Pakistan: Pasangan Kristen dibakar hidup-hidup atas tuduhan menghujat Islam

Martir Punjab Pakistan Shafqat Emmanuel dan Shugufta EmmanuelKasur, Punjab, 4 November 2014. Shama Bibi Emmanuel, ibu yang sedang hamil dan suaminya, Shahzad Masih, telah dibakar hidup-hidup ke dalam dapur pembakaran batu-bata oleh masyarakat Islam Punjab hanya karena tuduhan palsu telah membakar beberapa halaman Kuran. Kejadian terjadi pada pukul 7 pagi waktu setempat. Dua martir Kristen Pakistan telah bertambah di Kerajaan Sorga pada bulan November 2014.
Tuduhan palsu ini dilakukan oleh Yousaf Gujjar, pemilik pabrik pembuatan batu bata dimana Shahzad Masih Emmanuel bekerja.
Pada dini hari Selasa 4 November tersebut, melalui alat-alat pengeras suara (loudspeakers) di Mesjid-mesjid dari kelima desa sekitarnya, yang biasa dipakai untuk memanggil umat Islam sembayang kepada Allah, pagi itu dipakai untuk memanggil umat Islam bergabung dan memberi ajaran kepada keluarga Kristen Emmanuel tersebut.
Para Muslim fanatik yang tidak berpendidikan ini beramai-ramai datang ke pabrik batu-batu darimana laporan tuduhan tersebut berasal, menyiksa kedua orang yang malang tersebut kemudian melemparkan mereka hidup-hidup ke dapur api yang sedang membara tersebut.
Ketika pasangan Kristen ini terbakar dan menjerit tidak bersalah, para Muslim tersebut berteriak-teriak ”Allah hu akbar” dan ”mampus untuk para penghujat,” ”bunuh para Kristen kafir.” Menghindari kebrigasan para Muslim tersebut, orang-orang Kristen di kelima desa terdekat melarikan diri dari rumah-rumah mereka demi keselamatan mereka.
Laporan berkata, kantor polisi terdekat melihat kejadian tersebut namun tidak bertindak apapun untuk menyelamatkan pasangan Kristen tersebut.
Dr. Nazir S Bhatti, Presiden Pakistan Christian Congress (PCC), dalam suatu pernyataan berkata bahwa hukum penghujatan (atas agama Islam) adalah surat ijin untuk membunuh orang-orang Kristen di Pakistan oleh tangan-tangan orang Muslim, ”Ada kasus-kasus penghujatan terdaftar di lebih dari belasan kantor-kantor Polisi dimana pengadilan-pengadilan telah memerintahkan menahan seorang Muslim pemilik media, dan artis-artis Muslim dari sebuah saluran TV, tetapi tidak seorangpun berani menangkap mereka, namun pada tuduhan penghujatan yang palsu polisi menaruh orang-orang Kristen di balik teraris besi (memenjarai) dan para pengadilan menghadiahkan mereka hukuman-hukuman mati yang menunjukkan bahwa hukum-hukum penghujatan adalah hanyalah dijadikan hukum untuk mentargetkan para penganut agama minoritas di Pakistan.”

Diringkas dari: Christian couple burnt alive on accusation of blasphemy in Pakistan

Dukung dalam doa: Agama minoritas di Pakistan adalah Kristianiti, Islam Shia, Islam Ahmadiah, Hindu dan Buddha.
Teruslah kita berdoalah kepada Bapa Sorgawi bagi saudara dan saudari kita di Pakistan. Agar mereka diberi kekuatan iman dan hati yang teguh untuk memikul salib mereka yakni ”teraniaya karena nama-YESHUA HA MASHIAH” (Yoh. 15:21). Kita berdoa juga agar orang Kristen di Pakistan di beri hati yang pemurah, dan roh yang gagah perkasa untuk memerangi roh-roh jahat yang menguasai negara Pakistan.
“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.” (Yohanes 15:18-19)

Baca juga:

  1. Pakistan: Gadis cacat ditahan atas tuduhan menghina Islam
  2. Gadis Kristen Pakistan 12 Tahun Di Perkosa Dan Disiksa Karena Tidak Mau Murtad
  3. 47 Rumah Orang Kristen Pakistan Dibakar Atas ’Tuduhan Penghujatan’
  4. Iman seorang pembantu Kristen di Pakistan
  5. Pakistan: Azra Bibi, Terbebas dari Perbudakan!
  6. 5 Muslim Pakistan tertuduh pidana perkosaan menyerang korbannya
  7. Kesaksian ex-Muslim Faisal Malick, Kamal Saleem dan Khalida Wukawitz
  8. Gulshan Fatima; Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 (ex-Muslim, putri pejabat Pakistan berjumpa Yeshua)
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja
Iklan

Film MALATYA, Cerita para martir pertama dari Jemaat Turkey modern

Film dokumentasi yang bersumber dari kisah nyata di kota Malatya, Turkey. Pada tanggal 18 April 2007, tiga laki-laki disiksa dan kemudian dibunuh di sebuah kantor  penyebaran Alkitab di Malatya, Turkey. Ketiga laki-laki tersebut adalah para pemimpin dari sebuah Jemaat dan pembunuh mereka adalah lima pemuda.

Turkey dan Yunani merupakan tempat lahirnya jemaat mula-mula untuk orang-orang bukan Yahudi dan Yahudi diperantauan. Jemaat ini dibangun  dari hasil pelayanan rasul Paulus dan Barnabas pada pertengahan abad pertama.

Film ini mendokumentasikan bagaimana Necati Aydin, 36, dan Ugur Yuksel, 32, and Tillmann Geske, 46, dibunuh secara brutal oleh karena memproklamirkan Yeshua Ha Mashiah adalah Raja segala raja dan Adonai (Master) segala adonai. Necati dan Ugur adalah dua diantara banyak orang-orang Islam Turkey modern yang berpindah ke Kristianiti, dan keduanya adalah martir Ha Mashiah untuk Turkey, mati karena iman Kristen mereka. Tillmann adalah orang Jerman.

Beberapa komentar setelah melihat film MALATYA:

  • “STUNNED AFTER VIEWING MALATYA, THE STORY OF THE FIRST MARTYRS OF THE MODERN TURKISH CHURCH”... Max Lucado
  • “Most Christians don’t have a clue what it means to be the confessing church in the heart of darkness..Malatya is a shattering wake-up call.” Tracy Groot, authur of “Madman”
  • “The Malatya film gives gritty, realistic, unassuming access into the lives of the widows and families, as well as the church-body that is still grieving in Turkey.” DesiringGod.org

Ketika polisi menyerbu gedung tempat pembunuhan, seorang pembunuh mencoba lari dengan melompa dari lantai ketiga ke jalan, membuat kakinya patah dan luka-luka di kepala, sementara empat lainnya tertangkap dengan pisau-pisau berdarah yang masih ada digenggaman tangan mereka.

Ketika salah satu tertuduh tertangkap, di depan polisi ia berkata: ”Kami tidak melakukannya untuk kami sendiri. Kami berbuat itu untuk agama (Islam) kami. Ini boleh menjadi pelajaran kepada para musuh Islam.” Cerita lengkap bisa dibaca di sini: Young Muslims in Turkey Murder Three Christians

Hasil persidangan terbaru menunjukkan bahwa motif utama pembunuhan ketiga pemimpin Jemaat Kristen tersebut adalah politik dalam negeri Turkey, menimbulkan ketidak stabilan untuk menumbangkan pemerintah sekuler (militer) yang saat itu berkuasa.

Penganiayaan di Turkey semakin kuat di bawah kepemimpinan partai politik yang baru ini.

Cerita serupa:
Christian Persecution in Turkey – CBN News

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

R.R.Cina: Lilis Among Thorns

Bunga-bunga Bakung diantara Duri-duri ialah kisah keindahan iman dan kasih sebuah keluarga Kristen di Henan, Cina yang teraniaya oleh pemerintah komunis. Dalam perlakuan yang sangat sadis yang mereka dapat, hanya oleh sebab mereka orang Kristen, mereka tetap memancarkan keindahan dan  keharuman iman mereka bukan hanya kepada sesama saudara seiman mereka, tapi juga kepada para penganiaya mereka dan negara mereka, RRC.

Sumber: China’s Christian Martyrs by Paul Hattaway.

Suatu tindakan belas kasihan berakhir dengan korban sebuah keluarga Kristen yang terkasih selama penghancuran melawan kejahatan dan agama secara nasional di tahun 1983, demikian cerita ini berawal.

Untuk mempermudah para pembaca mengerti isi cerita ini, ada baiknya nama para pribadi yang terlibat dipaparkan terlebih dahulu, Keluarga Shi tinggal di desa Zunzhuang, propinsi Henan. Shi Gushen (ayah) dan Shi Lishi (ibu) memiliki 3 putra; Wuting, Wuming, Wuhao) dan 2 putri (Xiaoxiu dan adiknya). Di rumah ini juga tinggal Meiying (istri dari putra pertama keluarga Shi, bernama Wuting) dan beberapa family lagi. Total ada sebelas orang hidup dalam rumah tersebut.

Ibu Lishi menderita sakit yang berat pada tahun 1976. Para dokter telah menyerah. Nenek dari ibu Lishi, yang telah percaya Yahweh bertahun-tahun, bercerita kepada keluarga Shi bahwa mereka seharusnya percaya kepada Yahweh Yeshua. Mereka melakukannya, segera setelah mereka menjadi orang percaya ibu ini disembuhkan dari penyakitnya. Lalu mereka memulai mendirikan gereja-rumah di desa mereka.

Pada musim panas 1983, Meichun (kakak wanita dari Meiying), menjadi sangat sakit. Para dokter mendiagnosa penyakit wanita ini dan berkata tidak satupun yang para dokter bisa lakukan. Pihak Rumah Sakit  menasehatkan Meichun pulang dan bersiap untuk meninggal. Ia tidak pulang kerumahnya, tetapi berkunjung kerumah adiknya Meiying (keluarga Shi) dan meminta keluarga ini berdoa untuknya. Beberapa hari kemudian kondisinya antara memuaskan dan buruk – tidak banyak perubahan. Tepat ketika ia bersiap-siap pulang kerumahnya, tiba-tiba ia meninggal dunia. Di Cina, ketika seorang meninggal dunia sementara bertamu, maka tuan rumah itu bertanggung jawab.

Karena keluarga Shi telah dikenal secara umum mengoperasikan gereja-rumah, – yang adalah ilegal dalam negara Komunis RRC, hanya gereja yang ’terdaftar’ saja (dikontrol oleh Negara) yang dianggap legal di RRC – keluarga Shi menjadi kuatir bahwa pemerintah akan memakai kematian ini untuk menjadi alasan menganiaya mereka. Wuming, putra tertua, pergi melapor kematian ini ke kantor polisi. Keluarga lainnya tinggal di rumah  dan mengepak tas-tas mereka untuk persiapan jika ditahan. [Sejak Mao menguasai RRC, penangkapan kepada orang Kristen bisa kapan saja dan dengan alasan apapun, hampir sama dengan nasip orang Kristen di negara Islam Pakistan]. Mereka berdoa dengan serius, menyerahkan semua kehidupan mereka kedalam tangan Elohim. Beberapa petugas keamanan negara datang dan menangkap semua keluarga Shi kecuali anak yang terkecil.

Keluarga dari wanita yang mati membawa masalah ini kepengadilan, mendaftarkan Lishi dan Wuting sebagai pembunuh. Sidang dibuka besok harinya. Lishi adalah yang pertama di adili. Ia bercerita apa adanya tentang penyakit anak mantunya (para dokter telah menyerah) dan hanya mencoba berdoa untuk Meichun. Hakim yang marah ini memerintahkan para penjaga untuk menendang Lishi ke lantai. Kemudian mereka memukuli ibu malang ini dengan tongkot sampai pingsan. Seember air dingin ditumpahkan kepada ibu ini untuk menyadarkannya, tetapi dia tetap menolak mengakui kejahatan yang memang ia tidak lakukan – tuduhan membunuh. Hakim yang marah ini memerintah dia untuk dikirim balik ke selnya. Menuju sel, ibu ini melewati anak-anaknya yang sedang menangis. Ia berbisik kepada mereka, ”Anak-anak, tetaplah kuat. Kita terhitung layak untuk menderita hinaan bagi Yahweh.”

Kemudian gilirang Shi Wuting untuk diintrogasi, diikuiti oleh Wuming. Dua kakak-beradik ini dipukuli dengan keras oleh para keamanan sehingga ketika mereka kembali ke sel, mereka sukar mengenali luka-luka mereka yang banyak dan berdarah tersebut; kondisi setengah sadar.

Kemudian dihadirkan tiga tertuduh lainnya dari keluarga Shi, kembali hakim ini terkecut dan kagum kepada keluarga Shi ini, mereka mengakui bertanggung jawab atas kematian famili mereka. Hakim ini tidak pernah milihat sesuatu seperti ini di dalam persidangan selama bertahun-tahun. Pada semua masalah para pembunuh yang tertuduh umumnya akan mencoba apapun untuk menolak bersalah, tetapi di sini setiap saksi telah mengakui bertanggung jawab. Sedimikianlah kasih keluarga ini ada kepada Elohim dan kepada sesamanya! Mereka telah memilih untuk mengambil penghukuman ke atas mereka sendiri daripada melihat saudara lainnya menderita untuk sebuah kesalahan yang mereka tidak lakukan.

Akhirnya Shi Xiaoxiu umur 16 tahun dibawa ke ruang sidang. Hakim ini yakin bahwa ia akan berhasil membuat gadis kurus ini menyatakan ”sipembunuh” yang sesungguhnya, jadi hakim ini berbicara kepadanya dengan cara yang manis. Xiaoxiu dengan tenang menolak bila ada hukum-hukum telah dilanggar, dan bercerita kepada hakim ini bahwa jika ada seorang yang telah bertanggung jawab [atas kematian kakak ipar mereka, Meichun], itu pastilah dirinya sendiri dan adik perempuannya, sebab mereka telah berdoa untuk Meichun lebih dari orang-orang lainnya! Hakim dengan marah memukul kursi hakimnya dan berteriak, ”Kamu memiliki keberanian! Kamu masih terlalu kecil dan namun kamu berani membohongi orang-orang pemerintah. Anak kecil, saya janjikan kepadamu, tidak ada sorga di sini untuk kamu. Jika kamu terus keras kepala dan menolak saya akan putuskan kamu untuk dipenjara. Masa depanmu akan tamat! Jangan berpikir bahwa ini sebuah permainan.”

Menjaga ketenangannya, Xiaoxiu menjawab, ”Masa depanku tidak ditentukan oleh dunia ini tetapi oleh Sorga. Sejak saya jatuh ketangan Anda, saya tidak punya rencana untuk kembali ke rumah. Keluargaku telah memutuskan untuk menyelesaikan kursus yang Yahweh Yeshua kami telah putuskan untuk kami.”

Sementara keluarga Shi ditahan di penjara hakim memikirkan keputusan hukuman.
Keputusan hukuman atas keluarga Shi jatuh pada pagi hari tanggal 30 Agustus 1983. Sebuah theatre dipakai untuk itu dan semua masyarakat hadir, tidak satu kursipun ada yang kosong.

Para hadirin tergagap dan berteriak marah ketika Shi Lishi (ibu) dan Shi Wuting (pria tertua) dipidani hukuman mati. Meiying (isteri Wuting), adik perempuan dari yang meninggal dijatuhi hukuman seumur hidup untuk keterlibatannya di dalam ’pembunuhan’, sementara  Meizhen dihukum 15 tahun penjara. Anak laki termuda, Shi Wuhao, 10 tahun penjara, Shi Wuming (pria kedua tertua) 4 tahun penjara, sementara Xiaoxiu umur 16 tahun dihukum 2 tahun penjara, ’kesalahnya’ ialah berani berbicara benar di pengadilan. Bapa dari keluarga, Shi Gushen, dan saudara kandungnya masing-masing dihukum penjara 2 bulan.

Tiba-tiba sebuah suara keras seperti seseorang jatuh ke lantai ruang pengadilan, diikuti rintihan yang keras. ”Anak-anak perempuan, saya telah mencelakakan kalian!” jeritan duka ibu Meiying. Ia tidak menyangka bahwa perbuatannya itu bukan saja merusak keluarga Shi, tapi puterinya sendiri – yang dihukum seumur hidup. Dia sadar sekarang bahwa ia tidak akan pernah lagi melihat putrinya.

Ketika Shi Wuting melewati isterinya di gang pengadilan menuju penjara, pria 35 tahun yang terborgol dan luka-luka ini berkata kepada isterinya, ”Meiying, isteri ku tersayang, mengapa kamu menangis? Bagaimana dapat saya tidak meminum cawan yang Yahweh telah berikan kepada saya? Tidakkah kamu sadar bahwa kita hidup untuk Yahweh, dan jika kita mati, kita mati untuk Yahweh? Jadi, entah kita hidup atau mati kita adalah milik Yahweh! Meiying tersayang, itu adalah hanya bahwa saya akan ada satu langkah di depan kamu. Sebelum terlalu lama, kita akan ada bersama lagi, tidak akan terpisah lagi. Jangan sedih. Beranilah dan jadilah kuat. Apapun yang terjadi kamu harus hidup secara penuh untuk Yahweh. Jangan buang waktu.”

Untuk dua minggu terakhir kehidupannya, Meiying ada dalam satu sel dengan ibu mertuanya. Pada suatu malam mereka melihat diri mereka sendiri berpakaian jubah putih dan terbang menembus langit-langit pergi ke Sorga! Kemudian mereka melihat Yahweh Yeshua.  Tangan-Nya terentang menyembut mereka. Dengan perasaan yang besar mereka pergi menuju kepada Yeshua, dan dengan tangan-Nya yang berbekas luka Dia menyeka air mata dari mata mereka berdua.

Pada tanggal 14 September 1983 Shi Lishi dan Shi Wuting diambil untuk dibawa ketempat eksekusi tempat ini dikenal sebagai Gunung Kodok. Wuting sekilas melihat isterinya, dan berkata, ”Meiying, saya akan pergi duluan. Saya akan menunggu kamu di rumah Bapa. Selamat tinggal!” Kedua dari orang Kristen tertuduh ini benar-benar tenang dan tersenyum kepada teman-teman dan sanak famili. Tidak ada ketakutan.

Danyun, sejarahwan Gereja-Rumah, mengingat saat itu ketika ibu dan anaknya meninggalkan dunia ini untuk upah surgawi mereka:

Ibu Shi berpaling kepada tentara yang berada disampingnya dan dengan tersenyum bertanya padanya, ”Dapatkah saya diijinkan berdoa?” Tentara mengangungkan kepala tanda setuju tanpa suara. Ibu dan anak berlutut, mengangkat tangan-tangan mereka ke langit dan berdoa kepada Juruselamat yang telah menciptakan langit dan bumi: ”Kami meminta Engkau untuk mengampuni negeri kami dan bangsa kami atas dosa-dosa  menganiaya kami. Selamatkan negeri dan bangsa kami. Yahweh, kami memohon Engkau untuk menerima roh-roh kami.”

Bang!
Bang!

Darah muncrat dari kepala ibu ini dan jiwanya masuk ke Sorga.  Wuting, bagaimanapun, belum mati. Dia berpaling melihat kepada tentara-tentara di kebelakang dirinya dan melihat mereka sungguh kaku dengan ketakutan  mereka tidak dapat menembak untuk kedua kalinya. Tetapi dua tentara lainnya mengangkat pistol-pistol mereka dan menembakannya kepada Wuting. Dia tergeletak, otaknya dan darahnya tersebar disemua lantai. Tiba-tiba turun hujan deras yang sangat besar, disertai cahaya halilintar dan geledek. Tetapi semua hujan tidak dapat menghapus darah orang tidak berdosa yang telah tercurah di sana pada lantai eksekusi.

Ketika anggota-anggota keluarga yang masih hidup mengumpulkan tubuh dua martir untuk penguburan mereka menemukan sebuah catatan di kantong jaket Wuting. Itu tertulis: “Itu sekarang selesai. Jangan bersedih atas saya. Saya hanya pergi ke tempat tersebut sebelum kamu. Kasihilah Yahweh dengan sungguh dan peganglah kuat-kuat Firman-Nya. Dikemudian waktu , kalian akan juga pergi ke Bapa Sorgawi dan bertemu saya. Ia yang bertahan sampai akhir akan diselamatkan. Untuk penguburanku, buat itu dengan sangat sederhana. Peliharalah dua anak saya dan buatlah mereka tahu bahwa saya telah mati untuk Yahweh.” Tamat.

Pembaca yang terkasih, mereka belum 7 tahun menjadi pengikut Yeshua (1976 ke pertengahan 1983), iman, kesetian serta kasih keluarga Shi terhadap Yeshua, Yahweh mereka, telah mengalami ujian yang berat. Mereka tentunya dapat dibenarkan jika mereka marah dan kecewa kepada para penuduh dan penganiaya mereka, dan mungkin kepada  Elohim mereka. Tetapi sebaliknya, mereka mengampuni bahkan berdua untuk keselamat negara dan bangsa mereka. Dapatkah kita juga melakukan itu untuk Indonesia? Roh Kudus akan memampukan kita sebagaiman Ia telah memampukan keluarga Shi.

Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.
Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. (1 Korintus 13:12-13)

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Yahweh Yeshua Telah Membangkitkan Dominggus Kenjam Dari Kematian

“Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya.” Yohanes 5:21
Dominggus Hidup Kembali
Saudara-saudara yang dikasihi oleh Yahweh, dalam kesempatan ini saya akan bersaksi tentang peristiwa kematian dan kehidupan yang saya alami pada tanggal 15 Desember 1999. Peristiwa ini juga merupakan suatu tragedi bagi yayasan Doulos, Jakarta dimana STT Doulos ada di dalamnya dan saya adalah mahasiswa yang tinggal di asrama. Sebelum penyerangan dan pembakaran Yayasan Doulos tanggal 15 Desember itu, beberapa kali saya mendapat mimpi-mimpi sebagai berikut:

Minggu, 12 Desember 1999, saya bertemu dengan Yahweh Yeshua dan malaikat, saya terkejut dan bangun lalu berdoa selesai saya tidur kembali.
Senin, 13 Desember 1999, saya bermimpi lagi, dengan mimpi yang sama.
Selasa, 14 Desember 1999, dalam mimpi saya bertemu dengan seorang pendeta pada suatu ibadah KKR, isi khotbah yang disampaikan mengenai akhir zaman, adanya penganiayaan dan pembantaian.
Rabu, 15 Desember 1999, kurang lebih pukul 08.00 pagi, saya mendapatkan huruf “M” dengan darah di bawah kulit pada telapak tangan kanan saya. Dalam kebingungan dan sambil bertanya-tanya dalam hati, apakah saya akan mati? Saya bertanya kepada teman-teman dan pendapat mereka adalah bahwa kita akan memasuki millennium yang baru. Walaupun pendapat mereka demikian saya tetap merasa tidak tenang serta gelisah karena dalam pikiran saya huruf “M” adalah mati, bahwa saya akan mengalami kematian. Saya hanya bisa berdoa dan membuka Alkitab. Sekitar pukul 15.00 saya membaca firman Yahweh dari Kitab Yeremia 33:3 “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab Engkau.” Dan pada pukul 18.00, tanda huruf “M” di telapak tangan saya sudah hilang.

Kampus dan Asrama Mahasiswa Doulos Diserang
Pada malam hari tanggal 15 Desember 1999. Kegiatan berlangsung biasa di dalam asrama kampus STT Doulos.

Sebagian mahasiswa ada yang  sedang belajar, yang lain memasak di dapur dan ada pula yang sedang berdiam. Saya sendiri sedang berbaring di kamar. Kurang lebih jam 21.00 malam itu, saya dibangunkan oleh seorang teman sambil berteriak: “Domi, bangun, kita diserang!” Saya langsung bangun dalam keadaan panic, saya langsung berlari ke halaman kampus dan melihat sebagian kampus kami yang telah terbakar. Saat itu saya berkata kepada Yahweh: “Yahweh, saya mau lari kemana? Yahweh, kalau saya lari lewat pintu gerbang depan pasti saya dibacok.”

Sementara pikiran saya bertambah kalut ketika teringat akan tanda huruf “M” yang diberikan pada tangan saya. “Yahweh, apakah saya akan mati?” Saya menoleh ke belakang, ada beberapa teman sekamar yang lari menyelamatkan diri masing-masing.

Di belakang kampus kami dikelilingi pagar kawat duri setinggi 2 meter, saya tidak bisa melompat keluar dengan cara mengangkat kawat itu. Dengan tangan sedikit terluka akhirnya saya pun dapat keluar.

Kami sudah berada di luar pagar dengan keadaan takut dan gemetar karena di sana terdapat massa atau orang banyak yang tidak dikenal, mereka membawa golok, pentungan, batu dan botol berisi bensin atau Molotov. Kemudian kami berpisah dengan teman-teman, saya tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka.

Saya lari menuju kos kakak tingkat semester 10, yang letaknya tidak jauh dari kampus. Sementara saya berlari, saya tetap berdoa kepada Yahweh: “Yahweh berkati saya, ampuni dosa dan kesalahan saya.” Setiba di rumah kos itu, saya mengetuk pintu sebanyak 2 kali tetapi tidak ada yang membukakan pintu.

Ternyata di belakang saya ada 4 teman mahasiswi yang juga lari mengikuti dari belakang. Mereka memanggil saya: “Domi, ikut ke rumah kami” tetapi saya berkata kepada mereka, “biar saya bersembunyi di sini.” Masih berada di depan rumah kos tersebut, saya berdoa lagi “Oh.. Yahweh, apakah malam ini saya akan mati? Ampuni dosa dan kesalahan saya.”

Ditangkap oleh Massa
Saya mengetuk pintu lagi, tetapi tidak ada orang yang menjawab, saya berdoa kembali: “Yahweh.. ini hari terakhir untuk saya hidup.” Terdengar suara massa yang semakin mendekat kepada saya. Mereka berkata: “Itu mahasiswa Doulos, tangkap dia!” Ada juga yang berteriak: “Bantai dia, tembak!”
Seketika itu saya ditangkap dan saya hanya bisa berserah kepada Yahweh sambil berkata: “Yahweh saya sudah di tangan mereka, saya tidak bisa lari lagi.”
Kemudian tangan saya diikat ke belakang dan mata saya ditutup dengan kain putih. Saya tetap berdoa dalam keadaan takut dan gemetar: “Yahweh ampuni dosa saya, pada saat ini Engkau pasti di samping saya.” Tiba-tiba ada suara terdengar oleh saya entah dari mana, yang berkata: “Jangan takut, Aku menyertai engkau, Akulah Yahweh Elohimmu.” Setelah mendengar suara itu, rasa ketakutan dan kegentaran hilang, karena saya sudah pasrahkan kepada Yahweh.

Penganiayaan dan Kematian
Mereka membawa saya ke tempat yang gelap, saya dipukuli dan ditendang. Saya dihadapkan dengan massa uang jumlah orangnya lebih banyak, saat itu mereka ragu, apakah saya mahasiswa Doulos atau warga sekitarnya. Sebagian massa ada yang terus mendesak untuk memotong dan membunuh saya.

Saya berdoa lagi: “Yahweh, fisik saya kecil, kalau saya mati, saya yakin masuk sorga. Saat ini saya serahkan nyawa saya ke dalam tangan kasih-Mu, ampunilah mereka.” Saat itu kepala saya dipukul dari belakang dan terjatuh di atas batu, saya tidak sadar akan apa yang terjadi lagi.

Roh Saya Keluar Dari Tubuh
Kemudian … roh saya terangkat keluar dari tubuh saya, roh saya berbentuk seperti orang yang sedang start lari atau sedang jongkok, lalu lurus seperti orang yang berenang kemudian berdiri. Roh saya melihat badan saya dan berkata: “Kok badan saya tinggal” (sebanyak dua kali). Roh saya berdiri tidak menyentuh tanah dan tidak tahu mau berjalan kemana, karena di sekeliling saya gelap gulita, kurang lebih lima detik, roh saya berkata:
“Mau ke mana?”

Lima Malaikat Datang Menjemput Saya
Saat itu ada lima malaikat datang kepada saya, dua berada di sebelah kiri, dua di sebelah kanan dan satu malaikat berada di depan saya. Tempat yang tadinya gelap gulita telah berubah menjadi terang dan saya sudah tidak dapat melihat badan saya lagi. Roh saya dibawa oleh malaikat-malaikat tersebut menuju jalan yang lurus, dan pada ujung jalan itu sempit seperti lubang jarum. Roh saya berkata: “Badan saya tidak dapat masuk.” Tetapi malaikat yang di depan saya bisa masuk, lalu roh saya berkata lagi: “Badan rohani saya kecil pasti bisa masuk.” Kemudian roh saya masuk melalui lubang jarum tersebut.

“Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.” Lukas 16:22

Berada di Dalam Firdaus
Saat itu saya sudah berada di dalam sebuah halaman yang luas. Halaman itu sangat luas, indah dan tidak ada apa-apa. Roh saya berkata: “Kalau ada halaman pasti ada rumahnya.” Tiba-tiba saat itu ada rumah, saya dibawa masuk ke dalam rumah tersebut dan bertemu dengan banyak orang di kamar pertama. Roh saya berkata: “Ini orang-orang yang percaya kepada Yeshua Ha Mashiah, mereka ditempatkan di sini.” Mereka sedang bernyanyi, bertepuk tangan, ada yang berdiri, ada yang duduk dan ada yang meniup sangkakala.

“Di rumah Bapaku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Yohanes 14:2

Dibawa ke Ruangan Selanjutnya
Saya dibawa oleh malaikat-malaikat ke kamar selanjutnya atau kedua, sama dengan kamar yang pertama, hanya disini roh saya melihat orang-orang dengan wajah yang sama dan postur tubuh yang sama. Kemudian saya dibawa lagi ke kamar yang ketiga, yang sama dengan kamar yang pertama. Dan roh saya berkata: “Ini orang-orang yang percaya kepada Yeshua Ha Mashiah, ditempatkan di sini.” Lalu roh saya dibawa ke kamar yang keempat yaitu kamar yang terakhir, pada saat ini saya hanya sendiri, tidak disertai oleh malaikat-malaikat tadi. Kamar itu kosong, lalu roh saya berkata: “Ini penghakiman terakhir, saya masuk sorga atau neraka.”

“Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Elohim sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Elohim? Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa?” 1 Petrus 4:17-18

Bertemu dengan Yahweh Yeshua
Kemudian roh saya berjalan tiga sampai empat langkah, di depan saya ada sinar atau cahaya yang sangat terang seperti matahari, maka roh saya tidak dapat menatap. Saya menutup mata dan terdengar suara: “Berlutut!” Seketika itu roh saya berlutut, terlihat sebuah kitab terbuka dan dari dalamnya keluar tulisan yang masuk ke mata saya yang masih tertutup, tulisan timbul dan hilang terus menerus, roh saya berkata: “Yahweh…! ini perbuatan saya minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu. Saya melakukan yang jahat dan saya tidak pernah mengaku dosa pribadi, sehingga Engkau mencatatnya di sini.”

“Yahweh…! Saya ingin seperti saudara-saudara di kamar pertama, yang selalu memuji dan memuliakan Engkau. Yahweh…! Saya tahu Engkau mati di atas kayu salib untuk menebus dosa saya, saya rindu seperti saudara-saudara yang berada di kamar pertama, kedua dan ketiga yang selalu memuji-muji Engkau.”
Sesudah itu tulisan yang keluar dari kitab itu hilang, buku manjadi bersih tanpa tulisan, kemudian buku itu hilang dan sinar yang terang itupun hilang dan ada suara berkata: “Pulang! Belum saatnya untuk melayani Aku.”

Saya melihat-lihat dari mana arah suara itu datang, saya melihat ada seorang di samping kanan. Orang tersebut badan-Nya seperti manusia, rambut hingga ke lehernya bersinar terang. Jubah-Nya putih hingga menutupi kedua tangan-Nya dan bawah jubah-Nya menutupi kaki-Nya. Ia menunggangi seekor kuda putih dengan tali les yang putih. Lalu roh saya berkata: “Ini Yahweh Yeshua, Dia seperti saya, Dia Elohim yang hidup.”

“Lalu aku melihat sorga terbuka; sesungguhnya, ada seekor kuda putih dan Ia yang menungganginya bernama: “Yang Setia dan Yang Benar” Ia menghakimi dan berperang dengan adil.” Wahyu 19:11

Kemudian Yahweh Yeshua tidak nampak lagi dan seketika itu roh saya dibawa pulang ke dalam tubuh saya. Saat itu juga ada nafas, ada pikiran dan saya berpikir, tadi saya bersama dengan Yahweh Yeshua. Setelah itu saya mencoba beberapa kali untuk bangun dan mengangkat kepala, tetapi tidak bisa, terasa sakit sekali, saya baru sadar bahwa leher saya telah dipotong dan hampir putus, kemudian saya dibuang ke semak-semak dengan ditutupi daun pisang. Saya merasa haus, lalu menggerakkan tangan mengambil darah tiga tetes dan menjilatnya, lalu badan saya mulai bergerak.

Saya berdoa: “Yahweh, lewat peristiwa ini saya telah bertemu dengan Engkau, dan Engkau memberikan nafas dan kekuatan yang baru sehingga aku hidup kembali, tapi Yahweh, Engkau gerakkan orang supaya ada yang membawa saya ke rumah sakit.”

Yahweh menjawab doa saya, malam itu ada orang yang mendekati saya dengan memakai lampu senter, lalu bertanya: “Kamu dari mana?” Saya tidak bisa menjawab, karena saya tidak dapat berbicara lewat mulut, tidak ada suara yang keluar, hanya hembusan nafas yang melalui luka-luka menganga pada leher. Kemudian orang tersebut memanggil polisi.

Puji Yahweh! Dikira sudah meninggal tetapi masih hidup. Mereka mengira saya sudah meninggal, mereka mengangkat dan membawa saya ke jalan raya. Kemudian polisi mencari identitas atau KTP saya, ternyata tidak ditemukan. Tanpa identitas, mereka bermaksud membawa saya ke sebuah rumah sakit lain, tetapi saya ingat kembali akan suara Yahweh dan takhta-Nya di sorga, ternyata ada kekuatan baru dari Yahweh Yeshua yang memampukan saya dapat berbicara.
Tiba-tiba saya berkata: “Nama saya Dominggus, umur saya 20 tahun, semester III, tinggal di asrama Doulos, saya berasal dari Timor.”
Orang-orang yang sedang melihat dan mendengar saya, berkata: “Wah, dia dipotong dari jam berapa? Sekarang sudah jam 02.30 pagi, tapi dia masih hidup.”

Perjalanan ke Rumah Sakit UKI
Kemudian mereka memasukkan saya ke dalam mobil dan meletakkan saya di bawah. Saya tetap mengingat peristiwa ketika Yahweh Yeshua dianiaya. Sementara mobil meluncur dengan kecepatan tinggi, saat melewati jalan berlubang atau tidak rata mobilpun berguncang dan saya merasa sangat sakit sekali pada luka di leher. Saya katakan kepada Yahweh: “Yahweh, apakah saya dapat bertahan di dalam mobil ini? Yahweh ketika Engkau di atas kayu salib, Engkau meminum cuka dan empedu, tetapi saya menjilat darah saya sendiri karena tidak ada orang yang menjagai saya.”
Saya membuka mata, ternyata memang tidak ada seorangpun yang menjagai saya, hanya seorang supir. Tetapi saya melihat beberapa malaikat berjubah puith menjaga dan mengelilingi saya. Saya katakan: “Yahweh ini malaikat-malaikat pelindung saya, mereka setia menjagai.” Saya harus berdoa agar tetap kuat.

Perawatan di Rumah Sakit
Setiba di rumah sakit, suara saya dapat normal kembali. Saya dapat berbicara dan bertanya kepada perawat: “Bapak saya mana?” perawat RS bertanya kepada saya: “Bapakmu siapa?” Saya jawab: “Bapak Ruyandi Hutasoit.” Ketika Bpk. Ruyandi menemui saya, ia berkata: “Dominggus.. leher kamu putus!” Jawab saya: “Bapak doakan saya, sebab saya tidak akan mati, saya telah bertemu dengan Yahweh Yeshua.” Lalu Bpk. Ruyandi mendoakan dan menumpangkan tangan atas saya.
Setelah itu saya mendapat perawatan, seorang dokter ahli saraf hanya menjahit kulit leher saya, karena luka bacokan sudah menembus sampai ke tulang belakang leher, sehingga cairan otak mengalir keluar, saluran nafas dan banyak saraf yang putus. Kemudian saya dirawat tiga hari di ruangan ICU dan selama perawatan saya tidak diberikan transfusi darah pendapat dokter pada saat itu adalah bahwa saya akan mati dan saya tidak diharapkan hidup, mengingat cairan otak yang telah keluar dan infeksi yang terjadi pada otak, yang semua itu akan menimbulkan cacat seumur hidup.

Mukjizat Kesembuhan Terjadi
Tanggal 19 Desember 1999 dengan panas badan 40°C dan seluruh wajah yang bengkak karena infeksi, saya dipindahkan keluar dari ruang ICU, dikarenakan ada pasien lain yang sangat memerlukan dan masih mempunyai harapan hidup yang lebih besar daripada saya.
Pada malam hari, roh saya kembali keluar untuk kedua kali dari tubuh saya, roh saya melihat suasana kamar dimana saya dirawat dan kemudian roh saya berjalan sejauh kurang lebih dua atau tiga kilometer dalam suasana terang di sekeliling saya. Tiba-tiba ada suara terdengar oleh saya: “Pulang..pulang…!”

Seketika itu juga, roh saya kembali ke dalam tubuh saya, suhu tubuh menjadi normal dan tidak ada lagi infeksi. Kemudian terdengar bunyi seperti orang menekukkan jari-jari pada leher saya, lalu otot, tulang, saluran nafas dan saraf-saraf tersambung dalam sekejab mata, saya merasa tidak sakit dan dapat menggerakkan leher. Sesudah itu saya diberi minum dan makan bubur.
Saya sudah hidup kembali, dengan kesehatan yang sangat baik. Puji Yahweh!
Keluar dari Rumah Sakit dalam Keadaan Sembuh Total

Saya berada di rumah sakit sejak tanggal 16 Desember 1999 dini hari dan keluar dari rumah sakit pada tanggal 29 Desember 1999, dengan berat badan normal dibanding dua minggu yang lalu karena banyak darah dan cairan yang telah keluar. Saya telah sembuh sempurna, tanpa cacat, tanpa perawatan jalan, saya hidup kembali dengan normal.

“Terima kasih Yahweh Yeshua, Engkau sungguh Elohim yang hidup dan ajaib, terpujilah nama-Mu kekal sampai selamanya, amin!”
(Oleh Dominggus, mahasiswa STT Doulos – 15 Desember 1999)

Yohanes  11:25-26  Jawab Yeshua: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,  (26)  dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?”

Gambar-gambar Dominggus terluka  sampai pulih kembali bisa dilihat di Pedson blogspot.com

Video Doulos:Kesaksian Seorang Mahasiswa:

Part 1Part 2

 

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Hindu Nepal mengultimatum orang-orang Kristen.

Nepal. Sebuah kelompok organisasi Hindu di Nepal dalam surat ederannya tertanggal 15 July 2009 memerintahkan semua orang Kristen keluar dari Nepal dalam waktu 3 bulan, demikian laporan seorang penginjil dari Nepal berkata.  Organisasi ini yang menamai dirinya Nepal Defense Fund pada tanggal 23 Mei lalu telah meledakan bom di sebuah gereja di Katmandu (ibukota Nepal) menewaskan 3 orang dan 15 luka-luka.  The Voice of the Martyrs (Suara Para Martir) dalam laporan bulan Juni menyatakan bahwa  organisasi Nepal yang sama ini juga telah mengancam membom semua rumah orang Kristen jika mereka tidak berhenti  memberitakan berita Injil di dalam satu bulan.

Nepal adalah negara tempal lahirnya agama Budha, dipimpin oleh raja, dan baru tahun belakangan ini pemerintahan yang bersifat kerajaan ini ditumbangkan oleh kelompok Mau (aliran Komunis) melalui pertumpahan darah. Nepal dimasa lalu dikenal sebagai salah satu negara yang belum dijangkau oleh berita Injil.  Perpindahan kekuasaan negara ini menhasilkan suatu masa kekosongan kenegaraan, para partai politik yang ada masih meributkan bentuk konstitusi negara. Kekosongan politik dan terlebih jiwa orang-orang Nepal membuat Kekristenan berkembang sangat cepat. Sebuah gereja Injili  telah berhasil membuka 100 tempat ibadah didalam waktu hanya satu tahun saja, kata orang yang meminta bantuan doa di atas. Ia juga menambahkan bahwa sekarang telah terdapat lebih dari juta orang Kristen di Nepal.

Bawalah mereka di dalam doa-doa syafaat kita agar orang-orang Kristen di Nepal tetap berani memberitakan Injil dan memuliakan nama Yeshua Ha Mashiah.

Kisah para Rasul 4:18 mereka diperintahkan, supaya sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yeshua.

Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Elohim, katanya: “Ya Yahweh, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. (24) Dan sekarang, ya Yahweh, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu.  (30)  Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yeshua, Hamba-Mu yang kudus.”  (31)  Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Elohim dengan berani.

Bacaan yang berhubungan:

Nepal: Hindus Threaten Bombings

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial.

Puisi Fatima Al-Mutairi sebelum dibunuh

Fatima Al-Mutairi, seorang wanita Arab Saudi Kristen berusia 26 tahun, lidahnya dipotong dan dibakar mati, nampaknya oleh abangnya sendiri, ketika keluarganya mendapatkan bahwa ia telah berpindah dari islam ke Kristiani. Tidak lama sebelum kematiannya dia telah menulis sajak berbahasa Arab dan kirimkan sajaknya itu ke internet. Peristiwa terjadi pada Agustus 2008.

Dan kami demi Ha Mashiah menanggung segala sesuatu

Kiranya Yahweh Yahshua menuntun kamu, O para Muslim

Dan menerangi hati-hati kamu sehingga kamu boleh dapat mengasihi sesama

Forum tidak menyingkapkan Tuan dari nabi-nabi*

Itu adalah untuk menunjukan kebenaran, dan untuk kalian it telah dinyatakan

Ini adalah kebenaran yang kalian tidak tahu

Apa yang kami miliki adalah kata-kata Tuan dari nabi-nabi *

Kami tidak menyembah salib, dan kami tidak memiliki

Kami menyembah Yahweh Yeshua, Terang dunia

Kami meninggalkan Muhammad, dan kami tidak mengikuti jalannya

Kami mengikuti Yeshua Ha Mashiah Kebenaran Yangjernih *

Sungguh, kami cinta tanah air kami, dan kami bukanlah penghianat-penghianat

Kami turut berbangga bahwa kami adalah warganegar Saudi

Bagaimana dapat kami menghianati tanah-air kami, orang-orang kami yang terhormat?

Bagaimana dapat kami, ketika mati – untuk Arab Saudi – kami siap membela?

Tanah-air kakek-kakekku, kebesaran-kebesaran mereka, dan lirik-liriknya – untuk itu saya menulis

Dan kami berkata, ”Kami bangga, kami bangga menjadi Saudi-Saudi”

Kami pilih jalan kami, jalan yang dituntun dengan benar

Dan setiap orang adalah bebas untuk memilih agama apapun

Jadilah puas untuk membiarkan kami bagi kami sendiri untuk menjadi orang-orang percaya di dalam Yeshua

Biarkan kami hidup di dalam anugerah sebelum waktu kami datang

Ini adalah air mata-air mata pada pipiku, dan oh! Hati ini sedih

Kepada mereka yang menjadi orang-orang Kristen, kalian sungguh kecam!

Dan Ha Mashiah berkata, ”Diberkatilah orang yang dianiaya”

Dan kami demi Ha Mashiah menanggung segala sesuatu

Apakah itu untuk kalian bahwa kami infidel-infidel?

Kamu tidak masuk kedalam kuburan-kuburan kami, sebagaimana jika kami dikubur

Cukup – pedang-pedang kalian tidak menarik perhatianku, tidak jahat tidak juga malu

Ancaman-ancaman kalian tidak menggentarkan aku, dan kami tidak takut*

Dan melalui Elohim, Saya sampai mati [adalah tetap] seorang Kristen – Pasti

Saya menangis untuk apa yang telah lalu, suatu kehidupan yang sedih

Saya dahulu jauh dari Yahweh Yeshua untuk bertahun-tahun

O Catatan Sejarah! dan membawa saksi, O saksi-saksi!

Kami adalah orang-orang Kristen – di dalam jalan Ha Mashiah kami berjejak

Ambil dari saya perkataan ini, dan catat itu baik-baik

Kamu lihat, Yeshua adalah Yahwehku, dan Dia adalah Pelindung yang terbaik

Saya menasehatkan kalian untuk menangisi diri kalian sendiri, bertepung tangan di dalam kedukaan

Lihat wajah buruk kebencian kalian

Orang adalah saudara atas orang lain, Oh orang-orang yang terpelajar

Dimana kemanusiaan, kasih, dan dimana kalian?

Sebagai kata-kata terakhir ku, saya berdoa kepada Yahweh semerta alam,Yeshua Ha Mashiah, Terang Penuntun Yang-jernih

Bahwa Ia merubah keyakinan-keyakinan, dan membuat timbangan-timbangan keadilan menjadi benar

Dan semoga Ia menyebarkan Kasih di antra kalian, O para Muslim

Fatima Al-Mutairi

Keterangan:

“Forum” merefer kepada sebuah situs dimana orang-orang Arab Kristen berkumpul dalam online fellowship dan bersaksi.

“Tuan dari nabi-nabi” ialah biasanya sebuah titel untuk Muhammad, tetapi digunakan pada puisi ini sebagai sebuah titel untuk Ha Mashiah “Kebenarn Yang-jernih / the Clear Truth” adalah sering digunakan sebagai sebuah nama untuk Elohim (Ilah) di dalam Islam.

Menurut seorang penulis blog, ia mendapat informasi tentang pembunuhan Mutairi ini dari temannya baiknya yang tinggal di Timur Tengah. Itu terjadi setelah Fatima memberitakan Injil kepada keluarganya. Fariwa adalah anak perempuan tertua dari seorang guru agama Islam dari suku Bedouin yang besar (Al-Mutair) yang bertempat di daerah Buraydah, sebuah kota yang sangat serius dengan agama. Cerita kematiannya sekarang menyebar di banyak internet bahasa Arab blog ini melaporkan. Dari sumber lain dikatakan pembunuhnya adalah ayah Fatimah.

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. (Yohanes 12:24)

Sumber tulisan

Bahan Puisi ber bahasa Inggris dalam bentuk pdf halaman 13, dari Barnabas Fund.org

Puisi berbahasa Arab dan Inggris dalam bentuk slid show

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja
  • Kalender

    • Oktober 2017
      M S S R K J S
      « Jul    
      1234567
      891011121314
      15161718192021
      22232425262728
      293031  
  • Cari