luka Comes Home.
Buku-buku Dr. Helen yang lain diantaranya:

  • Enough; Digging Ditches: The Latest Chapter of An Inspirational Life
  • Living Faith: Willing to be stirred as a pot of paint
  • Faithfull Women and Their Extraordinary God

Hak-Nya untuk menuntut
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Elohim aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Elohim: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Roma 12:1)

[Kongo dimasa pemberontakan; ora et labora]
Paul, laki-laki Afrika murid sekolah berumum 9 tahun, ditangkap oleh seorang tentara pemberontak dan dipukul pada mukanya, dilempar ke tanah, ditendang dan dipukuli secara brutal dengan ujung pegangan senjata api, menolak untuk memberi informasi kepada intimidasi.

Peristiwa ini terjadi pada masa pemberontakan di Kongo tahun 1964. Paul harus membuat pilihan. Dia dapat melarikan diri, tetapi itu dapat berakibat kepada penangkapan orang-orang lain. Masih kecil sebagaimana ia ada, dia telah harus berpikir dengan cepat dan tepat, harga dari tindakan, mengetahui bahwa alternative untuk melarikan diri menaruh dia dalam posisi bahaya diri sendiri yang besar, tetapi dia tidak bodoh, dan dia tahu itu pastilah juga termasuk sakit fisik. Dia telah melihat orang-orang lain dipukuli, diancam dan sebagainya.

Dia masih dapat mendengar teriakan-teriakan yang menyedihkan dari seorang ibu dan putrinya yang ditangkap oleh para pemberontak di komplek rumah sakit bersalin. Dia telah ada di sekolah pagi itu ketika sebuah truck bermuatan gangster bersenjata dikemudikan kedalam desa itu. Seorang pemuda liar, bermata hitam dengan wajah kosong penuh kebencian, bersenjata tombak, berlari kedalam komplek sekolah, dan memerintahkan semuanya berdiri. Lainnya melakukan yang sama di gereja, pintu sebelah dari kelas Paul. Enam atau lebih lainnya telah menguasai komplek ibu-ibu hamil, klinik anak-anak, ruang-ruang perawatan, diluar unit pelayanan khusus, diseberang rumah yatim piatu.

Keributan, teriakan-teriakan dan kemarahan. Kemudian mereka kembali dengan dua wanita tersebut sebagai tawanan, gadis 16 tahun dengan kelopak mata yang bengkak karena kurangnya tidur bermalam-malam oleh karena ketakutan, dan ibunya, tujuh bulan  dengan anaknya, dalam kesakitan. Mereka dilempar ke dalam truck: kemudian gadis ini dipukuli, dan diintimidasi dengan buruknya dan kemudian diturunkan (dari truck), dipaksa masuk ke dalam kursi truck untuk menuntun para pemberontak ke tempat dimana ayahnya menyembunyikan diri. Ayahnya adalah seketaris dari pemerintah, ”regime terakhir,” sebab itu ditembak oleh regime pemberontak. Sebagaimana truck bergerak dengan kasar, ibu itu terjatuh; dan Paul mendengar teriakan-teriakan belas kasihan ibu tersebut ketika para tentara menendangi ibu dengan tertawa.

Pikiran Paul kembali dengan cepat kepada kejadian lain, satu minggu sebelumnya. Begitu banyak yang telah terjadi sejak itu, itu nampaknya bertahun-tahun lalu. Dia sedang tertidur dengan dua saudara laki-lakinya, ketika dia terbangung oleh  sebuah tembakan senjata disuatu tempat dikegelapan. Dia menegakkan palang pintu dan melihat pintu depan terbuka rusak, dan Susan, satu dari perawat-perawat senior berlari ke dalam rumah, membanting pintu dibelakangnya. Paul berlari dibelakang Susan, sungguh ketakutan, tidak tahu apa yang sedang terjadi. Paul tidak dapat mengikuti Susan. Dia kembali jongkok di tempat tanaman, merintih dan ketakutan, ketika para tentara mencari sekeliling rumahnya, berteriak dan marah. Dia tidak mengerti. Dia hanya tahu itu semuanya jahat, dan tanpa alasan, dan tidak seorangpun aman dari kejahatan mereka.

Selama delapan minggu pertama pemberontakan, tentara-tentara gerilyawan  telah memaksa mundur Tenatara Nasional hampir empat perlima dari Kongo. Semua tentara pemberontak telah diserahkan kedalam kendali dukun-dukun, supaya ”dilindungi” terhadap serangan pelor-pelor tentara pemerintah, yang akan ”merubah menjadi air” karena mereka melompat kedepan di dalam nama pahlawan martir mereka, Patrice Lumumba.

Lalu datang harinya ketika Presiden Kongo menerima  pertolongan dari Kolonel Mike Hoare dan para tentara putuh bersenjata. Ikatan berubah. Disiplin di Tentara Nasional berkembang, moral bangit, dan para pemberontak dipaksa mundur. Perang demi perang meletus, dan ratusan tentara pemberontak terbunuh.

Dalam keputusasaan, tentara gerilya mulai melibatkan anak-anak sekolah laki-laki usia 16 tahun  kedalam pasukannya. Kami melihat truk-truk dikemudikan melalui desa kami, di isi dengan para  remaja bernyanyi ”tentang peperangan.” Jarang sekali yang kembali. kami mendengar berita-berita mengerikan, teriakan perang para fanatik muda ”Mayi – mayi – Lumumba!” disertai teriakan-teriakan kesakitan dari rekan-rekan mereka yang sedang menuju kematian dibabat oleh kekuatan bersenjata yang lebih kuat.

Pada 23 Oktober, para gerilya memengepung 300 murid usia 14 tahun dari sekolah Roma Katolik. Mungkin berikutnya adalah giliran kami. Bagaimana kami melindungi para remaja kami? Kami tidak dapat mengerim mereka pulang sebab separuh dari mereka adalah anak-anak panti asuhan kami. Panti asuhan adalah rumah mereka.

Sebuah rencana kemungkinan dibuat untuk melindungi sebanyak mungkin jika serangan langsung atas sekolah terjadi. Setiap pagi, dua pekerja desa ditunjuk sebagai penjaga. Mereka pergi ke ujung utara dan selatan desa dan bersembunyi disemak-semak pada sisi jalan. Jika mereka menderngar suara kendaraan mendekati, mereka akan meniup pluit tanda bahaya dengan keras. (Saat itu semua kendaraan di wilayah tersebut berada di tangan para pemberontak). Orang pertama di desa yang mendengar peringatan peluit haruslah memukul drum, dan semuanya akan tahu apa yang harus dilakukan seterusnya. Ada sekitar empat menit dari alarm peringatan sampai tibanya kendaraan.

Seorang pengawas ditunjuk seminggu sekali di setiap kelas, tugasnya ialah mengumpulkan semua material sekolah, buku-buku, pensil, kotak-kotak kapur tulis dan penghapus memasukkannya  kedalam keranjang yang  telah tersedia: dan mendorong meja-meja dan kursi-kursi panjang (banches) sembarangan ke dalam bentuk berantakan, supaya nampak bahwa gedung (sekolah) tidak dipakai sejak tahun sekolah yang lalu, empat bulan yang lalu. Lari segera ke rumah saya dengan keranjang-keranjang tersebut, menaruhnya pada lemari, orang terakhir menutup pintu, dan lari mengikuti teman-teman kelas mereka, masuk kedalam hutan – semuanya berada di dalam empat menit periode peringatan.

[Hari pengujian iman bagi Paul]
Suatu hari, tiba-tiba peluit bertiup: drum dipukul dengan peringatan staccatonya: para guru pergi ke hutan bersama dengan para remaja yang mereka bawahi: para pengawas kelas segera ’membereskan’ (menyimpan peralatan sekolah dan memporak-porandakan semua kursi dan bangku) kelas-kelas. Paul, usia sembilan tahun, bertugas sebagai pengawas kelas empat pada minggu itu. Kecil untuk usianya, putra dari orang tua yang menderita penyakit lepra (Yayasan ini juga memiliki rumah perawatan para lepra). Paul kesulitan mencabut pin-pin yang ditusukkan pada papan tulis untuk menaruh gambar-gambar. Ia menarik kursi ke muka kelas namun masih belum terjangkau. Ia mencoba menunpukkan kursi lainnya, sementara ia melihat para pengawas kelas lainnya menyeberangi halaman dengan keranjang-keranjang mereka.

Pada akhirnya Paul siap. Sebagaimana ia sedang meninggalkan gedung sekolah, membawa keranjang dengan tergesa-gesa, empat pengawas lainnya sudah lenyap masuk ke hutan. Dia dapat mendengar suara truk yang mendekati. Kemudian Paul mendengar suara mesin yang mengeras, ketika truk berputar memasuki halaman desa. Dia tertangkap!

Nalurinya berkata kepadanya untuk lepaskan keranjang dan lari.

Namun saat yang bersamaan, pikiran lainnya muncul kedalam pikirannya. Keranjang akanlah ada di tengah-tengah jalan truk, dan itu berisis buku-buku latihan dengan tanggal hari ini! Para tentara akanlah melihat itu, dan mereka akan tahu bahwa sungguh ada sebuah sekolah, meskipun segala usaha untuk melenyapkan fakta itu. Mereka akan mencari sampai menemukan anak-anak … dan Paul kecil cukup sadar untuk mengerti bahwa hukuman sadis akan ditambahkan karena bersembunyi.

Jantung berdebar dengan takut, Paul bergumul sejenak di dalam mengambil keputusan.

Apakah cerita yang ia telah dengar belum lama ini di Sekolah Minggu, tentang gadis usia  12 tahun di negara Cina Komunis? Gadis ini tertangkap oleh para Tentara Merah ketika ia keluar dari rumah, dimana mereka mencurigai sebuah Gereja bawah tanah. Ditahan selama tiga hari untuk intrograsi, dia kadang-kadang telah dibawa keluar dihadapan pengadilan umum. Ditantang secara langsung oleh para tentara, dia tahu itu adalah pertanyaan kehidupan atau kematian.

“Kamu mengasihi Yeshua?”
Siap untuk berkata ”Tidak,” tertangkap di dalam wajah takutnya, gadis ini melihat gadis sebaya usianya di keramaian dengan perlahan membuat tanda salib pada dirinya.
Menguatkan dirinya sendiri, gadis ini dengan bangga menjawab: ”Ya, saya mengasihi Yeshua.”
Dan mereka menembak gadis itu.

”Jika gadis itu dapat melakukannya, saya juga dapat,” kata Paul kepada dirinya sendiri, melalui giginya yang tertutup rapat.
Dia bergumul menyeberang halaman rumah, melewati verandah, dan mendorong keranjang kedalam ruang depan. Tidak ada waktu tersisa: truk sudah tiba. Paul menutup kedua pintu, dan bersandar pada pintu double itu, dia berbalik menghadap para tentara.
Para gerilya keluar dari truk, kasar dan sungguh-sunguh. Mereka menyebar kesemua arah, mencari apa dan siapa yang mereka inginkan. Dua menghampiri rumahku dan berteriak dengan kasar kepada Paul.

”Wanafunzi ni wapi?” (Dimana teman-teman kelasmu?)

Hampir pingsan karena takut, Paul tidak dapat menjawab. Dia menggigit bibirnya untuk menguasai panik yang bertambah. Di dalam hatinya ia berdoa kepada Elohim untuk penguatan menghadapi masalah itu, supaya ia tahu apa yang ia harus lakukan. Hanya berusia sembilan tahun – dapatkah Elohim menolong dia? Dia baru saja mengetahui Adonai Yeshua sebagai Juruselamatnya beberapa bulan yang lalu. Yang pasti tidak ada seorangpun yang dapat menolong dia sekarang. Jari-jari pada tangan kanannya secara panik memutar di dalam kepalan tangan kirinya di belakang punggungnya, membuat tanda tuli dan buta ”P-M:” ”P-M,” sebagaimana bibir-bibirnya menbentuk formula tanpa suara ”piem” terus menerus.

Itu adalah kode rahasia kelompok remajanya Paul, P-M kependekan dari ”Pasipo Mupaka,” bagian dari motto, ”Kwa Yeye pasipo mupaka,” yang berarti ”Bagi DIA (Yeshua Ha Mashiah) tidak ada batasan” [sejenis ”bagi DIA segala sesuatu tidak ada yang mustahil”].

Mereka mencengkram Paul, mendorong dia dengan kasar ke lantai semen, memukuli dan menendangi dia. Menarik dia untuk berdiri, mereka berulang-ulang mengulangi pertanyaan mereka dengan marah.

Tiba-tiba Paul tahu apa yang ia harus lakukan. Pikirannya jernih, ketakutannya telah hilang. Jackie, laki-laki dari kelasnya tuli-bisu yang hanya dapat berkomunikasi melalui suara yang tidak jelas dan gerakan tangan. Paul pura-pura menjadi Jackie, gerakan mulut yang menghasilkan suara yang tidak jelas menjawab para tentara.

”Jangan coba-coba menghina kami,” mereka berteriak dalam kemarahan, mendorong Paul kembali ke lantai semen dan dengan kasar menendanginya di dalam keputusan asaan mereka. ”Ceritakan pada kami dimana mereka bersembunyi.”

Sebagaimana mereka menarik Paul untuk berdiri, anak laki ini, diisi dengan keberanian yang baru, kembali melakukan peragaan yang sama.

”Dibawah nafasku,” Paul bercerita kepadaku kemudian, ”saya terus mengulangi ’P-M, P-M, P-M,’ untuk mengingatkan diriku sendiri bahwa Yeshua mengasihi aku begitu besar sehingga Dia mati bagiku, sehingga saya aku dapat melewati segala sesuatu yang mereka lakukan, demi Dia.”

Tiba-tiba seorang tentara berkata: ”Kita membuang-buang waktu. Anak laki-laki ini pastilah ada tuli-bisu. Dia tidak dapat menolong kita.”

Mendorong Paul kebelakang pintu-pintu yang tertutup, mereka meninggalkan verandah bergabung dengan teman-teman mereka yang kembali dari dari berbagai arah. Dua kembali dari bangungan-bangunan sekolah. ”Tidak ada sekolah di sini. Tempatnya dalam kondisi berantakan, dan nampaknya sudah tidak digunakan selama berbulan-bulan.”
Naik ke truk, mereka mengemudi pergi.

Kembali dari rumah sakit dimana saya telah bertugas, saya datang masuk kerumahku melalui pintu belakang. Memasuki ruang duduk, saya terkejut melihat pintu double tertutup.

Ketika saya membuka pintu-pintu tersebut, Paul jatuh kedalam ruangan. Dia sudah dipukuli dengan berat, dan sangat gemetar. Saya mengangkat dan membawa dia ke sebuah sofa. Mendapatkan minuman panas untuk kami berdua, saya bertanya kepada dia apa yang telah terjadi. Dengan perlahan-lahan dia menyingkirkan coklatnya dan bercerita kepadaku. Lalu melihat kepadaku, dia bertanya:

“Sudahkan para tentara pergi, dokter?”
”Ya Paul, mereka sudah pergi.
”Apakah mereka menemukan anak-anak sekolah lainnya?”
”Tidak Paul, mereka tidak menemukan yang lainnya.
”Apakah saya telah menyelamatkan mereka dokter?”
“Ya Paul, kamu telah menyelamatkan mereka.”

Lalu keheningan terjadi sejenak. Melirik kepadaku, anak laki ini berkata dengan sederhana dan sangat tulus berkata: ”Tidak dokter, itu sungguh bukan saya, benarkan?” Itu adalah Adonai Yeshua di dalam saya.”

[Paul bertemu Yeshua; Dr. Helen juga mengalami hal serupa; bagaimana Elohim mengajar Dr. Helen belajar menghadapi aniaya]

Paul sudah mengenal Adonai Yeshua sebagai temannya dan Juruselamatanya hanya pada waktu yang singkat sebelumnya. Pada sebuah Youth Rally, penginjil bercerita bahwa Adonai kita akan kembali lagi sebagai Raja dan Hakim. Penginjil ini bertanya kepada murid-murid, apakah mereka telah siap bertemu dan menyambut Adonai dengan sukacita , atau mereka mencoba melarikan diri dan menyembunyikan wajah mereka dengan sikap malu.

”Apakah kamu ada sesuatu di hati kalian atau kehidupan kalian yang membuatmu akan ada malu, jika Adonai Yeshua datang hari ini?” tanya penginjil itu kepada murid-murid.

Paul pulang kerumah tanpa suara sama sekali, disertai perasaan yang kacau. Paginya, ketika ayahnya membaca Alkitab  dan berdoa dengan keluarga sebelum pergi bekerja, Paul mulai menangis, dan tanpa tertahan ia berkata: ”Saya tidak akan dapat bertemu Dia: saya pastilah akan malu!”

Ayahnya menenangkan Paul, dan meminta padanya untuk menerangkannya. Kemudian, melalui dorongan semangat dari kedua orang tuanya, Paul mengaku kepada Yeshua semua yang ada di dalam hatinya, dan meminta Elohim mengampuninya, sehingga Yeshua dapat menyelamatkannya dan Ia dapat hidup di dalam hatinya.

Sekarang ketika test itu tiba, dihadapkan dengan para tentara pemberontak yang sadis, Paul tidak ragu-ragu. Paul telah menemukan jalan bagaimana mengungkapkan kepada Elohim kasihnya untuk Elohimnya.

  • Berhakkah Elohim memohon dari Paul untuk berkehendak mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatakan teman-teman sekolahnya?
  • Berhakkah Dia memohon sejenis demontrasi kasih seperti itu?
  • Dapatkah seorang mempertanyakan hak Elohim atau tujuan dan motive dasar Elohim?
  • Mungkin Elohim tidak menuntut  demontrasi dari kasih, tetapi hanya menawarkan Paul kesempatan berharga untuk membagikan kasihnya?

Elohim sendiri begitu mengasihi Paul sehingga Ia telah memberikan Putra-Nya yang tunggal untuk mati menggantikan tempatnya untuk menebus Paul: sekarang  mereka (Elohim dan Paul) telah bersama-sama telah mendemontrasikan kasih tersebut untuk orang lain.

Sesaat saya telah merasakan hal yang sama, pada malam ketika tentara pemberontak pertama kali menangkap saya. Dipukuli, didorong ke lantai, ditendang- gigi patah, mulut dan hidung robek, tulang-tulang dada sakit- dikendalikan dengan todongan pistol ke dalam rumahku, dihina dan diancam. Itu adalah malam yang sangat gelap. Untuk sejenak, saya merasa Elohim telah gagal pada diriku. Dia dapat melangkah dan mencegah semua itu. Dia dapat menyelamatkan keluar dari tangan-tangan mereka. Mengapa Dia tidak berbicara?
Mengapa Dia tidak campur tangan?
Dan dalam keputusasaan, saya hampir berteriak melawan Dia: ”Itu terlalu besar untuk ditanggung!”

Namun kasih-Nya untuk daku membayar hidup-Nya sendiri. Dia memberi diri-Nya sendiri, dalam korban penebusan yang layak (sekali untuk selamanya) di Kalvary. Dia begitu mengasihi sehingga Dia memberikan segalanya. Pengorban-Nya adalah ungkapan kasih-Nya yang besar.

Di dalam kegelapan dan kesendirian, Dia bertemu dengan aku. Dia ada disana, mulia, agung, Elohim yang mahakuasa. Kasihnya membungkus aku. Tiba-tiba ”Mengapa?” jatuh tersingkir dari diriku dan damai yang sangat besar mengalir masuk.

”Ini semua bukanlah penderitaanmu: mereka tidak memukulimu. Ini semua adalah penderitaan-Ku: semua yang Aku minta dari mu adalah meminjam tubuhmu.”

  • Dapatkah saya melihat ”pengorbanan-pengorbanan” kecil di dalam terang Pengorbanan besar Kalvari dimana Ha Mashiah telah memberi semuanya (hormat, kemulian, dan bahkan nyawa-Nya) untuk saya?
  • Dapatkah saya melihat harga yang nampak kecil dibanding kepada kenyataan keuntungan (upah sorgawi)?
  • Apakah saya menerima hak-Nya untuk menuntut kesedianku membayar harga sedemikian rupa, supaya masuk kedalam kelayakan dan kesukaan ada dipakai di dalam tujuan-Nya?

Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” (Yohanes 14:21)

Jawab Yeshua: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, YAHWEH, Elohim kita, YAHWEH itu esa.
Kasihilah YAHWEH, Elohimmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” (Markus 12:29-31; Lihat Ulangan 6:4 dan Imamat 19:18).

Dr. Helen Rosseveare bercerita tentang pelayanannya di Kongo dan motifnya:

 

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Narapidana Korea Utara: Ibu-Ibu Membunuh Anak-anak Untuk Survive

Christian Broadcasting Network (CBN.com) mewawancarai seorang ibu yang berhasil melarikan diri dari kamp kerja paksa Korea Utara setelah 28 tahun mengalami dan menyaksikan sendiri kejahatan pemerintah Komunis Korea Utara. Diterjemahkan dari artikel aslinya: Inside N. Korea’s Prisons: Moms Kill Children to Survive. Wawancara TV dapat dilihat pada sumbernya.

Seoul – Korea Selatan. Bertemu dengan seorang wanita yang telah menyaksikan dan mengalami kejahatan yang susah untuk dibicarakan dan ia bicara tentang hal itu.

Untuk 28 tahun, Kim Hye Sook telah menderita sebagai seorang tawanan di dalam kamp konsentrasi tertua Korea Utara. Dia telah menyaksikan eksekusi (hukuman mati) setiap hari, kelaparan missal, dan ibu-ibu membunuh anak-anak mereka untuk survive (dapat tetap hidup).

Kim telah memberi kemurahan hati kepada CBN News berita televise Amerika pertama untuk mewawancarainya. Kami harus memperingati kalian bahwa gambar-gambar dan isi dari laporan ini tidak cocok untuk anak-anak.

Penderitaan di penjara.
Kim kemungkinan adalah narapidana yang melayani terlama pernah berhasil melarikan diri dari Korea Utara.

”Saya masuk ke kamp penjara ketika saya berumun 13 tahun dan berhasil keluar ketika saya 41,” wanita ini berkata.

Tahun itu adalah 1975. Suatu pagi petugas-petugas pemerintah Korut (Korea Utara) menyerbu masuk rumahnya dan menarik keluar semua anggota keluarganya-

”Semua keluargaku masuk penjara,” dia mengingat. ”Sebagian dibawa ke gunung-gunung; lainnya ditaruh di kamp kerja (paksa) yang berbeda-beda, semua (kesalahan) disebabkan oleh satu kesalahan dari kakek saya: dia melarikan diri ke Korea Selatan di waktu Perang Korea. [Perang Korea Utara (komunis) melawan Selatan (demokrasi). Telah diketahui secara umum bahwa pemerintah Korea Utara memenjarakan anak dan cucu yang tidak tahu apa-apa dari seorang yang dianggap penentang pemerintah].

Pusat Pendidikan Ulang No. 18 (’Rehabilitasi’ cuci otak)
Kim dan beberapa keluarganya dikirim ke Pusat Pendidikan Ulang No. 18, juga dikenal sebagai ”Bukchang.”

Saya telah kehilangan 7 anggota keluarga saya, termasuk nenek saya, ibu, saudara laki-laki, dan suami saya,” Kim berkata.

Hari ini ia memakai kaca mata  gelap untuk menghindari indentitasnya. ”Saya memakai kaca-mata oleh sebab saya memiliki keluarga di kamp,” dia berkata. ”Dua saudari perempuan dan satu laki-laki masih tetap di sana.”

Bukchang menampung sekitar 50.000 narapidana. Itu adalah satu dari enam kamp penjara politik yang dioperasikan oleh pemerintah Korut.

Group-group Hak asasi manusia memperkirakan sekitar 200.000 orang Korea Utara menderita dibelakan tembok-tembok dari kamp-kamp tahanan rahasia tersebut.

”Saya menghadiri kelas-kelas indoktrinasi,” Kim berkata. ”Sore harinya anak-anak dikirim untuk mendorong grobak-grobak batu bara, sering tanpa (mekanik) gigi pengaman.”

Diperlakukan Seperti Budak-budak
Kim berkata ia dipaksa bekerja 16 sampai 18 jam hari-hari kerja tanpa istirahat.

”Orang-orang meninggal di pertambangan-pertambangan. Ada beberapa pertambangan yang hancur, jadi banyak yang luka-luka, beberapa kehilangan kaki mereka, banyak yang terkubur hidup-hidup,” ia mengingat. “ Itu sungguh menakutkan.”

“Saya diperlakukan seperti seorang budah dan bahkan lelbih buruk laig. Saya sudah tidur. Itu tidak berprikemanusiaan. Tetapi saya tidak pernah menggerutu. Saya mengikuti semua peraturan. Saya harus menemukan cara untuk surveve

Para napi tidak punya cukup makanan untuk makan. Kim berkata sebuah keluarga  yang terdiri dari 7 biasanya hanya diberikan 10 pound jagung setiap bulan.

Kelaparan Yang menyebar
”1996 mengerikan. Pada tahun ini banyak orang yang meninggal karen kelaparan. Tidak ada yang untuk dimakan. Tidak ada rumput, tidak ada tumbuhan hidup.” Kim berkata.

”Kamu melihat kesekeliling dan terdapat tubuh-tubuh berserakan di seluruh kamp. Mula pertama saya terkejut tetapi kemudian menjadi tidak perduli pada semua itu.”

CBN bertanya kepada Kim apakah ada hari-hari ia merasa tidak lagi gunanya untuk hidup, perasaan ingin bunuh diri.

”Ya, saya telah berpikir untuk melakukan bunuh diri ratusan ribu kali di dalam 28 tahun itu,” ia mengakui. ”Tetapi kamp di buat sedemikian rupa bahwa selalu ada seseorang mengawasi kamu. Setiap napi ditugaskan mengawasi 4 atau 5 napi lainnya. Jadi jika sesuatu terjadi, napi lainnya akan melaporkan ke para penjaga sebab mereka tidak ingin mendapat masalah untuk mereka sendiri.

Hukuman mati Dimuka Umum.
Kim bercerita kepada CBN News bahwa ia menyaksikan hukuman mati dimuka umum yang tidak terhitung banyaknya.

”Sering para napi dibunuh hanya karena masalah yang sepele seperti mencuri makanan. Para petugas selalu mengumpulkan para napi lainnya untuk menonton hukuman mati tersebut. Itu suatu bentuk intimidasi. Tujuannya untuk memberikan ketakutan kepada para napi.”

Mungkin yang paling tidak enak bagi Kim adalah teman-teman napi membunuh anak-anak mereka untuk menghentikan kelaparan.

Ibu-ibu Membunuh Anak-anak
“Suatu waktu seorang ibu menaruh putrinya yang berumum 9 tahun kedalam kuali besi dan memasaknya. Gadis ini terlalu besar untuk kuali tersebut, ibu tersebuh harus memotong kaki-kakinya dan kepalanya untuk tubuhnya dapat masuk ke kuali tersebut.”

“Kejadian lainnya, seorang ibu membunuh putranya yang berumum 16 tahun, memotong-motong putranya kedalam potongan-potongan dan membawa potongan tesebut ke toko penjagalan untuk menukarnya dengan jagung.”

Kim berkata bahwa berbicara hal ini secara terperinci tidaklah mudah. “Itu susah berbicara tentang hal itu tetapi saya ingin dunia melelihat gambar-gambar ini dan mendengar kesaksian saya,” wanita ini berkata.

Retold in Tears
Dia melarikan diri dari Bukchang tahun 2003. Cerita lengkapnya dijaga rahasia untuk alas an-alasan keamanan. Sekarang wanita ini hidup di Korea Selatan.

Musim Panas Kim telah menerbitkan bukunya dipanggil, A Concentration Camp Retold in Tears. Didalamnya terdapat gambar-gambar yang ia telah gambar dari ingatan kesaksian horror tersebut.

“Saya mengucap syukur saya ada hidup tetapi saya tidak dapat melupakan kenyataan bahwa saya telah kehilangan separtuh dari kehidupan saya,“ wanita ini berkata.

Runtuhkan Tembok-tembok

Pada bulan September, Kim telah terbang ke Washington D.C. , untuk bersaksi dihadapan suatu pertemuan kongres Amerika Serikat tentang penyabetan, kelaparan, dan penyiksaan yang brutal yang ia telah saksikan di kamp Bukchang.

“Pesan saya untuk dunia adalah bahwa kita harus menutup kamp-kamp kerja (paksa) tersebut dan membebaskan para napinya,” Kim bersaksi

“Setiap hari orang-orang meninggal. Setiap hari orang-orang membunuh satu sama lain. Saya adalah bukti  hidup bahwa tidak ada hak-hak manusia di Korea Utara.”

Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Korea Utara tergolong terburuk di dunia. Laporan lebih lengkap tentang pelanggaran HAM di Korea Utara dapat dilihat di sini: CSW.com Voice for the Voiceless.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Gereja-gereja di Negara Afrika Utara Dalam Tekanan Yang Berat

Kompas Direct mengabarkan penganiayaan yang semakin berat di negara-negara Afrika bagian utara.

Algeria. Gubernur profinsi Bejaia telah mengirim surat perintah (22 Mei) kepada presiden Gereja Protestant Algeria (GPA), dengan surat tembusan kepada polisi, untuk menutup 7 tempat ibadah orang Kristen, dengan alasan tempat ibadah tersebut “tidak sah” sebab tidak terdaftar.

“Semua bangunan yang dibuat secara permanen atau sedang dalam proses pembuatan untuk kegiatan ibadah agama lainnya diluar Muslim akan ditutup secara permanen di dalam seluruh negara, juga mereka yang tidak mendapat pengesahan kuasa dari Komisi Nasional,”  kata kepala polisi mengutip keputusan gubernur Bejaia.

Para pemimpin Kristen Algeria menolak perintah tersebut dengan alasan:

  1. Gubernur tidak punya kuasa atas seluruh negara
  2. Pemerintah selalu menolak untuk memberi permisi tempat ibadah Kristen beroperasi.

Hukum negara yang melarang aktivitas ibadah diluar agama Islam diperkenalkan tahun 2006.  Sejak ini aniaya semakin keras terhadap non Islam. gedung ibadah di Kabylie dibakar sekalipun mayoritas dari lokasi setempat adalah orang Kristen. Di lain lokasi, 6 orang Kristen ditangkap setelah mereka selesai pertemuan doa. Seorang pria 33 tahun ditangkap selama 5 hari karena membawa Alkitab dan buku pelajaran Kristen, ia juga didenda 460 Amerika Dollar dengan tambahan satu tahun perjara.

Sumber berita lain mengabarkan, walaupun aniaya semakin besar, perpindahan orang-orang Islam ke Kristianity tetap besar.

Orang Kristen di Algeria ada lebih dari 99 000 menurut Operation World, tulis Kompas.

Berdoalah untuk bangsa Algeria; Yeshua melalui Roh Kudusnya menguatkan iman dan menghibur mereka di dalam aniaya ini, semoga terang dan kebenaran yang sejati semakin kuat berkuasa di negeri ini.

Mesir. Jatuhnya presiden H. Mubarak dari jabatan oleh demontrasi atas nama ”Demokrasi” telah menambah berat tekanan orang Islam atas minoritas Kristen di negeri ini. Orang-orang Islam radikal semakin leluasa berbuat kejahatan, pencurian, pengerusakan dan pembunuhan terhadap bangsa mereka sendiri yang beraliran Kristen. Sedikitnya 12 meninggal dan 200 luka-luka setelah dua gedung gereja  dirusak, satu melalui bom-bom molotov dan beberapa rumah dan pertokoan orang Kriten dirusak pada Saptu 7 Mei 2011. Diawali dengan gossip bahwa sebuah gereja menahan seorang wanita Kristen yang ingin berpindah ke Islam, pemimpin gereja mengijinkan sekelompok imam Islam untuk masuk dan memeriksa gedung. Tidak ditemukan. Penyerangan atas gereja dilakukan, dan pihak keamanan baru datang setelah dua jam kemudian,

Hukum “menghina Allah”  (Blasphemy Law) di Mesir dan Sudan semakin megancam bukan saja para murtad Islam, tetapi juga orang-orang Islam (Shia dan Suuni) yang tidak setuju dengan hukum Islam tersebut. Beberapa orang Sunni dari latar belakang profesi seperti wartawan, bloggers, ahli hukum, professor universitas dan sastrawan telah dituduh menghina agama Islam, sekalipun mereka hanya tidak setuju dengan garis keras Islam.

Praktek dari hukum “menghina Allah” ini sering kali salah pakai dan terburuk adalah pemaksaan kehendak, tulis Komas Direct mengutip para korban:

  1. Orang Kristen yang berbicara hanya tentang imannya sendiri dapat dilaporkan ke polisi dan ditangkap.
  2. Orang-orang Kristen yang membela diri saat melindungi gedung ibadah mereka dari perusakan lebih sering menjadi korban penangkapan dan penyeksaan polisi dari pada orang-orang Islam yang merusak milik orang Kristen.
  3. Seorang guru warga Inggris di Sudan dipenjara oleh karena ia menyetujui 20 pendapat murid dari 23 untuk menamai boneka beruang mereka “Muhammad” untuk mengingat murid pria yang paling populer di kelas mereka.
  4. Pemerintah dapat menangkap siapapun (termasuk orang Islam) yang menentang mereka atas nama menghina Allah.
  5. Pihak pemerintah Mesir yang bersedia mengijinkan pembukaan kembali gedung gereja yang telah dirusak atau mengijinkan pendirian gedung gereja telah mendapat ancaman dari pihak Islam sebagai menghina Allah.

Berdoalah untuk bangsa-bangsa di Afrika Utara berdasarkan perkataan Yeshua ini:

Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh. 8:31-32).

Alkitab-alkitab berbahasa Arab semakin perlu untuk didatangkan. Hubungi organisasi Misi bagaimana Anda bisa terlibat di dalam percetakan dan pengiriman Alkitab tersebut.

Marokko. Hukum negara melarang penduduk Marokko menghadiri ibadah di luar agama Islam yang dilakukan oleh penduduk asing di Marokko. Namun belakangan ini orang Kristen asingpun mendapat ancaman dari pemerintah,  Pada bulan Maret tahun 2010, Compas menulis, total orang Kristen asing yang telah diusir telah mencapai 128 orang. Termasuk seorang wanita Spanyol yang bersuamikan orang Marokko.

Yang diusir diantaranya pekerja dari yayasan sosial, kemanusian, guru dan juga businessmen. Pemerintah hanya memberi dua jam waktu untuk meninggalkan tanah Marokko dan tanpa menyertakan surat legal deportasi kepada orang asing.

Jamaa Ait Bakrim (berusia 47 tahun), seorang Marokko yang berpindah ke Kristianiti,  telah dihukum penjara 15 tahun. Ia sudah terpenjara selama 6 tahun (sejak 2005).  Rachid (nama samaran) seorang Marokko Kristen lainnya, pembicara dari TV Kristen berbahasa arab yang terkenal Al Hayat Television berkata tentang Jamaa: “Dia menjadi Kristen. Dia menceritakan imannya itu kepada orang-orang disekitar dia. Di Marokko, dan ini juga terjadi pada saya secara pribadi, jika engkau menjadi Kristen kamu kemungkinan dianiaya oleh keluargamu, Jika kamu pegang itu untuk dirimu sendiri, tidak ada orang yang akan mengganggu kamu. Jika kamu menceritakan itu kepada orang lain dan mulai berbicara tentang itu (iman Kristen), itu adalah masalah lainnya.”

Rachid telah melarikan diri dari negaranya, “Para saudara dan saudari Marokko kami menderita, dan kami hanya berharap sesuatu akan jadi OK. Mereka tidak akan berubah jika kita tidak membawa masalah ini ke perhatian internasional,” Rachid berkata.

Rachid memohon orang-orang Kristen di seluruh dunia terus lobby dan berdoa agar saudara dan saudari Marocco mereka berdiri teguh dan menambah kebebasan mereka.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Gulshan Fatima; Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 7

Ini adalah kesaksian Gulshan Esther (Fatima), puteri bungsu dari sebuah keluarga Islam Sayed yang merupakan keturunan langsung Nabi Muhammad melalui puterinya Fatima.

Tulisan ini merupakan sebuah buku berjudul THE TORN VEIL atau KERUDUNG YANG TERKOYAK, diterbitkan oleh Marshal Paperblacks.

Gulshan Esther (Fatimah); Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2 ; Bg. 3 ; Bg. 4 ; Bg. 5 ; Bg.6 ; Bg. 7 ; Bg. 8

BAB 12 GODAAN [dijebak lagi, moncong bedil kakak kandung di mukanya]
Bila kukenangkan kembali maka rasanya masa yang kualami ketika tinggal bersama kakak dan iparku di Pindi merupakan salah satu dari waktu paling bahagia di dalam hidupku setelah menjadi Kristen. Anis selalu menyenangkan hatiku, suaminya berlaku baik dengan cara yang lemah lembut. Sekali lagi saya menjadi bagian dari keluargaku dan diperlakukan dengan kasih dan perhatian.

Ada pembantu di rumah itu, 2 atau 3 pembantu wanita, masing-masing seorang klerk, koki, dan sopir. Anak lelaki koki bekerja di kebun. Saya tidak perlu lagi menjahit atau membersihkan meja. Kini saya dibutuhkan menjadi pengasuh gadis-gadis cilik dan saya lakukan hal ini seperti dilakukan Anis terhadapku dahulu – menceritakan kisah-kisah kepada mereka. Peranan yang sangat menyenangkan. Pada waktu yang sama saya merasakan bahwa saya memperhatikan para pembantu dengan simpati – bagaimana mereka melaksanakan tugas rumah tangga – mencuci piring, lantai, pakaian, menggosok, menyetrika, membersihkan, mengkilapkan, mengeluarkan debu, mengangkat-angkat, menyusun, memisah-misahkan dan menata kembali. Saya merasa berterima kasih pada semua orang atas pelayanan mereka. Saya tidak merasa rugi karena perasaan ini malah menyebarkan kebahagiaan.

Kakakku dan saya makin dekat satu sama lain, kini bersaudara dalam Ha Mashiah. Tiap hari kami menggunakan waktu 2 atau 3 jam mempelajari Alkitab. Dalam waktu singkat Anis mendapatkan satu fakta sebagai kesimpulannya: dia dapat memahami isi Alkitab padahal sulit baginya untuk memahami Kitab Suci lainnya. Ditulis di dalam bahasa sendiri dan tidak ada misteri tentang Alkitab itu. Seseorang dapat membacanya sebagaimana halnya dengan membaca buku biasa, mengenal dari sudut pandangan lain tentang beberapa kejadian yang dikenal baik oleh umat Islam maupun umat Yahudi, tapi di sini ada satu kelebihan, yaitu kuasa Kebenaran yang sejati. Kakakku berkata, “Kata-katanya indah sekali, kata-kata ini mendatangkan penghiburan.” Ia mengenang anaknya yang telah meninggal. Saya berkata, “Kata-kata ini nyata dan merupakan Firman dari Bapa kita yang di surga. Apapun yang anda rasakan, kita akan mendapatkannya di sini, apakah itu susah atau senang. Yang terutama adalah kita yakin bahwa dosa-dosa kita sudah diampuni dan agar kita mengikut Yeshua dari hari ke hari.” Katanya, “Saya rasa Dia ada di sini bersama kita sewaktu kita berbicara tentang Dia.” Kutunjukan padanya ayat, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” ( Matius 18:20 ) Waktu kita berdoa Dia mendengarkan. Guru kita selalu menyertai kita. Kita dapat mengerti karena RohNya memimpin kita.

Blund Shah tidak merasa gembira atas perhatian baru dari isterinya ini. “Jangan kau katakan kepada setiap orang bahwa Ha Mashiah telah membangkitkan engkau dari mati, kau diam saja!” pesannya kepada kakakku. Kelihatannya kakakku tidak begitu memperdulikan peringatan suaminya. Demi kepentingannya saya menjaga untuk tidak sembarangan bercerita kepada orang lain bahwa saya seorang Kristen, walaupun bila langsung ditanyakan kepadaku biasanya saya bercerita tentang visi dan penyembuhanku, dan kisah ini umumnya tidak memancing pertanyaan mereka lagi.

Anis dan suaminya mempunyai banyak kaum keluarga atau teman, dan setiap hari ada saja tamu yang berjamu di bungalownya yang menyenangkan itu. Dalam sebuah rumah tangga Shiah, diatur dengan keras agar apapun yang terjadi di bagian lain dari dunia Islam, di sini pembagian mendasar atas jenis kelamin tetap dipatuhi. Tamu pria dan wanita walaupun tiba bersama-sama harus duduk di bagian serambi yang terpisah atau ruangan tamu yang berbeda. Adakalanya bagiku sebagai seorang Kristen, merasa tidak sabaran atas pemisahan hubungan manusia seperti ini, terutama sebagaimana yang ku ketahui bahwa di dalam suatu persekutuan di mana Ha Mashiah mempersatukan umatnya maka kehidupan dapat berjalan dengan baik sekali tanpa adanya pemisahan seperti ini. Tetapi di negara kami yang didirikan atas ajaran agama, maka setiap segi kehidupan sosial kami menggunakan tolak ukur ajaran-ajaran agama dan tafsiran-tafsirannya.

Dalam kehidupan kota, dampak pemisahan ini lebih banyak dirasakan dan makin jelas bagiku dibandingkan dengan yang kurasakan di Jhang, karena Jhang terletak di pedalaman dan masih jauh lebih terbelakang dibandingkan dengan kota. Sebahagian dari diriku berfungsi sebagai penilai, bagiannya yang lain menikmati kesenangan-kesenangan masa lalu bersama teman-teman wanita, bercakap-cakap sesama wanita tanpa diganggu oleh kehadiran seorang pria pun.

Hatiku tenang rasanya mendengarkan semua ceritera yang terperinci mengenai siapa yang kawin dengan siapa, anak mana yang sakit dan yang mana yang sehat, apa yang dipelajari mereka di sekolah serta jurusan pekerjaan apa yang mereka ambil. Kini gadis-gadis juga mengikuti pendidikan, beberapa diantaranya malah ke perguruan tinggi, namun kemudian menghadapi kenyataan bahwa bidang pekerjaan bagi mereka tidaklah mudah diperoleh dan tidak selamanya disenangi.

Seorang anak perempuan nantinya dapat menjadi seorang dokter wanita atau guru bagi anak-anak perermpuan atau pun menjadi perawat. Makin sulit bagi mereka untuk masuk ke lingkungan kerja bersama para pria seperti di kantor. Namun untuk menahan agar anak-anak perempuan tetap belajar di rumah, makin sulit rasanya bagi para keluarga karena begitu banyak pemuda yang menunda-nunda perkawinannya selama mengikuti pendidikan di luar negeri.

Selalu ada kontradiksi antara syariat agama dengan kepentingan duniawi, seperti yang terjadi sebelum ini. Nah, masalah-masalah ini sekarang dihadapi oleh banyak keluarga – mereka menyalahkan pengaruh barat yang telah mengikis tolak ukur yang telah ada dan mengalihkannya sehingga berubah menjadi cara yang lebih dipilih untuk mendapatkan kebahagiaan – memetik impian yang paling muluk, masa depan yang terbaik bagi anak-anak lelaki mau pun perempuannya.

Saya mendengarkan dengan lebih sadar daripada dulu bahwa impian-impian seperti itu merupakan kuncup-kuncup yang mudah retak, dengan mudah dapat diterbangkan dengan angin kencang. Tekanan-tekanan semacam itu tidak akan mudah terhapus. Waktu itu kami menyadari betapa sulapan logika kehidupan dapat berproses menjadi suatu ledakan terhadap logika agamawi bila keadaan seperti ini terjadi berkali-kali dalam skala yang besar.

Anis menyatakan jalan pikiranku ini dalam kata-katanya yang sederhana, “Mereka cemas tentang masa depan anak-anaknya, tapi bagi mereka sendiri kemanakah tujuan hidupnya?” Baginya, suatu kehidupan yang tidak memiliki tujuan yang pasti tanpa Ha Mashiah seringkali merisaukannya. Merasakan kembali duduk-duduk pada kedua sisi ‘prudah’ menujukan kepadaku betapa kuat dan mantapnya dasar yang tealh kutemukan dalam hidupku. Kebahagiaanku kini tidaklah tergantung pada terpenuhinya ambisi pribadiku, tapi terletak pada melakukan kehendak Elohim. Karena itu tidak sesaatpun saya membiarkan diriku membayangkan bahwa masa tenang ini akan berlangsung terus, dan memang begitulah yang terjadi.

Dalam bulan Nopember ku ketahui bahwa iparku untuk periode tertentu akan pergi ke Lahore, karena urusan dagangnya.

“Kita semua harus pergi,” kata Anis, “dan kita harus tinggal di rumah Alim Shah.”

Saya kaget mendengar berita ini, “Baiklah tapi maaf, saya tidak dapat ke Lahore bersamamu, saudara kita Alim Shah berkata kepadaku bahwa pintu rumahnya tertutup bagiku karena saya telah mengingkari agama Islam.”

Wajah kakakku merengut seperti seorang anak yang mau menangis, “Saya memerlukan doamu dan saya juga memerlukan bantuanmu. Jika Alim Shah tidak mau menerimamu maka saya akan menyewa bungalow lain dan saya akan tinggal bersamamu.”

“Dan apa tindakan suamimu nanti, saya rasa ia akan menceraikanmu.” Saya memeluknya dan setuju untuk pergi bersama mereka. Kami akan melihat bagaimana penerimaan kakak lelakiku nantinya terhadapku.

Jadi, pada tanggal 28 Nopember jam 4 sore, kami berangkat dengan sebuah mobil dan abrang – barang diangkat dengan truk.

“Saya sangat senang berjumpa denganmu. Kau diterima dengan senang di rumahku, selamat datang.” Yang berbicara ini adalah kakakku Alim Shah. Saya tidak mempercayai pendengaranku, seolah-olah pembicaraan yang tidak menyenangkan hati di telepon tidak pernah terjadi.

Keluarga itu menumpang sementara bersama Alim Shah sampai mereka mendapatkan sebuah rumah. Saya mendapat sebuah kamar enak dan seorang pembantu diberikan kepadaku untuk membantuku. “Saya tahu kamu mempunyai kawan-kawan di sini,” kata kakak lelakiku dengan tak terduga sama sekali, “kepada sopirku sudah kukatakan agar membawamu ke mana saja yang kau kehendaki.”

Saya mengucapkan terima kasih kepadanya dengan hangat, tapi dalam hatiku saya merasa tidak tenang, hal itu rasanya terlalu baik untuk menjadi kenyataan. Ketika hari Minggu tiba, saya meminta sopir membawa saya ke gereja Methodeist di jalan Warris. Pendeta menjabat tanganku di depanku dan jemaat menyambutku dengan cukup ramah, tetapi tidak ada yang menyapa, “Apa Kabar? Kemana saja selama ini? Apakah anda memerlukan sesuatu?” Karena itu saya tidak menceritakan pada seorang pun tentang kesulitanku tetapi mempercayakannya kepada Elohim seperti biasa untuk pemecahannya.

Empat bulan kemudian, pada suatu malam di bulan Mei, saya sedang berdoa di kamarku sambil duduk di kursi dengan Alkitab terbuka di lututku. Saya mendengar bunyi gerakan kaki dan membuka mataku. Di seberangku, Almin Shah sedang memperhatikanku dengan tersenyum. Ada suatu tekanan perasaan terbersit padaku dan entah mengapa saya sampai membayangkan Harimau pada waktu itu.

“Kuharap engkau merasa bahagia di rumahku,” katanya dengan suara yang sangat mengasihi. “Kuharap engkau merasa cocok dengan Istriku dan senang dengan anak-anakku. Kuharap para pembantu tidak menyebabkan suatu masalah apapun atasmu.”

“Saya sangat bahagia di sini,” jawabku sepenuh hati.

“Kami sangat mencintaimu, dan kami mau kau tinggal bersama kami untuk kebaikan kita. Sebenarnya saya sedang mengurus pembangunnan sebuah bungalow bagimu di Goldberg” (tempat ini adalah bagian tepi kota yang modern bagi golongan yang cukup kaya, letaknya kira-kira 10 km dari sini). Ia melanjutkan, “Dan saya ingin agar kau turut berlibur denganku. Bulan depan saya akan berkunjung ke tempat-tempat bagi umat Islam… Mekah, Medinah. Maukah kau turut bersamaku?”

Ia sedang menggodaku, saya teringat akan ……..“Semua ini akan kuberikan kepadamu jika,….” ( Matius 4 :8-9 ).

“Saya tidak berkeberatan pergi bersamamu, tetapi hal ini tidak akan merubah iman percayaku,” jawabku.

Seakan-akan saya tidak berkata apa-apa, ia mengambil Alkitab dari pangkuanku dan melihat ke halaman-halamannya yang terbuka, “Yang kuhendaki darimu untuk semua yang akan kuberikan kepadamu ialah buku ini. Berikanlah Alkitab itu padaku dan saya akan membawanya ke depot Lembaga Alkitab sehingga kau tidak dapat membacanya lagi, dan berhentilah ke gereja, maka akan kuberikan kepadamu apapun yang kau kehendaki.”

Dengan nyaring saya menjawab, “Mazmur 119 : 115, “FirmanMU itu pelita bagi kakiku dan terang pada jalanku.” Inilah adalah Firman Elohim dan Ia memberitahukan padaku perbedaan antara yang benar dan yang salah, saya tidak akan memberikannya kepadamu……ini adalah bagian dari hidupku.” Saya melihat bahwa ia menjadi marah. Dengan cepat kutambahkan, “Saya tidak dapat berhenti untuk pergi ke gereja karena di situlah rumah Tuhan [Elohim]. Pengantin wanita sudah hampir siap sebab mempelai lelaki sudah hampir datang. Dan barangsiapa menyangkal Aku didepan manusia, Aku juga aka menyangkalinya didepan Bapakku yang di Sorga (Mat. 10:33).”

Ia melompat berdiri. Dilemparkannya Alkitab itu padaku, “Sebelum matahari terbit, tinggalkan rumahku, aku tidak sudi melihat mukamu lagi.”

Perangkap telah diberi umpan dan disentuh, tidak ada seorangpun yang datang mendekatiku malam itu, saya berbaring dengan perasaan berat, besok paginya tercipta suatu suasana yang tidak menyenangkan sama sekali. Kakak lelakiku tidak kelihatan, tidak ada berita tentang Anis atau suaminya. Pelayan hanya meletakkan sarapan begitu saja lalu pergi diam-diam. Dengan sedih saya mengemasi koporku dengan 4 atau 5 baju yang dijahit Anis untukku, pakaian-pakaian yang indah-indah yang dihadiahkan Alim Shah kutinggalkan karena ia telah berpesan, ‘jangan membawa sesuatu apapun dari rumah ini’. Koporku ada digang dan saya berjalan kesana ketika saya melihat Safdar Shah datang. Saya belum lagi berjumpa dengannya sejak saya meninggalkan Jhang, tapi ungkapan kata-kata bagi pertemuan yang membahagiakan langsung sirna ketika saya melihat apa yang dibawanya adalah sebuah bedil. Dia memegangku dipergelangan tangan dan menarik saya ke lantai dasar rumah itu.

“Duduk disitu dan jangan bergerak,” perintahnya.

Saya mematuhinya. Jika dirangsang, Safdar Shah dapat menjadi kasar. Ia pergi memanggil Alim Shah. Di rumah itu keadaan sunyi sekali, suasana diliputi ketakutan, kakak-kakakku lelaki turun kebawah, wajah mereka keras dan mantap. Jantungku berdebar-debar dan kakiku lemah seperti jerami rasanya, tetapi saya tetap duduk di atas sebuah sofa, berusaha untuk tetap tenang. Kakak-kakakku duduk menghadapi saya pada seberang meja. Saya mencoba memandang kearah matanya yang penuh kebencian, tetapi mereka sedang melihat ke bagian dalam dirinya seakan-akan tidak sadar akan pandanganku.

Safdar Shah mengoperkan bedil itu kepada Alim Shah, “Selesaikan kutuk keluarga ini!” perintahnya. Alim Shah menggenggam popor bedil dua laras itu dan dengan perlahan mengangkatnya dan dibidikkan ke kepalaku. Ia berkata dengan suara putus asa yang lemah, “Mengapa kau mau mati? Yang perlu kau perbuat hanyalah mengatakan bahwa kamu tidak lagi mengakui nabi Isa itu sebagai Anak Elohim dan bahwa kau akan berhenti ke Gereja. Kau akan kubiarkan hidup, karena aku tidak akan menembakmu!”

Wajahnya kelihatan tegang dan kurus dibalik laras bedil itu dan saya melihat betapa ia ditempatkan pada suatu keadaan terpaksa – cintanya kepadaku berperang melawan segala sesuatu yang telah diajarkan ayahku kepadanya. Bagikupun merupakan suatu saat yang sangat tidak menyenangkan. Saya telah dididik untuk menghormati kakak-kakak lelakiku sebagaimana diajarkan pada gadis-gadis Islam. Saya belum pernah membantah mereka sampai Yeshua masuk dalam kehidupanku dan saya berusaha untuk tidak berkata kasar pada mereka karena saya tahu bahwa saya dapat menyadarkan diriku pada cinta kasih mereka, kesopan-santunannya serta perlindungan mereka jika kuperlukan. Dalam hal inipun Ayahku telah memberikan pada mereka suatu perintah keramat untuk menjaga saya. Tapi tentu saja beliau tidak memperhitungkan kemungkinan terjadinya suatu krisis seperti ini. Saya sedang mengoyakkan semua ini dengan pertentangan-pertentangan antara tugas dan cinta. Tapi saya tidak boleh mundur. Saya tidak dapat berpaling lagi, juga pada saat ini.

“Dapatkah kakak menjamin bahwa jika kakak tidak menembak saya maka saya tidak akan mati? Dalam Al Qur’an ditulis bahwa begitu seseorang dilahirkan kedunia, dia pasti akan mati. Jadi, silahkan tembak saya tidak takut bila saya mati dalam nama Yeshua Ha Mashiah. Dalam Alkitabku tertulis, “Ia yang percaya padaku, walaupun ia mati, namun ia akan hidup” (Yoh. 11:25).

Safdar Shah berkata dalam keheningan, “Kau tidak mau membunuh si murtad ini dan bertanggung jawab atasnya. Ia telah menjadi suatu kutuk bagi kita. Lemparkan dia keluar!”

Mereka mendorong saya kedepan sambil menaiki tangga. Saya mengambil koporku di gang dan berjalan menuju pintu. Kakak-kakak lelakiku berjalan kembali dengan gontai menuju ke bungalow. Setiap senjata yang ditempa terhadap engkau tidak akan berhasil, dan setiap orang yang melontarkan tuduhan melawan engkau dalam pengadilan, akan engkau buktikan salah. Inilah yang menjadi bagian hamba-hamba YAHWEH dan kebenaran yang mereka terima dari pada-Ku, demikianlah firman YAHWEH”. Saya tahu dimana saya pernah membacanya (Yes.54:17), tapi saya tidak menyadari kalau Firman itu begitu tepat pada kenyataannya.

BAB 13 LILIN YANG MENYALA [Menumpang di keluarga Kristen, gaji pertama, dipecat karena iman]
“Ya Bapa, kemana saya harus pergi ?” Saya berdiri sendiri di jalan Samanabad sambil berusaha menahan air mata karena goncangan dan kepedihan pada peristiwa yang baru kualami, lalu memandang keatas kebawah mencari petunjuk tentang tindakan apa yang saya ambil berikutnya. Namun, sepanjang jalan besar itu sepi dari lalulintas dan keadaan deretan bungalow sepi di belakang dinding-dinding tinggi disinari cahaya matahari tipis dan tidak menunjukkan kehidupan mewah dibelakangnya. Rasanya, secara refleks saya berbalik kekanan lalu mulai berjalan menelusuri trotoar yang dilapisi semen menuju kearah penantian bis yang jauhnya hampir 2 km.

Waktu tiba disana, hatiku sudah bulat – John dan Bimla Emmanuel, seorang tukang kebun dikantor walikota, tinggal di Medina colony bersama istri dan 4 dari 5 anaknya. Keluarga ini menjadi jemaat dari Gereja di jalan Warris. Mereka pernah mengajakku kerumahnya sekali atau dua kali dan saya merasa senang disana, berceritera pada mereka tentang Tuhan [Elohim] dan Kuasa menyembuhkan & menyelamatkannya.

Mereka pernah berkata padaku, “Datanglah ke rumah kami setiap waktu, rumah kami terbuka bagimu.” Ditempat perhentian bis ada beberapa jenis transportasi, saya menggunakan rickshaw (sejenis becak) ke Muzang Chungi dan dari sana dengan minibis yang trayeknya Gurumangat. Dari sini berjalan kaki sedikit melintas rel kereta saya tiba di Medina Colony. Saya memilih berjalan sepanjang lorong yang bekas dilewati roda, berabu, diantara rumah-rumah. Menghindari got-got terbuka yang mengalir kearah sebuah ‘houdi’ atau tempat penampung kotoran manusia di dekatnya. Di rumah John Emmanuel, saya memegang ujung ‘kunda’ yang tergantung diluar dan mengetukkannnya kepintu kayu berlapis ganda di dinding yang tinggi itu.

Tak lama kemudian Bimla membukanya, menatapku dengan heran lalu mempersilahkan saya masuk. Kuceriterakan sedikit padanya tentang apa yang sudah terjadi dan memohonkan bantuan untuk memondokkan sementara. Ia melihat saya sedang gemetar lalu memelukku, “Anda diterima dengan hati yang sangat terbuka untuk tinggal bersama kami dan apapun yang kami miliki, andapun dapat turut menikmatinya bersama-sama.”

Ketika John Emmanuel pulang sore harinya dengan sepeda, ia mendengarkan ceriteraku dengan prihatin. “Jangan kuatir, saya adalah saudaramu dalam Ha Mashiah,” katanya meyakinkan saya. Pikirku, betapa anehnya perasaan ini dapat kurasakan terhadap seseorang yang bukan anggota keluargaku dan kehangatan terasa mengalir mendengarkan ke prihatinannya. Ternyata, persekutuan orang-orang yang benar-benar percaya pada Ha Mashiah dapat mengikat pengikut-pengikutnya dengan ikatan yang lebih kuat dari ikatan darah atau hasil perkawinan.

Rumah yang mereka sewa itu kecil, terdiri atas sebuah kamar tidur dan serambi. Pada satu sisi serambi ini ada dapur dan disisi lainnya kamar kecil. Saya mengira-ngira dimana saya akan tidur, nyatanya bersama anak-anaknya, yang sulung 8 tahun, diserambi. Tempat ini ditutup dengan gordin sehingga berubah menjadi sebuah kamar dengan hawa yang lebih sejuk. John dan Bimla tidur dihalaman dan hal ini biasa di lakukannya kalau rumahnya kecil dengan keluarga besar. Tidak ada rumput atau bunga-bungaan – tidak ada tempat untuk menanam sesuatu apapun. Dasar halamannya tanah liat yang keras bercampur jerami, dibersihkan dengan baik sehingga merupakan bagian tambahan dari rumah itu. Tapi ada tanaman di dalam pot-pot untuk menyemarakkan tempat itu. Akomodasi yang sederhana dibanding dengan kesenangan yang saya tinggalkan tapi rasanya hatiku senang sekali memiliki perasaan bebas untuk mengambil Alkitabku dan membacanya secara terbuka serta mengadakan persekutuan doa dan mempelajari Alkitab bersama John & Bimla. Untuk dapat sampai ketahap ini saya malah sudah menantang maut. Walaupun begitu, dimalam pertama, sambil tidur diatas ‘charpai’ dibawah selimut pada udara terbuka, saya tidak dapat tidur karena belum terbiasa dengan keadaan sekelilingku sebab pikiran-pikiranku menerawang dan adanya bunyi-bunyi dimalam hari yang menggangguku.

Di daerah itu orang-orang cepat tidur agar dapat segera bangun sebelum matahari terbit guna mempersiapkan perjalanan mereka ke kota untuk bekerja. Namun, sewaktu kesibukan sehari-hari dan bunyi-bunyian pompa air berhenti, keadaan menjadi sunyi senyap lalu diganti oleh bunyi lain yang menggelitik saya untuk mencari tahu sumber asalnya. Terdengar bunyi berdenyit dan tikus-tikus berlarian di belakang rumah-rumah itu saluran gotnya buruk sehingga terjadi genangan-genangan air tempat kodok berkelompok bergembira ria bersahut-sahutan dengan ributnya dan jangkrik bernyanyi di semak-semak. Tidak ada kelambu untuk melindungi diriku dari dengungan nyamuk yang menari-nari dengan tebalnya di sekelilingku. Bunyi gemerisik kecil diatas atap jerami membuat saya berpikir-pikir apakah cecak atau kakarlak yang mungkin akan jatuh menimpa kepalaku. Saya merasa iri pada anak-anak yang tidur dengan eloknya. Suara napasnya yang lembut menjadi lebih keras dan makin saya campur adukan bunyi-bunyi ini, kedengarannya laksana deburan ombak dikejauhan. Saya berusaha menutup telingaku rapat-rapat dan mengalihkan pandanganku ke langit cerah yang terlihat olehku dari bawah atap serambi. Saya mencoba agar dapat tidur dengan cara menghitung bintang yang berkedip-kedip namun malah hanya membuat saya lebih tidak bisa tidur lagi. Lalu bulan yang sendirian muncul ke panorama pemandanganku, memandikan sekitarnya dengan cahaya misterius yang begitu dicintai oleh para penyair dan orang-orang yang dilanda asmara. Lalu angin yang sombong laksana ‘Nawab’ yang merasa iri, dengan sombongnya mengumpulkan awan-awan yang tadinya masih tercerai berai menutup bulan itu dari pandangan mata yang masih merindukannnya. Saya menikmati pemandangan bulan dan bintang-bintang yang menari-nari di angkasa melewati penggantian waktu dan merasakan goncangan dan kesedihan atas berlalunya hari yang menuju kesuatu titik tujuan yang lebih pasti.

Saat ini merupakan bagian dari waktu dimana saat-saat kehidupan campur-baur yang berlangsung selama kehidupan ini. Saya melihat diriku sendiri, Gulshan Ester, miskin dan dibenci oleh orang-orang yang seharusnya mencintaiku dan telah berpaling dari pintu rumah mereka, kini telah bebas dari beban-beban yang merintangi. Kerudung kehidupan agamawi yang saya warisi sebelum ini, yang kurasakan pernah memisahkan saya dari satu Elohim yang tidak dapat diketahui oleh seorang pun telah dikoyakkan, diungkapkan dalam wujud Yeshua Ha Mashiah, Tuhanku [Elohimku]. Sekarang jalan pemuridan telah terbentang dan apakah menyenangkan atau menyakitkan, harus kujalani dalam ketaatanku. Tapi saya tidak sendirian. Ada satu yang menyertai saya, saya kuat dan akan memenuhi semua kebutuhanku.

Dengan rasa mengantuk saya menatap kelangit yang memudar warnanya menelan bintang-bintang dan menampilkan bintang pagi, kebanggaan fajar. Sambil memikirkan Yeshua, Fajar Pagi Pengharapanku yang diutus Elohim untuk menerangi hidupku, akhirnya saya tertidur pulas tanpa terganggu apa pun walau hanya untuk waktu yang pendek.

Saya terbangun, mataku berat tertimpa sinar pagi yang cerah, ketika si Gundu, bocah beruia 4 tahun menarik tanganku. Bahkan ketika saya berusaha untuk mencuci dengan air dari pompa di halaman, saya terkenang akan pikiran yang telah terbentuk semalam – saya perlu berpikir untuk mencari kerja sebab saya tidak dapat mengharapkan bahwa kawan-kawanku dapat bertahan untuk membiayai saya.

Kepala Sekolah wanita dari sekolah swasta untuk para gadis memandang saya dari atas ke bawah ketika saya berdiri di kantornya dengan perasaan bingung di hadapan wanita yang dingin tapi cekatan ini yang memiliki kharisma kewenangan. Namun saya pun berketetapan hati. Beliau membetulkan syalnya dan berkata dengan sopan, “Selamat pagi nyonya. Apakah saya dapat menolong anda? Apakah anak anda bersekolah di sini?”

“Tidak, saya tidak mempunyai anak yang bersekolah disini. Saya datang untuk mencari tahu apakah Ibu membutuhkan seorang guru disekolah Ibu.”

Ekspresinya berubah dari sikap sopan-santun karena ingin mencari tahu menjadi agak merendahkan diri. Terlihat olehku bahwa cara pendekatan langsung seperti ini dinilai kurang wajar. Sebenarnya saya harus menulis lamaran bukannya datang sebagaimana seorang pembantu atau tukang kebun mencari pekerjaan.

“Mata pelajaran apa saja yang dapat anda ajarkan dan kwalifikasi apa yang anda miliki?” “Saya dapat mengajar bahasa Urdu, pengetahuan agama Islam, sejarah, ilmu bumi dan matematika sampai tingkat pra-universitas.” saya menjawab.

Beliau memandangku dengan tajam seakan-akan menyusun pendapatnya, “Seorang guru yang pandai untuk para gadis,” katanya, “namun sayang sekali lowongan yang ada telah terisi dan saya tidak dapat menerima anda, tapi jika anda meninggalkan nama dan alamat pada sekretaris, saya akan menghubungi bila ada lowongan pekerjaan nanti.”

Beliau bangkit dari belakang kursi yang berat kelihatannya untuk mengantar saya keluar, tapi saya masih saja berdiri, merasa sedih sekali.

“Apakah ibu mungkin tahu kalau ada anak gadis yang memerlukan guru pribadi di rumah karena sesuatu alasan, barangkali sakit, atau orangtuanya tidak mengijinkan anaknya ke sekolah?” Dijawab: “Maaf, saya tidak tahu. Tapi jika saya tahu maka anda akan kuberitahu bila nama dan alamat anda ditinggalkan pada sekretaris.”

Selama 2 atau 3 minggu saya telah bolak-balik kekota, melewati Red Fort untuk mencari kerja, menjajakan kwalifikasiku dari satu sekolah ke sekolah yang lain, seakan-akan seorang penjaja-keliling. Saya memperoleh alamat-alamat itu dari Kantor Penempatan Tenaga dan para petugas biasanya terkejut karena lamaranku. Saya merupakan teka-teki bagi mereka, seorang wanita muda dari keluarga baik-baik, tangannya terlihat kurang memenuhi syarat untuk bekerja, ternyata tidak ditunjang oleh keluarganya.

Berulang kali John dan Bimla meyakinkan saya tentang dukungan mereka tapi saya tahu bahwa saya merupakan beban untuk seorang yang mempunyai gaji kecil seperti dia. Jadi saya berdoa memohonkan lowongan pekerjaan dan saya menelusuri jalan-jalan dibawah terik matahari, sepatuku bolong dan bila timbul perasaan marah atau kecil hati maka saya teringat pada Yeshua dan bagaimana ia menapak jalan-jalan itu untuk mati di atas kayu salib bagiku.

Ketika untuk keempat kalinya saya pergi ke Kantor Penempatan Tenaga, saya mendengar bahwa sebuah majalah mingguan yang berkantor di pasar Ol Anarkali membutuhkan seorang wartawati. Saya tahu nama Anarkali, bunga delima, sama dengan nama seorang pahlawan wanita yang terkenal dalam sejarah kami. Dia dipakukan secara tragis ke tembok hidup-hidup oleh seorang ‘mghul’ (kaisar) padahal ia tidak bersalah. Si wanita itu jatuh cita dengan saudara sedarahnya bernama Salim. “Seorang gadis malang dan sedang menghadapi bahaya,” pikirku dan mencoba mengingat apakah terdapat gejala untuk menerima hukuman seperti wanita itu. Mungkin tidak karena ia adalah anak kaisar tersebut.

Majalah itu pernah kulihat, seingatku mempunyai 4 halaman, ada gambar-gambar berwarna dari orang-orang terkenal dan agak berbau politik. Keadaanku yang sulit, membuat saya kuat dan memohon untuk diwawancarai. Besoknya jam 10 pagi saya datang ke lantai satu di kantor majalah itu di Old Anarkali. Penerbitnya berperawakan tinggi, lelaki yang tampan berkulit terang memakai jas hitam yang tidak tebal dan sangat sopan.

“Silahkan duduk,” katanya sambil menunjuk ke sebuah kursi yang terletak agak jauh dari mejanya yang mengkilap diatas permadani berbentuk segi empat. Ia membunyikan bel dan meminta minuman pada seorang pria muda yang datang membawakan coca-cola dingin bagiku. Minuman ini dihidangkan dalam sebuah botol di atas jerami. “Saya ingin tahu kenapa anda membutuhkan pekerjaan,” katanya dan giginya yang putih kelihatan waktu tersenyum.

Saya menjawab, “Saya yatim piatu dan saya berpendidikan. Saya ingin mendapat gaji sendiri.” Sebuah pena dengan ujung emas diatasnya dimain-mainkannya, dan tercium bau harum olehku mungkin dari parfum ‘after shave’ yang dipakainya.
“Tapi ceritrakan padaku,” katanya, “kenapa kakak-kakakmu tidak membantumu agar anda tidak perlu bekerja?”
“Oh mereka semua telah bekerja dan tinggal di rumahnya masing-masing dan saya tidak mau menjadi beban bagi mereka karena itulah saya memerlukan pekerjaan.”

Ia juga ingin tahu kemana saya telah melamar dan kuceritrakan padanya lamaran-lamaranku untuk mengajar yang menemui kegagalan. Cahaya yang menembus gorden bercorak kota-kotak tipis menimpa wajahku waktu kami berbicara dan saya melihat bahwa ia sedang melihat padaku dengan cermat. Lalu ia berketetapan hati tentang diriku, perasaanku cukup cepat. “Anda dapat mulai besok. Datanglah antara jam 08.30 dan 09.00 pagi dan jangan kuatir saya akan memberikan padamu beberapa pertanyaan yang akan kau ajukan waktu melakukan wawancara. Anda harus bekerja keras dan bekunjung kerumah-rumah atau kadang-kadang ke sekolah-sekolah.”
“Saya cukup berpengalaman mengunjungi rumah-rumah orang,” pikirku, tapi tidak kuutarakan.

Ia menjelaskan bahwa gaji pokokku sebesar 100 rupee sebulan. Jumlah ini akan ditambahkan pendapatan yang diperoleh dari para wanita yang membayar untuk wawancara pribadi. Prinsipnya ialah jika mereka membayar maka mereka bebas mengutarakan apa yang akan dikatakannya. Saya mendapat 20% dari jumlah itu. Ini merupakan sistim yang lebih menguntungkan mereka dibanding dengan bagianku, tapi saya tidak punya kekuatan untuk tawar menawar.

“Anda bukan beragama Islam,” katanya. Lebih terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan. “Saya beragama Kristen,” jawabku, lalu menunggu cukup lama rasanya dengan berdebar selama ia merenungkannya.

Akhirnya sambil memasukkan pena ke kantung jasnya ia bangkit dari kursinya dan berkata, “Baiklah, bukan masalah besar. Anda kelihatannya terpelajar seperti yang anda katakan dan tidak takut berhadapan dengan orang lain.” Ia membawa saya ke kantor penerbit dimana diperkenalkannya saya dengan tiga wartawan, seorang juru potret dan seorang penata tulisan. Saya diberi meja sendiri. Ada sebuah ruangan ketiga, tempat kami makan siang – diberi cuma-cuma. Yang bertugas disini ialah seorang ‘charpase’ atau pesuruh yang mengerjakan beberapa pekerjaan kasar, mengirim/menerima surat-surat, tugas-tugas pesuruh lainnya, mengambil makanan siang dan menyiapkan minuman.

Besok pagi saya tiba untuk bekerja pada jam yang ditentukan dan menghadapi rekan-rekan sekerjaku. Saya satu-satunya wanita diantara 7 pria, tapi jika saya sudah takut lebih dahulu maka ketakutan itu tidak beralasan – mereka semua sangat menghormatiku dengan sebutan ‘Ba-ji’ (saudara perempuan). Dalam waktu 4 hari saya berusaha mempelajari segala sesuatu sedapat-dapatnya termasuk 10 pertanyaan yang disodorkan. Saya bertekad untuk sukses.

Saya segera mengetahui bahwa berita-berita digodok di ruang berita, diperiksa penerbit sebelum diserahkan kepada penata tulisan untuk mengatur cetakannya ke dalam bahasa Urdu di atas lembar-lebar kertas yang lebar. Lalu penerbit akan memeriksa hasil kerja tersebut guna meyakinkan bahwa tidak ada kesalahan sebelum masuk ke percetakan. Salah satu tugasku ialah membantu bapak penerbit memeriksa hasil kerja si penata huruf sebelum dikirimkan ke percetakan. Kadang-kadang saya harus menemani si pesuruh ke kantor pos untuk membawa atau mengambil bungkusan-bungkusan. Apabila kiriman-kiriman majalah yang baru dicetak diterima maka saya bertugas melipat dan membubuhkan alamat-alamatnya. Saya menjadi terbiasa dengan label-label dan perekat serta merasa senang mempelajari tugas-tugasku yang baru ini sambil menunggu dengan perasaan was-was untuk melaksanakan wawancaraku yang pertama kali.

Jadwalnya ialah mewawancarai seorang istri bekas Menteri Luar Negeri yang telah berhenti dari tugas pemerintahan karena ada kesulitan pribadi dengan Perdana Mentri Bhutto. Hal ini berarti bahwa pertanyaan yang kuajukan haruslah sedemikian agar sedapat mungkin tidak mengganggu nyonya itu – namun sipenerbit meyakinkan padaku bahwa nyonya itu mungkin malah akan merasa senang bila diajukan pertanyaan yang sulit. Seperti biasanya, beliau benar.

Nyonya itu menerimaku dengan sangat ramah diruang duduk pribadinya dan mempersilahkanku duduk. Saya teringat akan pertemuanku dengan nyonya yang sopan dulu namun akhirya menjebloskan saya ke penjara. Saya mengakui bahwa sekarang saya merasa puas dapat menjadi salah seorang anggota mass-media yang mempunyai kemampuan lebih besar dibandingkan dengan di waktu-waktu lampau.

Kini saya menjadi seorang penyelidik. Kuajukan 10 pertayaanku satu demi satu. “Kenapa suami ibu berhenti? Apakah ibu senang atas keputusan yang diambil beliau? Dimana ibu mendapat pendidikan?” Dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaanku tidak terlalu tajam namun dengan mengajukannya kepada seorang wanita oleh wanita lain serta hasilnya akan dibaca oleh beribu-ribu wanita lain di seluruh negeri telah memberikan pertanda adanya perubahan-perubahan yang sedang terjadi dalam masyarakat pada waktu itu.

Altaf si juru potret menemani saya bersama yang lain pada wawancara itu. Jadi saya merasa yakin akan adanya perlindungan dan ia pun sangat gembira dapat bertemu dengan para wanita. Setengah dari masyarakatnya masih tersembunyi dari pandangan dan diperlukan sebagai milik pribadi oleh separuh bagian lainnya.

Suatu pemikiran moderen yang merayap masuk perlu menjalani perjalanan panjang untuk mengimbangi tradisi yang masih memisahkan pria dan wanita dalam satu bentuk genggaman yang kuat, baik dikalangan orang kaya dan terpelajar demikian pula di kalangan miskin dan awam. Dalam hal-hal lain Astaf juga berfaedah. Sesekali nyonya itu memakai bahasa Inggris waktu menjelaskan tentang kehidupannya. Ini membuat saya kikuk sebab oleh larangan kuno ayahku maka saya tidak dapat berbicara dalam bahasa ini merupakan ciri-ciri dari tingkat masyarakat dan pendidikan yang telah diterima maka saya memerlukannya. Tapi dengan pelan kawanku menterjemahkannya bagiku. Ia juga memikirkan mengenai pertanyaan lain untuk diajukan, bila pikiranku masih menerawang. Ketika semua pertayaan selesai diajukan, nyonya itu bertanya tentang diriku, “Sampai dimana pendidikanmu?” “Cukup untuk mewawancarai nyonya,” jawabku.

Beliau tertawa, “Jarang kita dapat bertemu dengan seorang wanita yang benar-benar terpelajar,” katanya.

Ketika diterbitkan ternyata tulisanku telah dikoreksi dengan baik oleh penerbit. Namaku ditulis Gulshan di bawah judulnya. Beliau tidak menambahkan namaku yang kedua “Esther”. Nyonya itu membayar 700 rupee dan saya menerima 140 dari jumlah itu. Saya menyerahkan 100 kepada John Emmanuel dan menyimpan yang 40. Pada mulanya tuan dan nyonya rumahku tidak mau menerima uangku tapi saya memaksanya. “Kami sangat berbahagia atas pertolongan Elohim bagimu,” kata mereka.

Ya, saya pun merasa bahagia juga. Untuk pertama kalinya dalam hidupku saya berhasil memperoleh gajiku sendiri dengan memanfaatkan pendidikan yang kuterima. Tanpa terasa, ingatan kemarahan dari wajah kakak-kakak lelakiku mulai menghilang ke latar belakang.

Pada kesempatan lain saya mewawancarai seorang Kepala Sekolah wanita SMA gadis-gadis di Lahore. Saya merasa gugup sebelum kesana karena takut membuat kekeliruan dengan pertanyaan-pertayaanku di depan wanita yang pandai, memiliki wibawa laksana sebuah ‘burka’ layaknya, namun si juru potret Altaf menguatkan hatiku, “Katakan padanya bahwa anda menginginkan beliau menjelaskan tentang segala sesuatu sehingga dapat dimengerti para pembaca. Lalu dengarlah baik-baik dan catat semuanya. Jangan takut mengajukan pertanyaan sederhana – kebanyakan pembaca anda tidak mau kalau anda bertindak terlalu pintar.”

Nasihat ini baik sekali. Saya duduk di sana dengan penuh kesederhanaan dan mendengarkan kuliah Kepala Sekolah itu tentang perbedaan antara sekolah swasta dan sekolah pemerintah. Keuntungan menyolok yang kuperoleh dari cara padang Kepala sekolah itu kelihatannya ialah beliau merasa dapat bertindak lebih bebas-dibawah pemilik sebelumnya beliau terlalu didikte dalam banyak hal sehingga biaya pendidikan sangat meningkat. Satu aspek yang merugikan sekarang ialah fasilitas yang tersedia makin sedikit. Sebagai tambahan atas informasi ini saya menulis tentang ruangan itu, kondisi sekolah di mana kami diajak mengadakan peninjauan dan melihat pemunculan gadis-gadis yang bersekolah disana.

Si juru potret sangat menyenangi wawancara ini karena ia diminta memotret banyak obyek termasuk para gadis di sana. Mereka tampil dengan cantiknya dalam ‘Shalwar kameeze’ nya yang putih dengan ‘dopatta’nya berwarna biru, inilah pakaian seragam mereka dan kupikir bahwa pengalaman ini sangat menarik karena gadis-gadis itu sering cekikikan sambil menutup mulutnya dengan ‘dopatta’nya.

Penerbit mengomentari tulisanku dengan “lumayan”. Beliau bukanlah orang yang mudah merasa puas. Tiga hari kemudian saya kembali kesana sesudah tulisanku dicetak untuk mengambil sisa pembayaran yang belum dilunaskan ke majalah kami – pewawancara selalu mendapatkan uang panjar sebelumnya. Saya menemui kepala sekolah yang kini memandangku dengan rasa ingin tahu sebab rupanya ia dapat mengetahui sedikit tentang kisahku yang diceritrakan oleh salah seorang stafnya yang beragama Kristen. “Kenapa anda pindah agama? Dapatkah saya membantu agar anda kembali ke iman Islam-mu?” kata kepala sekolah itu. Jadi di depan stafnya saya berceritra sedikit tentang hal ini.

“Anda bersikap hati-hati dan imanmu teguh” katanya. Kekuatiran-kekuatiraku mulai hilang sebab tidak ada kesulitan yang timbul terhadap apa yang kutulis. Lama kelamaan saya merasa bahwa pekerjaan menjadi lebih mudah dan mulai terbiasa melihat namaku dicetak menyertai tulisn-tulisanku. Suatu perasaan aneh timbul bila kupikirkan bahwa tulisanku dibaca di seluruh Pakistan dan mungkin memberikan aspirasi bagi para wanita muda sambil menunjukkan bahwa salah seorang kawan sejenisnya dapat berbuat sesuatu. Dan bagi saya yang menjadi contohnya, memiliki cara pemikiran dan ambisi yang menjurus ke arah yang berbeda sama sekali yaitu untuk melayani Tuhan [Elohim] dan melakukan kehendakNya. Jadi, mengapa saya di sini, bekerja di majalah ini – suatu pengalaman yang lain sama sekali dari apa yang telah terjadi sebelumnya. Jalan pengabdian ibadahku telah membawaku ke sini, tetapi untuk alasan apa? Hal ini adalah suatu teka-teki silang dan biasanya saya tidak terpengaruh oleh teka-teki ini dan hidup seadanya dari hari-kehari menelusuri 2 bagian terpisah dari hidupku, yang di luar dan di dalam, kehidupan bekerja dan kehidupan berdoa.

Namun, rekan-rekanku wartawan lainnya menyadari bahwa saya berbeda dengan mereka. Setelah kira-kira 2 minggu mereka dapat mengetahui bahwa saya beragama Kristen, walau pun tidak diketahuinya bahwa sebelumnya saya memeluk agama Islam. Mereka menggodaku tentang kepercayaan ini – anda percaya pada tiga Elohim, katanya sambil tertawa. Seharusnya saya mencoba menjelaskan bahwa tidaklah demikian, hanya ada satu Elohim dengan tiga manifestasinya – Bapa, Yeshua Ha Mashiah Anak Elohim dan bukan hanya seorang nabi saja serta Rohulkudus yang diturunkan pada hari Pentakosta untuk memenuhi orang-orang percaya dengan kehidupan Ha Mashiah, mengajar dan menyucikan mereka. Tapi sejak kanak-kanak, mereka telah diajar dan ditanamkan untuk berpikir bahwa agama Kristen telah merendahkan kemurnian yang percaya bahwa Elohim itu Tuhan [Elohim] Yang Maha Esa, jadi sekarang bagaimana saya dapat merubah jalan pikiran mereka ini?

Selama ini kuperhatikan bahwa tidak ada seorang pun di kantor itu yang melakukan sembahyang Azhar (sianghari) dan saya sangsikan sampai berapa dalam iman mereka terhadap kepercayaannya. Ruangan-ruangan kantor itu dibagi oleh papan-papan tripleks tebal dan si penerbit biasanya menghentikan godaan-godaan itu seraya masuk keruangan kami menyuruh kawan-kawanku diam dan berkata, “Jangan menggodanya. Ia hanya satu-satunya wanita dan anda tidak boleh berlaku kasar padanya.”

Pada suatu hari saya sedang menuruni anak tangga, jam 4 sore dalam perjalanan pulang ketika pemilik toko permen di sebelah kantor kami, bapak Jusuf menyapaku. “Assalam alaikum (kiranya damai turun atasmu),” katanya. Saya berhenti dan menunggu sampai beliau dekat “wa laikum salaam (kiranya damai serupa juga turun atas anda),” sahutku.

Katanya, “Nyonya, saya telah memperhatikanmu lewat selama ini dan kupikir anda tentulah seorang terpelajar untuk dapat bekerja di majalah itu. Saya sedang mencari seorang guru bagi ketiga anakku dan saya berpikir apakah kiranya anda menaruh minat untuk mengajar hal ini dan membicarakan tentang biaya untuk memberi pelajaran-pelajaran itu.”

Saya ragu-ragu. Gaji yang kuterima di majalah itu tidaklah besar, karena saya hanya bertugas sekali atau dua kali sebulan, tidak sama dengan rekan-rekanku pria yang berdinas luar setiap waktu malah sampai ke luar Lahore. Saya memasuki rumahnya bersamanya dan diperkenalkan dengan istri serta ketiga anaknya dan kami langsung dapat saling menyukai satu sama lain lalu menetapkan tentang urusan mengajar tersebut. Saya akan mengajar bahasa Urdu, matematika, agama Islam, sejarah dan Ilmu Bumi kepada anak-anak itu diluar jam sekolahnya dua jam sehari dari jam 4 sampai 6 sore. Saya meminta upahnya 150 rupee per bulan dengan makan malam tiap hari. Saya tidak akan datang pada hari Minggu. Pengaturan baru ini membawa akibat. Saya harus berpisah dengan kawan-kawanku yang baik hati di Medina Colony, sebab hari akan malam sebelum saya tiba dirumah dan bagi seorang wanita tidak aman berjalan sendirian di waktu malam hari. Ada banyak pencopet dan dan penculik dikota ini – kini saya menjadi cukup mengerti dengan sisi kehidupan jahat ini sejak pengalamanku di penjara tempoh hari. Jadi saya tiggal bersama Bapak & Nyonya Neelam. Alamatnya : Jalan Warris, dekat gereja tak jauh dari Old Anarkali. Saya mengenal Bapak Neelam waktu bekerja di “Sunrise” ketika beliau menjadi guru musik di sana.

Sampai bulan Desember saya sudah menulis 8 atau 9 ceritera semuanya dari ‘Gulshan’ atau kadang-kadang pelapor wanita kami dan saya merasa bahwa si penerbit senang dengan hasil-kerjaku,. Pada minggu kedua bulan itu saya dipanggil ke kantornya. “Anda telah melaksanakan pekerjaan lebih baik dari yang kuduga,” katanya. “Saya ingin memepertahankan anda di sini, namun ada satu hal yang perlu dibereskan jika saya mengambil tindakan tersebut – anda harus kembali ke iman Islam-mu.”

Saya duduk menjadi kaku seperti batu layaknya. Ia melanjutkan, “Sekarang ceriteranya kuketahui kenapa anda beragama Kristen. Namun, dengar baik-baik, jika kakak-kakakmu tidak membantumu, saya akan membantumu – hanya lepaskan kekristenanmu. Tidak, dengarkan anda dapat tinggal di rumahku. Anda akan menjadi pimpinan para wartawan. Saya akan mencari wartawati lain dan pendapatan yang akan anda terima seluruhnya perbulan berjumlah 1000 rupee.”

Karena desakan perasaan waktu menerima kenyataan ini saya bangkit setelah memahami tujuan pembicaraannya. Orang ini berhubungan dengan Alim Shah – mungkin mereka berkawan, pergi ke klub yang sama. Rupanya beliau telah lama tahu tentang diriku dan dengan sabar menunggu kesempatan baik ini. Hal ini merupakan ulangan ceritera lama yang sama.“Tunjukkan padanya betapa besar cinta-kasih satu sama lain di kalangan kita maka mungkin ia akan kembali lagi karena ia memerlukannya, daripada bekerja untuk dapat hidup dan tinggal menumpang dengan orang lain.” Dan saya, karena merasa begitu senang dengan kemajuan-kemajuan penulisanku telah gagal memperhitungkan kenapa orang ini telah menerima seseorang seperti saya yang belum berpengalaman? Dan kapankah mereka dapat diyakinkan bahwa saya tidak mau kembali lagi? Saya mengeluh.

“Janganlah bapak berpikir bahwa saya tidak merasa berterima kasih atas tawaran bapak. Saya sangat ingin bila dapat terus bekerja disini namun saya harus mengutarakan bahwa saya tidak dapat melepaskan kekristenannku. Yeshua adalah kehidupan bagiku. Apa yang saya dapatkan di dalam Dia, tidak dapat diberikan oleh agama lain.”

Beberapa waktu kemudian, di hari yang sama, istrinya masuk menemui saya dalam perjalanannya ke toko di Old Anarkali – menurut hematku adalah merupakan usaha terakhir untuk merubah pikiranku. Beliau memanggil saya masuk kantor suaminya ketika bapak penerbit sedang sibuk membaca hasil cetakan diruang wartawan.

“Anda cukup pandai” katanya. “Kenapa anda beragama Kristen?”

Pengungkapan ini menyedihkan hatiku. Bagi yang berfaham Islam fanatik dianggapnya yang beragama diluar Islam itu bodoh karena mempercayai suatu dusta.

Saya memahami bahwa wanita ini tidak memiliki penghayatan dan pendalaman rohani dan saya merasa tidak perlu untuk mengungkit-ungkit mengenai hal ini lagi. Dengan lembut saya menjawab, “Ibu tidak akan dapat mengerti terhadap tahapan yang telah saya capai sekarang. Elohim begitu nyata bagi saya.”

Beliau memandang dan wajahnya kelihatan tegang. Nyonya itu berlalu tanpa berkata sepatah kata lagi. Pada akhir jam kerja, bapak penerbit memberikan padaku sebuah amplop berisi uang sebesar 125 rupee di dalamnya. “Maafkan saya” katanya. “Namun anda tidak dapat meneruskan bekerja di sini lagi. Istriku dan saya sendiri memohon maaf dan menyesal karena anda harus pergi. Kami akan tetap mengingat anda.”

“Saya pun memohon maaf dan merasa sayang, namun Elohim akan memberikan pekerjaan lain bagiku,” kataku dengan tegap, namun dalam hatiku sebenarnya jauh dari berani.

Bapak penerbit itu kelihatan jelas bergumul dengan perasaan kemanusiaannya karena sewaktu saya berjalan menuju pintu beliau berkata, “Jika anda merasa melarat saya akan membantu, namun masalah iman ini tetap ada.”

“Jangan kuatir,” jawabku. “Elohim akan menolongku. Sebelum saya mencari pertolongan pada manusia, terlebih dahulu saya akan mencari pertolongan pada Elohim.”

Dan saya meninggalan kantornya. Para wartawan yang lain tidak senang atas kepergianku. “Anda telah begitu lama bersama kami dan sekarang anda pergi hanya karena masalah agama yang sepele itu. Oke, Nabi Isa itu telah menyembuhkan engkau – kenapa anda tidak membayarkan sejumlah uang saja dan dengan begitu persoalannya beres?”

“Dia jauh lebih berarti bagiku daripada sekedar hal yang demikian itu,” jawabku dan saya berjabatan tangan dengan mereka. Kemudian saya pergi dan menuruni tangga dengan perasaan dingin, kepalaku pusing disebabkan oleh guncangan pengusiran ini, tepat pada waktu saya baru mulai merasa aman dari serangan-serangan yang khusus seperti ini. Setibanya diluar saya bersandar ke dinding untuk menenangkan diriku. Tentunya ada satu alasan mengapa saya mejalani semua pengalaman yang menggoncangkan ini. Di dalam hatiku saya berseru kepada Bapakku di Surga dan Dia langsung memberikan jawaban dengan kata-kata yang menghiburkan. “Makin bertambah harimu berlalu maka kekuatanmu pun makin bertumbuh. Bukankah Aku telah memberi perintah kepadamu?” Saya tidak menyadari bahwa di hadapanku telah terbentang Tanah Perjanjianku yang Istimewa dan bahwa saya sedang dipersiapkan untuk masuk kedalamnya.

Bersambung ke Bg. 8 – Bab 14 Bersaksi

Gulshan Esther (Fatimah); Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2 ;Bg. 3 ; Bg. 4 ; Bg. 5 ; Bg.6 ; Bg. 7 ; Bg. 8

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja