“Saya tidak akan pernah jadi seorang Kristen!” Sekarang jutaan jiwa diberkati oleh musiknya.

Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. (Mazmur 139:14)

Itulah sumpah Austin French, putra dari seorang pendeta, pada masa kanak-kanaknya yang kecewa pada ayahnya sendiri. Bahkan orang tuanya bercerai. Namun tangan kasih Bapa Sorgawi tidak membiarkan ia terhilang, di sebuah kamp remaja, ia mengalami sendiri pentingnya Adonai Yeshua. Sekarang pemuda yang masih tergolong muda ini telah membawa jutaan jiwa kepada kasih dan kuasa Elohim YAHWEH.

Austin French – Freedom Hymn (Official Lyric Video); telah ditonton hampir 6 juta kali.

[Kepalsuan hidup hamba Adonai menghancurkan iman putranya]
Penyanyi Austin French sekarang sedang dalam perjalanan misinya melalui musik yang menyangkau hati dan jiwa para peminatnya. Austin, 24 tahun bersaksi perjalanan rohaninya yang luar biasa dari seorang bocah skeptik anak pendeta menjadi pemusik Kristen yang pupuler.

“Sebagai seorang anak usia 8 tahun, saya ingat saat menulis pada buku harian saya, ‘Saya tidak akan pernah jadi seorang Kristen,'” ia bercerita di The Billy Hallowell Podcast. “Dan saya sungguh membenci Gereja – saya benci orang-orang Kristen, saya tidak ingin ada termasuk dengan itu.”

Penyanyi ini menjelaskan apa yang terjadi pada masa kanak-kanaknya tersebut, mengapa ia sampai bersumpah seperti itu.
”Saya ingat orang-orang datang kepada kami dan berkata, ‘Keluarga kalian adalah keluarga yang paling sangat berohani dari semua keluarga yang pernah kami temui,” Austin mulai bercerita. “Tetapi di rumah itu terasa seperti Perang Dunia ke-III, dan topeng tercabut, pelanggaran terjadi. (Semua tertib rohani) itu adalah di dasarkan pada ketakutan, bukan oleh kasih dan saya sungguh ingat ketika saat itu menulis di buku harian, ‘Jika seorang Kristen adalah seperti ini, saya tidak ingin ada sebagai seorang Kristen.’”

Austin kecil yang masih polos ini sungguh terganggu dengan dualisme kehidupan orang tuanya – di Gereja dan di rumah berbeda jauh, lebih parah lagi, kedua orang tuanya bercerai, dan Gereja dimana mereka biasa mellayani kemudian menolak keluarganya, menjadikan dia merasa terasing dan kecewa dengan Kristianiti. “Yeshua melukai orang-orang,” demikian ia berpikir saat itu.

[Austin menemukan Mashiah yang sesungguhnya]
Mazmur Daud: Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya. Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku. Jika aku berkata: “Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam,” maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang. (Maz 139:6-12)

Setelah orang tuanya bercerai. Austin hidup ikut ibunya. Ibunya kemudian mendapatkan pekerjaan di sebuah Gereja yang berjemaat sedikit. Ibunya mengirim ia ke sebuah kamp musik Kristen.

“Seorang pemuda bangkit dan naik ke podium,” Austin bercerita kejadian di kamp tersebut. Pemuda Kamp tersebut berkata, “Hai, saya ingin berbicara tentang kemunafikan. Saya akan menceritakan kalian semua bahwa banyak orang yang mengikuti Yeshua dengan lidah mereka dan mereka berbicara sebuah permainan yang luar biasa hebat, tetapi sesungguhnya mereka tidak pernah mengikuti Yeshua dengan kehidupan mereka.” Wau, sangat menarik di dengar! Si pengkotbah muda ini menandaskan, “Itu bukanlah seorang Kristen – ada sebagai seorang Kristen adalah memberikan seluruh hidupmu kepada Yeshua. Itu nampak seperti Yeshua, sebab kalian menghabiskan waktu bersama Yeshua.'” (Baca 1 Yoh 5-7)

Pengkotbah ini lanjut berkata bahwa orang-orang yang hancur hatinya melukai orang-orang lain, tetapi Yeshua “telah mati untuk menyembuhkan orang-orang yang hancur.” Itulah hari dimana Austin menyadari bahwa dia telah memiliki pemikiran yang salah selama ini. Lalu ia menerima Yeshua di acara kamp tersebut.

“Itu adalah hari dimana saya telah memberikan kehidupanku kepada Yeshua dan menyadari bahwa saya telah diselamatkan oleh bilur-bilur-Nya. Saya bukan dibenarkan oleh perbuatan sendiri.”

Dan inilah yang sering terjadi, saat Anda lahir baru, biasanya saat itu juga Anda mengetahui panggilan Anda. Pada hari yang sama, Austin menyadari bahwa ia ingin membuat “musik bagi orang-orang yang hancur” – itulah yang sekarang ia lakukan dengan album pertamanya yang berjudul Wide Open.

Austin French saat ini telah menikah dan memiliki dua anak pria. membagi hidupnya antara keluarga dan karir musiknya

Sumber tulisan: He Vowed ‘I Will Never Be a Christian.’ Now, His Music Is Inspiring Millions (CBN.Com; 15/10/2018)

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

 

 

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

  • Kalender

    • Oktober 2018
      M S S R K J S
      « Jul   Des »
       123456
      78910111213
      14151617181920
      21222324252627
      28293031  
  • Cari