Dua pria Kristen diadili di Algeria atas tuduhan istri meng-Injili

Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Adonai (Kolose 3:18)

Pihak famili dari isteri memaksa istrinya membuat surat keluhan, suaminya berkata

Rachid Ouali Ali Larchi, dari kiri ke kanan, Sadek Najib Pembela Hukum mereka

Rachid dan Ali (dari kiri ke kanan)

TIZI-OUzou, Algeria. Kedua orang Kristen ini menghadapi pengadilan setelah istri dari satu bapa tersebut menuduh mereka menganjukan dirinya meninggalkan Islam, suami dari isteri tersebut berkata.

Rachid Ouali dan teman prianya, Ali Larchi (67 tahun), telah menghadap hakim di Bouira, sekitar 100 kilometer dari timur laut Algeria (9 Oktober), setelah isteri Ouali menulis surat keluhan bulan Juli, menuduh keduanya membawa dia ke sebuah ibadah Gereja dan menganjurkan ia untuk meninggalkan Islam, Ouali bercerita kepada Morning Star News.

Dia dan Larchi menolak tuduhan-tuduhan tersebut, yang kemudian isteri Ouali berkata kepada suaminya bahwa ia melakukan itu dibawah tekanan dari sejumlah pihak familinya.

Penduduk Lekser, 30 kilometer timur laut dari Bouira, dimana Ouali dan isterinya saat itu sedang makan siang di rumah Larchi pada akhir Juni. Larchi dan isterinya dan kelima anak mereka adalah keluarga yang telah dikenal umum di wilayah tersebut sebagai keluarga Kristen yang biasa menerima tamu-tamu dari segala berbagai keyakinan. Profinsi Bouira ini memang telah ada sejumlah besar orang-orang Kristen dari latar belakang Islam.

Awal tuduhan. Sementara kedua keluarga ini menikmati makanan mereka, Ouali dan Larchi saling bercerita tentang kesetian Ha Mashiah dalam kehidupan mereka, Ouali bercerita. Menyebut nama Yeshua dan bereaksi dengan berkata ”Haleluyah!” adalah umum.

Ketika mendengarkan percakapan ini, isteri Ouali tiba-tiba melompat berdiri dan menjerit-jerit dengan marah kepada suaminya, “Kamu membawa saya ke sini untuk memurtadkan saya dan meninggalkan agama saya. Kamu membuat jebakan bagi saya,” Ouali bercerita kejadian silam tersebut. “Dia tidak berhenti meninggikan suaranya membuat dirinya sendiri di dengar orang luar,” suaminya menambahkan.

Isterinya meninggalkan rumah Larchi pergi ke rumah dari sanak familinya yang terdekat, dimana ia menceritakan kejadian tersebut kepada para keponakannya, termasuk dua saudara laki-lakinya yang adalah polisi, pihak family memaksa ia pergi ke Kantor Polisi untuk mengisi surat keluhan menentang suaminya dan temannya.

Pada tuduhan tersebut isterinya menyatakan bahwa suaminya dan Ali Larchi membawa ia ke ibadah Gereja dan mencoba mendorong ia untuk meninggalkan Islam dan menjadi seorang Kristen. Hukum Algeria pasal 03/2006, memaksakan seorang Muslim keluar dari Islam bisa mendapat hukuman dua sampai lima tahun perjara dan denda 500 ribu sampai 1 juta dinnar (4,3 – 8,7 dollar Amerika). Morning Star News menulis.

Kemudian hari isterinya mengakui kepada Ouali, suaminya, ”Saya tidak mau melakukan itu; itu adalah kedua saudara lelaki saya yang memaksa saya melakukan hal itu.” Sehari sebelum Selasa hari pengadilan, isterinya menepon suaminya dan berkata, ”Saya terjepit di antara sanak famili dan suami saya. Saya tidak tahu harus berbuat apa.”

Para pemimpin Kristen berkata hukum pasal 03/2006 tidaklah sah, mengutip kostitusi Algeria Artikel 42 dimana Negara menjamin kebebasan beragama, berpendapat dan beribadah.

Islam adalah negara agama di Algeria, dimana 99% penduduknya dari 40 juta Muslim. Namun sejak tahun 2000, ribuan Muslim Algeria telah menaruh iman mereka kepada Ha Mashiah. Pemerintah setempat memperkirakan jumlah Kristen ada sekitar 50 ribu orang, namun sumber lain berkata itu dapat ada dua kali lipat dari pernyataan pemerintah.

Baca lebih lanjut

RRCina: Orang-orang Kristen mengabaikan larangan pemerintah atas aktivitas Sekolah Minggu

Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. … Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.” (Markus 4:3,8)

Murid-murid Kristen Cina di Kamp Musim Panas

Remaja Kristen Cina di Kamp Musim Panas

Republik Rakyat Cina. Orang-orang Kristen di kota Wenzhou (profinsi Zhejiang) mengabaikan larangan resmi kelas-kelas Sekolah Minggu — dan telah bersumpah untuk terus mengajar anak-anak mereka tentang Yeshua sampai orang percaya melebihi jumlah orang komunis di negara tersebut.

Menurut laporan baru dari Reuters, Gereja-gereja di Wenzhou — dikenal sebagai “Yerusalemnya Cina” karena komunitas Kristen yang cukup besar — mulai mengajar anak-anak di rumah pribadi atau di tempat lain setelah pihak berwenang melarang aktivitas Sekolah Minggu awal tahun ini.

“Iman prioritas pertama, pendidikan sekolah hal yang kedua,” seorang ibu dengan nama keluarga Chen berkata. “Anak-anak harus menghadiri kelas-kelas Alkitab sebab sekolah-sekolah pemerintah gagal menyediakan tuntunan moral yang cukup dan kerohanian.

“Obat-obatan, porno, perjudian dan kekerasan adalah masalah serius di antara remaja masa kini dan game-game video sangat menggoda,” ibu ini bercerita kepada Reuters. “Kami tidak bisa bersama dengan putra kami sepanjang waktu, jadi hanya melalui iman kita dapat membuat dia mengerti (yang tepat untuk dilakukan).” Ibu ini menambahkan, “pastilah akan ada lebih banyak orang Kristen beriman pada generasi berikutnya. Kemampuan untuk iman Kristen untuk ada diwariskan dan diteruskan sedang bertumbuh pesat.”

Selain melarang Sekolah-sekolah Minggu di beberapa kabupaten Wenzhou, anak-anak di daerah lain dilarang mengambil bagian dalam kegiatan-kegiatan iman, termasuk kamp-kamp Musim Panas. Saat itu, pihak berwenang memberi alasan “udara panas” kemungkinan menimbulkan bahaya kesehatan.

Reuters memperhatikan bahwa sementara hukum negara Cina secra resmi megijinkan kebebasan beragama untuk semua orang, termasuk anak-anak, peraturan perlindungan anak di bawah umur dan pendidikan juga mengatakan agama tidak dapat digunakan untuk “memaksa” anak-anak untuk percaya.

Pada bulan September, pemerintah merilis peraturan baru yang memperluas pengaruh negara dalam pengawasan pendidikan agama di seluruh negara. Para pejabat Cina sebelumnya memperingatkan orang tua Kristen bahwa jika mereka tetap membawa anak-anak mereka ke Gereja-gereja yang tidak disetujui oleh pemerintah, keturunan mereka akan dilarang dari menghadiri kuliah atau melayani di militer, dan akan menghadapi tindakan hukum.

Gereja-gereja Protestan yang dibawah kontrol pemerintah Cina dikenal sebagai Gerakan Patriotik Tiga-Mandiri [3-M](the Three-Self Patriotic Movement) secara khusus melarang para anggotanya “mencuci otak” para remaja dengan kepercayaan agama dan melarang membawa anak-anak ke aktivitas keagamaan.

“Pemerintah sedang mencoba mengkontrol ideologi,” seorang Kristen bernama keluarga Zhang bercerita kepada seorang karyawan pengawas penganiayaan China Aid. “Selama periode (presiden) Jiang Zemin dan Hu Jintao, pemerintah ada toleran terhadap kotbah dan pekerjaan pemberitaan Injil. Setelah Xi Jinping memasuki kekuasaan, cengkraman pemerintah atas agama semakin kuat.”

Pada tahun 2014, pemerintah meluncurkan sebuah kampanye di Wenzhou untuk menghancurkan Gereja-gereja “ilegal” dan meruntuhkan tiang-tiang salib. Selama kampanye “keindahan” itu, tiang-tiang salib sebanyak 360 buah disingkirkan (dengan paksa) dari tempat-tempat ibadah.

Jemaat Wenzhou protes menentang aksi anti-Salib pemerintah RRC

Jemaat protes anti-Salib pemerintah RRC

Ratusan orang Kristen, termasuk pendeta, pengacara dan aktivis, telah ditangkap karena berbicara melawan penganiayaan yang terus-menerus, dan banyak dari mereka masih ditahan. Para pengacara HAM (hak asasi manusia) yang memberikan bantuan hukum kepada jemaat di Cina telah menjadi korban atas kebrutalan polisi dan dipaksa mengaku di depan siaran TV pemerintah bahwa mereka telah mengganggu keamanan, dan mengancam keamanan negara.

Walaupun adanya larangan-larangan tersebut, diperkiran ada sekitar 30 juta Kristen di Cina, sementara sumber independen memperkirakan jumlah sekitar 60 juta, mayoritas mereka adalah orang-orang Protestan. [Ini hanya jumlah jemaat dari Gereja 3-M, jika ditambah dengan jemaat “Gereja bawah tanah” jumlah pasti lebih dari 200 juta, sebab tahun 2014 saja itu telah mencapai 163 juta orang Kristen laporan menulis, baca: How many Christians in China?]

Sarah Cook, seorang penganalisa dari Freedom House dan kelompok penasehat yang berbasis di New York (AS) berkata kepada Reuters, bahwa Partai Komunis Cina hanya dapat mengontrol sejauh pendidikan iman, “Akanlah selalu ada berlangsung dimana anak-anak di rumah yang cerita-cerita sebelum tidur mereka adalah berasal dari cerita Alkitab.”

Sumber terjemahan: Christians in China Ignore Sunday School Ban: Vow to Teach Children About Jesus Anyway by Leah Marieann Klett (Dec 27, 2017), Gospelherald.com
Baca lebih lanjut

Laos: Dua gadis remaja dianiaya keluarga dan pemerintah, ”Kami ingin mentaati Yeshua!”

Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. (Matius 10:37-38)

Peta Laos dan negara tetangganyaDi tengah-tengah tekanan agama Animisme, Buddha dan Komunisme – dua gadis remaja ini telah menempuh perjalanan iman yang sukar. Mereka menemukan bahwa Yeshua layak bagi hati mereka, bahkan hidup mereka. Laos termasuk dalam daftar ke 24 pada laporan tahunan World Watch List yang dibuat oleh Open Doors, sebuah organisasi Kristen yang menolong kelompok-kelompok minoritas yang teraniaya.

Nani (17 tahun) dan adiknya Nha Phong (16 tahun), telah menjadi orang Kristen pada Musim Gugur tahun 2016 setelah mendengar kebenaran Injil dari sepupunya.

Sepupu kami adalah seorang pendeta di sebuah desa tidak jauh dari tempat kami tinggal. Dialah orang yang membagikan Kabar Baik (Injil) kepada kami, berjalan bersama kami di saat-saat kami belajar lebih dalam tentang Yeshua. Kami suka apa yang kami dengar dan itu sebuah pilihan yang mudah untuk dibuat, namun kami tahu komitmenya adalah berat.

[Diancam]. Ketika keluarga kami tahu apa yang kami telah lakukan, mereka menjadi marah. Ayah kami berkata kami tidak boleh mengunjungi Gereja, dan ia mengancam kami.

”Ketika sekali waktu kami ingin pergi ke Gereja, keluarga kami menjadi begitu marah kepada kami. Mereka berkata jangan pergi. Sepupu saya dan keponakan laki-laki berkata saya perlu kembali ke agama lama saya, dan jika kami tidak melakukannya mereka akan memukul saya dan memaksa saya keluar dari Gereja,” Nani bercerita

Menyadari pentingnya mendengarkan firman Elohim dan berada Bersama saudara-saudari seiman, mereka berkata, ”Namun kami tetap pergi. Mengapa kami tidak dapat pergi? Kami masih bayi rohani. Kami haruslah ada bersama dengan orang-orang beriman lainnya.

Saat itu, sepupu tersebut tidak memenuhi apa yang ia katakan, namun tiga minggu kemudian ketiga kedua gadis ini meninggalkan rumah untuk beibadah, anggota keluarga mereka – sekitar enam sampai sembilan orang – mengikuti mereka. Open Doors bercerita.

”Pada suatu pagi, banyak anggota keluarga kami mengikuti kami secara diam-diam untuk melihat kemana kami pergi. Mereka mungkin telah tahu, tetapi ingin melihat dengan mata mereka sendiri.

[Dianiaya]. Ketika ibadah Gereja dimulai, mereka secara tergesa-gesa memasuki ruangan dan menangkap kami – mengikat kami dan menyeret kami keluar gedung. Mereka membawa saya ke rumah paman saya dan bertanya berkali-kali ‘Apakah kamu tetap percaya Elohim?'” Nha Phong Laos dua remaja Kristen dianiaya karena iman Kristianiti merekabercerita.

Ayah kami berlaku kasar – ia tetap membiarkan kami terikat untuk beberapa hari. Keluarga kami berkata mereka tidak akan melepaskan kami dari ikatan sebelum kami menolak iman kami kepada Yeshua. Setelah empat hari berlalu, ayah kami akhirnya melepaskan kami. Namun kehidupan kami tidaklah sama lagi.

Sementara ayah mereka tetap menentang  keyakinan iman kedua putrinya, ibu mereka nampak tertarik pada Kristianiti dan bahkan terkadang ikut mereka ke Gereja sekali-sekali.

Ibu kami tidak pernah memukul kami, tetapi ayah kami ya. Ayah lakukan itu setelah kepala desa memerintahkannya. Ayah mendengarkan para petugas pemerintah yang tidak suka kami pergi ke Gereja,” Nani berkata. Ayah tidak ingin melihat Alkitab saya ada di rumah, jadi ia mengambilnya dan menyembunyikan itu dari diriku. Saya temukan itu dikemudian hari dan sekarang saya dapat kembali menbaca Alkitab saya.

[Melarikan diri]. Kami tidak suka menentang ayah kami yang adalah kepala keluarga, namun kami ingin mentaati Yeshua lebih dari siapa pun juga. Kami tahu bahwa Yeshua telah mati bagi kami, dan kami tidak ingin kembali ke agama lama kami. Bahkan seandainya itu sulit, kami tetap mengikuti Yeshua. Dan kekuatan kami untuk berdiri teguh adalah karunia dari Elohim. Dia telah memberi kami semangat untuk percaya.

Menentang ayah kami adalah suatu hal, namun kemudian pemimpin desa mengambil masalah kami ke dalam tangannya sendiri. Ia mengutus petugas-petugas pemerintah ke rumah kami untuk menahan kami. Syukurlah kami berhasil melarikan diri  dan bersembunyi dengan sepupu kami di desanya dimana ia melayani sebagai pendeta. Kami tidak tahu akan masa depan, juga esok hari akan terjadi apa. Kami berharap keluarga kami suatu hari menerima kepercayaan baru kami. Namun sekarang kami menghabiskan waktu kami dalam persembunyian. Ada ayat di Alkitab dalam kitab Efesus 6, ketika orang-orang bertempur pada masa lalu, mereka memakai perisai. Kami ingin memiliki iman seperti sebuah perisai, ketika si jahat mencoba memanahkan anak-anak pamah kepada kami, kami akan pakai perisai iman tersebut untuk melindungi kami. Perisai iman kami tersebut adalah iman kami di dalam Yeshua.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Mesir: Dua Gereja Koptik dibom saat merayakan Hari Minggu Palm, 5 hari sebelum Paskah

Jemaat Gereja St. George di Tanta Mesir dibom Muslim saat ibadah

JemaatKoptik di Tanta Mesir dibom saat ibadah

Jemaat Kristen Koptik sedang berkumpul merayakan Minggu Palm, sebuah Hari Perayaan Kristen memperingati Yeshua Ha Mashiah menggendarai keledai muda diiringi oleh murid-murid-Nya menuju Bait Elohim dan rakyat di sepanjang jalan menyambut-Nya dengan teriakan meriah  dan lembaian pucuk-pucuk daun palm muda pada tangan mereka, serta meletakkan pakaian mereka dan potongan  ranting pohon zaitun pada jalan yang Dia lalui: ‘Hosanna! Diberkatilah Dia yang datang dalam Nama YAHWEH! Diberkatilah kerajaan Daud, leluhur kita, yang datang dalam Nama YAHWEH! Hosanna di tempat yang mahatinggi!”  (Markus 11:9-10), menggenapi nubuatan nabi Zakharia 9:9.

Serangan bom pertama terjadi di dalam gedung Gereja St. George di Tanta, membunuh 27 jiwa dan melukai 78 lainnya. Beberapa jam kemudian seorang Muslim meledakkan dirinya sendiri di depan Gereja St. Markus di Alexsandria, menewaskan 16 orang dan melukai 41. Total korban jiwa menjadi  43 dan 119 luka-luka.

Uskup  Angaelos, Uskup tertinggi untuk Gereja Koptik di Britania Raya mengkomentari peristiwa ini: “Sementara itu masih terlalu dini untuk menentukan tanggung jawab, apa yang tak terbantahkan adalah kebrutalan ketidak berperasaan dan tanpa hati dapat menyebabkan seseorang atau orang-orang  mengambil nyawa orang tidak bersalah tanpa pandangbulu, terutama yang paling rentan jam doa,” ia menulis dalam sebuah pernyataan.

Dick Brogden, seorang pemimpin Kristen di Kairo berkata kepada CBN News bagaiman respon saudara-saudarinya, “Mereka tidak meresponi dengan marah atau mengangkat senjata. Sebaliknya dari pimpinan tertinggi Gereja Koptik sampai ke level jemaat, mereka telah memberi pipi sebelah mereka. Mereka memiliki roh Mashiah. Mereka telah berkata kami bersedia menderita demi Yeshua.”

Sumber tulisan:

Baca lebih lanjut

Skotlandia: Penginjil dikunci, dituntut dengan kejahatan benci karena mengutip Alkitab ke seorang remaja gay

“Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Elohim.” (2 Timotius 3:1-4)

gordon-penginjil-jalanan-ditahan-polisi-skotland-karena-mengutip-ayat-alkitab

Gordon Larmour ditahan Polisi Skotland karena Injil

Seorang pengkhotbah jalanan Kristen ditahan dalam sel dan dituntut dengan kejahatan benci karena mengutip kitab Kejadian dalam menanggapi pertanyaan seorang remaja gay: ”bagaimana Elohim memandang homoseksual?”

Gordon Larmour, 42, menghabiskan waktu malamnya dalam tahanan dan menghadapi percobaan enam bulan atas tuduhan sebelum akhirnya mereka membawa ia ke sidang bulan lalu.

Bapa dari satu orang anak ini, telah melakukan kotbah-kotbah di jalanan selama tujuh tahun setelah ia menjadi pengikut Yeshua (Kristen), kejadian ini berawal ketika ia sedang membagikan traktat-traktat Kristen di kota ia tinggal, Irvine, Ayrshire, Juni lalu ketika sebuah kelompok remaja pria melewatinya, Telegraph melaporkan. (5 Februari 2017)

Ia, Gordon, berkata kepada mereka: ”Jangan lupa Yeshua mengasihi kalian dan Dia telah mati bagi dosa-dosa kalian.”

Seorang dari mereka bertanya kepada Mr. Lamour, ”Apa yang Elohimmu katakan tentang homosexual?” Ia menjawab dengan merefer ke Kitab Kejadian, yang menyatakan bahwa Elohim telah menciptakan Adam dan Hawa untuk menghasilkan anak-anak.

Dua remaja (dari antara mereka) berargumentasi dan Mr. Lampur menyatakan bahwa dialah yang dikejar oleh seorang dari remaja tersebut. Bagaimanapun, dialah yang ditahan dan dijebloskan ke mobil polisi sebelum ada ditahan di kantor polisi semalaman, dituntut dengan mengancam atau penyerangan yang dibangkitkan oleh prejudis berkaitan ke orientasi sex.

”Saya berpikir seharusnya polisi menangani itu berbeda dan mendengarkan apa yang telah saya katakan. Mereka seharusnya menenangkan remaja tersebut dan selesai disitu,” Mr. Larmour berkata kepada Scottish Herald hari Minggu kemarin.

Ia menambahkan: ”Di pengadilan teman remaja tersebut berbicara benar – bahwa saya tidak menyerang dia ataupun memanggil dia nama-nama yang bersifat homophobia. Saya hanya sederhananya menjawab pertanyaan dia dan berkata kepadanya tentang Adam dan Hawa dan Sorga dan Neraka. Berkotbah dari Alkitab bukanlah suatu kejahatan.”

Di Pengadilan Sheriff Kilmarnock, Sheriff Alistair Watson setuju, membebaskan Mr. Larmour dari tuntutan. Ia juga menemukan bapa ini tidak bersalah dari tuduhan ke dua ”meyerang yang dibangkitkan oleh prejudis berkaitan ke orientasi sex.”

Mr. Larmour berkata, ”Saya tidak dapat mengerti mengapa saya ditahan pada kejadian tersebut – itu adalah sebuah reaksi berlebihan yang besar dan membuang waktu setiap orang. Polisi tidak mendengarkanku. Mereka segera mengambil posisi membela remaja laki homosex tersebut dan menyerang hak-hakku.”

”Saya merasa mereka (para polisi di kejadian tersebut) telah mencoba begitu keras untuk nampak mereka melindungi para minoritas, sebaliknya ternyata mereka pergi terlalu jauh. Saya ingin ada mampu untuk bercerita kepada orang-orang kata-kata baik dari Injil dan berpikir saya haruslah ada bebas untuk melakukannya juga. Saya saat itu tidak berbicara opini-opini saya sendiri – saya mengutip dari Alkitab.”

Andrea Williams, Pemimpin eksekutiv Pusat Legal Kristen (the Christian Legal Centre), berkata: ”Itu adalah sangat melegakan bahwa Hakim mendukung Gordon, sebab kasus tersebut tidak penting untuk dipermasalahkan.” 

Skotland adalah negara asal penginjil terkenal John Knox, ia begitu mengasihi negerinya sehingga ia berkata, “Berikan saya Skolandia, atau saya mati!” Video dokumentasi: John Knox and The Scottish Covenanters

Sumber terjemahan dan ada lebih dari 2300 komentar, lihat di sini. Preacher Locked Up, Charged with Hate Crime for Quoting Bible to Gay Teen Baca lebih lanjut

Daftar 50 Teratas Negara Penganiaya Terburuk atas umat Kristen 2016 World Watch List

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yohanes 16:33)

Organisasi Open Doors telah mengelarkan The World Watch List 2016, yang adalah sebuah ranking 50 negara-negara teratas dimana orang-oran Kristen menghadapi penganiayaan terburuk oleh karana iman mereka. Sumber.

9 dari 10 negara pengaiaya umat Kristen sedunia tertinggi ditempati oleh negara-negara dimana Hukum Islam adalah hukum negara. Dan 37 dari 50 negara terdaftar terjadi di negara dimana penganut agama Islam adalah moyoritas. Persentasi umat beragama di tabel diambil dari Wikipedia.

1 R. KorUt 21 Qatar 41 Kuwait
2 Irak 22 Mesir 42 Kazakhstan
3 Eritrea 23 Myanmar 43 Indonesia
4 Afganistan 24 Palestina Ter. 44 Mali
5 Syria 25 Brunai 45 Turkey
6 Pakistan 26 R. Afrika Tengah (15%) 46 Kolombia
7 Somalia 27 Yordania 47 U. Arab Emirat
8 Sudan 28 Djibouti 48 Bahrain
9 Iran 29 Laos 49 Niger
10 Libya 30 Malaysia 50 Oman
11 Yemen 31 Tajikistan
12 Nigeria 32 Tunisia
13 Maldives 33 R.R.Cina
14 Arab Saudi 34 Azerbaijan
15 Uzbekistan 35 Bangladesh
16 Kenya (11%) 36 Tanzania (32%)
17 India (Hindu) 37 Algeria
18 Ethiopia (43,5/ 33,9)* 38 Bhutan (74,7)
19 Turkmenistan 39  Comoros
20 Vietnam 40 Mexico

*: Ethiopia mayoritas adalah Orthodox  (43,5%), dan kedua tertinggi adalah Muslim (22.9%)

Baca lebih lanjut

Pakistan: 5 Muslim menerima hukuman mati karena membunuh satu keluarga Kristen

“Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.  (Injil Yohanes 16:1-4, ITB)

Masyarakat Kristen Pakistan protes diskriminasi Muslim atas Kristen di Pakistan.jpg

Masyarakat Kristen Pakistan membela saudara mereka yang teraniaya

Pengadilan Pakistan telah memberikan hukuman mati kepada lima Muslim yang terbukti menyiksa dan sepasang suami-isteri Kristen atas tuduhan pembakaran Kuran, menurut Morning Star News.

Ratusan warga desa Kot Radha Kishan, Pakistan terlibat dalam serangan atas Shahzad Masih (26 tahun) dan istrinya yang sedang hamil lima bulan, Shama (24 tahun), keduanya dilemparkan ke pembakaran batu bata yang sedang menyala.

Penduduk desa dihasut oleh para pemimpin Muslim yang menyerukan kekerasan terhadap pasangan yang  dituduh  membakar Kuran.

Pengadilan Anti-Teroris Hakim Chaudhry Azam telah memberikan hukuman mati ke Irfan Shakoor, Muhammad Hanif, Mehdi Khan, Riaz Kamboh dan Hafiz Ishtiaq, awal minggu lalu (Minggu ke 46), berikut hukuman denda 200.000 rupi Pakistan atau 1.900 Dollar AS. Delapan orang lainnya menerima dua tahun hukuman penjara.

Jaksa Riaz Anjum, yang mewakili ayah dari perempuan meninggal, mengatakan kepada Morning Star News bahwa meskipun pada awalnya lebih dari 50 orang telah didakwa membunuh, kebanyakan dari mereka dibebaskan setelah anggota keluarga Shahzad Masih mengirim pernyataan menyangkal bahwa mereka hadir saat perisitiwa itu terjadi.

“Meskipun demikian, ini adalah berita menggembirakan untuk komunitas Kristen di Pakistan,” ujar Anjum. “Keluarga almarhum orang telah menderita banyak tekanan, meskipun negara telah menjadi keluhan dalam hal untuk menggagalkan upaya apapun untuk menekan keluarga korban untuk mencapai penyelesaian dengan dakwaan yang kuat.”

“Tapi hukuman atas lima orang oleh pengadilan tidak suatu usaha yang kecil, dan saya berharap vonis ini akan dilihat sebagai peringatan keras menentang kekerasan sejenis terhadap para minoritas di masa depan,” katanya.

Masih dan istrinya bekerja sebagai buruh terikat di tempat pembakaran batu bata. Pasangan bertahan hidup dengan empat anak mereka.

Banyak oran Kristen Pakistan hidup di dalam perbudakan sampai saat ini, upah yang mereka dapat terlalu kecil untuk kebutuhan hidup sehari-hari, sehingga anak mereka meneruskan pekerjaan yang sama untuk membayar hutang kepada tuan mereka. Dan jika mereka protes karena pekerjaan ekstra yang tidak dibayar atau tidak ingin bekerja pada hari Minggu karena ingin beribadah, maka tuannya dengan mudah menutup mulut mereka dengan tuduhan ”membakar Kuran” atau ”menghina nabi Muhammad.” Ini jenis tuduhan umum yang telah diketahui oleh banyak organisasi Hak-hak Asasi Manusia baik di dalam maupun di luar Pakistan, seperti: Voice of Martyrs, ChrsitianPakistan, OpenDoor. Dan masyarakat Muslim di banyak desa di Pakistan dengan mudah dimanfaatkan oleh pemimpin agama Islam untuk banyak tujuan.

Sumber berita: Five Muslims Sentenced to Death For Killing Christian Couple in Pakistan (CBN News; 27/11/2016)

Baca lebih lanjut

  • Kalender

    • Oktober 2018
      M S S R K J S
      « Jul    
       123456
      78910111213
      14151617181920
      21222324252627
      28293031  
  • Cari