Son of Hamas (Putra Hamas). Bab 25-Bagian Akhir

Bab 25 – Saleh
Musim Dingin 2003 – Musim Semi 2006

Tidak sukar untuk mengetahui di mana Saleh dan teman²nya baru saja berada sebelumnya. Darah yang mereka tinggalkan di tempat kejadian sangatlah jelas. Tapi sampai sekarang tiada seorang pun yang bisa menangkap mereka.

Keterangan dari Shin Bet bahwa mereka telah menemukan Saleh membuat hatiku sedih. Saleh adalah teman dekatku. Dia telah menolongku dalam studiku. Aku telah makan bersamanya dan istrinya, dan aku telah bermain-main dengan anak²nya. Tapi Saleh juga adalah seorang teroris. Dulu sewaktu dia dipenjara oleh PA, dia terus belajar melalui Universitas Terbuka Al-Quds dan menggunakan apa yang dipelajarinya untuk menjadi perakit bom yang hebat, sehingga dia bahkan bisa membuat bom dari bahan² di tempat sampah.

Setelah Saleh keluar dari penjara PA, Shin Bet mengawasi dia dan teman²nya untuk mengetahui berapa lama yang dibutuhkan mereka untuk membangun kembali Brigade Al-Qassam. Ternyata mereka tak butuh waktu lama. Organisasi yang baru memang tidak sebesar yang lama, tapi tetap mematikan.

Maher Odeh adalah otak operasi pemboman; Saleh adalah teknisi perakit bom; dan Bilal Barghouti merekrut pelaku bom bunuh diri. Sebenarnya, bagian militer Hamas hanya terdiri dari sepuluh orang yang masing² bekerja sendiri², memiliki dana tersendiri, dan tidak pernah saling bertemu kecuali jika ada urusan yang sangat penting. Saleh bisa menghasilkan beberapa sabuk bom bunuh diri dalam semalam saja, dan Bilal memiliki daftar orang² yang bersedia mati syahid melakukan serangan bom bunuh diri.

Jika aku yakin Saleh tidak bersalah, aku tentu akan memperingatkan bahwa dia akan segera diciduk. Tapi ketika akhirnya kami menghubungkan berbagai kejadian dan informasi, aku menyadari bahwa dia sebenarnya bertanggung jawab atas pemboman Universitas Ibrani dan tempat² lainnya. Aku mengerti bahwa dia harus dipenjara. Mungkin yang seharusnya kulakukan dulu adalah memperkenalkan ajaran Yesus padanya dan mengajaknya mengikuti ajaran tersebut, sama seperti yang telah kulakukan. Tapi aku juga tahu betul bahwa dia terlalu dibutakan oleh amarah, semangat balas dendam, dan kesetiaan pada Islam sehingga tak akan sudi mendengar nasehat temannya. Aku lalu memohon pada Shin Bet untuk menangkap Saleh dan orang² buronan lainnya dan jangan membunuh mereka. Meskipun awalnya sangat ragu, mereka akhirnya setuju.

Agen² keamanan Israel telah mengamati Saleh selama lebih dari dua bulan. Mereka tahu saat dia meninggalkan apartemennya untuk bertemu dengan Hasaneen Rummanah di sebuah rumah kosong. Mereka juga melihat saat dia kembali pulang, dan tetap tinggal di tempatnya selama seminggu. Mereka melihat teman Saleh bernama Sayyed al-Syeikh Qassem lebih sering keluar meninggalkan tempatnya, tapi lalu kembali pulang. Mereka sangat berhati-hati, sehingga sukar dilacak. Tapi begitu jejak mereka tercium, yang Shin Bet perlu lakukan hanyalah menyelusuri siapa para penghubung di sekitar mereka, yang ternyata jumlahnya mencapai empat puluh sampai lima puluh orang.

Kami telah menemukan tiga dari lima orang yang paling kami cari. Dua orang lainnya yakni Ibrahim Hamed dan Maher Odeh masih buron. Kami harus membuat keputusan apakah kami tetap harus menunggu sampai ada penghubung kepada kedua buronan itu, atau segera mematahkan tulang punggung Brigade Al-Qassam di Tepi Barat dengan menangkapi orang² yang sudah kami ketahui lokasinya. Kami menetapkan untuk melakukan pilihan kedua, dengan pertimbangan keadaan mungkin tidak akan jadi lebih menguntungkan, dan kemungkinan bisa menangkap Hamed atau Odeh jika mendapat keterangan tentang mereka dari tawanan² lainnya.

Di suatu malam tanggal 1 Desember, 2003, pasukan keamanan khusus mengepung lebih dari lima puluh lokasi yang dicurigai pada waktu yang bersamaan. Semua pasukan yang ada dipanggil dari seluruh Tepi Barat. Para ketua Hamas berkumpul di gedung Al-Kiswani di Ramallah, dan mereka tidak bereaksi ketika diminta menyerah. Saleh dan Sayyed punya banyak senjata, termasuk senapan otomatis berat, dan senapan tempur yang biasanya digunakan di kendaraan² militer.

Baku tembak dimulai pada jam 10 malam dan terus berlansung sampai larut malam. Ketika saling tembak dimulai, aku bisa mendengarnya dari rumahku. Lalu terdengar tembakan kanon tank Merkava yang khas menggelegar di pagi hari dan setelah itu tak terdengar apapun lagi. Pada jam 6 pagi, teleponku berdering.

“Temanmu sudah mati,” kata Loai padaku. “Maaf sekali. Kau tentunya tahu kami sudah berusaha untuk tidak membunuh jika memang keadaan memungkinkan. Tapi kuberitahu ya. Jika orang ini …” suara Loai terhenti dan dia melanjutkan lagi, “jika orang ini tumbuh besar di lingkungan lain, dia tentunya tidak akan jadi seperti itu. Dia akan jadi orang biasa seperti kita. Dia mengira, dan dia benar² yakin, bahwa apa yang dilakukannya adalah baik bagi masyarakatnya. Tapi dia sangat salah.”

Loai tahu aku mengasihi Saleh dan tidak ingin dia mati. Dia tahu bahwa Saleh berjuang melawan sesuatu yang dia yakini sebagai hal yang jahat dan merugikan masyarakatnya. Dan mungkin karena itu pula, Loai juga jadi peduli akan nasib Saleh.
“Apakah mereka semua mati?”
“Aku belum melihat tubuh² mereka. Mereka membawa mayat² korban ke Rumah Sakit Ramallah. Kami ingin kau pergi ke sana juga untuk mengenali mayat² tersebut. Kau satu²nya yang mengetahui orang² ini.”

Aku ambil jaketku dan menyetir ke rumah sakit, dengan sangat berharap mayat Saleh tidak berada di situ dan mungkin Saleh tidak terbunuh. Ketika aku tiba, keadaan di rumah sakit kacau-balau. Para aktivis Hamas yang marah berteriak-teriak di jalanan, dan terlihat banyak polisi dimana pun. Tiada seorang pun yang boleh masuk ke dalam, tapi karena semua tahu siapa aku, maka petugas rumah sakit mempersilakan aku masuk. Seorang petugas medis membimbingku ke ruangan pendingin. Dia membuka pintu kulkas dan dengan perlahan menarik sebuah laci yang mengeluarkan semerbak kematian di seluruh ruangan.

Aku melihat ke dalam laci itu dan tampak wajah Saleh. Dia tampak hampir tersenyum. Tapi sebagian besar kepalanya telah hilang. Laci Sayyed terdiri dari kumpulan bagian² tubuh – kaki², kepala, dan lain² – semuanya dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam. Hasaneen Rummanah telah terbelah dua. Aku tidak yakin bahwa itu adalah dia karena wajahnya bercukur dan Hasaneen selalu berjanggut coklat lembut. Meskipun media melaporkan bahwa Ibrahim Hamed juga berada diantara orang² yang terbunuh, pada kenyataannya, dia masih belum tertangkap. Ibrahim memerintahkan orang² ini untuk bertempur sampai mati, tapi dia sendiri lebih memilih melarikan diri menyelamatkan nyawanya.

Karena pada hakekatnya semua ketua Hamas di Tepi Barat mati atau sedang dipenjara, maka aku jadi penghubung bagi para pemimpin Hamas lainnya di Gaza dan Damaskus. Aku juga jadi penghubung utama seluruh jaringan organisasi², sekte², dan sel² di Palestina – termasuk sel² teroris. Juga hanya segelintir orang² Shin Bet yang mengetahui siapa aku sebenarnya. Hal ini sebenarnya sungguh mengherankan.

Karena peranan baruku ini, maka aku pun dengan sedih harus mengurus penguburan Saleh dan rekan²nya. Ketika aku melakukan hal ini, aku mengamati setiap gerakan dan mendengar setiap bisikan marah dan sedih orang² di sekitarku, yang mungkin bisa mengungkapkan di mana Ibrahim Hamed bersembunyi.

“Karena kabar burung sudah terbang ke mana²,” kata Loai, “dan kau duduk menggantikan para pemimpin yang kami tangkap, mari kita buat berita bahwa Ibrahim Hamed bekerja sama dengan Shin Bet. Masyarakat Palestina umumnya tidak mengetahui apa yang terjadi sehingga mereka akan percaya berita seperti ini. Akibatnya, Ibrahim Hamed harus keluar dari persembunyiannya untuk membela diri di muka umum atau setidaknya menghubungi pemimpin² politik Hamas di Gaza atau Damaskus. Apapun pilihannya, kita mungkin bisa melacaknya.”

Itu adalah gagasan yang baik, tapi ditolak oleh boss-nya karena khawatir Ibrahim akan membom penduduk sipil sebagai aksi balas dendam – ini sungguh pertimbangan yang tak masuk akal karena Ibrahim tentunya sudah sangat marah atas kematian teman²nya dan penangkapan separuh anggota organisasinya. Maka kami pun menerapkan cara lain yang lebih sulit dilakukan.

Agen² Shin Bet menempatkan alat² penyadap suara di rumah Ibrahem Hamdi, dengan harapan istri dan anak²nya tanpa sengaja mengatakan dimana dia berada. Tapi ternyata rumah itu adalah rumah tersepi di Palestina. Sekali waktu kami mendengar putranya yang paling bungsu, Ali, bertanya pada ibunya, ”Mana ayah?”
“Kita tidak membicarakan tentang hal itu sama sekali,” bentak ibunya.
Jika keluarganya saja sudah sedemikian berhati-hati, tentunya terlebih lagi Ibrahim Hamed. Bulan² berlalu tanpa ada jejak darinya.

***************

Di akhir bulan Oktober 2004, Yasser Arafat jatuh sakit saat rapat. Orang² di sekitarnya mengatakan dia sakit flu. Tapi keadaannya semakin memburuk, dan dia akhirnya diterbangkan dari Tepi Barat ke rumah sakit di luar kota Paris. Di tanggal 3 November, dia jatuh koma. Seseorang berkata bahwa dia sebenarnya telah diracun. Yang lain berkata dia kena AIDS. Dia mati di tanggal 11 November di usia tujuh puluh tiga tahun.

Seminggu lebih kemudian, ayahku dibebaskan dari penjara, dan tiada seorang pun yang lebih kaget atas pembebasannya selain dia sendiri. Loai dan beberapa pejabat Shin Bet bertemu dengannya di pagi hari dia dilepaskan dari penjara.

“Syeikh Hassan,” kata mereka, “sudah saatnya untuk mengadakan perdamaian. Orang² di luar memerlukan orang seperti kau. Arafat sudah wafat; sudah banyak orang yang terbunuh. Kau adalah orang yang bisa berpikir terang. Kita harus melakukan sesuatu bersama sebelum keadaan jadi memburuk.”

“Tinggalkan Tepi Barat, dan beri kami negara berdaulat,” jawab ayah, “dan masalah akan berakhir.” Tentu saja baik ayah maupun Shin Bet tahu bahwa Hamas tetap akan terus menyerang sampai negara Israel tidak ada lagi, meskipun negara Israel yang berdaulat mungkin bisa mendamaikan sekitar satu atau dua dasawarsa.

Di luar Penjara Ofer, aku menunggu bersama ratusan wartawan dari seluruh dunia. Sambil membawa barang² miliknya dalam sebuah kantung plastik hitam, ayah memicingkan mata karena silau sinar mentari sewaktu dua orang prajurit Israel membimbingnya keluar pintu.

Kami berpelukan dan berciuman, dan dia memintaku untuk segera membawanya ke kuburan Yasser Arafat sebelum kami pulang. Aku melihat matanya dan mengerti bahwa ini merupakan langkah yang sangat penting baginya. Karena Arafat telah mati, Fatah menjadi lemah dan jalanan kembali penuh dengan kekerasan. Para pemimpin Fatah khawatir Hamas akan mengambil alih kekuasaan dan usaha ini akan mengobarkan perang saudara. Amerika Serikat, Israel, dan masyarakat internasional juga takut hal itu akan terjadi. Kunjungan ketua top Hamas di Tepi Barat ke kuburan Arafat mengejutkan semua orang, tapi tiada seorang pun yang tak menangkap pesannya: Tenanglah, semua pihak. Hamas tidak akan mengambil kesempatan dari kematian Arafat. Tiada perang saudara.

Sebenarnya, setelah satu dasawarsa menangkap, memenjarakan, dan membunuh, Shin Bet masih saja tidak tahu siapakah yang berkuasa dalam Hamas. Dan tiada seorang pun yang tahu. Aku telah menolong mereka menangkap aktivis² buronan, orang² yang sangat terlibat dalam gerakan perlawanan, dengan harapan kami bisa menangkap orang² yang mengatur Hamas. Kami memenjarakan orang² sampai bertahun-tahun, kadang² hanya karena kecurigaan saja. Tapi Hamas tampak tidak kehilangan apapun.

Maka, siapakah sebenarnya yang mengatur Hamas?
Fakta bahwa yang berkuasa atas Hamas bukanlah ayahku tentunya mengejutkan siapapun – bahkan aku sendiri. Kami menyadap kantor dan mobilnya, memonitor setiap gerakannya. Dan sudah jelas bahwa dia bukanlah yang memberi perintah.

Hamas itu bagaikan hantu. Dia tidak punya pusat pemerintahan atau kantor² cabang, tiada tempat di mana orang bisa berkunjung untuk bicara dengan wakil organisasi. Banyak orang² Palestina yang berkunjung ke kantor ayahku, menyampaikan masalah² mereka, dan minta tolong, terutama para keluarga tawanan dan yang terbunuh yang kehilangan suami² dan bapak² mereka dalam intifada. Tapi bahkan Syeikh Hassan Yousef sendiri tidak sanggup menolong mereka. Setiap orang mengira dia punya jawaban masalah, tapi dia sebenarnya tidak berbeda dengan kami semua: dia tak punya jawaban.

Suatu kali dia memberitahuku bahwa dia sedang mempertimbangkan menutup kantornya.
“Mengapa? Di mana kau akan bertemu dengan media?” tanyaku.
“Aku tak peduli. Orang² datang dari mana², berharap aku bisa menolong. Tapi aku tak mungkin bisa menyediakan dana bagi yang membutuhkan; terlalu banyak yang datang minta tolong.”
“Mengapa Hamas tidak membantu mereka? Mereka adalah sanak keluarga para anggota Hamas. Hamas kan punya banyak uang.”
“Ya, tapi organisasi Hamas tidak memberikannya padaku.”
“Ya minta saja dong. Katakan pada mereka tentang orang² yang butuh bantuan.”
“Aku tak tahu siapa mereka atau bagaimana menemui mereka.”
“Tapi kau kan ketuanya,”
protesku.
“Aku bukan ketuanya.”
“Kau mendirikan Hamas, ayah. Jika kau bukan ketuanya, lalu siapa dong?”
“Tiada seorang pun yang jadi ketua!”

Aku sangat terkejut. Shin Bet merekam semua pembicaraan, dan mereka juga terkejut.
Suatu hari, aku menerima telepon dari Majeda Talahme, istri Saleh. Kami belum sempat bicara setelah penguburan suaminya.
“Apa kabar? Bagaimana kabarnya Mosab dan adik²nya?”
Majeda mulai menangis.

“Aku tak punya uang untuk memberi makan anak².”
Aku berpikir, semoga Elohim mengampunimu, Saleh, atas apa yang kau perbuat terhadap keluargamu!
“Baiklah, saudaraku, tenang, dan aku akan mencoba berbuat sesuatu.”
Aku lalu menemui ayah.
“Istri Saleh baru saja menelepon. Dia tidak punya uang untuk membeli makanan bagi anak²nya.”
“Sedihnya, Mosab, dia bukanlah satu²nya yang mengalami masalah seperti itu.”
“Ya, tapi Saleh adalah sahabatku. Kita harus segera berbuat sesuatu!”
“Nak, aku sudah memberitahu padamu. Aku tak punya uang.”
“Oke, tapi mestinya ada seseorang yang mengatur keuangan. Seseorang yang punya banyak uang. Ini sungguh tak adil! Saleh mati demi perjuangan Hamas!”

Ayahku mengatakan dia akan melakukan apa yang dia bisa. Dia menulis surat, yang kedengarannya seperti “bagi yang bersangkutan,” dan memasukkan surat ke dalam kotak pesan. Kami tidak bisa menelusuri siapa yang akan menerima surat itu, tapi kami tahu orang itu berada di Ramallah.

Beberapa bulan sebelumnya, Shin Bet telah mengirim aku ke sebuah warung internet di tengah kota. Kami tahu seseorang menggunakan salah satu komputer di warung itu untuk berkomunikasi dengan pemimpin² Hamas di Damaskus. Kami tidak tahu siapa para pemimpin tersebut, tapi tak disangsikan lagi bahwa Syria merupakan pusat kekuatan Hamas. Sudah masuk akal jika Hamas ingin mengontrol seluruh organsasi – kantor, persenjataan, dan kamp² militer – diluar jangkauan palu Israel.

“Kami tidak tahu siapa yang berhubungan dengan Damaskus,” kata Loai, “tapi tampaknya orang ini berbahaya.”

Sewaktu aku berjalan masuk ke warung internet tersebut, aku melihat dua puluh orang duduk di depan komputer² yang tersedia. Tiada seorang pun yang berjenggot. Tiada yang tampak mencurigakan. Tapi salah seorang dari mereka menarik perhatianku, meskipun aku tidak tahu mengapa. Aku tidak mengenalnya, tapi naluriku mengatakan bahwa aku harus mengawasi orang ini. Aku tahu ini hanya dugaan saja, tapi setelah bertahun-tahun bekerja sama, Shin Bet tahu bahwa mereka bisa percaya pada naluriku.

Kami yakin bahwa siapapun orang ini , dia kemungkinan berbahaya. Hanya orang yang sangat dipercaya saja yang bisa berkomunikasi dengan para pemimpin Hamas di Damaskus. Kami berharap dia akan membimbing kami untuk mengetahui siapa sebenarnya yang berkuasa atas Hamas. Kami sebarkan foto wajahnya, tapi tiada seorang pun yang mengenalnya. Aku mulai mempertanyakan ketajaman naluriku.

Beberapa bulan kemudian, aku berusaha menjual sebuah rumah di Ramallah. Beberapa orang datang untuk melihat, tapi tiada seorang pun yang mengajukan tawaran. Di sore harinya, ketika aku telah menutup rumah itu dan pulang, seseorang meneleponku dan bertanya apakah aku masih berada di rumah tersebut. Aku saat itu sudah sangat lelah, tapi aku mempersilakannya berkunjung dan bertemu denganku di rumah itu. Aku kembali ke rumah yang akan kujual, dan tak lama kemudian orang itu datang.

Ternyata orang ini adalah orang yang kucurigai di warung internet. Dia mengatakan namanya adalah Aziz Kayed. Dia bercukur rapih dan tampak sangat profesional. Aku bisa menduga bahwa dia berpendidikan tinggi, dan dia mengatakan bahwa dia memiliki pusat pendidikan Islam bernama Al-Buraq Center yang dihormati. Kelihatannya dia bukanlah orang yang kami cari. Tapi daripada membuat Shin Bet semakin bingung, aku tidak mengatakan pada siapapun.

Tak lama setelah bertemu dengan Kayed, ayah dan aku mengunjungi berbagai kota, desa, dan kamp² penampungan di seluruh Tepi Barat. Di satu kota, lebih dari 50.000 orang berkumpul untuk bertemu dengan Syeikh Hassan Yousef. Mereka semua ingin menyentuhnya dan mendengar apa yang akan dia katakan. Dia masih sangat dicintai masyarakat.

Di Nablus, yang merupakan pusat Hamas yang kuat, kami bertemu dengan para pemimpin organisasi, dan aku bisa menebak siapa dari mereka yang menjadi anggota² konsul shurah – kelompok kecil beranggotakan tujuh orang yang membuat keputusan akan masalah strategis dan kegiatan sehari-hari gerakan di daerah mereka. Sama seperti ayah, mereka juga merupakan ketua² Hamas yang paling senior, tapi mereka bukanlah “pembuat keputusan” yang sedang kami cari.

Setelah bertahun-tahun, aku tidak percaya bahwa kontrol akan Hamas ternyata sudah terlepas dan jatuh ke tangan² yang tak diketahui. Jika aku sendiri, yang lahir dan dibesarkan di jantung Hamas, tidak tahu siapakah yang berperan menggerakkan Hamas, lalu siapa yang bisa tahu?

Jawabannya datang tiba² saja, entah dari mana. Salah seorang konsul shurah di Nablus menyebut nama Aziz Kayed. Dia menganjurkan agar ayah mengunjungi Al-Buraq dan bertemu dengan “orang baik” ini. Kupingku tiba² menjadi sangat waspada. Mengapa ketua Hamas lokal memberi anjuran seperti itu? Terlalu banyak kebetulan yang tampak: pertama, Aziz tampak mencurigakan di warung internet; lalu dia muncul di tempat aku menjual sebuah rumah; dan sekarang, anggota konsul memberitahu ayah untuk bertemu dengan orang ini. Apakah ini pertanda bahwa naluriku benar dan Aziz Kayed adalah seorang penting dalam organisasi Hamas?

Apakah kami demikian beruntung sehingga menemukan orang yang paling berkuasa? Meskipun masih ragu, aku tetap mengikuti naluriku. Aku kembali dengan cepat ke Ramallah, menelepon Loai dan memintanya untuk mencari keterangan tentang Aziz Kayed melalui komputer.

Beberapa Aziz Kayed muncul, tapi tak seorang pun cocok dengan keterangan akan yang dicari. Kami lalu mengadakan rapat darurat, dan aku meminta Loai memperluas pencarian nama Aziz Kayed di seluruh Tepi Barat. Mereka mengira aku gila, tapi tetap melaksanakan permintaanku.

Kali ini, kami menemukan keterangan tentang dirinya.
Aziz Kayed lahir di Nablus dan bekas anggota gerakan pelajar Islam. Dia menghentikan aktivitasnya sepuluh tahun yang lalu. Dia menikah dan punya beberapa anak, dan bisa dengan bebas keluar masuk negara Israel. Kebanyakan dari temannya adalah orang² sekuler. Kami tak menemukan keterangan yang mencurigakan.
Aku menjelaskan pada Shin Bet semua yang terjadi, dari saat aku melihatnya di warung internet sampai pada kunjungan ke Nablus bersama ayahku. Mereka mengatakan bahwa meskipun mereka sangat percaya padaku, kami tidak mempunyai cukup bukti.
Ketika kami sedang bicara, aku teringat sesuatu.

“Kayed mengingatkanku akan tiga orang yang kukenal,” kataku pada Loai. “Salah Hussein dari Ramallah, Adib Zeyadeh dari Yerusalem, dan Najeh Madi dari Salfeet. Ketiga orang ini punya gelar sarjana dan pernah aktif di Hamas. Tapi karena suatu alasan, mereka tiba² menghilang begitu saja sepuluh tahun yang lalu. Sekarang mereka hidup normal, tidak berhubungan dengan kegiatan politik apapun. Aku heran mengapa orang yang tadinya begitu bersemangat dengan Hamas, tiba² saja berhenti.”

Loai setuju bahwa mungkin hal ini perlu dicurigai. Kami mulai mempelajari kegiatan tiap orang tersebut. Ternyata ketiga orang ini masih berkomunikasi satu sama lain dan juga dengan Aziz Kayed. Mereka semua bekerja bagi Al-Buraq. Ini jelas lebih dari sekedar kebetulan saja.

Apakah keempat orang ini adalah para penggerak Hamas, bahkan mengontrol bagian militer Hamas pula? Apakah mereka selama ini menghindar radar pengamatan kami sewaktu kami mengarah pada tokoh² Hamas yang telah diketahui umum? Kami terus memonitor, menggali keterangan, dan menunggu. Akhirnya kesabaran kami terbayar dengan memuaskan.

Kami mengetahui bahwa keempat pria berusia 30-an ini menguasai total keuangan Hamas dan mengatur seluruh kegiatan Hamas di Tepi Barat. Mereka membawa uang sebesar jutaan dollar dari luar negeri, yang lalu mereka gunakan untuk membeli persenjataan, bom², merekrut sukarelawan, melindungi para buronan, menyediakan logistik, semuanya – semuanya dilakukan di bawah Al-Buraq, yang merupakan salah satu badan pendidikan Islam yang tampaknya tidak berbahaya.

Tiada yang tahu akan mereka. Mereka tidak pernah muncul di TV. Mereka hanya berkomunikasi melalui surat² yang dimasukkan ke dalam kotak² pesan. Sudah jelas bahwa mereka tidak percaya siapapun – buktinya bahkan ayahku sendiri tidak tahu keberadaan mereka.

Suatu hari, kami mengikuti Najeh Madi dari apartemennya ke penyewaan garasi umum yang jaraknya satu blok dari rumahnya. Dia berjalan ke salah satu bagian dan mengangkat pintu penutup ruang garasi. Apa yang dilakukannya di situ? Mengapa dia menyewa sebuah garasi tertutup yang jauh dari rumahnya?

Selama dua minggu, kami terus mengamati garasi sialan itu, tapi tiada yang datang mengunjungi tempat itu. Akhirnya pintu garasi dibuka – bukan dari luar, tapi dari dalam – dan Ibrahim Hamed keluar dari garasi tersebut!

Shin Bet menunggu cukup lama sampai dia kembali ke dalam garasi sebelum akhirnya ditangkap. Tapi ketika Ibrahim Hamed dikepung pasukan keamanan khusus, dia tidak berkelahi sampai mati seperti yang dia perintahkan pada Saleh dan teman²nya yang lain.
“Lepaskan bajumu dan keluar!”
Tiada jawaban.
“Kau punya waktu sepuluh menit. Setelah itu kami akan menghancurkan gedung!”

Dua menit berlalu, pemimpin bagian militer Hamas di Tepi Barat berjalan keluar pintu dengan hanya mengenakan celana dalam.
“Lepaskan semua bajumu!”
Dia ragu², lalu melepas celana dalamnya, dan berdiri telanjang di hadapan para prajurit Israel.

Ibrahim Hamed secara pribadi bertanggung jawab atas kematian lebih dari delapan puluh orang yang bisa kami buktikan. Mungkin kedengarannya tidaklah seperti anjuran Yesus, tapi jika semuanya terserah padaku, aku akan mengembalikan dia ke dalam garasi joroknya, menguncinya dalam tempat itu seumur hidup, dan Pemerintah Israel tidak perlu membayar ongkos proses pengadilan bagi dirinya.

Menangkap Ibrahim Hamed dan mengungkapkan pemimpin² Hamas yang sebenarnya merupakan operasi rahasiaku yang paling penting bagi Shin Bet. Dan ini juga merupakan yang terakhir.

Bab 26 – Ramalan bagi Hamas
2005

Saat ayah dipenjara yang terakhir kali, dia seakan mengalami pencerahan illahi.
Ayah adalah orang yang terbuka pikirannya. Dia bersedia duduk dan bicara dengan orang² Kristen, orang² tak beragama, dan bahkan orang² Yahudi. Dia mendengarkan baik² para wartawan, ilmuwan, dan analis, dan dia menghadiri berbagai ceramah di universitas². Dan dia juga mendengarkan aku – yang merupakan pembantu, penasehat, dan pelindungnya. Akibatnya, dia juga jadi berpandangan lebih luas dan bijaksana dibandingkan para pemimpin Hamas lainnya.

Dia melihat Israel sebagai kenyataan yang kekal dan mengakui bahwa banyak tujuan perjuangan Hamas yang tak masuk akal dan tak mungkin bisa dicapai. Dia ingin menemukan titik tengah bagi Israel dan Palestina, dan kedua pihak tak perlu kehilangan muka. Ayah lalu menyampaikan pidato pertama di muka umum setelah keluar dari penjara, dimana dia menyampaikan kemungkinan pemecahan masalah melalui terbentuknya negara Israel dan negara Palestina yang hidup berdampingan. Tiada satu pun ketua Hamas yang pernah mengatakan kemungkinan seperti itu. Paling² yang dulu mereka pernah lakukan hanyalah berjabatan tangan untuk mengumumkan jeda perang barang sebentar saja. Tapi ayahku mengakui hak Israel untuk eksis! Sejak itu, teleponnya terus berdering tak putus²nya.

Para diplomat dari setiap negara, termasuk Amerika Serikat, menghubungi kami untuk meminta bertemu secara rahasia dengan ayah. Mereka ingin tahu apakah dia benar² berpendapat begitu. Aku menjadi penerjemahnya, dan tak pernah meninggalkan sisinya. Teman² Kristenku mendukungnya secara tulus, dan dia mengasihi mereka karenanya.

Tak heran bahwa setelah itu, dia segera menghadapi masalah. Meskipun dia bicara atas nama Hamas, sudah jelas bahwa yang disampaikannya tidak sesuai dengan hati Hamas. Meskipun perasaan ayah sudah tidak sesuai lagi dengan perasaan Hamas, dia tidak bisa meninggalkan Hamas. Kematian Yasser Arafat telah mengakibatkan kekosongan kepemimpinan dan membuat jalanan kembali penuh pertikaian. Pemuda² radikal tampak di mana² – mereka bersenjata, hati mereka penuh kebencian, dan tanpa pemimpin.

Ini bukan berarti sukar mencari pengganti Arafat. Setiap politikus korup bisa saja muncul sebagai Arafat yang baru. Maasalahnya adalah dia telah begitu memusatkan PLO dan PA. Dia bukanlah orang yang bersedia bekerja sama dengan kelompok lain. Dia menguasai semua kekuasaan dan koneksinya. Dan namanya juga tercantum di semua akun bank.

Sekarang Fatah penuh dengan orang² yang ingin jadi seperti Arafat. Tapi siapakah diantara mereka yang bisa diterima oleh seluruh masyarakat Palestina dan international – dan cukup kuat untuk mengontrol berbagai organisasi yang berbeda? Bahkan Arafat sendiri kerepotan melakukan hal itu.

Ketika Hamas mengambil keputusan untuk berpartisipasi dalam pemilu parlemen Palestina beberapa bulan kemudian, ayahku tidak begitu antusias. Setelah sayap militer ditambahkan pada Hamas sewaktu Intifada Al-Aqsa, dia melihat Hamas berubah menjadi makhluk yang asing yang aneh, yang berjalan timpang dengan satu kaki militer yang panjang dan satu kaki politik yang pendek. Sudah jelas bahwa Hamas tidak mampu membentuk negara yang berfungsi sebagaimana adanya.

Untuk melakukan revolusi, diperlukan sikap yang murni dan tegas. Tapi untuk memerintah negara, diperlukan sikap kompromi dan flexibel. Jika Hamas ingin berkuasa, kemampuan berunding bukan hanya sekedar pilihan, tapi bahkan suatu kewajiban. Sebagai orang² yang dipilih masyarakat, mereka harus bertanggung jawab atas anggaran negara, air, makanan, listrik, dan pembuangan sampah. Dan ini semua harus datang dari pihak Israel. Negara Palestina yang mandiri harus bersedia bekerja sama dengan Israel.

Ayahku ingat dalam rapat²nya dengan para ketua negara² Barat, pihak Hamas selalu menolak setiap rekomendasi yang mereka ajukan. Sikap berpikiran sempit dan penuh penolakan itu rupanya sudah mendarah daging pada diri mereka. Dan jika para pemimpin Hamas tidak mau berunding dengan pihak AS dan Eropa, maka, pikir ayahku, bagaimana mungkin mereka akan bersedia berunding dengan Israel?

Ayahku tidak peduli bahwa Hamas punya banyak calon kandidat dalam pemilu. Dia hanya tidak ingin para senior Hamas seperti dirinya, yang dicintai masyarakat dan sangat berpengaruh, ikut serta dalam pemilu bagi Hamas, karena khawatir Hamas nantinya akan menang. Dia tahu bahwa jika Hamas menang pemilu, maka ini merupakan bencana bagi masyarakat. Kejadian di waktu selanjutnya membuktikan bahwa dia benar.

“Sudah jelas ada kekhawatiran dari pihak kami bahwa Israel, dan kemungkinan pihak lain juga, akan menghukum masyarakat Palestina karena mereka memilih Hamas,” aku mendengar ucapannya pada wartawan Haaretz. “Mereka akan berkata ‘kau memilih Hamas dan karenanya kami akan meningkatkan pengepungan terhadapmu dan membuat hidupmu semakin sulit.’” [13]
[13] Danny Rubinstein, “Ketua Hamas: Kau Tak Bisa Menyingkirkan Kami,” Haaretz,

Tapi banyak anggota² Hamas yang tergiur saat mencium bau uang, kekuasaan, dan kemegahan. Bahkan para bekas pemimpin yang sudah tidak aktif lagi, tiba² muncul dalam usaha memenangkan kedudukan dalam pemilu. Ayahku sangat muak dengan sikap serakah, tak bertanggung jawab, dan kebodohan mereka. Orang² ini bahkan tidak bisa membedakan antara CIA dan USAID. Siapa yang mau bekerja bagi mereka?

*******************

Aku juga merasa frustasi dalam berbagai hal.
Aku frustasi dengan korupsi yang terus terjadi dalam PA, kekejaman dan kebodohan Hamas, dan barisan panjang tanpa henti para teroris yang telah dipenjara dan dibunuh. Aku merasa lelah karena harus terus berpura-pura dan menanggung resiko besar setiap hari. Aku ingin kehidupan yang normal.
Ketika aku sedang berjalan-jalan di Ramallah pada bulan Agustus, aku melihat seorang membawa komputernya naik tangga menuju toko reparasi komputer. Tiba² muncul gagasan dalam benakku bahwa mungkin ada prospek baik bagi bisnis perawatan komputer pribadi dan membuat tim kerja seperti America Geek Squad (geek = orang² kikuk tapi sangat melek teknologi) versi Palestina. Sejak aku tak bekerja lagi bagi USAID dan ingin membuka suatu usaha, kupikir sebaiknya gagasan ini direalisasikan saja.

Aku berteman baik dengan manajer IT (Information Technology) di USAID, yang sangat berpengetahuan dalam bidang komputer. Ketika kuberitahu dia akan gagasanku, kami mengambil keputusan untuk jadi partner bisnis bersama. Aku menyediakan dana, dan dia menyediakan kemampuan teknis, dan kami memperkerjakan beberapa insinyur komputer lainnya, termasuk karyawan² wanita agar kami bisa lebih banyak mendorong kemajuan kaum wanita dalam budaya masyarakat Arab.

Kami namai perusahaan kami sebagai Electronic Computer Systems, dan aku juga membuat beberapa iklan untuk mempromosikan perusahaanku. Iklan² kami tampil dengan gambar karikatur seorang pria membawa komputer sambil naik tangga, dan putranya berkata padanya, “Ayah, kau tidak perlu melakukan itu” dan menganjurkan ayahnya untuk menelepon nomer telepon kami.

Panggilan telepon datang dari mana², dan kami tiba² saja jadi sangat sukses. Aku membeli sebuah mobil van untuk perusahaan, dan kami mendapatkan ijin menggunakan produk Hewlett-Packard yang kemudian kami gunakan untuk memperluas jaringan bisnis. Ini merupakan saat yang menggembirakan dalam hidupku. Aku sebelumnya tidak kesulitan uang, tapi kegiatan bisnis ini menyenangkan dan membuatku jadi produktif.

***************

Sejak aku memulai perjalanan rohaniku, aku kadang² membicarakan hal ini dengan rekan² Shin Bet dan kami beberapa kali melakukan pembicaraan yang menarik tentang Yesus dan perubahan imanku.

“Silakan percaya apapun yang kau kehendaki,” kata mereka. “Kau dapat membagi pendapatmu dengan kami. Tapi jangan bilang pada orang² lain. Dan jangan pernah dibaptis, karena ini merupakan pernyataan resmi umum. Jika orang² tahu kau telah jadi pemeluk Kristen dan meninggalkan agama Islam, kau akan menghadapi masalah besar.”

Kupikir mereka sebenarnya lebih khawatir akan masa depan mereka tanpa diriku daripada masa depanku sendiri. Tapi Elohim merubah hidupku sedemikian rupa sehingga aku tidak mungkin bisa tetap seperti sediakala. Suatu hari, temanku Jamal sedang memasak makanan malam bagiku. “Mosab,” katanya, “Aku mempunyai kejutan bagimu.”

Dia mengganti saluran TV dan berkata dengan mata berseri-seri, “Coba lihat program TV Al-Hayat. Kau mungkin tertarik untuk melihatnya.” Aku nonton TV dan melihat mata pendeta Koptik tua Zakaria Botros. Dia tampak baik hati, lemah lembut, dan berkata dengan suara yang dalam dan meyakinkan. Aku suka padanya – sampai aku menyadari apa yang dikatakannya. Dia secara sistematis melakukan bedah Qur’an, membelahnya dan menunjukkan setiap tulang, otot, urat daging, dan organ tubuh, dan lalu mengamati semuanya satu persatu di bawah mikroskop kebenaran dan menunjukkan bahwa seluruh buku Qur’an ternyata mengandung virus kanker.

Kesalahan sejarah dan fakta, kontradiksi² – dia jabarkan semuanya secara persis dan sopan, tapi dengan tegas dan penuh keyakinan. Naluriku pertama adalah ingin marah dan mematikan TV. Tapi perasaan ini hanya berlangsung selama beberapa detik saja sebelum aku menyadari bahwa ini sebenarnya adalah jawaban Elohim atas doa²ku. Bapak Zakaria sedang memotongi semua potongan² daging mati Allâh yang masih menempel padaku, yang masih menghubungkan diriku dengan Islam, dan membutakan diriku pada kebenaran bahwa Yesus adalah benar² Anak Elohim. Sebelum itu, aku tidak bisa mengalami kemajuan dalam mengikuti Yesus. Tapi semua ini tentunya bukanlah perubahan yang mudah. Bayangkan saja rasa sakit yang dialami ketika kau bangun pagi dan menyadari bahwa ayah yang kau kenal selama ini ternyata bukanlah ayahmu yang sebenarnya.

Aku tidak bisa mengatakan dengan tepat kapan hari dan jam aku “jadi Kristen,” karena semua proses ini berlangsung selama enam tahun. Tapi aku tahu bahwa aku sangat ingin dibaptis, tidak peduli Shin Bet bilang apa. Di saat itu, sekelompok orang² Kristen Amerika datang ke Israel untuk tamasya di Tanah Suci dan mendatangi cabang gereja mereka di Yerusalem, yakni gereja yang selama ini kukunjungi.

Tak lama setelah itu, aku berkawan baik dengan seorang gadis dari kelompok tersebut. Aku suka bicara dengannya, dan aku langsung mempercayainya. Ketika aku menyampaikan sedikit kisah rohaniku dengan dirinya, dia sangat mendukung diriku, dan mengingatkanku bahwa Elohim seringkali menggunakan orang² yang tak kau duga untuk melakukan pekerjaanNya. Keterangan ini sangat sesuai dengan pengalamanku.

Di suatu petang ketika kami sedang makan malam bersama di Restoran Koloni Amerika di Yerusalem Timur, temanku bertanya mengapa aku belum juga dibaptis. Aku tidak bisa menjawab bahwa hal itu karena aku adalah seorang agen Shin Bet dan karena aku sangat terlibat dengan semua perkembangan politik dan aktivitas keamanan di daerah itu. Tapi pertanyaannya merupakan pertanyaan yang tepat, dan aku pun sering mempertanyakan hal itu pada diriku sendiri.

“Dapatkah kau membaptisku?” tanyaku.
Dia bilang dia dapat melakukannya.
“Dapatkah kau merahasiakan hal ini diantara kita berdua saja?”
Dia bilang dia sanggup, dan menambahkan, “Pantai tidak jauh letaknya dari sana. Mari kita pergi ke sana.”
“Serius nih?”
“Iya, dong. Mengapa tidak?”
“Baiklah. Mengapa tidak?”

Aku agak bingung ketika kami naik bus untuk pergi ke Tel Aviv. Apakah aku sudah lupa siapa diriku? Apakah aku benar² mempercayai gadis dari San Diego ini? Empat puluh lima menit kemudian, kami berjalan di pantai yang penuh orang, sambil minum minuman di udara petang yang segar dan hangat. Tiada seorang pun dari kumpulan orang ramai itu yang tahu bahwa putra ketua Hamas – organisasi teroris yang bertanggung jawab membunuh dua puluh satu remaja di disko Dolphinarium yang tak jauh dari sini – akan segera dibaptis jadi Kristen.
Aku melepaskan kaosku dan kami berjalan ke laut.

***************

Di hari Jum’at, tanggal 23 September, 2005, sewaktu aku mengantarkan ayahku kembali dari kamp penampungan dekat Ramallah, dia menerima panggilan telepon.
“Apa yang terjadi?” aku mendengar teriakan ayah ke teleponnya. “Apa?”
Suara ayahku terdengar sangat gusar.
Ketika dia menutup teleponnya, dia menjelaskan padaku bahwa yang meneleponnya adalah juru bicara Hamas yakni Sami Abu Zuhri di Gaza, yang memberitahunya bahwa Israel baru saja membunuh sejumlah besar anggota² Hasa saat rapat umum di kamp pengungsi Jebaliya. Dia mengatakan bahwa dia menyaksikan sendiri pesawat Israel meluncurkan misil² ke kumpulan orang². Mereka melanggar gencatan senjata, katanya.

Ayahku telah bekerja sangat keras untuk merundingkan gencatan senjata tujuh bulan sebelumnya. Sekarang tampaknya usahanya sia² belaka. Dia merasa tidak bisa mempercayai Israel dan sangat marah dengan sikap Israel yang haus darah.

Tapi aku tak percaya akan hal ini. Meskipun aku tidak mengatakan apapun pada ayah, laporan yang kudengar itu tak masuk akal.

Al-Jazira menelepon. Mereka ingin ayah tampil di siaran TV begitu kami tiba di Ramallah. Dua puluh menit kemudian, kami sudah berada di studio mereka.

Ketika mereka sedang mempersiapkan mikrofon untuk ayah, aku menelepon Loai. Dia meyakinkan diriku bahwa Israel tidak melakukan serangan apapun. Aku merasa lega. Aku minta produser untuk menunjukkan padaku rekaman video tentang serangan tersebut. Dia membawaku ke ruang kontrol, dan kami melihat video itu berulang kali. Tampak jelas bahwa ledakan berasal dari daratan dan bukan karena tembakan dari udara.

Syeikh Hassan Yousef sudah berbicara di TV, mencaci pengkhianatan Israel, mengancam akan menyudahi gencatan senjata, dan menuntut pemeriksaan internasional.
“Apakah kau sudah merasa lebih baik sekarang?” aku bertanya padanya setelah dia berjalan keluar ruangan studio.
“Apa maksudmu?”
“Maksudmu setelah kau mengucapkan pernyataanmu.”
“Mengapa aku harus merasa lebih baik? Sungguh sukar dipercaya mereka bisa melakukan hal itu.”
“Bagus, sebab mereka ternyata tidak melakukannya. Hamaslah yang melakukan itu. Zuhri itu pendusta. Mari masuk ke ruang kontrol; aku ingin kau melihat sesuatu.”
Ayahku mengikutiku kembali ke ruang kecil di mana kami melihat video itu beberapa kali.
“Lihatlah ledakan itu. Lihat. Ledakan terjadi dari atas ke bawah. Ledakan ini tidak berasal dari udara.”

Kami nantinya mengetahui bahwa orang² militer Hamas di Gaza saat itu telah muncul sambil mengacungkan senjata² mereka untuk demonstrasi. Di saat yang bersamaan, sebuah misil Qasam yang diletakkan di bak belakang truk tak sengaja meledak dan membunuh lima belas orang dan melukai lebih banyak orang lagi.

Ayahku terkejut akan kebohongan yang dilakukan Hamas. Tapi Hamas tidak sendirian saja dalam melakukan penipuan ini. Selain hanya mempertontonkan video itu di siaran beritanya sendiri saja, Al-Jazira juga terus-meneruskan menyebarkan dusta tersebut. Setelah itu keadaan jadi memburuk. Sangat amat memburuk. [Penipuan yang sangat kotor: membunuh teman-teman seperjuangan sendiri dan kemudian menuduh orang lain! Penipu yang ahli!!]

Sebagai balasan atas serangan palsu di Gaza, Hamas melontarkan empat puluh misil ke berbagai kota di Israel selatan. Ini merupakan serangan besar pertama sejak Israel telah mengundurkan diri sepenuhnya seminggu sebelumnya. Di rumahku, aku dan ayah menonton berita TV bersama seluruh masyarakat dunia. Keesokan harinya, Loai memperingatkan aku bahwa kabinet Pemerintahan Israel menetapkan bahwa Hamas telah membatalkan gencatan senjata.

Sebuah laporan berita mengutip perkataan Mayor Jendral Yisrael Ziv, kepala operasi tentara Israel: “Sudah ditetapkan untuk melakukan serangan panjang dan terus-menerus terhadap Hamas,” dan wartawan menambahkan, “bahwa Israel sedang bersiap-siap untuk menyerang lagi para pemimpin Hamas,” hal yang tak dilakukan lagi setelah gencatan senjata dulu. [14]
[14] Israel Bersumpah untuk ‘Meremukkan’ Hamas setelah Serangan,” Fox News, 25 September, 2005,  (dibaca di tanggal 5 Oktober, 2009).
“Ayahmu harus masuk penjara lagi,” kata Loai.
“Apakah kau meminta persetujuanku?”
“Tidak. Mereka memintanya secara pribadi, dan tak ada yang bisa kami lakukan akan hal itu.”

Aku sangat marah.
“Tapi ayah tidak memerintahkan penyerangan misil tadi malam. Dia tidak memerintahkan hal itu. Dia tidak berhubungan apapun dengan semua ini. Orang² idiot di Gazalah yang mengatur semua ini.”

Akhirnya aku kehabisan napas. Aku sangat terpukul. Loai memecahkan kesunyian.
“Apakah kau masih disana?”
“Ya.” Aku duduk. “Ini sungguh tak adil … aku tak mengerti.”
“Kau juga,” katanya perlahan.
“Aku juga, apa? Masuk penjara lagi? Tidak! Aku tak mau kembali lagi. Aku tak peduli melindungi perananku lagi. Semuanya sudah usai bagiku. Aku tidak mau lagi melakukan ini.”
“Saudaraku,” dia berbisik, “apakah kau pikir aku ingin kau ditangkap? Ini semua terserah padamu. Jika kau ingin tetap berada di luar, silakan berada diluar. Tapi sekarang keadaannya jauh lebih berbahaya daripada waktu kapanpun. Kau terus-menerus berada di samping ayahmu sepanjang tahun. Setiap orang mengetahui kau sangat terlibat dengan Hamas. Bahkan banyak yang percaya kau adalah bagian dari pemimpin Hamas … Jika kami tidak menangkapmu, maka kau akan mati dalam beberapa minggu saja.”

Bab 27 – Selamat Tinggal
2005-2007

“Ada apa?” tanya ayahku ketika melihatku menangis.
Ketika aku tidak mengatakan apapun, dia mengajakku memasak makan malam untuk ibu dan saudara² perempuanku. Ayah dan aku sudah menjadi begitu dekat selama bertahun-tahun terakhir, dan dia mengerti bahwa aku kadang² harus menyelesaikan masalahku seorang diri saja.
Tapi ketika aku mempersiapkan makanan bersamanya, hatiku bertambah hancur membayangkan bahwa ini mungkin jam² terakhir kami bisa bersama untuk jangka waktu yang lama di masa depan. Aku mengambil keputusan agar dia tidak ditangkap seorang diri saja. Setelah makan malam, aku menelepon Loai.

Hari itu tanggal 25 September, 2005. Aku mendaki lembah² Ramallah untuk mencapai tempat favoritku, dimana aku sering berdoa dan membaca Alkitab. Aku berdoa lebih lama lagi, menangis lagi, dan meminta belas kasih Elohim bagiku dan keluargaku. Ketika aku pulang, aku duduk dan menunggu. Ayahku yang tak mengetahui apa yang akan terjadi, telah tidur. Tak lama kemudian setelah jam 12 malam, pasukan keamanan Israel datang.

Mereka membawa kami ke Penjara Ofer, dimana kami digiring masuk ke aula besar dan disatukan bersama ratusan tawanan lainnya yang diciduk dari seluruh kota. Kali ini mereka juga menangkap saudara² lakiku Oways dan Mohammad. Loai memberitahuku diam² bahwa mereka berdua diduga terlibat dalam kasus pembunuhan. Salah seorang teman sekolah mereka telah menculik, menyiksa, dan membunuh orang Israel, dan Shin Bet telah menyadap panggilan telepon yang dilakukan oleh pembunuh kepada Oways beberapa hari sebelumnya. Mohammad akan dibebaskan beberapa hari kemudian. Oways dipenjara selama empat bulan sebelum akhirnya dinyatakan tidak terlibat dalam kasus pembunuhan ini.

Kami duduk di atas lutut kami di aula tersebut selama sepuluh jam dengan tangan diborgol di belakang tubuh. Aku diam² berterima kasih pada Elohim karena seseorang memberi sebuah kursi pada ayah, dan aku melihat dia diperlakukan dengan hormat.

Aku dihukum tiga bulan di penjara administratif. Teman² Kristenku memberiku sebuah Alkitab, dan aku menjalani masa hukuman sambil mempelajari Alkitab. Aku dibebaskan di hari Natal 2005. Ayahku masih belum bebas. Sampai saat aku menulis buku ini, dia masih berada di penjara.

***************

Pemilu Parlemen akan segera berlangsung, dan setiap pemimpin Hamas ingin berkuasa. Mereka masih tetap memuakkan bagiku. Mereka bisa berjalan-jalan dengan bebasnya, sedangkan satu²nya orang yang mampu memimpin masyarakat malahan ditahan di belakang pagar berkawat silet. Setelah kami ditangkap, ayah enggan berpartisipasi dalam pemilu. Dia meminta aku untuk menyampaikan pesannya kepada Mohammad Daraghmeh, wartawan pengamat politik bagi Associated Press dan teman baiknya.

Kabar bahwa ayah tidak ikut Pemilu tersebar dua jam kemudian, dan teleponku mulai berdering. Para pemimpin Hamas mencoba menghubungi ayah di penjara, tapi dia tak mau bicara dengan mereka.

“Apa yang terjadi?” tanya mereka padaku. “Ini sungguh celaka! Kami akan kalah pemilu jika ayahmu tidak bersedia mencalonkan diri jadi pemimpin, dan ini akan tampak seakan dia tidak merestui seluruh proses pemilu!”

“Jika dia tidak mau ikut pemilu,” kataku pada mereka, “maka kalian harus menghormati keputusannya.”

Lalu datang panggilan telepon dari Ismail Haniyah, yang merupakan tokoh penting Hamas dan akan jadi perdana menteri PA yang baru.
“Mosab, sebagai pemimpin gerakan, aku meminta kau untuk mengatur acara jumpa press dan mengumumkan bahwa ayahmu masih tetap berperanan penting dalam Hamas. Katakan pada mereka bahwa laporan AP itu salah.”
Sekarang mereka minta aku berdusta. Apakah mereka lupa bahwa Islam melarang untuk berbohong pada sesama Muslim, atau mereka pikir hal itu boleh² saja karena politik tak mengenal agama?

“Aku tak bisa melakukan itu,” kataku padanya. “Aku menghormati kau, tapi aku lebih menghormati ayah dan kejujuranku.” Aku menutup telepon.
Tiga puluh menit kemudian, aku menerima ancaman kematian. “Buat jumpa press sekarang juga,” begitu kata penelepon, “atau kami akan bunuh kamu!”
“Kalau begitu, silakan datang dan bunuh aku.”

Aku menutup telepon dan menelepon Loai. Beberapa jam kemudian, pria yang mengancam ini sudah ditangkap.

Aku tidak begitu peduli dengan ancaman² mati. Tapi ketika ayah mendengar akan hal itu, dia menelepon Daraghmeh dan mengatakan padanya bahwa dia akan mencalonkan diri dalam pemilu. Lalu dia mengatakan padaku untuk bersikap tenang dan menunggu saatnya dia dibebaskan. Dia akan berurusan dengan Hamas, begitu penjelasannya padaku.

Tentu saja ayah tidak bisa kampanye pemilu lewat penjara. Tapi dia tak perlu melakukan itu. Hamas memajang wajahnya di mana², sebagai bujukan agar orang² mencoblos Hamas dalam pemilu. Saat persiapan pemilu berlangsung, Syeikh Hassan Yousef digiring masuk ke dalam parlemen sambil membawa banyak orang lain bersamanya bagaikan kotoran² dalam rambut singa.

***************

Aku menjual bagian kepemilikan perusahaanku Electric Computer Systems kepada rekan bisnisku karena aku merasakan banyak perubahan yang akan terjadi dengan hidupku.
Siapakah aku sebenarnya? Masa depan apakah yang akan kumiliki jika keadaan tetap berlangsung seperti ini?
Usiaku telah mencapai dua puluh tujuh tahun, tapi aku tidak bisa pacaran. Gadis Kristen akan takut dengan reputasiku sebagai putra pemimpin Hamas. Gadis Muslim juga tak akan tertarik pada pria Kristen Arab. Dan mana ada gadis Yahudi yang mau pacaran dengan putra Hassan Yousef? Bahkan jikalau sekiranya ada gadis yang bersedia pergi keluar bersamaku, apakah yang akan kami bicarakan? Apakah aku bisa bebas membagi pengalaman hidupku? Hidup seperti apakah ini? Sebenarnya untuk siapakah aku berkorban selama ini? Palestina? Israel? Perdamaian?

Apa yang telah kucapai sebagai mata² Shin Bet? Apakah keadaan masyarakatku jadi membaik? Apakah pertumpahan darah berhenti? Apakah ayah berada di rumah bersama keluarganya? Apakah Israel lebih aman? Apakah aku telah menjadi contoh yang lebih baik bagi saudara²ku? Aku merasa aku telah mengorbankan sepertiga hidup untuk hal yang percuma, “semuanya sia-sia seperti usaha mengejar angin,” begitu kata Raja Salomo di Pengkhotbah 4:16.

Aku bahkan tidak bisa menyampaikan apa yang telah kupelajari, karena posisiku sekarang. Siapa yang akan percaya padaku?

Aku menelepon Loai. “Aku tak bisa bekerja bagimu lagi.”
“Mengapa? Apa yang terjadi?”
“Tak ada masalah. Aku mencintai kalian semua. Dan aku suka bekerja sebagai mata². Kupikir aku malah jadi ketagihan melakukan pekerjaan itu. Tapi kita tidak mencapai hasil apapun. Kita berperang dalam perang yang tidak bisa dimenangkan melalui penangkapan, interogasi, dan pembunuhan. Musuh kita sebenarnya adalah pandangan ideologi, dan ideologi tidak peduli akan serangan dan jam malam. Kita tidak bisa menghancurkan ideologi melalui tembakan Merkava. Kau bukan masalah bagi kami, dan kami pun bukan masalah bagimu. Kita semua bagaikan tikus² yang terperangkap dalam jaringan jalan yang ruwet. Aku tidak bisa lagi melakukan hal ini. Waktuku sudah selesai.”

Aku tahu ini merupakan pukulan berat bagi Shin Bet. Kami sedang berada di tengah peperangan.

“Baiklah,” kata Loai. “Aku akan menyampaikan ini pada pemimpin dan tunggu apa yang mereka katakan.”

Ketika kami bertemu lagi, dia berkata, “Inilah tawaran pemimpin kami bagimu. Israel memiliki perusahaan komunikasi yang besar. Kami akan memberimu semua uang yang kau butuhkan untuk mendirikan perusahaan serupa yang dulu kau miliki di Palestina. Ini adalah kesempatan besar dan akan membuatmu aman seumur hidupmu.”

“Kau tidak mengerti. Masalahku bukanlah masalah uang. Masalahku adalah aku tidak mencapai apapun.”
“Orang² di sini membutuhkanmu, Mosab.”
“Aku akan menemukan cara lain untuk menolong mereka, tapi aku tidak bisa menolong mereka dengan melakukan hal yang sama. Bahkan Shin Bet sendiri juga tidak tahu harus mengarah ke mana.”
“Lalu apa dong yang kau inginkan?”
“Aku ingin meninggalkan negara ini.”

Dia menyampaikan pembicaraan kami dengan atasannya. Kami bolak-balik seperti itu, sang pemimpin bersikeras aku harus tetap tinggal, sedangkan aku bersikeras ingin pergi.

“Baiklah,” kata mereka. “Kami akan memperbolehkan kau pergi ke Eropa selama beberapa bulan, mungkin barang setahun, tapi kau harus berjanji untuk kembali.”

“Aku tak mau pergi ke Eropa. Aku ingin pergi ke Amerika Serikat. Aku punya beberapa teman di sana. Mungkin aku akan kembali dalam waktu setahun, dua tahun, atau lima tahun. Aku tak tahu. Yang kutahu adalah sekarang aku butuh saat jeda.”

“Pergi ke Amerika sih susah bagimu. Di sini kau punya uang, kedudukan, dan perlindungan dari berbagai pihak. Kau telah punya reputasi terkenal, membangun perusahaan yang menguntungkan, dan hidup nyaman. Apakah kau tahu bagaimana hidupmu di AS? Kau akan jadi sangat kecil dan tak punya pengaruh apapun.”

Aku katakan pada mereka bahwa aku tak peduli andaikata sekalipun aku harus bekerja sebagai pencuci piring di sana. Dan ketika aku terus bersikeras, mereka menetapkan keputusan tegas.

“Tidak,” kata mereka. “Tidak boleh ke Amerika Serikat. Hanya boleh ke Eropa dan hanya untuk jangka waktu singkat saja. Pergilah dan nikmati hidupmu. Kami akan tetap membayar gajimu. Silakan pergi dan bersenang-senang. Nikmati waktu jedamu. Lalu kembali ke sini.”

“Baiklah,” kataku akhirnya. “Aku akan pulang. Aku tak mau melakukan apapun bagi kalian. Aku tak akan meninggalkan rumah karena aku tak mau kebetulan melihat pembom bunuh diri dan harus melaporkan hal itu pada kalian. Jangan meneleponku lagi. Aku tak bekerja lagi bagi kalian.”

Aku kembali pulang ke rumah orangtuaku dan mematikan ponselku. Aku membiarkan jenggotku tumbuh panjang dan tebal. Ibuku jadi sangat khawatir melihatku, dan dia sering menjenguk ke kamarku untuk melihat keadaanku sambil bertanya apakah semuanya baik² saja.
Dari hari ke hari, aku membaca Alkitab, mendengarkan musik, menonton TV, memikirkan semua yang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir, dan bergulat dengan rasa depresiku.
Pada akhir bulan ketiga, ibuku mengatakan aku menerima telepon dari seseorang. Aku katakan pada ibu bahwa aku tak mau bicara dengan siapapun. Tapi ibu berkata penelepon mengatakan hal ini sangat penting, dan dia adalah teman lama yang juga mengenal ayahku.
Aku turun tangga dan mengangkat gagang telepon. Ternyata dia adalah salah seorang dari Shin Bet.

“Kami ingin bertemu denganmu,” katanya. “Ini sangat penting. Kami punya kabar baik bagimu.”

Aku lalu menemui mereka dalam rapat. Karena aku tidak mau lagi bekerja bagi mereka, maka mereka pun tidak mendapatkan keuntungan apapun dari keadaan ini. Mereka menyadari bahwa aku benar² ingin berhenti bekerja bagi mereka.

“Baiklah, kami akan memperbolehkan kau pergi ke Amerika Serikat, tapi hanya untuk beberapa bulan saja, dan kau harus berjanji untuk kembali.”
“Aku tak mengerti mengapa kau bersikeras meminta sesuatu yang kau pasti tak akan dapatkan,” kataku pada mereka dengan tenang tapi tegas.

Akhirnya mereka berkata, “Baiklah, kami akan memperbolehkan kau pergi dengan dua persyaratan. Pertama, kau harus menyewa pengacara dan mengajukan surat permohonan pada kami bahwa kau ingin meninggalkan negeri ini untuk alasan kesehatan. Jika tidak begitu, maka kau akan ketahuan sebagai mata². Kedua, kau kembali ke sini.”

Shin Bet tidak pernah mengijinkan anggota² Hamas keluar perbatasan kecuali mereka membutuhkan perawatan medis yang tak tersedia di daerah Palestina. Aku sebenarnya punya masalah dengan rahang bawahku yang membuatku sukar mengatupkan gigi rapat² dan aku tak bisa mendapatkan perawatan operasi untuk masalah ini di Tepi Barat. Masalah rahang ini tidak pernah terlalu menggangguku, tapi ini merupakan alasan baik. Maka aku lalu menyewa seorang pengacara untuk melaporkan kondisi medis ke pengadilan, meminta ijin untuk pergi ke Amerika Serikat untuk menjalani operasi.

Tujuan semua ini adalah untuk menampakkan bukti administrasi yang jelas bahwa aku menjalani semua prosedur yang benar dan sulit untuk keluar dari Israel. Jika Shin Bet menyingkirkan semua kesulitan, maka tentunya ini tampak sebagai tindakan yang tak adil dan orang² akan curiga mengapa aku mendapat perlakuan istimewa dari Shin Bet. Jadi kami harus membuat semua proses ini tampak sukar dan aku harus berjuang keras untuk setiap kemajuan yang kudapatkan.

Tapi pengacara yang kusewa ternyata malah jadi masalah tersendiri. Dia rupanya tidak yakin aku bisa mendapatkan ijin keluar negeri, sehingga dia minta pembayaran di muka – dan aku lalu membayarnya – tapi setelah itu dia enak² duduk dan tidak melakukan apapun. Shin Bet juga tak menerima surat laporan diriku untuk diurus karena pengacaraku tidak mengirim apapun. Minggu demi minggu, aku terus meneleponnya dan bertanya apakah ada kemajuan dalam kasusku. Yang perlu dilakukannya hanyalah mengurus surat² saja, tapi dia tetap menunda-nunda dengan berbagai alasan. Ada masalah, katanya. Kasus ini lebih rumit. Dia minta uang berkali-kali lagi, dan aku pun membayarnya berkali-kali pula.

Semua ini terus berlangsung sampai enam bulan. Akhirnya di Tahun Baru 2007, aku menerima panggilan telepon.
“Kau sudah diperbolehkan pergi,” kata pengacaraku, yang lagaknya bagaikan telah memecahkan masalah kelaparan di seluruh dunia.

***************

“Apakah kau bisa sekali lagi bertemu dengan salah satu ketua Hamas di kamp penampungan Jalazone?” tanya Loai. “Kaulah satu²nya orang yang …”

“Aku akan meninggalkan negeri ini dalam waktu lima jam lagi.”

“Baiklah,” katanya menyerah. “Jaga dirimu baik² dan terus berhubungan dengan kami. Telepon aku begitu kau sudah melampaui perbatasan agar semua berjalan lancar.”

Aku telepon beberapa orang yang kukenal di California dan mengatakan pada mereka bahwa aku akan datang. Tentu saja mereka tidak mengira aku adalah putra ketua Hamas dan mata² bagi Shin Bet. Tapi mereka sangat senang mendengar kedatanganku. Aku mulai memasukkan beberapa buah baju ke dalam koper kecil dan turun tangga untuk memberitahu ibuku. Dia saat itu sudah berada di ranjang.

Aku berlutut di sampingnya dan menjelaskan bahwa aku akan pergi dalam waktu beberapa jam, melampaui perbatasan ke Yordania dan terbang ke Amerika Serikat. Aku bahkan tak bisa menjelaskan mengapa aku harus pergi.

Mata ibu mengatakan semuanya. Ayahmu sedang berada di penjara. Kau berperan sebagai ayah bagi saudara² laki dan perempuanmu. Apa yang akan kau lakukan di Amerika? Aku tahu ibu tidak mau melihat aku pergi, tapi di saat yang sama, ibu ingin aku hidup dengan damai. Dia berkata bahwa dia berharap aku bisa mendapatkan kehidupan yang menyenangkan di sana setelah hidup penuh bahaya di rumah. Ibu tentu tidak mengetahui bahwa aku sudah melihat begitu banyak bahaya.

“Mari kucium kau sebelum pergi,” katanya. “Bangunkan aku di pagi hari sebelum kau berangkat.”

Ibu memberkati aku, dan aku katakan padanya bahwa aku akan berangkat di waktu subuh dan dia tak perlu melihat aku pergi. Tapi dia adalah ibuku. Dia menungguiku sepanjang malam di ruang tengah kami, bersama saudara² laki dan perempuanku dan juga sahabatku Jamal.

Sewaktu aku mempersiapkan semua barang² yang akan kubawa sebelum pergi, aku hampir saja membawa serta Alkitabku – yang penuh catatan², Alkitab yang sama yang kupelajari selama bertahun-tahun, bahkan di penjara – tapi sekarang aku memiliki dorongan keras untuk memberikannya pada Jamal.

“Aku tak punya hadiah lebih mahal yang bisa kuberikan padamu sebelum aku pergi,” kataku padanya. “Inilah Alkitabku. Bacalah dan ikutilah.” Aku tahu dia akan melakukan permintaanku dan mungkin akan membacanya kapanpun dia teringat padaku. Aku membawa cukup uang untuk hidup di tempat baru untuk sementara, lalu pergi meninggalkan rumah, dan menuju ke Jembatan Allenby yang menghubungkan Israel dan Yordania.

Aku tak menemukan masalah melintasi pos pemeriksaan Israel. Aku telah membayar $35 pajak keluar dan masuk ke terminal imigrasi yang sangat luas dan dilengkapi dengan alat pendeteksi metal, mesin² X-ray, dan Ruang 13 yang terkenal menyeramkan, tempat interogasi orang² yang dicurigai. Tapi alat² ini pada umumnya digunakan bagi orang² yang mau masuk Israel dari Yordania dan bukan orang² yang meninggalkan Israel.

Terminal padat dengan berbagai orang dalam berbagai bentuk, yang mengenakan yarmulke (tutup kepala kecil bundar pria Yahudi) dan berpakaian Arab, pakai jilbab atau topi biasa, sebagian memanggul ransel dan yang lain mendorong kereta penuh kopor. Akhirnya, aku naik ke bus JETT – satu² alat transportasi publik yang diperbolehkan melintasi jembatan.

Baiklah, pikirku, sudah hampir sampai nih.

Tapi aku masih saja gelisah. Shin Bet biasanya tidak mengijinkan orang seperti aku meninggalkan Israel. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan Loai sendiri heran bagaimana aku bisa mendapatkan ijin pergi.

Ketika aku tiba di daerah Yordania, aku menunjukkan passportku. Aku khawatir karena meskipun aku dapat ijin tinggal selama tiga tahun di AS, passportku hampir kadaluwarsa dalam waktu kurang dari tiga puluh hari.

Aduh, tolong dong, aku berdoa, perbolehkan aku masuk Yordania meskipun sehari saja. Hanya itu yang kuinginkan.

Tapi sebenarnya aku tak perlu khawatir. Tiada masalah apapun. Aku naik taxi ke Amman dan membeli tiket pesawat terbang Air France. Aku tinggal di hotel selama beberapa jam, lalu menuju Queen Alia International Airport di Yordania dan masuk ke pesawat terbang yang menuju California melalui Paris.

Sewaktu aku duduk di pesawat, aku merenungkan apa yang kutinggalkan di belakang, semua hal yang baik dan buruk – keluarga dan teman²ku dan juga pertumpahan darah, kesia-siaan, dan kegagalan yang tak ada habisnya.
Aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan kemerdekaanku yang baru. Aku merdeka untuk menjadi diriku sendiri, merdeka dari pertemuan² rahasia dan penjara² Israel, merdeka dari sikap curiga ada yang mengetahui posisiku.
Sungguh hal ini terasa aneh dan juga sangat menyenangkan.

***************

Suatu hari sewaktu aku sedang berjalan di trotoar di California, aku melihat wajah yang kukenal berjalan ke arahku. Itu adalah wajah Maher Odeh, otak dari begitu banyak serangan bom bunuh diri – aku melihat orang ini di tahun 2000 ketika dikunjungi tukang pukul Arafat. Aku dulu mengungkapkan pada Shin Bet bahwa dia dan teman²nya adalah pendiri Brigade Syahid Al-Aqsa.

Awalnya aku tak yakin bahwa orang itu adalah Odeh. Orang² memang bisa tampak berbeda di lingkungan yang amat berbeda. Aku harap aku salah. Hamas tidak berani melakukan serangan bom bunuh diri di AS. Akan jelek akibatnya bagi AS jika Odeh berada di California. Tentunya hal itu juga akan berdampak jelek bagiku.

Mata kami bertemu dan saling tatap selama sedetik. Aku sangat yakin melihat percikan sinar matanya yang menandakan dia mengenaliku sebelum dia terus berjalan melewatiku.

Bagian Akhir

Di bulan Juli 2008, aku duduk di sebuah restoran dan menikmati makan malam bersama dengan teman baikku Avi Issacharoff, wartawan dari koran Israel Haaretz. Aku sampaikan padanya kisah hidupku menjadi orang Kristen karena aku ingin berita ini datang dari Israel dan bukan dari Barat. Kisahku ini lalu muncul di korannya, dengan judul artikel Anak yang Hilang.”

Seperti umumnya kasus Muslim murtad dan lalu mengikuti Yeshua, pengumumanku pindah agama juga menghancurkan hati ibu, ayah, saudara² laki dan perempuanku dan teman²ku.

Temanku Jamal adalah satu dari sedikit orang yang berdiri bersama keluargaku dalam menghadapi rasa malu, dan dia pun ikut menangis bersamanya. Jamal sangat kesepian setelah aku pergi, tapi untungnya dia bertemu dengan seorang gadis jelita. Mereka lalu bertunangan dan menikah dua minggu setelah artikel Haaretz muncul.

Sewaktu menghadiri pernikahannya, keluargaku tak mampu membendung air mata karena pernikahan Jamal mengingatkan mereka akan diriku, bagaimana aku telah menghancurkan masa depanku, dan bagaimana aku tidak akan pernah menikah dengan Muslimah dan punya keluarga Muslim. Melihat kesedihan mereka, maka pengantin pria pun juga mulai menangis. Tamu² lainnya ikut menangis pula, tapi aku yakin karena alasan yang berbeda.

“Tidak dapatkah kau menunggu mengeluarkan pengumuman sampai dua minggu setelah aku menikah?” tanya Jamal di telepon kemudian. “Kau membuat saat terbahagia dalam hidupku jadi hancur berantakan.”
Aku merasa sangat sedih. Tapi setelah itu, Jamal tetap menjadi sahabatku yang terbaik.
Ayah menerima laporan murtadku di penjara. Dia bangun tidur dan mengetahui bahwa putra sulungnya sudah beralih iman dan memeluk Kristen. Dari sudut pandangnya, aku telah menghancurkan masa depanku dan juga masa depan keluarganya. Dia yakin bahwa suatu hari aku akan dibawa ke neraka di hadapannya, dan kami tak akan berhubungan lagi untuk selamanya.
Ayah menangis bagaikan bayi dan tidak mau meninggalkan sel penjaranya.
Para tawanan dari berbagai organisasi mengunjunginya. “Kami semua putra²mu, Abu Mosab,” hibur mereka padanya. “Mohon tenangkan dirimu.”

Ayah tak percaya keterangan dari koran. Tapi seminggu kemudian, adik perempuanku yang berusia tujuh belas tahun, Anhar, yang merupakan satu²nya anggota keluarga yang boleh menjenguk ayah, datang menemui ayah. Seketika ayah dapat melihat dari mata Anhar bahwa berita koran itu memang benar. Ayah tak dapat lagi menguasai diri. Tawanan² lain meninggalkan sanak keluarga mereka yang menjenguk untuk datang dan mencium kepala ayah dan menangis bersamanya. Ayah mencoba bernapas tenang untuk meminta maaf pada mereka, tapi dia bahkan menangis lebih keras lagi. Bahkan para penjaga Israel, yang menghormatinya, juga ikut menangis.

Aku mengirim surat sepanjang enam halaman pada ayah. Aku katakan padanya bahwa sangat penting bagiku untuk menemukan sifat asli Elohim yang selalu dicintainya, tapi tidak dikenalnya.

Paman²ku dengan gelisah menunggu ayah memutuskan hubungan keluarga denganku. Tapi ayah menolak melakukan itu, dan para pamanku memalingkan punggung mereka terhadap istrinya dan anak²nya. Tapi ayah tahu bahwa jika dia memutuskan hubungan denganku, para teroris Hamas akan membunuhku. Dan dia terus berusaha melindungiku, tidak peduli betapa dalamnya sakit hati yang ditanggungnya.

Delapan minggu kemudian, orang² dari penjara Ktzi’ot di Negev mengancam mengadakan kekacauan. Maka Shabas, Pasukan Keamanan Penjara Israel, meminta ayah untuk menenangkan keadaan.
Aku dan ibu selalu berbicara lewat telepon seminggu sekali setelah aku datang di Amerika. Suatu hari, ibu meneleponku.
“Ayahmu sedang berada di Negev. Beberapa tawanan berhasil menyelundupkan ponsel. Apakah kau bersedia bicara dengannya?”
Aku tak bisa percaya akan tawaran ini. Kupikir aku tak akan bisa bicara dengan ayahku sampai dia dikeluarkan dari penjara.
Aku memencet nomer telepon ayah. Tiada jawaban. Kucoba menelepon lagi.
“Alo!”
Suara ayah. Aku hampir tak bisa berbicara.
“Hai, ayah.”
“Hai juga.”
“Aku rindu suaramu.”
“Bagaimana keadaanmu?”
“Baik² saja. Tak penting tentang keadaanku. Apa kabarmu?”
“Aku baik² saja. Kami datang ke sini untuk bicara dengan para tawanan dan mencoba menenangkan suasana.”

Ayah ternyata masih sama seperti dulu. Minatnya yang paling utama selalu adalah kepentingan orang lain. Dia akan terus begitu.
“Bagaimana hidupmu di AS sekarang ini?”
“Hidupku menyenangkan. Aku sedang menulis sebuah buku …”

Setiap tawanan diberi waktu bicara selama sepuluh menit, dan ayah tidak pernah menggunakan jabatannya untuk mendapat perkecualian. Aku ingin bicara tentang hidupku yang baru padanya, tapi dia tidak mau bicara tentang hal itu.
“Apapun yang terjadi,” katanya padaku, “kau tetap adalah putraku. Kau adalah bagian dari diriku, dan tiada yang berubah. Kau punya pendapat yang berbeda, tapi kau masih putraku.”
Aku sangat terkejut. Orang ini sungguh luar biasa.

Aku meneleponnya lagi keesokan harinya. Hatinya terasa sakit, tapi dia bersedia mendengarkan.

“Aku punya rahasia yang ingin kusampaikan padamu,” kataku. “Aku ingin memberitahu sekarang juga, agar kau tidak mendengarnya dari media berita.”

Aku menjelaskan bahwa aku telah bekerja bagi Shin Bet selama sepuluh tahun. Bahwasanya dia masih hidup hari ini adalah karena aku setuju agar dia ditempatkan di dalam penjara sebagai perlindungan baginya. Namanya tercantum di dalam daftar bunuh urutan yang teratas – dan dia sekarang berada di penjara karena aku tidak lagi bisa melindunginya.
Diam. Ayah tak berkata apapun.
“Aku mencintaimu,” kataku akhirnya. “Kau adalah ayahku senantiasa.”

Catatan Tambahan

Harapan terbesarku dalam menyampaikan kisah hidupku adalah agar aku bisa menunjukkan pada masyarakatku – orang² Palestina adalah umat Islam yang dimanfaatkan oleh rezim² korup selama ratusan tahun – bahwa kebenaran bisa memerdekakan mereka.

Melalui kisahku ini, aku harap masyarakat Israel juga mengetahui bahwa ada harapan. Jika aku, putra organisasi teroris yang berjuang bagi kepunahan Israel, dapat mencapai titik dimana aku tidak hanya belajar mencintai masyarakat Yahudi tapi bahkan juga mempertaruhkan nyawa bagi mereka, maka tentunya ada sinar harapan.

Kisahku juga mengandung pesan bagi orang² Kristen. Kita harus belajar dari penderitaan masyarakatku, yang menanggung beban berat dalam usaha menyenangkan elohim mereka. Kita harus melangkah lebih jauh daripada sekedar mengetahui aturan² agama sendiri. Sebaliknya, kita harus menerapkan ajaran itu dengan mengasihi umat manusia – dari segala penjuru dunia – tanpa syarat. Jika kita ingin menunjukkan Yeshua pada dunia, maka kita pun harus hidup sesuai dengan pesanNya. Jika kita ingin mengikuti Yeshua, kita pun harus bersiap-siap untuk ditindas. Kita harus bersyukur karena ditindas demi diriNya.

Untuk para ahli masalah Timur Tengah, para pejabat Pemerintahan², dan para pemimpin agen² rahasia, aku harap kisahku yang sederhana ini bisa memberi sumbangan untuk mengerti masalah dan solusi di daerah² yang paling banyak berperang di dunia.

Aku sampaikan kisahku dengan kesadaran bahwa banyak orang, termasuk mereka yang paling kucintai, tidak akan pernah bisa menerima motivasi dan cara pikirku.

Sebagian orang akan menuduhku bahwa aku menjadi mata² Israel karena alasan uang. Ironisnya adalah aku dulu tidak punya masalah keuangan, tapi sekarang aku benar² hidup kekurangan. Memang benar bahwa dulu keluargaku hidup sengsara, terutama saat ayah dipenjara, tapi akhirnya aku di Palestina bisa menjadi pemuda yang beruang. Dengan gaji dari Pemerintah Israel, aku dulu berpendapatan sepuluh kali lebih banyak daripada pendapatan rata² masyarakatku. Aku dulu hidup senang, punya dua rumah, dan punya mobil sport baru. Bahkan sebenarnya aku bisa mendapat uang lebih banyak lagi.

Ketika aku memberitahu pihak Israel bahwa aku tak mau lagi bekerja bagi mereka, mereka menawarkan untuk memberi modal membangun perusahaan komunikasi yang memungkinkan aku memperoleh jutaan dollar jika aku bersedia tinggal di Israel. Tapi aku menolak tawaran mereka dan datang ke Amerika Serikat, di mana sampai sekarang aku tidak bisa mendapatkan pekerjaan penuh dan tidak memiliki tempat tinggal. Memang aku berharap suatu hari nanti aku tidak kesulitan keuangan lagi, tapi aku telah belajar bahwa uang saja tidak akan pernah bisa membahagiakan diriku. Jika uang adalah tujuan utamaku, tentunya aku sekarang tetap akan tinggal di Palestina dan tetap bekerja bagi Israel. Sejak datang ke AS, aku bisa saja menerima sumbangan dari orang² di sekitarku. Tapi itu tak kulakukan, karena uang memang bukanlah prioritas utama bagiku – dan juga aku tak mau memberi kesan bahwa uanglah yang mendorongku berbuat sesuatu.

Sebagian orang mengira aku suka mendapatkan perhatian, tapi aku telah mendapatkan itu pula di tempat tinggalku dulu.

Yang sukar tergantikan adalah kekuasaan dan otoritas yang dulu kunikmati sebagai putra ketua senior Hamas. Setelah mencicipi kekuasaan, aku tahu bahwa itu bisa membuat orang ketagihan – jauh lebih kuat daripada uang. Aku menikmati kekuasaanku dalam hidupku yang dulu, tapi jika kau ketagihan sesuatu, misalnya kekuasaan, maka kau sendiri akan terbelenggu olehnya.

Kemerdekaan, rindu akan kemerdekaan, adalah pesan utama sebenarnya dari kisahku.
Aku adalah putra dari masyarakat yang telah diperbudak oleh sistem² korup selama berabad-abad.
Aku adalah tawanan pihak Israel saat mataku terbuka dan melihat fakta bahwa orang² Palestina sebenarnya ditindas oleh para pemimpin mereka sendiri, selain juga oleh Israel.
Aku dulu adalah pengikut setia agama yang mewajibkan ketaatan penuh untuk melakukan ibadah berat guna menyenangkan elohim Qur’an, dan agar bisa masuk surga.
Aku dulu punya uang, kekuasaan, dan kedudukan, tapi yang benar² kuinginkan adalah kemerdekaan. Dan kemerdekaan ini juga berarti meninggalkan segala kebencian, kecurigaan, dan keinginan balas dendam.

Pesan Yeshua – Kasihi musuhmu – inilah yang akhirnya memerdekakan diriku. Sudah tidak jadi masalah siapakah temanku atau musuhku; aku wajib mengasihi mereka semua. Dan aku juga bisa memiliki hubungan penuh kasih dengan Elohim yang akan menolongku mengasihi orang lain.

Memiliki hubungan seperti itu dengan Elohim bukan hanya merupakan sumber kemerdekaanku, tapi juga kunci untuk menjalani hidupku yang baru.

***************

Setelah membaca buku ini, mohon jangan mengira bahwa aku adalah pengikut Yeshua yang hebat. Aku masih berjuang sampai sekarang. Semua pengetahuanku yang sedikit tentang imanku kudapat dari belajar dan membaca Alkitab. Dengan kata lain, aku adalah pengikut Yeshua Ha Mashiah tapi aku baru mulai saja menjadi muridNya.

Aku lahir dan dibesarkan di lingkungan relijius yang menetapkan bahwa keselamatan hanya bisa dicapai melalui kerja keras. Aku harus berjuang keras menyingkirkan pandangan ini untuk menerima kebenaran:

Efesus 4:22-24: yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Elohim di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

Sama seperti banyak pengikut Yeshua lainnya, aku telah meminta ampun atas dosa²ku, dan aku tahu bahwa Yeshua adalah Anak Elohim yang telah jadi manusia, mati bagi dosa² kita, bangkit dari kematian, dan duduk di sebelah kanan Bapak. Aku telah dibaptis. Meskipun demikian aku merasa baru saja berada di pintu gerbang Kerajaan Elohim. Aku diberitahu bahwa akan jauh lebih banyak lagi daripada ini. Tentunya aku ingin mengalami semuanya itu.

Di saat ini, aku masih berjuang melawan nafsu duniawi, nafsu daging dan setan. Aku masih sering salah mengerti dan bingung. Aku kadang² bergumul dengan permasalahan yang sebenarnya tak nampak. Tapi aku berharap, sama seperti Rasul Paulus menjabarkan dirinya pada Timotius sebagai “orang yang paling berdosa” (1 Timotius 1:16), bahwa aku bisa menjadi orang yang dibentuk Elohim, selama aku tidak menyerah.

Maka jika bertemu aku di jalanan, mohon jangan minta nasehat atau jawaban tentang arti ayat Alkitab tertentu, karena kemungkinan besar kau jauh lebih berpengetahuan daripada aku. Jangan melihat diriku sebagai piala kemenangan agama Kristen, tapi berdoalah bagiku agar aku bisa terus tumbuh dalam iman dan tidak menginjak banyak jari kaki orang lain sewaktu aku belajar menari bersama Sang Pengantin.

***************

Selama kita mencari musuh di luar dan tidak di dalam diri kita sendiri, maka masalah Timur Tengah akan terus terjadi.

Agama bukanlah solusi masalah Timur Tengah. Agama tanpa Yeshua hanyalah keyakinan membenarkan diri sendiri saja. Merdeka dari penindasan juga tidak akan mampu memecahkan permasalahan. Setelah merdeka dari penindasan di Eropa, Israel malah jadi penindas orang lain pula. Jikalau nantinya telah merdeka dari penindasan, umat Muslim akan menjadi penindas orang lain pula. Anak² yang ditindas kelak akan tumbuh besar menjadi orang² yang suka menindas orang lain juga. Hal ini merupakan hal yang klise tapi benar: orang² yang disakiti, jika belum disembuhkan, maka nantinya akan menyakiti orang lain pula.

Karena dimanipulasi dusta dan didorong sikap rasis, kebencian, dan nafsu balas dendam, aku dulu pun menuju jalan yang akan membuatku jadi serupa dengan masyarakatku. Tapi di tahun 1999, aku bertemu dengan Elohim yang sejati. Dia adalah Bapak yang kasihNya melebihi apapun, yang rela mengorbankan PutraNya yang tunggal untuk mati di kayu salib demi menebus dosa dunia. Dia adalah Elohim, yang tiga hari kemudian menunjukkan kekuasaan dan kemulianNya dengan membangkitkan Yeshua dari kematian. Dia adalah Elohim yang tidak hanya memerintahkan diriku untuk mencintai dan mengampuni musuh²ku sama seperti Dia pun telah mencintai dan mengampuniku, tapi menguatkanku pula.

Kebenaran dan pengampunan merupakan satu²nya jalan keluar bagi Timur Tengah. Tantangannya, terutama bagi masyarakat Israel dan Palestina, bukanlah untuk mencari solusi. Tantangannya adalah untuk jadi pihak pertama yang berani untuk melakukannya.

[ Yeshua Ha Mashiah berkata: Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu.

Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.

Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.”  (Injil Yohanes 10:11-18)]

Waktu Kejadian
1923 – Akhir Kekalifahan Ottoman
1928 – Hassan al-Banna mendirikan Masyarakat Persaudaraan Muslim (Society of Muslim Brothers)
1935 – Persaudaraan Muslim (Muslim Brotherhood) didirikan di Palestina
1948 – Persaudaraan Muslim melakuan perlawanan penuh kekerasan terhadap Pemerintah Mesir; Israel memproklamirkan kedaulatannya; Mesir, Lebanon, Syria, Yordania, dan Iraq menyerang Israel.
1949 – Hassan al-Banna dibunuh; kamp penampungan Al-Amari didirikan di Tepi Barat
1964 – Palestine Liberation Organization (PLO) dibentuk
1967 – Perang Enam Hari
1968 – Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP) membajak pesawat El Al 707 dan menerbangkannya ke Aljeria; tiada korban jiwa
1970 – September Hitam, dimana ribuan pejuang PLO dibunuh oleh tentara Yordania, sewaktu Yordania mengusir PLO keluar dari wilayahnya
1972 – Sebelas atlet Israel dibunuh oleh Black September di Olimpiade Munich
1973 – Perang Yom Kippur
1977 – Hassan Yousef menikahi Sabha Abu Salem
1978 – Mosab Hassan Yousef lahir; tiga puluh delapan orang terbunuh sewaktu Fatah menyerang jalan raya pantai Israel di bagian utara Tel Aviv
1979 – Palestinian Islamic Jihad dibentuk
1982 – Israel menyerang Lebanon dan mengusir keluar PLO
1985 – Hasan Yousef dan keluarganya pindah ke Al-Bireh
1986 – Hamas didirikan di Hebron
1987 – Hassan Yousef mendapat pekerjaan kedua, mengajar agama Islam bagi murid Muslim di sekolah Kristen di Ramallah; Intifada Pertama dimulai
1989 – Penangkapan Hassan Yousef yang pertama kali; Amer Abu Sarhan dari Hamas membunuh tiga warga Israel
1990 – Saddam Hussein menyerang Kuwait
1992 – Keluarga Mosab pindah ke Betunia; Hassan Yousef ditangkap; teroris² Hamas menculik dan membunuh polisi Israel Nissim Toledano; para pemimpin Palestina dideportasi ke Lebanon
1993 – Perjanjian Oslo
1994 – Baruch Goldstein membunuh dua puluh sembilan warga Palestina di Hebron; penyerangan pertama bom bunuh diri; Yasser Arafat kembali dengan gemilang ke Gaza untuk mendirikan pusat pemerintahan Palestinian Authority (PA)
1995 – Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin dibunuh; Hassan Yousef ditangkap oleh PA; Mosab membeli senjata² gelap yang ternyata rusak
1996 – Pembuat bom Hamas Yahya Ayyash dibunuh; Mosab ditangkap dan dipenjara untuk pertama kali
1997 – Mosab dibebaskan dari penjara; Mossad gagal membunuh Khalid Meshaal
1999 – Mosab ikut kegiatan Belajar Alkitab
2000 – Pertemuan Camp David; Intifada Kedua (juga dikenal sebagai Intifada Al-Aqsa) dimulai
2001 – Bom bunuh diri di Bukit Perancis; bom bunuh diri di diskotik Dolphinarium dan toko pizza Sbarro; sekretaris jendral PFLP yakni Abu Ali Mustafa dibunuh oleh Israel; Menteri Turisme Israel yakni Rehavam Ze’evi dibunuh oleh penembak² PFLP
2002 – Israel melakukan Operasi Perisai Pertahanan (Operation Defense Shield); sembilan orang terbunuh dalam bom bunuh diri Universitas Ibrani; Mosab dan ayahnya ditangkap dan dipenjara
2003 – Tentara sekutu Barat membebaskan Iraq; teroris² Hamas Saleh Talahme, Hasaneen Rummanah, dan Sayyed al-Syeikh Qassem dibunuh oleh Israel
2004 – Yaser Arafat mati; Hassan Yousef dibebaskan dari penjara
2005 – Mosab dibaptis; gencatan senjata antara Hamas dan Israel berakhir; penangkapan dan penjara ketiga bagi Mosab; Mosab dibebaskan dari penjara
2006 – Ismail Haniyeh terpilih jadi Perdana Menteri Palestina
2007 – Mosab meninggalkan wilayah Palestina untuk pergi ke Amerika Serikat.

TAMAT

Son of Hamas:  Bab 1-4 ; Bab 5-8 Bab 9-12 ; Bab 13-16 ; Bab 17-20 ; Bab 21-24

Dapat di baca juga di:

SCRIBD PDF:
FFI Son of Hamas

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)
Iklan

Son of Hamas (Putra Hamas). Bab 21-24

Bab 21 – Permainan
Musim Panas 2001 – Musim Semi 2002

Bab 17-20

Pada tanggal 27 Agustus, 2001, sebuah helikopter Israel menembakkan dua buah roket ke kantor Abu Ali Mustafa, sekretaris jendral PFLP. Satu dari roket² itu menghajarnya saat dia duduk di kantornya.

Keesokan harinya, lebih dari 50.000 masyarakat Palestina yang marah, dan juga keluarga Mustafa, menghadiri penguburannya. Mustafa telah menentang proses perdamaian dan isi Perjanjian Oslo. Meskipun begitu, dia adalah Muslim moderat sama seperti ayahku, dan kami sering pergi bersama untuk mendengarkan ceramahnya.

Israel menuduhnya melakukan sembilan serangan bom mobil, tapi hal ini tidak benar. Sama seperti ayahku, dia adalah pemimpin politik, dan bukan pemimpin militer. Israel tidak punya bukti apapun terhadap dirinya. Tapi tampaknya itu tak jadi masalah. Mereka tetap saja membunuh Mustafa – mungkin sebagai balas dendam pembantaian di Sbarro atau di Dolphinarium. Atau kemungkinan besar mereka ingin menyampaikan peringatan pada Yasser Arafat. Selain menjadi ketua PFLP, Mustafa juga adalah anggota Komite Pelaksana PLO.

Dua minggu kemudian, pada tanggal 11 September, sembilan belas teroris Al-Qaeda membajak empat pesawat jet AS. Dua pesawat yang diterbangkan teroris menabrak dua gedung World Trade Center di New York City. Pesawat ketiga jatuh di gedung Pentagon di Washington DC. Pesawat yang keempat jatuh di lapangan County Somerset, Pennsylvania. Semua korban berjumlah 2.973, termasuk para teroris itu sendiri.

Sewaktu berbagai media berlomba memberitakan kejadian luar biasa ini, aku duduk bersama orang² seluruh dunia melihat berulang-ulang tayangan jatuhnya Gedung Kembar itu, di mana abu putih menutupi Jalan Gereja bagaikan badai salju di bulan Februari. Aku merasa malu melihat cuplikan film anak² Palestina bersorak-sorai merayakan serangan itu di jalanan Gaza.

Serangan ini membuat usaha perlawanan Palestina terhadap Israel jadi hangus, sewaktu seluruh dunia berteriak dengan satu pesan melawan terorisme – pokoknya segala macam terorisme, apapun tujuannya. Dalam beberapa minggu berikutnya, Shin Bet mulai mengambil pelajaran dari peristiwa 9/11 tersebut.

Mengapa organisasi² kemanan rahasia AS tidak mampu mencegah malapetaka tersebut? Jawabannya adalah: pertama, masing² organisasi tersebut ternyata bekerja sendiri² dan malah saling bersaing dan kurang ada kerjasama. Kedua, mereka kebanyakan bergantung pada teknologi dan jarang bekerjasama dengan para teroris. Taktik seperti ini mungkin cocok dalam Perang Dingin (melawan komunis), tapi sungguh sukar melawan orang² yang menganut ideologi fanatik dengan bantuan teknologi saja.

Di lain pihak, organisasi kemanan rahasia Israel kebayakan bergantung pada sumberdaya manusia; dan mereka punya mata² yang tak terhingga jumlahnya di mesjid², organisasi² Islam, dan berbagai badan kepemimpinan. Mereka bahkan sanggup merekrut teroris² yang terganas sekalipun. Mereka tahu bahwa mereka perlu memiliki mata dan telinga di bagian dalam, dan juga pikiran untuk mengerti motif dan emosi, yang semuanya dibutuhkan untuk menghubungkan keterangan satu dan yang lain untuk menghasilkan pemahaman yang lengkap.

Amerika tidak tahu apapun tentang ideologi dan budaya Islam. Selain itu, bagian perbatasan AS dibiarkan terbuka dan keamanan sangat lemah, sehingga AS jadi target yang jauh lebih empuk dibandingkan Israel. Meskipun perananku sebagai mata² memungkinkan Israel menangkapi ratusan teroris di jalanan, kami tetap saja tidak mampu menghentikan terorisme sepenuhnya – bahkan di negara sekecil Israel.

Sekitar sebulan kemudian, di tanggal 17 Oktober, empat orang bersenjata PFLP masuk ke Hotel Hyatt Yerusalem dan membunuh Menteri Turisme Rehavam Ze’evi. Mereka mengatakan pembunuhan ini adalah tindakan balas dendam atas pembunuhan Mustafa. Meskipun tampaknya bidang Ze’evi tidak banyak terlibat dalam politik, tapi sudah bisa ditebak bahwa dia akan jadi target penyerangan. Hal ini karena dia secara terang²an menganjurkan kebijaksanaan politik yang membuat hidup tiga juta masyarakat Palestina jadi sangat sengsara di Jalur Gaza dan tepi Barat, sehingga akhirnya mereka dengan sukarela mengungsi ke negara² Arab lainnya. Sewaktu diwawancarai oleh wartawan Associated Press, Ze’evi mengatakan bahwa sebagian rakyat Palestina bagaikan ‘kutu penghisap darah’ yang harus dibasmi seperti membasmi ‘kanker yang menyebar dalam tubuh kita.’ [8]
[8]”Berita kematian: Rehavam Zeevi,” BBC News, 17 Oktober, 2001,  (diakses tanggal 24 November, 2009).

Mata ganti mata, gigi ganti gigi, dan saling bunuh karena dendam terus berlangsung. Sementara itu, masih banyak mata dan gigi yang tersedia.

Aku telah bekerja keras selama beberapa tahun untuk mengumpulkan semua keterangan sebisa mungkin untuk menolong Shin Bet menghentikan pertumpahan darah. Kami terus mengamati Muhammad Jamal al-Natsheh, Saleh Talahme, dan tiga orang lainnya yang dulu kuantar ke apartemen setelah mereka keluar dari penjara PA. Mereka berubah-ubah tempat tinggal, dan hanya Saleh saja yang tepat berhubungan denganku. Tapi kami tetap mengawasi keempat orang lainnya melalui keluarga mereka dan menyadap percakapan telepon mereka.

Saleh percaya padaku. Dia selalu mengatakan di mana dia tinggal dan sering mengundangku untuk bertamu. Setelah aku mengenalnya, aku sangat suka bersahabat dengannya. Dia adalah orang yang mengagumkan – ilmuwan cerdas, lulus sebagai insinyur terpandai di kelasnya, dan salah satu mahasiswa terbaik di Universitas Birzeit. Baginya, aku adalah putra Hassan Yousef, dan juga teman baik dan pendengar yang setia.

Aku sering bertemu dengannya; aku mengenal istrinya yakni Majeda dan juga kelima anak²nya (dua anak laki dan tiga anak perempuan). Putra sulungnya bernama Mosab, sama seperti namaku. Majeda dan anak²nya datang ke Ramallah dari Hebron untuk menjenguk Saleh di apartemen rahasia tempatnya bersembunyi. Saat itu aku masih berusaha menyelesaikan pendidikan S1-ku. Di suatu petang, Saleh bertanya bagaimana studiku.
“Ada kesulitan dengan bahan kuliah?”
“Iya nih, Statistik Ekonomi.”
“Baiklah, besok bawa kemari bukumu dan kita akan duduk bersama dan belajar bagaikan di kelas kecil.”

Ketika aku katakan pada Loai dan Shin Bet tentang hal itu, mereka senang. Mereka berpikir kegiatan belajar bersama ini merupakan penyamaran yang baik bagiku. Tapi sebenarnya hal ini tidak sepenuhnya penyamaran, karena aku dan Saleh memang berteman baik. Dia mengajarku, dan aku berhasil mendapatkan angka ujian yang sangat baik dua minggu kemudian. Aku mengasihinya dan keluarganya. Aku pun sering bertamu dan makan di tempatnya. Kami menjadi sahabat erat. Ini tentunya hubungan yang aneh karena saat itu aku sudah tahu bahwa Saleh adalah orang yang sangat berbahaya. Tapi di lain pihak, demikian pula aku baginya.

*******************

Pada malam di tanggal 2 Maret, 2002, aku sedang duduk di rumah ketika dua orang pria datang ke rumah.
Dengan rasa curiga aku bertanya padanya, “Apakah ada yang bisa kutolong?”
“Kami mencari Syeikh Hassan Yousef. Ini hal penting.”
“Katakan padaku mengapa penting.”

Mereka menerangkan bahwa mereka adalah dua dari lima pembom bunuh diri yang baru saja tiba dari Yordania. Orang penghubung mereka baru saja ditangkap, dan mereka butuh tempat aman untuk tinggal.
“Baiklah,” kataku. “Kau datang di tempat yang tepat.”
Aku tanya apa yang mereka butuhkan.
“Kami bawa mobil penuh dengan bahan peledak dan bom, dan kami butuh tempat aman untuk parkir mobil.”
Waduh, pikirku, apa yang harus kulakukan dengan mobil penuh bahan peledak? Aku harus cepat berpikir. Aku mengambil keputusan untuk menyimpan mobil di garasi di sebelah rumah kami. Ini tentunya bukan gagasan yang baik, tapi aku harus cepat mengambil keputusan saat itu juga.
“Baiklah, ini uang bagi kalian,” kataku sambil mengosongkan dompetku. “Silakan cari tempat untuk tinggal, kembali padaku lagi malam ini, dan kita rencanakan apa yang harus kita lakukan.”
Setelah mereka pergi, aku telepon Loai, dan aku lega ketika Shin Bet datang dan membawa pergi mobil itu.
Kelima pembom bunuh diri kembali ke rumahku dalam waktu singkat. “Baiklah,” kataku pada mereka, “mulai sekarang, akulah koneksi kalian dengan Hamas. Aku akan menyediakan kalian target, lokasi, transportasi, dan segala yang kalian butuhkan. Jangan bicara pada siapapun, atau kalian bisa² terlanjur terbunuh sebelum mampu membunuh satu orang Israel saja.”

Kesempatan ini bagaikan menemukan durian runtuh, karena selama ini tiada seorang pun yang mengetahui para pembom bunuh diri sebelum mereka meledakkan bom. Sekarang tiba² saja lima calon pembom bunuh diri muncul di hadapanku dengan mobil penuh dengan bom. Tiga puluh menit kemudian aku memberitahu Shin Bet tentang lokasi mereka. Perdana Menteri Sharon memerintahkan agar mereka dibunuh.

“Wah, ya tidak bisa,” kataku pada Loai.
“Apa?!”
“Aku tahu mereka adalah teroris, dan mereka akan meledakkan diri. Tapi kelima orang ini bodoh dan tak tahu apa yang mereka lakukan. Kau tidak boleh membunuh mereka. Jika kau membunuh mereka, maka ini adalah terakhir kali aku membantumu.”
“Kau ini mengancam kami?”
“Tidak, tapi kau tahu bagaimana aku bekerja. Aku membuat satu perkecualian dengan Halawa, dan kau tentunya ingat bagaimana kesudahannya. Aku tidak mau lagi jadi bagian pembunuhan orang.”
“Apa ada pilihan lain?”
“Tangkap mereka,”
kataku, meskipun aku tahu ini berbahaya sekali. Kami memang telah memiliki mobil dan bom mereka, tapi mereka masih punya sabuk penuh bom pula. Jika mereka melihat seorang prajurit berada dalam jarak 100 meter dari kamar mereka, mereka tentunya akan meledakkan sabuk bom dan membunuh semua orang di sekitarnya.

Bahkan jikalau sekalipun kami berhasil menangkap mereka semua tanpa ada korban nyawa, mereka pasti akan menyebut namaku pada interogator mereka di penjara, sehingga aku pasti ketahuan. Yang termudah tampaknya memang membiarkan saja helikopter meluncurkan roket² ke apartemen mereka, dan beres sudah.

Tapi hati nuraniku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Meskipun belum jadi Kristen, aku benar² mencoba melakukan ajaran Yesus. Allâh tidak keberatan dengan pembunuhan dan malah mewajibkannya. Tapi Yesus menarikku ke standard yang lebih tinggi. Sekarang aku tidak tega untuk membunuh, bahkan teroris sekalipun.

Di saat yang sama, aku juga telah jadi aset yang sangat berharga bagi Shin Bet. Mereka tidak senang dengan keadaan ini, tapi mereka akhirnya setuju untuk membatalkan rencana pembunuhan.

“Kita harus tahu apa yang berlangsung dalam kamar itu,” kata mereka padaku. Aku datang ke apartemen mereka dengan berdalih membawa perabot² sederhana yang mereka butuhkan. Mereka tak mengetahui bahwa kami memasang alat penyadap pada perabotan tersebut sehingga kami bisa mendengar pembicaraan mereka. Bersama-sama Shin Bet, aku mendengarkan mereka diskusi siapa yang akan mati pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Semua ingin jadi orang pertama yang mati sehingga mereka tidak usah melihat rekannya meledak. Sungguh mengerikan. Rasanya bagaikan mendengarkan sekelompok orang mati mengobrol.

Pada tanggal 16 Maret, pasukan keamanan bersiaga di sekitar apartemen itu. Apartemen para pembom itu berada di tengah² kota Ramallah, sehingga IDF tidak bisa membawa tank. Karena pasukan harus berjalan kaki, operasi penyergapan ini sangat berbahaya. Aku mengikuti semua kegiatan dari tempatku, dan Loai bicara denganku di telepon dan memberitahu apa yang sedang terjadi.
“Mereka sekarang akan tidur.”

Kami menunggu sampai terdengar suara dengkuran dari monitor. Akan bahaya sekali jika mereka terbangun. Pasukan tentara harus bisa masuk dan mencapai ranjang sebelum para pembom bisa bergerak. Seorang prajurit memasang bom di gagang pintu, dan kami mendengarkan monitor untuk mendeteksi suara apapun yang menandakan mereka terjaga. Para prajurit sekarang memberi tanda aba² untuk siap beraksi. Pintu diledakkan, dan pasukan khusus anti teroris menyerbu masuk ke apartemen kecil itu, menangkap semua teroris kecuali satu orang. Dia mengambil senjata dan berlari keluar jendela. Dia mati sebelum menghujam lantai. Semua orang menarik napas lega, kecuali aku. Begitu pasukan keamanan membawa mereka ke dalam Jeep tentara, salah seorang dari mereka menyebut namaku sebagai mata² Israel. Apa yang amat kukhawatirkan telah benar² terjadi. Aku telah ketahuan. Sekarang gimana dong?

Loai punya jalan keluar. Shin Bet mendeportasi orang tersebut kembali ke Yordania, dan mengirim teman²nya yang lain ke penjara. Jadi tatkala orang tersebut bebas kembali ke rumahnya dan senang bertemu dengan keluarganya, ketiga pembom lainnya yang dipenjara tentu mengira dialah yang mengkhianati mereka, dan bukan aku. Ini adalah solusi yang sangat cerdik.
Aku selamat sekali lagi, tapi nyaris ketahuan. Tapi sudah jelas bahwa aku kurang berhati-hati.

*******************

Suatu hari, aku menerima pesan dari ketua Shin Bet yakni Avi Dichter, yang berterima kasih padaku atas pekerjaan yang kulakukan bagi mereka. Dia berkata bahwa dia telah memeriksa semua arsip perang Israel melawan terorisme dan menemukan nama Pangeran Hijau di setiap arsip. Meskipun membanggakan, tapi hal ini juga merupakan suatu peringatan. Aku menyadari akan hal ini, begitu juga Loai. Jika aku terus melakukan hal yang sama, aku tentunya akan mati karena ketahuan. Jejak langkahku sudah terlalu panjang. Seseorang akhirnya akan bisa mengendusnya. Entah bagaimana caranya, tapi penting untuk menghapus jejakku.

Sikap keras kepalaku untuk menolak lima pembom tersebut dibunuh juga telah mempersulit keadaanku. Meskipun semua orang yakin bahwa pembom yang dikirim balik ke Yordania berkhianat sehingga teman²nya tertangkap, mereka juga tahu bahwa Israel tak akan ragu menangkap siapapun yang membantu para pembom tersebut. Dan mereka tahu aku sudah jelas banyak membantu para pembom bunuh diri itu. Sekarang masalahnya: mengapa aku belum juga ditangkap IDF?

Seminggu setelah penangkapan para pembom bunuh diri tersebut, tim keamanan Israel menyampaikan dua gagasan yang dapat menyelamatkan diriku agar tetap tak ketahuan. Pertama, mereka bisa menangkapku dan mengembalikan aku ke penjara. Tapi aku khawatir ini bisa mengakibatkan kematian ayah, karena tidak lagi dilindungi diriku.

“Pilihan lain bagi kita adalah melakukan sebuah permainan.”
“Permainan apa?”

Loai menjelaskan bahwa kami harus menyelenggarakan penangkapan besar, yang bisa meyakinkan semua orang Palestina bahwa Israel benar² ingin menangkap atau membunuhku. Agar tampak meyakinkan, hal ini harus dilakukan secara nyata dan tidak bersandiwara. IDF (Israeli Deffence Force) harus benar² mengira bahwa mereka harus menangkapku. Ini berarti Shin Bet harus menipu IDF – sekutu mereka sendiri.

Shin Bet memberi waktu IDF hanya beberapa jam saja untuk mempersiapkan operasi besar ini. Shin Bet mengatakan pada IDF bahwa sebagai putra Hassan Yousef, aku adalah orang yang sangat berbahaya, karena aku punya hubungan erat dengan para pembom bunuh diri dan kemungkinan bersenjata bom pula. Shin Bet mengatakan mereka mendengar laporan mata² bahwa aku akan datang ke rumah ayahku pada malam itu untuk menengok ibuku. Aku hanya akan tinggal untuk waktu singkat, dan aku bersenjata M16.
Bukan main permainan tipu-tipuan ini.
IDF dibuat yakin bahwa aku adalah teroris kelas hiu yang bisa hilang lenyap dengan cepat jika mereka gagal menangkapku. Karena itu IDF berjanji akan melakukan yang terbaik agar mereka tidak gagal. Pasukan keamanan khusus datang memakai pakaian Arab, bersama para penembak jarak jauh. Mereka masuk ke kota dengan mengendarai mobil Palestina, dan berhenti dalam jarak dua menit menyetir dari rumahku, sambil menunggu aba² dari Shin Bet. Tank² berat sudah berada dalam posisi 15 menit dari perbatasan wilayah Palestina. Helikopter² dengan senjata lengkap sudah siap untuk membantu dari udara, jika saja para feda’iyin Palestina menyerang pasukan IDF di jalanan.
Di luar rumah ayahku, aku duduk di mobilku sambil menunggu panggilan telepon dari Shin Bet. Mereka memberitahu bahwa jika telepon berdering, aku hanya punya waktu 60 detik tepat untuk melarikan diri sebelum pasukan keamanan datang mengepung rumahku. Aku tidak boleh melakukan kesalahan.
Terasa tusukan rasa sesal di hatiku membayangkan betapa takutnya ibu dan adik² kecilku di tengah penyerangan tersebut. Seperti biasa, mereka harus membayar harga bagi tindakan yang dilakukan ayah dan diriku.
Aku melihat kebun bunga ibu yang indah. Dia telah mengumpulkan bunga² tersebut dari berbagai tempat, juga dari teman² dan keluarganya. Dia merawat bunga²nya bagaikan merawat anak²nya.
“Berapa banyak bunga lagi yang kita butuhkan?” kadang² aku menggodanya.
“Hanya sedikit tambahan lagi, kok,” begitu selalu jawab ibu.
Aku ingat saat dia menunjuk ke satu bunga dan berkata, “Tanaman ini lebih tua daripada dirimu. Ketika kau masih anak², kau memecahkan potnya, tapi aku menyelamatkannya dan sampai sekarang tanaman itu masih hidup.”
Apakah tanaman itu masih bisa terus hidup beberapa menit dari sekarang setelah pasukan khusus muncul dan menginjaknya?

Ponselku berdering.
Darah terasa mengalir deras dalam kepalaku. Hatiku berdebar-debar. Aku menyalakan mesin mobil dan langsung melajukan mobil ke tengah kota menuju tempat persembunyian rahasia yang baru. Aku tidak berpura-pura lagi jadi buronan. Para pasukan tentunya lebih memilih membunuhku daripada menangkapku saat ini. Semenit setelah aku pergi, sepuluh mobil sipil dengan nomer mobil Palestina datang dan menginjak rem kuat² di depan rumah. Pasukan khusus Israel mengepung rumahku, senapan otomatis mengarah ke setiap jendela dan pintu. Halaman depan rumah² para tetangga penuh dengan anak², termasuk adik lakiku Naser. Mereka berhenti main sepakbola dan berlarian ketakutan.

Setelah pasukan berada dalam posisi siaga, lebih dari dua puluh tank menderu masuk. Sekarang seluruh masyarakat kota datang untuk menonton apa yang terjadi. Aku bisa mendengar suara mesin disel raksasa menderu hebat dari tempat persembunyianku. Ratusan militan Palestina bersenjata datang ke rumah ayah dan mengelilingi IDF. Tapi mereka tidak bisa menembak karena banyak anak kecil sedang berlarian untuk mencari perlindungan dan karena keluargaku masih berada di dalam rumah.

Ketika para feda’iyin muncul, maka helikopter juga dipanggil. Aku tiba² berpikir mungkin sebaiknya aku membiarkan saja kelima pembom bunuh diri itu dibunuh. Jika aku tidak melarang IDF meluncurkan bom pada mereka, tentunya keluarga dan para tetanggaku tidak terancam resiko besar seperti sekarang. Jika ada saudaraku yang mati tertembak karena pengepungan ini, aku tak akan bisa memaafkan diriku.

Agar yakin hasil karya kami jadi berita besar, aku memberi keterangan pada Al-Jazira bahwa akan terjadi penyerangan besar di rumah Syeikh Hassan Yousef. Mereka semua mengira akhirnya Israel akan menangkap ayah, dan mereka ingin merekam peristiwa penangkapannya saat itu juga. Aku bisa membayangkan reaksi mereka tatkala melalui pengeras suara para pasukan meminta putra Syeikh yang tertua, Mosab, untuk keluar rumah dengan tangan di atas kepala. Setelah aku tiba di apartemen rahasiaku, aku menyalakan TV dan menonton drama penangkapan itu bersama dengan seluruh dunia Arab.

Pasukan mengumpulkan keluargaku keluar dari rumah dan menanyai mereka satu per satu. Ibuku berkata pada mereka bahwa aku pergi satu menit sebelum mereka tiba. Tentu saja mereka tak percaya keterangan ibuku. Mereka lebih percaya pada Shin Bet, pihak yang mengatur semua permainan ini. Ketika aku tetap juga tidak muncul untuk menyerah, maka pasukan Israel mengancam akan mulai menembak ke dalam rumahku.

Selama waktu sepuluh menit, semua orang menunggu dengan tegang. Tak lama kemudian, sebuah misil mendesis di udara dan meledakkan separuh rumahku. Para pasukan berlarian masuk ke dalam rumah. Aku tahu mereka memeriksa setiap rumah. Tapi mereka tak menemukan mayatku sama sekali.

IDF sangat malu dan marah sekali karena aku berhasil melarikan diri dari cekalan mereka. Jika mereka menangkap aku sekarang, Loai memperingatkan aku di telepon, mereka akan menembakku di tempat. Bagi kami, operasi itu sungguh sukses. Tiada seorang pun yang terluka, dan namaku seketika tercantum dalam daftar teroris yang paling dicari. Seluruh kota membicarakan tentang diriku. Dalam waktu semalam saja, aku telah menjadi teroris berbahaya.

Dalam beberapa bulan setelah itu, aku punya tiga prioritas: menghindari tentara Israel, melindungi ayahku, dan terus mengumpulkan keterangan.

Bab 22 – Perisai Pertahanan
Musim Semi 2002

Kekerasan semakin meningkat dengan kecepatan yang memusingkan kepala.

Orang² Israel ditembaki, ditusuk, dan dibom. Orang² Palestina dibunuhi. Ronde demi ronde balas dendam terus berlangsung, dan semakin cepat. Masyarakat internasional mencoba menekan Israel tapi imbauan ini sia² saja.

“Hentikan pendudukan ilegal… Hentikan pemboman terhadap warga sipil, pembunuhan, dan penggunaan kekerasan yang tak berguna, penghancuran rumah, dan penghinaan setiap hari terhadap masyarakat Palestina,” tuntut sekjen PBB Kofi Annan di tanggal 2 Maret, 2002. [9]
[9] “Annan Mengritik Israel karena Mengarah Penduduk Sipil,” U.N.Wire, 12 Maret, 2002,  (diakses pada tanggal 23 Oktober, 2009).

Di hari di mana kami menangkap empat pembom bunuh diri yang kulindungi dari pembunuhan, para pemimpin Persatuan Eropa meminta pihak Israel dan Palestina menghentikan kekerasan. “Tak ada solusi militer bagi masalah ini,” kata mereka. [10]
[10] Persatuan Eropa, “Deklarasi Barcelona tentang Timur Tengah,” 16 Maret, 2002,

Di tahun 2002, hari raya Paskah jatuh di tanggal 27 Maret. Di sebuah ruang makan lantai bawah Hotel Park di Netanya, 250 tamu berkumpul untuk tradisi makan Seder.

Anggota Hamas bernama Abdel-Basser Odeh, usia 25 tahun, masuk melewati penjagaan keamanan, meja pendaftaran di lobi, ke dalam kerumunan orang². Dia memasukkan tangan ke dalam jaketnya dan meledakkan bom.

Ledakan membunuh 30 orang dan melukai 140 lainnya. Beberapa dari korban adalah orang yang dulu selamat dari Holokaus Nazi. Hamas menyatakan bertanggung jawab, dengan mengatakan tujuan peledakkan adalah untuk mencegah Pertemuan Puncak Arab (Arab Summit) di Beirut. Meskipun demikian, keesokan harinya, Liga Arab yang dipimpin Saudi Arabia mengumumkan bahwa mereka telah memungut suara dan mengakui Negara Israel dan menormalkan hubungan, selama Israel setuju untuk kembali ke daerah kekuasaan sebelum tahun 1967, menyelesaikan masalah pengungsi Palestina, dan mendirikan Negara Palestina merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya. Jika Israel menerima persyaratan ini, masyarakat Palestina akan menang besar sekali. Tapi sayangnya, Hamas tetap saja memaksa dengan sikapnya yang ‘mendapatkan segalanya atau tidak sama sekali.’

Karena tahu Hamas tidak akan mengubah pendirian, Israel melakukan rencana ekstrim untuk menanggulangi Hamas.

Dua minggu kemudian, pasukan Israel menyerang masuk wilayah Palestina dan menduduki dua kota yakni Ramallah dan Al-Bireh. Pengamat militer memperingatkan kemungkinan terjadinya banyak korban di pihak Israel. Tapi sebenarnya mereka tak perlu khawatir.

IDF membunuh lima orang Palestina, menetapkan jam malam, dan menguasai beberapa gedung. Buldozer² raksasa D9 juga menghancurkan beberapa rumah di kamp penampungan Al-Amari, termasuk rumah milik Wafa Idris, pembom bunuh diri wanita pertama, yang membunuh pria Israel berusia 81 tahun dan melukai 100 orang lainnya diluar toko sepatu di Yerusalem, di tanggal 27 Januari.

Setelah serangan bom bunuh diri di Hotel Park, Pemerintah Israel memberi lampu hijau untuk melancarkan operasi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya. Operasi militer ini bernama Perisai Pertahanan (Operation Defense Shield).
Teleponku berdering. Ternyata Loai.
“Ada apa?” tanyaku.
“Seluruh IDF berkumpul,” kata Loai. “Malam ini, kami akan menangkap Saleh dan semua buronan lainnya.”
“Apa maksudmu?”
“Kami akan menguasai seluruh Tepi Barat dan memeriksa setiap rumah dan bangunan, tak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan. Diam di tempat. Aku akan meneleponmu lagi.”

Wow, pikirku. Ini hebat! Mungkin serangan itu akhirnya akan mengakhiri perang sinting ini.

Terdengar kabar angin di seluruh Tepi Barat. Para pemimpin Palestina tahu ada sesuatu yang akan terjadi, tapi tak tahu persisnya apa. Orang² meninggalkan tempat kerja mereka, klinik kesehatan, dan kelas², dan langsung pulang untuk nonton TV, menunggu berita. Aku telah memindahkan ayahku ke apartemen milik pasutri warga AS, dan Shin Bet menjamin keselamatannya di sana.

Di tanggal 29 Maret, aku masuk ke Hotel City Inn di Jalan Nablus di Al-Bireh, di mana BBC, CNN, dan media internasional lainnya tinggal. Ayah dan aku tetap berhubungan melalui radio dua jalur.

Shin Bet mengira saat itu aku sedang berada di Hotel City Inn, nonton TV sambil makan cemilan. Tapi aku tidak ingin kehilangan kesempatan menonton peristiwa bersejarah ini langsung di tempatnya. Maka aku keluar hotel sambil membawa senjata M16 di pundakku, sehingga aku tampak bagaikan orang buronan. Aku menuju puncak bukit di sebelah Perpustakaan Ramallah, di mana aku bisa melihat bagian tenggara kota tempat ayahku tinggal. Kupikir aku akan aman berada di situ, dan bisa cepat lari ke hotel jika mendengar tank² mendekati.

Sekitar hampir jam 12 malam, ratusan tank Merkava berderu hebat masuk kota. Aku tidak menduga mereka akan menyerang dari segala penjuru dalam waktu bersamaan – dan juga tidak secepat itu. Beberapa jalanan begitu sempit sehingga tank² tidak punya pilihan lain selain menggilas mobil² yang parkir di jalanan. Jalanan lain cukup lebar, tapi tampaknya para prajurit dalam tank menikmati suara mobil² yang digilas dengan tanknya. Kebanyakan jalan² di kamp penampungan berukuran sedikit lebih besar daripada gang² perantara rumah.

“Matikan radiomu!” kataku pada ayah. “Tiarap! Tundukkan kepalamu!”

Aku telah memarkir mobil Audi ayah di pinggir jalan. Dengan rasa takut aku melihat sebuah tank menggilas remuk mobil ayah. Seharusnya mobil itu tidak kuparkir di situ. Aku tahu aku harus cepat melarikan diri, tapi aku tak tahu harus berbuat apa. Tentunya aku juga tak bisa menelepon Loai dan memintanya menghentikan operasi penyerangan hanya karena aku ingin sedikit bermain Rambo.

Aku berlari ke arah tengah kota dan merunduk ke dalam garasi parkir, hanya beberapa meter dari sebuah tank yang sedang melaju. Prajurit² Israel belum tampak karena sedang menunggu tank² Merkava mengamankan wilayah. Tiba² aku menyadari bahwa sebuah kelompok perlawanan Palestina berkantor di gedung yang terletak di atas kepalaku. Aku sedang berlindung di target sasaran.

Tank² tidak bisa membedakan antara mata² Shin Bet atau teroris, Kristen atau Muslim, orang bersenjata atau warga sipil biasa. Dan para tentara yang berada dalam tank tersebut sama takutnya seperti aku yang sekarang bersembunyi. Di sekitarku, para pria yang tampak seperti diriku menembakkan AK47 kepada tank² tersebut. Ping. Ping. Ping. Peluru memantul kesana kemari. Tank juga tak mau kalah, dan balas tembak. BUUM! Telingaku terasa mau meledak.

Bagian besar bangunan di sekitar kami mulai runtuh dan menimbulkan gelombang debu. Setiap kanon tank meledak, hentakannya terasa seperti memukul perutku. Senapan² otomatis terus ditembakkan, peluru² beterbangan, dan suaranya menggema di tembok² garasi. Kanon meledak lagi, debu beterbangan di mana, dan serpihan² tembok dan batu berjatuhan.

Aku harus keluar dari tempat ini. Tapi gimana caranya?

Tiba² sekelompok pejuang Fatah lari masuk ke dalam garasi dan bersembunyi di sebelahku. Wah, payah nih. Bagaimana jika para prajurit masuk ke sini? Para feda’iyin akan menembaki mereka. Lalu apakah aku juga harus menembak? Pada siapa? Jika aku tak menembak, maka aku pun tetap akan ditembak. Tapi aku tak mau membunuh siapapun. Dulu memang aku bertekad membunuh, tapi sekarang tidak lagi.

Lebih banyak lagi pejuang Palestina yang masuk garasi untuk bersembunyi. Tiba² semua sunyi senyap dan tak ada yang berani bernafas.

Para prajurit IDF masuk perlahan-lahan ke dalam garasi. Tampaknya sebentar lagi akan ada saling tembak dahsyat. Para prajurit menyalakan obor api mencari orang atau refleksi senjata. Mereka mendengarkan, dan kami melihat. Jari² telunjuk berkeringat dan siap menarik pelatuk senjata.

Lalu air Laut Merah terbelah.
Mungkin karena takut masuk ke bagian garasi tergelap dan lembab, atau mungkin karena ingin kembali ke tank, para prajurit itu tiba² berhenti, berbalik, dan pergi begitu saja. Setelah mereka menghilang, aku masuk ke gedung di atasku, naik tangga, dan menemukan telepon yang bisa kugunakan untuk menelepon Loai.
“Bisakah kau meminta IDF untuk mundur sekitar dua blok agar aku bisa kembali ke hotelku?
“Apa?! Di mana kamu sekarang? Mengapa kau tidak berada di hotel?”
“Aku sedang melakukan tugasku.”
“Kau sinting!”

Lalu berlangsung suasana diam sesaat yang canggung.
“Baiklah, akan kami lihat apa yang bisa kami lakukan.”

Dibutuhkan waktu dua jam untuk memanggil mundur para tank dan prajurit, yang tentunya terheran-heran mengapa mereka harus mundur. Begitu mereka telah mundur, aku melompat dari satu atap rumah ke atap lainnya, dan hampir mematahkan kaki²ku. Akhirnya aku tiba di kamar hotel dengan aman. Aku tutup pintu, membuka baju teroris dan senapanku, lalu memasukkan semuanya ke lubang AC.

Di saat itu, rumah tempat ayahku bersembunyi terletak di tengah² badai penyerangan. IDF memeriksa semua rumah di sekitarnya, di belakang setiap gedung, di bawah setiap batu. Tapi mereka juga sudah diberitahu untuk tidak masuk rumah tertentu.

Di dalam rumah itu, ayah membaca Qur’an dan berdoa. Pemilik rumah juga membaca Qur’an dan berdoa. Istrinya juga membaca Qur’an dan berdoa. Lalu, karena alasan yang tak mereka ketahui, para tentara Israel melewati rumah itu begitu saja, lalu pergi, dan mulai memeriksa daerah lain.

“Kau pasti tak percaya muzizat ini, Mosab!” kata ayah lewat radio tak lama kemudian. “Sungguh sukar dipercaya! Mereka datang. Mereka memeriksa setiap rumah di sekitar kami, seluruh daerah tetangga – kecuali rumah di mana kami bersembunyi. Alhamdulillaaah!”
“Terima kasih kembali,” kataku dalam hati.

Israel tidak pernah melakukan operasi penyerangan sebesar Operasi Perisai Pertahanan sejak Perang Enam Hari. Dan ini hanya permulaan saja. Ramallah adalah target pertama. Setelah itu Betlehem, Jenin, dan Nablus diserang pula. Ketika aku sedang berlari-lari menghindari tentara Israel, pasukan IDF telah mengepung tempat tinggal Yasser Arafat. Semua gedung ditutup. Jam malam yang ketat diberlakukan.

Di tanggal 2 April, tank² dan mobil² bersenjata mengepung gedung Preventive Security Compound (Kompleks Keamanan Pencegahan) dekat rumah kami di Betunia. Helikopter² militer beterbangan di atas rumah kami. Kami tahu PA menyembunyikan setidaknya 50 orang buronan, dan Shin Bet frustasi karena tidak bisa menemukan mereka dimana pun.

Kompleks itu terdiri dari empat gedung, dan satu gedung kantor empat tingkat di mana Kolonel Jibril Rajoub [11] dan agen² keamanan PA tinggal. Seluruh fasilitas kompleks ini dibangun dan dilengkapi oleh CIA. Polisi PA juga dilatik dan disenjatai oleh CIA. CIA bahkan punya kantor di gedung itu. Ratusan polisi bersenjata lengkap berada di dalam gedung, juga sejumlah besar tawanan, termasuk Bilal Barghouti dan buronan Israel lainnya. Shin Bet dan IDF benar² serius dan tanpa kompromi kali ini. Pengeras suara mengumumkan bahwa tentara akan meledakkan Gedung Satu dalam waktu lima menit dan memerintahkan semua orang untuk keluar gedung.
[11] Terdapat keterangan menarik tentang Kolonel Jibril Rajoub: Orang ini telah memanfaatkan posisinya sebagai kepala keamanan di Tepi Barat untuk membangun kerajaan kecilnya, dan menyuruh bawahannya untuk membungkuk padanya bagaikan menyembah seorang raja. Aku telah melihat meja makan paginya penuh dengan 50 macam makanan, yang disajikan hanya untuk menunjukkan bahwa sang Kolonel adalah orang sangat penting. Aku juga telah menyaksikan bahwa Kolonel Jibril Rajoub bersikap kasar dan seenaknya, dan berlaku lebih menyerupai seorang gangster daripada pemimpin terhormat. Di tahun 1955, ketika Arafat menangkapi banyak ketua dan anggota Hamas, Rajoub menyiksa mereka tanpa ampun. Hamas beberapa kali mengancam akan membunuhnya, dan ini membuat sang Kolonel membeli mobil anti peluru dan bom. Bahkan Arafat sendiri tidak punya kendaraan seperti itu.

Persis lima menit kemudian, BOOM!! Lalu giliran Gedung Dua. “Semua keluar!” Lalu BOOM!! Giliran Gedung Tiga. BOOM!! Gedung Empat. BOOM!!

“Buka baju kalian!” begitu perintah dari pengeras suara. Para prajurit Israel tidak mau ambil resiko menghadapi kemungkinan ada yang menyembunyikan bahan peledak dalam baju mereka. Ratusan orang berdiri telanjang. Mereka diberi baju katelpak, dan dimasukkan ke dalam bus untuk dibawa ke Pusat Militer Ofer – di mana Shin Bet nantinya melakukan kesalahan.

Banyak sekali orang² yang ditawan, tapi pihak Israel hanya menginginkan orang² buronan saja, dan membebaskan orang² yang tidak mereka cari. Masalahnya adalah semua orang itu telah menanggalkan baju² mereka di kompleks. Dengan begitu, bagaimana pasukan keamanan Israel bisa membedakan mana orang buronan dan mana yang polisi?

Boss dari boss Loai adalah Ofer Dekel dan dia bertanggung jawab atas operasi penyerangan itu. Dia memanggil Jibril Rajoub, yang sedang tidak berada di Kompleks saat penyarangan dilakukan. Dekel memberi Rajoub ijin khusus sehingga dia bisa melalui ratusan tank dan ribuan prajurit dengan aman. Ketika dia tiba, Dekel meminta Rajoub menunjukkan orang² yang mana yang bekerja sebagai polisi, dan yang mana yang buronan. Rajoub mengatakan akan dengan senang hati melakukannya. Dengan cepat, Rajoub menunjuk para polisi sebagai buronan dan para buronan sebagai polisi, dan karenanya Shin Bet lalu membebaskan semua buronan.

“Mengapa kau lakukan itu padaku?” tanya Dekel pada Rajoub setelah akhirnya mengetahui keadaan sebenarnya.

“Kau baru saja meledakkan gedung tempat kerja dan kompleksku,” jawab Rajoub dengan tenang. Dekel juga rupanya lupa bahwa setahun yang lalu Rajoub terluka ketika tank² dan helikopter IDF menghancurkan rumahnya, sehingga tentunya dia semakin tak suka membantu pihak Israel.
Shin Bet sangat malu. Satu²nya cara untuk balas dendam pada Rajoub adalah dengan mengeluarkan laporan bahwa Rajoub adalah pengkhianat karena menyerahkan orang² yang dicari Israel dalam perjanjian dengan CIA. Sebagai akibatnya, Rajoub kehilangan jabatan dan akhirnya harus bekerja sebagai kepala Persatuan Sepakbola Palestina.
Lepasnya para buronan tentunya adalah kesalahan besar bagi Shin Bet.
Setelah tiga setengah minggu berlalu, Israel menghentikan aturan jam malam dari waktu ke waktu. Di suatu hari pada tanggal 15 April, di mana jam malam sedang tidak diberlakukan, aku bisa membawa makanan dan keperluan lain bagi ayah. Dia berkata padaku bahwa dia merasa tidak aman di rumah tersebut dan ingin pindah tempat. Aku menelepon salah satu pemimpin Hamas dan bertanya apakah dia tahu tempat di mana Hassan Yousef bisa berlindung. Dia menganjurkan aku untuk membawa ayah ke lokasi dimana Syeikh Jamal al-Taweel, salah satu tokoh penting Hamas yang dicari Israel, bersembunyi.

Wow, pikirku. Jika bisa menangkap Jamal al-Taweel, tentunya Shin Bet akan merasa lebih baik setelah kegagalan menangkap buronan beberapa minggu yang lalu. Aku berterima kasih padanya tapi berkata, “Sebaiknya jangan tempatkan ayah di tempat yang sama. Mungkin akan berbahaya bagi mereka berdua jika berada di satu rumah.” Kami setuju untuk memilih tempat lain, dan dengan cepat aku memindahkan ayah di tempat yang baru. Setelah itu aku menelepon Laoi.

“Aku tahu dimana Jamal al-Taweel bersembunyi.”

Loai sangat girang mendengar kabar ini; al-Taweel ditangkap malam itu juga.
Di hari yang sama, kami juga bisa menangkap orang lain yang paling dicari IDF – Marwan Barghouti.
Meksipun Marwan Barghouti adalah salah satu pemimpin Hamas yang terlicin, sebenarnya proses penangkapan Marwan sangatlah mudah. Aku menelepon salah satu penjaga Marwan Barghouti dan bicara dengannya secara singkat melalui ponselnya, dan Shin Bet melacak di mana ponsel tersebut berada. Marwan Barghouti ditangkap dan diadili di pengadilan sipil dan dihukum lima kali hukuman seumur hidup.
Pada saat itu, Operasi Perisai Pertahanan terus berlangsung dan menjadi beritu utama setiap hari di berbagai media internasional. Banyak berita yang menyudutkan pihak Israel. Misalnya terdengar berita bahwa Israel membantai orang² Palestina di Jenin, dan sukar untuk mengetahui kebenarannya karena pihak Israel menutup kota Jenin. Menteri kabinet Palestina Saeb Erekat mengatakan 500 orang mati. Tapi kemudian angkanya diturunkan jadi hanya 50 saja.

Di Betlehem, lebih dari 200 orang Palestina dikepung dalam Gereja Nativity selama lima minggu. Setelah kepulan debu mereda dan kebanyakan penduduk sipil diperbolehkan pulang, diketahui bahwa 8 orang Palestina dibunuh, 26 dikirim ke Gaza, 85 diperiksa IDF dan lalu dibebaskan, dan 13 buronan yang paling dicari diasingkan ke Eropa.

Setelah Operasi Perisai Pertahanan berakhir, dikabarkan sekitar 500 orang Palestina terbunuh, 1.500 luka², dan hampir 4.300 ditahan IDF. Di lain pihak, 29 orang Israel mati, 127 luka². Bank Dunia memperkirakan kerugian mencapai lebih dari $360 juta.

Bab 23 – Perlindungan Illahi
Musim Panas 2002

Hari sangat panas di tanggal 31 Juli, 2002. Suhunya mencapai 102° Fahrenheit (= 39° Celcius). Di kampus Universitas Ibrani, yang terletak di Bukit Scopus (Mount Scopus), tak ada kegiatan kuliah, meskipun sebagian mahasiswa masih menjalani ujian. Mahasiswa² lainnya mengantri untuk mendaftarkan diri pada kelas musim gugur. Pada jam 1:30 siang, kantin universitas yang bernama Frank Sinatra penuh dengan orang² yang berusaha menyejukkan diri, menikmati minuman dingin, sambil mengobrol. Tiada yang sadar bahwa sebuah tas ditinggalkan di situ oleh seorang pengecat bangunan.

Bom di tas tersebut meledak hebat mengguncangkan kantin universitas, membuat sembilan orang tewas, termasuk lima warga AS. Delapan puluh lima orang lainnya luka², empat belas orang mengalami luka² yang serius.

Di hari yang sama, sahabatku Saleh tiba² menghilang. Ketika kami memeriksa lokasi empat orang lainnya, ternyata mereka pun telah hilang tanpa jejak, bahkan keluarga mereka juga tak tahu. Mereka semua tercantum dalam daftar kami di urutan teratas sebagai orang² yang paling dicari. Kami lalu mengetahui bahwa sel Hamaslah yang meletakkan bom di kantin universitas dan ternyata orang² dalam sel itu tinggal di wilayah Israel, dan bukan di wilayah Palestina. Mereka membawa kartu tanda pengenal Israel berwarna biru yang mengijinkan mereka pergi ke daerah manapun. Lima orang dari mereka tinggal di Yerusalem: mereka punya istri, keluarga baik², dan pekerjaan yang baik pula.

Saat mereka diperiksa, satu nama muncul di permukaan: Mohammed Arman, orang yang tinggal di salah satu desa dekat Ramallah. Di bawah penyiksaan, Arman ditanyai siapakah yang bertanggung jawab atas pemboman Universitas Ibrani. Dia berkata bahwa dia hanya tahu nama panggilan orang itu sebagai “Syeikh.”

Para interogator membawa album foto para teroris, dan memintanya untuk menunjuk yang manakah Syeikh tersebut. Arman menunjuk foto Ibrahim Hamed, dan memberi kami bukti fisik pertama keterlibatannya dengan pemboman bunuh diri.

Kami nantinya akan mengetahui bahwa setelah peranannya terungkap, Hamed menggunakan dirinya untuk melindungi Saleh dan anggota lain dalam sel Hamasnya. Semua sel di bawah kepemimpinannya diberitahu bahwa jika mereka tertangkap, mereka harus menyalahkan segalanya pada Hamed, karena dia merasa siap mati. Untuk beberapa saat, semua jejak berhenti pada Ibrahim Hamed, tapi dia bagaikan ditelan bumi.

*******************

Berbulan-bulan setelah Operasi Perisai Pertahanan, di Ramallah masih diberlakukan jam malam. Kegiatan Arafat terhenti sama sekali. US AID telah menghentikan proyek mereka dan tidak memperbolehkan karyawannya masuk ke Tepi Barat. Pos² keamanan Israel mencekik kota Ramallah, dengan tidak memperbolehkan apapun, kecuali ambulans, keluar masuk kota. Aku secara resmi adalah buronan IDF. Semua ini membuatku sukar pergi kemana pun. Meskipun begitu, aku tetap harus bertemu Shin Bet sekali setiap dua minggu untuk membicarakan operasi² yang tengah berlangsung yang tak bisa dibicarakan lewat telepon.

Selain itu, aku pun butuh dukungan moral. Karena aku harus terus menyembunyikan diri, maka aku sangat kesepian. Aku merasa jadi orang asing di kotaku sendiri. Aku tidak bisa membagi hidupku dengan siapapun, bahkan tidak pula dengan keluarga sendiri. Aku juga tidak bisa percaya siapapun. Dulu sebelum jadi buronan, biasanya aku dan Loai bertemu di salah satu rumah² aman di Yerusalem. Tapi sekarang aku tidak bisa lagi meninggalkan Ramallah. Bahkan aku juga tidak bisa menampakkan diri di jalanan pada siang hari. Pokoknya aku harus terus bersembunyi.

Jika agen rahasia Shin Bet datang untuk menjemputku, maka mereka menanggung resiko terlihat oleh feda’iyin dan ketahuan karena aksen Ibrani mereka. Jika agen rahasia itu memakai baju IDF untuk menyamar dan berpura-pura menculik aku, orang bisa saja melihat aku masuk Jeep IDF dan merasa curiga. Jikalau pun rencana ini berhasil, berapa kali kami bisa melakukan aksi pura² ini sebelum akhirnya ketahuan?

Shin Bet lalu mengatur cara yang lebih kreatif agar kami bisa bertemu dengan aman.
Pusat Militer Ofer terletak dua mil sebelah Selatan kota Ramallah, dan ini merupakan fasilitas militer yang paling ketat penjagaannya di seluruh Israel. Tempat ini sarat dengan rahasia dan punya berlapis-lapis sistem keamanan. Kantor² lokal Shin Bet terletak di Pusat Militer tersebut.
“Oke,” kata Loai padaku. “Mulai sekarang, kami akan datang untuk menemuimu di Ofer. Yang perlu kau lakukan adalah mendobrak masuk.”
Kami berdua tertawa. Tapi aku lalu menyadari bahwa dia serius.
“Jika kau tertangkap,” jelasnya, “ini akan nampak bagi siapapun bahwa kau mencoba memasuki instalasi militer utama untuk melakukan serangan.”
Jika aku tertangkap?”

Rencananya menengangkan. Pada suatu malam gelap di mana aku harus melakukan penyusupan ini, aku merasa seperti aktor di malam pembukaan pertunjukkan – aktor ini akan melangkah ke panggung yang belum pernah dia lihat sebelumnya, pakai baju yang belum pernah dia pakai, tanpa naskah cerita dan tanpa latihan terlebih dahulu.
Aku tidak tahu bahwa Shin Bet telah menempatkan agen² mereka di dua menara jaga untuk menerangi tempat yang harus kutuju. Aku juga tidak tahu bahwa agen² keamanan, yang dilengkapi dengan perlengkapan melihat-dalam-gelap, ditempatkan di sepanjang jalur perjalananku untuk melindungiku jikalau ada orang yang mengikutiku.
Aku terus saja berpikir, Gimana ya jika aku membuat kesalahan?

Aku memarkir mobilku di tempat gelap. Loai telah meminta aku memakai baju gelap, tidak membawa senter, dan membawa pemotong kawat. Aku menarik nafas panjang.
Sewaktu menuju bukit, aku bisa melihat lampu² di Pusat Militer dari jarak jauh. Sesaat sekumpulan anjing² liar menggonggong sewaktu aku mendaki bukit yang terjal. Tak apa mereka menggonggong, selama tidak terlalu menarik perhatian orang.
Akhirnya aku sampai di bagian luar pagar dan aku menelepon Loai.
“Dari sudut, hitung tujuh kaki,” katanya. “Lalu tunggu aba² dariku dan mulailah memotong kawat pagar.”

Aku memotong kawat pagar tersebut, yang tidak dipakai lagi setelah pagar baru dibangun sejak Intifada Kedua, dengan jarak 20 kaki dari pagar lama. Aku juga telah diperingatkan akan adanya babi² penjaga (iya, memang babi² beneran nih), tapi aku tak menemukan mereka, jadi tak ada masalah. Tempat² militer lain biasanya dijaga oleh anjing² herder atau anjing terlatih lainnya. Ironisnya, orang² Israel yang sadar-kosher (suka yang halal saja – anti haram) malahan memakai babi untuk menjaga tempatnya. Tapi ini benar² terjadi.
Pemikiran di belakang gagasan tersebut adalah babi akan membuat teroris Muslim enggan menyerang masuk. Islam melarang keras Muslim untuk menyentuh babi, sama seperti juga Yudaisme Ortodox. Bahkan larangan di Yudaisme mungkin lebih keras lagi. Aku tidak pernah melihat babi² menjaga Pusat Militer itu, tapi Loai mengatakan bahwa memang babi² melakukan tugas menjaga Pusat Militer Ofer.
Aku menemukan pintu kecil di dalam pagar baru sebelah dalam yang tak dikunci. Aku masuk ke dalam dan melihat dua menara jaga menjulang bagaikan dua tanduk setan, di dalam instalasi militer paling ketat dijaga di Israel.

“Tetap tundukkan kepalamu,” kata Loai di ponselku, ”dan tunggu aba².” Di sekelilingku terdapat semak². Setelah beberapa saat, beberapa semak mulai bergerak. Ternyata semak² itu adalah agen² Shin Bet yang biasa berkumpul rapat denganku, tapi sekarang mereka memanggul senjata otomatis berat dan mengenakan seragam kamuflase IDF dengan banyak ranting menonjol di mana². Aku bisa melihat mereka senang bermain komando rahasia seperti ini – ini adalah bagian dari penyamaran² mereka, termasuk menyamar menyerupai teroris, feda’iyin, orangtua, atau kadang² wanita.
“Wah, apa kabar nih?” tanya mereka, seakan-akan kami sedang duduk bersama di warung kopi. “Apakah semua baik² saja?”
“Ya, semua baik² saja.”
“Apakah kau punya keterangan bagi kami?”

Kadang² aku membawa rekaman suara atau bukti atau keterangan mata² bagi mereka, tapi kali ini aku tak membawa apapun.
Saat itu hujan mulai turun, dan kami lari ke balik bukit di mana dua Jeep sudah menunggu kami. Tiga orang dari mereka masuk ke Jeep pertama, dan aku meloncat masuk bagian belakang Jeep. Yang lain menunggu di Jeep kedua untuk memastikan aku bisa kembali dengan selamat. Aku kasihan dengan mereka yang berada di Jeep kedua karena saat itu hujan turun sangat lebat. Tapi mereka tampak santai saja.
Setelah bertemu dengan Loai, boss-nya, dan para penjaga selama beberapa jam, aku kembali pulang dengan menggunakan jalur yang sama – aku merasa puas, meskipun jalanan becek, panjang, basah, dan dingin.
Cara bertemu seperti ini kerap kami lakukan. Semua diatur dengan baik, tanpa kesalahan apapun setiap kali pertemuan. Aku tidak usah lagi memotong pagar, tapi aku tetap membawa alat pemotong untuk jaga².

*******************

Setelah aku berhasil “kabur” dari penyerangan IDF yang ditonton banyak orang, aku terus berhubungan dengan ayahku untuk memastikan dia baik² saja dan mengetahui apa yang dibutuhkannya. Sekali² aku mengunjungi kantor USAID, tapi karena mereka telah menghentikan hampir semua kegiatanku, aku bisa menyelesaikan tugas kecil dari mereka di komputer pribadi di rumah saja. Di malam hari, aku bergaul dengan para buronan Palestina dan mengumpulkan informasi. Dan di tengah larut malam, sekali atau dua kali sebulan, aku menyusup masuk Pusat Militer untuk rapat bersama Shin Bet.

Di waktu luangku, aku terus bertemu dengan teman² Kristen untuk bicara tentang kasih Yesus. Sebenarnya kami tidak sekedar bicara saja. Meskipun aku hanyalah pengikut sang Guru, aku merasakan kasih dan perlindungan Elohim padaku setiap hari, dan kasih itu tampaknya mengalir pula dalam keluargaku.

Di suatu sore, pasukan khusus Israel sedang mencari buronan di Hotel City Inn dan tak berhasil menemukan apapun. Karena lelah, mereka ingin istirahat sejenak di sebuah rumah terdekat. Hal ini merupakan hal yang lumrah. IDF tidak perlu ijin atau perintah atasan untuk bisa melakukan hal itu. Jika keadaan agak tenang, para pasukan khusus Israel akan datang ke sebuah rumah yang mereka pilih untuk beristirahat sambil makan. Kadangkala dalam pertempuran hebat, pasukan akan masuk rumah lokal dan berlindung di dalamnya, tentunya hal ini membahayakan penghuni – tapi cara ini pun dilakukan pula oleh para feda’iyin.

Di hari tersebut, mereka kebetulan saja memilih rumah tempat persembunyian ayahku. Shin Bet tidak tahu akan hal ini. Tiada seorang pun dari antara kami yang mengetahui akan hal itu. Fakta bahwa seorang prajurit memilih rumah ini tanpa sengaja tentunya bukanlah hal yang bisa dicegah atau diduga sebelumnya. Ketika mereka tiba, ayahku “kebetulan” pula sedang berada di lantai bawah.

“Bisakah kau tidak membawa anjing²mu masuk ke rumah?” wanita pemilik rumah meminta pada prajurit². “Aku punya anak² kecil.”

Suami wanita itu ketakutan jikalau para prajurit menemukan Hassan Yousef dan menangkap mereka karena melindungi buronan. Maka dia berpura-pura santai dan tak takut. Dia menyuruh putrinya yang berusia 7 tahun menemui para prajurit untuk bersalaman. Komandan tentara senang melihat anak kecil ini dan mengira orangtuanya hanyalah orang awam yang tak punya hubungan apapun dengan teroris. Dia meminta pada wanita itu dengan sopan apakah anak buahnya boleh beristirahat sebentar di loteng atas, dan wanita itu mengijinkannya. Sekitar dua puluh lima prajurit tinggal di rumah itu selama lebih dari delapan jam, tanpa mengetahui bahwa ayah terletak tepat di bawah mereka.

Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana perlindungan dan berkat illahi tersebut, tapi aku sangat merasakannya secara nyata. Ketika Ahmad al-Faransi (yang dulu pernah meminta bahan peledak padaku bagi para pembom bunuh dirinya) meneleponku dari tengah kota Ramallah dan memintaku untuk menjemputnya dan mengantarnya pulang, aku berkata padanya bahwa aku sedang berada dekat daerah itu dan bisa menjemputnya dalam waktu beberapa menit. Ketika aku tiba, dia masuk ke dalam mobil, dan kami lalu pergi.

Kami belum pergi jauh ketikan ponsel al-Faransi berdering. Al-Faransi merupakan salah seorang yang akan dibunuh IDF dan kantor Arafat meneleponnya untuk memperingatkan bahwa helikopter² Israel sedang membuntutinya. Aku buka jendela mobil dan mendengar dua buah helikopter Apache mendekat. Meskipun kedengarannya mungkin aneh bagi mereka yang tidak pernah merasakan Elohimbicara pada diri mereka, tapi pada hari itu aku benar² mendengar Elohimbicara pada hatiku, memerintahkanku untuk belok kiri diantara dua gedung. Aku nantinya mengetahui bahwa jika aku terus menyetir lurus, helikopter Israel akan bisa menembak mobilku dengan tepat. Aku membelokkan mobil dan seketika mendengar suara illahi yang berkata, Keluar dari mobil dan tinggalkan mobil. Kami meloncat keluar mobil dan berlari. Di saat helikopter mencapai target mobilku, yang bisa dilihat pilot helikopter hanyalah mobil kosong diparkir dengan dua pintu depan terbuka lebar. Helikopter itu terbang berkeliling selama enam puluh detik dan lalu pergi.

Aku kemudian mengetahui bahwa badan keamanan Israel menerima keterangan dari mata² bahwa al-Faransi tampak masuk sebuah mobil Audi A4 warna biru tua. Banyak mobil seperti itu di kota kami. Laoi tidak sedang berada di ruang operasi saat itu untuk memeriksa lokasiku, dan tiada seorang pun yang bertanya apakah Audi ini milik Pangeran Hijau. Hanya segelintir anggota Shin Bet yang tahu tentang diriku.

Agaknya aku selamat karena perlindungan illahi. Aku saat itu belum menjadi orang Kristen, dan al-Faransi sudah jelas tidak mengerti akan Tuhan. Teman² Kristenku berdoa bagiku setiap hari. Dan tentang Tuhan, Yesus mengatakan di Matius 5:45 – Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Elohim seperti ini sangat berbeda dengan Elohim-Qur’an yang kejam dan penuh dendam.

Bab 24 – Tahanan yang Dilindungi
Musim Gugur 2002 – Musim Semi 2003

Aku merasa lelah. Aku sudah merasa terlalu lelah karena memainkan berbagai peranan berbeda dalam waktu yang bersamaan. Aku lelah karena harus merubah sifat dan penampilan agar sesuai dengan lingkungan di mana aku berada. Ketika aku bersama ayah dan para pemimpin Hamas lainnya, aku harus berperan sebagai anggota Hamas yang setia. Ketika aku berada bersama Shin Bet, aku harus berperan sebagai mata² Israel. Ketika aku berada di rumah, aku seringkali harus mengambil posisi sebagai ayah dan pelindung saudara²ku. Ketika aku bekerja di kantor, aku harus berperan sebagai karyawan biasa yang merangkap sebagai mahasiswa semester akhir di universitas. Sebentar lagi aku harus menghadapi ujian kuliah, tapi aku tak bisa konsentrasi.

Saat itu adalah akhir bulan September 2002, dan aku mengambil keputusan bahwa sudah saatnya untuk melakukan permainan nomer 2 yang diprakarsai oleh Shin Bet.

“Aku tidak bisa terus-menerus begini,” kataku pada Loai. “Apa yang harus kulakukan? Dikurung beberapa bulan di penjara? Kita bisa saja kan mengatur agar aku menjalani segala prosedur interogasi, dan setelah itu kau bebaskan aku. Lalu aku bisa kembali ke rumah dan menyelesaikan kuliahku. Aku bisa kembali bekerja di USAID dan hidup biasa lagi.”
“Bagaimana dengan ayahmu?”
“Aku tidak akan meninggalkannya sehingga dia bisa terbunuh. Tangkaplah dia juga.”
“Jika itu yang memang kau inginkan, Pemerintah akan dengan senang hati melakukannya, karena akhirnya kita bisa menangkap Hassan Yousef.”

Aku beritahu ibuku di mana ayah bersembunyi, dan aku membiarkan ibu mengunjungi ayah. Lima menit setelah ibu tiba di rumah persembunyian ayah, pasukan keamanan khusus menyerbu sekitar rumah tersebut. Para prajurit berlarian di komplek tetangga, memerintahkan penduduk sipil untuk masuk ke dalam rumah.

Salah seorang warga “sipil” yang sedang menyedot narghile (pipa rokok Turki) di depan rumahnya, tak lain daripada Abdullah Barghouti, sang master perakit bom bunuh diri. Dia tidak tahu bahwa dia tinggal di rumah bersebelahan dengan rumah rahasia Hassan Yousef. Dan para prajurit IDF juga tidak tahu bahwa mereka baru saja berteriak pada pembantai massal yang paling dicari di Israel.

Semua orang tak mengerti apa yang terjadi. Ayahku tidak tahu bahwa putranya telah menyerahkan dirinya agar bisa melindunginya dari pembunuhan. Dan IDF juga tidak tahu bahwa Shin Bet telah mengetahui di mana Hassan Yousef bersembunyi selama ini dan bahwa beberapa prajurit Israel bahkan makan siang dan tidur di rumah tempat Hassan Yousef bersembunyi.

Seperti biasa, ayah menyerah dengan damai. Dia dan pemimpin² Hamas lainnya mengira bahwa Shin Bet telah mengikuti ibuku ke tempat persembunyian ayah. Tentu saja ibu jadi sedih, tapi dia juga senang karena suaminya akan aman di penjara dan tidak lagi tercantum dalam daftar orang² yang akan dibunuh Israel.

“Kami akan menemuimu nanti malam,” kata Loai padaku melalui telepon setelah ayah ditangkap.
Setelah matahari terbenam, aku duduk di rumahku, melihat ke jendela di mana tampak dua puluh pasukan khusus bergerak cepat dan mengambil posisi di sekitar rumahku. Aku tahu bahwa aku harus mempersiapkan diri diperlakukan kasar. Dua menit kemudian, mobil² Jeep masuk. Lalu sebuah tank. IDF telah menutup daerah itu. Seseorang meloncat ke atap rumah. Lalu terdengar orang memukul keras² pintu rumahku.
“Siapa itu?” kataku pura² tidak tahu.
“IDF! Buka pintu!”
Aku membuka pintu, dan mereka mendorongku ke lantai, dan dengan cepat memeriksa apakah aku bersenjata.
“Apakah ada orang lain di sini?”
“Tidak.”
Aku tak tahu mengapa mereka bertanya begitu. Mereka lalu mulai menendangi pintu² kamar sampai terbuka dan memeriksa setiap kamar di rumah. Begitu aku dibawa keluar, aku bertatapan muka dengan temanku Loai.

“Kemana saja kau?” Loai bertanya kasar padaku, seakan aku benar² buronan. “Kami telah mencarimu di mana². Apakah kau ingin ditembak mati? Kau tentunya sudah gila melarikan diri dari rumah ayahmu tahun lalu.”

Sekumpulan prajurit IDF mengamati dengan mata marah.
“Kami sudah menangkap ayahmu,” kata Loai, “dan akhirnya kami bisa menangkapmu pula! Kita nanti lihat apa yang akan kau katakan saat interogasi!”
Dua orang prajurit melemparkan aku ke dalam Jeep. Loai datang, dan merunduk agar orang tidak bisa mendengarkan apa yang kami bicarakan, dan bertanya, “Bagaimana keadaanmu, wahai kawan? Apakah kau baik² saja? Borgolnya terlalu ketat?”
“Semua baik² saja,” kataku. “Jangan biarkan aku berada di sini terlalu lama, dan awasi agar prajurit² tidak memukuliku di sepanjang perjalanan.”
“Jangan khawatir. Seorang agen kami akan berada bersamamu.”
Mereka membawaku ke Pusat Militer Ofer, di mana kami duduk di ruangan yang sama, yang dulu sering kami gunakan untuk rapat. Kami duduk bersama selama dua jam untuk “interogasi,” sambil minum kopi dan membicarakan keadaan terakhir.

“Kami akan membawamu ke Maskobiyeh,” kata Loai, “hanya untuk waktu singkat saja. Kita akan berpura-pura kau telah menjalani interogasi yang berat. Ayahmu telah berada di sana, dan kau akan bertemu dengannya. Dia tidak akan ditanyai atau disiksa. Setelah itu kami akan membawamu ke penjara biasa. Kau akan berada di sana selama beberapa bulan, dan setelah itu, kami akan minta perpanjangan penjara bagimu selama tiga bulan, karena siapapun dengan status seperti dirimu tentunya telah diduga akan berada cukup lama di penjara.”

Ketika aku melihat para interogator, bahkan yang dulu menyiksaku ketika aku pertamakali dibawa ke tempat ini, aku heran karena aku tidak merasa benci sama sekali pada orang² ini. Satu²nya cara untuk bisa menerangkan perasaanku hanyalah melalui ayat berikut: Ibrani 4:12 berkata bahwa Sebab firman Elohim hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.

Aku telah membaca dan merenungkan ayat ini berkali-kali, begitu juga dengan perintah Yesus untuk memaafkan musuhmu dan mencintai mereka yang menindasmu. Meskipun aku belum bisa menerima Yesus sebagai Tuhan, perkataannya terasa hidup, aktif, dan bekerja dalam diriku. Jika tidak begitu, aku tidak akan bisa melihat manusia sebagai manusia, dan bukan sebagai orang Yahudi atau Arab, tawanan atau interogator. Bahkan kebencian yang dulu mendorongku untuk membeli senjata dan merencanakan pembunuhan atas orang² Israel telah diganti dengan rasa kasih yang tak kumengerti.

Aku dimasukkan ke dalam sel penjara seorang diri selama dua minggu. Jika teman² Shin Bet-ku sedang tidak sibuk memeriksa tawanan, mereka mengunjungiku di sel penjara sekali atau dua kali sehari untuk sekedar mengobrol dan menanyakan keadaanku. Aku diberi makan dengan baik, tidak dikerudungi dengan tutup kepala yang bau, tak usah bertemu dengan penjaga penjara yang seperti kera besar, tak ada lagi lagu Leonard Cohen (meskipun nantinya dia jadi penyanyi favoritku – aneh, ya?). Di Tepi Barat tersebar berita bahwa aku benar² tangguh di penjara, karena tidak mengatakan informasi apapun meskipun disiksa berat oleh Israel.

Beberapa hari setelah aku dimasukkan ke penjara, aku dipindahkan ke sel penjara ayahku. Wajah ayah tampak sangat lega saat dia memelukku. Dia melihat wajahku dan tersenyum. “Aku mengikutimu,” kataku sambil tertawa. “Aku tak bisa hidup tanpamu.”

Ada dua orang lain dalam sel tersebut, dan kami ngobrol dengan gembira bersama. Secara jujur aku mengakui bahwa aku merasa sangat senang melihat ayahku aman berada di penjara. Tiada usaha bunuh atau tiada misil yang akan menyerang dari langit.

Kadangkala ketika ayah membacakan Qur’an bagi kami, aku senang melihat padanya dan mendengarkan suaranya yang indah. Kuingat betapa lembutnya dia pada kami anak²nya ketika kami masih kecil. Dia tidak pernah memaksa kami bangun pagi untuk melakukan sholat fajar, tapi kami semua melakukannya karena kami ingin membuatnya bangga. Dia telah memberikan hidupnya bagi Allâh sejak masih sangat muda, dan meneruskan ajarannya kepada kami anak²nya.

Sekarang aku berpikir: Ayahku terkasih, aku sangat senang bisa duduk bersamamu. Aku tahu kau tidak mau berada di penjara saat ini, tapi jika kau tidak berada di sini, tubuhmu yang hancur berantakan mungkin sudah berada di dalam kantung plastik kecil di suatu tempat. Kadangkala dia mendongak dan melihatku tersenyum padanya dengan rasa sayang dan hormat. Dia tidak mengerti apa pikiranku, dan aku pun tidak bisa menjelaskan padanya.

Ketika para penjaga akhirnya datang untuk memindahkanku ke penjara biasa, ayah dan aku berpelukan erat. Dia tampak ringkih dalam pelukanku, tapi aku tahu betapa kuatnya dia. Kami menjadi begitu dekat selama beberapa hari terakhir, sehingga sukar untuk berpisah. Aku bahkan merasa sedih berpisah dengan teman² Shin Bet-ku. Hubungan kami selama bertahun-tahun telah berkembang menjadi sangat amat akrab. Aku melihat wajah² mereka dan berharap mereka mengetahui bahwa aku sangat menghargai mereka. Mereka menatapku kembali dengan rasa sedih. Mereka tahu bahwa perjalananku berikut tidak akan semudah di tempat ini.

Ekspresi wajah para prajurit IDF yang memborgolku untuk dibawa ke penjara lain sangatlah berbeda dengan ekspresi wajah para temanku. Bagi prajurit IDF, aku adalah teroris yang pernah lepas dari buruan mereka, sehingga membuat mereka malu dan tampak bodoh. Kali ini aku dibawa ke Penjara Ofer, yang merupakan bagian dari pusat militer di mana aku dulu sering rapat dengan Shin Bet.

Jenggotku tampak panjang dan tebal seperti jenggot para tawanan lainnya. Aku bergabung bersama tawanan lain dan melakukan kegiatan rutin sehari-hari. Ketika waktu sholat tiba, aku bersujud, bersimpuh, dan berdoa, tapi tidak lagi pada Allâh. Aku sekarang berdoa pada Pencipta Alam Semesta. Aku semakin menjauh dari Islam. Suatu hari aku menemukan Alkitab berbahasa Arab di bagian agama di perpustakaan penjara. Alkitab ini lengkap, dan tidak hanya Perjanjian Baru saja. Tampaknya tiada seorang pun yang pernah menyentuhnya. Aku berani bertaruh bahwa tiada yang tahu Alkitab ini berada di situ. Sungguh pemberian besar dari YAHWEH! Aku membacanya berulangkali.

Kadang² seseorang datang padaku dan menanyakan dengan sopan apa yang sedang kulakukan. Aku jelaskan padanya bahwa aku sedang belajar sejarah dan karena Alkitab adalah buku kuno, maka buku itu mengandung keterangan jaman kuno. Tidak hanya itu, tapi ajarannya juga sangat baik, kataku, dan aku percaya bahwa setiap Muslim harus membacanya pula. Para tawanan biasanya tidak keberatan dengan jawabanku. Mereka hanya tampak jengkel ketika bulan Ramadan, karena tampaknya aku lebih banyak membaca Alkitab daripada Qur’an.

Kegiatan Belajar Alkitab yang sering kukunjungi di Yerusalem Barat terbuka bagi siapapun – orang Kristen, Muslim, Yahudi, atheis, pokoknya dari golongan manapun. Melalui kelompok ini, aku mendapat kesempatan untuk bisa duduk bersama dengan orang² Yahudi yang datang dengan tujuan yang sama denganku: untuk mempelajari agama Kristen dan mengenal Yeshua. Sungguh merupakan pengalaman menarik bagiku sebagai seorang Muslim Palestina untuk belajar tentang Yeshua bersama dengan seorang Yahudi Israel.

Dari kelompok ini, aku berkenalan akrab dengan pria Yahudi bernama Amnon. Dia telah menikah dan punya dua anak yang cantik. Dia sangat cerdas dan mahir berbicara dalam beberapa bahasa. Istrinya adalah orang Kristen dan telah mendorongnya sejak lama untuk dibaptis. Akhirnya, Amnon bersedia melakukan itu. Kelompok itu berkumpul bersama di suatu petang untuk menyaksikan upacara baptisnya di tempat mandi milik pendeta. Ketika aku datang, Amnon telah selesai membaca suatu ayat dan mulai menangis keras².

Dia tahu ketika dia mempersilakan dirinya dibaptis, dia tidak hanya menyatakan persekutuan dengan Yehsua Ha Mashiah, tapi dia juga telah bercerai dengan tradisi agama Yudaismenya. Dia telah memalingkan tubuh dari agama ayahnya, seorang profesor di Universitas Ibrani. Dia telah meninggalkan tradisi agama masyarakat Yahudi dan mempertaruhkan masa depannya.

Tak lama setelah itu, Amnon menerima surat perintah bahwa dia harus bergabung bersama IDF. Di Israel, semua warga non-Arab, laki atau perempuan, di atas usia 18 tahun diwajibkan ikut dalam militer – pria selama tiga tahun, dan wanita selama dua tahun. Tapi Amnon telah melihat banyak pembantaian di pos penjagaan. Dia merasa bahwa sebagai orang Kristen, dia tidak mau ditempatkan di tempat itu, karena kemungkinan akan menanggung resiko membunuh warga sipil tak bersenjata. Dia juga tak mau mengenakan seragam militer dan pergi ke Tepi Barat. “Bahkan jikalau pun aku bisa melakukan tugasku dengan menembak anak yang melempar batu di kakinya dan bukan di kepalanya, aku tetap tak mau melakukan itu. Aku kan disuruh untuk mengasihi musuhku,” begitu penjelasannya.

Surat perintah kedua datang. Lalu surat perintah ketiga. Ketika dia tetap saja tak mau melakukan tugas wajib militer, Amnon ditangkap dan dipenjara. Aku tidak tahu bahwa selama aku berada di penjara Ofer, Amnon pun dipenjara di situ, di bagian penjara bagi orang² Yahudi. Dia dipenjara karena dia tidak mau bekerja bagi Israel; aku dipenjara karena aku setuju untuk bekerja bagi Israel. Aku sedang mencoba untuk melindungi orang² Yahudi; dia sedang mencoba melindungi orang² Palestina.

Aku tidak beranggapan bahwa semua orang di Israel dan Palestina harus jadi orang Kristen agar bisa menghentikan pertumpahan darah. Tapi kupikir, jika saja kita memiliki 1.000 Amnon di dalam masyarakat Yahudi dan 1.000 Mosab di dalam masyarakat Palestina, maka akan terjadi perubahan besar. Dan jika jumlahnya lebih besar lagi … siapa tahu kemungkinan ini bisa terjadi? [Damai ini akan terjadi (bahkan pada semua bangsa) melalui Yeshua, Raja Damai sesuai nubuatan nabi Yesaya; Yes. 11:1-10 dan 65:17-25. Lihat hubungan Yesaya 61 dengan Injil Lukas 4:16-21!!]

Dua bulan setelah tiba di Ofer, aku dibawa ke pengadilan, di mana tak seorang pun mengetahui siapa diriku – hakim dan jaksa penuntut tidak tahu, dan pengacaraku sendiri juga tidak tahu. Di pengadilan, Shin Bet bersaksi bahwa aku adalah seorang teroris yang berbahaya dan mereka meminta aku dipenjara lebih lama lagi. Pak Hakim setuju dan menetapkan aku harus dipenjara selama enam bulan lagi di penjara lain. Lagi² aku ditransfer.
Setelah melakukan perjalanan pakai mobil selama lima jam di gurun pasir Negev, akhirnya mobil berhenti dekat pusat nuklir Dimona. Lalu aku melihat tenda penjara Ktzi’ot, di mana kau meleleh di musim panas dan membeku di musim dingin.  Letak penjara ini di padang pasir Negev, dekat perbatasan dengan Mesir.

“Apa organisasimu?”
“Hamas.”

Ya, aku masih mengaku sebagai bagian dari Hamas, tapi aku tidak lagi seperti tawanan yang lain.
Hamas masih merupakan organisasi mayoritas. Tapi sejak dimulainya Intifada Kedua, Fatah juga berkembang dengan pesat, dan masing² organisasi memiliki jumlah tenda yang hampir sama banyaknya. Aku sudah lelah berpura-pura, dan iman baruku juga melarangku untuk berdusta. Agar aman, aku tidak banyak bergaul dengan siapapun dan menyendiri saja selama aku berada di situ.
Ktzi’ot adalah tempat terasing yang masih liar. Di malam hari terdengar suara angin bercampur dengan lolongan srigala, hyena, dan macan tutul. Aku telah mendengar cerita bahwa beberapa tawanan bisa melarikan diri dari Ktzi’ot, tapi tak satu pun selamat melalui gurun pasir. Musim dingin lebih buruk daripada musim panas – udara sangat dingin membeku, salju yang beterbangan, dan hanya kanvas tenda saja yang melindungi kami dari udara luar. Setiap tenda memiliki kain penangkal lembab di langit² tenda. Tapi sebagian tawanan menyobek kain itu untuk memakainya sebagai gorden prifasi di sekitar tempat tidurnya. Udara lembab dari nafas kami seharusnya tertahan pada kain tersebut. Tapi yang terjadi adalah udara lembab itu menguap dan menempel pada bagian atas kemah menjadi cairan air liur yang berkumpul sampai terlalu berat dan lalu menetes bagaikan hujan pada kami di sepanjang malam ketika sedang tidur.

Orang² Israel menyebarkan begitu banyak papan² berlem penangkap tikus di seluruh kamp tawanan untuk mengontrol populasi tikus. Di suatu pagi yang sangat dingin, ketika semua orang masih tidur dan aku sedang membaca Alkitab, terdengar suara mencicit. Aku menengok ke bawah tempat tidurku dan melihat seekor tikus tertempel di papan lem. Yang mengejutkan aku, di situ terdapat seekor tikus lain yang mencoba menyelamatkan tikus yang terperangkap sambil berusaha tidak menginjak lem. Apakah tikus lain itu pasangannya atau temannya? Aku tak tahu. Aku melihat selama sekitar setengah jam bagaimana seekor binatang mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan binatang lain. Aku sangat terharu sehingga aku bebaskan keduanya.

Di penjara, bahan bacaan terbatas pada Qur’an dan pelajaran tentang Qur’an saja. Aku hanya punya dua buku berbahasa Inggris yang diselundupkan temanku melalui pengacaraku. Aku sangat berterimakasih mempunyai bahan bacaan yang memperkuat kemampuan bahasa Inggrisku, tapi sebentar kemudian buku itu mulai lapuk karena terlalu sering kubaca. Suatu hari, ketika aku sedang berjalan seorang diri, aku melihat dua tawanan sedang membuat teh. Di sebelah mereka terdapat sebuah kotak kayu besar berisi novel² yang dikirim oleh Palang Merah. Dan kedua orang ini menyobeki halaman buku² untuk dijadikan bahan bakar api! Aku sungguh tak tahan melihatnya. Aku dorong kotak kayu itu menjauh dari mereka dan mulai mengambili buku² tersebut. Mereka mereka aku menginginkan buku² itu untuk membuat teh bagi diriku.

“Apakah kalian gila?” tanyaku pada mereka. “Aku butuh waktu sangat lama untuk bisa mendapatkan dua buku bahasa Inggris sehingga aku bisa membacanya, dan sekarang kau bikin teh dengan buku² ini!”
“Itu buku² Kristen,” kata mereka.
“Ini bukan buku² Kristen,” kataku pada mereka. “Ini buku² New York Times bestsellers! Aku yakin buku² ini tidak mengatakan apapun yang menentang Islam. Ini hanyalah buku² fiksi tentang pengalaman manusia.” [Pengetahuan yang dangkal dan kecurigaan yang berlebihan adalah akar dari kebencian orang Muslim pada dunia disekitar mereka. Sangat menyedihkan]
Mereka mungkin mengira ada yang salah terhadap putra Hassan Yousef. Dia tampak sangat diam, suka menyendiri, dan membaca. Tiba² saja sekarang dia ngamuk gara² sekotak buku. Jika bukan karena ayahku, mungkin mereka sudah akan berkelahi denganku untuk mempertahankan bahan bakar mereka. Tapi mereka membiarkan aku mengambil novel² tersebut, dan aku kembali ke tempat tidurku dengan kotak besar penuh buku. Aku tumpuk buku² ini di sekitarku dan bergelimangan dalam buku² tersebut. Aku tak peduli apa kata orang. Hatiku bernyanyi dan memuji Elohimkarena menyediakan bagiku buku bacaan sewaktu aku mencoba menghabiskan waktu di tempat ini.

Aku membaca enam belas jam sehari sampai mataku jadi lemah karena penerangan di penjara yang kurang baik. Selama empat bulan di Ktzi’ot, aku menghafalkan empat ribu perbendaharaan kata bahasa Inggris.

Ketika aku berada di sana, aku mengalami dua kali kekacauan di penjara, jauh lebih parah daripada yang pernah kualami di Megiddo. Tapi Elohimmenyelamatkan diriku dari dua malapetaka tersebut. Sebenarnya aku merasakan kehadiran Elohimjauh lebih kuat di penjara tersebut daripada di lain tempat. Aku belum mengenal Yesus sebagai sang Pencipta, tapi aku jelas telah belajar untuk mengasihi Elohimsang Bapa.

***************

Pada tanggal 2 April, 2003 – sewaktu tentara Sekutu menyerang Baghdad – aku dibebaskan. Aku dianggap sebagai pemimpin Hamas yang dihormati, teroris berpengalaman, dan buronan licin. Aku telah ditahan dan sekarang bebas. Resiko ketahuan sebagai mata² juga telah sangat berkurang, dan ayahku masih hidup di tempat aman. Sekali lagi, aku bisa dengan bebas berjalan-jalan di Ramallah. Aku tidak lagi harus bersembunyi sebagai buronan. Aku bisa jadi diriku lagi, bisa menelepon ibuku; dan lalu menelepon Loai.
“Selamat datang kembali, Pangeran Hijau,” katanya. “Kami sangat rindu padamu. Banyak yang terjadi sewaktu kau pergi, dan kami tak tahu harus berbuat apa tanpa kau.”
Beberapa hari setelah aku keluar dari penjara, aku bertemu Loai dan teman² baik Israelku. Mereka hanya punya satu laporan saja untuk disampaikan, tapi ini adalah laporan yang sangat penting.
Di bulan Maret, Abdullah Barghouti telah diketahui persembunyiannya dan ditangkap. Setelah itu, pembuat bom dari Kuwait ini diadili di pengadilan militer karena telah membunuh enam puluh enam orang dan melukai sekitar lima ratus orang. Aku tahu jumlah korban lebih dari itu, tapi hanya itulah yang bisa kami buktikan. Barghouti awalnya dihukum enam puluh tujuh kali hukuman seumur hidup – satu untuk setiap korban pembunuhannya dan satu ekstra bagi semua korban yang terluka. Sewaktu mendengar ini, dia tidak menunjukkan rasa sesal sedikit pun, menyalahkan Israel, dan hanya menyesal karena tidak punya kesempatan untuk membunuh orang² Israel lagi.

“Teror pembunuhan membabi-buta yang dilakukan pihak tertuduh merupakan satu dari pembunuhan berdarah yang paling keji dalam sejarah negara ini,” kata Hakim. [12] Barghouti mengamuk, mengancam untuk membunuh Hakim dan akan mengajar semua anggota Hamas yang dipenjara bagaimana cara membuat bom. Karena ancamannya itu, dia lalu ditempatkan di sel penjara terisolasi seorang diri tanpa kontak dengan tawanan lain. Sementara itu, Ibrahim Hamed, sahabatku Saleh Talahme, dan tiga orang lainnya masih belum ditemukan.
[12] Associated Press, “Pembuat Bom Palestina Dihukum 67 Kali Seumur Hidup,” MSNBC, 30 November, 2004.

Di bulan Oktober, proyek USAID-ku telah selesai, dan aku tidak bekerja lagi bagi mereka. Maka aku memusatkan perhatian pada tugasku untuk Shin Bet dengan mengumpulkan semua keterangan sebaik mungkin.
Di suatu pagi, dua bulan kemudian, Loai menelepon.
“Kami telah menemukan Saleh.”

Bersambung ke Bab 25

Daftar Isi ; Bab 1-4 ; Bab 5-8 ; Bab 9-12 ; Bab 13-16 ; Bab 17-20

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Son of Hamas (Putra Hamas). Bab 17-20

Bab 19 – Sepatu-sepatu
2001

Intifada Kedua tampak berlangsung terus-menerus tanpa berhenti sedikit pun untuk menarik nafas. Di tanggal 28 Maret, 2001 seorang pembom bunuh diri membunuh dia remaja di pompa bensin. Di tanggal 22 April, seorang pembom bunuh diri membunuh satu orang, dirinya, dan melukai 50 orang di tempat perhentian bus. Di tanggal 18 May, lima warga sipil dibunuh dan lebih dari 100 orang terluka akibat bom bunuh diri diluar pusat perbelanjaan di Netanya.

Lalu di tanggal 1 Juni, pada jam 11:26 malam, sekelompok remaja sedang berdiri mengantri, sambil ngobrol dan bercanda, dan menunggu untuk bisa masuk disco Dolphi yang terkenal di Tel Aviv. Kebanyakan dari para remaja ini berasal dari bekas Uni Sovyet, dan orangtua mereka adalah imigran baru di Israel. Saeed Hotari juga berada di barisan antrian, tapi dia adalah orang Palestina dan sedikit lebih tua daripada para remaja tersebut. Dia mengikatkan pada tubuhnya bahan peledak dan pecahan² metal.

Koran² tidak menyebut serangan di Dolphinarium sebagai serangan bom bunuh diri. Mereka menyebutnya sebagai pembantaian. Sejumlah besar anak² remaja tercabik hancur berantakan akibat ledakan hebat bom yang berisi kelereng² metal. Jumlah korban sangat besar: 21 mati; 132 luka².

Tiada pembom bunuh diri yang berhasil membunuh begitu banyak orang dalam satu kali serangan. Tetangga² Hotari di Tepi Barat memberi selamat ayahnya. “Aku harap ketiga putraku lainnya juga akan melakukan hal yang sama,” kata Pak Hotari pada wartawan. “Aku ingin semua anggota keluargaku mati bagi negara dan tanah air kami.” Israel menjadi lebih bertekad lagi untuk memotong kepala ular. Pada saat itu semestinya mereka tahu bahwa memenjarakan atau membunuh para pemimpin organisasi perlawanan Palestina tidaklah akan menghentikan pertumpahan darah.

Jamal Mansour adalah seorang wartawan, dan seperti ayahku, dia adalah salah satu dari 7 pendiri Hamas. Dia adalah salah satu sahabat terdekat ayah. Mereka dulu telah diasingkan bersama di Lebanon selatan. Mereka bicara dan tertawa bersama di telepon hampir setiap hari. Dia juga adalah pendukung utama para pembom bunuh diri. Di wawancara bulan Januari oleh majalah Newsweek, dia membela pembunuhan yang dilakukan terhadap para penduduk sipil tak bersenjata dan memuji para pembom bunuh diri.

Pada tanggal 31 Juli, hari Selasa, setelah mendapat keterangan dari seorang mata², sebuah helikopter Apache berlaras dua mendekati kantor media Mansour di Nablus. Helikopter itu menembakkan rudal yang dikemudikan oleh laser yang meluncur menembus jendela kantornya di lantai dua. Mansour, ketua Hamas Jamal Salim, dan enam orang Palestina lainnya langsung tewas oleh ledakan rudal tersebut. Dua korban adalah anak², usia 8 dan 10, yang sedang menunggu diperiksa dokter di lantai pertama. Kedua anak ini hancur remuk tertimpa reruntuhan gedung.

Kejadian ini sungguh mengejutkanku. Aku menelepon Loai.
“Apa sih yang tengah terjadi? Apakah kau yakin orang² itu terlibat dalam pemboman bunuh diri? Aku tahu mereka mendukung penyerangan, tapi mereka adalah bagian politik Hamas, dan bukan bagian militer.”
“Ya. Kami punya keterangan bahwa Mansour dan Salim langsung terlibat dalam pembantaian disko Dolphinarium. Tangan mereka berlumuran darah. Kami harus melakukan ini.”
Apa yang bisa kulakukan? Berdebat dengannya? Mengatakan bahwa informasi yang didengarnya salah? Tiba² aku sadar bahwa Pemerintah Israel juga mungkin akan membunuh ayahku. Meskipun dia tidak mengatur penyerangan bom bunuh diri, dia tetap bersalah karena berhubungan dengan mereka. Selain itu, dia juga punya keterangan yang bisa menyelamatkan banyak nyawa, tapi dia menahan keterangan itu. Dia punya pengaruh, tapi tak menggunakannya. Dia bisa mencoba menghentikan pembunuhan, tapi dia tak melakukannya. Dia mendukung serangan² itu dan mendorong anggota² Hamas untuk terus melakukan perlawanan sampai Israel terpaksa mundur. Di mata Pemerintah Israel, dia juga adalah seorang teroris.

Setelah banyak mempelajari Alkitab, aku sekarang mulai membandingkan perbuatan² ayahku dengan ajaran² Yeshua, dan bukan dengan Qur’an lagi. Hasilnya, ayah semakin tampak bukan lagi sebagai pahlawan di mataku, dan hatiku terasa remuk. Aku ingin memberitahu padanya apa yang kupelajari, tapi aku tahu dia tidak akan mendengar. Dan jika Pemerintah Israel berhasil membunuhnya, maka dia tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk mengetahui bahwa Islam telah membimbingnya di jalan yang salah.

Aku menghibur diriku bahwa ayah tidak akan dibunuh untuk sementara waktu karena koneksiku dengan Shin Bet. Mereka dan aku ingin dia tetap hidup, meskipun tentunya karena alasan yang sangat berbeda. Dia adalah sumber utama keterangan dalam tentang kegiatan Hamas. Tentu saja aku tidak bisa menerangkan hal ini kepadanya, dan bahkan perlindungan Shin Bet juga akhirnya bisa jadi berbahaya baginya. Tentunya orang² akan curiga jika semua pemimpin Hamas harus menyembunyikan diri, tapi ayah seorang diri tidak perlu melakukan hal itu dan bisa bebas berjalan-jalan di luar. Aku merasa harus berusaha melindungi ayah. Aku segera datang ke kantornya dan mengatakan padanya bahwa apa yang baru saja terjadi pada Mansour bisa terjadi pula pada dirinya.

“Singkirkan semua orang. Singkirkan bodyguardmu. Tutup kantor. Jangan datang ke sini lagi.” Reaksinya persis seperti yang telah kuduga.
“Aku akan baik² saja, Mosab. Kami akan menaruh besi baja di depan jendela².”
“Apakah kau gila? Pergi sekarang juga! Rudal² mereka bisa menembus tank² dan bangunan², dan kau pikir kau bisa berlindung di balik selembar metal? Jika kau tutup jendela, maka mereka akan menembak lewat langit² ruangan. Mari pergi sekarang juga!”

Aku tidak bisa menyalahkan ayah dengan sikapnya menolak. Dia adalah pemimpin agama dan politik, dan bukan tentara. Dia tidak tahu apa² tentang pembunuhan atau tentara. Dia tidak tahu apa yang kuketahui. Akhirnya ayah setuju untuk pergi bersamaku, meskipun kutahu dia tidak senang melakukannya.

Tapi aku bukan satu²nya orang yang berkesimpulan bahwa sahabat Mansour, yakni Hassan Yousef, tentunya akan jadi target pembunuhan berikutnya. Ketika kami sedang berjalan di tepi jalan, tampaknya orang² di sekitar kami merasa khawatir. Mereka mempercepat langkah kaki mereka dan sekali² melihat ke langit dengan gugup, jangan² ada helikopter Israel yang muncul. Tiada yang mau ikut jadi korban sial gara² berada terlalu dekat dengan ayah. Aku mengantar ayah ke Hotel City Inn dan mengatakan padanya untuk tinggal di situ.

“Petugas penerima tamu akan mengganti kamarmu setiap lima jam. Dengarkan dia. Jangan bawa siapapun ke dalam kamarmu. Jangan telepon siapapun kecuali aku, dan jangan tinggalkan tempat ini. Ini telepon yang aman untukmu.”
Setelah aku pergi, aku langsung menelepon Shin Bet.
“Bagus. Tempatkan dia di sana agar aman.”

Agar bisa yakin ayah tetap aman, aku harus tahu setiap kegiatannya. Aku menyingkirkan semua bodyguardnya, karena aku tak percaya akan mereka. Aku ingin ayah bergantung padaku sepenuhnya. Jika tidak, dia kemungkinan bisa berbuat kesalahan yang mengakibatkan kematiannya. Aku jadi pembantu, bodyguard, dan penjaga gerbanya. Aku menyediakan semua yang dibutuhkannya. Aku memperhatikan apapun yang terjadi di dekat hotelnya. Aku adalah kontak perantaranya ke dunia luar, dan aku juga jadi kontak perantara dunia luar kepada ayah. Perananku yang baru ini juga menguntungkan diriku karena dengan begitu tiada orang yang curiga padaku.

Aku mulai melakukan peranan sebagai pemimpin Hamas. Aku membawa senjata M16, yang merupakan tanda bahwa aku adalah pria yang punya koneksi, peranan penting, dan kekuasaan. Di saat itu, senjata seperti M16 sangatlah diminati dan tidak banyak yang punya (senjataku ini harganya bisa mencapai $10.000).

Orang² militer Hamas mulai bergaul bersamaku hanya untuk menunjukkan bahwa diri mereka penting. Karena mereka mengira aku tahu semua rahasia Hamas, mereka merasa bebas membagi masalah² dan rasa tidak puas mereka padaku, karena menyangka aku bisa menolong mereka.
Aku mendengarkan baik². Mereka tidak tahu bahwa sedikit keterangan dari sana sini yang mereka sampaikan bisa kususun hubungannya satu sama lain untuk menghasilkan gambaran besar permasalahan. Hal ini jugalah mengakibatkan Shin Bet mampu melakukan banyak operasi rahasia yang sukar kujabarkan pada kalian hanya dalam satu buku saja. Yang ingin kusampaikan pada kalian adalah banyak nyawa yang terselamatkan sebagai hasil pembicaraanku dengan para militer Hamas tersebut. Banyak wanita yang tidak menjadi janda dan banyak anak² yang tidak kehilangan orangtua karena kami berhasil mencegah terjadinya banyak serangan bom bunuh diri.
Setelah aku dipercaya dan dianggap penting oleh bagian militer Hamas, maka aku pun jadi wakil Hamas bagi organisasi Palestina lainnya. Organisasi² lain ini mengira akulah yang menyediakan bahan peledak dan yang mengatur kerjasama operasi penyerangan dengan Hamas.

Suatu hari, Ahmad al-Faransi, ajudan Marwan Barghouti, meminta aku untuk menyediakan bahan² peledak bagi beberapa pembom bunuh diri dari Jenin. Aku katakan padanya bahwa aku akan menyediakan bahan peledak itu, dan aku mulai memainkan perananku – menunda sampai aku mengetahui keberadaan kelompok² pembom di Tepi Barat. Permainan seperti ini sangatlah berbahaya. Tapi aku tahu bahwa aku terlindung dari beberapa jurusan. Menjadi putra Syeikh Hassan Yousef mencegah diriku disiksa oleh Hamas di penjara, dan posisi ini juga melindungiku saat bekerja diantara para teroris. Pekerjaanku di USAID juga memberiku perlindungan dan kebebasan pula. Juga Shin Bet selalu melindungiku.

Akan tetapi, jika aku berbuat kesalahan, maka nyawalah taruhannya, dan Pemerintah Palestina (PA) selalu saja jadi ancaman bagiku. PA punya alat bantu dengar yang canggih, hadiah dari CIA. PA menggunakannya untuk melacak teroris dan mata² Israel. Maka aku harus sangat berhati-hati, terutama agar tidak jatuh ke tangan PA karena aku tahu lebih banyak tentang Shin Bet daripada mata² lainnya.

Karena aku adalah satu²nya akses perantara bagi ayahku, maka aku berhubungan langsung dengan semua ketua Hamas di Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Syria. Orang lain yang punya akses yang sama seperti diriku hanyalah Khalid Meshaal (ketua Hamas di Syria) di Damaskus. Meshaal lahir di Tepi Barat, tapi dia kebanyakan hidup di negara² Arab lainnya. Dia bergabung bersama Persaudaraan Muslim di Kuwait dan belajar fisika di Universitas Kuwait. Setelah Hamas berdiri, Meshaal mengetuai Hamas di Kuwait. Setelah Kuwait diserang Iraq, dia pindah ke Yordania, lalu ke Qatar, dan akhirnya tinggal di Syria.

Karena tinggal di Damaskus, dia bisa bebas bepergian dan tidak dibatasi seperti para ketua Hamas di Palestina. Dia berperan bagaikan diplomat yang mewakili Hamas di Kairo, Moskow, dan Liga Arab. Sewaktu dia bepergian, dia pun mengumpulkan dana. Di bulan April 2006, dia berhasil mengumpulkan dana sebesar $100.000.000 dari Iran dan Qatar.
Meshaal jarang tampil di tempat umum; dia tinggal di tempat rahasia, dan dia tidak berani kembali ke Palestina karena takut dibunuh. Dia punya alasan kuat untuk berhati-hati.

Di tahun 1997, ketika Meshaal sedang berada di Yordania, dua orang agen rahasia Israel masuk ke dalam kamarnya dan memasukkan racun langka ke dalam telinganya saat dia tidur. Para bodyguard-nya melihat para agen rahasia itu pergi meninggalkan gedung, dan satu dari mereka segera memeriksa Meshaal. Dia tidak melihat darah apapun, tapi Meshaal tampak tergeletak di lantai tanpa bisa bersuara. Para bodyguard mengejar agen² Israel, dan satu dari para agen itu jatuh ke pipa limbah. Para agen Israel ditangkap oleh polisi Yordania.

Saat itu Israel baru saja menandatangani perjanjian damai dengan Yordania dan bertukar duta besar. Serangan terhadap Meshaal ini mengancam perjanjian damai yang baru saja dibuat. Hamas merasa malu karena salah satu pemimpinnya bisa diserang dengan begitu mudah. Kisah ini mempermalukan semua yang terlibat, sehingga mereka semua mencoba menutup-nutupinya. Tapi media internasional bisa mengetahui berita ini.

Demonstrasi² terjadi di jalanan Yordania, dan Raja Hussein meminta Israel membebaskan Syeikh Ahmed Yassin, pemimpin rohani Hamas, dan tawanan² Palestina lainnya untuk ditukar dengan agen² rahasia Mossad yang merah mukanya karena malu. Sebagai tambahan persyaratan, Mossad juga harus mengirim tim dokter untuk menyuntikkan penawar racun pada Meshaal. Akhirnya Israel bersedia melakukan hal itu.

Khalid Meshaal meneleponku setidaknya seminggu sekali. Di lain waktu, dia meninggalkan rapat yang sangat penting untuk menerima telepon²ku. Suatu hari, Mossad menelepon Shin Bet.  “Kita punya seseorang yang sangat berbahaya dari Ramallah yang bicara dengan Khalid Meshaal setiap minggu, dan kami tidak bisa mengetahui siapa orang ini!”

Tentunya Mossad sedang membicarakan tentang diriku. Kami semua tertawa terbahak-bahak, dan Shin Bet tetap tidak memberitahu Mossad tentang siapa diriku sebenarnya. Tampaknya ada persaingan diantara badan² keamanan setiap negara – sama seperti FBI (Federal Bureau of Investigation) dengan CIA (Central Intelligence Agency), atau dengan NSA (National Security Agency) di AS.

Suatu hari aku ingin memanfaatkan hubunganku dengan Meshaal. Aku katakan padanya aku punya keterangan penting yang tidak bisa kusampaikan lewat telepon.
“Apakah kau punya cara aman untuk menyampaikannya?” tanyanya.
“Tentu saja. Aku akan telepon kamu lagi dalam waktu seminggu dan memberi keterangan terperinci bagimu.”

Biasanya cara rahasia untuk berkomunikasi antar daerah Palestina dan Damaskus adalah dengan memberikan surat pada seorang kurir yang tidak punya catatan polisi dan tak berhubungan dengan Hamas. Surat² seperti ini ditulis di atas kertas yang sangat tipis, lalu digulung sampai jadi kecil sekali, dan dimasukkan ke dalam kapsul obat kosong atau dibungkus dengan kain nylon. Sebelum menyeberangi perbatasan, kurir harus menelan kapsul itu, lalu memuntahkannya di WC di tempat yang dituju. Kadang² kurir harus membawa 50 buah pesan sekaligus. Tentunya kurir juga tak tahu apa isi surat² tersebut.

Aku mengambil keputusan untuk melakukan hal yang berbeda dan membuka saluran baru rahasia di luar Palestina, dan dengan begitu memperluas akesku dari sekedar tingkat pribadi saja menjadi tingkat operasi dan keamanan organisasi.
Shin Bet senang sekali mendengar gagasanku.
Aku memilih anggota Hamas lokal dan mengatakan padanya untuk menemuiku di kuburan tua di tengah malam. Untuk membuatnya terkagum-kagum, aku datang sambil membawa senapan M16-ku.

“Aku ingin kau melakukan tugas yang sangat penting,” kataku padanya. Dia jelas tampak ketakutan tapi juga tertarik dan ingin tahu. Dia mendengarkan setiap kata yang diucapkan putra Hassan Yousef.
“Kau tidak boleh memberitahu siapapun – tidak juga keluargamu, bahkan juga ketua Hamas. Ngomong², siapakah pemimpinmu?”
Aku memintanya untuk menulis seluruh pengalamannya dalam Hamas, apapun yang dia ketahui, sebelum aku bisa menerangkan lebih banyak padanya tentang tugas rahasia yang akan diembannya. Meskipun dia tidak bisa menuliskan semuanya di atas kertas dalam waktu singkat, aku sungguh merasa beruntung menerima kertas laporan itu karena keterangannya sangat banyak dan penting. Isinya termasuk keterangan² terbaru tentang setiap kegiatan di daerahnya.
Kami bertemu untuk keduakalinya, dan aku katakan padanya bahwa dia akan memintanya pergi keluar Palestina.
“Lakukan persis seperti apa yang kukatakan,” kataku memperingatkannya, “dan jangan banyak tanya.”
Aku beritahu Loai bahwa orang ini sangat terlibat dalam organisasi Hamas, dan merupakan pengikut Hamas yang aktif dan setia. Shin Bet memeriksa data tentang orang itu, tidak menganggapnya sebagai bahaya, dan membuka perbatasan ke Syria baginya untuk membawa suratku pada Khalid Meshaal.

Aku menulis surat pada Khalid Meshaal bahwa aku punya semua kunci ke Tepi Barat dan dia bisa bergantung padaku sepenuhnya untuk tugas² pelik dan khusus, jika dia tidak bisa menggunakan jalur Hamas yang biasa. Aku katakan bahwa aku siap menerima perintahnya, dan aku menjamin tugas akan dijalankan dengan sukses.

Waktuku menghubunginya sangat tepat, karena Israel telah membunuhi atau menangkapi sebagian besar pemimpin² dan aktivis Hamas saat itu. Brigade Al-Qassam juga telah kelelahan, dan Meshaal tidak punya banyak sumberdaya manusia.
Aku tidak menyuruh kurirku untuk menelan surat. Aku menciptakan desain pengiriman baru, karena hal itu mengasyikan bagiku. Aku suka dengan peralatan agen rahasia, terutama karena badan rahasia Israel menyediakan teknologinya.
Kami membeli baju baru yang sangat bagus bagi kurirku – baju jas komplit, sehingga perhatiannya teralihkan pada baju barunya dan bukan pada sepatunya di mana kami menyembunyikan surat untuk Khalid Meshaal.

Dia lalu mengenakan baju baru tersebut, dan aku memberinya cukup uang untuk melakukan perjalanan dan sedikit uang lebih untuk bersenang-senang di Syria. Aku katakan padanya bahwa orang yang akan menghubunginya hanya akan mengenalnya melalui sepatunya, jadi dia harus tetap memakai sepatu itu. Jika dia tidak memakai sepatu itu, maka mereka akan mengira dia adalah orang lain dan ini akan berbahaya baginya. Begitu penjelasanku padanya.

Setelah kurirku tiba di Syria, aku menelepon Khalid Meshaal dan mengatakan padanya bahwa sebentar lagi akan ada orang yang menghubunginya. Jika orang lain mengatakan pesan seperti itu padanya, Khalid akan jadi sangat curiga dan menolak bertemu. Tapi kurir ini telah dikirim oleh teman mudanya, putra Hassan Yousef. Makanya dia yakin dia tidak perlu khawatir. Ketika kurirku bertemu dengan Khalid Meshaal, Khalid memintanya menyerahkan surat dariku.
“Surat apa?” kurirku bertanya. Dia tidak tahu bahwa dia memiliki surat itu.
Aku telah memberitahu Khalid untuk mencari surat itu di sepatu kurirku. Mereka lalu menemukan sebuah ruang kecil tersembunyi di salah satu sepatu kurirku. Dengan begitu, jalur baru komunikasi sudah dibuka dengan Damaskus, meskipun Khalid Meshaal tidak menyadari bahwa Shin Bet mengamati semua ini.

Bab 20 – Duri
Musim Panas 2001

Sewaktu jam hampir menunjukkan pukul 2 siang, di tanggal 9 Agustus, 2001, Izz al-Din Shuheil al-Masri yang berusia 22 tahun, meledakkan diri di toko pizza Sbarro yang padat pengunjung di persimpangan Jalan Raja George dan Jalan Jaffa. Al-Masri berasal dari keluarga terpandang di Tepi Barat.

Bom yang dia bawa seberat sekitar 5 sampai 10 kg, dan bom meledak sambil melontarkan banyak paku, sekrup dan mur kepada kerumunan orang² di musim panas, membunuh 15 orang dan melukai 130 lainnya. Karena pemboman hebat ini dan juga pemboman Dolphinarium serupa beberapa bulan sebelumnya, masyarakat Israel bagaikan dibutakan oleh rasa duka dan amarah yang meluap. Siapapun kelompok yang melakukan serangan bom ini harus segera diketahui dan dihentikan sebelum banyak orang tak bersalah terbunuh lagi. Jika tidak segera dicegah, maka kejadian² seperti ini akan terus bergulir tak terkendali dan akhirnya akan berakibatkan kematian masal dan kesedihan tak terperikan di seluruh negara.

Shin Bet berulangkali mengumpulkan semua detail pemboman, sambil mencoba menghubungkan serangan bom ini dengan lima orang yang dulu kutempatkan di apartemen di Al Hajal, Ramallah – kelima orang ini adalah Muhammad Jamal al-Natsheh, Saleh Talahme, Ibrahim Hamed, Sayyed al-Sheikh Qassem, dan Hasaneen Rummanah. Meskipun begitu, Shin Bet tetap tidak menemukan bukti apapun yang menghubungkan mereka dengan pemboman² di Dolphinarium dan Sbarro.

Siapa yang mampu menciptakan bom sehebat itu? Tentunya bukan sekedar mahasiswa kimia dan teknik biasa saja. Kami tahu kelima orang itu, nilai² ujian mereka, dan apa yang mereka makan di pagi hari.

Siapapun yang merakit bom² ini tentunya adalah seorang ahli dalam bidangnya, dan tampaknya tak berhubungan dengan organisasi Palestina manapun, dan masih di luar radar pengamatan kami. Tetapi kami harus menemukan orang ini sebelum dia membuat bom baru. Orang ini sangat amat berbahaya.

Yang tak kami ketahui saat itu adalah orang² Arafat telah menerima telepon dari CIA tak lama setelah serangan bom Sbarro. “Kami tahu siapa yang membuat bom,” kata agen² Amerika pada mereka. “Namanya adalah Abdullah Barghouti; dia hidup bersama saudaranya Bilal Barghouti. Ini alamat rumah mereka. Cepat tangkap mereka.”

Abdullah Barghouti sedih karena “hanya” mampu membunuh 66 orang Israel saja. Tampaknya dia akan punya kesempatan baru mendongkrak jumlah korbannya.

Dalam waktu beberapa jam saja, Abdullah dan Bilal Barghouti sudah berada ditangani PA – bukan karena Pemerintah Palestina ingin menangkap mereka, tapi agar uang dan dukungan logistik dari AS terus mengalir ke PA. Arafat tahu bahwa dia setidaknya harus menyiratkan bahwa PA berperan pula dalam menjaga perdamaian. Aku yakin Arafat lebih suka menganugerahkan medali penghargaan bagai Abdullah Barghouti daripada memenjarakannya.

Tak lama setelah Abdullah Barghouti berdiam dengan nyaman dalam Pusat Keamanan Pencegahan (Preventive Security Headquarters) milik PA, Barghouti yang lain – yakni Marwan Barghouti (bukan saudara dan tak ada hubungan darah dengan Abdullah Barghouti) yang adalah ketua Fatah, muncul untuk mencoba membebaskan Abdullah Barghouti. Tapi PA tidak mau membebaskan Abdullah – AS telah meletakkan Abdullah ke pangkuan PA, dan AS tentunya mengharapkan PA menangkap Abdullah. Israel juga berharap hal yang sama dengan AS, dan akan bersikap lebih keras jika PA tidak melakukan tanggungjawabnya. Maka Marwan memberi Abdullah makanan, pakaian, dan uang, dan mengganti penjara menjadi kurungan rumah saja – sehingga Abdullah tetap bisa bekerja di kantor yang nyaman, sambil merokok, menikmati kopi, dan ngobrol bersama para pejabat tinggi keamanan PA.

Marwan Barghouti, ketua Fatah.

Meskipun bukan bersaudara, Marwan Barghouti dan Abdullah Barghouti memiliki banyak kesamaan latar belakang. Mereka berdua punya hubungan kuat dengan Muhaned Abu Halawa, psikopat yang berusia 23 tahun, dan juga ajudan dari Ahmad Ghandour (pemimpin Brigade Syahid Al-Aqsa).

Halawa adalah komandan medan perang Fatah dan anggota Pasukan 17. Jika kau membayangkan tentara komando elit seperti Pasukan 17 atau Garda Republik punya Saddam Hussein, tentunya yang terbayang adalah tentara yang sangat disiplin, ahli dalam berbagai hal, dan sangat terlatih. Tapi tidak begitu kenyataannya dengan Halawa. Dia adalah orang tak berpendidikan yang berperilaku seenaknya, sambil pergi ke mana² membawa senjata² berat yang diletakkan di mobil Jeepnya. Halawa secara rutin membagi-bagikan senjata² ini pada para extrimis dan orang² tak bermoral, yang lalu segera membawa senjata² itu ke pos² pemeriksaan untuk menembaki para prajurit dan warga Israel secara membabi-buta.

Contoh perbuatan mereka bisa dilihat di bulan Mei, ketika Halawa memberikan dua buah senjata AK-47 dan sekarung peluru pada seorang pria. Tak lama kemudian, pria ini dan temannya bersembunyi untuk melakukan serangan mendadak di jalanan keluar Yerusalem dan mereka menembakkan 13 peluru kepada biarawan Kristen Yunani Ortodox bernama Tsibouktsakis Germanus. Halawa menghadiahi para pembunuh ini dengan lebih banyak senjata untuk melakukan serangan yang direncanakannya di Universitas Ibrani di Bukit Scopus.

Mudah dimengerti jikalau Pemerintah Israel menugaskan Shin Bet untuk menyingkirkan Halawa selamanya. Karena koneksiku dengan Hamas, maka aku adalah satu²nya orang yang bisa mengenalinya. Tapi untuk pertamakalinya dalam hidupku, aku menghadapi dilema moral yang berat. Bathinku menolak untuk membunuh orang ini, meskipun dia sangat jahat.

Aku pulang ke rumah dan mengambil Alkitab Perjanjian Baruku yang sekarang sudah kumel karena terlalu sering kubaca. Aku mencari dan mencari, tapi tak menemukan keterangan yang mengijinkan pembunuhan. Tapi aku juga takut akan darah korban yang melumuri tanganku jika aku membiarkan Halawa tetap hidup dan terus membunuhi orang². Aku merasa bingung.
Aku terus berpikir dan akhirnya berdoa pada Elohim yang Maha Kuasa, sampai akhirnya aku mengatakan, Ampuni aku, Elohim, untuk apa yang akan kulakukan. Ampuni aku. Orang ini tidak bisa dibiarkan terus hidup.
“Wah, bagus tuh,” kata Laoi, ketika ku sampaikan keputusanku. “Kita akan membereskan orang ini. Kau hanya perlu meyakinkan bahwa Marwan Barghouti tidak sedang bersama Halawa dalam mobil.”

Marwan bukan hanya tokoh penting Palestina, tapi dia juga teroris tulen yang tangannya berlumuran darah orang² Israel yang dibunuhnya secara pribadi. Meskipun Shin Bet sangat membencinya, tapi mereka tidak mau membunuhnya, karena itu hanya akan membuat Marwan tampak sebagai pahlawan syahid yang hebat.

Di tanggal 4 Agustus, 2001, aku sedang duduk di mobilku di luar kantor Marwan Barghouti sewaktu kulihat Halawa berjalan masuk kantor. Dua jam kemudian, dia keluar kantor, masuk ke dalam mobil VW Golf warna emas, dan lalu pergi. Aku menelepon Shin Bet dan mengatakan bahwa Halawa berada sendirian dalam mobilnya.
Dari dalam sebuah tank di puncak bukit, prajurit² IDF mengamati kedatangan mobil Halawa, menunggu sampai tiada warga sipil didekatnya, untuk menembaknya. Sebuah peluru tank ditembakkan ke arah jendela depan mobilnya, tapi tampaknya Halawa melihat itu, sehingga dia meloncat keluar mobil. Mobilku – hanya berjarak beberapa ratus meter darinya – terguncang karena kekuatan ledakan. Peluru kedua meleset dan mengenai aspal jalanan. Mobil VW Gold terbakar hebat, dan begitu juga Halawa – tapi dia belum mati. Sewaktu aku melihatnya berlari di jalanan sambil menjerit-jerit kesakitan dengan api menyelimuti tubuhnya, jantungku berdetak keras sekali seakan mau meloncat keluar dari dadaku.
Waduh, kasihan sih sebenarnya.
“Ngapain kamu di sana?!” jerit Shin Bet melalui ponselku ketika mereka melihat mobilku tampak dekat dengan tempat kejadian. “Apakah kau mau mati? Pergi segera!”
Meskipun sebenarnya aku tidak boleh berada dekat tempat serangan, aku menyetir mobilku ke sana untuk melihat apa yang akan terjadi. Aku merasa bertanggungjawab dan wajib tahu karena aku adalah bagian dari operasi ini. Memang keputusanku itu bodoh. Jika orang Palestina melihat mobilku di situ, maka mereka akan tahu bahwa aku terlibat dalam usaha pembunuhan Halawa.

Di malam harinya, aku pergi bersama ayah dan Marwan Barghouti ke rumah sakit untuk menjenguk Halawa. Wajahnya terluka hebat sampai² aku tak berani melihatnya. Tapi dia tampak terlalu fanatik untuk bisa mati semudah itu.
Dia menyembunyikan diri selama beberapa bulan, dan kudengar dia tidak sengaja menembak dirinya sendiri sampai² hampir mati kehabisan darah. Tapi bahkan ini pun tidak sanggup membuatnya berhenti membunuhi orang² Israel. Dia tetap saja melakukan hal itu. Lalu di suatu hari, Loai meneleponku.
“Ada di mana kamu?”
“Aku sedang berada di rumah.”
“Baiklah, tetap tinggal di sana.”

Helikopter Apache Israel yang didapat dari AS.

Aku tak bertanya apa yang sedang terjadi. Aku telah belajar untuk mentaati petunjuk Loai. Dua jam kemudian, Loai menelepon lagi. Rupanya, Halawa sedang makan bersama beberapa temannya di restoran ayam goreng tak jauh dari rumahku. Seorang mata² Israel melihatnya dan memberitahu Shin Bet tentang hal itu. Ketika Halawa dan teman²nya meninggalkan restoran, dua helikopter Israel muncul di udara dan menembakkan misil. Selesai sudah riwayat mereka.

Setelah Halawa dibunuh, beberapa anggota Brigade Syahid Al-Aqsa datang ke restoran dan menemukan pemuda usia 17 tahun yang adalah satu dari orang² yang telah terakhir kali ditemui Halawa sebelum dia masuk mobil. Pemuda ini adalah yatim piatu tanpa keluarga yang melindunginya. Maka mereka menyiksanya sedemikian rupa sampai dia mengaku sebagai mata² Israel. Mereka menembaknya, mengikat tubuhnya di bagian belakang mobil, menyeretnya di sepanjang jalanan Ramallah, dan menggantungnya di menara alun².

Di saat yang sama, media mulai menjeritkan bahwa Israel telah berupaya membunuh Marwan Barghouti, tapi tentunya berita ini salah. Aku tahu betul bahwa Shin Bet tidak berusaha membunuhnya. Tapi tampaknya semua orang lebih percaya pada koran dan Al-Jazira, sehingga Marwan Barghouti lalu mengambil kesempatan dari kejadian ini. Dia mulai membual, “Iya, memang mereka mencoba membunuhku, tapi aku lebih cerdik daripada mereka.”

Ketika Abdullah Barghouti mendengar tentang berita itu di penjara, dia mempercayai ucapan Marwan Barghouti dan mengirim bom² rakitannya ke para pembantu Marwan untuk dipakai dalam rangka balas dendam terhadap orang² Israel. Marwan sangat berterima kasih atas usaha Abdullah dan merasa berhutang budi padanya.

*******************

Munculnya Abdullah Barghouti mengakibatkan terjadinya perubahan dramatis dalam konflik antara Israel dan Palestina. Pertama, bom rakitannya jauh lebih canggih dan lebih dahsyat daripada yang pernah kami lihat sebelumnya, dan hal ini membuat Israel lebih mudah diserang dan menambah tekanan pada badan keamanan Israel untuk segera menghentikan serangan² bom.
Kedua, Intifada Al-Aqsa tidak lagi terbatas di Palestina saja. Abdullah Barghouti adalah orang luar, yang lahir di Kuwait. Ancaman apa lagi yang mengincar Israel di perbatasannya?
Ketiga, Abdullah Barghouti bukanlah orang yang bisa dengan mudah dilacak. Dia bukan anggota Hamas atau PA. Dia hanya seorang diri saja, yang bagaikan mesin kematian misterius yang bekerja sendiri.

Tak lama setelah penangkapan Abdullah Barghouti, PA meminta Marwan untuk bertanya padanya apakah ada serangan² berikut yang direncanakannya.
“Baiklah,” kata Marwan. “Aku akan minta Hassan Yousef bicara padanya.”
Marwan tahu ayahku sangat menentang korupsi politik dalam Pemerintahan Palestina dan telah mendengar usaha ayah untuk mendamaikan Hamas dan PA. Dia menelepon ayahku, dan ayah setuju untuk bicara dengan Abdullah Barghouti.
Ayah sebelumnya belum pernah bertemu dengan Abdullah Barghouti, yang sudah jelas bukanlah anggota Hamas. Ayah memperingatkan Abdullah, “Jika kau punya rencana rahasia, kau harus memberitahu PA agar kita bisa menundanya, sehingga Israel tidak menekan kita lebih hebat lagi, setidaknya sampai beberapa minggu. Jika terjadi pemboman sehebat bom² yang meledakkan Dolphinarium atau Sbarro, Israel akan menyerang Tepi Barat dengan kekuatan penuh. Mereka akan menangkapi para pemimpin PA, termasuk kamu juga.”

Abdullah mengakui bahwa dia telah mengirim sejumlah bom ke Nablus, di mana para teroris akan memasukkan bom² itu ke dalam empat buah mobil, mengelilingi Perdana Menteri Israel Shimon Peres ketika dia sedang berada di perjalanan, dan meledakkan keempat mobil itu untuk membunuh Shimon Peres. Dia juga mengaku bahwa sebagian aggota Hamas di utara akan membom beberapa pejabat negara Israel. Tapi dia tidak tahu siapakah para pembom ini, siapa target mereka, atau siapa yang merencanakan pembunuhan Peres. Dia hanya punya nomer telepon mereka saja.

Ayahku pulang ke rumah dan memberitahu aku apa yang baru saja diketahuinya. Kami menduga mereka akan membunuh salah satu pejabat Israel yang tertinggi, yakni Menteri Luar Negeri. Perkembangan ini menegangkan.
Tentu saja kami lalu berusaha untuk menelepon orang yang menelepon Abdullah. Marwan Barghouti tidak mau Abdullah menggunakan teleponnya dan ayahku juga tidak mau Abdullah menggunakan teleponnya pula. Kami menyadari bahwa Israel akan menyadap pembicaraan telepon, dan tiada seorang pun dari mereka yang ingin terlibat dalam operasi teroris besar ini.
Maka ayahku menyuruhku membeli ponsel yang setelah selesai dipakai, bisa langsung dibuang. Aku membeli telepon, menulis nomer teleponnya, dan memberi tahu Shin Bet agar mereka bisa menyadapnya.
Abdullah lalu menelepon para penghubungnya di Nablus dan memberitahu untuk menunda melakukan serangan bom sampai ada perintah baru. Setelah pihak keamanan Israel tahu akan rencana pembunuhan ini, mereka menjaga para pejabat anggota Knesset dan Kabinet Negara lebih ketat lagi. Akhirnya, setelah dua bulan penuh serangan bom, keadaan jadi lebih tenang lagi.
Di saat itu, Marwan tetap berusaha membebaskan Abdullah Barghouti, karena Abdullah tidak hanya mampu merakit bom² canggih baginya, tapi juga karena Marwan ingin Abdullah bebas melanjutkan pembunuhan atas orang² Israel lagi. Selain merupakan salah seorang pemimpin dalam Intifada Kedua, Marwan Barghouti juga adalah seorang teroris murni yang secara pribadi suka menembaki prajurit² dan warga sipil Israel.

Akhirnya PA membebaskan Abdullah Barghouti. Shin Bet jadi sangat murka.
Lalu semuanya menjadi lebih kacau lagi.

Bab 21 – Permainan
Musim Panas 2001 – Musim Semi 2002

Pada tanggal 27 Agustus, 2001, sebuah helikopter Israel menembakkan dua buah roket ke kantor Abu Ali Mustafa, sekretaris jendral PFLP. Satu dari roket² itu menghajarnya saat dia duduk di kantornya. Keesokan harinya, lebih dari 50.000 masyarakat Palestina yang marah, dan juga keluarga Mustafa, menghadiri penguburannya. Mustafa telah menentang proses perdamaian dan isi Perjanjian Oslo. Meskipun begitu, dia adalah Muslim moderat sama seperti ayahku, dan kami sering pergi bersama untuk mendengarkan ceramahnya.
Israel menuduhnya melakukan sembilan serangan bom mobil, tapi hal ini tidak benar. Sama seperti ayahku, dia adalah pemimpin politik, dan bukan pemimpin militer. Israel tidak punya bukti apapun terhadap dirinya. Tapi tampaknya itu tak jadi masalah. Mereka tetap saja membunuh Mustafa – mungkin sebagai balas dendam pembantaian di Sbarro atau di Dolphinarium. Atau kemungkinan besar mereka ingin menyampaikan peringatan pada Yasser Arafat. Selain menjadi ketua PFLP, Mustafa juga adalah anggota Komite Pelaksana PLO.

Dua minggu kemudian, pada tanggal 11 September, sembilan belas teroris Al-Qaeda membajak empat pesawat jet AS. Dua pesawat yang diterbangkan teroris menabrak dua gedung World Trade Center di New York City. Pesawat ketiga jatuh di gedung Pentagon di Washington DC. Pesawat yang keempat jatuh di lapangan County Somerset, Pennsylvania. Semua korban berjumlah 2.973, termasuk para teroris itu sendiri.
Sewaktu berbagai media berlomba memberitakan kejadian luar biasa ini, aku duduk bersama orang² seluruh dunia melihat berulang-ulang tayangan jatuhnya Gedung Kembar itu, di mana abu putih menutupi Jalan Gereja bagaikan badai salju di bulan Februari. Aku merasa malu melihat cuplikan film anak² Palestina bersorak-sorai merayakan serangan itu di jalanan Gaza.
Serangan ini membuat usaha perlawanan Palestina terhadap Israel jadi hangus, sewaktu seluruh dunia berteriak dengan satu pesan melawan terorisme – pokoknya segala macam terorisme, apapun tujuannya. Dalam beberapa minggu berikutnya, Shin Bet mulai mengambil pelajaran dari peristiwa 9/11 tersebut.

Mengapa organisasi² kemanan rahasia AS tidak mampu mencegah malapetaka tersebut? Jawabannya adalah: pertama, masing² organisasi tersebut ternyata bekerja sendiri² dan malah saling bersaing dan kurang ada kerjasama. Kedua, mereka kebanyakan bergantung pada teknologi dan jarang bekerjasama dengan para teroris. Taktik seperti ini mungkin cocok dalam Perang Dingin (melawan komunis), tapi sungguh sukar melawan orang² yang menganut ideologi fanatik dengan bantuan teknologi saja.

Di lain pihak, organisasi kemanan rahasia Israel kebayakan bergantung pada sumberdaya manusia; dan mereka punya mata² yang tak terhingga jumlahnya di mesjid², organisasi² Islam, dan berbagai badan kepemimpinan. Mereka bahkan sanggup merekrut teroris² yang terganas sekalipun. Mereka tahu bahwa mereka perlu memiliki mata dan telinga di bagian dalam, dan juga pikiran untuk mengerti motif dan emosi, yang semuanya dibutuhkan untuk menghubungkan keterangan satu dan yang lain untuk menghasilkan pemahaman yang lengkap.

Amerika tidak tahu apapun tentang ideologi dan budaya Islam. Selain itu, bagian perbatasan AS dibiarkan terbuka dan keamanan sangat lemah, sehingga AS jadi target yang jauh lebih empuk dibandingkan Israel. Meskipun perananku sebagai mata² memungkinkan Israel menangkapi ratusan teroris di jalanan, kami tetap saja tidak mampu menghentikan terorisme sepenuhnya – bahkan di negara sekecil Israel.

Sekitar sebulan kemudian, di tanggal 17 Oktober, empat orang bersenjata PFLP masuk ke Hotel Hyatt Yerusalem dan membunuh Menteri Turisme Rehavam Ze’evi. Mereka mengatakan pembunuhan ini adalah tindakan balas dendam atas pembunuhan Mustafa. Meskipun tampaknya bidang Ze’evi tidak banyak terlibat dalam politik, tapi sudah bisa ditebak bahwa dia akan jadi target penyerangan. Hal ini karena dia secara terang²an menganjurkan kebijaksanaan politik yang membuat hidup tiga juta masyarakat Palestina jadi sangat sengsara di Jalur Gaza dan tepi Barat, sehingga akhirnya mereka dengan sukarela mengungsi ke negara² Arab lainnya. Sewaktu diwawancarai oleh wartawan Associated Press, Ze’evi mengatakan bahwa sebagian rakyat Palestina bagaikan ‘kutu penghisap darah’ yang harus dibasmi seperti membasmi ‘kanker yang menyebar dalam tubuh kita.’ [8]
[8]”Berita kematian: Rehavam Zeevi,” BBC News, 17 Oktober, 2001,  (diakses tanggal 24 November, 2009).

Mata ganti mata, gigi ganti gigi, dan saling bunuh karena dendam terus berlangsung. Sementara itu, masih banyak mata dan gigi yang tersedia.

Aku telah bekerja keras selama beberapa tahun untuk mengumpulkan semua keterangan sebisa mungkin untuk menolong Shin Bet menghentikan pertumpahan darah. Kami terus mengamati Muhammad Jamal al-Natsheh, Saleh Talahme, dan tiga orang lainnya yang dulu kuantar ke apartemen setelah mereka keluar dari penjara PA. Mereka berubah-ubah tempat tinggal, dan hanya Saleh saja yang tepat berhubungan denganku. Tapi kami tetap mengawasi keempat orang lainnya melalui keluarga mereka dan menyadap percakapan telepon mereka.
Saleh percaya padaku. Dia selalu mengatakan di mana dia tinggal dan sering mengundangku untuk bertamu. Setelah aku mengenalnya, aku sangat suka bersahabat dengannya. Dia adalah orang yang mengagumkan – ilmuwan cerdas, lulus sebagai insinyur terpandai di kelasnya, dan salah satu mahasiswa terbaik di Universitas Birzeit. Baginya, aku adalah putra Hassan Yousef, dan juga teman baik dan pendengar yang setia.
Aku sering bertemu dengannya; aku mengenal istrinya yakni Majeda dan juga kelima anak²nya (dua anak laki dan tiga anak perempuan). Putra sulungnya bernama Mosab, sama seperti namaku. Majeda dan anak²nya datang ke Ramallah dari Hebron untuk menjenguk Saleh di apartemen rahasia tempatnya bersembunyi. Saat itu aku masih berusaha menyelesaikan pendidikan S1-ku. Di suatu petang, Saleh bertanya bagaimana studiku.

“Ada kesulitan dengan bahan kuliah?”
“Iya nih, Statistik Ekonomi.”
“Baiklah, besok bawa kemari bukumu dan kita akan duduk bersama dan belajar bagaikan di kelas kecil.”

Ketika aku katakan pada Loai dan Shin Bet tentang hal itu, mereka senang. Mereka berpikir kegiatan belajar bersama ini merupakan penyamaran yang baik bagiku.

Tapi sebenarnya hal ini tidak sepenuhnya penyamaran, karena aku dan Saleh memang berteman baik. Dia mengajarku, dan aku berhasil mendapatkan angka ujian yang sangat baik dua minggu kemudian. Aku mengasihinya dan keluarganya. Aku pun sering bertamu dan makan di tempatnya. Kami menjadi sahabat erat. Ini tentunya hubungan yang aneh karena saat itu aku sudah tahu bahwa Saleh adalah orang yang sangat berbahaya. Tapi di lain pihak, demikian pula aku baginya.

*******************

Pada malam di tanggal 2 Maret, 2002, aku sedang duduk di rumah ketika dua orang pria datang ke rumah.
Dengan rasa curiga aku bertanya padanya, “Apakah ada yang bisa kutolong?”
“Kami mencari Syeikh Hassan Yousef. Ini hal penting.”
“Katakan padaku mengapa penting.”

Mereka menerangkan bahwa mereka adalah dua dari lima pembom bunuh diri yang baru saja tiba dari Yordania. Orang penghubung mereka baru saja ditangkap, dan mereka butuh tempat aman untuk tinggal.
“Baiklah, “kataku. “Kau datang di tempat yang tepat.”
Aku tanya apa yang mereka butuhkan.
“Kami bawa mobil penuh dengan bahan peledak dan bom, dan kami butuh tempat aman untuk parkir mobil.”
Waduh, pikirku, apa yang harus kulakukan dengan mobil penuh bahan peledak? Aku harus cepat berpikir. Aku mengambil keputusan untuk menyimpan mobil di garasi di sebelah rumah kami. Ini tentunya bukan gagasan yang baik, tapi aku harus cepat mengambil keputusan saat itu juga.
“Baiklah, ini uang bagi kalian,” kataku sambil mengosongkan dompetku. “Silakan cari tempat untuk tinggal, kembali padaku lagi malam ini, dan kita rencanakan apa yang harus kita lakukan.”

Setelah mereka pergi, aku telepon Loai, dan aku lega ketika Shin Bet datang dan membawa pergi mobil itu.

Kelima pembom bunuh diri kembali ke rumahku dalam waktu singkat. “Baiklah,” kataku pada mereka, “mulai sekarang, akulah koneksi kalian dengan Hamas. Aku akan menyediakan kalian target, lokasi, transportasi, dan segala yang kalian butuhkan. Jangan bicara pada siapapun, atau kalian bisa² terlanjur terbunuh sebelum mampu membunuh satu orang Israel saja.”

Kesempatan ini bagaikan menemukan durian runtuh, karena selama ini tiada seorang pun yang mengetahui para pembom bunuh diri sebelum mereka meledakkan bom. Sekarang tiba² saja lima calon pembom bunuh diri muncul di hadapanku dengan mobil penuh dengan bom. Tiga puluh menit kemudian aku memberitahu Shin Bet tentang lokasi mereka. Perdana Menteri Sharon memerintahkan agar mereka dibunuh.
“Wah, ya tidak bisa,” kataku pada Loai.
“Apa?!”
“Aku tahu mereka adalah teroris, dan mereka akan meledakkan diri. Tapi kelima orang ini bodoh dan tak tahu apa yang mereka lakukan. Kau tidak boleh membunuh mereka. Jika kau membunuh mereka, maka ini adalah terakhir kali aku membantumu.”
“Kau ini mengancam kami?”
“Tidak, tapi kau tahu bagaimana aku bekerja. Aku membuat satu perkecualian dengan Halawa, dan kau tentunya ingat bagaimana kesudahannya. Aku tidak mau lagi jadi bagian pembunuhan orang.”
“Apa ada pilihan lain?”
“Tangkap mereka,”
kataku, meskipun aku tahu ini berbahaya sekali. Kami memang telah memiliki mobil dan bom mereka, tapi mereka masih punya sabuk penuh bom pula. Jika mereka melihat seorang prajurit berada dalam jarak 100 meter dari kamar mereka, mereka tentunya akan meledakkan sabuk bom dan membunuh semua orang di sekitarnya.

Bahkan jikalau sekalipun kami berhasil menangkap mereka semua tanpa ada korban nyawa, mereka pasti akan menyebut namaku pada interogator mereka di penjara, sehingga aku pasti ketahuan. Yang termudah tampaknya memang membiarkan saja helikopter meluncurkan roket² ke apartemen mereka, dan beres sudah.

Tapi hati nuraniku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Meskipun belum jadi Kristen, aku benar² mencoba melakukan ajaran Yesus. Allâh tidak keberatan dengan pembunuhan dan malah mewajibkannya. Tapi Yesus menarikku ke standard yang lebih tinggi. Sekarang aku tidak tega untuk membunuh, bahkan teroris sekalipun.
Di saat yang sama, aku juga telah jadi aset yang sangat berharga bagi Shin Bet. Mereka tidak senang dengan keadaan ini, tapi mereka akhirnya setuju untuk membatalkan rencana pembunuhan.

“Kita harus tahu apa yang berlangsung dalam kamar itu,” kata mereka padaku. Aku datang ke apartemen mereka dengan berdalih membawa perabot² sederhana yang mereka butuhkan. Mereka tak mengetahui bahwa kami memasang alat penyadap pada perabotan tersebut sehingga kami bisa mendengar pembicaraan mereka. Bersama-sama Shin Bet, aku mendengarkan mereka diskusi siapa yang akan mati pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Semua ingin jadi orang pertama yang mati sehingga mereka tidak usah melihat rekannya meledak. Sungguh mengerikan. Rasanya bagaikan mendengarkan sekelompok orang mati mengobrol.

Pada tanggal 16 Maret, pasukan keamanan bersiaga di sekitar apartemen itu. Apartemen para pembom itu berada di tengah² kota Ramallah, sehingga IDF tidak bisa membawa tank. Karena pasukan harus berjalan kaki, operasi penyergapan ini sangat berbahaya. Aku mengikuti semua kegiatan dari tempatku, dan Loai bicara denganku di telepon dan memberitahu apa yang sedang terjadi. “Mereka sekarang akan tidur.”

Kami menunggu sampai terdengar suara dengkuran dari monitor. Akan bahaya sekali jika mereka terbangun. Pasukan tentara harus bisa masuk dan mencapai ranjang sebelum para pembom bisa bergerak.
Seorang prajurit memasang bom di gagang pintu, dan kami mendengarkan monitor untuk mendeteksi suara apapun yang menandakan mereka terjaga. Para prajurit sekarang memberi tanda aba² untuk siap beraksi.
Pintu diledakkan, dan pasukan khusus anti teroris menyerbu masuk ke apartemen kecil itu, menangkap semua teroris kecuali satu orang. Dia mengambil senjata dan berlari keluar jendela. Dia mati sebelum menghujam lantai.
Semua orang menarik napas lega, kecuali aku. Begitu pasukan keamanan membawa mereka ke dalam Jeep tentara, salah seorang dari mereka menyebut namaku sebagai mata² Israel.
Apa yang amat kukhawatirkan telah benar² terjadi. Aku telah ketahuan. Sekarang gimana dong?

Loai punya jalan keluar. Shin Bet mendeportasi orang tersebut kembali ke Yordania, dan mengirim teman²nya yang lain ke penjara. Jadi tatkala orang tersebut bebas kembali ke rumahnya dan senang bertemu dengan keluarganya, ketiga pembom lainnya yang dipenjara tentu mengira dialah yang mengkhianati mereka, dan bukan aku. Ini adalah solusi yang sangat cerdik.
Aku selamat sekali lagi, tapi nyaris ketahuan. Tapi sudah jelas bahwa aku kurang berhati-hati.

*******************

Suatu hari, aku menerima pesan dari ketua Shin Bet yakni Avi Dichter, yang berterima kasih padaku atas pekerjaan yang kulakukan bagi mereka. Dia berkata bahwa dia telah memeriksa semua arsip perang Israel melawan terorisme dan menemukan nama Pangeran Hijau di setiap arsip. Meskipun membanggakan, tapi hal ini juga merupakan suatu peringatan. Aku menyadari akan hal ini, begitu juga Loai. Jika aku terus melakukan hal yang sama, aku tentunya akan mati karena ketahuan. Jejak langkahku sudah terlalu panjang. Seseorang akhirnya akan bisa mengendusnya. Entah bagaimana caranya, tapi penting untuk menghapus jejakku.

Sikap keras kepalaku untuk menolak lima pembom tersebut dibunuh juga telah mempersulit keadaanku. Meskipun semua orang yakin bahwa pembom yang dikirim balik ke Yordania berkhianat sehingga teman²nya tertangkap, mereka juga tahu bahwa Israel tak akan ragu menangkap siapapun yang membantu para pembom tersebut. Dan mereka tahu aku sudah jelas banyak membantu para pembom bunuh diri itu. Sekarang masalahnya: mengapa aku belum juga ditangkap IDF?

Seminggu setelah penangkapan para pembom bunuh diri tersebut, tim keamanan Israel menyampaikan dua gagasan yang dapat menyelamatkan diriku agar tetap tak ketahuan. Pertama, mereka bisa menangkapku dan mengembalikan aku ke penjara. Tapi aku khawatir ini bisa mengakibatkan kematian ayah, karena tidak lagi dilindungi diriku.

“Pilihan lain bagi kita adalah melakukan sebuah permainan.”
“Permainan apa?”

Loai menjelaskan bahwa kami harus menyelenggarakan penangkapan besar, yang bisa meyakinkan semua orang Palestina bahwa Israel benar² ingin menangkap atau membunuhku. Agar tampak meyakinkan, hal ini harus dilakukan secara nyata dan tidak bersandiwara. IDF (Israeli Deffence Force) harus benar² mengira bahwa mereka harus menangkapku. Ini berarti Shin Bet harus menipu IDF – sekutu mereka sendiri.

Shin Bet memberi waktu IDF hanya beberapa jam saja untuk mempersiapkan operasi besar ini. Shin Bet mengatakan pada IDF bahwa sebagai putra Hassan Yousef, aku adalah orang yang sangat berbahaya, karena aku punya hubungan erat dengan para pembom bunuh diri dan kemungkinan bersenjata bom pula. Shin Bet mengatakan mereka mendengar laporan mata² bahwa aku akan datang ke rumah ayahku pada malam itu untuk menengok ibuku. Aku hanya akan tinggal untuk waktu singkat, dan aku bersenjata M16.
Bukan main permainan tipu-tipuan ini.

IDF dibuat yakin bahwa aku adalah teroris kelas hiu yang bisa hilang lenyap dengan cepat jika mereka gagal menangkapku. Karena itu IDF berjanji akan melakukan yang terbaik agar mereka tidak gagal. Pasukan keamanan khusus datang memakai pakaian Arab, bersama para penembak jarak jauh. Mereka masuk ke kota dengan mengendarai mobil Palestina, dan berhenti dalam jarak dua menit menyetir dari rumahku, sambil menunggu aba² dari Shin Bet. Tank² berat sudah berada dalam posisi 15 menit dari perbatasan wilayah Palestina. Helikopter² dengan senjata lengkap sudah siap untuk membantu dari udara, jika saja para feda’iyin Palestina menyerang pasukan IDF di jalanan.

Di luar rumah ayahku, aku duduk di mobilku sambil menunggu panggilan telepon dari Shin Bet. Mereka memberitahu bahwa jika telepon berdering, aku hanya punya waktu 60 detik tepat untuk melarikan diri sebelum pasukan keamanan datang mengepung rumahku. Aku tidak boleh melakukan kesalahan.

Terasa tusukan rasa sesal di hatiku membayangkan betapa takutnya ibu dan adik² kecilku di tengah penyerangan tersebut. Seperti biasa, mereka harus membayar harga bagi tindakan yang dilakukan ayah dan diriku.
Aku melihat kebun bunga ibu yang indah. Dia telah mengumpulkan bunga² tersebut dari berbagai tempat, juga dari teman² dan keluarganya. Dia merawat bunga²nya bagaikan merawat anak²nya.
“Berapa banyak bunga lagi yang kita butuhkan?” kadang² aku menggodanya.
“Hanya sedikit tambahan lagi, kok,” begitu selalu jawab ibu.
Aku ingat saat dia menunjuk ke satu bunga dan berkata, “Tanaman ini lebih tua daripada dirimu. Ketika kau masih anak², kau memecahkan potnya, tapi aku menyelamatkannya dan sampai sekarang tanaman itu masih hidup.”
Apakah tanaman itu masih bisa terus hidup beberapa menit dari sekarang setelah pasukan khusus muncul dan menginjaknya?

Ponselku berdering.
Darah terasa mengalir deras dalam kepalaku. Hatiku berdebar-debar. Aku menyalakan mesin mobil dan langsung melajukan mobil ke tengah kota menuju tempat persembunyian rahasia yang baru. Aku tidak berpura-pura lagi jadi buronan. Para pasukan tentunya lebih memilih membunuhku daripada menangkapku saat ini. Semenit setelah aku pergi, sepuluh mobil sipil dengan nomer mobil Palestina datang dan menginjak rem kuat² di depan rumah. Pasukan khusus Israel mengepung rumahku, senapan otomatis mengarah ke setiap jendela dan pintu. Halaman depan rumah² para tetangga penuh dengan anak², termasuk adik lakiku Naser. Mereka berhenti main sepakbola dan berlarian ketakutan.

Setelah pasukan berada dalam posisi siaga, lebih dari dua puluh tank menderu masuk. Sekarang seluruh masyarakat kota datang untuk menonton apa yang terjadi. Aku bisa mendengar suara mesin disel raksasa menderu hebat dari tempat persembunyianku. Ratusan militan Palestina bersenjata datang ke rumah ayah dan mengelilingi IDF. Tapi mereka tidak bisa menembak karena banyak anak kecil sedang berlarian untuk mencari perlindungan dan karena keluargaku masih berada di dalam rumah.

Ketika para feda’iyin muncul, maka helikopter juga dipanggil. Aku tiba² berpikir mungkin sebaiknya aku membiarkan saja kelima pembom bunuh diri itu dibunuh. Jika aku tidak melarang IDF meluncurkan bom pada mereka, tentunya keluarga dan para tetanggaku tidak terancam resiko besar seperti sekarang. Jika ada saudaraku yang mati tertembak karena pengepungan ini, aku tak akan bisa memaafkan diriku.

Agar yakin hasil karya kami jadi berita besar, aku memberi keterangan pada Al-Jazira bahwa akan terjadi penyerangan besar di rumah Syeikh Hassan Yousef. Mereka semua mengira akhirnya Israel akan menangkap ayah, dan mereka ingin merekam peristiwa penangkapannya saat itu juga. Aku bisa membayangkan reaksi mereka tatkala melalui pengeras suara para pasukan meminta putra Syeikh yang tertua, Mosab, untuk keluar rumah dengan tangan di atas kepala. Setelah aku tiba di apartemen rahasiaku, aku menyalakan TV dan menonton drama penangkapan itu bersama dengan seluruh dunia Arab.

Pasukan mengumpulkan keluargaku keluar dari rumah dan menanyai mereka satu per satu. Ibuku berkata pada mereka bahwa aku pergi satu menit sebelum mereka tiba. Tentu saja mereka tak percaya keterangan ibuku. Mereka lebih percaya pada Shin Bet, pihak yang mengatur semua permainan ini. Ketika aku tetap juga tidak muncul untuk menyerah, maka pasukan Israel mengancam akan mulai menembak ke dalam rumahku.

Selama waktu sepuluh menit, semua orang menunggu dengan tegang. Tak lama kemudian, sebuah misil mendesis di udara dan meledakkan separuh rumahku. Para pasukan berlarian masuk ke dalam rumah. Aku tahu mereka memeriksa setiap rumah. Tapi mereka tak menemukan mayatku sama sekali.

IDF sangat malu dan marah sekali karena aku berhasil melarikan diri dari cekalan mereka. Jika mereka menangkap aku sekarang, Loai memperingatkan aku di telepon, mereka akan menembakku di tempat. Bagi kami, operasi itu sungguh sukses. Tiada seorang pun yang terluka, dan namaku seketika tercantum dalam daftar teroris yang paling dicari. Seluruh kota membicarakan tentang diriku. Dalam waktu semalam saja, aku telah menjadi teroris berbahaya.
Dalam beberapa bulan setelah itu, aku punya tiga prioritas: menghindari tentara Israel, melindungi ayahku, dan terus mengumpulkan keterangan.

Bab 22 – Perisai Pertahanan
Musim Semi 2002

Kekerasan semakin meningkat dengan kecepatan yang memusingkan kepala.
Orang² Israel ditembaki, ditusuk, dan dibom. Orang² Palestina dibunuhi. Ronde demi ronde balas dendam terus berlangsung, dan semakin cepat. Masyarakat internasional mencoba menekan Israel tapi imbauan ini sia² saja.

“Hentikan pendudukan ilegal… Hentikan pemboman terhadap warga sipil, pembunuhan, dan penggunaan kekerasan yang tak berguna, penghancuran rumah, dan penghinaan setiap hari terhadap masyarakat Palestina,” tuntut sekjen PBB Kofi Annan di tanggal 2 Maret, 2002. [9]
[9] “Annan Mengritik Israel karena Mengarah Penduduk Sipil,” U.N.Wire, 12 Maret, 2002,  (diakses pada tanggal 23 Oktober, 2009).

Di hari di mana kami menangkap empat pembom bunuh diri yang kulindungi dari pembunuhan, para pemimpin Persatuan Eropa meminta pihak Israel dan Palestina menghentikan kekerasan. “Tak ada solusi militer bagi masalah ini,” kata mereka. [10]
[10] Persatuan Eropa, “Deklarasi Barcelona tentang Timur Tengah,” 16 Maret, 2002,

Di tahun 2002, hari raya Paskah jatuh di tanggal 27 Maret. Di sebuah ruang makan lantai bawah Hotel Park di Netanya, 250 tamu berkumpul untuk tradisi makan Seder.

Anggota Hamas bernama Abdel-Basser Odeh, usia 25 tahun, masuk melewati penjagaan keamanan, meja pendaftaran di lobi, ke dalam kerumunan orang². Dia memasukkan tangan ke dalam jaketnya dan meledakkan bom.
Ledakan membunuh 30 orang dan melukai 140 lainnya. Beberapa dari korban adalah orang yang dulu selamat dari Holokaus Nazi. Hamas menyatakan bertanggung jawab, dengan mengatakan tujuan peledakkan adalah untuk mencegah Pertemuan Puncak Arab (Arab Summit) di Beirut. Meskipun demikian, keesokan harinya, Liga Arab yang dipimpin Saudi Arabia mengumumkan bahwa mereka telah memungut suara dan mengakui Negara Israel dan menormalkan hubungan, selama Israel setuju untuk kembali ke daerah kekuasaan sebelum tahun 1967, menyelesaikan masalah pengungsi Palestina, dan mendirikan Negara Palestina merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya. Jika Israel menerima persyaratan ini, masyarakat Palestina akan menang besar sekali. Tapi sayangnya, Hamas tetap saja memaksa dengan sikapnya yang ‘mendapatkan segalanya atau tidak sama sekali.’

Karena tahu Hamas tidak akan mengubah pendirian, Israel melakukan rencana ekstrim untuk menanggulangi Hamas. Dua minggu kemudian, pasukan Israel menyerang masuk wilayah Palestina dan menduduki dua kota yakni Ramallah dan Al-Bireh. Pengamat militer memperingatkan kemungkinan terjadinya banyak korban di pihak Israel. Tapi sebenarnya mereka tak perlu khawatir.

IDF membunuh lima orang Palestina, menetapkan jam malam, dan menguasai beberapa gedung. Buldozer² raksasa D9 juga menghancurkan beberapa rumah di kamp penampungan Al-Amari, termasuk rumah milik Wafa Idris, pembom bunuh diri wanita pertama, yang membunuh pria Israel berusia 81 tahun dan melukai 100 orang lainnya diluar toko sepatu di Yerusalem, di tanggal 27 Januari.

Setelah serangan bom bunuh diri di Hotel Park, Pemerintah Israel memberi lampu hijau untuk melancarkan operasi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya. Operasi militer ini bernama Perisai Pertahanan (Operation Defense Shield).

Teleponku berdering. Ternyata Loai.
“Ada apa?” tanyaku.
“Seluruh IDF berkumpul,” kata Loai. “Malam ini, kami akan menangkap Saleh dan semua buronan lainnya.”
“Apa maksudmu?”
“Kami akan menguasai seluruh Tepi Barat dan memeriksa setiap rumah dan bangunan, tak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan. Diam di tempat. Aku akan meneleponmu lagi.”

Wow, pikirku. Ini hebat! Mungkin serangan itu akhirnya akan mengakhiri perang sinting ini.
Terdengar kabar angin di seluruh Tepi Barat. Para pemimpin Palestina tahu ada sesuatu yang akan terjadi, tapi tak tahu persisnya apa. Orang² meninggalkan tempat kerja mereka, klinik kesehatan, dan kelas², dan langsung pulang untuk nonton TV, menunggu berita. Aku telah memindahkan ayahku ke apartemen milik pasutri warga AS, dan Shin Bet menjamin keselamatannya di sana.

Di tanggal 29 Maret, aku masuk ke Hotel City Inn di Jalan Nablus di Al-Bireh, di mana BBC, CNN, dan media internasional lainnya tinggal. Ayah dan aku tetap berhubungan melalui radio dua jalur. Shin Bet mengira saat itu aku sedang berada di Hotel City Inn, nonton TV sambil makan cemilan. Tapi aku tidak ingin kehilangan kesempatan menonton peristiwa bersejarah ini langsung di tempatnya. Maka aku keluar hotel sambil membawa senjata M16 di pundakku, sehingga aku tampak bagaikan orang buronan. Aku menuju puncak bukit di sebelah Perpustakaan Ramallah, di mana aku bisa melihat bagian tenggara kota tempat ayahku tinggal. Kupikir aku akan aman berada di situ, dan bisa cepat lari ke hotel jika mendengar tank² mendekati.

Sekitar hampir jam 12 malam, ratusan tank Merkava berderu hebat masuk kota. Aku tidak menduga mereka akan menyerang dari segala penjuru dalam waktu bersamaan – dan juga tidak secepat itu. Beberapa jalanan begitu sempit sehingga tank² tidak punya pilihan lain selain menggilas mobil² yang parkir di jalanan. Jalanan lain cukup lebar, tapi tampaknya para prajurit dalam tank menikmati suara mobil² yang digilas dengan tanknya. Kebanyakan jalan² di kamp penampungan berukuran sedikit lebih besar daripada gang² perantara rumah.

“Matikan radiomu!” kataku pada ayah. “Tiarap! Tundukkan kepalamu!”

Aku telah memarkir mobil Audi ayah di pinggir jalan. Dengan rasa takut aku melihat sebuah tank menggilas remuk mobil ayah. Seharusnya mobil itu tidak kuparkir di situ. Aku tahu aku harus cepat melarikan diri, tapi aku tak tahu harus berbuat apa. Tentunya aku juga tak bisa menelepon Loai dan memintanya menghentikan operasi penyerangan hanya karena aku ingin sedikit bermain Rambo.

Aku berlari ke arah tengah kota dan merunduk ke dalam garasi parkir, hanya beberapa meter dari sebuah tank yang sedang melaju. Prajurit² Israel belum tampak karena sedang menunggu tank² Merkava mengamankan wilayah. Tiba² aku menyadari bahwa sebuah kelompok perlawanan Palestina berkantor di gedung yang terletak di atas kepalaku. Aku sedang berlindung di target sasaran.

Tank² tidak bisa membedakan antara mata² Shin Bet atau teroris, Kristen atau Muslim, orang bersenjata atau warga sipil biasa. Dan para tentara yang berada dalam tank tersebut sama takutnya seperti aku yang sekarang bersembunyi. Di sekitarku, para pria yang tampak seperti diriku menembakkan AK47 kepada tank² tersebut. Ping. Ping. Ping. Peluru memantul kesana kemari. Tank juga tak mau kalah, dan balas tembak. BUUM! Telingaku terasa mau meledak.

Bagian besar bangunan di sekitar kami mulai runtuh dan menimbulkan gelombang debu. Setiap kanon tank meledak, hentakannya terasa seperti memukul perutku. Senapan² otomatis terus ditembakkan, peluru² beterbangan, dan suaranya menggema di tembok² garasi. Kanon meledak lagi, debu beterbangan di mana, dan serpihan² tembok dan batu berjatuhan.

Aku harus keluar dari tempat ini. Tapi gimana caranya? Tiba² sekelompok pejuang Fatah lari masuk ke dalam garasi dan bersembunyi di sebelahku. Wah, payah nih. Bagaimana jika para prajurit masuk ke sini? Para feda’iyin akan menembaki mereka. Lalu apakah aku juga harus menembak? Pada siapa? Jika aku tak menembak, maka aku pun tetap akan ditembak. Tapi aku tak mau membunuh siapapun. Dulu memang aku bertekad membunuh, tapi sekarang tidak lagi.
Lebih banyak lagi pejuang Palestina yang masuk garasi untuk bersembunyi. Tiba² semua sunyi senyap dan tak ada yang berani bernafas.
Para prajurit IDF masuk perlahan-lahan ke dalam garasi. Tampaknya sebentar lagi akan ada saling tembak dahsyat. Para prajurit menyalakan obor api mencari orang atau refleksi senjata. Mereka mendengarkan, dan kami melihat. Jari² telunjuk berkeringat dan siap menarik pelatuk senjata.
Lalu air Laut Merah terbelah.
Mungkin karena takut masuk ke bagian garasi tergelap dan lembab, atau mungkin karena ingin kembali ke tank, para prajurit itu tiba² berhenti, berbalik, dan pergi begitu saja. Setelah mereka menghilang, aku masuk ke gedung di atasku, naik tangga, dan menemukan telepon yang bisa kugunakan untuk menelepon Loai.

“Bisakah kau meminta IDF untuk mundur sekitar dua blok agar aku bisa kembali ke hotelku?
“Apa?! Di mana kamu sekarang? Mengapa kau tidak berada di hotel?”
“Aku sedang melakukan tugasku.”
“Kau sinting!”

Lalu berlangsung suasana diam sesaat yang canggung.

“Baiklah, akan kami lihat apa yang bisa kami lakukan.” Dibutuhkan waktu dua jam untuk memanggil mundur para tank dan prajurit, yang tentunya terheran-heran mengapa mereka harus mundur. Begitu mereka telah mundur, aku melompat dari satu atap rumah ke atap lainnya, dan hampir mematahkan kaki²ku. Akhirnya aku tiba di kamar hotel dengan aman. Aku tutup pintu, membuka baju teroris dan senapanku, lalu memasukkan semuanya ke lubang AC.

Di saat itu, rumah tempat ayahku bersembunyi terletak di tengah² badai penyerangan. IDF memeriksa semua rumah di sekitarnya, di belakang setiap gedung, di bawah setiap batu. Tapi mereka juga sudah diberitahu untuk tidak masuk rumah tertentu.

Di dalam rumah itu, ayah membaca Qur’an dan berdoa. Pemilik rumah juga membaca Qur’an dan berdoa. Istrinya juga membaca Qur’an dan berdoa. Lalu, karena alasan yang tak mereka ketahui, para tentara Israel melewati rumah itu begitu saja, lalu pergi, dan mulai memeriksa daerah lain.

“Kau pasti tak percaya muzizat ini, Mosab!” kata ayah lewat radio tak lama kemudian. “Sungguh sukar dipercaya! Mereka datang. Mereka memeriksa setiap rumah di sekitar kami, seluruh daerah tetangga – kecuali rumah di mana kami bersembunyi. Alhamdulillaaah!”
Terima kasih kembali, kataku dalam hati.

Israel tidak pernah melakukan operasi penyerangan sebesar Operasi Perisai Pertahanan sejak Perang Enam Hari. Dan ini hanya permulaan saja. Ramallah adalah target pertama. Setelah itu Betlehem, Jenin, dan Nablus diserang pula. Ketika aku sedang berlari-lari menghindari tentara Israel, pasukan IDF telah mengepung tempat tinggal Yasser Arafat. Semua gedung ditutup. Jam malam yang ketat diberlakukan.

Di tanggal 2 April, tank² dan mobil² bersenjata mengepung gedung Preventive Security Compound (Kompleks Keamanan Pencegahan) dekat rumah kami di Betunia. Helikopter² militer beterbangan di atas rumah kami. Kami tahu PA menyembunyikan setidaknya 50 orang buronan, dan Shin Bet frustasi karena tidak bisa menemukan mereka dimana pun.

Kompleks itu terdiri dari empat gedung, dan satu gedung kantor empat tingkat di mana Kolonel Jibril Rajoub [11] dan agen² keamanan PA tinggal. Seluruh fasilitas kompleks ini dibangun dan dilengkapi oleh CIA. Polisi PA juga dilatik dan disenjatai oleh CIA. CIA bahkan punya kantor di gedung itu. Ratusan polisi bersenjata lengkap berada di dalam gedung, juga sejumlah besar tawanan, termasuk Bilal Barghouti dan buronan Israel lainnya. Shin Bet dan IDF benar² serius dan tanpa kompromi kali ini. Pengeras suara mengumumkan bahwa tentara akan meledakkan Gedung Satu dalam waktu lima menit dan memerintahkan semua orang untuk keluar gedung.
[11] Terdapat keterangan menarik tentang Kolonel Jibril Rajoub: Orang ini telah memanfaatkan posisinya sebagai kepala keamanan di Tepi Barat untuk membangun kerajaan kecilnya, dan menyuruh bawahannya untuk membungkuk padanya bagaikan menyembah seorang raja. Aku telah melihat meja makan paginya penuh dengan 50 macam makanan, yang disajikan hanya untuk menunjukkan bahwa sang Kolonel adalah orang sangat penting. Aku juga telah menyaksikan bahwa Kolonel Jibril Rajoub bersikap kasar dan seenaknya, dan berlaku lebih menyerupai seorang gangster daripada pemimpin terhormat. Di tahun 1955, ketika Arafat menangkapi banyak ketua dan anggota Hamas, Rajoub menyiksa mereka tanpa ampun. Hamas beberapa kali mengancam akan membunuhnya, dan ini membuat sang Kolonel membeli mobil anti peluru dan bom. Bahkan Arafat sendiri tidak punya kendaraan seperti itu.

Persis lima menit kemudian, BOOM!! Lalu giliran Gedung Dua. “Semua keluar!” Lalu BOOM!! Giliran Gedung Tiga. BOOM!! Gedung Empat. BOOM!!

“Buka baju kalian!” begitu perintah dari pengeras suara. Para prajurit Israel tidak mau ambil resiko menghadapi kemungkinan ada yang menyembunyikan bahan peledak dalam baju mereka. Ratusan orang berdiri telanjang. Mereka diberi baju katelpak, dan dimasukkan ke dalam bus untuk dibawa ke Pusat Militer Ofer – di mana Shin Bet nantinya melakukan kesalahan. Banyak sekali orang² yang ditawan, tapi pihak Israel hanya menginginkan orang² buronan saja, dan membebaskan orang² yang tidak mereka cari. Masalahnya adalah semua orang itu telah menanggalkan baju² mereka di kompleks. Dengan begitu, bagaimana pasukan keamanan Israel bisa membedakan mana orang buronan dan mana yang polisi?

Boss dari boss Loai adalah Ofer Dekel dan dia bertanggung jawab atas operasi penyerangan itu. Dia memanggil Jibril Rajoub, yang sedang tidak berada di Kompleks saat penyarangan dilakukan. Dekel memberi Rajoub ijin khusus sehingga dia bisa melalui ratusan tank dan ribuan prajurit dengan aman. Ketika dia tiba, Dekel meminta Rajoub menunjukkan orang² yang mana yang bekerja sebagai polisi, dan yang mana yang buronan. Rajoub mengatakan akan dengan senang hati melakukannya. Dengan cepat, Rajoub menunjuk para polisi sebagai buronan dan para buronan sebagai polisi, dan karenanya Shin Bet lalu membebaskan semua buronan.

“Mengapa kau lakukan itu padaku?” tanya Dekel pada Rajoub setelah akhirnya mengetahui keadaan sebenarnya.

“Kau baru saja meledakkan gedung tempat kerja dan kompleksku,” jawab Rajoub dengan tenang. Dekel juga rupanya lupa bahwa setahun yang lalu Rajoub terluka ketika tank² dan helikopter IDF menghancurkan rumahnya, sehingga tentunya dia semakin tak suka membantu pihak Israel.

Shin Bet sangat malu. Satu²nya cara untuk balas dendam pada Rajoub adalah dengan mengeluarkan laporan bahwa Rajoub adalah pengkhianat karena menyerahkan orang² yang dicari Israel dalam perjanjian dengan CIA. Sebagai akibatnya, Rajoub kehilangan jabatan dan akhirnya harus bekerja sebagai kepala Persatuan Sepakbola Palestina.
Lepasnya para buronan tentunya adalah kesalahan besar bagi Shin Bet.

Setelah tiga setengah minggu berlalu, Israel menghentikan aturan jam malam dari waktu ke waktu. Di suatu hari pada tanggal 15 April, di mana jam malam sedang tidak diberlakukan, aku bisa membawa makanan dan keperluan lain bagi ayah. Dia berkata padaku bahwa dia merasa tidak aman di rumah tersebut dan ingin pindah tempat. Aku menelepon salah satu pemimpin Hamas dan bertanya apakah dia tahu tempat di mana Hassan Yousef bisa berlindung. Dia menganjurkan aku untuk membawa ayah ke lokasi dimana Syeikh Jamal al-Taweel, salah satu tokoh penting Hamas yang dicari Israel, bersembunyi.

Wow, pikirku. Jika bisa menangkap Jamal al-Taweel, tentunya Shin Bet akan merasa lebih baik setelah kegagalan menangkap buronan beberapa minggu yang lalu. Aku berterima kasih padanya tapi berkata, “Sebaiknya jangan tempatkan ayah di tempat yang sama. Mungkin akan berbahaya bagi mereka berdua jika berada di satu rumah.” Kami setuju untuk memilih tempat lain, dan dengan cepat aku memindahkan ayah di tempat yang baru. Setelah itu aku menelepon Laoi.

“Aku tahu dimana Jamal al-Taweel bersembunyi.” Loai sangat girang mendengar kabar ini; al-Taweel ditangkap malam itu juga.
Di hari yang sama, kami juga bisa menangkap orang lain yang paling dicari IDF – Marwan Barghouti.

Meksipun Marwan Barghouti adalah salah satu pemimpin Hamas yang terlicin, sebenarnya proses penangkapan Marwan sangatlah mudah. Aku menelepon salah satu penjaga Marwan Barghouti dan bicara dengannya secara singkat melalui ponselnya, dan Shin Bet melacak di mana ponsel tersebut berada. Marwan Barghouti ditangkap dan diadili di pengadilan sipil dan dihukum lima kali hukuman seumur hidup.

Pada saat itu, Operasi Perisai Pertahanan terus berlangsung dan menjadi beritu utama setiap hari di berbagai media internasional. Banyak berita yang menyudutkan pihak Israel. Misalnya terdengar berita bahwa Israel membantai orang² Palestina di Jenin, dan sukar untuk mengetahui kebenarannya karena pihak Israel menutup kota Jenin. Menteri kabinet Palestina Saeb Erekat mengatakan 500 orang mati. Tapi kemudian angkanya diturunkan jadi hanya 50 saja.

Di Betlehem, lebih dari 200 orang Palestina dikepung dalam Gereja Nativity selama lima minggu. Setelah kepulan debu mereda dan kebanyakan penduduk sipil diperbolehkan pulang, diketahui bahwa 8 orang Palestina dibunuh, 26 dikirim ke Gaza, 85 diperiksa IDF dan lalu dibebaskan, dan 13 buronan yang paling dicari diasingkan ke Eropa.

Setelah Operasi Perisai Pertahanan berakhir, dikabarkan sekitar 500 orang Palestina terbunuh, 1.500 luka², dan hampir 4.300 ditahan IDF. Di lain pihak, 29 orang Israel mati, 127 luka². Bank Dunia memperkirakan kerugian mencapai lebih dari $360 juta.

Bersambung ke Bab 21-24

Bab 1-4 ; Bab 5-8 Bab 9-12 ; Bab 13-16 ; Bab 17-20 ; Bab 21-24

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Son of Hamas (Putra Hamas). Bab 13-16

Bab 13 – Jangan Percaya Siapapun
1996

Setelah ditahan di bawah tanah begitu lama, rasanya senang sekali bisa melihat langit. Rasanya bagaikan belum melihat bintang² di langit selama bertahun-tahun. Bintang² tampak indah, meskipun lampu² kamp tahanan meredupkan terang bintang. Tapi kemunculan bintang² juga merupakan tanda sudah waktunya dilakukan penghitungan kepala dan waktu tidur. Dan inilah yang sebenarnya membingungkan diriku.

Nomerku adalah 823, dan para tawanan ditempatkan berdasarkan urutan nomer. Ini berarti seharusnya aku berada di tenda Hamas di Kotak Tiga. Tapi karena tenda di sana sudah penuh, aku lalu ditempatkan di tenda di sudut di Kotak Satu.
Ketika dilakukan penghitungan kepala, aku harus berada di tempat yang tepat di Kotak Tiga. Dengan begitu, saat penjaga menghitung daftarnya, dia tidak usah mengingat semua penyesuaian yang harus dilakukan agar semua berjalan rapih.
Semua gerakan pada penghitungan kepala dilakukan dengan teratur.

Dua puluh lima prajurit yang bersenjatakan senapan M16 masuk ke Kotak Satu dan bergerak dari tenda ke tenda. Kami semua berdiri menghadap kanvas tenda, punggung kami menghadap prajurit. Tiada seorang pun yang berani bergerak karena takut ditembak.
Setelah mereka selesai di satu tenda, para prajurit itu bergerak ke Kotak Dua. Setelah itu, mereka menutup dua pintu gerbang di pagar, sehingga tiak ada seorang pun dari Kota Satu atau Dua bisa menyelip ke Kotak Tiga atau Empat untuk menutupi tawanan yang hilang.

Di malam pertama di Kotak Lima, aku menyadari adanya hal misterius yang terjadi. Ketika aku pertama kali masuk ke Kotak Tiga, seorang tawanan yang tampak sangat sakit berdiri di sebelahku. Dia tampak sangat menyedihkan, seperti hampir mati saja. Kepalanya dicukur gundul; dia jelas tampak lelah sekali. Dia juga tidak memandang mataku. Siapakah orang ini, dan apa yang terjadi dengannya? Aku heran.

Ketika para prajurit selesai menghitung di Kotak Satu dan bergerak ke Kotak Dua, seseorang merenggut orang itu keluar tenda, dan seorang tawanan mengambil tempatnya di sebelahku. Aku di waktu kemudian mengetahui bahwa celah kecil telah dibuat di pagar antara Kotak Satu dan Tiga sehingga mereka bisa mengganti tawanan dengan tawanan lain.

Sudah jelas bahwa para tawanan tidak mau prajurit²itu melihat orang yang dicukur gundul tersebut. Tapi mengapa?
Malam itu, sambil berbaring di tempat tidurku, aku mendengar seseorang merintih kesakitan tak jauh dari tempatku. Seseorang jelas sangat menderita kesakitan. Tapi aku lalu tertidur lelap.

Pagi hari selalu datang terlalu cepat, dan sebelum aku menyadari, kami telah dibangunkan untuk sholat Fajar. Dari 240 tawanan di Kotak Lima, 140 orang bangun dan berdiri di antrian untuk menggunakan 6 WC – sebenarnya hanya enam lubang dengan pembatasan yang mengelilinginya. Delapan baskom tersedia untuk melakukan wudu. Waktu yang disediakan adalah 30 menit.

Lalu kami berjejer untuk sholat. Kegiatan sehari-hari serupa seperti di mi’var. Tapi jumlah tawanan di sini 12 kali lebih besar. Meskipun banyak tawanan, semua kegiatan berlangsung dengan sangat teratur. Tampaknya tiada seorang pun yang membuat kesalahan. Hal ini terasa aneh.
Setiap orang tampak ketakutan. Tiada seorang pun yang berani melanggar aturan. Tiada seorang pun yang berani menggunakan WC terlalu lama. Tiada yang berani melihat mata tawanan yang sedang diinterogasi atau mata prajurit Israel. Tiada yang berdiri terlalu dekat dengan pagar.

Tak lama kemudian aku mulai mengetahui alasannya. Di bawah pengamatan pengawas penjara, Hamas berkuasa diantara para tawanan penjara dan mereka mencatat angka perbuatan tawanan. Jika tawanan melanggar aturan, maka dia mendapat angka merah. Jika jumlah angka merah terlalu banyak, maka kau harus menghadap maj’d, petugas keamanan Hamas – orang² maj’d ini sangar dan tidak pernah tertawa atau bercanda.

Pada umumnya kami tidak melihat maj’d karena mereka sibuk mengumpulkan keterangan. Bola² berisi pesan dikirimkan dari satu bagian ke bagian lain berasal dari mereka dan untuk mereka.

Suatu hari, ketika aku sedang duduk di tempat tidurku, para maj’d masuk dan berteriak, “Semua keluar dari tenda ini!” Tiada seorang pun yang mengatakan apapun. Tenda itu kosong dalam sekejap. Mereka lalu menarik seorang pria masuk ke dalam tenda, menutup tenda, dan lalu dua orang menjaga di luar tenda. Seseorang memasang TV keras². Orang² lain mulai bernyanyi dan membuat suara² keras.

Aku tak tahu apa yang terjadi dalam tenda, tapi aku tidak pernah mendengar manusia menjerit kesakitan seperti jeritan orang dalam tenda itu. Apa sih yang dilakukannya sampai dia diperlakukan begitu? Aku sangat heran. Siksaan berlangsung selama 30 menit. Lalu dua maj’d membawa dia keluar dan memasukkannya ke dalam tenda lain di mana interogasi dilakukan lagi.

Aku sedang mengobrol dengan seorang teman bernama Akel Sorour, yang berasal dari desa dekat Ramallah, ketika kami disuruh keluar dari tenda.
“Apa yang terjadi di dalam tenda?” tanyaku.
“Oh, dia adalah orang jahat,” katanya ringan.
“Aku tahu dia orang jahat, tapi apa yang mereka lakukan terhadapnya? Dan apa yang telah dia lakukan?”
“Dia tidak melakukan kesalahan apapun di penjara,”
jelas Akel. “Tapi kata mereka ketika dia berada di Hebron, dia memberi informasi ke Israel tentang anggota Hamas, dan tampaknya dia membocorkan banyak keterangan. Maka mereka menyiksa dia dari waktu ke waktu.”
“Bagaimana cara menyiksanya?”

“Mereka biasanya menusukkan jarum di bawah kuku²nya dan melelehkan nampan² makanan plastik ke atas kulitnya. Atau mereka membakar bulu tubuhnya. Kadangkala mereka meletakkan tongkat besar di belakang lututnya, memaksanya untuk jongkok selama berjam-jam, dan melarangnya tidur.”

Sekarang aku mengerti mengapa setiap orang begitu berhati-hati dan apa yang terjadi dengan orang gundul yang kulihat saat pertama kali aku datang ke sini. Para maj’d membenci orang² yang bekerja sama dengan Israel, kami semua dicurigai sebagai mata² Israel kecuali jika kami bisa membuktikan tidak melakukan itu.

Karena Israel begitu berhasil mengenal cabang² Hamas dan memenjarakan para anggotanya, maj’d mengira organisasinya dipenuhi mata², dan mereka ingin menemukan mata² tersebut. Mereka mengamati segala perbuatan yang kami lakukan. Mereka mengawasi sikap kami, mendengarkan semua yang kami katakan. Dan mereka menghitung angka kesalahan. Kami tahu siapa mereka, tapi kami tidak tahu orang yang mengawasi kami bagi mereka. Orang yang kukira adalah teman, bisa jadi bekerja bagi maj’d, dan ini bisa saja mengakibatkan aku diinterogasi oleh mereka besok hari.

Aku mengambil keputusan untuk bersikap sangat berhati-hati. Begitu aku tahu keadaan yang sarat rasa curiga dan pengkhianatan di kamp ini, hidupku berubah drastis. Rasanya aku ini jadi orang lain sama sekali – orang yang tidak bisa bergerak bebas, tidak bisa bicara bebas, tidak bisa percaya atau berhubungan atau berteman dengan orang lain. Aku takut berbuat salah, takut terlambat, takut ketiduran pada saat harus bangun, atau lupa mengangguk saat jalsa.

Jika seseorang “tertangkap” oleh maj’d sebagai mata² Israel, tamat sudah hidupnya. Kehidupan keluarganya juga akan hancur. Anak²nya, istrinya, semua orang akan menyingkirkannya. Ketahuan sebagai mata² Israel adalah reputasi terjelek yang bisa dialami seseorang. Antara tahun 1993 sampai 1996, lebih dari 150 orang dituduh sebagai mata² diiterogasi oleh Hamas dalam penjara² Israel. Sekitar 16 orang mati dibunuh.

Karena aku bisa menulis dengan cepat dan rapih, maka maj’d meminta aku untuk jadi juru tulis mereka. Informasi yang kutulis adalah rahasia besar, kata mereka. Dan mereka memperingatkanku untuk tidak menyampaikannya pada siapapun.

Aku menghabiskan hari²ku menulis ulang catatan tentang para tawanan. Kami sangat berhati-hati agar informasi ini tidak jatuh ke tangan penjaga penjara. Kami tidak pernah menyebut nama, hanya nomer kode. Ditulis di atas kertas paling tipis yang ada, informasi itu bagaikan pornografi yang paling menjijikan. Isinya antara lain adalah orang² mengaku bersetubuh dengan ibu² mereka. Seseorang berkata dia bersetubuh dengan seekor sapi. Yang lain bersetubuh dengan anak perempuannya. Seorang pria bersetubuh dengan seorang wanita yang adalah juga tetangganya, dan merekam kegiatan itu dengan kamera rahasia, dan memberikan foto²nya pada Israel. Pihak Israel, kata laporan itu, menunjukkan foto² itu pada wanita itu dan mengancam untuk menyebarkannya pada keluarganya jika wanita itu menolak untuk bekerja sebagai mata² Israel. Maka mereka tetap berhubungan seks bersama sambil mengumpulkan keterangan dan mulai bersetubuh dengan orang lain dan merekamnya secara rahasia lagi, melaporkan pada Israel, Israel lalu mengancam, dan seterusnya, sampai seluruh desa tampaknya ramai² menjadi mata² Israel. Ini adalah informasi² pertama yang harus kutulis ulang.

Semuanya ini tampak tidak waras bagiku. Sewaktu sedang menulis ulang informasi² tersebut, aku menyadari bahwa orang² yang dicurigai itu disiksa hebat sambil ditanyai berbagai hal yang mereka pasti tidak tahu dan mereka memberi jawaban apapun yang memuaskan para penyiksa agar penyiksaan berhenti. Aku juga mengira sebagian interogasi dilakukan tanpa tujuan apapun selain untuk memuaskan fantasi seksual para maj’d yang dipenjara.

Lalu suatu hari, temanku Akel Sorour menjadi korban mereka pula. Dia adalah anggota cabang Hamas dan telah ditangkap beberapa kali, tapi untuk alasan tertentu dia tidak pernah diterima dengan baik oleh tawanan Hamas dari kota besar. Akel hanyalah petani sederhana. Caranya bicara dan makan tampak aneh bagi orang lain, dan mereka mengolok-oloknya. Dia mencoba sebaik mungkin untuk meraih kepercayaan dan hormat mereka dengan cara memasak dan membersihkan bagi mereka, tapi mereka memperlakukannya bagaikan sampah karena mereka tahu dia melayani mereka berdasarkan rasa takut.

Akel sendiri punya alasan untuk merasa takut. Kedua orangtuanya telah wafat. Satu²nya keluarga yang dimilikinya adalah saudara perempuannya. Ini membuat dia lemah, karena tak ada siapapun yang bisa membalas dendam atas siksaan yang dialaminya. Terlebih lagi, temannya yang diinterogasi oleh maj’d menyebut nama Akel saat disiksa. Aku sungguh merasa kasihan padanya. Tapi apa yang bisa kulakukan untuk menolongnya? Aku hanyalah anak muda yang kebingungan tanpa kekuasaan apapun. Aku tahu bahwa satu²nya alasan aku tidak diperlakukan sama seperti tawanan lain adalah karena ayahku.

Sekali sebulan, keluarga² tawanan boleh menjenguk kami. Makanan penjara Israel tidak enak, jadi para keluarga biasanya membawa makanan hasil masak sendiri dan barang² pribadi. Karena Akel dan aku berasal dari daerah yang sama, keluarga kami datang pada waktu yang sama pula.

Setelah proses permintaan yang lama, pihak Palang Merah mengumpulkan anggota² keluarga dari daerah tertentu dan menaikkan mereka semua ke dalam bus. Hanya dibutuhkan menyetir dua jam untuk sampai ke Megiddo. Tapi karena bus harus berhenti di setiap pos penjagaan, dan para penumpang harus diperiksa di setiap perhentian, keluarga kami harus berangkat jam 4 pagi agar bisa mencapai penjara jam 12 siang.

Suatu hari, setelah senang bertemu dengan saudara perempuannya, Akel kembali ke Kotak Lima dengan tas² penuh makanan yang dibeli saudaranya baginya. Dia sangat senang dan tidak tahu apa yang sedang menunggunya. Pamanku Ibrahim datang untuk memberi kuliah, dan ini biasanya adalah pertanda buruk. Aku sudah tahu bahwa biasanya Ibrahim mengumpulkan orang² untuk memberi kuliah agar para penjaga tidak sadar bahwa pada saat itu maj’d sedang membawa seseorang untuk diiterogasi. Kali ini, “seseorang” itu adalah Akel. Maj’d merampas hadiah makanannya dan membawanya masuk ke sebuah tenda. Dia hilang di belakang gorden, dan mulailah kesengsaraannya.

Aku melihat pamanku. Mengapa dia tidak melakukan apapun? Dia telah dipenjara bersama Akel berkali-kali. Mereka menderita bersama. Akel telah memasak dan mengurusnya. Pamanku mengenal orang ini. Apakah karena Akel ini miskin, petani pendiam dari desa, sedangkan pamanku berasal dari kota?

Apapun alasannya, Ibrahim Abu Salem duduk bersama maj’d, tertawa dan makan makanan milik Akel yang didapatnya dari saudara perempuannya. Di tempat yang tak jauh, para anggota Hamas – sesama orang Arab, sesama Palestina, sesama Muslim – menusukkan jarum² ke bawah kuku² Akel.

Aku hanya melihat Akel beberapa kali di minggu² berikutnya. Kepala dan jenggotnya telah dicukur, matanya melekat ke tanah. Dia sangat kurus dan tampak seperti orang tua yang hampir mati.
Tak lama kemudian, aku diberi keterangan tentang Akel yang harus kutulis ulang. Dia mengaku berhubungan seks dengan setiap wanita di desanya, dan juga dengan keledai, dan binatang² lainnya. Aku tahu setiap kata itu adalah dusta belaka, tapi aku tulis keterangannya, dan maj’d mengirim surat ini ke desanya. Saudara perempuannya mengasingkannya. Tetangga²nya menolaknya. [Mengaku berzinah karena siksaan, para penyiksanya bahkan merusak reputasi keluarga yang mereka siksa. Terjadi pada sesama pengikut Islam, bahkan satu organisasi!]
Bagiku, maj’d itu lebih bejad daripada mata² Israel. Tapi mereka berkuasa dan berpengaruh dalam sistem penjara. Kupikir aku bisa memanfaatkan mereka untuk kepentinganku.

Anas Rasras adalah ketua maj’d. Ayahnya adalah dosen perguruan tinggi di Tepi Barat dan teman dekat pamanku Ibrahim. Setelah aku tiba di Megiddo, pamanku meminta Anas untuk membantuku menyesuaikan diri di penjara. Anas berasal dari Hebron, berusia sekitar 40 tahun, sangat bersikap rahasia, sangat cerdas, dan sangat berbahaya. Dia diawasi Shin Bet setiap saat dia berada di luar penjara. Dia punya beberapa kawan, tapi dia tidak pernah ikut menyiksa. Karena itu, aku merasa hormat dan bahkan percaya padanya.

Aku beritahu dia bahwa aku setuju untuk bekerja sama dengan Israel agar aku bisa jadi agen dobel, memiliki persenjataan canggih, dan membunuh mereka dari dalam. Aku bertanya apakah dia bisa menolongku.
“Aku harus memeriksa dulu,” katanya, “Aku tak akan menceritakan hal ini pada siapapun, tapi akan kulihat dulu.”
“Apa maksudmu kau harus lihat dulu? Kamu ini bisa menolong aku atau tidak?”

Aku seharusnya sudah mengetahui bahwa aku tidak bisa mempercayai orang ini. Bukannya menolong diriku, dia langsung memberitahu pamanku Ibrahim dan beberapa anggota maj’d lain tentang rencanaku.
Keesokan paginya, pamanku datang menemuiku.
“Apa yang kau pikir sedang kau lakukan?”
“Jangan takut. Tiada sesuatu yang terjadi. Aku punya rencana. Kau tidak perlu ambil bagian dalam hal ini.”
“Ini sungguh berbahaya, Mosab, bagi reputasimu dan reputasi ayahmu, bagi seluruh keluargamu. Orang lain melakukan hal ini, tapi kamu tidak.”

Dia lalu mulai menanyaiku. Apakah Shin Bet memberiku keterangan orang dalam penjara mana yang harus dihubungi? Apakah aku bertemu dengan petugas keamanan Israel? Apa yang diberitahu oleh dia padaku? Apa yang aku beritahu pada orang lain? Semakin banyak dia menginterogasiku, semakin marah aku jadinya. Akhirnya, aku meledak di hadapan wajahnya.
“Kenapa kau tidak mengurus urusan agama saja dan tidak usah mengurus perihal keamanan? Semua orang ini menyiksa orang lain tanpa tujuan berarti. Mereka sendiri tidak tahu apa yang mereka lakukan. Aku tidak punya apapun lagi yang bisa kukatakan. Aku akan melakukan apa yang ingin kulakukan, dan kau, silakan lakukan apa yang kau inginkan.”

Aku tahu perkembangan ini tentunya tidak baik untuk diriku. Aku yakin mereka tidak menyiksa atau menginterogasiku karena ayahku, tapi aku bisa melihat bahwa pamanku Ibrahim tidak tahu apakah aku mengatakan yang sebenarnya atau tidak.
Pada saat itu, aku sendiri juga tidak merasa yakin lagi.
Aku menyadari bahwa aku bertindak bodoh dengan mempercayai maj’d. Apakah aku juga bodoh jika mempercayai Israel? Mereka tetap belum memberitahu apapun padaku. Mereka tidak menyebut orang manapun yang harus kuhubungi. Apakah mereka ini juga sedang bermain-main denganku?

Aku masuk tendaku dan merasa diriku tertekan secara mental dan emosianal. Aku tidak bisa mempercayai siapapun lagi. Tawanan² yang lain bisa melihat ada yang salah pada diriku, tapi mereka tidak tahu apa tepatnya. Meskipun maj’d tidak menyebarkan apa yang kusampaikan, tapi mereka mengawasiku dengan seksama. Setiap orang merasa curiga padaku. Aku pun merasa curiga terhadap siapapun. Dan kami semua hidup bersama di dalam kandang terbuka dan tidak bisa pergi ke tempat lain. Tiada tempat untuk menghindar atau sembunyi.

Waktu merambat. Kecurigaan pun bertambah besar. Setiap hari, terdengar jerit kesakitan; setiap malam, penyiksaan. Hamas menyiksa anggota²nya sendiri! Biarpun aku mencoba sekuat tenaga, aku tetap tidak bisa membenarkan tindakan itu.
Tak lama kemudian, keadaan semakin memburuk. Jika dulu yang diperiksa satu orang saja, sekarang tiga orang sekaligus pada saat yang sama. Pada saat subuh jam 4 pagi, seseorang berlari keluar, memanjat pagar, dan dalam waktu 20 detik dia sudah berada di luar kamp penjara, baju dan dagingnya tersobek oleh kawat silet. Seorang penjaga menara penjara mengayunkan senapannya dan membidik orang itu.

“Jangan tembak!” teriak orang itu. “Jangan tembak! Aku tidak mencoba melarikan diri. Aku hanya mencoba menghindari mereka!” Dan dia menunjuk pada para maj’d yang memelototinya dari balik pagar. Para prajurit berlari di luar pintu gerbang, melempar tawanan itu ke tanah, memeriksanya, dan membawanya pergi.
Apakah ini Hamas? Apakah ini Islam?

Bab 14 – Kekacauan di Penjara
1996-1997

Ayah adalah Islam bagiku. Jika aku harus meletakkan ayah di atas timbangan Allâh, maka beratnya lebih besar daripada Muslim mana pun yang pernah kutemui. Dia tidak pernah alpa sholat, bahkan jika dia pulang kerja larut malam dan telah merasa lelah. Aku sering mendengarnya berdoa dan menangis berharap pada ilah Qur’an di tengah malam. Dia adalah orang yang rendah hati, penuh kasih, dan pemaaf – terhadap ibuku dan anak²ny, bahkan orang² yang tidak dikenalnya sekalipun.

Ayah bukanlah sekedar Muslim pembela Islam, tapi dia menjalani kehidupannya sebagai contoh bagaimana seorang Muslim seharusnya bersikap. Dia memantulkan sisi Islam yang indah, dan bukan sisi kejam yang menuntut umat Muslim untuk menaklukkan dan memperbudak seluruh dunia.

Akan tetapi, selama periode 10 tahun setelah aku dipenjara, aku melihat ayah bergulat dengan konflik irasional di dalam bathinnya. Di satu pihak, ayah tidak menganggap perbuatan Muslim yang membunuhi para warga sipil, prajurit, wanita dan anak² Israel sebagai tindakan yang salah. Dia percaya bahwa Allâh memberinya hak untuk melakukan hal itu. Akan tetapi di lain pihak, dia sendiri tidak tega melakukan apa yang para Muslim radikal itu lakukan. Ada sesuatu dalam hatinya yang menolak perbuatan seperti itu. Apa yang dianggapnya salah untuk dilakukan oleh dirinya sendiri, dibenarkannya jika yang melakukan adalah orang lain.

Tapi sebagai anaknya, aku dulu hanya bisa melihat kebaikannya saja dan beranggapan kebaikannya itu merupakan buah² Islam. Karena aku ingin menjadi seperti dia, maka aku percaya apa yang dia percayai tanpa banyak tanya lagi. Yang tak kuketahui saat itu adalah tidak peduli berapapun beratnya kita di atas timbangan Allâh, semua perbuatan mulia dan pekerjaan baik kita, tidak lebih nilainya daripada sekedar gombal busuk bagi Allâh.

Para Muslim yang kutemui di Megiddo sama sekali tidak sama dengan ayahku. Mereka menghakimi orang dengan lagak bagaikan dirinya lebih tinggi daripada Allâh saja. Mereka kejam dan memuakkan, menghalangi layar TV agar kita tidak bisa melihat wanita tak berjilbab. Mereka tanpa toleransi dan munafik, suka menyiksa orang² yang mendapat nilai merah tinggi – meskipun orang² ini hanyalah tawanan yang terlemah dan tak berdaya. Tawanan² lain yang punya hubungan baik dengan maj’d tidak disentuh – bahkan jika tawanan itu mengakui sebagai mata² Israel, hanya karena dia adalah putra Syeikh Hassan Yousef.

Untuk pertamakalinya dalam hidupku, aku mulai mempertanyakan berbagai hal yang dulu selalu kuyakini.
“Delapan dua tiga! [823]”
Sudah saatnya aku menghadap sidang pengadilan. Aku telah dipenjara selama enam bulan. Prajurit IDF mengantarku ke Yerusalem, di mana jaksa penuntut meminta hakim menjatuhkan hukuman bagiku selama enam belas bulan.

Enam belas bulan! Kapten Shin Bet dulu mengatakan aku hanya tinggal di penjara untuk sesaat saja! Apa sih yang kulakukan sehingga harus dihukum seberat ini? Memang benar aku punya niat gila dan lalu membeli beberapa senjata. Tapi kan senjata² itu rusak dan tidak dapat dipakai?
“Enambelas bulan!”

Pengadilan menghitung bahwa aku telah menghuni penjara selama enam bulan, sehingga aku dikirim kembali ke Megiddo dan harus tinggal di sana selama sepuluh bulan lagi.
“Baiklah,” kataku pada Allâh. “Aku rela dipenjara selama sepuluh bulan, tapi jangan di sana dong! Jangan di neraka itu!” Tapi tiada yang peduli akan keluhanku – tidak juga pihak keamanan Israel yang dulu merekrutku dan sekarang meninggalkanku begitu saja.

Setidaknya aku bisa melihat keluargaku sekali sebulan. Ibuku melakukan perjalan yang melelahkan ke Megiddo sekali setiap empat minggu. Dia diijinkan untuk membawa tiga orang saja dari semua adik²ku, maka mereka mengunjungiku secara bergiliran. Setiap kali datang, ibu membawa penganan bayam campur yang segar dan baklava. Keluargaku tidak pernah alpa mengunjungiku.

Melihat keluargaku mendatangkan rasa lega yang besar bagiku, meskipun aku tidak bisa menceritakan apa yang terjadi di dalam pagar penjara dan di balik layar. Bertemu dengan diriku juga sedikit meringankan rasa kehilangan mereka. Aku telah berperan bagaikan ayah bagi adik² laki dan perempuanku – aku memasak untuk mereka, membersihkan bagi mereka, memandikan dan memakaikan baju mereka, mengantar jemput ke sekolah – dan dengan dipenjara, aku juga menjadi pahlawan perjuangan bagi mereka. Mereka merasa sangat bangga akan diriku.

Pada suatu kunjungan, ibuku memberitahu bahwa PA telah membebaskan ayahku. Aku tahu ayah selalu ingin naik haji ke Mekah. Ibu mengatakan ayah pergi ke Saudi Arabia tak lama setelah kembali pulang ke rumah. Ibadah naik haji merupakan pilar kelima Islam, dan setiap Muslim yang mampu secara fisik dan finansial wajib melakukan ibadah ini setidaknya sekali dalam hidupnya. Setiap tahun, lebih dari dua juta Muslim berkumpul di Mekah untuk naik haji.
Tapi ayahku gagal untuk melakukan ibadah haji. Setelah melalui Jembatan Allenby diantara Israel dan Yordania, dia ditahan lagi, kali ini oleh pihak Israel.

*******************

Di suatu sore, para ketua tawanan Hamas di Megiddo menyodorkan daftar permintaan pada penjaga penjara, dan memberi batas waktu 24 jam untuk memenuhi permintaan, dan mengancam untuk membuat keonaran jika permintaan tidak dipenuhi.

Tentu saja penjaga penjara tidak ingin para tawanan melakukan keonaran. Kekacauan di penjara bisa menyebabkan tawanan tertembak, dan Pemerintah Pusat di Yerusalem tentunya enggan berhubungan dengan segala hal yang bisa membuat Palang Merah dan berbagai organisasi HAM protes dan ribut besar. Keonaran di penjara itu jelek untuk tawanan dan penjaga penjara. Untuk menghindari keonaran, pihak Israel bertemu muka dengan shawish utama, yang ditunjuk dari bagian penjara kami.
“Kami tidak bisa bekerja secepat ini,” kata pejabat penjara padanya. “Kami perlu waktu yang lebih banyak untuk mempertimbangkan.”
“Tidak,” katanya memaksa. “Kau hanya punya waktu 24 jam.”

Tentu saja pihak Israel juga tidak mau dipaksa seperti itu. Aku tak tahu mengapa ketua tawanan Hamas sampai mengancam seperti itu. Meskipun aku menderita di sini, dibandingkan dengan fasilitas penjara lain yang kudengar, Megiddo bagaikan hotel bintang lima. Permintaan terdengar konyol bagiku – waktu bicara di telepon yang lebih lama, jam kunjungan yang lebih lama, dan berbagai hal sepele seperti itu.

Kami menanti sepanjang hari sampai matahari terbenam. Ketika batas waktu berakhir, Hamas memerintahkan kami untuk membuat kekacauan.
“Apa yang harus kami lakukan?” tanya kami.

“Hancurkan barang² dan bikin gaduh! Hancurkan aspal di lantai dan lemparkan pada para penjaga. Lempar sabun. Lempar air panas. Lempar segala macam benda yang bisa kau angkat!” Beberapa tawanan mengisi gentong dengan air agar jika prajurit melempar kaleng gas air mata, mereka bisa mengambilnya dan menyemplungkannya ke dalam air. Kami mulai mengobrak-abrik daerah olahraga. Seketika terdengarlah suara sirine dan keadaan jadi sangat berbahaya. Ratusan prajurit mengenakan baju dan perlengkapan anti kericuhan massal keluar mengepung kamp tawanan dan mengarahkan senjata pada kami.

Satu²nya yang kupikirkan adalah semuanya ini terasa sangat tak masuk akal. Mengapa kami harus melakukan ini? Tanyaku. Ini adalah gila! Apakah kami harus melakukan ini hanya gara² shawish sinting itu? Aku bukanlah orang yang penakut, tapi juga tidak mau melakukan hal yang tak berarti. Pasukan Israel bersenjata lengkap dan terlindung, sedangkan kami hanya bisa melempari mereka dengan bongkahan aspal.

Hamas memberi perintah, dan setiap tawanan di setiap bagian mulai melempari kayu, pecahan aspal, dan sabun. Dalam waktu beberapa detik saja, ratusan kaleng gas air mata dilempar masuk dan meledak, memenuhi kamp tawanan dengan asap putih. Aku tidak dapat melihat apapun. Baunya sungguh sukar untuk dijabarkan. Semua orang di sekitarku menjatuhkan diri ke tanah dan tersengal-sengal mencoba menghirup udara segar.

Semua ini terjadi dalam waktu tiga menit saja. Tapi para prajurit Israel baru saja mulai.
Prajurit² lalu mengarahkan pipa besar pada kami yang mengeluarkan asap kuning. Asap kuning ini tidak terapung di udara seperti gas air mata; karena lebih berat daripada udara, asap kuning itu turun menyentuh tanah dan menyingkirkan semua oksigen. Para tawanan mulai bergelimpangan pingsan.

Aku mencoba bernapas sebisanya tatkala aku melihat nyala api.
Tenda Jihad Islam di Kotak Tiga terbakar. Dalam waktu beberapa detik saja, api berkobar-kobar setinggi 6 meter ke langit. Tenda² yang terbuat dari bahan anti air berbasis minyak tanah terbakar bagaikan disiram bensin. Tonggak² dan bingkai² kayu, matras², dan tempat² sepokat – semuanya dilalap api. Angin menyebarkan api ke tenda² DFLP/PFLP dan Fatah, dan sepuluh detik kemudian, tenda² tersebut terbakar bagaikan dilalap api neraka.
Kobaran api merambat sangat cepat ke daerah kami. Sebagian tenda terbang ditiup angin dan mendarat di pagar kawat silet. Para prajurit mengepung kami. Tiada jalan keluar selain melewati api. Maka kami berlarian.
Aku menutupi wajahku dengan handuk dan berlari ke arah dapur. Ada celah selebar 3 meter diantara tenda² terbakar dan tembok. Lebih dari 200 tawanan mencoba berlari melalui celah itu kala para prajurit terus memenuhi bagian dengan asap kuning.
Dalam waktu beberapa menit saja, separuh Kotak Lima sudah lenyap – semua yang kami miliki, sesedikit apapun, terbakar hangus. Tiada yang tersisa kecuali abu.

Banyak tawanan terluka. Tapi sungguh ajaib, tak satu pun mati terbunuh. Mobil² ambulans datang mengumpulkan orang² yang terluka. Setelah kekacauan berakhir, tawanan² yang tendanya terbakar ditempatkan di tenda lain yang masih utuh. Aku dipindahkan ke tengah² tenda Hamas di Kotak Dua.

Satu²nya akibat baik dari kerusuhan penjara Megiddo adalah berhentinya penyiksaan yang dilakukan para ketua Hamas. Mereka terus melakukan pengamatan, tapi kami merasa tidak terlalu tegang lagi dan tidak terlalu takut untuk melakukan sedikit kesalahan. Aku berteman dengan beberapa orang yang kuanggap bisa kupercaya. Tapi kebanyakan kegiatanku hanyalah berjalan-jalan saja selama berjam-jam sendirian, tak ada pekerjaan lain dari hari ke hari.

*******************

“Delapan dua tiga! [823]”
Pada tanggal 1 September, 1997, seorang penjaga penjara mengembalikan semua barang²ku dan sedikit uang yang kumiliki sewaktu aku ditangkap, memborgol tanganku dan memasukkan aku ke dalam sebuah mobil van. Para prajurit menyetir mobil menuju ke pos penjagaan pertama setiba di daerah Palestina, yakni Jenin di Tepi Barat. Mereka membuka pintu van dan melepaskan borgol.
“Kau bebas pergi sekarang,” kata salah satu dari mereka. Lalu mereka membalikkan mobil kembali ke arah kedatangan mereka, dan membiarkan aku berdiri seorang diri di pinggir jalan.

Aku sungguh tak percaya. Senang sekali rasanya bisa berjalan di tempat bebas ini. Aku sangat ingin bertemu ibuku dan saudara² laki dan perempuanku. Aku masih berada dalam jarak dua jam menyetir kendaraan dari rumahku, tapi aku sengaja berjalan lambat. Aku ingin menikmati kemerdekaanku.

Aku berjalan selama dua mil, sambil menghirup udara segar yang memenuhi paru²ku dan menikmati sunyi senyap lingkungan dengan telingaku. Setelah mulai merasa jadi manusia utuh lagi, aku lalu memanggil sebuah taksi untuk membawaku ke pusat kota. Taksi yang lain membawaku ke Nablus, lalu Ramallah, dan sampai di rumahku.

Naik mobil melalui jalanan Ramallah, melihat toko² dan orang² yang kukenal, membuat aku ingin loncat dari taksi dan menyapa mereka semua. Sebelum aku melangkah keluar dari taksi yang berhenti di depan rumahku, aku melihat ibu berdiri di depan pintu. Airmata bercucuran di pipinya saat dia memanggilku. Dia berlari ke arah mobil dan lengannya memelukku erat². Sewaktu dia memelukku dan menepuk-nepuk punggung, bahu, wajah, dan kepalaku, semua rasa sakit yang ditanggungnya selama 1 1/2 tahun tumpah keluar.

“Kami telah menghitung hari menantikan kedatanganmu,” katanya. “Kami sangat khawatir tidak akan melihatmu lagi. Kami sangat bangga akan dirimu, Mosab. Kau benar² pahlawan sejati.”

Sama seperti ayahku, aku tahu aku tidak bisa menceritakan pada ibu atau saudara²ku apa yang telah kualami. Keterangan seperti itu akan terlalu menyakitkan mereka. Bagi mereka, aku adalah pahlawan yang ditawan di penjara Israel bersama pahlawan² lainnya, dan sekarang aku sudah pulang ke rumah. Mereka malah memandang hal ini sebagai pengalaman yang baik bagiku. Apakah ibuku tahu akan senjata² yang dulu kubeli? Iya. Apakah dia menganggap itu sebagai perbuatan bodoh? Mungkin, tapi semuanya itu dianggap sebagai bagian dari usaha menentang pendudukan dan karenanya bisa diterima.

Kami merayakan hari kebebasanku dan kami makan enak dan bercanda, sebagaimana yang dulu selalu kami lakukan bersama. Rasanya seperti aku tidak pernah pergi saja. Dan selama beberapa hari, banyak teman²ku dan teman² ayahku datang untuk bergembira bersama kami.
Aku tinggal di rumah selama beberapa minggu, menikmati semua kasih sayang di sekitarku dan makan masakan ibu yang enak. Lalu aku keluar untuk menikmati pemandangan sekitar, suara² dan aroma yang sangat kurindukan. Di malam hari, aku pergi ke pusat kota bersama teman²ku – makan falafel di Mays Ar Rim dan minum kopi di Kit Kat bersama Basam Huri, pemilik warung kopi. Sewaktu aku berjalan-jalan di jalanan yang ramai dan bicara dengan teman²ku, aku menyerap semua rasa damai dan merdeka.
Diantara waktu ayah dilepaskan dari penjara PA dan dia ditangkap kembali oleh Israel, ibuku hamil lagi. Hal ini mengejutkan kedua orangtuaku, karena mereka sebenarnya tidak mau lagi punya anak setelah kelahiran adik perempuanku Anhar tujuh tahun yang lalu. Sewaktu aku pulang dari penjara, ibu telah hamil enam bulan dan kandungannya semakin besar. Lalu ibu mengalami kecelakaan patah pergelangan kaki, dan proses kesembuhan berlangsung sangat lamban karena bayi dalam kandungannya menyerap semua kalsium di tubuh ibu. Kami tidak punya kursi roda sehingga aku harus menggendongnya ke mana dia harus pergi. Dia sangat menderita kesakitan, dan aku sungguh sedih melihat keadaannya seperti itu. Aku punya SIM sehingga kami bisa melakukan berbagai hal dan belanja. Ketika akhirnya Naser lahir, aku mengambil tanggung jawab memberinya makan, memandikannya, dan mengganti popoknya. Dia memulai hidupnya dengan mengira akulah ayahnya.

Sudah tentu aku gagal menjalani ujian akhir SMA dan tidak lulus SMA. Mereka menawarkan ujian pada kami semua di penjara, tapi aku adalah satu²nya tawanan yang tidak lulus ujian. Aku tidak pernah mengerti mengapa, sebab wakil dari Departemen Pendidikan datang ke penjara dan memberi semua orang kertas jawaban sebelum ujian dilakukan. Sungguh gila. Seorang tawanan berusia 60 tahun dan buta huruf meminta orang lain menulis jawaban ujian baginya. Dan ternyata bahkan dia pun lulus ujian! Aku punya jawaban ujian, ditambah lagi aku telah bersekolah selama 12 tahun sehingga tahu akan materi pertanyaan. Tapi ketika hasil ujian keluar, semuanya lulus kecuali aku sendiri. Satu²nya penjelasan yang bisa kupikirkan adalah mungkin Allâh tidak mau aku lulus dengan cara [TIDAK] mencontek.

Maka ketika aku keluar dari penjara, aku mulai mengambil kelas malam di Al-Ahlia, sebuah sekolah Katolik di Ramallah. Kebanyakan muridnya adalah Muslim tradisional yang datang ke situ karena sekolah itu adalah yang terbaik di kota. Karena kelas berlangsung di malam hari, maka aku bisa kerja di siang hari di toko hamburger Checkers untuk mencari nafkah bagi keluargaku. Aku hanya mendapat angka 64% dari ujian²ku, tapi ini sudah cukup untuk lulus. Aku tidak belajar dengan serius karena aku tidak terlalu suka dengan mata pelajarannya. Aku tidak peduli. Aku cukup senang bisa tamat SMA.

Bab 15 – Jalan ke Damaskus
1997-1999

Dua bulan setelah keluar dari penjara, ponselku berdering. “Selamat ya,” terdengar suara berbicara dalam bahasa Arab.
Aku kenal aksen bahasanya. Orang ini adalah kapten Shin Bet-ku nan “setia,” si Loai!
“Kami akan senang sekali jika bertemu denganmu,” kata Loai, “tapi kita tidak bisa bicara panjang lebar di telepon. Dapatkah kita bertemu?”
“Tentu saja.”
Dia memberi aku nomer telpon, password, dan beberapa arah jalan. Aku merasa bagaikan agen rahasia. Dia memberitahuku untuk pergi ke suatu tempat, dan lalu ke tempat lain, dan menelpon dia di tempat itu.

Aku mengikuti petunjuknya, dan ketika aku akhirnya menelponnya, aku diberi lagi petunjuk lain. Aku berjalan sekitar 20 menit sampai sebuah mobil bergerak di sebelahku dan berhenti. Seorang pria dalam mobil menyuruhku untuk masuk, dan aku menurutinya. Aku diperiksa, disuruh telungkup di lantai, dan ditutupi selimut.

Kami mengendarai mobil selama satu jam, dan selama itu tak ada seorang pun yang bicara. Ketika akhirnya kami berhenti, kami berada di dalam garasi rumah. Aku bersyukur ini bukan pusat militer atau penjara lagi. Nantinya aku mengetahui bahwa rumah itu milik Pemerintah di daerah Israel. Begitu aku tiba di sana, aku diperiksa lagi, kali ini jauh lebih teliti, dan lalu aku diajak masuk ke dalam ruangan yang disusun dengan perabot² yang rapih. Aku duduk sebentar di sana, dan lalu Loai muncul. Dia menjabat tanganku – dan bahkan memelukku.
“Bagaimana kabarmu? Bagaimana pengalamanmu di penjara?”
Aku katakan padanya aku baik² saja dan pengalamanku di penjara tidak terlalu menyenangkan, terutama karena dia bilang aku tidak usah tinggal di penjara terlalu lama.

“Maafkan aku; kami harus melakukan itu untuk melindungimu.” Aku berpikir tentang pengakuanku pada maj’d tentang jadi agen dobel dan berpikir mungkin Loai juga harus tahu akan hal ini. Kupikir aku harus mencoba melindungi diriku.

“Begini nih,” kataku, “mereka menyiksa orang² di sana, dan aku tak punya pilihan lain selain mengatakan pada mereka bahwa aku setuju bekerja bagimu. Aku takut saat itu. Kau tidak pernah memperingatkanku apa yang terjadi di sana. Kau tidak pernah memberitahuku untuk berhati-hati dengan orang²ku sendiri di sana. Kau tidak pernah melatih aku, dan aku ketakutan. Maka aku beritahu mereka bahwa aku berjanji untuk jadi mata² agar aku bisa jadi agen dobel dan akhirnya membunuh kalian semua.” Loai tampak terkejut, tapi dia tidak marah. Meskipun Shin Bet tidak melalukan penyiksaan di kamp penjara itu, mereka tentunya tahu penyiksaan itu terjadi – dan tentunya mengerti mengapa aku jadi merasa ketakutan.

Dia menelpon bossnya dan memberitahu semua yang kukatakan. Mungkin karena sungguh sukar bagi Israel untuk merekrut anggota Hamas atau mungkin juga karena aku adalah putra Syeikh Hassan Yousef, aku dianggap sangat berharga sehingga mereka melupakan keteranganku begitu saja.
Orang² Israel ini tidaklah seperti yang kuduga sebelumnya.
Loai memberiku beberapa ratus dollar dan memberitahuku untuk beli baju, merawat diriku, dan menikmati hidupku.
“Kita akan berhubungan lagi,” katanya.

Apa? Tiada tugas rahasia? Tiada buku sandi? Tiada senjata? Hanya segepok duit dan rangkulan? Hal ini sungguh sukar kumengerti.
Kami bertemu kembali dua minggu kemudia, dan kali ini di sebuah rumah Shin Bet di jantung Yerusalem. Rumah ini diberi perabotan lengkap, penuh dengan alarm tanda bahaya dan penjaga², dan begitu rahasia sehingga tetangga sebelah juga tak tahu apa yang terjadi di rumah ini. Kebanyakan ruangan digunakan untuk rapat. Aku tidak pernah diijinkan mengunjungi ruangan² itu tanpa pengawal, bukan karena mereka tidak percaya padaku, tapi karena mereka tidak mau aku terlihat oleh agen² Shin Bet lainnya. Ini sekedar lapisan keamanan lain.

Sewaktu pertemuan kedua, anggota² Shin Bet sangatlah ramah. Mereka bicara dalam bahasa Arab yang baik, dan sudah jelas bahwa mereka mengenal diriku, keluargaku, dan budayaku. Aku tidak punya informasi apapun dan mereka pun tidak bertanya apapun. Kami hanya mengobrol biasa saja tentang berbagai hal umum.

Semua ini sungguh diluar dugaanku. Aku sangat ingin tahu apa yang mereka ingin aku lakukan, meskipun karena catatan yang kubaca di penjara, aku agak khawatir mereka akan menyuruhku untuk berhubungan seks dengan saudara perempuanku atau tetanggaku dan harus merekam adegan sex itu. Tapi tak ada yang menyinggung hal itu sama sekali. [Ia mengingat laporan pengakuan palsu, seperti temannya Akel,  yang ia harus tulis sewaktu di penjara pada Bab 13].

Setelah pertemuan kedua, Loai memberiku uang dua kali lebih banyak daripada pertemuan pertama. Dalam waktu sebulan saja, aku telah mendapatkan uang sebanyak $800 darinya, dan ini sungguh uang yang buanyak sekali bagi pemuda usia 20 tahun seperti aku pada saat itu. Dan aku pun tidak memberikan apapun pada Shin Bet. Malah sebenarnya, dalam waktu beberapa bulan aku jadi agen Shin Bet, aku belajar jauh lebih banyak dari mereka sedangkan aku tak memberi keterangan apapun.

Mereka mulai melatihku dengan aturan² dasar. Aku tidak boleh berzinah karena ini akan mengungkapkan diriku dan membuatku menghadapi masalah besar. Aku tidak diperbolehkan memiliki hubungan di luar nikah dengan wanita sama sekali – baik wanita Palestina maupun Israel – sewaktu aku bekerja bagi mereka. Jika aku melakukan itu, maka aku akan dipecat. Aku juga tidak boleh menceritakan pada siapapun bahwa aku ingin menjadi agen dobel lagi.

Setiap kali kami bertemu, aku belajar lebih banyak tentang kehidupan dan keadilan dan keamanan. Shin Bet tidak mencoba menghancurkanku dengan memaksaku melakukan hal² yang jahat. Mereka sebenarnya tampak berusaha sebaik mungkin untuk membangun diriku, untuk membuatku lebih kuat dan bijaksana.

Sejalan dengan berlalunya waktu, aku mulai mempertanyakan rencana awalku untuk membunuh orang² Israel. Orang² ini sungguh baik padaku. Mereka jelas peduli akan diriku. Mengapa aku mau membunuh mereka? Aku kaget tatkala menyadari bahwa niat itu sudah tidak kurasakan lagi.

Pendudukan tidaklah lenyap. Kuburan di Al-Bireh masih terus dipenuhi oleh mayat² lelaki, perempuan, dan anak² Palestina yang dibunuh oleh prajurit Israel. Aku juga belum lupa dengan pemukulan yang kuderita saat dibawa ke penjara atau hari² di mana aku diikat di kursi kecil.

Tapi aku juga ingat akan jeritan² dari tenda penyiksaan di Megiddo dan orang yang membiarkan dirinya tercabik-cabik kawat silet karena mencoba melarikan diri dari para Hamas yang menyiksanya. Sekarang aku mendapat pengertian dan hikmat. Dan siapakah pembimbingku sekarang? Musuh²ku sendiri! Tapi apakah mereka benar² musuhku? Ataukah mereka hanya baik padaku karena ingin memanfaatkanku? Aku jadi bertambah bingung saja jadinya.

Di suatu pertemuan, Loai berkata, “Karena kau bekerja bagi kami, kami mempertimbangkan untuk melepaskan ayahmu agar kau bisa dekat dengannya dan melihat apa yang terjadi di daerahmu.” Aku tidak tahu bahwa hal itu bisa terjadi, tapi aku senang jika ayah bisa pulang kembali.

Di tahun² berikutnya, ayah dan aku membandingkan catatan² tentang pengalaman kami. Dia tidak mau menjelaskan secara detail apa yang dideritanya, tapi dia ingin agar aku mengetahui bahwa dia memperbaiki keadaan sewaktu dia dipenjara di Megiddo. Dia mengatakan bahwa ketika dia sedang menonton TV di mi’var, seseorang menjatuhkan papan kayu di depan layar TV.

“Aku tidak akan menonton TV lagi jikalau kau terus-menerus menutup layar TV dengan papan,” katanya pada emir. Mereka menyingkirkan papan itu, dan masalah selesai sudah. Ketika dia dipindahkan ke kamp tawanan, dia pun menghentikan kegiatan penyiksaan. Dia memerintahkan maj’d untuk menyerahkan semua catatan padanya, dan dia memeriksanya, dan menemukan bahwa 60% dari orang² yang didakwa sebagai mata² ternyata tak bersalah. Maka dia memerintahkan agar pihak keluarga dan masyarakat orang² diberitahu atas tuduhan yang salah itu. Salah satu tertuduh yang tak bersalah adalah Akel Sorour. Ayah mengirim surat keterangan pada desa Akel bahwa Akel tak bersalah. Surat ini mungkin tidak bisa menghilangkan penderitaan Akel, tapi setidaknya dia sekarang bisa hidup tenang dan terhormat.

Setelah ayahku dibebaskan dari penjara, pamanku Ibrahim datang untuk menjenguknya. Ayahku juga ingin agar paman tahu bahwa ayah telah menghentikan kegiatan penyiksaan di Megiddo dan bahwa kebanyakan orang² yang disiksa maj’d adalah orang² tak bersalah dan semuanya ini berakibat hancurnya kehidupan mereka dan juga sanak saudara mereka. Ibrahim pura² kaget. Dan ketika ayah menyinggung tentang Akel, pamanku mengatakan dia mencoba membela Akel dan mengatakan pada maj’d bahwa Akel tidak mungkin jadi mata² Israel.

“Terpujilah Allâh,” kata Ibrahim, “karena kau telah menolongnya!” Aku tak tahan akan kemunafikannya, maka aku lalu meninggalkan ruangan.  Ayahku juga memberitahuku bahwa ketika dia berada di Megiddo, dia mendengar kisah agen dobel yang kukatakan pada maj’d. Tapi dia tidak marah padaku. Dia hanya mengatakan bahwa aku bodoh karena mau bicara pada mereka.
“Aku tahu, ayah,” kataku. “Aku berjanji kau tak perlu khawatir akan diriku. Aku bisa mengurus diriku sendiri.”
“Bagus jika begitu,” katanya. “Hati-hatilah dari sekarang. Tiada seorang pun yang bisa lebih kupercayai selain kau.”

Ketika kami bertemu lagi di bulan itu, Loai berkata padaku, “Sudah saatnya kau mulai bertugas. Ini yang harus kau lakukan.”
Akhirnya, begitu pikirku.
“Tugasmu adalah kuliah di perguruan tinggi dan meraih gelar S1.”
Dia menyerahkan amplop penuh berisi uang. “Ini cukup untuk menutupi biaya kuliah dan keperluan²mu,” katanya. “Jika kau butuh lagi, tolong beritahu aku.”

Aku sungguh tak percaya akan hal ini. Tapi bagi orang² Israel, hal ini sangat masuk akal. Pendidikanku merupakan investasi yang baik bagi mereka. Tentunya tidak baik bagi badan keamanan negara untuk bekerja sama dengan orang yang tak berpendidikan tinggi dan tak punya prospek hidup yang baik. Bagiku juga berbahaya jika dianggap sebagai orang tak berguna karena pandangan orang² Palestina selama ini adalah hanya orang² sampah saja yang bersedia bekerja sama dengan Israel. Tentu saja pandangan seperti ini salah, karena orang² tak berguna tentunya juga tidak punya keterangan berguna apapun bagi Shin Bet.

Maka aku lalu melamar ke Universitas Birzeit, tapi mereka tidak menerimaku karena nilai² SMA-ku terlalu rendah. Aku jelaskan bahwa keadaanku adalah perkecualian karena aku telah dipenjara. Aku sebenarnya adalah pemuda cerdas, kilahku, dan aku akan menjadi mahasiswa yang baik. Tapi mereka tetap tidak memberikan perkecualian bagiku. Satu²nya pilihan bagiku adalah melamar di Universitas Terbuka Al-Quds dan belajar di rumah.

Kali ini nilai² kuliahku baik. Aku jadi sedikit bertambah bijaksana dan lebih bermotivasi. Dan pada siapakah aku harus berterima kasih atas semua ini? Musuhku.

Setiap kali aku bertemu dengan orang² Shin Bet, mereka berkata padaku, “Jika kau perlu apapun, bilang saja pada kami. Kau boleh membersihkan diri. Kau boleh sholat. Kau tidak perlu merasa takut.” Makanan dan minuman yang mereka tawarkan padaku tidak melanggar hukum Islam. Para pembimbingku sangat berhati-hati untuk tidak melakukan hal yang mereka tahu bisa menyinggung perasaanku: mereka tidak memakai celana pendek. Mereka tidak duduk dengan kaki diangkat ke atas meja dan kaki menghadap wajahku. Mereka selalu bersikap sangat menghormati. Karena sikap mereka ini, aku juga belajar banyak dari mereka. Mereka tidak bersikap seperti mesin militer. Mereka adalah manusia biasa yang normal, dan mereka pun memperlakukanku seperti manusia normal pula. Hampir setiap kali saat kami bertemu, sebongkah batu lainnya dari fondasi pandanganku dalam melihat dunia [Zion] runtuh.

Budayaku – bukan ayahku – telah mengajarku bahwa IDF dan masyarakat Israel adalah musuh²ku. Ayahku tidak melihat prajurit² Israel sebagai penjahat; tapi dia melihat mereka sebagai individu² yang melakukan apa yang mereka percayai sebagai tugas para prajurit. Masalahnya bukanlah dengan orang² Israel tapi dengan ideologi yang mendorong dan memotivasi orang² Israel.  Loai bersikap mirip dengan ayahku, lebih dari semua orang Palestina manapun yang pernah kutemui. Dia tidak percaya pada Allâh, tapi dia tetap menghormatiku.

Maka sekarang siapakah musuhku sebenarnya?

Aku berbicara dengan Shin Bet tentang penyiksaan di Megiddo. Mereka berkata bahwa mereka mengetahui semua itu. Setiap gerakan tawanan², apapun yang mereka katakan, direkam diam². Mereka tahu tentang pesan² rahasia dalam bola² roti, dan penyiksaan² dalam tenda, dan juga lubang celah di pagar.
“Mengapa kalian tidak menghentikannya?”
“Pertama-tama, kami tidak bisa merubah mentalitas seperti itu. Bukan tugas kami untuk mengajar Hamas mengasihi satu sama lain. Kami tidak bisa masuk ke kamp penjara dan berkata, ‘Hey, jangan siksa sesama orang; jangan saling siksa satu sama lain,’ dan membuat semua beres.

Kedua, Hamas sendiri hancur lebih banyak dari dalam daripada serangan Israel dari luar.”

Duniaku yang dulu ku kenal mulai lenyap dengan cepatnya, dan timbul dunia baru yang mulai kumengerti. Setiap kali aku bertemu Shin Bet, aku belajar sesuatu yang baru, sesuatu tentang hidupku, atau hidup orang lain. Semua proses ini bukanlah proses cuci otak melumpuhkan yang diulang-ulang terus-menerus, yang dilakukan dengan siksaan larangan makan atau tidur. Apa yang diajarkan orang² Israel ini lebih masuk akal dan lebih nyata daripada apapun yang telah kudengar dari masyarakatku.

Ayahku tidak pernah mengajarku segalanya yang baru ini karena dia terus-menerus berada di penjara. Dan terus terang, aku menduga dia pun tidak bisa mengajarku tentang hal baru ini karena ayahku sendiri tidak tahu akan hal itu.

*******************

Dari tujuh buah pintu gerbang kuno yang menjadi jalan masuk ke Kota Tua Yerusalem, satu pintu gerbang dihiasi lebih dari yang lainnya. Pintu Gerbang Damaskus, didirikan oleh Raja Sulaimaan hampir 500 tahun yang lalu, terletak di dekat tengah tembok utara. Pintu gerbang ini penting karena merupakan pintu yang membawa orang masuk ke Kota Tua di perbatasan daerah di mana Lapangan Daerah Muslim (Muslim Quarter) bertemu dengan Lapangan Daerah Kristen (Christian Quarter).

Di abad pertama, seorang pria bernama Saulus dari Tarsus melewati versi asli dari pintu gerbang ini dalam perjalanannya ke Damaskus [Syria], di mana dia berencana untuk melakukan penindasan brutal terhadap sebuah pengikut Yeshua [terjemahan asli Indonesianya: sekte Yudaism. Alkitab menulis Saulus memburu orang pengikut Yeshua/ Kristen] yang dianggapnya sesat. Target penindasannya adalah umat Kristen. Sebuah pertemuan mengejutkan yang dialaminya tidak saja membatalkan perjalanannya, tapi juga merubah hidupnya untuk selamanya. [Kis. 9:1-21]

Dengan semua latar belakang sejarah yang berhubungan dengan tempat kuno ini, maka seharusnya aku tak perlu merasa heran jika mengalami kejadian di sana yang merubah diriku selamanya pula. Pada suatu hari, aku dan sahabatku Jamal sedang berjalan melalui Pintu Gerbang Damaskus. Tiba² aku mendengar suara menyapaku.

Tampaknya inilah Jamal yang tinggi (182 cm), yang bertahun-tahun kemudian diwawancarai oleh FoxNews diSINI (part 5) [Escape From Hamas; video clip]

“Siapakah namamu?” seorang pria yang tampak berusia sekitar 30 tahun bertanya padaku dalam bahasa Arab, meskipun jelas dia bukan orang Arab.
“Namaku Mosab.”
“Mau kemana kau, Mosab?” “Kami mau pulang. Kami berasal dari Ramallah.”
“Aku dari Inggris,”
katanya, kali ini dalam bahasa Inggris. Meskipun dia lalu terus bicara, aksennya sangat kental sehingga aku tidak mengerti perkataannya. Setelah sedikit menduga-duga, akhirnya aku bisa mengerti bahwa dia sedang bicara tentang agama Kristen dan kelompok Belajar Alkitab akan berkumpul di YMCA (Young Men’s Christian Association = Perkumpulan Pemuda Kristen) di Hotel King David di Yerusalem Barat.

Aku tahu tempat itu. Aku sedang sedikit bosan saat itu dan berpikir mungkin menarik juga untuk belajar tentang agama Kristen. Jika aku bisa belajar begitu banyak dari orang² Israel, mungkin “kafir” lain juga punya hal berharga untuk disampaikan padaku pula. Selain itu, setelah bergaul dengan berbagai orang seperti Muslim KTP, Muslim radikal, atheis, orang² yang terpelajar maupun yang tidak, pengikut sayap kiri atau kanan, Yahudi dan non-Yahudi, maka aku jadi tidak pilih² lagi. Orang yang tampak sederhana ini mengundangku untuk datang dan bicara, bukan untuk memilih Yesus di Pemilu.

“Bagaimana menurutmu?” aku bertanya pada Jamal. “Apakah kita harus pergi ke sana?” Jamal dan aku sudah saling kenal sejak kami masih sangat kecil. Kami pergi ke sekolah yang sama, melempar batu bersama, dan mengunjungi mesjid bersama pula. Jamal adalah pria tampan yang tingginya 182 cm, dan dia tidak banyak bicara. Dia jarang memulai percakapan, tapi dia adalah pendengar yang sabar. Kami tidak pernah bertengkar mulut, sekalipun tidak.

Selain tumbuh bersama, kami berdua juga pernah dipenjara di Penjara Megiddo. Setelah Kotak bagian Lima terbakar dalam kekacauan penjara, Jamal ditransfer bersama saudara sepupuku Yousef ke Kotak Enam dan dibebaskan dari sana.
Akan tetapi, penjara telah mengubahnya. Dia berhenti sholat, tidak lagi mengunjungi mesjid, dan mulai merokok. Dia mengalami tekanan mental dan menghabiskan kebanyakan waktunya dengan diam di rumah sambil nonton TV. Setidaknya aku punya kepercayaan yang kupegang saat berada di penjara. Tapi Jamal berasal dari keluarga sekuler yang tidak melakukan ibadah Islam, maka imannya terlalu tipis untuk bisa menolongnya.

Jamal memandangku, dan aku bisa melihat bahwa sebenarnya dia ingin pergi ke kegiatan belajar Alkitab. Dia tampak jelas ingin tahu – dan juga bosan – sama seperti aku. Tapi sesuatu dalam hatinya mencegahnya. “Kau silakan pergi saja tanpa diriku,” katanya. “Telepon aku ya jika kau sudah kembali pulang.”

Di tempat pertemuan, terdapat sekitar 50 orang yang berkumpul malam itu. Pengunjung kebanyakan adalah murid² sekolah yang berusia sama dengan diriku, berasal dari berbagai latar belakang suku dan agama. Dua orang menerjemahkan ceramah bahasa Inggris ke dalam bahasa Arab dan Ibrani.
Aku menelepon Jamal setelah pulang ke rumah.
“Bagaimana?” tanyanya.
“Wah, senang lho,” kataku. “Mereka memberi aku buku Alkitab Perjanjian Baru yang ditulis dalam bahasa Arab dan Inggris. Orang² baru, budaya baru; senang lho.”
“Wah, tak tahu ya, Mosab,”
kata Jamal. “Mungkin berbahaya bagimu jika orang² tahu kamu bergaul dengan orang² Kristen.”

Aku tahu maksud Jamal adalah baik, tapi aku tidak terlalu khawatir. Ayahku selalu mengajarku untuk berpikiran terbuka dan menyayangi orang lain, meskipun pada kafir yang tidak percaya Islam. Aku melihat Alkitab di pangkuanku. Ayahku punya perpustakaan besar yang berisi 5.000 buku, termasuk sebuah Alkitab. Ketika aku masih kecil, aku telah membaca pasal² ‘sexual’ di kitab Kidung Agung oleh Raja Sulaiman, tapi tidak pernah membaca lebih jauh lagi. Buku Alkitab Perjanjian Baru ini adalah hadiah. Karena budaya Arab menghormati dan menghargai pemberian hadiah, maka aku mengambil keputusan setidaknya yang bisa kulakukan adalah membacanya.

Aku mulai dari awal, dan ketika sampai pada bagian Khotbah di Bukit, kupikir, Wow, orang bernama Yeshua ini benar² mengagumkan! Semua yang dikatakannya indah sekali. Aku tidak bisa meletakkan buku itu dan terus membacanya. Setiap ayat terasa menyembuhkan luka parah yang dalam di jiwaku. Pesannya sangat sederhana, tapi entah kenapa punya kekuatan untuk memulihkan jiwaku dan memberi aku harapan.

Lalu aku baca bagian ini: Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. (Mat 5:43-45)

Ini dia! Aku merasa bagaikan disambar petir oleh kata² ini. Belum pernah sebelumnya aku mendengar pesan seperti ini, tapi aku tahu bahwa inilah pesan yang kucari-cari seumur hidupku.

Selama bertahun-tahun aku berjuang untuk mengetahui siapakah musuhku, dan aku melihat mreka yang diluar Islam dan Palestina sebagai musuh. Tapi tiba² saja aku sadar bahwa orang² Israel bukanlah musuhku. Bukan pula Hamas atau pamanku Ibrahim atau prajurit yang menghajarku dengan popor M16 atau penjaga penjara mirip kera di Maskobiyeh. Aku melihat bahwa musuh tidak dijabarkan melalui nasionalitas, agama, atau warna kulit. Aku sekarang mengerti bahwa kita semua menghadapi musuh² yang sama: keserakahan, kesombongan, segala pikiran jahat, dan kegelapan setan yang hidup dalam diri kita.Ini berarti aku bisa mencintai semua orang. Satu²nya musuh yang nyata adalah musuh dalam diriku sendiri.

Jika saja aku membaca perkataan Yeshua lima tahun yang lalu, tentunya aku akan berkata: Betapa bodohnya orang ini! dan segera membuang Alkitab itu. Tapi pengalamanku dengan tetanggaku tukang jagal gila, anggota² keluarga dan pemimpin² agama yang memukuliku saat ayah berada di penjara, dan saatku di Megiddo semuanya bercampur dan mempersiapkan diriku untuk menerima kekuatan dan keindahan kebenaran ini. Yang bisa kupikirkan saat itu hanyalah: Wow! Betapa hebatnya hikmat yang dimiliki orang ini!

Yeshua berkata, “Janganlah kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” (Matius 7:1). Sungguh besar perbedaan antara Dia dan Allah! Elohim Islam sangat suka menghakimi, dan masyarakat Arab mengikuti bimbingan Allah.

Yesus mengecam kemunafikan para Ahli Taurat dan kaum Parisi, dan aku langsung ingat akan pamanku Ibrahim. Aku ingat di saat dia menerima sebuah undangan untuk menghadiri acara khusus dan betapa marahnya dia sewaktu tidak diberi kursi yang terbaik. Rasanya bagaikan Yeshua bicara pada Ibrahim, seluruh syeikh, dan imam dalam Islam.

Semuanya yang Yeshua katakan dalam halaman² buku ini sangat masuk akal bagiku. Karena rasa haru yang meluap-luap, aku pun mulai menangis.

Elohim menggunakan Shin Bet untuk menunjukkan padaku bahwa Israel bukanlah musuhku, dan sekarang dia meletakkan jawaban atas pertanyaan²ku di tanganku dalam buku Alkitab Perjanjian Baru yang kecil ini. Tapi perjalananku masih panjang sekali untuk bisa benar² mengerti Alkitab. Muslim diajar untuk beriman pada semua buku Allâh, termasuk Taurat dan Injil. Tapi kami juga diajar bahwa manusia telah mengganti Injil, dan membuatnya tidak dapat dijadikan panutan. Muhammad berkata bahwa Qur’an merupakan firman Allâh yang terakhir yang tak ada salahnya bagi manusia. Dengan begitu, pertama-tama aku harus menyingkirkan pendapatku bahwa Alkitab telah diganti. Lalu aku harus mencari cara bagaimana membuat kedua buku Qur’an dan Alkitab sejalan dalam hidupku, bagaimana mencampurkan Islam dan Kristen bersama. Hal ini bukanlah hal yang mudah, karena bagaikan mencampurkan hal yang tak tercampurkan.

Mosab: “Aku melihat bahwa musuh tidak dijabarkan melalui nasionalitas, agama, atau warna kulit. Aku sekarang mengerti bahwa kita semua menghadapi musuh² yang sama: keserakahan, kesombongan, segala pikiran jahat, dan kegelapan setan yang hidup dalam diri kita.”

Di saat yang sama, meskipun aku percaya ajaran² Yeshua, aku tetap tidak bisa percaya bahwa dia itu Elohim. Meskipun begitu, pemikiran²ku telah berubah secara tiba² dan secara dramatis, karena sekarang pikiranku lebih dipengaruhi Alkitab daripada Qur’an.

Aku terus membaca Alkitab Perjanjian Baru dan mengunjungi kegiatan Belajar Alkitab. Aku menghadiri kebaktian Kristen dan berpikir, Ini bukan agama Kristen yang kulihat di Ramallah. Inilah yang benar. Orang² Kristen yang kukenal sebelumnya tak berbeda dengan Muslim² tradisional. Mereka mengatakan diri mereka beragama, tapi tidak menjalankan ajaran agamanya. Aku mulai menghabiskan lebih banyak waktu dengan orang² dalam Belajar Alkitab dan sangat menikmati persahabatan dengan mereka. Kami merasa sangat senang bicara tentang kehidupan, latar belakang, dan kepercayaan kami. Mereka sangat menghormati budaya dan warisan Muslim kami. Aku bisa jadi diriku sendiri yang sebenarnya saat aku bersama mereka.
Aku sangat ingin memberikan apa yang kupelajari ini pada budayaku, karena aku menyadari bahwa pendudukan Israel bukanlah penyebab penderitaan kami. Masalah kami adalah lebih besar daripada prajurit² dan politik Israel.
Aku bertanya pada diri sendiri apakah yang akan dilakukan masyarakat Palestina jika Israel hilang lenyap – jika semuanya tidak hanya kembali saat sebelum 1948 tapi juga jika semua orang² Yahudi meninggalkan tanah Kanaan dan terpecah belah lagi. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tahu jawabannya.
Kami akan terus berperang. Tentang segala hal yang tak ada gunanya. Tentang gadis tak berjilbab. Tentang siapakah yang lebih kuat, siapa yang lebih penting. Tentang siapa yang menentukan aturan, dan siapa yang dapat kursi terbaik.

Di akhir 1999, aku berusia 21 tahun. Hidupku mulai berubah, dan semakin banyak aku belajar, semakin bingung pula aku dibuatnya.

“YAHWEH, sang Pencipta, tunjukkan kebenaran padaku,” begitu doaku setiap hari. “Aku bingung. Aku tersesat. Dan aku tak tahu lagi harus ke mana.”

Bab 16 – Intifada Kedua
Musim Panas – Musim Rontok 2000

Hamas – yang dulu merupakan kekuatan dominan di Palestina – sekarang mulai goyah. Saingan berat Hamas yang juga berusaha menarik simpati massa sudah berkuasa penuh.
Melalui intrik politik dan pembuatan perjanjian, Pemerintahan Palestina (Palestinian Authority = PA) telah berhasil mencapai apa yang tidak bisa dicapai Israel melalui kekuasaannya yang besar. PA telah menghancurkan sayap militer Hamas dan memasukkan pemimpin² dan pejuang²nya ke dalam penjara. Meskipun telah dibebaskan dari penjara, anggota² Hamas pulang dan tidak melakukan apapun terhadap PA dan kekuasaannya. Para feda’iyin muda kecapekan. Para pemimpin mereka terpecah-belah dan sangat curiga satu sama lain.

Ayahku juga hanya mengurus kepentingan keluarga saja, dan dia kembali bekerja di mesjid dan kamp² penampungan. Sekarang jika dia bicara, dia bicara dalam nama Allâh, dan bukan lagi sebagai pemimpin Hamas. Setelah bertahun-tahun berpisah karena dipenjara, aku menggunakan kesempatan sebaiknya untuk bepergian dan menghabiskan waktu bersamanya lagi. Aku rindu saat² kami ngobrol panjang lebar tentang kehidupan dan Islam.

Sewaktu aku terus melanjutkan membaca Alkitab dan belajar tentang agama Kristen, aku mendapatkan diriku tertarik sepenuhnya dalam kemuliaan, kasih sayang, dan sikap rendah hati yang disampaikan Yeshua. Anehnya, sikap² seperti inilah yang membuat orang² datang pada ayahku – dia adalah salah satu Muslim yang paling berbakti yang pernah kukenal.
Tentang hubunganku dengan Shin Bet, karena sekarang Hamas tidak lagi berkuasa dan PA mengontrol keadaan agar tetap tenang, maka tampaknya tak ada yang harus kukerjakan bagi mereka. Kami hanya berteman baik saja. Mereka bisa mempersilakan aku pergi kapan pun mereka mau, atau aku pun bisa minta permisi pada mereka kapan pun aku mau.

Pertemuan Camp David antara Yasser Arafat, Presiden Amerika Bill Clinton, dan Perdana Menteri Israel Ehud Barak berakhir pada tanggal 25 Juli, 2000.  Barak telah menawarkan Arafat kekuasaan 90% dari seluruh Jalur Gaza, dan bagian Timur Yerusalem sebagai ibukota negara Palestina. Selain itu, dana uang internasional akan dikumpulkan untuk membayar ganti rugi bagi masyarakat Palestina yang kehilangan harta benda saat bagian daerah itu dikuasai Israel. Tawaran “tanah suci” ini merupakan kesempatan bersejarah dan tawaran sangat langka yang tak terbayangkan sebelumnya bagi masyarakat Palestina yang telah lama menderita. Akan tetapi, tawaran bernilai sangat besar ini tidak juga memuaskan Arafat.

Yasser Arafat telah jadi sangat kaya raya karena posisinya sebagai simbol korban penindasan di mata internasional. Dia tidak mau kehilangan kedudukannya dan menanggung tanggung jawab untuk membangun sebuah negara yang benar² berfungsi dalam mengurus masyarakatnya. Karena itulah, dia bersikeras meminta semua pengungsi diperbolehkan kembali ke tanah² yang dulu mereka miliki di tahun 1967 – persyaratan yang dia tahu betul akan ditolak oleh Israel. Meskipun penolakan Arafat terhadap tawaran Barak merupakan kerugian sangat besar bersejarah bagi masyarakat Palestina, Arafat kembali pulang ke Palestina dengan dianggap sebagai pahlawan yang berani menantang Presiden AS dengan menolak mundur dan tetap pada keputusannya di hadapan seluruh dunia.
Arafat lalu muncul di TV dan seluruh dunia menonton sewaktu dia khotbah tentang betapa besar cintanya akan masyarakat Palestina dan kesedihannya akan jutaan keluarga yang hidup di kamp² penampungan. Setelah aku ikut bepergian bersama ayah dan menghadiri pertemuan² dengan Arafat, aku mulai melihat sendiri bagaimana orang ini sangat senang jadi perhatian media massa. Dia tampaknya sangat menikmati dianggap sebagai Che Guevara Palestina dan sederajat dengan para raja, presiden, dan perdana menteri.

Yasser Arafat dengan jelas mengakui bahwa dia ingin jadi pahlawan yang ditulis di buku² sejarah. Tapi tatkala aku melihatnya, inilah yang kupikirkan: Ya, biarlah dia diingat dalam buku² sejarah kami, bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai pengkhianat yang menggunakan bahu masyarakatnya untuk ditungganginya, sebagai Robin Hood terbalik yang mencuri dari masyarakatnya yang miskin untuk membuat dirinya kaya raya, sebagai sepotong daging babi murahan yang membeli ketenarannya dengan darah masyarakat Palestina.

Juga menarik untuk menilai Arafat melalui sudut pandang para agen rahasia Israel. “Gimana sih orang ini?” kata pembimbing Shin Bet-ku suatu hari. “Kami tidak pernah menyangka para pemimpin kami bisa rela mengajukan tawaran begitu besar pada Arafat. Tidak pernah! Dan lalu Arafat menolaknya?”

Memang sesungguhnya Arafat telah ditawari kunci² perdamaian di Timur Tengah dan juga sebuah negara berdaulat utuh bagi masyarakat Palestina – dan dia membuang tawaran besar ini begitu saja. Sebagai hasilnya, korupsi yang dilakukan diam² terus saja berlangsung. Tapi keadaan tidak tetap diam untuk waktu yang lama. Bagi Arafat, dirinya akan lebih banyak beruntung jika masyarakat Paletina terus berdarah. Sebuah intifada yang baru tentunya akan membuat darah terus mengalir dan kamera² media massa Barat akan berputar sekali lagi.

Pendapat para pemerintah dunia dan juga media massa menyatakan pada kita bahwa Intifada Kedua berdarah terjadi secara spontan karena kemarahan masyarakat Palestina terhadap kedatangan Jendral Ariel Sharon ke kompleks Temple Mount (Mesjid di Bukit atau Mesjid al-Aqsa yang berkubah emas). Tapi seperti biasanya, pendapat umum itu salah.

*******************

Di sore hari tanggal 27 September, ayahku mengetuk pintu kamarku dan bertanya apakah aku bisa mengantarkannya pakai mobil ke rumah Marwan Barghouti esok pagi setelah sholat fajar. Marwan Barghouti adalah sekretaris jendral Fatah, bagian politik terbesar di PLO. Dia adalah pemimpin muda Palestina yang kharismatik, pendukung utama PA dan pasukan keamanan Arafat. Marwan adalah pria pendek yang seringkali berpakaian santai dan memakai celana jeans, dan dia dianggap sebagai calon presiden Palestina berikut.
“Ada masalah apa?” tanyaku pada ayah.
“Sharon dikabarkan akan mengunjungi Mesjid Al-Aqsa besok hari, dan PA yakin ini adalah kesempatan baik untuk melakukan pemberontakan.”
Ariel Sharon adalah pemimpin Partai Likud dan musuh politik Perdana Menteri Ehud Barak dan partai sayap kirinya yakni Partai Buruh. Sharon sedang melakukan persaingan politik terhadap Barak untuk memimpin Pemerintahan Israel.

Pemberontakan? Apakah mereka serius? Para pemimpin PA yang memasukkan ayahku ke penjara, sekarang meminta ayah untuk menolong mereka mengadakan intifada yang baru. Ini sungguh ironis, tapi aku bisa menarik kesimpulan mengapa mereka minta bantuan ayah bagi terlaksananya rencana mereka. Mereka tahu masyarakat cinta dan percaya pada ayah sama besarnya – jika tidak lebih besar – dengan kebencian dan ketidakpercayaan mereka terhadap PA. Mereka akan ikut ayahku ke manapun, dan PA tahu tentang hal itu.

Mereka juga kenal Hamas, yang sekarang bagaikan petinju yang kecapekan yang sedang dihitung oleh juri. PA ingin ayah membangkitkan Hamas, menyiram air ke wajahnya, dan mengirimnya kembali bertarung untuk satu ronde lagi agar PA dapat menghajarnya KO di hadapan penonton yang bersorak-sorai. Bahkan para pemimpin Hamas – yang juga kelelahan karena bertahun-tahun berperang – memperingatkan ayah untuk berhati-hati.

“Arafat hanya menggunakan kita sebagai bahan bakar bagi tungku pembakaran politiknya,” kata mereka pada ayah. “Jangan terlibat terlalu jauh dengan rencana intifada mereka.”

Tapi ayah mengetahui pentingnya melakukan gerak isyarat ini. Jika dia tidak menampakkan keinginan untuk bekerja sama dengan PA, mereka akan dengan mudah menunjuk Hamas, menyalahkan kami karena mengganggu proses perdamaian. Apapan yang kami lakukan, kami tetap saja dalam situasi yang kalah, dan aku sangat khawatir akan rencana ini. Tapi aku tahu ayahku perlu melakukan hal itu, maka keesokan paginya aku menyetir mobil mengantarnya ke rumah Marwan Barghouti. Kami mengetuk pintu, tidak terdengar jawaban untuk beberapa saat, dan akhirnya kami diberi tahu bahwa Marwan saat itu masih tidur.

Biasalaah, kataku pada diriku sendiri. Fatah melibatkan ayahku dalam rencana mereka yang bodoh tapi mereka bahkan tidak merasa perlu bangun tidur untuk menjalankan rencananya.
“Tak apa²,” kataku pada ayah. “Jangan khawatir. Masuklah ke dalam mobil, dan aku akan membawamu ke Yerusalem.”
Tentu saja membawa ayah ke daerah yang akan didatangi Sharon adalah tindakan yang riskan, karena kebanyakan mobil Palestina tidak boleh masuk Yerusalem. Biasanya, jika seorang supir Palestina tertangkap polisi Israel, maka dia akan didenda, tapi karena latar belakang kami, aku dan ayah bisa langsung ditangkap di tempat. Aku harus sangat berhati-hati, berusaha tetap berada di sisi jalan dan percaya bahwa hubunganku dengan Shin Bet akan melindungiku jika dibutuhkan.

Mesjid Al-Aqsa dan Dome of the Rock (tempat keramat bagi Muslim) dibangun di atas reruntuhan dan peninggalan dua Baut Yahudi kuno, yakni Bait Salomo (Bait Elohim pertama) dari abad ke 10 SM dan Bait Raja Herodes di jaman Yeshua. Tak heran mengapa sebagian orang menganggap bukit berbatu ini merupakan tempat berukuran 35 aker (141.639,974 m²) yang paling berubah drastis fungsinya di dunia. Tempat ini merupakan tempat suci bagi tiga agama besar monotheistik dunia. Bagi para sejarawan dan ilmuwan, tempat ini juga sangat penting karena mengandung peninggalan arkeologi yang sangat besar – bahkan begitu pula pendapat para atheis.

Beberapa minggu sebelum kedatangan Sharon di tempat ini, para Muslim Waqf – penguasa Muslim di daerah itu – telah menutup seluruh daerah Temple Mount dan menghentikan penelitian² arkeologi yang dilakukan oleh Badan Penelitian Peninggalan milik Pemerintah Israel. Untuk melakukan pekerjaan membangun bagian bawah mesjid di tempat itu, pihak mesjid mendatangkan mesin² pembongkar tanah yang besar². Koran² sore Israel menampilkan foto² buldozer, mesin penggali hidrolik, dan truk pengangkut brangkal yang semuanya digunakan di sekitar tempat itu. Dalam waktu beberapa minggu, truk² pengangkut tanah telah memindahkan sekitar 13.000 ton bongkahan tanah dari kompleks Temple Mount ke pembuangan sampah kota. Laporan surat kabar di tempat pembuangan sampah menunjukkan para ahli arkeologi menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya sewaktu mereka mencari sisa² peninggalan kuno di tempat sampah. Sebagian dari peninggalan yang ditemukan berasal dari jaman Bait Elohim pertama dan kedua.

Bagi umumnya masyarakat Israel, sudah jelas bahwa rencana pembongkaran tanah dan pendirian bagian bawah mesjid adalah untuk membuat seluruh daerah 35 aker itu jadi daerah Muslim saja, dengan menghilangkan semua tanda, sisa² benda kuno, dan sejarah Yahudi di masa lalu. Hal ini termasuk penghancuran penemuan² arkeologi yang mewakili bukti sejarah Israel di daerah itu di masa lalu.

Kedatangan Sharon bertujuan untuk menyampaikan pesan diam tapi jelas bagi masyarakat Israel yang akan menentukan suara dalam Pemilu mendatang: “Aku akan menghentikan penghancuran yang tidak seharusnya dilakukan ini.” Dalam melakukan kunjungannya, orang² Sharon telah mendapat jaminan dari kepala keamanan Palestina Jibril Rajoub bahwa kedatangannya tidak akan jadi masalah selama dia tidak menginjakkan kaki ke dalam mesjid.

Aku dan ayah datang ke tempat itu beberapa menit sebelum kedatangan Sharon. Pagi hari itu masih sepi. Sekitar seratus orang Palestina datang untuk sholat. Sharon datang di saat jam kunjungan turis biasa, bersama delegasi dari Partai Likud dan seribu polisi anti huru-hara. Dia datang, melihat-lihat, dan pergi. Dia tidak mengatakan apapun. Dia tidak pernah masuk mesjid.

Semuanya tampak biasa saja bagiku. Di saat pulang kembali ke Ramallah, aku bertanya pada ayahku ada urusan besar apakah yang terjadi?
“Apa yang terjadi?” tanyaku. “Kau tidak memulai intifada.”
“Belum,” jawabnya. “Tapi aku telah memanggil beberapa aktivis dari gerakan pelajar Islam dan meminta mereka menemuiku di sini untuk melakukan protes.”
“Tidak ada apapun yang tejadi di Yerusalem, mengapa kau sekarang mau melakukan demonstrasi di Ramallah? Ini sungguh gila,”
kataku padanya.
“Kita harus melakukan apa yang kita harus lakukan. Al-Aqsa itu mesjid kita, dan Sharon tidak seharusnya datang ke sana. Kita tidak bisa membiarkan hal ini.”
Aku berpikir apakah sebenarnya perkataan itu ditujukan pada dirinya untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Demonstrasi di Ramallah bukanlah aksi yang menghebohkan yang membuat kekacauan besar²an. Demonstrasi ini dilakukan di pagi hari, dan orang² yang berlalu-lalang di kota itu merasa heran dengan apa yang dilakukan para pelajar dan anggota Hamas yang tampaknya juga tidak mengerti apa sebenarnya protes yang mereka ajukan.

Beberapa orang berdiri dengan pengeras suara tanduk kerbau dan melakukan pidato, dan sekelompok kecil orang Palestina yang mengelilingi para pembicara kadang² berteriak-teriak. Tapi selain itu, tidak banyak yang memperhatikan adegan ini. Akhir² ini daerah Palestina memang jauh lebih tenteram daripada sebelumnya. Setiap hari berlalu seperti biasa. Serdadu² Israel sudah jadi pemandangan biasa. Orang² Palestina diperbolehkan bekerja dan bersekolah di daerah Israel. Ramallah memiliki kehidupan malam yang ramai. Dengan keadaan seperti ini, susah untuk mengerti mengapa orang² ribut protes.

Menurut pendapatku, demonstrasi ini tidak tampak penting. Aku merasa santai saja dan aku panggil teman²ku dari kelompok Belajar Alkitab, dan kami pun pergi bersama untuk piknik dekat danau Galilea.

Karena tidak ada sumber berita apapun di sana, aku tidak tahu bahwa keesokan harinya sejumlah besar demonstrator Palestina melempari batu dan berkelahi menghadapi tentara anti huru-hara Israel di dekat daerah yang dikunjungi Sharon. Lemparan² batu berkembang jadi lemparan² bom molotov, dan diikuti dengan tembakan² senapan Kalashnikov. Polisi menggunakan peluru karet, tapi sebagian berita mengatakan peluru² tajam juga ditembakkan pada para demonstrator. Empat demonstrator mati terbunuh, dan 200 lainnya luka². Empat belas polisi terluka juga. Dan semua ini persis seperti yang diinginkan oleh Pemerintah Palestina (Palestinian Authority = PA).

Keesokan harinya, aku menerima telepon dari Shin Bet.
“Di mana kamu?”
“Aku sedang piknik di Galilea bersama teman²ku.”
“Galilea? Apa? Kau gila!”
Laoi mulai tertawa. “Kau sungguh sukar dimengerti,” katanya. “Seluruh Tepi Barat jungkir balik dan kamu malah bersenang-senang piknik bersama teman² Kristenmu.” Ketika dia memberitahu aku apa yang terjadi. Aku meloncat masuk mobil dan segera pulang.

Yasser Arafat dan pemimpin² PA telah bertekad untuk menciptakan intifada baru. Mereka telah merencanakan hal ini selama berbulan-bulan, bahkan sewaktu Arafat dan Barak bertemu bersama Presiden Bill Clinton di Camp David. Mereka hanya menunggu saat tepat untuk menciptakan dalih. Kedatangan Sharon adalah dalih tepat yang telah mereka tunggu². Maka setelah melakukan beberapa kesalahan, akhirnya Intifada Al-Aqsa berlangsung dengan semangat berkobar yang menyebabkan Tepi Barat dan Jalur Gaza penuh pertempuran berdarah lagi, terutama Gaza.

Di Gaza, Fatah melancarkan demonstrasi yang mengakibatkan penayangan internasional kematian anak laki usia 12 tahun yang bernama  Mohammed al-Dura. Anak ini dan ayahnya, Jamal, terperangkap dalam kobaran api dan berlindung di balik tembok semen berbentuk silinder. Anak laki ini tertembak peluru nyasar dan mati di tangah bapaknya. Semua kejadian ini direkam oleh kamerawan Palestina yang bekerja bagi TV Perancis. Dalam beberapa jam saja, video kejadian ini beredar di seluruh dunia dan membuat marah jutaan orang terhadap pendudukan Israel.

Kasus penembakan Mohammed al-Dura yang diduga adalah rekayasa pihak Palestina. Lihat di SINI

Akan tetapi, dalam bulan² berikutnya, terjadi perdebatan yang meragukan keaslian peristiwa ini. Sebagian menyatakan sebenarnya yang membunuh anak itu adalah peluru Palestina sendiri. Yang lain terus menyalahkan Israel. Ada pula yang menuduh kejadian itu hanyalah adegan film yang telah diatur oleh pihak Palestina sendiri. Karena video juga tidak menunjukkan anak laki itu ditembak atau bahkan tubuhnya, banyak yang mengira ini semua hanyalah propaganda PLO saja. Jika hal itu memang benar, maka ini sungguh cerdik [lebih tepat: licik] dan efektif.  Apapun kejadiannya, aku tiba² saja berada di tengah² perang di mana ayahku adalah pemimpin pentingnya – meskipun sebenarnya dia juga tidak tahu ke mana dia akan memimpin dan apa akibatnya bagi dirinya. Dia hanya dimanfaatkan dan dimanipulasi oleh Arafat dan Fatah untuk memulai kekacauan, sehingga menyediakan PA bahan untuk mengajukan tawaran baru pada Israel dan minta sumbangan dana lagi pada masyarakat internasional.

Di lain pihak, lagi² banyak orang yang mati terbunuh di pos² pemeriksaan. Semua pihak menembak membabi-buta. Anak² juga terbunuh. Dari satu hari penuh darah ke hari lainnya, Yasser Arafat yang menangis mengucurkan airmata sambil berdiri di hadapan kamera² media Barat. Dia meremas jari²nya dan menyangkal bertanggungjawab atas terjadinya kekerasan. Sebaliknya, dia malahan mengarahkan jarinya pada ayahku, pada Marwan Barghouti, dan pada masyarakat di kamp penampungan. Dia meyakinkan dunia bahwa dia tidak bisa berbuat apapun untuk meredakan pemberontakan. Di saat yang sama, jarinya yang lain menarik pelatuk senapan kuat².

Akan tetapi, kemudian Arafat menyadari bahwa dia telah melepaskan setan celaka. Dia telah membangkitkan emosi masyarakat Palestina dan membuat mereka marah, dan hal ini sesuai dengan rencananya. Tapi tak lama setelah itu, masyarakat Palestina jadi benar² diluar kontrol. Sewaktu mereka melihat tentara² IDF menembaki ayah, ibu, dan anak² mereka, mereka jadi begitu marah sehingga tidak lagi mau mendengar PA atau siapapun lagi.
Arafat juga kemudian menyadari bahwa petinju loyo yang dibangunkannya dulu ternyata terbuat dari bahan yang lebih ulet daripada dugaannya. Jalanan merupakan lingkungan alami bagi Hamas. Petinju itu memulai perkelahiannya di situ, dan karena tempat itulah dia menjadi yang terkuat.

Damai dengan Israel? Camp David? Oslo? Separuh Yerusalem? Persetan dengan semua itu! Semua niat awal untuk kompromi telah menguap dalam bara api konflik yang panas. Masyarakat Palestina kembali pada mentalitas lama: dapat semuanya atau tidak dapat apapun sama sekali. Dan sekarang malah Hamas, dan bukan lagi Arafat, yang mengipasi api.

Gigi balas gigi, mata ganti mata, dan kekerasan semakin memuncak. Dari hari ke hari, daftar duka masing² pihak juga semakin panjang.

○ 8 Oktober, 2000, sekelompok masyarakat Israel menyerang masyarakat Palestina di Nazareth. Dua Arab terbunuh, dan lusinan terluka. Di Tiberias, masyarakat Yahudi menghancurkan mesjid berusia 200 tahun.
○ 12 Oktober, sekelompok masyarakat Palestina membunuh dua serdadu IDF di Ramallah. Israel membalas dengan membom Gaza, Ramallah, Yerikho, dan Nablus.
○ 2 November, sebuah bom mobil membunuh dua orang Israel di dekat pasar Mahane Yehuda di Yerusalem. Sepuluh orang lainnya terluka.
○ 5 November, Intifada Al-Aqsa sudah berlangsung selama 38 hari, dan 150 orang² Palestina sudah terbunuh sampai saat itu.
○ 11 November, sebuah helikopter Israel meledakkan peralatan bom yang mereka tanam di mobil aktivis Hamas.
○ 20 November, bom di pinggir jalan meledak di sebelah bus yang berisi anak² yang akan berangkat ke sekolah. Dua orang Israel tewas. Sembilan lainnya luka², termasuk 5 anak² juga terluka. [5]

[5] Menteri Luar Negeri Israel, “Bom Bunuh Diri dan Serangan² Bom Lainnya di Israel sejak Pengumuman Prinsip (September 1993)”; Masyarakat Akademis Palestina bagi Penelitian Masalah Internasional, Yerusalem, “Fakta² Palestina – Kronologi Palestina 2000,
Juga lihat di SINI.

Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Sesuatu harus dilakukan untuk menghentikan roda kekerasan yang menggila ini. Aku tahu sudah saatnya bagiku untuk mulai bekerja bagi Shin Bet. Dan aku melakukannya dengan sepenuh hati.

Bersambung ke Bab 17-20

Bab 1-4 ; Bab 5-8 Bab 9-12 ; Bab 13-16 ; Bab 17-20 ; Bab 21-24

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Son of Hamas (Putra Hamas). Bab 9-12

Bab 9 – Persenjataan
Musim Dingin 1995 – Musim Semi 1996

Setelah Perjanjian Oslo, masyarakat internasional berharap Pemerintahan Palestina bisa mengontrol Hamas. Di hari Sabtu, 4 November, 1995, aku sedang menonton TV ketika laporan berita darurat tiba² diumumkan. Yitzhak Rabin ditembak ketika sedang kampanye perdamaian di Lapangan Raja² (Kings Square) di Tel Aviv. Tampaknya hal ini serius. Dua jam kemudian, penyiar mengatakan Yitzhak Rabin telah mati.

“Wow!” teriakku keras pada diri sendiri. “Ternyata orang Palestina mampu membunuh Perdana Menteri Israel! Ini seharusnya terjadi dari dulu.” Aku sangat senang atas kematiannya dan kerusakan yang diakibatkan pada PLO dan persetujuannya dengan Israel.

Lalu telepon berdering. Aku seketika mengenal suara orang di seberang. Orang itu adalah Yasser Arafat, dan dia ingin bicara dengan ayahku.

Aku mendengar saat ayah bicara di telepon. Dia tidak banyak bicara; sikapnya tetap ramah dan sopan, dan tampak setuju dengan apapun yang dikatakan Arafat di tempatnya.
“Aku mengerti,” kata ayah. “Selamat tinggal.” Lalu ayah berpaling padaku. “Arafat meminta agar kita mencegah Hamas merayakan kematian sang Perdana Menteri,” katanya. “Pembunuhan ini adalah kehilangan besar bagi Arafat karena Rabin menunjukkan keberanian besar dalam melakukan perjanjian damai dengan PLO.”

Kami kemudian mengetahui bahwa Yitzhak Rabin ternyata tidak dibunuh oleh orang Palestina. Dia ditembak dari belakang oleh mahasiswa hukum Israel (Yigal Amir). Banyak anggota Hamas yang kecewa atas fakta ini. Aku sendiri heran bahwa ternyata ada fanatik Yahudi yang bertujuan sama dengan Hamas.

Pembunuhan ini membuat dunia semakin menuntut Arafat untuk mengontrol daerah Palestina. Maka dia lalu melancarkan serangan besar²an terhadap Hamas. Para polisi PA datang ke rumah kami, meminta ayah untuk mempersiapkan diri, dan membawanya untuk ditawan di tempat tinggal Arafat. Arafat selalu memperlakukannya dengan rasa hormat dan keramahan terbaik.

Meskipun begitu, untuk pertamakalinya orang² Palestina memenjarakan sesama orang Palestina. Hal ini sungguh menyedihkan, tapi setidaknya mereka memperlakukan ayahku dengan hormat. Tidak seperti tawanan yang lain, ayah diberi kamar yang nyaman, dan Arafat kadangkala mengunjunginya untuk membicarkan berbagai masalah.

Tak lama kemudian semua pemimpin utama Hamas, dan juga ribuan anggotanya dimasukkan ke dalam penjara² Palestina. Banyak dari mereka yang disiksa saat interogasi. Sebagian bahkan mati. Tapi mereka yang berhasil menghindari penangkapan menjadi pelarian, dan terus melakukan serangan terhadap Israel.

Sekarang kebencianku jadi bercabang. Aku benci Pemerintah Israel dan Yasser Arafat, aku benci Israel, dan aku benci orang² Palestina yang sekuler. Mengapa ayahku yang cinta Allâh dan masyarakatnya harus sangat menderita, sedangkan orang² tak bertuhan seperti Arafat dan PLO-nya diberi kemenangan besar oleh orang² Israel – padahal Qur’an menyebut para Yahudi ini sebagai babi dan monyet? Masyarakat internasional bertepuk tangan memuji Israel karena mengakui hak teroris Arafat dan anteknya untuk eksis.
Aku berusia 17 tahun dan hanya beberapa bulan saja sebelum lulus SMA. Setiap kali aku mengunjungi ayah di penjara atau membawa makanan dari rumah dan hal lain yang menyenangkan dirinya, dia berpesan padaku, “Satu²nya hal yang harus kau lakukan adalah lulus ujian. Fokus pada sekolahmu. Jangan khawatir akan diriku. Aku tidak mau pendidikanmu terganggu.” Tapi hidup sudah tak bermakna lagi bagiku. Aku tidak bisa berpikir apapun selain bergabung dengan sayap militer Hamas dan membalas dendam pada Israel dan Pemerintah Palestina. Aku mengenang segala sesuatu yang telah kulihat dalam hidupku. Apakah semua perjuangan dan pengorbanan akan berakhir seperti ini, dalam perjanjian damai murahan dengan Israel? Jikalau aku mati berperang, setidaknya aku akan mati syahid dan masuk surga.

Ayahku tidak pernah mengajarku untuk membenci, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menghindari perasaan itu. Meskipun dia dengan penuh semangat menentang pendudukan, dan meskipun kupikir dia tidak akan ragu memerintahkan pemboman nuklir terhadap Israel jika dia memiliki bom tersebut, dia tidak pernah menjelek-jelekkan orang Yahudi, tidak seperti yang sering dilakukan para pemimpin Hamas rasis. Dia lebih tertarik pada elohim Qur’an daripada politik. Allâh telah memberi kami tanggung jawab untuk melenyapkan bangsa Yahudi, dan ayahku tidak mempertanyakan perintah itu, meskipun dia secara pribadi tidak punya masalah dengan mereka.

“Bagaimana hubunganmu dengan Allâh?” tanya ayah setiap kali aku menemuinya. “Apakah kau sholat hari ini? Meluangkan waktu baginya?” Dia tidak pernah berkata, “Aku ingin kau menjadi mujahid (pejuang gerilya) yang baik.” Pesannya padaku sebagai anak laki sulungnya selalu saja, “Berbuatlah baik terhadap ibumu, Allâh, dan masyarkatmu.”

Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa begitu penuh belas kasih dan pemaaf, bahkan terhadap para prajurit yang berkali-kali datang untuk menangkapnya. Dia memperlakukan mereka bagaikan anak². Ketika aku membawa makanan baginya di pusat PA, dia seringkali mengajak para penjaga untuk bergabung bersama kami dan makan makanan daging dan nasi yang khusus dimasak ibu. Beberapa bulan kemudian, para penjaga PA juga mengasihi ayahku. Sungguh mudah bagiku untuk mencintai ayah, tapi dia juga adalah orang yang sungguh sukar dimengerti.

Dengan penuh kemarahan dan nafsu balas dendam, aku mulai mencari senjata². Meskipun senjata tersedia di daerah kami saat itu, harganya sangat mahal, dan aku hanyalah pelajar SMA miskin yang tak berduit. Ibrahim Kiswani adalah teman kelas yang berasal dari desa di sebelah Yerusalem. Dia pun punya minat yang sama denganku dan dia berkata bahwa dia bisa menyediakan uang yang kami butuhkan – meskipun tidak cukup untuk beli senapan otomatis, tapi cukup untuk beli sebuah pistol. Aku bertanya pada saudara sepupuku Yousef Daud di mana aku bisa beli pistol.

Yousef dan aku tidaklah terlalu akrab, tapi aku tahu dia punya beberapa koneksi.
“Aku punya dua teman di Nablus yang mungkin bisa menolong,” katanya padaku. “Apa yang ingin kau lakukan dengan senjata itu?”
“Setiap keluarga punya senjata,” kataku berbohong. “Aku ingin melindungi keluargaku.”
Tapi ini bukan sepenuhnya bohong. Ibrahim tinggal di desa di mana setiap keluarga memang punya senjata untuk bela diri, dan dia bagaikan saudara dekat bagiku.
Selain karena ingin balas dendam, kupikir sebagai remaja tentunya menyenangkan untuk punya pistol. Aku tidak lagi tertarik dengan sekolah. Buat apa pergi ke sekolah di negara gila ini?
Akhirnya di suatu sore aku dihubungi per telepon oleh saudara sepupu Yousef.
“Oke, kita akan pergi ke Nablus. Aku tahu seseorang yang bekerja bagi pasukan keamanan PA. Kupikir dia bisa memberi kita sebuah pistol,” katanya.

Ketika kami tiba di Nablus, seseorang menemui kami di pintu rumah kecil dan membawa kami masuk. Di dalam rumah dia memperlihatkan senapan² mesin Swedia Carl Gustav M45 dan sebuah Port Said, jenis senjata serupa versi Mesir. Dia membawa kami ke tempat terpencil di pegunungan dan menunjukkan pada kami bagaimana menggunakan senjata² itu. Ketika dia bertanya apakah aku ingin mencoba, jantungku berdebar-debar. Aku tidak pernah menembak dengan sebuah senapan mesin sebelumnya, dan tiba² aku merasa takut.

“Tidak, aku percaya kamu,” kataku padanya. Aku beli dua buah senapan Gustav dan sebuah pistol dari orang itu. Aku menyembunyikan senjata² ini di pintu mobil, menaburi merica hitam di atasnya agar anjing² polisi Israel tidak berminat menciumnya di pos² penjagaan.

Sewaktu sedang menyetir mobil kembali ke Ramallah, aku menelpon Ibrahim.
“Hey, aku udah dapet barangnya, lho!”
“Benar begitu?”
“Iya, benar.”

Kami tahu sebaiknya tidak menggunakan kata² seperti pistol² atau senjata² karena kemungkinan telepon disadap Israel. Kami lalu berjanji bertemu di suatu tempat di mana Ibrahim lalu mengambil “barang²nya” dan kami lalu pisah.
Saat itu adalah musim semi 1996, dan aku baru saja berusia 18 tahun, dan sekarang bersenjata.

******************

Di suatu malam, Ibrahim menelponku, dan aku bisa mengetahui dari suaranya bahwa dia sangat marah.
“Senapan² mesinnya tidak berfungsi!” dia berteriak ke telepon.
“Ngomong apa sih kau?” aku berkata balik, berharap tiada yang mendengar percakapan kami.
“Senapan²nya tidak bisa dipakai,” dia mengulangi lagi, “Kita ditipu!”
“Aku tidak bisa bicara sekarang,” kataku padanya.
“Baik, tapi aku ingin bertemu denganmu malam ini.”
Ketika dia tiba di rumahku, aku seketika mengecamnya.
“Kau gila ya ngomong seperti itu di telepon?” kataku.
“Aku tahu, tapi senapan² mesinnya tidak berfungsi. Pistolnya sih oke, tapi senapan²nya tidak bisa digunakan untuk menembak.”
“Baiklah, senapan² itu tak bisa dipakai. Tapi apakah kau tahu cara menggunakannya dengan benar?”

Dia meyakinkan aku bahwa dia tahu benar bagaiman menggunakan senjata² tersebut, jadi aku berkata akan mengurus masalah itu. Karena ujian akhir SMA tinggal dua minggu lagi, aku sebenarnya tidak punya waktu. Meskipun demikian aku berjanji untuk membawa senjata² kembali pada Yousef.
“Wah, payah nih,” kataku pada Yousef ketika bertemu dengannya. “Pistolnya sih berfungsi dengan baik, tapi senapan² mesinnya tidak. Telepon temanmu di Nablus agar kami setidaknya bisa mendapat kembali uang kami.” Dia berjanji untuk mencoba.

Di keesokan harinya, saudara lakiku Sohayb memberitahu kabar menegangkan. “Pasukan keamanan Israel datang ke rumah tadi malam, mencari dirimu,” katanya dengan suara yang khawatir. Pikiranku pertama adalah, Kami kan belum membunuh siapapun! Aku ketakutan, tapi juga merasa penting karena tampaknya aku mulai dianggap berbahaya oleh pihak Israel. Ketika aku menjenguk ayahku kemudian, dia sudah mendengar bahwa prajurit² Israel mencari diriku.
“Apakah yang terjadi?” katanya tajam. Aku memberitahu apa yang terjadi dengan jujur, dan dia jadi sangat marah. Melalui kemarahannya, aku bisa melihat dengan jelas bahwa dia sebenarnya kecewa dan khawatir.
“Ini sangat serius,” dia memperingatkan aku. “Mengapa kau sampai mendapatkan masalah seperti ini? Kau seharusnya mengurus ibumu, adik² laki dan perempuanmu, dan bukannya lari dari pihak Israel. Tidakkah kau mengerti bahwa mereka akan menembakmu?”

Aku pulang, dan mulai mengepak pakaian dan buku² sekolah, dan meminta pelajar² Persaudaraan Muslim untuk menyembunyikan diriku sampai aku bisa mengikuti ujian akhir dan tamat SMA. Ibrahim ternyata tidak mengetahui keseriusan keadaan. Dia terus meneleponku, bahkan juga ke ponsel ayahku.
“Apa sih yang terjadi? Ada apa denganmu? Aku berikan semua uangku. Aku minta uang itu kembali.”

Aku beritahu dirinya bahwa pasukan keamanan telah mengunjungi rumahku, dan dia mulai berteriak-teriak dan tak berhati-hati lagi dengan kata²nya di telepon. Aku cepat² mematikan telepon sebelum dia bisa membahayakan dirinya lebih lanjut. Tapi keesokan harinya, IDF muncul di rumahnya, menggeledah, dan menemukan pistol itu. Mereka segera menangkapnya.  Aku merasa sangat putus asa. Aku percaya pada orang yang salah. Ayahku dipenjara, dan dia kecewa akan diriku. Ibuku sangat khawatir akan diriku. Aku harus menghadapi ujian akhir. Dan sekarang aku dicari-cari prajurit Israel.   Bagaimana mungkin keadaan bisa jadi lebih jelek daripada sekarang?

Bab 10 – Rumah Jagal
1996

Meskipun aku mencoba untuk berhati-hati, pasukan keamanan Israel berhasil melacakku. Mereka telah menyadap percakapan teleponku dengan Ibrahim. Sekarang beginilah nasibku, diborgol dan ditutup mata, dijejalkan ke bagian belakang Jeep, sambil berusaha menghindar sodokan popor senapan sebisa mungkin.

Akhirnya Jeep itu berhenti. Rasanya perjalanan berlangsung berjam-jam. Pengikat tangan terasa menusuk tajam ke pergelangan tanganku sewaktu prajurit menarik lenganku untuk berdiri dan mendorongku naik tangga. Aku sudah tidak merasakan apapun pada tanganku. Di sekitarku, aku mendengar suara orang² bergerak dan berteriak dalam bahasa Ibrani.

Aku dibawa masuk ke sebuah ruangan kecil di mana pengikat tangan dan mataku dibuka. Sambil memicingkan mata karena silau cahaya lampu, aku berusaha melihat keadaan. Kecuali sebuah meja kecil di sudut, ruangan itu kosong. Aku menduga-duga apakah yang nanti dilakukan para prajurit itu padaku. Interogasi? Pemukulan lagi? Siksaan? Aku tidak perlu menduga terlalu lama. Hanya dalam beberapa menit saja, seorang prajurit muda membuka pintu. Dia mengenakan cincin pada hidungnya, dan dia bicara dengan aksen Rusia. Dia adalah prajurit yang telah memukuliku di belakang Jeep. Sambil mencekal lenganku, dia menggiringku melalui koridor yang panjang dan berliku, dan akhirnya masuk ke ruang kecil. Tampak peralatan pengukur tekanan darah, monitor, komputer, dan TV kecil di atas sebuah meja tua. Bau yang memuakkan menerjang hidungku sewaktu aku masuk ruangan, sehingga rasanya mau muntah lagi.

Seorang lelaki memakai baju dokter masuk ruangan, dan dia tampak lelah dan murung. Dia tampak heran melihat muka dan mataku yang babak belur, yang sekarang sudah membengkak dua kali dari ukuran asli. Tapi andaikata dia mengkhawatirkan keadaanku, hal itu tak tampak sama sekali. Aku telah melihat dokter binatang yang lebih berbelas kasihan pada binatang yang diperiksanya daripada dokter yang sekarang memeriksaku.

Seorang penjaga berbaju polisi masuk. Dia membalikkan tubuhku, memasang kembali pengikat tangan, dan memasang penutup seluruh kepala berwarna hijau di kepalaku. Sekarang aku tahu sumber bau busuk itu. Penutup kepala itu baunya seperti belum pernah dicuci. Aromanya berasal dari gigi yang tak pernah digosok dan bau mulut ratusan tawanan yang mengenakannya. Aku berusaha menahan napas. Tapi setiap kali aku menarik napas, aku menghisap kain busuk itu ke dalam mulutku. Aku jadi panik dan tercekik tapi aku tidak bisa bebas dari kain penutup itu.

Penjaga memeriksa diriku, mengambil semuanya, termasuk sabuk dan tali sepatu. Dia mencekal penutup kepalaku dan menyeretku melalui koridor lagi. Belok kanan. belok kiri. Kanan. Kanan lagi. Aku tidak tahu sedang berada di mana dan kemana aku dibawa.

Akhirnya kami berhenti dan kudengar dia mengeluarkan kunci. Dia membuka pintu yang terdengar berat dan tebal. “Tangga,” katanya. Dan aku menuruni beberapa anak tangga. Melalui penutup kepala aku bisa melihat sinar yang berkejap, yang biasanya kau lihat di sirine mobil polisi.

Penjaga menarik lepas penutup kepala, dan aku aku berdiri di hadapan baris gorden. Di sebelah kanan aku melihat keranjang penuh penutup kepala. Kami menunggu beberapa menit sampai akhirnya suara dari balik gorden mengijinkan kami masuk. Penjaga memasang borgol di pergelangan kakiku dan menutupi kepalaku dengan penutup kepala lain. Dia lalu menarik bagian depannya sehingga aku turut maju menembus gorden.

Udara dingin menyembur dari lubang udara, dan musik terdengar keras dari arah lain. Koridor ini tentunya sempit sekali karena tubuhku kerap membentur tembok di sebelah kanan dan kiri. Aku merasa pusing dan lelah. Akhirnya kami berhenti lagi. Penjaga itu membuka pintu dan mendorong aku masuk. Dia melepaskan penutup kepala dan pergi, sambil mengunci pintu yang berat di belakangnya.

Aku melihat sekeliling, mengamati keadaan sekitar. Sel ini berukuran 6 kaki persegi (sekitar 2 meter persegi) – cukup untuk sebuah matras kecil dan dua buah selimut. Orang yang dulu tinggal di sini telah menggulung selimut menjadi bantal. Aku duduk di atas matras; rasanya lengket dan baunya seperti penutup kepala. Aku tutup hidungku dengan lengan bajuku, tapi lengan bajuku tercemar muntahanku. Sebuah lampu redup tergantung di atap langit, tapi tak ada tombol untuk mematikan atau menyalakannya. Celah kecil di pintu adalah satu²nya jendela di ruangan itu. Udara terasa sesak, lantai basah, dan tembok ditutupi lumut. Serangga merayap di mana². Semuanya terasa busuk, kotor, dan jelek.

Aku duduk di tempat itu untuk waktu yang lama, tidak tahu harus berbuat apa. Aku ingin buang air dan lalu berdiri menggunakan toilet karatan di sudut ruangan. Aku tekan handel untuk menyiram dan aku langsung menyesal. Kotoran bukannya masuk lubang, tapi air malahan meluap mengotori lantai, membuat matras basah.

Aku duduk di satu²nya sudut yang masih kering di ruangan itu dan mencoba berpikir. Benar² tempat yang menjijikan untuk bermalam! Mataku berdenyut-denyut dan terasa panas. Sukar bernapas di ruangan itu. Rasa panas sel sungguh tak tertahankan, dan bajuku yang penuh keringat melekat erat pada tubuhku.

Aku tidak makan dan minum sejak minum susu kambing di rumah ibu. Sekarang bau muntah susu itu melumuri semua baju dan celanaku. Terdapat sebuah pipa menjulur di dinding. Aku putar handelnya dengan harapan air akan keluar. Tapi yang keluar adalah cairan kental berwarna coklat.

Jam berapa sekarang? Apakah mereka akan meninggalkanku di sini sepanjang malam?
Kepalaku berdenyut-denyut. Aku tahu aku tidak akan bisa tidur. Yang bisa kulakukan hanyalah berdoa pada Allâh saja.
Lindungi aku, begitu pintaku. Selamatkan aku dan segera bawa aku kembali kepada keluargaku.
Melalui pintu baja tebal, aku bisa mendengar suara musik yang keras dari jarak jauh – lagu yang sama diulang-ulang terus-menerus. Aku mendengar lirik lagu untuk membantuku menghabiskan waktu.

‘They sentenced me to twenty years of boredom
(mereka menghukum aku 20 tahun penuh kebosanan)
For trying to change the system from within
(Karena mencoba mengubah sistem dari dalam)
I’m coming now, I’m coming to reward them
(Sekarang aku datang, aku datang untuk membalas mereka)
First we take Manhattan, then we take Berlin
(Pertama-tama kita ambil Manhattan, lalu Berlin)
[4]
[4] Leonar Cohen, “First We Take Manhattan” copyright @ 1988 Leonar Cohen, Stranger Music, Inc..

Dari jauh kudengar banyak pintu dibuka dan ditutup. Perlahan suara mendekat. Lalu seseorang membuka pintu selku, sebuah nampan biru didorong masuk, dan lalu pintu ditutup keras lagi. Aku melihat nampan yang sekarang berada di atas isi jamban yang tadi meluap. Di atas nampan itu terdapat sebutir telur rebus, sepotong roti, sesendok yougurt yang berbau masam, tiga butir zaitun, dan air dalam cangkir plastik. Ketika aku hendak meminum air itu, aku mencium baunya yang aneh. Aku minum sedikit dan lalu menggunakan air untuk mencuci tanganku. Aku makan semua yang ada di nampan, tapi aku masih lapar. Apakah ini sarapan pagi? Jam berapakah sekarang? Mungkin sore hari.

Ketika aku sedang berbaring memikirkan berapa lama aku berada di situ, pintu sellku dibuka. Seseorang – atau sesosok makhluk – berdiri di situ. Apakah dia itu manusia? Tubuhnya pendek, tampak setua 75 tahun, dan kelihatan seperti kera besar yang bungkuk. Dia berteriak padaku dengan aksen Rusia, mengutuk aku, mengutuk Allah, dan meludahi wajahku. Aku tidak bisa membayangkan hal yang lebih jelek lagi.

Rupanya makhluk ini adalah penjaga penjara karena dia lalu menyodorkan penutup kepala lagi dan memerintahkan aku untuk mengenakannya. Lalu dia menarik bagian muka penutup kepala dan menyeretku dengan kasar di sepanjang koridor. Dia membuka pintu sebuah kantor, mendorong aku masuk, dan memaksa aku duduk di sebuah kursi kecil yang rendah; kursi ini seperti kursi anak² di kelas SD. Kursi itu disekrup di lantai.

Dia memborgol tanganku, satu lengan diantara kaki² kursi dan lengan satunya lagi di bagian luar kursi. Lalu dia memborgol kakiku juga. Kursi kecil itu miring sehingga memaksaku membungkuk ke muka. Tidak seperti sellku, ruangan ini sangat dingin. Aku kira AC-nya dipasang di suhu beku.

Aku duduk di sana berjam-jam, gemeteran karena dingin yang menusuk, duduk miring menyakitkan, dan tak mampu bergerak ke posisi yang lebih nyaman. Aku mencoba bernapas sedikit melalui penutup kepala berbau busuk ini. Aku merasa lapar, lelah, dan mataku basih bengkak dengan darah.

Pintu dibuka dan seseorang menarik lepas penutup kepalaku. Aku heran melihat orang itu ternyata orang sipil dan bukan prajurit atau penjaga. Dia duduk di sisi meja. Kepalaku terletak sama tinggi dengan dengkulnya.
“Siapa namamu?” tanyanya.
“Aku Mosab Hassan Yousef.”
“Apakah kau tahu sedang berada di mana?”
“Tidak.”

Dia menggelengkan kepala dan berkata, “Sebagian orang menyebut tempat ini sebagai Malam Kelam. Yang lain menyebutnya sebagai Rumah Jagal. Kau dalam masalah besar, Mosab.”

Aku mencoba untuk tidak menunjukkan emosi apapun, mataku fokus memandang noda di dinding yang terletak di belakang kepala orang itu.
“Bagaimana keadaan ayahmu di penjara PA?” dia bertanya. “Apakah dia lebih senang berada di sana daripada di penjara Israel?”
Aku mengubah posisi dudukku sedikit, sambil tetap membisu.
“Apakah kau tahu bahwa inilah tempat yang sama ketika ayahmu pertama kali ditangkap?”

Jadi ternyata aku berada di: Pusat Tahanan Maskobiyeh di Yerusalem. Ayahku telah memberitahu aku tentang tempat ini. Dulu, tempat ini digunakan sebagai gereja Rusia Ortodox, dan sudah berdiri selama 6000 tahun. Pemerintah Israel merubahnya menjadi fasilitas keamanan ketat yang mencakup pusat² Kepolisian, kantor², dan pusat interogasi Shin Bet.

Gambar: Pusat Tahanan Maskobiyeh di Yerusalem. Gedung ini adalah bekas gereja Rusia Orthodox yang diubah Pemerintah Israel jadi Pusat Keamanan dan Penjara.  Daerah ini merupakan salah satu daerah tertua di Yerusalem.

Di ruang bawah tanah yang dalam adalah penjara yang gelap, kotor, hitam, mirip dengan ruang tahanan di jaman abad pertengahan yang sering kau lihat di film. Moskabiyeh memiliki reputasi yang sangat jelek.

Sekarang aku harus mengalami hukuman yang sama yang dialami ayahku. Ini adalah orang² yang sama yang telah memukuli dan menyiksa dia bertahun-tahun yang lalu. Mereka menghabiskan banyak waktu berurusan dengannya, dan mereka sangat kenal ayahkku. Mereka juga gagal mendapatkan keterangan apapun dari ayah. Dia tetap tegar dan bahkan menjadi lebih tegar lagi.
“Katakan padaku mengapa kau berada di sini.”
“Aku tak tahu.”
Perkiraanku, tentu saja ini karena aku membeli senjata² rusak yang tidak bisa dipakai. Punggungku terasa membara. Interogator mengangkat daguku.

“Kau mau jadi setegar ayahmu? Kau sungguh tak tahu apa yang menunggumu di luar ruangan ini. Katakan padaku tentang Hamas! Rahasia apa yang kau ketahui? Katakan padaku tentang gerakan pelajar Islam! Aku ingin tahu segalanya!”

Apakah dia benar² mengira aku ini begitu berbahaya? Aku sungguh tak percaya. Tapi, semakin lama kupikir, aku lalu menyadari bahwa memang begitulah yang dirasakannya. Dari sudut pandangnya, fakta bahwa aku ini adalah putra Syeikh Hassan Yousef yang membeli senapan² otomatis tentunya sudah cukup untuk merasa curiga padaku. Orang² memenjarakan dan menyiksa ayahku dan sekarang akan menyiksaku. Apakah mereka benar² percaya bahwa semua ini akan membuatku menyerah? Sudut pandangku sangatlah berbeda. Masyarakat kami sedang berjuang bagi kemerdekaan, bagi tanah kami.

Ketika aku tak menjawab pertanyaannya, orang itu menghantam meja dengan kepalan tangannya. Lagi, dia mengangkat daguku.
“Aku akan pulang istirahat bersama keluargaku. Silakan bersenang-senang di sini.”
Aku duduk di kursi itu selama berjam-jam, masih membungkuk ke depan dengan posisi tak nyaman. Akhirnya seorang penjaga masuk, membuka borgol tangan dan kaki, memasang kembali penutup kepala, dan menyeretku berjalan melewati koridor lagi. Suara Leonard Cohen terdengar semakin keras.

Kami berhenti, dan penjaga membentakku untuk duduk. Sekarang suara musik sungguh memekakkan telinga. Sekali lagi, tangan dan kakiku diborgol di kursi pendek yang bergetar akibat hentakan musik “First we take Manhattan, then we take Berlin!

Otot²ku terasa kejang karena udara dingin dan posisi duduk yang tak nyaman. Juga sukar bernapas dalam penutup kepala. Akan tetapi sekarang aku tahu bahwa aku tidaklah sendirian. Meskipun suara Leonar Cohen sangat keras, aku bisa mendengar rintihan orang² yang menderita kesakitan.
“Ada orang di sini?” aku berteriak melalui kerudung kepalaku yang berminyak.
“Siapa kau?” terdengar balasan teriakan suara berjarak dekat.
“Aku Mosab.”
“Berapa lama kau berada di sini?”
“Dua hari.”

Dia tak berkata apapun selama dua menit.
“Aku telah duduk di kursi ini selama tiga minggu,” akhirnya dia berkata.

“Mereka membiarkan aku tidur selama empat jam setiap minggu.” Aku terkejut. Ini tentunya bukan kabar yang ingin kudengar. Orang lain mengatakan dia ditangkap di saat yang sama dengan penangkapanku. Kuperkirakan ada dua puluh orang di ruangan itu.

Percakapan kami terhenti tiba² tatkala seseorang memukul bagian belakan kepalaku keras². Rasa sakit menyengat seluruh kepalaku, memaksaku mataku bekerjap air mata kesakitan di balik kerudung kepala.

“Jangan bicara!” bentak penjaga.  Setiap menit terasa bagaikan sejam, tapi aku tidak tahu lagi bagaimana rasanya sejam itu. Duniaku terasa berhenti. Di luar, aku tahu orang² bangun dan pergi bekerja, dan kembali ke rumah bertemu keluarga mereka. Teman² kelasku sedang belajar untuk menghadapi ujian akhir. Ibuku sedang masak, mencuci, memeluk, dan menciumi adik² laki dan perempuanku. Tapi di ruangan ini, semuanya duduk. Tiada seorang pun yang bergerak.

First we take Manhattan, then we take Berlin. First we take Manhattan, then we take Berlin. First we take Manhattan, then we take Berlin. First we take Manhattan, then we take Berlin.

Beberapa orang di sekitarku melolong menangis, tapi aku bertekad untuk tidak menangis. Aku yakin ayahku tidak pernah menangis. Dia kuat. Dia tidak menyerah.
Shoter! Shoter! (Penjaga! Penjaga!), salah seorang dari kami berteriak. Tiada yang menjawabnya karena musik begitu keras. Akhirnya, sang penjaga datang.
“Mau apa kamu?”
“Aku ingin buang air. Aku harus buang air!”
“Tidak boleh. Sekarang bukan waktu buang air.”
Dan dia lalu pergi.
“Shoter! Shoter!” orang ini menjerit.
Setengah jam kemudian, penjaga kembali. Orang yang berteriak berlaku liar. Sambil memaki orang itu, sang penjaga melepaskan borgol dan menyeretnya keluar. Beberapa menit kemudian, dia membawa orang itu kembali, memborgolnya lagi di kursi kecil, dan lalu pergi.
“Shoter! Shoter!” teriak yang lainnya.
Aku lelah dan merasa mual. Leherku sangat pegal. Aku tidak pernah menyadari sebelumnya betapa berat kepalaku. Aku mencoba menyenderkan kepalaku ke tembok di sebelahku. Tapi begitu aku hampir tertidur, penjaga datang dan memukul kepalaku untuk membangunkanku. Tampaknya satu²nya pekerjaannya adalah membuat kami tetap bangun dan diam. Aku merasa bagaikan dikubur hidup² dan sedang disiksa oleh malaikat maut Munkar dan Nakir setelah memberi jawaban pertanyaan yang salah.

Tentunya sudah pagi hari ketika aku mendengar penjaga berjalan bolak-balik. Dia melepaskan borgol kaki dan tangan tahanan dan menggiring orang itu keluar. Setelah beberapa menit, dia membawa orang itu kembali, memborgolnya lagi di kursi kecil, dan pergi ke orang berikutnya untuk melakukan hal yang sama. Akhirnya, dia tiba di giliranku.

Setelah membuka borgolku, dia menarik penutup kepalaku dan membawaku melalui koridor. Dia membuka pintu sel dan menyuruhku masuk. Ketika dia membuka kerudung kepala, aku bisa melihat bahwa dia ternyata orang tua bungkuk yang mirip kera besar yang dulu memberiku makan pagi. Dia mendorong nampan biru bersisi telor rebus, roti, yogurt, dan buah zaitun padaku dengan kakinya. Air comberan setinggi setengah inci menutupi lantai dan tersiram memenuhi nampan. Aku lebih baik mati kelaparan daripada makan makanan itu.
“Kau punya waktu dua menit untuk makan dan menggunakan jamban,” katanya padaku.

Yang kuinginkan hanyalah merenggangkan tubuh, berbaring, dan tidur, barang dua menit saja. Tapi aku hanya berdiri saja, dan waktu berlalu dengan cepatnya.
“Keluar! Keluar!”
Sebelum aku sempat berbuat apapun, penjaga telah menarik penutup kepalaku lagi, menggiring aku kembali ke ruangan di mana aku diborgol di kursi kecil lagi.
First we take Manhattan, then we take Berlin!

Bab 11 – Tawaran
1996

Sepanjang hari, pintu terbuka dan tertutup, sewaktu para tahanan ditarik penutup kepalanya untuk menghadapi pemeriksa yang satu ke pemeriksa yang lain. Dilepas borgol, diborgol lagi, ditanyai, dipukuli. Kadangkala pemeriksa mengguncang keras tahanan. Biasanya hanya dibutuhkan sepuluh kali guncangan sebelum akhirnya tahanan pingsan. Dilepas borgol, diborgol lagi, ditanyai. Pintu² dibuka dan pintu² ditutup.

Setiap pagi kami dibawa keluar untuk makan makanan di atas nampan biru, dan beberapa jam kemudian, kami diberi makan malam di atas nampan oranye. Jam demi jam. Hari demi hari. Makan pagi di atas nampan biru. Makan malam di atas nampan oranye. Aku dengan cepat belajar untuk menunggu waktu makan. Ini bukannya karena aku ingin makan, tapi karena aku ingin mendapat kesempatan untuk berdiri tegak.

Di malam hari setelah kami semua diberi makan, pintu² berhenti dibuka dan ditutup. Para pemeriksa pulang. Kegiatan hari itu berakhir sudah. Dan mulailah malam panjang tak berkesudahan. Orang² menangis, melolong, dan berteriak-teriak. Mereka tidak lagi terdengar sebagai manusia normal. Sebagian malah tidak jelas lagi apa yang mereka ucapkan. Para Muslim mulai melafalkan ayat² Qur’an, memohon kekuatan pada Allâh. Aku berdoa pula, tapi aku tidak mendapat tambahan kekuatan. Aku berpikir tentang Ibrahim yang tolol dan senjata² sial dan tingkahnya yang ceroboh karena menelpon ponsel ayahku.

Aku berpikir tentang ayahku. Hatiku sakit ketika menyadari semua hal yang harus ditanggungnya saat dipenjara. Tapi aku tahu sifat ayahku dengan baik. Bahkan ketika disiksa dan dihina sekalipun, dia tetap menerima nasibnya dengan tabah dan pasrah. Dia bahkan mungkin berteman dengan penjaga² yang diperintahkan untuk memukulinya. Dia juga mungkin bertanya secara tulus pada mereka tentang keadaan keluarganya, latar belakangnya, dan kesukaan mereka.

Ayahku adalah contoh jelas kesederhanaan, kasih, dan pengabdian; meskipun tingginya hanya 170 cm., dia berdiri sama tinggi dengan siapapun yang pernah kukenal. Aku sangat ingin menjadi seperti ayahku, tapi aku tahu perjalananku masih sangat panjang.

Di suatu sore, kegiatan rutinku tiba² terhenti. Seorang penjaga datang dan melepaskan diriku dari kursi kecilku. Aku tahu saat itu belum waktu makan malam, tapi aku tak bertanya apapun. Aku merasa senang bisa pergi ke mana pun, bahkan ke neraka sekalipun, jika ini berarti aku bisa bangkit berdiri dari kursi itu. Aku dibawa ke sebuah kantor kecil di mana aku diborgol lagi, tapi kali ini pada kursi biasa. Seorang petugas Shin Bet masuk ruangan dan memperhatikan diriku dari atas sampai bawah. Meskipun rasa sakit tidak separah sebelumnya, tapi aku tahu mukaku penuh bekas luka dari pukulan popor prajurit.

“Bagaimana keadaanmu?” katanya. “Apa yang terjadi pada matamu?”
“Mereka memukulku.”
“Siapa?”
“Prajurit² yang membawaku ke sini.”
“Itu perbuatan yang dilarang. Itu melanggar hukum. Aku akan periksa untuk mengetahui mengapa ini terjadi.”

Dia tampak yakin pada diri sendiri dan bicara dengan lembut dan penuh hormat padaku. Aku berpikir apakah dia sedang melakukan siasat agar aku bicara padanya.
“Kau akan menghadapi ujian tak lama lagi. Mengapa kau berada di sini?”
“Aku tak tahu.”
“Tentu saja kau tahu. Kau tidak bodoh, dan kami juga tidak bodoh. Namaku adalah Loai, kapten Shin Bet di daerahmu. Aku tahu tentang semua keluargamu dan lingkungan tetanggamu. Dan aku tahu segalanya akan dirimu.”

Dan dia rupanya benar. Ternyata dia bertanggung jawab atas setiap orang di lingkungan perumahan kami. Dia tahu siapa bekerja di mana, siapa yang masih bersekolah, apa yang mereka pelajari, istri mana yang baru saja punya anak, dan tentunya juga tahu berapa berat bayi yang baru lahir. Pokoknya semuanya.
“Kau punya pilihan. Aku datang jauh² hari ini untuk duduk dan bicara denganmu. Aku tahu penyidik yang lain tidak ramah padamu.”
Aku melihat wajahnya dengan seksama, mencoba mengetahui apa maksudnya. Orang ini berkulit terang, berambut pirang, dan dia bicara dengan ketenangan yang belum pernah kudengar sebelumnya. Expresi wajahnya ramah, bahkan tampak peduli akan diriku. Aku berpikir apakah ini bagian dari siasat Israel: semenit sebelumnya memukuli tahanan, dan lalu di menit berikutnya mencoba berbaik hati padanya.

“Apa yang ingin kau ketahui?” tanyaku.
“Dengar, kau tahu mengapa kami membawa kamu kemari. Kau harus menjelaskan segalanya, apapun yang kau ketahui.”
“Aku tidak tahu kamu ini ngomong apa.”
“Baiklah, aku akan mempermudah penjelasan bagimu.”

Di sebuah papan tulis putih di belakang meja dia menulis tiga huruf: Hamas, senjata², dan organisasi.
“Silakan jelaskan padaku tentang Hamas. Apa yang kau ketahui tentang Hamas? Bagaimana posisimu dalam Hamas?”
“Aku tak tahu.”
“Apakah kau tahu tentang senjata² yang mereka miliki, datang dari mana, bagaimana mereka mendapatkannya?”
“Tidak tuh.”
“Apakah kau tahu tentang gerakan pemuda Islam?”
“Tidak.”
“Baiklah. Terserah padamu. Aku tak tahu harus bilang apa padamu, tapi kau jelas memilih jalan yang salah… Dapatkah aku membawa makanan bagimu?”
“Tidak. Aku tidak ingin apapun.”

Loai meninggalkan ruangan dan kembali beberapa menit kemudian dengan membawa sepiring nasi ayam dan semangkuk sup. Baunya enak sekali, membuat perutku berbunyi nyaring. Sudah jelas itu adalah makanan yang disediakan bagi para pemeriksa.
“Silakan, Mosab, makanlah. Tak perlu jadi bersikap tegar. Makanlah dan rilekslah sedikit. Kau tahu bahwa aku mengenal ayahmu dalam waktu yang lama. Ayahmu adalah orang yang baik. Dia bukanlah orang yang fanatik. Kami tak tahu mengapa kamu jadi bermasalah seperti ini. Kami tidak bisa mengijinkan siapapun menyakiti warga Israel. Kami telah cukup menderita sepanjang hidup kami, dan kami tidak akan bersikap lunak terhadap orang yang mencoba menyakiti warga kami.”
“Aku tidak pernah menyakiti orang Israel manapun. Malah kamu yang menyakiti kami. Kamu menangkap ayahku.”
“Ya. Dia adalah orang yang baik, tapi dia pun menentang Israel. Dia membujuk orang² untuk berperang melawan Israel. Itulah sebabnya kami memenjarakan dia.”

Aku dapat melihat bahwa Loai benar² yakin bahwa aku ini berbahaya. Aku tahu dari pembicaraan dengan orang lain yang telah ditawan di penjara² Israel bahwa biasanya orang² Palestina tidak selalu diperlakukan sekeras perlakuan mereka terhadapku. Mereka pun tidak diinterogasi selama yang dialami diriku.

Yang aku tak tahu adalah bahwa saat itu Hassan Salameh ditangkap di saat yang bersamaan dengan penangkapanku.

Salameh melakukan berbagai serangan sebagai balas dendam atas pembunuhan terhadap gurunya, si pembuat bom Yahya Ayyash. Ketika Shin Bet mendengar aku bicara dengan Ibrahim melalui ponsel ayahku tentang usaha mencari senjata, mereka mengira aku tidak bekerja seorang diri. Malah mereka lalu yakin aku direkrut Al-Qassam.
Akhirnya Loai berkata, “Inilah saat terakhir aku mengajukan tawaran bagimu, setelah itu aku akan pergi. Aku masih banyak kerjaan. Kau dan aku bisa memecahkan masalah saat ini juga. Kita bisa membuat persetujuan. Kau tidak perlu lagi mengalami interogasi lebih lanjut. Kau ini hanya anak muda, dan kau butuh pertolongan.”

Ya, aku memang ingin jadi orang yang berbahaya, dan aku punya akal yang berbahaya. Tapi sudah jelas bahwa aku tidak bisa menjadi radikal. Aku merasa lelah duduk di kursi kecil dan ditutup dengan kerudung yang bau. Agen rahasia Israel ini menganggap aku lebih penting daripada keadaanku yang sebenarnya. Maka aku pun menceritakan semua kejadian mencari senjata, tanpa menyampaikan niatku sebenarnya adalah membunuh orang² Israel. Aku berkata padanya bahwa aku membeli senjata² untuk menolong temanku Ibrahim melindungi keluarganya.

“Sekarang kalian memiliki senjata²?”
“Ya.”
“Di mana senjata² itu sekarang?”
Aku berharap senjata² itu ada di rumahku karena aku akan menyerahkannya dengan segala senang hati pada pihak Israel. Tapi sekarang aku harus melibatkan saudara sepupuku.
“Baiklah. Begini masalahnya. Seseorang yang tak ada hubungannya dengan hal ini menyimpan senjata² itu.”
“Siapa dia?”
“Sepupuku Yousef menyimpan senjata² itu. Dia menikah dengan wanita Amerika, dan sekarang baru punya seorang bayi.”
Aku berharap mereka akan membiarkan keluarga itu, dan hanya mengambil senjata² saja, tapi kenyataan lebih rumit daripada harapanku.
Dua hari kemudian, aku mendengar suara² di sebelah dinding selku. Aku merunduk mendekati pipa berkarat yang menghubungkan selku dengan sel sebelah.

“Halo,” panggilku. “Adakah orang di situ?”
Diam saja.
Dan lalu …
“Mosab?”
Apa?!! Aku tidak percaya pada kupingku sendiri. Ternyata itu adalah sepupuku!
“Yousef? Apakah itu kamu?”

Aku sangat senang mendengar suaranya. Hatiku berdebar-debar. Orang itu ternyata Yousef! Tapi dia lalu mulai mencaci-maki diriku.
“Mengapa kau melakukan hal itu? Aku kan baru punya bayi…”

Aku lalu mulai menangis. Aku begitu merindukan untuk bicara dengan manusia lain sewaktu dipenjara. Sekarang saudaraku sendiri duduk di balik tembok, dan dia memaki-maki diriku. Dan tiba² aku sadar: orang² Israel sedang mendengarkan kami; mereka sengaja menempatkan Yousef di sebelah selku agar mereka bisa mendengarkan percakapan kami dan mengetahui apakah aku mengatakan keterangan yang sebenarnya. Tak jadi masalah bagiku. Aku juga telah mengatakan pada Yousef dulu bahwa aku ingin punya senjata untuk melindungi keluargaku, karena itu aku tak khawatir.

Begitu Shin Bet mengetahui bahwa kisahku benar, mereka memindahkanku ke sel yang lain. Lagi² aku sendirian saja dalam selku. Saat itu aku merenungkan bagaimana aku telah membuat kacau kehidupan saudara sepupuku, bagaimana aku telah menyakiti keluargaku, dan bahwa aku telah menyia-nyiakan duabelas tahun bersekolah – dan semua ini gara² aku percaya dengan Ibrahim sialan itu!

Aku tinggal dalam sel itu selama beberapa minggu tanpa kontak dengan manusia lain. Penjaga memasukkan makanan dari lubang di bawah pintu tanpa pernah mengatakan apapun padaku. Aku bahkan mulai rindu akan Leonard Cohen. Aku tak punya bahan bacaan, dan satu²nya cara menghabiskan waktu adalah menunggu makanan yang disajikan di atas nampan berwarna. Tiada kegiatan apapun selalin berpikir dan berdoa.

Akhirnya suatu hari aku dibawa lagi ke sebuah kantor. Di situ Loai telah menunggu untuk berbicara denganku.
“Jika kau bersedia bekerja sama dengan kami, Mosab, maka aku akan melakukan segala yang bisa kulakukan agar kau tidak usah lagi dipenjara.”
Sesaat muncul harapan. Mungkin aku bisa mengakalinya agar dia mengira aku bersedia bekerja sama dengannya dan setelah itu dia akan mengeluarkan aku dari penjara.

Kami berbicara sedikit mengenai berbagai hal yang umum. Lalu dia berkata, “Bagaimana pendapatmu jika aku menawarkanmu untuk bekerja bagi kami? Para pemimpin Israel juga duduk bersama dengan para pemimpin Palestina. Mereka telah berkelahi dalam kurun waktu yang lama, dan di akhir hari mereka berjabatan tangan dan makan malam bersama.”
“Islam melarangku untuk bekerja bagimu.”
“Di satu saat, Mosab, bahkan ayahmu sendiri juga akan datang, dan duduk dan berbicara dengan kami dan kami akan berbicara dengannya. Marilah bekerja sama dan membawa perdamaian bagi masyarakat.”
“Apakah begini caramu membawa perdamaian? Kami membawa perdamaian dengan menghentikan pendudukan.”

“Tidak, kami membawa perdamaian melalui orang² yang berani melakukan perubahan.”
“Aku tidak setuju. Hal itu tidak ada gunanya.”

“Apakah kau takut dibunuh sebagai orang yang bekerja sama bagi Israel?”
“Bukan begitu. Setelah semua penderitaan yang kami alami, aku tidak akan pernah bisa duduk dan bicara denganmu sebagai seorang teman, apalagi bekerja bagimu. Aku tidak bisa melakukan itu. Hal itu bertentangan dengan segala yang kupercaya.”

Aku masih benci segalanya di sekitarku. Pendudukan. PA. Aku telah jadi radikal karena aku ingin menghancurkan sesuatu. Tapi dorongan melakukan itulah yang membuatku mengalami segala macam masalah. Saat ini aku berada di penjara Israel, dan sekarang pria ini memintaku untuk bekerja baginya. Jika aku berkata ya, aku tahu resiko bahaya yang akan kutanggung – dalam kehidupan saat ini dan di akherat.
“Oke. Aku perlu berpikir sejenak tentang tawaranmu,” kudengar diriku berkata.

Aku kembali ke sel penjaraku dan berpikir tentang tawaran Loai. Aku telah mendengar kisah² tentang orang² yang berpura-pura setuju untuk bekerja bagi Israel tapi sebenarnya mereka adalah agen dobel (bekerja bagi Palestina dan juga bagi Israel). Mereka membunuh perekrut Israelnya, mencuri senjatanya, dan menggunakan segala kesempatan untuk menyakiti orang² Israel terlebih hebat lagi. Jika aku berkata ya pada Loai, kupikir Loai tentunya akan membebaskanku. Dia bahkan mungkin memberiku kesempatan untuk punya senjata api yang berfungsi baik kali ini, dan dengan senjata ini aku akan membunuhnya.

Api kebencian berkobar-kobar dalam tubuhku. Aku ingin balas dendam pada prajurit yang memukuliku habis²an. Aku ingin balas dendam pada Israel. Aku tidak peduli berapa harganya, bahkan jikalau pun nyawaku melayang. Tapi bekerja bagi Shin Bet mengandung lebih banyak resiko daripada sekedar membeli persenjataan. Mungkin lebih baik aku segera melupakannya, menyelesaikan waktu hukuman di penjara, pulang dan belajar, dekat dengan ibu, dan mengurus adik²ku.

Keesokan harinya, penjaga membawaku kembali ke kantor itu. Beberapa menit kemudian Loai masuk.
“Bagaimana keadaanmu hari ini? Tampaknya kau kelihatan lebih segar. Apakah kau mau minum sesuatu?”
Kami duduk dan minum kopi bersama seperti dua kawan lama.
“Bagaimana jika aku terbunuh?” tanyaku, meskipun sebenarnya dalam hati aku tak peduli begitu peduli jika terbunuh. Aku hanya ingin dia mengira aku berpikir begitu sehingga dia mengira aku jujur.

“Kuberitahu ya, Mosab,” kata Loai. “Aku telah bekerja bagi Shin Bet selama 18 tahun, dan selama itu, hanya satu orang saja yang ketahuan. Semua orang² lain yang terbunuh tak ada hubungannya dengan kami. Masyaratkat jadi curiga pada orang² itu karena mereka tak punya keluarga dan melakukan hal² yang mencurigakan, maka masyarakat lalu membunuh mereka. Tiada seorang pun yang akan tahu tentang dirimu. Kami akan merahasiakanmu sehingga kau tidak akan terungkap. Kami akan melindungimu dan mengurusmu.”

Aku mengamatinya untuk waktu yang lama.
“Baiklah,” aku berkata. “Aku bersedia melakukannya. Sekarang apakah kau bisa membebaskanku?”
“Wah, bagus,”
kata Loai dengan senyum lebar. “Sayangny, kami tidak bisa membebaskanmu sekarang. Karena kau dan saudara sepupumu ditangkap setelah Salameh ditangkap, kisahnya tercantum di halaman depan Al-Quds (koran utama Palestina). Setiap orang mengira kau ditangkap karena terlibat dengan pembuat bom itu. Jika kami melepaskanmu terlalu cepat, orang² akan curiga, dan kau bisa ketahuan sebagai orang yang bekerja sama dengan kami. Cara terbaik melindungimu adalah mengirimmu ke penjara – tidak untuk waktu yang lama, jangan khawatir. Kami akan memeriksa apakah ada pertukaran tahanan atau perjanjian pembebasan yang bisa kami gunakan untuk mengeluarkanmu dari sini. Begitu kau sudah pindah penjara, aku yakin Hamas akan menanganimu, terutama karena kau adalah putra Hassan Yousef. Kita akan bertemu lagi setelah kau bebas.”

Mereka membawaku kembali ke dalam sel, di mana aku harus tinggal di sana selama dua minggu lagi. Aku tidak sabar untuk meninggalkan Maskobiyeh. Akhirnya di suatu pagi, penjaga mengatakan padaku sudah saatnya pergi. Dia memborgolku, tapi kali ini tanganku terletak di depanku. Tidak usah lagi pakai penutup kepala bau. Dan untuk pertamakalinya selama 45 hari, aku melihat matahari dan menghirup udara segar. Aku menarik nafas dalam², mengisi paru²ku dengan udara segar dan menikmati hembusan angin di wajahku. Aku duduk di kursi belakang sebuah mobil van Ford. Saat itu adalah musim panas dan aku diborgol pada bangku metal yang jadi panas pula, tapi aku tak peduli. Aku merasa bebas!

Dua jam kemudian, kami tiba di penjara Megiddo, tapi aku lalu harus tetap duduk dalam van selama satu jam lagi, menunggu ijin untuk masuk. Saat akhirnya kami masuk, dokter penjara memeriksaku dan mengumumkan bahwa aku sehat. Aku lalu mandi dengan sabun dan diberi baju bersih dan peralatan mandi lainnya. Di waktu makan siang, aku makan makanan panas untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu.

Aku ditanyai dengan organisasi apa aku terlibat.

“Hamas,” jawabku. Di penjara² Israel, setiap organisasi diperbolehkan mengawasi anggota² mereka sendiri. Tujuannya adalah untuk menghentikan masalah sosial atau malah menciptakan konflik lebih besar dalam organisasi tersebut. Jika para tawanan menggunakan kekuatan mereka untuk berkelahi satu sama lain, maka mereka terlalu lemah untuk melawan Israel.

Sewaktu masuk ke penjara baru, semua tawanan wajib mengumumkan asal organisasi. Kami harus memilih berasal dari organisasi Hamas, Fatah, Jihad Islam, Barisan Depan Populer bagi Pembebasan Palestina (Popular Front for the Liberation of Palestine = PFLP), Gerakan Demokrasi bagi Pembebasan Palestina (Democratic Front for the Liberation of Palestine = DFLP), atau organisasi lain. Kita tidak bisa tidak berhubungan dengan apapun. Tawanan yang tidak berhubungan dengan apapun harus memilih untuk bergabung dengan organisasi apa. Di Megiddo, Hamas berkuasa total dalam penjara. Hamas adalah organisasi terkuat dan terbesar di sana. Hamas menetapkan aturan, dan semua tunduk padanya.

Ketika aku masuk, tawanan² yang lain menyambutku dengan hangat, menepuk pundakku dan menyelamati diriku karena bergabung bersama mereka. Di petang hari, kami duduk bersama dan membagi kisah kami. Setelah beberapa saat, aku mulai merasa tidak nyaman. Salah satu dari orang² ini tampaknya adalah pemimpin dari para tawanan, dan dia banyak tanya padaku – terlalu banyak pertanyaan. Meskipun dia adalah emir – julukan bagi ketua Hamas di penjara – aku tidak percaya padanya. Aku sudah banyak mendengar cerita tentang “burung,” istilah bagi mata² musuh dalam penjara.

Jika dia adalah mata² Shin Bet, pikirku, mengapa dia tidak percaya padaku? Bukankah mereka sudah menganggap aku bekerja bagi mereka? Tapi aku pura² tidak terganggu dan tidak bicara apapun selain yang telah kusampaikan pada para penanya di penjara yang dulu.
Aku berada di penjara Megiddo selama dua minggu, sholat dan puasa dan membaca Qur’an. Ketika tawanan² baru datang, aku memperingatkan mereka tentang si emir.
“Kau harus berhati-hati,” kataku, “Orang itu dan teman²nya tampaknya adalah burung².” Para tawanan baru itu dengan cepat memberitahu emir tentang kecurigaanku, dan keesokan harinya aku dikembalikan ke Maskobiyeh. Di pagi harinya, aku dibawa menghadap ke kantor.
“Bagaimana perjalananmu ke Megiddo?” tanya Loai.
“Menyenangkan,” kataku sarkastik.
“Tahu engga’, tak banyak orang yang bisa melihat burung di saat pertama kali dia melihatnya. Beristirahatlah sekarang. Dan suatu hari nanti kita akan melakukan sesuatu bersama.”
Ya, dan suatu hari nanti akan kutembak kepalamu, begitu pikirku sewaktu aku melihatnya berlalu. Aku merasa bangga bisa berpikiran radikal seperti itu.

Aku kembali dipenjara di situ selama 25 hari, tapi kali ini aku ditempatkan di sebuah sel bersama tiga tawanan lainnya, termasuk saudara sepupuku Yousef. Kami menghabiskan waktu dengan bicara dan berbagi cerita. Salah seorang mengatakan bahwa dia telah membunuh seseorang. Yang lain membual bahwa dia mengirim seorang pembom bunuh diri. Setiap orang punya kisah menarik untuk disampaikan. Kami duduk bersama, sholat, bernyanyi, dan mencoba melakukan kegiatan yang menyenangkan. Apapun kami lakukan untuk melupakan keadaan sekitar. Tempat itu bukanlah tempat yang layak bagi manusia.
Akhirnya, kami semua kecuali saudara sepupuku dikirim ke Megiddo. Tapi kali ini kami tidak akan bersama para burung lagi; kami menuju penjara sebenarnya. Dan sejak itu keadaan tidak akan pernah jadi sama seperti sebelumnya.

Bab 12 – Nomer 823
1996

Mereka dapat mencium bau kami saat kami datang.

Peta letak Megiddo di Israel. 

Rambut dan jenggot kami jadi panjang setelah tiga bulan tanpa gunting atau silet pencukur. Baju kami kotor sekali. Dibutuhkan waktu dua minggu untuk menghilangkan bau bekas penjara Maskobiyeh. Tubuh digosok kuat² sekali pun tidak sanggup menghilangkan bau. Hanya waktu yang akhirnya bisa menghilangkannya.

Kebanyakan tawanan awalnya ditempatkan terlebih dulu di mi’var, yang adalah sebuah unit di mana setiap orang diproses sebelum dipindahkan ke kamp penjara yang lebih besar. Akan tetapi, beberapa tawanan dianggap terlalu berbahaya untuk bergabung dengan tawanan² lainnya dan harus tetap tinggal di mi’var selama bertahun-tahun. Orang² ini, sudah bisa ditebak, semuanya adalah anggota Hamas.

Sebagai putra Syeikh Hassan, aku merasa terbiasa dikenal kemana pun aku pergi. Jika ayah adalah raja, maka aku adalah pangeran – pewaris takhta kekuasaan. Dan begitulah aku diperlakukan.
“Kami dengar kau berada di sini sebulan yang lalu. Pamanmu sekarang berada di sini. Dia akan segera mengunjungimu.”

Makan siang disajikan panas² dan mengenyangkan, meskipun tidak seenak makanan yang kumakan ketika dulu bersama para burung. Meskipun begitu aku tetap merasa senang. Sekalipun masih dipenjara, aku merasa lebih bebas. Ketika aku sedang seorang diri, aku memikirkan tentang Shin Bet. Aku telah berjanji pada mereka untuk bekerja bagi mereka, tapi mereka tak memberitahu aku apapun. Mereka tidak pernah menjelaskan bagaimana mereka akan berkomunikasi denganku atau apa sebenarnya yang dimaksud dengan bekerja sama. Mereka membiarkan aku begitu saja, tanpa ada nasehat apapun tentang bagaimana aku harus berlaku. Aku sangat heran. Aku juga tidak tahu siapa diriku sebenarnya sekarang. Kupikir ada kemungkinan aku telah dijebak.

Tempat mi’var ini dibagi dalam dua asrama yang besar – Ruang Delapan dan Ruang Sembilan – kedua ruang ini penuh dengan ranjang bertingkat. Bangunan asrama² berbentuk huruf L dan setiap bangunan ditempati 20 tawanan. Di sudut L terdapat lapangan olahraga dengan lantai semen yang dicat dan meja ping-pong rusak yang disumbangkan oleh Palang Merah. Kami diperbolehkan berolahraga dua kali sehari.

Tempat tidurku terletak di ujung Ruang Sembilan, dekat kamar mandi. Terdapat dua kamar kecil dan dua tempat mandi. Tempat buang air hanyalah sebuah lubang di lantai di mana kami harus berdiri atau jongkok, lalu setelah selesai buag air, kami siram sendiri kotoran dengan seember air. Ruangan ini panas dan lembab, dan baunya sungguh memuakkan.

Sebenarnya malah seluruh asrama juga begitu keadaannya. Orang² menderita sakit dan batuk²; sebagian malah tidak pernah mandi. Semua tawanan berbau mulut busuk. Asap rokok memenuhi ruangan dan kipas angin lemah tidak berarti apapun. Juga tak ada jendela ventilasi.

Kami dibangunkan setiap jam 4 pagi agar bersiap untuk sholat Fajar. Kami menunggu di antrian dengan handuk kami, masih dalam keadaan mengantuk dan bau. Lalu kami harus melakukan wudu. Untuk memulai membersihkan diri secara Islam sebelum sholat, kami membasuh tangan sampai ke pergelangan tangan, kumur², dan membersihkan lubang hidung dengan air. Kami gosok wajah kami dengan dua tangan dari jidat sampai ke dagu, dan dari kuping satu ke kuping yang lain, membasuh tangan sampai ke sikut, dan membasuh kepala dari jidat sampai ke belakang leher dengan tangan yang basah air. Akhirnya membasahi jari² tangan untuk membersihkan kuping bagian dalam dan luar, seluruh leher, dan membasuh kaki sampai ke pergelangan kaki. Lalu kami ulang semua proses ini dua kali lagi.

Pada jam 4:30 pagi, setelah semua selesai melakukan wudu, seorang imam – yang besar, sangar dengan jenggot lebat – melafalkan adhan. Lalu dia mulai melafalkan Al-Fatihah (Sura pertama Qur’an), dan kami lalu melakukan empat rakat (gerakan berdoa, berdiri, berlutut, dan bersujud).

Kebanyakan tawanan adalah Muslim anggota Hamas atau Jihad Islam, jadi melakukan sholat seperti ini sudah menjadi kegiatan rutin bagi kami. Tapi tawanan² lain yang sekuler dan komunis juga dipaksa bangun di waktu yang sama, meskipun mereka tidak ikut sholat. Dan tentu saja mereka tidak senang akan hal ini.

Seorang tawanan sudah menjalani setengah dari masa hukuman 15 tahun. Dia muak sekali dengan segala rutinitas Islam, dan dia menghabiskan waktu lama sekali untuk bangun subuh. Beberapa tawanan menepuknya, memukulnya, sambil membentak, “Bangun!” Akhirnya mereka menyiramkan air ke kepalanya. Aku kasihan padanya. Semua proses wudhu, sholat, dan pelafalan Qur’an memakan waktu satu jam. Setelah itu orang² kembali tidur. Tiada seorang pun yang bicara. Sunyi senyap.

Aku selalu tidak bisa tidur kembali, dan biasanya aku tidak tertidur setelah jam 7 pagi. Sewaktu akhirnya aku tertidur, seseorang berteriak,Adad! Adad! (Nomer! Nomer!). Ini adalah peringatan bahwa sekarang adalah saatnya melakukan penghitungan kepala.

Kami duduk di tempat tidur kami dengan punggung menghadap prajurit Israel yang menghitung kami, karena dia tak bersenjata. Dia hanya butuh waktu lima menit untuk menghitung kami dan lalu kami boleh tidur lagi.

Jalsa! Jalsa!” jerit emir pada jam 8:30 pagi. Ini adalah saat rapat dua kali sehari yang dilakukan organisasi Hamas dan Jihad Islam. Aku tidak bisa tidur dua jam penuh. Ini sungguh menjengkelkan. Sekali lagi, orang² berbaris ke kamar mandi untuk mempersiapkan diri menghadiri jalsa jam 9 pagi.

Di jalsa Hamas pertama hari itu, kami belajar aturan membaca Qur’an. Aku sudah tahu akan hal ini dari ayahku, tapi kebanyakan tawanan tidak mengetahuinya. Jalsa kedua hari itu membicarakan tentang Hamas, sikap disiplin di dalam penjara, pengumuman tentang tawanan² yang baru datang, dan kabar tentang kejadian di luar penjara. Tak ada rahasia atau rencana apapun, hanya berita umum saja.

Setelah setiap jalsa, kami seringkali menghabiskan waktu dengan nonton TV di bagian ujung ruangan, berhadapan dengan kamar kecil. Suatu pagi, aku sedang menonton kartun dan lalu sebuah iklan ditayangkan.

GEDEBUG! Sebuah papan kayu besar jatuh di hadapan layar TV.
Aku meloncat kaget dan melihat sekeliling.

“Ada apa?” Aku lalu mengetahui bahwa papan itu terikat pada tali besar yang diikatkan pada langit². Di sebelah ruangan tampak seorang tawanan memegang erat² ujung tali itu. Rupanya tugasnya adalah melihat segala yang dianggap haram dan menjatuhkan papan kayu di depan TV agar penonton tidak bisa melihatnya.
“Kenapa kau menjatuhkan papan kayu itu?” tanyaku.
“Untuk melindungi kamu sendiri,” katanya kasar.
“Melindungi? Dari apa?”
“Gadis di iklan itu,”
jelasnya. “Gadis itu kan tak pakai jilbab.”
Aku melihat emir. “Apakah dia serius tentang ini?”
“Ya, tentu saja,”
kata emir.
“Tapi kami semua punya TV di rumah kami, dan kami tidak melakukan hal seperti ini di rumah. Kenapa musti melakukannya di sini?”
“Berada di penjara membuat orang menghadapi godaan² yang tak lumrah,”
jelasnya. “Di sini tidak ada perempuan. Yang mereka tayangkan pada TV bisa menimbulkan masalah dan berakibat buruk bagi mereka. Karena itulah dibuat aturan seperti ini dan beginilah kami menanggulangi masalah itu.”

Tentu saja tidak semua orang setuju akan hal itu. Apa yang boleh atau tak boleh dilihat sangat tergantung dari orang yang memegang tali. Jika orang itu berasal dari Hebron, dia akan menjatuhkan papan untuk menutupi layar TV, bahkan jika yang muncul hanyalah sosok kartun wanita tanpa jilbab. Tapi jika orang itu berasal dari Ramallah, kami bisa nonton lebih bebas. Kami seharusnya bergiliran memegang tali, tapi aku tak mau menyentuh benda tolol itu.

Setelah makan siang, tiba waktunya untuk melakukan sholat Dhuhr, lalu setelah itu saat tenang. Kebanyakan tawanan tidur siang. Biasanya aku membaca buku. Dan di sore hari, kami diperbolehkan pergi ke lapangan olahraga untuk berjalan-jalan sedikit atau mengobrol dengan tawanan lain.
Hidup di penjara sangatlah membosankan bagi para anggota Hamas. Kami tak boleh bermain kartu. Kebebasan membaca buku dibatasi dan hanya boleh membaca Qur’an dan literatur Islam saja. Organisasi non-Hamas tidak menerapkan aturan sekeras itu.
Saudara sepupuku Yousef akhirnya muncul di suatu sore, dan aku sangat senang bertemu dengannya. Penjaga² Israel memperbolehkan kami menyimpan alat cukur, dan kami memangkas habis rambut kepalanya untuk menghilangkan bau penjara Moskabiyeh.

Yousef bukanlah anggota Hamas; dia adalah orang sosialis. Dia tidak percaya pada Allâh (elohim Islam), tapi percaya akan Elohim . Dengan begitu, dia lebih cocok jadi anggota Gerakan Demokrasi bagi Pembebasan Palestina (Democratic Front for the Liberation of Palestine = DFLP), DFLP berjuang untuk berdirinya Negara Palestina, dan ini tidak sama dengan tujuan Hamas yang bercita-cita mendirikan Negara Islam.

Beberapa hari setelah Yousef datang, pamanku yakni Ibrahim Abu Salem, datang menjenguk. Dia berada di penahanan administratif sejak dua tahun lalu, meskipun tiada tuduhan resmi yang diajukan padanya. Karena dia dianggap berbahaya bagi keamanan Israel, dia akan terus berada di sana untuk waktu yang lama. Sebagai Hamas VIP (Very Important Person = Orang Sangat Penting), pamanku Ibrahim diijinkan mengunjungi mi’var dan kamp penjara dan dari satu kamp ke kamp yang lain. Maka dia datang berkunjung ke mi’var untuk menengok keponakannya, agar yakin aku baik² saja, dan membawa beberapa baju bagiku – tanda peduli yang sangat bertentangan dengan sifatnya sebagai orang yang dulu suka memukuliku dan tidak peduli pada keluargaku saat ayah sedang dipenjara.

Dengan tinggi hampir mencapai 180 cm, Ibrahim Abu Salem adalah orang yang tinggi besar. Perutnya yang menonjol keluar – tanda kecintaannya pada makanan – membuat dia tampak gembul dan tidak berbahaya. Tapi aku tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Pamanku Ibrahim adalah orang yang kejam, mementingkan diri sendiri, pendusta, dan munafik – sangat bertolak belakang dengan ayahku.

Tapi di dalam tembok penjara Megiddo, paman Ibrahim diperlakukan bagaikan seorang raja. Semua tawanan menghormatinya, tidak peduli dari organisasi manapun , karena usianya, kemampuannya mengajar, pekerjaannya di universitas², dan prestasi politik dan akademinya. Biasanya, para pemimpin tawanan memanfaatkan kedatangannya dan memintanya untuk memberi kuliah.

Semua tawanan suka mendengarkan Ibrahim saat dia memberi kuliah. Dia tidak mengajar seperti dosen, tapi lebih sebagai penghibur. Dia suka membuat orang tertawa, dan jika dia mengajar tentang Islam, maka dia menyampaikan ajarannya dengan menggunakan bahasa yang sederhana sehingga siapapun bisa mengerti.

Akan tetapi, hari ini tiada seorang pun yang tertawa. Sebaliknya, semua tawanan duduk bersebelahan dengan diam saat Ibrahim bicara dengan kemarahan berkobar-kobar tentang orang² yang bekerja sama dengan Israel dan bagaimana mereka mempermalukan keluarga mereka dan merupakan musuh orang² Palestina. Dari caranya bicara, aku merasa dia sebenarnya berkata padaku, “Jika kau tahu sesuatu yang belum kau sampaikan padaku, Mosab, katakan padaku sekarang juga.”
Tentu saja aku tetap diam saja. Bahkan andaikata sekalipun Ibrahim curiga akan hubunganku dengan Shin Bet, dia tidak akan berani mengatakannya terus terang pada putra Syeikh Hassan Yousef.
“Jika kau butuh apapun,” katanya padaku sebelum pergi, “beritahu aku saja. Aku akan mencoba agar kau berada dekat denganku.”

Saat itu adalah musim panas 1996. Meskipun aku baru berusia 18 tahun, aku merasa bagaikan telah menjalani beberapa kehidupan dalam waktu beberapa bulan saja. Dua minggu setelah paman datang, seorang wakil tawanan, atau shawish, datang ke Ruangan Sembilan dan memanggil, “Delapan dua tiga!” Aku mendongak terkejut karena mendengar nomerku dipanggil. Lalu dia juga memanggil tiga atau empat nomer lain dan memberitahu kami agar mengumpulkan barang² kami.

Sewaktu kami keluar dari mi’var ke padang gurun, udara panas menerpaku bagaikan napas naga dan membuat kepalaku pusing sejenak. Sejauh mata memandang tak ada lain yang tampak selain ujung² bagian atas tenda coklat. Kami berbaris menuju bagian tenda pertama, bagian kedua, bagian ketiga. Ratusan tawanan datang berlari menuju pagar tinggi berantai untuk melihat tawanan² yang baru datang. Kami tiba di Bagian Lima, dan pintu gerbang terbuka. Lebih dari lima puluh orang mengelilingi, memeluk kami, dan menjabat tangan kami.

Kami dibawa ke bagian tenda administrasi dan ditanyai dari organisasi mana kami berasal. Lalu aku dibawa ke tenda Hamas, di mana emir menerimaku dan menjabat tanganku.
“Selamat datang,” katanya. “Senang berjumpa denganmu. Kami sangat bangga akan kamu. Kami akan menyiapkan tempat tidur bagimu dan memberi beberapa handuk dan barang² lain yang kau butuhkan.” Lalu dia mengatakan lelucon penjara, “Anggaplah seperti rumah sendiri dan nikmati tinggal di sini.”

Setiap bagian penjara terdiri dari 12 tenda. Setiap tenda berisi 20 tempat tidur dan tempat sepatu. Kapasitas maximum setiap bagian adalah 240 tawanan. Bayangkan bingkai empat persegi panjang, dihalangi dengan pagar kawat duri silet. Bagian Lima dibagi dalam kotak². Sebuah tembok yang bagian atasnya diberi kawat duri silet, membagi-bagi Bagian dari utara ke selatan, dan pagar rendah membagi tempat itu dari timur ke barat.

Kotak bagian Satu dan Two (sebelah kanan dan kiri atas) masing² memiliki tiga buah tenda Hamas. Kotak bagian Tiga (kanan bawah) memiliki empat tenda – masing² untuk Hamas, Fatah, kombinasi DFLP/PFLP, dan Jihad Islam. Dan Kotak bagian Empat (kiri bawah) memiliki dua tenda, satu untuk Fatah, dan satu lagi untuk DFLP/PFLP.

Kotak Empat memiliki sebuah dapur, WC, tempat mandi, dan tempat untuk shawish dan pekerja dapur, dan baskom² untuk wudhu. Kami berbaris di antrean untuk melakukan sholat di lapangan terbuka di Kotak Dua. Tentunya terdapat menara penjaga di setiap sudut. Pintu gerbang utama di Kotak Lima terletak di pagar kawat antara Kotak Tiga dan Empat.

Satu keterangan lagi: pagar dari timur ke barat memiliki pintu² gerbang diantara Kotak Satu dan Tiga dan Dua dan Empat. Pintu² dibiarkan terbuka hampir sepanjang hari, kecuali pada saat penghitungan kepala di mana pintu² ini ditutup agar penjaga bisa menghitung setiap bagian.

Aku ditempatkan di tenda Hamas di ujung atas Kotak bagian Satu, di ranjang ketiga dari kanan. Setelah penghitungan kepala, kami semua duduk² sambil ngobrol, dan lalu terdengar suara, “Barid, ya mujahidin! Barid!” (Surat bagi pejuang kemerdekaan! Surat!).

Suara itu milik sawa’id dari bagian lain, dan semua orang memperhatikannya. Sawa’id adalah petugas keamanan Hamas di dalam penjara, yang membagi-bagikan pesan dari satu bagian ke bagian lainnya. Kata Sawa’id dalam bahasa Arab berarti “tangan² yang melempar.”

Setelah terdengar teriakan itu, dua orang laki berlari ke luar tenda, menjulurkan tangan² mereka di udara dan melihat langit. Bagaikan sudah diatur saja, sebuah bola datang entah dari mana dan jatuh tepat di tangan² yang sudah siap itu. Beginilah cara para pemimpin Hamas di bagian kami menerima perintah² bersandi rahasia dari pemimpin di bagian lain. Setiap organisasi Palestina di penjara menggunakan cara ini untuk berkomunikasi. Masing² organisasi memiliki nama sandi tersendiri, sehingga jika suara diteriakkan, para “penangkap bola” tahu bahwa mereka harus lari ke tempat di mana bola itu akan jatuh.

Bola² ini dibuat dari roti yang diempukkan dengan air. Pesan dimasukkan ke dalamnya dan roti digulung bulat bagaikan bola sebesar bola softball, dikeringkan sampai mengeras. Tentu saja hanya pelempar dan penerima terbaik yang dipilih sebagai “tukang pos.”
Kejadian menarik itu berakhir dengan cepat. Lalu tiba saat makan malam.

Bersambung ke Bab 13-16

Bab 1-4 ; Bab 5-8 Bab 9-12 ; Bab 13-16 ; Bab 17-20 ; Bab 21-24

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Buku Son of Hamas (Putra Hamas). Bab 5-8

Bab 5 – Bertahan Hidup
1989-1990

Orang² Israel mengira jika mereka menangkap para ketua Hamas, maka keadaan akan jadi membaik. Tapi selama ayah dipenjara, intifada malah jadi semakin menggila. Di akhir tahun 1989, Amer Abu Sarhan dari Ramallah merasa tak tahan lagi melihat kematian orang² Palestina. Karena tiada yang punya pistol, dia lalu mengambil pisau dapur dan menusuk tiga orang Israel sampai mati, dan ini berakibat timbulnya revolusi. Kejadian ini menyebabkan naiknya tingkat kekerasan yang jauh lebih hebat.

Sarhan dianggap sebagai pahlawan oleh orang² Palestina yang telah kehilangan teman² dan anggota keluarga mereka, yang tanahnya dirampas, atau yang punya berbagai alasan lain untuk membalas dendam. Mereka asalnya bukanlah teroris. Mereka hanyalah orang² yang kehilangan harapan dan pilihan. Punggung mereka telah membentur tembok. Mereka tidak punya apapun lagi untuk jadi pertimbangan. Merka tidak peduli lagi akan tanggapan dunia atau pun nyawa mereka sendiri.

Bagi kami anak² di masa itu, pergi ke sekolah juga jadi masalah besar. Seringkali saat sedang berjalan ke sekolah, mobil² Jeep Israel berlalu-lalang di jalanan, sambil mengumumkan keras² lewat pengeras suara bahwa jam malam akan segera dimulai. Prajurit Israel sangat serius dalam melakukan larangan ini. Larangan ini bukan seperti di kota² besar AS di mana polisi akan memanggil orangtua seorang remaja yang tertangkap menyetir mobil setelah jam 11 malam. Di Palestina, jika jam malam sudah diumumkan dan masih saja berada di jalanan karena alasan apapun, maka kau akan ditembak. Tanpa peringatan, tanpa penangkapan. Mereka akan langsung menembakmu.

Di saat pertama jam malam diumumkan, aku masih berada di sekolah dan aku tidak tahu harus melakukan apa. Jarak pulang ke rumah adalah empat mil dan aku tidak mungkin bisa tiba di rumah sebelum jam malam dimulai. Jalanan sudah sepi, dan aku merasa takut. Aku tidak bisa diam di tempat saja. Meskipun aku hanyalah anak muda yang berusaha pulang ke rumah, jika prajurit melihat diriku, maka mereka akan menembakku. Banyak pemuda² Palestina yang telah ditembak.

Aku mulai bergerak sambil berlindung dari sebuah rumah ke rumah lainnya, melalui halaman² belakang, dan bersembunyi di semak² sepanjang jalan. Aku mencoba menghindari anjing menggonggong dan orang² bersenjata sedapat mungkin. Ketika akhirnya aku tiba di rumah, aku sangat lega melihat semua saudara laki dan perempuanku telah tiba di rumah dengan selamat.

Tapi jam malam hanya merupakan salah satu perubahan yang harus kami hadapi sebagai akibat intifada. Di banyak kejadian, seorang bermasker tiba² saja muncul di sekolah dan mengumumkan bahwa mogok kerja dimulai dan orang² harus pulang. Mogok kerja ini diperintahkan oleh sekelompok orang² Palestina untuk merugikan keuangan Israel dengan memperkecil pajak pendapatan yang dipungut Pemerintah dari para pemilik toko. Jika toko² tidak buka, maka para pemilik toko juga tidak membayar pajak penuh. Tapi orang² Israel tidak bodoh. Mereka lalu mulai menangkapi pemilik toko karena sengaja menghindar pajak. Jadi siapa sih yang sebenarnya menderita akibat usaha mogok kerja ini?

Terlebih lagi, berbagai organisasi Muslim ternyata juga saling berperang satu sama lain demi mendapatkan kedudukan dan kekuasaan. Mereka bersikap bagaikan anak² kecil memperebutkan bola sepak. Meskipun demikian, Hamas secara pasti semakin berkuasa dan mulai menantang dominasi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).

********************

PLO didirikan di tahun 1964 untuk mewakili masyarakat Palestina; tiga organisasi besar yang termasuk di dalamnya adalah:

  • Fatah, kelompok nasionalis sayap kiri;
  • Barisan Depan Populer bagi Pembebasan Palestina (Popular Front for the Liberation of Palestine = PFLP), yang adalah kelompok komunis; dan
  • Gerakan Demokrasi bagi Pembebasan Palestina (Democratic Front for the Liberation of Palestine = DFLP), juga berideologi komunis.

PLO menuntut Israel mengembalikan tanah yang merupakan daerah kekuasaan Palestina sebelum tahun 1948 dan memberikan hak bagi Palestina untuk menentukan nasib sendiri. Sampai saat ini, PLO berjuang melalui kampanye global hubungan masyarakat, perang gerilya, dan terorisme dari pusatnya, pertama-tama di Yordania, lalu di Lebanon dan Tunisia.

Tidak seperti Hamas dan Islamic Jihad, PLO tidak pernah jadi organisasi Islam. Kelompok ini beranggotakan orang² nasionalis, dan tidak semuanya adalah Muslim kaffah. Malah banyak dari antara mereka yang atheis. Bahkan sewaktu masih kecil aku memandang PLO sebagai organisasi yang korup dan mementingkan diri sendiri saja. Para pemimpin PLO mengirim orang² yang kebanyakan masih remaja untuk melakukan satu atau dua serangan teroris setiap tahun agar orang² terus menyumbangkan uang bagi perjuangan melawan Israel. Para fe’da’iyin muda tersebut hanya berfungsi sebagai api penyulut kemarahan dan kebencian dan agar sumbangan dana terus mengalir ke akun bank pribadi milik para pemimpin PLO. [2]
[2] Pembajakan pesawat pertama oleh PLO terjadi di tanggal 23 Juli, 1968, ketika aktivis PFLP menerbangkan El Al Boeing 707 ke Aljiers. Sekitar selusin awak Israel dan sepuluh kru pesawat disandera. Tiada korban jiwa. Tapi sebelas atlet Israel dibunuh empat tahun kemudian oleh teroris yang dipimpin PLO saat menyerang Olimpiade Munich. Di tanggal 11 Maret, 1978, prajurit² Fatah mendarat di pantai utara Tel Aviv, membajak sebuah bus, dan menyerang sepanjang jalan bebas hambatan di tepi pantai yang membunuh sekitar tiga puluh orang – dan melukai tujuh puluh orang lainnya.
Organisasi PLO dengan mudah merekrut para pengungsi Palestina yang berjumlah dua per tiga populasi Yordania. Dengan uang mengalir dari negara² Arab lainnya untuk mendukung perjuangannya, PLO menjadi kuat dan lebih bersenjata lengkap, bahkan lebih baik daripada tentara Yordania. Tak lama kemudian Yasser Arafat ingin menguasai seluruh negara dan mendirikan negara Palestina.

Di tahun² Intifada Pertama, perbedaan ideologi membuat Hamas dan PLO saling berseberangan terpisah jauh. Hamas adalah gerakan yang dimotori oleh minat relijius dan theologi Jihad, sedangkan PLO dimotori oleh sikap nasionalisme dan ideologi kekuasaan. Jika Hamas memerintahkan pemogokkan dan mengancam membakar toko² manapun yang tetap buka, maka para pemimpin PLO di seberang jalan mengancam membakar toko² yang tutup.

Meskipun begitu, kedua kelompok ini punya kebencian sama yang mendalam terhadap “Zionis.” Akhirnya, kedua kelompok setuju untuk menetapkan Hamas menyelenggarakan pemogokkan di tiap tanggal 9 setiap bulan, dan Fatah – badan PLO terbesar – menyelenggarakan pemogokkan di tiap tanggal 1 setiap bulan. Jikalau pemogokkan diumumkan, semua kegiatan harus berhenti. Kelas², perdagangan komersial, mobil² – semuanya. Tiada seorang pun yang bekerja, mendapatkan nafkah, atau belajar.

Seluruh Tepi Barat lumpuh, dan orang² berpenutup wajah melalukan demonstrasi, membakar ban², menulis grafiti di berbagai tembok, berteriak-teriak melarang bisnis apapun. Tapi siapapun bisa mengenakan penutup wajah dan mengaku sebagai PLO. Tiada yang tahu siapakah orang di balik penutup wajah tersebut; setiap orang tampaknya tergerak karena niat sendiri dan keinginan balas dendam pribadi semata. Kekacauan berkuasa.

Pihak Israel mengambil manfaat dalam kekacauan ini. Karena setiap orang bisa jadi pejuang intifada, pasukan keamanan Israel juga lalu mengenakan penutup wajah dan berbaur dalam demonstrasi². Mereka bisa berjalan masuk ke kota Palestina mana pun di siang hari sambil memakai pakaian seperti para feda’iyin. Dan karena tiada seorang pun yang mengetahui siapa orang yang berpenutup wajah, maka orang² lebih memilih taat pada perintah para feda’iyin ini daripada menanggung resiko dipukuli, bisnisnya dibakar, atau dituduh sebagai mata² Israel, yang bisa mengakibatkan hukuman gantung.

Sampai akhirnya kekacauan dan kebingungan mencapai titik yang sangat konyol. Satu atau dua kali setelah pengumuman jadwal ujian akhir, teman² dan aku membujuk pelajar yang lebih senior untuk datang ke sekolah mengenakan penutup wajah dan mengatakan terjadi pemogokkan. Kami mengira hal ini lucu.
Pendek kata, kami telah menjadi musuh diri kami sendiri yang terjelek.

Tahun² ini sangatlah sukar bagi keluarga kami. Ayahku masih berada di penjara, dan pemogokkan yang terus terjadi mengakibatkan kami tidak masuk sekolah selama hampir setahun penuh. Para pamanku, pemimpin² agama, dan setiap orang tampaknya merasa sudah jadi kewajiban mereka untuk mendisiplinkan diriku. Karena aku adalah anak laki sulung dan putra Syeikh Hassan Yousef, maka mereka menerapkan standard yang sangat tinggi bagiku. Jika aku tidak mencapai pengharapan mereka, mereka lalu memukuliku. Tidak peduli apapun yang kulakukan, bahkan kalau pun aku pergi ke mesjid lima kali sehari, semuanya tampak tidak cukup di mata mereka.

Suatu kali aku berlari-lari di dalam mesjid, sambil bermain bersama temanku. Imam mesjid mengejar kami. Ketika dia menangkapku, dia mengangkatku di atas kepalanya dan melemparkanku ke lantai menghajar punggungku. Rasanya seperti mau mati. Lalu dia terus-menerus memukuli dan menendangiku. Kenapa sih? Aku kan hanya melakukan yang biasanya dilakukan anak² lain. Tapi karena aku adalah putra Syeikh Hassan Yousef, maka aku diharapkan untuk berlaku lebih baik daripada anak² lain.

Aku berteman dengan anak laki yang ayahnya adalah pemimpin agama dan tokoh penting Hamas. Orang ini selalu saja membujuk orang lain untuk melemparkan batu. Baginya, tak jadi masalah jika putra² orang lain tertembak karena melempar batu, tapi tidak begitu jika yang jadi sasaran tembak adalah putranya sendiri. Ketika dia mengetahui kami seringkali melemparkan batu, dia memanggil kami ke rumahnya. Kami kira dia ingin berbicara dengan kami. Tapi dia mencabut paksa kabel dari alat pemanas dan mulai mencambuki kami sekuat tenaga sampai kami berdarah. Dia memutuskan persahabatan kami demi menyelamatkan nyawa putranya. Tapi akhirnya temanku ini meninggalkan rumah dengan kebencian terhadap ayahnya yang melebihi kebencian terhadap setan.

Selain dari usaha mendisiplinkan diriku, tak ada pihak yang menolong keluarga kami saat ayahku dipenjara. Sejak dia ditahan, kami kehilangan tambahan gaji yang didapatnya dari mengajar di sekolah Kristen. Sekolah itu berjanji tetap menjaga pekerjaan ayah sampai dia dibebaskan, tapi di lain pihak, kami tidak punya cukup uang untuk membeli kebutuhan hidup.

Ayahku adalah satu²nya orang di keluarga kami yang punya SIM, sehingga kami tak bisa menggunakan mobil kami. Ibuku harus berjalan jauh untuk pergi ke pasar, dan aku seringkali berjalan bersamanya untuk menolongnya mengangkut belanjaan. Kupikir perasaan malu lebih buruk daripada kebutuhan untuk hidup. Sewaktu berjalan ke pasar, aku merangkak di bawah kotak² makanan untuk memunguti makanan² busuk yang jatuh ke tanah. Ibuku harus menawar mati²an untuk bisa membeli sayuran layu yang tidak diminati siapapun. Dia mengatakan kami membeli sayuran ini untuk memberi makan ternak. Ibu harus terus menawar mati²an sampai sekarang karena ayahku telah dipenjara selama 13 kali – ini jauh lebih banyak daripada pemimpin Hamas mana pun. (Dia sedang berada di penjara saat aku menulis buku ini.)

Aku kira kenyataan bahwa tiada seorang pun yang membantu kami adalah karena mereka mengira keluarga kami punya banyak uang. Apalagi ayahku adalah pemimpin agama yang terkemuka dan pemimpin politik yang berpengaruh. Dan orang² mengira para sanak keluarga kami lainnya tentunya membantu kami. Tentu saja Allâh akan memenuhi kebutuhan kami. Tapi para paman tidak peduli akan kami. Allâh juga tak melakukan apapun. Karena itu ibuku mengurus ke tujuh anaknya seorang diri saja (adik laki kecil kami Mohammad baru saja lahir di tahun 1987).

Akhirnya ketika keadaan semakin mendesak, ibu berusaha meminjam uang pada teman ayahku – bukan agar dia bisa beli baju dan alat² kosmetik baru, tapi agar dia bisa menyediakan makanan setidaknya sehari sekali bagi anak²nya. Tapi orang ini tidak bersedia membantu ibu. Selain tidak mau membantu kami, dia memberitahu teman² Muslimnya bahwa ibu datang padanya mengemis uang.

“Dia kan menerima gaji dari Pemerintah Yordania,” begitu kata mereka, menghakimi ibuku. “Kenapa dia mengemis minta uang lagi? Apakah wanita ini mengambil kesempatan kala suaminya dipenjara untuk bisa jadi kaya?” Ibu tidak pernah minta tolong lagi.

“Mosab,” ibu berkata padaku suatu hari, “bagaimana jika aku membuat baklava dan makanan manis lainnya dan kau menjual makanan ini pada para pekerja di daerah industri?” Aku berkata aku akan senang melakukan apapun untuk menolong keluargaku. Maka setiap hari setelah sekolah, aku berganti pakaian, memenuhi nampan dengan penganan buatan ibu, dan pergi menjualnya sebanyak mungkin. Pertama-tama aku merasa malu, tapi akhirnya aku jadi berani dan mendatangi setiap pekerja dan memintanya untuk membeli dariku.

Di suatu hari di musim dingin, aku pergi seperti biasa menjual penganan. Tapi ketika aku tiba, tempat itu kosong. Tiada seorang pun yang harus bekerja di hari itu karena udara sangat dingin. Tanganku beku dan saat itu mulai turun hujan. Sambil mengangkat nampan sebagai payung di atas kepala, aku melihat sebuah mobil berisi beberapa orang datang dan parkir di pinggir jalan. Pengemudi mobil melihatku, membuka jendela, dan mengeluarkan kepalanya.
“Hey, nak, apa yang kau bawa?”
“Aku bawa baklava,” kataku sambil berjalan mendekati mobil.

Setelah melihat wajah orang itu, aku kaget karena orang itu ternyata pamanku Ibrahim. Teman²nya kaget sekali karena melihat kemenakan Ibrahim berjualan penganan di hari hujan yang dingin. Aku pun merasa malu karena mempermalukan pamanku. Aku tak tahu harus berkata apa, dan mereka pun membisu saja.

Pamanku membeli semua baklava, menyuruhku pulang dan berkata dia ingin bicara denganku setelah itu. Ketika kami tiba di rumah, dia sangat murka terhadap ibuku. Aku tidak tahu apa yang dikatakannya, tapi setelah dia pergi, ibu menangis. Keesokan harinya setelah sekolah, aku berganti pakaian dan berkata pada ibu bahwa aku siap untuk menjual penganan.
“Aku tak mau kau menjual baklava lagi,” katanya.
“Tapi aku semakin pandai menjual setiap hari! Aku pandai melakukan hal itu. Percayalah padaku.” Airmata bercucuran dari matanya. Dan aku tidak pernah boleh berjualan lagi.

Aku merasa marah. Aku tidak mengerti mengapa para tetangga dan keluarga kami tidak menolong kami. Selain itu, mereka berani menghakimi kami dalam usaha kami untuk menolong diri kami sendiri. Aku mengira alasan sebenarnya mereka tidak membantu kami adalah karena mereka takut jika pihak Israel mengira mereka menolong teroris. Tapi kami kan bukan teroris. Ayahku juga bukan teroris. Sedihnya, hal ini pun nantinya berubah pula.

Bab 6 – Kembalinya Seorang Pahlawan
1990


Ketika ayahku akhirnya kembali, keluarga kami seketika diperlakukan bagaikan keluarga kerajaan setelah tidak dipedulikan selama satu setengah  tahun. Sang pahlawan telah kembali. Aku tidak dianggap lagi sebagai kambing hitam, tapi sebagai pewaris kekuasaan. Saudara² lakiku dianggap sebagai para pangeran, saudara² perempuanku sebagai para putri raja, dan ibuku sebagai ratu. Tiada lagi yang berani menghakimi keluarga kami.

Ayahku mendapatkan kembali pekerjaannya di sekolah Kristen, selain juga menjabat imam di mesjid. Sekarang setelah tiba kembali di rumah, ayah berusaha membantu ibu mengurus rumah tangga sebanyak mungkin. Hal ini sangat meringankan bebas kami sebagai anak² yang membantu ibu. Kami sama sekali tidak kaya, tapi kami punya cukup uang untuk membeli makanan yang memadai dan kadangkala bahkan hadiah bagi pemenang permainan Bintang². Dan kami berlimpah dalam penghargaan dan penghormatan. Yang terbaik di atas segalanya, ayah sudah berada bersama kami lagi. Apa lagi yang kami butuhkan?

Semuanya dengan cepat kembali normal. Tentu saja normal di sini bermakna relatif. Kami tetap hidup di bawah kekuasaan Israel dan terjadi pembunuhan setiap hari di jalanan. Rumah kami tak jauh dari kuburan yang dijejali mayat² berdarah. Ayahku punya ingatan buruk akan penjara Israel di mana dia ditahan selama 18 bulan karena dituduh sebagai teroris. Daerah yang diduduki Israel sekarang semakin terperosok bagaikan hutan tak kenal hukum.

Satu²nya hukum yang dihormati Muslim adalah hukum Islam, ditetapkan dengan fatwa, atau aturan agama bagi masalah tertentu. Fatwa dibuat untuk membimbing Muslim sewaktu menerapkan Qur’an sebagai bimbingan hidup sehari-hari. Karena tiada badan pusat yang mengatur penetapan aturan, setiap syeikh mengeluarkan fatwa yang berbeda untuk masalah yang sama. Akibatnya, setiap orang hidup dengan aturan yang berbeda, sebagian lebih ketat dibandingkan yang lain.

Aku sedang bermain di dalam rumah bersama teman²ku di sore hari ketika kami mendengar suara² keras di luar. Membentak dan berkelahi bukanlah hal baru dalam dunia kami, tapi ketika kami keluar, kami lihat tetangga kami Abu Salim mengayunkan pisau besar. Dia sedang berusaha membunuh saudara sepupunya yang berusaha keras menghindari pisau berkilat tersebut. Seluruh tetangga berusaha mencegah Abu Salim, tapi orang ini tinggi besar. Dia adalah tukang jagal, dan dulu aku pernah melihatnya menjagal seekor sapi di halaman belakangnya, dan ini membuat seluruh tubuhnya berlumuran darah sapi yang kental dan merah. Aku jadi teringat apa yang dilakukannya terhadap binatang itu tatkala dia mengejar saudaranya.

“Ya,” kataku pada diri sendiri, “kami memang benar² hidup di tengah hutan.”
Tiada polisi yang bisa dipanggil, tiada pihak yang mengatur. Apa sih yang bisa kami lakukan selain menonton saja? Untungnya, saudara sepupu itu berlari cepat dan tidak kembali lagi.

Ketika ayahku kembali di malam hari, kami memberitahu dia apa yang terjadi. Ayahku hanya setinggi 170 cm dan tidak berotot besar. Tapi dia lalu mengunjungi rumah Abu Salim dan berkata, “Abu Salim, apa yang telah terjadi? Aku dengar ada pertengkaran ya hari ini?” Abu Salim lalu mengoceh tak hentinya tentang usahanya ingin membunuh saudara sepupunya.
“Kau tahu bahwa wilayah kita sedang diduduki sekarang,” kata ayahku, “dan kau tahu kita tak punya waktu untuk urusan omong kosong seperti ini. Kau menghadap dan minta maaf terhadap saudara sepupumu, dan dia pun harus minta maaf padamu. Aku tidak mau mendengar masalah seperti ini lagi.”

Sama seperti orang lain, Abu Salim menghormati ayahku. Dia percaya nasehatnya, bahkan dalam urusan seperti ini. Dia setuju untuk berdamai bersama saudaranya, dan dia lalu berkumpul bersama ayah dalam rapat dengan pria² lain di perumahan kami.

“Ini keadaan yang sekarang kita hadapi,” kata ayah perlahan. “Kita tidak punya pemerintahan di sini, dan semuanya kacau balau. Kita tidak bisa bertengkar satu sama lain, mencurahkan darah sesama kita. Kita bertengkar di jalanan, bertengkar di rumah kita, bertengkar dalam mesjid. Cukup sudah. Kita perlu duduk bersama setidaknya seminggu sekali dan mencoba memecahkan masalah seperti layaknya orang dewasa. Kita tidak punya polisi, dan kita tidak bisa membiarkan orang kita sendiri membunuh kelompok kita. Kita menghadapi masalah yang lebih besar. Aku ingin kalian semua bersatu. Aku ingin kalian saling tolong satu sama lain. Kita harus bersikap sebagai satu keluarga.”

Orang² setuju dengan usul ayahku. Mereka berkumpul bersama setiap malam Kamis untuk membicarakan masalah lokal dan membahas pertikaian diantara mereka.
Sebagai imam mesjid, sudah jadi tugas ayahku untuk memberi masyarakat harapan dan menolong mereka memecahkan masalah. Dia adalah wujud Pemerintahan yang terdekat yang bisa mereka miliki. Dia bagaikan seorang ayah bagi mereka. Tapi sekarang dia pun bicara dengan otoritas Hamas – dengan juga otoritas sebagai seorang Syeikh. Seorang Syeikh lebih berkuasa daripada sekedar imam dan lebih sebagai seorang jendral daripada seorang pemimpin agama.

Sejak ayahku pulang tiga bulan lalu, aku mencoba menghabiskan waktu dengannya sebanyak mungkin. Aku sekarang adalah presiden gerakan pelajar Islam di sekolah kami, dan aku ingin mengetahui semua tentang Islam dan belajar Qur’an. Di suatu malam Kamis, aku meminta ijin padanya untuk ikut rapat tetangga. Aku hampir jadi pria dewasa, kataku, dan aku ingin diperlakukan sebagai demikian.

“Tidak,” jawabnya, “kau tinggal di sini. Ini hanya untuk orang² dewasa saja. Aku akan beritahu kamu nanti apa yang terjadi.”
Aku kecewa, tapi mengerti akan keputusannya. Tiada kawanku yang boleh datang di rapat itu pula. Setidaknya aku akan tahu isi rapat setelah ayah kembali.

Maka dia pun pergi selama 2 jam. Ketika ibuku sedang sibuk menyiapkan ikan yang sedap untuk makan malam, seseorang mengetuk pintu belakang. Aku membuka pintu sedikit untuk melihat siapa yang mengetuk, dan kulihat Kapten Shai, orang yang sama yang dulu menangkap ayahku hampir dua tahun yang lalu.
Abuk mawjud?
“Tidak, dia tidak ada di sini.”
“Kalau begitu, buka pintu.”

Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan, maka kubuka pintu baginya. Kapten Shai bersikap sopan, sama seperti ketika dia pertama kali bertemu ayahku, tapi aku merasa dia tidak percaya padaku. Dia bertanya apakah dia boleh melihat-lihat, dan aku tahu bahwa aku tak punya pilihan selain mengijinkannya. Ketika dia mulai memeriksa setiap kamar, lemari, belakang pintu, aku berharap agar ayah tetap berada di rapat dan tidak pulang. Kami tidak punya ponsel di jaman itu, jadi aku tak dapat memperingatkannya. Tapi setelah aku berpikir lebih lanjut, aku menyadari bahwa punya ponsel pun tidak akan menolong. Ayah akhirnya akan pulang juga.

“Semua tetap diam,”
kata Kapten Shai pada kelompok prajurit yang berada di luar. Mereka semua berlindung di belakang semak² dan bangunan², menunggu ayahku. Sambil merasa putus asa, aku duduk di bawah meja dan mendengarkan. Tak lama kemudian terdengar suara keras, “Berhenti di tempat!” Lalu terdengar suara gerakan dan orang² berbicaras. Kami tahu ini bukan perkembangan yang baik. Apakah ayahku akan balik lagi ke penjara?

Beberapa menit kemudian ayah masuk rumah, menggelengkan kepalanya dan tersenyum minta maaf pada kami semua.
“Mereka ingin membawaku kembali,” katanya sambil mencium ibu dan lalu semua anak²nya satu per satu. “Aku tak tahu berapa lama aku akan pergi. Jangan nakal. Tiap orang saling bantu.”
Dia lalu mengenakan jaketnya dan pergi meninggalkan ikan gorengnya yang jadi dingin di atas piringnya.
Sekali lagi kami diperlakukan bagaikan orang buangan saja, bahkan juga oleh para tetangga kami yang ditolong ayah agar bisa selamat dari serangan sesama pihak atau dari pihak luar. Beberapa orang bertanya tentang ayahku dengan sikap khawatir, tapi sudah jelas bagiku bahwa mereka sebenarnya tidak peduli.

Meskipun kami tahu ayah berada di penjara Israel, tiada seorang pun yang memberitahu kami penjara yang mana. Selama tiga bulan kami mencari dia di tiap penjara, sampai akhirnya kami mendengar kabar bahwa dia dipenjara di fasilitas khusus di mana mereka menginterogasi orang² yang paling berbahaya. Kenapa kok begitu? Aku merasa heran. Hamas tidak pernah melakukan serangan teroris dan bahkan tidak bersenjata.

Begitu kami mengetahui di mana ayah ditahan, pejabat Israel mengijinkan kami menemuinya sekali sebulan untuk waktu 30 menit. Hanya dua orang yang boleh menemuinya setiap kali datang, sehingga kami bergiliran datang bersama ibu kami. Ketika pertama kali aku melihatnya, aku terkejut melihat dia membiarkan jenggotnya tumbuh, dan dia tampak lelah. Tapi kami senang sekali bertemu dengannya. Dia tidak pernah mengeluh. Dia hanya ingin tahu bagaimana keadaan kami, dan dia meminta kami menceritakan semua kisah detail kehidupan kami.

Sewaktu aku suatu kali datang menjenguknya, dia memberiku sekantung permen. Dia menjelaskan bahwa para narapidana diberi sebuah permen sehari. Dia tidak memakan permen bagiannya, tapi menyimpannya agar bisa diberikan pada kami. Kami simpan bungkus permen sampai di hari dia dibebaskan lagi.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba jua. Kami saat itu tidak menduga kedatangannya, dan dia tiba² saja muncul dari pintu, kami semua memeluknya erat², takut jikalau itu hanya mimpi saja. Kabar kedatagannya tersebar dengan cepat, dan selama enam jam berikutnya, orang² berdatangan memenuhi rumah kami. Begitu banyak yang datang sampai² gentong² air minum kami kering karena berusaha menyuguhi air minum bagi setiap tamu. Aku merasa bangga melihat bahwa orang² jelas sangat menghormati dan mengagumi ayahku, tapi di waktu yang sama aku pun marah. Kemanakah semua orang ini tatkala ayah berada di penjara?

Setelah semua orang pergi, ayah berkata padaku, “Aku tidak bekerja bagi orang² ini, bukan karena mengharap pujian dari mereka, atau berharap mereka nantinya akan mengurus diriku dan keluargaku. Aku bekerja bagi Allâh. Dan aku tahu kalian semua membayar harga yang mahal sama seperti diriku. Kau pun adalah budak Allâh, dan kau harus bersabar.”

Aku mengerti, tapi aku bertanya dalam hati apakah dia mengetahui dengan jelas seberapa besar penderitaan kami saat dia pergi.
Tatkala kami sedang bicara, terdengar ketukan lagi di pintu belakang. Prajurit² Israel menangkapnya lagi.

Bab 7 – Radikal
1990-1992

Di bulan Agustus 1990, ketika ayahku dipenjara untuk ketiga kalinya, Saddam Hussein menyerang Kuwait.
Orang² Palestina bagaikan gila karena kesenangan. Setiap orang berlarian ke jalanan, bersorak-sorai, dan mencoba melihat apakah ada misil yang turun bagaikan hujan ke Israel. Akhirnya saudara² Arab kami datang untuk menyelamatkan kami! Mereka akan menghajar keras Israel, tepat di jantungnya. Tak lama lagi kami akan merdeka!

Karena memperhitungkan kemungkinan terjadi serangan gas beracun seperti yang dilakukan Saddam terhadap 5.000 orang Kurdi di thaun 1988, maka Pemerintah Israel memberikan masker gas bagi setiap warga Israel. Tapi orang² Palestina hanya menerima satu masker gas untuk setiap rumah. Ibuku mendapat satu, tapi tujuh anak²nya tak punya perlindungan apapun. Maka kami mencoba bersikap kreatif dengan membuat masker sendiri. Kami juga membeli kain nylon dan menempelkannya di pintu² dan jendela² dengan plester. Tapi di pagi harinya, kelembaban udara menyebabkan semua plester terkelupas.

Kami terus menonton siaran TV Israel, dan kami bersorak setiap kali ada peringatan akan datangnya rudal² Iraq. Kami naik ke atas atap rumah untuk melihat rudal² Scud Iraq meledakkan Tel Aviv. Tapi kami tak melihat apapun.

Mungkin Al-Bireh bukanlah tempat yang tepat untuk melihat rudal, begitu pikirku. Aku lalu pergi ke rumah pamanku Daud di Al-Janiya, di mana kami bisa melihat jauh sampai ke Mediterania. Adik lakiku Sohayb ikut bersamaku. Dari atap rumah paman, kami melihat rudal yang pertama. Sebenarnya yang kami lihat hanyalah nyala api, tapi itu pun sudah menjadi pemandangan yang menakjubkan!

Ketika kami mendengar berita bahwa 40 rudal Scud mencapai Israel dan hanya 2 orang Israel yang terbunuh, kami sangat yakin bahwa Pemerintah Israel berdusta. Tapi ternyata kabar itu memang benar. Ketika Iraq berusaha membuat rudal meluncur dalam jangka panjang, maka rudal jadi kehilangan kekuatan dan akurasi tembakan.

Kami tetap tinggal di rumah paman Daud sampai tentara PBB mengusir Saddam Hussein balik ke Baghdad. Aku marah dan sangat kecewa.

“Mengapa perang ini selesai? Israel kan belum hancur? Ayahku juga masih berada di penjara Israel. Tentara Iraq masih harus terus melontarkan rudal!”
Ya, semua warga Palestina kecewa. Setelah berpuluh tahun tinggal di tanah yang diduduki, perang akhirnya dilakukan, rudal² dilontarkan ke Israel. Tapi meskipun begitu, tetap saja tak ada perubahan.

***********************

Setelah Perang Teluk I selesai, ayahku dibebaskan dari penjara. Ibuku mengatakan padanya bahwa dia ingin menjual mahar nikahnya untuk membeli sepetak tanah dan mendapat pinjaman untuk membangun rumah kami sendiri. Selama ini kami meminjam rumah saja, dan setiap kali ayah dipenjara, pemilik rumah berlaku curang dalam penagihan dan bersikap kasar terhadap ibu.

Ayahku terharu karena ibu rela menjual apa yang sangat berharga baginya, tapi dia juga khawatir tidak bisa terus membayar uang pinjaman karena dia bisa dipenjara lagi setiap saat. Meskipun begitu, mereka mengambil keputusan untuk membeli tanah dan membangun rumah di tahun 1992, dan di rumah inilah keluarga kami masih tinggal sampai hari ini di Betunia, dekat Ramallah. Saat itu aku berusia 14 tahun.

Kekerasan di Betunia tidaklah sehebat di Al-Bireh atau Ramallah. Aku mengunjungi mesjid dekat rumah kami yang baru dan ikut bergabung dalam jalsa, yakni kelompok yang menekankan penghafalan Qur’an dan mengajar kita prinsip² yang dianggap para pemimpin Islam akan mampu mendirikan negara Islam dunia.

Beberapa bulan setelah kami pindah, ayahku ditangkap lagi. Seringkali dia tidak didakwa dengan tuduhan tertentu. Karena kami sedang diduduki, hukum darurat mengijinkan Pemerintah Israel menangkap orang² yang dianggap terlibat dalam terorisme. Sebagai pemimpin rohani dan politik, ayahku jadi sasaran empuk.

Tampaknya ini jadi pola yang sama – dan meskipun kami dulu tidak menyadarinya, pola tangkap, lepaskan, dan tangkap lagi akan terus berlangsung selama bertahun-tahun, dan membuat jarak ayah dan keluarga kami semakin renggang. Di saat yang sama, Hamas juga jadi semakin ganas dan agresif karena anggota² muda Hamas menekan para ketua untuk melakukan lebih banyak penyerangan.

“Orang² Israel membunuhi anak² kita!” teriak mereka. “Kami melempar batu, dan mereka menembak kita dengan senapan. Kita sekarang sedang diduduki. PBB dan seluruh badan internasional, setiap orang merdeka di bumi mengakui hak kita untuk berperang. Allâh SAW sendiri mewajibkan kita untuk melakukan itu. Kenapa kita harus menunggu lagi?”

Pada umumnya, serangan² yang dilakukan selama ini dilakukan oleh pribadi² saja, dan tidak diorganisasi. Para pemimpin Hamas tidak punya kontrol atas anggotanya yang punya keinginan sendiri. Tujuan ayahku adalah kemerdekaan Islamiah, dan dia yakin bahwa dia wajib memerangi Israel untuk mendapatkan kemerdekaan. Tapi bagi para pemuda ini, berperang merupakan tujuan akhir mereka dan bukan untuk mengakhiri sesuatu.

Tepi Barat jadi sangat berbahaya, tapi terlebih lagi Gaza. Karena posisi geografisnya, pengaruh yang mendominasi Gaza adalah Persaudaraan Muslim (Muslim Brotherhood) fundamentalis di Mesir. Gaza adalah salah satu daerah terpadat di dunia – luas kamp penampungan ini tak lebih daripada 139 mil persegi dengan penghuni sebanyak lebih dari sejuta orang.

Para keluarga menggantungkan dokumen² pemilikan tanah dan kunci² rumah di tembok² mereka sebagai bukti bisa dan untuk mengingatkan tiap hari bahwa mereka dulu punya rumah dan pertanian yang bagus – ini adalah harta milik yang dirampas oleh pihak Israel setelah perang² terdahulu. Tempat ini merupakan tempat yang ideal untuk merekrut orang² baru. Para penduduk Gaza punya motivasai dan tekad besar. Mereka tidak hanya ditindas oleh orang² Israel saja, tapi juga oleh orang² Palestina – masyarakat mereka sendiri – yang memandang mereka sebagai warga kelas dua. Malah sebenarnya mereka dianggap sebagai pengganggu saja, karena kamp penampungan ini dibangun di tanah milik orang lain.

Kebanyakan para pemuda Hamas yang tak sabar berasal dari kamp² penampungan. Diantara mereka adalah Imad Akel. Imad adalah anak termuda dari tiga anak laki bersaudara. Imad sedang kuliah untuk jadi seorang farmasis ketika dia akhirnya merasa muak akan ketidakadilan dan merasa putus asa. Dia mengambil senjata dan menembak beberapa prajurit Israel, dan mengambil senjata mereka. Orang² lain lalu mengikuti perbuatannya, dan pengaruh Imad semakin besar. Sambil melakukan serangan sendiri tanpa perintah siapapun, Imad membentuk kelompok militer kecil dan pergi ke Tepi Barat, yang memiliki lebih banyak target serangan dan tempat lebih luas untuk bergerak. Aku tahu dari percakapan orang di kota itu bahwa Hamas sangat bangga akan dirinya, meskipun dia tidak punya kedudukan apapun dalam Hamas. Para pemimpin Hamas tidak mau kegiatannya bercampur dengan kegiatan Hamas. Karena itu mereka membentuk sayap militer bernama Brigade Ezzedem Al-Qassam yang diketuai oleh Imad. Tak lama kemudian dia menjadi orang Palestina yang paling dicari Israel.

Hamas sekarang bersenjata. Karena sekarang senapan² dengan cepat mengganti batu, tulisan grafiti, dan bom molotov, Israel menghadapi persoalan yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Jika dulu serangan PLO datang dari Yordania, Lebanon, dan Syria, sekarang serangan datang dari dalam daerah Israel sendiri.

Bab 8 – Mengipas Api
1992-1994

Di tanggal 13 Desember, 1992, lima anggota al-Qassam menculik polisi perbatasan Israel bernama Nissim Toledano dekat Tel Aviv. Mereka menuntut pihak Israel untuk melepaskan Syeikh Ahmed Yassin. Israel menolak. Dua hari kemudian, mayat Toledano ditemukan, dan Israel lalu melancarkan serangan keras terhadap Hamas. Dalam waktu sekejap, lebih dari 1.600 orang Palestina ditangkap. Lalu Israel mengambil keputusan untuk diam² mendeportasi 415 pemimpin Hamas, Jihad Islam (Islamic Jihad), dan Persaudaraan Muslim. Diantara mereka adalah ayahku, yang sedang dipenjara, dan tiga pamanku.

Aku baru berusia 14 tahun saat itu, dan kami tidak tahu apa yang sedang terjadi. Sewaktu berita mulai tersebar, kami akhirnya bisa mengumpulkan keterangan dari sana sini untuk menduga bahwa ayahku kemungkinan dimasukkan ke dalam kelompok guru, pemimpin agama, insinyur, dan pekerja sosial yang diborgol, ditutup mata, dan dimasukkan ke dalam bus. Beberapa jam setelah kabar tersebar, para pengacara dan pejuang HAM mulai mengajukan petisi protes. Bus² dihentikan saat Pengadilan Tinggi Israel bertemu pada jam 5 pagi untuk membahas tantangan² hukum yang diajukan. Selama 14 jam perdebatan, ayahku dan tawanan lain yang bakal dideportasi tetap berada dalam bus. Borgol dan penutup mata tetap dipasang. Tiada makanan. Tiada air minum. Tiada waktu jeda untuk buang air. Akhirnya, pihak pengadilan mendukung keputusan Pemerintah, dan bus² lalu menuju ke utara. Kami nantinya mengetahui bahwa bus² ini dilajukan ke daerah tak bertuan di sebelah selatan Lebanon yang ditutupi salju. Saat itu adalah pertengahan musim dingin, dan para penumpang bus diturunkan di tempat itu tanpa tersedia tempat bernaung. Baik pihak Israel maupun Lebanon tidak memperkenankan badan² kemanusiaan mengirim makanan atau obat²an. Beirut tidak mau mengirim orang² yang sakit dan terluka ke rumah sakit.

Di tanggal 18 Desember, Konsul Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi 799, yang meminta orang² yang dideportasi “dikembalikan dengan segera dengan selamat.” Israel menolak. Kami selalu bisa mengunjungi ayah ketika dia dipenjara, tapi karena perbatasan Lebanon ditutup, kami tidak bisa menemuinya di pengasingan. Dua minggu kemudian, kami akhirnya melihat dia di layar TV untuk pertama kalinya sejak dia dideportasi. Rupanya, para anggota Hamas telah menjulukinya sebagai sekretaris jendral kamp itu, dan merupakan orang kedua setelah Abel Aziz al-Rantissi, ketua Hamas yang lain.

Setiap hari setelah itu, kami menonton berita sambil berharap melihat wajah ayah lagi. Kadangkala kami bisa melihat dia memakai pengeras suara tanduk kerbau untuk memberikan pidato pada orang² yang diasingkan itu. Ketika musim semi tiba, dia bisa mengirim pada kami surat dan foto² yang diambil para wartawan dan anggota organisasi kemanusiaan. Akhirnya orang² yang diasingkan bisa memiliki ponsel dan kami bicara dengan ayah selama beberapa menit setiap minggu.

Dalam usaha menggalang simpati bagi orang² yang diasingkan, pihak media mewawancarai anggota² keluarga mereka. Saudara perempuanku Tasnim membuat seluruh dunia menangis tatkala dia menjerit,Baba! Baba! (Ayah! Ayah!) di hadapan kamera. Entah kenapa, keluarga kami tampaknya jadi wakil tak resmi atas keluarga² lainnya. Kami diundang untuk menghadiri protes, termasuk demonstrasi di hadapan kantor Perdana Menteri Israel di Yerusalem. Ayahku berkata pada kami bahwa dia merasa sangat bangga, dan kami pun senang melihat banyak dukungan dari masyarakat dunia, bahkan orang² Israel yang menuntut perdamaian. Enam bulan kemudian, kami mendengar bahwa 101 orang yang diasingkan diperbolehkan untuk pulang. Seperti keluarga² lainnya, kami sangat berharap ayah ada diantara mereka.
Tapi ternyata dia tidak ada.

Keesokan harinya, kami menemui para pahlawan yang telah kembali dari Lebanon untuk menanyakan apakah ada kabar tentang ayah. Tapi yang hanya bisa mereka sampaikan adalah bahwa dia baik² saja dan akan segera pulang. Tiga bulan berlalu sebelum akhirnya pihak Israel bersedia mengirim semua yang tersisa pulang. Kami senang sekali mendengar hal itu.

Di hari yang telah dijanjikan, kami menunggu dengan tak sabar di penjara Ramallah di mana sisa orang² yang diasingkan akan dibebaskan. Sepuluh orang keluar. Dua puluh. Dia ternyata tidak ada diantara mereka. Orang terakhir lewat di hadapan kami, dan prajurit berkata hanya itu saja yang ada. Tiada sedikit pun tanda² kehadiran ayah dan tiada keterangan apapun tentang keberadaannya. Keluarga² lain menyambut orang yang mereka kasihi dengan penuh suka cita, sedangkan kami diam saja di tengah² malam hari tanpa mengetahui di manakah ayah berada. Kami pulang ke rumah dengan rasa kecewa, putus asa, dan khawatir. Mengapa dia tidak ada diantara mereka? Di manakah dia sekarang?

Keesokan harinya, pengacara ayah memberitahu bahwa ayah kami dan beberapa orang yang dideportasi lainnya telah kembali dipenjara. Rupanya, katanya, deportasi ini tidak menguntungkan pihak Israel. Sewaktu di pengasingan, ayah dan para pemimpin Palestina lainnya malah jadi berita internasional, mendapatkan simpati dunia karena mereka menganggap hukuman yang dijatuhkan berlebihan dan melanggar kemanusiaan. Di seluruh dunia Arab, orang² ini dipandang sebagai pahlawan, dan dengan begitu mereka jadi lebih penting dan berpengaruh.

Deportasi ini juga menimbulkan efek lain yang sangat jelek bagi Israel. Tawanan² menggunakan waktu mereka di pengasingan untuk membangun hubungan antara Hamas dan Hezbollah, organisasi Islam politik dan militer di Lebanon. Pertemuan ini menciptakan hubungan yang bersejarah. Ayah dan para pemimpin Hamas seringkali meninggalkan kamp agar tak terlihat oleh media untuk bertemu dengan para pemimpin Hezbollah dan Persaudaraan Muslim. Hal ini tidak bisa mereka lakukan di dalam daerah Palestina.

Ketika ayah dan orang² tersebut berada di Lebanon, anggota² Hamas yang paling radikal masih bebas dan mereka menjadi jauh lebih ganas daripada sebelumnya. Dan sewaktu anggota² baru radikal berkuasa untuk sementara dalam Hamas, kesenjangan antara Hamas dan PLO semakin lebar.

Di saat itu, Israel dan Yasser Arafat mengadakan negosiasi rahasia, yang menghasilkan Perjanjian Oslo (Oslo Accords) di tahun 1993. Di tanggal 9 September, Arafat menulis surat pada PM Israel Yitzhak Rabin di mana Arafat mengakui secara resmi “hak Negara Israel untuk berdiri dengan aman dan damai” dan menolak “penggunaan terorisme dan segala aksi kekerasan.”

Rabin lalu juga mengakui PLO secara resmi sebagai “perkawilan masyarakat Palestina,” dan Presiden Bill Clinton mencabut larangan pihak Amerika untuk menghubungi PLO. Di tanggal 13 September, dunia terheran-heran melihat foto Arafat dan Rabin berjabatan tangan di Gedung Putih. Pengumpulan pendapat menunjukkan bahwa sebagian besar rakyat Palestina di Tepi Barat dan Baza mendukung isi Perjanjian tersebut, yang juga dikenal sebagai Deklarasi Prinsip (Declaration of Principles = DOP). Dokumen perjanjian ini kemudian menciptakan Otoritas Palestina (Palestinian Authority = PA); yang meminta tentara Israel ditarik dari Gaza dan Yerikho; mengembalikan kekuasaan pada penghuni daerah itu; dan membuka pintu bagi Arafat dan juga bagi PLO dari pengasingan di Tunisia.

Tapi ayahku menentang DOP. Dia tidak percaya akan Israel atau PLO dan karenanya tidak percaya pada proses perdamaian tersebut. Pemimpin Hamas lainnya, jelasnya, punya alasan sendiri dalam menentang DOP, termasuk menduga perjanjian damai itu sebenarnya adalah tongkat pemukul. Hidup berdampingan secara damai dengan Israel berarti berakhirnya Hamas. Dari sudut pandang mereka, organisasi Hamas tidak bisa hidup dalam lingkungan damai. Kelompok² perlawanan lain juga terus saja melakukan kekerasan. Sungguh sukar mencapai perdamaian di mana terdapat begitu banyak tujuan dan minat yang berbeda.

Karena itu, penyerangan terus dilakukan:
○ Seorang pria Israel ditusuk sampai mati pada tanggal 24 September oleh feda’iyin Hamas di sebuah perkebunan di Basra.
○ Barisan Depan Populer bagi Pembebasan Palestina dan Jihad Islam mengatakan bertanggung jawab atas kematian dua orang Israel di gurun pasir Yudea dua minggu kemudian.
○ Dua minggu setelah itu, Hamas menembak mati dua prajurit IDF di luar daerah perumahan Yahudi di Gaza.
Tapi semua pembunuhan ini tidak jadi berita utama media seperti pembantaian Hamas di hari Jum’at, 25 Februari, 1994.

Sewaktu perayaan Yahudi Purim dan bulan suci Muslim Ramadan, seorang dokter Yahudi yang lahir di Amerika bernama Baruch Goldstein masuk Mesjid Al-Haram Al-Ibrahimi di Hebron. Menurut tradisi, Adam dan Hawa, Abraham dan Sarah, Ishak dan Rebeka, dan Yakub dan Lea dikuburkan di mesjid ini. Tanpa peringatan apapun, Goldstein menembaki orang², membunuh 25 orang Palestina yang datang untuk sholat dan melukai lebih dari 100 orang lainnya sebelum dia sendiri akhirnya dipukuli sampai mati oleh massa yang mengamuk.

Kami duduk dan menonton melalui layar TV satu persatu mayat berdarah dibawa dari tempat suci itu. Aku sangat amat terkejut. Semuanya terasa bergerak secara lamban. Di satu saat jantungku berdebar dengan kemarahan yang belum pernah kurasakan sebelumnya, kemarahan yang mengejutkan dan lalu menenangkan diriku. Di menit kemudian, aku merasa beku karena rasa duka. Lalu aku tiba² marah lagi – dan lalu terasa beku lagi. Tapi aku tidak sendirian merasakan hal ini. Tampaknya emosi masyarakat Palestina juga bangkit dan tenggelam dalam ritme yang sureal, dan membuat kami merasa lelah.

Karena Goldstein memakai baju tentara militer Israel dan jumlah prajurit IDF di tempat itu lebih sedikit daripada biasanya, maka orang² Palestina yakin bahwa dia memang dikirim oleh Pemerintah di Yerusalem. Bagi kami, prajurit yang senang menarik pelatuk senjata atau warga sipil Yahudi sinting adalah sama saja dan tak ada bedanya. Hamas sekarang bicara dengan kemarahan meluap. Mereka ingin balas dendam atas pengkhianatan ini.

Pada tanggal 6 April, sebuah bom mobil meledakkan bus di Afula, menewaskan 8 dan melukai 44 orang. Hamas berkata ini adalah pembalasan dendam atas Hebron. Di hari yang sama, dua orang Israel ditembak mati dan empat lainnya terluka saat Hamas menyerang sebuah bus yang sedang berhenti di dekat Ashdod.

Seminggu kemudian, sejarah baru terjadi ketika untuk pertamakalinya Israel mengalami serangan bom bunuh diri pertama yang resmi. Di hari Rabu pagi, tanggal 13 April, 1994 – hari yang sama ayah akhirnya dibebaskan dari penjara setelah dideportasi ke Lebanon – seorang pemuda Palestina usia 21 tahun bernama Amar Salah Diab Amarna masuk ke stasiun bus Hadra yang terletak diantara Haifa dan Tel Aviv di Israel Tengah. Dia membawa tas penuh metal dan lebih dari dua kilogram bahan peledak aseton peroksaid yang dirakit sendiri. Pada jam 9:30, dia naik bus ke Tel Aviv. Sepuluh menit kemudian, sewaktu bus keluar dari stasiun, dia meletakkan tas di lantai dan meledakkannya.

Pecahan bom menembus para penumpang dalam bus, membunuh 6 orang dan melukai 30 orang. Bom pipa yang kedua meledak di tempat yang sama, saat para pekerja palang merah tiba. Ini merupakan “serangan kedua dari lima serangan” sebagai balas dendam bagi Hebron, demikian diumumkan dalam sebuah pamflet Hamas.

Aku merasa bangga atas Hamas dan menganggap serangan² ini sebagai kemenangan besar atas pendudukan Israel. Di usia 15 tahun, aku melihat segalanya dalam hitam dan putih saja. Ada pihak yang baik dan pihak yang jahat. Pihak yang jahat layak menerima segala musibah yang mereka alami. Aku melihat bagaimana besar kehancuran yang disebabkan oleh bom dua kilogram penuh dengan paku² dan kelereng² metal terhadap daging manusia. Kuharap pihak Israel menangkap pesan keras kami.
Mereka ternyata memang menangkap pesan dengan jelas.

Setiap kali terjadi pemboman bunuh diri, para sukarelawan Yahudi Ortodox yang dikenal sebagai ZAKA (Disaster Victim Identification = Pengenalan Korban Musibah) datang di tempat, mengenakan rompi kuning. Tugas mereka adalah mengumpulkan darah dan sisa² tubuh manusia – termasuk korban non-Yahudi dan pembom sendiri – dan semuanya lalu dibawa ke pusat forensik di Jaffa. Para ahli patologi di sana bertugas mengumpulkan data bagian² tubuh yang tersisa untuk mengetahui jati diri korban. Seringkali hanya test DNA saja yang bisa menghubungkan sisa tubuh seseorang dengan sisa tubuhnya yang lain.

Anggota keluarga korban yang belum menemukan keluarga mereka diantara yang terluka di rumah sakit-rumah sakit lokal akan dianjurkan untuk memeriksa di Jaffa, di mana akhirnya kebanyakan dari mereka jadi terkejut bercampur rasa duka yang besar.

Para ahli patologi seringkali menasehati para keluarga untuk tidak melihat sisa² tubuh korban. Mereka memberitahu bahwa sebaiknya pihak keluarga mengingat keluarga yang mereka cintai sebagaimana mereka utuh sewaktu masih hidup. Tapi kebanyakan dari keluarga tetap ingin menyentuh tubuh korban keluarga mereka, bahkan jika yang tersisa hanyalah sebuah tapak kaki saja.
Karena hukum Yahudi mewajibkan seluruh tubuh mayat dikubur di hari yang sama orang itu mati, mereka pertama mengubur sisa² tubuh yang berukuran besar. Bagian² tubuh yang kecil dikuburkan kemudian, setelah identifikasi DNA dilakukan, dan ini mengorek lagi luka yang telah diderita para anggota keluarga.

Meskipun Hadera adalah pembom bunuh diri resmi yang pertama, sebenarnya usahanya adalah usaha ketiga bom bunuh diri yang dilakukan, dan ini merupakan bagian dari fase uji coba yang dilakukan ahli bom Hamas bernama Yahya Ayyash dalam menyempurnakan hasil karyanya. Ayyash adalah mahasiswa teknik di Universitas Birzeit. Dia bukanlah Muslim radikal atau pejuang nasionalis. Dia marah hanya karena dia dulu pernah meminta ijin untuk melanjutkan studinya di negara lain, dan Pemerintah Israel menolak permintaannya. Karena itu dia lalu bikin bom² dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Palestina dan menjadi orang yang paling dicari Israel.

Selain dua usaha bom bunuh diri yang gagal dan pemboman bunuh diri di tanggal 6 dan 13 April, Ayyah pada akhirnya bertanggungjawab atas kematian sedikitnya 39 orang dalam lima serangan bunuh diri berikutnya. Dia juga mengajar yang lain, seperti kawannya Hassan Salameh, untuk membuat bom.

******************

Selama Perang Teluk, Yasser Arafat mendukung serangan Saddam Hussein ke Kuwait, dan ini membuat dia dijauhi Amerika Serikat dan negara² Arab yang mendukung tentara sekutu melawan Iraq. Karena ini pulalah maka negara² itu mengalihkan dana bantuan keuangan dari PLO ke Hamas.

Meskipun begitu, Arafat tetap terpandang karena berhasil menciptakan Perjanjian Oslo. Setahun kemudian, dia, PM Israel Yitzhak Rabin, dan Menlu Israel Shimon Peres menerima Hadiah Perdamaian Nobel.
Perjanjian Oslo mewajibkan Arafat untuk mendirikan Pemerintahan Nasional Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Maka pada tanggal 1 Juli, 1994, dia berkunjung ke perbatasan Mesir yakni Rafah, dekat Gaza, dan lalu tinggal di sana.

“Kesatuan nasional,” katanya pada kumpulan massa yang merayakan dia kembali dari pengasingan, “adalah … perisai kita, perisai masyarakat kita. Kesatuan. Kesatuan. Kesatuan.” [3] Tapi daerah² Palestina sangatlah tidak bersatu.
[3] “Kembalinya Arafat: Kesatuan adalah Perisai Masyarakat Kita,” New York Times, 2 Juli, 1994, http://www.nytimes.com/1994/07/02/world … eople.html (diakses tanggal 23 November, 2009).

Hamas dan pendukungnya marah terhadap Arafat yang telah mengadakan pertemuan rahasia dengan Israel dan berjanji pada masyarakat Palestina bahwa mereka tidak perlu lagi berperang. Teman² kami masih berada di penjara² Israel. Kami tidak punya negara Palestina. Satu²nya otonomi yang kami miliki hanyalah kota Yerikho di Tepi Barat – kota kecil yang tak punya apapun – dan Gaza yang hanya sekedar kamp penampungan besar dan terlalu padat terletak dekat pantai.

Sekarang Arafat duduk bersama dengan orang² Israel di meja yang sama dan berjabatan tangan. “Bagaimana dengan darah orang² Palestina?” tanya kami pada satu sama lain. “Apakah dia menganggap darah itu murah sekali?”

Di lain pihak, sebagian orang Palestina beranggapan bahwa setidaknya PA menyerahkan Gaza dan Yerikho pada kami. Sedangkan apa yang dicapai Hamas selama ini bagi kami? Apakah Hamas berhasil membebaskan satu desa kecil Palestina saja?

Mungkin pemikiran mereka masuk akal. Tapi Hamas tidak percaya pada Arafat – terutama karena dia tidak keberatan akan Negara Palestina di dalam Israel dan bukannya merebut kembali seluruh daerah Palestina sebelum negara Israel berdiri.

“Kalian ingin kami berbuat apa?” tanya Arafat dan para juru bicaranya setiap kali mereka didesak. “Selama berpuluh tahun, kami memerangi Israel dan menyadari kami tidak akan bisa menang. Kami dibuang dari Yordania dan Lebanon dan terdampar di Tunisia yang jauhnya lebih dari 1.000 mil dari tempat asal. Masyarakat internasional juga menentang kami. Kami tak punya kekuatan. Uni Sovyet rubuh, dan membuat AS menjadi satu²nya negara adidaya, dan AS juga mendukung Israel. Kami diberi kesempatan untuk mendapatkan semua yang kami miliki sebelum terjadi Perang Enam Hari di 1967 dan untuk memerintah diri kami sendiri. Inilah kesempatan yang kami ambil.”

Beberapa bulan sebelum tiba di Gaza, Arafat mengunjungi Ramallah untuk pertama kalinya. Diantara lusinan para pemimpin agama, politik, dan bisnis, ayahku berdiri dalam barisan orang yang menyambut Arafat. Ketika pemimpin PLO itu tiba di hadapan Syeikh Hassan Yousef, dia mencium tangan ayahku, sebagai tanda bahwa dia mengakuinya sebagai pemimpin agama dan juga pemimpin politik.

Tahun berikutnya, ayahku dan para pemimpin Hamas sering bertemu dengan Arafat di kota Gaza dalam usaha rujuk dan menyatukan PA dan Hamas. Tapi pembicaraan gagal ketika Hamas akhirnya menolak untuk berpartisipasi dalam proses perdamaian. Perbedaan ideologi dan tujuan kami tidak dapat disatukan.

******************

Perubahan Hamas menjadi organisasi teroris sepenuhnya telah lengkap sudah. Banyak dari anggota mereka yang telah memanjat tangga Islam dan berada di puncak tangga. Para pemimpin politik moderat seperti ayahku tidak akan memberitahu para militan bahwa yang mereka lakukan salah. Para pemimpin itu tidak bisa mengatakan begitu; atas dasar apa perbuatan militan itu dianggap salah? Para militan itu didukung sepenuhnya oleh Qur’an.

Meskipun belum pernah membunuh orang secara langsung, ayahku setuju saja dengan serangan² yang dilakukan. Pihak Israel yang tak mampu menemukan dan menangkap militan² muda yang ganas, jadi mengarah pada sasaran empuk seperti ayahku. Kupikir mungkin mereka mengira karena ayah adalah pemimpin Hamas yang memerintahkan penyerangan² tersebut, keputusan memenjarakan ayah akan bisa menghentikan serangan. Tapi pihak Israel tidak pernah benar² berusaha untuk mencari tahu siapa dan apakah Hamas sebenarnya. Baru setelah bertahun-tahun penuh derita, akhirnya mereka bisa menyadari bahwa Hamas bukanlah organisasi biasa yang bertingkat dan punya aturan seperti organisasi yang umumnya dikenal orang. Hamas itu bagaikan hantu. Hamas adalah sebuah gagasan. Kau tidak dapat menghancurkan sebuah gagasan; kau hanya bisa membangkitkannya. Hamas itu bagaikan cacing pita yang jika dipotong kepalanya, maka kepala itu akan tumbuh jadi seekor cacing yang baru.

Masalahnya adalah tujuan dan cita² organisasi Hamas hanyalah ilusi belaka. Syria, Lebanon, Iraq, Yordania, dan Mesir telah  berkali-kali mencoba dan gagal untuk mendorong Israel tenggelam ke laut dan merubah tanah itu menjadi negara Palestina. Bahkan Saddam Hussein dan rudal² Scud-nya juga gagal. Agar jutaan pengungsi Palestina bisa mendapatkan kembali rumah, tanah pertanian, dan harta benda mereka yang hilang lebih dari 50 tahun yang lalu, Israel harus mau berganti tempat dengan mereka. Dan karena hal ini tidak akan pernah terjadi, maka Hamas itu bagaikan tokoh Sisyfus dalam mythologi Yunani – dia dikutuk selamanya untuk menggulirkan batu bundar besar pada bukit terjal yang menanjak, hanya untuk kemudian melihat batu itu menggelundung lagi ke bawah, dan tidak akan pernah mencapai puncak bukit.

Tokoh Sisyfus dalam dongeng Yunani.

Meskipun begitu, Muslim yang menyadari bahwa missi Hamas adalah sia² belaka tetap beriman bahwa Allâh suatu hari akan menghancurkan Israel, bahkan jika dia harus melakukannya melalui muzizat.

Bagi Israel, nasionalis PLO adalah masalah politik yang butuh solusi politik. Di lain pihak, Hamas adalah masalah Palestina yang diIslamisasikan, dan membuat itu jadi masalah agama. Dengan begitu, masalah ini hanya bisa dipecahkan melalui solusi agama, dan ini juga berarti masalah itu tidak akan pernah bisa dipecahkan karena kami beriman bahwa tanah itu milik Allâh. Titik. Pembicaraan selesai. Jadi bagi Hamas, masalah utama bukanlah kebijaksanaan politik Israel, melainkan keberadaan negara Israel itu sendiri.

Lalu bagaimana dengan ayahku? Apakah dia juga jadi seorang teroris? Di suatu sore, aku membaca berita utama di koran tentang bom bunuh diri (atau disebut sebagai “operasi syahid” oleh sebagian Hamas) yang membunuh banyak penduduk sipil, termasuk para wanita dan anak². Sungguh mustahil bagiku untuk menghubungkan kebaikan sifat ayahku dan kepemimpinannya dengan organisasi yang melakukan hal semacam itu. Aku menunjukkan artikel itu padanya dan bertanya pendapatnya akan perbuatan² membunuh seperti itu.
“Suatu kali,” jawabnya, “aku meninggalkan rumah dan diluar tampak sebuah serangga. Aku berpikir dua kali untuk membunuhnya atau tidak. Dan aku tak sanggup membunuhnya.” Jawaban tak langsung ini adalah caranya berkata bahwa dia secara pribadi tidak akan ikut dalam pembunuhan membabibuta seperti itu. Tapi warga sipil Israel bukanlah serangga.

Ayahku memang tidak merakit bom², mengikatkannya di tubuh pembom bunuh diri, dan menyeleksi target sasaran ledak. Bertahun-tahun kemudian aku mengenang jawaban ayahku ketika aku membaca kisah di Alkitab Perjanjian Baru tentang perajaman pemuda tak berdosa bernama Stefanus. Tertulis di situ bahwa, “Saulus berada di situ, memberi persetujuan Stefanus mati dibunuh” (Kisah Para Rasul 8:1).

Aku sangat mencintai ayahku, dan aku sangat mengagumi dirinya dan perjuangannya. Tapi bagi seorang pria yang tak tega untuk menyakiti serangga, dia tentunya menemukan cara untuk membenarkan tindakan meledakkan diri sendiri dengan tujuan membunuh orang lain menjadi serpihan daging, selama dia pribadi tidak membasahi tangannya dengan darah.
Pada saat itu, pandanganku terhadap ayah berubah menjadi lebih rumit.

Bersambung ke  Bab 9-12

Bab 1-4 ; Bab 5-8 ; Bab 13-16 ; Bab 17-20 ; Bab 21-24

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Son of Hamas (Putra Hamas). Bab 1-4

Bab 1 – Tertangkap
1996

Aku mengemudikan mobil Subaru putihku yang kecil di sudut jalan sempit yang menuju ke jalan bebas hambatan di luar kota Tepi Barat Ramallah. Dengan menginjak pedal rem perlahan, aku mendekati satu pos pemeriksaan yang terdapat di sepanjang jalanan ke dan dari Yerusalem.

“Matikan mesin! Hentikan mobil!” seseorang berteriak dalam bahasa Arab yang kurang baik.
Tanpa peringatan apapun, enam prajurit Israel meloncat keluar dari semak tempat persembunyian dan menghalangi mobilku, setiap orang membawa senapan otomatis, dan setiap senapan ditodongkan langsung pada kepalaku.

Rasa panik mencekik tenggorokanku. Aku hentikan mobil dan melempar kunci mobil ke luar jendela.
“Keluar! Keluar!”
Tanpa menunda lagi, salah seorang prajurit membuka pintu dan melemparkan aku ke tanah berdebu. Aku tidak sempat melindungi wajahku ketika pemukulan dilakukan. Tapi meskipun aku mencoba melindungi mukaku, sepatu² bot prajurit yang berat dengan cepat menemukan target lain: iga, ginjal, punggung, leher, kepala.

Dua dari mereka menyeretku dan memasukkanku ke dalam pos pemeriksaan, di mana aku dipaksa berlutut di belakang barikade yang terbuat dari semen. Tanganku diikat di belakang punggung dengan tali plastik tajam yang diikat terlalu erat. Seseorang lalu menutup mataku dan mendorongku masuk ke dalam sebuah jip dan jatuh ke lantai. Rasa takut bercampur marah kurasakan sewaktu aku bertanya-tanya kemanakah mereka akan membawaku dan berapa lama aku akan berada di sana. Aku hampir mencapai usia 18 tahun dan dua minggu lagi akan menjalani ujian akhir SMA. Apakah yang akan terjadi padaku?

Setelah perjalanan singkat, mobil Jeep itu berhenti. Seorang prajurit menarik diriku keluar dari bagian belakang Jeep dan membuka penutup mataku. Sambil memicingkan mata karena silau cahaya matahari, aku menyadari bahwa aku berada di Pusat Tentara Ofer. Tempat ini adalah pusat pertahanan militer Israel, dan Ofer merupakan fasilitas militer terbesar dan terketat di seluruh Tepi Barat.

Sewaktu kami berjalan ke bangunan utama, kami melewati beberapa tank bersenjata, yang ditutupi kanvas. Tank raksasa ini selalu membuatku ingin tahu setiap kali melihatnya dari luar daerah militer Israel. Tank² ini tampak seperti batu raksasa yang sangat besar.

Setelah berada di dalam gedung, kami bertemu dengan seorang dokter yang memeriksaku dengan cepat, untuk memastikan apakah aku mampu menanggulangi pemeriksaan keras. Tampaknya aku lulus karena dalam beberapa menit saja tanganku diikat dan mataku ditutup lagi, dan aku lalu didorong kembali masuk Jeep.

Tempatku berbaring kecil sekali, hanya cukup untuk kaki orang. Ketika aku berusaha menggerakkan badanku di tempat kecil itu, seorang prajurit kekar meletakkan sepatu botnya di pinggangku dan menekankan laras senjata M 16-nya pada dadaku. Uap bensin panas yang memenuhi bagian lantai Jeep menyesakkan tenggorokanku. Setiap kali aku berusaha menyesuaikan diri di tempat kecil tersebut, prajurit itu menekankan laras senjatanya lebih dalam ke dadaku.

Tanpa peringatan apapun, rasa sakit menusuk tajam di seluruh tubuhku dan membuat jari² kakiku mengejang kaku. Rasanya bagaikan sebuah roket meledakkan kepalaku. Pukulan di kepala ini datang dari bagian tempat duduk depan, dan aku lalu mengetahui bahwa salah satu prajurit tentunya telah menggunakan popor senapan untuk memukul kepalaku. Sebelum aku mampu melindungi diriku, dia memukulku lagi lebih keras di bagian mata. Aku mencoba menghindar dari jangkauannya tapi prajurit yang menggunakan tubuhku sebagai alas kakinya menarikku ke depan.

“Jangan bergerak atau aku tembak kamu!” bentaknya.
Tapi aku tidak bisa tak bergerak. Setiap kali temannya memukulku, tubuhku terhentak ke belakang dengan sendirinya.

Di bawah kain penutup, mataku mulai membengkak, dan mukaku terasa beku. Aku tidak merasa ada sirkulasi darah di bagian kakiku. Nafasku tersengal-sengal. Aku belum pernah mengalami rasa sakit sehebat itu. Tapi yang lebih buruk daripada rasa sakit adalah rasa takut berada di bawah kekuasaan orang² yang tak mengenal ampun dan tak manusiawi. Pikiranku melayang sewaktu aku berusaha mengerti motivasi para penyiksaku. Aku mengerti bahwa berperang dan membunuh karena rasa benci, amarah, balas dendam, dan bahkan karena terpaksa melakukannya. Tapi aku kan tidak melakukan apapun pada para prajurit ini. Aku bukanlah ancaman bagi mereka. Aku diikat, ditutup mata, dan tidak bersenjata. Apakah yang ada dalam diri mereka sehingga mereka begitu suka menyakitiku? Bahkan binatang yang paling sederhana sekalipun membunuh karena suatu alasan, dan bukan hanya karena kesenangan saja.

Aku memikirkan bagaimana perasaan ibuku jika dia mengetahui aku ditangkap. Karena ayahku sudah berada di penjara Israel, maka akulah satu²nya pria dalam keluargaku. Apakah aku akan dipenjara selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun seperti ayahku? Jika memang itu yang terjadi, apakah ibu kuat kehilangan aku pula? Aku mulai mengerti perasaan ayahku – khawatir akan keluarganya dan merasa sedih sekali membayangkan penderitaan keluarga yang mengkhawatirkan dirinya. Airmataku bergulir membayangkan wajah ibuku.

Aku juga berpikir apakah tahun² di SMA akan berlalu percuma begitu saja. Jika aku dipenjara di Israel, tentunya aku tidak akan bisa ikut ujian akhir SMA bulan depan. Pertanyaan dan jeritan berpacu dalam pikiranku kala pukulan² terus menerjang: Mengapa kau lakukan ini padaku? Apa yang telah aku lakukan padamu? Aku bukan seorang teroris! Aku hanyalah pemuda biasa saja. Mengapa kau memukuliku seperti ini?
Aku yakin aku pingsan berkali-kali, tapi setiap kali aku siuman, para prajurit masih berada di sana untuk kembali memukuliku. Aku tidak bisa menghindari serangan mereka. Yang dapat kulakukan hanyalah menjerit. Aku merasakan rasa mual dari tenggorakanku dan aku muntah².
Aku merasa sangat sedih sebelum akhirnya kehilangan kesadaran. Apakah ini akhir hidupku? Apakah aku akan mati sebelum hidupku benar² dimulai?

Bab 2 – Tangga Iman
1955-1977

Namaku adalah MOSAB HASSAN YOUSEF.
Aku adalah putra sulung dari Syeikh Hassan Yousef, yang merupakan satu dari tujuh pendiri organisasi Hamas. Aku lahir di desa Tepi Barat dekat Ramallah, dan aku adalah bagian dari keluarga² Islam yang paling relijius di Timur Tengah.

Kisahku dimulai dari kakekku, yakni Syeikh Yousef Dawood, yang merupakan pemimpin agama – atau imam – bagi desa Al-Janiya, yang terletak di bagian Israel yang disebut Alkitab sebagai Yudea dan Samaria. Aku sangat mencintai kakekku. Jenggotnya yang lembut dan putih menyentuh pipiku saat dia memelukku, dan aku bisa duduk berjam-jam mendengarkan suaranya yang lembut dalam melafalkan adhan – panggilan Muslim untuk sholat. Dan aku punya banyak kesempatan melakukan ini karena Muslim harus sholat lima kali sehari. Melafalkan adhan dan Qur’an tidaklah mudah, tapi jikalau kakekku melakukannya, suaranya sungguh mempesona.

Ketika aku masih kecil, sebagian pelafal adhan sangat menggangguku sehingga aku ingin menutup telinga. Tapi ayahku adalah adalah orang yang sabar, dan dia membawa pendengar untuk larut memahami makna adhan sewaktu dia menyanyikannya. Dia percaya setiap kata yang diucapkannya.

Sekitar 400 orang hidup di Al-Janiya sewaktu berada di bawah kekuasaan Yordania dan pendudukan Israel. Tapi masyarakat dusun kecil ini tidak tertarik akan politik. Terletak di daerah lembah beberapa mil barat daya Ramallah, Al-Janiya adalah tempat yang damai dan indah. Sinar mentari pagi mewarnai semua bagian dengan warna jingga dan ungu. Udaranya segar dan bersih, dan dari puncak bukit kau bisa melihat seluruh pemandangan dengan jelas sampai ke Mediterania.

Setiap jam 4 pagi, kakekku bangun untuk pergi ke mesjid. Setelah dia selesai melakukan sholat subuh, dia akan membawa keledai kecilnya ke lahan taninya, mengolah tanah, mengurus pohon² zaitun, dan minum air segar dari mata air yang keluar dari gunung. Tiada polusi udara karena hanya seorang saja di Al-Janiya yang punya mobil.

Ketika dia berada di rumah, kakekku mempersilakan para tamu berdatangan. Dia itu lebih dari sekedar imam – dia adalah segalanya bagi masyarakat desa. Dia berdoa bagi setiap bayi yang baru lahir dan membisikkan adhan di telinga mereka. Ketika ada orang mati, kakekku akan memandikannya dan mengurapi tubuhnya dan membungkusnya dengan kain. Dia pula yang menikahkan masyarakat, dan menguburkan masyarakat.

Ayahku, Hassan, adalah putra yang paling disayangi kakek. Bahkan sejak kecil, meskipun bukan kewajibannya, ayah sering ikut kakekku ke mesjid. Tiada saudara²nya yang lain yang peduli akan Islam seperti ayahku.

Sambil duduk di sebelah ayahnya, Hassa belajar melafalkan adhan. Dan juga seperti ayahnya, dia pun memiliki suara dan ketertarikan yang membuat orang menjawab panggilannya. Kakekku sangat bangga akan ayahku. Ketika ayah masih berusia 12 tahun, kakek berkata, “Hassan, kau telah menunjukkan bahwa kau berminat akan Elohim dan Islam. Maka aku akan mengirimmu ke Yerusalem untuk belajar Syariah.” Syariah adalah hukum agama Islam yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, dari keluarga dan kesehatan sampai ke bidang politik dan ekonomi.

Hassan tidak mengerti dan tidak tertarik bidang politik dan ekonomi. Dia hanya ingin menjadi seperti ayahnya saja. Dia ingin membaca dan melafalkan Qur’an untuk melayani masyarakat. Tapi dia nantinya akan mengetahui bahwa ayahnya bukanlah sekedar imam dan pelayan masyarakat yang dicintai saja.

Karena nilai² budaya dan tradisi selalu lebih berharga bagi orang² Arab daripada aturan dan hukum Pemerintah, maka orang seperti kakekku jadi pemimpin hukum tertinggi dalam masyarakat. Hal ini terutama terjadi jika pemimpin² negara adalah orang² sekuler yang lemah dan korup, sehingga perkataan imam berpengaruh lebih dianggap sebagai hukum.

Ayahku tidak dikirim ke Yerusalem hanya untuk belajar agama Islam saja; kakek ternyata hendak mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang pemimpin. Selama beberapa tahun setelah itu, ayahku hidup dan tinggal di kota tua Yerusalem, di sebelah mesjid Al-Aqsa – yang berkubah emas dan menjadi ciri khas Yerusalem di mata penduduk dunia. Di usia 18 tahun, ayah menyelesaikan studinya dan pindah ke Ramallah, di mana dia langsung ditunjuk menjadi imam mesjid. Karena besarnya keinginan untuk melayani Allah dan umat Muslim, ayah memulai pelayanan masyarakat dengan penuh semangat, sama seperti yang dilakukan kakek di Al-Janiya.

Tapi Ramallah bukanlah Al-Janiya. Ramallah adalah kota yang ramai, sedangkan Al-Janiya adalah dusun kecil nan sepi. Sewaktu ayah pertama kali masuk mesjid di Ramallah, dia sangat terkejut karena hanya mendapatkan lima orang tua saja yang sedang menunggunya. Umat Muslim yang lain tampaknya lebih suka mengunjungi kedai kopi, bioskop film porno, mabuk²an, atau berjudi. Bahkan orang yang seharusnya menyuarakan adhan lebih memilih memasang rekaman suara saja agar permainan kartunya tidak terganggu.

Hati ayah hancur melihat keadaan orang² ini, meskipun dia tidak tahu bagaimana caranya menyentuh hati mereka. Bahkan lima orang tua di mesjid mengakui bahwa mereka berada di mesjid karena merasa ajal sudah dekat dan ingin masuk surga, tapi setidaknya mereka bersedia berada di mesjid untuk mendengarkan khotbah. Maka ayah memulai kerja dengan sedikit orang yang ada. Dia memimpin orang² ini untuk bersholat, dan mengajari mereka Qur’an. Dalam waktu singkat saja mereka mengasihi ayah bagaikan malaikat yang dikirim dari surga.

Tapi di luar mesjid sih, lain ceritanya. Bagi kebanyakan orang, rasa cinta ayahku pada tuhan Qur’an hanya menunjukkan dengan jelas sikap mereka yang acuh tak acuh pada Islam, dan ini membuat mereka tersinggung.
“Mengapa anak kecil ini melafalkan adhan?” gerutu orang² itu, sambil menunjuk pada wajah ayahku yang masih muda. “Dia tidak layak tinggal di sini. Dia hanya pengacau saja.”
“Mengapa sih anak kecil ini mempermalukan kita? Hanya orang tua saja yang mau pergi ke mesjid.”
“Aku lebih suka jadi anjing daripada jadi orang seperti kamu,”
bentak salah satu dari mereka ke wajah ayah.

Ayahku diam saja menghadapi penindasan ini, dan tidak pernah balas membentak atau membela diri. Tapi rasa cinta dan kasihnya pada masyarakat ini tidak membuatnya putus asa. Dan dia terus saja melakukan pekerjaan yang diberikan kepadanya: memanggil umat Muslim untuk kembali pada Islam dan Allâh.

Dia membagi kekhawatirannya pada kakekku, yang dengan cepat menyadari bahwa ayahku memiliki ketangguhan dan potensi yang lebih besar daripadanya yang diperkirakannya. Kakek lalu mengirim ayah melanjutkan studi Islam ke Yordania. Nantinya kalian akan mengetahui bahwa orang² yang ditemui ayah di sana akhirnya akan mengubah sejarah keluargaku dan bahkan sejarah konflik Timur Tengah. Tapi sebelum aku melanjutkan, aku ingin berhenti sejenak untuk menjelaskan beberapa hal penting dalam sejarah Islam yang akan membantu kalian untuk mengerti mengapa berbagai solusi diplomatik yang tak terhingga jumlahnya kandas semua dan perdamaian tetap tak kunjung terjadi.

Diantara tahun 1517 sampai 1923, Islam – diwakili oleh kekalifahan Ottoman – menyebar dari pusatnya di Turki ke tiga benua. Tapi setelah beberapa ratus tahun penuh kejayaan dan kekuasaan, kekalifahan Ottoman jadi terpusat dan korup, sehingga mulai lemah.

Di bawah kekuasaan Turki, desa² Muslim di seluruh Timur Tengah jadi korban penindasan dan pemerasan pajak yang tinggi. Istanbul terletak terlalu jauh bagi sang Kalifah untuk melindungi umat Muslim yang setia dari penindasan para prajurit dan penguasa lokal.

Di abad ke 20, banyak Muslim yang kehilangan iman dan mulai mencari jalan keluar lain. Banyak dari mereka yang jadi atheis karena pengaruh komunisme. Umat Muslim yang lain mengubur masalah mereka dengan minuman keras, judi, dan pornografi, yang kebanyakan diperkenalkan oleh orang² Barat yang datang ke Timur Tengah karena perkembangan industri mineral.

Di Kairo, Mesir, seorang guru sekolah yang taat Islam bernama Hassan al-Banna menangisi keadaan masyarakatnya yang miskin, tak punya pekerjaan, dan tak bertuhan. Tapi dia menyalahkan pihak Barat, dan bukan pihak Turki, dan dia yakin bahwa satu²nya harapan bagi masyarakatnya, terutama generasi muda, adalah kembali pada Islam yang asli dan murni.

Dia lalu pergi ke kedai kopi, naik di atas meja, dan mulai berkhotbah tentang Allâh. Orang² mabuk menghinanya. Para pemimpin agama Islam menentangnya. Tapi kebanyakan orang mencintainya karena dia memberikan harapan bagi mereka.

Di bulan Maret 1928, Hassan al-Banna mendirikan Masyarakat Persaudaraan Muslim (Society of the Muslim Brothers). Tujuan organisasi baru ini adalah untuk membangun kembali umat Muslim sesuai dengan aturan Islam. Dalam waktu satu dasawarsa, setiap propinsi di Mesir telah memiliki cabang organisasi. Saudara laki al-Banna mendirikan cabang lain di daerah Palestina di tahun 1935. Dua puluh tahun kemudian, organisasi Persaudaraan Muslim ini memiliki anggota sebanyak setengah juta orang di Kairo saja.

Anggota² Persaudaraan Muslim kebanyakan berasal dari kalangan miskin dan kelas rendah – tapi mereka sangat setia pada tujuan perjuangan. Mereka menyumbang uang dari kantong mereka sendiri untuk menolong sesama Muslim, sama seperti yang diperintahkan Qur’an.

Banyak orang Barat yang menyamaratakan semua Muslim sebagai teroris, tidak mengerti akan sisi Islam yang menyiratkan kasih dan pengampunan. Sisi ini peduli akan kaum miskin, para janda, dan anak yatim, juga menyediakan pendidikan dan bantuan sosial. Hal ini menyatukan dan menguatkan umat Muslim. Sisi Islam inilah yang jadi motivasi utama para pemimpin Persaudaraan Muslim awal. Tentu saja ada sisi lain Islam yang mengajak semua Muslim melakukan Jihad melawan seluruh dunia sampai umat Muslim berhasil mendirikan kekalifahan Islam atas seluruh dunia, dipimpin oleh seorang manusia suci yang berkuasa dan berbicara bagi Allâh. Hal ini penting untuk dimengerti dan diingat sebelum maju ke kisah selanjutnya. Sekarang balik dulu lagi ke pelajaran sejarah …

Di tahun 1948, Persaudaraan Muslim berusaha melakukan kudeta terhadap Pemerintah Mesir, karena Persaudaraan Muslim menganggap Pemerintah Mesir bertanggung jawab atas keadaan Mesir yang semakin sekuler. Usaha penggulingan kekuasaan ini terhenti sebelum berakibat apapun, karena berhentinya Mandat Pemerintah Inggris dan Israel memproklamasikan diri sebagai negara Yahudi yang berdaulat.

Umat Muslim di seluruh Timur Tengah sangat marah. Berdasarkan Qur’an, jikalau musuh menyerang negara Muslim manapun, semua Muslim harus bersatu untuk berperang membela tanah Muslim. Menurut sudut pandang dunia Arab, orang asing telah menyerang dan menguasai Palestina, tempat Mesjid Al-Aqsa, yang merupakan tempat Islam paling suci ketiga setelah Mekah dan Medinah. Mesjid itu dibangun di tempat yang diyakini sebagai tempat di mana Muhammad dan Jibril pergi ke surga dan berbicara dengan Abraham, Musa, dan Yesus.

Mesir, Lebanon, Syria, Yordania, dan Iraq seketika menyerang negara baru Yahudi. Diantara 10.000 pasukan Mesir terdapat ribuan sukarelawan Persaudaraan Muslim. Akan tetapi persekutuan Arab ini kalah perang. Kurang dari setahun kemudian, tentara Arab telah diusir keluar Palestina.

Sebagai akibat perang, sekitar 3/4 juta masyarakat Arab Palestina lari atau keluar dari rumah² mereka di daerah yang sekarang menjadi milik Negara Israel.

Meskipun PBB mengeluarkan Resolusi 194, yang menetapkan bahwa “para pengungsi yang ingin kembali ke rumah mereka dan hidup dama dengan para tetangga lainnya diijinkan untuk melakukan itu” dan “ganti rugi dibayarkan atas barang milik orang² yang memilih untuk tidak kembali,” anjuran ini ternyata tidak pernah dilaksanakan. Puluhan ribu orang² Palestina yang meninggalkan Israel sewaktu Perang Arab-Israel tidak pernah mendapatkan kembali rumah² dan tanah mereka. Banyak para pengungsi dan keturunannya yang hidup di kamp² pengungsian yang diatur oleh PBB hingga saat ini.

Ketika para anggota Persaudaraan Muslim yang sekarang bersenjata kembali dari medan perang ke Mesir, usaha penggulingan kekuasaan atas Pemerintah Mesir dilakukan lagi. Namun rencana kudeta ini bocor, dan Pemerintah Mesir lalu melarang organisasi Persaudaraan Muslim, menyita semua asetnya, dan memenjarakan banyak anggotanya. Mereka yang berhasil melarikan diri lalu membunuh Perdana Menteri Mesir beberapa minggu kemudian.

Hassan al-Banna dibunuh pada tanggal 12 Februari, 1949, diperkirakan oleh pasukan keamanan rahasia Pemerintah. Tapi organisasi Persaudaraan Muslim tidak jadi hancur. Dalam waktu 20 tahun saja, hassan al-Banna telah membangkitkan Islam dari tidurnya dan menciptakan revolusi Islam dengan pasukan bersenjatanya. Dalam beberapa tahun berikutnya, organisasi ini terus berhasil menambah anggota dan pengaruh diantara umat Muslim, tidak hanya di Mesir saja, tapi juga di Syria dan Yordania.

Saat ayahku tiba di Yordania di pertengahan tahun 1970-an untuk belajar Islam, Persaudaraan Muslim telah berdiri dengan kuat dan dicintai masyarakat Muslim. Anggota² Persaudaraan Muslim melakukan segala hal yang disetujui ayahku – memperkuat iman Islam diantara umat Muslim, menyembuhkan mereka yang terluka, dan mencoba menyelamatkan masyarakat dari pengaruh korup lingkungannya. Ayah yakin bahwa orang² ini adalah pembaru relijius Islam, sama seperti Martin Luther dan William Tyndale bagi umat Kristen. Mereka hanya ingin menyelamatkan dan memperbaiki nasib rakyat, dan bukan untuk membunuh dan menghancurkan. Ketika ayah bertemu dengan sebagian pemimpin awal Persaudaraan Muslim, dia berkata, “Ya, inilah yang aku cari.”
Apa yang ayahku lihat di saat² awal jaman itu adalah Islam yang mencerminkan kasih dan pengampunan. Apa yang tak dilihatnya, yang mungkin dia sendiri tidak mau lihat, adalah sisi lain dari Islam.

Islam itu bagaikan sebuah tangga. Bagian tangga paling bawah adalah sholat dan pujian bagi Allâh. Tangga yang berikutnya adalah menolong Muslim mikin dan membutuhkan bantuan, mendirikan sekolah², dan mengadakan zakat. Tangga yang paling atas adalah Jihad.

Tangga ini tinggi. Hanya segelintir orang saja yang mau melihat apa yang ada di tangga paling atas. Dan kesadaran akan hal itu hanya perlahan saja berlangsung, dan bahkan hampir tidak mungkin terjadi. Hal ini bagaikan kucing mengincar burung. Si burung tidak pernah mengalihkan pandangan mata dari kucing, tapi dia diam saja sambil terus mengamati kucing maju mundur mengambil ancang² untuk menerkamnya. Burung itu tidak bisa menghitung jarak, dan tidak menyadari bahwa si kucing semakin datang mendekatinya sedikit demi sedikit, sampai, dalam waktu sekejap mata saja, cakar kucing telah basah oleh darah burung.

Muslim² tradisional berdiri di atas tangga paling bawah, hidup dalam rasa bersalah karena tidak melakukan ibadah Islam dengan taat. Di tangga paling atas terdapat Muslim fundamentalis, dan mereka inilah yang kalian lihat di berbagai berita membunuhi para wanita dan anak² demi kemuliaan tuhan Qur’an. Muslim moderat itu terletak di antara bagian bawah dan atas tangga.

Seorang Muslim moderat sebenarnya lebih berbahaya daripada Muslim fundamentalis. Akan tetapi, karena orang ini tampaknya tak berbahaya, kalian tidak akan tahu kapan orang ini akan naik memanjat tangga yang teratas. Kebanyakan para pembom bunuh diri awalnya adalah Muslim moderat.

Saat di mana ayahku menginjakkan kaki pertama kali di tangga paling bawah, dia tidak bisa membayangkan berapa jauh dia akan meninggalkan angan² Islam idealnya tatkala terus menaiki tangga. Setelah 35 tahun kemudian, aku ingin bertanya padanya:

Apakah kau ingat di mana kau memulai? Kau melihat semua Muslim tersesat, dan hatimu hancur akan mereka, dan kau ingin mereka kembali pada Allâh dan diselamatkan. Sekarang lihat para pembom bunuh diri yang membunuhi orang² yang tak bersalah. Apakah ini sesuai dengan niat awalmu?

Tapi bicara seperti itu pada ayah sendiri tidaklah lumrah dilakukan dalam masyarakat kami. Karenanya, dia terus saja menjalani jalan berbahaya tersebut.

Bab 3 – Persaudaraan Muslim (Muslim Brotherhood)
1977 – 1987

Ketika ayahku kembali ke daerah yang diduduki Israel setelah menyelesaikan studi di Yordania, dia sangat bersikap optimis dan penuh harapan bagi umat Muslim di mana pun. Dalam benaknya dia melihat masa depan cerah melalui organisasi Persaudaraan Muslim yang tampaknya moderat.

Ayah datang bersama Ibrahim Abu Salem, salah satu pendiri Persaudaraan Muslim di Yordania. Abu Salem datang untuk membawa nafas baru bagi organisasi Persaudaraan Muslim yang mandeg di Palestina. Dia dan ayah bekerja sama dengan baik, merekrut anggota pemuda² yang memiliki impian sama dan menyusun mereka dalam kelompok² aktivis kecil.
Di tahun 1977, dengan uang sebanyak 50 dinar di saku, Hassan menikahi saudara perempuan Ibrahim Abu Salem yakni Sabha Abu Salem. Aku lahir setahun kemudian.

Ketika aku berusia 7 tahun, keluarga kami pindah ke Al-Bireh, kota kembar dari Ramallah, dan ayahku menjadi imam di kamp pengungsian Al-Amari, yang  terletak di daerah perbatasan Al-Bireh. Sembilan belas kamp pengungsian terdapat di Tepi Barat, dan Al-Amari telah didirikan sejak tahun 1949 dan luasnya adalah 22 acre (8.9 hektar). Di tahun 1957, tenda² terpal diganti dengan perumahan bertembok yang saling berderet. Jalanan hanyalah selebar besar mobil, dan selokan padat dengan kotoran seperti sungai jamban. Kamp ini juga terlalu padat penduduk; airnya terlalu kotor untuk bisa diminum. Sebuah pohon berdiri sendirian di tengah² kamp. Para pengungsi bergantung sepenuhnya pada PBB untuk segala keperluan – perumahan, makanan, pakaian, obat²an, dan pendidikan.

Ketika ayahku mengunjungi mesjid untuk pertama kali, dia merasa kecewa karena hanya melihat dua baris orang bersholat, dengan jumlah 20 orang setiap baris. Beberapa bulan setelah dia berkhotbah di kamp, orang² mulai memenuhi mesjid dan lalu berlimpah ruah sampai ke jalanan. Selain sangat bertakwa pada Allâh, ayahku juga sangat mengasihi umat Muslim. Sebagai balasan, umat Muslim pun sangat mengasihinya.

Hassan Yousef sangat disukai masyarakat karena dia sama seperti mereka. Dia tidak pernah menganggap dirinya lebih tinggi daripada orang lain yang dilayaninya. Dia hidup sama seperti mereka hidup, makan makanan yang sama yang mereka makan, sholat sama seperti mereka sholat. Dia tidak mengenakan pakaian mewah. Dia dapat sedikit gaji dari Pemerintah Yordania – tak cukup untuk memenuhi kebutuhannya – yang adalah menyediakan fasilitas dan perawatan tempat² ibadah. Hari libur resminya adalah Senin, tapi dia tidak pernah memanfaatkannya. Dia tidak bekerja karena ingin dapat gaji; dia bekerja untuk menyenangkan Allâh. Baginya, ini merupakan tugas sucinya, tujuan hidupnya.

Di bulan September 1987, ayahku mengambil pekerjaan kedua sebagai guru Islam bagi murid² Muslim yang sekolah di sekolah Kristen di Tepi Barat. Karena ini kami sekeluarga makin jarang melihatnya – ini tidak dilakukannya karena dia tidak mencintai kami, tapi karena dia memang lebih mencintai Allâh daripada keluarganya. Yang tak kami sadari adalah semakin dekatnya saat di mana kami tidak lagi melihatnya sama sekali.

Sewaktu ayahku bekerja di luar, ibuku membesarkan anak² sendirian. Dia mengajarkan kami bagaimana menjadi Muslim yang baik, membangunkan kami untuk melakukansholat subuh ketika kami sudah cukup besar dan menganjurkan kami untuk puasa di bulan Ramadan. Kami enam bersaudara – saudara² lakiku Sohayb, Seif, dan Oways; saudara perempuanku Sabila dan Tasnim; dan aku sendiri. Bahkan dengan dua gaji dari dua pekerjaan ayah, kami pun masih kekurangan uang untuk bayar berbagai keperluan. Ibuku berusaha keras berhemat sekuat tenaga.

Sabila dan Tasnim mulai membantu ibu sejak usia yang sangat muda. Manis, murni dan cantik jelita, saudara² perempuanku ini tidak pernah mengeluh, meskipun mainan² mereka berdebu karena mereka tak punya kesempatan bermain. Mainan mereka malah berubah jadi peralatan rumah tangga di dapur.

“Kau bekerja terlalu keras, Sabila,” kata ibu pada saudara perempuaku yang tertua.
“Berhenti bekerja dan beristirahatlah.” Tapi Sabila hanya tersenyum dan terus bekerja.

Saudara lakiku Sohayb dan aku belajar dengan cepat bagaimana membuat api dan menggunakan oven. Kami membagi tugas memasak dan mencuci piring, dan kami semua mengurus Oways yang masih bayi.
Permainan kesenangan kami adalah Bintang². Ibuku menulis nama² kami di sebuah kertas, dan setiap malam sebelum tidur, kami berkumpul dalam sebuah lingkaran agar ibu bisa menghadiahi kami dengan “bintang²” tergantung dari apa yang telah kami lakukan hari itu. Di akhir bulan, anak yang dapat bintang terbanyak adalah pemenang; dan biasanya anak itu adalah Sabila. Tentu saja kami tak punya uang untuk membeli hadiah betulan, tapi tak jadi masalah. Bintang² itu lebih merupakan cara kami mendapatkan penghargaan dan penghormatan dari ibu, dan kami selalu menunggu dengan penuh semangat untuk melakukan permainan ini.

Mesjid Ali terletak setengah mil saja dari rumah kami, dan aku merasa bangga bisa berjalan sendiri ke sana. Aku sangat ingin jadi seperti ayahku, sama seperti dia dulu ingin jadi seperti ayahnya.

Di seberang jalan Mesjid Ali terdapat sebuah kuburan terbesar yang pernah aku lihat. Ini adalah kuburan bagi masyarakat Ramallah, Al-Bireh, dan kamp² pengungsian. Luas kuburan ini lima kali lebih besar dari seluruh kompleks perumahan kami, dan dikelilingi tembok setinggi 2 kaki (0,6 meter). Lima kali  sehari, ketika adhan berkumandang, aku berjalan ke mesjid dan nantinya pulang dari mesjid, dan selalu harus melalui ribuan kuburan ini. Bagi anak kecil seusiaku, tempat ini sangat seram, terutama di malam hari yang gelap pekat. Aku membayangkan akar² pohon besar memakan mayat² kubur.

Suatu kali seorang imam memanggil kami untuk sholat Zuhr (siang hari), aku membersihkan diri, memakai wewangian, berbaju rapih seperti ayahku, dan berjalan ke mesjid. Hari itu adalah hari yang cerah. Sewaktu aku sudah dekat mesjid, aku melihat lebih banyak mobil diparkir di luar Mesjid daripada hari biasa. Sekelompok orang tampak berdiri di pintu masuk. Aku melepaskan sepatu seperti biasa dan masuk mesjid. Dekat pintu bagian dalam tampak sebuah mayat yang ditutupi dengan kain katun putih dalam kotak terbuka. Aku belum pernah melihat mayat sebelumnya, dan meskipun aku seharusnya tidak terus memandangnya, tapi aku tetap tak bisa mengalihkan mata. Mayat itu dibungkus kain, dan hanya wajahnya saja yang tampak. Aku mengamati bagian dadanya dengan sedikit harapan dia akan mulai bernafas lagi.

Sang Imam memanggil kami untuk berbaris dan sholat. Aku berdiri di baris paling depan dengan orang² lain, dan mataku tetap terpaku pada mayat dalam kotak tersebut. Ketika kami selesai melafalkan ayat, sang Imam meminta mayat dibawa ke muka untuk didoakan. Delapan pria mengangkat kotak di atas bahu mereka dan seseorang berteriak, “La ilaha illallah! (Tiada ilah selain Allâh)” Bagaikan sudah diatur, orang² lain lalu menyahut, “La ilaha illallah! La ilaha illallah!”

Aku mengenakan sepatuku secepatnya dan mengikuti rombongan orang pergi ke kuburan. Karena aku pendek, aku harus berlari untuk bisa mengimbangi langkah kaki orang² dewasa agar tidak ketinggalan. Sebelumnya aku belum pernah masuk kuburan, tapi kali ini memberanikah diri karena masuk bersama banyak orang.
“Jangan injak kuburan orang,” seseorang berteriak. “Itu dilarang!”
Aku dengan hati² menyusup diantara orang² banyak sampai kami tiba di liang kuburan yang dalam dan terbuka. Aku melihat dasar lubang kubur selebar 8 kaki (2,4 meter), di mana seorang tua sedang berdiri. Aku mendengar anak² tetangga bicara tentang orang ini, namanya adalah Juma’a. Mereka bilang dia tidak pernah datang ke mesjid dan tidak percaya tuhan Qur’an, tapi dia menguburkan orang mati, kadangkala dua atau tiga mayat per hari.

Apakah dia tidak takut kematian sama sekali? Aku bertanya-tanya.
Orang² menurunkan mayat ke tangan² kokoh Juma’a. Mereka lalu memberinya botol cologne dan cairan hijau yang berbau segar dan enak. Juma’a membuka kain kafan dan menaburkan cairan² wewangian itu di atas tubuh mayat.
Juma’a lalu memiringkan mayat sehingga berbaring di sebelah kanan tubuh mayat, menghadap Mekah, dan memagari sekujur tubuh mayat dengan bongkahan semen. Empat orang lalu menutup kubur dengan sekop, dan imam lalu mulai berkhotbah. Dia memulainya seperti ayahku.
“Orang ini telah pergi,” dia berkata, pada saat yang sama tanah jatuh menutupi wajah, leher, dan tangan mayat. “Dia meninggalkan segalanya – uang, rumah, anak perempuan dan laki, dan istrinya. Begitulah nasib bagi kita semua.”

Dia mengajak kami untuk bertobat dan berhenti berbuat dosa. Lalu dia mengatakan hal yang belum pernah kudengar dari ayahku: “Jiwa orang ini akan segera kembali padanya dan dua malaikat maut Munkar dan Nakir akan datang dari langit untuk memeriksanya. Mereka akan mencekal tubuhnya dan mengguncangnya, sambil bertanya, ‘Siapakah Elohimmu?’ Jika dia menjawab dengan salah, maka para malaikat ini akan memukulinya dengan palu besar dan mengirim dia kembali masuk ke dalam tanah selama 70 tahun. “Allâh, kami minta kau memberi kami jawaban² yang benar jika saat kematian kami tiba!”

Aku melotot melihat kuburan dengan rasa takut. Tubuh itu hampir terkubur semuanya, dan aku bertanya-tanya berapa lama lagi sebelum pertanyaan² diajukan baginya.
“Dan jika jawaban²nya tidak memuaskan, berat tanah di atas tubuhnya akan menghancurkan tulang² rusuknya. Cacing² akan memakan tubuhnya secara perlahan. Dia akan disiksa ular berkepala 99 dan kalajengking berukuran sebesar leher unta sampai hari kiamat, tatkala penderitaannya mungkin mendapat pengampunan Allâh.”

Aku sungguh tak bisa percaya semua ini terjadi di dekat rumahku setiap kali mereka mengubur seseorang. Aku tidak pernah merasa nyaman dengan kuburan ini; tapi sekarang aku malah merasa lebih takut lagi. Aku merasa harus mengingat pertanyaan² itu, sehingga jika nanti aku mati dan ditanyai malaikat maut, aku bisa menjawab dengan benar.

Sang imam berkata bahwa pertanyaan akan langsung diajukan setelah orang terakhir meninggalkan kuburan. Aku pulang ke rumah, tapi tidak bisa melupakan apa yang dikatakannya. Aku lalu ingin kembali ke kuburan untuk mendengarkan siksa kubur. Aku ajak beberapa teman untuk menemaniku, tapi mereka semua menganggap aku gila. Karena itu aku harus datang sendirian saja. Dalam perjalanan kembali ke kuburan, tubuhku gemetar oleh rasa takut. Aku sungguh tak dapat menguasai rasa takut itu. Tak lama kemudian aku tiba di lautan kuburan. Aku ingin berlari, tapi rasa ingin tahuku lebih besar. Aku ingin mendengar pertanyaan² diucapkan, jeritan² – atau apa sajalah. Tapi aku ternyata tak mendengar apapun. Aku berjalan mendekat sampai bisa menyentuh batu nisan. Hanya sunyi senyap saja. Sejam berlalu, dan aku jadi bosan dan kembali pulang ke rumah.

Ibuku sedang sibuk di dapur. Aku katakan padanya bahwa aku pergi ke penguburan di mana imam mengatakan akan terjadi penyiksaan.
“Lalu bagaimana…?”
“Lalu aku kembali setelah orang² meninggalkan mayat itu, tapi aku tidak mendengar apapun tuh.”
“Penyiksaan hanya bisa didengar oleh binatang² saja,” jawab ibu, “orang sih tak bisa mendengarnya.”
Bagi anak usia 8 tahun, penjelasan ini masuk akal.

Setelah saat itu, aku memperhatikan penguburan yang dilakukan di tempat itu. Lama kelamaan aku jadi terbiasa dan hanya melihat untuk mengetahui siapakah yang mati. Kemaren, seorang wanita. Hari ini, seorang pria. Suatu hari, mereka menguburkan dua orang, dan lalu sejam kemudian, mereka membawa mayat baru. Ketika tiada mayat yang harus dikubur, aku berjalan-jalan di antara kuburan dan membaca keterangan orang² yang dikubur di situ. Seseorang telah mati sejak 100 tahun yang lalu. Yang lain sejak 25 tahun yang lalu. Siapa ya namanya? Asalnya dari mana? Kuburan itu jadi tempat bermainku.

Sama seperti aku, para temanku juga awalnya takut akan kuburan tersebut. Tapi kami saling menantang siapa yang berani memanjat tembok kuburan di malam hari. Karena tiada seorang pun yang mau disebut pengecut, maka kami semua akhirnya bisa menguasai rasa takut kami. Kami bahkan lalu bermain sepak bola di tanah lapang kuburan tersebut.

*****************

Sewaktu keluarga kami bertambah besar, begitu pula yang terjadi dengan organisasi Persaudaraan Muslim. Dalam waktu singkat, organisasi yang tadinya beranggotakan orang² miskin dan para pengungsi, mulai berubah dengan mengikutseratakan anggota² pria dan wanita muda yang berpendidikan, orang² bisnis dan profesional yang menyumbangkan uang mereka untuk mendirikan berbagai sekolah, badan sosial, dan klinik kesehatan.

Melihat perkembangan ini, banyak pemuda dalam gerakan Islam, terutama di Gaza, yang menganggap Persaudaraan Muslim perlu menempatkan diri dalam menghadapi pendudukan Israel. Kami telah mengurus masyarakat, kata mereka, dan kami akan terus melakukan hal itu. Tapi apakah kami akan terus menerima pendudukan wilayah untuk selamanya? Bukankah Qur’an telah memerintahkan kita untuk mengusir para penyerang Yahudi? Para pemuda ini tidak bersenjata, tapi mereka tangguh dan penuh tekad perang.

Ayahku dan para pemimpin Tepi Barat lainnya tidak setuju. Mereka tidak siap untuk mengulangi kesalahan Mesir dan Syria, di mana Persaudaraan Muslim berusaha melakukan kudeta dan gagal. Di Yordania, kata mereka, para saudara kami tidak berperang. Mereka berpartisipasi dalam Pemilu dan punya pengaruh kuat dalam masyarakat. Ayahku tidak menentang kekerasan, tapi dia berpendapat masyarakatnya cukup kuat untuk melawan militer Israel.

Selama beberapa tahun, perdebatan dalam Persaudaraan Muslim terus berlangsung dan tekanan untuk melakukan kekerasan bertambah besar. Karena frustasi melihat Persaudaraan Muslim tidak juga melakukan apapun, Fathi Shaqaqi mendirikan Palestina Islamic Jihad di akhir tahun 1970-an. Meskipun begitu, Persaudaraan Muslim tetap tidak melakukan kekerasan sampai 10 tahun kemudian.

Di tahun 1986, pertemuan rahasia dan bersejarah terjadi di Hebron, sebelah selatan Bethlehem. Ayahku juga hadir dalam pertemuan ini, meskipun dia tidak memberitahuku sampai bertahun-tahun kemudian. Tidak seperti penjelasan sejarah sebelumnya yang kurang tepat, tujuh orang berikut hadir dalam pertemuan tersebut:

○ Syeikh Ahmed Yassin yang memakai kursi roda, dan jadi pemimpin rohani organisasi baru
○ Muhammad Jamal al-Natsheh dari Hebron
○ Jamal Mansour dari Nablus
○ Syeikh Hassan Yousef (ayahku)
○ Mahmud Muslih dari Ramallah
○ Jamil Hamami dari Yerusalem
○ Ayman Abu Taha dari Gaza

Orang² yang menghadiri pertemuan ini akhirnya sudah siap untuk perang. Mereka sepakat untuk memulai pemberontakan sipil kecil²an – melempari batu dan membakar ban. Tujuan mereka adalah untuk membangkitkan, menyatukan, dan mengumpulkan masyarakat Palestina dan membuat mereka mengerti perlunya independen di bawah bendera Allâh dan Islam. [1]
Hamas lahir dari pertemuan itu. Dan ayahku memanjat beberapa tangga lagi untuk lebih dekat ke puncak tangga Islam.

[1] Tiada seorang pun yang tahu akan hal ini sebelumnya. Tiada penjelasan sejarah yang benar² tepat tentang terbentuknya Hamas. Contoh, Wikipedia mengatakan “Hamas didirikan di tahun 1987 oleh Syeikh Akhmed Yassin, Abdel Aziz al-Rantissi, dan Mohammad Taha oleh cabang Persaudaraan Muslim cabang Palestina di awal Intifada pertama…”
Penjelasan ini benar tentang dua orang dari tujuh tokoh pendiri Hamas, dan meleset satu tahun. Lihat Wiki: Hamas (diakses tanggal 20 November, 2009).
Website MidEastWeb mengatakan, “Hamas dibentuk sekitar bulan Februari 1988 untuk mengijinkan Persaudaraan Muslim ikut serta dalam Intifada pertama. Para pendiri Hamas adalah: Ahmad Yassin, ‘Abd al-Fattah Dukhan, Muhammed Shama’, Ibrahim al-Yazuri, Issa al-Najjar, Salah Shehadeh (dari Bayt Hanun) dan ‘Abd al-Aziz Rantisi. Dr. Mahmud Zahari biasanya juga tercantum sebagai pendiri asli Hamas. Para pemimpin lainnya adalah: Syeikh Khalil Qawqa, Isa al-Ashar, Musa Abu Marzuq, Ibrahim Ghusha, Khalid Mish’al.” Keterangan ini malah lebih tidak tepat dibandingkan Wikipedia. Lihat Hamas History (diakses pada tanggal 20 November, 2009).

Bab 4 – Melempar Batu
1987-1989

Hamas membutuhkan suatu peristiwa – peristiwa apapun – yang bisa membenarkan tindakan perlawanan. Peristiwa ini terjadi di bulan Desember 1987, meskipun semuanya berawal dari salah pengertian tragis semata.

Di Gaza, seorang penjual plastik Israel bernama Shlomo Sakal ditusuk sampai mati. Beberapa hari kemudian, empat orang dari kamp pengungsi Jabalia di Gaza terbunuh dalam kecelakaan lalu lintas biasa. Tapi lalu tersebar kabar bahwa mereka dibunuh orang² Israel yang membalas dendam atas kematian Sakal. Keributan massal lalu terjadi di Jabalia. Seorang pemuda berusia 17 tahun melempar bom molotov dan ditembak mati oleh prajurit Israel. Di Gaza dan Tepi Barat, semua orang turun ke jalanan. Hamas memimpin gerakan ini, membakar kemarahan massa yang kemudian jadi cara berperang baru melawan Israel. Anak² melemparkan batu² pada tank² Israel, dan foto² mereka bermunculan di berbagai sampul depan majalah² internasional di minggu yang sama.

Intifada pertama telah terjadi, dan perjuangan rakyat Palestina menjadi berita dunia. Ketika intifada dimulai, kuburan tempat bermain kami jadi berubah total. Setiap hari, mayat berdatangan lebih sering dari semula. Kemarahan dan dendam bergandengan tangan bercampur rasa sedih. Orang² Palestina mulai melemparkan batu pada orang² Yahudi yang berkendaraan melalui kuburan untuk mencapai perumahan Israel yang jauhnya satu mil dari tempat itu. Para penduduk Israel yang bersenjata dibunuhi. Ketika Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defence Force = IDF) datang di tempat itu, terjadi lebih banyak lagi baku tembak, luka², dan kematian.

Rumah kami terletak di tengah² segala kekacauan. Seringkali gentong² penampungan air di atas rumah kami bocor tertembak peluru² Israel. Tubuh² tak bernyawa para feda’iyin atau pejuang kemerdekaan yang dibawa ke kuburan kami tidak lagi hanya orang² lanjut usia saja. Kadangkala mayat masih berlumuran darah dan belum dimandikan, tidak dibungkus kain kafan. Setiap orang yang mati syahid dikubur secepatnya agar mayatnya tidak dicuri, diambil organ² tubuhnya, dijejali kain untuk kemudian dikembalikan ke keluarganya.

Terjadi begitu banyak kekerasan sehingga aku jadi bosan jika suasana kadangkala tenang. Teman² dan aku juga mulai melemparkan batu² – untuk membuat kekacauan dan juga agar dihormati orang lain karena mau berjuang bersama. Kami bisa melihat perumahan Israel dari kuburan, yang terletak di puncak gunung, dikelilingi pagar tinggi dan menara² penjaga. Aku terkadang berpikir tentang 500 penduduk yang hidup di sana dan mengendarai mobil baru – banyak dari mereka yang bersenjata. Mereka membawa senapan otomatis dan tampaknya bisa bebas menembaki siapapun yang mereka arah. Bagi anak usia 10 tahun, mereka tampak seperti makhluk asing dari planet lain.

Di suatu sore sebelum sholat maghrib, aku dan beberapa temanku bersembunyi di jalanan dan menunggu. Kami ingin melempari bus karena bus berukuran besar dan lebih mudah dilempar. Kami tahu bus datang setiap hari dengan jadwal yang sama. Selagi kami menunggu, terdengar suara imam dari pengeras suara, “Hayya ‘alas-salah” (Bergegaslah bersholat).

Ketika kami akhirnya mendengar derungan mesin disel, masing² lalu mengambil dua buah batu. Meskipun kami bersembunyi dan tidak dapat melihat jalanan, kami sangat mengenal suara bus tersebut. Di waktu yang tepat, kami loncat dan melemparkan batu² itu. Suara benturan batu dengan metal meyakinkan kami bahwa setidaknya beberapa batu tepat mengenai sasaran.

Tapi yang lewat ternyata bukan bus, melainkan sebuah mobil militer besar penuh dengan serdadu Israel yang jengkel dan marah. Kami cepat bersembunyi di dalam selokan karena mobil itu berhenti. Kami tak bisa melihat para prajurit dan mereka pun tidak bisa melihat kami. Maka mereka lalu mulai menembaki udara. Mereka terus menembak tanpa sasaran selama dua menit, dan dengan merunduk kami berhasil melarikan diri ke mesjid yang tak jauh dari situ.

Sholat sudah dimulai, tapi kupikir tak ada yang dapat berkonsentrasi akan apa yang mereka lafalkan. Setiap orang mendengarkan tembakan senjata otomatis di luar dan bertanya-tanya apakah yang telah terjadi. Aku dan temanku menyelip masuk di baris paling belakang, dengan harapan tak ada seorang pun yang tahu. Tapi setelah imam selesai mengucapkan doa, semua mata marah tertuju pada kami.

Dalam waktu beberapa detik saja, kendaraan IDF terdengar direm kuat² di bagian depan mesjid. Para prajurit lalu masuk memenuhi ruangan, memaksa kami semua keluar dan memerintahkan kami berbaring dengan muka menghadap tanah dan mereka lalu memeriksa KTP kami. Aku adalah orang terakhir yang keluar dan merasa takut jangan² para prajurit tahu bahwa akulah yang bertanggungjawab atas masalah yang terjadi. Kupikir tentunya mereka akan memukuliku sampai mati. Tapi ternyata tak ada yang menaruh perhatian padaku. Mungkin mereka pikir anak kecil seperti aku tidak akan berani melempar batu pada kendaraan IDF. Apapun alasannya, aku merasa lega karena mereka tidak mengarah padaku. Interogasi berlangsung berjam-jam, dan aku tahu banyak orang yang merasa marah padaku. Mereka mungkin tak tahu persis apa yang kulakukan, tapi mereka tampak yakin bahwa akulah yang melakukan penyerangan. Aku tak peduli. Sebenarnya aku merasa girang. Aku dan teman²ku telah berani menentang pasukan Israel yang kuat dan berhasil selamat tanpa segores luka pun. Rasa kemenangan ini membuat kami ketagihan dan bertindak semakin berani.

Aku dan seorang temanku bersembunyi lagi di lain hari, kali ini dekat dengan jalan raya. Sebuah mobil datang, dan aku berdiri lalu melempar batu sekeras mungkin. Batu itu mengenai jendela mobil dengan suara sangat keras, tapi tidak menghancurkan jendela. Aku bisa melihat wajah pengemudi, dan aku tahu dia ketakutan. Dia terus menyetir mobilnya sampai sejauh 40 yard, menginjak rem, dan lalu berbalik menuju ke arahku.

Aku lari menuju kuburan. Dia mengikutiku tapi berada di luar sambil memegang senjata M16 dekat tembok dan mengawasi kuburan untuk mencari diriku. Temanku lari ke arah yang berlawanan, membiarkan aku sendirian menghadapi seorang penduduk Israel yang marah dan bersenjata.

Aku tiarap di tanah diantara kuburan orang², karena mengetahui pengemudi mobil itu menunggu sampai aku mendongakkan kepala. Akhirnya aku tak tahan lagi mengekang rasa tegang, sehingga aku lalu loncat dan lari secepat mungkin. Untungnya saat itu hari sudah mulai gelap dan tampaknya orang itu takut masuk ke dalam daerah kuburan.

Aku belum berlari jauh tatkala kakiku menginjak lubang kuburan kosong. Aku jatuh ke dalam kubur ternganga yang dipersiapkan bagi mayat baru. Apa yang harus kulakukan, pikirku. Di atasku, orang Israel itu menembaki kuburan dengan pelurunya. Serpihan batu berjatuhan masuk ke dalam lubang kubur.

Aku meringkuk di sana tanpa bisa berkutik. Setelah sekitar setengah jam kemudian, aku mendengar orang bicara, jadi aku tahu orang itu sudah pergi dan aku bisa keluar kubur dengan aman.

Dua hari kemudian, aku sedang berjalan di jalanan, dan mobil yang sama lewat di depanku. Kali ini ada dua orang di dalam mobil, tapi pengemudinya adalah orang yang sama. Dia mengenalku dan dengan cepat meloncat keluar dari mobil. Aku berusaha melarikan diri, tapi kali ini aku kurang beruntung. Dia berhasil menangkapku, menampar mukaku dengan keras, dan menarikku masuk ke dalam mobil. Tiada yang berkata sepatah kata pun ketika kami melaju ke perumahan Israel. Kedua orang itu tampak gelisah dan memegang erat² senjata mereka, sambil kadang² melihat diriku yang duduk di bagian belakang. Aku bukanlah seorang teroris; aku hanyalah anak kecil yang ketakutan. Tapi mereka berlaku seperti pemburu ulung yang berhasil menangkap macan besar.

Di pintu gerbang, seorang prajurit memeriksa SIM pengemudi dan mempersilakan dia masuk. Apakah prajurit itu tidak merasa heran melihat kedua orang ini bersama seorang anak kecil Palestina bersama mereka? Aku tahu seharusnya aku merasa takut – dan memang aku takut – tapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat lingkungan sekitarku. Aku belum pernah masuk ke daerah perumahan Israel. Bagus sekali keadaannya. Jalanan bersih, kolam renang, pemandangan lembah yang indah dari puncak gunung.

Pengemudi membawaku ke pusat IDF di daerah itu, di mana prajurit merampas sepatuku dan menyuruhku duduk di lantai. Kukira mereka akan menembakku dan membiarkan tubuhku di jalanan. Tapi ketika hari mulai gelap, mereka menyuruhku pulang.
“Tapi aku tidak tahu jalan pulang,” protesku.
“Cepat mulai berjalan, atau kutembak kau,” kata salah satu dari antara mereka.
“Mohon kembalikan sepatuku.”
“Tidak. Cepat berjalan. Lain kali kalau kau melempar batu lagi, aku akan bunuh kamu.”

Rumahku terletak satu mil jauhnya dari tempat itu. Aku berjalan kaki hanya dengan kaos kaki, sambil mengertakkan gigi saat batu tajam menusuk tapak kakiku. Ketika ibuku melihat aku datang, dia berlari di tepi jalan dan memelukku erat² sampai aku sesak nafas. Dia diberitahu bahwa aku diculik penduduk Israel, dan dia sangat khawatir mereka akan membunuhku. Dia berkali-kali menegurku karena bertindak bodoh, sambil menghujani ciuman pada kepalaku dan memelukku erat² dalam dadanya.

Orang mungkin mengira aku tentunya sudah jera, tapi aku adalah anak kecil yang bodoh. Aku tidak sabar menunggu memberitahu teman²ku yang pengecut tentang pengalaman kepahlawananku. Di tahun 1989, sudah sering terjadi pasukan Israel mengetuk pintu rumah² kami dan masuk ke dalam rumah. Mereka selalu mencari orang² yang melempar batu yang melarikan diri lewat halaman belakang. Para prajurit ini bersenjata lengkap, dan aku tidak mengerti mereka begitu terganggu hanya karena beberapa batu saja.

Karena Israel mengontrol daerah² perbatasan, sangat sukar bagi orang² Palestina untuk mendapatkan senjata di Intifada Pertama. Aku tidak ingin seorang Palestina pun yang memiliki senjata di saat itu – mereka hanya punya batu dan bom molotov. Meskipun begitu kami mendengar berbagai kisah bahwa IDF menembaki orang² tak bersenjata dan memukuli orang dengan pentungan. Laporan lain mengatakan sebanyak 30.000 anak² Palestina terluka parah sehingga memerlukan perawatan medis. Semua itu sungguh tak masuk akal bagiku.

Di suatu malam, ayahku pulang ke rumah sangat larut. Aku duduk di jendela, mengamati mobil kecilnya yang berbelok ke sudut jalan, perutku mengeluarkan suara karena rasa lapar. Meskipun ibu menyuruhku untuk makan dengan anak² yang lebih kecil, aku menolak, karena ingin menunggu sampai ayah pulang. Akhirnya aku mendengar suara mesin mobil tuanya dan berteriak bahwa ayah sudah pulang. Ibuku seketika menyajikan makanan² hangat dan mangkok² di meja makan.

“Maaf aku datang sangat lambat,” kata ayah. “Aku harus pergi ke luar kota untuk menyelesaikan pertikaian antara dua keluarga. Mengapa kau tidak makan?”
Dia lalu berganti baju dengan cepat, mencuci tangannya, dan duduk di ruang makan.
“Aku sangat lapar,” katanya sambil tersenyum. “Aku belum makan apapun sepanjang hari.” Hal ini memang sudah biasa karena dia tidak punya cukup uang untuk makan di luar. Aroma sedap masakan ibu zukini yang dipenuhi bumbu merebak ke seluruh ruangan.

Sewaktu kami duduk dan mulai makan, aku merasakan rasa bangga yang meluap atas ayahku. Aku bisa melihat kelelahan di wajahnya, tapi aku tahu dia sangat senang melakukan tugasnya. Rasa sayangnya terhadap masyarakatnya hanya bisa tersaingi oleh pelayanannya pada Allâh. Sewaktu aku melihat dia berbicara pada ibu dan saudara²ku, aku berpikir bahwa dia sangat berbeda dari kebanyakan pria Muslim. Dia tidak pernah berpikir dua kali untuk membantu ibuku di rumah atau mengurus kami anak²nya. Dia mencuci kaos kakinya sendiri setiap malam, agar ibuku tidak usah melakukannya. Hal ini tidak lumrah dalam masyarakat yang menganggap sudah jadi penghargaan bagi wanita untuk bisa membersihkan kaki lelaki setelah keluar sepanjang hari.

Saat kami bersama di meja makan, masing² anak bergilir menceritakan pada ayahku apa yang mereka pelajari di sekolah dan apa yang mereka lakukan. Karena aku adalah anak tertua, aku membiarkan adik²ku bicara terlebih dahulu. Tapi ketika giliranku tiba untuk bicara, terdengar suara ketukan di pintu belakang. Siapakah yang bertamu di malam selarut ini? Mungkin ada yang butuh pertolongan.

Aku lari ke pintu dan membuka jendela kecil di pintu untuk mengintip. Aku tidak mengenal orang itu.

“Abuk mawjud?” dia bertanya dalam bahasa Arab yang lancar, yang berarti, “Apakah ayahmu ada di rumah?” Dia berpakaian seperti orang Arab, tapi aku bisa merasakan ada yang janggal dari orang ini.
“Ya, dia ada di rumah,” kataku. “Biar kupanggil dia.” Aku tidak membuka pintu rumah.
Ayahku ternyata telah berdiri di belakangku. Dia membuka pintu dan beberapa prajurit Israel masuk ke dalam rumah kami. Ibuku cepat² mengenakan jilbabnya. Tak mengenakan penutup kepala di depan keluarga sendiri tidak jadi masalah, tapi tidak jika di hadapan orang² asing.

“Apakah kau Syeikh Hassan?” tanya orang asing itu.
“Ya,” jawab ayahku, “Akulah Syeikh Hassan.”
Orang itu memperkenalkan diri sebagai Kapten Shai dan menjabat tangan ayahku.
“Bagaimana kabarnya?” tanya prajurit itu dengan sopan. “Bagaimana keadaan sekitar? Kami dari IDF, dan kami ingin kau ikut dengan kami untuk lima menit saja.”

Apakah yang mereka inginkan dari ayahku? Aku memandang wajahnya untuk membaca ekspresinya. Dia tersenyum ramah pada orang itu, tanpa sedikit pun rasa curiga atau marah di matanya.
“Baiklah, aku akan pergi denganmu,” katanya sambil mengangguk pada ibuku dan berjalan menuju pintu.
“Tunggu di dalam rumah dan ayahmu akan segera kembali,” kata prajurit itu padaku. Aku mengikuti mereka keluar, memandangi sekitar untuk mencari apakah ada prajurit yang lain. Ternyata tidak ada. Aku duduk di tangga depan untuk menunggu ayahku kembali. Sepuluh menit berlalu. Satu jam. Dua jam. Ayah tetap tak kunjung datang.

Kami tak pernah melewatkan malam hari tanpa ayah sebelumnya. Meskipun dia sibuk terus-menerus, dia selalu pulang ke rumah di malam hari. Dia membangunkan kami di saat subuh untuk melakukan sholat setiap pagi, dan dia juga yang mengantar kami ke sekolah setiap hari. Apa yang kami lakukan jika dia tidak pulang malam hari itu?

Ketika aku kembali masuk, saudara perempuanku Tasnim sudah tertidur di sofa. Airmata masih nampak basah di pipinya. Ibuku mencoba menyibukkan diri di dapur, tapi setelah jam² berlalu, dia tampak semakin gelisah dan marah.

Keesokan harinya, kami pergi ke Palang Merah untuk mencari tahu ke mana ayah dibawa. Orang yang bertugas di sana mengatakan bahwa ayah sudah jelas ditangkap IDF tapi IDF tidak mau memberi keterangan apapun pada Palang Merah selama sedikitnya 18 hari.

Kami kembali pulang ke rumah sambil terus menghitung hari selama dua setengah minggu. Selama waktu menunggu, kami tidak mendengar apapun. Ketika 18 hari telah berlalu, aku mengunjungi Palang Merah lagi untuk mencari keterangan. Mereka mengatakan belum mendapat keterangan baru.

“Tapi kau mengatakan 18 hari!” kataku, sambil berusaha keras menahan airmata. “Katakan saja di mana ayahku berada.”
“Nak, pulanglah,” kata orang itu. “Kau bisa kembali minggu depan.”

Aku kembali lagi dan lagi selama 40 hari, dan aku mendapatkan jawaban yang selalu sama: “Tiada keterangan baru. Kembali minggu depan.” Ini sangat aneh. Biasanya keluarga² para tahanan Palestina tahu di mana anggota keluarga mereka ditahan dalam waktu dua minggu penahanan.

Ketika seorang tahanan dibebaskan, kami bertanya padanya apakah dia melihat ayahku. Mereka semua tahu dia telah ditahan, tapi mereka tak tahu keterangan lain apapun. Bahkan pengacaranya juga tidak tahu apapun karena dia dilarang menemuinya.

Kami kemudian mengetahui bahwa dia dibawa ke Maskobiyeh, pusat interogasi Israel, di mana dia disiksa dan ditanyai. Shin Bet, badan rahasia keamanan Israel, tahu bahwa ayah adalah tokoh utama Hamas dan mengira dia mengetahui semua yang terjadi dan sedang direncanakan. Mereka bertekad mencari tahu akan hal itu dari dirinya.

Bertahun-tahun kemudian ayah akhirnya memberitahu aku apa yang terjadi dengannya. Selama berhari-hari dia diborgol dan digantung di langit². Mereka menyetrumnya sampai dia pingsan. Mereka menempatkan dia dengan orang² yang bekerja bagi IDF, dengan harapan ayah akan bicara dengan mereka. Tapi setelah ini gagal, mereka lalu memukulinya lagi. Tapi ayah tetap kuat. Dia tetap diam saja, tidak menyerahkan informasi apapun pada Israel yang bisa mencelakakan Hamas atau masyarakat Palestina.

Bersambung ke Bab 5-8
Bab 1-4 Bab 9-12 ; Bab 13-16 ; Bab 17-20 ; Bab 21-24 ; Bab 25-Tamat

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)
  • Kalender

    • Desember 2017
      M S S R K J S
      « Nov    
       12
      3456789
      10111213141516
      17181920212223
      24252627282930
      31  
  • Cari