Mohamed Alim Mursalin: Sekarang saya mendapat jaminan keselamatan – dalam Yeshua Ha Mashiah!

Video kesaksian Muhamed Alim Mursalim, ex-Muslim yang menjadi Pendeta di Guyana: TESTIMONIES OF POWER TO CHANGE GUYANA, LIFE STORY 21

Kesaksian tertulis di bawah ini diambil dari buku Experince the Power to Change, Mohamed Alim Mursalin, pastor, New York. Diterjemahkan seijin penerbit.Kesaksian Mohamed Alim  Mursalin menjadi Kristen

Saya berasal dari sebuah keluarga Muslim. Ayahku seorang pemabuk, penzinah, penyiksa istri dan tidak pernah perduli dengan pekerjaan. Bagaimanapun dia adalah seorang yang sangat keras dan memastikan bahwa kami menghadiri sekolah dan Madrasa (sekolah untuk pelatihan agama Islam) setiap hari.
Pemikiran untuk mengikuti Yeshua dan lebih lagi, ada sebagai seorang pendeta, tidak pernah sedikit pun muncul kepada ku pada masa mudaku.


Kami hidup dalam debu kemiskinan, dan sejauh saya bisa mengingat, kami tidak pernah cukup untuk berpakaian dan makanan. Saya sering kuatir apakah jadinya kelak masa depanku dan saudara-saudariku (kemudian, itu menjadi 10 saudara laki-laki dan 4 saudari perempuan dari tiga ibu, itu yang kami tahu).
Saya merasa sangat ketakutan, tidak aman, dan malu dengan kondisiku dalam kehidupan. Hal yang membuat saya sangat tertekan dan membawa begitu banyak malu dan kesakitan emosi adalah kenyataan bahwa pada suatu waktu ayahku memiliki dua istri hidup di dalam rumah bocor yang sama.

Meskipun Islam mengijinkan gayahidup tersebut (poligamy), secara praktek itu tidak pernah diterima dalam budaya kami. Meskipun para Muslim wanita, keluar dari kehendaknya sendiri, menolak praktek tersebut. Saya mengenali rasa malu dan perendahan diri yang ibuku telah alami selama periode tersebut. Para pria di komunitas Muslim tidak pernah menopang ibuku, sebagaimana mereka telah merasa bahwa praktek tersebut adalah diijinkan dalam Islam dan sehingga kami terus menerus menderita di dalam tutup mulut. Anehnya dan ironisnya, seharusnya membenci para Muslim dan Islam, saya temukan diri saya sendiri terbawa semakin dekat kepadanya. Bahkan ibuku mendorong kami untuk pergi ke mesjid setempat.
Jadi saya telah memulai suatu perjalanan ke dalam Islam sejak dari usia yang sangat muda. Saya berdoa lima kali sehari, berpuasa selam bulan Ramadan, menghafal Kuran (semuanya 114 surah / pasal) dan mempraktekkan setiap aspek agamaku. Bagaimana pun, sebelum berkepanjangan, saya tertekan oleh rasa ketakutan dan ketidak amanan berkaitan dengan tujuan kekekalan diriku. Saya tidak memiliki jaminan keselamatan dan sebuah tempat dengan Elohim. [Nabi Muhammad sendiri bersumpah di depan pengikutnya bahwa ia tidak memiliki jaminan kekal: ”Demi Allah, meskipun aku adalah rasul Allah, namun aku tidak tahu apa yang Allah akan lakukan pada ku.”, Hadis Sahih al-Bukhari, vol 5, buku 58,nomor 266]


Ketakutan ini muncul kepermukaan pada suatu malam ketika saya mendengar berita Injil untuk pertama kalinya. Saya melangkah masuk ke sebuah bangunan Gereja Kristen pada perjanan ku pulang dari Mesjid. Pesan itu begitu sederhana, tetapi menguncangkan: Persiapkan dirimu untuk bertemu dgn Elohim!.” Saat itulah untuk pertama kalinya saya sadari, meskipun semua keterlibatan ku dalam praktek Islam, saya tidak siap untuk beremu dengan Elohim. Saya sadari dengan segera jika seandainya saya meninggal malam itu, saya pastilah tidak masuk ke Sorga.
Saya sadari bahwa saya memerlukan sesuatu yang lebih dari praktek ritual keagamaan. Keluar dari keperluan yang mendalam tersebut saya telah membuat keputusan untuk menyetujui panggilan menerima Yeshua sebagai Adonai/ Tuhan dan Juruselamat. Pada saat itu, suatu pikiran muncul pada ku – ”bagaimana jika kamu pada akhirnya tiba pada tempat yang sama dalam agama baru ini?” Tetapi tarikan tersebut terlampau kuat, seperti layaknya seorang memimpin diriku dan saya mengalir terapung di udara. Pada altar gedung Gereja tersebut, dengan berpakaian Islam yang lengkap, dengan mataku yang tertutup rapat, seorang pria yang saya kenal sebagai Yeshua datang kepada ku dalam sebuah penglihatan lalu berkata, ”Akulah Jalan, ikutilah Aku” (I am the way, follow me). Segera pada saat itu juga, saya merasakan suatu aliran kasih dan damai mengisi kehidupan ku, semua tali-tali ketakutan ku dan ketidakamanan (yang membelit) sekarang telah lenyap dan kehidupanku dan masa depanku telah mengambil bentuk yang berbeda.
Muslim komunitas telah bereaksi dengan keras atas ayahku. Ayahku dan saudara tertua memutuskan untuk memberi saya enam bulan untuk kembali ke Islam. Saya tidak pernah kembali. Adonai telah memberikan semuanya yang saya perlukan untuk melayani Dia dengan setia.
Sekarang saya telah memiliki jaminan keselamatan. Saya tahu bahwa ketika saya meninggal dunia saya akan pergi untuk ada bersama Adonai di Sorga. Ketakutanku atas kematian dan ketidak amanan telah lenyap selamanya. Alkitab berkata, ”Sebab siapa yang memiliki Putra memiliki kehidupan.” [1 Yones 5:12]

Lebih dari 20 video kesaksian lainnya dari Guyana bisa dilihat di sini: TESTIMONIES OF POWER TO CHANGE GUYANA VIDEO TESTIMONIES / LIFE STORIES dan juga Kesaksian Sharon Islam, ex-Muslim India

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s