R.R.Cina: Lilis Among Thorns

Bunga-bunga Bakung diantara Duri-duri ialah kisah keindahan iman dan kasih sebuah keluarga Kristen di Henan, Cina yang teraniaya oleh pemerintah komunis. Dalam perlakuan yang sangat sadis yang mereka dapat, hanya oleh sebab mereka orang Kristen, mereka tetap memancarkan keindahan dan  keharuman iman mereka bukan hanya kepada sesama saudara seiman mereka, tapi juga kepada para penganiaya mereka dan negara mereka, RRC.

Sumber: China’s Christian Martyrs by Paul Hattaway.

Suatu tindakan belas kasihan berakhir dengan korban sebuah keluarga Kristen yang terkasih selama penghancuran melawan kejahatan dan agama secara nasional di tahun 1983, demikian cerita ini berawal.

Untuk mempermudah para pembaca mengerti isi cerita ini, ada baiknya nama para pribadi yang terlibat dipaparkan terlebih dahulu, Keluarga Shi tinggal di desa Zunzhuang, propinsi Henan. Shi Gushen (ayah) dan Shi Lishi (ibu) memiliki 3 putra; Wuting, Wuming, Wuhao) dan 2 putri (Xiaoxiu dan adiknya). Di rumah ini juga tinggal Meiying (istri dari putra pertama keluarga Shi, bernama Wuting) dan beberapa family lagi. Total ada sebelas orang hidup dalam rumah tersebut.

Ibu Lishi menderita sakit yang berat pada tahun 1976. Para dokter telah menyerah. Nenek dari ibu Lishi, yang telah percaya Yahweh bertahun-tahun, bercerita kepada keluarga Shi bahwa mereka seharusnya percaya kepada Yahweh Yeshua. Mereka melakukannya, segera setelah mereka menjadi orang percaya ibu ini disembuhkan dari penyakitnya. Lalu mereka memulai mendirikan gereja-rumah di desa mereka.

Pada musim panas 1983, Meichun (kakak wanita dari Meiying), menjadi sangat sakit. Para dokter mendiagnosa penyakit wanita ini dan berkata tidak satupun yang para dokter bisa lakukan. Pihak Rumah Sakit  menasehatkan Meichun pulang dan bersiap untuk meninggal. Ia tidak pulang kerumahnya, tetapi berkunjung kerumah adiknya Meiying (keluarga Shi) dan meminta keluarga ini berdoa untuknya. Beberapa hari kemudian kondisinya antara memuaskan dan buruk – tidak banyak perubahan. Tepat ketika ia bersiap-siap pulang kerumahnya, tiba-tiba ia meninggal dunia. Di Cina, ketika seorang meninggal dunia sementara bertamu, maka tuan rumah itu bertanggung jawab.

Karena keluarga Shi telah dikenal secara umum mengoperasikan gereja-rumah, – yang adalah ilegal dalam negara Komunis RRC, hanya gereja yang ’terdaftar’ saja (dikontrol oleh Negara) yang dianggap legal di RRC – keluarga Shi menjadi kuatir bahwa pemerintah akan memakai kematian ini untuk menjadi alasan menganiaya mereka. Wuming, putra tertua, pergi melapor kematian ini ke kantor polisi. Keluarga lainnya tinggal di rumah  dan mengepak tas-tas mereka untuk persiapan jika ditahan. [Sejak Mao menguasai RRC, penangkapan kepada orang Kristen bisa kapan saja dan dengan alasan apapun, hampir sama dengan nasip orang Kristen di negara Islam Pakistan]. Mereka berdoa dengan serius, menyerahkan semua kehidupan mereka kedalam tangan Elohim. Beberapa petugas keamanan negara datang dan menangkap semua keluarga Shi kecuali anak yang terkecil.

Keluarga dari wanita yang mati membawa masalah ini kepengadilan, mendaftarkan Lishi dan Wuting sebagai pembunuh. Sidang dibuka besok harinya. Lishi adalah yang pertama di adili. Ia bercerita apa adanya tentang penyakit anak mantunya (para dokter telah menyerah) dan hanya mencoba berdoa untuk Meichun. Hakim yang marah ini memerintahkan para penjaga untuk menendang Lishi ke lantai. Kemudian mereka memukuli ibu malang ini dengan tongkot sampai pingsan. Seember air dingin ditumpahkan kepada ibu ini untuk menyadarkannya, tetapi dia tetap menolak mengakui kejahatan yang memang ia tidak lakukan – tuduhan membunuh. Hakim yang marah ini memerintah dia untuk dikirim balik ke selnya. Menuju sel, ibu ini melewati anak-anaknya yang sedang menangis. Ia berbisik kepada mereka, ”Anak-anak, tetaplah kuat. Kita terhitung layak untuk menderita hinaan bagi Yahweh.”

Kemudian gilirang Shi Wuting untuk diintrogasi, diikuiti oleh Wuming. Dua kakak-beradik ini dipukuli dengan keras oleh para keamanan sehingga ketika mereka kembali ke sel, mereka sukar mengenali luka-luka mereka yang banyak dan berdarah tersebut; kondisi setengah sadar.

Kemudian dihadirkan tiga tertuduh lainnya dari keluarga Shi, kembali hakim ini terkecut dan kagum kepada keluarga Shi ini, mereka mengakui bertanggung jawab atas kematian famili mereka. Hakim ini tidak pernah milihat sesuatu seperti ini di dalam persidangan selama bertahun-tahun. Pada semua masalah para pembunuh yang tertuduh umumnya akan mencoba apapun untuk menolak bersalah, tetapi di sini setiap saksi telah mengakui bertanggung jawab. Sedimikianlah kasih keluarga ini ada kepada Elohim dan kepada sesamanya! Mereka telah memilih untuk mengambil penghukuman ke atas mereka sendiri daripada melihat saudara lainnya menderita untuk sebuah kesalahan yang mereka tidak lakukan.

Akhirnya Shi Xiaoxiu umur 16 tahun dibawa ke ruang sidang. Hakim ini yakin bahwa ia akan berhasil membuat gadis kurus ini menyatakan ”sipembunuh” yang sesungguhnya, jadi hakim ini berbicara kepadanya dengan cara yang manis. Xiaoxiu dengan tenang menolak bila ada hukum-hukum telah dilanggar, dan bercerita kepada hakim ini bahwa jika ada seorang yang telah bertanggung jawab [atas kematian kakak ipar mereka, Meichun], itu pastilah dirinya sendiri dan adik perempuannya, sebab mereka telah berdoa untuk Meichun lebih dari orang-orang lainnya! Hakim dengan marah memukul kursi hakimnya dan berteriak, ”Kamu memiliki keberanian! Kamu masih terlalu kecil dan namun kamu berani membohongi orang-orang pemerintah. Anak kecil, saya janjikan kepadamu, tidak ada sorga di sini untuk kamu. Jika kamu terus keras kepala dan menolak saya akan putuskan kamu untuk dipenjara. Masa depanmu akan tamat! Jangan berpikir bahwa ini sebuah permainan.”

Menjaga ketenangannya, Xiaoxiu menjawab, ”Masa depanku tidak ditentukan oleh dunia ini tetapi oleh Sorga. Sejak saya jatuh ketangan Anda, saya tidak punya rencana untuk kembali ke rumah. Keluargaku telah memutuskan untuk menyelesaikan kursus yang Yahweh Yeshua kami telah putuskan untuk kami.”

Sementara keluarga Shi ditahan di penjara hakim memikirkan keputusan hukuman.
Keputusan hukuman atas keluarga Shi jatuh pada pagi hari tanggal 30 Agustus 1983. Sebuah theatre dipakai untuk itu dan semua masyarakat hadir, tidak satu kursipun ada yang kosong.

Para hadirin tergagap dan berteriak marah ketika Shi Lishi (ibu) dan Shi Wuting (pria tertua) dipidani hukuman mati. Meiying (isteri Wuting), adik perempuan dari yang meninggal dijatuhi hukuman seumur hidup untuk keterlibatannya di dalam ’pembunuhan’, sementara  Meizhen dihukum 15 tahun penjara. Anak laki termuda, Shi Wuhao, 10 tahun penjara, Shi Wuming (pria kedua tertua) 4 tahun penjara, sementara Xiaoxiu umur 16 tahun dihukum 2 tahun penjara, ’kesalahnya’ ialah berani berbicara benar di pengadilan. Bapa dari keluarga, Shi Gushen, dan saudara kandungnya masing-masing dihukum penjara 2 bulan.

Tiba-tiba sebuah suara keras seperti seseorang jatuh ke lantai ruang pengadilan, diikuti rintihan yang keras. ”Anak-anak perempuan, saya telah mencelakakan kalian!” jeritan duka ibu Meiying. Ia tidak menyangka bahwa perbuatannya itu bukan saja merusak keluarga Shi, tapi puterinya sendiri – yang dihukum seumur hidup. Dia sadar sekarang bahwa ia tidak akan pernah lagi melihat putrinya.

Ketika Shi Wuting melewati isterinya di gang pengadilan menuju penjara, pria 35 tahun yang terborgol dan luka-luka ini berkata kepada isterinya, ”Meiying, isteri ku tersayang, mengapa kamu menangis? Bagaimana dapat saya tidak meminum cawan yang Yahweh telah berikan kepada saya? Tidakkah kamu sadar bahwa kita hidup untuk Yahweh, dan jika kita mati, kita mati untuk Yahweh? Jadi, entah kita hidup atau mati kita adalah milik Yahweh! Meiying tersayang, itu adalah hanya bahwa saya akan ada satu langkah di depan kamu. Sebelum terlalu lama, kita akan ada bersama lagi, tidak akan terpisah lagi. Jangan sedih. Beranilah dan jadilah kuat. Apapun yang terjadi kamu harus hidup secara penuh untuk Yahweh. Jangan buang waktu.”

Untuk dua minggu terakhir kehidupannya, Meiying ada dalam satu sel dengan ibu mertuanya. Pada suatu malam mereka melihat diri mereka sendiri berpakaian jubah putih dan terbang menembus langit-langit pergi ke Sorga! Kemudian mereka melihat Yahweh Yeshua.  Tangan-Nya terentang menyembut mereka. Dengan perasaan yang besar mereka pergi menuju kepada Yeshua, dan dengan tangan-Nya yang berbekas luka Dia menyeka air mata dari mata mereka berdua.

Pada tanggal 14 September 1983 Shi Lishi dan Shi Wuting diambil untuk dibawa ketempat eksekusi tempat ini dikenal sebagai Gunung Kodok. Wuting sekilas melihat isterinya, dan berkata, ”Meiying, saya akan pergi duluan. Saya akan menunggu kamu di rumah Bapa. Selamat tinggal!” Kedua dari orang Kristen tertuduh ini benar-benar tenang dan tersenyum kepada teman-teman dan sanak famili. Tidak ada ketakutan.

Danyun, sejarahwan Gereja-Rumah, mengingat saat itu ketika ibu dan anaknya meninggalkan dunia ini untuk upah surgawi mereka:

Ibu Shi berpaling kepada tentara yang berada disampingnya dan dengan tersenyum bertanya padanya, ”Dapatkah saya diijinkan berdoa?” Tentara mengangungkan kepala tanda setuju tanpa suara. Ibu dan anak berlutut, mengangkat tangan-tangan mereka ke langit dan berdoa kepada Juruselamat yang telah menciptakan langit dan bumi: ”Kami meminta Engkau untuk mengampuni negeri kami dan bangsa kami atas dosa-dosa  menganiaya kami. Selamatkan negeri dan bangsa kami. Yahweh, kami memohon Engkau untuk menerima roh-roh kami.”

Bang!
Bang!

Darah muncrat dari kepala ibu ini dan jiwanya masuk ke Sorga.  Wuting, bagaimanapun, belum mati. Dia berpaling melihat kepada tentara-tentara di kebelakang dirinya dan melihat mereka sungguh kaku dengan ketakutan  mereka tidak dapat menembak untuk kedua kalinya. Tetapi dua tentara lainnya mengangkat pistol-pistol mereka dan menembakannya kepada Wuting. Dia tergeletak, otaknya dan darahnya tersebar disemua lantai. Tiba-tiba turun hujan deras yang sangat besar, disertai cahaya halilintar dan geledek. Tetapi semua hujan tidak dapat menghapus darah orang tidak berdosa yang telah tercurah di sana pada lantai eksekusi.

Ketika anggota-anggota keluarga yang masih hidup mengumpulkan tubuh dua martir untuk penguburan mereka menemukan sebuah catatan di kantong jaket Wuting. Itu tertulis: “Itu sekarang selesai. Jangan bersedih atas saya. Saya hanya pergi ke tempat tersebut sebelum kamu. Kasihilah Yahweh dengan sungguh dan peganglah kuat-kuat Firman-Nya. Dikemudian waktu , kalian akan juga pergi ke Bapa Sorgawi dan bertemu saya. Ia yang bertahan sampai akhir akan diselamatkan. Untuk penguburanku, buat itu dengan sangat sederhana. Peliharalah dua anak saya dan buatlah mereka tahu bahwa saya telah mati untuk Yahweh.” Tamat.

Pembaca yang terkasih, mereka belum 7 tahun menjadi pengikut Yeshua (1976 ke pertengahan 1983), iman, kesetian serta kasih keluarga Shi terhadap Yeshua, Yahweh mereka, telah mengalami ujian yang berat. Mereka tentunya dapat dibenarkan jika mereka marah dan kecewa kepada para penuduh dan penganiaya mereka, dan mungkin kepada  Elohim mereka. Tetapi sebaliknya, mereka mengampuni bahkan berdua untuk keselamat negara dan bangsa mereka. Dapatkah kita juga melakukan itu untuk Indonesia? Roh Kudus akan memampukan kita sebagaiman Ia telah memampukan keluarga Shi.

Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.
Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. (1 Korintus 13:12-13)

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s