Buku Son of Hamas (Putra Hamas). Bab 5-8

Bab 5 – Bertahan Hidup
1989-1990

Orang² Israel mengira jika mereka menangkap para ketua Hamas, maka keadaan akan jadi membaik. Tapi selama ayah dipenjara, intifada malah jadi semakin menggila. Di akhir tahun 1989, Amer Abu Sarhan dari Ramallah merasa tak tahan lagi melihat kematian orang² Palestina. Karena tiada yang punya pistol, dia lalu mengambil pisau dapur dan menusuk tiga orang Israel sampai mati, dan ini berakibat timbulnya revolusi. Kejadian ini menyebabkan naiknya tingkat kekerasan yang jauh lebih hebat.

Sarhan dianggap sebagai pahlawan oleh orang² Palestina yang telah kehilangan teman² dan anggota keluarga mereka, yang tanahnya dirampas, atau yang punya berbagai alasan lain untuk membalas dendam. Mereka asalnya bukanlah teroris. Mereka hanyalah orang² yang kehilangan harapan dan pilihan. Punggung mereka telah membentur tembok. Mereka tidak punya apapun lagi untuk jadi pertimbangan. Merka tidak peduli lagi akan tanggapan dunia atau pun nyawa mereka sendiri.

Bagi kami anak² di masa itu, pergi ke sekolah juga jadi masalah besar. Seringkali saat sedang berjalan ke sekolah, mobil² Jeep Israel berlalu-lalang di jalanan, sambil mengumumkan keras² lewat pengeras suara bahwa jam malam akan segera dimulai. Prajurit Israel sangat serius dalam melakukan larangan ini. Larangan ini bukan seperti di kota² besar AS di mana polisi akan memanggil orangtua seorang remaja yang tertangkap menyetir mobil setelah jam 11 malam. Di Palestina, jika jam malam sudah diumumkan dan masih saja berada di jalanan karena alasan apapun, maka kau akan ditembak. Tanpa peringatan, tanpa penangkapan. Mereka akan langsung menembakmu.

Di saat pertama jam malam diumumkan, aku masih berada di sekolah dan aku tidak tahu harus melakukan apa. Jarak pulang ke rumah adalah empat mil dan aku tidak mungkin bisa tiba di rumah sebelum jam malam dimulai. Jalanan sudah sepi, dan aku merasa takut. Aku tidak bisa diam di tempat saja. Meskipun aku hanyalah anak muda yang berusaha pulang ke rumah, jika prajurit melihat diriku, maka mereka akan menembakku. Banyak pemuda² Palestina yang telah ditembak.

Aku mulai bergerak sambil berlindung dari sebuah rumah ke rumah lainnya, melalui halaman² belakang, dan bersembunyi di semak² sepanjang jalan. Aku mencoba menghindari anjing menggonggong dan orang² bersenjata sedapat mungkin. Ketika akhirnya aku tiba di rumah, aku sangat lega melihat semua saudara laki dan perempuanku telah tiba di rumah dengan selamat.

Tapi jam malam hanya merupakan salah satu perubahan yang harus kami hadapi sebagai akibat intifada. Di banyak kejadian, seorang bermasker tiba² saja muncul di sekolah dan mengumumkan bahwa mogok kerja dimulai dan orang² harus pulang. Mogok kerja ini diperintahkan oleh sekelompok orang² Palestina untuk merugikan keuangan Israel dengan memperkecil pajak pendapatan yang dipungut Pemerintah dari para pemilik toko. Jika toko² tidak buka, maka para pemilik toko juga tidak membayar pajak penuh. Tapi orang² Israel tidak bodoh. Mereka lalu mulai menangkapi pemilik toko karena sengaja menghindar pajak. Jadi siapa sih yang sebenarnya menderita akibat usaha mogok kerja ini?

Terlebih lagi, berbagai organisasi Muslim ternyata juga saling berperang satu sama lain demi mendapatkan kedudukan dan kekuasaan. Mereka bersikap bagaikan anak² kecil memperebutkan bola sepak. Meskipun demikian, Hamas secara pasti semakin berkuasa dan mulai menantang dominasi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).

********************

PLO didirikan di tahun 1964 untuk mewakili masyarakat Palestina; tiga organisasi besar yang termasuk di dalamnya adalah:

  • Fatah, kelompok nasionalis sayap kiri;
  • Barisan Depan Populer bagi Pembebasan Palestina (Popular Front for the Liberation of Palestine = PFLP), yang adalah kelompok komunis; dan
  • Gerakan Demokrasi bagi Pembebasan Palestina (Democratic Front for the Liberation of Palestine = DFLP), juga berideologi komunis.

PLO menuntut Israel mengembalikan tanah yang merupakan daerah kekuasaan Palestina sebelum tahun 1948 dan memberikan hak bagi Palestina untuk menentukan nasib sendiri. Sampai saat ini, PLO berjuang melalui kampanye global hubungan masyarakat, perang gerilya, dan terorisme dari pusatnya, pertama-tama di Yordania, lalu di Lebanon dan Tunisia.

Tidak seperti Hamas dan Islamic Jihad, PLO tidak pernah jadi organisasi Islam. Kelompok ini beranggotakan orang² nasionalis, dan tidak semuanya adalah Muslim kaffah. Malah banyak dari antara mereka yang atheis. Bahkan sewaktu masih kecil aku memandang PLO sebagai organisasi yang korup dan mementingkan diri sendiri saja. Para pemimpin PLO mengirim orang² yang kebanyakan masih remaja untuk melakukan satu atau dua serangan teroris setiap tahun agar orang² terus menyumbangkan uang bagi perjuangan melawan Israel. Para fe’da’iyin muda tersebut hanya berfungsi sebagai api penyulut kemarahan dan kebencian dan agar sumbangan dana terus mengalir ke akun bank pribadi milik para pemimpin PLO. [2]
[2] Pembajakan pesawat pertama oleh PLO terjadi di tanggal 23 Juli, 1968, ketika aktivis PFLP menerbangkan El Al Boeing 707 ke Aljiers. Sekitar selusin awak Israel dan sepuluh kru pesawat disandera. Tiada korban jiwa. Tapi sebelas atlet Israel dibunuh empat tahun kemudian oleh teroris yang dipimpin PLO saat menyerang Olimpiade Munich. Di tanggal 11 Maret, 1978, prajurit² Fatah mendarat di pantai utara Tel Aviv, membajak sebuah bus, dan menyerang sepanjang jalan bebas hambatan di tepi pantai yang membunuh sekitar tiga puluh orang – dan melukai tujuh puluh orang lainnya.
Organisasi PLO dengan mudah merekrut para pengungsi Palestina yang berjumlah dua per tiga populasi Yordania. Dengan uang mengalir dari negara² Arab lainnya untuk mendukung perjuangannya, PLO menjadi kuat dan lebih bersenjata lengkap, bahkan lebih baik daripada tentara Yordania. Tak lama kemudian Yasser Arafat ingin menguasai seluruh negara dan mendirikan negara Palestina.

Di tahun² Intifada Pertama, perbedaan ideologi membuat Hamas dan PLO saling berseberangan terpisah jauh. Hamas adalah gerakan yang dimotori oleh minat relijius dan theologi Jihad, sedangkan PLO dimotori oleh sikap nasionalisme dan ideologi kekuasaan. Jika Hamas memerintahkan pemogokkan dan mengancam membakar toko² manapun yang tetap buka, maka para pemimpin PLO di seberang jalan mengancam membakar toko² yang tutup.

Meskipun begitu, kedua kelompok ini punya kebencian sama yang mendalam terhadap “Zionis.” Akhirnya, kedua kelompok setuju untuk menetapkan Hamas menyelenggarakan pemogokkan di tiap tanggal 9 setiap bulan, dan Fatah – badan PLO terbesar – menyelenggarakan pemogokkan di tiap tanggal 1 setiap bulan. Jikalau pemogokkan diumumkan, semua kegiatan harus berhenti. Kelas², perdagangan komersial, mobil² – semuanya. Tiada seorang pun yang bekerja, mendapatkan nafkah, atau belajar.

Seluruh Tepi Barat lumpuh, dan orang² berpenutup wajah melalukan demonstrasi, membakar ban², menulis grafiti di berbagai tembok, berteriak-teriak melarang bisnis apapun. Tapi siapapun bisa mengenakan penutup wajah dan mengaku sebagai PLO. Tiada yang tahu siapakah orang di balik penutup wajah tersebut; setiap orang tampaknya tergerak karena niat sendiri dan keinginan balas dendam pribadi semata. Kekacauan berkuasa.

Pihak Israel mengambil manfaat dalam kekacauan ini. Karena setiap orang bisa jadi pejuang intifada, pasukan keamanan Israel juga lalu mengenakan penutup wajah dan berbaur dalam demonstrasi². Mereka bisa berjalan masuk ke kota Palestina mana pun di siang hari sambil memakai pakaian seperti para feda’iyin. Dan karena tiada seorang pun yang mengetahui siapa orang yang berpenutup wajah, maka orang² lebih memilih taat pada perintah para feda’iyin ini daripada menanggung resiko dipukuli, bisnisnya dibakar, atau dituduh sebagai mata² Israel, yang bisa mengakibatkan hukuman gantung.

Sampai akhirnya kekacauan dan kebingungan mencapai titik yang sangat konyol. Satu atau dua kali setelah pengumuman jadwal ujian akhir, teman² dan aku membujuk pelajar yang lebih senior untuk datang ke sekolah mengenakan penutup wajah dan mengatakan terjadi pemogokkan. Kami mengira hal ini lucu.
Pendek kata, kami telah menjadi musuh diri kami sendiri yang terjelek.

Tahun² ini sangatlah sukar bagi keluarga kami. Ayahku masih berada di penjara, dan pemogokkan yang terus terjadi mengakibatkan kami tidak masuk sekolah selama hampir setahun penuh. Para pamanku, pemimpin² agama, dan setiap orang tampaknya merasa sudah jadi kewajiban mereka untuk mendisiplinkan diriku. Karena aku adalah anak laki sulung dan putra Syeikh Hassan Yousef, maka mereka menerapkan standard yang sangat tinggi bagiku. Jika aku tidak mencapai pengharapan mereka, mereka lalu memukuliku. Tidak peduli apapun yang kulakukan, bahkan kalau pun aku pergi ke mesjid lima kali sehari, semuanya tampak tidak cukup di mata mereka.

Suatu kali aku berlari-lari di dalam mesjid, sambil bermain bersama temanku. Imam mesjid mengejar kami. Ketika dia menangkapku, dia mengangkatku di atas kepalanya dan melemparkanku ke lantai menghajar punggungku. Rasanya seperti mau mati. Lalu dia terus-menerus memukuli dan menendangiku. Kenapa sih? Aku kan hanya melakukan yang biasanya dilakukan anak² lain. Tapi karena aku adalah putra Syeikh Hassan Yousef, maka aku diharapkan untuk berlaku lebih baik daripada anak² lain.

Aku berteman dengan anak laki yang ayahnya adalah pemimpin agama dan tokoh penting Hamas. Orang ini selalu saja membujuk orang lain untuk melemparkan batu. Baginya, tak jadi masalah jika putra² orang lain tertembak karena melempar batu, tapi tidak begitu jika yang jadi sasaran tembak adalah putranya sendiri. Ketika dia mengetahui kami seringkali melemparkan batu, dia memanggil kami ke rumahnya. Kami kira dia ingin berbicara dengan kami. Tapi dia mencabut paksa kabel dari alat pemanas dan mulai mencambuki kami sekuat tenaga sampai kami berdarah. Dia memutuskan persahabatan kami demi menyelamatkan nyawa putranya. Tapi akhirnya temanku ini meninggalkan rumah dengan kebencian terhadap ayahnya yang melebihi kebencian terhadap setan.

Selain dari usaha mendisiplinkan diriku, tak ada pihak yang menolong keluarga kami saat ayahku dipenjara. Sejak dia ditahan, kami kehilangan tambahan gaji yang didapatnya dari mengajar di sekolah Kristen. Sekolah itu berjanji tetap menjaga pekerjaan ayah sampai dia dibebaskan, tapi di lain pihak, kami tidak punya cukup uang untuk membeli kebutuhan hidup.

Ayahku adalah satu²nya orang di keluarga kami yang punya SIM, sehingga kami tak bisa menggunakan mobil kami. Ibuku harus berjalan jauh untuk pergi ke pasar, dan aku seringkali berjalan bersamanya untuk menolongnya mengangkut belanjaan. Kupikir perasaan malu lebih buruk daripada kebutuhan untuk hidup. Sewaktu berjalan ke pasar, aku merangkak di bawah kotak² makanan untuk memunguti makanan² busuk yang jatuh ke tanah. Ibuku harus menawar mati²an untuk bisa membeli sayuran layu yang tidak diminati siapapun. Dia mengatakan kami membeli sayuran ini untuk memberi makan ternak. Ibu harus terus menawar mati²an sampai sekarang karena ayahku telah dipenjara selama 13 kali – ini jauh lebih banyak daripada pemimpin Hamas mana pun. (Dia sedang berada di penjara saat aku menulis buku ini.)

Aku kira kenyataan bahwa tiada seorang pun yang membantu kami adalah karena mereka mengira keluarga kami punya banyak uang. Apalagi ayahku adalah pemimpin agama yang terkemuka dan pemimpin politik yang berpengaruh. Dan orang² mengira para sanak keluarga kami lainnya tentunya membantu kami. Tentu saja Allâh akan memenuhi kebutuhan kami. Tapi para paman tidak peduli akan kami. Allâh juga tak melakukan apapun. Karena itu ibuku mengurus ke tujuh anaknya seorang diri saja (adik laki kecil kami Mohammad baru saja lahir di tahun 1987).

Akhirnya ketika keadaan semakin mendesak, ibu berusaha meminjam uang pada teman ayahku – bukan agar dia bisa beli baju dan alat² kosmetik baru, tapi agar dia bisa menyediakan makanan setidaknya sehari sekali bagi anak²nya. Tapi orang ini tidak bersedia membantu ibu. Selain tidak mau membantu kami, dia memberitahu teman² Muslimnya bahwa ibu datang padanya mengemis uang.

“Dia kan menerima gaji dari Pemerintah Yordania,” begitu kata mereka, menghakimi ibuku. “Kenapa dia mengemis minta uang lagi? Apakah wanita ini mengambil kesempatan kala suaminya dipenjara untuk bisa jadi kaya?” Ibu tidak pernah minta tolong lagi.

“Mosab,” ibu berkata padaku suatu hari, “bagaimana jika aku membuat baklava dan makanan manis lainnya dan kau menjual makanan ini pada para pekerja di daerah industri?” Aku berkata aku akan senang melakukan apapun untuk menolong keluargaku. Maka setiap hari setelah sekolah, aku berganti pakaian, memenuhi nampan dengan penganan buatan ibu, dan pergi menjualnya sebanyak mungkin. Pertama-tama aku merasa malu, tapi akhirnya aku jadi berani dan mendatangi setiap pekerja dan memintanya untuk membeli dariku.

Di suatu hari di musim dingin, aku pergi seperti biasa menjual penganan. Tapi ketika aku tiba, tempat itu kosong. Tiada seorang pun yang harus bekerja di hari itu karena udara sangat dingin. Tanganku beku dan saat itu mulai turun hujan. Sambil mengangkat nampan sebagai payung di atas kepala, aku melihat sebuah mobil berisi beberapa orang datang dan parkir di pinggir jalan. Pengemudi mobil melihatku, membuka jendela, dan mengeluarkan kepalanya.
“Hey, nak, apa yang kau bawa?”
“Aku bawa baklava,” kataku sambil berjalan mendekati mobil.

Setelah melihat wajah orang itu, aku kaget karena orang itu ternyata pamanku Ibrahim. Teman²nya kaget sekali karena melihat kemenakan Ibrahim berjualan penganan di hari hujan yang dingin. Aku pun merasa malu karena mempermalukan pamanku. Aku tak tahu harus berkata apa, dan mereka pun membisu saja.

Pamanku membeli semua baklava, menyuruhku pulang dan berkata dia ingin bicara denganku setelah itu. Ketika kami tiba di rumah, dia sangat murka terhadap ibuku. Aku tidak tahu apa yang dikatakannya, tapi setelah dia pergi, ibu menangis. Keesokan harinya setelah sekolah, aku berganti pakaian dan berkata pada ibu bahwa aku siap untuk menjual penganan.
“Aku tak mau kau menjual baklava lagi,” katanya.
“Tapi aku semakin pandai menjual setiap hari! Aku pandai melakukan hal itu. Percayalah padaku.” Airmata bercucuran dari matanya. Dan aku tidak pernah boleh berjualan lagi.

Aku merasa marah. Aku tidak mengerti mengapa para tetangga dan keluarga kami tidak menolong kami. Selain itu, mereka berani menghakimi kami dalam usaha kami untuk menolong diri kami sendiri. Aku mengira alasan sebenarnya mereka tidak membantu kami adalah karena mereka takut jika pihak Israel mengira mereka menolong teroris. Tapi kami kan bukan teroris. Ayahku juga bukan teroris. Sedihnya, hal ini pun nantinya berubah pula.

Bab 6 – Kembalinya Seorang Pahlawan
1990


Ketika ayahku akhirnya kembali, keluarga kami seketika diperlakukan bagaikan keluarga kerajaan setelah tidak dipedulikan selama satu setengah  tahun. Sang pahlawan telah kembali. Aku tidak dianggap lagi sebagai kambing hitam, tapi sebagai pewaris kekuasaan. Saudara² lakiku dianggap sebagai para pangeran, saudara² perempuanku sebagai para putri raja, dan ibuku sebagai ratu. Tiada lagi yang berani menghakimi keluarga kami.

Ayahku mendapatkan kembali pekerjaannya di sekolah Kristen, selain juga menjabat imam di mesjid. Sekarang setelah tiba kembali di rumah, ayah berusaha membantu ibu mengurus rumah tangga sebanyak mungkin. Hal ini sangat meringankan bebas kami sebagai anak² yang membantu ibu. Kami sama sekali tidak kaya, tapi kami punya cukup uang untuk membeli makanan yang memadai dan kadangkala bahkan hadiah bagi pemenang permainan Bintang². Dan kami berlimpah dalam penghargaan dan penghormatan. Yang terbaik di atas segalanya, ayah sudah berada bersama kami lagi. Apa lagi yang kami butuhkan?

Semuanya dengan cepat kembali normal. Tentu saja normal di sini bermakna relatif. Kami tetap hidup di bawah kekuasaan Israel dan terjadi pembunuhan setiap hari di jalanan. Rumah kami tak jauh dari kuburan yang dijejali mayat² berdarah. Ayahku punya ingatan buruk akan penjara Israel di mana dia ditahan selama 18 bulan karena dituduh sebagai teroris. Daerah yang diduduki Israel sekarang semakin terperosok bagaikan hutan tak kenal hukum.

Satu²nya hukum yang dihormati Muslim adalah hukum Islam, ditetapkan dengan fatwa, atau aturan agama bagi masalah tertentu. Fatwa dibuat untuk membimbing Muslim sewaktu menerapkan Qur’an sebagai bimbingan hidup sehari-hari. Karena tiada badan pusat yang mengatur penetapan aturan, setiap syeikh mengeluarkan fatwa yang berbeda untuk masalah yang sama. Akibatnya, setiap orang hidup dengan aturan yang berbeda, sebagian lebih ketat dibandingkan yang lain.

Aku sedang bermain di dalam rumah bersama teman²ku di sore hari ketika kami mendengar suara² keras di luar. Membentak dan berkelahi bukanlah hal baru dalam dunia kami, tapi ketika kami keluar, kami lihat tetangga kami Abu Salim mengayunkan pisau besar. Dia sedang berusaha membunuh saudara sepupunya yang berusaha keras menghindari pisau berkilat tersebut. Seluruh tetangga berusaha mencegah Abu Salim, tapi orang ini tinggi besar. Dia adalah tukang jagal, dan dulu aku pernah melihatnya menjagal seekor sapi di halaman belakangnya, dan ini membuat seluruh tubuhnya berlumuran darah sapi yang kental dan merah. Aku jadi teringat apa yang dilakukannya terhadap binatang itu tatkala dia mengejar saudaranya.

“Ya,” kataku pada diri sendiri, “kami memang benar² hidup di tengah hutan.”
Tiada polisi yang bisa dipanggil, tiada pihak yang mengatur. Apa sih yang bisa kami lakukan selain menonton saja? Untungnya, saudara sepupu itu berlari cepat dan tidak kembali lagi.

Ketika ayahku kembali di malam hari, kami memberitahu dia apa yang terjadi. Ayahku hanya setinggi 170 cm dan tidak berotot besar. Tapi dia lalu mengunjungi rumah Abu Salim dan berkata, “Abu Salim, apa yang telah terjadi? Aku dengar ada pertengkaran ya hari ini?” Abu Salim lalu mengoceh tak hentinya tentang usahanya ingin membunuh saudara sepupunya.
“Kau tahu bahwa wilayah kita sedang diduduki sekarang,” kata ayahku, “dan kau tahu kita tak punya waktu untuk urusan omong kosong seperti ini. Kau menghadap dan minta maaf terhadap saudara sepupumu, dan dia pun harus minta maaf padamu. Aku tidak mau mendengar masalah seperti ini lagi.”

Sama seperti orang lain, Abu Salim menghormati ayahku. Dia percaya nasehatnya, bahkan dalam urusan seperti ini. Dia setuju untuk berdamai bersama saudaranya, dan dia lalu berkumpul bersama ayah dalam rapat dengan pria² lain di perumahan kami.

“Ini keadaan yang sekarang kita hadapi,” kata ayah perlahan. “Kita tidak punya pemerintahan di sini, dan semuanya kacau balau. Kita tidak bisa bertengkar satu sama lain, mencurahkan darah sesama kita. Kita bertengkar di jalanan, bertengkar di rumah kita, bertengkar dalam mesjid. Cukup sudah. Kita perlu duduk bersama setidaknya seminggu sekali dan mencoba memecahkan masalah seperti layaknya orang dewasa. Kita tidak punya polisi, dan kita tidak bisa membiarkan orang kita sendiri membunuh kelompok kita. Kita menghadapi masalah yang lebih besar. Aku ingin kalian semua bersatu. Aku ingin kalian saling tolong satu sama lain. Kita harus bersikap sebagai satu keluarga.”

Orang² setuju dengan usul ayahku. Mereka berkumpul bersama setiap malam Kamis untuk membicarakan masalah lokal dan membahas pertikaian diantara mereka.
Sebagai imam mesjid, sudah jadi tugas ayahku untuk memberi masyarakat harapan dan menolong mereka memecahkan masalah. Dia adalah wujud Pemerintahan yang terdekat yang bisa mereka miliki. Dia bagaikan seorang ayah bagi mereka. Tapi sekarang dia pun bicara dengan otoritas Hamas – dengan juga otoritas sebagai seorang Syeikh. Seorang Syeikh lebih berkuasa daripada sekedar imam dan lebih sebagai seorang jendral daripada seorang pemimpin agama.

Sejak ayahku pulang tiga bulan lalu, aku mencoba menghabiskan waktu dengannya sebanyak mungkin. Aku sekarang adalah presiden gerakan pelajar Islam di sekolah kami, dan aku ingin mengetahui semua tentang Islam dan belajar Qur’an. Di suatu malam Kamis, aku meminta ijin padanya untuk ikut rapat tetangga. Aku hampir jadi pria dewasa, kataku, dan aku ingin diperlakukan sebagai demikian.

“Tidak,” jawabnya, “kau tinggal di sini. Ini hanya untuk orang² dewasa saja. Aku akan beritahu kamu nanti apa yang terjadi.”
Aku kecewa, tapi mengerti akan keputusannya. Tiada kawanku yang boleh datang di rapat itu pula. Setidaknya aku akan tahu isi rapat setelah ayah kembali.

Maka dia pun pergi selama 2 jam. Ketika ibuku sedang sibuk menyiapkan ikan yang sedap untuk makan malam, seseorang mengetuk pintu belakang. Aku membuka pintu sedikit untuk melihat siapa yang mengetuk, dan kulihat Kapten Shai, orang yang sama yang dulu menangkap ayahku hampir dua tahun yang lalu.
Abuk mawjud?
“Tidak, dia tidak ada di sini.”
“Kalau begitu, buka pintu.”

Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan, maka kubuka pintu baginya. Kapten Shai bersikap sopan, sama seperti ketika dia pertama kali bertemu ayahku, tapi aku merasa dia tidak percaya padaku. Dia bertanya apakah dia boleh melihat-lihat, dan aku tahu bahwa aku tak punya pilihan selain mengijinkannya. Ketika dia mulai memeriksa setiap kamar, lemari, belakang pintu, aku berharap agar ayah tetap berada di rapat dan tidak pulang. Kami tidak punya ponsel di jaman itu, jadi aku tak dapat memperingatkannya. Tapi setelah aku berpikir lebih lanjut, aku menyadari bahwa punya ponsel pun tidak akan menolong. Ayah akhirnya akan pulang juga.

“Semua tetap diam,”
kata Kapten Shai pada kelompok prajurit yang berada di luar. Mereka semua berlindung di belakang semak² dan bangunan², menunggu ayahku. Sambil merasa putus asa, aku duduk di bawah meja dan mendengarkan. Tak lama kemudian terdengar suara keras, “Berhenti di tempat!” Lalu terdengar suara gerakan dan orang² berbicaras. Kami tahu ini bukan perkembangan yang baik. Apakah ayahku akan balik lagi ke penjara?

Beberapa menit kemudian ayah masuk rumah, menggelengkan kepalanya dan tersenyum minta maaf pada kami semua.
“Mereka ingin membawaku kembali,” katanya sambil mencium ibu dan lalu semua anak²nya satu per satu. “Aku tak tahu berapa lama aku akan pergi. Jangan nakal. Tiap orang saling bantu.”
Dia lalu mengenakan jaketnya dan pergi meninggalkan ikan gorengnya yang jadi dingin di atas piringnya.
Sekali lagi kami diperlakukan bagaikan orang buangan saja, bahkan juga oleh para tetangga kami yang ditolong ayah agar bisa selamat dari serangan sesama pihak atau dari pihak luar. Beberapa orang bertanya tentang ayahku dengan sikap khawatir, tapi sudah jelas bagiku bahwa mereka sebenarnya tidak peduli.

Meskipun kami tahu ayah berada di penjara Israel, tiada seorang pun yang memberitahu kami penjara yang mana. Selama tiga bulan kami mencari dia di tiap penjara, sampai akhirnya kami mendengar kabar bahwa dia dipenjara di fasilitas khusus di mana mereka menginterogasi orang² yang paling berbahaya. Kenapa kok begitu? Aku merasa heran. Hamas tidak pernah melakukan serangan teroris dan bahkan tidak bersenjata.

Begitu kami mengetahui di mana ayah ditahan, pejabat Israel mengijinkan kami menemuinya sekali sebulan untuk waktu 30 menit. Hanya dua orang yang boleh menemuinya setiap kali datang, sehingga kami bergiliran datang bersama ibu kami. Ketika pertama kali aku melihatnya, aku terkejut melihat dia membiarkan jenggotnya tumbuh, dan dia tampak lelah. Tapi kami senang sekali bertemu dengannya. Dia tidak pernah mengeluh. Dia hanya ingin tahu bagaimana keadaan kami, dan dia meminta kami menceritakan semua kisah detail kehidupan kami.

Sewaktu aku suatu kali datang menjenguknya, dia memberiku sekantung permen. Dia menjelaskan bahwa para narapidana diberi sebuah permen sehari. Dia tidak memakan permen bagiannya, tapi menyimpannya agar bisa diberikan pada kami. Kami simpan bungkus permen sampai di hari dia dibebaskan lagi.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba jua. Kami saat itu tidak menduga kedatangannya, dan dia tiba² saja muncul dari pintu, kami semua memeluknya erat², takut jikalau itu hanya mimpi saja. Kabar kedatagannya tersebar dengan cepat, dan selama enam jam berikutnya, orang² berdatangan memenuhi rumah kami. Begitu banyak yang datang sampai² gentong² air minum kami kering karena berusaha menyuguhi air minum bagi setiap tamu. Aku merasa bangga melihat bahwa orang² jelas sangat menghormati dan mengagumi ayahku, tapi di waktu yang sama aku pun marah. Kemanakah semua orang ini tatkala ayah berada di penjara?

Setelah semua orang pergi, ayah berkata padaku, “Aku tidak bekerja bagi orang² ini, bukan karena mengharap pujian dari mereka, atau berharap mereka nantinya akan mengurus diriku dan keluargaku. Aku bekerja bagi Allâh. Dan aku tahu kalian semua membayar harga yang mahal sama seperti diriku. Kau pun adalah budak Allâh, dan kau harus bersabar.”

Aku mengerti, tapi aku bertanya dalam hati apakah dia mengetahui dengan jelas seberapa besar penderitaan kami saat dia pergi.
Tatkala kami sedang bicara, terdengar ketukan lagi di pintu belakang. Prajurit² Israel menangkapnya lagi.

Bab 7 – Radikal
1990-1992

Di bulan Agustus 1990, ketika ayahku dipenjara untuk ketiga kalinya, Saddam Hussein menyerang Kuwait.
Orang² Palestina bagaikan gila karena kesenangan. Setiap orang berlarian ke jalanan, bersorak-sorai, dan mencoba melihat apakah ada misil yang turun bagaikan hujan ke Israel. Akhirnya saudara² Arab kami datang untuk menyelamatkan kami! Mereka akan menghajar keras Israel, tepat di jantungnya. Tak lama lagi kami akan merdeka!

Karena memperhitungkan kemungkinan terjadi serangan gas beracun seperti yang dilakukan Saddam terhadap 5.000 orang Kurdi di thaun 1988, maka Pemerintah Israel memberikan masker gas bagi setiap warga Israel. Tapi orang² Palestina hanya menerima satu masker gas untuk setiap rumah. Ibuku mendapat satu, tapi tujuh anak²nya tak punya perlindungan apapun. Maka kami mencoba bersikap kreatif dengan membuat masker sendiri. Kami juga membeli kain nylon dan menempelkannya di pintu² dan jendela² dengan plester. Tapi di pagi harinya, kelembaban udara menyebabkan semua plester terkelupas.

Kami terus menonton siaran TV Israel, dan kami bersorak setiap kali ada peringatan akan datangnya rudal² Iraq. Kami naik ke atas atap rumah untuk melihat rudal² Scud Iraq meledakkan Tel Aviv. Tapi kami tak melihat apapun.

Mungkin Al-Bireh bukanlah tempat yang tepat untuk melihat rudal, begitu pikirku. Aku lalu pergi ke rumah pamanku Daud di Al-Janiya, di mana kami bisa melihat jauh sampai ke Mediterania. Adik lakiku Sohayb ikut bersamaku. Dari atap rumah paman, kami melihat rudal yang pertama. Sebenarnya yang kami lihat hanyalah nyala api, tapi itu pun sudah menjadi pemandangan yang menakjubkan!

Ketika kami mendengar berita bahwa 40 rudal Scud mencapai Israel dan hanya 2 orang Israel yang terbunuh, kami sangat yakin bahwa Pemerintah Israel berdusta. Tapi ternyata kabar itu memang benar. Ketika Iraq berusaha membuat rudal meluncur dalam jangka panjang, maka rudal jadi kehilangan kekuatan dan akurasi tembakan.

Kami tetap tinggal di rumah paman Daud sampai tentara PBB mengusir Saddam Hussein balik ke Baghdad. Aku marah dan sangat kecewa.

“Mengapa perang ini selesai? Israel kan belum hancur? Ayahku juga masih berada di penjara Israel. Tentara Iraq masih harus terus melontarkan rudal!”
Ya, semua warga Palestina kecewa. Setelah berpuluh tahun tinggal di tanah yang diduduki, perang akhirnya dilakukan, rudal² dilontarkan ke Israel. Tapi meskipun begitu, tetap saja tak ada perubahan.

***********************

Setelah Perang Teluk I selesai, ayahku dibebaskan dari penjara. Ibuku mengatakan padanya bahwa dia ingin menjual mahar nikahnya untuk membeli sepetak tanah dan mendapat pinjaman untuk membangun rumah kami sendiri. Selama ini kami meminjam rumah saja, dan setiap kali ayah dipenjara, pemilik rumah berlaku curang dalam penagihan dan bersikap kasar terhadap ibu.

Ayahku terharu karena ibu rela menjual apa yang sangat berharga baginya, tapi dia juga khawatir tidak bisa terus membayar uang pinjaman karena dia bisa dipenjara lagi setiap saat. Meskipun begitu, mereka mengambil keputusan untuk membeli tanah dan membangun rumah di tahun 1992, dan di rumah inilah keluarga kami masih tinggal sampai hari ini di Betunia, dekat Ramallah. Saat itu aku berusia 14 tahun.

Kekerasan di Betunia tidaklah sehebat di Al-Bireh atau Ramallah. Aku mengunjungi mesjid dekat rumah kami yang baru dan ikut bergabung dalam jalsa, yakni kelompok yang menekankan penghafalan Qur’an dan mengajar kita prinsip² yang dianggap para pemimpin Islam akan mampu mendirikan negara Islam dunia.

Beberapa bulan setelah kami pindah, ayahku ditangkap lagi. Seringkali dia tidak didakwa dengan tuduhan tertentu. Karena kami sedang diduduki, hukum darurat mengijinkan Pemerintah Israel menangkap orang² yang dianggap terlibat dalam terorisme. Sebagai pemimpin rohani dan politik, ayahku jadi sasaran empuk.

Tampaknya ini jadi pola yang sama – dan meskipun kami dulu tidak menyadarinya, pola tangkap, lepaskan, dan tangkap lagi akan terus berlangsung selama bertahun-tahun, dan membuat jarak ayah dan keluarga kami semakin renggang. Di saat yang sama, Hamas juga jadi semakin ganas dan agresif karena anggota² muda Hamas menekan para ketua untuk melakukan lebih banyak penyerangan.

“Orang² Israel membunuhi anak² kita!” teriak mereka. “Kami melempar batu, dan mereka menembak kita dengan senapan. Kita sekarang sedang diduduki. PBB dan seluruh badan internasional, setiap orang merdeka di bumi mengakui hak kita untuk berperang. Allâh SAW sendiri mewajibkan kita untuk melakukan itu. Kenapa kita harus menunggu lagi?”

Pada umumnya, serangan² yang dilakukan selama ini dilakukan oleh pribadi² saja, dan tidak diorganisasi. Para pemimpin Hamas tidak punya kontrol atas anggotanya yang punya keinginan sendiri. Tujuan ayahku adalah kemerdekaan Islamiah, dan dia yakin bahwa dia wajib memerangi Israel untuk mendapatkan kemerdekaan. Tapi bagi para pemuda ini, berperang merupakan tujuan akhir mereka dan bukan untuk mengakhiri sesuatu.

Tepi Barat jadi sangat berbahaya, tapi terlebih lagi Gaza. Karena posisi geografisnya, pengaruh yang mendominasi Gaza adalah Persaudaraan Muslim (Muslim Brotherhood) fundamentalis di Mesir. Gaza adalah salah satu daerah terpadat di dunia – luas kamp penampungan ini tak lebih daripada 139 mil persegi dengan penghuni sebanyak lebih dari sejuta orang.

Para keluarga menggantungkan dokumen² pemilikan tanah dan kunci² rumah di tembok² mereka sebagai bukti bisa dan untuk mengingatkan tiap hari bahwa mereka dulu punya rumah dan pertanian yang bagus – ini adalah harta milik yang dirampas oleh pihak Israel setelah perang² terdahulu. Tempat ini merupakan tempat yang ideal untuk merekrut orang² baru. Para penduduk Gaza punya motivasai dan tekad besar. Mereka tidak hanya ditindas oleh orang² Israel saja, tapi juga oleh orang² Palestina – masyarakat mereka sendiri – yang memandang mereka sebagai warga kelas dua. Malah sebenarnya mereka dianggap sebagai pengganggu saja, karena kamp penampungan ini dibangun di tanah milik orang lain.

Kebanyakan para pemuda Hamas yang tak sabar berasal dari kamp² penampungan. Diantara mereka adalah Imad Akel. Imad adalah anak termuda dari tiga anak laki bersaudara. Imad sedang kuliah untuk jadi seorang farmasis ketika dia akhirnya merasa muak akan ketidakadilan dan merasa putus asa. Dia mengambil senjata dan menembak beberapa prajurit Israel, dan mengambil senjata mereka. Orang² lain lalu mengikuti perbuatannya, dan pengaruh Imad semakin besar. Sambil melakukan serangan sendiri tanpa perintah siapapun, Imad membentuk kelompok militer kecil dan pergi ke Tepi Barat, yang memiliki lebih banyak target serangan dan tempat lebih luas untuk bergerak. Aku tahu dari percakapan orang di kota itu bahwa Hamas sangat bangga akan dirinya, meskipun dia tidak punya kedudukan apapun dalam Hamas. Para pemimpin Hamas tidak mau kegiatannya bercampur dengan kegiatan Hamas. Karena itu mereka membentuk sayap militer bernama Brigade Ezzedem Al-Qassam yang diketuai oleh Imad. Tak lama kemudian dia menjadi orang Palestina yang paling dicari Israel.

Hamas sekarang bersenjata. Karena sekarang senapan² dengan cepat mengganti batu, tulisan grafiti, dan bom molotov, Israel menghadapi persoalan yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Jika dulu serangan PLO datang dari Yordania, Lebanon, dan Syria, sekarang serangan datang dari dalam daerah Israel sendiri.

Bab 8 – Mengipas Api
1992-1994

Di tanggal 13 Desember, 1992, lima anggota al-Qassam menculik polisi perbatasan Israel bernama Nissim Toledano dekat Tel Aviv. Mereka menuntut pihak Israel untuk melepaskan Syeikh Ahmed Yassin. Israel menolak. Dua hari kemudian, mayat Toledano ditemukan, dan Israel lalu melancarkan serangan keras terhadap Hamas. Dalam waktu sekejap, lebih dari 1.600 orang Palestina ditangkap. Lalu Israel mengambil keputusan untuk diam² mendeportasi 415 pemimpin Hamas, Jihad Islam (Islamic Jihad), dan Persaudaraan Muslim. Diantara mereka adalah ayahku, yang sedang dipenjara, dan tiga pamanku.

Aku baru berusia 14 tahun saat itu, dan kami tidak tahu apa yang sedang terjadi. Sewaktu berita mulai tersebar, kami akhirnya bisa mengumpulkan keterangan dari sana sini untuk menduga bahwa ayahku kemungkinan dimasukkan ke dalam kelompok guru, pemimpin agama, insinyur, dan pekerja sosial yang diborgol, ditutup mata, dan dimasukkan ke dalam bus. Beberapa jam setelah kabar tersebar, para pengacara dan pejuang HAM mulai mengajukan petisi protes. Bus² dihentikan saat Pengadilan Tinggi Israel bertemu pada jam 5 pagi untuk membahas tantangan² hukum yang diajukan. Selama 14 jam perdebatan, ayahku dan tawanan lain yang bakal dideportasi tetap berada dalam bus. Borgol dan penutup mata tetap dipasang. Tiada makanan. Tiada air minum. Tiada waktu jeda untuk buang air. Akhirnya, pihak pengadilan mendukung keputusan Pemerintah, dan bus² lalu menuju ke utara. Kami nantinya mengetahui bahwa bus² ini dilajukan ke daerah tak bertuan di sebelah selatan Lebanon yang ditutupi salju. Saat itu adalah pertengahan musim dingin, dan para penumpang bus diturunkan di tempat itu tanpa tersedia tempat bernaung. Baik pihak Israel maupun Lebanon tidak memperkenankan badan² kemanusiaan mengirim makanan atau obat²an. Beirut tidak mau mengirim orang² yang sakit dan terluka ke rumah sakit.

Di tanggal 18 Desember, Konsul Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi 799, yang meminta orang² yang dideportasi “dikembalikan dengan segera dengan selamat.” Israel menolak. Kami selalu bisa mengunjungi ayah ketika dia dipenjara, tapi karena perbatasan Lebanon ditutup, kami tidak bisa menemuinya di pengasingan. Dua minggu kemudian, kami akhirnya melihat dia di layar TV untuk pertama kalinya sejak dia dideportasi. Rupanya, para anggota Hamas telah menjulukinya sebagai sekretaris jendral kamp itu, dan merupakan orang kedua setelah Abel Aziz al-Rantissi, ketua Hamas yang lain.

Setiap hari setelah itu, kami menonton berita sambil berharap melihat wajah ayah lagi. Kadangkala kami bisa melihat dia memakai pengeras suara tanduk kerbau untuk memberikan pidato pada orang² yang diasingkan itu. Ketika musim semi tiba, dia bisa mengirim pada kami surat dan foto² yang diambil para wartawan dan anggota organisasi kemanusiaan. Akhirnya orang² yang diasingkan bisa memiliki ponsel dan kami bicara dengan ayah selama beberapa menit setiap minggu.

Dalam usaha menggalang simpati bagi orang² yang diasingkan, pihak media mewawancarai anggota² keluarga mereka. Saudara perempuanku Tasnim membuat seluruh dunia menangis tatkala dia menjerit,Baba! Baba! (Ayah! Ayah!) di hadapan kamera. Entah kenapa, keluarga kami tampaknya jadi wakil tak resmi atas keluarga² lainnya. Kami diundang untuk menghadiri protes, termasuk demonstrasi di hadapan kantor Perdana Menteri Israel di Yerusalem. Ayahku berkata pada kami bahwa dia merasa sangat bangga, dan kami pun senang melihat banyak dukungan dari masyarakat dunia, bahkan orang² Israel yang menuntut perdamaian. Enam bulan kemudian, kami mendengar bahwa 101 orang yang diasingkan diperbolehkan untuk pulang. Seperti keluarga² lainnya, kami sangat berharap ayah ada diantara mereka.
Tapi ternyata dia tidak ada.

Keesokan harinya, kami menemui para pahlawan yang telah kembali dari Lebanon untuk menanyakan apakah ada kabar tentang ayah. Tapi yang hanya bisa mereka sampaikan adalah bahwa dia baik² saja dan akan segera pulang. Tiga bulan berlalu sebelum akhirnya pihak Israel bersedia mengirim semua yang tersisa pulang. Kami senang sekali mendengar hal itu.

Di hari yang telah dijanjikan, kami menunggu dengan tak sabar di penjara Ramallah di mana sisa orang² yang diasingkan akan dibebaskan. Sepuluh orang keluar. Dua puluh. Dia ternyata tidak ada diantara mereka. Orang terakhir lewat di hadapan kami, dan prajurit berkata hanya itu saja yang ada. Tiada sedikit pun tanda² kehadiran ayah dan tiada keterangan apapun tentang keberadaannya. Keluarga² lain menyambut orang yang mereka kasihi dengan penuh suka cita, sedangkan kami diam saja di tengah² malam hari tanpa mengetahui di manakah ayah berada. Kami pulang ke rumah dengan rasa kecewa, putus asa, dan khawatir. Mengapa dia tidak ada diantara mereka? Di manakah dia sekarang?

Keesokan harinya, pengacara ayah memberitahu bahwa ayah kami dan beberapa orang yang dideportasi lainnya telah kembali dipenjara. Rupanya, katanya, deportasi ini tidak menguntungkan pihak Israel. Sewaktu di pengasingan, ayah dan para pemimpin Palestina lainnya malah jadi berita internasional, mendapatkan simpati dunia karena mereka menganggap hukuman yang dijatuhkan berlebihan dan melanggar kemanusiaan. Di seluruh dunia Arab, orang² ini dipandang sebagai pahlawan, dan dengan begitu mereka jadi lebih penting dan berpengaruh.

Deportasi ini juga menimbulkan efek lain yang sangat jelek bagi Israel. Tawanan² menggunakan waktu mereka di pengasingan untuk membangun hubungan antara Hamas dan Hezbollah, organisasi Islam politik dan militer di Lebanon. Pertemuan ini menciptakan hubungan yang bersejarah. Ayah dan para pemimpin Hamas seringkali meninggalkan kamp agar tak terlihat oleh media untuk bertemu dengan para pemimpin Hezbollah dan Persaudaraan Muslim. Hal ini tidak bisa mereka lakukan di dalam daerah Palestina.

Ketika ayah dan orang² tersebut berada di Lebanon, anggota² Hamas yang paling radikal masih bebas dan mereka menjadi jauh lebih ganas daripada sebelumnya. Dan sewaktu anggota² baru radikal berkuasa untuk sementara dalam Hamas, kesenjangan antara Hamas dan PLO semakin lebar.

Di saat itu, Israel dan Yasser Arafat mengadakan negosiasi rahasia, yang menghasilkan Perjanjian Oslo (Oslo Accords) di tahun 1993. Di tanggal 9 September, Arafat menulis surat pada PM Israel Yitzhak Rabin di mana Arafat mengakui secara resmi “hak Negara Israel untuk berdiri dengan aman dan damai” dan menolak “penggunaan terorisme dan segala aksi kekerasan.”

Rabin lalu juga mengakui PLO secara resmi sebagai “perkawilan masyarakat Palestina,” dan Presiden Bill Clinton mencabut larangan pihak Amerika untuk menghubungi PLO. Di tanggal 13 September, dunia terheran-heran melihat foto Arafat dan Rabin berjabatan tangan di Gedung Putih. Pengumpulan pendapat menunjukkan bahwa sebagian besar rakyat Palestina di Tepi Barat dan Baza mendukung isi Perjanjian tersebut, yang juga dikenal sebagai Deklarasi Prinsip (Declaration of Principles = DOP). Dokumen perjanjian ini kemudian menciptakan Otoritas Palestina (Palestinian Authority = PA); yang meminta tentara Israel ditarik dari Gaza dan Yerikho; mengembalikan kekuasaan pada penghuni daerah itu; dan membuka pintu bagi Arafat dan juga bagi PLO dari pengasingan di Tunisia.

Tapi ayahku menentang DOP. Dia tidak percaya akan Israel atau PLO dan karenanya tidak percaya pada proses perdamaian tersebut. Pemimpin Hamas lainnya, jelasnya, punya alasan sendiri dalam menentang DOP, termasuk menduga perjanjian damai itu sebenarnya adalah tongkat pemukul. Hidup berdampingan secara damai dengan Israel berarti berakhirnya Hamas. Dari sudut pandang mereka, organisasi Hamas tidak bisa hidup dalam lingkungan damai. Kelompok² perlawanan lain juga terus saja melakukan kekerasan. Sungguh sukar mencapai perdamaian di mana terdapat begitu banyak tujuan dan minat yang berbeda.

Karena itu, penyerangan terus dilakukan:
○ Seorang pria Israel ditusuk sampai mati pada tanggal 24 September oleh feda’iyin Hamas di sebuah perkebunan di Basra.
○ Barisan Depan Populer bagi Pembebasan Palestina dan Jihad Islam mengatakan bertanggung jawab atas kematian dua orang Israel di gurun pasir Yudea dua minggu kemudian.
○ Dua minggu setelah itu, Hamas menembak mati dua prajurit IDF di luar daerah perumahan Yahudi di Gaza.
Tapi semua pembunuhan ini tidak jadi berita utama media seperti pembantaian Hamas di hari Jum’at, 25 Februari, 1994.

Sewaktu perayaan Yahudi Purim dan bulan suci Muslim Ramadan, seorang dokter Yahudi yang lahir di Amerika bernama Baruch Goldstein masuk Mesjid Al-Haram Al-Ibrahimi di Hebron. Menurut tradisi, Adam dan Hawa, Abraham dan Sarah, Ishak dan Rebeka, dan Yakub dan Lea dikuburkan di mesjid ini. Tanpa peringatan apapun, Goldstein menembaki orang², membunuh 25 orang Palestina yang datang untuk sholat dan melukai lebih dari 100 orang lainnya sebelum dia sendiri akhirnya dipukuli sampai mati oleh massa yang mengamuk.

Kami duduk dan menonton melalui layar TV satu persatu mayat berdarah dibawa dari tempat suci itu. Aku sangat amat terkejut. Semuanya terasa bergerak secara lamban. Di satu saat jantungku berdebar dengan kemarahan yang belum pernah kurasakan sebelumnya, kemarahan yang mengejutkan dan lalu menenangkan diriku. Di menit kemudian, aku merasa beku karena rasa duka. Lalu aku tiba² marah lagi – dan lalu terasa beku lagi. Tapi aku tidak sendirian merasakan hal ini. Tampaknya emosi masyarakat Palestina juga bangkit dan tenggelam dalam ritme yang sureal, dan membuat kami merasa lelah.

Karena Goldstein memakai baju tentara militer Israel dan jumlah prajurit IDF di tempat itu lebih sedikit daripada biasanya, maka orang² Palestina yakin bahwa dia memang dikirim oleh Pemerintah di Yerusalem. Bagi kami, prajurit yang senang menarik pelatuk senjata atau warga sipil Yahudi sinting adalah sama saja dan tak ada bedanya. Hamas sekarang bicara dengan kemarahan meluap. Mereka ingin balas dendam atas pengkhianatan ini.

Pada tanggal 6 April, sebuah bom mobil meledakkan bus di Afula, menewaskan 8 dan melukai 44 orang. Hamas berkata ini adalah pembalasan dendam atas Hebron. Di hari yang sama, dua orang Israel ditembak mati dan empat lainnya terluka saat Hamas menyerang sebuah bus yang sedang berhenti di dekat Ashdod.

Seminggu kemudian, sejarah baru terjadi ketika untuk pertamakalinya Israel mengalami serangan bom bunuh diri pertama yang resmi. Di hari Rabu pagi, tanggal 13 April, 1994 – hari yang sama ayah akhirnya dibebaskan dari penjara setelah dideportasi ke Lebanon – seorang pemuda Palestina usia 21 tahun bernama Amar Salah Diab Amarna masuk ke stasiun bus Hadra yang terletak diantara Haifa dan Tel Aviv di Israel Tengah. Dia membawa tas penuh metal dan lebih dari dua kilogram bahan peledak aseton peroksaid yang dirakit sendiri. Pada jam 9:30, dia naik bus ke Tel Aviv. Sepuluh menit kemudian, sewaktu bus keluar dari stasiun, dia meletakkan tas di lantai dan meledakkannya.

Pecahan bom menembus para penumpang dalam bus, membunuh 6 orang dan melukai 30 orang. Bom pipa yang kedua meledak di tempat yang sama, saat para pekerja palang merah tiba. Ini merupakan “serangan kedua dari lima serangan” sebagai balas dendam bagi Hebron, demikian diumumkan dalam sebuah pamflet Hamas.

Aku merasa bangga atas Hamas dan menganggap serangan² ini sebagai kemenangan besar atas pendudukan Israel. Di usia 15 tahun, aku melihat segalanya dalam hitam dan putih saja. Ada pihak yang baik dan pihak yang jahat. Pihak yang jahat layak menerima segala musibah yang mereka alami. Aku melihat bagaimana besar kehancuran yang disebabkan oleh bom dua kilogram penuh dengan paku² dan kelereng² metal terhadap daging manusia. Kuharap pihak Israel menangkap pesan keras kami.
Mereka ternyata memang menangkap pesan dengan jelas.

Setiap kali terjadi pemboman bunuh diri, para sukarelawan Yahudi Ortodox yang dikenal sebagai ZAKA (Disaster Victim Identification = Pengenalan Korban Musibah) datang di tempat, mengenakan rompi kuning. Tugas mereka adalah mengumpulkan darah dan sisa² tubuh manusia – termasuk korban non-Yahudi dan pembom sendiri – dan semuanya lalu dibawa ke pusat forensik di Jaffa. Para ahli patologi di sana bertugas mengumpulkan data bagian² tubuh yang tersisa untuk mengetahui jati diri korban. Seringkali hanya test DNA saja yang bisa menghubungkan sisa tubuh seseorang dengan sisa tubuhnya yang lain.

Anggota keluarga korban yang belum menemukan keluarga mereka diantara yang terluka di rumah sakit-rumah sakit lokal akan dianjurkan untuk memeriksa di Jaffa, di mana akhirnya kebanyakan dari mereka jadi terkejut bercampur rasa duka yang besar.

Para ahli patologi seringkali menasehati para keluarga untuk tidak melihat sisa² tubuh korban. Mereka memberitahu bahwa sebaiknya pihak keluarga mengingat keluarga yang mereka cintai sebagaimana mereka utuh sewaktu masih hidup. Tapi kebanyakan dari keluarga tetap ingin menyentuh tubuh korban keluarga mereka, bahkan jika yang tersisa hanyalah sebuah tapak kaki saja.
Karena hukum Yahudi mewajibkan seluruh tubuh mayat dikubur di hari yang sama orang itu mati, mereka pertama mengubur sisa² tubuh yang berukuran besar. Bagian² tubuh yang kecil dikuburkan kemudian, setelah identifikasi DNA dilakukan, dan ini mengorek lagi luka yang telah diderita para anggota keluarga.

Meskipun Hadera adalah pembom bunuh diri resmi yang pertama, sebenarnya usahanya adalah usaha ketiga bom bunuh diri yang dilakukan, dan ini merupakan bagian dari fase uji coba yang dilakukan ahli bom Hamas bernama Yahya Ayyash dalam menyempurnakan hasil karyanya. Ayyash adalah mahasiswa teknik di Universitas Birzeit. Dia bukanlah Muslim radikal atau pejuang nasionalis. Dia marah hanya karena dia dulu pernah meminta ijin untuk melanjutkan studinya di negara lain, dan Pemerintah Israel menolak permintaannya. Karena itu dia lalu bikin bom² dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Palestina dan menjadi orang yang paling dicari Israel.

Selain dua usaha bom bunuh diri yang gagal dan pemboman bunuh diri di tanggal 6 dan 13 April, Ayyah pada akhirnya bertanggungjawab atas kematian sedikitnya 39 orang dalam lima serangan bunuh diri berikutnya. Dia juga mengajar yang lain, seperti kawannya Hassan Salameh, untuk membuat bom.

******************

Selama Perang Teluk, Yasser Arafat mendukung serangan Saddam Hussein ke Kuwait, dan ini membuat dia dijauhi Amerika Serikat dan negara² Arab yang mendukung tentara sekutu melawan Iraq. Karena ini pulalah maka negara² itu mengalihkan dana bantuan keuangan dari PLO ke Hamas.

Meskipun begitu, Arafat tetap terpandang karena berhasil menciptakan Perjanjian Oslo. Setahun kemudian, dia, PM Israel Yitzhak Rabin, dan Menlu Israel Shimon Peres menerima Hadiah Perdamaian Nobel.
Perjanjian Oslo mewajibkan Arafat untuk mendirikan Pemerintahan Nasional Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Maka pada tanggal 1 Juli, 1994, dia berkunjung ke perbatasan Mesir yakni Rafah, dekat Gaza, dan lalu tinggal di sana.

“Kesatuan nasional,” katanya pada kumpulan massa yang merayakan dia kembali dari pengasingan, “adalah … perisai kita, perisai masyarakat kita. Kesatuan. Kesatuan. Kesatuan.” [3] Tapi daerah² Palestina sangatlah tidak bersatu.
[3] “Kembalinya Arafat: Kesatuan adalah Perisai Masyarakat Kita,” New York Times, 2 Juli, 1994, http://www.nytimes.com/1994/07/02/world … eople.html (diakses tanggal 23 November, 2009).

Hamas dan pendukungnya marah terhadap Arafat yang telah mengadakan pertemuan rahasia dengan Israel dan berjanji pada masyarakat Palestina bahwa mereka tidak perlu lagi berperang. Teman² kami masih berada di penjara² Israel. Kami tidak punya negara Palestina. Satu²nya otonomi yang kami miliki hanyalah kota Yerikho di Tepi Barat – kota kecil yang tak punya apapun – dan Gaza yang hanya sekedar kamp penampungan besar dan terlalu padat terletak dekat pantai.

Sekarang Arafat duduk bersama dengan orang² Israel di meja yang sama dan berjabatan tangan. “Bagaimana dengan darah orang² Palestina?” tanya kami pada satu sama lain. “Apakah dia menganggap darah itu murah sekali?”

Di lain pihak, sebagian orang Palestina beranggapan bahwa setidaknya PA menyerahkan Gaza dan Yerikho pada kami. Sedangkan apa yang dicapai Hamas selama ini bagi kami? Apakah Hamas berhasil membebaskan satu desa kecil Palestina saja?

Mungkin pemikiran mereka masuk akal. Tapi Hamas tidak percaya pada Arafat – terutama karena dia tidak keberatan akan Negara Palestina di dalam Israel dan bukannya merebut kembali seluruh daerah Palestina sebelum negara Israel berdiri.

“Kalian ingin kami berbuat apa?” tanya Arafat dan para juru bicaranya setiap kali mereka didesak. “Selama berpuluh tahun, kami memerangi Israel dan menyadari kami tidak akan bisa menang. Kami dibuang dari Yordania dan Lebanon dan terdampar di Tunisia yang jauhnya lebih dari 1.000 mil dari tempat asal. Masyarakat internasional juga menentang kami. Kami tak punya kekuatan. Uni Sovyet rubuh, dan membuat AS menjadi satu²nya negara adidaya, dan AS juga mendukung Israel. Kami diberi kesempatan untuk mendapatkan semua yang kami miliki sebelum terjadi Perang Enam Hari di 1967 dan untuk memerintah diri kami sendiri. Inilah kesempatan yang kami ambil.”

Beberapa bulan sebelum tiba di Gaza, Arafat mengunjungi Ramallah untuk pertama kalinya. Diantara lusinan para pemimpin agama, politik, dan bisnis, ayahku berdiri dalam barisan orang yang menyambut Arafat. Ketika pemimpin PLO itu tiba di hadapan Syeikh Hassan Yousef, dia mencium tangan ayahku, sebagai tanda bahwa dia mengakuinya sebagai pemimpin agama dan juga pemimpin politik.

Tahun berikutnya, ayahku dan para pemimpin Hamas sering bertemu dengan Arafat di kota Gaza dalam usaha rujuk dan menyatukan PA dan Hamas. Tapi pembicaraan gagal ketika Hamas akhirnya menolak untuk berpartisipasi dalam proses perdamaian. Perbedaan ideologi dan tujuan kami tidak dapat disatukan.

******************

Perubahan Hamas menjadi organisasi teroris sepenuhnya telah lengkap sudah. Banyak dari anggota mereka yang telah memanjat tangga Islam dan berada di puncak tangga. Para pemimpin politik moderat seperti ayahku tidak akan memberitahu para militan bahwa yang mereka lakukan salah. Para pemimpin itu tidak bisa mengatakan begitu; atas dasar apa perbuatan militan itu dianggap salah? Para militan itu didukung sepenuhnya oleh Qur’an.

Meskipun belum pernah membunuh orang secara langsung, ayahku setuju saja dengan serangan² yang dilakukan. Pihak Israel yang tak mampu menemukan dan menangkap militan² muda yang ganas, jadi mengarah pada sasaran empuk seperti ayahku. Kupikir mungkin mereka mengira karena ayah adalah pemimpin Hamas yang memerintahkan penyerangan² tersebut, keputusan memenjarakan ayah akan bisa menghentikan serangan. Tapi pihak Israel tidak pernah benar² berusaha untuk mencari tahu siapa dan apakah Hamas sebenarnya. Baru setelah bertahun-tahun penuh derita, akhirnya mereka bisa menyadari bahwa Hamas bukanlah organisasi biasa yang bertingkat dan punya aturan seperti organisasi yang umumnya dikenal orang. Hamas itu bagaikan hantu. Hamas adalah sebuah gagasan. Kau tidak dapat menghancurkan sebuah gagasan; kau hanya bisa membangkitkannya. Hamas itu bagaikan cacing pita yang jika dipotong kepalanya, maka kepala itu akan tumbuh jadi seekor cacing yang baru.

Masalahnya adalah tujuan dan cita² organisasi Hamas hanyalah ilusi belaka. Syria, Lebanon, Iraq, Yordania, dan Mesir telah  berkali-kali mencoba dan gagal untuk mendorong Israel tenggelam ke laut dan merubah tanah itu menjadi negara Palestina. Bahkan Saddam Hussein dan rudal² Scud-nya juga gagal. Agar jutaan pengungsi Palestina bisa mendapatkan kembali rumah, tanah pertanian, dan harta benda mereka yang hilang lebih dari 50 tahun yang lalu, Israel harus mau berganti tempat dengan mereka. Dan karena hal ini tidak akan pernah terjadi, maka Hamas itu bagaikan tokoh Sisyfus dalam mythologi Yunani – dia dikutuk selamanya untuk menggulirkan batu bundar besar pada bukit terjal yang menanjak, hanya untuk kemudian melihat batu itu menggelundung lagi ke bawah, dan tidak akan pernah mencapai puncak bukit.

Tokoh Sisyfus dalam dongeng Yunani.

Meskipun begitu, Muslim yang menyadari bahwa missi Hamas adalah sia² belaka tetap beriman bahwa Allâh suatu hari akan menghancurkan Israel, bahkan jika dia harus melakukannya melalui muzizat.

Bagi Israel, nasionalis PLO adalah masalah politik yang butuh solusi politik. Di lain pihak, Hamas adalah masalah Palestina yang diIslamisasikan, dan membuat itu jadi masalah agama. Dengan begitu, masalah ini hanya bisa dipecahkan melalui solusi agama, dan ini juga berarti masalah itu tidak akan pernah bisa dipecahkan karena kami beriman bahwa tanah itu milik Allâh. Titik. Pembicaraan selesai. Jadi bagi Hamas, masalah utama bukanlah kebijaksanaan politik Israel, melainkan keberadaan negara Israel itu sendiri.

Lalu bagaimana dengan ayahku? Apakah dia juga jadi seorang teroris? Di suatu sore, aku membaca berita utama di koran tentang bom bunuh diri (atau disebut sebagai “operasi syahid” oleh sebagian Hamas) yang membunuh banyak penduduk sipil, termasuk para wanita dan anak². Sungguh mustahil bagiku untuk menghubungkan kebaikan sifat ayahku dan kepemimpinannya dengan organisasi yang melakukan hal semacam itu. Aku menunjukkan artikel itu padanya dan bertanya pendapatnya akan perbuatan² membunuh seperti itu.
“Suatu kali,” jawabnya, “aku meninggalkan rumah dan diluar tampak sebuah serangga. Aku berpikir dua kali untuk membunuhnya atau tidak. Dan aku tak sanggup membunuhnya.” Jawaban tak langsung ini adalah caranya berkata bahwa dia secara pribadi tidak akan ikut dalam pembunuhan membabibuta seperti itu. Tapi warga sipil Israel bukanlah serangga.

Ayahku memang tidak merakit bom², mengikatkannya di tubuh pembom bunuh diri, dan menyeleksi target sasaran ledak. Bertahun-tahun kemudian aku mengenang jawaban ayahku ketika aku membaca kisah di Alkitab Perjanjian Baru tentang perajaman pemuda tak berdosa bernama Stefanus. Tertulis di situ bahwa, “Saulus berada di situ, memberi persetujuan Stefanus mati dibunuh” (Kisah Para Rasul 8:1).

Aku sangat mencintai ayahku, dan aku sangat mengagumi dirinya dan perjuangannya. Tapi bagi seorang pria yang tak tega untuk menyakiti serangga, dia tentunya menemukan cara untuk membenarkan tindakan meledakkan diri sendiri dengan tujuan membunuh orang lain menjadi serpihan daging, selama dia pribadi tidak membasahi tangannya dengan darah.
Pada saat itu, pandanganku terhadap ayah berubah menjadi lebih rumit.

Bersambung ke  Bab 9-12

Bab 1-4 ; Bab 5-8 ; Bab 13-16 ; Bab 17-20 ; Bab 21-24

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s