Gulshan Fatimah; Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 3

Gulshan Esther; Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2

BAB 4. PESTA KAWIN [Family dan gurunya].
Perjalanan kembali dan ibadah haji rasanya hampir sama menggairahkan seperti waktu akan berangkat kesana. ‘Biarlah saya menyentuhmu’, kata Samina yang terus-menerus ingin mendengarkan tentang semua yang telah kami lihat dan lakukan. Keadaan semacam inilah yang dialami oleh para haji sesudah kembali dari Mekkah. Kerumunan orang di Lahore akan bergegas-gegas ke stasiun meneriakkan ‘Ya Muhammad’ dan ‘Ya Rasul Arbi’ serta akan berusaha menyentuh si haji sebegitu turun dari kereta api. Dengan berbuat begitu artinya mereka memperoleh beberapa berkat secara cuma-cuma sedangkan bagi orang lain memerlukan biaya besar.

Kegembiraan itu berlangsung sebulan dan selama itu para anggota keluarga berdatangan baik dari jauh maupun dekat. Demikian pula kaum kerabat dari kota datang membawakan hadiah kecil. Hal seperti ini merupakan tradisi bagi mereka yang pulang haji dengan selamat. Anggota keluarga dan sahabat-sahabat karib menerima oleh-oleh air suci dari sumber air zam-zam. Satu botol dihadiahkan kepada Maulyi yang datang mengunjungi ayah dan berdiskusi tentang hadits selama berjam-jam setiap minggu. Setiap orang berkata kepadaku ‘Allah memberkati engkau’ dengan pengertian yang baru sebab saya telah menunaikan ibadah haji. Apa yang kami kehendaki yaitu tentu saja kesembuhanku, namun hal ini belum dikabulkan. Kalaupun ada secara sembunyi-sembunyi mengkritik dibelakangku tentang hal ini, tidak ada yang sampai ketelingaku. Kaum keluarga hanyalah mengeluh dan menciumku seraya berucap ‘Allah akan menyembuhkanmu nanti Bibi-Ji. Kita harus pasrah dan tawakal pada kehendakNya.”

Jadi, walaupun dalam hatiku terbentuk kesedihan karena kegagalan tujuan perjalanan kami namun dari aspek lain terasa adanya pertumbuhan. Saya telah melihat orang di kota kami yang menabung seumur hidupnya namun tetap tidak memiliki cukup uang untuk menunaikan ibadah haji. Kehebatan perasaan yang saya alami dan saya saksikan di Kaabah tetap melekat di dalam hatiku sebagaimana Sufi perjalanan perasaanku dimana dengan berjemaah menunaikan ibadah haji ke Mekkah merupakan simbol yang kelihatan. Tujuan para jemaah adalah agar mereka dapat menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah Yang Maha Kuasa. ‘Islam’ berarti ‘penundukan diri.’ Pada usia 14 tahun tersebut saya belum dapat melakukannya dengan rapih, namun seingatku betapa kuat kepastian itu bertumbuh sehingga saya terdorong untuk berusaha menghindari segala sesuatu yang dapat menajiskan. Supaya saya makin dapat membaktikan diriku sebaik-baiknya untuk bersembahyang, Ketika azzan dikumandangkan saya bersujud dengan suatu hasrat hati yang jelas diatas tikar sembahyangku, berkiblat menghadap ke Kaabah. Sambil Sallima menopangku. Hal ini kulakukan bukan karena apa yang telah diajarkan tetapi karena saya membutuhkannya. Diwaktu-waktu lain di siang hari, dengan jari-jariku saya menelusuri biji-biji tasbih yang kami bawa dan Madinah mengulang-ulang perkataan ‘Bismillah’ (Dalam nama Allah) di setiap biji tasbih, karena tidak ada cara lain yang kuketahui untuk dapat mengungkapkan seruan hatiku yang mendambakan suatu jamahan bagi kesembuhanku. Walaupun saya tidak memahami pengetahuan tentang kehendak Allah dalam hal ini serta tidak ada kemajuan yang dialami, namun saya terus melaksanakan cara seperti ini bila perlu sepanjang sisa hidupku.

Setelah masa gembira selama sebulan itu berlalu. keadaan di bulan Juli terasa lebih tenang. Saya merasa bahwa ayah tertekan karena keadaanku. Tiba-tiba beliau berucap, ‘mari kita mengadakan pesta kawin’. ‘Oh ayah,” saya dapat menari-nari kegirangan. Saya senang akan perjamuan kawin. Sepanjang ingatanku, perjamuan kawin pertama yang saya ketahui ialah perkawinan kakak perempuanku yang tertua dengan sepupu kami. Waktu itu usiaku baru 4 tahun dan Anis-Bibi 14 tahun. Teringat olehku baju merah yang dijahitkan untukku yang terbuat dari bahan dan warna yang sama untuknya. Pakaiannya disulam secara gemerlapan dengan hiasan ’emas dan dia mengenakan perhiasan-perhiasan indah dirambutnya serta sebuah mahkota dan cincin mutiara yang dikenakan dihidungnya. Ditangan kanan ia mengenakan 5 cincin diikat oleh sebuah pujangla ke gelang yang dipakaikan mengelilingi pinggangnya dan diatas semuanya ini ada dopatta terbuat dari sutera berkwalitet paling baik. Hampir sepanjang waktu saya duduk didekat lututnya dan ia memegang saya erat-erat dengan sikap melindungi, memelukku seperti saya memeluk bonekaku. Diwaktu pemuka agama masuk untuk melaksanakan upacara perkawinan baginya. kurasakan ia gemetar lalu saya menepuk pipinya dihawah kerudung yang ternyata basah dengan air mata.

Semua tamu pria menemani pengantin pria dikamar sebelah sedangkan semua wanita bersama kami. Sesuai adat-istiadat, pengantin pria belum pernah melihat wajah calon istrinya kecuali mereka masih anak-anak dan belum menyadarinya, namun hal ini tidaklah menjadi masalah. Ia akan mencintainya. Semua orang sayang pada Anis-Bibi yang begitu mirip dengan almarhumah ibu kami

Pesta kawin itu berlangsung meriah. Beberapa orang terpandang hadir.  Banyak hadiah diberikan. Mas kawin yang kami bawakan besar nilainya dan tentu ayah telah mengeluarkan banyak biaya. 21 bagian dari semuanya menjadi hak milik Anis-Bibi yang membawa kerumahnya yang baru berikut uang, emas, hadiah-hadiah dan bagi keluarga pengantin pria merupakan suatu keberuntungan. Setiap orang berkata hahwa pesta itu merupakan yang terbaik yang pemah diseienggarakan dikota itu. Sewaktu Anis Bibi datang mengucapkan selamat tinggal kepadaku saya memeluknya erat-erat sambil menangis terisak-isak. Bagiku sepanjang yang kuketahui, ia adalah ibuku. ‘Saya akan datang sesering mungkin untuk menjengukmu’, katanya. Nyatanya besoknya ia kembali sebelum meninggalkan kami dan menetap bersama mertuanya. Pasangan muda ini masih tinggal bersama orang tua mereka secara bergantian sampai mereka dinilai telah cukup dewasa untuk berdiri sendiri.

Perkawinan Safdar Shah diselenggarakan dirumah pengantin wanita dan merupakan kebalikan dari pelaksanaan pestanya Anis-Bibi. Para wanita keluarga kami tidak hadir. Kami menunggu sampai mereka membawa zanib, si pengantin wanita datang keesokan harinya kerumah kami bersama mas kawinnya yang indah-indah. Ia tinggal selama 2 hari, kemudian kembali ke rumah orang tuanya selama seminggu. Pasangan ini telah bertunangan sejak kanak-kanak, namun sesuai adat kebiasaan mereka belum pemah bertemu satu sama yang lain. namun ada beberapa hal lain yang telah mengalami perubahan. Pengantin wanita lebih tua, ketika itu herusia 18 tahun la tinggal bersama kami sementara Safdar Shah menyelesaikan sekolah dagangnya disebuah universitas di Amerika sebelum terjun ke bidang perdagangan di sebuah pabrik pengepakan di Lahore. Sesudah itu mereka pindah dan tinggal di Islamabad dan memiliki sebuah bungalow indah.

Saya senang ketika iparku tinggal bersama kami. Ia menemaniku di kamar atau duduk bersamaku di halaman di tempat khusus bagi para wanita. Disana tiap hari saya didorong diatas kursi rodaku selama cuaca mengijinkan diantara bunga-bunga mawar dan pohon ercis. jeruk dan mangga serta disegarkan oleh percikan-percikan air Yang disemprotkan dari mata air kecil. Selama kami disana tukang kebun menyingkir jauh sampai tidak kelihatan dari tempat kami. Tidak lama sesudah waktu itu Samina kawin Ia tinggal di pinggiran kota Rawalpindi bersama keluarga suaminya. Lalu menyusul Alim Shah. Ia baru saja lulus dan sekolah hukum dan tinggal di Samanabad bersama istrinya dan menjadi seorang pejabat di badan gas.

Perkawinanku tentu saja tidak mungkin dilangsungkan. Kami telah membebaskan sepupuku dari tali pertunangan. kemudian ia kawin dengan seorang sepupu yang sangat cantik dari pihak keluarga lainnya. Jadi, ayah dan saya sendiri yang tinggal dan sejak waktu inilah dimulai masa hidupku yang paling berharga dimana saya dapat ditemani lebih dekat rasanya dibandingkan dengan sebelumnya. Semua anaknya yang lain telah terurus dengan baik dan pikiran ayah sudah tenang. .lika datang waktunya untuk membuat perhitungan dihadapan Allah, beliau tidak akan disalahkan karena gagal melaksanakan tugasnya. Diantara kami terjalin ikatan yang erat dan sangat dalam dijalin dari kasih sayang keluarga serta keyakinan agama kami. Inspirasi dan penuntun kami adalah ayah kami.

Masih ada dua anggota keluarga yang belum saya sebutkan. Mereka datang setelah masa perpecahan tahun 1950. Setahun sebelum saya dilahirkan. Banyak orang yang kehilangan tempat tinggal dikedua belah pihak yang bersengketa dan ayahku, sesuai dengan tanggung jawabnya, memasang iklan di semua surat kabar bila ada keluarga Sayed yang mengalami musibah seperti itu agar datang. Tidak lama kemudian, pasangan ini tiba dari Karachi dan menjadi bagian dari keluarga kami. ‘Paman’, menjadi seorang ‘saudara laki-laki’ kehormatan dan ayah membantunya sehingga dapat menjalankan sebuah usaha dagang borongan. ‘Bibi’ membantu menjalankan tugas rumah tangga sesudah ibuku meninggal dunia dan beliau ganti mengurus saya.

Saya menyukai keluarga ini, mereka baik dan sopan dan perhatianku terisi dari kekosongan di rumah dengan kehadiran 2 anak mereka putera berusia 12 dan puteri 8 tahun. Bibi adalah seorang wanita yang baik hatinya, sangat berterima kasih karena mendapat naungan di atas kepalanya, tapi masih mengenang akan penderitaan-penderitaan yang dialami keluarganya sewaktu negara Pakistan didirikan.
‘Mengerikan, mengerikan. Saya melihat dengan mata kepalaku sendiri waktu kakakku dibunuh…. oh, kau dak tahu bagaimana menderitanya kami…’ Secara bertahap pengalaman sedihnya itu memudar ketika melihat masa depan yang cerah sedang menunggu anak-anaknya. Puterinya dididik sama halnya terhadap puteranya, ia akan menjadi seorang dokter’, kata Bibi bangga. ‘Abas akan menjadi tentara’. Ini jabatan-jabatan terhormat, lebih-lebih bagi seorang gadis.

Kecenderungan modern dalam pendidikan menimbulkan masalah. Apa yang dapat mereka lakukan’? Hanya ada beberapa bidang kerja yang terbuka bagi para wanita, beberapa diantaranya terutama jika tinggal di kota-kota besar akan mendapatkan tantangan dari cara-cara berpikir tradisional yang mau melihat gadis-gadis kawin dan berumah tangga secepat mungkin. ‘Apakah anda juga berpikir begitu?” kata Bibi. Saya tersentak dari lamunanku. ‘Mungkin’, kataku. ‘Oh tentu’, kata Bibi. `Puteriku akan menyelesaikan pendidikannya sehingga memenuhi syarat untuk menjadi dokter. Bayangkan betapa bermanfaatnya bila ia memiliki kemampuan ini sesudah berkeluarga lalu anak-anaknya sakit’. Saya tidak memperdulikannya berceloteh seperti itu lebih dari 1 jam, seraya merentangkan kakiku. Saya hanya perlu memberikan komentar seadanya disana-sini agar percakapan kami tetap jalan. Baginya, hal ini merupakan hiburan; sedangkan bagiku mungkin dapat memikirkan hal-hal lain lagi. Paman dan Bibi telah banyak mengatasi kesulitanku dengan para pelayan, karena pada setiap rumah tangga ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dimana menjaga harta kekayaan adalah tanggung jawab kami. Salima telah bekerja dengan kami sejak saya berusia 7 tahun. Ia adalah gadis desa pemalu berusia 14 tahun sewaktu pertama kali ditugaskan untuk menjagaku.Setelah makin dewasa ia dibantu oleh Sema yang juga berasal dan keluarga yang sama. Ada juga pembantu-pembantu lain yang diatur oleh Munshi atau Klerk dari kantornya yang terletak didepan pintu masuk bungalow. Ia bertugas mengurus pembelian barang, mengatur menu agar cccok dengan keperluannya, memesan perbekalan dan mengeposkan surat. Tamu-tamu diterima dan dijamu sebagaimana mestinya, tagihan-tagihan dan pertanggungjawaban atas pelaksanaan kerjanya diajukan setiap minggu. Petugas yang lebih rendah kedudukannya tapi penting fungsinya ialah chowkedar, si penjaga pintu gerbang. Apabila para tamu membunyikan bel pintu gerbang maka chowkedar berkewajiban menanyakan apa keperluannya dan jika melihat bahwa orang itu baik-baik diteruskannyu kepada munshi yang selanjutnya akan membawa mereka kepada keluarga yang diperlukan. Ada 4 tukang kebun. Dika kepalanya, mengawasi pembelian tanaman serta penggalian tanah untuk menanamnya dan mengatur pot-pot tanaman di halaman yang disinari matahari pada waktu musim dingin dan serambi yang terlindung pada musim panas. Tukang kebun kedua melaksanakan perintah Dika dan yang ketiga bertanggung jawab atas sumur – sumur agar air tersedia dengan cukup guna menyemprotkan ke kebun. Anak lelaki Dika memotong rumput dan mengatur segala sesuatunya tersusun rapi. Kami memiliki seorang koki pria beserta pembantunya- Sayaa tidak pernah ke dapur, saya tidak pernah diperkenankan masuk ke sana. Rahmat Bibi ialah pembantu yang mengolah susu, ia membuatkan mentega segar tiap pagi dari susu kerbau milik kami. Lahraki membawa makanan ke meja sedangkan Sati membantunya. Mereka juga melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya. Jadi tugas dan tanggung jawab terbagi-bagi dan kepentingan kami satu dengan lainnya saling ada ketergantungan. Upah-upah mereka tidak tinggi karena sebagian besar dari para pembantu itu tinggal di dalam dan dijamin makanan serta pakaiannya. Pada waktu itu saya menilai bahwa mereka tidak bekerja sekeras orang lain yang bekerja diluar. Tidak ada keinginan dalam hatiku untuk berlaku kasar terhadap mereka dan saya merasa girang karena Bibi pada setiap saat bila pcrlu menegor mereka juga tidak berteriak-teriak. Sekali saya mendengar ada pertengkaran dengan tukang cuci yang menghilangkan beberapa potong jubah yang indah. Saya selalu heran, bagaimana pakaian-¬pakaian kotor ini dalam waktu seminggu sudah kembali menjadi putih bersih, dilicinkan dengan seterika arang dan dikembalikan kepada kami dalam keadaan bersih rapih, padahal keluar dari rumah pencucian yang berlumpur dan hanya dilengkapi dengan sebua.h pompa tangan disampingnya guna menjalankan air atau mengairi saluran air bagi keperluan pencucian. Seorang dobi tidak pernah menjadi kaya tapi umumnya ia hidup iayak. Upahnya tidak ditenma dalam bentuk uang tunai tapi daiam bentuk gandum. Apa yang tidak dipakainya ditukarkan dengan barang-barang yang diperiukan di desa. Bukanlah suatu kehidupan yang jelek.

‘Saya malah berharap jika saya sampai kehilangan semuanya. saya dapat hidup sebaik kehidupan si dobi itu,” kata ayahku seraya memangku tangannya menandakan perasaan puasnya atas rumah serta tanahnya.
Ayah mempunyai teori-teori yang jelas mengenai cara kerja dalam suatu tatacara hidup dan budaya seperti ditempat kami. “Tentu saja kami memiliki banyak pembantu yang bertanggung jawab atas beberapa orang lagi, namun mereka tidak memeriukan biaya yang banyak bagi ongkos makan maupun pakaiannya. Mereka membutuhkan kami seperti halnya kamipun membutuhkan mereka. Saya menantang setiap negara maju untuk dapat menemukan suatu sistem yang lebih baik untuk memberi makan dan menyiapkan lapangan kerja bagi golongan mereka yang lebih miskin.”

Saya mempunyai seorang guru, Razia, yang datang mengajar saya atas kesulitan-kesulitan yang ditemui dalam memahami pengetahuan tentang agama Islam, bahasa Urdu, sejarah India dan Pakistan, matematika, Persia dan dasar-dasar ilmu pengetahuan. Sebagai ganti bahasa Inggris saya mempelajari bahasa Urdu lanjutan. Razia merupakan seorang wanita yang baik, penuh perhatian, tinggi dan cantik. Sewaktu memasuki kamarku rasanya ia membawa hembusan angin segar dan saya berterima kasih karena dengan bantuannya saya menjadi tertarik pada dunia sekelilingku, mendengar berita-berita radio dan program-program agama serta menonton TV yang dibeli ayah sekembalinya kami dari Mekkah untuk melunakkan perasaan kecewaku waktu pulang. Pada suatu hari Razia berkata: ‘Kini anda sudah siap untuk menghadapi ujian. Dalam waktu tidak lama lagi saya tidak akan datang untuk memberikan pelajaran bagimu’. Saya begitu girang menghadapi apa yang akan diujikan sampai-sampai tidak menyadari sepenuhnya betapa saya akan merasa kehilangan atas pelajaran-pelajaran kami. Saya lulus ujian dan sesudah itu sehari-hari hidup tanpa kegiatan. Ada seorang lain lagi muridnya Razia sehingga ia tidak dapat sering datang mengunjungiku. Namun, ayah selalu datang tiap malam dan beliau akan duduk membaca surat kabar dan membentahukan kepadaku berita hari itu baik mengenai perdagangan maupun tentang kejadian-kejadian di kota. Kadang-kadang kami berjalan-jalan. Pernah terpikir olehku bahwa daerah kami merupakan pusat daerah Punjab dan dengan sendirinya merupakan pusat Pakistan. Disamping kualitas binatang piaraan dan kehidupan industrinya yang bertumbuh. tempat ini juga terkenal sebagai pusat peristiwa romantisnya. Ada sebuah batu nisan dari suatu pasangan muda yang dipisahkan semasa hidupnya namun dipersatukan dalam masa kematiannya. Saya mendengar perincian ini mula-mula dari Samina lalu ayah membawa kami berziarah dan melihat batu pualam putih yang merupakan peringatan terhadap pesan kedua kekasih yang menyedihkan itu. Ceritanya mengenai Heer yang berarti cantik dan Ranjha yang telah hertunangan dengannya. Akhirnya raja mendengar tentang hubungan ini dan membatalkan perkawinannya. Tapi doli (kendaraan pengantin) membawanya kepada Ranjha dan kendaraan itu justru menjadi kereta jenazah bagi keduanya. Pamannya membubuhkan racun dalam minumannya waktu ia meninggalkan rumah. Dalam tradisi Romeo dan Juliet asli. Ranjha membunuh dirinya.

Ceritera-ceritera semacam ini menalari perasaan romantis kami. Lama kemudian sesudah mendengar ceritera ini saya membanding-bandingkan perasaan ayah terhadap ibuku. Perasaan ini bukanlah perasaan yang dibuat-buat dan dikendalikan oleh nafsu birahi namun merupakan cinta sepenuh hati yang mendorong pengorbanan dirinya bagi kekasihnya selama hidupnya.

BAB 5. Getirnya Kematian [Ayahnya meninggal, berusaha bunuh diri, Yeshua menjawab doanya]
Saya tidak senang mengingat-ingat akan apa yang terjadi, walaupun dalam kepahitan dan getirnya kenangan ini tersirat adanya penghiburan. Ayah kami yang begitu kuat fisiknya jatuh sakit. Kejadiannya dibulan Desember 1968, ketika hujan turun dengan lebatnya. cuaca dingin. Ayah terlalu lama bekerja di real estatenya di pedalaman dan ketika pulang keadaannya basah kuyup dan kedinginan. Malam itu beliau demam waktu akan masuk tidur. Keesokan paginya beliau masih juga berusaha sekuatnya ke kantor walaupun mukanya pucat dan berkeringat, untuk menjalankan perdagangannya, lalu kembali lagi kerumah. Malam harinya keadaanya memburuk dan waktu bernafas suaranya tidak enak didengar.

Dokter datang dan memberikan pengobatan. Begitu juga pemuka agama (mullah) mendoakannya. Demamnya hilang lalu Majid membawanya kembali bekerja. Tidak lama sesudah itu beliau pulang dalam keadaan pingsan dan susah bernafas. Keluarga dekat berkumpui mengelilinginya dan kami membulatkan niat dan kemauan kami membantu beliau berjuang melawan sakitnya yang kini sudah diketahui yaitu pnemonia. Seharusnya ayah masuk rumah sakit tapi beliau bersikeras untuk tinggal dirumah dan masih berusaha untuk terus bekerja dari kamar tidurnya. Selama 2 atau 3 hari beliau berjuang, kemudian datanglah perubahan yang kami takutkan akan terjadi. Beliau sedang mengalami kekalahan dalan perjuangannya dan kami tak berdaya menolongnya Beliau mulai memberi nasehat kepada kami, juga instruksi-instruksi tentang pembagian harta miliknya dan beliau menyerahkan akta kepada Safdar Shah yang mendapat kuasa dari ayah untuk maksud ini.

Walaupun keadaannya telah payah namun ayah tetap memikirkan diriku. Beliau memandangku sambil terengah-tengah berkata: “Saya mewariskan bagimu harta yang banyak. Walaupun kau menggunakan 100 pelayan, engkau tidak akan menjadi beban bagi siapapun. Jagalah paman dan bibimu serta berikan kepada mereka apa yang dibutuhkannya.” Kami saling berpandangan dengan perasaan cemas. “Hal ini tidak akan terjadi”. Kami berseru sambil bertangis-tangisan. Beliau melepaskan diri dari rangkulan kami laksana air yang surut dari permukaan bumi dan tidak sanggup kembali lagi kecuali ada bantuan dari pengaruh matahari. Saya duduk dikursi roda disampingnya dan sambil memiringkan badan memandang beliau dengan bingung.

“Ayah jangan tinggalkan kami. Kami membutuhkanmu. Jika ayah pergi, saya ikut pergi”, tangisku tanpa menyadari apa yang kukatakan. Beliau membuka matanya dan dengan lemah menaruh tangannya diatas kepalaku: “Keadaan ini adalah beban bagimu, tetapi sekali-kali jangan engkau bunuh diri. Janganlah lupa bahwa engkau merupakan milik keluarga Sayed, keluarga nabi Muhammad, engkau akan masuk surga, jadi jangan sekali-kali bunuh diri, karena bila engkau lakukan hal itu, engkau akan masuk neraka. Jangan hiraukan keluhan-keluhan seperti para istri tua tapi hiduplah dengan cara benar dan nanti kita semua akan berkumpul kembali bersama ibumu.” Sampai disini beliau mengangkat dirinya sedikit dan merangkul tanganku dengan gemetar, matanya memancarkan semacam cahaya yang aneh dan tetap seolah-olah mendapat suatu penglihatan. Sambil bersusah payah beliau bertutur: “Satu hari kelak Tuhan [Elohim] akan menyembuhkan engkau. Gulshan. Berdoalah kepadaNya.”

Lalu beliau terkulai jatuh dengan punggungnya diatas bantal, nafasnya menjadi berat dan pelan. Matanya tertutup. Saya tetap duduk disana menangis dengan perasaan pahit.  “Bagaimana saya dapat mempunyai kekuatan iman jika ayah tidak bersamaku?” kataku sambil menjerit. Lalu Safdar Shah mulai menangis. “Jangan tinggalkan kami. Kami masih memerlukanmu. Engkau adalah ayah dan sekaligus ibu bagi kami.”

Saya memandang kearah kakakku. Ia seorang pedagang yang keras. Tidak kusadari bahwa ia mempunyai perasaan yang begitu lembut terhadap ayah yang telah membesarkannya serta menjaga kami melalui masa kanak-kanak dan remaja. Ayah membuka matanya. Beliau melakukan suatu usaha yang luar biasa untuk tetap bersama kami sesuai kemauannya.

“Jagalah adik perempuanmu”,
katanya pada setiap anaknya dan satu demi satu bergantian mereka bersumpah untuk mematuhinya. Setelah itu kami berjaga-jaga disampingnya dan pada tanggal 28 Desember 1968 pukul 8 pagi, ketika beliau minum air, mengucapkan beberapa ayat suci Sura Ya Sin yang kami ikuti secara bersama lalu beliau menutup matanya untuk selama-lamanya.
Kawan-kawannya para Maulvi mengucapkan Sura Ya Sin: “Dan ketika terompet berbunyi. mereka bangkit dari kuburnya dan bergegas berlari menuju ke Tuhannya. Mereka akan berseru: “Aduhai bagi kami!”, “Siapa yang telah membangkitkan kami dari tempat perhentian kami. Inilah yang dijanjikan Allah Yang Maha Pengasih: Para Rasul telah mengajarkan kebenaran”.” Dan dengan satu teriakan mereka berkumpul dihadapan kami. “Pada hari itu tidak ada jiwa yang akan menderita ketidakadilan sedikitpun. Engkau hanya akan menerima hadiah sesuai pahalamu. Pada hari itu penghuni surga tidak akan memikirkan hal yang lain kecuali kebahagiaannya. Bersama para istrmya, mereka akan berbaring dibawah pepohonan yang rindang diatas balai-balai lunak. Mereka memperoleh buah-buahan dan semua yang diinginkannya”.

Dengan berlinangan air mata kami mengucapkan bacaan tradisional ini dan percaya bahwa dengan demikian akan memudahkan perjalanan kematian ayah kami. Lalu Samina mencium wajahnya yang telah mati dan kami semua mengikutinya.
Selama beberapa jam kemudian almarhum menjadi milik anggota keluarga pria dan para tetangga yang telah terlatih dalam melaksanakan upacara kematian. Para pria dan para pelayan,membersihkan tubuhnya dan memakaikan selembar kain kafan putih khusus yang dulu dibawa almarhum sewaktu pulang dan naik haji. Pakaian itu terdiri atas sebuah kemeja panjang bersama 2 helai kain untuk dilingkarkan mengeliling pinggang dan melalui bahu. Mereka mengenakan sebuah sorban dikepalanya dan membungkusnya dengan kam putih, menempatkannya dalam sebuah peti yang penuh dengan tulisan-tulisan doa dan ayat-ayat suci Al Qur’an sekelilingnya. Peti ini dibiarkan terbuka selama 6 jam untuk memungkinkan para wanita dan keluarga datang memberikan penghormatan. Lalu peti tersebut ditempatkan diluar, dihalaman, sementara orang-orang yang berkabung berjalan mendekat dan lewat didekatnya dalam suatu aliran manusia yang tak kunjung habis.
Tiap orang membungkuk dan mencium peti tersebut dan mengucapkan sebuah doa atau memberikan ciuman penghormatan dari jarak jauh.
Ayah adalah seorang yang terpandang dan dihormati, seorang guru agama, seorang pir yang memiliki murid-murid sendiri, demikian pula beliau adalah seorang tuan tanah serta pedagang terkemuka. Penguburan almarhum sore itu menjadi pusat perhatian masyarakat maupun keluarganya. Beribu-ribu orang berpartisipasi, termasuk keluarga, anggota masyarakat perdagangan, wakil keagamaan dan murid-muridnya. Penguburan ini merupakan penguburan seorang tokoh. Sebagai keluarga Sayed. kami mempunyai bagian khusus tersedia di pekuburan kota dan disitulah ayah dibaringkan dalam sebuah mouseleum ditempat mana istrinya dimakamkan. Hanya para pria yang pergi ke kuburan. Maulvi memimpin pembacaan doa dan setiap orang sujud sambil menaikkan doanya. Kemudian diturunkan ke liang lahat dan orang-orang yang berkabung menaburkan tanah diatasnya. Sebuah chador atau tangkai-tangkai bungan yang diikat bersama – sama ditaruh diatasnya.

Bagiku saya sudah beku dengan kedukaan, tidak bergerak-gerak. Salima dan Sema sibuk masuk keluar diawasi bibi untuk memandikan saya dan menukarkan pakaianku, membawakan bagiku susu panas seraya mengurut-urut kepalaku untuk mengurangi rasa sakit. Samar-samar saya menyadari bahwa ada penjaga ditempatkan di luar pintu. “Tidak, ia tidak mau menemui siapa-siapa. Pada keadaan sekarang ini sebaiknya ia dibiarkan seorang diri”. Bahkan anggota keluargapun tidak diijinkan masuk kekamarku.

Rupanya saya tertidur, karena begitu sadar jam saya menunjukkan pukul 3 pagi. Saya terbaring dengan tidak bergerak beberapa lama, mendengarkan bunyi-bunyi gemericik pelan, menandakan bahwa para pelayan telah bangun bersiap-siap untuk hari pagi. Kami sedang mengalami kejadian yang paling buruk dalam hidup kami, namun kehidupan sehari-hari harus tetap beriangsung. “Merupakan hal yang salah, dimana saya seorang yang lumpuh, tidak berguna dibiarkan hidup sedangkan beliau meninggal,” pikirku. “Tuhan [Elohim], saya tidak dapat hidup seperti ini yang mungkin masih sampai 30 tahun lagi. Tolonglah bawa saya kepada ayahku. Kenapa Tuhan [Elohim] begitu jauh dan berdiam diri saja?

Mungkin nenek moyangku telah melakukan dosa besar. Mungkin Tuhan [Elohim] ingin melihat lebih banyak kesabaran dalam diriku. Tetapi kesabaran telah kumiliki, namun saya masih saja sakit. Jadi, bagaimana? Menggantung diriku dengan sebelah tangan saja tidak mungkin melakukan hal ini. Racun? Dimana saya dapat memperolehnya? Jika saja saya mendapatkan sebuah pisau ataupun gunting, barang-barang ini disimpan terkunci. Sewaktu pikiran ini datang terdengar suatu suara lain menggantikannya: “Engkau tidak akan pernah bertemu dengan ayah atau ibumu di sorga jika engkau membunuh dirimu”. Sebagai seorang Sayed, secara otomatis saya mempunyai hak untuk masuk sorga walaupun saya gagal menunaikan kelima rukun Islam, tetapi membunuh diri dapat membatalkan hak ini.

Mungkin sesudah ini saya tidak pernah disembuhkan. Perasaanku rasanya seperti diremas-remas, air mata mengalir tanpa terbendung lagi. Pada waktu itulah, dalam keadaanku yang tidak mempunyai harapan untuk mendapatkan pertolongan apapun saya mulai berbicara kepada Tuhan [Elohim].

Benar-benar berbicara kepadaNya, tidak sebagaimana yang selama saya lakukan dengan menggunakan serangkaian doa untuk mendekati Dia melalui suatu jalan keliling yang jauh. Tergerak oleh suatu kehampaan yang luar biasa menyelimuti diriku didalam, saya menaikkan doaku seakan-akan bercakap¬-cakap dengan seseorang yang benar-benar mengetahui keadaan dan keperluanku.
Saya mau mati , Kataku. “Saya tidak lagi mau hidup dan itulah akhir dari segalanya”. Saya tidak dapat menjelaskannya, tapi saya tahu bahwa suaraku didengar. Rasa-rasanya seakan-akan suatu kerudung yang selama ini menutupi diriku dengan sumber–sumber kedamaian telah diangkat. Sambil melilitkan syal lebih erat karena kedinginan, saya terbicara lebih tegas lagi dalam ungkapan doaku. “Dosa besar apakah yang telah kulakukan sehingga Engkau membuatku hidup semacam ini?” isakku. . “Tidak lama setelah lahir Engkau mengambil ibuku pergi dan kemuadan Engkau membuatku lumpuh dan kini Engkau mengambil ayahky pula. Katakanlah, mengapa Engkau menghukumku dengan begitu berat?” Suasana begitu hening dan terdapat kesunyian yang mendalam sehingga aku dapat mendengarkan debaran jantungku.
“Aku tidak mengijinkan engkau mati, aku akan memeliharamu agar hidup.” Terdengar suara yang begitu pelan dan lembut laksana hembusan angin bertiup melewati rasanya. Saya tahu ada suata yang berbicara menggunakan bahasaku dan datangnya begitu bebas lepas, suatu cara yang bebas untuk mendekati Tuhan [Elohim] Yang Maha Tinggi, yang sampai saat itu rasanva Dia Tidak memberikan suatu pertanda bahwa Dia malah tahu bahwa saya ini hidup. Dengan ragu saya bertanya: “Untuk maksud apa saya dibiarkan hidup? Saya seorang yang lumpuh. Waktu ayahku masih hidup saya dapat berbagi rasa mengenai segala sesuatu dengannya. Sekarang, setiap menit dari hidupku rasanya seperti seabad. Engkau telah membawa ayahku pergi dan meninggalkan saya tanpa harapan, tidak ada gunanya lagi hidup ini.” Suara itu terdengar lagi, bersemangat namun pelan: “Siapa yang mencelikkan mata orang buta dan siapa yang menyembuhkan orang sakit serta siapakah yang mentahirkan orang kusta dan siapa yang membangkitkan orang mati? Akulah Yeshua (Isa) anak Maryam. Bacalah tentang Aku dalam Al Qur’an Sura Maryam.”

Saya tidak tahu berapa lama percakapan ini berlangsung. 5 menit? Setengah jam? Tiba-tiba azzan pagi terdengar dari masjid dan saya membuka mataku. Semuanya terlihat biasa saja dikamarku. Kenapa tidak ada orang yang datang membawakan air bagiku untuk membasuh diri. Kelihatannya saya diberi lowongan waktu damai dan sendirian, khusus bagi pertemuan yang aneh ini. Pada hari itu beberapa waktu kemudian, hampir saya dapat meyakinkan diriku bahwa saya telah bermimpi, yaitu ketika bersama-sama dengan kakak-¬kakak perempuanku dan anggota keluarga lainnva kami berziarah ke kuburan. Disana semuanya begitu tenang dan damai serta bunga-bunga segar yang telah diletakkan diatas gundukan tanah berwarna coklat. Namun dengan perasaan ngeri saya memandang kesana. Ayahku yang semasa hidupnya tidak akan mengijinkan sebutir abupun menyentuhnya kini telah dikuburkan dibawah benda kotor itu. Keadaan semacam ini begitu mengerikan untuk direnungkan.

Ketika kembali dari kunjungan yang menyedihkan ini, kami mulai masuk kemasa 40 hari perkabungan. Selama masa ini Safdar dan Alim Shah akan mengabaikan pekerjaannya dan pada waktu itu orang-orang berdatangan baik dari jauh maupun dari dekat, yang penting atau sederhana mengunjungi kami sambil memberikan penghormatan bagi kenangan ayah kami. Selama itu para tetangga akan menyediakan makanan bagi kami. Tidak diperbolehkan menyalakan api untuk memasak dalam rumah kami. Diharapkan bahwa kami dapat mengguna¬kan seluruh waktu itu untuk mengenangkan almarhum serta mempercakapkan tentang beliau dengan semua tamu yang datang. Para pemimpin duduk di lantai menunjukkan rasa hormatnya dan membicarakan hal-hal yang baik yang telah dilakukan almarhum dan dengan demikian menghormati kenangannya serta menghibur keluarga. Hal ini merupakan suatu kebiasaan yang baik, yang memungkinkan kesedihan tersalurkan sebaik-baiknya dan membawa bantuan dari masyarakat bagi keluarga yang kehilangan orang yang dikasihinya.

Waktu kami kembali dari kuburan dengan suatu keadaan tertekan yang mendalam. Terjadi sesuatu yang aneh. Salah seorang pembantu wanita tiba-tiba berteriak seraya nenunjuk-¬nunjuk kearah sebuah kursi. “Saya melihat beliau sedang duduk disana”, teriaknya. Tidak ada seorangpun yang kaget mendengarnya. Perasaan bahwa almarhum masih hadir, tidak dengan serta merta meninggaikan kami dan dalam hal semacam ini kami masih belum percaya benar bahwa beliau telah pergi. Rasanya beliau seakan-akan baru saja melangkah keluar memberikan beberapa perintah kepada tukang kebun dan sesudah itu akan masuk kembali. Saya memandang pembantu wanita tadi serta berpikir dengan heran, kenapa justru dia yang melihat ayahku. Bibi masuk kekamar tidurku dan duduk menemaniku sebentar, memijit kepalaku untuk mengurangi rasa sakit kepala yang disebabkan karena banyak menangis. “Pamanmu dan saya akan menjagamu sebagaimana layaknya ayah dan ibumu. Pandanglah kami seperti itu dan cobalah menerima kehilangan ini sebagai suatu takdir dari Tuhan [Elohim]. Dia telah membawa ayahmu kesurga”.

Ketika bibi telah pergi untuk melakukan suatu pekerjaan, saya teringat akan kejadian tadi pagi, saya meminta Al Qur’an bahasa Arab dan mulai membaca Sura Maryam. Namun sulit bagiku membacanya dalam bahasa Arab untuk mengerti sepenuhnya walaupun irama pengucapan ayat-ayatnya yang mengalun memudahkan untuk dihapal. Pada saat itu timbul suatu pemikiran yang berani dibenakku. Kenapa saya tidak membacanya dalam bahasaku sendiri? Saya menulis sebuah nota untuk Salima dan kuberikan kepadanya ketika ia datang untuk mengganti pakaianku. “Tolong berikan kepada si pembawa, terjemahan Ai Qur’an yang terbaik dalam bahasa Urdu,” demikian isi notaku, “Bawa nota ini ke toko buku dan tanyakan tentang terjemahan Al Qur’an bahasa Urdu terbitan perusahaan Taj,” kataku. “Mintalah uang kepada bibi.” Dengan hormat Salima mengangguk dan berjalan keluar. Dua jam kemudian ia muncul kembali dengan buku terbungkus surat kabar. “Bagus,” kataku. “Sekarang pergilah dan buatkan sampul untuk buku itu.” Malam itu, ketika seisi rumah telah sunyi sepi, saya membuka sampui sutra hijau serta mengeluarkan Al Qur’an bahasa Urdu terurai. Saya memegang kitab itu sebentar di tanganku begitu inginnya saya mendengar kembali suara itu yang memberi kepastian hahwa doaku didengar dan bahwa ada jalan kepada kesembuhan dan pengharapan. Secara naluri saya ketahui bahwa cara untuk dapat mendengarkannya lagi yaitu dengan mematuhi tatacara membacanya. Karena itu dengan penuh rasa ingin tahu, tanpa terbetik sedikitpun tentang pemikiran bahwa betapa pentingnya langkah yang kuambil ini, saya mengucapkan : “Malaikat berkata kepada Maryam : “Elohim menyampaikan kepadamu sukacita dalam suatu firman dari padanya. Namanya ialah Almasih, Isa anak Maryam. Budinya tinggi baik di dunia maupun di akhirat. Dan Dia akan disenangi Elohim. Dia akan mengajar arang waktu di tempat pembuaiannya serta selama masa mudanya akan memimpin kepada suatu kehidupan yang benar.”

Pada hari ke 3 setelah ayah meninggal Safdar Shah datang sebagai kepala keluarga. Salah satu sorban ayah dikenakan di kepalanya dalam sebuah upacara oleh dua orang paman dan sejak itu ia bergelar pir dan Shah dalam keluarga kami. Ia diharapkan dapat menjawab pertanyaan keagamaan. Ia akan menjadi seorang pir yang baik. Beberapa arang yang menyandang gelar itu, tidak berpendidikan dan percaya akan tahyul. Selama 40 hari rumah perkabungan penuh dengan tetangga, pengunjung dan murid-murid serta para istri mereka. Mereka datang melayani kami dengan baik, membersihkan rumah dan menjamu para pengunjung iainnya dengan makanan. Mereka juga membawa pakaian dan dengan rasa hormat, kami dharuskan untuk mengenakannya. “Pakaian-pakaran ini adalah pakaian kematian, bukan kehidupan. Hal ini selalu mengingatkan saya akan kematiannya,” kata Anis Bibi samhil menarik-narik baju shalvar kameezenya dengan perasaan tidak enak. Masa perkabungan diakhiri dengan 2 kegiatan. Kubur disemen dan sebuah batu nisan ditegakkan disana. Tiap orang diundang keperjamuan tradisional mengakhiri perkabungan itu yang dikenal dengan nama “chalisvanh”. Sebuah tenda besar didirikan dan sebuah toko setempat diserahi mengurus makanan. Mereka menempatkan tungku-tungku masak dan mengisi 150 periuk besar dengan beras. “Pilau” kacang ercis dicampur daging ayam dihidangkan bersama nasi manis dan setiap orang duduk diatas “duree” ditanah dan makan dari piring-piring baja memakai tangannya. Saya tidak menghadiri upacara ini karena saya benci menjadi pusat perhatian dan dikasihani karena keadaanku yang cacat, namun saya mendengarkan segala sesuatunya. Sekarang Safdar Shah harus kembali ke Lahore, tapi sebelumnya ia datang menjengukku dan duduk dikursi yang selalu dipakai ayah, wajahnya kelihatan cemas. Ia memegang dokumen yang berkaitan dengan hartaku yang diwariskan ayah. Saya tahu apa yang hendak dikatakannya dan saya siap dengan jawaban. Ia memulai. ”Adikku yang kekasih, saya mau mengajakmu untuk datang dan tinggai bersama kami tapi ternyata paman dan bibi ada disini menjagamu. Sebagaimana kau ketahui ayah mewariskan bagimu bagian terbesar dan hartanya. Tentu saja saya tidak berkeberatan mengenai hal ini dari segi apapun karena ayah begitu perhatian dengan keadaanmu dan beliau khusus memikirkan untuk kesenangan serta kebaikanmu. Tapi karena engkau ada!ah seorang wanita yang kaya engkau boleh memilih tinggal dimanapun yang engkau inginkan, termasuk Lahore.” “Terima kasih kakakku, tapi saya tidak akan meninggalkan rumah tempat saya dibesarkan ini, saya tidak mau ke Lahore.” Kakakku memandangku dengan teliti: “Apakah cukup baik bagimu untuk tetap disini mengenai-ngenang?” “Dapat juga saya mengenangkannya di Lahore, tapi di sini saya sudah terbiasa dengan segala sesuatu,” kataku. Saya tidak menambahkan alasan lainnya bahwa hanya di sini, di dalam suasana tenang dan sendiri saya dapat meneruskan usaha pencarianku dalam Al Qur’an tentang Isa, Nabi dan Penyembuh itu. “Baiklah, jika demikian yang engkau rasakan, jadilah,” kata Safdar Shah. Rasanya ia telihat lega. “Saya kira sudah tiba waktunya bagi kita untuk memenuhi wasiat ayah mengenai pengelolaan keuangan”. Diatur bahwa Safdar Shah yang menyimpan uang di bank di Lahore darimana saya dapat mengambilnya. Sebagai kepala keluarga saya akan menandatangani cek terhadap Muslim Commercial Bank tiap bulan untuk biaya hidup kami. Uang akan kuserahkan kepada paman untuk mengelola rumah tangga. Kakakku Safdar Shah akan mengunjungi kami 2 kali dalam sebulan guna memeriksa rekening.

“Saya tahu bahwa segala sesuatu akan beres,” kata Safdar Shah. Ayah kita mewariskan banyak harta bagi keleluasaanmu selama beliau masih hidup. Jadi hal ini diurus sampai kakakku merasa puas dan kemudian meninggalkan kami. Mereka pergi satu demi satu meninggalkan saya menghadapi suatu keadaan yang suram tanpa adanya teman atau sahabat dekat bagiku untuk berbagi kesunyianku walaupun saya bukannya tidak ditemani.
Begitu kakakku pergi, bibi datang ke kamarku: “Engkau sangat beruntung memiliki banyak harta sebagai hakmu,” katanya. “Waktu saya seumurmu, orang–orang berfikir bahwa tidak pantas bagi seorang wanita untuk mengetahui banyak hal mengenai perdagangan. tapi ayahmu telah memperlakukanmu sama halnya seperti terhadap anak lelakinya.

Ia keluar lagi dan begitu kesunyian menyelimutiku, saya membuka Al Qur’an bahasa Urdu dan membaca kembali bagian dari Sura Imran yang kini telah menjadi pusat perhatianku yang sungguh-sungguh : “Dengan kehendak Tuhan [Elohim] Saya mencelikkan mata orang buta, menyembuhkan penyakit kusta dan membangkitkan orang mati”.
Ada begitu banyak hal yang tidak kumengerti. Banyak ahli yang pandai mencoba memberi tafsiran mereka tentang Nabi Isa (Yeshua/ Yesus) sebagaimana yang difirmankan dalam Sura Imran ini: “Yaitu seorang makhluk yang dijadikan dari debu seperti nabi Adam, namun seorang yang dengan Kuasa Tuhan [Elohim] mengadakan semua mujizat ini. Saya tidak sangsi sedikitpun bahwa nabi ini penting, tapi siapakah nabi ini yang mengetahui tentang kebutuhanku dan dapat berbicara kepadaku dari sorga seolah-olah Dia hidup? ”

Saya telah kehilangan sahabatku yang sangat kucintai dan dihadapanku terbentang suatu kehidupan yang hampa. Namun. sebuah benih telah ditanam dan tumbuh di dalam hatiku. untuk mencari dan menimbulkan harapan baru. Saya merasa yakin bahwa suatu hari kelak saya akan menemukan rahasia tentang nabi yang misterius ini yang terselubung didalam halaman-halaman Al Qur’an yang suci.

Bersambung ke Bg. 4 – Bab 6 Mobil Ayah

Gulshan Esther; Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2 ; Bg.3 ;  Bg. 4 ; Bg. 5 ; Bg.6 ; Bg. 7 ; Bg. 8

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s