Son of Hamas (Putra Hamas). Bab 25-Bagian Akhir

Bab 25 – Saleh
Musim Dingin 2003 – Musim Semi 2006

Tidak sukar untuk mengetahui di mana Saleh dan teman²nya baru saja berada sebelumnya. Darah yang mereka tinggalkan di tempat kejadian sangatlah jelas. Tapi sampai sekarang tiada seorang pun yang bisa menangkap mereka.

Keterangan dari Shin Bet bahwa mereka telah menemukan Saleh membuat hatiku sedih. Saleh adalah teman dekatku. Dia telah menolongku dalam studiku. Aku telah makan bersamanya dan istrinya, dan aku telah bermain-main dengan anak²nya. Tapi Saleh juga adalah seorang teroris. Dulu sewaktu dia dipenjara oleh PA, dia terus belajar melalui Universitas Terbuka Al-Quds dan menggunakan apa yang dipelajarinya untuk menjadi perakit bom yang hebat, sehingga dia bahkan bisa membuat bom dari bahan² di tempat sampah.

Setelah Saleh keluar dari penjara PA, Shin Bet mengawasi dia dan teman²nya untuk mengetahui berapa lama yang dibutuhkan mereka untuk membangun kembali Brigade Al-Qassam. Ternyata mereka tak butuh waktu lama. Organisasi yang baru memang tidak sebesar yang lama, tapi tetap mematikan.

Maher Odeh adalah otak operasi pemboman; Saleh adalah teknisi perakit bom; dan Bilal Barghouti merekrut pelaku bom bunuh diri. Sebenarnya, bagian militer Hamas hanya terdiri dari sepuluh orang yang masing² bekerja sendiri², memiliki dana tersendiri, dan tidak pernah saling bertemu kecuali jika ada urusan yang sangat penting. Saleh bisa menghasilkan beberapa sabuk bom bunuh diri dalam semalam saja, dan Bilal memiliki daftar orang² yang bersedia mati syahid melakukan serangan bom bunuh diri.

Jika aku yakin Saleh tidak bersalah, aku tentu akan memperingatkan bahwa dia akan segera diciduk. Tapi ketika akhirnya kami menghubungkan berbagai kejadian dan informasi, aku menyadari bahwa dia sebenarnya bertanggung jawab atas pemboman Universitas Ibrani dan tempat² lainnya. Aku mengerti bahwa dia harus dipenjara. Mungkin yang seharusnya kulakukan dulu adalah memperkenalkan ajaran Yesus padanya dan mengajaknya mengikuti ajaran tersebut, sama seperti yang telah kulakukan. Tapi aku juga tahu betul bahwa dia terlalu dibutakan oleh amarah, semangat balas dendam, dan kesetiaan pada Islam sehingga tak akan sudi mendengar nasehat temannya. Aku lalu memohon pada Shin Bet untuk menangkap Saleh dan orang² buronan lainnya dan jangan membunuh mereka. Meskipun awalnya sangat ragu, mereka akhirnya setuju.

Agen² keamanan Israel telah mengamati Saleh selama lebih dari dua bulan. Mereka tahu saat dia meninggalkan apartemennya untuk bertemu dengan Hasaneen Rummanah di sebuah rumah kosong. Mereka juga melihat saat dia kembali pulang, dan tetap tinggal di tempatnya selama seminggu. Mereka melihat teman Saleh bernama Sayyed al-Syeikh Qassem lebih sering keluar meninggalkan tempatnya, tapi lalu kembali pulang. Mereka sangat berhati-hati, sehingga sukar dilacak. Tapi begitu jejak mereka tercium, yang Shin Bet perlu lakukan hanyalah menyelusuri siapa para penghubung di sekitar mereka, yang ternyata jumlahnya mencapai empat puluh sampai lima puluh orang.

Kami telah menemukan tiga dari lima orang yang paling kami cari. Dua orang lainnya yakni Ibrahim Hamed dan Maher Odeh masih buron. Kami harus membuat keputusan apakah kami tetap harus menunggu sampai ada penghubung kepada kedua buronan itu, atau segera mematahkan tulang punggung Brigade Al-Qassam di Tepi Barat dengan menangkapi orang² yang sudah kami ketahui lokasinya. Kami menetapkan untuk melakukan pilihan kedua, dengan pertimbangan keadaan mungkin tidak akan jadi lebih menguntungkan, dan kemungkinan bisa menangkap Hamed atau Odeh jika mendapat keterangan tentang mereka dari tawanan² lainnya.

Di suatu malam tanggal 1 Desember, 2003, pasukan keamanan khusus mengepung lebih dari lima puluh lokasi yang dicurigai pada waktu yang bersamaan. Semua pasukan yang ada dipanggil dari seluruh Tepi Barat. Para ketua Hamas berkumpul di gedung Al-Kiswani di Ramallah, dan mereka tidak bereaksi ketika diminta menyerah. Saleh dan Sayyed punya banyak senjata, termasuk senapan otomatis berat, dan senapan tempur yang biasanya digunakan di kendaraan² militer.

Baku tembak dimulai pada jam 10 malam dan terus berlansung sampai larut malam. Ketika saling tembak dimulai, aku bisa mendengarnya dari rumahku. Lalu terdengar tembakan kanon tank Merkava yang khas menggelegar di pagi hari dan setelah itu tak terdengar apapun lagi. Pada jam 6 pagi, teleponku berdering.

“Temanmu sudah mati,” kata Loai padaku. “Maaf sekali. Kau tentunya tahu kami sudah berusaha untuk tidak membunuh jika memang keadaan memungkinkan. Tapi kuberitahu ya. Jika orang ini …” suara Loai terhenti dan dia melanjutkan lagi, “jika orang ini tumbuh besar di lingkungan lain, dia tentunya tidak akan jadi seperti itu. Dia akan jadi orang biasa seperti kita. Dia mengira, dan dia benar² yakin, bahwa apa yang dilakukannya adalah baik bagi masyarakatnya. Tapi dia sangat salah.”

Loai tahu aku mengasihi Saleh dan tidak ingin dia mati. Dia tahu bahwa Saleh berjuang melawan sesuatu yang dia yakini sebagai hal yang jahat dan merugikan masyarakatnya. Dan mungkin karena itu pula, Loai juga jadi peduli akan nasib Saleh.
“Apakah mereka semua mati?”
“Aku belum melihat tubuh² mereka. Mereka membawa mayat² korban ke Rumah Sakit Ramallah. Kami ingin kau pergi ke sana juga untuk mengenali mayat² tersebut. Kau satu²nya yang mengetahui orang² ini.”

Aku ambil jaketku dan menyetir ke rumah sakit, dengan sangat berharap mayat Saleh tidak berada di situ dan mungkin Saleh tidak terbunuh. Ketika aku tiba, keadaan di rumah sakit kacau-balau. Para aktivis Hamas yang marah berteriak-teriak di jalanan, dan terlihat banyak polisi dimana pun. Tiada seorang pun yang boleh masuk ke dalam, tapi karena semua tahu siapa aku, maka petugas rumah sakit mempersilakan aku masuk. Seorang petugas medis membimbingku ke ruangan pendingin. Dia membuka pintu kulkas dan dengan perlahan menarik sebuah laci yang mengeluarkan semerbak kematian di seluruh ruangan.

Aku melihat ke dalam laci itu dan tampak wajah Saleh. Dia tampak hampir tersenyum. Tapi sebagian besar kepalanya telah hilang. Laci Sayyed terdiri dari kumpulan bagian² tubuh – kaki², kepala, dan lain² – semuanya dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam. Hasaneen Rummanah telah terbelah dua. Aku tidak yakin bahwa itu adalah dia karena wajahnya bercukur dan Hasaneen selalu berjanggut coklat lembut. Meskipun media melaporkan bahwa Ibrahim Hamed juga berada diantara orang² yang terbunuh, pada kenyataannya, dia masih belum tertangkap. Ibrahim memerintahkan orang² ini untuk bertempur sampai mati, tapi dia sendiri lebih memilih melarikan diri menyelamatkan nyawanya.

Karena pada hakekatnya semua ketua Hamas di Tepi Barat mati atau sedang dipenjara, maka aku jadi penghubung bagi para pemimpin Hamas lainnya di Gaza dan Damaskus. Aku juga jadi penghubung utama seluruh jaringan organisasi², sekte², dan sel² di Palestina – termasuk sel² teroris. Juga hanya segelintir orang² Shin Bet yang mengetahui siapa aku sebenarnya. Hal ini sebenarnya sungguh mengherankan.

Karena peranan baruku ini, maka aku pun dengan sedih harus mengurus penguburan Saleh dan rekan²nya. Ketika aku melakukan hal ini, aku mengamati setiap gerakan dan mendengar setiap bisikan marah dan sedih orang² di sekitarku, yang mungkin bisa mengungkapkan di mana Ibrahim Hamed bersembunyi.

“Karena kabar burung sudah terbang ke mana²,” kata Loai, “dan kau duduk menggantikan para pemimpin yang kami tangkap, mari kita buat berita bahwa Ibrahim Hamed bekerja sama dengan Shin Bet. Masyarakat Palestina umumnya tidak mengetahui apa yang terjadi sehingga mereka akan percaya berita seperti ini. Akibatnya, Ibrahim Hamed harus keluar dari persembunyiannya untuk membela diri di muka umum atau setidaknya menghubungi pemimpin² politik Hamas di Gaza atau Damaskus. Apapun pilihannya, kita mungkin bisa melacaknya.”

Itu adalah gagasan yang baik, tapi ditolak oleh boss-nya karena khawatir Ibrahim akan membom penduduk sipil sebagai aksi balas dendam – ini sungguh pertimbangan yang tak masuk akal karena Ibrahim tentunya sudah sangat marah atas kematian teman²nya dan penangkapan separuh anggota organisasinya. Maka kami pun menerapkan cara lain yang lebih sulit dilakukan.

Agen² Shin Bet menempatkan alat² penyadap suara di rumah Ibrahem Hamdi, dengan harapan istri dan anak²nya tanpa sengaja mengatakan dimana dia berada. Tapi ternyata rumah itu adalah rumah tersepi di Palestina. Sekali waktu kami mendengar putranya yang paling bungsu, Ali, bertanya pada ibunya, ”Mana ayah?”
“Kita tidak membicarakan tentang hal itu sama sekali,” bentak ibunya.
Jika keluarganya saja sudah sedemikian berhati-hati, tentunya terlebih lagi Ibrahim Hamed. Bulan² berlalu tanpa ada jejak darinya.

***************

Di akhir bulan Oktober 2004, Yasser Arafat jatuh sakit saat rapat. Orang² di sekitarnya mengatakan dia sakit flu. Tapi keadaannya semakin memburuk, dan dia akhirnya diterbangkan dari Tepi Barat ke rumah sakit di luar kota Paris. Di tanggal 3 November, dia jatuh koma. Seseorang berkata bahwa dia sebenarnya telah diracun. Yang lain berkata dia kena AIDS. Dia mati di tanggal 11 November di usia tujuh puluh tiga tahun.

Seminggu lebih kemudian, ayahku dibebaskan dari penjara, dan tiada seorang pun yang lebih kaget atas pembebasannya selain dia sendiri. Loai dan beberapa pejabat Shin Bet bertemu dengannya di pagi hari dia dilepaskan dari penjara.

“Syeikh Hassan,” kata mereka, “sudah saatnya untuk mengadakan perdamaian. Orang² di luar memerlukan orang seperti kau. Arafat sudah wafat; sudah banyak orang yang terbunuh. Kau adalah orang yang bisa berpikir terang. Kita harus melakukan sesuatu bersama sebelum keadaan jadi memburuk.”

“Tinggalkan Tepi Barat, dan beri kami negara berdaulat,” jawab ayah, “dan masalah akan berakhir.” Tentu saja baik ayah maupun Shin Bet tahu bahwa Hamas tetap akan terus menyerang sampai negara Israel tidak ada lagi, meskipun negara Israel yang berdaulat mungkin bisa mendamaikan sekitar satu atau dua dasawarsa.

Di luar Penjara Ofer, aku menunggu bersama ratusan wartawan dari seluruh dunia. Sambil membawa barang² miliknya dalam sebuah kantung plastik hitam, ayah memicingkan mata karena silau sinar mentari sewaktu dua orang prajurit Israel membimbingnya keluar pintu.

Kami berpelukan dan berciuman, dan dia memintaku untuk segera membawanya ke kuburan Yasser Arafat sebelum kami pulang. Aku melihat matanya dan mengerti bahwa ini merupakan langkah yang sangat penting baginya. Karena Arafat telah mati, Fatah menjadi lemah dan jalanan kembali penuh dengan kekerasan. Para pemimpin Fatah khawatir Hamas akan mengambil alih kekuasaan dan usaha ini akan mengobarkan perang saudara. Amerika Serikat, Israel, dan masyarakat internasional juga takut hal itu akan terjadi. Kunjungan ketua top Hamas di Tepi Barat ke kuburan Arafat mengejutkan semua orang, tapi tiada seorang pun yang tak menangkap pesannya: Tenanglah, semua pihak. Hamas tidak akan mengambil kesempatan dari kematian Arafat. Tiada perang saudara.

Sebenarnya, setelah satu dasawarsa menangkap, memenjarakan, dan membunuh, Shin Bet masih saja tidak tahu siapakah yang berkuasa dalam Hamas. Dan tiada seorang pun yang tahu. Aku telah menolong mereka menangkap aktivis² buronan, orang² yang sangat terlibat dalam gerakan perlawanan, dengan harapan kami bisa menangkap orang² yang mengatur Hamas. Kami memenjarakan orang² sampai bertahun-tahun, kadang² hanya karena kecurigaan saja. Tapi Hamas tampak tidak kehilangan apapun.

Maka, siapakah sebenarnya yang mengatur Hamas?
Fakta bahwa yang berkuasa atas Hamas bukanlah ayahku tentunya mengejutkan siapapun – bahkan aku sendiri. Kami menyadap kantor dan mobilnya, memonitor setiap gerakannya. Dan sudah jelas bahwa dia bukanlah yang memberi perintah.

Hamas itu bagaikan hantu. Dia tidak punya pusat pemerintahan atau kantor² cabang, tiada tempat di mana orang bisa berkunjung untuk bicara dengan wakil organisasi. Banyak orang² Palestina yang berkunjung ke kantor ayahku, menyampaikan masalah² mereka, dan minta tolong, terutama para keluarga tawanan dan yang terbunuh yang kehilangan suami² dan bapak² mereka dalam intifada. Tapi bahkan Syeikh Hassan Yousef sendiri tidak sanggup menolong mereka. Setiap orang mengira dia punya jawaban masalah, tapi dia sebenarnya tidak berbeda dengan kami semua: dia tak punya jawaban.

Suatu kali dia memberitahuku bahwa dia sedang mempertimbangkan menutup kantornya.
“Mengapa? Di mana kau akan bertemu dengan media?” tanyaku.
“Aku tak peduli. Orang² datang dari mana², berharap aku bisa menolong. Tapi aku tak mungkin bisa menyediakan dana bagi yang membutuhkan; terlalu banyak yang datang minta tolong.”
“Mengapa Hamas tidak membantu mereka? Mereka adalah sanak keluarga para anggota Hamas. Hamas kan punya banyak uang.”
“Ya, tapi organisasi Hamas tidak memberikannya padaku.”
“Ya minta saja dong. Katakan pada mereka tentang orang² yang butuh bantuan.”
“Aku tak tahu siapa mereka atau bagaimana menemui mereka.”
“Tapi kau kan ketuanya,”
protesku.
“Aku bukan ketuanya.”
“Kau mendirikan Hamas, ayah. Jika kau bukan ketuanya, lalu siapa dong?”
“Tiada seorang pun yang jadi ketua!”

Aku sangat terkejut. Shin Bet merekam semua pembicaraan, dan mereka juga terkejut.
Suatu hari, aku menerima telepon dari Majeda Talahme, istri Saleh. Kami belum sempat bicara setelah penguburan suaminya.
“Apa kabar? Bagaimana kabarnya Mosab dan adik²nya?”
Majeda mulai menangis.

“Aku tak punya uang untuk memberi makan anak².”
Aku berpikir, semoga Elohim mengampunimu, Saleh, atas apa yang kau perbuat terhadap keluargamu!
“Baiklah, saudaraku, tenang, dan aku akan mencoba berbuat sesuatu.”
Aku lalu menemui ayah.
“Istri Saleh baru saja menelepon. Dia tidak punya uang untuk membeli makanan bagi anak²nya.”
“Sedihnya, Mosab, dia bukanlah satu²nya yang mengalami masalah seperti itu.”
“Ya, tapi Saleh adalah sahabatku. Kita harus segera berbuat sesuatu!”
“Nak, aku sudah memberitahu padamu. Aku tak punya uang.”
“Oke, tapi mestinya ada seseorang yang mengatur keuangan. Seseorang yang punya banyak uang. Ini sungguh tak adil! Saleh mati demi perjuangan Hamas!”

Ayahku mengatakan dia akan melakukan apa yang dia bisa. Dia menulis surat, yang kedengarannya seperti “bagi yang bersangkutan,” dan memasukkan surat ke dalam kotak pesan. Kami tidak bisa menelusuri siapa yang akan menerima surat itu, tapi kami tahu orang itu berada di Ramallah.

Beberapa bulan sebelumnya, Shin Bet telah mengirim aku ke sebuah warung internet di tengah kota. Kami tahu seseorang menggunakan salah satu komputer di warung itu untuk berkomunikasi dengan pemimpin² Hamas di Damaskus. Kami tidak tahu siapa para pemimpin tersebut, tapi tak disangsikan lagi bahwa Syria merupakan pusat kekuatan Hamas. Sudah masuk akal jika Hamas ingin mengontrol seluruh organsasi – kantor, persenjataan, dan kamp² militer – diluar jangkauan palu Israel.

“Kami tidak tahu siapa yang berhubungan dengan Damaskus,” kata Loai, “tapi tampaknya orang ini berbahaya.”

Sewaktu aku berjalan masuk ke warung internet tersebut, aku melihat dua puluh orang duduk di depan komputer² yang tersedia. Tiada seorang pun yang berjenggot. Tiada yang tampak mencurigakan. Tapi salah seorang dari mereka menarik perhatianku, meskipun aku tidak tahu mengapa. Aku tidak mengenalnya, tapi naluriku mengatakan bahwa aku harus mengawasi orang ini. Aku tahu ini hanya dugaan saja, tapi setelah bertahun-tahun bekerja sama, Shin Bet tahu bahwa mereka bisa percaya pada naluriku.

Kami yakin bahwa siapapun orang ini , dia kemungkinan berbahaya. Hanya orang yang sangat dipercaya saja yang bisa berkomunikasi dengan para pemimpin Hamas di Damaskus. Kami berharap dia akan membimbing kami untuk mengetahui siapa sebenarnya yang berkuasa atas Hamas. Kami sebarkan foto wajahnya, tapi tiada seorang pun yang mengenalnya. Aku mulai mempertanyakan ketajaman naluriku.

Beberapa bulan kemudian, aku berusaha menjual sebuah rumah di Ramallah. Beberapa orang datang untuk melihat, tapi tiada seorang pun yang mengajukan tawaran. Di sore harinya, ketika aku telah menutup rumah itu dan pulang, seseorang meneleponku dan bertanya apakah aku masih berada di rumah tersebut. Aku saat itu sudah sangat lelah, tapi aku mempersilakannya berkunjung dan bertemu denganku di rumah itu. Aku kembali ke rumah yang akan kujual, dan tak lama kemudian orang itu datang.

Ternyata orang ini adalah orang yang kucurigai di warung internet. Dia mengatakan namanya adalah Aziz Kayed. Dia bercukur rapih dan tampak sangat profesional. Aku bisa menduga bahwa dia berpendidikan tinggi, dan dia mengatakan bahwa dia memiliki pusat pendidikan Islam bernama Al-Buraq Center yang dihormati. Kelihatannya dia bukanlah orang yang kami cari. Tapi daripada membuat Shin Bet semakin bingung, aku tidak mengatakan pada siapapun.

Tak lama setelah bertemu dengan Kayed, ayah dan aku mengunjungi berbagai kota, desa, dan kamp² penampungan di seluruh Tepi Barat. Di satu kota, lebih dari 50.000 orang berkumpul untuk bertemu dengan Syeikh Hassan Yousef. Mereka semua ingin menyentuhnya dan mendengar apa yang akan dia katakan. Dia masih sangat dicintai masyarakat.

Di Nablus, yang merupakan pusat Hamas yang kuat, kami bertemu dengan para pemimpin organisasi, dan aku bisa menebak siapa dari mereka yang menjadi anggota² konsul shurah – kelompok kecil beranggotakan tujuh orang yang membuat keputusan akan masalah strategis dan kegiatan sehari-hari gerakan di daerah mereka. Sama seperti ayah, mereka juga merupakan ketua² Hamas yang paling senior, tapi mereka bukanlah “pembuat keputusan” yang sedang kami cari.

Setelah bertahun-tahun, aku tidak percaya bahwa kontrol akan Hamas ternyata sudah terlepas dan jatuh ke tangan² yang tak diketahui. Jika aku sendiri, yang lahir dan dibesarkan di jantung Hamas, tidak tahu siapakah yang berperan menggerakkan Hamas, lalu siapa yang bisa tahu?

Jawabannya datang tiba² saja, entah dari mana. Salah seorang konsul shurah di Nablus menyebut nama Aziz Kayed. Dia menganjurkan agar ayah mengunjungi Al-Buraq dan bertemu dengan “orang baik” ini. Kupingku tiba² menjadi sangat waspada. Mengapa ketua Hamas lokal memberi anjuran seperti itu? Terlalu banyak kebetulan yang tampak: pertama, Aziz tampak mencurigakan di warung internet; lalu dia muncul di tempat aku menjual sebuah rumah; dan sekarang, anggota konsul memberitahu ayah untuk bertemu dengan orang ini. Apakah ini pertanda bahwa naluriku benar dan Aziz Kayed adalah seorang penting dalam organisasi Hamas?

Apakah kami demikian beruntung sehingga menemukan orang yang paling berkuasa? Meskipun masih ragu, aku tetap mengikuti naluriku. Aku kembali dengan cepat ke Ramallah, menelepon Loai dan memintanya untuk mencari keterangan tentang Aziz Kayed melalui komputer.

Beberapa Aziz Kayed muncul, tapi tak seorang pun cocok dengan keterangan akan yang dicari. Kami lalu mengadakan rapat darurat, dan aku meminta Loai memperluas pencarian nama Aziz Kayed di seluruh Tepi Barat. Mereka mengira aku gila, tapi tetap melaksanakan permintaanku.

Kali ini, kami menemukan keterangan tentang dirinya.
Aziz Kayed lahir di Nablus dan bekas anggota gerakan pelajar Islam. Dia menghentikan aktivitasnya sepuluh tahun yang lalu. Dia menikah dan punya beberapa anak, dan bisa dengan bebas keluar masuk negara Israel. Kebanyakan dari temannya adalah orang² sekuler. Kami tak menemukan keterangan yang mencurigakan.
Aku menjelaskan pada Shin Bet semua yang terjadi, dari saat aku melihatnya di warung internet sampai pada kunjungan ke Nablus bersama ayahku. Mereka mengatakan bahwa meskipun mereka sangat percaya padaku, kami tidak mempunyai cukup bukti.
Ketika kami sedang bicara, aku teringat sesuatu.

“Kayed mengingatkanku akan tiga orang yang kukenal,” kataku pada Loai. “Salah Hussein dari Ramallah, Adib Zeyadeh dari Yerusalem, dan Najeh Madi dari Salfeet. Ketiga orang ini punya gelar sarjana dan pernah aktif di Hamas. Tapi karena suatu alasan, mereka tiba² menghilang begitu saja sepuluh tahun yang lalu. Sekarang mereka hidup normal, tidak berhubungan dengan kegiatan politik apapun. Aku heran mengapa orang yang tadinya begitu bersemangat dengan Hamas, tiba² saja berhenti.”

Loai setuju bahwa mungkin hal ini perlu dicurigai. Kami mulai mempelajari kegiatan tiap orang tersebut. Ternyata ketiga orang ini masih berkomunikasi satu sama lain dan juga dengan Aziz Kayed. Mereka semua bekerja bagi Al-Buraq. Ini jelas lebih dari sekedar kebetulan saja.

Apakah keempat orang ini adalah para penggerak Hamas, bahkan mengontrol bagian militer Hamas pula? Apakah mereka selama ini menghindar radar pengamatan kami sewaktu kami mengarah pada tokoh² Hamas yang telah diketahui umum? Kami terus memonitor, menggali keterangan, dan menunggu. Akhirnya kesabaran kami terbayar dengan memuaskan.

Kami mengetahui bahwa keempat pria berusia 30-an ini menguasai total keuangan Hamas dan mengatur seluruh kegiatan Hamas di Tepi Barat. Mereka membawa uang sebesar jutaan dollar dari luar negeri, yang lalu mereka gunakan untuk membeli persenjataan, bom², merekrut sukarelawan, melindungi para buronan, menyediakan logistik, semuanya – semuanya dilakukan di bawah Al-Buraq, yang merupakan salah satu badan pendidikan Islam yang tampaknya tidak berbahaya.

Tiada yang tahu akan mereka. Mereka tidak pernah muncul di TV. Mereka hanya berkomunikasi melalui surat² yang dimasukkan ke dalam kotak² pesan. Sudah jelas bahwa mereka tidak percaya siapapun – buktinya bahkan ayahku sendiri tidak tahu keberadaan mereka.

Suatu hari, kami mengikuti Najeh Madi dari apartemennya ke penyewaan garasi umum yang jaraknya satu blok dari rumahnya. Dia berjalan ke salah satu bagian dan mengangkat pintu penutup ruang garasi. Apa yang dilakukannya di situ? Mengapa dia menyewa sebuah garasi tertutup yang jauh dari rumahnya?

Selama dua minggu, kami terus mengamati garasi sialan itu, tapi tiada yang datang mengunjungi tempat itu. Akhirnya pintu garasi dibuka – bukan dari luar, tapi dari dalam – dan Ibrahim Hamed keluar dari garasi tersebut!

Shin Bet menunggu cukup lama sampai dia kembali ke dalam garasi sebelum akhirnya ditangkap. Tapi ketika Ibrahim Hamed dikepung pasukan keamanan khusus, dia tidak berkelahi sampai mati seperti yang dia perintahkan pada Saleh dan teman²nya yang lain.
“Lepaskan bajumu dan keluar!”
Tiada jawaban.
“Kau punya waktu sepuluh menit. Setelah itu kami akan menghancurkan gedung!”

Dua menit berlalu, pemimpin bagian militer Hamas di Tepi Barat berjalan keluar pintu dengan hanya mengenakan celana dalam.
“Lepaskan semua bajumu!”
Dia ragu², lalu melepas celana dalamnya, dan berdiri telanjang di hadapan para prajurit Israel.

Ibrahim Hamed secara pribadi bertanggung jawab atas kematian lebih dari delapan puluh orang yang bisa kami buktikan. Mungkin kedengarannya tidaklah seperti anjuran Yesus, tapi jika semuanya terserah padaku, aku akan mengembalikan dia ke dalam garasi joroknya, menguncinya dalam tempat itu seumur hidup, dan Pemerintah Israel tidak perlu membayar ongkos proses pengadilan bagi dirinya.

Menangkap Ibrahim Hamed dan mengungkapkan pemimpin² Hamas yang sebenarnya merupakan operasi rahasiaku yang paling penting bagi Shin Bet. Dan ini juga merupakan yang terakhir.

Bab 26 – Ramalan bagi Hamas
2005

Saat ayah dipenjara yang terakhir kali, dia seakan mengalami pencerahan illahi.
Ayah adalah orang yang terbuka pikirannya. Dia bersedia duduk dan bicara dengan orang² Kristen, orang² tak beragama, dan bahkan orang² Yahudi. Dia mendengarkan baik² para wartawan, ilmuwan, dan analis, dan dia menghadiri berbagai ceramah di universitas². Dan dia juga mendengarkan aku – yang merupakan pembantu, penasehat, dan pelindungnya. Akibatnya, dia juga jadi berpandangan lebih luas dan bijaksana dibandingkan para pemimpin Hamas lainnya.

Dia melihat Israel sebagai kenyataan yang kekal dan mengakui bahwa banyak tujuan perjuangan Hamas yang tak masuk akal dan tak mungkin bisa dicapai. Dia ingin menemukan titik tengah bagi Israel dan Palestina, dan kedua pihak tak perlu kehilangan muka. Ayah lalu menyampaikan pidato pertama di muka umum setelah keluar dari penjara, dimana dia menyampaikan kemungkinan pemecahan masalah melalui terbentuknya negara Israel dan negara Palestina yang hidup berdampingan. Tiada satu pun ketua Hamas yang pernah mengatakan kemungkinan seperti itu. Paling² yang dulu mereka pernah lakukan hanyalah berjabatan tangan untuk mengumumkan jeda perang barang sebentar saja. Tapi ayahku mengakui hak Israel untuk eksis! Sejak itu, teleponnya terus berdering tak putus²nya.

Para diplomat dari setiap negara, termasuk Amerika Serikat, menghubungi kami untuk meminta bertemu secara rahasia dengan ayah. Mereka ingin tahu apakah dia benar² berpendapat begitu. Aku menjadi penerjemahnya, dan tak pernah meninggalkan sisinya. Teman² Kristenku mendukungnya secara tulus, dan dia mengasihi mereka karenanya.

Tak heran bahwa setelah itu, dia segera menghadapi masalah. Meskipun dia bicara atas nama Hamas, sudah jelas bahwa yang disampaikannya tidak sesuai dengan hati Hamas. Meskipun perasaan ayah sudah tidak sesuai lagi dengan perasaan Hamas, dia tidak bisa meninggalkan Hamas. Kematian Yasser Arafat telah mengakibatkan kekosongan kepemimpinan dan membuat jalanan kembali penuh pertikaian. Pemuda² radikal tampak di mana² – mereka bersenjata, hati mereka penuh kebencian, dan tanpa pemimpin.

Ini bukan berarti sukar mencari pengganti Arafat. Setiap politikus korup bisa saja muncul sebagai Arafat yang baru. Maasalahnya adalah dia telah begitu memusatkan PLO dan PA. Dia bukanlah orang yang bersedia bekerja sama dengan kelompok lain. Dia menguasai semua kekuasaan dan koneksinya. Dan namanya juga tercantum di semua akun bank.

Sekarang Fatah penuh dengan orang² yang ingin jadi seperti Arafat. Tapi siapakah diantara mereka yang bisa diterima oleh seluruh masyarakat Palestina dan international – dan cukup kuat untuk mengontrol berbagai organisasi yang berbeda? Bahkan Arafat sendiri kerepotan melakukan hal itu.

Ketika Hamas mengambil keputusan untuk berpartisipasi dalam pemilu parlemen Palestina beberapa bulan kemudian, ayahku tidak begitu antusias. Setelah sayap militer ditambahkan pada Hamas sewaktu Intifada Al-Aqsa, dia melihat Hamas berubah menjadi makhluk yang asing yang aneh, yang berjalan timpang dengan satu kaki militer yang panjang dan satu kaki politik yang pendek. Sudah jelas bahwa Hamas tidak mampu membentuk negara yang berfungsi sebagaimana adanya.

Untuk melakukan revolusi, diperlukan sikap yang murni dan tegas. Tapi untuk memerintah negara, diperlukan sikap kompromi dan flexibel. Jika Hamas ingin berkuasa, kemampuan berunding bukan hanya sekedar pilihan, tapi bahkan suatu kewajiban. Sebagai orang² yang dipilih masyarakat, mereka harus bertanggung jawab atas anggaran negara, air, makanan, listrik, dan pembuangan sampah. Dan ini semua harus datang dari pihak Israel. Negara Palestina yang mandiri harus bersedia bekerja sama dengan Israel.

Ayahku ingat dalam rapat²nya dengan para ketua negara² Barat, pihak Hamas selalu menolak setiap rekomendasi yang mereka ajukan. Sikap berpikiran sempit dan penuh penolakan itu rupanya sudah mendarah daging pada diri mereka. Dan jika para pemimpin Hamas tidak mau berunding dengan pihak AS dan Eropa, maka, pikir ayahku, bagaimana mungkin mereka akan bersedia berunding dengan Israel?

Ayahku tidak peduli bahwa Hamas punya banyak calon kandidat dalam pemilu. Dia hanya tidak ingin para senior Hamas seperti dirinya, yang dicintai masyarakat dan sangat berpengaruh, ikut serta dalam pemilu bagi Hamas, karena khawatir Hamas nantinya akan menang. Dia tahu bahwa jika Hamas menang pemilu, maka ini merupakan bencana bagi masyarakat. Kejadian di waktu selanjutnya membuktikan bahwa dia benar.

“Sudah jelas ada kekhawatiran dari pihak kami bahwa Israel, dan kemungkinan pihak lain juga, akan menghukum masyarakat Palestina karena mereka memilih Hamas,” aku mendengar ucapannya pada wartawan Haaretz. “Mereka akan berkata ‘kau memilih Hamas dan karenanya kami akan meningkatkan pengepungan terhadapmu dan membuat hidupmu semakin sulit.’” [13]
[13] Danny Rubinstein, “Ketua Hamas: Kau Tak Bisa Menyingkirkan Kami,” Haaretz,

Tapi banyak anggota² Hamas yang tergiur saat mencium bau uang, kekuasaan, dan kemegahan. Bahkan para bekas pemimpin yang sudah tidak aktif lagi, tiba² muncul dalam usaha memenangkan kedudukan dalam pemilu. Ayahku sangat muak dengan sikap serakah, tak bertanggung jawab, dan kebodohan mereka. Orang² ini bahkan tidak bisa membedakan antara CIA dan USAID. Siapa yang mau bekerja bagi mereka?

*******************

Aku juga merasa frustasi dalam berbagai hal.
Aku frustasi dengan korupsi yang terus terjadi dalam PA, kekejaman dan kebodohan Hamas, dan barisan panjang tanpa henti para teroris yang telah dipenjara dan dibunuh. Aku merasa lelah karena harus terus berpura-pura dan menanggung resiko besar setiap hari. Aku ingin kehidupan yang normal.
Ketika aku sedang berjalan-jalan di Ramallah pada bulan Agustus, aku melihat seorang membawa komputernya naik tangga menuju toko reparasi komputer. Tiba² muncul gagasan dalam benakku bahwa mungkin ada prospek baik bagi bisnis perawatan komputer pribadi dan membuat tim kerja seperti America Geek Squad (geek = orang² kikuk tapi sangat melek teknologi) versi Palestina. Sejak aku tak bekerja lagi bagi USAID dan ingin membuka suatu usaha, kupikir sebaiknya gagasan ini direalisasikan saja.

Aku berteman baik dengan manajer IT (Information Technology) di USAID, yang sangat berpengetahuan dalam bidang komputer. Ketika kuberitahu dia akan gagasanku, kami mengambil keputusan untuk jadi partner bisnis bersama. Aku menyediakan dana, dan dia menyediakan kemampuan teknis, dan kami memperkerjakan beberapa insinyur komputer lainnya, termasuk karyawan² wanita agar kami bisa lebih banyak mendorong kemajuan kaum wanita dalam budaya masyarakat Arab.

Kami namai perusahaan kami sebagai Electronic Computer Systems, dan aku juga membuat beberapa iklan untuk mempromosikan perusahaanku. Iklan² kami tampil dengan gambar karikatur seorang pria membawa komputer sambil naik tangga, dan putranya berkata padanya, “Ayah, kau tidak perlu melakukan itu” dan menganjurkan ayahnya untuk menelepon nomer telepon kami.

Panggilan telepon datang dari mana², dan kami tiba² saja jadi sangat sukses. Aku membeli sebuah mobil van untuk perusahaan, dan kami mendapatkan ijin menggunakan produk Hewlett-Packard yang kemudian kami gunakan untuk memperluas jaringan bisnis. Ini merupakan saat yang menggembirakan dalam hidupku. Aku sebelumnya tidak kesulitan uang, tapi kegiatan bisnis ini menyenangkan dan membuatku jadi produktif.

***************

Sejak aku memulai perjalanan rohaniku, aku kadang² membicarakan hal ini dengan rekan² Shin Bet dan kami beberapa kali melakukan pembicaraan yang menarik tentang Yesus dan perubahan imanku.

“Silakan percaya apapun yang kau kehendaki,” kata mereka. “Kau dapat membagi pendapatmu dengan kami. Tapi jangan bilang pada orang² lain. Dan jangan pernah dibaptis, karena ini merupakan pernyataan resmi umum. Jika orang² tahu kau telah jadi pemeluk Kristen dan meninggalkan agama Islam, kau akan menghadapi masalah besar.”

Kupikir mereka sebenarnya lebih khawatir akan masa depan mereka tanpa diriku daripada masa depanku sendiri. Tapi Elohim merubah hidupku sedemikian rupa sehingga aku tidak mungkin bisa tetap seperti sediakala. Suatu hari, temanku Jamal sedang memasak makanan malam bagiku. “Mosab,” katanya, “Aku mempunyai kejutan bagimu.”

Dia mengganti saluran TV dan berkata dengan mata berseri-seri, “Coba lihat program TV Al-Hayat. Kau mungkin tertarik untuk melihatnya.” Aku nonton TV dan melihat mata pendeta Koptik tua Zakaria Botros. Dia tampak baik hati, lemah lembut, dan berkata dengan suara yang dalam dan meyakinkan. Aku suka padanya – sampai aku menyadari apa yang dikatakannya. Dia secara sistematis melakukan bedah Qur’an, membelahnya dan menunjukkan setiap tulang, otot, urat daging, dan organ tubuh, dan lalu mengamati semuanya satu persatu di bawah mikroskop kebenaran dan menunjukkan bahwa seluruh buku Qur’an ternyata mengandung virus kanker.

Kesalahan sejarah dan fakta, kontradiksi² – dia jabarkan semuanya secara persis dan sopan, tapi dengan tegas dan penuh keyakinan. Naluriku pertama adalah ingin marah dan mematikan TV. Tapi perasaan ini hanya berlangsung selama beberapa detik saja sebelum aku menyadari bahwa ini sebenarnya adalah jawaban Elohim atas doa²ku. Bapak Zakaria sedang memotongi semua potongan² daging mati Allâh yang masih menempel padaku, yang masih menghubungkan diriku dengan Islam, dan membutakan diriku pada kebenaran bahwa Yesus adalah benar² Anak Elohim. Sebelum itu, aku tidak bisa mengalami kemajuan dalam mengikuti Yesus. Tapi semua ini tentunya bukanlah perubahan yang mudah. Bayangkan saja rasa sakit yang dialami ketika kau bangun pagi dan menyadari bahwa ayah yang kau kenal selama ini ternyata bukanlah ayahmu yang sebenarnya.

Aku tidak bisa mengatakan dengan tepat kapan hari dan jam aku “jadi Kristen,” karena semua proses ini berlangsung selama enam tahun. Tapi aku tahu bahwa aku sangat ingin dibaptis, tidak peduli Shin Bet bilang apa. Di saat itu, sekelompok orang² Kristen Amerika datang ke Israel untuk tamasya di Tanah Suci dan mendatangi cabang gereja mereka di Yerusalem, yakni gereja yang selama ini kukunjungi.

Tak lama setelah itu, aku berkawan baik dengan seorang gadis dari kelompok tersebut. Aku suka bicara dengannya, dan aku langsung mempercayainya. Ketika aku menyampaikan sedikit kisah rohaniku dengan dirinya, dia sangat mendukung diriku, dan mengingatkanku bahwa Elohim seringkali menggunakan orang² yang tak kau duga untuk melakukan pekerjaanNya. Keterangan ini sangat sesuai dengan pengalamanku.

Di suatu petang ketika kami sedang makan malam bersama di Restoran Koloni Amerika di Yerusalem Timur, temanku bertanya mengapa aku belum juga dibaptis. Aku tidak bisa menjawab bahwa hal itu karena aku adalah seorang agen Shin Bet dan karena aku sangat terlibat dengan semua perkembangan politik dan aktivitas keamanan di daerah itu. Tapi pertanyaannya merupakan pertanyaan yang tepat, dan aku pun sering mempertanyakan hal itu pada diriku sendiri.

“Dapatkah kau membaptisku?” tanyaku.
Dia bilang dia dapat melakukannya.
“Dapatkah kau merahasiakan hal ini diantara kita berdua saja?”
Dia bilang dia sanggup, dan menambahkan, “Pantai tidak jauh letaknya dari sana. Mari kita pergi ke sana.”
“Serius nih?”
“Iya, dong. Mengapa tidak?”
“Baiklah. Mengapa tidak?”

Aku agak bingung ketika kami naik bus untuk pergi ke Tel Aviv. Apakah aku sudah lupa siapa diriku? Apakah aku benar² mempercayai gadis dari San Diego ini? Empat puluh lima menit kemudian, kami berjalan di pantai yang penuh orang, sambil minum minuman di udara petang yang segar dan hangat. Tiada seorang pun dari kumpulan orang ramai itu yang tahu bahwa putra ketua Hamas – organisasi teroris yang bertanggung jawab membunuh dua puluh satu remaja di disko Dolphinarium yang tak jauh dari sini – akan segera dibaptis jadi Kristen.
Aku melepaskan kaosku dan kami berjalan ke laut.

***************

Di hari Jum’at, tanggal 23 September, 2005, sewaktu aku mengantarkan ayahku kembali dari kamp penampungan dekat Ramallah, dia menerima panggilan telepon.
“Apa yang terjadi?” aku mendengar teriakan ayah ke teleponnya. “Apa?”
Suara ayahku terdengar sangat gusar.
Ketika dia menutup teleponnya, dia menjelaskan padaku bahwa yang meneleponnya adalah juru bicara Hamas yakni Sami Abu Zuhri di Gaza, yang memberitahunya bahwa Israel baru saja membunuh sejumlah besar anggota² Hasa saat rapat umum di kamp pengungsi Jebaliya. Dia mengatakan bahwa dia menyaksikan sendiri pesawat Israel meluncurkan misil² ke kumpulan orang². Mereka melanggar gencatan senjata, katanya.

Ayahku telah bekerja sangat keras untuk merundingkan gencatan senjata tujuh bulan sebelumnya. Sekarang tampaknya usahanya sia² belaka. Dia merasa tidak bisa mempercayai Israel dan sangat marah dengan sikap Israel yang haus darah.

Tapi aku tak percaya akan hal ini. Meskipun aku tidak mengatakan apapun pada ayah, laporan yang kudengar itu tak masuk akal.

Al-Jazira menelepon. Mereka ingin ayah tampil di siaran TV begitu kami tiba di Ramallah. Dua puluh menit kemudian, kami sudah berada di studio mereka.

Ketika mereka sedang mempersiapkan mikrofon untuk ayah, aku menelepon Loai. Dia meyakinkan diriku bahwa Israel tidak melakukan serangan apapun. Aku merasa lega. Aku minta produser untuk menunjukkan padaku rekaman video tentang serangan tersebut. Dia membawaku ke ruang kontrol, dan kami melihat video itu berulang kali. Tampak jelas bahwa ledakan berasal dari daratan dan bukan karena tembakan dari udara.

Syeikh Hassan Yousef sudah berbicara di TV, mencaci pengkhianatan Israel, mengancam akan menyudahi gencatan senjata, dan menuntut pemeriksaan internasional.
“Apakah kau sudah merasa lebih baik sekarang?” aku bertanya padanya setelah dia berjalan keluar ruangan studio.
“Apa maksudmu?”
“Maksudmu setelah kau mengucapkan pernyataanmu.”
“Mengapa aku harus merasa lebih baik? Sungguh sukar dipercaya mereka bisa melakukan hal itu.”
“Bagus, sebab mereka ternyata tidak melakukannya. Hamaslah yang melakukan itu. Zuhri itu pendusta. Mari masuk ke ruang kontrol; aku ingin kau melihat sesuatu.”
Ayahku mengikutiku kembali ke ruang kecil di mana kami melihat video itu beberapa kali.
“Lihatlah ledakan itu. Lihat. Ledakan terjadi dari atas ke bawah. Ledakan ini tidak berasal dari udara.”

Kami nantinya mengetahui bahwa orang² militer Hamas di Gaza saat itu telah muncul sambil mengacungkan senjata² mereka untuk demonstrasi. Di saat yang bersamaan, sebuah misil Qasam yang diletakkan di bak belakang truk tak sengaja meledak dan membunuh lima belas orang dan melukai lebih banyak orang lagi.

Ayahku terkejut akan kebohongan yang dilakukan Hamas. Tapi Hamas tidak sendirian saja dalam melakukan penipuan ini. Selain hanya mempertontonkan video itu di siaran beritanya sendiri saja, Al-Jazira juga terus-meneruskan menyebarkan dusta tersebut. Setelah itu keadaan jadi memburuk. Sangat amat memburuk. [Penipuan yang sangat kotor: membunuh teman-teman seperjuangan sendiri dan kemudian menuduh orang lain! Penipu yang ahli!!]

Sebagai balasan atas serangan palsu di Gaza, Hamas melontarkan empat puluh misil ke berbagai kota di Israel selatan. Ini merupakan serangan besar pertama sejak Israel telah mengundurkan diri sepenuhnya seminggu sebelumnya. Di rumahku, aku dan ayah menonton berita TV bersama seluruh masyarakat dunia. Keesokan harinya, Loai memperingatkan aku bahwa kabinet Pemerintahan Israel menetapkan bahwa Hamas telah membatalkan gencatan senjata.

Sebuah laporan berita mengutip perkataan Mayor Jendral Yisrael Ziv, kepala operasi tentara Israel: “Sudah ditetapkan untuk melakukan serangan panjang dan terus-menerus terhadap Hamas,” dan wartawan menambahkan, “bahwa Israel sedang bersiap-siap untuk menyerang lagi para pemimpin Hamas,” hal yang tak dilakukan lagi setelah gencatan senjata dulu. [14]
[14] Israel Bersumpah untuk ‘Meremukkan’ Hamas setelah Serangan,” Fox News, 25 September, 2005,  (dibaca di tanggal 5 Oktober, 2009).
“Ayahmu harus masuk penjara lagi,” kata Loai.
“Apakah kau meminta persetujuanku?”
“Tidak. Mereka memintanya secara pribadi, dan tak ada yang bisa kami lakukan akan hal itu.”

Aku sangat marah.
“Tapi ayah tidak memerintahkan penyerangan misil tadi malam. Dia tidak memerintahkan hal itu. Dia tidak berhubungan apapun dengan semua ini. Orang² idiot di Gazalah yang mengatur semua ini.”

Akhirnya aku kehabisan napas. Aku sangat terpukul. Loai memecahkan kesunyian.
“Apakah kau masih disana?”
“Ya.” Aku duduk. “Ini sungguh tak adil … aku tak mengerti.”
“Kau juga,” katanya perlahan.
“Aku juga, apa? Masuk penjara lagi? Tidak! Aku tak mau kembali lagi. Aku tak peduli melindungi perananku lagi. Semuanya sudah usai bagiku. Aku tidak mau lagi melakukan ini.”
“Saudaraku,” dia berbisik, “apakah kau pikir aku ingin kau ditangkap? Ini semua terserah padamu. Jika kau ingin tetap berada di luar, silakan berada diluar. Tapi sekarang keadaannya jauh lebih berbahaya daripada waktu kapanpun. Kau terus-menerus berada di samping ayahmu sepanjang tahun. Setiap orang mengetahui kau sangat terlibat dengan Hamas. Bahkan banyak yang percaya kau adalah bagian dari pemimpin Hamas … Jika kami tidak menangkapmu, maka kau akan mati dalam beberapa minggu saja.”

Bab 27 – Selamat Tinggal
2005-2007

“Ada apa?” tanya ayahku ketika melihatku menangis.
Ketika aku tidak mengatakan apapun, dia mengajakku memasak makan malam untuk ibu dan saudara² perempuanku. Ayah dan aku sudah menjadi begitu dekat selama bertahun-tahun terakhir, dan dia mengerti bahwa aku kadang² harus menyelesaikan masalahku seorang diri saja.
Tapi ketika aku mempersiapkan makanan bersamanya, hatiku bertambah hancur membayangkan bahwa ini mungkin jam² terakhir kami bisa bersama untuk jangka waktu yang lama di masa depan. Aku mengambil keputusan agar dia tidak ditangkap seorang diri saja. Setelah makan malam, aku menelepon Loai.

Hari itu tanggal 25 September, 2005. Aku mendaki lembah² Ramallah untuk mencapai tempat favoritku, dimana aku sering berdoa dan membaca Alkitab. Aku berdoa lebih lama lagi, menangis lagi, dan meminta belas kasih Elohim bagiku dan keluargaku. Ketika aku pulang, aku duduk dan menunggu. Ayahku yang tak mengetahui apa yang akan terjadi, telah tidur. Tak lama kemudian setelah jam 12 malam, pasukan keamanan Israel datang.

Mereka membawa kami ke Penjara Ofer, dimana kami digiring masuk ke aula besar dan disatukan bersama ratusan tawanan lainnya yang diciduk dari seluruh kota. Kali ini mereka juga menangkap saudara² lakiku Oways dan Mohammad. Loai memberitahuku diam² bahwa mereka berdua diduga terlibat dalam kasus pembunuhan. Salah seorang teman sekolah mereka telah menculik, menyiksa, dan membunuh orang Israel, dan Shin Bet telah menyadap panggilan telepon yang dilakukan oleh pembunuh kepada Oways beberapa hari sebelumnya. Mohammad akan dibebaskan beberapa hari kemudian. Oways dipenjara selama empat bulan sebelum akhirnya dinyatakan tidak terlibat dalam kasus pembunuhan ini.

Kami duduk di atas lutut kami di aula tersebut selama sepuluh jam dengan tangan diborgol di belakang tubuh. Aku diam² berterima kasih pada Elohim karena seseorang memberi sebuah kursi pada ayah, dan aku melihat dia diperlakukan dengan hormat.

Aku dihukum tiga bulan di penjara administratif. Teman² Kristenku memberiku sebuah Alkitab, dan aku menjalani masa hukuman sambil mempelajari Alkitab. Aku dibebaskan di hari Natal 2005. Ayahku masih belum bebas. Sampai saat aku menulis buku ini, dia masih berada di penjara.

***************

Pemilu Parlemen akan segera berlangsung, dan setiap pemimpin Hamas ingin berkuasa. Mereka masih tetap memuakkan bagiku. Mereka bisa berjalan-jalan dengan bebasnya, sedangkan satu²nya orang yang mampu memimpin masyarakat malahan ditahan di belakang pagar berkawat silet. Setelah kami ditangkap, ayah enggan berpartisipasi dalam pemilu. Dia meminta aku untuk menyampaikan pesannya kepada Mohammad Daraghmeh, wartawan pengamat politik bagi Associated Press dan teman baiknya.

Kabar bahwa ayah tidak ikut Pemilu tersebar dua jam kemudian, dan teleponku mulai berdering. Para pemimpin Hamas mencoba menghubungi ayah di penjara, tapi dia tak mau bicara dengan mereka.

“Apa yang terjadi?” tanya mereka padaku. “Ini sungguh celaka! Kami akan kalah pemilu jika ayahmu tidak bersedia mencalonkan diri jadi pemimpin, dan ini akan tampak seakan dia tidak merestui seluruh proses pemilu!”

“Jika dia tidak mau ikut pemilu,” kataku pada mereka, “maka kalian harus menghormati keputusannya.”

Lalu datang panggilan telepon dari Ismail Haniyah, yang merupakan tokoh penting Hamas dan akan jadi perdana menteri PA yang baru.
“Mosab, sebagai pemimpin gerakan, aku meminta kau untuk mengatur acara jumpa press dan mengumumkan bahwa ayahmu masih tetap berperanan penting dalam Hamas. Katakan pada mereka bahwa laporan AP itu salah.”
Sekarang mereka minta aku berdusta. Apakah mereka lupa bahwa Islam melarang untuk berbohong pada sesama Muslim, atau mereka pikir hal itu boleh² saja karena politik tak mengenal agama?

“Aku tak bisa melakukan itu,” kataku padanya. “Aku menghormati kau, tapi aku lebih menghormati ayah dan kejujuranku.” Aku menutup telepon.
Tiga puluh menit kemudian, aku menerima ancaman kematian. “Buat jumpa press sekarang juga,” begitu kata penelepon, “atau kami akan bunuh kamu!”
“Kalau begitu, silakan datang dan bunuh aku.”

Aku menutup telepon dan menelepon Loai. Beberapa jam kemudian, pria yang mengancam ini sudah ditangkap.

Aku tidak begitu peduli dengan ancaman² mati. Tapi ketika ayah mendengar akan hal itu, dia menelepon Daraghmeh dan mengatakan padanya bahwa dia akan mencalonkan diri dalam pemilu. Lalu dia mengatakan padaku untuk bersikap tenang dan menunggu saatnya dia dibebaskan. Dia akan berurusan dengan Hamas, begitu penjelasannya padaku.

Tentu saja ayah tidak bisa kampanye pemilu lewat penjara. Tapi dia tak perlu melakukan itu. Hamas memajang wajahnya di mana², sebagai bujukan agar orang² mencoblos Hamas dalam pemilu. Saat persiapan pemilu berlangsung, Syeikh Hassan Yousef digiring masuk ke dalam parlemen sambil membawa banyak orang lain bersamanya bagaikan kotoran² dalam rambut singa.

***************

Aku menjual bagian kepemilikan perusahaanku Electric Computer Systems kepada rekan bisnisku karena aku merasakan banyak perubahan yang akan terjadi dengan hidupku.
Siapakah aku sebenarnya? Masa depan apakah yang akan kumiliki jika keadaan tetap berlangsung seperti ini?
Usiaku telah mencapai dua puluh tujuh tahun, tapi aku tidak bisa pacaran. Gadis Kristen akan takut dengan reputasiku sebagai putra pemimpin Hamas. Gadis Muslim juga tak akan tertarik pada pria Kristen Arab. Dan mana ada gadis Yahudi yang mau pacaran dengan putra Hassan Yousef? Bahkan jikalau sekiranya ada gadis yang bersedia pergi keluar bersamaku, apakah yang akan kami bicarakan? Apakah aku bisa bebas membagi pengalaman hidupku? Hidup seperti apakah ini? Sebenarnya untuk siapakah aku berkorban selama ini? Palestina? Israel? Perdamaian?

Apa yang telah kucapai sebagai mata² Shin Bet? Apakah keadaan masyarakatku jadi membaik? Apakah pertumpahan darah berhenti? Apakah ayah berada di rumah bersama keluarganya? Apakah Israel lebih aman? Apakah aku telah menjadi contoh yang lebih baik bagi saudara²ku? Aku merasa aku telah mengorbankan sepertiga hidup untuk hal yang percuma, “semuanya sia-sia seperti usaha mengejar angin,” begitu kata Raja Salomo di Pengkhotbah 4:16.

Aku bahkan tidak bisa menyampaikan apa yang telah kupelajari, karena posisiku sekarang. Siapa yang akan percaya padaku?

Aku menelepon Loai. “Aku tak bisa bekerja bagimu lagi.”
“Mengapa? Apa yang terjadi?”
“Tak ada masalah. Aku mencintai kalian semua. Dan aku suka bekerja sebagai mata². Kupikir aku malah jadi ketagihan melakukan pekerjaan itu. Tapi kita tidak mencapai hasil apapun. Kita berperang dalam perang yang tidak bisa dimenangkan melalui penangkapan, interogasi, dan pembunuhan. Musuh kita sebenarnya adalah pandangan ideologi, dan ideologi tidak peduli akan serangan dan jam malam. Kita tidak bisa menghancurkan ideologi melalui tembakan Merkava. Kau bukan masalah bagi kami, dan kami pun bukan masalah bagimu. Kita semua bagaikan tikus² yang terperangkap dalam jaringan jalan yang ruwet. Aku tidak bisa lagi melakukan hal ini. Waktuku sudah selesai.”

Aku tahu ini merupakan pukulan berat bagi Shin Bet. Kami sedang berada di tengah peperangan.

“Baiklah,” kata Loai. “Aku akan menyampaikan ini pada pemimpin dan tunggu apa yang mereka katakan.”

Ketika kami bertemu lagi, dia berkata, “Inilah tawaran pemimpin kami bagimu. Israel memiliki perusahaan komunikasi yang besar. Kami akan memberimu semua uang yang kau butuhkan untuk mendirikan perusahaan serupa yang dulu kau miliki di Palestina. Ini adalah kesempatan besar dan akan membuatmu aman seumur hidupmu.”

“Kau tidak mengerti. Masalahku bukanlah masalah uang. Masalahku adalah aku tidak mencapai apapun.”
“Orang² di sini membutuhkanmu, Mosab.”
“Aku akan menemukan cara lain untuk menolong mereka, tapi aku tidak bisa menolong mereka dengan melakukan hal yang sama. Bahkan Shin Bet sendiri juga tidak tahu harus mengarah ke mana.”
“Lalu apa dong yang kau inginkan?”
“Aku ingin meninggalkan negara ini.”

Dia menyampaikan pembicaraan kami dengan atasannya. Kami bolak-balik seperti itu, sang pemimpin bersikeras aku harus tetap tinggal, sedangkan aku bersikeras ingin pergi.

“Baiklah,” kata mereka. “Kami akan memperbolehkan kau pergi ke Eropa selama beberapa bulan, mungkin barang setahun, tapi kau harus berjanji untuk kembali.”

“Aku tak mau pergi ke Eropa. Aku ingin pergi ke Amerika Serikat. Aku punya beberapa teman di sana. Mungkin aku akan kembali dalam waktu setahun, dua tahun, atau lima tahun. Aku tak tahu. Yang kutahu adalah sekarang aku butuh saat jeda.”

“Pergi ke Amerika sih susah bagimu. Di sini kau punya uang, kedudukan, dan perlindungan dari berbagai pihak. Kau telah punya reputasi terkenal, membangun perusahaan yang menguntungkan, dan hidup nyaman. Apakah kau tahu bagaimana hidupmu di AS? Kau akan jadi sangat kecil dan tak punya pengaruh apapun.”

Aku katakan pada mereka bahwa aku tak peduli andaikata sekalipun aku harus bekerja sebagai pencuci piring di sana. Dan ketika aku terus bersikeras, mereka menetapkan keputusan tegas.

“Tidak,” kata mereka. “Tidak boleh ke Amerika Serikat. Hanya boleh ke Eropa dan hanya untuk jangka waktu singkat saja. Pergilah dan nikmati hidupmu. Kami akan tetap membayar gajimu. Silakan pergi dan bersenang-senang. Nikmati waktu jedamu. Lalu kembali ke sini.”

“Baiklah,” kataku akhirnya. “Aku akan pulang. Aku tak mau melakukan apapun bagi kalian. Aku tak akan meninggalkan rumah karena aku tak mau kebetulan melihat pembom bunuh diri dan harus melaporkan hal itu pada kalian. Jangan meneleponku lagi. Aku tak bekerja lagi bagi kalian.”

Aku kembali pulang ke rumah orangtuaku dan mematikan ponselku. Aku membiarkan jenggotku tumbuh panjang dan tebal. Ibuku jadi sangat khawatir melihatku, dan dia sering menjenguk ke kamarku untuk melihat keadaanku sambil bertanya apakah semuanya baik² saja.
Dari hari ke hari, aku membaca Alkitab, mendengarkan musik, menonton TV, memikirkan semua yang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir, dan bergulat dengan rasa depresiku.
Pada akhir bulan ketiga, ibuku mengatakan aku menerima telepon dari seseorang. Aku katakan pada ibu bahwa aku tak mau bicara dengan siapapun. Tapi ibu berkata penelepon mengatakan hal ini sangat penting, dan dia adalah teman lama yang juga mengenal ayahku.
Aku turun tangga dan mengangkat gagang telepon. Ternyata dia adalah salah seorang dari Shin Bet.

“Kami ingin bertemu denganmu,” katanya. “Ini sangat penting. Kami punya kabar baik bagimu.”

Aku lalu menemui mereka dalam rapat. Karena aku tidak mau lagi bekerja bagi mereka, maka mereka pun tidak mendapatkan keuntungan apapun dari keadaan ini. Mereka menyadari bahwa aku benar² ingin berhenti bekerja bagi mereka.

“Baiklah, kami akan memperbolehkan kau pergi ke Amerika Serikat, tapi hanya untuk beberapa bulan saja, dan kau harus berjanji untuk kembali.”
“Aku tak mengerti mengapa kau bersikeras meminta sesuatu yang kau pasti tak akan dapatkan,” kataku pada mereka dengan tenang tapi tegas.

Akhirnya mereka berkata, “Baiklah, kami akan memperbolehkan kau pergi dengan dua persyaratan. Pertama, kau harus menyewa pengacara dan mengajukan surat permohonan pada kami bahwa kau ingin meninggalkan negeri ini untuk alasan kesehatan. Jika tidak begitu, maka kau akan ketahuan sebagai mata². Kedua, kau kembali ke sini.”

Shin Bet tidak pernah mengijinkan anggota² Hamas keluar perbatasan kecuali mereka membutuhkan perawatan medis yang tak tersedia di daerah Palestina. Aku sebenarnya punya masalah dengan rahang bawahku yang membuatku sukar mengatupkan gigi rapat² dan aku tak bisa mendapatkan perawatan operasi untuk masalah ini di Tepi Barat. Masalah rahang ini tidak pernah terlalu menggangguku, tapi ini merupakan alasan baik. Maka aku lalu menyewa seorang pengacara untuk melaporkan kondisi medis ke pengadilan, meminta ijin untuk pergi ke Amerika Serikat untuk menjalani operasi.

Tujuan semua ini adalah untuk menampakkan bukti administrasi yang jelas bahwa aku menjalani semua prosedur yang benar dan sulit untuk keluar dari Israel. Jika Shin Bet menyingkirkan semua kesulitan, maka tentunya ini tampak sebagai tindakan yang tak adil dan orang² akan curiga mengapa aku mendapat perlakuan istimewa dari Shin Bet. Jadi kami harus membuat semua proses ini tampak sukar dan aku harus berjuang keras untuk setiap kemajuan yang kudapatkan.

Tapi pengacara yang kusewa ternyata malah jadi masalah tersendiri. Dia rupanya tidak yakin aku bisa mendapatkan ijin keluar negeri, sehingga dia minta pembayaran di muka – dan aku lalu membayarnya – tapi setelah itu dia enak² duduk dan tidak melakukan apapun. Shin Bet juga tak menerima surat laporan diriku untuk diurus karena pengacaraku tidak mengirim apapun. Minggu demi minggu, aku terus meneleponnya dan bertanya apakah ada kemajuan dalam kasusku. Yang perlu dilakukannya hanyalah mengurus surat² saja, tapi dia tetap menunda-nunda dengan berbagai alasan. Ada masalah, katanya. Kasus ini lebih rumit. Dia minta uang berkali-kali lagi, dan aku pun membayarnya berkali-kali pula.

Semua ini terus berlangsung sampai enam bulan. Akhirnya di Tahun Baru 2007, aku menerima panggilan telepon.
“Kau sudah diperbolehkan pergi,” kata pengacaraku, yang lagaknya bagaikan telah memecahkan masalah kelaparan di seluruh dunia.

***************

“Apakah kau bisa sekali lagi bertemu dengan salah satu ketua Hamas di kamp penampungan Jalazone?” tanya Loai. “Kaulah satu²nya orang yang …”

“Aku akan meninggalkan negeri ini dalam waktu lima jam lagi.”

“Baiklah,” katanya menyerah. “Jaga dirimu baik² dan terus berhubungan dengan kami. Telepon aku begitu kau sudah melampaui perbatasan agar semua berjalan lancar.”

Aku telepon beberapa orang yang kukenal di California dan mengatakan pada mereka bahwa aku akan datang. Tentu saja mereka tidak mengira aku adalah putra ketua Hamas dan mata² bagi Shin Bet. Tapi mereka sangat senang mendengar kedatanganku. Aku mulai memasukkan beberapa buah baju ke dalam koper kecil dan turun tangga untuk memberitahu ibuku. Dia saat itu sudah berada di ranjang.

Aku berlutut di sampingnya dan menjelaskan bahwa aku akan pergi dalam waktu beberapa jam, melampaui perbatasan ke Yordania dan terbang ke Amerika Serikat. Aku bahkan tak bisa menjelaskan mengapa aku harus pergi.

Mata ibu mengatakan semuanya. Ayahmu sedang berada di penjara. Kau berperan sebagai ayah bagi saudara² laki dan perempuanmu. Apa yang akan kau lakukan di Amerika? Aku tahu ibu tidak mau melihat aku pergi, tapi di saat yang sama, ibu ingin aku hidup dengan damai. Dia berkata bahwa dia berharap aku bisa mendapatkan kehidupan yang menyenangkan di sana setelah hidup penuh bahaya di rumah. Ibu tentu tidak mengetahui bahwa aku sudah melihat begitu banyak bahaya.

“Mari kucium kau sebelum pergi,” katanya. “Bangunkan aku di pagi hari sebelum kau berangkat.”

Ibu memberkati aku, dan aku katakan padanya bahwa aku akan berangkat di waktu subuh dan dia tak perlu melihat aku pergi. Tapi dia adalah ibuku. Dia menungguiku sepanjang malam di ruang tengah kami, bersama saudara² laki dan perempuanku dan juga sahabatku Jamal.

Sewaktu aku mempersiapkan semua barang² yang akan kubawa sebelum pergi, aku hampir saja membawa serta Alkitabku – yang penuh catatan², Alkitab yang sama yang kupelajari selama bertahun-tahun, bahkan di penjara – tapi sekarang aku memiliki dorongan keras untuk memberikannya pada Jamal.

“Aku tak punya hadiah lebih mahal yang bisa kuberikan padamu sebelum aku pergi,” kataku padanya. “Inilah Alkitabku. Bacalah dan ikutilah.” Aku tahu dia akan melakukan permintaanku dan mungkin akan membacanya kapanpun dia teringat padaku. Aku membawa cukup uang untuk hidup di tempat baru untuk sementara, lalu pergi meninggalkan rumah, dan menuju ke Jembatan Allenby yang menghubungkan Israel dan Yordania.

Aku tak menemukan masalah melintasi pos pemeriksaan Israel. Aku telah membayar $35 pajak keluar dan masuk ke terminal imigrasi yang sangat luas dan dilengkapi dengan alat pendeteksi metal, mesin² X-ray, dan Ruang 13 yang terkenal menyeramkan, tempat interogasi orang² yang dicurigai. Tapi alat² ini pada umumnya digunakan bagi orang² yang mau masuk Israel dari Yordania dan bukan orang² yang meninggalkan Israel.

Terminal padat dengan berbagai orang dalam berbagai bentuk, yang mengenakan yarmulke (tutup kepala kecil bundar pria Yahudi) dan berpakaian Arab, pakai jilbab atau topi biasa, sebagian memanggul ransel dan yang lain mendorong kereta penuh kopor. Akhirnya, aku naik ke bus JETT – satu² alat transportasi publik yang diperbolehkan melintasi jembatan.

Baiklah, pikirku, sudah hampir sampai nih.

Tapi aku masih saja gelisah. Shin Bet biasanya tidak mengijinkan orang seperti aku meninggalkan Israel. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan Loai sendiri heran bagaimana aku bisa mendapatkan ijin pergi.

Ketika aku tiba di daerah Yordania, aku menunjukkan passportku. Aku khawatir karena meskipun aku dapat ijin tinggal selama tiga tahun di AS, passportku hampir kadaluwarsa dalam waktu kurang dari tiga puluh hari.

Aduh, tolong dong, aku berdoa, perbolehkan aku masuk Yordania meskipun sehari saja. Hanya itu yang kuinginkan.

Tapi sebenarnya aku tak perlu khawatir. Tiada masalah apapun. Aku naik taxi ke Amman dan membeli tiket pesawat terbang Air France. Aku tinggal di hotel selama beberapa jam, lalu menuju Queen Alia International Airport di Yordania dan masuk ke pesawat terbang yang menuju California melalui Paris.

Sewaktu aku duduk di pesawat, aku merenungkan apa yang kutinggalkan di belakang, semua hal yang baik dan buruk – keluarga dan teman²ku dan juga pertumpahan darah, kesia-siaan, dan kegagalan yang tak ada habisnya.
Aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan kemerdekaanku yang baru. Aku merdeka untuk menjadi diriku sendiri, merdeka dari pertemuan² rahasia dan penjara² Israel, merdeka dari sikap curiga ada yang mengetahui posisiku.
Sungguh hal ini terasa aneh dan juga sangat menyenangkan.

***************

Suatu hari sewaktu aku sedang berjalan di trotoar di California, aku melihat wajah yang kukenal berjalan ke arahku. Itu adalah wajah Maher Odeh, otak dari begitu banyak serangan bom bunuh diri – aku melihat orang ini di tahun 2000 ketika dikunjungi tukang pukul Arafat. Aku dulu mengungkapkan pada Shin Bet bahwa dia dan teman²nya adalah pendiri Brigade Syahid Al-Aqsa.

Awalnya aku tak yakin bahwa orang itu adalah Odeh. Orang² memang bisa tampak berbeda di lingkungan yang amat berbeda. Aku harap aku salah. Hamas tidak berani melakukan serangan bom bunuh diri di AS. Akan jelek akibatnya bagi AS jika Odeh berada di California. Tentunya hal itu juga akan berdampak jelek bagiku.

Mata kami bertemu dan saling tatap selama sedetik. Aku sangat yakin melihat percikan sinar matanya yang menandakan dia mengenaliku sebelum dia terus berjalan melewatiku.

Bagian Akhir

Di bulan Juli 2008, aku duduk di sebuah restoran dan menikmati makan malam bersama dengan teman baikku Avi Issacharoff, wartawan dari koran Israel Haaretz. Aku sampaikan padanya kisah hidupku menjadi orang Kristen karena aku ingin berita ini datang dari Israel dan bukan dari Barat. Kisahku ini lalu muncul di korannya, dengan judul artikel Anak yang Hilang.”

Seperti umumnya kasus Muslim murtad dan lalu mengikuti Yeshua, pengumumanku pindah agama juga menghancurkan hati ibu, ayah, saudara² laki dan perempuanku dan teman²ku.

Temanku Jamal adalah satu dari sedikit orang yang berdiri bersama keluargaku dalam menghadapi rasa malu, dan dia pun ikut menangis bersamanya. Jamal sangat kesepian setelah aku pergi, tapi untungnya dia bertemu dengan seorang gadis jelita. Mereka lalu bertunangan dan menikah dua minggu setelah artikel Haaretz muncul.

Sewaktu menghadiri pernikahannya, keluargaku tak mampu membendung air mata karena pernikahan Jamal mengingatkan mereka akan diriku, bagaimana aku telah menghancurkan masa depanku, dan bagaimana aku tidak akan pernah menikah dengan Muslimah dan punya keluarga Muslim. Melihat kesedihan mereka, maka pengantin pria pun juga mulai menangis. Tamu² lainnya ikut menangis pula, tapi aku yakin karena alasan yang berbeda.

“Tidak dapatkah kau menunggu mengeluarkan pengumuman sampai dua minggu setelah aku menikah?” tanya Jamal di telepon kemudian. “Kau membuat saat terbahagia dalam hidupku jadi hancur berantakan.”
Aku merasa sangat sedih. Tapi setelah itu, Jamal tetap menjadi sahabatku yang terbaik.
Ayah menerima laporan murtadku di penjara. Dia bangun tidur dan mengetahui bahwa putra sulungnya sudah beralih iman dan memeluk Kristen. Dari sudut pandangnya, aku telah menghancurkan masa depanku dan juga masa depan keluarganya. Dia yakin bahwa suatu hari aku akan dibawa ke neraka di hadapannya, dan kami tak akan berhubungan lagi untuk selamanya.
Ayah menangis bagaikan bayi dan tidak mau meninggalkan sel penjaranya.
Para tawanan dari berbagai organisasi mengunjunginya. “Kami semua putra²mu, Abu Mosab,” hibur mereka padanya. “Mohon tenangkan dirimu.”

Ayah tak percaya keterangan dari koran. Tapi seminggu kemudian, adik perempuanku yang berusia tujuh belas tahun, Anhar, yang merupakan satu²nya anggota keluarga yang boleh menjenguk ayah, datang menemui ayah. Seketika ayah dapat melihat dari mata Anhar bahwa berita koran itu memang benar. Ayah tak dapat lagi menguasai diri. Tawanan² lain meninggalkan sanak keluarga mereka yang menjenguk untuk datang dan mencium kepala ayah dan menangis bersamanya. Ayah mencoba bernapas tenang untuk meminta maaf pada mereka, tapi dia bahkan menangis lebih keras lagi. Bahkan para penjaga Israel, yang menghormatinya, juga ikut menangis.

Aku mengirim surat sepanjang enam halaman pada ayah. Aku katakan padanya bahwa sangat penting bagiku untuk menemukan sifat asli Elohim yang selalu dicintainya, tapi tidak dikenalnya.

Paman²ku dengan gelisah menunggu ayah memutuskan hubungan keluarga denganku. Tapi ayah menolak melakukan itu, dan para pamanku memalingkan punggung mereka terhadap istrinya dan anak²nya. Tapi ayah tahu bahwa jika dia memutuskan hubungan denganku, para teroris Hamas akan membunuhku. Dan dia terus berusaha melindungiku, tidak peduli betapa dalamnya sakit hati yang ditanggungnya.

Delapan minggu kemudian, orang² dari penjara Ktzi’ot di Negev mengancam mengadakan kekacauan. Maka Shabas, Pasukan Keamanan Penjara Israel, meminta ayah untuk menenangkan keadaan.
Aku dan ibu selalu berbicara lewat telepon seminggu sekali setelah aku datang di Amerika. Suatu hari, ibu meneleponku.
“Ayahmu sedang berada di Negev. Beberapa tawanan berhasil menyelundupkan ponsel. Apakah kau bersedia bicara dengannya?”
Aku tak bisa percaya akan tawaran ini. Kupikir aku tak akan bisa bicara dengan ayahku sampai dia dikeluarkan dari penjara.
Aku memencet nomer telepon ayah. Tiada jawaban. Kucoba menelepon lagi.
“Alo!”
Suara ayah. Aku hampir tak bisa berbicara.
“Hai, ayah.”
“Hai juga.”
“Aku rindu suaramu.”
“Bagaimana keadaanmu?”
“Baik² saja. Tak penting tentang keadaanku. Apa kabarmu?”
“Aku baik² saja. Kami datang ke sini untuk bicara dengan para tawanan dan mencoba menenangkan suasana.”

Ayah ternyata masih sama seperti dulu. Minatnya yang paling utama selalu adalah kepentingan orang lain. Dia akan terus begitu.
“Bagaimana hidupmu di AS sekarang ini?”
“Hidupku menyenangkan. Aku sedang menulis sebuah buku …”

Setiap tawanan diberi waktu bicara selama sepuluh menit, dan ayah tidak pernah menggunakan jabatannya untuk mendapat perkecualian. Aku ingin bicara tentang hidupku yang baru padanya, tapi dia tidak mau bicara tentang hal itu.
“Apapun yang terjadi,” katanya padaku, “kau tetap adalah putraku. Kau adalah bagian dari diriku, dan tiada yang berubah. Kau punya pendapat yang berbeda, tapi kau masih putraku.”
Aku sangat terkejut. Orang ini sungguh luar biasa.

Aku meneleponnya lagi keesokan harinya. Hatinya terasa sakit, tapi dia bersedia mendengarkan.

“Aku punya rahasia yang ingin kusampaikan padamu,” kataku. “Aku ingin memberitahu sekarang juga, agar kau tidak mendengarnya dari media berita.”

Aku menjelaskan bahwa aku telah bekerja bagi Shin Bet selama sepuluh tahun. Bahwasanya dia masih hidup hari ini adalah karena aku setuju agar dia ditempatkan di dalam penjara sebagai perlindungan baginya. Namanya tercantum di dalam daftar bunuh urutan yang teratas – dan dia sekarang berada di penjara karena aku tidak lagi bisa melindunginya.
Diam. Ayah tak berkata apapun.
“Aku mencintaimu,” kataku akhirnya. “Kau adalah ayahku senantiasa.”

Catatan Tambahan

Harapan terbesarku dalam menyampaikan kisah hidupku adalah agar aku bisa menunjukkan pada masyarakatku – orang² Palestina adalah umat Islam yang dimanfaatkan oleh rezim² korup selama ratusan tahun – bahwa kebenaran bisa memerdekakan mereka.

Melalui kisahku ini, aku harap masyarakat Israel juga mengetahui bahwa ada harapan. Jika aku, putra organisasi teroris yang berjuang bagi kepunahan Israel, dapat mencapai titik dimana aku tidak hanya belajar mencintai masyarakat Yahudi tapi bahkan juga mempertaruhkan nyawa bagi mereka, maka tentunya ada sinar harapan.

Kisahku juga mengandung pesan bagi orang² Kristen. Kita harus belajar dari penderitaan masyarakatku, yang menanggung beban berat dalam usaha menyenangkan elohim mereka. Kita harus melangkah lebih jauh daripada sekedar mengetahui aturan² agama sendiri. Sebaliknya, kita harus menerapkan ajaran itu dengan mengasihi umat manusia – dari segala penjuru dunia – tanpa syarat. Jika kita ingin menunjukkan Yeshua pada dunia, maka kita pun harus hidup sesuai dengan pesanNya. Jika kita ingin mengikuti Yeshua, kita pun harus bersiap-siap untuk ditindas. Kita harus bersyukur karena ditindas demi diriNya.

Untuk para ahli masalah Timur Tengah, para pejabat Pemerintahan², dan para pemimpin agen² rahasia, aku harap kisahku yang sederhana ini bisa memberi sumbangan untuk mengerti masalah dan solusi di daerah² yang paling banyak berperang di dunia.

Aku sampaikan kisahku dengan kesadaran bahwa banyak orang, termasuk mereka yang paling kucintai, tidak akan pernah bisa menerima motivasi dan cara pikirku.

Sebagian orang akan menuduhku bahwa aku menjadi mata² Israel karena alasan uang. Ironisnya adalah aku dulu tidak punya masalah keuangan, tapi sekarang aku benar² hidup kekurangan. Memang benar bahwa dulu keluargaku hidup sengsara, terutama saat ayah dipenjara, tapi akhirnya aku di Palestina bisa menjadi pemuda yang beruang. Dengan gaji dari Pemerintah Israel, aku dulu berpendapatan sepuluh kali lebih banyak daripada pendapatan rata² masyarakatku. Aku dulu hidup senang, punya dua rumah, dan punya mobil sport baru. Bahkan sebenarnya aku bisa mendapat uang lebih banyak lagi.

Ketika aku memberitahu pihak Israel bahwa aku tak mau lagi bekerja bagi mereka, mereka menawarkan untuk memberi modal membangun perusahaan komunikasi yang memungkinkan aku memperoleh jutaan dollar jika aku bersedia tinggal di Israel. Tapi aku menolak tawaran mereka dan datang ke Amerika Serikat, di mana sampai sekarang aku tidak bisa mendapatkan pekerjaan penuh dan tidak memiliki tempat tinggal. Memang aku berharap suatu hari nanti aku tidak kesulitan keuangan lagi, tapi aku telah belajar bahwa uang saja tidak akan pernah bisa membahagiakan diriku. Jika uang adalah tujuan utamaku, tentunya aku sekarang tetap akan tinggal di Palestina dan tetap bekerja bagi Israel. Sejak datang ke AS, aku bisa saja menerima sumbangan dari orang² di sekitarku. Tapi itu tak kulakukan, karena uang memang bukanlah prioritas utama bagiku – dan juga aku tak mau memberi kesan bahwa uanglah yang mendorongku berbuat sesuatu.

Sebagian orang mengira aku suka mendapatkan perhatian, tapi aku telah mendapatkan itu pula di tempat tinggalku dulu.

Yang sukar tergantikan adalah kekuasaan dan otoritas yang dulu kunikmati sebagai putra ketua senior Hamas. Setelah mencicipi kekuasaan, aku tahu bahwa itu bisa membuat orang ketagihan – jauh lebih kuat daripada uang. Aku menikmati kekuasaanku dalam hidupku yang dulu, tapi jika kau ketagihan sesuatu, misalnya kekuasaan, maka kau sendiri akan terbelenggu olehnya.

Kemerdekaan, rindu akan kemerdekaan, adalah pesan utama sebenarnya dari kisahku.
Aku adalah putra dari masyarakat yang telah diperbudak oleh sistem² korup selama berabad-abad.
Aku adalah tawanan pihak Israel saat mataku terbuka dan melihat fakta bahwa orang² Palestina sebenarnya ditindas oleh para pemimpin mereka sendiri, selain juga oleh Israel.
Aku dulu adalah pengikut setia agama yang mewajibkan ketaatan penuh untuk melakukan ibadah berat guna menyenangkan elohim Qur’an, dan agar bisa masuk surga.
Aku dulu punya uang, kekuasaan, dan kedudukan, tapi yang benar² kuinginkan adalah kemerdekaan. Dan kemerdekaan ini juga berarti meninggalkan segala kebencian, kecurigaan, dan keinginan balas dendam.

Pesan Yeshua – Kasihi musuhmu – inilah yang akhirnya memerdekakan diriku. Sudah tidak jadi masalah siapakah temanku atau musuhku; aku wajib mengasihi mereka semua. Dan aku juga bisa memiliki hubungan penuh kasih dengan Elohim yang akan menolongku mengasihi orang lain.

Memiliki hubungan seperti itu dengan Elohim bukan hanya merupakan sumber kemerdekaanku, tapi juga kunci untuk menjalani hidupku yang baru.

***************

Setelah membaca buku ini, mohon jangan mengira bahwa aku adalah pengikut Yeshua yang hebat. Aku masih berjuang sampai sekarang. Semua pengetahuanku yang sedikit tentang imanku kudapat dari belajar dan membaca Alkitab. Dengan kata lain, aku adalah pengikut Yeshua Ha Mashiah tapi aku baru mulai saja menjadi muridNya.

Aku lahir dan dibesarkan di lingkungan relijius yang menetapkan bahwa keselamatan hanya bisa dicapai melalui kerja keras. Aku harus berjuang keras menyingkirkan pandangan ini untuk menerima kebenaran:

Efesus 4:22-24: yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Elohim di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

Sama seperti banyak pengikut Yeshua lainnya, aku telah meminta ampun atas dosa²ku, dan aku tahu bahwa Yeshua adalah Anak Elohim yang telah jadi manusia, mati bagi dosa² kita, bangkit dari kematian, dan duduk di sebelah kanan Bapak. Aku telah dibaptis. Meskipun demikian aku merasa baru saja berada di pintu gerbang Kerajaan Elohim. Aku diberitahu bahwa akan jauh lebih banyak lagi daripada ini. Tentunya aku ingin mengalami semuanya itu.

Di saat ini, aku masih berjuang melawan nafsu duniawi, nafsu daging dan setan. Aku masih sering salah mengerti dan bingung. Aku kadang² bergumul dengan permasalahan yang sebenarnya tak nampak. Tapi aku berharap, sama seperti Rasul Paulus menjabarkan dirinya pada Timotius sebagai “orang yang paling berdosa” (1 Timotius 1:16), bahwa aku bisa menjadi orang yang dibentuk Elohim, selama aku tidak menyerah.

Maka jika bertemu aku di jalanan, mohon jangan minta nasehat atau jawaban tentang arti ayat Alkitab tertentu, karena kemungkinan besar kau jauh lebih berpengetahuan daripada aku. Jangan melihat diriku sebagai piala kemenangan agama Kristen, tapi berdoalah bagiku agar aku bisa terus tumbuh dalam iman dan tidak menginjak banyak jari kaki orang lain sewaktu aku belajar menari bersama Sang Pengantin.

***************

Selama kita mencari musuh di luar dan tidak di dalam diri kita sendiri, maka masalah Timur Tengah akan terus terjadi.

Agama bukanlah solusi masalah Timur Tengah. Agama tanpa Yeshua hanyalah keyakinan membenarkan diri sendiri saja. Merdeka dari penindasan juga tidak akan mampu memecahkan permasalahan. Setelah merdeka dari penindasan di Eropa, Israel malah jadi penindas orang lain pula. Jikalau nantinya telah merdeka dari penindasan, umat Muslim akan menjadi penindas orang lain pula. Anak² yang ditindas kelak akan tumbuh besar menjadi orang² yang suka menindas orang lain juga. Hal ini merupakan hal yang klise tapi benar: orang² yang disakiti, jika belum disembuhkan, maka nantinya akan menyakiti orang lain pula.

Karena dimanipulasi dusta dan didorong sikap rasis, kebencian, dan nafsu balas dendam, aku dulu pun menuju jalan yang akan membuatku jadi serupa dengan masyarakatku. Tapi di tahun 1999, aku bertemu dengan Elohim yang sejati. Dia adalah Bapak yang kasihNya melebihi apapun, yang rela mengorbankan PutraNya yang tunggal untuk mati di kayu salib demi menebus dosa dunia. Dia adalah Elohim, yang tiga hari kemudian menunjukkan kekuasaan dan kemulianNya dengan membangkitkan Yeshua dari kematian. Dia adalah Elohim yang tidak hanya memerintahkan diriku untuk mencintai dan mengampuni musuh²ku sama seperti Dia pun telah mencintai dan mengampuniku, tapi menguatkanku pula.

Kebenaran dan pengampunan merupakan satu²nya jalan keluar bagi Timur Tengah. Tantangannya, terutama bagi masyarakat Israel dan Palestina, bukanlah untuk mencari solusi. Tantangannya adalah untuk jadi pihak pertama yang berani untuk melakukannya.

[ Yeshua Ha Mashiah berkata: Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu.

Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.

Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.”  (Injil Yohanes 10:11-18)]

Waktu Kejadian
1923 – Akhir Kekalifahan Ottoman
1928 – Hassan al-Banna mendirikan Masyarakat Persaudaraan Muslim (Society of Muslim Brothers)
1935 – Persaudaraan Muslim (Muslim Brotherhood) didirikan di Palestina
1948 – Persaudaraan Muslim melakuan perlawanan penuh kekerasan terhadap Pemerintah Mesir; Israel memproklamirkan kedaulatannya; Mesir, Lebanon, Syria, Yordania, dan Iraq menyerang Israel.
1949 – Hassan al-Banna dibunuh; kamp penampungan Al-Amari didirikan di Tepi Barat
1964 – Palestine Liberation Organization (PLO) dibentuk
1967 – Perang Enam Hari
1968 – Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP) membajak pesawat El Al 707 dan menerbangkannya ke Aljeria; tiada korban jiwa
1970 – September Hitam, dimana ribuan pejuang PLO dibunuh oleh tentara Yordania, sewaktu Yordania mengusir PLO keluar dari wilayahnya
1972 – Sebelas atlet Israel dibunuh oleh Black September di Olimpiade Munich
1973 – Perang Yom Kippur
1977 – Hassan Yousef menikahi Sabha Abu Salem
1978 – Mosab Hassan Yousef lahir; tiga puluh delapan orang terbunuh sewaktu Fatah menyerang jalan raya pantai Israel di bagian utara Tel Aviv
1979 – Palestinian Islamic Jihad dibentuk
1982 – Israel menyerang Lebanon dan mengusir keluar PLO
1985 – Hasan Yousef dan keluarganya pindah ke Al-Bireh
1986 – Hamas didirikan di Hebron
1987 – Hassan Yousef mendapat pekerjaan kedua, mengajar agama Islam bagi murid Muslim di sekolah Kristen di Ramallah; Intifada Pertama dimulai
1989 – Penangkapan Hassan Yousef yang pertama kali; Amer Abu Sarhan dari Hamas membunuh tiga warga Israel
1990 – Saddam Hussein menyerang Kuwait
1992 – Keluarga Mosab pindah ke Betunia; Hassan Yousef ditangkap; teroris² Hamas menculik dan membunuh polisi Israel Nissim Toledano; para pemimpin Palestina dideportasi ke Lebanon
1993 – Perjanjian Oslo
1994 – Baruch Goldstein membunuh dua puluh sembilan warga Palestina di Hebron; penyerangan pertama bom bunuh diri; Yasser Arafat kembali dengan gemilang ke Gaza untuk mendirikan pusat pemerintahan Palestinian Authority (PA)
1995 – Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin dibunuh; Hassan Yousef ditangkap oleh PA; Mosab membeli senjata² gelap yang ternyata rusak
1996 – Pembuat bom Hamas Yahya Ayyash dibunuh; Mosab ditangkap dan dipenjara untuk pertama kali
1997 – Mosab dibebaskan dari penjara; Mossad gagal membunuh Khalid Meshaal
1999 – Mosab ikut kegiatan Belajar Alkitab
2000 – Pertemuan Camp David; Intifada Kedua (juga dikenal sebagai Intifada Al-Aqsa) dimulai
2001 – Bom bunuh diri di Bukit Perancis; bom bunuh diri di diskotik Dolphinarium dan toko pizza Sbarro; sekretaris jendral PFLP yakni Abu Ali Mustafa dibunuh oleh Israel; Menteri Turisme Israel yakni Rehavam Ze’evi dibunuh oleh penembak² PFLP
2002 – Israel melakukan Operasi Perisai Pertahanan (Operation Defense Shield); sembilan orang terbunuh dalam bom bunuh diri Universitas Ibrani; Mosab dan ayahnya ditangkap dan dipenjara
2003 – Tentara sekutu Barat membebaskan Iraq; teroris² Hamas Saleh Talahme, Hasaneen Rummanah, dan Sayyed al-Syeikh Qassem dibunuh oleh Israel
2004 – Yaser Arafat mati; Hassan Yousef dibebaskan dari penjara
2005 – Mosab dibaptis; gencatan senjata antara Hamas dan Israel berakhir; penangkapan dan penjara ketiga bagi Mosab; Mosab dibebaskan dari penjara
2006 – Ismail Haniyeh terpilih jadi Perdana Menteri Palestina
2007 – Mosab meninggalkan wilayah Palestina untuk pergi ke Amerika Serikat.

TAMAT

Son of Hamas:  Bab 1-4 ; Bab 5-8 Bab 9-12 ; Bab 13-16 ; Bab 17-20 ; Bab 21-24

Dapat di baca juga di:

SCRIBD PDF:
FFI Son of Hamas

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s