Gulshan Fatima; Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 8

Ini adalah kesaksian Gulshan Esther (Fatima), puteri bungsu dari sebuah keluarga Islam Sayed yang merupakan keturunan langsung Nabi Muhammad melalui puterinya Fatima.

Tulisan ini merupakan sebuah buku berjudul THE TORN VEIL atau KERUDUNG YANG TERKOYAK, diterbitkan oleh Marshal Paperblacks.

Gulshan Esther (Fatimah); Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2 ; Bg. 3 ; Bg. 4 ; Bg. 5 ; Bg.6 ; Bg. 7 ; Bg. 8

BAB 14 BERSAKSI [Berkotbah kepada banyak orang penting, dipaksa berdebat di pesta pernikahan, pengemudi aneh, mulai terkenal]
“Ada seorang tamu untukmu di sini,” kata nyonya Neelam di pagi hari tanggal 30 Desember dan saya melongok ke atas dari bacaanku melihat-lihat. Rupanya Bapak Gill, seorang tua-tua dari Gereja di FOREMAN CHRISTIAN COLLEGE yang membawakan sebuah undangan untukku. Beliau langsung mengutarakan maksudnya.

“Pendeta Arthur dari gereja METHODIST, FOREMAN CHRISTIAN COLLEGE, ingin megundang anda untuk berkhotbah pada pelayanan Tahun Baru nanti. Anda dapat membawakan berita apa saja yang digerakkan Tuhan [Elohim]. Bagaimana pendapat anda?”

Untuk sekejap saya tidak dapat menjawab. Foreman Christian College adalah sebuah tempat besar dan gereja tersebut biasanya penuh dengan orang-orang berpengaruh. Bagaimana saya dapat berdiri di depan jemaah seperti itu dan berkhotbah? Saya hampir merasa mau menolak di kala teringat sesuatu yang difirmankan Elohim padaku malam itu, “Pergilah dan saksikanlah kepada umatKu.”

Ketika saya disembuhkan, Yeshua telah memerintahkan saya untuk melakukan hal ini, tapi waktu itu saya belum siap. Namun, visi yang penuh kegemilangan cahaya itu telah memancar dengan terang sekali di jalanku, mengajar saya untuk mengenal Elohim melalui FirmanNya dan dengan Iman. Apakah udangan ini yang datang tanpa disangka-sangka merupakan tanda bahwa saya telah siap untuk memberikan kesaksian ke pada Gereja mengenai apa yang telah saya alami dengan Berkat dan Kasih SetiaNya padaku? Sekarang saya memahami bahwa jika sesuatu keperluan untuk melakukan tindakan telah matang maka beberapa faktor akan saling menunjang – kesempatan terbuka, suatu bisikan suara terdengar lalu terasa adanya suatu kedamaian di dalam hati serta keyakinan bahwa waktu untuk bertindak sudah tiba.

Saya memandang ke arah si pembawa berita itu. “Saya akan datang” kataku, “namun bagaimana saya kesana?”

“Anda sangat diharapkan untuk datang dan tinggal bersama istriku dan saya besok malam di rumah kami di Wadat Colony. Alamat itu dekat dengan gereja dimaksud dan dari sana kami akan membawa anda ke kebaktian pada hari Tahun Baru.” Kamla Neelam sependapat dengan usul ini dan diatur bahwa Bapak Gill akan datang menjempuntuku besok pagi untuk pergi kerumahnya. Saya akan datang dan berusaha mengumpulkan ingatanku untuk ujian yang akan datang ini.

Besok malamnya di ruang tamu nyonya Gill, ketakutan menyelimuti diriku sewaktu saya merenungkan apa yang harus kulakukan. Perasaan sombong, rasa mau menonjol-nonjolkan diri kemuka….. saya begitu ingin memberikan suatu kesan yang baik.

Sambil berlutut akhirnya saya mengungkapkan khayaan ini dengan berkata, “Bagaimana caranya saya memberi kesaksian tentang Engkau ya Tuhan [Elohim]? Bagaimana saya dapat melukiskan tentang diriMu?” Baiklah, kedengarannya bodoh barangkali. Apa sebenar-nya yang saya perlukan? Pemunculan yang suci dan keramat yang sama lagi? Segera setelah pikiran itu kuungkapkan dengan kata-kata saya menyadari betapa naifnya bagiku untuk merasa kuatir tentang hal-hal seperti itu. Dalam keheningan pikiranku dengan kerendahan hati dihadapan Hadirat Elohim, saya mendengar suara yang tenang dan lembut, “RohKu akan menyertaimu.” Sukacita mengalir dengan derasnya. Cukuplah kiranya janji itu bagiku.

Tidak ku sangkal bahwa hal ini merupakan pengalaman yang pertama dalam hidupku di mana saya harus berhadapan dengan hadirin sebesar itu. Para guru, guru-besar, perawat, dokter dari Rumah Sakit Kristen di dekatnya – semuanya berpendidikan tinggi dan yakin akan dirinya. namun saya merasakan suatu kuasa yang tumbuh di dalam diriku ketika saya memberikan kesaksianku tentang penyembuhanku dan menceriterakan tentang berkat-berkat Elohim padaku melalui begitu banyak pengalaman yang menyedihkan. Para hadirin diam terpaku, mengikuti setiap kata-kataku dengan matanya yang tidak lepas-lepasnya memandang padaku.

Sewaktu saya turun dari mimbar orang-orang datang menemuiku dan mengatakan betapa kesaksian itu memberi makna dan berharga bagi mereka. “Kesaksian itu memiliki kuasa,” ucap satu atau dua orang. “Kami malah tidak menyadari waktu berlalu,” kata beberapa orang dengan air mata berlinang di pipinya. Para wanita datang dan berkata, “Anda telah begitu banyak menderita seorang diri.” “Biarlah kami pun turut berpartisipasi untuk menanggungnya bersamamu,” dan mereka memberikan alamat-alamatnya kepadaku.

Sebagian dari persembahan itu diberikan padaku dan saya kembali ke rumah keluarga Gill untuk makan siang. Melalui suatu selubung yang menakjubkan, terkenang olehku kedua kakak lelakiku – bagaimana rasa cintaku bagi mereka bergetar dalam kalbuku dan sekiranya mereka mendengar perubahan baru yang terjadi dalam pengalaman adik perempuan mereka yang telah diusir dan dibuangnya.

Sebagai kelanjutan dari Khotbah tadi pagi saya diundang untuk berpartisipasi dalam persekutuan wanita di Gereja secara tetap pada Foreman Christian College. Ini berarti bahwa saya harus berhenti mengajar di rumah Pak Yusuf dan berkecimpung dalam pekerjaan yang benar-benar ingin kulakukan dan dambakan: memberitakan Injil.

Semua gereja dikawasan itu satu demi satu mulai mengundang saya untuk berkhotbah dan mereka membayar pembiayaanku. Selama April dan Mei saya tinggal bersama beberapa teman di Canal Park. Dalam bulan Juni, keluarga lain membawaku kerumahnya dan saya disana sampai hari perkawinan anak lelaki kakak perempuanku.

Suatu persekutuan sambil berkemah bagi para wanita akan diadakan selama musim panas di Muree. Daerah ini letaknya kira-kira 2500 meter ditas permukaan laut dikaki gunung Himalaya atau 2 1/2 jam perjalanan bus jauhnya dari Rawalpindi adalah sebuah stasiun lama di pegunungan semenjak kerjaan Inggris Raya. Sekarang, orang-orang kaya berlibur kesana untuk menikmati iklimnya yang lebih sejuk serta pemandangan pegunungan dimana terdapat satu atau dua puncaknya yang hampir selalu ditutupi salju sepanjang tahun.

Di Muree ada banyak kegiatan Kristen – sebuah sekolah bahasa bagi para penginjil, sebuah sekolah Kristen bagi mereka atau anak-anak lainnya. Di sekolah ini, tidak sama dengan sekolah yang ada di dekat permukaan laut, selalu dibuka selama musim panas dan diberi libur sebulan dimusim dingin ketika salju tebal menutupi jalan-jalan pegunungan yang membahayakan.

Muree juga sangat sibuk pada musim panas dengan perkemahan-perkemahan dan konperensi-konperensi yang diadakan oleh kelompok-kelompok Kristen dari seluruh Pakistan. Persekutuan sambil berkemah bagi para wanita di Mambarak dimana saya telah diundang sebagai pembicara utama berlangsung selama seminggu pada awal Juni. Saya akan pergi ke Rawalpindi dengan pimpinan rombongan persekutuan itu yaitu Nyonya Hadayat dengan kereta api dan kami akan berangkat pada hari jumat jam 04 pagi.

Namun pada hari kamis pagi kira-kira jam 10, saya menerima berita dari kakak perempuanku, Samina yang tinggal di Samanabad sedang mempersiapkan sebuah pesta perkawinan. Anak Lelakinya akan kawin disana hari Sabtu dan ia menginginkan saya hadir sebagai tamunya. Anak lelakinya itu sendiri yang menyampaikan undangan secara lisan di ruang duduk di rumah tempat saya bertamu. Saya tersenyum padanya. Sejak kecil saya telah memperhatikan pertumbuhan Mahmud yang akan menjadi harapan keluarganya dan saya ingin untuk dapat hadir pada pesta perkawinan ini, namun ada halangan besar di hadapanku.

Saya memberi pesan balasan secara lisan melalui Mahmud, “Harap sampaikan pada ibumu bahwa saya sangat mengasihinya. Bagitu juga padamu, tapi saya tidak dapat datang. Setiap orang akan menentangku karena kepercayaanku dan kehadiranku hanyalah akan mengganggu suasana yang seharusnya merupakan hari bahagia bagi kita semuanya. Bukan hal yang baik bagiku kalau datang, tambahan pula saya pun akan pergi hari jumat menghadiri konperensi di pegunungan. Saya memohon maaf padamu sekalian karena tidak dapat memenuhi undanganmu yang penuh kasih ini.”

Keponakanku pergi dengan mengendarai Yamaha-nya, kelihatan murung. Saya meneruskan persiapanku. Pada jam 2 siang, Mahmud datang kembali, “Bibi, anda harus menghadiri pesta perkawinan ini. Ibuku berkata bahwa beliau tidak akan mengijinkan saya kawin jika bibi tidak hadir. Dan saya pun mengharapkan agar bibi hadir.” Dan dimata perjaka yang sudah besar ini terlihat ada air mata. Saya membuat suatu keputusan yang agak melegakan.

“Satu-satunya yang dapat kukatakan ialah bahwa saya akan ke bapak dan ibu Hadayat memintakan pendapatnya. Mungkin masih ada waktu untuk dapat menghadiri perkawinanmu dan kemudian berangkat dengan bus ke Rawalpindi pada waktunya yang akan disambung dengan bus berikutnya di minggu pagi.” Wajah Mahmud berseri-seri.

“Apakah Bibi dapat membonceng di sepeda motor?”  Saya akan membawa bibi ke tempat bapak dan ibu Hadayat,” katanya.

Jadi dalam waktu singkat seorang wanita muda membonceng di atas sepeda motor yang menderu-deru di jalan sambil berpegangan erat pada kemeja seorang anak muda didepannya.

Ketika ku ceritakan pada keuarga Hadayat tentang dilema-ku, mereka langsung memecahkannya, menasihatkan saya untuk memenuhi undangan tersebut.

“Kesempatan ini merupakan kesaksian,” kata mereka, “beberapa dari keluargamu belum bertemu lagi denganmu setelah anda disembuhkan.”

“Benar.” Kukenangkan pertemuan yang tidak enak dengan para paman dulu. Teringat olehku akan tatapan mereka yang keras, melotot dari wajah-wajahnya yang marah terhadap anak-dara muda yang kurus ini yang berani menantang adat-istiadat keluarga dan hukum agama. Ini telah terjadi pada pribadi yang lain. Namun apakah pendapat mereka telah berbeda sekarang? Saya sangsi kalau mereka telah berubah. Walalupun demikian masih ada satu atau dua kesempatan untuk bersaksi dan saya mencintai kakak perempuanku serta anak lelakinya ini. Bagi kepentingan mereka saya akan pergi kesana.

“Anda benar,” jawabku. Dan begitu kesulitan tersebut diatasi, bapak Hadayat mencari pada jadwal harian bus dan kami menemukan bahwa ada bus berangkat dari Badami Bag di Lahore jam 12 tengah malam hari sabtu yang membawaku ke Rawalpindi pada waktu yang tepat untuk berganti ke bus yang lain menuju Muree dan tiba disana dalam waktu yang cukup untuk berbicara pada hari minggu sore di persekutuan yang pertama bagiku. Keponakanku membawa kembali saya kerumah diatas Yamahanya dan berjanji akan datang besok menjemputku dan membawaku ke pesta kawin itu.

Jadi, keesokan harinya saya mengambil sebuah tas kerja kecil dan dengan ditemani keponakanku dengan cara yang istimewa saya berangkat menuju Samanabad. Pesta kawin itu seperti yang saya ramalkan merupakan suatu bencana dari awal sampai berakhir. Beberapa keluargaku yang lebih tua menganggap kehadiranku merupakan pelanggaran langsung dan membelakangiku bila saya di sekitar mereka. Yang lainnya di mana fanatisme Jihad-nya tebal, mendebat saya dengan keras sehingga saya hampir tidak berkesempatan bercakap-cakap dengan kakak-kakakku Samina atau Anis yang belum bertemu denganku hampir setahun lamanya.

Tumpuan serangan itu ialah “Kenapa kamu percaya pada Nabi Isa sebagai anak Elohim?”
Alkitabku ada dalam tasku tapi saya tidak perlu membukanya kata-kata yang kuperlukan datang ke bibirku tanpa dapat dibendung dan memiliki kuasa. Saya menyadari bahwa kesempatan ini mungkin tidak akan kuperoleh lagi, jadi saya berbicara pada setiap orang yang menaruh perhatian walalupun hanya sedikit. Perdebatan meningkat dan rasanya saya tidak punya waktu baik untuk makan ataupun minum. Yang paling marah kepadaku ialah kakak-kakak lelakikku, tidak terlihat olehku. Safdar Shah tidak datang waktu mendengar bahwa saya akan hadir sedangkan Alim Shah selalu menjamu para tamu pria dan di luar jangkauanku. Lama kelaman mereka yang berdebat denganku berkurang satu per satu dengan sentilan ungkapan seperti, “oh, ia gila, tinggalkan dia” dan “kami tidak punya hubungan keluarga dengannya, jangan berbicara dengannya.”

Tiba-tiba saya melihat waktu sudah jam 11 malam. Saya mendengar suatu suara berkata, “Engkau akan bersaksi di Muree besok dan kau masih disini sekarang.” Saya menjadi agak panik dan bergegas ke kamar kakak perempuanku serta memohon bantuan bila ada orang yang dapat mengantarku ku ke Badami Bagh. Tapi mobil Samina sedang dipakai tamu-tamu lainnya, Anis sedang sibuk dengan kaum keluarga suaminya dan beberapa tamu dengan tegas menolak – saya mendengar seseorang berkata, “Kami tidak mau mencemarkan mobil kami. Mintalah kepada Yeshuamu untuk menolong dirimu.” Samina mendekat dan memegang tanganku – “Gulshan maafkan saya karena tidak dapat menolongmu. Kenapa kau tidak bermalam dengan kami malam ini lalu besok kami akan mengantarmu ke stasiun bus?” Sebenarnya usul ini baik kedengarannya, karena bagi seorang wanita pergi sendirian dimalam hari seperti ini di jalanan mengandung ancaman bahaya. Namun saya merasakan suatu desakan perasaan yang mendorongku. Saya telah diberi tugas sehingga saya harus mengusahakan sedapatnya untuk memperoleh jalan keluarnya.

Lupa berpamitan saya menyelinap perlahan dari rumah yang terang benderang itu bersama seluruh kesenangan dan rasa amannya lalu berdiri di pinggir jalan. Awan-awan menyelubungi bulan, rumah-rumah dan pepohonan kelihatan samar dalam kegelapan. Dahan-dahan sebatang pohon mulberry (bebesaran) mendesir diatas kepalaku. Dengan gugup saya bergerak dibawah bayangannya. “Tuhan [Elohim], Engkau telah menyucikan saya. Jagalah dan tolonglah agar saya dapat sampai ke stasiun bus pada waktunya. Saya serahkan diriku sepenuh-penuhnya dalam lidungan Tuhan [Elohim],” doaku. Ketika saya mengakhiri doaku, air mata jatuh berlinang. Saya merasa kehadiran Elohim di sekelilingku di dalam gelap itu dan di dalam lingkaran itu saya merasa aman. Lalu dari jauh saya mendengar dan makin mendekat, bunyi deru mesin sepeda motor dan hampir bersamaan saya melihat lampu depannya kelap-kelip; cahaya lampu diselubungi kegelapan malam itu, sewaktu kendaraan itu bergerak menuju ke arahku menelusuri jalanan aspal. Saya melihat rupanya sebuah rickshaw (semacam becak bertutup yang dilengkapi mesin). Apakah kendaraan ini sedang membawa seseorang yang terlambat datang ke pesta kawin itu ataukah pengemudinya akan pulang setelah bekerja sehari-harian? Sambil berdoa agar orang ini akan berhenti bagiku, saya melambai-lambai dan kendaraan itu berhenti disamping tempat saya berdiri.

“Dapatkah bapak membawa saya ke Badami Bagh secepat yang dapat bapak lakukan? Saya harus mengejar sebuah sebuah bus yang akan berangkat ke Rawalpindi selekas mungkin.” Saya tidak dapat melihat wajahnya karena ia memakai semacam penutup kepala, namun ia mengangguk dan saya naik keatas kendaran itu dan saya tidak mau mengira-ngira apakah orang ini penjahat yang akan mengambil keuntungan dari situasi saya.

Kami bergerak maju, meninggalkan gema deru mesin. Rasanya kami melaju degan cepat sepanjang jalan. Sewaktu kami berputar masuk ke Badami Bagh saya melihat ke jam saya, nyatanya kami menempuh jarak 28 km dalam waktu 5 menit. Pengemudi itu mengangkat tas kerjaku tanpa berkata-kata dan membawanya ke deretan bus Watan Transport untuk tujuan Rawalpindi. Waktu ia mendekat, kelihatan berperawakan tegap dan mengenakan sebuah jubah panjang yang aneh berwarna coklat tua, pikirku mungkin di seorang Pathan (Indo-Iran).

Tasku diletakkan di bawah tempat duduk depan dan mau berlalu tanpa menunggu bayaran, sewaktu saya menghentikan dan bertanya, “Berapa ongkos yang harus saya bayar?”

Setelah berpaling kearahku, ia berkata, “Elohim telah menyuruh saya untuk menolongmu. Pergilah dengan damai.” Lalu ia membalik, pada lipatan leher jubahnya dan pada lengannya yang berotot saya membaca sebuah kata yang ditulis dengan huruf mengkilap “PETRUS.” Saya berusaha melihat wajahnya namun saya hanya dapat melihat matanya yang bercahaya.

Air mataku berlinang-linang dan saya terpaksa menghapusnya. Ketika saya menengok lagi kearahnya, dia telah menghilang dan tidak mengambil bayaranku, saya melihat ke sekeliling stasiun bus itu yang pada waktu malam selarut itu cukup sibuk karena orang-orang lebih suka bepergian di saat itu dibandingkan dengan di siang hari yang panas, namun yang terlihat ialah para penumpang bus yang meluruskan kaki-kakinya bersiap-siap melaksanakan perjalanan panjang. Saya mengambil tempat di tempat duduk berkasur, satu-satunya wanita di bus itu yang bepergian sendirian dan tidak mengenakan ‘burka’ dan saya membayar ongkosnya pada kondektur sewaktu ditagih.

Kami berhenti selama 1/2 jam di Jhelum untuk beristirahat, di tanda pertengahan perjalanan dan kemudian berhenti lagi di Gujarkhan. Waktu mendaki udara rasanya makin dingin menelusuri kaki gunung Himalaya. Waktu tiba di Rawalpindi jam menunjuk kan 04.45 pagi dan kami mencari jalan melewati orang-orang yang berdesak-desakkan, sapi-sapi dan kambing-kambing yang kurus, mobil-mobil, rickshaw, truk, sepeda, dan pedati-pedati agar mencapai stasiun perhentian bus di Raja Bazaar.

Cahaya matahari telah memberi warna pada tepi langit di ufuk Timur dengan sinarnya yang keemas-emasan. Bus untuk tujuan Muree itu lebih kecil, jalannya pelan dan perjalanan itu sendiri berbahaya melalui jalan pegunungan yang berliku-liku dan ruang lewat hanya cukup untuk dua kendaraan.

Pada bagian tahun seperti ini, banyak yang memakai jalan itu, ketika padang-padang tersiram getaran-getaran panas. Kami duduk menghadap ke dalam dan punggungku menarah ke dinding gunung sehingga saya tidak terpaksa melihat ke tepi lereng gunung yang berbahaya itu. Pada jam 11 pagi kami mendekati Muree. Saya turun di pemberhentian bus di depan kantor pos di lereng bawah kota itu. Saya memberikan tasku pada seorang buruh dan ia menunjukkan padaku jalan pintas menuju perkemahan Mubarik. Di dekat perkemahan itu penjaga gerbang melihat kami segera datang menjemput dan mengambil tasku.

Acara kemah bagi para wanita itu merupakan suatu minggu yang pengalamannya luar biasa bagiku. Ada 30 wanita peserta dari Peshawar, Sialkot, Karachi, Faisalabad (dulunya bernama Lyallpur) dan Hyderabad. Elohim telah menyatakan mujizat kesembuhan di tempat dimana para wanita mengalami penderitaan.

Saya bermalam di sebuah gedung bertingkat dua bersama Rut dari Abbotabad. Ada acara-acara untuk pagi dan malam hari serta waktu-waktu makan lalu selebihnya bebas namun saya sangat sibuk karena melayani banyak wanita yang berbicara mengenai beban hidupnya. Seorang guru sebuah Sekolah Pemeritah di Lahore mengatakan bahwa ia mengalami kesulitan dalam memberikan kesaksian diantara para ibu non-kristen disana. Kami berdoa bersama dan membicarakan tentang rasa takut yang dapat menguatkan ikatan kita satu dengan yang lain dalam situasi seperti itu dan saya mengingatkan dia janji Ha Mashiah; “Aku tidak akan meninggalkan atau membiarkan engkau.” Waktu kami berpisah ia berkata dengan sukacita, “Anda telah memberikan harapan baru padaku untuk menghadapi segala macam masalah.”

Ketika para wanita pergi, suatu kelompok pemuda datang dari Pelshawar dan Pendeta Sayed yang mengelola perkemahan itu meminta saya tinggal dan berbicara didepan mereka. Seorang pengacara muda datang dan mengatakan padaku bahwa ia bekerja diantara penganut-penganut agama lain dan merasa malu untuk bersaksi. Saya mengingatkannya akan Mat. 10-31 – 33 dan berdoa bersamanya. Pada hari ke 4 ia datang kembali dan berkata sekarang ia sudah memiliki keberanian. “Ketakutan sudah lewat”. Begitu juga dengan saya. Ia berkunjung ke tempatku waktu saya akan meninggalkan perkemahan menuju Rawalpindi dan tinggal dengan keluarga Younis. Saudari Younis sudah pernah ke Mubarik dan kami membentuk suatu persekutuan. “Datang dan tinggal bersama kami bila anda ke sini,” katanya kepadaku. Jadi itulah yang kulakukan.

Dari perkemahan-perkemahan itu pelayananku benar-benar mulai dilaksanakan dengan tekun dan saya pergi ke berbagai tempat berbicara di konperensi-konperensi mengenai cara Elohim menjamah saya. Saya diundang lagi ke Mubarik pada tahun pertama itu yaitu awal Juli dimana ternyata kami membagi satu tempat konperensi bersama orang-orang terkenal di masyarakat Kristen. Mereka menerima saya sebagai seorang yang telah ditugaskan Elohim untuk melayani. Setiap waktu saya melayani Firman, undangan-undangan mengalir dari berbagai tempat baik jauh maupun dekat. Orang-orang ingin mendengar tentang apa yang akan kubawakan – mereka berkata Firman ini menguatkan mereka dan bahwa itulah pelayanan Firman yang dibutuhkan pada masa-masa kini.

Sekarang kesempatan-kesempatan mulai terbuka bagi suatu pelayanan yang lebih luas tapi disaat yang sama saya selalu berpegang teguh pada Yeshua. Dari pengalamanku saya tahu bahwa jika banyak berkat maka serangan pun akan mengancam juga. Walaupun begitu, saya tidak mempersiapkan diri secara khusus utuk mengira-ngira secara khusus dari arah mana gerangan serangan itu akan datang.

BAB 15 PENUTUP
Dari Rawalindi saya menjelajah ke seluruh Pakistan, berbicara di geraja-gereja dan konperensi-konperensi, begitu juga melakukan pelayanan pribadi pada orang-orang membutuhkan, baik fisik maupun rohani.

Pada bulan Oktober 1977 saya pergi ke Lahore dan perjalanan ini merupakan jawaban doa dari suami-istri anggota Gereja Methodist di Canal Park yang menyurati saya mengatakan bahwa anak lelaki mereka sakit. “Datanglah dan berdoa untuknya,” tulis sudara James. Saya datang berdoa selama dalam perjalanan. Ketika saya tiba disana anak lelaki itu telah dibawa kembali kerumahnya dari United Christian Hospital, berangsur-angsur sembuh tapi masih lemah. Lalu Saudara James dan istrinya meminta saya tinggal dengan mereka. Anak-anaknya 5 perempuan dan 5 lelaki dan mereka meminta bantuanku dalam pendidikan rohani anak-anaknya. Akhirnya disepakati bahwa saya akan tinggal bersama mereka, tapi bila diperlukan untuk menghadiri pertemuan/konperensi kemanapun di Pakistan, saya bebas untuk pergi.

Selama tahun-tahun ini saya hidup dengan iman. Tuhan [Elohim] mencukupkan kebutuhan-kebutuhanku sedemikian limpahnya sehingga orang-orang lain bertanya-tanya apakah ada misi luar negeri yang menyokong saya. Saya berusaha menjelaskan pada mereka bahwa kekayaan-kekayaan surgawi merupakan milik kita bila kita mau percaya kepada Elohim sepenuhnya. “Saya telah memepersembahkan kepada Elohim semuanya – keluarga, rumah, uang, reputasi – dan mempercayakan kepadaNya segala keperluanku.”

Ketika saya masih di Rawalindi, Anis sampai pada bagian akhir hidupnya di dunia. Kakak perempuanku itu didorong oleh tantangan keluarga untuk tetap sebagai seorang percaya secara sembunyi-sembunyi, meninggal pada tanggal 14 Maret 1977. Saya ada bersamanya waktu dia meninggal, memberikan penguburan padanya. Saya tahu bahwa ia telah menempatkan tangannya pada tangan pribadi yang Memakai Mahkota di puncak tangga dan mengundang Dia untuk memimpin hidupnya ke dalam Hadirat Elohim.

Kedua anak perempuan Anis masing-masing berusia 15 dan 16 tahun tinggal bersama pamannya setelahnya karena ayahnya kelihatannya tidak mau menjaga mereka. Beberapa bulan kemudian saya mendapat surat dari keponakan-keponakanku meminta padaku apakah mereka bisa datang dan tinggal bersamaku, karena mereka tidak merasa bahagia. Jadi di bulan Oktober saya mengambil alih pengawasan atas kedua keponakanku lalu mereka pindah dan tinggal bersamaku di rumahnya keluarga James.

Terlalu banyak anak perempuan tinggal serumah dan diwaktu itulah saya berdoa untuk memintaan sebuah rumah bagiku dan tidak menggantungkan diri pada seorang pun kecuali Elohim. Saya menempatkan kedua gadis itu ke sebuah sekolah khusus untuk para gadis (semacam biara), karena sulit bagiku untuk meninggalkan kedua keponakanku dalam rumah orang lain bila saya sedang melakukan perjalanan. Sekolah tersebut dikelola oleh beberapa suster dan suasana di sana baik bagi gadis-gadis.

Elohim menggerakkan beberapa kawan-kawan di Karachi untuk melakukan sesuatu tentang keadaanku yang tidak mempunyai rumah. Mereka merasa bahwa sudah waktunya bagiku untuk mempunyai rumah sendiri dan tidak dapat tinggal dengan orang lain untuk seterusnya. Jadi mereka mengumpulkan dana dan ditambakan dengan uang tabunganku cukup untuk mendapatkan sebuah rumah kecil. Betapa senangnya untuk dapat pulang ke tempat milik pribadi bagi seseorang bila selesai dari serentetan pertemuan penginjilan yang melelahkan di tempat-tempat yang jauh.

Ketika saya menerima rumah pribadiku pada musim panas tahun 1978, keponakan-keponakanku datang dan tinggal bersamaku. Tapi tidak semuanya berjalan lancar. Saya didakwa di pengadilan atas beberapa tuduhan palsu. Saya memberi penjelasan di pengadilan bahwa dulunya saya seorang yang lumpuh dan telah disembuhkan oleh Yahweh Yeshua. Ia bertanya padaku apakah ada seorang dari keluargaku yang akan menjadi saksi untuk ini. Seorang anggota keluargaku datang ke pengadilan untuk keperluan ini dan membenarkan tentang kisah penyembuhanku serta menceriterakan tentang kelakuanku yang baik. Perkara yang dituduhkan padaku itu dibatalkan. Keponakan-keponakanku tidak dapat tinggal lebih lama dengan saya, namun Elohim begitu baik padaku dan memberikan dua anak angkat perempuan yang manis, seorang anak lelaki beserta kakek mereka, sehingga saya tidak sendirian di dunia ini.

Dua bulan kemudian sesudah ini, di bulan Juli 1981, saya ke Karachi tinggal bersama seorang kawan di Akhtar Colony, dekat dengan gereja Methodis, ketika saya didekati seorang perawat muda Patricia untuk mengunjungi adik perempuannya Freda, seorang perawat di Rumah Sakit Jinnah. Yang ditakutinya, adiknya dikuasai oleh roh jahat. Katanya, “Adik perempuanku sedang sakit. Ia berteriak-teriak dan ketika roh itu datang dia mulai berteriak-teriak dan mulai memukul-mukul orang.”

Saya menyetujui permintaannya dan kami memakai rickshaw ke rumah sakit, suasana lembab dan menyesakkan napas – tapi hal itu bukan hanya disebabkan oleh udara panas. Freda berdiri disana, muda, pemalu, kepalanya menunduk. Ia mengenakan pakaian non dinasnya ‘shalwar kameeze’ dan ‘dopatta’. Seringkali ia mengangkat matanya untuk menatapku dengan pandangan tetap dan saya tidak melihat suatu ekspresi di dalamnya.

Dengan lembut Patricia berkata kepada adiknya, “Ba-ji, ini Sister Gulshan. Beliau datang untuk berdoa bagimu.” Tidak ada jawaban dari perawat muda itu. Ia berdiri tidak bergerak-gerak untuk sekejap, lalu tiba-tiba minta diri dan meninggalkan rungan itu ke kamar mandi disebelah bawah ruangan itu. Sesudah 15 menit ia pergi, kawanku berkata, “Ia sudah terlalu lama pergi. Saya akan mencarinya.”

Ia kembali menarik-narik adiknya yang enggan itu dengan tangannya. Freda duduk di atas permadani dan saya duduk diatas lengan kursi, meragkulnya agar duduk di dekatku di lantai. Lalu saya menumpangkan tanganku keatas kepalanya, membuka Alkitabku Mazmur 91 dan membaca dengan nyaring, “Orang yang duduk dalam Lindungan Yang Maha Tinggi dan bermalam dalam naungan Yang Maha Kuasa akan berkata kepada YAHWEH: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Elohimku yang kupercayai, sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk. Dengan kepakNya ia akan melindungi engkau, dibawah sayapNya engkau akan berlindung, kesetiaannya ialah perisai dan pagar tembok.”

Sampai disini gadis itu mengatupkan matanya. Sambil tetap menumpangkan tanganku di atas kepalanya saya berkata, “Saya perintahkan engkau, hai roh jahat, di dalam nama Yahweh Yeshua Ha Mashiah keluar dari gadis ini.”

Mendengar ini gadis itu berteriak-teriak, “Lepaskan saya! Saya sedang terbakar!” [teriakan roh jahat yang ada pada gadis tersebut]

Saya berkata, “Lebih baik bagimu kalau engkau terbakar daripada membiarkan si-jahat itu membakarmu.”

Kemudian roh jahat itu berkata dan suaranya berbeda dengan suara gadis itu yang lebih halus, “Aku akan pergi, Lepaskan aku. Aku tidak akan kembali.”

Gadis itu jatuh kelantai sewaktu roh jahat itu meninggalkannya dan ia terbujur disana tidak bergerak-gerak, badannya menjadi lemas. Setelah 10 menit Patricia membantunya berdiri. Ia membuka matanya dan meminta air minum. Setelah minum, saya memintanya datang duduk disampingku lagi. Kali ini ia membaringkan kepalanya di lututku dan berkata, “Tolong doakan saya lebih banyak lagi. Saya merasa lebih ringan sekarang.”

Saya memintanya mengulangi doa ini, “Terima kasih Tuhan [Elohim] karena saya telah dibebaskan dan sekarang saya menyerahkan hidupku padaMu. Ambillah dan pakailah saya seturut kehendakMu serta berilah saya kekuatan untuk mengiringMu dan tetap setia.”

Kami duduk sampai jam 7 malam ketika makin banyak lagi perawat datang ke ruangan itu. Mereka diberitahu tentang apa yang telah terjadi dan mereka mulai mengutarakan masalah-masalahnya masing-masing, meminta saya mendoakan mereka. Seorang dari antaranya akan menempuh ujian yang ditakutinya. Yang lain mengalami kesulitan dibangsal rumah sakit. Yang ketiga orang-orang tuanya di rumah sedang sakit. Jadi saya berdoa untuk mereka.

Harus ku katakan bahwa selama sore dan malam yang panjang ini kami telah makan siang dan minum teh di ruangan itu. Hari itu penuh dengan kegiatan dan ingatan kami rasanya bertambah – dengan cita-rasa lobak cina, potongan-potongan daging sapi, chapatti dan pisang yang kami makan.

Ketika tiba waktu pulang, Patricia dan saya menggunakan rickshaw kembali ke Akhtar Colony dimana saya menumpang bersama seorang kawan lain. Saya memiliki foto kedua bersaudari yang cantik itu untuk dikenangkan. Mereka benar-benar gadis-gadis yang cantik dan kini mereka bersaksi bagi Yeshua dirumah sakit itu.

Tuhan [Elohim] telah memakai saya dalam menyembuhkan situasi-situasi dimana orang-orang saling bertengkar satu sama lain. Saya mengira bahwa saya telah sangat salah mengerti terhadap diriku sendiri sehingga saya dapat merasakan apakah suatu nyala api dapat disuluti dengan satu perkataan yang benar atau suatu pikiran dengki.

Karena tidak ada satu gereja yang menopangku maka kami menyerahkan kepada Tuhan [Elohim] untuk memenuhi semua kebutuhan kami. Kadang-kadang kami bangun di pagi hari tanpa ada makanan sama sekali di rumah. Namun ada hari-hari dimana kami semua memutuskan sebagian karena memang perlu, bahwa hari itu adalah hari puasa.

Pada keadaan-keadaan ini kami makin dekat kepada Elohim. Dialah Bapa Kami. Dia mengetahui apa yang terbaik dan Dia tidak pernah mengecewakan kita, hanyalah selama suatu waktu menguji kita.

Dalam kemiskinanku, orang-orang ditarik ke padaku. Orang-orang datang, berjalan berkilo-kilometer tanpa ongkos bus untuk pulang dan kami sadari bahwa kami masing-masing memberikan dari kekurangan kami. Mereka datang meminta bantuan rohani tapi bagaimana kami dapat membiarkannya pergi tanpa memenuhi kebutuhan fisiknya juga. “Kamu menerima dengan cuma-cuma, berilah juga dengan cuma-cuma.”

Saya dipanggil ke sisi pembaringan seorang pria yang telah datang dari Inggris yang diserang penyakit Disentri amuba serta ada pembengkakan (Cyst). Kejadiannya dibulan Januari 1981. Saya berdoa untuknya dan menumpangkan tanganku padanya dan ia disembuhkan. Hasilnya ialah saya diundang ke Inggris dan Kanada memberitakan Injil kepada kelompok-kelompok orang-orang Asia dan Inggris.

Yang paling ditakuti bibiku dulu ketika untuk pertama kalinya saya memberi kesaksian tentang penyembuhanku oleh Yeshua ialah bahwa saya harus pergi ke Inggris. Nah…..inilah saya, mengenangkan kembali seluruh perjalanan yang telah di pimpin oleh Bapaku disurga bagiku untuk menjalani sejak pertama kali saya percaya padaNya.

Saya dapat melihat bahwa perjalanan ibadah haji yang saya laksanakan bersama ayahku merupakan awal kerinduan jiwaku untuk mengenal Elohim. Proses ini menimbulkan harapan, yang walaupun masih mengecewakan waktu di Mekkah, telah memberikan dorongan dalam diriku terutama sesudah kematian ayahku untuk mencari Elohim dalam suatu dorongan perasaan yang kuat dan mendesak serta nekad. Saya menadahkan tanganku memohon kepada Yeshua si Penyembuh – tanpa mengetahui apa-apa tentang Dia, kecuali sedikit yang saya baca di dalam Al Qur-an – dan saya disembuhkanNya. Sekarang, saya adalah seoran saksi tentang Kuasa Elohim untuk mecapai saudara-saudaraku dan orang-orang yang tersembunyi di belakang kerudung Islam. Kerudung itu dapat dikoyakkan sehingga meraka dapat memandang Yeshua, mendengarkanNya dan mencintaiNya. Sekarang ini saya tidak memerlukan lagi ke lima rukun Islam untuk menopang Imanku. “Kesaksian” ku ialah untuk Yeshua, yang disalibkan, mati dan dikuburkan kemudian bangkit dari antara orang mati kedalam Hidup Yang Kekal dan kini hidup di dalam UmatNya.

Sembayang (Namas)ku tidak lagi kepada satu ilah yang tidak dapat saya kenal tetapi kepada Satu ceriteraNya dapat saya baca didalam FirmanNya sendiri, Alkitab hartaku yang paling berharga, yang ditulis didalam loh hati dan pikiranku, sebagaimana dulunya Al Qur-an bagiku.

Persembahan (Zakat)ku tidak lagi merupakan sesuatu bagian melainkan adalah seluruh pendapatanku, karena segala sesuatu yang saya miliki adalah milik Elohim. Kekayaanku disimpan di atas di surga. Puasaku tidak saya lakukan pada bulan Ramadhan untuk mendamaikan hatiku dengan Elohim sehingga saya mungkin mendapatkan keyakinan untuk ke Surga, namun saya lakukan dengan sukacita sehingga saya lebih dapat mengenalNya.

Ibadah Haji-ku ialah perjalanan sepanjang hidup ini. Tiap hari membawa saya makin dekat kepada tujuan – untuk bersama Yeshua, Raja Surgawi-ku selamanya. Darah sapi, domba atau kambing tidak akan pernah dapat menghapuskan dosa, tapi kita dapat masuk ke dalam tempat Yang Maha Kudus dan diterima secara sempurna melalui satu jalan dan hidup yang baru, “Melalui Kerudung itu” ialah: DagingNya. Karena Pribadi ini (Yeshua) ketika Ia Membawakan Satu Pengorbanan bagi dosa untuk selama-lamanya, duduk di sebelah kanan Elohim Bapa (Ibrani 10:12).

Itulah YESHUA, ANAK DOMBA ELOHIM, NABI dan IMAM, RAJA segala RAJA, Tuhanku dan Elohimku.
TAMAT.

Gulshan Esther (Fatimah); Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2 ;
Bg. 3 ; Bg. 4 ; Bg. 5 ; Bg.6 ; Bg. 7 ; Bg. 8

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

1 Komentar

  1. amazing Elohim!!


Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s