Gulshan Fatima; Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 5

Gulshan Esther; Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2 ; Bg.3Bg. 4 ; Bg. 5 ; Bg.6 ; Bg. 7 ; Bg. 8

BAB 8 : ALKITAB [Mencari Alkitab & mempelajarinya, persiapan diri ke Lahor untuk dibaptis ]
Tiga minggu sesudah kesembuhanku, saya mendapatkan keberanian untuk melaksanakan rencanaku untuk memperoleh sebuah Alkitab. Saya memberitahukan Bibi bahwa saya mau pergi mengunjungi Razia. “Engkau akan membawa serta Salimah?” tanya bibi yang belum terbiasa sepenuhnya dengan cara hidupku yang baru dan menyesuaiannya dengan keadaanku sekarang. “Tidak bibi, “ jawabku tersenyum. Saya kira saya telah cukup dewasa sekarang untuk bepergian tanpa ada seorangpun yang memikirkan bahwa akan terjadi hal lebih buruk terhadap saya di jalanan, tolong mintakan Munshi menyiapkan mobil untukku. Bibi membuka mulutnya seolah-olah hendak membantah, tapi menutupnya lagi dengan ketat. Gulshan yang baru ini telah mememiliki kecenderungan untuk tidak lagi terlalu mempertimbangkan apa yang dipkirkan oleh orang lain dibandingkan dengan Gulshan yang lama.

Majid membawa Marzedes biru yang mengkilap itu berputar dan membukakan pintu belakang sambil tersenyum. Tirai-tirai didalamnya diturunkan agar melindungiku terhdap lirikan orang lain. Begitu kami meluncur ke gerbang utama, terlihat kepuasan pada dirinya waktu melaksanakan tugas yang dibebankan padanya sesudah kejadian yang berganti-gantian ini. Seorang chowkedar menutup pintu dengan tersenyum dibelakang kami dan selanjutnya mobil meluncur maju.

Razia telah siap-siap unuk kunjunganku. Apa yang tidak diketahuinya ialah bahwa saya mempunyai sesuatu keperluan untuk mengunjungi orang lain lagi. Saya menyuruh Majid kembali dan meminta kepadanya untuk datang menjemputku sesudah jam makan siang. Lalu saya berpaling untuk menemui guruku yang sangat gembira melihat saya begitu sehat dan mengajukan beberapa pertanyaan. Ia kecewa dan sedikit penasaran waktu kukatakan bahwa saya hendak menemui seseorang lain untuk suatu keperluan penting dan mendesak di bagian lain kotanya.

“Tidak, saya tidak perlu ditemani,” kataku, “hanyalah sedikit urusan transaksi dagang yang perlu kulakukan.” Saya meninggalkannya berdiri kebingungn di beranda rumahnya, pandangannya mengikutiku begitu saya bergegas menuruni lorong lalu menuju ke jalan besar. Saya merasa kurang enak. Belum pernah saya mencoba berlaku curang terhadap seseorang sebelumnya selama hidupku, tapi rasanya ini merupakan cara satu-satunya bagiku untuk memperoleh Alkitab. Setelah tiba di jalan besar barulah kusadari bahwa kurk {Penutup kepala)ku telah tertinggal – kelihatannya seluruh kejadian ini merupakan lambang dari kemerdekaan yang sedang bertumbuh di dalam diriku.

Sebuah tonga (dokar) yang ditarik kuda menghampiriku dan saya menghentikan si tonga-walah (sais) yang agak tua itu. “Saya sedang mencari seorang pria beragama Kristen yang tinggal di Kachary road. Apakah anda kenal seseorang seperti itu?” Ia memandang lurus kedepan di antara telinga kudanya seolah-olah tidak mendengar dan segera saya tambahkan, “Ada satu tugas yang harus kukerjakan.” Ia menunjuk kearah utara. “Ada sebuah tempat disana. Tempat itu amat tua dan sudah ada sebelum negara Pakistan lahir. Saya tidak tahu apakah ada seseorang Kristen tinggal di sana, tapi jika anda mau saya akan membawamu kesana.” “Tolong bawa saya ke sana”. Saya naik ke tonga itu. Saisnya mencambuk kudanya yang kurus lalu kami bergerak dengan langkah cepat dan tenang. Sepanjang perjalanan selama 1/2 jam itu banyak waktu bagiku untuk merenungkan apa yang sedang kulakukan. Apa yang akan dikatakan kakak-kakak perempuanku jika mereka melihat Gulshan-nya tercinta dengan ceria berjalan-jalan di jalanan umum sendirian di atas tonga?. Tindakan seperti ini sama sekali tidak akan ditiru oleh wanita manapun dalam keluargaku. Tapi saya tidak punya pilihan lain. Yeshua telah mengirimkan saya untuk melakukan perjalanan ini dan saya mempercayakan kepadaNYA akan apa hasilnya nanti. Kami tiba di sebuah gedung besar kemudian ku ketahui adalah sebuah kapel (gereja kecil) orang Kristen. Di sebelahnya berdiri sebuah bungalow di belakang pagar tinggi. Tonga itu berhenti di depan salah satu pintu pagar tersebut. “Inilah tempatnya” kata si tonga wallah. Saya membayar sewanya dan lewat pintu saya masuk ke sebuah halaman yang banyak pohonnya. Saya berjalan menuju rumah itu dan melihat seorang pria duduk di bawah sinar matahari dengan setumpuk buku di atas meja kecil di sampingnya. Ketika saya mendekat, pria itu memandang ke atas. Hatiku melonjak penuh kekaguman. Itulah wajah yang telah kulihat dalam visiku: Yeshua berkata: “Orang ini akan memberikan padamu sebuah Alkitab.” Dengan sopan sambil setengah berdiri pria itu berkata: “Jika anda datang untuk menemui istriku, maaf, ia sedang tidak di rumah. Ia telah pergi ke Lahore.” Dengan cepat saya berkata: “Saya bukanlah datang mencari istri anda tapi datang menemui anda untuk memperoleh sebuah Alkitab. Saya telah melihat anda dalam sebuah visi.” Pria itu terkejut dan menatapku dengan cermat, mencoba menembus dopattaku yang secara naluri telah kutarik menutupi wajahku waktu melewati halaman. Kini saya membiarkan syal itu terjatuh dari wajahku dan memandang padanya. “Siapakah anda? Apakah agamamu? Anak perempuan siapakah anda?” “Saya tinggal 18 km dari sini, berasal dari keluarga Islam.” Saya dapat melihat bahwa ia takut mendengarkan keteranganku. Bahaya apakah yang akan didatangkan wanita Muslimat yang masih asing ini terhadapnya dengan permintaannya untuk mendapatkan sebuah Alkitab? Ia berkata, “Jika saya adalah anda, saya akan kembali ke rumah dan terus membaca Al-Quranmu. Apa yang ada disana baik bagimu dan apa yang ada di dalam Alkitab baik bagiku. Janganlah anda risaukan dirimu dengan Alkitab itu.” Ia bangkit dengan maksud mengantarkan saya keluar. Tapi saya tetap berdiri, hatiku tenggelam ketika perasaan sukacitaku surut. Saya telah membayangkan bahwa ia akan menyambutku, malah mungkin telah bersiap-siap untuk kunjunganku, “Yeshua Immanuel mengirim saya kepadamu. Percayalah kepadaku!” Ia mempelajari saya sebentar, lalu menyilahkan saya duduk. Saya menceritakan riwayatku, mula-mula agak malu, lalu menghangat menjelaskan padanya sedikit tentang betapa hidupku selama 19 tahun sebagai seorang lumpuh. Kuceritakan perjalanan ke Mekkah, begitu pula tentang doa-doa kami yang dipanjatkan dengan penuh pengharapan dan di sana hasilnya masih mengecewakan. Saya singgung tentang kematian ayahku yang tragis dan dampaknya yang mengagumkan – Yeshua berbicara kepadaku dan menunjukkan pembacaan tentang Dia di dalam Al-Quran. Dengan bersunguh-sungguh Ia menatap ke depan, matanya ditujukan kewajahku. Saya belum pernah ditatap sedemikian cermat oleh pria asing sebelumnya – namun saya merasakan bahwa dia bukanlah orang asing bagiku. Saya lanjuntukan dengan memberikan kesaksian tentang visi Yeshua di dalam kamarku serta penyembuhanku. “Kemudian” kataku, “saya melihat anda”. “Yeshua menampakkan diriNya lagi dan menunjukkan umatNya kepadaku dan anda ada diantara mereka. IA menyuruh saya datang kepadamu untuk memperoleh sebuah Alkitab. Dan jika anda masih juga belum percaya padaku, dengarkanlah doa yang diajarkan Yeshua kepadaku untuk berdoa.” Lalu saya mengulangi kata-kata dari Dia “Doa Bapa Kami.”

Ketika selesai, suasana menajdi hening. Temanku duduk, tangannya diletakkan di lengan kursi, kepala ditundukkan kearah dada sambil berpikir keras. “Apakah mungkin?,” tanyanya, lebih banyak ditujukan kepada dirinya sendiri daripada kepadaku. Ia menarik napas dalam-dalam dan sesudah itu berdiri. “Duduklah disini sebentar, saya harus pergi dan berdoa unuk ini karena langkah ini adalah hal yang serius bagi kita jika saya harus memberikan sebuah Alkitab padamu.” Ia masuk kerumahnya dan saya duduk di bawah sinar matahari sementara burung-burung kolibri terbang dengan cepatnya di antara pepohonan, sayap-sayapnya yang mungil mendesing begitu cepat, terlihat seperti tidak bergerak-gerak di udara. Setelah memakan waktu yang lama sekali rasanya, tapi mungkin tidak sampai 1/2 jam, temanku keluar dari rumah dan berkata, “Saya telah berdoa dan bertanya kepada Elohim apa yang harus saya lakukan dan saya merasa Ia menyuruh saya memberikan padamu apa yang kau perlukan. Tapi ketahuilah bahwa apa yang engkau pikirkan untuk beralih dari kepercayaanmu itu merupakan sesuatu yang sulit dan anda dapat saja diusir dari keluargamu. Anda akan banyak menanggung beban yang berat dan banyak kehilangan, tapi jika anda tetap setia, anda akan menerima hidup yang kekal.” “Saya mengetahui dan menyadari semuanya itu,” kataku. “Saya mau mengiring Yeshua Immanuel yang telah menyembuhkanku dan menunjukkan padaku jalan kasih.” Ia tersenyum dan berkata, “Sekarang pikirkanlah lagi tentang hal itu. Apabila anda harus menyerahkan apa yang patut anda persembahkan kepada Yeshua maka si jahat akan menyerangmu. Ia akan menimbulkan banyak rintangan dan hambatan bagimu sehingga sukar bagimu untuk menerobos dan melampauinya.”Tantangan besar akan anda hadapi. Bahkan mungkin orang Kristen sendiri malah yang akan menimbulkan hambatan-hambatan itu bagimu.” Air mataku berlinang. “Saya tidak memikirkan tentang hambatan-hambatan ini. Yang kuketahui hanyalah Yeshua Immanuel yang telah menunjukannya kepadaku. IA telah membangkitkan saya dan memberikan terang padaku. Saya ingin mengetahui lebih banyak tentang DIA dan kini DIA mengirim saya kepadamu untuk mendapatkan bantuan. Tolonglah saya.” [saya berkata]. Sesudah inilah ia memberikan padaku sebuah kitab perjanjian baru dalam bahasa Urdu serta sebuah buku lain bernama: “Orang-orang yang mati syahid dari Carthage.” Lalu ia memanjatkan doa yang indah dimana dengan kata-kata dan perasaan sederhana ia mengungkapkan tentang persaudaraan dan kasih yang membuat saya merasa kuat.

Dari rumah ini saya naik tonga lagi kembali ke Razia tepat sebelum makan siang, saya tidak menjelasakan padanya tentang perjalananku tapi hanya mengatakan apa yang kuperlukan telah kuperoleh. Tapi masalahnya belum terpecahkan, lalu saya mengalihkan percakapan yang kami tertawa serta mengobrol seolah-olah tidak ada hal-hal aneh yang terjadi sampai Majid datang menjemput saya pulang. Bibi telah mengamat-amati saya, dengan sunguh-sungguh beliau menatapku, tapi saya memalingkan muka karena merasa yakin bahwa apa yang saya alami baru-baru ini pasti tergambar di wajahku. “Bagaimana khabar Razia,” tanya Bibi. “Baik, dia mempunyai beberapa orang murid yang lain dan merasa bahagia karena saudara perempuannya kini telah menikah. Sayang sekali ia sendiri belum menikah tapi saya pikir keluarganya tidak mempunayi mas-kawin yang cukup untuknya. “Benar, ia masih menerima murid-murid untuk membantu ayahnya karena hanya memiliki usaha dagang kecil-kecilan saja.”

Membicarakan gosip seperti itu akan cukup membuat kami tidak sibuk sampai sekurang-kurangnya 2 jam seperti yang kami lakukan di waktu-waktu sebelum ini, tapi si Gulshan baru telah mempunyai perhatian pada hal-hal lain yang jauh lebih penting. Saya memohon diri masuk ke kamar tidurku dan menutup pintu. Lalu saya berbaring dan beristirahat, rasa-rasanya fisik dan emosiku telah terkuras. Malam itu saya mulai membaca perjanjian baruku secara sembunyi-sembunyi, bagaimanakah rasanya? Tanyakanlah kepada seseorang yang haus betapa artinya air itu. Tanyakanlah pada seorang bayi betapa berartinya air susu ibu itu. Padaku telah diberikan makanan yang sulit ku cernakan dan sekarang saya memperoleh roti untuk mengenyangkan laparku serta memebaca tentang kebenaran kehidupan manusia dan tujuan hidup manusia yang tertulis dalam halaman-halamannya. Yeshua telah berkata kepadaku:,”Akulah Jalan, kebenaran dan hidup. kata-katanya dalam Injil menumbuhkan pengertianku, belum pernah benar-benar saya dapat memahami isi kitab suci, tanpa bimbingan. Tapi Alkitab ini lain daripada yang lain, Ia membuka mata rohaniku, cerita-ceritanya menjadi hidup ketika saya membacanya. Saya menemukan 12 belas rasul yang telah menemani Yeshua dalam visi saya yang menakjubkan dulu, saya menemukan kata demi kata Doa telah kupelajari dikaki Yeshua Immanuel. Saya menemukan arti dari nama Yang Indah yang diberikan padaku dalam Visi itu: AKULAH YESHUA, AKULAH IMMANUEL…… ELOHIM BESERTA KITA!.

Saya telah dibesarkan dengan pola berpikir bahwa Elohim adalah sesuatu yang terpisah dan tak dapat dicapai. Disini akhirnya saya menemukan penjelasan mengenai kuasa-kuasa Ilahi serta misi Yeshua. IA dapat membangkitkan orang mati karena IA adalah Tuhan [Elohim] atas kehidupan. Ia akan datang lagi karena IA hidup selamanya. IA memiliki hidup. Kini saya mengerti tentang hal ini sebagai suatu kesimpulan yang benar tentang Manusia Yeshua itu. Dalam pembacaanku saya menemukan perikop tentang Baptisan. Dalam Markus 1 : 9-11 saya baca bahwa Yeshua dibaptiskan. Pada Roma 6:4: “Sebagaimana halnya Ha Mashiah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemulian Bapa, maka begitu pula Ha Mashiah telah dibangkitkan kepada pembaharuan hidup”. Pembaharuan Hidup….. Itulah yang saya rasakan – seolah-olah saya telah dibenamkan kedalam mata air segar dan mengalir begitu cepat membawa kehidupan yang menyebar ke setiap bagian hidupku. Jadi Baptisan ini ialah satu tanda dan satu materai terhadap pengalaman tersebut. Sewaktu saya merenungkannya, muncul sebuah gambaran di depanku, yaitu gambaran seorang gadis muda duduk dengan sedih diatas kursi ketika para pelayannya menyiram dan memandikannya dengan air zamzam. Zamzam air kehidupan tidak dapat membasuh dosa-dosaku ataupun memberikan kehidupan pada dagingku yang lumpuh. Yeshua telah memberikan kepadaku air kehidupan rohani bagi tubuhku yang tidak berdaya demikian pula untuk jiwaku. Sekarang, kehendakku adalah agar dapat membenamkan diriku dengannNYA dalam baptisan. Saya pikirkan mengenai hal itu tanpa menyadari sepenuhnya akan apa yang bakal saya jalani, begitu pula perubahan-perubahan apa yang kelk dapat terjadi nantinya di dalam hidupku.

“Saya telah bersaksi,” kataku dalam hati. “Saya dapat dibaptis dan kemudian dapat kembali lagi kemari menjalani hidup selanjutnya, bukankah demikian jadinya?”

Pertanyaan ini mengambang, tanpa ada sesuatu suara yang mengiyakan atau tidak membenarkannya. Tapi, wajah ayahku muncul di hadapanku dan saya merasakan suatu perasaan sakit laksana sebuah pisau yang dihujamkan kedalam jantungku. “Oh ayah, ampunilah saya, tapi saya harus mengikut Yeshua yang telah menyembuhkan saya.”

Saya berbicara dengan keras dalam kepedihanku. Tiba-tiba terasa suatu perasaan damai yang mendalam menyelimutiku dan saya merasa yakin bahwa inilah jalan yang benar dan harus kutempuh. Besoknya saya singgah dirumah Razia lagi dan dari sini saya melanjuntukan ke tempat keluarga Major seperti sebelum ini. Pada kesempatan ini nyonya Major ada dirumah. “Lihat” kataku. disini dikatakan bahwa saya harus dibaptiskan, dapatkah saya dibaptiskan? Beliau menggeleng-geleng kepala. “Anakku, kami tidak melayani Baptian dalam denominasi kami.” Baliau memandangku dengan ekspresi yang aneh. “Apakah anda sadar apa yang akan terjadi jika anda sampai melakuka hal ini – mungkin anda tidak dapat kembali ke rumahmu lagi. Bahkan keluargamu dapat mencoba membunuhmu. Oh ya, walaupun keluarga yang begitu saling menyayangi seperti keluargamu, dapat saja mereka berubah jika dilihatnya salah seorang dari anggota keluarganya meninggalkan iman Islam.”

Hening sebentar. Saya mencoba membayangkan keadaan seperti itu. Dibuang dari keluargaku, bahkan dibunuh…..,teringat olehku sidang keluarga…., wajah-wajah seakan-akan elang semuanya menatapku. Lalu saya pikirkan tentang pesan terakhir ayahku kepada kakak-kakak lelakiku – “jagalah adikmu baik-baik.” Tentu saja pada akhirnya, mereka akan mematuhi perintah keramat yang terakhir itu. Namun walalaupun mereka tidak juga mematuhinya dan benar-benar mau menyakitiku, saya masih tetap harus mengikuti jalan ini. Kata-kata Yeshua telah berakar dalam hidupku dan kini saya merasakan kesegaran dimana ada tenaga dan daya tumbuh sedangkan dulu hanyalah keadaan diam dari tatacara agama yang telah tersusun sedemikian untuk dipatuhi dan ditaati. Supaya mereka tidak sangsi lagi dengan pernyataanku, saya berkata dengan tegas, “Yeshua Immanuel telah mengatakan padaku bahwa saya harus menjadi saksiNYA dan Baptisan merupakan langkah berikutnya bagiku. Saya harus mematuhi sebab bila tidak berarti saya akan melenyapkan perasaan damai yang kini telah saya miliki. Lebih bak mati dengan Ha Mashiah daripada hidup tanpa DIA.”

Bapak dan Nyonya Major saling berpandangan dan istrinya mengangguk perlahan. Suaminya berpaling kepadaku: “Kalau begitu, baiklah. Jika Yeshua telah berkata begitu jelas kepadamu maka janganlah anda melawan KehendakNYA. Namun bukanlah hal yang bijaksana bila ada orang melihat anda pergi bersamaku ke Lahore. Istriku akan pergi bersamamu dengan bus. Ia harus singgah mengambil anak kami di sekolah. Saya akan menyusul.”  “Tentu saja saya senang menemanimu Gulshan” kata nyonya Major,  maju kedepan dan memegang tanganku. Saya merasakan adanya sentuhan manusiawi, menyambut saya datang masuk ke keluarga dalam kepercayaanku yang baru.

Jadi, saya menyusun rencanaku dengan sedikit perasaan emosi. Mungkin saya sedang membuang kehidupan dari seseorang lain. Islam, sebagaimana sering dikatakan, dilahirkan di gurun dan para pengikutnya menempuh pelajaran memalui suatu sekolah yang keras dan kasar, belajar selalu taat agar dapat tiba dan mencapai suatu akhir yang lebih tinggi marifatnya dari yang sekarang. Perasaan-persaan pribadi tidak dipertimbangkan untuk dapat digunakan sebagai dasar alasan yang cukup kuat guna melakukan suatu perubahan atau deviasi. Jadi, dengan mengiring Yeshua saya dapat menerapkan rasa ketaatan yang telah mendarah-daging, sewaktu perasaan-perasaan manusiawi mungkin telah mengingkari saya.

Tapi dalam menyusun rencanaku, saya tidak dapat menempatkan diriku pada sutu keadaan dimana pintu bagiku untuk keluargaku sampai harus tertutup. Secara jujur, saya sangat mengharapkan bahwa saya dapat menjalani baptisan dan kemudian kembali kerumah meneruskan hidupku lagi. Sebagai seorang percaya yang belum cukup mendapatkan pengajaran, saya membayangkan bahwa langkah-langkah yang sedang kutempuh merupakan semua yang dituntut Yeshua daripadaku-bertemu dengan orang-orang Kristen dan menyaksikan kepada mereka tentang kesembuhanku lalu dibaptiskan. Namun, bapak Major telah dapat melihat lebih jauh lagi kedepan dibandingkan dengan saya, “Janganlah membawa uang atau sesuatu perhiasan apapun. Jika anda membawanya, sesudah pembaptisanmu mungkin seseorang akan menuduh umat Kristen.” Dengan bersungguh-sungguh beliau mengatakannya dan saya memandangnya mencoba mengartikan apa yang dimaksudkannya dengan benar. Beliau berbicara tentang pemutusan terhadap sesuatu dangan cara semurni-murninya, seakan-akan saya harus meninggalkan segala sesuatunya di belakangku. Semuanya? – uang, permata, rumah, tanah, cinta-kasih dan bantuan keluarga? Apakah Yeshua dapat meminta hal seperti ini daripadaku? Apakah DIA mengaruniakan padaku kesembuhan ini dengan maksud hanya untuk menarik kembali segala sesuatu lainnya yang telah dapat membuat hidupku menjadi sebegitu mesra?

Sewaktu saya kemabali ketempat Razia hari itu, saya bertanya padanya: Bolehkah saya datang mengunjngimu dalam waktu dua hari lagi?. “Tentu saja,” jawabnya, “Saya menunggu”. Di rumah, kepada paman dan bibi ku katakan bahwa saya hendak tinggal bersama Razia dua hari lagi dan mungkin kami akan ke Lahore. “Saya akan menanda tangani sebuah check sebear 75.000 rupee sehingga paman dapat membayar semua tagihan selama saya pergi” kataku kepada paman.

“Dimanakah kau akan tinggal selama di Lahore?” tanya bibi agak merengut menandakan ketidak senangannya terhadap rencana ini. Tapi beliau tidak berdaya untuk mencegah saya. Sekarang saya seorang yang bebas dan lebih dari itu, adalah orang yang menanda-tanani check-check. “Oh mungkin saya akan tingal bersama kakak-kakakku” jawabku secara sembarangan. “Akan kutulis surat”.

Besoknya saya meminta bibi menemaniku berziarah ke kuburan ayah. Beliau sepakat dengan tanda baktiku ini. Kami memetik bunga-bungaan di halaman dan saya menaruhnya disana disertai perasaan-perasaan yang sukar kulukiskan. Ingatan terhadap senangannya bercampur dengan kenyataan bahwa kekekalan bukanlah seperti apa yang telah beliau ajarkan kepadaku yaitu suatu surga yang penuh dengan kesenangan [daging] melainkan kehadiran Yeshua Ha Mashiah.

Pada malam terakhir saya pergi ke pekaranganku ditempat mana saya telah begitu sering duduk selama masa-masa saya tidak memiliki kemampuan. Sambil berdiri diatas tempat dimana peti mati ayahku pernah diletakkan, saya mengenangkan kembali ayahku dengan penuh kesedihan untuk waktu yang lama. Matahari terbenam dalam suatu pancaran sinar merah yang memberi pengaruh terhadap warna dinding-dinding bungalow. Saya berjalan diantara bunga-bungaan serta buah-buahan dan dedaunan menghirup bau harum yang merupakan campuran bunga mawar dan kembang jeruk. Angin sepoi-sepoi senja berdesir di dedaunan pohon mangga dan jeruk sewaktu langit ditasku disapu oleh warna ungu dan biru malam. Bulan muncul, besar bentuknya seperti buah semangka sedangkan bintang-bintang bertaburan laksana butir-butir berlian dalam lipatan beludru malam. Di bungalow di belakangku, lampu-lampu telah dinyalakan dan cahanyanya berpancaran, hangat dan aman rasanya. Saya masih terpana disitu. Seolah-olah baru pertama kali saya melihatnya, kini sewaktu saya hendak meinggalkannya malah saya tidak memperkenankan bayangan yang merayap di pepohonan menakut-nakuti saya. “Kenapa kau lakukan hal sedemikian ini? Engkau akan menjadi seorang pengikut Ha Mashiah dan kehilangan semua ini?” Suatu pikiran datang merayap muncul dari kegelapan. seakan-akan merupakan jawaban, sebuah ayat yang pernah kubaca menyelinap masuk kepikiranku seperti sebuah suara yang lembut: “Seseorang yang mencintai ayahnya dan ibunya lebih daripadaKU, maka ia tidak layak bagiKU. ia yang tidak memikul salibnya serta tidak mengikut AKU, tidak layak bagiKU. (Mat.10:38).

Saya memandang kearah rumahku lagi dan teringat olehku bahwa bukan hanya waktu-waktu bahagia, tapi juga waktu-waktu dimana saya merasakan seolah-olah rumah ini merupaka sebuah penjara bagiku dimana saya, si narapidana berharap didalam hati bahwa saya sedang dalam perjalanan ke surga. Saya mengungkapkan isi hatiku dengan suara keras: “Segala sesuatu berubah. Tapi saya akan selalu mengenangkan tempat ini dihatiku.” Kemudian saya meninggalkan pekarangan dan masuk kerumahku berkemas-kemas. Besok pagi saya menanda-tangani 2 check – satu lembar 75.000 rupee, saya berikan pada paman untuk biaya rumah tangga sehingga beliau tidak akan kekurangan uang dan berusaha mencari saya – satunya lagi 40.000 rupee kumaksudkan untuk diberikan kepada Razia untuk mengamankan kerjasamanya dalam recanaku. Dengan cara itu pintu masih terbuka sedikit bagiku bila saya ingin kembali kerumah lagi.

Pada tanggal 15 maret saya melepas paman berangkat kerja, kemudian saya mencium bibi dan para pembantuku Salima dan Sema sambil menahan airmata. Bibi berkata: “Kenapa kau pergi dengan cara seperti ini? Bawalah mobil dan sopir bersamamu ke Lahore. Apakah kau dapat kemana-mana sendiri? Apakah kau yakin akan pergi tanpa pembantumu? Pamanmu sama sekali tidak menyenangi hal ini.”

“Bibi jangan kuatir” sahuntuku, “saya akan menulis surat padamu.” Beliau harus puas dengan pernyataanku itu. Kemudian Majid memutar mobil dan saya masuk ke dalamnya. Kembali saya memandang ke rumah putih yang penuh kedamaian itu ketika kami mengelilingi sebuah tikungan lalu hilang dari pandangan. Si penjaga pintu terakhir melihat lambaian tanganku dari balik tirai jendela Mercedes itu.

Saya menemui sedikit kesulitan waktu membujuk Razia berperan-serta dalam rencanaku ketika ku beritahukan padanya uang itu, tetapi saya tidak mengatakan hal yang sebenarnya tetang kelakuanku yang aneh — bahwa saya sedang mengulur-ulur waktu sehingga tidak ada yang dapat menghalangi pelaksanaan baptisanku.

“Ini untukmu karena anda telah mejadi guruku serta berlaku begitu baik padaku. Saya akan ke Lahore untuk tinggal bersama beberapa kawanku. Sekarang saya sudah dapat berjalan sendiri dan saya harus menjelaskan segala sesuatunya pada paman dan bibi tentang apa yang saya lakukan. Kepada keluargaku kukatakan bahwa saya pergi bersamamu sehingga mereka tidak kuatir.”

Wajah Razia yang cantik kelihatan sangsi: “Tentu saja saya akan melakukan apa yang dapat kuperbuat untuk menolongmu, tapi bagaimana jika keluargamu mencarimu dan menjumpai saya disini?” – Dengan cepat saya berkata: “Tolonglah, jika ada dari mereka menanyakan kemari, sudilah anda berlaku seolah-olah anda ada bersamaku di Lahore?”

Biarkanlah ibumu keluar menemui mereka dan anda tinggal didalam. Saya mohon maaf, sebab saya tidak dapat menjelaskannya lebih jauh.”

Razia kelihatanya terkejut, tapi ia segera berkata: “Tentu saja Gulshan. Jadilah seperti yang kau kehendaki. Saya kira kita cukup saling-mengenal satu dengan yang lain dan kita saling percaya-mempercayai.” Saya berpikir-pikir, apa kiranya yang akan dilakukannya jika saja ia mengetahui tentang maksudku yang sebenarnya. Saya meninggalkan dia seperti cara sebelumnya dan mengendarai sebuah tonga ke rumah di Kachary Road. Bapak dan nyonya Major menyambuntuku dengan hangat dan pada hari itu juga saya dibawa dengan mobil ke Lahore kesebuah rumah yang diurus oleh seorang pendeta dengan istrinya yang bersedia menampung orang-orang yang sungguh-sungguh mau menjadi orang Kristen dan disana saya bertemu juga dengan pendeta dan nyonya Aslam Khan. Jadi, dimulailah satu fase baru dalam hidupku sebagai seorang Kristen yang baru ditengah-tengah umat Kristen. Sama sekali bukanlah seperti yang saya harapkan sebelumnya.

BAB 9 : BAPTISAN [melihat kehidupan orang-orang Kristen, nama baru di hari Pembaptisan, siapakah orang kafir]
Pendeta Aslam Khan adalah seorang yang baik sekali, rasanya beliau dapat mengerti akan semua masalah yang sedang saya hadapi. Dalam waktu singkat beliau menjadi Aba-Ji (Ayah) bagiku. Ama-ji yaitu nyonya Aslam Khan dengan caranya sendiri juga seorang yang baik. Beliau keras pendiriannya, kurus, selalu sibuk dirumah dan mengharapkan agar saya juga sibuk. Ketika saya tiba, beliau menunjukkan padaku kamar tamu dengan tempat tidurnya yang sederhana dan segera teringat olehku tempat tidur (palungku dirumah dengan alas tali anyam-nya lebar serta dilengkapi dengan “gada” atau kasur katun lunak diatasnya. Katanya: “Inilah kamarmu. Laci-laci untuk pakaianmu ada disin, kamar mandi disana. Ada banyak pekerjaan yang harus kulakukan sebab begitu banyak tamu yang datang. Maafkan saya. Saya harus mengatur beberapa pekerjaan dengan para pembantuku. Apapun yang anda perlu mintalah kepada pembantuku.” Kemudian beliau berlalu.

Saya berusaha sedapat mungkin untuk menyenangkan hati pendeta dan nyonya Aslam Khan, tapi saya belum pernah melakukan sesuatu pekerjaan rumah-tangga sebelumnya, jadi saya begitu bodoh dan kikuk serta rasanya tidak senang bila mendapat kritikan terhadap kesalahan waktu melaksanakan tugas-tugas kecil yang diberikan padaku. Ketika tuan rumahku datang di belakangku dan meraba-raba hiasan yang barusan saya bersihkan dari debu, saya merasa malu dan marah tapi perasaanku saya tekan didalam hati, bergejolak sehingga merusak suasana hari-hari permulaanku dirumah itu. Saya ingin berpaling padanya dan berkata, “Anda benar Ama-ji, saya tidak melaksanakan dengan benar, tapi ketahuilah bahwa sebelum kemari, saya belum pernah mengerjakan sesuatu pekerjaan apapun sendiri. Saya belum pernah mencuci piring, menyapu ruangan, mengatur tempat tidur, mencuci pakaianku, menyisir rambuntuku bahkan mengenakan pakaianku sendiri masih dibantu. Hal ini bukan hanya disebabkan oleh banyaknya pembantu dirumahku, tapi karena saya terbaring ditempat tidur, tidak berdaya selama bertahun-tahun lamanya.”

Tapi maksud seperti itu TIDAK ku utarakan. Kedengarannya seolah-olah mencari-cari alasan dan yang buruk lagi ialah kalau di matanya terlihat perasaan bangga. Beliau dapat menjawab bahwa kini saya sudah sembuh oleh sebab itu seharusnya berusaha belajar atau bahwa sebenarnya saya sangat malas. Jadi, beberapa malam saya menahan diri, kurang tidur dan suatu bisikan mencemooh rasanya terdengar dalam ruangan yang gelap. “Belum terlambat” kata suara itu. Kakak-kakakmu sedang menangis. Kenapa anda tidak kembali saja. “

Terlihat wajah-wajah paman dan bibi memandang padaku dengan sedih. Karena tidak dapat tidur, saya bangun merayap-rayap dalam kamar sampai pergumulan untuk mengenyahkan bisikan-bisikan itu menjadi sebegitu meningkat sehingga saya berseru kepada Yeshua, “Saya telah menyerahkan diriku padaMU dan saya rasa bahwa saya berada pada jalan yang benar sebagaimana yang telah ENGKAU tunjukkan kepadaku. Mengapa wajah-wajah itu bermunculan mengejek saya?” Kemudian terdengar suatu suara yang tenang dan halus, “Aku selalu menyertaimu, mereka tidak dapat mencelakakanmu.” Lalu saya merasakan kedamaian, begitu kata-kata Yeshua memenuhi pikiranku serta mengenyahkan bisikan-bisikan yang mengejekku.

Setelah kira-kira seminggu berlalu, kesulian-kesulitan itu mulai dapat kuatasi. Saya lebih aktif dibandingkan dengan waktu dirumah sendiri sehingga saya dapat tidur lelap dan rasanya tempat tidur “charpai” itu tidak keras lagi. Saya membaca sesuatu yang merubah sikapku seluruhnya dalam melaksanakan tugas-tugas rumah tangga. “Lalu Ia berdiri dari meja makan, mengambil baju luarNYA dan menyandang sebuah handuk dibahuNYA. Setelah itu ia menuangkan air kedalam sebuah baskom dan mulai membasuh kaki murid-muridNYA, mengeringkannya dengan handuk yang dililitkan sekeliling pinggangNYA. (Yoh. 13:4,5). Hal seperti ini merupakan yang baru bagiku. Didepanku disini dipertunjukkan suatu contoh kerendahan hati dan pelayanan yang tidak pernah akan kulupakan, yang menyentuh sampai kelubuk hatiku yang terdalam dari perasaan keangkuhanku. Sambil melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadaku, saya bentangkan dihadpanku contoh dan teladan yang sempurna dari Yeshua yang menjadi seorang pelayan bagiku. Kemudian rasanya tidak sulit bagiku untuk melayani orang lain bagiNYA.

Saya tinggal di rumah itu 5 minggu sebelum pembaptisanku. Waktu saya menanyakan kepada Pendeta Aslam Khan tentang pengunduran waktu itu, beliau berkata
“Oh, saya harus mengurus beberapa hal.” Kemudian kuketahui bahwa beliau ingin mengawasi saya beberapa waktu untuk meyakinkan bahwa saya bersungguh-sungguh mau dibaptiskan.

Adalah suatu hal yang tidak baik, bila telah menempuh langkah ini kemudian mundur lagi daripadanya. Tapi saya bertambah gelisah karena takut dipergoki. Saya ingin tahu apakah keluargaku melakukan penyelidikan kepada Razia, jadi saya menulis surat kepadanya “Saya masih mempunyai beberapa transaksi dagang disini sebelum saya kembali, tolong jangan beritahukan keluargaku dimana saya berada. Dalam waktu secepatnya saya akan menerangkan semua ini kepadamu.” Kemudian kuketahui bahwa Razia dan ibunya benar-benar memegang janjinya dan berhasil menyembunyikan rahasiaku, walalupun hal ini menimbulkan banyak kesulitan pada mereka. Dengan perasaan girang kini dapat ku ceritakan bahwa ia telah menikah – seorang kawan yang setia, jujur yang pada waktu itu membelaku mati-matian walaupun tidak memahami akan apa yang sedang kulakukan. Selama menumpang dengan keluarga Pendeta dan Ibu Aslam Khan, saya mengikuti ibadah di Gereja Methodist Warris Road. Diantara jemaah itu saya menemukan suatu kemerdekaan yang tidak kuketahui sebelumnya dalam menjalankan ibadahku. Begitu banyak hal yang berbeda disini. Hal pertama kuperhatikan waktu masuk ialah dekorasi. Di dalam tempat ibadah dulu dekorasinya abstrak murni ayat-ayat Al-Quran dengan ubin, kubah serta permadaninya bercorak-corak. Cahaya dan bayangannya juga dipakai untuk efeknya. Tidak terlihat olehku gambar manusia atau gambar Tuhan [Elohim], karena bagaimanakah makhluk yang diciptakan dapat membayangkan Penciptanya. Disini terdapat kaca berwarna di jendela-jendela dengan sebuah gambar Yeshua sedang berdoa, ada bunga-bunga diatas meja dan bunyi musik. Pada lengkungan dinding gereja bukan huruf-huruf lain yang tertulis melainkan Firman ini: “LIHATLAH AKU BERDIRI DIMUKA PINTU SAMBIL MENGETUK.”

Saya merenungkan Firman ini. Di Pakistan, bila orang mengetuk pintu atau gerbang dilakukan berkali-kali dan dengan keras, tetapi Yeshua telah mengetuk kedalam hatiku dengan begitu lembut rasanya. Hal berikut yang ku perhatikan ialah cara yang indah sekali, dimana para keluarga dapat duduk bersama-sama – pria, wanita dan anak-anak. Orang-orang bujangan diikut-sertakan kedalam kumpulan kekeluargaan ini. Di rumah, biasanya hanya para pria yang dapat pergi kerumah ibadah. Para wanita melaksanakan ibadah sembahyangnya di rumah. Saya menyadari bahwa betapa sedikitnya pengajaran yang diterima bagian terbesar dari mereka, tapi dikatakan bahwa derajad wanita lebih rendah dari pria, walaupun ditekankan bahwa mereka haruslah diperlakukan dengan adil dan mempunyai hak yang sama. Para pria mewakili kaum perempuannya di mesjid. Betapa berbeda keadaannya dibandingkan dengan disini, dimana Elohim berhubungan dengan masing-masing pribadi melalui Yeshua, yang mati bagi setiap orang. Firman Tuhan [Elohim] dalam Alkitab berkata bahwa tidak ada perbedaan golongan (Yahudi atau Yunani), kelas (budak atau yang merdeka juga jenis kelamin pria atau wanita). Disini terjalin cara perlakuan sama derajad yang baru dan indah rasanya. Elohim menerima ibadatku sama halnya dengan penerimaanNYA terhadap ibadat saudara-saudaraku seiman yang lain di dalam Ha Mashiah dan persekutuan bersama yang dinyatakan sebagai tubuh Ha Mashiah. Saya merasakan adanya tali pengikat yang tidak kelihatan ini menjalin dengan erat semua gereja secara bersama dalam persekutuan Kristen yang baru ini dalam doa yang dipanjatkan bagi orang-orang sakit dan tua serta bagi mereka yang mempunyai masalah/mengalami kesulitan. Hal ini saya rasakan ketika mereka menyambutku masuk kedalam persekutuannya. Lama kelamaan saya mulai merasakan seolah-olah persekutuan dalam gereja ini telah mengambil-alih tempat keluargaku yang kutigggalkan. Disini saya mempunyai banyak saudara lelaki dan wanita. Saya perhatikan bahwa khotbah pendeta berkisar pada hal-hal yang sederhana tapi menyangkut pokok-pokok yang amat mendalam yang diambil dari sebuah kitab yang begitu berarti bagiku. Melalui pengajaran-pengajarannya saya mendengar Yahweh Yeshua berkata-kata, tidak secara langsung seperti yang dilakukanNYA kepadaku di kamarku, tapi dengan suatu cara dimana Alkitab diaplikasikan kedalam hidupku.

Saya juga memperhatikan bahwa pendeta itu berkhotbah seolah-olah mau meyakinkan kepada beberapa pendengarnya. Saya mulai menyadari bahwa beberapa orang yang menyebut dirinya “orang-orang Kristen” tidaklah memiliki niat yang sungguh-sungguh seperti saya. Saya telah dibesarkan disuatu lingkungan keluarga orthodoks yang ketat sejak lahirku dan mungkin tidak menyedari bahwa keadaan semacam ini juga terjadi pada orang-orang non-Kristen juga. Tuan rumahku telah mengingatkan saya agar tidak banyak berceritera tentang diriku. Bagaimanapun saya menceritakan sedikit tentang penyembuhanku dan pengalihan imanku, dan jemaat di gereja itu keheranan, “Apakah anda maksudkan bahwa Yeshua menampakkan diriNYA kepadamu didalam kamarmu dan menyembuhkanmu?” Saya heran kenapa pengalaman seperti yang terjadi atas diriku itu jarang. Tentu saja Yeshua dapat berkarya seperti yang dilakukanNYA padaku dalam setiap kehidupan umatNYA yang percaya. Apakah demikian? “Tergantung pada Imanmu” kata Aba-Ji ketika saya menanyakan hal ini padanya. Pernyataan ini kedengarannya berlaku secara umum. Di sana saya melihat adanya suatu prinsip yang dilibatkan – bahwa iman merupakan kunci bagi kesinambungan pengalaman Kristiani yang indah ini, begitu pula kehidupan mujizat yang telah kualami. Saya berpikir kembali dan mengenang betapa imanku telah bertumbuh tanpa saya harapkan sejak kegagalan untuk mendapat kesembuhan di Mekkah. Iman ini telah datang seakan-akan suatu karunia, iman ini yang sanggup memindahkan gunung. Saya telah dibesarkan dalam keadaan tidak berdaya dan membutuhkan pertolongan. Tangisan dan seruanku telah sampai kependengaran Elohim yang tidak saya kenal, tetapi yang mengenal saya dan Dia telah mengisi hidupku. Dalam kesunyian malam, saya berikrar untuk tetap mempertahankan kekuatan imanku, tanpa memperdulikan rintangan apapun yang harus kuhadapi.

Akhirnya tibalah hari pembaptisanku, tanggal 23 April. Dilaksanakan dalam ruangan di sebuah rumah dimana sebuah tanki air minum khusus ditempatkan bagi keperluan seperti ini. Bapak dan Ibu Major serta beberapa kawan kami berkumpul. Pendeta dari Warris road memimpin upacara tersebut yang berlangsung sederhana namun sempurna. Begitu saya dibenamkan kedalam tanki itu saya merasakan bahwa saya meninggalkan si Gulshan yang lama beserta dengan keinginannya yang lama dan muncul Gulshan yang baru, “dikuburkan bersama DIA didalam baptisan lalu bangkit kedalam pembaharuan hidup.” Para tua-tua yang hadir memberikan nama baru bagiku: Gulshan Esther. Saya membaca kemudian bahwa Esther adalah seorang saksi pada rajanya tentang umat Elohim, orang Yahudi dan karena itu ia menghadapi bahaya. Rasanya, keadaan ini cocok dengan kasus yang terjadi padaku.

Sesudah pelayanan itu para wanita datang memberikan ciuman didahi dan para pria menjabat tanganku ketika mereka menyambuntuku masuk kedala gereja Ha Mashiah. Saya merasakan kehangatan aliran Kasih yang Kristiani yang sejati dari mereka. Setelah mereka pergi bapak Aslam Khan menanyakan bagaimana perasaanku: “Baik” jawabku, “tapi sekarang saya mau menyaksikan apa yang telah terjadi.” Beliau menganggukkan kepalanya. “Anda dapat memberikan kesaksian dengan perilakumu”. Tidak perlu memberi kesaksian hanya dengan mulutmu.” Namun teringat olehku akan kata-kata Yeshua padaku, “Engkau adalah saksiKU. Saksikanlah kepada umatKU”.

Saya memandang padanya, kepala menengadah seolah-olah menolak untuk dihalang-halangi. “Tapi saya merasakan bahwa Yeshua menghendaki agar saya bersaksi. Bolehkah saya berbicara di gereja?”. “Saya rasa anda belum siap untuk itu. Anda harus menjadi saksi dirumah untuk dapat memenuhi panggilan ini. Elohim akan menerimanya.”

Tapi beliau tidak mengenal tentang Gulshan Ester ini. Saya berkata: “Baik, jika saya tidak dapat bersaksi disini, saya harus pulang dan menyaksikan-nya kepada keluargaku. Bagaimanapun saya ingin melakukannnya”. Beliau kelihatannya benar-benar cemas mendengarnya, “Tidak, tindakanmu itu membahayakan dirimu. Mereka sama sekali tidak akan senang dengan pembaptisanmu dan mereka akan mencelakakan engkau.”

“Saya tidak percaya bahwa keluargaku akan melakukan sesuatu tindakan yang mencelakakan saya, namun saya tidak akan pergi sebelum waktu yang memungkinkan. Sebagai gantinya dapatkah bapak mengirim saya ke Sekolah Alkitab sehingga saya dapat belajar lebih banyak untuk bersaksi pada mereka?”

Cukup lama beliau menatapku dan saya bertanya-tanya apa gerangan yang dipikirkannya. Saya mulai merasa agak malu dengan caraku yang lancang memaksakan kehendakku. Saya masih muda dan memiliki perasaan menggelora ingin melakukan sesuatu tugas yang saya yakini telah diperuntukkan Elohim bagiku, namun saya belum menyadari ketika itu betapa belum berpengalaman dan mentahnya diriku ini. Saya baru saja melangkah masuk memulai masa bakti ibadah (kehidupan rohani) ku. “Saya rasa hal inipun belum dapat kita lakukan” kata bapak Aslam Khan dengan tegas. “Anda masuh muda sekali dalam iman ini, tapi jika anda harus mendapatkan sesuatu tugas Kristiani maka kami dapat mengirimkan anda untuk bekerja di “SUNRISE SCHOOL FOR THE BLIND (SUNRISE, SEKOLAH UNTUK ORANG BUTA).” Beliau memberikan sedikit penjelaan tentang sekolah itu dan bagaimana mereka melayani anak-anak buta yang tidak dapat dididik dengan sistim normal. Beliau merasa bahwa ia dapat mencarikan pekerjaan bagiku disana sebagai salah seorang ibu pengasuh. Saya setuju dan sambil memikirkannya timbul perasaan gembira dihatiku. Saya telah menghadap kepala sekolahnya dan dalam waktu yang sangat singkat telah diatur bahwa beliau datang menjempuntuku dengan mobilnya. Ketika keesokan harinya kami mengendarai mobil melewati jembatan Old Ravi dengan air sungainya yang agak kotor lalu masuk ke halaman sekolah “Sunrise” yang berbentuk empat persegi, rasanya saya sedang melepaskan diri dari hidupku yang lampau. Mulai dari sekarang saya adalah manusia baru dengan nama baru dan mempunyai tujuan yang baru. Masa-masa yang saya lalui sebagai seorang ibu pengasuh di Sunrise school for the blind Lahore, menandakan suatu tahapan pertumbuhan. Dari keadaan tergantung pada orang lain, saya mendapatkan suatu perubahan yang drastis, tiba-tiba diserahi tanggung-jawab untuk mengasuh sekolompok anak-anak kecil yang buta dan harus melayani kebutuhan-kebutuah fisik mereka. Dalam suatu dunia yang sama sekali baru bagiku, saya harus belajar mengatasi permasalahan, berdiri di atas kaki sendiri. Hal ini bukanlah tugas yang mudah. Memang tidak gampang, tapi masih lebih baik dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.

Bangunan berbatu bata merah yang kokoh ini telah mengalami banyak perubahan sejak dibangun oleh pendirinya, seorang India, Sir Ganga Ram sebagai sebuah rumah sakit kusta. Abunya ditempatkan di rumah di bagian dalam sebuah ‘ samedhi ‘ yang keadaaanyya sudah menyedihkan. Nona Fyson mengambil alih lembaga tersebut pada tahun 1958 dan merubahnya menjadi sekolah Kristen bagi orang – orang buta, dan beliau pensiun taun 1969. Saya mengenangnya dengan perasaan sedih yang mendalam. Bagiku bangunan ini merupakan bangunan yang terlindung untuk belajar hidup dalam dunia yang berada di luar kerudungku.

Sebagai suatu tanda pemutusan terhadap cara hidupku yang lama, saya memotong rambutku menjadi pendek dan menjahitkan dua baju putih yang saya pakai bersama ‘shalwar kameeze’ waktu ke luar. Di sini, dengan perasaan girang saya menerima upahku yang nyata – bukan dalam bentuk mata uang rupee karena gajiku hanya 40 rupee per bulan, tapi dalam curahan kasih sayang yang luhur dari anak-anak asuhanku yang masih kecil-kecil. Umur anak-anak di sekolah itu berkisar antara 5 – 16 tahun, separuh beragama Islam dan separuhnya beragama Kristen, dan mereka bekerja sama serta bermain bersama dengan sangat bahagia. Satu-satunya yang memisahkan mereka hanyalah pengajaran agama serta waktu pelaksanaan sembahyang.

Ada 40 anak dalam seksiku di sekolah itu. Tugasku ialah menjaga anak-anak lelaki yang lebih kecil, menemani mereka makan, menuntunnya waktu bermain di halaman sekolah dan tidur di asrama mereka. Saya juga bertugas mengurus pakaian-pakaian mereka dan beberapa kerja cuci–mencuci, membantu mereka muncici sendiri, mengatur tempat tidurnya dan mengawasi pelaksanaan sesuatu tugas yang belum dapat mereka kerjakan dengan baik ; mencuci piring-piringnya sesudah makan. Saya juga bertugas membersihkan jendela-jendela dan meja-meja. Di samping itu saya harus mengajarkan pelajaran Alkitab kepada anak-anak dan setiap dua minggu sekali saya mendapat giliran membawa mereka ke gereja.

Ada dua ibu pengasuh lagi, mereka bersaudara bersepupu, beraga Kristen. Mulanya bereka tidak ramah, hanya berbicara di antara mereka saja dan tidak menyapa saya walaupun kami sama-sama bekerja secara dekat serta menunjukan perasaan ketidak-senangannya dengan cara yang tidak menyenangkan. Namun, sesudah beberapa hari mereka menjadi hangat terhadapku dan mulai membantuku menyelesaikan pekerjaan yang sukar bagiku serta menjadi penterjemah bagiku terhadap kepala sekolah yang hanya berbicara Inggris dan tidak berbicara bahasa Urdu.

Sekarang, jika mereka pergi mengambil pasta atau sabun di kantor Kepala Sekolah, mereka juga meminta bagianku. Mereka membantuku bila saya menemui kesulitan karena kempampuanku yang terbatas. Pekerjaan-pekerjaan itu lebih kasar dari apa yang biasa saya lakukan sebelum ini padahal tangan-tanganku halus. Pada minggu pertama, tanganku menjadi begitu berkeriput karena sabun yang kami gunakan ketika mencuci pakaian. Lalu sebelah tanganku melepuh waktu bekerja di dapur. Akhirnya sewaktu sedang membersihkan meja, tanganku terluka dan berdarah. Sangat tidak enak rasanya.

Rosina, salah seorang mereka, menemaniku menghadap Kepala Sekolah sebagai penterjemahku. Beliau sangat simpatik, namun sewaktu memberikan salep kepada Rosina untuk lukaku beliau berkata, “Saya tidak dapat melakukan sesuatu apaun untuk membebaskanmu dari tugas ini. Maafkan saya, tapi bila anda tidak dapat melaukannya maka anda terpaksa harus berhenti bekerja. Coba lihat, apakah kawan-kawanmu yang lain dapat membantumu.”

” Jangan kuatir, kami akan menolongmu,” kata Rosina menghiburku waktu kembali ke asrama dan saya memberikan senyuman terima kasih untuknya.

Kembali di kamar saya mengeluhkan kesukaran-kesukaran kepada Sumber Penghiburanku yang tidak pernah mengecewakanku. Segera saya sadari, bahwa tanganku hanya terluka saja – itu pun mungkin karena keteledoranku sendiri – tangan – tangan Ha Mashiah telah dipakukan ke kayu salib untukku dan penderitaan-penderitaanku sama sekali tidak ada bandingannya dengan penderitaaNya.

Bagaimana pun secara tidak terlihat, saya sedang dan akan menghadapi perjuangan-perjuangan yang lebih serius. Begitu tiba di Sunrise saya menelpon kakaku laki-laki yang lebih muda, Alm Shah. Kukatakan padanya, ” Saya rasa kaka perlu tahu bahwa dengan sesungguh-sungguhnya saya telah menjadi seorang Kristen dan kini saya bekerja di sebuah sekolah untuk anak-anak yang buta di Lahore.” Terdengar sebuah tarikan napas panjang di ujung telepon itu, “Apa-apaan yang telah kau lakukan ini?” kata Alim Shah, “Mari, pulanglah ke rumah dan lupakan semuanya ini.”

“Sekarang saya telah menemukan Jalan, Kebenaran dan Hidup, bagaimanakah saya dapat melupakan semua ini begitu saja?” Ia berkata, “Apakah kau sudah menjadi gila ? Jika kau tetap mengatakan hal semacam ini padaku maka pintu rumahku akan tertutup selamanya untukmu. Sepanjang yang menyangkut diriku, bagiku, kau sudah mati.”

“Baiklah, coba katakan kepadaku tentang hal ini: bagaimana saya dapat meninggalkan kebenaran dan kembali kepadamu? Saya tidak dapat melakukannya, betapa pun harganya!” Nada suaranya kecut dan datar, “Baiklah, bila demikian pintu rumahku akan tertutup bagimu, kau sudah mati ! Saya tidak mau melihat mukamu lagi dan kaupun tidak akan melihat mukaku lagi!

Saya tersenyum karena pernyataan itu, “Baiklah, jika pintu rumahmu tertutup maka pintu rumah Bapaku di Surga terbuka untukku. Jika bagimu saya telah mati, hal itu karena saya telah mati di dalam Yeshua Ha Mashiah, dan jika kakak pun mati di dalam Yeshua Ha Mashiah maka kakak juga akan hidup dan kemudian kakak akan berjumpa denganku.” Ia menjawab dengan membantingkan gagang teleponnya.

Pada hari yang sama, saya menulis surat untuk pamanku, mengatakan bahwa saya telah menjadi seorang Kristen dan telah dibaptiskan. Saya juga menulis untuk Safdar Shsh, mengatakan hal yang sama. Saya menunggu-nunggu untuk melihat apa reaksi yang akan mereka lakukan melalui suatu penantian yang cemas, dengan perasaan rindu akan pengertian mereka agar mau menerima saya sebagaimana keadaanku sekarang dan mengijinkan saya tinggal bersama mereka lagi. Tapi jauh di lubuk hatiku saya tahu bahwa keadaan ini kelihatannya tidak mungkin menjadi kenyataan. Mereka tidak akan pernah memberikan kemerdekaan padaku untuk beribadah sesuai dengan keinginanku bila saya pulang.

Selama ini saya tidak percaya terhadap seorang pun di sekolah itu. Hal ini sejalan dengan nasihat pendeta Aslam Khan. Saya berada dalam suatu posisi yang sulit, di mana begitu banyak tantangan sedang berkembang dan menunggu waktu ; dan pendeta yang baik hati itu benar-benar khawatir terhadap keselamatanku serta orang-orang Kristen lainnya yang tersangkut denganku. Jadi ketika anak-anak menanyakan padaku tentang diriku, saya menghindar untuk menjawabnya secara langsung. Tapi ada banyak bahan yang dapat saya ceritakan pada mereka. Mereka senang mendengarkan bila saya menceritakan pada mereka tentang kisah-kisah Alkitab. “Oh Ba-ji,” serunya kalau sudah tiba waktunya untuk tidur, “ceritakan satu cerita lagi.”

” Baiklah, hanya satu cerita lagi dan sesudahnya lampu akan dipadamkan.” Lalu saya akan membacakan pada mereka cerita-cerita yang diajarkan Yahweh Yeshua tentang 99 domba yang selamat di dalam kandangnya, sedangkan seekor lagi hilang di bukit-bukit. Saya ceritakan pada mereka tentang si anak bungsu yang memintakan semua harta warisan dari ayahnya lalu memboroskan semuanya sampai tidak ada seorang pun juga yang mau berkawan dengannya dan tidak orang tua yang mau mengambilnya sebagai menantu. Saya ceritakan juga tentang kisah yang ada di dalam Al Quran mengenai Abraham dan Ishak serta Ismail juga Sarah dan hagar. Umat Islam percaya bahwa Abraham ( yang dikenalnya sebagai nabi Ibrahim ) mempersiapkan anaknya Ismail untuk dikurbankan. Menurut Alkitab yang hendak dikurbankan ialah Ishak, yaitu anak perjanjian.

Di sekolah itu ada peraturan yang melarang untuk menonjolkan perbedaan pada ajaran agama (warna agama ) apabila kami mengisahkan cerita Alkitab kepada anak-anak Islam, jadi saya patuh akan ketentuan ini. Saya menceritakan kedua versi tersebut pada mereka lalu bertanya, “Mana yang benar?” Tentu masing-masing kelompok akan berkata bahwa versi merekalah yang benar. Setidak-tidaknya, mereka mengetahui dari saya tentang kedua versi cerita itu.

Kami menyanyi bersama-sama. Saya mengajarkan nyanyian-nyanyian rohani serta koor-koor pada mereka dan semua anak ini menyukainya. Sebuah lagu yang paling digemari dan dinyanyikan dengan penuh semangat ialah: “Nyanyikanlah kepadaku berulang-ulang, kata-kata kehidupan yang ajaib, biarlah saya dapat melihat lebih banyak lagi keindahannya, kata-kata kehidupan yang ajaib.”

Kira-kira sesudah jam 9 malam kegiatan harian kmai berakhir lalu saya memperoleh waktu untuk membaca dan mempelajari Alkitab seorang diri. Setiap kali saya membukanya, saya menemukan hal yang sama terjadi : rasanya seakan-akan ada seorang penterjemah bagiku yang membantuku untuk mengerti. Jika saya bertanya pada diriku di suatu malam: “apa artinya ini ?,” maka saya dapat memastikan bahwa sebelum beberapa hari berlalu saya telah dapat mengerti tentang hal tersebut. Kesadaran rohani sedang bertumbuh. Cara belajar semacam ini sama dengan apa yang saya dapatkan dari anak-anak yang buta itu. Mereka menghadapi semua rintangannya dengan sabar dan sukacita. Untuk itu saya mencintai mereka dan sambil mengawasi mereka, saya juga mendapatkan pelajaran-pelajaran. Mungkin saya begitu memahami situasi mereka karena sewaktu memperhatikan mereka bermain-main saya merasa bahwa sayu pun buta terhadap Kasih Elohim, sekarang saya sudah dapat melihat.

Lalu reaksi dari keluargaku datang. Saya menerima sepucuk surat dari Safdar Shah. Saya telah menunggu-nunggu suratnya dengan perasaan takut. Sebagaimana biasa, ia memulai suratnya dengan kata-kata sopan dengan mengatakan bahwa ia tidak pernah mengira untuk mendengar berita semacam itu dariku: “Kau adalah adik perempuanku yang tercinta. Selama ini kau sangat mencintai Allah dan selama ini ayahku juga sangat mencintaimu dan kau banyak belajar tentang Isalm dari beliau. Sebenarnya saya tidak perlu mengatakan hal ini kepadamu – kau paham tentang hal itu. Kau seharusnya tahu bahwa anak perempuan dari keluarga Sayed tidak diperbolehkan melakukan seperti apa yang kau lakukan sekarang. Kau harus kembali, adikku Alim Shah telah memberitahukan kepadaku bahwa kau telah memeluk agama Kristen dan percaya pada Yeshua sebagai Anak Elohim. Hal ini adalah suatu tindakan yang salah baik bagi keluarga maupun agama kita. Kusarankan padamu agar segera setelah membaca surat ini kau datang ke rumahku dan dengarlah nasihatku. Kau sendiri tahu bahwa saya memegang semua akte dari seluruh kekayaan/harta yang dimiliki atas namamu. Harta ini tidak dapat diberikan kepada seorang Kristen yang sebelumnya adalah seorang Sayed.” Ia menambahkan bahwa seluruh Pakistan telah mengetahui bahwa sekarang saya telah menjadi seorang Kristen dan karena itu tidak mempunyai hak atas harta ini. Surat itu ditutupnya, “Jika kamu tidak meninggalkan Kekristenanmu maka saya tidak akan berdiam diri dan akan mengerahkan segala kemampuanku untuk menarikmu kembali. Agamaku memperkenankan saya untuk membunuh seorang adik perempuan yang telah murtad dan menjadi pemeluk agama lain.”

Saya terkenang akan bungalowku denga dindingnya yang bercat putih dan saya mau menangis. Apa yang saya hadapi ini tidak adil rasanya. Tapi sambil berdoa untuk keadaan ini saya menemukan Firman dalam Yohanes 14:1-4: ” Janganlah gelisah hatimu. Percayalah kepada Elohim, percayalah juga kepadaKu. Di rumah BapaKu ada banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.”

Kata-kata ini memberikan penghiburan bagiku. Untukku telah dijanjikan mendapat sebuah tempat tinggal di atas (Surga). Saya merobek surat itu dan membuangnya ke keranjang sampah. Lalu saya pergi berkumpul dengan yang lainnya. Ikut menyanyi bersama sambil menghayati kata-kata nyanyian: “Yeshua Kawan yang Sejati.”

Tiga hari kemudian datang rekasi ketiga – sebuah surat dari pamanku, dari rumah. Panjangnya 10 halaman, ditulis di atas kertas blok note putih di dalam amplop biru. Di dalamnya beliau mengatakan bahwa mereka sangat rindu kepadaku, menyebutkan nama Salima dan Sema – ” Siapa yang akan mereka layani sekarang?” Berita ini cukup memukul perasaanku. Di dalam surat itu beliau meminta padaku untuk kembali ke rumah dengan kata-kata yang penuh dengan kasih sayang dan ditutup dengan: “apakah anda telah menjadi kafir? Kami berdoa semoga anda kembali lagi ke ke-islaman-mu dan ke rumahmu !”

Cahaya matahari menyinari anak-anak yang sedang bermain di rerumputan di tengah-tengah halaman asrama itu, tapi di tempat saya berdiri sambil memegang surat itu terasa adanya suatu bayangan ketakutan dan kebimbangan yang kelabu sedang menggenggamku dengan tangannya yang basah dan berkeringat. Saya melipat surat itu seraya berdoa, “Oh Yahweh Yeshua, saya tidak pernah melakukan suatu kesalahan pun terhadap mereka, kenapa mereka memperlakukan saya sedemikian? Kini saya benar-benar dikelilingi mereka, dapatkah Yahweh memberikan kepadaku, jawaban yang harus saya utarakan kepada mereka?”

Ketika ada waktu tersedia bagiku untuk memikirkan hal itu lagi, saya melihat suatu sudut pandang yang berbeda sekarang. Mereka tidak mau memberikan harta milikku kepadaku, jadi setidak-tidaknya saya terbebas dari beban-beban yang disebabkan olehnya. Saya dapat membaktikan diriku untuk melayani di sekolah bagi orang-orang buta, pergi ke gereja serta beribadah. “Bukankah keadaan ini lebih baik bagiku bila dibandingkan dengan hidupku yang tanpa daya, tanpa guna yang kujalani selama ini, lumpuh di atas tempat tidurku?” kataku kepada diriku sendiri. Sehari penuh saya berpikir dan berdoa untuk jawabanku dan ketika menjawabnya saya menjawabnya, saya menuliskannya di atas secarik kertas putih dari buku catatan :

Paman Yang Kekasih,
Surat Paman telah saya terima dan saya menyadari akan semua yang telah paman utarakan. Dengan rasa hormat saya yang sedalam-dalamnya saya ingin menunjukan lima kenyataan :

Saya telah menemukan jalan yang adalah jalan lurus kepada Elohim. Yeshua berkata: “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. (Yohanes 10:9) Jika paman pergi ke suatu rumah manapun, paman tidak dapat masuk kecuali melalui pintunya. Ada satu pintu menuju kepada Elohim dan pintu itu ialah Yeshua. Siapapun yang tidak menerima jalan Ha Mashiah, tidak dapat mengetuk pada pintu itu. Para Nabi adalah penjaga-penjaganya (chowkedars).

Saya telah menemukan Kebenaran. “Tetapi karena Aku mengatakan kebenaran kepadamu, kamu tidak percaya kepada-Ku. Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku? “

Saya telah menemukan Kehidupan. Yeshua berkata, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, (Yoh 11:25) Saya telah menerima pengampunan atas dosa-dossaku.

Saya telah memperoleh kehidupan yang kekal. “Karena begitu besar kasih Elohim akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.(Yoh 3:16)

Paman menyebut saya seorang kafir, marilah datang dan saksikanlah melalui kelima kenyataan yang telah saya temukan. Bila paman tidak dapat menunjukan sesuatu bukti tentang tuduhan ini, saya peringatkan untuk jangan menyebut saya seorang kafir.

Saya tidak menyinggung sama sekali tentang harta – benda atau hal-hal lainnya. Sejak saat itu sampai sekarang saya belum lagi mendapat jawaban atas suratku ini. Sesudah itu, selama beberapa bulan saya dibiarkan tanpa gangguan, tapi kemudian saya mengetahui bahwa beberapa minggu setelah menerima jawaban suratku, paman dan bibi mengemasi barang-barangnya, kabarnya pergi menuju Karachi dan meninggalkan rumah kami, ada yang mengatakan bahwa mereka pergi ke Iran karena mereka adalah penganut Muslim Shiah. Hal ini mereka lakukan karena merasa takut terhadap kemarahan Safdar Shah yang menuduh mereka sebagai penyebab, sehingga harus mempertanggung-jawabkan semua yang telah terjadi.

Gulshan Esther; Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2 ; Bg.3Bg. 4 ; Bg. 5 ; Bg.6 ; Bg. 7 ; Bg. 8

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s