Gulshan Fatima; Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 2

Ini adalah kesaksian Gulshan Fatima, puteri bungsu dari sebuah keluarga Islam Sayed yang merupakan keturunan langsung Nabi Muhammad melalui puterinya Fatima. Ia lumpuh sejak bayi.

Tulisan ini merupakan sebuah buku berjudul THE TORN VEIL atau KERUDUNG YANG TERKOYAK, diterbitkan oleh Marshal Paperblacks.

Gulstan Fatima; Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1

BAB 2. NAIK HAJI [kehidupan di Mekkah]
Pesawat terbang yang indah bentuknya, berwarna putih milik penerbangan Pakistan International Airline, bertengger laksana seekor burung diatas landasan lapangan terbang. Begitu saya diangkat ke atas tangga pesawat dengan kursi rodaku, saya merasakan adanya perasaan merdeka sewaktu meninggalkan Inggris. Kunjungan ini telah mencapai sesuatu yang mengakhiri ketidakpastian kami, Sekarang hanya tertinggal satu harapan saja lagi dan kami sedang ditarik menuju kesana dengan kecepatan tinggi. Dalam mimpiku, saya menggambarkan kota suci Mekkah laksana cahaya berlian yang bening, sebuah tempat yang belum saya kenal tetapi sangat terkenal ketempat mana umat Islam berkeinginan untuk mengunjunginya sekurang-kurangnya sekali seumur hidupnya.

Kami duduk di kelas satu dan seperti biasanva saya duduk diantara para pembantuku dimana Sema bertindak selaku penopang untuk bagian kiriku yang lemah sedangkan Salima siap untuk mengangkat dan memapah. Ayah mengambil tempat duduk pada jarak terpisah 2 tempat duduk didepan kami darimana beliau menjelaskan tentang tahapan pelaksanaan perjalanan kepadaku. Kita sekarang terbang pada ketinggian 30.000 kaki di udara katanya ketika pesawat berhenti menanjak. Saya melihat keluar jendela dan menarik natas. Kami berada pada suatu dunia yang penuh sinar matahan dan dibawah kami berterbangan awan putih laksana katun bergelembung seperti bahan kasur pengantin. Salima dan Sema juga memandang keluar dan mengeluarkan seruan-seruan kecil karena kagum. Lihatlah, betapa banyaknya besi yang berterbangan di udara ungkapnya kagum dalam bahasa campuran Punjab dan Urdu dengan menggunakan aksen daerahnya Jhang yang kentara. Secara sembunyi-sembunyi saya tersenyum. Mereka gadis desa dan bagi mereka banyak sekali hal yang telah terjadi. Tiba-tiba pesawat mulai terasa jatuh lalu naik lagi ke udara dan saya takut. Ayah menjelaskan bahwa kami membentur sebuah kantong udara. Jangan takut, segala sesuatu cukup aman, katanya. Ada jemaah-jemaah lain di pesawat itu, saya mengetahuinya karena seperti kami, mereka memiiki baju-baju ihram putih dalam tasnya yang harus dikenakan oleh setiap jemaah yang menunaikan ibadah haji.
Sekali, ayah pernah membawa saya menyaksikan film tentang naik haji. Film itu diperuntukkan bagi orang-orang beragama yang bermaksud pergi ke Mekkah selama bulan haji dan disitu diperlihatkan tentang semua adat istiadat dalam tata warna indah. Saya telah diajarkan tentang sejarah lahirnya agama kami digurun-gurun Arab. Pemandangan pada kejadian¬kejadian tersebut sama akrabnya bagiku dengan pengalaman yang saya cintai pada rumah dan pekarangan kami.

Pramugari berseragam hijau memakai tanda dopatta dibawah dagunya membawakan makanan namun saya hanya mencomotnya saja. Salima memandang kearah makanan yang hampir tidak disentuh itu seraya berkata dengan lembut: “Bib-Ji apakah anda tidak makan untuk menjaga kekuatanmu?” Saya menggeleng, saya tidak lapar. Pada kenyataannya saya merasa agak sakit yang sebagian penyebabnya ialah karena hempasan pesawat dan sebagian karena kegembiraan terhadap apa yang akan kuhadapi nanti. Saya tidak mengatakan apa-apa mengenai perasaanku yang sebenarnya kepadanya. Bagaimana saya dapat bertukar pikiran dengan seorang pelayan mengenai harapan dan ketakutan yang silih berganti selalu melintas dipikiranku seperti awan vang berkejar-kejaran di angkasa.

Di Abu Dhabi kami bertukar pesawat dan para jemaah dan berbagai tempat yang jauh bergabung dengan kami. Dengan penuh perhatian saya mempelajari adat-istiadat mereka sambil mengetahui darimana asalnya. Saya dapat mengidentifikasikan orang-orang dari Iran, Nigeria, Cina. Indonesia, Mesir, sebuah dunia yang rasanya bergerak menuju ke kota Mekkah.
Terdengar bunyi gemerisik di pengeras suara. Dalam 2 bahasa: Inggris dan Arab, pramugari memberitahukan bahwa kami sedang mendekati Jeddah dan bersiap-siap untuk mendarat. Sebuah tanda menyala. ‘Kita harus mengenakan sabuk pengaman,’ kata ayah. Kami melaksanakannya. Salima membantuku dan ayah meneliti apakah sudah dikerjakan dengan benar. Di luar jendela saya melihat padang gurun berwarna-warni karena mudah ditiup menjadi bentuk sabit oleh angin panas yang terik. Saya dapat melihat gunung-gunung di cakrawala bermil-mil jauhnya dan kemudian sebuah kota besar terbentang dibawah kami dengan bangunan-bangunan tinggi serta jalan besar yang banyak jumlahnya. Saya dapat melihat pepohonan dan halaman-halaman yang hijau. Ayah berkata, lihat apa yang dapat dilakukan oleh air terhadap gurun hanya dalam jangka waktu beberapa tahun sejak air disalurkan melalui pipa dari Wadi Fatima.

Saya mengangguk, dalam pelajaran-pelajaranku saya belajar bagaimana kekayaan minyak telah membawa begitu banyak perbaikan bagi suatu bangsa yang sebelumnya miskin dan terbelakang, tinggal di rumah-rumah tanah jika mereka petani atau bertenda Badui jika mereka pengembara dan semua ini terjadi tanpa turunnya hujan bertahun-tahun.

Pesawat menyentuh landasan dan di tapangan terbang kami dijemput sahabat lama ayahku si Sheikh dengan mobil Chevroletnya yang besar. Sheikh ini mempunyai 8 istri dan 18 anak yang tinggal di villanya yang besar. Semua ada 13 puteri dan 5 putera. Saya percaya anak-anaknya ada yang telah kawin dan belajar di luar negeri. Beliau memiliki sumur minyak sendiri yang menunjang tata cara hidupnya yang mewah. Disampingitu beliau seorang tuan tanah, memiliki hewan peliharaan unta, domba dan kambing.
Saya berkesempatan menyaksikan penyelenggaraan pekerjaan rumah tangga besar ini selama beberapa hari berikutnyasambil menikmati keramahtamahan keluarga Sheikh ini. Sheikh memperkenalkan saya dengan semua istrinya, Fattima, Yura, Rubbia. Rukia sampai yang terakhir. Saya tidak mempunyai favorit ujarnya, semua istriku sama. Saya mengerti kenapa beliau berkata demikian; sebab Al Qur’ an jelas-jelas mengatakan hahwa seorang pria boleh mengawini lebih dari satu istri tetapi ia harus memperlakukan semua istrinya seadil-adiinya. Nabi, tentu saja memiliki beberapa istri namun katanya orang-orang biasa menemui kesulitan besar untuk melaksanakan perintahnya tentang sikap kesamaan yang memperlakukan keadilan dan kejujuran. Namun, tentu saja poligami tidak dianjurkan dalam masyarakat kami, tapi di sini keiihatannya bertumbuh subur dan tiap orang merasa berpadanan satu terhadap yang lain.

Puteri paling besar dari rumah tangga tersebut yang saya taksir berusia 18 tahun diperkenalkan kepadaku oleh seorang penterjemah wanita, Bilquis. Mereka masuk ke kamar tamu wanita dimana saya bersama para pembantuku ditempatkan dan mereka menanyakan kepadaku mengenai Pakistan Apakah ada jalan-jalan? Kota-kota? Apa yang anda makan? Jenis sayuran apa saja yang anda tanam? Apakah ada sekolah bagi anak–anak perempuan ? Apakah anda memakai pakaian semacam itu sepanjang waktu? Saya mencoba menjawab sebaik mungkin dan mereka merasa gembira ketika berkata ingin ke Pakistan untuk menyaksikan semuanya itu. Sebaliknya saya bertanya tentang bagaimana kehidupan mereka disini. Apa yang dikerjakan disini? jawabannya rasanya sangat sedikit. Sheikh menempatkan para istrinya dan putrinya di rumah. Para puteri yang cukup berpendidikan kelihatannya sedikit sekali bekerja selain beraenang-senang sama sendirinya. Mereka melewatkan waktunya dengan kasak-kusuk nonton TV serta sedikit membaca dalam bahasa Inggris dan Arab. Namun kelihatannya mereka cukup bahagia karena setiap keinginanya terpenuhi. Jika mereka ingin berbelanja Bilquis pergi bersama mereka dan mengatur keuangannya, mereka memilih apa yang mereka inginkan. Bagi para istri Sheikh selain bergantian berbelanja atau berkunjung ke rumah sakit bersama Bilquis, diwaktu mana mereka menutupi tubuhnya dengan ‘burka’ berwarna hitam, baik yang panjang maupun jenis dari Turki terbelah di bahunya, maka tugas utama mereka kelihatannya ialah menyenangkan hati si Sheikh. Mereka duduk bersila diatas kasur kecil dengan mengenakan jubah kafta bersulam emas dan perak. Ada sofa disekeliling dinding ruangan berlantai marmer tersebut, namun mereka lebih senang duduk di lantai. Kadang-kadang mereka mengenakan pakaian barat vang rapih dan bagus, modenya dipesan dan lnggris atau Amerika dan memakai perhiasan yang mahal. Aroma udara penuh dengan parfum tebal yang disemprotkan oleh para pelayan. Di waktu malam hari sebelum tidur, saya sempat bertemu dengan ayah beberapa menit diruangan umum, berceritera dan saling memperbandingkan catatan.

Menurut ayah, Sheikh itu berusia 65 tahun namun kelihatannya awet muda karena kulitnya yang licin dan tidak keriput, tata caranya merupakan perpaduan antara cara kuno dan modern, terutama kesukaannya dalam kehidupan sosial bersama kawan-kawan prianya, mencari kesenangan hatinya drumah. baik dengan pesta mewah atau sederhana. Beliau senang merokok dan minum teh tua serta mendengarkan musik Arab yang disalurkan kesetiap ruangan sehingga semua dapat turut menikmati kesenangannya. Pola ini saya katakan merupakan ciri khas orang Arab. Semua fasilitas rumah itu haruslah dinikmati bersama oleh setiap orang, baik disukai ataupun tidak. Sebagaimana adanya saya tidak memahami musik Arab.

Waktu makan adalah saat yang menyenangkan. Seekor anak domba utuh dimasak dan dihidangkan bagi seluruh anggota rumah tangga, dibagi untuk ruang makan pria dan wanita. Orang-orang yang makan menanggalkan sepatunya sebelum menginjak permadani Persia yang berwarna-warni. Mereka makan sambil berbaring diatas kasur tebal yang ditempatkan mengelilingi sebuah lingkaran. Sebuah baki besar berisi nasi yang dirempah-rempahi serta anak domba yang sedang direbus ditempatkan ditengah-tengah dan disekelilingnya ditaruh penganan dari terong, selada, roti yang dipotong rata serta pudeng atau `halva’. Tiap orang makan memakai tangan kanannya, menggenggam nasi menjadi gumpalan lalu dimasukkan kedalam mulutnya seraya memecahkan potongan-potongan roti. Saya makan dikamarku, karena tidak dapat menyesuaikan diriku diantara kasur-kasur kecil kalau makan dibawah lirikan sebegitu banyak orang yang ingin tahu. Namun Sheikh berbaik hati mengijinkan saya melakukan apa yang saya senangi. Ruanganku sangat menyenangkan karena diberi permadani yang indah, beberapa tanaman hijau, jendela yang cantik, bahkan dipasangkan kaca besar dan ada kamar mandi kecil dikamar serta sebuah toilet yang dilengkapi dengan alat penguras modern. Orang-orang Arab sangat memperhatikan keramah-tamahan dan keadaan seperti ini telah berlangsung sejak suku-suku Arab berjuang mempertahankan hidupnya dan kekejaman gurun pasir dimana hidup matinya seseorang dapat bergantung pada belas kasihan orang Badui yang memberinya tempat untuk berteduh. Menurut cerita, pada masa lampau seorang Sheikh di padang gurun akan menjamu seorang tamu dan melayaninya selama tiga hari sebelum menanyakan nama atau pekerjaannya. Sheikh ini tetap mempertahankan adat¬istiadatnya dengan memperkenankan kami menikmati fasilitas dalam rumahnya termasuk sebuah mobil bersama sopir selama kami tinggal bersamanya. Ini berarti kami dapat menikmati panorama indah kota Jeddah.

Ayah duduk didepan bersama sopir berjubah putih bernama Qasi, sedangkan saya mengintip dari jendela belakang yang dipasangkan tirai selama berkeliling kota. Kota tersebut penuh dengan jemaah yang melimpah ruah baik yang memakai kapal di pelabuhan maupun yang datang dengan setiap penerbangan di lapangan terbang baru itu. Qasi menunjukkan kepada kami perbedaan-perbedaan yang menyolok antara yang lama dengan yang baru, bangunan kantor bertingkat 10 di sepanjang jalan Abdul Al Azis dimana kelihatan keledai-keledai berbeban muatan berdesak-desakkan dengan mobil-mobil Amerika yang besar. Kami melihat sug, pasar kaki lima dimana kita dapat membeli apa saja dan biji kopi sampai permadani bahkan air suci yang dibawa dan Mekkah serta toko-toko yang menjual harang dagangan dari Barat. Ketika kami melihat kota lama dengan rumah-rumah dagang bertembok tinggi, kokoh, ada yang retak diperindah dengan balkon-balkon berkisi-kisi dari lobang mana para wanita ‘harem’ biasanya mengintip peri hidup di jaian-jalan tanpa terlihat oleh orang-arang yang lewat di bawah. Yang paling kontras adalah rumah-rumat baru yang dibangun di daerah pinggiran kota. Waktu tidak ada minyak terdapat kemiskinan serta berbagai masalah lainnya, kata Qasi. Namun kini dengan memiliki banyak minyak kami mempunyai makanan yang baik dan anak-anak dapat beiajar. Kami berhenti untuk melihat-lihat minyak yang sedang dipompakan keluar dari tanah pada suatu tempat. Saya tidak menyukai bau di tempat itu.
Waktu kami meninggalkan Sheikh untuk melanjutkan perjalanan ke Mekkah, yang dilaksanakan dengan cara yang mewah dan menyenangkan karena beliau bersikeras supaya kami memhawa mobil serta sopirya, ayah mengucapkan terimakasih kepadanya dalam sebuah pidato perpisahan singkat: ‘Anda telah menunjukkan kepada kami kemurahan hati yang hangat sekali, demikian pula persahabatan yang membuat pelaksanaan perjalanan kami menjadi mudah’. Sheikh dapat saja memperlakukan hal yang sama pada setiap pengunjung, namun saya tahu beliau khusus melakukannya bagi kami karena beliau adalah kawan lama keluarga serta kawan dagang ayahku yang memberi keuntungan dalam transaksi domba dan kambing dimana daerah kami terkenal untuk ini.

Kami berangkat pagi-pagi sekali sesudah sembahyang subuh menuju Mekkah karena kami ingin memiiiki waktu yang cukup untuk melihat segala sesuatu sepanjang perjalanan. Jalan besar terdiri dari empat jalur, baru dan bagus, dapat menampung arus aliran jemaah tak berujung yang terus maju sepanjang 83 km perjalanan ke Mekkah. Banyak orang berjalan kaki dengan mengendalikan nafsu mereka bergerak maju siap menahan apa saja pada keadaan yang dapat menjadi semacam lapangan pembakaran waktu matahari makin meninggi. Hal ini dilakukannya bukan karena mereka miskin tapi karena ingin mengingat dan merasakan perjalanan nabi Ibrahim ketika mencarikan perlindungan bagi Siti Hagar dan Ismail. Walaupun saya tidak mengakuinya, namun saya hampir merasa gembira sebagai seorang lumpuh sehingga saya tidak perlu berjalan dibawah teriknya matahari di dalam suatu pertarungan yang panas. Saya mengetahui bahwa semangat haji bukanlah seperti ini sebab seharusnya secara keseluruhan perlu pengorbanan dan penyerahan, karena itu saya tidak mengutarakan sesuatu. Qasi menunjukkan pada keran – keran air yang terdapat disepanjang jalan, demikian pula lampu-lampu listrik bergantungan diatas tiang agar menyinari jalan bagi para jemaah; `Raja melakukan hal ini. Beliau sendiri yang datang bersama para menteri dan pangerannya lalu melakukan banyak perbaikan terhadap fasilitas-fasilitas di tempat-tempat suci’. 28 km sebelum tiba di kota terpampang tanda yang memberi peringatan kepada kami: Daerah terlarang. hanya diijinkan bagi umat Islam.

Terdapat beberapa tentara yang dipersenjatai di tempat – tempat masuk dan memeriksa pas semua orang. Si sopir berbicara kepada tentara tersebut dan kami diperkenankan untuk memakai mobil lebih tanjut. Kami maju dengan pelan sekali. mendaki bukit-bukit melalui sebuah jalan yang dipotong dan batu karang, melewati sejumlah besar jemaah berjubah putih yang mengikuti langkah nabi Ibrahim ketika melihat Sara mengusir sahaya perempuan dengan puteranya. Telinga kami dipenuhi dengan bunyi-bunyi doa yang diucapkan dari ayat-ayat suci Al Qur’an dengan menyatakan; “Tidak ada Tuhan [Elohim] lain kecuali Allah, Muhammad adalah Rasul Allah.” Kemudian kami mengelilingi sebuah bukit dan kota suci tersebut berwama putih bersinar dalam cahaya matahari pagi yang menghangat, tiba-tiba muncul merupakan sebuah pemandangan di bawah kami. Sopir menghentikan mobil dan secara otomatis seruan jemaah keluar dari bibir mulut kami, `Labbaika Allahuma Labhaikal.’ Disini hambaMu berdoa untuk melayani Engkau. Tidak ada kawan sekerjaMu, disini hambaMu berada untuk melayani Engkau; untuk kemuliaanMu, kekayaan dan keagungan dunia tidak ada sekerja bagimu’.
Suatu perasaan damai yang aneh datang dan berdiam didalam hatiku. Semua ketakutan tentang masa depan terangkat. Saya merasa menyatu dengan semua jemaah ini mencari suatu kuasa yang tidak dapat saya lihat sama kekal dan misterius dengan ke tujuh bukit yang mengelilingi kota itu.

BAB 3 : AIR KEHIDUPAN [mencari kesembuhan tubuhnya, kembali ke Pakistan]
Kamp haji atau tempat istirahat bagi para jemaah, letaknya cukup jauh dari mesjid Haram. Abdullah, si penunjuk jalan yang telah dicarikan untuk kami dipintu masuk berjabatan tangan, dan bnpelukan dengan ayah. ‘Allhan wa sahlan (selamat datang) kata Abdullah. “Demikian juga bagi anda,” jawab ayah. Cara penerimaan yang sederhana seperti ini dimana seorang Arab menerima kita sama derajat sebagai saudara merupakan ciri – ciri haji. ‘Saya telah menerima surat dari Sheikh yang mulia. Kamar-kamar bagi anda semua telah kami pesan.

Pembicaraan dilanjutkan mengenai domba yang akan dikorbankan. Ayah memesan 2 ekor bagi kami masing – masing termasuk para pelayanku sehingga semuanya berjumlah 8 ekor. Getaran kegembiraan terasa mengalir dalam diriku. Perjamuan Kurban (ldul Adha) yang merupakan penghormatan bagi si orang tua yaitu Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan anaknya Ismail merupakan puncak acara dari upacara naik haji. Ayah meneliti lagi agar doa-doa kami mempunyai kemujaraban khusus karena darah anak domba yang begitu banyak dikorbankan.
Kamar-kamar kami semuanya berderet di satu tingkat. Ada dua kamar yang mempunyai kamar mandi, disampingnya, sangat sederhana dilengkapi secara biasa, ada tempat tidur kecil (charpais). Saya merindukan kasur katun yang yang ditaruh diatas ‘palung’ seperti di rumah. Kisi-kisi dari benang dengan kasur berisi bahan rambut diatasnya bukanlah merupakan tempat istirahat yang memadai terutama bagi seorang yang lumpuh dibagian kiri tubuhnya karena sulit membalikkan badan. Namun, semuanya itu adalah tahapan yang harus dijalani waktu menunaikan ibadah haji. Berhari¬ – hari sesudahnya, beratus-ratus ribu orang akan berbondong-¬bondong masuk ke Mekkah, berjejai-jejal masuk ke hotel-hotel dan wisma-wisma. Hanya sedikit keleluasaan yang ada namun tidak terlihat adanya pameran kekayaan. Kebaikan akan hilang bila seseorang bersungut-sungut, angkuh dan sombong atau kehilangan kesabaran waktu menjelajah dalam terik matahari serta kondisi yang menekan, demikianlah penjelasan ayah.
Sebuah kipas angin listrik dilangit-langit kamar kami menghalau udara sekitar yang panas, tebal namun tanpa hasil untuk memberikan kesejukan. Jendela-jendela dipasang tirai hijau guna mencegah sinar matatrari masuk dan hal ini memberi sedikit perasaan seolah-olah kamar berada didalam sebuah bejana akuarium. Disamping itu terdapat tutup-tutup logam tipis dari mana saya dapat memandang garis-garis kubah masjid besar dari jauh mengarah ke atas seperti layaknya jari¬jari tangan.
Sambil berbaring di atas kasur kecil (charpai). saya mendengar bunyi serentetan-serentetan sandal kulit tak bertumit yang tak berkesudahan yang dipakai oleh para jemaah. Bunyi-bunyinya ketika tiba ditelinga kami terdengar seperti gumaman berbagai bahasa asing. Di sela-sela alunan ayat-ayat Al Quran dan Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Kegembiraan merayap dalam sanubariku. Hadirnya saya ditempat itu, baik rasanya, cukup untuk melanjutkan hidup ini. Pelayan-pelayanku juga merasakan hal yang sama : ‘Betapa beruntungnya kami menjadi pelayan nona dan dapat ikut berjemaah Haji’, kata Salima ketika bersama Sema membantu memandikan saya dengan air dingin untuk kedua kalinya hari itu. Bagi mereka hal ini merupakan keuntungan besar karena begitu banyak orang saleh diseluruh dunia juga mendambakan untuk dapat datang dan hadir disini pada waktu seperti ini, namun tidak sempat ataupun tidak mampu, baik karena waktu atau biaya. Waktu untuk melaksanakan haji dapat berlangsung selama sebulan jika semua tempat suci dikunjungi.
Ayah sempat bertemu beberapa kawannya dari Lahore, Rawalpindi, Peshawar dan Karachi, namun kali ini mereka sama sekali tidak membicarakan tentang harga katun atau gandum. Oh, tidak, disini hal-hal duniawi ditinggalkan demikian pula semua perbedaan mengenai kelahiran, negara asal, derajat, jabatan atau status. Di dalam ruangan besar kamp Haji, pelayan-pelayan duduk makan bersama tuannya, semua perbedaan telah ditutupi oleh ihram (pakaian jemaah haji). Para pria mengenakan sehelai kain katun sederhana dilingkarkan sekeliling bagian bawah tubuh dan helai lainnya sekeliling bahu. Para wanita mengenakan pakain-pakaian putih panjang dengan penutup kepala dan kaos kaki putih tetapi tidak memakai kerudung. Menurut jejak Nabi, dimata Tuhan [Elohim] semua manusia sama. Ayah memberi penjelasan serius dan mendalam : ‘Begitu kau mengenakan ihram maka engkau telah meninggalkan hidupmu yang lama dan masuk kedalam hidup yang baru. Dengan kata lain hal ini merupakan kain pembungkus mayatmu. Dengan mengenakan kain ini, jika engkau mati maka engkau langsung naik sorga, tanpa henti’.
Di jalan waktu beliau menuju masjid untuk sembahyang, ayah bertemu dengan seorang kawan lama sejak masa sekolah: `Attaulah ada disini. Beliau seorang muslim sejati yang memberi sedekah kepada orang miskin di Pakistan. Dan ia seorang yang alim. Kali ini merupakan kunjungannya yang ke tiga’.
Memberikan sebagian dari penghasilan kita untuk meringankan kemiskinan, dinamakan zakat atau memberi sedekah, merupakan rukun Islam yang ke 3. Rukun ke 4 ialah kepatuhan menjalankan ibadah puasa sejak fajar sampai matahari terbenam selama bulan ke sembilan tahun Hijriah yaitu bulan suci Ramadhan.
Sesudah menunaikannya barulah pajak kemiskinan atau zakat dipersembahkan. Ayahpun sangat alim, pikirku. karena ayah memberi sedekah dan kali inipun merupakan kunjungan yang ke 3 dan siapa lagi yang mengajarkan saya berdoa kalau bukan ayah? Saya memandangi dahinya jelas terlihat adanya bekas-bekas tekanan disebut mihrab, seperti tanda petunjuk untuk arah ke Mekkah yang dipasang di setiap masjid. Tanda ini terbentuk karena dahi itu berulang-ulang kali ditikar waktu sembahyang. Dengan melihat tanda ini seseorang dapat mengetahui bahwa orang tersebut taat berdoa. Ibadah sembahyang merupakan rukun Islam yang ke 2.
Selama sisa hari pertama itu saya tidak keluar tapi tinggal di rumah berdoa, membaca Al Qur’an suci kalau tidak menyiapkan diriku untuk kunjungan ke Kaabah besok. yang akan sangat melelahkan, diterik matahari, berdesak-desakkan dengan begitu banyak orang. Salima dan Sema membawa makanan ke kamar dan tinggal bersamaku. Begitu banyak orang namun begitu damai rasanya, kata Salima pada malam harinya. Jalan penuh sesak dengan para jemaah namun suasana terasa, tenang. “Tiidak terasa adanya ketergesa-gesaan atau kebingungan. Dengan hadir di tempat ini rasanya seperti di sorga, semua keinginan rasanya terpenuhi.
Ketika Muazzin mengumandangkan azan dari menara masjid waktu matahari terbenam, setiap orang di Mekkah berhenti di tempatnya dan berpaling ke arah Kaabah, lambang yang begitu kuat mempersatukan jutaan umat Islam dikeempat penjuru dunia. Mereka berdiri tegak, tangan terbuka pada setiap sisi wajahnya dan berdoa : ‘Allah Maha Besar!’ Tangan diturunkan lalu yang kanan ditaruh diatas yang kiri, bagi wanita diatas pinggang bagi yang pria di bawahnya. ‘Dipermuliakanlah Dikau, oh Allah. Dan terpujilah Engkau ; Terpujilah namaMu dan diagungkanlah kuasaMu ; Dan tidak ada lain yang layak disembah selain Engkau! ; Diikuti beberapa doa lain. Al Fatiha, beberapa ayat suci Al Qur’an kemudian Allahu Akbar. Disini para jemaah membungkuk bertopang pada pahanya, tangan dilutut; `Betapa mulianya Tuhanku Maha Besar!’ Mereka berdiri tegak, tangan disamping. ‘Allah telah mendengar doa mereka yang telah memujiNya; Ya ‘Tuhan [Elohim], terpujilah Engkau!’ Kemudian mengucapkan, “Allahu Akhar’, mereka sujud menyembah: ‘Terpujilah Engkau ya Tuhan [Elohim] yang Maha Tinggi’ (3 kali). Lalu tegak, kemudian duduk berlutut: ‘Oh Allah! Ampunilah dan kasihanilah saya’. Mereka berdiri tegak kembali. “Tara cara ini merupakan pematuhan terhadap pelaksanaan satu rakaat lengkap yang diikuti oleh beberapa pengulangan pergerakan dan doa.

Sebagai seorang yang cacat, upacara suci ini saya lakukan dengan bantuan para pelayanku, duduk dan mihrab diatas tikar sembahyangku menunjuk kearah Kaabah.
Apakah saya akan terjaga dari mimpi indah ini dalam kamarku dirumah atau apakah saya benar-benar mengucapkan doa itu disini di pusat dunia? Perasaan menanti-nanti menggelitik hatiku, menimbulkan suatu sukacita yang hesar. Untuk dapat hadir disini saja oh Tuhan [Elohim], sudahlah cukup walaupun bila saya tidak dapat berjalan. Untuk dapat memandang dengan mata kepala saya sendiri rumah Allah yang dibangun oleh nabi Ibrahim sudah merupakan suatu pemberian yang dapat dinikmati seseorang sepanjang sisa hidupnya.
“Benar, kau telah hidup selama 14 tahun sebagai seorang yang lumpuh,” kataku kepada diriku sendiri, “namun disini dimana iman terasa menjadi kuat sekali karena begitu banyak doa terpusatkan, Allah akan mendengarkan doa keluargamu dan Nabi Muhammad akan meminta kepadaNya untuk menyembuhkan engkau.”
Ketika saya membayangkan Tuhan [Elohim], tidak terlintas dalam pikiranku sesuatu gambaran tentang Dia karena bagaimana mungkin seseorang dapat menggambarkan makhluk vang kekal abadi itu? Dia, yang walaupun dipanggil dengan 99 sebutan dalam Al Qur’an suci, masih tidak dikenal. Tidak terdapat sifat kemanusiaan rang dapat digunakan untuk membandingkanNya, begitulah ajaran yang kami terima. Tapi bibirku mengucapkan kata-kata Al Fatuha yang berharga: “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanyalah padaMu sendiri kami memohon pertolonganMu, tunjukkanlah kami jalan yang lurus, jalan bagi orang yang Engkau perkenan….”
Bagi seorang muslim, hidup merupakan sebuah jalan dan tiap – tiap pribadi berada di suatu tempat pada jalan itu yang terletak antara waktu kelahiran dan kematian, penciptaan dan penghakiman. Sayapun telah menempuh jalan ini yang walaupun tidak dapat saya lihat akhirnya, namun dapat menjalaninya sampai akhir hidupku.
Besok paginya kami semua bangun sebelum fajar dan sesudah bersembahyang serta sarapan kami mulai berjalan menuju Kaabah. Ayah telah mengatur agar saya dibawa diatas sebuah kursi roda, para pembantuku berjalan disampingku dan ayah di depan. Banyak orang sakit dan tua dibawa dengan cara demikian. Saya duduk bertopang agar tegak, menyenangi pemandangan yang terlihat dan salah satu kesibukanku pal¬ing besar sedang berlangsung dimana beribu-ribu pria dan wanita dari segala umur dan pelbagai kebangsaan bersama¬-sama beriringan menuju rumah Allah. Belum pernah seumur hidupku saya melihat begitu hanyak manusia disatu tempat, begitu tekun menuju satu tujuan, tidak di Lahore atau Rawalpindi waktu ayah membawaku dengan mobil ataupun selama di London. Arus manusia mengalir kedepan dengan satu tujuan, satu akhir, berdoa sambil berjalan seraya mengucapkan ayat-ayat suci Al Qur’an berulang-ulang yang mengalun dan berirama. Dinding-dinding bagian luar yang kekar,. Dijajari dengan gerhang-gerbang mengelilingi Masjidil Haram yang telah berusia tua. Sebelum masuk kami diharuskan untuk dipenksa oleh para petugas pria dan wanita yang ditempatkan di pintu-pintu gerbang. Ayah telah mengingatkanku mengenai hal ini: ‘Ada desas-desus bahwa orang-orang kafir telah berusaha lebih dari sekali untuk menerobos ke tempat-tempat suci kita guna melakukan beberapa kejahatan dan merusaknya’. ‘Apa yang terjadi dengan mereka ayah?” Saya menyelidiki dengan penuh ketakutan. `Oh, saya harap mereka ditembak’, katanya. Saya gemetar mendengar hukuman itu, namun setuju bahwa mereka pantas menerima ganjaran demikian bagi penghinaan Uu.

Kami memasuki gelanggang besar itu yang didominasi oleh menara-menaranya yang tegak. Ditengah-tengah berdiri masjid, yang mulai dibangun pada abad ke 8 dan kini telah sangat diperluas agar dapat menampung beribu-ribu jemaah. Rombongan kami berjaian melewati permadani-permadani dan sambil menjinjing sepatu yang kemudian diganti dengan sejumlah karcis. Lalu kami berjalan melewati sebuah gerbang menuju ruangan terbuka luas di tengah-tengahnya berdiri bangunan besar berbentuk kubus yang dikenal sebagai Kaabah. Rumah Allah, dipasangkan tirai brokaat hitam dihiasi dengan sebutan-sebutan untuk Tuhan [Elohim] yang disulam dengan emas. Seluruh ruang terbuka itu putih warnanya karena hadirnya beribu-ribu jemaah, semua dengan muka menghadap ke Kaabah.
Orang-orang berjalan atau berlari mengelilingi Kaabah menurut arah yang berlawanan dengan jarum jam. Lorong-¬lorong batu pualam kelihatannya bersinar clan tempat itu. Kami berjalan sepanjang salah satu lorong dan tiba di sebuah kawasan yang berbentuk lingkaran di tempat mana saya dipindahkan kesebuah palki (tandu) kayu yang diusung oleh 4 pria berbadan tegap sebelum kami diarahkan masuk ke dalam kerumunan kelompok orang banyak yang berputar – putar. Kami berjalan mengitari Kaabah berjalan 3 kali, berlari 4 kali, saya berguncang – guncang di atas palki, keadaanku laksana setumouk busa diatas deburan air pasang surut. Setiap kami melewati batu hitam yang terletak disudut timur laut itu yang ditempatkan oleh Nabi Muhammad dengan tangannya sendiri, kami mengangkat tangan dan berseru : ‘Allahu Akbar – Allah Maha Besar!’. Perjalanan ini penuh dengan lonjakan – lonjakan bagiku dan saya memandang ke arah ayah dengan cemas, namun kelihatannya beliau tidak menyadari teriknya matahari, desakan orang banyak atau keadaa yang tidak enak. Dapat hadir disini merupaka segala sesuatu yang diinginkannya.
Pada perjalanan keliling kami yang terakhir, kami datang ke batu hitam tersebut. Saya teringat akan apa yang diceritakan kepadaku bahwa batu itu dijatuhkan kepada Nabi Adam oleh Tuhan [Elohim]. Batu itu merupakan simbol yang kuat sekali dalam iman kami, telah disentuh Tuhan [Elohim], Nabi Adam dan Nabi Muhammad. Para pengusung mendorong kami ke depan dan menurunkan palki-ku. Saya dibantu menyuruk ke depan untuk dapat mencium batu hitam tersebut. Batu itu diselimuti dengan perak dan disemprotkan minyak wangi. Saya menutup mata untuk merasakan sentuhan nabi. Batu itu tidak terasa seperti batu sama sekali, di bibirku terasa hangat dan rasanya ada perasaan damai mengelilingiku. Saya berkata: ’Sembuhkanlah kiranya saya, demikian pula yang lainnya.” Namun tidak sesuatu yang terjadi. Salima dan Sema mengangkat saya tegak dan kami melanjutkan lagi. Saya tetap merunduk menghindari mata ayah yang risau. Berikutnya kami menuju tempat Nabi Ibrahim berdoa dan saya memanjatkan satu permohonan doa yang sangat kami dambakan: ‘Sembuhkanlah kiranya saya.” pintaku.

Upacara berikutnya ialah berlari antara Safa dan Marwa. 2 bukit kecil mengitari masjid besar kira-kira 1 km jarak – antaranya. Diceriterakan bahwa Hagar dan Ismail dikuburkan dibawah gundukan bukit-bukit ini.
Suatu permainan akbar’, pikirku tapi saya menyimpannya dalam hati, tidak ada yang tertawa disini karena setiap orang melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Saya kembali kesebuah kursi roda untuk melanjutkan perjalanan sepanjang lorong batu pualam antara Safa dan Marwa sebanyak 7 kali, menelusuri perjalanan Hagar waktu mencari air bagi anaknya Ismail sesudah keduanya diusir. Menurut ceritera turun-temurun, `Tuhan [Elohim] membuka sebuah mata air. Abb-a zam-zam (air kehidupan) di dekat tempat ini. Orang-orang membeli air tersebut dan meminumnya dari mangkok logam. Ayah ingin agar kami semua minum dan membeli 1 kirbat air untuk diserahkan ke kamp haji. Sebagiannya akan dibawa ke Pakistan, sisanya untuk memandikan saya.
Upacara-upacara ini menghabiskan waktu hampir sehari-harian tanpa makan atau istirahat dan kini kami kembaii ke kamp haji menunggu perjalanan berikutnya. Perjalanan tersebut ialah menuju Arafah, sebuah tempat yang terletak kira¬kira 10 km dari Mekkah dimana umat lslam mengatakan bahwa Tuhan [Elohim] menguji Nabi Ibrahim dengan memintanya mempersembahkan anaknya yang sulung, Ismail sebagai korban. Setelah Tuhan [Elohim] melihat ketaatan Nabi Ibrahim, la menghentikan pengorbanan itu dan menggantikannya dengan seekor domba jantan yang terjerat di dalam belukar. Kami mengunjungi Mina daiam perjalanan kembali dari sana untuk melemparkan batu ke arah 3 tiang yang melambangkan setan-¬setan yang menggoda Nabi Ibrahim agar menolak mempersembahkan anaknya. Setiap orang menertawakan tiang-tiang buruk tersebut sambil melemparkan batu atau sepatunya. Melemparkan sepatu berarti suatu penghinaan yang besar.

Sesudah itu, kami pergi ketempat mempersembahkan kurban, tepat diluar kota dan berdiri berbaris sampai kami menemui si tukang jagal yang telah mengetahui tentang domba-domba yang akan kami kurbankan. Ia memegang pisau disatu tangan dan tangannya yang lain memegang domba, lalu saya memegang pangkal pisau itu seraya si tukang jagal melaksanakan pemotongannya. Darah domba jantan itu mengalir ke palungan penadahnya dan binatang itu meronta¬-ronta serta bergoyang-goyang seakan-akan mau melarikan diri. Saya tidak merasakan suatu perasaan terhadap domba itu, kematiannya diperuntukkan bagi pemenuhan perintah untuk mempersembahkan korban. Lalu tukang jagal lainnya datang dan mengambil domba tersebut kemudian mengulitinya. Kami tidak dapat menunggu lama untuk melihat seluruh upacara persembahan domba kami sampai semuanya disembelih karena begitu panjangnya antrian, namun semuanya terlaksana dengan teratur. Domba-domba kami dihitung satu persatu dan akan dipersembahkan kemudian. Kami melihat ketika orang lain datang menggantikan tempat kami untuk mengorbankan domba, kambing atau untanya. Bisa sampai 6 orang bersama-sama bergabung mengorbankan seekor unta kata ayah. Saya senang sekali bahwa saya tidak tingga! terlalu lama guna menyempatkan diri melihat unta dikorbankan

Saya tahu bagaimana akhirnya daging-daging itu. Ayah telah menceriterakan kepadaku: ‘Sebagian disedekahkan kepada fakir miskin, mereka makan makanan enak selama musim haji. Sebagiannya menjadi makanan kami di asrama haji. Kebanyakan akan dibakar. Daging-daging ini tidak tahan untuk disimpan pada keadaen panas seperti ini’.
Jemaah haji tinggal di Mina selama 3 hari dan pada hari yang ke 2 dapat mulai lagi mengenakan pakaian biasa sehingga jalan-jalan yang berabu dan panas menjadi mekar dengan warna-warni berbagai pakaian nasional yang dipakai. Para pria mencukur rambutnya sampai pendek dan para wanita memotong rambutnya sekurang-kurangnya 3 cm. Tiap orang saling mengucapkan `Selamat Naik Haji’. Hari-hari ini ialah hari perayaan bersama sahabat dan handai taulan baik teman lama maupun yang baru, juga merupakan waktu untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan dan berdamai satu sama lainnya. ‘Dunia akan menjadi tempat yang membahagiakan bila kita mempertahankan semangat haji sepanjang hidup kita’, kata ayah. Namun, kami tidak tinggal di Mina karena keadaan saya yang cacat dan kembali ke asrama haji. Begitu sampai saya duduk diatas tempat duduk yang ada sandarannva dipegang Oleh Sema untuk di mandikan, mengucapkan doa-doa sambil disirami air Zam-Zam oleh Salima disekujur tubuhku dari sebuah ember plastik.
Sesungguhnya pada waktu itu saya mengharap agar dapat disembuhkan dan kelumpuhan ini hilang. Tapi tidak ada sesuatu apapun terjadi. Tubuhku masih sama beratnya dengan trmah, perasaanku lebih berat lagi sewaktu pembantu mengangkat dan mengeringkan tubuhku lalu memakaikan pakaianku.
Tidak lama kemudian ayah yang telah menunggu dikamar sebelah dan mengharapkan saya berjalan sendiri masuk lewat pintu itu, datang menyongsongku. ‘Hari ini bukanlah kehendak Allah’. Tapi kita tidak akan putus asa. `Allah Maha Besar’, katanya. kemudian tanpa sepatah katapun beliau melangkah keluar.
Sesudah melangsungkan upacara-upacara ini para haji pulang ke tempatnya untuk mendapatkan penghormatan di negerinya masing-masing. Beberapa orang telah membubuhkan predikat haji didepan namanya atau menempatkannya pada papan nama tokonya untuk menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang jujur. `Saya mau mempercayai sebagian dari mereka’, kata ayah dengan secercah senyuman tersungging dibibirnya.
Kebanyakan orang seperti kami, pergi ke Madinah, kota kedua yang paling penting bagi umat Islam, jauhnya 450 km, ditempat mana Nabi Muhammad tinggal selama 10 tahun
sesudah ia dikeluarkan dari Mekkah dan dari sana pada tahun 622 menyebarkan agama Islam sebagai awal mula masa Islam. Ia tinggal di sana pada bagian akhir hidupnya dan kami bermaksud melihat Musoleum (kuburannya). Banyak ceritera yang begitu berkesan bagiku sebagai kanak-kanak terpusatkan sekitar kota ini.
Masjid di Madni sangat mengagumkan. Kami berjalan diatas permadani tebal, indah dan memberikan penghormatan pada nisan Nabi Muhammad. Nisan ini ditutup dan diberi permadani serta dikeliiingi kaca. Orang-orang berjalan mengitarinya dan mencium nisan itu melalui gelas dengan ciuman jarak jauh. Mereka juga memasukkan uang dan karangan bunga. Para petugas memungutnya dan menghiasi nisan itu.
Disekeliling halaman itu orang-orang duduk dan menyanyikan lagu-lagu rohani. Karena ayah berstatus Pir maka beliau minta ijin agar saya diperbolehkan untuk berada didekat nisan Nabi Muhammad. Para petugas membukakan pintu bagiku dan saya duduk di dekat pintu dalam sebuah kursi roda selama 2 atau 3 menit sambil berdoa. Hal ini merupakan pengalaman yang menakjubkan.
Kami mengunjungi nisan-nisan lainnya di situ, lalu kami akhiri dengan berkunjung ke taman kurma Siti Fatima. Nabi Muhammad membangunnya bagi puterinya. Kamar membeli sekeranjang kurma yang beratnya 15 kg untuk dibagi-bagikan kepada sanak keluarga dirumah. Di Medinah kami mohon diri dari Qasi. Ayah memberikan kepadanya sekedar baksish

sebagai suatu pemberian dalam sebuah amplop. Ia begitu menyenangkan dan bersifat menolong sehingga kami merasa cukup sedih begitu melihat mobilnya berbelok menuju ke arah tempatnya Sheikh dengan membawa salam baik kami. Dari Madinah kami terbang ke Baitul Makdis (Yerusalem) ditempat mana kami bertemu dengan jemaah yang penuh sesak dari 3 kepercayaan Islam, Yahudi, dan Kristen. Musim haji tiap tahun berbeda waktunya selama 10 hari sesuai perhitungan bulan dan pada tahun ini bertepatan dengan masa raya Paskah orang Yahudi dan umat Kristen.
Mesjid di Yerusalem dinamakan mesjid A1 Aqsa, mesjid yang terjauh kearah mana Nabi Muhammad berkiblat sebelum Mekkah dijadikannya pusat agama Islam.
Kubah batu karang yang didirikan tepat disebelahnya mempunyai sangkut paut dengan Nabi Ibrahim. Daud membelinya dan Solaiman membangun Kaabahnya disini yang dihancurkan Titus dan disini Nabi Isa berjalan dan mengajar. Sekarang orang Yahudi meratap pada sisa dinding itu karena mereka telah kehilangan kemuliaannya. Kami hanya tinggal semalam disebuah penginapan didekat kubah batu karang dan saya tidak pergi kesana karena perasaanku cukup kecewa sebab tidak mengalami kesembuhan.
Besoknya kami berangkat menuju Karbala di Irak untuk melihat tempat dimana cucu Nabi Muhammad, Husein serta ketuarga dan para pelayannya sejumiah 72 orang dikuburkan. Hal ini merupakan akibat dari peperangan yang mengerikan sewaktu Husein dan 72 pengiringnya yang gagah berani bertempur melawan Kaliifah Yasid dari Siria dan disini mereka mati sahid. Sejak waktu itu, kami, musiim shiah selalu mengenangkan ulang tahun kematiannya dengan pawai perkabungan dijalan-jalan dimana para pria dan anak-anak lelaki beralan sambil memukul-mukui dirinya. Dalam bulan Muharam orang-orang mengenakan pakaian hitam dan tidak ada seorangpun dikota seperti Jhang akan berpikir untuk menyelenggarakan perkawinan bagi keluarganya.
Kami berdoa memohon kesembuhan di Karbala tapi tidak ada yang dikabulkan. Kami telah menjalani ibadah haji selama sebulan dan sudah waktunya pulang ke rumah. Ketika sedang menunggu pesawat ke Karachi, ayah memandangku; ‘Tuhan [Elohim] menguji engkau demikian pula aku, jangan putus harap. Mungkin pada sewaktu-waktu dalam hidupmu engkau akan disembuhkan’.
Ayahku tercinta, yang baik, begitu sabar dan setia. Beliau berusaha membangkitkan semangatku dan ia merasakan akibat yang diinginkannya.
Imanku yang melemah bangkit kembali. Saya berkata: `Baiklah, saya tidak akan putus harap. Saya akan tetap setia pada Nabi dan Allah’. Lalu saya tertawa untuk menunjukkan bahwa sebenamya saya tidak kecewa, kembali dengan keadaan yang sama halnya dengan pada waktu datang. Beliau menunduk dan menciumku, `Saya mengharap hal seperti ini darimu’, katanya. Para pembantuku membisikkan: ‘Bibi, tunggulah kehendak Allah’.
Jadi kami terbang menuju Lahore melalui Karachi dengan adanya perasaan bahwa terdapat beberapa berkat imbalan khusus yang melekat dalam diriku selama ibadah haji ini, namun menyadari bahwa kami harus menunggu waktu Allah untuk dikabulkan. Kami dijemput oleh keluarga kami di lapangan terbang beserta para pembantu kami. Mereka membawa karangan-karangan bunga berwama ungu dan kuning, berbau harum untuk dikalungkan di leher kami. Mereka semua menjamah kami dan mengucapkan Allahu Akbar, karena merupakan suatu berkat bila seorang menyentuh seorang haji. Mereka memandang kepadaku masih lumpuh, tapi tidak memberikan sesuatu komentar.
Ayah berkata kepada saudaraku laki-laki dan perempuan: ‘Allah bukannya Tuhan [Elohim] yang tidak adil. Kita harus bersabar menantikan waktunya Allah’. ‘Benar. Adik kamipun harus memiliki kesabaran untuk menunggu’.
Kami bermalam di Lahore disebuah bungalow milik salah seorang keluarga dan perjalanan pulang dilaksanakan keesokan harinya dalam sehuah iring-iringan mobil untuk mendapat penyambutan dari anggota rumah tangga lainnya dengan suatu ucapan selamat datang yang penuh sukacita.

Bersambung ke Bg. 3 – Bab 4 Pesta Kawin

Gulstan Esther Fatima; Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2 ; Bg. 3 ; Bg. 4 ; Bg. 5 ; Bg.6 ; Bg. 7

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s