Son of Hamas (Putra Hamas). Bab 21-24

Bab 21 – Permainan
Musim Panas 2001 – Musim Semi 2002

Bab 17-20

Pada tanggal 27 Agustus, 2001, sebuah helikopter Israel menembakkan dua buah roket ke kantor Abu Ali Mustafa, sekretaris jendral PFLP. Satu dari roket² itu menghajarnya saat dia duduk di kantornya.

Keesokan harinya, lebih dari 50.000 masyarakat Palestina yang marah, dan juga keluarga Mustafa, menghadiri penguburannya. Mustafa telah menentang proses perdamaian dan isi Perjanjian Oslo. Meskipun begitu, dia adalah Muslim moderat sama seperti ayahku, dan kami sering pergi bersama untuk mendengarkan ceramahnya.

Israel menuduhnya melakukan sembilan serangan bom mobil, tapi hal ini tidak benar. Sama seperti ayahku, dia adalah pemimpin politik, dan bukan pemimpin militer. Israel tidak punya bukti apapun terhadap dirinya. Tapi tampaknya itu tak jadi masalah. Mereka tetap saja membunuh Mustafa – mungkin sebagai balas dendam pembantaian di Sbarro atau di Dolphinarium. Atau kemungkinan besar mereka ingin menyampaikan peringatan pada Yasser Arafat. Selain menjadi ketua PFLP, Mustafa juga adalah anggota Komite Pelaksana PLO.

Dua minggu kemudian, pada tanggal 11 September, sembilan belas teroris Al-Qaeda membajak empat pesawat jet AS. Dua pesawat yang diterbangkan teroris menabrak dua gedung World Trade Center di New York City. Pesawat ketiga jatuh di gedung Pentagon di Washington DC. Pesawat yang keempat jatuh di lapangan County Somerset, Pennsylvania. Semua korban berjumlah 2.973, termasuk para teroris itu sendiri.

Sewaktu berbagai media berlomba memberitakan kejadian luar biasa ini, aku duduk bersama orang² seluruh dunia melihat berulang-ulang tayangan jatuhnya Gedung Kembar itu, di mana abu putih menutupi Jalan Gereja bagaikan badai salju di bulan Februari. Aku merasa malu melihat cuplikan film anak² Palestina bersorak-sorai merayakan serangan itu di jalanan Gaza.

Serangan ini membuat usaha perlawanan Palestina terhadap Israel jadi hangus, sewaktu seluruh dunia berteriak dengan satu pesan melawan terorisme – pokoknya segala macam terorisme, apapun tujuannya. Dalam beberapa minggu berikutnya, Shin Bet mulai mengambil pelajaran dari peristiwa 9/11 tersebut.

Mengapa organisasi² kemanan rahasia AS tidak mampu mencegah malapetaka tersebut? Jawabannya adalah: pertama, masing² organisasi tersebut ternyata bekerja sendiri² dan malah saling bersaing dan kurang ada kerjasama. Kedua, mereka kebanyakan bergantung pada teknologi dan jarang bekerjasama dengan para teroris. Taktik seperti ini mungkin cocok dalam Perang Dingin (melawan komunis), tapi sungguh sukar melawan orang² yang menganut ideologi fanatik dengan bantuan teknologi saja.

Di lain pihak, organisasi kemanan rahasia Israel kebayakan bergantung pada sumberdaya manusia; dan mereka punya mata² yang tak terhingga jumlahnya di mesjid², organisasi² Islam, dan berbagai badan kepemimpinan. Mereka bahkan sanggup merekrut teroris² yang terganas sekalipun. Mereka tahu bahwa mereka perlu memiliki mata dan telinga di bagian dalam, dan juga pikiran untuk mengerti motif dan emosi, yang semuanya dibutuhkan untuk menghubungkan keterangan satu dan yang lain untuk menghasilkan pemahaman yang lengkap.

Amerika tidak tahu apapun tentang ideologi dan budaya Islam. Selain itu, bagian perbatasan AS dibiarkan terbuka dan keamanan sangat lemah, sehingga AS jadi target yang jauh lebih empuk dibandingkan Israel. Meskipun perananku sebagai mata² memungkinkan Israel menangkapi ratusan teroris di jalanan, kami tetap saja tidak mampu menghentikan terorisme sepenuhnya – bahkan di negara sekecil Israel.

Sekitar sebulan kemudian, di tanggal 17 Oktober, empat orang bersenjata PFLP masuk ke Hotel Hyatt Yerusalem dan membunuh Menteri Turisme Rehavam Ze’evi. Mereka mengatakan pembunuhan ini adalah tindakan balas dendam atas pembunuhan Mustafa. Meskipun tampaknya bidang Ze’evi tidak banyak terlibat dalam politik, tapi sudah bisa ditebak bahwa dia akan jadi target penyerangan. Hal ini karena dia secara terang²an menganjurkan kebijaksanaan politik yang membuat hidup tiga juta masyarakat Palestina jadi sangat sengsara di Jalur Gaza dan tepi Barat, sehingga akhirnya mereka dengan sukarela mengungsi ke negara² Arab lainnya. Sewaktu diwawancarai oleh wartawan Associated Press, Ze’evi mengatakan bahwa sebagian rakyat Palestina bagaikan ‘kutu penghisap darah’ yang harus dibasmi seperti membasmi ‘kanker yang menyebar dalam tubuh kita.’ [8]
[8]”Berita kematian: Rehavam Zeevi,” BBC News, 17 Oktober, 2001,  (diakses tanggal 24 November, 2009).

Mata ganti mata, gigi ganti gigi, dan saling bunuh karena dendam terus berlangsung. Sementara itu, masih banyak mata dan gigi yang tersedia.

Aku telah bekerja keras selama beberapa tahun untuk mengumpulkan semua keterangan sebisa mungkin untuk menolong Shin Bet menghentikan pertumpahan darah. Kami terus mengamati Muhammad Jamal al-Natsheh, Saleh Talahme, dan tiga orang lainnya yang dulu kuantar ke apartemen setelah mereka keluar dari penjara PA. Mereka berubah-ubah tempat tinggal, dan hanya Saleh saja yang tepat berhubungan denganku. Tapi kami tetap mengawasi keempat orang lainnya melalui keluarga mereka dan menyadap percakapan telepon mereka.

Saleh percaya padaku. Dia selalu mengatakan di mana dia tinggal dan sering mengundangku untuk bertamu. Setelah aku mengenalnya, aku sangat suka bersahabat dengannya. Dia adalah orang yang mengagumkan – ilmuwan cerdas, lulus sebagai insinyur terpandai di kelasnya, dan salah satu mahasiswa terbaik di Universitas Birzeit. Baginya, aku adalah putra Hassan Yousef, dan juga teman baik dan pendengar yang setia.

Aku sering bertemu dengannya; aku mengenal istrinya yakni Majeda dan juga kelima anak²nya (dua anak laki dan tiga anak perempuan). Putra sulungnya bernama Mosab, sama seperti namaku. Majeda dan anak²nya datang ke Ramallah dari Hebron untuk menjenguk Saleh di apartemen rahasia tempatnya bersembunyi. Saat itu aku masih berusaha menyelesaikan pendidikan S1-ku. Di suatu petang, Saleh bertanya bagaimana studiku.
“Ada kesulitan dengan bahan kuliah?”
“Iya nih, Statistik Ekonomi.”
“Baiklah, besok bawa kemari bukumu dan kita akan duduk bersama dan belajar bagaikan di kelas kecil.”

Ketika aku katakan pada Loai dan Shin Bet tentang hal itu, mereka senang. Mereka berpikir kegiatan belajar bersama ini merupakan penyamaran yang baik bagiku. Tapi sebenarnya hal ini tidak sepenuhnya penyamaran, karena aku dan Saleh memang berteman baik. Dia mengajarku, dan aku berhasil mendapatkan angka ujian yang sangat baik dua minggu kemudian. Aku mengasihinya dan keluarganya. Aku pun sering bertamu dan makan di tempatnya. Kami menjadi sahabat erat. Ini tentunya hubungan yang aneh karena saat itu aku sudah tahu bahwa Saleh adalah orang yang sangat berbahaya. Tapi di lain pihak, demikian pula aku baginya.

*******************

Pada malam di tanggal 2 Maret, 2002, aku sedang duduk di rumah ketika dua orang pria datang ke rumah.
Dengan rasa curiga aku bertanya padanya, “Apakah ada yang bisa kutolong?”
“Kami mencari Syeikh Hassan Yousef. Ini hal penting.”
“Katakan padaku mengapa penting.”

Mereka menerangkan bahwa mereka adalah dua dari lima pembom bunuh diri yang baru saja tiba dari Yordania. Orang penghubung mereka baru saja ditangkap, dan mereka butuh tempat aman untuk tinggal.
“Baiklah,” kataku. “Kau datang di tempat yang tepat.”
Aku tanya apa yang mereka butuhkan.
“Kami bawa mobil penuh dengan bahan peledak dan bom, dan kami butuh tempat aman untuk parkir mobil.”
Waduh, pikirku, apa yang harus kulakukan dengan mobil penuh bahan peledak? Aku harus cepat berpikir. Aku mengambil keputusan untuk menyimpan mobil di garasi di sebelah rumah kami. Ini tentunya bukan gagasan yang baik, tapi aku harus cepat mengambil keputusan saat itu juga.
“Baiklah, ini uang bagi kalian,” kataku sambil mengosongkan dompetku. “Silakan cari tempat untuk tinggal, kembali padaku lagi malam ini, dan kita rencanakan apa yang harus kita lakukan.”
Setelah mereka pergi, aku telepon Loai, dan aku lega ketika Shin Bet datang dan membawa pergi mobil itu.
Kelima pembom bunuh diri kembali ke rumahku dalam waktu singkat. “Baiklah,” kataku pada mereka, “mulai sekarang, akulah koneksi kalian dengan Hamas. Aku akan menyediakan kalian target, lokasi, transportasi, dan segala yang kalian butuhkan. Jangan bicara pada siapapun, atau kalian bisa² terlanjur terbunuh sebelum mampu membunuh satu orang Israel saja.”

Kesempatan ini bagaikan menemukan durian runtuh, karena selama ini tiada seorang pun yang mengetahui para pembom bunuh diri sebelum mereka meledakkan bom. Sekarang tiba² saja lima calon pembom bunuh diri muncul di hadapanku dengan mobil penuh dengan bom. Tiga puluh menit kemudian aku memberitahu Shin Bet tentang lokasi mereka. Perdana Menteri Sharon memerintahkan agar mereka dibunuh.

“Wah, ya tidak bisa,” kataku pada Loai.
“Apa?!”
“Aku tahu mereka adalah teroris, dan mereka akan meledakkan diri. Tapi kelima orang ini bodoh dan tak tahu apa yang mereka lakukan. Kau tidak boleh membunuh mereka. Jika kau membunuh mereka, maka ini adalah terakhir kali aku membantumu.”
“Kau ini mengancam kami?”
“Tidak, tapi kau tahu bagaimana aku bekerja. Aku membuat satu perkecualian dengan Halawa, dan kau tentunya ingat bagaimana kesudahannya. Aku tidak mau lagi jadi bagian pembunuhan orang.”
“Apa ada pilihan lain?”
“Tangkap mereka,”
kataku, meskipun aku tahu ini berbahaya sekali. Kami memang telah memiliki mobil dan bom mereka, tapi mereka masih punya sabuk penuh bom pula. Jika mereka melihat seorang prajurit berada dalam jarak 100 meter dari kamar mereka, mereka tentunya akan meledakkan sabuk bom dan membunuh semua orang di sekitarnya.

Bahkan jikalau sekalipun kami berhasil menangkap mereka semua tanpa ada korban nyawa, mereka pasti akan menyebut namaku pada interogator mereka di penjara, sehingga aku pasti ketahuan. Yang termudah tampaknya memang membiarkan saja helikopter meluncurkan roket² ke apartemen mereka, dan beres sudah.

Tapi hati nuraniku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Meskipun belum jadi Kristen, aku benar² mencoba melakukan ajaran Yesus. Allâh tidak keberatan dengan pembunuhan dan malah mewajibkannya. Tapi Yesus menarikku ke standard yang lebih tinggi. Sekarang aku tidak tega untuk membunuh, bahkan teroris sekalipun.

Di saat yang sama, aku juga telah jadi aset yang sangat berharga bagi Shin Bet. Mereka tidak senang dengan keadaan ini, tapi mereka akhirnya setuju untuk membatalkan rencana pembunuhan.

“Kita harus tahu apa yang berlangsung dalam kamar itu,” kata mereka padaku. Aku datang ke apartemen mereka dengan berdalih membawa perabot² sederhana yang mereka butuhkan. Mereka tak mengetahui bahwa kami memasang alat penyadap pada perabotan tersebut sehingga kami bisa mendengar pembicaraan mereka. Bersama-sama Shin Bet, aku mendengarkan mereka diskusi siapa yang akan mati pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Semua ingin jadi orang pertama yang mati sehingga mereka tidak usah melihat rekannya meledak. Sungguh mengerikan. Rasanya bagaikan mendengarkan sekelompok orang mati mengobrol.

Pada tanggal 16 Maret, pasukan keamanan bersiaga di sekitar apartemen itu. Apartemen para pembom itu berada di tengah² kota Ramallah, sehingga IDF tidak bisa membawa tank. Karena pasukan harus berjalan kaki, operasi penyergapan ini sangat berbahaya. Aku mengikuti semua kegiatan dari tempatku, dan Loai bicara denganku di telepon dan memberitahu apa yang sedang terjadi.
“Mereka sekarang akan tidur.”

Kami menunggu sampai terdengar suara dengkuran dari monitor. Akan bahaya sekali jika mereka terbangun. Pasukan tentara harus bisa masuk dan mencapai ranjang sebelum para pembom bisa bergerak. Seorang prajurit memasang bom di gagang pintu, dan kami mendengarkan monitor untuk mendeteksi suara apapun yang menandakan mereka terjaga. Para prajurit sekarang memberi tanda aba² untuk siap beraksi. Pintu diledakkan, dan pasukan khusus anti teroris menyerbu masuk ke apartemen kecil itu, menangkap semua teroris kecuali satu orang. Dia mengambil senjata dan berlari keluar jendela. Dia mati sebelum menghujam lantai. Semua orang menarik napas lega, kecuali aku. Begitu pasukan keamanan membawa mereka ke dalam Jeep tentara, salah seorang dari mereka menyebut namaku sebagai mata² Israel. Apa yang amat kukhawatirkan telah benar² terjadi. Aku telah ketahuan. Sekarang gimana dong?

Loai punya jalan keluar. Shin Bet mendeportasi orang tersebut kembali ke Yordania, dan mengirim teman²nya yang lain ke penjara. Jadi tatkala orang tersebut bebas kembali ke rumahnya dan senang bertemu dengan keluarganya, ketiga pembom lainnya yang dipenjara tentu mengira dialah yang mengkhianati mereka, dan bukan aku. Ini adalah solusi yang sangat cerdik.
Aku selamat sekali lagi, tapi nyaris ketahuan. Tapi sudah jelas bahwa aku kurang berhati-hati.

*******************

Suatu hari, aku menerima pesan dari ketua Shin Bet yakni Avi Dichter, yang berterima kasih padaku atas pekerjaan yang kulakukan bagi mereka. Dia berkata bahwa dia telah memeriksa semua arsip perang Israel melawan terorisme dan menemukan nama Pangeran Hijau di setiap arsip. Meskipun membanggakan, tapi hal ini juga merupakan suatu peringatan. Aku menyadari akan hal ini, begitu juga Loai. Jika aku terus melakukan hal yang sama, aku tentunya akan mati karena ketahuan. Jejak langkahku sudah terlalu panjang. Seseorang akhirnya akan bisa mengendusnya. Entah bagaimana caranya, tapi penting untuk menghapus jejakku.

Sikap keras kepalaku untuk menolak lima pembom tersebut dibunuh juga telah mempersulit keadaanku. Meskipun semua orang yakin bahwa pembom yang dikirim balik ke Yordania berkhianat sehingga teman²nya tertangkap, mereka juga tahu bahwa Israel tak akan ragu menangkap siapapun yang membantu para pembom tersebut. Dan mereka tahu aku sudah jelas banyak membantu para pembom bunuh diri itu. Sekarang masalahnya: mengapa aku belum juga ditangkap IDF?

Seminggu setelah penangkapan para pembom bunuh diri tersebut, tim keamanan Israel menyampaikan dua gagasan yang dapat menyelamatkan diriku agar tetap tak ketahuan. Pertama, mereka bisa menangkapku dan mengembalikan aku ke penjara. Tapi aku khawatir ini bisa mengakibatkan kematian ayah, karena tidak lagi dilindungi diriku.

“Pilihan lain bagi kita adalah melakukan sebuah permainan.”
“Permainan apa?”

Loai menjelaskan bahwa kami harus menyelenggarakan penangkapan besar, yang bisa meyakinkan semua orang Palestina bahwa Israel benar² ingin menangkap atau membunuhku. Agar tampak meyakinkan, hal ini harus dilakukan secara nyata dan tidak bersandiwara. IDF (Israeli Deffence Force) harus benar² mengira bahwa mereka harus menangkapku. Ini berarti Shin Bet harus menipu IDF – sekutu mereka sendiri.

Shin Bet memberi waktu IDF hanya beberapa jam saja untuk mempersiapkan operasi besar ini. Shin Bet mengatakan pada IDF bahwa sebagai putra Hassan Yousef, aku adalah orang yang sangat berbahaya, karena aku punya hubungan erat dengan para pembom bunuh diri dan kemungkinan bersenjata bom pula. Shin Bet mengatakan mereka mendengar laporan mata² bahwa aku akan datang ke rumah ayahku pada malam itu untuk menengok ibuku. Aku hanya akan tinggal untuk waktu singkat, dan aku bersenjata M16.
Bukan main permainan tipu-tipuan ini.
IDF dibuat yakin bahwa aku adalah teroris kelas hiu yang bisa hilang lenyap dengan cepat jika mereka gagal menangkapku. Karena itu IDF berjanji akan melakukan yang terbaik agar mereka tidak gagal. Pasukan keamanan khusus datang memakai pakaian Arab, bersama para penembak jarak jauh. Mereka masuk ke kota dengan mengendarai mobil Palestina, dan berhenti dalam jarak dua menit menyetir dari rumahku, sambil menunggu aba² dari Shin Bet. Tank² berat sudah berada dalam posisi 15 menit dari perbatasan wilayah Palestina. Helikopter² dengan senjata lengkap sudah siap untuk membantu dari udara, jika saja para feda’iyin Palestina menyerang pasukan IDF di jalanan.
Di luar rumah ayahku, aku duduk di mobilku sambil menunggu panggilan telepon dari Shin Bet. Mereka memberitahu bahwa jika telepon berdering, aku hanya punya waktu 60 detik tepat untuk melarikan diri sebelum pasukan keamanan datang mengepung rumahku. Aku tidak boleh melakukan kesalahan.
Terasa tusukan rasa sesal di hatiku membayangkan betapa takutnya ibu dan adik² kecilku di tengah penyerangan tersebut. Seperti biasa, mereka harus membayar harga bagi tindakan yang dilakukan ayah dan diriku.
Aku melihat kebun bunga ibu yang indah. Dia telah mengumpulkan bunga² tersebut dari berbagai tempat, juga dari teman² dan keluarganya. Dia merawat bunga²nya bagaikan merawat anak²nya.
“Berapa banyak bunga lagi yang kita butuhkan?” kadang² aku menggodanya.
“Hanya sedikit tambahan lagi, kok,” begitu selalu jawab ibu.
Aku ingat saat dia menunjuk ke satu bunga dan berkata, “Tanaman ini lebih tua daripada dirimu. Ketika kau masih anak², kau memecahkan potnya, tapi aku menyelamatkannya dan sampai sekarang tanaman itu masih hidup.”
Apakah tanaman itu masih bisa terus hidup beberapa menit dari sekarang setelah pasukan khusus muncul dan menginjaknya?

Ponselku berdering.
Darah terasa mengalir deras dalam kepalaku. Hatiku berdebar-debar. Aku menyalakan mesin mobil dan langsung melajukan mobil ke tengah kota menuju tempat persembunyian rahasia yang baru. Aku tidak berpura-pura lagi jadi buronan. Para pasukan tentunya lebih memilih membunuhku daripada menangkapku saat ini. Semenit setelah aku pergi, sepuluh mobil sipil dengan nomer mobil Palestina datang dan menginjak rem kuat² di depan rumah. Pasukan khusus Israel mengepung rumahku, senapan otomatis mengarah ke setiap jendela dan pintu. Halaman depan rumah² para tetangga penuh dengan anak², termasuk adik lakiku Naser. Mereka berhenti main sepakbola dan berlarian ketakutan.

Setelah pasukan berada dalam posisi siaga, lebih dari dua puluh tank menderu masuk. Sekarang seluruh masyarakat kota datang untuk menonton apa yang terjadi. Aku bisa mendengar suara mesin disel raksasa menderu hebat dari tempat persembunyianku. Ratusan militan Palestina bersenjata datang ke rumah ayah dan mengelilingi IDF. Tapi mereka tidak bisa menembak karena banyak anak kecil sedang berlarian untuk mencari perlindungan dan karena keluargaku masih berada di dalam rumah.

Ketika para feda’iyin muncul, maka helikopter juga dipanggil. Aku tiba² berpikir mungkin sebaiknya aku membiarkan saja kelima pembom bunuh diri itu dibunuh. Jika aku tidak melarang IDF meluncurkan bom pada mereka, tentunya keluarga dan para tetanggaku tidak terancam resiko besar seperti sekarang. Jika ada saudaraku yang mati tertembak karena pengepungan ini, aku tak akan bisa memaafkan diriku.

Agar yakin hasil karya kami jadi berita besar, aku memberi keterangan pada Al-Jazira bahwa akan terjadi penyerangan besar di rumah Syeikh Hassan Yousef. Mereka semua mengira akhirnya Israel akan menangkap ayah, dan mereka ingin merekam peristiwa penangkapannya saat itu juga. Aku bisa membayangkan reaksi mereka tatkala melalui pengeras suara para pasukan meminta putra Syeikh yang tertua, Mosab, untuk keluar rumah dengan tangan di atas kepala. Setelah aku tiba di apartemen rahasiaku, aku menyalakan TV dan menonton drama penangkapan itu bersama dengan seluruh dunia Arab.

Pasukan mengumpulkan keluargaku keluar dari rumah dan menanyai mereka satu per satu. Ibuku berkata pada mereka bahwa aku pergi satu menit sebelum mereka tiba. Tentu saja mereka tak percaya keterangan ibuku. Mereka lebih percaya pada Shin Bet, pihak yang mengatur semua permainan ini. Ketika aku tetap juga tidak muncul untuk menyerah, maka pasukan Israel mengancam akan mulai menembak ke dalam rumahku.

Selama waktu sepuluh menit, semua orang menunggu dengan tegang. Tak lama kemudian, sebuah misil mendesis di udara dan meledakkan separuh rumahku. Para pasukan berlarian masuk ke dalam rumah. Aku tahu mereka memeriksa setiap rumah. Tapi mereka tak menemukan mayatku sama sekali.

IDF sangat malu dan marah sekali karena aku berhasil melarikan diri dari cekalan mereka. Jika mereka menangkap aku sekarang, Loai memperingatkan aku di telepon, mereka akan menembakku di tempat. Bagi kami, operasi itu sungguh sukses. Tiada seorang pun yang terluka, dan namaku seketika tercantum dalam daftar teroris yang paling dicari. Seluruh kota membicarakan tentang diriku. Dalam waktu semalam saja, aku telah menjadi teroris berbahaya.

Dalam beberapa bulan setelah itu, aku punya tiga prioritas: menghindari tentara Israel, melindungi ayahku, dan terus mengumpulkan keterangan.

Bab 22 – Perisai Pertahanan
Musim Semi 2002

Kekerasan semakin meningkat dengan kecepatan yang memusingkan kepala.

Orang² Israel ditembaki, ditusuk, dan dibom. Orang² Palestina dibunuhi. Ronde demi ronde balas dendam terus berlangsung, dan semakin cepat. Masyarakat internasional mencoba menekan Israel tapi imbauan ini sia² saja.

“Hentikan pendudukan ilegal… Hentikan pemboman terhadap warga sipil, pembunuhan, dan penggunaan kekerasan yang tak berguna, penghancuran rumah, dan penghinaan setiap hari terhadap masyarakat Palestina,” tuntut sekjen PBB Kofi Annan di tanggal 2 Maret, 2002. [9]
[9] “Annan Mengritik Israel karena Mengarah Penduduk Sipil,” U.N.Wire, 12 Maret, 2002,  (diakses pada tanggal 23 Oktober, 2009).

Di hari di mana kami menangkap empat pembom bunuh diri yang kulindungi dari pembunuhan, para pemimpin Persatuan Eropa meminta pihak Israel dan Palestina menghentikan kekerasan. “Tak ada solusi militer bagi masalah ini,” kata mereka. [10]
[10] Persatuan Eropa, “Deklarasi Barcelona tentang Timur Tengah,” 16 Maret, 2002,

Di tahun 2002, hari raya Paskah jatuh di tanggal 27 Maret. Di sebuah ruang makan lantai bawah Hotel Park di Netanya, 250 tamu berkumpul untuk tradisi makan Seder.

Anggota Hamas bernama Abdel-Basser Odeh, usia 25 tahun, masuk melewati penjagaan keamanan, meja pendaftaran di lobi, ke dalam kerumunan orang². Dia memasukkan tangan ke dalam jaketnya dan meledakkan bom.

Ledakan membunuh 30 orang dan melukai 140 lainnya. Beberapa dari korban adalah orang yang dulu selamat dari Holokaus Nazi. Hamas menyatakan bertanggung jawab, dengan mengatakan tujuan peledakkan adalah untuk mencegah Pertemuan Puncak Arab (Arab Summit) di Beirut. Meskipun demikian, keesokan harinya, Liga Arab yang dipimpin Saudi Arabia mengumumkan bahwa mereka telah memungut suara dan mengakui Negara Israel dan menormalkan hubungan, selama Israel setuju untuk kembali ke daerah kekuasaan sebelum tahun 1967, menyelesaikan masalah pengungsi Palestina, dan mendirikan Negara Palestina merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya. Jika Israel menerima persyaratan ini, masyarakat Palestina akan menang besar sekali. Tapi sayangnya, Hamas tetap saja memaksa dengan sikapnya yang ‘mendapatkan segalanya atau tidak sama sekali.’

Karena tahu Hamas tidak akan mengubah pendirian, Israel melakukan rencana ekstrim untuk menanggulangi Hamas.

Dua minggu kemudian, pasukan Israel menyerang masuk wilayah Palestina dan menduduki dua kota yakni Ramallah dan Al-Bireh. Pengamat militer memperingatkan kemungkinan terjadinya banyak korban di pihak Israel. Tapi sebenarnya mereka tak perlu khawatir.

IDF membunuh lima orang Palestina, menetapkan jam malam, dan menguasai beberapa gedung. Buldozer² raksasa D9 juga menghancurkan beberapa rumah di kamp penampungan Al-Amari, termasuk rumah milik Wafa Idris, pembom bunuh diri wanita pertama, yang membunuh pria Israel berusia 81 tahun dan melukai 100 orang lainnya diluar toko sepatu di Yerusalem, di tanggal 27 Januari.

Setelah serangan bom bunuh diri di Hotel Park, Pemerintah Israel memberi lampu hijau untuk melancarkan operasi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya. Operasi militer ini bernama Perisai Pertahanan (Operation Defense Shield).
Teleponku berdering. Ternyata Loai.
“Ada apa?” tanyaku.
“Seluruh IDF berkumpul,” kata Loai. “Malam ini, kami akan menangkap Saleh dan semua buronan lainnya.”
“Apa maksudmu?”
“Kami akan menguasai seluruh Tepi Barat dan memeriksa setiap rumah dan bangunan, tak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan. Diam di tempat. Aku akan meneleponmu lagi.”

Wow, pikirku. Ini hebat! Mungkin serangan itu akhirnya akan mengakhiri perang sinting ini.

Terdengar kabar angin di seluruh Tepi Barat. Para pemimpin Palestina tahu ada sesuatu yang akan terjadi, tapi tak tahu persisnya apa. Orang² meninggalkan tempat kerja mereka, klinik kesehatan, dan kelas², dan langsung pulang untuk nonton TV, menunggu berita. Aku telah memindahkan ayahku ke apartemen milik pasutri warga AS, dan Shin Bet menjamin keselamatannya di sana.

Di tanggal 29 Maret, aku masuk ke Hotel City Inn di Jalan Nablus di Al-Bireh, di mana BBC, CNN, dan media internasional lainnya tinggal. Ayah dan aku tetap berhubungan melalui radio dua jalur.

Shin Bet mengira saat itu aku sedang berada di Hotel City Inn, nonton TV sambil makan cemilan. Tapi aku tidak ingin kehilangan kesempatan menonton peristiwa bersejarah ini langsung di tempatnya. Maka aku keluar hotel sambil membawa senjata M16 di pundakku, sehingga aku tampak bagaikan orang buronan. Aku menuju puncak bukit di sebelah Perpustakaan Ramallah, di mana aku bisa melihat bagian tenggara kota tempat ayahku tinggal. Kupikir aku akan aman berada di situ, dan bisa cepat lari ke hotel jika mendengar tank² mendekati.

Sekitar hampir jam 12 malam, ratusan tank Merkava berderu hebat masuk kota. Aku tidak menduga mereka akan menyerang dari segala penjuru dalam waktu bersamaan – dan juga tidak secepat itu. Beberapa jalanan begitu sempit sehingga tank² tidak punya pilihan lain selain menggilas mobil² yang parkir di jalanan. Jalanan lain cukup lebar, tapi tampaknya para prajurit dalam tank menikmati suara mobil² yang digilas dengan tanknya. Kebanyakan jalan² di kamp penampungan berukuran sedikit lebih besar daripada gang² perantara rumah.

“Matikan radiomu!” kataku pada ayah. “Tiarap! Tundukkan kepalamu!”

Aku telah memarkir mobil Audi ayah di pinggir jalan. Dengan rasa takut aku melihat sebuah tank menggilas remuk mobil ayah. Seharusnya mobil itu tidak kuparkir di situ. Aku tahu aku harus cepat melarikan diri, tapi aku tak tahu harus berbuat apa. Tentunya aku juga tak bisa menelepon Loai dan memintanya menghentikan operasi penyerangan hanya karena aku ingin sedikit bermain Rambo.

Aku berlari ke arah tengah kota dan merunduk ke dalam garasi parkir, hanya beberapa meter dari sebuah tank yang sedang melaju. Prajurit² Israel belum tampak karena sedang menunggu tank² Merkava mengamankan wilayah. Tiba² aku menyadari bahwa sebuah kelompok perlawanan Palestina berkantor di gedung yang terletak di atas kepalaku. Aku sedang berlindung di target sasaran.

Tank² tidak bisa membedakan antara mata² Shin Bet atau teroris, Kristen atau Muslim, orang bersenjata atau warga sipil biasa. Dan para tentara yang berada dalam tank tersebut sama takutnya seperti aku yang sekarang bersembunyi. Di sekitarku, para pria yang tampak seperti diriku menembakkan AK47 kepada tank² tersebut. Ping. Ping. Ping. Peluru memantul kesana kemari. Tank juga tak mau kalah, dan balas tembak. BUUM! Telingaku terasa mau meledak.

Bagian besar bangunan di sekitar kami mulai runtuh dan menimbulkan gelombang debu. Setiap kanon tank meledak, hentakannya terasa seperti memukul perutku. Senapan² otomatis terus ditembakkan, peluru² beterbangan, dan suaranya menggema di tembok² garasi. Kanon meledak lagi, debu beterbangan di mana, dan serpihan² tembok dan batu berjatuhan.

Aku harus keluar dari tempat ini. Tapi gimana caranya?

Tiba² sekelompok pejuang Fatah lari masuk ke dalam garasi dan bersembunyi di sebelahku. Wah, payah nih. Bagaimana jika para prajurit masuk ke sini? Para feda’iyin akan menembaki mereka. Lalu apakah aku juga harus menembak? Pada siapa? Jika aku tak menembak, maka aku pun tetap akan ditembak. Tapi aku tak mau membunuh siapapun. Dulu memang aku bertekad membunuh, tapi sekarang tidak lagi.

Lebih banyak lagi pejuang Palestina yang masuk garasi untuk bersembunyi. Tiba² semua sunyi senyap dan tak ada yang berani bernafas.

Para prajurit IDF masuk perlahan-lahan ke dalam garasi. Tampaknya sebentar lagi akan ada saling tembak dahsyat. Para prajurit menyalakan obor api mencari orang atau refleksi senjata. Mereka mendengarkan, dan kami melihat. Jari² telunjuk berkeringat dan siap menarik pelatuk senjata.

Lalu air Laut Merah terbelah.
Mungkin karena takut masuk ke bagian garasi tergelap dan lembab, atau mungkin karena ingin kembali ke tank, para prajurit itu tiba² berhenti, berbalik, dan pergi begitu saja. Setelah mereka menghilang, aku masuk ke gedung di atasku, naik tangga, dan menemukan telepon yang bisa kugunakan untuk menelepon Loai.
“Bisakah kau meminta IDF untuk mundur sekitar dua blok agar aku bisa kembali ke hotelku?
“Apa?! Di mana kamu sekarang? Mengapa kau tidak berada di hotel?”
“Aku sedang melakukan tugasku.”
“Kau sinting!”

Lalu berlangsung suasana diam sesaat yang canggung.
“Baiklah, akan kami lihat apa yang bisa kami lakukan.”

Dibutuhkan waktu dua jam untuk memanggil mundur para tank dan prajurit, yang tentunya terheran-heran mengapa mereka harus mundur. Begitu mereka telah mundur, aku melompat dari satu atap rumah ke atap lainnya, dan hampir mematahkan kaki²ku. Akhirnya aku tiba di kamar hotel dengan aman. Aku tutup pintu, membuka baju teroris dan senapanku, lalu memasukkan semuanya ke lubang AC.

Di saat itu, rumah tempat ayahku bersembunyi terletak di tengah² badai penyerangan. IDF memeriksa semua rumah di sekitarnya, di belakang setiap gedung, di bawah setiap batu. Tapi mereka juga sudah diberitahu untuk tidak masuk rumah tertentu.

Di dalam rumah itu, ayah membaca Qur’an dan berdoa. Pemilik rumah juga membaca Qur’an dan berdoa. Istrinya juga membaca Qur’an dan berdoa. Lalu, karena alasan yang tak mereka ketahui, para tentara Israel melewati rumah itu begitu saja, lalu pergi, dan mulai memeriksa daerah lain.

“Kau pasti tak percaya muzizat ini, Mosab!” kata ayah lewat radio tak lama kemudian. “Sungguh sukar dipercaya! Mereka datang. Mereka memeriksa setiap rumah di sekitar kami, seluruh daerah tetangga – kecuali rumah di mana kami bersembunyi. Alhamdulillaaah!”
“Terima kasih kembali,” kataku dalam hati.

Israel tidak pernah melakukan operasi penyerangan sebesar Operasi Perisai Pertahanan sejak Perang Enam Hari. Dan ini hanya permulaan saja. Ramallah adalah target pertama. Setelah itu Betlehem, Jenin, dan Nablus diserang pula. Ketika aku sedang berlari-lari menghindari tentara Israel, pasukan IDF telah mengepung tempat tinggal Yasser Arafat. Semua gedung ditutup. Jam malam yang ketat diberlakukan.

Di tanggal 2 April, tank² dan mobil² bersenjata mengepung gedung Preventive Security Compound (Kompleks Keamanan Pencegahan) dekat rumah kami di Betunia. Helikopter² militer beterbangan di atas rumah kami. Kami tahu PA menyembunyikan setidaknya 50 orang buronan, dan Shin Bet frustasi karena tidak bisa menemukan mereka dimana pun.

Kompleks itu terdiri dari empat gedung, dan satu gedung kantor empat tingkat di mana Kolonel Jibril Rajoub [11] dan agen² keamanan PA tinggal. Seluruh fasilitas kompleks ini dibangun dan dilengkapi oleh CIA. Polisi PA juga dilatik dan disenjatai oleh CIA. CIA bahkan punya kantor di gedung itu. Ratusan polisi bersenjata lengkap berada di dalam gedung, juga sejumlah besar tawanan, termasuk Bilal Barghouti dan buronan Israel lainnya. Shin Bet dan IDF benar² serius dan tanpa kompromi kali ini. Pengeras suara mengumumkan bahwa tentara akan meledakkan Gedung Satu dalam waktu lima menit dan memerintahkan semua orang untuk keluar gedung.
[11] Terdapat keterangan menarik tentang Kolonel Jibril Rajoub: Orang ini telah memanfaatkan posisinya sebagai kepala keamanan di Tepi Barat untuk membangun kerajaan kecilnya, dan menyuruh bawahannya untuk membungkuk padanya bagaikan menyembah seorang raja. Aku telah melihat meja makan paginya penuh dengan 50 macam makanan, yang disajikan hanya untuk menunjukkan bahwa sang Kolonel adalah orang sangat penting. Aku juga telah menyaksikan bahwa Kolonel Jibril Rajoub bersikap kasar dan seenaknya, dan berlaku lebih menyerupai seorang gangster daripada pemimpin terhormat. Di tahun 1955, ketika Arafat menangkapi banyak ketua dan anggota Hamas, Rajoub menyiksa mereka tanpa ampun. Hamas beberapa kali mengancam akan membunuhnya, dan ini membuat sang Kolonel membeli mobil anti peluru dan bom. Bahkan Arafat sendiri tidak punya kendaraan seperti itu.

Persis lima menit kemudian, BOOM!! Lalu giliran Gedung Dua. “Semua keluar!” Lalu BOOM!! Giliran Gedung Tiga. BOOM!! Gedung Empat. BOOM!!

“Buka baju kalian!” begitu perintah dari pengeras suara. Para prajurit Israel tidak mau ambil resiko menghadapi kemungkinan ada yang menyembunyikan bahan peledak dalam baju mereka. Ratusan orang berdiri telanjang. Mereka diberi baju katelpak, dan dimasukkan ke dalam bus untuk dibawa ke Pusat Militer Ofer – di mana Shin Bet nantinya melakukan kesalahan.

Banyak sekali orang² yang ditawan, tapi pihak Israel hanya menginginkan orang² buronan saja, dan membebaskan orang² yang tidak mereka cari. Masalahnya adalah semua orang itu telah menanggalkan baju² mereka di kompleks. Dengan begitu, bagaimana pasukan keamanan Israel bisa membedakan mana orang buronan dan mana yang polisi?

Boss dari boss Loai adalah Ofer Dekel dan dia bertanggung jawab atas operasi penyerangan itu. Dia memanggil Jibril Rajoub, yang sedang tidak berada di Kompleks saat penyarangan dilakukan. Dekel memberi Rajoub ijin khusus sehingga dia bisa melalui ratusan tank dan ribuan prajurit dengan aman. Ketika dia tiba, Dekel meminta Rajoub menunjukkan orang² yang mana yang bekerja sebagai polisi, dan yang mana yang buronan. Rajoub mengatakan akan dengan senang hati melakukannya. Dengan cepat, Rajoub menunjuk para polisi sebagai buronan dan para buronan sebagai polisi, dan karenanya Shin Bet lalu membebaskan semua buronan.

“Mengapa kau lakukan itu padaku?” tanya Dekel pada Rajoub setelah akhirnya mengetahui keadaan sebenarnya.

“Kau baru saja meledakkan gedung tempat kerja dan kompleksku,” jawab Rajoub dengan tenang. Dekel juga rupanya lupa bahwa setahun yang lalu Rajoub terluka ketika tank² dan helikopter IDF menghancurkan rumahnya, sehingga tentunya dia semakin tak suka membantu pihak Israel.
Shin Bet sangat malu. Satu²nya cara untuk balas dendam pada Rajoub adalah dengan mengeluarkan laporan bahwa Rajoub adalah pengkhianat karena menyerahkan orang² yang dicari Israel dalam perjanjian dengan CIA. Sebagai akibatnya, Rajoub kehilangan jabatan dan akhirnya harus bekerja sebagai kepala Persatuan Sepakbola Palestina.
Lepasnya para buronan tentunya adalah kesalahan besar bagi Shin Bet.
Setelah tiga setengah minggu berlalu, Israel menghentikan aturan jam malam dari waktu ke waktu. Di suatu hari pada tanggal 15 April, di mana jam malam sedang tidak diberlakukan, aku bisa membawa makanan dan keperluan lain bagi ayah. Dia berkata padaku bahwa dia merasa tidak aman di rumah tersebut dan ingin pindah tempat. Aku menelepon salah satu pemimpin Hamas dan bertanya apakah dia tahu tempat di mana Hassan Yousef bisa berlindung. Dia menganjurkan aku untuk membawa ayah ke lokasi dimana Syeikh Jamal al-Taweel, salah satu tokoh penting Hamas yang dicari Israel, bersembunyi.

Wow, pikirku. Jika bisa menangkap Jamal al-Taweel, tentunya Shin Bet akan merasa lebih baik setelah kegagalan menangkap buronan beberapa minggu yang lalu. Aku berterima kasih padanya tapi berkata, “Sebaiknya jangan tempatkan ayah di tempat yang sama. Mungkin akan berbahaya bagi mereka berdua jika berada di satu rumah.” Kami setuju untuk memilih tempat lain, dan dengan cepat aku memindahkan ayah di tempat yang baru. Setelah itu aku menelepon Laoi.

“Aku tahu dimana Jamal al-Taweel bersembunyi.”

Loai sangat girang mendengar kabar ini; al-Taweel ditangkap malam itu juga.
Di hari yang sama, kami juga bisa menangkap orang lain yang paling dicari IDF – Marwan Barghouti.
Meksipun Marwan Barghouti adalah salah satu pemimpin Hamas yang terlicin, sebenarnya proses penangkapan Marwan sangatlah mudah. Aku menelepon salah satu penjaga Marwan Barghouti dan bicara dengannya secara singkat melalui ponselnya, dan Shin Bet melacak di mana ponsel tersebut berada. Marwan Barghouti ditangkap dan diadili di pengadilan sipil dan dihukum lima kali hukuman seumur hidup.
Pada saat itu, Operasi Perisai Pertahanan terus berlangsung dan menjadi beritu utama setiap hari di berbagai media internasional. Banyak berita yang menyudutkan pihak Israel. Misalnya terdengar berita bahwa Israel membantai orang² Palestina di Jenin, dan sukar untuk mengetahui kebenarannya karena pihak Israel menutup kota Jenin. Menteri kabinet Palestina Saeb Erekat mengatakan 500 orang mati. Tapi kemudian angkanya diturunkan jadi hanya 50 saja.

Di Betlehem, lebih dari 200 orang Palestina dikepung dalam Gereja Nativity selama lima minggu. Setelah kepulan debu mereda dan kebanyakan penduduk sipil diperbolehkan pulang, diketahui bahwa 8 orang Palestina dibunuh, 26 dikirim ke Gaza, 85 diperiksa IDF dan lalu dibebaskan, dan 13 buronan yang paling dicari diasingkan ke Eropa.

Setelah Operasi Perisai Pertahanan berakhir, dikabarkan sekitar 500 orang Palestina terbunuh, 1.500 luka², dan hampir 4.300 ditahan IDF. Di lain pihak, 29 orang Israel mati, 127 luka². Bank Dunia memperkirakan kerugian mencapai lebih dari $360 juta.

Bab 23 – Perlindungan Illahi
Musim Panas 2002

Hari sangat panas di tanggal 31 Juli, 2002. Suhunya mencapai 102° Fahrenheit (= 39° Celcius). Di kampus Universitas Ibrani, yang terletak di Bukit Scopus (Mount Scopus), tak ada kegiatan kuliah, meskipun sebagian mahasiswa masih menjalani ujian. Mahasiswa² lainnya mengantri untuk mendaftarkan diri pada kelas musim gugur. Pada jam 1:30 siang, kantin universitas yang bernama Frank Sinatra penuh dengan orang² yang berusaha menyejukkan diri, menikmati minuman dingin, sambil mengobrol. Tiada yang sadar bahwa sebuah tas ditinggalkan di situ oleh seorang pengecat bangunan.

Bom di tas tersebut meledak hebat mengguncangkan kantin universitas, membuat sembilan orang tewas, termasuk lima warga AS. Delapan puluh lima orang lainnya luka², empat belas orang mengalami luka² yang serius.

Di hari yang sama, sahabatku Saleh tiba² menghilang. Ketika kami memeriksa lokasi empat orang lainnya, ternyata mereka pun telah hilang tanpa jejak, bahkan keluarga mereka juga tak tahu. Mereka semua tercantum dalam daftar kami di urutan teratas sebagai orang² yang paling dicari. Kami lalu mengetahui bahwa sel Hamaslah yang meletakkan bom di kantin universitas dan ternyata orang² dalam sel itu tinggal di wilayah Israel, dan bukan di wilayah Palestina. Mereka membawa kartu tanda pengenal Israel berwarna biru yang mengijinkan mereka pergi ke daerah manapun. Lima orang dari mereka tinggal di Yerusalem: mereka punya istri, keluarga baik², dan pekerjaan yang baik pula.

Saat mereka diperiksa, satu nama muncul di permukaan: Mohammed Arman, orang yang tinggal di salah satu desa dekat Ramallah. Di bawah penyiksaan, Arman ditanyai siapakah yang bertanggung jawab atas pemboman Universitas Ibrani. Dia berkata bahwa dia hanya tahu nama panggilan orang itu sebagai “Syeikh.”

Para interogator membawa album foto para teroris, dan memintanya untuk menunjuk yang manakah Syeikh tersebut. Arman menunjuk foto Ibrahim Hamed, dan memberi kami bukti fisik pertama keterlibatannya dengan pemboman bunuh diri.

Kami nantinya akan mengetahui bahwa setelah peranannya terungkap, Hamed menggunakan dirinya untuk melindungi Saleh dan anggota lain dalam sel Hamasnya. Semua sel di bawah kepemimpinannya diberitahu bahwa jika mereka tertangkap, mereka harus menyalahkan segalanya pada Hamed, karena dia merasa siap mati. Untuk beberapa saat, semua jejak berhenti pada Ibrahim Hamed, tapi dia bagaikan ditelan bumi.

*******************

Berbulan-bulan setelah Operasi Perisai Pertahanan, di Ramallah masih diberlakukan jam malam. Kegiatan Arafat terhenti sama sekali. US AID telah menghentikan proyek mereka dan tidak memperbolehkan karyawannya masuk ke Tepi Barat. Pos² keamanan Israel mencekik kota Ramallah, dengan tidak memperbolehkan apapun, kecuali ambulans, keluar masuk kota. Aku secara resmi adalah buronan IDF. Semua ini membuatku sukar pergi kemana pun. Meskipun begitu, aku tetap harus bertemu Shin Bet sekali setiap dua minggu untuk membicarakan operasi² yang tengah berlangsung yang tak bisa dibicarakan lewat telepon.

Selain itu, aku pun butuh dukungan moral. Karena aku harus terus menyembunyikan diri, maka aku sangat kesepian. Aku merasa jadi orang asing di kotaku sendiri. Aku tidak bisa membagi hidupku dengan siapapun, bahkan tidak pula dengan keluarga sendiri. Aku juga tidak bisa percaya siapapun. Dulu sebelum jadi buronan, biasanya aku dan Loai bertemu di salah satu rumah² aman di Yerusalem. Tapi sekarang aku tidak bisa lagi meninggalkan Ramallah. Bahkan aku juga tidak bisa menampakkan diri di jalanan pada siang hari. Pokoknya aku harus terus bersembunyi.

Jika agen rahasia Shin Bet datang untuk menjemputku, maka mereka menanggung resiko terlihat oleh feda’iyin dan ketahuan karena aksen Ibrani mereka. Jika agen rahasia itu memakai baju IDF untuk menyamar dan berpura-pura menculik aku, orang bisa saja melihat aku masuk Jeep IDF dan merasa curiga. Jikalau pun rencana ini berhasil, berapa kali kami bisa melakukan aksi pura² ini sebelum akhirnya ketahuan?

Shin Bet lalu mengatur cara yang lebih kreatif agar kami bisa bertemu dengan aman.
Pusat Militer Ofer terletak dua mil sebelah Selatan kota Ramallah, dan ini merupakan fasilitas militer yang paling ketat penjagaannya di seluruh Israel. Tempat ini sarat dengan rahasia dan punya berlapis-lapis sistem keamanan. Kantor² lokal Shin Bet terletak di Pusat Militer tersebut.
“Oke,” kata Loai padaku. “Mulai sekarang, kami akan datang untuk menemuimu di Ofer. Yang perlu kau lakukan adalah mendobrak masuk.”
Kami berdua tertawa. Tapi aku lalu menyadari bahwa dia serius.
“Jika kau tertangkap,” jelasnya, “ini akan nampak bagi siapapun bahwa kau mencoba memasuki instalasi militer utama untuk melakukan serangan.”
Jika aku tertangkap?”

Rencananya menengangkan. Pada suatu malam gelap di mana aku harus melakukan penyusupan ini, aku merasa seperti aktor di malam pembukaan pertunjukkan – aktor ini akan melangkah ke panggung yang belum pernah dia lihat sebelumnya, pakai baju yang belum pernah dia pakai, tanpa naskah cerita dan tanpa latihan terlebih dahulu.
Aku tidak tahu bahwa Shin Bet telah menempatkan agen² mereka di dua menara jaga untuk menerangi tempat yang harus kutuju. Aku juga tidak tahu bahwa agen² keamanan, yang dilengkapi dengan perlengkapan melihat-dalam-gelap, ditempatkan di sepanjang jalur perjalananku untuk melindungiku jikalau ada orang yang mengikutiku.
Aku terus saja berpikir, Gimana ya jika aku membuat kesalahan?

Aku memarkir mobilku di tempat gelap. Loai telah meminta aku memakai baju gelap, tidak membawa senter, dan membawa pemotong kawat. Aku menarik nafas panjang.
Sewaktu menuju bukit, aku bisa melihat lampu² di Pusat Militer dari jarak jauh. Sesaat sekumpulan anjing² liar menggonggong sewaktu aku mendaki bukit yang terjal. Tak apa mereka menggonggong, selama tidak terlalu menarik perhatian orang.
Akhirnya aku sampai di bagian luar pagar dan aku menelepon Loai.
“Dari sudut, hitung tujuh kaki,” katanya. “Lalu tunggu aba² dariku dan mulailah memotong kawat pagar.”

Aku memotong kawat pagar tersebut, yang tidak dipakai lagi setelah pagar baru dibangun sejak Intifada Kedua, dengan jarak 20 kaki dari pagar lama. Aku juga telah diperingatkan akan adanya babi² penjaga (iya, memang babi² beneran nih), tapi aku tak menemukan mereka, jadi tak ada masalah. Tempat² militer lain biasanya dijaga oleh anjing² herder atau anjing terlatih lainnya. Ironisnya, orang² Israel yang sadar-kosher (suka yang halal saja – anti haram) malahan memakai babi untuk menjaga tempatnya. Tapi ini benar² terjadi.
Pemikiran di belakang gagasan tersebut adalah babi akan membuat teroris Muslim enggan menyerang masuk. Islam melarang keras Muslim untuk menyentuh babi, sama seperti juga Yudaisme Ortodox. Bahkan larangan di Yudaisme mungkin lebih keras lagi. Aku tidak pernah melihat babi² menjaga Pusat Militer itu, tapi Loai mengatakan bahwa memang babi² melakukan tugas menjaga Pusat Militer Ofer.
Aku menemukan pintu kecil di dalam pagar baru sebelah dalam yang tak dikunci. Aku masuk ke dalam dan melihat dua menara jaga menjulang bagaikan dua tanduk setan, di dalam instalasi militer paling ketat dijaga di Israel.

“Tetap tundukkan kepalamu,” kata Loai di ponselku, ”dan tunggu aba².” Di sekelilingku terdapat semak². Setelah beberapa saat, beberapa semak mulai bergerak. Ternyata semak² itu adalah agen² Shin Bet yang biasa berkumpul rapat denganku, tapi sekarang mereka memanggul senjata otomatis berat dan mengenakan seragam kamuflase IDF dengan banyak ranting menonjol di mana². Aku bisa melihat mereka senang bermain komando rahasia seperti ini – ini adalah bagian dari penyamaran² mereka, termasuk menyamar menyerupai teroris, feda’iyin, orangtua, atau kadang² wanita.
“Wah, apa kabar nih?” tanya mereka, seakan-akan kami sedang duduk bersama di warung kopi. “Apakah semua baik² saja?”
“Ya, semua baik² saja.”
“Apakah kau punya keterangan bagi kami?”

Kadang² aku membawa rekaman suara atau bukti atau keterangan mata² bagi mereka, tapi kali ini aku tak membawa apapun.
Saat itu hujan mulai turun, dan kami lari ke balik bukit di mana dua Jeep sudah menunggu kami. Tiga orang dari mereka masuk ke Jeep pertama, dan aku meloncat masuk bagian belakang Jeep. Yang lain menunggu di Jeep kedua untuk memastikan aku bisa kembali dengan selamat. Aku kasihan dengan mereka yang berada di Jeep kedua karena saat itu hujan turun sangat lebat. Tapi mereka tampak santai saja.
Setelah bertemu dengan Loai, boss-nya, dan para penjaga selama beberapa jam, aku kembali pulang dengan menggunakan jalur yang sama – aku merasa puas, meskipun jalanan becek, panjang, basah, dan dingin.
Cara bertemu seperti ini kerap kami lakukan. Semua diatur dengan baik, tanpa kesalahan apapun setiap kali pertemuan. Aku tidak usah lagi memotong pagar, tapi aku tetap membawa alat pemotong untuk jaga².

*******************

Setelah aku berhasil “kabur” dari penyerangan IDF yang ditonton banyak orang, aku terus berhubungan dengan ayahku untuk memastikan dia baik² saja dan mengetahui apa yang dibutuhkannya. Sekali² aku mengunjungi kantor USAID, tapi karena mereka telah menghentikan hampir semua kegiatanku, aku bisa menyelesaikan tugas kecil dari mereka di komputer pribadi di rumah saja. Di malam hari, aku bergaul dengan para buronan Palestina dan mengumpulkan informasi. Dan di tengah larut malam, sekali atau dua kali sebulan, aku menyusup masuk Pusat Militer untuk rapat bersama Shin Bet.

Di waktu luangku, aku terus bertemu dengan teman² Kristen untuk bicara tentang kasih Yesus. Sebenarnya kami tidak sekedar bicara saja. Meskipun aku hanyalah pengikut sang Guru, aku merasakan kasih dan perlindungan Elohim padaku setiap hari, dan kasih itu tampaknya mengalir pula dalam keluargaku.

Di suatu sore, pasukan khusus Israel sedang mencari buronan di Hotel City Inn dan tak berhasil menemukan apapun. Karena lelah, mereka ingin istirahat sejenak di sebuah rumah terdekat. Hal ini merupakan hal yang lumrah. IDF tidak perlu ijin atau perintah atasan untuk bisa melakukan hal itu. Jika keadaan agak tenang, para pasukan khusus Israel akan datang ke sebuah rumah yang mereka pilih untuk beristirahat sambil makan. Kadangkala dalam pertempuran hebat, pasukan akan masuk rumah lokal dan berlindung di dalamnya, tentunya hal ini membahayakan penghuni – tapi cara ini pun dilakukan pula oleh para feda’iyin.

Di hari tersebut, mereka kebetulan saja memilih rumah tempat persembunyian ayahku. Shin Bet tidak tahu akan hal ini. Tiada seorang pun dari antara kami yang mengetahui akan hal itu. Fakta bahwa seorang prajurit memilih rumah ini tanpa sengaja tentunya bukanlah hal yang bisa dicegah atau diduga sebelumnya. Ketika mereka tiba, ayahku “kebetulan” pula sedang berada di lantai bawah.

“Bisakah kau tidak membawa anjing²mu masuk ke rumah?” wanita pemilik rumah meminta pada prajurit². “Aku punya anak² kecil.”

Suami wanita itu ketakutan jikalau para prajurit menemukan Hassan Yousef dan menangkap mereka karena melindungi buronan. Maka dia berpura-pura santai dan tak takut. Dia menyuruh putrinya yang berusia 7 tahun menemui para prajurit untuk bersalaman. Komandan tentara senang melihat anak kecil ini dan mengira orangtuanya hanyalah orang awam yang tak punya hubungan apapun dengan teroris. Dia meminta pada wanita itu dengan sopan apakah anak buahnya boleh beristirahat sebentar di loteng atas, dan wanita itu mengijinkannya. Sekitar dua puluh lima prajurit tinggal di rumah itu selama lebih dari delapan jam, tanpa mengetahui bahwa ayah terletak tepat di bawah mereka.

Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana perlindungan dan berkat illahi tersebut, tapi aku sangat merasakannya secara nyata. Ketika Ahmad al-Faransi (yang dulu pernah meminta bahan peledak padaku bagi para pembom bunuh dirinya) meneleponku dari tengah kota Ramallah dan memintaku untuk menjemputnya dan mengantarnya pulang, aku berkata padanya bahwa aku sedang berada dekat daerah itu dan bisa menjemputnya dalam waktu beberapa menit. Ketika aku tiba, dia masuk ke dalam mobil, dan kami lalu pergi.

Kami belum pergi jauh ketikan ponsel al-Faransi berdering. Al-Faransi merupakan salah seorang yang akan dibunuh IDF dan kantor Arafat meneleponnya untuk memperingatkan bahwa helikopter² Israel sedang membuntutinya. Aku buka jendela mobil dan mendengar dua buah helikopter Apache mendekat. Meskipun kedengarannya mungkin aneh bagi mereka yang tidak pernah merasakan Elohimbicara pada diri mereka, tapi pada hari itu aku benar² mendengar Elohimbicara pada hatiku, memerintahkanku untuk belok kiri diantara dua gedung. Aku nantinya mengetahui bahwa jika aku terus menyetir lurus, helikopter Israel akan bisa menembak mobilku dengan tepat. Aku membelokkan mobil dan seketika mendengar suara illahi yang berkata, Keluar dari mobil dan tinggalkan mobil. Kami meloncat keluar mobil dan berlari. Di saat helikopter mencapai target mobilku, yang bisa dilihat pilot helikopter hanyalah mobil kosong diparkir dengan dua pintu depan terbuka lebar. Helikopter itu terbang berkeliling selama enam puluh detik dan lalu pergi.

Aku kemudian mengetahui bahwa badan keamanan Israel menerima keterangan dari mata² bahwa al-Faransi tampak masuk sebuah mobil Audi A4 warna biru tua. Banyak mobil seperti itu di kota kami. Laoi tidak sedang berada di ruang operasi saat itu untuk memeriksa lokasiku, dan tiada seorang pun yang bertanya apakah Audi ini milik Pangeran Hijau. Hanya segelintir anggota Shin Bet yang tahu tentang diriku.

Agaknya aku selamat karena perlindungan illahi. Aku saat itu belum menjadi orang Kristen, dan al-Faransi sudah jelas tidak mengerti akan Tuhan. Teman² Kristenku berdoa bagiku setiap hari. Dan tentang Tuhan, Yesus mengatakan di Matius 5:45 – Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Elohim seperti ini sangat berbeda dengan Elohim-Qur’an yang kejam dan penuh dendam.

Bab 24 – Tahanan yang Dilindungi
Musim Gugur 2002 – Musim Semi 2003

Aku merasa lelah. Aku sudah merasa terlalu lelah karena memainkan berbagai peranan berbeda dalam waktu yang bersamaan. Aku lelah karena harus merubah sifat dan penampilan agar sesuai dengan lingkungan di mana aku berada. Ketika aku bersama ayah dan para pemimpin Hamas lainnya, aku harus berperan sebagai anggota Hamas yang setia. Ketika aku berada bersama Shin Bet, aku harus berperan sebagai mata² Israel. Ketika aku berada di rumah, aku seringkali harus mengambil posisi sebagai ayah dan pelindung saudara²ku. Ketika aku bekerja di kantor, aku harus berperan sebagai karyawan biasa yang merangkap sebagai mahasiswa semester akhir di universitas. Sebentar lagi aku harus menghadapi ujian kuliah, tapi aku tak bisa konsentrasi.

Saat itu adalah akhir bulan September 2002, dan aku mengambil keputusan bahwa sudah saatnya untuk melakukan permainan nomer 2 yang diprakarsai oleh Shin Bet.

“Aku tidak bisa terus-menerus begini,” kataku pada Loai. “Apa yang harus kulakukan? Dikurung beberapa bulan di penjara? Kita bisa saja kan mengatur agar aku menjalani segala prosedur interogasi, dan setelah itu kau bebaskan aku. Lalu aku bisa kembali ke rumah dan menyelesaikan kuliahku. Aku bisa kembali bekerja di USAID dan hidup biasa lagi.”
“Bagaimana dengan ayahmu?”
“Aku tidak akan meninggalkannya sehingga dia bisa terbunuh. Tangkaplah dia juga.”
“Jika itu yang memang kau inginkan, Pemerintah akan dengan senang hati melakukannya, karena akhirnya kita bisa menangkap Hassan Yousef.”

Aku beritahu ibuku di mana ayah bersembunyi, dan aku membiarkan ibu mengunjungi ayah. Lima menit setelah ibu tiba di rumah persembunyian ayah, pasukan keamanan khusus menyerbu sekitar rumah tersebut. Para prajurit berlarian di komplek tetangga, memerintahkan penduduk sipil untuk masuk ke dalam rumah.

Salah seorang warga “sipil” yang sedang menyedot narghile (pipa rokok Turki) di depan rumahnya, tak lain daripada Abdullah Barghouti, sang master perakit bom bunuh diri. Dia tidak tahu bahwa dia tinggal di rumah bersebelahan dengan rumah rahasia Hassan Yousef. Dan para prajurit IDF juga tidak tahu bahwa mereka baru saja berteriak pada pembantai massal yang paling dicari di Israel.

Semua orang tak mengerti apa yang terjadi. Ayahku tidak tahu bahwa putranya telah menyerahkan dirinya agar bisa melindunginya dari pembunuhan. Dan IDF juga tidak tahu bahwa Shin Bet telah mengetahui di mana Hassan Yousef bersembunyi selama ini dan bahwa beberapa prajurit Israel bahkan makan siang dan tidur di rumah tempat Hassan Yousef bersembunyi.

Seperti biasa, ayah menyerah dengan damai. Dia dan pemimpin² Hamas lainnya mengira bahwa Shin Bet telah mengikuti ibuku ke tempat persembunyian ayah. Tentu saja ibu jadi sedih, tapi dia juga senang karena suaminya akan aman di penjara dan tidak lagi tercantum dalam daftar orang² yang akan dibunuh Israel.

“Kami akan menemuimu nanti malam,” kata Loai padaku melalui telepon setelah ayah ditangkap.
Setelah matahari terbenam, aku duduk di rumahku, melihat ke jendela di mana tampak dua puluh pasukan khusus bergerak cepat dan mengambil posisi di sekitar rumahku. Aku tahu bahwa aku harus mempersiapkan diri diperlakukan kasar. Dua menit kemudian, mobil² Jeep masuk. Lalu sebuah tank. IDF telah menutup daerah itu. Seseorang meloncat ke atap rumah. Lalu terdengar orang memukul keras² pintu rumahku.
“Siapa itu?” kataku pura² tidak tahu.
“IDF! Buka pintu!”
Aku membuka pintu, dan mereka mendorongku ke lantai, dan dengan cepat memeriksa apakah aku bersenjata.
“Apakah ada orang lain di sini?”
“Tidak.”
Aku tak tahu mengapa mereka bertanya begitu. Mereka lalu mulai menendangi pintu² kamar sampai terbuka dan memeriksa setiap kamar di rumah. Begitu aku dibawa keluar, aku bertatapan muka dengan temanku Loai.

“Kemana saja kau?” Loai bertanya kasar padaku, seakan aku benar² buronan. “Kami telah mencarimu di mana². Apakah kau ingin ditembak mati? Kau tentunya sudah gila melarikan diri dari rumah ayahmu tahun lalu.”

Sekumpulan prajurit IDF mengamati dengan mata marah.
“Kami sudah menangkap ayahmu,” kata Loai, “dan akhirnya kami bisa menangkapmu pula! Kita nanti lihat apa yang akan kau katakan saat interogasi!”
Dua orang prajurit melemparkan aku ke dalam Jeep. Loai datang, dan merunduk agar orang tidak bisa mendengarkan apa yang kami bicarakan, dan bertanya, “Bagaimana keadaanmu, wahai kawan? Apakah kau baik² saja? Borgolnya terlalu ketat?”
“Semua baik² saja,” kataku. “Jangan biarkan aku berada di sini terlalu lama, dan awasi agar prajurit² tidak memukuliku di sepanjang perjalanan.”
“Jangan khawatir. Seorang agen kami akan berada bersamamu.”
Mereka membawaku ke Pusat Militer Ofer, di mana kami duduk di ruangan yang sama, yang dulu sering kami gunakan untuk rapat. Kami duduk bersama selama dua jam untuk “interogasi,” sambil minum kopi dan membicarakan keadaan terakhir.

“Kami akan membawamu ke Maskobiyeh,” kata Loai, “hanya untuk waktu singkat saja. Kita akan berpura-pura kau telah menjalani interogasi yang berat. Ayahmu telah berada di sana, dan kau akan bertemu dengannya. Dia tidak akan ditanyai atau disiksa. Setelah itu kami akan membawamu ke penjara biasa. Kau akan berada di sana selama beberapa bulan, dan setelah itu, kami akan minta perpanjangan penjara bagimu selama tiga bulan, karena siapapun dengan status seperti dirimu tentunya telah diduga akan berada cukup lama di penjara.”

Ketika aku melihat para interogator, bahkan yang dulu menyiksaku ketika aku pertamakali dibawa ke tempat ini, aku heran karena aku tidak merasa benci sama sekali pada orang² ini. Satu²nya cara untuk bisa menerangkan perasaanku hanyalah melalui ayat berikut: Ibrani 4:12 berkata bahwa Sebab firman Elohim hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.

Aku telah membaca dan merenungkan ayat ini berkali-kali, begitu juga dengan perintah Yesus untuk memaafkan musuhmu dan mencintai mereka yang menindasmu. Meskipun aku belum bisa menerima Yesus sebagai Tuhan, perkataannya terasa hidup, aktif, dan bekerja dalam diriku. Jika tidak begitu, aku tidak akan bisa melihat manusia sebagai manusia, dan bukan sebagai orang Yahudi atau Arab, tawanan atau interogator. Bahkan kebencian yang dulu mendorongku untuk membeli senjata dan merencanakan pembunuhan atas orang² Israel telah diganti dengan rasa kasih yang tak kumengerti.

Aku dimasukkan ke dalam sel penjara seorang diri selama dua minggu. Jika teman² Shin Bet-ku sedang tidak sibuk memeriksa tawanan, mereka mengunjungiku di sel penjara sekali atau dua kali sehari untuk sekedar mengobrol dan menanyakan keadaanku. Aku diberi makan dengan baik, tidak dikerudungi dengan tutup kepala yang bau, tak usah bertemu dengan penjaga penjara yang seperti kera besar, tak ada lagi lagu Leonard Cohen (meskipun nantinya dia jadi penyanyi favoritku – aneh, ya?). Di Tepi Barat tersebar berita bahwa aku benar² tangguh di penjara, karena tidak mengatakan informasi apapun meskipun disiksa berat oleh Israel.

Beberapa hari setelah aku dimasukkan ke penjara, aku dipindahkan ke sel penjara ayahku. Wajah ayah tampak sangat lega saat dia memelukku. Dia melihat wajahku dan tersenyum. “Aku mengikutimu,” kataku sambil tertawa. “Aku tak bisa hidup tanpamu.”

Ada dua orang lain dalam sel tersebut, dan kami ngobrol dengan gembira bersama. Secara jujur aku mengakui bahwa aku merasa sangat senang melihat ayahku aman berada di penjara. Tiada usaha bunuh atau tiada misil yang akan menyerang dari langit.

Kadangkala ketika ayah membacakan Qur’an bagi kami, aku senang melihat padanya dan mendengarkan suaranya yang indah. Kuingat betapa lembutnya dia pada kami anak²nya ketika kami masih kecil. Dia tidak pernah memaksa kami bangun pagi untuk melakukan sholat fajar, tapi kami semua melakukannya karena kami ingin membuatnya bangga. Dia telah memberikan hidupnya bagi Allâh sejak masih sangat muda, dan meneruskan ajarannya kepada kami anak²nya.

Sekarang aku berpikir: Ayahku terkasih, aku sangat senang bisa duduk bersamamu. Aku tahu kau tidak mau berada di penjara saat ini, tapi jika kau tidak berada di sini, tubuhmu yang hancur berantakan mungkin sudah berada di dalam kantung plastik kecil di suatu tempat. Kadangkala dia mendongak dan melihatku tersenyum padanya dengan rasa sayang dan hormat. Dia tidak mengerti apa pikiranku, dan aku pun tidak bisa menjelaskan padanya.

Ketika para penjaga akhirnya datang untuk memindahkanku ke penjara biasa, ayah dan aku berpelukan erat. Dia tampak ringkih dalam pelukanku, tapi aku tahu betapa kuatnya dia. Kami menjadi begitu dekat selama beberapa hari terakhir, sehingga sukar untuk berpisah. Aku bahkan merasa sedih berpisah dengan teman² Shin Bet-ku. Hubungan kami selama bertahun-tahun telah berkembang menjadi sangat amat akrab. Aku melihat wajah² mereka dan berharap mereka mengetahui bahwa aku sangat menghargai mereka. Mereka menatapku kembali dengan rasa sedih. Mereka tahu bahwa perjalananku berikut tidak akan semudah di tempat ini.

Ekspresi wajah para prajurit IDF yang memborgolku untuk dibawa ke penjara lain sangatlah berbeda dengan ekspresi wajah para temanku. Bagi prajurit IDF, aku adalah teroris yang pernah lepas dari buruan mereka, sehingga membuat mereka malu dan tampak bodoh. Kali ini aku dibawa ke Penjara Ofer, yang merupakan bagian dari pusat militer di mana aku dulu sering rapat dengan Shin Bet.

Jenggotku tampak panjang dan tebal seperti jenggot para tawanan lainnya. Aku bergabung bersama tawanan lain dan melakukan kegiatan rutin sehari-hari. Ketika waktu sholat tiba, aku bersujud, bersimpuh, dan berdoa, tapi tidak lagi pada Allâh. Aku sekarang berdoa pada Pencipta Alam Semesta. Aku semakin menjauh dari Islam. Suatu hari aku menemukan Alkitab berbahasa Arab di bagian agama di perpustakaan penjara. Alkitab ini lengkap, dan tidak hanya Perjanjian Baru saja. Tampaknya tiada seorang pun yang pernah menyentuhnya. Aku berani bertaruh bahwa tiada yang tahu Alkitab ini berada di situ. Sungguh pemberian besar dari YAHWEH! Aku membacanya berulangkali.

Kadang² seseorang datang padaku dan menanyakan dengan sopan apa yang sedang kulakukan. Aku jelaskan padanya bahwa aku sedang belajar sejarah dan karena Alkitab adalah buku kuno, maka buku itu mengandung keterangan jaman kuno. Tidak hanya itu, tapi ajarannya juga sangat baik, kataku, dan aku percaya bahwa setiap Muslim harus membacanya pula. Para tawanan biasanya tidak keberatan dengan jawabanku. Mereka hanya tampak jengkel ketika bulan Ramadan, karena tampaknya aku lebih banyak membaca Alkitab daripada Qur’an.

Kegiatan Belajar Alkitab yang sering kukunjungi di Yerusalem Barat terbuka bagi siapapun – orang Kristen, Muslim, Yahudi, atheis, pokoknya dari golongan manapun. Melalui kelompok ini, aku mendapat kesempatan untuk bisa duduk bersama dengan orang² Yahudi yang datang dengan tujuan yang sama denganku: untuk mempelajari agama Kristen dan mengenal Yeshua. Sungguh merupakan pengalaman menarik bagiku sebagai seorang Muslim Palestina untuk belajar tentang Yeshua bersama dengan seorang Yahudi Israel.

Dari kelompok ini, aku berkenalan akrab dengan pria Yahudi bernama Amnon. Dia telah menikah dan punya dua anak yang cantik. Dia sangat cerdas dan mahir berbicara dalam beberapa bahasa. Istrinya adalah orang Kristen dan telah mendorongnya sejak lama untuk dibaptis. Akhirnya, Amnon bersedia melakukan itu. Kelompok itu berkumpul bersama di suatu petang untuk menyaksikan upacara baptisnya di tempat mandi milik pendeta. Ketika aku datang, Amnon telah selesai membaca suatu ayat dan mulai menangis keras².

Dia tahu ketika dia mempersilakan dirinya dibaptis, dia tidak hanya menyatakan persekutuan dengan Yehsua Ha Mashiah, tapi dia juga telah bercerai dengan tradisi agama Yudaismenya. Dia telah memalingkan tubuh dari agama ayahnya, seorang profesor di Universitas Ibrani. Dia telah meninggalkan tradisi agama masyarakat Yahudi dan mempertaruhkan masa depannya.

Tak lama setelah itu, Amnon menerima surat perintah bahwa dia harus bergabung bersama IDF. Di Israel, semua warga non-Arab, laki atau perempuan, di atas usia 18 tahun diwajibkan ikut dalam militer – pria selama tiga tahun, dan wanita selama dua tahun. Tapi Amnon telah melihat banyak pembantaian di pos penjagaan. Dia merasa bahwa sebagai orang Kristen, dia tidak mau ditempatkan di tempat itu, karena kemungkinan akan menanggung resiko membunuh warga sipil tak bersenjata. Dia juga tak mau mengenakan seragam militer dan pergi ke Tepi Barat. “Bahkan jikalau pun aku bisa melakukan tugasku dengan menembak anak yang melempar batu di kakinya dan bukan di kepalanya, aku tetap tak mau melakukan itu. Aku kan disuruh untuk mengasihi musuhku,” begitu penjelasannya.

Surat perintah kedua datang. Lalu surat perintah ketiga. Ketika dia tetap saja tak mau melakukan tugas wajib militer, Amnon ditangkap dan dipenjara. Aku tidak tahu bahwa selama aku berada di penjara Ofer, Amnon pun dipenjara di situ, di bagian penjara bagi orang² Yahudi. Dia dipenjara karena dia tidak mau bekerja bagi Israel; aku dipenjara karena aku setuju untuk bekerja bagi Israel. Aku sedang mencoba untuk melindungi orang² Yahudi; dia sedang mencoba melindungi orang² Palestina.

Aku tidak beranggapan bahwa semua orang di Israel dan Palestina harus jadi orang Kristen agar bisa menghentikan pertumpahan darah. Tapi kupikir, jika saja kita memiliki 1.000 Amnon di dalam masyarakat Yahudi dan 1.000 Mosab di dalam masyarakat Palestina, maka akan terjadi perubahan besar. Dan jika jumlahnya lebih besar lagi … siapa tahu kemungkinan ini bisa terjadi? [Damai ini akan terjadi (bahkan pada semua bangsa) melalui Yeshua, Raja Damai sesuai nubuatan nabi Yesaya; Yes. 11:1-10 dan 65:17-25. Lihat hubungan Yesaya 61 dengan Injil Lukas 4:16-21!!]

Dua bulan setelah tiba di Ofer, aku dibawa ke pengadilan, di mana tak seorang pun mengetahui siapa diriku – hakim dan jaksa penuntut tidak tahu, dan pengacaraku sendiri juga tidak tahu. Di pengadilan, Shin Bet bersaksi bahwa aku adalah seorang teroris yang berbahaya dan mereka meminta aku dipenjara lebih lama lagi. Pak Hakim setuju dan menetapkan aku harus dipenjara selama enam bulan lagi di penjara lain. Lagi² aku ditransfer.
Setelah melakukan perjalanan pakai mobil selama lima jam di gurun pasir Negev, akhirnya mobil berhenti dekat pusat nuklir Dimona. Lalu aku melihat tenda penjara Ktzi’ot, di mana kau meleleh di musim panas dan membeku di musim dingin.  Letak penjara ini di padang pasir Negev, dekat perbatasan dengan Mesir.

“Apa organisasimu?”
“Hamas.”

Ya, aku masih mengaku sebagai bagian dari Hamas, tapi aku tidak lagi seperti tawanan yang lain.
Hamas masih merupakan organisasi mayoritas. Tapi sejak dimulainya Intifada Kedua, Fatah juga berkembang dengan pesat, dan masing² organisasi memiliki jumlah tenda yang hampir sama banyaknya. Aku sudah lelah berpura-pura, dan iman baruku juga melarangku untuk berdusta. Agar aman, aku tidak banyak bergaul dengan siapapun dan menyendiri saja selama aku berada di situ.
Ktzi’ot adalah tempat terasing yang masih liar. Di malam hari terdengar suara angin bercampur dengan lolongan srigala, hyena, dan macan tutul. Aku telah mendengar cerita bahwa beberapa tawanan bisa melarikan diri dari Ktzi’ot, tapi tak satu pun selamat melalui gurun pasir. Musim dingin lebih buruk daripada musim panas – udara sangat dingin membeku, salju yang beterbangan, dan hanya kanvas tenda saja yang melindungi kami dari udara luar. Setiap tenda memiliki kain penangkal lembab di langit² tenda. Tapi sebagian tawanan menyobek kain itu untuk memakainya sebagai gorden prifasi di sekitar tempat tidurnya. Udara lembab dari nafas kami seharusnya tertahan pada kain tersebut. Tapi yang terjadi adalah udara lembab itu menguap dan menempel pada bagian atas kemah menjadi cairan air liur yang berkumpul sampai terlalu berat dan lalu menetes bagaikan hujan pada kami di sepanjang malam ketika sedang tidur.

Orang² Israel menyebarkan begitu banyak papan² berlem penangkap tikus di seluruh kamp tawanan untuk mengontrol populasi tikus. Di suatu pagi yang sangat dingin, ketika semua orang masih tidur dan aku sedang membaca Alkitab, terdengar suara mencicit. Aku menengok ke bawah tempat tidurku dan melihat seekor tikus tertempel di papan lem. Yang mengejutkan aku, di situ terdapat seekor tikus lain yang mencoba menyelamatkan tikus yang terperangkap sambil berusaha tidak menginjak lem. Apakah tikus lain itu pasangannya atau temannya? Aku tak tahu. Aku melihat selama sekitar setengah jam bagaimana seekor binatang mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan binatang lain. Aku sangat terharu sehingga aku bebaskan keduanya.

Di penjara, bahan bacaan terbatas pada Qur’an dan pelajaran tentang Qur’an saja. Aku hanya punya dua buku berbahasa Inggris yang diselundupkan temanku melalui pengacaraku. Aku sangat berterimakasih mempunyai bahan bacaan yang memperkuat kemampuan bahasa Inggrisku, tapi sebentar kemudian buku itu mulai lapuk karena terlalu sering kubaca. Suatu hari, ketika aku sedang berjalan seorang diri, aku melihat dua tawanan sedang membuat teh. Di sebelah mereka terdapat sebuah kotak kayu besar berisi novel² yang dikirim oleh Palang Merah. Dan kedua orang ini menyobeki halaman buku² untuk dijadikan bahan bakar api! Aku sungguh tak tahan melihatnya. Aku dorong kotak kayu itu menjauh dari mereka dan mulai mengambili buku² tersebut. Mereka mereka aku menginginkan buku² itu untuk membuat teh bagi diriku.

“Apakah kalian gila?” tanyaku pada mereka. “Aku butuh waktu sangat lama untuk bisa mendapatkan dua buku bahasa Inggris sehingga aku bisa membacanya, dan sekarang kau bikin teh dengan buku² ini!”
“Itu buku² Kristen,” kata mereka.
“Ini bukan buku² Kristen,” kataku pada mereka. “Ini buku² New York Times bestsellers! Aku yakin buku² ini tidak mengatakan apapun yang menentang Islam. Ini hanyalah buku² fiksi tentang pengalaman manusia.” [Pengetahuan yang dangkal dan kecurigaan yang berlebihan adalah akar dari kebencian orang Muslim pada dunia disekitar mereka. Sangat menyedihkan]
Mereka mungkin mengira ada yang salah terhadap putra Hassan Yousef. Dia tampak sangat diam, suka menyendiri, dan membaca. Tiba² saja sekarang dia ngamuk gara² sekotak buku. Jika bukan karena ayahku, mungkin mereka sudah akan berkelahi denganku untuk mempertahankan bahan bakar mereka. Tapi mereka membiarkan aku mengambil novel² tersebut, dan aku kembali ke tempat tidurku dengan kotak besar penuh buku. Aku tumpuk buku² ini di sekitarku dan bergelimangan dalam buku² tersebut. Aku tak peduli apa kata orang. Hatiku bernyanyi dan memuji Elohimkarena menyediakan bagiku buku bacaan sewaktu aku mencoba menghabiskan waktu di tempat ini.

Aku membaca enam belas jam sehari sampai mataku jadi lemah karena penerangan di penjara yang kurang baik. Selama empat bulan di Ktzi’ot, aku menghafalkan empat ribu perbendaharaan kata bahasa Inggris.

Ketika aku berada di sana, aku mengalami dua kali kekacauan di penjara, jauh lebih parah daripada yang pernah kualami di Megiddo. Tapi Elohimmenyelamatkan diriku dari dua malapetaka tersebut. Sebenarnya aku merasakan kehadiran Elohimjauh lebih kuat di penjara tersebut daripada di lain tempat. Aku belum mengenal Yesus sebagai sang Pencipta, tapi aku jelas telah belajar untuk mengasihi Elohimsang Bapa.

***************

Pada tanggal 2 April, 2003 – sewaktu tentara Sekutu menyerang Baghdad – aku dibebaskan. Aku dianggap sebagai pemimpin Hamas yang dihormati, teroris berpengalaman, dan buronan licin. Aku telah ditahan dan sekarang bebas. Resiko ketahuan sebagai mata² juga telah sangat berkurang, dan ayahku masih hidup di tempat aman. Sekali lagi, aku bisa dengan bebas berjalan-jalan di Ramallah. Aku tidak lagi harus bersembunyi sebagai buronan. Aku bisa jadi diriku lagi, bisa menelepon ibuku; dan lalu menelepon Loai.
“Selamat datang kembali, Pangeran Hijau,” katanya. “Kami sangat rindu padamu. Banyak yang terjadi sewaktu kau pergi, dan kami tak tahu harus berbuat apa tanpa kau.”
Beberapa hari setelah aku keluar dari penjara, aku bertemu Loai dan teman² baik Israelku. Mereka hanya punya satu laporan saja untuk disampaikan, tapi ini adalah laporan yang sangat penting.
Di bulan Maret, Abdullah Barghouti telah diketahui persembunyiannya dan ditangkap. Setelah itu, pembuat bom dari Kuwait ini diadili di pengadilan militer karena telah membunuh enam puluh enam orang dan melukai sekitar lima ratus orang. Aku tahu jumlah korban lebih dari itu, tapi hanya itulah yang bisa kami buktikan. Barghouti awalnya dihukum enam puluh tujuh kali hukuman seumur hidup – satu untuk setiap korban pembunuhannya dan satu ekstra bagi semua korban yang terluka. Sewaktu mendengar ini, dia tidak menunjukkan rasa sesal sedikit pun, menyalahkan Israel, dan hanya menyesal karena tidak punya kesempatan untuk membunuh orang² Israel lagi.

“Teror pembunuhan membabi-buta yang dilakukan pihak tertuduh merupakan satu dari pembunuhan berdarah yang paling keji dalam sejarah negara ini,” kata Hakim. [12] Barghouti mengamuk, mengancam untuk membunuh Hakim dan akan mengajar semua anggota Hamas yang dipenjara bagaimana cara membuat bom. Karena ancamannya itu, dia lalu ditempatkan di sel penjara terisolasi seorang diri tanpa kontak dengan tawanan lain. Sementara itu, Ibrahim Hamed, sahabatku Saleh Talahme, dan tiga orang lainnya masih belum ditemukan.
[12] Associated Press, “Pembuat Bom Palestina Dihukum 67 Kali Seumur Hidup,” MSNBC, 30 November, 2004.

Di bulan Oktober, proyek USAID-ku telah selesai, dan aku tidak bekerja lagi bagi mereka. Maka aku memusatkan perhatian pada tugasku untuk Shin Bet dengan mengumpulkan semua keterangan sebaik mungkin.
Di suatu pagi, dua bulan kemudian, Loai menelepon.
“Kami telah menemukan Saleh.”

Bersambung ke Bab 25

Daftar Isi ; Bab 1-4 ; Bab 5-8 ; Bab 9-12 ; Bab 13-16 ; Bab 17-20

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s