Video Kesaksian Majed El Shafie, ex-Muslim Mesir, diselamatkan Yeshua

Majed El Shafie, mantan Muslim, bersaksiBanyak orang di Timur Tengah, yang bahasa Arab adalah bahasa ibu mereka, sedang mengalami pengalaman nyata kebenaran isi Alkitab, Yeshua menampakan diri-Nya dan melakukan mujizat-mujizat yang luar biasa. Pengalaman pribadi Majed El Shafie, seorang mahasiswa hukum lahir dan besar  di Mesir adalah suatu kesaksian bahwa Alkitab adalah Firman Elohim dan Yeshua adalah Elohim Yang Mahakuasa.

Tulisan kesaksian di bawah ini adalah kumpulan dari beberapa sumber.  Semoga menjadi berkat bagi setiap orang yang membaca dan menyaksikan video kesaksian ini.

Kesaksian: Mantan Muslim Merasakan Mukjizat Yesus
Sid Roth: Jesus Supernaturally rescues Moslem from Islamic Police! (Judul asli video kesaksian)
Rev. Majed El Shafie – Egyptian Ex-Muslim Torture spurs man to fight for religious freedom by MIKE MASLANIK

Tujuh hari siksaan yang sangat berat di penjara yang paling  ditakuti di seluruh Mesir tidak membuat iman kepada Yeshua dari Majed El Shafie gugur, sebaliknya siksaan berat tersebut memacu dirinya untuk menolong orang-orang Kristen yang teraniaya di seluruh dunia.  Majed saat ini adalah pendiri One Free World Ministires yang berpusat di Toronto, Kanada.

Kesaksian Majed di acara It’s Supernatural!, dengan text bahasa Indonesia. Video kesaksian Majed di CBN (English) disertai cuplikan kondisi saat ia dipenjara klik di sini.

Majed terlahir di sebuah  keluarga Muslim sangat terpandang di Kairo, ibukota Mesir. Bapanya dan saudara laki-lakinya adalah para penasehat hukum yang sukses dan pamanya bekerja sebagai Hakim  Mahkamah Agung, Majed sendiri adalah seorang yang mahasiswa hukum  sebelum ia pindah dari Islam dan menjadi seorang Kristen.

”Ketika kamu lahir kedalam  sebuah keluarga seperti ini, kamu memiliki banyak buku tentang hukum, keadilan dan kebebasan,” Majed mengawali kesaksiannya.
Pada tahun ketiga pada kuliah  ilmu hukumnya di Alexandria, Majed terkejut mengetahui adalnya hukum yang melarang pembangunan gedung-gedung gereja, namun mengijinkan membangun bar-bar dan diskotik-diskotik. Dan hukum itu juga melarang merenovasi bangunan-bangunan gereja kuno. Orang-orang Kristen diperlakukan  lebih buruk dari masyarakat-masyarakat kelas dua.
[Mesir, dan negara-negara Afrika Utara, adalah negra-negara mayoritas Kristen sebelum orang-orang Islam merebut negara tersebut dengan pedang].

Terpukul oleh ketidak toleransian yang tidak masuk akal tersebut, ia mulai mencurigai ajaran Islam dan bertanya kepada dirinya sendiri, ”Mengapa ada pengainayaan terhadap pengikut ajaran Kristianiti?” Sebagai seorang calon sarjana hukum, dan di besarkan dalam keluarga yang selalu berurusan dengan masalah hukum,  ia berkesimpulan: “Musuh mencoba untuk menutupi sesuatu, ada sesuatu yang disembunyikan.” Pencarian kepada keadilan dan kebenaran mulai berlangsung dalam jiwa mahasiswa hukum ini.

Majed menghubungi teman baiknya, Tamer, seorang Kristen, menanyakan pertanyaan yang sama, “Tamer, kenapa ada penganiayaan terhadap orang-orang Kristen?”

Teman takut hubungan persahabatan mereka menjadi terpecah karena pertanyaan tersebut, maka ia memberikan Alkitabnya, dan berkata, ”Pada kitab ini, kamu dapat menemukan jawaban-jawaban untuk setiap pertanyaan yang kamu miliki.”

Saat pertama kali Majed membuka Alkitab tersebut ia membaca Injil Yohanes pasal 8 cerita tentang bagaimana Yeshua menangani kasus seorang wanita yang tertangkap basah saat berzinah, ”Saya temukan bahwa Alkitab berisi tentang keadilan, kasih dan pengampunan, lebih dari sekedar tentang hukum.” ia berkata. ”Ini adalah pertaman kalinya saya melihat pengampunan sejati.” 

Sejak itu ia mulai membaca Alkitab bersamaan dengna Kuran untuk memperbandingkan keduanya. Hampir setahun kemudian, ia datang kepada Tamer dan berkata, ”Tamer, saya sekarang tahu apa itu Kristianiti. Kristianiti bukanlah suatu agama. Kristianiti bukanlah pergi ke gereja setiap minggu dan bernyanyi “Haleluya,” “terpujilah YAHWEH” dan begitu lagi sampai Minggu depan. Kristianiti adalah suatu hubungan intim bersama Elohim. Saya percaya dan mau menerima Yeshua ke dalam hatiku.”

Majed berpindah ke dalam keyakinan Kristianiti dan memulai mengorganisasi jemaat bawah tanah yang telah menarik 24.000 (dua puluh empat ribu) jemaat hanya di dalam dua tahun saja. Ini benar-benar gereja bawah tanah, sebab mereka mengadakan ibadah mereka di goa-goa dipinggiran kota Alexandria.
Sementara ia memimpin gereja bawah tanah tersebut, ia berdiri melawan dua Goliat; hukum pemerintah yang tidak adil dan ajaran Kuran, yang dipakai pemerintah untuk membenarkan menganiaya para Kristen melalui bukunya.

Tahun 1998, pagi-pagi sekali  lima tentara dan dua polisi mendobrak pintu rumahnya  dan membawanya ke kantor polisi untuk diinPenganiayaan terhadap orang Kristen di Mesirtrogasi, polisi mencoba mendapatkan dari Majed nama-nama orang Kristen yang berhubungan dengan dirinya. Majed menolak. Polisi mengancam: ”Jika kamu ingin bermain keras, kami dapat bermain keras!”

Dia segera digiring ke Penjara Abu Za’abel di Kairo, suatu tempat yang dikenal di Timur Tengah sebagai  ”Neraka di Bumi.” Dia dipenjara dengan tuduhan perkara membangkitkan revolusi, mencoba merubah agama Mesir dari Islam menjadi Kristianiti dan ”menyembah dan mengasihi Yeshua Ha Mashiah.”

Di Abu Za’abal, nama dan indentitas resminya diganti, agar keluarga dan organisasi kemanusia tidak bisa menemukan dirinya; ini adalah praktek umum petugas penjara tersebut.

Sementara ia dipenjarakan, petugas penjara mengancam. Pada hari yang sama mereka membawa Majed ke bagian bawah penjara dan menyiksa dia selama tujuh hari berturut-turut; setiap hari tingkat siksaan semakin berat.

Pada hari pertama, kembali mereka bertanya siapa nama-nama rekan Kristennya. Majed tetap tutup mulut untuk hal itu. Maka mereka membotaki kepalanya dan menguyurnya dengan air panas dan kemudian air yang sangat dingin. Majed tetap tidak membuka rahasia

Hari kedua, mereka lalu menggantung dia terbalik, kaki diatas kepala dibawah. Dalam posisi seperti ini ia dipukuli dengan ban pinggang, disunduti oleh rokok yang membara dan jempol kuku kakinya dirusak. Majed tidak terguncang.

Hari ketiga, ia dibawah ke sebuah sel dan sementara ia berada di sana dengan segala lukanya, mereka memasukkan tiga anjing  ke dalam sel penjara tersebut. Anjing-anjing ini adalah binatang yang telah dilatih untuk menyerang manusia dan memakan daging manusia.
Ketika ia melihat tiga anjing digiring ke kamar selnya, ia pergi kepojok sel dan duduk disitu menutup wajah dengan tangannya menantikan penderitaan yang akan menimpa dirinya.

Anjing-anjing semakin dekat, namun tiba-tiba keajaiban terjadi, ia tidak lagi mendengar suara-suara mereka. Ia tidak mengerti, apa yang sedang terjadi, maka, “Saya angkat kedua tanganku dari mukaku untuk melihat apa yang sedang terjadi.” Ternyata ketiga anjing tersebut hanya duduk-duduk saja, sekalipun tuan mereka memerintahkan untuk menyerang. Merasa tidak percaya apa yang petugas ini saksikan, ia membawa ketiga anjing itu keluar dan meminta kepada rekannya tiga anjing yang lain. Ternyata peristiwa mujizat itu berulang lagi, bahkan seekor anjing menghampirinya dan mulai menjilati mukanya. [Telah diketahui umum, luka-luka pada kulit akan sembuh segera melalui air liur anjing]. Mereka melihat mujizat Elohim di depan mata mereka terjadi pada pemuda Kristen ini.

Hari keempat, petugas nomor 27, orang yang tinggi besar, memasuki selnya dan berkata, “Dengarkan, berikan nama-nama teman kamu dan saya akan melepaskanmu. Saya akan berikan kamu apa saja yang kamu mau, rumah besar, mobil baru, wanita-wanita cantik? Akan saya berikan!

”Saya terima tawaran kamu!” Majed berkata, ”Namun pertama-tama, saya belum makan selama tiga hari, bawalah makanan dan setelah itu kita bisa bicara.” Ia mendapat makanan.
”Sekarang kamu beri saya tahu nama orang-orang yang bekerja denganmu?” petugas itu berkata.
”Dengar, kelompok kami adalah kelompok yang sangat besar. Saya tidak bisa memberikan semua nama mereka dan saya sendiri tidak bisa mengingat semuanya. Namun, saya akan memberikan nama ketua kami. Kamu bisa tangkap dia dan dia bisa memberikan dengan tepat nama semua anggota.”
”Saya pikir kamu adalah pemimpinya.”
”Bukan tuan, saya hanyalah seorang pelayan,” Majed menjawab
”Nama ketua kami adalah Yeshua Ha Mashiah. Jika Anda bisa menangkap-Nya, tangkaplah.”

Penjaga nomor 27 ini marah besar. Ia menempeleng Majed sehingga terlempar ke tembok dan memerintahkan rekannya untuk membawa Majed ke ruang lainnya untuk  … di salibkan.

“Dalam penghinaan terakhir, para penjaga mencabut pakaianku, lalu mengikat kedua tangan dan kakiku serta leherku ke sebuah balok salib dan membiarkan saya tergantung di kayu salib tersebut selama dua dan setengah (2,5) hari. Diakhir 2,5 hari tersebut, mereka menoreh-noreh bahu sebelah kananku dengan pisau, lalu menaruh lemon (jeruk nipis) dan garam pada daging yang robek tersebut.”

Majed kehilangan kesadarannya, dan ketika ia terbangun ia ternyata ada dirumah sakit. ”Hanya satu hal yang saya ingat saat itu adalah rasa dan bau dari darahku sendiri,” Majed mengingat.

Ia sungguh kehausan saat itu, lalu dalam penglihatan malam, ia melihat Adonai Yeshua datang kepadanya dan memberi minum dari tangan-Nya dan berkata, “Jika kamu minum air-Ku, mengapa kamu masih butuh air yang lain?” Seminggu kemudian dia pulih total.
Seorang  penjaga penjara di rumah sakit itu memberikan informasi kepadanya bahwa langkah berikutnya ia akan ada dieksekusi, jadi ia melarikan diri melalui sebuah jendela belakang rumah sakit.

Pemerintah mengumumkan fatwa 100.000 dollar hadiah bagi kepalanya, ”Wajahku munjul di TV dan di koran-koran, jadi saya tahu bahwa saya tidak dapat tetap tinggal di Mesir,” katanya.
Dengan mengendarai sebuah jet ski ia melintasi Laut Merah, menyeberangi Padang gurun Sinai dan menyerahkan dirinyatah Israel, dimana di Israel yang ditahan selama 16 bulan sementara PBB dan Amnesty Internasional menyelidiki ceritanya sebelum pada akhirnya ia dianugrahi status pengungsi politik dan berimigrasi ke Toronto, Kanada.

[Perlu diingat berada di tahanan Israel bagi orang yang memiliki kasus seperti Majed ini, itu adalah tempat teraman. Hal ini disadari dengan baik oleh Mosab Hassan Yousef, putra dari pendiri dan pemimpin senior Organisasi Hamas, Sheikh Hassan Yousef. Ketika Mosab akhirnya membuka dirinya ke media bahwa ia telah pindah dari pembela Hamas menjadi agen mata-mata Israel, yang membuat pengikut Hamas mencap dia sebagai ”penghianat Islam” dan berita murtadnya Mosab sempat hangat dimedia internasional selama berbulan-bulan, dari pengakuan dirinya sendiri, baik di media maupun di bukunya Son of Hamas kita tahu bahwa Hassan Yousef, ayahnya, masih berada dipenjara Israel, dan Mosab berterima kasih kepada pemerintah Israel untuk keamanan ayahnya.]

Pada kesaksian ini ia berkata, ”Semua hal ini telah merubah kehidupanku. Saya sekarang tidak akan menyerah sebab saya tahu banyak orang sedang melalui itu (aniaya berat yang ia juga pernah alami).” – Setiap tahun, 165,000 orang Kristen dibunuh karena iman-iman mereka, ia memberi gambaran.

Kepada semua pemerintah yang menaniaya orang Kristen, Majed El Shafie menawarkan pesan ini:

”Orang-orang Kristen yang teraniaya mati berjatuhan, tetapi mereka tetap tersenyum. Mereka ada di dalam sebuah tanah pertambangan yang dalam, tetapi mereka memegang lampu YAHWEH, Kalian dapat membunuh pemimpi tersebut, namun kalian tidak akan dapat membunuh mimpinya.”  

Kesaksian serupa:
Hampir 100 Remaja Kristen Koptik Mesir Disiksa Pemerintah
Mark A. Gabriel, Ph.D.: Mengapa saya meninggalkan Islam
Abdullah (Saudi): Dari Neraka, ke Penjara karena Iman Kristennya.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Iklan

Kesaksian Tom Doyle: Bagaimana Yeshua Ha Mashiah melawat negara-negara Islam di abad ke 21

“Aku ini, YAHWEH, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara.
Aku ini YAHWEH itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung.  (Yesaya 42:6-8)
Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” (Yesaya 49:6). Nubuatan Firman YAHWEH ini sedang terjadi saat ini, saat kamu membacanya, dan sedang menuju pada kesempurnaan tugasnya!! Di bawah ini beberapa contoh dari buah-buah pelayanan hamba YAHWEH tersebut, Adonai Yeshua Ha Mashiah, yang di kenal juga sebagai Tuhan Yesus Kristus atau Isa al-Masih. Setelah negara Israel dibangun-Nya kembali (1948), sekarang Yeshua melawat bangsa-bangsa lain, dalam hal ini umat Islam, keturunan Ismail secara daging (Mesir dan sekitarnya) dan secara rohani (Indonesia dan negara-negara Asia lainnya).

Peta Dunia Muslim“Selamat datang di dunia Islam.” Tom Doyle berkata. “Hal-hal telah berubah. Peristiwa-peristiwa supernatural yang tidak dapat diterangkan telah membuat lebih banyak Muslim (orang Islam) di negara-negara Islam menjadi orang-orang percaya kepada Adonai Yeshua  Ha Mashiah di dalam sepuluh tahun terakhir daripada dibandingkan dalam lima belas (15) abad terakhir Islam [Muhammad memulai ajarannya tahun 610 Masehi, ketika ia berusia 40 tahun)]. 16.000 Muslim (di benua Afrika) perhati telah berpindah ke Kristianiti,’ seorang tokoh Islam dari Timur Tengah di TV Aljazeera mengakui. David Baret menulis sedikitnya 82.000 orang perhari diselamatakan di seluruh dunia. Saat ini adalah masa penuaian,“ Tom Doyle berkata mengawali kesaksiannya di sebuah Jemaat.

Tom Doyle telah dipanggil YAHWEH untuk melayani keturunan Ismael di Timur Tengah dan Asia Tengah seperti Iran, Afghanistan, Irak, Syria, Israel, Lebanon dan Turki. Tom telah bertemu dan mencatat cerita-cerita kesaksian dari orang-orang yang berlatar belakang Islam yang diperkenalkan kepada Yeshua Ha Mashiah melalui entah mimpi atau penglihatan yang berkuasa membuka hati-hati mereka untuk menjadi pengikut Ha Mashiah.

Tom Doyle telah menulis lima buku, bukunya yang terbaru (terbit akhir tahun 2012) berjudul Dreams and Visions: Is Jesus Awakening the Muslim World? (Mimpi-mimpi dan penglihatan-penglihatan: Apakah Yeshua membangunkan Dunia Islam?). Berisi 25 kesaksian.
Kamal Saleem merekomendasikan buku sebagai buku yang harus dibaca. “Saya percaya bahwa saat-saat ini kita hidup di awal hari-hari (kitab) Yoel 2:28. Orang-orang tua akan memimpikan mimpi-mimpi dan orang-orang muda melihat penglihatan-penglihatan. Itu dapat mengejutkan Anda, tetapi para Muslim sedang mengalami ’Yeshua mengunjungi’ dan banyak dari mereka akhirnya menjadi pengikut-pengikut yang berdedikasi.” Kamal Saleem adalah seorang bekas terroris Islam. Kesaksian pertobatanya tertulis dibukunya: The Blood of Lamb: A Former Terrorist’s Memoir of Death and Redemptian.

Di bawah ini sebagian kesaksian Tom Doyle yang saya ambil dari Dreams and Visions in the Muslim World – Tom Doyle:

Yordania. Rena ketika sedang saat teduh membaca Alkitab, YAHWEH berkata kepadanya ”Hari ini kamu pergi kepada orang-orang Muslim dan memberikan Alkitab.” Lalu ia berkata kepada Kamal suaminya [bukan Kamal Saleem penulis buku “The Blood of Lamb”] tentang niatnya tersebut; suaminya menjawab, ”Aduh, kita tidak dapat melakukan hal itu, kamu bisa dilemparkan kedalam penjara. Kalau kamu bertemu orang radikal dan imam mereka bisa melukai kamu. Kita haruslah hati-hati.” Rena berkata: ”Tidak, saya ada satu kotak berisi beberapa Alkitab, dan saya akan pergi ketempat yang harus saya pergi. Kamu pergi dengan saya atau tidak saya akan tetap melakukannya.” Setelah percakapan tarik dan ulur yang cukup lama akhirnya suaminya turut serta, menyetir mobil untuk isterinya membagikan Alkitab-alkitab.Buku Dreams and Visions oleh Tom Doyle

Di suatu tempat Rena melihat seorang bapa berdiri di sudut jalan. Bapa ini adalah seorang iman, dengan bewok dan janggutnya yang lebat bertopi dan berjubah keagamanan Islamnya.
”Saya akan ke pria itu disudut sana” Rena berkata kepada suaminya yang sementara menyetir mobil.
”Tidak!, Kamu tidak pergi! Saya tahu orang itu, dia adalah orang jahat dia akan melukai mu,” suaminya melarang keras.
”Saya akan pergi,” tandas Rena, ”Jika kamu tidak stop saya akan loncat keluar dari mobil yang sedang melaju ini!” Kamal mengalah.
Rena keluar dari mobil dengan Alkitab ditanganya, menghampiri iman tersebut dan berkata ”Saya ada Alkitab untuk Anda.” Dan pembicaraan antara Rena dengan Imam terjadilah.

Kamal memperhatikan keduanya dari mobil dengan was-was. Kamal melihat cara bicara imam ini kepada Rena, nampaknya iman tersebut marah. [Di dalam adat Islam seorang wanita asing mendekati imam adalah hal yang sangat tabu, khususnya di Timur Tengah, apalagi memberikan Kitab Suci Alkitab kepada seorang Muslim khusunya pemimpin Islam, dan itu terjadinya ditengah jalan, Anda bisa bayangkan, apa yang ada dipikiran suami Rena ini]. Percakapan apa yang sesungguhnya sedang berlangsung?

Setelah imam ini menerima Alkitab, ia bercerita kepada Rena, “Kamu tahu, saya sudah menanti di sudut ini sejak pagi hari sebab saya telah mengalami mimpi-mimpi tentang Yeshua, dan semalam saya bermimpi kembali hal yang sama. Saya bertanya ”Yeshua apa artinya ini?  Yeshua menjawab: ‘Pergi berdiri di sudut jalan ini, besok pagi seorang wanita bermobil akan memberi kamu sebuah Alkitab, jadi pergilah berdiri disana.’ Kemudian Imam ini sambil mengangkat tanganya memperlihatkan jam tangannya dan berkata kepada Rena, “Wanita, sekarang pukul 12.30, kamu telat!”
Hal-hal seperti ini sekarang sedang terjadi di Timur Tengah!, Tom menekankan.

Di suatu negara Arab Teluk, Timur Tengah. Aisah adalah seorang dosen muda di sebuah universitas mengajar Hukum Islam dan Hukum Sharia  kepada para mahasiwi.
Ia mulai bermimpi mimpi-mimpi tentang Yeshua, dan beberapa orang Kristen membagikan berita Injil kepadanya. Singkat cerita dosen muda ini menerima Yeshua sebagai Juruselamat dan Tuannya, suka citanya mengalir. Ia sekarang mulai dimuridkan dan terlibat di dalam akitvitas Gereja Rumah.

Mesir. Tom Doyle bertemu dengan seorang wanita yang hidup di tengah-tengah lingkungan Islam, Mona, nama wanita ini, berpakaian tradisinoal Islam dan Tom melihat pancaran mata wanita yang penuh dengan sukacita, jadi ia menghampirinya dan bertanya, “Permisi, boleh saya bertanya kepadamu?” “Ya,” jawab Mona.
“Apakah kamu tahu sesuatu tentang Yeshua,” Tom bertanya
Dengan mendekatkan kepalanya ke arah Tom dan menaruh tangannya di sisi mulutnya, ia berkata dengan berbisik, ”saya mengasihi Yeshua, saya adalah pengikut Yeshua.” Kemudian wanita ini menyisihkan lengan baju Islamnya, menunjukkan kepada Tom tato berberntuk sebuah salib di tanganya. [Kebiasaan umum orang Mesir, memberi tanda salib pada tubuhnya ketika seorang menjadi Kristen]
“Bagaimana hal itu terjadi? Tom bertanya
“Saya mendapat mimpi-mimpi. Saya belum pernah begitu dikasihi dan begitu merasa aman sebelumnya. Saya tidak dapat menolak Dia. Saya sekarang telah dua bulan dimuridkan. Hal-hal buruk telah terjadi sejak itu, suamiku mencoba membunuh ku.” 
Bagaimana kamu bisa bertahan? Tom bertanya kembali ingin tahu
“Tom, Elohim hanya memberi kehidupan sehari dalam setiap waktu, tidak seminggu, tidak sebulan dan tidak setahun.; hanya hari ke hari, dan setiap hari kita memberi yang terbaik kepada Yeshua,” Mona menjelaskan rahasianya.

Kuwait. Sofia dibawa orang tuanya ke Mekka, Arab Saudi ketika berusia delapan tahun. Di dekat Kaaba, ada terdapat banyak orang, ia berpikir bahwa ia sedang dalam antrian untuk sembayang, ternyata bukan. Mereka sedang membawa seorang wanita muslim dengan tangan terikat kebelakang untuk ditempatkan ke tempat tinggi seperti panggung. Lalu seorang pria di panggung itu berdoa di atas sebuah karpet sembayang, setelah pria tersebut berdoa, dengan disaksikan oleh banyak orang dan gadis usia delapan tahun tersebut, pria ini berdiri dan menundukkan kepala wanita tersebut. Wanita tersebut meninggal dieksekusi (seperti seekor kambing disembelih).

Sofia bertanya kepada kedua orang tuanya, mengapa hal itu terjadi. Mereka menjawab, ”Itulah yang juga akan terjadi kepada kamu, jika kamu tidak mentaati kami dan mentaati Kuran.”
Mereka pindah ke Amerika Serikat, di sekolah tinggi Sofia sadar bahwa ia harus berlaku baik jika ingin tetap hidup; hidupnya dipenuhi dengan ketakutan dan mimpi buruk, penglihatan mengerikan di Mekah menghantui hidupnya.
Singkat cerita, ia menceritakan ketakutanya kepada temannya. Seorang wanita Kristen mengajak ia ke sebuah ibadah Kristen.
Sofia, dengan pakaian hijabnya yang menutup dirinya dari kepala sampai ke kakinya tiba di gedung Gereja. I meghadapi sesuatu yang asing yang sama sekali aneh yang ia belum pernah alaami sebagai orang Muslim: setiap orang di Gereja itu menyambutnya dan mereka semua berebutan untuk duduk di sisinya. Di hari itu untuk pertama kalinya ia mendengan berita Injil (artinya Kabar Baik). Sofia di masa mudanya ini sekarang melayani di sebuah organisasi bernama ”Gospel for Muslims”

Afganistan.  Tom memiliki teman bernama George yang melayani di Afganistan sebagai seorang misionari. Segera setiba George di Afganistan ia menemukan bahwa negara tersebut memiliki masalah berat di dalam kehidupan homosex (termasuk pria dewasa memakai pria remaja sebagai pelacur).
Suatu hari ketika George sedang duduk makan di sebuah restoran, ia melihat seorang pria dewasa berpakain suku Pashtun mengawasi dirinya terus menerus. George sungguh tidak nyaman dibuatnya. Dan tiba-tiba pria asing tersebut menghampiri George dan berkata kepadanya, ”Kamu harus datang bersama ku ke rumahku!” Dalam hatinya George berkata, “mayatku sekalipun tidak akan mau pergi bersamamu.” Pria Pashtun menyadari keengganan George untuk pergi bersamanya, maka ia berkata kembali, “Saya tahu, kamu tidak mengenal saya, tetapi ada baiknya kamu datang kerumahku,  isteriku dan anak-anakku akan senang bertemu kamu, dan itu penting untuk keluargaku.” Lanjutnya, “Jika kamu takut, kamu bisa ajak temanmu ikut  serta.”
Roh Elohim di dalam George memberi damai, “Itu tidak apa-apa, pergilah.”Laki-laki suku Pashtun

George pergi bersama pria Pashtun ini, ia disambut keluarga pria tersebut. Sementara duduk di sofa dan menikmati tehnya, bapa ini memulai percakapan seriusnya, “Mengapa kamu ada di sini di Afganistan?”
“Ya, saya hanya ingin menolong masyarakat, membuat sesuatu lebih baik dan menjadikan Afganistan menjadi tempat yang lebih baik,” George menjawab.
“Tidak, tidak, tidak!. Mengapa kamu ada di sini, di negara ini?” bapa ini ngotot ingin tahu
”Mengapa itu menjadi masalah bagimu?” George balik bertanya
“Itu penting, sebab kamu ada di dalam mimpiku tentang Yeshua selama tujuh malam. Dan juga semalam, dalam mimpi itu kamu  berpakai persis sama seperti hari ini,” kepala keluarga ini menjelaskan. ”Saya berkata kepada Yeshua ’saya ingin mengetahui tentang Engkau lebih lagi.’ Dan Yeshua menjawab, “Kamu akan bertemu dengan sahabat-Ku besok, ia membawa pesan untuk mu,” pria tersebut menerangkan.
“Mr. George, apakah pesan Yeshua untuk ku?” bapa ini sekarang bertanya dengan emosi yang sedikit terkendali
Sepanjang sore itu George menceritakan Injil kepada bapa tersebut di hadiri isterinya. Kepala keluarga ini pada hari itu juga berdoa menerima Yeshua. Dan mereka dimuridkan di dalam sebuah Gereja Rumah di Afganistan.

Tom Doyle berkata bahwa Afganistan adalah negara di urutan kedua dimana Kristianiti tumbuh tercepat di dunia perkapita saat ini, dan negara Iran di urutan pertama perkapita. RRC yang terbanyak secara jumlah, namun bukan perkapita.

Negara Arab Teluk. Peristiwa satu ini baru saja terjadi di Timur Tengah. Fatima wanita muda yang sedang menyelesaikan progam S3nya mendapat mimpi-mimpi tentang Yeshua. Ia pergi ke Australia bersama putrinya untuk tujuan akhir dari program S3; di negara baru ini mimpi tentang Yeshua terus berlanjut. Ia mencari seorang Kristen untuk menjelaskannya, dan kemudian Fatima menjadi Kristen. Setelah lulus ia kembali ke negara asalnya. Pada hari pesta perayaan S3-nya, Fatima dengan kegembiraan yang meluap-luap dihadapan seluruh keluarga besarnya ia berkata: ”Saya bukan orang Muslim lagi, saya sekarang mengikuti Yeshua.” Ruangan yang tadinya ramai dengan tertawa tiba-tiba hening. Para wanita Saudi Arabia sedang berjemur matahari

Dua malam kemudian ketika ia sedang tidur, ia mendengar suara gaduh. Ketika ia membuka matanya ia melihat dua pria berdiri di dekat ranjangnya dengan pisau terhunus di tangan mereka. Kedua pamannya siap membunuhnya dengan senjata tajam. Tidak ada waktu untuk melarikan diri, jadi Fatimah hanya berdoa, ”Yeshua, kedalam tangan-Mu aku menyerahkan rohku.”

Kedua pria tersebut tidak menusuk Fatimah, berdiri seperti beku dan kemudian keluar dari kamar tidurnya.  Di dekat pintu kamar tidur putrinya yang masih kecil melihat kejadian yang baru saja terjadi. Fatimah langsung berlari dan memeluk putrinya yang juga telah menjadi orang Kristen dan berkata, ”Maafkan ibu, kamu telah melihat hal yang tidak bagus. Kita harus pergi, tidak aman di sini.” Putrinya berkata ”Saya tahu bahwa ibu akan aman.”

”Darimana kamu telah tahu hal itu,” ibunya bertanya. ”Ibu, tidakkah kamu melihat bahwa Yeshua telah berdiri di antara kalian untuk melindungimu!?” putrina balik bertanya. Ibunya tidak melihat Yeshua, tetapi ia telah lulus test sebagai pengikut Yeshua.

PESAN TERPENTING DARI TOM – untuk  Jemaat Yeshua Ha Mashiah. Pada kesaksian Tom Doyle ini ada pesan yang sangat penting untuk kalian yang percaya kepada Yeshua, pesan ini terdapat di menit ke 36 ke atas, intinya pesannya:

  • ”Jika kita takut atau benci kepada orang Muslim, kita tidak akan dapat menjangkau mereka.” Setan memakai Islam radikal (menurut Doyle mereka hanya 10% dari seluruh umat Islam) dengan segala aksi terrornya yang dimuat di halaman muka media di seluruh dunia merupakan strategi Setan untuk menakut-nakuti Jemaat Yeshua dengan tujuan membuat orang-orang Muslim yang mencari kebenaran tidak terjangkau oleh berita Injil. Perang fisik yang sesungguhnya sedang meletus di Timur Tengah adalah Perang rohani antara Kerajaan Elohim (Terang) melawan Kerajaan Setan (Kegelapan), Setan mencoba menghentikan berita Injil di Timur Tengah.
  • Aturan Permainan telah dirubah oleh Adonai Yeshua Ha Masiah, seluruh dunia ada di dalam kuasa tanganya. Ia hadir maka semua berubah.
  • Jangan takut atau menbenci orang Muslim yang karena perbuatan yang 10% tersebut. Mulailah bangkit untuk menjangkau orang-orang Muslim, melalui:
    Doa;  jika kita melewati sebuah mesjid, berhentilah sejenak berdoalah bagi kebanguan rohani untuk mereka, minta Yeshua hadir dalam mimpi-mimpi dan penglhatan-penglihatan dalam kehidupan mereka.
    Beritakan Injil; luangkan waktu untuk terlibat di dalam misi jangka pendek dan jangka panjang. Undang mereka untuk bersahabat dan saksikan kuasa dan kasih Yeshua.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Begitulah Saya Mengenal Elohim; Ex-Jihadist. Pt.1

[Pendahuluan, menjadi Muslim fanatik, semua kafir!, berjihad, meneliti Alkitab untuk menyerang Kristen, Kuran meneguhkan keilahian Yeshua]

Judul ini adalah bagian dari buku kesaksian Anak-anak Ismail.

Buku Anak-anak Ismail (The Children of Ismael) adalah kisah-kisah nyata yang mengharukan dan menyentuh hati setiap pembacanya. Mereka bersaksi bagamana Elohim telah merubah gurun pasir kehidupan menjadi padang rumput yang indah, rantai-rantai ikatan protokol keagamaan yang berat menjadi hubungan kasih yang manis dengan Pencipta mereka. Dilampirkan Ayat-ayat Kuran terjemahan Yusuf Ali (YA) dan Alkitab Indonesia Terjemahan Baru (ITB). Selamat membaca!

Bab 8A. Sebelum Pembaca membaca kesaksian ini, lihat dahulu videonya, maka tulisan ini (yang jauh lebih komplit dan detil dari versi videonya) akan semakin menggairahkan untuk dibaca. Saya akan bagi cerita ini dalam dua bagian. Dalam versi video ia memakai nama Khalil: “Story of Khalil”, namun pada buku kesaksian ini ialah Paul, namun isi ceritanya sama.

Pendahuluan
Cara terbaik untuk memulai kesaksian saya adalah berterima kasih kepada Elohim dari lubuk hatiku untuk perubahan besar dalam hidupku dan dalam kehidupan semua orang yang setia mencari Dia. Elohim telah menuntun saya dengan kekuatan kuasa-Nya dan menyelamatkan saya dari gua singa. Anehnya, perubahan ini bukan hasil dari keinginanku, [bukan juga] suatu reaksi terhadap sesuatu yang telah saya dengar atau khotbah oleh seorang pendeta atau penginjil. Sebaliknya, ketika saya sedang lari berkeliling menyerangi Firman-Nya dan orang-orang-Nya, Dia telah mempersiapkan segala sesuatu untuk menangkap saya dengan sebuah jala yang saya tidak bisa lolos! Dia adalah Elohim Yang Hidup yang mencari anak yang hilang. Ia membentangkan tangan-Nya kepada siapa pun yang bertobat, Dia menyebarkan cahaya-Nya kepada siapa saja yang hilang di dunia; Dia mengetuk dengan lembut pada pintu setiap rumah yang miskin dan hancur untuk mengisinya dengan kekayaan spiritual, kemurnian dan kesucian. Dia memberikan secara berlimpah-limpah dan tidak menyesal melakukannya. Dia tidak memberikan kita menurut tindakan kita, tetapi menurut rahmat-Nya.

Saya sangat ragu-ragu setiap kali saya mencoba untuk menuliskan kesaksianku. Saya takut untuk membesar-besarkan. Saya tidak ingin memakai sebuah alas. Saya tidak layak menerima kredit apapun. Semua kemuliaan milik Elohim. Saya juga telah meninggalkan beberapa kesombongan dalam diriku. Saya berpikir bahwa memberitakan karya Elohim dalam hidupku akan menjadi penghinaan terhadap egoku, karena saya dahulu adalah orang yang kejam terhadap pengikut Elohim Yang Hidup – Elohim yan sama yang telah mencari saya dan membuka mata saya untuk melihat cahaya yang belum pernah saya kenal sebelumnya.

Seperti yang akan Anda baca pada halaman berikut, saya tak punya pilihan selain menyerah dalam pertempuran antara iblis, yang tinggal dalam diriku, dan Elohim Yang Kudus yang menawarkan keselamatan-Nya dan membuka lengan-Nya untuk memegang saya. Saya benar-benar bisa mengatakan seperti Ayub, Hanya dari kata orang saja saya mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. (Ayub 42:5) dan memohon seperti Daud, Jadikanlah hatiku tahir, ya Elohim dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! (Maz. 51:10)

Ini adalah Adonai Yeshua Ha Mashiah, Firman kekal dan Roh Elohim. Dia adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup; siapapun yang percaya kepada-Nya tidak akan mati, siapapun yang  datang kepada-Nya tidak akan haus atau lapar, Dia adalah yang pertama dan terakhir, alfa dan omega, Adonai Yeshua Ha Mashiah!

Hidup saya sebelum saya percaya Ha Mashiah
Saya harus bicara singkat tentang hidupku sebelum saya percaya Ha Mashiah karena itu akan menunjukkan betapa Ia mengasihi kita. Bahkan ketika kita berperang melawan-Nya, Dia mencari kita seperti gembala yang mencari domba-Nya yang telah tersesat di padang gurun.

Saya lahir dan dibesarkan di sebuah keluarga yang sangat fundamental. Saya mengikuti teladan mereka dengan kehendak bebasku, meskipun mungkin keluargaku mempengaruhi saya. Saya mulai di ‘Kottab’ kecil (tempat belajar Islam) yang berada di daerah terpencil dekat desa kecil kami di Mesir Hulu, 200 km selatan Kairo.

Pada awalnya, minat saya terfokus hanya sekedar menghafal bagian Kuran yang merupakan bagian dari kurikulum sekolah kami. Secara bertahap, minatku menjadi lebih pribadi. Saya terdorong oleh kecintaanku terhadap firman Allah. Pada saat itu, Dewan Tertinggi Urusan Islam biasa menjalankan sebuah kompetisi tahunan sekolah dalam menghafal Kuran, dan semua sekolah Negara berpartisipasi. Ibu saya meminta saya untuk mengambil bagian di dalamnya. Jadi saya lakukan. Saya mendapat nilai terbaik, maka saya memenangkan hadiah pertama, yang merupakan penghargaan keuangan 10 Pounds Mesir. Ayahku sangat senang mendengarnya. Dia selalu mendorong saya untuk terus berpartisipasi dalam kompetisi yang setiap tahun hanya untuk mendapatkan penghargaan keuangan.

Saya terus mempelajari Kuran dengan tekun. Saya akhirnya menghafal lebih dari 15 bagian dari Kuran sebelum saya menyelesaikan SMP. Saya menyelesaikan menghafal seluruh Kuran selama di SMA. Pada saat itu, saya tinggal bersama orang tuaku serumah dengan keluarga besar kami, termasuk semua pamanku dan para sepupu. Salah satu para sepupuku adalah seorang Muslim fanatik. Dia adalah seorang mahasiswa di Al-Azhar, Universitas Islam. Dia biasa membujuk saya untuk membaca buku-buku. Kadang-kadang ia akan membelikan saya beberapa buku untuk dibaca.

Pada satu saat, keluarga dekat kami pindah ke sebuah rumah terpisah jauh dari keluarga besar. Sepupu saya juga pergi ke sebuah negara Arab untuk bekerja sebagai pengkotbah Islam di salah satu Masjid di sana. Dia tinggal di sana selama dua tahun. Ketika ia kembali, ia mengatakan bahwa kita tidak tahu Islam yang benar melalui mana kita bisa pergi ke “Al-Jannah” (sorga), karena kita tahu sangat sedikit. Dia bilang juga bahwa ia telah bertemu dengan beberapa pemimpin Islam dan Imam yang berhasil melarikan diri dari tirani penguasa di sini, [Mesir]. Dia meminta saya untuk pergi lebih dalam dalam studiku melalui beberapa buku tulisan Imam Ibnu Tammemah, Syeikh Sayed Kotb dan Ibn Hazem Al-Zahery. Meskipun ada kesulitan dari beberapa buku tersebut, saya sangat mengagumi mereka. Mereka mengusulkan sebuah jalan yang sangat menantang bagi siapa saja untuk diikuti. Sebagai contoh, saya menemukan salah satu Hadis yang mengatakan, “Setiap orang yang makan bersama atau tinggal bersama orang kafir, menjadi seperti dia.”

Sejak saat itu, saya bertujuan masuk kedalam sebuah tahap baru dalam kehidupan beragamaku. Saya mulai memeriksa orang di sekitar saya untuk tahu siapa yang kafir dan siapa yang Muslim. Saya juga mulai mengumpulkan ayat-ayat Kuran yang akan membantu saya untuk membedakan antara Muslim sejati dan Non-Muslim, saya ingin melukiskan sifat hubungan saya dengan masing-masing jenis. Akhirnya, saya berakhir di situasi situasi sangat ketat, menemukan bahwa ayahku, sesuai dengan kriteria hadis, adalah salah satu dari orang-orang kafir karena ia merokok dan tidak memelihara janggutnya. Ibuku tidak berdoa, ia sangat biasa memanggil nama orang. Saudaraku juga kafir karena mereka menonton TV atau merokok. Beberapa dari mereka tidak melakukan shalat lima waktu. Beberapa dari mereka tidak memelihara janggutnya.

Saya begitu marah dengan saudara-saudaraku sehingga saya mencegah mereka meneruskan tahap tertentu dari studi mereka. Saya juga meminta ayahku untuk menceraikan ibuku karena dia tidak mematuhi saya, hal yang sepertinya membuat marah ayahku sangat besar. Saya sampai pada kesimpulan akhir bahwa ayahku, ibuku dan saudara-saudaraku semuanya kafir. Saya bertanya sepupuku apakah saya harus tinggalkan mereka, dan ia menjawab saya positif. Saya bertanya kepadanya jika saya mengakhiri hubunganku dengan mereka, kemana saya pergi? Dia meminta saya untuk datang dan tinggal bersamanya.

“Apakah kamu memiliki keraguan dengan sepupumu dan istrinya tentang iman mereka?” Tanyanya padaku. Saya berkata kepadanya, “Tidak, kalian adalah benar-benar orang-orang percaya.” Dia berkata, “Jadi, datang dan bawa semua harta milikmu dan tinggal dengan saya pergi dari kehidupan perselingkuhan dan ketidaksetiaan rumahmu.” Jadi, saya mengemasi barang-barang saya dan meninggalkan keluargaku. Dengan air mata, ibu saya dan saudara mengucapkan selamat tinggal kepada saya. Saya tidak ambil perduli dengan air mata mereka. Saya benar-benar bertekad untuk tidak ada bersama dengan orang-orang kafir lagi. Saya yakin dengan sukacita untuk meninggalkan rumahku demi Allah.

Sepupuku menetap di Kairo. Dia menyewa sebuah apartemen di dekat Universitas Al-Azhar. Dia berada di tahun terakhir studi akademisnya, jadi saya harus kembali ke rumah ayahku dengan malu dan terhina. Saya tanya sepupuku, “Tidakkah kamu pikir bahwa kedatanganku kembali ke rumah ayahku adalah sebuah pelanggaran?” Dia menjawab: “Tidak, karena kebutuhan tidak mengenal hukum dan larangan perlu pembenaran.” Dia membaca: Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (S. 2:173.) [Islam mengajar kebenaran relatif]

Saya berada di langit sembilan, mendengar itu. Saya berada di tahun terakhir di sekolah tinggi, dan saya memutuskan untuk belajar keras sehingga tidak ada orang akan mengatakan bahwa agama adalah hambatan bagi keberhasilan akademis. Saya berhasil mendapat nilai yang tinggi dalam Ijasah Umum Pendidikan; saya berhasil bergabung dengan Fakultas Kedokteran, Universitas Kairo.

Sedikit demi sedikit, pikiran saya dibebaskan dari semua pola pikiran sepupuku yang biasa menekan. Saya membaca banyak buku yang ia biasanya larang dengan berkata, “Mereka membawa pikiran kelompok Islam ‘Takfeer dan Al-Hijrah’ atau penjahat abad kedua puluh. Kata-katanya memotivasi saya untuk pergi dan menemukan apa yang orang-orang tersebut katakan.

Di sekolah kedokteran, saya menemukan banyak aliran politik yang diwakili oleh kelompok-kelompok kecil yang sah. Saya memutuskan untuk bergabung dengan kelompok keagamaan untuk menjaga keseimbangan dengan kelompok lain. Pemimpin kelompok adalah anggota fakultas. Dia juga sekretaris umum. Kami memiliki orang lain yang bertanggung jawab untuk membuat kontak di dalam anggota kelompok.

Tidak diragukan lagi, saya menghadapi banyak kesulitan dalam kelompok ini; mereka menjalani kehidupan Islam tradisional yang jauh dari pemahaman yang benar tentang Islam dalam hubungan dengan non-Muslim (saya tidak maksudkan para Kristen, tetapi para Muslim nominal). Dengan demikian, ambisi agamaku tumbuh lebih dan lebih. Saya fanatik dalam usahaku mencapai status seperti mereka yang telah berpetualangan melawan pemerintah dan rezim. Jadi, saya mulai sebuah sel, sebuah kelompok kecil. Saya mengajar mereka Islam, sebagaimana saya memahaminya. Saya merasa ketaatan dan komitmen mereka. Kami terbiasa berdoa bersama di tempat terpencil jauh dari masjid karena kami berpendapat bahwa ini adalah sama dengan apa yang orang Yahudi telah bangun untuk menghambat nabi Muhammad.

Jadi, saya mulai menyortir hubungan saya dengan orang-orang sesuai dengan posisi mereka dan pemahaman Islam. Jika seseorang menolak apa yang kami katakan, ia akan dianggap kafir dan akan diperlakukan seperti kafir,  “Janganlah orang-orang mukmim/ beriman mengambil teman-teman atau penolong dari orang-orang kafir kecuali orang-orang mukmin …” (S. 3:28) atau Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin… (S. 3:28 YA)

Saya tidak ada kesulitan melakukan itu. Kita semua yang merupakan bagian dari kelompok itu didorong oleh keinginan yang besar dan antusiasme untuk mengikuti contoh dari nabi Muhammad.

  • Kami selalu membayangkan Abu Obeida anak Garah, yang digambarkan oleh nabi Muhammad sebagai pemimpin bangsa, membunuh ayahnya saat terakhir menolak untuk bergabung Islam;
  • Mosaab anak Omair, yang tidak pernah mendengarkan permohonan ibunya dan membiarkan ia mati karena ia menolak Islam;
  • dan Abu Bakar, yang mengatakan kepada ayahnya bahwa dia akan membunuhnya jika ia tidak masuk Islam. Semua gambaran ini membuat kami lebih kejam terhadap keluarga kami dan teman-teman kami jika mereka menolak Islam versi kami. Sungguh menyakitkan berteriak pada ibuku dan ayahku, dan bersumpah pada saudara-saudaraku, mengancam akan membunuh mereka, tetapi satu-satunya motif saya adalah untuk mematuhi Allah dan nabi. Saya ingin mencapai status mereka mentaati Allah. Saya terus mengingatkan diriku dari Hadis nabi Muhammad, “Setiap orang dari kalian belum menjadi orang percaya sejati sampai dia mencintai Allah dan nabi lebih daripada uangnya, anak-anaknya atau bahkan dirinya sendiri.” [mengutip Injil Lukas 14:26 tanpa pengertian yang benar]

Ada sebuah sekte dengan siapa kami perlu mendefinisikan hubungan kami, sesuai dengan Kuran dan Sunnah. Itu adalah para Ahli Kitab (People of the Book), dan para Kristen khususnya karena tidak ada orang Yahudi tinggal di Mesir, bahkan jika mereka ada tinggal di sana, mereka tidak memiliki hubungan dengan siapa pun. Setelah mencari sikap Nabi Muhammad terhadap orang Kristen, kami menemukan gambaran itu sangat gelap. Namun, hal ini baik-baik saja dengan kami karena kami cemburu kesederhanaan mereka, sopan dan keramahan yang luar biasa mereka dengan para Muslim nominal. Mereka memiliki semacam ketenangan yang aneh dalam menghadapi semua kesusahan dan penyerangan yang kami lakukan pada mereka. Kami telah menafsirkan bahwa itu ialah upaya kotor mereka untuk keluar dari pengasingan mereka sebagai minoritas di antara mayoritas Muslim. Kami beralasan bahwa satu-satunya hal yang dapat mereka lakukan adalah berlaku licik dan jahat dengan berpura-pura berlaku baik kepada umat Islam, jika tidak, mereka akan tidak ada tempat di antara kami. Itulah yang dikatakan Kuran tentang mereka, Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. (S.. 2:61)
Kebencian kami terhadap orang-orang Kristen mengambil bentuk pelecehan dan penyerangan terhadap mereka di jalan-jalan, tetapi mereka menjawab serangan kita dengan lemah lembut yang tidak masuk akal. Kami menanggapi dengan menjadi lebih agresif terhadap mereka, dan kami mulai merencanakan bagaimana kami bisa menyiksa dan mengintimidasi mereka. Kami belajar bahwa Allah telah melegalikan untuk membunuh mereka, merampas harta mereka dan menjarah rumah-rumah mereka. Menurut Kuran, semua harta milik mereka untuk ada dipertimbangkan “hadiah” dari Allah untuk umat Islam.
Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, (S.. 59:7) [Islam melegalkan tindakan dosa; pembunuhan dan perampasan]

Ini berarti bahwa semua milik mereka harus diambil dari mereka tanpa perang seperti nabi telah lakukan terhadap para Yahudi Bani Kurais ketika ia mengepung mereka, membunuh orang-orang muda mereka, mengambil tawanan wanita mereka dan menduduki tanah mereka dengan semua pohon-pohon palem dan menendang mereka dari kota mereka.

Meskipun kami tidak bisa melakukan apa yang nabi lakukan, kami berhasil masuk ke toko-toko orang Kristen dan merampok mereka. Permusuhan dan kebencian di dalam hati kami mencapai puncaknya ketika kami menyerang gereja-gereja mereka di berbagai desa di mana saya dulu tinggal. Bagian atas operasi adalah rencana untuk menyerang dan menghancurkan salah satu gereja. Serangan ini mengganggu pemerintah ketika orang-orang Kristen Koptik berdemonstrasi menentang kejadian itu. Pada saat yang sama, pemerintah tampak bahagia atas kejadian itu karena mereka memperlakukan kami dengan sangat baik di penjara.

Setelah kami menjalani hukuman kami, para penduduk desa menerima kami seperti pahlawan. Ini merupakan motivasi yang baik bagi kami untuk terus menganiaya orang-orang Kristen tetapi dengan kearifan dan kehati-hatian lebih untuk menghindari ditangkap oleh polisi. Semua peristiwa ini terjadi dalam waktu singkat. Saya telah lebih banyak terlibat dan berita yang terus seperti api liar di antara sesama siswaku. Akibatnya, salah satu pemimpin puncak Kelompok Islam yang disebut “al-Takfeer wal-Hijrah” ingin duduk bersama saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang mendalam atas keberanian saya dan kasih kepada Allah dan nabi-Nya. Saya tahu bahwa ia anggota kelompok Syukri dan saya menjadi sangat bahagia tentang hal itu. Saya ingin menjadi salah satu dari mereka. Pemimpin itu sangat berhati-hati dalam pembicaraan dengan saya. Dalam salah satu liburan musim panas, kami mengatur sebuah kamp untuk group Islam Sekolah Medis. Kami mendapat dukungan keuangan untuk kamp dari administrasi sekolah. Tujuan dari kamp yang menghabiskan banyak waktu membahas konsep-konsep Islam.

Setelah kamp, teman saya meminta saya pandanganku mengenai Kelompok Islam itu dan bertanya apakah saya ingin bergabung dengan mereka jika saya mendapat kesempatan. Dia terus mengutip dari para Hadis tentang perlunya bergabung dengan sebuah kelompok yang mengikuti Allah, sunnah-Nya dan Nabi-Nya. Satu pernyataan itu, “Dia yang mati tanpa sebuah kesetiaan, mati seperti kafir Pra-Islam” Dia juga berkata, “Tidak ada Islam tanpa kelompok;  tidak ada kelompok tanpa Emir.”

Saya merasa, karena saya mengasihi Allah dan Nabi, jadi hal terbaik untuk dilakukan adalah bergabung dengan Kelompok Islam. Kelompok sejenis ini adalah yang paling dekat dengan gagasan saya tentang Islam. Mereka mengatur bagi saya untuk bertemu kelompok Emir di rumah seorang anggota di Kairo. Saya menjabat tangan Emir Shokry dan berkata kepadanya, “Saya berkomitmen kepada Anda untuk mendengarkan dan taat, melalui tebal dan tipis, dan untuk menempatkan Anda di depan diri saya  sendiri, kecuali saya menyaksikan ketidaksetiaan dari Anda.” Adalah kesetiaan bukan hanya kata-kata Anda mengulangi. ; Anda secara nyata menaruh hidup Anda di tangan Emir. Anda akan menjual diri kepada Allah dan Nabi.” [Sumpah semacam ini umum dipakai pada sekte-sekte sesat. tanpa sadar menjadikan manusia sederajat Pencipta mereka bahkan secara praktek perkataan dan perbuatan pemimpin menjadi sederat dengan Elohim].

Saya begitu senang hari itu, satu-satunya saat saya lebih bahagia adalah hari saya dibaptis nanti. Setia membuat saya tunduk kepada Emir tanpa keraguan. Saya melakukan apapun yang ia inginkan tanpa memikirkan rasa sakit dan pergumulan-pergumulan yang saya akan hadapi karena saya merasa saya mematuhi Allah dan Nabi. Saya siap untuk melakukan bahkan lebih banyak daripada apa saya diminta untuk lakukan. Saya mulai memperlakukan keluargaku dengan kasar. Saya berhenti menyapa mereka. Ketika mereka menanyai saya, saya akan membacakan kepada mereka, Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orangorang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaikbaiknya. (S. 18:103-4 )

Ayahku meminta saya untuk menceritakan apa yang, menurut saya, akan membuat dia seorang Muslim yang sejati. Saya bilang kepadanya tumbuhkan jenggot dan tidak mendengarkan radio. Dia setuju. Saya kemudian berkata kepadanya, “Ibuku tidak berdoa, karenanya, ia adalah seorang kafir dan Ayah tidak bisa hidup dengan dia. …” Ayahku sangat marah. Dia mencukur jenggot dan hampir memukul saya dengan batu besar, tapi saya lari.

Saya harus mengatakan bahwa hal pertama yang memotivasi saya untuk bergabung dengan Kelompok Islam adalah bahwa mereka begitu jahat terhadap orang Kristen, orang yang saya benci sekali. Saya selalu mencari ayat-ayat Kuran untuk membenarkan kebencian saya dan memberikan saya hati nurani yang jelas dalam apa yang saya lakukan.

Shokry menunjuk saya sebagai seorang Emir untuk kelompok yang lebih kecil di pinggiran Kairo. Dia begitu bangga padaku dan komitmen saya terhadap penyebabnya. Dia memanggilku ‘Abu Obeida’. Masing-masing anggota kelompok memiliki nama panggilan, kami tidak pernah tahu nama asli masing-masing.

Shokry percaya saya lebih dan lebih. Dia mengirim saya ke beberapa negara Arab dan asing untuk melakukan kontak dengan anggota Kelompok. Kami bekerja sama bersama untuk menarik anggota baru untuk bergabung dengan kami dan menerima kesetiaan mereka atas nama Emir Shokry Mustafa.

Pemerintah telah mengganggu kami, sehingga kami harus melarikan diri untuk waktu yang singkat ke bukit-bukit di luar Menia, Badary dan Assiut. Setiap kali kami ditangkap, kami dikirim ke Kairo dan kemudian dilepaskan. Kita semua merasakan perlunya perubahan lokasi karena kami tidak bisa lagi tinggal di antara orang-orang kafir, menurut Hadis nabi, “Saya menolak orang yang tinggal di antara orang-orang kafir” Kami harus mengirim anggota untuk memeriksa tempat terbaik untuk ‘pindah.” Kami mencari tempat permanen untuk hidup, kembali hanya untuk menghukum rezim sekuler yang tidak mengikuti perintah Allah.

Suatu hari pada tahun 1977, anggota lain dan saya diperintahkan untuk mencari kamar apartemen di daerah,berpenduduk sangat miskin, tidak ada pertanyaan yang diajukan. Kami menemukan apartemen yang cocok dan kami menyewa itu, masih tidak tahu kenapa. Hari berikutnya kami tahu bahwa Syekh Muhammad telah diculik oleh beberapa anggota kami. Beberapa menit kemudian, anggota lain mengunjungi kami dan memberitahu kami keseluruhan cerita. Sheikh Mohammed selalu menyerang kelompok kami. Sejujurnya, ia biasa menulis hal-hal yang salah tentang kami, menyatakan kami akan menikah seorang wanita untuk lebih dari satu pria. Kelompok kami memperingatkan dia berkali-kali untuk menghentikan serangan, namun ia menganggap ringan.

Kami diberitahu bahwa tujuan operasi itu adalah untuk lebih menekan pemerintah untuk melepaskan beberapa pemimpin yang telah ditangkap sehubungan dengan insiden Akademi Teknik Militer. Kelompok kami juga ingin meminta tebusan uang untuk menutupi sebagian besar biaya kami.

Beberapa jam kemudian, sebagian besar, jika tidak semua anggota kelompok kami ditangkap di seluruh Mesir. Bahkan orang yang memiliki hubungan jauh dengan kelompok kami ditangkap juga. Kami dipindahkan ke Penjara Kalla di mana kami menghabiskan 2 tahun disiksa dan diinterogasi dalam apa yang berlabel ‘kasus milik sebuah kelompok anti-pemerintah.’  Dua tahun kemudian, kami dibebaskan. Kami harus meninggalkan negara itu secepat mungkin. Kami membagi  kelompok kami dan menyebar ke beberapa negara Arab, menunggu perintah dari Emir, yang Shokry telah tunjuk untuk mengisi tempatnya. Itu adalah awal dari akhir untuk kelompok ini. Saya jujur mengatakan bahwa jika bukan karena “Operasi Sheikh Mohammed” kelompok kami akan memiliki kekuatan besar dalam menjalankan hal-hal di Mesir.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, beberapa dari kami sedang mencari untuk sebuah kota yang kami bisa pindah dalam persiapan untuk jihad yang besar. Kami diberitahu bahwa tempat itu ditemukan, dan banyak saudara sudah pergi ke sana. Pada awal 1980, saya bergabung dengan anggota kelompok lainnya di daerah itu. Itu adalah wilayah gurun dengan tidak ada orang di sekitarnya, dengan perkecualian beberapa Badui yang melewati. Kami sediakan tempat untuk tinggal dan mulai bergerak dalam kelompok kecil, karena kita hanya memiliki satu mobil. Banyak anggota kami dibesarkan di daerah ini, sehingga mereka membantu kita banyak untuk mengenal medan dan tradisi komunitas baru. Kami berhasil menggali sumur air di kamp kami. Kami memiliki kode rahasia untuk masuk dan keluar. Kami meronda kamp secara bergiliran. Kami terlatih dalam penembakan senjata dan memberikan setiap orang senapan untuk membela diri dalam kasus serangan.

Selama beberapa hari pertama, semua berjalan baik dan kami senang. Kami ingat saat nabi Muhammad bermigrasi ke Madinah. Kami menanti hari kami kembali ke Mesir dan menaklukkannya seperti  nabi lakukan terhadap Mekah. Kami memiliki tradisi setiap kami masing-masing, telah meninggalkan keluarga kafir kami dan berhijrah demi Allah, mengulangi bait puisi berikut:

“Selamat tinggal, tanah air saya, itu mungkin untuk  waktu yang lama!
bangsamu dan milikku telah meninggalkan Kuran!
Sulit bagi saya untuk pergi, tapi
saya mencari kebenaran! ”


Kami mengulangi kata-kata dengan penuh antusias. Kami tidak peduli apapun selain Panggilan Islam. Kami siap untuk menghadapi semua kesulitan demi Allah. Kami pikir jika kita mati, kami akan masuk surga, jika tidak, kami akan memenangkan pertempuran. Bait puitis ini mengisi kami dengan sukacita dan kebanggaan, tetapi juga mengisi mata kami dengan air mata dan kesedihan, hilang teman dan keluarga.

Kota yang kemana kami berimigrasi menderita masalah, kerusuhan dan perang gerilya. Semua orang kota bersenjata, yang membuat lebih mudah bagi kami untuk membawa senjata tanpa kerumitan apapun. Pihak berwenang setempat mendengar kehadiran kami melalui para Badui, yang kadang-kadang tersesat di gurun di daerah ini dan biasanya datang kepada kami untuk menunjukkan jalan kembali. Suatu hari, salah satu penjaga kami melihat, melalui teleskop, dua mobil bersenjata datang ke perkemahan kami. Ketika mereka hanya beberapa meter jauhnya, ia menghentikan mereka dan bertanya kepada mereka apa yang mereka inginkan. Mereka ingin bertemu dengan kami untuk mencari tahu siapa kami, mengapa kami tinggal di daerah tersebut dan kelompok mana kami tergabung. Mereka takut bahwa kami anggota pembangkang daerah itu. Setelah percakapan panjang, di mana saya ambil bagian, mereka tahu bahwa kami tidak penduduk setempat tapi pendatang ke daerah tersebut, yang membuat mereka lebih curiga. Setelah banyak diskusi, kami dengan sedih harus meninggalkan kamp kami dan meninggalkan impian kami di daerah tersebut.

Karena kami berada di sebuah negara di sebelah Mesir, kembali itu mudah dan murah. Kami tidak punya pilihan selain untuk melanjutkan rencana kami. Kita semua memutuskan untuk kembali ke Kairo, tetapi beberapa kawan dan saya, untuk beberapa alasan yang tak terduga, tinggal di belakang untuk waktu yang lama. Selama waktu itu, kita harus mengetahui beberapa saudara yang berpartisipasi dalam perang Afghanistan. Kami berhasil meyakinkan mereka bahwa perang Afghanistan bukan demi Allah dan Islam. Mereka menyatakan kesetiaan kepada kelompok kami dan banyak membantu kami sampai kami kembali ke Mesir melalui  pejalanan darat pada awal 1990.

Ketika kami mendekati Kairo, kami ditangkap dan dibawa ke Departemen Dalam Negeri. Setelah beberapa waktu interogasi, mereka merilis kami. Kami mencoba, bersama-sama dengan orang-orang yang tetap setia, untuk membangun kembali kelompok tersebut. Kami biasa bertemu dua kali sebulan untuk mempelajari dan merumuskan ide-ide utama kelompok. Tugas ini selesai pada Februari 1990.

Suatu hari, salah satu saudara kami yang bertugas untuk meninjau buku, majalah dan koran, mengumpulkan informasi tentang kelompok Islam serupa di seluruh dunia, datang kepada kami. Dia sedih dan wajahnya tampak merah. Dia bertanya kepada kami, “Apakah kalian membaca koran hari ini” Kami berkata, “Tidak, ada apa?” Dia berkata, “Mereka menahan sekelompok misionaris yang mempertobatkan Muslim nominal ke Kristen.  Memikat mereka dengan uang atau melibatkan mereka dalam hubungan seksual…. “ Kami sangat malu, terutama karena itu merupakan bulan Suci Ramadan. Kami harus mengambil sikap terhadap orang-orang yang mempromosikan kejahatan. Tapi bagaimana kita dapat merubah kejahatan? Dengan tangan? Itu akan sangat sulit. Dengan kata-kata? Itu akan sedikit yang bisa kami lakukan, tapi bagaimana dan kapan? [Menurut Dr. Mark A. Gabriel, dalam bukunya “Islam and Terrorisism“, berita ini hanyalah gossip, dibuat untuk membangkitkan kebencian]

Tahap permulaan:
Ketika kami membaca koran itu, kami merasa malu bahwa kami telah gagal berdiri untuk Allah. Kami memutuskan untuk memainkan peranan  yang efektif terhadap penginjilan Kristen untuk menghentikannya dengan segala cara. Setelah argumen panjang, kita mengesampingkan solusi militer karena berbagai alasan. Sebagai contoh, sistem keamanan negara telah berkembang di Mesir secara luar biasa dibanding pada 1970-an, para pemimpin kelompok kami aktif, para pemimpin aktif kelompok kami , yang berhasil menyelinapkan kami ke dalam  wilayah  bahaya di luar negeri, sudah pergi dan kami tidak memiliki pengganti yang memadai. Beberapa dari pemimpin tersebut telah dihukum mati; lainnya melayani hukuman seumur hidup.

Oleh karena itu, kita tidak tinggalkan pilihan militer dan mencari jalan lain untuk mengatasi penginjilan Kristen. Akhirnya, kami berpikir tentang ‘confrontation’ logis – mengekspos ajaran-ajaran palsu dan korupsi di dalam Taurat dan Alkitab. Semua pemimpin memuji pendekatan itu, dan kami mulai mencari orang yang dianggap mampu untuk tanggung jawab besar ini menunjukkan kebenaran dan mengalahkan orang-orang kafir. Saya tak pernah berharap menjadi calon untuk tugas itu, bukan karena kurangnya kemampuan tetapi karena semua orang tahu betapa saya benci orang Kristen. Setelah lama berdiam diri tegang, suara Emir mengumumkan nama orang yang memilih untuk melakukan pekerjaan itu. Saya hampir pingsan ketika mendengar namaku. Saya bersih keras dengan pendirian ku disertai kemarahan. Bagaimana mungkin mereka meminta saya untuk melakukan pekerjaan itu, salah satu syaratnya tentunya, membaca buku Yahudi dan Kristen?

Emir kami  menatapku dan berkata,“Ini perintah! Kamu tidak punya pilihan selain mematuhi jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Terakhir.” Dia mengutip dari Kuran, Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. (S. 33:36)

Saya mencoba meyakinkan Emir untuk memilih orang lain, tapi ia menolak. Dia berkata padaku, “Saya merasa bahwa kamu  adalah orang terbaik untuk tugas ini. Jika kamu melakukannya dengan baik, kamu akan membunuh 2 burung dengan satu batu. Pertama, kamu akan mendidik semua umat Islam dan membuka mata mereka kepada fakta-fakta yang mereka tidak dapat melihat, kedua, kamu akan mendapatkan banyak ‘uang yang baik’, karena penelitian kamu akan diterjemahkan dan diterbitkan di seluruh dunia …. ”

Kata-katanya membuatku begitu ingin untuk mengambil topik tersebut dan sifat penelitian. Emir mengatakan, “Penelitian kamu harus memiliki 2 bagian:

Pertama, untuk membuktikan dari Taurat dan Alkitab keaslian panggilan Muhammad sebagai nabi, seperti Kuran katakan; (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, (S. 7:157);
Kedua, untuk membuktikan, menemukan kontradiksi, bahwa Taurat dan Alkitab yang orang-orang miliki pada saat ini tidak sama dengan Kitab yang diilhami oleh Allah, dan mereka telah berubah dan dirusak ….”

Dengan enggan, saya menerima misi ini. Saya berkata kepada Emir, “Tapi tugas ini menuntut bahwa saya membeli Taurat dan Alkitab untuk dibaca.” Dia mengatakan kepada saya bahwa kami akan pergi ke pusat kota Kairo untuk membelinya. Kami berjalan di Jalan Gomhoria sampai kami menemukan sebuah toko buku yang menjual buku-buku ini. Kita tidak bisa mausk ke toko buku memakai pakaian tradisional kami karena itu mencolok. Orang-orang di toko buku kemungkinan besar akan telepon polisi berpikir bahwa kami datang untuk merusaknya. Seorang pria melewati tempat itu, dan kami menghentikannya dan bertanya tentang namanya. Kami memintanya untuk pergi ke toko buku dan membeli buku untuk kami. Dia.

Emir dan saya kemudian pergi ke rumah saya di selatan Kairo. Kami membutuhkan waktu lebih dari beberapa jam, untuk saya mencoba menyingkirkan Alkitab. Sekali saya tinggalkan itu di kursi, waktu lain, saya pura-pura lupa. Tapi setiap kali, Emir akan membawanya kepada saya dan mengingatkan saya untuk Kitab itu tetap bersamaku. Akhirnya, kami sampai di rumah. Emir berangkat ke kota asalnya dan meninggalkan saya untuk memulai perjalanan sulit dengan Taurat dan Alkitab.

Hari pertama ialah saat-saat yang paling sulit. Saya berada di bawah kesan bahwa Alkitab itu bukan dari Allah, dan bahwa hal itu bisa membawa setan ke rumah saya dan saya tidak akan bisa berdoa. Oleh karena itu, saya menyimpannya di luar kamarku. Selama beberapa hari, saya paranoid. Setiap kali saya mendengar suara di rumah, saya pikir Allah telah mengirimkan setan untuk menghukum saya karena kehadiran buku ini. Saya tidak menyimpan Alkitab di ruang di mana saya berdoa karena saya pikir malaikat tidak akan masuk ke kamar jika itu  ada di sana.

Saya mengalami ketakutan untuk waktu yang lama sampai saya menyadari bahwa saya tidak memilih untuk memiliki kitab ini di rumahku. Saya hanya mentaati Allah, melalui mematuhi Emir. Nabi Muhammad memerintahkan kita dalam Hadisnya untuk mematuhi Emir, “Barangsiapa menuruti Emirku telah mematuhi saya, dan siapa mendurhakai Emirku telah mendurhakaiku.” Saya sampai pada kesimpulan bahwa saya melaksanakan perintah Emir yang dipilih-Allah, dan, karena itu, Alkitab tidak akan membahayakan saya jika saya menyimpannya di kamarku; Allah akan membantu saya.

Kelompok ini memberikan saya semua yang saya butuhkan. Mereka memberiku 500 £ Mesir setiap bulan sebagai uang saku sebagai imbalan untuk penelitian penuh waktu. Setiap kali saya mencoba melupakan penelitian itu, saya akan mengingat Hadis, “Barangsiapa mentaati Emirku telah mematuhi saya, dan siapa mendurhakai Emirku telah mendurhakaiku” Saya meminta Allah  tiga kali untuk pengampunan dan kemudian berdoa.. Tidak ada yang mengalihkan perhatianku dari melakukan pekerjaan itu. Saya punya banyak referensi yang membantu saya melakukan yang terbaik, dan saya sudah memiliki pengetahuan yang baik tentang masalah Kristen. Jadi, saya membuat keputusan untuk memulai perjalanan keras ini.

Saya khawatir karena saya tidak tahu di mana atau bagaimana untuk memulai. Saya tidak memiliki metode khusus untuk mendekati dua bagian dari penelitian. Misalnya, mengenai isu membuktikan kenabian Muhammad, saya berharap menemukan nama yang tepat ‘Muhammad’ di dalam Taurat dan Alkitab, atau setidaknya ‘Ahmed’ atau ‘Mahmoud’. Saya tidak tahu di mana atau bagaimana untuk memulai. Situasi kacau di pikiran saya. Saya tidak yakin nama apa yang saya harus cari di dalam Taurat: Mohammed? Ahmed? Mahmoud?

Saya jadi bingung, jadi saya memutuskan untuk pindah ke bagian kedua dari penelitianku, yaitu untuk mencari perbedaan dan kontradiksi untuk membuktikan bahwa Taurat dan Alkitab tidak dari Allah [dalam arti: YAHWEH]. Demikian juga, saya gagal untuk menentukan standar yang saya bisa mengukur Taurat dan Alkitab dan menyangkal mereka. Saya marah karena hal-hal ini, entah bagaimana, membuat saya merasa tidak kompeten dalam melakukan penelitian ini. Menyerah bukanlah salah satu kualitas saya, jadi saya memutuskan untuk fokus dan tidak menyimpan upaya untuk mencapai tujuan saya.

Emir dan saya bertemu sebulan sekali untuk membahas penelitian. Setiap kali saya memintanya untuk berubah pikiran dan menugaskan ke orang lain dan saya akan membantu. Namun, ia dengan aneh akan bersikeras bahwa saya adalah orangnya untuk pekerjaan itu.

Saya berdoa dan meminta Elohim untuk kekuatan. Saya merasa luar biasa berani dan mulai membaca Alkitab, tetapi tanpa sistem atau metode. Saya mulai dengan kitab Kejadian dan saya tidak tahu apa yang harus dicari. Saya menemukan nama-nama aneh yang belum pernah saya dengar sebelumnya dalam hidupku, yang membuat saya marah. Saya melemparkan buku di sudut dan berkata dengan marah, “Orang-orang Yahudi dan orang Kristen bodoh. Bagaimana mereka bisa mengatakan  bahwa sebuah buku yang aneh  seperti  ini, penuh dengan nama-nama aneh, berasal dari Allah? Mereka gila. ” Saya berhenti membaca!

Dua hari kemudian, saya kembali membaca Alkitab. Kali ini, saya tidak membaca dalam Kejadian karena saya tidak ingin menemukan nama-nama dan kata-kata yang sulit. Saya membalik-balik halaman dan membaca terus. Saya terkesan dengan tulisan-tulisan dalam kitab Bilangan, Keluaran dan Ulangan. Saya menemukan banyak informasi tentang Musa, Firaun dan Bani Israel, yang ditulis secara rinci, yang memuaskan rasa ingin tahuku.

Saya selesai membaca Perjanjian Lama dalam 2 bulan, tapi membaca asal-asalan, tidak secara mendalam. Saya membacanya sekali lagi, kali ini mencari sesuatu yang relevan kepada Mohammed, Ahmed atau Mahmoud, tapi tidak menemukan apa-apa. Saya pindah ke pembacaan Perjanjian Baru. Saya benar-benar membacanya, tetapi tidak mencapai kesimpulan saya tidak tahan akan semuanya. Saya merasa marah dengan Emir yang membuat saya terjebak dalam penelitian ini dari awal.

Ketika Emir mengunjungi saya, saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak bisa menemukan petunjuk yang bisa menuntun saya untuk apa yang kita cari. Saya telah membaca Taurat dan Alkitab dan tidak menemukan apa pun. Emir mengatakan kepada saya bahwa ada sebuah buku yang digunakan untuk studi di luar negeri yang akan banyak membantu saya dalam penelitiaku. Ini berjudul “Mengungkap Kebenaran”, yang ditulis oleh Al Sheikh Hindi. Saya mencari buku di perpustakaan pribadi saya sampai saya menemukannya.

“Mengungkap Kebenaran” adalah referensi berharga bagi kami, terutama ketika kami berdebat dengan orang Kristen untuk meyakinkan mereka bahwa Islam adalah agama yang benar. Itu berisi kutipan yang salah dari Taurat dan Alkitab, yang kami biasa pakai untuk memberitahu orang Kristen yang telah masuk Islam. Kami menggunakannya dengan sukses pada tiga orang berturut-turut.

Saya mulai penelitian cara baru, dengan bantuan dari beberapa buku lain yang Emir kasih saya, seperti Sekte-sekte dan Denominasi -denomiinasi oleh Shahristani, Menentukan Sekte-sekte dan Bidat-bidat oleh Ibn Hazm, dan beberapa tulisan-tulisan historis dan biografis lainnya yang menyerang Kekristenan. Saya menuliskan semua ayat yang Ibn Hazm katakan semua itu bertentangan dan melihat mereka dalam Taurat dan Alkitab. Sebagian besar ayat-ayat saya temukan yang diungkapkan secara berbeda, atau disebut beberapa orang yang berbeda. Saya tidak menemukan banyak kontradiksi, tapi jika kita menggunakan ayat-ayat ini sebagai dasar untuk membuktikan bahwa Taurat itu tidak asli, kita harus menerima ayat-ayat serupa dalam Al Qur’an, dan itu juga akan menjadi tidak berasal dari Allah. (Saya kemudian menuliskan temuanku dalam sebuah penelitian berjudul Menjawab Ibn Hazm”).

Saya mencari dengan tulus, termotivasi hanya karena kasihku terhadap Allah dan Nabi. Kelompok saya melihat peningkatan daya tarik saya dengan Alkitab. Mereka selalu bertanya tentang itu dan saya selalu berbohong kepada mereka. Saya harus menyusun alasan, jadi saya mengatakan kepada mereka bahwa kita bertemu dengan beberapa orang muda Kristen untuk mengundang mereka untuk Islam dan kami harus mengetahui latar belakang mereka.

Setelah gagal dalam usaha saya untuk merusak Taurat dengan membuktikan kontradiksi, saya memutuskan untuk mencoba bagian kedua dari tugas saya, yaitu untuk membangun dari ayat-ayat Taurat dan Alkitab bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Saya menatap buku Al’s Hindi, Mengungkap Kebenaran, dan saya sangat gembira untuk menemukan apa yang saya inginkan. Saya berdoa dengan sukacita dan bersyukur pada Allah bahwa Ia telah memimpin saya untuk ayat-ayat ini. Saya mulai menuliskannya dalam urutan sebagai berikut:

Kejadian 17:20 & 49:10
Ulangan 18:18-20 & 32:21 & 33:1-3
Yesesaya 42:9  & 54: 1-3 & 65: 1-2
Maz. 45: 1-3 & 149:3
Daniel 2: 31-32
Matius 3:2 & 13:31 & 20:1 & 21:33
Yohanes 14:15
Wahyu 2:27

Ayat-ayat ini bukanlah satu-satunya ayat yang Al-Hindi sebutkan untuk membuktikan kenabian Muhammad. Ada beberapa ayat lain, yang saya keluarkan karena mereka tidak jelas. Saya belajar ayat-ayat ini dengan sangat hati-hati dan obyektif. Kami, sebagai kelompok orang percaya yang unik, tidak pernah menerima informasi apapun tanpa bukti yang kuat dari sumber yang dapat dipercaya. Ayat-ayat itu, di permukaan, sangat menarik bagi setiap Muslim untuk diterima, tetapi melalui penelitian – metode Muslim fundamental – seorang akan menemukan bahwa pemotongan berdasarkan bukti tidaklah valid.

Oleh karena itu, saya mengumpulkan semua buku yang saya pikir akan membantu saya dalam penelitian saya. Saya mulai membayangkan masa depan saya setelah keberhasilan penelitian saya. Saya pastilah akan melakukan suatu bantuan besar kepada Allah dan Nabi dan memperoleh jumlah uang yang mengiurkan. Berbicara tentang uang, Emir dan saya pergi ke toko buku Sunnah Advokat dan menjelaskan kepada mereka ide buku saya. Mereka terkesan. Mereka meminta satu bab sebagai sampel dan ditawarkan untuk membeli hak cipta tersebut. Saya bermimpi menjadi kaya dan terkenal karena buku yang saya tulis, tapi motivasi utama saya adalah untuk menyatakan kemenangan bagi Islam.

Saya mulai membaca Alkitab sekali lagi. Saya menjadi kecanduan membaca Alkitab. Saya menulis banyak bukti untuk membuktikan, dengan logika dan penugehan, bahwa Taurat dan Alkitab mengkonfirmasikan kenabian Muhammad. Hasilnya adalah tidak baik karena saya terlalu teliti dalam penelitian saya, saya pikir, demi untuk konfirmasi mutlak pesan ilahi Mohammad. Saya telah bergantung banyak pada referensi, seperti The Dictionary  of Countries oleh Yakot Al-Hamawi. Saya datang di kota bernama Faran. Saya periksa untuk melihat dari mana dan apa nama modernnya. Saya juga menggunakan kamus linguistik seperti Arab’ Tonge dan bahkan kamus-kamus Ibrani untuk memahami makna kata-kata seperti’ Shelon’, misalnya.

Saya ingin menghasilkan sebuah buku yang tidak satu orang bisa membantah, bahkan satu kata dari itu. Sayangnya, hal itu tidak seperti yang kuinginkan. Semua logika dan pemotongan linguistikku gagal, satu demi satu. Saya tidak bisa menemukan satu ayat yang menopang teoriku. (Sementara itu, saya menulis buku lain disebut “Kebenaran Tertahan” (The Stifled Truth), di mana saya sebutkan semua ayat yang saya telah pelayari dan bagaimana saya telah mencapai kesimpulan bahwa mereka tidak merujuk kepada Nabi Muhammad).

Saya selesai mempelajari semua ayat-ayat ini, tetapi tidak menemukan apa yang saya cari. perasaan saya adalah campuran dari kesedihan, keputusasaan, kecemasan dan kebingungan. Sebelumnya tak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa Muhammad bukan seorang nabi. Saya mencoba menenangkan diri dengan kesimpulan bahwa saya gagal untuk menghubungkan bukti dengan karakter Nabi.

Saya memutuskan untuk memberikan masalah ini kesempatan lainnya. Kali ini saya menggunakan buku-buku lainnya, seperti Bukti-bukti Kenabian, (Evidences of Prophet-hood), Kamus Negara (Dictionary of Countries) dan The Arabic Encyclopedia. Saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak gagal kali ini. Kegagalan, setelah semua masalah telah dilewati, berarti kehancuran seluruh hidupku. Yah, waktu kedua adalah tidak lebih baik daripada yang pertama, tetapi lebih buruk lagi! Pada kedua kalinya, saya datang di banyak titik yang menentang teori saya.

Kadang-kadang, saya melihat pada banyaknya buku-buku Islam dan referensi dan bertanya-tanya, “Mungkinkah bahwa semua buku ini telah menipu kita dan menyajikan kita dengan karakter imajiner? Jika itu terjadi, Allah tentunya tidak layak disembah … “ Saya tidak akan turun jalan ini.. Kemudian, saya dengan cepat akan berdoa dan meminta kepada Allah untuk pengampunan.

Tanpa sadar, saya mendapati diriku menghadap subjek penelitianku dan kembali membaca Alkitab untuk ketiga kalinya. Saya menemukan kenikmatan aneh dalam membaca Alkitab, begitu banyak sehingga saya takut saya jatuh di bawah mantra. Kami sering berkata bahwa orang Kristen adalah ahli-ahli sihir yang mengembangkan sihir mereka dari Taurat dan Alkitab. Namun demikian, Alkitab telah menarik saya dengan cara yang aneh, tak tertahankan.

Emir mengunjungi saya secara teratur. Setiap kali saya berharap dia akan marah kepada saya karena tidak mencapai tujuan dan untuk melepaskan saya dari tugasku. Sebaliknya, setiap kali ia tampak lebih antusias dari sebelumnya, meyakinkan saya bahwa saya adalah yang terbaik untuk pekerjaan itu.

Saya mulai membaca Injil Matius dan sudah tersandung bahkan sebelum saya menyelesaikan bab pertama. Saya melihat bahwa mereka menelusuri silsilah Ha Mashiah mundur ke Daud. Saya pikir mereka gila. Saya menghibur diri dengan pikiran ini, berharap menemukan apa yang saya cari. Saya benar-benar tertarik dengan bab empat, lima dan enam dari Injil Matius. Saya telah membaca sebagian dua kali sebelumnya, tapi kali ini, saya merasa seolah-olah saya membacanya untuk pertama kalinya dalam hidupku. Saya merasa seolah-olah ada tangan menekan kepalaku dan membuka pikiranku. Saya mendengar suara dalam diriku berkata, “Sudah saatnya kamu memahami apa yang sedang kamu baca tanpa kuatir tentang siapa yang benar dan siapa yang salah ….” Saya menggigil tanpa alasan yang jelas, dan merasa seolah-olah saya berada dalam setengah kesurupan .

Saya menemukan Alkitab berbicara tentang apa yang kita lakukan kepada orang-orang Kristen seolah-olah itu mencatat peristiwa ini. Saya membaca apa yang Alkitab katakan tentang penganiayaan, penghinaan dan pembunuhan – ide kita dari mematuhi Allah. “Aneh sekali bahwa Alkitab ini tahu apa yang kita katakan dan lakukan untuk orang Kristen! Mungkinkah orang Kristen baru-baru ini menambahkan bagian itu? ”

Kita selalu menafsikan kasih Kristen dan kerendahan hati sebagai rasa takut kepada kita sebagai muslim karena mereka adalah minoritas yang lemah, seperti Kuran katakan, Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan (S. 2: 61).

Saya menemukan banyak ayat mempromosikan kasih, ketaatan, penundukan dan bahkan kasih terhadap musuh. Saya bingung, “Bagaimana mungkin seseorang menuliskan penyebab penghinaan sendiri?”

Setiap kali saya membaca perintah Elohim bagi orang Kristen untuk mengasihi musuh-musuh mereka, saya teringat perlakuan kasar saya kepada orang tuaku. Saya terlalu kejam kepada mereka. Saya selalu menemukan cara baru untuk menyakiti mereka. Satu waktu, saya harus mengalami sakit dan menjalani operasi serius di rumah sakit. Ayahku ingin bertemu saya, tapi saya menolak dan mengatakan bahwa saya tidak ingin melihat seorang kafir. Ibuku biasa mengirimkan saya makanan melalui pihak ketiga, jika tidak, saya akan menolak untuk menerimanya. Dia sering berdiri selama berjam-jam di luar jendela rumah sakit ku, dalam panas terik, hanya untuk mencuri melihat saya melalui jendela.

Kenangan ini selalu membuat saya menangis dan mengutuk hari saya mengenal Allah. Saya sering menghibur diri dengan memikirkan apa yang Abu Obeida bin Garah, dan Abu Bakar Al-Sedeek telah lakukan kepada ayah-ayah mereka sendiri; dan Mosaab bin Omira, kepada ibunya. Itu akan menangkan perasaan saya.

Saya selesai membaca Injil Matius
, tetapi kata-katanya telah terukir dalam ingatanku. Mereka mengejar saya siang dan malam, dan setiap kali saya ingin melakukan sesuatu yang buruk, saya membaca seluruh Injil dan Surat-surat dan takjub untuk mendapatkan bahwa filsafat dan retorikanya lebih unggul daripada Kuran. Karena Alkitab ditulis 630 tahun sebelum Islam, bagaimana mungkin kita katakan bahwa Kuran adalah unik dalam retorika?

Suatu malam salju yang dingin, saya membaca sebuah Surah dari Kuran berharap untuk menghapus kata-kata Injil Matius dari pikiranku. Para Muslim dan saya cemburu, selalu iri pada orang Kristen karena mereka menikmati persahabatan yang erat dengan banyak orang. Sebaliknya, kita tidak bisa membangun bahkan hubungan biasa dengan toleransi minimum, untuk mengundang orang bergabung ke Islam. Ini merupakan hambatan besar dalam cara kita. Panggilan Islam tidak mengizinkan kita setiap peluang untuk membangun hubungan yang akan membawa kita lebih dekat kepada orang – hal yang sangat kita butuhkan dalam rangka untuk menarik mereka ke Islam.

Hidup kita penuh dengan kekerasan, kekejaman dan terorisme. Ini bukan perilaku normal kita. Kita merasa bahwa jika kita tidak bertindak seperti ini, kita tidak akan patuh kepada Allah. Allah telah menyatakan dalam Kuran dengan cara kita memperlakukan orang-orang kafir, baik Ahli Kitab, pagan atau Muslim palsu. Kuran mengatakan tentang Ahli Kitab,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim. (S. 5:51.)

Adapun jenis lain dari kafir, seperti umat Islam yang tidak berdoa, perpuluhan, tumbuh jenggot atau melakukan dosa dan menolak untuk bertobat, Kuran mengatakan,  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. (S. 4:144)

Adapun mengenai anggota keluarga dan kerabat, Kuran menyatakan,  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.  (S. 9:23)
Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. (S. 58:22)

Jika kita tambahkan ayat-ayat Kuran ini, Hadis otentik diceritakan oleh Al-Bokhary oleh Muslim dan oleh Al-Termezy; menurut Omar, nabi Muhammad berkata, “Jangan berjabat tangan dengan Ahli Kitab, jangan membalas salam mereka , jika mereka bertemu kamu di jalan, dorong mereka ke samping.”

Ada puluhan ayat-ayat ini yang telah didefinisikan tentang hubungan kita dengan keluarga, teman dan non-Muslim. Kita tidak mengatakan atau memilih dalam mendefinisikan hubungan ini karena pemikiran Islam adalah umum, dan Kuran pada khususnya, tidak memberikan ruang untuk setiap muslim menggunakan pikirannya. Sebaliknya, orang yang menggunakan pikirannya untuk menjelaskan sebuah ayat [Kuran] atau Hadis akan diberi label ‘kafir’. Anda harus menerima saja hal-hal sebagai Mohammad telah menafsirkan mereka. Jika ada sesuatu yang tidak disebut-sebut oleh Muhamad, kamu jauh-jauh dari itu. Al-Bokhary menyebutkan sebuah hadis. Menurut Ibnu Abbass, Nabi Muhammad berkata, “Siapa pun menyatakan pendapat sendiri tentang Kuran, akan menyediakan tempatnya di neraka.” [Menakut-nakuti orang yang mempertanyakan Kuran]

Setelah semua ayat-ayat Kuran dan Hadis ini, bagaimana kita bisa bersikap baik atau ramah terhadap orang-orang yang berbeda dari kita? Kami tidak bisa melakukan itu, sebagai Kuran mengatakan, Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang lalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka,” (S. 11:113)

Oleh karena itu, hati saya penuh dengan kemarahan dan kebencian setiap kali saya membaca Alkitab ayat apa saja yang berbicara tentang cinta dan pengampunan. Banyak kali, saya merasa malu saat membaca Alkitab yang kita diklaim sebagai rusak. Saya bertanya-tanya, “Jika orang Kristen mengubah Alkitab dan masih memperoleh kasih dan menghormati rakyat, bagaimana dengan perbuatan yang telah kita lakukan – yang tidak mengubah firman Allah, tetapi gagal dalam hal itu?” Sesuatu pastilah ada yang salah.

Saya berusaha menyisihkan pikiran-pikiran ini. Sebuah pikiran terus kembali. Bagaimana jika saya tidak mencapai kesimpulan dalam penelitian saya? Saya berjuang begitu banyak setiap kali saya mengalami pikiran-pikiran ini, saya menangis dengan suara keras, “Semoga Allah mengampuni saya.” Saya menyatakan bahwa tidak ada ilah selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya. Maka kemudian saya akan bergegas untuk berdoa untuk membuang pikiran-pikiran ini. Saya berkata pada diriku sendiri bahwa sebenarnya Muhammad Rasul Allah, bahkan jika saya tidak bisa membuktikan itu dari Taurat dan Alkitab.

Masalah saya menjadi lebih serius. Daripada mencari kenyataan untuk membuktikan kenabian Muhammad, saya menemukan diri saya tertarik dengan kata-kata manis dari Taurat dan Alkitab. Saya bertanya-tanya, “Bagaimana saya bisa menghilangkan pengaruh mereka pada saya.” Bagaimana saya dapat membuktikan bahwa Taurat dan Alkitab itu bukan dari YAHWEH?” Semua ide-ide yang tertulis dalam mereka berdua adalah baik dan tidak mungkin ditulis oleh manusia. Bagaimana mungkin orang menembus kedalaman masa depan dan berbicara, dua ribu tahun yang lalu, tentang hal-hal yang terjadi di saat ini? Jika kita mengasumsikan, demi argumen, bahwa Taurat dan Alkitab disusun oleh manusia belaka, kita akan menempatkan manusia pada tingkat yang sama dengan Elohim dalam pengetahuan dan kebijaksanaan. Kita tentu tahu bahwa Elohim adalah Maha Tahu, Maha Kuasa dan tidak ada kesamaanya.

Tiba-tiba saya mendapati diriku membaca Kitab Mazmur, dan kemudian Kitab Amsal. Saya belajar ayat-ayat dari Mazmur 23 dan 143 dan meulang mereka dalam doa-doa saya. Siapapun yang mendengar saya berdoa telah tersentuh oleh ayat-ayat ini dan meminta saya untuk menuliskannya sehingga mereka bisa menggunakannya dalam doa. Saya masih mencoba menemukan bukti kenabian Muhammad dan kesalahan Alkitab, tapi tidak bisa menemukan apa-apa. Saya berjuang dengan keraguan dan pikiran yang bertentangan dalam diriku. Saya mencoba untuk mengabaikan mereka, tapi mereka bertambah kuat setiap hari. Saya mengasihi Elohim, tetapi latar belakang saya dan cinta saya kepada agama saya selalu mencegah saya berpikir bahwa Islam tidak mungkin agama yang benar yang diberikan oleh Elohim. Saya jadi bingung dan gelisah. Saya tidak bisa menikmati tidur nyenyak seperti sebelumnya.

Satu waktu, saya sedang berdoa pagi. Sementara mengucapkan ayat-ayat Kuran, saya tiba-tiba berhenti dan pikiran saya mengembara. Saya bertanya pada diriku sendiri, “Apa yang akan kamu lakukan jika, misalnya, Islam ternyata tidak menjadi jalan ke surga?” Saya berusaha menyisihkan pertanyaan ini, tapi saya tidak bisa. Saya bahkan tidak bisa menyelesaikan doa pagi. Saya menangis berat sampai saya tertidur di karpet. Beberapa jam kemudian, ibu saya membangunkan saya. Saya pergi bekerja dengan linglung. Saya tidak tahu dimana saya sedang berjalan atau kepada siapa saya bicara.

Ketika saya kembali ke rumah, saya merasakan ada keinginan yang kuat untuk membaca Alkitab. Saya membaca Injil Yohanes, bab 1-15. Saya menemukan jenis retorika, filsafat dan ekspresi linguistik yang sangat tinggi yang sangat elegan dan kohesif – terutama ketika Alkitab berbicara tentang domba dan gembala, pokok anggur dan tukang kebun, cabang-cabang yang berbuah dan orang-orang yang tidak akan dilemparkan ke api.

Saya menjerit di bagian atas suara saya, “Oh, Elohim, kasihanilah hamba-Mu! Tolong beritahu saya di mana Engkau berada dan di sisi mana: Engkau dengan orang-orang Yahudi dan Kristen? atau dengan Muslim?

Harap kasihanilah saya. Saya ini hamba-Mu. Saya berkomitmen hidupku untuk mengikuti Engkau. Saya bersyukur untuk semua nikmat-Mu. Saya tidak bisa berdiri di depan Engkau, dan Engkau tidak akan mengundurkan diri di depan sebuah napas-Mu.

Engkau adalah Elohim Yang Maha Esa dan saya manusia yang tak berdaya yang tidak bisa melakukan apa-apa sampai Engkau mengijinkan saya melakukannya. Engkau adalah Maha Penyayang, Maha Pengasih dan saya ini hamba yang tidak memiliki kekuatan atau kebijaksanaan. Seluruh hidupku ada di tangan Engkau.

Saya mengasihi Engkau sejak kecil. Saya mengorbankan diri demi surga dan kasih-Mu. Saya tidak peduli dengan penjara atau penyiksaan – bahkan seluruh dunia tidak tahan dengan cara saya mencari Engkau. Kenapa Engkau memperlakukan saya seperti ini? Saya mengasihi-Mu dan berusaha untuk menyenangkan-Mu dengan cara Nabi Muhammad-Mu mengajarkan kami, tapi di sinilah saya – tak berdaya dan tidak mampu untuk melanjutkan.

Masing-masing pihak mengatakan bahwa Engkau adalah Elohim mereka. Saya tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Oh, Elohim, akankah saya bersumpah kepada Engkau bahwa saya mengasihi-Mu? Saya rasa tidak, karena Engkau tahu semuanya. Oh, betapa saya menderita dalam pencarianku untuk Engkau! Saya meninggalkan studiku, keluargaku dan teman-temanku. Saya mengembara seperti seorang asing. Saya ditahan dan disiksa demi Engkau. Mengapa kau tidak menjawab?

Jika Engkau adalah Elohimnya para Muslim, ambillah segala sesuatu dari pikiranku kecuali Islam, dan jika Engkau adalah Elohimnya para Kristen, beri saya cahaya untuk mengikuti …. “

Saya tak bisa tidur dan pikiranku berputar: “Bagaimana jika Islam bukan jalan Elohim? Bagaimana jika jalan Elohim adalah Taurat dan Alkitab? Apakah kamu akan mengikuti orang-orang Kristen?” Saya akan menggigil memikirkan apa yang bisa terjadi padaku, sebagaimana jika Allah dan orang-orang akan menyalahkan saya?”

Suatu hari, saya menepis semua ketakutan dan berkata pada diriku sendiri, “Apa yang kamu inginkan? Enough is enough! Kamu tidak lagi seperti kamu yang dulu. Kamu memiliki dua jalan didepanmu, dan keduanya tampak lurus. Jangan buang waktumu dan cari jalan Elohim dengan semua kekuatanmu.

Tidak peduli jika itu ialah orang Yahudi, Kristen atau Muslim, satu-satunya hal penting jika itu ialah jalan Elohim – begitulah, jika kamu benar-benar mencari Elohim. Ini adalah tujuanmu dan kamu harus menerimanya. Pastikan bahwa Elohim akan merespon kepada kamu sesuai dengan ketulusan kamu. Lupakan bahwa kamu adalah seorang Muslim dan mulai mencari lagi. Apa yang akan mencegah kamu?”

Saya berpikir tentang hal itu dan berkata, “Oh, Elohim, harap pimpin langkah-langkahku dan berikan saya kekuatan karena saya menghadapi percobaan keras. Jika Engkau tidak membantu saya, setan akan merobek-robek saya. Saya akan mengembara di muka bumi, tanpa tujuan dan gelisah. Oh, Elohim, tolonglah saya. Saya berjanji akan mengikuti Engkau di manapun Engkau berada, bahkan dengan orang-orang Kristen yang saya tidak tahan.” Tiba-tiba saya merasakan kedamaian dan ketenangan luar biasa pada seluruh keberadaanku. Untuk pertama kalinya, saya berpikir logis.

Saya mencapai sebuah kesimpulan: orang Kristen sesat dan menjadi kafir karena dua alasan. Pertama, mereka mengatakan bahwa Mashiah, Isa, putra Maryam (Maria), adalah Elohim, kedua, mereka mengatakan bahwa Dia mati di kayu salib dan bangkit untuk menebus manusia dari dosa-dosa mereka. Mengapa saya tidak fokus penelitian saya tentang dua masalah ini  dan memeriksa mereka dari sudut pandang Islam? Saya ingin tahu apa yang para ulama Islam memikirkan masalah ini.

Saya mulai memeriksa buku-buku sejarah Islam, biografi dan penafsiran. Saya mencari apapun yang berhubungan dengan Ha Mashiah dan apakah Dia terwujud di dalam atribut Elohim sebagaimana disebutkan dalam Kuran. Saya menggunakan referensi yang handal dan otentik seperti The Interpretation oleh Ibnu Katsir, Sejarah Islam oleh Dhahabi, Awal dan Akhir oleh Ibnu Katsir, Sects and Denominations oleh Sherhristani, Menentukan Sekte dan Bidat (Deciding on Sects and Cults) oleh Ibn Hazm (juga dikenal sebagai Abu Muhammad), Kitab-kitab Suci sebelum Islam, dan Kristianity antara Logika dan Penghitungan ulang (Christianity between Logic and Recount).

Sebagai hasil dari penelitian yang intensif, saya menemukan beberapa atribut Mashiah yang bahkan orang Kristen tidak menyentuh itu dalam buku-buku mereka. Sebagai contoh:

1) Kemampuan untuk membuat:
Kuran mengatakan, [perhatian!, dalam kitab suci Islam: kata Tuhan ialah titel, sama artinya dengan God atau Elohim, dan Allah adalah nama, seperti YAHWEH di dalam Alkitab]

(Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.  (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian) ”itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, (maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.) (S. 6:101-102)

Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. (S. 15:86)
Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya” (S. 22:73)

Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apa pun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (S. 16:20)
Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. (S. 16:17?)


Semua ini adalah beberapa ayat yang membatasi kemampuan untuk menciptakan yang dimiliki oleh Elohim saja. Ketika Elohim ingin membedakan diri dari dewa yang lain, Dia menegaskan atribut-Nya yang melampaui segala ilah lainnya. Sementara itu, Kuran dengan jelas mengakui bahwa Ha Mashiah telah menciptakan:
Saya membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian saya meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah;” (S. 5:110)

Ketika saya membaca ayat-ayat ini, saya pikir dalam hati saya: Itu adalah Elohim yang memberikan Ha Mashia kemampuan ini, bukan bagian dari esensi-Nya meskipun, Ha Mashiah adalah satu-satunya Pribadi pada siapa Elohim telah memberikan salah satu sifat ilahi-Nya. Mengapa Ha Mashiah dan bukan Muhammad? Elohim berkata kepada Muhammad, “Apakah kamu dapat menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan?” (S. 27:80) ; yang adalah jauh lebih mudah daripada penciptaan. Elohim tidak memberikan kepada Muhammad, [yang telah mengklaim] yang terbaik dari umat-Nya dan penutup para nabi, kemampuan untuk membuat orang tuli mendengar. Dia menantang orang untuk menciptakan seekor lalat, namun Ha Mashiah telah diberikan kemampuan untuk menciptakan burung. Burung adalah makhluk kecil, tetapi bukan masalah ukuran, tapi prinsip. Dia yang menciptakan makhluk kecil dapat membuat yang besar. Ini tidak dapat ada sebagai manusia, melainkan dari Elohim.

2) Mengetahui apa yang tersembunyi:
Allah [dalam arti YAHWEH] berbicara tentang diriNya dalam Kuran,
Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah [dalam arti YAHWEH]”, (S. 27:65)
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri,” (S. 06:59).

Dalam ayat pertama, Kuran menekankan tanpa ragu bahwa mengetahui apa yang tersembunyi hanyalah milik Elohim dan bukan orang lain. Ayat kedua meenggaris bawahi fakta bahwa hanya Elohim yang mengetahui yang gaib dan masa depan. Sementara itu, Kuran mengajarkan tentang Muhammad yang ia biasa menegur siapa saja yang dikaitkan dengannya kemampuan untuk mengetahui apa yang tersembunyi,

Katakanlah: “Saya tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) saya mengetahui yang gaib” (S. 6:50)

Suatu kali Moaz berkata kepada Mohammad, “… insya Allah dan Anda berkehendak,” dan Muhammad menyela dia dan berkata, “Bagaimana kau bisa membuat saya setara dengan Allah? Tak seorang pun di langit atau di bumi mengetahui apa yang tersembunyi selain Allah.”

Adapun Ha Mashiah, kita menemukan semua keterbatasan dihapus. Dia tahu dan melakukan apa yang setiap orang lain tidak bisa. Kuran mengatakan,
dan saya kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu.” (S.. 03:49).

Hal ini sangat tidak umum bahwa dalam ayat-ayat ini Ha Mashiah berbicara dalam bentuk orang pertama; itu harus Elohim sendiri yang berbicara. Di sisi lain, Muhammad selalu mengatakan apa yang harus ‘dikatakan. Ha Mashiah adalah unik karena Dia berbicara tentang dirinya sendiri, yang berarti bahwa kemampuan-Nya adalah milik-Nya dan tidak diperoleh dari orang lain.

Pada buku Awal dan Akhir Ibnu Katsir, bagian 2 dan halaman 86, saya membaca sebuah cerita yang membuat saya malu. Ini adalah suatu bukti tanpa diragukan bahwa Ha Mashiah memiliki kekuatan gaib untuk mengetahui apa yang tersembunyi. (Ini adalah kisah panjang; mereka yang tertarik dapat mengacu pada buku karangan Ibnu Katsir).

3) Penyembuhan orang sakit:
Kuran menyebutkan kata-kata Abraham bahwa Elohim adalah satu-satunya penyembuh, “Dan apabila saya sakit, Dialah yang menyembuhkan saya” (S. 26:80).
Muhammad berkata dalam sebuah hadis otentik, “Oh, Elohim, tidak ada penyembuhan tapi Anda.” Sementara itu, Dalam Kuran kita menemukan Ha Mashiah katakan tentang diri-Nya,  saya menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak/ kusta” (S. 03:49)

4) Memberikan hidup dan mati:
Elohim adalah Pribadi satu-satunya yang memegang hidup dan mati di tangan-Nya, tidak ada orang lain yang bisa memberikan hidup atau mati. Kuran mengatakan,

”Dan sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan Kami (pulalah) yang mewarisi.” (S. 15:23),
”Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” (S. 36:12),
”Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Kamilah tempat kembali (semua makhluk).” (S. 50:43).
Adapun Ha Mashiah, Kuran menyebutkan bahwa Dia berkata tentang diri-Nya,
”dan saya menghidupkan orang mati dengan seizin Allah;” (S. 3:49)

Dalam bukunya Awal dan Akhir, Ibnu Katsir menceritakan sebuah cerita yang membuktikan bahwa Ha Mashiah memiliki kewenangan untuk memberikan kematian serta kehidupan. Diceritakan bahwa Ha Mashiah melihat seorang wanita menangis atas putrinya, yang sudah lama meninggal.

Dia bertanya, “Apa yang membuatmu menangis, perempuan?” Perempuan ini berkata, “Putri saya meninggal dan saya tidak memiliki anak lagi.” Ha Mashiah bertanya padanya, “Apakah kamu ingin Saya untuk mengangkatnya dari antara orang mati?” Dia berkata, ” Ya , O Roh Elohim!” Jadi Ha Mashiah berdiri dekat kubur itu dan memanggil gadis itu tiga kali. Pada ketiga kalinya, gadis cilik keluar dan berbicara dengan ibunya. Kemudian gadis itu meminta kepada Ha Mashiah untuk membiarkan dia kembali. Dia berkata, “Kembalilah!” Kuburan tertutup dan ia kembali mati. (Awal dan Akhir Ibnu Katsir, bagian 2, halaman 84)

5) Memberikan makanan:
Kuran mengatakan, Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (S. 51:58).
Hal ini jelas dinyatakan bahwa Elohim adalah satu-satunya yang dapat memberikan rezeki. Elohim menegur orang yang mengaku mampu untuk memberi rezeki kepada orang-orang. Adapun Ha Mashiah, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Dia memiliki kemampuan khusus untuk memberi rezeki kepada siapa pun yang Dia mau. Contoh terbaik adalah memberi makan lima ribu orang dengan sedikit roti dan beberapa ikan.

6) Tidak ada kesetaraan:
Kuran mengatakan tentang Allah,
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (S. 42:11)
Adapun Ha Mashiah, tak perlu dikatakan bahwa Dia adalah tak ada taranya. Ia lahir dari seorang perawan tanpa seorang pria. Dia adalah Pribadi satu-satunya yang digambarkan sebagai ‘Firman Allah [dalam arti YAHWEH] dan Roh dari-Nya”. Dia adalah Pribadi satu-satunya atas siapa Setan tidak memiliki kewenangan apapun. Dia adalah Pribadi satu-satunya yang memiliki karakteristik ilahi.

7) Perintah yang berwenang:
Kuran menyebutkan ini atribut Allah, terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “Kun (jadilah)”, maka jadilah ia. (S. 16:40), Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”. Lalu jadilah ia. (S. 2:117).

Ini merupakan atribut yang unik dari Elohim, mampu memanggil sesuatu menjadi ada. Menurut Ibnu Katsir, Ha Mashiah telah mewujudkan atribut ini ketika Dia mengubah air menjadi anggur (Awal dan Akhir Ibnu Katsir, bagian 1, halaman 85).

8) Takhta-Nya di atas perairan:
Kuran mengatakan tentang takhta Elohim,  dan takhta-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, (S. 11:7).

Kortobi dan Al-Hadathi mengatakan bahwa ayat ini juga diterapkan kepada Ha Mashiah, takhta yang dibuat oleh Allah di atas air untuk menguji iman orang-orang. Ha Mashiah berjalan di Laut Tiberias menuju murid-murid-Nya untuk menguji iman mereka. Dia kemudian berkata kepada mereka, “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya? ” (Matius 8: 26)

9) Hakim dan Penguasa:
Kuran mengatakan tentang Elohim,  Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik. (S. 06:57), maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya. (S. 7:87).

Al-Bokhary menjelaskan bahwa ia mendengar dari Ibnu Abbas, yang telah mendengar nabi Muhammad berkata tentang Ha Mashiah, “Hari Terakhir tidak akan datang hingga putra Maryam datang kembali sebagai Hakim yang adil untuk menegakkan keadilan dan menghapus ketidakadilan.”

10) Sebuah pemahaman atas segala penglihatan/ visi:
Kuran mengatakan tentang Allah,  Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (S. 6:103)
Ini adalah satu lagi atribut Elohim yang Ha Mashiah telah terwujud. Ibnu Katsir dan Kortobi bercerita bahwa Ha Mashiah adalah satu hari di gunung dan orang-orang Romawi ingin menangkap Dia. Ia langsung melalui mereka dan mereka tidak bisa melihat-Nya, tetapi Dia melihat mereka semua. (Sekte dan Denominasi oleh Sheheristani, halaman 27)

11) Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang:
Kuran mengatakan, Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (S. 2:163),
“Tidak seorang pun dari makhluk-makhluk di langit dan di bumi tetapi harus datang ke Yang Maha Pemurah sebagai seorang hamba.” (S. 19:93)

Dalam buku mereka, Sects and Denominations dan Bukti-bukti dari Kenabian, Sheheristani dan Azraki telah menyebutkan bahwa Yeshua Ha Mashiah adalah gambar Elohim. Dia penuh kasih sayang. Dia mengangkat putri Yairus dari kematian dan menyembuhkan banyak orang sakit. Dia menciptakan mata untuk yang lahir buta dengan meletakkan lumpur pada mata orang itu karena itulah bagaimana Allah menciptakan pada awalnya.

12) Berbicara dengan Perumpamaan:
Kuran menyatakan bahwa hanya Elohim yang bisa berbicara dalam Perumpamaan-perumpamaan.
“Sesungguhnya Allah yang ditetapkan Perumpamaan untuk laki-laki: dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu” (S. 24:35)
“Maka Allah menetapkan Perumpamaan untuk laki-laki, agar mereka dapat menerima pelajaran” (S. 14:25)


Dalam ‘Al-Kashaf’, Ibnu Katsir, Kortobi dan Zamakhshary mengatakan bahwa Elohim menggunakan perumpamaan untuk mendekatkan manusia kepada-Nya, dan demikian pula Ha Mashiah. Perjanjian Baru penuh dengan perumpamaan yang nabi-nabi lainnya tidak berbicara dengan cara demikian.

13) Mengirim rasul-rasul dan memberi mereka kekuatan:
Kuran mengatakan, Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka;  (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.” (S. 36:13-14)
Ibnu Kathir dan semua penafsir setuju bahwa yang dimaksud adalah kota Antiokhia, dan orang-orang itu ialah rasul-rasul Ha Mashiah. Mereka memiliki otoritas dari Ha Mashiah. Apa ada orang lain memiliki kuasa sedemikian?

14) Untuk disembah:
Kuran mengatakan, Orang-orang Yahudi menyebut Uzair seorang putra Allah, dan orang-orang Nasrani menyebut Al Masih Putra Allah. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. … Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan disamping Allah, dan Al Masih putra Maryam (S. 9:30-31)

Ibnu Kotaiba melihat ini sebagai sebuah ayat bermasalah, karena menempatkan Allah dan Al Masih (Ha Mashiah) untuk disembah sebagai sebuah perintah. Jadi, Ibnu Kotaiba pikir untuk menghindari masalah ini, ungkapan “Ha Mashiah putra Maryam” harus sintaktis ditafsirkan sebagai ’objek kedua’ untuk kata kerja ’menjadikan’ dan bukan ’annexment’ untuk kata ‘Allah’. Dengan cara ini ayat tersebut tidak akan mendukung pandangan Kristen tentang keilahian Ha Mashiah.

15) Datang dalam awan-awan:
Kuran mengatakan, Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, (S. 2:210)
Ibnu Al-Fadl Al-Hadathi mengatakan bahwa ayat ini menunjuk ke Ha Mashiah yang akan datang kembali pada Hari Terakhir dalam awan-awan. Dia juga menafsirkan ayat berikut ini sebagai merujuk kepada Ha Mashiah juga, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris. (S. 89:22)

Nyatanya, saya menemukan lebih dari yang saya cari atau inginkan. Saya telah menulis temuan saya di sebuah buku kecil yang terpisah berjudul ‘Tidak terelakkan Keilahian Ha Mashiah.” Awalnya saya menyebutnya “Keilahian Ha Mashiah,” tapi setelah saya menyelesaikan penelitian saya, saya harus mengubah judulnya dengan ”Tidak terelakkan Keilahian Ha Mashiah.” Saya menyimpulkan buklet itu dengan kalimat berikut,

“Bahkan jika orang-orang Kristen tidak mengklaim Ha Mashiah adalah Elohim, Dia pastilah Elohim.”

Adapun bagian kedua, yaitu kematian Ha Mashiah sebagai kurban bagi orang-orang berdosa, Islam selalu menolak gagasan ini karena Kuran berkata, Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, (S. 17:15).
Bagaimana mungkin orang yang tidak bersalah mati bagi para orang berdosa? Yah, kita telah memiliki dilema lain: apakah Ha Mashiah benar-benar mati? Saya sangat percaya diri – Saya tidak tahu kenapa – bahwa saya telah mungkin tidak akan menemukan apapun untuk membuktikan kematian Ha Mashiah. Saya telah mencari dan tidak menemukan bukti yang akan menenangkan hati nurani saya dan memperkuat iman saya dalam Islam. Oleh karena itu, saya sangat ingin melawan bukti Keilahian Ha Mashiah dengan membuktikan bahwa Dia tidak mati, dan tidak bisa mati untuk orang berdosa.

Saya berusaha untuk membantah ide ‘Kurban Kematian’ ketika saya datang di ayat berikut dalam Kuran,
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertobatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; ( S. 2: 54)

Saya membaca tafsir Ibnu Katsir tentang ayat ini. Dia mengatakan bahwa Israel ingin bertobat dari dosa mereka menyembah anak sapi, tetapi Elohim tidak menerima pertobatan mereka. Ketika Musa bermeditasi, Elohim menyuruhnya untuk memberitahu orang-orang Israel bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan pengampunan adalah bahwa setiap orang harus membunuh semua orang yang ia temui. Dikatakan bahwa mereka memakai penutup mata sehingga mereka tidak akan memiliki belas kasihan pada keluarga mereka tetapi akan punya keberanian untuk mematuhi perintah Elohim. Ibnu Kathir mengatakan bahwa setidaknya tujuh puluh ribu orang tewas hari itu, dan darah mengalir seperti sungai. Ketika Elohim melihat itu sudah cukup, Dia menyuruh Musa untuk mengatakan kepada bangsa Israel untuk berhenti. Elohim menerima pertobatan mereka melalui darah mereka yang meninggal. Jika seseorang tidak menyembah anak sapi dan mati sebagai penebusan bagi mereka yang melakukannya, mengapa kita menolak gagasan bahwa Ha Mashiah tidak berdosa mati untuk orang berdosa, dan bahwa Dia masih hidup?
Bersambung ke bab 8B

Pendahuluan

  1. Di Belakang Kerudung
  2. Diberkatilah Bangsa Mesirku
  3. Dari Tanah Air Mashiah Anak-anak Ismail Akan Kembali
  4. Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid
  5. Orang-orang Pilihan Mashiah
  6. Dari Kristen nominal Ke Islam dan Kemudian Ke Mashiah
  7. Begitulah Bagaimana Saya Telah Mengenal Elohim
  8. Dahulu Saya Mati Tetapi Sekarang Saya Hidup
  9. Instruksi-instruksi Penting
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala baja.

Orang-orang Pilihan Mashiah

[Pengalaman pertama dengan orang Kristen, mimpi tenggelam tiga kali]

Judul ini adalah bagian dari buku Anak-anak Ismail (The Children of Ismael), kumpulan kisah-kisah nyata yang mengharukan dan menyentuh hati setiap pembacanya. Mereka bersaksi bagaimana Elohim telah merubah gurun pasir kehidupan menjadi padang rumput yang indah, rantai-rantai ikatan protokol keagamaan yang berat menjadi hubungan kasih yang manis dengan Pencipta mereka. Selamat membaca!

Bab 6. Ketika kami kanak-kanak, ayah kami mengajari kami cara sembayang. Dia selalu berkomitmen untuk sembayang. Orang tuaku adalah orang-orang sederhana, tapi tulus dalam ibadah mereka dan gaya hidup. Ayahku adalah seorang pegawai dan memberi kita hidup yang layak. Aku pergi ke sekolah perawat. Aku tidak tahu banyak tentang agamaku selain berdoa dan mengenakan kerudung. Aku tidak pernah peduli dengan Kristianiti atau  orang-orang Kristen. Saya pikir itu dilarang memikirkan agama yang telah rusak.

Setelah lulus, aku bekerja di sebuah rumah sakit swasta, di mana aku tinggal dengan beberapa perawat Kristen. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berhubungan dengan orang-orang agama itu. Aku tinggal bersama mereka sebagian besar bulan itu, kecuali selama beberapa hari aku bebas setiap bulan. Bertentangan dengan harapanku, mereka memperlakukan diriku dengan cara yang penuh kasih dan ramah. Aku pikir mereka akan menganiaya saya karena mereka mayoritas di rumah sakit ini, dan kami Muslim minoritas.

Aku  tertarik dengan orang-orang Kristen ini. Aku mulai bertanya pada salah satu dokter tentang hal-hal kecil yang menarik perhatianku, seperti gambar Ha Mashiah di salib. Dia menjawab semua pertanyaanku, dan aku ingin tahu lebih banyak. Dia mulai memberi aku kaset khotbah yang menjelaskan banyak hal yang aku gunakan untuk mendengar tapi tidak mengerti. Aku mendengarkan kaset ini diam-diam. Banyak hal mulai masuk akal. Aku melihat karakter Kristus dalam Kuran dan mulai mencari semua ayat Kuran yang berbicara tentang Dia.

Aku biasa untuk membaca ayat-ayat ini dan merenungkan maknanya. Aku menemukan bahwa ayat-ayat tersebut yang dihubungkan dengan beberapa karakteristik Ha Mashiah yang tidak pernah dikaitkan dengan seorang nabi – ayat-ayat tersebut tepatnya adalah sifat-sifat Elohim. Aku merasa seolah-olah aku sedang membaca ayat-ayat ini untuk pertama kalinya. Mataku dibuka untuk yang lebih dalam arti dan makna penting ayat-ayat ini selain penjelasan dangkal dari keyakinan yang aku dapat saat kecil.

Aku menjadi lebih yakin, jadi aku tanya dokter itu untuk menjelaskan kepada aku arti dari Trinitas dan Penyaliban itu. Dia menjawab semua pertanyaanku. Semuanya katanya menunjuk fakta bahwa Ha Mashiah benar-benar Elohim, bahkan Kuran memberi pernyataan.

Dokter tutorku bepergian selama setahun, tapi aku masih terus membaca dan mencari. Setiap hari aku menjadi lebih yakin bahwa Yeshua Ha Mashiah adalah Elohim, sampai aku mendapati diriku berdoa kepada Yeshua dan mengakui Dia sebagai Elohim! Suatu malam, aku berada di asrama perawat berbaring di tempat tidurku, memikirkan Ha Mashiah dan apa yang harus aku lakukan untuk dapat dibaptis dan mengubah agamaku. Aku ingin hidup dengan agama baru itu dengan segenap hatiku, tapi aku takut apa yang akan terjadi pada aku jika keluargaku tahu.

Aku lelah berpikir dan memutuskan untuk tidur. Ruangan itu gelap, tapi kemudian tiba-tiba aku melihat Ha Mashiah berdiri di atas padang rumput luas dengan membentang tangan-Nya kepada aku, sementara aku tenggelam di laut yang dalam, dikelilingi oleh banyak orang, namun tidak satupun dari mereka bisa menyelamatkan aku. Aku melihat penglihatan ini tiga kali berturut-turut sebelum aku tiba pada kenyataanya. Aku sangat gembira! Aku terus berteriak bahwa aku melihat-Nya dan bahwa Ia menampakkan diri kepada aku! Ketika teman aku menanyakan apa yang terjadi, aku tertawa namun tidak mengatakan kepada mereka apa-apa. Aku merasa malam itu adalah paling bahagia dalam hidup aku. Aku dipenuhi dengan sukacita dan damai yang belum pernah aku alami sebelumnya.

Aku kemudian menghadapi krisis nyata. Aku tidak menyangkal imanku dan keluarga aku menuduhku gila. Selama tiga tahun, mereka terus mengatur bagi aku untuk menikah dan aku tetap menolak. Suatu kali seorang pria melamarku, dan keluarga aku bersikeras bahwa aku menikahnya. Kami berada di resort musim panas Alexandria [Mesir], bermain di pantai, ketika ayahku dan kakakku mengajak aku ke laut. Mereka mencoba menenggelamkan aku. Aku menangis dan bertanya kepada mereka mengapa mereka melakukan itu. Mereka berkata, “Kami tidak akan membunuhmu, tapi kami ingin menunjukkan bahwa kami dapat jika kamu tidak berubah dan menikahi lelaki tersebut.”

Aku berbohong kepada mereka dan memberitahu mereka bahwa aku akan menikah dengan orang itu. Aku bertunangan dan kembali ke pekerjaan aku di rumah sakit. Aku yakin hal-hal akan berubah. Aku berhenti menghubungi keluargaku dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku hanya tahu bahwa aku mengasihi Ha Mashiah dan hidup bagi-Nya, apapun masalah yang aku mungkin hadapi.
Fatma

Bersambung ke Bab 7:  Dari Kristen nominal Ke Islam dan Kemudian Ke Mashiah

  1. Pendahuluan
  2. Dibelakang Kerudung
  3. Diberkatilah Bangsa Mesirku
  4. Dari Tanahair Mashiah Anak-anak Ismail Akan Kembali
  5. Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid
  6. Orang-orang Pilihan Mashiah
  7. Dari Kristen nominal Ke Islam dan Kemudian Ke Mashiah
  8. Begitulah Bagaimana Saya Telah Mengenal Elohim
  9. Dahulu Saya Mati dan Sekarang Saya Hidup
  10. Instruksi-instruksi Penting
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid

Judul ini adalah bagian dari buku Anak-anak Ismail (The Children of Ismael), kumpulan kisah-kisah nyata yang mengharukan dan menyentuh hati setiap pembacanya. Mereka bersaksi bagaimana Elohim telah merubah gurun pasir kehidupan menjadi padang rumput yang indah, rantai-rantai ikatan protokol keagamaan yang berat menjadi hubungan kasih yang manis dengan Pencipta mereka. Selamat membaca!

Bab 5. Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid
[Pengkotbah kecil, perbandingan yang sangat berbeda, teraniaya namun tidak patah]

Ini adalah kisah tentang perpindahan [saya] ke Kristianiti. Nama saya Ibrahim. Saya sangat bangga dengan nama Arab saya karena itu adalah nama dari patriark besar. Nama baru saya adalah Timotius, tapi itu tidak mengubah fakta bahwa saya Ibrahim, panggilan sehari-hari “Abu-Khalil,”’ anak dari pasangan petani sederhana. Saya dibesarkan di tempat sederhana, beralas tikar kayu sebagai karpet, sebuah lampu minyak cahaya dan keju keras untuk makanan. Aku biasa belajar pelajaran-pelajaran saya di dekat sungai kecil, saya mengenakan ‘Galabia’ putih. Aku masih mengenakan ‘Galabia’ sampai sekarang.

Ketika saya masih kecil, ibu saya menuntun saya untuk pergi ke desa ‘Kottab’ (tempat belajar agama Islam), dimana Imam mengajar kami membaca, menulis dan melantun Alquran. Dia meminta pembayaran 10 sent USD dari kami pada akhir setiap minggu. Pada ‘Kottab,’ inilah  pikiran dan hati saya dipenuhi dengan ketaatan untuk Allah [Elohim], Pencipta langit dan bumi.

Ketika saya bergabung dengan sekolah persiapan [SMP], saya menjadi lebih tertarik pada kelas-kelas  Dhekr (ibadah mistik) di mesjid. Saya mulai menghadiri kelas mistik kelompok Sufi di desa itu. Kami terbiasa untuk memuji nabi Muhammad dalam segala kondisi, mengulang kata: “Oh, Rasul Allah, tolonglah!”

Suatu hari setelah doa magrib di masjid Stasiun, dua pria mendatangi saya dan memperkenalkan diri. Salah satunya bernama Muhammad, yang lain Salomo. Mereka menyapa saya dengan cara yang saleh (sopan sesuai ajaran agama). Saya melihat dalam diri mereka kebaikan yang unik dan keinginan nyata untuk menyenangkan Allah. Mereka memperkenalkan saya ke seluruh teman-teman mereka. Mereka mencintai satu sama lain dan mendorong satu sama lain untuk mentaati Elohim. Saya terkesan dengan kesatuan mereka. Mereka adalah anak muda elit kota kami. Mereka telah melihat dedikasi saya untuk menyembah Allah dan keterampilan saya berbicara di depan orang.

Setiap hari Senin pertama dalam penanggalan Arab, kelompok kami mengadakan pertemuan, di mana saya biasa memberikan pidato setelah khotbah seorang ‘Emir’ (pemimpin kelompok). Sebenarnya saya mulai berkhotbah di mesjid ketika aku baru 14 tahun. Saya kira itu baik untuk melakukannya; Imam Shafai biasa memberikan ‘fatwa’ (nasihat agama) ketika ia 6 atau 9 tahun. Aku ingat khotbah pertama saya di masjid itu tentang cara ideal untuk merayakan ulang tahun nabi. Kami biasa berpuasa dan makan bersama di masjid, mengikuti ajaran-ajaran dari nabi Muhammad, bahkan sampai sedetil mungkin, seperti cara berjalan, berbicara, berdoa, makan, minum, berpakaian, dll.

Saya berutang kepada orang-orang ini karena mereka telah mendorong saya untuk membaca, mencari dan meneliti. Faktor-faktor ini tepatnya yang telah membawa saya ke tempat saya sekarang ini. Suatu hari, seorang teman saya berkata kepada ayahku, “bahwa Ibrahim adalah salah satu pembicara umum Kelompok Sunni, ia menghadiri semua pertemuan umum dan rahasia mereka. …” Saya terkejut dan marah karena orang itu adalah orang yang sama yang mendorong saya pada awalnya untuk berkomitmen pada Panggilan Islam dan bergabung dengan Kelompok Persaudaraan Muslim (Muslim Brotherhood Group). Kami sering pergi bersama-sama dari satu masjid ke yang lain, mewartakan Panggil Islam. Aku selalu berharap bahwa ayahku dapat hadir ketika saya menyampaikan khotbah saya.

Setelah rahasia saya terbongkar, ayah saya mulai memperingatkan saya dan mengancam saya berkali-kali, berharap bahwa saya akan merubah pikiran saya dan meninggalkan Kelompok Persaudaraan Muslim (KPM). Kelompok kami menjadi terkenal di mata seorang informan bernama Muhammad. Dia biasa mengikuti semua berita dan gerakan kami dan melaporkannya ke kantor Penyelidik Keamanan Negara (PKN). Dia digunakan untuk merekam semua pidato-pidato kita dan menyerahkan mereka ke kantor PKN lokal. Aku bangga melihat Mohammed merekam pidato-pidatoku di mesjid.

Di sisi lain, ayahku dan saya tidak senang bahwa PKN memiliki namaku. Ayahku sangat khawatir tentang keselamatanku sehingga dia pergi ke KPM di masjid dan berteriak pada mereka di depan semua orang dan meminta mereka untuk tidak berhubungan dengan diriku. Dia pulang dan memukul saya sehingga gigiku patah. Sampai sekarang salah satu gigi depanku masih rusak, aku tetap berhubungan denngan KPM.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, ayahku membakar semua buku-buku agamaku. Dia begitu prihatin tentang diriku dan takut bahwa aku mungkin akan bermasalah karena kelompok Sunni tersebut. Dia bahkan mengancam akan menceraikan ibuku jika saya terus pergi ke masjid Sunni. Saya memintanya untuk mengizinkan saya hanya duduk di luar masjid sehingga saya bisa mendengarkan guru dari Persaudaraan Muslim tanpa benar-benar pergi ke masjid. Dia setuju dengan syarat bahwa ia harus pergi dengan saya. Kami biasanya duduk di luar masjid. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian.

Ancaman tidak menghalangi saya dari menyebarkan Panggilan Islam. Di sekolah, aku biasa memberikan pidato umum Islam setiap pagi. Aku memaksa kakakku memakai kerudung. Aku tidak lagi berjabat tangan dengan wanita-wanita dan mendengarkan lagu karena takut hukuman Allah pada Hari Kiamat, hukuman dalam bentuk timah panas yang akan dituang ke dalam telinga. Tetangga-tetanggaku mengolok-olok aku karena radikalanku dalam menerapkan semua perintah Kuran dan Sunnah. Bukan salahku, aku telah diajarkan bahwa Islam itu relevan dan berlaku untuk setiap usia dan setiap negara, dan bahwa Islam adalah pemecahan!

Sementara berjuang untuk menyebarkan Panggilan Islam, aku medapat sebuah ide. Aku berpikir aku harus memenangkan teman-teman Kristenku bagi Islam sehingga kita semua akan pergi ke Jannah (surga). Pada saat itu, jika kalian bertanya padaku tentang pendapatku mengenai orang-orang Kristen, aku tentunya akan berkata bahwa mereka kafir dan musyrik (penyembah banyak ilah), tapi aku menemukan bahwa Kuran sendiri mengajarkan sebaliknya.

Dalam Surah 5: 82 Kuran berkata, “Terkuat di antara orang-orang dalam permusuhan dengan orang-orang beriman akan kamu temukan orang-orang Yahudi dan orang Pagan, dan terdekat di antara mereka dalam kasih kepada orang-orang beriman akan kamu temukan mereka  yang berkata, “Kami adalah orang-orang Kristen”: karena diantara ini adalah orang-orang serius belajar, dan orang-orang yang telah meninggalkan keduniawian, dan mereka tidak sombong.”

Menurut ayat ini, Kuran membuat perbedaan antara orang Kristen dan kafir (pagan), jika orang-orang Kristen itu harus dilihat sebagai kafir, Kuran akan menempatkan mereka dalam kategori yang sama.

Dalam Surah 2: 62 Kuran mengatakan, “Dan orang-orang Kristen dan Sabian – barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Terakhir, dan bekerja benar, akan mendapat pahala mereka dari Adonai mereka (from ”Lord”), mereka tidak akan ada ketakutan, tidak juga kesedihan.”

Aku berusaha meyakinkan orang-orang Kristen yang aku temui di sekolah atau di lingkunganku bahwa Islam adalah agama yang benar. Aku bahkan berkorespondensi dengan beberapa orang Kristen untuk berpindah ke Islam. Akibatnya, aku memiliki hasrat yang membara di dalam hatiku untuk membandingkan Islam dan Kristianiti, secara menyeluruh, yang benar dan yang salah; yang mana ialah jalan Allah (Elohim) dan yang jalan Iblis.

Selama dua tahun, saya telah bersusah payah. Sering kali saya memutuskan untuk mengakhiri pertempuran batin ini dengan menghentikan membaca buku-buku Kristen, dengan cara berfokus pada membaca Kuran setiap pagi, dan dengan mengikuti contoh nabi Muhammad. Aku ingin menemukan kedamaian dan mematuhi Allah melalui agama yang benar. Oleh karena itu, aku menyingkirkan semua buku-buku Kristenku supaya menjadi seorang Muslim yang nyata, dipersembahkan kepada satu Elohim yang benar, Allah.

Tapi Elohim (God) tidak meninggalkan aku sendiri. Roh Kudus-Nya sering untuk membangkitkan saya di tidurku. Setiap kali aku pergi tidur, aku tegang. Hati nuraniku gelisah. Pada akhirnya aku tak bisa tidur di malam hari. Aku bertanya-tanya, “Jika Muhammad benar-benar nabi yang dijanjikan, mengapa dia tidak datang pada hari penghakiman, sebagai gantinya Ha Mashiah sebagai hakim yang adil? Dalam hal ini, Mohammed akan menjadi salah satu tanda-tanda Hari Terakhir dan bukan Ha Mashiah.” Aku bertanya-tanya tentang rahasia di balik status tertinggi Ha Mashiah di antara semua nabi, begitu banyak sehingga Dia menjadi pusat sejarah. “Apakah kami tidak mengatakan bahwa peristiwa bersejarah tertentu terjadi Sebelum Masehi [artinya Mashiah atau Kristus] (SM/BC) dan lainnya Setelah Masehi (AC/AD)? Apa rahasia kemuliaan Engkau, Isa (Yeshua/ Yesus) Putra Maryam/ Maria?”

Pertanyaan-pertanyaan ini, dan banyak lagi, membuat aku serius memperbandingkan antara Mashiah dan Muhammad. Setelah menghabiskan waktu yang lama membandingkan mereka, aku menemukan bahwa itu adalah perbandingan yang nyata berbeda, bahkan di dalam Kuran itu sendiri.

Di dalam Kuran, kita tidak pernah menemukan Ha Mashiah meminta pengampunan Elohim untuk dosa atau kesalahan, sebagaiman telah dilakukan oleh para nabi dan rasul lainnya. Ha Mashiah adalah benar ketika Dia menantang para pemimpin Yahudi dengan berkata, Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? (Yoh. 8:46). Dia bahkan menegur orang-orang Yahudi untuk kesalehan palsu mereka ketika mereka menangkap basah perempuan yang berzinah: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Yoh. 8:7)

Di sisi lain, aku menemukan dari Kuran itu sendiri bahwa Muhammad hanyalah seorang manusia biasa seperti yang lain, dengan dosa-dosanya, kebencian terhadap orang-orang kafir dan kematiannya. Kuran mengatakan,

“Dan mintalah ampun untuk kesalahan kamu, dan untuk pria dan wanita yang beriman” (Surah 47:19.)
“Supaya Allah boleh mengampuni kamu, kesalahan-kesalahan kamu yang lalu dan kemudian …” (Surah. 48:2)
“Dan jika Kami tidak memberikan kekuatan kepadamu, kamu pastilah sudah condong kepada mereka sedikit.” (Surah 17: 74)

Dalam tafsiran Kurannya, Imam El-Syouty menjelaskan alasan di balik Surah 17:74:
“Menurut Muhammad, anak Kaab, dari suku Karz, Nabi Muhammad membaca Surah 53 ia berkata, “Apakah kamu melihat ‘Lat’ dan ‘Uzza’ … “(nama-nama berhala), Iblis membuat ia berkata bahwa umat Islam bisa menyembah mereka, dan Syafaat dari berhala-berhala yang harus dicari. Jadi, itu menjadi sebuah ayat dalam Kuran. [Ini satu dari ayat-ayat yang disebut ”ayat-ayat Iblis” di dalam Kuran]
Nabi Muhammad begitu sedih tentang apa yang telah terjadi sampai Allah mengilhaminya dengan ayat lain: “Tidak pernah Kami mengirim seorang utusan sebelum kamu, tetapi, ketika dia menetapkan sebuah keinginan, Setan melemparkan beberapa (kejahatan) kedalam keinginannya, tetapi Allah akan membatalkan apa-apa (sia-sia) yang Setan telah lemparkan, dan Allah akan mengkonfirmasi (dan membangun) tanda-tanda-Nya” (Surah 22:52).

Itulah alasan untuk Surah 17:73-74: “Dan tujuan mereka adalah untuk mencobai engkau menjauh dari apa yang Kami telah turunkan kepadamu, untuk menggantikan sesuatu yang berbeda atas nama Kami: Lihatlah! Mereka tentu sudah akan membuat kamu teman (mereka). Dan jika tidak Kami memberikan kekuatan kepadamu, kamu telah hampir condong kepada mereka sedikit.”

Saya tidak bisa menemukan sebuah ayatpun di dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Ha Mashiah bergabung dengan orang-orang kafir jika Allah tidak tolong. Alasan di balik fakta ini, seperti yang saya pelajari dari studi saya, adalah bahwa Ha Mashiah adalah Firman Elohim [Yoh. 1]. Perjanjian Baru, yang aslinya ditulis dalam bahasa Yunani, menyatakan bahwa Ha Mashiah adalah Firman Elohim dalam arti ”pikiran yang diucapkan Elohim.” Ha Mashiah adalah pikiran Elohim. Elohim dan pikiran Elohim adalah keberadaan yang sama dan dasar yang sama, tanpa perbedaan apapun, divisi atau pemisahan. Ha Mashiah adalah Firman berinkarnasi atau menjelma, Elohim yang datang dalam daging. sifat elohim-Nya tidak pernah berangkat dari sifat manusia-Nya, bahkan untuk sesaat atau sebuah kedipan mata.

Semua pikiran ini telah terikat dalam pikiranku dan berjuang dalam hatiku. Aku takut murka Allah yang datang pada orang-orang kafir. Setiap kali Aku berlutut untuk berdoa, Aku berteriak dari dasar hatiku, “Oh, Elohim, tunjukkan kebenaran. Jika Muhammad benar, saya akan mengikutinya sampai aku mati, jika Ha Mashiah adalah benar, saya akan mengikuti Dia sampai aku mati. Aku akan memberikan seluruh hidupku kepada Engkau dan melayani Engkau sepanjang hidupku, apapun harganya mungkin …. “

Aku terus mengulang-ulang doa ini sampai Ha Mashiah datang kepada saya dalam sebuah penglihatan, dalam sebuah mimpi. Dia berkata kepada saya dengan suara lembut-Nya, “Aku mengasihimu.” Aku merenungkan pada kasih tak berujung Ha Mashiah dan pengorbanan-Nya di kayu salib untuk menyelamatkan dan menebus kita. Dengan air mata mengalir di wajahku, saya berkata kepada Ha Mashiah, “Aku mengasihimu. Aku tahu Enkau. Aku tahu bahwa Engkau adalah Alfa dan Omega. Aku tahu bahwa Engkau adalah kekal dan bahwa Engkau adalah Yang Awal dan Yang Akhir …. ”

Aku sangat bahagia, menari seperti anak kecil dan memuji Elohim. Menjadi seorang hakim yang adil, Elohim telah menghukum Putera-Nya untuk mati menggantikan kita sehingga kita tidak perlu menghabiskan keabadian kita di dalam neraka. Kami tidak mengatakan bahwa Elohim Yang Mahakuasa memiliki putra, dari istri – Elohim melarang! Kita menganggap seorang adalah kafir kalau mereka bilang begitu. Elohim tidak pernah punya istri atau anak fisik. Kami mengatakan bahwa Ha Mashiah adalah Putera Elohim dalam pengertian yang sama ”terang lahir dari cahaya.” Itu adalah keputeraan rohani. Kami orang Mesir disebut “anak-anak Sungai Nil”, tetapi kami tidak mengatakan bahwa Sungai Nil telah menikah.

Kami menyatakan dalam Pengakuan Nicea: “Kami percaya … dalam satu Adonai Yeshua Ha Mashiah, Anak Tunggal Elohim, diperanakkan dari Bapa-Nya sebelum alam semesta, Elohim dari Elohim, Terang dari Terang, sungguh Elohim dari sungguh Elohim, diperanakkan, bukan dibuat, menjadi satu substansi dengan Bapa, oleh siapa segala sesuatu diciptakan … “ Pada saat yang sama, kami bersaksi bahwa tidak ada ilah (elohim) selain YAHWEH, dan kami menyembah Dia saja.

Beberapa minggu kemudian, aku dibaptis pada tanggal 6 September 1987 di rumah seorang pendeta. Dalam hati saya, baptisanku adalah penanggalan kedua dari kelahiranku. Saya telah menjadi seorang Kristen selama 11 tahun sekarang. Aku mengatakan kepada istriku, ketika aku mati, aku ingin batu nisanku terbaca, “Ha Mashiah adalah Kemenangan!”

Semua manusia di muka bumi ini adalah fana. Hanya Ha Mashiah yang abadi. Semua nabi terkubur di kuburan yang kita kenal dan kunjungi, tapi hanya makam Ha Mashiah yang kosong karena Ia ada di surga, seorang Raja Yang Berkemenangan. Melalui kematian-Nya di kayu salib, Ha Mashiah menaklukkan kuasa maut. Pujian dan kemuliaan kepada Anda, Yeshua kekasihku!

Seorang teman saya mencuri buku harianku dan memberikannya kepada Sulaiman seorang anggota KPM. Salomo dan para pengikutnya bersekongkol bersama-sama untuk menjebak saya. Mereka fotokopi buku harian saya, di mana saya menjelaskan keyakinan saya dalam Ha Mashiah, dan didistribusikan mereka di antara orang-orang di desa saya. Rasanya seperti skandal, tetapi karena Yusuf berkata ketika saudara-saudaranya bersekongkol untuk menyakitinya, Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, …” (Kej. 50:20)

Firman Tuhan berkata, Kita tahu sekarang, bahwa Elohim turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Elohim.” (Roma 8:28)

Anggota-anggota keluargaku merasa malu atas diriku. Ibuku tidak berani muncul di depan umum. Orang-orang sering menuding karena anaknya telah membawa malu karena menjadi seorang Kristen. Dia mengatakan kepada saya bahwa ia tidak mengakui aku sampai Kiamat. Tidak ada yang dapat mematahkan hatiku lebih dari luka hati, penghinaan dan aib yang aku sebabkan atas keluargaku, terutama ibuku. Tapi apa yang aku bisa lakukan?

Saya sangat mengasihi ibuku, tetapi tidak mungkin bagiku meninggalkan keyakinanku dalam Kristus untuknya. Suatu hari, ia memukul kepalaku dengan sepatunya. Lain waktu, dia berpakaian kain hitam dan mengumumkan kepada semua orang bahwa ia berkabung atas kematian anaknya, Abraham.

Suatu hari semua orang dari desa saya datang bersama untuk memukul dan menyiksa saya untuk mengubah saya kembali ke Islam. Mereka menendang dan menampar saya di depan keluargaku. Ibu berlutut saya turun dan meminta mereka tidak menyakiti saya, tapi mereka menginjaknya dengan kaki mereka. Ibuku yang malang menangis di lantai, sementara mereka berteriak atas keluargaku, “Kalian mempermalukan kami!” Di tengah kekacauan ini, salah satu guru agama desa berteriak pada orang-orang, “Apa kejahatan wanita malang ini jika puteranya telah memilih jalan yang salah!” Aku bersyukur kepada YAHWEH. Jika bukan karena rahmat-Nya, aku pastilah sudah lama menjadi seorang martir.

Setelah itu, semua temanku menghindari saya. Mereka pikir saya akan memberikan reputasi buruk di kota. Saya menjadi seorang ’tamu’ terkenal di kantor polisi setempat dan kantor Penyelidik Keamanan Negara (PKN). Aku harus menghabiskan banyak malam di kantor polisi demi keselamatan jiwaku. Suatu malam, orang-orang di desaku berkerumun di sekitar rumahku dan ingin membakarnya. Mereka membakar beberapa buku Kristen saya, sementara polisi menyita sisanya sebagai layaknya jika mereka menyita milik seorang pengedar obat bius.

Polisi telah mengawasi rumahku 24-jam untuk mencegah barang-barang Kristen datang kepada saya. Namun, Firman Elohim datang kepada saya dalam bentuk halaman koran yang membungkus roti saya! Ini adalah halaman depan surat kabar, termasuk sebuah artikel dari Paus Shenouda. Dia menyebutkan banyak ayat-ayat Alkitab seperti, “Jangan takut … sebab Aku menyertai engkau,” (Kejadian 26:24) dan Sebab YAHWEH, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.” (Ul. 31:6-8) [tertulis hanya ayat 8]

Itu adalah sebuah keajaiban dan tanda dari langit untuk memiliki surat kabar ini dibawa kepadaku di bawah pengepungan polisi di sekitar rumahku. Hal ini mendorong dan mengangkat saya di waktu aku sangat membutuhkan pertolongan Elohim. Segera selesai aku membaca halaman surat kabar tersebut, seorang perwira polisi mengetuk pintu. Takut untuk hidupku, seseorang dalam keluargaku menyambar koran dan membakarnya. Aku sangat sedih kehilangan sumber penghiburanku, tapi saya terkejut, pada hari berikutnya ketika aku sedang berjalan di sudut lain aku menemukan salinan dari halaman yang sama tergeletak di tanah! Aku sering bangun setiap pagi pukul 4 pagi karena suara ibuku menjerit kepada Allah untuk membawa saya kembali ke Islam.

Kristen tidak lebih berharga bagi saya daripada ibuku sendiri. Sebagai fakta, ibu saya lebih berharga bagiku daripada seorang Muslim atau Kristen. Di sisi lain, aku memiliki seorang yang lebih berharga dari ibuku atau bahkan kehidupanku sendiri – Adonai Yeshua Ha Mashiah! Jika saya tidak mengasihi Dia lebih dari diriku sendiri, aku tidak akan layak untuk berbagi dengan-Nya.

Ibuku meninggalkan satu kemungkinanpun untuk mendapatkan saya kembali ke Islam. Dia mengunjungi seorang penyihir untuk membaca mantra atas diriku. Muslim-muslim berpikir bahwa Jin (malaikat jahat) percaya Kuran. Yah, ahli sihir tidak bisa lakukan apapun untuk mempengaruhi saya. Aku berdoa kepada Yang Maha Esa dalam nama Yeshua Ha Mashiah, Nama yang menakutkan semua setan dan jin. Anehnya, tukang sihir itu berkata kepada ibuku, “Anakmu mengikuti sebuah jalan yang dia tidak akan pernah tinggalkan!”

Elohim telah melakukan banyak tanda dan keajaiban dalam hidup saya. Aku merasa dikuatkan setiap kali aku meningat salah satu dari mereka. Mereka adalah batu-batu berpijak di sepanjang jalan kasih kebapakan Elohim yang telah membawa saya dari awal dan memperlihatkan aku melaluinya, dan membawa saya ke tempat ini 10 tahun yang lalu. Elohim belum pernah meninggalkan aku, bahkan tidak untuk sesaat pun!

Ibrahim

Bersambung ke Bab 6. Orang-orang Pilihan Mashiah

  1. Pendahuluan
  2. Dibelakang Kerudung
  3. Diberkatilah Bangsa Mesirku
  4. Dari Tanah air Mashiah Anak-anak Ismail Akan Kembali
  5. Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid
  6. Orang-orang Pilihan Mashiah
  7. Dari Kristen nominal Ke Islam dan Kemudian Ke Mashiah
  8. Begitulah Saya Mengenal Elohim; Ex-Jihadist Pt.1
  9. Dahulu Saya Mati dan Sekarang Saya Hidup
  10. Instruksi-instruksi Penting
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Diberkatilah Bangsa Mesirku

Ini adalah bagian dari buku kesaksian Anak-anak IsmailBuku Anak-anak Ismail (The Children of Ismael) adalah kumpulan kisah-kisah nyata yang mengharukan dan menyentuh hati setiap pembacanya. Mereka bersaksi bagaimana Elohim telah merubah gurun pasir kehidupan menjadi padang rumput yang indah, rantai-rantai ikatan protokol keagamaan yang berat menjadi hubungan kasih yang manis dengan Pencipta mereka, kebencian menjadi kasih terhadap sesama. Selamat membaca!

Bg.1 Pendahuluan & Dibelakang Kerudung (Bab1 & 2)

Bab 3. Diberkatilah Bangsa Mesirku
[Persahabatan, meneliti berbagai pertanyaan yang sulit, memburu Elohim yang benar]

Nama saya Mozafar. Saya lahir pada tahun 1969. Aku adalah anak sulung dari keluarga kelas menengah yang tinggal di sebuah kota yang tenang indah. Aku dibesarkan untuk bertanggung jawab. Aku berbeda dari anak-anak lain. Aku tidak banyak bermain. Aku tidak berkeliaran di jalanan seperti anak-anak lain.

Ayahku bekerja di kota lain, jadi saya harus mengurus dua saudaraku – Hassan, yang tengah dan Anwar, yang termuda. Aku harus memainkan peran sebagai ayahku yang tidak hadir hari-hari dalam seminggu. Bertahun-tahun berlalu tanpa kesulitan untuk keluargaku atau aku. Secara finansial, kami baik. Aku pergi ke sekolah swasta. Kami adalah Muslim. Kami biasa untuk berdoa dan berpuasa. Kami terbiasa untuk melakukan peraturan agama dengan cara yang moderat, bebas dari fanatisme atau fundamentalisme.

Suatu hari, semua tanda-tanda pertanyaan bangkit dalam pikiranku dan benar-benar mengubah hidupku dari kehidupan biasa kepada hidup penuh kejutan dan perubahan. Hari itu adalah hari saya mulai sekolah menengah. Ini adalah waktu yang sangat penting bagi semua orang, menurut pendapat saya, karena pada periode itu seorang mulai mencari identitas dirinya, untuk meneliti hal-hal yang dianggap remeh atau diabaikan.

Masing-masing dari kita telah mewarisi  agamanya, warna kulit, bahasa, ras dan gender. Tidak ada seorangpun yang memilih salah satu factor-faktor tersebut, penting karena mereka dan sangat efektif dalam membentuk kita. Kita berurusan dengan pewarisan wajib ini di dalam diri kita, dengan Allah dan dengan orang lain. Sebagai contoh, kita sebagai Muslim dilahirkan dan dibesarkan untuk membenci orang Yahudi dan Kristen, dan percaya bahwa umat Islam adalah bangsa terbaik di seluruh dunia. Tak seorang pun bisa membayangkan bahwa orang lain (Yahudi, Kristen, dll) dapat benar sama sekali. Ide ini bahwa orang lain ada benar bahkan tidak pernah ada sama sekali, tidak sekalipun dalam sebuah bulan biru.

Saya pikir sangat sedikit orang (Muslim) akan berpikir untuk memeriksa hal-hal yang kita telah warisi, atau mempertanyakan bagaimana kebenaran warisan ini ada. Jika kita meminta orang lain (Yahudi dan Kristen) untuk memeriksa warisan mereka berarti kita sangat yakin bahwa mereka adalah salah, dan kita menganggap mereka buta karena mereka menerima warisan mereka tanpa pemeriksaan. Itu akan lebih tepat jika kitapun dapat melakukan apa yang kita minta dari orang lain. (Ini logis bahwa Anda memperlakukan orang dengan cara yang sama Anda ingin mereka memperlakukan Anda). Aku pikir bahwa memeriksa warisan kita dan mencoba untuk menemukan kebenaran akan membuat kita berakar di tempat yang baik dan lebih fleksibel untuk mengubah bidang kebodohan dan kesombongan . Yang pasti, Elohim yang benar (the true God) mengasihi orang-orang yang mencari kebenaran, cahaya, yang baik, dan kehidupan yang lebih baik.

Waktu sekolah tinggi dimulai dengan teman-teman baru di sekolah baru penuh kejutan dan perbedaan. Saya berpikir bahwa generasi saya akan dikenang sepanjang sejarah sekolah. Aku telah mengenal siswa ateis yang tidak percaya keberadaan Elohim, siswa-siswa dari kelompok-kelompok Islam fundamental yang kasar, dan siswa lain yang menikmati kehidupan remaja mereka dan tidak perduli apa-apa, kecuali cewek-cewek. Itu sangat berbeda dan kompleks bagi saya. Ini merupakan suatu lompatan besar dari kehidupan yang normal hampir membosankan untuk sebuah kehidupan yang sangat kaya dalam kuantitas dan kualitas.

Aku mulai mengembangkan beberapa persahabatan dan aku mendapat orang yang menjadi teman dekat saya dalam waktu yang sangat singkat. Setelah hampir 16 tahun persahabatan kami, aku menyadari bahwa siapa pun yang belum mengalami sebuah persahabatan akan tetap kesepian untuk sisa hidupnya, tidak tahu apa-apa tentang hubungan hangat, persahabatan, kejujuran, dan kesetiaan. Orang seperti itu tidak akan pernah mengenal orang lain karena dia tidak pernah mendapat tahu dirinya sendiri. Maafkan aku, Aku sangat fanatik tentang persahabatan.

Teman baru saya, Basil, memiliki pemikiran yang sama tentang kemanusiaan dan satu-satunya sumber yang ditelusuri kembali kepada ayah kami, Adam dan ibu kita, Hawa. Dia juga percaya bahwa persaudaraan dan persahabatan adalah perasaan yang seharusnya mengatur semua hubungan manusia. Itu adalah perasaan yang melebihi semua ilusi dan hambatan nyata keyakinan, bahasa, warna, gender dan kelas sosial. Dia sering mengatakan bahwa jika semua manusia akan menganggap bahwa kita semua memiliki asal yang sama, dunia akan menjadi lebih bahagia, menghindari perang, kelaparan dan perjuangan. Dunia akan menjadi sebuah rumah kecil milik sebuah keluarga besar, di mana perdamaian, keadilan, kesetaraan, dan kebebasan menang.

Prinsip-prinsip ini adalah perhatian utama kami, bahkan dalam hubungan emosional kami. Kami percaya bahwa kasih platonis, kasih yang mengarah kepada rohani  dan tidak pusing dengan keinginan daging. Itu semua… saat-saat, hari, dan tahun benar-benar indah. Kami remaja idealis. Kami punya hati, kepolosan dan rasa ingin tahu anak-anak. Utopia adalah impian kami, siang dan malam.

Aku ingat kami menghabiskan banyak malam dalam diskusi dan membaca. Keluarga saya punya apartemen lain selain yang kami tinggali. Itu bersembunyi untuk Basil dan aku. Kami biasa menghabiskan banyak waktu menulis, mendengarkan lagu-lagu favorit kami, dan membaca segala macam buku, yang diijinkan atau dilarang. Buku yang terlarang itu seperti buku-buku: Allah, Jangan Biarkan Aku ke surga jika itu ada Tembok-tembok! oleh Salah Jahin, tidak rokok atau obat-obatan, yang menarik hati kami.

Temanku Basil mengeluarkan banyak pertanyaan. Saya ingat dia biasa berkata Islam mengklaim bahwa Yudaism dan Kristianity adalah tidak sempurna, semua agama, termasuk Islam itu sendiri. Saya sering bertanya: “Bagaimana? Islam adalah satu-satunya agama yang dilindungi dan diawetkan.” Aku biasa mengutip ayat Kuran yang terkenal: “Kami, tampa ragu, menurunkan Utusan; dan Kami pasti akan menjaganya (dari korupsi)” (Surah 15:09.)

Dia sering mengatakan, “Kita percaya kata-kata ini karena kita adalah Muslim. Tidak salah satu dari kita mencoba untuk melihat ke kasus korupsi  dengan cara netral dan objektif, yaitu, “Apakah Elohim tidak menurunkan Taurat (Lima Kitab Musa) dan Zabour (Mazmur) dan Injil (Perjanjian Baru)?” Aku jawab, “Ya,” Basil lalu bertanya, “Apakah ada orang yang bisa mengubah atau memodifikasi kata-kata Elohim?”

Saya kutip kepadanya ayat-ayat yang menyatakan bahwa tidak ada modifikasi atau perubahan dalam kata-kata Elohim. Tidak ada manusia atau bahkan malaikat bisa melakukannya, karena Elohim adalah Mahakuasa (Omnipotent), Yang Mahakuasa, dan Mahakuat dan Dia bisa melindungi Buku-Nya.

Lalu Basil berkata, “Engkau percaya, bahwa Elohim adalah Omnipotent,  Mahakuasa, dan Mahakuat, dan tak seorang pun dapat mengubah kata-kata-Nya, maka bagaimana mungkin Dia membiarkan korupsi ini terjadi tidak hanya di salah satu Buku-Nya, tetapi juga di semua-Nya Buku kecuali satu [yaitu Kuran]?
Bagaimana mungkin Dia mengizinkan Perjanjian Lama dikirim [maksudnya Taurat] ke Musa menjadi rusak?
Bagaimana mungkin Dia mengizinkan Zabour (Mazmur) yang diturunkan kepada Daud untuk diubah?
Dan, setelah semua, bagaimana mungkin Allah membiarkan Injil (Perjanjian Baru) diturunkan kepada Isa [Yeshua] untuk diubah?
Apakah mungkin setelah hampir 600 tahun, enam abad seluruhnya – generasi yang hidup dan mati ada pada penipuan dan distorsi dari Kitab Suci – bahwa Elohim akan membawa Buku yang tidak seorangpun dapat merusaknya?

Semua tiba-tiba, Elohim yang Omnipotent, Mahakuasa, menjaga kata-kata dari korupsi Setelah sejarah panjang di mana Buku-Nya telah rusak dan hamba-hamba-Nya telah sesat, yaitu anak-anak Israel yang bangsa yang paling disukai Allah, dan para imam dan biarawan yang akan membaca Alkitab, menikmati apa yang benar, dan melarang apa yang buruk!

Apakah mungkin bahwa mereka semua sesat?
Dapatkah Anda bayangkan bahwa Elohim, yang tidak bisa melindungi Kitab-Nya dari korupsi, dan kerusakan, bisa melindungi para penyembah-Nya?”

Aku biasanya berpikir dengan diam, dan aku tidak memiliki jawaban. Aku tahu bahwa titik itu tidak untuk menemukan solusi atau jawaban untuk menyelamatkan Allah dari teka-teki yang Ia buat sendiri.

Sementara itu, aku tahu bahwa pertanyaan-pertanyaan Basil tulus dan logis. Aku tahu bahwa dia tulus dalam mencari Elohim dan bukan kesenangan duniawi. Dia sering menanyakan mengapa kita umat Islam menyatakan bahwa Kitab Suci telah rusak tetapi, pada saat yang sama, menegaskan bahwa Kuran n telah dijaga – seolah-olah hanya Kuran saja kitab Elohim.

Apakah Elohim suka memilih beberapa Buku di atas lainnya, atau nabi-nabi atas nabi lain?
Apakah Elohim tidak peduli tentang generasi manusia yang meninggal pada keyakinan palsu mereka, berpikir bahwa mereka benar?
Bagaimana mungkin Elohim membiarkan mereka mendedikasikan hidup mereka untuk mengikuti Kitab-kitab  dengan sepenuh hati hati jika mereka benar-benar rusak?

Saya tidak percaya bahwa Elohim yang benar akan membedakan antara Kitab-kitab-Nya atau nabi-nabi-Nya. Dia tidak akan membedakan antara orang Arab dan non-Arab kecuali tentang niat hati mereka. Oleh karena itu, kita harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya untuk orang Yahudi dan Kristen, tetapi juga kepada Elohim Yang Mahakuasa sendiri.

Aku merasa bahwa Basil selalu tulus dalam setiap kata katanya. Aku ingat bahwa kami menghabiskan banyak malam membaca tiga  Kitab – Taurat, Injil dan Kuran – mencoba untuk menemukan persamaan dan perbedaan di antara mereka. Kami memiliki waktu yang indah, meskipun secara mental dan emosional melelahkan. Netralitas dan objektivitas dalam penelitian belum pernah ada sebagai hal yang mudah. Tidak ada yang lebih mudah daripada untuk menyatakan agama tertentu benar atau salah tanpa pencarian yang sungguh, pencarian yang akan memuaskan para pencari dan juga Elohim.

Basil sering bertanya kepada saya, “Yang datang pertama, mata uang asli atau yang palsu?” Aku akan menjawab bahwa otentik yang datang pertama diikuti oleh yang palsu. Dia menjawab, “Itu logis, tapi bagaimana bisa Elohim membiarkan tiga Kitab pertamanya [Taurat, Mazmur dan Perjanjian Baru] menjadi rusak dan hanya menjaga Kitab keempat-Nya (Kuran) utuh? Apa standar yang kita gunakan untuk memeriksa korupsi: Kitab-kitab sebelumnya atau sesudahnya?” Basil menantang saya, “Maafkan saya, temanku, bagaimana seseorang yang mengijinkan Kitab-kitab-Nya dirusak meminta kita untuk mempercayai Kitab-Nya yang keempat?”

Bisakah kau percaya bahwa aku menerima pertanyaan-pertanyaan yang berani dari Basil tanpa merasa bahwa ia mengejek Elohim atau Kuran? Aku tahu bahwa dia benar-benar mengasihi Elohim dan menghormati orang lain. Dia hanya berpikir secara wajar, jujur dan objektif. Dia biasa berkata, “Di akherat, tidak ada sesuatu yang akan membantu kita tetapi kebenaran.” Basil akan mengeluarkan pertanyaan akal sehat seperti: “Bagaimana Kitab Suci dirusak? Kapan? Dimana? Dan siapa yang melakukannya?”

Semua ini ialah jenis pertanyaan yang tidak seorang Muslim, di masa lalu atau sekarang, peduli untuk mengerahkan usaha untuk menjawab. Masalah korupsi adalah sejelas siang hari bolong. Hanya orang bodoh yang tidak akan memperhatikan itu.

Temanku Basil lebih tertarik daripada saya dalam hal agama dan akhirat. Suatu malam, ketika kami duduk berbicara dan mendiskusikan banyak hal, tiba-tiba Basil dan aku punya ide pada waktu yang sama.  Idenya adalah untuk menulis sebuah buku kecil yang berisi prinsip-prinsip kami, mimpi, pikiran, dialog dan kenangan indah.

Ini adalah mimpi khusus yang dimulai pada malam tahun 1986 – sebuah malam untuk diingat! Judul buku ini adalah akan ada ”Kami Tidak Percaya.” Ide utamanya. adalah untuk menjelaskan apa yang kami tidak percaya dan mengapa. Saya ingat satu kalimat dari pendahuluan buku kecil itu: “Kami menawan kebiasaan kami, tradisi, perasaan umum dan –indera- indera yang tidak mampu ….”

Suatu hari, Basil datang menemuiku. Aku melihat sesuatu yang matanya belum pernah saya lihat sebelumnya. Dia tampak seperti seseorang yang membawa rahasia yang ia tak dapat tanggung lagi. Aku merasa bahwa matanya mengungkapkan rahasia itu, bahkan sebelum lidahnya bisa menceritakannyaK. Dia mulai berjalan mondar-mandir, berbicara seperti seseorang yang sedang berpikir keras dan tidak berbicara kepada saya secara khusus. Ini adalah pidatonya yang unik:

“Kau tahu bahwa untuk waktu yang lama aku telah mencari dan membaca semua Kitab Suci dan buku-buku sekuler. Saya selalu berusaha untuk tetap obyektif. Saya mencari apa-apa selain Elohim. Saya tidak punya niat untuk mengangkat suatu agama tertentu atas yang lain untuk alasan apapun.

Setelah sekian lama pada pencarian pelajaran dan tanpa tidur malam, mencari saat keselamatan dan hati seorang ayah untuk menyambut kembali anak yang hilang, saya harus memberitahu kamu bahwa jalan pencarian tidak cerah. Sebaliknya, berkali-kali aku merasa diriku tenggelam dalam banjir pertanyaan tanpa jawaban. Kadang-kadang aku akan meninggalkan objektivitasku dan hanya memeluk agama apapun, seperti orang tenggelam yang memegang jerami apapun, tapi aku tidak bisa menyangkal bahwa kekuatan Mahakuasa mengelilingi saya. Ketika saya mencapai titik dasar, benar-benar frustrasi, aku bisa merasakan sebuah harapan baru menyusup jiwaku, memberi aku kekuatan baru untuk mengangkatku dan membimbing langkah-langkahku dalam perjalanan pulang.

Setiap pagi, saya memperbarui komitmen saya untuk mencari tujuan dan untuk bertahan sampai aku menemukan kebenaran, untuk mendapatkan Elohim Tuhan yang akan mendamaikanku dengan surga, dengan diriku sendiri, dan dengan orang lainnya – semua orang lainnya, teman dan musuh juga. Aku sedang mencari Elohim yang bisa mengubah hatiku, bahkan membuat hati yang baru dalam hidupku – sebuah hati yang tahu bagaimana untuk memuji-Nya, memiliki rahmat, mengampuni, merawat, menyinari dan untuk mengubah dunia menjadi lebih baik!

“Apakah Anda percaya, temanku? Saya telah menemukan Elohim yang indah dan mulia! Dia adalah Juruselamatku, Elohimku, mahkotaku, kekuatanku, Tuhanku, penyebabku dan perjuanganku – Yeshua Ha Mashiah (Isa Al Masih)! ”

Aku tahu Basil sangat baik dan akrab dengan pemikiran progresif, tapi tetap aku kaget mendengar bahwa ia telah meninggalkan Islam untuk menjadi murtad. Teman dekat saya, yang saya kasihi, telah meninggalkan Islam dan menjadi kafir. Saya tidak bisa berbicara dengannya. Dia menyadari saya shock dan meninggalkan aku sendiri untuk mempertimbangkan kembali persahabatan kami dan pencarian pribadiku sendiri.

Aku khawatir dan merasa bahwa keraguan menyusup warisan keyakinanku. Aku merasa akar-akarku ditarik keluar. Aku berpikir dalam hati bahwa saya telah terperangkap oleh keraguan karena saya tidak belajar dan mengikuti agama saya sebagaimana seharusnya. Saya pikir jika saya mempelajari Islam dan memenuhi segala perintah dan aturan tambahannya, aku akan memiliki jawaban untuk semua pertanyaanku. Kemudian keraguan akan menghilang dari hatiku dan digantikan oleh sebuah keyakinan yang mendalam dalam Islam, agamaku juga sebagai ayahku. Setelah itu, aku akan mampu membimbing temanku Basil yang sesat dan telah menjadi kafir.

Nyatanya, aku pergi ke Basil dan menceritakan apa yang saya pikir. Aku terkejut mendengar jawabannya. Dia tidak menolak apa yang aku katakan atau tentang saya. Dia bahkan tidak marah. Sebaliknya, dia senang mendengar tentang temuanku seolah-olah dia ingin saya untuk belajar dan mengikuti Islam, dan menjadi seorang Muslim sejati dalam arti selengkapnya.

Basil benar-benar mendorongku ketika ia berkata kepadaku, Kebenaran bukanlah milik manusia, tetapi manusia milik kebenaran. Elohim tidak akan membiarkan seseorang yang jujur mencari Dia pergi tersesat. Oleh karena itu, saya tidak peduli tentang kamu, atau tentang diriku sendiri. Lanjutkan dengan rencana kamu dan ikuti Islam, dan semoga Elohim memberi kamu sukses. Tapi hati-hati, Mozafar; niat baik tidak cukup baik untuk mencapai pantai kebenaran. Niat baik bersama-sama dengan pencarian yang tidak bias dan adil, dikombinasikan dengan tekad rajin akan membawa kamu melalui keamanan. Elohim akan menunjukkan jalan, kebenaran dan kehidupan yang lebih baik ….

Jadi, saya memulai hidup komitmen yang ketat dan penelitian mendalam tentang Islam. Aku bergabung dengan sebuah kelompok Islam yang disebut “Group Para Leluhur.” Kami biasa untuk mengamati bersama semua sholat wajib di masjid, menghadiri pelajaran-pelajaran doktrin dan pergi keluar memanggil orang-orang muda untuk kehidupan komitmen Islam. Sesekali, saudara-saudara dan aku akan pergi pada retret selama beberapa hari, kadang seminggu, untuk menyembah dan berdoa di masjid-masjid lainnya di berbagai kota.

Kami biasa mengadakan kamp-kamp untuk membaca Kuran dan mendiskusikan masalah-masalah agama dan politik kontemporer yang relevan untuk kelompok kami. Kegiatan ini berada di bawah pengawasan dosen universitas dan profesional yang berpendidikan tinggi (dokter, insinyur, pengacara, guru, dll.). Walaupun ini komitmen baru dan perubahan besar dalam banyak aspek pada kehidupan lamaku saya di rumah, dengan tetangga saya dan teman-teman di sekolah, aku melarang diriku sendiri dari menonton TV, mendengarkan lagu atau segala bentuk kegiatan kenikmatan.

Aku biasa menyuruh ibuku dan sepupu-sepupu perempuanku untuk memakai kerudung lengkap (pakaian Islam bagi perempuan). Aku biasa memerintahkan semua teman-temanku untuk melakukan doa pada waktu yang tepat. Semua hubunganku berubah, kecuali persahabatanku dengan Basil. Kami ada pada kutub yang terpisah, terutama dalam keyakinan kami. Secara agama, dia adalah murtad kafir, tapi secara kemanusiaan, dia adalah satu-satunya temanku yang saya tidak bisa tinggalkan.

Ya, dia seorang kafir, karena ia menjadi Kristen, tapi ia masih jujur, tulus, setia dan penuh kasih terhadap semua orang. Aku sering berdoa kepada Allah untuk membimbing Basil kembali ke Islam. Aku ingat teman-teman seimanku di “Group Para Leluhur” selalu memintaku mengakhiri hubunganku dengannya melawan dia karena sekarang dia kafir. Pada waktu itu, Basil telah dikenal di kota kami bahwa ia telah menjadi seorang Kristen. Akibatnya, ia menghadapi banyak penganiayaan.

Meskipun demikian, saya selalu melihat Basil tetap teguh dan ramah. Dia bahkan menunjukkan kasih dan pengampunan terhadap para penganiayanya. Saya kagum dan terkejut pada saat yang sama. Aku punya begitu banyak pertanyaan yang merobek pikiran saya: “Bagaimana mungkin ia dapat penuh damai dan kasih, sebagai seorang kafir? Bagaimana mungkin dia tidak membalas mereka kejahatan ganti kejahatan – mata ganti mata dan gigi ganti gigi?”

Aku ingat bahwa ia sering berkata bahwa ia mengikuti langkah-langkah Mashiah, ia percaya, yaitu, mengasihi musuhnya dan mengampuni mereka yang menganiaya dia. Dihadpan kasih yang seperti itu, semua tahun komitmen Islamku dan fundamentalismeku, semua yang mengeraskan aku melawan hati dan cintanya, hancur berantakan.

Kasih ini telah menantang aku dan semua klaimku bahwa agamaku yang benar, bahwa Allah adalah Elohim alam semesta, bahwa kami umat Islam adalah bangsa terbaik di seluruh dunia dan bahwa Nabi kami, Muhammad, adalah meterai dari semua nabi dan rasul Elohim. Semua klaim ini tidak bisa berdiri di hadapan sungai kasih yang meluap-luap. Itu membuat saya lari kembali ke komitmen ritual saya, berharap bahwa suatu hari nanti aku akan berubah dan menjadi lebih kuat dari Basil dan Elohimnnya. Kemudian saya akan menghadapi mereka dan mengalahkan mereka.

Setelah dua tahun penuh berkomitmen Islam yang ketat dan pencarian yang tulus, aku mulai menemukan sesuatu yang mengguncang seluruh tubuhku dan membuatku ragu tidak seperti sebelumnya. Saya menemukan bahwa segala perintah ibadah Islam bukanlah hasil dari inspirasi surgawi; mereka semua ada di Arabia sebelum Muhammad dan Kuran. Saya juga menemukan bahwa ‘Syariah’ (hukum Islam) dan semua hukuman sudah dipraktekkan sebelum Islam. Banyak ajaran Islam diambil dari Taurat, seperti rajam bagi pezinah dan memotong tangan pencuri, dll.

Saya juga menemukan bahwa Kekristenan sejati benar-benar berbeda dari apa yang digambarkan oleh Islam. Islam menyerang Kristen, mengklaim bahwa orang Kristen percaya akan tiga Elohim dan bahwa Elohim menikahi Maria dan melahirkan Yeshua, anak Ilah-ilah (Gods). Islam juga mengklaim bahwa orang Kristen menyembah Yeshua dan Maria sebagai Ilah-ilah, keluar dari elohim yang benar. Saya menemukan bahwa semua hal ini benar-benar palsu. Mereka diambil dari takhayul yang berlaku di Arabia sebelum dan selama masa Muhammad.

Kekristenan yang sejati percaya pada satu Elohim enam abad sebelum Islam, dan membawa prinsip-prinsip luhur dan ajaran-ajaran yang tidak manusia dapat hadapi tetapi dengan penuh hormat. Setelah empat tahun belajar, diskusi, pencarian dan komitmen dalam “Group Para Leluhur,” dikombinasikan dengan banyak malam tanpa tidur dan mata menangis meminta Elohim untuk memimpin aku ke jalan yang benar, aku memutuskan untuk menghentikan dan mempertimbangkan kembali segala sesuatu dalam hidup saya. Di sisi lain, saya punya masalah lain. Aku berkomitmen untuk bergabung dengan kelompokku setiap hari di masjid doa dan studi. Bagaimana mungkin aku tiba-tiba drop out? Bagaimana aku bisa mencukur jenggot dan meninggalkan kode pakaian Islam (Galabia)? Dan aku memiliki banyak pertanyaan lainnya ….

Apa yang akan mereka pikir, mengingat bahwa saya memiliki hubungan dengan Basil, yang telah menjadi seorang Kristen? Mereka akan mengatakan bahwa saya juga, menjadi seorang Kristen seperti dia. Itu akan menyebabkan saya banyak kesulitan dan penganiayaan. Aku tidak punya pilihan selain untuk mengatasi ketakutan dan menghadapi kebenaran, dengan logika dan kebijaksanaan saat ini. Setelah empat tahun pencarian yang tekun, tidak punya pilihan selain menerima hasilnya, bagaimanapun itu mahalnya.

Jadi, saya menghentikan semua kegiatanku dan meminta Elohim untuk menunjukkan jalan yang benar. Pada saat itu, aku lebih ragu kepada Islam dan semakin yakin kepada Kristus. Selama empat tahun temanku Basil, tidak pernah berhenti menjelaskan semua hal dan permasalahan yang saya hadapi tentang kekristenan. Setiap hari ia akan, tanpa lelah dan penuh percaya diri, berbicara dengan saya tentang Kristus. Aku hampir siap untuk menerima Kristus sebagai Elohim dan Juruselamat, tapi ada sesuatu dalam diriku yang belum dapat memeluk iman ini. Aku masih belum dipenuhi dengan iman di dalam Kristus. Saya katakan kepada Basil bahwa saya tidak tahu alasan di balik itu.

Dia berkata, “Aku juga tidak tahu, tetapi apakah kamu percaya bahwa Elohim tahu segala sesuatu, dan Dia adalah satu-satunya Pribadi yang bisa menjawab kamu dan memuaskan semua rasa lapar kamu untuk kebenaran?” Kataku, “Ya.” Dia kemudian berkata, “Aku juga. Mari kita berdoa dan meminta Elohim untuk menyatakan diriNya kepada kamu dalam sebuah jalan yang jelas. Elohim yang kita percaya adalah nyata dan dekat. Dia mendengar doa kita dan berbicara dengan kita. Dia hidup dan dapat berinteraksi dengan kita. Dia bukanlah sebuah ilusi ….”

Saya setuju dengan Basil dan mulai berdoa, meminta Elohim dengan jelas menyatakan diriNya kepada saya, membimbingku dan memuaskan kehausanku untuk kebenaran. Suatu malam yang dingin di bulan Maret 1988, aku menghabiskan sepanjang malam berdoa dengan menangis sampai subuh. Aku mencurahkan isi hatiku dan semua empat tahun rasa sakit dan perjuanganku. Aku masih ingat pada malam itu, sebelas tahun yang lalu seolah-olah itu kemarin. Itu adalah malam yang paling Kudus setelah empat tahun kelelahan dan rasa tidak aman. Aku selalu berusaha untuk menyenangkan Elohim untuk merasa bahwa Dia ada bersamaku dan dekat dengan ku, bahkan hanya demi satu saat, namun semakin aku berkomitmen kepada Islam, sepi yang kurasakan; semakin aku taat, semakin khawatir saya menjadi; lebih saleh saya ada, semakin takut aku merasa. Empat tahun tanpa kedamaian, keselamatan atau keamanan. Klaim aku bahwa Allah Islam adalah lebih dekat kepada kita daripada diri kita sendiri tampaknya tidak berdasar.

Meskipun aku belum mengaku Mashiah (Al Masih) sebagai Elohim, aku hanya datang dekat kepada-Nya dan menyentuh ujung ajaran-ajaran-Nya. Dia mengangkat hati saya ke arah-Nya dan menggantikan tahun kemiskinan, kesepian dan kepahitanku. Dia mengisi aku dengan sukacita, damai sejahtera dan ketenangan tertentu yang saya tidak bisa jelaskan., sesuatu yang belum pernah saya alami sebelumnya dalam kehidupanku.

Pada pagi harinya, aku ingin lari ke semua anggota keluargaku, teman-teman dan kenalanku dan memberitahu mereka tentang harta yang saya temukan – Elohim yang sesungguhnya aku telah temukan di dalam Yeshua Ha Mashiah (Isa Al Masih) yang mengasihi aku sebelum aku mengasihi-Nya.

Aku berlari ke Basil dan menceritakan kisah hidupku seolah-olah dia tidak tahu itu. Dia mendengarkan sementara air matanya mengalir di wajahnya. Dia memuji Elohim untuk aku seperti seorang ibu menerima anaknya atau seorang ayah yang menunggu empat tahun untuk anak bungsunya  kembali.

Milikmu,
Mozafar

Bersambung ke Bab 4. Dari  Tanah Air Mashiah Anak-anak Ismail Akan Kembali

      Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

      Mark A. Gabriel: Izinkan saya memperkenalkan Anda pada Yeshua/ Yesus dan Muhammad.

      Kesaksian pribadinya ini diambil dari bukunya yang berjudul Jesus and Muhammad; Profound Differences and Surprising Similaritie. Bagian 1.

      Dr. Mark a. Gabriel adalah seorang bekas professor sejarah Islam pada Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Ia menguasai bahasa Arab Klasik, bahasa asli Kuran, mampu mengafal seluruh isi Kuran sejak usia 12 tahun.

       

      TUMBUH DALAM ISLAM
      Pada suatu hari yang indah di musim dingin di Mesir, udara terasa sangat dingin, dan matahari bersinar terang. Saya baru saja menyelesaikan sarapan di rumah di mana saya tinggal bersama Bapak, Ibu, Adik, Kakak, Kakek, dan Paman. Saya berusia lima tahun waktu itu, tetapi saya ingat hari itu secara jelas.

      Paman berkata kepada saya, ”Kita akan membaca Alkuran secara bersama-sama. Sudahkah kamu mengambil Kuranmu?” Segera saya mengambil sebuah buku tipis yang paman berikan pada saya. Itu bukanlah seluruh bagian Kuran tapi hanya sepertinganya.

      Paman saya baru saja lulus dari kampus Islam paling terkenal di dunia, Al-Azhar di Kairo. Dam usia ketiga puluh, dia sekarang adalah imam di masjid terbesar di daerah kami dan orang yang dihormati oleh semua Muslim saleh.

      Kami berjalan bergandengan tangan menyeberangi jalan ke kebun keluarga kami yang ditanami dengan anggur, buah ara dan pohon jeruk. Kebun itu berada setelah kanal dan saat kami duduk di pinggiran, kami dapat melihat pemancing, perahu dayung, dan petani membawa air untuk minum dan mandi kerbau mereka.

      Pamanku mulai membaca. Kata-kata yang akrab karena saya sering mendengar kata-kata itu sepanjang hidup saya di Masjid, radio, dan dari pembaca Kuran yang kami bayar untuk datang ke rumah kami. Paman saya membaca ayat pertama dari bab terakhir dari Kuran, kemudian dia meminta saya untuk mengulanginya kembali. Kemudan, saya melakukannya. Kemudian dia memperbaiki pengucapan saya dalam bahasa Arab klasik dan meminta saya untuk mengulanginya kembali. Saya melakukannya. Kami melakukannya beberapa kali saya mengingat ayat ini secara sempurna. Lalu kami menuju ayat yang kedua.

      Kami melakukan 3 sampai 4 ayat dengan cara ini. Lalu kemudian kami dihentikan. Orang selalu ingin bertanya kepada paman saya mengenai iman dan hukum Islam karena ia adalah salah satu dari sedikit sarjana yang tinggal di daerah kami. Saat saya menunggunya, saya bermain air di pinggir sungai. Kemudian dia memanggil saya, ”Kembali ke Ibumu dan minta dia menyiapkan kamu untuk pergi ke Masjid.”

      Saya berlari kembali ke rumah saya, dan saat saya sampai di pintu depan, saya mendengar kakek saya memanggil, ”Kemari, kemari.” dari kamarnya. Kakek saya sudah berusia 80 tahun dan menjadi buta. Saya sangat menyayangi dia, dan saya lari ke kamarnya dan mencium tangannya saat dia berbaring di tempat tidurnya. Lalu saya melompat ke tempat tidur dan memeluknya. Ia berkata, ”Katakan kepada saya apakah kamu sudah membaca Kuran?”
      Saya menjawab, ”Iya.”.
      Dia berkata, ”Ucapkan kepada saya.” Dan saya melakukannya.
      Dia sangat senang mendengarnya. ”Anak muda,” Dia berkata, ”Saya mengucap syukur kepada Allah untukmu. Kamu akan mengingat seluruh Alkuran. Kamu akan menjadi cahaya di rumah kita.” Saya mengangguk dan kemudian keluar dari kamar dan bersiap ke masjid. Hari itu adalah hari Jumat, hari khusus di Islam saat khotbah diberitakan di Masjid. Ibu saya membantu memakaikan baju putih dan peci–pakaian tradisional kami untuk pergi ke Masjid, Setelah paman saya siap, kami berjalan setengah mil ke Masjid bersama sekeluarga. Paman saya memberikan khotbah. Ayah saya, Kakak saya, dan saya duduk di barisan depan laki-laki. Ibu saya, Adik saya, dan saudara wanita saya duduk di belakang di bagian perempuan. Itu adalah yang saya ingat dari hari pertama saya membaca Alkuran.

      JALAN HIDUP
      Dari hari itu dan seterusnya, paman saya menjadi pembimbing saya. Dia mengajarkan saya hampir setiap hari.
      Saat berusia enam tahun, dia mengirim saya ke sekolah dasar Al-Azhar. Ada lima puluh sekolah dasar di provinsi kami. Tetapi, hanya ada satu sekolah dasar Al-Azhar. Ini adalah sekolah elit yang fokus kepada ajaran agama Islam. Tidak ada satupun dari saudaraku yang sekolah di sini, tetapi tidak ada yang iri atau marah tentang hal ini. Mereka hanya bangga dan merayakan apa yang saya capai. Orang mulai memanggil saya ”Kyai kecil”.

      Saya mengingat lebih dari apa yang sekolah minta. Akibat dari apa yang paman saya lakukan bersama saya untuk mengingat seluruh isi Kuran (yang hampir sama panjangnya dengan isi Perjanjian Baru) pada usia muda.

      Hampir setiap pagi, saya pergi bersama ayah dan paman saya untuk melakukan doa pagi di Masjid, yang mulai pada pukul 03.30. Dan selesai sekitar pukul 04.30 (tergantung dari waktu tahun itu). Setelah doa, Ayah dan Paman saya bisanya pulang ke rumah untuk tidur 2 jam lagi sebelum berangkat kerja. Saya biasanya tinggal di Masjid dengan Kuran saya. Sebelum saya memulai mengingat ayat baru, saya mencoba untuk mengingat ayat yang saya ingat 2 hari yang lau. Setelah saya yakin ingatan saya OK, saya mulai dengan ayat yang baru.

      Saya membaca ayat pertama dari sebuah bagian. Lalu saya menutup Kuran dan mengulangi ayat sembari berjalan dari ujung ke ujung ke ujung dari Masjid. Saat saya selesai dengan ayat pertama, saya membuka Kuran saya dan mulai mebaca ayat kedua. Saya teus melakukan ini sampai saya mengingatnya dengan baik.

      Saya sangat hati-hati untuk menjaga apa yang saya pelajari, jadi saya menghabiskan dua atau tiga hari dalam sebulan untuk mengulang. Jika anda bertanya kepada saya tentang apa yang sya ingat bulan lalu, itu semua ada di pikiran saya.

      SETELAH TUJUH TAHUN…
      Paman tidak hanya membantu saya mengingat, tetapi dia juga memastikan bahasa Arab klasik-bahasa asli dari Alkuran. Pembicara Arab rata-rata tidak bisa mengerti tipe bahasa ini dengan baik, dan mempelajari bahasa ini adalah bagian penting dari pendidikan agama.

      Selama 7 tahun paman mengajari saya, ayat demi ayat dan bab demi bab. Saat saya 12 tahun, saya telah selesai mengingat Quran. Menurut sistem belajar Al-Azhar, saya tidak perlu mengingat Kuran sampai saya menyelesaikan sarjana empat tahun di universitas. Jadi, saya yang masih sangat muda sudah dapat melakukannya.

      Tidak perlu dikatakan, keluarga saya sangat bahagia. Mereka mengadakan perayaan besar untuk seluruh kaum kami di sebuah aula yang besar yang dibangun untuk perayaan spesial kaum kami. Saya tidak akan pernah lupa, Kakekku yang buta ada di sana, memanggil saya, ”Anakku, d mana Anakku?” Saya berlari kepadanya, dan dia hanya memelukku, ia meneteskan air mata dari wajahnya.

      Dapat mempelajari Kuran membuat saya memiliki porsi hormat yang tidak biasa sebagai anak kecil. Orang meperlakukan saya sebagai orang suci karena saya membawa Kitab Suci di pikiran saya.
      Sejak saat itu, saya secara teratur membaca dan mengulang Alkuran untuk mnyakinkan saya tidak lupa apa yang sudah saya pelajari.

      SUKSES DI BEASISWA
      Saat saya memasuki sekolah menengah atas Al-Azhar, salah satu tugas utama kami adalah mengahapal bagian-bagian utama dari hadist.
      Banyak orang barat tidak tahu apa itu hadist, jadi ijinkan saya untuk menjelaskannya. Hadist, diucapkan ha-DEETH, adalah catatan dari pengajaran dan tindakan Muhammad. Catatan ini dicatat oleh murid-murid terdekatnya dan bahkan istri-istrinya. Contoh, sebuah hadist dapat menggambarkan bagaimana Muhammad berdoa, bagaimana dia menyeleaikan pertikaian antara 2 muslim, atau peristiwa yang terjadi seama peperangan. Beberapa hadist hanya satu kalmat panjangnya, sementara yang 1 atau 2 halaman. Biasanya, panjangnya sekitar 3 paragraf.

      Pengikut Muhammad sangat berdedikasi untuk menyimpan catatan apa yang dia lakukan atau katakan. Terdapat lebih dari setengah juta hadist! (untuk informasi lebih lanjut, lihat Appendix A [tidak dilampirkan pada tulisan ini]).

      Tentu saja, tidak ada di antara kami harus menghapal semua hadist. Tapi sekolah memiliki beberapa hadist pilihan untuk diingat setiap semester. Pada hari pertama dari kelas hadist, guru akan membagikan buku berisi hadist yang harus kami hapalkan selama semester itu. Terdapat beberapa ratus hadist di tiap buku.

      Kami menghapal 1 sampai 3 hadist per hari selama masa sekolah. Paman saya biasa mengajarkan saya untuk megingat beberapa hadist tambahan, dan saya mengingat beberapa hadist lainnya untuk diri sendiri. Paman saya mengajarkan saya untuk berkhotbah di Masjid, yang saya mulai lakukan dari waktu ke waktu walau saat saya masih di SMA. Setelah menyelesaikan SMA, saya telah menghapalkan kira-kira 500 sampai 600 hadist.

      Tidak perlu dikatakan, pendidikan agama d SMA sangat cermat. Saat siswa lulus dari SMA AL-Azhar pada usia 18 tahun, mereka dapat memimpin doa dan mengajar di Masjid tanpa pendidikan lebih lanjut.
      Saya adalah seorang Muslim yang taat pada waktu itu, hati saya hanya untuk mengikuti teladan Muhammad dalam apa yang saya lakukan.

      MEMASUKI UNIVERSITAS
      Setelah lulus SMA, kakak saya menyarankan saya untuk masuk di fakultas farmasi. Tapi, yang lainnya mendesak untuk melanjutkan ilmu agama saya. Jadi saya masuk ke Unversitas Al-Azhar di Kairo dan memilih belajar di fakultas bahasa Arab seperti paman saya, yang adalah pemimoin saya, lakukan sebelum saya.

      Siap saja dari latar belakang Muslim pasti tahu Universitas Al-Azhar karena itu adalah kampus paling terkenal di dunia Islam. Pengaruhnya susah digambarkan oleh orang barat karena tidak ada kampus di dunia barat dengan status yang sama. Kampusnya sangat besar-sampai 90.000 mahasiswa pada kampus-kampus yang tersebar di seluruh Mesir. Luar biasa tuanya, Masjid Agung di Al-Azhar diselesaikan pada tahun 972 dan proses akademis dimulai tiga setengah tahun kemudian. Memiliki pengaruh yang luar biasa besar dan media Islam menjulukinya sebagai ”otoritas Islam Sunni terbesar’’.

      Saya selalu menikmati belajar sejarah, jadi saya memilih jurusan sejarah dan budaya Islam. Saya ingin belajar lebih mengenai kesabaran, keberanian, dan komitmen Muhammad dan pengikutnya yang saya sangat kagumi.

      Pada hari pertama pelajaran, saya menerima pengenalan kejutan dari tipe pengajaran yang saya akan terima. Sheikh yang megajarkan pelajaran pertama hari itu adalah orang pendek dengan kulit gelap, kumis tipis, dan kacamata tebal. Dia mengatakan kepada kami, ”Saat saya mengatakan sesuatu, kamu harus menerimanya sebagai kebenaran. Saya tidak mengijinkan setiap bentuk diskusi. Apa yang tidak saya katakan, itu tidak layak dipelajari. Dengar dan taat, dan jangan bertanya satu pertanyaan pun.”
      Saya sangat terganggu dengan filosofi ini, dan saya berdiri untuk bicara. Sheikh segera menyadari hal tersebut karena saya duduk di baris kedua. Saya berkata, ”Tuan Sheikh, bagaimana bisa mengajar tanpa pertanyaan?”
      ”Dari mana engkau berasal, anak muda?”
      dia bertanya.
      “Dari Mesir.” saya menjawab, lupa bahwa saya jelas sekali adalah seorang Mesir.
      “Aku tahu-tapi dari mananya Mesir?”
      Saya menyebutkan nama kota saya., lalu ia menjawab dengan pedas, ”Jadi, kamu adalah orang tolol!” Dia mengatakan begitu karena orang dari daerah saya selalu melihat ke bawah.
      Saya menjawab, ”Ya, saya pasti seekor keledai untuk meninggalkan rumah saya untuk datang ke sini dan dihina!”
      Kelas menjadi sunyi. Saya bangun dari kursi saya dan menuju pintu untuk meninggalkan ruangan. Sheikh berteriak kepada saya, ”Stop! Kamu binatang! Siapa namamu?”
      ”Tidaklah sopan bagi saya untuk memberitahu Anda,” kata saya dengan dingin.
      Saat itu Sheikh menjadi sangat marah dan membuat saya keluar dari kampus dan mendepak saya ke jalanan. Saya meninggalkan ruangan dan menuju ke dekan fakultas. Saya memberitahu dia apa yang terjadi. Setelah Sheikh tersebut selesai mengaja, dekan memanggil dia ke kantornya.

      Dekan secara ahli menyakinkan Sheikh untuk memaafkan saya, dan dia juga membujuk saya untuk lebih toleran kepadanya. ”Terima dia sebagai figur Ayah. Ia hanya ingin untuk mengoreksi kamu, bukan untuk menghina kamu.”

      Kejadian itu memperkenalkan saya cara untuk diam dan penundukan yang diharuskan di Universits. Cara belajar kami adalah membaca buku yang ditulis ilmuwan besar Islam, baik modern maupun kuno. Lalu kami membuat daftar dari poin-poin kunci dari tiap buku dan menghapal poin-poin itu. Kami harus mengambil tes tertulis untuk setiap kelas, dan beberapa dosen akan memina sebuah laporam. Saya juga membaca literatur Arab tambahan dan puisi untuk kesenangan pribadi.

      Walaupun saya sudah tahu, saya masih sering bertanya kepada Professor apa yang tidak mereka sukai

      TERLALU BANYAK BERTANYA
      Sebagai contoh, saya bertanya kepada seorang Professor, ”Mengapa Muhammad memberitahu kita untuk hidup damai dengan orang Krisen, lalu ia menyuruh kita untuk membunuh mereka?’’
      Professor itu menjawab, ”Apa yang nabi katakan kepadamu, lakukanlah. Apa yang ia larang, jangan kamu lakukan. Saat ia membolehkan, kamu boleh malakukannya. Kamu bukan Muslim sejati jika kamu tidak tunduk pada perkataan Muhammad.”
      Saya bertanya kepada Professor yang lain. “Megapa nabi Muhammad boleh menikahi 13 wanita, dan kita perintahkan tidak boleh menikah lebih dari 4? Kuran berkata Muhammad hanyalah orang biasa, mengapa ia mempunyai hak ekstra?’
      Professor itu menjawab, ”Tidak. Jika kamu lihat secara saksama, kamu akan melihat Allah memberikan kamu hak lebih dari nabi itu sendiri. Allah mengijinkan kamu menikah tidak lebih dari 4, tapi kamu dapat bercerai. Jadi kamu dapat menikah 4 hari ini dan bercerai dengan mereka besok, dan menikah 4 lagi yang lain. Jadi kamu dapat memiliki jumlah istri tidak terhingga.”

      Bagi saya, ini adalah jawaban tidak logis. Khususnya karena ajaran Islam mengindikasikan Muhammad juga punya hak untuk bercerai. Muhammad memiliki banyak masalah dengan istrinya pada suatu waktu dan mengancam untuk menceraikan mereka semua.
      Saya juga pernah bertanya kepada Sheikh Omar Abdel Rahman, yang terkenal karena menjadi otak di balik serangan bom WTC pada tahun 1993. Saat saya di Al-Azhar, dia adalah Professor di kelas interpretasi Kuran.

      Ia memberikan kepada kami kesempatan untuk bertanya, jadi saya berdiri di depan 500 siswa dan bertanya, “Mengapa anda mengajarkan kami semua sepanjang waktu tentang jihad? Bagaimana tentang ayat lain di Kuran tentang kasih, damai, dan pengampunan?”

      Wajahnya langung berubah menjadi merah dan saya dapat melihat kemarahannya, tapi saya juga melihat ia memilih untuk mengontrol emosinya. Dia mengambil kesempatan untuk memperbaiki posisinya ”Saudaraku,” dia berkata, ”Ada sebuah surat bernama ’Rampasan Perang’. Tidak ada surat disebut ’damai’. Jihad dan pembunuhan adalah kepala dari Islam. Jika kamu memutuskannya, kamu memotong kepala dari Islam.” Jawaban yang saya terima darinya dan dari Professor lain tidak memuaskan saya.

      Beberapa orang menjuluki saya si pembuat onar, tetapi yang lain yang toleran, percaya bahwa saya tulus ingin belajar.
      Pada saat yang bersamaan, saya melampaui pendidikan saya. Setelah 4 tahun, saya lulus kedua terbaik di kelas dari 600 orang mahasiswa. Peringkat ini berdasarkan dari tes lisan dan menulis yang diberikan di setiap akhir tahun pelajaran. Tes lisan fokus pada mengingat Alkuran dan hadist, dan tes tertulsmeliputi subjek yang kami pelajari di kelas. Setiap tahunnya, anda dapat mendapatkan 1500 poin.

      GELAR S2 DAN MENGAJAR
      Sebelum saya dapat melanjutkan studi S2 saya, saya menghabiskan wajib militer di angkatan bersenjata. Seelah selesai, saya lanjt ke Al-Azhar, saya memutuskan pada titik ini tidak ada Professor atau Sheikh yang dapat menjawa pertanyaan saya. Saya harus mencari jawabannya sendiri. Melakukan penelitian thesis S2 saya adalah kesempata sempurna untuk itu.

      Saya tidak memberitahu siapapun apa yang harus saya baca, jadi saya harus mencari materi yang luas tentang Islam. Alih-alih menemukan bagaimaapun, say lebih kecewa dengan Islam tanpa pernyataan yang dilebih-lebihkan, saya dapa menceritakan sejarah Islam adalah kisah yang penuh kekerasan dan pertumpahan darah dari saat Muhammad sampai saat ini. Saat saya melihat pengajaran dari Muhammad dan Alkuran, saya dapat melihat saya berkembang dengan cara ini. Saya berpikir, bagaimana Yahweh dapat mengampuni orang yang menghancurkan kehidupan manusia sedemikian buruknya? Tapi saya menyimpan pertanyaan in untuk diri saya sendiri.

      Thesis S2 saya menghasilkan sedikit kegemparan. Saya mengekang diri saya untuk mempertanyakan pertanyaan Islam Tapi saya menyentuh isu kontroversi dari model pemerintahan dari semua negara Islam seharunya. Pemerintah Mesir menykai ide saya da mengatur penyiaran langsung dari thesis saya yang didukung oleh Alkuran di radio nasional.

      Dari luar, saya tampak begitu sukses. Pihak universitas meminta saya mengajar di bidang keahlian saya-sejarah dan budaya Islam. Saat berusia 28 tahun saya salah satu dari osen termuda yang mereka punya. Saya juga memimpin doa dan mengajar di sebuah Masjid di pinggiran Kairo. Bagaimanapun juga, di dalam hat saya masih mencari jawaban yang sesunggunhnya.

      Pada titik ini, saya tidak dapat mengontrol hidup saya lagi. Saya tidak dapat berhenti dan mencari ekerjaan lain. Kampus, keluarga saya, komunitas saya akan bertanya mengapa kamu akan melakukan ini? Tidak logis untuk meninggalkan semua pekerjaan ini. Saya tidak punya jalan untuk pergi tapi melanjutkan perjalanan ini, Saya mulai melanjutkan studi S3 saya.

      Bab 2. Meninggalkan Universitas
      Saya menghabiskan dua tahun melakukan penelitian S3. sementara waktu itu saya memiliki dua kewajiban utama. Saya mengajar untuk Al-Azhar baik Universitas Al-Azhar di Kairo dan di Universitas Islam lain diseluruh Timur Tengah. Dan saya adalah pemimpin sebuah Masjid kecil. Saya memimpin doa pertama, ke empat dan ke lima setiap hari. Dan pada Jum’at saya memberikan kotbah dan memimpin doa sepanjang hari.
      Saya suka mengajar dan bicara pada para mahasiswa. Setelah beberapa saat saya memulai cara baru mengajar: saya mengizinkan debar, dan saya membiarkan mahasiswa mengajukan pertanyaan. Hal ini adalah suatu hal yang berbahaya untuk dilakukan. Sebagai contog, saat saya mengajarkan tentang pemimpin awal dinasti Islam, kami sampai kisah Muawiya (Moo-uh-WEE-Yuh) dan anaknya, isi dari Thesis S2 saya. Muawiya adalah salah satu orang yang menuliskan wahyu Quran untuk Muhammad, yang tidak dapat membaca dan menulis. Dia menjadi pemimpin ke lima dari pemimpin dunia Islam stelah Muhammad. Sebelum meninggal, dia menyarankan anaknya untuk memburu dan membunuh 4 orang tertentu yang dapat mengancam kapasitas anaknya menjadi pemimpin Islam berikutnya. Anaknya menuruti sarannya; lebih jauh ia membunuh cucu Muhammad untuk mengamankan posisinya. Saya berkata pada para mahasiswa: “Mari lihat sudut pandang Allah pada situasi ini, kita perlu melihat secara belas kasihan dan kasih pada situasi ini”

      Saya ingin membentuk semangat baru dari kelas ini. Saya tidak diizinkan melakukan ini saat saya masih mahasiswa. Saya mau mereka berfikir bebas dan mengunakan intelektual mereka tanpa takut penolakan.

      Kebanyakan mahasiswa memiliki keinginan untuk berfikir kritis, seorang bertanya ”apakah hadist itu benar? Mungkin orang Yahudi yang membuatnya” saya membawanya melihat sumbernya dan menjawab ”itu asli, tidak palsu” jadi mereka hanya memiliki gagasan mengenai pertanyaan itu. Tapi mahasiwa radikal merasa saya menuduh Islam. ”Allah ampuni kamu!’ teriak mereka. ”kamu adalah profesor kami. Ajari kami mengenai Islam. Kamu membuat kami bingung”

      Mahasiswa ini pergi ke pimpinan universitas dan berkata ”professor ini berbahaya. Kita tidak tahu apakah ia masih seorang muslim atau telah murtad”

      Al-Azhar memiliki ketakutan yang besar terhadap pengaruh asing yang masuk dari dalam. Kepala departemen memanggil saya untuk menemuinya. Saya berfikir universitas mungkin telajh berfikir jelek terhadap saya. Tapi saya juga berfikir “professor ini kenal saya, mereka tahu hati saya dan keinginan untuk belajar. Mereka juga tahu pertanyaan saya tidak ada yang baru.”

      Dalam pertemuan kami, kepala departement mengetehui perkembangan pemikiran saya. Ia menjadi takut. ”Anak ku,” ia berkata ”kita tidak dapat berhadapan dengan isu ini dengan cara ini. Ada panduan dan kita harus tunduk. Kita tidak boleh berfikir lebih dari nabi atau Allah itu sendiri. Saat kamu bingung, katakan, ’ hanya katakan Allah dan nabinya tahu kebenaran’ pegang ini, dan teruskan hidupmu”. Tapi ia sadar saya perlu berhadapan dengan masalah ini.

      Saya kemudian dipanggil pada pertemuan laiinya dengan komite universitas untuk pelaksanaan kebijakan. Awalnya pertemuan berjalan lancar. Mereka tidak mau saya keluar dari universitas dan mengeritik Islam.

      Pada awalnya, mereka menunjukan pengendalian. Mereka bertanya mengenai hidup saya, rumah dan keluarga. Lalu mereka bicara mengenai kelas dan siswa. Akhirnya mereka menegur saya: ”Mengapa kamu bertanya seperti itu? Tidak tahu kah kamu harus memperlakukan hal ini seperti yang telah kita pelajari? Kamu tau banyak hal, tapi tidak penting berapa banyak yang kita tahu, kita akan akan jauh dari kebenaran. Harap tertib. Bicara mengenai apa yang kamu ketahui. Saat kamu bergumul, katakan. ”Allah dan nabinya tahu”

      Mereka bertanya, ”Apakah kamu telah belajar (dari buku) Pedang di leher orang yang tidak percaya? Seperti kami minta? Ini adalah buku yang memanggil semua muslim untuk menerima pengajar Muhammad tanpa bertanya.” Saya menjawab, ”Saya sudah membacanya sering kali, saya hampir menghapalnya seperi Alkuran”.
      Pada titik ini, saya sudah memilih. Saya tidak dapat lagi menyangkal setiap kesalahan, setuju untuk mengajar dengan cara tradisional, dan itu akan baik baik saja. Sebaliknya, saya mengatakan kepada mereka apa yang sebenarnya saya pikirkan. Saya menjawab: ”Dengar, apa yang saya katakan pada kalian sekarang bukan karena saya ingin menuduh Islam atau sang nabi. Saya percaya ini kuat di dalam hati saya. Kamu semua kenal saya. Kamu mengasih saya. Tolong jangan tuduh saya. Hanya tolong bantu saya dan jawab pertanyaan saya.

      ”Kita mengatakan Alkuran langsung dari Elohim, tapi saya ragu itu, saya lihat itu adalah pemikiran manusia, bukan kata-kata Elohim yang sebenarnya.” Suasana pertemua berubah. Seorang pria berubah marah, dia bangun dari kursinya, berdiri didepan saya, dan berkata ”Kamu penghujat” dia membentak ”saya bersumpah, ibumu adalah bajingan.” saya bisa lihat di wajahnya, jika saja tidak dalam pertemuan dengan banyak orang, dia pasti sudah membunuh saya saat itu. ”Keluar!,” perintahnya.

      Saya berdiri dan keluar. Pada saar itu seluruh tubuh saya bergetar, dan saya berkeringat. Saya khawatir. Akankah mereka membunuh saya? Bagiamana? Kapan? Siapa? Apakah keluarga saya yang akan melakukannya? Orang dari masjidku? Mahasiswaku?

      Ini adalah saat paling mengerikan dalam hidup saya.
      Saya meninggalkan pertemuan dan kembali kerumah. Saya tidak mengatakan sesuatu kepada keluarga saya mengenai apa yang terjadi., tapi mereka bisa lihat saya sedih tentang sesuatu. Saya tidur lebih awal malam itu

      PERJALANAN KE PENJARA
      Jam 3 pagi hari yang sama, ayah saya mendengar ketukan di pintu rumah kami. Saat ia membuka pintu, lima belas atau dua puluh pria masuk membawa senjata Kalashnikov Rusia. Mereka berlari ke atas, dan ke seluruh kamar, membangunkan orang dan mencari saya.

      Salah seorang dari mereka menemukan saya tidur di kamar. Seluruh keluarga kami bangun, meratap dan ketakutan, saat orang orang itu menyeret saya keluar dari pintu depan dan medorong saya duduk di belakang mobil dan mengemudikan mobil menjauh. Saya kaget, tapi saya sadar ini adala hasil dari apa yang terjadi di universitas hari sebelumnya. Saya dibawa kesuatu tempat seperti penjara. Dimana saya di taruh di sel beton bersama tahanan lainnya.

      Pagi harinya orang tua saya dalam ketakutan mencoba mencari apa yang terjadi pada saya di kantor polisi. Segera mereka tiba di kantor polisi dan bertanya ”Dimana anak kami?” tapi tidak ada yang tahu sesuatu tentang saya.
      Saya ditangan polisi rahasia Mesir.

      DITUDUH MENJADI KRISTEN
      Selama tiga hari penjaga tidak memberi saya makan dan minum.
      Pada hari ke empat interogasi dimulai. Selama empat hari kedepan tujuan dari polisi rahasia ialah untuk membuat saya mengaku meninggalkan Islam dan menjelaskan bagaimana itu bisa terjadi. Pola mereka ialah membiarkan saya sendiri siang hari dan membawa saya keluar sel pada malam hari untuk interogasi.

      Malam pertama pertanyaan dimuali di ruangan dengan meja besar. Sang interogator duduk di belakang meja dengan rokok di tangan, dan saya duduk di sisi lainnya. Dia yakin saya sudah murtad menjadi Kristen. Jadi dia terus mendesak saya, ”dengan Pastor siapa kamu bicara? Gereja apa yang kamu kunjungi? Mengapa kamu menghianati Islam?”
      Dia melakukan lebih dari bicara. Saya memiliki luka bekas terbakar di tangan, lengan dan wajah dari rokok dan korek apinya.
      Dia ingin saya mengaku telah murtad, tapi saya berkata: ”Saya tidak menghianati Islam. Saya hanya mengatakan apa yang saya percayai. Saya seorang pria terdidik, seorang pemikir, saya punya hak untuk berdiskusi tentang apapun dari Islam. Ini adalah bagian dari tugas dan kehidupan akademis saya. Saya tidak punya mimpi murtad dari Islam-itu ada di dalam darah saya, budaya saya, bahasa saya, keluarga saya dan hidup saya. Tapi jika kamu menuduh saya murtad dari Islam dari apa yang saya katakan padamu, maka bawa saya keluar dari Islam. Saya tidak keberatan keluar dari Islam”

      Penjaga menarik saya dan membawa saya kembali ke sel untuk sehari. Teman satu sel saya berfikir saya sedang dihukum karena menjadi Islamacist, memberikan sebagian makanan dan minumanya.
      Malam berikutnya saya di bawa ke kamar dengan ranjang besi di dalamnya. Penjaga selalu menyumpah dan menghina saya, mencoba mendapatkan pengakuan dari saya. Mereka mengikat saya di ranjang dan memuku kaki saya dengan cambuk sampai saya kehilangan kesadaran.

      Saat saya sadar. Mereka membawa saya ke dalam tangki kecil berisi air es dingin. Mereka memaksa saya masuk kedalamnya, dan tidak lama sebelum akhirnya saya tidak sadar lagi. Saat saya bangun saya sedang terbaring kembali di ranjang dimana mereka memukul saya, masih dengan pakaian basah.

      Saya menghabiskan hari lainnya di sell dan pada sore berikutnya saya dibawa keluar belakang gedung. Saya melihat sel beton kecil tanpa pintu dan jendela. Sat satunya jalan masuk ialah atap diatasnya. Penjaga memaksa saya memanjat tangga untuk sampai diatas dan memerintahkan saya: ”Masuk!”

      Saya meluncur masuk ke dalam dan merasakan air di seluruh badan. Tapi saya terkejut, kaki saya menginjak permukaan padat. Air cuma sampai bahu saya. Lalu saya melihat sesuatu berenang di air: tikus-tikus. ”pria ini adalah pemikir muslim” mereka berkata ”jadi kami akan membiarkan tikus-tikus memakan kepalanya”.

      Mereka lalu menutup atap, dan saya tidak dapat melihat apapun. Saya berdiri ditengah air dan menunggu dalam gelap. Menit berlalu, lalu jam-jam berlalu. Besok paginya penjaga datang untuk melihat apakah saya masih hidup. Saya tidak akan melupakan pemandangan matahari saat atap dibuka. Sepanjang malam tikus-tikus berjalan disekujur pundak dan kepala saya. Tapi tidak ada satupun yang mengigit saya. Penjaga lalu membawa saya kembali ke sel dengan muak.

      Malam terakhir penjaga membawa saya ke pintu dari ruangan kecil dan berkata ”ada seorang yang sangat mengasihimu dan ingin betemu denganmu.”

      Saya berharap itu adalah salah satu anggota keluarga saya atau teman yang mengunjungi untuk mengeluarkan saya dari penjara. Mereka membuka pintu ruangan itu, dan di dalamnya saya melihat anjing besar dan tidak ada yang lain di sana. Mereka lalu mendorong saya dan menutup pintunya.

      Di dalam hati saya menangis kepada Pencipta saya ”Kamulah Yahwehku, Kamu yang menjaga ku, bagaimana bisa Kau membiarkan aku ada di tangan yang jahat? Aku tidak tahu apa yang orang coba perbuat padaku, tapi aku tahu Kau selalu sertaku, dan suatu hari akukan melihat MU dan bertemu dengan ENGKAU”

      Saya berjalan ke tengah ruangan kosong dan perlahan duduk bersila. Anjing itu menghampiri dan duduk di depan saya. Beberapa menit lamanya anjing itu memperhatikan saya.
      Anjing itu kemudian bangun dan mulai berjalan mengelilingi saya, seperti binatang hendak makan sesuatu. Lalu ia datang di kanan saya menjilati telinga saya dan duduk. Saya sangat lelah. Setelah anjing itu duduk beberapa saat, saya tertidur.
      Saat saya bangun, anjing itu berada di sudut ruangan, dia berlari mendekat dan duduk di kanan saya lagi.
      Saat penjaga membuka pintu, mereka melihat saya sedang sholat, dengan anjing duduk di sebelah saya. Mereka mulai sangat bingung tentang saya.

      Itu adalah hari terakhir pemeriksaan. Saya dipindahkan ke penjara permanen. Pada titik ini, di hati saya, saya menolak Islam sepenuhnya. Selama waktu itu keluarga saya mencoba mencari saya.sampai kakak ibu saya, yang merupakan orang penting di parlemen Mesir, kembali dari perjalanan luar negri, ibu saya menelpon dia, menangis dan berceria: “selama dua minggu, kami tidak tau dimana anak kami, dia hilang.” Pamanku punya kenalan yang tepat. Limabelas hari stelah aku diculik, dia datang sendiri ke penjara dengan surat pelepasan dan membawa saya ke rumah.

      PERUBAHAN KECIL
      Beberapa orang mungkin berkata, ”tidak heran orang ini meninggalkan Islam, dia sedih karena telah disiksa oleh muslim”. Ya itu benar. Saat saya disiksa atas nama melindungi Islam, saya tidak membuat perbedaan antara muslim dan pengajaran Islam. Jadi penyiksaan adalah dorongan terakhir yang memisahkan saya dari Islam.

      Tapi faktanya, saya telah mempertanyakan Islam selama bertahun-tahun sebelum di penjara. Pertanyaan saya bukan berdasarkan kelakuan Muslim, tapi tindakan Muhammad dan pengikutnya dalam pengajaran Kuran. Berada di penjara hanya mendorong saya sedikit lebih cepat ke mana saya sudah melangkah.
      Saya pulang kembali ke rumah orang tua saya untuk memikirkan apa yang akan saya lakukan selanjutnya.
      Lalu polisi itu memberi ayah saya laporanan:
      Kami telah menerima sebuah fax dari Universitas Al-Azhar yang menuduh anakmu meninggalkan Islam. Tapi setelah pemeriksaan lima belas hari kami tidak menemukan bukti yang mendukung itu.

      Ayah saya lega mendegar itu. Dia tidak pernah bermimpi anaknya meninggalkan Islam. Dan saya tidak menceritakan perasaan saya sesungguhnya. Dia menghubungkan seluruh kejadian dengan tingkah buruk beasiswaku bagian dari orang di universitas. Saya meyakinkannya untuk percaya itu. ”Kita tidak butuh mereka,” katanya. Dan ia meminta saya untuk segera mulai bekerja sebagai direktur penjualan untuk pabriknya. Dia tidak pernah mengerti kegelisahan dalam hati saya.

      Bab 3. Hari aku melihat Yeshua / Yesus dan Muhammad Berdampingan
      Waktu itu saatnya doa pagi (sekitar jam 3 pagi), dan saya dapat mendengar suara orang rumah bangun untuk bersiap. Saya juga ikut bangun, tapi tidak berniat meninggalkan kamar saya.

      Sudah beberapa bulan berlalu sejak saya lepas dari penjara, dan saya tidak berdoa di masjid lagi. Sebagai ganti pergi ke masjid, saya duduk di tempat tidur, atau di meja, berdoa agar Elohim yang sejati menyatakan diriNYA pada saya, Yahweh yang membuat saya tetap hidup di penjara. Terkadang saya tidak tau harus berdoa apa, saya hanya duduk dan menangis. Kenangan dari penjara kerapa datang kembali ke pikiran saya.
      Ibuku mengetuk pintu dengan lembut. ”Apakah kamu akan ke mesjid hari ini ?” dia bertanya.
      ”Tidak” Aku berkata . ”Aku tidak mau bertemu siapapun.”
      Dalam adat istiadat Islam, jika kamu berdoa di dalam kamar, iman mu tidak akan dipertanyakan karena kamu masih berdoa kepada Allah, yang artinya kamu masih seorang muslim. Keluargaku berfikir aku hanya memerlukan waktu untuk membaik. Mereka berfikir aku hanya tidak mau berada diantara banyak orang .

      PERGUMULAN DALAM DIRIKU
      Saya keluar dari penjara dengan rasa marah pada Islam tapi yakin pada kekuatan yang mahakuasa yang membuat aku tetap hidup. Tiap hari, dahagaku unbtuk menemukan Yahweh ini meningkat. Setiap hari aku bertanya pada diriku, siapakah Yahweh ini? Saya tidak pernah berfikir Yahweh dari orang Kristen atau Yahudi. Kenapa? saya masih terpengaruh oleh Alkuran dan pengajaran Muhammad. Alkuran mengatakan orang Kristen menyembah tiga Elohim – Elohim Bapa, Yeshua, dan Maria ibu Yeshua. Saya masih mencari satu Yahweh sejati, bukan tiga. Dan Alkran berkata bahwa Yahudi adalah orang jahat kerena merubah kitab suci. Jadi saya tidak melihat ke Yahweh mereka.

      Ini memaksa saya melihat agama dari timur jauh – Hindu dan Budha . saya sudah belajar tentang agama ini saat melakukan studi S1 saya, dan saya masih menemukan banyak buku untuk mempelajari tentang mereka. Apakah dia Yahweh dari Hindhu? Saya berfikir. Apakah dia Yahweh dari Budha? Setelah penelusuran saya, saya menyimpulkan, Tidak.

      Saat saya ingin berfikir, saya akan duduk dipinggiran kanal dan melihat ke air. Air, tanaman hijau, langit, alam-ini memberikan saya harapan pada sebuah jawaban dari pertanyaan saya.

      Setiap hari setelah bekerja dengan ayah saya, saya kembali kerumah dan makan malam dengan ibu, ayah, dan dua adik laki-laki yang belum menikah. Setelah makan malam pada hari kamis, sudah menjadi kebiasaan bagi saya untuk bercerita kisah dari hadist, yang sangat disukai oleh adik saya. Saya berhenti melakukan semua ini setelah saya keluar dari penjara. Adikku selalu bertanya, ”Kenapa kamu tidak menceritakan pada kami kisah-kisah lagi?”

      Setelah menyelesaikan makan malam, saya pergi keluar untuk menghabiskan waktu bersama teman. Kadang saya duduk di kafe, memainkan domino atau catur. Kadang saya menonton olah raga di tv. Kadang kami berjalan dipinggiran sungai nil.

      Saya akan kembali kerumah setelah merasa lelah sekitar jam sebelas malam atau tengah malam. Saat saya sendirian, saya seperti orang paling tidak punya harapan didunia karena saya belum menemukan siapa itu Yahweh. Saya menghabiskan satu atau dua jam tiap malam mencoba untuk tertidur. Lalu saya bangun lebih awal seperti biasa. Tubuh saya sangat lelah. Saya mulai terkena sakit kepala berat.

      Saya beberapa kali pergi ke dokter untuk scan otak. Sepanjang waktu, sakit kepala itu tidak menghentikan saya dari pekerjaan dan aktivitas saya. Jika saya sibuk, saya dapat melupakannya. Tapi jika saya sendirian pada malam hari, mencoba untuk tidur, sakitnya sangat kuat. Dokter meresepkan analgesik yang harus saya minum setiap malam.

      RESEP BARU
      Saya mengalami hal ini sekitar setahun. Suatu hari sakit kepalanya sangat berat, jadi saya pergi ke apotik untuk mendapatkan obat lagi. Seperti kebanyakan apoteker di Mesir, dia (wanita) adalah seorang Kristen. Saya sudah sering bertemu dengannya untuk waktu yang lama, jadi saya nyaman berbicara padanya. Saya mulai mengelu, ”Obat – obatan ini tak lagi bekerja seperti dulu!”.

      Dia menjawab, ”Kamu ada pada titik yang berbahaya. Kamu mulai ketagihan pada obat-obat ini. Kamu tidak hanya meminumnya untuk rasa sakit. Kamu meminumnya karena tidak dapat berhenti.”

      Dia bertanya secara lembut, ”Apa yang terjadi pada hidupmu?” . dia tau keluarga saya cukup terhormat dan saya lulus dari Al-azhar. Saya mengatakan padanya saya mencari seorang Adonai /Tuhan/ Lord. Dia terkejut. “Bagaimana dengan Allah dan agama mu?” dia berkata. Lalu saya menceritakan padanya kisah saya.

      Dia mengambil sebuah buku dari bawah konter dan mengatakan perlahan, “Saya akan memberikan kamu buku ini. Sebelum kamu minum obat kamu malam ini, coba membacanya sedikit. Lihat bagaimana hasilnya.”

      Saya mengambil tablet disatu tangan dan buku ditangan lain. Itu adalah buku dengan kulit hitam dengan kata ”ALKITAB / KITAB SUCI” dalam bahasa Arab didepannya. ”OK. Aku akan mencobanya”. Saya keluar dari toko dan balik sampul buku menghadap tubuhku sehingga namanya tidak kelihatan. Lalu saya berjalan kembali ke rumah dan masuk kekamar saya. Itu adalah pertama kali dalam hidup saya membawa sebuah Alkitab. Usia saya 35 tahun waktu itu. [Di Mesir, tindakan wanita ini tergolong sangat berbahaya, jika Mark Gabriel protes atau seorang Muslim lainnya melihat perbuatannya tersebut, wanita ini bisa masuk penjara yang berakibat dihukum mati, namun “kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan!”]

      MEMBACA ALKITAB
      Itu adalah malam pada musim panas, sekitar jam sepuluh malam. Sakit kepala saya begitu berat, tapi saya tidak meminum obat. Saya menaruh mereka dimeja, dan saya melihat ke arah Alkitab. Saya tidak tahu harus memulai darimana, jadi saya hanya membiarkannya terbuka. Ini adalah Alkitab kepunyaan apoteker itu, dan saya mengetahuinya dari catatan dilembar Alkitab. Halaman yang terbuka adalah Matius 5.
      Saya mulai membaca khotbah Yeshua dibukit. Saya melihat gambaran-Yeshua dibukit mengajar kerumunan orang disekitarnya. Saat saya terus membaca, saya lupa bahwa saya masih dirumah. Saya tidak dapat merasakan sekitar saya. Saya tidak sadar akan waktu. Alkitab membawa saya dari satu kisah kepada kisah yang lain di Injil Matius.

      Otak saya mulai bekerja seperti komputer. Dari buku didepan saya, saya melihat gambaran dari Yeshua. Dipikiran saya, saya melihat gambaran dari Muhammad. Otak saya tidak berhenti melakukan perbandingan. Otak saya penuh dengan Alkuran dan kehidupan Muhammad jadi saya tidak perlu usaha untuk mengingat mereka kembali. Itu sudah ada disana.

      Saya terus membaca Alkitab tanpa ingat waktu sampai saya mendengar adzan dari mesjid.

      BACA BERSAMA SAYA
      Pembaca yang budiman, kita sampai pada saat pada hidup saya yang saya ingin anda ketahui. Jika anda ingin mengetahui apa yang terjadi pada diri saya setelah malam itu, anda dapat membacanya pada akhir buku. Tapi saya ingin berhenti disini sementara dan mengulang situasi bersama anda.
      Sebelumnya saya, seorang sarjana yang menghabiskan tigapuluh tahun mempelajari Islam dan kehidupan Muhammad. Saya tidak hanya mempraktekkan ajaran Islam; saya menghapalnya. Sekarang saya mamiliki sebuah Alkitab didepan saya yang memperkenalkan saya pada Yeshua.

      Pada halaman – halaman yang akan anda baca, saya ingin anda mengalami apa yang saya lihat pada malam dikamar saya di Mesir dan apa yang saya terus temukan sebelas tahun belakangan ini.tidak ada teologi, komentar-komentar, kata kata khayalan. Saya tidak mempunyai seseorang yang membantu menafsirkan “arti dari Alkitab”. Saya hanya membaca apa yang dikatakan Alkitab langsung kepada saya. Saya tidak perlu seseorang mengatakan pada saya ”ini yang dimaksudkan oleh Muhammad” saya mengingatnya langsung dari sumber aslinya.

      Izinkan saya memperkenalkan anda pada Yeshua /Yesus dan Muhammad.

      [Artikel kesaksian ini selesai sampai di sini. Jika Saudara dan Saudari ingin membaca kelanjutannya silahkan baca pada situs-situs di bawah ini. Terima kasih untuk pengertian Anda. Hormat saya, Penjala Baja]

      Daftar isi dari lanjutan buku di atas ialah:
      BAGIAN 2
      KEHIDUPAN YESUS DAN MUHAMMAD
      BAGIAN 3
      WARISAN MEREKA
      DALAM PERKATAAN DAN PERBUATAN
      BAGIAN 4
      KONKLUSI
      Lampiran A
      Sumber informasi tentang Yesus dan Muhammad

      Buku Yeshua /Yesus dan Muhammad versi Indonesia bisa dibaca lengkap pada situs:

      Jesus versus Muhammad
      Yesus dan Muhammad, pdf

      Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

      • Kalender

        • Desember 2017
          M S S R K J S
          « Nov    
           12
          3456789
          10111213141516
          17181920212223
          24252627282930
          31  
      • Cari