Skotlandia: Asah Shah dibunuh setelah mengepos ‘Very Happy Easter’

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin,” Yeshua berkata tentang tanda kesudahan zaman. (Matius 24:12)

Asad Shah Muslim Glasgow terbunuh di minggu Paskah 2016Asah Shah (40 tahun) ditemukan terluka parah karena ditusuk pisau sedikitnya 30 kali di luar tokonya di Shawlands, Glasgow. Peristiwa terjadi sekitar pukul 9 malam tanggal 21 Maret, Minggu Paskah.

Tambahan dari luka-luka tusukan di atas, nampak bahwa Tanveer Ahmed (32 tahun), pelaku pembunuhan, juga menginjak kepala Asah. Pemilik toko ini kemudian meninggal dunia di rumah sakit.

Asah Shah terbunuh empat jam setelah ia mengirim sebuah pesan video pada Facebooknya mengucapkan kepada seluruh orang Kristen selamat Paskah:*

“Good Friday and a very Happy Easter, especially to my beloved Christian nation. Let’s follow the real footstep of beloved holy Jesus Christ and get the real success in both worlds.” (Jumat Agung dan Paskah yang sungguh Bahagia, khususnya kepada negara Kristen yang saya cintai. Marilah ikuti langkah nyatakasih Yeshua Ha Mashiah dan mendapat sukses nyata dalam kedua dunia (kehidupan sekarang dan kehidupan kekal))

Namun di Pengadilan Tinggi Glasgow Ahmed (supir taxi) menyangkal bahwa ia membunuh Shah oleh karena pesan toleransi Shah kepada penduduk negara Kristen tersebut. Sebaliknya ia bangga dengan perbuatannya dan menyalahi aliran agama Islam yang dianut oleh Asah Shah, yakni Islam Ahmadiah. “Jika saya tidak melakukan ini, orang-orang (Muslim) lainnya akan melakukannya dan akanlah ada lebih pembunuhan dan kekerasan di dunia,” Tanveer Ahmed berkata.

Islam Sunni mengaggap aliran Islam Ahmadiah sebagai aliran sesat. Diperkirakan ada 500 Muslim Ahmadiah di Skotlandia dan lebih dari 10 juta di seluruh dunia.

Motif dari pembunuhan ini dinyatakan sebagai peristiwa “prejudis yang bersifat keagamaan.”

Laporan menulis, ”Bunga-bunga penghormatan telah ada di letakkan pada jalan dimana kejadian terjadi,” termasuk uang sejumlah 90.000 £ (pound sterling) telah terkumpul untuk mendukung keluarganya yang ditinggalkan” karena Asah telah mempromosikan “kasihi semua orang, jangan membenci siapapun.”

Baca lebih lanjut

Pakistan: Gadis cacat ditahan atas tuduhan menghina Islam

BBC: Polisi Pakistan telah menahan gadis 11 tahun berpenyakit mental Down syndrome, setelah sekelompok orang-orang yang marah menuduh gadis tersebut merusak beberapa halaman Kuran.  Mereka mendesak gadis Kristen ini ditangkap untuk menerima hukuman mati dan mengancam membakar rumah-rumah orang Kristen diluar ibukota Islamabad, koran lokal berkata.

WND: Rimsha Masih, nama dari gadis ini malang ini, ternyata hanya membakar halaman-halaman “Noorani Qaida,” yakni buku petunjuk yang dipakai untuk belajar dasar-dasar Kuran. Lapor Barnabas Aid (yayasan kemanusia) kepada WND.

Tuduhan ini berawal dari tetangga Rimsha, dan menyebar seperti kebakaran hutan yang tidak terkendali oleh karena tuduhan disebarkan di mesjid-mesjid.

Para orang Islam yang marah besar ini sempat memukul dengan keras gadis ini, keluarganya dan beberapa orang Kristen setempat. Dua rumah Kristen juga dibakar dan beberapa rumah mereka dirusak pagarnya juga pintu-pintu dan jendela-jendela. [Mengapa orang-orang Muslim begitu mudah dihasut dan berbuat dosa atas dasar hasutan? Seorang murid sekolah Alkitab di Sumatra dipukuli oleh masyarakat sampai mati hanya karena membakar kertas jimad bertulisan Arab, di awal th 90an]

Akibat penyalah gunaan hukum penghinaan agama Islam ini, sekarang Rimsha tinggal dipenjara Rawalpindi setelah penangkapannya pada tanggal 16 Agustus.   Lebih dari 800 orang Kristen terpaksa harus meninggalkan rumah mereka demi keselamatan. Untuk pemimpin gereja dan para yayasan kemanusia datang menolong memberikan makanan dan minuman.

Aidan Clay dari International Christian Concern’s Pakistan menyatakan lebih dari 46 orang yang dituduh menghina Islam sejak 1986 sampai 2011 telah terbunuh oleh kekerasan masyarakat yang marah sementara menunggu sidang pengadilan.

“Keadilan akanlah hanya berjalan ketika ratusan Muslim yang menuntut Rimsha dan menyerang rumah-rumah Kristen di Islamabad ditangkap dan diadili,” Clay berkata.

Clay atas nama umat Kristen meminta Presiden Asif Ali Zardari menahan mereka yang terlibat.

Para pembela HAM telah mendorong Pakistan untuk mereformasi hukum-hukum penghinaan kepada Allah (blasphemy) yang kontroversi tersebut, yang mana seorang dapat ada diperjarakan seumur hidup hanya karena menghina Koran.

Kebanyakan dari mereka yang dituduh mengina Allah telah dibunuh oleh orang-orang brutal tersebut, sementara para politikus yang menasehati untuk merubah hukum telah juga jadi sasaran kemarahan.

Tahun kemarin, Shahbaz Bhatti, menteri untuk masalah-masalah kaum minoritas dibunuh setelah meminta mencabut hukum penghinaan tersebut.

Kematiannya tiba hanya beberapa bulan setelah pembunuhan Salman Taseer Gubernur Punjab, yang juga berbicara tentang hal yang sama. Tamat.

Yeshua mengajar orang Kristen: Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. (Matius 5:43-45)

Berdoalah bagi saudara-saudari kita di Pakistan, agar iman mereka semakin kuat kepada Yeshua Ha Mashiah di dalam penganiayaan ini. Dan melalui kejadian ini, kiranya banyak orang-orang Islam dibukakan mata rohani mereka.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Dukungan Bagi 100.000 Pengungsi Kristen Syria Sangat Dibutuhkan

Perang antara pemerintah Syria dengan tentara pemberontak, teman saya menyebutnya ”perang antara Shia dengan Sunni” telah menyebabkan orang Kristen dalam posisi yang sangat susah. Orang Kristen Syria telah menjadi korban atas perang kekuasaan ini, lebih parah lagi pihak pemberontak memakai situasi ini untuk memeras orang Kristen bahkan mengusir mereka dari rumah-rumah mereka.  Persecution.org melaporkan (19/4/2012) penganiayaan baru terhadap orang Kristen Syria dari kelompok militan ”Arab Spring” (yang sedang mencoba menggulingkan presiden Assad)  semakin  keras dan bertambah. Sebagai akibatnya, Christian Aid Mission yang berpusat di Virginia harus menambah bantuan untuk menolong para pengungsi yang terus bertambah jumlahnya yang telah menyelamatkan diri ke Yordania, Libanon dan Turki.

Seorang bapa bercerita bahwa sejumlah kelompok pemberontak meminta kepadanya 7 ribu dollar Amerika sebagai upeti (pajak), jika tidak diberikan maka mereka akan membunuh keluarganya, membakar rumah dan supermarketnya. Setelah uang diberikan, bapa ini berharap mereka akan pergi, tetapi sebaliknya mereka menculik orang Kristen ini selama satu minggu. Ia hanya diinjikan untuk pergi jika bapa ini setuju untuk membayar jumlah uang yang sama setiap bulannya. ”Apa yang kamu pikir saya dapat lakukan?” Saya mengambil barang-barang kami, hanya yang utama. Saya bawa keluargaku dan datang ke Yordan.”

Menurut kantor berita Reuters yang dikutip oleh  OneNewSNow.com,para pemberontak termasuk Tentara Pembebasan Syria, Al-Qaeda, Muslim Brotherhood dan orang lokal adalah orang-orang Sunni. Sumber-sumber lain mengabarkan bahwa pasukkan pemberontak umumnya adalah bukan orang Syria. Mereka gabungan dari pejuang Islam Sunni berasal dari Libya dan Irak, Kurdistan, Turki dan Pakistan (termasuk orang Pakistan dari Inggris).

90%  orang Kristen di Horms telah terusir. Haaretz.com  mengutip laporan Syriantruth.org (berbahasa Arab)  menulis bahwa pembunuhan dan pengusiran yang sistimatis ini adalah suatu bukti pembersihan etnis Kristen Syria dari negara mereka sendiri.

Berdoalah (topik doa diambil dari Opendoorsuk.org)

  • Damai dan stabilitas akan ada direstorasi di Syria
  • Minta perlindungan Elohim  atas orang-orang Kristen di Syria dan memberi mereka harapan dan sebuah masa depan
  • Aksi-aksi penyelamatan darurat mampu menyangkau mereka yang sedang dalam keperluan terbesar

Bantuan keuangan dapat disalurkan langsung kepada organisasi-organisasi Kristen atau gereja-gereja yang berhubungan langsung dengan organisasi kemanusian yang terjun kelapangan, seperti organisasi Open Doors, yang menyediakan paket-paket pertolongan juga makanan dan bantuan pengobatan, dan perawatan trauma. Open Doors bekerja dengan gereja-gereja lokal dimana pengungsi berada.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Gadis Kristen Pakistan 12 Tahun Di Perkosa Dan Disiksa Karena Tidak Mau Murtad

Cara orang Islam memenangkan jiwa di Pakistan. The Asian Human Right Commission  (The AHRC) melaporkan bahwa gadis 12 tahun diculik, dibawa kedesa lain lalu diperkosa, dipaksa menikah, delapan bulan lamanya ia dipukuli dan diperkosa oleh karena tidak mau pindah ke Islam, British Pakistani Christian Association melaporkan.

Pada suatu hari Anna, anak gadis dari bapa Arif Masih di kota Lahor, dikunjungi oleh teman perempuan Muslimnya, Nida, untuk ’sebuah perjalanan shopping.’ Nida membawa Anna ke dalam mobil dimana paman Nida, Muhammed Irfan, sudah siap di depan kemudi mobil tersebut. Korban di bawah ketempat yang jauh sebelum ia dimasukkan kedalam rumah dan diperkosa. Dua hari setelah pemerkosaan pertama tersebut tiga wanita dari sanak famili pemerkosa, dilaporkan dengan nama Mumtaz Bibi, Farzana Bibi dan Kiran Bibi beserta Nida teman Anna memaksa Anna untuk menandatangani surat pernikahan ’bersedia dinikahi oleh Mohammed Irfan,’ dibawah ancaman bahwa korban tidak akan dilepaskan jika tidak mau mendatangani surat perjanjian tersebut. Gadis kecil di bawah ancaman tiga wanita dewasa dan ditempat yang sangat asing akhirnya menandatangi surat pernikahan di bawah umur tersebut; Hukum pernikahan di Pakistan wanita boleh menikah setelah berumum 16 tahun. Anna tetap ditahan selama lebih dari 8 bulan,  sampai akhirnya Anna berhasil melarikan diri dan menelpon orang tuanya. The AHRC (Komisi Hak Asasi untuk Asian) dalam laporannya menulis gadis Kristen 12 tahun ini telah diperkosa lebih dari satu pria selama priode 8 bulan penculikan itu.

Korban selama delapan bulan masa penculikan tersebut telah dibawa ke beberapa pusat Islam dimana korban dipaksa untuk memeluk Islam dan dipukuli dengan keras ketika korban menolak permintaan mereka.

Pada minggu pertama September 2011, lebih dari 8 bulan setelah Anna hilang, gadis kecil ini menelpon keluarganya dari Tandianwalla, Faisalabad, 190 Km dari Lahor. Orang tuanya menjemput Anna dan melaporkan kasus ini kepada kantor polisi.

Polisi berdiam diri bahkan berpihak kepada pemerkosa. Keluarga korban kecewa sebab polisi tidak mengambil tindakan untuk melindungi gadis 12 tahun ini dan juga tidak bersedia melakukan pemeriksaan medis.

Para pemerkosa menghubungi polisi melalui jalur kelompok agama Islamnya dan menunjukkan surat pernikahan yang menyatakan bahwa satu dari pemerkosa, yaitu Muhammad Irfan adalah suami dari si korban. Ketika orang tua Anna kembali ke kantor polisi menyertakan nama-nama dari para pemerkosa polisi mengancam orang tua korban dengan mengatakan bahwa Anna telah menikah dan telah pindah ke Islam, jadi lebih baik kembalikan gadis kecil itu kepada suaminya. Dan polisi menambahkan jika orang tua dari korban ini monolak saran polisi tersebut maka pihak korban akan dihadapkan dengan ancaman pelanggaran tindakan kriminalitas.

Komisi Hak Asasi Manusia mendapat kabar dari masyarakat Kristen Pakitan bahwa keluarga Kristen ini sekarang sedang menyembunyikan diri dari para pelaku pemerkosa dan pihak kepolisian.

Berdoalah untuk Anna dan keluarga korban untuk memiliki kekuatan mebawa masalah sampai keadilan terwujud. Berdoa juga untuk pemerintah Pakistan agar mereka menggambil tanggung jawab untuk menegakkan keadilan dan pembelaan yang adil bagi semua rakyat Pakistan, termasuk gadis Kristen 12 tahun ini.

Bagi pembaca yang ingin memberi petisi untuk pembelaan Anna ini bisa menulis di sini:

Pemerintah Pakistan telah dikenal sangat lemah di dalam menegakkan keadilan bagi rakyatnya yang berasal dari kelompok minoritas.  Tahun lalu, Maret 2010, seorang Kristen dipukuli dengan enam pria berkampak sampai meninggal dunia oleh karen pria Kristen ini tidak mau berpindah ke Islam. Polisi telah mencatat laporan ini namun belum ada tindakan nyata, Compass Direct berkata.

Pengancaman dan pemaksaan terhadap orang-orang Kristen di negara Islam Pakistan  sangatlah umum, sementara di negara-negara Barat orang-orang Islam mengaku bahwa Islam adalah agama damai dan satu ajaran dengan kepercayaan orang-orang Yahudi dan Kristen. Baca : Pakistan: Azra Bibi Terbebas dari Perbudakan!

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Gereja-gereja di Negara Afrika Utara Dalam Tekanan Yang Berat

Kompas Direct mengabarkan penganiayaan yang semakin berat di negara-negara Afrika bagian utara.

Algeria. Gubernur profinsi Bejaia telah mengirim surat perintah (22 Mei) kepada presiden Gereja Protestant Algeria (GPA), dengan surat tembusan kepada polisi, untuk menutup 7 tempat ibadah orang Kristen, dengan alasan tempat ibadah tersebut “tidak sah” sebab tidak terdaftar.

“Semua bangunan yang dibuat secara permanen atau sedang dalam proses pembuatan untuk kegiatan ibadah agama lainnya diluar Muslim akan ditutup secara permanen di dalam seluruh negara, juga mereka yang tidak mendapat pengesahan kuasa dari Komisi Nasional,”  kata kepala polisi mengutip keputusan gubernur Bejaia.

Para pemimpin Kristen Algeria menolak perintah tersebut dengan alasan:

  1. Gubernur tidak punya kuasa atas seluruh negara
  2. Pemerintah selalu menolak untuk memberi permisi tempat ibadah Kristen beroperasi.

Hukum negara yang melarang aktivitas ibadah diluar agama Islam diperkenalkan tahun 2006.  Sejak ini aniaya semakin keras terhadap non Islam. gedung ibadah di Kabylie dibakar sekalipun mayoritas dari lokasi setempat adalah orang Kristen. Di lain lokasi, 6 orang Kristen ditangkap setelah mereka selesai pertemuan doa. Seorang pria 33 tahun ditangkap selama 5 hari karena membawa Alkitab dan buku pelajaran Kristen, ia juga didenda 460 Amerika Dollar dengan tambahan satu tahun perjara.

Sumber berita lain mengabarkan, walaupun aniaya semakin besar, perpindahan orang-orang Islam ke Kristianity tetap besar.

Orang Kristen di Algeria ada lebih dari 99 000 menurut Operation World, tulis Kompas.

Berdoalah untuk bangsa Algeria; Yeshua melalui Roh Kudusnya menguatkan iman dan menghibur mereka di dalam aniaya ini, semoga terang dan kebenaran yang sejati semakin kuat berkuasa di negeri ini.

Mesir. Jatuhnya presiden H. Mubarak dari jabatan oleh demontrasi atas nama ”Demokrasi” telah menambah berat tekanan orang Islam atas minoritas Kristen di negeri ini. Orang-orang Islam radikal semakin leluasa berbuat kejahatan, pencurian, pengerusakan dan pembunuhan terhadap bangsa mereka sendiri yang beraliran Kristen. Sedikitnya 12 meninggal dan 200 luka-luka setelah dua gedung gereja  dirusak, satu melalui bom-bom molotov dan beberapa rumah dan pertokoan orang Kriten dirusak pada Saptu 7 Mei 2011. Diawali dengan gossip bahwa sebuah gereja menahan seorang wanita Kristen yang ingin berpindah ke Islam, pemimpin gereja mengijinkan sekelompok imam Islam untuk masuk dan memeriksa gedung. Tidak ditemukan. Penyerangan atas gereja dilakukan, dan pihak keamanan baru datang setelah dua jam kemudian,

Hukum “menghina Allah”  (Blasphemy Law) di Mesir dan Sudan semakin megancam bukan saja para murtad Islam, tetapi juga orang-orang Islam (Shia dan Suuni) yang tidak setuju dengan hukum Islam tersebut. Beberapa orang Sunni dari latar belakang profesi seperti wartawan, bloggers, ahli hukum, professor universitas dan sastrawan telah dituduh menghina agama Islam, sekalipun mereka hanya tidak setuju dengan garis keras Islam.

Praktek dari hukum “menghina Allah” ini sering kali salah pakai dan terburuk adalah pemaksaan kehendak, tulis Komas Direct mengutip para korban:

  1. Orang Kristen yang berbicara hanya tentang imannya sendiri dapat dilaporkan ke polisi dan ditangkap.
  2. Orang-orang Kristen yang membela diri saat melindungi gedung ibadah mereka dari perusakan lebih sering menjadi korban penangkapan dan penyeksaan polisi dari pada orang-orang Islam yang merusak milik orang Kristen.
  3. Seorang guru warga Inggris di Sudan dipenjara oleh karena ia menyetujui 20 pendapat murid dari 23 untuk menamai boneka beruang mereka “Muhammad” untuk mengingat murid pria yang paling populer di kelas mereka.
  4. Pemerintah dapat menangkap siapapun (termasuk orang Islam) yang menentang mereka atas nama menghina Allah.
  5. Pihak pemerintah Mesir yang bersedia mengijinkan pembukaan kembali gedung gereja yang telah dirusak atau mengijinkan pendirian gedung gereja telah mendapat ancaman dari pihak Islam sebagai menghina Allah.

Berdoalah untuk bangsa-bangsa di Afrika Utara berdasarkan perkataan Yeshua ini:

Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh. 8:31-32).

Alkitab-alkitab berbahasa Arab semakin perlu untuk didatangkan. Hubungi organisasi Misi bagaimana Anda bisa terlibat di dalam percetakan dan pengiriman Alkitab tersebut.

Marokko. Hukum negara melarang penduduk Marokko menghadiri ibadah di luar agama Islam yang dilakukan oleh penduduk asing di Marokko. Namun belakangan ini orang Kristen asingpun mendapat ancaman dari pemerintah,  Pada bulan Maret tahun 2010, Compas menulis, total orang Kristen asing yang telah diusir telah mencapai 128 orang. Termasuk seorang wanita Spanyol yang bersuamikan orang Marokko.

Yang diusir diantaranya pekerja dari yayasan sosial, kemanusian, guru dan juga businessmen. Pemerintah hanya memberi dua jam waktu untuk meninggalkan tanah Marokko dan tanpa menyertakan surat legal deportasi kepada orang asing.

Jamaa Ait Bakrim (berusia 47 tahun), seorang Marokko yang berpindah ke Kristianiti,  telah dihukum penjara 15 tahun. Ia sudah terpenjara selama 6 tahun (sejak 2005).  Rachid (nama samaran) seorang Marokko Kristen lainnya, pembicara dari TV Kristen berbahasa arab yang terkenal Al Hayat Television berkata tentang Jamaa: “Dia menjadi Kristen. Dia menceritakan imannya itu kepada orang-orang disekitar dia. Di Marokko, dan ini juga terjadi pada saya secara pribadi, jika engkau menjadi Kristen kamu kemungkinan dianiaya oleh keluargamu, Jika kamu pegang itu untuk dirimu sendiri, tidak ada orang yang akan mengganggu kamu. Jika kamu menceritakan itu kepada orang lain dan mulai berbicara tentang itu (iman Kristen), itu adalah masalah lainnya.”

Rachid telah melarikan diri dari negaranya, “Para saudara dan saudari Marokko kami menderita, dan kami hanya berharap sesuatu akan jadi OK. Mereka tidak akan berubah jika kita tidak membawa masalah ini ke perhatian internasional,” Rachid berkata.

Rachid memohon orang-orang Kristen di seluruh dunia terus lobby dan berdoa agar saudara dan saudari Marocco mereka berdiri teguh dan menambah kebebasan mereka.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Umar ‘Fidayee’ kisah remaja pembom bunuh diri yang gagal dan menyesal

“Dia berkata kepada saya bahwa semua pendidikan sekolah adalah tidak ada gunanya,” Umar bercerita tentang seorang Taliban, Qari Zafar, yang telah  membawa hidupnya ke dalam dunai Jihad, mengutip perkataan Qari: ”jadilah pejuang Islam dan kamu akan pergi ke Sorga.” Umar bercerita pada siaran TV Pakistan sementara berbaring di rumah sakit.

Peristiwa yang bersejarah yang merubah hidup pria remaja bernama Umar ‘Fidayee’ (sama artinya dengan Jihadist) terjadi pada hari Senin tanggal 4 April 2011, ia bersama Ismail (16 tahun) dan rekan pembom bunuh diri lainnya masuk ke dalam keramaian orang-orang Islam Sufi yang sedang berkunjung ke kuburan Syed Sakhi Sarwari di Dera Ghazi Khan, Pakistan. Mereka siap melakukan aksi teror mereka.

Umar Fidayee adalah satu ratusan remaja desa yang di latih untuk menjadi pembom bunuh diri atas nama “berjuang demi agama Islam” oleh sebuah kelompok Islam Taleban di Pakistan. Umar berasal dari sebuah desa kecil bernama Khat, tidak jauh dari kota Mir Ali. Kemiskinan, rendahnya pendidikan di tempat ia tinggal, dan ditambah kondisi keluarga yang berat  menjadikan Umar sasaran yang empuk untuk terjaring di dalam gerakan Taiban ini. Ayahnya, Akbar Khan meninggal  beberapa bulan sebelumnya pada operasi bom bunuh diri di Karachi.

Kepada kami dikatakan bahwa kami akan diselundupkan ke dalam Afganistan untuk membunuh para non-Islam. Namun mereka membawa saya ke Dera Ghazi Khan. ”Tidak ada orang-orang kafir di sini,” Umar berkata kepada para Taliban senior. Dijawab, ”Orang-orang ini [para Islam Sufi] adalah lebih buruk dari para kafir.” Dan Umar diperintahkan untuk menarik tali bom pinggangnya 30 menit setelah dua bom lainya meledak, supaya menghasilkan korban yang semaksimal mungkin.

Setelah dua bom meledak, dan sekarang giliran  Umar untuk meledakkan bom yang terikat pada pinggagnya. Umar gagal, dalam keadaan panik oleh karena kegagalan tersebut ia berusaha untuk meledakan granat tangan, granat ini meledak dan menghancurkan sebuah tanganya. Polisi yang melihat kejadian ini segera menembak tangan Umar yang sebelah lagi.  Serangan bom bunuh diri tanggal 4 April ini membunuh 50 orang, Dan Umar di amankan oleh polisi.

Dalam pengakuannya kepada media, ia berkata: “350 sampai 400 pembom bunuh diri sedang dalam latihan di Mir Ali, di utara Waziristan. “Saya dilatih selama dua bulan dan melihat banyak remaja-remaja pria dari berbagai kebangsaan (Uzbek, Tazikkhan, Arab) ada juga dilatih di tempat tersebut.” Warziristan diketahui sebagai satu pusat pertahan Taliban dan al-Qaida.

Umar dengan nada menyesal dan meminta maaf kepada keluarga yang anggotanya telah terbunuh dan terluka, ”Elohim telah memberi saya kehidupan yang baru, tetapi saya sedih bahwa kami telah membunuh orang-orang dan anak-anak yang tidak bersalah.”

Lebih dari 4200 orang telah terbunuh di Pakistan oleh serangan Taliban dan kelompok Islam lainnya sejak tentara pemerintah Pakistan menyerbu sebuah mesjid yang dipakai oleh Islam radikal di Islamabad pada Juli 2007.

Perkataan Yeshua ini tepat untuk remaja Umar dari Pakistan di atas:

Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal.  (Injil Matius 18:8)

Pembunuhan kepada sesama manusia tidak akan pernah dibenarkan oleh Elohim, terlebih jika itu disertai kesombongan dan kebencian. Pembunuhan atas nama agama adalah tipuan Iblis yang paling jahat dan merusak bagi kehidupan manusia.

Disadur dari:   

  1. ‘400 Pakistan suicide bombers in training’ 
  2. A teenage boy in Pakistan has warned that 400 suicide bombers are being prepared in a war against authorities. 
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja
 

Film MALATYA, Cerita para martir pertama dari Jemaat Turkey modern

Film dokumentasi yang bersumber dari kisah nyata di kota Malatya, Turkey. Pada tanggal 18 April 2007, tiga laki-laki disiksa dan kemudian dibunuh di sebuah kantor  penyebaran Alkitab di Malatya, Turkey. Ketiga laki-laki tersebut adalah para pemimpin dari sebuah Jemaat dan pembunuh mereka adalah lima pemuda.

Turkey dan Yunani merupakan tempat lahirnya jemaat mula-mula untuk orang-orang bukan Yahudi dan Yahudi diperantauan. Jemaat ini dibangun  dari hasil pelayanan rasul Paulus dan Barnabas pada pertengahan abad pertama.

Film ini mendokumentasikan bagaimana Necati Aydin, 36, dan Ugur Yuksel, 32, and Tillmann Geske, 46, dibunuh secara brutal oleh karena memproklamirkan Yeshua Ha Mashiah adalah Raja segala raja dan Adonai (Master) segala adonai. Necati dan Ugur adalah dua diantara banyak orang-orang Islam Turkey modern yang berpindah ke Kristianiti, dan keduanya adalah martir Ha Mashiah untuk Turkey, mati karena iman Kristen mereka. Tillmann adalah orang Jerman.

Beberapa komentar setelah melihat film MALATYA:

  • “STUNNED AFTER VIEWING MALATYA, THE STORY OF THE FIRST MARTYRS OF THE MODERN TURKISH CHURCH”... Max Lucado
  • “Most Christians don’t have a clue what it means to be the confessing church in the heart of darkness..Malatya is a shattering wake-up call.” Tracy Groot, authur of “Madman”
  • “The Malatya film gives gritty, realistic, unassuming access into the lives of the widows and families, as well as the church-body that is still grieving in Turkey.” DesiringGod.org

Ketika polisi menyerbu gedung tempat pembunuhan, seorang pembunuh mencoba lari dengan melompa dari lantai ketiga ke jalan, membuat kakinya patah dan luka-luka di kepala, sementara empat lainnya tertangkap dengan pisau-pisau berdarah yang masih ada digenggaman tangan mereka.

Ketika salah satu tertuduh tertangkap, di depan polisi ia berkata: ”Kami tidak melakukannya untuk kami sendiri. Kami berbuat itu untuk agama (Islam) kami. Ini boleh menjadi pelajaran kepada para musuh Islam.” Cerita lengkap bisa dibaca di sini: Young Muslims in Turkey Murder Three Christians

Hasil persidangan terbaru menunjukkan bahwa motif utama pembunuhan ketiga pemimpin Jemaat Kristen tersebut adalah politik dalam negeri Turkey, menimbulkan ketidak stabilan untuk menumbangkan pemerintah sekuler (militer) yang saat itu berkuasa.

Penganiayaan di Turkey semakin kuat di bawah kepemimpinan partai politik yang baru ini.

Cerita serupa:
Christian Persecution in Turkey – CBN News

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Pakistan: Bom bunuh diri di kamp militer Mardan mematikan 23 orang.

Sebuah bom bunuh diri yang dilakukan oleh remaja berseragam sekolah mematikan 23 calon tentara dan beberapa luka-luk. Ledakan terjadi ketika para calon tentara ini sedang  menggali tanah di Kamp pelatihan militer Mardan profinsi Punjab. Peristiwa terjadi Kamis pagi waktu setempat. Media dan organisasi penyelamatan masyarakat dilarang keras masuk kamp militer ini untuk kejadian tersebut.

Tidak dikabarkan mengapa remaja berseragam sekolah ini bisa masuk ke dalam kamp militer.  Sumber: apakistannews.com

Sumber yang sama juga memberitakan bahwa rabu kemarin serangan beruntun tiga bom mobil telah terjadi pada sebuah bangunan keamanan di utara kota Kirkuk, Irak. 7 orang mati dan 75 luka-luka.  Bulan lalu, tanggal 27 Januari bom mobil di Bangdad menyerang kumpulan orang Shia yang sedang melakukan ibadah penguburan. Mematikan 48 orang (11 anak-anak) dan melukai 65 lainnya.

Susah untuk dipikirkan mengapa antar sekte yang berbeda di Islam saling membunuh, dan bahkan terjadi di antara sekte Sunni sendiri, seperti ledakan di Mardan ini. Apakah pihak penyerang berpikir bahwa dengan cara brutal tersebut mereka dapat menjadi pemimpin sebuah negara atau dunia?
Jika mereka akhirnya menjadi pemimpin negara dan bahkan dunia dengan cara tersebut, apakah mereka bisa membawa rakyat yang mereka pimpin menjadi lebih makmur dari sebelumnya?

Firman Elohim berkata: “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Luk 16:10)

Sangatlah mustahil bagi pemimpin berjiwa pembunuh untuk mampu memelihara dan membuat rakyat menjadi makmur jika mereka tidak dapat mengampuni dan mengasihi kelompok kecil lainnya yang berbeda paham dan cara hidup dengan mereka. Melihat kepada perkataan Yeshua Ha Mashiah di atas, maka kita tahu bahwa janji dan slogan pemimpin berjiwa pembunuh tersebut adalah hampa belaka atau hanyalah sekedar mimpi-mimpi utopia.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja.

Son of Hamas (Putra Hamas). Bab 9-12

Bab 9 – Persenjataan
Musim Dingin 1995 – Musim Semi 1996

Setelah Perjanjian Oslo, masyarakat internasional berharap Pemerintahan Palestina bisa mengontrol Hamas. Di hari Sabtu, 4 November, 1995, aku sedang menonton TV ketika laporan berita darurat tiba² diumumkan. Yitzhak Rabin ditembak ketika sedang kampanye perdamaian di Lapangan Raja² (Kings Square) di Tel Aviv. Tampaknya hal ini serius. Dua jam kemudian, penyiar mengatakan Yitzhak Rabin telah mati.

“Wow!” teriakku keras pada diri sendiri. “Ternyata orang Palestina mampu membunuh Perdana Menteri Israel! Ini seharusnya terjadi dari dulu.” Aku sangat senang atas kematiannya dan kerusakan yang diakibatkan pada PLO dan persetujuannya dengan Israel.

Lalu telepon berdering. Aku seketika mengenal suara orang di seberang. Orang itu adalah Yasser Arafat, dan dia ingin bicara dengan ayahku.

Aku mendengar saat ayah bicara di telepon. Dia tidak banyak bicara; sikapnya tetap ramah dan sopan, dan tampak setuju dengan apapun yang dikatakan Arafat di tempatnya.
“Aku mengerti,” kata ayah. “Selamat tinggal.” Lalu ayah berpaling padaku. “Arafat meminta agar kita mencegah Hamas merayakan kematian sang Perdana Menteri,” katanya. “Pembunuhan ini adalah kehilangan besar bagi Arafat karena Rabin menunjukkan keberanian besar dalam melakukan perjanjian damai dengan PLO.”

Kami kemudian mengetahui bahwa Yitzhak Rabin ternyata tidak dibunuh oleh orang Palestina. Dia ditembak dari belakang oleh mahasiswa hukum Israel (Yigal Amir). Banyak anggota Hamas yang kecewa atas fakta ini. Aku sendiri heran bahwa ternyata ada fanatik Yahudi yang bertujuan sama dengan Hamas.

Pembunuhan ini membuat dunia semakin menuntut Arafat untuk mengontrol daerah Palestina. Maka dia lalu melancarkan serangan besar²an terhadap Hamas. Para polisi PA datang ke rumah kami, meminta ayah untuk mempersiapkan diri, dan membawanya untuk ditawan di tempat tinggal Arafat. Arafat selalu memperlakukannya dengan rasa hormat dan keramahan terbaik.

Meskipun begitu, untuk pertamakalinya orang² Palestina memenjarakan sesama orang Palestina. Hal ini sungguh menyedihkan, tapi setidaknya mereka memperlakukan ayahku dengan hormat. Tidak seperti tawanan yang lain, ayah diberi kamar yang nyaman, dan Arafat kadangkala mengunjunginya untuk membicarkan berbagai masalah.

Tak lama kemudian semua pemimpin utama Hamas, dan juga ribuan anggotanya dimasukkan ke dalam penjara² Palestina. Banyak dari mereka yang disiksa saat interogasi. Sebagian bahkan mati. Tapi mereka yang berhasil menghindari penangkapan menjadi pelarian, dan terus melakukan serangan terhadap Israel.

Sekarang kebencianku jadi bercabang. Aku benci Pemerintah Israel dan Yasser Arafat, aku benci Israel, dan aku benci orang² Palestina yang sekuler. Mengapa ayahku yang cinta Allâh dan masyarakatnya harus sangat menderita, sedangkan orang² tak bertuhan seperti Arafat dan PLO-nya diberi kemenangan besar oleh orang² Israel – padahal Qur’an menyebut para Yahudi ini sebagai babi dan monyet? Masyarakat internasional bertepuk tangan memuji Israel karena mengakui hak teroris Arafat dan anteknya untuk eksis.
Aku berusia 17 tahun dan hanya beberapa bulan saja sebelum lulus SMA. Setiap kali aku mengunjungi ayah di penjara atau membawa makanan dari rumah dan hal lain yang menyenangkan dirinya, dia berpesan padaku, “Satu²nya hal yang harus kau lakukan adalah lulus ujian. Fokus pada sekolahmu. Jangan khawatir akan diriku. Aku tidak mau pendidikanmu terganggu.” Tapi hidup sudah tak bermakna lagi bagiku. Aku tidak bisa berpikir apapun selain bergabung dengan sayap militer Hamas dan membalas dendam pada Israel dan Pemerintah Palestina. Aku mengenang segala sesuatu yang telah kulihat dalam hidupku. Apakah semua perjuangan dan pengorbanan akan berakhir seperti ini, dalam perjanjian damai murahan dengan Israel? Jikalau aku mati berperang, setidaknya aku akan mati syahid dan masuk surga.

Ayahku tidak pernah mengajarku untuk membenci, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menghindari perasaan itu. Meskipun dia dengan penuh semangat menentang pendudukan, dan meskipun kupikir dia tidak akan ragu memerintahkan pemboman nuklir terhadap Israel jika dia memiliki bom tersebut, dia tidak pernah menjelek-jelekkan orang Yahudi, tidak seperti yang sering dilakukan para pemimpin Hamas rasis. Dia lebih tertarik pada elohim Qur’an daripada politik. Allâh telah memberi kami tanggung jawab untuk melenyapkan bangsa Yahudi, dan ayahku tidak mempertanyakan perintah itu, meskipun dia secara pribadi tidak punya masalah dengan mereka.

“Bagaimana hubunganmu dengan Allâh?” tanya ayah setiap kali aku menemuinya. “Apakah kau sholat hari ini? Meluangkan waktu baginya?” Dia tidak pernah berkata, “Aku ingin kau menjadi mujahid (pejuang gerilya) yang baik.” Pesannya padaku sebagai anak laki sulungnya selalu saja, “Berbuatlah baik terhadap ibumu, Allâh, dan masyarkatmu.”

Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa begitu penuh belas kasih dan pemaaf, bahkan terhadap para prajurit yang berkali-kali datang untuk menangkapnya. Dia memperlakukan mereka bagaikan anak². Ketika aku membawa makanan baginya di pusat PA, dia seringkali mengajak para penjaga untuk bergabung bersama kami dan makan makanan daging dan nasi yang khusus dimasak ibu. Beberapa bulan kemudian, para penjaga PA juga mengasihi ayahku. Sungguh mudah bagiku untuk mencintai ayah, tapi dia juga adalah orang yang sungguh sukar dimengerti.

Dengan penuh kemarahan dan nafsu balas dendam, aku mulai mencari senjata². Meskipun senjata tersedia di daerah kami saat itu, harganya sangat mahal, dan aku hanyalah pelajar SMA miskin yang tak berduit. Ibrahim Kiswani adalah teman kelas yang berasal dari desa di sebelah Yerusalem. Dia pun punya minat yang sama denganku dan dia berkata bahwa dia bisa menyediakan uang yang kami butuhkan – meskipun tidak cukup untuk beli senapan otomatis, tapi cukup untuk beli sebuah pistol. Aku bertanya pada saudara sepupuku Yousef Daud di mana aku bisa beli pistol.

Yousef dan aku tidaklah terlalu akrab, tapi aku tahu dia punya beberapa koneksi.
“Aku punya dua teman di Nablus yang mungkin bisa menolong,” katanya padaku. “Apa yang ingin kau lakukan dengan senjata itu?”
“Setiap keluarga punya senjata,” kataku berbohong. “Aku ingin melindungi keluargaku.”
Tapi ini bukan sepenuhnya bohong. Ibrahim tinggal di desa di mana setiap keluarga memang punya senjata untuk bela diri, dan dia bagaikan saudara dekat bagiku.
Selain karena ingin balas dendam, kupikir sebagai remaja tentunya menyenangkan untuk punya pistol. Aku tidak lagi tertarik dengan sekolah. Buat apa pergi ke sekolah di negara gila ini?
Akhirnya di suatu sore aku dihubungi per telepon oleh saudara sepupu Yousef.
“Oke, kita akan pergi ke Nablus. Aku tahu seseorang yang bekerja bagi pasukan keamanan PA. Kupikir dia bisa memberi kita sebuah pistol,” katanya.

Ketika kami tiba di Nablus, seseorang menemui kami di pintu rumah kecil dan membawa kami masuk. Di dalam rumah dia memperlihatkan senapan² mesin Swedia Carl Gustav M45 dan sebuah Port Said, jenis senjata serupa versi Mesir. Dia membawa kami ke tempat terpencil di pegunungan dan menunjukkan pada kami bagaimana menggunakan senjata² itu. Ketika dia bertanya apakah aku ingin mencoba, jantungku berdebar-debar. Aku tidak pernah menembak dengan sebuah senapan mesin sebelumnya, dan tiba² aku merasa takut.

“Tidak, aku percaya kamu,” kataku padanya. Aku beli dua buah senapan Gustav dan sebuah pistol dari orang itu. Aku menyembunyikan senjata² ini di pintu mobil, menaburi merica hitam di atasnya agar anjing² polisi Israel tidak berminat menciumnya di pos² penjagaan.

Sewaktu sedang menyetir mobil kembali ke Ramallah, aku menelpon Ibrahim.
“Hey, aku udah dapet barangnya, lho!”
“Benar begitu?”
“Iya, benar.”

Kami tahu sebaiknya tidak menggunakan kata² seperti pistol² atau senjata² karena kemungkinan telepon disadap Israel. Kami lalu berjanji bertemu di suatu tempat di mana Ibrahim lalu mengambil “barang²nya” dan kami lalu pisah.
Saat itu adalah musim semi 1996, dan aku baru saja berusia 18 tahun, dan sekarang bersenjata.

******************

Di suatu malam, Ibrahim menelponku, dan aku bisa mengetahui dari suaranya bahwa dia sangat marah.
“Senapan² mesinnya tidak berfungsi!” dia berteriak ke telepon.
“Ngomong apa sih kau?” aku berkata balik, berharap tiada yang mendengar percakapan kami.
“Senapan²nya tidak bisa dipakai,” dia mengulangi lagi, “Kita ditipu!”
“Aku tidak bisa bicara sekarang,” kataku padanya.
“Baik, tapi aku ingin bertemu denganmu malam ini.”
Ketika dia tiba di rumahku, aku seketika mengecamnya.
“Kau gila ya ngomong seperti itu di telepon?” kataku.
“Aku tahu, tapi senapan² mesinnya tidak berfungsi. Pistolnya sih oke, tapi senapan²nya tidak bisa digunakan untuk menembak.”
“Baiklah, senapan² itu tak bisa dipakai. Tapi apakah kau tahu cara menggunakannya dengan benar?”

Dia meyakinkan aku bahwa dia tahu benar bagaiman menggunakan senjata² tersebut, jadi aku berkata akan mengurus masalah itu. Karena ujian akhir SMA tinggal dua minggu lagi, aku sebenarnya tidak punya waktu. Meskipun demikian aku berjanji untuk membawa senjata² kembali pada Yousef.
“Wah, payah nih,” kataku pada Yousef ketika bertemu dengannya. “Pistolnya sih berfungsi dengan baik, tapi senapan² mesinnya tidak. Telepon temanmu di Nablus agar kami setidaknya bisa mendapat kembali uang kami.” Dia berjanji untuk mencoba.

Di keesokan harinya, saudara lakiku Sohayb memberitahu kabar menegangkan. “Pasukan keamanan Israel datang ke rumah tadi malam, mencari dirimu,” katanya dengan suara yang khawatir. Pikiranku pertama adalah, Kami kan belum membunuh siapapun! Aku ketakutan, tapi juga merasa penting karena tampaknya aku mulai dianggap berbahaya oleh pihak Israel. Ketika aku menjenguk ayahku kemudian, dia sudah mendengar bahwa prajurit² Israel mencari diriku.
“Apakah yang terjadi?” katanya tajam. Aku memberitahu apa yang terjadi dengan jujur, dan dia jadi sangat marah. Melalui kemarahannya, aku bisa melihat dengan jelas bahwa dia sebenarnya kecewa dan khawatir.
“Ini sangat serius,” dia memperingatkan aku. “Mengapa kau sampai mendapatkan masalah seperti ini? Kau seharusnya mengurus ibumu, adik² laki dan perempuanmu, dan bukannya lari dari pihak Israel. Tidakkah kau mengerti bahwa mereka akan menembakmu?”

Aku pulang, dan mulai mengepak pakaian dan buku² sekolah, dan meminta pelajar² Persaudaraan Muslim untuk menyembunyikan diriku sampai aku bisa mengikuti ujian akhir dan tamat SMA. Ibrahim ternyata tidak mengetahui keseriusan keadaan. Dia terus meneleponku, bahkan juga ke ponsel ayahku.
“Apa sih yang terjadi? Ada apa denganmu? Aku berikan semua uangku. Aku minta uang itu kembali.”

Aku beritahu dirinya bahwa pasukan keamanan telah mengunjungi rumahku, dan dia mulai berteriak-teriak dan tak berhati-hati lagi dengan kata²nya di telepon. Aku cepat² mematikan telepon sebelum dia bisa membahayakan dirinya lebih lanjut. Tapi keesokan harinya, IDF muncul di rumahnya, menggeledah, dan menemukan pistol itu. Mereka segera menangkapnya.  Aku merasa sangat putus asa. Aku percaya pada orang yang salah. Ayahku dipenjara, dan dia kecewa akan diriku. Ibuku sangat khawatir akan diriku. Aku harus menghadapi ujian akhir. Dan sekarang aku dicari-cari prajurit Israel.   Bagaimana mungkin keadaan bisa jadi lebih jelek daripada sekarang?

Bab 10 – Rumah Jagal
1996

Meskipun aku mencoba untuk berhati-hati, pasukan keamanan Israel berhasil melacakku. Mereka telah menyadap percakapan teleponku dengan Ibrahim. Sekarang beginilah nasibku, diborgol dan ditutup mata, dijejalkan ke bagian belakang Jeep, sambil berusaha menghindar sodokan popor senapan sebisa mungkin.

Akhirnya Jeep itu berhenti. Rasanya perjalanan berlangsung berjam-jam. Pengikat tangan terasa menusuk tajam ke pergelangan tanganku sewaktu prajurit menarik lenganku untuk berdiri dan mendorongku naik tangga. Aku sudah tidak merasakan apapun pada tanganku. Di sekitarku, aku mendengar suara orang² bergerak dan berteriak dalam bahasa Ibrani.

Aku dibawa masuk ke sebuah ruangan kecil di mana pengikat tangan dan mataku dibuka. Sambil memicingkan mata karena silau cahaya lampu, aku berusaha melihat keadaan. Kecuali sebuah meja kecil di sudut, ruangan itu kosong. Aku menduga-duga apakah yang nanti dilakukan para prajurit itu padaku. Interogasi? Pemukulan lagi? Siksaan? Aku tidak perlu menduga terlalu lama. Hanya dalam beberapa menit saja, seorang prajurit muda membuka pintu. Dia mengenakan cincin pada hidungnya, dan dia bicara dengan aksen Rusia. Dia adalah prajurit yang telah memukuliku di belakang Jeep. Sambil mencekal lenganku, dia menggiringku melalui koridor yang panjang dan berliku, dan akhirnya masuk ke ruang kecil. Tampak peralatan pengukur tekanan darah, monitor, komputer, dan TV kecil di atas sebuah meja tua. Bau yang memuakkan menerjang hidungku sewaktu aku masuk ruangan, sehingga rasanya mau muntah lagi.

Seorang lelaki memakai baju dokter masuk ruangan, dan dia tampak lelah dan murung. Dia tampak heran melihat muka dan mataku yang babak belur, yang sekarang sudah membengkak dua kali dari ukuran asli. Tapi andaikata dia mengkhawatirkan keadaanku, hal itu tak tampak sama sekali. Aku telah melihat dokter binatang yang lebih berbelas kasihan pada binatang yang diperiksanya daripada dokter yang sekarang memeriksaku.

Seorang penjaga berbaju polisi masuk. Dia membalikkan tubuhku, memasang kembali pengikat tangan, dan memasang penutup seluruh kepala berwarna hijau di kepalaku. Sekarang aku tahu sumber bau busuk itu. Penutup kepala itu baunya seperti belum pernah dicuci. Aromanya berasal dari gigi yang tak pernah digosok dan bau mulut ratusan tawanan yang mengenakannya. Aku berusaha menahan napas. Tapi setiap kali aku menarik napas, aku menghisap kain busuk itu ke dalam mulutku. Aku jadi panik dan tercekik tapi aku tidak bisa bebas dari kain penutup itu.

Penjaga memeriksa diriku, mengambil semuanya, termasuk sabuk dan tali sepatu. Dia mencekal penutup kepalaku dan menyeretku melalui koridor lagi. Belok kanan. belok kiri. Kanan. Kanan lagi. Aku tidak tahu sedang berada di mana dan kemana aku dibawa.

Akhirnya kami berhenti dan kudengar dia mengeluarkan kunci. Dia membuka pintu yang terdengar berat dan tebal. “Tangga,” katanya. Dan aku menuruni beberapa anak tangga. Melalui penutup kepala aku bisa melihat sinar yang berkejap, yang biasanya kau lihat di sirine mobil polisi.

Penjaga menarik lepas penutup kepala, dan aku aku berdiri di hadapan baris gorden. Di sebelah kanan aku melihat keranjang penuh penutup kepala. Kami menunggu beberapa menit sampai akhirnya suara dari balik gorden mengijinkan kami masuk. Penjaga memasang borgol di pergelangan kakiku dan menutupi kepalaku dengan penutup kepala lain. Dia lalu menarik bagian depannya sehingga aku turut maju menembus gorden.

Udara dingin menyembur dari lubang udara, dan musik terdengar keras dari arah lain. Koridor ini tentunya sempit sekali karena tubuhku kerap membentur tembok di sebelah kanan dan kiri. Aku merasa pusing dan lelah. Akhirnya kami berhenti lagi. Penjaga itu membuka pintu dan mendorong aku masuk. Dia melepaskan penutup kepala dan pergi, sambil mengunci pintu yang berat di belakangnya.

Aku melihat sekeliling, mengamati keadaan sekitar. Sel ini berukuran 6 kaki persegi (sekitar 2 meter persegi) – cukup untuk sebuah matras kecil dan dua buah selimut. Orang yang dulu tinggal di sini telah menggulung selimut menjadi bantal. Aku duduk di atas matras; rasanya lengket dan baunya seperti penutup kepala. Aku tutup hidungku dengan lengan bajuku, tapi lengan bajuku tercemar muntahanku. Sebuah lampu redup tergantung di atap langit, tapi tak ada tombol untuk mematikan atau menyalakannya. Celah kecil di pintu adalah satu²nya jendela di ruangan itu. Udara terasa sesak, lantai basah, dan tembok ditutupi lumut. Serangga merayap di mana². Semuanya terasa busuk, kotor, dan jelek.

Aku duduk di tempat itu untuk waktu yang lama, tidak tahu harus berbuat apa. Aku ingin buang air dan lalu berdiri menggunakan toilet karatan di sudut ruangan. Aku tekan handel untuk menyiram dan aku langsung menyesal. Kotoran bukannya masuk lubang, tapi air malahan meluap mengotori lantai, membuat matras basah.

Aku duduk di satu²nya sudut yang masih kering di ruangan itu dan mencoba berpikir. Benar² tempat yang menjijikan untuk bermalam! Mataku berdenyut-denyut dan terasa panas. Sukar bernapas di ruangan itu. Rasa panas sel sungguh tak tertahankan, dan bajuku yang penuh keringat melekat erat pada tubuhku.

Aku tidak makan dan minum sejak minum susu kambing di rumah ibu. Sekarang bau muntah susu itu melumuri semua baju dan celanaku. Terdapat sebuah pipa menjulur di dinding. Aku putar handelnya dengan harapan air akan keluar. Tapi yang keluar adalah cairan kental berwarna coklat.

Jam berapa sekarang? Apakah mereka akan meninggalkanku di sini sepanjang malam?
Kepalaku berdenyut-denyut. Aku tahu aku tidak akan bisa tidur. Yang bisa kulakukan hanyalah berdoa pada Allâh saja.
Lindungi aku, begitu pintaku. Selamatkan aku dan segera bawa aku kembali kepada keluargaku.
Melalui pintu baja tebal, aku bisa mendengar suara musik yang keras dari jarak jauh – lagu yang sama diulang-ulang terus-menerus. Aku mendengar lirik lagu untuk membantuku menghabiskan waktu.

‘They sentenced me to twenty years of boredom
(mereka menghukum aku 20 tahun penuh kebosanan)
For trying to change the system from within
(Karena mencoba mengubah sistem dari dalam)
I’m coming now, I’m coming to reward them
(Sekarang aku datang, aku datang untuk membalas mereka)
First we take Manhattan, then we take Berlin
(Pertama-tama kita ambil Manhattan, lalu Berlin)
[4]
[4] Leonar Cohen, “First We Take Manhattan” copyright @ 1988 Leonar Cohen, Stranger Music, Inc..

Dari jauh kudengar banyak pintu dibuka dan ditutup. Perlahan suara mendekat. Lalu seseorang membuka pintu selku, sebuah nampan biru didorong masuk, dan lalu pintu ditutup keras lagi. Aku melihat nampan yang sekarang berada di atas isi jamban yang tadi meluap. Di atas nampan itu terdapat sebutir telur rebus, sepotong roti, sesendok yougurt yang berbau masam, tiga butir zaitun, dan air dalam cangkir plastik. Ketika aku hendak meminum air itu, aku mencium baunya yang aneh. Aku minum sedikit dan lalu menggunakan air untuk mencuci tanganku. Aku makan semua yang ada di nampan, tapi aku masih lapar. Apakah ini sarapan pagi? Jam berapakah sekarang? Mungkin sore hari.

Ketika aku sedang berbaring memikirkan berapa lama aku berada di situ, pintu sellku dibuka. Seseorang – atau sesosok makhluk – berdiri di situ. Apakah dia itu manusia? Tubuhnya pendek, tampak setua 75 tahun, dan kelihatan seperti kera besar yang bungkuk. Dia berteriak padaku dengan aksen Rusia, mengutuk aku, mengutuk Allah, dan meludahi wajahku. Aku tidak bisa membayangkan hal yang lebih jelek lagi.

Rupanya makhluk ini adalah penjaga penjara karena dia lalu menyodorkan penutup kepala lagi dan memerintahkan aku untuk mengenakannya. Lalu dia menarik bagian muka penutup kepala dan menyeretku dengan kasar di sepanjang koridor. Dia membuka pintu sebuah kantor, mendorong aku masuk, dan memaksa aku duduk di sebuah kursi kecil yang rendah; kursi ini seperti kursi anak² di kelas SD. Kursi itu disekrup di lantai.

Dia memborgol tanganku, satu lengan diantara kaki² kursi dan lengan satunya lagi di bagian luar kursi. Lalu dia memborgol kakiku juga. Kursi kecil itu miring sehingga memaksaku membungkuk ke muka. Tidak seperti sellku, ruangan ini sangat dingin. Aku kira AC-nya dipasang di suhu beku.

Aku duduk di sana berjam-jam, gemeteran karena dingin yang menusuk, duduk miring menyakitkan, dan tak mampu bergerak ke posisi yang lebih nyaman. Aku mencoba bernapas sedikit melalui penutup kepala berbau busuk ini. Aku merasa lapar, lelah, dan mataku basih bengkak dengan darah.

Pintu dibuka dan seseorang menarik lepas penutup kepalaku. Aku heran melihat orang itu ternyata orang sipil dan bukan prajurit atau penjaga. Dia duduk di sisi meja. Kepalaku terletak sama tinggi dengan dengkulnya.
“Siapa namamu?” tanyanya.
“Aku Mosab Hassan Yousef.”
“Apakah kau tahu sedang berada di mana?”
“Tidak.”

Dia menggelengkan kepala dan berkata, “Sebagian orang menyebut tempat ini sebagai Malam Kelam. Yang lain menyebutnya sebagai Rumah Jagal. Kau dalam masalah besar, Mosab.”

Aku mencoba untuk tidak menunjukkan emosi apapun, mataku fokus memandang noda di dinding yang terletak di belakang kepala orang itu.
“Bagaimana keadaan ayahmu di penjara PA?” dia bertanya. “Apakah dia lebih senang berada di sana daripada di penjara Israel?”
Aku mengubah posisi dudukku sedikit, sambil tetap membisu.
“Apakah kau tahu bahwa inilah tempat yang sama ketika ayahmu pertama kali ditangkap?”

Jadi ternyata aku berada di: Pusat Tahanan Maskobiyeh di Yerusalem. Ayahku telah memberitahu aku tentang tempat ini. Dulu, tempat ini digunakan sebagai gereja Rusia Ortodox, dan sudah berdiri selama 6000 tahun. Pemerintah Israel merubahnya menjadi fasilitas keamanan ketat yang mencakup pusat² Kepolisian, kantor², dan pusat interogasi Shin Bet.

Gambar: Pusat Tahanan Maskobiyeh di Yerusalem. Gedung ini adalah bekas gereja Rusia Orthodox yang diubah Pemerintah Israel jadi Pusat Keamanan dan Penjara.  Daerah ini merupakan salah satu daerah tertua di Yerusalem.

Di ruang bawah tanah yang dalam adalah penjara yang gelap, kotor, hitam, mirip dengan ruang tahanan di jaman abad pertengahan yang sering kau lihat di film. Moskabiyeh memiliki reputasi yang sangat jelek.

Sekarang aku harus mengalami hukuman yang sama yang dialami ayahku. Ini adalah orang² yang sama yang telah memukuli dan menyiksa dia bertahun-tahun yang lalu. Mereka menghabiskan banyak waktu berurusan dengannya, dan mereka sangat kenal ayahkku. Mereka juga gagal mendapatkan keterangan apapun dari ayah. Dia tetap tegar dan bahkan menjadi lebih tegar lagi.
“Katakan padaku mengapa kau berada di sini.”
“Aku tak tahu.”
Perkiraanku, tentu saja ini karena aku membeli senjata² rusak yang tidak bisa dipakai. Punggungku terasa membara. Interogator mengangkat daguku.

“Kau mau jadi setegar ayahmu? Kau sungguh tak tahu apa yang menunggumu di luar ruangan ini. Katakan padaku tentang Hamas! Rahasia apa yang kau ketahui? Katakan padaku tentang gerakan pelajar Islam! Aku ingin tahu segalanya!”

Apakah dia benar² mengira aku ini begitu berbahaya? Aku sungguh tak percaya. Tapi, semakin lama kupikir, aku lalu menyadari bahwa memang begitulah yang dirasakannya. Dari sudut pandangnya, fakta bahwa aku ini adalah putra Syeikh Hassan Yousef yang membeli senapan² otomatis tentunya sudah cukup untuk merasa curiga padaku. Orang² memenjarakan dan menyiksa ayahku dan sekarang akan menyiksaku. Apakah mereka benar² percaya bahwa semua ini akan membuatku menyerah? Sudut pandangku sangatlah berbeda. Masyarakat kami sedang berjuang bagi kemerdekaan, bagi tanah kami.

Ketika aku tak menjawab pertanyaannya, orang itu menghantam meja dengan kepalan tangannya. Lagi, dia mengangkat daguku.
“Aku akan pulang istirahat bersama keluargaku. Silakan bersenang-senang di sini.”
Aku duduk di kursi itu selama berjam-jam, masih membungkuk ke depan dengan posisi tak nyaman. Akhirnya seorang penjaga masuk, membuka borgol tangan dan kaki, memasang kembali penutup kepala, dan menyeretku berjalan melewati koridor lagi. Suara Leonard Cohen terdengar semakin keras.

Kami berhenti, dan penjaga membentakku untuk duduk. Sekarang suara musik sungguh memekakkan telinga. Sekali lagi, tangan dan kakiku diborgol di kursi pendek yang bergetar akibat hentakan musik “First we take Manhattan, then we take Berlin!

Otot²ku terasa kejang karena udara dingin dan posisi duduk yang tak nyaman. Juga sukar bernapas dalam penutup kepala. Akan tetapi sekarang aku tahu bahwa aku tidaklah sendirian. Meskipun suara Leonar Cohen sangat keras, aku bisa mendengar rintihan orang² yang menderita kesakitan.
“Ada orang di sini?” aku berteriak melalui kerudung kepalaku yang berminyak.
“Siapa kau?” terdengar balasan teriakan suara berjarak dekat.
“Aku Mosab.”
“Berapa lama kau berada di sini?”
“Dua hari.”

Dia tak berkata apapun selama dua menit.
“Aku telah duduk di kursi ini selama tiga minggu,” akhirnya dia berkata.

“Mereka membiarkan aku tidur selama empat jam setiap minggu.” Aku terkejut. Ini tentunya bukan kabar yang ingin kudengar. Orang lain mengatakan dia ditangkap di saat yang sama dengan penangkapanku. Kuperkirakan ada dua puluh orang di ruangan itu.

Percakapan kami terhenti tiba² tatkala seseorang memukul bagian belakan kepalaku keras². Rasa sakit menyengat seluruh kepalaku, memaksaku mataku bekerjap air mata kesakitan di balik kerudung kepala.

“Jangan bicara!” bentak penjaga.  Setiap menit terasa bagaikan sejam, tapi aku tidak tahu lagi bagaimana rasanya sejam itu. Duniaku terasa berhenti. Di luar, aku tahu orang² bangun dan pergi bekerja, dan kembali ke rumah bertemu keluarga mereka. Teman² kelasku sedang belajar untuk menghadapi ujian akhir. Ibuku sedang masak, mencuci, memeluk, dan menciumi adik² laki dan perempuanku. Tapi di ruangan ini, semuanya duduk. Tiada seorang pun yang bergerak.

First we take Manhattan, then we take Berlin. First we take Manhattan, then we take Berlin. First we take Manhattan, then we take Berlin. First we take Manhattan, then we take Berlin.

Beberapa orang di sekitarku melolong menangis, tapi aku bertekad untuk tidak menangis. Aku yakin ayahku tidak pernah menangis. Dia kuat. Dia tidak menyerah.
Shoter! Shoter! (Penjaga! Penjaga!), salah seorang dari kami berteriak. Tiada yang menjawabnya karena musik begitu keras. Akhirnya, sang penjaga datang.
“Mau apa kamu?”
“Aku ingin buang air. Aku harus buang air!”
“Tidak boleh. Sekarang bukan waktu buang air.”
Dan dia lalu pergi.
“Shoter! Shoter!” orang ini menjerit.
Setengah jam kemudian, penjaga kembali. Orang yang berteriak berlaku liar. Sambil memaki orang itu, sang penjaga melepaskan borgol dan menyeretnya keluar. Beberapa menit kemudian, dia membawa orang itu kembali, memborgolnya lagi di kursi kecil, dan lalu pergi.
“Shoter! Shoter!” teriak yang lainnya.
Aku lelah dan merasa mual. Leherku sangat pegal. Aku tidak pernah menyadari sebelumnya betapa berat kepalaku. Aku mencoba menyenderkan kepalaku ke tembok di sebelahku. Tapi begitu aku hampir tertidur, penjaga datang dan memukul kepalaku untuk membangunkanku. Tampaknya satu²nya pekerjaannya adalah membuat kami tetap bangun dan diam. Aku merasa bagaikan dikubur hidup² dan sedang disiksa oleh malaikat maut Munkar dan Nakir setelah memberi jawaban pertanyaan yang salah.

Tentunya sudah pagi hari ketika aku mendengar penjaga berjalan bolak-balik. Dia melepaskan borgol kaki dan tangan tahanan dan menggiring orang itu keluar. Setelah beberapa menit, dia membawa orang itu kembali, memborgolnya lagi di kursi kecil, dan pergi ke orang berikutnya untuk melakukan hal yang sama. Akhirnya, dia tiba di giliranku.

Setelah membuka borgolku, dia menarik penutup kepalaku dan membawaku melalui koridor. Dia membuka pintu sel dan menyuruhku masuk. Ketika dia membuka kerudung kepala, aku bisa melihat bahwa dia ternyata orang tua bungkuk yang mirip kera besar yang dulu memberiku makan pagi. Dia mendorong nampan biru bersisi telor rebus, roti, yogurt, dan buah zaitun padaku dengan kakinya. Air comberan setinggi setengah inci menutupi lantai dan tersiram memenuhi nampan. Aku lebih baik mati kelaparan daripada makan makanan itu.
“Kau punya waktu dua menit untuk makan dan menggunakan jamban,” katanya padaku.

Yang kuinginkan hanyalah merenggangkan tubuh, berbaring, dan tidur, barang dua menit saja. Tapi aku hanya berdiri saja, dan waktu berlalu dengan cepatnya.
“Keluar! Keluar!”
Sebelum aku sempat berbuat apapun, penjaga telah menarik penutup kepalaku lagi, menggiring aku kembali ke ruangan di mana aku diborgol di kursi kecil lagi.
First we take Manhattan, then we take Berlin!

Bab 11 – Tawaran
1996

Sepanjang hari, pintu terbuka dan tertutup, sewaktu para tahanan ditarik penutup kepalanya untuk menghadapi pemeriksa yang satu ke pemeriksa yang lain. Dilepas borgol, diborgol lagi, ditanyai, dipukuli. Kadangkala pemeriksa mengguncang keras tahanan. Biasanya hanya dibutuhkan sepuluh kali guncangan sebelum akhirnya tahanan pingsan. Dilepas borgol, diborgol lagi, ditanyai. Pintu² dibuka dan pintu² ditutup.

Setiap pagi kami dibawa keluar untuk makan makanan di atas nampan biru, dan beberapa jam kemudian, kami diberi makan malam di atas nampan oranye. Jam demi jam. Hari demi hari. Makan pagi di atas nampan biru. Makan malam di atas nampan oranye. Aku dengan cepat belajar untuk menunggu waktu makan. Ini bukannya karena aku ingin makan, tapi karena aku ingin mendapat kesempatan untuk berdiri tegak.

Di malam hari setelah kami semua diberi makan, pintu² berhenti dibuka dan ditutup. Para pemeriksa pulang. Kegiatan hari itu berakhir sudah. Dan mulailah malam panjang tak berkesudahan. Orang² menangis, melolong, dan berteriak-teriak. Mereka tidak lagi terdengar sebagai manusia normal. Sebagian malah tidak jelas lagi apa yang mereka ucapkan. Para Muslim mulai melafalkan ayat² Qur’an, memohon kekuatan pada Allâh. Aku berdoa pula, tapi aku tidak mendapat tambahan kekuatan. Aku berpikir tentang Ibrahim yang tolol dan senjata² sial dan tingkahnya yang ceroboh karena menelpon ponsel ayahku.

Aku berpikir tentang ayahku. Hatiku sakit ketika menyadari semua hal yang harus ditanggungnya saat dipenjara. Tapi aku tahu sifat ayahku dengan baik. Bahkan ketika disiksa dan dihina sekalipun, dia tetap menerima nasibnya dengan tabah dan pasrah. Dia bahkan mungkin berteman dengan penjaga² yang diperintahkan untuk memukulinya. Dia juga mungkin bertanya secara tulus pada mereka tentang keadaan keluarganya, latar belakangnya, dan kesukaan mereka.

Ayahku adalah contoh jelas kesederhanaan, kasih, dan pengabdian; meskipun tingginya hanya 170 cm., dia berdiri sama tinggi dengan siapapun yang pernah kukenal. Aku sangat ingin menjadi seperti ayahku, tapi aku tahu perjalananku masih sangat panjang.

Di suatu sore, kegiatan rutinku tiba² terhenti. Seorang penjaga datang dan melepaskan diriku dari kursi kecilku. Aku tahu saat itu belum waktu makan malam, tapi aku tak bertanya apapun. Aku merasa senang bisa pergi ke mana pun, bahkan ke neraka sekalipun, jika ini berarti aku bisa bangkit berdiri dari kursi itu. Aku dibawa ke sebuah kantor kecil di mana aku diborgol lagi, tapi kali ini pada kursi biasa. Seorang petugas Shin Bet masuk ruangan dan memperhatikan diriku dari atas sampai bawah. Meskipun rasa sakit tidak separah sebelumnya, tapi aku tahu mukaku penuh bekas luka dari pukulan popor prajurit.

“Bagaimana keadaanmu?” katanya. “Apa yang terjadi pada matamu?”
“Mereka memukulku.”
“Siapa?”
“Prajurit² yang membawaku ke sini.”
“Itu perbuatan yang dilarang. Itu melanggar hukum. Aku akan periksa untuk mengetahui mengapa ini terjadi.”

Dia tampak yakin pada diri sendiri dan bicara dengan lembut dan penuh hormat padaku. Aku berpikir apakah dia sedang melakukan siasat agar aku bicara padanya.
“Kau akan menghadapi ujian tak lama lagi. Mengapa kau berada di sini?”
“Aku tak tahu.”
“Tentu saja kau tahu. Kau tidak bodoh, dan kami juga tidak bodoh. Namaku adalah Loai, kapten Shin Bet di daerahmu. Aku tahu tentang semua keluargamu dan lingkungan tetanggamu. Dan aku tahu segalanya akan dirimu.”

Dan dia rupanya benar. Ternyata dia bertanggung jawab atas setiap orang di lingkungan perumahan kami. Dia tahu siapa bekerja di mana, siapa yang masih bersekolah, apa yang mereka pelajari, istri mana yang baru saja punya anak, dan tentunya juga tahu berapa berat bayi yang baru lahir. Pokoknya semuanya.
“Kau punya pilihan. Aku datang jauh² hari ini untuk duduk dan bicara denganmu. Aku tahu penyidik yang lain tidak ramah padamu.”
Aku melihat wajahnya dengan seksama, mencoba mengetahui apa maksudnya. Orang ini berkulit terang, berambut pirang, dan dia bicara dengan ketenangan yang belum pernah kudengar sebelumnya. Expresi wajahnya ramah, bahkan tampak peduli akan diriku. Aku berpikir apakah ini bagian dari siasat Israel: semenit sebelumnya memukuli tahanan, dan lalu di menit berikutnya mencoba berbaik hati padanya.

“Apa yang ingin kau ketahui?” tanyaku.
“Dengar, kau tahu mengapa kami membawa kamu kemari. Kau harus menjelaskan segalanya, apapun yang kau ketahui.”
“Aku tidak tahu kamu ini ngomong apa.”
“Baiklah, aku akan mempermudah penjelasan bagimu.”

Di sebuah papan tulis putih di belakang meja dia menulis tiga huruf: Hamas, senjata², dan organisasi.
“Silakan jelaskan padaku tentang Hamas. Apa yang kau ketahui tentang Hamas? Bagaimana posisimu dalam Hamas?”
“Aku tak tahu.”
“Apakah kau tahu tentang senjata² yang mereka miliki, datang dari mana, bagaimana mereka mendapatkannya?”
“Tidak tuh.”
“Apakah kau tahu tentang gerakan pemuda Islam?”
“Tidak.”
“Baiklah. Terserah padamu. Aku tak tahu harus bilang apa padamu, tapi kau jelas memilih jalan yang salah… Dapatkah aku membawa makanan bagimu?”
“Tidak. Aku tidak ingin apapun.”

Loai meninggalkan ruangan dan kembali beberapa menit kemudian dengan membawa sepiring nasi ayam dan semangkuk sup. Baunya enak sekali, membuat perutku berbunyi nyaring. Sudah jelas itu adalah makanan yang disediakan bagi para pemeriksa.
“Silakan, Mosab, makanlah. Tak perlu jadi bersikap tegar. Makanlah dan rilekslah sedikit. Kau tahu bahwa aku mengenal ayahmu dalam waktu yang lama. Ayahmu adalah orang yang baik. Dia bukanlah orang yang fanatik. Kami tak tahu mengapa kamu jadi bermasalah seperti ini. Kami tidak bisa mengijinkan siapapun menyakiti warga Israel. Kami telah cukup menderita sepanjang hidup kami, dan kami tidak akan bersikap lunak terhadap orang yang mencoba menyakiti warga kami.”
“Aku tidak pernah menyakiti orang Israel manapun. Malah kamu yang menyakiti kami. Kamu menangkap ayahku.”
“Ya. Dia adalah orang yang baik, tapi dia pun menentang Israel. Dia membujuk orang² untuk berperang melawan Israel. Itulah sebabnya kami memenjarakan dia.”

Aku dapat melihat bahwa Loai benar² yakin bahwa aku ini berbahaya. Aku tahu dari pembicaraan dengan orang lain yang telah ditawan di penjara² Israel bahwa biasanya orang² Palestina tidak selalu diperlakukan sekeras perlakuan mereka terhadapku. Mereka pun tidak diinterogasi selama yang dialami diriku.

Yang aku tak tahu adalah bahwa saat itu Hassan Salameh ditangkap di saat yang bersamaan dengan penangkapanku.

Salameh melakukan berbagai serangan sebagai balas dendam atas pembunuhan terhadap gurunya, si pembuat bom Yahya Ayyash. Ketika Shin Bet mendengar aku bicara dengan Ibrahim melalui ponsel ayahku tentang usaha mencari senjata, mereka mengira aku tidak bekerja seorang diri. Malah mereka lalu yakin aku direkrut Al-Qassam.
Akhirnya Loai berkata, “Inilah saat terakhir aku mengajukan tawaran bagimu, setelah itu aku akan pergi. Aku masih banyak kerjaan. Kau dan aku bisa memecahkan masalah saat ini juga. Kita bisa membuat persetujuan. Kau tidak perlu lagi mengalami interogasi lebih lanjut. Kau ini hanya anak muda, dan kau butuh pertolongan.”

Ya, aku memang ingin jadi orang yang berbahaya, dan aku punya akal yang berbahaya. Tapi sudah jelas bahwa aku tidak bisa menjadi radikal. Aku merasa lelah duduk di kursi kecil dan ditutup dengan kerudung yang bau. Agen rahasia Israel ini menganggap aku lebih penting daripada keadaanku yang sebenarnya. Maka aku pun menceritakan semua kejadian mencari senjata, tanpa menyampaikan niatku sebenarnya adalah membunuh orang² Israel. Aku berkata padanya bahwa aku membeli senjata² untuk menolong temanku Ibrahim melindungi keluarganya.

“Sekarang kalian memiliki senjata²?”
“Ya.”
“Di mana senjata² itu sekarang?”
Aku berharap senjata² itu ada di rumahku karena aku akan menyerahkannya dengan segala senang hati pada pihak Israel. Tapi sekarang aku harus melibatkan saudara sepupuku.
“Baiklah. Begini masalahnya. Seseorang yang tak ada hubungannya dengan hal ini menyimpan senjata² itu.”
“Siapa dia?”
“Sepupuku Yousef menyimpan senjata² itu. Dia menikah dengan wanita Amerika, dan sekarang baru punya seorang bayi.”
Aku berharap mereka akan membiarkan keluarga itu, dan hanya mengambil senjata² saja, tapi kenyataan lebih rumit daripada harapanku.
Dua hari kemudian, aku mendengar suara² di sebelah dinding selku. Aku merunduk mendekati pipa berkarat yang menghubungkan selku dengan sel sebelah.

“Halo,” panggilku. “Adakah orang di situ?”
Diam saja.
Dan lalu …
“Mosab?”
Apa?!! Aku tidak percaya pada kupingku sendiri. Ternyata itu adalah sepupuku!
“Yousef? Apakah itu kamu?”

Aku sangat senang mendengar suaranya. Hatiku berdebar-debar. Orang itu ternyata Yousef! Tapi dia lalu mulai mencaci-maki diriku.
“Mengapa kau melakukan hal itu? Aku kan baru punya bayi…”

Aku lalu mulai menangis. Aku begitu merindukan untuk bicara dengan manusia lain sewaktu dipenjara. Sekarang saudaraku sendiri duduk di balik tembok, dan dia memaki-maki diriku. Dan tiba² aku sadar: orang² Israel sedang mendengarkan kami; mereka sengaja menempatkan Yousef di sebelah selku agar mereka bisa mendengarkan percakapan kami dan mengetahui apakah aku mengatakan keterangan yang sebenarnya. Tak jadi masalah bagiku. Aku juga telah mengatakan pada Yousef dulu bahwa aku ingin punya senjata untuk melindungi keluargaku, karena itu aku tak khawatir.

Begitu Shin Bet mengetahui bahwa kisahku benar, mereka memindahkanku ke sel yang lain. Lagi² aku sendirian saja dalam selku. Saat itu aku merenungkan bagaimana aku telah membuat kacau kehidupan saudara sepupuku, bagaimana aku telah menyakiti keluargaku, dan bahwa aku telah menyia-nyiakan duabelas tahun bersekolah – dan semua ini gara² aku percaya dengan Ibrahim sialan itu!

Aku tinggal dalam sel itu selama beberapa minggu tanpa kontak dengan manusia lain. Penjaga memasukkan makanan dari lubang di bawah pintu tanpa pernah mengatakan apapun padaku. Aku bahkan mulai rindu akan Leonard Cohen. Aku tak punya bahan bacaan, dan satu²nya cara menghabiskan waktu adalah menunggu makanan yang disajikan di atas nampan berwarna. Tiada kegiatan apapun selalin berpikir dan berdoa.

Akhirnya suatu hari aku dibawa lagi ke sebuah kantor. Di situ Loai telah menunggu untuk berbicara denganku.
“Jika kau bersedia bekerja sama dengan kami, Mosab, maka aku akan melakukan segala yang bisa kulakukan agar kau tidak usah lagi dipenjara.”
Sesaat muncul harapan. Mungkin aku bisa mengakalinya agar dia mengira aku bersedia bekerja sama dengannya dan setelah itu dia akan mengeluarkan aku dari penjara.

Kami berbicara sedikit mengenai berbagai hal yang umum. Lalu dia berkata, “Bagaimana pendapatmu jika aku menawarkanmu untuk bekerja bagi kami? Para pemimpin Israel juga duduk bersama dengan para pemimpin Palestina. Mereka telah berkelahi dalam kurun waktu yang lama, dan di akhir hari mereka berjabatan tangan dan makan malam bersama.”
“Islam melarangku untuk bekerja bagimu.”
“Di satu saat, Mosab, bahkan ayahmu sendiri juga akan datang, dan duduk dan berbicara dengan kami dan kami akan berbicara dengannya. Marilah bekerja sama dan membawa perdamaian bagi masyarakat.”
“Apakah begini caramu membawa perdamaian? Kami membawa perdamaian dengan menghentikan pendudukan.”

“Tidak, kami membawa perdamaian melalui orang² yang berani melakukan perubahan.”
“Aku tidak setuju. Hal itu tidak ada gunanya.”

“Apakah kau takut dibunuh sebagai orang yang bekerja sama bagi Israel?”
“Bukan begitu. Setelah semua penderitaan yang kami alami, aku tidak akan pernah bisa duduk dan bicara denganmu sebagai seorang teman, apalagi bekerja bagimu. Aku tidak bisa melakukan itu. Hal itu bertentangan dengan segala yang kupercaya.”

Aku masih benci segalanya di sekitarku. Pendudukan. PA. Aku telah jadi radikal karena aku ingin menghancurkan sesuatu. Tapi dorongan melakukan itulah yang membuatku mengalami segala macam masalah. Saat ini aku berada di penjara Israel, dan sekarang pria ini memintaku untuk bekerja baginya. Jika aku berkata ya, aku tahu resiko bahaya yang akan kutanggung – dalam kehidupan saat ini dan di akherat.
“Oke. Aku perlu berpikir sejenak tentang tawaranmu,” kudengar diriku berkata.

Aku kembali ke sel penjaraku dan berpikir tentang tawaran Loai. Aku telah mendengar kisah² tentang orang² yang berpura-pura setuju untuk bekerja bagi Israel tapi sebenarnya mereka adalah agen dobel (bekerja bagi Palestina dan juga bagi Israel). Mereka membunuh perekrut Israelnya, mencuri senjatanya, dan menggunakan segala kesempatan untuk menyakiti orang² Israel terlebih hebat lagi. Jika aku berkata ya pada Loai, kupikir Loai tentunya akan membebaskanku. Dia bahkan mungkin memberiku kesempatan untuk punya senjata api yang berfungsi baik kali ini, dan dengan senjata ini aku akan membunuhnya.

Api kebencian berkobar-kobar dalam tubuhku. Aku ingin balas dendam pada prajurit yang memukuliku habis²an. Aku ingin balas dendam pada Israel. Aku tidak peduli berapa harganya, bahkan jikalau pun nyawaku melayang. Tapi bekerja bagi Shin Bet mengandung lebih banyak resiko daripada sekedar membeli persenjataan. Mungkin lebih baik aku segera melupakannya, menyelesaikan waktu hukuman di penjara, pulang dan belajar, dekat dengan ibu, dan mengurus adik²ku.

Keesokan harinya, penjaga membawaku kembali ke kantor itu. Beberapa menit kemudian Loai masuk.
“Bagaimana keadaanmu hari ini? Tampaknya kau kelihatan lebih segar. Apakah kau mau minum sesuatu?”
Kami duduk dan minum kopi bersama seperti dua kawan lama.
“Bagaimana jika aku terbunuh?” tanyaku, meskipun sebenarnya dalam hati aku tak peduli begitu peduli jika terbunuh. Aku hanya ingin dia mengira aku berpikir begitu sehingga dia mengira aku jujur.

“Kuberitahu ya, Mosab,” kata Loai. “Aku telah bekerja bagi Shin Bet selama 18 tahun, dan selama itu, hanya satu orang saja yang ketahuan. Semua orang² lain yang terbunuh tak ada hubungannya dengan kami. Masyaratkat jadi curiga pada orang² itu karena mereka tak punya keluarga dan melakukan hal² yang mencurigakan, maka masyarakat lalu membunuh mereka. Tiada seorang pun yang akan tahu tentang dirimu. Kami akan merahasiakanmu sehingga kau tidak akan terungkap. Kami akan melindungimu dan mengurusmu.”

Aku mengamatinya untuk waktu yang lama.
“Baiklah,” aku berkata. “Aku bersedia melakukannya. Sekarang apakah kau bisa membebaskanku?”
“Wah, bagus,”
kata Loai dengan senyum lebar. “Sayangny, kami tidak bisa membebaskanmu sekarang. Karena kau dan saudara sepupumu ditangkap setelah Salameh ditangkap, kisahnya tercantum di halaman depan Al-Quds (koran utama Palestina). Setiap orang mengira kau ditangkap karena terlibat dengan pembuat bom itu. Jika kami melepaskanmu terlalu cepat, orang² akan curiga, dan kau bisa ketahuan sebagai orang yang bekerja sama dengan kami. Cara terbaik melindungimu adalah mengirimmu ke penjara – tidak untuk waktu yang lama, jangan khawatir. Kami akan memeriksa apakah ada pertukaran tahanan atau perjanjian pembebasan yang bisa kami gunakan untuk mengeluarkanmu dari sini. Begitu kau sudah pindah penjara, aku yakin Hamas akan menanganimu, terutama karena kau adalah putra Hassan Yousef. Kita akan bertemu lagi setelah kau bebas.”

Mereka membawaku kembali ke dalam sel, di mana aku harus tinggal di sana selama dua minggu lagi. Aku tidak sabar untuk meninggalkan Maskobiyeh. Akhirnya di suatu pagi, penjaga mengatakan padaku sudah saatnya pergi. Dia memborgolku, tapi kali ini tanganku terletak di depanku. Tidak usah lagi pakai penutup kepala bau. Dan untuk pertamakalinya selama 45 hari, aku melihat matahari dan menghirup udara segar. Aku menarik nafas dalam², mengisi paru²ku dengan udara segar dan menikmati hembusan angin di wajahku. Aku duduk di kursi belakang sebuah mobil van Ford. Saat itu adalah musim panas dan aku diborgol pada bangku metal yang jadi panas pula, tapi aku tak peduli. Aku merasa bebas!

Dua jam kemudian, kami tiba di penjara Megiddo, tapi aku lalu harus tetap duduk dalam van selama satu jam lagi, menunggu ijin untuk masuk. Saat akhirnya kami masuk, dokter penjara memeriksaku dan mengumumkan bahwa aku sehat. Aku lalu mandi dengan sabun dan diberi baju bersih dan peralatan mandi lainnya. Di waktu makan siang, aku makan makanan panas untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu.

Aku ditanyai dengan organisasi apa aku terlibat.

“Hamas,” jawabku. Di penjara² Israel, setiap organisasi diperbolehkan mengawasi anggota² mereka sendiri. Tujuannya adalah untuk menghentikan masalah sosial atau malah menciptakan konflik lebih besar dalam organisasi tersebut. Jika para tawanan menggunakan kekuatan mereka untuk berkelahi satu sama lain, maka mereka terlalu lemah untuk melawan Israel.

Sewaktu masuk ke penjara baru, semua tawanan wajib mengumumkan asal organisasi. Kami harus memilih berasal dari organisasi Hamas, Fatah, Jihad Islam, Barisan Depan Populer bagi Pembebasan Palestina (Popular Front for the Liberation of Palestine = PFLP), Gerakan Demokrasi bagi Pembebasan Palestina (Democratic Front for the Liberation of Palestine = DFLP), atau organisasi lain. Kita tidak bisa tidak berhubungan dengan apapun. Tawanan yang tidak berhubungan dengan apapun harus memilih untuk bergabung dengan organisasi apa. Di Megiddo, Hamas berkuasa total dalam penjara. Hamas adalah organisasi terkuat dan terbesar di sana. Hamas menetapkan aturan, dan semua tunduk padanya.

Ketika aku masuk, tawanan² yang lain menyambutku dengan hangat, menepuk pundakku dan menyelamati diriku karena bergabung bersama mereka. Di petang hari, kami duduk bersama dan membagi kisah kami. Setelah beberapa saat, aku mulai merasa tidak nyaman. Salah satu dari orang² ini tampaknya adalah pemimpin dari para tawanan, dan dia banyak tanya padaku – terlalu banyak pertanyaan. Meskipun dia adalah emir – julukan bagi ketua Hamas di penjara – aku tidak percaya padanya. Aku sudah banyak mendengar cerita tentang “burung,” istilah bagi mata² musuh dalam penjara.

Jika dia adalah mata² Shin Bet, pikirku, mengapa dia tidak percaya padaku? Bukankah mereka sudah menganggap aku bekerja bagi mereka? Tapi aku pura² tidak terganggu dan tidak bicara apapun selain yang telah kusampaikan pada para penanya di penjara yang dulu.
Aku berada di penjara Megiddo selama dua minggu, sholat dan puasa dan membaca Qur’an. Ketika tawanan² baru datang, aku memperingatkan mereka tentang si emir.
“Kau harus berhati-hati,” kataku, “Orang itu dan teman²nya tampaknya adalah burung².” Para tawanan baru itu dengan cepat memberitahu emir tentang kecurigaanku, dan keesokan harinya aku dikembalikan ke Maskobiyeh. Di pagi harinya, aku dibawa menghadap ke kantor.
“Bagaimana perjalananmu ke Megiddo?” tanya Loai.
“Menyenangkan,” kataku sarkastik.
“Tahu engga’, tak banyak orang yang bisa melihat burung di saat pertama kali dia melihatnya. Beristirahatlah sekarang. Dan suatu hari nanti kita akan melakukan sesuatu bersama.”
Ya, dan suatu hari nanti akan kutembak kepalamu, begitu pikirku sewaktu aku melihatnya berlalu. Aku merasa bangga bisa berpikiran radikal seperti itu.

Aku kembali dipenjara di situ selama 25 hari, tapi kali ini aku ditempatkan di sebuah sel bersama tiga tawanan lainnya, termasuk saudara sepupuku Yousef. Kami menghabiskan waktu dengan bicara dan berbagi cerita. Salah seorang mengatakan bahwa dia telah membunuh seseorang. Yang lain membual bahwa dia mengirim seorang pembom bunuh diri. Setiap orang punya kisah menarik untuk disampaikan. Kami duduk bersama, sholat, bernyanyi, dan mencoba melakukan kegiatan yang menyenangkan. Apapun kami lakukan untuk melupakan keadaan sekitar. Tempat itu bukanlah tempat yang layak bagi manusia.
Akhirnya, kami semua kecuali saudara sepupuku dikirim ke Megiddo. Tapi kali ini kami tidak akan bersama para burung lagi; kami menuju penjara sebenarnya. Dan sejak itu keadaan tidak akan pernah jadi sama seperti sebelumnya.

Bab 12 – Nomer 823
1996

Mereka dapat mencium bau kami saat kami datang.

Peta letak Megiddo di Israel. 

Rambut dan jenggot kami jadi panjang setelah tiga bulan tanpa gunting atau silet pencukur. Baju kami kotor sekali. Dibutuhkan waktu dua minggu untuk menghilangkan bau bekas penjara Maskobiyeh. Tubuh digosok kuat² sekali pun tidak sanggup menghilangkan bau. Hanya waktu yang akhirnya bisa menghilangkannya.

Kebanyakan tawanan awalnya ditempatkan terlebih dulu di mi’var, yang adalah sebuah unit di mana setiap orang diproses sebelum dipindahkan ke kamp penjara yang lebih besar. Akan tetapi, beberapa tawanan dianggap terlalu berbahaya untuk bergabung dengan tawanan² lainnya dan harus tetap tinggal di mi’var selama bertahun-tahun. Orang² ini, sudah bisa ditebak, semuanya adalah anggota Hamas.

Sebagai putra Syeikh Hassan, aku merasa terbiasa dikenal kemana pun aku pergi. Jika ayah adalah raja, maka aku adalah pangeran – pewaris takhta kekuasaan. Dan begitulah aku diperlakukan.
“Kami dengar kau berada di sini sebulan yang lalu. Pamanmu sekarang berada di sini. Dia akan segera mengunjungimu.”

Makan siang disajikan panas² dan mengenyangkan, meskipun tidak seenak makanan yang kumakan ketika dulu bersama para burung. Meskipun begitu aku tetap merasa senang. Sekalipun masih dipenjara, aku merasa lebih bebas. Ketika aku sedang seorang diri, aku memikirkan tentang Shin Bet. Aku telah berjanji pada mereka untuk bekerja bagi mereka, tapi mereka tak memberitahu aku apapun. Mereka tidak pernah menjelaskan bagaimana mereka akan berkomunikasi denganku atau apa sebenarnya yang dimaksud dengan bekerja sama. Mereka membiarkan aku begitu saja, tanpa ada nasehat apapun tentang bagaimana aku harus berlaku. Aku sangat heran. Aku juga tidak tahu siapa diriku sebenarnya sekarang. Kupikir ada kemungkinan aku telah dijebak.

Tempat mi’var ini dibagi dalam dua asrama yang besar – Ruang Delapan dan Ruang Sembilan – kedua ruang ini penuh dengan ranjang bertingkat. Bangunan asrama² berbentuk huruf L dan setiap bangunan ditempati 20 tawanan. Di sudut L terdapat lapangan olahraga dengan lantai semen yang dicat dan meja ping-pong rusak yang disumbangkan oleh Palang Merah. Kami diperbolehkan berolahraga dua kali sehari.

Tempat tidurku terletak di ujung Ruang Sembilan, dekat kamar mandi. Terdapat dua kamar kecil dan dua tempat mandi. Tempat buang air hanyalah sebuah lubang di lantai di mana kami harus berdiri atau jongkok, lalu setelah selesai buag air, kami siram sendiri kotoran dengan seember air. Ruangan ini panas dan lembab, dan baunya sungguh memuakkan.

Sebenarnya malah seluruh asrama juga begitu keadaannya. Orang² menderita sakit dan batuk²; sebagian malah tidak pernah mandi. Semua tawanan berbau mulut busuk. Asap rokok memenuhi ruangan dan kipas angin lemah tidak berarti apapun. Juga tak ada jendela ventilasi.

Kami dibangunkan setiap jam 4 pagi agar bersiap untuk sholat Fajar. Kami menunggu di antrian dengan handuk kami, masih dalam keadaan mengantuk dan bau. Lalu kami harus melakukan wudu. Untuk memulai membersihkan diri secara Islam sebelum sholat, kami membasuh tangan sampai ke pergelangan tangan, kumur², dan membersihkan lubang hidung dengan air. Kami gosok wajah kami dengan dua tangan dari jidat sampai ke dagu, dan dari kuping satu ke kuping yang lain, membasuh tangan sampai ke sikut, dan membasuh kepala dari jidat sampai ke belakang leher dengan tangan yang basah air. Akhirnya membasahi jari² tangan untuk membersihkan kuping bagian dalam dan luar, seluruh leher, dan membasuh kaki sampai ke pergelangan kaki. Lalu kami ulang semua proses ini dua kali lagi.

Pada jam 4:30 pagi, setelah semua selesai melakukan wudu, seorang imam – yang besar, sangar dengan jenggot lebat – melafalkan adhan. Lalu dia mulai melafalkan Al-Fatihah (Sura pertama Qur’an), dan kami lalu melakukan empat rakat (gerakan berdoa, berdiri, berlutut, dan bersujud).

Kebanyakan tawanan adalah Muslim anggota Hamas atau Jihad Islam, jadi melakukan sholat seperti ini sudah menjadi kegiatan rutin bagi kami. Tapi tawanan² lain yang sekuler dan komunis juga dipaksa bangun di waktu yang sama, meskipun mereka tidak ikut sholat. Dan tentu saja mereka tidak senang akan hal ini.

Seorang tawanan sudah menjalani setengah dari masa hukuman 15 tahun. Dia muak sekali dengan segala rutinitas Islam, dan dia menghabiskan waktu lama sekali untuk bangun subuh. Beberapa tawanan menepuknya, memukulnya, sambil membentak, “Bangun!” Akhirnya mereka menyiramkan air ke kepalanya. Aku kasihan padanya. Semua proses wudhu, sholat, dan pelafalan Qur’an memakan waktu satu jam. Setelah itu orang² kembali tidur. Tiada seorang pun yang bicara. Sunyi senyap.

Aku selalu tidak bisa tidur kembali, dan biasanya aku tidak tertidur setelah jam 7 pagi. Sewaktu akhirnya aku tertidur, seseorang berteriak,Adad! Adad! (Nomer! Nomer!). Ini adalah peringatan bahwa sekarang adalah saatnya melakukan penghitungan kepala.

Kami duduk di tempat tidur kami dengan punggung menghadap prajurit Israel yang menghitung kami, karena dia tak bersenjata. Dia hanya butuh waktu lima menit untuk menghitung kami dan lalu kami boleh tidur lagi.

Jalsa! Jalsa!” jerit emir pada jam 8:30 pagi. Ini adalah saat rapat dua kali sehari yang dilakukan organisasi Hamas dan Jihad Islam. Aku tidak bisa tidur dua jam penuh. Ini sungguh menjengkelkan. Sekali lagi, orang² berbaris ke kamar mandi untuk mempersiapkan diri menghadiri jalsa jam 9 pagi.

Di jalsa Hamas pertama hari itu, kami belajar aturan membaca Qur’an. Aku sudah tahu akan hal ini dari ayahku, tapi kebanyakan tawanan tidak mengetahuinya. Jalsa kedua hari itu membicarakan tentang Hamas, sikap disiplin di dalam penjara, pengumuman tentang tawanan² yang baru datang, dan kabar tentang kejadian di luar penjara. Tak ada rahasia atau rencana apapun, hanya berita umum saja.

Setelah setiap jalsa, kami seringkali menghabiskan waktu dengan nonton TV di bagian ujung ruangan, berhadapan dengan kamar kecil. Suatu pagi, aku sedang menonton kartun dan lalu sebuah iklan ditayangkan.

GEDEBUG! Sebuah papan kayu besar jatuh di hadapan layar TV.
Aku meloncat kaget dan melihat sekeliling.

“Ada apa?” Aku lalu mengetahui bahwa papan itu terikat pada tali besar yang diikatkan pada langit². Di sebelah ruangan tampak seorang tawanan memegang erat² ujung tali itu. Rupanya tugasnya adalah melihat segala yang dianggap haram dan menjatuhkan papan kayu di depan TV agar penonton tidak bisa melihatnya.
“Kenapa kau menjatuhkan papan kayu itu?” tanyaku.
“Untuk melindungi kamu sendiri,” katanya kasar.
“Melindungi? Dari apa?”
“Gadis di iklan itu,”
jelasnya. “Gadis itu kan tak pakai jilbab.”
Aku melihat emir. “Apakah dia serius tentang ini?”
“Ya, tentu saja,”
kata emir.
“Tapi kami semua punya TV di rumah kami, dan kami tidak melakukan hal seperti ini di rumah. Kenapa musti melakukannya di sini?”
“Berada di penjara membuat orang menghadapi godaan² yang tak lumrah,”
jelasnya. “Di sini tidak ada perempuan. Yang mereka tayangkan pada TV bisa menimbulkan masalah dan berakibat buruk bagi mereka. Karena itulah dibuat aturan seperti ini dan beginilah kami menanggulangi masalah itu.”

Tentu saja tidak semua orang setuju akan hal itu. Apa yang boleh atau tak boleh dilihat sangat tergantung dari orang yang memegang tali. Jika orang itu berasal dari Hebron, dia akan menjatuhkan papan untuk menutupi layar TV, bahkan jika yang muncul hanyalah sosok kartun wanita tanpa jilbab. Tapi jika orang itu berasal dari Ramallah, kami bisa nonton lebih bebas. Kami seharusnya bergiliran memegang tali, tapi aku tak mau menyentuh benda tolol itu.

Setelah makan siang, tiba waktunya untuk melakukan sholat Dhuhr, lalu setelah itu saat tenang. Kebanyakan tawanan tidur siang. Biasanya aku membaca buku. Dan di sore hari, kami diperbolehkan pergi ke lapangan olahraga untuk berjalan-jalan sedikit atau mengobrol dengan tawanan lain.
Hidup di penjara sangatlah membosankan bagi para anggota Hamas. Kami tak boleh bermain kartu. Kebebasan membaca buku dibatasi dan hanya boleh membaca Qur’an dan literatur Islam saja. Organisasi non-Hamas tidak menerapkan aturan sekeras itu.
Saudara sepupuku Yousef akhirnya muncul di suatu sore, dan aku sangat senang bertemu dengannya. Penjaga² Israel memperbolehkan kami menyimpan alat cukur, dan kami memangkas habis rambut kepalanya untuk menghilangkan bau penjara Moskabiyeh.

Yousef bukanlah anggota Hamas; dia adalah orang sosialis. Dia tidak percaya pada Allâh (elohim Islam), tapi percaya akan Elohim . Dengan begitu, dia lebih cocok jadi anggota Gerakan Demokrasi bagi Pembebasan Palestina (Democratic Front for the Liberation of Palestine = DFLP), DFLP berjuang untuk berdirinya Negara Palestina, dan ini tidak sama dengan tujuan Hamas yang bercita-cita mendirikan Negara Islam.

Beberapa hari setelah Yousef datang, pamanku yakni Ibrahim Abu Salem, datang menjenguk. Dia berada di penahanan administratif sejak dua tahun lalu, meskipun tiada tuduhan resmi yang diajukan padanya. Karena dia dianggap berbahaya bagi keamanan Israel, dia akan terus berada di sana untuk waktu yang lama. Sebagai Hamas VIP (Very Important Person = Orang Sangat Penting), pamanku Ibrahim diijinkan mengunjungi mi’var dan kamp penjara dan dari satu kamp ke kamp yang lain. Maka dia datang berkunjung ke mi’var untuk menengok keponakannya, agar yakin aku baik² saja, dan membawa beberapa baju bagiku – tanda peduli yang sangat bertentangan dengan sifatnya sebagai orang yang dulu suka memukuliku dan tidak peduli pada keluargaku saat ayah sedang dipenjara.

Dengan tinggi hampir mencapai 180 cm, Ibrahim Abu Salem adalah orang yang tinggi besar. Perutnya yang menonjol keluar – tanda kecintaannya pada makanan – membuat dia tampak gembul dan tidak berbahaya. Tapi aku tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Pamanku Ibrahim adalah orang yang kejam, mementingkan diri sendiri, pendusta, dan munafik – sangat bertolak belakang dengan ayahku.

Tapi di dalam tembok penjara Megiddo, paman Ibrahim diperlakukan bagaikan seorang raja. Semua tawanan menghormatinya, tidak peduli dari organisasi manapun , karena usianya, kemampuannya mengajar, pekerjaannya di universitas², dan prestasi politik dan akademinya. Biasanya, para pemimpin tawanan memanfaatkan kedatangannya dan memintanya untuk memberi kuliah.

Semua tawanan suka mendengarkan Ibrahim saat dia memberi kuliah. Dia tidak mengajar seperti dosen, tapi lebih sebagai penghibur. Dia suka membuat orang tertawa, dan jika dia mengajar tentang Islam, maka dia menyampaikan ajarannya dengan menggunakan bahasa yang sederhana sehingga siapapun bisa mengerti.

Akan tetapi, hari ini tiada seorang pun yang tertawa. Sebaliknya, semua tawanan duduk bersebelahan dengan diam saat Ibrahim bicara dengan kemarahan berkobar-kobar tentang orang² yang bekerja sama dengan Israel dan bagaimana mereka mempermalukan keluarga mereka dan merupakan musuh orang² Palestina. Dari caranya bicara, aku merasa dia sebenarnya berkata padaku, “Jika kau tahu sesuatu yang belum kau sampaikan padaku, Mosab, katakan padaku sekarang juga.”
Tentu saja aku tetap diam saja. Bahkan andaikata sekalipun Ibrahim curiga akan hubunganku dengan Shin Bet, dia tidak akan berani mengatakannya terus terang pada putra Syeikh Hassan Yousef.
“Jika kau butuh apapun,” katanya padaku sebelum pergi, “beritahu aku saja. Aku akan mencoba agar kau berada dekat denganku.”

Saat itu adalah musim panas 1996. Meskipun aku baru berusia 18 tahun, aku merasa bagaikan telah menjalani beberapa kehidupan dalam waktu beberapa bulan saja. Dua minggu setelah paman datang, seorang wakil tawanan, atau shawish, datang ke Ruangan Sembilan dan memanggil, “Delapan dua tiga!” Aku mendongak terkejut karena mendengar nomerku dipanggil. Lalu dia juga memanggil tiga atau empat nomer lain dan memberitahu kami agar mengumpulkan barang² kami.

Sewaktu kami keluar dari mi’var ke padang gurun, udara panas menerpaku bagaikan napas naga dan membuat kepalaku pusing sejenak. Sejauh mata memandang tak ada lain yang tampak selain ujung² bagian atas tenda coklat. Kami berbaris menuju bagian tenda pertama, bagian kedua, bagian ketiga. Ratusan tawanan datang berlari menuju pagar tinggi berantai untuk melihat tawanan² yang baru datang. Kami tiba di Bagian Lima, dan pintu gerbang terbuka. Lebih dari lima puluh orang mengelilingi, memeluk kami, dan menjabat tangan kami.

Kami dibawa ke bagian tenda administrasi dan ditanyai dari organisasi mana kami berasal. Lalu aku dibawa ke tenda Hamas, di mana emir menerimaku dan menjabat tanganku.
“Selamat datang,” katanya. “Senang berjumpa denganmu. Kami sangat bangga akan kamu. Kami akan menyiapkan tempat tidur bagimu dan memberi beberapa handuk dan barang² lain yang kau butuhkan.” Lalu dia mengatakan lelucon penjara, “Anggaplah seperti rumah sendiri dan nikmati tinggal di sini.”

Setiap bagian penjara terdiri dari 12 tenda. Setiap tenda berisi 20 tempat tidur dan tempat sepatu. Kapasitas maximum setiap bagian adalah 240 tawanan. Bayangkan bingkai empat persegi panjang, dihalangi dengan pagar kawat duri silet. Bagian Lima dibagi dalam kotak². Sebuah tembok yang bagian atasnya diberi kawat duri silet, membagi-bagi Bagian dari utara ke selatan, dan pagar rendah membagi tempat itu dari timur ke barat.

Kotak bagian Satu dan Two (sebelah kanan dan kiri atas) masing² memiliki tiga buah tenda Hamas. Kotak bagian Tiga (kanan bawah) memiliki empat tenda – masing² untuk Hamas, Fatah, kombinasi DFLP/PFLP, dan Jihad Islam. Dan Kotak bagian Empat (kiri bawah) memiliki dua tenda, satu untuk Fatah, dan satu lagi untuk DFLP/PFLP.

Kotak Empat memiliki sebuah dapur, WC, tempat mandi, dan tempat untuk shawish dan pekerja dapur, dan baskom² untuk wudhu. Kami berbaris di antrean untuk melakukan sholat di lapangan terbuka di Kotak Dua. Tentunya terdapat menara penjaga di setiap sudut. Pintu gerbang utama di Kotak Lima terletak di pagar kawat antara Kotak Tiga dan Empat.

Satu keterangan lagi: pagar dari timur ke barat memiliki pintu² gerbang diantara Kotak Satu dan Tiga dan Dua dan Empat. Pintu² dibiarkan terbuka hampir sepanjang hari, kecuali pada saat penghitungan kepala di mana pintu² ini ditutup agar penjaga bisa menghitung setiap bagian.

Aku ditempatkan di tenda Hamas di ujung atas Kotak bagian Satu, di ranjang ketiga dari kanan. Setelah penghitungan kepala, kami semua duduk² sambil ngobrol, dan lalu terdengar suara, “Barid, ya mujahidin! Barid!” (Surat bagi pejuang kemerdekaan! Surat!).

Suara itu milik sawa’id dari bagian lain, dan semua orang memperhatikannya. Sawa’id adalah petugas keamanan Hamas di dalam penjara, yang membagi-bagikan pesan dari satu bagian ke bagian lainnya. Kata Sawa’id dalam bahasa Arab berarti “tangan² yang melempar.”

Setelah terdengar teriakan itu, dua orang laki berlari ke luar tenda, menjulurkan tangan² mereka di udara dan melihat langit. Bagaikan sudah diatur saja, sebuah bola datang entah dari mana dan jatuh tepat di tangan² yang sudah siap itu. Beginilah cara para pemimpin Hamas di bagian kami menerima perintah² bersandi rahasia dari pemimpin di bagian lain. Setiap organisasi Palestina di penjara menggunakan cara ini untuk berkomunikasi. Masing² organisasi memiliki nama sandi tersendiri, sehingga jika suara diteriakkan, para “penangkap bola” tahu bahwa mereka harus lari ke tempat di mana bola itu akan jatuh.

Bola² ini dibuat dari roti yang diempukkan dengan air. Pesan dimasukkan ke dalamnya dan roti digulung bulat bagaikan bola sebesar bola softball, dikeringkan sampai mengeras. Tentu saja hanya pelempar dan penerima terbaik yang dipilih sebagai “tukang pos.”
Kejadian menarik itu berakhir dengan cepat. Lalu tiba saat makan malam.

Bersambung ke Bab 13-16

Bab 1-4 ; Bab 5-8 Bab 9-12 ; Bab 13-16 ; Bab 17-20 ; Bab 21-24

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Perjalanan menuju kebenaran yang abadi

Kisah nyata dari seorang Muslim Indonesia keturunan Arab yang menemukan Yahweh, Yeshua Ha Masiah, sebagai Juruselamat pribadinya.
Sumber tulisan diambil dari Kisahmencarituhan.blogspot.com

Carilah YAHWEH, hai semua orang yang rendah hati di negeri, yang melakukan hukum-Nya; carilah keadilan, carilah kerendahan hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan YAHWEH. (Zefanya 2:3)

Selamat membaca,
Penjala Baja.

Awalnya saya adalah seorang muslim, anak seorang Imam besar disalah satu kota propinsi di Indonesia.
Dimana ayah saya, yang saya panggil “Abi” adalah keturunan Arab, dan nama saya Husen Al-Habsyi, dan keluarga kami sangat dihormati dikalangan Muslim di kota kami.
Tapi untuk apa semuanya itu? kalau tidak pernah tahu kebenaran yang tertutup tanpa akhir, kalau bukan dari kita sendiri yang mencari kebenaran itu dengan hati tulus dan ikhlas.
Hal itu dimulai sejak saya tahu dan percaya “Dia”lah Yahweh, Elohim (God atau Allah) yang sebenar-benarnya. (aslinya tertulis: Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan). Dialah Yahweh Yeshua Ha Masiah Juru selamat manusia, maka saya mau semua orang tahu, jangan dikalahkan sama Dadjal, syaitan atau apapun.
Inilah ringkasan riwayatku dalam mencari Yahweh.

Awalnya hidupku tanpa arah tujuan yang pasti, karena hidup dalam kedustaan yang tertutup, yang membuatku tidak tenang dalam menjalani hidup ini.
Dengan rutinitas keseharian yang menjenuhkan, karena hidup hanya berdasarkan Syariat-syariat yang keras tanpa hasil yang nyata, ada apa sebenarnya dengan keadaan ini ?
Saya yang sejak kecil diajarkan Syariat yang sebenar-benarnya dengan aturan yang sangat keras sekali, tidak seperti keadaan umat muslim disekeliling saya tinggal.
Sejak kecil saya sudah tertanam dengan kuat dalam Iman dan pikiran bahwa “Tidak ada Tuhan Selain Allah.” [Terjemahan kalimat sahadat ini tepatnya: ”Tidak ada ilah selain Allah” – There is no god, excep God. Orang Kristen tidak punya masalah dengan pengakuan ini, sebab Alkitab jelas menulis bahwa Elohim/ God / Allah adalah satu-satunya Penguasa semesta alam, nama-Nya ialah YAHWEH].

Karena kalimat tersebut sudah merupakan sebuah kesimpulan bagi saya dulu, maka tidak akan mungkin terpikir mengapa saya harus mencari  Elohim (Ilah atau God) lainnya  lagi!
Dengan berjalannya waktu sampai saya diusia dewasa tetap saya menjalankan semua yang diajarkan, rutinitas membuka ayat-ayat AlQuran untuk melakukan pengajian secara pribadi itu suatu kebiasaan yang saya lakukan.

Oleh karena itulah, maka saya selalu mencari ada apa dibalik misteri kebenaran yang sesungguhnya dan ada apa dengan jalan Shiraathum mustaqiim yang sesungguhnya ? Dimana saya selalu apabila mengkaji AlQuran pada surat pertama yaitu minta ditunjukan jalan Shiraathum mustaqiim, hal itu diulang-ulang dari saya kecil sampai dewasa !  Setelah sekian lama saya mempelajari AlQuran kemudian timbul lagi dalam pikiran saya bahwa kami umat Mumin harus mengImani semua Kitab selain AlQuran yaitu Taurat (Lima kitab Musa), Zabur (Mazmur) dan Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes), tetapi apa yang saya harus Imani sedangkan memegang saja tidak pernah, itulah yang ada dalam logika pikiran saya.
Memang kenyataannya saya sadari bahwa anjuran baca Injil diabaikan bahkan dilarang oleh abi dan semua saudara muslim pada umumnya, jadi ada apa dengan Injil?, itulah pikiran saya selama itu.

Kenapa anjuran membaca Injil seperti tertulis di Q.5:68 tidak pernah dilakukan?, padahal dari Injillah kita bisa tahu kebenaran yang tertutup selama ini. [Penekanan ditambahkan]

Singkat cerita. Karena larangan itu, maka saya ingin tahu ada apa  dengan Injil?
Hal itu terus berkecamuk dibenak saya, hampir semua saudara dari abi maupun umi yang saya tanya tentang Injil, selalu mereka bilang Injil sekarang sudah palsu dan katanya sudah diselewengkan dari isi yang sebenarnya, jawaban itu tidak memuaskan saya karena tanpa ada bukti yang mana aslinya ?

Dari hari kehari selalu dalam benak saya bertanya-tanya, mengapa Injil seakan ditakuti untuk dibaca, apagunanya kalau selama ini saya sudah punya keyakinan kuat yang sempurna? Oleh karena itu mengapa saya harus takut hanya soal baca Injil saja!, apalagi Injil yang dikatakan itu sudah palsu, berarti tidak punya kehebatan lagi, itulah pikiran saya waktu itu.
Suatu saat saya ambil keputusan untuk membaca Injil dan mempelajarinya.

Singkat cerita, tanpa harus saya sebutkan bagaimana cara dan dari siapa saya bisa mendapatkan Injil itu, memang unik ceritanya yang pasti itu saya yakini adalah Jalan Yahweh.  Akhirnya setelah saya mendapat Injil tersebut, suatu malam sebelum saya membuka Injil dengan rasa was-was, saya memohon kekuatan dan mohon ampun kepada Allah (Elohimnya orang Islam) yang saya yakini, kalau saya memang berdosa membaca Injil, karena seumur hidup saya baru pernah memegang Injil dan membukanya dimalam itu.
Kemudian dengan tekat dan hati yang tulus penuh keikhlasan, saya harus baca Injil itu dan saya ber doa layaknya seperti mau membuka AlQuran, untuk menyingkirkan Dajal, syaitan yang setiap saat mengganggu agar kita lupa dengan kebenaran-kebenaran yang hakiki.

Mulailah saya baca Injil, saya pelajari ayat demi ayat dengan benar dan teliti sampai berulang ulang ulang dan ber ulang lagi, dan pada akhirnya datang keinginan saya dari dalam hati, ingin bertanya siapa Yeshua Ha Masiah? Elohim kah Dia???
Tapi saya tidak tahu bagaimana caranya, dalam pikiran saya kalau bertanya kepada orang Nasrani, dengan pasti mereka bilang Elohim, kalau bertanya sama Abi dan Umi atau saudara pasti saya dikatakan kafir atau ditanya macam-macam seperti yang saya sudah alami, hal itu disebabkan memang sudah tertanam pengertian sesuai dengan bunyi kalimat yaitu “Tidak ada Tuhan selain Allah!” [Terjemahan tepatnya: ”Tidak ada ilah selain Allah!”]

Rasa keingin tahuan itu selalu datang dan semakin kuat.
Perjalanan hidupku baru dimulai.
Pada suatu malam hari pukul 01.00, saya berwudhu, ingin ber Tahadjud, karena dengan cara ini lah saya anggap benar untuk bertanya hanya kepada Allah yang saya yakini selama ini, niat dimalam itu timbul setelah beberapa hari saya membaca Injil tetapi masih juga ragu akan kebenarannya, oleh karena saya “ingat” apa yang tertulis di Q.2:46, dengan lugunya ayat tersebut saya baca berulang-ulang sambil dihayati akan pengertian dari maknanya, sehingga Q.2:46 saya anggap benar untuk menemui Yahweh, Elohim yang sebenar-benarnya!”

Setelah saya berwudhu dan mau melakukan awal shalat Tahadjud, yang terjadi diluar dugaan saya sama sekali, saya merasa takut yang tiba-tiba dan kemudian kejadian yang saya rasakan takut teramat sangat / dimalam itu adalah ketakutan yang luar biasa dalam hidup saya, yaitu dengan mata telanjang dan kesadaran penuh saya menyaksikan sosok bayang putih dengan jelas dan agak samar dibagian atas dan bawah, ber jalan-jalan didepan saya dalam kamar yang agak gelap dengan keadaan temaram hanya cahaya luar lewat dari kisi kisi jendela.
Dalam ketakutan saya sadar inikah syaitan?, yang terus mengganggu dan menghalangi keinginan saya, dalam ketakutan tersebut saya langsung mengucapkan Ayatulqursi, Yasiin , Al Faatihah, doa syalawat nabi serta doa-doa kecil lainnya, akan tetapi yang terjadi bayangan tersebut semakin banyak dan semakin dekat, oleh karena itu terakhir saya mengatakan nabi Isa tolong saya, tetapi tetap saja keadaan semakin mencekam !

Dalam ketakutan yang sangat terdesak oleh syaitan tersebut, dalam pikiran saya terlintas minta pertolongan Yahweh Yeshua, tetapi dalam benak pikiran saya timbul juga perlawanan: apa gunanya, Yeshua itu bukan Elohim saya!
Dengan berjalannya waktu menit demi menit dan ketakutan semakin menjadi-jadi, timbul dalam hati dan pikiran saya apa salahnya saya menyebut nama Yeshua, sedangkan saya dalam Tahadjud juga mau bertanya akan nama tersebut kepada Allah?
Oleh karena keadaan tersebut agak cukup lama serta semakin amat sangat ketakutan dan apa yang sudah saya lakukan tidak ada perubahan, maka saya langsung mencoba minta pertolongan “Yahweh Yeshua”, karena saya niat bertanya dan ingin tahu benarkah kebesaranNya, dan kemudian mulut saya berkata: atas nama Yahweh Yeshua keluar dan usir roh jahat syaitan, Dajal atau apapun yang menghalangi keinginan niat saya, untuk menemui Mu !

Ket,
Sebelum saya mengucapkan perkataan tersebut, dikarenakan saya ingin bertanya siapa “Yeshua” ?, apabila Dia “Yahweh Yeshua” dan benar-benar ada, sehingga saat itu dalam pikiran saya terlintas mau tahu, apakah Dia bisa tolong saya?, dan saya disaat itu yakin bila benar, pasti “Yahweh Yeshua” bisa tolong saya.

Pengetahuan hal tentang kuasa atas nama “Yeshua”, pada saat itu bisa timbul dalam pikiran saya, oleh karena saya sudah membaca Injil.
Jadi saya bisa simpulkan bahwa setiap orang yang membaca Injil dengan benar dan hati Ikhlas maka akan tahu makna dari kuasa nama “Yeshua”, rupanya hal itu yang membuat syaitan sejak dulu berusaha menghalangi saya untuk membaca Injil, dan misteri penghalang tersebut terjadi sampai saat ini kepada hampir semua pembaca AlQuran, dimana masalah tersebut tanpa disadari oleh hampir semua orang Mumin, seperti saya dulu.

Dimalam itu setelah mengucapkan kalimat perintah pengusiran syaitan atas nama Yeshua, kemudian tidak beberapa lama bayangan syaitan seperti keadaan sebelumnya sirna dan keadaan itu bisa dilalui dengan tenang serta perasaan takutpun hilang.

Kemudian saya mengulangi lagi ambil wudhu, maka dengan kesadaran penuh saya mulai berTahadjud, kali ini saya ingin berTahadjud menemui Elohim yang sebenar-benarnya Elohim!
Dalam Doa saya memohon kepada Allah [Elohimnya orang Muslim] yang selama ini saya sembah dan percaya, seperti Tahadjud yang selama ini saya lakukan tetapi tidak ada satu Tahadjud sayapun yang didengar, “mungkin kali ini” adalah Tahadjud yang benar !, itulah yang ada dalam benak pikiran saya malam itu.

Di tengah malam itu setelah menyelesaikan dua rakaat, kira-kira pukul 02.00, saya berkata kepada Allah dalam Tahadjud tersebut:
Ya Allah saya mohon tunjukan dan perlihatkan sedikit bukti, apa benar “Yahweh Yeshua” itu Elohim ? dan benarkah “Dia” ada ??
Saya terdiam dalam beberapa saat, kemudian Mujizat itu benar nyata buat saya, dengan perasan terharu menyaksikan itulah “Dia” Yahweh Yeshua datang menampakan wujud dihadapan saya, benar Dia [adalah] Elohim!
Karena saya tidak pernah seumur hidup melihat wudjud nyata seperti yang saya lihat dihadapan saya, wangian yang tercium begitu damai, sejuk dalam hati, perasaan saya saat itu sangat “terharu”.

Terima kasih Yahweh, Kau telah datang kepadaku sungguh Kau sangat mengasihiku.

Dialah Yahweh, Elohim yang sebenar-benarnya!”
Dimana wujud dari Yahweh Yeshua yang saya lihat sama dengan gambar-gambar yang dimiliki teman saya yang Nasrani, tetapi wujud yang saya lihat dimalam itu sungguh sangat menajubkan sekali melebihi gambar-gambar tersebut.

Yahweh Yeshua penyelamat manusia, maka percayalah dengan janji Yahweh : Janji Yahweh Yeshua, yang berjanji damai di bumi bahagia di Surga.
Jangan pernah ragu dengan kasih Yahweh, yakin dan percaya Dialah Yahweh Yeshua juru selamat.
Mulai saat itu saya menjalani hidup tanpa beban, damai sejahtera.
Saya yakin kita percaya pasti Yahweh Yeshua dekat dan selalu memberi pertolongan buat kita, dan untuk lebih mendekatkan diri kepada Yahweh sayapun sangat rindu ke gereja untuk mendengarkan FirmanNya.

Kemudian saya mulai mencari tahu tentang gereja dengan sangat hati-hati.
Entah kenapa selalu ada jalan, maka saya bertemu dengan seseorang yang mendapatkan keyakinannya terhadap Yeshua hampir sama seperti saya, pertemuannya juga tanpa terduga, dan maaf tidak saya sebutkan namanya.

Dari orang tersebut saya banyak mendapat penjelasan semua tentang gereja-gereja yang ada di Indonesia, mulai dari kelompok, tata Ibadah, karunia dari kelompok masing-masing gereja serta hubungan komunitas antar orang-orang yang datang kegereja yang bersangkutan, berdasarkan dari salah satu pertimbangan tersebut, maka saya coba mencari gereja Kristen Katholik yang jauh dari kotaku.

Pertimbangan tersebut karena saya masih sangat takut akan ketahuan keadaan saya sekarang, sehingga saya masih mencari situasi dimana orang-orang tidak terlalu tahu tentang saya, walaupun itu saya sadari adalah kekurangan bahkan kesalahan bagi mereka yang percaya Elohimnya.

Dalam doa, saya selalu mohon agar Elohim Yang Maha Tahu memakai saya dengan cara-Nya untuk bersaksi.
Alhasil sudah ada beberapa situs yang saya buat di Internet yang dapat dikunjungi.

Haleluya, Terpujilah YAHWEH saya bisa dijamah Elohim.
Karena Elohim Maha Tahu, pengalaman inilah Mujizat terbesar dalam hidup saya, yang sebelumnya tidak pernah terpikir sama sekali untuk bisa percaya bahwa Adonai Ha Masiah itu adalah Yahweh, Elohim yang sebenar-benarnya.
Karena sejujurnya sebelum Mujizat itu datang di malam Tahadjud, saya paling benci dengan nama Yeshua beserta para pengikutnya.

Tetapi setelah saya renungkan dan rasakan sekarang ini, bahwa Elohim Maha Baik memberikan rahmatNYA kepadaku, tentang rahmatNYA itu memang sudah tertulis didalam Injil maupun tertulis dengan jelas di AlQuran setelah saya analisa.

Terima kasih Yahweh Yeshua, Engkaulah Elohim yang sebenar-benarnya.
Elohim menyertai dan memberkati kita semua, Amien.

Marilah kita kembali kehati yang fitrah, hati yang belum dikotori dengan kebohongan yang menyesatkan.
Ikhlaskan hati, Yahweh Yeshua penuh kasih, Dia Maha Tahu, mintalah pertolonganNya, pasti kebohongan akan terungkap.

Cobalah mohon petunjuk dalam Tahadjud, mintalah kepada Allah dibuktikan dengan bertanya dengan benar dengan nama asli yang YAHWEH berikan yaitu “Yeshua Ha Masiah”.

Buat yang mau tahu lebih banyak dari kisah saya dan perjalanan hidup saya, sampai saya bisa menemui Yahweh, Elohim yang sebenar-benarnya, nanti akan saya berikan alamat untuk menghubungi saya.
Suatu ketika sudah saatnya tiba, saya akan memberikan kesaksian tersebut secara terbuka untuk umat manusia semua.

Inilah sebagian dari kisah saya dan masih banyak lagi kejadian-kejadian yang nyata saya rasakan setelah saya benar-benar punya Elohim, yaitu Yahweh Yeshua.
Haleluya, Terpujilah YAHWEH.

Yahweh Yeshua memberkati, Amien.
By: Husen ALHABSYI.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Begitulah Saya Mengenal Elohim; Ex-Jihadist. Pt.1

[Pendahuluan, menjadi Muslim fanatik, semua kafir!, berjihad, meneliti Alkitab untuk menyerang Kristen, Kuran meneguhkan keilahian Yeshua]

Judul ini adalah bagian dari buku kesaksian Anak-anak Ismail.

Buku Anak-anak Ismail (The Children of Ismael) adalah kisah-kisah nyata yang mengharukan dan menyentuh hati setiap pembacanya. Mereka bersaksi bagamana Elohim telah merubah gurun pasir kehidupan menjadi padang rumput yang indah, rantai-rantai ikatan protokol keagamaan yang berat menjadi hubungan kasih yang manis dengan Pencipta mereka. Dilampirkan Ayat-ayat Kuran terjemahan Yusuf Ali (YA) dan Alkitab Indonesia Terjemahan Baru (ITB). Selamat membaca!

Bab 8A. Sebelum Pembaca membaca kesaksian ini, lihat dahulu videonya, maka tulisan ini (yang jauh lebih komplit dan detil dari versi videonya) akan semakin menggairahkan untuk dibaca. Saya akan bagi cerita ini dalam dua bagian. Dalam versi video ia memakai nama Khalil: “Story of Khalil”, namun pada buku kesaksian ini ialah Paul, namun isi ceritanya sama.

Pendahuluan
Cara terbaik untuk memulai kesaksian saya adalah berterima kasih kepada Elohim dari lubuk hatiku untuk perubahan besar dalam hidupku dan dalam kehidupan semua orang yang setia mencari Dia. Elohim telah menuntun saya dengan kekuatan kuasa-Nya dan menyelamatkan saya dari gua singa. Anehnya, perubahan ini bukan hasil dari keinginanku, [bukan juga] suatu reaksi terhadap sesuatu yang telah saya dengar atau khotbah oleh seorang pendeta atau penginjil. Sebaliknya, ketika saya sedang lari berkeliling menyerangi Firman-Nya dan orang-orang-Nya, Dia telah mempersiapkan segala sesuatu untuk menangkap saya dengan sebuah jala yang saya tidak bisa lolos! Dia adalah Elohim Yang Hidup yang mencari anak yang hilang. Ia membentangkan tangan-Nya kepada siapa pun yang bertobat, Dia menyebarkan cahaya-Nya kepada siapa saja yang hilang di dunia; Dia mengetuk dengan lembut pada pintu setiap rumah yang miskin dan hancur untuk mengisinya dengan kekayaan spiritual, kemurnian dan kesucian. Dia memberikan secara berlimpah-limpah dan tidak menyesal melakukannya. Dia tidak memberikan kita menurut tindakan kita, tetapi menurut rahmat-Nya.

Saya sangat ragu-ragu setiap kali saya mencoba untuk menuliskan kesaksianku. Saya takut untuk membesar-besarkan. Saya tidak ingin memakai sebuah alas. Saya tidak layak menerima kredit apapun. Semua kemuliaan milik Elohim. Saya juga telah meninggalkan beberapa kesombongan dalam diriku. Saya berpikir bahwa memberitakan karya Elohim dalam hidupku akan menjadi penghinaan terhadap egoku, karena saya dahulu adalah orang yang kejam terhadap pengikut Elohim Yang Hidup – Elohim yan sama yang telah mencari saya dan membuka mata saya untuk melihat cahaya yang belum pernah saya kenal sebelumnya.

Seperti yang akan Anda baca pada halaman berikut, saya tak punya pilihan selain menyerah dalam pertempuran antara iblis, yang tinggal dalam diriku, dan Elohim Yang Kudus yang menawarkan keselamatan-Nya dan membuka lengan-Nya untuk memegang saya. Saya benar-benar bisa mengatakan seperti Ayub, Hanya dari kata orang saja saya mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. (Ayub 42:5) dan memohon seperti Daud, Jadikanlah hatiku tahir, ya Elohim dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! (Maz. 51:10)

Ini adalah Adonai Yeshua Ha Mashiah, Firman kekal dan Roh Elohim. Dia adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup; siapapun yang percaya kepada-Nya tidak akan mati, siapapun yang  datang kepada-Nya tidak akan haus atau lapar, Dia adalah yang pertama dan terakhir, alfa dan omega, Adonai Yeshua Ha Mashiah!

Hidup saya sebelum saya percaya Ha Mashiah
Saya harus bicara singkat tentang hidupku sebelum saya percaya Ha Mashiah karena itu akan menunjukkan betapa Ia mengasihi kita. Bahkan ketika kita berperang melawan-Nya, Dia mencari kita seperti gembala yang mencari domba-Nya yang telah tersesat di padang gurun.

Saya lahir dan dibesarkan di sebuah keluarga yang sangat fundamental. Saya mengikuti teladan mereka dengan kehendak bebasku, meskipun mungkin keluargaku mempengaruhi saya. Saya mulai di ‘Kottab’ kecil (tempat belajar Islam) yang berada di daerah terpencil dekat desa kecil kami di Mesir Hulu, 200 km selatan Kairo.

Pada awalnya, minat saya terfokus hanya sekedar menghafal bagian Kuran yang merupakan bagian dari kurikulum sekolah kami. Secara bertahap, minatku menjadi lebih pribadi. Saya terdorong oleh kecintaanku terhadap firman Allah. Pada saat itu, Dewan Tertinggi Urusan Islam biasa menjalankan sebuah kompetisi tahunan sekolah dalam menghafal Kuran, dan semua sekolah Negara berpartisipasi. Ibu saya meminta saya untuk mengambil bagian di dalamnya. Jadi saya lakukan. Saya mendapat nilai terbaik, maka saya memenangkan hadiah pertama, yang merupakan penghargaan keuangan 10 Pounds Mesir. Ayahku sangat senang mendengarnya. Dia selalu mendorong saya untuk terus berpartisipasi dalam kompetisi yang setiap tahun hanya untuk mendapatkan penghargaan keuangan.

Saya terus mempelajari Kuran dengan tekun. Saya akhirnya menghafal lebih dari 15 bagian dari Kuran sebelum saya menyelesaikan SMP. Saya menyelesaikan menghafal seluruh Kuran selama di SMA. Pada saat itu, saya tinggal bersama orang tuaku serumah dengan keluarga besar kami, termasuk semua pamanku dan para sepupu. Salah satu para sepupuku adalah seorang Muslim fanatik. Dia adalah seorang mahasiswa di Al-Azhar, Universitas Islam. Dia biasa membujuk saya untuk membaca buku-buku. Kadang-kadang ia akan membelikan saya beberapa buku untuk dibaca.

Pada satu saat, keluarga dekat kami pindah ke sebuah rumah terpisah jauh dari keluarga besar. Sepupu saya juga pergi ke sebuah negara Arab untuk bekerja sebagai pengkotbah Islam di salah satu Masjid di sana. Dia tinggal di sana selama dua tahun. Ketika ia kembali, ia mengatakan bahwa kita tidak tahu Islam yang benar melalui mana kita bisa pergi ke “Al-Jannah” (sorga), karena kita tahu sangat sedikit. Dia bilang juga bahwa ia telah bertemu dengan beberapa pemimpin Islam dan Imam yang berhasil melarikan diri dari tirani penguasa di sini, [Mesir]. Dia meminta saya untuk pergi lebih dalam dalam studiku melalui beberapa buku tulisan Imam Ibnu Tammemah, Syeikh Sayed Kotb dan Ibn Hazem Al-Zahery. Meskipun ada kesulitan dari beberapa buku tersebut, saya sangat mengagumi mereka. Mereka mengusulkan sebuah jalan yang sangat menantang bagi siapa saja untuk diikuti. Sebagai contoh, saya menemukan salah satu Hadis yang mengatakan, “Setiap orang yang makan bersama atau tinggal bersama orang kafir, menjadi seperti dia.”

Sejak saat itu, saya bertujuan masuk kedalam sebuah tahap baru dalam kehidupan beragamaku. Saya mulai memeriksa orang di sekitar saya untuk tahu siapa yang kafir dan siapa yang Muslim. Saya juga mulai mengumpulkan ayat-ayat Kuran yang akan membantu saya untuk membedakan antara Muslim sejati dan Non-Muslim, saya ingin melukiskan sifat hubungan saya dengan masing-masing jenis. Akhirnya, saya berakhir di situasi situasi sangat ketat, menemukan bahwa ayahku, sesuai dengan kriteria hadis, adalah salah satu dari orang-orang kafir karena ia merokok dan tidak memelihara janggutnya. Ibuku tidak berdoa, ia sangat biasa memanggil nama orang. Saudaraku juga kafir karena mereka menonton TV atau merokok. Beberapa dari mereka tidak melakukan shalat lima waktu. Beberapa dari mereka tidak memelihara janggutnya.

Saya begitu marah dengan saudara-saudaraku sehingga saya mencegah mereka meneruskan tahap tertentu dari studi mereka. Saya juga meminta ayahku untuk menceraikan ibuku karena dia tidak mematuhi saya, hal yang sepertinya membuat marah ayahku sangat besar. Saya sampai pada kesimpulan akhir bahwa ayahku, ibuku dan saudara-saudaraku semuanya kafir. Saya bertanya sepupuku apakah saya harus tinggalkan mereka, dan ia menjawab saya positif. Saya bertanya kepadanya jika saya mengakhiri hubunganku dengan mereka, kemana saya pergi? Dia meminta saya untuk datang dan tinggal bersamanya.

“Apakah kamu memiliki keraguan dengan sepupumu dan istrinya tentang iman mereka?” Tanyanya padaku. Saya berkata kepadanya, “Tidak, kalian adalah benar-benar orang-orang percaya.” Dia berkata, “Jadi, datang dan bawa semua harta milikmu dan tinggal dengan saya pergi dari kehidupan perselingkuhan dan ketidaksetiaan rumahmu.” Jadi, saya mengemasi barang-barang saya dan meninggalkan keluargaku. Dengan air mata, ibu saya dan saudara mengucapkan selamat tinggal kepada saya. Saya tidak ambil perduli dengan air mata mereka. Saya benar-benar bertekad untuk tidak ada bersama dengan orang-orang kafir lagi. Saya yakin dengan sukacita untuk meninggalkan rumahku demi Allah.

Sepupuku menetap di Kairo. Dia menyewa sebuah apartemen di dekat Universitas Al-Azhar. Dia berada di tahun terakhir studi akademisnya, jadi saya harus kembali ke rumah ayahku dengan malu dan terhina. Saya tanya sepupuku, “Tidakkah kamu pikir bahwa kedatanganku kembali ke rumah ayahku adalah sebuah pelanggaran?” Dia menjawab: “Tidak, karena kebutuhan tidak mengenal hukum dan larangan perlu pembenaran.” Dia membaca: Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (S. 2:173.) [Islam mengajar kebenaran relatif]

Saya berada di langit sembilan, mendengar itu. Saya berada di tahun terakhir di sekolah tinggi, dan saya memutuskan untuk belajar keras sehingga tidak ada orang akan mengatakan bahwa agama adalah hambatan bagi keberhasilan akademis. Saya berhasil mendapat nilai yang tinggi dalam Ijasah Umum Pendidikan; saya berhasil bergabung dengan Fakultas Kedokteran, Universitas Kairo.

Sedikit demi sedikit, pikiran saya dibebaskan dari semua pola pikiran sepupuku yang biasa menekan. Saya membaca banyak buku yang ia biasanya larang dengan berkata, “Mereka membawa pikiran kelompok Islam ‘Takfeer dan Al-Hijrah’ atau penjahat abad kedua puluh. Kata-katanya memotivasi saya untuk pergi dan menemukan apa yang orang-orang tersebut katakan.

Di sekolah kedokteran, saya menemukan banyak aliran politik yang diwakili oleh kelompok-kelompok kecil yang sah. Saya memutuskan untuk bergabung dengan kelompok keagamaan untuk menjaga keseimbangan dengan kelompok lain. Pemimpin kelompok adalah anggota fakultas. Dia juga sekretaris umum. Kami memiliki orang lain yang bertanggung jawab untuk membuat kontak di dalam anggota kelompok.

Tidak diragukan lagi, saya menghadapi banyak kesulitan dalam kelompok ini; mereka menjalani kehidupan Islam tradisional yang jauh dari pemahaman yang benar tentang Islam dalam hubungan dengan non-Muslim (saya tidak maksudkan para Kristen, tetapi para Muslim nominal). Dengan demikian, ambisi agamaku tumbuh lebih dan lebih. Saya fanatik dalam usahaku mencapai status seperti mereka yang telah berpetualangan melawan pemerintah dan rezim. Jadi, saya mulai sebuah sel, sebuah kelompok kecil. Saya mengajar mereka Islam, sebagaimana saya memahaminya. Saya merasa ketaatan dan komitmen mereka. Kami terbiasa berdoa bersama di tempat terpencil jauh dari masjid karena kami berpendapat bahwa ini adalah sama dengan apa yang orang Yahudi telah bangun untuk menghambat nabi Muhammad.

Jadi, saya mulai menyortir hubungan saya dengan orang-orang sesuai dengan posisi mereka dan pemahaman Islam. Jika seseorang menolak apa yang kami katakan, ia akan dianggap kafir dan akan diperlakukan seperti kafir,  “Janganlah orang-orang mukmim/ beriman mengambil teman-teman atau penolong dari orang-orang kafir kecuali orang-orang mukmin …” (S. 3:28) atau Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin… (S. 3:28 YA)

Saya tidak ada kesulitan melakukan itu. Kita semua yang merupakan bagian dari kelompok itu didorong oleh keinginan yang besar dan antusiasme untuk mengikuti contoh dari nabi Muhammad.

  • Kami selalu membayangkan Abu Obeida anak Garah, yang digambarkan oleh nabi Muhammad sebagai pemimpin bangsa, membunuh ayahnya saat terakhir menolak untuk bergabung Islam;
  • Mosaab anak Omair, yang tidak pernah mendengarkan permohonan ibunya dan membiarkan ia mati karena ia menolak Islam;
  • dan Abu Bakar, yang mengatakan kepada ayahnya bahwa dia akan membunuhnya jika ia tidak masuk Islam. Semua gambaran ini membuat kami lebih kejam terhadap keluarga kami dan teman-teman kami jika mereka menolak Islam versi kami. Sungguh menyakitkan berteriak pada ibuku dan ayahku, dan bersumpah pada saudara-saudaraku, mengancam akan membunuh mereka, tetapi satu-satunya motif saya adalah untuk mematuhi Allah dan nabi. Saya ingin mencapai status mereka mentaati Allah. Saya terus mengingatkan diriku dari Hadis nabi Muhammad, “Setiap orang dari kalian belum menjadi orang percaya sejati sampai dia mencintai Allah dan nabi lebih daripada uangnya, anak-anaknya atau bahkan dirinya sendiri.” [mengutip Injil Lukas 14:26 tanpa pengertian yang benar]

Ada sebuah sekte dengan siapa kami perlu mendefinisikan hubungan kami, sesuai dengan Kuran dan Sunnah. Itu adalah para Ahli Kitab (People of the Book), dan para Kristen khususnya karena tidak ada orang Yahudi tinggal di Mesir, bahkan jika mereka ada tinggal di sana, mereka tidak memiliki hubungan dengan siapa pun. Setelah mencari sikap Nabi Muhammad terhadap orang Kristen, kami menemukan gambaran itu sangat gelap. Namun, hal ini baik-baik saja dengan kami karena kami cemburu kesederhanaan mereka, sopan dan keramahan yang luar biasa mereka dengan para Muslim nominal. Mereka memiliki semacam ketenangan yang aneh dalam menghadapi semua kesusahan dan penyerangan yang kami lakukan pada mereka. Kami telah menafsirkan bahwa itu ialah upaya kotor mereka untuk keluar dari pengasingan mereka sebagai minoritas di antara mayoritas Muslim. Kami beralasan bahwa satu-satunya hal yang dapat mereka lakukan adalah berlaku licik dan jahat dengan berpura-pura berlaku baik kepada umat Islam, jika tidak, mereka akan tidak ada tempat di antara kami. Itulah yang dikatakan Kuran tentang mereka, Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. (S.. 2:61)
Kebencian kami terhadap orang-orang Kristen mengambil bentuk pelecehan dan penyerangan terhadap mereka di jalan-jalan, tetapi mereka menjawab serangan kita dengan lemah lembut yang tidak masuk akal. Kami menanggapi dengan menjadi lebih agresif terhadap mereka, dan kami mulai merencanakan bagaimana kami bisa menyiksa dan mengintimidasi mereka. Kami belajar bahwa Allah telah melegalikan untuk membunuh mereka, merampas harta mereka dan menjarah rumah-rumah mereka. Menurut Kuran, semua harta milik mereka untuk ada dipertimbangkan “hadiah” dari Allah untuk umat Islam.
Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, (S.. 59:7) [Islam melegalkan tindakan dosa; pembunuhan dan perampasan]

Ini berarti bahwa semua milik mereka harus diambil dari mereka tanpa perang seperti nabi telah lakukan terhadap para Yahudi Bani Kurais ketika ia mengepung mereka, membunuh orang-orang muda mereka, mengambil tawanan wanita mereka dan menduduki tanah mereka dengan semua pohon-pohon palem dan menendang mereka dari kota mereka.

Meskipun kami tidak bisa melakukan apa yang nabi lakukan, kami berhasil masuk ke toko-toko orang Kristen dan merampok mereka. Permusuhan dan kebencian di dalam hati kami mencapai puncaknya ketika kami menyerang gereja-gereja mereka di berbagai desa di mana saya dulu tinggal. Bagian atas operasi adalah rencana untuk menyerang dan menghancurkan salah satu gereja. Serangan ini mengganggu pemerintah ketika orang-orang Kristen Koptik berdemonstrasi menentang kejadian itu. Pada saat yang sama, pemerintah tampak bahagia atas kejadian itu karena mereka memperlakukan kami dengan sangat baik di penjara.

Setelah kami menjalani hukuman kami, para penduduk desa menerima kami seperti pahlawan. Ini merupakan motivasi yang baik bagi kami untuk terus menganiaya orang-orang Kristen tetapi dengan kearifan dan kehati-hatian lebih untuk menghindari ditangkap oleh polisi. Semua peristiwa ini terjadi dalam waktu singkat. Saya telah lebih banyak terlibat dan berita yang terus seperti api liar di antara sesama siswaku. Akibatnya, salah satu pemimpin puncak Kelompok Islam yang disebut “al-Takfeer wal-Hijrah” ingin duduk bersama saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang mendalam atas keberanian saya dan kasih kepada Allah dan nabi-Nya. Saya tahu bahwa ia anggota kelompok Syukri dan saya menjadi sangat bahagia tentang hal itu. Saya ingin menjadi salah satu dari mereka. Pemimpin itu sangat berhati-hati dalam pembicaraan dengan saya. Dalam salah satu liburan musim panas, kami mengatur sebuah kamp untuk group Islam Sekolah Medis. Kami mendapat dukungan keuangan untuk kamp dari administrasi sekolah. Tujuan dari kamp yang menghabiskan banyak waktu membahas konsep-konsep Islam.

Setelah kamp, teman saya meminta saya pandanganku mengenai Kelompok Islam itu dan bertanya apakah saya ingin bergabung dengan mereka jika saya mendapat kesempatan. Dia terus mengutip dari para Hadis tentang perlunya bergabung dengan sebuah kelompok yang mengikuti Allah, sunnah-Nya dan Nabi-Nya. Satu pernyataan itu, “Dia yang mati tanpa sebuah kesetiaan, mati seperti kafir Pra-Islam” Dia juga berkata, “Tidak ada Islam tanpa kelompok;  tidak ada kelompok tanpa Emir.”

Saya merasa, karena saya mengasihi Allah dan Nabi, jadi hal terbaik untuk dilakukan adalah bergabung dengan Kelompok Islam. Kelompok sejenis ini adalah yang paling dekat dengan gagasan saya tentang Islam. Mereka mengatur bagi saya untuk bertemu kelompok Emir di rumah seorang anggota di Kairo. Saya menjabat tangan Emir Shokry dan berkata kepadanya, “Saya berkomitmen kepada Anda untuk mendengarkan dan taat, melalui tebal dan tipis, dan untuk menempatkan Anda di depan diri saya  sendiri, kecuali saya menyaksikan ketidaksetiaan dari Anda.” Adalah kesetiaan bukan hanya kata-kata Anda mengulangi. ; Anda secara nyata menaruh hidup Anda di tangan Emir. Anda akan menjual diri kepada Allah dan Nabi.” [Sumpah semacam ini umum dipakai pada sekte-sekte sesat. tanpa sadar menjadikan manusia sederajat Pencipta mereka bahkan secara praktek perkataan dan perbuatan pemimpin menjadi sederat dengan Elohim].

Saya begitu senang hari itu, satu-satunya saat saya lebih bahagia adalah hari saya dibaptis nanti. Setia membuat saya tunduk kepada Emir tanpa keraguan. Saya melakukan apapun yang ia inginkan tanpa memikirkan rasa sakit dan pergumulan-pergumulan yang saya akan hadapi karena saya merasa saya mematuhi Allah dan Nabi. Saya siap untuk melakukan bahkan lebih banyak daripada apa saya diminta untuk lakukan. Saya mulai memperlakukan keluargaku dengan kasar. Saya berhenti menyapa mereka. Ketika mereka menanyai saya, saya akan membacakan kepada mereka, Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orangorang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaikbaiknya. (S. 18:103-4 )

Ayahku meminta saya untuk menceritakan apa yang, menurut saya, akan membuat dia seorang Muslim yang sejati. Saya bilang kepadanya tumbuhkan jenggot dan tidak mendengarkan radio. Dia setuju. Saya kemudian berkata kepadanya, “Ibuku tidak berdoa, karenanya, ia adalah seorang kafir dan Ayah tidak bisa hidup dengan dia. …” Ayahku sangat marah. Dia mencukur jenggot dan hampir memukul saya dengan batu besar, tapi saya lari.

Saya harus mengatakan bahwa hal pertama yang memotivasi saya untuk bergabung dengan Kelompok Islam adalah bahwa mereka begitu jahat terhadap orang Kristen, orang yang saya benci sekali. Saya selalu mencari ayat-ayat Kuran untuk membenarkan kebencian saya dan memberikan saya hati nurani yang jelas dalam apa yang saya lakukan.

Shokry menunjuk saya sebagai seorang Emir untuk kelompok yang lebih kecil di pinggiran Kairo. Dia begitu bangga padaku dan komitmen saya terhadap penyebabnya. Dia memanggilku ‘Abu Obeida’. Masing-masing anggota kelompok memiliki nama panggilan, kami tidak pernah tahu nama asli masing-masing.

Shokry percaya saya lebih dan lebih. Dia mengirim saya ke beberapa negara Arab dan asing untuk melakukan kontak dengan anggota Kelompok. Kami bekerja sama bersama untuk menarik anggota baru untuk bergabung dengan kami dan menerima kesetiaan mereka atas nama Emir Shokry Mustafa.

Pemerintah telah mengganggu kami, sehingga kami harus melarikan diri untuk waktu yang singkat ke bukit-bukit di luar Menia, Badary dan Assiut. Setiap kali kami ditangkap, kami dikirim ke Kairo dan kemudian dilepaskan. Kita semua merasakan perlunya perubahan lokasi karena kami tidak bisa lagi tinggal di antara orang-orang kafir, menurut Hadis nabi, “Saya menolak orang yang tinggal di antara orang-orang kafir” Kami harus mengirim anggota untuk memeriksa tempat terbaik untuk ‘pindah.” Kami mencari tempat permanen untuk hidup, kembali hanya untuk menghukum rezim sekuler yang tidak mengikuti perintah Allah.

Suatu hari pada tahun 1977, anggota lain dan saya diperintahkan untuk mencari kamar apartemen di daerah,berpenduduk sangat miskin, tidak ada pertanyaan yang diajukan. Kami menemukan apartemen yang cocok dan kami menyewa itu, masih tidak tahu kenapa. Hari berikutnya kami tahu bahwa Syekh Muhammad telah diculik oleh beberapa anggota kami. Beberapa menit kemudian, anggota lain mengunjungi kami dan memberitahu kami keseluruhan cerita. Sheikh Mohammed selalu menyerang kelompok kami. Sejujurnya, ia biasa menulis hal-hal yang salah tentang kami, menyatakan kami akan menikah seorang wanita untuk lebih dari satu pria. Kelompok kami memperingatkan dia berkali-kali untuk menghentikan serangan, namun ia menganggap ringan.

Kami diberitahu bahwa tujuan operasi itu adalah untuk lebih menekan pemerintah untuk melepaskan beberapa pemimpin yang telah ditangkap sehubungan dengan insiden Akademi Teknik Militer. Kelompok kami juga ingin meminta tebusan uang untuk menutupi sebagian besar biaya kami.

Beberapa jam kemudian, sebagian besar, jika tidak semua anggota kelompok kami ditangkap di seluruh Mesir. Bahkan orang yang memiliki hubungan jauh dengan kelompok kami ditangkap juga. Kami dipindahkan ke Penjara Kalla di mana kami menghabiskan 2 tahun disiksa dan diinterogasi dalam apa yang berlabel ‘kasus milik sebuah kelompok anti-pemerintah.’  Dua tahun kemudian, kami dibebaskan. Kami harus meninggalkan negara itu secepat mungkin. Kami membagi  kelompok kami dan menyebar ke beberapa negara Arab, menunggu perintah dari Emir, yang Shokry telah tunjuk untuk mengisi tempatnya. Itu adalah awal dari akhir untuk kelompok ini. Saya jujur mengatakan bahwa jika bukan karena “Operasi Sheikh Mohammed” kelompok kami akan memiliki kekuatan besar dalam menjalankan hal-hal di Mesir.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, beberapa dari kami sedang mencari untuk sebuah kota yang kami bisa pindah dalam persiapan untuk jihad yang besar. Kami diberitahu bahwa tempat itu ditemukan, dan banyak saudara sudah pergi ke sana. Pada awal 1980, saya bergabung dengan anggota kelompok lainnya di daerah itu. Itu adalah wilayah gurun dengan tidak ada orang di sekitarnya, dengan perkecualian beberapa Badui yang melewati. Kami sediakan tempat untuk tinggal dan mulai bergerak dalam kelompok kecil, karena kita hanya memiliki satu mobil. Banyak anggota kami dibesarkan di daerah ini, sehingga mereka membantu kita banyak untuk mengenal medan dan tradisi komunitas baru. Kami berhasil menggali sumur air di kamp kami. Kami memiliki kode rahasia untuk masuk dan keluar. Kami meronda kamp secara bergiliran. Kami terlatih dalam penembakan senjata dan memberikan setiap orang senapan untuk membela diri dalam kasus serangan.

Selama beberapa hari pertama, semua berjalan baik dan kami senang. Kami ingat saat nabi Muhammad bermigrasi ke Madinah. Kami menanti hari kami kembali ke Mesir dan menaklukkannya seperti  nabi lakukan terhadap Mekah. Kami memiliki tradisi setiap kami masing-masing, telah meninggalkan keluarga kafir kami dan berhijrah demi Allah, mengulangi bait puisi berikut:

“Selamat tinggal, tanah air saya, itu mungkin untuk  waktu yang lama!
bangsamu dan milikku telah meninggalkan Kuran!
Sulit bagi saya untuk pergi, tapi
saya mencari kebenaran! ”


Kami mengulangi kata-kata dengan penuh antusias. Kami tidak peduli apapun selain Panggilan Islam. Kami siap untuk menghadapi semua kesulitan demi Allah. Kami pikir jika kita mati, kami akan masuk surga, jika tidak, kami akan memenangkan pertempuran. Bait puitis ini mengisi kami dengan sukacita dan kebanggaan, tetapi juga mengisi mata kami dengan air mata dan kesedihan, hilang teman dan keluarga.

Kota yang kemana kami berimigrasi menderita masalah, kerusuhan dan perang gerilya. Semua orang kota bersenjata, yang membuat lebih mudah bagi kami untuk membawa senjata tanpa kerumitan apapun. Pihak berwenang setempat mendengar kehadiran kami melalui para Badui, yang kadang-kadang tersesat di gurun di daerah ini dan biasanya datang kepada kami untuk menunjukkan jalan kembali. Suatu hari, salah satu penjaga kami melihat, melalui teleskop, dua mobil bersenjata datang ke perkemahan kami. Ketika mereka hanya beberapa meter jauhnya, ia menghentikan mereka dan bertanya kepada mereka apa yang mereka inginkan. Mereka ingin bertemu dengan kami untuk mencari tahu siapa kami, mengapa kami tinggal di daerah tersebut dan kelompok mana kami tergabung. Mereka takut bahwa kami anggota pembangkang daerah itu. Setelah percakapan panjang, di mana saya ambil bagian, mereka tahu bahwa kami tidak penduduk setempat tapi pendatang ke daerah tersebut, yang membuat mereka lebih curiga. Setelah banyak diskusi, kami dengan sedih harus meninggalkan kamp kami dan meninggalkan impian kami di daerah tersebut.

Karena kami berada di sebuah negara di sebelah Mesir, kembali itu mudah dan murah. Kami tidak punya pilihan selain untuk melanjutkan rencana kami. Kita semua memutuskan untuk kembali ke Kairo, tetapi beberapa kawan dan saya, untuk beberapa alasan yang tak terduga, tinggal di belakang untuk waktu yang lama. Selama waktu itu, kita harus mengetahui beberapa saudara yang berpartisipasi dalam perang Afghanistan. Kami berhasil meyakinkan mereka bahwa perang Afghanistan bukan demi Allah dan Islam. Mereka menyatakan kesetiaan kepada kelompok kami dan banyak membantu kami sampai kami kembali ke Mesir melalui  pejalanan darat pada awal 1990.

Ketika kami mendekati Kairo, kami ditangkap dan dibawa ke Departemen Dalam Negeri. Setelah beberapa waktu interogasi, mereka merilis kami. Kami mencoba, bersama-sama dengan orang-orang yang tetap setia, untuk membangun kembali kelompok tersebut. Kami biasa bertemu dua kali sebulan untuk mempelajari dan merumuskan ide-ide utama kelompok. Tugas ini selesai pada Februari 1990.

Suatu hari, salah satu saudara kami yang bertugas untuk meninjau buku, majalah dan koran, mengumpulkan informasi tentang kelompok Islam serupa di seluruh dunia, datang kepada kami. Dia sedih dan wajahnya tampak merah. Dia bertanya kepada kami, “Apakah kalian membaca koran hari ini” Kami berkata, “Tidak, ada apa?” Dia berkata, “Mereka menahan sekelompok misionaris yang mempertobatkan Muslim nominal ke Kristen.  Memikat mereka dengan uang atau melibatkan mereka dalam hubungan seksual…. “ Kami sangat malu, terutama karena itu merupakan bulan Suci Ramadan. Kami harus mengambil sikap terhadap orang-orang yang mempromosikan kejahatan. Tapi bagaimana kita dapat merubah kejahatan? Dengan tangan? Itu akan sangat sulit. Dengan kata-kata? Itu akan sedikit yang bisa kami lakukan, tapi bagaimana dan kapan? [Menurut Dr. Mark A. Gabriel, dalam bukunya “Islam and Terrorisism“, berita ini hanyalah gossip, dibuat untuk membangkitkan kebencian]

Tahap permulaan:
Ketika kami membaca koran itu, kami merasa malu bahwa kami telah gagal berdiri untuk Allah. Kami memutuskan untuk memainkan peranan  yang efektif terhadap penginjilan Kristen untuk menghentikannya dengan segala cara. Setelah argumen panjang, kita mengesampingkan solusi militer karena berbagai alasan. Sebagai contoh, sistem keamanan negara telah berkembang di Mesir secara luar biasa dibanding pada 1970-an, para pemimpin kelompok kami aktif, para pemimpin aktif kelompok kami , yang berhasil menyelinapkan kami ke dalam  wilayah  bahaya di luar negeri, sudah pergi dan kami tidak memiliki pengganti yang memadai. Beberapa dari pemimpin tersebut telah dihukum mati; lainnya melayani hukuman seumur hidup.

Oleh karena itu, kita tidak tinggalkan pilihan militer dan mencari jalan lain untuk mengatasi penginjilan Kristen. Akhirnya, kami berpikir tentang ‘confrontation’ logis – mengekspos ajaran-ajaran palsu dan korupsi di dalam Taurat dan Alkitab. Semua pemimpin memuji pendekatan itu, dan kami mulai mencari orang yang dianggap mampu untuk tanggung jawab besar ini menunjukkan kebenaran dan mengalahkan orang-orang kafir. Saya tak pernah berharap menjadi calon untuk tugas itu, bukan karena kurangnya kemampuan tetapi karena semua orang tahu betapa saya benci orang Kristen. Setelah lama berdiam diri tegang, suara Emir mengumumkan nama orang yang memilih untuk melakukan pekerjaan itu. Saya hampir pingsan ketika mendengar namaku. Saya bersih keras dengan pendirian ku disertai kemarahan. Bagaimana mungkin mereka meminta saya untuk melakukan pekerjaan itu, salah satu syaratnya tentunya, membaca buku Yahudi dan Kristen?

Emir kami  menatapku dan berkata,“Ini perintah! Kamu tidak punya pilihan selain mematuhi jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Terakhir.” Dia mengutip dari Kuran, Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. (S. 33:36)

Saya mencoba meyakinkan Emir untuk memilih orang lain, tapi ia menolak. Dia berkata padaku, “Saya merasa bahwa kamu  adalah orang terbaik untuk tugas ini. Jika kamu melakukannya dengan baik, kamu akan membunuh 2 burung dengan satu batu. Pertama, kamu akan mendidik semua umat Islam dan membuka mata mereka kepada fakta-fakta yang mereka tidak dapat melihat, kedua, kamu akan mendapatkan banyak ‘uang yang baik’, karena penelitian kamu akan diterjemahkan dan diterbitkan di seluruh dunia …. ”

Kata-katanya membuatku begitu ingin untuk mengambil topik tersebut dan sifat penelitian. Emir mengatakan, “Penelitian kamu harus memiliki 2 bagian:

Pertama, untuk membuktikan dari Taurat dan Alkitab keaslian panggilan Muhammad sebagai nabi, seperti Kuran katakan; (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, (S. 7:157);
Kedua, untuk membuktikan, menemukan kontradiksi, bahwa Taurat dan Alkitab yang orang-orang miliki pada saat ini tidak sama dengan Kitab yang diilhami oleh Allah, dan mereka telah berubah dan dirusak ….”

Dengan enggan, saya menerima misi ini. Saya berkata kepada Emir, “Tapi tugas ini menuntut bahwa saya membeli Taurat dan Alkitab untuk dibaca.” Dia mengatakan kepada saya bahwa kami akan pergi ke pusat kota Kairo untuk membelinya. Kami berjalan di Jalan Gomhoria sampai kami menemukan sebuah toko buku yang menjual buku-buku ini. Kita tidak bisa mausk ke toko buku memakai pakaian tradisional kami karena itu mencolok. Orang-orang di toko buku kemungkinan besar akan telepon polisi berpikir bahwa kami datang untuk merusaknya. Seorang pria melewati tempat itu, dan kami menghentikannya dan bertanya tentang namanya. Kami memintanya untuk pergi ke toko buku dan membeli buku untuk kami. Dia.

Emir dan saya kemudian pergi ke rumah saya di selatan Kairo. Kami membutuhkan waktu lebih dari beberapa jam, untuk saya mencoba menyingkirkan Alkitab. Sekali saya tinggalkan itu di kursi, waktu lain, saya pura-pura lupa. Tapi setiap kali, Emir akan membawanya kepada saya dan mengingatkan saya untuk Kitab itu tetap bersamaku. Akhirnya, kami sampai di rumah. Emir berangkat ke kota asalnya dan meninggalkan saya untuk memulai perjalanan sulit dengan Taurat dan Alkitab.

Hari pertama ialah saat-saat yang paling sulit. Saya berada di bawah kesan bahwa Alkitab itu bukan dari Allah, dan bahwa hal itu bisa membawa setan ke rumah saya dan saya tidak akan bisa berdoa. Oleh karena itu, saya menyimpannya di luar kamarku. Selama beberapa hari, saya paranoid. Setiap kali saya mendengar suara di rumah, saya pikir Allah telah mengirimkan setan untuk menghukum saya karena kehadiran buku ini. Saya tidak menyimpan Alkitab di ruang di mana saya berdoa karena saya pikir malaikat tidak akan masuk ke kamar jika itu  ada di sana.

Saya mengalami ketakutan untuk waktu yang lama sampai saya menyadari bahwa saya tidak memilih untuk memiliki kitab ini di rumahku. Saya hanya mentaati Allah, melalui mematuhi Emir. Nabi Muhammad memerintahkan kita dalam Hadisnya untuk mematuhi Emir, “Barangsiapa menuruti Emirku telah mematuhi saya, dan siapa mendurhakai Emirku telah mendurhakaiku.” Saya sampai pada kesimpulan bahwa saya melaksanakan perintah Emir yang dipilih-Allah, dan, karena itu, Alkitab tidak akan membahayakan saya jika saya menyimpannya di kamarku; Allah akan membantu saya.

Kelompok ini memberikan saya semua yang saya butuhkan. Mereka memberiku 500 £ Mesir setiap bulan sebagai uang saku sebagai imbalan untuk penelitian penuh waktu. Setiap kali saya mencoba melupakan penelitian itu, saya akan mengingat Hadis, “Barangsiapa mentaati Emirku telah mematuhi saya, dan siapa mendurhakai Emirku telah mendurhakaiku” Saya meminta Allah  tiga kali untuk pengampunan dan kemudian berdoa.. Tidak ada yang mengalihkan perhatianku dari melakukan pekerjaan itu. Saya punya banyak referensi yang membantu saya melakukan yang terbaik, dan saya sudah memiliki pengetahuan yang baik tentang masalah Kristen. Jadi, saya membuat keputusan untuk memulai perjalanan keras ini.

Saya khawatir karena saya tidak tahu di mana atau bagaimana untuk memulai. Saya tidak memiliki metode khusus untuk mendekati dua bagian dari penelitian. Misalnya, mengenai isu membuktikan kenabian Muhammad, saya berharap menemukan nama yang tepat ‘Muhammad’ di dalam Taurat dan Alkitab, atau setidaknya ‘Ahmed’ atau ‘Mahmoud’. Saya tidak tahu di mana atau bagaimana untuk memulai. Situasi kacau di pikiran saya. Saya tidak yakin nama apa yang saya harus cari di dalam Taurat: Mohammed? Ahmed? Mahmoud?

Saya jadi bingung, jadi saya memutuskan untuk pindah ke bagian kedua dari penelitianku, yaitu untuk mencari perbedaan dan kontradiksi untuk membuktikan bahwa Taurat dan Alkitab tidak dari Allah [dalam arti: YAHWEH]. Demikian juga, saya gagal untuk menentukan standar yang saya bisa mengukur Taurat dan Alkitab dan menyangkal mereka. Saya marah karena hal-hal ini, entah bagaimana, membuat saya merasa tidak kompeten dalam melakukan penelitian ini. Menyerah bukanlah salah satu kualitas saya, jadi saya memutuskan untuk fokus dan tidak menyimpan upaya untuk mencapai tujuan saya.

Emir dan saya bertemu sebulan sekali untuk membahas penelitian. Setiap kali saya memintanya untuk berubah pikiran dan menugaskan ke orang lain dan saya akan membantu. Namun, ia dengan aneh akan bersikeras bahwa saya adalah orangnya untuk pekerjaan itu.

Saya berdoa dan meminta Elohim untuk kekuatan. Saya merasa luar biasa berani dan mulai membaca Alkitab, tetapi tanpa sistem atau metode. Saya mulai dengan kitab Kejadian dan saya tidak tahu apa yang harus dicari. Saya menemukan nama-nama aneh yang belum pernah saya dengar sebelumnya dalam hidupku, yang membuat saya marah. Saya melemparkan buku di sudut dan berkata dengan marah, “Orang-orang Yahudi dan orang Kristen bodoh. Bagaimana mereka bisa mengatakan  bahwa sebuah buku yang aneh  seperti  ini, penuh dengan nama-nama aneh, berasal dari Allah? Mereka gila. ” Saya berhenti membaca!

Dua hari kemudian, saya kembali membaca Alkitab. Kali ini, saya tidak membaca dalam Kejadian karena saya tidak ingin menemukan nama-nama dan kata-kata yang sulit. Saya membalik-balik halaman dan membaca terus. Saya terkesan dengan tulisan-tulisan dalam kitab Bilangan, Keluaran dan Ulangan. Saya menemukan banyak informasi tentang Musa, Firaun dan Bani Israel, yang ditulis secara rinci, yang memuaskan rasa ingin tahuku.

Saya selesai membaca Perjanjian Lama dalam 2 bulan, tapi membaca asal-asalan, tidak secara mendalam. Saya membacanya sekali lagi, kali ini mencari sesuatu yang relevan kepada Mohammed, Ahmed atau Mahmoud, tapi tidak menemukan apa-apa. Saya pindah ke pembacaan Perjanjian Baru. Saya benar-benar membacanya, tetapi tidak mencapai kesimpulan saya tidak tahan akan semuanya. Saya merasa marah dengan Emir yang membuat saya terjebak dalam penelitian ini dari awal.

Ketika Emir mengunjungi saya, saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak bisa menemukan petunjuk yang bisa menuntun saya untuk apa yang kita cari. Saya telah membaca Taurat dan Alkitab dan tidak menemukan apa pun. Emir mengatakan kepada saya bahwa ada sebuah buku yang digunakan untuk studi di luar negeri yang akan banyak membantu saya dalam penelitiaku. Ini berjudul “Mengungkap Kebenaran”, yang ditulis oleh Al Sheikh Hindi. Saya mencari buku di perpustakaan pribadi saya sampai saya menemukannya.

“Mengungkap Kebenaran” adalah referensi berharga bagi kami, terutama ketika kami berdebat dengan orang Kristen untuk meyakinkan mereka bahwa Islam adalah agama yang benar. Itu berisi kutipan yang salah dari Taurat dan Alkitab, yang kami biasa pakai untuk memberitahu orang Kristen yang telah masuk Islam. Kami menggunakannya dengan sukses pada tiga orang berturut-turut.

Saya mulai penelitian cara baru, dengan bantuan dari beberapa buku lain yang Emir kasih saya, seperti Sekte-sekte dan Denominasi -denomiinasi oleh Shahristani, Menentukan Sekte-sekte dan Bidat-bidat oleh Ibn Hazm, dan beberapa tulisan-tulisan historis dan biografis lainnya yang menyerang Kekristenan. Saya menuliskan semua ayat yang Ibn Hazm katakan semua itu bertentangan dan melihat mereka dalam Taurat dan Alkitab. Sebagian besar ayat-ayat saya temukan yang diungkapkan secara berbeda, atau disebut beberapa orang yang berbeda. Saya tidak menemukan banyak kontradiksi, tapi jika kita menggunakan ayat-ayat ini sebagai dasar untuk membuktikan bahwa Taurat itu tidak asli, kita harus menerima ayat-ayat serupa dalam Al Qur’an, dan itu juga akan menjadi tidak berasal dari Allah. (Saya kemudian menuliskan temuanku dalam sebuah penelitian berjudul Menjawab Ibn Hazm”).

Saya mencari dengan tulus, termotivasi hanya karena kasihku terhadap Allah dan Nabi. Kelompok saya melihat peningkatan daya tarik saya dengan Alkitab. Mereka selalu bertanya tentang itu dan saya selalu berbohong kepada mereka. Saya harus menyusun alasan, jadi saya mengatakan kepada mereka bahwa kita bertemu dengan beberapa orang muda Kristen untuk mengundang mereka untuk Islam dan kami harus mengetahui latar belakang mereka.

Setelah gagal dalam usaha saya untuk merusak Taurat dengan membuktikan kontradiksi, saya memutuskan untuk mencoba bagian kedua dari tugas saya, yaitu untuk membangun dari ayat-ayat Taurat dan Alkitab bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Saya menatap buku Al’s Hindi, Mengungkap Kebenaran, dan saya sangat gembira untuk menemukan apa yang saya inginkan. Saya berdoa dengan sukacita dan bersyukur pada Allah bahwa Ia telah memimpin saya untuk ayat-ayat ini. Saya mulai menuliskannya dalam urutan sebagai berikut:

Kejadian 17:20 & 49:10
Ulangan 18:18-20 & 32:21 & 33:1-3
Yesesaya 42:9  & 54: 1-3 & 65: 1-2
Maz. 45: 1-3 & 149:3
Daniel 2: 31-32
Matius 3:2 & 13:31 & 20:1 & 21:33
Yohanes 14:15
Wahyu 2:27

Ayat-ayat ini bukanlah satu-satunya ayat yang Al-Hindi sebutkan untuk membuktikan kenabian Muhammad. Ada beberapa ayat lain, yang saya keluarkan karena mereka tidak jelas. Saya belajar ayat-ayat ini dengan sangat hati-hati dan obyektif. Kami, sebagai kelompok orang percaya yang unik, tidak pernah menerima informasi apapun tanpa bukti yang kuat dari sumber yang dapat dipercaya. Ayat-ayat itu, di permukaan, sangat menarik bagi setiap Muslim untuk diterima, tetapi melalui penelitian – metode Muslim fundamental – seorang akan menemukan bahwa pemotongan berdasarkan bukti tidaklah valid.

Oleh karena itu, saya mengumpulkan semua buku yang saya pikir akan membantu saya dalam penelitian saya. Saya mulai membayangkan masa depan saya setelah keberhasilan penelitian saya. Saya pastilah akan melakukan suatu bantuan besar kepada Allah dan Nabi dan memperoleh jumlah uang yang mengiurkan. Berbicara tentang uang, Emir dan saya pergi ke toko buku Sunnah Advokat dan menjelaskan kepada mereka ide buku saya. Mereka terkesan. Mereka meminta satu bab sebagai sampel dan ditawarkan untuk membeli hak cipta tersebut. Saya bermimpi menjadi kaya dan terkenal karena buku yang saya tulis, tapi motivasi utama saya adalah untuk menyatakan kemenangan bagi Islam.

Saya mulai membaca Alkitab sekali lagi. Saya menjadi kecanduan membaca Alkitab. Saya menulis banyak bukti untuk membuktikan, dengan logika dan penugehan, bahwa Taurat dan Alkitab mengkonfirmasikan kenabian Muhammad. Hasilnya adalah tidak baik karena saya terlalu teliti dalam penelitian saya, saya pikir, demi untuk konfirmasi mutlak pesan ilahi Mohammad. Saya telah bergantung banyak pada referensi, seperti The Dictionary  of Countries oleh Yakot Al-Hamawi. Saya datang di kota bernama Faran. Saya periksa untuk melihat dari mana dan apa nama modernnya. Saya juga menggunakan kamus linguistik seperti Arab’ Tonge dan bahkan kamus-kamus Ibrani untuk memahami makna kata-kata seperti’ Shelon’, misalnya.

Saya ingin menghasilkan sebuah buku yang tidak satu orang bisa membantah, bahkan satu kata dari itu. Sayangnya, hal itu tidak seperti yang kuinginkan. Semua logika dan pemotongan linguistikku gagal, satu demi satu. Saya tidak bisa menemukan satu ayat yang menopang teoriku. (Sementara itu, saya menulis buku lain disebut “Kebenaran Tertahan” (The Stifled Truth), di mana saya sebutkan semua ayat yang saya telah pelayari dan bagaimana saya telah mencapai kesimpulan bahwa mereka tidak merujuk kepada Nabi Muhammad).

Saya selesai mempelajari semua ayat-ayat ini, tetapi tidak menemukan apa yang saya cari. perasaan saya adalah campuran dari kesedihan, keputusasaan, kecemasan dan kebingungan. Sebelumnya tak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa Muhammad bukan seorang nabi. Saya mencoba menenangkan diri dengan kesimpulan bahwa saya gagal untuk menghubungkan bukti dengan karakter Nabi.

Saya memutuskan untuk memberikan masalah ini kesempatan lainnya. Kali ini saya menggunakan buku-buku lainnya, seperti Bukti-bukti Kenabian, (Evidences of Prophet-hood), Kamus Negara (Dictionary of Countries) dan The Arabic Encyclopedia. Saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak gagal kali ini. Kegagalan, setelah semua masalah telah dilewati, berarti kehancuran seluruh hidupku. Yah, waktu kedua adalah tidak lebih baik daripada yang pertama, tetapi lebih buruk lagi! Pada kedua kalinya, saya datang di banyak titik yang menentang teori saya.

Kadang-kadang, saya melihat pada banyaknya buku-buku Islam dan referensi dan bertanya-tanya, “Mungkinkah bahwa semua buku ini telah menipu kita dan menyajikan kita dengan karakter imajiner? Jika itu terjadi, Allah tentunya tidak layak disembah … “ Saya tidak akan turun jalan ini.. Kemudian, saya dengan cepat akan berdoa dan meminta kepada Allah untuk pengampunan.

Tanpa sadar, saya mendapati diriku menghadap subjek penelitianku dan kembali membaca Alkitab untuk ketiga kalinya. Saya menemukan kenikmatan aneh dalam membaca Alkitab, begitu banyak sehingga saya takut saya jatuh di bawah mantra. Kami sering berkata bahwa orang Kristen adalah ahli-ahli sihir yang mengembangkan sihir mereka dari Taurat dan Alkitab. Namun demikian, Alkitab telah menarik saya dengan cara yang aneh, tak tertahankan.

Emir mengunjungi saya secara teratur. Setiap kali saya berharap dia akan marah kepada saya karena tidak mencapai tujuan dan untuk melepaskan saya dari tugasku. Sebaliknya, setiap kali ia tampak lebih antusias dari sebelumnya, meyakinkan saya bahwa saya adalah yang terbaik untuk pekerjaan itu.

Saya mulai membaca Injil Matius dan sudah tersandung bahkan sebelum saya menyelesaikan bab pertama. Saya melihat bahwa mereka menelusuri silsilah Ha Mashiah mundur ke Daud. Saya pikir mereka gila. Saya menghibur diri dengan pikiran ini, berharap menemukan apa yang saya cari. Saya benar-benar tertarik dengan bab empat, lima dan enam dari Injil Matius. Saya telah membaca sebagian dua kali sebelumnya, tapi kali ini, saya merasa seolah-olah saya membacanya untuk pertama kalinya dalam hidupku. Saya merasa seolah-olah ada tangan menekan kepalaku dan membuka pikiranku. Saya mendengar suara dalam diriku berkata, “Sudah saatnya kamu memahami apa yang sedang kamu baca tanpa kuatir tentang siapa yang benar dan siapa yang salah ….” Saya menggigil tanpa alasan yang jelas, dan merasa seolah-olah saya berada dalam setengah kesurupan .

Saya menemukan Alkitab berbicara tentang apa yang kita lakukan kepada orang-orang Kristen seolah-olah itu mencatat peristiwa ini. Saya membaca apa yang Alkitab katakan tentang penganiayaan, penghinaan dan pembunuhan – ide kita dari mematuhi Allah. “Aneh sekali bahwa Alkitab ini tahu apa yang kita katakan dan lakukan untuk orang Kristen! Mungkinkah orang Kristen baru-baru ini menambahkan bagian itu? ”

Kita selalu menafsikan kasih Kristen dan kerendahan hati sebagai rasa takut kepada kita sebagai muslim karena mereka adalah minoritas yang lemah, seperti Kuran katakan, Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan (S. 2: 61).

Saya menemukan banyak ayat mempromosikan kasih, ketaatan, penundukan dan bahkan kasih terhadap musuh. Saya bingung, “Bagaimana mungkin seseorang menuliskan penyebab penghinaan sendiri?”

Setiap kali saya membaca perintah Elohim bagi orang Kristen untuk mengasihi musuh-musuh mereka, saya teringat perlakuan kasar saya kepada orang tuaku. Saya terlalu kejam kepada mereka. Saya selalu menemukan cara baru untuk menyakiti mereka. Satu waktu, saya harus mengalami sakit dan menjalani operasi serius di rumah sakit. Ayahku ingin bertemu saya, tapi saya menolak dan mengatakan bahwa saya tidak ingin melihat seorang kafir. Ibuku biasa mengirimkan saya makanan melalui pihak ketiga, jika tidak, saya akan menolak untuk menerimanya. Dia sering berdiri selama berjam-jam di luar jendela rumah sakit ku, dalam panas terik, hanya untuk mencuri melihat saya melalui jendela.

Kenangan ini selalu membuat saya menangis dan mengutuk hari saya mengenal Allah. Saya sering menghibur diri dengan memikirkan apa yang Abu Obeida bin Garah, dan Abu Bakar Al-Sedeek telah lakukan kepada ayah-ayah mereka sendiri; dan Mosaab bin Omira, kepada ibunya. Itu akan menangkan perasaan saya.

Saya selesai membaca Injil Matius
, tetapi kata-katanya telah terukir dalam ingatanku. Mereka mengejar saya siang dan malam, dan setiap kali saya ingin melakukan sesuatu yang buruk, saya membaca seluruh Injil dan Surat-surat dan takjub untuk mendapatkan bahwa filsafat dan retorikanya lebih unggul daripada Kuran. Karena Alkitab ditulis 630 tahun sebelum Islam, bagaimana mungkin kita katakan bahwa Kuran adalah unik dalam retorika?

Suatu malam salju yang dingin, saya membaca sebuah Surah dari Kuran berharap untuk menghapus kata-kata Injil Matius dari pikiranku. Para Muslim dan saya cemburu, selalu iri pada orang Kristen karena mereka menikmati persahabatan yang erat dengan banyak orang. Sebaliknya, kita tidak bisa membangun bahkan hubungan biasa dengan toleransi minimum, untuk mengundang orang bergabung ke Islam. Ini merupakan hambatan besar dalam cara kita. Panggilan Islam tidak mengizinkan kita setiap peluang untuk membangun hubungan yang akan membawa kita lebih dekat kepada orang – hal yang sangat kita butuhkan dalam rangka untuk menarik mereka ke Islam.

Hidup kita penuh dengan kekerasan, kekejaman dan terorisme. Ini bukan perilaku normal kita. Kita merasa bahwa jika kita tidak bertindak seperti ini, kita tidak akan patuh kepada Allah. Allah telah menyatakan dalam Kuran dengan cara kita memperlakukan orang-orang kafir, baik Ahli Kitab, pagan atau Muslim palsu. Kuran mengatakan tentang Ahli Kitab,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim. (S. 5:51.)

Adapun jenis lain dari kafir, seperti umat Islam yang tidak berdoa, perpuluhan, tumbuh jenggot atau melakukan dosa dan menolak untuk bertobat, Kuran mengatakan,  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. (S. 4:144)

Adapun mengenai anggota keluarga dan kerabat, Kuran menyatakan,  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.  (S. 9:23)
Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. (S. 58:22)

Jika kita tambahkan ayat-ayat Kuran ini, Hadis otentik diceritakan oleh Al-Bokhary oleh Muslim dan oleh Al-Termezy; menurut Omar, nabi Muhammad berkata, “Jangan berjabat tangan dengan Ahli Kitab, jangan membalas salam mereka , jika mereka bertemu kamu di jalan, dorong mereka ke samping.”

Ada puluhan ayat-ayat ini yang telah didefinisikan tentang hubungan kita dengan keluarga, teman dan non-Muslim. Kita tidak mengatakan atau memilih dalam mendefinisikan hubungan ini karena pemikiran Islam adalah umum, dan Kuran pada khususnya, tidak memberikan ruang untuk setiap muslim menggunakan pikirannya. Sebaliknya, orang yang menggunakan pikirannya untuk menjelaskan sebuah ayat [Kuran] atau Hadis akan diberi label ‘kafir’. Anda harus menerima saja hal-hal sebagai Mohammad telah menafsirkan mereka. Jika ada sesuatu yang tidak disebut-sebut oleh Muhamad, kamu jauh-jauh dari itu. Al-Bokhary menyebutkan sebuah hadis. Menurut Ibnu Abbass, Nabi Muhammad berkata, “Siapa pun menyatakan pendapat sendiri tentang Kuran, akan menyediakan tempatnya di neraka.” [Menakut-nakuti orang yang mempertanyakan Kuran]

Setelah semua ayat-ayat Kuran dan Hadis ini, bagaimana kita bisa bersikap baik atau ramah terhadap orang-orang yang berbeda dari kita? Kami tidak bisa melakukan itu, sebagai Kuran mengatakan, Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang lalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka,” (S. 11:113)

Oleh karena itu, hati saya penuh dengan kemarahan dan kebencian setiap kali saya membaca Alkitab ayat apa saja yang berbicara tentang cinta dan pengampunan. Banyak kali, saya merasa malu saat membaca Alkitab yang kita diklaim sebagai rusak. Saya bertanya-tanya, “Jika orang Kristen mengubah Alkitab dan masih memperoleh kasih dan menghormati rakyat, bagaimana dengan perbuatan yang telah kita lakukan – yang tidak mengubah firman Allah, tetapi gagal dalam hal itu?” Sesuatu pastilah ada yang salah.

Saya berusaha menyisihkan pikiran-pikiran ini. Sebuah pikiran terus kembali. Bagaimana jika saya tidak mencapai kesimpulan dalam penelitian saya? Saya berjuang begitu banyak setiap kali saya mengalami pikiran-pikiran ini, saya menangis dengan suara keras, “Semoga Allah mengampuni saya.” Saya menyatakan bahwa tidak ada ilah selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya. Maka kemudian saya akan bergegas untuk berdoa untuk membuang pikiran-pikiran ini. Saya berkata pada diriku sendiri bahwa sebenarnya Muhammad Rasul Allah, bahkan jika saya tidak bisa membuktikan itu dari Taurat dan Alkitab.

Masalah saya menjadi lebih serius. Daripada mencari kenyataan untuk membuktikan kenabian Muhammad, saya menemukan diri saya tertarik dengan kata-kata manis dari Taurat dan Alkitab. Saya bertanya-tanya, “Bagaimana saya bisa menghilangkan pengaruh mereka pada saya.” Bagaimana saya dapat membuktikan bahwa Taurat dan Alkitab itu bukan dari YAHWEH?” Semua ide-ide yang tertulis dalam mereka berdua adalah baik dan tidak mungkin ditulis oleh manusia. Bagaimana mungkin orang menembus kedalaman masa depan dan berbicara, dua ribu tahun yang lalu, tentang hal-hal yang terjadi di saat ini? Jika kita mengasumsikan, demi argumen, bahwa Taurat dan Alkitab disusun oleh manusia belaka, kita akan menempatkan manusia pada tingkat yang sama dengan Elohim dalam pengetahuan dan kebijaksanaan. Kita tentu tahu bahwa Elohim adalah Maha Tahu, Maha Kuasa dan tidak ada kesamaanya.

Tiba-tiba saya mendapati diriku membaca Kitab Mazmur, dan kemudian Kitab Amsal. Saya belajar ayat-ayat dari Mazmur 23 dan 143 dan meulang mereka dalam doa-doa saya. Siapapun yang mendengar saya berdoa telah tersentuh oleh ayat-ayat ini dan meminta saya untuk menuliskannya sehingga mereka bisa menggunakannya dalam doa. Saya masih mencoba menemukan bukti kenabian Muhammad dan kesalahan Alkitab, tapi tidak bisa menemukan apa-apa. Saya berjuang dengan keraguan dan pikiran yang bertentangan dalam diriku. Saya mencoba untuk mengabaikan mereka, tapi mereka bertambah kuat setiap hari. Saya mengasihi Elohim, tetapi latar belakang saya dan cinta saya kepada agama saya selalu mencegah saya berpikir bahwa Islam tidak mungkin agama yang benar yang diberikan oleh Elohim. Saya jadi bingung dan gelisah. Saya tidak bisa menikmati tidur nyenyak seperti sebelumnya.

Satu waktu, saya sedang berdoa pagi. Sementara mengucapkan ayat-ayat Kuran, saya tiba-tiba berhenti dan pikiran saya mengembara. Saya bertanya pada diriku sendiri, “Apa yang akan kamu lakukan jika, misalnya, Islam ternyata tidak menjadi jalan ke surga?” Saya berusaha menyisihkan pertanyaan ini, tapi saya tidak bisa. Saya bahkan tidak bisa menyelesaikan doa pagi. Saya menangis berat sampai saya tertidur di karpet. Beberapa jam kemudian, ibu saya membangunkan saya. Saya pergi bekerja dengan linglung. Saya tidak tahu dimana saya sedang berjalan atau kepada siapa saya bicara.

Ketika saya kembali ke rumah, saya merasakan ada keinginan yang kuat untuk membaca Alkitab. Saya membaca Injil Yohanes, bab 1-15. Saya menemukan jenis retorika, filsafat dan ekspresi linguistik yang sangat tinggi yang sangat elegan dan kohesif – terutama ketika Alkitab berbicara tentang domba dan gembala, pokok anggur dan tukang kebun, cabang-cabang yang berbuah dan orang-orang yang tidak akan dilemparkan ke api.

Saya menjerit di bagian atas suara saya, “Oh, Elohim, kasihanilah hamba-Mu! Tolong beritahu saya di mana Engkau berada dan di sisi mana: Engkau dengan orang-orang Yahudi dan Kristen? atau dengan Muslim?

Harap kasihanilah saya. Saya ini hamba-Mu. Saya berkomitmen hidupku untuk mengikuti Engkau. Saya bersyukur untuk semua nikmat-Mu. Saya tidak bisa berdiri di depan Engkau, dan Engkau tidak akan mengundurkan diri di depan sebuah napas-Mu.

Engkau adalah Elohim Yang Maha Esa dan saya manusia yang tak berdaya yang tidak bisa melakukan apa-apa sampai Engkau mengijinkan saya melakukannya. Engkau adalah Maha Penyayang, Maha Pengasih dan saya ini hamba yang tidak memiliki kekuatan atau kebijaksanaan. Seluruh hidupku ada di tangan Engkau.

Saya mengasihi Engkau sejak kecil. Saya mengorbankan diri demi surga dan kasih-Mu. Saya tidak peduli dengan penjara atau penyiksaan – bahkan seluruh dunia tidak tahan dengan cara saya mencari Engkau. Kenapa Engkau memperlakukan saya seperti ini? Saya mengasihi-Mu dan berusaha untuk menyenangkan-Mu dengan cara Nabi Muhammad-Mu mengajarkan kami, tapi di sinilah saya – tak berdaya dan tidak mampu untuk melanjutkan.

Masing-masing pihak mengatakan bahwa Engkau adalah Elohim mereka. Saya tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Oh, Elohim, akankah saya bersumpah kepada Engkau bahwa saya mengasihi-Mu? Saya rasa tidak, karena Engkau tahu semuanya. Oh, betapa saya menderita dalam pencarianku untuk Engkau! Saya meninggalkan studiku, keluargaku dan teman-temanku. Saya mengembara seperti seorang asing. Saya ditahan dan disiksa demi Engkau. Mengapa kau tidak menjawab?

Jika Engkau adalah Elohimnya para Muslim, ambillah segala sesuatu dari pikiranku kecuali Islam, dan jika Engkau adalah Elohimnya para Kristen, beri saya cahaya untuk mengikuti …. “

Saya tak bisa tidur dan pikiranku berputar: “Bagaimana jika Islam bukan jalan Elohim? Bagaimana jika jalan Elohim adalah Taurat dan Alkitab? Apakah kamu akan mengikuti orang-orang Kristen?” Saya akan menggigil memikirkan apa yang bisa terjadi padaku, sebagaimana jika Allah dan orang-orang akan menyalahkan saya?”

Suatu hari, saya menepis semua ketakutan dan berkata pada diriku sendiri, “Apa yang kamu inginkan? Enough is enough! Kamu tidak lagi seperti kamu yang dulu. Kamu memiliki dua jalan didepanmu, dan keduanya tampak lurus. Jangan buang waktumu dan cari jalan Elohim dengan semua kekuatanmu.

Tidak peduli jika itu ialah orang Yahudi, Kristen atau Muslim, satu-satunya hal penting jika itu ialah jalan Elohim – begitulah, jika kamu benar-benar mencari Elohim. Ini adalah tujuanmu dan kamu harus menerimanya. Pastikan bahwa Elohim akan merespon kepada kamu sesuai dengan ketulusan kamu. Lupakan bahwa kamu adalah seorang Muslim dan mulai mencari lagi. Apa yang akan mencegah kamu?”

Saya berpikir tentang hal itu dan berkata, “Oh, Elohim, harap pimpin langkah-langkahku dan berikan saya kekuatan karena saya menghadapi percobaan keras. Jika Engkau tidak membantu saya, setan akan merobek-robek saya. Saya akan mengembara di muka bumi, tanpa tujuan dan gelisah. Oh, Elohim, tolonglah saya. Saya berjanji akan mengikuti Engkau di manapun Engkau berada, bahkan dengan orang-orang Kristen yang saya tidak tahan.” Tiba-tiba saya merasakan kedamaian dan ketenangan luar biasa pada seluruh keberadaanku. Untuk pertama kalinya, saya berpikir logis.

Saya mencapai sebuah kesimpulan: orang Kristen sesat dan menjadi kafir karena dua alasan. Pertama, mereka mengatakan bahwa Mashiah, Isa, putra Maryam (Maria), adalah Elohim, kedua, mereka mengatakan bahwa Dia mati di kayu salib dan bangkit untuk menebus manusia dari dosa-dosa mereka. Mengapa saya tidak fokus penelitian saya tentang dua masalah ini  dan memeriksa mereka dari sudut pandang Islam? Saya ingin tahu apa yang para ulama Islam memikirkan masalah ini.

Saya mulai memeriksa buku-buku sejarah Islam, biografi dan penafsiran. Saya mencari apapun yang berhubungan dengan Ha Mashiah dan apakah Dia terwujud di dalam atribut Elohim sebagaimana disebutkan dalam Kuran. Saya menggunakan referensi yang handal dan otentik seperti The Interpretation oleh Ibnu Katsir, Sejarah Islam oleh Dhahabi, Awal dan Akhir oleh Ibnu Katsir, Sects and Denominations oleh Sherhristani, Menentukan Sekte dan Bidat (Deciding on Sects and Cults) oleh Ibn Hazm (juga dikenal sebagai Abu Muhammad), Kitab-kitab Suci sebelum Islam, dan Kristianity antara Logika dan Penghitungan ulang (Christianity between Logic and Recount).

Sebagai hasil dari penelitian yang intensif, saya menemukan beberapa atribut Mashiah yang bahkan orang Kristen tidak menyentuh itu dalam buku-buku mereka. Sebagai contoh:

1) Kemampuan untuk membuat:
Kuran mengatakan, [perhatian!, dalam kitab suci Islam: kata Tuhan ialah titel, sama artinya dengan God atau Elohim, dan Allah adalah nama, seperti YAHWEH di dalam Alkitab]

(Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.  (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian) ”itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, (maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.) (S. 6:101-102)

Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. (S. 15:86)
Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya” (S. 22:73)

Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apa pun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (S. 16:20)
Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. (S. 16:17?)


Semua ini adalah beberapa ayat yang membatasi kemampuan untuk menciptakan yang dimiliki oleh Elohim saja. Ketika Elohim ingin membedakan diri dari dewa yang lain, Dia menegaskan atribut-Nya yang melampaui segala ilah lainnya. Sementara itu, Kuran dengan jelas mengakui bahwa Ha Mashiah telah menciptakan:
Saya membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian saya meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah;” (S. 5:110)

Ketika saya membaca ayat-ayat ini, saya pikir dalam hati saya: Itu adalah Elohim yang memberikan Ha Mashia kemampuan ini, bukan bagian dari esensi-Nya meskipun, Ha Mashiah adalah satu-satunya Pribadi pada siapa Elohim telah memberikan salah satu sifat ilahi-Nya. Mengapa Ha Mashiah dan bukan Muhammad? Elohim berkata kepada Muhammad, “Apakah kamu dapat menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan?” (S. 27:80) ; yang adalah jauh lebih mudah daripada penciptaan. Elohim tidak memberikan kepada Muhammad, [yang telah mengklaim] yang terbaik dari umat-Nya dan penutup para nabi, kemampuan untuk membuat orang tuli mendengar. Dia menantang orang untuk menciptakan seekor lalat, namun Ha Mashiah telah diberikan kemampuan untuk menciptakan burung. Burung adalah makhluk kecil, tetapi bukan masalah ukuran, tapi prinsip. Dia yang menciptakan makhluk kecil dapat membuat yang besar. Ini tidak dapat ada sebagai manusia, melainkan dari Elohim.

2) Mengetahui apa yang tersembunyi:
Allah [dalam arti YAHWEH] berbicara tentang diriNya dalam Kuran,
Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah [dalam arti YAHWEH]”, (S. 27:65)
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri,” (S. 06:59).

Dalam ayat pertama, Kuran menekankan tanpa ragu bahwa mengetahui apa yang tersembunyi hanyalah milik Elohim dan bukan orang lain. Ayat kedua meenggaris bawahi fakta bahwa hanya Elohim yang mengetahui yang gaib dan masa depan. Sementara itu, Kuran mengajarkan tentang Muhammad yang ia biasa menegur siapa saja yang dikaitkan dengannya kemampuan untuk mengetahui apa yang tersembunyi,

Katakanlah: “Saya tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) saya mengetahui yang gaib” (S. 6:50)

Suatu kali Moaz berkata kepada Mohammad, “… insya Allah dan Anda berkehendak,” dan Muhammad menyela dia dan berkata, “Bagaimana kau bisa membuat saya setara dengan Allah? Tak seorang pun di langit atau di bumi mengetahui apa yang tersembunyi selain Allah.”

Adapun Ha Mashiah, kita menemukan semua keterbatasan dihapus. Dia tahu dan melakukan apa yang setiap orang lain tidak bisa. Kuran mengatakan,
dan saya kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu.” (S.. 03:49).

Hal ini sangat tidak umum bahwa dalam ayat-ayat ini Ha Mashiah berbicara dalam bentuk orang pertama; itu harus Elohim sendiri yang berbicara. Di sisi lain, Muhammad selalu mengatakan apa yang harus ‘dikatakan. Ha Mashiah adalah unik karena Dia berbicara tentang dirinya sendiri, yang berarti bahwa kemampuan-Nya adalah milik-Nya dan tidak diperoleh dari orang lain.

Pada buku Awal dan Akhir Ibnu Katsir, bagian 2 dan halaman 86, saya membaca sebuah cerita yang membuat saya malu. Ini adalah suatu bukti tanpa diragukan bahwa Ha Mashiah memiliki kekuatan gaib untuk mengetahui apa yang tersembunyi. (Ini adalah kisah panjang; mereka yang tertarik dapat mengacu pada buku karangan Ibnu Katsir).

3) Penyembuhan orang sakit:
Kuran menyebutkan kata-kata Abraham bahwa Elohim adalah satu-satunya penyembuh, “Dan apabila saya sakit, Dialah yang menyembuhkan saya” (S. 26:80).
Muhammad berkata dalam sebuah hadis otentik, “Oh, Elohim, tidak ada penyembuhan tapi Anda.” Sementara itu, Dalam Kuran kita menemukan Ha Mashiah katakan tentang diri-Nya,  saya menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak/ kusta” (S. 03:49)

4) Memberikan hidup dan mati:
Elohim adalah Pribadi satu-satunya yang memegang hidup dan mati di tangan-Nya, tidak ada orang lain yang bisa memberikan hidup atau mati. Kuran mengatakan,

”Dan sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan Kami (pulalah) yang mewarisi.” (S. 15:23),
”Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” (S. 36:12),
”Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Kamilah tempat kembali (semua makhluk).” (S. 50:43).
Adapun Ha Mashiah, Kuran menyebutkan bahwa Dia berkata tentang diri-Nya,
”dan saya menghidupkan orang mati dengan seizin Allah;” (S. 3:49)

Dalam bukunya Awal dan Akhir, Ibnu Katsir menceritakan sebuah cerita yang membuktikan bahwa Ha Mashiah memiliki kewenangan untuk memberikan kematian serta kehidupan. Diceritakan bahwa Ha Mashiah melihat seorang wanita menangis atas putrinya, yang sudah lama meninggal.

Dia bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, perempuan?” Perempuan ini berkata, “Putri saya meninggal dan saya tidak memiliki anak lagi.” Ha Mashiah bertanya padanya, “Apakah kamu ingin Saya untuk mengangkatnya dari antara orang mati?” Dia berkata, ” Ya , O Roh Elohim!” Jadi Ha Mashiah berdiri dekat kubur itu dan memanggil gadis itu tiga kali. Pada ketiga kalinya, gadis cilik keluar dan berbicara dengan ibunya. Kemudian gadis itu meminta kepada Ha Mashiah untuk membiarkan dia kembali. Dia berkata, “Kembalilah!” Kuburan tertutup dan ia kembali mati. (Awal dan Akhir Ibnu Katsir, bagian 2, halaman 84)

5) Memberikan makanan:
Kuran mengatakan, Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (S. 51:58).
Hal ini jelas dinyatakan bahwa Elohim adalah satu-satunya yang dapat memberikan rezeki. Elohim menegur orang yang mengaku mampu untuk memberi rezeki kepada orang-orang. Adapun Ha Mashiah, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Dia memiliki kemampuan khusus untuk memberi rezeki kepada siapa pun yang Dia mau. Contoh terbaik adalah memberi makan lima ribu orang dengan sedikit roti dan beberapa ikan.

6) Tidak ada kesetaraan:
Kuran mengatakan tentang Allah,
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (S. 42:11)
Adapun Ha Mashiah, tak perlu dikatakan bahwa Dia adalah tak ada taranya. Ia lahir dari seorang perawan tanpa seorang pria. Dia adalah Pribadi satu-satunya yang digambarkan sebagai ‘Firman Allah [dalam arti YAHWEH] dan Roh dari-Nya”. Dia adalah Pribadi satu-satunya atas siapa Setan tidak memiliki kewenangan apapun. Dia adalah Pribadi satu-satunya yang memiliki karakteristik ilahi.

7) Perintah yang berwenang:
Kuran menyebutkan ini atribut Allah, terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Kun (jadilah)”, maka jadilah ia. (S. 16:40), Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”. Lalu jadilah ia. (S. 2:117).

Ini merupakan atribut yang unik dari Elohim, mampu memanggil sesuatu menjadi ada. Menurut Ibnu Katsir, Ha Mashiah telah mewujudkan atribut ini ketika Dia mengubah air menjadi anggur (Awal dan Akhir Ibnu Katsir, bagian 1, halaman 85).

8) Takhta-Nya di atas perairan:
Kuran mengatakan tentang takhta Elohim,  dan takhta-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, (S. 11:7).

Kortobi dan Al-Hadathi mengatakan bahwa ayat ini juga diterapkan kepada Ha Mashiah, takhta yang dibuat oleh Allah di atas air untuk menguji iman orang-orang. Ha Mashiah berjalan di Laut Tiberias menuju murid-murid-Nya untuk menguji iman mereka. Dia kemudian berkata kepada mereka, “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya? ” (Matius 8: 26)

9) Hakim dan Penguasa:
Kuran mengatakan tentang Elohim,  Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik. (S. 06:57), maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya. (S. 7:87).

Al-Bokhary menjelaskan bahwa ia mendengar dari Ibnu Abbas, yang telah mendengar nabi Muhammad berkata tentang Ha Mashiah, “Hari Terakhir tidak akan datang hingga putra Maryam datang kembali sebagai Hakim yang adil untuk menegakkan keadilan dan menghapus ketidakadilan.”

10) Sebuah pemahaman atas segala penglihatan/ visi:
Kuran mengatakan tentang Allah,  Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (S. 6:103)
Ini adalah satu lagi atribut Elohim yang Ha Mashiah telah terwujud. Ibnu Katsir dan Kortobi bercerita bahwa Ha Mashiah adalah satu hari di gunung dan orang-orang Romawi ingin menangkap Dia. Ia langsung melalui mereka dan mereka tidak bisa melihat-Nya, tetapi Dia melihat mereka semua. (Sekte dan Denominasi oleh Sheheristani, halaman 27)

11) Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang:
Kuran mengatakan, Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (S. 2:163),
“Tidak seorang pun dari makhluk-makhluk di langit dan di bumi tetapi harus datang ke Yang Maha Pemurah sebagai seorang hamba.” (S. 19:93)

Dalam buku mereka, Sects and Denominations dan Bukti-bukti dari Kenabian, Sheheristani dan Azraki telah menyebutkan bahwa Yeshua Ha Mashiah adalah gambar Elohim. Dia penuh kasih sayang. Dia mengangkat putri Yairus dari kematian dan menyembuhkan banyak orang sakit. Dia menciptakan mata untuk yang lahir buta dengan meletakkan lumpur pada mata orang itu karena itulah bagaimana Allah menciptakan pada awalnya.

12) Berbicara dengan Perumpamaan:
Kuran menyatakan bahwa hanya Elohim yang bisa berbicara dalam Perumpamaan-perumpamaan.
“Sesungguhnya Allah yang ditetapkan Perumpamaan untuk laki-laki: dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu” (S. 24:35)
“Maka Allah menetapkan Perumpamaan untuk laki-laki, agar mereka dapat menerima pelajaran” (S. 14:25)


Dalam ‘Al-Kashaf’, Ibnu Katsir, Kortobi dan Zamakhshary mengatakan bahwa Elohim menggunakan perumpamaan untuk mendekatkan manusia kepada-Nya, dan demikian pula Ha Mashiah. Perjanjian Baru penuh dengan perumpamaan yang nabi-nabi lainnya tidak berbicara dengan cara demikian.

13) Mengirim rasul-rasul dan memberi mereka kekuatan:
Kuran mengatakan, Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka;  (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.” (S. 36:13-14)
Ibnu Kathir dan semua penafsir setuju bahwa yang dimaksud adalah kota Antiokhia, dan orang-orang itu ialah rasul-rasul Ha Mashiah. Mereka memiliki otoritas dari Ha Mashiah. Apa ada orang lain memiliki kuasa sedemikian?

14) Untuk disembah:
Kuran mengatakan, Orang-orang Yahudi menyebut Uzair seorang putra Allah, dan orang-orang Nasrani menyebut Al Masih Putra Allah. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. … Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan disamping Allah, dan Al Masih putra Maryam (S. 9:30-31)

Ibnu Kotaiba melihat ini sebagai sebuah ayat bermasalah, karena menempatkan Allah dan Al Masih (Ha Mashiah) untuk disembah sebagai sebuah perintah. Jadi, Ibnu Kotaiba pikir untuk menghindari masalah ini, ungkapan “Ha Mashiah putra Maryam” harus sintaktis ditafsirkan sebagai ’objek kedua’ untuk kata kerja ’menjadikan’ dan bukan ’annexment’ untuk kata ‘Allah’. Dengan cara ini ayat tersebut tidak akan mendukung pandangan Kristen tentang keilahian Ha Mashiah.

15) Datang dalam awan-awan:
Kuran mengatakan, Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, (S. 2:210)
Ibnu Al-Fadl Al-Hadathi mengatakan bahwa ayat ini menunjuk ke Ha Mashiah yang akan datang kembali pada Hari Terakhir dalam awan-awan. Dia juga menafsirkan ayat berikut ini sebagai merujuk kepada Ha Mashiah juga, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris. (S. 89:22)

Nyatanya, saya menemukan lebih dari yang saya cari atau inginkan. Saya telah menulis temuan saya di sebuah buku kecil yang terpisah berjudul ‘Tidak terelakkan Keilahian Ha Mashiah.” Awalnya saya menyebutnya “Keilahian Ha Mashiah,” tapi setelah saya menyelesaikan penelitian saya, saya harus mengubah judulnya dengan ”Tidak terelakkan Keilahian Ha Mashiah.” Saya menyimpulkan buklet itu dengan kalimat berikut,

“Bahkan jika orang-orang Kristen tidak mengklaim Ha Mashiah adalah Elohim, Dia pastilah Elohim.”

Adapun bagian kedua, yaitu kematian Ha Mashiah sebagai kurban bagi orang-orang berdosa, Islam selalu menolak gagasan ini karena Kuran berkata, Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, (S. 17:15).
Bagaimana mungkin orang yang tidak bersalah mati bagi para orang berdosa? Yah, kita telah memiliki dilema lain: apakah Ha Mashiah benar-benar mati? Saya sangat percaya diri – Saya tidak tahu kenapa – bahwa saya telah mungkin tidak akan menemukan apapun untuk membuktikan kematian Ha Mashiah. Saya telah mencari dan tidak menemukan bukti yang akan menenangkan hati nurani saya dan memperkuat iman saya dalam Islam. Oleh karena itu, saya sangat ingin melawan bukti Keilahian Ha Mashiah dengan membuktikan bahwa Dia tidak mati, dan tidak bisa mati untuk orang berdosa.

Saya berusaha untuk membantah ide ‘Kurban Kematian’ ketika saya datang di ayat berikut dalam Kuran,
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertobatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; ( S. 2: 54)

Saya membaca tafsir Ibnu Katsir tentang ayat ini. Dia mengatakan bahwa Israel ingin bertobat dari dosa mereka menyembah anak sapi, tetapi Elohim tidak menerima pertobatan mereka. Ketika Musa bermeditasi, Elohim menyuruhnya untuk memberitahu orang-orang Israel bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan pengampunan adalah bahwa setiap orang harus membunuh semua orang yang ia temui. Dikatakan bahwa mereka memakai penutup mata sehingga mereka tidak akan memiliki belas kasihan pada keluarga mereka tetapi akan punya keberanian untuk mematuhi perintah Elohim. Ibnu Kathir mengatakan bahwa setidaknya tujuh puluh ribu orang tewas hari itu, dan darah mengalir seperti sungai. Ketika Elohim melihat itu sudah cukup, Dia menyuruh Musa untuk mengatakan kepada bangsa Israel untuk berhenti. Elohim menerima pertobatan mereka melalui darah mereka yang meninggal. Jika seseorang tidak menyembah anak sapi dan mati sebagai penebusan bagi mereka yang melakukannya, mengapa kita menolak gagasan bahwa Ha Mashiah tidak berdosa mati untuk orang berdosa, dan bahwa Dia masih hidup?
Bersambung ke bab 8B

Pendahuluan

  1. Di Belakang Kerudung
  2. Diberkatilah Bangsa Mesirku
  3. Dari Tanah Air Mashiah Anak-anak Ismail Akan Kembali
  4. Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid
  5. Orang-orang Pilihan Mashiah
  6. Dari Kristen nominal Ke Islam dan Kemudian Ke Mashiah
  7. Begitulah Bagaimana Saya Telah Mengenal Elohim
  8. Dahulu Saya Mati Tetapi Sekarang Saya Hidup
  9. Instruksi-instruksi Penting
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala baja.

Gulshan Fatima; Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 7

Ini adalah kesaksian Gulshan Esther (Fatima), puteri bungsu dari sebuah keluarga Islam Sayed yang merupakan keturunan langsung Nabi Muhammad melalui puterinya Fatima.

Tulisan ini merupakan sebuah buku berjudul THE TORN VEIL atau KERUDUNG YANG TERKOYAK, diterbitkan oleh Marshal Paperblacks.

Gulshan Esther (Fatimah); Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2 ; Bg. 3 ; Bg. 4 ; Bg. 5 ; Bg.6 ; Bg. 7 ; Bg. 8

BAB 12 GODAAN [dijebak lagi, moncong bedil kakak kandung di mukanya]
Bila kukenangkan kembali maka rasanya masa yang kualami ketika tinggal bersama kakak dan iparku di Pindi merupakan salah satu dari waktu paling bahagia di dalam hidupku setelah menjadi Kristen. Anis selalu menyenangkan hatiku, suaminya berlaku baik dengan cara yang lemah lembut. Sekali lagi saya menjadi bagian dari keluargaku dan diperlakukan dengan kasih dan perhatian.

Ada pembantu di rumah itu, 2 atau 3 pembantu wanita, masing-masing seorang klerk, koki, dan sopir. Anak lelaki koki bekerja di kebun. Saya tidak perlu lagi menjahit atau membersihkan meja. Kini saya dibutuhkan menjadi pengasuh gadis-gadis cilik dan saya lakukan hal ini seperti dilakukan Anis terhadapku dahulu – menceritakan kisah-kisah kepada mereka. Peranan yang sangat menyenangkan. Pada waktu yang sama saya merasakan bahwa saya memperhatikan para pembantu dengan simpati – bagaimana mereka melaksanakan tugas rumah tangga – mencuci piring, lantai, pakaian, menggosok, menyetrika, membersihkan, mengkilapkan, mengeluarkan debu, mengangkat-angkat, menyusun, memisah-misahkan dan menata kembali. Saya merasa berterima kasih pada semua orang atas pelayanan mereka. Saya tidak merasa rugi karena perasaan ini malah menyebarkan kebahagiaan.

Kakakku dan saya makin dekat satu sama lain, kini bersaudara dalam Ha Mashiah. Tiap hari kami menggunakan waktu 2 atau 3 jam mempelajari Alkitab. Dalam waktu singkat Anis mendapatkan satu fakta sebagai kesimpulannya: dia dapat memahami isi Alkitab padahal sulit baginya untuk memahami Kitab Suci lainnya. Ditulis di dalam bahasa sendiri dan tidak ada misteri tentang Alkitab itu. Seseorang dapat membacanya sebagaimana halnya dengan membaca buku biasa, mengenal dari sudut pandangan lain tentang beberapa kejadian yang dikenal baik oleh umat Islam maupun umat Yahudi, tapi di sini ada satu kelebihan, yaitu kuasa Kebenaran yang sejati. Kakakku berkata, “Kata-katanya indah sekali, kata-kata ini mendatangkan penghiburan.” Ia mengenang anaknya yang telah meninggal. Saya berkata, “Kata-kata ini nyata dan merupakan Firman dari Bapa kita yang di surga. Apapun yang anda rasakan, kita akan mendapatkannya di sini, apakah itu susah atau senang. Yang terutama adalah kita yakin bahwa dosa-dosa kita sudah diampuni dan agar kita mengikut Yeshua dari hari ke hari.” Katanya, “Saya rasa Dia ada di sini bersama kita sewaktu kita berbicara tentang Dia.” Kutunjukan padanya ayat, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” ( Matius 18:20 ) Waktu kita berdoa Dia mendengarkan. Guru kita selalu menyertai kita. Kita dapat mengerti karena RohNya memimpin kita.

Blund Shah tidak merasa gembira atas perhatian baru dari isterinya ini. “Jangan kau katakan kepada setiap orang bahwa Ha Mashiah telah membangkitkan engkau dari mati, kau diam saja!” pesannya kepada kakakku. Kelihatannya kakakku tidak begitu memperdulikan peringatan suaminya. Demi kepentingannya saya menjaga untuk tidak sembarangan bercerita kepada orang lain bahwa saya seorang Kristen, walaupun bila langsung ditanyakan kepadaku biasanya saya bercerita tentang visi dan penyembuhanku, dan kisah ini umumnya tidak memancing pertanyaan mereka lagi.

Anis dan suaminya mempunyai banyak kaum keluarga atau teman, dan setiap hari ada saja tamu yang berjamu di bungalownya yang menyenangkan itu. Dalam sebuah rumah tangga Shiah, diatur dengan keras agar apapun yang terjadi di bagian lain dari dunia Islam, di sini pembagian mendasar atas jenis kelamin tetap dipatuhi. Tamu pria dan wanita walaupun tiba bersama-sama harus duduk di bagian serambi yang terpisah atau ruangan tamu yang berbeda. Adakalanya bagiku sebagai seorang Kristen, merasa tidak sabaran atas pemisahan hubungan manusia seperti ini, terutama sebagaimana yang ku ketahui bahwa di dalam suatu persekutuan di mana Ha Mashiah mempersatukan umatnya maka kehidupan dapat berjalan dengan baik sekali tanpa adanya pemisahan seperti ini. Tetapi di negara kami yang didirikan atas ajaran agama, maka setiap segi kehidupan sosial kami menggunakan tolak ukur ajaran-ajaran agama dan tafsiran-tafsirannya.

Dalam kehidupan kota, dampak pemisahan ini lebih banyak dirasakan dan makin jelas bagiku dibandingkan dengan yang kurasakan di Jhang, karena Jhang terletak di pedalaman dan masih jauh lebih terbelakang dibandingkan dengan kota. Sebahagian dari diriku berfungsi sebagai penilai, bagiannya yang lain menikmati kesenangan-kesenangan masa lalu bersama teman-teman wanita, bercakap-cakap sesama wanita tanpa diganggu oleh kehadiran seorang pria pun.

Hatiku tenang rasanya mendengarkan semua ceritera yang terperinci mengenai siapa yang kawin dengan siapa, anak mana yang sakit dan yang mana yang sehat, apa yang dipelajari mereka di sekolah serta jurusan pekerjaan apa yang mereka ambil. Kini gadis-gadis juga mengikuti pendidikan, beberapa diantaranya malah ke perguruan tinggi, namun kemudian menghadapi kenyataan bahwa bidang pekerjaan bagi mereka tidaklah mudah diperoleh dan tidak selamanya disenangi.

Seorang anak perempuan nantinya dapat menjadi seorang dokter wanita atau guru bagi anak-anak perermpuan atau pun menjadi perawat. Makin sulit bagi mereka untuk masuk ke lingkungan kerja bersama para pria seperti di kantor. Namun untuk menahan agar anak-anak perempuan tetap belajar di rumah, makin sulit rasanya bagi para keluarga karena begitu banyak pemuda yang menunda-nunda perkawinannya selama mengikuti pendidikan di luar negeri.

Selalu ada kontradiksi antara syariat agama dengan kepentingan duniawi, seperti yang terjadi sebelum ini. Nah, masalah-masalah ini sekarang dihadapi oleh banyak keluarga – mereka menyalahkan pengaruh barat yang telah mengikis tolak ukur yang telah ada dan mengalihkannya sehingga berubah menjadi cara yang lebih dipilih untuk mendapatkan kebahagiaan – memetik impian yang paling muluk, masa depan yang terbaik bagi anak-anak lelaki mau pun perempuannya.

Saya mendengarkan dengan lebih sadar daripada dulu bahwa impian-impian seperti itu merupakan kuncup-kuncup yang mudah retak, dengan mudah dapat diterbangkan dengan angin kencang. Tekanan-tekanan semacam itu tidak akan mudah terhapus. Waktu itu kami menyadari betapa sulapan logika kehidupan dapat berproses menjadi suatu ledakan terhadap logika agamawi bila keadaan seperti ini terjadi berkali-kali dalam skala yang besar.

Anis menyatakan jalan pikiranku ini dalam kata-katanya yang sederhana, “Mereka cemas tentang masa depan anak-anaknya, tapi bagi mereka sendiri kemanakah tujuan hidupnya?” Baginya, suatu kehidupan yang tidak memiliki tujuan yang pasti tanpa Ha Mashiah seringkali merisaukannya. Merasakan kembali duduk-duduk pada kedua sisi ‘prudah’ menujukan kepadaku betapa kuat dan mantapnya dasar yang tealh kutemukan dalam hidupku. Kebahagiaanku kini tidaklah tergantung pada terpenuhinya ambisi pribadiku, tapi terletak pada melakukan kehendak Elohim. Karena itu tidak sesaatpun saya membiarkan diriku membayangkan bahwa masa tenang ini akan berlangsung terus, dan memang begitulah yang terjadi.

Dalam bulan Nopember ku ketahui bahwa iparku untuk periode tertentu akan pergi ke Lahore, karena urusan dagangnya.

“Kita semua harus pergi,” kata Anis, “dan kita harus tinggal di rumah Alim Shah.”

Saya kaget mendengar berita ini, “Baiklah tapi maaf, saya tidak dapat ke Lahore bersamamu, saudara kita Alim Shah berkata kepadaku bahwa pintu rumahnya tertutup bagiku karena saya telah mengingkari agama Islam.”

Wajah kakakku merengut seperti seorang anak yang mau menangis, “Saya memerlukan doamu dan saya juga memerlukan bantuanmu. Jika Alim Shah tidak mau menerimamu maka saya akan menyewa bungalow lain dan saya akan tinggal bersamamu.”

“Dan apa tindakan suamimu nanti, saya rasa ia akan menceraikanmu.” Saya memeluknya dan setuju untuk pergi bersama mereka. Kami akan melihat bagaimana penerimaan kakak lelakiku nantinya terhadapku.

Jadi, pada tanggal 28 Nopember jam 4 sore, kami berangkat dengan sebuah mobil dan abrang – barang diangkat dengan truk.

“Saya sangat senang berjumpa denganmu. Kau diterima dengan senang di rumahku, selamat datang.” Yang berbicara ini adalah kakakku Alim Shah. Saya tidak mempercayai pendengaranku, seolah-olah pembicaraan yang tidak menyenangkan hati di telepon tidak pernah terjadi.

Keluarga itu menumpang sementara bersama Alim Shah sampai mereka mendapatkan sebuah rumah. Saya mendapat sebuah kamar enak dan seorang pembantu diberikan kepadaku untuk membantuku. “Saya tahu kamu mempunyai kawan-kawan di sini,” kata kakak lelakiku dengan tak terduga sama sekali, “kepada sopirku sudah kukatakan agar membawamu ke mana saja yang kau kehendaki.”

Saya mengucapkan terima kasih kepadanya dengan hangat, tapi dalam hatiku saya merasa tidak tenang, hal itu rasanya terlalu baik untuk menjadi kenyataan. Ketika hari Minggu tiba, saya meminta sopir membawa saya ke gereja Methodeist di jalan Warris. Pendeta menjabat tanganku di depanku dan jemaat menyambutku dengan cukup ramah, tetapi tidak ada yang menyapa, “Apa Kabar? Kemana saja selama ini? Apakah anda memerlukan sesuatu?” Karena itu saya tidak menceritakan pada seorang pun tentang kesulitanku tetapi mempercayakannya kepada Elohim seperti biasa untuk pemecahannya.

Empat bulan kemudian, pada suatu malam di bulan Mei, saya sedang berdoa di kamarku sambil duduk di kursi dengan Alkitab terbuka di lututku. Saya mendengar bunyi gerakan kaki dan membuka mataku. Di seberangku, Almin Shah sedang memperhatikanku dengan tersenyum. Ada suatu tekanan perasaan terbersit padaku dan entah mengapa saya sampai membayangkan Harimau pada waktu itu.

“Kuharap engkau merasa bahagia di rumahku,” katanya dengan suara yang sangat mengasihi. “Kuharap engkau merasa cocok dengan Istriku dan senang dengan anak-anakku. Kuharap para pembantu tidak menyebabkan suatu masalah apapun atasmu.”

“Saya sangat bahagia di sini,” jawabku sepenuh hati.

“Kami sangat mencintaimu, dan kami mau kau tinggal bersama kami untuk kebaikan kita. Sebenarnya saya sedang mengurus pembangunnan sebuah bungalow bagimu di Goldberg” (tempat ini adalah bagian tepi kota yang modern bagi golongan yang cukup kaya, letaknya kira-kira 10 km dari sini). Ia melanjutkan, “Dan saya ingin agar kau turut berlibur denganku. Bulan depan saya akan berkunjung ke tempat-tempat bagi umat Islam… Mekah, Medinah. Maukah kau turut bersamaku?”

Ia sedang menggodaku, saya teringat akan ……..“Semua ini akan kuberikan kepadamu jika,….” ( Matius 4 :8-9 ).

“Saya tidak berkeberatan pergi bersamamu, tetapi hal ini tidak akan merubah iman percayaku,” jawabku.

Seakan-akan saya tidak berkata apa-apa, ia mengambil Alkitab dari pangkuanku dan melihat ke halaman-halamannya yang terbuka, “Yang kuhendaki darimu untuk semua yang akan kuberikan kepadamu ialah buku ini. Berikanlah Alkitab itu padaku dan saya akan membawanya ke depot Lembaga Alkitab sehingga kau tidak dapat membacanya lagi, dan berhentilah ke gereja, maka akan kuberikan kepadamu apapun yang kau kehendaki.”

Dengan nyaring saya menjawab, “Mazmur 119 : 115, “FirmanMU itu pelita bagi kakiku dan terang pada jalanku.” Inilah adalah Firman Elohim dan Ia memberitahukan padaku perbedaan antara yang benar dan yang salah, saya tidak akan memberikannya kepadamu……ini adalah bagian dari hidupku.” Saya melihat bahwa ia menjadi marah. Dengan cepat kutambahkan, “Saya tidak dapat berhenti untuk pergi ke gereja karena di situlah rumah Tuhan [Elohim]. Pengantin wanita sudah hampir siap sebab mempelai lelaki sudah hampir datang. Dan barangsiapa menyangkal Aku didepan manusia, Aku juga aka menyangkalinya didepan Bapakku yang di Sorga (Mat. 10:33).”

Ia melompat berdiri. Dilemparkannya Alkitab itu padaku, “Sebelum matahari terbit, tinggalkan rumahku, aku tidak sudi melihat mukamu lagi.”

Perangkap telah diberi umpan dan disentuh, tidak ada seorangpun yang datang mendekatiku malam itu, saya berbaring dengan perasaan berat, besok paginya tercipta suatu suasana yang tidak menyenangkan sama sekali. Kakak lelakiku tidak kelihatan, tidak ada berita tentang Anis atau suaminya. Pelayan hanya meletakkan sarapan begitu saja lalu pergi diam-diam. Dengan sedih saya mengemasi koporku dengan 4 atau 5 baju yang dijahit Anis untukku, pakaian-pakaian yang indah-indah yang dihadiahkan Alim Shah kutinggalkan karena ia telah berpesan, ‘jangan membawa sesuatu apapun dari rumah ini’. Koporku ada digang dan saya berjalan kesana ketika saya melihat Safdar Shah datang. Saya belum lagi berjumpa dengannya sejak saya meninggalkan Jhang, tapi ungkapan kata-kata bagi pertemuan yang membahagiakan langsung sirna ketika saya melihat apa yang dibawanya adalah sebuah bedil. Dia memegangku dipergelangan tangan dan menarik saya ke lantai dasar rumah itu.

“Duduk disitu dan jangan bergerak,” perintahnya.

Saya mematuhinya. Jika dirangsang, Safdar Shah dapat menjadi kasar. Ia pergi memanggil Alim Shah. Di rumah itu keadaan sunyi sekali, suasana diliputi ketakutan, kakak-kakakku lelaki turun kebawah, wajah mereka keras dan mantap. Jantungku berdebar-debar dan kakiku lemah seperti jerami rasanya, tetapi saya tetap duduk di atas sebuah sofa, berusaha untuk tetap tenang. Kakak-kakakku duduk menghadapi saya pada seberang meja. Saya mencoba memandang kearah matanya yang penuh kebencian, tetapi mereka sedang melihat ke bagian dalam dirinya seakan-akan tidak sadar akan pandanganku.

Safdar Shah mengoperkan bedil itu kepada Alim Shah, “Selesaikan kutuk keluarga ini!” perintahnya. Alim Shah menggenggam popor bedil dua laras itu dan dengan perlahan mengangkatnya dan dibidikkan ke kepalaku. Ia berkata dengan suara putus asa yang lemah, “Mengapa kau mau mati? Yang perlu kau perbuat hanyalah mengatakan bahwa kamu tidak lagi mengakui nabi Isa itu sebagai Anak Elohim dan bahwa kau akan berhenti ke Gereja. Kau akan kubiarkan hidup, karena aku tidak akan menembakmu!”

Wajahnya kelihatan tegang dan kurus dibalik laras bedil itu dan saya melihat betapa ia ditempatkan pada suatu keadaan terpaksa – cintanya kepadaku berperang melawan segala sesuatu yang telah diajarkan ayahku kepadanya. Bagikupun merupakan suatu saat yang sangat tidak menyenangkan. Saya telah dididik untuk menghormati kakak-kakak lelakiku sebagaimana diajarkan pada gadis-gadis Islam. Saya belum pernah membantah mereka sampai Yeshua masuk dalam kehidupanku dan saya berusaha untuk tidak berkata kasar pada mereka karena saya tahu bahwa saya dapat menyadarkan diriku pada cinta kasih mereka, kesopan-santunannya serta perlindungan mereka jika kuperlukan. Dalam hal inipun Ayahku telah memberikan pada mereka suatu perintah keramat untuk menjaga saya. Tapi tentu saja beliau tidak memperhitungkan kemungkinan terjadinya suatu krisis seperti ini. Saya sedang mengoyakkan semua ini dengan pertentangan-pertentangan antara tugas dan cinta. Tapi saya tidak boleh mundur. Saya tidak dapat berpaling lagi, juga pada saat ini.

“Dapatkah kakak menjamin bahwa jika kakak tidak menembak saya maka saya tidak akan mati? Dalam Al Qur’an ditulis bahwa begitu seseorang dilahirkan kedunia, dia pasti akan mati. Jadi, silahkan tembak saya tidak takut bila saya mati dalam nama Yeshua Ha Mashiah. Dalam Alkitabku tertulis, “Ia yang percaya padaku, walaupun ia mati, namun ia akan hidup” (Yoh. 11:25).

Safdar Shah berkata dalam keheningan, “Kau tidak mau membunuh si murtad ini dan bertanggung jawab atasnya. Ia telah menjadi suatu kutuk bagi kita. Lemparkan dia keluar!”

Mereka mendorong saya kedepan sambil menaiki tangga. Saya mengambil koporku di gang dan berjalan menuju pintu. Kakak-kakak lelakiku berjalan kembali dengan gontai menuju ke bungalow. Setiap senjata yang ditempa terhadap engkau tidak akan berhasil, dan setiap orang yang melontarkan tuduhan melawan engkau dalam pengadilan, akan engkau buktikan salah. Inilah yang menjadi bagian hamba-hamba YAHWEH dan kebenaran yang mereka terima dari pada-Ku, demikianlah firman YAHWEH”. Saya tahu dimana saya pernah membacanya (Yes.54:17), tapi saya tidak menyadari kalau Firman itu begitu tepat pada kenyataannya.

BAB 13 LILIN YANG MENYALA [Menumpang di keluarga Kristen, gaji pertama, dipecat karena iman]
“Ya Bapa, kemana saya harus pergi ?” Saya berdiri sendiri di jalan Samanabad sambil berusaha menahan air mata karena goncangan dan kepedihan pada peristiwa yang baru kualami, lalu memandang keatas kebawah mencari petunjuk tentang tindakan apa yang saya ambil berikutnya. Namun, sepanjang jalan besar itu sepi dari lalulintas dan keadaan deretan bungalow sepi di belakang dinding-dinding tinggi disinari cahaya matahari tipis dan tidak menunjukkan kehidupan mewah dibelakangnya. Rasanya, secara refleks saya berbalik kekanan lalu mulai berjalan menelusuri trotoar yang dilapisi semen menuju kearah penantian bis yang jauhnya hampir 2 km.

Waktu tiba disana, hatiku sudah bulat – John dan Bimla Emmanuel, seorang tukang kebun dikantor walikota, tinggal di Medina colony bersama istri dan 4 dari 5 anaknya. Keluarga ini menjadi jemaat dari Gereja di jalan Warris. Mereka pernah mengajakku kerumahnya sekali atau dua kali dan saya merasa senang disana, berceritera pada mereka tentang Tuhan [Elohim] dan Kuasa menyembuhkan & menyelamatkannya.

Mereka pernah berkata padaku, “Datanglah ke rumah kami setiap waktu, rumah kami terbuka bagimu.” Ditempat perhentian bis ada beberapa jenis transportasi, saya menggunakan rickshaw (sejenis becak) ke Muzang Chungi dan dari sana dengan minibis yang trayeknya Gurumangat. Dari sini berjalan kaki sedikit melintas rel kereta saya tiba di Medina Colony. Saya memilih berjalan sepanjang lorong yang bekas dilewati roda, berabu, diantara rumah-rumah. Menghindari got-got terbuka yang mengalir kearah sebuah ‘houdi’ atau tempat penampung kotoran manusia di dekatnya. Di rumah John Emmanuel, saya memegang ujung ‘kunda’ yang tergantung diluar dan mengetukkannnya kepintu kayu berlapis ganda di dinding yang tinggi itu.

Tak lama kemudian Bimla membukanya, menatapku dengan heran lalu mempersilahkan saya masuk. Kuceriterakan sedikit padanya tentang apa yang sudah terjadi dan memohonkan bantuan untuk memondokkan sementara. Ia melihat saya sedang gemetar lalu memelukku, “Anda diterima dengan hati yang sangat terbuka untuk tinggal bersama kami dan apapun yang kami miliki, andapun dapat turut menikmatinya bersama-sama.”

Ketika John Emmanuel pulang sore harinya dengan sepeda, ia mendengarkan ceriteraku dengan prihatin. “Jangan kuatir, saya adalah saudaramu dalam Ha Mashiah,” katanya meyakinkan saya. Pikirku, betapa anehnya perasaan ini dapat kurasakan terhadap seseorang yang bukan anggota keluargaku dan kehangatan terasa mengalir mendengarkan ke prihatinannya. Ternyata, persekutuan orang-orang yang benar-benar percaya pada Ha Mashiah dapat mengikat pengikut-pengikutnya dengan ikatan yang lebih kuat dari ikatan darah atau hasil perkawinan.

Rumah yang mereka sewa itu kecil, terdiri atas sebuah kamar tidur dan serambi. Pada satu sisi serambi ini ada dapur dan disisi lainnya kamar kecil. Saya mengira-ngira dimana saya akan tidur, nyatanya bersama anak-anaknya, yang sulung 8 tahun, diserambi. Tempat ini ditutup dengan gordin sehingga berubah menjadi sebuah kamar dengan hawa yang lebih sejuk. John dan Bimla tidur dihalaman dan hal ini biasa di lakukannya kalau rumahnya kecil dengan keluarga besar. Tidak ada rumput atau bunga-bungaan – tidak ada tempat untuk menanam sesuatu apapun. Dasar halamannya tanah liat yang keras bercampur jerami, dibersihkan dengan baik sehingga merupakan bagian tambahan dari rumah itu. Tapi ada tanaman di dalam pot-pot untuk menyemarakkan tempat itu. Akomodasi yang sederhana dibanding dengan kesenangan yang saya tinggalkan tapi rasanya hatiku senang sekali memiliki perasaan bebas untuk mengambil Alkitabku dan membacanya secara terbuka serta mengadakan persekutuan doa dan mempelajari Alkitab bersama John & Bimla. Untuk dapat sampai ketahap ini saya malah sudah menantang maut. Walaupun begitu, dimalam pertama, sambil tidur diatas ‘charpai’ dibawah selimut pada udara terbuka, saya tidak dapat tidur karena belum terbiasa dengan keadaan sekelilingku sebab pikiran-pikiranku menerawang dan adanya bunyi-bunyi dimalam hari yang menggangguku.

Di daerah itu orang-orang cepat tidur agar dapat segera bangun sebelum matahari terbit guna mempersiapkan perjalanan mereka ke kota untuk bekerja. Namun, sewaktu kesibukan sehari-hari dan bunyi-bunyian pompa air berhenti, keadaan menjadi sunyi senyap lalu diganti oleh bunyi lain yang menggelitik saya untuk mencari tahu sumber asalnya. Terdengar bunyi berdenyit dan tikus-tikus berlarian di belakang rumah-rumah itu saluran gotnya buruk sehingga terjadi genangan-genangan air tempat kodok berkelompok bergembira ria bersahut-sahutan dengan ributnya dan jangkrik bernyanyi di semak-semak. Tidak ada kelambu untuk melindungi diriku dari dengungan nyamuk yang menari-nari dengan tebalnya di sekelilingku. Bunyi gemerisik kecil diatas atap jerami membuat saya berpikir-pikir apakah cecak atau kakarlak yang mungkin akan jatuh menimpa kepalaku. Saya merasa iri pada anak-anak yang tidur dengan eloknya. Suara napasnya yang lembut menjadi lebih keras dan makin saya campur adukan bunyi-bunyi ini, kedengarannya laksana deburan ombak dikejauhan. Saya berusaha menutup telingaku rapat-rapat dan mengalihkan pandanganku ke langit cerah yang terlihat olehku dari bawah atap serambi. Saya mencoba agar dapat tidur dengan cara menghitung bintang yang berkedip-kedip namun malah hanya membuat saya lebih tidak bisa tidur lagi. Lalu bulan yang sendirian muncul ke panorama pemandanganku, memandikan sekitarnya dengan cahaya misterius yang begitu dicintai oleh para penyair dan orang-orang yang dilanda asmara. Lalu angin yang sombong laksana ‘Nawab’ yang merasa iri, dengan sombongnya mengumpulkan awan-awan yang tadinya masih tercerai berai menutup bulan itu dari pandangan mata yang masih merindukannnya. Saya menikmati pemandangan bulan dan bintang-bintang yang menari-nari di angkasa melewati penggantian waktu dan merasakan goncangan dan kesedihan atas berlalunya hari yang menuju kesuatu titik tujuan yang lebih pasti.

Saat ini merupakan bagian dari waktu dimana saat-saat kehidupan campur-baur yang berlangsung selama kehidupan ini. Saya melihat diriku sendiri, Gulshan Ester, miskin dan dibenci oleh orang-orang yang seharusnya mencintaiku dan telah berpaling dari pintu rumah mereka, kini telah bebas dari beban-beban yang merintangi. Kerudung kehidupan agamawi yang saya warisi sebelum ini, yang kurasakan pernah memisahkan saya dari satu Elohim yang tidak dapat diketahui oleh seorang pun telah dikoyakkan, diungkapkan dalam wujud Yeshua Ha Mashiah, Tuhanku [Elohimku]. Sekarang jalan pemuridan telah terbentang dan apakah menyenangkan atau menyakitkan, harus kujalani dalam ketaatanku. Tapi saya tidak sendirian. Ada satu yang menyertai saya, saya kuat dan akan memenuhi semua kebutuhanku.

Dengan rasa mengantuk saya menatap kelangit yang memudar warnanya menelan bintang-bintang dan menampilkan bintang pagi, kebanggaan fajar. Sambil memikirkan Yeshua, Fajar Pagi Pengharapanku yang diutus Elohim untuk menerangi hidupku, akhirnya saya tertidur pulas tanpa terganggu apa pun walau hanya untuk waktu yang pendek.

Saya terbangun, mataku berat tertimpa sinar pagi yang cerah, ketika si Gundu, bocah beruia 4 tahun menarik tanganku. Bahkan ketika saya berusaha untuk mencuci dengan air dari pompa di halaman, saya terkenang akan pikiran yang telah terbentuk semalam – saya perlu berpikir untuk mencari kerja sebab saya tidak dapat mengharapkan bahwa kawan-kawanku dapat bertahan untuk membiayai saya.

Kepala Sekolah wanita dari sekolah swasta untuk para gadis memandang saya dari atas ke bawah ketika saya berdiri di kantornya dengan perasaan bingung di hadapan wanita yang dingin tapi cekatan ini yang memiliki kharisma kewenangan. Namun saya pun berketetapan hati. Beliau membetulkan syalnya dan berkata dengan sopan, “Selamat pagi nyonya. Apakah saya dapat menolong anda? Apakah anak anda bersekolah di sini?”

“Tidak, saya tidak mempunyai anak yang bersekolah disini. Saya datang untuk mencari tahu apakah Ibu membutuhkan seorang guru disekolah Ibu.”

Ekspresinya berubah dari sikap sopan-santun karena ingin mencari tahu menjadi agak merendahkan diri. Terlihat olehku bahwa cara pendekatan langsung seperti ini dinilai kurang wajar. Sebenarnya saya harus menulis lamaran bukannya datang sebagaimana seorang pembantu atau tukang kebun mencari pekerjaan.

“Mata pelajaran apa saja yang dapat anda ajarkan dan kwalifikasi apa yang anda miliki?” “Saya dapat mengajar bahasa Urdu, pengetahuan agama Islam, sejarah, ilmu bumi dan matematika sampai tingkat pra-universitas.” saya menjawab.

Beliau memandangku dengan tajam seakan-akan menyusun pendapatnya, “Seorang guru yang pandai untuk para gadis,” katanya, “namun sayang sekali lowongan yang ada telah terisi dan saya tidak dapat menerima anda, tapi jika anda meninggalkan nama dan alamat pada sekretaris, saya akan menghubungi bila ada lowongan pekerjaan nanti.”

Beliau bangkit dari belakang kursi yang berat kelihatannya untuk mengantar saya keluar, tapi saya masih saja berdiri, merasa sedih sekali.

“Apakah ibu mungkin tahu kalau ada anak gadis yang memerlukan guru pribadi di rumah karena sesuatu alasan, barangkali sakit, atau orangtuanya tidak mengijinkan anaknya ke sekolah?” Dijawab: “Maaf, saya tidak tahu. Tapi jika saya tahu maka anda akan kuberitahu bila nama dan alamat anda ditinggalkan pada sekretaris.”

Selama 2 atau 3 minggu saya telah bolak-balik kekota, melewati Red Fort untuk mencari kerja, menjajakan kwalifikasiku dari satu sekolah ke sekolah yang lain, seakan-akan seorang penjaja-keliling. Saya memperoleh alamat-alamat itu dari Kantor Penempatan Tenaga dan para petugas biasanya terkejut karena lamaranku. Saya merupakan teka-teki bagi mereka, seorang wanita muda dari keluarga baik-baik, tangannya terlihat kurang memenuhi syarat untuk bekerja, ternyata tidak ditunjang oleh keluarganya.

Berulang kali John dan Bimla meyakinkan saya tentang dukungan mereka tapi saya tahu bahwa saya merupakan beban untuk seorang yang mempunyai gaji kecil seperti dia. Jadi saya berdoa memohonkan lowongan pekerjaan dan saya menelusuri jalan-jalan dibawah terik matahari, sepatuku bolong dan bila timbul perasaan marah atau kecil hati maka saya teringat pada Yeshua dan bagaimana ia menapak jalan-jalan itu untuk mati di atas kayu salib bagiku.

Ketika untuk keempat kalinya saya pergi ke Kantor Penempatan Tenaga, saya mendengar bahwa sebuah majalah mingguan yang berkantor di pasar Ol Anarkali membutuhkan seorang wartawati. Saya tahu nama Anarkali, bunga delima, sama dengan nama seorang pahlawan wanita yang terkenal dalam sejarah kami. Dia dipakukan secara tragis ke tembok hidup-hidup oleh seorang ‘mghul’ (kaisar) padahal ia tidak bersalah. Si wanita itu jatuh cita dengan saudara sedarahnya bernama Salim. “Seorang gadis malang dan sedang menghadapi bahaya,” pikirku dan mencoba mengingat apakah terdapat gejala untuk menerima hukuman seperti wanita itu. Mungkin tidak karena ia adalah anak kaisar tersebut.

Majalah itu pernah kulihat, seingatku mempunyai 4 halaman, ada gambar-gambar berwarna dari orang-orang terkenal dan agak berbau politik. Keadaanku yang sulit, membuat saya kuat dan memohon untuk diwawancarai. Besoknya jam 10 pagi saya datang ke lantai satu di kantor majalah itu di Old Anarkali. Penerbitnya berperawakan tinggi, lelaki yang tampan berkulit terang memakai jas hitam yang tidak tebal dan sangat sopan.

“Silahkan duduk,” katanya sambil menunjuk ke sebuah kursi yang terletak agak jauh dari mejanya yang mengkilap diatas permadani berbentuk segi empat. Ia membunyikan bel dan meminta minuman pada seorang pria muda yang datang membawakan coca-cola dingin bagiku. Minuman ini dihidangkan dalam sebuah botol di atas jerami. “Saya ingin tahu kenapa anda membutuhkan pekerjaan,” katanya dan giginya yang putih kelihatan waktu tersenyum.

Saya menjawab, “Saya yatim piatu dan saya berpendidikan. Saya ingin mendapat gaji sendiri.” Sebuah pena dengan ujung emas diatasnya dimain-mainkannya, dan tercium bau harum olehku mungkin dari parfum ‘after shave’ yang dipakainya.
“Tapi ceritrakan padaku,” katanya, “kenapa kakak-kakakmu tidak membantumu agar anda tidak perlu bekerja?”
“Oh mereka semua telah bekerja dan tinggal di rumahnya masing-masing dan saya tidak mau menjadi beban bagi mereka karena itulah saya memerlukan pekerjaan.”

Ia juga ingin tahu kemana saya telah melamar dan kuceritrakan padanya lamaran-lamaranku untuk mengajar yang menemui kegagalan. Cahaya yang menembus gorden bercorak kota-kotak tipis menimpa wajahku waktu kami berbicara dan saya melihat bahwa ia sedang melihat padaku dengan cermat. Lalu ia berketetapan hati tentang diriku, perasaanku cukup cepat. “Anda dapat mulai besok. Datanglah antara jam 08.30 dan 09.00 pagi dan jangan kuatir saya akan memberikan padamu beberapa pertanyaan yang akan kau ajukan waktu melakukan wawancara. Anda harus bekerja keras dan bekunjung kerumah-rumah atau kadang-kadang ke sekolah-sekolah.”
“Saya cukup berpengalaman mengunjungi rumah-rumah orang,” pikirku, tapi tidak kuutarakan.

Ia menjelaskan bahwa gaji pokokku sebesar 100 rupee sebulan. Jumlah ini akan ditambahkan pendapatan yang diperoleh dari para wanita yang membayar untuk wawancara pribadi. Prinsipnya ialah jika mereka membayar maka mereka bebas mengutarakan apa yang akan dikatakannya. Saya mendapat 20% dari jumlah itu. Ini merupakan sistim yang lebih menguntungkan mereka dibanding dengan bagianku, tapi saya tidak punya kekuatan untuk tawar menawar.

“Anda bukan beragama Islam,” katanya. Lebih terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan. “Saya beragama Kristen,” jawabku, lalu menunggu cukup lama rasanya dengan berdebar selama ia merenungkannya.

Akhirnya sambil memasukkan pena ke kantung jasnya ia bangkit dari kursinya dan berkata, “Baiklah, bukan masalah besar. Anda kelihatannya terpelajar seperti yang anda katakan dan tidak takut berhadapan dengan orang lain.” Ia membawa saya ke kantor penerbit dimana diperkenalkannya saya dengan tiga wartawan, seorang juru potret dan seorang penata tulisan. Saya diberi meja sendiri. Ada sebuah ruangan ketiga, tempat kami makan siang – diberi cuma-cuma. Yang bertugas disini ialah seorang ‘charpase’ atau pesuruh yang mengerjakan beberapa pekerjaan kasar, mengirim/menerima surat-surat, tugas-tugas pesuruh lainnya, mengambil makanan siang dan menyiapkan minuman.

Besok pagi saya tiba untuk bekerja pada jam yang ditentukan dan menghadapi rekan-rekan sekerjaku. Saya satu-satunya wanita diantara 7 pria, tapi jika saya sudah takut lebih dahulu maka ketakutan itu tidak beralasan – mereka semua sangat menghormatiku dengan sebutan ‘Ba-ji’ (saudara perempuan). Dalam waktu 4 hari saya berusaha mempelajari segala sesuatu sedapat-dapatnya termasuk 10 pertanyaan yang disodorkan. Saya bertekad untuk sukses.

Saya segera mengetahui bahwa berita-berita digodok di ruang berita, diperiksa penerbit sebelum diserahkan kepada penata tulisan untuk mengatur cetakannya ke dalam bahasa Urdu di atas lembar-lebar kertas yang lebar. Lalu penerbit akan memeriksa hasil kerja tersebut guna meyakinkan bahwa tidak ada kesalahan sebelum masuk ke percetakan. Salah satu tugasku ialah membantu bapak penerbit memeriksa hasil kerja si penata huruf sebelum dikirimkan ke percetakan. Kadang-kadang saya harus menemani si pesuruh ke kantor pos untuk membawa atau mengambil bungkusan-bungkusan. Apabila kiriman-kiriman majalah yang baru dicetak diterima maka saya bertugas melipat dan membubuhkan alamat-alamatnya. Saya menjadi terbiasa dengan label-label dan perekat serta merasa senang mempelajari tugas-tugasku yang baru ini sambil menunggu dengan perasaan was-was untuk melaksanakan wawancaraku yang pertama kali.

Jadwalnya ialah mewawancarai seorang istri bekas Menteri Luar Negeri yang telah berhenti dari tugas pemerintahan karena ada kesulitan pribadi dengan Perdana Mentri Bhutto. Hal ini berarti bahwa pertanyaan yang kuajukan haruslah sedemikian agar sedapat mungkin tidak mengganggu nyonya itu – namun sipenerbit meyakinkan padaku bahwa nyonya itu mungkin malah akan merasa senang bila diajukan pertanyaan yang sulit. Seperti biasanya, beliau benar.

Nyonya itu menerimaku dengan sangat ramah diruang duduk pribadinya dan mempersilahkanku duduk. Saya teringat akan pertemuanku dengan nyonya yang sopan dulu namun akhirya menjebloskan saya ke penjara. Saya mengakui bahwa sekarang saya merasa puas dapat menjadi salah seorang anggota mass-media yang mempunyai kemampuan lebih besar dibandingkan dengan di waktu-waktu lampau.

Kini saya menjadi seorang penyelidik. Kuajukan 10 pertayaanku satu demi satu. “Kenapa suami ibu berhenti? Apakah ibu senang atas keputusan yang diambil beliau? Dimana ibu mendapat pendidikan?” Dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaanku tidak terlalu tajam namun dengan mengajukannya kepada seorang wanita oleh wanita lain serta hasilnya akan dibaca oleh beribu-ribu wanita lain di seluruh negeri telah memberikan pertanda adanya perubahan-perubahan yang sedang terjadi dalam masyarakat pada waktu itu.

Altaf si juru potret menemani saya bersama yang lain pada wawancara itu. Jadi saya merasa yakin akan adanya perlindungan dan ia pun sangat gembira dapat bertemu dengan para wanita. Setengah dari masyarakatnya masih tersembunyi dari pandangan dan diperlukan sebagai milik pribadi oleh separuh bagian lainnya.

Suatu pemikiran moderen yang merayap masuk perlu menjalani perjalanan panjang untuk mengimbangi tradisi yang masih memisahkan pria dan wanita dalam satu bentuk genggaman yang kuat, baik dikalangan orang kaya dan terpelajar demikian pula di kalangan miskin dan awam. Dalam hal-hal lain Astaf juga berfaedah. Sesekali nyonya itu memakai bahasa Inggris waktu menjelaskan tentang kehidupannya. Ini membuat saya kikuk sebab oleh larangan kuno ayahku maka saya tidak dapat berbicara dalam bahasa ini merupakan ciri-ciri dari tingkat masyarakat dan pendidikan yang telah diterima maka saya memerlukannya. Tapi dengan pelan kawanku menterjemahkannya bagiku. Ia juga memikirkan mengenai pertanyaan lain untuk diajukan, bila pikiranku masih menerawang. Ketika semua pertayaan selesai diajukan, nyonya itu bertanya tentang diriku, “Sampai dimana pendidikanmu?” “Cukup untuk mewawancarai nyonya,” jawabku.

Beliau tertawa, “Jarang kita dapat bertemu dengan seorang wanita yang benar-benar terpelajar,” katanya.

Ketika diterbitkan ternyata tulisanku telah dikoreksi dengan baik oleh penerbit. Namaku ditulis Gulshan di bawah judulnya. Beliau tidak menambahkan namaku yang kedua “Esther”. Nyonya itu membayar 700 rupee dan saya menerima 140 dari jumlah itu. Saya menyerahkan 100 kepada John Emmanuel dan menyimpan yang 40. Pada mulanya tuan dan nyonya rumahku tidak mau menerima uangku tapi saya memaksanya. “Kami sangat berbahagia atas pertolongan Elohim bagimu,” kata mereka.

Ya, saya pun merasa bahagia juga. Untuk pertama kalinya dalam hidupku saya berhasil memperoleh gajiku sendiri dengan memanfaatkan pendidikan yang kuterima. Tanpa terasa, ingatan kemarahan dari wajah kakak-kakak lelakiku mulai menghilang ke latar belakang.

Pada kesempatan lain saya mewawancarai seorang Kepala Sekolah wanita SMA gadis-gadis di Lahore. Saya merasa gugup sebelum kesana karena takut membuat kekeliruan dengan pertanyaan-pertayaanku di depan wanita yang pandai, memiliki wibawa laksana sebuah ‘burka’ layaknya, namun si juru potret Altaf menguatkan hatiku, “Katakan padanya bahwa anda menginginkan beliau menjelaskan tentang segala sesuatu sehingga dapat dimengerti para pembaca. Lalu dengarlah baik-baik dan catat semuanya. Jangan takut mengajukan pertanyaan sederhana – kebanyakan pembaca anda tidak mau kalau anda bertindak terlalu pintar.”

Nasihat ini baik sekali. Saya duduk di sana dengan penuh kesederhanaan dan mendengarkan kuliah Kepala Sekolah itu tentang perbedaan antara sekolah swasta dan sekolah pemerintah. Keuntungan menyolok yang kuperoleh dari cara padang Kepala sekolah itu kelihatannya ialah beliau merasa dapat bertindak lebih bebas-dibawah pemilik sebelumnya beliau terlalu didikte dalam banyak hal sehingga biaya pendidikan sangat meningkat. Satu aspek yang merugikan sekarang ialah fasilitas yang tersedia makin sedikit. Sebagai tambahan atas informasi ini saya menulis tentang ruangan itu, kondisi sekolah di mana kami diajak mengadakan peninjauan dan melihat pemunculan gadis-gadis yang bersekolah disana.

Si juru potret sangat menyenangi wawancara ini karena ia diminta memotret banyak obyek termasuk para gadis di sana. Mereka tampil dengan cantiknya dalam ‘Shalwar kameeze’ nya yang putih dengan ‘dopatta’nya berwarna biru, inilah pakaian seragam mereka dan kupikir bahwa pengalaman ini sangat menarik karena gadis-gadis itu sering cekikikan sambil menutup mulutnya dengan ‘dopatta’nya.

Penerbit mengomentari tulisanku dengan “lumayan”. Beliau bukanlah orang yang mudah merasa puas. Tiga hari kemudian saya kembali kesana sesudah tulisanku dicetak untuk mengambil sisa pembayaran yang belum dilunaskan ke majalah kami – pewawancara selalu mendapatkan uang panjar sebelumnya. Saya menemui kepala sekolah yang kini memandangku dengan rasa ingin tahu sebab rupanya ia dapat mengetahui sedikit tentang kisahku yang diceritrakan oleh salah seorang stafnya yang beragama Kristen. “Kenapa anda pindah agama? Dapatkah saya membantu agar anda kembali ke iman Islam-mu?” kata kepala sekolah itu. Jadi di depan stafnya saya berceritra sedikit tentang hal ini.

“Anda bersikap hati-hati dan imanmu teguh” katanya. Kekuatiran-kekuatiraku mulai hilang sebab tidak ada kesulitan yang timbul terhadap apa yang kutulis. Lama kelamaan saya merasa bahwa pekerjaan menjadi lebih mudah dan mulai terbiasa melihat namaku dicetak menyertai tulisn-tulisanku. Suatu perasaan aneh timbul bila kupikirkan bahwa tulisanku dibaca di seluruh Pakistan dan mungkin memberikan aspirasi bagi para wanita muda sambil menunjukkan bahwa salah seorang kawan sejenisnya dapat berbuat sesuatu. Dan bagi saya yang menjadi contohnya, memiliki cara pemikiran dan ambisi yang menjurus ke arah yang berbeda sama sekali yaitu untuk melayani Tuhan [Elohim] dan melakukan kehendakNya. Jadi, mengapa saya di sini, bekerja di majalah ini – suatu pengalaman yang lain sama sekali dari apa yang telah terjadi sebelumnya. Jalan pengabdian ibadahku telah membawaku ke sini, tetapi untuk alasan apa? Hal ini adalah suatu teka-teki silang dan biasanya saya tidak terpengaruh oleh teka-teki ini dan hidup seadanya dari hari-kehari menelusuri 2 bagian terpisah dari hidupku, yang di luar dan di dalam, kehidupan bekerja dan kehidupan berdoa.

Namun, rekan-rekanku wartawan lainnya menyadari bahwa saya berbeda dengan mereka. Setelah kira-kira 2 minggu mereka dapat mengetahui bahwa saya beragama Kristen, walau pun tidak diketahuinya bahwa sebelumnya saya memeluk agama Islam. Mereka menggodaku tentang kepercayaan ini – anda percaya pada tiga Elohim, katanya sambil tertawa. Seharusnya saya mencoba menjelaskan bahwa tidaklah demikian, hanya ada satu Elohim dengan tiga manifestasinya – Bapa, Yeshua Ha Mashiah Anak Elohim dan bukan hanya seorang nabi saja serta Rohulkudus yang diturunkan pada hari Pentakosta untuk memenuhi orang-orang percaya dengan kehidupan Ha Mashiah, mengajar dan menyucikan mereka. Tapi sejak kanak-kanak, mereka telah diajar dan ditanamkan untuk berpikir bahwa agama Kristen telah merendahkan kemurnian yang percaya bahwa Elohim itu Tuhan [Elohim] Yang Maha Esa, jadi sekarang bagaimana saya dapat merubah jalan pikiran mereka ini?

Selama ini kuperhatikan bahwa tidak ada seorang pun di kantor itu yang melakukan sembahyang Azhar (sianghari) dan saya sangsikan sampai berapa dalam iman mereka terhadap kepercayaannya. Ruangan-ruangan kantor itu dibagi oleh papan-papan tripleks tebal dan si penerbit biasanya menghentikan godaan-godaan itu seraya masuk keruangan kami menyuruh kawan-kawanku diam dan berkata, “Jangan menggodanya. Ia hanya satu-satunya wanita dan anda tidak boleh berlaku kasar padanya.”

Pada suatu hari saya sedang menuruni anak tangga, jam 4 sore dalam perjalanan pulang ketika pemilik toko permen di sebelah kantor kami, bapak Jusuf menyapaku. “Assalam alaikum (kiranya damai turun atasmu),” katanya. Saya berhenti dan menunggu sampai beliau dekat “wa laikum salaam (kiranya damai serupa juga turun atas anda),” sahutku.

Katanya, “Nyonya, saya telah memperhatikanmu lewat selama ini dan kupikir anda tentulah seorang terpelajar untuk dapat bekerja di majalah itu. Saya sedang mencari seorang guru bagi ketiga anakku dan saya berpikir apakah kiranya anda menaruh minat untuk mengajar hal ini dan membicarakan tentang biaya untuk memberi pelajaran-pelajaran itu.”

Saya ragu-ragu. Gaji yang kuterima di majalah itu tidaklah besar, karena saya hanya bertugas sekali atau dua kali sebulan, tidak sama dengan rekan-rekanku pria yang berdinas luar setiap waktu malah sampai ke luar Lahore. Saya memasuki rumahnya bersamanya dan diperkenalkan dengan istri serta ketiga anaknya dan kami langsung dapat saling menyukai satu sama lain lalu menetapkan tentang urusan mengajar tersebut. Saya akan mengajar bahasa Urdu, matematika, agama Islam, sejarah dan Ilmu Bumi kepada anak-anak itu diluar jam sekolahnya dua jam sehari dari jam 4 sampai 6 sore. Saya meminta upahnya 150 rupee per bulan dengan makan malam tiap hari. Saya tidak akan datang pada hari Minggu. Pengaturan baru ini membawa akibat. Saya harus berpisah dengan kawan-kawanku yang baik hati di Medina Colony, sebab hari akan malam sebelum saya tiba dirumah dan bagi seorang wanita tidak aman berjalan sendirian di waktu malam hari. Ada banyak pencopet dan dan penculik dikota ini – kini saya menjadi cukup mengerti dengan sisi kehidupan jahat ini sejak pengalamanku di penjara tempoh hari. Jadi saya tiggal bersama Bapak & Nyonya Neelam. Alamatnya : Jalan Warris, dekat gereja tak jauh dari Old Anarkali. Saya mengenal Bapak Neelam waktu bekerja di “Sunrise” ketika beliau menjadi guru musik di sana.

Sampai bulan Desember saya sudah menulis 8 atau 9 ceritera semuanya dari ‘Gulshan’ atau kadang-kadang pelapor wanita kami dan saya merasa bahwa si penerbit senang dengan hasil-kerjaku,. Pada minggu kedua bulan itu saya dipanggil ke kantornya. “Anda telah melaksanakan pekerjaan lebih baik dari yang kuduga,” katanya. “Saya ingin memepertahankan anda di sini, namun ada satu hal yang perlu dibereskan jika saya mengambil tindakan tersebut – anda harus kembali ke iman Islam-mu.”

Saya duduk menjadi kaku seperti batu layaknya. Ia melanjutkan, “Sekarang ceriteranya kuketahui kenapa anda beragama Kristen. Namun, dengar baik-baik, jika kakak-kakakmu tidak membantumu, saya akan membantumu – hanya lepaskan kekristenanmu. Tidak, dengarkan anda dapat tinggal di rumahku. Anda akan menjadi pimpinan para wartawan. Saya akan mencari wartawati lain dan pendapatan yang akan anda terima seluruhnya perbulan berjumlah 1000 rupee.”

Karena desakan perasaan waktu menerima kenyataan ini saya bangkit setelah memahami tujuan pembicaraannya. Orang ini berhubungan dengan Alim Shah – mungkin mereka berkawan, pergi ke klub yang sama. Rupanya beliau telah lama tahu tentang diriku dan dengan sabar menunggu kesempatan baik ini. Hal ini merupakan ulangan ceritera lama yang sama.“Tunjukkan padanya betapa besar cinta-kasih satu sama lain di kalangan kita maka mungkin ia akan kembali lagi karena ia memerlukannya, daripada bekerja untuk dapat hidup dan tinggal menumpang dengan orang lain.” Dan saya, karena merasa begitu senang dengan kemajuan-kemajuan penulisanku telah gagal memperhitungkan kenapa orang ini telah menerima seseorang seperti saya yang belum berpengalaman? Dan kapankah mereka dapat diyakinkan bahwa saya tidak mau kembali lagi? Saya mengeluh.

“Janganlah bapak berpikir bahwa saya tidak merasa berterima kasih atas tawaran bapak. Saya sangat ingin bila dapat terus bekerja disini namun saya harus mengutarakan bahwa saya tidak dapat melepaskan kekristenannku. Yeshua adalah kehidupan bagiku. Apa yang saya dapatkan di dalam Dia, tidak dapat diberikan oleh agama lain.”

Beberapa waktu kemudian, di hari yang sama, istrinya masuk menemui saya dalam perjalanannya ke toko di Old Anarkali – menurut hematku adalah merupakan usaha terakhir untuk merubah pikiranku. Beliau memanggil saya masuk kantor suaminya ketika bapak penerbit sedang sibuk membaca hasil cetakan diruang wartawan.

“Anda cukup pandai” katanya. “Kenapa anda beragama Kristen?”

Pengungkapan ini menyedihkan hatiku. Bagi yang berfaham Islam fanatik dianggapnya yang beragama diluar Islam itu bodoh karena mempercayai suatu dusta.

Saya memahami bahwa wanita ini tidak memiliki penghayatan dan pendalaman rohani dan saya merasa tidak perlu untuk mengungkit-ungkit mengenai hal ini lagi. Dengan lembut saya menjawab, “Ibu tidak akan dapat mengerti terhadap tahapan yang telah saya capai sekarang. Elohim begitu nyata bagi saya.”

Beliau memandang dan wajahnya kelihatan tegang. Nyonya itu berlalu tanpa berkata sepatah kata lagi. Pada akhir jam kerja, bapak penerbit memberikan padaku sebuah amplop berisi uang sebesar 125 rupee di dalamnya. “Maafkan saya” katanya. “Namun anda tidak dapat meneruskan bekerja di sini lagi. Istriku dan saya sendiri memohon maaf dan menyesal karena anda harus pergi. Kami akan tetap mengingat anda.”

“Saya pun memohon maaf dan merasa sayang, namun Elohim akan memberikan pekerjaan lain bagiku,” kataku dengan tegap, namun dalam hatiku sebenarnya jauh dari berani.

Bapak penerbit itu kelihatan jelas bergumul dengan perasaan kemanusiaannya karena sewaktu saya berjalan menuju pintu beliau berkata, “Jika anda merasa melarat saya akan membantu, namun masalah iman ini tetap ada.”

“Jangan kuatir,” jawabku. “Elohim akan menolongku. Sebelum saya mencari pertolongan pada manusia, terlebih dahulu saya akan mencari pertolongan pada Elohim.”

Dan saya meninggalan kantornya. Para wartawan yang lain tidak senang atas kepergianku. “Anda telah begitu lama bersama kami dan sekarang anda pergi hanya karena masalah agama yang sepele itu. Oke, Nabi Isa itu telah menyembuhkan engkau – kenapa anda tidak membayarkan sejumlah uang saja dan dengan begitu persoalannya beres?”

“Dia jauh lebih berarti bagiku daripada sekedar hal yang demikian itu,” jawabku dan saya berjabatan tangan dengan mereka. Kemudian saya pergi dan menuruni tangga dengan perasaan dingin, kepalaku pusing disebabkan oleh guncangan pengusiran ini, tepat pada waktu saya baru mulai merasa aman dari serangan-serangan yang khusus seperti ini. Setibanya diluar saya bersandar ke dinding untuk menenangkan diriku. Tentunya ada satu alasan mengapa saya mejalani semua pengalaman yang menggoncangkan ini. Di dalam hatiku saya berseru kepada Bapakku di Surga dan Dia langsung memberikan jawaban dengan kata-kata yang menghiburkan. “Makin bertambah harimu berlalu maka kekuatanmu pun makin bertumbuh. Bukankah Aku telah memberi perintah kepadamu?” Saya tidak menyadari bahwa di hadapanku telah terbentang Tanah Perjanjianku yang Istimewa dan bahwa saya sedang dipersiapkan untuk masuk kedalamnya.

Bersambung ke Bg. 8 – Bab 14 Bersaksi

Gulshan Esther (Fatimah); Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2 ;Bg. 3 ; Bg. 4 ; Bg. 5 ; Bg.6 ; Bg. 7 ; Bg. 8

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja
  • Kalender

    • Januari 2021
      M S S R K J S
       12
      3456789
      10111213141516
      17181920212223
      24252627282930
      31  
  • Cari