Begitulah Saya Mengenal Elohim; Ex-Jihadist. Pt.1

[Pendahuluan, menjadi Muslim fanatik, semua kafir!, berjihad, meneliti Alkitab untuk menyerang Kristen, Kuran meneguhkan keilahian Yeshua]

Judul ini adalah bagian dari buku kesaksian Anak-anak Ismail.

Buku Anak-anak Ismail (The Children of Ismael) adalah kisah-kisah nyata yang mengharukan dan menyentuh hati setiap pembacanya. Mereka bersaksi bagamana Elohim telah merubah gurun pasir kehidupan menjadi padang rumput yang indah, rantai-rantai ikatan protokol keagamaan yang berat menjadi hubungan kasih yang manis dengan Pencipta mereka. Dilampirkan Ayat-ayat Kuran terjemahan Yusuf Ali (YA) dan Alkitab Indonesia Terjemahan Baru (ITB). Selamat membaca!

Bab 8A. Sebelum Pembaca membaca kesaksian ini, lihat dahulu videonya, maka tulisan ini (yang jauh lebih komplit dan detil dari versi videonya) akan semakin menggairahkan untuk dibaca. Saya akan bagi cerita ini dalam dua bagian. Dalam versi video ia memakai nama Khalil, namun pada buku kesaksian ini ialah Paul, namun isi ceritanya sama.

Pendahuluan
Cara terbaik untuk memulai kesaksian saya adalah berterima kasih kepada Elohim dari lubuk hatiku untuk perubahan besar dalam hidupku dan dalam kehidupan semua orang yang setia mencari Dia. Elohim telah menuntun saya dengan kekuatan kuasa-Nya dan menyelamatkan saya dari gua singa. Anehnya, perubahan ini bukan hasil dari keinginanku, [bukan juga] suatu reaksi terhadap sesuatu yang telah saya dengar atau khotbah oleh seorang pendeta atau penginjil. Sebaliknya, ketika saya sedang lari berkeliling menyerangi Firman-Nya dan orang-orang-Nya, Dia telah mempersiapkan segala sesuatu untuk menangkap saya dengan sebuah jala yang saya tidak bisa lolos! Dia adalah Elohim Yang Hidup yang mencari anak yang hilang. Ia membentangkan tangan-Nya kepada siapa pun yang bertobat, Dia menyebarkan cahaya-Nya kepada siapa saja yang hilang di dunia; Dia mengetuk dengan lembut pada pintu setiap rumah yang miskin dan hancur untuk mengisinya dengan kekayaan spiritual, kemurnian dan kesucian. Dia memberikan secara berlimpah-limpah dan tidak menyesal melakukannya. Dia tidak memberikan kita menurut tindakan kita, tetapi menurut rahmat-Nya.

Saya sangat ragu-ragu setiap kali saya mencoba untuk menuliskan kesaksianku. Saya takut untuk membesar-besarkan. Saya tidak ingin memakai sebuah alas. Saya tidak layak menerima kredit apapun. Semua kemuliaan milik Elohim. Saya juga telah meninggalkan beberapa kesombongan dalam diriku. Saya berpikir bahwa memberitakan karya Elohim dalam hidupku akan menjadi penghinaan terhadap egoku, karena saya dahulu adalah orang yang kejam terhadap pengikut Elohim Yang Hidup – Elohim yan sama yang telah mencari saya dan membuka mata saya untuk melihat cahaya yang belum pernah saya kenal sebelumnya.

Seperti yang akan Anda baca pada halaman berikut, saya tak punya pilihan selain menyerah dalam pertempuran antara iblis, yang tinggal dalam diriku, dan Elohim Yang Kudus yang menawarkan keselamatan-Nya dan membuka lengan-Nya untuk memegang saya. Saya benar-benar bisa mengatakan seperti Ayub, Hanya dari kata orang saja saya mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. (Ayub 42:5) dan memohon seperti Daud, Jadikanlah hatiku tahir, ya Elohim dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! (Maz. 51:10)

Ini adalah Adonai Yeshua Ha Mashiah, Firman kekal dan Roh Elohim. Dia adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup; siapapun yang percaya kepada-Nya tidak akan mati, siapapun yang  datang kepada-Nya tidak akan haus atau lapar, Dia adalah yang pertama dan terakhir, alfa dan omega, Adonai Yeshua Ha Mashiah!

Hidup saya sebelum saya percaya Ha Mashiah
Saya harus bicara singkat tentang hidupku sebelum saya percaya Ha Mashiah karena itu akan menunjukkan betapa Ia mengasihi kita. Bahkan ketika kita berperang melawan-Nya, Dia mencari kita seperti gembala yang mencari domba-Nya yang telah tersesat di padang gurun.

Saya lahir dan dibesarkan di sebuah keluarga yang sangat fundamental. Saya mengikuti teladan mereka dengan kehendak bebasku, meskipun mungkin keluargaku mempengaruhi saya. Saya mulai di ‘Kottab’ kecil (tempat belajar Islam) yang berada di daerah terpencil dekat desa kecil kami di Mesir Hulu, 200 km selatan Kairo.

Pada awalnya, minat saya terfokus hanya sekedar menghafal bagian Kuran yang merupakan bagian dari kurikulum sekolah kami. Secara bertahap, minatku menjadi lebih pribadi. Saya terdorong oleh kecintaanku terhadap firman Allah. Pada saat itu, Dewan Tertinggi Urusan Islam biasa menjalankan sebuah kompetisi tahunan sekolah dalam menghafal Kuran, dan semua sekolah Negara berpartisipasi. Ibu saya meminta saya untuk mengambil bagian di dalamnya. Jadi saya lakukan. Saya mendapat nilai terbaik, maka saya memenangkan hadiah pertama, yang merupakan penghargaan keuangan 10 Pounds Mesir. Ayahku sangat senang mendengarnya. Dia selalu mendorong saya untuk terus berpartisipasi dalam kompetisi yang setiap tahun hanya untuk mendapatkan penghargaan keuangan.

Saya terus mempelajari Kuran dengan tekun. Saya akhirnya menghafal lebih dari 15 bagian dari Kuran sebelum saya menyelesaikan SMP. Saya menyelesaikan menghafal seluruh Kuran selama di SMA. Pada saat itu, saya tinggal bersama orang tuaku serumah dengan keluarga besar kami, termasuk semua pamanku dan para sepupu. Salah satu para sepupuku adalah seorang Muslim fanatik. Dia adalah seorang mahasiswa di Al-Azhar, Universitas Islam. Dia biasa membujuk saya untuk membaca buku-buku. Kadang-kadang ia akan membelikan saya beberapa buku untuk dibaca.

Pada satu saat, keluarga dekat kami pindah ke sebuah rumah terpisah jauh dari keluarga besar. Sepupu saya juga pergi ke sebuah negara Arab untuk bekerja sebagai pengkotbah Islam di salah satu Masjid di sana. Dia tinggal di sana selama dua tahun. Ketika ia kembali, ia mengatakan bahwa kita tidak tahu Islam yang benar melalui mana kita bisa pergi ke “Al-Jannah” (sorga), karena kita tahu sangat sedikit. Dia bilang juga bahwa ia telah bertemu dengan beberapa pemimpin Islam dan Imam yang berhasil melarikan diri dari tirani penguasa di sini, [Mesir]. Dia meminta saya untuk pergi lebih dalam dalam studiku melalui beberapa buku tulisan Imam Ibnu Tammemah, Syeikh Sayed Kotb dan Ibn Hazem Al-Zahery. Meskipun ada kesulitan dari beberapa buku tersebut, saya sangat mengagumi mereka. Mereka mengusulkan sebuah jalan yang sangat menantang bagi siapa saja untuk diikuti. Sebagai contoh, saya menemukan salah satu Hadis yang mengatakan, “Setiap orang yang makan bersama atau tinggal bersama orang kafir, menjadi seperti dia.”

Sejak saat itu, saya bertujuan masuk kedalam sebuah tahap baru dalam kehidupan beragamaku. Saya mulai memeriksa orang di sekitar saya untuk tahu siapa yang kafir dan siapa yang Muslim. Saya juga mulai mengumpulkan ayat-ayat Kuran yang akan membantu saya untuk membedakan antara Muslim sejati dan Non-Muslim, saya ingin melukiskan sifat hubungan saya dengan masing-masing jenis. Akhirnya, saya berakhir di situasi situasi sangat ketat, menemukan bahwa ayahku, sesuai dengan kriteria hadis, adalah salah satu dari orang-orang kafir karena ia merokok dan tidak memelihara janggutnya. Ibuku tidak berdoa, ia sangat biasa memanggil nama orang. Saudaraku juga kafir karena mereka menonton TV atau merokok. Beberapa dari mereka tidak melakukan shalat lima waktu. Beberapa dari mereka tidak memelihara janggutnya.

Saya begitu marah dengan saudara-saudaraku sehingga saya mencegah mereka meneruskan tahap tertentu dari studi mereka. Saya juga meminta ayahku untuk menceraikan ibuku karena dia tidak mematuhi saya, hal yang sepertinya membuat marah ayahku sangat besar. Saya sampai pada kesimpulan akhir bahwa ayahku, ibuku dan saudara-saudaraku semuanya kafir. Saya bertanya sepupuku apakah saya harus tinggalkan mereka, dan ia menjawab saya positif. Saya bertanya kepadanya jika saya mengakhiri hubunganku dengan mereka, kemana saya pergi? Dia meminta saya untuk datang dan tinggal bersamanya.

“Apakah kamu memiliki keraguan dengan sepupumu dan istrinya tentang iman mereka?” Tanyanya padaku. Saya berkata kepadanya, “Tidak, kalian adalah benar-benar orang-orang percaya.” Dia berkata, “Jadi, datang dan bawa semua harta milikmu dan tinggal dengan saya pergi dari kehidupan perselingkuhan dan ketidaksetiaan rumahmu.” Jadi, saya mengemasi barang-barang saya dan meninggalkan keluargaku. Dengan air mata, ibu saya dan saudara mengucapkan selamat tinggal kepada saya. Saya tidak ambil perduli dengan air mata mereka. Saya benar-benar bertekad untuk tidak ada bersama dengan orang-orang kafir lagi. Saya yakin dengan sukacita untuk meninggalkan rumahku demi Allah.

Sepupuku menetap di Kairo. Dia menyewa sebuah apartemen di dekat Universitas Al-Azhar. Dia berada di tahun terakhir studi akademisnya, jadi saya harus kembali ke rumah ayahku dengan malu dan terhina. Saya tanya sepupuku, “Tidakkah kamu pikir bahwa kedatanganku kembali ke rumah ayahku adalah sebuah pelanggaran?” Dia menjawab: “Tidak, karena kebutuhan tidak mengenal hukum dan larangan perlu pembenaran.” Dia membaca: Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (S. 2:173.) [Islam mengajar kebenaran relatif]

Saya berada di langit sembilan, mendengar itu. Saya berada di tahun terakhir di sekolah tinggi, dan saya memutuskan untuk belajar keras sehingga tidak ada orang akan mengatakan bahwa agama adalah hambatan bagi keberhasilan akademis. Saya berhasil mendapat nilai yang tinggi dalam Ijasah Umum Pendidikan; saya berhasil bergabung dengan Fakultas Kedokteran, Universitas Kairo.

Sedikit demi sedikit, pikiran saya dibebaskan dari semua pola pikiran sepupuku yang biasa menekan. Saya membaca banyak buku yang ia biasanya larang dengan berkata, “Mereka membawa pikiran kelompok Islam ‘Takfeer dan Al-Hijrah’ atau penjahat abad kedua puluh. Kata-katanya memotivasi saya untuk pergi dan menemukan apa yang orang-orang tersebut katakan.

Di sekolah kedokteran, saya menemukan banyak aliran politik yang diwakili oleh kelompok-kelompok kecil yang sah. Saya memutuskan untuk bergabung dengan kelompok keagamaan untuk menjaga keseimbangan dengan kelompok lain. Pemimpin kelompok adalah anggota fakultas. Dia juga sekretaris umum. Kami memiliki orang lain yang bertanggung jawab untuk membuat kontak di dalam anggota kelompok.

Tidak diragukan lagi, saya menghadapi banyak kesulitan dalam kelompok ini; mereka menjalani kehidupan Islam tradisional yang jauh dari pemahaman yang benar tentang Islam dalam hubungan dengan non-Muslim (saya tidak maksudkan para Kristen, tetapi para Muslim nominal). Dengan demikian, ambisi agamaku tumbuh lebih dan lebih. Saya fanatik dalam usahaku mencapai status seperti mereka yang telah berpetualangan melawan pemerintah dan rezim. Jadi, saya mulai sebuah sel, sebuah kelompok kecil. Saya mengajar mereka Islam, sebagaimana saya memahaminya. Saya merasa ketaatan dan komitmen mereka. Kami terbiasa berdoa bersama di tempat terpencil jauh dari masjid karena kami berpendapat bahwa ini adalah sama dengan apa yang orang Yahudi telah bangun untuk menghambat nabi Muhammad.

Jadi, saya mulai menyortir hubungan saya dengan orang-orang sesuai dengan posisi mereka dan pemahaman Islam. Jika seseorang menolak apa yang kami katakan, ia akan dianggap kafir dan akan diperlakukan seperti kafir,  “Janganlah orang-orang mukmim/ beriman mengambil teman-teman atau penolong dari orang-orang kafir kecuali orang-orang mukmin …” (S. 3:28) atau Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin… (S. 3:28 YA)

Saya tidak ada kesulitan melakukan itu. Kita semua yang merupakan bagian dari kelompok itu didorong oleh keinginan yang besar dan antusiasme untuk mengikuti contoh dari nabi Muhammad.

  • Kami selalu membayangkan Abu Obeida anak Garah, yang digambarkan oleh nabi Muhammad sebagai pemimpin bangsa, membunuh ayahnya saat terakhir menolak untuk bergabung Islam;
  • Mosaab anak Omair, yang tidak pernah mendengarkan permohonan ibunya dan membiarkan ia mati karena ia menolak Islam;
  • dan Abu Bakar, yang mengatakan kepada ayahnya bahwa dia akan membunuhnya jika ia tidak masuk Islam. Semua gambaran ini membuat kami lebih kejam terhadap keluarga kami dan teman-teman kami jika mereka menolak Islam versi kami. Sungguh menyakitkan berteriak pada ibuku dan ayahku, dan bersumpah pada saudara-saudaraku, mengancam akan membunuh mereka, tetapi satu-satunya motif saya adalah untuk mematuhi Allah dan nabi. Saya ingin mencapai status mereka mentaati Allah. Saya terus mengingatkan diriku dari Hadis nabi Muhammad, “Setiap orang dari kalian belum menjadi orang percaya sejati sampai dia mencintai Allah dan nabi lebih daripada uangnya, anak-anaknya atau bahkan dirinya sendiri.” [mengutip Injil Lukas 14:26 tanpa pengertian yang benar]

Ada sebuah sekte dengan siapa kami perlu mendefinisikan hubungan kami, sesuai dengan Kuran dan Sunnah. Itu adalah para Ahli Kitab (People of the Book), dan para Kristen khususnya karena tidak ada orang Yahudi tinggal di Mesir, bahkan jika mereka ada tinggal di sana, mereka tidak memiliki hubungan dengan siapa pun. Setelah mencari sikap Nabi Muhammad terhadap orang Kristen, kami menemukan gambaran itu sangat gelap. Namun, hal ini baik-baik saja dengan kami karena kami cemburu kesederhanaan mereka, sopan dan keramahan yang luar biasa mereka dengan para Muslim nominal. Mereka memiliki semacam ketenangan yang aneh dalam menghadapi semua kesusahan dan penyerangan yang kami lakukan pada mereka. Kami telah menafsirkan bahwa itu ialah upaya kotor mereka untuk keluar dari pengasingan mereka sebagai minoritas di antara mayoritas Muslim. Kami beralasan bahwa satu-satunya hal yang dapat mereka lakukan adalah berlaku licik dan jahat dengan berpura-pura berlaku baik kepada umat Islam, jika tidak, mereka akan tidak ada tempat di antara kami. Itulah yang dikatakan Kuran tentang mereka, Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. (S.. 2:61)
Kebencian kami terhadap orang-orang Kristen mengambil bentuk pelecehan dan penyerangan terhadap mereka di jalan-jalan, tetapi mereka menjawab serangan kita dengan lemah lembut yang tidak masuk akal. Kami menanggapi dengan menjadi lebih agresif terhadap mereka, dan kami mulai merencanakan bagaimana kami bisa menyiksa dan mengintimidasi mereka. Kami belajar bahwa Allah telah melegalikan untuk membunuh mereka, merampas harta mereka dan menjarah rumah-rumah mereka. Menurut Kuran, semua harta milik mereka untuk ada dipertimbangkan “hadiah” dari Allah untuk umat Islam.
Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, (S.. 59:7) [Islam melegalkan tindakan dosa; pembunuhan dan perampasan]

Ini berarti bahwa semua milik mereka harus diambil dari mereka tanpa perang seperti nabi telah lakukan terhadap para Yahudi Bani Kurais ketika ia mengepung mereka, membunuh orang-orang muda mereka, mengambil tawanan wanita mereka dan menduduki tanah mereka dengan semua pohon-pohon palem dan menendang mereka dari kota mereka.

Meskipun kami tidak bisa melakukan apa yang nabi lakukan, kami berhasil masuk ke toko-toko orang Kristen dan merampok mereka. Permusuhan dan kebencian di dalam hati kami mencapai puncaknya ketika kami menyerang gereja-gereja mereka di berbagai desa di mana saya dulu tinggal. Bagian atas operasi adalah rencana untuk menyerang dan menghancurkan salah satu gereja. Serangan ini mengganggu pemerintah ketika orang-orang Kristen Koptik berdemonstrasi menentang kejadian itu. Pada saat yang sama, pemerintah tampak bahagia atas kejadian itu karena mereka memperlakukan kami dengan sangat baik di penjara.

Setelah kami menjalani hukuman kami, para penduduk desa menerima kami seperti pahlawan. Ini merupakan motivasi yang baik bagi kami untuk terus menganiaya orang-orang Kristen tetapi dengan kearifan dan kehati-hatian lebih untuk menghindari ditangkap oleh polisi. Semua peristiwa ini terjadi dalam waktu singkat. Saya telah lebih banyak terlibat dan berita yang terus seperti api liar di antara sesama siswaku. Akibatnya, salah satu pemimpin puncak Kelompok Islam yang disebut “al-Takfeer wal-Hijrah” ingin duduk bersama saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang mendalam atas keberanian saya dan kasih kepada Allah dan nabi-Nya. Saya tahu bahwa ia anggota kelompok Syukri dan saya menjadi sangat bahagia tentang hal itu. Saya ingin menjadi salah satu dari mereka. Pemimpin itu sangat berhati-hati dalam pembicaraan dengan saya. Dalam salah satu liburan musim panas, kami mengatur sebuah kamp untuk group Islam Sekolah Medis. Kami mendapat dukungan keuangan untuk kamp dari administrasi sekolah. Tujuan dari kamp yang menghabiskan banyak waktu membahas konsep-konsep Islam.

Setelah kamp, teman saya meminta saya pandanganku mengenai Kelompok Islam itu dan bertanya apakah saya ingin bergabung dengan mereka jika saya mendapat kesempatan. Dia terus mengutip dari para Hadis tentang perlunya bergabung dengan sebuah kelompok yang mengikuti Allah, sunnah-Nya dan Nabi-Nya. Satu pernyataan itu, “Dia yang mati tanpa sebuah kesetiaan, mati seperti kafir Pra-Islam” Dia juga berkata, “Tidak ada Islam tanpa kelompok;  tidak ada kelompok tanpa Emir.”

Saya merasa, karena saya mengasihi Allah dan Nabi, jadi hal terbaik untuk dilakukan adalah bergabung dengan Kelompok Islam. Kelompok sejenis ini adalah yang paling dekat dengan gagasan saya tentang Islam. Mereka mengatur bagi saya untuk bertemu kelompok Emir di rumah seorang anggota di Kairo. Saya menjabat tangan Emir Shokry dan berkata kepadanya, “Saya berkomitmen kepada Anda untuk mendengarkan dan taat, melalui tebal dan tipis, dan untuk menempatkan Anda di depan diri saya  sendiri, kecuali saya menyaksikan ketidaksetiaan dari Anda.” Adalah kesetiaan bukan hanya kata-kata Anda mengulangi. ; Anda secara nyata menaruh hidup Anda di tangan Emir. Anda akan menjual diri kepada Allah dan Nabi.” [Sumpah semacam ini umum dipakai pada sekte-sekte sesat. tanpa sadar menjadikan manusia sederajat Pencipta mereka bahkan secara praktek perkataan dan perbuatan pemimpin menjadi sederat dengan Elohim].

Saya begitu senang hari itu, satu-satunya saat saya lebih bahagia adalah hari saya dibaptis nanti. Setia membuat saya tunduk kepada Emir tanpa keraguan. Saya melakukan apapun yang ia inginkan tanpa memikirkan rasa sakit dan pergumulan-pergumulan yang saya akan hadapi karena saya merasa saya mematuhi Allah dan Nabi. Saya siap untuk melakukan bahkan lebih banyak daripada apa saya diminta untuk lakukan. Saya mulai memperlakukan keluargaku dengan kasar. Saya berhenti menyapa mereka. Ketika mereka menanyai saya, saya akan membacakan kepada mereka, Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orangorang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaikbaiknya. (S. 18:103-4 )

Ayahku meminta saya untuk menceritakan apa yang, menurut saya, akan membuat dia seorang Muslim yang sejati. Saya bilang kepadanya tumbuhkan jenggot dan tidak mendengarkan radio. Dia setuju. Saya kemudian berkata kepadanya, “Ibuku tidak berdoa, karenanya, ia adalah seorang kafir dan Ayah tidak bisa hidup dengan dia. …” Ayahku sangat marah. Dia mencukur jenggot dan hampir memukul saya dengan batu besar, tapi saya lari.

Saya harus mengatakan bahwa hal pertama yang memotivasi saya untuk bergabung dengan Kelompok Islam adalah bahwa mereka begitu jahat terhadap orang Kristen, orang yang saya benci sekali. Saya selalu mencari ayat-ayat Kuran untuk membenarkan kebencian saya dan memberikan saya hati nurani yang jelas dalam apa yang saya lakukan.

Shokry menunjuk saya sebagai seorang Emir untuk kelompok yang lebih kecil di pinggiran Kairo. Dia begitu bangga padaku dan komitmen saya terhadap penyebabnya. Dia memanggilku ‘Abu Obeida’. Masing-masing anggota kelompok memiliki nama panggilan, kami tidak pernah tahu nama asli masing-masing.

Shokry percaya saya lebih dan lebih. Dia mengirim saya ke beberapa negara Arab dan asing untuk melakukan kontak dengan anggota Kelompok. Kami bekerja sama bersama untuk menarik anggota baru untuk bergabung dengan kami dan menerima kesetiaan mereka atas nama Emir Shokry Mustafa.

Pemerintah telah mengganggu kami, sehingga kami harus melarikan diri untuk waktu yang singkat ke bukit-bukit di luar Menia, Badary dan Assiut. Setiap kali kami ditangkap, kami dikirim ke Kairo dan kemudian dilepaskan. Kita semua merasakan perlunya perubahan lokasi karena kami tidak bisa lagi tinggal di antara orang-orang kafir, menurut Hadis nabi, “Saya menolak orang yang tinggal di antara orang-orang kafir” Kami harus mengirim anggota untuk memeriksa tempat terbaik untuk ‘pindah.” Kami mencari tempat permanen untuk hidup, kembali hanya untuk menghukum rezim sekuler yang tidak mengikuti perintah Allah.

Suatu hari pada tahun 1977, anggota lain dan saya diperintahkan untuk mencari kamar apartemen di daerah,berpenduduk sangat miskin, tidak ada pertanyaan yang diajukan. Kami menemukan apartemen yang cocok dan kami menyewa itu, masih tidak tahu kenapa. Hari berikutnya kami tahu bahwa Syekh Muhammad telah diculik oleh beberapa anggota kami. Beberapa menit kemudian, anggota lain mengunjungi kami dan memberitahu kami keseluruhan cerita. Sheikh Mohammed selalu menyerang kelompok kami. Sejujurnya, ia biasa menulis hal-hal yang salah tentang kami, menyatakan kami akan menikah seorang wanita untuk lebih dari satu pria. Kelompok kami memperingatkan dia berkali-kali untuk menghentikan serangan, namun ia menganggap ringan.

Kami diberitahu bahwa tujuan operasi itu adalah untuk lebih menekan pemerintah untuk melepaskan beberapa pemimpin yang telah ditangkap sehubungan dengan insiden Akademi Teknik Militer. Kelompok kami juga ingin meminta tebusan uang untuk menutupi sebagian besar biaya kami.

Beberapa jam kemudian, sebagian besar, jika tidak semua anggota kelompok kami ditangkap di seluruh Mesir. Bahkan orang yang memiliki hubungan jauh dengan kelompok kami ditangkap juga. Kami dipindahkan ke Penjara Kalla di mana kami menghabiskan 2 tahun disiksa dan diinterogasi dalam apa yang berlabel ‘kasus milik sebuah kelompok anti-pemerintah.’  Dua tahun kemudian, kami dibebaskan. Kami harus meninggalkan negara itu secepat mungkin. Kami membagi  kelompok kami dan menyebar ke beberapa negara Arab, menunggu perintah dari Emir, yang Shokry telah tunjuk untuk mengisi tempatnya. Itu adalah awal dari akhir untuk kelompok ini. Saya jujur mengatakan bahwa jika bukan karena “Operasi Sheikh Mohammed” kelompok kami akan memiliki kekuatan besar dalam menjalankan hal-hal di Mesir.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, beberapa dari kami sedang mencari untuk sebuah kota yang kami bisa pindah dalam persiapan untuk jihad yang besar. Kami diberitahu bahwa tempat itu ditemukan, dan banyak saudara sudah pergi ke sana. Pada awal 1980, saya bergabung dengan anggota kelompok lainnya di daerah itu. Itu adalah wilayah gurun dengan tidak ada orang di sekitarnya, dengan perkecualian beberapa Badui yang melewati. Kami sediakan tempat untuk tinggal dan mulai bergerak dalam kelompok kecil, karena kita hanya memiliki satu mobil. Banyak anggota kami dibesarkan di daerah ini, sehingga mereka membantu kita banyak untuk mengenal medan dan tradisi komunitas baru. Kami berhasil menggali sumur air di kamp kami. Kami memiliki kode rahasia untuk masuk dan keluar. Kami meronda kamp secara bergiliran. Kami terlatih dalam penembakan senjata dan memberikan setiap orang senapan untuk membela diri dalam kasus serangan.

Selama beberapa hari pertama, semua berjalan baik dan kami senang. Kami ingat saat nabi Muhammad bermigrasi ke Madinah. Kami menanti hari kami kembali ke Mesir dan menaklukkannya seperti  nabi lakukan terhadap Mekah. Kami memiliki tradisi setiap kami masing-masing, telah meninggalkan keluarga kafir kami dan berhijrah demi Allah, mengulangi bait puisi berikut:

“Selamat tinggal, tanah air saya, itu mungkin untuk  waktu yang lama!
bangsamu dan milikku telah meninggalkan Kuran!
Sulit bagi saya untuk pergi, tapi
saya mencari kebenaran! ”


Kami mengulangi kata-kata dengan penuh antusias. Kami tidak peduli apapun selain Panggilan Islam. Kami siap untuk menghadapi semua kesulitan demi Allah. Kami pikir jika kita mati, kami akan masuk surga, jika tidak, kami akan memenangkan pertempuran. Bait puitis ini mengisi kami dengan sukacita dan kebanggaan, tetapi juga mengisi mata kami dengan air mata dan kesedihan, hilang teman dan keluarga.

Kota yang kemana kami berimigrasi menderita masalah, kerusuhan dan perang gerilya. Semua orang kota bersenjata, yang membuat lebih mudah bagi kami untuk membawa senjata tanpa kerumitan apapun. Pihak berwenang setempat mendengar kehadiran kami melalui para Badui, yang kadang-kadang tersesat di gurun di daerah ini dan biasanya datang kepada kami untuk menunjukkan jalan kembali. Suatu hari, salah satu penjaga kami melihat, melalui teleskop, dua mobil bersenjata datang ke perkemahan kami. Ketika mereka hanya beberapa meter jauhnya, ia menghentikan mereka dan bertanya kepada mereka apa yang mereka inginkan. Mereka ingin bertemu dengan kami untuk mencari tahu siapa kami, mengapa kami tinggal di daerah tersebut dan kelompok mana kami tergabung. Mereka takut bahwa kami anggota pembangkang daerah itu. Setelah percakapan panjang, di mana saya ambil bagian, mereka tahu bahwa kami tidak penduduk setempat tapi pendatang ke daerah tersebut, yang membuat mereka lebih curiga. Setelah banyak diskusi, kami dengan sedih harus meninggalkan kamp kami dan meninggalkan impian kami di daerah tersebut.

Karena kami berada di sebuah negara di sebelah Mesir, kembali itu mudah dan murah. Kami tidak punya pilihan selain untuk melanjutkan rencana kami. Kita semua memutuskan untuk kembali ke Kairo, tetapi beberapa kawan dan saya, untuk beberapa alasan yang tak terduga, tinggal di belakang untuk waktu yang lama. Selama waktu itu, kita harus mengetahui beberapa saudara yang berpartisipasi dalam perang Afghanistan. Kami berhasil meyakinkan mereka bahwa perang Afghanistan bukan demi Allah dan Islam. Mereka menyatakan kesetiaan kepada kelompok kami dan banyak membantu kami sampai kami kembali ke Mesir melalui  pejalanan darat pada awal 1990.

Ketika kami mendekati Kairo, kami ditangkap dan dibawa ke Departemen Dalam Negeri. Setelah beberapa waktu interogasi, mereka merilis kami. Kami mencoba, bersama-sama dengan orang-orang yang tetap setia, untuk membangun kembali kelompok tersebut. Kami biasa bertemu dua kali sebulan untuk mempelajari dan merumuskan ide-ide utama kelompok. Tugas ini selesai pada Februari 1990.

Suatu hari, salah satu saudara kami yang bertugas untuk meninjau buku, majalah dan koran, mengumpulkan informasi tentang kelompok Islam serupa di seluruh dunia, datang kepada kami. Dia sedih dan wajahnya tampak merah. Dia bertanya kepada kami, “Apakah kalian membaca koran hari ini” Kami berkata, “Tidak, ada apa?” Dia berkata, “Mereka menahan sekelompok misionaris yang mempertobatkan Muslim nominal ke Kristen.  Memikat mereka dengan uang atau melibatkan mereka dalam hubungan seksual…. “ Kami sangat malu, terutama karena itu merupakan bulan Suci Ramadan. Kami harus mengambil sikap terhadap orang-orang yang mempromosikan kejahatan. Tapi bagaimana kita dapat merubah kejahatan? Dengan tangan? Itu akan sangat sulit. Dengan kata-kata? Itu akan sedikit yang bisa kami lakukan, tapi bagaimana dan kapan? [Menurut Dr. Mark A. Gabriel, dalam bukunya “Islam and Terrorisism“, berita ini hanyalah gossip, dibuat untuk membangkitkan kebencian]

Tahap permulaan:
Ketika kami membaca koran itu, kami merasa malu bahwa kami telah gagal berdiri untuk Allah. Kami memutuskan untuk memainkan peranan  yang efektif terhadap penginjilan Kristen untuk menghentikannya dengan segala cara. Setelah argumen panjang, kita mengesampingkan solusi militer karena berbagai alasan. Sebagai contoh, sistem keamanan negara telah berkembang di Mesir secara luar biasa dibanding pada 1970-an, para pemimpin kelompok kami aktif, para pemimpin aktif kelompok kami , yang berhasil menyelinapkan kami ke dalam  wilayah  bahaya di luar negeri, sudah pergi dan kami tidak memiliki pengganti yang memadai. Beberapa dari pemimpin tersebut telah dihukum mati; lainnya melayani hukuman seumur hidup.

Oleh karena itu, kita tidak tinggalkan pilihan militer dan mencari jalan lain untuk mengatasi penginjilan Kristen. Akhirnya, kami berpikir tentang ‘confrontation’ logis – mengekspos ajaran-ajaran palsu dan korupsi di dalam Taurat dan Alkitab. Semua pemimpin memuji pendekatan itu, dan kami mulai mencari orang yang dianggap mampu untuk tanggung jawab besar ini menunjukkan kebenaran dan mengalahkan orang-orang kafir. Saya tak pernah berharap menjadi calon untuk tugas itu, bukan karena kurangnya kemampuan tetapi karena semua orang tahu betapa saya benci orang Kristen. Setelah lama berdiam diri tegang, suara Emir mengumumkan nama orang yang memilih untuk melakukan pekerjaan itu. Saya hampir pingsan ketika mendengar namaku. Saya bersih keras dengan pendirian ku disertai kemarahan. Bagaimana mungkin mereka meminta saya untuk melakukan pekerjaan itu, salah satu syaratnya tentunya, membaca buku Yahudi dan Kristen?

Emir kami  menatapku dan berkata,“Ini perintah! Kamu tidak punya pilihan selain mematuhi jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Terakhir.” Dia mengutip dari Kuran, Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. (S. 33:36)

Saya mencoba meyakinkan Emir untuk memilih orang lain, tapi ia menolak. Dia berkata padaku, “Saya merasa bahwa kamu  adalah orang terbaik untuk tugas ini. Jika kamu melakukannya dengan baik, kamu akan membunuh 2 burung dengan satu batu. Pertama, kamu akan mendidik semua umat Islam dan membuka mata mereka kepada fakta-fakta yang mereka tidak dapat melihat, kedua, kamu akan mendapatkan banyak ‘uang yang baik’, karena penelitian kamu akan diterjemahkan dan diterbitkan di seluruh dunia …. ”

Kata-katanya membuatku begitu ingin untuk mengambil topik tersebut dan sifat penelitian. Emir mengatakan, “Penelitian kamu harus memiliki 2 bagian:

Pertama, untuk membuktikan dari Taurat dan Alkitab keaslian panggilan Muhammad sebagai nabi, seperti Kuran katakan; (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, (S. 7:157);
Kedua, untuk membuktikan, menemukan kontradiksi, bahwa Taurat dan Alkitab yang orang-orang miliki pada saat ini tidak sama dengan Kitab yang diilhami oleh Allah, dan mereka telah berubah dan dirusak ….”

Dengan enggan, saya menerima misi ini. Saya berkata kepada Emir, “Tapi tugas ini menuntut bahwa saya membeli Taurat dan Alkitab untuk dibaca.” Dia mengatakan kepada saya bahwa kami akan pergi ke pusat kota Kairo untuk membelinya. Kami berjalan di Jalan Gomhoria sampai kami menemukan sebuah toko buku yang menjual buku-buku ini. Kita tidak bisa mausk ke toko buku memakai pakaian tradisional kami karena itu mencolok. Orang-orang di toko buku kemungkinan besar akan telepon polisi berpikir bahwa kami datang untuk merusaknya. Seorang pria melewati tempat itu, dan kami menghentikannya dan bertanya tentang namanya. Kami memintanya untuk pergi ke toko buku dan membeli buku untuk kami. Dia.

Emir dan saya kemudian pergi ke rumah saya di selatan Kairo. Kami membutuhkan waktu lebih dari beberapa jam, untuk saya mencoba menyingkirkan Alkitab. Sekali saya tinggalkan itu di kursi, waktu lain, saya pura-pura lupa. Tapi setiap kali, Emir akan membawanya kepada saya dan mengingatkan saya untuk Kitab itu tetap bersamaku. Akhirnya, kami sampai di rumah. Emir berangkat ke kota asalnya dan meninggalkan saya untuk memulai perjalanan sulit dengan Taurat dan Alkitab.

Hari pertama ialah saat-saat yang paling sulit. Saya berada di bawah kesan bahwa Alkitab itu bukan dari Allah, dan bahwa hal itu bisa membawa setan ke rumah saya dan saya tidak akan bisa berdoa. Oleh karena itu, saya menyimpannya di luar kamarku. Selama beberapa hari, saya paranoid. Setiap kali saya mendengar suara di rumah, saya pikir Allah telah mengirimkan setan untuk menghukum saya karena kehadiran buku ini. Saya tidak menyimpan Alkitab di ruang di mana saya berdoa karena saya pikir malaikat tidak akan masuk ke kamar jika itu  ada di sana.

Saya mengalami ketakutan untuk waktu yang lama sampai saya menyadari bahwa saya tidak memilih untuk memiliki kitab ini di rumahku. Saya hanya mentaati Allah, melalui mematuhi Emir. Nabi Muhammad memerintahkan kita dalam Hadisnya untuk mematuhi Emir, “Barangsiapa menuruti Emirku telah mematuhi saya, dan siapa mendurhakai Emirku telah mendurhakaiku.” Saya sampai pada kesimpulan bahwa saya melaksanakan perintah Emir yang dipilih-Allah, dan, karena itu, Alkitab tidak akan membahayakan saya jika saya menyimpannya di kamarku; Allah akan membantu saya.

Kelompok ini memberikan saya semua yang saya butuhkan. Mereka memberiku 500 £ Mesir setiap bulan sebagai uang saku sebagai imbalan untuk penelitian penuh waktu. Setiap kali saya mencoba melupakan penelitian itu, saya akan mengingat Hadis, “Barangsiapa mentaati Emirku telah mematuhi saya, dan siapa mendurhakai Emirku telah mendurhakaiku” Saya meminta Allah  tiga kali untuk pengampunan dan kemudian berdoa.. Tidak ada yang mengalihkan perhatianku dari melakukan pekerjaan itu. Saya punya banyak referensi yang membantu saya melakukan yang terbaik, dan saya sudah memiliki pengetahuan yang baik tentang masalah Kristen. Jadi, saya membuat keputusan untuk memulai perjalanan keras ini.

Saya khawatir karena saya tidak tahu di mana atau bagaimana untuk memulai. Saya tidak memiliki metode khusus untuk mendekati dua bagian dari penelitian. Misalnya, mengenai isu membuktikan kenabian Muhammad, saya berharap menemukan nama yang tepat ‘Muhammad’ di dalam Taurat dan Alkitab, atau setidaknya ‘Ahmed’ atau ‘Mahmoud’. Saya tidak tahu di mana atau bagaimana untuk memulai. Situasi kacau di pikiran saya. Saya tidak yakin nama apa yang saya harus cari di dalam Taurat: Mohammed? Ahmed? Mahmoud?

Saya jadi bingung, jadi saya memutuskan untuk pindah ke bagian kedua dari penelitianku, yaitu untuk mencari perbedaan dan kontradiksi untuk membuktikan bahwa Taurat dan Alkitab tidak dari Allah [dalam arti: YAHWEH]. Demikian juga, saya gagal untuk menentukan standar yang saya bisa mengukur Taurat dan Alkitab dan menyangkal mereka. Saya marah karena hal-hal ini, entah bagaimana, membuat saya merasa tidak kompeten dalam melakukan penelitian ini. Menyerah bukanlah salah satu kualitas saya, jadi saya memutuskan untuk fokus dan tidak menyimpan upaya untuk mencapai tujuan saya.

Emir dan saya bertemu sebulan sekali untuk membahas penelitian. Setiap kali saya memintanya untuk berubah pikiran dan menugaskan ke orang lain dan saya akan membantu. Namun, ia dengan aneh akan bersikeras bahwa saya adalah orangnya untuk pekerjaan itu.

Saya berdoa dan meminta Elohim untuk kekuatan. Saya merasa luar biasa berani dan mulai membaca Alkitab, tetapi tanpa sistem atau metode. Saya mulai dengan kitab Kejadian dan saya tidak tahu apa yang harus dicari. Saya menemukan nama-nama aneh yang belum pernah saya dengar sebelumnya dalam hidupku, yang membuat saya marah. Saya melemparkan buku di sudut dan berkata dengan marah, “Orang-orang Yahudi dan orang Kristen bodoh. Bagaimana mereka bisa mengatakan  bahwa sebuah buku yang aneh  seperti  ini, penuh dengan nama-nama aneh, berasal dari Allah? Mereka gila. ” Saya berhenti membaca!

Dua hari kemudian, saya kembali membaca Alkitab. Kali ini, saya tidak membaca dalam Kejadian karena saya tidak ingin menemukan nama-nama dan kata-kata yang sulit. Saya membalik-balik halaman dan membaca terus. Saya terkesan dengan tulisan-tulisan dalam kitab Bilangan, Keluaran dan Ulangan. Saya menemukan banyak informasi tentang Musa, Firaun dan Bani Israel, yang ditulis secara rinci, yang memuaskan rasa ingin tahuku.

Saya selesai membaca Perjanjian Lama dalam 2 bulan, tapi membaca asal-asalan, tidak secara mendalam. Saya membacanya sekali lagi, kali ini mencari sesuatu yang relevan kepada Mohammed, Ahmed atau Mahmoud, tapi tidak menemukan apa-apa. Saya pindah ke pembacaan Perjanjian Baru. Saya benar-benar membacanya, tetapi tidak mencapai kesimpulan saya tidak tahan akan semuanya. Saya merasa marah dengan Emir yang membuat saya terjebak dalam penelitian ini dari awal.

Ketika Emir mengunjungi saya, saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak bisa menemukan petunjuk yang bisa menuntun saya untuk apa yang kita cari. Saya telah membaca Taurat dan Alkitab dan tidak menemukan apa pun. Emir mengatakan kepada saya bahwa ada sebuah buku yang digunakan untuk studi di luar negeri yang akan banyak membantu saya dalam penelitiaku. Ini berjudul “Mengungkap Kebenaran”, yang ditulis oleh Al Sheikh Hindi. Saya mencari buku di perpustakaan pribadi saya sampai saya menemukannya.

“Mengungkap Kebenaran” adalah referensi berharga bagi kami, terutama ketika kami berdebat dengan orang Kristen untuk meyakinkan mereka bahwa Islam adalah agama yang benar. Itu berisi kutipan yang salah dari Taurat dan Alkitab, yang kami biasa pakai untuk memberitahu orang Kristen yang telah masuk Islam. Kami menggunakannya dengan sukses pada tiga orang berturut-turut.

Saya mulai penelitian cara baru, dengan bantuan dari beberapa buku lain yang Emir kasih saya, seperti Sekte-sekte dan Denominasi -denomiinasi oleh Shahristani, Menentukan Sekte-sekte dan Bidat-bidat oleh Ibn Hazm, dan beberapa tulisan-tulisan historis dan biografis lainnya yang menyerang Kekristenan. Saya menuliskan semua ayat yang Ibn Hazm katakan semua itu bertentangan dan melihat mereka dalam Taurat dan Alkitab. Sebagian besar ayat-ayat saya temukan yang diungkapkan secara berbeda, atau disebut beberapa orang yang berbeda. Saya tidak menemukan banyak kontradiksi, tapi jika kita menggunakan ayat-ayat ini sebagai dasar untuk membuktikan bahwa Taurat itu tidak asli, kita harus menerima ayat-ayat serupa dalam Al Qur’an, dan itu juga akan menjadi tidak berasal dari Allah. (Saya kemudian menuliskan temuanku dalam sebuah penelitian berjudul Menjawab Ibn Hazm”).

Saya mencari dengan tulus, termotivasi hanya karena kasihku terhadap Allah dan Nabi. Kelompok saya melihat peningkatan daya tarik saya dengan Alkitab. Mereka selalu bertanya tentang itu dan saya selalu berbohong kepada mereka. Saya harus menyusun alasan, jadi saya mengatakan kepada mereka bahwa kita bertemu dengan beberapa orang muda Kristen untuk mengundang mereka untuk Islam dan kami harus mengetahui latar belakang mereka.

Setelah gagal dalam usaha saya untuk merusak Taurat dengan membuktikan kontradiksi, saya memutuskan untuk mencoba bagian kedua dari tugas saya, yaitu untuk membangun dari ayat-ayat Taurat dan Alkitab bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Saya menatap buku Al’s Hindi, Mengungkap Kebenaran, dan saya sangat gembira untuk menemukan apa yang saya inginkan. Saya berdoa dengan sukacita dan bersyukur pada Allah bahwa Ia telah memimpin saya untuk ayat-ayat ini. Saya mulai menuliskannya dalam urutan sebagai berikut:

Kejadian 17:20 & 49:10
Ulangan 18:18-20 & 32:21 & 33:1-3
Yesesaya 42:9  & 54: 1-3 & 65: 1-2
Maz. 45: 1-3 & 149:3
Daniel 2: 31-32
Matius 3:2 & 13:31 & 20:1 & 21:33
Yohanes 14:15
Wahyu 2:27

Ayat-ayat ini bukanlah satu-satunya ayat yang Al-Hindi sebutkan untuk membuktikan kenabian Muhammad. Ada beberapa ayat lain, yang saya keluarkan karena mereka tidak jelas. Saya belajar ayat-ayat ini dengan sangat hati-hati dan obyektif. Kami, sebagai kelompok orang percaya yang unik, tidak pernah menerima informasi apapun tanpa bukti yang kuat dari sumber yang dapat dipercaya. Ayat-ayat itu, di permukaan, sangat menarik bagi setiap Muslim untuk diterima, tetapi melalui penelitian – metode Muslim fundamental – seorang akan menemukan bahwa pemotongan berdasarkan bukti tidaklah valid.

Oleh karena itu, saya mengumpulkan semua buku yang saya pikir akan membantu saya dalam penelitian saya. Saya mulai membayangkan masa depan saya setelah keberhasilan penelitian saya. Saya pastilah akan melakukan suatu bantuan besar kepada Allah dan Nabi dan memperoleh jumlah uang yang mengiurkan. Berbicara tentang uang, Emir dan saya pergi ke toko buku Sunnah Advokat dan menjelaskan kepada mereka ide buku saya. Mereka terkesan. Mereka meminta satu bab sebagai sampel dan ditawarkan untuk membeli hak cipta tersebut. Saya bermimpi menjadi kaya dan terkenal karena buku yang saya tulis, tapi motivasi utama saya adalah untuk menyatakan kemenangan bagi Islam.

Saya mulai membaca Alkitab sekali lagi. Saya menjadi kecanduan membaca Alkitab. Saya menulis banyak bukti untuk membuktikan, dengan logika dan penugehan, bahwa Taurat dan Alkitab mengkonfirmasikan kenabian Muhammad. Hasilnya adalah tidak baik karena saya terlalu teliti dalam penelitian saya, saya pikir, demi untuk konfirmasi mutlak pesan ilahi Mohammad. Saya telah bergantung banyak pada referensi, seperti The Dictionary  of Countries oleh Yakot Al-Hamawi. Saya datang di kota bernama Faran. Saya periksa untuk melihat dari mana dan apa nama modernnya. Saya juga menggunakan kamus linguistik seperti Arab’ Tonge dan bahkan kamus-kamus Ibrani untuk memahami makna kata-kata seperti’ Shelon’, misalnya.

Saya ingin menghasilkan sebuah buku yang tidak satu orang bisa membantah, bahkan satu kata dari itu. Sayangnya, hal itu tidak seperti yang kuinginkan. Semua logika dan pemotongan linguistikku gagal, satu demi satu. Saya tidak bisa menemukan satu ayat yang menopang teoriku. (Sementara itu, saya menulis buku lain disebut “Kebenaran Tertahan” (The Stifled Truth), di mana saya sebutkan semua ayat yang saya telah pelayari dan bagaimana saya telah mencapai kesimpulan bahwa mereka tidak merujuk kepada Nabi Muhammad).

Saya selesai mempelajari semua ayat-ayat ini, tetapi tidak menemukan apa yang saya cari. perasaan saya adalah campuran dari kesedihan, keputusasaan, kecemasan dan kebingungan. Sebelumnya tak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa Muhammad bukan seorang nabi. Saya mencoba menenangkan diri dengan kesimpulan bahwa saya gagal untuk menghubungkan bukti dengan karakter Nabi.

Saya memutuskan untuk memberikan masalah ini kesempatan lainnya. Kali ini saya menggunakan buku-buku lainnya, seperti Bukti-bukti Kenabian, (Evidences of Prophet-hood), Kamus Negara (Dictionary of Countries) dan The Arabic Encyclopedia. Saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak gagal kali ini. Kegagalan, setelah semua masalah telah dilewati, berarti kehancuran seluruh hidupku. Yah, waktu kedua adalah tidak lebih baik daripada yang pertama, tetapi lebih buruk lagi! Pada kedua kalinya, saya datang di banyak titik yang menentang teori saya.

Kadang-kadang, saya melihat pada banyaknya buku-buku Islam dan referensi dan bertanya-tanya, “Mungkinkah bahwa semua buku ini telah menipu kita dan menyajikan kita dengan karakter imajiner? Jika itu terjadi, Allah tentunya tidak layak disembah … “ Saya tidak akan turun jalan ini.. Kemudian, saya dengan cepat akan berdoa dan meminta kepada Allah untuk pengampunan.

Tanpa sadar, saya mendapati diriku menghadap subjek penelitianku dan kembali membaca Alkitab untuk ketiga kalinya. Saya menemukan kenikmatan aneh dalam membaca Alkitab, begitu banyak sehingga saya takut saya jatuh di bawah mantra. Kami sering berkata bahwa orang Kristen adalah ahli-ahli sihir yang mengembangkan sihir mereka dari Taurat dan Alkitab. Namun demikian, Alkitab telah menarik saya dengan cara yang aneh, tak tertahankan.

Emir mengunjungi saya secara teratur. Setiap kali saya berharap dia akan marah kepada saya karena tidak mencapai tujuan dan untuk melepaskan saya dari tugasku. Sebaliknya, setiap kali ia tampak lebih antusias dari sebelumnya, meyakinkan saya bahwa saya adalah yang terbaik untuk pekerjaan itu.

Saya mulai membaca Injil Matius dan sudah tersandung bahkan sebelum saya menyelesaikan bab pertama. Saya melihat bahwa mereka menelusuri silsilah Ha Mashiah mundur ke Daud. Saya pikir mereka gila. Saya menghibur diri dengan pikiran ini, berharap menemukan apa yang saya cari. Saya benar-benar tertarik dengan bab empat, lima dan enam dari Injil Matius. Saya telah membaca sebagian dua kali sebelumnya, tapi kali ini, saya merasa seolah-olah saya membacanya untuk pertama kalinya dalam hidupku. Saya merasa seolah-olah ada tangan menekan kepalaku dan membuka pikiranku. Saya mendengar suara dalam diriku berkata, “Sudah saatnya kamu memahami apa yang sedang kamu baca tanpa kuatir tentang siapa yang benar dan siapa yang salah ….” Saya menggigil tanpa alasan yang jelas, dan merasa seolah-olah saya berada dalam setengah kesurupan .

Saya menemukan Alkitab berbicara tentang apa yang kita lakukan kepada orang-orang Kristen seolah-olah itu mencatat peristiwa ini. Saya membaca apa yang Alkitab katakan tentang penganiayaan, penghinaan dan pembunuhan – ide kita dari mematuhi Allah. “Aneh sekali bahwa Alkitab ini tahu apa yang kita katakan dan lakukan untuk orang Kristen! Mungkinkah orang Kristen baru-baru ini menambahkan bagian itu? ”

Kita selalu menafsikan kasih Kristen dan kerendahan hati sebagai rasa takut kepada kita sebagai muslim karena mereka adalah minoritas yang lemah, seperti Kuran katakan, Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan (S. 2: 61).

Saya menemukan banyak ayat mempromosikan kasih, ketaatan, penundukan dan bahkan kasih terhadap musuh. Saya bingung, “Bagaimana mungkin seseorang menuliskan penyebab penghinaan sendiri?”

Setiap kali saya membaca perintah Elohim bagi orang Kristen untuk mengasihi musuh-musuh mereka, saya teringat perlakuan kasar saya kepada orang tuaku. Saya terlalu kejam kepada mereka. Saya selalu menemukan cara baru untuk menyakiti mereka. Satu waktu, saya harus mengalami sakit dan menjalani operasi serius di rumah sakit. Ayahku ingin bertemu saya, tapi saya menolak dan mengatakan bahwa saya tidak ingin melihat seorang kafir. Ibuku biasa mengirimkan saya makanan melalui pihak ketiga, jika tidak, saya akan menolak untuk menerimanya. Dia sering berdiri selama berjam-jam di luar jendela rumah sakit ku, dalam panas terik, hanya untuk mencuri melihat saya melalui jendela.

Kenangan ini selalu membuat saya menangis dan mengutuk hari saya mengenal Allah. Saya sering menghibur diri dengan memikirkan apa yang Abu Obeida bin Garah, dan Abu Bakar Al-Sedeek telah lakukan kepada ayah-ayah mereka sendiri; dan Mosaab bin Omira, kepada ibunya. Itu akan menangkan perasaan saya.

Saya selesai membaca Injil Matius
, tetapi kata-katanya telah terukir dalam ingatanku. Mereka mengejar saya siang dan malam, dan setiap kali saya ingin melakukan sesuatu yang buruk, saya membaca seluruh Injil dan Surat-surat dan takjub untuk mendapatkan bahwa filsafat dan retorikanya lebih unggul daripada Kuran. Karena Alkitab ditulis 630 tahun sebelum Islam, bagaimana mungkin kita katakan bahwa Kuran adalah unik dalam retorika?

Suatu malam salju yang dingin, saya membaca sebuah Surah dari Kuran berharap untuk menghapus kata-kata Injil Matius dari pikiranku. Para Muslim dan saya cemburu, selalu iri pada orang Kristen karena mereka menikmati persahabatan yang erat dengan banyak orang. Sebaliknya, kita tidak bisa membangun bahkan hubungan biasa dengan toleransi minimum, untuk mengundang orang bergabung ke Islam. Ini merupakan hambatan besar dalam cara kita. Panggilan Islam tidak mengizinkan kita setiap peluang untuk membangun hubungan yang akan membawa kita lebih dekat kepada orang – hal yang sangat kita butuhkan dalam rangka untuk menarik mereka ke Islam.

Hidup kita penuh dengan kekerasan, kekejaman dan terorisme. Ini bukan perilaku normal kita. Kita merasa bahwa jika kita tidak bertindak seperti ini, kita tidak akan patuh kepada Allah. Allah telah menyatakan dalam Kuran dengan cara kita memperlakukan orang-orang kafir, baik Ahli Kitab, pagan atau Muslim palsu. Kuran mengatakan tentang Ahli Kitab,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim. (S. 5:51.)

Adapun jenis lain dari kafir, seperti umat Islam yang tidak berdoa, perpuluhan, tumbuh jenggot atau melakukan dosa dan menolak untuk bertobat, Kuran mengatakan,  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. (S. 4:144)

Adapun mengenai anggota keluarga dan kerabat, Kuran menyatakan,  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.  (S. 9:23)
Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. (S. 58:22)

Jika kita tambahkan ayat-ayat Kuran ini, Hadis otentik diceritakan oleh Al-Bokhary oleh Muslim dan oleh Al-Termezy; menurut Omar, nabi Muhammad berkata, “Jangan berjabat tangan dengan Ahli Kitab, jangan membalas salam mereka , jika mereka bertemu kamu di jalan, dorong mereka ke samping.”

Ada puluhan ayat-ayat ini yang telah didefinisikan tentang hubungan kita dengan keluarga, teman dan non-Muslim. Kita tidak mengatakan atau memilih dalam mendefinisikan hubungan ini karena pemikiran Islam adalah umum, dan Kuran pada khususnya, tidak memberikan ruang untuk setiap muslim menggunakan pikirannya. Sebaliknya, orang yang menggunakan pikirannya untuk menjelaskan sebuah ayat [Kuran] atau Hadis akan diberi label ‘kafir’. Anda harus menerima saja hal-hal sebagai Mohammad telah menafsirkan mereka. Jika ada sesuatu yang tidak disebut-sebut oleh Muhamad, kamu jauh-jauh dari itu. Al-Bokhary menyebutkan sebuah hadis. Menurut Ibnu Abbass, Nabi Muhammad berkata, “Siapa pun menyatakan pendapat sendiri tentang Kuran, akan menyediakan tempatnya di neraka.” [Menakut-nakuti orang yang mempertanyakan Kuran]

Setelah semua ayat-ayat Kuran dan Hadis ini, bagaimana kita bisa bersikap baik atau ramah terhadap orang-orang yang berbeda dari kita? Kami tidak bisa melakukan itu, sebagai Kuran mengatakan, Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang lalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka,” (S. 11:113)

Oleh karena itu, hati saya penuh dengan kemarahan dan kebencian setiap kali saya membaca Alkitab ayat apa saja yang berbicara tentang cinta dan pengampunan. Banyak kali, saya merasa malu saat membaca Alkitab yang kita diklaim sebagai rusak. Saya bertanya-tanya, “Jika orang Kristen mengubah Alkitab dan masih memperoleh kasih dan menghormati rakyat, bagaimana dengan perbuatan yang telah kita lakukan – yang tidak mengubah firman Allah, tetapi gagal dalam hal itu?” Sesuatu pastilah ada yang salah.

Saya berusaha menyisihkan pikiran-pikiran ini. Sebuah pikiran terus kembali. Bagaimana jika saya tidak mencapai kesimpulan dalam penelitian saya? Saya berjuang begitu banyak setiap kali saya mengalami pikiran-pikiran ini, saya menangis dengan suara keras, “Semoga Allah mengampuni saya.” Saya menyatakan bahwa tidak ada ilah selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya. Maka kemudian saya akan bergegas untuk berdoa untuk membuang pikiran-pikiran ini. Saya berkata pada diriku sendiri bahwa sebenarnya Muhammad Rasul Allah, bahkan jika saya tidak bisa membuktikan itu dari Taurat dan Alkitab.

Masalah saya menjadi lebih serius. Daripada mencari kenyataan untuk membuktikan kenabian Muhammad, saya menemukan diri saya tertarik dengan kata-kata manis dari Taurat dan Alkitab. Saya bertanya-tanya, “Bagaimana saya bisa menghilangkan pengaruh mereka pada saya.” Bagaimana saya dapat membuktikan bahwa Taurat dan Alkitab itu bukan dari YAHWEH?” Semua ide-ide yang tertulis dalam mereka berdua adalah baik dan tidak mungkin ditulis oleh manusia. Bagaimana mungkin orang menembus kedalaman masa depan dan berbicara, dua ribu tahun yang lalu, tentang hal-hal yang terjadi di saat ini? Jika kita mengasumsikan, demi argumen, bahwa Taurat dan Alkitab disusun oleh manusia belaka, kita akan menempatkan manusia pada tingkat yang sama dengan Elohim dalam pengetahuan dan kebijaksanaan. Kita tentu tahu bahwa Elohim adalah Maha Tahu, Maha Kuasa dan tidak ada kesamaanya.

Tiba-tiba saya mendapati diriku membaca Kitab Mazmur, dan kemudian Kitab Amsal. Saya belajar ayat-ayat dari Mazmur 23 dan 143 dan meulang mereka dalam doa-doa saya. Siapapun yang mendengar saya berdoa telah tersentuh oleh ayat-ayat ini dan meminta saya untuk menuliskannya sehingga mereka bisa menggunakannya dalam doa. Saya masih mencoba menemukan bukti kenabian Muhammad dan kesalahan Alkitab, tapi tidak bisa menemukan apa-apa. Saya berjuang dengan keraguan dan pikiran yang bertentangan dalam diriku. Saya mencoba untuk mengabaikan mereka, tapi mereka bertambah kuat setiap hari. Saya mengasihi Elohim, tetapi latar belakang saya dan cinta saya kepada agama saya selalu mencegah saya berpikir bahwa Islam tidak mungkin agama yang benar yang diberikan oleh Elohim. Saya jadi bingung dan gelisah. Saya tidak bisa menikmati tidur nyenyak seperti sebelumnya.

Satu waktu, saya sedang berdoa pagi. Sementara mengucapkan ayat-ayat Kuran, saya tiba-tiba berhenti dan pikiran saya mengembara. Saya bertanya pada diriku sendiri, “Apa yang akan kamu lakukan jika, misalnya, Islam ternyata tidak menjadi jalan ke surga?” Saya berusaha menyisihkan pertanyaan ini, tapi saya tidak bisa. Saya bahkan tidak bisa menyelesaikan doa pagi. Saya menangis berat sampai saya tertidur di karpet. Beberapa jam kemudian, ibu saya membangunkan saya. Saya pergi bekerja dengan linglung. Saya tidak tahu dimana saya sedang berjalan atau kepada siapa saya bicara.

Ketika saya kembali ke rumah, saya merasakan ada keinginan yang kuat untuk membaca Alkitab. Saya membaca Injil Yohanes, bab 1-15. Saya menemukan jenis retorika, filsafat dan ekspresi linguistik yang sangat tinggi yang sangat elegan dan kohesif – terutama ketika Alkitab berbicara tentang domba dan gembala, pokok anggur dan tukang kebun, cabang-cabang yang berbuah dan orang-orang yang tidak akan dilemparkan ke api.

Saya menjerit di bagian atas suara saya, “Oh, Elohim, kasihanilah hamba-Mu! Tolong beritahu saya di mana Engkau berada dan di sisi mana: Engkau dengan orang-orang Yahudi dan Kristen? atau dengan Muslim?

Harap kasihanilah saya. Saya ini hamba-Mu. Saya berkomitmen hidupku untuk mengikuti Engkau. Saya bersyukur untuk semua nikmat-Mu. Saya tidak bisa berdiri di depan Engkau, dan Engkau tidak akan mengundurkan diri di depan sebuah napas-Mu.

Engkau adalah Elohim Yang Maha Esa dan saya manusia yang tak berdaya yang tidak bisa melakukan apa-apa sampai Engkau mengijinkan saya melakukannya. Engkau adalah Maha Penyayang, Maha Pengasih dan saya ini hamba yang tidak memiliki kekuatan atau kebijaksanaan. Seluruh hidupku ada di tangan Engkau.

Saya mengasihi Engkau sejak kecil. Saya mengorbankan diri demi surga dan kasih-Mu. Saya tidak peduli dengan penjara atau penyiksaan – bahkan seluruh dunia tidak tahan dengan cara saya mencari Engkau. Kenapa Engkau memperlakukan saya seperti ini? Saya mengasihi-Mu dan berusaha untuk menyenangkan-Mu dengan cara Nabi Muhammad-Mu mengajarkan kami, tapi di sinilah saya – tak berdaya dan tidak mampu untuk melanjutkan.

Masing-masing pihak mengatakan bahwa Engkau adalah Elohim mereka. Saya tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Oh, Elohim, akankah saya bersumpah kepada Engkau bahwa saya mengasihi-Mu? Saya rasa tidak, karena Engkau tahu semuanya. Oh, betapa saya menderita dalam pencarianku untuk Engkau! Saya meninggalkan studiku, keluargaku dan teman-temanku. Saya mengembara seperti seorang asing. Saya ditahan dan disiksa demi Engkau. Mengapa kau tidak menjawab?

Jika Engkau adalah Elohimnya para Muslim, ambillah segala sesuatu dari pikiranku kecuali Islam, dan jika Engkau adalah Elohimnya para Kristen, beri saya cahaya untuk mengikuti …. “

Saya tak bisa tidur dan pikiranku berputar: “Bagaimana jika Islam bukan jalan Elohim? Bagaimana jika jalan Elohim adalah Taurat dan Alkitab? Apakah kamu akan mengikuti orang-orang Kristen?” Saya akan menggigil memikirkan apa yang bisa terjadi padaku, sebagaimana jika Allah dan orang-orang akan menyalahkan saya?”

Suatu hari, saya menepis semua ketakutan dan berkata pada diriku sendiri, “Apa yang kamu inginkan? Enough is enough! Kamu tidak lagi seperti kamu yang dulu. Kamu memiliki dua jalan didepanmu, dan keduanya tampak lurus. Jangan buang waktumu dan cari jalan Elohim dengan semua kekuatanmu.

Tidak peduli jika itu ialah orang Yahudi, Kristen atau Muslim, satu-satunya hal penting jika itu ialah jalan Elohim – begitulah, jika kamu benar-benar mencari Elohim. Ini adalah tujuanmu dan kamu harus menerimanya. Pastikan bahwa Elohim akan merespon kepada kamu sesuai dengan ketulusan kamu. Lupakan bahwa kamu adalah seorang Muslim dan mulai mencari lagi. Apa yang akan mencegah kamu?”

Saya berpikir tentang hal itu dan berkata, “Oh, Elohim, harap pimpin langkah-langkahku dan berikan saya kekuatan karena saya menghadapi percobaan keras. Jika Engkau tidak membantu saya, setan akan merobek-robek saya. Saya akan mengembara di muka bumi, tanpa tujuan dan gelisah. Oh, Elohim, tolonglah saya. Saya berjanji akan mengikuti Engkau di manapun Engkau berada, bahkan dengan orang-orang Kristen yang saya tidak tahan.” Tiba-tiba saya merasakan kedamaian dan ketenangan luar biasa pada seluruh keberadaanku. Untuk pertama kalinya, saya berpikir logis.

Saya mencapai sebuah kesimpulan: orang Kristen sesat dan menjadi kafir karena dua alasan. Pertama, mereka mengatakan bahwa Mashiah, Isa, putra Maryam (Maria), adalah Elohim, kedua, mereka mengatakan bahwa Dia mati di kayu salib dan bangkit untuk menebus manusia dari dosa-dosa mereka. Mengapa saya tidak fokus penelitian saya tentang dua masalah ini  dan memeriksa mereka dari sudut pandang Islam? Saya ingin tahu apa yang para ulama Islam memikirkan masalah ini.

Saya mulai memeriksa buku-buku sejarah Islam, biografi dan penafsiran. Saya mencari apapun yang berhubungan dengan Ha Mashiah dan apakah Dia terwujud di dalam atribut Elohim sebagaimana disebutkan dalam Kuran. Saya menggunakan referensi yang handal dan otentik seperti The Interpretation oleh Ibnu Katsir, Sejarah Islam oleh Dhahabi, Awal dan Akhir oleh Ibnu Katsir, Sects and Denominations oleh Sherhristani, Menentukan Sekte dan Bidat (Deciding on Sects and Cults) oleh Ibn Hazm (juga dikenal sebagai Abu Muhammad), Kitab-kitab Suci sebelum Islam, dan Kristianity antara Logika dan Penghitungan ulang (Christianity between Logic and Recount).

Sebagai hasil dari penelitian yang intensif, saya menemukan beberapa atribut Mashiah yang bahkan orang Kristen tidak menyentuh itu dalam buku-buku mereka. Sebagai contoh:

1) Kemampuan untuk membuat:
Kuran mengatakan, [perhatian!, dalam kitab suci Islam: kata Tuhan ialah titel, sama artinya dengan God atau Elohim, dan Allah adalah nama, seperti YAHWEH di dalam Alkitab]

(Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.  (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian) ”itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, (maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.) (S. 6:101-102)

Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. (S. 15:86)
Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya” (S. 22:73)

Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apa pun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (S. 16:20)
Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. (S. 16:17?)


Semua ini adalah beberapa ayat yang membatasi kemampuan untuk menciptakan yang dimiliki oleh Elohim saja. Ketika Elohim ingin membedakan diri dari dewa yang lain, Dia menegaskan atribut-Nya yang melampaui segala ilah lainnya. Sementara itu, Kuran dengan jelas mengakui bahwa Ha Mashiah telah menciptakan:
Saya membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian saya meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah;” (S. 5:110)

Ketika saya membaca ayat-ayat ini, saya pikir dalam hati saya: Itu adalah Elohim yang memberikan Ha Mashia kemampuan ini, bukan bagian dari esensi-Nya meskipun, Ha Mashiah adalah satu-satunya Pribadi pada siapa Elohim telah memberikan salah satu sifat ilahi-Nya. Mengapa Ha Mashiah dan bukan Muhammad? Elohim berkata kepada Muhammad, “Apakah kamu dapat menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan?” (S. 27:80) ; yang adalah jauh lebih mudah daripada penciptaan. Elohim tidak memberikan kepada Muhammad, [yang telah mengklaim] yang terbaik dari umat-Nya dan penutup para nabi, kemampuan untuk membuat orang tuli mendengar. Dia menantang orang untuk menciptakan seekor lalat, namun Ha Mashiah telah diberikan kemampuan untuk menciptakan burung. Burung adalah makhluk kecil, tetapi bukan masalah ukuran, tapi prinsip. Dia yang menciptakan makhluk kecil dapat membuat yang besar. Ini tidak dapat ada sebagai manusia, melainkan dari Elohim.

2) Mengetahui apa yang tersembunyi:
Allah [dalam arti YAHWEH] berbicara tentang diriNya dalam Kuran,
Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah [dalam arti YAHWEH]”, (S. 27:65)
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri,” (S. 06:59).

Dalam ayat pertama, Kuran menekankan tanpa ragu bahwa mengetahui apa yang tersembunyi hanyalah milik Elohim dan bukan orang lain. Ayat kedua meenggaris bawahi fakta bahwa hanya Elohim yang mengetahui yang gaib dan masa depan. Sementara itu, Kuran mengajarkan tentang Muhammad yang ia biasa menegur siapa saja yang dikaitkan dengannya kemampuan untuk mengetahui apa yang tersembunyi,

Katakanlah: “Saya tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) saya mengetahui yang gaib” (S. 6:50)

Suatu kali Moaz berkata kepada Mohammad, “… insya Allah dan Anda berkehendak,” dan Muhammad menyela dia dan berkata, “Bagaimana kau bisa membuat saya setara dengan Allah? Tak seorang pun di langit atau di bumi mengetahui apa yang tersembunyi selain Allah.”

Adapun Ha Mashiah, kita menemukan semua keterbatasan dihapus. Dia tahu dan melakukan apa yang setiap orang lain tidak bisa. Kuran mengatakan,
dan saya kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu.” (S.. 03:49).

Hal ini sangat tidak umum bahwa dalam ayat-ayat ini Ha Mashiah berbicara dalam bentuk orang pertama; itu harus Elohim sendiri yang berbicara. Di sisi lain, Muhammad selalu mengatakan apa yang harus ‘dikatakan. Ha Mashiah adalah unik karena Dia berbicara tentang dirinya sendiri, yang berarti bahwa kemampuan-Nya adalah milik-Nya dan tidak diperoleh dari orang lain.

Pada buku Awal dan Akhir Ibnu Katsir, bagian 2 dan halaman 86, saya membaca sebuah cerita yang membuat saya malu. Ini adalah suatu bukti tanpa diragukan bahwa Ha Mashiah memiliki kekuatan gaib untuk mengetahui apa yang tersembunyi. (Ini adalah kisah panjang; mereka yang tertarik dapat mengacu pada buku karangan Ibnu Katsir).

3) Penyembuhan orang sakit:
Kuran menyebutkan kata-kata Abraham bahwa Elohim adalah satu-satunya penyembuh, “Dan apabila saya sakit, Dialah yang menyembuhkan saya” (S. 26:80).
Muhammad berkata dalam sebuah hadis otentik, “Oh, Elohim, tidak ada penyembuhan tapi Anda.” Sementara itu, Dalam Kuran kita menemukan Ha Mashiah katakan tentang diri-Nya,  saya menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak/ kusta” (S. 03:49)

4) Memberikan hidup dan mati:
Elohim adalah Pribadi satu-satunya yang memegang hidup dan mati di tangan-Nya, tidak ada orang lain yang bisa memberikan hidup atau mati. Kuran mengatakan,

”Dan sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan Kami (pulalah) yang mewarisi.” (S. 15:23),
”Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” (S. 36:12),
”Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Kamilah tempat kembali (semua makhluk).” (S. 50:43).
Adapun Ha Mashiah, Kuran menyebutkan bahwa Dia berkata tentang diri-Nya,
”dan saya menghidupkan orang mati dengan seizin Allah;” (S. 3:49)

Dalam bukunya Awal dan Akhir, Ibnu Katsir menceritakan sebuah cerita yang membuktikan bahwa Ha Mashiah memiliki kewenangan untuk memberikan kematian serta kehidupan. Diceritakan bahwa Ha Mashiah melihat seorang wanita menangis atas putrinya, yang sudah lama meninggal.

Dia bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, perempuan?” Perempuan ini berkata, “Putri saya meninggal dan saya tidak memiliki anak lagi.” Ha Mashiah bertanya padanya, “Apakah kamu ingin Saya untuk mengangkatnya dari antara orang mati?” Dia berkata, ” Ya , O Roh Elohim!” Jadi Ha Mashiah berdiri dekat kubur itu dan memanggil gadis itu tiga kali. Pada ketiga kalinya, gadis cilik keluar dan berbicara dengan ibunya. Kemudian gadis itu meminta kepada Ha Mashiah untuk membiarkan dia kembali. Dia berkata, “Kembalilah!” Kuburan tertutup dan ia kembali mati. (Awal dan Akhir Ibnu Katsir, bagian 2, halaman 84)

5) Memberikan makanan:
Kuran mengatakan, Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (S. 51:58).
Hal ini jelas dinyatakan bahwa Elohim adalah satu-satunya yang dapat memberikan rezeki. Elohim menegur orang yang mengaku mampu untuk memberi rezeki kepada orang-orang. Adapun Ha Mashiah, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Dia memiliki kemampuan khusus untuk memberi rezeki kepada siapa pun yang Dia mau. Contoh terbaik adalah memberi makan lima ribu orang dengan sedikit roti dan beberapa ikan.

6) Tidak ada kesetaraan:
Kuran mengatakan tentang Allah,
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (S. 42:11)
Adapun Ha Mashiah, tak perlu dikatakan bahwa Dia adalah tak ada taranya. Ia lahir dari seorang perawan tanpa seorang pria. Dia adalah Pribadi satu-satunya yang digambarkan sebagai ‘Firman Allah [dalam arti YAHWEH] dan Roh dari-Nya”. Dia adalah Pribadi satu-satunya atas siapa Setan tidak memiliki kewenangan apapun. Dia adalah Pribadi satu-satunya yang memiliki karakteristik ilahi.

7) Perintah yang berwenang:
Kuran menyebutkan ini atribut Allah, terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Kun (jadilah)”, maka jadilah ia. (S. 16:40), Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”. Lalu jadilah ia. (S. 2:117).

Ini merupakan atribut yang unik dari Elohim, mampu memanggil sesuatu menjadi ada. Menurut Ibnu Katsir, Ha Mashiah telah mewujudkan atribut ini ketika Dia mengubah air menjadi anggur (Awal dan Akhir Ibnu Katsir, bagian 1, halaman 85).

8) Takhta-Nya di atas perairan:
Kuran mengatakan tentang takhta Elohim,  dan takhta-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, (S. 11:7).

Kortobi dan Al-Hadathi mengatakan bahwa ayat ini juga diterapkan kepada Ha Mashiah, takhta yang dibuat oleh Allah di atas air untuk menguji iman orang-orang. Ha Mashiah berjalan di Laut Tiberias menuju murid-murid-Nya untuk menguji iman mereka. Dia kemudian berkata kepada mereka, “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya? ” (Matius 8: 26)

9) Hakim dan Penguasa:
Kuran mengatakan tentang Elohim,  Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik. (S. 06:57), maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya. (S. 7:87).

Al-Bokhary menjelaskan bahwa ia mendengar dari Ibnu Abbas, yang telah mendengar nabi Muhammad berkata tentang Ha Mashiah, “Hari Terakhir tidak akan datang hingga putra Maryam datang kembali sebagai Hakim yang adil untuk menegakkan keadilan dan menghapus ketidakadilan.”

10) Sebuah pemahaman atas segala penglihatan/ visi:
Kuran mengatakan tentang Allah,  Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (S. 6:103)
Ini adalah satu lagi atribut Elohim yang Ha Mashiah telah terwujud. Ibnu Katsir dan Kortobi bercerita bahwa Ha Mashiah adalah satu hari di gunung dan orang-orang Romawi ingin menangkap Dia. Ia langsung melalui mereka dan mereka tidak bisa melihat-Nya, tetapi Dia melihat mereka semua. (Sekte dan Denominasi oleh Sheheristani, halaman 27)

11) Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang:
Kuran mengatakan, Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (S. 2:163),
“Tidak seorang pun dari makhluk-makhluk di langit dan di bumi tetapi harus datang ke Yang Maha Pemurah sebagai seorang hamba.” (S. 19:93)

Dalam buku mereka, Sects and Denominations dan Bukti-bukti dari Kenabian, Sheheristani dan Azraki telah menyebutkan bahwa Yeshua Ha Mashiah adalah gambar Elohim. Dia penuh kasih sayang. Dia mengangkat putri Yairus dari kematian dan menyembuhkan banyak orang sakit. Dia menciptakan mata untuk yang lahir buta dengan meletakkan lumpur pada mata orang itu karena itulah bagaimana Allah menciptakan pada awalnya.

12) Berbicara dengan Perumpamaan:
Kuran menyatakan bahwa hanya Elohim yang bisa berbicara dalam Perumpamaan-perumpamaan.
“Sesungguhnya Allah yang ditetapkan Perumpamaan untuk laki-laki: dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu” (S. 24:35)
“Maka Allah menetapkan Perumpamaan untuk laki-laki, agar mereka dapat menerima pelajaran” (S. 14:25)


Dalam ‘Al-Kashaf’, Ibnu Katsir, Kortobi dan Zamakhshary mengatakan bahwa Elohim menggunakan perumpamaan untuk mendekatkan manusia kepada-Nya, dan demikian pula Ha Mashiah. Perjanjian Baru penuh dengan perumpamaan yang nabi-nabi lainnya tidak berbicara dengan cara demikian.

13) Mengirim rasul-rasul dan memberi mereka kekuatan:
Kuran mengatakan, Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka;  (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.” (S. 36:13-14)
Ibnu Kathir dan semua penafsir setuju bahwa yang dimaksud adalah kota Antiokhia, dan orang-orang itu ialah rasul-rasul Ha Mashiah. Mereka memiliki otoritas dari Ha Mashiah. Apa ada orang lain memiliki kuasa sedemikian?

14) Untuk disembah:
Kuran mengatakan, Orang-orang Yahudi menyebut Uzair seorang putra Allah, dan orang-orang Nasrani menyebut Al Masih Putra Allah. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. … Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan disamping Allah, dan Al Masih putra Maryam (S. 9:30-31)

Ibnu Kotaiba melihat ini sebagai sebuah ayat bermasalah, karena menempatkan Allah dan Al Masih (Ha Mashiah) untuk disembah sebagai sebuah perintah. Jadi, Ibnu Kotaiba pikir untuk menghindari masalah ini, ungkapan “Ha Mashiah putra Maryam” harus sintaktis ditafsirkan sebagai ’objek kedua’ untuk kata kerja ’menjadikan’ dan bukan ’annexment’ untuk kata ‘Allah’. Dengan cara ini ayat tersebut tidak akan mendukung pandangan Kristen tentang keilahian Ha Mashiah.

15) Datang dalam awan-awan:
Kuran mengatakan, Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, (S. 2:210)
Ibnu Al-Fadl Al-Hadathi mengatakan bahwa ayat ini menunjuk ke Ha Mashiah yang akan datang kembali pada Hari Terakhir dalam awan-awan. Dia juga menafsirkan ayat berikut ini sebagai merujuk kepada Ha Mashiah juga, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris. (S. 89:22)

Nyatanya, saya menemukan lebih dari yang saya cari atau inginkan. Saya telah menulis temuan saya di sebuah buku kecil yang terpisah berjudul ‘Tidak terelakkan Keilahian Ha Mashiah.” Awalnya saya menyebutnya “Keilahian Ha Mashiah,” tapi setelah saya menyelesaikan penelitian saya, saya harus mengubah judulnya dengan ”Tidak terelakkan Keilahian Ha Mashiah.” Saya menyimpulkan buklet itu dengan kalimat berikut,

“Bahkan jika orang-orang Kristen tidak mengklaim Ha Mashiah adalah Elohim, Dia pastilah Elohim.”

Adapun bagian kedua, yaitu kematian Ha Mashiah sebagai kurban bagi orang-orang berdosa, Islam selalu menolak gagasan ini karena Kuran berkata, Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, (S. 17:15).
Bagaimana mungkin orang yang tidak bersalah mati bagi para orang berdosa? Yah, kita telah memiliki dilema lain: apakah Ha Mashiah benar-benar mati? Saya sangat percaya diri – Saya tidak tahu kenapa – bahwa saya telah mungkin tidak akan menemukan apapun untuk membuktikan kematian Ha Mashiah. Saya telah mencari dan tidak menemukan bukti yang akan menenangkan hati nurani saya dan memperkuat iman saya dalam Islam. Oleh karena itu, saya sangat ingin melawan bukti Keilahian Ha Mashiah dengan membuktikan bahwa Dia tidak mati, dan tidak bisa mati untuk orang berdosa.

Saya berusaha untuk membantah ide ‘Kurban Kematian’ ketika saya datang di ayat berikut dalam Kuran,
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertobatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; ( S. 2: 54)

Saya membaca tafsir Ibnu Katsir tentang ayat ini. Dia mengatakan bahwa Israel ingin bertobat dari dosa mereka menyembah anak sapi, tetapi Elohim tidak menerima pertobatan mereka. Ketika Musa bermeditasi, Elohim menyuruhnya untuk memberitahu orang-orang Israel bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan pengampunan adalah bahwa setiap orang harus membunuh semua orang yang ia temui. Dikatakan bahwa mereka memakai penutup mata sehingga mereka tidak akan memiliki belas kasihan pada keluarga mereka tetapi akan punya keberanian untuk mematuhi perintah Elohim. Ibnu Kathir mengatakan bahwa setidaknya tujuh puluh ribu orang tewas hari itu, dan darah mengalir seperti sungai. Ketika Elohim melihat itu sudah cukup, Dia menyuruh Musa untuk mengatakan kepada bangsa Israel untuk berhenti. Elohim menerima pertobatan mereka melalui darah mereka yang meninggal. Jika seseorang tidak menyembah anak sapi dan mati sebagai penebusan bagi mereka yang melakukannya, mengapa kita menolak gagasan bahwa Ha Mashiah tidak berdosa mati untuk orang berdosa, dan bahwa Dia masih hidup?
Bersambung ke bab 8B

Pendahuluan

  1. Di Belakang Kerudung
  2. Diberkatilah Bangsa Mesirku
  3. Dari Tanah Air Mashiah Anak-anak Ismail Akan Kembali
  4. Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid
  5. Orang-orang Pilihan Mashiah
  6. Dari Kristen nominal Ke Islam dan Kemudian Ke Mashiah
  7. Begitulah Bagaimana Saya Telah Mengenal Elohim
  8. Dahulu Saya Mati Tetapi Sekarang Saya Hidup
  9. Instruksi-instruksi Penting
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala baja.

 

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s