Pakistan: Azra Bibi, Terbebas dari Perbudakan!

Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati; sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu. (2 Korintus 6:3, 9-10)

Diperbudak dan dilarang beribadah

Firman di atas sangatlah tepat untuk remaja putri berumur 20 tahun ini. Pakistan adalah satu dari beberapa negara Islam yang sangat keras menekan masyarakat Kristen. Kristen di Pakistan hanyalah 2%, mereka hidup di dalam kemiskinan yang sangat ekstrim oleh karena perlakuan pemerintah dan masyarakat Pakistan yang anti-kekristenan. [lihat video].

Sama seperti orang-orang Israel dijaman Musa ketika mereka tinggal di negara Mesir, sekitar 3400 tahun yang lalu (1400 Sebelum Masehi), dimana mereka diperbudak dengan keras, harus membuat batu bata untuk pembanguan gedung-gedung di Mesir, hal yang sama masih terjadi di negara Pakistan, bedanya hanyalah pelaku perbudakan di Pakistan ini adalah masyarakat dan pemimpin Islam dan bukan pemerintah.

Salah satu keluarga pembuat batu bata ini adalah keluarga Azra Bibi, ”Saya tidak bisa masuk sekolah. Saya membayangkan anak-anak lainnya pergi kesekolah. Saya rindu menjadi guru firman Elohim, tetapi penghasilan ibu saya hanyalah kurang dari dua Amerika dollar (2$ US) sehari. Ayah saya telah meninggal, semua penghasilan hanya untuk bisa hidup. Saya minta ibu saya untuk mengajari saya membuat batu bata. Saya berumur 7 tahun ketika pertama kali membuat batu bata. Bersama ibu saya, kami bisa membuat seratus batu bata perhari,” Azra Bibi bercerita mengingat masa kecilnya.

Pemilik pembuatan batu bata, Malik Saleem, tidak mengijinkan kami pergi kegereja, jadi ibu bilang bahwa kami pergi melihat keluarga. Tetangga kami sering kali mencoba memberika berbagai macam barang-barang asal kami bersedia pindah ke agama Islam. Ibu saya selalu menolak tawaran mereka dan berkata: ”Saya memiliki Yeshua di dalam hati saya. Saya tidak memelukan sesuatu diluar itu.”

Yahshua dihina dan ibu saya dibunuh dengan sadis

Pada suatu hari ibu berkata kepadaku: ”Azra, ambillah tepung dan kita pergi membuat roti” Di tempat pemanggangan roti milik umum ini kami bertermu dengan wanita tua Muslim yang bernama Mai Jana. Melihat kami dia langsung menjadi sangat marah dan berkata kepada kami: ”Kalian orang Kristen adalah anjing-anjing, ambil tepung kalian dan pergi dari sini. Nabi kalian adalah anjing Yahudi.” Ibu menjadi tersinggung dan menjawab: ”Kamu boleh berkata saya Kristen anjing, tetapi jangan pernah menamai Nabi kami dengan kata-kata seperti itu.”

Lalu ibu tua Mai ini berdiri dan mulai memukuli ibu. Wanita-wanita lainnya juga turut serta. Mereka memukuli ibu saya begitu buruknya sehingga darah mengalir keluar. Saya pun dipukuli oleh mereka juga. Lalu datanglah beberapa pria-pria Muslim, mereka membawa kami ke kantor dimana kami bekerja, yaitu tuan Malik Saleem. Ia begitu marah kepada kami, kami dimaki-maki lalu dikunci di sebuah kamar.

Di kamar itu kami berpelukan dan berseru: ”Oi Elohim, mengapa ini terjadi?” Ibu berkata sambil menangis: ” Oi  Elohim Yahshua adalah Putra-Mu.” Saya berdoa: ”Oi Yahshua, saya tidak tahan mendengar, apa yang ibu itu (Mai Jana) katakan tentang Engkau. Tolong dan lindungi kami.”

Pukul sepuluh malam, pemilik pabrik batu bata memanggil ibu saya, Muhammad Akram, pembantunya mengambil ibu dari kamar di mana kami terkunci. Saya berdoa kepada YAHWEH: ”Engkau adalah segala-galanya bagiku. Saya tidak punya bapa, saudara laki-laki ataupun perempuan. Lindungilah kami.”

Ibu tidak pernah balik lagi. Saya menangis dan berdoa sepanjang malam. Saya dikunci selama 10 hari. Teman ibu saya satu-satunya, Kershed Bibi, bekas Muslim, datang memberi saya makanan. Lalu ia bercerita berita yang sangat buruk. Ia berkata: ”Bagi saya kamu adalah seperti anak perempuan sendiri. Saya sungguh tidak tahu bagaimana mengatakan ini. Ibumu tidak lagi ada di bumi ini. Azra, janganlah menangis, berdoalah kepada Elohim.” Saya sungguh terkejut dan mulai menangis, ketika ia mulai bercerita kepadaku, apa yang telah terjadi. ”Pada malam itu, ketika Muhammad Akram membawa ibumu kepada pemilik pabrik batu-bata, mereka melakukan kekerasan dan pemukulan, lalu kemudian tubuhnya dipotong-potong. Mereka membakar mayatnya di kompor pembuatan batu-bara.” Saya menangis dan berdoa. Saya sendiri di dunia ini.

Saya dikunci disebuah kamar dan dipaksa menikah

Dua hari setelah itu, Muhammad Akram, yang mengambil dan membunuh ibu saya, membawa saya ketempat lain. Saya dikunci di rumah besar ini dimana ada penjaga bersenjata. Muhammad Akram  adalah pria tua berusia 70 tahun. Ia datang kekamar saya dan mulai berlaku tidak sopan terhadap saya. Saya menangis dan memohon kepadanya untuk berhenti, namun ia terus berbuat dan akhirnya memperkosa saya. Ketika ia pergi, saya berdoa: “Oi YAHWEH, sungguh baik jika Engkau panggil saya pulang kerumah: sedikitnya saya melihat Engkau. Tinggal bersama-Mu dan istirahat dengan damai. Yahshua, saya ingin datang kepada-Mu. Tolonglah, panggil saya pulang.” Saya ingin sekali mati.

Muhammad Akram sering datang kekamarku. Dia mencoba terus-menerus membuat saya murtad, berpindah ke Islam. Saya katakana kepadanya: “Elohimku adalah Elohim yang hidup. Bagaimana saya dapat meninggalkan Elohim yang hidup dan menerima agamamu?” Dia telah memutuskan untuk memaksa saya menikah dengannya. Ia telah berencana dengan pemimpin pabrik batu-bata hari pernikahanku: Jumat, 26 Mei 2006.

Elohim menjawab doaku

Saya berdoa pada suatu malam memohon dari Yahshuaku: ”Kirimlah malaikat kepadaku.” Tujuh bulan kemudian Elohim menjawab doaku. Saya mendengar bahwa orang mencari aku. Muhammad Akram ketakuan, memerintahkan kepada saya: “Bilang kepada orang-orang itu bahwa kamu sekarang Muslim dan kamu tidak ingin pergi bersama mereka.” Saya dibawa ke tempat pemiliki pabrik batu-batu. Di rumahnya terdapat beberapa orang lain juga, diantaranya ialah Pendeta. Mereka nampak seperti orang-orang yang berpengaruh. Singkat cerita, pada akhirnya pemilik pabrik ini bersedia melepaskan saya jika mereka bersedia membayar hutang saya, hampir 1100 US Dollar. [Inilah sistim perbudakan modern, semakin lama ia bekerja semakin hutangnya bertambah].

Esok harinya, 26 Mei, yang seharusnya adalah hari pernikahan-paksa-ku itu, pendeta itu datang dengan uang tebusan. Muhammad Akram sangat geram, ia memukuli dan menyakit pendeta tersebut, namun aku terbebas.

Saya menangis dihadapan Elohimku: ”Akhirnya aku sampai pada pembebasan. Saya bebas! Saya dapat pergi kemana saya suka.Oi Yahshua, terima kasih ku kepada Mu, Yahweh, Engkau telah mendengar doa-doaku.”

Azra juga sangat berterima kasih kepada Pelayanan Suara Martir dan semua orang yang telah memberikan bantuan keuangan untuk penebusan dirinya dan juga pertolongan moril dan material setelah pembebasannya. Ia juga mendapat mesin jahit untuk bermandiri.

Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini. (1 Korintus 4:11-13)

Diterjemahkan dari:

Majalah VOM edisi Febuari 2009

Bacaan yang berhubungan:

How Often Do You Deny Christ?

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s