Mesir: Dua Gereja Koptik dibom saat merayakan Hari Minggu Palm, 5 hari sebelum Paskah

Jemaat Gereja St. George di Tanta Mesir dibom Muslim saat ibadah

JemaatKoptik di Tanta Mesir dibom saat ibadah

Jemaat Kristen Koptik sedang berkumpul merayakan Minggu Palm, sebuah Hari Perayaan Kristen memperingati Yeshua Ha Mashiah menggendarai keledai muda diiringi oleh murid-murid-Nya menuju Bait Elohim dan rakyat di sepanjang jalan menyambut-Nya dengan teriakan meriah  dan lembaian pucuk-pucuk daun palm muda pada tangan mereka, serta meletakkan pakaian mereka dan potongan  ranting pohon zaitun pada jalan yang Dia lalui: ‘Hosanna! Diberkatilah Dia yang datang dalam Nama YAHWEH! Diberkatilah kerajaan Daud, leluhur kita, yang datang dalam Nama YAHWEH! Hosanna di tempat yang mahatinggi!”  (Markus 11:9-10), menggenapi nubuatan nabi Zakharia 9:9.

Serangan bom pertama terjadi di dalam gedung Gereja St. George di Tanta, membunuh 27 jiwa dan melukai 78 lainnya. Beberapa jam kemudian seorang Muslim meledakkan dirinya sendiri di depan Gereja St. Markus di Alexsandria, menewaskan 16 orang dan melukai 41. Total korban jiwa menjadi  43 dan 119 luka-luka.

Uskup  Angaelos, Uskup tertinggi untuk Gereja Koptik di Britania Raya mengkomentari peristiwa ini: “Sementara itu masih terlalu dini untuk menentukan tanggung jawab, apa yang tak terbantahkan adalah kebrutalan ketidak berperasaan dan tanpa hati dapat menyebabkan seseorang atau orang-orang  mengambil nyawa orang tidak bersalah tanpa pandangbulu, terutama yang paling rentan jam doa,” ia menulis dalam sebuah pernyataan.

Dick Brogden, seorang pemimpin Kristen di Kairo berkata kepada CBN News bagaiman respon saudara-saudarinya, “Mereka tidak meresponi dengan marah atau mengangkat senjata. Sebaliknya dari pimpinan tertinggi Gereja Koptik sampai ke level jemaat, mereka telah memberi pipi sebelah mereka. Mereka memiliki roh Mashiah. Mereka telah berkata kami bersedia menderita demi Yeshua.”

Sumber tulisan:

Baca lebih lanjut

Skotlandia: Penginjil dikunci, dituntut dengan kejahatan benci karena mengutip Alkitab ke seorang remaja gay

“Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Elohim.” (2 Timotius 3:1-4)

gordon-penginjil-jalanan-ditahan-polisi-skotland-karena-mengutip-ayat-alkitab

Gordon Larmour ditahan Polisi Skotland karena Injil

Seorang pengkhotbah jalanan Kristen ditahan dalam sel dan dituntut dengan kejahatan benci karena mengutip kitab Kejadian dalam menanggapi pertanyaan seorang remaja gay: ”bagaimana Elohim memandang homoseksual?”

Gordon Larmour, 42, menghabiskan waktu malamnya dalam tahanan dan menghadapi percobaan enam bulan atas tuduhan sebelum akhirnya mereka membawa ia ke sidang bulan lalu.

Bapa dari satu orang anak ini, telah melakukan kotbah-kotbah di jalanan selama tujuh tahun setelah ia menjadi pengikut Yeshua (Kristen), kejadian ini berawal ketika ia sedang membagikan traktat-traktat Kristen di kota ia tinggal, Irvine, Ayrshire, Juni lalu ketika sebuah kelompok remaja pria melewatinya, Telegraph melaporkan. (5 Februari 2017)

Ia, Gordon, berkata kepada mereka: ”Jangan lupa Yeshua mengasihi kalian dan Dia telah mati bagi dosa-dosa kalian.”

Seorang dari mereka bertanya kepada Mr. Lamour, ”Apa yang Elohimmu katakan tentang homosexual?” Ia menjawab dengan merefer ke Kitab Kejadian, yang menyatakan bahwa Elohim telah menciptakan Adam dan Hawa untuk menghasilkan anak-anak.

Dua remaja (dari antara mereka) berargumentasi dan Mr. Lampur menyatakan bahwa dialah yang dikejar oleh seorang dari remaja tersebut. Bagaimanapun, dialah yang ditahan dan dijebloskan ke mobil polisi sebelum ada ditahan di kantor polisi semalaman, dituntut dengan mengancam atau penyerangan yang dibangkitkan oleh prejudis berkaitan ke orientasi sex.

”Saya berpikir seharusnya polisi menangani itu berbeda dan mendengarkan apa yang telah saya katakan. Mereka seharusnya menenangkan remaja tersebut dan selesai disitu,” Mr. Larmour berkata kepada Scottish Herald hari Minggu kemarin.

Ia menambahkan: ”Di pengadilan teman remaja tersebut berbicara benar – bahwa saya tidak menyerang dia ataupun memanggil dia nama-nama yang bersifat homophobia. Saya hanya sederhananya menjawab pertanyaan dia dan berkata kepadanya tentang Adam dan Hawa dan Sorga dan Neraka. Berkotbah dari Alkitab bukanlah suatu kejahatan.”

Di Pengadilan Sheriff Kilmarnock, Sheriff Alistair Watson setuju, membebaskan Mr. Larmour dari tuntutan. Ia juga menemukan bapa ini tidak bersalah dari tuduhan ke dua ”meyerang yang dibangkitkan oleh prejudis berkaitan ke orientasi sex.”

Mr. Larmour berkata, ”Saya tidak dapat mengerti mengapa saya ditahan pada kejadian tersebut – itu adalah sebuah reaksi berlebihan yang besar dan membuang waktu setiap orang. Polisi tidak mendengarkanku. Mereka segera mengambil posisi membela remaja laki homosex tersebut dan menyerang hak-hakku.”

”Saya merasa mereka (para polisi di kejadian tersebut) telah mencoba begitu keras untuk nampak mereka melindungi para minoritas, sebaliknya ternyata mereka pergi terlalu jauh. Saya ingin ada mampu untuk bercerita kepada orang-orang kata-kata baik dari Injil dan berpikir saya haruslah ada bebas untuk melakukannya juga. Saya saat itu tidak berbicara opini-opini saya sendiri – saya mengutip dari Alkitab.”

Andrea Williams, Pemimpin eksekutiv Pusat Legal Kristen (the Christian Legal Centre), berkata: ”Itu adalah sangat melegakan bahwa Hakim mendukung Gordon, sebab kasus tersebut tidak penting untuk dipermasalahkan.” 

Skotland adalah negara asal penginjil terkenal John Knox, ia begitu mengasihi negerinya sehingga ia berkata, “Berikan saya Skolandia, atau saya mati!” Video dokumentasi: John Knox and The Scottish Covenanters

Sumber terjemahan dan ada lebih dari 2300 komentar, lihat di sini. Preacher Locked Up, Charged with Hate Crime for Quoting Bible to Gay Teen Baca lebih lanjut

Daftar 50 Teratas Negara Penganiaya Terburuk atas umat Kristen 2016 World Watch List

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yohanes 16:33)

Organisasi Open Doors telah mengelarkan The World Watch List 2016, yang adalah sebuah ranking 50 negara-negara teratas dimana orang-oran Kristen menghadapi penganiayaan terburuk oleh karana iman mereka. Sumber.

9 dari 10 negara pengaiaya umat Kristen sedunia tertinggi ditempati oleh negara-negara dimana Hukum Islam adalah hukum negara. Dan 37 dari 50 negara terdaftar terjadi di negara dimana penganut agama Islam adalah moyoritas. Persentasi umat beragama di tabel diambil dari Wikipedia.

1 R. KorUt 21 Qatar 41 Kuwait
2 Irak 22 Mesir 42 Kazakhstan
3 Eritrea 23 Myanmar 43 Indonesia
4 Afganistan 24 Palestina Ter. 44 Mali
5 Syria 25 Brunai 45 Turkey
6 Pakistan 26 R. Afrika Tengah (15%) 46 Kolombia
7 Somalia 27 Yordania 47 U. Arab Emirat
8 Sudan 28 Djibouti 48 Bahrain
9 Iran 29 Laos 49 Niger
10 Libya 30 Malaysia 50 Oman
11 Yemen 31 Tajikistan
12 Nigeria 32 Tunisia
13 Maldives 33 R.R.Cina
14 Arab Saudi 34 Azerbaijan
15 Uzbekistan 35 Bangladesh
16 Kenya (11%) 36 Tanzania (32%)
17 India (Hindu) 37 Algeria
18 Ethiopia (43,5/ 33,9)* 38 Bhutan (74,7)
19 Turkmenistan 39  Comoros
20 Vietnam 40 Mexico

*: Ethiopia mayoritas adalah Orthodox  (43,5%), dan kedua tertinggi adalah Muslim (22.9%)

Baca lebih lanjut

Pakistan: 5 Muslim menerima hukuman mati karena membunuh satu keluarga Kristen

“Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.  (Injil Yohanes 16:1-4, ITB)

Masyarakat Kristen Pakistan protes diskriminasi Muslim atas Kristen di Pakistan.jpg

Masyarakat Kristen Pakistan membela saudara mereka yang teraniaya

Pengadilan Pakistan telah memberikan hukuman mati kepada lima Muslim yang terbukti menyiksa dan sepasang suami-isteri Kristen atas tuduhan pembakaran Kuran, menurut Morning Star News.

Ratusan warga desa Kot Radha Kishan, Pakistan terlibat dalam serangan atas Shahzad Masih (26 tahun) dan istrinya yang sedang hamil lima bulan, Shama (24 tahun), keduanya dilemparkan ke pembakaran batu bata yang sedang menyala.

Penduduk desa dihasut oleh para pemimpin Muslim yang menyerukan kekerasan terhadap pasangan yang  dituduh  membakar Kuran.

Pengadilan Anti-Teroris Hakim Chaudhry Azam telah memberikan hukuman mati ke Irfan Shakoor, Muhammad Hanif, Mehdi Khan, Riaz Kamboh dan Hafiz Ishtiaq, awal minggu lalu (Minggu ke 46), berikut hukuman denda 200.000 rupi Pakistan atau 1.900 Dollar AS. Delapan orang lainnya menerima dua tahun hukuman penjara.

Jaksa Riaz Anjum, yang mewakili ayah dari perempuan meninggal, mengatakan kepada Morning Star News bahwa meskipun pada awalnya lebih dari 50 orang telah didakwa membunuh, kebanyakan dari mereka dibebaskan setelah anggota keluarga Shahzad Masih mengirim pernyataan menyangkal bahwa mereka hadir saat perisitiwa itu terjadi.

“Meskipun demikian, ini adalah berita menggembirakan untuk komunitas Kristen di Pakistan,” ujar Anjum. “Keluarga almarhum orang telah menderita banyak tekanan, meskipun negara telah menjadi keluhan dalam hal untuk menggagalkan upaya apapun untuk menekan keluarga korban untuk mencapai penyelesaian dengan dakwaan yang kuat.”

“Tapi hukuman atas lima orang oleh pengadilan tidak suatu usaha yang kecil, dan saya berharap vonis ini akan dilihat sebagai peringatan keras menentang kekerasan sejenis terhadap para minoritas di masa depan,” katanya.

Masih dan istrinya bekerja sebagai buruh terikat di tempat pembakaran batu bata. Pasangan bertahan hidup dengan empat anak mereka.

Banyak oran Kristen Pakistan hidup di dalam perbudakan sampai saat ini, upah yang mereka dapat terlalu kecil untuk kebutuhan hidup sehari-hari, sehingga anak mereka meneruskan pekerjaan yang sama untuk membayar hutang kepada tuan mereka. Dan jika mereka protes karena pekerjaan ekstra yang tidak dibayar atau tidak ingin bekerja pada hari Minggu karena ingin beribadah, maka tuannya dengan mudah menutup mulut mereka dengan tuduhan ”membakar Kuran” atau ”menghina nabi Muhammad.” Ini jenis tuduhan umum yang telah diketahui oleh banyak organisasi Hak-hak Asasi Manusia baik di dalam maupun di luar Pakistan, seperti: Voice of Martyrs, ChrsitianPakistan, OpenDoor. Dan masyarakat Muslim di banyak desa di Pakistan dengan mudah dimanfaatkan oleh pemimpin agama Islam untuk banyak tujuan.

Sumber berita: Five Muslims Sentenced to Death For Killing Christian Couple in Pakistan (CBN News; 27/11/2016)

Baca lebih lanjut

Skotlandia: Asah Shah dibunuh setelah mengepos ‘Very Happy Easter’

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin,” Yeshua berkata tentang tanda kesudahan zaman. (Matius 24:12)

Asad Shah Muslim Glasgow terbunuh di minggu Paskah 2016Asah Shah (40 tahun) ditemukan terluka parah karena ditusuk pisau sedikitnya 30 kali di luar tokonya di Shawlands, Glasgow. Peristiwa terjadi sekitar pukul 9 malam tanggal 21 Maret, Minggu Paskah.

Tambahan dari luka-luka tusukan di atas, nampak bahwa Tanveer Ahmed (32 tahun), pelaku pembunuhan, juga menginjak kepala Asah. Pemilik toko ini kemudian meninggal dunia di rumah sakit.

Asah Shah terbunuh empat jam setelah ia mengirim sebuah pesan video pada Facebooknya mengucapkan kepada seluruh orang Kristen selamat Paskah:*

“Good Friday and a very Happy Easter, especially to my beloved Christian nation. Let’s follow the real footstep of beloved holy Jesus Christ and get the real success in both worlds.” (Jumat Agung dan Paskah yang sungguh Bahagia, khususnya kepada negara Kristen yang saya cintai. Marilah ikuti langkah nyatakasih Yeshua Ha Mashiah dan mendapat sukses nyata dalam kedua dunia (kehidupan sekarang dan kehidupan kekal))

Namun di Pengadilan Tinggi Glasgow Ahmed (supir taxi) menyangkal bahwa ia membunuh Shah oleh karena pesan toleransi Shah kepada penduduk negara Kristen tersebut. Sebaliknya ia bangga dengan perbuatannya dan menyalahi aliran agama Islam yang dianut oleh Asah Shah, yakni Islam Ahmadiah. “Jika saya tidak melakukan ini, orang-orang (Muslim) lainnya akan melakukannya dan akanlah ada lebih pembunuhan dan kekerasan di dunia,” Tanveer Ahmed berkata.

Islam Sunni mengaggap aliran Islam Ahmadiah sebagai aliran sesat. Diperkirakan ada 500 Muslim Ahmadiah di Skotlandia dan lebih dari 10 juta di seluruh dunia.

Motif dari pembunuhan ini dinyatakan sebagai peristiwa “prejudis yang bersifat keagamaan.”

Laporan menulis, ”Bunga-bunga penghormatan telah ada di letakkan pada jalan dimana kejadian terjadi,” termasuk uang sejumlah 90.000 £ (pound sterling) telah terkumpul untuk mendukung keluarganya yang ditinggalkan” karena Asah telah mempromosikan “kasihi semua orang, jangan membenci siapapun.”

Baca lebih lanjut

Raqqa: Pemuda Muslim mengeksekusi ibunya sendiri dimuka umum

Lepaskanlah kiranya aku dari tangan kakakku, dari tangan Esau, sebab aku takut kepadanya, jangan-jangan ia datang membunuh aku, juga ibu-ibu dengan anak-anaknya. (Kejadian 32:11)

Tentara Negara Islam Khalifat menjatukan pemuda homo dari atas gedung sebagai eksekusi hukum IslamSeorang militan Negara Islam Khalifat (Islamic State) telah mengeksekusi ibunya dimuka umum setelah ibunya mengajak dia untuk meninggalkan Negara Islam Khalifat (NIK) dan minggat dengan ibunya, Observatory Syria untuk Hak-hak Asasi yang berpusat di Inggris melaporkan pada hari Jumat (8/1/2016), Breaking Israel News mengutip. ISIS to England in New “Jihadi John” Video: We Will Invade Your Land and Rule by Shariah

Baca lebih lanjut

India: Mahasiswi bunuh diri karena dilarang ber Facebook

Seorang mahasiswi (17 tahun) dari Parbhani, India Barat menggantung diri setelah kedua orang tuanya  melarang dia memakai Facebook. Tubuh dari Aishwarya S. Dahiwal ditemukan di kamar tidurnya pagi berikutnya satu hari setelah larangan tersebut dengan catatan bunuh diri, “Apakah Facebook begitu buruk? Saya tidak tinggal di sebuah rumah dengan larangan-larangan seperti itu sebagaimana saya tidak dapat hidup tanpa Facebook.”

Keterikatan rokok  jaringan sosial FacebookKedua orang tua dari Aishwarya sungguh terkejut dengan tindakan putri mereka tersebut: “Kami tetap tidak dapat mempercayai hal ini. Kami sungguh terkejut,” Sunil Dahiwal, ayah korban berkata, “Kami hanya ingin dia untuk berkonsentrasi pada pelajarannya. Kami tidak pernah berpikir bahwa ia akan mengambil sebuah langkah yang tragis.”

Laporan menulis bahwa larangan itu dibuat karena kedua orang tua dari gadis ini melihat bahwa pemakaian Facebook dan komunikasi melalui telpon genggam Aishwarya telah membuat kuliahnya berantakkan. “Seperti semua orang tua,” kata petugas kepada wartawan The Times of India, “tujuan mereka hanyalah untuk meyakinkan bahwa putri mereka tidak salah jalan. Mereka menasehati dia untuk konsentrasi pada pelajaran-pelajaran sekolahnya, keluar dari percakapan panjang di telpon dan situs-situs jaringan social (seperti Facebook, Twitter dan sejenisnya).”

The India Real Time menunjuk bahwa kematian mahasiwa ini membawa perhatian ke trend bunuh diri dikalangan remaja di wilayah India Barat, propinsi Maharashtra. Tahun kemarin 16.112 orang membunuh diri di propinsi ini menurut Badan Catatan Kriminal Nasional India.

Nasehat untuk para orang tua:
Terlepas dari latar belakang agama kalian, atau kalian percaya atau tidak tentang ”dunia roh” perhatikanlah nasehat ini jika kalian tidak ingin mengalami kejadian seperti di atas.
1. Kesadaran dan pengertian. Para orang tua ingatlah ini, bahwa kehidupan sosial dan budaya kita telah bergeser begitu jauh dan sangat cepat – karena teknologi komunikasi dengan segala bentuknya. Dunia internet telah membuat orang tua tidak lagi mampu mengontrol – secara fisik 24 jam sehari 7 hari seminggu – putra dan putri mereka dari hal-hal yang kita tidak inginkan mereka lihat atau dengar (contohnya seperti film untuk orang dewasa, kekerasan, ideologi yang tidak bermoral). Ancaman keras dan hukuman badan hanyalah menambah anak-anak kalian semakin jauh dari orang tuanya.
Apa yang dikatakan ahli jiwa sebagai ”addiction” atau ”ketagihan” seseorang akan sesuatu hal, seperti mahasiswa di atas berkata,  ”saya tidak dapat hidup tanpa Facebook,” itu sesungguhnya adalah ”keterikatan” atau ”pengontrolan” jiwa seseorang, ia sadar itu tidak baik dan merusak tetapi ia ”tidak mampu melepaskan dirinya  dari cengkraman sesuatu tersebut – sebab ia terkendali.” Ini adalah pekerjaan roh-roh jahat, karenanya menghukum ”jiwa yang terikat roh jahat” hanyalah merugikan putra dan putri kalian.
2. Pemecahan masalah. Adonai Yeshua (Tuhan Yesus), di Injil, mengajar kita untuk mengikat dan mengusir roh-roh jahat pada jiwa yang terikat. Mintalah bantuan para Pendeta atau Hamba Tuhan yang mengerti ”Pelayanan Pelepasan dari roh-roh jahat.”
Pendekatan orang tua kepada remaja dan anak-anak mereka. Setelah masa Balita berlalu, hukuman ”tongkat kasih” di pantat tidaklah banyak bermanfaat bagi anak kalian. Pemberian alasan yang logis kepada remaja jauh bermanfaat dari ”kata-kata kemarahan dan larangan yang keras.” Teladan lebih kuat berbicara daripada ”kotbah.” Jika disiplin harus dijalankan, maka kita harus memastikan  satu hal ini: mereka tahu dan mengerti bahwa ”hukuman larangan”  yang kita buat adalah berdasarkan kasih sayang dan demi keuntungan mereka.
Kita bukan malaikat, bukan juga Elohim, yang bisa mengawasi mereka setiap saat. Kita telah banyak tanggung jawab dan perlu istirahat. Jalan terbaik untuk menjaga mereka adalah doa-doa kita kepada Elohim bagi orang-orang yang kita kasihi tersebut.
Semoga nasehat ini bermanfaat bagi para orang tua yang memiliki anak-anak remaja khususnya yang tinggal di kota besar.

Sumber berita: Indian teen commits suicide over Facebook ban: report

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Murtad-murtad Iran membawa kehidupan kepada Gereja Jerman

BERLIN—Bagian dari Jerman yang adalah wilayah-wilayah sangat tanpa-iman di dunia. Pengumpulan suara menunjukkan bahwa percaya kepada Elohim di timur komunis tua ini (Berlin Timur adalah bekas bagian dari Komunis Rusia) hanyalah 13 persent.

Tetapi pengunjung gereja bertambah, terima kasih kepada para bekas orang Islam dari Iran. Pada Gereja Pertolongan Rumah Elohim (The House of God’s Help) di Berlin, oran-orang Persia yang berpindah ke Kristen telah membuat jumlah jemaat menjadi dua kali lipat.

“Itu telah datang seperti hujan dimusim panas yang tidak diduga,” diakon gereja Rosemarie Götz berkata. “Tiba-tiba orang-orang baru mulai berdatangan setiap minggu dan minta untuk ada dibaptis.”

“Pada mulanya hanya lima atau enam orang-orang Iran datang… dan kemudian mereka membawa teman-teman dan tetangga-tetangga mereka.”

Video dapat dilihat pada sumber aslinya (link tersedia di bawah).

Jerman telah menggalami suatu pertumbuhan agama Islam tahun ini. Para orang Islam telah melakukan kampanye nasional memberi Kuran di negara ini yang secara besar telah meninggalkan Kristianiti.

Tetapi para immigran  Iran, atau orang-orang Persia, telah mengalami kegelapan dan tekanan Islam di dalam negara asli mereka, dan mereka lapar akan kebebasan dan sukacita Kristianiti.

”Saya telah bertemu beberapa kali dengan teman-teman di Tehran (ibukota Iran) di sebuah gereja bawah tanah (sebutan untuk ”gereja rahasia”) dalam sebuah apartment dan mereka berbicara tentang Yeshua,” seorang pemuda bernama Michael, yang menghadiri gereja berkata kepada CBN News. ”Kami melakukan pelajaran-pelajaran Alkitab, tetapi terkadang tanpa Alkitab” [sebab tidak mudah didapat di Iran]. Dan lima tahun lalu saya dibaptis di dalam sebuah bakmandi.”

Semua orang Persia yang berbicara kepada CBN News berkata mereka menerima Ha Mashiah (Kristus) di Iran dan kemudian harus melarikan diri atau resiko penjara atau mati.

”Saya suatu hari sedang pergi ke sebuah pertemuan gereja rumah ketika saya melihat polisi diluar gedung, jadi saya tidak jadi masuk,” anggota gereja lainnya bernama David bercerita kepada CBN News. ”Dan kemudian saya telpon kerumah dan ibuku berkata, ’Polisi telah disini mencari kamu.’ Jadi saya tahu saya tidak dapat pulang kerumah, jadi mereka menolong saya lari dari negara.”

Seorang wanita bernama Nafiseh berkata itu sungguh susah belajar tentang  Kristianiti di Iran, ”Sebab itu dilarang jika seorang Islam dan ingin menjadi Kristen, suamiku pada waktu itu orang Islam dan ketika ia tahu bahwa saya ingin menjadi Kristen, dia melarang saya.”

“Saat itu sungguh sulit; saya harus meninggalkan kedua orang tua saya, jadi saya kehilangan rumahku, keluargaku,” wanita ini berkata.

Murtad-murtad beneran?
Götz berkata beberapa orang murtad tersebut terkejut mengetahui begitu banyak orang Jerman tidak tertarik di dalam Kristianiti. Ibu ini berkata, Kebanyakan mereka telah menjadi Kristen di Iran dan tahu lebih banyak tentang Kristianiti dari apa yang kamu harap. Mereka lebih didepan dari kita secara umum sebab mereka sudah dianiaya karena Mashiah dan mereka telah mengetahui dengan sangat cepat bahwa banyak orang Jerman adalah Kristen dalam panggilan saja. Dan mereka kecewa para Jerman menyia-nyiakan kebebasan beragama.”

Beberapa orang Jerman curiga kemurtadan mereka, sebab ada di baptis dapat menolong seorang pengungsi tinggal di Jerman dari pada di deportasi. Jadi Götz membuat para Persian murtad tersebut pergi melewati jadwal ketat kelas-kelas Alkitab.

”Saya telah curiga bahwa beberapa dari mereka hanya ingin dibaptis supaya mereka dapat ijin tinggal mereka di Jerman, ternyata yagn demikian hanyalah sedikit,” ibu ini berkata. ”Nyatanya, mereka yang telah dibaptis telah kembali kepada iman kita (Kristianiti) dan mengikuti kelas baptisan untuk keempat kalinya.”

Phenomena seluruh negara.
Tidaklah diketahui berapa banyak immigran Persia telah murtad dan bergabung di gereja-gereja Jerman, tetapi itu telah menjadi phenomena seluruh negara Jerman, dan yang dibaptis telah mencapai jumlah ribuan.

Pada (gereja) Pertolongan Rumah Elohim itu telah menguatkan jemaatnya.

”Orang-orang muda ini, berenergi, Kristen-kristen Iran yang rajin telah membawa sedikit kebangunan rohani dari Iran ke jemaat kami,” Götz berkata. ”Dan saya mengucap syukur bahwa jemaat lokal membuka hati-hati  mereka untuk mereka (orang Persia tersebut).”

Diterjemahkan dari:  Iranian Converts Bringing Life to German Church; ditulis oleh Dale Hurd; Dale Hurd adalah CBN News Senior Reporter (18/12/2012)

Baca juga:
Iran: Kebangunan rohani besar-besaran telah datangRibuan Muslim tinggalakan Islam di IrakSatelit SAT-7 semakin laris di Timur TengahKebangunan rohani di UkraniaRoh Kudus melawat Aceh dan Pekan BaruKebangunan Rohani di Indonesia; Penglihatan

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

 

 

 

 

Narapidana Korea Utara: Ibu-Ibu Membunuh Anak-anak Untuk Survive

Christian Broadcasting Network (CBN.com) mewawancarai seorang ibu yang berhasil melarikan diri dari kamp kerja paksa Korea Utara setelah 28 tahun mengalami dan menyaksikan sendiri kejahatan pemerintah Komunis Korea Utara. Diterjemahkan dari artikel aslinya: Inside N. Korea’s Prisons: Moms Kill Children to Survive. Wawancara TV dapat dilihat pada sumbernya.

Seoul – Korea Selatan. Bertemu dengan seorang wanita yang telah menyaksikan dan mengalami kejahatan yang susah untuk dibicarakan dan ia bicara tentang hal itu.

Untuk 28 tahun, Kim Hye Sook telah menderita sebagai seorang tawanan di dalam kamp konsentrasi tertua Korea Utara. Dia telah menyaksikan eksekusi (hukuman mati) setiap hari, kelaparan missal, dan ibu-ibu membunuh anak-anak mereka untuk survive (dapat tetap hidup).

Kim telah memberi kemurahan hati kepada CBN News berita televise Amerika pertama untuk mewawancarainya. Kami harus memperingati kalian bahwa gambar-gambar dan isi dari laporan ini tidak cocok untuk anak-anak.

Penderitaan di penjara.
Kim kemungkinan adalah narapidana yang melayani terlama pernah berhasil melarikan diri dari Korea Utara.

”Saya masuk ke kamp penjara ketika saya berumun 13 tahun dan berhasil keluar ketika saya 41,” wanita ini berkata.

Tahun itu adalah 1975. Suatu pagi petugas-petugas pemerintah Korut (Korea Utara) menyerbu masuk rumahnya dan menarik keluar semua anggota keluarganya-

”Semua keluargaku masuk penjara,” dia mengingat. ”Sebagian dibawa ke gunung-gunung; lainnya ditaruh di kamp kerja (paksa) yang berbeda-beda, semua (kesalahan) disebabkan oleh satu kesalahan dari kakek saya: dia melarikan diri ke Korea Selatan di waktu Perang Korea. [Perang Korea Utara (komunis) melawan Selatan (demokrasi). Telah diketahui secara umum bahwa pemerintah Korea Utara memenjarakan anak dan cucu yang tidak tahu apa-apa dari seorang yang dianggap penentang pemerintah].

Pusat Pendidikan Ulang No. 18 (’Rehabilitasi’ cuci otak)
Kim dan beberapa keluarganya dikirim ke Pusat Pendidikan Ulang No. 18, juga dikenal sebagai ”Bukchang.”

Saya telah kehilangan 7 anggota keluarga saya, termasuk nenek saya, ibu, saudara laki-laki, dan suami saya,” Kim berkata.

Hari ini ia memakai kaca mata  gelap untuk menghindari indentitasnya. ”Saya memakai kaca-mata oleh sebab saya memiliki keluarga di kamp,” dia berkata. ”Dua saudari perempuan dan satu laki-laki masih tetap di sana.”

Bukchang menampung sekitar 50.000 narapidana. Itu adalah satu dari enam kamp penjara politik yang dioperasikan oleh pemerintah Korut.

Group-group Hak asasi manusia memperkirakan sekitar 200.000 orang Korea Utara menderita dibelakan tembok-tembok dari kamp-kamp tahanan rahasia tersebut.

”Saya menghadiri kelas-kelas indoktrinasi,” Kim berkata. ”Sore harinya anak-anak dikirim untuk mendorong grobak-grobak batu bara, sering tanpa (mekanik) gigi pengaman.”

Diperlakukan Seperti Budak-budak
Kim berkata ia dipaksa bekerja 16 sampai 18 jam hari-hari kerja tanpa istirahat.

”Orang-orang meninggal di pertambangan-pertambangan. Ada beberapa pertambangan yang hancur, jadi banyak yang luka-luka, beberapa kehilangan kaki mereka, banyak yang terkubur hidup-hidup,” ia mengingat. “ Itu sungguh menakutkan.”

“Saya diperlakukan seperti seorang budah dan bahkan lelbih buruk laig. Saya sudah tidur. Itu tidak berprikemanusiaan. Tetapi saya tidak pernah menggerutu. Saya mengikuti semua peraturan. Saya harus menemukan cara untuk surveve

Para napi tidak punya cukup makanan untuk makan. Kim berkata sebuah keluarga  yang terdiri dari 7 biasanya hanya diberikan 10 pound jagung setiap bulan.

Kelaparan Yang menyebar
”1996 mengerikan. Pada tahun ini banyak orang yang meninggal karen kelaparan. Tidak ada yang untuk dimakan. Tidak ada rumput, tidak ada tumbuhan hidup.” Kim berkata.

”Kamu melihat kesekeliling dan terdapat tubuh-tubuh berserakan di seluruh kamp. Mula pertama saya terkejut tetapi kemudian menjadi tidak perduli pada semua itu.”

CBN bertanya kepada Kim apakah ada hari-hari ia merasa tidak lagi gunanya untuk hidup, perasaan ingin bunuh diri.

”Ya, saya telah berpikir untuk melakukan bunuh diri ratusan ribu kali di dalam 28 tahun itu,” ia mengakui. ”Tetapi kamp di buat sedemikian rupa bahwa selalu ada seseorang mengawasi kamu. Setiap napi ditugaskan mengawasi 4 atau 5 napi lainnya. Jadi jika sesuatu terjadi, napi lainnya akan melaporkan ke para penjaga sebab mereka tidak ingin mendapat masalah untuk mereka sendiri.

Hukuman mati Dimuka Umum.
Kim bercerita kepada CBN News bahwa ia menyaksikan hukuman mati dimuka umum yang tidak terhitung banyaknya.

”Sering para napi dibunuh hanya karena masalah yang sepele seperti mencuri makanan. Para petugas selalu mengumpulkan para napi lainnya untuk menonton hukuman mati tersebut. Itu suatu bentuk intimidasi. Tujuannya untuk memberikan ketakutan kepada para napi.”

Mungkin yang paling tidak enak bagi Kim adalah teman-teman napi membunuh anak-anak mereka untuk menghentikan kelaparan.

Ibu-ibu Membunuh Anak-anak
“Suatu waktu seorang ibu menaruh putrinya yang berumum 9 tahun kedalam kuali besi dan memasaknya. Gadis ini terlalu besar untuk kuali tersebut, ibu tersebuh harus memotong kaki-kakinya dan kepalanya untuk tubuhnya dapat masuk ke kuali tersebut.”

“Kejadian lainnya, seorang ibu membunuh putranya yang berumum 16 tahun, memotong-motong putranya kedalam potongan-potongan dan membawa potongan tesebut ke toko penjagalan untuk menukarnya dengan jagung.”

Kim berkata bahwa berbicara hal ini secara terperinci tidaklah mudah. “Itu susah berbicara tentang hal itu tetapi saya ingin dunia melelihat gambar-gambar ini dan mendengar kesaksian saya,” wanita ini berkata.

Retold in Tears
Dia melarikan diri dari Bukchang tahun 2003. Cerita lengkapnya dijaga rahasia untuk alas an-alasan keamanan. Sekarang wanita ini hidup di Korea Selatan.

Musim Panas Kim telah menerbitkan bukunya dipanggil, A Concentration Camp Retold in Tears. Didalamnya terdapat gambar-gambar yang ia telah gambar dari ingatan kesaksian horror tersebut.

“Saya mengucap syukur saya ada hidup tetapi saya tidak dapat melupakan kenyataan bahwa saya telah kehilangan separtuh dari kehidupan saya,“ wanita ini berkata.

Runtuhkan Tembok-tembok

Pada bulan September, Kim telah terbang ke Washington D.C. , untuk bersaksi dihadapan suatu pertemuan kongres Amerika Serikat tentang penyabetan, kelaparan, dan penyiksaan yang brutal yang ia telah saksikan di kamp Bukchang.

“Pesan saya untuk dunia adalah bahwa kita harus menutup kamp-kamp kerja (paksa) tersebut dan membebaskan para napinya,” Kim bersaksi

“Setiap hari orang-orang meninggal. Setiap hari orang-orang membunuh satu sama lain. Saya adalah bukti  hidup bahwa tidak ada hak-hak manusia di Korea Utara.”

Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Korea Utara tergolong terburuk di dunia. Laporan lebih lengkap tentang pelanggaran HAM di Korea Utara dapat dilihat di sini: CSW.com Voice for the Voiceless.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Gadis Kristen Pakistan 12 Tahun Di Perkosa Dan Disiksa Karena Tidak Mau Murtad

Cara orang Islam memenangkan jiwa di Pakistan. The Asian Human Right Commission  (The AHRC) melaporkan bahwa gadis 12 tahun diculik, dibawa kedesa lain lalu diperkosa, dipaksa menikah, delapan bulan lamanya ia dipukuli dan diperkosa oleh karena tidak mau pindah ke Islam, British Pakistani Christian Association melaporkan.

Pada suatu hari Anna, anak gadis dari bapa Arif Masih di kota Lahor, dikunjungi oleh teman perempuan Muslimnya, Nida, untuk ’sebuah perjalanan shopping.’ Nida membawa Anna ke dalam mobil dimana paman Nida, Muhammed Irfan, sudah siap di depan kemudi mobil tersebut. Korban di bawah ketempat yang jauh sebelum ia dimasukkan kedalam rumah dan diperkosa. Dua hari setelah pemerkosaan pertama tersebut tiga wanita dari sanak famili pemerkosa, dilaporkan dengan nama Mumtaz Bibi, Farzana Bibi dan Kiran Bibi beserta Nida teman Anna memaksa Anna untuk menandatangani surat pernikahan ’bersedia dinikahi oleh Mohammed Irfan,’ dibawah ancaman bahwa korban tidak akan dilepaskan jika tidak mau mendatangani surat perjanjian tersebut. Gadis kecil di bawah ancaman tiga wanita dewasa dan ditempat yang sangat asing akhirnya menandatangi surat pernikahan di bawah umur tersebut; Hukum pernikahan di Pakistan wanita boleh menikah setelah berumum 16 tahun. Anna tetap ditahan selama lebih dari 8 bulan,  sampai akhirnya Anna berhasil melarikan diri dan menelpon orang tuanya. The AHRC (Komisi Hak Asasi untuk Asian) dalam laporannya menulis gadis Kristen 12 tahun ini telah diperkosa lebih dari satu pria selama priode 8 bulan penculikan itu.

Korban selama delapan bulan masa penculikan tersebut telah dibawa ke beberapa pusat Islam dimana korban dipaksa untuk memeluk Islam dan dipukuli dengan keras ketika korban menolak permintaan mereka.

Pada minggu pertama September 2011, lebih dari 8 bulan setelah Anna hilang, gadis kecil ini menelpon keluarganya dari Tandianwalla, Faisalabad, 190 Km dari Lahor. Orang tuanya menjemput Anna dan melaporkan kasus ini kepada kantor polisi.

Polisi berdiam diri bahkan berpihak kepada pemerkosa. Keluarga korban kecewa sebab polisi tidak mengambil tindakan untuk melindungi gadis 12 tahun ini dan juga tidak bersedia melakukan pemeriksaan medis.

Para pemerkosa menghubungi polisi melalui jalur kelompok agama Islamnya dan menunjukkan surat pernikahan yang menyatakan bahwa satu dari pemerkosa, yaitu Muhammad Irfan adalah suami dari si korban. Ketika orang tua Anna kembali ke kantor polisi menyertakan nama-nama dari para pemerkosa polisi mengancam orang tua korban dengan mengatakan bahwa Anna telah menikah dan telah pindah ke Islam, jadi lebih baik kembalikan gadis kecil itu kepada suaminya. Dan polisi menambahkan jika orang tua dari korban ini monolak saran polisi tersebut maka pihak korban akan dihadapkan dengan ancaman pelanggaran tindakan kriminalitas.

Komisi Hak Asasi Manusia mendapat kabar dari masyarakat Kristen Pakitan bahwa keluarga Kristen ini sekarang sedang menyembunyikan diri dari para pelaku pemerkosa dan pihak kepolisian.

Berdoalah untuk Anna dan keluarga korban untuk memiliki kekuatan mebawa masalah sampai keadilan terwujud. Berdoa juga untuk pemerintah Pakistan agar mereka menggambil tanggung jawab untuk menegakkan keadilan dan pembelaan yang adil bagi semua rakyat Pakistan, termasuk gadis Kristen 12 tahun ini.

Bagi pembaca yang ingin memberi petisi untuk pembelaan Anna ini bisa menulis di sini:

Pemerintah Pakistan telah dikenal sangat lemah di dalam menegakkan keadilan bagi rakyatnya yang berasal dari kelompok minoritas.  Tahun lalu, Maret 2010, seorang Kristen dipukuli dengan enam pria berkampak sampai meninggal dunia oleh karen pria Kristen ini tidak mau berpindah ke Islam. Polisi telah mencatat laporan ini namun belum ada tindakan nyata, Compass Direct berkata.

Pengancaman dan pemaksaan terhadap orang-orang Kristen di negara Islam Pakistan  sangatlah umum, sementara di negara-negara Barat orang-orang Islam mengaku bahwa Islam adalah agama damai dan satu ajaran dengan kepercayaan orang-orang Yahudi dan Kristen. Baca : Pakistan: Azra Bibi Terbebas dari Perbudakan!

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Umar ‘Fidayee’ kisah remaja pembom bunuh diri yang gagal dan menyesal

“Dia berkata kepada saya bahwa semua pendidikan sekolah adalah tidak ada gunanya,” Umar bercerita tentang seorang Taliban, Qari Zafar, yang telah  membawa hidupnya ke dalam dunai Jihad, mengutip perkataan Qari: ”jadilah pejuang Islam dan kamu akan pergi ke Sorga.” Umar bercerita pada siaran TV Pakistan sementara berbaring di rumah sakit.

Peristiwa yang bersejarah yang merubah hidup pria remaja bernama Umar ‘Fidayee’ (sama artinya dengan Jihadist) terjadi pada hari Senin tanggal 4 April 2011, ia bersama Ismail (16 tahun) dan rekan pembom bunuh diri lainnya masuk ke dalam keramaian orang-orang Islam Sufi yang sedang berkunjung ke kuburan Syed Sakhi Sarwari di Dera Ghazi Khan, Pakistan. Mereka siap melakukan aksi teror mereka.

Umar Fidayee adalah satu ratusan remaja desa yang di latih untuk menjadi pembom bunuh diri atas nama “berjuang demi agama Islam” oleh sebuah kelompok Islam Taleban di Pakistan. Umar berasal dari sebuah desa kecil bernama Khat, tidak jauh dari kota Mir Ali. Kemiskinan, rendahnya pendidikan di tempat ia tinggal, dan ditambah kondisi keluarga yang berat  menjadikan Umar sasaran yang empuk untuk terjaring di dalam gerakan Taiban ini. Ayahnya, Akbar Khan meninggal  beberapa bulan sebelumnya pada operasi bom bunuh diri di Karachi.

Kepada kami dikatakan bahwa kami akan diselundupkan ke dalam Afganistan untuk membunuh para non-Islam. Namun mereka membawa saya ke Dera Ghazi Khan. ”Tidak ada orang-orang kafir di sini,” Umar berkata kepada para Taliban senior. Dijawab, ”Orang-orang ini [para Islam Sufi] adalah lebih buruk dari para kafir.” Dan Umar diperintahkan untuk menarik tali bom pinggangnya 30 menit setelah dua bom lainya meledak, supaya menghasilkan korban yang semaksimal mungkin.

Setelah dua bom meledak, dan sekarang giliran  Umar untuk meledakkan bom yang terikat pada pinggagnya. Umar gagal, dalam keadaan panik oleh karena kegagalan tersebut ia berusaha untuk meledakan granat tangan, granat ini meledak dan menghancurkan sebuah tanganya. Polisi yang melihat kejadian ini segera menembak tangan Umar yang sebelah lagi.  Serangan bom bunuh diri tanggal 4 April ini membunuh 50 orang, Dan Umar di amankan oleh polisi.

Dalam pengakuannya kepada media, ia berkata: “350 sampai 400 pembom bunuh diri sedang dalam latihan di Mir Ali, di utara Waziristan. “Saya dilatih selama dua bulan dan melihat banyak remaja-remaja pria dari berbagai kebangsaan (Uzbek, Tazikkhan, Arab) ada juga dilatih di tempat tersebut.” Warziristan diketahui sebagai satu pusat pertahan Taliban dan al-Qaida.

Umar dengan nada menyesal dan meminta maaf kepada keluarga yang anggotanya telah terbunuh dan terluka, ”Elohim telah memberi saya kehidupan yang baru, tetapi saya sedih bahwa kami telah membunuh orang-orang dan anak-anak yang tidak bersalah.”

Lebih dari 4200 orang telah terbunuh di Pakistan oleh serangan Taliban dan kelompok Islam lainnya sejak tentara pemerintah Pakistan menyerbu sebuah mesjid yang dipakai oleh Islam radikal di Islamabad pada Juli 2007.

Perkataan Yeshua ini tepat untuk remaja Umar dari Pakistan di atas:

Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal.  (Injil Matius 18:8)

Pembunuhan kepada sesama manusia tidak akan pernah dibenarkan oleh Elohim, terlebih jika itu disertai kesombongan dan kebencian. Pembunuhan atas nama agama adalah tipuan Iblis yang paling jahat dan merusak bagi kehidupan manusia.

Disadur dari:   

  1. ‘400 Pakistan suicide bombers in training’ 
  2. A teenage boy in Pakistan has warned that 400 suicide bombers are being prepared in a war against authorities. 
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja
 

Pakistan: Bom bunuh diri di kamp militer Mardan mematikan 23 orang.

Sebuah bom bunuh diri yang dilakukan oleh remaja berseragam sekolah mematikan 23 calon tentara dan beberapa luka-luk. Ledakan terjadi ketika para calon tentara ini sedang  menggali tanah di Kamp pelatihan militer Mardan profinsi Punjab. Peristiwa terjadi Kamis pagi waktu setempat. Media dan organisasi penyelamatan masyarakat dilarang keras masuk kamp militer ini untuk kejadian tersebut.

Tidak dikabarkan mengapa remaja berseragam sekolah ini bisa masuk ke dalam kamp militer.  Sumber: apakistannews.com

Sumber yang sama juga memberitakan bahwa rabu kemarin serangan beruntun tiga bom mobil telah terjadi pada sebuah bangunan keamanan di utara kota Kirkuk, Irak. 7 orang mati dan 75 luka-luka.  Bulan lalu, tanggal 27 Januari bom mobil di Bangdad menyerang kumpulan orang Shia yang sedang melakukan ibadah penguburan. Mematikan 48 orang (11 anak-anak) dan melukai 65 lainnya.

Susah untuk dipikirkan mengapa antar sekte yang berbeda di Islam saling membunuh, dan bahkan terjadi di antara sekte Sunni sendiri, seperti ledakan di Mardan ini. Apakah pihak penyerang berpikir bahwa dengan cara brutal tersebut mereka dapat menjadi pemimpin sebuah negara atau dunia?
Jika mereka akhirnya menjadi pemimpin negara dan bahkan dunia dengan cara tersebut, apakah mereka bisa membawa rakyat yang mereka pimpin menjadi lebih makmur dari sebelumnya?

Firman Elohim berkata: “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Luk 16:10)

Sangatlah mustahil bagi pemimpin berjiwa pembunuh untuk mampu memelihara dan membuat rakyat menjadi makmur jika mereka tidak dapat mengampuni dan mengasihi kelompok kecil lainnya yang berbeda paham dan cara hidup dengan mereka. Melihat kepada perkataan Yeshua Ha Mashiah di atas, maka kita tahu bahwa janji dan slogan pemimpin berjiwa pembunuh tersebut adalah hampa belaka atau hanyalah sekedar mimpi-mimpi utopia.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja.
  • Kalender

    • Juli 2020
      M S S R K J S
       1234
      567891011
      12131415161718
      19202122232425
      262728293031  
  • Cari