Buku SON OF HAMAS (PUTRA HAMAS). Pendahuluan

Son of Hamas (Putra Hamas) adalah sebuah buku otobiografi seorang pemuda Palestina, Mosab Hassan Yousef, anak dari seorang pemimpin Organisasi Islam Hamas. Sebuah buku yang penuh dengan masalah politik, konflik antara bangsa Israel dan Arab-Palestina yang berakar pada agama, dan setelah ”putra Hamas” melewati jalan-jalan kehidupan yang keras dan menyakitkan, akhirnya ia menemukan kedamaian yang teguh dalam jiwanya, segera setelah ia keluar dari penjara, yang ia yakin bahwa apa yang ia telah temukan ini adalah juga jawaban bagi bangsanya – Arab Palestina yang selalu jauh dari ketenangan dan kedamaian lebih dari setengah abad lamanya.

Edisi Indonesianya ini adalah hasil kerja keras Saudara Adadeh. Naskah asli diambil dari Indonesia.FaithFreedom.org pada “Buku-buku Inggris yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.”

Wawancara video:  Mosab “Son Of Hamas – Now A Christian” by Risen Magazine

Di bawah ini terjemahan buku Son of Hamas. Selamat membaca,
Salam sejahtera, Penjala Baja.

———————

SON OF HAMAS (PUTRA HAMAS)

Oleh Mosab Hassan Yousef, dibantu oleh Ron Brackin

Kisah mencekam penuh teror, pengkhianatan, intrik politik, dan pilihan² yang tak terbayangkan.

Bagi yang tercinta ayahku dan keluargaku yang terluka
Bagi korban² perseteruan Palestina – Israel
Bagi setiap umat manusia yang telah diselamatkan oleh Elohimku

Wahai keluargaku, aku sangat bangga dengan kalian; hanya Elohimku saja yang mengetahui segala hal yang telah kalian alami. Aku menyadari bahwa apa yang telah kulakukan menyebabkan luka yang dalam yang mungkin tak akan bisa sembuh di masa hidup ini dan mungkin kalian harus hidup dengan rasa malu untuk selamanya.

Aku bisa saja jadi seorang pahlawan dan membuat masyarakatku bangga akan diriku. Aku tahu jenis pahlawan apa yang mereka inginkan: seorang pejuang yang membaktikan dirinya dan keluarganya bagi kepentingan negara. Jikalau aku terbunuh, maka mereka akan menyampaikan kisah diriku pada generasi mendatang dan mereka akan merasa bangga terhadap diriku untuk selamanya, tapi pada kenyataannya aku bukanlah pahlawan yang mereka harapkan.

Sebaliknya, aku telah jadi pengkhianat di mata bangsaku. Meskipun dulu aku pernah membuat kalian bangga akan diriku, sekarang aku hanya membawa malu saja. Meskipun dulu aku adalah seorang pangeran bagimu, sekarang aku adalah orang asing di negeri orang yang melawan kesepian dan kegelapan.

Aku tahu kalian memandang aku sebagai seorang pengkhianat; tapi mohon untuk mengerti bahwa aku tidak bermaksud berkhianat pada kalian, tapi aku berkhianat pada angan² kalian akan sosok seorang pahlawan. Ketika negara² Timur Tengah – Yahudi dan Arab – mulai mengerti apa yang kumengerti, maka akan timbul perdamaian. Dan jika Elohimku telah ditolak karena menyelamatkan seluruh dunia dari hukuman neraka, maka aku tidak keberatan ditolak!

Aku tak tahu apa yang akan terjadi di masa datang, tapi aku tahu aku tidak merasa takut. Sekarang aku berikan apa yang menolong diriku untuk bisa selamat sampai sekarang: semua rasa bersalah dan rasa malu yang kutanggung selama bertahun-tahun hanyalah bayaran yang kecil saja jika semua ini bisa menyelamatkan bahkan satu nyawa seorang manusia saja.

Berapa banyak orang yang bisa menghargai apa yang telah kulakukan? Tidak banyak. Tapi itu tak jadi masalah. Aku percaya apa yang kulakukan dan aku tetap yakin sampai sekarang, dan keyakinan ini menjadi bahan bakar satu²nya bagiku dalam perjalanan panjang ini. Setiap tetesan darah orang tak berdosa yang berhasil diselamatkan dari kematian memberi harapan bagiku untuk terus berjuang sampai hari akhir.

Aku telah bayar, kau pun telah bayar, tapi tagihan perang dan damai terus berdatangan. Elohim menyertai kita semua dan memberi apa yang kita butuhkan untuk menanggung beban berat ini.

Daftar Isi
Peta Israel dan Daerah yang Diduduki
Sepatah Kata dari Pengarang
Kata Pengantar
Bab 1 – Tertangkap
Bab 2 – Tangga Iman
Bab 3 – Muslim Brotherhood (Persaudaraan Muslim)
Bab 4 – Melempar Batu
Bab 5 – Menyelamatkan Diri
Bab 6 – Kembalinya Seorang Pahlawan
Bab 7 – Radikal
Bab 8 – Mengipas Api
Bab 9 – Senjata²
Bab 10 – Rumah Jagal
Bab 11 – Penawaran
Bab 12 – Nomer 823
Bab 13 – Jangan Percaya Siapapun
Bab 14 – Kekacauan di Penjara
Bab 15 – Jalan ke Damaskus
Bab 16 – Intifada Kedua
Bab 17 – Tugas Rahasia
Bab 18 – Orang yang Paling Dicari
Bab 19 – Sepatu²
Bab 20 – Duri
Bab 21 – Permainan
Bab 22 – Perisai Pertahanan
Bab 23 – Perlindungan Illahi
Bab 24 – Tahanan yang Dilindungi
Bab 25 – Saleh
Bab 26 – Pandangan (Sebuah Visi) bagi Hamas
Bab 27 – Selamat Tinggal
Bagian Akhir
Catatan Tambahan
Waktu Kejadian

———————

Sepatah Kata dari Penulis
Waktu adalah tahapan – bagaikan sebuah benang yang merentang diantara jarak kelahiran dan kematian.
Akan tetapi, kejadian² adalah bagaikan sebuah permadani Persia – ribuan benang kaya warna tersulam membentuk pola dan gambar. Usaha apapun yang mencoba menyusun kejadian² dalam sekedar urutan kronologi belaka adalah bagaikan menguraikan benang² permadani dan merentangkannya jadi satu baris. Benang itu jadi tampak sederhana, tapi hilang sudah semua desain permadani yang utuh.

Kejadian² dalam buku ini adalah hasil terbaik usahaku mengingat ulang, dimulai dari pengalamanku saat ditawan di daerah yang dikuasai Israel. Peristiwa² yang terjadi kemudian terjalin bersama secara berurutan dan berhubungan satu sama lain.

Untuk memberikan referensi dan penjelasan nama² dan istilah² Arab, aku mencantumkan urutan waktu singkat di bagian Apendix, juga kamus, dan daftar para tokoh pelaku.

Karena alasan keamanan, aku sengaja tidak mencantumkan keterangan terinci tentang berbagai operasi rahasia yang dilakukan oleh Badan Keamanan Israel, yakni Shin Bet. Keterangan di buku ini tidak akan membahayakan perang global yang tengah berlangsung melawan terorisme, di mana Israel memerankan peranan utama.

Akhirnya, buku Son of Hamas, sama seperti Timur Tengah, adalah kisah yang terus berlanjut. Aku undang kalian untuk berhubungan denganku di blog-ku yakni http://www.sonofhamas.com, di mana aku akan membagi pandangan²ku tentang perkembangan berbagai daerah. Aku juga akan mencantumkan apa yang Elohim lakukan dengan bukuku, keluargaku, dan bagaimana Dia membimbingku saat ini.
MHY.

Kata Pengantar
Perdamaian di Timur Tengah telah jadi tujuan suci bagi para diplomat, perdana menteri, dan presiden selama lebih dari lima dasawarsa. Setiap wajah baru di panggung dunia mengira dia akan jadi orang yang berhasil memecahkan konflik Arab-Israel. Dan satu per satu gagal total sama seperti orang² yang dahulu telah mencoba.

Faktanya adalah, hanya segelintir orang² Barat yang bisa mengerti kepelikan Timur Tengah dan masyarakatnya. Tapi aku mengenal mereka – melalui latar belakangku yang unik. Aku adalah putra daerah di mana konflik itu terjadi. Aku adalah putra Islam, dan anak dari seseorang yang dituduh sebagai seorang teroris. Aku juga pengikut Yeshua.

Sebelum usia 21 tahun, aku sudah melihat hal² yang seharusnya tidak dilihat seorang pun: kemiskinan terparah, penyalahgunaan kekuasaan, penyiksaan, dan kematian. Aku menyaksikan perjanjian² di belakang layar antara para pemimpin utama Timur Tengah yang menjadi berita utama di seluruh dunia. Aku dipercaya dalam kalangan atas Hamas, dan aku juga berpartisipasi melakukan Intifada. Aku ditahan di penjara Israel yang paling ditakuti. Dan nantinya kalian akan lihat, aku menentukan pilihan² yang membuatku tampak sebagai pengkhianat di mata masyarakat yang kucintai.

Perjalanan hidupku yang tak lumrah telah membawaku ke tempat² gelap dan memberiku jalan masuk untuk mengetahui rahasia² besar. Dalam halaman² buku ini, aku akhirnya mengemukakan rahasia² yang lama tersembunyi, mengutarakan kejadian² dan proses² yang dulunya hanya diketahui oleh segelintir orang saja.

Mengungkapkan fakta seperti ini tampaknya akan membangkitkan gelombang kejut di sebagian Timur Tengah, tapi aku berharap hal ini akan mendatangkan ketenteraman bagi para keluarga koraban konflik yang tak berkesudahan ini.

Setelah pindah dan hidup bersama masyarakat Amerika sekarang, aku mengetahui banyak dari mereka yang bertanya-tanya tentang konflik Arab-Israel, tapi hanya sedikit jawaban² dan informasi yang tersedia.

Ini contoh beberapa pertanyaan yang kudengar:
○ Kenapa sih mereka itu tidak bisa hidup rukun di Timur Tengah?
○ Siapa sih yang benar? Orang Israel atau orang Arab?
○ Yang punya tanah itu siapa sih sebenarnya? Mengapa orang² Palestina tidak pindah saja ke negara² Arab?
○ Mengapa Israel tidak menyerahkan kembali saja tanah dan harta milik yang mereka kuasai setelah menang di Perang Enam Hari di tahun 1967?
○ Mengapa masih banyak orang² Palestina yang hidup di kamp pengungsian? Kenapa mereka tidak bikin negara sendiri saja?
○ Mengapa sih orang² Palestina sangat membenci orang² Israel?
○ Bagaimana Israel melindungi diri mereka dari para pembom bunuh diri dan serangan roket yang terus-menerus?

Semua ini adalah pertanyaan² yang baik. Tapi tak ada satu pun yang menyentuh akar permasalahan. Konflik masa kini sebenarnya berkaitan dengan permusuhan antara Sarah dan Hagar yang dijabarkan di Kitab Kejadian di Alkitab. Akan tetapi, untuk mengetahui realita politik dan budaya Timur Tengah, kita hanya perlu melihat apa yang terjadi setelah Perang Dunia I.

Ketika PD I berakhir, daerah Palestina, yang merupakan tempat tinggal bangsa Palestina selama beratus-ratus tahun, jatuh ke tangan kekuasaan Inggris. Pemerintah Inggris menentukan ketetapan aneh bagi daerah itu, yang tercantum dalam Deklarasi Balfour di tahun 1917: “Pemerintah sang Paduka menetapkan Palestina sebagai negara tempat tiinggal masyarakat Yahudi.”

Karena terdorong keputusan Pemerintah Inggris tersebut, maka ratusan ribu imigran Yahudi, terutama dari Eropa Timur, datang membanjiri daerah² Palestina. Setelah itu, pertikaian antara orang² Arab dan Yahudi tidak terhindari lagi.

Israel menjadi negara berdaulat di tahun 1948. Akan tetapi, daerah Palestina tetap tak punya kedaulatan. Tanpa adanya hukum negara yang berkuasa mengatur, maka yang jadi hukum tertinggi adalah hukum agama. Dan jika setiap orang bebas mengartikan dan memaksakan hukum seenaknya, maka terjadilah kekacauan. Bagi dunia luar, konflik Timur Tengah tak lain adalah adu tarik tambang memperebutkan tanah sejengkal saja. Tapi masalah sebenarnya adalah tiada seorang pun yang mengetahui akar permasalahan. Karena itulah, para negosiator dari Camp David sampai Oslo dengan penuh percaya diri terus memlintir kaki dan tangan pasien yang menderita sakit jantung.

Harap mengerti bahwa aku tidak lebih cerdas daripada para pemikir besar dunia. Aku sama sekali tidak. Tapi aku percaya bahwa Elohim telah memberiku sudut pandang yang unik dengan cara meletakkan diriku di berbagai pihak yang tengah menghadapi konflik yang seakan tak terpecahkan. Hidupku terpecah-belah bagaikan tanah kecil di Timur Tengah yang dikenal dengan nama Israel bagi sebagian orang, atau dengan nama Palestina bagi orang lain, atau tanah terjajah bagi pihak lain lagi.

Tujuanku adalah untuk menjelaskan dengan benar kejadian² penting, mengungkapkan rahasia², dan jika semua berlangsung dengan baik, maka kau akan mempunyai harapan bahwa hal yang mustahil akan bisa terjadi.

Bersambung ke Bab 1-4

Bab 5-8 Bab 9-12 ; Bab 13-16 ; Bab 17-20 ; Bab 21-24

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Anak-anak Ismail; Buku kesaksian

Buku Anak-anak Ismail (The Children of Ismael) adalah kumpulan kisah-kisah nyata yang mengharukan dan menyentuh hati setiap pembacanya. Mereka bersaksi bagaimana Elohim telah merubah gurun pasir kehidupan menjadi padang rumput yang indah, rantai-rantai ikatan protokol keagamaan yang berat menjadi hubungan kasih yang manis dengan Pencipta mereka, kebencian menjadi kasih terhadap sesama.

Semua kesaksian ini adalah sebagian kecil dari timbunan bukti Elohim mengasihi anak-anak Ismail (orang-orang Muslim)  sebagaimana Ia juga mengasihi anak-anak Ishak (orang-orang Israel dan Kristen), Ia mengasihi setiap suku bangsa dan bahasa tanpa terkecuali. Miskin dan kaya, tidak berpendidikkan dan terpelajar pembantu dan majikan, semuanya dikasihi-Nya tanpa memandang muka, sebab kita semua diciptakan oleh tangan-Nya sendiri, dari tangan-tangan lembut-Nya yang penuh pengertian, kesabaran, penuh pengasihan, namun kuat, perkasa dan selalu adil dan benar. Seperti janji-Nya:

Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.

Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya. (Yesaay 42:3-4).

Buku Anak-anak Ismail ini diterjemahkan langsung dari The Children of Ishmael oleh Penjala Baja. Pembaca bisa mendownload gratis buku ini dalam bahasa Arab dan Inggrisnya. Buku dalam bahasa Indonesia  ini pun bebas untuk dicopy. Didedikasihan untuk setiap orang yang merindukan pelukan kasih Elohim, Abba Sorgawi, Pencipta setiap manusia.

Harapan Penjala Baja, semoga para Pembaca mendapat berkat yang dari atas dan dikuatkan jiwanya sebagaimana semua itu telah terjadi atas kehidupan mereka yang telah menulis kesaksian mereka di buku ini. Selamat membaca.

Daftar Isi:
Bab

  1. Pendahuluan
  2. Di belakang Kerudung
  3. Diberkatilah Bangsa Mesirku
  4. Dari Tanah Air Mashiah Anak-anak Ismail Akan Kembali
  5. Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid
  6. Orang-orang Pilihan Mashiah
  7. Dari Kristen nominal Ke Islam dan Kemudian Ke Mashiah
  8. Begitulah Saya Mengenal Elohim; Ex-Jihadist. Pt.1 Pt. 2
  9. Dahulu Saya Mati dan Sekarang Saya Hidup
  10. Instruksi-instruksi Penting

Bab 1. Pendahuluan
Sebagai anak yang hilang kembali kepada ayahnya setelah sekian waktu terhilang, tersesat, dan berkeliaran tanpa tujuan, Ismail hari ini akan kembali ke pangkuan ayahnya Abraham, bahkan ke pangkuan Ha Mashiah (Mesias, Kristus) yang telah ada  sebelum abba Abraham. Dia ada sebelum dunia dijadikan.

Ismail kembali kepada Dia yang telah datang dari surga dan menjelma baginya. Ya, Elohimku dan Juruselamatku, Engkau datang untuk memberitakan Kabar Baik kepada orang miskin, merawat yang remuk hati,  memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan kelepasan orang-orang  yang terkurung dari kegelapan,  untuk memberikan kepada mereka sebuah mahkota yang indah sebagai ganti  abu, minyak sukacita ganti pekabungan, dan sebuah baju pujian ganti semangat yang pudar.

Engkau datang untuk membangun kembali reruntuhan yang sudah berabad-abad dan membangung kembali tempat-tempat yang sunyi sejak dahulu kala,  dan menyatakan pembebasan, perdamaian, kesembuhan, dan kasih. Oh, Elohim dan Juruselamat, Enkgau telah datang untuk menyelamatkan semua bangsa.

Kami, anak-anak Ismail, telah hidup bertahun-tahun tampa menyadari Engkau, tidak tahu apa-apa tentang Engkau, dan sering kali kami tidak hanya menyangkal Engkau tetapi juga memusuhi Anda dan berperang melawan Engkau. Tapi kasih-Mu yang melampaui semua pikiran, semua imajinasi, dan di luar semua permusuhan telah menemukan kami, membimbing kami, berbelas kasihan kepada kami, dan menyucikan kami.

Kasih-Mu, Juruselamatku, membawa kami kembali kepada Engkau sebagai anak yang hilang ke pangkuan ayahnya, sebagai anak pungut kembali ke dada ibunya, sebagai orang yang tenggelam dibawa kembali ke kapal penyelamatan.

Ya Elohim dan Juruselamatku, di sini kami; kami mencari Engkau dan Engkau menemukan kami, kami memohon kepada Engkau dan Engkau menjawab kami, kami berdoa kepada Engkau dan Engkau telah mendengar doa-doa kami. Engaku telah mengasihi kami terlebih dahulu.

Sekarang kita telah menjadi anak-anak, bukan budak-budak; bebas, bukan tawanan-tawanan. Kami menjadi benar sebagai ganti orang-orang jahat, kami menjadi seperti Engkau dalam mengasihi semua bangsa.

Kami adalah Anak-anak Ismail, anak dari bapa moyang kami Abraham, yang disebut ”Sahabat Elohim.” Kami memutuskan pada beberapa halaman mendatang untuk mewartakan kepada semua bangsa kasih kami, kekaguman dan ketundukan dan loyalitas kepada Engkau. Kami adalah cabang dan Engkau adalah pokok anggur, kami adalah pengantin perempuan dan Engkau adalah pengantin prianya; Engkau adalah kota-Mu dan Engkau adalah Elohim kami, Juruselamat dan Raja.

Milik-Mu,
Anak-anak Ismail

Bab 2. Dibelakang Kerudung
[Pukulan untuk pertanyaan, wanita dalam Kuran, mencari jati diri]

Setiap kita memiliki sedikit dan sebagian memori-memori hidupnya, mimpi-mimpi dari masa kanak-kanak, semua unsur-unsur pembentuk-karakter. Ya, saya ingat setiap saat; saya selalu ingat saat saya lahir. Ingatan ini melekat di dalam ingatanku karena ibuku telah bercerita kepadaku tentang semua itu. Itu adalah Rabu 1971. Saya adalah anak-pertama bayi perempuan bagi kedua orang tuaku. Saya adalah sukacita pertama, bayi pertama menangis pada rumah kami.

Saya adalah yang tertua dari empat saudari perempuan. Status keuangan kami adalah rata-rata, seperti umumnya keluarga. Saya belajar di sekolah-sekolah umum. Ayahku telah melakukan yang terbaik untuk menyediakan kebutuhan kami. Mimpinya ialah memberikan kami sebuah pendidikan yang baik, khususnya saya. Kami semuanya perempuan, jadi ayahku berharap memiliki seorang putera. Dia berusaha segala daya untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan menyediakan kami dengan semua yang kami perlukan. Sejauh masalah keagamaan, kami telah bertumbuh dengan nilai-nilai moral dan komitmen agama.

Ayahku seorang Muslim sejati. Dibesarkan di daerah pedesaan, ayah saya sangat ingin mempertahankan semua ritual keagamaan dan tradisi. Adapun ibuku, dia kurang konservatif dibandingkan ayahku, dia berdoa setiap waktu. Aku ingat bahwa dia selalu punya banyak argumen dengan ayah tentang itu. Ayah ingin keduanya menjadi contoh yang baik bagi kita untuk mengikuti semua hal agama. Aku ingat bahwa ayahku biasa bangun pagi-pagi untuk shalat subuh di sebuah masjid di sekitarnya. Kadang-kadang aku terbangun dengan suara ‘azzan’ (panggilan untuk berdoa). Saya kagum dengan kegigihan ayahku untuk berdoa lima waktu sholat wajib di mesjid. Tidak ada yang mencegahnya dari melakukan hal itu, tidak dinginnya musim salju, tidak panasnya musim kemarau, bahkan tidak juga selama sakitnya.

Saya bertanya suatu kali, “Mengapa ayah tidak berdoa di rumah pada cuaca dingin?” Dia menjawab bahwa semakin dia pergi ke masjid dalam cuaca buruk seperti itu, Allah akan lebih lagi membalasnya dengan kompensasi yang besar. Ayahku benar-benar setia kepada Islam, seorang konservatif, dan terus.

Ketika saya berusia tujuh tahun, ayah saya mendorong saya untuk berpuasa sepanjang bulan Ramadhan (Ramadan adalah salah satu bulan kalender Islam bahwa semua Muslim diwajibkan untuk berpuasa). Dan kemudian dia mengatakan kepada saya salah satu Hadis (tradisi nabi), “Ajarilah mereka sampai usia tujuh tahun, dan sabet mereka sampai usia sepuluh tahun.”

Dulu aku merasa lapar selama seharian puasa, terutama pada usia itu, tapi aku setia dan sabar sampai ujung hari. Aku berhasil puasa sebulan penuh. Ayah saya sangat senang dan mengumumkan berita untuk semua anggota keluarga kami. Dia sangat bangga dengan komitmen keagamaan saya.

Saya sangat senang mengetahui bahwa Allah akan menghadiahi saya sesuai dengan janji-Nya. Tapi sukacita saya adalah untuk mencapai tugas yang sulit. Sampai usia dua belas tahun aku tidak berdoa secara teratur, dan ayah selalu berdebat dengan kami tentang hal ini. Disiplin dalam kedua studi dan doa adalah topik yang paling penting yang mendorong kita ke dalam banyak argumen dan sabetan ban-pinggang dalam semua kehidupan kita di rumah.

Ayah punya cara untuk menghukum kami yang  saya sangat tidak terima. Jika salah satu dari kami tidak berdoa untuk alasan lain selain alasan hukum, ia akan menolak untuk makan bersama kami di meja yang sama sesuai tradisi Nabi. Aku bertanya-tanya bagaimana bisa Nabi mengajarkan prinsip-prinsip yang sepertinya menyebabkan perselisihan keluarga. Komitmen macam apa yang ayah harapkan keluar dari hukuman tersebut?

Kami tumbuh dengan ide bahwa orang Kristen adalah kafir dan musyrik (menyembah banyak ilah), tidak layak akan persahabatan kami atau kebersamaan kami. Ada satu pengecualian untuk aturan itu. Salah satu teman ayah saya adalah seorang Fawzy bernama Kristen. Ayah sudah tahu dia sejak kecil, dan mereka memiliki hubungan dekat. Ketika ia, istrinya dan putra mereka sering datang mengunjungi kami di acara-acara gembira dan pesta, aku selalu heran, setelah mereka pergi, ayah saya akan berkata: “Oh, Fawzy, membuang-buang besar bagi Anda untuk menjadi Kristen. Saya berharap Anda seorang Muslim! “

Ketika saya berumur tiga belas tahun, saya bergabung dengan sekolah persiapan. Pada hari pertama sekolah semua siswa biasanya berjalan dan berjuang untuk mendapatkan kursi terbaik di kelasnya. Seorang gadis bernama Marcella duduk di sampingku. Namanya tidak akrab di telingaku. Ini adalah petualangan yang sangat baru bagi saya. Saya harus berurusan dengan Kristen kafir yang duduk dengan saya di meja yang sama sepanjang tahun. Segera saya mengenal dia lagi, dan aku menemukan diriku yang terpesona dengan dia. Aku masih ingat berseri-seri wajahnya tidak bersalah. Sampai sekarang saya masih ingat kelembutannya seolah-olah itu kemarin, dan bukan tahun yang lalu.

Aku ingat dia bertanya padaku roti apa yang saya punya untuk makan siang. Aku memberitahunya bahwa aku punya roti keju Itali. Marcella mengatakan ia punya roti ham dan menyarankan kita saling bagi. Aku kecewa dengan saran dan berkata kepadanya, “Muslim tidak makan babi, dilarang dalam Islam.” Jadi, dia bertanya padaku mengapa. Aku berkata padanya Allah melindungi kita dari daging yang tidak baik untuk kesehatan kita. Dia menatapku, matanya mengembara dan terpaksa untuk diam. Aku bertanya-tanya, apakah jawaban saya itu benar dan logis kenapa makan babi tidak mempengaruhi semua orang-orang Kristen dari tahun ke tahun? Saya tidak menemukan jawabannya dan aku tidak repot-repot mencarinya; segera aku lupa semuanya.

Tahun pertama sekolah berlalu, dan persahabatan kami yang sederhana dan indah tumbuh. Tahun berikutnya di sekolah, satu hari Marcella sedang mencari sesuatu di tasnya. Dia meletakkan semua buku-bukunya di atas meja. Aku mengambil Kitab Sucinya (Alkitab). Saya sangat penasaran tidak seperti sebelumnya. Rasa ingin tahu saya meningkat dari hari ke hari. Setelah itu aku bertanya kepadanya apakah aku bisa melihatnya  pada Kitab Sucinya. Aku mulai melihat isi Kitab. Mataku jatuh pada kata-kata, “Yeshua dari Nazaret berjalan berkeliling sambil berbuat baik” [Kis. 10:38]. Saya bertanya, siapa Yeshua. Apakah Dia seseorang pribadi? Itu adalah pertama kalinya aku mendengar nama-Nya.

Marcella menjawab saya bahwa Dia adalah Mashiah (Al Masih/ Kristus). Aku menutup Kitab  tersebut dan menyerahkannya padanya. Kalimat ini melekat dalam pikiranku dan aku punya keinginan membara untuk memahaminya. “Seseorang berkeliling berbuat baik” – suatu pribadi yang menyenangkan – mengabdi berbuat baik! Saya pulang ke rumah dengan kerinduan yang mendalam untuk mendapatkan Alkitab untuk tahu lebih banyak tentang orang itu. Dengan perasaan tidak bersalah sama sekali, saya meminta ayah saya untuk mendapatkan saya sebuah Alkitab dan saya menceritakan apa yang terjadi. Dan Anda tidak pernah bisa membayangkan apa yang terjadi! Sebuah ledakan besar kemarahan meledak di rumah kami. Ayahku membuat wajah saya hitam dan biru, sementara mengulang dua kalimat berulang-ulang: “Orang Kristen adalah orang-orang kafir … Alkitab telah dikorupsi.” Aku menangis, menyesali apa yang aku telah lakukan dan bertobat. Namun, tidak lama, keinginan yang sama kembali. Aku bertanya Marcella untuk menceritakan tentang Yesus. Temanku mengatakan bahwa Dia mengasihi semua orang dan melakukan mujizat untuk membantu orang-orang.

Suatu hari, saya mengikuti kuliah agama Islam kami. Guru saat itu adalah seorang pemuda dengan tanda doa di dahinya. Aku punya keinginan untuk mengajukan pertanyaan dalam pikiranku untuk waktu yang lama. Aku ragu-ragu untuk bertanya karena aku tahu itu dilarang untuk mengajukan pertanyaan seperti itu, tapi aku tidak bisa lagi memegangnya. Akhirnya aku membangunkan keberanianku dan berkata, “Guru, dapatkah saya mengajukan pertanyaan? Tapi maksudku … semoga Allah mengampuni saya lidahku bebas dan aku berhasil mengucapkan pertanyaan: “Apakah tidak lebih masuk akal jika nabi Muhammad membantu semua wanita dalam keadaan sulit mereka tanpa menikahi mereka? Bukankah lebih masuk akal jika ia membantu mereka tanpa pernikahan menjadi suatu kondisi? Bukankah lebih wajar jika dia tidak berpoligami?”

Jawabannya adalah sebuah tamparan di wajahku dan kata “kafir!” Ini adalah pertama kalinya aku dipukul di sekolah. Saya merasa bahwa saya sangat dihina. Aku pergi ke kepala sekolah untuk mengeluh dan aku menceritakan apa yang terjadi. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya memiliki semua hak untuk bertanya. Ini adalah pertanyaan akal sehat. Itu adalah tugasnya sebagai guru agama untuk menjawab saya. Aku bertanya-tanya mengapa dia menuduhku kafir. Kepala sekolah itu sangat fanatik. Dia selalu menegur kami untuk tidak mengenakan jilbab, tapi dia sangat bijaksana. Dia mengatakan kepada saya bahwa jika Nabi punya hubungan dengan mereka hanya membantu mereka, ia akan menyebabkan mereka banyak masalah dan terpapar mereka untuk desas-desus dan kecurigaan. Aku mengangguk, tapi aku tidak benar-benar yakin. Jawabannya tidak menebus terhadapa penghinaan yang telah aku terima. Itu tidak berguna, jadi saya bertobat lagi dan memutuskan untuk tidak memperhatikan hal ini lagi.

Ayahku biasa untuk mendorong kami untuk berdoa secara konsisten, jadi saya memutuskan untuk berkomitmen diri untuk berdoa. Saya menyadari bahwa diskusi dan berpikir tidak berguna, jadi aku memutuskan untuk menjaga shalat lima waktu sebagai kewajiban agar terhindar dari kutukan-kutukan ayahku. Aku merasa dipaksa. Dalam sujud pertama saya, saya meminta kepada Allah untuk membantu saya menyelesaikan sujud terakhir dan bisa mengatasi dengan seperti pekerjaan rumah. Saya tidak berpikir tentang Allah, dan doa saya tidak membawa perubahan dalam karakter saya. Sikap saya terhadap orang-orang Kristen masih bermusuhan, akibat dari cara kami dibesarkan. Marcella adalah paparan satunya orang Kristen saya. Aku bahkan menghindari lewat gereja dekat rumah kami.

Di rumah, masalah-masalah tetap sama selama beberapa tahun atau lebih. Bentrokan dari buruk menjadi lebih buruk antara orangtuaku sampai mereka melakukan apa yang mungkin mengubah arah hidup mereka. Ini adalah ‘yang paling direkomendasikan untuk sah’ seperti kata mereka – untuk dapat bercerai.

Aku mulai mendapatkan peran baru dalam keluargaku. Aku berumur 16 ketika itu, menempati tempat (tanggung jawab) ayahku, saya memiliki tanggung jawab sebagai kepala keluarga, merawat empat adikku. Aku harus fokus pada tiga hal, yaitu untuk mendapatkan nilai tinggi di sekolah, menjadi ibu yang baik untuk adik saya dan memikul tanggung jawab ayahku.

Aku tidak membiarkan diriku memikirkan hal lain. Aku menyelesaikan persiapan sekolahku dengan nilai tinggi Immpian lama saya untuk melanjutkan pendidikan di universitas saya. Tapi, karena alasan keuangan dan agar saya dapat merawat keluarga saya, ayah saya tidak mengizinkan saya untuk masuk ke SMA. Aku mulai merasa segala sesuatu menentang saya. Perasaan itu adalah salah satu penolakan dan pemberontakan. Tapi tidak ada jalan keluar dari situasi buruk. Setiap tahun lebih membawa duka, kesedihan, dan kehancuran. Aku tidak punya jalan keluar!

Kali ini aku berlindung kepada Allah. Setelah semua, aku tidak punya pilihan lain kecuali untuk mencari Allah. Aku begitu lemah, begitu jujur dan dalam membutuhkannya. Aku berkomitmen diri untuk berdoa dan berpuasa, dan mengikuti semua peraturan Islam. Aku mulai mengenakan jilbab. Setiap kali saya selesai berdoa, saya terbiasa memanggil Allah dan berbicara kepadanya banyak, tapi aku merasa bahwa doa-doa dan permohon-permohonanku memukul langit-langit dan datang kembali ke saya dengan tanpa jawaban atau juga tanpa bantuan atau bahkan tampa sebuah harapan.

Saya selalu merasa bahwa Allah jauh dari saya, “sejauh Timur dari Barat” Setelah saya menyelesaikan pendidikanku. Saya tinggal lebih dari dua tahun di rumah. Aku merasa bosan sampai mati seperti kehidupan rutin, jadi aku mulai mencari pekerjaan. Itu datang kedalam benakku bahwa sebuah kantor hukum memiliki lowongan untuk sekretaris.

Pemilik kantor hukum ini adalah seorang Kristen. Aku yakin bahwa ayah saya akan menolak ide itu, tapi aku harus memberitahunya. Dia dengan tegas menolak. Ketika saya desak, akhirnya ayah saya setuju. Bekerja di sebuah perusahaan yang dimiliki oleh seorang Kristen, rasa ingin tahu saya untuk agama Kristen mulai muncul.

Saya mulai dengan pertanyaan untuk bos saya tentang gambar perawan Maria di dinding di belakangnya: “Dari mana mereka mendapatkannya? Mengapa mereka mengatakan bahwa Yeshua adalah Elohim (God) sedangkan Dia dilahirkan dari seorang perempuan biasa, bahkan jika kelahiran-Nya adalah ajaib?” Aku tidak menyelesaikan pertanyaan saya, ketika kemarahannya menyala dan ia berkata kepada saya dengan cara yang tegas: “Di sini tidak ada pertanyaan tentang agama. Sudah cukup apa yang terjadi di dalam negeri sekarang ini.” Dia maksudkan serangan terroris yang mengerikan yang telah terjadi pada tahun 1991.

Jadi, ketakutan dari pengacara ini  dan ketidaktahuan tentang agamanya melarang dia terlibat dalam diskusi tentang agama. Ketidaktahuan dan ketakutan adalah lebih dari cukup untuk menyembunyikan kecantikan yang paling mengagumkan. Jadi, saya memutuskan untuk mempelajari lebih lanjut tentang kekristenan, kali ini dari beberapa buku Kristen di perpustakaan kantor kami. Aku mulai membaca tentang penyaliban, trinitas, dan Anak Elohim dan kasih-Nya. Saya terpesona dengan kisah cinta yang besar yang muncul dengan jelas dengan salib dan keselamatan. Saya menemukan hal yang akan logis untuk pikiran dan memuaskan jiwa. Aku punya kekhawatiran tentang mendapatkan terlibat dalam pembacaan tersebut, jadi saya berhenti membaca. Saya meminta bantuan seorang teolog Islam untuk menjawab semua pertanyaan saya dan untuk membantu saya berhenti dari ketertarikku kepada Mashiah.

Aku pergi ke guru masjid dekat rumahku dan menceritakan tentang kepuasan kecilku dan ketakutan besarku. Dia memberiku solusi instan untuk penyakit mencari pengetahuan dan memberiku resep yang terdiri dari tiga langkah aku harus mengikuti secara ketat:
Langkah pertama: berhenti membaca tentang agama ini dan meninggalkan pekerjaan saya,
Langkah kedua: untuk bertobat, berdoa dan berpuasa tiga hari; dan
Langkah ketiga: untuk terus membaca Alquran sehari-hari.

Nyatanya, saya melakukan apa yang guru ini diminta kecuali satu hal, meninggalkan pekerjaan saya. Aku takut bahwa ayah saya tidak mengizinkan saya untuk bekerja lagi. Aku mulai menemukan sesuatu bahwa … telah meningkatkan keraguan-keraguan dan kuatir-kuatirku. Ketika saya mulai membaca Kuran secara teratur, aku tidak menemukan penyembuhan penyakitku. Seorang wanita, menurut Kuran, tidak memiliki wawasan dan komitmen keagamaan, sehingga warisan pria dua kali dari seorang wanita!!

Di depan pengadilan, saksi dari dua perempuan sama dengan satu pria (mengingat bahwa perempuan kurang cerdas [menurut Kuran]). Jadi tidak ada satupun dari kami perempuan bisa menjadi dokter, peneliti, hakim, filsuf, atau bahkan orang yang bijaksana!!!
Mayoritas orang yang dikutuk di neraka akanlah perempuan! Selain itu, banyak dari mereka akan menjadi kayu bakar neraka. Coba bayangkan – kita perempuan diciptakan hanya untuk menyenangkan orang dan akhirnya kita akan berakhir menjadi kayu bakar neraka atau bidadari-bidadari dari Jannah (wanita cantik untuk menyenangkan laki-laki di surga).

Seorang wanita dalam Islam tidak boleh meninggalkan rumahnya kecuali untuk salah satu dari tiga alasan: untuk pindah ke rumah suaminya, untuk melakukan haji, atau untuk dikubur. Aku bosan dengan semua ayat Alquran yang berbicara tentang Islam dan perkelahian lautan darah yang masih tercurah atas nama agama. Cobalah membayangkan bahwa setelah 21 tahun percaya dengan sungguh pada sesuatu, itu berubah menjadi palsu. Ini adalah waktu yang paling sulit yang pernah saya miliki. Bagaimana bisa seseorang yang biasa untuk berlindung kepada Allah, secara tiba-tiba tanpa perlindungan dan tanpa Allah?

Setelah satu bulan tanpa tidur malam, sedih dan menangis, dan menunggu Elohim (Allah/ Ilah/ God) yang benar untuk turun dari langit ke bumi untuk menjawab, aku lelah berpikir. Aku kemudian kembali untuk membaca Kuran, yang meninggalkan saya lebih nyasar dan bingung. Jadi, saya memutuskan untuk membaca Alkitab yang saya dapat menemukan kebenaran.

Tapi orang mengatakan bahwa versi asli dari Alkitab / Kitab Suci tidak ada lagi. Apa yang bisa saya lakukan? Aku tidak punya pilihan selain untuk membaca versi yang rusak dari Alkitab sehingga saya boleh menemukan kebenaran yang tersirat. Jadi, saya mulai membaca Alkitab dan saya menemukan Yeshua, nama yang aku telah dengar lama sebelumnya, Nama yang sudah membuat aku tertarik. Saya melihat bagaimana Ia menyembuhkan yang sakit, membebaskan para tawanan, mengampuni perempuan berzinah, mengasihi dan memberkati musuh-musuhNya. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya menemukan apa yang belum pernah saya alami – hati kebapaan atau perhatian keibuan – karena orang tua saya sudah bercerai lama dan saya adalah anak perempuan tertua.

Dan sekarang aku merasa bahwa Yeshua adalah ayah dan ibuku. Saya merasa Dia memeluk saya, memegang aku dalam lengan-Nya seperti seorang bayi. Dia mengambil semua beban berat saya yang membebani punggungku. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya merasa bahwa saya seorang wanita sejati – orang yang nyata, benar-benar dikasihi, bukan komoditas untuk menyenangkan laki-laki, tetapi diciptakan menurut gambar Elohim. Aku menangis seperti orang yang telah diselamatkan dari neraka atau kematian. Pada hari itu Aku berkata kepada Yeshua, “Yeshua, Engkau Elohimku dan Juruselamatku. Engkau ayahku dan ibuku, Engkau adalah segalanya bagiku dalam kehidupan[ku]. “

Sejak saat itu, Aku membalik sebuah lembaran baru, penuh dengan peristiwa, keajaiban, dan penganiayaan, tetapi kita akan membicarakannya kemudian.

Hormat saya,
Leila

Bersambung ke Bab 3. Diberkatilah Bangsa Mesirku

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Gulshan Fatima; Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1

Ini adalah kesaksian Gulshan Fatima, puteri bungsu dari sebuah keluarga Islam Sayed yang merupakan keturunan langsung Nabi Muhammad melalui puterinya Fatima.

Tulisan ini merupakan sebuah buku berjudul THE TORN VEIL atau KERUDUNG YANG TERKOYAK, diterbitkan oleh Marshal Paperblacks.

Naskah asli: Kesaksian seorang keturunan langsung nabi muhammad saw; disebarkan oleh Rainy di Indonesia Faith Freedom International.org.

Naskah asli dihasilkan dari alat scanner, jadi ada kemungkinan terdapat kata-kata yang aneh. saya telah berusaha sebaik mungkin untuk memperbaikinya, dan menambahkan warna untuk memperindah pembacaan. Selamat membaca, dan ucapan terima kasih saya kepada Rainy.
Penjalabaja

[Perhatian. Kata Tuhan dalam artikel ini  ditulis sebagaimana naskah aslinya, yang  diartikan sebagai Elohim / God atau Ilah dalam pengertian agama Islam. Dalam Islam: Allah adalah nama dan Tuhan adalah titel, Alkitab Indonesia menulis sebaliknya. Terjemahan yang tepat untuk nama Pencipta manusia dan univers ialah YAHWEH, dan jabatan-Nya ialah Elohim / God / Ilah. The God = Al-Ilah = Allah. Penjalabaja]

Susunan per bab sbb:
1. Ke Mekkah
2. Naik Haji
3. Air Kehidupan
4. Pesta Kawin
5. Getirnya Kematian
6. Mobil Ayah
7. Kemasyhuran
8. Alkitab
9. Baptisan
10. Hubungan Persaudaraan
11. Terperangkap
12. Godaan
13. Lilin Yang Menyala
14. Bersaksi
15. Penutup

Bab 1. Ke Mekkah [Latar belakang keluarga, berobat ke London, didikan ayah]
Dalam keadaan yang biasa, tidak akan terbit keinginan dalam hatiku untuk mengunjungi Inggris pada musim semi tahun 1966 itu. Saya, Gulshan Fatima, yang adalah puteri bungsu dari sebuah keluarga Islam Sayed yang merupakan keturunan langsung Nabi Muhammad melalui puterinya Fatima. Sepanjang masa hidupku selama ini menjalani suatu kehidupan yang sunyi dan tersendiri di dalam sebuah rumah di Punyab, Pakistan. Keadaan seperti ini bukanlah merupakan satu-satunya alasan kenapa saya dibesarkan dibagian rumah yang terpisah (purdah) sejak berusia 7 tahun, menaati ajaran Islam Shiah Orthodoks, tapi juga karena saya adalah seorang yang lumpuh dan bahkan tidak sanggup meninggalkan kamarku sendiri tanpa dibantu. Saya mengenakan kerudung untuk menutupi wajahku dari pandangan para pria, karena hal ini hanya diperbolehkan bagi kaum keluargaku yang dekat, misalnya ayah, kedua kakak lelaki dan pamanku Bagian terlama dari masa empat belas tahun pertama waktu awal hidupku yang suram, dibatasi oleh dinding-dinding vang mengelilingi halaman rumah kami yang luas di Jhang, kira¬kira 450 km dari Lahore dan dinding-dinding ini merupakan pembatas gerak dan pandangku.

Ayahlah yang membawaku ke lnggris walaupun beliau sendiri memandang rendah orang-orang Inggris karena mereka menyembah tiga Elohim dan bukannya Allah Yang Maha Esa. Malah beliau tidak memperbolehkan saya mempelajari bahasa kafir itu waktu saya diajar oleh guruku Razia, karena takut jangan sampai saya tercemar oleh dosa dan dapat men jauhkan saya dan iman kepercayaan kami. Walaupun demikian beliau tokh membawa saya ke Inggris setelah kami mengeluarkan banyak biaya dan usaha pengobatan dokter yang terbaik.

Beliau melakukan hal ini karena adanya dorongan kasih sayang serta keprihatinannya yang begitu besar untuk kebahagiaanku di masa datang. Namun, waktu kami mendarat di lapangan terbang Heathrow pada awal April itu, betapa kami tidak menyadari akan datangnya kesulitan serta kesedihan yang bakal menimpa keluarga kami. Yang aneh kemudian ialah, saya, anak lumpuh yang dinilai dan dianggap paling lemah dari antara anak-anak ayah, pada akhirnya malah menjadi yang terkuat diantara semua kami serta menjadi batu karang yang menghancurkan semua yang telah beliau pelihara dan jaga dengan penuh kasih sayang. Bahkan sesudah saya dewasa ini, dengan memejamkan mataku, dapat muncul satu gambaran di depanku yaitu ayahku, Aba-Jan tercinta, begitu tinggi, kurus, mengenakan jubah hitam yang dijahit rapih berleher panjang dihiasi kancing-kancing emas diatas celana longgar dan memakai ikat kepala putih, dijalin dengan sutera biru.

Kenanganku terhadap beliau muncul sama halnya dulu beliau begitu sering masuk kekamarku untuk mengajar saya tentang agama kami. Saya teringat ketika beliau berdiri disisi tempat tidurku yang ditempatkan berseberangan dengan tempat paling suci bagi kami yaitu Kaabah yang menurut kisah-kisahnya dibangun oleh Nabi Ibrahim [Abraham] dan dipugar oleh Nabi Muhammad. Ayah mengambil Al Qur’an suci dari rak penyimpanannya ditempat yang paling tinggi letaknya didalam kamarku karena tidak diperbolehkan menempatkan sesuatu barang lain lebih tinggi dari Al Qur’an. Pertama-tama beliau akan mencium kain sutera penutup yang berwarna hijau seraya mengucapkan “Bismillah i-Rahman-ir Rahim (saya memuliakannya dalam nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang).” Lalu beliau akan membuka tutup sutera hijau tapi sebelumnya beliau mengambil air wudhu dan dengan khidmat melaksanakan pencucian menurut tata cara agama yang perlu dilakukan sebelum menyentuh atau membawa kitah suci tersebut. Beliau mengulangi lagi ucapan Bismillah, kemudian menempatkan Al Qur’an itu di atas sebuah tempat khusus berbentuk huruf X, menyentuhnya dengan ujung-ujung jarinya. Beliau duduk sedemikian caranya sehingga sambil bersandar dikursi, saya dapat memandang ke Kitab itu. Sebelumnya sayapun harus sudah melaksanakan wudhu dengan bantuan pembantu wanitaku. Dengan telunjuknya ayah menelusuri huruf-huruf suci bertulisan Arab dekoratip dan saya, yang ingin sekali menyenangkan hati beliau, menguianginya mengikuti beliau membaca Al Fatiha.

Pembukaan ini adalah kata-kata yang mengikat erat seluruh umat Islam dimanapun mereka berada.
“Puji bagi Allah, Tuhan  Pencipta. Maha Pengasih. Maha Penyayang, Raja dihari Penghakiman ! *) Engkau sendirilah vang kami sembah dan padaMu sendirilah kami memohon doa meminta pertolongan. Tunjukkanlah kami kearah jalan yang lurus. Jalan bagi mereka yang Engkau kasihi, bukannya bagi mereka yang Engkau murkai atau bagi mereka yang murtad”.
Hari ini kami membaca Sura Ali Imran:
“Ya Allah! Tiada Tuhan selain Dia Yang Hidup dan Kekal”. “Ia telah mewahyukan kepadamu Kitab berisi kebenaran yang mengukuhkan kitah-kitab suci vang mendahuluinya: karena la telah mewahyukan Taurat dan Injil sebagai petunjuk bagi umat manusia untuk membedakan vang baik dan yang jahat”
*) Lihat catatan di atas.

Saya menjalani tahapan hidup sehagaimana yang ditempuh oleh seriap kanak-kanak Islam sewaktu mereka dibesarkan dalam keluarga orthodoks sejak awal masa kanak-kanak, membaca Al Qur’an suci dalam tulisan Arab. Kami umat Islam memahami bahwa kitab tersebut tidak boleh diterjemahkan, tidak seperti halnya buku yang lain tanpa mengalami kehilangan pengertiannya vang sebenarnya oleh karena nilainya yang keramat. Ketika saya hampir menyelesaikan pembacaannya untuk pertama kalinya, sekitar umur 7 tahun. Yang merupakan umur vang dinilai mulai memperlihatkan gejala kewaspadaan maka diadakan suatu jamuan vang kami namakan “amin” dari Al Qur’an suci dimana anggota-anggota keluarga, kawan-kawan serta para tetangga diundang. Di bagian tengah halaman terbuka di bungalow kami, para pria duduk ditempat yang dipisahkan dari para wanita oleh sebuah tirai pemisah, disitulah guru agama (mullah) akan mengucapkan doa vang menandakan sampainya saya pada suatu tahap baru yang penting dalam hidup ini dan pada saat itu para wanita yang duduk dibagian dalam dari halaman itu akan menghentikan bisik-bisik antara mereka untuk mengikuti upacara tersebut.

Sekarang kami telah sampai pada akhir pembacaan Sura itu, lalu ayahku memandangku dengan senyum tersungging dibibirnya: “Kau telah melakukannya dengan baik, Beiti (anak perempuan kecil),” katanya

Sekarang jawablah pertanyaan-pertanyaan ini :
‘Dimanakah Allah?’

Dengan malu-malu saya mengulangi pelajaran vang telah saya ketahui dengan baik :
‘Allah ada dimana-mana’
‘Apakah Allah mengetahui akan segala tindak tandukmu di dunia ?’
Ya. Allah tahu akan segala tindak tanduk yang saya lakukan didunia, mau yang baik demikian pula yang jahat’.
‘Apa yang telah Allah lakukan bagimu?

‘Allah telah menciptakan saya, begitu pula seluruh dunia. Ia mencintai saya dan membuatku senang. la akan memherikan pahala bagiku di sorga bagi semua tingkah laku saya yang baik dan menghukumku dalam neraka bagi semua perbuatanku yang jahat’.

‘Bagaimana caranya engkau memperoleh cintanya Allah ?’
‘Saya dapat memperoleh cinta kasih Allah dengan penyerahan penuh pada kehendakNya serta mematuhi perintah¬perintahNya’.

`Bagaimana engkau dapat mengetahui kehendak dan perintah – perintah Allah?”
‘Saya dapat mengetahui kehendak dan perintah Allah dari Al Qur’an suci dan juga Hadits dari Nabi kita Muhammad (kiranya damai dan berkat Allah menyertainya).
“Bagus sekali,”
kata ayah.
“Sekarang apakah ada sesuatu yang ingin kau ketahui’?”
“Ya, ayah; katakanlah mengapa Islam lebih baik dari agama lainnya?”

Saya menanyakan hal ini bukan karena saya mempunyai pengetahuan tentang agama lain tapi karena saya ingin mendengar sendiri dari ayahku penjelasan tentang agama kami. Jawaban ayah jelas dan tegas.

‘Gulshan, saya mau engkau mengingat akan hal ini. Agama kita lehih besar dari agama lainnya karena:
Pertama, kemenangan Allah adalah Muhammad yang membawa berita terakhir dari bagi umat manusla dan tidak lagi diperlukan nabi lain sesudahnya.
Kedua, Muhammad adalah sahabat Allah. Ia menghancurkan semua berhala dan semua orang diubahnya dari penyembah berhala menjadi penganut agama Islam.
Ketiga, Allah mengaruniakan Al Qur’ an kepada Muhammad setelah semua kitab suci lainnya. Ini adalah Firman Tuhan [Elohim] yang terakhir dan kita harus mematuhinya. Semua tulisan lainnya tidak lengkap.”

Saya mendengarkan penjelasan beliau yang membentuk tulisan sendiri dalam pikiran dan hatiku. Jika masih ada waktu, saya masih meminta beliau menjelaskan kepadaku tentang gambar yang tergantung dikamarku.
Bagaimana rasanya menunaikan ibadah Haji dikota suci Mekkah yang merupakan magnit kearah mana setiap umat Islam berkiblat sewaktu berdoa lima kali sehari? Didalam kotaku, kamipun berkiblat kesana, sewaktu Muazzin mengumandangkan azan dari kubah masjid. Suara tersebut memantul sepanjang jalan-jalan mengatasi keributan lalu-lintas dan bazaar serta memasuki jendela kami yang dipasangkan gorden, balk diwaktu fajar, tengah hari, sore serta malam hari memanggil umat yang setia untuk berdoa dengan Allah `Maha Besar’. Tidak ada Tuhan [Elohim] selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!” Ayah memberi penjelasan tentang semua ini. Beliau telah dua kali menunaikan Ibadah Haji. Sekali sendirian dan kami berikutnya bersama ibu. Bagi setiap umat Islam merupakan kewajiban untuk menunaikannya sekurang-¬kurangnya sekali seumur hidup atau lebih asal mampu. Menunaikan ibadah haji adalah Rukun Islam ke lima, yang mempersatukan berjuta-juta umat Islam dari berbagai negara yang berbeda, serta memberi keyakinan terhadap kesinambungan bagi iman kami.

`Apakah saya akan ke Mekkah, ayah?’ tanyaku.
Beliau tertawa seraya membungkuk mencium keningku. `Engkau akan kesana, Gulshan kecil, apabila kau sudah lebih besar dan barangkali…..’ Ayah tidak menyelesaikan kalimat tersebut, namun saya mengerti bahwa beliau hendak mengatakan….. `apabila doa kita untukmu telah dijawab’.
Dengan berpedoman pada perintah-perintah ini, saya belajar berbakti kepada Allah, terikat dengan agamaku serta tradisinya. memiliki perasaan bangga yang menyala-nyala terhadap gans keturunan nenek moyangku sejak nabi Muhammad melalui menantunya Ali, dengan memahami martabat ayahku yang bukan hanya merupakan kepala keluarga tapi juga sebagai keturunan nabi, seorang sayed dan seorang Shah. Beliau juga adalah seorang Pir, pemimpin agama serta seorang tuan tanah yang memiiiki tanah luas dipedalaman dan sebuah bungalow yang luas dipinggiran kota kediaman kami.

Saya mulai memahami mengapa keluarga kami begitu disegani, baik oleh para pemuka agama (mullah) atau maulvi yang datang bertanya kepada ayah masalah keagamaan yang tidak dimengertinya. Sambil mengenangkan kembali semuanya, kini saya dapat melihat akan adanya suatu maksud vang terkandung selama masa saya terkungkung begitu lama seumpama kuncup bunga mawar dipekarangan kami yang dipeiihara begitu baik oleh tukang kebun.

Namaku Gulshan, yang dalam bahasa Urdu artinya ”tempat bunga-bunga berkembang”, yaitu ”taman.” Keadaan saya malah merupakan sebuah tanaman yang sakit-sakitan untuk dapat menyandang nama seperti itu, juga dipelihara dengan penuh kasih oleh ayahku. Beliau mencintai kami semua, Safdar Shah, Alim Shah. Anis Bibi, Samina dan saya sendiri. Walaupun beliau kecewa karena waktu lahir ternyata saya seorang perempuan, kemudian waktu berumur 6 bulan menjadi lumpuh karena terserang penyakit typhus, namun ayah tetap mencintaiku malah kurasakan melebihi kasihnya terhadap saudara-saudaraku yang lain. Bukankah ibuku pada saat-saat terakhir hayat dipembaringan kematiannya mengajukan permintaan kepada ayah untuk memelihara saya?

‘Saya memohon kepadamu Sah-Ji, janganlah kawin lagi demi si Gulshan kecil’, pinta ibu sambil menghembuskan nafas yang terakhir. Beliau ingin melindungiku, karena kehadiran seorang ibu tiri dengan anak-anaknya akan menyebabkan hak warisan bagi anak perempuan dari istri pertama akan berkurang. ‘Tambahan pula mereka dapat memperlakukannya dengan buruk jika anak perempuan itu sakit-sakitan, apalagi kalau sampai tidak kawin. Telah bertahun-tahun lamanya sejak ayah berjanji pada ibu dan beliau tetap menepatinya walaupun ayah hidup disuatu lingkungan dimana seorang pria diizinkan beristri sampai empat orang, jika ia cukup kaya untuk memperlakukan masing-masing istrinya dengan adil sesuai Al Qur’ an.

Keadaan inilah yang merupakan pola hidupku sampai waktu saya mengunjungi Inggris pada usia 14 tahun Secara terselubung, keadaan ini berangsur-angsur mengubah segala sesuatu, tersusun menjadi gerakan yang merupakan mata rantai yang membawa dampak yang tidak terduga. Tentu saja saya tidak merasakan firasat bahwa hal ini akan terjadi pada waktu saya menunggu dalam sebuah kamar hotel di London pada hari ketiga sejak kami tiba disana dengan ditemani oleh para pembantuku Salima dan Sema. Waktu itu kami menantikan keputusan seorang dokter spesialis, seorang Inggris yang direkomendasikan kepada ayahku, ketika beliau mencari-cari pengobatan bagiku di Pakistan. Dokter ini akan menetapkan sekali dan untuk selamanya tontang masa depanku.
Jika saya dapat disembuhkan dari penyakit yang telah melumpuhkan bagian kiri tubuhku sejak bayi, maka sava akan bebas untuk menikah dengan sepupuku yang telah dipertunangkan dengan saya sejak berusia 3 bulan dan sekarang sedang menunggu-nunggu di Multan Punjab. Jika tidak sembuh, maka pertunanganku akan diputuskan dan perasaan maluku akan lebih besar lagi dibandingkan dengan keadaan bila dikawinkan lalu diceraikan kembali. Kami mendengar bunyi langkah mendekat. Salima dan Sema berlompatan berdiri dan dengan gugup mengatur dopattanya yang panjang berbentuk seperti selendang. Salima menarik gaunku sampai ke wajahku dan saya sendirl berbaring diatas tempat tidurku. Saya menggigil bukan karena kedinginan. Malah terpaksa saya mengatupkan gigiku agar berhenti gemeretak.

Pintu terbuka dan ayah masuk bersama dokter. `Selamat pagi’, sapanya dengan suara yang amat menyenangkan dan sopan. Saya tidak dapat melihat wajah dokter David tersebut, namun rasanya beliau adalah seorang yang berwibawa dan terpelajar. Tangan-tangannya yang kokoh mengangkat gaunku keatas lalu melakukan pengujian pada lengan kiriku yang lemas, sesudah itu pada kakiku yang sudah tidak berdaya.

‘Tidak ada obat untuk sakit ini kecuali doa’, kata dokter David kepada ayahku. Rasanya tidak terdengar ada ucapan yang salah pada kata akhirnya yang lemah itu. Sambil berbaring di dipan terdengar olehku suara dokter Inggris yang asing itu menyebut nama Allah. Saya bingung. Bagaimana gerangan ia mengetahui tentang Allah? Dan cara-caranya yang baik dan simpatik saya merasakan bahwa beliau sedang membangkitkan harapan kami terhadap kesembuhanku, malah ia mengajarkan kepada kami cara berdoa.

Ayah mengantarkannya sampai kepintu. Ketika kembali beliau berkata: `Alangkah baiknya orang Inggris itu mengajari kita caranya berdoa. Salima membalikkan dopatt aku seraya membantuku duduk. `Ayah, apakah beliau tidak dapat membuat keadaanku menjadi tebih baik?. Saya tidak dapat menahan suaraku agar tidak terdengar gemetar. Air mata menumpuk di pelupuk mataku. Ayah mengusap tanganku yang tidak berdaya. Katanya dengan cepat: ‘Hanya ada satu jalan lagi sekarang. Mari kita mengetuk pintu sorga. Kita akan ke Mekkah sesuar rencana kita. Allah akan mendengar doa-doa kita dan kita masih dapat pulang dengan perasaan syukur.’ Beliau tersenyum kepadaku dan saya berusaha untuk tersenyum kembali.

Kesedihanku sama besarnya dengan kesedihannya namun beliau tidak berputus asa. Pada suaranya terdengar adanya harapan baru. “Tentu saja di Rumah Allah atau pada mata air Zam-zam, mata air kesembuhan, bukankah kita akan memperoleh apa yang menjadi keinginan hati kita?”
Kami masih tinggal di hotel itu beberapa hari dan kesempatan ini digunakan ayah untuk mengurus penerbangan kami ke Jedah, lapangan terbang yang biasa digunakan para jemaah haji untuk menuju Mekkah. Sebelum itu beliau belum mengurus hal ini karena masih menunggu hasii pengobatan yang telah dianjurkan bagiku. Kunjungan ini telah beliau rencanakan sedemikian rupa agar bertepatan dengan masa menjelang bulan haji tahunan, sehingga sesudah peagobatan, kami dapat menuju Mekkah untuk mengucapkan syukur.
Selama waktu penantian mi ayah berkesempatan mengunjungi kawan-kawan masyarakat Pakistan atau sebaliknya mereka datang mengunjungi beliau. Biasanya para wanita dari keluarga-keluarga tersebut akan mengunjungi saya. Tapi saya merasa malu dengan keadaanku serta tidak terbiasa menemui tamu-tamu asing dirumah sehingga hanya sedikit dari mereka yang datang mengetuk pintu kamarku.
Siapakah yang suka melihat lengan yang layu, kulit yang menghitam berkeriput dan lemah lunglai serta jari-jarinya terjalin bersama dengan otot sehingga bentuknya seperti selai? Pada usia dimana kawan-kawan sebayaku mulai berangan-¬angan tentang waktu akan mengenakan gaun pengantin berwarna merah dengan sulaman emas, kemudian berlalan¬-jalan mengenakan perhiasan dengan membawa mas kawin yang bagus kerumah suaminya, maka keadaanku sebaliknya sedang menghadapi masa depan yang sunyi, terputus dari hubungan dengan kawan-kawan sebayaku. Suatu makhluk non manusia, tidak akan pernah sembuh, menjadi perempuan yang sempurna ditudungi dengan kerudung yang memalukan.

Tempat kami terletak pada tingkat dua hotel itu, kamarnya menyenangkan persis disebelah kamar ayah. Ruangan itu beralaskan permadani tebal dan mempunyai kamarmandi sendiri. Disampmg merawatku serta mencuci pakaian kami. Salima dan Sema yang tidur dikamarku secara bergantian duduk menjaga dan melayani kebutuhanku. Hampir tidak ada tugas lain untuk mereka kerjakan, namun sambil membaca buku- ¬buku. melaksanakan sholat lima waktu, jam rasanya berjalan cukup cepat karena disamping memberi makan seorang yang cacat selalu membutuhkan waktu yang iebih lama. Saya pernah mendengarkan keduanya berkasak-¬kusuk menggelikan. Sesekali mereka menyelinap ke lobby bawah, namun terlalu takut untuk keluar sendirian. Mereka merasa puas dengan melewatkan waktu-waktunya separti itu, berkesempatan melihat dunia luar melalui jendela dan melaporkan kepadaku apa yang mereka lihat. Reaksinya polos sebagaimana layaknya gadis-gadis desa Pakistan dan hal ini membuat saya tertawa.

`Oh, lihat kota yang indah ini’, kata Salima. ‘Banyak yang lalu lalang dan banyak sekali mobil’. Kemudian Sema menjerit. ‘Oh, para wanita tidak mempunyai perasaan malu. Mereka tidak menutupi kakinya. Lelaki dan perempuan berjalan bersama, bergandengan tangan. Mereka berciuman. Oh, mereka langsung ke neraka.

Kami tetah diajarkan tentang peraturan yang ketat tentang tatacara berpakaian serta berperilaku sejak kecil. Kami menutup diri kami dengan sopan dari leher sampai ke pergelangan kaki mengenakan ‘shalwar kameeze’ dari Punjab, jubah longgar dan celana panjang yang ujungnya terkumpul dipergelangan kaki. Di leher kami mengenakan sehelai selendang lebar atau dopatta yang dapat ber-fungsi sebagai penutup kepaia bila diperlukan atau ditarik menutupi wajah dan dengan demikian kamipun dapat menutupi diri memakai syal bila dingin. Jika kami harus keluar maka kami mengenakan burka, sebuah kerudung yang panjang yang tidak tembus pandang menutupi diri kami dari krpala sampai ke tumit, terkumpul menjadi sepotong pelindung kepala yang mempunyai celah didepan untuk keperluan meiihat. Dengan demikian, secara biasa tidak mungkin untuk dapat bercakap-cakap dijalanan serta mengurangi kemampuan, pemakai untuk melihai dan mendengarkan lalu lintas.
Pada waktu itu kami tidak mempertanyakan tentang atura – aturan yang diberikan kepada kami dan tentu saja takut untuk. menentang kebiasaan-kebiasaan tersebut. Pada kenyataannya kami merasakan bahwa kerudung itu malah merupakan pelindung. Kami dapat melihat ke dunia luar sebagaimana adanya, tapi dunia tidak dapat melihat kami.
Waktu kami menyaksikan bagaimana para wanita di London memamerkan dirinya dengan mengenakan mini skirt yang tidak sopan dimana ujungnya cukup jauh diatas lutut, maka jelas bagi kami bertiga bahwa kota ini merupakan kota yang paling maksiat didunia.

Di negen kami, terutama di kotaku, untuk bercakap-cakap dengan seorang pria yang bukan kerabat dekat ataupun kepada pembantu pria dapat menyebabkan kami dianggap hina. Manfaat ‘purdah’ secara menyeluruh tentu saja sebagai pelindung kehormatan keluarga. Tidak boleh terlihat adanya gejala atau noda sedikitpun yang mencurigakan melekat pada diri para puteri keluarga Islam. Hukuman terhadap kesembronoan dalam hal ini bisa fatal.

Tiga kali dalam sehari seorang pelayan mengantarkan makanan dengan menggunakan rak dorong. Pembantu akan mengambil dari pelayan itu di depan pintu. Kadang-kadang seorang pembantu wanita menyertainya, diwaktu mana saya akan menutup mataku agar tidak melihat kaki-kakinya. Saya mulai merasa bosan dengan makanan-makanan hotel itu. Tiap hari ayah memesan masakan ayam bagi kami karena inilah yang halal, daging yang diperkenankan, dipotong mengikuti tatacara yang diperbolehkan oleh agama.
Babi merupakan daging yang haram dan dilarang, bahkan untuk menyebut kata ‘babi’ saja dapat menyebabkan mulut seseorang menjadi najis. Sampai sekarang saya masih mengenakan kata Punyabi “barta” yang berarti ‘barang luar’ jika berbicara tentang binatang itu. Jadi, dapat dibayangkan betapa kuatnya pengaruh hasil didikan dasar sejak kecil. Setiap daging yang lainpun dapat dicurigai bahwa mungkin dapat dimasak memakai minyak babi. Sayur-sayuran dihidangkan bersama ayam ditambah pelezatnya, es krim. Minuman kami Coca Cola dan cukup banyak persediaan di dalam kamar.

Saya mengharapkan kiranya muncul masakan memakai bumbu `kari’ atau `kebab’ namun sia-sia saja, begitu juga buah-buahan misalnya buah persik atau mangga dan pepohonan di halaman rumahku.

Ayah membantu membangkitkan kegembiraanku dengan membawa saya berkeliling ke luar- sebentar. 2 atau 3 kali. Sekali saya diajak berkeliling sekitar hotel dan sekali bersama kedua pembantuku memakai taksi. Beliau memberikan penjelasan padaku tentang kenapa orang-orang Inggris berbeda dengan kami ialah :

“Negeri ini adalah sebuah negeri Kristen. Mereka percaya kepada nabi Isa, Yeshua Ha Mashiah sebagai Anak Elohim’.
Tentu saja mereka salah, karena Allah tidak pernah kawin dan bagaimana mungkin Allah beranak? Tetapi mereka juga memiliki sebuah kitab suci sebagaimana halnya dengan kita Umat Islam dan umat Kristen mendasarkan imannya pada kuab suci yang sama itu. Hal ini merupakan teka-teki bagiku. Kenapa kita mempunyai dasar kitab suci yang sama namun perbedaannya begitu banyak?”
Mereka bebas melakukan banyak hal, sedangkan tidak demikian dengan kita,” kata ayah. ‘Mereka bebas makan daging babi serta minum minuman keras tidak ada pembatasan antara pria dan wanita. Mereka hidup bersama tanpa nikah dan bila anak-anaknva dewasa mereka tidak menghormati orang – orang tuanya.Namun mereka orang-orang baik, sangat tepat waktu serta memiliki prinsip – prinsip yang baik. Bila berjanji mereka menepatinya, tidak seperti orang Asia.”
Ayah, berpengalaman dan terpandang dalam bidang perdagangan. Beliau selalu berhubungan dengan orang-orang asing dalam mengekspor katun yang ditanamnya di Pakistan. ‘Kita dapat saja berbeda agama dengan mereka, namun mereka merupakan orang-orang yang simpatik bila bekerjasama serta memililai perasaan perikemanusiaan,” kata ayah mengakhiri penjelasannya.

Saya merenungkan kontradiksi tentang orang Inggris ini, bangsa yang memiliki kasih, tinggal di negara yang orang–orangnya lemah lembut. Dimana hujan sering turun dan kitab sucinya memberikan begitu banyak kemerdekaan bagi mereka. Malah kitab suci kami masih mempunyai kaitan dengan kitab sucinya. Apakah sebenarnya kunci perbedaan ini? Bagi seorang gadis berusia 14 tahun, hal ini masih terlalu dalam.
Pertanyaan itu saya hilangkan dalam pikiranku lalu bersiap- siap menyongsong peralanan berikutnya. Diperlukan waktu bertahun-tahun lamanya bagiku sebelum hal ini menjadi jeias dan sesudah menemukan kejelasan itu maka saya tidak dapat menganggap pertanyaan !ersebut sehagai hal yang sepele.

Bersambung ke Bab 2. Naik Haji

Gulshan Esther (Fatimah); Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2 ; Bg. 3 ; Bg. 4 ; Bg. 5 ; Bg.6 ; Bg. 7 ; Bg. 8

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja
  • Kalender

    • Juli 2019
      M S S R K J S
      « Jan    
       123456
      78910111213
      14151617181920
      21222324252627
      28293031  
  • Cari