Perjalananku menuju Mashiah – kesaksian pakar Islam Pakistan

kesaksian Pendeta Joshua John ex-Pakar Islam PakistanPAKISTAN. Rana (sekarang Yoshua John) adalah pakar Islam. Ia hafal seluruh isi Kuran dan biasa berceramah di Mesjid-mesjid. Berasal dari keluarga Muslim yang taat dan lingkuangan hidup yang juga murni Islam. Video Kesaksian Rana bagaimana perjalanannya menuju Ha Mashiah bisa menjadi ilham bagi setiap pirsawan / pembaca bagaimana pekerjaan Elohim kepada orang-orang yang ingin dipanggil dan dipakai-Nya. Text terjemahan Indonesianya saya ambil dari text Inggrisnya. Selamat membaca dan menjadi berkat. Penjala Baja.

Kesaksian pertobatan Pendeta Yoshua John. Bagian I: My Journey Towards Christ – Testimony Of An Ex Muslim Scholar

Meskipun jika saya ingin melupakan saat-saat masalah lalu dari kehidupanku, saya tidak mampu. Mengapa?

Sebab ketika saya telah memutuskan itu sekarang, kehidupan ini ternyata bukanlah milikku, kenyataannya itu adalah milik Juruselamat Yang Berkemenangan yang telah menyelamatkanku dari dosa-dosaku, yang telah menjadi sumber dari pengampuan diriku. Dialah Elohim yang telah membuktikan kepadaku bahwa saya adalah orang yang berkemenangan dan orang-orang yang mengikuti Dia adalah (orang-orang yang) berkemenangan.

Dan dari saat saya telah menyerahkan diriku kepada Yeshua Ha Mashiah dan memberi diriku kepada Dia dengan berkata, ”sekarang saya bukanlah milikku, tetapi saya milik-Mu.”

Apa yang telah terjadi kemudian adalah saya sungguh khuatir tentang apa yang harus saya pilih; jika saya meninggalkan Islam, kematian akan mengikuti ku. Namun jika saya meninggalkan Kristianiti, tidak hanya kematian jasmani, tetapi suatu kehancuran kekal mengikuti ku.

Menurut pandangan Islam, jika saya mempersembahkan sembayang Tahajud (doa tengah malam) satu malam, menurut ajaran Islam, jika anda membaca ayat YaSin tiga kali selama sembayang Tahajud maka sembayang atau doa tersebut pastilah dijawab.

Saya tidak membaca surah itu tiga kali; namun saya baca itu sebelas (11) kali dengan pengulangan-pengulangan sembayang Tahajud. Setelah membaca ayat YaSin sebelas kali dan sembayang, saya tetap tidak mendapat jawaban.

Jika saya meninggalkan Islam, kematian akan mengikuti ku. Namun jika saya meninggalkan Kristianiti, tidak hanya kematian jasmani, tetapi suatu kehancuran kekal mengikuti ku.”  Ex-Muslim Kristen Pakistan

Saya menjadi kuatir, saya bertanya, ”Oh Allah apa yang seharusnya saya lakukan?” Oh Allah jika ini agama yang benar, maka berikanlah saya kemurahan untuk bertumbuh dengan kuat di dalamnya! Dan jika itu bukan maka saya akan melangkah keluar darinya.” Saya tetap tidak mendapat jawaban.

Lalu saya mengangkat tikar sembayang yang sama dan goncangkan itu ke udara dan berlutut dengan kedua tangan terangkat ke udara; dengan satu tangan saya mengenggam Kuran dan Alkitab pada tangan satunya lagi. Saya berkata, ”Adonai yang mulia, Saya tidak tahu bagaimana saya harus datang kepadamu, bagaimana saya seharusnya berdoa kepada Mu, tetapi jika Engkau sungguh adalah Elohim yang berkemenangan, jika Engkau sungguh Ha Mashiah, maka datanglah dan tentukanlah bagi kehidupanku. Beritahukanlah aku entah saya harus mengikuti Kuran dan Islam atau Alkitab.”

Percaya saya teman-temanku, ketika saya sedang berdoa dengan tangan-tangan di udara dan mata tertutup dan berkata, ”Jika Engkau sungguh Elohim yang berkemenangan dan Ha Mashiah maka kibarkanlah kemenangan-Mu di depan ku hari ini dan tunjukkanlah aku bahwa Engkau adalah pemenangan dan tidak ada Elohim lainnya seperti Engkau.”

Kedua kitab, Kuran dan Alkitab berada pada kedua tanganku dan ketika saya berkata demikian, Kuran ini terjatuh dari tanganku tetapi Alkitab tetap di tanganku. Saya teringat ayat yang ada di Alkitab tersebut, belajar dari pengalaman apa adalah kehendak sempurna Elohim, dan saya telah pelajari bahwa kehendak sempurna Elohim adalah bahwa saya berpegang kepada Alkitab dan mengetahui kebenaran tentang itu sehingga saya dapat juga menjadi seorang pemenang.

Teman-teman, ini tidaklah sesuatu yang sungguh mengejutkan. Itu tidaklah mengejutkan sebab jika Kuran jatuh maka Alkitab pun dapat juga jatuh. Ini adalah sebuah tanda  kemenangan Adonai bahwa Kuran terjatuh tetapi Alkitab tidak terjatuh. Dan saya putuskan bahwa saya tidak akan tetap dalam Islam lagi dan saya tidak ingin berlanjut ada sebagai seorang Muslim.

Saya sebelumnya tidak mampu tidur lelap, tetapi malam itu say tertidur lelap.

Ketika saya terbangun hari berikutnya, saya pergi makan pagi dengan kakak wanitaku, dia adalah orang pertama yang saya ceritakan. Saya berkata kepadanya, “Saudariku, sejak hari ini janganlah lagi bertanya mengapa saya tidak pergi ke Mesjid-mesjid, memberikan kotbath-kotbah atau sembayang.”

“Mengapa?, Apa yang telah terjadi? Sudahkah kamu berkelahi dengan seseorang?” kakakku bertanya keheranan.

“Tidak berkelahi, tetapi saya telah memutuskan hari ini bahwa kehidupan ini adalah milik Adonai Yeshua, bukan milikku,” saya menjawab

“Apa yang telah terjadi?” Ia kembali bertanya

“Saya tidak lagi seorang Muslim sejak sekarang tetapi telah menjadi seorang Kristen” (artinya: “pengikut ajaran Ha Mashiah / Kristus”)

Dia tiba-tiba menutup mulutku dengan tangannya. “Diamlah,” ia berkata. “Akanlah ada masalah besar jika seorang mendengar hal ini.” Apa yang kemudian terjadi dengan kakaknya ini, silahkah lihat kesaksian Pendeta Yoshua John di sini.

Saya berkata kepada kakak perempuanku ini, “Apa yang telah terjadi sudahlah berlalu; sekarang keputusan ini tidak dapat ada dirubah.” Saudariku tahu bahwa saya tetap kuat dalam apa yang saya katakan.

Setelah makan pagi saya keluar dan berbicara dengan ibuku tentang itu. Dia kemudian berbicara dengan kakekku dan ia memanggil ku pada malam tersebut.

“Rana, saya pikir kamu telah menjadi sangat dewasa dalam usia,” kakek berkata

”Mengapa kamu berkata demikian kakek?”

“Saya telah menerima pengaduan buruk tentang dirimu.” Ia berkata

Saya kuatir sebab saya tidak melakukan sesuatu yang salah oleh karena saya sibuk di dalam mempelajari Alkitab dan berdoa.

”Oleh karena kamu telah mengambil sebuah keputusan yang besar maka itu berarti kamu telah bertumbuh dewasa,” kakek berkata

Saya kuatir bahwa kakak perempuanku mungkin telah bercerita kepada mereka.

”Baiklah, kamu telah melakukan apa yang kamu kehendaki, saya tidak dapat berkata apapun,” ia berkata

Percaya saya teman-teman, ia terdiam setelah itu dan sejak itu ia terdiam selamanya.

Namun saya telah mengetahui satu hal yang tertulis di dalam Kitab Suci (the Holy Bible), “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Mashiah: kesukaran, atau kesulitan, atau kelaparan, atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang” (Roma 8:35), ia mengingat.

”Kematianpun tidak!” (pdt. Yoshua John merefer kata ”pedang” pada ayat ini) [bacalah sampai ayat 39]

Itulah alasannya mengapa itu ditulis di dalam Alkitab, bahwa ketika Elohim beserta kita apa yang manusia dapat lakukan? Saya memegang ayat ini dalam kehidupanku dan bertumbuh dalam kesetiaan kepada Elohim.

Kesaksian pertobatan Pendeta Yoshua John. Bagian II: Hidup Dan Mati bagi Ha Mashiah – kesaksian pakar Islam Pakistan

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s