Son of Hamas (Putra Hamas). Bab 9-12

Bab 9 – Persenjataan
Musim Dingin 1995 – Musim Semi 1996

Setelah Perjanjian Oslo, masyarakat internasional berharap Pemerintahan Palestina bisa mengontrol Hamas. Di hari Sabtu, 4 November, 1995, aku sedang menonton TV ketika laporan berita darurat tiba² diumumkan. Yitzhak Rabin ditembak ketika sedang kampanye perdamaian di Lapangan Raja² (Kings Square) di Tel Aviv. Tampaknya hal ini serius. Dua jam kemudian, penyiar mengatakan Yitzhak Rabin telah mati.

“Wow!” teriakku keras pada diri sendiri. “Ternyata orang Palestina mampu membunuh Perdana Menteri Israel! Ini seharusnya terjadi dari dulu.” Aku sangat senang atas kematiannya dan kerusakan yang diakibatkan pada PLO dan persetujuannya dengan Israel.

Lalu telepon berdering. Aku seketika mengenal suara orang di seberang. Orang itu adalah Yasser Arafat, dan dia ingin bicara dengan ayahku.

Aku mendengar saat ayah bicara di telepon. Dia tidak banyak bicara; sikapnya tetap ramah dan sopan, dan tampak setuju dengan apapun yang dikatakan Arafat di tempatnya.
“Aku mengerti,” kata ayah. “Selamat tinggal.” Lalu ayah berpaling padaku. “Arafat meminta agar kita mencegah Hamas merayakan kematian sang Perdana Menteri,” katanya. “Pembunuhan ini adalah kehilangan besar bagi Arafat karena Rabin menunjukkan keberanian besar dalam melakukan perjanjian damai dengan PLO.”

Kami kemudian mengetahui bahwa Yitzhak Rabin ternyata tidak dibunuh oleh orang Palestina. Dia ditembak dari belakang oleh mahasiswa hukum Israel (Yigal Amir). Banyak anggota Hamas yang kecewa atas fakta ini. Aku sendiri heran bahwa ternyata ada fanatik Yahudi yang bertujuan sama dengan Hamas.

Pembunuhan ini membuat dunia semakin menuntut Arafat untuk mengontrol daerah Palestina. Maka dia lalu melancarkan serangan besar²an terhadap Hamas. Para polisi PA datang ke rumah kami, meminta ayah untuk mempersiapkan diri, dan membawanya untuk ditawan di tempat tinggal Arafat. Arafat selalu memperlakukannya dengan rasa hormat dan keramahan terbaik.

Meskipun begitu, untuk pertamakalinya orang² Palestina memenjarakan sesama orang Palestina. Hal ini sungguh menyedihkan, tapi setidaknya mereka memperlakukan ayahku dengan hormat. Tidak seperti tawanan yang lain, ayah diberi kamar yang nyaman, dan Arafat kadangkala mengunjunginya untuk membicarkan berbagai masalah.

Tak lama kemudian semua pemimpin utama Hamas, dan juga ribuan anggotanya dimasukkan ke dalam penjara² Palestina. Banyak dari mereka yang disiksa saat interogasi. Sebagian bahkan mati. Tapi mereka yang berhasil menghindari penangkapan menjadi pelarian, dan terus melakukan serangan terhadap Israel.

Sekarang kebencianku jadi bercabang. Aku benci Pemerintah Israel dan Yasser Arafat, aku benci Israel, dan aku benci orang² Palestina yang sekuler. Mengapa ayahku yang cinta Allâh dan masyarakatnya harus sangat menderita, sedangkan orang² tak bertuhan seperti Arafat dan PLO-nya diberi kemenangan besar oleh orang² Israel – padahal Qur’an menyebut para Yahudi ini sebagai babi dan monyet? Masyarakat internasional bertepuk tangan memuji Israel karena mengakui hak teroris Arafat dan anteknya untuk eksis.
Aku berusia 17 tahun dan hanya beberapa bulan saja sebelum lulus SMA. Setiap kali aku mengunjungi ayah di penjara atau membawa makanan dari rumah dan hal lain yang menyenangkan dirinya, dia berpesan padaku, “Satu²nya hal yang harus kau lakukan adalah lulus ujian. Fokus pada sekolahmu. Jangan khawatir akan diriku. Aku tidak mau pendidikanmu terganggu.” Tapi hidup sudah tak bermakna lagi bagiku. Aku tidak bisa berpikir apapun selain bergabung dengan sayap militer Hamas dan membalas dendam pada Israel dan Pemerintah Palestina. Aku mengenang segala sesuatu yang telah kulihat dalam hidupku. Apakah semua perjuangan dan pengorbanan akan berakhir seperti ini, dalam perjanjian damai murahan dengan Israel? Jikalau aku mati berperang, setidaknya aku akan mati syahid dan masuk surga.

Ayahku tidak pernah mengajarku untuk membenci, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menghindari perasaan itu. Meskipun dia dengan penuh semangat menentang pendudukan, dan meskipun kupikir dia tidak akan ragu memerintahkan pemboman nuklir terhadap Israel jika dia memiliki bom tersebut, dia tidak pernah menjelek-jelekkan orang Yahudi, tidak seperti yang sering dilakukan para pemimpin Hamas rasis. Dia lebih tertarik pada elohim Qur’an daripada politik. Allâh telah memberi kami tanggung jawab untuk melenyapkan bangsa Yahudi, dan ayahku tidak mempertanyakan perintah itu, meskipun dia secara pribadi tidak punya masalah dengan mereka.

“Bagaimana hubunganmu dengan Allâh?” tanya ayah setiap kali aku menemuinya. “Apakah kau sholat hari ini? Meluangkan waktu baginya?” Dia tidak pernah berkata, “Aku ingin kau menjadi mujahid (pejuang gerilya) yang baik.” Pesannya padaku sebagai anak laki sulungnya selalu saja, “Berbuatlah baik terhadap ibumu, Allâh, dan masyarkatmu.”

Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa begitu penuh belas kasih dan pemaaf, bahkan terhadap para prajurit yang berkali-kali datang untuk menangkapnya. Dia memperlakukan mereka bagaikan anak². Ketika aku membawa makanan baginya di pusat PA, dia seringkali mengajak para penjaga untuk bergabung bersama kami dan makan makanan daging dan nasi yang khusus dimasak ibu. Beberapa bulan kemudian, para penjaga PA juga mengasihi ayahku. Sungguh mudah bagiku untuk mencintai ayah, tapi dia juga adalah orang yang sungguh sukar dimengerti.

Dengan penuh kemarahan dan nafsu balas dendam, aku mulai mencari senjata². Meskipun senjata tersedia di daerah kami saat itu, harganya sangat mahal, dan aku hanyalah pelajar SMA miskin yang tak berduit. Ibrahim Kiswani adalah teman kelas yang berasal dari desa di sebelah Yerusalem. Dia pun punya minat yang sama denganku dan dia berkata bahwa dia bisa menyediakan uang yang kami butuhkan – meskipun tidak cukup untuk beli senapan otomatis, tapi cukup untuk beli sebuah pistol. Aku bertanya pada saudara sepupuku Yousef Daud di mana aku bisa beli pistol.

Yousef dan aku tidaklah terlalu akrab, tapi aku tahu dia punya beberapa koneksi.
“Aku punya dua teman di Nablus yang mungkin bisa menolong,” katanya padaku. “Apa yang ingin kau lakukan dengan senjata itu?”
“Setiap keluarga punya senjata,” kataku berbohong. “Aku ingin melindungi keluargaku.”
Tapi ini bukan sepenuhnya bohong. Ibrahim tinggal di desa di mana setiap keluarga memang punya senjata untuk bela diri, dan dia bagaikan saudara dekat bagiku.
Selain karena ingin balas dendam, kupikir sebagai remaja tentunya menyenangkan untuk punya pistol. Aku tidak lagi tertarik dengan sekolah. Buat apa pergi ke sekolah di negara gila ini?
Akhirnya di suatu sore aku dihubungi per telepon oleh saudara sepupu Yousef.
“Oke, kita akan pergi ke Nablus. Aku tahu seseorang yang bekerja bagi pasukan keamanan PA. Kupikir dia bisa memberi kita sebuah pistol,” katanya.

Ketika kami tiba di Nablus, seseorang menemui kami di pintu rumah kecil dan membawa kami masuk. Di dalam rumah dia memperlihatkan senapan² mesin Swedia Carl Gustav M45 dan sebuah Port Said, jenis senjata serupa versi Mesir. Dia membawa kami ke tempat terpencil di pegunungan dan menunjukkan pada kami bagaimana menggunakan senjata² itu. Ketika dia bertanya apakah aku ingin mencoba, jantungku berdebar-debar. Aku tidak pernah menembak dengan sebuah senapan mesin sebelumnya, dan tiba² aku merasa takut.

“Tidak, aku percaya kamu,” kataku padanya. Aku beli dua buah senapan Gustav dan sebuah pistol dari orang itu. Aku menyembunyikan senjata² ini di pintu mobil, menaburi merica hitam di atasnya agar anjing² polisi Israel tidak berminat menciumnya di pos² penjagaan.

Sewaktu sedang menyetir mobil kembali ke Ramallah, aku menelpon Ibrahim.
“Hey, aku udah dapet barangnya, lho!”
“Benar begitu?”
“Iya, benar.”

Kami tahu sebaiknya tidak menggunakan kata² seperti pistol² atau senjata² karena kemungkinan telepon disadap Israel. Kami lalu berjanji bertemu di suatu tempat di mana Ibrahim lalu mengambil “barang²nya” dan kami lalu pisah.
Saat itu adalah musim semi 1996, dan aku baru saja berusia 18 tahun, dan sekarang bersenjata.

******************

Di suatu malam, Ibrahim menelponku, dan aku bisa mengetahui dari suaranya bahwa dia sangat marah.
“Senapan² mesinnya tidak berfungsi!” dia berteriak ke telepon.
“Ngomong apa sih kau?” aku berkata balik, berharap tiada yang mendengar percakapan kami.
“Senapan²nya tidak bisa dipakai,” dia mengulangi lagi, “Kita ditipu!”
“Aku tidak bisa bicara sekarang,” kataku padanya.
“Baik, tapi aku ingin bertemu denganmu malam ini.”
Ketika dia tiba di rumahku, aku seketika mengecamnya.
“Kau gila ya ngomong seperti itu di telepon?” kataku.
“Aku tahu, tapi senapan² mesinnya tidak berfungsi. Pistolnya sih oke, tapi senapan²nya tidak bisa digunakan untuk menembak.”
“Baiklah, senapan² itu tak bisa dipakai. Tapi apakah kau tahu cara menggunakannya dengan benar?”

Dia meyakinkan aku bahwa dia tahu benar bagaiman menggunakan senjata² tersebut, jadi aku berkata akan mengurus masalah itu. Karena ujian akhir SMA tinggal dua minggu lagi, aku sebenarnya tidak punya waktu. Meskipun demikian aku berjanji untuk membawa senjata² kembali pada Yousef.
“Wah, payah nih,” kataku pada Yousef ketika bertemu dengannya. “Pistolnya sih berfungsi dengan baik, tapi senapan² mesinnya tidak. Telepon temanmu di Nablus agar kami setidaknya bisa mendapat kembali uang kami.” Dia berjanji untuk mencoba.

Di keesokan harinya, saudara lakiku Sohayb memberitahu kabar menegangkan. “Pasukan keamanan Israel datang ke rumah tadi malam, mencari dirimu,” katanya dengan suara yang khawatir. Pikiranku pertama adalah, Kami kan belum membunuh siapapun! Aku ketakutan, tapi juga merasa penting karena tampaknya aku mulai dianggap berbahaya oleh pihak Israel. Ketika aku menjenguk ayahku kemudian, dia sudah mendengar bahwa prajurit² Israel mencari diriku.
“Apakah yang terjadi?” katanya tajam. Aku memberitahu apa yang terjadi dengan jujur, dan dia jadi sangat marah. Melalui kemarahannya, aku bisa melihat dengan jelas bahwa dia sebenarnya kecewa dan khawatir.
“Ini sangat serius,” dia memperingatkan aku. “Mengapa kau sampai mendapatkan masalah seperti ini? Kau seharusnya mengurus ibumu, adik² laki dan perempuanmu, dan bukannya lari dari pihak Israel. Tidakkah kau mengerti bahwa mereka akan menembakmu?”

Aku pulang, dan mulai mengepak pakaian dan buku² sekolah, dan meminta pelajar² Persaudaraan Muslim untuk menyembunyikan diriku sampai aku bisa mengikuti ujian akhir dan tamat SMA. Ibrahim ternyata tidak mengetahui keseriusan keadaan. Dia terus meneleponku, bahkan juga ke ponsel ayahku.
“Apa sih yang terjadi? Ada apa denganmu? Aku berikan semua uangku. Aku minta uang itu kembali.”

Aku beritahu dirinya bahwa pasukan keamanan telah mengunjungi rumahku, dan dia mulai berteriak-teriak dan tak berhati-hati lagi dengan kata²nya di telepon. Aku cepat² mematikan telepon sebelum dia bisa membahayakan dirinya lebih lanjut. Tapi keesokan harinya, IDF muncul di rumahnya, menggeledah, dan menemukan pistol itu. Mereka segera menangkapnya.  Aku merasa sangat putus asa. Aku percaya pada orang yang salah. Ayahku dipenjara, dan dia kecewa akan diriku. Ibuku sangat khawatir akan diriku. Aku harus menghadapi ujian akhir. Dan sekarang aku dicari-cari prajurit Israel.   Bagaimana mungkin keadaan bisa jadi lebih jelek daripada sekarang?

Bab 10 – Rumah Jagal
1996

Meskipun aku mencoba untuk berhati-hati, pasukan keamanan Israel berhasil melacakku. Mereka telah menyadap percakapan teleponku dengan Ibrahim. Sekarang beginilah nasibku, diborgol dan ditutup mata, dijejalkan ke bagian belakang Jeep, sambil berusaha menghindar sodokan popor senapan sebisa mungkin.

Akhirnya Jeep itu berhenti. Rasanya perjalanan berlangsung berjam-jam. Pengikat tangan terasa menusuk tajam ke pergelangan tanganku sewaktu prajurit menarik lenganku untuk berdiri dan mendorongku naik tangga. Aku sudah tidak merasakan apapun pada tanganku. Di sekitarku, aku mendengar suara orang² bergerak dan berteriak dalam bahasa Ibrani.

Aku dibawa masuk ke sebuah ruangan kecil di mana pengikat tangan dan mataku dibuka. Sambil memicingkan mata karena silau cahaya lampu, aku berusaha melihat keadaan. Kecuali sebuah meja kecil di sudut, ruangan itu kosong. Aku menduga-duga apakah yang nanti dilakukan para prajurit itu padaku. Interogasi? Pemukulan lagi? Siksaan? Aku tidak perlu menduga terlalu lama. Hanya dalam beberapa menit saja, seorang prajurit muda membuka pintu. Dia mengenakan cincin pada hidungnya, dan dia bicara dengan aksen Rusia. Dia adalah prajurit yang telah memukuliku di belakang Jeep. Sambil mencekal lenganku, dia menggiringku melalui koridor yang panjang dan berliku, dan akhirnya masuk ke ruang kecil. Tampak peralatan pengukur tekanan darah, monitor, komputer, dan TV kecil di atas sebuah meja tua. Bau yang memuakkan menerjang hidungku sewaktu aku masuk ruangan, sehingga rasanya mau muntah lagi.

Seorang lelaki memakai baju dokter masuk ruangan, dan dia tampak lelah dan murung. Dia tampak heran melihat muka dan mataku yang babak belur, yang sekarang sudah membengkak dua kali dari ukuran asli. Tapi andaikata dia mengkhawatirkan keadaanku, hal itu tak tampak sama sekali. Aku telah melihat dokter binatang yang lebih berbelas kasihan pada binatang yang diperiksanya daripada dokter yang sekarang memeriksaku.

Seorang penjaga berbaju polisi masuk. Dia membalikkan tubuhku, memasang kembali pengikat tangan, dan memasang penutup seluruh kepala berwarna hijau di kepalaku. Sekarang aku tahu sumber bau busuk itu. Penutup kepala itu baunya seperti belum pernah dicuci. Aromanya berasal dari gigi yang tak pernah digosok dan bau mulut ratusan tawanan yang mengenakannya. Aku berusaha menahan napas. Tapi setiap kali aku menarik napas, aku menghisap kain busuk itu ke dalam mulutku. Aku jadi panik dan tercekik tapi aku tidak bisa bebas dari kain penutup itu.

Penjaga memeriksa diriku, mengambil semuanya, termasuk sabuk dan tali sepatu. Dia mencekal penutup kepalaku dan menyeretku melalui koridor lagi. Belok kanan. belok kiri. Kanan. Kanan lagi. Aku tidak tahu sedang berada di mana dan kemana aku dibawa.

Akhirnya kami berhenti dan kudengar dia mengeluarkan kunci. Dia membuka pintu yang terdengar berat dan tebal. “Tangga,” katanya. Dan aku menuruni beberapa anak tangga. Melalui penutup kepala aku bisa melihat sinar yang berkejap, yang biasanya kau lihat di sirine mobil polisi.

Penjaga menarik lepas penutup kepala, dan aku aku berdiri di hadapan baris gorden. Di sebelah kanan aku melihat keranjang penuh penutup kepala. Kami menunggu beberapa menit sampai akhirnya suara dari balik gorden mengijinkan kami masuk. Penjaga memasang borgol di pergelangan kakiku dan menutupi kepalaku dengan penutup kepala lain. Dia lalu menarik bagian depannya sehingga aku turut maju menembus gorden.

Udara dingin menyembur dari lubang udara, dan musik terdengar keras dari arah lain. Koridor ini tentunya sempit sekali karena tubuhku kerap membentur tembok di sebelah kanan dan kiri. Aku merasa pusing dan lelah. Akhirnya kami berhenti lagi. Penjaga itu membuka pintu dan mendorong aku masuk. Dia melepaskan penutup kepala dan pergi, sambil mengunci pintu yang berat di belakangnya.

Aku melihat sekeliling, mengamati keadaan sekitar. Sel ini berukuran 6 kaki persegi (sekitar 2 meter persegi) – cukup untuk sebuah matras kecil dan dua buah selimut. Orang yang dulu tinggal di sini telah menggulung selimut menjadi bantal. Aku duduk di atas matras; rasanya lengket dan baunya seperti penutup kepala. Aku tutup hidungku dengan lengan bajuku, tapi lengan bajuku tercemar muntahanku. Sebuah lampu redup tergantung di atap langit, tapi tak ada tombol untuk mematikan atau menyalakannya. Celah kecil di pintu adalah satu²nya jendela di ruangan itu. Udara terasa sesak, lantai basah, dan tembok ditutupi lumut. Serangga merayap di mana². Semuanya terasa busuk, kotor, dan jelek.

Aku duduk di tempat itu untuk waktu yang lama, tidak tahu harus berbuat apa. Aku ingin buang air dan lalu berdiri menggunakan toilet karatan di sudut ruangan. Aku tekan handel untuk menyiram dan aku langsung menyesal. Kotoran bukannya masuk lubang, tapi air malahan meluap mengotori lantai, membuat matras basah.

Aku duduk di satu²nya sudut yang masih kering di ruangan itu dan mencoba berpikir. Benar² tempat yang menjijikan untuk bermalam! Mataku berdenyut-denyut dan terasa panas. Sukar bernapas di ruangan itu. Rasa panas sel sungguh tak tertahankan, dan bajuku yang penuh keringat melekat erat pada tubuhku.

Aku tidak makan dan minum sejak minum susu kambing di rumah ibu. Sekarang bau muntah susu itu melumuri semua baju dan celanaku. Terdapat sebuah pipa menjulur di dinding. Aku putar handelnya dengan harapan air akan keluar. Tapi yang keluar adalah cairan kental berwarna coklat.

Jam berapa sekarang? Apakah mereka akan meninggalkanku di sini sepanjang malam?
Kepalaku berdenyut-denyut. Aku tahu aku tidak akan bisa tidur. Yang bisa kulakukan hanyalah berdoa pada Allâh saja.
Lindungi aku, begitu pintaku. Selamatkan aku dan segera bawa aku kembali kepada keluargaku.
Melalui pintu baja tebal, aku bisa mendengar suara musik yang keras dari jarak jauh – lagu yang sama diulang-ulang terus-menerus. Aku mendengar lirik lagu untuk membantuku menghabiskan waktu.

‘They sentenced me to twenty years of boredom
(mereka menghukum aku 20 tahun penuh kebosanan)
For trying to change the system from within
(Karena mencoba mengubah sistem dari dalam)
I’m coming now, I’m coming to reward them
(Sekarang aku datang, aku datang untuk membalas mereka)
First we take Manhattan, then we take Berlin
(Pertama-tama kita ambil Manhattan, lalu Berlin)
[4]
[4] Leonar Cohen, “First We Take Manhattan” copyright @ 1988 Leonar Cohen, Stranger Music, Inc..

Dari jauh kudengar banyak pintu dibuka dan ditutup. Perlahan suara mendekat. Lalu seseorang membuka pintu selku, sebuah nampan biru didorong masuk, dan lalu pintu ditutup keras lagi. Aku melihat nampan yang sekarang berada di atas isi jamban yang tadi meluap. Di atas nampan itu terdapat sebutir telur rebus, sepotong roti, sesendok yougurt yang berbau masam, tiga butir zaitun, dan air dalam cangkir plastik. Ketika aku hendak meminum air itu, aku mencium baunya yang aneh. Aku minum sedikit dan lalu menggunakan air untuk mencuci tanganku. Aku makan semua yang ada di nampan, tapi aku masih lapar. Apakah ini sarapan pagi? Jam berapakah sekarang? Mungkin sore hari.

Ketika aku sedang berbaring memikirkan berapa lama aku berada di situ, pintu sellku dibuka. Seseorang – atau sesosok makhluk – berdiri di situ. Apakah dia itu manusia? Tubuhnya pendek, tampak setua 75 tahun, dan kelihatan seperti kera besar yang bungkuk. Dia berteriak padaku dengan aksen Rusia, mengutuk aku, mengutuk Allah, dan meludahi wajahku. Aku tidak bisa membayangkan hal yang lebih jelek lagi.

Rupanya makhluk ini adalah penjaga penjara karena dia lalu menyodorkan penutup kepala lagi dan memerintahkan aku untuk mengenakannya. Lalu dia menarik bagian muka penutup kepala dan menyeretku dengan kasar di sepanjang koridor. Dia membuka pintu sebuah kantor, mendorong aku masuk, dan memaksa aku duduk di sebuah kursi kecil yang rendah; kursi ini seperti kursi anak² di kelas SD. Kursi itu disekrup di lantai.

Dia memborgol tanganku, satu lengan diantara kaki² kursi dan lengan satunya lagi di bagian luar kursi. Lalu dia memborgol kakiku juga. Kursi kecil itu miring sehingga memaksaku membungkuk ke muka. Tidak seperti sellku, ruangan ini sangat dingin. Aku kira AC-nya dipasang di suhu beku.

Aku duduk di sana berjam-jam, gemeteran karena dingin yang menusuk, duduk miring menyakitkan, dan tak mampu bergerak ke posisi yang lebih nyaman. Aku mencoba bernapas sedikit melalui penutup kepala berbau busuk ini. Aku merasa lapar, lelah, dan mataku basih bengkak dengan darah.

Pintu dibuka dan seseorang menarik lepas penutup kepalaku. Aku heran melihat orang itu ternyata orang sipil dan bukan prajurit atau penjaga. Dia duduk di sisi meja. Kepalaku terletak sama tinggi dengan dengkulnya.
“Siapa namamu?” tanyanya.
“Aku Mosab Hassan Yousef.”
“Apakah kau tahu sedang berada di mana?”
“Tidak.”

Dia menggelengkan kepala dan berkata, “Sebagian orang menyebut tempat ini sebagai Malam Kelam. Yang lain menyebutnya sebagai Rumah Jagal. Kau dalam masalah besar, Mosab.”

Aku mencoba untuk tidak menunjukkan emosi apapun, mataku fokus memandang noda di dinding yang terletak di belakang kepala orang itu.
“Bagaimana keadaan ayahmu di penjara PA?” dia bertanya. “Apakah dia lebih senang berada di sana daripada di penjara Israel?”
Aku mengubah posisi dudukku sedikit, sambil tetap membisu.
“Apakah kau tahu bahwa inilah tempat yang sama ketika ayahmu pertama kali ditangkap?”

Jadi ternyata aku berada di: Pusat Tahanan Maskobiyeh di Yerusalem. Ayahku telah memberitahu aku tentang tempat ini. Dulu, tempat ini digunakan sebagai gereja Rusia Ortodox, dan sudah berdiri selama 6000 tahun. Pemerintah Israel merubahnya menjadi fasilitas keamanan ketat yang mencakup pusat² Kepolisian, kantor², dan pusat interogasi Shin Bet.

Gambar: Pusat Tahanan Maskobiyeh di Yerusalem. Gedung ini adalah bekas gereja Rusia Orthodox yang diubah Pemerintah Israel jadi Pusat Keamanan dan Penjara.  Daerah ini merupakan salah satu daerah tertua di Yerusalem.

Di ruang bawah tanah yang dalam adalah penjara yang gelap, kotor, hitam, mirip dengan ruang tahanan di jaman abad pertengahan yang sering kau lihat di film. Moskabiyeh memiliki reputasi yang sangat jelek.

Sekarang aku harus mengalami hukuman yang sama yang dialami ayahku. Ini adalah orang² yang sama yang telah memukuli dan menyiksa dia bertahun-tahun yang lalu. Mereka menghabiskan banyak waktu berurusan dengannya, dan mereka sangat kenal ayahkku. Mereka juga gagal mendapatkan keterangan apapun dari ayah. Dia tetap tegar dan bahkan menjadi lebih tegar lagi.
“Katakan padaku mengapa kau berada di sini.”
“Aku tak tahu.”
Perkiraanku, tentu saja ini karena aku membeli senjata² rusak yang tidak bisa dipakai. Punggungku terasa membara. Interogator mengangkat daguku.

“Kau mau jadi setegar ayahmu? Kau sungguh tak tahu apa yang menunggumu di luar ruangan ini. Katakan padaku tentang Hamas! Rahasia apa yang kau ketahui? Katakan padaku tentang gerakan pelajar Islam! Aku ingin tahu segalanya!”

Apakah dia benar² mengira aku ini begitu berbahaya? Aku sungguh tak percaya. Tapi, semakin lama kupikir, aku lalu menyadari bahwa memang begitulah yang dirasakannya. Dari sudut pandangnya, fakta bahwa aku ini adalah putra Syeikh Hassan Yousef yang membeli senapan² otomatis tentunya sudah cukup untuk merasa curiga padaku. Orang² memenjarakan dan menyiksa ayahku dan sekarang akan menyiksaku. Apakah mereka benar² percaya bahwa semua ini akan membuatku menyerah? Sudut pandangku sangatlah berbeda. Masyarakat kami sedang berjuang bagi kemerdekaan, bagi tanah kami.

Ketika aku tak menjawab pertanyaannya, orang itu menghantam meja dengan kepalan tangannya. Lagi, dia mengangkat daguku.
“Aku akan pulang istirahat bersama keluargaku. Silakan bersenang-senang di sini.”
Aku duduk di kursi itu selama berjam-jam, masih membungkuk ke depan dengan posisi tak nyaman. Akhirnya seorang penjaga masuk, membuka borgol tangan dan kaki, memasang kembali penutup kepala, dan menyeretku berjalan melewati koridor lagi. Suara Leonard Cohen terdengar semakin keras.

Kami berhenti, dan penjaga membentakku untuk duduk. Sekarang suara musik sungguh memekakkan telinga. Sekali lagi, tangan dan kakiku diborgol di kursi pendek yang bergetar akibat hentakan musik “First we take Manhattan, then we take Berlin!

Otot²ku terasa kejang karena udara dingin dan posisi duduk yang tak nyaman. Juga sukar bernapas dalam penutup kepala. Akan tetapi sekarang aku tahu bahwa aku tidaklah sendirian. Meskipun suara Leonar Cohen sangat keras, aku bisa mendengar rintihan orang² yang menderita kesakitan.
“Ada orang di sini?” aku berteriak melalui kerudung kepalaku yang berminyak.
“Siapa kau?” terdengar balasan teriakan suara berjarak dekat.
“Aku Mosab.”
“Berapa lama kau berada di sini?”
“Dua hari.”

Dia tak berkata apapun selama dua menit.
“Aku telah duduk di kursi ini selama tiga minggu,” akhirnya dia berkata.

“Mereka membiarkan aku tidur selama empat jam setiap minggu.” Aku terkejut. Ini tentunya bukan kabar yang ingin kudengar. Orang lain mengatakan dia ditangkap di saat yang sama dengan penangkapanku. Kuperkirakan ada dua puluh orang di ruangan itu.

Percakapan kami terhenti tiba² tatkala seseorang memukul bagian belakan kepalaku keras². Rasa sakit menyengat seluruh kepalaku, memaksaku mataku bekerjap air mata kesakitan di balik kerudung kepala.

“Jangan bicara!” bentak penjaga.  Setiap menit terasa bagaikan sejam, tapi aku tidak tahu lagi bagaimana rasanya sejam itu. Duniaku terasa berhenti. Di luar, aku tahu orang² bangun dan pergi bekerja, dan kembali ke rumah bertemu keluarga mereka. Teman² kelasku sedang belajar untuk menghadapi ujian akhir. Ibuku sedang masak, mencuci, memeluk, dan menciumi adik² laki dan perempuanku. Tapi di ruangan ini, semuanya duduk. Tiada seorang pun yang bergerak.

First we take Manhattan, then we take Berlin. First we take Manhattan, then we take Berlin. First we take Manhattan, then we take Berlin. First we take Manhattan, then we take Berlin.

Beberapa orang di sekitarku melolong menangis, tapi aku bertekad untuk tidak menangis. Aku yakin ayahku tidak pernah menangis. Dia kuat. Dia tidak menyerah.
Shoter! Shoter! (Penjaga! Penjaga!), salah seorang dari kami berteriak. Tiada yang menjawabnya karena musik begitu keras. Akhirnya, sang penjaga datang.
“Mau apa kamu?”
“Aku ingin buang air. Aku harus buang air!”
“Tidak boleh. Sekarang bukan waktu buang air.”
Dan dia lalu pergi.
“Shoter! Shoter!” orang ini menjerit.
Setengah jam kemudian, penjaga kembali. Orang yang berteriak berlaku liar. Sambil memaki orang itu, sang penjaga melepaskan borgol dan menyeretnya keluar. Beberapa menit kemudian, dia membawa orang itu kembali, memborgolnya lagi di kursi kecil, dan lalu pergi.
“Shoter! Shoter!” teriak yang lainnya.
Aku lelah dan merasa mual. Leherku sangat pegal. Aku tidak pernah menyadari sebelumnya betapa berat kepalaku. Aku mencoba menyenderkan kepalaku ke tembok di sebelahku. Tapi begitu aku hampir tertidur, penjaga datang dan memukul kepalaku untuk membangunkanku. Tampaknya satu²nya pekerjaannya adalah membuat kami tetap bangun dan diam. Aku merasa bagaikan dikubur hidup² dan sedang disiksa oleh malaikat maut Munkar dan Nakir setelah memberi jawaban pertanyaan yang salah.

Tentunya sudah pagi hari ketika aku mendengar penjaga berjalan bolak-balik. Dia melepaskan borgol kaki dan tangan tahanan dan menggiring orang itu keluar. Setelah beberapa menit, dia membawa orang itu kembali, memborgolnya lagi di kursi kecil, dan pergi ke orang berikutnya untuk melakukan hal yang sama. Akhirnya, dia tiba di giliranku.

Setelah membuka borgolku, dia menarik penutup kepalaku dan membawaku melalui koridor. Dia membuka pintu sel dan menyuruhku masuk. Ketika dia membuka kerudung kepala, aku bisa melihat bahwa dia ternyata orang tua bungkuk yang mirip kera besar yang dulu memberiku makan pagi. Dia mendorong nampan biru bersisi telor rebus, roti, yogurt, dan buah zaitun padaku dengan kakinya. Air comberan setinggi setengah inci menutupi lantai dan tersiram memenuhi nampan. Aku lebih baik mati kelaparan daripada makan makanan itu.
“Kau punya waktu dua menit untuk makan dan menggunakan jamban,” katanya padaku.

Yang kuinginkan hanyalah merenggangkan tubuh, berbaring, dan tidur, barang dua menit saja. Tapi aku hanya berdiri saja, dan waktu berlalu dengan cepatnya.
“Keluar! Keluar!”
Sebelum aku sempat berbuat apapun, penjaga telah menarik penutup kepalaku lagi, menggiring aku kembali ke ruangan di mana aku diborgol di kursi kecil lagi.
First we take Manhattan, then we take Berlin!

Bab 11 – Tawaran
1996

Sepanjang hari, pintu terbuka dan tertutup, sewaktu para tahanan ditarik penutup kepalanya untuk menghadapi pemeriksa yang satu ke pemeriksa yang lain. Dilepas borgol, diborgol lagi, ditanyai, dipukuli. Kadangkala pemeriksa mengguncang keras tahanan. Biasanya hanya dibutuhkan sepuluh kali guncangan sebelum akhirnya tahanan pingsan. Dilepas borgol, diborgol lagi, ditanyai. Pintu² dibuka dan pintu² ditutup.

Setiap pagi kami dibawa keluar untuk makan makanan di atas nampan biru, dan beberapa jam kemudian, kami diberi makan malam di atas nampan oranye. Jam demi jam. Hari demi hari. Makan pagi di atas nampan biru. Makan malam di atas nampan oranye. Aku dengan cepat belajar untuk menunggu waktu makan. Ini bukannya karena aku ingin makan, tapi karena aku ingin mendapat kesempatan untuk berdiri tegak.

Di malam hari setelah kami semua diberi makan, pintu² berhenti dibuka dan ditutup. Para pemeriksa pulang. Kegiatan hari itu berakhir sudah. Dan mulailah malam panjang tak berkesudahan. Orang² menangis, melolong, dan berteriak-teriak. Mereka tidak lagi terdengar sebagai manusia normal. Sebagian malah tidak jelas lagi apa yang mereka ucapkan. Para Muslim mulai melafalkan ayat² Qur’an, memohon kekuatan pada Allâh. Aku berdoa pula, tapi aku tidak mendapat tambahan kekuatan. Aku berpikir tentang Ibrahim yang tolol dan senjata² sial dan tingkahnya yang ceroboh karena menelpon ponsel ayahku.

Aku berpikir tentang ayahku. Hatiku sakit ketika menyadari semua hal yang harus ditanggungnya saat dipenjara. Tapi aku tahu sifat ayahku dengan baik. Bahkan ketika disiksa dan dihina sekalipun, dia tetap menerima nasibnya dengan tabah dan pasrah. Dia bahkan mungkin berteman dengan penjaga² yang diperintahkan untuk memukulinya. Dia juga mungkin bertanya secara tulus pada mereka tentang keadaan keluarganya, latar belakangnya, dan kesukaan mereka.

Ayahku adalah contoh jelas kesederhanaan, kasih, dan pengabdian; meskipun tingginya hanya 170 cm., dia berdiri sama tinggi dengan siapapun yang pernah kukenal. Aku sangat ingin menjadi seperti ayahku, tapi aku tahu perjalananku masih sangat panjang.

Di suatu sore, kegiatan rutinku tiba² terhenti. Seorang penjaga datang dan melepaskan diriku dari kursi kecilku. Aku tahu saat itu belum waktu makan malam, tapi aku tak bertanya apapun. Aku merasa senang bisa pergi ke mana pun, bahkan ke neraka sekalipun, jika ini berarti aku bisa bangkit berdiri dari kursi itu. Aku dibawa ke sebuah kantor kecil di mana aku diborgol lagi, tapi kali ini pada kursi biasa. Seorang petugas Shin Bet masuk ruangan dan memperhatikan diriku dari atas sampai bawah. Meskipun rasa sakit tidak separah sebelumnya, tapi aku tahu mukaku penuh bekas luka dari pukulan popor prajurit.

“Bagaimana keadaanmu?” katanya. “Apa yang terjadi pada matamu?”
“Mereka memukulku.”
“Siapa?”
“Prajurit² yang membawaku ke sini.”
“Itu perbuatan yang dilarang. Itu melanggar hukum. Aku akan periksa untuk mengetahui mengapa ini terjadi.”

Dia tampak yakin pada diri sendiri dan bicara dengan lembut dan penuh hormat padaku. Aku berpikir apakah dia sedang melakukan siasat agar aku bicara padanya.
“Kau akan menghadapi ujian tak lama lagi. Mengapa kau berada di sini?”
“Aku tak tahu.”
“Tentu saja kau tahu. Kau tidak bodoh, dan kami juga tidak bodoh. Namaku adalah Loai, kapten Shin Bet di daerahmu. Aku tahu tentang semua keluargamu dan lingkungan tetanggamu. Dan aku tahu segalanya akan dirimu.”

Dan dia rupanya benar. Ternyata dia bertanggung jawab atas setiap orang di lingkungan perumahan kami. Dia tahu siapa bekerja di mana, siapa yang masih bersekolah, apa yang mereka pelajari, istri mana yang baru saja punya anak, dan tentunya juga tahu berapa berat bayi yang baru lahir. Pokoknya semuanya.
“Kau punya pilihan. Aku datang jauh² hari ini untuk duduk dan bicara denganmu. Aku tahu penyidik yang lain tidak ramah padamu.”
Aku melihat wajahnya dengan seksama, mencoba mengetahui apa maksudnya. Orang ini berkulit terang, berambut pirang, dan dia bicara dengan ketenangan yang belum pernah kudengar sebelumnya. Expresi wajahnya ramah, bahkan tampak peduli akan diriku. Aku berpikir apakah ini bagian dari siasat Israel: semenit sebelumnya memukuli tahanan, dan lalu di menit berikutnya mencoba berbaik hati padanya.

“Apa yang ingin kau ketahui?” tanyaku.
“Dengar, kau tahu mengapa kami membawa kamu kemari. Kau harus menjelaskan segalanya, apapun yang kau ketahui.”
“Aku tidak tahu kamu ini ngomong apa.”
“Baiklah, aku akan mempermudah penjelasan bagimu.”

Di sebuah papan tulis putih di belakang meja dia menulis tiga huruf: Hamas, senjata², dan organisasi.
“Silakan jelaskan padaku tentang Hamas. Apa yang kau ketahui tentang Hamas? Bagaimana posisimu dalam Hamas?”
“Aku tak tahu.”
“Apakah kau tahu tentang senjata² yang mereka miliki, datang dari mana, bagaimana mereka mendapatkannya?”
“Tidak tuh.”
“Apakah kau tahu tentang gerakan pemuda Islam?”
“Tidak.”
“Baiklah. Terserah padamu. Aku tak tahu harus bilang apa padamu, tapi kau jelas memilih jalan yang salah… Dapatkah aku membawa makanan bagimu?”
“Tidak. Aku tidak ingin apapun.”

Loai meninggalkan ruangan dan kembali beberapa menit kemudian dengan membawa sepiring nasi ayam dan semangkuk sup. Baunya enak sekali, membuat perutku berbunyi nyaring. Sudah jelas itu adalah makanan yang disediakan bagi para pemeriksa.
“Silakan, Mosab, makanlah. Tak perlu jadi bersikap tegar. Makanlah dan rilekslah sedikit. Kau tahu bahwa aku mengenal ayahmu dalam waktu yang lama. Ayahmu adalah orang yang baik. Dia bukanlah orang yang fanatik. Kami tak tahu mengapa kamu jadi bermasalah seperti ini. Kami tidak bisa mengijinkan siapapun menyakiti warga Israel. Kami telah cukup menderita sepanjang hidup kami, dan kami tidak akan bersikap lunak terhadap orang yang mencoba menyakiti warga kami.”
“Aku tidak pernah menyakiti orang Israel manapun. Malah kamu yang menyakiti kami. Kamu menangkap ayahku.”
“Ya. Dia adalah orang yang baik, tapi dia pun menentang Israel. Dia membujuk orang² untuk berperang melawan Israel. Itulah sebabnya kami memenjarakan dia.”

Aku dapat melihat bahwa Loai benar² yakin bahwa aku ini berbahaya. Aku tahu dari pembicaraan dengan orang lain yang telah ditawan di penjara² Israel bahwa biasanya orang² Palestina tidak selalu diperlakukan sekeras perlakuan mereka terhadapku. Mereka pun tidak diinterogasi selama yang dialami diriku.

Yang aku tak tahu adalah bahwa saat itu Hassan Salameh ditangkap di saat yang bersamaan dengan penangkapanku.

Salameh melakukan berbagai serangan sebagai balas dendam atas pembunuhan terhadap gurunya, si pembuat bom Yahya Ayyash. Ketika Shin Bet mendengar aku bicara dengan Ibrahim melalui ponsel ayahku tentang usaha mencari senjata, mereka mengira aku tidak bekerja seorang diri. Malah mereka lalu yakin aku direkrut Al-Qassam.
Akhirnya Loai berkata, “Inilah saat terakhir aku mengajukan tawaran bagimu, setelah itu aku akan pergi. Aku masih banyak kerjaan. Kau dan aku bisa memecahkan masalah saat ini juga. Kita bisa membuat persetujuan. Kau tidak perlu lagi mengalami interogasi lebih lanjut. Kau ini hanya anak muda, dan kau butuh pertolongan.”

Ya, aku memang ingin jadi orang yang berbahaya, dan aku punya akal yang berbahaya. Tapi sudah jelas bahwa aku tidak bisa menjadi radikal. Aku merasa lelah duduk di kursi kecil dan ditutup dengan kerudung yang bau. Agen rahasia Israel ini menganggap aku lebih penting daripada keadaanku yang sebenarnya. Maka aku pun menceritakan semua kejadian mencari senjata, tanpa menyampaikan niatku sebenarnya adalah membunuh orang² Israel. Aku berkata padanya bahwa aku membeli senjata² untuk menolong temanku Ibrahim melindungi keluarganya.

“Sekarang kalian memiliki senjata²?”
“Ya.”
“Di mana senjata² itu sekarang?”
Aku berharap senjata² itu ada di rumahku karena aku akan menyerahkannya dengan segala senang hati pada pihak Israel. Tapi sekarang aku harus melibatkan saudara sepupuku.
“Baiklah. Begini masalahnya. Seseorang yang tak ada hubungannya dengan hal ini menyimpan senjata² itu.”
“Siapa dia?”
“Sepupuku Yousef menyimpan senjata² itu. Dia menikah dengan wanita Amerika, dan sekarang baru punya seorang bayi.”
Aku berharap mereka akan membiarkan keluarga itu, dan hanya mengambil senjata² saja, tapi kenyataan lebih rumit daripada harapanku.
Dua hari kemudian, aku mendengar suara² di sebelah dinding selku. Aku merunduk mendekati pipa berkarat yang menghubungkan selku dengan sel sebelah.

“Halo,” panggilku. “Adakah orang di situ?”
Diam saja.
Dan lalu …
“Mosab?”
Apa?!! Aku tidak percaya pada kupingku sendiri. Ternyata itu adalah sepupuku!
“Yousef? Apakah itu kamu?”

Aku sangat senang mendengar suaranya. Hatiku berdebar-debar. Orang itu ternyata Yousef! Tapi dia lalu mulai mencaci-maki diriku.
“Mengapa kau melakukan hal itu? Aku kan baru punya bayi…”

Aku lalu mulai menangis. Aku begitu merindukan untuk bicara dengan manusia lain sewaktu dipenjara. Sekarang saudaraku sendiri duduk di balik tembok, dan dia memaki-maki diriku. Dan tiba² aku sadar: orang² Israel sedang mendengarkan kami; mereka sengaja menempatkan Yousef di sebelah selku agar mereka bisa mendengarkan percakapan kami dan mengetahui apakah aku mengatakan keterangan yang sebenarnya. Tak jadi masalah bagiku. Aku juga telah mengatakan pada Yousef dulu bahwa aku ingin punya senjata untuk melindungi keluargaku, karena itu aku tak khawatir.

Begitu Shin Bet mengetahui bahwa kisahku benar, mereka memindahkanku ke sel yang lain. Lagi² aku sendirian saja dalam selku. Saat itu aku merenungkan bagaimana aku telah membuat kacau kehidupan saudara sepupuku, bagaimana aku telah menyakiti keluargaku, dan bahwa aku telah menyia-nyiakan duabelas tahun bersekolah – dan semua ini gara² aku percaya dengan Ibrahim sialan itu!

Aku tinggal dalam sel itu selama beberapa minggu tanpa kontak dengan manusia lain. Penjaga memasukkan makanan dari lubang di bawah pintu tanpa pernah mengatakan apapun padaku. Aku bahkan mulai rindu akan Leonard Cohen. Aku tak punya bahan bacaan, dan satu²nya cara menghabiskan waktu adalah menunggu makanan yang disajikan di atas nampan berwarna. Tiada kegiatan apapun selalin berpikir dan berdoa.

Akhirnya suatu hari aku dibawa lagi ke sebuah kantor. Di situ Loai telah menunggu untuk berbicara denganku.
“Jika kau bersedia bekerja sama dengan kami, Mosab, maka aku akan melakukan segala yang bisa kulakukan agar kau tidak usah lagi dipenjara.”
Sesaat muncul harapan. Mungkin aku bisa mengakalinya agar dia mengira aku bersedia bekerja sama dengannya dan setelah itu dia akan mengeluarkan aku dari penjara.

Kami berbicara sedikit mengenai berbagai hal yang umum. Lalu dia berkata, “Bagaimana pendapatmu jika aku menawarkanmu untuk bekerja bagi kami? Para pemimpin Israel juga duduk bersama dengan para pemimpin Palestina. Mereka telah berkelahi dalam kurun waktu yang lama, dan di akhir hari mereka berjabatan tangan dan makan malam bersama.”
“Islam melarangku untuk bekerja bagimu.”
“Di satu saat, Mosab, bahkan ayahmu sendiri juga akan datang, dan duduk dan berbicara dengan kami dan kami akan berbicara dengannya. Marilah bekerja sama dan membawa perdamaian bagi masyarakat.”
“Apakah begini caramu membawa perdamaian? Kami membawa perdamaian dengan menghentikan pendudukan.”

“Tidak, kami membawa perdamaian melalui orang² yang berani melakukan perubahan.”
“Aku tidak setuju. Hal itu tidak ada gunanya.”

“Apakah kau takut dibunuh sebagai orang yang bekerja sama bagi Israel?”
“Bukan begitu. Setelah semua penderitaan yang kami alami, aku tidak akan pernah bisa duduk dan bicara denganmu sebagai seorang teman, apalagi bekerja bagimu. Aku tidak bisa melakukan itu. Hal itu bertentangan dengan segala yang kupercaya.”

Aku masih benci segalanya di sekitarku. Pendudukan. PA. Aku telah jadi radikal karena aku ingin menghancurkan sesuatu. Tapi dorongan melakukan itulah yang membuatku mengalami segala macam masalah. Saat ini aku berada di penjara Israel, dan sekarang pria ini memintaku untuk bekerja baginya. Jika aku berkata ya, aku tahu resiko bahaya yang akan kutanggung – dalam kehidupan saat ini dan di akherat.
“Oke. Aku perlu berpikir sejenak tentang tawaranmu,” kudengar diriku berkata.

Aku kembali ke sel penjaraku dan berpikir tentang tawaran Loai. Aku telah mendengar kisah² tentang orang² yang berpura-pura setuju untuk bekerja bagi Israel tapi sebenarnya mereka adalah agen dobel (bekerja bagi Palestina dan juga bagi Israel). Mereka membunuh perekrut Israelnya, mencuri senjatanya, dan menggunakan segala kesempatan untuk menyakiti orang² Israel terlebih hebat lagi. Jika aku berkata ya pada Loai, kupikir Loai tentunya akan membebaskanku. Dia bahkan mungkin memberiku kesempatan untuk punya senjata api yang berfungsi baik kali ini, dan dengan senjata ini aku akan membunuhnya.

Api kebencian berkobar-kobar dalam tubuhku. Aku ingin balas dendam pada prajurit yang memukuliku habis²an. Aku ingin balas dendam pada Israel. Aku tidak peduli berapa harganya, bahkan jikalau pun nyawaku melayang. Tapi bekerja bagi Shin Bet mengandung lebih banyak resiko daripada sekedar membeli persenjataan. Mungkin lebih baik aku segera melupakannya, menyelesaikan waktu hukuman di penjara, pulang dan belajar, dekat dengan ibu, dan mengurus adik²ku.

Keesokan harinya, penjaga membawaku kembali ke kantor itu. Beberapa menit kemudian Loai masuk.
“Bagaimana keadaanmu hari ini? Tampaknya kau kelihatan lebih segar. Apakah kau mau minum sesuatu?”
Kami duduk dan minum kopi bersama seperti dua kawan lama.
“Bagaimana jika aku terbunuh?” tanyaku, meskipun sebenarnya dalam hati aku tak peduli begitu peduli jika terbunuh. Aku hanya ingin dia mengira aku berpikir begitu sehingga dia mengira aku jujur.

“Kuberitahu ya, Mosab,” kata Loai. “Aku telah bekerja bagi Shin Bet selama 18 tahun, dan selama itu, hanya satu orang saja yang ketahuan. Semua orang² lain yang terbunuh tak ada hubungannya dengan kami. Masyaratkat jadi curiga pada orang² itu karena mereka tak punya keluarga dan melakukan hal² yang mencurigakan, maka masyarakat lalu membunuh mereka. Tiada seorang pun yang akan tahu tentang dirimu. Kami akan merahasiakanmu sehingga kau tidak akan terungkap. Kami akan melindungimu dan mengurusmu.”

Aku mengamatinya untuk waktu yang lama.
“Baiklah,” aku berkata. “Aku bersedia melakukannya. Sekarang apakah kau bisa membebaskanku?”
“Wah, bagus,”
kata Loai dengan senyum lebar. “Sayangny, kami tidak bisa membebaskanmu sekarang. Karena kau dan saudara sepupumu ditangkap setelah Salameh ditangkap, kisahnya tercantum di halaman depan Al-Quds (koran utama Palestina). Setiap orang mengira kau ditangkap karena terlibat dengan pembuat bom itu. Jika kami melepaskanmu terlalu cepat, orang² akan curiga, dan kau bisa ketahuan sebagai orang yang bekerja sama dengan kami. Cara terbaik melindungimu adalah mengirimmu ke penjara – tidak untuk waktu yang lama, jangan khawatir. Kami akan memeriksa apakah ada pertukaran tahanan atau perjanjian pembebasan yang bisa kami gunakan untuk mengeluarkanmu dari sini. Begitu kau sudah pindah penjara, aku yakin Hamas akan menanganimu, terutama karena kau adalah putra Hassan Yousef. Kita akan bertemu lagi setelah kau bebas.”

Mereka membawaku kembali ke dalam sel, di mana aku harus tinggal di sana selama dua minggu lagi. Aku tidak sabar untuk meninggalkan Maskobiyeh. Akhirnya di suatu pagi, penjaga mengatakan padaku sudah saatnya pergi. Dia memborgolku, tapi kali ini tanganku terletak di depanku. Tidak usah lagi pakai penutup kepala bau. Dan untuk pertamakalinya selama 45 hari, aku melihat matahari dan menghirup udara segar. Aku menarik nafas dalam², mengisi paru²ku dengan udara segar dan menikmati hembusan angin di wajahku. Aku duduk di kursi belakang sebuah mobil van Ford. Saat itu adalah musim panas dan aku diborgol pada bangku metal yang jadi panas pula, tapi aku tak peduli. Aku merasa bebas!

Dua jam kemudian, kami tiba di penjara Megiddo, tapi aku lalu harus tetap duduk dalam van selama satu jam lagi, menunggu ijin untuk masuk. Saat akhirnya kami masuk, dokter penjara memeriksaku dan mengumumkan bahwa aku sehat. Aku lalu mandi dengan sabun dan diberi baju bersih dan peralatan mandi lainnya. Di waktu makan siang, aku makan makanan panas untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu.

Aku ditanyai dengan organisasi apa aku terlibat.

“Hamas,” jawabku. Di penjara² Israel, setiap organisasi diperbolehkan mengawasi anggota² mereka sendiri. Tujuannya adalah untuk menghentikan masalah sosial atau malah menciptakan konflik lebih besar dalam organisasi tersebut. Jika para tawanan menggunakan kekuatan mereka untuk berkelahi satu sama lain, maka mereka terlalu lemah untuk melawan Israel.

Sewaktu masuk ke penjara baru, semua tawanan wajib mengumumkan asal organisasi. Kami harus memilih berasal dari organisasi Hamas, Fatah, Jihad Islam, Barisan Depan Populer bagi Pembebasan Palestina (Popular Front for the Liberation of Palestine = PFLP), Gerakan Demokrasi bagi Pembebasan Palestina (Democratic Front for the Liberation of Palestine = DFLP), atau organisasi lain. Kita tidak bisa tidak berhubungan dengan apapun. Tawanan yang tidak berhubungan dengan apapun harus memilih untuk bergabung dengan organisasi apa. Di Megiddo, Hamas berkuasa total dalam penjara. Hamas adalah organisasi terkuat dan terbesar di sana. Hamas menetapkan aturan, dan semua tunduk padanya.

Ketika aku masuk, tawanan² yang lain menyambutku dengan hangat, menepuk pundakku dan menyelamati diriku karena bergabung bersama mereka. Di petang hari, kami duduk bersama dan membagi kisah kami. Setelah beberapa saat, aku mulai merasa tidak nyaman. Salah satu dari orang² ini tampaknya adalah pemimpin dari para tawanan, dan dia banyak tanya padaku – terlalu banyak pertanyaan. Meskipun dia adalah emir – julukan bagi ketua Hamas di penjara – aku tidak percaya padanya. Aku sudah banyak mendengar cerita tentang “burung,” istilah bagi mata² musuh dalam penjara.

Jika dia adalah mata² Shin Bet, pikirku, mengapa dia tidak percaya padaku? Bukankah mereka sudah menganggap aku bekerja bagi mereka? Tapi aku pura² tidak terganggu dan tidak bicara apapun selain yang telah kusampaikan pada para penanya di penjara yang dulu.
Aku berada di penjara Megiddo selama dua minggu, sholat dan puasa dan membaca Qur’an. Ketika tawanan² baru datang, aku memperingatkan mereka tentang si emir.
“Kau harus berhati-hati,” kataku, “Orang itu dan teman²nya tampaknya adalah burung².” Para tawanan baru itu dengan cepat memberitahu emir tentang kecurigaanku, dan keesokan harinya aku dikembalikan ke Maskobiyeh. Di pagi harinya, aku dibawa menghadap ke kantor.
“Bagaimana perjalananmu ke Megiddo?” tanya Loai.
“Menyenangkan,” kataku sarkastik.
“Tahu engga’, tak banyak orang yang bisa melihat burung di saat pertama kali dia melihatnya. Beristirahatlah sekarang. Dan suatu hari nanti kita akan melakukan sesuatu bersama.”
Ya, dan suatu hari nanti akan kutembak kepalamu, begitu pikirku sewaktu aku melihatnya berlalu. Aku merasa bangga bisa berpikiran radikal seperti itu.

Aku kembali dipenjara di situ selama 25 hari, tapi kali ini aku ditempatkan di sebuah sel bersama tiga tawanan lainnya, termasuk saudara sepupuku Yousef. Kami menghabiskan waktu dengan bicara dan berbagi cerita. Salah seorang mengatakan bahwa dia telah membunuh seseorang. Yang lain membual bahwa dia mengirim seorang pembom bunuh diri. Setiap orang punya kisah menarik untuk disampaikan. Kami duduk bersama, sholat, bernyanyi, dan mencoba melakukan kegiatan yang menyenangkan. Apapun kami lakukan untuk melupakan keadaan sekitar. Tempat itu bukanlah tempat yang layak bagi manusia.
Akhirnya, kami semua kecuali saudara sepupuku dikirim ke Megiddo. Tapi kali ini kami tidak akan bersama para burung lagi; kami menuju penjara sebenarnya. Dan sejak itu keadaan tidak akan pernah jadi sama seperti sebelumnya.

Bab 12 – Nomer 823
1996

Mereka dapat mencium bau kami saat kami datang.

Peta letak Megiddo di Israel. 

Rambut dan jenggot kami jadi panjang setelah tiga bulan tanpa gunting atau silet pencukur. Baju kami kotor sekali. Dibutuhkan waktu dua minggu untuk menghilangkan bau bekas penjara Maskobiyeh. Tubuh digosok kuat² sekali pun tidak sanggup menghilangkan bau. Hanya waktu yang akhirnya bisa menghilangkannya.

Kebanyakan tawanan awalnya ditempatkan terlebih dulu di mi’var, yang adalah sebuah unit di mana setiap orang diproses sebelum dipindahkan ke kamp penjara yang lebih besar. Akan tetapi, beberapa tawanan dianggap terlalu berbahaya untuk bergabung dengan tawanan² lainnya dan harus tetap tinggal di mi’var selama bertahun-tahun. Orang² ini, sudah bisa ditebak, semuanya adalah anggota Hamas.

Sebagai putra Syeikh Hassan, aku merasa terbiasa dikenal kemana pun aku pergi. Jika ayah adalah raja, maka aku adalah pangeran – pewaris takhta kekuasaan. Dan begitulah aku diperlakukan.
“Kami dengar kau berada di sini sebulan yang lalu. Pamanmu sekarang berada di sini. Dia akan segera mengunjungimu.”

Makan siang disajikan panas² dan mengenyangkan, meskipun tidak seenak makanan yang kumakan ketika dulu bersama para burung. Meskipun begitu aku tetap merasa senang. Sekalipun masih dipenjara, aku merasa lebih bebas. Ketika aku sedang seorang diri, aku memikirkan tentang Shin Bet. Aku telah berjanji pada mereka untuk bekerja bagi mereka, tapi mereka tak memberitahu aku apapun. Mereka tidak pernah menjelaskan bagaimana mereka akan berkomunikasi denganku atau apa sebenarnya yang dimaksud dengan bekerja sama. Mereka membiarkan aku begitu saja, tanpa ada nasehat apapun tentang bagaimana aku harus berlaku. Aku sangat heran. Aku juga tidak tahu siapa diriku sebenarnya sekarang. Kupikir ada kemungkinan aku telah dijebak.

Tempat mi’var ini dibagi dalam dua asrama yang besar – Ruang Delapan dan Ruang Sembilan – kedua ruang ini penuh dengan ranjang bertingkat. Bangunan asrama² berbentuk huruf L dan setiap bangunan ditempati 20 tawanan. Di sudut L terdapat lapangan olahraga dengan lantai semen yang dicat dan meja ping-pong rusak yang disumbangkan oleh Palang Merah. Kami diperbolehkan berolahraga dua kali sehari.

Tempat tidurku terletak di ujung Ruang Sembilan, dekat kamar mandi. Terdapat dua kamar kecil dan dua tempat mandi. Tempat buang air hanyalah sebuah lubang di lantai di mana kami harus berdiri atau jongkok, lalu setelah selesai buag air, kami siram sendiri kotoran dengan seember air. Ruangan ini panas dan lembab, dan baunya sungguh memuakkan.

Sebenarnya malah seluruh asrama juga begitu keadaannya. Orang² menderita sakit dan batuk²; sebagian malah tidak pernah mandi. Semua tawanan berbau mulut busuk. Asap rokok memenuhi ruangan dan kipas angin lemah tidak berarti apapun. Juga tak ada jendela ventilasi.

Kami dibangunkan setiap jam 4 pagi agar bersiap untuk sholat Fajar. Kami menunggu di antrian dengan handuk kami, masih dalam keadaan mengantuk dan bau. Lalu kami harus melakukan wudu. Untuk memulai membersihkan diri secara Islam sebelum sholat, kami membasuh tangan sampai ke pergelangan tangan, kumur², dan membersihkan lubang hidung dengan air. Kami gosok wajah kami dengan dua tangan dari jidat sampai ke dagu, dan dari kuping satu ke kuping yang lain, membasuh tangan sampai ke sikut, dan membasuh kepala dari jidat sampai ke belakang leher dengan tangan yang basah air. Akhirnya membasahi jari² tangan untuk membersihkan kuping bagian dalam dan luar, seluruh leher, dan membasuh kaki sampai ke pergelangan kaki. Lalu kami ulang semua proses ini dua kali lagi.

Pada jam 4:30 pagi, setelah semua selesai melakukan wudu, seorang imam – yang besar, sangar dengan jenggot lebat – melafalkan adhan. Lalu dia mulai melafalkan Al-Fatihah (Sura pertama Qur’an), dan kami lalu melakukan empat rakat (gerakan berdoa, berdiri, berlutut, dan bersujud).

Kebanyakan tawanan adalah Muslim anggota Hamas atau Jihad Islam, jadi melakukan sholat seperti ini sudah menjadi kegiatan rutin bagi kami. Tapi tawanan² lain yang sekuler dan komunis juga dipaksa bangun di waktu yang sama, meskipun mereka tidak ikut sholat. Dan tentu saja mereka tidak senang akan hal ini.

Seorang tawanan sudah menjalani setengah dari masa hukuman 15 tahun. Dia muak sekali dengan segala rutinitas Islam, dan dia menghabiskan waktu lama sekali untuk bangun subuh. Beberapa tawanan menepuknya, memukulnya, sambil membentak, “Bangun!” Akhirnya mereka menyiramkan air ke kepalanya. Aku kasihan padanya. Semua proses wudhu, sholat, dan pelafalan Qur’an memakan waktu satu jam. Setelah itu orang² kembali tidur. Tiada seorang pun yang bicara. Sunyi senyap.

Aku selalu tidak bisa tidur kembali, dan biasanya aku tidak tertidur setelah jam 7 pagi. Sewaktu akhirnya aku tertidur, seseorang berteriak,Adad! Adad! (Nomer! Nomer!). Ini adalah peringatan bahwa sekarang adalah saatnya melakukan penghitungan kepala.

Kami duduk di tempat tidur kami dengan punggung menghadap prajurit Israel yang menghitung kami, karena dia tak bersenjata. Dia hanya butuh waktu lima menit untuk menghitung kami dan lalu kami boleh tidur lagi.

Jalsa! Jalsa!” jerit emir pada jam 8:30 pagi. Ini adalah saat rapat dua kali sehari yang dilakukan organisasi Hamas dan Jihad Islam. Aku tidak bisa tidur dua jam penuh. Ini sungguh menjengkelkan. Sekali lagi, orang² berbaris ke kamar mandi untuk mempersiapkan diri menghadiri jalsa jam 9 pagi.

Di jalsa Hamas pertama hari itu, kami belajar aturan membaca Qur’an. Aku sudah tahu akan hal ini dari ayahku, tapi kebanyakan tawanan tidak mengetahuinya. Jalsa kedua hari itu membicarakan tentang Hamas, sikap disiplin di dalam penjara, pengumuman tentang tawanan² yang baru datang, dan kabar tentang kejadian di luar penjara. Tak ada rahasia atau rencana apapun, hanya berita umum saja.

Setelah setiap jalsa, kami seringkali menghabiskan waktu dengan nonton TV di bagian ujung ruangan, berhadapan dengan kamar kecil. Suatu pagi, aku sedang menonton kartun dan lalu sebuah iklan ditayangkan.

GEDEBUG! Sebuah papan kayu besar jatuh di hadapan layar TV.
Aku meloncat kaget dan melihat sekeliling.

“Ada apa?” Aku lalu mengetahui bahwa papan itu terikat pada tali besar yang diikatkan pada langit². Di sebelah ruangan tampak seorang tawanan memegang erat² ujung tali itu. Rupanya tugasnya adalah melihat segala yang dianggap haram dan menjatuhkan papan kayu di depan TV agar penonton tidak bisa melihatnya.
“Kenapa kau menjatuhkan papan kayu itu?” tanyaku.
“Untuk melindungi kamu sendiri,” katanya kasar.
“Melindungi? Dari apa?”
“Gadis di iklan itu,”
jelasnya. “Gadis itu kan tak pakai jilbab.”
Aku melihat emir. “Apakah dia serius tentang ini?”
“Ya, tentu saja,”
kata emir.
“Tapi kami semua punya TV di rumah kami, dan kami tidak melakukan hal seperti ini di rumah. Kenapa musti melakukannya di sini?”
“Berada di penjara membuat orang menghadapi godaan² yang tak lumrah,”
jelasnya. “Di sini tidak ada perempuan. Yang mereka tayangkan pada TV bisa menimbulkan masalah dan berakibat buruk bagi mereka. Karena itulah dibuat aturan seperti ini dan beginilah kami menanggulangi masalah itu.”

Tentu saja tidak semua orang setuju akan hal itu. Apa yang boleh atau tak boleh dilihat sangat tergantung dari orang yang memegang tali. Jika orang itu berasal dari Hebron, dia akan menjatuhkan papan untuk menutupi layar TV, bahkan jika yang muncul hanyalah sosok kartun wanita tanpa jilbab. Tapi jika orang itu berasal dari Ramallah, kami bisa nonton lebih bebas. Kami seharusnya bergiliran memegang tali, tapi aku tak mau menyentuh benda tolol itu.

Setelah makan siang, tiba waktunya untuk melakukan sholat Dhuhr, lalu setelah itu saat tenang. Kebanyakan tawanan tidur siang. Biasanya aku membaca buku. Dan di sore hari, kami diperbolehkan pergi ke lapangan olahraga untuk berjalan-jalan sedikit atau mengobrol dengan tawanan lain.
Hidup di penjara sangatlah membosankan bagi para anggota Hamas. Kami tak boleh bermain kartu. Kebebasan membaca buku dibatasi dan hanya boleh membaca Qur’an dan literatur Islam saja. Organisasi non-Hamas tidak menerapkan aturan sekeras itu.
Saudara sepupuku Yousef akhirnya muncul di suatu sore, dan aku sangat senang bertemu dengannya. Penjaga² Israel memperbolehkan kami menyimpan alat cukur, dan kami memangkas habis rambut kepalanya untuk menghilangkan bau penjara Moskabiyeh.

Yousef bukanlah anggota Hamas; dia adalah orang sosialis. Dia tidak percaya pada Allâh (elohim Islam), tapi percaya akan Elohim . Dengan begitu, dia lebih cocok jadi anggota Gerakan Demokrasi bagi Pembebasan Palestina (Democratic Front for the Liberation of Palestine = DFLP), DFLP berjuang untuk berdirinya Negara Palestina, dan ini tidak sama dengan tujuan Hamas yang bercita-cita mendirikan Negara Islam.

Beberapa hari setelah Yousef datang, pamanku yakni Ibrahim Abu Salem, datang menjenguk. Dia berada di penahanan administratif sejak dua tahun lalu, meskipun tiada tuduhan resmi yang diajukan padanya. Karena dia dianggap berbahaya bagi keamanan Israel, dia akan terus berada di sana untuk waktu yang lama. Sebagai Hamas VIP (Very Important Person = Orang Sangat Penting), pamanku Ibrahim diijinkan mengunjungi mi’var dan kamp penjara dan dari satu kamp ke kamp yang lain. Maka dia datang berkunjung ke mi’var untuk menengok keponakannya, agar yakin aku baik² saja, dan membawa beberapa baju bagiku – tanda peduli yang sangat bertentangan dengan sifatnya sebagai orang yang dulu suka memukuliku dan tidak peduli pada keluargaku saat ayah sedang dipenjara.

Dengan tinggi hampir mencapai 180 cm, Ibrahim Abu Salem adalah orang yang tinggi besar. Perutnya yang menonjol keluar – tanda kecintaannya pada makanan – membuat dia tampak gembul dan tidak berbahaya. Tapi aku tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Pamanku Ibrahim adalah orang yang kejam, mementingkan diri sendiri, pendusta, dan munafik – sangat bertolak belakang dengan ayahku.

Tapi di dalam tembok penjara Megiddo, paman Ibrahim diperlakukan bagaikan seorang raja. Semua tawanan menghormatinya, tidak peduli dari organisasi manapun , karena usianya, kemampuannya mengajar, pekerjaannya di universitas², dan prestasi politik dan akademinya. Biasanya, para pemimpin tawanan memanfaatkan kedatangannya dan memintanya untuk memberi kuliah.

Semua tawanan suka mendengarkan Ibrahim saat dia memberi kuliah. Dia tidak mengajar seperti dosen, tapi lebih sebagai penghibur. Dia suka membuat orang tertawa, dan jika dia mengajar tentang Islam, maka dia menyampaikan ajarannya dengan menggunakan bahasa yang sederhana sehingga siapapun bisa mengerti.

Akan tetapi, hari ini tiada seorang pun yang tertawa. Sebaliknya, semua tawanan duduk bersebelahan dengan diam saat Ibrahim bicara dengan kemarahan berkobar-kobar tentang orang² yang bekerja sama dengan Israel dan bagaimana mereka mempermalukan keluarga mereka dan merupakan musuh orang² Palestina. Dari caranya bicara, aku merasa dia sebenarnya berkata padaku, “Jika kau tahu sesuatu yang belum kau sampaikan padaku, Mosab, katakan padaku sekarang juga.”
Tentu saja aku tetap diam saja. Bahkan andaikata sekalipun Ibrahim curiga akan hubunganku dengan Shin Bet, dia tidak akan berani mengatakannya terus terang pada putra Syeikh Hassan Yousef.
“Jika kau butuh apapun,” katanya padaku sebelum pergi, “beritahu aku saja. Aku akan mencoba agar kau berada dekat denganku.”

Saat itu adalah musim panas 1996. Meskipun aku baru berusia 18 tahun, aku merasa bagaikan telah menjalani beberapa kehidupan dalam waktu beberapa bulan saja. Dua minggu setelah paman datang, seorang wakil tawanan, atau shawish, datang ke Ruangan Sembilan dan memanggil, “Delapan dua tiga!” Aku mendongak terkejut karena mendengar nomerku dipanggil. Lalu dia juga memanggil tiga atau empat nomer lain dan memberitahu kami agar mengumpulkan barang² kami.

Sewaktu kami keluar dari mi’var ke padang gurun, udara panas menerpaku bagaikan napas naga dan membuat kepalaku pusing sejenak. Sejauh mata memandang tak ada lain yang tampak selain ujung² bagian atas tenda coklat. Kami berbaris menuju bagian tenda pertama, bagian kedua, bagian ketiga. Ratusan tawanan datang berlari menuju pagar tinggi berantai untuk melihat tawanan² yang baru datang. Kami tiba di Bagian Lima, dan pintu gerbang terbuka. Lebih dari lima puluh orang mengelilingi, memeluk kami, dan menjabat tangan kami.

Kami dibawa ke bagian tenda administrasi dan ditanyai dari organisasi mana kami berasal. Lalu aku dibawa ke tenda Hamas, di mana emir menerimaku dan menjabat tanganku.
“Selamat datang,” katanya. “Senang berjumpa denganmu. Kami sangat bangga akan kamu. Kami akan menyiapkan tempat tidur bagimu dan memberi beberapa handuk dan barang² lain yang kau butuhkan.” Lalu dia mengatakan lelucon penjara, “Anggaplah seperti rumah sendiri dan nikmati tinggal di sini.”

Setiap bagian penjara terdiri dari 12 tenda. Setiap tenda berisi 20 tempat tidur dan tempat sepatu. Kapasitas maximum setiap bagian adalah 240 tawanan. Bayangkan bingkai empat persegi panjang, dihalangi dengan pagar kawat duri silet. Bagian Lima dibagi dalam kotak². Sebuah tembok yang bagian atasnya diberi kawat duri silet, membagi-bagi Bagian dari utara ke selatan, dan pagar rendah membagi tempat itu dari timur ke barat.

Kotak bagian Satu dan Two (sebelah kanan dan kiri atas) masing² memiliki tiga buah tenda Hamas. Kotak bagian Tiga (kanan bawah) memiliki empat tenda – masing² untuk Hamas, Fatah, kombinasi DFLP/PFLP, dan Jihad Islam. Dan Kotak bagian Empat (kiri bawah) memiliki dua tenda, satu untuk Fatah, dan satu lagi untuk DFLP/PFLP.

Kotak Empat memiliki sebuah dapur, WC, tempat mandi, dan tempat untuk shawish dan pekerja dapur, dan baskom² untuk wudhu. Kami berbaris di antrean untuk melakukan sholat di lapangan terbuka di Kotak Dua. Tentunya terdapat menara penjaga di setiap sudut. Pintu gerbang utama di Kotak Lima terletak di pagar kawat antara Kotak Tiga dan Empat.

Satu keterangan lagi: pagar dari timur ke barat memiliki pintu² gerbang diantara Kotak Satu dan Tiga dan Dua dan Empat. Pintu² dibiarkan terbuka hampir sepanjang hari, kecuali pada saat penghitungan kepala di mana pintu² ini ditutup agar penjaga bisa menghitung setiap bagian.

Aku ditempatkan di tenda Hamas di ujung atas Kotak bagian Satu, di ranjang ketiga dari kanan. Setelah penghitungan kepala, kami semua duduk² sambil ngobrol, dan lalu terdengar suara, “Barid, ya mujahidin! Barid!” (Surat bagi pejuang kemerdekaan! Surat!).

Suara itu milik sawa’id dari bagian lain, dan semua orang memperhatikannya. Sawa’id adalah petugas keamanan Hamas di dalam penjara, yang membagi-bagikan pesan dari satu bagian ke bagian lainnya. Kata Sawa’id dalam bahasa Arab berarti “tangan² yang melempar.”

Setelah terdengar teriakan itu, dua orang laki berlari ke luar tenda, menjulurkan tangan² mereka di udara dan melihat langit. Bagaikan sudah diatur saja, sebuah bola datang entah dari mana dan jatuh tepat di tangan² yang sudah siap itu. Beginilah cara para pemimpin Hamas di bagian kami menerima perintah² bersandi rahasia dari pemimpin di bagian lain. Setiap organisasi Palestina di penjara menggunakan cara ini untuk berkomunikasi. Masing² organisasi memiliki nama sandi tersendiri, sehingga jika suara diteriakkan, para “penangkap bola” tahu bahwa mereka harus lari ke tempat di mana bola itu akan jatuh.

Bola² ini dibuat dari roti yang diempukkan dengan air. Pesan dimasukkan ke dalamnya dan roti digulung bulat bagaikan bola sebesar bola softball, dikeringkan sampai mengeras. Tentu saja hanya pelempar dan penerima terbaik yang dipilih sebagai “tukang pos.”
Kejadian menarik itu berakhir dengan cepat. Lalu tiba saat makan malam.

Bersambung ke Bab 13-16

Bab 1-4 ; Bab 5-8 Bab 9-12 ; Bab 13-16 ; Bab 17-20 ; Bab 21-24

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s