Empat Kesalahan Fatal Pemimpin Yang Meruntuhkan Gereja

Diterjemahkan dari Four Fatal Flows That Ruin Ministries, karya tulis J. Lee Grady (25 September 2013). Illustrasi gambar ditambahkan.

Tambang yang teruraiGerakan kita mulai terurai beberapa tahun lalu karena kesalahan kepemimpinan. Kita tidak akan sembuh sebelum kita membersihkan tindakan kami.
Saya menghabiskan banyak waktu berinvestasi pada para pemimpin muda – dan saya terus-menerus mendorong mereka untuk belajar dari kesalahan-kesalahan yang telah kita buat pada gerakan Elohim sebelumnya. Saya menghargai hal-hal positif yang Roh Kudus lakukan selama gerakan karismatik, namun kita telah membuat hal-hal itu menjadi berantakan karena kita tidak memimpin dengan integritas.
Rasul Paulus memberi kami kursus kilat dalam kepemimpinan di suratnya yang kedua kepada Jemaat di Korintus. Sementara mempelajari suratan Paulus tersebut baru-baru ini, saya mengidentifikasi empat kesalahan terbesar yang kita dibuat selama kebangkitan karismatik. Saya berdoa kita telah belajar pelajaran kita sehingga kita dapat menghindari kelemahan-kelemahan tersebut di waktu-waktu berikutnya.
1. Charlatanism (kepalsuan, kepura-puraan). Kita, para Karismatik telah kehilangan kredibilitas kita 30 tahun terakhir yang lalu oleh karena beberapa pengkhotbah serakah tertentu yang memanipulasi para pendengar mereka untuk megisi kantong-kantong mereka sendiri. Sama seperti sedikit ragi menyebar ke seluruh gumpalan adonan, para penipu tersebut telah meruntuhkan kredibilitas (Kristianiti) itu bagi kita semua.
Rasul Paulus mengatakan kepada Jemaat Korintus, “Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Elohim (naskah asli: “For we are not like many, peddling the Word of God,” NASB). Kata Yunani untuk mencari keuntungan (peddling), kapeleuo, berarti “membuat uang melalui menjual; korupsi; mendapatkan keuntungan melalui mengajar kebenaran ilahi.” Berapa banyak pengkhotbah karismatik terkenal memulai dengan baik namun berakhir sebagai para pencari keuntungan yang menyedihkan, mengemis untuk dolar-dolar demi membayar mobil-mobil mewah dan rumah-rumah yang merPemimpin rohani yang sombongeka merasa mereka harus membuktikan pentingnya mereka?
2. Entitlement (penyalah gunaan hak jabatan). Paulus terus-menerus mengingatkan Jemaat Korintus bahwa ia adalah seorang pelayan: “Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yeshua Ha Mashiah sebagai Adonai (Tuhan), dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yeshya. (2 Korintus 4:5).
Sikap kehambaan adalah persyaratan paling mendasar bagi setiap pemimpin. Namun dalam gerakan kita, kita telah mengagungkan sikap berlawanan dengan cara memperbolehkan para pemimpin dengan ego-ego yang keluar dari kontrol untuk menuntut pelayanan yang khusus.
Saya tahu satu penbicara konferensi yang secara rutin mengirim 23-halaman daftar persyaratan kepada Jemaat-jemaat (Gereja-gereja lokal) yang meninginkan dia berbicara! Di masa lalu, beberapa pengkhotbah karismatik menuntut uang belanja (dalam tambahan honorarium / upah mereka) dan akomodasi-akomodasi mewah; lainnya bersikeras bahwa mereka tidak dapat bepergian tanpa “pembawa armor” mereka — yang pada dasarnya hanyalah rekan yang membawa koper pengkhotbah, saputangan dan botol air untuk membuat dia terlihat penting.
Berita hangat! Paulus tidak memiliki pembawa perlengkapan perangnya, dan ia akanlah menegur pelayan Adonai apapun yang berkeras untuk bertindak seperti seekor kucing gendut.
3. Arrogance (kesombongan). Rasul Paulus telah memodelkan kerja sama tim (teamwork). Ketika dia pergi ke Korintus, Tesalonika atau Krete, itu bukanlah the Paul Show. Dia bepergian dengan Lukas, Silas, Timotius, dan banyak orang lain – [dengan biaya sendiri-sendiri dan atau saling mencukupi; praktek ini masih tetap berjalan di dalam dunia misi sampai hari ini]. Dia mengatakan kepada Jemaat Korintus, “Titus adalah temanku yang bekerja bersama-sama dengan aku untuk kamu; saudara-saudara kami yang lain itu adalah utusan jemaat-jemaat dan suatu kemuliaan bagi Mashiah. (2 Korintus 8:23) — dan Paulus menasihati Jemaat tersebut untuk memandang Titus dengan hormat yang sama sebagaimana mereka telah memandang dirinya.
Namun dalam gerakan kita, kita menempatkan manusia pada posisi mulia dan di bawah lampu-lampu sorot. Kita telah menciptakan sebuah budaya penyembahan pengkotbah. Pemimpin-pemimpin mulai menggunakan titel-titel. Kemudian datang limousines (mobil-mobil mewah) dan kapal-kapal jet pribadi. Beberapa pembicara berprofil tinggi bahkan telah pergi lebih jauh lagi, mempromosikan penggunaan bodyguards (pengawal keamanan). Dan saya tahu setidaknya satu pengkotbah yang menuntut gereja untuk menerbangkan daging sapi khusus ke hotelnya sehingga dia bisa memiliki steak ia tuntut. Kesombongan merubah hamba-hamba Elohim menjadi monter-monster.
4. Profesionalisme (kekuatan otak manusia semata). Seseorang telah mendapat ‘ide yang cemerlang’ beberapa tahun yang lalu bahwa gereja-gereja haruslah dikelola seperti (badan) bisnis. Sehingga para pendeta tersebut menjadi para CEO (Chief Operating Officer/ Managing Director) , dan pelayanan diletakkan di sektor perakitan. Para anggota jemaat berubah menjadi franchises (para penghasil keuntungan) yang bersaing satu sama lain untuk melihat siapa yang bisa menawarkan musik terindah, khotbah-khotbah yang paling menggembirakan dan bar-bar kopi terbaik. Tapi sesuatu yang lucu telah terjadi dalam perjalanan ke megachurch (gereja besar): kita kehilangan sentuhan yang bersifat hubungan.
Saya tidak menentang gereja-gereja besar, musik keren atau bar-bar kopi. Tetapi ketakutan saya adalah bahwa para pemimpin hari-hari ini mungkin beranggapan bahwa mereka dapat membeli sukses dengan menyalin gaya pendeta-pendeta bintang-rock paling populer di bulan ini. Saya tidak peduli jika Anda memiliki lampu-lampu strobo, mesin-mesin kabut, killer musicians dan khotbah di rumah setiap minggu. Jika orang-orang tidak melihat keseriusan yang benar di mimbar dan mengalamai perawatan pastoral yang nyata, maka mereka tidak pernah tumbuh menjadi murid-murid. Pemimpin-pemimpin profesional yang dangkal menghasilkan Kristianiti yang dangkal.
Para pemimpin harus ada nyata. Pelayanan kita harus mengalir keluar dari gairah kasih bagi Elohim dan kasih yang sejati bagi orang-orang. Rasul Paulus tidak pernah memakai topeng. Ia adalah pribadi yang dapat terjamah dan kasih sayang. Dia tidak pernah pergi melalui gerakan-gerakan. Dia telah mati-matian. Ia telah tahu bahwa ia bukan apa-apa diluar dari Yeshua. Dia mengatakan kepada Jemaat Korintus, “Tetapi jawab Adonai kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Mashiah turun menaungi aku.” (2 Kor. 12:9).
Paulus mengatakan kepada Jemaat Korintus dia hati-hati untuk tidak menjadi sandungan dalam setiap area “supaya pelayanan kami jangan sampai dicela” (2 Kor. 6:3). Saya berharap kita telah berhati-hati untuk menjaga apa yang Elohim telah beri kita di kebangkitan karismatik tersebut. Kesalahan-kesalahan kita telah mendukakan Roh Kudus. Mari kita buang kepalsuan untuk keuangan yang jujur; jabatan untuk sikap hamba; syndrom kemewahan untuk kerja sama; dan profesionalisme untuk keaslian yang terjamah. Mari kita menjadi pemimpin yang bertindak seperti Yeshua.

Catatan: J. Lee Grady adalah bekas editor dari majalah Charisma dan director dari Mordecai Project (themordecaiproject.org). Ia penulis buku The Holy Spirit is Not for Sale dan buku-buku lainnya.

Komentar dari penterjemah:Banyak pemimpin Gereja lupa diri bahwa mereka hanyalah pelayan-pelayan Elohim bagi umat-Nya. Pemilik dan Pembangun Gereja satu-satunya adalah Adonai Yeshua Ha Mashiah. Lihat ayat-ayat di bawah ini:

  • Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus (petros; Strong, G4074) dan di atas batu karang (petra; Strong, G4073) ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. (Matius 16:18)
  • Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki ha Mashiah dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu. (Efesus 1:22-23)
  • Ia (Yeshua) lah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Mashiah (Kolose 1:18-20)
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh  penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s