Gulshan Fatimah; Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 4

Gulshan Esther; Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2 ; Bg.3Bg. 4 ; Bg. 5 ; Bg.6 ; Bg. 7 ; Bg. 8

BAB 6. MOBIL AYAH [Meneliti Qur’an & doa minta kesembuhan, Yeshua berbicara, menyembuhkan & mengajarnya Doa Bapa Kami]
Setelah kematian ayah, mobilnya : Mercedez Benz berwarna biru diparkir di garasi, dibungkus dengan kain hitam, menjadi peringatan bagi kami terhadap seseorang yang telah mengisi kehidupan kami dengan kebahagiaan yang kini telah pergi laksana matahari yang bersinar dari langit telah meninggalkan kami menjadi sejuk dan kedinginan. Mobil tersebut menandakan bahwa pemiliknya adalah seorang yang kaya. Keberangkatan ayah tiap pagi dengan mobil ini untuk bekerja telah merupakan bagian dari tatacara hidup kami. Mobilnya sendiri telah cukup bagus, namun hadirnya ayah di dalamnya menambahkan keagungan tersendiri waktu beliau duduk di sebelah supirnya, Majid yang mengenakan ikat kepalanya seakan-akan mengatakan betapa bangga perasaannya mengantar seorang majikan seperti itu.

Kami anak-anaknya juga merasa bangga ketika kami dibawa kemana-mana dengan mobil oleh ayah. Putera-puteranya kesekolah atau masjid bersamanya dan saya pergi bersama ayah sewaktu beliau mencari-cari pengobatan untuk penyakitku. Kadang-kadang beliau meluangkan waktu mengajukan perjalanan melihat-lihat pemandangan ketika saya dibawanya dari kamar yang sunyi keluar ke jalanan menuju Lahore mengunjungi sanak keluarga kami.

Kini, mobilnva diam tidak bergerak-gerak. Tidak ada seorangpun yang mau mengendarainya termasuk kakakku Safdar Shah. Secara teratur Majid membuka tutupnya, membersihkanya juga perlengkapannya yang terbuat dari bahan chrome sampai semuanya menjadi mengkilap laksana kaca. Ia menggosok dashboard yang terbuat dari kayu jati dan melapiskan lilin pada alas tempat duduk dari kulit sehingga terpancar bau kemewahan. Juga ia membersihkan mesin serta menaruh gemuk pada setiap bagian yang bergerak, memasang dongkrak dibawahnya sedemikian rupa sehingga mobil itu tidak bertumpu lagi diatas roda-rodanya. Sambil bekerja Majid berbicara pelan seakan-akan ditujukan ke mobil itu. Para pelayan wanita melaporkannya padaku sambil cekikikan “Nona perlu mendengarkan si Majid. Ia kurang waras kepada mobil ia berkata : “Engkau tidak mati.” Saya menegur mereka: “Tenanglah janganlah menertawakan hal-hal semacam itu.”

Perasaanku tidak enak. Jangan-jangan ayah dapat mendengar, lalu beliau dapat muncul dari bayang-bayang sekitar bungalow seperti keremangan senja menyusup masuk dan memberi perintah agar mobilnya disiapkan. Kemudian mengendarainya seolah-olah tidak ada apa-apa yang telah terjadi. Seakan-akan membenarkan kemungkinan ini, tiba-tiba seorang pelayan wanita datang berlari-lari kepadaku menceriterakan bahwa ia melihat tuan berjalan didalam rumah. “Apakah beliau berbicara kepadamu?”, tanyaku. Ia menggeleng. “Tidak bibi-Ji. beliau tidak memandang kepada saya tapi langsung melewati pintu itu. Ketika saya melihat kedalamnya tidak ada orang, kamar itu kosong,” saya tidak memarahinya karena telah berkhayal berlebih-lebihan, tetapi merasa heran kenapa justru bukan saya yang berkesempatan melihat wajah yang sangat kucintai itu. Namun mobil itu merupakan simbol dan status diriku yang tidak mempunyai arti lagi. Apakah mobil itu harus tetap ditempatkan di dalam Garasi selamanya, merupakan gema hari-hari yang telah berlalu apakah saya akan tinggal disini tanpa memiliki kemampuan, hidup dalam kenang-kenangan sepanjang sisa umur hidupku?

Kakak-kakakku telah menjalani kehidupannya masing-masing dan walaupun mereka setia memenuhi perintah ayah, saya tidak mau memiliki perasaan bahwa saya menjadi beban dan kekuatiran bagi mereka. Kesuramanku terlihat oleh kakak-kakak perempuanku. Pada suatu hari Samina menanyakan hal ini padaku. “Adikku, apa yang merisaukan pikiranmu dan membuatmu begitu sedih?” Ketika kuceriterakan kepadanya ia berkata : “Kau tidak pernah menjadi beban bagi kami. Kami sangat mencintaimu.” Jadi kalau datang suasana kelam seperti itu saya mencoba sedapat mungkin menghibur diriku. “Lihat Gulshan, engkau sangat beruntung mempunyai keluarga seperti ini. Dapat saja kau miskin seperti halnya salah seorang pembantu kita. Kau dapat saja mempunyai seorang ayah yang tidak mencintaimu begitu pula kakak-kakakmu yang tidak mempedulikanmu. Engkau cukup terpelajar, mempunyai atap tempat benaung dan ayah telah mengatur sehingga semua kebutuhanmu terpenuhi. Sekarang manfaatkanlah situasimu sebaik-baiknya. Kenangkanlah hari-hari sewaktu di Mekkah ketika engkau begitu dekat dengan Allah dan NabiNya. Ingatlah kata-kata ayah bahwa Allah akan menyembuhkan engkau dan jika itu belum iagi cukup bagimu, ingatlah tentang suara Yang engkau dengar dalam kamar itu yang memberitahukan kepadamu tentang nabi lsa si penyembuh itu. Ketika aku pertimbangkan semuanya ini, telah cukup rasanya kekuatan untuk menarik saya keluar dari keputusasaan. Setiap hari saya melatih diri mensyukuri berkat-berkat bagiku, melepaskan beban yang menindih satu demi satu sehingga rohku dapat bangkit. Namun dibawahnya mengalir ketakutan yang sudah berakar, yaitu mungkin saya tidak akan pernah dapat disembuhkan.

Saya melaksanakan sembahyangku, malah lebih tekun lagi dibandingkan sebelum mi. Hari-hari saya lalui dengan suatu pola hidup yang tetap, diatur dengan 5 waktu sembahyang. Saya bangun jam 3 setiap pagi dan mempersiapkan diri untuk Fajr qe namaz, sembahyang subuh, lalu membaca Al Qur’an bahasa Arab sampai tiba waktu sarapan yang saya lakukan di dalam kamar. Sesudah sarapan Salima dan Sema akan mengganti pakaianku lalu saya mengisi waktuku dengan membaca buku agama atau surat kabar, mendengar radio atau menulis surat untuk kakak-kakakku dan setelah itu makan siang. Menyusul waktu istirahat lalu sembahyang sore, Zohar qe namaz, sembahyang lohor. Waktu anak-anak bibi pulang dari sekolah, saya dibawa ke halaman dengan kursi rodaku untuk melihat mereka bermain-main. 2 jam menjelang senja, tibalah waktu Azar qe namaz, sembahyang azar, lalu kira-kira 2 jam sesudah senja Magrab qe namaz, sembahyang magrih, senja hari. Akhirnya tibalah sembahyang malam dimana banyak hal-hal baik didoakan yaitu Isha ye namas.

Para wanita tidak diharuskan ke masjid. Malahan kami melaksanakan ibadah sembahyang kami dengar tenang di rumah. Lebih baik saya tidak makan daripada saya menghentikan permohonan doa walaupun ibadah semhahyang, ini saya lakukan tanpa sepenuhnya menyadari apa yang saya katakan. Pola hidup ini telah merupakan suatu keterkaitan dengan ayahku, suatu pertanda bahwa saya berpegang teguh pada iman kami. Beliau telah mengajarkan kepadaku bahwa jika saya setia saya akan bertemu dengannya disorga, dimana saya akan memiliki hidup baru. Semua wanita di sorga akan menjadi muda dan cantik, begitulah ajaran yang kami terima. Namun, nun jauh didalam relung-relung hatiku terdapat ketakutan yang lebih kelam dibawahnya dan sulit bagiku untuk berani menentangnya apalagi untuk dapat mengungkapkan kepada seseorang. Tentunya Allah murka kepadaku dan karena ituiah la mengambil ayahku. Timbul ketakutan dalam diriku kepada Allah yang kami sembah ini. Ia tersembunyi dariku di belakang sebuah tirai kegelapan dan tidak dikenal. Tidak ada tanda dari padaNya yang dapat saya lihat dipermukaan kehidupan ini. Dalam banyak hal, rumahku rasanya sudah merupakan sebuah surga diwaktu itu. Letaknya diatas tanah yang hijau, subur dialiri oleh 5 sungai : Jhelum, Ravi, Indus, Chenab dengan bendungannya yang baru dan Satlaj serta kota kami merupakan suatu sumber air pendukung bagi kota Lahore. Bagiku tanah ini merupakan tempat bernaung dari dunia luas, penuh dengan mata-mata yarg menatap juga pertanyaan- ¬pertanyaan yang memalukan tentang ketidakmampuanku. Tempat inipun merupakan tempat istirahat darii suatu dunia yang penuh dengan kecelakaan, pembunuhan, ke dalam dunia mana saya tidak pernah akan dapat kawin atau mencari nafkah.
Sambil mendengarkan siaran berita bahasa Urdu dari program BBC London, dari surat kabar maupun TV, saya mendengar tentang dunia diluar sana yang penuh dengan kesukaran dan dalam keadaan seperti ini betapa saya merindukan agar ayah ada bersama-sama sehingga saya dapat membicarakan dengannya tentang apa yang saya lihat atau dengar. Begitu banyak hal yang tidak dapat saya pahami sepenuhnya dan saya telah kehilangan seseorang kepada siapa dapat memperoleh penjelasan dan pengarahan agar saya dapai membentuk pendapat-pendapatku.

Tentu saja masih banyak percakapan yang berlangsung dirumah. Dengan paman, saya membicarakan tentang pengelolaan rumah tangga dan perdagangan. Dengan bibi, saya berbicara tentang anak-anaknya. Para pembantu, cuaca, bunga-bunga dihalaman, perkawinan dan penguburan di lingkungan keluarga serta teman-teman. Saya berbicara dengan kakak-kakak perempuanku tentang anak-anaknya serta desas-desus pribadi dari hidup berkeluarga dan sesekali dunia secara umum.

Begitu banyak kesulitan terjadi dibagan dunia yang lain. Disini, di Pakistan kita merasa damai. Negeri ini adalah tanah suci, demikianlah pendapat mereka mengenai situasi dunia. Di samping semuanya, secara teratur kulakukan ialah pembicaraan dengan para pembantu, Munshi, ketika ia datang kepintu kamarku yang setengah terbuka sekali setiap bulan sambil menyampaikan laporan tentang pembiayaan yang dilaksanakan dan disimpannya dengan sangat hati-hati. Paman yang mendesakku untuk menjalani prosedur ini. Uang adalah benda yang licin dan ada banyak lobang yang dapat menyebabkannya lolos dalam rumah tangga kami. Beliau tidak mau dituduh sebagai orang yang tidak mau bertanggung jawab.

Secara khusus saya berbicara dengan pembantu wanitaku yang telah begitu lama bersama-sama denganku dan sangat mencintaiku sebagaimana juga perasaanku terhadap mereka. Walaupun demikian mereka tidak menyadari tentang perubahan yang sangat rahasia yang terjadi dalam diriku selama tiga tahun ini sesudah ayah meninggal ketika saya mulai menguji tentang pendapat-pendapat yang sampai saat ini selalu diterima saja tanpa bertanya-tanya. Dimalam hari sesudah anak-anak tidur serta paman dan bibi telah beristirahat dikamarnya, ketika rumah telah menjadi sunyi dan lengang sesudah bunyi azzan berakhir, pada saat-saat seperti itulah, saya cadangkan untuk membaca terjemahan Al Qur’an dalam bahasa Urdu. Bagian-bagian yang saya cari ialah semua yang ada sangkut-pautnya dengan Nabi Isa (Yeshua/ Yesus) namun yang kutemui malah membingungkan. Jika Dia seorang penyembuh yang begitu berkuasa, mengapa hanya begitu sedikit yang diceritakan tentang Dia dalam Al Qur’an? [Hampir semua garis bawah dari Rainy, darimana artikel ini diambil. Garis tebal dari saya.]

Pada suatu hari saya bertanya, “Bibi, apakah bibi mengetahui sesuatu tentang nabi Isa itu?” Bibi memegang ujung syalnya dan menaruhnya melewati pundaknya. Dengan tegas ia berkata seakan-akan mendeklamasikan kata-kata dari suatu pelajaran yang dipelajarinya dengan baik : “Ia adalah satu-satunya nabi dalam Al Qur’an suci yang mencelikkan mata orang buta serta membangkitkan orang mati dan Ia akan datang lagi. Tapi saya tidak tahu di dalam Sura mana hal ini ditulis.” Waktu saya menunjukkan Qur’an bahasa Urdu saya kepadanya, beliau menampik : “Kau seorang terpelajar. Kau dapat membacanya. Tapi kami akan tetap berpegang pada pendapat kami sebagaimana dianjurkan Nabi Muhammad kepada kami”, katanya. Dari sini saya melihat bahwa sebenarnya beliau tidak mau membicarakan tentang hal ini tapi tentunya beliau telah menyebarkan ceritera ini kepada anggota keluarga yang lain sebab Safdar Shah menanyakan kepadaku tentang hal ini dengan satu cara yang bijaksana. Dua kali sebulan dia datang dan tinggal sehari dua untuk mengadakan pemeriksaan terhadap hal-hal pengelolaan rumah serta menjengukku untuk mengetahui bagaimana keadaanku. Kakak perempuanku Anis, tiap bulan berkunjung dan Samina sesering mungkin datang dari Rawalpindi dan akan tinggal beberapa hari lamanya. Tidak ada seorang adik yang mendapai perhatian sedemikian besar tetapi tetap merasa kesepian. Safdar Shah mengambil A1 Qur’an berbahasa Urdu dan berkata “Saya merasa gembira karena kau tetap setia dengan agamamu. Gulshan. Apakah kau tidak lagi membacanya dalam bahasa Arab sebagaimana diajarkan ayah kepadamu?”. “Tidak, kakakku saya membaca kedua-duanya secara rutin. Bahasa Arab saya baca dipagi hari dan Urdu dimalam hari. Saya ingin dapat lebih mengerti artinya.” Ia senang mendengar penjelasanku ini. “Bagus, cukup baik bagimu untuk membaca kedua-duanya, tapi jangan sampai kau lupa sehingga tidak lagi membaca yang ditulis dalam bahasa Arab.” Lalu ia meninggalkanku dengan kesan bahwa saya semakin dalam meyakini iman Islam. [Mayoritas orang non-Arab Muslim, yang membaca Qur’an bahasa Arab tanpa mengerti artinya].
“Dengan kehendak Allah [Elohim] saya mencelikkan mata orang buta, menyembuhkan orang sakit kusta dan membangkitkan orang mati.” Telah bertahun-tahun lamanya saya membaca Al Qur’an suci dengan setia dan tekun serta bersembahyang dengan teratur, namun lama-kelamaan saya merasa kehilangan akan semua harapan bahwa keadaan saya akan berubah.

Kini bagaimanapun saya mulai percaya mengenai apa yang tertulis mengenai Nabi Isa benar-benar dapat melakukan mujizat. Ia hidup dan la dapat menyembuhkan. “Oh Isa anak Maryam, dalam Al Qur’an suci difirmankan bahwa Engkau telah membangkitkan orang mati dan menyembuhkan orang kusta serta melakukan mujizat-mujizat. Karena itu sembuhkan juga saya, sambil memanjatkan doa ini harapanku menjadi makin kuat. Aneh rasanya selama bertahun-tahun saya melakukan sembahyang, belum pernah saya merasa yakin bahwa saya dapat disembuhkan. Tasbih yang saya bawa dari menunaikan ibadah haji saya ambil dan mengucapkan Bismillah sesudah setiap doa saya menambahkan “Oh Isa, anak Maryam sembuhkanlah saya.” Berangsur-angsur cara berdoaku berubah sampai saya berulang kali berdoa antara waktu-waktu sembahyang dan pada setiap biji tasbih. “Oh Isa anak Maryam sembuhkanlah saya.” Semakin banyak saya berdoa, semakin dekat rasanya saya ditarik kearah pribadi bayangan yang urutannya nomor 2 dalam Al Qur’an dan memiliki kuasa dimana nabi Muhammad sendiri tidak memilikinya. Dimanakah ada tersurat bahwa nabi lain menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang mati? Jika saja saya dapat membicarakannya dengan seseorang, keluhku, namun tidak seorangpun yang ada. Saya terus berdoa menurut cara ini kepada Nabi Isa sampai akan ada terang yang diberikan padaku.

Sebagaimana biasanya, jam 3 pagi saya sudah terbangun dan duduk ditempat tidur membaca ayat-ayat yang telah kuhapal. Bahkan sambil mengucapkan ayat-ayat itu, hatiku telah menaikkan serangkaian doa “Oh Isa anak Maryam sembuhkanlah saya.” Lalu tiba-tiba saya berhenti dan dengan lantang saya berkata agak keras sebagai cetusan perasaan yang selama ini telah terdorong masuk menembus kedalam pikiranku : “Saya telah melakukan hal ini begita lama tapi aku masih saja lumpuh.” Saya dapat mendengar gerakan-gerakan perlahan dari seseorang yang sedang bangun untuk mempersiapkan air sembahyang subuh. Tidak lama lagi bibi akan masuk menjengukku. Walaupun saya telah mencetuskan pernyataan itu, namun pikirku terpusat pada suatu keadaan yang mendesak pada permasalahanku. Kenapa saya belum juga disembuhkan walaupun saya telah berdoa selama 3 tahun?

“Lihat Engkau hidup di surga dan dalam Al Qur’an di firmankan bahwa Engkau yang telah menyembuhkan orang-orang. Engkau dapat menyembuhkan saya tapi saya masih lumpuh seperti sedia kala.” Kenapa tidak ada jawaban kecuali keheningan yang membatu di dalam kamar yang mengolok-olok doaku. Saya menyebut lagi namanya dan dengan putus asa mengadukan masalahku. Masih tidak ada jawaban. Kemudian sambil gemetar menahan sakit saya mengeluh “Jika Engkau sanggup sembuhkanlah saya. Jika tidak katakanlah! Saya tidak akan melanjutkan perjalanan melalui jalan ini lagi!.” Apa yang terjadi berikutnya merupakan sesuatu yang sulit bagiku untuk melukiskan dengan kata-kata. Saya menyadari bahwa seluruh ruangan itu penuh dengan cahaya. Mula-mula saya mengira bahwa mungkin cahaya itu datang dari lampu baca disamping tempat tidurku. Lalu kulihat bahwa cahaya lampu itu malah kabur. Apakah itu sinar fajar? Masih terlalu pagi untuk itu. Cahaya tersebut makin bertambah sinarnya makin terang sehingga melebihi terangnya siang hari. Saya menutup diriku dengan syal. Saya sangat ketakutan. Lalu terpikir olehku jangan-jangan si tukang kebun menyalakan lampu diluar untuk menyoroti pepohonan. Kadang- kadang hal itu dilakukannya dengan maksud mencegah pencuri ketika buah mangga sedang masak atau untuk mengawasi penyiraman dikala sejuknya malam. Saya mengeluarkan wajahku dari syal untuk melihat-lihat. Tapi pintu dan jendela-jendela tertutup rapat, dengan tirai dan alat penutupnya terpasang baik.

Kemudian saya menyadari kehadiran sosok-sosok tubuh yang mengenakan jubah panjang, berdiri ditengah-tengah cahaya itu beberapa meter jauhnya dari tempat tidurku. Ada 12 sosok tubuh disatu baris namun sosok tubuh ditengah yang ketiga belas lebih besar dan lebih bercahaya dibandingkan dengan yang lainnya. “Ya Allah,” teriakku dan keringat mengalir didahiku. Saya menundukkan kepala dan berdoa : “Ya Allah, siapa gerangan orang-orang ini dan dengan cara bagaimana mereka dapat memasuki kamarku sedangkan semua jendela dan pintu tertutup rapat?”

Tiba-tiba satu suara berkata, “Bangkitlah ! Inilah jalan yang telah engkau cari-cari. Akulah Isa (Yeshua) anak Maryam, kepada siapa engkau telah berdoa dan kini Aku berdiri di depanmu. Berdirilah engkau dan datanglah kepadaKu! Saya mulai menangis “Oh Yeshua saya seorang yang lumpuh. Saya tidak dapat berdiri!”
Ia berkata: “Berdirilah dan datanglah kepadaKu! Akulah Yeshua!” Ketika saya masih sangsi, Ia mengatakannya untuk kedua kalinya. Lalu karena saya masih ragu-ragu Ia mengatakan untuk ketiga kalinya, “Berdirilah!” Dan saya, Gulshan Fatima yang telah lumpuh di tempat tidurku selama 19 tahun, merasakan kekuatan baru mengalir masuk kedalam tungkai-tungkai dan lengan-lenganku yang selama ini tidak berfungsi sama sekali. Saya menaruh kakiku ke lantai dan berdiri. Kemudian saya mengambil beberapa langkah dan jatuh pada kaki dari penglihatan tersebut. Saya sedang mandi didalam cahaya yang sangat murni dan sinarnya sama terangnya dengan gabungan cahaya matahari dan bulan. Cahaya itu mengalir masuk kedalam hatiku dan kedalam pikiranku, lalu banyak hal menjadi jelas bagiku pada saat itu juga.

Yeshua menumpangkan tanganNya keatas kepalaku dan saya melihat sebuah lubang ditanganNya dari mana sebuah sinar masuk dan memancar ke pakaianku sehingga bajuku yang berwarna hijau itu sampai menjadi putih. Ia bersabda : Akulah Yeshua, Akulah Immanuel, Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Aku hidup dan Aku akan datang segera. Lihatlah, mulai sekarang apa yang kau lihat harus kau saksikan kepada umatKu. UmatKu adalah umatmu dan engkau harus tetap setia menyaksikannya kepada umatKu. Ia berkata:  “Sekarang engkau harus menjaga agar jubah dan tubuhmu ini tidak bernoda. Kemanapun engkau pergi Aku akan menyertaimu dan sejak hari ini hendaklah kau berdoa demikian: Bapa kami yang ada didalam sorga, dipermuliakanlah namaMu, datanglah kerajaanMu, jadilah kehendakMu dibumi seperti disorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kesalahan-kesalahan kami sebagaimana kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Dan janganlah membawa kami kedalam pencobaan tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat, karena Engkaulah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya, amin.” [dari Matius 6:9-13] Ia menyuruh saya mengulang-ulang doa itu sampai benar-benar masuk tenggelam kedalam hati sanubariku. Doa yang indah dan begitu berbeda dengan doa-doa yang telah saya pelajari untuk dipanjatkan sejak masa kanak-kanakku sampai sekarang ini.

Elohim dipanggil “Bapa – itulah satu sebutan yang begitu erat menggenggam dalam-dalam dihatiku yang dapat mengisi kekosongannya. Saya ingin untuk dapat tetap tinggal di sana di kaki Yeshua, mengucapkan doa dan yang menyebut nama baru sebagai ganti dari Allah: “Bapa kami.” Tetapi Yeshua lebih lanjut mengatakan Kepadaku: ”Bacalah lebih lanjut dalam Al Qur’an, Aku hidup dan akan segera datang”. Hal ini telah diajarkan kepadaku dan mendengar ini timbul kepercayaan dalam diriku terhadap apa yang saya dengar. Banyak lagi yang dikatakan Yeshua, saya begitu penuh dengan sukacita yang tak dapat dilukiskan. Saya melihat tangan dan kakiku sudah ada daging disitu. Tanganku belum sempurna, namun begitu terasa ada kekuatan dan tidak lagi lunglai dan lemah. “Kenapa Engkau tidak menyembuhkan saya sampai sempurna?,” tanyaku. JawabanNya datang dengan penuh kasih : “Aku mau kau menjadi saksiKu. Sosok-sosok tubuh itu lalu naik dari pandanganku makin lama makin lenyap. Saya berkeinginan agar Yeshua tinggal lebih lama lagi lalu saya menangis tersedu-sedu. Kemudian cahaya itu lenyap dan saya tinggal sendirian, berdiri ditengah-tengah kamarku mengenakan jubah putih dan mataku terasa berat karena cahaya yang mempesonakan itu. Sekarang malah cahaya lampu yang ada disisi tempat tidurku rasanya menyakitkan mataku dan alis mataku terasa sangat berat menekan diatasnya. Saya mencari-cari di dalam laci sebuah rak yang diletakkan rapat kedinding. Diatasnya saya menemukan sepasang kaca mata hitam yang biasa kupakai di halaman. Saya mengenakannya dan dapat membuka mataku serta melihat lebih enak. Dengan berhati-hati saya menutup laci lalu berpaling dan memandang sekeliling kamarku. Sama saja keadaannya seperti ketika saya baru bangun tidur. Jam masih berdetak diatas meja di samping tempat tidurku menunjukkan waktu hampir jam 4 pagi. Pintu terkunci rapat begitu juga jendela-jendela dengan tirai-tirainya masih tertutup seluruhnya terhadap udara dingin. Bagaimanapun saya belum lagi membayangkan tentang kejadian itu karena buktinya kumiliki di dalam tubuhku. Saya melakukan beberapa langkah lalu beberapa la,gi. Saya berjalan dari dinding ke dinding, keatas dan kebawah lagi.Tidak salah lagi, anggota-anggota tubuhku telah sehat sempurna.
Oh, betapa sukacitanya perasaanku. “Bapa” seruku. “Bapa kami yang disurga”, ini merupakan ungkapan doa yang haru dan indah sekali. Tiba-tiba sebuah ketukan terdengar di pintu. Rupanya bibi. “Gulshan,” katanya dengan tergesa-gesa, “siapa yang ada di kamarmu berjalan-jaian?” “Saya sendiri, bibi,” [Gulshan menjawab].  Terdengar suatu teriakan nafas yang pendek lalu bibiku berseru lagi, “Oh, itu tidak mungkin. Tidak bisa terjadi. Bagaimana kau dapat berjalan? Engkau berdusta kepadaku.” “Baiklah, masuklah kemari dan lihatlah sendiri.” Pintu terbuka perlahan-lahan dan dengan penuh ketakutan bibi melangkah masuk ke dalam kamar. Beliau berdiri dengan tubuh menekan ke dinding dalam ketakutan dan tidak percaya, matanva terbelalak dan menatap kewajahku vang justru brseri-seri: “Kau akan jatuh,” katanya, “Saya tidak akan jatuh,” saya tertawa merasakan adanya kuasa dan kekuatan dari kehidupan baru yang menjalan melalui pembuluh–pembuluh darah saya. Bibi itu melangkah perlahan–lahan, tangannya dibentangkan kedepan seperti seorang buta meraba-raba mencari jalannya. Ia mengangkat lengan bajuku dan melihat tanganku, montok dan sehat seperti keadaannya sekarang. Kemudian beliau meminta saya duduk di tempat tidur memandangan ke arah kakiku yang telah sempurna seperti kakiku yang sebelah lagi.

“Aneh rasanya melihat engkau berdiri. Saya harus membiasakan diri untuk ini,” katanya. Beliau meminta kepadaku untuk menceriterakan bagaimana kejadiannya. Jadi, aku ceriterakan kepada bibi dan permulaan tentang ramalan ayah lalu suara di kamarku pada malam kematian ayah. Kemudian saya ceritakan tentang masa 3 tahun membaca tentang Nabi Isa ( Yeshua/ Yesus ) di dalam Al Qur’an, diakhiri dengan kemunculanNya padaku dan kesembuhanku. Waktu tiba pada ceritera tentang Yeshua yang berkata agar saya menjadi saksinya, bibi menyela dengan berkata : “Tidak ada umat Kristen di Pakistan sini untuk kau pergi menyaksikannya dan kau tidak perlu pergi ke Amerika atau Inggris. Pada waktu orang-orang ini datang meminta makan ataupun uang kepadamu itulah yang menjadi kesaksianmu.” Sampai saat itu saya belum lagi mempunyai kontak mengenai tugas yang diamanatkan Yeshua kepadaku untuk pergi ke Inggriskah ataupun Amerika. Namun, dengan kata-kataNya yang masih nyata dan tetap: “Apa yang telah engkau lihat dengan matamu sendiri, haruslah engkau saksikan kepada umatKu. UmatKu adalah umatmu,” maka sebuah ungkapan doa terbentuk dalam pikiranku : “Yeshua, dimanakah umatMu?”

BAB 7.  KEMASYHURAN [Bersaksi pada sanak-keluarga, diadili dan diancam oleh mereka, Yeshua nampak kembali]
Pada waktu saya lahir, orangtuaku berkonsultasi dengan seorang Najumi (ahli nujum/ peramal nasib) yang membuka telapak tanganku yang mungil untuk meneliti dan menyelidiki garis keberuntunganku. “Anak perempuanmu kelak akan menjadi terkenal,” katanya setelah meneliti dan mempelajari telapak tanganku bersungguh-sungguh selama 1 atau 2 menit. Betapa heran dan girangnya Ayah-Ibuku mendengar ramalan ini dan tentu saja ia mendapat hadiah yang baik untuk ini. Saya menceritakan hal ini karena kemudian ayah mengutuk Najumi itu sebagai seorang pencuri dan pendusta ketika pada usia 6 bulan ternyata saya harus menjadi seorang lumpuh untuk sisa hidupku.

Namun pada waktu saya mengambil langkah-langkah awal dari kehidupan pada saat fajar pagi dibulan Januari itu, saya langsung mendapat kemasyhuran sebagai suatu mujizat yang berjalan. Diwaktu kemudian tidak terpikir olehku bahwa saya sedang mengambil langkah menuju kesuatu kemasyhuran yang tidak dapat diupayakan oleh keluargaku bagiku. Para pelayan datang berlari-lari, para wanita berkumpul di mulut pintu ragu-ragu mulutnya membulat o-o-o-oh karena keheranan. “Oh bibi ji, apakah itu benar-benar ada katanya? Apakah akhirnya Allah telah menyembuhkanmu?” ”Yeshua Immanuel yang datang padaku di kamar ini dan meyembuhkan saya,” jawabku. Tidak terlihat olehku di luar para pembantu pria mendengarkan dengan penuh keheranan.

Bibi menghalau mereka dari tempat jalanan itu dan menempatkan pembantu di samping-sampingku menjaga dengan cemas langkah-langkah yang akan kuamabil waktu berjalan keluar dari kamarku melewati rumah dan terus keserambi depan. Beliau berjaga-jaga jangan-jangan saya terpeleset pada tepi-tepi permadani yang belum bisa saya injak, lantai yang licin atau kasar karena di semen. Namun pikiranku mengendalikan tubuhku dan memulai memancarkan semboyan-semboyan dengan lancarnya yang segera menolong saya menyesuaikan diri dengan dimensi dan pembidangan dari dunia fisik. Terdapat perbedaan yang luar biasa bagi seorang yang selama ini keadaannya seperti sebatang kayu terbaring disuatu tempat sambil menunggu api unggun bila dibandingkan dengan sebatang pohon hidup yang secara aktif menumbuhkan kehidupan bagi yang lain.

Saya segera mulai menemukan perbedaannya ketika berdiri, dibombardir oleh sensasi sensasi baru sebab merasa memiliki hidup, duduk di serambi sambil bercakap-cakap dengan paman. Dari balik dopatta (syalku) saya memperhatikan paman. Saya adalah kepala rumah tangga ini, tapi beliau telah mengelola semuanya untukku bagaimana beliau menghadapi kenyataan ini? Saya tidak perlu cemas, beliau ternyata bersukacita. Bagi kami engkau lahir pada hari ini katanya. Jika Ayahmu masih hidup beliau pasti melncat-loncat kegirangan. Kegembiraan seperti inilah yang kami rasakan untukmu. Ketika mengucapkannya terlihat airmatanya mengalir di pipinya. Dengan penuh perasaan terima kasih saya berkata, “Oh, terima kasih pamanku, dukunganmu ini sangat berarti bagiku.”

Segera sesudahnya saya mendengar beliau menelpon kakak-kakakku. Udara pagi yang segar kering dipecahkan oleh kegembiraan yang meluap sebab setiap orang benar-benar menyambut pentingnya kegemparan peristiwa yang baru terjadi ini. Diluar saya berusaha agar kelihatan tenang ketika saya pergi sarapan bersama keluarga, suatu hal yang pertama kali kulakukan seumur hidupku tanpa dibantu seorangpun. Saya sadar bahwa banyak mata disekeliling meja maupun dari dapur yang memperhatikan waktu saya mengulurkan tangan kiriku untuk mengambil gula atau susu serta membagikannya kepada anak-anak. Mereka terpesona tapi karena diisyaratkan oleh ibunya dengan tajam maka mereka tidak berani mengajukan sesuatu pertanyaan.

Sekarang engkau dapat berjalan-jalan dan melihat lihat sendiri rumahmu, kata paman sewaktu akan berangat kerja sambil sekalian mengantarkan anak-anaknya kesekolah.
Jadi, untuk ertam kalinya seumur hidupku saya berkeliling rumah melihat-lihat kesetiap ruangan, menikmati setiap bagiannya dan rasanya menemukan senyum disegala sudutnya. Rasanya seperti baru bangun dari tidur selama 19 tahun.

Saya ingat waktu itu saya mengambil kunci kamar ayahku dan untuk berapa lama saya sendirian disana. Kamar itu merupakan pencerminan pribadi ayah dan didalamnya tersirat beberapa petunjuk pola pemikiran almarhum yang sebenar-benarnya. Sebuah ruangan ganda dengan perlegakapan sederhana yaitu sebuah tempat tidur berkasur (Charpai), sebuah permadani berwarna coklat, abu-abu, dua kursi dan dinding yang bertirai berwarna hijau muda tipis. Pada dinding tergantung sebuah potret dirinya yang besar, diabadikan pada waktu masih lebih muda, juga beberapa gambar dari Mekah dan Medinah begitu pula senapan berburunya yang dipakai beliau bila keluar ke lapangan. Airmataku mengalir. Saya merasakan kehadiran beliau, begitu dekat rasanya seakan akan beliau baru bangun dari tempat tidur, keluar kamar sebentar lalu kembali lagi. Lihat aba Jan!. Doa-doamu telah dijawab Elohim, bisikku sambil memandang keatas ke ekspresi wajah almarhum yang begitu agung, kemudian saya beralih memandang gambar-gambar Mekah dan Medinah. Ayahku telah melakukan yang yang terbaik untukku lebih baik dari apa yang rasanya dapat dan mau diperbuat oleh ayah-ayah banyak orang lain. Namun, suatu kuasa yang lebih besar dari pernah diketahuinya sedang bekerja didunia dan saya putrinya yang lemah. Sesudah menderita sakit sebegitu lamanya telah memperoleh berkah yang dijamah serta disembuhkan oleh kuasa itu.

Tapi saya tidak menemukan ibuku di kamar ini, kamar yang pernah mereka pakai bersama. Saya masuk kekamar yang lebih kecil disebelahnya, ruangan yang beliau pakai sebagai tempat penyimpanan. Kini telah digunakan menjadi ruangan tempat penyimpanan barang-barang berharga diamana uang, permata dan perhiasan-perhiasan disimpan. Saya tidak pernah mengenal ibuku dan tidak ada potret yang dapat menunjukkan padaku bagaimana wajah almarhumah karena pada waktu itu tidak terpikir oleh seorangpun untuk mengambil potret para wanita keluarga kami, tapi saat ini saya merasakan beliau begitu dekat dengan diriku dan dengan perasaan pedih saya menangis untuknya, “Oh Ma-Ji, jika saja ibu ada disini. Kenapa ibu diambil dariku dalam usia sebegitu muda?. Sekarang saya tidak memeiliki baik ayah maupun ibu untuk membagi sukacitaku. Namun, kakak-kakakku datang bersukacita bersama saya. Tiap orang harus mendengarkan ceritra itu semuanya. Bagaimana pada malam sesudah kematian ayah, suatu suara mengatakan padaku untuk membaca tentang Isa (Yeshua/ Yesus) dalam Al-Quran. Bagaimana saya telah melaksanakan selama 3 tahun dan berdoa kepada nabi Isa (Yeshua/ Yesus) ini makin hari semakin sungguh-sungguh, sampai IA muncul di kamarku, menjamah dan menyembuhkan saya.”

Waktu inilah : Terasa adanya sukacita yang benar dan sejati didalam rumah kami sejak ayah meninggal dunia. Kita harus merayakannya dan mengundang para tetangga serta sahabat-sahabat dari kota kata Anis, tentu saja kata Safdar Shah ktika usul itu diajukan kepadanya. Kita harus menguap syukur kepada Allah yang telah mendengarkan doa kita. Selama ini kita mengira bahwa perjalanan ke Mekah tidak ada gunanya. Sepanjang waktu sebenarya sudah merupakan kehendak Allah untuk menyembuhkanmu.

Dihari pertama tersebut, bagiku merupakan untuk belajar ketika otakku harus mengolah hal-hal yang masih asing. Saya akan lupa bahwa saya telah berjalan sendiri sehingga saya meminta tolong pada Bibi untuk mengambilkan sesuatu bagiku misalnya Syal dipinggir kursi panjang. Secara spontan beliau akan berdiri mengambilkannya pada saat mana tiba-tiba saya teringat bahwa saya sudah tidak lumpuh lagi dan sanggup untuk mengambilnya sendiri. Pada akhir hari pertama itu saya merasa sangat lelah. Secara fisik, perasaan sakit setelah bertahun-tahun lamanya ditempat tidur sudah dapat kuatasi, tapi saya masih memiliki cara berpikir dari seseorang yang cacat. Saya memerlukan wakt untuk menyesuaikan semua kontak yang kini harus kulakukan dengan orang-orang lain yang berada diluar dinding kamar tidurku. Sekarang saya tidak memperdulikan bila ada orang yang memandang lengan dan tanganku telah sembuh, tidak seluruhnya normal karena ada sejumlah bekas pelaksanaan uji coba dan operasi yang dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya yang mengakibatkan terhalangnya pertumbuhan ibujari dan beberapa jarinya. Perbedaan yang saya rasakan ialah bahwa kini saya harus menggunakan tungkai dan lenganku.

Selama beberapa hari pengunjung-pengunjung berduyun-duyun datang termasuk para paman dan bibi yang datang dari tempat-tempat yang jauh begitu pula kakak perempuanku dari Rawalpindhi. Pada akhir minggu kami mengadakan suatu perayaan dengan pesta dan banyak sekali orang berkumpul. Kepada semua orang saya memberi kesaksian bagaimana Yeshua (Yang mereka sebagai Nabi Isa) telah menyembuhkan saya. Karena kesaksianku yang terus menerus tentang hal ini maka timbul reaksi yang pahit terhadap seluruh kejadian ini mula-mula dari kakak-kakak lelakiku yang telah menyebabkan keresahan bagi mereka. Ketika untuk ke-6 kalinya mereka telah mendengarkan kesaksian ini, maka Safdar Shah sesuai dengan fungsinya sebagai pemuka agama dikeluarga kami, merasa perlu mengemukakan pernyataan ini : “Kami akan lebih menghormatimu jika kau katakan bahwa Nabi Muhammad yang menyembuh kan engkau, Nabi Isa itu tidak penting bagi kita.” Tapi saya tidak dapat mengatakan bahwa Nabi Muhammad yang menyembuhkan saya. Yeshua sendirilah yang melakukannya dan IA berpesan padaku untuk mengatakan demikian.

“Umatnya Yeshua ada di Inggris, Amerika, Kanada. Negeri-negeri ini ialah tempat orang-orang Kristen. Engkau kan tidak akan kesana untuk memberikan kesaksian kepada mereka bagaimana Nabi Isa telah menyembuhkanmu dan adalah bijaksana untuk tidak mengumumkan hal yang demikian itu disini,” Safdar Shah mengatakan hal ini sebagai suatu pernyataan.
Mungkin dia tidak bermaksud untuk membuat pernyataan ini terdengar seperti sebuah ancaman, tapi saya dapat merasakan apa yang tersirat di dalamnya dimana ada kesatuan perasaan untuk mengasingkan seseorang dan memusuhinya sebab hal ini telah diajarkan kepada kami tentang umat yang menganut agama kitab lain itu. Yang dimaksudkan di sini ialah Taurat dan Injil – Kitab-kitab suci orang-orang Yahudi dan Kristen yang merupakan isi Alkitab. Penganut Islam Syiah menganggap bahaya bagi Iman Islam mereka, sehingga ada usaha-usaha untuk menunjukkan bahwa Al-Quran pun diturunkan kemudian jelas lebih unggul dan benar karena mengembalikan kebenaran kepada kedua kitab suci itu. Saya telah menerima hal ini dan berakar dalam hatiku, tapi kini saya mulai berpikir: “Mengapa jika Yeshua tidak penting, tapi IA sanggup menyembuhkanku? Kenapa jika Al-Quran dinyatakan sebagai tuntunan tertinggi bagi setiap segi kehidupan kami, namun namun hanya begitu sedikit menceritakan tentang Yeshua? Apakah kuasa penyembuhan ini benar-benar kuasa yang dinyatakan dalam Al-Quran? Apakah kuasa ini datangnya dari Allah?” Jadi,  setahap demi setahap saya didorong mencari kebenaran tentangNYA. Saya ingin membaca Injil iu sendiri agar dapat belajar dan mengetahui lebih banyak tentang Yeshua.

Jika saya akan menemukan kuasa yang berbeda sebagaimana yang telah diketahui oleh keluargaku selama ini, maka mereka akan menjumpai hal-hal baru tentang saya begitu pula akan terjadi hubungan yang baru dengan saya. Sebagai seorang adik, perempuan, tidak berdaya lalu selama ini sakit, saya adalah makhluk tanpa kemauan bagi mereka. Mereka tahu dimana menemukanku dan bagaimana mengurusku. Mereka tahu bahwa saya akan selalu setuju dan menerima saran-saran mereka. Saya tidak memiliki kemampuan pribadi-saya bergantung sepenuh penuhnya pada mereka. Tapi sekarang, saya merupakan pribadi yang bebas dan lebih lagi saya menemukan pribadi dan keadaanku sebagai putri ayahku dan mempunyai perasaan sendiri yang telah di bina melalui suatu pendidikan yang tidak mungkin dapat saya miliki sekiranya dari dulunya saya sehat dan normal. Kadang-kadang saya dapat memenangkan perdebatan dengan Safdar Shah. Ia sadar bahwa akan sulit sekali baginya untuk berdebat dengan sebuah mujizat berjalan karena di dalamnya ada dorogan moral tersendiri pula.

Sejak semula Bibi telah berulang kali mengatakan bahwa Visi Yeshua itu berarti bahwa saya harus memberikan sedekah kepada orang-orang miskin dan selanjutnya mereka akan pergi memberitahukan kepada orang lain mengenai Yeshua. Bagaimana saya dapat berpikir bahwa ada cara lain lagi? Dalam batas-batas pengalaman Bibi seacra sederhana, tidak ada cara bagi seorang wanita Muslimat untuk meningkatkan rumah tangganya, keamanan dalam lingkungan keluarganya utnuk pergi keluar untuk memberitakan kesaksian kepada orang lain.

Saya bawa pertanyaan-pertanyaan ini kehadapan Yeshua, tentang bangsaNYA, umatNYA, dan dimanakah mereka? Bagaimana saya dapat datang menemui mereka sambil menghadapi larangan dan tantangan keluargaku. Jauh didalam lubuk hatiku saya mengetahui jawabannya. Melalui suatu suara DIA berbicara kepadaku: “Jika engkau takut karena keluargamu, AKU tidak akan menyertaimu. Engkau harus tetap setia kepadaKU agar dapat bertemu dengan umatKU.” Pernyataan ini muncul bagiku dari kegelapan sewaktu saya berlutut diatas tikar sembahyangku dimalam hari seketika anggota-anggota keluarga lainnya telah beristirahat. “UmatKU adalah umatmu. Engkau harus menyampaikan firmanKU kepada mereka,” kata suara itu. Saya tidak menceritakan kepada keluargaku tentang suara ini namun mereka merasakan terjadinya perubahan terhadap sikapku, secara teratur memperhatikan saya dan menghindari mengajukan pertanyaan kepadaku. Engkau kan tidak akan meninggalkan rumah ini? Apakah engaku akan ke Inggris atau ke Kanada? Masih ingatkah kau mengenai apa yang kau ceritakan tentang Inggris sewaktu kembali dari sana dulu? Kenapa engkau tidak memberi Zakat saja kepada orang miskin daripada harus ke Inggris. Mereka toh akan berceritra lebih lanjut kepada orang lain tentang Yeshuamu?. Saya telah mempersebahkan Zakat tahunanku sebesar 50.000 rupee bagi peminta-minta di pintu. Kini, dalam beberapa waktu ini saya telah memberi tambahan Zakat sebesar 10,000 rupee. Lalu Paman datang kepadaku,” Sekarang kau akan berbahagia, engkau telah melaksanakan perintah Allah kepada kita. Engkau telah melakukannya dengan penuh kemurahan.” Namun saya tidak merasa bahagia. Dengan pelan saya berkata, “Tapi saya belum mempersembahkan diriku padahal inilah yang DIA maksudkan.” Pikirku beliau tidak mendengarnya, tapi beliau menarik napas panjang dan dalam, “Dengar Gulshan, saya pikir kini saya berbicara kepadamu seolah olah ayahmu (kiranya jiwanya beristirahat dengan tenang di surga), apapun yang dikehendaki Yeshua berikanlah kepadaNYA – tanah atau uang, tapi sekali sekali jangan tinggalkan negerimu, agamamu dan jangan serahkan dirimu sendiri!”

Setiap hari yang berlalu, saya mulai menyadari tumbuhnya tuns-tunas hidup yang baru di dalamku. Waktu Muazin mengumandangkan panggilan beribadah dari menara mesjid, maka sebagaimana biasanya saya masuk ke kamarku, bersyukur dapat menutup pintu dan terhindar dari pengawasan bibi dan sayapun tidak membutuhkan bantuan pelayan. Saya menyendiri, bukan melaksanakan upacara yang lama, tapi kini berdoa telah merupakan hal yang mendalam dan Khusuk waktu kupanjatkan doaku kepada Allah [Elohim] dari lubuk hatiku selama dua jam menaikan doa Bapa Kami yang telah kutuliskan kata-katanya. Setiap kata memenuhi dan menjawab satu kebutuhan. Terasanya seolah-olah doa ini khusus untukku dan saya belum tau bahwa doa ini adalah sebuah doa keluarga yang selalu dipanjatkan oleh orang-orang Kristen.
Diwaktu lain pada hari yang sama, saya mengucapkan kata-kata doa itu dengan metode lama, mengambil tasbihku satu demi satu dan menelusurinya dengan jari-jariku, klik-klik-klik dan pada setiap klik seluruh doa itu ku ucapkan. Dengan cara demikian saya dapat mengucapkan doa itu dimana saya dan kapanpun saya kehendaki bila ada orang yang melihat, kelihatannya saya sedang melaksanakan Namaz (Sembahyang). Tentunya saya telah mengucapkan doa itu seribu kali selama beberapa hari ini dan setiap kali saya merasakan lebih mudah mengucapkannya.

Bagiku rasanya telah diberikan sebuah kamus baru untuk memohon dan berbicara kepada Elohim.
BAPA KAMI YANG ADA DIDALAM SURGA – oh, kata-kata ini membuat saya melihat Elohim dalam sinar yang baru IA adalah oknum yang Maha Tinggi, ya, tapi IA adalah juga ayah yang dulunya hilang dariku. Betapa baiknya Engkau menjadi ayahku, saya menangis di malam hari dan merasakan suatu kesukacitaan, cinta kasih yang tak terlukiskan dan masuk dalam dalam ke-sanubariku. Rasa ketakutan lama yang kelam dan merasukku seakan-akan Elohim murka kepadaku, kini benar-benar berlalu.

DIPERMULIAKANLAH KIRANYA NAMAMU – Saya memahami pujian ini karena sebagai seorang muslimat saya telah dididik untuk memuja-muja nama Allah/ Elohim yang Maha suci yang ada dalam Al-Quran. Kami menggunakan sebutan-sebutan bagi Elohim dengan penuh rasa hormat, menambahkan kata-kata pemujaan misalnya :Terpujilah kiranya namaNYA. Sebutan-sebutan khusus bagi Allah/ Elohim ini memiliki kuasa-kuasa yang kelihatan dalam alam pikiran umat Islam dan merupakan salah satu dari bentuk-bentuk dekorasi tulisan yang diizinkan didalam mesjid, padahal izin untuk membubuhkan dekorasi semacam ini sangatlah ketat. Perbedaan yang kurasakan sekarang ialah bahwa saya telah meilhat sesuatu dari kemuliaan yang luar biasa itu dengan mata kepala sendiri.

DATANGLAH KERAJAANMU, KEHENDAKMU JADILAH DIBUMI SEPERTI DIDALAM SURGA – Sekarang saya melihat Yeshua bukannya sebagai seorang Nabi miskin yang nomor dua, tetapi IA adalah Raja yang Kekal dan akan datang lagi membawa kerajaan Surga didunia seperti di surga.

BERIKANLAH KEPADA KAMI MAKANAN YANG SECUKUPNYA…. Tidak pernah terpikir olehku untuk meminta makanan kepada Elohim sebab semua yang kuperlukan sudah tersedia lebih dari cukup, tapi ditunjukkan bahwa Elohimpun memperhatikan kebutuhan materi umatNYA dan IA menghendaki kita bergantung kepadaNYA sebagai Bapak bagi kita.

DAN AMPUNILAH SEGALA KESALAHAN KAMI SEBAGAIMANA HALNYA KAMI MENGAMPUNI ORANG YANG BERSALAH KEPADA KAMI Pengampunan? Doa-doa yang saya panjatkan dulu merupakan keinginan permohonan bagi pengampunan yang sangat dalam. Dalam pemikiran kami Elohim lah yang memberi pahala bagi umatNYA yang setia demikianpun hukuman bagi orang-orang yang melakukan kejahatan atau tidak percaya. Dulunya saya pernah merasa yakin bahwa saya telah melakukan dosa-dosa besar sehingga dihukum dengan penyakit yang saya derita serta kehilangan kedua orang tuaku. Satu-satunya yang menjadi dasar pengharapanku ialah agar saya dapat menunaikan dengan tepat dan terperinci segala syariat-syariat ibadah dan sembahyang setiap hari dan melaksanakan ibadah haji untuk mendapakan berkat-berkat khusus dan juga memunaikan empat rukun Islam lainnya.

Didalam doa ini tidak disebutkan tentang upacara membersihakn diri yang ada malah kepastian bahwa kita perlu mengakui dosa kita dihadapan Elohim untuk mendapatkan pengampunanNYA dan bagi seseorang yang mengharapkan pengampunan juga berkewajiban untuk memberi ampun kepada orang lain yang bersalah padanya. Saya dengan seluruh pembinaan agamaku yang teratur, tertib dan tak tercela sebelum ini belum pernah tahu akan kepastian pengampunan seperti ini.

JANGANLAH MEMBAWA KAMI KEDALAM PERCOBAAN MELAINKAN LEPASKANLAH KAMI DARIPADA YANG JAHAT –  Saya mengucapkan doa ini karena dengan permohonan ini saya mendapatkan kekuatan untuk tetap setia kepada visi saya mengenai Yeshua. Hanya DIAlah yang menyelamatkan saya dari tarikan – balik yang begitu kut dari Imanku sebelumnya dan malah makin keras datangnya dari keluargaku.

KARENA ENGKAULAH YANG EMPUNYA KERAJAAN DAN KUASA DAN KEMULIAAN SAMPAI SELAMA-LAMANYA, AMIN –  Kata-kata yang agung itu sederhana tapi penuh kuasa. Saya telah menyaksikan sendiri kuasa itu dan saya telah mengalami perubahan untuk selamanya. Kami tidak mempunyai perantara khusus dengn Elohim – walapun Nabi Muhammad memegang posisi ini – itulah sebabnya maka kami bersikap begitu merendahkan diri waktu bersembahyang. Namun kurasakan bagi saya telah diberikan seorang perantara yang dapat memberikan jawaban, menunjukkan padaku suatu cara baru untuk berbakti kepada Elohimku. Sebagai seorang Muslimat, saya bertanggung-jawab atas semua tindakanku, buruk atau pun baik dan akan menanggung akibatnya. Tapi kini saya mendapatkan suatu pandangan yang baru tentang Allah/ Elohim. Untuk memeperoleh hak memnggil Dia “Bapa” memberi pengertian bahwa Dia bertanggung-jawab juga terhadap kehidupan dan kebahagiaanku sebagaimana halnya ayahku didunia telah melakukannya.

Demikianlah yang saya pikir dan rasakan dan begitulah kupanjatkan doaku, karena merasakan kebahagiaan sebagaimana layaknya perasaan seorang anak yang hilang pada suatu bazaar yang ramai dan penuh sesak dengan manusia kemudian diketemukan kembali oleh ayahnya. Saya rindu untuk dapat lebih memahaminya, mungkin dengan jalan memperoleh sebuah Alkitab orang Kristen itu.

Jika saya memandang ke arah jalan yang sedang kutempuh ini, langkah demi langkah, rasanya saya telah melihat awan badai bertiup di atas kepalaku. Sepuluh hari setelah peristiwa kesembuhanku yang menakjubkan diwaktu saya sedang beristirahat di kamarku, badai tersebut akhirnya pecah. Keluargaku telah menemukan kembali kekuatannya dan kini berkumpul di ruangan tamu para pria dengan pintu tertutup untuk mengadili saya – setidak-tidaknya begitulah yang kurasakan. Tentu saja mereka melakukannya dengan cara dan metoda yang lain. Safdar Shah memulai pertemuan itu dengan berkata: “Kami telah mengumpulkan kepala keluarga untuk meyakinkan engkau dan membujukmu agar menghentikan pemikiran ekstrim yang belum lama ini kau alami. Kami dapat menerima bahwa Nabi Isa telah menyembuhkan engkau. Tapi bila berita ini sampai keluar, maka akibatnya tidak akan baik bagi keluarga kita terhadap kami.”

Para paman dari kedua belah pihak orang tuaku dan para istrinya menyokong pernyataan Safdar Shah juga kakak-kakakku yang lainnya dengan istri/suaminya. Demikianlah para sepupuku bersama paman dan bibiku, yang kemudian kuketahui dipersalahkan karena telah menjadi penyebab terjadinya peristiwa ini padaku. Saya tidak berkata apa-apa untuk waktu yang cukup lama dan membiarkan mereka berbicara sebelum saya berkata: “Apakah anda sekalian tidak merasa gembira bahwa saya telah disembuhkan?.” “Oh ya,” kata mereka serempak, “kami sangat berkepentingan dengan kesembuhanmu, tapi sekarang setelah semua terjadi janganlah menyebarkan berita bahwa Nabi Isalah yang menyembuhkan engkau.” Semuanya terdiam sebentar lalu Safdar Shah menambahkan, “Demi Islam, kami dapat membunuhmu. Begitulah yang di Firmankan dalam kitab suci [Al’Quran].”

Saya memandang ke sekeliling ruangan itu, kakak-kakak perempuanku meneteskan air mata. Paman dan bibiku kelihatannya pucat karena terkejut dan takut. Jenggot-jenggot para pamanku berkibas-kibas ketika menganggukkan kepala dengan penuh semangat. Mata kakak-kakak lelakiku tertuju padaku laksna burung elang yang bertengger disarangnya. Saya merasakan terciptanya jarak antara diriku dengan mereka dan jarak ini makin bertambah dari saat ke saat. Bagaimana mungkin agama dapat menimbulkan kebencian seperti itu? sehingga mereka lebih baik melihat saya mati daripada saya harus mengatakan suatu kebenaran yang mereka tidak setujui?

AMPUNILAH SEGALA KESALAHAN KAMI, SEBAGIMANA KAMI MENGAMPUNI ORANG YANG BERSALAH KEPADA KAMI. Disini terdapat suatu kebenaran yang lebih kuasa yang lebih besar dari setiap hukum Islam manapun. Saya tidak merasakan suatu perasaan benci pada mereka disaat itu, yang ada hanyalah suatu perasaan kasih yang ingin sekali kusalurkan kalau saja saya dapat memecahkan penghalang-penghalang ini.

Setelah terdiam sejenak, kakakku berkata lagi, “Jika engkau meneruskannya, engkau akan dibuang dari keluarga dan dari segala kesenangan yang pernah kau miliki disini. Jika kau pergi kepada orang-orang Kristen kami malah akan menyusahkan mereka juga, tentu saja mereka tidak ada di Pakistan.” Waktu itu saya juga berpikiran demikian. Selama ini saya selalu diam, saya tidak berlagak menurut terhadap kaum keluarga dan orang-orang yang lebih tua dan kini mereka menggertak saya. Bagi si Gulshan yang lama tentu ia akan menyerah karena tidak sanggup menonjolkan dirinya. Tetapi sekarang si Gulshan yang baru ini merasakan suatu kuasa di dalam dirinya dan kuasa ini memberikan kepadanya suatu keberanian yang baru, saya tidak merasa takut kepada mereka, kata-kata yang tidak saya cari-cari ataupun pikirkan malah datang ke bibir saya. “Saya telah cukup mendengarkan dan tentu saja saya mengerti tentang keprihatinan anda sekalian, kataku, saya tidak menjawab semua pertanyaan yang diajukan, karena saya harus menunggu jawaban dari Yeshua padaku. Ia akan memberitahukan padaku apa yang harus kulakukan berikutnya. Bila saya mendapat perintah maka saya akan mematuhinya dan bila bahkan bila anda sekalian membunuhku saya akan menjalaninya.” Terdengar tarikan-tarikan napas disekeliling ruangan itu, alangkah kurang-ajarnya kata para paman seorang kepada yang lain dan kelihatan seolah-olah mereka tidak mempercayai pendengaran telinganya, atas jawaban yang lancang itu. Sayapun sendiri terperanjat terhadap diriku yang begitu berani menantang kekuatan keluargaku dengan cara demikian [Ini adalah “perkataan hikmat” dari Roh Kudus dalam mulut Gelshan, baca Matius 10:19-20 & Markus 13:11 & Lukas 12:11-12].  Sekarang apa yang akan mereka lakukan? Saat itu adalah saat yang berbahaya. Saya segera menambahkan, “Saya berjanji saya tidak akan mempermalukan keluarga kita dalam segala hal yang akan saya lakukan, tapi saya masih harus menunggu sampai Yeshua memberitahu padaku, bagaimana saya menyatakan kesaksian itu. Saya belum lagi bertemu dengan seorang Kristenpun, saya malah tidak tau dimana menemui mereka.”

Para pria saling mendekatkan kepala, kakak-kakak perempuanku serta bibi menghindar untuk memandangku. Mereka tidak berkata apa-apa sebab para wanita tidak diharapkan untuk ikut campur ketika para pria sedang membuat keputusan-keputusan penting. Dalam hatiku saya bertanya-tanya apakah keluargaku merecanakan untuk membunuhku nantinya?, mereka mempunyai hak untuk melakukannya. Tidak ada yang mempersoalkannya kecuali bahwa saya ini dikenal serta dicintai oleh banyak orang disekitar kami. Kematianku secara mendadak tentunya memerlukan suatu usaha guna menyembunyikan atau menutupinya dan pekerjaan ini rumit. Safdar Shah memberikan keputusannya, “Oke, kami akan menunggu apa yang akan kau lakukan nanti, kamipun akan berdoa untukmu mungkin saja kau telah menjadi gila karena peristiwa ini.”

Untuk saat itu selesailah badai tersebut buat sementara, namun saya tau bahwa mereka tidak akan berhenti sampai saya benar-benar diam tentang subjek dari penyembuhanku. Tapi bagiku, untuk mematuhi perintah mereka akan berarti saya mengingkari apa yang telah diyakinkan dan ditunjukkan padaku oleh Bapaku disurga.

“Apa yang engkau kehendaki untuk saya lakukan?,” saya berdoa kepadanya dalam kebingungan. Jawabnya datang dua malam kemudian, dengan suatu desakan perasaan yang nyata, saya berdoa menggunakan kata-kata yang sederhana, “Tunjukkanlah padaku jalanMU, oh tunjukkanlah kepadaku jalanMU.” Saya memandang keatas dan terlihat sebuah tiang kabut tipis yang berdiri dari lantai sampai ke-langit-langit kamarku. Yeshua ada didalam kabut tipis tersebut. Cahaya terang yang pernah aku saksikan sebelum ini terselubung di kabut tipis itu. Saya tidak tertidur ataupun bermimpi, Yeshua berkata, “Datanglah kepadaKU!” Dengan penuh sukacita saya bangkit datang kepadaNYA, Ia mengulurkan tanganNya dan ada semacam kain diatasnya, tanganku saya ulurkan kepadaNYA. Saya merasakan diriku diangkat dari kakiku seolah-olah melayang diudara. Saya menutup mataku kemudian dengan lembut saya ditaruh di atas sesuatu yang lunak dan ketika saya melihat, saya sedang berdiri diatas suatu lapangan terbuka yang membentang sampai jauh, berwarna hijau dan sejuk serta kulihat orang-orang baik di dekat maupun di kejauhan. Mereka semua mengenakan Mahkota dikepalanya masing-masing dan pakaiannya gemerlapan dan cahayanya menyilaukan mataku. Terdengar suara seperti lagu-lagu orang-orang itu menyanyikan: “Suci & Haleluyah.” Kata-kata ini merupakan ungkapan-ungkapan baru bagiku yang tidak saya gunakan sebelumnya. Mereka berkata, “Dialah Domba yang disembelih, Dia hidup.” Saya menyadari bahwa mereka semua memandang kepada Yeshua.

Yeshua berkata: “Inilah umatKU, inilah orang-orang yang mengatakan kebenaran, mereka inilah yang tau bagaimana caranya berdoa. Orang-orang ini yang percaya kepada Anak Elohim.” Saya melihat sebuah wajah muncul dari antara kerumunan orang-orang itu, saya memandang orang itu baik-baik, ia sedang duduk. Yeshua berkata, “Pergilah sekitar 18 km kearah Utara dan orang ini akan memberikn kepadamu sebuah Alkitab. Begitu saya memandang orang tersebut yang sama halnya dengan lainnya yang juga sedang ku perhatikan, kelihatannya mereka tidak menyadari akan kehadiranku lalu orang-orang ini semakin menghilang dan akhirnya saya kembali pada diriku sendiri lagi, berlutut didalam kamarku di antara semua milikku yang kukenal.

Saya merenungkan apa yang telah kulihat lalu suatu perasaan sukacita yang sangat besar mengalir dengan cepat keseluruh jiwa dan rohku. Saya telah bertanya untuk ditunjukkan apa yang patut kuperbuat selanjutnya dan inilah jawabannya. Untuk pergi dan memberikan kesaksian kepada orang ini tentang visi saya, tentang Yeshua dan meminta daripaanya sebuah Alkitab. Tapi dimanakah saya akan menjumpainya?.

Kemudian saya teringat sesuatu, Razia tinggal di Jhang Sadar yang letaknya kira-kira kearah utara dari tempat tinggal kami. Pada waktu pesta saya telah bersepakat dengannya dan mengatur untuk mengunjunginya dalam waktu dekat. Jadi, demikianlah jadinya. ada seseorang yang tinggal disuatu tempat di dekat rumahnya yang dipersiapkan untuk memberikan padaku sebuah Alkitab. Saya harus pergi sendiri, jika keluargaku mengetahui mereka akan berusaha untuk menghentikanku.

Keputusan telah kuambil, saya memepersiapkan rencanaku dengan hati-hati masih belum menyadari benar bahwa langkah yang saya ambil ini tidak dapat saya ambil kembali dan bagaimana langkah ini kemudian merubah seluruh hidupku.

Bersambung ke BAB 8 : ALKITAB

Gulshan Esther; Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2 ; Bg.3Bg. 4 ; Bg. 5 ; Bg.6 ; Bg. 7 ; Bg. 8

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s