Yuce Kabakci, Muslim Izmir Turki belajar sejarah agama, menemukan Yeshua yang sesungguhnya

7 Gereja Mula-mula di Asia Minor, Turki

Saya dilahirkan di Izmir, sebuah kota yang dikenal sebagai Smirna dalam Kitab Wahyu. Saya dilahirkan dalam sebuah keluarga Muslim tradisional Turki. Meskipun mereka mengidentifikasi diri sebagai Muslim, mereka selalu jauh dari apa seharusnya seorang Muslim ada. Jadi, saya kehilangan semua pendidikan formal agama karena mereka agak takut jika saya menjadi seorang fanatik, yang mereka tidak setuju sama sekali.

Sebagian besar pendidikan agama Islam saya datang dari nenekku yang saleh melalui hidup dan doanya. Dia akan selalu membuat saya berdoa sebelum tidur. Saya berdoa beberapa doa bahasa Arab tetapi tidak tahu sama sekali maksudkan. Namun doa-doa itu membuat saya merasa aman dan puas sebagai ana kecil, mengetahui bahwa Allah mengawasiku ketika aku tidur. Ketika aku tumbuh dewasa, saya menjadi lebih akrab dengan Islam dan cara hidup orang-orang Muslim menjalani iman mereka. Setiap tahun, kami akan mengorbankan seekor domba bagi Allah sebagai bagian dari tradisi kami tapi aku tidak pernah tahu apa makan pengorbanan itu baik bagi Dia maupun bagi kami. Namun sebagai anak kecil, saya biasanya akan menangisi domba itu, yang dibunuh tanpa alasan.

Ketika saya mulai Sekolah Menengah Atas, saya bertembuh menjadi suka membaca. Bergaul dengan teman-temanku dan melakukan hal-hal yang sia-sia dan agak tidak bermoral tidak tampak sangat menarik bagiku. Yuce bercerita bagaimana awalnya ia kagum dengan buku-buku filosofi kehidupan dari para pemikir Yunani, seperti Baruch Spinoza: “Etika”. Immanuel Kant: “Sebuah Kritik dari Alasan yang Murni” dan Renee Descartes: “Wacana pada Metode.” Ia semakin bingung, menyimpulkan: “Ada sebagai agamawan nampaknya semakin tidak mungkin setiap hari.” Dengan pikiran demikian saya masuk bangku kuliah di sebuah kota kecil di Turki.

[Mahasiswa yang haus mencari makna kehidupan]
Aku secara konsisten sedang mencoba untuk menerapkan pandangan yang telah saya pelajari dari Hegel, Spinoza, Kant dan Descartes. Tetapi tidak berhasil… Semakin saya berusaha untuk hidup berdasarkan prinsip-prinsip mereka, kehidupan yang nampaknya semakin tidak bermakna. Setelah membaca karya-karya mereka sekali lagi, saya mulai melihat ketidakkonsistenan dalam pandangan dunia mereka. Jadi sebagai jalan terakhir, aku menoleh kembali untuk agama, khususnya Islam. Itu mengisi ruang kosong dalam hatiku. Saya tidak pernah melewatkan waktu shalat. Saya mencoba untuk melakukan segala sesuatu yang saya lihat dalam Kuran. Tetapi masih ada sebuah masalah, bagaimana saya bisa bebas dari dosa-dosa saya? Saya telah berdoa, berpuasa dan melakukan semua yang aku bisa untuk bebas dari dosa-dosa tersebut, mencoba berhenti dari jalan-jalan jahat tersebut, tetap tidak ada jaminan bahwa saya akan pergi ke Sorga.

Saya tidak pernah melewatkan waktu shalat. Saya mencoba untuk melakukan segala sesuatu yang saya lihat dalam Kuran. Tetapi masih ada sebuah masalah, bagaimana saya bisa bebas dari dosa-dosa saya?

Saat membaca Kuran, saya sering kali menemukan nama-nama seperti, Daud, Abraham, Yeshua dan Musa. Kuran berbicara tentang mereka dengan rasa hormat yang sangat tinggi dan merujuk kepada mereka sebagai nabi-nabi yang tidak berdosa. Saya pikir mungkin aku harus membaca Alkitab. Tapi aku tidak tahu bagaimana untuk bisa ke sana. Saya mencarinya pada setiap toko buku, tapi aku tidak bisa menemukan sebuah Alkitab. Kemudian aku menyerah pada hal itu dan memutuskan untuk berlanjut ke Kuran.

Suatu malam, aku mendapatkan mimpi yang sangat aneh, yang saya ingat hari berikutnya seolah-olah itu benar-benar terjadi. Dalam mimpiku aku melihat sebuah kuburan dan perlahan-lahan seseorang mendorong saya ke arah kubur tersebut dan aku melihat seorang pria terbungkus dalam kain linen putih, berbaring di dalam kubur. Dan tiba-tiba ia bangun dan berjalan menjauh dari saya. Kemudian saya melihat tiga perempuan, bergegas ke kuburan itu. Secepat mereka melihat ke dalam itu, mereka mulai berteriak, “Dia tidak ada di sini, Dia tidak ada di sini, Dia tidak ada di sini, Adonai (Tuhan) tidak di sini.” Saya lalu terbangun, anehnya saya ingat setiap detail mimpi itu namun tidak mengerti sama sekali.

Tiga bulan setelah kejadian ini, ketika saya sedang membaca koran saya melihat sebuah penawaran Alkitab gratis. Aku segera menelpon mereka dan meminta Alkitab. Mereka mengirim saya sebuah. Saya melakukan semua ritual pembersihan badan sebelum menyentuhnya. Saya membuka Injil Matius dan mulai membacanya sampai pasal 27. Untuk pertama kalinya, saya membaca tentang penyaliban Yeshua. Sebagai seorang Muslim, saya telah diajarkan bahwa Dia diangkat ke surga sebelum dia disalibkan tetapi Yudas Iskariot telah disalibkan ganti Yeshua. Setelah aku membalik beberapa halaman, saya melihat sesuatu menyebabkan Alkitab tersebut menyelinap ketanganku: Dia dibangkitkan. Dia adalah dalam pakaian linen dan dia kembali hidup. Kata-kata Malaikat, “Dia tidak ada di sini” bergema dalam pikiran saya. Segera saya teringat mimpiku dan menjadi sangat takut, saya jatuh berlutut dan mulai berdoa; “Tolong Allah janganlah menguji saya seperti ini, jangan buat saya menjadi seorang Kristen. Saya ingin menjadi seorang Muslim yang setia, bukan seorang Kristen.”

Setelah pengalaman ini, saya tidak berani menyentuh Alkitab lagi. Setelah beberapa minggu, saudariku, yang tinggal di IL, menelepon saya dan meminta saya untuk menyelesaikan studi saya di Turki secepat mungkin sehingga saya bisa mulai gelar MBA di Universitas Chicago. Saya sangat senang mendengarnya dan sekarang memiliki Alkitab, saya pikir ini akan menjadi kesempatan yang baik untuk memurtadkan orang-orang Kristen Amerika yang “telah tertipu” ke dalam Islam. Tapi aku tidak tahu bahwa saya sedang dalam perjalanan ke Damaskus dan segera melihat kemuliaan Kristus yag tak tertahankan ditampilkan.

Dengan motivasi ini, ia mulai membaca Alkitab lagi, dari awal sampai halaman akhir! Namun semakin ia membacanya semakin ia mengerti bedanya keyakinan Kristen dengan keagamaan dan ibadah buatan manusia belaka.

“Kitab ini sungguh memiliki pesan yang berbeda dengan kitabku, Kuran,” saya berkata. Jadi saya pergi ke Departemen agama Islam kampusku, bertanya pada para professor tentang perbedaan besar baik cerita maupun pewahyuan kedua kitab tersebut. Yang mereka jawab sebagai “Alkitab telah dipalsukan.”

“Apa bukti sejarah yang mendasari teori kalian?” saya bertanya. Mereka tidak bisa memberi bukti yang masuk akal. Saya sungguh kecewa sebab mereka adalah harapan terakhir saya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Ayat-ayat Alkitab, perumpamaan-perumpamaan Yeshua bersuara dalam telingaku kemanapa pun saya pergi dan saya juga tidak mampu belajar untuk ujianku dan mendengarkan kuliah-kuliah di kampus. Jadi saya putuskan untuk memecahkan masalah ini. Saya habiskan seluruh waktuku di berbagai perpustakaan, mencoba mencari sejumlah dokumen sejarah yang akurat dari sejarah Alkitab.

Membaca buku Josephus, Tacitus dan sejarawan-sejarawan Romawi dan Yahudi telah membuat saya hampir tidak mungkin menyangkal kebenaran Alkitab. Sejarah mendukung Alkitab. Tapi keyakinan utama saya tidak datang dari mereka.

Yuce berkata, sebagai orang Muslim, meskipun ia sadar bahwa isi Alkitab benar, namun mengakui Yeshua Ha Mashiah sebagai Elohimnya adalah sebuah penghujatan terhadap Elohim itu sendiri. Sampai akhirnya ia membaca Injil Yohanes:

Yeshua berkata kepada mereka, “Sesungguh-sungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum Abraham ada, Aku ada!” (before Abraham was, I AM) (Yoh 8:28)

[Yuce menutup kesaksiannya bagaimana akhirnya ia menjadi pengikut Yeshua Ha Mashiah]
Ini adalah cerita Dia (His-story). Sebuah cerita yang membuktikan kuasa kehendak-Nya. Tidak ada orang-orang Kristen, tidak ada gedung-gedung Gereja, tidak ada toko-toko buku Kristen di sekeliling. Dia menetapkan bahwa saya akanlah ada diselamatkan dan Dia telah datang menyelamatkanku dalam kamarku yang kecil. Ini bukan ceritaku, itu adalah cerita-Nya (HIS-story). Saya telah berkehendak memurtadkan orang Kristen, namun pada kamarku yang kecil Dia merubahku dan merubah arah seluruh kehidupanku. Jadi, saya mohon anda bergabung dengan saya mengatakan ayat-ayat ini dengan pujian dan ucapan syukur:

AKU MAU MERAHMATI SIAPA YANG MAU AKUR RAHMATI, DAN AKU MAU BER BELAS KASIHAN SIAPA YANG MAU AKU BELAS KASIHANI.” Jadi kemudian, bukan karena seseorang yang berkehendak atau pun yang berusaha, tetapi karena Elohim yang merahmati. (Roma 9:15-16; KS-ILT)

Teks diambil dan  diringkas dari sini: “The Testimony of Yuce Kabakci,
Another Prodigal Son”

Baca lebih lanjut

“Saya tidak akan pernah jadi seorang Kristen!” Sekarang jutaan jiwa diberkati oleh musiknya.

Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. (Mazmur 139:14)

Itulah sumpah Austin French, putra dari seorang pendeta, pada masa kanak-kanaknya yang kecewa pada ayahnya sendiri. Bahkan orang tuanya bercerai. Namun tangan kasih Bapa Sorgawi tidak membiarkan ia terhilang, di sebuah kamp remaja, ia mengalami sendiri pentingnya Adonai Yeshua. Sekarang pemuda yang masih tergolong muda ini telah membawa jutaan jiwa kepada kasih dan kuasa Elohim YAHWEH.

Austin French – Freedom Hymn (Official Lyric Video); telah ditonton hampir 6 juta kali.

[Kepalsuan hidup hamba Adonai menghancurkan iman putranya]
Penyanyi Austin French sekarang sedang dalam perjalanan misinya melalui musik yang menyangkau hati dan jiwa para peminatnya. Austin, 24 tahun bersaksi perjalanan rohaninya yang luar biasa dari seorang bocah skeptik anak pendeta menjadi pemusik Kristen yang pupuler.

“Sebagai seorang anak usia 8 tahun, saya ingat saat menulis pada buku harian saya, ‘Saya tidak akan pernah jadi seorang Kristen,'” ia bercerita di The Billy Hallowell Podcast. “Dan saya sungguh membenci Gereja – saya benci orang-orang Kristen, saya tidak ingin ada termasuk dengan itu.”

Penyanyi ini menjelaskan apa yang terjadi pada masa kanak-kanaknya tersebut, mengapa ia sampai bersumpah seperti itu.
”Saya ingat orang-orang datang kepada kami dan berkata, ‘Keluarga kalian adalah keluarga yang paling sangat berohani dari semua keluarga yang pernah kami temui,” Austin mulai bercerita. “Tetapi di rumah itu terasa seperti Perang Dunia ke-III, dan topeng tercabut, pelanggaran terjadi. (Semua tertib rohani) itu adalah di dasarkan pada ketakutan, bukan oleh kasih dan saya sungguh ingat ketika saat itu menulis di buku harian, ‘Jika seorang Kristen adalah seperti ini, saya tidak ingin ada sebagai seorang Kristen.’”

Austin kecil yang masih polos ini sungguh terganggu dengan dualisme kehidupan orang tuanya – di Gereja dan di rumah berbeda jauh, lebih parah lagi, kedua orang tuanya bercerai, dan Gereja dimana mereka biasa mellayani kemudian menolak keluarganya, menjadikan dia merasa terasing dan kecewa dengan Kristianiti. “Yeshua melukai orang-orang,” demikian ia berpikir saat itu.

[Austin menemukan Mashiah yang sesungguhnya]
Mazmur Daud: Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya. Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku. Jika aku berkata: “Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam,” maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang. (Maz 139:6-12)

Setelah orang tuanya bercerai. Austin hidup ikut ibunya. Ibunya kemudian mendapatkan pekerjaan di sebuah Gereja yang berjemaat sedikit. Ibunya mengirim ia ke sebuah kamp musik Kristen.

“Seorang pemuda bangkit dan naik ke podium,” Austin bercerita kejadian di kamp tersebut. Pemuda Kamp tersebut berkata, “Hai, saya ingin berbicara tentang kemunafikan. Saya akan menceritakan kalian semua bahwa banyak orang yang mengikuti Yeshua dengan lidah mereka dan mereka berbicara sebuah permainan yang luar biasa hebat, tetapi sesungguhnya mereka tidak pernah mengikuti Yeshua dengan kehidupan mereka.” Wau, sangat menarik di dengar! Si pengkotbah muda ini menandaskan, “Itu bukanlah seorang Kristen – ada sebagai seorang Kristen adalah memberikan seluruh hidupmu kepada Yeshua. Itu nampak seperti Yeshua, sebab kalian menghabiskan waktu bersama Yeshua.'” (Baca 1 Yoh 5-7)

Pengkotbah ini lanjut berkata bahwa orang-orang yang hancur hatinya melukai orang-orang lain, tetapi Yeshua “telah mati untuk menyembuhkan orang-orang yang hancur.” Itulah hari dimana Austin menyadari bahwa dia telah memiliki pemikiran yang salah selama ini. Lalu ia menerima Yeshua di acara kamp tersebut.

“Itu adalah hari dimana saya telah memberikan kehidupanku kepada Yeshua dan menyadari bahwa saya telah diselamatkan oleh bilur-bilur-Nya. Saya bukan dibenarkan oleh perbuatan sendiri.”

Dan inilah yang sering terjadi, saat Anda lahir baru, biasanya saat itu juga Anda mengetahui panggilan Anda. Pada hari yang sama, Austin menyadari bahwa ia ingin membuat “musik bagi orang-orang yang hancur” – itulah yang sekarang ia lakukan dengan album pertamanya yang berjudul Wide Open.

Austin French saat ini telah menikah dan memiliki dua anak pria. membagi hidupnya antara keluarga dan karir musiknya

Sumber tulisan: He Vowed ‘I Will Never Be a Christian.’ Now, His Music Is Inspiring Millions (CBN.Com; 15/10/2018)

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

 

 

 

Dua pria Kristen diadili di Algeria atas tuduhan istri meng-Injili

Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Adonai (Kolose 3:18)

Pihak famili dari isteri memaksa istrinya membuat surat keluhan, suaminya berkata

Rachid Ouali Ali Larchi, dari kiri ke kanan, Sadek Najib Pembela Hukum mereka

Rachid dan Ali (dari kiri ke kanan)

TIZI-OUzou, Algeria. Kedua orang Kristen ini menghadapi pengadilan setelah istri dari satu bapa tersebut menuduh mereka menganjukan dirinya meninggalkan Islam, suami dari isteri tersebut berkata.

Rachid Ouali dan teman prianya, Ali Larchi (67 tahun), telah menghadap hakim di Bouira, sekitar 100 kilometer dari timur laut Algeria (9 Oktober), setelah isteri Ouali menulis surat keluhan bulan Juli, menuduh keduanya membawa dia ke sebuah ibadah Gereja dan menganjurkan ia untuk meninggalkan Islam, Ouali bercerita kepada Morning Star News.

Dia dan Larchi menolak tuduhan-tuduhan tersebut, yang kemudian isteri Ouali berkata kepada suaminya bahwa ia melakukan itu dibawah tekanan dari sejumlah pihak familinya.

Penduduk Lekser, 30 kilometer timur laut dari Bouira, dimana Ouali dan isterinya saat itu sedang makan siang di rumah Larchi pada akhir Juni. Larchi dan isterinya dan kelima anak mereka adalah keluarga yang telah dikenal umum di wilayah tersebut sebagai keluarga Kristen yang biasa menerima tamu-tamu dari segala berbagai keyakinan. Profinsi Bouira ini memang telah ada sejumlah besar orang-orang Kristen dari latar belakang Islam.

Awal tuduhan. Sementara kedua keluarga ini menikmati makanan mereka, Ouali dan Larchi saling bercerita tentang kesetian Ha Mashiah dalam kehidupan mereka, Ouali bercerita. Menyebut nama Yeshua dan bereaksi dengan berkata ”Haleluyah!” adalah umum.

Ketika mendengarkan percakapan ini, isteri Ouali tiba-tiba melompat berdiri dan menjerit-jerit dengan marah kepada suaminya, “Kamu membawa saya ke sini untuk memurtadkan saya dan meninggalkan agama saya. Kamu membuat jebakan bagi saya,” Ouali bercerita kejadian silam tersebut. “Dia tidak berhenti meninggikan suaranya membuat dirinya sendiri di dengar orang luar,” suaminya menambahkan.

Isterinya meninggalkan rumah Larchi pergi ke rumah dari sanak familinya yang terdekat, dimana ia menceritakan kejadian tersebut kepada para keponakannya, termasuk dua saudara laki-lakinya yang adalah polisi, pihak family memaksa ia pergi ke Kantor Polisi untuk mengisi surat keluhan menentang suaminya dan temannya.

Pada tuduhan tersebut isterinya menyatakan bahwa suaminya dan Ali Larchi membawa ia ke ibadah Gereja dan mencoba mendorong ia untuk meninggalkan Islam dan menjadi seorang Kristen. Hukum Algeria pasal 03/2006, memaksakan seorang Muslim keluar dari Islam bisa mendapat hukuman dua sampai lima tahun perjara dan denda 500 ribu sampai 1 juta dinnar (4,3 – 8,7 dollar Amerika). Morning Star News menulis.

Kemudian hari isterinya mengakui kepada Ouali, suaminya, ”Saya tidak mau melakukan itu; itu adalah kedua saudara lelaki saya yang memaksa saya melakukan hal itu.” Sehari sebelum Selasa hari pengadilan, isterinya menepon suaminya dan berkata, ”Saya terjepit di antara sanak famili dan suami saya. Saya tidak tahu harus berbuat apa.”

Para pemimpin Kristen berkata hukum pasal 03/2006 tidaklah sah, mengutip kostitusi Algeria Artikel 42 dimana Negara menjamin kebebasan beragama, berpendapat dan beribadah.

Islam adalah negara agama di Algeria, dimana 99% penduduknya dari 40 juta Muslim. Namun sejak tahun 2000, ribuan Muslim Algeria telah menaruh iman mereka kepada Ha Mashiah. Pemerintah setempat memperkirakan jumlah Kristen ada sekitar 50 ribu orang, namun sumber lain berkata itu dapat ada dua kali lipat dari pernyataan pemerintah.

Baca lebih lanjut

The Roberto Vaca’s journey from Roman Catholicism to Yeshua Ha Mashiah

Roberto Vaca with His wife and kids

Roberto with his families (pic: Union Mission.org)

Roberto Vaca is a Mexican man. 90% of Mexico population is Roman Catholics that, he said “they need to know the true Yeshua dan they need know the Elohim of the Bible.” He asked us to pray for them. I got permission from Roberto to publish his testimony at my blog. Same editing has been done in this article, to make the story flows better and necessary.

[Introduction] Greetings from Union School of Theology in Wales. We are very thankful with you church for giving us the opportunity to be here.

Well my name is Roberto; l am married and have 2 children. l have been living in Wales for 6 years, now l am doing a BA in Theology in Union, which is a miracle because I had been praying for this opportunity since Elohim saved me, 17 years ago.

When I talk about how Elohim reached me I always remember these verses in 1 Corinthians 1:26-3O that say,

26 Brothers, think about your own calling. Not many of you were wise by human standards, not many were powerful, not many were of noble birth. 27 But God chose what is nonsense in the world to make the wise feel ashamed. God chose what is weak in the world to make the strong feel ashamed. 28 And God chose what is insignificant in the world, what is despised, what is nothing, in order to destroy what is something, 29 so that no one may boast in God’s presence. 30 It is because of God that you are in union with the Messiah Jesus, who for us has become wisdom from God, as well as our righteousness, sanctification, and redemption. (1 Corinthians 1:26-30, ISV)

I can see my life in these verses and I can see Elohim being patient, generous and merciful to me always.

[His background and how he got save] My father died when I was 11 so since that time my mother was just focused on bringing money to our house, she was not looking after us most of the time so since I was 11 I started to take my own decisions. Therefore, when Elohim met me it was a turning point in my life.

Well, since I stepped into the church I realized that there was something different, the atmosphere was different, and people were carrying Bibles, which was so different from the Catholic Church because Catholics just follow what the priest is saying and that’s it.

So, I liked the reformed church and I started to go and started to read my Bible. I realized that many of the traditions in the catholic church were against the Word of Elohim, such as idols, images, Mary as mediator, etc. While I was in the Catholic Church I never understood what the meaning of Jesus was at the cross, nor salvation by faith alone”

ln the reformed church Elohim opened my eyes I started to understand the true gospel. Elohim changed my entire life; I can divide my life as before Jesus and after Jesus. Elohim made amazing changes in my life, from the way I thought, to the change in my behavior.

All my family saw that big change in my life, my behavior was much better, and all my priorities changed completely. Because of that big change in my life, all my family started to go to the reformed church, which was an amazing miracle.

[Left the Mexico for Wales, United Kingdom] When I was 32, I got married in Mexico, I met my wife there, she is Welsh lady and we lived in Mexico for 2 years.

ln some places in Mexico we have difficult problems with security. There is a war between drug cartels and sometimes we can hear gunshots from our house. So, when my wife got pregnant, she started to be quite worried about this issue of insecurity and once she was robbed, which made it worse. She became very anxious and worried, she only wanted to come back to wales and I understood that.

So, we decided to come to Wales, and to be honest I didn’t want to come, despite all the insecurity issues I was very happy in Mexico, but in the end, we moved to Wales.

We moved to Wales 7 years ago and I can say that the first 5 years have been the most difficult and challenging time in my life. Because when I came here, I had to learn another language, which actually l am still learning every day, I had no job, was not even allowed to work at the beginning because my first visa was a tourist visa only.

I had no friends, no family, very different weather and very different food. I had only my wife to speak with because she is fluent in Spanish, and in the place where we lived there was not many people able to speak Spanish.

At that time, I was praying to the Lord, “why am I here Elohim?” l was feeling useless! I could not do anything, could not share the Gospel, neither did work. I have had no church and even if I had a church I couldn’t have understand the sermons, because of the language barrier.

After those 6 months I went back to Mexico because I had to apply for another visa. While I was waiting for this new visa, I was praying to the Lord, “Please Lord, don’t grant me that visa, I don’t want to come back to Wales.” I was thinking if I didn’t get the visa, we would must live in Mexico because there is no other option.

Elohim had another plan, I received this new visa which allowed me to live and work in the UK, so I came back to Wales, against my will.

ln my first 3 years I was praying every night to Elohim saying please Lord take us back to Mexico, it was so difficult to be there, sad, depressed from time to time, I wanted to serve the Lord there, but even more impossible than in Mexico. I didn’t understand why the Lord brought me there, to a place where I couldn’t serve Him.

At some point, I thought, maybe it is not for me to serve the Lord full time, perhaps Elohim wasn’t wanting me to do that. So, I stopped praying (what I had done for 15 years) to be used, then I started to get involve in a church – but not full-time ministries.

I have seen the hand of Elohim helping me- many, many times in my life, but at that times I felt Elohim kept silent.

[Elohim shown up] And now just one year ago, Elohim changed our lives completely in two weeks period.

I had been working at night shifts for 5 years, one day I started feeling bad, my body was very weak. I did not to work for two weeks. I went to see doctors. They told me that I was ok but needed to change my life style.

So, I met my boss saying sorry to him that I wasn’t able to work at night times anymore. The Company was kind to me and offered me another position which was at day times. It was good, but I knew that I needed a total change.

The Elders of my church visited my house to pray for me. And while we were praying they told me why I didn’t go to college to study theology and focus on my calling from Elohim.

(Now, Roberto stopped talking, he was crying, tears were dropping from his face. then wiping his face before continuing his testimony)

When they said that my heart gave a big jump, I felt fire in my inner being. I was all that I had been praying for – 15 years long. I thought that Elohim had forgotten my prayer, but now Elohim gives me this privilege to serve Him. Things are in His control, even when it seems that no one is controlling.

Roberto gave some verses of Scripture to us to read: 1 Peter 1:6-7 and 4:12 and Romans 8:28-29.

Baca lebih lanjut

Brother Rashid, putra keluarga Ustadz Maroko menjadi Penginjil Yeshua di Dunia Arab

Penginjil Yeshua Ha Mashiah Brother Rashid ex-Muslim Maroko

Rashid, penginjil Maroko, Al-Hayat

Perjalanan iman Brother Rashid (Rachid) ke Kristianiti ini disadur ulang dari video kesaksiannya (tersedia di bawah) agar enak dibaca dan mudah diingat (singkat, padat dan jelas dan sesuai tahapan cara bersaksi: kehidupan sebelum menjadi Kristen, bagaimana awal mula mendengar Injil dan proses benih Injil bertumbuh dalam jiwa orang tersebut, tantangan sebelum dan sesudah menjadi Kristen, dan ditutup dengan bagaimana kehidupan orang tersebut setelah menjadi Kristen).

[Latar belakang kehidupan Brother Rashid; diperkenalkan pada Injil yang salah]

Nama saya Rashid, berasal dari Maroko. Aku dibesarkan di keluarga Muslim yang sangat kolot dan konservatif. Ayahku adalah seorang imam, dan sampai sekarang masih bekerja sebagai imam di Mesjid. Dan kakekku juga adalah seorang imam, begitu juga dengan pamanku. Jadi keluarga kami adalah keluarga yang sangat taat dalam beribadah dalam Islam. Aku belajar menghafal setiap pelafalan doa-doa dan semua ibadah sholat sejak usia 4 tahun. Seperti anak Muslim lainnya, akupun menghormati Islam. Sejak usia 6 tahun aku telah hafal 1/6 isi Quran. Aku juga mencintai ayahku dan aku diharapkan akan menggantikan kesuksesannya, tapi aku tidak mewujudkan keinginan mereka sebab Elohim berkehendak lain.

Ayahku, keluargaku, masyarakatku, semuanya mendorong kami melihat budaya Barat sebagai budaya Kristen. Sebagai Muslim, kami biasa melihat negara-negara Barat – seperti Perancis dan Amerika Serika – sebagai wakil dari agama Kristen. Apapun film atau berita dari barat Amerika yang mereka lihat di televisi, dianggap sebagai wujud dari agama Kristen. Dahulu sewaktu aku baru belajar Injil, aku mengira Kristianiti itu mengajarkan umatnya untuk mabuk-mabukan minum anggur, seks bebas, bermain wanita seperti yang kami pikirkan mereka melakukan itu karena kami pikir semua itu ada di dalam Injil dan kami lihat di berbagai film Barat, jadi kami berfikir begitulah Kristianiti.

[Pertemuan pertama Brother Rashid dengan Injil, beriman dan penginjilan pertamanya]

Suatu hari aku mendengar tentang Yeshua Ha Mashiah dari sebuah siaran Radio dan aku mulai surat menyurat selama 4 tahun yang akhirnya membawaku menerima Yeshua ke dalam hidupku. Aku meninggalkan Islam dan memeluk Kristianiti di tahun 1990, setelah 19 tahun menjadi seorang Muslim di Maroko. Sejak itu saya hidup secara rahasia sebagai orang yang percaya kepada Ha Mashiah sampai tahun 2005.

Aku melakukan banyak kegiatan yang berhubungan dengan orang-orang dari komunitas Alkitab, seperti menyebarkan Alkitab di Maroko, dan juga menterjemahkan Kuran ke dalam bahasa daerah Maroko.

[Brother Rashid hari ini, pola pikir Muslim,  Menginjili Dunia Arab melalui Media]

Selama 32 tahun aku hidup di Maroko. Sebagai Muslim, dan sebagian besar muslim dunia lainnya, kami melihat Islam sebagai perlawanan terhadap Kristen dan Yahudi. Umat muslim tidak pernah melihat (masalah perang, konflik bersenjata) sebagai pertentangan antar negara, antar perbedaan politik, tetapi sebagai perang melawan Islam. Begitulah pandangan umat Muslim terhadap dunia Barat. Begitulah kacamata kami dalam menilai masalah dunia. [Islam sesungguhnya adalah politik di dalam agama dan agama di dalam politik; ibadah dan hukum Islam menjadi satu-kesatuan. Ini sama sekali berbeda dengan Kristianiti]

Di dunia Islam, umat Muslim tidak mempunyai kebebasan beragama, mereka bahkan tidak punya kebebasan untuk berpikir. Umat Islam dilarang untuk mempertanyakan Islam, Muslim tidak berani bertanya tentang Muhammad dan Kuran, karena sikap seperti ini bisa dianggap sebagai melawan. Oleh sebab itu, kami mencoba mengajak umat Muslim untuk berani bertanya (Daring Questions) dalam menilai Islam

Media adalah alat penting Rashid dalam penginjilan.  Setiap kali aku duduk berhadapan dengan kamera, aku membayangkan sedang berbicara dengan ayahku, ibuku, saudara laki dan perempuanku. Dan ketika aku berdoa untuk mereka dan memikirkannya, dan berpikir tentang diriku, jika aku dulu tidak punya kesempatan untuk mendengarkan Yeshua Ha Mashiah dari radio, mungkin aku tidak di sini saat ini, mungkin aku sudah menjadi teroris yang mem-bom diriku sendiri, karena aku menyukai Allah dan ingin menyenangkan hati Allah.

Sekarang aku bekerja di bidang media. Dan aku membuat film untuk orang-orang Timur Tengah dan Afrika, dan mencoba menerangkan kepada mereka perbedaan antara Kristen dan Islam. Sampai sekarang kami telah membuat lebih dari 77 buah film live, setiap episode berdurasi 1.5 jam, juga 55 buah film rekaman, dan semuanya memperbandingkan antara Islam dan Kristen. Programnya bisa dilihat di sini: Al-Hayat.org

Sepuluh tahun yang lalu, kita tidak pernah mendengar adanya Islam murtad. Tetapi sekarang kita mendengar ribuan, bahkan jutaan Muslim murtad di Mesir. Sekarang terdapat lebih dari dua juta Muslim murtad dan memeluk Kristen disana.

Doa dan Harapan brother Rashid: Berkaitan dengan tuaian yang sangat besar ini, ia mengajak Gereja-gereja dimanapun membantu umat Kristen lokal di Maroko, Yordania, Saudi Arabia dan Kuwait dan berbagai negara Arab lainnya di dalam usaha mereka menyadarkan saudara-saudari Muslim mereka di negara mereka masing-masing. Proyek besar ini akan bisa diselesaikan secara gotong-royong.

Anak Ustadz Maroko tobat ikut Tuhan Yesus | Brother Rachid

Baca lebih lanjut

Penginjil Afsar Ahmed, perjalanan rohani Muslim Pakistan Inggris menjadi Kristen

Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yohanes 13:34-35)

Afsar Ahmed kesaksian ex-Muslim bertemu Yeshua HaMashiah

Perjalanan Afsar Ahmed berjumpa Yeshua

Saya lahir dan dibesarkan di Inggris. Ibuku adalah seorang Inggris Kristen, ayahku adalah dari Pakistan, seorang Muslim. Ketika mereka telah menikah ayahku memaksa ibuku menjadi seorang Muslim; menanggapi ini ibuku berdoa bahwa salah satu putranya akan menjadi seorang Kristen – karenanya saya selalu mulai kesaksianku dari sini karena saya benar-benar percaya bahwa Elohim menjawab doa tersebut. Ketika tumbuh dewasa ayahku selalu memastikan dia membawa kami keluar dari sekolah dasar terutama hari-hari Paskah dan Natal, sebab dia tidak ingin kami mendengarkan pesan-pesan yang terhubungan dengan peristiwa-peristiwa tersebut.

 

Di sekolah menengah pertama saya membuat sebuah salib saat kelas praktek logam, saya cak warna perak dan simpan itu pada saputanganku, jika Anda bertanya padaku mengapa aku melakukan ini? Saya pun tidak tahu mengapa saya melakukannya. Koleksi Kristianiti lainnya yang saya pernah miliki adalah sebuah Alkitab Perjanjian Baru terbitan The Gideon Internasional, yang diberikan pada kami murid-murid dari sekolah. Saya tidak membacanya, hanya mengukir sebuah salib di depannya dan saya menyimpan itu di kamar tidurku. Beberapa tahun kemudian itu menjadi masalah; orang tuaku ingin berimigrasi ke Kanada dan ayahku memeriksa barang-barangku yang dapat saya bawa serta, dan ia menjumpai Salib dan Alkitab kecil tersebut.

Ia menjadi sangat marah dan saya melihat ketakutan di matanya dan saya bertanya-tanya mengapa. Jadi ia bertanya pada ku dariman saya mendapatkan Pernjanian Baru tersebut. Saya katakan mereka (guru-guru sekolah) memberikannya kepada kami. Ia menyuruh ku membuang itu. Saya katakan tidak, saya akan bawa itu serta ke Kanada; ia sungguh marah. Saya melihat ada banyak ketakutan di matanya … Itu ironis. Karena ketakutan dan kemarahannya itu telah menjadi pemicu pencarianku akan Kristianiti.

Ketika kami tiba di sini (Kanada), saya mulai bertemu dengan orang-orang Kristen. Di Inggris saya mendapat masalah, di sini pertama kali dalam hidupku saya menatap ke langit kepada Elohim, minta kepada Nya melepaskan ku dari masalah; saya terlepas, saya berterima kasih pada Dia, saya mulai menyebutkan Doa Bapa Kami sebagaimana guru-guru telah mengajar kami di sekolah.

Ketika saya berumur 15 tahun di tahun 1970, pada saat orang-orang Kristen memakai peneng/lencana Kristen di baju mereka – tujuannya adalah membuat orang lain bertanya pada mereka, maka mereka akan membagikan berita Injil.

Mereka berkata bahwa saya dapat memiliki hubungan pribadi dengan Elohim melalui Yeshua. Ketika mendengar itu saya terkejut, sebab sebagai seorang Muslim saya selalu berpikir bahwa Elohim adalah unik dan jauh. Dia tidak memiliki rekan kerja, tidak memiliki pasangan-pasangan. Saya menolak ide tersebut, karena saya tidak percaya seseorang bisa memiliki hubungan pribadi dengan dengan Elohim

Saya dan saudara laki-lakiku mengajukan program belajar pertanian yang disponsori pemerintah, kami diterima bersamaan dengan 40 orang lainnya. Singkat cerita. Program ini memiliki kunjungan ke ladang pertanian pada akhir minggu, bagian dari sebuah program Musim Panas, dimana kami tinggal di ladang pertanian. Pada program akhir minggu inilah saya bertemu seorang gadis muda yang sangat berapi-api , ia sungguh-sungguh berapi-api bagi Adonai. Ia membagikan Injil kepada ku, saya katakan “Maaf, saya tidak percaya itu.” Namun ia tetap melakukannya sepanjang pelajaran. Pada suatu titik saya katakan “Kita tidaklah akan bisa belajar banyak dari pelajaran-pelajaran ini!” Tetapi dia tidak perduli, terus saja membagikan Injil kepadaku.

Akhirnya gadis muda ini berkata kepadaku,

“Saya akan membuktikan pada mu bahwa Elohimku adalah Elohim yang nyata.

“Bagaimana kamu melakukan ini?” saya tertarik dengan apa yang ia katakan

“Ok, saya akan mendemontrasikan pada mu jawaban doa berdasarkan hubungan pribadiku dengan Elohim.”

“Doa apa itu? Saya bertanya

“Saya akan berdoa bahwa kamu akan pergi ke sebuah pertanian dimana mereka semua adalah orang Kristen lahir-baru” dan ia menambahkan, “dan … dimana kamu akan mendapatkan Injil mengalir masuk ke tenggorakanmu pada bulan penuh.”

“Allah tidak akan menjawab doa tersebut” saya berkata dengan marah, “Kita tidak memerintahkan Allah melakukan sesuatu, sebalinya, Dia yang memerintahkan kita apa yang kita lakukan!”

“Saya percaya, Elohim akan menjawab doa tersebut,” gadis ini berkata dengan yakin

Kami berargumentasi sepanjang jalan sampai kami meninggalkan seminar tersebut.

Tibalah harinya untuk murid-murid tinggal diperkebunan dimana mereka ditempatkan.

Tiba di rumah, saya mengepak barang ke koper, ayahku mengantarku tiba di perkebunan dimana saya akan tinggal sementara waktu. Saya mendekati pintu dan mengetuk pintu rumah seorang bapa kurus tinggi orang Belanda Kanada bernama Jerry. Dia baru saja hendak memperkenalkan dirinya saat saya melihat di belakangnya; saya pikir itu adalah lukisan Yeshua, sebab pria pada gambar tersebut ada lingkaran cahaya pada kepalanya, jadi saya berkata ke pada bapa ini,

“Tunggu. Apakah itu lukisan Yeshua yang ada dibelakangmu?” saya bertanya

“Ya!” bapa ini menjawab. Jantungku berdebar sedikit lebih cepat.

“Apakah Anda seorang Kristen penuh cahaya atau sejenisnya?”

“Saya adalah seorang Kristen lahir-baru”

“Anda punya keluarga?”

Saya memiliki istri dan tiga anak perempuan.”

Apakah isteri Anda lahir-baru?”

“Ya”

Putri nomor satu Anda?”

Dia adalah seorang Kristen lahir-baru.”

Putri nomor dua?

Dia adalah seorang Kristen lahir-baru” dan melanjutkan, “putri …”

Saya potong perkataannya, “Janganlah katakan pada saya putri nomor tiga adalah seorang Kristen lahir-baru!”

“Kami adalah orang-orang Kristen lahir-baru dalam rumah ini,” bapa ini berkata.

Afsar tidak percaya apa yang baru saja ia dengar dan terkagum-kagum dengan kuasa doa gadis kristen tersebut.

“Saya merasa kewalahan, sulit untuk menjelaskan bagaimana perasaanku, perasaan saya dipenuhi kekaguman, saya tertunduk kalah; pada saat yang bersamaan saya tidak dapat mengerti bagaiman gadis usia 16 tahun ini dapat berdoa kepada Elohim dan Elohim menjawab sebuah doa. Saya belum pernah mendengar itu sebelumnya di dalam Islam.”

Hal ini berakibat membuka hatiku pada apa yang Jerry perlu bagikan pesan yang ia miliki. Pesan yang ia telah percayai, Pesan yang ia telah hidupi. Saya pikir lewat kursus Musim Panas tersebut, ia telah memenangkan saya atas dua hal.

Pertama dari semuanya, kasihnya. Ia memiliki kasih yang saya belum pernah lihat sebelumnya dalam Islam. Ia lembut, sabar dan pemaaf … kasih Adonai bersinar melalui hatinya … melalui matanya … melalui pembicaraannya … melalui sifatnya. Itu sungguh indah. Jujurnya, saya bisa katakan, ia seorang yang menyenangkan, sungguh orang yang menyenangkan. Ia masih hidup, saya baru berjumpa dia minggu lalu. Ia tinggal di Danville.

Seorang pria (lainnya) bernama Gerald Bruce Emma, saya menganggap dia sebagai bapa rohani saya dalam iman. Ia memenangkan diriku dalam konsistennya. Ia menjalankan apa yang ia kotbahkan. … seperti Yakobus katakan, “jadilah pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja.”[Yakobus 1:22]

Berdoalah untuk Afsar Ahmad dan keluarganya. Ayahnya masih Muslim, tinggal di Amerika Serikat. Ibunya masih memiliki iman Kristen. Saudara kembarnya masih Muslim. Doakan juga pelayanan Afsar menjangkau orang-orang Muslim di Inggris dan dua Gereja yang ia terlibat.

Diterjemahkan dari InternationalTestimony Blogspot “This is why Muslim became Christian Minister”

Video kesaksian Afsar ini dengan text bahasa Indonesianya tersedia di sini:

Baca lebih lanjut

Jalan unik pasangan Muslim Kuwait menjadi Penginjil Yeshua

Namun, berapa banyak orang yang telah menerima Dia, kepada mereka Dia telah memberikan otoritas untuk menjadi anak-anak Elohim, yaitu mereka yang percaya dalam Nama-Nya; Injil Yohanes 1:12

Adel dan Layla Masoud Kuwait Kristen

Adel dan Layla Masoud dari Kuwait

Adel dan Layla Masoud adalah suami-isteri orang Arab Kuwait yang sangat menikmati kehidupan mewah pada masa lalunya, sebagaimana warga-warga Kuwait pada umumnya. Sebagai seorang ayah yang masih muda, Adel pernah memiliki sebuah perusahaan khusus menjual mobil-mobil mewah. Kemakmuran duniawi adalah gaya hidup, kebersamaan dalam keluarga dan sanak famili demikianlah urutan kehidupan di Kuwait.

Diler mobil Ferrari menjadi miskin. Kehidupan keluarga Masoud tiba-tiba berubah ketika Presiden Irak Sadam Hussein  menyerang Kuwait pada bulan Agustus 1990. Negara-negara kualisi pimpinan Amerika Serikat datang menyelamatkan Kuwait, pertama-tama dengan serangan udara, lalu peperangan darat dan kemudian menduduki Kuwait di bulan Febuari 1991.

 

Keluarga ini terpaksa harus berimigrasi ke Yordania. “Kami pergi dengan tangan yang sungguh kosong. Kami berpindah dari kaya menjadi miskin. Saat itu kami memiliki empat anak-anak yang masih kecil, yang termuda hanyalah baru setengah tahun umurnya.”

Adel mulai tertarik akan Elohim yang hidup di negara pembuangannya. Sebagai pengungsi-pengungsi ilegal, anak-anak tidaklah harus pergi ke sekolah pemerintah, jadi mereka menaruh anak-anak mereka ke sekolah yang tersedia; sekolah Kristen.

“Pada pertemuan sekolah, kami mendengar bahwa Yeshua adalah Putra Elohim. Kami kagum, orang-orang yang baru kami kenal ini nampak menyenangkan, namun kami sedih bahwa mereka tidak bisa masuk ke Sorga [pemikiran Muslim Arab tentang orang Kristen], jadi kami memutuskan untuk memurtadkan mereka.” Namun kebalikannya yang terjadi.

Mujizat-mujizat besar terjadi atas Keluarga Masoud di Yordania.  Pertama datang kepada kepala keluarga: Adel.
Secara terus-menerus mujizat terjadi kepada diriku. Suatu kali saya memerlukan 50 Dinar untuk sewa. Saya pergi dengan perasaan putus asa ke seorang teman untuk meminjam uang. Teman ini teryata juga tidak memiliki uang. Ia mengeser kursi ke depan bangunan, saya mendapatkan sebuah perasaan untuk melihat benda apa yang ada di bawah kursi yang baru dipindahkan tersebut, itu ternyata sebuah Salib dari kayu. Saya mengambilnya dan berpikir: “Yeshua, jika Engkau Elohim tolonglah saya, maka saya akan memberi hidupku kepada Mu.”

Pada hati yang sama tersebut, segera teman saya menganjurkan untuk kami berkunjung ke tetangganya. Di rumah temannya, tetangga dari teman saya ini memberikan saya satu bundel uang berisi seratus Dinar (pada saat itu nilainya setara dengan satu bulan gaji di Yordan; kira-kira 140 USD saat ini)!

Mujizat-mujizat yang ia alami dan penelitan Alkitab meyakinkan Adel bahwa Yeshua adalah Elohim. Layla, isterinya, menjadi marah ketika ia tahu Adel telah menjadikan Yeshua Adonainya (Tuhannya).

“Aku marah, saya berteriak, ‘Kamu sudah dicuci otak’” Namun Adel tidak bereaksi, tidak juga menaikkan suaranya, hanya pergi ke luar.

“Pemisahan kamar tidur terjadi, saya melarang ia berada di sisiku dan melarang menyentuh anak-anak kami. Saya menekan dia dengan keras untuk kembali ke Islam. Saya pun tidak setuju ia berdoa dengan bersuara kepada Yeshua. Itu merupakan waktu-waktu yang sulit” Layla bercerita mengingat masa lalunya

Doa Layla dan Jawaban Elohim melalui Mimpi. Layla sangat terganggu pikirannya. Di satu sisi, ia bertanya-tanya apakah semua negara-negara Muslim dan sanak famili adalah salah dan sia-siakah mereka telah belajar Kuran di luar kepala. Pada sisi lainnya, ia mengasihi suaminya dan keluarganya.

Adel memberi bantuan petunjuk kepada Layla yang sedang bimbang: “Berdoalah dari hatimu kepada Penciptamu – bukan kepada Elohim Islam atau pun Elohim Kristen”

Layla lalu berdoa dan memohon: “Tunjukkanlah kepada ku manakah dari keduanya yang adalah Jalan yang Benar.” (the Straight Path)

Baca: Menyingkap Kuran Al-Faatihah Surah 1:6-7 JALAN LURUSnya Allah

“Pada malam itu aku bermimpi. Saya sedang berpakaian hitam dan mati. Empat orang datang mengunjungi diriku. Mereka membawa saya ke penguburan. Di perjalanan menuju penguburan nampak dari kejauhan terdapat air yang bersih. Mereka bertanya kepada ku, ‘Layla, akankah kami celupkan kamu ke air?’ Lalu mereka menenggelamkan aku ke dalam kolam air dan ketika saya keluar dari air, saya tiba-tiba hidup kembali, bajuku menjadi berwarna putih, dan tanpa hijab (kerudung kepala untuk wanita Muslim), dan saya mengalami suatu damai dan suka cita yang belum pernah saya alami sebelumnya.

Baca: Baptisan Air atau Baptisan Selam

Paginya ketika saya terbangun dari mimpi tersebut saya masih merasakan sukacita tersebut. Saya pergi kepada Adel untuk bertanya apa arti dari mimpiku tersebut.

“Tanpa Yeshua, kita semua mati dan ada sebagai orang-orang berdosa seperti layaknya dibungkus dalam pakaian-pakaian berwarna gelap. Dalam Yeshua kita bersih. Lenyapnya hijab itu berarti kebebasan,” Adel menjawab.

“Saya tidak ingin bertengkar lebih lanjut, sebaliknya berkehendak dengan semangat untuk mendengar lebih banyak tentang iman Kristen. Dan ketika Adel menjelaskan lebih lanjut kepadaku tentang Adam dan Hawa, saya mengerti semua pesan cerita tersebut.   [Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, Elohim menyembelih binatang untuk kulitnya dipakai sebagai pembungkus tubuh mereka yang telanjang, lalu mengusir keduanya dair Taman. Yeshua adalah benih Hawa yang menghancurkan kuasa dosa atas manusia melalui korban darah-Nya sendiri dan menghancurkan kuasa kematian Setan setelah kebangkitan-Nya. Kejadian 3, Yesaya 53 dan Injil Yohanes 3:13-18]

Setelah ia memutuskan menjadi Kristen, ternyata Layla baru tahu bahwa anak-anaknya juga telah menjadikan Yeshua sebagai Adonai mereka. Adel dan Layla di depan gedung Yayasan Middle Eastern Friendship Center mereka

Sinkat cerita, keluarga pengungsi Kuwait ini mendapat ijin tinggal di Vancouver, Kanada. Di tempat barunya ini, mereka memulai Gereja mereka. Telah ada 44 anggota Jemaat dari latar belakang Muslim dan seorang bekas Atheis. Mereka memiliki sebuah yayasan kemanusian, bernama Middle Eastern Friendship Centre. Yayasan ini menolong para pengungsi Timur Tengah untuk hal-hal yang praktis: misalnya memberikan paket-paket makanan, peralatan rumah tangga untuk mereka yang baru mendapat tempat tinggal. Mereka juga membuat kegiatan-kegiatan dan bercerita tentang kasih Yeshua Ha Mashiah.
Menurut Wikipedia, Penduduk Kuwait berjumlah 4,2 juta orang (2016), 1,3 juta orang Kuwait dan 2,9 pendatang. 60% Arab, 37,8 % Asia dan 1,9 % Afrika. Orang Kuwait asli 75% Sunni dan 25% Syiah. Pendatang 85% Muslim dan sisanya Kristen dan Hindu.

Di bawah ini beberapa video tentang aktivitas Gereja-gereja di Kuwait:

  1. Kuwaiti Royal Prince, Abdullah al-Sabah, Declared “his Faith in Jesus Christ”
  2. Sharing the Light of Christ in Kuwait

Baca lebih lanjut

  • Kalender

    • November 2018
      M S S R K J S
      « Okt    
       123
      45678910
      11121314151617
      18192021222324
      252627282930  
  • Cari