Gulshan Fatima; Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 7

Ini adalah kesaksian Gulshan Esther (Fatima), puteri bungsu dari sebuah keluarga Islam Sayed yang merupakan keturunan langsung Nabi Muhammad melalui puterinya Fatima.

Tulisan ini merupakan sebuah buku berjudul THE TORN VEIL atau KERUDUNG YANG TERKOYAK, diterbitkan oleh Marshal Paperblacks.

Gulshan Esther (Fatimah); Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2 ; Bg. 3 ; Bg. 4 ; Bg. 5 ; Bg.6 ; Bg. 7 ; Bg. 8

BAB 12 GODAAN [dijebak lagi, moncong bedil kakak kandung di mukanya]
Bila kukenangkan kembali maka rasanya masa yang kualami ketika tinggal bersama kakak dan iparku di Pindi merupakan salah satu dari waktu paling bahagia di dalam hidupku setelah menjadi Kristen. Anis selalu menyenangkan hatiku, suaminya berlaku baik dengan cara yang lemah lembut. Sekali lagi saya menjadi bagian dari keluargaku dan diperlakukan dengan kasih dan perhatian.

Ada pembantu di rumah itu, 2 atau 3 pembantu wanita, masing-masing seorang klerk, koki, dan sopir. Anak lelaki koki bekerja di kebun. Saya tidak perlu lagi menjahit atau membersihkan meja. Kini saya dibutuhkan menjadi pengasuh gadis-gadis cilik dan saya lakukan hal ini seperti dilakukan Anis terhadapku dahulu – menceritakan kisah-kisah kepada mereka. Peranan yang sangat menyenangkan. Pada waktu yang sama saya merasakan bahwa saya memperhatikan para pembantu dengan simpati – bagaimana mereka melaksanakan tugas rumah tangga – mencuci piring, lantai, pakaian, menggosok, menyetrika, membersihkan, mengkilapkan, mengeluarkan debu, mengangkat-angkat, menyusun, memisah-misahkan dan menata kembali. Saya merasa berterima kasih pada semua orang atas pelayanan mereka. Saya tidak merasa rugi karena perasaan ini malah menyebarkan kebahagiaan.

Kakakku dan saya makin dekat satu sama lain, kini bersaudara dalam Ha Mashiah. Tiap hari kami menggunakan waktu 2 atau 3 jam mempelajari Alkitab. Dalam waktu singkat Anis mendapatkan satu fakta sebagai kesimpulannya: dia dapat memahami isi Alkitab padahal sulit baginya untuk memahami Kitab Suci lainnya. Ditulis di dalam bahasa sendiri dan tidak ada misteri tentang Alkitab itu. Seseorang dapat membacanya sebagaimana halnya dengan membaca buku biasa, mengenal dari sudut pandangan lain tentang beberapa kejadian yang dikenal baik oleh umat Islam maupun umat Yahudi, tapi di sini ada satu kelebihan, yaitu kuasa Kebenaran yang sejati. Kakakku berkata, “Kata-katanya indah sekali, kata-kata ini mendatangkan penghiburan.” Ia mengenang anaknya yang telah meninggal. Saya berkata, “Kata-kata ini nyata dan merupakan Firman dari Bapa kita yang di surga. Apapun yang anda rasakan, kita akan mendapatkannya di sini, apakah itu susah atau senang. Yang terutama adalah kita yakin bahwa dosa-dosa kita sudah diampuni dan agar kita mengikut Yeshua dari hari ke hari.” Katanya, “Saya rasa Dia ada di sini bersama kita sewaktu kita berbicara tentang Dia.” Kutunjukan padanya ayat, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” ( Matius 18:20 ) Waktu kita berdoa Dia mendengarkan. Guru kita selalu menyertai kita. Kita dapat mengerti karena RohNya memimpin kita.

Blund Shah tidak merasa gembira atas perhatian baru dari isterinya ini. “Jangan kau katakan kepada setiap orang bahwa Ha Mashiah telah membangkitkan engkau dari mati, kau diam saja!” pesannya kepada kakakku. Kelihatannya kakakku tidak begitu memperdulikan peringatan suaminya. Demi kepentingannya saya menjaga untuk tidak sembarangan bercerita kepada orang lain bahwa saya seorang Kristen, walaupun bila langsung ditanyakan kepadaku biasanya saya bercerita tentang visi dan penyembuhanku, dan kisah ini umumnya tidak memancing pertanyaan mereka lagi.

Anis dan suaminya mempunyai banyak kaum keluarga atau teman, dan setiap hari ada saja tamu yang berjamu di bungalownya yang menyenangkan itu. Dalam sebuah rumah tangga Shiah, diatur dengan keras agar apapun yang terjadi di bagian lain dari dunia Islam, di sini pembagian mendasar atas jenis kelamin tetap dipatuhi. Tamu pria dan wanita walaupun tiba bersama-sama harus duduk di bagian serambi yang terpisah atau ruangan tamu yang berbeda. Adakalanya bagiku sebagai seorang Kristen, merasa tidak sabaran atas pemisahan hubungan manusia seperti ini, terutama sebagaimana yang ku ketahui bahwa di dalam suatu persekutuan di mana Ha Mashiah mempersatukan umatnya maka kehidupan dapat berjalan dengan baik sekali tanpa adanya pemisahan seperti ini. Tetapi di negara kami yang didirikan atas ajaran agama, maka setiap segi kehidupan sosial kami menggunakan tolak ukur ajaran-ajaran agama dan tafsiran-tafsirannya.

Dalam kehidupan kota, dampak pemisahan ini lebih banyak dirasakan dan makin jelas bagiku dibandingkan dengan yang kurasakan di Jhang, karena Jhang terletak di pedalaman dan masih jauh lebih terbelakang dibandingkan dengan kota. Sebahagian dari diriku berfungsi sebagai penilai, bagiannya yang lain menikmati kesenangan-kesenangan masa lalu bersama teman-teman wanita, bercakap-cakap sesama wanita tanpa diganggu oleh kehadiran seorang pria pun.

Hatiku tenang rasanya mendengarkan semua ceritera yang terperinci mengenai siapa yang kawin dengan siapa, anak mana yang sakit dan yang mana yang sehat, apa yang dipelajari mereka di sekolah serta jurusan pekerjaan apa yang mereka ambil. Kini gadis-gadis juga mengikuti pendidikan, beberapa diantaranya malah ke perguruan tinggi, namun kemudian menghadapi kenyataan bahwa bidang pekerjaan bagi mereka tidaklah mudah diperoleh dan tidak selamanya disenangi.

Seorang anak perempuan nantinya dapat menjadi seorang dokter wanita atau guru bagi anak-anak perermpuan atau pun menjadi perawat. Makin sulit bagi mereka untuk masuk ke lingkungan kerja bersama para pria seperti di kantor. Namun untuk menahan agar anak-anak perempuan tetap belajar di rumah, makin sulit rasanya bagi para keluarga karena begitu banyak pemuda yang menunda-nunda perkawinannya selama mengikuti pendidikan di luar negeri.

Selalu ada kontradiksi antara syariat agama dengan kepentingan duniawi, seperti yang terjadi sebelum ini. Nah, masalah-masalah ini sekarang dihadapi oleh banyak keluarga – mereka menyalahkan pengaruh barat yang telah mengikis tolak ukur yang telah ada dan mengalihkannya sehingga berubah menjadi cara yang lebih dipilih untuk mendapatkan kebahagiaan – memetik impian yang paling muluk, masa depan yang terbaik bagi anak-anak lelaki mau pun perempuannya.

Saya mendengarkan dengan lebih sadar daripada dulu bahwa impian-impian seperti itu merupakan kuncup-kuncup yang mudah retak, dengan mudah dapat diterbangkan dengan angin kencang. Tekanan-tekanan semacam itu tidak akan mudah terhapus. Waktu itu kami menyadari betapa sulapan logika kehidupan dapat berproses menjadi suatu ledakan terhadap logika agamawi bila keadaan seperti ini terjadi berkali-kali dalam skala yang besar.

Anis menyatakan jalan pikiranku ini dalam kata-katanya yang sederhana, “Mereka cemas tentang masa depan anak-anaknya, tapi bagi mereka sendiri kemanakah tujuan hidupnya?” Baginya, suatu kehidupan yang tidak memiliki tujuan yang pasti tanpa Ha Mashiah seringkali merisaukannya. Merasakan kembali duduk-duduk pada kedua sisi ‘prudah’ menujukan kepadaku betapa kuat dan mantapnya dasar yang tealh kutemukan dalam hidupku. Kebahagiaanku kini tidaklah tergantung pada terpenuhinya ambisi pribadiku, tapi terletak pada melakukan kehendak Elohim. Karena itu tidak sesaatpun saya membiarkan diriku membayangkan bahwa masa tenang ini akan berlangsung terus, dan memang begitulah yang terjadi.

Dalam bulan Nopember ku ketahui bahwa iparku untuk periode tertentu akan pergi ke Lahore, karena urusan dagangnya.

“Kita semua harus pergi,” kata Anis, “dan kita harus tinggal di rumah Alim Shah.”

Saya kaget mendengar berita ini, “Baiklah tapi maaf, saya tidak dapat ke Lahore bersamamu, saudara kita Alim Shah berkata kepadaku bahwa pintu rumahnya tertutup bagiku karena saya telah mengingkari agama Islam.”

Wajah kakakku merengut seperti seorang anak yang mau menangis, “Saya memerlukan doamu dan saya juga memerlukan bantuanmu. Jika Alim Shah tidak mau menerimamu maka saya akan menyewa bungalow lain dan saya akan tinggal bersamamu.”

“Dan apa tindakan suamimu nanti, saya rasa ia akan menceraikanmu.” Saya memeluknya dan setuju untuk pergi bersama mereka. Kami akan melihat bagaimana penerimaan kakak lelakiku nantinya terhadapku.

Jadi, pada tanggal 28 Nopember jam 4 sore, kami berangkat dengan sebuah mobil dan abrang – barang diangkat dengan truk.

“Saya sangat senang berjumpa denganmu. Kau diterima dengan senang di rumahku, selamat datang.” Yang berbicara ini adalah kakakku Alim Shah. Saya tidak mempercayai pendengaranku, seolah-olah pembicaraan yang tidak menyenangkan hati di telepon tidak pernah terjadi.

Keluarga itu menumpang sementara bersama Alim Shah sampai mereka mendapatkan sebuah rumah. Saya mendapat sebuah kamar enak dan seorang pembantu diberikan kepadaku untuk membantuku. “Saya tahu kamu mempunyai kawan-kawan di sini,” kata kakak lelakiku dengan tak terduga sama sekali, “kepada sopirku sudah kukatakan agar membawamu ke mana saja yang kau kehendaki.”

Saya mengucapkan terima kasih kepadanya dengan hangat, tapi dalam hatiku saya merasa tidak tenang, hal itu rasanya terlalu baik untuk menjadi kenyataan. Ketika hari Minggu tiba, saya meminta sopir membawa saya ke gereja Methodeist di jalan Warris. Pendeta menjabat tanganku di depanku dan jemaat menyambutku dengan cukup ramah, tetapi tidak ada yang menyapa, “Apa Kabar? Kemana saja selama ini? Apakah anda memerlukan sesuatu?” Karena itu saya tidak menceritakan pada seorang pun tentang kesulitanku tetapi mempercayakannya kepada Elohim seperti biasa untuk pemecahannya.

Empat bulan kemudian, pada suatu malam di bulan Mei, saya sedang berdoa di kamarku sambil duduk di kursi dengan Alkitab terbuka di lututku. Saya mendengar bunyi gerakan kaki dan membuka mataku. Di seberangku, Almin Shah sedang memperhatikanku dengan tersenyum. Ada suatu tekanan perasaan terbersit padaku dan entah mengapa saya sampai membayangkan Harimau pada waktu itu.

“Kuharap engkau merasa bahagia di rumahku,” katanya dengan suara yang sangat mengasihi. “Kuharap engkau merasa cocok dengan Istriku dan senang dengan anak-anakku. Kuharap para pembantu tidak menyebabkan suatu masalah apapun atasmu.”

“Saya sangat bahagia di sini,” jawabku sepenuh hati.

“Kami sangat mencintaimu, dan kami mau kau tinggal bersama kami untuk kebaikan kita. Sebenarnya saya sedang mengurus pembangunnan sebuah bungalow bagimu di Goldberg” (tempat ini adalah bagian tepi kota yang modern bagi golongan yang cukup kaya, letaknya kira-kira 10 km dari sini). Ia melanjutkan, “Dan saya ingin agar kau turut berlibur denganku. Bulan depan saya akan berkunjung ke tempat-tempat bagi umat Islam… Mekah, Medinah. Maukah kau turut bersamaku?”

Ia sedang menggodaku, saya teringat akan ……..“Semua ini akan kuberikan kepadamu jika,….” ( Matius 4 :8-9 ).

“Saya tidak berkeberatan pergi bersamamu, tetapi hal ini tidak akan merubah iman percayaku,” jawabku.

Seakan-akan saya tidak berkata apa-apa, ia mengambil Alkitab dari pangkuanku dan melihat ke halaman-halamannya yang terbuka, “Yang kuhendaki darimu untuk semua yang akan kuberikan kepadamu ialah buku ini. Berikanlah Alkitab itu padaku dan saya akan membawanya ke depot Lembaga Alkitab sehingga kau tidak dapat membacanya lagi, dan berhentilah ke gereja, maka akan kuberikan kepadamu apapun yang kau kehendaki.”

Dengan nyaring saya menjawab, “Mazmur 119 : 115, “FirmanMU itu pelita bagi kakiku dan terang pada jalanku.” Inilah adalah Firman Elohim dan Ia memberitahukan padaku perbedaan antara yang benar dan yang salah, saya tidak akan memberikannya kepadamu……ini adalah bagian dari hidupku.” Saya melihat bahwa ia menjadi marah. Dengan cepat kutambahkan, “Saya tidak dapat berhenti untuk pergi ke gereja karena di situlah rumah Tuhan [Elohim]. Pengantin wanita sudah hampir siap sebab mempelai lelaki sudah hampir datang. Dan barangsiapa menyangkal Aku didepan manusia, Aku juga aka menyangkalinya didepan Bapakku yang di Sorga (Mat. 10:33).”

Ia melompat berdiri. Dilemparkannya Alkitab itu padaku, “Sebelum matahari terbit, tinggalkan rumahku, aku tidak sudi melihat mukamu lagi.”

Perangkap telah diberi umpan dan disentuh, tidak ada seorangpun yang datang mendekatiku malam itu, saya berbaring dengan perasaan berat, besok paginya tercipta suatu suasana yang tidak menyenangkan sama sekali. Kakak lelakiku tidak kelihatan, tidak ada berita tentang Anis atau suaminya. Pelayan hanya meletakkan sarapan begitu saja lalu pergi diam-diam. Dengan sedih saya mengemasi koporku dengan 4 atau 5 baju yang dijahit Anis untukku, pakaian-pakaian yang indah-indah yang dihadiahkan Alim Shah kutinggalkan karena ia telah berpesan, ‘jangan membawa sesuatu apapun dari rumah ini’. Koporku ada digang dan saya berjalan kesana ketika saya melihat Safdar Shah datang. Saya belum lagi berjumpa dengannya sejak saya meninggalkan Jhang, tapi ungkapan kata-kata bagi pertemuan yang membahagiakan langsung sirna ketika saya melihat apa yang dibawanya adalah sebuah bedil. Dia memegangku dipergelangan tangan dan menarik saya ke lantai dasar rumah itu.

“Duduk disitu dan jangan bergerak,” perintahnya.

Saya mematuhinya. Jika dirangsang, Safdar Shah dapat menjadi kasar. Ia pergi memanggil Alim Shah. Di rumah itu keadaan sunyi sekali, suasana diliputi ketakutan, kakak-kakakku lelaki turun kebawah, wajah mereka keras dan mantap. Jantungku berdebar-debar dan kakiku lemah seperti jerami rasanya, tetapi saya tetap duduk di atas sebuah sofa, berusaha untuk tetap tenang. Kakak-kakakku duduk menghadapi saya pada seberang meja. Saya mencoba memandang kearah matanya yang penuh kebencian, tetapi mereka sedang melihat ke bagian dalam dirinya seakan-akan tidak sadar akan pandanganku.

Safdar Shah mengoperkan bedil itu kepada Alim Shah, “Selesaikan kutuk keluarga ini!” perintahnya. Alim Shah menggenggam popor bedil dua laras itu dan dengan perlahan mengangkatnya dan dibidikkan ke kepalaku. Ia berkata dengan suara putus asa yang lemah, “Mengapa kau mau mati? Yang perlu kau perbuat hanyalah mengatakan bahwa kamu tidak lagi mengakui nabi Isa itu sebagai Anak Elohim dan bahwa kau akan berhenti ke Gereja. Kau akan kubiarkan hidup, karena aku tidak akan menembakmu!”

Wajahnya kelihatan tegang dan kurus dibalik laras bedil itu dan saya melihat betapa ia ditempatkan pada suatu keadaan terpaksa – cintanya kepadaku berperang melawan segala sesuatu yang telah diajarkan ayahku kepadanya. Bagikupun merupakan suatu saat yang sangat tidak menyenangkan. Saya telah dididik untuk menghormati kakak-kakak lelakiku sebagaimana diajarkan pada gadis-gadis Islam. Saya belum pernah membantah mereka sampai Yeshua masuk dalam kehidupanku dan saya berusaha untuk tidak berkata kasar pada mereka karena saya tahu bahwa saya dapat menyadarkan diriku pada cinta kasih mereka, kesopan-santunannya serta perlindungan mereka jika kuperlukan. Dalam hal inipun Ayahku telah memberikan pada mereka suatu perintah keramat untuk menjaga saya. Tapi tentu saja beliau tidak memperhitungkan kemungkinan terjadinya suatu krisis seperti ini. Saya sedang mengoyakkan semua ini dengan pertentangan-pertentangan antara tugas dan cinta. Tapi saya tidak boleh mundur. Saya tidak dapat berpaling lagi, juga pada saat ini.

“Dapatkah kakak menjamin bahwa jika kakak tidak menembak saya maka saya tidak akan mati? Dalam Al Qur’an ditulis bahwa begitu seseorang dilahirkan kedunia, dia pasti akan mati. Jadi, silahkan tembak saya tidak takut bila saya mati dalam nama Yeshua Ha Mashiah. Dalam Alkitabku tertulis, “Ia yang percaya padaku, walaupun ia mati, namun ia akan hidup” (Yoh. 11:25).

Safdar Shah berkata dalam keheningan, “Kau tidak mau membunuh si murtad ini dan bertanggung jawab atasnya. Ia telah menjadi suatu kutuk bagi kita. Lemparkan dia keluar!”

Mereka mendorong saya kedepan sambil menaiki tangga. Saya mengambil koporku di gang dan berjalan menuju pintu. Kakak-kakak lelakiku berjalan kembali dengan gontai menuju ke bungalow. Setiap senjata yang ditempa terhadap engkau tidak akan berhasil, dan setiap orang yang melontarkan tuduhan melawan engkau dalam pengadilan, akan engkau buktikan salah. Inilah yang menjadi bagian hamba-hamba YAHWEH dan kebenaran yang mereka terima dari pada-Ku, demikianlah firman YAHWEH”. Saya tahu dimana saya pernah membacanya (Yes.54:17), tapi saya tidak menyadari kalau Firman itu begitu tepat pada kenyataannya.

BAB 13 LILIN YANG MENYALA [Menumpang di keluarga Kristen, gaji pertama, dipecat karena iman]
“Ya Bapa, kemana saya harus pergi ?” Saya berdiri sendiri di jalan Samanabad sambil berusaha menahan air mata karena goncangan dan kepedihan pada peristiwa yang baru kualami, lalu memandang keatas kebawah mencari petunjuk tentang tindakan apa yang saya ambil berikutnya. Namun, sepanjang jalan besar itu sepi dari lalulintas dan keadaan deretan bungalow sepi di belakang dinding-dinding tinggi disinari cahaya matahari tipis dan tidak menunjukkan kehidupan mewah dibelakangnya. Rasanya, secara refleks saya berbalik kekanan lalu mulai berjalan menelusuri trotoar yang dilapisi semen menuju kearah penantian bis yang jauhnya hampir 2 km.

Waktu tiba disana, hatiku sudah bulat – John dan Bimla Emmanuel, seorang tukang kebun dikantor walikota, tinggal di Medina colony bersama istri dan 4 dari 5 anaknya. Keluarga ini menjadi jemaat dari Gereja di jalan Warris. Mereka pernah mengajakku kerumahnya sekali atau dua kali dan saya merasa senang disana, berceritera pada mereka tentang Tuhan [Elohim] dan Kuasa menyembuhkan & menyelamatkannya.

Mereka pernah berkata padaku, “Datanglah ke rumah kami setiap waktu, rumah kami terbuka bagimu.” Ditempat perhentian bis ada beberapa jenis transportasi, saya menggunakan rickshaw (sejenis becak) ke Muzang Chungi dan dari sana dengan minibis yang trayeknya Gurumangat. Dari sini berjalan kaki sedikit melintas rel kereta saya tiba di Medina Colony. Saya memilih berjalan sepanjang lorong yang bekas dilewati roda, berabu, diantara rumah-rumah. Menghindari got-got terbuka yang mengalir kearah sebuah ‘houdi’ atau tempat penampung kotoran manusia di dekatnya. Di rumah John Emmanuel, saya memegang ujung ‘kunda’ yang tergantung diluar dan mengetukkannnya kepintu kayu berlapis ganda di dinding yang tinggi itu.

Tak lama kemudian Bimla membukanya, menatapku dengan heran lalu mempersilahkan saya masuk. Kuceriterakan sedikit padanya tentang apa yang sudah terjadi dan memohonkan bantuan untuk memondokkan sementara. Ia melihat saya sedang gemetar lalu memelukku, “Anda diterima dengan hati yang sangat terbuka untuk tinggal bersama kami dan apapun yang kami miliki, andapun dapat turut menikmatinya bersama-sama.”

Ketika John Emmanuel pulang sore harinya dengan sepeda, ia mendengarkan ceriteraku dengan prihatin. “Jangan kuatir, saya adalah saudaramu dalam Ha Mashiah,” katanya meyakinkan saya. Pikirku, betapa anehnya perasaan ini dapat kurasakan terhadap seseorang yang bukan anggota keluargaku dan kehangatan terasa mengalir mendengarkan ke prihatinannya. Ternyata, persekutuan orang-orang yang benar-benar percaya pada Ha Mashiah dapat mengikat pengikut-pengikutnya dengan ikatan yang lebih kuat dari ikatan darah atau hasil perkawinan.

Rumah yang mereka sewa itu kecil, terdiri atas sebuah kamar tidur dan serambi. Pada satu sisi serambi ini ada dapur dan disisi lainnya kamar kecil. Saya mengira-ngira dimana saya akan tidur, nyatanya bersama anak-anaknya, yang sulung 8 tahun, diserambi. Tempat ini ditutup dengan gordin sehingga berubah menjadi sebuah kamar dengan hawa yang lebih sejuk. John dan Bimla tidur dihalaman dan hal ini biasa di lakukannya kalau rumahnya kecil dengan keluarga besar. Tidak ada rumput atau bunga-bungaan – tidak ada tempat untuk menanam sesuatu apapun. Dasar halamannya tanah liat yang keras bercampur jerami, dibersihkan dengan baik sehingga merupakan bagian tambahan dari rumah itu. Tapi ada tanaman di dalam pot-pot untuk menyemarakkan tempat itu. Akomodasi yang sederhana dibanding dengan kesenangan yang saya tinggalkan tapi rasanya hatiku senang sekali memiliki perasaan bebas untuk mengambil Alkitabku dan membacanya secara terbuka serta mengadakan persekutuan doa dan mempelajari Alkitab bersama John & Bimla. Untuk dapat sampai ketahap ini saya malah sudah menantang maut. Walaupun begitu, dimalam pertama, sambil tidur diatas ‘charpai’ dibawah selimut pada udara terbuka, saya tidak dapat tidur karena belum terbiasa dengan keadaan sekelilingku sebab pikiran-pikiranku menerawang dan adanya bunyi-bunyi dimalam hari yang menggangguku.

Di daerah itu orang-orang cepat tidur agar dapat segera bangun sebelum matahari terbit guna mempersiapkan perjalanan mereka ke kota untuk bekerja. Namun, sewaktu kesibukan sehari-hari dan bunyi-bunyian pompa air berhenti, keadaan menjadi sunyi senyap lalu diganti oleh bunyi lain yang menggelitik saya untuk mencari tahu sumber asalnya. Terdengar bunyi berdenyit dan tikus-tikus berlarian di belakang rumah-rumah itu saluran gotnya buruk sehingga terjadi genangan-genangan air tempat kodok berkelompok bergembira ria bersahut-sahutan dengan ributnya dan jangkrik bernyanyi di semak-semak. Tidak ada kelambu untuk melindungi diriku dari dengungan nyamuk yang menari-nari dengan tebalnya di sekelilingku. Bunyi gemerisik kecil diatas atap jerami membuat saya berpikir-pikir apakah cecak atau kakarlak yang mungkin akan jatuh menimpa kepalaku. Saya merasa iri pada anak-anak yang tidur dengan eloknya. Suara napasnya yang lembut menjadi lebih keras dan makin saya campur adukan bunyi-bunyi ini, kedengarannya laksana deburan ombak dikejauhan. Saya berusaha menutup telingaku rapat-rapat dan mengalihkan pandanganku ke langit cerah yang terlihat olehku dari bawah atap serambi. Saya mencoba agar dapat tidur dengan cara menghitung bintang yang berkedip-kedip namun malah hanya membuat saya lebih tidak bisa tidur lagi. Lalu bulan yang sendirian muncul ke panorama pemandanganku, memandikan sekitarnya dengan cahaya misterius yang begitu dicintai oleh para penyair dan orang-orang yang dilanda asmara. Lalu angin yang sombong laksana ‘Nawab’ yang merasa iri, dengan sombongnya mengumpulkan awan-awan yang tadinya masih tercerai berai menutup bulan itu dari pandangan mata yang masih merindukannnya. Saya menikmati pemandangan bulan dan bintang-bintang yang menari-nari di angkasa melewati penggantian waktu dan merasakan goncangan dan kesedihan atas berlalunya hari yang menuju kesuatu titik tujuan yang lebih pasti.

Saat ini merupakan bagian dari waktu dimana saat-saat kehidupan campur-baur yang berlangsung selama kehidupan ini. Saya melihat diriku sendiri, Gulshan Ester, miskin dan dibenci oleh orang-orang yang seharusnya mencintaiku dan telah berpaling dari pintu rumah mereka, kini telah bebas dari beban-beban yang merintangi. Kerudung kehidupan agamawi yang saya warisi sebelum ini, yang kurasakan pernah memisahkan saya dari satu Elohim yang tidak dapat diketahui oleh seorang pun telah dikoyakkan, diungkapkan dalam wujud Yeshua Ha Mashiah, Tuhanku [Elohimku]. Sekarang jalan pemuridan telah terbentang dan apakah menyenangkan atau menyakitkan, harus kujalani dalam ketaatanku. Tapi saya tidak sendirian. Ada satu yang menyertai saya, saya kuat dan akan memenuhi semua kebutuhanku.

Dengan rasa mengantuk saya menatap kelangit yang memudar warnanya menelan bintang-bintang dan menampilkan bintang pagi, kebanggaan fajar. Sambil memikirkan Yeshua, Fajar Pagi Pengharapanku yang diutus Elohim untuk menerangi hidupku, akhirnya saya tertidur pulas tanpa terganggu apa pun walau hanya untuk waktu yang pendek.

Saya terbangun, mataku berat tertimpa sinar pagi yang cerah, ketika si Gundu, bocah beruia 4 tahun menarik tanganku. Bahkan ketika saya berusaha untuk mencuci dengan air dari pompa di halaman, saya terkenang akan pikiran yang telah terbentuk semalam – saya perlu berpikir untuk mencari kerja sebab saya tidak dapat mengharapkan bahwa kawan-kawanku dapat bertahan untuk membiayai saya.

Kepala Sekolah wanita dari sekolah swasta untuk para gadis memandang saya dari atas ke bawah ketika saya berdiri di kantornya dengan perasaan bingung di hadapan wanita yang dingin tapi cekatan ini yang memiliki kharisma kewenangan. Namun saya pun berketetapan hati. Beliau membetulkan syalnya dan berkata dengan sopan, “Selamat pagi nyonya. Apakah saya dapat menolong anda? Apakah anak anda bersekolah di sini?”

“Tidak, saya tidak mempunyai anak yang bersekolah disini. Saya datang untuk mencari tahu apakah Ibu membutuhkan seorang guru disekolah Ibu.”

Ekspresinya berubah dari sikap sopan-santun karena ingin mencari tahu menjadi agak merendahkan diri. Terlihat olehku bahwa cara pendekatan langsung seperti ini dinilai kurang wajar. Sebenarnya saya harus menulis lamaran bukannya datang sebagaimana seorang pembantu atau tukang kebun mencari pekerjaan.

“Mata pelajaran apa saja yang dapat anda ajarkan dan kwalifikasi apa yang anda miliki?” “Saya dapat mengajar bahasa Urdu, pengetahuan agama Islam, sejarah, ilmu bumi dan matematika sampai tingkat pra-universitas.” saya menjawab.

Beliau memandangku dengan tajam seakan-akan menyusun pendapatnya, “Seorang guru yang pandai untuk para gadis,” katanya, “namun sayang sekali lowongan yang ada telah terisi dan saya tidak dapat menerima anda, tapi jika anda meninggalkan nama dan alamat pada sekretaris, saya akan menghubungi bila ada lowongan pekerjaan nanti.”

Beliau bangkit dari belakang kursi yang berat kelihatannya untuk mengantar saya keluar, tapi saya masih saja berdiri, merasa sedih sekali.

“Apakah ibu mungkin tahu kalau ada anak gadis yang memerlukan guru pribadi di rumah karena sesuatu alasan, barangkali sakit, atau orangtuanya tidak mengijinkan anaknya ke sekolah?” Dijawab: “Maaf, saya tidak tahu. Tapi jika saya tahu maka anda akan kuberitahu bila nama dan alamat anda ditinggalkan pada sekretaris.”

Selama 2 atau 3 minggu saya telah bolak-balik kekota, melewati Red Fort untuk mencari kerja, menjajakan kwalifikasiku dari satu sekolah ke sekolah yang lain, seakan-akan seorang penjaja-keliling. Saya memperoleh alamat-alamat itu dari Kantor Penempatan Tenaga dan para petugas biasanya terkejut karena lamaranku. Saya merupakan teka-teki bagi mereka, seorang wanita muda dari keluarga baik-baik, tangannya terlihat kurang memenuhi syarat untuk bekerja, ternyata tidak ditunjang oleh keluarganya.

Berulang kali John dan Bimla meyakinkan saya tentang dukungan mereka tapi saya tahu bahwa saya merupakan beban untuk seorang yang mempunyai gaji kecil seperti dia. Jadi saya berdoa memohonkan lowongan pekerjaan dan saya menelusuri jalan-jalan dibawah terik matahari, sepatuku bolong dan bila timbul perasaan marah atau kecil hati maka saya teringat pada Yeshua dan bagaimana ia menapak jalan-jalan itu untuk mati di atas kayu salib bagiku.

Ketika untuk keempat kalinya saya pergi ke Kantor Penempatan Tenaga, saya mendengar bahwa sebuah majalah mingguan yang berkantor di pasar Ol Anarkali membutuhkan seorang wartawati. Saya tahu nama Anarkali, bunga delima, sama dengan nama seorang pahlawan wanita yang terkenal dalam sejarah kami. Dia dipakukan secara tragis ke tembok hidup-hidup oleh seorang ‘mghul’ (kaisar) padahal ia tidak bersalah. Si wanita itu jatuh cita dengan saudara sedarahnya bernama Salim. “Seorang gadis malang dan sedang menghadapi bahaya,” pikirku dan mencoba mengingat apakah terdapat gejala untuk menerima hukuman seperti wanita itu. Mungkin tidak karena ia adalah anak kaisar tersebut.

Majalah itu pernah kulihat, seingatku mempunyai 4 halaman, ada gambar-gambar berwarna dari orang-orang terkenal dan agak berbau politik. Keadaanku yang sulit, membuat saya kuat dan memohon untuk diwawancarai. Besoknya jam 10 pagi saya datang ke lantai satu di kantor majalah itu di Old Anarkali. Penerbitnya berperawakan tinggi, lelaki yang tampan berkulit terang memakai jas hitam yang tidak tebal dan sangat sopan.

“Silahkan duduk,” katanya sambil menunjuk ke sebuah kursi yang terletak agak jauh dari mejanya yang mengkilap diatas permadani berbentuk segi empat. Ia membunyikan bel dan meminta minuman pada seorang pria muda yang datang membawakan coca-cola dingin bagiku. Minuman ini dihidangkan dalam sebuah botol di atas jerami. “Saya ingin tahu kenapa anda membutuhkan pekerjaan,” katanya dan giginya yang putih kelihatan waktu tersenyum.

Saya menjawab, “Saya yatim piatu dan saya berpendidikan. Saya ingin mendapat gaji sendiri.” Sebuah pena dengan ujung emas diatasnya dimain-mainkannya, dan tercium bau harum olehku mungkin dari parfum ‘after shave’ yang dipakainya.
“Tapi ceritrakan padaku,” katanya, “kenapa kakak-kakakmu tidak membantumu agar anda tidak perlu bekerja?”
“Oh mereka semua telah bekerja dan tinggal di rumahnya masing-masing dan saya tidak mau menjadi beban bagi mereka karena itulah saya memerlukan pekerjaan.”

Ia juga ingin tahu kemana saya telah melamar dan kuceritrakan padanya lamaran-lamaranku untuk mengajar yang menemui kegagalan. Cahaya yang menembus gorden bercorak kota-kotak tipis menimpa wajahku waktu kami berbicara dan saya melihat bahwa ia sedang melihat padaku dengan cermat. Lalu ia berketetapan hati tentang diriku, perasaanku cukup cepat. “Anda dapat mulai besok. Datanglah antara jam 08.30 dan 09.00 pagi dan jangan kuatir saya akan memberikan padamu beberapa pertanyaan yang akan kau ajukan waktu melakukan wawancara. Anda harus bekerja keras dan bekunjung kerumah-rumah atau kadang-kadang ke sekolah-sekolah.”
“Saya cukup berpengalaman mengunjungi rumah-rumah orang,” pikirku, tapi tidak kuutarakan.

Ia menjelaskan bahwa gaji pokokku sebesar 100 rupee sebulan. Jumlah ini akan ditambahkan pendapatan yang diperoleh dari para wanita yang membayar untuk wawancara pribadi. Prinsipnya ialah jika mereka membayar maka mereka bebas mengutarakan apa yang akan dikatakannya. Saya mendapat 20% dari jumlah itu. Ini merupakan sistim yang lebih menguntungkan mereka dibanding dengan bagianku, tapi saya tidak punya kekuatan untuk tawar menawar.

“Anda bukan beragama Islam,” katanya. Lebih terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan. “Saya beragama Kristen,” jawabku, lalu menunggu cukup lama rasanya dengan berdebar selama ia merenungkannya.

Akhirnya sambil memasukkan pena ke kantung jasnya ia bangkit dari kursinya dan berkata, “Baiklah, bukan masalah besar. Anda kelihatannya terpelajar seperti yang anda katakan dan tidak takut berhadapan dengan orang lain.” Ia membawa saya ke kantor penerbit dimana diperkenalkannya saya dengan tiga wartawan, seorang juru potret dan seorang penata tulisan. Saya diberi meja sendiri. Ada sebuah ruangan ketiga, tempat kami makan siang – diberi cuma-cuma. Yang bertugas disini ialah seorang ‘charpase’ atau pesuruh yang mengerjakan beberapa pekerjaan kasar, mengirim/menerima surat-surat, tugas-tugas pesuruh lainnya, mengambil makanan siang dan menyiapkan minuman.

Besok pagi saya tiba untuk bekerja pada jam yang ditentukan dan menghadapi rekan-rekan sekerjaku. Saya satu-satunya wanita diantara 7 pria, tapi jika saya sudah takut lebih dahulu maka ketakutan itu tidak beralasan – mereka semua sangat menghormatiku dengan sebutan ‘Ba-ji’ (saudara perempuan). Dalam waktu 4 hari saya berusaha mempelajari segala sesuatu sedapat-dapatnya termasuk 10 pertanyaan yang disodorkan. Saya bertekad untuk sukses.

Saya segera mengetahui bahwa berita-berita digodok di ruang berita, diperiksa penerbit sebelum diserahkan kepada penata tulisan untuk mengatur cetakannya ke dalam bahasa Urdu di atas lembar-lebar kertas yang lebar. Lalu penerbit akan memeriksa hasil kerja tersebut guna meyakinkan bahwa tidak ada kesalahan sebelum masuk ke percetakan. Salah satu tugasku ialah membantu bapak penerbit memeriksa hasil kerja si penata huruf sebelum dikirimkan ke percetakan. Kadang-kadang saya harus menemani si pesuruh ke kantor pos untuk membawa atau mengambil bungkusan-bungkusan. Apabila kiriman-kiriman majalah yang baru dicetak diterima maka saya bertugas melipat dan membubuhkan alamat-alamatnya. Saya menjadi terbiasa dengan label-label dan perekat serta merasa senang mempelajari tugas-tugasku yang baru ini sambil menunggu dengan perasaan was-was untuk melaksanakan wawancaraku yang pertama kali.

Jadwalnya ialah mewawancarai seorang istri bekas Menteri Luar Negeri yang telah berhenti dari tugas pemerintahan karena ada kesulitan pribadi dengan Perdana Mentri Bhutto. Hal ini berarti bahwa pertanyaan yang kuajukan haruslah sedemikian agar sedapat mungkin tidak mengganggu nyonya itu – namun sipenerbit meyakinkan padaku bahwa nyonya itu mungkin malah akan merasa senang bila diajukan pertanyaan yang sulit. Seperti biasanya, beliau benar.

Nyonya itu menerimaku dengan sangat ramah diruang duduk pribadinya dan mempersilahkanku duduk. Saya teringat akan pertemuanku dengan nyonya yang sopan dulu namun akhirya menjebloskan saya ke penjara. Saya mengakui bahwa sekarang saya merasa puas dapat menjadi salah seorang anggota mass-media yang mempunyai kemampuan lebih besar dibandingkan dengan di waktu-waktu lampau.

Kini saya menjadi seorang penyelidik. Kuajukan 10 pertayaanku satu demi satu. “Kenapa suami ibu berhenti? Apakah ibu senang atas keputusan yang diambil beliau? Dimana ibu mendapat pendidikan?” Dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaanku tidak terlalu tajam namun dengan mengajukannya kepada seorang wanita oleh wanita lain serta hasilnya akan dibaca oleh beribu-ribu wanita lain di seluruh negeri telah memberikan pertanda adanya perubahan-perubahan yang sedang terjadi dalam masyarakat pada waktu itu.

Altaf si juru potret menemani saya bersama yang lain pada wawancara itu. Jadi saya merasa yakin akan adanya perlindungan dan ia pun sangat gembira dapat bertemu dengan para wanita. Setengah dari masyarakatnya masih tersembunyi dari pandangan dan diperlukan sebagai milik pribadi oleh separuh bagian lainnya.

Suatu pemikiran moderen yang merayap masuk perlu menjalani perjalanan panjang untuk mengimbangi tradisi yang masih memisahkan pria dan wanita dalam satu bentuk genggaman yang kuat, baik dikalangan orang kaya dan terpelajar demikian pula di kalangan miskin dan awam. Dalam hal-hal lain Astaf juga berfaedah. Sesekali nyonya itu memakai bahasa Inggris waktu menjelaskan tentang kehidupannya. Ini membuat saya kikuk sebab oleh larangan kuno ayahku maka saya tidak dapat berbicara dalam bahasa ini merupakan ciri-ciri dari tingkat masyarakat dan pendidikan yang telah diterima maka saya memerlukannya. Tapi dengan pelan kawanku menterjemahkannya bagiku. Ia juga memikirkan mengenai pertanyaan lain untuk diajukan, bila pikiranku masih menerawang. Ketika semua pertayaan selesai diajukan, nyonya itu bertanya tentang diriku, “Sampai dimana pendidikanmu?” “Cukup untuk mewawancarai nyonya,” jawabku.

Beliau tertawa, “Jarang kita dapat bertemu dengan seorang wanita yang benar-benar terpelajar,” katanya.

Ketika diterbitkan ternyata tulisanku telah dikoreksi dengan baik oleh penerbit. Namaku ditulis Gulshan di bawah judulnya. Beliau tidak menambahkan namaku yang kedua “Esther”. Nyonya itu membayar 700 rupee dan saya menerima 140 dari jumlah itu. Saya menyerahkan 100 kepada John Emmanuel dan menyimpan yang 40. Pada mulanya tuan dan nyonya rumahku tidak mau menerima uangku tapi saya memaksanya. “Kami sangat berbahagia atas pertolongan Elohim bagimu,” kata mereka.

Ya, saya pun merasa bahagia juga. Untuk pertama kalinya dalam hidupku saya berhasil memperoleh gajiku sendiri dengan memanfaatkan pendidikan yang kuterima. Tanpa terasa, ingatan kemarahan dari wajah kakak-kakak lelakiku mulai menghilang ke latar belakang.

Pada kesempatan lain saya mewawancarai seorang Kepala Sekolah wanita SMA gadis-gadis di Lahore. Saya merasa gugup sebelum kesana karena takut membuat kekeliruan dengan pertanyaan-pertayaanku di depan wanita yang pandai, memiliki wibawa laksana sebuah ‘burka’ layaknya, namun si juru potret Altaf menguatkan hatiku, “Katakan padanya bahwa anda menginginkan beliau menjelaskan tentang segala sesuatu sehingga dapat dimengerti para pembaca. Lalu dengarlah baik-baik dan catat semuanya. Jangan takut mengajukan pertanyaan sederhana – kebanyakan pembaca anda tidak mau kalau anda bertindak terlalu pintar.”

Nasihat ini baik sekali. Saya duduk di sana dengan penuh kesederhanaan dan mendengarkan kuliah Kepala Sekolah itu tentang perbedaan antara sekolah swasta dan sekolah pemerintah. Keuntungan menyolok yang kuperoleh dari cara padang Kepala sekolah itu kelihatannya ialah beliau merasa dapat bertindak lebih bebas-dibawah pemilik sebelumnya beliau terlalu didikte dalam banyak hal sehingga biaya pendidikan sangat meningkat. Satu aspek yang merugikan sekarang ialah fasilitas yang tersedia makin sedikit. Sebagai tambahan atas informasi ini saya menulis tentang ruangan itu, kondisi sekolah di mana kami diajak mengadakan peninjauan dan melihat pemunculan gadis-gadis yang bersekolah disana.

Si juru potret sangat menyenangi wawancara ini karena ia diminta memotret banyak obyek termasuk para gadis di sana. Mereka tampil dengan cantiknya dalam ‘Shalwar kameeze’ nya yang putih dengan ‘dopatta’nya berwarna biru, inilah pakaian seragam mereka dan kupikir bahwa pengalaman ini sangat menarik karena gadis-gadis itu sering cekikikan sambil menutup mulutnya dengan ‘dopatta’nya.

Penerbit mengomentari tulisanku dengan “lumayan”. Beliau bukanlah orang yang mudah merasa puas. Tiga hari kemudian saya kembali kesana sesudah tulisanku dicetak untuk mengambil sisa pembayaran yang belum dilunaskan ke majalah kami – pewawancara selalu mendapatkan uang panjar sebelumnya. Saya menemui kepala sekolah yang kini memandangku dengan rasa ingin tahu sebab rupanya ia dapat mengetahui sedikit tentang kisahku yang diceritrakan oleh salah seorang stafnya yang beragama Kristen. “Kenapa anda pindah agama? Dapatkah saya membantu agar anda kembali ke iman Islam-mu?” kata kepala sekolah itu. Jadi di depan stafnya saya berceritra sedikit tentang hal ini.

“Anda bersikap hati-hati dan imanmu teguh” katanya. Kekuatiran-kekuatiraku mulai hilang sebab tidak ada kesulitan yang timbul terhadap apa yang kutulis. Lama kelamaan saya merasa bahwa pekerjaan menjadi lebih mudah dan mulai terbiasa melihat namaku dicetak menyertai tulisn-tulisanku. Suatu perasaan aneh timbul bila kupikirkan bahwa tulisanku dibaca di seluruh Pakistan dan mungkin memberikan aspirasi bagi para wanita muda sambil menunjukkan bahwa salah seorang kawan sejenisnya dapat berbuat sesuatu. Dan bagi saya yang menjadi contohnya, memiliki cara pemikiran dan ambisi yang menjurus ke arah yang berbeda sama sekali yaitu untuk melayani Tuhan [Elohim] dan melakukan kehendakNya. Jadi, mengapa saya di sini, bekerja di majalah ini – suatu pengalaman yang lain sama sekali dari apa yang telah terjadi sebelumnya. Jalan pengabdian ibadahku telah membawaku ke sini, tetapi untuk alasan apa? Hal ini adalah suatu teka-teki silang dan biasanya saya tidak terpengaruh oleh teka-teki ini dan hidup seadanya dari hari-kehari menelusuri 2 bagian terpisah dari hidupku, yang di luar dan di dalam, kehidupan bekerja dan kehidupan berdoa.

Namun, rekan-rekanku wartawan lainnya menyadari bahwa saya berbeda dengan mereka. Setelah kira-kira 2 minggu mereka dapat mengetahui bahwa saya beragama Kristen, walau pun tidak diketahuinya bahwa sebelumnya saya memeluk agama Islam. Mereka menggodaku tentang kepercayaan ini – anda percaya pada tiga Elohim, katanya sambil tertawa. Seharusnya saya mencoba menjelaskan bahwa tidaklah demikian, hanya ada satu Elohim dengan tiga manifestasinya – Bapa, Yeshua Ha Mashiah Anak Elohim dan bukan hanya seorang nabi saja serta Rohulkudus yang diturunkan pada hari Pentakosta untuk memenuhi orang-orang percaya dengan kehidupan Ha Mashiah, mengajar dan menyucikan mereka. Tapi sejak kanak-kanak, mereka telah diajar dan ditanamkan untuk berpikir bahwa agama Kristen telah merendahkan kemurnian yang percaya bahwa Elohim itu Tuhan [Elohim] Yang Maha Esa, jadi sekarang bagaimana saya dapat merubah jalan pikiran mereka ini?

Selama ini kuperhatikan bahwa tidak ada seorang pun di kantor itu yang melakukan sembahyang Azhar (sianghari) dan saya sangsikan sampai berapa dalam iman mereka terhadap kepercayaannya. Ruangan-ruangan kantor itu dibagi oleh papan-papan tripleks tebal dan si penerbit biasanya menghentikan godaan-godaan itu seraya masuk keruangan kami menyuruh kawan-kawanku diam dan berkata, “Jangan menggodanya. Ia hanya satu-satunya wanita dan anda tidak boleh berlaku kasar padanya.”

Pada suatu hari saya sedang menuruni anak tangga, jam 4 sore dalam perjalanan pulang ketika pemilik toko permen di sebelah kantor kami, bapak Jusuf menyapaku. “Assalam alaikum (kiranya damai turun atasmu),” katanya. Saya berhenti dan menunggu sampai beliau dekat “wa laikum salaam (kiranya damai serupa juga turun atas anda),” sahutku.

Katanya, “Nyonya, saya telah memperhatikanmu lewat selama ini dan kupikir anda tentulah seorang terpelajar untuk dapat bekerja di majalah itu. Saya sedang mencari seorang guru bagi ketiga anakku dan saya berpikir apakah kiranya anda menaruh minat untuk mengajar hal ini dan membicarakan tentang biaya untuk memberi pelajaran-pelajaran itu.”

Saya ragu-ragu. Gaji yang kuterima di majalah itu tidaklah besar, karena saya hanya bertugas sekali atau dua kali sebulan, tidak sama dengan rekan-rekanku pria yang berdinas luar setiap waktu malah sampai ke luar Lahore. Saya memasuki rumahnya bersamanya dan diperkenalkan dengan istri serta ketiga anaknya dan kami langsung dapat saling menyukai satu sama lain lalu menetapkan tentang urusan mengajar tersebut. Saya akan mengajar bahasa Urdu, matematika, agama Islam, sejarah dan Ilmu Bumi kepada anak-anak itu diluar jam sekolahnya dua jam sehari dari jam 4 sampai 6 sore. Saya meminta upahnya 150 rupee per bulan dengan makan malam tiap hari. Saya tidak akan datang pada hari Minggu. Pengaturan baru ini membawa akibat. Saya harus berpisah dengan kawan-kawanku yang baik hati di Medina Colony, sebab hari akan malam sebelum saya tiba dirumah dan bagi seorang wanita tidak aman berjalan sendirian di waktu malam hari. Ada banyak pencopet dan dan penculik dikota ini – kini saya menjadi cukup mengerti dengan sisi kehidupan jahat ini sejak pengalamanku di penjara tempoh hari. Jadi saya tiggal bersama Bapak & Nyonya Neelam. Alamatnya : Jalan Warris, dekat gereja tak jauh dari Old Anarkali. Saya mengenal Bapak Neelam waktu bekerja di “Sunrise” ketika beliau menjadi guru musik di sana.

Sampai bulan Desember saya sudah menulis 8 atau 9 ceritera semuanya dari ‘Gulshan’ atau kadang-kadang pelapor wanita kami dan saya merasa bahwa si penerbit senang dengan hasil-kerjaku,. Pada minggu kedua bulan itu saya dipanggil ke kantornya. “Anda telah melaksanakan pekerjaan lebih baik dari yang kuduga,” katanya. “Saya ingin memepertahankan anda di sini, namun ada satu hal yang perlu dibereskan jika saya mengambil tindakan tersebut – anda harus kembali ke iman Islam-mu.”

Saya duduk menjadi kaku seperti batu layaknya. Ia melanjutkan, “Sekarang ceriteranya kuketahui kenapa anda beragama Kristen. Namun, dengar baik-baik, jika kakak-kakakmu tidak membantumu, saya akan membantumu – hanya lepaskan kekristenanmu. Tidak, dengarkan anda dapat tinggal di rumahku. Anda akan menjadi pimpinan para wartawan. Saya akan mencari wartawati lain dan pendapatan yang akan anda terima seluruhnya perbulan berjumlah 1000 rupee.”

Karena desakan perasaan waktu menerima kenyataan ini saya bangkit setelah memahami tujuan pembicaraannya. Orang ini berhubungan dengan Alim Shah – mungkin mereka berkawan, pergi ke klub yang sama. Rupanya beliau telah lama tahu tentang diriku dan dengan sabar menunggu kesempatan baik ini. Hal ini merupakan ulangan ceritera lama yang sama.“Tunjukkan padanya betapa besar cinta-kasih satu sama lain di kalangan kita maka mungkin ia akan kembali lagi karena ia memerlukannya, daripada bekerja untuk dapat hidup dan tinggal menumpang dengan orang lain.” Dan saya, karena merasa begitu senang dengan kemajuan-kemajuan penulisanku telah gagal memperhitungkan kenapa orang ini telah menerima seseorang seperti saya yang belum berpengalaman? Dan kapankah mereka dapat diyakinkan bahwa saya tidak mau kembali lagi? Saya mengeluh.

“Janganlah bapak berpikir bahwa saya tidak merasa berterima kasih atas tawaran bapak. Saya sangat ingin bila dapat terus bekerja disini namun saya harus mengutarakan bahwa saya tidak dapat melepaskan kekristenannku. Yeshua adalah kehidupan bagiku. Apa yang saya dapatkan di dalam Dia, tidak dapat diberikan oleh agama lain.”

Beberapa waktu kemudian, di hari yang sama, istrinya masuk menemui saya dalam perjalanannya ke toko di Old Anarkali – menurut hematku adalah merupakan usaha terakhir untuk merubah pikiranku. Beliau memanggil saya masuk kantor suaminya ketika bapak penerbit sedang sibuk membaca hasil cetakan diruang wartawan.

“Anda cukup pandai” katanya. “Kenapa anda beragama Kristen?”

Pengungkapan ini menyedihkan hatiku. Bagi yang berfaham Islam fanatik dianggapnya yang beragama diluar Islam itu bodoh karena mempercayai suatu dusta.

Saya memahami bahwa wanita ini tidak memiliki penghayatan dan pendalaman rohani dan saya merasa tidak perlu untuk mengungkit-ungkit mengenai hal ini lagi. Dengan lembut saya menjawab, “Ibu tidak akan dapat mengerti terhadap tahapan yang telah saya capai sekarang. Elohim begitu nyata bagi saya.”

Beliau memandang dan wajahnya kelihatan tegang. Nyonya itu berlalu tanpa berkata sepatah kata lagi. Pada akhir jam kerja, bapak penerbit memberikan padaku sebuah amplop berisi uang sebesar 125 rupee di dalamnya. “Maafkan saya” katanya. “Namun anda tidak dapat meneruskan bekerja di sini lagi. Istriku dan saya sendiri memohon maaf dan menyesal karena anda harus pergi. Kami akan tetap mengingat anda.”

“Saya pun memohon maaf dan merasa sayang, namun Elohim akan memberikan pekerjaan lain bagiku,” kataku dengan tegap, namun dalam hatiku sebenarnya jauh dari berani.

Bapak penerbit itu kelihatan jelas bergumul dengan perasaan kemanusiaannya karena sewaktu saya berjalan menuju pintu beliau berkata, “Jika anda merasa melarat saya akan membantu, namun masalah iman ini tetap ada.”

“Jangan kuatir,” jawabku. “Elohim akan menolongku. Sebelum saya mencari pertolongan pada manusia, terlebih dahulu saya akan mencari pertolongan pada Elohim.”

Dan saya meninggalan kantornya. Para wartawan yang lain tidak senang atas kepergianku. “Anda telah begitu lama bersama kami dan sekarang anda pergi hanya karena masalah agama yang sepele itu. Oke, Nabi Isa itu telah menyembuhkan engkau – kenapa anda tidak membayarkan sejumlah uang saja dan dengan begitu persoalannya beres?”

“Dia jauh lebih berarti bagiku daripada sekedar hal yang demikian itu,” jawabku dan saya berjabatan tangan dengan mereka. Kemudian saya pergi dan menuruni tangga dengan perasaan dingin, kepalaku pusing disebabkan oleh guncangan pengusiran ini, tepat pada waktu saya baru mulai merasa aman dari serangan-serangan yang khusus seperti ini. Setibanya diluar saya bersandar ke dinding untuk menenangkan diriku. Tentunya ada satu alasan mengapa saya mejalani semua pengalaman yang menggoncangkan ini. Di dalam hatiku saya berseru kepada Bapakku di Surga dan Dia langsung memberikan jawaban dengan kata-kata yang menghiburkan. “Makin bertambah harimu berlalu maka kekuatanmu pun makin bertumbuh. Bukankah Aku telah memberi perintah kepadamu?” Saya tidak menyadari bahwa di hadapanku telah terbentang Tanah Perjanjianku yang Istimewa dan bahwa saya sedang dipersiapkan untuk masuk kedalamnya.

Bersambung ke Bg. 8 – Bab 14 Bersaksi

Gulshan Esther (Fatimah); Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2 ;Bg. 3 ; Bg. 4 ; Bg. 5 ; Bg.6 ; Bg. 7 ; Bg. 8

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s