Dahulu Saya Mati Tapi Sekarang Saya Hidup!

[Kemiskinan dan guru Sekolah Minggu, Mabuk sebagai pelarian, koma dan mati, dibangkitkan Yeshua, mencari bekas guru SM;  Panggilan bertobat]

Ini adalah bagian dari sebuah buku kesaksian Anak-anak Ismail, kesaksian yang mengharukan dan luar biasa indahnya.

Saya anak ketujuh dari empat belas. Kami tinggal di salah satu lokasi orang miskin yang padat penduduk, di mana Muslim dan Kristen hidup bersama. Saya dibesarkan di sebuah keluarga Muslim. Ayah saya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan. Dia bekerja siang dan malam untuk mencari nafkah bagi kami. Kami anak laki-laki sering menghabiskan sebagian besar waktu kami nongkrong di jalanan. Kelaparan akan memotivasi kami, dalam banyak kasus, mencuri beberapa potong roti atau beberapa botol susu yang telah didistribusikan di pagi hari di depan toko-toko yang belum dibuka.

Sebagai seorang anak, saya tidak menyukai pendidikan. Belum lama, saya dikeluarkan dari sekolah. Saya masih ingat betul akan wanita Kristen yang saleh yang sering mengumpulkan anak-anak dari jalanan memberi mereka pelajaran Sekolah Minggu. Dia sering mengajar kami tentang kasih Yeshua Ha Mashiah kepada semua orang, memutarkan film rohani dan membacakan beberapa bagian dari Alkitab. Pada akhir pertemuan, dia akan memberi kita permen dan minuman. Dia memperlakukan kami sangat baik dan lembut, sehingga, kita akan merasa malu pada diri kami sendiri bila kami melakukan sesuatu yang tidak patut di depan wanita tersebut!

Tidak ada kegiatan-kegiatan untuk anak-anak yang disediakan oleh lembaga-lembaga kebudayaan atau klub, hanya dari wanita yang penuh kasih tersebut. Sebagai anak laki-laki, saya menikmati festival Kristen pada hari Natal dan Paskah. Mereka kegiatan-kegiatan yang menyenangkan bagi saya.
Saya berhenti sekolah, setelah dikeluarkan. Saya mulai bekerja sebagai buruh di pelabuhan dan beberapa tempat lainnya. Namun, saya hidup di dalam kekosongan yang besar. Kekosongan yang mengerikan. Saya kesepian tanpa teman atau pendamping untuk perduli akan diruku. Saya dibesarkan dalam keluarga dengan salah satu prinsip – cinta uang. Saya materialistis. Saya diperbudak oleh uang.

Dikeluarkan dari sekolah memiliki pengaruh negatif pada saya. Saya mencari perlindungan pada alkohol untuk melupakan masalah saya. Saya mencoba mencari pemecahan di perjudian dan minuman. Saya melihat kehidupan dalam bersenang-senang dan mengumpulkan uang. Saudara-saudaraku bergabung dengan bisnis dan mulai membuat banyak. Saya iri dan saya memutuskan juga untuk memulai bisnis sendiri. Saya berhasil membuka sebuah toko kecil dan

uang mengalir ke kantong saya tapi tidak ada kedamaian atau ketenangan!

Saya tidak memiliki kedamaian batin. Saya selalu merasa kekosongan yang mematikan. Ini berlangsung selama enam tahun. Masalah keluarga mulai muncul. Saudara-saudara saya memiliki masalah perkawinan, ayah saya menjadi tua, dan ibu saya jatuh sakit. Semua masalah terjatuh di atas pundak saya. Pada tahun 1982, hutang-hutang menghantui saya. Semua tekanan yang terus menerus dari berbagai masalah menyebabkan depresi berat. Akhirnya tahun 1986 saya hancur.

Melihat kembali kehidupan saya sebelum runtuh, saya adalah seorang pecandu alkohol. Antara 1982 dan 1984, saya minum kebanyakan dan dengan kepanikan. Pada tahun 1984, saya pergi ke Perancis untuk mendapatkan perawatan bagi masalah-masalah psikologis yang parah. Saya dirawat selama satu bulan lalu saya pulang ke rumah. Saya terkejut menemukan bahwa toko dan bisnis yang telah saya dirikan sudah hancur total.

Pada bulan Agustus 1986, saya mulai merasakan kesakitan di perut saya dan bagian-bagian lainnya di tubuh saya. Saya di rumah sakitkan dalam keadaan koma. Saya berada dalam kondisi serius. Mekanisme dalam tubuh saya hampir berhenti. Selama 17 hari, teman-teman dan kerabat mengunjungi saya di rumah sakit. Mereka mengharapkan saya segera mati. Salah satunya adalah seorang pendeta Kristen. Saya masih ingat akan dia untuk kasih dan kerendahan hatinya. Beberapa teman Kristen yang lain juga mengunjungi saya dan berdoa untuk saya.

Pada saat ini, para perawat melakukan mogok kerja di rumah sakit dimana saya dirawat, dan mereka harus menyingkirkan pasien yang tidak sakit parah. Saya, bagaimanapun, harus tetap di rumah sakit. Setelah 17 hari perawatan medis, saya menjadi histeris. Saya melompat dari tempat tidur saya dan menyerang semua orang di sekitar saya, dan saya memotong tabung oksigen; segera, saya kehilangan kesadaran. Para dokter berpikir bahwa kematianku tiba. Para dokter memeriksa saya dan setelah satu jam, mereka memutuskan bahwa saya sudah mati! Mereka menelepon keluarga saya untuk datang dalam rangka untuk mengeluarkan surat kematian saya. Sementara saya berada dalam kondisi itu, saya melihat sebuah cahaya yang kuat menyentuh saya, dan saya mendengar suara tiga kali berkata, “Berdirilah” Saya melihat pribadi Yeshua Ha Mashiah. Dia nampak kepada saya melalui terang yang besar.

Keluarga saya membawa peti mati untuk mengambil mayat saya dari rumah sakit. Namun, setelah Yeshua menampakkan diri kepada saya, saya dikembalikan kepada kehidupan dan saya sembuh. Ketika dokter datang kepada saya dan melihat saya, mereka terkejut. Mereka menulis sebuah laporan medis dan menggambarkan kasus saya sebagai “aneh, sangat langka, kasus tak bisa dijelaskan!!!” Saya yakin itu adalah Yeshua Ha Mashiah yang telah membawa saya kembali kepada kehidupan. Dia berkata, “Aku jalan dan kebenaran dan hidup” (Yohanes 14:6)
Saya meninggalkan rumah sakit dalam kondisi lemah, tapi saya lahir baru, karena saya telah percaya pada Yeshua Ha Mashiah sebagai Juruselamat saya. Saya berkata kepada-Nya, “Yahweh, jika Engkau ingin memberikan saya kehidupan, biarlah itu untuk kemuliaan nama-Mu.” Saya menjadi, sekali lagi, kekanak-kanakan.. Saya mulai melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang baru. Saya ingin ada bersama saudara-saudara Kristen. Ketika saya berjalan di jalan, orang-orang menunjuk pada saya dan berkata, “Dahulu dia mati tetapi sekarang dia hidup.”

Bahkan, Yahweh Yeshua telah mengubah hidup saya. Suatu hari, saya sedang berjalan dan saya melewati sebuah toko buku. Setelah ragu-ragu, saya mengetuk. Seorang wanita lembut membuka pintu dan menyambut saya masuk antara buku-buku lain, saya melihat sebuah Alkitab. Saya ingat wanita Kristen yang sering mengajar kami di Kelas Sekolah Minggu ketika saya masih kecil. Saya pikir wanita ini mungkin tahu sesuatu tentang dia, jadi saya bertanya padanya. Dia berkata, “Tentu saja saya kenal dia, dia ada di sebuah rumah rawat para manula, tapi mungkin dia sudah mati sekarang.”

Saya memutuskan untuk mengunjungi dia keesokan harinya. Saya memasuki rumah itu dan melihat seorang wanita tidur di kursi. Saya teringat lagu sekolah Minggu, dan saya mulai bernyanyi. Dia membuka mata dan bertanya, “Siapakah kamu?” Kataku, “Saya Sayed. Apakah Anda ingat saya? Itu adalah 35 tahun yang lalu.” Saya bercerita padanya hidup saya dan bagaimana saya menjadi seorang Kristen. Dia berkata, “Bagus, tapi hati-hati, Sayed. Setialah dalam hidupmu kepada Yahweh!

Saya mulai perjalananku dengan menempatkan imanku dalam Yeshua Ha Mashiah. Saya mulai membaca Alkitab dan mengalami hidup nyata dengan Yahweh. Saya sangat haus. Saya sering membaca Firman Hidup untuk memuaskan kehausanku. Dengan segala kelemahan dan kekurangan, saya bisa melihat Yahweh memulihkan saya. Itu adalah Yahweh yang memberi kita janji, Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20). Dia juga berkata: Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yohanes 8:12.)
Pengalaman bersekutu dengan Elohim sangatlah indah. Setiap kali saya mencari Yahweh, saya mendapatkan kedamaian batin yang tak terbayangkan mengisi manusia rohku. Saya benar-benar dapat mengidentifikasi itu dengan ayah yang mengatakan tentang anak yang hilang itu, Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Lukas 15:32) Jadi mereka mulai membuat pesta. Dahulu saya mati, tetapi sekarang saya hidup; Dahuku saya hilang, tetapi sekarang saya ditemukan.

Petunjuk Penting
Saudara-saudara dan saudari-saudari yang kami kasihi,

Apa yang baru saja Anda baca bukanlah tenuan dongeng imajinasi kami. Ini adalah kenyataan. Kami hidup dalam fakta-fakta ini; ini adalah hidup kami. Kami tidak berbicara tentang seorang Mashiah yang kami tidak tahu, tapi kami telah berbicara tentang apa yang telah kami lihat dengan mata kami sendiri … telah menyentuh dengan tangan kami … disadari oleh pikiran kami… dipahami oleh hati kami.

Karena kami hidup di negara yang tidak memberikan kebebasan percaya dalam Yahweh dan Juruselamat kami Yeshua Ha Mashiah, kami tidak dapat mempublikasikan nama-nama kami, alamat dan foto-foto. Namun, biarlah semua orang tahu bahwa di negara-negara yang menghujat Ha Mashiah dengan menolak untuk mengakui Dia sebagai Yahweh dan Elohim, ribuan lutut akan bertelut, menyembah dan hidup bagi Yeshua Ha Mashiah.

Iman dalam Yeshua Ha Mashiah sebagai Yahweh dan Juruselamat tidaklah tidak mungkin tidak juga sesulit yang Anda dapat bayangkan. Anda hanya perlu:
• Percaya bahwa Yeshua Ha Mashiah adalah Yahweh dan Juruselamat karena Dia adalah satu-satunya Jalan, Kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorang pun kecuali Dia dan tidak ada Elohim yang lain.
• Bertobatlah dari semua dosa, egoisme Anda dan semua hal-hal yang menghalangi kedewasaan perjalanan hidupmu.
• Buatlah keputusan untuk hidup sepenuhnya bagi Dia, ijinkan Dia untuk menyucikan kamu dengan memperbaharui niat hati dan perilaku Anda. Dia akan menjadikan engkau suatu cahaya dalam kegelapan, dan Anda akan menjadi garam dunia.

Saudara dan saudariku yang terkasih, saya ingin Anda mengetahui bahwa Yahweh dan Juruselamat kami Yeshua Ha Mashiah tidak memaksa kami untuk mengikuti Dia sebagai budak. Dia tidak ingin kami untuk mewartakan iman kami di lapangan-lapangan terbuka atau pada sudut-sudut jalan. Dia tidak ingin kami berpuasa untuk mengubah wajah kami agar diketahui semua orang sebagai orang yang sedang berpuasa. Yahweh dan Juruselamat kami Yeshua Ha Mashiah menentang segala macam kesombongan, penipuan, tingkah laku palsu atau kemunafikan. Dia adalah Elohim yang melihat rahasia keinginan hati dan batin realitas sejati Anda. Dia meminta agar iman Anda berasal dari hati serta puasa dan doa Anda dilakukan secara diam-diam. Hubungan Anda dengan Dia adalah persekutuan pribadi, dan jauh dari sekedar sebuah moto palsu yang hampa.

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?  (Mat 16:26)

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. (Mat 7:7)

Anak-anak Ismail:

  1. Pendahuluan
  2. Dibelakang Kerudung
  3. Diberkatilah Bangsa Mesirku
  4. Dari Tanahair Mashiah Anak-anak Ismail Akan Kembali
  5. Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid
  6. Orang-orang Pilihan Mashiah
  7. Dari Kristen nominal Ke Islam dan Kemudian Ke Mashiah
  8. Begitulah Saya Mengenal Elohim; Ex-Jihadest  Pt.1 Pt.2
  9. Dahulu Aku Mati Tetapi Sekarang Aku Hidup
  10. Instruksi-instruksi Penting

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Begitulah Saya Mengenal Elohim; Ex-Jihadist. Pt.2

Sambungan dari Bab 8  Ex-Jihadist Pt.1

[Pergumulan batin ajaran jihad vs kasih, dibawa kepengadilan, Yeshua datang ke kamarnya, dianggap gila, menuai ‘buah kehidupan lama’, penampakan Yeshua yang kedua, berdamai dengan semua ‘musuh’-nya, semuanya indah, mengajari para Muslim teladan Ha Mashiah]

Saya merasa Elohim mengililingi saya dengan bukti-bukti dan saya tidak punya cara untuk menolak panggilan Ha Mashiah atas diriku untuk mengikuti Dia. Saya bahkan menemukan banyak referensi kematian Ha Mashiah. Saya membaca tafsir Ibnu Kathir tentang Surah 4:157 dan ayat-ayat lainnya dari Surah 3 yang berbicara tentang kematian Ha Mashiah. Sebenarnya, orang-orang yang berbeda pendapat, bukan pada kematian Ha Mashiah, tetapi pada berapa lama Ia mati. Interpretasi bervariasi antara 3 jam, satu hari dan dua hari. Ini membuktikan kematian Ha Mashiah.

Saya semakin marah dan frustasi karena saya ingin menemukan apa pun untuk menolak keyakinan Kristen. Saya telah bangga pada agamaku dan saya sendiri, dan saya benci orang Kristen. Sementara itu, saya tidak punya pilihan selain menyesuaikan diri dengan situasi baru, tapi bagaimana?

Saya tidak pernah berhenti membaca Alkitab. Ini menjadi teman saya. Semakin saya membaca, semakin saya mencicipi manisnya. Suatu kali saat membaca, saya tertegun oleh ayat-ayat berikut, “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. (Mat. 6:5-6)
Saya kagum bagaimana Alkitab mencatat, dua ribu tahun yang lalu, hal-hal yang terjadi di saat ini. Saya ingat saat saat saya biasa menempatkan sesuatu yang keras di bawah dahi saya ketika saya berlutut dalam berdoa untuk membual ’tanda doa’-ku. Saya biasa membual tentang puasa saya dan ibadah. Saya bahkan mengenakan pakaian tertentu untuk menunjukkan bahwa saya adalah orang beragama.

Saya mencari masalah kematian dan penyaliban Ha Mashiah, dan apakah Ha Mashiah benar-benar mati. Saya mengamati semua buku-buku Kristen dan referensi yang berurusan dengan ‘Kurban Kematian Ha Mashiah’. Akhirnya, pikiran saya hampir yakin akan keilahian dan penyaliban Ha Mashiah. Beberapa orang mungkin berpikir bahwa saya senang dengan temuan saya. Sebaliknya, saya begitu marah, frustrasi dan tegang. Saya berharap Elohim membunuh saya sebelum saya menemukan bahwa saya telah hidup sepanjang hidupku dengan keyakinan palsu. Sangat sulit bagiku untuk mengetahui bahwa orang-orang menjijikkan, kotor Kristen benar dan saya yang salah.

Saya tak bisa tidur sekejap pun. Saya menjelajahi jalan-jalan berbicara sendiri. Pikiran merobek-robek; keraguan menguncang saya setiap kali saya mulai berdoa. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya meminta teman-temanku untuk mengurangi kunjungan mereka kepadaku. Saya menciptakan alasan bahwa saya berada di bawah pengawasan polisi. Secara bertahap, saya semakin jauh dari seluruh kelompok. Saya akan merasa mengantuk setiap kali saya mengafal Kuran sehari-hari seperti biasa. Di sisi lain, saya tidak bisa membaca Alkitab dengan cukup. Saya sangat dekat dengan Kitab itu. Suatu hari, Emir mengunjungi saya dan menemukan bahwa saya belum membuat kemajuan memadai dalam penelitian saya. Dia berkata padaku, “Ini kehendak Allah! Berikan Alkitab itu kepada kami dan kami akan menemukan orang lain untuk melakukan pekerjaan itu ganti kamu. Tampaknya kamu tidak cocok untuk tugas seperti itu.”

Saya seharusnya bahagia karena itulah yang saya inginkan pada awalnya, tetapi hal-hal telah berbeda. Saya meminta kepadanya untuk memberikan saya satu bulan lagi karena saya telah berhasil menemukan beberapa petunjuk penting. Sebenarnya saya tidak ingin kehilangan izin untuk membaca Alkitab, dan memiliki Kitab itu sendiri. Emir setuju. Saya tidak tahu mengapa saya melakukannya. Saya bisa saja setuju untuk memberikan Alkitab kembali dan menyelamatkan diri dari semua tekanan dan masa depan yang belum diketahui sedang menuju kemana. Setiap kali saya bersiap-siap untuk berdoa, saya mendengar suara batin saya bertanya, “Bagaimana kamu dapat berdoa kepada sebuah ilah yang kamu tidak yakin ada?” Itu membuat saya menangis.

Suatu waktu, saya menolak suara batin itu dan mulai membaca Kuran. Saya tiba di sebuah ayat yang menarik perhatian saya: Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang lalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri”. (S. 29:46)

Saya ingin belajar ayat ini lebih mendalam, jadi saya merefer ke komentar-komentar yang ditulis oleh Ibnu Kathir, Kortobi dan Zamakhshary. Hal pertama yang saya temukan adalah bahwa mereka semua sepakat bahwa ayat ini telah dihapus oleh ayat terkenal, ayat ‘Pedang’ pada Surah 9. Pembatalan hanyalah sebagian dari masalah. Saya menyadari bahwa ayat ini menyatakan bahwa Elohim kita dan Elohim Ahli Kitab itu adalah satu dan sama. Saya tak bisa melanjutkan; pikiran saya berhenti! Elohim Muslim, Allah,  telah mencabut semua kebaikan sebelumnya terhadap non-Muslim dan menggantinya dengan pembunuhan, penyiksaan dan Pelukaan. Dia bahkan membuat kita, para Muslim, instrumen penyiksaan-Nya: Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka (S. 9:14)

Di dalam Kuran, ada lebih dari 27 ayat berbicara tentang fakta bahwa muslim diwajibkan untuk memerangi non-Muslim. Sementara itu, Elohim orang Kristen mengatakan,
“Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. (Luk 6:27-28)
Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. (Mat 5:39-41)

Saya mulai membandingkan ayat-ayat ini untuk apa Kuran mengatakan:
Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. (S. 2:194)
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu (S. 8:60)
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, (S. 48:29)

Mustahil Putih dan Hitam akan menjadi salah, atau baik dan jahat akan menjadi salah satu, atau Siang dan Malam akan menjadi satu! Salah satu harus jelas unik. Jadi, harus ada hanya satu Elohim. Saya yakin menemukan Elohim tersebut, karena saya mencintai-Nya. Tidak ada orang yang akan mencegah saya dari percaya kepada Satu Elohim Yang Benar, bahkan jika Dia adalah elohim orang-orang Yahudi!

Dalam pikiran saya, saya berbicara kepada Elohim, “Oh, Elohim, saya membutuhkan bantuan Engkau. Janganlah tinggalkan saya karena saya sekarang bingung. Saya tidak tahu di mana Engkau berada. Jika saya telah tersesat, itu bukanlah dengan sengaja. Engkau tahu betapa saya mengasihi Engkau, dan betapa saya telah menderita demi Engkau. Oh, Elohim, jika Engkau menghukum saya untuk dosa-dosa yang telah saya lakukan, saya minta maaf. Engkau adalah satu-satunya Elohim dan saya ini hamba-Mu, yang menaati perintah-perintah-Mu. Saya mengaku dosa-dosaku dan bertobat. Harap jangan terlalu keras pada hukuman-Mu.”

Pikiran-pikiran tertentu membuat saya merinding dari kekaguman dan ketakutan. Saya berpikir bahwa Kuran dan Alkitab tidak bisa keduanya ialah Firman Elohim. Salah satu harus membatalkan yang lain. Saya jadi panik ketika pikiran ini terlintas di benakku. Setiap kali saya mendengar suara aneh, saya berpikir bahwa Allah akan menghancurkan rumahku dan membuatnya jatuh di atas kepalaku karena sikap saya terhadap Kuran. Hidupku menjadi tak tertahankan! Itu bahkan lebih berat daripada saat saya terpenjara dan disiksa.

Segera, perasaan ini reda dan saya memutuskan untuk mempelajari lagi Kuran untuk meninjau setiap aspek yang mungkin dan untuk mengevaluasi ayat secara objektif: Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (S. 4:82)

Sebagai sebuah fakta, saya telah tidak objektif. Saya ingin menemukan sesuatu dalam Kuran untuk memimpin saya untuk percaya bahwa itu bukan dari Allah. Saya telah kepahitan yang mendalam terhadap orang-orang Kristen. Saya akan menerima apa pun kecuali untuk menjadi seorang Kristen. Kata ‘Kristen’ memprovokasi saya, dan membangkitkan dalam diriku keinginan yang kuat dari agresi dan balas dendam terhadap apapun yang berhubungan dengan orang Kristen. Saya tidak tahu mengapa saya merasa seperti ini, mungkin, itu adalah karena saya dibesarkan dalam keluarga yang ketat yang mengasihi Islam dan membenci Kristen, dengan asumsi yang kedua [, Kristen,] adalah kafir. Orangtua kami biasa memperingatkan kami untuk tidak bermain dengan anak-anak Kristen karena mereka pengkhianat, dan tidak memakan makanan mereka karena mereka dapat meracuni kita. Kami dibesarkan untuk berpikir bahwa orang Kristen tidak mimiliki Elohim, tidak memiliki iman  dan tidak dapat dipercaya.

Saya mulai mempelajari Kuran secara mendalam dan saya menemukan hal-hal menakjubkan yang belum pernah saya perhatikan sebelumnya. Saya akhirnya menyelesaikan penelitian saya dan menberikan judul padanya, “Apakah Kuran Firman Elohim?” Itu butuh waktu sekitar enam bulan untuk menyelesaikannya.

Suatu hari, Emir mengunjungi saya dengan sebuah kunjungan tak terduga. Saya berada di kamar kecil ketika ia datang. Ibuku membiarkan dia masuk ke kamar saya karena dia telah dikenal oleh keluargaku, karena kami telah ada di penjara bersama-sama. Emir melihat kertas-kertas yang tersebar di seluruh ruangan dan berpikir bahwa saya telah menyelesaikan sebagian besar tugas saya. Saya mendengar dia berkata, “Allah memberkati kamu! Kamulah orangnya! Saya telah benar; kamu satu-satunya yang bisa melakukannya!” Saya berpikir dalam hatiku, “Kamu tidak tahu apa yang ada di kertas-kertas ini!”

Beberapa saat kemudian, saya datang untuk menemuinya. Wajahnya merah dan ia tampak terperangah. Dia meraih kerah bajuku dengan kedua tanganya dan mengangkatku dan berteriak di wajahku, “Apa ini? Apakah kamu yang menulis itu? Itu pastilah bukan kamu? Siapa yang telah menyesatkan kamu? Siapa yang telah menipumu? Siapa yang telah menggoda kamu untuk menjual agama kamu?”

Saya berkata kepadanya, “Jika ada kecurangan, itu tentunya milikmu, jika ada godaan, itu tentunya dari kamu, apabila saya telah melakukan dosa, itu tentunya akan ada di kepala kamu! Kaulah yang telah mendorong saya untuk semua ini. Saya telah ingin dibebaskan dari penelitian ini dan kamu menolaknya. Kamu tahu betapa saya telah membenci Kristianiti dan orang Kristen, tetapi kamu bersikeras untuk saya membaca buku-buku mereka. Saya bersumpah kepada kamu, saya telah berkehendak bahwa semua yang saya tahu itu tidak benar. Kamu dan saya telah berbagi masa paling sulit dalam hidup kita, bukankah begitu?” Dia berkata, “Ya.” Saya berkata, “Apakah kamu melihat sesuatu yang tidak biasa?” Dia berkata, “Tidak.” Kataku, “Maaf, itu diluar jangkauan tanganku. Ini bukan hanya soal informasi; itu hatiku, dimana saya tidak punya kuasa. Saya berharap kamu telah membaca apa yang saya telah baca dan telah mempelajari apa yang saya telah pelajari!”

Dia ngamuk dan ingin merobek semua kertas saya (Keilahian Ha Mashiah, Kuran bukan Firman Elohim, dan lain-lain). Kami memiliki sebuah argumen yang besar yang membuat ibuku datang ke kamar. Sebelum meninggalkan rumahku, Emir mengatakan kepada saya, “Sekarang kami tahu apa yang salah dengan kamu, tapi saya punya permintaan jika kamu ingin tetap hidup.” Kataku, “Apa itu?” Dia berkata, “Jangan pernah kamu cerita kepada kelompokmu tentang racun ini yang kamu sedang tulis. Saya akan memberitahu mereka bahwa kamu telah murtad, tapi saya tidak akan memberi mereka alasan apapun. Jika kamu mengatakan kepada mereka hal lain, kamu tahu yang terbaik apa yang akan terjadi pada dirimu.”

Saya berkata kepadanya, “Apa yang kamu tidak tahu adalah bahwa hal-hal telah berubah, waktu telah berubah. Kamu tahu yang terbaik bahwa saya tidak dapat diancam karena kamu tidak dapat melaksanakan apapun ancaman-ancamanmu. Untuk informasi kamu, saya setia kepada saudara-saudara saya ketika saya meminta mereka untuk tidak mengunjungi saya. Saya tidak bisa terus mengajar mereka sesuatu saya tidak yakin benar. Saya mendorong mereka pergi karena saya perduli kepada mereka. Saya yakinkan kamu, Saya mengasihi Allah, dan saya berdoa agar Dia akan membawa saya kembali jika saya sesat.”

Saya menangis dengan bercucuran air mata saat saya teringat kenangan indah kami, kehidupan kami bersama-sama di penjara dan bagaimana kami menghadapi kesulitan bersama-sama. Sejujurnya, terlalu banyak bagi saya untuk menghadapi ini. Tapi jika ini adalah kehendak Elohim, selamat tinggal untuk semua kenangan manis, terpisah dari Dia dan selamat datang untuk semua duri pada sisi-Nya.

Kelompok saya mulai memutuskan semua hubungan dengan saya. Anggota-anggotanya menghindari saya, dan bahkan tidak menyapa saya di jalan. Saya langsung tahu bahwa saya telah dicap kafir. Mereka mengambil kembali uang yang biasa diberikan kepada saya dari kelompok ‘Rumah Perbendaharaan’ untuk biaya pribadi saya. Mereka berpikir bahwa itu akan menghentikan saya dan memaksa saya kembali ke kelompok. Mereka tidak pernah mengerti saya.

Emir dan saya, bersama-sama dengan beberapa orang lain, memiliki sebuah perusahaan investasi. Kami menggunakan sejumlah besar uang yang kita bawa dari luar negeri untuk membeli dan menjual pakaian. Saya adalah manajer resmi yang menandatangani cek. Saya secara hukum bertanggung jawab untuk bisnis itu. Ketika saya menolak untuk bertobat, mereka tidak membayar bagian saya dan membawa saya ke pengadilan. Mereka mengharapkan saya untuk meminta maaf dan bertobat untuk ketidaksetiaan saya. Di gedung pengadilan, Emir datang padaku dan berbisik, “Kita bisa membatalkan tuntutan jika kamu menyesal dan bertobat kepada Allah, dan bercerita kepada kami siapa yang telah menyesatkan kamu.” Saya tidak menjawab.

Pengadilan menghukum saya untuk membayar uang itu kembali dalam bentuk angsuran bulanan sebesar 160 Pounds Mesir. Ini merupakan pukulan bagi mereka karena [sesungguhnya] mereka ingin melihat saya masuk penjara. Saya bersyukur kepada Elohim bahwa persidangan tersebut berjalan lancar, tapi saya berbicara kepada Elohim dengan kepahitan, dengan cara yang marah: “Oh, Elohim, mengapa Engkau melakukan ini padaku? Mengapa saya harus menderita? Sejak saya kecil, saya telah menderita dan bergumul. Saya tidak memiliki banyak teman karena mereka tidak percaya pada Engkau. Saya kehilangan kasih keluargaku karena mereka tidak menerima Engkau. Saya kehilangan studi-studiku karena mereka berdiri di antara Engkau dan saya. Sekarang, saya tidak tahu penderitaan apa yang ada tersedia untuk saya. Harap kasihanilah saya. Saya lemah dan tak berdaya. Janganalah tinggalkan saya pada gelombang-gelombang yang melemparkan saya pada laut yang kasar ini. Saya tidak tahu ke mana harus pergi. Katakan padaku di mana Engkau berada. Apakah Anda Elohim orang Kristen? Elohimnya Musa? Elohimnya Muhammad? Jika Engkau adalah Elohimnya Muhammad, mengapa Engkau meninggalkan saya untuk menderita dan meragukan Engkau? Saya memohon, Elohim, janganlah tinggalkan saya sendirian. Saya berjanji akan mengikuti Engkau dimanapun Engkau berada. Saya tidak takut kepada siapapun, tetapi kepada Engkau, dan Engkau tahu itu dengan baik sekali.”

Tiba-tiba, kereta pikiranku terganggu oleh suara ibuku meminta saya untuk memakan makananku. Saya tidak makan dengan ibuku karena saya percaya seorang muslim tidak boleh makan dengan orang kafir – dan menurut kelompokku, ibuku adalah salah satunya.

Saya kemudian datang ke sebuah hal yang sangat penting: Jika Kuran itu bukan dari Elohim, maka siapakah Muhammad boleh jadi? Dia tentunya ada sebagai nabi palsu. Tapi bagaimana saya membuktikannya? Saya tiba-tiba panik dan berpikir, “Itu tentulah tidak mungkin! Muhammad adalah nabi palsu? Bagaimana dengan mujizat-mujizatnya dan kerajaannya, dan semua orang banyak yang mengikutinya?”

Saya merasa seperti saya akan menghadapi murka dan penyiksaan Elohim. Ketika saya menjadi tenang, saya merasa sebuah keberanian yang ajaib dan sebuah kehendak yang kuat untuk memfokuskan penelitian saya tentang siapa Muhammad itu, dan apakah dia seorang nabi atau tidak. Saya menemukan bahwa klaim kenabian Mohammed didasarkan pada dua aspek: dia buta huruf tapi dia menerima Kuran, dan ia sempurna – sebelum dia menjadi seorang nabi, ia tidak pernah melakukan dosa.

Buta Aksara:
Ini benar-benar diluar dari pikiranku untuk menemukan sebuah bukti bahwa Muhammad bisa membaca dan menulis. Semua yang saya telah tahu adalah bahwa tidak mungkin bahwa Muhammad bisa membaca dan menulis. Masalah ini memotivasi saya untuk membaca sekali lagi biografi-biografi Nabi. Kenyataanya, saya telah menemukan banyak hal yang saya tidak perhatikan sebelumnya, kepada keheranan saya yang besar. Saya menemukan bahwa Muhammad biasa pergi ke tempat yang sama di mana Al-Nadr Ibn Al-Hareth, Waraka Ibn Nofal dan Ibn Sa’eda, imam terkenal. Saya juga menemukan bahwa Mohammad biasa melakukan bisnis untuk Khadijah, wanita kaya raya, bahwa ia membuat banyak kontrak dan perjanjian dengan para pedagang dari Yaman dan Suriah Raya.

Dikatakan bahwa Muhammad membawa bersamanya sebuah cap yang ia biasa pakai sebagai pengganti tanda tangan, yang berarti bahwa ia buta huruf. Tapi membawa cap itu tidak berarti bahwa ia buta huruf, sebab itu adalah hal yang umum di kalangan pedagang waktu itu untuk menulis kontrak antara pedagang dan pelanggan, dan kemudian menstempelnya untuk otorisasi, sama seperti stempel kenegaraan saat ini.

Saya menemukan bahwa, setelah perjanjian damai Al-Hudaibiya, Muhammad menulis perjanjian rekonsiliasi dengan tangannya sendiri, bahwa ia berada di bawah pengawasan pamannya Abu Taleb, dan bahwa ia lebih tua dari Ali. Ali bisa membaca dan menulis, dan itu tak terbayangkan bahwa Muhammad tidaklah belajar sedikitnya tingkat dasar membaca dan menulis.

Saya menemukan bahwa Mohammad biasa duduk dengan Yassar Al-Nusrani (orang Kristen) dan untuk mengambil darinya teks-teks Alkitab dan membacanya. Saya sadar ketika malaikat Jibril datang kepada Muhammad dan memintanya untuk membaca, itu tidaklah logis pada sisi Jibril meminta Muhammad membaca, mengetahui bahwa dia adalah buta huruf!

Jika Anda menambahkan semua hal yang disebutkan di atas apa yang saya temukan tentang keaslian kenabian Mohammad, kamu akan datang kepada kenyataan bahwa Muhammad bukanlah seorang nabi atau seorang yang benar. Kamu dapat menemukan semua rincian masalah ini dalam sebuah buku yang saya juduli Mohammad di dalam Taurat dan Alkitab.

Ketidak-mungkinan-bersalah (bebas dosa):
Ketidak-mungkinan-bersalah Muhammad, ada banyak ditulis seperti “Al-Seera Al-Halabiya,” “Al-Tabakaat Al-Kubra” dan “Seerat Ibnu Hisyam” bahkan komentar-komentar yang berhubungan dengan Surah 16: Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan (S. 16:67)

Ada banyak Hadis otentik yang menyatakan dengan jelas bahwa Muhammad biasa minum anggur / wine dan merekomendasikan teman-temannya untuk menambahi air kedalamnya jika wine itu sangat tinggi (kadar alkoholnya). Dia biasa makan dari hewan kurban yang telah dipersembahkan kepada berhala di Kabah yang ditawarkan oleh orangKuraish. Dia mengijinkan apa yang dilarang dan melarang apa yang diizinkan oleh Allah. Dia memandangi pada wanita teman-temannya, dan ia tidak pernah ragu-ragu untuk mengambil salah satu dari mereka jika ia senang pada wanita tersebut. Pada hari Kheibar, safiyya, putri Yehiah Ibn Akhtab, melalui lotre jatuh kepada Abdullah bin Umar. Tapi Muhammad mengambil wanita ini dari Abdullah dan menikahinya. Dia juga mengambil Zainab, putri Gahsh, istri Zaid (anak angkatnya), menjadikan bagian dari  salah satu para istrinya.

Semua peristiwa itu meruntuhkan setiap gambar kesucian Mohammad dan memporak-porandakan status suci yang saya biasa gambarkan ke nabi Muhammad. Untuk jujur kepada kamu, saya telah menderita setiap kali saya menemukan hal-hal seperti ini.

Dengan semua yang saya telah temukan tentang Muhammad, jujur bicara, saya masih berharap untuk menemukan kebajikan di dalam Islam untuk tetap bersandar supaya tetap tinggal sebagai seorang Muslim. Sulit bagi saya untuk meninggalkan agama masa kecilku. Setiap kali saya bermain-main dengan gagasan meninggalkan Islam, perasaan ketakutan yang aneh, kebingungan dan kekacauan akan menyerang pikiranku. Dahulu setiap kali saya membaca teks yang luar biasa dan bermakna dalam Alkitab, kebencian, permusuhan dan kekejamanku akan meningkat terhadap umat Kristen. Saya punya rekan Kristen. Setiap kali setelah saya menemukan sesuatu yang hebat dalam Alkitab, kemarahan saya menyala dan saya pergi dan menghancurkan harta miliknya untuk mengeluarkan kemarahan yang ada di dalamku. Saya membayar uang untuk orang lain berkomplot melawan dia dan mengirim pengaduan palsu terhadap dirinya kepada pihak berwenang yang tinggi. Suatu hari, saya membakar semua pakaiannya dan ia harus pulang dengan baju seragamnya.

Saya biasa berdiri di depan salah satu toko yang dimiliki oleh orang Kristen, mencegah orang-orang membeli dari dia dan menuduhnya penipu. Saya akan berkata kepada orang-orang di jalan, “Jangan membeli dari orang-orang Kristen, mereka adalah penipu licik. Mereka ingin menghancurkan Islam. Kuran berkata, ‘Mereka tidak memiliki iman.” Orang Kristen tua ini hanya berkata kepada saya: “Oh anakku, [kesalahan] apa yang sudah saya lakukan terhadap kamu? Kasihanilah, saya, saya harus mendapatkan uang untuk membesarkan anak-anak saya.”

Pada lain-lain waktu, saya akan memperingatkan teman-teman saya untuk tidak berjabat tangan dengan para Kristen, menuruti Hadis, “Jangan berjabat tangan dengan para Ahli Kitab, jangan menyapa mereka dan buat jalan mereka sempit.” Saya sering berteriak, “Mereka berbahaya , menunjukkan kasih yang palsu tetapi mereka adalah musuh dibalik selimut terhadap Allah dan para orang beriman yang sejati. Jangan tertipu oleh kerendahan palsu mereka. Allah berkata: “Mereka diliputi kehinaan dan penderitaan.”

Pada salah satu hari-hari sibuk, dipenuhi dengan semua perbuatan tersebut terhadap umat Kristen, saya merasakan sebuah firasat di dalam nuraniku. Ada suara batin mengatakan kepaku, “Jujurlah dengan diri kamu sendiri. Apakah kamu pikir semua tindakan yang demikian bisa menghapus semua yang kamu telah pelajari dari Kitab-kitab mereka? Kamu telah mengatakan bahwa kamu akan mengikuti Elohim ke mana pun itu akan menuntun kamu, lalu mengapa, kapanpun Elohim mengungkapkan kepada mu beberapa cahaya inspirasi, apakah kamu mencoba memadamkannya? Jujurlah  dengan dirimu sendiri supaya bisa mendapat hati nurani yang bersih. Periksalah motivasi-motivasi nuranimu dalam rangka untuk memiliki hati nurani yang jelas. Periksa motif batinmu. Apakah kamu benar-benar ingin Elohim? Jika sebaliknya, apa yang kamu inginkan? Itu semua terserah kamu. Itu semua ada di tanganmu dan tidak ada seorangpun yang akan memaksa kamu menjadi apapun.” [Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. (Wahyu 3:20)]
Saya pulang kerumah, dibebani dengan banyak beban. Saya mencoba untuk berdoa, tapi saya tidak bisa. Saya mulai membaca Alkitab dan mulai berdoa Doa Bapa Kami yang tertulis di dalam Injil Matius. Ketika saya membaca doa tersebut, tiba-tiba saya merasakan perasaan damai yang ajaib, kedamian dan ketenangan meliputi saya. Itu seolah-olah orang telah menuang air untuk membersihkan memoriku dari sesuatu hal. Saya berkata dari dalam hatiku yang terdalam, “Oh Elohimku, dapatkah Engkau  memberikan kedamaian, kesabaran, kasih, dan daya tahan seperti  yang orang-orang Kristen umumnya miliki jika saya berdoa persis seperti yang tertulis dalam Alkitab?”

Saya bersukacita dengan kesadaran penuh sebagaimana jika saya telah mendengar jawabannya, “Ya.” Wajahku terangkat dengan kesenangan, dan saya memutuskan untuk berdoa Doa Bapa Kami secara teratur. Sebagaimana biasa saya bangun saat fajar, waktu yang sama bagi doa-doa ritual, tetapi kali ini akan berdoa Doa Bapa. Saya juga membersihkan badan (wudhu) dan membuka karpet doa di tanah seperti biasa saya lakukan di masa lalu. Lalu saya berdiri di atasnya dan berkata:

Bapa kami yang di sorga,
Dikuduskanlah nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu,
jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah biarkan kami masuk ke dalam pencobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.
Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya.  Amin. (Matius 6:9-13)
Dan saya tutup dengan perkataan:
“Damai turun atas Mu dan rahmat Elohim,
Damai turun atas Mu dan rahkmat Elohim.”
[Ini ‘doa penutup’ cara Islam. Orang Kristen tidak berkata demikian sebab Yeshua ialah Raja Damai dan Rahmat itu sendiri, bacalah Yesaya 9:5-6]

Saya terus seperti itu untuk waktu yang cukup lama, tapi saya tidak melihat adanya perubahan dalam karakterku. Saya masih agresif dengan keluargaku dan dengan orang-orang Kristen. Jadi, saya memutuskan untuk menyingkirkan semua agama. Baik Islam aktivitas dan juga Kristianiti. Mungkin setelah berpindah ke Kristen, saya akan membaca buku lainnya, hanya untuk menemukan suatu agama lain, sebuah agama yang lebih baik setelah beberapa waktu, menghabiskan semua sisa hidupku melompat dari satu agama ke agama lainnya. Hal terbaik, pikirku, dalam kasus seperti itu adalah menjalani hidup normal seperti orang lain, seperti orang biasa. Mengapa saya harus membebani pikiranku dengan semua hal-hal agama? Biarkan saya menikmati hidup yang bebas dan ketika saya mati, biarlah Elohim melakukan apa saja yang dikehendaki terhadap saya!

Tapi itu bukanlah suatu pemecahan yang nyata. Tiba-tiba, ide datang ke pikiranku. Saya berkata kepada diriku sendiri bahwa alasan semua masalah ini dan kebingungan ialah Kitab tersebut, yaitu Taurat dan Alkitab, jadi biarkanlah saya  merubek-robeknya  menjadi potongan-potongan dan selesai dengan itu selamanya. Ketika saya berkehendak melakukannya, tapi saya merasakan suatu guncangan dalam dalam tubuhku dan suara batin berbisik dalam pikiranku, “Tinggalkan maksudmu itu. Kamu mungkin memerlukannya suatu kali kelak. Mengapa kamu ingin bebas dari Kitab sejenis itu? Kuran telah menyebabkan kamu jauh lebih banyak kesulitan. Mengapa kamu tidak ingin merobeknya menjadi potongan-potongan?”

Setiap kali saya naik mobil, saya berdoa agar mobil tersebut mengalami kecelakaan dan setiap orang di dalamnya diselamatkan kecuali saya sendiri. Saya juga berharap, dari lubuk hati saya, rumah runtuh atas kepalaku, sehingga saya sendiri yang akan mati. “Oh Elohim,” Saya berkata, “jika Engkau tidak berkehendak memberi saya bimbingan, lebih baik Engkau mengakhiri hidupku dan biarkan saya keluar dari dilemaku.”

Saya berada di tengah-tengah kekacauan pikiran yang saling bertentangan. Saat itu pukul empat sore di suatu hari musim panas bulan Juli. Saya sedang duduk sendirian, mengingat kembali, berpikir tentang asosiasi lama saya dengan Islam, Kelompok Islam dan terorisme, dan akhirnya, dengan Perjanjian Baru dan Taurat. Saya berdoa: “Ya Elohim, Engkau tahu itu, dalam semua peristiwa ini, saya sedang mencari Engkau. Apakah adil untuk meninggalkan saya dalam kondisi seperti ini? Dimana keadilan dan kasih-Mu? Bahkan jika Engkau ingin menghukum saya untuk kejahatan yang saya telah lakukan, saya pikir, sekarang, saya sudah membayar semua kejahatan saya. Kejahatan apa membutuhkan hukuman seberat  ini? Tolong  Elohim, jangan tinggalkan saya sendirian di dalam sebuah pergumulan yang demikian.”

Tiba-tiba, saya melihat pintu kamarku terbuka. Saya pikir itu ibuku membawa saya sesuatu untuk dimakan. Dan lihatlah, ada seorang besar dengan rambut panjang dan jenggot tebal dan pilar cahaya putih memancar di sampingnya. Itu seperti cahaya yang berasal dari sejumlah besar dari lampu neon yang disatukan. Saya tidak bisa melihat wajahnya atau menatap mataku kepada-Nya. Saya mendengar dia memanggilku, “Berdirilah, Ha Mashiah menghendaki  kamu.” Tampa buang waktu, saya melompat keluar dari kamarku. Saya terpana dan saya memanggil ayah, ibu dan saudara-saudaraku untuk datang dan melihat Ha Mashiah (Tuan kita Isa) karena ini ditulis dalam buku Al-Bukhari bahwa siapa yang melihat seorang nabi telah melihat ‘petunjuk,’ karena setan tidak mengambil bentuk nabi. Saya berkata kepada diriku sendiri bahwa keluargaku bisa percaya jika mereka melihat Ha Mashiah.

Saya kembali ke kamar saya dan tidak melihat siapa-siapa. Saya terkejut dari kepala sampai kaki. Saya sangat sedih. Bagaimana saya bisa membuktikan ini kepada keluargaku? Saya menyalahkan Elohim karena tidak membantu saya, “Kenapa kau tidak menunggu di kamar sehingga mereka akan melihat Engkau dan menjadi percaya? Mereka akan menganggap saya sebagai orang yang telah kehilangan pikirannya.”

Itulah yang tepatnya terjadi. Semua anggota keluargaku pergi ke kamarku hanya untuk tidak menemukan sesuatu yang tidak luar biasa. Ibuku berkata, “Oh Allah, mengapa kamu membiarkan semua ini terjadi pada kami. Kami senang memiliki putra kami kembali dan sekarang Engkau membiarkan dia menjadi tidak waras.” Dia mulai menangis dengan sedihnya dan memelukku. Saudaraku bilang kepadaku tidak perlu khawatir dia akan membawa saya ke psikiater terbaik di Mesir. Saudari-saudariku berkata, “Semua itu terjadi oleh karena apa yang kamu tulis di malam hari. Akhir dari semua ini adalah ketidak warasan. Oh Allah, tolong sembuhkanlah dia.”

Setelah mereka semua selesai dengan ratapan mereka, saya bilang kepada mereka, “Bukankah kalian begitu dan begitu?” Setiap mereka berkata, “Ya.” Saya pergi ke ibuku dan berkata, “Bukankah engkau ibuku?” Dia berkata, “Ya.” Kepada kakakku, “Bukankah kamu saudaraku?” Dia berkata, “Ya.” Saya pergi ke adik saya dan berkata, “Bukankah kamu adikku” Dia berkata, “Ya.” Saya berkata kepada mereka , “Jika saya telah gila seperti kalian pikir, bagaimana mungkin  saya dapat tahu kalian semua dengan nama? Mengapa kamu tidak percaya padaku? Saya telah melihat-Nya sebagai suatu terang yang besar. Dia berbicara kepada saya.” Tetapi pandangan mereka lebih kuat dari argumenku. Akhirnya, saya mulai percaya mereka. Saya pastilah telah menjadi gila. Jadi, saya pergi ke tempat tidur dan tinggal di sana. Saya pastilah telah kehilangan indra saya. Apa yang saya katakan tidak memiliki akal sehat. Saya tetap di kamar saya dan saudara saya datang untuk menghiburku, tapi saya tidak mengadakan apapun. Saya mengatasi situasi ini dengan diam seribu kata.

Keesokan paginya, kakakku mengajak saya ke salah satu psikiater terbaik di negeri ini. Kami pergi ke klinik dan saya menunggu giliran saya. Akhirnya, mereka memanggil saya menghadap dokter. Saya duduk di depan dia dan dia bertanya, “Bagaimana saya bisa membantu Anda?” Saya menjawab, “Saya tidak tahu.  kakakku memutuskan untuk membawa saya kepada Anda.” Dia berkata,” Kakakmu mengatakan bahwa Anda telah melihat Tuan kita Ha Mashiah! “Saya berkata,” Ya, saya sungguh telah melihat Dia.” Dia berkata: “Bisakah Anda menggambarkan-Nya kepada saya? Saya bertanya kepada dokter ini, “Apakah Anda pernah melihat Dia sebelumnya?” Dia berkata, “Belum.” Saya berkata, “Jika Anda tidak tahu seperti apa rupa-Nya, bagaimana Anda bisa tahu jika saya benar atau salah?” Dokter ini berkata, “Kasus Anda ini suatu kasus yang sangat sukar.”

Ia memanggil adikku dari ruang tunggu. Ketika dia masuk ke ruang periksa, dokter mengatakan bahwa saya punya kasus depresi yang parah dan saya memerlukan perawatan dengan listrik secepatnya. Saya mulai dengan enam sesi pengobatan listrik dan secara bertahap, itu berkurang menjadi dua. Dia meminta kakak saya untuk membawa saya ke rumah sakit dua kali seminggu. Kakakku mengatakan bahwa itu sulit dilakukan karena kami tinggal di sebuah kota yang jauh dari Kairo dan akan menyita dua setengah jam mengemudi. Kakakku menyarankan agar dokter memberitahu kami bagaimana kami bisa mendapatkan perawatan sejenis di kota kami melalui dokter lainnya. Dia setuju dan demikian juga dengan saya. Saya bercerita kepada dokter ini bahwa saya tidak takut terhadap pengobatan listrik karena saya sudah mengalaminya ketika saya disiksa di kamp-kamp konsentrasi. Saya yakin bahwa pengobatan medis akan kurang parah dibandingkan sengatan listrik yang kami telah biasa hadapi di kamar-kamar penyiksaan.

Saya tidak menemukan alasan untuk menolak pengobatan listrik. Jika saya benar-benar gila, ini akan membantu saya mendapatkan kewarasan saya kembali. Jika tidak, rasa sakit ini akan ditambahkan ke dalam pengalaman menyakitkan lainnya yang saya miliki selama pencarianku kepada Elohim; mudah-mudahan Elohim akan mengambil itu sebagai  suatu yang dapat diperhitungkan dan ada mengasihi saya.

Akhirnya, saya menyelesaikan sesi perawatanku dan saya mengambil semua obat yang diberikan dokter. Saya berharap bahwa saya akan sembuh pada saat itu dan akan melupakan semua pikiran yang biasa menyiksa saya yang telah membawa  kegilaan atau ketegangan psikosomatik. Namun, saya mendapati diriku didesak untuk membaca lebih banyak Alkitab. Saya tidak akan bisa tidur kecuali saya membaca bagian dari Alkitab. Saya memutuskan untuk menyimpan semua temuan saya untuk diriku sendiri dan tidak memberitahukan siapapun pengalamanku yang mungkin saya dapatkan saat itu dan dikemudian hari. Saya memutuskan untuk hidup sebagai orang Kristen untuk melihat pekerjaan Elohim. Jika ini adalah jalannya, pasti saya akan melihat buah-buahnya. Saya ingin melihat dukungan Elohim atas pilihan ini, jika tidak, saya akan singkirkan.

Seperti saya telah katakan sebelumnya, saya biasa berdoa secara teratur, dengan cara saya sendiri, lima kali per hari: subuh, siang, sore, matahari terbenam, dan malam. Saya tidak membaca apa pun dalam doa saya kecuali Doa Bapa Kami. Tapi saya bingung melaksanakan ritual keagamaan bagaimana saya harus melakukan untuk membuat doa-doaku yang lengkap dan dapat diterima dalam rangka untuk mendapatkan pahala di hadapan Allah. Saya harus pergi ke gereja untuk belajar bagaimana saya bisa menyembah Elohim. Saya tidak suka pergi ke gereja. Bagaimana mungkin saya pergi ke gereja dalam keadaan seperti itu? Bagaimana mungkin saya pergi ke gereja dalam kerendahan hati dan kepatuhan saya begitu menentangnya di masa lalu? “Tidak, saya tidak akan pergi ke gereja. Mungkin lain kali,” kataku pada diriku sendiri.

Saya mencoba bertanya beberapa orang Kristen untuk membantu, tapi siapa yang akan bersedia untuk berbicara dengan saya setelah semua yang telah saya lakukan atas mereka? Mereka semua menolak untuk bertemu dengan saya. Mereka berpikir entah saya ingin membunuh mereka atau memaksa mereka untuk masuk Islam. Akhirnya, salah satu dari mereka setuju untuk bertemu saya di bulan mendatang. Saya harus menunggu untuk waktu itu. Saya memutuskan untuk menggunakan waktu itu untuk membaca lebih banyak tentang kepercayaan dan konsep Kristen. Saya ingin tahu apa yang mereka akan katakan dan apakah mereka memiliki buku-buku Kristen sendiri yang serupa dengan apa yang dimiliki kaum Muslim.

Pertama-tama, saya memutuskan untuk mencukur bersih jenggotku hanya untuk terlihat normal. Saya meminjam kemeja dan sepasang celana ganti ‘Galabia’ (baju Islam) yang saya biasa pakai semua hidupku. Saya pergi ke toko buku untuk mendapatkan Alkitab bagi diriku sendiri. Saya tidak suka buku- buku di toko buku itu, jadi saya memutuskan untuk pergi ke toko lainnya yang ada di dekatnya. Saya mulai melihat buku-buku di rak, dari luar toko, untuk melihat jenis buku apa yang mereka punya. Sebelumnya, saya tidak berani untuk masuk kedalam sebuah toku buku Kristen. Saya bahkan tidak bisa melihat apa pun tentang Kristen; jadi bagaimana sekarang saya bisa masuk kesebuah tempat Kristen? Saya takut mereka akan meminta untuk memperlihatkan KTP saya (Di negara Mesir, Islam adalah satu-satunya agama resmi) dan mereka akan menelepon polisi. Saya kemudian akan jatuh ke tangan Intelijen Rahasia Negara, yang mana seperti pergi ke jurang maut.

Setelah lama ragu-ragu, saya meneguhkan hati  dan masuk ke toko buku tersebut. Beberapa buku menarik perhatianku. Saya tidak tahu buku jenis apa yang saya ingin baca. Setiap kali saya melihat sebuah judul yang yang menarik perhatian saya, saya akan membeli buku tersebut. Saya mengambil sebuah buku berjudul Bukti Yang Meminta Sebuah Keputusan (Evidence That Requests A Decision), My Faith, dan Kurban Tebusan Ha Mashiah (Atonement of Christ). Begitu saya selesai membaca salah satu buku tersebut, saya langsung membakarnya.

Ketika saya selesai dengan semua buku-buku tersebut, saya kembali ke toko buku untuk mendapatkan yang lainnya. Saya menemukan dua buku: Monoteisme dan Trinity, dan Teologi Alkitabiah. Ketika saya melihat harga dari dua buku itu, saya tahu bahwa saya tidak punya cukup uang untuk membelinya. Jadi saya kembalikan mereka ke rak-rak. Pada saat itu, seorang lelaki tua mendekati saya dan bertanya, “Mengapa Anda meletakkan buku kembali?” Saya berkata, “Saya tidak ingin mereka?”  Jika Anda tidak ingin mereka, mengapa Engkau mengambil mereka dalam tempat pertama?” katanya. Saya berkata, “Itu bukan urusan Anda. Apakah Anda menginterogasi saya?” Dia meletakkan tangannya di pundakku dan wajahnya menunjukkan senyum lembut. Dia berkata: “Anakku, ambilah buku-buku itu dan saya akan membayarnya bagi Anda. Saya akan berikan alamat saya. Jika Anda suka mereka, Anda dapat membayar kepada saya kemudian. Jika tidak, Anda dapat menyingkirkan mereka atau membakar mereka dan Anda tidak kerugian apa-apa.” Saya bertanya bagaimana dia tahu bahwa saya tidak punya uang untuk membeli buku. Dia bilang bahwa Roh Kudus yang memberitahukan dia. Saya berkata dalam hatiku yan terdalam, “Seperti apa Roh Kudus itu nampaknya?” Saya banyak berpikir tentang subjek ini. Saya pergi dengan dia ke rumahnya. Kami duduk bersama-sama selama beberapa menit. Saya takut dia akan meminta untuk memperlihatkan KTPku. Dalam hal ini, ia tentunya tahu yang sebenarnya. Tapi semua hal berjalan lancar, terima kasih kepada Elohim. Bapa itu bahkan tidak menanyakan nama saya.

Saya terus membaca buku-buku tersebut dan lainnya dengan rajin, baik di rumah maupun menyewa kamar hotel untuk menikmati semua waktu membaca sendiri tanpa gangguan apapun. Saya tidak ingin membuang waktu bahkan untuk makan. Saya ingin melahap semua Kata-kata Ha Mashiah yang akan membawaku setidaknya satu langkah lebih lanjut ke jalan baru dari kehidupan baruku. saya sering mampir ke warung kopi, milik seorang Kristen. Di sana saya akan membaca semua buku-buku Kristen yang telah saya beli. Saya menyukai ajaran-ajaran Alkitab. Untuk lebih tepatnya, saya rindu untuk menjadi model orang yang digambarkan dalam Alkitab. Jika saya hidup sesuai dengan ajarn tersebut, saya akan berubah menjadi malaikat berjalan di bumi. Saya dipenuhi dengan satu pertanyaan: “Yahweh, apakah mungkin, jika saya menerima Engkau dan berjalan sesuai dengan Firman-Mu, untuk Engkau membuat saya lebih baik? Dapatkah saya memiliki beberapa teman bahkan jika mereka tidak percaya seperti yang saya percaya? Dapatkah saya mencintai ibu, ayah, saudara-saudaraku bahkan jika mereka tidak menerima keyakinan baru saya? Dapatkah saya mengasihi teman-teman saya bahkan jika mereka tidak menerima imanku atau percaya apa yang saya katakan? Dapatkah Engkau melakukan ini untuk saya, Yahweh? Dapatkah saya mengasihi negeriku dan merasakan loyalitas yang sama dengan orang lain? Saya berharap hal ini bisa terjadi.”

Langkah pertama kelompok Islam memuridkan setiap pendatang baru adalah untuk mencabut setiap kesetiaan apapun, entah itu ke pada tanah air, keluarga atau hal lain. Ia harus tidak memiliki loyalitas lainnya kecuali kepada Allah, dan tidak ada pengabdian lainnya selain kepada Emir. Itu sebabnya mengapa saya tidak percaya sebelumnya bahwa saya bisa berubah dan mengasihi. Penglihatan pertama saya dimana Seorang berkata kepadku, “Berdirilah, Ha Mashiah menginginkan kamu,” telah membuat saya sangat bingung. Saya tahu bahwa visi dari salah seorang nabi adalah sebuah petunjuk Ilahi, tapi jenis bimbingan Ilahi yang bagaimana? Apakah itu pedoman menuju iman Kristen atau Muslim?

Pikiranku begitu terombang-ambing oleh semua gelombang pikiran tersebut yang membuat saya berjalan di jalan dengan langkah cepat seakan-akan orang sedang mengejar saya. Saya tidak tahu ke mana harus pergi. Itu sungguh saat yang tidak menyenangkan. Akhirnya, saya memutuskan untuk pergi ke gereja. Saya ingin menjadi seorang anak yang Yahweh ingin saya ada. Saya mendengar suara batin berkata, “Sekarang kamu telah mendengar suara itu dan kamu harus mengikutinya. Kamu telah hidup dalam Islam sepanjang hidupmu, tetapi kamu belum hidup dalam Kekristenan untuk mengetahui bagaimana rasanya. Kamu belum hidup di dalam iman Kristen untuk mengetahui yang mana yang lebih baik atau lebih dekat kepada Elohim, Kristen atau Islam.”

Saya pergi ke banyak gereja. Tidak mudah untuk melakukannya. Saya harus berjuang melawan Iblis setiap kali saya memutuskan untuk masuk sebuah gereja. Iblis akan berbisik di telinga saya, “Sudahkan kamu sampai pada status yang menyedihkan sehingga pergi ke gereja? Malu! Berapa banyak perbedaan antara pergi ke gereja sekarang dalam penghinaan dan ketika kamu pergi ke sana untuk meninggikan Firman Allah. Apakah kamu sudah lupa apa yang kamu telah lakukan terhadap gereja di masa lalu? Jika kamu lupa, saya bisa mengingatkan kamu.  Kamu sering berkata: Kebenaran telah tiba, dan Kebohongan telah hancur; karena kebohongan ialah secara alami akan hancur.” Dimana kebenaran yang kamu telah nyatakan hidupmu untuk mati? Kamu tidak pergi kemanapun kecuali ke gereja – lubang kekafiran, polytheisme dan penghinaan. Apakah kamu sedang percaya kepada banyak ilah, setelah perjalanan jauh dedikasi dan kesetiaan hanya kepada Allah? Bangun; bertobatlah kepada Allah dan mintalah pengampunannya dan ulangi dua kalimat Shahadat: ”saya bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah rasul Allah.” Bangunlah dan cucilah dirimu dari semua kejahatan pikiran tersebut dan ambil perlindungan dalam Allah melawan kekejian Iblis.”

Setelah itu, saya tahu diriku sendiri pergi kegerja tanpa sadar. Itu tetap susah, dan saya dapat merasakan seolah-olah seseorang menarik saya mundur untuk mencegah saya masuk gereja. Saya bahkan terkadang berteriak dengan keras, ”Saya akan pergi ke gereja. Saya akan ke gereja, apapun yang akan terjadi. Saya akan pergi ke gereja, apapun alasanan.” Sudahlah cukup dimasa lalu saya tidak memiliki teman dan keluarga. Tidak mengenal rahmat selama masa hidupku yang lalu. Saya telah membunuh dan merampok, dan sekarang saya berdiri tanpa famili, tanpa teman, tanpa seorangpun yang menemani. Mungkinkah Elohim berbahagia pada ku dengan semua itu? Mungkinkah Elohim membenarkan pembunuhan, kebencian, permusuhan dan kekerasan terhadapa semua orang yang menolak menerima apa yang kita katakan?”

Saya berkata: ”Oh Elohim kasihanilah saya. Saya menderita dan orang yang kesepian. Saya ingin dimpimpin kepada sebuah kehidupan yang normal, mengasihi negeriku, keluargaku, dan teman-temanku,  tetapi bagaimana saya dapat melakukannya? Jalan mana yang harus saya ambil?”

Jadi saya putuskan untuk pergi ke gereja bahkan jika itu bayarannya hidupku. Saya lari dengan cepat menuju gereja. Sikap dari pendeta gereja tersebut tidaklah seperti yang saya harapkan. Dia menolak mendengarkan saya, yang menambah minyak kepada api dan serangan roh jahat melawant saya. Ketika saya keluar dari gereja hari itu, saya merasa sedikit lega di batin meskipun gagal meyakinkan pendeta itu untuk mendengarkan saya. Itu mendorong saya untuk mencobanya lagi. Sialnya, saya gagal dalam semua usahaku untuk berbicara dengan seorang pendetapun dan untuk belajar apa yang harus saya lakukan untuk layak menerima keselamatan dari Ha Mashiah. Firman berkata: Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, (Mar 16:16a)

Saya dipenuhi dengan pertanyaan, “Bagaimana saya dapat percaya? Apa yang dapat saya lakukan? Bagaimana saya dapat berdoa, berpuasa, pergi siarah, atau membayar sakat?”

Waktu terakhir saya meninggalkan gereja, saya sungguh susah dan berbeban berat, sebagaimana mereka berkata,  “dibungkus dengan malu yang menyala-nyala.” Iblis berbisik di telingaku, ”Mereka telah menolak kamu. Itu layak. Kamu layak lebih dari pada itu dan Allah akan menunjukkan padamu latihan-latihan yang lebih keras.” Tetapi tekanan roh jahat tidaklah bertahan lama. Saya mendengar suatu suara tenang dan lembut dari dalam hatiku berkata, ”Hey kamu, kamu tidak menyembah manusia, jangan bersedih karena kelakuan mereka kepadamu. Karena kamu menyembah Elohim, hanya Dia yang tidak akan memutuskan semangatmu. Dia tidak akan pernah mengecewakanmu atau membiarkan kamu tersesat.  Bersabarlah dan berpeganglah kuat-kuat kepada Dia jika kamu benar-benar mencari Dia. Hari-hari penderitaanmu tidak akan ada lama lagi. Elohim tidaklah akan pernah menolak setiap mereka yang mencari Dia. Tidak pernahkah kamu baca, Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”  (Mat 11:28)

Saya berkata kepada Elohim, ”Saya telah baca itu Yahweh, jika tidak sekarang, sedikitnya saya telah membacanya beberapa kali tertulis pada tembok gereja  yang saya lewati setiap hari ketika menuju ke sekolah kedokteran.” Saya telah tahu ayat tersebut di luar kepala dan dimana itu terletak yang saya biasa untuk menutup mataku untuk mencoba tidak melihatnya.

Suara itu berkata, ”Berilah hidupmu kepada Elohim dan Dia akan menyelesaikannya.” Saya berkata, ”Oh Elohim, saya berikan hidupku pada Mu. Tolonglah selamatkan saya dari hambatan-hambatan saya.  Ajarlah saya jalan-jalan Mu. Saya tersesat. Saya bingung. Yahweh, hal ini terjadi pada saya cukup sering.”

Setiap kali saya melewati masalah keras, saya akan kembali ke Alkitab untuk menemukan rasa damai yang indah dan ketenangan batin.

Setelah itu, saya berpikir untuk berhubungan dengan beberapa orang Kristen yang biasa bekerja dengan saya, tetapi mereka tidak menyambut saya. Mereka takut padaku. Mereka pikir saya akan menjebak mereka untuk menyakiti mereka seperti biasa saya lakukan di masa lalu. Beberapa orang Kristen menolak untuk berbicara dengan saya, percaya bahwa saya bertujuan untuk menarik mereka ke Islam. Tapi jika Elohim menginginkan sesuatu, tidak ada seorangpun yang bisa melawan Dia. Suatu kali, saya pergi dengan temanku, seorang insinyur, untuk mengunjungi salah satu temannya. Dalam perjalanan, dia meminta saya dengan sinis untuk mengunjungi seorang teman Kristen-nya. Dia tahu betapa saya benci orang Kristen. Dia berpikir dengan cara ini, ia dapat mempermainkan saya dan tidak mengharapkan saya setuju begitu mudah. Dia bertanya padaku, sekali lagi, “Apakah kamu yakin ingin mengunjungi orang itu? Apakah kamu tahu dia adalah seorang Kristen?” Saya berkata, “Ya, aku tahu, dan saya setuju untuk pergi dengan Anda dan mengunjunginya.” Dia memintaku untuk tidak menjahati orang itu. Saya berjanji padanya untuk berperilaku baik dan sopan.

Kami pergi ke teman Kristen itu yang benar-benar mengenal saya. Saya biasa menyusahkan dia di jalan dan memprovokasi umat Islam lainnya melawan dirinya, mencoba untuk memaksa dia untuk menjadi seorang Muslim. Baru saja melihat saya berdiri di pintunya, ia tercengang. Dengan cepat ia menutup pintu dan mundur. Teman saya terus mengetuk pintu jadi akhirnya, ia membuka dan mulai menyalahkan teman saya. Dia berkata, “Bagaimana bisa kamu membawa orang itu bersamamu ke rumah saya? Apakah kamu lupa apa yang dia sudah lakukan kepada saya? Kasihanilah saya. Saya orang yang pendamai dan saya sudah cukup memiliki masalah.”

Setelah perdebatan panjangan, ia mengijinkan kami masuk ke apartemennya, sebuah Alkitab besar menarik perhatian saya. Itu terletak di meja kecil di tengah ruangan. Saya mengambil Alkitab dan membuka beberapa halaman. Tiba-tiba saya bertanya kepadanya, “Apakah ini Alkitabmu?” Dia berguman dan terhuyung dengan suara gemetar, “Ya benar, dan Kuran juga sebuah kitab suci. Semua Kitab berasal dari Elohim. keduanya ‘OK,’ Kuran da Alkitab,  Muhammad dan Ha Mashiah. Semua baik.” Itu jelas sekali dia begitu ketakutan. Dia begitu takut padaku setiap kali saya mencoba mendekati dia, dia akan mundur. Kami akhirnya berkeliling-keliling, melintasi ruang tamu ke sana kemari seolah-olah kita sedang bermain petak umpet. Akhirnya, dia berada di sudut dan saya berdiri tepat di depannya sehingga dia tidak bisa pergi ke mana pun. Saya berkata kepadanya, “Mengapa kau melakukan ini? Saya hanya ingin berbicara dengan kamu?”

Menyadari ini teman yang mengantar saya telah pergi ke ruangan lain untuk beristirahat, saya mengambil kesempatan dan mencoba memulai percakapan dengan tuan rumah saya, Kerinduan untuk mencapai tujuan saya mempelajari jalan orang Kristen kepada Elohim, tetapi ia tidak bekerja sama dengan saya. Saya bertanya apakah saya bisa mengunjunginya lain waktu. Dia setuju, dengan syarat bahwa kami tidak akan sendirian. Dia lebih suka jika ada beberapa temannya pada waktu pertemuan itu. Saya katakan bahwa itu baik bagi saya untuk memiliki beberapa orang lain. Dia menuliskan alamatnya dan waktu pertemuan. Saat saya berkunjung lagi, setengah lusin teman-temannya ada di apartemennya.

Dia begitu takut padaku. Saya berbicara dengan dia untuk sementara waktu, dan saya tidak menyangkal bahwa saya berbicara seperti seorang komandan militer yang kalah yang sedang membuat perjanjian damai dengan komandan yang menang. Saya menundukkan kepalaku. Saya begitu malu sehingga saya melihat ke bawah sepanjang waktu. Saya ingat apa saya dahulu biasa lakukan. Sekarang di sinilah saya, mengemis kepada seorang Kristen untuk beberapa kata yang akan menuntun saya untuk apa yang saya biasa lawan sebelumnya. Tapi Damai sejahtera Allah dan keinginan untuk keselamatanlah yang mendorong saya untuk mengorbankan semua untuk mendapatkan hak istimewa memasuki Kerajaan Elohim yang tak henti-hentinya saya telah cari. Tidak ada satu batupun yang  Saya tingggalkan tanpa tergeser, mencari setiap sudut dan celah untuk mencapai tujuanku yang mulia dan lama ditunggu-tunggu. Sekarang, saya hanya melempar sebuat batu ke tujuan. Saya menemukan bahwa tujuan saya tidak akan dapat ditemukan dimanapun, tapi diantara halaman-halaman Kitab milik teman Kristen saya.

Saya siap tidak meninggalkan satu batupon tanpa digeser untuk mengenal jalan Yahweh. Teman saya memiliki sedikit pengetahuan tentang Alkitab, jadi dia tidak bisa memberikan informasi lebih lanjut. Dia punya beberapa masalah keluarga. Saya mendengar dari beberapa teman bahwa dia sedang mempertimbangkan berpindah  ke Islam agar dapat menikah perempuan yang lain. Saya begitu kesal dengan solusi tersebut. Saya penuh penghinaan terhadap dia. Saya merasa bahwa ia tidak dapat memberikan saya dengan apa yang saya butuhkan.

Setelah beberapa saat, hubungan saya dengan dia semakin kuat, dan saya memiliki kesempatan untuk mengunjunginya lebih dari sekali. Dia menyediakan bagi saya tempat yang tenang di mana saya bisa membaca dengan bebas. Dia tidak mencoba untuk memaksa saya untuk menerima segala macam pikiran tertentu. Saya punya satu pendekatan khusus dan itu adalah untuk mengenal Yahweh Yeshua Ha Mashiah terlepas dari semua faksi dan denominasi, menghindari apa yang saya telah derita dalam Islam.

Hal-hal tidak jalan seperti yang seharusnya mereka ada. Persahabatan kami tidak berlangsung lama, tapi saya menemukan seorang Kristen lainnya yang berpengalaman dalam pengetahuan Alkitab. Namun, kami bertentangan satu sama lain, sedikitnya. Di masa lalu, setiap kali dia akan meminta saya untuk melakukan sesuatu untuknya dalam pekerjaan saya, saya akan memberikan informasi yang salah dan bahkan terkadang saya akan menghasut orang melawan dia. Saya akan memberi mereka hadiah setiap kali mereka berhasil melukainya.

Saya tidak mengharapkan dia bersedia untuk bertemu dengan saya. Namun, ia setuju untuk bertemu dengan saya satu bulan kemudian. Dia meminta saya untuk mengkonfirmasi kunjungan saya dengan menelponnya satu minggu sebelumnya.

Saya merasa bahwa lingkaran di sekitar saya semakin kecil. Tidak ada pendeta-pendeta dari banyak gereja mendengarkan saya, tidak ada individu bersedia untuk bertemu dengan saya. posisiku diragukan di mata semua orang Kristen. Sulit bagi mereka meskipun hanya untuk menyebutkan nama saya. Jika ada yang ingin mengancam orang lain, itu sudah cukup untuk memberitahu mereka, “Saya akan memberitahukan Mr. A dan B.” Saya seperti sebuah boneka yang menakut-nakuti burung di sawah. Tiga minggu kemudian, saya ingin menghubungi orang itu untuk mengkonfirmasi kunjungan saya ke dia. Karena saya tidak memiliki telepon di rumahku, saya harus pergi keluar untuk menggunakan telepon umum.

Setiap kali saya akan pergi keluar rumah, saya biasa mengambil serta semua  kertas dan catatanku untuk memastikan mereka tidak akan jatuh ke tangan yang salah. Ini akan sangat berbahaya jika ada yang melihat catatan-catatan itu karena saya punya banyak halaman dari penelitian tentang Keilahian Ha Mashiah, kesalahan Kuran, kesalahan kenabian Muhammad dan apakah dia benar-benar seorang nabi, dll. Saya biasa membawa semua kertas-kertas itu, bersama dengan Alkitab, dalam sebuah kantong plastik setiap kali saya pergi, ke mana pun saya pergi.

Ketika saya keluar untuk menelepon orang itu dari kios telepon di depan stasiun kereta api kota saya, saya terkejut menemukan bahwa seluruh kantong plastik dengan semua kertasnya lenyap ke udara. Semuanya sudah lenyap – dompetku, KTP, Alkitab dan semua penelitianku. Namun, di dalam saya memiliki semacam damai yang ajaib, ketenangan dan penguasaan diri yang saya kembangkan dahulu dalam berurusan dengan petugas keamanan dan polisi rahasia. Satu hal yang menguasai pikiranku pada waktu itu berpusat pada dua hal.

Pertama, orang yang mencuri tas saya kemungkinan membaca semua kertaku dan mengirimkan mereka ke Departemen Investigasi Keamanan Negara. Saya kemudian akan menjadi mangsa yang mudah di tangan mereka sebab kartu KTPku ada bersama dengan surat kertas-kertas tersebut, sehingga sangatlah mudah untuk mengidentifikasi diriku. Saya bisa dieksekusi karena menyerang Kuran; keputusan hukuman mati adalah hanya mungkin dalam kasus seperti itu. Namun, hal ini tidak mengganggu saya begitu banyak karena saya cukup yakin bahwa bila waktu saya datang untuk bertemu dengan Penciptaku, saya tidak bisa menunda bahkan untuk separoh detik. Setiap jiwa, pasti, akan mengalami maut.

Kedua, sebuah bisikan licik diam-diam masuk ke dalam pikiran saya, mengendalikan semua pikiran dan perasaan. Pesan licik untuk mempegaruhi bahwa Allah sangat mencintaiku begitu rupa sehingga Dia ingin memberikan bukti jelas bahwa saya berjalan menuju kekristenan yang  adalah sebuah kepalsuan. Sebuah firasat samar melayang-layang di atas langit-langit pikiranku bahwa agama Kristen hanyalah jalan Setan, karena itulah Allah telah menghapus semua serangan terhadap Kuran-Nya, Rasul-Nya dan juga menghapus semua racun-racun dari Alkitab. Perasaan itu kemudian berkata, “Sekarang kamu memiliki bukti yang jelas bahwa kamu berjalan di jalan salah Kekristenan dan menyimpang dari kebenaran. Bangunlah sekarang dan bertobat. Jangan berlambat untuk meminta pengampunan dari Allah karena Ia adalah Pengampun yang berkemurahan lagi Maha Penyayang kepada semua orang-orang yang bertobat dan melakukannya yang baik. Berdiri dan bersihkan diri dari semua pikiran najis yang berasal dari Iblis, mencemarkan Anda dan memikat Anda terhadap politeisme, hujatan dan kekafiran.” Saya tidak bisa membantu tetapi untuk menyerah kepada teguran Iblis.

Ketika teman Kristenku tahu bahwa saya telah kehilangan semua kertas tersebut, ia terpukul oleh ketakutan sampai ke sumsum tulangnya. Dia memintaku untuk tidak melihat atau menghubungi dia untuk beberapa waktu sampai kami bisa melihat pengaruh dari hilangnya kertas-kertas itu. Ini adalah jerami terakhir pada apa saya berpegang dan sekarang saya telah kehilangan semua sumber dukungan untuk meneruskan perjalanan saya dalam Kekristenan. Jadi, saya merasa seolah-olah Allah ingin saya untuk meninggalkan agama itu, mungkin karena saya tidak mampu melanjutkan pertempuran itu. Meskipun saya menikmati dari lubuk hati saya dan kedalaman jiwaku setiap kata dari Alkitab dan melakukan yang terbaik untuk terus mengucapkan Doa Bapa Kami dengan rajin, tidak ada yang benar-benar berubah dalam karakter saya. Saya masih penuh kebencian dan iri hati terhadap orang Kristen. Saya tidak bisa memaafkan orang. Saya bahkan tidak bisa mengatakan “Selamat pagi” kepada ibuku. Saya biasa keluar dari rumah saya dengan jejak kemarahan, kebencian dan permusuhan terukir di wajahku. Saya sengaja menunjukkan kemarahan terhadap orang tua dan saudara-saudara saya agar mereka tahu tahu bahwa mereka adalah kafir dan saya membenci mereka karena alasan itu. Saya begitu penuh dengan semangat pemberontakan dan permusuhan bahkan saya meragukan keaslian apa yang saya baca dalam Alkitab.

Semua faktor-faktor tersebut datang bersama-sama dengan hilangnya dokumen tersebut; itu adalah serangan tanpa ampun untuk menghambat pekerjaan Elohim dalam hidupku, sebuah usaha untuk mematahkan tekad saya dan kasihku yang semakin membesar atas Alkitab. Sekali lagi, saya hancur ke dalam tangisan, menyalahkan Elohim untuk semua yang terjadi di sekitar saya. Saya mulai bertanya-tanya apakah itu Elohim  sendiri yang melakukannya setiap kali saya mengambil langkah menuju kepada Dia, hal-hal akan jadi salah. “Mengapa, Elohim, melakukan semua hal ini terjadi padaku? Mengapa saya? Apa yang saya telah lakukan sehingga menerima semua ganjaran ini? Bila Engkau menghukum saya untuk sesuatu yang salah yang telah saya lakukan atas orang Kristen, ampuni saya sekarang sebagaimana saya bertobat di hadapan Engkau. Kasihanilah saya berdasarkan kematian-Mu di kayu salib untuk saya, atau bagi orang lain salib-Mu tidak berarti apa-apa seperti biasa kami berpikir. Siapakah Engkau bahwa Engkau melayakan orang seperti saya untuk mendekati Engkau? Apa yang bisa saya lakukan untuk menyenangkan Engkau? Hidup saya telah menjadi begitu menyedihkan. Jika terus seperti itu, kematian akan lebih mudah bagi saya daripada terus hidup seperti saya ada saat ini. Elohim ambillah jiwaku. Jika Engkau tidak mengasihi saya, saya akan bunuh diri. Itu tidak akan menambah penderitaan masuk neraka, karena jika Engkau tidak memberikan rahmat-Mu kepada saya, saya akan masuk neraka bagaimanapun juga.”

Saya menangis begitu banyak, berkubang dalam rasa sakit dan penderitaan. Saya berdiri, dengan air mataku yang bercucuran di wajahku seperti sungai. Ibuku melihat saya dan mengelus kedua pundakku, dan dia menangis bersamaku. Dia bertanya padaku ada masalah apa dengan saya. Saya berkata padanya, “Jangan ganggu saya. Saya tidak ingin berbicara dengan siapa pun. Saya pernah berbicara dengan kamu dan kamu menuduh saya gila. Semoga Allah memaafkanmu.” Saya pergi dengan cepat ke kamarku dan mandi untuk membersihkan tubuh dari semua kenajisan pikiran Kristen, saya juga harus mencuci diri dari semua yang telah saya lakukan.

Saya terus berpikir, merenungkan apakah Allah akan memaafkan saya untuk semua yang telah saya katakan tentang nabi-Nyan, Muhammad, dan Kuran-Nya. Saya merasa seakan-akan orang berbicara kepada saya mengatakan, “Kau tidak menyerang siapa pun atau berbicara segala jenis dusta. Semua menyimpulkan bahwa itu bukan buatanmu ; mereka adalah bukti itu sendiri.” Saya berdiri, membuka, karpet doaku, dan saya mengulangi dua Kalimat Kesaksian Islam untuk kembali ke Islam. Saya mencoba untuk berdoa, tetapi tidak berhasil. Saya tidak bisa mengucapkan sepatah katapun dari Kuran, bahkan saya tidak bisa sembayang. Jadi, saya meletakkan kepala saya di antara telapak tangan untuk sementara waktu. Kemudian, saya pergi mengatakan hanya beberapa kata, “Oh Yahweh, jika Engkau tidak marah padaku, tidak membahayakan saya. Jika Engkau menghukum saya sekarang untuk beberapa pelanggaran yang saya telah lakukan, saya meminta Engkau untuk mengampuni saya dan meringankan hukuman saya. Jika Engkau melawan caraku, yang asing bagi Mu. Oh Yahweh, saya tidak punya kekuatan lebih untuk menghadapi situasi saya. Jika Engkau tidak menyatakan diri-Mu sendiri kepada saya, saya akan tersesat. Saya mengasihi-Mu, Yahweh. Saya telah melakukan apa yang telah diperintahkan pada ku untuk dilakukan. Saya melakukan apa yang lain tidak bisa lakukan, hanyanya untuk menyenangkan Engkau, sebagaimana karena saya telah berpikir. Ketika Engkau menunjukkan cahaya-Mu kepada saya dan memanggilku, saya tidak menundanya. Berapa lama Engkau tinggalkan saya meraba-raba dalam lubang kegelapan? Semua yang terjadi dalam hidupku hanyalah sebuah ujian kasih yang telah Engkau siapkan bagi saya untuk membawa saya ke sisi-Mu. Engaku adalah Gembala yang Baik. Tolong berilah saya kasih-Mu dan bimbingan-Mu  lebih lagi untuk membawa saya lebih ke arah menemukan Anda.”

Malam itu, saya tidur begitu nyenyak, tidak seperti sebelumnya seumur hidupku. Ketika hampir subuh, saya melihat sebuah visi saat tidur. Ada seorang tinggi besar dengan bahu lebar, jenggot tebal, muka berwarna perunggu, rambut panjang dan kulitnya sangat indah. Dia memegang bahu saya dan mengguncang tubuhku dengan lembut berkata, “Apakah kamu masih ragu-ragu tentang Saya?” Kataku, “Siapa Engkau bahwa saya memiliki keraguan di dalam kamu? Saya tidak tahu Engkau.” Dia berkata, “Saya adalah Dia yang kamu sedang cari.” Saya berkata, “Tidak ingat, harap ingatkan keluapaan saya.” Dia berkata, “Bacalah dalam Alkitab. Mengapa kamu tidak membaca Alkitab?” Saya berkata, “Tidakkah Engkau tahu bahwa saya telah kehilangan Alkitab dan semua kertasku?, jadi bagaimana bisa saya membaca sekarang?” Dia berkata, Alkitab tidak dapat terhilang. Bangunlah dan bukalah lemarimu dan kamu akan menemukannya di sana, dan semua kertas lainnya akan kembali kepada kamu dalam waktu seminggu.”

Saya bergidik, seakan terbangun oleh pukulan cemeti dan saya pergi dengan cepat ke lemari kecil di salah satu sudut kamarku. Saya menggigil ketika saya membukanya dan saya terheran-heran, di sana saya menemukan Alkitab yang telah hilang. Saya terpaku sejenak. Saya menggigil seolah-olah itu adalah malam yang sangat dingin di musim dingin. Saya memeluk Alkitab tersebut erat-erat dengan lenganku seperti anak yang kembali kepada ibunya setelah waktu yang lama.

Saya berlari ke ibu saya, membangunkan dia dan membasahinya dengan ciuman. Saya berkata padanya dengan sukacita yang besar apa yang terjadi pada pagi itu. Saya berkata, “Saya tidak pernah lagi mengijinkan ibu menyebutku gila.” Saya menjatuhkan diriku ke dalam pelukannya, menangis dan berkata, “Maafkan saya Bu, atas perlakuan yang kasar kepada ibu. Saya pikir itu adalah menurut iman yang benar. Tapi sekarang saya tahu apa iman yang benar tersebut. Biarkanlah saya mencium kaki Ibu dan  itu cukup bagiku.”
Dia berkata, “Katakan anakku, apa yang terjadi padamu?”
Saya menjawab, “Saya akan memberitahu Ibu, tapi tolong bersumpah kepada saya oleh semua yang sayang Ibu, bahwa jangan berpikir bahwa saya telah gila. Ibuku, Elohim telah membimbing saya.”
Dia bertanya, “Dan dari mana saja kau sebelumnya?”
Saya menjawab, “Elohim yang membimbing saya sekarang bukanlah dialah yang saya telah ikuti sebelumnya.”
Dia menjawab, “Apakah ada Elohim lainnya?”
Saya berkata, “Ya, ada satu Elohim yang memerintahkan saya untuk mengasihi Ibu dan mematuhi Ibu.”
Dia bertanya, “Siapa itu Elohim tersebut?”
Saya bercerita padanya, “Ha Mashiah, Isa sebagai Kuran mengatakan.”
Dia mendesak saya, “Tolong anakku, jangan mengatakan demikian di depan saudara-saudara kamu. Mereka akan berpikir bahwa kamu benar-benar gila.”
Saya berkata, “Baiklah, saya akan melakukan seperti yang fIbu katakan, tetapi apakah Ibu percaya padaku?”
Dia mengamati, “Mengapa saya tidak percaya. Saya telah melihat buktinya, kamu tidak pernah memperlakukan saya seperti ini selama dua puluh tahun. Pergilah, dan Elohim tidak akan meninggalkan engkau. Tapi rahasiakan hal ini.”

Saya pastikan, “Tempatkan diri kamu pada posisi saya, dan kamu akan mengerti perasaanku yang sebenarnya. Saya berharap bisa berdiri di tempat umum dan berteriak sekeras mungkin menyatakan bahwa Ha Mashiah adalah Yahweh dan Dia telah mengubah saya. Ia telah melakukan apa yang Allah Muhammad tidak mampu melakukan.” Ibuku menaruh tangannya di mulutku untuk mencegah saya berbicara.

Sejak saat itu, dari sore hari sampai terbitnya matahari, saya pergi kepada orang-orang seolah-olah saya adalah bayi yang baru lahir, melihat kehidupan untuk pertama kalinya. Saya keluar pagi-pagi hari, melihat segala sesuatu di sekitar saya. Saya mampu melihat segalanya ditutupi dengan keindahan. Semua orang baik di mata saya. Saya mulai bersalaman dengan semua orang yang saya temui, entah saya mengenal mereka atau tidak. Saya pergi ke toko Kristen. Saya biasa menyakiti dia begitu banyak dan ketika ia melihat saya, ia berpikir bahwa saya akan datang untuk menyerang dia. Dengan cepat ia menutup tokonya. Saya berteriak padanya, “Jangan takut.” Dia bingung dan tidak mengucapkan apa-apa. Saya memeluknya dan memintanya untuk memaafkan saya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali untuk menangis. Dia mengatakan beberapa kata, yang saya tidak bisa mengerti saat ini. Hanya kemudian, saya menyadari arti sepenuhnya kata-kata itu. Dia berkata, “Haleluya, Terpujilah Yahweh.” Kataku, “Apa yang Anda telah katakan?” Dia menjawab, “Pada waktu-Nya, kamu akan tahu apa artinya itu.” Setelah itu, dia pergi.

Saya melihat orang-orang dari perspektif yang baru. Saya bertanya-tanya apakah saya telah kehilangan kewarasan saya. Orang-orang menatapku dan bertanya-tanya apa yang telah terjadi padaku. Bahkan para kolegaku benar-benar kagum mengenai perubahan tiba-tiba dan radikal dari perilaku saya. Saya bisa membaca keterkejutan pada wajah mereka berkata, “Orang ini biasa meludahi kita dahulu. Sekarang lihat dia, ia seperti seekor domba yang lembut! Apa yang sedang terjadi? Apakah ini taktik baru atau rencana melawan kita?” Saya melihat keraguan dan kebingungan yang tercermin di wajah-wajah mereka?, Alis-alis yang tinggi dan mata-mata yang terbuka lebar. Mereka tidak percaya bahwa perilaku saya bisa berubah 180 derajat. Tapi saya tidak memberi perhatian pada reaksi mereka. Semua yang saya perduli adalah membayar balik mereka yang telah saya serang, permalukan dan hina. Saya berada dalam kesadaran penuh dengan sukacita yang memenuhi hati saya. Lemah lembut dan ketenangan dilengkapi kelembutan batin saya yang terdalam untuk pertama kalinya dalam sepanjang hidupku. Kadang-kadang, saya berpikir bahwa saya berada dalam mimpi yang indah. Saya tidak ingin bangun dari mimpi itu. Tapi kuasa Elohim. Saya terburu-buru untuk mendapatkan lebih banyak pengalaman yang akan membuktikan bahwa saya benar-benar berubah selamanya, bukan hanya sementara.

Saya terus berpikir tentang apa yang dikatakan Pribadi tersebut yang saya lihat dalam penglihatan saya telah berkata – Saya akan menemukan kertas-kertas tersebut dalam seminggu. Hari berlalu dan saya mulai meragukan visi tersebut. Saya takut bahwa saya tidak bisa menemukan kertas saya. Hal ini sepertinya merusak kebahagiaan saya. Saya terus menghitung hari-hari sampai ada satu hari tersisa sebelum batas waktu yang diberikan dalam visi itu. Pada hari itu, saya berada di dekat stasiun kereta dan saya ingin menelepon, jadi saya harus pergi ke warung telepon yang sama di mana saya telah kehilangan surat-surat saya seminggu yang lalu. Saya ragu-ragu untuk beberapa saat. Saya pergi ke depan dan kemudian mundur kembali. Pemilik warung membaca hal ini, jadi dia bertanya padaku, “Saya melihat Anda berada dalam keragu-raguan. Apakah Anda punya masalah?”Kataku, “Tidak, telpon ini merupakan setan buruk bagi saya karena saya menggunakannya minggu lalu dan saya kehilangan tas saya. Saya tidak ingin menggunakannya lagi karena saya tidak tahu apa lagi yang saya akan kehilangan.” Dia bertanya, “Apakah itu tas Anda?” Saya menjawab, Ya, Anda tahu di mana itu berada?” Dia menjawab, “Berikan saya beberapa penjelasan dari tas tersebut untuk menunjukkan bahwa itu benar-benar milik Anda dan saya akan memberitahu kepada Anda di mana tempatnya.” Kataku kepadanya bahwa itu adalah kantong plastik dengan beberapa lembar kertas, sebuah kitab seperti Kuran, KTP saya, dan paspor saya. Tidak ada uang dalam tas itu. Dia mengangguk dan berkata, “Itu tepat!” Dia mengatakan kepada saya untuk datang keesokan harinya dan dia akan membawa saya ke orang yang menemukannya.

Hari berikutnya adalah hari ketujuh sejak saya melihat visi tersebut. Kami pergi ke sebuah desa di pinggiran kota Kairo menuju selatan. Kami bertemu orang yang menemukan tas itu. Dia memberikannya kembali padaku. Saya cepat-cepat membukanya tapi saya tidak menemukan Kitab itu. Saya berkata kepadanya, “Ada sebuah kitab hilang.” Dia berkata, “Saya bersumpah demi Nama Allah, Saya tidak mengambil apa-apa dari kantong itu. Itu termasuk kertas-kertas, paspor, KTP, dan sebuah Kuran.” Saya senang mendengar itu dan saya mengatakan kepadanya bahwa saya benar-benar percaya padanya. Itu berarti bahwa Elohim telah memenuhi janji-Nya kepada saya bahwa Dia akan memberi saya kembali Kitab yang hilang.

Saya berada di langit kesembilan; dalam semua kehidupan Islamku, saya belum pernah mengalami meminta sesuatu dari Allah dan menerima jawabannya. Ini adalah keajaiban yang super bagi saya. Saya merasa begitu kecil dan rendah hati di depan kasih karunia Elohim. Saya berkata kepada-Nya, “Siapakah saya sehingga Engkau telah memberiku semua kemurahan ini?” Segera, jawabannya datang kepada saya, “Saya telah melakukannya dan Saya akan terus melakukan hal-hal yang lebih besar bagi mereka yang mengasihi Elohim.” Saya bicara kepada diriku sendiri, berharap bahwa Elohim melayakan saya pergi melalui suatu pengalaman yang akan membuat saya cukup yakin bahwa saya benar-benar berubah. Yang benar-benar akan membuat saya senang.

Tak lama kemudian, Elohim menjawab doa saya. Dia memberiku pengalaman pertama saya dalam hubungan baru dengan Ha Mashiah. Pada kantorku, karyawan biasa menerima penghargaan keuangan secara periodik, masing-masing pada gilirannya. Saya akan ancam petugas pemberi gaji, memaksa dia untuk menempatkan saya di daftar teratas. Saya juga biasa mengambil persentase semua penghargaan karena uang itu milik kafir-kafir Kristen; karenanya, itu tidak harus disebarkan secara merata.

Suatu hari, tiba saatnya untuk menerima uang dari kasir perusahaan. Salah satu rekan saya memiliki situasi yang sangat sulit di rumah, jadi dia datang ke manajer dan memintanya untuk memberikan uang kepadanya saat ini sehingga ia bisa keluar dari dilema keuangan. Manajer mengatakan bahwa daftar itu sudah diatur dan semua orang sudah ada gilirannya. Manajer berkata kepadanya, “Tuan X adalah pada bagian atas daftar dan kamu tahu bahwa dia adalah orang yang jahat dan kita tidak bisa membiarkan dia menunggu. Kita harus menyenangkan hatinya dengan cara apapun untuk menghindari kejahatannya.” Pada saat itu, saya memasuki kantor manajer sedang dia berbisik dengan rekan saya. Saya bertanya mereka dengan cepat, Apakah kalian membicarakan penghargaan itu?” Jawab Manajer dengan terburu-buru disertai kecanggungan dan kekikukan: “Ya, tapi jangan khawatir. Nama Anda berada di atas daftar.” Saya bertanya, “Jadi, apa yang rekan saya inginkan?” Dia menjawab, “Dia ingin mendapat giliran itu bulan ini untuk keluar dari kesulitan keuangan, tapi saya menolak permintaannya.” Saya bertanya, “Mengapa? Kamu dapat meletakkan namanya ganti namaku.” Manajer mengira bahwa saya mengolok-oloknya. Dia berkata, “Nama Anda ada pada bagian atas daftar dan tidak ada seorangpun yang dapat menghapus itu.” Kataku, “Tapi saya ingin menyerah itu padanya bulan ini.” Dia berkata, “Itu tidak mungkin. Anda … Anda dapat melakukannya?” Saya berkata, “Ya.” Dia bertanya-tanya, “Bagaimana?” Saya jawab, “Saya bilang kepada kamu; silakan hapus nama saya dan tempatkan dia di tempat saya. Akanlah lebih baik bila semua rekan kita juga menyerah giliran untuk dia.” Saya mendengar dia berkata, “Terpujilah Elohim yang mampu mengubah keadaan. Apa yang sedang terjadi? Apa yang telah terjadi? Mungkin hari ini Hari Kiamat! Orang itu bisa melakukannya! Saya tidak percaya itu.” Kataku, “Elohim adalah Mahakuasa dan Dia bisa melakukan ”Dari yang makan keluar makanan, dari yang kuat keluar manisan.” [Hakim-hakim 14:14]

Mataku basah dengan air mata dalam situasi itu, yang mana ialah pertama kalinya hal sedimikian ada di seluruh hidup saya. Saya biasa mengambil bagian yang terbesar dari segalanya, secara legal atau ilegal. Tapi sekarang, Ha Mashiah telah mengajarkan saya bagaimana untuk memberi. Saya sangat senang untuk menikmati keindahan memberi.

Keluarga saya mulai merasakan perubahan dalam hidup saya. Mereka biasanya mematikan TV dan melarikan diri segera setelah mereka melihat saya, terutama saudari-saudariku. Setelah hari transformasi, saya memasuki rumahku dan membiarkan mereka menonton TV. Saya hanya meminta mereka untuk menghindari program-progam yang tidak senonoh. Mereka berkata, “Itu tidak mungkin. Anda mengijinkan kami untuk menonton TV? Tidak mungkin!” Saya menjawab, “Mengapa tidak? Jika kalian tahu apa yang kurasakan terhadap kalian, kalian tidak akan percaya betapa saya mengasihi kalian semua. Saya ingin kalian memaafkan saya untuk semua perilaku buruk saya terhadap kalian.” Segera, mereka semua menangis. Setiap kali saya keluar, dan kembali, saya akan mencium ibuku, membawa hadiah untuknya sejak itu dan seterusnya. Reaksi ibuku ialah menangis. Saya bersyukur kepada Elohim ketika dia meninggal, kami baik-baik dan saya telah berhasil menebus apa yang telah saya lakukan padanya. Saya sangat bersyukur bahwa Elohim yang mengembalikan senyum kepada semua anggota keluarga kami, orang-orang beriman dan bukan Kristen.

Teman-teman Kristen saya sudah mengikuti semua peristiwa yang terjadi dan takut bahwa orang-orang desa akan mengetahui perubahan saya dan kemudian akan menaruh kembali baraapi keatas kepala mereka karena mereka adalah teman saya. Jadi, mereka meminta saya untuk meninggalkan Mesir dan pergi ke luar negeri, tapi saya menolak mentah-mentah. Saya masih menyadari apa yang telah saya lakukan terhadap Ha Mashiah dan orang-orang Kristen. Oleh karena itu, saya mengatakan kepada mereka bahwa saya telah berdoa sejak hari pertama hidupku berubah meminta Elohim membantu saya untuk melayani Ha Mashiah sebagaimana saya telah menentang Dia. Saya telah menganiaya umat-Nya di Mesir, jadi saya tidak akan meninggalkan Mesir. Saya berjanji kepada mereka bahwa saya tidak akan menyebutkan nama mereka jika saya ditangkap. Suatu hari, mereka meminta saya untuk pergi ke gereja yang saya belum pernah kunjungi sebelumnya dan saya setuju tanpa diskusi. Saya bertemu beberapa Pemimpin Gereja dan saya mengatakan kepada mereka semua apa yang Elohim telah lakukan pada saya. Wajah mereka berseri-seri kesenangan, dan mereka senang untuk tanda-tanda ajaib yang besar yang Elohim lakukan dalam hidupku. Saya ingin dibaptis. Mereka menanggapi permintaan saya. Saya dibaptis pada 9 Mei 1993. Saya masih ingat hari itu karena saya menganggap itu ulang tahunku yang sebenarnya. Hal ini berkaitan erat dengan waktu saya lahir kembali [“born again”: istilah dalam Kristenan ketika seorang bertobat dan menjadikan Yeshua sebagai Tuan dan Juruselamat bagi hidupnya]

Buah-buah Iman:
Saya telah berbicara secara rinci tentang hidup saya sebelum pertobatan saya. Sekarang lebih tepat untuk saya berbicara tentang pekerjaan Elohim dalam hidupku setelah saya datang mengenal-Nya. Semua kerabat saya, teman-teman dan kenalan tidak bisa percaya bahwa saya bisa berubah secara radikal. Tidak ada yang bisa percaya apa yang terjadi setelah kelahiran baru saya. Suatu kali saya meminta kepada Elohim untuk memberi saya beberapa pengalaman membuktikan kepada saya bahwa saya benar-benar telah berubah. Sebenarnya, Elohim memberi saya banyak pengalaman, tidak hanya untuk membuktikan perubahan tersebut dalam hidupku, tetapi juga untuk melatih saya untuk menghadapi  datangnya tantangan-tantangan keras dan berduri. Saya tidak memilih cara baru, bahkan hidup saya dengan Ha Mashiah. Sebaliknya, saya berusaha untuk menyangkal apa yang saya lihat. Ha Mashiah yang memilih saya. Dia tidak memilih saya sembarangan tapi jelas untuk tujuan dan pelayanan tertentu yang Dia sudah sediakan bagi saya. Dalam hal ini, saya ingin menyebutkan beberapa pengalaman berbahaya yang saya hadapi dan apa yang Tuhan lakukan dengan saya.

Saya biasa bekerja di kantor dengan tiga rekan lainnya. Kami bekerja secara bergiliran, jadi kita jarang berkumpul. Setiap kami memiliki loker sendiri untuk menjaga barang-barang pribadinya. Suatu hari, saya terkejut menemukan bahwa beberapa barang saya hilang. Saya tidak memiliki kecurigaan terhadap salah satu rekan saya. Hari berikutnya, hal yang sama terjadi dan saya menemukan hilangnya beberapa item lainnya. Saya umumnya menyalahkan istriku, tetapi ketika hal yang sama terjadi untuk ketiga kalinya dan semua gaji saya dicuri, saya akhirnya menyadari bahwa kunci rusak. Saya tahu pasti bahwa salah satu rekan saya yang bertanggung jawab. Tiba-tiba, roh setan kemarahan yang mengerikan mengontrol saya. Saya mulai bersumpah dan mengutuk dengan cara lama, seperti sebelum saya diselamatkan. Saya berkata, “Jika saya telah menerima Ha Mashiah dan kalian telah melihat Saya lemah lembut seperti anak domba, itu tidak berarti bahwa kalian bisa mempermainkan saya, membuat saya mangsa yang mudah bagi kalian.” Saya bersumpah untuk membalas dendam kepada mereka dan membalas dendam secara ganda. Saya memutuskan untuk memecahkan loker mereka dan mengambil semua milik mereka dan kemudian membakarnya, meninggalkan semua loker terbuka, seperti Abraham telah lakukan dengan berhala-berhala. Saya ingin mereka tahu perasaan orang-orang yang dirampok dan dijarah. Saya pergi dan mengambil palu besar untuk melaksanakan rencana saya. Saya menutup kantor dan setelah yakin tak seorang pun yang melihat, saya meraih palu dengan kedua tangan dan mengayunkannya ke udara. Saya bau dengan kemarahan dan menggigil dengan keinginan membara untuk membalas dendam. Saat saya hendak memukul loker saya merasakan sesuatu memegang tangan saya dan suara lembut berkata, “Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan atau penghinaan dengan penghinaan, tetapi dengan berkat; jadilah pembuat damai.” Saya menengok untuk melihat siapa yang berbicara, tapi tidak ada seorangpun. Saya berkata kepada diri sendiri, “Oh Elohim, apakah Engkau setuju dengan apa yang telah terjadi padaku? Kehendak-Mu jadilah. Padamkanlah amarahku dan matikan api murkaku. Saya susah mengendalikan diriku sendiri. Berikanlah saya damai.” Tiba-tiba, saya merasakan kedamaian yang aneh di sekitar saya, seolah-olah tidak ada yang terjadi. Saya mendengar suara yang meminta saya untuk menulis pada sebuah kertas sebagai berikut:
“Saudarku yang terhormat yang membuka loker saya,
Saya minta maaf karena tidak dapat memenuhi kebutuhan mu. Harap tuliskan semua yang kamu butuhkan dan saya, oleh kasih karunia Elohim, akan melakukan yang terbaik untuk membantu mu. Untuk membuktikan niat baik dan kejujuranku, saya tidak akan memperbaiki kunci yang rusak. Saya tahu bahwa kasih Elohim adalah sangat besar bagi kita semua manusia. Akhirnya, saya berharap bahwa damai sejahtera Elohim yang melampaui semua pikiran akan memelihara hidup Anda selamanya.
[Filipi 4.7]
Saudaramu

Setelah menulis surat itu, saya taruh di lokerku dan meninggalkannya seperti sebelumnya. Saya berdoa dan mengucap syukur kepada Elohim yang mencegah saya dari yang sesat oleh pikiran-pikiran setan. Saya pulang dan memeluk istri saya secepat ia membuka pintu untukku. Dia berkata, “Jangan takut. Jika Elohim di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?

Adapun uang yang dicuri, Alkitab mengatakan, “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; Elohim  mampu memenuhi semua kebutuhan kita sebab Dia adalah YAHWEH Jireh [TUHAN Yang Menyediakan] kita. [Roma 8:31 dan Mazmur 37:25]

Dua hari kemudian, kami mendapat kejutan. Salah satu rekan saya datang ke kantor saat saya bertugas. Itu tidak biasa. Saya bertanya kepadanya, “Ada apa?” Dia berkata, “Saya ingin bicara dengan kamu.” Apa yang ingin kamu bicarakan?” saya bertanya. Dia bilang lebih baik pergi ke tempat yang sunyi berbicara berdua. Jadi, kami duduk saling berhadapan. Dia menunduk dan berkata, “Saya tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada kamu. Saya tidak tahu harus berbuat apa.” Kataku, “Ceritakan apa yang telah terjadi.” Dia membuka sebuah tas kecil dan menunjukkan semua item yang ia telah ambil dari lokerku. Saya tidak bisa mempercayai mataku. Saya tidak yakin bahwa hal-hal yang demikian bisa terjadi padaku bahwa item-item itu dapat kembali. Saya tidak mengharapkan seorang pria seperti dia menjadi pencuri. Dia adalah orang yang religius yang biasa menjaga doa-doa secara teratur. Dia berkata: “Itu semua adalah barang-barang yang saya ambil dari lokermu; silahkan ambil mereka kembali dan jangan memberitahu siapa pun. Tentang uang, saya tidak dapat membayar kamu kembali sekarang, karena anak-anak saya telah sakit parah dan saya harus membawa mereka ke dokter. Saya dapat membayar kamu kembali secara bulanan.” Saya berkata, “Kamu dapat mengambil semua ini. Mereka adalah milikmu sekarang. Saya tidak berbohong ketika saya menulis surat kepada kamu. Yahweh akan memberikan kompensasi pada saya untuk semuanya, kamu ambil uang itu. Saya yakin Yahweh akan menyediakan untuk segala sesuatunya. Seandainya saya tidak jujur, saya tidak akan meninggalkan loker terbuka dengan kunci rusaknya.” Dia berkata, “Saya hanya punya satu pertanyaan. Saya ingin kamu menjawabnya terus terang.” Saya menjawab, “Apakah saya berbohong kepada kamu sebelumnya.” Dia berkata, “Tidak.” Saya bertanya, “Apa pertanyaan kamu?” Dia mulai, “Kau bicara seperti orang Kristen berkata, ”Yahweh, Yahweh.” Kamu menggunakan kata-kata dan ungkapan yang sama yang saya sering dengar dari Gergis tukang kayu, tetanggaku, yang adalah orang Kristen.” Saya berkata kepadanya, “Bahkan, ketika saya menemukan bahwa barang-barang saya tercuri, saya punya dua pilihan, entah membayar agresi dengan agresi, dan gigi ganti gigi sesuai dengan Hadis yang mengatakan, “Dia yang meninggal tanpa uang, ia adalah seorang martir,” dan ”Jangan seorang pun dari kamu menjadi pengecut, hanya ambil hak-hak mu jagan perduli yang lainnya.” Dengan kata lain, saya memiliki pilihan tentang cara apa mana saya bisa mendapatkan kembali barang-barang saya. Pilihan lainnya adalah untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan dan tidak untuk membalas dendam untuk diriku. Jika seseorang ingin menuntut saya dan mengambil kemejaku, saya harus membiarkan dia memiliki jubah saya juga [Matius 5:38-42]. Yang mana dari kedua cara tersebut lebih baik menurut pendapat kamu?” Dia berkata, “Pilihan kedua tentunya jauh lebih baik.” Saya berkata, Itulah yang saya telah lakukan. Saya berperilaku dalam cara demikian, untuk menjaga ikatan kasih dan kebaikan, mengabaikan perilaku yang bersumber entah itu dari Islam, Kristen atau Yudaisme. Yang penting adalah perilaku itu sendiri. Jika saya menemukan perilaku seperti itu dalam Islam, misalnya, saya akan berlaku seperti itu tanpa ragu-ragu.” Dia bertanya-tanya, “Dari mana kamu mendapat ini? Dimana kamu telah mempelajari konsep-konsep tersebut?” Saya menjawab, “Saya akan memberi tahu Anda kemudian. Sekarang kamu tegang. Beberapa waktu kemudian, ketika kamu beristirahat, saya akan menceritakannya, mungkin setelah beberapa hari atau satu bulan. Jika kamu masih tertarik untuk tahu, saya tidak akan ragu-ragu untuk memberitahu kamu.”

Dua minggu kemudian, setelah ia selesai giliran tugasnya, rekan saya ini datang kepadaku dan berkata, “Sekarang ketegangan saya telah turun dan saya masih tertarik untuk mengetahui sumber ajaran kamu, sebagaimana kamu telah berjanji.” Saya berkata kepadanya, “Saya akan menemui kamu besok untuk memberitahu kamu semua yang kamu ingin tahu.” Keesokan harinya, ia bertemu dengan saya dan menanyakan pertanyaan yang sama. Saya berkata kepadanya, “Sebentar.” Saya mengambil Alkitab dan berkata padanya, “Jika kamu benar-benar ingin tahu dari mana saya telah belajar semua itu, bacalah buku ini!” Dia berkata, “Itu adalah Alkitab! Allah melarang.” Saya berkata, “Ya, ini adalah Alkitab dan kamu benar-benar bebas untuk membacanya jika kamu ingin tahu. Kamu dapat mengambilnya jika kamu ingin. Jika tidak, itu terserah Anda.” Dia mengambil AlKitab tersebut dan terus membulak-balik kedua sisi dan melihatnya dengan terheran-heran. Akhirnya, ia mengambilnya dan pergi. Saya berkata, “Jika kamu mengalami kesulitan apapun, kamu bisa bertanya kepada saya.”

Selama dua minggu, dia terus datang ke saya dengan berbagai pertanyaan. Dia terus membaca Alkitab sampai suatu kali saya melihat perubahan besar dalam hidupnya. Cintanya kepada Alkitab sangat meningkat. Suatu hari, ia berkata, “Buku ini berisi berkat yang besar. Sejak saya membacanya, hubungan saya dengan istri saya semakin bertambah baik dan semua perbedaan kami telah lenyap.” Kataku, “Bacalah lebih lanjut untuk mengetahui apa yang harus kamu lakukan.” Ia menyerap isi Alkitab dengan cepat. [Iblis sangat sadar, jika seorang membaca Alkitab, orang tersebut akan mengetahui kebohongannya, itulah sebabnya ia melarang!]

Suatu hari, dia datang padaku dan tiba-tiba meminta saya untuk mengajarkan kepadanya doa cara Kristen. Dia ingin tahu bagaimana itu nampaknya. Saya katakan kepadanya bahwa itu tidak memiliki aturan tertentu. “Kamu dapat berdoa dalam posisi apapun, dengan gaya apapun,” kataku. Tiga bulan kemudian, kejutan besar terjadi, dia datang memeluk dan merangkul saya dengan hangat. Dia bertanya bagaimana ia dapat dibaptis. Teman saya ini menerima Yahweh dan dia menjadi berkat yang luar biasa untuk seluruh keluarganya. Saya senang merasa bahwa Elohim benar-benar telah memilih saya untuk bekerja di kebun anggur-Nya dan menjadi salah satu dari domba-Nya. Ini adalah suatu kehormatan untuk menjadi salah satu dari orang-orang yang memimpin sesamanya, bukan untuk khayalan dan penipuan tetapi untuk Keselamatan dan Hidup Kekal. Di masa lalu, saya biasa menangkap orang-orang untuk membawa mereka kepada kehancuran. Betapa indahnya bekerja dengan Yahweh, Gunung Batu Yang berabad-abad, Juruselamat Yeshua Ha Mashiah.

Untuk pertama kalinya, saya mulai merasa bahwa saya mencintai negeriku dan bangsaku. Saya mulai mencintai pengampunan dan toleransi. Sungguh, saya menjadi ciptaan baru. Elohim memakai saya menarik banyak jiwa kepada Ha Mashiah, membawa kembali banyak domba yang tersesat yang telah meninggalkan-Nya. Saya melewati banyak pengalaman masa lalu yang masih tersisa. Serangan Iblis datang melalui kehidupan lama pada rohku dan juga tubuhku.

Suatu hari, saya pergi untuk mengunjungi keluargaku. Saya [pergi ke stasiun untuk] naik minibus. Saya mendengar sopir memanggil penumpang untuk masuk dan mengambil tempat mereka, saya masuk dan supir itu menyuruh saya duduk di kursi yang menampung tiga penumpang – tapi saya adalah orang keempat. Disebelah saya, duduk seorang yang besar yang ketat dalam beragama, berjenggot,  dan disampingnya duduk istrinya yang berjilbab. Pria ini tidak bersahabat terhadap saya. Dia menatapku dan menekan saya dan menyisahkan sedikit tempat. Dia meregangkan kaki, memberikan ruang pada saya hanya beberapa centimeter. Ketika saya melihat ini, saya meninggalkan mobil. Sopir bertanya padaku apa yang salah. Saya bilang tidak ada tempat untuk saya. Dia bilang kursi untuk empat penumpang, dan ia meminta Syekh untuk memberi saya beberapa ruang. Tapi saya merasa bahwa orang yang tidak ingin ada yang duduk di sampingnya sehingga tidak ada seorang pun mengganggu istrinya. Akibatnya, saya keluar dan membayar ‘tempat’ keempat tersebut agar tidak seorang pun akan duduk di samping mereka. Saya meminta sopir untuk memberikan seluruh ruang sehingga tidak ada seorang pun mengganggu istrinya. Penumpang pria itu menyadari apa yang terjadi, kejantanan, kegentelman dan kesopanannya tiba-tiba terbangun dalam dirinya. Dia bersikeras bahwa saya duduk di sampingnya. Saya katakana itu tidak perlu, nanti saya akan mendesak tubuh mereka, tapi dia tetap bersikeras untuk saya duduk bersama mereka. Dia memberiku ruang yang cukup.  Minibus itu bergerak untuk beberapa meter dan orang itu bertanya padaku pertanyaan yang tidak terduga, “Apakah Anda seorang Muslim atau Kristen?” Saya bertanya kepadanya, “Mengapa Anda ingin tahu?” Dia berkata, “Saya hanya ingin tahu?” Saya menjawab, “Saya seorang Kristen.” Dia mengeluh, “Celaka, jika Anda seorang muslim, perilaku Anda ini akan lebih berharaga.” Saya bertanya, “Apakah Anda mengenal siapa saya?” Dia berkata, “Tidak.” Kataku, “Saya pun tidak mengenal Anda. Tetapi mengapa Anda berpikir bahwa saya akan melakukan itu untuk Anda?” Dia menjawab, “Yah, saya tidak tahu.” Saya katakan kepadanya bahwa kami (orang-orang Kristen) memiliki teks dalam Alkitab yang memperingatkan kami untuk mengasihi semua orang, termasuk orang-orang yang menyakiti kami. “Saya menyadari betapa keras Anda telah berlaku kepada saya dan saya hanya ingin menunjukkan jenis kasih yang mengisi kami terhadap semua yang membenci kita. Saya tidak bisa membantu kecuali berkelakuan sama seperti itu.” Dia bertanya, ”Apakah Anda memiliki Kitab Suci.” Saya menjawab, “Ya.” Dia bertanya, “Apakah kamu menyembah Elohim (Allah)?” Kataku, “Siapa lagi yang dapat kita sembah?” Dia meneruskan, “Saya tahu bahwa Anda menyembah Ha Mashiah, para imam dan biarawan, sebagamana Kuran berkata.” Saya berkata, “Tidak semua yang Anda tahu tentang kami adalah benar. Jika tidak, Anda tidak akan mengagumi perilaku saya terhadap Anda. Dapatkah saya menyarankan sesuatu?” Dia berkata, “Dapat.” Saya memberi kepadanya sebuah Alkitab. Dan berkata kepadanya, “Alkitab ini mencakup Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Bacalah itu dan lihatlah apa yang ada di dalamnya. Jika Anda suka, bagus. Jika tidak, Anda tidak kehilangan apapun.” Saya beri ia Alkitab dan kami sepakat untuk bertemu di suatu tempat di lain waktu.

Kami sering bertemu setiap minggu untuk membahas pertanyaan-pertanyaannya. Setelah itu, kami mulai berdoa bersama. Dia mulai memiliki beberapa argumen dengan istrinya dan dia ingin menceraikannya. Saya katakan kepadanya bahwa perceraian bertentangan dengan kehendak Elohim. Kami berdoa untuk istrinya, damai yang berkesinambungan dan keakraban keluarganya. Saya katakan kepadanya bahwa Kekristenan adalah jenis kehidupan yang mengumpulkan orang – bukan membuyarkan, dan mengutip untuknya, Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya.”  [1Korintus 7:14]

Teman saya gembira dengan ajaran Alkitab. Yahweh memasuki rumahnya dan membawa kesatuan, damai dan berkat.

Saya tidak ingin menyelesaikan kesaksian saya. Sebenarnya, ini adalah sebuah kesaksian yang berkelanjutan. Selama Yahweh bekerja dalam diriku kesaksian akan berlanjut.

Singkatnya, saya ingin mengatakan bahwa Elohimlah yang telah memberi saya kehidupan ini secara gratis. Jika kita mempertimbangkan pilihan lain, kita tidak akan menemukan apapun kecuali kerusakan, kehancuran dan dosa. Elohim tidak menyebutkan dosa-dosa kita lagi. Kita menikmati kebebasan karena Putera [Elohim] telah membebaskan kita, Kita menjadi sungguh-sungguh bebas. [Artinya: bebas dari ikatan dan kuasa dosa, dan mampu mengalahkan keinginan dosa; 1Yohanes 5:1-21] Hidup adalah Ha Mashiah dan mati adalah keuntungan. Saya dipenuhkan dengan perasaan demikian untuk pertama kalinya dalam seumur hidupku. Di masa lalu, kematian adalah hantu yang menjijikan dan menakutkan. Dahulu saya takut akan siksaan neraka dan pertanyaan dua malaikat, dll.

Sekarang, saya ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Anda, pembacaku yang budiman, sampai kita bertemu di suatu pengalaman baru yang mendebarkan dari urusan mulia sorgawi yang tidak pernah berakhir dari Yahweh yang mampu menjaga mereka yang telah dipercayakan kepada-Nya.

Salam,
Paul

Bersambung ke Bab 9. Dahulu Saya Mati Tetapi Sekarang Saya Hidup

  1. Pendahuluan
  2. Dibelakang Kerudung
  3. Diberkatilah Bangsa Mesirku
  4. Dari Tanahair Mashiah Anak-anak Ismail Akan Kembali
  5. Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid
  6. Orang-orang Pilihan Mashiah
  7. Dari Kristen nominal Ke Islam dan Kemudian Ke Mashiah
  8. Begitulah Bagaimana Saya Telah Mengenal Elohim
  9. Dahulu Saya Mati Tetapi Sekarang Saya Hidup
  10. Instruksi-instruksi Penting
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Begitulah Saya Mengenal Elohim; Ex-Jihadist. Pt.1

[Pendahuluan, menjadi Muslim fanatik, semua kafir!, berjihad, meneliti Alkitab untuk menyerang Kristen, Kuran meneguhkan keilahian Yeshua]

Judul ini adalah bagian dari buku kesaksian Anak-anak Ismail.

Buku Anak-anak Ismail (The Children of Ismael) adalah kisah-kisah nyata yang mengharukan dan menyentuh hati setiap pembacanya. Mereka bersaksi bagamana Elohim telah merubah gurun pasir kehidupan menjadi padang rumput yang indah, rantai-rantai ikatan protokol keagamaan yang berat menjadi hubungan kasih yang manis dengan Pencipta mereka. Dilampirkan Ayat-ayat Kuran terjemahan Yusuf Ali (YA) dan Alkitab Indonesia Terjemahan Baru (ITB). Selamat membaca!

Bab 8A. Sebelum Pembaca membaca kesaksian ini, lihat dahulu videonya, maka tulisan ini (yang jauh lebih komplit dan detil dari versi videonya) akan semakin menggairahkan untuk dibaca. Saya akan bagi cerita ini dalam dua bagian. Dalam versi video ia memakai nama Khalil: “Story of Khalil”, namun pada buku kesaksian ini ialah Paul, namun isi ceritanya sama.

Pendahuluan
Cara terbaik untuk memulai kesaksian saya adalah berterima kasih kepada Elohim dari lubuk hatiku untuk perubahan besar dalam hidupku dan dalam kehidupan semua orang yang setia mencari Dia. Elohim telah menuntun saya dengan kekuatan kuasa-Nya dan menyelamatkan saya dari gua singa. Anehnya, perubahan ini bukan hasil dari keinginanku, [bukan juga] suatu reaksi terhadap sesuatu yang telah saya dengar atau khotbah oleh seorang pendeta atau penginjil. Sebaliknya, ketika saya sedang lari berkeliling menyerangi Firman-Nya dan orang-orang-Nya, Dia telah mempersiapkan segala sesuatu untuk menangkap saya dengan sebuah jala yang saya tidak bisa lolos! Dia adalah Elohim Yang Hidup yang mencari anak yang hilang. Ia membentangkan tangan-Nya kepada siapa pun yang bertobat, Dia menyebarkan cahaya-Nya kepada siapa saja yang hilang di dunia; Dia mengetuk dengan lembut pada pintu setiap rumah yang miskin dan hancur untuk mengisinya dengan kekayaan spiritual, kemurnian dan kesucian. Dia memberikan secara berlimpah-limpah dan tidak menyesal melakukannya. Dia tidak memberikan kita menurut tindakan kita, tetapi menurut rahmat-Nya.

Saya sangat ragu-ragu setiap kali saya mencoba untuk menuliskan kesaksianku. Saya takut untuk membesar-besarkan. Saya tidak ingin memakai sebuah alas. Saya tidak layak menerima kredit apapun. Semua kemuliaan milik Elohim. Saya juga telah meninggalkan beberapa kesombongan dalam diriku. Saya berpikir bahwa memberitakan karya Elohim dalam hidupku akan menjadi penghinaan terhadap egoku, karena saya dahulu adalah orang yang kejam terhadap pengikut Elohim Yang Hidup – Elohim yan sama yang telah mencari saya dan membuka mata saya untuk melihat cahaya yang belum pernah saya kenal sebelumnya.

Seperti yang akan Anda baca pada halaman berikut, saya tak punya pilihan selain menyerah dalam pertempuran antara iblis, yang tinggal dalam diriku, dan Elohim Yang Kudus yang menawarkan keselamatan-Nya dan membuka lengan-Nya untuk memegang saya. Saya benar-benar bisa mengatakan seperti Ayub, Hanya dari kata orang saja saya mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. (Ayub 42:5) dan memohon seperti Daud, Jadikanlah hatiku tahir, ya Elohim dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! (Maz. 51:10)

Ini adalah Adonai Yeshua Ha Mashiah, Firman kekal dan Roh Elohim. Dia adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup; siapapun yang percaya kepada-Nya tidak akan mati, siapapun yang  datang kepada-Nya tidak akan haus atau lapar, Dia adalah yang pertama dan terakhir, alfa dan omega, Adonai Yeshua Ha Mashiah!

Hidup saya sebelum saya percaya Ha Mashiah
Saya harus bicara singkat tentang hidupku sebelum saya percaya Ha Mashiah karena itu akan menunjukkan betapa Ia mengasihi kita. Bahkan ketika kita berperang melawan-Nya, Dia mencari kita seperti gembala yang mencari domba-Nya yang telah tersesat di padang gurun.

Saya lahir dan dibesarkan di sebuah keluarga yang sangat fundamental. Saya mengikuti teladan mereka dengan kehendak bebasku, meskipun mungkin keluargaku mempengaruhi saya. Saya mulai di ‘Kottab’ kecil (tempat belajar Islam) yang berada di daerah terpencil dekat desa kecil kami di Mesir Hulu, 200 km selatan Kairo.

Pada awalnya, minat saya terfokus hanya sekedar menghafal bagian Kuran yang merupakan bagian dari kurikulum sekolah kami. Secara bertahap, minatku menjadi lebih pribadi. Saya terdorong oleh kecintaanku terhadap firman Allah. Pada saat itu, Dewan Tertinggi Urusan Islam biasa menjalankan sebuah kompetisi tahunan sekolah dalam menghafal Kuran, dan semua sekolah Negara berpartisipasi. Ibu saya meminta saya untuk mengambil bagian di dalamnya. Jadi saya lakukan. Saya mendapat nilai terbaik, maka saya memenangkan hadiah pertama, yang merupakan penghargaan keuangan 10 Pounds Mesir. Ayahku sangat senang mendengarnya. Dia selalu mendorong saya untuk terus berpartisipasi dalam kompetisi yang setiap tahun hanya untuk mendapatkan penghargaan keuangan.

Saya terus mempelajari Kuran dengan tekun. Saya akhirnya menghafal lebih dari 15 bagian dari Kuran sebelum saya menyelesaikan SMP. Saya menyelesaikan menghafal seluruh Kuran selama di SMA. Pada saat itu, saya tinggal bersama orang tuaku serumah dengan keluarga besar kami, termasuk semua pamanku dan para sepupu. Salah satu para sepupuku adalah seorang Muslim fanatik. Dia adalah seorang mahasiswa di Al-Azhar, Universitas Islam. Dia biasa membujuk saya untuk membaca buku-buku. Kadang-kadang ia akan membelikan saya beberapa buku untuk dibaca.

Pada satu saat, keluarga dekat kami pindah ke sebuah rumah terpisah jauh dari keluarga besar. Sepupu saya juga pergi ke sebuah negara Arab untuk bekerja sebagai pengkotbah Islam di salah satu Masjid di sana. Dia tinggal di sana selama dua tahun. Ketika ia kembali, ia mengatakan bahwa kita tidak tahu Islam yang benar melalui mana kita bisa pergi ke “Al-Jannah” (sorga), karena kita tahu sangat sedikit. Dia bilang juga bahwa ia telah bertemu dengan beberapa pemimpin Islam dan Imam yang berhasil melarikan diri dari tirani penguasa di sini, [Mesir]. Dia meminta saya untuk pergi lebih dalam dalam studiku melalui beberapa buku tulisan Imam Ibnu Tammemah, Syeikh Sayed Kotb dan Ibn Hazem Al-Zahery. Meskipun ada kesulitan dari beberapa buku tersebut, saya sangat mengagumi mereka. Mereka mengusulkan sebuah jalan yang sangat menantang bagi siapa saja untuk diikuti. Sebagai contoh, saya menemukan salah satu Hadis yang mengatakan, “Setiap orang yang makan bersama atau tinggal bersama orang kafir, menjadi seperti dia.”

Sejak saat itu, saya bertujuan masuk kedalam sebuah tahap baru dalam kehidupan beragamaku. Saya mulai memeriksa orang di sekitar saya untuk tahu siapa yang kafir dan siapa yang Muslim. Saya juga mulai mengumpulkan ayat-ayat Kuran yang akan membantu saya untuk membedakan antara Muslim sejati dan Non-Muslim, saya ingin melukiskan sifat hubungan saya dengan masing-masing jenis. Akhirnya, saya berakhir di situasi situasi sangat ketat, menemukan bahwa ayahku, sesuai dengan kriteria hadis, adalah salah satu dari orang-orang kafir karena ia merokok dan tidak memelihara janggutnya. Ibuku tidak berdoa, ia sangat biasa memanggil nama orang. Saudaraku juga kafir karena mereka menonton TV atau merokok. Beberapa dari mereka tidak melakukan shalat lima waktu. Beberapa dari mereka tidak memelihara janggutnya.

Saya begitu marah dengan saudara-saudaraku sehingga saya mencegah mereka meneruskan tahap tertentu dari studi mereka. Saya juga meminta ayahku untuk menceraikan ibuku karena dia tidak mematuhi saya, hal yang sepertinya membuat marah ayahku sangat besar. Saya sampai pada kesimpulan akhir bahwa ayahku, ibuku dan saudara-saudaraku semuanya kafir. Saya bertanya sepupuku apakah saya harus tinggalkan mereka, dan ia menjawab saya positif. Saya bertanya kepadanya jika saya mengakhiri hubunganku dengan mereka, kemana saya pergi? Dia meminta saya untuk datang dan tinggal bersamanya.

“Apakah kamu memiliki keraguan dengan sepupumu dan istrinya tentang iman mereka?” Tanyanya padaku. Saya berkata kepadanya, “Tidak, kalian adalah benar-benar orang-orang percaya.” Dia berkata, “Jadi, datang dan bawa semua harta milikmu dan tinggal dengan saya pergi dari kehidupan perselingkuhan dan ketidaksetiaan rumahmu.” Jadi, saya mengemasi barang-barang saya dan meninggalkan keluargaku. Dengan air mata, ibu saya dan saudara mengucapkan selamat tinggal kepada saya. Saya tidak ambil perduli dengan air mata mereka. Saya benar-benar bertekad untuk tidak ada bersama dengan orang-orang kafir lagi. Saya yakin dengan sukacita untuk meninggalkan rumahku demi Allah.

Sepupuku menetap di Kairo. Dia menyewa sebuah apartemen di dekat Universitas Al-Azhar. Dia berada di tahun terakhir studi akademisnya, jadi saya harus kembali ke rumah ayahku dengan malu dan terhina. Saya tanya sepupuku, “Tidakkah kamu pikir bahwa kedatanganku kembali ke rumah ayahku adalah sebuah pelanggaran?” Dia menjawab: “Tidak, karena kebutuhan tidak mengenal hukum dan larangan perlu pembenaran.” Dia membaca: Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (S. 2:173.) [Islam mengajar kebenaran relatif]

Saya berada di langit sembilan, mendengar itu. Saya berada di tahun terakhir di sekolah tinggi, dan saya memutuskan untuk belajar keras sehingga tidak ada orang akan mengatakan bahwa agama adalah hambatan bagi keberhasilan akademis. Saya berhasil mendapat nilai yang tinggi dalam Ijasah Umum Pendidikan; saya berhasil bergabung dengan Fakultas Kedokteran, Universitas Kairo.

Sedikit demi sedikit, pikiran saya dibebaskan dari semua pola pikiran sepupuku yang biasa menekan. Saya membaca banyak buku yang ia biasanya larang dengan berkata, “Mereka membawa pikiran kelompok Islam ‘Takfeer dan Al-Hijrah’ atau penjahat abad kedua puluh. Kata-katanya memotivasi saya untuk pergi dan menemukan apa yang orang-orang tersebut katakan.

Di sekolah kedokteran, saya menemukan banyak aliran politik yang diwakili oleh kelompok-kelompok kecil yang sah. Saya memutuskan untuk bergabung dengan kelompok keagamaan untuk menjaga keseimbangan dengan kelompok lain. Pemimpin kelompok adalah anggota fakultas. Dia juga sekretaris umum. Kami memiliki orang lain yang bertanggung jawab untuk membuat kontak di dalam anggota kelompok.

Tidak diragukan lagi, saya menghadapi banyak kesulitan dalam kelompok ini; mereka menjalani kehidupan Islam tradisional yang jauh dari pemahaman yang benar tentang Islam dalam hubungan dengan non-Muslim (saya tidak maksudkan para Kristen, tetapi para Muslim nominal). Dengan demikian, ambisi agamaku tumbuh lebih dan lebih. Saya fanatik dalam usahaku mencapai status seperti mereka yang telah berpetualangan melawan pemerintah dan rezim. Jadi, saya mulai sebuah sel, sebuah kelompok kecil. Saya mengajar mereka Islam, sebagaimana saya memahaminya. Saya merasa ketaatan dan komitmen mereka. Kami terbiasa berdoa bersama di tempat terpencil jauh dari masjid karena kami berpendapat bahwa ini adalah sama dengan apa yang orang Yahudi telah bangun untuk menghambat nabi Muhammad.

Jadi, saya mulai menyortir hubungan saya dengan orang-orang sesuai dengan posisi mereka dan pemahaman Islam. Jika seseorang menolak apa yang kami katakan, ia akan dianggap kafir dan akan diperlakukan seperti kafir,  “Janganlah orang-orang mukmim/ beriman mengambil teman-teman atau penolong dari orang-orang kafir kecuali orang-orang mukmin …” (S. 3:28) atau Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin… (S. 3:28 YA)

Saya tidak ada kesulitan melakukan itu. Kita semua yang merupakan bagian dari kelompok itu didorong oleh keinginan yang besar dan antusiasme untuk mengikuti contoh dari nabi Muhammad.

  • Kami selalu membayangkan Abu Obeida anak Garah, yang digambarkan oleh nabi Muhammad sebagai pemimpin bangsa, membunuh ayahnya saat terakhir menolak untuk bergabung Islam;
  • Mosaab anak Omair, yang tidak pernah mendengarkan permohonan ibunya dan membiarkan ia mati karena ia menolak Islam;
  • dan Abu Bakar, yang mengatakan kepada ayahnya bahwa dia akan membunuhnya jika ia tidak masuk Islam. Semua gambaran ini membuat kami lebih kejam terhadap keluarga kami dan teman-teman kami jika mereka menolak Islam versi kami. Sungguh menyakitkan berteriak pada ibuku dan ayahku, dan bersumpah pada saudara-saudaraku, mengancam akan membunuh mereka, tetapi satu-satunya motif saya adalah untuk mematuhi Allah dan nabi. Saya ingin mencapai status mereka mentaati Allah. Saya terus mengingatkan diriku dari Hadis nabi Muhammad, “Setiap orang dari kalian belum menjadi orang percaya sejati sampai dia mencintai Allah dan nabi lebih daripada uangnya, anak-anaknya atau bahkan dirinya sendiri.” [mengutip Injil Lukas 14:26 tanpa pengertian yang benar]

Ada sebuah sekte dengan siapa kami perlu mendefinisikan hubungan kami, sesuai dengan Kuran dan Sunnah. Itu adalah para Ahli Kitab (People of the Book), dan para Kristen khususnya karena tidak ada orang Yahudi tinggal di Mesir, bahkan jika mereka ada tinggal di sana, mereka tidak memiliki hubungan dengan siapa pun. Setelah mencari sikap Nabi Muhammad terhadap orang Kristen, kami menemukan gambaran itu sangat gelap. Namun, hal ini baik-baik saja dengan kami karena kami cemburu kesederhanaan mereka, sopan dan keramahan yang luar biasa mereka dengan para Muslim nominal. Mereka memiliki semacam ketenangan yang aneh dalam menghadapi semua kesusahan dan penyerangan yang kami lakukan pada mereka. Kami telah menafsirkan bahwa itu ialah upaya kotor mereka untuk keluar dari pengasingan mereka sebagai minoritas di antara mayoritas Muslim. Kami beralasan bahwa satu-satunya hal yang dapat mereka lakukan adalah berlaku licik dan jahat dengan berpura-pura berlaku baik kepada umat Islam, jika tidak, mereka akan tidak ada tempat di antara kami. Itulah yang dikatakan Kuran tentang mereka, Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. (S.. 2:61)
Kebencian kami terhadap orang-orang Kristen mengambil bentuk pelecehan dan penyerangan terhadap mereka di jalan-jalan, tetapi mereka menjawab serangan kita dengan lemah lembut yang tidak masuk akal. Kami menanggapi dengan menjadi lebih agresif terhadap mereka, dan kami mulai merencanakan bagaimana kami bisa menyiksa dan mengintimidasi mereka. Kami belajar bahwa Allah telah melegalikan untuk membunuh mereka, merampas harta mereka dan menjarah rumah-rumah mereka. Menurut Kuran, semua harta milik mereka untuk ada dipertimbangkan “hadiah” dari Allah untuk umat Islam.
Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, (S.. 59:7) [Islam melegalkan tindakan dosa; pembunuhan dan perampasan]

Ini berarti bahwa semua milik mereka harus diambil dari mereka tanpa perang seperti nabi telah lakukan terhadap para Yahudi Bani Kurais ketika ia mengepung mereka, membunuh orang-orang muda mereka, mengambil tawanan wanita mereka dan menduduki tanah mereka dengan semua pohon-pohon palem dan menendang mereka dari kota mereka.

Meskipun kami tidak bisa melakukan apa yang nabi lakukan, kami berhasil masuk ke toko-toko orang Kristen dan merampok mereka. Permusuhan dan kebencian di dalam hati kami mencapai puncaknya ketika kami menyerang gereja-gereja mereka di berbagai desa di mana saya dulu tinggal. Bagian atas operasi adalah rencana untuk menyerang dan menghancurkan salah satu gereja. Serangan ini mengganggu pemerintah ketika orang-orang Kristen Koptik berdemonstrasi menentang kejadian itu. Pada saat yang sama, pemerintah tampak bahagia atas kejadian itu karena mereka memperlakukan kami dengan sangat baik di penjara.

Setelah kami menjalani hukuman kami, para penduduk desa menerima kami seperti pahlawan. Ini merupakan motivasi yang baik bagi kami untuk terus menganiaya orang-orang Kristen tetapi dengan kearifan dan kehati-hatian lebih untuk menghindari ditangkap oleh polisi. Semua peristiwa ini terjadi dalam waktu singkat. Saya telah lebih banyak terlibat dan berita yang terus seperti api liar di antara sesama siswaku. Akibatnya, salah satu pemimpin puncak Kelompok Islam yang disebut “al-Takfeer wal-Hijrah” ingin duduk bersama saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang mendalam atas keberanian saya dan kasih kepada Allah dan nabi-Nya. Saya tahu bahwa ia anggota kelompok Syukri dan saya menjadi sangat bahagia tentang hal itu. Saya ingin menjadi salah satu dari mereka. Pemimpin itu sangat berhati-hati dalam pembicaraan dengan saya. Dalam salah satu liburan musim panas, kami mengatur sebuah kamp untuk group Islam Sekolah Medis. Kami mendapat dukungan keuangan untuk kamp dari administrasi sekolah. Tujuan dari kamp yang menghabiskan banyak waktu membahas konsep-konsep Islam.

Setelah kamp, teman saya meminta saya pandanganku mengenai Kelompok Islam itu dan bertanya apakah saya ingin bergabung dengan mereka jika saya mendapat kesempatan. Dia terus mengutip dari para Hadis tentang perlunya bergabung dengan sebuah kelompok yang mengikuti Allah, sunnah-Nya dan Nabi-Nya. Satu pernyataan itu, “Dia yang mati tanpa sebuah kesetiaan, mati seperti kafir Pra-Islam” Dia juga berkata, “Tidak ada Islam tanpa kelompok;  tidak ada kelompok tanpa Emir.”

Saya merasa, karena saya mengasihi Allah dan Nabi, jadi hal terbaik untuk dilakukan adalah bergabung dengan Kelompok Islam. Kelompok sejenis ini adalah yang paling dekat dengan gagasan saya tentang Islam. Mereka mengatur bagi saya untuk bertemu kelompok Emir di rumah seorang anggota di Kairo. Saya menjabat tangan Emir Shokry dan berkata kepadanya, “Saya berkomitmen kepada Anda untuk mendengarkan dan taat, melalui tebal dan tipis, dan untuk menempatkan Anda di depan diri saya  sendiri, kecuali saya menyaksikan ketidaksetiaan dari Anda.” Adalah kesetiaan bukan hanya kata-kata Anda mengulangi. ; Anda secara nyata menaruh hidup Anda di tangan Emir. Anda akan menjual diri kepada Allah dan Nabi.” [Sumpah semacam ini umum dipakai pada sekte-sekte sesat. tanpa sadar menjadikan manusia sederajat Pencipta mereka bahkan secara praktek perkataan dan perbuatan pemimpin menjadi sederat dengan Elohim].

Saya begitu senang hari itu, satu-satunya saat saya lebih bahagia adalah hari saya dibaptis nanti. Setia membuat saya tunduk kepada Emir tanpa keraguan. Saya melakukan apapun yang ia inginkan tanpa memikirkan rasa sakit dan pergumulan-pergumulan yang saya akan hadapi karena saya merasa saya mematuhi Allah dan Nabi. Saya siap untuk melakukan bahkan lebih banyak daripada apa saya diminta untuk lakukan. Saya mulai memperlakukan keluargaku dengan kasar. Saya berhenti menyapa mereka. Ketika mereka menanyai saya, saya akan membacakan kepada mereka, Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orangorang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaikbaiknya. (S. 18:103-4 )

Ayahku meminta saya untuk menceritakan apa yang, menurut saya, akan membuat dia seorang Muslim yang sejati. Saya bilang kepadanya tumbuhkan jenggot dan tidak mendengarkan radio. Dia setuju. Saya kemudian berkata kepadanya, “Ibuku tidak berdoa, karenanya, ia adalah seorang kafir dan Ayah tidak bisa hidup dengan dia. …” Ayahku sangat marah. Dia mencukur jenggot dan hampir memukul saya dengan batu besar, tapi saya lari.

Saya harus mengatakan bahwa hal pertama yang memotivasi saya untuk bergabung dengan Kelompok Islam adalah bahwa mereka begitu jahat terhadap orang Kristen, orang yang saya benci sekali. Saya selalu mencari ayat-ayat Kuran untuk membenarkan kebencian saya dan memberikan saya hati nurani yang jelas dalam apa yang saya lakukan.

Shokry menunjuk saya sebagai seorang Emir untuk kelompok yang lebih kecil di pinggiran Kairo. Dia begitu bangga padaku dan komitmen saya terhadap penyebabnya. Dia memanggilku ‘Abu Obeida’. Masing-masing anggota kelompok memiliki nama panggilan, kami tidak pernah tahu nama asli masing-masing.

Shokry percaya saya lebih dan lebih. Dia mengirim saya ke beberapa negara Arab dan asing untuk melakukan kontak dengan anggota Kelompok. Kami bekerja sama bersama untuk menarik anggota baru untuk bergabung dengan kami dan menerima kesetiaan mereka atas nama Emir Shokry Mustafa.

Pemerintah telah mengganggu kami, sehingga kami harus melarikan diri untuk waktu yang singkat ke bukit-bukit di luar Menia, Badary dan Assiut. Setiap kali kami ditangkap, kami dikirim ke Kairo dan kemudian dilepaskan. Kita semua merasakan perlunya perubahan lokasi karena kami tidak bisa lagi tinggal di antara orang-orang kafir, menurut Hadis nabi, “Saya menolak orang yang tinggal di antara orang-orang kafir” Kami harus mengirim anggota untuk memeriksa tempat terbaik untuk ‘pindah.” Kami mencari tempat permanen untuk hidup, kembali hanya untuk menghukum rezim sekuler yang tidak mengikuti perintah Allah.

Suatu hari pada tahun 1977, anggota lain dan saya diperintahkan untuk mencari kamar apartemen di daerah,berpenduduk sangat miskin, tidak ada pertanyaan yang diajukan. Kami menemukan apartemen yang cocok dan kami menyewa itu, masih tidak tahu kenapa. Hari berikutnya kami tahu bahwa Syekh Muhammad telah diculik oleh beberapa anggota kami. Beberapa menit kemudian, anggota lain mengunjungi kami dan memberitahu kami keseluruhan cerita. Sheikh Mohammed selalu menyerang kelompok kami. Sejujurnya, ia biasa menulis hal-hal yang salah tentang kami, menyatakan kami akan menikah seorang wanita untuk lebih dari satu pria. Kelompok kami memperingatkan dia berkali-kali untuk menghentikan serangan, namun ia menganggap ringan.

Kami diberitahu bahwa tujuan operasi itu adalah untuk lebih menekan pemerintah untuk melepaskan beberapa pemimpin yang telah ditangkap sehubungan dengan insiden Akademi Teknik Militer. Kelompok kami juga ingin meminta tebusan uang untuk menutupi sebagian besar biaya kami.

Beberapa jam kemudian, sebagian besar, jika tidak semua anggota kelompok kami ditangkap di seluruh Mesir. Bahkan orang yang memiliki hubungan jauh dengan kelompok kami ditangkap juga. Kami dipindahkan ke Penjara Kalla di mana kami menghabiskan 2 tahun disiksa dan diinterogasi dalam apa yang berlabel ‘kasus milik sebuah kelompok anti-pemerintah.’  Dua tahun kemudian, kami dibebaskan. Kami harus meninggalkan negara itu secepat mungkin. Kami membagi  kelompok kami dan menyebar ke beberapa negara Arab, menunggu perintah dari Emir, yang Shokry telah tunjuk untuk mengisi tempatnya. Itu adalah awal dari akhir untuk kelompok ini. Saya jujur mengatakan bahwa jika bukan karena “Operasi Sheikh Mohammed” kelompok kami akan memiliki kekuatan besar dalam menjalankan hal-hal di Mesir.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, beberapa dari kami sedang mencari untuk sebuah kota yang kami bisa pindah dalam persiapan untuk jihad yang besar. Kami diberitahu bahwa tempat itu ditemukan, dan banyak saudara sudah pergi ke sana. Pada awal 1980, saya bergabung dengan anggota kelompok lainnya di daerah itu. Itu adalah wilayah gurun dengan tidak ada orang di sekitarnya, dengan perkecualian beberapa Badui yang melewati. Kami sediakan tempat untuk tinggal dan mulai bergerak dalam kelompok kecil, karena kita hanya memiliki satu mobil. Banyak anggota kami dibesarkan di daerah ini, sehingga mereka membantu kita banyak untuk mengenal medan dan tradisi komunitas baru. Kami berhasil menggali sumur air di kamp kami. Kami memiliki kode rahasia untuk masuk dan keluar. Kami meronda kamp secara bergiliran. Kami terlatih dalam penembakan senjata dan memberikan setiap orang senapan untuk membela diri dalam kasus serangan.

Selama beberapa hari pertama, semua berjalan baik dan kami senang. Kami ingat saat nabi Muhammad bermigrasi ke Madinah. Kami menanti hari kami kembali ke Mesir dan menaklukkannya seperti  nabi lakukan terhadap Mekah. Kami memiliki tradisi setiap kami masing-masing, telah meninggalkan keluarga kafir kami dan berhijrah demi Allah, mengulangi bait puisi berikut:

“Selamat tinggal, tanah air saya, itu mungkin untuk  waktu yang lama!
bangsamu dan milikku telah meninggalkan Kuran!
Sulit bagi saya untuk pergi, tapi
saya mencari kebenaran! ”


Kami mengulangi kata-kata dengan penuh antusias. Kami tidak peduli apapun selain Panggilan Islam. Kami siap untuk menghadapi semua kesulitan demi Allah. Kami pikir jika kita mati, kami akan masuk surga, jika tidak, kami akan memenangkan pertempuran. Bait puitis ini mengisi kami dengan sukacita dan kebanggaan, tetapi juga mengisi mata kami dengan air mata dan kesedihan, hilang teman dan keluarga.

Kota yang kemana kami berimigrasi menderita masalah, kerusuhan dan perang gerilya. Semua orang kota bersenjata, yang membuat lebih mudah bagi kami untuk membawa senjata tanpa kerumitan apapun. Pihak berwenang setempat mendengar kehadiran kami melalui para Badui, yang kadang-kadang tersesat di gurun di daerah ini dan biasanya datang kepada kami untuk menunjukkan jalan kembali. Suatu hari, salah satu penjaga kami melihat, melalui teleskop, dua mobil bersenjata datang ke perkemahan kami. Ketika mereka hanya beberapa meter jauhnya, ia menghentikan mereka dan bertanya kepada mereka apa yang mereka inginkan. Mereka ingin bertemu dengan kami untuk mencari tahu siapa kami, mengapa kami tinggal di daerah tersebut dan kelompok mana kami tergabung. Mereka takut bahwa kami anggota pembangkang daerah itu. Setelah percakapan panjang, di mana saya ambil bagian, mereka tahu bahwa kami tidak penduduk setempat tapi pendatang ke daerah tersebut, yang membuat mereka lebih curiga. Setelah banyak diskusi, kami dengan sedih harus meninggalkan kamp kami dan meninggalkan impian kami di daerah tersebut.

Karena kami berada di sebuah negara di sebelah Mesir, kembali itu mudah dan murah. Kami tidak punya pilihan selain untuk melanjutkan rencana kami. Kita semua memutuskan untuk kembali ke Kairo, tetapi beberapa kawan dan saya, untuk beberapa alasan yang tak terduga, tinggal di belakang untuk waktu yang lama. Selama waktu itu, kita harus mengetahui beberapa saudara yang berpartisipasi dalam perang Afghanistan. Kami berhasil meyakinkan mereka bahwa perang Afghanistan bukan demi Allah dan Islam. Mereka menyatakan kesetiaan kepada kelompok kami dan banyak membantu kami sampai kami kembali ke Mesir melalui  pejalanan darat pada awal 1990.

Ketika kami mendekati Kairo, kami ditangkap dan dibawa ke Departemen Dalam Negeri. Setelah beberapa waktu interogasi, mereka merilis kami. Kami mencoba, bersama-sama dengan orang-orang yang tetap setia, untuk membangun kembali kelompok tersebut. Kami biasa bertemu dua kali sebulan untuk mempelajari dan merumuskan ide-ide utama kelompok. Tugas ini selesai pada Februari 1990.

Suatu hari, salah satu saudara kami yang bertugas untuk meninjau buku, majalah dan koran, mengumpulkan informasi tentang kelompok Islam serupa di seluruh dunia, datang kepada kami. Dia sedih dan wajahnya tampak merah. Dia bertanya kepada kami, “Apakah kalian membaca koran hari ini” Kami berkata, “Tidak, ada apa?” Dia berkata, “Mereka menahan sekelompok misionaris yang mempertobatkan Muslim nominal ke Kristen.  Memikat mereka dengan uang atau melibatkan mereka dalam hubungan seksual…. “ Kami sangat malu, terutama karena itu merupakan bulan Suci Ramadan. Kami harus mengambil sikap terhadap orang-orang yang mempromosikan kejahatan. Tapi bagaimana kita dapat merubah kejahatan? Dengan tangan? Itu akan sangat sulit. Dengan kata-kata? Itu akan sedikit yang bisa kami lakukan, tapi bagaimana dan kapan? [Menurut Dr. Mark A. Gabriel, dalam bukunya “Islam and Terrorisism“, berita ini hanyalah gossip, dibuat untuk membangkitkan kebencian]

Tahap permulaan:
Ketika kami membaca koran itu, kami merasa malu bahwa kami telah gagal berdiri untuk Allah. Kami memutuskan untuk memainkan peranan  yang efektif terhadap penginjilan Kristen untuk menghentikannya dengan segala cara. Setelah argumen panjang, kita mengesampingkan solusi militer karena berbagai alasan. Sebagai contoh, sistem keamanan negara telah berkembang di Mesir secara luar biasa dibanding pada 1970-an, para pemimpin kelompok kami aktif, para pemimpin aktif kelompok kami , yang berhasil menyelinapkan kami ke dalam  wilayah  bahaya di luar negeri, sudah pergi dan kami tidak memiliki pengganti yang memadai. Beberapa dari pemimpin tersebut telah dihukum mati; lainnya melayani hukuman seumur hidup.

Oleh karena itu, kita tidak tinggalkan pilihan militer dan mencari jalan lain untuk mengatasi penginjilan Kristen. Akhirnya, kami berpikir tentang ‘confrontation’ logis – mengekspos ajaran-ajaran palsu dan korupsi di dalam Taurat dan Alkitab. Semua pemimpin memuji pendekatan itu, dan kami mulai mencari orang yang dianggap mampu untuk tanggung jawab besar ini menunjukkan kebenaran dan mengalahkan orang-orang kafir. Saya tak pernah berharap menjadi calon untuk tugas itu, bukan karena kurangnya kemampuan tetapi karena semua orang tahu betapa saya benci orang Kristen. Setelah lama berdiam diri tegang, suara Emir mengumumkan nama orang yang memilih untuk melakukan pekerjaan itu. Saya hampir pingsan ketika mendengar namaku. Saya bersih keras dengan pendirian ku disertai kemarahan. Bagaimana mungkin mereka meminta saya untuk melakukan pekerjaan itu, salah satu syaratnya tentunya, membaca buku Yahudi dan Kristen?

Emir kami  menatapku dan berkata,“Ini perintah! Kamu tidak punya pilihan selain mematuhi jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Terakhir.” Dia mengutip dari Kuran, Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. (S. 33:36)

Saya mencoba meyakinkan Emir untuk memilih orang lain, tapi ia menolak. Dia berkata padaku, “Saya merasa bahwa kamu  adalah orang terbaik untuk tugas ini. Jika kamu melakukannya dengan baik, kamu akan membunuh 2 burung dengan satu batu. Pertama, kamu akan mendidik semua umat Islam dan membuka mata mereka kepada fakta-fakta yang mereka tidak dapat melihat, kedua, kamu akan mendapatkan banyak ‘uang yang baik’, karena penelitian kamu akan diterjemahkan dan diterbitkan di seluruh dunia …. ”

Kata-katanya membuatku begitu ingin untuk mengambil topik tersebut dan sifat penelitian. Emir mengatakan, “Penelitian kamu harus memiliki 2 bagian:

Pertama, untuk membuktikan dari Taurat dan Alkitab keaslian panggilan Muhammad sebagai nabi, seperti Kuran katakan; (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, (S. 7:157);
Kedua, untuk membuktikan, menemukan kontradiksi, bahwa Taurat dan Alkitab yang orang-orang miliki pada saat ini tidak sama dengan Kitab yang diilhami oleh Allah, dan mereka telah berubah dan dirusak ….”

Dengan enggan, saya menerima misi ini. Saya berkata kepada Emir, “Tapi tugas ini menuntut bahwa saya membeli Taurat dan Alkitab untuk dibaca.” Dia mengatakan kepada saya bahwa kami akan pergi ke pusat kota Kairo untuk membelinya. Kami berjalan di Jalan Gomhoria sampai kami menemukan sebuah toko buku yang menjual buku-buku ini. Kita tidak bisa mausk ke toko buku memakai pakaian tradisional kami karena itu mencolok. Orang-orang di toko buku kemungkinan besar akan telepon polisi berpikir bahwa kami datang untuk merusaknya. Seorang pria melewati tempat itu, dan kami menghentikannya dan bertanya tentang namanya. Kami memintanya untuk pergi ke toko buku dan membeli buku untuk kami. Dia.

Emir dan saya kemudian pergi ke rumah saya di selatan Kairo. Kami membutuhkan waktu lebih dari beberapa jam, untuk saya mencoba menyingkirkan Alkitab. Sekali saya tinggalkan itu di kursi, waktu lain, saya pura-pura lupa. Tapi setiap kali, Emir akan membawanya kepada saya dan mengingatkan saya untuk Kitab itu tetap bersamaku. Akhirnya, kami sampai di rumah. Emir berangkat ke kota asalnya dan meninggalkan saya untuk memulai perjalanan sulit dengan Taurat dan Alkitab.

Hari pertama ialah saat-saat yang paling sulit. Saya berada di bawah kesan bahwa Alkitab itu bukan dari Allah, dan bahwa hal itu bisa membawa setan ke rumah saya dan saya tidak akan bisa berdoa. Oleh karena itu, saya menyimpannya di luar kamarku. Selama beberapa hari, saya paranoid. Setiap kali saya mendengar suara di rumah, saya pikir Allah telah mengirimkan setan untuk menghukum saya karena kehadiran buku ini. Saya tidak menyimpan Alkitab di ruang di mana saya berdoa karena saya pikir malaikat tidak akan masuk ke kamar jika itu  ada di sana.

Saya mengalami ketakutan untuk waktu yang lama sampai saya menyadari bahwa saya tidak memilih untuk memiliki kitab ini di rumahku. Saya hanya mentaati Allah, melalui mematuhi Emir. Nabi Muhammad memerintahkan kita dalam Hadisnya untuk mematuhi Emir, “Barangsiapa menuruti Emirku telah mematuhi saya, dan siapa mendurhakai Emirku telah mendurhakaiku.” Saya sampai pada kesimpulan bahwa saya melaksanakan perintah Emir yang dipilih-Allah, dan, karena itu, Alkitab tidak akan membahayakan saya jika saya menyimpannya di kamarku; Allah akan membantu saya.

Kelompok ini memberikan saya semua yang saya butuhkan. Mereka memberiku 500 £ Mesir setiap bulan sebagai uang saku sebagai imbalan untuk penelitian penuh waktu. Setiap kali saya mencoba melupakan penelitian itu, saya akan mengingat Hadis, “Barangsiapa mentaati Emirku telah mematuhi saya, dan siapa mendurhakai Emirku telah mendurhakaiku” Saya meminta Allah  tiga kali untuk pengampunan dan kemudian berdoa.. Tidak ada yang mengalihkan perhatianku dari melakukan pekerjaan itu. Saya punya banyak referensi yang membantu saya melakukan yang terbaik, dan saya sudah memiliki pengetahuan yang baik tentang masalah Kristen. Jadi, saya membuat keputusan untuk memulai perjalanan keras ini.

Saya khawatir karena saya tidak tahu di mana atau bagaimana untuk memulai. Saya tidak memiliki metode khusus untuk mendekati dua bagian dari penelitian. Misalnya, mengenai isu membuktikan kenabian Muhammad, saya berharap menemukan nama yang tepat ‘Muhammad’ di dalam Taurat dan Alkitab, atau setidaknya ‘Ahmed’ atau ‘Mahmoud’. Saya tidak tahu di mana atau bagaimana untuk memulai. Situasi kacau di pikiran saya. Saya tidak yakin nama apa yang saya harus cari di dalam Taurat: Mohammed? Ahmed? Mahmoud?

Saya jadi bingung, jadi saya memutuskan untuk pindah ke bagian kedua dari penelitianku, yaitu untuk mencari perbedaan dan kontradiksi untuk membuktikan bahwa Taurat dan Alkitab tidak dari Allah [dalam arti: YAHWEH]. Demikian juga, saya gagal untuk menentukan standar yang saya bisa mengukur Taurat dan Alkitab dan menyangkal mereka. Saya marah karena hal-hal ini, entah bagaimana, membuat saya merasa tidak kompeten dalam melakukan penelitian ini. Menyerah bukanlah salah satu kualitas saya, jadi saya memutuskan untuk fokus dan tidak menyimpan upaya untuk mencapai tujuan saya.

Emir dan saya bertemu sebulan sekali untuk membahas penelitian. Setiap kali saya memintanya untuk berubah pikiran dan menugaskan ke orang lain dan saya akan membantu. Namun, ia dengan aneh akan bersikeras bahwa saya adalah orangnya untuk pekerjaan itu.

Saya berdoa dan meminta Elohim untuk kekuatan. Saya merasa luar biasa berani dan mulai membaca Alkitab, tetapi tanpa sistem atau metode. Saya mulai dengan kitab Kejadian dan saya tidak tahu apa yang harus dicari. Saya menemukan nama-nama aneh yang belum pernah saya dengar sebelumnya dalam hidupku, yang membuat saya marah. Saya melemparkan buku di sudut dan berkata dengan marah, “Orang-orang Yahudi dan orang Kristen bodoh. Bagaimana mereka bisa mengatakan  bahwa sebuah buku yang aneh  seperti  ini, penuh dengan nama-nama aneh, berasal dari Allah? Mereka gila. ” Saya berhenti membaca!

Dua hari kemudian, saya kembali membaca Alkitab. Kali ini, saya tidak membaca dalam Kejadian karena saya tidak ingin menemukan nama-nama dan kata-kata yang sulit. Saya membalik-balik halaman dan membaca terus. Saya terkesan dengan tulisan-tulisan dalam kitab Bilangan, Keluaran dan Ulangan. Saya menemukan banyak informasi tentang Musa, Firaun dan Bani Israel, yang ditulis secara rinci, yang memuaskan rasa ingin tahuku.

Saya selesai membaca Perjanjian Lama dalam 2 bulan, tapi membaca asal-asalan, tidak secara mendalam. Saya membacanya sekali lagi, kali ini mencari sesuatu yang relevan kepada Mohammed, Ahmed atau Mahmoud, tapi tidak menemukan apa-apa. Saya pindah ke pembacaan Perjanjian Baru. Saya benar-benar membacanya, tetapi tidak mencapai kesimpulan saya tidak tahan akan semuanya. Saya merasa marah dengan Emir yang membuat saya terjebak dalam penelitian ini dari awal.

Ketika Emir mengunjungi saya, saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak bisa menemukan petunjuk yang bisa menuntun saya untuk apa yang kita cari. Saya telah membaca Taurat dan Alkitab dan tidak menemukan apa pun. Emir mengatakan kepada saya bahwa ada sebuah buku yang digunakan untuk studi di luar negeri yang akan banyak membantu saya dalam penelitiaku. Ini berjudul “Mengungkap Kebenaran”, yang ditulis oleh Al Sheikh Hindi. Saya mencari buku di perpustakaan pribadi saya sampai saya menemukannya.

“Mengungkap Kebenaran” adalah referensi berharga bagi kami, terutama ketika kami berdebat dengan orang Kristen untuk meyakinkan mereka bahwa Islam adalah agama yang benar. Itu berisi kutipan yang salah dari Taurat dan Alkitab, yang kami biasa pakai untuk memberitahu orang Kristen yang telah masuk Islam. Kami menggunakannya dengan sukses pada tiga orang berturut-turut.

Saya mulai penelitian cara baru, dengan bantuan dari beberapa buku lain yang Emir kasih saya, seperti Sekte-sekte dan Denominasi -denomiinasi oleh Shahristani, Menentukan Sekte-sekte dan Bidat-bidat oleh Ibn Hazm, dan beberapa tulisan-tulisan historis dan biografis lainnya yang menyerang Kekristenan. Saya menuliskan semua ayat yang Ibn Hazm katakan semua itu bertentangan dan melihat mereka dalam Taurat dan Alkitab. Sebagian besar ayat-ayat saya temukan yang diungkapkan secara berbeda, atau disebut beberapa orang yang berbeda. Saya tidak menemukan banyak kontradiksi, tapi jika kita menggunakan ayat-ayat ini sebagai dasar untuk membuktikan bahwa Taurat itu tidak asli, kita harus menerima ayat-ayat serupa dalam Al Qur’an, dan itu juga akan menjadi tidak berasal dari Allah. (Saya kemudian menuliskan temuanku dalam sebuah penelitian berjudul Menjawab Ibn Hazm”).

Saya mencari dengan tulus, termotivasi hanya karena kasihku terhadap Allah dan Nabi. Kelompok saya melihat peningkatan daya tarik saya dengan Alkitab. Mereka selalu bertanya tentang itu dan saya selalu berbohong kepada mereka. Saya harus menyusun alasan, jadi saya mengatakan kepada mereka bahwa kita bertemu dengan beberapa orang muda Kristen untuk mengundang mereka untuk Islam dan kami harus mengetahui latar belakang mereka.

Setelah gagal dalam usaha saya untuk merusak Taurat dengan membuktikan kontradiksi, saya memutuskan untuk mencoba bagian kedua dari tugas saya, yaitu untuk membangun dari ayat-ayat Taurat dan Alkitab bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Saya menatap buku Al’s Hindi, Mengungkap Kebenaran, dan saya sangat gembira untuk menemukan apa yang saya inginkan. Saya berdoa dengan sukacita dan bersyukur pada Allah bahwa Ia telah memimpin saya untuk ayat-ayat ini. Saya mulai menuliskannya dalam urutan sebagai berikut:

Kejadian 17:20 & 49:10
Ulangan 18:18-20 & 32:21 & 33:1-3
Yesesaya 42:9  & 54: 1-3 & 65: 1-2
Maz. 45: 1-3 & 149:3
Daniel 2: 31-32
Matius 3:2 & 13:31 & 20:1 & 21:33
Yohanes 14:15
Wahyu 2:27

Ayat-ayat ini bukanlah satu-satunya ayat yang Al-Hindi sebutkan untuk membuktikan kenabian Muhammad. Ada beberapa ayat lain, yang saya keluarkan karena mereka tidak jelas. Saya belajar ayat-ayat ini dengan sangat hati-hati dan obyektif. Kami, sebagai kelompok orang percaya yang unik, tidak pernah menerima informasi apapun tanpa bukti yang kuat dari sumber yang dapat dipercaya. Ayat-ayat itu, di permukaan, sangat menarik bagi setiap Muslim untuk diterima, tetapi melalui penelitian – metode Muslim fundamental – seorang akan menemukan bahwa pemotongan berdasarkan bukti tidaklah valid.

Oleh karena itu, saya mengumpulkan semua buku yang saya pikir akan membantu saya dalam penelitian saya. Saya mulai membayangkan masa depan saya setelah keberhasilan penelitian saya. Saya pastilah akan melakukan suatu bantuan besar kepada Allah dan Nabi dan memperoleh jumlah uang yang mengiurkan. Berbicara tentang uang, Emir dan saya pergi ke toko buku Sunnah Advokat dan menjelaskan kepada mereka ide buku saya. Mereka terkesan. Mereka meminta satu bab sebagai sampel dan ditawarkan untuk membeli hak cipta tersebut. Saya bermimpi menjadi kaya dan terkenal karena buku yang saya tulis, tapi motivasi utama saya adalah untuk menyatakan kemenangan bagi Islam.

Saya mulai membaca Alkitab sekali lagi. Saya menjadi kecanduan membaca Alkitab. Saya menulis banyak bukti untuk membuktikan, dengan logika dan penugehan, bahwa Taurat dan Alkitab mengkonfirmasikan kenabian Muhammad. Hasilnya adalah tidak baik karena saya terlalu teliti dalam penelitian saya, saya pikir, demi untuk konfirmasi mutlak pesan ilahi Mohammad. Saya telah bergantung banyak pada referensi, seperti The Dictionary  of Countries oleh Yakot Al-Hamawi. Saya datang di kota bernama Faran. Saya periksa untuk melihat dari mana dan apa nama modernnya. Saya juga menggunakan kamus linguistik seperti Arab’ Tonge dan bahkan kamus-kamus Ibrani untuk memahami makna kata-kata seperti’ Shelon’, misalnya.

Saya ingin menghasilkan sebuah buku yang tidak satu orang bisa membantah, bahkan satu kata dari itu. Sayangnya, hal itu tidak seperti yang kuinginkan. Semua logika dan pemotongan linguistikku gagal, satu demi satu. Saya tidak bisa menemukan satu ayat yang menopang teoriku. (Sementara itu, saya menulis buku lain disebut “Kebenaran Tertahan” (The Stifled Truth), di mana saya sebutkan semua ayat yang saya telah pelayari dan bagaimana saya telah mencapai kesimpulan bahwa mereka tidak merujuk kepada Nabi Muhammad).

Saya selesai mempelajari semua ayat-ayat ini, tetapi tidak menemukan apa yang saya cari. perasaan saya adalah campuran dari kesedihan, keputusasaan, kecemasan dan kebingungan. Sebelumnya tak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa Muhammad bukan seorang nabi. Saya mencoba menenangkan diri dengan kesimpulan bahwa saya gagal untuk menghubungkan bukti dengan karakter Nabi.

Saya memutuskan untuk memberikan masalah ini kesempatan lainnya. Kali ini saya menggunakan buku-buku lainnya, seperti Bukti-bukti Kenabian, (Evidences of Prophet-hood), Kamus Negara (Dictionary of Countries) dan The Arabic Encyclopedia. Saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak gagal kali ini. Kegagalan, setelah semua masalah telah dilewati, berarti kehancuran seluruh hidupku. Yah, waktu kedua adalah tidak lebih baik daripada yang pertama, tetapi lebih buruk lagi! Pada kedua kalinya, saya datang di banyak titik yang menentang teori saya.

Kadang-kadang, saya melihat pada banyaknya buku-buku Islam dan referensi dan bertanya-tanya, “Mungkinkah bahwa semua buku ini telah menipu kita dan menyajikan kita dengan karakter imajiner? Jika itu terjadi, Allah tentunya tidak layak disembah … “ Saya tidak akan turun jalan ini.. Kemudian, saya dengan cepat akan berdoa dan meminta kepada Allah untuk pengampunan.

Tanpa sadar, saya mendapati diriku menghadap subjek penelitianku dan kembali membaca Alkitab untuk ketiga kalinya. Saya menemukan kenikmatan aneh dalam membaca Alkitab, begitu banyak sehingga saya takut saya jatuh di bawah mantra. Kami sering berkata bahwa orang Kristen adalah ahli-ahli sihir yang mengembangkan sihir mereka dari Taurat dan Alkitab. Namun demikian, Alkitab telah menarik saya dengan cara yang aneh, tak tertahankan.

Emir mengunjungi saya secara teratur. Setiap kali saya berharap dia akan marah kepada saya karena tidak mencapai tujuan dan untuk melepaskan saya dari tugasku. Sebaliknya, setiap kali ia tampak lebih antusias dari sebelumnya, meyakinkan saya bahwa saya adalah yang terbaik untuk pekerjaan itu.

Saya mulai membaca Injil Matius dan sudah tersandung bahkan sebelum saya menyelesaikan bab pertama. Saya melihat bahwa mereka menelusuri silsilah Ha Mashiah mundur ke Daud. Saya pikir mereka gila. Saya menghibur diri dengan pikiran ini, berharap menemukan apa yang saya cari. Saya benar-benar tertarik dengan bab empat, lima dan enam dari Injil Matius. Saya telah membaca sebagian dua kali sebelumnya, tapi kali ini, saya merasa seolah-olah saya membacanya untuk pertama kalinya dalam hidupku. Saya merasa seolah-olah ada tangan menekan kepalaku dan membuka pikiranku. Saya mendengar suara dalam diriku berkata, “Sudah saatnya kamu memahami apa yang sedang kamu baca tanpa kuatir tentang siapa yang benar dan siapa yang salah ….” Saya menggigil tanpa alasan yang jelas, dan merasa seolah-olah saya berada dalam setengah kesurupan .

Saya menemukan Alkitab berbicara tentang apa yang kita lakukan kepada orang-orang Kristen seolah-olah itu mencatat peristiwa ini. Saya membaca apa yang Alkitab katakan tentang penganiayaan, penghinaan dan pembunuhan – ide kita dari mematuhi Allah. “Aneh sekali bahwa Alkitab ini tahu apa yang kita katakan dan lakukan untuk orang Kristen! Mungkinkah orang Kristen baru-baru ini menambahkan bagian itu? ”

Kita selalu menafsikan kasih Kristen dan kerendahan hati sebagai rasa takut kepada kita sebagai muslim karena mereka adalah minoritas yang lemah, seperti Kuran katakan, Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan (S. 2: 61).

Saya menemukan banyak ayat mempromosikan kasih, ketaatan, penundukan dan bahkan kasih terhadap musuh. Saya bingung, “Bagaimana mungkin seseorang menuliskan penyebab penghinaan sendiri?”

Setiap kali saya membaca perintah Elohim bagi orang Kristen untuk mengasihi musuh-musuh mereka, saya teringat perlakuan kasar saya kepada orang tuaku. Saya terlalu kejam kepada mereka. Saya selalu menemukan cara baru untuk menyakiti mereka. Satu waktu, saya harus mengalami sakit dan menjalani operasi serius di rumah sakit. Ayahku ingin bertemu saya, tapi saya menolak dan mengatakan bahwa saya tidak ingin melihat seorang kafir. Ibuku biasa mengirimkan saya makanan melalui pihak ketiga, jika tidak, saya akan menolak untuk menerimanya. Dia sering berdiri selama berjam-jam di luar jendela rumah sakit ku, dalam panas terik, hanya untuk mencuri melihat saya melalui jendela.

Kenangan ini selalu membuat saya menangis dan mengutuk hari saya mengenal Allah. Saya sering menghibur diri dengan memikirkan apa yang Abu Obeida bin Garah, dan Abu Bakar Al-Sedeek telah lakukan kepada ayah-ayah mereka sendiri; dan Mosaab bin Omira, kepada ibunya. Itu akan menangkan perasaan saya.

Saya selesai membaca Injil Matius
, tetapi kata-katanya telah terukir dalam ingatanku. Mereka mengejar saya siang dan malam, dan setiap kali saya ingin melakukan sesuatu yang buruk, saya membaca seluruh Injil dan Surat-surat dan takjub untuk mendapatkan bahwa filsafat dan retorikanya lebih unggul daripada Kuran. Karena Alkitab ditulis 630 tahun sebelum Islam, bagaimana mungkin kita katakan bahwa Kuran adalah unik dalam retorika?

Suatu malam salju yang dingin, saya membaca sebuah Surah dari Kuran berharap untuk menghapus kata-kata Injil Matius dari pikiranku. Para Muslim dan saya cemburu, selalu iri pada orang Kristen karena mereka menikmati persahabatan yang erat dengan banyak orang. Sebaliknya, kita tidak bisa membangun bahkan hubungan biasa dengan toleransi minimum, untuk mengundang orang bergabung ke Islam. Ini merupakan hambatan besar dalam cara kita. Panggilan Islam tidak mengizinkan kita setiap peluang untuk membangun hubungan yang akan membawa kita lebih dekat kepada orang – hal yang sangat kita butuhkan dalam rangka untuk menarik mereka ke Islam.

Hidup kita penuh dengan kekerasan, kekejaman dan terorisme. Ini bukan perilaku normal kita. Kita merasa bahwa jika kita tidak bertindak seperti ini, kita tidak akan patuh kepada Allah. Allah telah menyatakan dalam Kuran dengan cara kita memperlakukan orang-orang kafir, baik Ahli Kitab, pagan atau Muslim palsu. Kuran mengatakan tentang Ahli Kitab,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim. (S. 5:51.)

Adapun jenis lain dari kafir, seperti umat Islam yang tidak berdoa, perpuluhan, tumbuh jenggot atau melakukan dosa dan menolak untuk bertobat, Kuran mengatakan,  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. (S. 4:144)

Adapun mengenai anggota keluarga dan kerabat, Kuran menyatakan,  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.  (S. 9:23)
Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. (S. 58:22)

Jika kita tambahkan ayat-ayat Kuran ini, Hadis otentik diceritakan oleh Al-Bokhary oleh Muslim dan oleh Al-Termezy; menurut Omar, nabi Muhammad berkata, “Jangan berjabat tangan dengan Ahli Kitab, jangan membalas salam mereka , jika mereka bertemu kamu di jalan, dorong mereka ke samping.”

Ada puluhan ayat-ayat ini yang telah didefinisikan tentang hubungan kita dengan keluarga, teman dan non-Muslim. Kita tidak mengatakan atau memilih dalam mendefinisikan hubungan ini karena pemikiran Islam adalah umum, dan Kuran pada khususnya, tidak memberikan ruang untuk setiap muslim menggunakan pikirannya. Sebaliknya, orang yang menggunakan pikirannya untuk menjelaskan sebuah ayat [Kuran] atau Hadis akan diberi label ‘kafir’. Anda harus menerima saja hal-hal sebagai Mohammad telah menafsirkan mereka. Jika ada sesuatu yang tidak disebut-sebut oleh Muhamad, kamu jauh-jauh dari itu. Al-Bokhary menyebutkan sebuah hadis. Menurut Ibnu Abbass, Nabi Muhammad berkata, “Siapa pun menyatakan pendapat sendiri tentang Kuran, akan menyediakan tempatnya di neraka.” [Menakut-nakuti orang yang mempertanyakan Kuran]

Setelah semua ayat-ayat Kuran dan Hadis ini, bagaimana kita bisa bersikap baik atau ramah terhadap orang-orang yang berbeda dari kita? Kami tidak bisa melakukan itu, sebagai Kuran mengatakan, Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang lalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka,” (S. 11:113)

Oleh karena itu, hati saya penuh dengan kemarahan dan kebencian setiap kali saya membaca Alkitab ayat apa saja yang berbicara tentang cinta dan pengampunan. Banyak kali, saya merasa malu saat membaca Alkitab yang kita diklaim sebagai rusak. Saya bertanya-tanya, “Jika orang Kristen mengubah Alkitab dan masih memperoleh kasih dan menghormati rakyat, bagaimana dengan perbuatan yang telah kita lakukan – yang tidak mengubah firman Allah, tetapi gagal dalam hal itu?” Sesuatu pastilah ada yang salah.

Saya berusaha menyisihkan pikiran-pikiran ini. Sebuah pikiran terus kembali. Bagaimana jika saya tidak mencapai kesimpulan dalam penelitian saya? Saya berjuang begitu banyak setiap kali saya mengalami pikiran-pikiran ini, saya menangis dengan suara keras, “Semoga Allah mengampuni saya.” Saya menyatakan bahwa tidak ada ilah selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya. Maka kemudian saya akan bergegas untuk berdoa untuk membuang pikiran-pikiran ini. Saya berkata pada diriku sendiri bahwa sebenarnya Muhammad Rasul Allah, bahkan jika saya tidak bisa membuktikan itu dari Taurat dan Alkitab.

Masalah saya menjadi lebih serius. Daripada mencari kenyataan untuk membuktikan kenabian Muhammad, saya menemukan diri saya tertarik dengan kata-kata manis dari Taurat dan Alkitab. Saya bertanya-tanya, “Bagaimana saya bisa menghilangkan pengaruh mereka pada saya.” Bagaimana saya dapat membuktikan bahwa Taurat dan Alkitab itu bukan dari YAHWEH?” Semua ide-ide yang tertulis dalam mereka berdua adalah baik dan tidak mungkin ditulis oleh manusia. Bagaimana mungkin orang menembus kedalaman masa depan dan berbicara, dua ribu tahun yang lalu, tentang hal-hal yang terjadi di saat ini? Jika kita mengasumsikan, demi argumen, bahwa Taurat dan Alkitab disusun oleh manusia belaka, kita akan menempatkan manusia pada tingkat yang sama dengan Elohim dalam pengetahuan dan kebijaksanaan. Kita tentu tahu bahwa Elohim adalah Maha Tahu, Maha Kuasa dan tidak ada kesamaanya.

Tiba-tiba saya mendapati diriku membaca Kitab Mazmur, dan kemudian Kitab Amsal. Saya belajar ayat-ayat dari Mazmur 23 dan 143 dan meulang mereka dalam doa-doa saya. Siapapun yang mendengar saya berdoa telah tersentuh oleh ayat-ayat ini dan meminta saya untuk menuliskannya sehingga mereka bisa menggunakannya dalam doa. Saya masih mencoba menemukan bukti kenabian Muhammad dan kesalahan Alkitab, tapi tidak bisa menemukan apa-apa. Saya berjuang dengan keraguan dan pikiran yang bertentangan dalam diriku. Saya mencoba untuk mengabaikan mereka, tapi mereka bertambah kuat setiap hari. Saya mengasihi Elohim, tetapi latar belakang saya dan cinta saya kepada agama saya selalu mencegah saya berpikir bahwa Islam tidak mungkin agama yang benar yang diberikan oleh Elohim. Saya jadi bingung dan gelisah. Saya tidak bisa menikmati tidur nyenyak seperti sebelumnya.

Satu waktu, saya sedang berdoa pagi. Sementara mengucapkan ayat-ayat Kuran, saya tiba-tiba berhenti dan pikiran saya mengembara. Saya bertanya pada diriku sendiri, “Apa yang akan kamu lakukan jika, misalnya, Islam ternyata tidak menjadi jalan ke surga?” Saya berusaha menyisihkan pertanyaan ini, tapi saya tidak bisa. Saya bahkan tidak bisa menyelesaikan doa pagi. Saya menangis berat sampai saya tertidur di karpet. Beberapa jam kemudian, ibu saya membangunkan saya. Saya pergi bekerja dengan linglung. Saya tidak tahu dimana saya sedang berjalan atau kepada siapa saya bicara.

Ketika saya kembali ke rumah, saya merasakan ada keinginan yang kuat untuk membaca Alkitab. Saya membaca Injil Yohanes, bab 1-15. Saya menemukan jenis retorika, filsafat dan ekspresi linguistik yang sangat tinggi yang sangat elegan dan kohesif – terutama ketika Alkitab berbicara tentang domba dan gembala, pokok anggur dan tukang kebun, cabang-cabang yang berbuah dan orang-orang yang tidak akan dilemparkan ke api.

Saya menjerit di bagian atas suara saya, “Oh, Elohim, kasihanilah hamba-Mu! Tolong beritahu saya di mana Engkau berada dan di sisi mana: Engkau dengan orang-orang Yahudi dan Kristen? atau dengan Muslim?

Harap kasihanilah saya. Saya ini hamba-Mu. Saya berkomitmen hidupku untuk mengikuti Engkau. Saya bersyukur untuk semua nikmat-Mu. Saya tidak bisa berdiri di depan Engkau, dan Engkau tidak akan mengundurkan diri di depan sebuah napas-Mu.

Engkau adalah Elohim Yang Maha Esa dan saya manusia yang tak berdaya yang tidak bisa melakukan apa-apa sampai Engkau mengijinkan saya melakukannya. Engkau adalah Maha Penyayang, Maha Pengasih dan saya ini hamba yang tidak memiliki kekuatan atau kebijaksanaan. Seluruh hidupku ada di tangan Engkau.

Saya mengasihi Engkau sejak kecil. Saya mengorbankan diri demi surga dan kasih-Mu. Saya tidak peduli dengan penjara atau penyiksaan – bahkan seluruh dunia tidak tahan dengan cara saya mencari Engkau. Kenapa Engkau memperlakukan saya seperti ini? Saya mengasihi-Mu dan berusaha untuk menyenangkan-Mu dengan cara Nabi Muhammad-Mu mengajarkan kami, tapi di sinilah saya – tak berdaya dan tidak mampu untuk melanjutkan.

Masing-masing pihak mengatakan bahwa Engkau adalah Elohim mereka. Saya tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Oh, Elohim, akankah saya bersumpah kepada Engkau bahwa saya mengasihi-Mu? Saya rasa tidak, karena Engkau tahu semuanya. Oh, betapa saya menderita dalam pencarianku untuk Engkau! Saya meninggalkan studiku, keluargaku dan teman-temanku. Saya mengembara seperti seorang asing. Saya ditahan dan disiksa demi Engkau. Mengapa kau tidak menjawab?

Jika Engkau adalah Elohimnya para Muslim, ambillah segala sesuatu dari pikiranku kecuali Islam, dan jika Engkau adalah Elohimnya para Kristen, beri saya cahaya untuk mengikuti …. “

Saya tak bisa tidur dan pikiranku berputar: “Bagaimana jika Islam bukan jalan Elohim? Bagaimana jika jalan Elohim adalah Taurat dan Alkitab? Apakah kamu akan mengikuti orang-orang Kristen?” Saya akan menggigil memikirkan apa yang bisa terjadi padaku, sebagaimana jika Allah dan orang-orang akan menyalahkan saya?”

Suatu hari, saya menepis semua ketakutan dan berkata pada diriku sendiri, “Apa yang kamu inginkan? Enough is enough! Kamu tidak lagi seperti kamu yang dulu. Kamu memiliki dua jalan didepanmu, dan keduanya tampak lurus. Jangan buang waktumu dan cari jalan Elohim dengan semua kekuatanmu.

Tidak peduli jika itu ialah orang Yahudi, Kristen atau Muslim, satu-satunya hal penting jika itu ialah jalan Elohim – begitulah, jika kamu benar-benar mencari Elohim. Ini adalah tujuanmu dan kamu harus menerimanya. Pastikan bahwa Elohim akan merespon kepada kamu sesuai dengan ketulusan kamu. Lupakan bahwa kamu adalah seorang Muslim dan mulai mencari lagi. Apa yang akan mencegah kamu?”

Saya berpikir tentang hal itu dan berkata, “Oh, Elohim, harap pimpin langkah-langkahku dan berikan saya kekuatan karena saya menghadapi percobaan keras. Jika Engkau tidak membantu saya, setan akan merobek-robek saya. Saya akan mengembara di muka bumi, tanpa tujuan dan gelisah. Oh, Elohim, tolonglah saya. Saya berjanji akan mengikuti Engkau di manapun Engkau berada, bahkan dengan orang-orang Kristen yang saya tidak tahan.” Tiba-tiba saya merasakan kedamaian dan ketenangan luar biasa pada seluruh keberadaanku. Untuk pertama kalinya, saya berpikir logis.

Saya mencapai sebuah kesimpulan: orang Kristen sesat dan menjadi kafir karena dua alasan. Pertama, mereka mengatakan bahwa Mashiah, Isa, putra Maryam (Maria), adalah Elohim, kedua, mereka mengatakan bahwa Dia mati di kayu salib dan bangkit untuk menebus manusia dari dosa-dosa mereka. Mengapa saya tidak fokus penelitian saya tentang dua masalah ini  dan memeriksa mereka dari sudut pandang Islam? Saya ingin tahu apa yang para ulama Islam memikirkan masalah ini.

Saya mulai memeriksa buku-buku sejarah Islam, biografi dan penafsiran. Saya mencari apapun yang berhubungan dengan Ha Mashiah dan apakah Dia terwujud di dalam atribut Elohim sebagaimana disebutkan dalam Kuran. Saya menggunakan referensi yang handal dan otentik seperti The Interpretation oleh Ibnu Katsir, Sejarah Islam oleh Dhahabi, Awal dan Akhir oleh Ibnu Katsir, Sects and Denominations oleh Sherhristani, Menentukan Sekte dan Bidat (Deciding on Sects and Cults) oleh Ibn Hazm (juga dikenal sebagai Abu Muhammad), Kitab-kitab Suci sebelum Islam, dan Kristianity antara Logika dan Penghitungan ulang (Christianity between Logic and Recount).

Sebagai hasil dari penelitian yang intensif, saya menemukan beberapa atribut Mashiah yang bahkan orang Kristen tidak menyentuh itu dalam buku-buku mereka. Sebagai contoh:

1) Kemampuan untuk membuat:
Kuran mengatakan, [perhatian!, dalam kitab suci Islam: kata Tuhan ialah titel, sama artinya dengan God atau Elohim, dan Allah adalah nama, seperti YAHWEH di dalam Alkitab]

(Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.  (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian) ”itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, (maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.) (S. 6:101-102)

Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. (S. 15:86)
Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya” (S. 22:73)

Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apa pun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (S. 16:20)
Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. (S. 16:17?)


Semua ini adalah beberapa ayat yang membatasi kemampuan untuk menciptakan yang dimiliki oleh Elohim saja. Ketika Elohim ingin membedakan diri dari dewa yang lain, Dia menegaskan atribut-Nya yang melampaui segala ilah lainnya. Sementara itu, Kuran dengan jelas mengakui bahwa Ha Mashiah telah menciptakan:
Saya membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian saya meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah;” (S. 5:110)

Ketika saya membaca ayat-ayat ini, saya pikir dalam hati saya: Itu adalah Elohim yang memberikan Ha Mashia kemampuan ini, bukan bagian dari esensi-Nya meskipun, Ha Mashiah adalah satu-satunya Pribadi pada siapa Elohim telah memberikan salah satu sifat ilahi-Nya. Mengapa Ha Mashiah dan bukan Muhammad? Elohim berkata kepada Muhammad, “Apakah kamu dapat menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan?” (S. 27:80) ; yang adalah jauh lebih mudah daripada penciptaan. Elohim tidak memberikan kepada Muhammad, [yang telah mengklaim] yang terbaik dari umat-Nya dan penutup para nabi, kemampuan untuk membuat orang tuli mendengar. Dia menantang orang untuk menciptakan seekor lalat, namun Ha Mashiah telah diberikan kemampuan untuk menciptakan burung. Burung adalah makhluk kecil, tetapi bukan masalah ukuran, tapi prinsip. Dia yang menciptakan makhluk kecil dapat membuat yang besar. Ini tidak dapat ada sebagai manusia, melainkan dari Elohim.

2) Mengetahui apa yang tersembunyi:
Allah [dalam arti YAHWEH] berbicara tentang diriNya dalam Kuran,
Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah [dalam arti YAHWEH]”, (S. 27:65)
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri,” (S. 06:59).

Dalam ayat pertama, Kuran menekankan tanpa ragu bahwa mengetahui apa yang tersembunyi hanyalah milik Elohim dan bukan orang lain. Ayat kedua meenggaris bawahi fakta bahwa hanya Elohim yang mengetahui yang gaib dan masa depan. Sementara itu, Kuran mengajarkan tentang Muhammad yang ia biasa menegur siapa saja yang dikaitkan dengannya kemampuan untuk mengetahui apa yang tersembunyi,

Katakanlah: “Saya tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) saya mengetahui yang gaib” (S. 6:50)

Suatu kali Moaz berkata kepada Mohammad, “… insya Allah dan Anda berkehendak,” dan Muhammad menyela dia dan berkata, “Bagaimana kau bisa membuat saya setara dengan Allah? Tak seorang pun di langit atau di bumi mengetahui apa yang tersembunyi selain Allah.”

Adapun Ha Mashiah, kita menemukan semua keterbatasan dihapus. Dia tahu dan melakukan apa yang setiap orang lain tidak bisa. Kuran mengatakan,
dan saya kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu.” (S.. 03:49).

Hal ini sangat tidak umum bahwa dalam ayat-ayat ini Ha Mashiah berbicara dalam bentuk orang pertama; itu harus Elohim sendiri yang berbicara. Di sisi lain, Muhammad selalu mengatakan apa yang harus ‘dikatakan. Ha Mashiah adalah unik karena Dia berbicara tentang dirinya sendiri, yang berarti bahwa kemampuan-Nya adalah milik-Nya dan tidak diperoleh dari orang lain.

Pada buku Awal dan Akhir Ibnu Katsir, bagian 2 dan halaman 86, saya membaca sebuah cerita yang membuat saya malu. Ini adalah suatu bukti tanpa diragukan bahwa Ha Mashiah memiliki kekuatan gaib untuk mengetahui apa yang tersembunyi. (Ini adalah kisah panjang; mereka yang tertarik dapat mengacu pada buku karangan Ibnu Katsir).

3) Penyembuhan orang sakit:
Kuran menyebutkan kata-kata Abraham bahwa Elohim adalah satu-satunya penyembuh, “Dan apabila saya sakit, Dialah yang menyembuhkan saya” (S. 26:80).
Muhammad berkata dalam sebuah hadis otentik, “Oh, Elohim, tidak ada penyembuhan tapi Anda.” Sementara itu, Dalam Kuran kita menemukan Ha Mashiah katakan tentang diri-Nya,  saya menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak/ kusta” (S. 03:49)

4) Memberikan hidup dan mati:
Elohim adalah Pribadi satu-satunya yang memegang hidup dan mati di tangan-Nya, tidak ada orang lain yang bisa memberikan hidup atau mati. Kuran mengatakan,

”Dan sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan Kami (pulalah) yang mewarisi.” (S. 15:23),
”Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” (S. 36:12),
”Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Kamilah tempat kembali (semua makhluk).” (S. 50:43).
Adapun Ha Mashiah, Kuran menyebutkan bahwa Dia berkata tentang diri-Nya,
”dan saya menghidupkan orang mati dengan seizin Allah;” (S. 3:49)

Dalam bukunya Awal dan Akhir, Ibnu Katsir menceritakan sebuah cerita yang membuktikan bahwa Ha Mashiah memiliki kewenangan untuk memberikan kematian serta kehidupan. Diceritakan bahwa Ha Mashiah melihat seorang wanita menangis atas putrinya, yang sudah lama meninggal.

Dia bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, perempuan?” Perempuan ini berkata, “Putri saya meninggal dan saya tidak memiliki anak lagi.” Ha Mashiah bertanya padanya, “Apakah kamu ingin Saya untuk mengangkatnya dari antara orang mati?” Dia berkata, ” Ya , O Roh Elohim!” Jadi Ha Mashiah berdiri dekat kubur itu dan memanggil gadis itu tiga kali. Pada ketiga kalinya, gadis cilik keluar dan berbicara dengan ibunya. Kemudian gadis itu meminta kepada Ha Mashiah untuk membiarkan dia kembali. Dia berkata, “Kembalilah!” Kuburan tertutup dan ia kembali mati. (Awal dan Akhir Ibnu Katsir, bagian 2, halaman 84)

5) Memberikan makanan:
Kuran mengatakan, Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (S. 51:58).
Hal ini jelas dinyatakan bahwa Elohim adalah satu-satunya yang dapat memberikan rezeki. Elohim menegur orang yang mengaku mampu untuk memberi rezeki kepada orang-orang. Adapun Ha Mashiah, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Dia memiliki kemampuan khusus untuk memberi rezeki kepada siapa pun yang Dia mau. Contoh terbaik adalah memberi makan lima ribu orang dengan sedikit roti dan beberapa ikan.

6) Tidak ada kesetaraan:
Kuran mengatakan tentang Allah,
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (S. 42:11)
Adapun Ha Mashiah, tak perlu dikatakan bahwa Dia adalah tak ada taranya. Ia lahir dari seorang perawan tanpa seorang pria. Dia adalah Pribadi satu-satunya yang digambarkan sebagai ‘Firman Allah [dalam arti YAHWEH] dan Roh dari-Nya”. Dia adalah Pribadi satu-satunya atas siapa Setan tidak memiliki kewenangan apapun. Dia adalah Pribadi satu-satunya yang memiliki karakteristik ilahi.

7) Perintah yang berwenang:
Kuran menyebutkan ini atribut Allah, terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Kun (jadilah)”, maka jadilah ia. (S. 16:40), Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”. Lalu jadilah ia. (S. 2:117).

Ini merupakan atribut yang unik dari Elohim, mampu memanggil sesuatu menjadi ada. Menurut Ibnu Katsir, Ha Mashiah telah mewujudkan atribut ini ketika Dia mengubah air menjadi anggur (Awal dan Akhir Ibnu Katsir, bagian 1, halaman 85).

8) Takhta-Nya di atas perairan:
Kuran mengatakan tentang takhta Elohim,  dan takhta-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, (S. 11:7).

Kortobi dan Al-Hadathi mengatakan bahwa ayat ini juga diterapkan kepada Ha Mashiah, takhta yang dibuat oleh Allah di atas air untuk menguji iman orang-orang. Ha Mashiah berjalan di Laut Tiberias menuju murid-murid-Nya untuk menguji iman mereka. Dia kemudian berkata kepada mereka, “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya? ” (Matius 8: 26)

9) Hakim dan Penguasa:
Kuran mengatakan tentang Elohim,  Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik. (S. 06:57), maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya. (S. 7:87).

Al-Bokhary menjelaskan bahwa ia mendengar dari Ibnu Abbas, yang telah mendengar nabi Muhammad berkata tentang Ha Mashiah, “Hari Terakhir tidak akan datang hingga putra Maryam datang kembali sebagai Hakim yang adil untuk menegakkan keadilan dan menghapus ketidakadilan.”

10) Sebuah pemahaman atas segala penglihatan/ visi:
Kuran mengatakan tentang Allah,  Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (S. 6:103)
Ini adalah satu lagi atribut Elohim yang Ha Mashiah telah terwujud. Ibnu Katsir dan Kortobi bercerita bahwa Ha Mashiah adalah satu hari di gunung dan orang-orang Romawi ingin menangkap Dia. Ia langsung melalui mereka dan mereka tidak bisa melihat-Nya, tetapi Dia melihat mereka semua. (Sekte dan Denominasi oleh Sheheristani, halaman 27)

11) Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang:
Kuran mengatakan, Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (S. 2:163),
“Tidak seorang pun dari makhluk-makhluk di langit dan di bumi tetapi harus datang ke Yang Maha Pemurah sebagai seorang hamba.” (S. 19:93)

Dalam buku mereka, Sects and Denominations dan Bukti-bukti dari Kenabian, Sheheristani dan Azraki telah menyebutkan bahwa Yeshua Ha Mashiah adalah gambar Elohim. Dia penuh kasih sayang. Dia mengangkat putri Yairus dari kematian dan menyembuhkan banyak orang sakit. Dia menciptakan mata untuk yang lahir buta dengan meletakkan lumpur pada mata orang itu karena itulah bagaimana Allah menciptakan pada awalnya.

12) Berbicara dengan Perumpamaan:
Kuran menyatakan bahwa hanya Elohim yang bisa berbicara dalam Perumpamaan-perumpamaan.
“Sesungguhnya Allah yang ditetapkan Perumpamaan untuk laki-laki: dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu” (S. 24:35)
“Maka Allah menetapkan Perumpamaan untuk laki-laki, agar mereka dapat menerima pelajaran” (S. 14:25)


Dalam ‘Al-Kashaf’, Ibnu Katsir, Kortobi dan Zamakhshary mengatakan bahwa Elohim menggunakan perumpamaan untuk mendekatkan manusia kepada-Nya, dan demikian pula Ha Mashiah. Perjanjian Baru penuh dengan perumpamaan yang nabi-nabi lainnya tidak berbicara dengan cara demikian.

13) Mengirim rasul-rasul dan memberi mereka kekuatan:
Kuran mengatakan, Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka;  (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.” (S. 36:13-14)
Ibnu Kathir dan semua penafsir setuju bahwa yang dimaksud adalah kota Antiokhia, dan orang-orang itu ialah rasul-rasul Ha Mashiah. Mereka memiliki otoritas dari Ha Mashiah. Apa ada orang lain memiliki kuasa sedemikian?

14) Untuk disembah:
Kuran mengatakan, Orang-orang Yahudi menyebut Uzair seorang putra Allah, dan orang-orang Nasrani menyebut Al Masih Putra Allah. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. … Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan disamping Allah, dan Al Masih putra Maryam (S. 9:30-31)

Ibnu Kotaiba melihat ini sebagai sebuah ayat bermasalah, karena menempatkan Allah dan Al Masih (Ha Mashiah) untuk disembah sebagai sebuah perintah. Jadi, Ibnu Kotaiba pikir untuk menghindari masalah ini, ungkapan “Ha Mashiah putra Maryam” harus sintaktis ditafsirkan sebagai ’objek kedua’ untuk kata kerja ’menjadikan’ dan bukan ’annexment’ untuk kata ‘Allah’. Dengan cara ini ayat tersebut tidak akan mendukung pandangan Kristen tentang keilahian Ha Mashiah.

15) Datang dalam awan-awan:
Kuran mengatakan, Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, (S. 2:210)
Ibnu Al-Fadl Al-Hadathi mengatakan bahwa ayat ini menunjuk ke Ha Mashiah yang akan datang kembali pada Hari Terakhir dalam awan-awan. Dia juga menafsirkan ayat berikut ini sebagai merujuk kepada Ha Mashiah juga, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris. (S. 89:22)

Nyatanya, saya menemukan lebih dari yang saya cari atau inginkan. Saya telah menulis temuan saya di sebuah buku kecil yang terpisah berjudul ‘Tidak terelakkan Keilahian Ha Mashiah.” Awalnya saya menyebutnya “Keilahian Ha Mashiah,” tapi setelah saya menyelesaikan penelitian saya, saya harus mengubah judulnya dengan ”Tidak terelakkan Keilahian Ha Mashiah.” Saya menyimpulkan buklet itu dengan kalimat berikut,

“Bahkan jika orang-orang Kristen tidak mengklaim Ha Mashiah adalah Elohim, Dia pastilah Elohim.”

Adapun bagian kedua, yaitu kematian Ha Mashiah sebagai kurban bagi orang-orang berdosa, Islam selalu menolak gagasan ini karena Kuran berkata, Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, (S. 17:15).
Bagaimana mungkin orang yang tidak bersalah mati bagi para orang berdosa? Yah, kita telah memiliki dilema lain: apakah Ha Mashiah benar-benar mati? Saya sangat percaya diri – Saya tidak tahu kenapa – bahwa saya telah mungkin tidak akan menemukan apapun untuk membuktikan kematian Ha Mashiah. Saya telah mencari dan tidak menemukan bukti yang akan menenangkan hati nurani saya dan memperkuat iman saya dalam Islam. Oleh karena itu, saya sangat ingin melawan bukti Keilahian Ha Mashiah dengan membuktikan bahwa Dia tidak mati, dan tidak bisa mati untuk orang berdosa.

Saya berusaha untuk membantah ide ‘Kurban Kematian’ ketika saya datang di ayat berikut dalam Kuran,
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertobatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; ( S. 2: 54)

Saya membaca tafsir Ibnu Katsir tentang ayat ini. Dia mengatakan bahwa Israel ingin bertobat dari dosa mereka menyembah anak sapi, tetapi Elohim tidak menerima pertobatan mereka. Ketika Musa bermeditasi, Elohim menyuruhnya untuk memberitahu orang-orang Israel bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan pengampunan adalah bahwa setiap orang harus membunuh semua orang yang ia temui. Dikatakan bahwa mereka memakai penutup mata sehingga mereka tidak akan memiliki belas kasihan pada keluarga mereka tetapi akan punya keberanian untuk mematuhi perintah Elohim. Ibnu Kathir mengatakan bahwa setidaknya tujuh puluh ribu orang tewas hari itu, dan darah mengalir seperti sungai. Ketika Elohim melihat itu sudah cukup, Dia menyuruh Musa untuk mengatakan kepada bangsa Israel untuk berhenti. Elohim menerima pertobatan mereka melalui darah mereka yang meninggal. Jika seseorang tidak menyembah anak sapi dan mati sebagai penebusan bagi mereka yang melakukannya, mengapa kita menolak gagasan bahwa Ha Mashiah tidak berdosa mati untuk orang berdosa, dan bahwa Dia masih hidup?
Bersambung ke bab 8B

Pendahuluan

  1. Di Belakang Kerudung
  2. Diberkatilah Bangsa Mesirku
  3. Dari Tanah Air Mashiah Anak-anak Ismail Akan Kembali
  4. Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid
  5. Orang-orang Pilihan Mashiah
  6. Dari Kristen nominal Ke Islam dan Kemudian Ke Mashiah
  7. Begitulah Bagaimana Saya Telah Mengenal Elohim
  8. Dahulu Saya Mati Tetapi Sekarang Saya Hidup
  9. Instruksi-instruksi Penting
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala baja.

Dari Kristen Nominal ke Islam, dan Kemudian kepada Ha Mashiah

[broken home, saudari lenyap misterius, iman tergoncang, telpon aneh merubah keluarga].

Judul ini adalah bagian dari buku Anak-anak Ismail (The Children of Ismael) , kumpulan kisah-kisah nyata yang mengharukan dan menyentuh hati setiap pembacanya. Mereka bersaksi bagaimana Elohim telah merubah gurun pasir kehidupan menjadi padang rumput yang indah, rantai-rantai ikatan protokol keagamaan yang berat menjadi hubungan kasih yang manis dengan Pencipta mereka. Selamat membaca!

Bab 7. Kami sebagian besar dipengaruhi oleh masa kecil kita dan oleh gaya hidup orang tua kita. Aku ingat banyak hal dari masa kanak-kanakku seolah-olah mereka kemarin – banyak kenangan yang menyakitkan. Aku menyaksikan begitu banyak perdebatan yang buruk antara ayahku dan ibuku. Aku punya satu saudari. Banyak malam, dia dan aku menangis pergi tidur, tanpa makan malam karena pertengkaran orangtua kamu.

Ayahku adalah orang kaya. Ia memberikan keluarga kami dengan hidup yang baik. Kami orang Kristen, tapi tidak tahu apa-apa tentang kekristenan kami. Aku tidak ingat bahwa ayahku atau ibuku pernah berbicara dengan kami tentang Elohim atau Kristianity. Mereka tidak pernah mendorong kita untuk pergi ke gereja.

Aku adalah seorang introvert dengan banyak masalah psikologis. Ketika aku menjadi seorang remaja, aku memutuskan untuk memimpin kehidupan aku sendiri dengan cara sendiri, jauh dari kekakuan keluargaku. Saudariku, seperti aku, penuh pemberontakan dan kebencian, tapi dia punya banyak teman dekat. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya pergi keluar dan bersenang-senang dengan mereka.

Aku memutuskan untuk mengikuti teladan saudariku. Aku ingin punya dunia sendiri, persahabatanku sendiri, entah itu baik atau buruk. Sejak aku berusia 16 sampai aku menjadi 20 tahun, aku mulai merokok, minum, berpesta dan berhubungan dengan para perempuan. Aku tidak bisa menemukan diriku sendiri  di semua kesenangan ini. Kebahagiaan itu hanya beberapa saat yang singkat. mimpiku hilang dan aku merasa sengsara. Aku merasa seperti seorang penderita skizofrenia dengan dua bagian – yang luar: bersenang-senang dan mabuk, dan yang dalam: sedih dan tertekan.

Aku tumbuh sangat jauh dari kakakku, tetapi masing-masing kita merasa saling membutuhkan. Kami berbagi kesedihan, kekurangan dan agitasi dari rumah kami. Kami kehilangan hubungan kami dengan Elohim. Aku tidak pernah peduli dengan Elohim. Aku tidak pernah tahu tentang Dia, dan tidak ada yang bercerita tentang Dia. Pemikiranku tentang Elohim adalah bahwa Dia telah menciptakan kami dan meninggalkan kami sendirian. Aku percaya bahwa Elohim tinggal di Surga dan tidak berhubungan dengan kehidupan kita. Dia meletakkan benar dan salah di depan kita, dan suatu hari Ia akan memakai otoritas-Nya untuk memberi upah orang-orang yang berbuat baik dan menghukum orang-orang yang jahat. Kakakku dan aku lulus dari universitas, tapi hidup kami masih sama. Banyak pria melamar saudariku, tetapi dia selalu menolak mereka mentah-mentah. Orang tuaku tidak tahu alasan penolakannya dan aku tidak peduli.

Suatu hari, aku pulang mabuk pada pukul 3 pagi dan menemukan kedua orang tuaku dalam kondisi sangat buruk. Aku tidak mengambil banyak perhatian dan mencoba tidur, tapi mereka mengguncang tubuhku dengan keras dan membangunkan aku dengan cara yang sangat kasar. Aku terkejut, karena mereka terbiasa dengan gaya hidupku tersebut. Ketika aku tersadar, aku mengerti bahwa mereka begitu marah karena adikku belum pulang. Kami mencari dia dan mengisi formulir kehilangan keluarga di kantor polisi, tapi itu sia-sia. Dia menghilang tanpa jejak.

Aku merasa sangat sedih ketika saudariku hilang. Meskipun hubungan kami dangkal, aku sangat mengashinya. Dia adalah pendapingku sepanjang waktu-waktu yang menyakitkan yang kami alami tapi tidak pernah membicarakannya. Aku merasa bahwa ayah dan ibuku sedih, meskipun percekcokan terus berlanjutan, masing-masing menyalahkan yang lain  atas hilangnya saudariku. Mereka tidak banyak bicara tentang perasaan mereka, tapi aku bisa melihat itu di mata mereka.

Setelah satu bulan, kakakku menelephon kami dengan kejutan besar dia telah menikah dengan seorang pria muslim dan telah masuk Islam sendiri! Ini adalah bendera merah untuk aku. Ini membuat aku berpikir, “Siapakah Elohim? Apakah agama yang benar? Mengapa saudariku lakukan itu? Apa daya tarik bergabung dengan agama lain?” Aku punya begitu banyak pertanyaan merobek pikiranku.

Ketika saudariku menelepon kedua kalinya, ibuku menangis dan ayahku memohon dia untuk pulang. Dia mengatakan kepada kedua orang tuaku bahwa dia bertekad, ia sudah merubah surat-surat resmi, dan sekarang memiliki nama Muslim, dan bahwa dia hamil dan ingin membesarkan anak-anaknya sebagai Muslim. Aku terkejut mendengar itu dan ingin bertemu dengannya, jadi dia memberikan aku alamat barunya.

Aku pergi mengunjunginya dan ia menyambut aku dengan hangat, tidak seperti sebelumnya. Suaminya menyambut aku dan begitu ramah kepada aku. Aku bertanya kepada mereka tentang Islam dan mereka mulai bercerita tentang semua ajaran positif di dalamnya. Mereka mencoba meyakinkan aku bahwa agama Kristen adalah kafir dan politeisme. Aku tepatnya tidak tahu apa-apa tentang agamaku sendiri, jadi aku tidak bisa membandingkan dan sangat terima. Mereka dengan mudah mempengaruhi aku, dan aku menerima semua ide-ide mereka ke dalam pikiran kosong dan jiwaku yang sakit. Aku memberitahu mereka bahwa aku yakin tetapi membutuhkan lebih banyak waktu untuk berpikir agar tidak menyesali keputusanku setelah itu.

Aku mulai berpikir tentang semuanya. Aku melihat saudariku bahagia mengikuti agama barunya. Aku mulai bertanya-tanya, “Apakah dia benar-benar bahagia? Apakah ritual-ritual  agama barunya memuaskan dirinya? Apakah Elohim menanggapi doa-doanya?” ...  Aku berjuang dengan pikiran-pikiran ini, tetapi tidak ada yang tahu. Aku sudah membuat keputusanku, berharap untuk menemukan Allah dan diriku sendiri melalui agama baru. Aku mengatur semuanya dan mempersiapkan surat-suratku.

Sebelum aku pergi tidur, telepon berdering. Ibuku menjawab dan mengatakan itu untuk aku. Ketika aku memegang gagang telepon, aku mendengar musik yang indah dan lagu-lagu Kristen, dan suara wanita, “Apakah Anda mengizinkan aku untuk bertemu dengan Anda sekarang?” Aku terkejut dan berkata kepadanya, “Apakah Anda kenal diriku? Aku jelas tidak mengenal Anda. Siapa yang memberikan nomor teleponku? Mengapa Anda ingin bertemu aku?” Dia mengatakan kepada aku bahwa ia ingin berdoa bersama aku.

Saat itu, aku sudah mengatakan kepada keluargaku dan beberapa temanku bahwa aku akan memeluk Islam. Aku tidak lagi takut otoritas orang tuaku, gereja atau bahkan Elohim. Aku merasa bahwa aku mengikuti Elohim ‘yang benar’ dalam Islam. Perhatian utama aku adalah untuk menyelamatkan jiwaku setelah kehidupan yang kosong yang telah lakukan sebelumnya.

Teman-temanku sering kali mencoba untuk berbicara dengan aku, berdoa dengan aku atau membawa aku ke gereja. Terus terang aku menolak dan bersikeras bahwa aku bebas untuk membuat keputusan sendiri. Kali ini semua berjalan dengan cara yang berbeda. Tanpa ragu-ragu, aku mempersilahkan wanita itu untuk mengunjungi aku dan memberikan kepadanya alamat rumahku. Lima belas menit kemudian, bel pintu berdering. Setelah perkenalan biasa, ia diminta untuk berdoa dengan aku. Aku sebagaimana biasanya diam dan setuju. Aku bahkan tidak bertanya bagaimana dia tahu tentang aku – Aku diam dan hormat dengan cara yang aneh. Dia berdoa dan aku menangis dengan air mata bercucuran. Dia meminta Elohim yang benar untuk berdiri di samping aku dan membimbing aku untuk membuat keputusan yang tepat.

Wanita ini didampingi oleh suaminya dan putri kecil mereka. Aku sangat terpesona ketika gadis kecil ini menatapku dan mengatakan bahwa dia melihat Yeshua menuangkan air pada aku. Mereka mengatakan kepada aku bahwa Ha Mashiah telah membaptis aku dan Dia masih menginginkan aku sebab Dia mengasihiku. Mereka meminta aku untuk bertemu mereka di pagi hari untuk pergi ke gereja karena aku harus memulai hubungan pribadi dengan Ha Mashiah dan belajar segala sesuatu tentang kepercayaanku. Kemudian mereka pergi.

Mereka menelepon aku pagi harinya dan aku mengatakan kepada mereka bahwa aku tidak yakin. Mereka datang dan membawa aku ke gereja. Saat kami memasuki gereja, seorang wanita datang kepada aku dan berkata, “Aku harus memberitahumu sesuatu …” Dia tampak ragu-ragu.. Dia menatapku lagi dan berkata, “Yeshua berkata kepada kamu: “Akulah jalan, kebenaran dan kehidupan …. “ Aku hancur dengan air mata. Aku sangat dipenuhi dengan apa yang terjadi. Aku tidak mengharapkan Elohim menjawab pertanyaanku dengan cara ini, mengatakan pada aku bahwa Ha Mashiah adalah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan!

Hidupku berpaling menjadi lebih baik. Aku mulai pergi ke gereja secara teratur. Aku datang untuk mengenal Elohim dengan cara yang baru. Aku mengira bahwa Elohim jauh, tetapi Dia telah datang untuk menyelamatkan aku karena Dia mengasihiku. Aku berhenti semua hal buruk dalam hidupku seperti mabuk dan percabulan. Aku memulai hubungan baru dengan ayahku dan ibuku. Aku membawa kedua orang tuaku untuk memiliki hubungan yang benar dengan Elohim. Tiba-tiba, semuanya berubah. Kami sekarang pergi ke gereja bersama-sama dan berdoa di rumah. Keributan-keributan dan perkelahian telah perigi dari rumah kami karena Elohim telah menjamah kami semua. Kami berdoa sungguh-sungguh untuk saudariku, meminta Elohim menyelamatkan dan membawa dia kembali.

Ashraf

Bersambung ke Bab 8: Begitulah Bagaimana Aku Telah Mengenal Elohim

  1. Pendahuluan
  2. Dibelakang Kerudung
  3. Diberkatilah Bangsa Mesirku
  4. Dari Tanahair Mashiah Anak-anak Ismail Akan Kembali
  5. Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid
  6. Orang-orang Pilihan Mashiah
  7. Dari Kristen nominal Ke Islam dan Kemudian Ke Mashiah
  8. Begitulah Aku Mengenal Elohim; Ex-Jihadist Pt. A
  9. Dahulu Aku Mati dan Sekarang Aku Hidup
  10. Instruksi-instruksi Penting
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Orang-orang Pilihan Mashiah

[Pengalaman pertama dengan orang Kristen, mimpi tenggelam tiga kali]

Judul ini adalah bagian dari buku Anak-anak Ismail (The Children of Ismael), kumpulan kisah-kisah nyata yang mengharukan dan menyentuh hati setiap pembacanya. Mereka bersaksi bagaimana Elohim telah merubah gurun pasir kehidupan menjadi padang rumput yang indah, rantai-rantai ikatan protokol keagamaan yang berat menjadi hubungan kasih yang manis dengan Pencipta mereka. Selamat membaca!

Bab 6. Ketika kami kanak-kanak, ayah kami mengajari kami cara sembayang. Dia selalu berkomitmen untuk sembayang. Orang tuaku adalah orang-orang sederhana, tapi tulus dalam ibadah mereka dan gaya hidup. Ayahku adalah seorang pegawai dan memberi kita hidup yang layak. Aku pergi ke sekolah perawat. Aku tidak tahu banyak tentang agamaku selain berdoa dan mengenakan kerudung. Aku tidak pernah peduli dengan Kristianiti atau  orang-orang Kristen. Saya pikir itu dilarang memikirkan agama yang telah rusak.

Setelah lulus, aku bekerja di sebuah rumah sakit swasta, di mana aku tinggal dengan beberapa perawat Kristen. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berhubungan dengan orang-orang agama itu. Aku tinggal bersama mereka sebagian besar bulan itu, kecuali selama beberapa hari aku bebas setiap bulan. Bertentangan dengan harapanku, mereka memperlakukan diriku dengan cara yang penuh kasih dan ramah. Aku pikir mereka akan menganiaya saya karena mereka mayoritas di rumah sakit ini, dan kami Muslim minoritas.

Aku  tertarik dengan orang-orang Kristen ini. Aku mulai bertanya pada salah satu dokter tentang hal-hal kecil yang menarik perhatianku, seperti gambar Ha Mashiah di salib. Dia menjawab semua pertanyaanku, dan aku ingin tahu lebih banyak. Dia mulai memberi aku kaset khotbah yang menjelaskan banyak hal yang aku gunakan untuk mendengar tapi tidak mengerti. Aku mendengarkan kaset ini diam-diam. Banyak hal mulai masuk akal. Aku melihat karakter Kristus dalam Kuran dan mulai mencari semua ayat Kuran yang berbicara tentang Dia.

Aku biasa untuk membaca ayat-ayat ini dan merenungkan maknanya. Aku menemukan bahwa ayat-ayat tersebut yang dihubungkan dengan beberapa karakteristik Ha Mashiah yang tidak pernah dikaitkan dengan seorang nabi – ayat-ayat tersebut tepatnya adalah sifat-sifat Elohim. Aku merasa seolah-olah aku sedang membaca ayat-ayat ini untuk pertama kalinya. Mataku dibuka untuk yang lebih dalam arti dan makna penting ayat-ayat ini selain penjelasan dangkal dari keyakinan yang aku dapat saat kecil.

Aku menjadi lebih yakin, jadi aku tanya dokter itu untuk menjelaskan kepada aku arti dari Trinitas dan Penyaliban itu. Dia menjawab semua pertanyaanku. Semuanya katanya menunjuk fakta bahwa Ha Mashiah benar-benar Elohim, bahkan Kuran memberi pernyataan.

Dokter tutorku bepergian selama setahun, tapi aku masih terus membaca dan mencari. Setiap hari aku menjadi lebih yakin bahwa Yeshua Ha Mashiah adalah Elohim, sampai aku mendapati diriku berdoa kepada Yeshua dan mengakui Dia sebagai Elohim! Suatu malam, aku berada di asrama perawat berbaring di tempat tidurku, memikirkan Ha Mashiah dan apa yang harus aku lakukan untuk dapat dibaptis dan mengubah agamaku. Aku ingin hidup dengan agama baru itu dengan segenap hatiku, tapi aku takut apa yang akan terjadi pada aku jika keluargaku tahu.

Aku lelah berpikir dan memutuskan untuk tidur. Ruangan itu gelap, tapi kemudian tiba-tiba aku melihat Ha Mashiah berdiri di atas padang rumput luas dengan membentang tangan-Nya kepada aku, sementara aku tenggelam di laut yang dalam, dikelilingi oleh banyak orang, namun tidak satupun dari mereka bisa menyelamatkan aku. Aku melihat penglihatan ini tiga kali berturut-turut sebelum aku tiba pada kenyataanya. Aku sangat gembira! Aku terus berteriak bahwa aku melihat-Nya dan bahwa Ia menampakkan diri kepada aku! Ketika teman aku menanyakan apa yang terjadi, aku tertawa namun tidak mengatakan kepada mereka apa-apa. Aku merasa malam itu adalah paling bahagia dalam hidup aku. Aku dipenuhi dengan sukacita dan damai yang belum pernah aku alami sebelumnya.

Aku kemudian menghadapi krisis nyata. Aku tidak menyangkal imanku dan keluarga aku menuduhku gila. Selama tiga tahun, mereka terus mengatur bagi aku untuk menikah dan aku tetap menolak. Suatu kali seorang pria melamarku, dan keluarga aku bersikeras bahwa aku menikahnya. Kami berada di resort musim panas Alexandria [Mesir], bermain di pantai, ketika ayahku dan kakakku mengajak aku ke laut. Mereka mencoba menenggelamkan aku. Aku menangis dan bertanya kepada mereka mengapa mereka melakukan itu. Mereka berkata, “Kami tidak akan membunuhmu, tapi kami ingin menunjukkan bahwa kami dapat jika kamu tidak berubah dan menikahi lelaki tersebut.”

Aku berbohong kepada mereka dan memberitahu mereka bahwa aku akan menikah dengan orang itu. Aku bertunangan dan kembali ke pekerjaan aku di rumah sakit. Aku yakin hal-hal akan berubah. Aku berhenti menghubungi keluargaku dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku hanya tahu bahwa aku mengasihi Ha Mashiah dan hidup bagi-Nya, apapun masalah yang aku mungkin hadapi.
Fatma

Bersambung ke Bab 7:  Dari Kristen nominal Ke Islam dan Kemudian Ke Mashiah

  1. Pendahuluan
  2. Dibelakang Kerudung
  3. Diberkatilah Bangsa Mesirku
  4. Dari Tanahair Mashiah Anak-anak Ismail Akan Kembali
  5. Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid
  6. Orang-orang Pilihan Mashiah
  7. Dari Kristen nominal Ke Islam dan Kemudian Ke Mashiah
  8. Begitulah Bagaimana Saya Telah Mengenal Elohim
  9. Dahulu Saya Mati dan Sekarang Saya Hidup
  10. Instruksi-instruksi Penting
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Dari Tanah air Ha Mashiah Anak-anak Ismail Akan Kembali

[Pembebas Palestina, isteri tercinta, tersesat di PUB Eropa, bukti yang menakjubkan]

Ini adalah bagian dari buku Anak-anak Ismail (The Children of Ismael), kumpulan kisah-kisah nyata yang mengharukan dan menyentuh hati setiap pembacanya. Mereka bersaksi bagaimana Elohim telah merubah gurun pasir kehidupan menjadi padang rumput yang indah, rantai-rantai ikatan protokol keagamaan yang berat menjadi hubungan kasih yang manis dengan Pencipta mereka. Selamat membaca!

Kembali ke Bg.2 Bab 3. Diberkati Bangsa Mesirku

Bab 4. Saya lahir di tanah air Ha Mashiah (Al Masih), Palestina (Israel modern) tercinta. Kami adalah apa yang disebut “Arab-arab dari Tepi Barat” Saya lahir di akhir tahun lima puluhan di bawah bayangan gelap pendudukan. Aku tinggal di sebuah negara yang bukan tanah airku, tapi yang salah satu dari kami dapat memilih sendiri waktu lahir atau peti mati mereka.

Keluarga saya terdiri dari tujuh anak laki-laki dan empat perempuan. Ayah saya meninggal ketika saya berusia delapan tahun. Hatiku dipenuhi dengan kesedihan: lahir tanpa tanah air dan anak tanpa ayah. Aku merasa seolah-olah surga jahat terhadap aku. Saya berpikir bahwa masa kanak-kanak adalah waktu yang membentuk citra kita tentang Elohim bagi kita masing-masing. Aku pikir Anda bisa membayangkan karakteristik Allahku.

Desa saya terletak dekat “Al-Quds” (Yerusalem) – Yerusalem yang membunuh nabi-nabi dan melempari mereka yang dikirimkan padanya, Yerusalem yang menyalibkan Mashiah.

Ketika Anda dilahirkan di “Al-Quds” (Yerusalem), Anda menjadi seorang komando yang telah dijinakkan, dan seorang anak tidak seperti anak-anak perjuangan yang melemparkan batu-batu pada musuh yang menduduki tanah. Tapi siapa yang bisa memenjarakan jiwa dan hati? Bahkan penjara-penjara tidak bisa melakukan itu, tidak juga dapat pendudukan.

Oleh karena itu, saya membawa hati, semangat, dan revolusi dari ‘Anak-anak dari Batu-batu’ walaupun saya belum pernah melihat demonstrasi tunggal atau semacam Intifadah (pemberontakan) di desa saya.

Tapi, saya ingat ketika saya masih seorang anak kecil, aku melambung tinggi dalam lamunan-lamunan-ku, lamunan di mana saya membebaskan Palestina. Lamunan-lamunan pembebasan ini selalu berakhir dengan keberadaanku menjadi martir.

Aku benar-benar seorang anak Palestina dalam arti istilah sepenuhnya, bahkan dengan upaya Pendudukan untuk mencuci otak pemuda Arab untuk melupakan akar mereka, tanah air mereka, serta teriakan ibu-ibu mereka.

Dalam kenyataan, kesedihan menjadi bahasa yang kami pelajari sejak masa kanak-kanak kami. Tak berdaya dan terjebak dalam segala hal: dalam mencari nafkah, mencari tempat tinggal, di sekolah, dan di jalan. Kami tidak seperti anak-anak orang-orang Israel. Diskriminasi jelas dalam segala hal. Jika pasukan pendudukan membedakan antara orang Yahudi Timur dan Barat, bagaimana mereka tidak diskriminasi terhadap kami?
Semua hal itu membentuk aku serta imanku di dalam Allah. Allah adalah perlindungan pertama dan terakhir. Aku berdoa dan berpuasa sampai saya berusia 15 tahun, tapi apa hasilnya?
Apa yang terjadi? Apakah mukjizat terjadi untuk membebaskan kami?
Apakah tanah air kami telah kembali ke kami?
Apakah Allah telah membangkitakan para martir kami dari kuburan-kuburan?
Apakah Allah telah menggembalikan kebahagiaan kami yang hilang atau mengakhiri penumpahan darah kami?
Apakah Allah telah mengembalikan orang-orang buangan kembali ke tanah air mereka?

Jutaan tanda tanya meledak di dalam diriku melawan nasib kami bahwa surga telah mentakdirkan kami untuk menerimanya. Mengapa kematian, genosida, pembuangan, dan hukuman penjara menjadi takdir kami, terpisah dari bangsa-bangsa lain dan masyarakat? Apakah ini kehendak surga? Jawaban dalam lubuk hatiku ada di afirmatif.

Oleh karena itu, saya menolak takdir ini, ini dan Allah ini. Aku hidup selama empat tahun tanpa percaya ilah manapun. Ateisme mencolok tinggal di hati dan dinyatakan oleh kata-kata dan perbuatan. Jadi, hidup saya kehilangan artinya, semua prinsip dan moral layu dalam diriku. Bahkan, aku melakukan segala dosa dan pelanggaran, yang besar maupun yang kecil.

Kemudian sesuatu terjadi! Ini adalah awal perubahan dalam hidupku. Saya bertemu dengan seorang wanita muda Eropa. Namanya Tina. Dia berada di Al-Quds (Yerusalem) selama setahun. Kita saling mengenal dan menjadi teman baik. Dia bukan salah satu orang biasa yang Anda temui setiap hari. Sebaliknya, dia adalah orang yang unik dari jarang – jenis itu, jika Anda telah mengenal mereka, Anda tidak akan pernah lupa. Dia adalah seorang manusia dalam arti kata penuh, berseri-seri dengan kehidupan dan kehadiran khusus – sebuah kehadiran yang membuat Anda merasa penting, dan bahwa Anda adalah orang yang beradab, dan waktu adalah berharga. Ya, dia benar-benar seorang wanita dengan siapa Anda merasa semua tiba-tiba bahwa segala sesuatu memiliki makna dan nilai.

Tina berbicara empat bahasa dengan lancar. Dia selalu mengatakan bahwa tidak ada perbandingan antara musim semi dan musim panas di Eropa dengan mereka yang ada di Al-Quds, dengan taman yang indah dan ladang bunganya. Tina mulai merasa khawatir karena dia sudah mulai tertarik pada seorang pria muslim. Dia tahu bahwa dia adalah sangat konservatif, dari keluarga Kristen tradisional dan mereka tidak akan pernah menyetujui sebuah hubungan seperti itu.

Tina mulai merencanakan untuk kembali pulang. Dia sudah menghabiskan satu tahun di Al-Quds – tahun yang terbang seperti sehari! Aku juga mulai merencanakan untuk melakukan perjalanan ke Eropa, yang membuat Tina sangat senang. Pada bulan Juli 1979, aku benar-benar mengunjungi dia di Eropa. Dia adalah pemandu wisataku. Aku ingat mengunjungi keluarganya, yang menyambut saya dengan hangat.

Kami berbicara suatu kali tentang kebiasaan makan daging babi di Eropa dan di negara-negara Barat. Tina mengatakan sesuatu yang mengejutkan saya. Dia mengatakan kepada saya bahwa Adonai Yeshua Ha Mashiah mengatakan bahwa apa yang membuat orang najis itu bukan makanan atau minuman tapi apa yang keluar dari hati dan keinginan-keinginan!

Kunjungan ini telah memisahkan I (i) dan dan menyeberangi T (t) untuk hubungan kami. Kami menyadari bahwa kami tidak hanya teman tetapi juga jantung hati. Jadi, kami memutuskan untuk menikah. Untuk aku, menikah bukan keputusan yang mudah, tetapi itu adalah tonggak pertama dari perjalanan panjang untuk mengambil tanggung jawab.

Ketika aku kembali ke Al-Quds (Yerusalem) untuk mempersiapkan pernikahan kami, ibu saya cemas menungguku. Ibuku adalah seorang Muslim konservatif dengan kepribadian yang kuat. Ibu saya mengatakan bahwa dia menentang perjalanan saya ke Eropa untuk menikah, dan bahwa Tina harus datang ke Al-Quds, sehingga akan menjadi perkawinan Islam menurut hukum Allah dan nabinya. Sudah menjadi rahasia umum di Palestina bahwa jika seorang wanita barat menikah dengan pria Muslim, dia secara otomatis menjadi seorang Muslim, mengenakan jilbab, dan belajar bahasa Arab dan Kuran.

Pada saat yang sama, Tina bertobat dan memperbaharui hubungannya dengan Elohimnya dan Juruselamat Yesus Kristusnya. Dia menjadi seorang Kristen dalam arti istilah penuh, menjadi Kristen sejati. Setelah mempersiapkan segalanya, aku pergi ke Eropa dan kami menikah. Pernikahan kami sebenarnya yang paling penting dan indah yang pernah saya langkahi dalam hidup saya.

Tina tidak jatuh ke dalam kategori isteri-isteri Kristen yang menikah dengan suami non-beriman, yaitu, dia tidak berkhotbah kepadaku siang dan malam atau menegur saya karena perbuatan saya yang jahat dan negatif dari sudut pandangnya. Dia bahkan tidak membuat saya merasa rendah diri padanya. Dia adalah seorang istri yang saleh; suatu dorongan terhadap perubahan dan mencerminkan citra Elohim sendiri.

Dia tunduk pada saya. Dia tahu bagaimana memperlakukan orang Timur yang sangat bangga, melindungi harga dirinya, pendapat dan kemanusiaan. Semua kebajikannya mempengaruhi aku tapi tidak secara total mengubahku. Aku masih menjalani hidup penuh dosa. Aku mabuk dan menghabiskan sepanjang malam di bar, yang membuat saya sangat bodoh.

Oh Tina malang yang mendapatkan aku! Itu di luar kapasitas setiap manusia, tapi ia benar-benar seorang wanita seperti Yeshua. Aku berharap aku hanya mabuk, tapi aku bahkan menggunakan semua jenis norkoba. Tahun-tahunku telah habis dalam perbudakan kepada Iblis, tetapi di tengah-tengah duri berdiri sebuah bunga yang teguh dengan kasih yang tak pernah berakhir – istri saya, Tina. Aku bangga dengan iman dan moralnya dihadapan semua orang. Aku tersesat selama lima tahun, seolah-olah mengantisipasi kematian, seolah-olah aku perlahan-lahan menempatkan diri untuk kematian. Tina berdoa bagi saya. Dia meminta Elohim untuk menyelamatkan dan mengeluarkan aku.

Dia tidak bisa didiamkan dan tidak juga dia tidak membiarkan Elohim tetap diam. Nyatanya, Surga menjawab doanya pada hari terakhir tahun 1984. Ketika aku terhuyung-huyung di jalan setelah sepanjang malam minum seseorang menemui saya dan mengundang saya ke rumahnya untuk minum teh. Aku mabuk, tapi aku setuju untuk pergi bersamanya malam itu.

Kami mengobrol selama beberapa jam atau lebih. Keesokan paginya, aku tidak ingat apa-apa tapi sebagian kecil percakapan kami. Aku ingat bahwa dia telah bertanya tentang keyakinanku kepada Elohim dan aku menjawab dia dengan berkata, “Ya, saya percaya pada Allah, rasul-rasul-Nya dan nabi-nabi-Nya: Musa, Isa dan Muhammad.” Dia berkata, “Aku tahu hanya satu jalan ke surga. Itu adalah Elohim kami dan Juruselamat Yeshua Ha Mashiah, yang telah menyelesaikan perdamaian antara Elohim dengan manusia. Tanpa Yeshua Ha Mashiah, kamu tidak bisa masuk surga, tidak peduli seberapa baik kamu atau berapa banyak yang kamu berikan untuk amal.” Lalu, Ia meminta saya untuk membaca Injil Yohanes. Aku juga ingat bahwa saya marah pada dia ketika aku pergi, tapi saya suka keberanian dan kejujurannya. Aku mengundang dia ke rumahku dan saya memberikan alamatku. Kami membuat janji untuk hari Jumat berikutnya.

Aku tepatnya mencari Alkitab isteriku. Aku mulai membaca Injil Yohanes. Aku membacanya beberapa kali. Aku berusaha baik-siap untuk percakapan Jumat kami. Pada Jumat berikutnya, aku memutuskan untuk berhenti minum untuk benar-benar terjaga selama percakapan.

Dia datang, disertai dengan orang lain bernama Nels. Mereka mulai berbicara kepada saya tentang kasih Elohim bagi saya dan bagi semua bangsa, bagaimana Elohim perduli untuk setiap kita, dan bagaimana egoisme dan kejahatan manusia membawa semua penderitaan di bumi – bumi yang berdosa.

Elohim tidak senang dengan kejahatan manusia maupun buah-buah kejahatan itu. Elohim tidak ingin kita hidup melalui penderitaan-penderitaan yang kita sendiri telah buat. Seorang pria menuai apa yang ditabur. Elohim, yang adalah kasih sejati, tidak mencobai siapa pun dengan kejahatan. Elohim adalah sumber kebaikan, kebajikan, kekudusan, dan pemeliharaan. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian; hati saya haus.

Dengan istriku dan Alkitab, saya bertemu dengan dua pria ini cukup sering, sekarang agama telah menjadi obsesi saya setelah selama bertahun-tahun menyia-nyiakan hidupku.

Tina ingin aku datang untuk mengenal Mashiah, Mashiah/ Mesias Yang Dinantikan di Perjanjian Lama (Al Taurat). Dia ingin membuktikan kepada saya bahwa Mashiah adalah pusat dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, pusat Inspirasi Sorgawi. Tina tahu bahwa aku fasih dalam bahasa Ibrani, bahasa Perjanjian Lama. Dia mulai mengutip semua nubuat yang berbicara tentang Mashiah. Hampir tiga ratus nubuat berbicara tentang Mashiah, kelahiran-Nya yang ajaib, hidup-Nya, penderitaan-Nya, penyaliban-Nya, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya yang ajaib. Saya menemukan bahwa semua ini telah ada ratusan dan ribuan tahun sebelum Mashiah.

Penemuan ini mengguncang seluruh keberadaanku. Aku bingung melihat orang-orang Yahudi tidak percaya kepada Mashiah (Mesias Yang Dinantikan) meskipun mereka membaca Perjanjian Lama setiap hari. Hal ini sebenarnya Elohim yang menuntun dan bukan bacaan tanpa pikiran (mengafal tanpa mengerti).

Aku mulai menyadari bahwa Mashiah bukanlah orang biasa. Dia adalah inti dari Perjanjian Lama dan orang-orang Yahudi masih menantikan Dia. Kami Muslim juga menunggu Mashiah sebagai penguasa hanya untuk menghakimi semua bangsa. Orang-orang Kristen tentu menunggu Mashiah sebagai Elohim dan Raja. Siapakah pribadi ini yang diantisipasi oleh semua bangsa, oleh orang-orang Yahudi, Kristen, dan Muslim?

Jika Yesus hanyalah manusia biasa, Dia tentunya sudah akan mengambil lebih dari Dia inginkan bila dibandingkan dengan agama-agama lain yang memiliki nabi lain seperti Musa dalam Perjanjian Lama dan Muhammad dalam Islam. Itu akan lebih sesuai untuk orang-orang Yahudi untuk menunggu Musa dan Muslim untuk Muhammad, tapi ini tidak terjadi dan semua orang masih menunggu Yeshua Ha Mashiah.

Bahkan mukjizat yang dilakukan Mashiah berbeda dengan nabi lainnya. Bukan berarti perbedaan itu salah satu pesan kenabian atau penerimaan, melainkan bahwa Yeshua Ha Mashiah adalah satu-satunya Nabi yang menyerupai Elohim dalam sifat-sifat elohim-Nya dan kuasa yang menjangkau kesatuan dan kesamaan. Jadi, bagaimana Elohim dapat memberikan seorang nabi – apa pun statusnya atau pesannya dapat ada – seperti sebuah hak istimewa, yaitu hak istimewa sebagai mitra Elohim, tidak hanya dalam dalam sifat-sifat-Nya, kekuatan dan kekudusan, tetapi juga dalam kasih-Nya?

Perjuangan batin saya datang ke kepala, meskipun aku bukan muslim fanatik. Aku adalah seorang kafir sebagian besar waktu. Bagaimana kuatnya agama di Timur! Hal ini berakar dalam gen kita, sel-sel darah, dan tulang sumsum. Tidak ada yang lebih sulit daripada mengubah keyakinan seseorang yang telah diukir sepanjang tahun pada masa kanak-kanak dan pendidikan.

Saya berpikir – jika perbuatan baik sungguh membayar perbuatan buruk, aku tentunya perlu kehidupan lain untuk melakukan perbuatan baik yang cukup bagi menghapus semua kejahatanku. Oleh karena itu, tidak ada cara bagi saya untuk diselamatkan oleh perbuatan baik atau amal. Siapa yang akan menyelamatkan aku dari dosa-dosaku dan kesombonganku? Jadi siapa yang akan menyelamatkan saya?

Pada waktu itu, saya tidak menyadari bahwa kasih Mashiah tumbuh dalam diriku, dan akhirnya aku tidak dapat lagi bertahuan, jadi aku berseru kepada Elohim, “Biarkan aku tahu kebenaran. Di mana agama yang sungguh dan benar? Agama Surgawi percaya bahwa Engkau adalah satu, tapi pertanyaannya adalah, apakah Engkau tetap jauh dari kami di langit ketujuh atau Engkau telah menjelma dan ditarik dekat kepada kami dan dalam kesatuan dengan kami?”

Saya juga berkata kepada-Nya, “Oh, Yeshua Ha Mashiah, jika Engkau benar-benar Elohim dan Juruselamat, ubahlah hidup saya dan ubah hati hitamku menjadi putih, dari hati yang penuh kebencian kepada hati yang penuh kasih, dari hati najis ke hati yang penuh kekudusan, kemurnian, dan kebersihan.” Kehidupanku tepatnya telah mulai berubah dalam cara yang saya tidak pernah impikan. Aku mulai mengalami sukacita yang memenuhi batin saya – tanpa obat atau minuman alkohol. Seluruh hidupku mulai berubah.

Sekarang, saya punya tujuan-tujuan, prinsip-prinsip yang jelas, dan makna hidup yang baru. Sekarang, ada Elohim untuk siapa saya siap untuk kehilangan segalanya, Ia adalah semuanya cukup bagi saya. Akhirnya, istri saya bersukacita karena ia melihat panen air matanya dan doanya. Sekarang, rumah kami telah menjadi sebuah gereja, mempelai Ha Mashiah. Kami memulai hidup baru, kehidupan pelayanan, mujizat-mujizat, dan kesaksian yang besar. Kami akan membicarakan hal itu beberapa waktu lain untuk kemuliaan Yeshua Ha Mashiah!

Salam,
Khalil

Bersambung ke Bab 5. Pertobatan di Depan Sebuah Mesjid

  1. Pendahuluan
  2. Dibelakang Kerudung
  3. Diberkatilah Bangsa Mesirku
  4. Dari Tanah air Mashiah Anak-anak Ismail Akan Kembali
  5. Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid
  6. Orang-orang Pilihan Mashiah
  7. Dari Kristen nominal Ke Islam dan Kemudian Ke Mashiah
  8. Begitulah Saya Mengenal Elohim
  9. Dahulu Saya Mati dan Sekarang Saya Hidup
  10. Instruksi-instruksi Penting
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid

Judul ini adalah bagian dari buku Anak-anak Ismail (The Children of Ismael), kumpulan kisah-kisah nyata yang mengharukan dan menyentuh hati setiap pembacanya. Mereka bersaksi bagaimana Elohim telah merubah gurun pasir kehidupan menjadi padang rumput yang indah, rantai-rantai ikatan protokol keagamaan yang berat menjadi hubungan kasih yang manis dengan Pencipta mereka. Selamat membaca!

Bab 5. Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid
[Pengkotbah kecil, perbandingan yang sangat berbeda, teraniaya namun tidak patah]

Ini adalah kisah tentang perpindahan [saya] ke Kristianiti. Nama saya Ibrahim. Saya sangat bangga dengan nama Arab saya karena itu adalah nama dari patriark besar. Nama baru saya adalah Timotius, tapi itu tidak mengubah fakta bahwa saya Ibrahim, panggilan sehari-hari “Abu-Khalil,”’ anak dari pasangan petani sederhana. Saya dibesarkan di tempat sederhana, beralas tikar kayu sebagai karpet, sebuah lampu minyak cahaya dan keju keras untuk makanan. Aku biasa belajar pelajaran-pelajaran saya di dekat sungai kecil, saya mengenakan ‘Galabia’ putih. Aku masih mengenakan ‘Galabia’ sampai sekarang.

Ketika saya masih kecil, ibu saya menuntun saya untuk pergi ke desa ‘Kottab’ (tempat belajar agama Islam), dimana Imam mengajar kami membaca, menulis dan melantun Alquran. Dia meminta pembayaran 10 sent USD dari kami pada akhir setiap minggu. Pada ‘Kottab,’ inilah  pikiran dan hati saya dipenuhi dengan ketaatan untuk Allah [Elohim], Pencipta langit dan bumi.

Ketika saya bergabung dengan sekolah persiapan [SMP], saya menjadi lebih tertarik pada kelas-kelas  Dhekr (ibadah mistik) di mesjid. Saya mulai menghadiri kelas mistik kelompok Sufi di desa itu. Kami terbiasa untuk memuji nabi Muhammad dalam segala kondisi, mengulang kata: “Oh, Rasul Allah, tolonglah!”

Suatu hari setelah doa magrib di masjid Stasiun, dua pria mendatangi saya dan memperkenalkan diri. Salah satunya bernama Muhammad, yang lain Salomo. Mereka menyapa saya dengan cara yang saleh (sopan sesuai ajaran agama). Saya melihat dalam diri mereka kebaikan yang unik dan keinginan nyata untuk menyenangkan Allah. Mereka memperkenalkan saya ke seluruh teman-teman mereka. Mereka mencintai satu sama lain dan mendorong satu sama lain untuk mentaati Elohim. Saya terkesan dengan kesatuan mereka. Mereka adalah anak muda elit kota kami. Mereka telah melihat dedikasi saya untuk menyembah Allah dan keterampilan saya berbicara di depan orang.

Setiap hari Senin pertama dalam penanggalan Arab, kelompok kami mengadakan pertemuan, di mana saya biasa memberikan pidato setelah khotbah seorang ‘Emir’ (pemimpin kelompok). Sebenarnya saya mulai berkhotbah di mesjid ketika aku baru 14 tahun. Saya kira itu baik untuk melakukannya; Imam Shafai biasa memberikan ‘fatwa’ (nasihat agama) ketika ia 6 atau 9 tahun. Aku ingat khotbah pertama saya di masjid itu tentang cara ideal untuk merayakan ulang tahun nabi. Kami biasa berpuasa dan makan bersama di masjid, mengikuti ajaran-ajaran dari nabi Muhammad, bahkan sampai sedetil mungkin, seperti cara berjalan, berbicara, berdoa, makan, minum, berpakaian, dll.

Saya berutang kepada orang-orang ini karena mereka telah mendorong saya untuk membaca, mencari dan meneliti. Faktor-faktor ini tepatnya yang telah membawa saya ke tempat saya sekarang ini. Suatu hari, seorang teman saya berkata kepada ayahku, “bahwa Ibrahim adalah salah satu pembicara umum Kelompok Sunni, ia menghadiri semua pertemuan umum dan rahasia mereka. …” Saya terkejut dan marah karena orang itu adalah orang yang sama yang mendorong saya pada awalnya untuk berkomitmen pada Panggilan Islam dan bergabung dengan Kelompok Persaudaraan Muslim (Muslim Brotherhood Group). Kami sering pergi bersama-sama dari satu masjid ke yang lain, mewartakan Panggil Islam. Aku selalu berharap bahwa ayahku dapat hadir ketika saya menyampaikan khotbah saya.

Setelah rahasia saya terbongkar, ayah saya mulai memperingatkan saya dan mengancam saya berkali-kali, berharap bahwa saya akan merubah pikiran saya dan meninggalkan Kelompok Persaudaraan Muslim (KPM). Kelompok kami menjadi terkenal di mata seorang informan bernama Muhammad. Dia biasa mengikuti semua berita dan gerakan kami dan melaporkannya ke kantor Penyelidik Keamanan Negara (PKN). Dia digunakan untuk merekam semua pidato-pidato kita dan menyerahkan mereka ke kantor PKN lokal. Aku bangga melihat Mohammed merekam pidato-pidatoku di mesjid.

Di sisi lain, ayahku dan saya tidak senang bahwa PKN memiliki namaku. Ayahku sangat khawatir tentang keselamatanku sehingga dia pergi ke KPM di masjid dan berteriak pada mereka di depan semua orang dan meminta mereka untuk tidak berhubungan dengan diriku. Dia pulang dan memukul saya sehingga gigiku patah. Sampai sekarang salah satu gigi depanku masih rusak, aku tetap berhubungan denngan KPM.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, ayahku membakar semua buku-buku agamaku. Dia begitu prihatin tentang diriku dan takut bahwa aku mungkin akan bermasalah karena kelompok Sunni tersebut. Dia bahkan mengancam akan menceraikan ibuku jika saya terus pergi ke masjid Sunni. Saya memintanya untuk mengizinkan saya hanya duduk di luar masjid sehingga saya bisa mendengarkan guru dari Persaudaraan Muslim tanpa benar-benar pergi ke masjid. Dia setuju dengan syarat bahwa ia harus pergi dengan saya. Kami biasanya duduk di luar masjid. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian.

Ancaman tidak menghalangi saya dari menyebarkan Panggilan Islam. Di sekolah, aku biasa memberikan pidato umum Islam setiap pagi. Aku memaksa kakakku memakai kerudung. Aku tidak lagi berjabat tangan dengan wanita-wanita dan mendengarkan lagu karena takut hukuman Allah pada Hari Kiamat, hukuman dalam bentuk timah panas yang akan dituang ke dalam telinga. Tetangga-tetanggaku mengolok-olok aku karena radikalanku dalam menerapkan semua perintah Kuran dan Sunnah. Bukan salahku, aku telah diajarkan bahwa Islam itu relevan dan berlaku untuk setiap usia dan setiap negara, dan bahwa Islam adalah pemecahan!

Sementara berjuang untuk menyebarkan Panggilan Islam, aku medapat sebuah ide. Aku berpikir aku harus memenangkan teman-teman Kristenku bagi Islam sehingga kita semua akan pergi ke Jannah (surga). Pada saat itu, jika kalian bertanya padaku tentang pendapatku mengenai orang-orang Kristen, aku tentunya akan berkata bahwa mereka kafir dan musyrik (penyembah banyak ilah), tapi aku menemukan bahwa Kuran sendiri mengajarkan sebaliknya.

Dalam Surah 5: 82 Kuran berkata, “Terkuat di antara orang-orang dalam permusuhan dengan orang-orang beriman akan kamu temukan orang-orang Yahudi dan orang Pagan, dan terdekat di antara mereka dalam kasih kepada orang-orang beriman akan kamu temukan mereka  yang berkata, “Kami adalah orang-orang Kristen”: karena diantara ini adalah orang-orang serius belajar, dan orang-orang yang telah meninggalkan keduniawian, dan mereka tidak sombong.”

Menurut ayat ini, Kuran membuat perbedaan antara orang Kristen dan kafir (pagan), jika orang-orang Kristen itu harus dilihat sebagai kafir, Kuran akan menempatkan mereka dalam kategori yang sama.

Dalam Surah 2: 62 Kuran mengatakan, “Dan orang-orang Kristen dan Sabian – barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Terakhir, dan bekerja benar, akan mendapat pahala mereka dari Adonai mereka (from ”Lord”), mereka tidak akan ada ketakutan, tidak juga kesedihan.”

Aku berusaha meyakinkan orang-orang Kristen yang aku temui di sekolah atau di lingkunganku bahwa Islam adalah agama yang benar. Aku bahkan berkorespondensi dengan beberapa orang Kristen untuk berpindah ke Islam. Akibatnya, aku memiliki hasrat yang membara di dalam hatiku untuk membandingkan Islam dan Kristianiti, secara menyeluruh, yang benar dan yang salah; yang mana ialah jalan Allah (Elohim) dan yang jalan Iblis.

Selama dua tahun, saya telah bersusah payah. Sering kali saya memutuskan untuk mengakhiri pertempuran batin ini dengan menghentikan membaca buku-buku Kristen, dengan cara berfokus pada membaca Kuran setiap pagi, dan dengan mengikuti contoh nabi Muhammad. Aku ingin menemukan kedamaian dan mematuhi Allah melalui agama yang benar. Oleh karena itu, aku menyingkirkan semua buku-buku Kristenku supaya menjadi seorang Muslim yang nyata, dipersembahkan kepada satu Elohim yang benar, Allah.

Tapi Elohim (God) tidak meninggalkan aku sendiri. Roh Kudus-Nya sering untuk membangkitkan saya di tidurku. Setiap kali aku pergi tidur, aku tegang. Hati nuraniku gelisah. Pada akhirnya aku tak bisa tidur di malam hari. Aku bertanya-tanya, “Jika Muhammad benar-benar nabi yang dijanjikan, mengapa dia tidak datang pada hari penghakiman, sebagai gantinya Ha Mashiah sebagai hakim yang adil? Dalam hal ini, Mohammed akan menjadi salah satu tanda-tanda Hari Terakhir dan bukan Ha Mashiah.” Aku bertanya-tanya tentang rahasia di balik status tertinggi Ha Mashiah di antara semua nabi, begitu banyak sehingga Dia menjadi pusat sejarah. “Apakah kami tidak mengatakan bahwa peristiwa bersejarah tertentu terjadi Sebelum Masehi [artinya Mashiah atau Kristus] (SM/BC) dan lainnya Setelah Masehi (AC/AD)? Apa rahasia kemuliaan Engkau, Isa (Yeshua/ Yesus) Putra Maryam/ Maria?”

Pertanyaan-pertanyaan ini, dan banyak lagi, membuat aku serius memperbandingkan antara Mashiah dan Muhammad. Setelah menghabiskan waktu yang lama membandingkan mereka, aku menemukan bahwa itu adalah perbandingan yang nyata berbeda, bahkan di dalam Kuran itu sendiri.

Di dalam Kuran, kita tidak pernah menemukan Ha Mashiah meminta pengampunan Elohim untuk dosa atau kesalahan, sebagaiman telah dilakukan oleh para nabi dan rasul lainnya. Ha Mashiah adalah benar ketika Dia menantang para pemimpin Yahudi dengan berkata, Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? (Yoh. 8:46). Dia bahkan menegur orang-orang Yahudi untuk kesalehan palsu mereka ketika mereka menangkap basah perempuan yang berzinah: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Yoh. 8:7)

Di sisi lain, aku menemukan dari Kuran itu sendiri bahwa Muhammad hanyalah seorang manusia biasa seperti yang lain, dengan dosa-dosanya, kebencian terhadap orang-orang kafir dan kematiannya. Kuran mengatakan,

“Dan mintalah ampun untuk kesalahan kamu, dan untuk pria dan wanita yang beriman” (Surah 47:19.)
“Supaya Allah boleh mengampuni kamu, kesalahan-kesalahan kamu yang lalu dan kemudian …” (Surah. 48:2)
“Dan jika Kami tidak memberikan kekuatan kepadamu, kamu pastilah sudah condong kepada mereka sedikit.” (Surah 17: 74)

Dalam tafsiran Kurannya, Imam El-Syouty menjelaskan alasan di balik Surah 17:74:
“Menurut Muhammad, anak Kaab, dari suku Karz, Nabi Muhammad membaca Surah 53 ia berkata, “Apakah kamu melihat ‘Lat’ dan ‘Uzza’ … “(nama-nama berhala), Iblis membuat ia berkata bahwa umat Islam bisa menyembah mereka, dan Syafaat dari berhala-berhala yang harus dicari. Jadi, itu menjadi sebuah ayat dalam Kuran. [Ini satu dari ayat-ayat yang disebut ”ayat-ayat Iblis” di dalam Kuran]
Nabi Muhammad begitu sedih tentang apa yang telah terjadi sampai Allah mengilhaminya dengan ayat lain: “Tidak pernah Kami mengirim seorang utusan sebelum kamu, tetapi, ketika dia menetapkan sebuah keinginan, Setan melemparkan beberapa (kejahatan) kedalam keinginannya, tetapi Allah akan membatalkan apa-apa (sia-sia) yang Setan telah lemparkan, dan Allah akan mengkonfirmasi (dan membangun) tanda-tanda-Nya” (Surah 22:52).

Itulah alasan untuk Surah 17:73-74: “Dan tujuan mereka adalah untuk mencobai engkau menjauh dari apa yang Kami telah turunkan kepadamu, untuk menggantikan sesuatu yang berbeda atas nama Kami: Lihatlah! Mereka tentu sudah akan membuat kamu teman (mereka). Dan jika tidak Kami memberikan kekuatan kepadamu, kamu telah hampir condong kepada mereka sedikit.”

Saya tidak bisa menemukan sebuah ayatpun di dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Ha Mashiah bergabung dengan orang-orang kafir jika Allah tidak tolong. Alasan di balik fakta ini, seperti yang saya pelajari dari studi saya, adalah bahwa Ha Mashiah adalah Firman Elohim [Yoh. 1]. Perjanjian Baru, yang aslinya ditulis dalam bahasa Yunani, menyatakan bahwa Ha Mashiah adalah Firman Elohim dalam arti ”pikiran yang diucapkan Elohim.” Ha Mashiah adalah pikiran Elohim. Elohim dan pikiran Elohim adalah keberadaan yang sama dan dasar yang sama, tanpa perbedaan apapun, divisi atau pemisahan. Ha Mashiah adalah Firman berinkarnasi atau menjelma, Elohim yang datang dalam daging. sifat elohim-Nya tidak pernah berangkat dari sifat manusia-Nya, bahkan untuk sesaat atau sebuah kedipan mata.

Semua pikiran ini telah terikat dalam pikiranku dan berjuang dalam hatiku. Aku takut murka Allah yang datang pada orang-orang kafir. Setiap kali Aku berlutut untuk berdoa, Aku berteriak dari dasar hatiku, “Oh, Elohim, tunjukkan kebenaran. Jika Muhammad benar, saya akan mengikutinya sampai aku mati, jika Ha Mashiah adalah benar, saya akan mengikuti Dia sampai aku mati. Aku akan memberikan seluruh hidupku kepada Engkau dan melayani Engkau sepanjang hidupku, apapun harganya mungkin …. “

Aku terus mengulang-ulang doa ini sampai Ha Mashiah datang kepada saya dalam sebuah penglihatan, dalam sebuah mimpi. Dia berkata kepada saya dengan suara lembut-Nya, “Aku mengasihimu.” Aku merenungkan pada kasih tak berujung Ha Mashiah dan pengorbanan-Nya di kayu salib untuk menyelamatkan dan menebus kita. Dengan air mata mengalir di wajahku, saya berkata kepada Ha Mashiah, “Aku mengasihimu. Aku tahu Enkau. Aku tahu bahwa Engkau adalah Alfa dan Omega. Aku tahu bahwa Engkau adalah kekal dan bahwa Engkau adalah Yang Awal dan Yang Akhir …. ”

Aku sangat bahagia, menari seperti anak kecil dan memuji Elohim. Menjadi seorang hakim yang adil, Elohim telah menghukum Putera-Nya untuk mati menggantikan kita sehingga kita tidak perlu menghabiskan keabadian kita di dalam neraka. Kami tidak mengatakan bahwa Elohim Yang Mahakuasa memiliki putra, dari istri – Elohim melarang! Kita menganggap seorang adalah kafir kalau mereka bilang begitu. Elohim tidak pernah punya istri atau anak fisik. Kami mengatakan bahwa Ha Mashiah adalah Putera Elohim dalam pengertian yang sama ”terang lahir dari cahaya.” Itu adalah keputeraan rohani. Kami orang Mesir disebut “anak-anak Sungai Nil”, tetapi kami tidak mengatakan bahwa Sungai Nil telah menikah.

Kami menyatakan dalam Pengakuan Nicea: “Kami percaya … dalam satu Adonai Yeshua Ha Mashiah, Anak Tunggal Elohim, diperanakkan dari Bapa-Nya sebelum alam semesta, Elohim dari Elohim, Terang dari Terang, sungguh Elohim dari sungguh Elohim, diperanakkan, bukan dibuat, menjadi satu substansi dengan Bapa, oleh siapa segala sesuatu diciptakan … “ Pada saat yang sama, kami bersaksi bahwa tidak ada ilah (elohim) selain YAHWEH, dan kami menyembah Dia saja.

Beberapa minggu kemudian, aku dibaptis pada tanggal 6 September 1987 di rumah seorang pendeta. Dalam hati saya, baptisanku adalah penanggalan kedua dari kelahiranku. Saya telah menjadi seorang Kristen selama 11 tahun sekarang. Aku mengatakan kepada istriku, ketika aku mati, aku ingin batu nisanku terbaca, “Ha Mashiah adalah Kemenangan!”

Semua manusia di muka bumi ini adalah fana. Hanya Ha Mashiah yang abadi. Semua nabi terkubur di kuburan yang kita kenal dan kunjungi, tapi hanya makam Ha Mashiah yang kosong karena Ia ada di surga, seorang Raja Yang Berkemenangan. Melalui kematian-Nya di kayu salib, Ha Mashiah menaklukkan kuasa maut. Pujian dan kemuliaan kepada Anda, Yeshua kekasihku!

Seorang teman saya mencuri buku harianku dan memberikannya kepada Sulaiman seorang anggota KPM. Salomo dan para pengikutnya bersekongkol bersama-sama untuk menjebak saya. Mereka fotokopi buku harian saya, di mana saya menjelaskan keyakinan saya dalam Ha Mashiah, dan didistribusikan mereka di antara orang-orang di desa saya. Rasanya seperti skandal, tetapi karena Yusuf berkata ketika saudara-saudaranya bersekongkol untuk menyakitinya, Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, …” (Kej. 50:20)

Firman Tuhan berkata, Kita tahu sekarang, bahwa Elohim turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Elohim.” (Roma 8:28)

Anggota-anggota keluargaku merasa malu atas diriku. Ibuku tidak berani muncul di depan umum. Orang-orang sering menuding karena anaknya telah membawa malu karena menjadi seorang Kristen. Dia mengatakan kepada saya bahwa ia tidak mengakui aku sampai Kiamat. Tidak ada yang dapat mematahkan hatiku lebih dari luka hati, penghinaan dan aib yang aku sebabkan atas keluargaku, terutama ibuku. Tapi apa yang aku bisa lakukan?

Saya sangat mengasihi ibuku, tetapi tidak mungkin bagiku meninggalkan keyakinanku dalam Kristus untuknya. Suatu hari, ia memukul kepalaku dengan sepatunya. Lain waktu, dia berpakaian kain hitam dan mengumumkan kepada semua orang bahwa ia berkabung atas kematian anaknya, Abraham.

Suatu hari semua orang dari desa saya datang bersama untuk memukul dan menyiksa saya untuk mengubah saya kembali ke Islam. Mereka menendang dan menampar saya di depan keluargaku. Ibu berlutut saya turun dan meminta mereka tidak menyakiti saya, tapi mereka menginjaknya dengan kaki mereka. Ibuku yang malang menangis di lantai, sementara mereka berteriak atas keluargaku, “Kalian mempermalukan kami!” Di tengah kekacauan ini, salah satu guru agama desa berteriak pada orang-orang, “Apa kejahatan wanita malang ini jika puteranya telah memilih jalan yang salah!” Aku bersyukur kepada YAHWEH. Jika bukan karena rahmat-Nya, aku pastilah sudah lama menjadi seorang martir.

Setelah itu, semua temanku menghindari saya. Mereka pikir saya akan memberikan reputasi buruk di kota. Saya menjadi seorang ’tamu’ terkenal di kantor polisi setempat dan kantor Penyelidik Keamanan Negara (PKN). Aku harus menghabiskan banyak malam di kantor polisi demi keselamatan jiwaku. Suatu malam, orang-orang di desaku berkerumun di sekitar rumahku dan ingin membakarnya. Mereka membakar beberapa buku Kristen saya, sementara polisi menyita sisanya sebagai layaknya jika mereka menyita milik seorang pengedar obat bius.

Polisi telah mengawasi rumahku 24-jam untuk mencegah barang-barang Kristen datang kepada saya. Namun, Firman Elohim datang kepada saya dalam bentuk halaman koran yang membungkus roti saya! Ini adalah halaman depan surat kabar, termasuk sebuah artikel dari Paus Shenouda. Dia menyebutkan banyak ayat-ayat Alkitab seperti, “Jangan takut … sebab Aku menyertai engkau,” (Kejadian 26:24) dan Sebab YAHWEH, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.” (Ul. 31:6-8) [tertulis hanya ayat 8]

Itu adalah sebuah keajaiban dan tanda dari langit untuk memiliki surat kabar ini dibawa kepadaku di bawah pengepungan polisi di sekitar rumahku. Hal ini mendorong dan mengangkat saya di waktu aku sangat membutuhkan pertolongan Elohim. Segera selesai aku membaca halaman surat kabar tersebut, seorang perwira polisi mengetuk pintu. Takut untuk hidupku, seseorang dalam keluargaku menyambar koran dan membakarnya. Aku sangat sedih kehilangan sumber penghiburanku, tapi saya terkejut, pada hari berikutnya ketika aku sedang berjalan di sudut lain aku menemukan salinan dari halaman yang sama tergeletak di tanah! Aku sering bangun setiap pagi pukul 4 pagi karena suara ibuku menjerit kepada Allah untuk membawa saya kembali ke Islam.

Kristen tidak lebih berharga bagi saya daripada ibuku sendiri. Sebagai fakta, ibu saya lebih berharga bagiku daripada seorang Muslim atau Kristen. Di sisi lain, aku memiliki seorang yang lebih berharga dari ibuku atau bahkan kehidupanku sendiri – Adonai Yeshua Ha Mashiah! Jika saya tidak mengasihi Dia lebih dari diriku sendiri, aku tidak akan layak untuk berbagi dengan-Nya.

Ibuku meninggalkan satu kemungkinanpun untuk mendapatkan saya kembali ke Islam. Dia mengunjungi seorang penyihir untuk membaca mantra atas diriku. Muslim-muslim berpikir bahwa Jin (malaikat jahat) percaya Kuran. Yah, ahli sihir tidak bisa lakukan apapun untuk mempengaruhi saya. Aku berdoa kepada Yang Maha Esa dalam nama Yeshua Ha Mashiah, Nama yang menakutkan semua setan dan jin. Anehnya, tukang sihir itu berkata kepada ibuku, “Anakmu mengikuti sebuah jalan yang dia tidak akan pernah tinggalkan!”

Elohim telah melakukan banyak tanda dan keajaiban dalam hidup saya. Aku merasa dikuatkan setiap kali aku meningat salah satu dari mereka. Mereka adalah batu-batu berpijak di sepanjang jalan kasih kebapakan Elohim yang telah membawa saya dari awal dan memperlihatkan aku melaluinya, dan membawa saya ke tempat ini 10 tahun yang lalu. Elohim belum pernah meninggalkan aku, bahkan tidak untuk sesaat pun!

Ibrahim

Bersambung ke Bab 6. Orang-orang Pilihan Mashiah

  1. Pendahuluan
  2. Dibelakang Kerudung
  3. Diberkatilah Bangsa Mesirku
  4. Dari Tanah air Mashiah Anak-anak Ismail Akan Kembali
  5. Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid
  6. Orang-orang Pilihan Mashiah
  7. Dari Kristen nominal Ke Islam dan Kemudian Ke Mashiah
  8. Begitulah Saya Mengenal Elohim; Ex-Jihadist Pt.1
  9. Dahulu Saya Mati dan Sekarang Saya Hidup
  10. Instruksi-instruksi Penting
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja
  • Kalender

    • Juni 2010
      M S S R K J S
      « Mei   Jul »
       12345
      6789101112
      13141516171819
      20212223242526
      27282930  
  • Cari