Son of Hamas (Putra Hamas). Bab 13-16

Bab 13 – Jangan Percaya Siapapun
1996

Setelah ditahan di bawah tanah begitu lama, rasanya senang sekali bisa melihat langit. Rasanya bagaikan belum melihat bintang² di langit selama bertahun-tahun. Bintang² tampak indah, meskipun lampu² kamp tahanan meredupkan terang bintang. Tapi kemunculan bintang² juga merupakan tanda sudah waktunya dilakukan penghitungan kepala dan waktu tidur. Dan inilah yang sebenarnya membingungkan diriku.

Nomerku adalah 823, dan para tawanan ditempatkan berdasarkan urutan nomer. Ini berarti seharusnya aku berada di tenda Hamas di Kotak Tiga. Tapi karena tenda di sana sudah penuh, aku lalu ditempatkan di tenda di sudut di Kotak Satu.
Ketika dilakukan penghitungan kepala, aku harus berada di tempat yang tepat di Kotak Tiga. Dengan begitu, saat penjaga menghitung daftarnya, dia tidak usah mengingat semua penyesuaian yang harus dilakukan agar semua berjalan rapih.
Semua gerakan pada penghitungan kepala dilakukan dengan teratur.

Dua puluh lima prajurit yang bersenjatakan senapan M16 masuk ke Kotak Satu dan bergerak dari tenda ke tenda. Kami semua berdiri menghadap kanvas tenda, punggung kami menghadap prajurit. Tiada seorang pun yang berani bergerak karena takut ditembak.
Setelah mereka selesai di satu tenda, para prajurit itu bergerak ke Kotak Dua. Setelah itu, mereka menutup dua pintu gerbang di pagar, sehingga tiak ada seorang pun dari Kota Satu atau Dua bisa menyelip ke Kotak Tiga atau Empat untuk menutupi tawanan yang hilang.

Di malam pertama di Kotak Lima, aku menyadari adanya hal misterius yang terjadi. Ketika aku pertama kali masuk ke Kotak Tiga, seorang tawanan yang tampak sangat sakit berdiri di sebelahku. Dia tampak sangat menyedihkan, seperti hampir mati saja. Kepalanya dicukur gundul; dia jelas tampak lelah sekali. Dia juga tidak memandang mataku. Siapakah orang ini, dan apa yang terjadi dengannya? Aku heran.

Ketika para prajurit selesai menghitung di Kotak Satu dan bergerak ke Kotak Dua, seseorang merenggut orang itu keluar tenda, dan seorang tawanan mengambil tempatnya di sebelahku. Aku di waktu kemudian mengetahui bahwa celah kecil telah dibuat di pagar antara Kotak Satu dan Tiga sehingga mereka bisa mengganti tawanan dengan tawanan lain.

Sudah jelas bahwa para tawanan tidak mau prajurit²itu melihat orang yang dicukur gundul tersebut. Tapi mengapa?
Malam itu, sambil berbaring di tempat tidurku, aku mendengar seseorang merintih kesakitan tak jauh dari tempatku. Seseorang jelas sangat menderita kesakitan. Tapi aku lalu tertidur lelap.

Pagi hari selalu datang terlalu cepat, dan sebelum aku menyadari, kami telah dibangunkan untuk sholat Fajar. Dari 240 tawanan di Kotak Lima, 140 orang bangun dan berdiri di antrian untuk menggunakan 6 WC – sebenarnya hanya enam lubang dengan pembatasan yang mengelilinginya. Delapan baskom tersedia untuk melakukan wudu. Waktu yang disediakan adalah 30 menit.

Lalu kami berjejer untuk sholat. Kegiatan sehari-hari serupa seperti di mi’var. Tapi jumlah tawanan di sini 12 kali lebih besar. Meskipun banyak tawanan, semua kegiatan berlangsung dengan sangat teratur. Tampaknya tiada seorang pun yang membuat kesalahan. Hal ini terasa aneh.
Setiap orang tampak ketakutan. Tiada seorang pun yang berani melanggar aturan. Tiada seorang pun yang berani menggunakan WC terlalu lama. Tiada yang berani melihat mata tawanan yang sedang diinterogasi atau mata prajurit Israel. Tiada yang berdiri terlalu dekat dengan pagar.

Tak lama kemudian aku mulai mengetahui alasannya. Di bawah pengamatan pengawas penjara, Hamas berkuasa diantara para tawanan penjara dan mereka mencatat angka perbuatan tawanan. Jika tawanan melanggar aturan, maka dia mendapat angka merah. Jika jumlah angka merah terlalu banyak, maka kau harus menghadap maj’d, petugas keamanan Hamas – orang² maj’d ini sangar dan tidak pernah tertawa atau bercanda.

Pada umumnya kami tidak melihat maj’d karena mereka sibuk mengumpulkan keterangan. Bola² berisi pesan dikirimkan dari satu bagian ke bagian lain berasal dari mereka dan untuk mereka.

Suatu hari, ketika aku sedang duduk di tempat tidurku, para maj’d masuk dan berteriak, “Semua keluar dari tenda ini!” Tiada seorang pun yang mengatakan apapun. Tenda itu kosong dalam sekejap. Mereka lalu menarik seorang pria masuk ke dalam tenda, menutup tenda, dan lalu dua orang menjaga di luar tenda. Seseorang memasang TV keras². Orang² lain mulai bernyanyi dan membuat suara² keras.

Aku tak tahu apa yang terjadi dalam tenda, tapi aku tidak pernah mendengar manusia menjerit kesakitan seperti jeritan orang dalam tenda itu. Apa sih yang dilakukannya sampai dia diperlakukan begitu? Aku sangat heran. Siksaan berlangsung selama 30 menit. Lalu dua maj’d membawa dia keluar dan memasukkannya ke dalam tenda lain di mana interogasi dilakukan lagi.

Aku sedang mengobrol dengan seorang teman bernama Akel Sorour, yang berasal dari desa dekat Ramallah, ketika kami disuruh keluar dari tenda.
“Apa yang terjadi di dalam tenda?” tanyaku.
“Oh, dia adalah orang jahat,” katanya ringan.
“Aku tahu dia orang jahat, tapi apa yang mereka lakukan terhadapnya? Dan apa yang telah dia lakukan?”
“Dia tidak melakukan kesalahan apapun di penjara,”
jelas Akel. “Tapi kata mereka ketika dia berada di Hebron, dia memberi informasi ke Israel tentang anggota Hamas, dan tampaknya dia membocorkan banyak keterangan. Maka mereka menyiksa dia dari waktu ke waktu.”
“Bagaimana cara menyiksanya?”

“Mereka biasanya menusukkan jarum di bawah kuku²nya dan melelehkan nampan² makanan plastik ke atas kulitnya. Atau mereka membakar bulu tubuhnya. Kadangkala mereka meletakkan tongkat besar di belakang lututnya, memaksanya untuk jongkok selama berjam-jam, dan melarangnya tidur.”

Sekarang aku mengerti mengapa setiap orang begitu berhati-hati dan apa yang terjadi dengan orang gundul yang kulihat saat pertama kali aku datang ke sini. Para maj’d membenci orang² yang bekerja sama dengan Israel, kami semua dicurigai sebagai mata² Israel kecuali jika kami bisa membuktikan tidak melakukan itu.

Karena Israel begitu berhasil mengenal cabang² Hamas dan memenjarakan para anggotanya, maj’d mengira organisasinya dipenuhi mata², dan mereka ingin menemukan mata² tersebut. Mereka mengamati segala perbuatan yang kami lakukan. Mereka mengawasi sikap kami, mendengarkan semua yang kami katakan. Dan mereka menghitung angka kesalahan. Kami tahu siapa mereka, tapi kami tidak tahu orang yang mengawasi kami bagi mereka. Orang yang kukira adalah teman, bisa jadi bekerja bagi maj’d, dan ini bisa saja mengakibatkan aku diinterogasi oleh mereka besok hari.

Aku mengambil keputusan untuk bersikap sangat berhati-hati. Begitu aku tahu keadaan yang sarat rasa curiga dan pengkhianatan di kamp ini, hidupku berubah drastis. Rasanya aku ini jadi orang lain sama sekali – orang yang tidak bisa bergerak bebas, tidak bisa bicara bebas, tidak bisa percaya atau berhubungan atau berteman dengan orang lain. Aku takut berbuat salah, takut terlambat, takut ketiduran pada saat harus bangun, atau lupa mengangguk saat jalsa.

Jika seseorang “tertangkap” oleh maj’d sebagai mata² Israel, tamat sudah hidupnya. Kehidupan keluarganya juga akan hancur. Anak²nya, istrinya, semua orang akan menyingkirkannya. Ketahuan sebagai mata² Israel adalah reputasi terjelek yang bisa dialami seseorang. Antara tahun 1993 sampai 1996, lebih dari 150 orang dituduh sebagai mata² diiterogasi oleh Hamas dalam penjara² Israel. Sekitar 16 orang mati dibunuh.

Karena aku bisa menulis dengan cepat dan rapih, maka maj’d meminta aku untuk jadi juru tulis mereka. Informasi yang kutulis adalah rahasia besar, kata mereka. Dan mereka memperingatkanku untuk tidak menyampaikannya pada siapapun.

Aku menghabiskan hari²ku menulis ulang catatan tentang para tawanan. Kami sangat berhati-hati agar informasi ini tidak jatuh ke tangan penjaga penjara. Kami tidak pernah menyebut nama, hanya nomer kode. Ditulis di atas kertas paling tipis yang ada, informasi itu bagaikan pornografi yang paling menjijikan. Isinya antara lain adalah orang² mengaku bersetubuh dengan ibu² mereka. Seseorang berkata dia bersetubuh dengan seekor sapi. Yang lain bersetubuh dengan anak perempuannya. Seorang pria bersetubuh dengan seorang wanita yang adalah juga tetangganya, dan merekam kegiatan itu dengan kamera rahasia, dan memberikan foto²nya pada Israel. Pihak Israel, kata laporan itu, menunjukkan foto² itu pada wanita itu dan mengancam untuk menyebarkannya pada keluarganya jika wanita itu menolak untuk bekerja sebagai mata² Israel. Maka mereka tetap berhubungan seks bersama sambil mengumpulkan keterangan dan mulai bersetubuh dengan orang lain dan merekamnya secara rahasia lagi, melaporkan pada Israel, Israel lalu mengancam, dan seterusnya, sampai seluruh desa tampaknya ramai² menjadi mata² Israel. Ini adalah informasi² pertama yang harus kutulis ulang.

Semuanya ini tampak tidak waras bagiku. Sewaktu sedang menulis ulang informasi² tersebut, aku menyadari bahwa orang² yang dicurigai itu disiksa hebat sambil ditanyai berbagai hal yang mereka pasti tidak tahu dan mereka memberi jawaban apapun yang memuaskan para penyiksa agar penyiksaan berhenti. Aku juga mengira sebagian interogasi dilakukan tanpa tujuan apapun selain untuk memuaskan fantasi seksual para maj’d yang dipenjara.

Lalu suatu hari, temanku Akel Sorour menjadi korban mereka pula. Dia adalah anggota cabang Hamas dan telah ditangkap beberapa kali, tapi untuk alasan tertentu dia tidak pernah diterima dengan baik oleh tawanan Hamas dari kota besar. Akel hanyalah petani sederhana. Caranya bicara dan makan tampak aneh bagi orang lain, dan mereka mengolok-oloknya. Dia mencoba sebaik mungkin untuk meraih kepercayaan dan hormat mereka dengan cara memasak dan membersihkan bagi mereka, tapi mereka memperlakukannya bagaikan sampah karena mereka tahu dia melayani mereka berdasarkan rasa takut.

Akel sendiri punya alasan untuk merasa takut. Kedua orangtuanya telah wafat. Satu²nya keluarga yang dimilikinya adalah saudara perempuannya. Ini membuat dia lemah, karena tak ada siapapun yang bisa membalas dendam atas siksaan yang dialaminya. Terlebih lagi, temannya yang diinterogasi oleh maj’d menyebut nama Akel saat disiksa. Aku sungguh merasa kasihan padanya. Tapi apa yang bisa kulakukan untuk menolongnya? Aku hanyalah anak muda yang kebingungan tanpa kekuasaan apapun. Aku tahu bahwa satu²nya alasan aku tidak diperlakukan sama seperti tawanan lain adalah karena ayahku.

Sekali sebulan, keluarga² tawanan boleh menjenguk kami. Makanan penjara Israel tidak enak, jadi para keluarga biasanya membawa makanan hasil masak sendiri dan barang² pribadi. Karena Akel dan aku berasal dari daerah yang sama, keluarga kami datang pada waktu yang sama pula.

Setelah proses permintaan yang lama, pihak Palang Merah mengumpulkan anggota² keluarga dari daerah tertentu dan menaikkan mereka semua ke dalam bus. Hanya dibutuhkan menyetir dua jam untuk sampai ke Megiddo. Tapi karena bus harus berhenti di setiap pos penjagaan, dan para penumpang harus diperiksa di setiap perhentian, keluarga kami harus berangkat jam 4 pagi agar bisa mencapai penjara jam 12 siang.

Suatu hari, setelah senang bertemu dengan saudara perempuannya, Akel kembali ke Kotak Lima dengan tas² penuh makanan yang dibeli saudaranya baginya. Dia sangat senang dan tidak tahu apa yang sedang menunggunya. Pamanku Ibrahim datang untuk memberi kuliah, dan ini biasanya adalah pertanda buruk. Aku sudah tahu bahwa biasanya Ibrahim mengumpulkan orang² untuk memberi kuliah agar para penjaga tidak sadar bahwa pada saat itu maj’d sedang membawa seseorang untuk diiterogasi. Kali ini, “seseorang” itu adalah Akel. Maj’d merampas hadiah makanannya dan membawanya masuk ke sebuah tenda. Dia hilang di belakang gorden, dan mulailah kesengsaraannya.

Aku melihat pamanku. Mengapa dia tidak melakukan apapun? Dia telah dipenjara bersama Akel berkali-kali. Mereka menderita bersama. Akel telah memasak dan mengurusnya. Pamanku mengenal orang ini. Apakah karena Akel ini miskin, petani pendiam dari desa, sedangkan pamanku berasal dari kota?

Apapun alasannya, Ibrahim Abu Salem duduk bersama maj’d, tertawa dan makan makanan milik Akel yang didapatnya dari saudara perempuannya. Di tempat yang tak jauh, para anggota Hamas – sesama orang Arab, sesama Palestina, sesama Muslim – menusukkan jarum² ke bawah kuku² Akel.

Aku hanya melihat Akel beberapa kali di minggu² berikutnya. Kepala dan jenggotnya telah dicukur, matanya melekat ke tanah. Dia sangat kurus dan tampak seperti orang tua yang hampir mati.
Tak lama kemudian, aku diberi keterangan tentang Akel yang harus kutulis ulang. Dia mengaku berhubungan seks dengan setiap wanita di desanya, dan juga dengan keledai, dan binatang² lainnya. Aku tahu setiap kata itu adalah dusta belaka, tapi aku tulis keterangannya, dan maj’d mengirim surat ini ke desanya. Saudara perempuannya mengasingkannya. Tetangga²nya menolaknya. [Mengaku berzinah karena siksaan, para penyiksanya bahkan merusak reputasi keluarga yang mereka siksa. Terjadi pada sesama pengikut Islam, bahkan satu organisasi!]
Bagiku, maj’d itu lebih bejad daripada mata² Israel. Tapi mereka berkuasa dan berpengaruh dalam sistem penjara. Kupikir aku bisa memanfaatkan mereka untuk kepentinganku.

Anas Rasras adalah ketua maj’d. Ayahnya adalah dosen perguruan tinggi di Tepi Barat dan teman dekat pamanku Ibrahim. Setelah aku tiba di Megiddo, pamanku meminta Anas untuk membantuku menyesuaikan diri di penjara. Anas berasal dari Hebron, berusia sekitar 40 tahun, sangat bersikap rahasia, sangat cerdas, dan sangat berbahaya. Dia diawasi Shin Bet setiap saat dia berada di luar penjara. Dia punya beberapa kawan, tapi dia tidak pernah ikut menyiksa. Karena itu, aku merasa hormat dan bahkan percaya padanya.

Aku beritahu dia bahwa aku setuju untuk bekerja sama dengan Israel agar aku bisa jadi agen dobel, memiliki persenjataan canggih, dan membunuh mereka dari dalam. Aku bertanya apakah dia bisa menolongku.
“Aku harus memeriksa dulu,” katanya, “Aku tak akan menceritakan hal ini pada siapapun, tapi akan kulihat dulu.”
“Apa maksudmu kau harus lihat dulu? Kamu ini bisa menolong aku atau tidak?”

Aku seharusnya sudah mengetahui bahwa aku tidak bisa mempercayai orang ini. Bukannya menolong diriku, dia langsung memberitahu pamanku Ibrahim dan beberapa anggota maj’d lain tentang rencanaku.
Keesokan paginya, pamanku datang menemuiku.
“Apa yang kau pikir sedang kau lakukan?”
“Jangan takut. Tiada sesuatu yang terjadi. Aku punya rencana. Kau tidak perlu ambil bagian dalam hal ini.”
“Ini sungguh berbahaya, Mosab, bagi reputasimu dan reputasi ayahmu, bagi seluruh keluargamu. Orang lain melakukan hal ini, tapi kamu tidak.”

Dia lalu mulai menanyaiku. Apakah Shin Bet memberiku keterangan orang dalam penjara mana yang harus dihubungi? Apakah aku bertemu dengan petugas keamanan Israel? Apa yang diberitahu oleh dia padaku? Apa yang aku beritahu pada orang lain? Semakin banyak dia menginterogasiku, semakin marah aku jadinya. Akhirnya, aku meledak di hadapan wajahnya.
“Kenapa kau tidak mengurus urusan agama saja dan tidak usah mengurus perihal keamanan? Semua orang ini menyiksa orang lain tanpa tujuan berarti. Mereka sendiri tidak tahu apa yang mereka lakukan. Aku tidak punya apapun lagi yang bisa kukatakan. Aku akan melakukan apa yang ingin kulakukan, dan kau, silakan lakukan apa yang kau inginkan.”

Aku tahu perkembangan ini tentunya tidak baik untuk diriku. Aku yakin mereka tidak menyiksa atau menginterogasiku karena ayahku, tapi aku bisa melihat bahwa pamanku Ibrahim tidak tahu apakah aku mengatakan yang sebenarnya atau tidak.
Pada saat itu, aku sendiri juga tidak merasa yakin lagi.
Aku menyadari bahwa aku bertindak bodoh dengan mempercayai maj’d. Apakah aku juga bodoh jika mempercayai Israel? Mereka tetap belum memberitahu apapun padaku. Mereka tidak menyebut orang manapun yang harus kuhubungi. Apakah mereka ini juga sedang bermain-main denganku?

Aku masuk tendaku dan merasa diriku tertekan secara mental dan emosianal. Aku tidak bisa mempercayai siapapun lagi. Tawanan² yang lain bisa melihat ada yang salah pada diriku, tapi mereka tidak tahu apa tepatnya. Meskipun maj’d tidak menyebarkan apa yang kusampaikan, tapi mereka mengawasiku dengan seksama. Setiap orang merasa curiga padaku. Aku pun merasa curiga terhadap siapapun. Dan kami semua hidup bersama di dalam kandang terbuka dan tidak bisa pergi ke tempat lain. Tiada tempat untuk menghindar atau sembunyi.

Waktu merambat. Kecurigaan pun bertambah besar. Setiap hari, terdengar jerit kesakitan; setiap malam, penyiksaan. Hamas menyiksa anggota²nya sendiri! Biarpun aku mencoba sekuat tenaga, aku tetap tidak bisa membenarkan tindakan itu.
Tak lama kemudian, keadaan semakin memburuk. Jika dulu yang diperiksa satu orang saja, sekarang tiga orang sekaligus pada saat yang sama. Pada saat subuh jam 4 pagi, seseorang berlari keluar, memanjat pagar, dan dalam waktu 20 detik dia sudah berada di luar kamp penjara, baju dan dagingnya tersobek oleh kawat silet. Seorang penjaga menara penjara mengayunkan senapannya dan membidik orang itu.

“Jangan tembak!” teriak orang itu. “Jangan tembak! Aku tidak mencoba melarikan diri. Aku hanya mencoba menghindari mereka!” Dan dia menunjuk pada para maj’d yang memelototinya dari balik pagar. Para prajurit berlari di luar pintu gerbang, melempar tawanan itu ke tanah, memeriksanya, dan membawanya pergi.
Apakah ini Hamas? Apakah ini Islam?

Bab 14 – Kekacauan di Penjara
1996-1997

Ayah adalah Islam bagiku. Jika aku harus meletakkan ayah di atas timbangan Allâh, maka beratnya lebih besar daripada Muslim mana pun yang pernah kutemui. Dia tidak pernah alpa sholat, bahkan jika dia pulang kerja larut malam dan telah merasa lelah. Aku sering mendengarnya berdoa dan menangis berharap pada ilah Qur’an di tengah malam. Dia adalah orang yang rendah hati, penuh kasih, dan pemaaf – terhadap ibuku dan anak²ny, bahkan orang² yang tidak dikenalnya sekalipun.

Ayah bukanlah sekedar Muslim pembela Islam, tapi dia menjalani kehidupannya sebagai contoh bagaimana seorang Muslim seharusnya bersikap. Dia memantulkan sisi Islam yang indah, dan bukan sisi kejam yang menuntut umat Muslim untuk menaklukkan dan memperbudak seluruh dunia.

Akan tetapi, selama periode 10 tahun setelah aku dipenjara, aku melihat ayah bergulat dengan konflik irasional di dalam bathinnya. Di satu pihak, ayah tidak menganggap perbuatan Muslim yang membunuhi para warga sipil, prajurit, wanita dan anak² Israel sebagai tindakan yang salah. Dia percaya bahwa Allâh memberinya hak untuk melakukan hal itu. Akan tetapi di lain pihak, dia sendiri tidak tega melakukan apa yang para Muslim radikal itu lakukan. Ada sesuatu dalam hatinya yang menolak perbuatan seperti itu. Apa yang dianggapnya salah untuk dilakukan oleh dirinya sendiri, dibenarkannya jika yang melakukan adalah orang lain.

Tapi sebagai anaknya, aku dulu hanya bisa melihat kebaikannya saja dan beranggapan kebaikannya itu merupakan buah² Islam. Karena aku ingin menjadi seperti dia, maka aku percaya apa yang dia percayai tanpa banyak tanya lagi. Yang tak kuketahui saat itu adalah tidak peduli berapapun beratnya kita di atas timbangan Allâh, semua perbuatan mulia dan pekerjaan baik kita, tidak lebih nilainya daripada sekedar gombal busuk bagi Allâh.

Para Muslim yang kutemui di Megiddo sama sekali tidak sama dengan ayahku. Mereka menghakimi orang dengan lagak bagaikan dirinya lebih tinggi daripada Allâh saja. Mereka kejam dan memuakkan, menghalangi layar TV agar kita tidak bisa melihat wanita tak berjilbab. Mereka tanpa toleransi dan munafik, suka menyiksa orang² yang mendapat nilai merah tinggi – meskipun orang² ini hanyalah tawanan yang terlemah dan tak berdaya. Tawanan² lain yang punya hubungan baik dengan maj’d tidak disentuh – bahkan jika tawanan itu mengakui sebagai mata² Israel, hanya karena dia adalah putra Syeikh Hassan Yousef.

Untuk pertamakalinya dalam hidupku, aku mulai mempertanyakan berbagai hal yang dulu selalu kuyakini.
“Delapan dua tiga! [823]”
Sudah saatnya aku menghadap sidang pengadilan. Aku telah dipenjara selama enam bulan. Prajurit IDF mengantarku ke Yerusalem, di mana jaksa penuntut meminta hakim menjatuhkan hukuman bagiku selama enam belas bulan.

Enam belas bulan! Kapten Shin Bet dulu mengatakan aku hanya tinggal di penjara untuk sesaat saja! Apa sih yang kulakukan sehingga harus dihukum seberat ini? Memang benar aku punya niat gila dan lalu membeli beberapa senjata. Tapi kan senjata² itu rusak dan tidak dapat dipakai?
“Enambelas bulan!”

Pengadilan menghitung bahwa aku telah menghuni penjara selama enam bulan, sehingga aku dikirim kembali ke Megiddo dan harus tinggal di sana selama sepuluh bulan lagi.
“Baiklah,” kataku pada Allâh. “Aku rela dipenjara selama sepuluh bulan, tapi jangan di sana dong! Jangan di neraka itu!” Tapi tiada yang peduli akan keluhanku – tidak juga pihak keamanan Israel yang dulu merekrutku dan sekarang meninggalkanku begitu saja.

Setidaknya aku bisa melihat keluargaku sekali sebulan. Ibuku melakukan perjalan yang melelahkan ke Megiddo sekali setiap empat minggu. Dia diijinkan untuk membawa tiga orang saja dari semua adik²ku, maka mereka mengunjungiku secara bergiliran. Setiap kali datang, ibu membawa penganan bayam campur yang segar dan baklava. Keluargaku tidak pernah alpa mengunjungiku.

Melihat keluargaku mendatangkan rasa lega yang besar bagiku, meskipun aku tidak bisa menceritakan apa yang terjadi di dalam pagar penjara dan di balik layar. Bertemu dengan diriku juga sedikit meringankan rasa kehilangan mereka. Aku telah berperan bagaikan ayah bagi adik² laki dan perempuanku – aku memasak untuk mereka, membersihkan bagi mereka, memandikan dan memakaikan baju mereka, mengantar jemput ke sekolah – dan dengan dipenjara, aku juga menjadi pahlawan perjuangan bagi mereka. Mereka merasa sangat bangga akan diriku.

Pada suatu kunjungan, ibuku memberitahu bahwa PA telah membebaskan ayahku. Aku tahu ayah selalu ingin naik haji ke Mekah. Ibu mengatakan ayah pergi ke Saudi Arabia tak lama setelah kembali pulang ke rumah. Ibadah naik haji merupakan pilar kelima Islam, dan setiap Muslim yang mampu secara fisik dan finansial wajib melakukan ibadah ini setidaknya sekali dalam hidupnya. Setiap tahun, lebih dari dua juta Muslim berkumpul di Mekah untuk naik haji.
Tapi ayahku gagal untuk melakukan ibadah haji. Setelah melalui Jembatan Allenby diantara Israel dan Yordania, dia ditahan lagi, kali ini oleh pihak Israel.

*******************

Di suatu sore, para ketua tawanan Hamas di Megiddo menyodorkan daftar permintaan pada penjaga penjara, dan memberi batas waktu 24 jam untuk memenuhi permintaan, dan mengancam untuk membuat keonaran jika permintaan tidak dipenuhi.

Tentu saja penjaga penjara tidak ingin para tawanan melakukan keonaran. Kekacauan di penjara bisa menyebabkan tawanan tertembak, dan Pemerintah Pusat di Yerusalem tentunya enggan berhubungan dengan segala hal yang bisa membuat Palang Merah dan berbagai organisasi HAM protes dan ribut besar. Keonaran di penjara itu jelek untuk tawanan dan penjaga penjara. Untuk menghindari keonaran, pihak Israel bertemu muka dengan shawish utama, yang ditunjuk dari bagian penjara kami.
“Kami tidak bisa bekerja secepat ini,” kata pejabat penjara padanya. “Kami perlu waktu yang lebih banyak untuk mempertimbangkan.”
“Tidak,” katanya memaksa. “Kau hanya punya waktu 24 jam.”

Tentu saja pihak Israel juga tidak mau dipaksa seperti itu. Aku tak tahu mengapa ketua tawanan Hamas sampai mengancam seperti itu. Meskipun aku menderita di sini, dibandingkan dengan fasilitas penjara lain yang kudengar, Megiddo bagaikan hotel bintang lima. Permintaan terdengar konyol bagiku – waktu bicara di telepon yang lebih lama, jam kunjungan yang lebih lama, dan berbagai hal sepele seperti itu.

Kami menanti sepanjang hari sampai matahari terbenam. Ketika batas waktu berakhir, Hamas memerintahkan kami untuk membuat kekacauan.
“Apa yang harus kami lakukan?” tanya kami.

“Hancurkan barang² dan bikin gaduh! Hancurkan aspal di lantai dan lemparkan pada para penjaga. Lempar sabun. Lempar air panas. Lempar segala macam benda yang bisa kau angkat!” Beberapa tawanan mengisi gentong dengan air agar jika prajurit melempar kaleng gas air mata, mereka bisa mengambilnya dan menyemplungkannya ke dalam air. Kami mulai mengobrak-abrik daerah olahraga. Seketika terdengarlah suara sirine dan keadaan jadi sangat berbahaya. Ratusan prajurit mengenakan baju dan perlengkapan anti kericuhan massal keluar mengepung kamp tawanan dan mengarahkan senjata pada kami.

Satu²nya yang kupikirkan adalah semuanya ini terasa sangat tak masuk akal. Mengapa kami harus melakukan ini? Tanyaku. Ini adalah gila! Apakah kami harus melakukan ini hanya gara² shawish sinting itu? Aku bukanlah orang yang penakut, tapi juga tidak mau melakukan hal yang tak berarti. Pasukan Israel bersenjata lengkap dan terlindung, sedangkan kami hanya bisa melempari mereka dengan bongkahan aspal.

Hamas memberi perintah, dan setiap tawanan di setiap bagian mulai melempari kayu, pecahan aspal, dan sabun. Dalam waktu beberapa detik saja, ratusan kaleng gas air mata dilempar masuk dan meledak, memenuhi kamp tawanan dengan asap putih. Aku tidak dapat melihat apapun. Baunya sungguh sukar untuk dijabarkan. Semua orang di sekitarku menjatuhkan diri ke tanah dan tersengal-sengal mencoba menghirup udara segar.

Semua ini terjadi dalam waktu tiga menit saja. Tapi para prajurit Israel baru saja mulai.
Prajurit² lalu mengarahkan pipa besar pada kami yang mengeluarkan asap kuning. Asap kuning ini tidak terapung di udara seperti gas air mata; karena lebih berat daripada udara, asap kuning itu turun menyentuh tanah dan menyingkirkan semua oksigen. Para tawanan mulai bergelimpangan pingsan.

Aku mencoba bernapas sebisanya tatkala aku melihat nyala api.
Tenda Jihad Islam di Kotak Tiga terbakar. Dalam waktu beberapa detik saja, api berkobar-kobar setinggi 6 meter ke langit. Tenda² yang terbuat dari bahan anti air berbasis minyak tanah terbakar bagaikan disiram bensin. Tonggak² dan bingkai² kayu, matras², dan tempat² sepokat – semuanya dilalap api. Angin menyebarkan api ke tenda² DFLP/PFLP dan Fatah, dan sepuluh detik kemudian, tenda² tersebut terbakar bagaikan dilalap api neraka.
Kobaran api merambat sangat cepat ke daerah kami. Sebagian tenda terbang ditiup angin dan mendarat di pagar kawat silet. Para prajurit mengepung kami. Tiada jalan keluar selain melewati api. Maka kami berlarian.
Aku menutupi wajahku dengan handuk dan berlari ke arah dapur. Ada celah selebar 3 meter diantara tenda² terbakar dan tembok. Lebih dari 200 tawanan mencoba berlari melalui celah itu kala para prajurit terus memenuhi bagian dengan asap kuning.
Dalam waktu beberapa menit saja, separuh Kotak Lima sudah lenyap – semua yang kami miliki, sesedikit apapun, terbakar hangus. Tiada yang tersisa kecuali abu.

Banyak tawanan terluka. Tapi sungguh ajaib, tak satu pun mati terbunuh. Mobil² ambulans datang mengumpulkan orang² yang terluka. Setelah kekacauan berakhir, tawanan² yang tendanya terbakar ditempatkan di tenda lain yang masih utuh. Aku dipindahkan ke tengah² tenda Hamas di Kotak Dua.

Satu²nya akibat baik dari kerusuhan penjara Megiddo adalah berhentinya penyiksaan yang dilakukan para ketua Hamas. Mereka terus melakukan pengamatan, tapi kami merasa tidak terlalu tegang lagi dan tidak terlalu takut untuk melakukan sedikit kesalahan. Aku berteman dengan beberapa orang yang kuanggap bisa kupercaya. Tapi kebanyakan kegiatanku hanyalah berjalan-jalan saja selama berjam-jam sendirian, tak ada pekerjaan lain dari hari ke hari.

*******************

“Delapan dua tiga! [823]”
Pada tanggal 1 September, 1997, seorang penjaga penjara mengembalikan semua barang²ku dan sedikit uang yang kumiliki sewaktu aku ditangkap, memborgol tanganku dan memasukkan aku ke dalam sebuah mobil van. Para prajurit menyetir mobil menuju ke pos penjagaan pertama setiba di daerah Palestina, yakni Jenin di Tepi Barat. Mereka membuka pintu van dan melepaskan borgol.
“Kau bebas pergi sekarang,” kata salah satu dari mereka. Lalu mereka membalikkan mobil kembali ke arah kedatangan mereka, dan membiarkan aku berdiri seorang diri di pinggir jalan.

Aku sungguh tak percaya. Senang sekali rasanya bisa berjalan di tempat bebas ini. Aku sangat ingin bertemu ibuku dan saudara² laki dan perempuanku. Aku masih berada dalam jarak dua jam menyetir kendaraan dari rumahku, tapi aku sengaja berjalan lambat. Aku ingin menikmati kemerdekaanku.

Aku berjalan selama dua mil, sambil menghirup udara segar yang memenuhi paru²ku dan menikmati sunyi senyap lingkungan dengan telingaku. Setelah mulai merasa jadi manusia utuh lagi, aku lalu memanggil sebuah taksi untuk membawaku ke pusat kota. Taksi yang lain membawaku ke Nablus, lalu Ramallah, dan sampai di rumahku.

Naik mobil melalui jalanan Ramallah, melihat toko² dan orang² yang kukenal, membuat aku ingin loncat dari taksi dan menyapa mereka semua. Sebelum aku melangkah keluar dari taksi yang berhenti di depan rumahku, aku melihat ibu berdiri di depan pintu. Airmata bercucuran di pipinya saat dia memanggilku. Dia berlari ke arah mobil dan lengannya memelukku erat². Sewaktu dia memelukku dan menepuk-nepuk punggung, bahu, wajah, dan kepalaku, semua rasa sakit yang ditanggungnya selama 1 1/2 tahun tumpah keluar.

“Kami telah menghitung hari menantikan kedatanganmu,” katanya. “Kami sangat khawatir tidak akan melihatmu lagi. Kami sangat bangga akan dirimu, Mosab. Kau benar² pahlawan sejati.”

Sama seperti ayahku, aku tahu aku tidak bisa menceritakan pada ibu atau saudara²ku apa yang telah kualami. Keterangan seperti itu akan terlalu menyakitkan mereka. Bagi mereka, aku adalah pahlawan yang ditawan di penjara Israel bersama pahlawan² lainnya, dan sekarang aku sudah pulang ke rumah. Mereka malah memandang hal ini sebagai pengalaman yang baik bagiku. Apakah ibuku tahu akan senjata² yang dulu kubeli? Iya. Apakah dia menganggap itu sebagai perbuatan bodoh? Mungkin, tapi semuanya itu dianggap sebagai bagian dari usaha menentang pendudukan dan karenanya bisa diterima.

Kami merayakan hari kebebasanku dan kami makan enak dan bercanda, sebagaimana yang dulu selalu kami lakukan bersama. Rasanya seperti aku tidak pernah pergi saja. Dan selama beberapa hari, banyak teman²ku dan teman² ayahku datang untuk bergembira bersama kami.
Aku tinggal di rumah selama beberapa minggu, menikmati semua kasih sayang di sekitarku dan makan masakan ibu yang enak. Lalu aku keluar untuk menikmati pemandangan sekitar, suara² dan aroma yang sangat kurindukan. Di malam hari, aku pergi ke pusat kota bersama teman²ku – makan falafel di Mays Ar Rim dan minum kopi di Kit Kat bersama Basam Huri, pemilik warung kopi. Sewaktu aku berjalan-jalan di jalanan yang ramai dan bicara dengan teman²ku, aku menyerap semua rasa damai dan merdeka.
Diantara waktu ayah dilepaskan dari penjara PA dan dia ditangkap kembali oleh Israel, ibuku hamil lagi. Hal ini mengejutkan kedua orangtuaku, karena mereka sebenarnya tidak mau lagi punya anak setelah kelahiran adik perempuanku Anhar tujuh tahun yang lalu. Sewaktu aku pulang dari penjara, ibu telah hamil enam bulan dan kandungannya semakin besar. Lalu ibu mengalami kecelakaan patah pergelangan kaki, dan proses kesembuhan berlangsung sangat lamban karena bayi dalam kandungannya menyerap semua kalsium di tubuh ibu. Kami tidak punya kursi roda sehingga aku harus menggendongnya ke mana dia harus pergi. Dia sangat menderita kesakitan, dan aku sungguh sedih melihat keadaannya seperti itu. Aku punya SIM sehingga kami bisa melakukan berbagai hal dan belanja. Ketika akhirnya Naser lahir, aku mengambil tanggung jawab memberinya makan, memandikannya, dan mengganti popoknya. Dia memulai hidupnya dengan mengira akulah ayahnya.

Sudah tentu aku gagal menjalani ujian akhir SMA dan tidak lulus SMA. Mereka menawarkan ujian pada kami semua di penjara, tapi aku adalah satu²nya tawanan yang tidak lulus ujian. Aku tidak pernah mengerti mengapa, sebab wakil dari Departemen Pendidikan datang ke penjara dan memberi semua orang kertas jawaban sebelum ujian dilakukan. Sungguh gila. Seorang tawanan berusia 60 tahun dan buta huruf meminta orang lain menulis jawaban ujian baginya. Dan ternyata bahkan dia pun lulus ujian! Aku punya jawaban ujian, ditambah lagi aku telah bersekolah selama 12 tahun sehingga tahu akan materi pertanyaan. Tapi ketika hasil ujian keluar, semuanya lulus kecuali aku sendiri. Satu²nya penjelasan yang bisa kupikirkan adalah mungkin Allâh tidak mau aku lulus dengan cara [TIDAK] mencontek.

Maka ketika aku keluar dari penjara, aku mulai mengambil kelas malam di Al-Ahlia, sebuah sekolah Katolik di Ramallah. Kebanyakan muridnya adalah Muslim tradisional yang datang ke situ karena sekolah itu adalah yang terbaik di kota. Karena kelas berlangsung di malam hari, maka aku bisa kerja di siang hari di toko hamburger Checkers untuk mencari nafkah bagi keluargaku. Aku hanya mendapat angka 64% dari ujian²ku, tapi ini sudah cukup untuk lulus. Aku tidak belajar dengan serius karena aku tidak terlalu suka dengan mata pelajarannya. Aku tidak peduli. Aku cukup senang bisa tamat SMA.

Bab 15 – Jalan ke Damaskus
1997-1999

Dua bulan setelah keluar dari penjara, ponselku berdering. “Selamat ya,” terdengar suara berbicara dalam bahasa Arab.
Aku kenal aksen bahasanya. Orang ini adalah kapten Shin Bet-ku nan “setia,” si Loai!
“Kami akan senang sekali jika bertemu denganmu,” kata Loai, “tapi kita tidak bisa bicara panjang lebar di telepon. Dapatkah kita bertemu?”
“Tentu saja.”
Dia memberi aku nomer telpon, password, dan beberapa arah jalan. Aku merasa bagaikan agen rahasia. Dia memberitahuku untuk pergi ke suatu tempat, dan lalu ke tempat lain, dan menelpon dia di tempat itu.

Aku mengikuti petunjuknya, dan ketika aku akhirnya menelponnya, aku diberi lagi petunjuk lain. Aku berjalan sekitar 20 menit sampai sebuah mobil bergerak di sebelahku dan berhenti. Seorang pria dalam mobil menyuruhku untuk masuk, dan aku menurutinya. Aku diperiksa, disuruh telungkup di lantai, dan ditutupi selimut.

Kami mengendarai mobil selama satu jam, dan selama itu tak ada seorang pun yang bicara. Ketika akhirnya kami berhenti, kami berada di dalam garasi rumah. Aku bersyukur ini bukan pusat militer atau penjara lagi. Nantinya aku mengetahui bahwa rumah itu milik Pemerintah di daerah Israel. Begitu aku tiba di sana, aku diperiksa lagi, kali ini jauh lebih teliti, dan lalu aku diajak masuk ke dalam ruangan yang disusun dengan perabot² yang rapih. Aku duduk sebentar di sana, dan lalu Loai muncul. Dia menjabat tanganku – dan bahkan memelukku.
“Bagaimana kabarmu? Bagaimana pengalamanmu di penjara?”
Aku katakan padanya aku baik² saja dan pengalamanku di penjara tidak terlalu menyenangkan, terutama karena dia bilang aku tidak usah tinggal di penjara terlalu lama.

“Maafkan aku; kami harus melakukan itu untuk melindungimu.” Aku berpikir tentang pengakuanku pada maj’d tentang jadi agen dobel dan berpikir mungkin Loai juga harus tahu akan hal ini. Kupikir aku harus mencoba melindungi diriku.

“Begini nih,” kataku, “mereka menyiksa orang² di sana, dan aku tak punya pilihan lain selain mengatakan pada mereka bahwa aku setuju bekerja bagimu. Aku takut saat itu. Kau tidak pernah memperingatkanku apa yang terjadi di sana. Kau tidak pernah memberitahuku untuk berhati-hati dengan orang²ku sendiri di sana. Kau tidak pernah melatih aku, dan aku ketakutan. Maka aku beritahu mereka bahwa aku berjanji untuk jadi mata² agar aku bisa jadi agen dobel dan akhirnya membunuh kalian semua.” Loai tampak terkejut, tapi dia tidak marah. Meskipun Shin Bet tidak melalukan penyiksaan di kamp penjara itu, mereka tentunya tahu penyiksaan itu terjadi – dan tentunya mengerti mengapa aku jadi merasa ketakutan.

Dia menelpon bossnya dan memberitahu semua yang kukatakan. Mungkin karena sungguh sukar bagi Israel untuk merekrut anggota Hamas atau mungkin juga karena aku adalah putra Syeikh Hassan Yousef, aku dianggap sangat berharga sehingga mereka melupakan keteranganku begitu saja.
Orang² Israel ini tidaklah seperti yang kuduga sebelumnya.
Loai memberiku beberapa ratus dollar dan memberitahuku untuk beli baju, merawat diriku, dan menikmati hidupku.
“Kita akan berhubungan lagi,” katanya.

Apa? Tiada tugas rahasia? Tiada buku sandi? Tiada senjata? Hanya segepok duit dan rangkulan? Hal ini sungguh sukar kumengerti.
Kami bertemu kembali dua minggu kemudia, dan kali ini di sebuah rumah Shin Bet di jantung Yerusalem. Rumah ini diberi perabotan lengkap, penuh dengan alarm tanda bahaya dan penjaga², dan begitu rahasia sehingga tetangga sebelah juga tak tahu apa yang terjadi di rumah ini. Kebanyakan ruangan digunakan untuk rapat. Aku tidak pernah diijinkan mengunjungi ruangan² itu tanpa pengawal, bukan karena mereka tidak percaya padaku, tapi karena mereka tidak mau aku terlihat oleh agen² Shin Bet lainnya. Ini sekedar lapisan keamanan lain.

Sewaktu pertemuan kedua, anggota² Shin Bet sangatlah ramah. Mereka bicara dalam bahasa Arab yang baik, dan sudah jelas bahwa mereka mengenal diriku, keluargaku, dan budayaku. Aku tidak punya informasi apapun dan mereka pun tidak bertanya apapun. Kami hanya mengobrol biasa saja tentang berbagai hal umum.

Semua ini sungguh diluar dugaanku. Aku sangat ingin tahu apa yang mereka ingin aku lakukan, meskipun karena catatan yang kubaca di penjara, aku agak khawatir mereka akan menyuruhku untuk berhubungan seks dengan saudara perempuanku atau tetanggaku dan harus merekam adegan sex itu. Tapi tak ada yang menyinggung hal itu sama sekali. [Ia mengingat laporan pengakuan palsu, seperti temannya Akel,  yang ia harus tulis sewaktu di penjara pada Bab 13].

Setelah pertemuan kedua, Loai memberiku uang dua kali lebih banyak daripada pertemuan pertama. Dalam waktu sebulan saja, aku telah mendapatkan uang sebanyak $800 darinya, dan ini sungguh uang yang buanyak sekali bagi pemuda usia 20 tahun seperti aku pada saat itu. Dan aku pun tidak memberikan apapun pada Shin Bet. Malah sebenarnya, dalam waktu beberapa bulan aku jadi agen Shin Bet, aku belajar jauh lebih banyak dari mereka sedangkan aku tak memberi keterangan apapun.

Mereka mulai melatihku dengan aturan² dasar. Aku tidak boleh berzinah karena ini akan mengungkapkan diriku dan membuatku menghadapi masalah besar. Aku tidak diperbolehkan memiliki hubungan di luar nikah dengan wanita sama sekali – baik wanita Palestina maupun Israel – sewaktu aku bekerja bagi mereka. Jika aku melakukan itu, maka aku akan dipecat. Aku juga tidak boleh menceritakan pada siapapun bahwa aku ingin menjadi agen dobel lagi.

Setiap kali kami bertemu, aku belajar lebih banyak tentang kehidupan dan keadilan dan keamanan. Shin Bet tidak mencoba menghancurkanku dengan memaksaku melakukan hal² yang jahat. Mereka sebenarnya tampak berusaha sebaik mungkin untuk membangun diriku, untuk membuatku lebih kuat dan bijaksana.

Sejalan dengan berlalunya waktu, aku mulai mempertanyakan rencana awalku untuk membunuh orang² Israel. Orang² ini sungguh baik padaku. Mereka jelas peduli akan diriku. Mengapa aku mau membunuh mereka? Aku kaget tatkala menyadari bahwa niat itu sudah tidak kurasakan lagi.

Pendudukan tidaklah lenyap. Kuburan di Al-Bireh masih terus dipenuhi oleh mayat² lelaki, perempuan, dan anak² Palestina yang dibunuh oleh prajurit Israel. Aku juga belum lupa dengan pemukulan yang kuderita saat dibawa ke penjara atau hari² di mana aku diikat di kursi kecil.

Tapi aku juga ingat akan jeritan² dari tenda penyiksaan di Megiddo dan orang yang membiarkan dirinya tercabik-cabik kawat silet karena mencoba melarikan diri dari para Hamas yang menyiksanya. Sekarang aku mendapat pengertian dan hikmat. Dan siapakah pembimbingku sekarang? Musuh²ku sendiri! Tapi apakah mereka benar² musuhku? Ataukah mereka hanya baik padaku karena ingin memanfaatkanku? Aku jadi bertambah bingung saja jadinya.

Di suatu pertemuan, Loai berkata, “Karena kau bekerja bagi kami, kami mempertimbangkan untuk melepaskan ayahmu agar kau bisa dekat dengannya dan melihat apa yang terjadi di daerahmu.” Aku tidak tahu bahwa hal itu bisa terjadi, tapi aku senang jika ayah bisa pulang kembali.

Di tahun² berikutnya, ayah dan aku membandingkan catatan² tentang pengalaman kami. Dia tidak mau menjelaskan secara detail apa yang dideritanya, tapi dia ingin agar aku mengetahui bahwa dia memperbaiki keadaan sewaktu dia dipenjara di Megiddo. Dia mengatakan bahwa ketika dia sedang menonton TV di mi’var, seseorang menjatuhkan papan kayu di depan layar TV.

“Aku tidak akan menonton TV lagi jikalau kau terus-menerus menutup layar TV dengan papan,” katanya pada emir. Mereka menyingkirkan papan itu, dan masalah selesai sudah. Ketika dia dipindahkan ke kamp tawanan, dia pun menghentikan kegiatan penyiksaan. Dia memerintahkan maj’d untuk menyerahkan semua catatan padanya, dan dia memeriksanya, dan menemukan bahwa 60% dari orang² yang didakwa sebagai mata² ternyata tak bersalah. Maka dia memerintahkan agar pihak keluarga dan masyarakat orang² diberitahu atas tuduhan yang salah itu. Salah satu tertuduh yang tak bersalah adalah Akel Sorour. Ayah mengirim surat keterangan pada desa Akel bahwa Akel tak bersalah. Surat ini mungkin tidak bisa menghilangkan penderitaan Akel, tapi setidaknya dia sekarang bisa hidup tenang dan terhormat.

Setelah ayahku dibebaskan dari penjara, pamanku Ibrahim datang untuk menjenguknya. Ayahku juga ingin agar paman tahu bahwa ayah telah menghentikan kegiatan penyiksaan di Megiddo dan bahwa kebanyakan orang² yang disiksa maj’d adalah orang² tak bersalah dan semuanya ini berakibat hancurnya kehidupan mereka dan juga sanak saudara mereka. Ibrahim pura² kaget. Dan ketika ayah menyinggung tentang Akel, pamanku mengatakan dia mencoba membela Akel dan mengatakan pada maj’d bahwa Akel tidak mungkin jadi mata² Israel.

“Terpujilah Allâh,” kata Ibrahim, “karena kau telah menolongnya!” Aku tak tahan akan kemunafikannya, maka aku lalu meninggalkan ruangan.  Ayahku juga memberitahuku bahwa ketika dia berada di Megiddo, dia mendengar kisah agen dobel yang kukatakan pada maj’d. Tapi dia tidak marah padaku. Dia hanya mengatakan bahwa aku bodoh karena mau bicara pada mereka.
“Aku tahu, ayah,” kataku. “Aku berjanji kau tak perlu khawatir akan diriku. Aku bisa mengurus diriku sendiri.”
“Bagus jika begitu,” katanya. “Hati-hatilah dari sekarang. Tiada seorang pun yang bisa lebih kupercayai selain kau.”

Ketika kami bertemu lagi di bulan itu, Loai berkata padaku, “Sudah saatnya kau mulai bertugas. Ini yang harus kau lakukan.”
Akhirnya, begitu pikirku.
“Tugasmu adalah kuliah di perguruan tinggi dan meraih gelar S1.”
Dia menyerahkan amplop penuh berisi uang. “Ini cukup untuk menutupi biaya kuliah dan keperluan²mu,” katanya. “Jika kau butuh lagi, tolong beritahu aku.”

Aku sungguh tak percaya akan hal ini. Tapi bagi orang² Israel, hal ini sangat masuk akal. Pendidikanku merupakan investasi yang baik bagi mereka. Tentunya tidak baik bagi badan keamanan negara untuk bekerja sama dengan orang yang tak berpendidikan tinggi dan tak punya prospek hidup yang baik. Bagiku juga berbahaya jika dianggap sebagai orang tak berguna karena pandangan orang² Palestina selama ini adalah hanya orang² sampah saja yang bersedia bekerja sama dengan Israel. Tentu saja pandangan seperti ini salah, karena orang² tak berguna tentunya juga tidak punya keterangan berguna apapun bagi Shin Bet.

Maka aku lalu melamar ke Universitas Birzeit, tapi mereka tidak menerimaku karena nilai² SMA-ku terlalu rendah. Aku jelaskan bahwa keadaanku adalah perkecualian karena aku telah dipenjara. Aku sebenarnya adalah pemuda cerdas, kilahku, dan aku akan menjadi mahasiswa yang baik. Tapi mereka tetap tidak memberikan perkecualian bagiku. Satu²nya pilihan bagiku adalah melamar di Universitas Terbuka Al-Quds dan belajar di rumah.

Kali ini nilai² kuliahku baik. Aku jadi sedikit bertambah bijaksana dan lebih bermotivasi. Dan pada siapakah aku harus berterima kasih atas semua ini? Musuhku.

Setiap kali aku bertemu dengan orang² Shin Bet, mereka berkata padaku, “Jika kau perlu apapun, bilang saja pada kami. Kau boleh membersihkan diri. Kau boleh sholat. Kau tidak perlu merasa takut.” Makanan dan minuman yang mereka tawarkan padaku tidak melanggar hukum Islam. Para pembimbingku sangat berhati-hati untuk tidak melakukan hal yang mereka tahu bisa menyinggung perasaanku: mereka tidak memakai celana pendek. Mereka tidak duduk dengan kaki diangkat ke atas meja dan kaki menghadap wajahku. Mereka selalu bersikap sangat menghormati. Karena sikap mereka ini, aku juga belajar banyak dari mereka. Mereka tidak bersikap seperti mesin militer. Mereka adalah manusia biasa yang normal, dan mereka pun memperlakukanku seperti manusia normal pula. Hampir setiap kali saat kami bertemu, sebongkah batu lainnya dari fondasi pandanganku dalam melihat dunia [Zion] runtuh.

Budayaku – bukan ayahku – telah mengajarku bahwa IDF dan masyarakat Israel adalah musuh²ku. Ayahku tidak melihat prajurit² Israel sebagai penjahat; tapi dia melihat mereka sebagai individu² yang melakukan apa yang mereka percayai sebagai tugas para prajurit. Masalahnya bukanlah dengan orang² Israel tapi dengan ideologi yang mendorong dan memotivasi orang² Israel.  Loai bersikap mirip dengan ayahku, lebih dari semua orang Palestina manapun yang pernah kutemui. Dia tidak percaya pada Allâh, tapi dia tetap menghormatiku.

Maka sekarang siapakah musuhku sebenarnya?

Aku berbicara dengan Shin Bet tentang penyiksaan di Megiddo. Mereka berkata bahwa mereka mengetahui semua itu. Setiap gerakan tawanan², apapun yang mereka katakan, direkam diam². Mereka tahu tentang pesan² rahasia dalam bola² roti, dan penyiksaan² dalam tenda, dan juga lubang celah di pagar.
“Mengapa kalian tidak menghentikannya?”
“Pertama-tama, kami tidak bisa merubah mentalitas seperti itu. Bukan tugas kami untuk mengajar Hamas mengasihi satu sama lain. Kami tidak bisa masuk ke kamp penjara dan berkata, ‘Hey, jangan siksa sesama orang; jangan saling siksa satu sama lain,’ dan membuat semua beres.

Kedua, Hamas sendiri hancur lebih banyak dari dalam daripada serangan Israel dari luar.”

Duniaku yang dulu ku kenal mulai lenyap dengan cepatnya, dan timbul dunia baru yang mulai kumengerti. Setiap kali aku bertemu Shin Bet, aku belajar sesuatu yang baru, sesuatu tentang hidupku, atau hidup orang lain. Semua proses ini bukanlah proses cuci otak melumpuhkan yang diulang-ulang terus-menerus, yang dilakukan dengan siksaan larangan makan atau tidur. Apa yang diajarkan orang² Israel ini lebih masuk akal dan lebih nyata daripada apapun yang telah kudengar dari masyarakatku.

Ayahku tidak pernah mengajarku segalanya yang baru ini karena dia terus-menerus berada di penjara. Dan terus terang, aku menduga dia pun tidak bisa mengajarku tentang hal baru ini karena ayahku sendiri tidak tahu akan hal itu.

*******************

Dari tujuh buah pintu gerbang kuno yang menjadi jalan masuk ke Kota Tua Yerusalem, satu pintu gerbang dihiasi lebih dari yang lainnya. Pintu Gerbang Damaskus, didirikan oleh Raja Sulaimaan hampir 500 tahun yang lalu, terletak di dekat tengah tembok utara. Pintu gerbang ini penting karena merupakan pintu yang membawa orang masuk ke Kota Tua di perbatasan daerah di mana Lapangan Daerah Muslim (Muslim Quarter) bertemu dengan Lapangan Daerah Kristen (Christian Quarter).

Di abad pertama, seorang pria bernama Saulus dari Tarsus melewati versi asli dari pintu gerbang ini dalam perjalanannya ke Damaskus [Syria], di mana dia berencana untuk melakukan penindasan brutal terhadap sebuah pengikut Yeshua [terjemahan asli Indonesianya: sekte Yudaism. Alkitab menulis Saulus memburu orang pengikut Yeshua/ Kristen] yang dianggapnya sesat. Target penindasannya adalah umat Kristen. Sebuah pertemuan mengejutkan yang dialaminya tidak saja membatalkan perjalanannya, tapi juga merubah hidupnya untuk selamanya. [Kis. 9:1-21]

Dengan semua latar belakang sejarah yang berhubungan dengan tempat kuno ini, maka seharusnya aku tak perlu merasa heran jika mengalami kejadian di sana yang merubah diriku selamanya pula. Pada suatu hari, aku dan sahabatku Jamal sedang berjalan melalui Pintu Gerbang Damaskus. Tiba² aku mendengar suara menyapaku.

Tampaknya inilah Jamal yang tinggi (182 cm), yang bertahun-tahun kemudian diwawancarai oleh FoxNews diSINI (part 5) [Escape From Hamas; video clip]

“Siapakah namamu?” seorang pria yang tampak berusia sekitar 30 tahun bertanya padaku dalam bahasa Arab, meskipun jelas dia bukan orang Arab.
“Namaku Mosab.”
“Mau kemana kau, Mosab?” “Kami mau pulang. Kami berasal dari Ramallah.”
“Aku dari Inggris,”
katanya, kali ini dalam bahasa Inggris. Meskipun dia lalu terus bicara, aksennya sangat kental sehingga aku tidak mengerti perkataannya. Setelah sedikit menduga-duga, akhirnya aku bisa mengerti bahwa dia sedang bicara tentang agama Kristen dan kelompok Belajar Alkitab akan berkumpul di YMCA (Young Men’s Christian Association = Perkumpulan Pemuda Kristen) di Hotel King David di Yerusalem Barat.

Aku tahu tempat itu. Aku sedang sedikit bosan saat itu dan berpikir mungkin menarik juga untuk belajar tentang agama Kristen. Jika aku bisa belajar begitu banyak dari orang² Israel, mungkin “kafir” lain juga punya hal berharga untuk disampaikan padaku pula. Selain itu, setelah bergaul dengan berbagai orang seperti Muslim KTP, Muslim radikal, atheis, orang² yang terpelajar maupun yang tidak, pengikut sayap kiri atau kanan, Yahudi dan non-Yahudi, maka aku jadi tidak pilih² lagi. Orang yang tampak sederhana ini mengundangku untuk datang dan bicara, bukan untuk memilih Yesus di Pemilu.

“Bagaimana menurutmu?” aku bertanya pada Jamal. “Apakah kita harus pergi ke sana?” Jamal dan aku sudah saling kenal sejak kami masih sangat kecil. Kami pergi ke sekolah yang sama, melempar batu bersama, dan mengunjungi mesjid bersama pula. Jamal adalah pria tampan yang tingginya 182 cm, dan dia tidak banyak bicara. Dia jarang memulai percakapan, tapi dia adalah pendengar yang sabar. Kami tidak pernah bertengkar mulut, sekalipun tidak.

Selain tumbuh bersama, kami berdua juga pernah dipenjara di Penjara Megiddo. Setelah Kotak bagian Lima terbakar dalam kekacauan penjara, Jamal ditransfer bersama saudara sepupuku Yousef ke Kotak Enam dan dibebaskan dari sana.
Akan tetapi, penjara telah mengubahnya. Dia berhenti sholat, tidak lagi mengunjungi mesjid, dan mulai merokok. Dia mengalami tekanan mental dan menghabiskan kebanyakan waktunya dengan diam di rumah sambil nonton TV. Setidaknya aku punya kepercayaan yang kupegang saat berada di penjara. Tapi Jamal berasal dari keluarga sekuler yang tidak melakukan ibadah Islam, maka imannya terlalu tipis untuk bisa menolongnya.

Jamal memandangku, dan aku bisa melihat bahwa sebenarnya dia ingin pergi ke kegiatan belajar Alkitab. Dia tampak jelas ingin tahu – dan juga bosan – sama seperti aku. Tapi sesuatu dalam hatinya mencegahnya. “Kau silakan pergi saja tanpa diriku,” katanya. “Telepon aku ya jika kau sudah kembali pulang.”

Di tempat pertemuan, terdapat sekitar 50 orang yang berkumpul malam itu. Pengunjung kebanyakan adalah murid² sekolah yang berusia sama dengan diriku, berasal dari berbagai latar belakang suku dan agama. Dua orang menerjemahkan ceramah bahasa Inggris ke dalam bahasa Arab dan Ibrani.
Aku menelepon Jamal setelah pulang ke rumah.
“Bagaimana?” tanyanya.
“Wah, senang lho,” kataku. “Mereka memberi aku buku Alkitab Perjanjian Baru yang ditulis dalam bahasa Arab dan Inggris. Orang² baru, budaya baru; senang lho.”
“Wah, tak tahu ya, Mosab,”
kata Jamal. “Mungkin berbahaya bagimu jika orang² tahu kamu bergaul dengan orang² Kristen.”

Aku tahu maksud Jamal adalah baik, tapi aku tidak terlalu khawatir. Ayahku selalu mengajarku untuk berpikiran terbuka dan menyayangi orang lain, meskipun pada kafir yang tidak percaya Islam. Aku melihat Alkitab di pangkuanku. Ayahku punya perpustakaan besar yang berisi 5.000 buku, termasuk sebuah Alkitab. Ketika aku masih kecil, aku telah membaca pasal² ‘sexual’ di kitab Kidung Agung oleh Raja Sulaiman, tapi tidak pernah membaca lebih jauh lagi. Buku Alkitab Perjanjian Baru ini adalah hadiah. Karena budaya Arab menghormati dan menghargai pemberian hadiah, maka aku mengambil keputusan setidaknya yang bisa kulakukan adalah membacanya.

Aku mulai dari awal, dan ketika sampai pada bagian Khotbah di Bukit, kupikir, Wow, orang bernama Yeshua ini benar² mengagumkan! Semua yang dikatakannya indah sekali. Aku tidak bisa meletakkan buku itu dan terus membacanya. Setiap ayat terasa menyembuhkan luka parah yang dalam di jiwaku. Pesannya sangat sederhana, tapi entah kenapa punya kekuatan untuk memulihkan jiwaku dan memberi aku harapan.

Lalu aku baca bagian ini: Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. (Mat 5:43-45)

Ini dia! Aku merasa bagaikan disambar petir oleh kata² ini. Belum pernah sebelumnya aku mendengar pesan seperti ini, tapi aku tahu bahwa inilah pesan yang kucari-cari seumur hidupku.

Selama bertahun-tahun aku berjuang untuk mengetahui siapakah musuhku, dan aku melihat mreka yang diluar Islam dan Palestina sebagai musuh. Tapi tiba² saja aku sadar bahwa orang² Israel bukanlah musuhku. Bukan pula Hamas atau pamanku Ibrahim atau prajurit yang menghajarku dengan popor M16 atau penjaga penjara mirip kera di Maskobiyeh. Aku melihat bahwa musuh tidak dijabarkan melalui nasionalitas, agama, atau warna kulit. Aku sekarang mengerti bahwa kita semua menghadapi musuh² yang sama: keserakahan, kesombongan, segala pikiran jahat, dan kegelapan setan yang hidup dalam diri kita.Ini berarti aku bisa mencintai semua orang. Satu²nya musuh yang nyata adalah musuh dalam diriku sendiri.

Jika saja aku membaca perkataan Yeshua lima tahun yang lalu, tentunya aku akan berkata: Betapa bodohnya orang ini! dan segera membuang Alkitab itu. Tapi pengalamanku dengan tetanggaku tukang jagal gila, anggota² keluarga dan pemimpin² agama yang memukuliku saat ayah berada di penjara, dan saatku di Megiddo semuanya bercampur dan mempersiapkan diriku untuk menerima kekuatan dan keindahan kebenaran ini. Yang bisa kupikirkan saat itu hanyalah: Wow! Betapa hebatnya hikmat yang dimiliki orang ini!

Yeshua berkata, “Janganlah kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” (Matius 7:1). Sungguh besar perbedaan antara Dia dan Allah! Elohim Islam sangat suka menghakimi, dan masyarakat Arab mengikuti bimbingan Allah.

Yesus mengecam kemunafikan para Ahli Taurat dan kaum Parisi, dan aku langsung ingat akan pamanku Ibrahim. Aku ingat di saat dia menerima sebuah undangan untuk menghadiri acara khusus dan betapa marahnya dia sewaktu tidak diberi kursi yang terbaik. Rasanya bagaikan Yeshua bicara pada Ibrahim, seluruh syeikh, dan imam dalam Islam.

Semuanya yang Yeshua katakan dalam halaman² buku ini sangat masuk akal bagiku. Karena rasa haru yang meluap-luap, aku pun mulai menangis.

Elohim menggunakan Shin Bet untuk menunjukkan padaku bahwa Israel bukanlah musuhku, dan sekarang dia meletakkan jawaban atas pertanyaan²ku di tanganku dalam buku Alkitab Perjanjian Baru yang kecil ini. Tapi perjalananku masih panjang sekali untuk bisa benar² mengerti Alkitab. Muslim diajar untuk beriman pada semua buku Allâh, termasuk Taurat dan Injil. Tapi kami juga diajar bahwa manusia telah mengganti Injil, dan membuatnya tidak dapat dijadikan panutan. Muhammad berkata bahwa Qur’an merupakan firman Allâh yang terakhir yang tak ada salahnya bagi manusia. Dengan begitu, pertama-tama aku harus menyingkirkan pendapatku bahwa Alkitab telah diganti. Lalu aku harus mencari cara bagaimana membuat kedua buku Qur’an dan Alkitab sejalan dalam hidupku, bagaimana mencampurkan Islam dan Kristen bersama. Hal ini bukanlah hal yang mudah, karena bagaikan mencampurkan hal yang tak tercampurkan.

Mosab: “Aku melihat bahwa musuh tidak dijabarkan melalui nasionalitas, agama, atau warna kulit. Aku sekarang mengerti bahwa kita semua menghadapi musuh² yang sama: keserakahan, kesombongan, segala pikiran jahat, dan kegelapan setan yang hidup dalam diri kita.”

Di saat yang sama, meskipun aku percaya ajaran² Yeshua, aku tetap tidak bisa percaya bahwa dia itu Elohim. Meskipun begitu, pemikiran²ku telah berubah secara tiba² dan secara dramatis, karena sekarang pikiranku lebih dipengaruhi Alkitab daripada Qur’an.

Aku terus membaca Alkitab Perjanjian Baru dan mengunjungi kegiatan Belajar Alkitab. Aku menghadiri kebaktian Kristen dan berpikir, Ini bukan agama Kristen yang kulihat di Ramallah. Inilah yang benar. Orang² Kristen yang kukenal sebelumnya tak berbeda dengan Muslim² tradisional. Mereka mengatakan diri mereka beragama, tapi tidak menjalankan ajaran agamanya. Aku mulai menghabiskan lebih banyak waktu dengan orang² dalam Belajar Alkitab dan sangat menikmati persahabatan dengan mereka. Kami merasa sangat senang bicara tentang kehidupan, latar belakang, dan kepercayaan kami. Mereka sangat menghormati budaya dan warisan Muslim kami. Aku bisa jadi diriku sendiri yang sebenarnya saat aku bersama mereka.
Aku sangat ingin memberikan apa yang kupelajari ini pada budayaku, karena aku menyadari bahwa pendudukan Israel bukanlah penyebab penderitaan kami. Masalah kami adalah lebih besar daripada prajurit² dan politik Israel.
Aku bertanya pada diri sendiri apakah yang akan dilakukan masyarakat Palestina jika Israel hilang lenyap – jika semuanya tidak hanya kembali saat sebelum 1948 tapi juga jika semua orang² Yahudi meninggalkan tanah Kanaan dan terpecah belah lagi. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tahu jawabannya.
Kami akan terus berperang. Tentang segala hal yang tak ada gunanya. Tentang gadis tak berjilbab. Tentang siapakah yang lebih kuat, siapa yang lebih penting. Tentang siapa yang menentukan aturan, dan siapa yang dapat kursi terbaik.

Di akhir 1999, aku berusia 21 tahun. Hidupku mulai berubah, dan semakin banyak aku belajar, semakin bingung pula aku dibuatnya.

“YAHWEH, sang Pencipta, tunjukkan kebenaran padaku,” begitu doaku setiap hari. “Aku bingung. Aku tersesat. Dan aku tak tahu lagi harus ke mana.”

Bab 16 – Intifada Kedua
Musim Panas – Musim Rontok 2000

Hamas – yang dulu merupakan kekuatan dominan di Palestina – sekarang mulai goyah. Saingan berat Hamas yang juga berusaha menarik simpati massa sudah berkuasa penuh.
Melalui intrik politik dan pembuatan perjanjian, Pemerintahan Palestina (Palestinian Authority = PA) telah berhasil mencapai apa yang tidak bisa dicapai Israel melalui kekuasaannya yang besar. PA telah menghancurkan sayap militer Hamas dan memasukkan pemimpin² dan pejuang²nya ke dalam penjara. Meskipun telah dibebaskan dari penjara, anggota² Hamas pulang dan tidak melakukan apapun terhadap PA dan kekuasaannya. Para feda’iyin muda kecapekan. Para pemimpin mereka terpecah-belah dan sangat curiga satu sama lain.

Ayahku juga hanya mengurus kepentingan keluarga saja, dan dia kembali bekerja di mesjid dan kamp² penampungan. Sekarang jika dia bicara, dia bicara dalam nama Allâh, dan bukan lagi sebagai pemimpin Hamas. Setelah bertahun-tahun berpisah karena dipenjara, aku menggunakan kesempatan sebaiknya untuk bepergian dan menghabiskan waktu bersamanya lagi. Aku rindu saat² kami ngobrol panjang lebar tentang kehidupan dan Islam.

Sewaktu aku terus melanjutkan membaca Alkitab dan belajar tentang agama Kristen, aku mendapatkan diriku tertarik sepenuhnya dalam kemuliaan, kasih sayang, dan sikap rendah hati yang disampaikan Yeshua. Anehnya, sikap² seperti inilah yang membuat orang² datang pada ayahku – dia adalah salah satu Muslim yang paling berbakti yang pernah kukenal.
Tentang hubunganku dengan Shin Bet, karena sekarang Hamas tidak lagi berkuasa dan PA mengontrol keadaan agar tetap tenang, maka tampaknya tak ada yang harus kukerjakan bagi mereka. Kami hanya berteman baik saja. Mereka bisa mempersilakan aku pergi kapan pun mereka mau, atau aku pun bisa minta permisi pada mereka kapan pun aku mau.

Pertemuan Camp David antara Yasser Arafat, Presiden Amerika Bill Clinton, dan Perdana Menteri Israel Ehud Barak berakhir pada tanggal 25 Juli, 2000.  Barak telah menawarkan Arafat kekuasaan 90% dari seluruh Jalur Gaza, dan bagian Timur Yerusalem sebagai ibukota negara Palestina. Selain itu, dana uang internasional akan dikumpulkan untuk membayar ganti rugi bagi masyarakat Palestina yang kehilangan harta benda saat bagian daerah itu dikuasai Israel. Tawaran “tanah suci” ini merupakan kesempatan bersejarah dan tawaran sangat langka yang tak terbayangkan sebelumnya bagi masyarakat Palestina yang telah lama menderita. Akan tetapi, tawaran bernilai sangat besar ini tidak juga memuaskan Arafat.

Yasser Arafat telah jadi sangat kaya raya karena posisinya sebagai simbol korban penindasan di mata internasional. Dia tidak mau kehilangan kedudukannya dan menanggung tanggung jawab untuk membangun sebuah negara yang benar² berfungsi dalam mengurus masyarakatnya. Karena itulah, dia bersikeras meminta semua pengungsi diperbolehkan kembali ke tanah² yang dulu mereka miliki di tahun 1967 – persyaratan yang dia tahu betul akan ditolak oleh Israel. Meskipun penolakan Arafat terhadap tawaran Barak merupakan kerugian sangat besar bersejarah bagi masyarakat Palestina, Arafat kembali pulang ke Palestina dengan dianggap sebagai pahlawan yang berani menantang Presiden AS dengan menolak mundur dan tetap pada keputusannya di hadapan seluruh dunia.
Arafat lalu muncul di TV dan seluruh dunia menonton sewaktu dia khotbah tentang betapa besar cintanya akan masyarakat Palestina dan kesedihannya akan jutaan keluarga yang hidup di kamp² penampungan. Setelah aku ikut bepergian bersama ayah dan menghadiri pertemuan² dengan Arafat, aku mulai melihat sendiri bagaimana orang ini sangat senang jadi perhatian media massa. Dia tampaknya sangat menikmati dianggap sebagai Che Guevara Palestina dan sederajat dengan para raja, presiden, dan perdana menteri.

Yasser Arafat dengan jelas mengakui bahwa dia ingin jadi pahlawan yang ditulis di buku² sejarah. Tapi tatkala aku melihatnya, inilah yang kupikirkan: Ya, biarlah dia diingat dalam buku² sejarah kami, bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai pengkhianat yang menggunakan bahu masyarakatnya untuk ditungganginya, sebagai Robin Hood terbalik yang mencuri dari masyarakatnya yang miskin untuk membuat dirinya kaya raya, sebagai sepotong daging babi murahan yang membeli ketenarannya dengan darah masyarakat Palestina.

Juga menarik untuk menilai Arafat melalui sudut pandang para agen rahasia Israel. “Gimana sih orang ini?” kata pembimbing Shin Bet-ku suatu hari. “Kami tidak pernah menyangka para pemimpin kami bisa rela mengajukan tawaran begitu besar pada Arafat. Tidak pernah! Dan lalu Arafat menolaknya?”

Memang sesungguhnya Arafat telah ditawari kunci² perdamaian di Timur Tengah dan juga sebuah negara berdaulat utuh bagi masyarakat Palestina – dan dia membuang tawaran besar ini begitu saja. Sebagai hasilnya, korupsi yang dilakukan diam² terus saja berlangsung. Tapi keadaan tidak tetap diam untuk waktu yang lama. Bagi Arafat, dirinya akan lebih banyak beruntung jika masyarakat Paletina terus berdarah. Sebuah intifada yang baru tentunya akan membuat darah terus mengalir dan kamera² media massa Barat akan berputar sekali lagi.

Pendapat para pemerintah dunia dan juga media massa menyatakan pada kita bahwa Intifada Kedua berdarah terjadi secara spontan karena kemarahan masyarakat Palestina terhadap kedatangan Jendral Ariel Sharon ke kompleks Temple Mount (Mesjid di Bukit atau Mesjid al-Aqsa yang berkubah emas). Tapi seperti biasanya, pendapat umum itu salah.

*******************

Di sore hari tanggal 27 September, ayahku mengetuk pintu kamarku dan bertanya apakah aku bisa mengantarkannya pakai mobil ke rumah Marwan Barghouti esok pagi setelah sholat fajar. Marwan Barghouti adalah sekretaris jendral Fatah, bagian politik terbesar di PLO. Dia adalah pemimpin muda Palestina yang kharismatik, pendukung utama PA dan pasukan keamanan Arafat. Marwan adalah pria pendek yang seringkali berpakaian santai dan memakai celana jeans, dan dia dianggap sebagai calon presiden Palestina berikut.
“Ada masalah apa?” tanyaku pada ayah.
“Sharon dikabarkan akan mengunjungi Mesjid Al-Aqsa besok hari, dan PA yakin ini adalah kesempatan baik untuk melakukan pemberontakan.”
Ariel Sharon adalah pemimpin Partai Likud dan musuh politik Perdana Menteri Ehud Barak dan partai sayap kirinya yakni Partai Buruh. Sharon sedang melakukan persaingan politik terhadap Barak untuk memimpin Pemerintahan Israel.

Pemberontakan? Apakah mereka serius? Para pemimpin PA yang memasukkan ayahku ke penjara, sekarang meminta ayah untuk menolong mereka mengadakan intifada yang baru. Ini sungguh ironis, tapi aku bisa menarik kesimpulan mengapa mereka minta bantuan ayah bagi terlaksananya rencana mereka. Mereka tahu masyarakat cinta dan percaya pada ayah sama besarnya – jika tidak lebih besar – dengan kebencian dan ketidakpercayaan mereka terhadap PA. Mereka akan ikut ayahku ke manapun, dan PA tahu tentang hal itu.

Mereka juga kenal Hamas, yang sekarang bagaikan petinju yang kecapekan yang sedang dihitung oleh juri. PA ingin ayah membangkitkan Hamas, menyiram air ke wajahnya, dan mengirimnya kembali bertarung untuk satu ronde lagi agar PA dapat menghajarnya KO di hadapan penonton yang bersorak-sorai. Bahkan para pemimpin Hamas – yang juga kelelahan karena bertahun-tahun berperang – memperingatkan ayah untuk berhati-hati.

“Arafat hanya menggunakan kita sebagai bahan bakar bagi tungku pembakaran politiknya,” kata mereka pada ayah. “Jangan terlibat terlalu jauh dengan rencana intifada mereka.”

Tapi ayah mengetahui pentingnya melakukan gerak isyarat ini. Jika dia tidak menampakkan keinginan untuk bekerja sama dengan PA, mereka akan dengan mudah menunjuk Hamas, menyalahkan kami karena mengganggu proses perdamaian. Apapan yang kami lakukan, kami tetap saja dalam situasi yang kalah, dan aku sangat khawatir akan rencana ini. Tapi aku tahu ayahku perlu melakukan hal itu, maka keesokan paginya aku menyetir mobil mengantarnya ke rumah Marwan Barghouti. Kami mengetuk pintu, tidak terdengar jawaban untuk beberapa saat, dan akhirnya kami diberi tahu bahwa Marwan saat itu masih tidur.

Biasalaah, kataku pada diriku sendiri. Fatah melibatkan ayahku dalam rencana mereka yang bodoh tapi mereka bahkan tidak merasa perlu bangun tidur untuk menjalankan rencananya.
“Tak apa²,” kataku pada ayah. “Jangan khawatir. Masuklah ke dalam mobil, dan aku akan membawamu ke Yerusalem.”
Tentu saja membawa ayah ke daerah yang akan didatangi Sharon adalah tindakan yang riskan, karena kebanyakan mobil Palestina tidak boleh masuk Yerusalem. Biasanya, jika seorang supir Palestina tertangkap polisi Israel, maka dia akan didenda, tapi karena latar belakang kami, aku dan ayah bisa langsung ditangkap di tempat. Aku harus sangat berhati-hati, berusaha tetap berada di sisi jalan dan percaya bahwa hubunganku dengan Shin Bet akan melindungiku jika dibutuhkan.

Mesjid Al-Aqsa dan Dome of the Rock (tempat keramat bagi Muslim) dibangun di atas reruntuhan dan peninggalan dua Baut Yahudi kuno, yakni Bait Salomo (Bait Elohim pertama) dari abad ke 10 SM dan Bait Raja Herodes di jaman Yeshua. Tak heran mengapa sebagian orang menganggap bukit berbatu ini merupakan tempat berukuran 35 aker (141.639,974 m²) yang paling berubah drastis fungsinya di dunia. Tempat ini merupakan tempat suci bagi tiga agama besar monotheistik dunia. Bagi para sejarawan dan ilmuwan, tempat ini juga sangat penting karena mengandung peninggalan arkeologi yang sangat besar – bahkan begitu pula pendapat para atheis.

Beberapa minggu sebelum kedatangan Sharon di tempat ini, para Muslim Waqf – penguasa Muslim di daerah itu – telah menutup seluruh daerah Temple Mount dan menghentikan penelitian² arkeologi yang dilakukan oleh Badan Penelitian Peninggalan milik Pemerintah Israel. Untuk melakukan pekerjaan membangun bagian bawah mesjid di tempat itu, pihak mesjid mendatangkan mesin² pembongkar tanah yang besar². Koran² sore Israel menampilkan foto² buldozer, mesin penggali hidrolik, dan truk pengangkut brangkal yang semuanya digunakan di sekitar tempat itu. Dalam waktu beberapa minggu, truk² pengangkut tanah telah memindahkan sekitar 13.000 ton bongkahan tanah dari kompleks Temple Mount ke pembuangan sampah kota. Laporan surat kabar di tempat pembuangan sampah menunjukkan para ahli arkeologi menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya sewaktu mereka mencari sisa² peninggalan kuno di tempat sampah. Sebagian dari peninggalan yang ditemukan berasal dari jaman Bait Elohim pertama dan kedua.

Bagi umumnya masyarakat Israel, sudah jelas bahwa rencana pembongkaran tanah dan pendirian bagian bawah mesjid adalah untuk membuat seluruh daerah 35 aker itu jadi daerah Muslim saja, dengan menghilangkan semua tanda, sisa² benda kuno, dan sejarah Yahudi di masa lalu. Hal ini termasuk penghancuran penemuan² arkeologi yang mewakili bukti sejarah Israel di daerah itu di masa lalu.

Kedatangan Sharon bertujuan untuk menyampaikan pesan diam tapi jelas bagi masyarakat Israel yang akan menentukan suara dalam Pemilu mendatang: “Aku akan menghentikan penghancuran yang tidak seharusnya dilakukan ini.” Dalam melakukan kunjungannya, orang² Sharon telah mendapat jaminan dari kepala keamanan Palestina Jibril Rajoub bahwa kedatangannya tidak akan jadi masalah selama dia tidak menginjakkan kaki ke dalam mesjid.

Aku dan ayah datang ke tempat itu beberapa menit sebelum kedatangan Sharon. Pagi hari itu masih sepi. Sekitar seratus orang Palestina datang untuk sholat. Sharon datang di saat jam kunjungan turis biasa, bersama delegasi dari Partai Likud dan seribu polisi anti huru-hara. Dia datang, melihat-lihat, dan pergi. Dia tidak mengatakan apapun. Dia tidak pernah masuk mesjid.

Semuanya tampak biasa saja bagiku. Di saat pulang kembali ke Ramallah, aku bertanya pada ayahku ada urusan besar apakah yang terjadi?
“Apa yang terjadi?” tanyaku. “Kau tidak memulai intifada.”
“Belum,” jawabnya. “Tapi aku telah memanggil beberapa aktivis dari gerakan pelajar Islam dan meminta mereka menemuiku di sini untuk melakukan protes.”
“Tidak ada apapun yang tejadi di Yerusalem, mengapa kau sekarang mau melakukan demonstrasi di Ramallah? Ini sungguh gila,”
kataku padanya.
“Kita harus melakukan apa yang kita harus lakukan. Al-Aqsa itu mesjid kita, dan Sharon tidak seharusnya datang ke sana. Kita tidak bisa membiarkan hal ini.”
Aku berpikir apakah sebenarnya perkataan itu ditujukan pada dirinya untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Demonstrasi di Ramallah bukanlah aksi yang menghebohkan yang membuat kekacauan besar²an. Demonstrasi ini dilakukan di pagi hari, dan orang² yang berlalu-lalang di kota itu merasa heran dengan apa yang dilakukan para pelajar dan anggota Hamas yang tampaknya juga tidak mengerti apa sebenarnya protes yang mereka ajukan.

Beberapa orang berdiri dengan pengeras suara tanduk kerbau dan melakukan pidato, dan sekelompok kecil orang Palestina yang mengelilingi para pembicara kadang² berteriak-teriak. Tapi selain itu, tidak banyak yang memperhatikan adegan ini. Akhir² ini daerah Palestina memang jauh lebih tenteram daripada sebelumnya. Setiap hari berlalu seperti biasa. Serdadu² Israel sudah jadi pemandangan biasa. Orang² Palestina diperbolehkan bekerja dan bersekolah di daerah Israel. Ramallah memiliki kehidupan malam yang ramai. Dengan keadaan seperti ini, susah untuk mengerti mengapa orang² ribut protes.

Menurut pendapatku, demonstrasi ini tidak tampak penting. Aku merasa santai saja dan aku panggil teman²ku dari kelompok Belajar Alkitab, dan kami pun pergi bersama untuk piknik dekat danau Galilea.

Karena tidak ada sumber berita apapun di sana, aku tidak tahu bahwa keesokan harinya sejumlah besar demonstrator Palestina melempari batu dan berkelahi menghadapi tentara anti huru-hara Israel di dekat daerah yang dikunjungi Sharon. Lemparan² batu berkembang jadi lemparan² bom molotov, dan diikuti dengan tembakan² senapan Kalashnikov. Polisi menggunakan peluru karet, tapi sebagian berita mengatakan peluru² tajam juga ditembakkan pada para demonstrator. Empat demonstrator mati terbunuh, dan 200 lainnya luka². Empat belas polisi terluka juga. Dan semua ini persis seperti yang diinginkan oleh Pemerintah Palestina (Palestinian Authority = PA).

Keesokan harinya, aku menerima telepon dari Shin Bet.
“Di mana kamu?”
“Aku sedang piknik di Galilea bersama teman²ku.”
“Galilea? Apa? Kau gila!”
Laoi mulai tertawa. “Kau sungguh sukar dimengerti,” katanya. “Seluruh Tepi Barat jungkir balik dan kamu malah bersenang-senang piknik bersama teman² Kristenmu.” Ketika dia memberitahu aku apa yang terjadi. Aku meloncat masuk mobil dan segera pulang.

Yasser Arafat dan pemimpin² PA telah bertekad untuk menciptakan intifada baru. Mereka telah merencanakan hal ini selama berbulan-bulan, bahkan sewaktu Arafat dan Barak bertemu bersama Presiden Bill Clinton di Camp David. Mereka hanya menunggu saat tepat untuk menciptakan dalih. Kedatangan Sharon adalah dalih tepat yang telah mereka tunggu². Maka setelah melakukan beberapa kesalahan, akhirnya Intifada Al-Aqsa berlangsung dengan semangat berkobar yang menyebabkan Tepi Barat dan Jalur Gaza penuh pertempuran berdarah lagi, terutama Gaza.

Di Gaza, Fatah melancarkan demonstrasi yang mengakibatkan penayangan internasional kematian anak laki usia 12 tahun yang bernama  Mohammed al-Dura. Anak ini dan ayahnya, Jamal, terperangkap dalam kobaran api dan berlindung di balik tembok semen berbentuk silinder. Anak laki ini tertembak peluru nyasar dan mati di tangah bapaknya. Semua kejadian ini direkam oleh kamerawan Palestina yang bekerja bagi TV Perancis. Dalam beberapa jam saja, video kejadian ini beredar di seluruh dunia dan membuat marah jutaan orang terhadap pendudukan Israel.

Kasus penembakan Mohammed al-Dura yang diduga adalah rekayasa pihak Palestina. Lihat di SINI

Akan tetapi, dalam bulan² berikutnya, terjadi perdebatan yang meragukan keaslian peristiwa ini. Sebagian menyatakan sebenarnya yang membunuh anak itu adalah peluru Palestina sendiri. Yang lain terus menyalahkan Israel. Ada pula yang menuduh kejadian itu hanyalah adegan film yang telah diatur oleh pihak Palestina sendiri. Karena video juga tidak menunjukkan anak laki itu ditembak atau bahkan tubuhnya, banyak yang mengira ini semua hanyalah propaganda PLO saja. Jika hal itu memang benar, maka ini sungguh cerdik [lebih tepat: licik] dan efektif.  Apapun kejadiannya, aku tiba² saja berada di tengah² perang di mana ayahku adalah pemimpin pentingnya – meskipun sebenarnya dia juga tidak tahu ke mana dia akan memimpin dan apa akibatnya bagi dirinya. Dia hanya dimanfaatkan dan dimanipulasi oleh Arafat dan Fatah untuk memulai kekacauan, sehingga menyediakan PA bahan untuk mengajukan tawaran baru pada Israel dan minta sumbangan dana lagi pada masyarakat internasional.

Di lain pihak, lagi² banyak orang yang mati terbunuh di pos² pemeriksaan. Semua pihak menembak membabi-buta. Anak² juga terbunuh. Dari satu hari penuh darah ke hari lainnya, Yasser Arafat yang menangis mengucurkan airmata sambil berdiri di hadapan kamera² media Barat. Dia meremas jari²nya dan menyangkal bertanggungjawab atas terjadinya kekerasan. Sebaliknya, dia malahan mengarahkan jarinya pada ayahku, pada Marwan Barghouti, dan pada masyarakat di kamp penampungan. Dia meyakinkan dunia bahwa dia tidak bisa berbuat apapun untuk meredakan pemberontakan. Di saat yang sama, jarinya yang lain menarik pelatuk senapan kuat².

Akan tetapi, kemudian Arafat menyadari bahwa dia telah melepaskan setan celaka. Dia telah membangkitkan emosi masyarakat Palestina dan membuat mereka marah, dan hal ini sesuai dengan rencananya. Tapi tak lama setelah itu, masyarakat Palestina jadi benar² diluar kontrol. Sewaktu mereka melihat tentara² IDF menembaki ayah, ibu, dan anak² mereka, mereka jadi begitu marah sehingga tidak lagi mau mendengar PA atau siapapun lagi.
Arafat juga kemudian menyadari bahwa petinju loyo yang dibangunkannya dulu ternyata terbuat dari bahan yang lebih ulet daripada dugaannya. Jalanan merupakan lingkungan alami bagi Hamas. Petinju itu memulai perkelahiannya di situ, dan karena tempat itulah dia menjadi yang terkuat.

Damai dengan Israel? Camp David? Oslo? Separuh Yerusalem? Persetan dengan semua itu! Semua niat awal untuk kompromi telah menguap dalam bara api konflik yang panas. Masyarakat Palestina kembali pada mentalitas lama: dapat semuanya atau tidak dapat apapun sama sekali. Dan sekarang malah Hamas, dan bukan lagi Arafat, yang mengipasi api.

Gigi balas gigi, mata ganti mata, dan kekerasan semakin memuncak. Dari hari ke hari, daftar duka masing² pihak juga semakin panjang.

○ 8 Oktober, 2000, sekelompok masyarakat Israel menyerang masyarakat Palestina di Nazareth. Dua Arab terbunuh, dan lusinan terluka. Di Tiberias, masyarakat Yahudi menghancurkan mesjid berusia 200 tahun.
○ 12 Oktober, sekelompok masyarakat Palestina membunuh dua serdadu IDF di Ramallah. Israel membalas dengan membom Gaza, Ramallah, Yerikho, dan Nablus.
○ 2 November, sebuah bom mobil membunuh dua orang Israel di dekat pasar Mahane Yehuda di Yerusalem. Sepuluh orang lainnya terluka.
○ 5 November, Intifada Al-Aqsa sudah berlangsung selama 38 hari, dan 150 orang² Palestina sudah terbunuh sampai saat itu.
○ 11 November, sebuah helikopter Israel meledakkan peralatan bom yang mereka tanam di mobil aktivis Hamas.
○ 20 November, bom di pinggir jalan meledak di sebelah bus yang berisi anak² yang akan berangkat ke sekolah. Dua orang Israel tewas. Sembilan lainnya luka², termasuk 5 anak² juga terluka. [5]

[5] Menteri Luar Negeri Israel, “Bom Bunuh Diri dan Serangan² Bom Lainnya di Israel sejak Pengumuman Prinsip (September 1993)”; Masyarakat Akademis Palestina bagi Penelitian Masalah Internasional, Yerusalem, “Fakta² Palestina – Kronologi Palestina 2000,
Juga lihat di SINI.

Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Sesuatu harus dilakukan untuk menghentikan roda kekerasan yang menggila ini. Aku tahu sudah saatnya bagiku untuk mulai bekerja bagi Shin Bet. Dan aku melakukannya dengan sepenuh hati.

Bersambung ke Bab 17-20

Bab 1-4 ; Bab 5-8 Bab 9-12 ; Bab 13-16 ; Bab 17-20 ; Bab 21-24

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s