Skotlandia: Penginjil dikunci, dituntut dengan kejahatan benci karena mengutip Alkitab ke seorang remaja gay

“Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Elohim.” (2 Timotius 3:1-4)

gordon-penginjil-jalanan-ditahan-polisi-skotland-karena-mengutip-ayat-alkitab

Gordon Larmour ditahan Polisi Skotland karena Injil

Seorang pengkhotbah jalanan Kristen ditahan dalam sel dan dituntut dengan kejahatan benci karena mengutip kitab Kejadian dalam menanggapi pertanyaan seorang remaja gay: ”bagaimana Elohim memandang homoseksual?”

Gordon Larmour, 42, menghabiskan waktu malamnya dalam tahanan dan menghadapi percobaan enam bulan atas tuduhan sebelum akhirnya mereka membawa ia ke sidang bulan lalu.

Bapa dari satu orang anak ini, telah melakukan kotbah-kotbah di jalanan selama tujuh tahun setelah ia menjadi pengikut Yeshua (Kristen), kejadian ini berawal ketika ia sedang membagikan traktat-traktat Kristen di kota ia tinggal, Irvine, Ayrshire, Juni lalu ketika sebuah kelompok remaja pria melewatinya, Telegraph melaporkan. (5 Februari 2017)

Ia, Gordon, berkata kepada mereka: ”Jangan lupa Yeshua mengasihi kalian dan Dia telah mati bagi dosa-dosa kalian.”

Seorang dari mereka bertanya kepada Mr. Lamour, ”Apa yang Elohimmu katakan tentang homosexual?” Ia menjawab dengan merefer ke Kitab Kejadian, yang menyatakan bahwa Elohim telah menciptakan Adam dan Hawa untuk menghasilkan anak-anak.

Dua remaja (dari antara mereka) berargumentasi dan Mr. Lampur menyatakan bahwa dialah yang dikejar oleh seorang dari remaja tersebut. Bagaimanapun, dialah yang ditahan dan dijebloskan ke mobil polisi sebelum ada ditahan di kantor polisi semalaman, dituntut dengan mengancam atau penyerangan yang dibangkitkan oleh prejudis berkaitan ke orientasi sex.

”Saya berpikir seharusnya polisi menangani itu berbeda dan mendengarkan apa yang telah saya katakan. Mereka seharusnya menenangkan remaja tersebut dan selesai disitu,” Mr. Larmour berkata kepada Scottish Herald hari Minggu kemarin.

Ia menambahkan: ”Di pengadilan teman remaja tersebut berbicara benar – bahwa saya tidak menyerang dia ataupun memanggil dia nama-nama yang bersifat homophobia. Saya hanya sederhananya menjawab pertanyaan dia dan berkata kepadanya tentang Adam dan Hawa dan Sorga dan Neraka. Berkotbah dari Alkitab bukanlah suatu kejahatan.”

Di Pengadilan Sheriff Kilmarnock, Sheriff Alistair Watson setuju, membebaskan Mr. Larmour dari tuntutan. Ia juga menemukan bapa ini tidak bersalah dari tuduhan ke dua ”meyerang yang dibangkitkan oleh prejudis berkaitan ke orientasi sex.”

Mr. Larmour berkata, ”Saya tidak dapat mengerti mengapa saya ditahan pada kejadian tersebut – itu adalah sebuah reaksi berlebihan yang besar dan membuang waktu setiap orang. Polisi tidak mendengarkanku. Mereka segera mengambil posisi membela remaja laki homosex tersebut dan menyerang hak-hakku.”

”Saya merasa mereka (para polisi di kejadian tersebut) telah mencoba begitu keras untuk nampak mereka melindungi para minoritas, sebaliknya ternyata mereka pergi terlalu jauh. Saya ingin ada mampu untuk bercerita kepada orang-orang kata-kata baik dari Injil dan berpikir saya haruslah ada bebas untuk melakukannya juga. Saya saat itu tidak berbicara opini-opini saya sendiri – saya mengutip dari Alkitab.”

Andrea Williams, Pemimpin eksekutiv Pusat Legal Kristen (the Christian Legal Centre), berkata: ”Itu adalah sangat melegakan bahwa Hakim mendukung Gordon, sebab kasus tersebut tidak penting untuk dipermasalahkan.” 

Skotland adalah negara asal penginjil terkenal John Knox, ia begitu mengasihi negerinya sehingga ia berkata, “Berikan saya Skolandia, atau saya mati!” Video dokumentasi: John Knox and The Scottish Covenanters

Sumber terjemahan dan ada lebih dari 2300 komentar, lihat di sini. Preacher Locked Up, Charged with Hate Crime for Quoting Bible to Gay Teen Baca lebih lanjut

Pakistan: 5 Muslim menerima hukuman mati karena membunuh satu keluarga Kristen

“Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.  (Injil Yohanes 16:1-4, ITB)

Masyarakat Kristen Pakistan protes diskriminasi Muslim atas Kristen di Pakistan.jpg

Masyarakat Kristen Pakistan membela saudara mereka yang teraniaya

Pengadilan Pakistan telah memberikan hukuman mati kepada lima Muslim yang terbukti menyiksa dan sepasang suami-isteri Kristen atas tuduhan pembakaran Kuran, menurut Morning Star News.

Ratusan warga desa Kot Radha Kishan, Pakistan terlibat dalam serangan atas Shahzad Masih (26 tahun) dan istrinya yang sedang hamil lima bulan, Shama (24 tahun), keduanya dilemparkan ke pembakaran batu bata yang sedang menyala.

Penduduk desa dihasut oleh para pemimpin Muslim yang menyerukan kekerasan terhadap pasangan yang  dituduh  membakar Kuran.

Pengadilan Anti-Teroris Hakim Chaudhry Azam telah memberikan hukuman mati ke Irfan Shakoor, Muhammad Hanif, Mehdi Khan, Riaz Kamboh dan Hafiz Ishtiaq, awal minggu lalu (Minggu ke 46), berikut hukuman denda 200.000 rupi Pakistan atau 1.900 Dollar AS. Delapan orang lainnya menerima dua tahun hukuman penjara.

Jaksa Riaz Anjum, yang mewakili ayah dari perempuan meninggal, mengatakan kepada Morning Star News bahwa meskipun pada awalnya lebih dari 50 orang telah didakwa membunuh, kebanyakan dari mereka dibebaskan setelah anggota keluarga Shahzad Masih mengirim pernyataan menyangkal bahwa mereka hadir saat perisitiwa itu terjadi.

“Meskipun demikian, ini adalah berita menggembirakan untuk komunitas Kristen di Pakistan,” ujar Anjum. “Keluarga almarhum orang telah menderita banyak tekanan, meskipun negara telah menjadi keluhan dalam hal untuk menggagalkan upaya apapun untuk menekan keluarga korban untuk mencapai penyelesaian dengan dakwaan yang kuat.”

“Tapi hukuman atas lima orang oleh pengadilan tidak suatu usaha yang kecil, dan saya berharap vonis ini akan dilihat sebagai peringatan keras menentang kekerasan sejenis terhadap para minoritas di masa depan,” katanya.

Masih dan istrinya bekerja sebagai buruh terikat di tempat pembakaran batu bata. Pasangan bertahan hidup dengan empat anak mereka.

Banyak oran Kristen Pakistan hidup di dalam perbudakan sampai saat ini, upah yang mereka dapat terlalu kecil untuk kebutuhan hidup sehari-hari, sehingga anak mereka meneruskan pekerjaan yang sama untuk membayar hutang kepada tuan mereka. Dan jika mereka protes karena pekerjaan ekstra yang tidak dibayar atau tidak ingin bekerja pada hari Minggu karena ingin beribadah, maka tuannya dengan mudah menutup mulut mereka dengan tuduhan ”membakar Kuran” atau ”menghina nabi Muhammad.” Ini jenis tuduhan umum yang telah diketahui oleh banyak organisasi Hak-hak Asasi Manusia baik di dalam maupun di luar Pakistan, seperti: Voice of Martyrs, ChrsitianPakistan, OpenDoor. Dan masyarakat Muslim di banyak desa di Pakistan dengan mudah dimanfaatkan oleh pemimpin agama Islam untuk banyak tujuan.

Sumber berita: Five Muslims Sentenced to Death For Killing Christian Couple in Pakistan (CBN News; 27/11/2016)

Baca lebih lanjut

Narapidana Korea Utara: Ibu-Ibu Membunuh Anak-anak Untuk Survive

Christian Broadcasting Network (CBN.com) mewawancarai seorang ibu yang berhasil melarikan diri dari kamp kerja paksa Korea Utara setelah 28 tahun mengalami dan menyaksikan sendiri kejahatan pemerintah Komunis Korea Utara. Diterjemahkan dari artikel aslinya: Inside N. Korea’s Prisons: Moms Kill Children to Survive. Wawancara TV dapat dilihat pada sumbernya.

Seoul – Korea Selatan. Bertemu dengan seorang wanita yang telah menyaksikan dan mengalami kejahatan yang susah untuk dibicarakan dan ia bicara tentang hal itu.

Untuk 28 tahun, Kim Hye Sook telah menderita sebagai seorang tawanan di dalam kamp konsentrasi tertua Korea Utara. Dia telah menyaksikan eksekusi (hukuman mati) setiap hari, kelaparan missal, dan ibu-ibu membunuh anak-anak mereka untuk survive (dapat tetap hidup).

Kim telah memberi kemurahan hati kepada CBN News berita televise Amerika pertama untuk mewawancarainya. Kami harus memperingati kalian bahwa gambar-gambar dan isi dari laporan ini tidak cocok untuk anak-anak.

Penderitaan di penjara.
Kim kemungkinan adalah narapidana yang melayani terlama pernah berhasil melarikan diri dari Korea Utara.

”Saya masuk ke kamp penjara ketika saya berumun 13 tahun dan berhasil keluar ketika saya 41,” wanita ini berkata.

Tahun itu adalah 1975. Suatu pagi petugas-petugas pemerintah Korut (Korea Utara) menyerbu masuk rumahnya dan menarik keluar semua anggota keluarganya-

”Semua keluargaku masuk penjara,” dia mengingat. ”Sebagian dibawa ke gunung-gunung; lainnya ditaruh di kamp kerja (paksa) yang berbeda-beda, semua (kesalahan) disebabkan oleh satu kesalahan dari kakek saya: dia melarikan diri ke Korea Selatan di waktu Perang Korea. [Perang Korea Utara (komunis) melawan Selatan (demokrasi). Telah diketahui secara umum bahwa pemerintah Korea Utara memenjarakan anak dan cucu yang tidak tahu apa-apa dari seorang yang dianggap penentang pemerintah].

Pusat Pendidikan Ulang No. 18 (’Rehabilitasi’ cuci otak)
Kim dan beberapa keluarganya dikirim ke Pusat Pendidikan Ulang No. 18, juga dikenal sebagai ”Bukchang.”

Saya telah kehilangan 7 anggota keluarga saya, termasuk nenek saya, ibu, saudara laki-laki, dan suami saya,” Kim berkata.

Hari ini ia memakai kaca mata  gelap untuk menghindari indentitasnya. ”Saya memakai kaca-mata oleh sebab saya memiliki keluarga di kamp,” dia berkata. ”Dua saudari perempuan dan satu laki-laki masih tetap di sana.”

Bukchang menampung sekitar 50.000 narapidana. Itu adalah satu dari enam kamp penjara politik yang dioperasikan oleh pemerintah Korut.

Group-group Hak asasi manusia memperkirakan sekitar 200.000 orang Korea Utara menderita dibelakan tembok-tembok dari kamp-kamp tahanan rahasia tersebut.

”Saya menghadiri kelas-kelas indoktrinasi,” Kim berkata. ”Sore harinya anak-anak dikirim untuk mendorong grobak-grobak batu bara, sering tanpa (mekanik) gigi pengaman.”

Diperlakukan Seperti Budak-budak
Kim berkata ia dipaksa bekerja 16 sampai 18 jam hari-hari kerja tanpa istirahat.

”Orang-orang meninggal di pertambangan-pertambangan. Ada beberapa pertambangan yang hancur, jadi banyak yang luka-luka, beberapa kehilangan kaki mereka, banyak yang terkubur hidup-hidup,” ia mengingat. “ Itu sungguh menakutkan.”

“Saya diperlakukan seperti seorang budah dan bahkan lelbih buruk laig. Saya sudah tidur. Itu tidak berprikemanusiaan. Tetapi saya tidak pernah menggerutu. Saya mengikuti semua peraturan. Saya harus menemukan cara untuk surveve

Para napi tidak punya cukup makanan untuk makan. Kim berkata sebuah keluarga  yang terdiri dari 7 biasanya hanya diberikan 10 pound jagung setiap bulan.

Kelaparan Yang menyebar
”1996 mengerikan. Pada tahun ini banyak orang yang meninggal karen kelaparan. Tidak ada yang untuk dimakan. Tidak ada rumput, tidak ada tumbuhan hidup.” Kim berkata.

”Kamu melihat kesekeliling dan terdapat tubuh-tubuh berserakan di seluruh kamp. Mula pertama saya terkejut tetapi kemudian menjadi tidak perduli pada semua itu.”

CBN bertanya kepada Kim apakah ada hari-hari ia merasa tidak lagi gunanya untuk hidup, perasaan ingin bunuh diri.

”Ya, saya telah berpikir untuk melakukan bunuh diri ratusan ribu kali di dalam 28 tahun itu,” ia mengakui. ”Tetapi kamp di buat sedemikian rupa bahwa selalu ada seseorang mengawasi kamu. Setiap napi ditugaskan mengawasi 4 atau 5 napi lainnya. Jadi jika sesuatu terjadi, napi lainnya akan melaporkan ke para penjaga sebab mereka tidak ingin mendapat masalah untuk mereka sendiri.

Hukuman mati Dimuka Umum.
Kim bercerita kepada CBN News bahwa ia menyaksikan hukuman mati dimuka umum yang tidak terhitung banyaknya.

”Sering para napi dibunuh hanya karena masalah yang sepele seperti mencuri makanan. Para petugas selalu mengumpulkan para napi lainnya untuk menonton hukuman mati tersebut. Itu suatu bentuk intimidasi. Tujuannya untuk memberikan ketakutan kepada para napi.”

Mungkin yang paling tidak enak bagi Kim adalah teman-teman napi membunuh anak-anak mereka untuk menghentikan kelaparan.

Ibu-ibu Membunuh Anak-anak
“Suatu waktu seorang ibu menaruh putrinya yang berumum 9 tahun kedalam kuali besi dan memasaknya. Gadis ini terlalu besar untuk kuali tersebut, ibu tersebuh harus memotong kaki-kakinya dan kepalanya untuk tubuhnya dapat masuk ke kuali tersebut.”

“Kejadian lainnya, seorang ibu membunuh putranya yang berumum 16 tahun, memotong-motong putranya kedalam potongan-potongan dan membawa potongan tesebut ke toko penjagalan untuk menukarnya dengan jagung.”

Kim berkata bahwa berbicara hal ini secara terperinci tidaklah mudah. “Itu susah berbicara tentang hal itu tetapi saya ingin dunia melelihat gambar-gambar ini dan mendengar kesaksian saya,” wanita ini berkata.

Retold in Tears
Dia melarikan diri dari Bukchang tahun 2003. Cerita lengkapnya dijaga rahasia untuk alas an-alasan keamanan. Sekarang wanita ini hidup di Korea Selatan.

Musim Panas Kim telah menerbitkan bukunya dipanggil, A Concentration Camp Retold in Tears. Didalamnya terdapat gambar-gambar yang ia telah gambar dari ingatan kesaksian horror tersebut.

“Saya mengucap syukur saya ada hidup tetapi saya tidak dapat melupakan kenyataan bahwa saya telah kehilangan separtuh dari kehidupan saya,“ wanita ini berkata.

Runtuhkan Tembok-tembok

Pada bulan September, Kim telah terbang ke Washington D.C. , untuk bersaksi dihadapan suatu pertemuan kongres Amerika Serikat tentang penyabetan, kelaparan, dan penyiksaan yang brutal yang ia telah saksikan di kamp Bukchang.

“Pesan saya untuk dunia adalah bahwa kita harus menutup kamp-kamp kerja (paksa) tersebut dan membebaskan para napinya,” Kim bersaksi

“Setiap hari orang-orang meninggal. Setiap hari orang-orang membunuh satu sama lain. Saya adalah bukti  hidup bahwa tidak ada hak-hak manusia di Korea Utara.”

Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Korea Utara tergolong terburuk di dunia. Laporan lebih lengkap tentang pelanggaran HAM di Korea Utara dapat dilihat di sini: CSW.com Voice for the Voiceless.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Gadis Kristen Pakistan 12 Tahun Di Perkosa Dan Disiksa Karena Tidak Mau Murtad

Cara orang Islam memenangkan jiwa di Pakistan. The Asian Human Right Commission  (The AHRC) melaporkan bahwa gadis 12 tahun diculik, dibawa kedesa lain lalu diperkosa, dipaksa menikah, delapan bulan lamanya ia dipukuli dan diperkosa oleh karena tidak mau pindah ke Islam, British Pakistani Christian Association melaporkan.

Pada suatu hari Anna, anak gadis dari bapa Arif Masih di kota Lahor, dikunjungi oleh teman perempuan Muslimnya, Nida, untuk ’sebuah perjalanan shopping.’ Nida membawa Anna ke dalam mobil dimana paman Nida, Muhammed Irfan, sudah siap di depan kemudi mobil tersebut. Korban di bawah ketempat yang jauh sebelum ia dimasukkan kedalam rumah dan diperkosa. Dua hari setelah pemerkosaan pertama tersebut tiga wanita dari sanak famili pemerkosa, dilaporkan dengan nama Mumtaz Bibi, Farzana Bibi dan Kiran Bibi beserta Nida teman Anna memaksa Anna untuk menandatangani surat pernikahan ’bersedia dinikahi oleh Mohammed Irfan,’ dibawah ancaman bahwa korban tidak akan dilepaskan jika tidak mau mendatangani surat perjanjian tersebut. Gadis kecil di bawah ancaman tiga wanita dewasa dan ditempat yang sangat asing akhirnya menandatangi surat pernikahan di bawah umur tersebut; Hukum pernikahan di Pakistan wanita boleh menikah setelah berumum 16 tahun. Anna tetap ditahan selama lebih dari 8 bulan,  sampai akhirnya Anna berhasil melarikan diri dan menelpon orang tuanya. The AHRC (Komisi Hak Asasi untuk Asian) dalam laporannya menulis gadis Kristen 12 tahun ini telah diperkosa lebih dari satu pria selama priode 8 bulan penculikan itu.

Korban selama delapan bulan masa penculikan tersebut telah dibawa ke beberapa pusat Islam dimana korban dipaksa untuk memeluk Islam dan dipukuli dengan keras ketika korban menolak permintaan mereka.

Pada minggu pertama September 2011, lebih dari 8 bulan setelah Anna hilang, gadis kecil ini menelpon keluarganya dari Tandianwalla, Faisalabad, 190 Km dari Lahor. Orang tuanya menjemput Anna dan melaporkan kasus ini kepada kantor polisi.

Polisi berdiam diri bahkan berpihak kepada pemerkosa. Keluarga korban kecewa sebab polisi tidak mengambil tindakan untuk melindungi gadis 12 tahun ini dan juga tidak bersedia melakukan pemeriksaan medis.

Para pemerkosa menghubungi polisi melalui jalur kelompok agama Islamnya dan menunjukkan surat pernikahan yang menyatakan bahwa satu dari pemerkosa, yaitu Muhammad Irfan adalah suami dari si korban. Ketika orang tua Anna kembali ke kantor polisi menyertakan nama-nama dari para pemerkosa polisi mengancam orang tua korban dengan mengatakan bahwa Anna telah menikah dan telah pindah ke Islam, jadi lebih baik kembalikan gadis kecil itu kepada suaminya. Dan polisi menambahkan jika orang tua dari korban ini monolak saran polisi tersebut maka pihak korban akan dihadapkan dengan ancaman pelanggaran tindakan kriminalitas.

Komisi Hak Asasi Manusia mendapat kabar dari masyarakat Kristen Pakitan bahwa keluarga Kristen ini sekarang sedang menyembunyikan diri dari para pelaku pemerkosa dan pihak kepolisian.

Berdoalah untuk Anna dan keluarga korban untuk memiliki kekuatan mebawa masalah sampai keadilan terwujud. Berdoa juga untuk pemerintah Pakistan agar mereka menggambil tanggung jawab untuk menegakkan keadilan dan pembelaan yang adil bagi semua rakyat Pakistan, termasuk gadis Kristen 12 tahun ini.

Bagi pembaca yang ingin memberi petisi untuk pembelaan Anna ini bisa menulis di sini:

Pemerintah Pakistan telah dikenal sangat lemah di dalam menegakkan keadilan bagi rakyatnya yang berasal dari kelompok minoritas.  Tahun lalu, Maret 2010, seorang Kristen dipukuli dengan enam pria berkampak sampai meninggal dunia oleh karen pria Kristen ini tidak mau berpindah ke Islam. Polisi telah mencatat laporan ini namun belum ada tindakan nyata, Compass Direct berkata.

Pengancaman dan pemaksaan terhadap orang-orang Kristen di negara Islam Pakistan  sangatlah umum, sementara di negara-negara Barat orang-orang Islam mengaku bahwa Islam adalah agama damai dan satu ajaran dengan kepercayaan orang-orang Yahudi dan Kristen. Baca : Pakistan: Azra Bibi Terbebas dari Perbudakan!

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

R.R.Cina: Lilis Among Thorns

Bunga-bunga Bakung diantara Duri-duri ialah kisah keindahan iman dan kasih sebuah keluarga Kristen di Henan, Cina yang teraniaya oleh pemerintah komunis. Dalam perlakuan yang sangat sadis yang mereka dapat, hanya oleh sebab mereka orang Kristen, mereka tetap memancarkan keindahan dan  keharuman iman mereka bukan hanya kepada sesama saudara seiman mereka, tapi juga kepada para penganiaya mereka dan negara mereka, RRC.

Sumber: China’s Christian Martyrs by Paul Hattaway.

Suatu tindakan belas kasihan berakhir dengan korban sebuah keluarga Kristen yang terkasih selama penghancuran melawan kejahatan dan agama secara nasional di tahun 1983, demikian cerita ini berawal.

Untuk mempermudah para pembaca mengerti isi cerita ini, ada baiknya nama para pribadi yang terlibat dipaparkan terlebih dahulu, Keluarga Shi tinggal di desa Zunzhuang, propinsi Henan. Shi Gushen (ayah) dan Shi Lishi (ibu) memiliki 3 putra; Wuting, Wuming, Wuhao) dan 2 putri (Xiaoxiu dan adiknya). Di rumah ini juga tinggal Meiying (istri dari putra pertama keluarga Shi, bernama Wuting) dan beberapa family lagi. Total ada sebelas orang hidup dalam rumah tersebut.

Ibu Lishi menderita sakit yang berat pada tahun 1976. Para dokter telah menyerah. Nenek dari ibu Lishi, yang telah percaya Yahweh bertahun-tahun, bercerita kepada keluarga Shi bahwa mereka seharusnya percaya kepada Yahweh Yeshua. Mereka melakukannya, segera setelah mereka menjadi orang percaya ibu ini disembuhkan dari penyakitnya. Lalu mereka memulai mendirikan gereja-rumah di desa mereka.

Pada musim panas 1983, Meichun (kakak wanita dari Meiying), menjadi sangat sakit. Para dokter mendiagnosa penyakit wanita ini dan berkata tidak satupun yang para dokter bisa lakukan. Pihak Rumah Sakit  menasehatkan Meichun pulang dan bersiap untuk meninggal. Ia tidak pulang kerumahnya, tetapi berkunjung kerumah adiknya Meiying (keluarga Shi) dan meminta keluarga ini berdoa untuknya. Beberapa hari kemudian kondisinya antara memuaskan dan buruk – tidak banyak perubahan. Tepat ketika ia bersiap-siap pulang kerumahnya, tiba-tiba ia meninggal dunia. Di Cina, ketika seorang meninggal dunia sementara bertamu, maka tuan rumah itu bertanggung jawab.

Karena keluarga Shi telah dikenal secara umum mengoperasikan gereja-rumah, – yang adalah ilegal dalam negara Komunis RRC, hanya gereja yang ’terdaftar’ saja (dikontrol oleh Negara) yang dianggap legal di RRC – keluarga Shi menjadi kuatir bahwa pemerintah akan memakai kematian ini untuk menjadi alasan menganiaya mereka. Wuming, putra tertua, pergi melapor kematian ini ke kantor polisi. Keluarga lainnya tinggal di rumah  dan mengepak tas-tas mereka untuk persiapan jika ditahan. [Sejak Mao menguasai RRC, penangkapan kepada orang Kristen bisa kapan saja dan dengan alasan apapun, hampir sama dengan nasip orang Kristen di negara Islam Pakistan]. Mereka berdoa dengan serius, menyerahkan semua kehidupan mereka kedalam tangan Elohim. Beberapa petugas keamanan negara datang dan menangkap semua keluarga Shi kecuali anak yang terkecil.

Keluarga dari wanita yang mati membawa masalah ini kepengadilan, mendaftarkan Lishi dan Wuting sebagai pembunuh. Sidang dibuka besok harinya. Lishi adalah yang pertama di adili. Ia bercerita apa adanya tentang penyakit anak mantunya (para dokter telah menyerah) dan hanya mencoba berdoa untuk Meichun. Hakim yang marah ini memerintahkan para penjaga untuk menendang Lishi ke lantai. Kemudian mereka memukuli ibu malang ini dengan tongkot sampai pingsan. Seember air dingin ditumpahkan kepada ibu ini untuk menyadarkannya, tetapi dia tetap menolak mengakui kejahatan yang memang ia tidak lakukan – tuduhan membunuh. Hakim yang marah ini memerintah dia untuk dikirim balik ke selnya. Menuju sel, ibu ini melewati anak-anaknya yang sedang menangis. Ia berbisik kepada mereka, ”Anak-anak, tetaplah kuat. Kita terhitung layak untuk menderita hinaan bagi Yahweh.”

Kemudian gilirang Shi Wuting untuk diintrogasi, diikuiti oleh Wuming. Dua kakak-beradik ini dipukuli dengan keras oleh para keamanan sehingga ketika mereka kembali ke sel, mereka sukar mengenali luka-luka mereka yang banyak dan berdarah tersebut; kondisi setengah sadar.

Kemudian dihadirkan tiga tertuduh lainnya dari keluarga Shi, kembali hakim ini terkecut dan kagum kepada keluarga Shi ini, mereka mengakui bertanggung jawab atas kematian famili mereka. Hakim ini tidak pernah milihat sesuatu seperti ini di dalam persidangan selama bertahun-tahun. Pada semua masalah para pembunuh yang tertuduh umumnya akan mencoba apapun untuk menolak bersalah, tetapi di sini setiap saksi telah mengakui bertanggung jawab. Sedimikianlah kasih keluarga ini ada kepada Elohim dan kepada sesamanya! Mereka telah memilih untuk mengambil penghukuman ke atas mereka sendiri daripada melihat saudara lainnya menderita untuk sebuah kesalahan yang mereka tidak lakukan.

Akhirnya Shi Xiaoxiu umur 16 tahun dibawa ke ruang sidang. Hakim ini yakin bahwa ia akan berhasil membuat gadis kurus ini menyatakan ”sipembunuh” yang sesungguhnya, jadi hakim ini berbicara kepadanya dengan cara yang manis. Xiaoxiu dengan tenang menolak bila ada hukum-hukum telah dilanggar, dan bercerita kepada hakim ini bahwa jika ada seorang yang telah bertanggung jawab [atas kematian kakak ipar mereka, Meichun], itu pastilah dirinya sendiri dan adik perempuannya, sebab mereka telah berdoa untuk Meichun lebih dari orang-orang lainnya! Hakim dengan marah memukul kursi hakimnya dan berteriak, ”Kamu memiliki keberanian! Kamu masih terlalu kecil dan namun kamu berani membohongi orang-orang pemerintah. Anak kecil, saya janjikan kepadamu, tidak ada sorga di sini untuk kamu. Jika kamu terus keras kepala dan menolak saya akan putuskan kamu untuk dipenjara. Masa depanmu akan tamat! Jangan berpikir bahwa ini sebuah permainan.”

Menjaga ketenangannya, Xiaoxiu menjawab, ”Masa depanku tidak ditentukan oleh dunia ini tetapi oleh Sorga. Sejak saya jatuh ketangan Anda, saya tidak punya rencana untuk kembali ke rumah. Keluargaku telah memutuskan untuk menyelesaikan kursus yang Yahweh Yeshua kami telah putuskan untuk kami.”

Sementara keluarga Shi ditahan di penjara hakim memikirkan keputusan hukuman.
Keputusan hukuman atas keluarga Shi jatuh pada pagi hari tanggal 30 Agustus 1983. Sebuah theatre dipakai untuk itu dan semua masyarakat hadir, tidak satu kursipun ada yang kosong.

Para hadirin tergagap dan berteriak marah ketika Shi Lishi (ibu) dan Shi Wuting (pria tertua) dipidani hukuman mati. Meiying (isteri Wuting), adik perempuan dari yang meninggal dijatuhi hukuman seumur hidup untuk keterlibatannya di dalam ’pembunuhan’, sementara  Meizhen dihukum 15 tahun penjara. Anak laki termuda, Shi Wuhao, 10 tahun penjara, Shi Wuming (pria kedua tertua) 4 tahun penjara, sementara Xiaoxiu umur 16 tahun dihukum 2 tahun penjara, ’kesalahnya’ ialah berani berbicara benar di pengadilan. Bapa dari keluarga, Shi Gushen, dan saudara kandungnya masing-masing dihukum penjara 2 bulan.

Tiba-tiba sebuah suara keras seperti seseorang jatuh ke lantai ruang pengadilan, diikuti rintihan yang keras. ”Anak-anak perempuan, saya telah mencelakakan kalian!” jeritan duka ibu Meiying. Ia tidak menyangka bahwa perbuatannya itu bukan saja merusak keluarga Shi, tapi puterinya sendiri – yang dihukum seumur hidup. Dia sadar sekarang bahwa ia tidak akan pernah lagi melihat putrinya.

Ketika Shi Wuting melewati isterinya di gang pengadilan menuju penjara, pria 35 tahun yang terborgol dan luka-luka ini berkata kepada isterinya, ”Meiying, isteri ku tersayang, mengapa kamu menangis? Bagaimana dapat saya tidak meminum cawan yang Yahweh telah berikan kepada saya? Tidakkah kamu sadar bahwa kita hidup untuk Yahweh, dan jika kita mati, kita mati untuk Yahweh? Jadi, entah kita hidup atau mati kita adalah milik Yahweh! Meiying tersayang, itu adalah hanya bahwa saya akan ada satu langkah di depan kamu. Sebelum terlalu lama, kita akan ada bersama lagi, tidak akan terpisah lagi. Jangan sedih. Beranilah dan jadilah kuat. Apapun yang terjadi kamu harus hidup secara penuh untuk Yahweh. Jangan buang waktu.”

Untuk dua minggu terakhir kehidupannya, Meiying ada dalam satu sel dengan ibu mertuanya. Pada suatu malam mereka melihat diri mereka sendiri berpakaian jubah putih dan terbang menembus langit-langit pergi ke Sorga! Kemudian mereka melihat Yahweh Yeshua.  Tangan-Nya terentang menyembut mereka. Dengan perasaan yang besar mereka pergi menuju kepada Yeshua, dan dengan tangan-Nya yang berbekas luka Dia menyeka air mata dari mata mereka berdua.

Pada tanggal 14 September 1983 Shi Lishi dan Shi Wuting diambil untuk dibawa ketempat eksekusi tempat ini dikenal sebagai Gunung Kodok. Wuting sekilas melihat isterinya, dan berkata, ”Meiying, saya akan pergi duluan. Saya akan menunggu kamu di rumah Bapa. Selamat tinggal!” Kedua dari orang Kristen tertuduh ini benar-benar tenang dan tersenyum kepada teman-teman dan sanak famili. Tidak ada ketakutan.

Danyun, sejarahwan Gereja-Rumah, mengingat saat itu ketika ibu dan anaknya meninggalkan dunia ini untuk upah surgawi mereka:

Ibu Shi berpaling kepada tentara yang berada disampingnya dan dengan tersenyum bertanya padanya, ”Dapatkah saya diijinkan berdoa?” Tentara mengangungkan kepala tanda setuju tanpa suara. Ibu dan anak berlutut, mengangkat tangan-tangan mereka ke langit dan berdoa kepada Juruselamat yang telah menciptakan langit dan bumi: ”Kami meminta Engkau untuk mengampuni negeri kami dan bangsa kami atas dosa-dosa  menganiaya kami. Selamatkan negeri dan bangsa kami. Yahweh, kami memohon Engkau untuk menerima roh-roh kami.”

Bang!
Bang!

Darah muncrat dari kepala ibu ini dan jiwanya masuk ke Sorga.  Wuting, bagaimanapun, belum mati. Dia berpaling melihat kepada tentara-tentara di kebelakang dirinya dan melihat mereka sungguh kaku dengan ketakutan  mereka tidak dapat menembak untuk kedua kalinya. Tetapi dua tentara lainnya mengangkat pistol-pistol mereka dan menembakannya kepada Wuting. Dia tergeletak, otaknya dan darahnya tersebar disemua lantai. Tiba-tiba turun hujan deras yang sangat besar, disertai cahaya halilintar dan geledek. Tetapi semua hujan tidak dapat menghapus darah orang tidak berdosa yang telah tercurah di sana pada lantai eksekusi.

Ketika anggota-anggota keluarga yang masih hidup mengumpulkan tubuh dua martir untuk penguburan mereka menemukan sebuah catatan di kantong jaket Wuting. Itu tertulis: “Itu sekarang selesai. Jangan bersedih atas saya. Saya hanya pergi ke tempat tersebut sebelum kamu. Kasihilah Yahweh dengan sungguh dan peganglah kuat-kuat Firman-Nya. Dikemudian waktu , kalian akan juga pergi ke Bapa Sorgawi dan bertemu saya. Ia yang bertahan sampai akhir akan diselamatkan. Untuk penguburanku, buat itu dengan sangat sederhana. Peliharalah dua anak saya dan buatlah mereka tahu bahwa saya telah mati untuk Yahweh.” Tamat.

Pembaca yang terkasih, mereka belum 7 tahun menjadi pengikut Yeshua (1976 ke pertengahan 1983), iman, kesetian serta kasih keluarga Shi terhadap Yeshua, Yahweh mereka, telah mengalami ujian yang berat. Mereka tentunya dapat dibenarkan jika mereka marah dan kecewa kepada para penuduh dan penganiaya mereka, dan mungkin kepada  Elohim mereka. Tetapi sebaliknya, mereka mengampuni bahkan berdua untuk keselamat negara dan bangsa mereka. Dapatkah kita juga melakukan itu untuk Indonesia? Roh Kudus akan memampukan kita sebagaiman Ia telah memampukan keluarga Shi.

Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.
Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. (1 Korintus 13:12-13)

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Hampir 100 Remaja Kristen Koptik Mesir Disiksa Pemerintah

Setelah malam Natal berdarah, 6 Januari 2010, hampir 100 remaja Koptik ditangkapi oleh petugas-petugas keamanan pemerintah Mesir. Mereka ditangkap dijalan-jalan dan di rumah mereka tanpa surat.

Hampir seminggu disiksa dipenjara, mereka dilepaskan kecuali 15 lainnya tetap ditahan dan dipindahkan kepenjara lainnya dengan tuduhan ‘kerusuhan dan melawan penguasa.’

Satu dari tersiska ini, berumur 17 tahun, bercerita: ”Mereka menyetrom kami melalui bagian-bagian kelamin kami. Kami diancam oleh pihak keamanan bahwa jika kami membongkar apa yang kami telah alami [selama siksaan ini], kami akan ditangkap ulang.”

Dokter yang memeriksa tubuh mereka bercerita bahwa tidak satupun dari mereka yang akan mampu memberi keturunan atau menikah, dokter ini berkata dengan sedih.

Apa ’dosa’ para remaja Koptik ini sehingga mereka disiksa dengan sadis pihak keamaan? Pada malam Natal berdarah tersebut dua mobil dengan pengemudi bertopeng mencoba membunuh Uskup Koptik Kirollos, namun gagal. Kegagalan ini para  terrorist bertopeng ini menembaki remaja-remaja yang sedang keluar dari gereja. Korban jiwa 6 orang dan 9 luka-luka. Menurut The New York Times (Jan 31) meninggal 7  (6 jemaat dan 1 petugas keamanan gereja) dan 10 luka-luka.

Pembunuhan berencana atas dirinya ini yang gagal di atas, terjadi sehubungan dengan pembelaan yang ia berikan kepada para korban  kerusuhan di bulan Nofember 2009, dimana orang-orang Kristen di hina dan tempat-tempat usaha mereka dibakar. Namun pihak keamanan berkata peristiwa penembakan di gereja tgl 6 Januari adalah lanjutan balas dendam (23 Nof) dari peristiwa “seorang Kristen memperkosa seorang wanita Muslim.” Pemimpin Koptik Kanada mengkomentari “pemerkosaan” ini sebagai: “Belum terbukti kebenarannya, dan andaikan itu benar, tetap pengerusakan toko-toko tersebut tidak dapat dibenarkan.”

Aksi kemarahan Nofember orang-orang Muslim karena ‘kabar’ pemerkosaan telah menghancurkan 80 persent usaha dagang orang Kristen. Diperkirakan 10 apotik dan 55 toko dan kantor-kantor di empat wilayah di rampokin, dirusak dan dibakar, dengan total kerugian sekitar 5 juta Mesir Pound (sekitar 1 juta USD).  Peristiwa perusakan besar ini (22-23 Nof 2009) dipercayai oleh para pembela HAM sebagai di tutup-tutupi oleh Pemerintah Mesir, sebab ketika peristiwa itu terjadi semua jurnalis diusir keluar oleh kepala keamanan Jengeral Mahmoad Gohar: “Kami ingin kalian keluar, kamu harus memiliki permisi yang kusus untuk ada di sini.” Dengan tepukan tangannya mereka diperintahkan keluar dengan segera dari wilayah kerusuhan tersebut. The New York Times berkata.

Peristiwa ini yang membuat Uskup Koptik di atas protest dan membela hak asasi para Kristen Koptik. Hasilnya? Nyawanya terancam, dan hampir 100 remaja di strom di kemaluan mereka!!

Peristiwa penembakan pada Malam Natal 2010 ini membuat Uskup ini protest kepada pihak keamanan. Aksi protest ini lah yang membuat Jenderal Mahmoud Gohar, direktur keamanan Qena tersinggung dan berjanji akan mengajar ‘para demontrant’ dengan sungguh dan keras.

Di Bahgoura, Mesir, tanggal 8 Januari 2010 malam hari seorang keluarga rumahnya dibakar. “Para Muslim memasuki rumah mereka setelah memutuskan hubungan listrik,” ibu ini bercerita, “Mereka melempari gas ke kami dan mencoba membakar kami dan mereka mebawa pisau. Putera-putera saya melempari batu-bata kepada mereka sebab kami tidak memiliki apa-apa lagi untuk membela diri. Kami mendengar para Muslim bercerita satu sama lain untuk menyeret gadis-gadis keluar [anak perempuan ibu ini]. Putera kedua ibu ini sekarang dicari polisi dan yang terbesar ditahan. Ibu ini dengan tersedu-sedu dan berlinang air mata berkata: “Apakah Milad (putera terbesar) telah berlaku sebuah tindak kriminal karena melempar batu-bata kepada para pengacau untuk melindungi saudari perempuannya yang belum menikah dari pemerkosaan?”

Para ahli hukum dan beberapa organisasi Hak Asasi Manusia (HAM) mengadakan demontrasi di depan Pengadilan Tertinggi di Kairo pada tanggal 24 Febuari 2010, dan mereka juga akan memberikan sebuah catatan protes melawan penangkapan-penangkapan kepada Seketaris Departemen Pengadilan.

Orang Kristen di Mesir, mayoritas adalah Koptik, sekarang hanyalah 10 persent. Tekanan agama Islam melalui politik dan militer semakin membuat orang Kristen kehilangan hak mereka di tanah mereka sendiri yang adalah mayoritas sebelum Mesir menjadi negara Islam.

Raja Salomo (Amsal 14 31-34) berkatak: Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia. Orang fasik dirobohkan karena kejahatannya, tetapi orang benar mendapat perlindungan karena ketulusannya. Hikmat tinggal di dalam hati orang yang berpengertian, tetapi tidak dikenal di dalam hati orang bebal. Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa.

Bagaimana rakyat bisa belajar hidup adil jika para pemimpin negara penuh dengan ketidakadilan. Negara hancur bukan karena jahatnya rakyat, tetapi pemimpin bangsa itu sendiri, lihat pada sejarah hancurnya Kerajaan Romawi, Kerajaan Turky. Mesir dan Indonesia telah hilang kejayaannya oleh karena para pemimpin bangsanya mempermainkan hukum. Selama ketidakadilan berkuasa, HAM diinjak-injak, maka kemakmuran tidak akan pernah tercapai, penemuan teknologi baru tidak akan pernah bisa dilahirkan.

Baca juga:
Mark Gabriel: “Ijinkan saya memperkenalkan Anda pada Yeshua dan  Muhammad”Mohammad al-Ghazoli: “Lihat semuanya berubah!”

Sumber:
Egyptian State Security Accused of Torturing Christian Youth
Stand In Solidarity With Egyption
In Egypt, Religious Clashes Are Off the Record.
Egyptian State Security Accused of Cover-up in Muslim Riots

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

47 Rumah Orang Kristen Pakistan Dibakar Atas ’Tuduhan Penghujatan’

Punjab. Dua organisasi kemanusia Pakistan melaporkan bahwa 47 rumah milik orang Kristen di desa Korian, provinsi Punjab dibakar oleh sekelompok orang Muslim atas tuduhan anak laki Kristen merobek halaman kitab Alkuran.

Main hakim sendiri ini terjadi pada Selasa malam 28 July. Untung bahwa tidak ada korban jiwa, sebab ketika orang-orang Kristen mendengar berita akan adanya penyerangan ini dari mesjid speakePeta Pakistanr, mereka semua melarikan diri kehutan. Setelah merampasi harta benda masyarakat Kristen ini, orang-orang Muslim yang marah ini membakar rumah-rumah orang Kristen dengan bom-bom kimia.

Menurut laporan Sharing Life Ministries in Pakistan (SLMP), peristiwa bermula dari beberapa anak-anak laki Muslim rebut mulut dengan anak-anak laki Kristen, masalah ini telah diselesaikan oleh para tua-tua desa. Bagaimanapun anak-anak laki Muslim ini tidak puas dan menyebarkan gossip ’penghujatan atas Alkuran’, ini tercatat pada tanggal 25 July.

Selasa malam itu orang-orang Muslim membuat pengumuman dari mesjid desa untuk bergabung dan memberi pelajaran kepada ’orang’orang Kristen infidel’ karena melakukan penghujatan. Orang-orang Muslim dari desa-desa terdekat juga bergabung di mesjid tersebut menghasilkan lebih dari seribu orang.

Ketika laporan ini diadukan oleh beberapa pemimpin Kristen setempat ke pemerintah provinsi Punjab, polisi bagaimanapun tidak mendaftarkan laporan ini sampai laporan ini ditulis.

Penyalah gunaan Hukum Penghujatan yang dilegalkan oleh pemerinah Pakistan semakin nampak keburukannya.Membuat orang-orang Muslim bertidak sesuka hati mereka terhadap orang-orang Kristen di Pakistan. Pembakaran rumah-rumah tinggal dengan modus tuduhan yang sama dan dengan bom-bom kimia juga terjadi Shanti Nagar pada tahun 1998. Serangan pada desa Korian ini adalah tragedi ketiga kalinya di Pakistan dalam bulan July saja.

Lahor (30 Juni 2009). Perusakan rumah-rumah yang disertai dengan persampasan harta milik orang Kristen terjadi oleh karena tuduhan penghujatan terhadap agama Islam. Pukul 7 sore ketika seorang petani Kristen dengan anak prianya (10 tahun) pulang dari sawahnya, ketika mereka memasuki desa, seorang Muslim yang dikenal sebagai Muhammad Hussein dan keponankannya memarkir sepeda motornya ditengah jalan,  Masih, pengemudi traktor ini memohon Muhammad untuk mengeser motornya.  Diluar dugaan kedua pria ini menarik keluar Masih dari traktornya dan mulai memukulinya. Tidak cukup di situ, 15 sampai 20 orang Muslim menyerang keluarga ini dengan parang. Peristiwa yang tidak berprikemanusian ini rupanya tidak berhenti pada keluargan Masih saja, seorang pemimpin Islam, Muhammad Latif,  melalui spikir mesjid mengundang para Muslim untuk bersama-sama ’mengajar para Kristen sebuah contoh pelajaran.’ Lebih dari 500 orang Muslim berbondong-bondong dengan bersenjatakan tongkat dan parang merusak perkampungan Kristen dan merampas harta milik mereka. 110 rumah hancur, turbin air dirusak dan beberapa kendaraan dibakar.

Pakistan menempatkan urutan ke 13 pada daftar 2009 World Watch yang dibuat oleh Open Doors, suatu organisasi kemanusian Internasional.

Pokok Doa:

  • Berdoalah untuk orang-orang Kristen di Pakistan. kiranya Yeshua Ha Mashiah memberi mereka kekuatan imam dan kekuatan sorgawi untuk mengampuni musuh-musuh mereka yang tidak tahu apa yang perbuat.
  • Berdoalah juga untuk orang-orang Muslim di Pakistan agar Yeshua mengirim malaikat-malaikat-Nya untuk mencabut kain hitam yang menutupi mata rohani mereka. Mata mereka telah dibutakan oleh Setan, sehingga mereka berpikir bahwa berbohong, merampas milik orang lain dan merusak rumah dan kendaraan orang Kristen adalah perbuatan yang terpuji. Saudari Elizabeth dari Indonesai melalui kuasa Yahweh ia diperlihatkan isi neraka, di neraka ini ia melihat banyak sekali orang-orang bersorban (pemeluk agama Islam). Bawalah orang-orang Muslim di dalam doa-doa kita, kiranya Yahweh bermurah hati menunjukan jalan-Nya kepada mereka.

Diterjemahkan dari:

  1. 47 Pakistani Christian Homes Burned Over ‘Alleged Blasphemy’
  2. Muslims Attack 110 Homes of Christians in Pakistan

Bacaan yang berhubungan:

  1. Iman Seorang Pembantu Kristen di Pakistan
  2. Pakistan: Azra Bibi terlepas dari perbudakan
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

 

  • Kalender

    • Juni 2017
      M S S R K J S
      « Apr    
       123
      45678910
      11121314151617
      18192021222324
      252627282930  
  • Cari