Begitulah Saya Mengenal Elohim; Ex-Jihadist. Pt.2

Sambungan dari Bab 8  Ex-Jihadist Pt.1

[Pergumulan batin ajaran jihad vs kasih, dibawa kepengadilan, Yeshua datang ke kamarnya, dianggap gila, menuai ‘buah kehidupan lama’, penampakan Yeshua yang kedua, berdamai dengan semua ‘musuh’-nya, semuanya indah, mengajari para Muslim teladan Ha Mashiah]

Saya merasa Elohim mengililingi saya dengan bukti-bukti dan saya tidak punya cara untuk menolak panggilan Ha Mashiah atas diriku untuk mengikuti Dia. Saya bahkan menemukan banyak referensi kematian Ha Mashiah. Saya membaca tafsir Ibnu Kathir tentang Surah 4:157 dan ayat-ayat lainnya dari Surah 3 yang berbicara tentang kematian Ha Mashiah. Sebenarnya, orang-orang yang berbeda pendapat, bukan pada kematian Ha Mashiah, tetapi pada berapa lama Ia mati. Interpretasi bervariasi antara 3 jam, satu hari dan dua hari. Ini membuktikan kematian Ha Mashiah.

Saya semakin marah dan frustasi karena saya ingin menemukan apa pun untuk menolak keyakinan Kristen. Saya telah bangga pada agamaku dan saya sendiri, dan saya benci orang Kristen. Sementara itu, saya tidak punya pilihan selain menyesuaikan diri dengan situasi baru, tapi bagaimana?

Saya tidak pernah berhenti membaca Alkitab. Ini menjadi teman saya. Semakin saya membaca, semakin saya mencicipi manisnya. Suatu kali saat membaca, saya tertegun oleh ayat-ayat berikut, “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. (Mat. 6:5-6)
Saya kagum bagaimana Alkitab mencatat, dua ribu tahun yang lalu, hal-hal yang terjadi di saat ini. Saya ingat saat saat saya biasa menempatkan sesuatu yang keras di bawah dahi saya ketika saya berlutut dalam berdoa untuk membual ’tanda doa’-ku. Saya biasa membual tentang puasa saya dan ibadah. Saya bahkan mengenakan pakaian tertentu untuk menunjukkan bahwa saya adalah orang beragama.

Saya mencari masalah kematian dan penyaliban Ha Mashiah, dan apakah Ha Mashiah benar-benar mati. Saya mengamati semua buku-buku Kristen dan referensi yang berurusan dengan ‘Kurban Kematian Ha Mashiah’. Akhirnya, pikiran saya hampir yakin akan keilahian dan penyaliban Ha Mashiah. Beberapa orang mungkin berpikir bahwa saya senang dengan temuan saya. Sebaliknya, saya begitu marah, frustrasi dan tegang. Saya berharap Elohim membunuh saya sebelum saya menemukan bahwa saya telah hidup sepanjang hidupku dengan keyakinan palsu. Sangat sulit bagiku untuk mengetahui bahwa orang-orang menjijikkan, kotor Kristen benar dan saya yang salah.

Saya tak bisa tidur sekejap pun. Saya menjelajahi jalan-jalan berbicara sendiri. Pikiran merobek-robek; keraguan menguncang saya setiap kali saya mulai berdoa. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya meminta teman-temanku untuk mengurangi kunjungan mereka kepadaku. Saya menciptakan alasan bahwa saya berada di bawah pengawasan polisi. Secara bertahap, saya semakin jauh dari seluruh kelompok. Saya akan merasa mengantuk setiap kali saya mengafal Kuran sehari-hari seperti biasa. Di sisi lain, saya tidak bisa membaca Alkitab dengan cukup. Saya sangat dekat dengan Kitab itu. Suatu hari, Emir mengunjungi saya dan menemukan bahwa saya belum membuat kemajuan memadai dalam penelitian saya. Dia berkata padaku, “Ini kehendak Allah! Berikan Alkitab itu kepada kami dan kami akan menemukan orang lain untuk melakukan pekerjaan itu ganti kamu. Tampaknya kamu tidak cocok untuk tugas seperti itu.”

Saya seharusnya bahagia karena itulah yang saya inginkan pada awalnya, tetapi hal-hal telah berbeda. Saya meminta kepadanya untuk memberikan saya satu bulan lagi karena saya telah berhasil menemukan beberapa petunjuk penting. Sebenarnya saya tidak ingin kehilangan izin untuk membaca Alkitab, dan memiliki Kitab itu sendiri. Emir setuju. Saya tidak tahu mengapa saya melakukannya. Saya bisa saja setuju untuk memberikan Alkitab kembali dan menyelamatkan diri dari semua tekanan dan masa depan yang belum diketahui sedang menuju kemana. Setiap kali saya bersiap-siap untuk berdoa, saya mendengar suara batin saya bertanya, “Bagaimana kamu dapat berdoa kepada sebuah ilah yang kamu tidak yakin ada?” Itu membuat saya menangis.

Suatu waktu, saya menolak suara batin itu dan mulai membaca Kuran. Saya tiba di sebuah ayat yang menarik perhatian saya: Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang lalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri”. (S. 29:46)

Saya ingin belajar ayat ini lebih mendalam, jadi saya merefer ke komentar-komentar yang ditulis oleh Ibnu Kathir, Kortobi dan Zamakhshary. Hal pertama yang saya temukan adalah bahwa mereka semua sepakat bahwa ayat ini telah dihapus oleh ayat terkenal, ayat ‘Pedang’ pada Surah 9. Pembatalan hanyalah sebagian dari masalah. Saya menyadari bahwa ayat ini menyatakan bahwa Elohim kita dan Elohim Ahli Kitab itu adalah satu dan sama. Saya tak bisa melanjutkan; pikiran saya berhenti! Elohim Muslim, Allah,  telah mencabut semua kebaikan sebelumnya terhadap non-Muslim dan menggantinya dengan pembunuhan, penyiksaan dan Pelukaan. Dia bahkan membuat kita, para Muslim, instrumen penyiksaan-Nya: Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka (S. 9:14)

Di dalam Kuran, ada lebih dari 27 ayat berbicara tentang fakta bahwa muslim diwajibkan untuk memerangi non-Muslim. Sementara itu, Elohim orang Kristen mengatakan,
“Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. (Luk 6:27-28)
Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. (Mat 5:39-41)

Saya mulai membandingkan ayat-ayat ini untuk apa Kuran mengatakan:
Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. (S. 2:194)
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu (S. 8:60)
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, (S. 48:29)

Mustahil Putih dan Hitam akan menjadi salah, atau baik dan jahat akan menjadi salah satu, atau Siang dan Malam akan menjadi satu! Salah satu harus jelas unik. Jadi, harus ada hanya satu Elohim. Saya yakin menemukan Elohim tersebut, karena saya mencintai-Nya. Tidak ada orang yang akan mencegah saya dari percaya kepada Satu Elohim Yang Benar, bahkan jika Dia adalah elohim orang-orang Yahudi!

Dalam pikiran saya, saya berbicara kepada Elohim, “Oh, Elohim, saya membutuhkan bantuan Engkau. Janganlah tinggalkan saya karena saya sekarang bingung. Saya tidak tahu di mana Engkau berada. Jika saya telah tersesat, itu bukanlah dengan sengaja. Engkau tahu betapa saya mengasihi Engkau, dan betapa saya telah menderita demi Engkau. Oh, Elohim, jika Engkau menghukum saya untuk dosa-dosa yang telah saya lakukan, saya minta maaf. Engkau adalah satu-satunya Elohim dan saya ini hamba-Mu, yang menaati perintah-perintah-Mu. Saya mengaku dosa-dosaku dan bertobat. Harap jangan terlalu keras pada hukuman-Mu.”

Pikiran-pikiran tertentu membuat saya merinding dari kekaguman dan ketakutan. Saya berpikir bahwa Kuran dan Alkitab tidak bisa keduanya ialah Firman Elohim. Salah satu harus membatalkan yang lain. Saya jadi panik ketika pikiran ini terlintas di benakku. Setiap kali saya mendengar suara aneh, saya berpikir bahwa Allah akan menghancurkan rumahku dan membuatnya jatuh di atas kepalaku karena sikap saya terhadap Kuran. Hidupku menjadi tak tertahankan! Itu bahkan lebih berat daripada saat saya terpenjara dan disiksa.

Segera, perasaan ini reda dan saya memutuskan untuk mempelajari lagi Kuran untuk meninjau setiap aspek yang mungkin dan untuk mengevaluasi ayat secara objektif: Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (S. 4:82)

Sebagai sebuah fakta, saya telah tidak objektif. Saya ingin menemukan sesuatu dalam Kuran untuk memimpin saya untuk percaya bahwa itu bukan dari Allah. Saya telah kepahitan yang mendalam terhadap orang-orang Kristen. Saya akan menerima apa pun kecuali untuk menjadi seorang Kristen. Kata ‘Kristen’ memprovokasi saya, dan membangkitkan dalam diriku keinginan yang kuat dari agresi dan balas dendam terhadap apapun yang berhubungan dengan orang Kristen. Saya tidak tahu mengapa saya merasa seperti ini, mungkin, itu adalah karena saya dibesarkan dalam keluarga yang ketat yang mengasihi Islam dan membenci Kristen, dengan asumsi yang kedua [, Kristen,] adalah kafir. Orangtua kami biasa memperingatkan kami untuk tidak bermain dengan anak-anak Kristen karena mereka pengkhianat, dan tidak memakan makanan mereka karena mereka dapat meracuni kita. Kami dibesarkan untuk berpikir bahwa orang Kristen tidak mimiliki Elohim, tidak memiliki iman  dan tidak dapat dipercaya.

Saya mulai mempelajari Kuran secara mendalam dan saya menemukan hal-hal menakjubkan yang belum pernah saya perhatikan sebelumnya. Saya akhirnya menyelesaikan penelitian saya dan menberikan judul padanya, “Apakah Kuran Firman Elohim?” Itu butuh waktu sekitar enam bulan untuk menyelesaikannya.

Suatu hari, Emir mengunjungi saya dengan sebuah kunjungan tak terduga. Saya berada di kamar kecil ketika ia datang. Ibuku membiarkan dia masuk ke kamar saya karena dia telah dikenal oleh keluargaku, karena kami telah ada di penjara bersama-sama. Emir melihat kertas-kertas yang tersebar di seluruh ruangan dan berpikir bahwa saya telah menyelesaikan sebagian besar tugas saya. Saya mendengar dia berkata, “Allah memberkati kamu! Kamulah orangnya! Saya telah benar; kamu satu-satunya yang bisa melakukannya!” Saya berpikir dalam hatiku, “Kamu tidak tahu apa yang ada di kertas-kertas ini!”

Beberapa saat kemudian, saya datang untuk menemuinya. Wajahnya merah dan ia tampak terperangah. Dia meraih kerah bajuku dengan kedua tanganya dan mengangkatku dan berteriak di wajahku, “Apa ini? Apakah kamu yang menulis itu? Itu pastilah bukan kamu? Siapa yang telah menyesatkan kamu? Siapa yang telah menipumu? Siapa yang telah menggoda kamu untuk menjual agama kamu?”

Saya berkata kepadanya, “Jika ada kecurangan, itu tentunya milikmu, jika ada godaan, itu tentunya dari kamu, apabila saya telah melakukan dosa, itu tentunya akan ada di kepala kamu! Kaulah yang telah mendorong saya untuk semua ini. Saya telah ingin dibebaskan dari penelitian ini dan kamu menolaknya. Kamu tahu betapa saya telah membenci Kristianiti dan orang Kristen, tetapi kamu bersikeras untuk saya membaca buku-buku mereka. Saya bersumpah kepada kamu, saya telah berkehendak bahwa semua yang saya tahu itu tidak benar. Kamu dan saya telah berbagi masa paling sulit dalam hidup kita, bukankah begitu?” Dia berkata, “Ya.” Saya berkata, “Apakah kamu melihat sesuatu yang tidak biasa?” Dia berkata, “Tidak.” Kataku, “Maaf, itu diluar jangkauan tanganku. Ini bukan hanya soal informasi; itu hatiku, dimana saya tidak punya kuasa. Saya berharap kamu telah membaca apa yang saya telah baca dan telah mempelajari apa yang saya telah pelajari!”

Dia ngamuk dan ingin merobek semua kertas saya (Keilahian Ha Mashiah, Kuran bukan Firman Elohim, dan lain-lain). Kami memiliki sebuah argumen yang besar yang membuat ibuku datang ke kamar. Sebelum meninggalkan rumahku, Emir mengatakan kepada saya, “Sekarang kami tahu apa yang salah dengan kamu, tapi saya punya permintaan jika kamu ingin tetap hidup.” Kataku, “Apa itu?” Dia berkata, “Jangan pernah kamu cerita kepada kelompokmu tentang racun ini yang kamu sedang tulis. Saya akan memberitahu mereka bahwa kamu telah murtad, tapi saya tidak akan memberi mereka alasan apapun. Jika kamu mengatakan kepada mereka hal lain, kamu tahu yang terbaik apa yang akan terjadi pada dirimu.”

Saya berkata kepadanya, “Apa yang kamu tidak tahu adalah bahwa hal-hal telah berubah, waktu telah berubah. Kamu tahu yang terbaik bahwa saya tidak dapat diancam karena kamu tidak dapat melaksanakan apapun ancaman-ancamanmu. Untuk informasi kamu, saya setia kepada saudara-saudara saya ketika saya meminta mereka untuk tidak mengunjungi saya. Saya tidak bisa terus mengajar mereka sesuatu saya tidak yakin benar. Saya mendorong mereka pergi karena saya perduli kepada mereka. Saya yakinkan kamu, Saya mengasihi Allah, dan saya berdoa agar Dia akan membawa saya kembali jika saya sesat.”

Saya menangis dengan bercucuran air mata saat saya teringat kenangan indah kami, kehidupan kami bersama-sama di penjara dan bagaimana kami menghadapi kesulitan bersama-sama. Sejujurnya, terlalu banyak bagi saya untuk menghadapi ini. Tapi jika ini adalah kehendak Elohim, selamat tinggal untuk semua kenangan manis, terpisah dari Dia dan selamat datang untuk semua duri pada sisi-Nya.

Kelompok saya mulai memutuskan semua hubungan dengan saya. Anggota-anggotanya menghindari saya, dan bahkan tidak menyapa saya di jalan. Saya langsung tahu bahwa saya telah dicap kafir. Mereka mengambil kembali uang yang biasa diberikan kepada saya dari kelompok ‘Rumah Perbendaharaan’ untuk biaya pribadi saya. Mereka berpikir bahwa itu akan menghentikan saya dan memaksa saya kembali ke kelompok. Mereka tidak pernah mengerti saya.

Emir dan saya, bersama-sama dengan beberapa orang lain, memiliki sebuah perusahaan investasi. Kami menggunakan sejumlah besar uang yang kita bawa dari luar negeri untuk membeli dan menjual pakaian. Saya adalah manajer resmi yang menandatangani cek. Saya secara hukum bertanggung jawab untuk bisnis itu. Ketika saya menolak untuk bertobat, mereka tidak membayar bagian saya dan membawa saya ke pengadilan. Mereka mengharapkan saya untuk meminta maaf dan bertobat untuk ketidaksetiaan saya. Di gedung pengadilan, Emir datang padaku dan berbisik, “Kita bisa membatalkan tuntutan jika kamu menyesal dan bertobat kepada Allah, dan bercerita kepada kami siapa yang telah menyesatkan kamu.” Saya tidak menjawab.

Pengadilan menghukum saya untuk membayar uang itu kembali dalam bentuk angsuran bulanan sebesar 160 Pounds Mesir. Ini merupakan pukulan bagi mereka karena [sesungguhnya] mereka ingin melihat saya masuk penjara. Saya bersyukur kepada Elohim bahwa persidangan tersebut berjalan lancar, tapi saya berbicara kepada Elohim dengan kepahitan, dengan cara yang marah: “Oh, Elohim, mengapa Engkau melakukan ini padaku? Mengapa saya harus menderita? Sejak saya kecil, saya telah menderita dan bergumul. Saya tidak memiliki banyak teman karena mereka tidak percaya pada Engkau. Saya kehilangan kasih keluargaku karena mereka tidak menerima Engkau. Saya kehilangan studi-studiku karena mereka berdiri di antara Engkau dan saya. Sekarang, saya tidak tahu penderitaan apa yang ada tersedia untuk saya. Harap kasihanilah saya. Saya lemah dan tak berdaya. Janganalah tinggalkan saya pada gelombang-gelombang yang melemparkan saya pada laut yang kasar ini. Saya tidak tahu ke mana harus pergi. Katakan padaku di mana Engkau berada. Apakah Anda Elohim orang Kristen? Elohimnya Musa? Elohimnya Muhammad? Jika Engkau adalah Elohimnya Muhammad, mengapa Engkau meninggalkan saya untuk menderita dan meragukan Engkau? Saya memohon, Elohim, janganlah tinggalkan saya sendirian. Saya berjanji akan mengikuti Engkau dimanapun Engkau berada. Saya tidak takut kepada siapapun, tetapi kepada Engkau, dan Engkau tahu itu dengan baik sekali.”

Tiba-tiba, kereta pikiranku terganggu oleh suara ibuku meminta saya untuk memakan makananku. Saya tidak makan dengan ibuku karena saya percaya seorang muslim tidak boleh makan dengan orang kafir – dan menurut kelompokku, ibuku adalah salah satunya.

Saya kemudian datang ke sebuah hal yang sangat penting: Jika Kuran itu bukan dari Elohim, maka siapakah Muhammad boleh jadi? Dia tentunya ada sebagai nabi palsu. Tapi bagaimana saya membuktikannya? Saya tiba-tiba panik dan berpikir, “Itu tentulah tidak mungkin! Muhammad adalah nabi palsu? Bagaimana dengan mujizat-mujizatnya dan kerajaannya, dan semua orang banyak yang mengikutinya?”

Saya merasa seperti saya akan menghadapi murka dan penyiksaan Elohim. Ketika saya menjadi tenang, saya merasa sebuah keberanian yang ajaib dan sebuah kehendak yang kuat untuk memfokuskan penelitian saya tentang siapa Muhammad itu, dan apakah dia seorang nabi atau tidak. Saya menemukan bahwa klaim kenabian Mohammed didasarkan pada dua aspek: dia buta huruf tapi dia menerima Kuran, dan ia sempurna – sebelum dia menjadi seorang nabi, ia tidak pernah melakukan dosa.

Buta Aksara:
Ini benar-benar diluar dari pikiranku untuk menemukan sebuah bukti bahwa Muhammad bisa membaca dan menulis. Semua yang saya telah tahu adalah bahwa tidak mungkin bahwa Muhammad bisa membaca dan menulis. Masalah ini memotivasi saya untuk membaca sekali lagi biografi-biografi Nabi. Kenyataanya, saya telah menemukan banyak hal yang saya tidak perhatikan sebelumnya, kepada keheranan saya yang besar. Saya menemukan bahwa Muhammad biasa pergi ke tempat yang sama di mana Al-Nadr Ibn Al-Hareth, Waraka Ibn Nofal dan Ibn Sa’eda, imam terkenal. Saya juga menemukan bahwa Mohammad biasa melakukan bisnis untuk Khadijah, wanita kaya raya, bahwa ia membuat banyak kontrak dan perjanjian dengan para pedagang dari Yaman dan Suriah Raya.

Dikatakan bahwa Muhammad membawa bersamanya sebuah cap yang ia biasa pakai sebagai pengganti tanda tangan, yang berarti bahwa ia buta huruf. Tapi membawa cap itu tidak berarti bahwa ia buta huruf, sebab itu adalah hal yang umum di kalangan pedagang waktu itu untuk menulis kontrak antara pedagang dan pelanggan, dan kemudian menstempelnya untuk otorisasi, sama seperti stempel kenegaraan saat ini.

Saya menemukan bahwa, setelah perjanjian damai Al-Hudaibiya, Muhammad menulis perjanjian rekonsiliasi dengan tangannya sendiri, bahwa ia berada di bawah pengawasan pamannya Abu Taleb, dan bahwa ia lebih tua dari Ali. Ali bisa membaca dan menulis, dan itu tak terbayangkan bahwa Muhammad tidaklah belajar sedikitnya tingkat dasar membaca dan menulis.

Saya menemukan bahwa Mohammad biasa duduk dengan Yassar Al-Nusrani (orang Kristen) dan untuk mengambil darinya teks-teks Alkitab dan membacanya. Saya sadar ketika malaikat Jibril datang kepada Muhammad dan memintanya untuk membaca, itu tidaklah logis pada sisi Jibril meminta Muhammad membaca, mengetahui bahwa dia adalah buta huruf!

Jika Anda menambahkan semua hal yang disebutkan di atas apa yang saya temukan tentang keaslian kenabian Mohammad, kamu akan datang kepada kenyataan bahwa Muhammad bukanlah seorang nabi atau seorang yang benar. Kamu dapat menemukan semua rincian masalah ini dalam sebuah buku yang saya juduli Mohammad di dalam Taurat dan Alkitab.

Ketidak-mungkinan-bersalah (bebas dosa):
Ketidak-mungkinan-bersalah Muhammad, ada banyak ditulis seperti “Al-Seera Al-Halabiya,” “Al-Tabakaat Al-Kubra” dan “Seerat Ibnu Hisyam” bahkan komentar-komentar yang berhubungan dengan Surah 16: Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan (S. 16:67)

Ada banyak Hadis otentik yang menyatakan dengan jelas bahwa Muhammad biasa minum anggur / wine dan merekomendasikan teman-temannya untuk menambahi air kedalamnya jika wine itu sangat tinggi (kadar alkoholnya). Dia biasa makan dari hewan kurban yang telah dipersembahkan kepada berhala di Kabah yang ditawarkan oleh orangKuraish. Dia mengijinkan apa yang dilarang dan melarang apa yang diizinkan oleh Allah. Dia memandangi pada wanita teman-temannya, dan ia tidak pernah ragu-ragu untuk mengambil salah satu dari mereka jika ia senang pada wanita tersebut. Pada hari Kheibar, safiyya, putri Yehiah Ibn Akhtab, melalui lotre jatuh kepada Abdullah bin Umar. Tapi Muhammad mengambil wanita ini dari Abdullah dan menikahinya. Dia juga mengambil Zainab, putri Gahsh, istri Zaid (anak angkatnya), menjadikan bagian dari  salah satu para istrinya.

Semua peristiwa itu meruntuhkan setiap gambar kesucian Mohammad dan memporak-porandakan status suci yang saya biasa gambarkan ke nabi Muhammad. Untuk jujur kepada kamu, saya telah menderita setiap kali saya menemukan hal-hal seperti ini.

Dengan semua yang saya telah temukan tentang Muhammad, jujur bicara, saya masih berharap untuk menemukan kebajikan di dalam Islam untuk tetap bersandar supaya tetap tinggal sebagai seorang Muslim. Sulit bagi saya untuk meninggalkan agama masa kecilku. Setiap kali saya bermain-main dengan gagasan meninggalkan Islam, perasaan ketakutan yang aneh, kebingungan dan kekacauan akan menyerang pikiranku. Dahulu setiap kali saya membaca teks yang luar biasa dan bermakna dalam Alkitab, kebencian, permusuhan dan kekejamanku akan meningkat terhadap umat Kristen. Saya punya rekan Kristen. Setiap kali setelah saya menemukan sesuatu yang hebat dalam Alkitab, kemarahan saya menyala dan saya pergi dan menghancurkan harta miliknya untuk mengeluarkan kemarahan yang ada di dalamku. Saya membayar uang untuk orang lain berkomplot melawan dia dan mengirim pengaduan palsu terhadap dirinya kepada pihak berwenang yang tinggi. Suatu hari, saya membakar semua pakaiannya dan ia harus pulang dengan baju seragamnya.

Saya biasa berdiri di depan salah satu toko yang dimiliki oleh orang Kristen, mencegah orang-orang membeli dari dia dan menuduhnya penipu. Saya akan berkata kepada orang-orang di jalan, “Jangan membeli dari orang-orang Kristen, mereka adalah penipu licik. Mereka ingin menghancurkan Islam. Kuran berkata, ‘Mereka tidak memiliki iman.” Orang Kristen tua ini hanya berkata kepada saya: “Oh anakku, [kesalahan] apa yang sudah saya lakukan terhadap kamu? Kasihanilah, saya, saya harus mendapatkan uang untuk membesarkan anak-anak saya.”

Pada lain-lain waktu, saya akan memperingatkan teman-teman saya untuk tidak berjabat tangan dengan para Kristen, menuruti Hadis, “Jangan berjabat tangan dengan para Ahli Kitab, jangan menyapa mereka dan buat jalan mereka sempit.” Saya sering berteriak, “Mereka berbahaya , menunjukkan kasih yang palsu tetapi mereka adalah musuh dibalik selimut terhadap Allah dan para orang beriman yang sejati. Jangan tertipu oleh kerendahan palsu mereka. Allah berkata: “Mereka diliputi kehinaan dan penderitaan.”

Pada salah satu hari-hari sibuk, dipenuhi dengan semua perbuatan tersebut terhadap umat Kristen, saya merasakan sebuah firasat di dalam nuraniku. Ada suara batin mengatakan kepaku, “Jujurlah dengan diri kamu sendiri. Apakah kamu pikir semua tindakan yang demikian bisa menghapus semua yang kamu telah pelajari dari Kitab-kitab mereka? Kamu telah mengatakan bahwa kamu akan mengikuti Elohim ke mana pun itu akan menuntun kamu, lalu mengapa, kapanpun Elohim mengungkapkan kepada mu beberapa cahaya inspirasi, apakah kamu mencoba memadamkannya? Jujurlah  dengan dirimu sendiri supaya bisa mendapat hati nurani yang bersih. Periksalah motivasi-motivasi nuranimu dalam rangka untuk memiliki hati nurani yang jelas. Periksa motif batinmu. Apakah kamu benar-benar ingin Elohim? Jika sebaliknya, apa yang kamu inginkan? Itu semua terserah kamu. Itu semua ada di tanganmu dan tidak ada seorangpun yang akan memaksa kamu menjadi apapun.” [Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. (Wahyu 3:20)]
Saya pulang kerumah, dibebani dengan banyak beban. Saya mencoba untuk berdoa, tapi saya tidak bisa. Saya mulai membaca Alkitab dan mulai berdoa Doa Bapa Kami yang tertulis di dalam Injil Matius. Ketika saya membaca doa tersebut, tiba-tiba saya merasakan perasaan damai yang ajaib, kedamian dan ketenangan meliputi saya. Itu seolah-olah orang telah menuang air untuk membersihkan memoriku dari sesuatu hal. Saya berkata dari dalam hatiku yang terdalam, “Oh Elohimku, dapatkah Engkau  memberikan kedamaian, kesabaran, kasih, dan daya tahan seperti  yang orang-orang Kristen umumnya miliki jika saya berdoa persis seperti yang tertulis dalam Alkitab?”

Saya bersukacita dengan kesadaran penuh sebagaimana jika saya telah mendengar jawabannya, “Ya.” Wajahku terangkat dengan kesenangan, dan saya memutuskan untuk berdoa Doa Bapa Kami secara teratur. Sebagaimana biasa saya bangun saat fajar, waktu yang sama bagi doa-doa ritual, tetapi kali ini akan berdoa Doa Bapa. Saya juga membersihkan badan (wudhu) dan membuka karpet doa di tanah seperti biasa saya lakukan di masa lalu. Lalu saya berdiri di atasnya dan berkata:

Bapa kami yang di sorga,
Dikuduskanlah nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu,
jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah biarkan kami masuk ke dalam pencobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.
Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya.  Amin. (Matius 6:9-13)
Dan saya tutup dengan perkataan:
“Damai turun atas Mu dan rahmat Elohim,
Damai turun atas Mu dan rahkmat Elohim.”
[Ini ‘doa penutup’ cara Islam. Orang Kristen tidak berkata demikian sebab Yeshua ialah Raja Damai dan Rahmat itu sendiri, bacalah Yesaya 9:5-6]

Saya terus seperti itu untuk waktu yang cukup lama, tapi saya tidak melihat adanya perubahan dalam karakterku. Saya masih agresif dengan keluargaku dan dengan orang-orang Kristen. Jadi, saya memutuskan untuk menyingkirkan semua agama. Baik Islam aktivitas dan juga Kristianiti. Mungkin setelah berpindah ke Kristen, saya akan membaca buku lainnya, hanya untuk menemukan suatu agama lain, sebuah agama yang lebih baik setelah beberapa waktu, menghabiskan semua sisa hidupku melompat dari satu agama ke agama lainnya. Hal terbaik, pikirku, dalam kasus seperti itu adalah menjalani hidup normal seperti orang lain, seperti orang biasa. Mengapa saya harus membebani pikiranku dengan semua hal-hal agama? Biarkan saya menikmati hidup yang bebas dan ketika saya mati, biarlah Elohim melakukan apa saja yang dikehendaki terhadap saya!

Tapi itu bukanlah suatu pemecahan yang nyata. Tiba-tiba, ide datang ke pikiranku. Saya berkata kepada diriku sendiri bahwa alasan semua masalah ini dan kebingungan ialah Kitab tersebut, yaitu Taurat dan Alkitab, jadi biarkanlah saya  merubek-robeknya  menjadi potongan-potongan dan selesai dengan itu selamanya. Ketika saya berkehendak melakukannya, tapi saya merasakan suatu guncangan dalam dalam tubuhku dan suara batin berbisik dalam pikiranku, “Tinggalkan maksudmu itu. Kamu mungkin memerlukannya suatu kali kelak. Mengapa kamu ingin bebas dari Kitab sejenis itu? Kuran telah menyebabkan kamu jauh lebih banyak kesulitan. Mengapa kamu tidak ingin merobeknya menjadi potongan-potongan?”

Setiap kali saya naik mobil, saya berdoa agar mobil tersebut mengalami kecelakaan dan setiap orang di dalamnya diselamatkan kecuali saya sendiri. Saya juga berharap, dari lubuk hati saya, rumah runtuh atas kepalaku, sehingga saya sendiri yang akan mati. “Oh Elohim,” Saya berkata, “jika Engkau tidak berkehendak memberi saya bimbingan, lebih baik Engkau mengakhiri hidupku dan biarkan saya keluar dari dilemaku.”

Saya berada di tengah-tengah kekacauan pikiran yang saling bertentangan. Saat itu pukul empat sore di suatu hari musim panas bulan Juli. Saya sedang duduk sendirian, mengingat kembali, berpikir tentang asosiasi lama saya dengan Islam, Kelompok Islam dan terorisme, dan akhirnya, dengan Perjanjian Baru dan Taurat. Saya berdoa: “Ya Elohim, Engkau tahu itu, dalam semua peristiwa ini, saya sedang mencari Engkau. Apakah adil untuk meninggalkan saya dalam kondisi seperti ini? Dimana keadilan dan kasih-Mu? Bahkan jika Engkau ingin menghukum saya untuk kejahatan yang saya telah lakukan, saya pikir, sekarang, saya sudah membayar semua kejahatan saya. Kejahatan apa membutuhkan hukuman seberat  ini? Tolong  Elohim, jangan tinggalkan saya sendirian di dalam sebuah pergumulan yang demikian.”

Tiba-tiba, saya melihat pintu kamarku terbuka. Saya pikir itu ibuku membawa saya sesuatu untuk dimakan. Dan lihatlah, ada seorang besar dengan rambut panjang dan jenggot tebal dan pilar cahaya putih memancar di sampingnya. Itu seperti cahaya yang berasal dari sejumlah besar dari lampu neon yang disatukan. Saya tidak bisa melihat wajahnya atau menatap mataku kepada-Nya. Saya mendengar dia memanggilku, “Berdirilah, Ha Mashiah menghendaki  kamu.” Tampa buang waktu, saya melompat keluar dari kamarku. Saya terpana dan saya memanggil ayah, ibu dan saudara-saudaraku untuk datang dan melihat Ha Mashiah (Tuan kita Isa) karena ini ditulis dalam buku Al-Bukhari bahwa siapa yang melihat seorang nabi telah melihat ‘petunjuk,’ karena setan tidak mengambil bentuk nabi. Saya berkata kepada diriku sendiri bahwa keluargaku bisa percaya jika mereka melihat Ha Mashiah.

Saya kembali ke kamar saya dan tidak melihat siapa-siapa. Saya terkejut dari kepala sampai kaki. Saya sangat sedih. Bagaimana saya bisa membuktikan ini kepada keluargaku? Saya menyalahkan Elohim karena tidak membantu saya, “Kenapa kau tidak menunggu di kamar sehingga mereka akan melihat Engkau dan menjadi percaya? Mereka akan menganggap saya sebagai orang yang telah kehilangan pikirannya.”

Itulah yang tepatnya terjadi. Semua anggota keluargaku pergi ke kamarku hanya untuk tidak menemukan sesuatu yang tidak luar biasa. Ibuku berkata, “Oh Allah, mengapa kamu membiarkan semua ini terjadi pada kami. Kami senang memiliki putra kami kembali dan sekarang Engkau membiarkan dia menjadi tidak waras.” Dia mulai menangis dengan sedihnya dan memelukku. Saudaraku bilang kepadaku tidak perlu khawatir dia akan membawa saya ke psikiater terbaik di Mesir. Saudari-saudariku berkata, “Semua itu terjadi oleh karena apa yang kamu tulis di malam hari. Akhir dari semua ini adalah ketidak warasan. Oh Allah, tolong sembuhkanlah dia.”

Setelah mereka semua selesai dengan ratapan mereka, saya bilang kepada mereka, “Bukankah kalian begitu dan begitu?” Setiap mereka berkata, “Ya.” Saya pergi ke ibuku dan berkata, “Bukankah engkau ibuku?” Dia berkata, “Ya.” Kepada kakakku, “Bukankah kamu saudaraku?” Dia berkata, “Ya.” Saya pergi ke adik saya dan berkata, “Bukankah kamu adikku” Dia berkata, “Ya.” Saya berkata kepada mereka , “Jika saya telah gila seperti kalian pikir, bagaimana mungkin  saya dapat tahu kalian semua dengan nama? Mengapa kamu tidak percaya padaku? Saya telah melihat-Nya sebagai suatu terang yang besar. Dia berbicara kepada saya.” Tetapi pandangan mereka lebih kuat dari argumenku. Akhirnya, saya mulai percaya mereka. Saya pastilah telah menjadi gila. Jadi, saya pergi ke tempat tidur dan tinggal di sana. Saya pastilah telah kehilangan indra saya. Apa yang saya katakan tidak memiliki akal sehat. Saya tetap di kamar saya dan saudara saya datang untuk menghiburku, tapi saya tidak mengadakan apapun. Saya mengatasi situasi ini dengan diam seribu kata.

Keesokan paginya, kakakku mengajak saya ke salah satu psikiater terbaik di negeri ini. Kami pergi ke klinik dan saya menunggu giliran saya. Akhirnya, mereka memanggil saya menghadap dokter. Saya duduk di depan dia dan dia bertanya, “Bagaimana saya bisa membantu Anda?” Saya menjawab, “Saya tidak tahu.  kakakku memutuskan untuk membawa saya kepada Anda.” Dia berkata,” Kakakmu mengatakan bahwa Anda telah melihat Tuan kita Ha Mashiah! “Saya berkata,” Ya, saya sungguh telah melihat Dia.” Dia berkata: “Bisakah Anda menggambarkan-Nya kepada saya? Saya bertanya kepada dokter ini, “Apakah Anda pernah melihat Dia sebelumnya?” Dia berkata, “Belum.” Saya berkata, “Jika Anda tidak tahu seperti apa rupa-Nya, bagaimana Anda bisa tahu jika saya benar atau salah?” Dokter ini berkata, “Kasus Anda ini suatu kasus yang sangat sukar.”

Ia memanggil adikku dari ruang tunggu. Ketika dia masuk ke ruang periksa, dokter mengatakan bahwa saya punya kasus depresi yang parah dan saya memerlukan perawatan dengan listrik secepatnya. Saya mulai dengan enam sesi pengobatan listrik dan secara bertahap, itu berkurang menjadi dua. Dia meminta kakak saya untuk membawa saya ke rumah sakit dua kali seminggu. Kakakku mengatakan bahwa itu sulit dilakukan karena kami tinggal di sebuah kota yang jauh dari Kairo dan akan menyita dua setengah jam mengemudi. Kakakku menyarankan agar dokter memberitahu kami bagaimana kami bisa mendapatkan perawatan sejenis di kota kami melalui dokter lainnya. Dia setuju dan demikian juga dengan saya. Saya bercerita kepada dokter ini bahwa saya tidak takut terhadap pengobatan listrik karena saya sudah mengalaminya ketika saya disiksa di kamp-kamp konsentrasi. Saya yakin bahwa pengobatan medis akan kurang parah dibandingkan sengatan listrik yang kami telah biasa hadapi di kamar-kamar penyiksaan.

Saya tidak menemukan alasan untuk menolak pengobatan listrik. Jika saya benar-benar gila, ini akan membantu saya mendapatkan kewarasan saya kembali. Jika tidak, rasa sakit ini akan ditambahkan ke dalam pengalaman menyakitkan lainnya yang saya miliki selama pencarianku kepada Elohim; mudah-mudahan Elohim akan mengambil itu sebagai  suatu yang dapat diperhitungkan dan ada mengasihi saya.

Akhirnya, saya menyelesaikan sesi perawatanku dan saya mengambil semua obat yang diberikan dokter. Saya berharap bahwa saya akan sembuh pada saat itu dan akan melupakan semua pikiran yang biasa menyiksa saya yang telah membawa  kegilaan atau ketegangan psikosomatik. Namun, saya mendapati diriku didesak untuk membaca lebih banyak Alkitab. Saya tidak akan bisa tidur kecuali saya membaca bagian dari Alkitab. Saya memutuskan untuk menyimpan semua temuan saya untuk diriku sendiri dan tidak memberitahukan siapapun pengalamanku yang mungkin saya dapatkan saat itu dan dikemudian hari. Saya memutuskan untuk hidup sebagai orang Kristen untuk melihat pekerjaan Elohim. Jika ini adalah jalannya, pasti saya akan melihat buah-buahnya. Saya ingin melihat dukungan Elohim atas pilihan ini, jika tidak, saya akan singkirkan.

Seperti saya telah katakan sebelumnya, saya biasa berdoa secara teratur, dengan cara saya sendiri, lima kali per hari: subuh, siang, sore, matahari terbenam, dan malam. Saya tidak membaca apa pun dalam doa saya kecuali Doa Bapa Kami. Tapi saya bingung melaksanakan ritual keagamaan bagaimana saya harus melakukan untuk membuat doa-doaku yang lengkap dan dapat diterima dalam rangka untuk mendapatkan pahala di hadapan Allah. Saya harus pergi ke gereja untuk belajar bagaimana saya bisa menyembah Elohim. Saya tidak suka pergi ke gereja. Bagaimana mungkin saya pergi ke gereja dalam keadaan seperti itu? Bagaimana mungkin saya pergi ke gereja dalam kerendahan hati dan kepatuhan saya begitu menentangnya di masa lalu? “Tidak, saya tidak akan pergi ke gereja. Mungkin lain kali,” kataku pada diriku sendiri.

Saya mencoba bertanya beberapa orang Kristen untuk membantu, tapi siapa yang akan bersedia untuk berbicara dengan saya setelah semua yang telah saya lakukan atas mereka? Mereka semua menolak untuk bertemu dengan saya. Mereka berpikir entah saya ingin membunuh mereka atau memaksa mereka untuk masuk Islam. Akhirnya, salah satu dari mereka setuju untuk bertemu saya di bulan mendatang. Saya harus menunggu untuk waktu itu. Saya memutuskan untuk menggunakan waktu itu untuk membaca lebih banyak tentang kepercayaan dan konsep Kristen. Saya ingin tahu apa yang mereka akan katakan dan apakah mereka memiliki buku-buku Kristen sendiri yang serupa dengan apa yang dimiliki kaum Muslim.

Pertama-tama, saya memutuskan untuk mencukur bersih jenggotku hanya untuk terlihat normal. Saya meminjam kemeja dan sepasang celana ganti ‘Galabia’ (baju Islam) yang saya biasa pakai semua hidupku. Saya pergi ke toko buku untuk mendapatkan Alkitab bagi diriku sendiri. Saya tidak suka buku- buku di toko buku itu, jadi saya memutuskan untuk pergi ke toko lainnya yang ada di dekatnya. Saya mulai melihat buku-buku di rak, dari luar toko, untuk melihat jenis buku apa yang mereka punya. Sebelumnya, saya tidak berani untuk masuk kedalam sebuah toku buku Kristen. Saya bahkan tidak bisa melihat apa pun tentang Kristen; jadi bagaimana sekarang saya bisa masuk kesebuah tempat Kristen? Saya takut mereka akan meminta untuk memperlihatkan KTP saya (Di negara Mesir, Islam adalah satu-satunya agama resmi) dan mereka akan menelepon polisi. Saya kemudian akan jatuh ke tangan Intelijen Rahasia Negara, yang mana seperti pergi ke jurang maut.

Setelah lama ragu-ragu, saya meneguhkan hati  dan masuk ke toko buku tersebut. Beberapa buku menarik perhatianku. Saya tidak tahu buku jenis apa yang saya ingin baca. Setiap kali saya melihat sebuah judul yang yang menarik perhatian saya, saya akan membeli buku tersebut. Saya mengambil sebuah buku berjudul Bukti Yang Meminta Sebuah Keputusan (Evidence That Requests A Decision), My Faith, dan Kurban Tebusan Ha Mashiah (Atonement of Christ). Begitu saya selesai membaca salah satu buku tersebut, saya langsung membakarnya.

Ketika saya selesai dengan semua buku-buku tersebut, saya kembali ke toko buku untuk mendapatkan yang lainnya. Saya menemukan dua buku: Monoteisme dan Trinity, dan Teologi Alkitabiah. Ketika saya melihat harga dari dua buku itu, saya tahu bahwa saya tidak punya cukup uang untuk membelinya. Jadi saya kembalikan mereka ke rak-rak. Pada saat itu, seorang lelaki tua mendekati saya dan bertanya, “Mengapa Anda meletakkan buku kembali?” Saya berkata, “Saya tidak ingin mereka?”  Jika Anda tidak ingin mereka, mengapa Engkau mengambil mereka dalam tempat pertama?” katanya. Saya berkata, “Itu bukan urusan Anda. Apakah Anda menginterogasi saya?” Dia meletakkan tangannya di pundakku dan wajahnya menunjukkan senyum lembut. Dia berkata: “Anakku, ambilah buku-buku itu dan saya akan membayarnya bagi Anda. Saya akan berikan alamat saya. Jika Anda suka mereka, Anda dapat membayar kepada saya kemudian. Jika tidak, Anda dapat menyingkirkan mereka atau membakar mereka dan Anda tidak kerugian apa-apa.” Saya bertanya bagaimana dia tahu bahwa saya tidak punya uang untuk membeli buku. Dia bilang bahwa Roh Kudus yang memberitahukan dia. Saya berkata dalam hatiku yan terdalam, “Seperti apa Roh Kudus itu nampaknya?” Saya banyak berpikir tentang subjek ini. Saya pergi dengan dia ke rumahnya. Kami duduk bersama-sama selama beberapa menit. Saya takut dia akan meminta untuk memperlihatkan KTPku. Dalam hal ini, ia tentunya tahu yang sebenarnya. Tapi semua hal berjalan lancar, terima kasih kepada Elohim. Bapa itu bahkan tidak menanyakan nama saya.

Saya terus membaca buku-buku tersebut dan lainnya dengan rajin, baik di rumah maupun menyewa kamar hotel untuk menikmati semua waktu membaca sendiri tanpa gangguan apapun. Saya tidak ingin membuang waktu bahkan untuk makan. Saya ingin melahap semua Kata-kata Ha Mashiah yang akan membawaku setidaknya satu langkah lebih lanjut ke jalan baru dari kehidupan baruku. saya sering mampir ke warung kopi, milik seorang Kristen. Di sana saya akan membaca semua buku-buku Kristen yang telah saya beli. Saya menyukai ajaran-ajaran Alkitab. Untuk lebih tepatnya, saya rindu untuk menjadi model orang yang digambarkan dalam Alkitab. Jika saya hidup sesuai dengan ajarn tersebut, saya akan berubah menjadi malaikat berjalan di bumi. Saya dipenuhi dengan satu pertanyaan: “Yahweh, apakah mungkin, jika saya menerima Engkau dan berjalan sesuai dengan Firman-Mu, untuk Engkau membuat saya lebih baik? Dapatkah saya memiliki beberapa teman bahkan jika mereka tidak percaya seperti yang saya percaya? Dapatkah saya mencintai ibu, ayah, saudara-saudaraku bahkan jika mereka tidak menerima keyakinan baru saya? Dapatkah saya mengasihi teman-teman saya bahkan jika mereka tidak menerima imanku atau percaya apa yang saya katakan? Dapatkah Engkau melakukan ini untuk saya, Yahweh? Dapatkah saya mengasihi negeriku dan merasakan loyalitas yang sama dengan orang lain? Saya berharap hal ini bisa terjadi.”

Langkah pertama kelompok Islam memuridkan setiap pendatang baru adalah untuk mencabut setiap kesetiaan apapun, entah itu ke pada tanah air, keluarga atau hal lain. Ia harus tidak memiliki loyalitas lainnya kecuali kepada Allah, dan tidak ada pengabdian lainnya selain kepada Emir. Itu sebabnya mengapa saya tidak percaya sebelumnya bahwa saya bisa berubah dan mengasihi. Penglihatan pertama saya dimana Seorang berkata kepadku, “Berdirilah, Ha Mashiah menginginkan kamu,” telah membuat saya sangat bingung. Saya tahu bahwa visi dari salah seorang nabi adalah sebuah petunjuk Ilahi, tapi jenis bimbingan Ilahi yang bagaimana? Apakah itu pedoman menuju iman Kristen atau Muslim?

Pikiranku begitu terombang-ambing oleh semua gelombang pikiran tersebut yang membuat saya berjalan di jalan dengan langkah cepat seakan-akan orang sedang mengejar saya. Saya tidak tahu ke mana harus pergi. Itu sungguh saat yang tidak menyenangkan. Akhirnya, saya memutuskan untuk pergi ke gereja. Saya ingin menjadi seorang anak yang Yahweh ingin saya ada. Saya mendengar suara batin berkata, “Sekarang kamu telah mendengar suara itu dan kamu harus mengikutinya. Kamu telah hidup dalam Islam sepanjang hidupmu, tetapi kamu belum hidup dalam Kekristenan untuk mengetahui bagaimana rasanya. Kamu belum hidup di dalam iman Kristen untuk mengetahui yang mana yang lebih baik atau lebih dekat kepada Elohim, Kristen atau Islam.”

Saya pergi ke banyak gereja. Tidak mudah untuk melakukannya. Saya harus berjuang melawan Iblis setiap kali saya memutuskan untuk masuk sebuah gereja. Iblis akan berbisik di telinga saya, “Sudahkan kamu sampai pada status yang menyedihkan sehingga pergi ke gereja? Malu! Berapa banyak perbedaan antara pergi ke gereja sekarang dalam penghinaan dan ketika kamu pergi ke sana untuk meninggikan Firman Allah. Apakah kamu sudah lupa apa yang kamu telah lakukan terhadap gereja di masa lalu? Jika kamu lupa, saya bisa mengingatkan kamu.  Kamu sering berkata: Kebenaran telah tiba, dan Kebohongan telah hancur; karena kebohongan ialah secara alami akan hancur.” Dimana kebenaran yang kamu telah nyatakan hidupmu untuk mati? Kamu tidak pergi kemanapun kecuali ke gereja – lubang kekafiran, polytheisme dan penghinaan. Apakah kamu sedang percaya kepada banyak ilah, setelah perjalanan jauh dedikasi dan kesetiaan hanya kepada Allah? Bangun; bertobatlah kepada Allah dan mintalah pengampunannya dan ulangi dua kalimat Shahadat: ”saya bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah rasul Allah.” Bangunlah dan cucilah dirimu dari semua kejahatan pikiran tersebut dan ambil perlindungan dalam Allah melawan kekejian Iblis.”

Setelah itu, saya tahu diriku sendiri pergi kegerja tanpa sadar. Itu tetap susah, dan saya dapat merasakan seolah-olah seseorang menarik saya mundur untuk mencegah saya masuk gereja. Saya bahkan terkadang berteriak dengan keras, ”Saya akan pergi ke gereja. Saya akan ke gereja, apapun yang akan terjadi. Saya akan pergi ke gereja, apapun alasanan.” Sudahlah cukup dimasa lalu saya tidak memiliki teman dan keluarga. Tidak mengenal rahmat selama masa hidupku yang lalu. Saya telah membunuh dan merampok, dan sekarang saya berdiri tanpa famili, tanpa teman, tanpa seorangpun yang menemani. Mungkinkah Elohim berbahagia pada ku dengan semua itu? Mungkinkah Elohim membenarkan pembunuhan, kebencian, permusuhan dan kekerasan terhadapa semua orang yang menolak menerima apa yang kita katakan?”

Saya berkata: ”Oh Elohim kasihanilah saya. Saya menderita dan orang yang kesepian. Saya ingin dimpimpin kepada sebuah kehidupan yang normal, mengasihi negeriku, keluargaku, dan teman-temanku,  tetapi bagaimana saya dapat melakukannya? Jalan mana yang harus saya ambil?”

Jadi saya putuskan untuk pergi ke gereja bahkan jika itu bayarannya hidupku. Saya lari dengan cepat menuju gereja. Sikap dari pendeta gereja tersebut tidaklah seperti yang saya harapkan. Dia menolak mendengarkan saya, yang menambah minyak kepada api dan serangan roh jahat melawant saya. Ketika saya keluar dari gereja hari itu, saya merasa sedikit lega di batin meskipun gagal meyakinkan pendeta itu untuk mendengarkan saya. Itu mendorong saya untuk mencobanya lagi. Sialnya, saya gagal dalam semua usahaku untuk berbicara dengan seorang pendetapun dan untuk belajar apa yang harus saya lakukan untuk layak menerima keselamatan dari Ha Mashiah. Firman berkata: Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, (Mar 16:16a)

Saya dipenuhi dengan pertanyaan, “Bagaimana saya dapat percaya? Apa yang dapat saya lakukan? Bagaimana saya dapat berdoa, berpuasa, pergi siarah, atau membayar sakat?”

Waktu terakhir saya meninggalkan gereja, saya sungguh susah dan berbeban berat, sebagaimana mereka berkata,  “dibungkus dengan malu yang menyala-nyala.” Iblis berbisik di telingaku, ”Mereka telah menolak kamu. Itu layak. Kamu layak lebih dari pada itu dan Allah akan menunjukkan padamu latihan-latihan yang lebih keras.” Tetapi tekanan roh jahat tidaklah bertahan lama. Saya mendengar suatu suara tenang dan lembut dari dalam hatiku berkata, ”Hey kamu, kamu tidak menyembah manusia, jangan bersedih karena kelakuan mereka kepadamu. Karena kamu menyembah Elohim, hanya Dia yang tidak akan memutuskan semangatmu. Dia tidak akan pernah mengecewakanmu atau membiarkan kamu tersesat.  Bersabarlah dan berpeganglah kuat-kuat kepada Dia jika kamu benar-benar mencari Dia. Hari-hari penderitaanmu tidak akan ada lama lagi. Elohim tidaklah akan pernah menolak setiap mereka yang mencari Dia. Tidak pernahkah kamu baca, Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”  (Mat 11:28)

Saya berkata kepada Elohim, ”Saya telah baca itu Yahweh, jika tidak sekarang, sedikitnya saya telah membacanya beberapa kali tertulis pada tembok gereja  yang saya lewati setiap hari ketika menuju ke sekolah kedokteran.” Saya telah tahu ayat tersebut di luar kepala dan dimana itu terletak yang saya biasa untuk menutup mataku untuk mencoba tidak melihatnya.

Suara itu berkata, ”Berilah hidupmu kepada Elohim dan Dia akan menyelesaikannya.” Saya berkata, ”Oh Elohim, saya berikan hidupku pada Mu. Tolonglah selamatkan saya dari hambatan-hambatan saya.  Ajarlah saya jalan-jalan Mu. Saya tersesat. Saya bingung. Yahweh, hal ini terjadi pada saya cukup sering.”

Setiap kali saya melewati masalah keras, saya akan kembali ke Alkitab untuk menemukan rasa damai yang indah dan ketenangan batin.

Setelah itu, saya berpikir untuk berhubungan dengan beberapa orang Kristen yang biasa bekerja dengan saya, tetapi mereka tidak menyambut saya. Mereka takut padaku. Mereka pikir saya akan menjebak mereka untuk menyakiti mereka seperti biasa saya lakukan di masa lalu. Beberapa orang Kristen menolak untuk berbicara dengan saya, percaya bahwa saya bertujuan untuk menarik mereka ke Islam. Tapi jika Elohim menginginkan sesuatu, tidak ada seorangpun yang bisa melawan Dia. Suatu kali, saya pergi dengan temanku, seorang insinyur, untuk mengunjungi salah satu temannya. Dalam perjalanan, dia meminta saya dengan sinis untuk mengunjungi seorang teman Kristen-nya. Dia tahu betapa saya benci orang Kristen. Dia berpikir dengan cara ini, ia dapat mempermainkan saya dan tidak mengharapkan saya setuju begitu mudah. Dia bertanya padaku, sekali lagi, “Apakah kamu yakin ingin mengunjungi orang itu? Apakah kamu tahu dia adalah seorang Kristen?” Saya berkata, “Ya, aku tahu, dan saya setuju untuk pergi dengan Anda dan mengunjunginya.” Dia memintaku untuk tidak menjahati orang itu. Saya berjanji padanya untuk berperilaku baik dan sopan.

Kami pergi ke teman Kristen itu yang benar-benar mengenal saya. Saya biasa menyusahkan dia di jalan dan memprovokasi umat Islam lainnya melawan dirinya, mencoba untuk memaksa dia untuk menjadi seorang Muslim. Baru saja melihat saya berdiri di pintunya, ia tercengang. Dengan cepat ia menutup pintu dan mundur. Teman saya terus mengetuk pintu jadi akhirnya, ia membuka dan mulai menyalahkan teman saya. Dia berkata, “Bagaimana bisa kamu membawa orang itu bersamamu ke rumah saya? Apakah kamu lupa apa yang dia sudah lakukan kepada saya? Kasihanilah saya. Saya orang yang pendamai dan saya sudah cukup memiliki masalah.”

Setelah perdebatan panjangan, ia mengijinkan kami masuk ke apartemennya, sebuah Alkitab besar menarik perhatian saya. Itu terletak di meja kecil di tengah ruangan. Saya mengambil Alkitab dan membuka beberapa halaman. Tiba-tiba saya bertanya kepadanya, “Apakah ini Alkitabmu?” Dia berguman dan terhuyung dengan suara gemetar, “Ya benar, dan Kuran juga sebuah kitab suci. Semua Kitab berasal dari Elohim. keduanya ‘OK,’ Kuran da Alkitab,  Muhammad dan Ha Mashiah. Semua baik.” Itu jelas sekali dia begitu ketakutan. Dia begitu takut padaku setiap kali saya mencoba mendekati dia, dia akan mundur. Kami akhirnya berkeliling-keliling, melintasi ruang tamu ke sana kemari seolah-olah kita sedang bermain petak umpet. Akhirnya, dia berada di sudut dan saya berdiri tepat di depannya sehingga dia tidak bisa pergi ke mana pun. Saya berkata kepadanya, “Mengapa kau melakukan ini? Saya hanya ingin berbicara dengan kamu?”

Menyadari ini teman yang mengantar saya telah pergi ke ruangan lain untuk beristirahat, saya mengambil kesempatan dan mencoba memulai percakapan dengan tuan rumah saya, Kerinduan untuk mencapai tujuan saya mempelajari jalan orang Kristen kepada Elohim, tetapi ia tidak bekerja sama dengan saya. Saya bertanya apakah saya bisa mengunjunginya lain waktu. Dia setuju, dengan syarat bahwa kami tidak akan sendirian. Dia lebih suka jika ada beberapa temannya pada waktu pertemuan itu. Saya katakan bahwa itu baik bagi saya untuk memiliki beberapa orang lain. Dia menuliskan alamatnya dan waktu pertemuan. Saat saya berkunjung lagi, setengah lusin teman-temannya ada di apartemennya.

Dia begitu takut padaku. Saya berbicara dengan dia untuk sementara waktu, dan saya tidak menyangkal bahwa saya berbicara seperti seorang komandan militer yang kalah yang sedang membuat perjanjian damai dengan komandan yang menang. Saya menundukkan kepalaku. Saya begitu malu sehingga saya melihat ke bawah sepanjang waktu. Saya ingat apa saya dahulu biasa lakukan. Sekarang di sinilah saya, mengemis kepada seorang Kristen untuk beberapa kata yang akan menuntun saya untuk apa yang saya biasa lawan sebelumnya. Tapi Damai sejahtera Allah dan keinginan untuk keselamatanlah yang mendorong saya untuk mengorbankan semua untuk mendapatkan hak istimewa memasuki Kerajaan Elohim yang tak henti-hentinya saya telah cari. Tidak ada satu batupun yang  Saya tingggalkan tanpa tergeser, mencari setiap sudut dan celah untuk mencapai tujuanku yang mulia dan lama ditunggu-tunggu. Sekarang, saya hanya melempar sebuat batu ke tujuan. Saya menemukan bahwa tujuan saya tidak akan dapat ditemukan dimanapun, tapi diantara halaman-halaman Kitab milik teman Kristen saya.

Saya siap tidak meninggalkan satu batupon tanpa digeser untuk mengenal jalan Yahweh. Teman saya memiliki sedikit pengetahuan tentang Alkitab, jadi dia tidak bisa memberikan informasi lebih lanjut. Dia punya beberapa masalah keluarga. Saya mendengar dari beberapa teman bahwa dia sedang mempertimbangkan berpindah  ke Islam agar dapat menikah perempuan yang lain. Saya begitu kesal dengan solusi tersebut. Saya penuh penghinaan terhadap dia. Saya merasa bahwa ia tidak dapat memberikan saya dengan apa yang saya butuhkan.

Setelah beberapa saat, hubungan saya dengan dia semakin kuat, dan saya memiliki kesempatan untuk mengunjunginya lebih dari sekali. Dia menyediakan bagi saya tempat yang tenang di mana saya bisa membaca dengan bebas. Dia tidak mencoba untuk memaksa saya untuk menerima segala macam pikiran tertentu. Saya punya satu pendekatan khusus dan itu adalah untuk mengenal Yahweh Yeshua Ha Mashiah terlepas dari semua faksi dan denominasi, menghindari apa yang saya telah derita dalam Islam.

Hal-hal tidak jalan seperti yang seharusnya mereka ada. Persahabatan kami tidak berlangsung lama, tapi saya menemukan seorang Kristen lainnya yang berpengalaman dalam pengetahuan Alkitab. Namun, kami bertentangan satu sama lain, sedikitnya. Di masa lalu, setiap kali dia akan meminta saya untuk melakukan sesuatu untuknya dalam pekerjaan saya, saya akan memberikan informasi yang salah dan bahkan terkadang saya akan menghasut orang melawan dia. Saya akan memberi mereka hadiah setiap kali mereka berhasil melukainya.

Saya tidak mengharapkan dia bersedia untuk bertemu dengan saya. Namun, ia setuju untuk bertemu dengan saya satu bulan kemudian. Dia meminta saya untuk mengkonfirmasi kunjungan saya dengan menelponnya satu minggu sebelumnya.

Saya merasa bahwa lingkaran di sekitar saya semakin kecil. Tidak ada pendeta-pendeta dari banyak gereja mendengarkan saya, tidak ada individu bersedia untuk bertemu dengan saya. posisiku diragukan di mata semua orang Kristen. Sulit bagi mereka meskipun hanya untuk menyebutkan nama saya. Jika ada yang ingin mengancam orang lain, itu sudah cukup untuk memberitahu mereka, “Saya akan memberitahukan Mr. A dan B.” Saya seperti sebuah boneka yang menakut-nakuti burung di sawah. Tiga minggu kemudian, saya ingin menghubungi orang itu untuk mengkonfirmasi kunjungan saya ke dia. Karena saya tidak memiliki telepon di rumahku, saya harus pergi keluar untuk menggunakan telepon umum.

Setiap kali saya akan pergi keluar rumah, saya biasa mengambil serta semua  kertas dan catatanku untuk memastikan mereka tidak akan jatuh ke tangan yang salah. Ini akan sangat berbahaya jika ada yang melihat catatan-catatan itu karena saya punya banyak halaman dari penelitian tentang Keilahian Ha Mashiah, kesalahan Kuran, kesalahan kenabian Muhammad dan apakah dia benar-benar seorang nabi, dll. Saya biasa membawa semua kertas-kertas itu, bersama dengan Alkitab, dalam sebuah kantong plastik setiap kali saya pergi, ke mana pun saya pergi.

Ketika saya keluar untuk menelepon orang itu dari kios telepon di depan stasiun kereta api kota saya, saya terkejut menemukan bahwa seluruh kantong plastik dengan semua kertasnya lenyap ke udara. Semuanya sudah lenyap – dompetku, KTP, Alkitab dan semua penelitianku. Namun, di dalam saya memiliki semacam damai yang ajaib, ketenangan dan penguasaan diri yang saya kembangkan dahulu dalam berurusan dengan petugas keamanan dan polisi rahasia. Satu hal yang menguasai pikiranku pada waktu itu berpusat pada dua hal.

Pertama, orang yang mencuri tas saya kemungkinan membaca semua kertaku dan mengirimkan mereka ke Departemen Investigasi Keamanan Negara. Saya kemudian akan menjadi mangsa yang mudah di tangan mereka sebab kartu KTPku ada bersama dengan surat kertas-kertas tersebut, sehingga sangatlah mudah untuk mengidentifikasi diriku. Saya bisa dieksekusi karena menyerang Kuran; keputusan hukuman mati adalah hanya mungkin dalam kasus seperti itu. Namun, hal ini tidak mengganggu saya begitu banyak karena saya cukup yakin bahwa bila waktu saya datang untuk bertemu dengan Penciptaku, saya tidak bisa menunda bahkan untuk separoh detik. Setiap jiwa, pasti, akan mengalami maut.

Kedua, sebuah bisikan licik diam-diam masuk ke dalam pikiran saya, mengendalikan semua pikiran dan perasaan. Pesan licik untuk mempegaruhi bahwa Allah sangat mencintaiku begitu rupa sehingga Dia ingin memberikan bukti jelas bahwa saya berjalan menuju kekristenan yang  adalah sebuah kepalsuan. Sebuah firasat samar melayang-layang di atas langit-langit pikiranku bahwa agama Kristen hanyalah jalan Setan, karena itulah Allah telah menghapus semua serangan terhadap Kuran-Nya, Rasul-Nya dan juga menghapus semua racun-racun dari Alkitab. Perasaan itu kemudian berkata, “Sekarang kamu memiliki bukti yang jelas bahwa kamu berjalan di jalan salah Kekristenan dan menyimpang dari kebenaran. Bangunlah sekarang dan bertobat. Jangan berlambat untuk meminta pengampunan dari Allah karena Ia adalah Pengampun yang berkemurahan lagi Maha Penyayang kepada semua orang-orang yang bertobat dan melakukannya yang baik. Berdiri dan bersihkan diri dari semua pikiran najis yang berasal dari Iblis, mencemarkan Anda dan memikat Anda terhadap politeisme, hujatan dan kekafiran.” Saya tidak bisa membantu tetapi untuk menyerah kepada teguran Iblis.

Ketika teman Kristenku tahu bahwa saya telah kehilangan semua kertas tersebut, ia terpukul oleh ketakutan sampai ke sumsum tulangnya. Dia memintaku untuk tidak melihat atau menghubungi dia untuk beberapa waktu sampai kami bisa melihat pengaruh dari hilangnya kertas-kertas itu. Ini adalah jerami terakhir pada apa saya berpegang dan sekarang saya telah kehilangan semua sumber dukungan untuk meneruskan perjalanan saya dalam Kekristenan. Jadi, saya merasa seolah-olah Allah ingin saya untuk meninggalkan agama itu, mungkin karena saya tidak mampu melanjutkan pertempuran itu. Meskipun saya menikmati dari lubuk hati saya dan kedalaman jiwaku setiap kata dari Alkitab dan melakukan yang terbaik untuk terus mengucapkan Doa Bapa Kami dengan rajin, tidak ada yang benar-benar berubah dalam karakter saya. Saya masih penuh kebencian dan iri hati terhadap orang Kristen. Saya tidak bisa memaafkan orang. Saya bahkan tidak bisa mengatakan “Selamat pagi” kepada ibuku. Saya biasa keluar dari rumah saya dengan jejak kemarahan, kebencian dan permusuhan terukir di wajahku. Saya sengaja menunjukkan kemarahan terhadap orang tua dan saudara-saudara saya agar mereka tahu tahu bahwa mereka adalah kafir dan saya membenci mereka karena alasan itu. Saya begitu penuh dengan semangat pemberontakan dan permusuhan bahkan saya meragukan keaslian apa yang saya baca dalam Alkitab.

Semua faktor-faktor tersebut datang bersama-sama dengan hilangnya dokumen tersebut; itu adalah serangan tanpa ampun untuk menghambat pekerjaan Elohim dalam hidupku, sebuah usaha untuk mematahkan tekad saya dan kasihku yang semakin membesar atas Alkitab. Sekali lagi, saya hancur ke dalam tangisan, menyalahkan Elohim untuk semua yang terjadi di sekitar saya. Saya mulai bertanya-tanya apakah itu Elohim  sendiri yang melakukannya setiap kali saya mengambil langkah menuju kepada Dia, hal-hal akan jadi salah. “Mengapa, Elohim, melakukan semua hal ini terjadi padaku? Mengapa saya? Apa yang saya telah lakukan sehingga menerima semua ganjaran ini? Bila Engkau menghukum saya untuk sesuatu yang salah yang telah saya lakukan atas orang Kristen, ampuni saya sekarang sebagaimana saya bertobat di hadapan Engkau. Kasihanilah saya berdasarkan kematian-Mu di kayu salib untuk saya, atau bagi orang lain salib-Mu tidak berarti apa-apa seperti biasa kami berpikir. Siapakah Engkau bahwa Engkau melayakan orang seperti saya untuk mendekati Engkau? Apa yang bisa saya lakukan untuk menyenangkan Engkau? Hidup saya telah menjadi begitu menyedihkan. Jika terus seperti itu, kematian akan lebih mudah bagi saya daripada terus hidup seperti saya ada saat ini. Elohim ambillah jiwaku. Jika Engkau tidak mengasihi saya, saya akan bunuh diri. Itu tidak akan menambah penderitaan masuk neraka, karena jika Engkau tidak memberikan rahmat-Mu kepada saya, saya akan masuk neraka bagaimanapun juga.”

Saya menangis begitu banyak, berkubang dalam rasa sakit dan penderitaan. Saya berdiri, dengan air mataku yang bercucuran di wajahku seperti sungai. Ibuku melihat saya dan mengelus kedua pundakku, dan dia menangis bersamaku. Dia bertanya padaku ada masalah apa dengan saya. Saya berkata padanya, “Jangan ganggu saya. Saya tidak ingin berbicara dengan siapa pun. Saya pernah berbicara dengan kamu dan kamu menuduh saya gila. Semoga Allah memaafkanmu.” Saya pergi dengan cepat ke kamarku dan mandi untuk membersihkan tubuh dari semua kenajisan pikiran Kristen, saya juga harus mencuci diri dari semua yang telah saya lakukan.

Saya terus berpikir, merenungkan apakah Allah akan memaafkan saya untuk semua yang telah saya katakan tentang nabi-Nyan, Muhammad, dan Kuran-Nya. Saya merasa seakan-akan orang berbicara kepada saya mengatakan, “Kau tidak menyerang siapa pun atau berbicara segala jenis dusta. Semua menyimpulkan bahwa itu bukan buatanmu ; mereka adalah bukti itu sendiri.” Saya berdiri, membuka, karpet doaku, dan saya mengulangi dua Kalimat Kesaksian Islam untuk kembali ke Islam. Saya mencoba untuk berdoa, tetapi tidak berhasil. Saya tidak bisa mengucapkan sepatah katapun dari Kuran, bahkan saya tidak bisa sembayang. Jadi, saya meletakkan kepala saya di antara telapak tangan untuk sementara waktu. Kemudian, saya pergi mengatakan hanya beberapa kata, “Oh Yahweh, jika Engkau tidak marah padaku, tidak membahayakan saya. Jika Engkau menghukum saya sekarang untuk beberapa pelanggaran yang saya telah lakukan, saya meminta Engkau untuk mengampuni saya dan meringankan hukuman saya. Jika Engkau melawan caraku, yang asing bagi Mu. Oh Yahweh, saya tidak punya kekuatan lebih untuk menghadapi situasi saya. Jika Engkau tidak menyatakan diri-Mu sendiri kepada saya, saya akan tersesat. Saya mengasihi-Mu, Yahweh. Saya telah melakukan apa yang telah diperintahkan pada ku untuk dilakukan. Saya melakukan apa yang lain tidak bisa lakukan, hanyanya untuk menyenangkan Engkau, sebagaimana karena saya telah berpikir. Ketika Engkau menunjukkan cahaya-Mu kepada saya dan memanggilku, saya tidak menundanya. Berapa lama Engkau tinggalkan saya meraba-raba dalam lubang kegelapan? Semua yang terjadi dalam hidupku hanyalah sebuah ujian kasih yang telah Engkau siapkan bagi saya untuk membawa saya ke sisi-Mu. Engaku adalah Gembala yang Baik. Tolong berilah saya kasih-Mu dan bimbingan-Mu  lebih lagi untuk membawa saya lebih ke arah menemukan Anda.”

Malam itu, saya tidur begitu nyenyak, tidak seperti sebelumnya seumur hidupku. Ketika hampir subuh, saya melihat sebuah visi saat tidur. Ada seorang tinggi besar dengan bahu lebar, jenggot tebal, muka berwarna perunggu, rambut panjang dan kulitnya sangat indah. Dia memegang bahu saya dan mengguncang tubuhku dengan lembut berkata, “Apakah kamu masih ragu-ragu tentang Saya?” Kataku, “Siapa Engkau bahwa saya memiliki keraguan di dalam kamu? Saya tidak tahu Engkau.” Dia berkata, “Saya adalah Dia yang kamu sedang cari.” Saya berkata, “Tidak ingat, harap ingatkan keluapaan saya.” Dia berkata, “Bacalah dalam Alkitab. Mengapa kamu tidak membaca Alkitab?” Saya berkata, “Tidakkah Engkau tahu bahwa saya telah kehilangan Alkitab dan semua kertasku?, jadi bagaimana bisa saya membaca sekarang?” Dia berkata, Alkitab tidak dapat terhilang. Bangunlah dan bukalah lemarimu dan kamu akan menemukannya di sana, dan semua kertas lainnya akan kembali kepada kamu dalam waktu seminggu.”

Saya bergidik, seakan terbangun oleh pukulan cemeti dan saya pergi dengan cepat ke lemari kecil di salah satu sudut kamarku. Saya menggigil ketika saya membukanya dan saya terheran-heran, di sana saya menemukan Alkitab yang telah hilang. Saya terpaku sejenak. Saya menggigil seolah-olah itu adalah malam yang sangat dingin di musim dingin. Saya memeluk Alkitab tersebut erat-erat dengan lenganku seperti anak yang kembali kepada ibunya setelah waktu yang lama.

Saya berlari ke ibu saya, membangunkan dia dan membasahinya dengan ciuman. Saya berkata padanya dengan sukacita yang besar apa yang terjadi pada pagi itu. Saya berkata, “Saya tidak pernah lagi mengijinkan ibu menyebutku gila.” Saya menjatuhkan diriku ke dalam pelukannya, menangis dan berkata, “Maafkan saya Bu, atas perlakuan yang kasar kepada ibu. Saya pikir itu adalah menurut iman yang benar. Tapi sekarang saya tahu apa iman yang benar tersebut. Biarkanlah saya mencium kaki Ibu dan  itu cukup bagiku.”
Dia berkata, “Katakan anakku, apa yang terjadi padamu?”
Saya menjawab, “Saya akan memberitahu Ibu, tapi tolong bersumpah kepada saya oleh semua yang sayang Ibu, bahwa jangan berpikir bahwa saya telah gila. Ibuku, Elohim telah membimbing saya.”
Dia bertanya, “Dan dari mana saja kau sebelumnya?”
Saya menjawab, “Elohim yang membimbing saya sekarang bukanlah dialah yang saya telah ikuti sebelumnya.”
Dia menjawab, “Apakah ada Elohim lainnya?”
Saya berkata, “Ya, ada satu Elohim yang memerintahkan saya untuk mengasihi Ibu dan mematuhi Ibu.”
Dia bertanya, “Siapa itu Elohim tersebut?”
Saya bercerita padanya, “Ha Mashiah, Isa sebagai Kuran mengatakan.”
Dia mendesak saya, “Tolong anakku, jangan mengatakan demikian di depan saudara-saudara kamu. Mereka akan berpikir bahwa kamu benar-benar gila.”
Saya berkata, “Baiklah, saya akan melakukan seperti yang fIbu katakan, tetapi apakah Ibu percaya padaku?”
Dia mengamati, “Mengapa saya tidak percaya. Saya telah melihat buktinya, kamu tidak pernah memperlakukan saya seperti ini selama dua puluh tahun. Pergilah, dan Elohim tidak akan meninggalkan engkau. Tapi rahasiakan hal ini.”

Saya pastikan, “Tempatkan diri kamu pada posisi saya, dan kamu akan mengerti perasaanku yang sebenarnya. Saya berharap bisa berdiri di tempat umum dan berteriak sekeras mungkin menyatakan bahwa Ha Mashiah adalah Yahweh dan Dia telah mengubah saya. Ia telah melakukan apa yang Allah Muhammad tidak mampu melakukan.” Ibuku menaruh tangannya di mulutku untuk mencegah saya berbicara.

Sejak saat itu, dari sore hari sampai terbitnya matahari, saya pergi kepada orang-orang seolah-olah saya adalah bayi yang baru lahir, melihat kehidupan untuk pertama kalinya. Saya keluar pagi-pagi hari, melihat segala sesuatu di sekitar saya. Saya mampu melihat segalanya ditutupi dengan keindahan. Semua orang baik di mata saya. Saya mulai bersalaman dengan semua orang yang saya temui, entah saya mengenal mereka atau tidak. Saya pergi ke toko Kristen. Saya biasa menyakiti dia begitu banyak dan ketika ia melihat saya, ia berpikir bahwa saya akan datang untuk menyerang dia. Dengan cepat ia menutup tokonya. Saya berteriak padanya, “Jangan takut.” Dia bingung dan tidak mengucapkan apa-apa. Saya memeluknya dan memintanya untuk memaafkan saya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali untuk menangis. Dia mengatakan beberapa kata, yang saya tidak bisa mengerti saat ini. Hanya kemudian, saya menyadari arti sepenuhnya kata-kata itu. Dia berkata, “Haleluya, Terpujilah Yahweh.” Kataku, “Apa yang Anda telah katakan?” Dia menjawab, “Pada waktu-Nya, kamu akan tahu apa artinya itu.” Setelah itu, dia pergi.

Saya melihat orang-orang dari perspektif yang baru. Saya bertanya-tanya apakah saya telah kehilangan kewarasan saya. Orang-orang menatapku dan bertanya-tanya apa yang telah terjadi padaku. Bahkan para kolegaku benar-benar kagum mengenai perubahan tiba-tiba dan radikal dari perilaku saya. Saya bisa membaca keterkejutan pada wajah mereka berkata, “Orang ini biasa meludahi kita dahulu. Sekarang lihat dia, ia seperti seekor domba yang lembut! Apa yang sedang terjadi? Apakah ini taktik baru atau rencana melawan kita?” Saya melihat keraguan dan kebingungan yang tercermin di wajah-wajah mereka?, Alis-alis yang tinggi dan mata-mata yang terbuka lebar. Mereka tidak percaya bahwa perilaku saya bisa berubah 180 derajat. Tapi saya tidak memberi perhatian pada reaksi mereka. Semua yang saya perduli adalah membayar balik mereka yang telah saya serang, permalukan dan hina. Saya berada dalam kesadaran penuh dengan sukacita yang memenuhi hati saya. Lemah lembut dan ketenangan dilengkapi kelembutan batin saya yang terdalam untuk pertama kalinya dalam sepanjang hidupku. Kadang-kadang, saya berpikir bahwa saya berada dalam mimpi yang indah. Saya tidak ingin bangun dari mimpi itu. Tapi kuasa Elohim. Saya terburu-buru untuk mendapatkan lebih banyak pengalaman yang akan membuktikan bahwa saya benar-benar berubah selamanya, bukan hanya sementara.

Saya terus berpikir tentang apa yang dikatakan Pribadi tersebut yang saya lihat dalam penglihatan saya telah berkata – Saya akan menemukan kertas-kertas tersebut dalam seminggu. Hari berlalu dan saya mulai meragukan visi tersebut. Saya takut bahwa saya tidak bisa menemukan kertas saya. Hal ini sepertinya merusak kebahagiaan saya. Saya terus menghitung hari-hari sampai ada satu hari tersisa sebelum batas waktu yang diberikan dalam visi itu. Pada hari itu, saya berada di dekat stasiun kereta dan saya ingin menelepon, jadi saya harus pergi ke warung telepon yang sama di mana saya telah kehilangan surat-surat saya seminggu yang lalu. Saya ragu-ragu untuk beberapa saat. Saya pergi ke depan dan kemudian mundur kembali. Pemilik warung membaca hal ini, jadi dia bertanya padaku, “Saya melihat Anda berada dalam keragu-raguan. Apakah Anda punya masalah?”Kataku, “Tidak, telpon ini merupakan setan buruk bagi saya karena saya menggunakannya minggu lalu dan saya kehilangan tas saya. Saya tidak ingin menggunakannya lagi karena saya tidak tahu apa lagi yang saya akan kehilangan.” Dia bertanya, “Apakah itu tas Anda?” Saya menjawab, Ya, Anda tahu di mana itu berada?” Dia menjawab, “Berikan saya beberapa penjelasan dari tas tersebut untuk menunjukkan bahwa itu benar-benar milik Anda dan saya akan memberitahu kepada Anda di mana tempatnya.” Kataku kepadanya bahwa itu adalah kantong plastik dengan beberapa lembar kertas, sebuah kitab seperti Kuran, KTP saya, dan paspor saya. Tidak ada uang dalam tas itu. Dia mengangguk dan berkata, “Itu tepat!” Dia mengatakan kepada saya untuk datang keesokan harinya dan dia akan membawa saya ke orang yang menemukannya.

Hari berikutnya adalah hari ketujuh sejak saya melihat visi tersebut. Kami pergi ke sebuah desa di pinggiran kota Kairo menuju selatan. Kami bertemu orang yang menemukan tas itu. Dia memberikannya kembali padaku. Saya cepat-cepat membukanya tapi saya tidak menemukan Kitab itu. Saya berkata kepadanya, “Ada sebuah kitab hilang.” Dia berkata, “Saya bersumpah demi Nama Allah, Saya tidak mengambil apa-apa dari kantong itu. Itu termasuk kertas-kertas, paspor, KTP, dan sebuah Kuran.” Saya senang mendengar itu dan saya mengatakan kepadanya bahwa saya benar-benar percaya padanya. Itu berarti bahwa Elohim telah memenuhi janji-Nya kepada saya bahwa Dia akan memberi saya kembali Kitab yang hilang.

Saya berada di langit kesembilan; dalam semua kehidupan Islamku, saya belum pernah mengalami meminta sesuatu dari Allah dan menerima jawabannya. Ini adalah keajaiban yang super bagi saya. Saya merasa begitu kecil dan rendah hati di depan kasih karunia Elohim. Saya berkata kepada-Nya, “Siapakah saya sehingga Engkau telah memberiku semua kemurahan ini?” Segera, jawabannya datang kepada saya, “Saya telah melakukannya dan Saya akan terus melakukan hal-hal yang lebih besar bagi mereka yang mengasihi Elohim.” Saya bicara kepada diriku sendiri, berharap bahwa Elohim melayakan saya pergi melalui suatu pengalaman yang akan membuat saya cukup yakin bahwa saya benar-benar berubah. Yang benar-benar akan membuat saya senang.

Tak lama kemudian, Elohim menjawab doa saya. Dia memberiku pengalaman pertama saya dalam hubungan baru dengan Ha Mashiah. Pada kantorku, karyawan biasa menerima penghargaan keuangan secara periodik, masing-masing pada gilirannya. Saya akan ancam petugas pemberi gaji, memaksa dia untuk menempatkan saya di daftar teratas. Saya juga biasa mengambil persentase semua penghargaan karena uang itu milik kafir-kafir Kristen; karenanya, itu tidak harus disebarkan secara merata.

Suatu hari, tiba saatnya untuk menerima uang dari kasir perusahaan. Salah satu rekan saya memiliki situasi yang sangat sulit di rumah, jadi dia datang ke manajer dan memintanya untuk memberikan uang kepadanya saat ini sehingga ia bisa keluar dari dilema keuangan. Manajer mengatakan bahwa daftar itu sudah diatur dan semua orang sudah ada gilirannya. Manajer berkata kepadanya, “Tuan X adalah pada bagian atas daftar dan kamu tahu bahwa dia adalah orang yang jahat dan kita tidak bisa membiarkan dia menunggu. Kita harus menyenangkan hatinya dengan cara apapun untuk menghindari kejahatannya.” Pada saat itu, saya memasuki kantor manajer sedang dia berbisik dengan rekan saya. Saya bertanya mereka dengan cepat, Apakah kalian membicarakan penghargaan itu?” Jawab Manajer dengan terburu-buru disertai kecanggungan dan kekikukan: “Ya, tapi jangan khawatir. Nama Anda berada di atas daftar.” Saya bertanya, “Jadi, apa yang rekan saya inginkan?” Dia menjawab, “Dia ingin mendapat giliran itu bulan ini untuk keluar dari kesulitan keuangan, tapi saya menolak permintaannya.” Saya bertanya, “Mengapa? Kamu dapat meletakkan namanya ganti namaku.” Manajer mengira bahwa saya mengolok-oloknya. Dia berkata, “Nama Anda ada pada bagian atas daftar dan tidak ada seorangpun yang dapat menghapus itu.” Kataku, “Tapi saya ingin menyerah itu padanya bulan ini.” Dia berkata, “Itu tidak mungkin. Anda … Anda dapat melakukannya?” Saya berkata, “Ya.” Dia bertanya-tanya, “Bagaimana?” Saya jawab, “Saya bilang kepada kamu; silakan hapus nama saya dan tempatkan dia di tempat saya. Akanlah lebih baik bila semua rekan kita juga menyerah giliran untuk dia.” Saya mendengar dia berkata, “Terpujilah Elohim yang mampu mengubah keadaan. Apa yang sedang terjadi? Apa yang telah terjadi? Mungkin hari ini Hari Kiamat! Orang itu bisa melakukannya! Saya tidak percaya itu.” Kataku, “Elohim adalah Mahakuasa dan Dia bisa melakukan ”Dari yang makan keluar makanan, dari yang kuat keluar manisan.” [Hakim-hakim 14:14]

Mataku basah dengan air mata dalam situasi itu, yang mana ialah pertama kalinya hal sedimikian ada di seluruh hidup saya. Saya biasa mengambil bagian yang terbesar dari segalanya, secara legal atau ilegal. Tapi sekarang, Ha Mashiah telah mengajarkan saya bagaimana untuk memberi. Saya sangat senang untuk menikmati keindahan memberi.

Keluarga saya mulai merasakan perubahan dalam hidup saya. Mereka biasanya mematikan TV dan melarikan diri segera setelah mereka melihat saya, terutama saudari-saudariku. Setelah hari transformasi, saya memasuki rumahku dan membiarkan mereka menonton TV. Saya hanya meminta mereka untuk menghindari program-progam yang tidak senonoh. Mereka berkata, “Itu tidak mungkin. Anda mengijinkan kami untuk menonton TV? Tidak mungkin!” Saya menjawab, “Mengapa tidak? Jika kalian tahu apa yang kurasakan terhadap kalian, kalian tidak akan percaya betapa saya mengasihi kalian semua. Saya ingin kalian memaafkan saya untuk semua perilaku buruk saya terhadap kalian.” Segera, mereka semua menangis. Setiap kali saya keluar, dan kembali, saya akan mencium ibuku, membawa hadiah untuknya sejak itu dan seterusnya. Reaksi ibuku ialah menangis. Saya bersyukur kepada Elohim ketika dia meninggal, kami baik-baik dan saya telah berhasil menebus apa yang telah saya lakukan padanya. Saya sangat bersyukur bahwa Elohim yang mengembalikan senyum kepada semua anggota keluarga kami, orang-orang beriman dan bukan Kristen.

Teman-teman Kristen saya sudah mengikuti semua peristiwa yang terjadi dan takut bahwa orang-orang desa akan mengetahui perubahan saya dan kemudian akan menaruh kembali baraapi keatas kepala mereka karena mereka adalah teman saya. Jadi, mereka meminta saya untuk meninggalkan Mesir dan pergi ke luar negeri, tapi saya menolak mentah-mentah. Saya masih menyadari apa yang telah saya lakukan terhadap Ha Mashiah dan orang-orang Kristen. Oleh karena itu, saya mengatakan kepada mereka bahwa saya telah berdoa sejak hari pertama hidupku berubah meminta Elohim membantu saya untuk melayani Ha Mashiah sebagaimana saya telah menentang Dia. Saya telah menganiaya umat-Nya di Mesir, jadi saya tidak akan meninggalkan Mesir. Saya berjanji kepada mereka bahwa saya tidak akan menyebutkan nama mereka jika saya ditangkap. Suatu hari, mereka meminta saya untuk pergi ke gereja yang saya belum pernah kunjungi sebelumnya dan saya setuju tanpa diskusi. Saya bertemu beberapa Pemimpin Gereja dan saya mengatakan kepada mereka semua apa yang Elohim telah lakukan pada saya. Wajah mereka berseri-seri kesenangan, dan mereka senang untuk tanda-tanda ajaib yang besar yang Elohim lakukan dalam hidupku. Saya ingin dibaptis. Mereka menanggapi permintaan saya. Saya dibaptis pada 9 Mei 1993. Saya masih ingat hari itu karena saya menganggap itu ulang tahunku yang sebenarnya. Hal ini berkaitan erat dengan waktu saya lahir kembali [“born again”: istilah dalam Kristenan ketika seorang bertobat dan menjadikan Yeshua sebagai Tuan dan Juruselamat bagi hidupnya]

Buah-buah Iman:
Saya telah berbicara secara rinci tentang hidup saya sebelum pertobatan saya. Sekarang lebih tepat untuk saya berbicara tentang pekerjaan Elohim dalam hidupku setelah saya datang mengenal-Nya. Semua kerabat saya, teman-teman dan kenalan tidak bisa percaya bahwa saya bisa berubah secara radikal. Tidak ada yang bisa percaya apa yang terjadi setelah kelahiran baru saya. Suatu kali saya meminta kepada Elohim untuk memberi saya beberapa pengalaman membuktikan kepada saya bahwa saya benar-benar telah berubah. Sebenarnya, Elohim memberi saya banyak pengalaman, tidak hanya untuk membuktikan perubahan tersebut dalam hidupku, tetapi juga untuk melatih saya untuk menghadapi  datangnya tantangan-tantangan keras dan berduri. Saya tidak memilih cara baru, bahkan hidup saya dengan Ha Mashiah. Sebaliknya, saya berusaha untuk menyangkal apa yang saya lihat. Ha Mashiah yang memilih saya. Dia tidak memilih saya sembarangan tapi jelas untuk tujuan dan pelayanan tertentu yang Dia sudah sediakan bagi saya. Dalam hal ini, saya ingin menyebutkan beberapa pengalaman berbahaya yang saya hadapi dan apa yang Tuhan lakukan dengan saya.

Saya biasa bekerja di kantor dengan tiga rekan lainnya. Kami bekerja secara bergiliran, jadi kita jarang berkumpul. Setiap kami memiliki loker sendiri untuk menjaga barang-barang pribadinya. Suatu hari, saya terkejut menemukan bahwa beberapa barang saya hilang. Saya tidak memiliki kecurigaan terhadap salah satu rekan saya. Hari berikutnya, hal yang sama terjadi dan saya menemukan hilangnya beberapa item lainnya. Saya umumnya menyalahkan istriku, tetapi ketika hal yang sama terjadi untuk ketiga kalinya dan semua gaji saya dicuri, saya akhirnya menyadari bahwa kunci rusak. Saya tahu pasti bahwa salah satu rekan saya yang bertanggung jawab. Tiba-tiba, roh setan kemarahan yang mengerikan mengontrol saya. Saya mulai bersumpah dan mengutuk dengan cara lama, seperti sebelum saya diselamatkan. Saya berkata, “Jika saya telah menerima Ha Mashiah dan kalian telah melihat Saya lemah lembut seperti anak domba, itu tidak berarti bahwa kalian bisa mempermainkan saya, membuat saya mangsa yang mudah bagi kalian.” Saya bersumpah untuk membalas dendam kepada mereka dan membalas dendam secara ganda. Saya memutuskan untuk memecahkan loker mereka dan mengambil semua milik mereka dan kemudian membakarnya, meninggalkan semua loker terbuka, seperti Abraham telah lakukan dengan berhala-berhala. Saya ingin mereka tahu perasaan orang-orang yang dirampok dan dijarah. Saya pergi dan mengambil palu besar untuk melaksanakan rencana saya. Saya menutup kantor dan setelah yakin tak seorang pun yang melihat, saya meraih palu dengan kedua tangan dan mengayunkannya ke udara. Saya bau dengan kemarahan dan menggigil dengan keinginan membara untuk membalas dendam. Saat saya hendak memukul loker saya merasakan sesuatu memegang tangan saya dan suara lembut berkata, “Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan atau penghinaan dengan penghinaan, tetapi dengan berkat; jadilah pembuat damai.” Saya menengok untuk melihat siapa yang berbicara, tapi tidak ada seorangpun. Saya berkata kepada diri sendiri, “Oh Elohim, apakah Engkau setuju dengan apa yang telah terjadi padaku? Kehendak-Mu jadilah. Padamkanlah amarahku dan matikan api murkaku. Saya susah mengendalikan diriku sendiri. Berikanlah saya damai.” Tiba-tiba, saya merasakan kedamaian yang aneh di sekitar saya, seolah-olah tidak ada yang terjadi. Saya mendengar suara yang meminta saya untuk menulis pada sebuah kertas sebagai berikut:
“Saudarku yang terhormat yang membuka loker saya,
Saya minta maaf karena tidak dapat memenuhi kebutuhan mu. Harap tuliskan semua yang kamu butuhkan dan saya, oleh kasih karunia Elohim, akan melakukan yang terbaik untuk membantu mu. Untuk membuktikan niat baik dan kejujuranku, saya tidak akan memperbaiki kunci yang rusak. Saya tahu bahwa kasih Elohim adalah sangat besar bagi kita semua manusia. Akhirnya, saya berharap bahwa damai sejahtera Elohim yang melampaui semua pikiran akan memelihara hidup Anda selamanya.
[Filipi 4.7]
Saudaramu

Setelah menulis surat itu, saya taruh di lokerku dan meninggalkannya seperti sebelumnya. Saya berdoa dan mengucap syukur kepada Elohim yang mencegah saya dari yang sesat oleh pikiran-pikiran setan. Saya pulang dan memeluk istri saya secepat ia membuka pintu untukku. Dia berkata, “Jangan takut. Jika Elohim di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?

Adapun uang yang dicuri, Alkitab mengatakan, “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; Elohim  mampu memenuhi semua kebutuhan kita sebab Dia adalah YAHWEH Jireh [TUHAN Yang Menyediakan] kita. [Roma 8:31 dan Mazmur 37:25]

Dua hari kemudian, kami mendapat kejutan. Salah satu rekan saya datang ke kantor saat saya bertugas. Itu tidak biasa. Saya bertanya kepadanya, “Ada apa?” Dia berkata, “Saya ingin bicara dengan kamu.” Apa yang ingin kamu bicarakan?” saya bertanya. Dia bilang lebih baik pergi ke tempat yang sunyi berbicara berdua. Jadi, kami duduk saling berhadapan. Dia menunduk dan berkata, “Saya tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada kamu. Saya tidak tahu harus berbuat apa.” Kataku, “Ceritakan apa yang telah terjadi.” Dia membuka sebuah tas kecil dan menunjukkan semua item yang ia telah ambil dari lokerku. Saya tidak bisa mempercayai mataku. Saya tidak yakin bahwa hal-hal yang demikian bisa terjadi padaku bahwa item-item itu dapat kembali. Saya tidak mengharapkan seorang pria seperti dia menjadi pencuri. Dia adalah orang yang religius yang biasa menjaga doa-doa secara teratur. Dia berkata: “Itu semua adalah barang-barang yang saya ambil dari lokermu; silahkan ambil mereka kembali dan jangan memberitahu siapa pun. Tentang uang, saya tidak dapat membayar kamu kembali sekarang, karena anak-anak saya telah sakit parah dan saya harus membawa mereka ke dokter. Saya dapat membayar kamu kembali secara bulanan.” Saya berkata, “Kamu dapat mengambil semua ini. Mereka adalah milikmu sekarang. Saya tidak berbohong ketika saya menulis surat kepada kamu. Yahweh akan memberikan kompensasi pada saya untuk semuanya, kamu ambil uang itu. Saya yakin Yahweh akan menyediakan untuk segala sesuatunya. Seandainya saya tidak jujur, saya tidak akan meninggalkan loker terbuka dengan kunci rusaknya.” Dia berkata, “Saya hanya punya satu pertanyaan. Saya ingin kamu menjawabnya terus terang.” Saya menjawab, “Apakah saya berbohong kepada kamu sebelumnya.” Dia berkata, “Tidak.” Saya bertanya, “Apa pertanyaan kamu?” Dia mulai, “Kau bicara seperti orang Kristen berkata, ”Yahweh, Yahweh.” Kamu menggunakan kata-kata dan ungkapan yang sama yang saya sering dengar dari Gergis tukang kayu, tetanggaku, yang adalah orang Kristen.” Saya berkata kepadanya, “Bahkan, ketika saya menemukan bahwa barang-barang saya tercuri, saya punya dua pilihan, entah membayar agresi dengan agresi, dan gigi ganti gigi sesuai dengan Hadis yang mengatakan, “Dia yang meninggal tanpa uang, ia adalah seorang martir,” dan ”Jangan seorang pun dari kamu menjadi pengecut, hanya ambil hak-hak mu jagan perduli yang lainnya.” Dengan kata lain, saya memiliki pilihan tentang cara apa mana saya bisa mendapatkan kembali barang-barang saya. Pilihan lainnya adalah untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan dan tidak untuk membalas dendam untuk diriku. Jika seseorang ingin menuntut saya dan mengambil kemejaku, saya harus membiarkan dia memiliki jubah saya juga [Matius 5:38-42]. Yang mana dari kedua cara tersebut lebih baik menurut pendapat kamu?” Dia berkata, “Pilihan kedua tentunya jauh lebih baik.” Saya berkata, Itulah yang saya telah lakukan. Saya berperilaku dalam cara demikian, untuk menjaga ikatan kasih dan kebaikan, mengabaikan perilaku yang bersumber entah itu dari Islam, Kristen atau Yudaisme. Yang penting adalah perilaku itu sendiri. Jika saya menemukan perilaku seperti itu dalam Islam, misalnya, saya akan berlaku seperti itu tanpa ragu-ragu.” Dia bertanya-tanya, “Dari mana kamu mendapat ini? Dimana kamu telah mempelajari konsep-konsep tersebut?” Saya menjawab, “Saya akan memberi tahu Anda kemudian. Sekarang kamu tegang. Beberapa waktu kemudian, ketika kamu beristirahat, saya akan menceritakannya, mungkin setelah beberapa hari atau satu bulan. Jika kamu masih tertarik untuk tahu, saya tidak akan ragu-ragu untuk memberitahu kamu.”

Dua minggu kemudian, setelah ia selesai giliran tugasnya, rekan saya ini datang kepadaku dan berkata, “Sekarang ketegangan saya telah turun dan saya masih tertarik untuk mengetahui sumber ajaran kamu, sebagaimana kamu telah berjanji.” Saya berkata kepadanya, “Saya akan menemui kamu besok untuk memberitahu kamu semua yang kamu ingin tahu.” Keesokan harinya, ia bertemu dengan saya dan menanyakan pertanyaan yang sama. Saya berkata kepadanya, “Sebentar.” Saya mengambil Alkitab dan berkata padanya, “Jika kamu benar-benar ingin tahu dari mana saya telah belajar semua itu, bacalah buku ini!” Dia berkata, “Itu adalah Alkitab! Allah melarang.” Saya berkata, “Ya, ini adalah Alkitab dan kamu benar-benar bebas untuk membacanya jika kamu ingin tahu. Kamu dapat mengambilnya jika kamu ingin. Jika tidak, itu terserah Anda.” Dia mengambil AlKitab tersebut dan terus membulak-balik kedua sisi dan melihatnya dengan terheran-heran. Akhirnya, ia mengambilnya dan pergi. Saya berkata, “Jika kamu mengalami kesulitan apapun, kamu bisa bertanya kepada saya.”

Selama dua minggu, dia terus datang ke saya dengan berbagai pertanyaan. Dia terus membaca Alkitab sampai suatu kali saya melihat perubahan besar dalam hidupnya. Cintanya kepada Alkitab sangat meningkat. Suatu hari, ia berkata, “Buku ini berisi berkat yang besar. Sejak saya membacanya, hubungan saya dengan istri saya semakin bertambah baik dan semua perbedaan kami telah lenyap.” Kataku, “Bacalah lebih lanjut untuk mengetahui apa yang harus kamu lakukan.” Ia menyerap isi Alkitab dengan cepat. [Iblis sangat sadar, jika seorang membaca Alkitab, orang tersebut akan mengetahui kebohongannya, itulah sebabnya ia melarang!]

Suatu hari, dia datang padaku dan tiba-tiba meminta saya untuk mengajarkan kepadanya doa cara Kristen. Dia ingin tahu bagaimana itu nampaknya. Saya katakan kepadanya bahwa itu tidak memiliki aturan tertentu. “Kamu dapat berdoa dalam posisi apapun, dengan gaya apapun,” kataku. Tiga bulan kemudian, kejutan besar terjadi, dia datang memeluk dan merangkul saya dengan hangat. Dia bertanya bagaimana ia dapat dibaptis. Teman saya ini menerima Yahweh dan dia menjadi berkat yang luar biasa untuk seluruh keluarganya. Saya senang merasa bahwa Elohim benar-benar telah memilih saya untuk bekerja di kebun anggur-Nya dan menjadi salah satu dari domba-Nya. Ini adalah suatu kehormatan untuk menjadi salah satu dari orang-orang yang memimpin sesamanya, bukan untuk khayalan dan penipuan tetapi untuk Keselamatan dan Hidup Kekal. Di masa lalu, saya biasa menangkap orang-orang untuk membawa mereka kepada kehancuran. Betapa indahnya bekerja dengan Yahweh, Gunung Batu Yang berabad-abad, Juruselamat Yeshua Ha Mashiah.

Untuk pertama kalinya, saya mulai merasa bahwa saya mencintai negeriku dan bangsaku. Saya mulai mencintai pengampunan dan toleransi. Sungguh, saya menjadi ciptaan baru. Elohim memakai saya menarik banyak jiwa kepada Ha Mashiah, membawa kembali banyak domba yang tersesat yang telah meninggalkan-Nya. Saya melewati banyak pengalaman masa lalu yang masih tersisa. Serangan Iblis datang melalui kehidupan lama pada rohku dan juga tubuhku.

Suatu hari, saya pergi untuk mengunjungi keluargaku. Saya [pergi ke stasiun untuk] naik minibus. Saya mendengar sopir memanggil penumpang untuk masuk dan mengambil tempat mereka, saya masuk dan supir itu menyuruh saya duduk di kursi yang menampung tiga penumpang – tapi saya adalah orang keempat. Disebelah saya, duduk seorang yang besar yang ketat dalam beragama, berjenggot,  dan disampingnya duduk istrinya yang berjilbab. Pria ini tidak bersahabat terhadap saya. Dia menatapku dan menekan saya dan menyisahkan sedikit tempat. Dia meregangkan kaki, memberikan ruang pada saya hanya beberapa centimeter. Ketika saya melihat ini, saya meninggalkan mobil. Sopir bertanya padaku apa yang salah. Saya bilang tidak ada tempat untuk saya. Dia bilang kursi untuk empat penumpang, dan ia meminta Syekh untuk memberi saya beberapa ruang. Tapi saya merasa bahwa orang yang tidak ingin ada yang duduk di sampingnya sehingga tidak ada seorang pun mengganggu istrinya. Akibatnya, saya keluar dan membayar ‘tempat’ keempat tersebut agar tidak seorang pun akan duduk di samping mereka. Saya meminta sopir untuk memberikan seluruh ruang sehingga tidak ada seorang pun mengganggu istrinya. Penumpang pria itu menyadari apa yang terjadi, kejantanan, kegentelman dan kesopanannya tiba-tiba terbangun dalam dirinya. Dia bersikeras bahwa saya duduk di sampingnya. Saya katakana itu tidak perlu, nanti saya akan mendesak tubuh mereka, tapi dia tetap bersikeras untuk saya duduk bersama mereka. Dia memberiku ruang yang cukup.  Minibus itu bergerak untuk beberapa meter dan orang itu bertanya padaku pertanyaan yang tidak terduga, “Apakah Anda seorang Muslim atau Kristen?” Saya bertanya kepadanya, “Mengapa Anda ingin tahu?” Dia berkata, “Saya hanya ingin tahu?” Saya menjawab, “Saya seorang Kristen.” Dia mengeluh, “Celaka, jika Anda seorang muslim, perilaku Anda ini akan lebih berharaga.” Saya bertanya, “Apakah Anda mengenal siapa saya?” Dia berkata, “Tidak.” Kataku, “Saya pun tidak mengenal Anda. Tetapi mengapa Anda berpikir bahwa saya akan melakukan itu untuk Anda?” Dia menjawab, “Yah, saya tidak tahu.” Saya katakan kepadanya bahwa kami (orang-orang Kristen) memiliki teks dalam Alkitab yang memperingatkan kami untuk mengasihi semua orang, termasuk orang-orang yang menyakiti kami. “Saya menyadari betapa keras Anda telah berlaku kepada saya dan saya hanya ingin menunjukkan jenis kasih yang mengisi kami terhadap semua yang membenci kita. Saya tidak bisa membantu kecuali berkelakuan sama seperti itu.” Dia bertanya, ”Apakah Anda memiliki Kitab Suci.” Saya menjawab, “Ya.” Dia bertanya, “Apakah kamu menyembah Elohim (Allah)?” Kataku, “Siapa lagi yang dapat kita sembah?” Dia meneruskan, “Saya tahu bahwa Anda menyembah Ha Mashiah, para imam dan biarawan, sebagamana Kuran berkata.” Saya berkata, “Tidak semua yang Anda tahu tentang kami adalah benar. Jika tidak, Anda tidak akan mengagumi perilaku saya terhadap Anda. Dapatkah saya menyarankan sesuatu?” Dia berkata, “Dapat.” Saya memberi kepadanya sebuah Alkitab. Dan berkata kepadanya, “Alkitab ini mencakup Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Bacalah itu dan lihatlah apa yang ada di dalamnya. Jika Anda suka, bagus. Jika tidak, Anda tidak kehilangan apapun.” Saya beri ia Alkitab dan kami sepakat untuk bertemu di suatu tempat di lain waktu.

Kami sering bertemu setiap minggu untuk membahas pertanyaan-pertanyaannya. Setelah itu, kami mulai berdoa bersama. Dia mulai memiliki beberapa argumen dengan istrinya dan dia ingin menceraikannya. Saya katakan kepadanya bahwa perceraian bertentangan dengan kehendak Elohim. Kami berdoa untuk istrinya, damai yang berkesinambungan dan keakraban keluarganya. Saya katakan kepadanya bahwa Kekristenan adalah jenis kehidupan yang mengumpulkan orang – bukan membuyarkan, dan mengutip untuknya, Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya.”  [1Korintus 7:14]

Teman saya gembira dengan ajaran Alkitab. Yahweh memasuki rumahnya dan membawa kesatuan, damai dan berkat.

Saya tidak ingin menyelesaikan kesaksian saya. Sebenarnya, ini adalah sebuah kesaksian yang berkelanjutan. Selama Yahweh bekerja dalam diriku kesaksian akan berlanjut.

Singkatnya, saya ingin mengatakan bahwa Elohimlah yang telah memberi saya kehidupan ini secara gratis. Jika kita mempertimbangkan pilihan lain, kita tidak akan menemukan apapun kecuali kerusakan, kehancuran dan dosa. Elohim tidak menyebutkan dosa-dosa kita lagi. Kita menikmati kebebasan karena Putera [Elohim] telah membebaskan kita, Kita menjadi sungguh-sungguh bebas. [Artinya: bebas dari ikatan dan kuasa dosa, dan mampu mengalahkan keinginan dosa; 1Yohanes 5:1-21] Hidup adalah Ha Mashiah dan mati adalah keuntungan. Saya dipenuhkan dengan perasaan demikian untuk pertama kalinya dalam seumur hidupku. Di masa lalu, kematian adalah hantu yang menjijikan dan menakutkan. Dahulu saya takut akan siksaan neraka dan pertanyaan dua malaikat, dll.

Sekarang, saya ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Anda, pembacaku yang budiman, sampai kita bertemu di suatu pengalaman baru yang mendebarkan dari urusan mulia sorgawi yang tidak pernah berakhir dari Yahweh yang mampu menjaga mereka yang telah dipercayakan kepada-Nya.

Salam,
Paul

Bersambung ke Bab 9. Dahulu Saya Mati Tetapi Sekarang Saya Hidup

  1. Pendahuluan
  2. Dibelakang Kerudung
  3. Diberkatilah Bangsa Mesirku
  4. Dari Tanahair Mashiah Anak-anak Ismail Akan Kembali
  5. Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid
  6. Orang-orang Pilihan Mashiah
  7. Dari Kristen nominal Ke Islam dan Kemudian Ke Mashiah
  8. Begitulah Bagaimana Saya Telah Mengenal Elohim
  9. Dahulu Saya Mati Tetapi Sekarang Saya Hidup
  10. Instruksi-instruksi Penting
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s