Pemimpin Gereja Setan di Houston Diselamatkan secara radikal dan Dibaptis

Apakah Aku sungguh-sungguh menginginkan kematian orang fasik? firman Elohim YAHWEH; dan bukankah sebaliknya bahwa dia seharusnya berbalik dari jalan-jalannya, dan hidup?” (Yehezkiel 18:23, Tanakh 1917)

Pendiri sebuah gereja Setan di Texas telah berpindah ke Kristianiti.

Jacob McKelvy, sebelumnya dikenal sebagai Jacob No, adalah penggerak dalam persatuan kelompok ”para Penyembah Lucifer (Luciferians)” untuk membentuk sebuah gereja Lucifer.

”Saya terlahir dan bertumbuh sebagai orang Mormon, jadi saya telah mengerti apa Yeshua Ha Mashiah adalah dan apa Elohim adalah [sesuai ajaran Mormon; sebuah sekte Kristen yang berbeda dengan ajaran Alkitab. Mormon memiliki kitab sucinya sendiri]. Ketika adik perempuannya meninggal karena dipatuk ular, ia merasa hilang harapan dan kekuatan hidup. Ketika Luciferianisme (doktrin Penyembah Lucifer) berkata bahwa ”kamu adalah Elohim bagi dirimu sendiri,” ia merasa sangat tertarik dan menjadi pengikut Lucifer. [Itu adalah salah satu tipuan Setan, puluhan trik Setan bisa dibaca di sini]

Baca juga:

Bersama istrinya, Michel yang sebelum menikah adalah anggota senior Penyembah Lucifer, pada tanggal 30 Oktober 2015 membuka ”Gereja Lucifer Yang Lebih Besar” (The Greater Church of Lucifer) di Houston. Tanpa mereka rencanakan, ”gereja” yang mereka buka menjadi besar sehingga banyak orang Kristen di sekitarnya mengadakan protes menentang gereja setan tersebut, bahkan sebuah gereja Kristen di Afrika sempat mengadakan peperangan rohani melawan keluarga McKelvy tersebut.

[Gereja Yeshua di Houston bangkit – bersyafaat; Jacob dan istrinya bertobat dan keduanya dibaptis pada hari yang sama]

Pendeta Robert Hogan dari Gereja Musim Semi Petama (Spring First Church) mendorong anggota jemaatnya untuk berdoa syafaat sebagai ganti aksi protes.

”Saya tidak akan kesana berdemonstrasi,” Pendeta Hogan berkata kepada jemaat Elohim saat bicara di depan mimbar Gereja. ”Dapatkah saya katakan sesuatu pada kalian: tidakkah kamu akan pergi kesana berdemontrasi? Jika kalian ingin berdemo, berdemolah pada dengkul-dengkul kalian (aka: berlutut berdoa),” ia menambahkan.

”Saya percaya saja bahwa Elohim dapat membangkitkan sebuah kebangunan rohani pada gereja tersebut,” pendeta ini menyakinkan jemaat.

Kemudian pada bulan Agustus 2016, Jacob McKelvy berjalan masuk ke dalam Gereja Musim Semi Pertama, dan bertanya kepada orang di situ untuk dipertemukan dengan Pendeta Hogan.

Sayang, pendeta tidak ditempat. Namun pendeta ini menelpon Jacob. Percakapan di telpon berlanjut dua jam, kemudian mereka berjanji untuk bertemu muka.

Tanggal 11 Agustus, mereka bertemu muka. Pertemuan langsung tersebut berlanjut empat jam, diakhiri dengan Jacob menyerahkan kehidupannya kepada Yeshua Ha Mashiah.

Komentar Jacob pada pertemuan tersebut, ”Saya harus katakan (pendeta) Robert kemungkinan satu dari orang-orang terbaik yang saya pernah bertemu di dalam kehidupanku, dia sungguh menghargai orang.” Lihat video proses pertobatan dan baptisan selam mereka, sungguh mengharukan dan luar biasa menakjubkan: POWERFUL REAL Ex Luciferian Satanist Jacob Mckelvy and wife SAVED – Testimony

[Kehidupan keluarga McKelvy yang baru]

Menyadari dan mengalami sendiri kuasa dan kasih Elohim yang besar atas hidupnya, ia berkata tidak ada alasan lagi untuk tidak mengakui Yeshua sebagai Elohimnya.

”Kuasa dan damai dan kepenuhan yang saya rasakan saat-saat ini jauh lebih bersar dari pada apa pun yang pernah saya rasakan sebelumnya,” Jacob berkata.

”Saya telah menciptakan sebuah gereja  untuk menghancurkan dokma agama (Kristen) dan Dia tetap mengasihi saya. Jadi jika Dia dapat tetap mengasihi saya, bagi saya untuk berada di sini hari ini berbicara kepada Anda maka tidak dapat beralasan lagi.”

Jacob, di dukung oleh Michel, istrinya, ia sekarang berbicara di gereja-gereja untuk membuktikan kuasa doa dan kuasa kasih kasih Elohim.

CBN.com mewawancarai Jacob: Ex-Satanist Radically Saved and Baptized by Charlene Aaron (CBN.com, 15/3/2017)

Baca lebih lanjut

Iklan

Martir Ha Mashiah / Kristus dan Empat kata yang menghentikan pertarungan Gladiator Romawi selamanya

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” – Yeshua Ha Mashiah (Matius 16:24-25)

para-martir-kristen-di-colosseum-roma

Martir Kristen di Colosseum Roma

Ada sepuluh penganiayaan besar terhadap umat Kristen di dalam tiga abad pertama, dan penganiayaan di bawah kaisar Diocletian adalah yang terburuk. Ketika Diocletian kalah dalam pertempuran-pertempuran di Persia (Iran), para jendral perangnya berkata kepadanya itu oleh karena mereka telah mengabaikan dewa-dewa Roma. Diocletian kemudian memerintahkan semua orang militernya untuk kembali menyembah dewa-dewa Roma, sehingga memaksa orang-orang Kristen masuk kembali kepada persembunyian mereka atau keluar dari ketentaraan Roma.

Setelah membersihkan orang-orang Kristen dari militer, Diocletian mengumpulkan orang-orangnya yang telah dikenal umum sebagai anti ajaran Kristianiti. Dia membatalkan keputusan toleransi yang dikeluarkan oleh kaisar sebelumnya, Gallienus, di tahun 260 AD, dan kemudian memakai kekuatan militer Roma untuk menyembah dewa-dewa pagan Roma. Pada 303 AD, ia berkunsultasi kepada dukun dari Kuil Apollo di Didyma, yang mengatakan kepadanya untuk memulai penganiaayaan atas Gereja Kristen di seluruh kerajaannya. Sehingga kemudian lahirlah ketidak toleransiaan, kebencian dan aniaya yang sangat berat terhadap orang-orang Kristen.[1]

Diocletian memerintahkan militernya pergi secara sistimatis dari profinsi ke profinsi menahan para pemimpin Gereja, membakari Kitab-kitab Suci, menghancurkan gedung-gedung Gereja, memotong lidah-lidah mereka, memasak mereka hidup-hidup dan memotong-motong tubuh mereka. Itu terjadi dari Eropa sampai ke Afrika Utara, ribuan orang Kristen telah menjadi martir[2]

Para orang percaya berseru dalam doa-doa mereka, kemudian Diocletian dipukul dengan sebuah penyakit usus yang parah dan mengundurkan diri pada 1 Mei 305 AD. Kaisar Gelarius melanjutkan penganiyaan tersebut, namun dia juga dipukul dengan penyakit usus dan mati.

“Saya bisa membayangkan bagaimana orang-orang Kristen mula-mula yang dibawa ke Colosseum untuk dijadikan tontonan bagi mereka yang lebih jahat dari pada binatang-binatang buas, mereka dimohon oleh orang-orang yang ragu-ragu agar tidak membahayakan hidup mereka. Tetapi, berlutut di tengah-tengah arena, mereka berdoa dan bernyanyi sampai mereka dimakan …”

Dua pemimpin politik Kristen Amerika Serikat berkomentar tentang penganiayaan orang Kristen di arena-arena Gladiator Roma:

“Bagaimana  tidak berdayanya mereka nampak, dan, diukur oleh setiap ukuran manusia, bagaimana tidak adanya harapan perbuatan mereka. Namun hanya di dalam puluhan tahun kuasa yang mereka telah panggil terbukti lebih kuat dari legionnya Kaisar, dan iman yang mana mereka telah mati ternyata menang di seluruh negeri … Mereka lebih besar dari pemenang dalam kematian mereka daripada mereka dapat miliki melalui membeli kehidupan.” Seketaris Negara William Jennings Bryan; The Prince of Peace. New York Times, Sept. 7, 1913.

“Kuasa doa ini dapat ada diillustrasikan oleh suatu cerita munder kebelakang abad ke empat – Seorang hamba Tuhan (Telemachus) tinggal di sebuah desa yang kecil, menghabiskan hampir seluruh waktunya di dalam doa. Suatu hari ia berpikir ia telah mendengar suara Elohim berkata untuk dia pergi ke Roma. Berminggu-minggu kemudian, ia tiba …. di saat perayaan di Roma.  Dia mengikuti orang-orang masuk ke dalam Colosseum, dan kemudian, di sana di tengah-tengah keramaian dia melihat beberapa gladiator datang ke arena, berdiri di depan Kaisar, dan berkata, ‘Kami yang akan mati menyaluti Anda.’ Dan hamba Adonai ini sadar bahwa mereka akan segera bertempur untuk mati bagi menghibur para penonton. Dia berteriak, ‘Dalam Nama Kristus, berhenti!” Dan suaranya lenyap di tengah-tengah keramaian di Colosseum yang besar tersebut …”

para-gladiator-saling-bunuh-demi-kaisar-roma-dan-penonton-di-colosseum-kota-roma

Gladiator saling membunuh demi Kaisar

“Dan saat permainan dimulai, ia turun ke bawah di antara keramaian orang dan memanjat tembok dan loncat ke lapangan arena. Tiba-tiba keramaian orang tersebut melihat manusia bertubuh kecil bergerak menuju ke arah para gladiator dan berkata berkali-kali kalimat yang sama: ‘Dalam Nama Kristus, berhenti!

Dan mereka pikir itu adalah bagian dari hiburan, dan pada awalnya mereka geli. Tapi kemudian, ketika mereka menyadari itu bukan, mereka menjadi beringas dan marah.

“Dan ketika ia memohon kepada para gladiator tersebut, ‘Dalam nama Kristus, berhenti!’ salah satu dari mereka menusukkan pedangnya ke tubuhnya. Dan ketika ia jatuh ke pasir arena untuk mati, kalimat terakhirnya adalah, ‘Dalam nama Kristus, berhenti!’

Dan tiba-tiba, hal yang aneh terjadi. Para Gladiator ini berdiri melihat tubuh kecil terbaring di atas pasir. Kesunyian mencekam Colosseum. Dan kemudian, pada suatu tempat di atas terdengar tangisan, beberapa orang berjalan ke gerbang keluar dan meninggalkan gedung, dan yang lain mulai mengikuti. Dan dalam keheningan yang mencekam tersebut, semua orang meninggalkan Colosseum.

Itu adalah pertempuran terakhir untuk mati di antara para gladiator di Colosseum Roma. Tidak pernah lagi ada seorang membunuh atau manusia membunuh satu sama lain untuk hiburan bagi orang banyak.” Presiden Ronald Reagan berkomentar atas Colosseum Roma di saat the National Prayer Breakfast, Feb. 2, 1984

Diterjemahkan dari Six words that stopped Roman gladiator battles

Catatan kaki:

[1] Ini tepatnya apa yang kitab Wahyu 2:10 berkata: ”Janganlah engkau takut terhadap apa yang akan segera engkau derita. Lihatlah, si iblis akan segera menjebloskan dari antara kamu ke dalam penjara agar kamu dicobai dan kamu akan mengalami kesukaran sepuluh hari. Jadilah setia sampai pada kematian dan Aku akan memberikan kepadamu mahkota kehidupan.” Nubuatan ini telah terjadi dari 303 AD ke 313 AD.

[2] Di Nikomedia (modern Izmit, Turki), saja sejarah mencatat sekitar 20.000 Kristen menjadi martir. Nikomedia adalah metropolitan dari  wilayah Bithynia di jaman Kerajaan Romawi. Raja Diocletian telah menjadi ibukota bagian timur dari Kerajaan Romawi di tahun 286. Lihat:  https://en.wikipedia.org/wiki/20,000_Martyrs_of_Nicomedia  dan  https://en.wikipedia.org/wiki/Nicomedia

[3] Baca Markus 8:33-38

Baca lebih lanjut

Dari Kristen Nominal ke Islam, dan Kemudian kepada Ha Mashiah

[broken home, saudari lenyap misterius, iman tergoncang, telpon aneh merubah keluarga].

Judul ini adalah bagian dari buku Anak-anak Ismail (The Children of Ismael) , kumpulan kisah-kisah nyata yang mengharukan dan menyentuh hati setiap pembacanya. Mereka bersaksi bagaimana Elohim telah merubah gurun pasir kehidupan menjadi padang rumput yang indah, rantai-rantai ikatan protokol keagamaan yang berat menjadi hubungan kasih yang manis dengan Pencipta mereka. Selamat membaca!

Bab 7. Kami sebagian besar dipengaruhi oleh masa kecil kita dan oleh gaya hidup orang tua kita. Aku ingat banyak hal dari masa kanak-kanakku seolah-olah mereka kemarin – banyak kenangan yang menyakitkan. Aku menyaksikan begitu banyak perdebatan yang buruk antara ayahku dan ibuku. Aku punya satu saudari. Banyak malam, dia dan aku menangis pergi tidur, tanpa makan malam karena pertengkaran orangtua kamu.

Ayahku adalah orang kaya. Ia memberikan keluarga kami dengan hidup yang baik. Kami orang Kristen, tapi tidak tahu apa-apa tentang kekristenan kami. Aku tidak ingat bahwa ayahku atau ibuku pernah berbicara dengan kami tentang Elohim atau Kristianity. Mereka tidak pernah mendorong kita untuk pergi ke gereja.

Aku adalah seorang introvert dengan banyak masalah psikologis. Ketika aku menjadi seorang remaja, aku memutuskan untuk memimpin kehidupan aku sendiri dengan cara sendiri, jauh dari kekakuan keluargaku. Saudariku, seperti aku, penuh pemberontakan dan kebencian, tapi dia punya banyak teman dekat. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya pergi keluar dan bersenang-senang dengan mereka.

Aku memutuskan untuk mengikuti teladan saudariku. Aku ingin punya dunia sendiri, persahabatanku sendiri, entah itu baik atau buruk. Sejak aku berusia 16 sampai aku menjadi 20 tahun, aku mulai merokok, minum, berpesta dan berhubungan dengan para perempuan. Aku tidak bisa menemukan diriku sendiri  di semua kesenangan ini. Kebahagiaan itu hanya beberapa saat yang singkat. mimpiku hilang dan aku merasa sengsara. Aku merasa seperti seorang penderita skizofrenia dengan dua bagian – yang luar: bersenang-senang dan mabuk, dan yang dalam: sedih dan tertekan.

Aku tumbuh sangat jauh dari kakakku, tetapi masing-masing kita merasa saling membutuhkan. Kami berbagi kesedihan, kekurangan dan agitasi dari rumah kami. Kami kehilangan hubungan kami dengan Elohim. Aku tidak pernah peduli dengan Elohim. Aku tidak pernah tahu tentang Dia, dan tidak ada yang bercerita tentang Dia. Pemikiranku tentang Elohim adalah bahwa Dia telah menciptakan kami dan meninggalkan kami sendirian. Aku percaya bahwa Elohim tinggal di Surga dan tidak berhubungan dengan kehidupan kita. Dia meletakkan benar dan salah di depan kita, dan suatu hari Ia akan memakai otoritas-Nya untuk memberi upah orang-orang yang berbuat baik dan menghukum orang-orang yang jahat. Kakakku dan aku lulus dari universitas, tapi hidup kami masih sama. Banyak pria melamar saudariku, tetapi dia selalu menolak mereka mentah-mentah. Orang tuaku tidak tahu alasan penolakannya dan aku tidak peduli.

Suatu hari, aku pulang mabuk pada pukul 3 pagi dan menemukan kedua orang tuaku dalam kondisi sangat buruk. Aku tidak mengambil banyak perhatian dan mencoba tidur, tapi mereka mengguncang tubuhku dengan keras dan membangunkan aku dengan cara yang sangat kasar. Aku terkejut, karena mereka terbiasa dengan gaya hidupku tersebut. Ketika aku tersadar, aku mengerti bahwa mereka begitu marah karena adikku belum pulang. Kami mencari dia dan mengisi formulir kehilangan keluarga di kantor polisi, tapi itu sia-sia. Dia menghilang tanpa jejak.

Aku merasa sangat sedih ketika saudariku hilang. Meskipun hubungan kami dangkal, aku sangat mengashinya. Dia adalah pendapingku sepanjang waktu-waktu yang menyakitkan yang kami alami tapi tidak pernah membicarakannya. Aku merasa bahwa ayah dan ibuku sedih, meskipun percekcokan terus berlanjutan, masing-masing menyalahkan yang lain  atas hilangnya saudariku. Mereka tidak banyak bicara tentang perasaan mereka, tapi aku bisa melihat itu di mata mereka.

Setelah satu bulan, kakakku menelephon kami dengan kejutan besar dia telah menikah dengan seorang pria muslim dan telah masuk Islam sendiri! Ini adalah bendera merah untuk aku. Ini membuat aku berpikir, “Siapakah Elohim? Apakah agama yang benar? Mengapa saudariku lakukan itu? Apa daya tarik bergabung dengan agama lain?” Aku punya begitu banyak pertanyaan merobek pikiranku.

Ketika saudariku menelepon kedua kalinya, ibuku menangis dan ayahku memohon dia untuk pulang. Dia mengatakan kepada kedua orang tuaku bahwa dia bertekad, ia sudah merubah surat-surat resmi, dan sekarang memiliki nama Muslim, dan bahwa dia hamil dan ingin membesarkan anak-anaknya sebagai Muslim. Aku terkejut mendengar itu dan ingin bertemu dengannya, jadi dia memberikan aku alamat barunya.

Aku pergi mengunjunginya dan ia menyambut aku dengan hangat, tidak seperti sebelumnya. Suaminya menyambut aku dan begitu ramah kepada aku. Aku bertanya kepada mereka tentang Islam dan mereka mulai bercerita tentang semua ajaran positif di dalamnya. Mereka mencoba meyakinkan aku bahwa agama Kristen adalah kafir dan politeisme. Aku tepatnya tidak tahu apa-apa tentang agamaku sendiri, jadi aku tidak bisa membandingkan dan sangat terima. Mereka dengan mudah mempengaruhi aku, dan aku menerima semua ide-ide mereka ke dalam pikiran kosong dan jiwaku yang sakit. Aku memberitahu mereka bahwa aku yakin tetapi membutuhkan lebih banyak waktu untuk berpikir agar tidak menyesali keputusanku setelah itu.

Aku mulai berpikir tentang semuanya. Aku melihat saudariku bahagia mengikuti agama barunya. Aku mulai bertanya-tanya, “Apakah dia benar-benar bahagia? Apakah ritual-ritual  agama barunya memuaskan dirinya? Apakah Elohim menanggapi doa-doanya?” ...  Aku berjuang dengan pikiran-pikiran ini, tetapi tidak ada yang tahu. Aku sudah membuat keputusanku, berharap untuk menemukan Allah dan diriku sendiri melalui agama baru. Aku mengatur semuanya dan mempersiapkan surat-suratku.

Sebelum aku pergi tidur, telepon berdering. Ibuku menjawab dan mengatakan itu untuk aku. Ketika aku memegang gagang telepon, aku mendengar musik yang indah dan lagu-lagu Kristen, dan suara wanita, “Apakah Anda mengizinkan aku untuk bertemu dengan Anda sekarang?” Aku terkejut dan berkata kepadanya, “Apakah Anda kenal diriku? Aku jelas tidak mengenal Anda. Siapa yang memberikan nomor teleponku? Mengapa Anda ingin bertemu aku?” Dia mengatakan kepada aku bahwa ia ingin berdoa bersama aku.

Saat itu, aku sudah mengatakan kepada keluargaku dan beberapa temanku bahwa aku akan memeluk Islam. Aku tidak lagi takut otoritas orang tuaku, gereja atau bahkan Elohim. Aku merasa bahwa aku mengikuti Elohim ‘yang benar’ dalam Islam. Perhatian utama aku adalah untuk menyelamatkan jiwaku setelah kehidupan yang kosong yang telah lakukan sebelumnya.

Teman-temanku sering kali mencoba untuk berbicara dengan aku, berdoa dengan aku atau membawa aku ke gereja. Terus terang aku menolak dan bersikeras bahwa aku bebas untuk membuat keputusan sendiri. Kali ini semua berjalan dengan cara yang berbeda. Tanpa ragu-ragu, aku mempersilahkan wanita itu untuk mengunjungi aku dan memberikan kepadanya alamat rumahku. Lima belas menit kemudian, bel pintu berdering. Setelah perkenalan biasa, ia diminta untuk berdoa dengan aku. Aku sebagaimana biasanya diam dan setuju. Aku bahkan tidak bertanya bagaimana dia tahu tentang aku – Aku diam dan hormat dengan cara yang aneh. Dia berdoa dan aku menangis dengan air mata bercucuran. Dia meminta Elohim yang benar untuk berdiri di samping aku dan membimbing aku untuk membuat keputusan yang tepat.

Wanita ini didampingi oleh suaminya dan putri kecil mereka. Aku sangat terpesona ketika gadis kecil ini menatapku dan mengatakan bahwa dia melihat Yeshua menuangkan air pada aku. Mereka mengatakan kepada aku bahwa Ha Mashiah telah membaptis aku dan Dia masih menginginkan aku sebab Dia mengasihiku. Mereka meminta aku untuk bertemu mereka di pagi hari untuk pergi ke gereja karena aku harus memulai hubungan pribadi dengan Ha Mashiah dan belajar segala sesuatu tentang kepercayaanku. Kemudian mereka pergi.

Mereka menelepon aku pagi harinya dan aku mengatakan kepada mereka bahwa aku tidak yakin. Mereka datang dan membawa aku ke gereja. Saat kami memasuki gereja, seorang wanita datang kepada aku dan berkata, “Aku harus memberitahumu sesuatu …” Dia tampak ragu-ragu.. Dia menatapku lagi dan berkata, “Yeshua berkata kepada kamu: “Akulah jalan, kebenaran dan kehidupan …. “ Aku hancur dengan air mata. Aku sangat dipenuhi dengan apa yang terjadi. Aku tidak mengharapkan Elohim menjawab pertanyaanku dengan cara ini, mengatakan pada aku bahwa Ha Mashiah adalah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan!

Hidupku berpaling menjadi lebih baik. Aku mulai pergi ke gereja secara teratur. Aku datang untuk mengenal Elohim dengan cara yang baru. Aku mengira bahwa Elohim jauh, tetapi Dia telah datang untuk menyelamatkan aku karena Dia mengasihiku. Aku berhenti semua hal buruk dalam hidupku seperti mabuk dan percabulan. Aku memulai hubungan baru dengan ayahku dan ibuku. Aku membawa kedua orang tuaku untuk memiliki hubungan yang benar dengan Elohim. Tiba-tiba, semuanya berubah. Kami sekarang pergi ke gereja bersama-sama dan berdoa di rumah. Keributan-keributan dan perkelahian telah perigi dari rumah kami karena Elohim telah menjamah kami semua. Kami berdoa sungguh-sungguh untuk saudariku, meminta Elohim menyelamatkan dan membawa dia kembali.

Ashraf

Bersambung ke Bab 8: Begitulah Bagaimana Aku Telah Mengenal Elohim

  1. Pendahuluan
  2. Dibelakang Kerudung
  3. Diberkatilah Bangsa Mesirku
  4. Dari Tanahair Mashiah Anak-anak Ismail Akan Kembali
  5. Pertobatan Di Depan Sebuah Mesjid
  6. Orang-orang Pilihan Mashiah
  7. Dari Kristen nominal Ke Islam dan Kemudian Ke Mashiah
  8. Begitulah Aku Mengenal Elohim; Ex-Jihadist Pt. A
  9. Dahulu Aku Mati dan Sekarang Aku Hidup
  10. Instruksi-instruksi Penting
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Pakistan: Azra Bibi, Terbebas dari Perbudakan!

Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati; sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu. (2 Korintus 6:3, 9-10)

Diperbudak dan dilarang beribadah

Firman di atas sangatlah tepat untuk remaja putri berumur 20 tahun ini. Pakistan adalah satu dari beberapa negara Islam yang sangat keras menekan masyarakat Kristen. Kristen di Pakistan hanyalah 2%, mereka hidup di dalam kemiskinan yang sangat ekstrim oleh karena perlakuan pemerintah dan masyarakat Pakistan yang anti-kekristenan. [lihat video].

Sama seperti orang-orang Israel dijaman Musa ketika mereka tinggal di negara Mesir, sekitar 3400 tahun yang lalu (1400 Sebelum Masehi), dimana mereka diperbudak dengan keras, harus membuat batu bata untuk pembanguan gedung-gedung di Mesir, hal yang sama masih terjadi di negara Pakistan, bedanya hanyalah pelaku perbudakan di Pakistan ini adalah masyarakat dan pemimpin Islam dan bukan pemerintah.

Salah satu keluarga pembuat batu bata ini adalah keluarga Azra Bibi, ”Saya tidak bisa masuk sekolah. Saya membayangkan anak-anak lainnya pergi kesekolah. Saya rindu menjadi guru firman Elohim, tetapi penghasilan ibu saya hanyalah kurang dari dua Amerika dollar (2$ US) sehari. Ayah saya telah meninggal, semua penghasilan hanya untuk bisa hidup. Saya minta ibu saya untuk mengajari saya membuat batu bata. Saya berumur 7 tahun ketika pertama kali membuat batu bata. Bersama ibu saya, kami bisa membuat seratus batu bata perhari,” Azra Bibi bercerita mengingat masa kecilnya.

Pemilik pembuatan batu bata, Malik Saleem, tidak mengijinkan kami pergi kegereja, jadi ibu bilang bahwa kami pergi melihat keluarga. Tetangga kami sering kali mencoba memberika berbagai macam barang-barang asal kami bersedia pindah ke agama Islam. Ibu saya selalu menolak tawaran mereka dan berkata: ”Saya memiliki Yeshua di dalam hati saya. Saya tidak memelukan sesuatu diluar itu.”

Yahshua dihina dan ibu saya dibunuh dengan sadis

Pada suatu hari ibu berkata kepadaku: ”Azra, ambillah tepung dan kita pergi membuat roti” Di tempat pemanggangan roti milik umum ini kami bertermu dengan wanita tua Muslim yang bernama Mai Jana. Melihat kami dia langsung menjadi sangat marah dan berkata kepada kami: ”Kalian orang Kristen adalah anjing-anjing, ambil tepung kalian dan pergi dari sini. Nabi kalian adalah anjing Yahudi.” Ibu menjadi tersinggung dan menjawab: ”Kamu boleh berkata saya Kristen anjing, tetapi jangan pernah menamai Nabi kami dengan kata-kata seperti itu.”

Lalu ibu tua Mai ini berdiri dan mulai memukuli ibu. Wanita-wanita lainnya juga turut serta. Mereka memukuli ibu saya begitu buruknya sehingga darah mengalir keluar. Saya pun dipukuli oleh mereka juga. Lalu datanglah beberapa pria-pria Muslim, mereka membawa kami ke kantor dimana kami bekerja, yaitu tuan Malik Saleem. Ia begitu marah kepada kami, kami dimaki-maki lalu dikunci di sebuah kamar.

Di kamar itu kami berpelukan dan berseru: ”Oi Elohim, mengapa ini terjadi?” Ibu berkata sambil menangis: ” Oi  Elohim Yahshua adalah Putra-Mu.” Saya berdoa: ”Oi Yahshua, saya tidak tahan mendengar, apa yang ibu itu (Mai Jana) katakan tentang Engkau. Tolong dan lindungi kami.”

Pukul sepuluh malam, pemilik pabrik batu bata memanggil ibu saya, Muhammad Akram, pembantunya mengambil ibu dari kamar di mana kami terkunci. Saya berdoa kepada YAHWEH: ”Engkau adalah segala-galanya bagiku. Saya tidak punya bapa, saudara laki-laki ataupun perempuan. Lindungilah kami.”

Ibu tidak pernah balik lagi. Saya menangis dan berdoa sepanjang malam. Saya dikunci selama 10 hari. Teman ibu saya satu-satunya, Kershed Bibi, bekas Muslim, datang memberi saya makanan. Lalu ia bercerita berita yang sangat buruk. Ia berkata: ”Bagi saya kamu adalah seperti anak perempuan sendiri. Saya sungguh tidak tahu bagaimana mengatakan ini. Ibumu tidak lagi ada di bumi ini. Azra, janganlah menangis, berdoalah kepada Elohim.” Saya sungguh terkejut dan mulai menangis, ketika ia mulai bercerita kepadaku, apa yang telah terjadi. ”Pada malam itu, ketika Muhammad Akram membawa ibumu kepada pemilik pabrik batu-bata, mereka melakukan kekerasan dan pemukulan, lalu kemudian tubuhnya dipotong-potong. Mereka membakar mayatnya di kompor pembuatan batu-bara.” Saya menangis dan berdoa. Saya sendiri di dunia ini.

Saya dikunci disebuah kamar dan dipaksa menikah

Dua hari setelah itu, Muhammad Akram, yang mengambil dan membunuh ibu saya, membawa saya ketempat lain. Saya dikunci di rumah besar ini dimana ada penjaga bersenjata. Muhammad Akram  adalah pria tua berusia 70 tahun. Ia datang kekamar saya dan mulai berlaku tidak sopan terhadap saya. Saya menangis dan memohon kepadanya untuk berhenti, namun ia terus berbuat dan akhirnya memperkosa saya. Ketika ia pergi, saya berdoa: “Oi YAHWEH, sungguh baik jika Engkau panggil saya pulang kerumah: sedikitnya saya melihat Engkau. Tinggal bersama-Mu dan istirahat dengan damai. Yahshua, saya ingin datang kepada-Mu. Tolonglah, panggil saya pulang.” Saya ingin sekali mati.

Muhammad Akram sering datang kekamarku. Dia mencoba terus-menerus membuat saya murtad, berpindah ke Islam. Saya katakana kepadanya: “Elohimku adalah Elohim yang hidup. Bagaimana saya dapat meninggalkan Elohim yang hidup dan menerima agamamu?” Dia telah memutuskan untuk memaksa saya menikah dengannya. Ia telah berencana dengan pemimpin pabrik batu-bata hari pernikahanku: Jumat, 26 Mei 2006.

Elohim menjawab doaku

Saya berdoa pada suatu malam memohon dari Yahshuaku: ”Kirimlah malaikat kepadaku.” Tujuh bulan kemudian Elohim menjawab doaku. Saya mendengar bahwa orang mencari aku. Muhammad Akram ketakuan, memerintahkan kepada saya: “Bilang kepada orang-orang itu bahwa kamu sekarang Muslim dan kamu tidak ingin pergi bersama mereka.” Saya dibawa ke tempat pemiliki pabrik batu-batu. Di rumahnya terdapat beberapa orang lain juga, diantaranya ialah Pendeta. Mereka nampak seperti orang-orang yang berpengaruh. Singkat cerita, pada akhirnya pemilik pabrik ini bersedia melepaskan saya jika mereka bersedia membayar hutang saya, hampir 1100 US Dollar. [Inilah sistim perbudakan modern, semakin lama ia bekerja semakin hutangnya bertambah].

Esok harinya, 26 Mei, yang seharusnya adalah hari pernikahan-paksa-ku itu, pendeta itu datang dengan uang tebusan. Muhammad Akram sangat geram, ia memukuli dan menyakit pendeta tersebut, namun aku terbebas.

Saya menangis dihadapan Elohimku: ”Akhirnya aku sampai pada pembebasan. Saya bebas! Saya dapat pergi kemana saya suka.Oi Yahshua, terima kasih ku kepada Mu, Yahweh, Engkau telah mendengar doa-doaku.”

Azra juga sangat berterima kasih kepada Pelayanan Suara Martir dan semua orang yang telah memberikan bantuan keuangan untuk penebusan dirinya dan juga pertolongan moril dan material setelah pembebasannya. Ia juga mendapat mesin jahit untuk bermandiri.

Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini. (1 Korintus 4:11-13)

Diterjemahkan dari:

Majalah VOM edisi Febuari 2009

Bacaan yang berhubungan:

How Often Do You Deny Christ?

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja
  • Kalender

    • Oktober 2017
      M S S R K J S
      « Jul    
      1234567
      891011121314
      15161718192021
      22232425262728
      293031  
  • Cari