Son of Hamas (Putra Hamas). Bab 17-20

Bab 19 – Sepatu-sepatu
2001

Intifada Kedua tampak berlangsung terus-menerus tanpa berhenti sedikit pun untuk menarik nafas. Di tanggal 28 Maret, 2001 seorang pembom bunuh diri membunuh dia remaja di pompa bensin. Di tanggal 22 April, seorang pembom bunuh diri membunuh satu orang, dirinya, dan melukai 50 orang di tempat perhentian bus. Di tanggal 18 May, lima warga sipil dibunuh dan lebih dari 100 orang terluka akibat bom bunuh diri diluar pusat perbelanjaan di Netanya.

Lalu di tanggal 1 Juni, pada jam 11:26 malam, sekelompok remaja sedang berdiri mengantri, sambil ngobrol dan bercanda, dan menunggu untuk bisa masuk disco Dolphi yang terkenal di Tel Aviv. Kebanyakan dari para remaja ini berasal dari bekas Uni Sovyet, dan orangtua mereka adalah imigran baru di Israel. Saeed Hotari juga berada di barisan antrian, tapi dia adalah orang Palestina dan sedikit lebih tua daripada para remaja tersebut. Dia mengikatkan pada tubuhnya bahan peledak dan pecahan² metal.

Koran² tidak menyebut serangan di Dolphinarium sebagai serangan bom bunuh diri. Mereka menyebutnya sebagai pembantaian. Sejumlah besar anak² remaja tercabik hancur berantakan akibat ledakan hebat bom yang berisi kelereng² metal. Jumlah korban sangat besar: 21 mati; 132 luka².

Tiada pembom bunuh diri yang berhasil membunuh begitu banyak orang dalam satu kali serangan. Tetangga² Hotari di Tepi Barat memberi selamat ayahnya. “Aku harap ketiga putraku lainnya juga akan melakukan hal yang sama,” kata Pak Hotari pada wartawan. “Aku ingin semua anggota keluargaku mati bagi negara dan tanah air kami.” Israel menjadi lebih bertekad lagi untuk memotong kepala ular. Pada saat itu semestinya mereka tahu bahwa memenjarakan atau membunuh para pemimpin organisasi perlawanan Palestina tidaklah akan menghentikan pertumpahan darah.

Jamal Mansour adalah seorang wartawan, dan seperti ayahku, dia adalah salah satu dari 7 pendiri Hamas. Dia adalah salah satu sahabat terdekat ayah. Mereka dulu telah diasingkan bersama di Lebanon selatan. Mereka bicara dan tertawa bersama di telepon hampir setiap hari. Dia juga adalah pendukung utama para pembom bunuh diri. Di wawancara bulan Januari oleh majalah Newsweek, dia membela pembunuhan yang dilakukan terhadap para penduduk sipil tak bersenjata dan memuji para pembom bunuh diri.

Pada tanggal 31 Juli, hari Selasa, setelah mendapat keterangan dari seorang mata², sebuah helikopter Apache berlaras dua mendekati kantor media Mansour di Nablus. Helikopter itu menembakkan rudal yang dikemudikan oleh laser yang meluncur menembus jendela kantornya di lantai dua. Mansour, ketua Hamas Jamal Salim, dan enam orang Palestina lainnya langsung tewas oleh ledakan rudal tersebut. Dua korban adalah anak², usia 8 dan 10, yang sedang menunggu diperiksa dokter di lantai pertama. Kedua anak ini hancur remuk tertimpa reruntuhan gedung.

Kejadian ini sungguh mengejutkanku. Aku menelepon Loai.
“Apa sih yang tengah terjadi? Apakah kau yakin orang² itu terlibat dalam pemboman bunuh diri? Aku tahu mereka mendukung penyerangan, tapi mereka adalah bagian politik Hamas, dan bukan bagian militer.”
“Ya. Kami punya keterangan bahwa Mansour dan Salim langsung terlibat dalam pembantaian disko Dolphinarium. Tangan mereka berlumuran darah. Kami harus melakukan ini.”
Apa yang bisa kulakukan? Berdebat dengannya? Mengatakan bahwa informasi yang didengarnya salah? Tiba² aku sadar bahwa Pemerintah Israel juga mungkin akan membunuh ayahku. Meskipun dia tidak mengatur penyerangan bom bunuh diri, dia tetap bersalah karena berhubungan dengan mereka. Selain itu, dia juga punya keterangan yang bisa menyelamatkan banyak nyawa, tapi dia menahan keterangan itu. Dia punya pengaruh, tapi tak menggunakannya. Dia bisa mencoba menghentikan pembunuhan, tapi dia tak melakukannya. Dia mendukung serangan² itu dan mendorong anggota² Hamas untuk terus melakukan perlawanan sampai Israel terpaksa mundur. Di mata Pemerintah Israel, dia juga adalah seorang teroris.

Setelah banyak mempelajari Alkitab, aku sekarang mulai membandingkan perbuatan² ayahku dengan ajaran² Yeshua, dan bukan dengan Qur’an lagi. Hasilnya, ayah semakin tampak bukan lagi sebagai pahlawan di mataku, dan hatiku terasa remuk. Aku ingin memberitahu padanya apa yang kupelajari, tapi aku tahu dia tidak akan mendengar. Dan jika Pemerintah Israel berhasil membunuhnya, maka dia tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk mengetahui bahwa Islam telah membimbingnya di jalan yang salah.

Aku menghibur diriku bahwa ayah tidak akan dibunuh untuk sementara waktu karena koneksiku dengan Shin Bet. Mereka dan aku ingin dia tetap hidup, meskipun tentunya karena alasan yang sangat berbeda. Dia adalah sumber utama keterangan dalam tentang kegiatan Hamas. Tentu saja aku tidak bisa menerangkan hal ini kepadanya, dan bahkan perlindungan Shin Bet juga akhirnya bisa jadi berbahaya baginya. Tentunya orang² akan curiga jika semua pemimpin Hamas harus menyembunyikan diri, tapi ayah seorang diri tidak perlu melakukan hal itu dan bisa bebas berjalan-jalan di luar. Aku merasa harus berusaha melindungi ayah. Aku segera datang ke kantornya dan mengatakan padanya bahwa apa yang baru saja terjadi pada Mansour bisa terjadi pula pada dirinya.

“Singkirkan semua orang. Singkirkan bodyguardmu. Tutup kantor. Jangan datang ke sini lagi.” Reaksinya persis seperti yang telah kuduga.
“Aku akan baik² saja, Mosab. Kami akan menaruh besi baja di depan jendela².”
“Apakah kau gila? Pergi sekarang juga! Rudal² mereka bisa menembus tank² dan bangunan², dan kau pikir kau bisa berlindung di balik selembar metal? Jika kau tutup jendela, maka mereka akan menembak lewat langit² ruangan. Mari pergi sekarang juga!”

Aku tidak bisa menyalahkan ayah dengan sikapnya menolak. Dia adalah pemimpin agama dan politik, dan bukan tentara. Dia tidak tahu apa² tentang pembunuhan atau tentara. Dia tidak tahu apa yang kuketahui. Akhirnya ayah setuju untuk pergi bersamaku, meskipun kutahu dia tidak senang melakukannya.

Tapi aku bukan satu²nya orang yang berkesimpulan bahwa sahabat Mansour, yakni Hassan Yousef, tentunya akan jadi target pembunuhan berikutnya. Ketika kami sedang berjalan di tepi jalan, tampaknya orang² di sekitar kami merasa khawatir. Mereka mempercepat langkah kaki mereka dan sekali² melihat ke langit dengan gugup, jangan² ada helikopter Israel yang muncul. Tiada yang mau ikut jadi korban sial gara² berada terlalu dekat dengan ayah. Aku mengantar ayah ke Hotel City Inn dan mengatakan padanya untuk tinggal di situ.

“Petugas penerima tamu akan mengganti kamarmu setiap lima jam. Dengarkan dia. Jangan bawa siapapun ke dalam kamarmu. Jangan telepon siapapun kecuali aku, dan jangan tinggalkan tempat ini. Ini telepon yang aman untukmu.”
Setelah aku pergi, aku langsung menelepon Shin Bet.
“Bagus. Tempatkan dia di sana agar aman.”

Agar bisa yakin ayah tetap aman, aku harus tahu setiap kegiatannya. Aku menyingkirkan semua bodyguardnya, karena aku tak percaya akan mereka. Aku ingin ayah bergantung padaku sepenuhnya. Jika tidak, dia kemungkinan bisa berbuat kesalahan yang mengakibatkan kematiannya. Aku jadi pembantu, bodyguard, dan penjaga gerbanya. Aku menyediakan semua yang dibutuhkannya. Aku memperhatikan apapun yang terjadi di dekat hotelnya. Aku adalah kontak perantaranya ke dunia luar, dan aku juga jadi kontak perantara dunia luar kepada ayah. Perananku yang baru ini juga menguntungkan diriku karena dengan begitu tiada orang yang curiga padaku.

Aku mulai melakukan peranan sebagai pemimpin Hamas. Aku membawa senjata M16, yang merupakan tanda bahwa aku adalah pria yang punya koneksi, peranan penting, dan kekuasaan. Di saat itu, senjata seperti M16 sangatlah diminati dan tidak banyak yang punya (senjataku ini harganya bisa mencapai $10.000).

Orang² militer Hamas mulai bergaul bersamaku hanya untuk menunjukkan bahwa diri mereka penting. Karena mereka mengira aku tahu semua rahasia Hamas, mereka merasa bebas membagi masalah² dan rasa tidak puas mereka padaku, karena menyangka aku bisa menolong mereka.
Aku mendengarkan baik². Mereka tidak tahu bahwa sedikit keterangan dari sana sini yang mereka sampaikan bisa kususun hubungannya satu sama lain untuk menghasilkan gambaran besar permasalahan. Hal ini jugalah mengakibatkan Shin Bet mampu melakukan banyak operasi rahasia yang sukar kujabarkan pada kalian hanya dalam satu buku saja. Yang ingin kusampaikan pada kalian adalah banyak nyawa yang terselamatkan sebagai hasil pembicaraanku dengan para militer Hamas tersebut. Banyak wanita yang tidak menjadi janda dan banyak anak² yang tidak kehilangan orangtua karena kami berhasil mencegah terjadinya banyak serangan bom bunuh diri.
Setelah aku dipercaya dan dianggap penting oleh bagian militer Hamas, maka aku pun jadi wakil Hamas bagi organisasi Palestina lainnya. Organisasi² lain ini mengira akulah yang menyediakan bahan peledak dan yang mengatur kerjasama operasi penyerangan dengan Hamas.

Suatu hari, Ahmad al-Faransi, ajudan Marwan Barghouti, meminta aku untuk menyediakan bahan² peledak bagi beberapa pembom bunuh diri dari Jenin. Aku katakan padanya bahwa aku akan menyediakan bahan peledak itu, dan aku mulai memainkan perananku – menunda sampai aku mengetahui keberadaan kelompok² pembom di Tepi Barat. Permainan seperti ini sangatlah berbahaya. Tapi aku tahu bahwa aku terlindung dari beberapa jurusan. Menjadi putra Syeikh Hassan Yousef mencegah diriku disiksa oleh Hamas di penjara, dan posisi ini juga melindungiku saat bekerja diantara para teroris. Pekerjaanku di USAID juga memberiku perlindungan dan kebebasan pula. Juga Shin Bet selalu melindungiku.

Akan tetapi, jika aku berbuat kesalahan, maka nyawalah taruhannya, dan Pemerintah Palestina (PA) selalu saja jadi ancaman bagiku. PA punya alat bantu dengar yang canggih, hadiah dari CIA. PA menggunakannya untuk melacak teroris dan mata² Israel. Maka aku harus sangat berhati-hati, terutama agar tidak jatuh ke tangan PA karena aku tahu lebih banyak tentang Shin Bet daripada mata² lainnya.

Karena aku adalah satu²nya akses perantara bagi ayahku, maka aku berhubungan langsung dengan semua ketua Hamas di Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Syria. Orang lain yang punya akses yang sama seperti diriku hanyalah Khalid Meshaal (ketua Hamas di Syria) di Damaskus. Meshaal lahir di Tepi Barat, tapi dia kebanyakan hidup di negara² Arab lainnya. Dia bergabung bersama Persaudaraan Muslim di Kuwait dan belajar fisika di Universitas Kuwait. Setelah Hamas berdiri, Meshaal mengetuai Hamas di Kuwait. Setelah Kuwait diserang Iraq, dia pindah ke Yordania, lalu ke Qatar, dan akhirnya tinggal di Syria.

Karena tinggal di Damaskus, dia bisa bebas bepergian dan tidak dibatasi seperti para ketua Hamas di Palestina. Dia berperan bagaikan diplomat yang mewakili Hamas di Kairo, Moskow, dan Liga Arab. Sewaktu dia bepergian, dia pun mengumpulkan dana. Di bulan April 2006, dia berhasil mengumpulkan dana sebesar $100.000.000 dari Iran dan Qatar.
Meshaal jarang tampil di tempat umum; dia tinggal di tempat rahasia, dan dia tidak berani kembali ke Palestina karena takut dibunuh. Dia punya alasan kuat untuk berhati-hati.

Di tahun 1997, ketika Meshaal sedang berada di Yordania, dua orang agen rahasia Israel masuk ke dalam kamarnya dan memasukkan racun langka ke dalam telinganya saat dia tidur. Para bodyguard-nya melihat para agen rahasia itu pergi meninggalkan gedung, dan satu dari mereka segera memeriksa Meshaal. Dia tidak melihat darah apapun, tapi Meshaal tampak tergeletak di lantai tanpa bisa bersuara. Para bodyguard mengejar agen² Israel, dan satu dari para agen itu jatuh ke pipa limbah. Para agen Israel ditangkap oleh polisi Yordania.

Saat itu Israel baru saja menandatangani perjanjian damai dengan Yordania dan bertukar duta besar. Serangan terhadap Meshaal ini mengancam perjanjian damai yang baru saja dibuat. Hamas merasa malu karena salah satu pemimpinnya bisa diserang dengan begitu mudah. Kisah ini mempermalukan semua yang terlibat, sehingga mereka semua mencoba menutup-nutupinya. Tapi media internasional bisa mengetahui berita ini.

Demonstrasi² terjadi di jalanan Yordania, dan Raja Hussein meminta Israel membebaskan Syeikh Ahmed Yassin, pemimpin rohani Hamas, dan tawanan² Palestina lainnya untuk ditukar dengan agen² rahasia Mossad yang merah mukanya karena malu. Sebagai tambahan persyaratan, Mossad juga harus mengirim tim dokter untuk menyuntikkan penawar racun pada Meshaal. Akhirnya Israel bersedia melakukan hal itu.

Khalid Meshaal meneleponku setidaknya seminggu sekali. Di lain waktu, dia meninggalkan rapat yang sangat penting untuk menerima telepon²ku. Suatu hari, Mossad menelepon Shin Bet.  “Kita punya seseorang yang sangat berbahaya dari Ramallah yang bicara dengan Khalid Meshaal setiap minggu, dan kami tidak bisa mengetahui siapa orang ini!”

Tentunya Mossad sedang membicarakan tentang diriku. Kami semua tertawa terbahak-bahak, dan Shin Bet tetap tidak memberitahu Mossad tentang siapa diriku sebenarnya. Tampaknya ada persaingan diantara badan² keamanan setiap negara – sama seperti FBI (Federal Bureau of Investigation) dengan CIA (Central Intelligence Agency), atau dengan NSA (National Security Agency) di AS.

Suatu hari aku ingin memanfaatkan hubunganku dengan Meshaal. Aku katakan padanya aku punya keterangan penting yang tidak bisa kusampaikan lewat telepon.
“Apakah kau punya cara aman untuk menyampaikannya?” tanyanya.
“Tentu saja. Aku akan telepon kamu lagi dalam waktu seminggu dan memberi keterangan terperinci bagimu.”

Biasanya cara rahasia untuk berkomunikasi antar daerah Palestina dan Damaskus adalah dengan memberikan surat pada seorang kurir yang tidak punya catatan polisi dan tak berhubungan dengan Hamas. Surat² seperti ini ditulis di atas kertas yang sangat tipis, lalu digulung sampai jadi kecil sekali, dan dimasukkan ke dalam kapsul obat kosong atau dibungkus dengan kain nylon. Sebelum menyeberangi perbatasan, kurir harus menelan kapsul itu, lalu memuntahkannya di WC di tempat yang dituju. Kadang² kurir harus membawa 50 buah pesan sekaligus. Tentunya kurir juga tak tahu apa isi surat² tersebut.

Aku mengambil keputusan untuk melakukan hal yang berbeda dan membuka saluran baru rahasia di luar Palestina, dan dengan begitu memperluas akesku dari sekedar tingkat pribadi saja menjadi tingkat operasi dan keamanan organisasi.
Shin Bet senang sekali mendengar gagasanku.
Aku memilih anggota Hamas lokal dan mengatakan padanya untuk menemuiku di kuburan tua di tengah malam. Untuk membuatnya terkagum-kagum, aku datang sambil membawa senapan M16-ku.

“Aku ingin kau melakukan tugas yang sangat penting,” kataku padanya. Dia jelas tampak ketakutan tapi juga tertarik dan ingin tahu. Dia mendengarkan setiap kata yang diucapkan putra Hassan Yousef.
“Kau tidak boleh memberitahu siapapun – tidak juga keluargamu, bahkan juga ketua Hamas. Ngomong², siapakah pemimpinmu?”
Aku memintanya untuk menulis seluruh pengalamannya dalam Hamas, apapun yang dia ketahui, sebelum aku bisa menerangkan lebih banyak padanya tentang tugas rahasia yang akan diembannya. Meskipun dia tidak bisa menuliskan semuanya di atas kertas dalam waktu singkat, aku sungguh merasa beruntung menerima kertas laporan itu karena keterangannya sangat banyak dan penting. Isinya termasuk keterangan² terbaru tentang setiap kegiatan di daerahnya.
Kami bertemu untuk keduakalinya, dan aku katakan padanya bahwa dia akan memintanya pergi keluar Palestina.
“Lakukan persis seperti apa yang kukatakan,” kataku memperingatkannya, “dan jangan banyak tanya.”
Aku beritahu Loai bahwa orang ini sangat terlibat dalam organisasi Hamas, dan merupakan pengikut Hamas yang aktif dan setia. Shin Bet memeriksa data tentang orang itu, tidak menganggapnya sebagai bahaya, dan membuka perbatasan ke Syria baginya untuk membawa suratku pada Khalid Meshaal.

Aku menulis surat pada Khalid Meshaal bahwa aku punya semua kunci ke Tepi Barat dan dia bisa bergantung padaku sepenuhnya untuk tugas² pelik dan khusus, jika dia tidak bisa menggunakan jalur Hamas yang biasa. Aku katakan bahwa aku siap menerima perintahnya, dan aku menjamin tugas akan dijalankan dengan sukses.

Waktuku menghubunginya sangat tepat, karena Israel telah membunuhi atau menangkapi sebagian besar pemimpin² dan aktivis Hamas saat itu. Brigade Al-Qassam juga telah kelelahan, dan Meshaal tidak punya banyak sumberdaya manusia.
Aku tidak menyuruh kurirku untuk menelan surat. Aku menciptakan desain pengiriman baru, karena hal itu mengasyikan bagiku. Aku suka dengan peralatan agen rahasia, terutama karena badan rahasia Israel menyediakan teknologinya.
Kami membeli baju baru yang sangat bagus bagi kurirku – baju jas komplit, sehingga perhatiannya teralihkan pada baju barunya dan bukan pada sepatunya di mana kami menyembunyikan surat untuk Khalid Meshaal.

Dia lalu mengenakan baju baru tersebut, dan aku memberinya cukup uang untuk melakukan perjalanan dan sedikit uang lebih untuk bersenang-senang di Syria. Aku katakan padanya bahwa orang yang akan menghubunginya hanya akan mengenalnya melalui sepatunya, jadi dia harus tetap memakai sepatu itu. Jika dia tidak memakai sepatu itu, maka mereka akan mengira dia adalah orang lain dan ini akan berbahaya baginya. Begitu penjelasanku padanya.

Setelah kurirku tiba di Syria, aku menelepon Khalid Meshaal dan mengatakan padanya bahwa sebentar lagi akan ada orang yang menghubunginya. Jika orang lain mengatakan pesan seperti itu padanya, Khalid akan jadi sangat curiga dan menolak bertemu. Tapi kurir ini telah dikirim oleh teman mudanya, putra Hassan Yousef. Makanya dia yakin dia tidak perlu khawatir. Ketika kurirku bertemu dengan Khalid Meshaal, Khalid memintanya menyerahkan surat dariku.
“Surat apa?” kurirku bertanya. Dia tidak tahu bahwa dia memiliki surat itu.
Aku telah memberitahu Khalid untuk mencari surat itu di sepatu kurirku. Mereka lalu menemukan sebuah ruang kecil tersembunyi di salah satu sepatu kurirku. Dengan begitu, jalur baru komunikasi sudah dibuka dengan Damaskus, meskipun Khalid Meshaal tidak menyadari bahwa Shin Bet mengamati semua ini.

Bab 20 – Duri
Musim Panas 2001

Sewaktu jam hampir menunjukkan pukul 2 siang, di tanggal 9 Agustus, 2001, Izz al-Din Shuheil al-Masri yang berusia 22 tahun, meledakkan diri di toko pizza Sbarro yang padat pengunjung di persimpangan Jalan Raja George dan Jalan Jaffa. Al-Masri berasal dari keluarga terpandang di Tepi Barat.

Bom yang dia bawa seberat sekitar 5 sampai 10 kg, dan bom meledak sambil melontarkan banyak paku, sekrup dan mur kepada kerumunan orang² di musim panas, membunuh 15 orang dan melukai 130 lainnya. Karena pemboman hebat ini dan juga pemboman Dolphinarium serupa beberapa bulan sebelumnya, masyarakat Israel bagaikan dibutakan oleh rasa duka dan amarah yang meluap. Siapapun kelompok yang melakukan serangan bom ini harus segera diketahui dan dihentikan sebelum banyak orang tak bersalah terbunuh lagi. Jika tidak segera dicegah, maka kejadian² seperti ini akan terus bergulir tak terkendali dan akhirnya akan berakibatkan kematian masal dan kesedihan tak terperikan di seluruh negara.

Shin Bet berulangkali mengumpulkan semua detail pemboman, sambil mencoba menghubungkan serangan bom ini dengan lima orang yang dulu kutempatkan di apartemen di Al Hajal, Ramallah – kelima orang ini adalah Muhammad Jamal al-Natsheh, Saleh Talahme, Ibrahim Hamed, Sayyed al-Sheikh Qassem, dan Hasaneen Rummanah. Meskipun begitu, Shin Bet tetap tidak menemukan bukti apapun yang menghubungkan mereka dengan pemboman² di Dolphinarium dan Sbarro.

Siapa yang mampu menciptakan bom sehebat itu? Tentunya bukan sekedar mahasiswa kimia dan teknik biasa saja. Kami tahu kelima orang itu, nilai² ujian mereka, dan apa yang mereka makan di pagi hari.

Siapapun yang merakit bom² ini tentunya adalah seorang ahli dalam bidangnya, dan tampaknya tak berhubungan dengan organisasi Palestina manapun, dan masih di luar radar pengamatan kami. Tetapi kami harus menemukan orang ini sebelum dia membuat bom baru. Orang ini sangat amat berbahaya.

Yang tak kami ketahui saat itu adalah orang² Arafat telah menerima telepon dari CIA tak lama setelah serangan bom Sbarro. “Kami tahu siapa yang membuat bom,” kata agen² Amerika pada mereka. “Namanya adalah Abdullah Barghouti; dia hidup bersama saudaranya Bilal Barghouti. Ini alamat rumah mereka. Cepat tangkap mereka.”

Abdullah Barghouti sedih karena “hanya” mampu membunuh 66 orang Israel saja. Tampaknya dia akan punya kesempatan baru mendongkrak jumlah korbannya.

Dalam waktu beberapa jam saja, Abdullah dan Bilal Barghouti sudah berada ditangani PA – bukan karena Pemerintah Palestina ingin menangkap mereka, tapi agar uang dan dukungan logistik dari AS terus mengalir ke PA. Arafat tahu bahwa dia setidaknya harus menyiratkan bahwa PA berperan pula dalam menjaga perdamaian. Aku yakin Arafat lebih suka menganugerahkan medali penghargaan bagai Abdullah Barghouti daripada memenjarakannya.

Tak lama setelah Abdullah Barghouti berdiam dengan nyaman dalam Pusat Keamanan Pencegahan (Preventive Security Headquarters) milik PA, Barghouti yang lain – yakni Marwan Barghouti (bukan saudara dan tak ada hubungan darah dengan Abdullah Barghouti) yang adalah ketua Fatah, muncul untuk mencoba membebaskan Abdullah Barghouti. Tapi PA tidak mau membebaskan Abdullah – AS telah meletakkan Abdullah ke pangkuan PA, dan AS tentunya mengharapkan PA menangkap Abdullah. Israel juga berharap hal yang sama dengan AS, dan akan bersikap lebih keras jika PA tidak melakukan tanggungjawabnya. Maka Marwan memberi Abdullah makanan, pakaian, dan uang, dan mengganti penjara menjadi kurungan rumah saja – sehingga Abdullah tetap bisa bekerja di kantor yang nyaman, sambil merokok, menikmati kopi, dan ngobrol bersama para pejabat tinggi keamanan PA.

Marwan Barghouti, ketua Fatah.

Meskipun bukan bersaudara, Marwan Barghouti dan Abdullah Barghouti memiliki banyak kesamaan latar belakang. Mereka berdua punya hubungan kuat dengan Muhaned Abu Halawa, psikopat yang berusia 23 tahun, dan juga ajudan dari Ahmad Ghandour (pemimpin Brigade Syahid Al-Aqsa).

Halawa adalah komandan medan perang Fatah dan anggota Pasukan 17. Jika kau membayangkan tentara komando elit seperti Pasukan 17 atau Garda Republik punya Saddam Hussein, tentunya yang terbayang adalah tentara yang sangat disiplin, ahli dalam berbagai hal, dan sangat terlatih. Tapi tidak begitu kenyataannya dengan Halawa. Dia adalah orang tak berpendidikan yang berperilaku seenaknya, sambil pergi ke mana² membawa senjata² berat yang diletakkan di mobil Jeepnya. Halawa secara rutin membagi-bagikan senjata² ini pada para extrimis dan orang² tak bermoral, yang lalu segera membawa senjata² itu ke pos² pemeriksaan untuk menembaki para prajurit dan warga Israel secara membabi-buta.

Contoh perbuatan mereka bisa dilihat di bulan Mei, ketika Halawa memberikan dua buah senjata AK-47 dan sekarung peluru pada seorang pria. Tak lama kemudian, pria ini dan temannya bersembunyi untuk melakukan serangan mendadak di jalanan keluar Yerusalem dan mereka menembakkan 13 peluru kepada biarawan Kristen Yunani Ortodox bernama Tsibouktsakis Germanus. Halawa menghadiahi para pembunuh ini dengan lebih banyak senjata untuk melakukan serangan yang direncanakannya di Universitas Ibrani di Bukit Scopus.

Mudah dimengerti jikalau Pemerintah Israel menugaskan Shin Bet untuk menyingkirkan Halawa selamanya. Karena koneksiku dengan Hamas, maka aku adalah satu²nya orang yang bisa mengenalinya. Tapi untuk pertamakalinya dalam hidupku, aku menghadapi dilema moral yang berat. Bathinku menolak untuk membunuh orang ini, meskipun dia sangat jahat.

Aku pulang ke rumah dan mengambil Alkitab Perjanjian Baruku yang sekarang sudah kumel karena terlalu sering kubaca. Aku mencari dan mencari, tapi tak menemukan keterangan yang mengijinkan pembunuhan. Tapi aku juga takut akan darah korban yang melumuri tanganku jika aku membiarkan Halawa tetap hidup dan terus membunuhi orang². Aku merasa bingung.
Aku terus berpikir dan akhirnya berdoa pada Elohim yang Maha Kuasa, sampai akhirnya aku mengatakan, Ampuni aku, Elohim, untuk apa yang akan kulakukan. Ampuni aku. Orang ini tidak bisa dibiarkan terus hidup.
“Wah, bagus tuh,” kata Laoi, ketika ku sampaikan keputusanku. “Kita akan membereskan orang ini. Kau hanya perlu meyakinkan bahwa Marwan Barghouti tidak sedang bersama Halawa dalam mobil.”

Marwan bukan hanya tokoh penting Palestina, tapi dia juga teroris tulen yang tangannya berlumuran darah orang² Israel yang dibunuhnya secara pribadi. Meskipun Shin Bet sangat membencinya, tapi mereka tidak mau membunuhnya, karena itu hanya akan membuat Marwan tampak sebagai pahlawan syahid yang hebat.

Di tanggal 4 Agustus, 2001, aku sedang duduk di mobilku di luar kantor Marwan Barghouti sewaktu kulihat Halawa berjalan masuk kantor. Dua jam kemudian, dia keluar kantor, masuk ke dalam mobil VW Golf warna emas, dan lalu pergi. Aku menelepon Shin Bet dan mengatakan bahwa Halawa berada sendirian dalam mobilnya.
Dari dalam sebuah tank di puncak bukit, prajurit² IDF mengamati kedatangan mobil Halawa, menunggu sampai tiada warga sipil didekatnya, untuk menembaknya. Sebuah peluru tank ditembakkan ke arah jendela depan mobilnya, tapi tampaknya Halawa melihat itu, sehingga dia meloncat keluar mobil. Mobilku – hanya berjarak beberapa ratus meter darinya – terguncang karena kekuatan ledakan. Peluru kedua meleset dan mengenai aspal jalanan. Mobil VW Gold terbakar hebat, dan begitu juga Halawa – tapi dia belum mati. Sewaktu aku melihatnya berlari di jalanan sambil menjerit-jerit kesakitan dengan api menyelimuti tubuhnya, jantungku berdetak keras sekali seakan mau meloncat keluar dari dadaku.
Waduh, kasihan sih sebenarnya.
“Ngapain kamu di sana?!” jerit Shin Bet melalui ponselku ketika mereka melihat mobilku tampak dekat dengan tempat kejadian. “Apakah kau mau mati? Pergi segera!”
Meskipun sebenarnya aku tidak boleh berada dekat tempat serangan, aku menyetir mobilku ke sana untuk melihat apa yang akan terjadi. Aku merasa bertanggungjawab dan wajib tahu karena aku adalah bagian dari operasi ini. Memang keputusanku itu bodoh. Jika orang Palestina melihat mobilku di situ, maka mereka akan tahu bahwa aku terlibat dalam usaha pembunuhan Halawa.

Di malam harinya, aku pergi bersama ayah dan Marwan Barghouti ke rumah sakit untuk menjenguk Halawa. Wajahnya terluka hebat sampai² aku tak berani melihatnya. Tapi dia tampak terlalu fanatik untuk bisa mati semudah itu.
Dia menyembunyikan diri selama beberapa bulan, dan kudengar dia tidak sengaja menembak dirinya sendiri sampai² hampir mati kehabisan darah. Tapi bahkan ini pun tidak sanggup membuatnya berhenti membunuhi orang² Israel. Dia tetap saja melakukan hal itu. Lalu di suatu hari, Loai meneleponku.
“Ada di mana kamu?”
“Aku sedang berada di rumah.”
“Baiklah, tetap tinggal di sana.”

Helikopter Apache Israel yang didapat dari AS.

Aku tak bertanya apa yang sedang terjadi. Aku telah belajar untuk mentaati petunjuk Loai. Dua jam kemudian, Loai menelepon lagi. Rupanya, Halawa sedang makan bersama beberapa temannya di restoran ayam goreng tak jauh dari rumahku. Seorang mata² Israel melihatnya dan memberitahu Shin Bet tentang hal itu. Ketika Halawa dan teman²nya meninggalkan restoran, dua helikopter Israel muncul di udara dan menembakkan misil. Selesai sudah riwayat mereka.

Setelah Halawa dibunuh, beberapa anggota Brigade Syahid Al-Aqsa datang ke restoran dan menemukan pemuda usia 17 tahun yang adalah satu dari orang² yang telah terakhir kali ditemui Halawa sebelum dia masuk mobil. Pemuda ini adalah yatim piatu tanpa keluarga yang melindunginya. Maka mereka menyiksanya sedemikian rupa sampai dia mengaku sebagai mata² Israel. Mereka menembaknya, mengikat tubuhnya di bagian belakang mobil, menyeretnya di sepanjang jalanan Ramallah, dan menggantungnya di menara alun².

Di saat yang sama, media mulai menjeritkan bahwa Israel telah berupaya membunuh Marwan Barghouti, tapi tentunya berita ini salah. Aku tahu betul bahwa Shin Bet tidak berusaha membunuhnya. Tapi tampaknya semua orang lebih percaya pada koran dan Al-Jazira, sehingga Marwan Barghouti lalu mengambil kesempatan dari kejadian ini. Dia mulai membual, “Iya, memang mereka mencoba membunuhku, tapi aku lebih cerdik daripada mereka.”

Ketika Abdullah Barghouti mendengar tentang berita itu di penjara, dia mempercayai ucapan Marwan Barghouti dan mengirim bom² rakitannya ke para pembantu Marwan untuk dipakai dalam rangka balas dendam terhadap orang² Israel. Marwan sangat berterima kasih atas usaha Abdullah dan merasa berhutang budi padanya.

*******************

Munculnya Abdullah Barghouti mengakibatkan terjadinya perubahan dramatis dalam konflik antara Israel dan Palestina. Pertama, bom rakitannya jauh lebih canggih dan lebih dahsyat daripada yang pernah kami lihat sebelumnya, dan hal ini membuat Israel lebih mudah diserang dan menambah tekanan pada badan keamanan Israel untuk segera menghentikan serangan² bom.
Kedua, Intifada Al-Aqsa tidak lagi terbatas di Palestina saja. Abdullah Barghouti adalah orang luar, yang lahir di Kuwait. Ancaman apa lagi yang mengincar Israel di perbatasannya?
Ketiga, Abdullah Barghouti bukanlah orang yang bisa dengan mudah dilacak. Dia bukan anggota Hamas atau PA. Dia hanya seorang diri saja, yang bagaikan mesin kematian misterius yang bekerja sendiri.

Tak lama setelah penangkapan Abdullah Barghouti, PA meminta Marwan untuk bertanya padanya apakah ada serangan² berikut yang direncanakannya.
“Baiklah,” kata Marwan. “Aku akan minta Hassan Yousef bicara padanya.”
Marwan tahu ayahku sangat menentang korupsi politik dalam Pemerintahan Palestina dan telah mendengar usaha ayah untuk mendamaikan Hamas dan PA. Dia menelepon ayahku, dan ayah setuju untuk bicara dengan Abdullah Barghouti.
Ayah sebelumnya belum pernah bertemu dengan Abdullah Barghouti, yang sudah jelas bukanlah anggota Hamas. Ayah memperingatkan Abdullah, “Jika kau punya rencana rahasia, kau harus memberitahu PA agar kita bisa menundanya, sehingga Israel tidak menekan kita lebih hebat lagi, setidaknya sampai beberapa minggu. Jika terjadi pemboman sehebat bom² yang meledakkan Dolphinarium atau Sbarro, Israel akan menyerang Tepi Barat dengan kekuatan penuh. Mereka akan menangkapi para pemimpin PA, termasuk kamu juga.”

Abdullah mengakui bahwa dia telah mengirim sejumlah bom ke Nablus, di mana para teroris akan memasukkan bom² itu ke dalam empat buah mobil, mengelilingi Perdana Menteri Israel Shimon Peres ketika dia sedang berada di perjalanan, dan meledakkan keempat mobil itu untuk membunuh Shimon Peres. Dia juga mengaku bahwa sebagian aggota Hamas di utara akan membom beberapa pejabat negara Israel. Tapi dia tidak tahu siapakah para pembom ini, siapa target mereka, atau siapa yang merencanakan pembunuhan Peres. Dia hanya punya nomer telepon mereka saja.

Ayahku pulang ke rumah dan memberitahu aku apa yang baru saja diketahuinya. Kami menduga mereka akan membunuh salah satu pejabat Israel yang tertinggi, yakni Menteri Luar Negeri. Perkembangan ini menegangkan.
Tentu saja kami lalu berusaha untuk menelepon orang yang menelepon Abdullah. Marwan Barghouti tidak mau Abdullah menggunakan teleponnya dan ayahku juga tidak mau Abdullah menggunakan teleponnya pula. Kami menyadari bahwa Israel akan menyadap pembicaraan telepon, dan tiada seorang pun dari mereka yang ingin terlibat dalam operasi teroris besar ini.
Maka ayahku menyuruhku membeli ponsel yang setelah selesai dipakai, bisa langsung dibuang. Aku membeli telepon, menulis nomer teleponnya, dan memberi tahu Shin Bet agar mereka bisa menyadapnya.
Abdullah lalu menelepon para penghubungnya di Nablus dan memberitahu untuk menunda melakukan serangan bom sampai ada perintah baru. Setelah pihak keamanan Israel tahu akan rencana pembunuhan ini, mereka menjaga para pejabat anggota Knesset dan Kabinet Negara lebih ketat lagi. Akhirnya, setelah dua bulan penuh serangan bom, keadaan jadi lebih tenang lagi.
Di saat itu, Marwan tetap berusaha membebaskan Abdullah Barghouti, karena Abdullah tidak hanya mampu merakit bom² canggih baginya, tapi juga karena Marwan ingin Abdullah bebas melanjutkan pembunuhan atas orang² Israel lagi. Selain merupakan salah seorang pemimpin dalam Intifada Kedua, Marwan Barghouti juga adalah seorang teroris murni yang secara pribadi suka menembaki prajurit² dan warga sipil Israel.

Akhirnya PA membebaskan Abdullah Barghouti. Shin Bet jadi sangat murka.
Lalu semuanya menjadi lebih kacau lagi.

Bab 21 – Permainan
Musim Panas 2001 – Musim Semi 2002

Pada tanggal 27 Agustus, 2001, sebuah helikopter Israel menembakkan dua buah roket ke kantor Abu Ali Mustafa, sekretaris jendral PFLP. Satu dari roket² itu menghajarnya saat dia duduk di kantornya. Keesokan harinya, lebih dari 50.000 masyarakat Palestina yang marah, dan juga keluarga Mustafa, menghadiri penguburannya. Mustafa telah menentang proses perdamaian dan isi Perjanjian Oslo. Meskipun begitu, dia adalah Muslim moderat sama seperti ayahku, dan kami sering pergi bersama untuk mendengarkan ceramahnya.
Israel menuduhnya melakukan sembilan serangan bom mobil, tapi hal ini tidak benar. Sama seperti ayahku, dia adalah pemimpin politik, dan bukan pemimpin militer. Israel tidak punya bukti apapun terhadap dirinya. Tapi tampaknya itu tak jadi masalah. Mereka tetap saja membunuh Mustafa – mungkin sebagai balas dendam pembantaian di Sbarro atau di Dolphinarium. Atau kemungkinan besar mereka ingin menyampaikan peringatan pada Yasser Arafat. Selain menjadi ketua PFLP, Mustafa juga adalah anggota Komite Pelaksana PLO.

Dua minggu kemudian, pada tanggal 11 September, sembilan belas teroris Al-Qaeda membajak empat pesawat jet AS. Dua pesawat yang diterbangkan teroris menabrak dua gedung World Trade Center di New York City. Pesawat ketiga jatuh di gedung Pentagon di Washington DC. Pesawat yang keempat jatuh di lapangan County Somerset, Pennsylvania. Semua korban berjumlah 2.973, termasuk para teroris itu sendiri.
Sewaktu berbagai media berlomba memberitakan kejadian luar biasa ini, aku duduk bersama orang² seluruh dunia melihat berulang-ulang tayangan jatuhnya Gedung Kembar itu, di mana abu putih menutupi Jalan Gereja bagaikan badai salju di bulan Februari. Aku merasa malu melihat cuplikan film anak² Palestina bersorak-sorai merayakan serangan itu di jalanan Gaza.
Serangan ini membuat usaha perlawanan Palestina terhadap Israel jadi hangus, sewaktu seluruh dunia berteriak dengan satu pesan melawan terorisme – pokoknya segala macam terorisme, apapun tujuannya. Dalam beberapa minggu berikutnya, Shin Bet mulai mengambil pelajaran dari peristiwa 9/11 tersebut.

Mengapa organisasi² kemanan rahasia AS tidak mampu mencegah malapetaka tersebut? Jawabannya adalah: pertama, masing² organisasi tersebut ternyata bekerja sendiri² dan malah saling bersaing dan kurang ada kerjasama. Kedua, mereka kebanyakan bergantung pada teknologi dan jarang bekerjasama dengan para teroris. Taktik seperti ini mungkin cocok dalam Perang Dingin (melawan komunis), tapi sungguh sukar melawan orang² yang menganut ideologi fanatik dengan bantuan teknologi saja.

Di lain pihak, organisasi kemanan rahasia Israel kebayakan bergantung pada sumberdaya manusia; dan mereka punya mata² yang tak terhingga jumlahnya di mesjid², organisasi² Islam, dan berbagai badan kepemimpinan. Mereka bahkan sanggup merekrut teroris² yang terganas sekalipun. Mereka tahu bahwa mereka perlu memiliki mata dan telinga di bagian dalam, dan juga pikiran untuk mengerti motif dan emosi, yang semuanya dibutuhkan untuk menghubungkan keterangan satu dan yang lain untuk menghasilkan pemahaman yang lengkap.

Amerika tidak tahu apapun tentang ideologi dan budaya Islam. Selain itu, bagian perbatasan AS dibiarkan terbuka dan keamanan sangat lemah, sehingga AS jadi target yang jauh lebih empuk dibandingkan Israel. Meskipun perananku sebagai mata² memungkinkan Israel menangkapi ratusan teroris di jalanan, kami tetap saja tidak mampu menghentikan terorisme sepenuhnya – bahkan di negara sekecil Israel.

Sekitar sebulan kemudian, di tanggal 17 Oktober, empat orang bersenjata PFLP masuk ke Hotel Hyatt Yerusalem dan membunuh Menteri Turisme Rehavam Ze’evi. Mereka mengatakan pembunuhan ini adalah tindakan balas dendam atas pembunuhan Mustafa. Meskipun tampaknya bidang Ze’evi tidak banyak terlibat dalam politik, tapi sudah bisa ditebak bahwa dia akan jadi target penyerangan. Hal ini karena dia secara terang²an menganjurkan kebijaksanaan politik yang membuat hidup tiga juta masyarakat Palestina jadi sangat sengsara di Jalur Gaza dan tepi Barat, sehingga akhirnya mereka dengan sukarela mengungsi ke negara² Arab lainnya. Sewaktu diwawancarai oleh wartawan Associated Press, Ze’evi mengatakan bahwa sebagian rakyat Palestina bagaikan ‘kutu penghisap darah’ yang harus dibasmi seperti membasmi ‘kanker yang menyebar dalam tubuh kita.’ [8]
[8]”Berita kematian: Rehavam Zeevi,” BBC News, 17 Oktober, 2001,  (diakses tanggal 24 November, 2009).

Mata ganti mata, gigi ganti gigi, dan saling bunuh karena dendam terus berlangsung. Sementara itu, masih banyak mata dan gigi yang tersedia.

Aku telah bekerja keras selama beberapa tahun untuk mengumpulkan semua keterangan sebisa mungkin untuk menolong Shin Bet menghentikan pertumpahan darah. Kami terus mengamati Muhammad Jamal al-Natsheh, Saleh Talahme, dan tiga orang lainnya yang dulu kuantar ke apartemen setelah mereka keluar dari penjara PA. Mereka berubah-ubah tempat tinggal, dan hanya Saleh saja yang tepat berhubungan denganku. Tapi kami tetap mengawasi keempat orang lainnya melalui keluarga mereka dan menyadap percakapan telepon mereka.
Saleh percaya padaku. Dia selalu mengatakan di mana dia tinggal dan sering mengundangku untuk bertamu. Setelah aku mengenalnya, aku sangat suka bersahabat dengannya. Dia adalah orang yang mengagumkan – ilmuwan cerdas, lulus sebagai insinyur terpandai di kelasnya, dan salah satu mahasiswa terbaik di Universitas Birzeit. Baginya, aku adalah putra Hassan Yousef, dan juga teman baik dan pendengar yang setia.
Aku sering bertemu dengannya; aku mengenal istrinya yakni Majeda dan juga kelima anak²nya (dua anak laki dan tiga anak perempuan). Putra sulungnya bernama Mosab, sama seperti namaku. Majeda dan anak²nya datang ke Ramallah dari Hebron untuk menjenguk Saleh di apartemen rahasia tempatnya bersembunyi. Saat itu aku masih berusaha menyelesaikan pendidikan S1-ku. Di suatu petang, Saleh bertanya bagaimana studiku.

“Ada kesulitan dengan bahan kuliah?”
“Iya nih, Statistik Ekonomi.”
“Baiklah, besok bawa kemari bukumu dan kita akan duduk bersama dan belajar bagaikan di kelas kecil.”

Ketika aku katakan pada Loai dan Shin Bet tentang hal itu, mereka senang. Mereka berpikir kegiatan belajar bersama ini merupakan penyamaran yang baik bagiku.

Tapi sebenarnya hal ini tidak sepenuhnya penyamaran, karena aku dan Saleh memang berteman baik. Dia mengajarku, dan aku berhasil mendapatkan angka ujian yang sangat baik dua minggu kemudian. Aku mengasihinya dan keluarganya. Aku pun sering bertamu dan makan di tempatnya. Kami menjadi sahabat erat. Ini tentunya hubungan yang aneh karena saat itu aku sudah tahu bahwa Saleh adalah orang yang sangat berbahaya. Tapi di lain pihak, demikian pula aku baginya.

*******************

Pada malam di tanggal 2 Maret, 2002, aku sedang duduk di rumah ketika dua orang pria datang ke rumah.
Dengan rasa curiga aku bertanya padanya, “Apakah ada yang bisa kutolong?”
“Kami mencari Syeikh Hassan Yousef. Ini hal penting.”
“Katakan padaku mengapa penting.”

Mereka menerangkan bahwa mereka adalah dua dari lima pembom bunuh diri yang baru saja tiba dari Yordania. Orang penghubung mereka baru saja ditangkap, dan mereka butuh tempat aman untuk tinggal.
“Baiklah, “kataku. “Kau datang di tempat yang tepat.”
Aku tanya apa yang mereka butuhkan.
“Kami bawa mobil penuh dengan bahan peledak dan bom, dan kami butuh tempat aman untuk parkir mobil.”
Waduh, pikirku, apa yang harus kulakukan dengan mobil penuh bahan peledak? Aku harus cepat berpikir. Aku mengambil keputusan untuk menyimpan mobil di garasi di sebelah rumah kami. Ini tentunya bukan gagasan yang baik, tapi aku harus cepat mengambil keputusan saat itu juga.
“Baiklah, ini uang bagi kalian,” kataku sambil mengosongkan dompetku. “Silakan cari tempat untuk tinggal, kembali padaku lagi malam ini, dan kita rencanakan apa yang harus kita lakukan.”

Setelah mereka pergi, aku telepon Loai, dan aku lega ketika Shin Bet datang dan membawa pergi mobil itu.

Kelima pembom bunuh diri kembali ke rumahku dalam waktu singkat. “Baiklah,” kataku pada mereka, “mulai sekarang, akulah koneksi kalian dengan Hamas. Aku akan menyediakan kalian target, lokasi, transportasi, dan segala yang kalian butuhkan. Jangan bicara pada siapapun, atau kalian bisa² terlanjur terbunuh sebelum mampu membunuh satu orang Israel saja.”

Kesempatan ini bagaikan menemukan durian runtuh, karena selama ini tiada seorang pun yang mengetahui para pembom bunuh diri sebelum mereka meledakkan bom. Sekarang tiba² saja lima calon pembom bunuh diri muncul di hadapanku dengan mobil penuh dengan bom. Tiga puluh menit kemudian aku memberitahu Shin Bet tentang lokasi mereka. Perdana Menteri Sharon memerintahkan agar mereka dibunuh.
“Wah, ya tidak bisa,” kataku pada Loai.
“Apa?!”
“Aku tahu mereka adalah teroris, dan mereka akan meledakkan diri. Tapi kelima orang ini bodoh dan tak tahu apa yang mereka lakukan. Kau tidak boleh membunuh mereka. Jika kau membunuh mereka, maka ini adalah terakhir kali aku membantumu.”
“Kau ini mengancam kami?”
“Tidak, tapi kau tahu bagaimana aku bekerja. Aku membuat satu perkecualian dengan Halawa, dan kau tentunya ingat bagaimana kesudahannya. Aku tidak mau lagi jadi bagian pembunuhan orang.”
“Apa ada pilihan lain?”
“Tangkap mereka,”
kataku, meskipun aku tahu ini berbahaya sekali. Kami memang telah memiliki mobil dan bom mereka, tapi mereka masih punya sabuk penuh bom pula. Jika mereka melihat seorang prajurit berada dalam jarak 100 meter dari kamar mereka, mereka tentunya akan meledakkan sabuk bom dan membunuh semua orang di sekitarnya.

Bahkan jikalau sekalipun kami berhasil menangkap mereka semua tanpa ada korban nyawa, mereka pasti akan menyebut namaku pada interogator mereka di penjara, sehingga aku pasti ketahuan. Yang termudah tampaknya memang membiarkan saja helikopter meluncurkan roket² ke apartemen mereka, dan beres sudah.

Tapi hati nuraniku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Meskipun belum jadi Kristen, aku benar² mencoba melakukan ajaran Yesus. Allâh tidak keberatan dengan pembunuhan dan malah mewajibkannya. Tapi Yesus menarikku ke standard yang lebih tinggi. Sekarang aku tidak tega untuk membunuh, bahkan teroris sekalipun.
Di saat yang sama, aku juga telah jadi aset yang sangat berharga bagi Shin Bet. Mereka tidak senang dengan keadaan ini, tapi mereka akhirnya setuju untuk membatalkan rencana pembunuhan.

“Kita harus tahu apa yang berlangsung dalam kamar itu,” kata mereka padaku. Aku datang ke apartemen mereka dengan berdalih membawa perabot² sederhana yang mereka butuhkan. Mereka tak mengetahui bahwa kami memasang alat penyadap pada perabotan tersebut sehingga kami bisa mendengar pembicaraan mereka. Bersama-sama Shin Bet, aku mendengarkan mereka diskusi siapa yang akan mati pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Semua ingin jadi orang pertama yang mati sehingga mereka tidak usah melihat rekannya meledak. Sungguh mengerikan. Rasanya bagaikan mendengarkan sekelompok orang mati mengobrol.

Pada tanggal 16 Maret, pasukan keamanan bersiaga di sekitar apartemen itu. Apartemen para pembom itu berada di tengah² kota Ramallah, sehingga IDF tidak bisa membawa tank. Karena pasukan harus berjalan kaki, operasi penyergapan ini sangat berbahaya. Aku mengikuti semua kegiatan dari tempatku, dan Loai bicara denganku di telepon dan memberitahu apa yang sedang terjadi. “Mereka sekarang akan tidur.”

Kami menunggu sampai terdengar suara dengkuran dari monitor. Akan bahaya sekali jika mereka terbangun. Pasukan tentara harus bisa masuk dan mencapai ranjang sebelum para pembom bisa bergerak.
Seorang prajurit memasang bom di gagang pintu, dan kami mendengarkan monitor untuk mendeteksi suara apapun yang menandakan mereka terjaga. Para prajurit sekarang memberi tanda aba² untuk siap beraksi.
Pintu diledakkan, dan pasukan khusus anti teroris menyerbu masuk ke apartemen kecil itu, menangkap semua teroris kecuali satu orang. Dia mengambil senjata dan berlari keluar jendela. Dia mati sebelum menghujam lantai.
Semua orang menarik napas lega, kecuali aku. Begitu pasukan keamanan membawa mereka ke dalam Jeep tentara, salah seorang dari mereka menyebut namaku sebagai mata² Israel.
Apa yang amat kukhawatirkan telah benar² terjadi. Aku telah ketahuan. Sekarang gimana dong?

Loai punya jalan keluar. Shin Bet mendeportasi orang tersebut kembali ke Yordania, dan mengirim teman²nya yang lain ke penjara. Jadi tatkala orang tersebut bebas kembali ke rumahnya dan senang bertemu dengan keluarganya, ketiga pembom lainnya yang dipenjara tentu mengira dialah yang mengkhianati mereka, dan bukan aku. Ini adalah solusi yang sangat cerdik.
Aku selamat sekali lagi, tapi nyaris ketahuan. Tapi sudah jelas bahwa aku kurang berhati-hati.

*******************

Suatu hari, aku menerima pesan dari ketua Shin Bet yakni Avi Dichter, yang berterima kasih padaku atas pekerjaan yang kulakukan bagi mereka. Dia berkata bahwa dia telah memeriksa semua arsip perang Israel melawan terorisme dan menemukan nama Pangeran Hijau di setiap arsip. Meskipun membanggakan, tapi hal ini juga merupakan suatu peringatan. Aku menyadari akan hal ini, begitu juga Loai. Jika aku terus melakukan hal yang sama, aku tentunya akan mati karena ketahuan. Jejak langkahku sudah terlalu panjang. Seseorang akhirnya akan bisa mengendusnya. Entah bagaimana caranya, tapi penting untuk menghapus jejakku.

Sikap keras kepalaku untuk menolak lima pembom tersebut dibunuh juga telah mempersulit keadaanku. Meskipun semua orang yakin bahwa pembom yang dikirim balik ke Yordania berkhianat sehingga teman²nya tertangkap, mereka juga tahu bahwa Israel tak akan ragu menangkap siapapun yang membantu para pembom tersebut. Dan mereka tahu aku sudah jelas banyak membantu para pembom bunuh diri itu. Sekarang masalahnya: mengapa aku belum juga ditangkap IDF?

Seminggu setelah penangkapan para pembom bunuh diri tersebut, tim keamanan Israel menyampaikan dua gagasan yang dapat menyelamatkan diriku agar tetap tak ketahuan. Pertama, mereka bisa menangkapku dan mengembalikan aku ke penjara. Tapi aku khawatir ini bisa mengakibatkan kematian ayah, karena tidak lagi dilindungi diriku.

“Pilihan lain bagi kita adalah melakukan sebuah permainan.”
“Permainan apa?”

Loai menjelaskan bahwa kami harus menyelenggarakan penangkapan besar, yang bisa meyakinkan semua orang Palestina bahwa Israel benar² ingin menangkap atau membunuhku. Agar tampak meyakinkan, hal ini harus dilakukan secara nyata dan tidak bersandiwara. IDF (Israeli Deffence Force) harus benar² mengira bahwa mereka harus menangkapku. Ini berarti Shin Bet harus menipu IDF – sekutu mereka sendiri.

Shin Bet memberi waktu IDF hanya beberapa jam saja untuk mempersiapkan operasi besar ini. Shin Bet mengatakan pada IDF bahwa sebagai putra Hassan Yousef, aku adalah orang yang sangat berbahaya, karena aku punya hubungan erat dengan para pembom bunuh diri dan kemungkinan bersenjata bom pula. Shin Bet mengatakan mereka mendengar laporan mata² bahwa aku akan datang ke rumah ayahku pada malam itu untuk menengok ibuku. Aku hanya akan tinggal untuk waktu singkat, dan aku bersenjata M16.
Bukan main permainan tipu-tipuan ini.

IDF dibuat yakin bahwa aku adalah teroris kelas hiu yang bisa hilang lenyap dengan cepat jika mereka gagal menangkapku. Karena itu IDF berjanji akan melakukan yang terbaik agar mereka tidak gagal. Pasukan keamanan khusus datang memakai pakaian Arab, bersama para penembak jarak jauh. Mereka masuk ke kota dengan mengendarai mobil Palestina, dan berhenti dalam jarak dua menit menyetir dari rumahku, sambil menunggu aba² dari Shin Bet. Tank² berat sudah berada dalam posisi 15 menit dari perbatasan wilayah Palestina. Helikopter² dengan senjata lengkap sudah siap untuk membantu dari udara, jika saja para feda’iyin Palestina menyerang pasukan IDF di jalanan.

Di luar rumah ayahku, aku duduk di mobilku sambil menunggu panggilan telepon dari Shin Bet. Mereka memberitahu bahwa jika telepon berdering, aku hanya punya waktu 60 detik tepat untuk melarikan diri sebelum pasukan keamanan datang mengepung rumahku. Aku tidak boleh melakukan kesalahan.

Terasa tusukan rasa sesal di hatiku membayangkan betapa takutnya ibu dan adik² kecilku di tengah penyerangan tersebut. Seperti biasa, mereka harus membayar harga bagi tindakan yang dilakukan ayah dan diriku.
Aku melihat kebun bunga ibu yang indah. Dia telah mengumpulkan bunga² tersebut dari berbagai tempat, juga dari teman² dan keluarganya. Dia merawat bunga²nya bagaikan merawat anak²nya.
“Berapa banyak bunga lagi yang kita butuhkan?” kadang² aku menggodanya.
“Hanya sedikit tambahan lagi, kok,” begitu selalu jawab ibu.
Aku ingat saat dia menunjuk ke satu bunga dan berkata, “Tanaman ini lebih tua daripada dirimu. Ketika kau masih anak², kau memecahkan potnya, tapi aku menyelamatkannya dan sampai sekarang tanaman itu masih hidup.”
Apakah tanaman itu masih bisa terus hidup beberapa menit dari sekarang setelah pasukan khusus muncul dan menginjaknya?

Ponselku berdering.
Darah terasa mengalir deras dalam kepalaku. Hatiku berdebar-debar. Aku menyalakan mesin mobil dan langsung melajukan mobil ke tengah kota menuju tempat persembunyian rahasia yang baru. Aku tidak berpura-pura lagi jadi buronan. Para pasukan tentunya lebih memilih membunuhku daripada menangkapku saat ini. Semenit setelah aku pergi, sepuluh mobil sipil dengan nomer mobil Palestina datang dan menginjak rem kuat² di depan rumah. Pasukan khusus Israel mengepung rumahku, senapan otomatis mengarah ke setiap jendela dan pintu. Halaman depan rumah² para tetangga penuh dengan anak², termasuk adik lakiku Naser. Mereka berhenti main sepakbola dan berlarian ketakutan.

Setelah pasukan berada dalam posisi siaga, lebih dari dua puluh tank menderu masuk. Sekarang seluruh masyarakat kota datang untuk menonton apa yang terjadi. Aku bisa mendengar suara mesin disel raksasa menderu hebat dari tempat persembunyianku. Ratusan militan Palestina bersenjata datang ke rumah ayah dan mengelilingi IDF. Tapi mereka tidak bisa menembak karena banyak anak kecil sedang berlarian untuk mencari perlindungan dan karena keluargaku masih berada di dalam rumah.

Ketika para feda’iyin muncul, maka helikopter juga dipanggil. Aku tiba² berpikir mungkin sebaiknya aku membiarkan saja kelima pembom bunuh diri itu dibunuh. Jika aku tidak melarang IDF meluncurkan bom pada mereka, tentunya keluarga dan para tetanggaku tidak terancam resiko besar seperti sekarang. Jika ada saudaraku yang mati tertembak karena pengepungan ini, aku tak akan bisa memaafkan diriku.

Agar yakin hasil karya kami jadi berita besar, aku memberi keterangan pada Al-Jazira bahwa akan terjadi penyerangan besar di rumah Syeikh Hassan Yousef. Mereka semua mengira akhirnya Israel akan menangkap ayah, dan mereka ingin merekam peristiwa penangkapannya saat itu juga. Aku bisa membayangkan reaksi mereka tatkala melalui pengeras suara para pasukan meminta putra Syeikh yang tertua, Mosab, untuk keluar rumah dengan tangan di atas kepala. Setelah aku tiba di apartemen rahasiaku, aku menyalakan TV dan menonton drama penangkapan itu bersama dengan seluruh dunia Arab.

Pasukan mengumpulkan keluargaku keluar dari rumah dan menanyai mereka satu per satu. Ibuku berkata pada mereka bahwa aku pergi satu menit sebelum mereka tiba. Tentu saja mereka tak percaya keterangan ibuku. Mereka lebih percaya pada Shin Bet, pihak yang mengatur semua permainan ini. Ketika aku tetap juga tidak muncul untuk menyerah, maka pasukan Israel mengancam akan mulai menembak ke dalam rumahku.

Selama waktu sepuluh menit, semua orang menunggu dengan tegang. Tak lama kemudian, sebuah misil mendesis di udara dan meledakkan separuh rumahku. Para pasukan berlarian masuk ke dalam rumah. Aku tahu mereka memeriksa setiap rumah. Tapi mereka tak menemukan mayatku sama sekali.

IDF sangat malu dan marah sekali karena aku berhasil melarikan diri dari cekalan mereka. Jika mereka menangkap aku sekarang, Loai memperingatkan aku di telepon, mereka akan menembakku di tempat. Bagi kami, operasi itu sungguh sukses. Tiada seorang pun yang terluka, dan namaku seketika tercantum dalam daftar teroris yang paling dicari. Seluruh kota membicarakan tentang diriku. Dalam waktu semalam saja, aku telah menjadi teroris berbahaya.
Dalam beberapa bulan setelah itu, aku punya tiga prioritas: menghindari tentara Israel, melindungi ayahku, dan terus mengumpulkan keterangan.

Bab 22 – Perisai Pertahanan
Musim Semi 2002

Kekerasan semakin meningkat dengan kecepatan yang memusingkan kepala.
Orang² Israel ditembaki, ditusuk, dan dibom. Orang² Palestina dibunuhi. Ronde demi ronde balas dendam terus berlangsung, dan semakin cepat. Masyarakat internasional mencoba menekan Israel tapi imbauan ini sia² saja.

“Hentikan pendudukan ilegal… Hentikan pemboman terhadap warga sipil, pembunuhan, dan penggunaan kekerasan yang tak berguna, penghancuran rumah, dan penghinaan setiap hari terhadap masyarakat Palestina,” tuntut sekjen PBB Kofi Annan di tanggal 2 Maret, 2002. [9]
[9] “Annan Mengritik Israel karena Mengarah Penduduk Sipil,” U.N.Wire, 12 Maret, 2002,  (diakses pada tanggal 23 Oktober, 2009).

Di hari di mana kami menangkap empat pembom bunuh diri yang kulindungi dari pembunuhan, para pemimpin Persatuan Eropa meminta pihak Israel dan Palestina menghentikan kekerasan. “Tak ada solusi militer bagi masalah ini,” kata mereka. [10]
[10] Persatuan Eropa, “Deklarasi Barcelona tentang Timur Tengah,” 16 Maret, 2002,

Di tahun 2002, hari raya Paskah jatuh di tanggal 27 Maret. Di sebuah ruang makan lantai bawah Hotel Park di Netanya, 250 tamu berkumpul untuk tradisi makan Seder.

Anggota Hamas bernama Abdel-Basser Odeh, usia 25 tahun, masuk melewati penjagaan keamanan, meja pendaftaran di lobi, ke dalam kerumunan orang². Dia memasukkan tangan ke dalam jaketnya dan meledakkan bom.
Ledakan membunuh 30 orang dan melukai 140 lainnya. Beberapa dari korban adalah orang yang dulu selamat dari Holokaus Nazi. Hamas menyatakan bertanggung jawab, dengan mengatakan tujuan peledakkan adalah untuk mencegah Pertemuan Puncak Arab (Arab Summit) di Beirut. Meskipun demikian, keesokan harinya, Liga Arab yang dipimpin Saudi Arabia mengumumkan bahwa mereka telah memungut suara dan mengakui Negara Israel dan menormalkan hubungan, selama Israel setuju untuk kembali ke daerah kekuasaan sebelum tahun 1967, menyelesaikan masalah pengungsi Palestina, dan mendirikan Negara Palestina merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya. Jika Israel menerima persyaratan ini, masyarakat Palestina akan menang besar sekali. Tapi sayangnya, Hamas tetap saja memaksa dengan sikapnya yang ‘mendapatkan segalanya atau tidak sama sekali.’

Karena tahu Hamas tidak akan mengubah pendirian, Israel melakukan rencana ekstrim untuk menanggulangi Hamas. Dua minggu kemudian, pasukan Israel menyerang masuk wilayah Palestina dan menduduki dua kota yakni Ramallah dan Al-Bireh. Pengamat militer memperingatkan kemungkinan terjadinya banyak korban di pihak Israel. Tapi sebenarnya mereka tak perlu khawatir.

IDF membunuh lima orang Palestina, menetapkan jam malam, dan menguasai beberapa gedung. Buldozer² raksasa D9 juga menghancurkan beberapa rumah di kamp penampungan Al-Amari, termasuk rumah milik Wafa Idris, pembom bunuh diri wanita pertama, yang membunuh pria Israel berusia 81 tahun dan melukai 100 orang lainnya diluar toko sepatu di Yerusalem, di tanggal 27 Januari.

Setelah serangan bom bunuh diri di Hotel Park, Pemerintah Israel memberi lampu hijau untuk melancarkan operasi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya. Operasi militer ini bernama Perisai Pertahanan (Operation Defense Shield).

Teleponku berdering. Ternyata Loai.
“Ada apa?” tanyaku.
“Seluruh IDF berkumpul,” kata Loai. “Malam ini, kami akan menangkap Saleh dan semua buronan lainnya.”
“Apa maksudmu?”
“Kami akan menguasai seluruh Tepi Barat dan memeriksa setiap rumah dan bangunan, tak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan. Diam di tempat. Aku akan meneleponmu lagi.”

Wow, pikirku. Ini hebat! Mungkin serangan itu akhirnya akan mengakhiri perang sinting ini.
Terdengar kabar angin di seluruh Tepi Barat. Para pemimpin Palestina tahu ada sesuatu yang akan terjadi, tapi tak tahu persisnya apa. Orang² meninggalkan tempat kerja mereka, klinik kesehatan, dan kelas², dan langsung pulang untuk nonton TV, menunggu berita. Aku telah memindahkan ayahku ke apartemen milik pasutri warga AS, dan Shin Bet menjamin keselamatannya di sana.

Di tanggal 29 Maret, aku masuk ke Hotel City Inn di Jalan Nablus di Al-Bireh, di mana BBC, CNN, dan media internasional lainnya tinggal. Ayah dan aku tetap berhubungan melalui radio dua jalur. Shin Bet mengira saat itu aku sedang berada di Hotel City Inn, nonton TV sambil makan cemilan. Tapi aku tidak ingin kehilangan kesempatan menonton peristiwa bersejarah ini langsung di tempatnya. Maka aku keluar hotel sambil membawa senjata M16 di pundakku, sehingga aku tampak bagaikan orang buronan. Aku menuju puncak bukit di sebelah Perpustakaan Ramallah, di mana aku bisa melihat bagian tenggara kota tempat ayahku tinggal. Kupikir aku akan aman berada di situ, dan bisa cepat lari ke hotel jika mendengar tank² mendekati.

Sekitar hampir jam 12 malam, ratusan tank Merkava berderu hebat masuk kota. Aku tidak menduga mereka akan menyerang dari segala penjuru dalam waktu bersamaan – dan juga tidak secepat itu. Beberapa jalanan begitu sempit sehingga tank² tidak punya pilihan lain selain menggilas mobil² yang parkir di jalanan. Jalanan lain cukup lebar, tapi tampaknya para prajurit dalam tank menikmati suara mobil² yang digilas dengan tanknya. Kebanyakan jalan² di kamp penampungan berukuran sedikit lebih besar daripada gang² perantara rumah.

“Matikan radiomu!” kataku pada ayah. “Tiarap! Tundukkan kepalamu!”

Aku telah memarkir mobil Audi ayah di pinggir jalan. Dengan rasa takut aku melihat sebuah tank menggilas remuk mobil ayah. Seharusnya mobil itu tidak kuparkir di situ. Aku tahu aku harus cepat melarikan diri, tapi aku tak tahu harus berbuat apa. Tentunya aku juga tak bisa menelepon Loai dan memintanya menghentikan operasi penyerangan hanya karena aku ingin sedikit bermain Rambo.

Aku berlari ke arah tengah kota dan merunduk ke dalam garasi parkir, hanya beberapa meter dari sebuah tank yang sedang melaju. Prajurit² Israel belum tampak karena sedang menunggu tank² Merkava mengamankan wilayah. Tiba² aku menyadari bahwa sebuah kelompok perlawanan Palestina berkantor di gedung yang terletak di atas kepalaku. Aku sedang berlindung di target sasaran.

Tank² tidak bisa membedakan antara mata² Shin Bet atau teroris, Kristen atau Muslim, orang bersenjata atau warga sipil biasa. Dan para tentara yang berada dalam tank tersebut sama takutnya seperti aku yang sekarang bersembunyi. Di sekitarku, para pria yang tampak seperti diriku menembakkan AK47 kepada tank² tersebut. Ping. Ping. Ping. Peluru memantul kesana kemari. Tank juga tak mau kalah, dan balas tembak. BUUM! Telingaku terasa mau meledak.

Bagian besar bangunan di sekitar kami mulai runtuh dan menimbulkan gelombang debu. Setiap kanon tank meledak, hentakannya terasa seperti memukul perutku. Senapan² otomatis terus ditembakkan, peluru² beterbangan, dan suaranya menggema di tembok² garasi. Kanon meledak lagi, debu beterbangan di mana, dan serpihan² tembok dan batu berjatuhan.

Aku harus keluar dari tempat ini. Tapi gimana caranya? Tiba² sekelompok pejuang Fatah lari masuk ke dalam garasi dan bersembunyi di sebelahku. Wah, payah nih. Bagaimana jika para prajurit masuk ke sini? Para feda’iyin akan menembaki mereka. Lalu apakah aku juga harus menembak? Pada siapa? Jika aku tak menembak, maka aku pun tetap akan ditembak. Tapi aku tak mau membunuh siapapun. Dulu memang aku bertekad membunuh, tapi sekarang tidak lagi.
Lebih banyak lagi pejuang Palestina yang masuk garasi untuk bersembunyi. Tiba² semua sunyi senyap dan tak ada yang berani bernafas.
Para prajurit IDF masuk perlahan-lahan ke dalam garasi. Tampaknya sebentar lagi akan ada saling tembak dahsyat. Para prajurit menyalakan obor api mencari orang atau refleksi senjata. Mereka mendengarkan, dan kami melihat. Jari² telunjuk berkeringat dan siap menarik pelatuk senjata.
Lalu air Laut Merah terbelah.
Mungkin karena takut masuk ke bagian garasi tergelap dan lembab, atau mungkin karena ingin kembali ke tank, para prajurit itu tiba² berhenti, berbalik, dan pergi begitu saja. Setelah mereka menghilang, aku masuk ke gedung di atasku, naik tangga, dan menemukan telepon yang bisa kugunakan untuk menelepon Loai.

“Bisakah kau meminta IDF untuk mundur sekitar dua blok agar aku bisa kembali ke hotelku?
“Apa?! Di mana kamu sekarang? Mengapa kau tidak berada di hotel?”
“Aku sedang melakukan tugasku.”
“Kau sinting!”

Lalu berlangsung suasana diam sesaat yang canggung.

“Baiklah, akan kami lihat apa yang bisa kami lakukan.” Dibutuhkan waktu dua jam untuk memanggil mundur para tank dan prajurit, yang tentunya terheran-heran mengapa mereka harus mundur. Begitu mereka telah mundur, aku melompat dari satu atap rumah ke atap lainnya, dan hampir mematahkan kaki²ku. Akhirnya aku tiba di kamar hotel dengan aman. Aku tutup pintu, membuka baju teroris dan senapanku, lalu memasukkan semuanya ke lubang AC.

Di saat itu, rumah tempat ayahku bersembunyi terletak di tengah² badai penyerangan. IDF memeriksa semua rumah di sekitarnya, di belakang setiap gedung, di bawah setiap batu. Tapi mereka juga sudah diberitahu untuk tidak masuk rumah tertentu.

Di dalam rumah itu, ayah membaca Qur’an dan berdoa. Pemilik rumah juga membaca Qur’an dan berdoa. Istrinya juga membaca Qur’an dan berdoa. Lalu, karena alasan yang tak mereka ketahui, para tentara Israel melewati rumah itu begitu saja, lalu pergi, dan mulai memeriksa daerah lain.

“Kau pasti tak percaya muzizat ini, Mosab!” kata ayah lewat radio tak lama kemudian. “Sungguh sukar dipercaya! Mereka datang. Mereka memeriksa setiap rumah di sekitar kami, seluruh daerah tetangga – kecuali rumah di mana kami bersembunyi. Alhamdulillaaah!”
Terima kasih kembali, kataku dalam hati.

Israel tidak pernah melakukan operasi penyerangan sebesar Operasi Perisai Pertahanan sejak Perang Enam Hari. Dan ini hanya permulaan saja. Ramallah adalah target pertama. Setelah itu Betlehem, Jenin, dan Nablus diserang pula. Ketika aku sedang berlari-lari menghindari tentara Israel, pasukan IDF telah mengepung tempat tinggal Yasser Arafat. Semua gedung ditutup. Jam malam yang ketat diberlakukan.

Di tanggal 2 April, tank² dan mobil² bersenjata mengepung gedung Preventive Security Compound (Kompleks Keamanan Pencegahan) dekat rumah kami di Betunia. Helikopter² militer beterbangan di atas rumah kami. Kami tahu PA menyembunyikan setidaknya 50 orang buronan, dan Shin Bet frustasi karena tidak bisa menemukan mereka dimana pun.

Kompleks itu terdiri dari empat gedung, dan satu gedung kantor empat tingkat di mana Kolonel Jibril Rajoub [11] dan agen² keamanan PA tinggal. Seluruh fasilitas kompleks ini dibangun dan dilengkapi oleh CIA. Polisi PA juga dilatik dan disenjatai oleh CIA. CIA bahkan punya kantor di gedung itu. Ratusan polisi bersenjata lengkap berada di dalam gedung, juga sejumlah besar tawanan, termasuk Bilal Barghouti dan buronan Israel lainnya. Shin Bet dan IDF benar² serius dan tanpa kompromi kali ini. Pengeras suara mengumumkan bahwa tentara akan meledakkan Gedung Satu dalam waktu lima menit dan memerintahkan semua orang untuk keluar gedung.
[11] Terdapat keterangan menarik tentang Kolonel Jibril Rajoub: Orang ini telah memanfaatkan posisinya sebagai kepala keamanan di Tepi Barat untuk membangun kerajaan kecilnya, dan menyuruh bawahannya untuk membungkuk padanya bagaikan menyembah seorang raja. Aku telah melihat meja makan paginya penuh dengan 50 macam makanan, yang disajikan hanya untuk menunjukkan bahwa sang Kolonel adalah orang sangat penting. Aku juga telah menyaksikan bahwa Kolonel Jibril Rajoub bersikap kasar dan seenaknya, dan berlaku lebih menyerupai seorang gangster daripada pemimpin terhormat. Di tahun 1955, ketika Arafat menangkapi banyak ketua dan anggota Hamas, Rajoub menyiksa mereka tanpa ampun. Hamas beberapa kali mengancam akan membunuhnya, dan ini membuat sang Kolonel membeli mobil anti peluru dan bom. Bahkan Arafat sendiri tidak punya kendaraan seperti itu.

Persis lima menit kemudian, BOOM!! Lalu giliran Gedung Dua. “Semua keluar!” Lalu BOOM!! Giliran Gedung Tiga. BOOM!! Gedung Empat. BOOM!!

“Buka baju kalian!” begitu perintah dari pengeras suara. Para prajurit Israel tidak mau ambil resiko menghadapi kemungkinan ada yang menyembunyikan bahan peledak dalam baju mereka. Ratusan orang berdiri telanjang. Mereka diberi baju katelpak, dan dimasukkan ke dalam bus untuk dibawa ke Pusat Militer Ofer – di mana Shin Bet nantinya melakukan kesalahan. Banyak sekali orang² yang ditawan, tapi pihak Israel hanya menginginkan orang² buronan saja, dan membebaskan orang² yang tidak mereka cari. Masalahnya adalah semua orang itu telah menanggalkan baju² mereka di kompleks. Dengan begitu, bagaimana pasukan keamanan Israel bisa membedakan mana orang buronan dan mana yang polisi?

Boss dari boss Loai adalah Ofer Dekel dan dia bertanggung jawab atas operasi penyerangan itu. Dia memanggil Jibril Rajoub, yang sedang tidak berada di Kompleks saat penyarangan dilakukan. Dekel memberi Rajoub ijin khusus sehingga dia bisa melalui ratusan tank dan ribuan prajurit dengan aman. Ketika dia tiba, Dekel meminta Rajoub menunjukkan orang² yang mana yang bekerja sebagai polisi, dan yang mana yang buronan. Rajoub mengatakan akan dengan senang hati melakukannya. Dengan cepat, Rajoub menunjuk para polisi sebagai buronan dan para buronan sebagai polisi, dan karenanya Shin Bet lalu membebaskan semua buronan.

“Mengapa kau lakukan itu padaku?” tanya Dekel pada Rajoub setelah akhirnya mengetahui keadaan sebenarnya.

“Kau baru saja meledakkan gedung tempat kerja dan kompleksku,” jawab Rajoub dengan tenang. Dekel juga rupanya lupa bahwa setahun yang lalu Rajoub terluka ketika tank² dan helikopter IDF menghancurkan rumahnya, sehingga tentunya dia semakin tak suka membantu pihak Israel.

Shin Bet sangat malu. Satu²nya cara untuk balas dendam pada Rajoub adalah dengan mengeluarkan laporan bahwa Rajoub adalah pengkhianat karena menyerahkan orang² yang dicari Israel dalam perjanjian dengan CIA. Sebagai akibatnya, Rajoub kehilangan jabatan dan akhirnya harus bekerja sebagai kepala Persatuan Sepakbola Palestina.
Lepasnya para buronan tentunya adalah kesalahan besar bagi Shin Bet.

Setelah tiga setengah minggu berlalu, Israel menghentikan aturan jam malam dari waktu ke waktu. Di suatu hari pada tanggal 15 April, di mana jam malam sedang tidak diberlakukan, aku bisa membawa makanan dan keperluan lain bagi ayah. Dia berkata padaku bahwa dia merasa tidak aman di rumah tersebut dan ingin pindah tempat. Aku menelepon salah satu pemimpin Hamas dan bertanya apakah dia tahu tempat di mana Hassan Yousef bisa berlindung. Dia menganjurkan aku untuk membawa ayah ke lokasi dimana Syeikh Jamal al-Taweel, salah satu tokoh penting Hamas yang dicari Israel, bersembunyi.

Wow, pikirku. Jika bisa menangkap Jamal al-Taweel, tentunya Shin Bet akan merasa lebih baik setelah kegagalan menangkap buronan beberapa minggu yang lalu. Aku berterima kasih padanya tapi berkata, “Sebaiknya jangan tempatkan ayah di tempat yang sama. Mungkin akan berbahaya bagi mereka berdua jika berada di satu rumah.” Kami setuju untuk memilih tempat lain, dan dengan cepat aku memindahkan ayah di tempat yang baru. Setelah itu aku menelepon Laoi.

“Aku tahu dimana Jamal al-Taweel bersembunyi.” Loai sangat girang mendengar kabar ini; al-Taweel ditangkap malam itu juga.
Di hari yang sama, kami juga bisa menangkap orang lain yang paling dicari IDF – Marwan Barghouti.

Meksipun Marwan Barghouti adalah salah satu pemimpin Hamas yang terlicin, sebenarnya proses penangkapan Marwan sangatlah mudah. Aku menelepon salah satu penjaga Marwan Barghouti dan bicara dengannya secara singkat melalui ponselnya, dan Shin Bet melacak di mana ponsel tersebut berada. Marwan Barghouti ditangkap dan diadili di pengadilan sipil dan dihukum lima kali hukuman seumur hidup.

Pada saat itu, Operasi Perisai Pertahanan terus berlangsung dan menjadi beritu utama setiap hari di berbagai media internasional. Banyak berita yang menyudutkan pihak Israel. Misalnya terdengar berita bahwa Israel membantai orang² Palestina di Jenin, dan sukar untuk mengetahui kebenarannya karena pihak Israel menutup kota Jenin. Menteri kabinet Palestina Saeb Erekat mengatakan 500 orang mati. Tapi kemudian angkanya diturunkan jadi hanya 50 saja.

Di Betlehem, lebih dari 200 orang Palestina dikepung dalam Gereja Nativity selama lima minggu. Setelah kepulan debu mereda dan kebanyakan penduduk sipil diperbolehkan pulang, diketahui bahwa 8 orang Palestina dibunuh, 26 dikirim ke Gaza, 85 diperiksa IDF dan lalu dibebaskan, dan 13 buronan yang paling dicari diasingkan ke Eropa.

Setelah Operasi Perisai Pertahanan berakhir, dikabarkan sekitar 500 orang Palestina terbunuh, 1.500 luka², dan hampir 4.300 ditahan IDF. Di lain pihak, 29 orang Israel mati, 127 luka². Bank Dunia memperkirakan kerugian mencapai lebih dari $360 juta.

Bersambung ke Bab 21-24

Bab 1-4 ; Bab 5-8 Bab 9-12 ; Bab 13-16 ; Bab 17-20 ; Bab 21-24

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s