Hidup Dan Mati bagi Ha Mashiah – kesaksian pakar Islam Pakistan

kesaksian Pendeta Joshua John ex-Pakar Islam PakistanPAKISTAN. Rana (sekarang Yoshua John) adalah pakar Islam. Ia hafal seluruh isi Kuran dan biasa berceramah di Mesjid-mesjid. Berasal dari keluarga Muslim yang taat dan lingkuangan hidup yang juga murni Islam. Video Kesaksian Rana bagaimana perjalanannya menuju Ha Mashiah bisa menjadi ilham bagi setiap pirsawan / pembaca bagaimana pekerjaan Elohim kepada orang-orang yang ingin dipanggil dan dipakai-Nya. Text terjemahan Indonesianya saya ambil dari text Inggrisnya. Selamat membaca dan menjadi berkat. Penjala Baja.

Kesaksian pertobatan Pendeta Yoshua John. Bagian II: “Live for Christ Die for Christ”; says an Ex Muslim, now serving Christ as Pastor; ini adalah kelanjutan dari kesaksian Pendeta Yoshua John Bagian I: Perjalananku menuju Mashiah – kesaksian pakar Islam Pakistan

Sebagaimana kenyataannya, itu ada tertulis di Alkitab bahwa tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Adonai Yeshua Meshiah, bahkan gemuruh-gemuruh halilintar sekalipun, kelaparan maupun kematian. Jadi menuruh Alkitab, jika Elohim beserta kita maka tidak seorangpun dapat mencelakakan kita.

Saya telah menghafal ayat ini dan mengikuti jalan kebenaran Elohim.

“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Mashiah: kesukaran, atau kesulitan , atau kelaparan , atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? … Tetapi dalam semuanya ini kita menang mutlak melalui Dia yang telah mengasihi kita. …  Sebab aku diyakinkan bahwa … tidak dapat memisahkan kita dari kasih Elohim yang ada di dalam Ha Mashiah Yeshua, Adonai kita.” (Roma 8:35-39)

Ketika saudara-saudarku laki-laki mengetahui tentang perpindahan imanku, mereka menyalahi kakekku dan ibuku karena merusak diriku. [Orang muslim diajar bahwa jika seorang berpindah dari Islam maka muslim tersebut menjadi rusak dalam arti rohani  dan rusak dalam arti jiwani alias gila. Ajaran ini akibat tafsiran yang salah tentang Surah 3:85; bahasa Arabnya tidak ada kata “Islam”]

Mereka marah dan satu di antara saudara-saudaraku tersebut mulai memukuliku secara brutal, hingga mematahkan tulang rusukku. Namun saya sadari bahwa Elohim telah memberikan ku kehidupan dan saya tidak menyesalinya sebaliknya saya merasa terhormat jika martir di dalam nama Elohim

Saudaraku belum puas (dengan penyiksaan tersebut) maka ia menyewa sebuah gangster Pakistan membayar mereka satu juta Rupiah Pakistan (sekitar 9.560 Dollar AS) untuk membunuhku tetapi Elohim menyelamatkanku dari assasinasi.

Keluargaku tidak ingin saya tinggal di rumah dan juga itu bukan tempat yang aman  bagiku untuk hidup di sana sebab saudara-saudara kandungku menginginkan saya mati karena tidak menghormati keluarga dengan berpindah dari Islam ke Kristianiti

Kecelakaan lainnya terjadi ketika saya di Gujaranwala dan saudara-saudaraku ada bersama dengan rekan-rekan mereka menangkap ku dan mulai memukuliku di teman yang terkenal baik yakni Maaneer Chowk.

Saya jatuh ke bumi ketika mereka tidak berhenti menyiksa.

Tanpa sengaja, seorang teman baik saya lewat ketika ia melihat tindakan yang barbariak ini. Ia mencoba menghentikan suadara-saudaraku dan mencomba melindungiku. Para ektrimist yang sadis ini mulai memukuli dia juga dan kami dikirim ke rumah sakit

Setelah tiga hari teman tersebut menyerah (meninggal dunia) karena cedera-cedera yang dideritanya.

Ketika mereka menangkapku dan membawaku ke tempat yang diinginkan, saya bahkan tidak diberikan air untuk diminum, sebaliknya mereka mengencingi mulutku.

Mereka membuat saya meminum air kencing untuk 17 hari berikutnya dan berkata bahwa saya akanlah mendapat air hanya untuk satu kondisi, yang adalah jika saya menerima Islam sebagai agamaku.

Jika kita hidup hendaklah itu bagi Ha Mashiah dan jika kita mati hendaklah itu bagi Ha Mashiah. itu seharusnya ada satu-satunya hal yang mulia bagi seorang Kristen.

Saya berterima kasih kepada Adonai Yeshua bahwa bahkan air kencing tersebut seperti air murni bagi ku saat itu, sebab menerima (aniaaya) itu bukan karena saya berbuat salah, tetapi itu tertulis di Kitab Suci bahwa orang-orang akan membencimu oleh karena Nama-Ku.

Saya berterima kasih kepada Mu Elohim sebab Firman-Mu menjadi nyata dalam kehidupanku.

Tidak hanya itu, mereka bahkan mematahkan kaki-kaki ku dan saudarku meminta saya melakukan mujizat. Saya menjawab dia, Saya tidak memiliki kuasa melakukannya, hanya Elohimku yang dapat. Lalu ia mengina ku dan berkata kepadaku untuk meminta Dia untuk melindungiku.

Lalu aku menarik kakiku dengan kedua tanganku dan saya sembuh oleh kasih karunia Adonai Yeshua Mashiah.

Saya berkata kepada Elohim, ”Biarlah mereka tahu bahwa Engkau adalah Elohimku dan saya adalah putra-Mu. Biarlah mereka tahu bahwa Engkau adalah Bapaku dan saya putra-Mu.”

Lalu Elohim memintaku untuk berdiri dan saya melakuannya. Lalu Dia berkata “jangan hanya berdiri tetapi berjalanlah di depan mereka sehingga mereka tahu Aku adalah Elohim Yang Mahakuasa dan Aku memiliki kuasa untuk menyembuhkanmu dan melindungimu.”

Ketika ini terjadi saudara-saudarku dipenuhi dengan ketakutan.

Saya meminta mereka menembak saya sehingga saya dapat pergi langsung ke Adonaiku Yeshua Ha Mashiah.

Saya ingin memberikan pesan ini kepada kalian saudara-saudaraku dan saudari-saudariku bahwa jika kita hidup hendaklah itu bagi Ha Mashiah dan jika kita mati hendaklah itu bagi Ha Mashiah. itu seharusnya ada satu-satunya hal yang mulia bagi seorang Kristen.

Berita lainnya tentang kehidupan orang-orang Kristen di Pakistan bisa dibaca di sini: Persecution of Ex-Muslim – Pakistan

Baca lebih lanjut

Iklan

Pakistan: Gadis cacat ditahan atas tuduhan menghina Islam

BBC: Polisi Pakistan telah menahan gadis 11 tahun berpenyakit mental Down syndrome, setelah sekelompok orang-orang yang marah menuduh gadis tersebut merusak beberapa halaman Kuran.  Mereka mendesak gadis Kristen ini ditangkap untuk menerima hukuman mati dan mengancam membakar rumah-rumah orang Kristen diluar ibukota Islamabad, koran lokal berkata.

WND: Rimsha Masih, nama dari gadis ini malang ini, ternyata hanya membakar halaman-halaman “Noorani Qaida,” yakni buku petunjuk yang dipakai untuk belajar dasar-dasar Kuran. Lapor Barnabas Aid (yayasan kemanusia) kepada WND.

Tuduhan ini berawal dari tetangga Rimsha, dan menyebar seperti kebakaran hutan yang tidak terkendali oleh karena tuduhan disebarkan di mesjid-mesjid.

Para orang Islam yang marah besar ini sempat memukul dengan keras gadis ini, keluarganya dan beberapa orang Kristen setempat. Dua rumah Kristen juga dibakar dan beberapa rumah mereka dirusak pagarnya juga pintu-pintu dan jendela-jendela. [Mengapa orang-orang Muslim begitu mudah dihasut dan berbuat dosa atas dasar hasutan? Seorang murid sekolah Alkitab di Sumatra dipukuli oleh masyarakat sampai mati hanya karena membakar kertas jimad bertulisan Arab, di awal th 90an]

Akibat penyalah gunaan hukum penghinaan agama Islam ini, sekarang Rimsha tinggal dipenjara Rawalpindi setelah penangkapannya pada tanggal 16 Agustus.   Lebih dari 800 orang Kristen terpaksa harus meninggalkan rumah mereka demi keselamatan. Untuk pemimpin gereja dan para yayasan kemanusia datang menolong memberikan makanan dan minuman.

Aidan Clay dari International Christian Concern’s Pakistan menyatakan lebih dari 46 orang yang dituduh menghina Islam sejak 1986 sampai 2011 telah terbunuh oleh kekerasan masyarakat yang marah sementara menunggu sidang pengadilan.

“Keadilan akanlah hanya berjalan ketika ratusan Muslim yang menuntut Rimsha dan menyerang rumah-rumah Kristen di Islamabad ditangkap dan diadili,” Clay berkata.

Clay atas nama umat Kristen meminta Presiden Asif Ali Zardari menahan mereka yang terlibat.

Para pembela HAM telah mendorong Pakistan untuk mereformasi hukum-hukum penghinaan kepada Allah (blasphemy) yang kontroversi tersebut, yang mana seorang dapat ada diperjarakan seumur hidup hanya karena menghina Koran.

Kebanyakan dari mereka yang dituduh mengina Allah telah dibunuh oleh orang-orang brutal tersebut, sementara para politikus yang menasehati untuk merubah hukum telah juga jadi sasaran kemarahan.

Tahun kemarin, Shahbaz Bhatti, menteri untuk masalah-masalah kaum minoritas dibunuh setelah meminta mencabut hukum penghinaan tersebut.

Kematiannya tiba hanya beberapa bulan setelah pembunuhan Salman Taseer Gubernur Punjab, yang juga berbicara tentang hal yang sama. Tamat.

Yeshua mengajar orang Kristen: Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. (Matius 5:43-45)

Berdoalah bagi saudara-saudari kita di Pakistan, agar iman mereka semakin kuat kepada Yeshua Ha Mashiah di dalam penganiayaan ini. Dan melalui kejadian ini, kiranya banyak orang-orang Islam dibukakan mata rohani mereka.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Gulshan Fatima; Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 8

Ini adalah kesaksian Gulshan Esther (Fatima), puteri bungsu dari sebuah keluarga Islam Sayed yang merupakan keturunan langsung Nabi Muhammad melalui puterinya Fatima.

Tulisan ini merupakan sebuah buku berjudul THE TORN VEIL atau KERUDUNG YANG TERKOYAK, diterbitkan oleh Marshal Paperblacks.

Gulshan Esther (Fatimah); Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2 ; Bg. 3 ; Bg. 4 ; Bg. 5 ; Bg.6 ; Bg. 7 ; Bg. 8

BAB 14 BERSAKSI [Berkotbah kepada banyak orang penting, dipaksa berdebat di pesta pernikahan, pengemudi aneh, mulai terkenal]
“Ada seorang tamu untukmu di sini,” kata nyonya Neelam di pagi hari tanggal 30 Desember dan saya melongok ke atas dari bacaanku melihat-lihat. Rupanya Bapak Gill, seorang tua-tua dari Gereja di FOREMAN CHRISTIAN COLLEGE yang membawakan sebuah undangan untukku. Beliau langsung mengutarakan maksudnya.

“Pendeta Arthur dari gereja METHODIST, FOREMAN CHRISTIAN COLLEGE, ingin megundang anda untuk berkhotbah pada pelayanan Tahun Baru nanti. Anda dapat membawakan berita apa saja yang digerakkan Tuhan [Elohim]. Bagaimana pendapat anda?”

Untuk sekejap saya tidak dapat menjawab. Foreman Christian College adalah sebuah tempat besar dan gereja tersebut biasanya penuh dengan orang-orang berpengaruh. Bagaimana saya dapat berdiri di depan jemaah seperti itu dan berkhotbah? Saya hampir merasa mau menolak di kala teringat sesuatu yang difirmankan Elohim padaku malam itu, “Pergilah dan saksikanlah kepada umatKu.”

Ketika saya disembuhkan, Yeshua telah memerintahkan saya untuk melakukan hal ini, tapi waktu itu saya belum siap. Namun, visi yang penuh kegemilangan cahaya itu telah memancar dengan terang sekali di jalanku, mengajar saya untuk mengenal Elohim melalui FirmanNya dan dengan Iman. Apakah udangan ini yang datang tanpa disangka-sangka merupakan tanda bahwa saya telah siap untuk memberikan kesaksian ke pada Gereja mengenai apa yang telah saya alami dengan Berkat dan Kasih SetiaNya padaku? Sekarang saya memahami bahwa jika sesuatu keperluan untuk melakukan tindakan telah matang maka beberapa faktor akan saling menunjang – kesempatan terbuka, suatu bisikan suara terdengar lalu terasa adanya suatu kedamaian di dalam hati serta keyakinan bahwa waktu untuk bertindak sudah tiba.

Saya memandang ke arah si pembawa berita itu. “Saya akan datang” kataku, “namun bagaimana saya kesana?”

“Anda sangat diharapkan untuk datang dan tinggal bersama istriku dan saya besok malam di rumah kami di Wadat Colony. Alamat itu dekat dengan gereja dimaksud dan dari sana kami akan membawa anda ke kebaktian pada hari Tahun Baru.” Kamla Neelam sependapat dengan usul ini dan diatur bahwa Bapak Gill akan datang menjempuntuku besok pagi untuk pergi kerumahnya. Saya akan datang dan berusaha mengumpulkan ingatanku untuk ujian yang akan datang ini.

Besok malamnya di ruang tamu nyonya Gill, ketakutan menyelimuti diriku sewaktu saya merenungkan apa yang harus kulakukan. Perasaan sombong, rasa mau menonjol-nonjolkan diri kemuka….. saya begitu ingin memberikan suatu kesan yang baik.

Sambil berlutut akhirnya saya mengungkapkan khayaan ini dengan berkata, “Bagaimana caranya saya memberi kesaksian tentang Engkau ya Tuhan [Elohim]? Bagaimana saya dapat melukiskan tentang diriMu?” Baiklah, kedengarannya bodoh barangkali. Apa sebenar-nya yang saya perlukan? Pemunculan yang suci dan keramat yang sama lagi? Segera setelah pikiran itu kuungkapkan dengan kata-kata saya menyadari betapa naifnya bagiku untuk merasa kuatir tentang hal-hal seperti itu. Dalam keheningan pikiranku dengan kerendahan hati dihadapan Hadirat Elohim, saya mendengar suara yang tenang dan lembut, “RohKu akan menyertaimu.” Sukacita mengalir dengan derasnya. Cukuplah kiranya janji itu bagiku.

Tidak ku sangkal bahwa hal ini merupakan pengalaman yang pertama dalam hidupku di mana saya harus berhadapan dengan hadirin sebesar itu. Para guru, guru-besar, perawat, dokter dari Rumah Sakit Kristen di dekatnya – semuanya berpendidikan tinggi dan yakin akan dirinya. namun saya merasakan suatu kuasa yang tumbuh di dalam diriku ketika saya memberikan kesaksianku tentang penyembuhanku dan menceriterakan tentang berkat-berkat Elohim padaku melalui begitu banyak pengalaman yang menyedihkan. Para hadirin diam terpaku, mengikuti setiap kata-kataku dengan matanya yang tidak lepas-lepasnya memandang padaku.

Sewaktu saya turun dari mimbar orang-orang datang menemuiku dan mengatakan betapa kesaksian itu memberi makna dan berharga bagi mereka. “Kesaksian itu memiliki kuasa,” ucap satu atau dua orang. “Kami malah tidak menyadari waktu berlalu,” kata beberapa orang dengan air mata berlinang di pipinya. Para wanita datang dan berkata, “Anda telah begitu banyak menderita seorang diri.” “Biarlah kami pun turut berpartisipasi untuk menanggungnya bersamamu,” dan mereka memberikan alamat-alamatnya kepadaku.

Sebagian dari persembahan itu diberikan padaku dan saya kembali ke rumah keluarga Gill untuk makan siang. Melalui suatu selubung yang menakjubkan, terkenang olehku kedua kakak lelakiku – bagaimana rasa cintaku bagi mereka bergetar dalam kalbuku dan sekiranya mereka mendengar perubahan baru yang terjadi dalam pengalaman adik perempuan mereka yang telah diusir dan dibuangnya.

Sebagai kelanjutan dari Khotbah tadi pagi saya diundang untuk berpartisipasi dalam persekutuan wanita di Gereja secara tetap pada Foreman Christian College. Ini berarti bahwa saya harus berhenti mengajar di rumah Pak Yusuf dan berkecimpung dalam pekerjaan yang benar-benar ingin kulakukan dan dambakan: memberitakan Injil.

Semua gereja dikawasan itu satu demi satu mulai mengundang saya untuk berkhotbah dan mereka membayar pembiayaanku. Selama April dan Mei saya tinggal bersama beberapa teman di Canal Park. Dalam bulan Juni, keluarga lain membawaku kerumahnya dan saya disana sampai hari perkawinan anak lelaki kakak perempuanku.

Suatu persekutuan sambil berkemah bagi para wanita akan diadakan selama musim panas di Muree. Daerah ini letaknya kira-kira 2500 meter ditas permukaan laut dikaki gunung Himalaya atau 2 1/2 jam perjalanan bus jauhnya dari Rawalpindi adalah sebuah stasiun lama di pegunungan semenjak kerjaan Inggris Raya. Sekarang, orang-orang kaya berlibur kesana untuk menikmati iklimnya yang lebih sejuk serta pemandangan pegunungan dimana terdapat satu atau dua puncaknya yang hampir selalu ditutupi salju sepanjang tahun.

Di Muree ada banyak kegiatan Kristen – sebuah sekolah bahasa bagi para penginjil, sebuah sekolah Kristen bagi mereka atau anak-anak lainnya. Di sekolah ini, tidak sama dengan sekolah yang ada di dekat permukaan laut, selalu dibuka selama musim panas dan diberi libur sebulan dimusim dingin ketika salju tebal menutupi jalan-jalan pegunungan yang membahayakan.

Muree juga sangat sibuk pada musim panas dengan perkemahan-perkemahan dan konperensi-konperensi yang diadakan oleh kelompok-kelompok Kristen dari seluruh Pakistan. Persekutuan sambil berkemah bagi para wanita di Mambarak dimana saya telah diundang sebagai pembicara utama berlangsung selama seminggu pada awal Juni. Saya akan pergi ke Rawalpindi dengan pimpinan rombongan persekutuan itu yaitu Nyonya Hadayat dengan kereta api dan kami akan berangkat pada hari jumat jam 04 pagi.

Namun pada hari kamis pagi kira-kira jam 10, saya menerima berita dari kakak perempuanku, Samina yang tinggal di Samanabad sedang mempersiapkan sebuah pesta perkawinan. Anak Lelakinya akan kawin disana hari Sabtu dan ia menginginkan saya hadir sebagai tamunya. Anak lelakinya itu sendiri yang menyampaikan undangan secara lisan di ruang duduk di rumah tempat saya bertamu. Saya tersenyum padanya. Sejak kecil saya telah memperhatikan pertumbuhan Mahmud yang akan menjadi harapan keluarganya dan saya ingin untuk dapat hadir pada pesta perkawinan ini, namun ada halangan besar di hadapanku.

Saya memberi pesan balasan secara lisan melalui Mahmud, “Harap sampaikan pada ibumu bahwa saya sangat mengasihinya. Bagitu juga padamu, tapi saya tidak dapat datang. Setiap orang akan menentangku karena kepercayaanku dan kehadiranku hanyalah akan mengganggu suasana yang seharusnya merupakan hari bahagia bagi kita semuanya. Bukan hal yang baik bagiku kalau datang, tambahan pula saya pun akan pergi hari jumat menghadiri konperensi di pegunungan. Saya memohon maaf padamu sekalian karena tidak dapat memenuhi undanganmu yang penuh kasih ini.”

Keponakanku pergi dengan mengendarai Yamaha-nya, kelihatan murung. Saya meneruskan persiapanku. Pada jam 2 siang, Mahmud datang kembali, “Bibi, anda harus menghadiri pesta perkawinan ini. Ibuku berkata bahwa beliau tidak akan mengijinkan saya kawin jika bibi tidak hadir. Dan saya pun mengharapkan agar bibi hadir.” Dan dimata perjaka yang sudah besar ini terlihat ada air mata. Saya membuat suatu keputusan yang agak melegakan.

“Satu-satunya yang dapat kukatakan ialah bahwa saya akan ke bapak dan ibu Hadayat memintakan pendapatnya. Mungkin masih ada waktu untuk dapat menghadiri perkawinanmu dan kemudian berangkat dengan bus ke Rawalpindi pada waktunya yang akan disambung dengan bus berikutnya di minggu pagi.” Wajah Mahmud berseri-seri.

“Apakah Bibi dapat membonceng di sepeda motor?”  Saya akan membawa bibi ke tempat bapak dan ibu Hadayat,” katanya.

Jadi dalam waktu singkat seorang wanita muda membonceng di atas sepeda motor yang menderu-deru di jalan sambil berpegangan erat pada kemeja seorang anak muda didepannya.

Ketika ku ceritakan pada keuarga Hadayat tentang dilema-ku, mereka langsung memecahkannya, menasihatkan saya untuk memenuhi undangan tersebut.

“Kesempatan ini merupakan kesaksian,” kata mereka, “beberapa dari keluargamu belum bertemu lagi denganmu setelah anda disembuhkan.”

“Benar.” Kukenangkan pertemuan yang tidak enak dengan para paman dulu. Teringat olehku akan tatapan mereka yang keras, melotot dari wajah-wajahnya yang marah terhadap anak-dara muda yang kurus ini yang berani menantang adat-istiadat keluarga dan hukum agama. Ini telah terjadi pada pribadi yang lain. Namun apakah pendapat mereka telah berbeda sekarang? Saya sangsi kalau mereka telah berubah. Walalupun demikian masih ada satu atau dua kesempatan untuk bersaksi dan saya mencintai kakak perempuanku serta anak lelakinya ini. Bagi kepentingan mereka saya akan pergi kesana.

“Anda benar,” jawabku. Dan begitu kesulitan tersebut diatasi, bapak Hadayat mencari pada jadwal harian bus dan kami menemukan bahwa ada bus berangkat dari Badami Bag di Lahore jam 12 tengah malam hari sabtu yang membawaku ke Rawalpindi pada waktu yang tepat untuk berganti ke bus yang lain menuju Muree dan tiba disana dalam waktu yang cukup untuk berbicara pada hari minggu sore di persekutuan yang pertama bagiku. Keponakanku membawa kembali saya kerumah diatas Yamahanya dan berjanji akan datang besok menjemputku dan membawaku ke pesta kawin itu.

Jadi, keesokan harinya saya mengambil sebuah tas kerja kecil dan dengan ditemani keponakanku dengan cara yang istimewa saya berangkat menuju Samanabad. Pesta kawin itu seperti yang saya ramalkan merupakan suatu bencana dari awal sampai berakhir. Beberapa keluargaku yang lebih tua menganggap kehadiranku merupakan pelanggaran langsung dan membelakangiku bila saya di sekitar mereka. Yang lainnya di mana fanatisme Jihad-nya tebal, mendebat saya dengan keras sehingga saya hampir tidak berkesempatan bercakap-cakap dengan kakak-kakakku Samina atau Anis yang belum bertemu denganku hampir setahun lamanya.

Tumpuan serangan itu ialah “Kenapa kamu percaya pada Nabi Isa sebagai anak Elohim?”
Alkitabku ada dalam tasku tapi saya tidak perlu membukanya kata-kata yang kuperlukan datang ke bibirku tanpa dapat dibendung dan memiliki kuasa. Saya menyadari bahwa kesempatan ini mungkin tidak akan kuperoleh lagi, jadi saya berbicara pada setiap orang yang menaruh perhatian walalupun hanya sedikit. Perdebatan meningkat dan rasanya saya tidak punya waktu baik untuk makan ataupun minum. Yang paling marah kepadaku ialah kakak-kakak lelakikku, tidak terlihat olehku. Safdar Shah tidak datang waktu mendengar bahwa saya akan hadir sedangkan Alim Shah selalu menjamu para tamu pria dan di luar jangkauanku. Lama kelaman mereka yang berdebat denganku berkurang satu per satu dengan sentilan ungkapan seperti, “oh, ia gila, tinggalkan dia” dan “kami tidak punya hubungan keluarga dengannya, jangan berbicara dengannya.”

Tiba-tiba saya melihat waktu sudah jam 11 malam. Saya mendengar suatu suara berkata, “Engkau akan bersaksi di Muree besok dan kau masih disini sekarang.” Saya menjadi agak panik dan bergegas ke kamar kakak perempuanku serta memohon bantuan bila ada orang yang dapat mengantarku ku ke Badami Bagh. Tapi mobil Samina sedang dipakai tamu-tamu lainnya, Anis sedang sibuk dengan kaum keluarga suaminya dan beberapa tamu dengan tegas menolak – saya mendengar seseorang berkata, “Kami tidak mau mencemarkan mobil kami. Mintalah kepada Yeshuamu untuk menolong dirimu.” Samina mendekat dan memegang tanganku – “Gulshan maafkan saya karena tidak dapat menolongmu. Kenapa kau tidak bermalam dengan kami malam ini lalu besok kami akan mengantarmu ke stasiun bus?” Sebenarnya usul ini baik kedengarannya, karena bagi seorang wanita pergi sendirian dimalam hari seperti ini di jalanan mengandung ancaman bahaya. Namun saya merasakan suatu desakan perasaan yang mendorongku. Saya telah diberi tugas sehingga saya harus mengusahakan sedapatnya untuk memperoleh jalan keluarnya.

Lupa berpamitan saya menyelinap perlahan dari rumah yang terang benderang itu bersama seluruh kesenangan dan rasa amannya lalu berdiri di pinggir jalan. Awan-awan menyelubungi bulan, rumah-rumah dan pepohonan kelihatan samar dalam kegelapan. Dahan-dahan sebatang pohon mulberry (bebesaran) mendesir diatas kepalaku. Dengan gugup saya bergerak dibawah bayangannya. “Tuhan [Elohim], Engkau telah menyucikan saya. Jagalah dan tolonglah agar saya dapat sampai ke stasiun bus pada waktunya. Saya serahkan diriku sepenuh-penuhnya dalam lidungan Tuhan [Elohim],” doaku. Ketika saya mengakhiri doaku, air mata jatuh berlinang. Saya merasa kehadiran Elohim di sekelilingku di dalam gelap itu dan di dalam lingkaran itu saya merasa aman. Lalu dari jauh saya mendengar dan makin mendekat, bunyi deru mesin sepeda motor dan hampir bersamaan saya melihat lampu depannya kelap-kelip; cahaya lampu diselubungi kegelapan malam itu, sewaktu kendaraan itu bergerak menuju ke arahku menelusuri jalanan aspal. Saya melihat rupanya sebuah rickshaw (semacam becak bertutup yang dilengkapi mesin). Apakah kendaraan ini sedang membawa seseorang yang terlambat datang ke pesta kawin itu ataukah pengemudinya akan pulang setelah bekerja sehari-harian? Sambil berdoa agar orang ini akan berhenti bagiku, saya melambai-lambai dan kendaraan itu berhenti disamping tempat saya berdiri.

“Dapatkah bapak membawa saya ke Badami Bagh secepat yang dapat bapak lakukan? Saya harus mengejar sebuah sebuah bus yang akan berangkat ke Rawalpindi selekas mungkin.” Saya tidak dapat melihat wajahnya karena ia memakai semacam penutup kepala, namun ia mengangguk dan saya naik keatas kendaran itu dan saya tidak mau mengira-ngira apakah orang ini penjahat yang akan mengambil keuntungan dari situasi saya.

Kami bergerak maju, meninggalkan gema deru mesin. Rasanya kami melaju degan cepat sepanjang jalan. Sewaktu kami berputar masuk ke Badami Bagh saya melihat ke jam saya, nyatanya kami menempuh jarak 28 km dalam waktu 5 menit. Pengemudi itu mengangkat tas kerjaku tanpa berkata-kata dan membawanya ke deretan bus Watan Transport untuk tujuan Rawalpindi. Waktu ia mendekat, kelihatan berperawakan tegap dan mengenakan sebuah jubah panjang yang aneh berwarna coklat tua, pikirku mungkin di seorang Pathan (Indo-Iran).

Tasku diletakkan di bawah tempat duduk depan dan mau berlalu tanpa menunggu bayaran, sewaktu saya menghentikan dan bertanya, “Berapa ongkos yang harus saya bayar?”

Setelah berpaling kearahku, ia berkata, “Elohim telah menyuruh saya untuk menolongmu. Pergilah dengan damai.” Lalu ia membalik, pada lipatan leher jubahnya dan pada lengannya yang berotot saya membaca sebuah kata yang ditulis dengan huruf mengkilap “PETRUS.” Saya berusaha melihat wajahnya namun saya hanya dapat melihat matanya yang bercahaya.

Air mataku berlinang-linang dan saya terpaksa menghapusnya. Ketika saya menengok lagi kearahnya, dia telah menghilang dan tidak mengambil bayaranku, saya melihat ke sekeliling stasiun bus itu yang pada waktu malam selarut itu cukup sibuk karena orang-orang lebih suka bepergian di saat itu dibandingkan dengan di siang hari yang panas, namun yang terlihat ialah para penumpang bus yang meluruskan kaki-kakinya bersiap-siap melaksanakan perjalanan panjang. Saya mengambil tempat di tempat duduk berkasur, satu-satunya wanita di bus itu yang bepergian sendirian dan tidak mengenakan ‘burka’ dan saya membayar ongkosnya pada kondektur sewaktu ditagih.

Kami berhenti selama 1/2 jam di Jhelum untuk beristirahat, di tanda pertengahan perjalanan dan kemudian berhenti lagi di Gujarkhan. Waktu mendaki udara rasanya makin dingin menelusuri kaki gunung Himalaya. Waktu tiba di Rawalpindi jam menunjuk kan 04.45 pagi dan kami mencari jalan melewati orang-orang yang berdesak-desakkan, sapi-sapi dan kambing-kambing yang kurus, mobil-mobil, rickshaw, truk, sepeda, dan pedati-pedati agar mencapai stasiun perhentian bus di Raja Bazaar.

Cahaya matahari telah memberi warna pada tepi langit di ufuk Timur dengan sinarnya yang keemas-emasan. Bus untuk tujuan Muree itu lebih kecil, jalannya pelan dan perjalanan itu sendiri berbahaya melalui jalan pegunungan yang berliku-liku dan ruang lewat hanya cukup untuk dua kendaraan.

Pada bagian tahun seperti ini, banyak yang memakai jalan itu, ketika padang-padang tersiram getaran-getaran panas. Kami duduk menghadap ke dalam dan punggungku menarah ke dinding gunung sehingga saya tidak terpaksa melihat ke tepi lereng gunung yang berbahaya itu. Pada jam 11 pagi kami mendekati Muree. Saya turun di pemberhentian bus di depan kantor pos di lereng bawah kota itu. Saya memberikan tasku pada seorang buruh dan ia menunjukkan padaku jalan pintas menuju perkemahan Mubarik. Di dekat perkemahan itu penjaga gerbang melihat kami segera datang menjemput dan mengambil tasku.

Acara kemah bagi para wanita itu merupakan suatu minggu yang pengalamannya luar biasa bagiku. Ada 30 wanita peserta dari Peshawar, Sialkot, Karachi, Faisalabad (dulunya bernama Lyallpur) dan Hyderabad. Elohim telah menyatakan mujizat kesembuhan di tempat dimana para wanita mengalami penderitaan.

Saya bermalam di sebuah gedung bertingkat dua bersama Rut dari Abbotabad. Ada acara-acara untuk pagi dan malam hari serta waktu-waktu makan lalu selebihnya bebas namun saya sangat sibuk karena melayani banyak wanita yang berbicara mengenai beban hidupnya. Seorang guru sebuah Sekolah Pemeritah di Lahore mengatakan bahwa ia mengalami kesulitan dalam memberikan kesaksian diantara para ibu non-kristen disana. Kami berdoa bersama dan membicarakan tentang rasa takut yang dapat menguatkan ikatan kita satu dengan yang lain dalam situasi seperti itu dan saya mengingatkan dia janji Ha Mashiah; “Aku tidak akan meninggalkan atau membiarkan engkau.” Waktu kami berpisah ia berkata dengan sukacita, “Anda telah memberikan harapan baru padaku untuk menghadapi segala macam masalah.”

Ketika para wanita pergi, suatu kelompok pemuda datang dari Pelshawar dan Pendeta Sayed yang mengelola perkemahan itu meminta saya tinggal dan berbicara didepan mereka. Seorang pengacara muda datang dan mengatakan padaku bahwa ia bekerja diantara penganut-penganut agama lain dan merasa malu untuk bersaksi. Saya mengingatkannya akan Mat. 10-31 – 33 dan berdoa bersamanya. Pada hari ke 4 ia datang kembali dan berkata sekarang ia sudah memiliki keberanian. “Ketakutan sudah lewat”. Begitu juga dengan saya. Ia berkunjung ke tempatku waktu saya akan meninggalkan perkemahan menuju Rawalpindi dan tinggal dengan keluarga Younis. Saudari Younis sudah pernah ke Mubarik dan kami membentuk suatu persekutuan. “Datang dan tinggal bersama kami bila anda ke sini,” katanya kepadaku. Jadi itulah yang kulakukan.

Dari perkemahan-perkemahan itu pelayananku benar-benar mulai dilaksanakan dengan tekun dan saya pergi ke berbagai tempat berbicara di konperensi-konperensi mengenai cara Elohim menjamah saya. Saya diundang lagi ke Mubarik pada tahun pertama itu yaitu awal Juli dimana ternyata kami membagi satu tempat konperensi bersama orang-orang terkenal di masyarakat Kristen. Mereka menerima saya sebagai seorang yang telah ditugaskan Elohim untuk melayani. Setiap waktu saya melayani Firman, undangan-undangan mengalir dari berbagai tempat baik jauh maupun dekat. Orang-orang ingin mendengar tentang apa yang akan kubawakan – mereka berkata Firman ini menguatkan mereka dan bahwa itulah pelayanan Firman yang dibutuhkan pada masa-masa kini.

Sekarang kesempatan-kesempatan mulai terbuka bagi suatu pelayanan yang lebih luas tapi disaat yang sama saya selalu berpegang teguh pada Yeshua. Dari pengalamanku saya tahu bahwa jika banyak berkat maka serangan pun akan mengancam juga. Walaupun begitu, saya tidak mempersiapkan diri secara khusus utuk mengira-ngira secara khusus dari arah mana gerangan serangan itu akan datang.

BAB 15 PENUTUP
Dari Rawalindi saya menjelajah ke seluruh Pakistan, berbicara di geraja-gereja dan konperensi-konperensi, begitu juga melakukan pelayanan pribadi pada orang-orang membutuhkan, baik fisik maupun rohani.

Pada bulan Oktober 1977 saya pergi ke Lahore dan perjalanan ini merupakan jawaban doa dari suami-istri anggota Gereja Methodist di Canal Park yang menyurati saya mengatakan bahwa anak lelaki mereka sakit. “Datanglah dan berdoa untuknya,” tulis sudara James. Saya datang berdoa selama dalam perjalanan. Ketika saya tiba disana anak lelaki itu telah dibawa kembali kerumahnya dari United Christian Hospital, berangsur-angsur sembuh tapi masih lemah. Lalu Saudara James dan istrinya meminta saya tinggal dengan mereka. Anak-anaknya 5 perempuan dan 5 lelaki dan mereka meminta bantuanku dalam pendidikan rohani anak-anaknya. Akhirnya disepakati bahwa saya akan tinggal bersama mereka, tapi bila diperlukan untuk menghadiri pertemuan/konperensi kemanapun di Pakistan, saya bebas untuk pergi.

Selama tahun-tahun ini saya hidup dengan iman. Tuhan [Elohim] mencukupkan kebutuhan-kebutuhanku sedemikian limpahnya sehingga orang-orang lain bertanya-tanya apakah ada misi luar negeri yang menyokong saya. Saya berusaha menjelaskan pada mereka bahwa kekayaan-kekayaan surgawi merupakan milik kita bila kita mau percaya kepada Elohim sepenuhnya. “Saya telah memepersembahkan kepada Elohim semuanya – keluarga, rumah, uang, reputasi – dan mempercayakan kepadaNya segala keperluanku.”

Ketika saya masih di Rawalindi, Anis sampai pada bagian akhir hidupnya di dunia. Kakak perempuanku itu didorong oleh tantangan keluarga untuk tetap sebagai seorang percaya secara sembunyi-sembunyi, meninggal pada tanggal 14 Maret 1977. Saya ada bersamanya waktu dia meninggal, memberikan penguburan padanya. Saya tahu bahwa ia telah menempatkan tangannya pada tangan pribadi yang Memakai Mahkota di puncak tangga dan mengundang Dia untuk memimpin hidupnya ke dalam Hadirat Elohim.

Kedua anak perempuan Anis masing-masing berusia 15 dan 16 tahun tinggal bersama pamannya setelahnya karena ayahnya kelihatannya tidak mau menjaga mereka. Beberapa bulan kemudian saya mendapat surat dari keponakan-keponakanku meminta padaku apakah mereka bisa datang dan tinggal bersamaku, karena mereka tidak merasa bahagia. Jadi di bulan Oktober saya mengambil alih pengawasan atas kedua keponakanku lalu mereka pindah dan tinggal bersamaku di rumahnya keluarga James.

Terlalu banyak anak perempuan tinggal serumah dan diwaktu itulah saya berdoa untuk memintaan sebuah rumah bagiku dan tidak menggantungkan diri pada seorang pun kecuali Elohim. Saya menempatkan kedua gadis itu ke sebuah sekolah khusus untuk para gadis (semacam biara), karena sulit bagiku untuk meninggalkan kedua keponakanku dalam rumah orang lain bila saya sedang melakukan perjalanan. Sekolah tersebut dikelola oleh beberapa suster dan suasana di sana baik bagi gadis-gadis.

Elohim menggerakkan beberapa kawan-kawan di Karachi untuk melakukan sesuatu tentang keadaanku yang tidak mempunyai rumah. Mereka merasa bahwa sudah waktunya bagiku untuk mempunyai rumah sendiri dan tidak dapat tinggal dengan orang lain untuk seterusnya. Jadi mereka mengumpulkan dana dan ditambakan dengan uang tabunganku cukup untuk mendapatkan sebuah rumah kecil. Betapa senangnya untuk dapat pulang ke tempat milik pribadi bagi seseorang bila selesai dari serentetan pertemuan penginjilan yang melelahkan di tempat-tempat yang jauh.

Ketika saya menerima rumah pribadiku pada musim panas tahun 1978, keponakan-keponakanku datang dan tinggal bersamaku. Tapi tidak semuanya berjalan lancar. Saya didakwa di pengadilan atas beberapa tuduhan palsu. Saya memberi penjelasan di pengadilan bahwa dulunya saya seorang yang lumpuh dan telah disembuhkan oleh Yahweh Yeshua. Ia bertanya padaku apakah ada seorang dari keluargaku yang akan menjadi saksi untuk ini. Seorang anggota keluargaku datang ke pengadilan untuk keperluan ini dan membenarkan tentang kisah penyembuhanku serta menceriterakan tentang kelakuanku yang baik. Perkara yang dituduhkan padaku itu dibatalkan. Keponakan-keponakanku tidak dapat tinggal lebih lama dengan saya, namun Elohim begitu baik padaku dan memberikan dua anak angkat perempuan yang manis, seorang anak lelaki beserta kakek mereka, sehingga saya tidak sendirian di dunia ini.

Dua bulan kemudian sesudah ini, di bulan Juli 1981, saya ke Karachi tinggal bersama seorang kawan di Akhtar Colony, dekat dengan gereja Methodis, ketika saya didekati seorang perawat muda Patricia untuk mengunjungi adik perempuannya Freda, seorang perawat di Rumah Sakit Jinnah. Yang ditakutinya, adiknya dikuasai oleh roh jahat. Katanya, “Adik perempuanku sedang sakit. Ia berteriak-teriak dan ketika roh itu datang dia mulai berteriak-teriak dan mulai memukul-mukul orang.”

Saya menyetujui permintaannya dan kami memakai rickshaw ke rumah sakit, suasana lembab dan menyesakkan napas – tapi hal itu bukan hanya disebabkan oleh udara panas. Freda berdiri disana, muda, pemalu, kepalanya menunduk. Ia mengenakan pakaian non dinasnya ‘shalwar kameeze’ dan ‘dopatta’. Seringkali ia mengangkat matanya untuk menatapku dengan pandangan tetap dan saya tidak melihat suatu ekspresi di dalamnya.

Dengan lembut Patricia berkata kepada adiknya, “Ba-ji, ini Sister Gulshan. Beliau datang untuk berdoa bagimu.” Tidak ada jawaban dari perawat muda itu. Ia berdiri tidak bergerak-gerak untuk sekejap, lalu tiba-tiba minta diri dan meninggalkan rungan itu ke kamar mandi disebelah bawah ruangan itu. Sesudah 15 menit ia pergi, kawanku berkata, “Ia sudah terlalu lama pergi. Saya akan mencarinya.”

Ia kembali menarik-narik adiknya yang enggan itu dengan tangannya. Freda duduk di atas permadani dan saya duduk diatas lengan kursi, meragkulnya agar duduk di dekatku di lantai. Lalu saya menumpangkan tanganku keatas kepalanya, membuka Alkitabku Mazmur 91 dan membaca dengan nyaring, “Orang yang duduk dalam Lindungan Yang Maha Tinggi dan bermalam dalam naungan Yang Maha Kuasa akan berkata kepada YAHWEH: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Elohimku yang kupercayai, sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk. Dengan kepakNya ia akan melindungi engkau, dibawah sayapNya engkau akan berlindung, kesetiaannya ialah perisai dan pagar tembok.”

Sampai disini gadis itu mengatupkan matanya. Sambil tetap menumpangkan tanganku di atas kepalanya saya berkata, “Saya perintahkan engkau, hai roh jahat, di dalam nama Yahweh Yeshua Ha Mashiah keluar dari gadis ini.”

Mendengar ini gadis itu berteriak-teriak, “Lepaskan saya! Saya sedang terbakar!” [teriakan roh jahat yang ada pada gadis tersebut]

Saya berkata, “Lebih baik bagimu kalau engkau terbakar daripada membiarkan si-jahat itu membakarmu.”

Kemudian roh jahat itu berkata dan suaranya berbeda dengan suara gadis itu yang lebih halus, “Aku akan pergi, Lepaskan aku. Aku tidak akan kembali.”

Gadis itu jatuh kelantai sewaktu roh jahat itu meninggalkannya dan ia terbujur disana tidak bergerak-gerak, badannya menjadi lemas. Setelah 10 menit Patricia membantunya berdiri. Ia membuka matanya dan meminta air minum. Setelah minum, saya memintanya datang duduk disampingku lagi. Kali ini ia membaringkan kepalanya di lututku dan berkata, “Tolong doakan saya lebih banyak lagi. Saya merasa lebih ringan sekarang.”

Saya memintanya mengulangi doa ini, “Terima kasih Tuhan [Elohim] karena saya telah dibebaskan dan sekarang saya menyerahkan hidupku padaMu. Ambillah dan pakailah saya seturut kehendakMu serta berilah saya kekuatan untuk mengiringMu dan tetap setia.”

Kami duduk sampai jam 7 malam ketika makin banyak lagi perawat datang ke ruangan itu. Mereka diberitahu tentang apa yang telah terjadi dan mereka mulai mengutarakan masalah-masalahnya masing-masing, meminta saya mendoakan mereka. Seorang dari antaranya akan menempuh ujian yang ditakutinya. Yang lain mengalami kesulitan dibangsal rumah sakit. Yang ketiga orang-orang tuanya di rumah sedang sakit. Jadi saya berdoa untuk mereka.

Harus ku katakan bahwa selama sore dan malam yang panjang ini kami telah makan siang dan minum teh di ruangan itu. Hari itu penuh dengan kegiatan dan ingatan kami rasanya bertambah – dengan cita-rasa lobak cina, potongan-potongan daging sapi, chapatti dan pisang yang kami makan.

Ketika tiba waktu pulang, Patricia dan saya menggunakan rickshaw kembali ke Akhtar Colony dimana saya menumpang bersama seorang kawan lain. Saya memiliki foto kedua bersaudari yang cantik itu untuk dikenangkan. Mereka benar-benar gadis-gadis yang cantik dan kini mereka bersaksi bagi Yeshua dirumah sakit itu.

Tuhan [Elohim] telah memakai saya dalam menyembuhkan situasi-situasi dimana orang-orang saling bertengkar satu sama lain. Saya mengira bahwa saya telah sangat salah mengerti terhadap diriku sendiri sehingga saya dapat merasakan apakah suatu nyala api dapat disuluti dengan satu perkataan yang benar atau suatu pikiran dengki.

Karena tidak ada satu gereja yang menopangku maka kami menyerahkan kepada Tuhan [Elohim] untuk memenuhi semua kebutuhan kami. Kadang-kadang kami bangun di pagi hari tanpa ada makanan sama sekali di rumah. Namun ada hari-hari dimana kami semua memutuskan sebagian karena memang perlu, bahwa hari itu adalah hari puasa.

Pada keadaan-keadaan ini kami makin dekat kepada Elohim. Dialah Bapa Kami. Dia mengetahui apa yang terbaik dan Dia tidak pernah mengecewakan kita, hanyalah selama suatu waktu menguji kita.

Dalam kemiskinanku, orang-orang ditarik ke padaku. Orang-orang datang, berjalan berkilo-kilometer tanpa ongkos bus untuk pulang dan kami sadari bahwa kami masing-masing memberikan dari kekurangan kami. Mereka datang meminta bantuan rohani tapi bagaimana kami dapat membiarkannya pergi tanpa memenuhi kebutuhan fisiknya juga. “Kamu menerima dengan cuma-cuma, berilah juga dengan cuma-cuma.”

Saya dipanggil ke sisi pembaringan seorang pria yang telah datang dari Inggris yang diserang penyakit Disentri amuba serta ada pembengkakan (Cyst). Kejadiannya dibulan Januari 1981. Saya berdoa untuknya dan menumpangkan tanganku padanya dan ia disembuhkan. Hasilnya ialah saya diundang ke Inggris dan Kanada memberitakan Injil kepada kelompok-kelompok orang-orang Asia dan Inggris.

Yang paling ditakuti bibiku dulu ketika untuk pertama kalinya saya memberi kesaksian tentang penyembuhanku oleh Yeshua ialah bahwa saya harus pergi ke Inggris. Nah…..inilah saya, mengenangkan kembali seluruh perjalanan yang telah di pimpin oleh Bapaku disurga bagiku untuk menjalani sejak pertama kali saya percaya padaNya.

Saya dapat melihat bahwa perjalanan ibadah haji yang saya laksanakan bersama ayahku merupakan awal kerinduan jiwaku untuk mengenal Elohim. Proses ini menimbulkan harapan, yang walaupun masih mengecewakan waktu di Mekkah, telah memberikan dorongan dalam diriku terutama sesudah kematian ayahku untuk mencari Elohim dalam suatu dorongan perasaan yang kuat dan mendesak serta nekad. Saya menadahkan tanganku memohon kepada Yeshua si Penyembuh – tanpa mengetahui apa-apa tentang Dia, kecuali sedikit yang saya baca di dalam Al Qur-an – dan saya disembuhkanNya. Sekarang, saya adalah seoran saksi tentang Kuasa Elohim untuk mecapai saudara-saudaraku dan orang-orang yang tersembunyi di belakang kerudung Islam. Kerudung itu dapat dikoyakkan sehingga meraka dapat memandang Yeshua, mendengarkanNya dan mencintaiNya. Sekarang ini saya tidak memerlukan lagi ke lima rukun Islam untuk menopang Imanku. “Kesaksian” ku ialah untuk Yeshua, yang disalibkan, mati dan dikuburkan kemudian bangkit dari antara orang mati kedalam Hidup Yang Kekal dan kini hidup di dalam UmatNya.

Sembayang (Namas)ku tidak lagi kepada satu ilah yang tidak dapat saya kenal tetapi kepada Satu ceriteraNya dapat saya baca didalam FirmanNya sendiri, Alkitab hartaku yang paling berharga, yang ditulis didalam loh hati dan pikiranku, sebagaimana dulunya Al Qur-an bagiku.

Persembahan (Zakat)ku tidak lagi merupakan sesuatu bagian melainkan adalah seluruh pendapatanku, karena segala sesuatu yang saya miliki adalah milik Elohim. Kekayaanku disimpan di atas di surga. Puasaku tidak saya lakukan pada bulan Ramadhan untuk mendamaikan hatiku dengan Elohim sehingga saya mungkin mendapatkan keyakinan untuk ke Surga, namun saya lakukan dengan sukacita sehingga saya lebih dapat mengenalNya.

Ibadah Haji-ku ialah perjalanan sepanjang hidup ini. Tiap hari membawa saya makin dekat kepada tujuan – untuk bersama Yeshua, Raja Surgawi-ku selamanya. Darah sapi, domba atau kambing tidak akan pernah dapat menghapuskan dosa, tapi kita dapat masuk ke dalam tempat Yang Maha Kudus dan diterima secara sempurna melalui satu jalan dan hidup yang baru, “Melalui Kerudung itu” ialah: DagingNya. Karena Pribadi ini (Yeshua) ketika Ia Membawakan Satu Pengorbanan bagi dosa untuk selama-lamanya, duduk di sebelah kanan Elohim Bapa (Ibrani 10:12).

Itulah YESHUA, ANAK DOMBA ELOHIM, NABI dan IMAM, RAJA segala RAJA, Tuhanku dan Elohimku.
TAMAT.

Gulshan Esther (Fatimah); Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2 ;
Bg. 3 ; Bg. 4 ; Bg. 5 ; Bg.6 ; Bg. 7 ; Bg. 8

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Gulshan Fatima; Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 7

Ini adalah kesaksian Gulshan Esther (Fatima), puteri bungsu dari sebuah keluarga Islam Sayed yang merupakan keturunan langsung Nabi Muhammad melalui puterinya Fatima.

Tulisan ini merupakan sebuah buku berjudul THE TORN VEIL atau KERUDUNG YANG TERKOYAK, diterbitkan oleh Marshal Paperblacks.

Gulshan Esther (Fatimah); Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2 ; Bg. 3 ; Bg. 4 ; Bg. 5 ; Bg.6 ; Bg. 7 ; Bg. 8

BAB 12 GODAAN [dijebak lagi, moncong bedil kakak kandung di mukanya]
Bila kukenangkan kembali maka rasanya masa yang kualami ketika tinggal bersama kakak dan iparku di Pindi merupakan salah satu dari waktu paling bahagia di dalam hidupku setelah menjadi Kristen. Anis selalu menyenangkan hatiku, suaminya berlaku baik dengan cara yang lemah lembut. Sekali lagi saya menjadi bagian dari keluargaku dan diperlakukan dengan kasih dan perhatian.

Ada pembantu di rumah itu, 2 atau 3 pembantu wanita, masing-masing seorang klerk, koki, dan sopir. Anak lelaki koki bekerja di kebun. Saya tidak perlu lagi menjahit atau membersihkan meja. Kini saya dibutuhkan menjadi pengasuh gadis-gadis cilik dan saya lakukan hal ini seperti dilakukan Anis terhadapku dahulu – menceritakan kisah-kisah kepada mereka. Peranan yang sangat menyenangkan. Pada waktu yang sama saya merasakan bahwa saya memperhatikan para pembantu dengan simpati – bagaimana mereka melaksanakan tugas rumah tangga – mencuci piring, lantai, pakaian, menggosok, menyetrika, membersihkan, mengkilapkan, mengeluarkan debu, mengangkat-angkat, menyusun, memisah-misahkan dan menata kembali. Saya merasa berterima kasih pada semua orang atas pelayanan mereka. Saya tidak merasa rugi karena perasaan ini malah menyebarkan kebahagiaan.

Kakakku dan saya makin dekat satu sama lain, kini bersaudara dalam Ha Mashiah. Tiap hari kami menggunakan waktu 2 atau 3 jam mempelajari Alkitab. Dalam waktu singkat Anis mendapatkan satu fakta sebagai kesimpulannya: dia dapat memahami isi Alkitab padahal sulit baginya untuk memahami Kitab Suci lainnya. Ditulis di dalam bahasa sendiri dan tidak ada misteri tentang Alkitab itu. Seseorang dapat membacanya sebagaimana halnya dengan membaca buku biasa, mengenal dari sudut pandangan lain tentang beberapa kejadian yang dikenal baik oleh umat Islam maupun umat Yahudi, tapi di sini ada satu kelebihan, yaitu kuasa Kebenaran yang sejati. Kakakku berkata, “Kata-katanya indah sekali, kata-kata ini mendatangkan penghiburan.” Ia mengenang anaknya yang telah meninggal. Saya berkata, “Kata-kata ini nyata dan merupakan Firman dari Bapa kita yang di surga. Apapun yang anda rasakan, kita akan mendapatkannya di sini, apakah itu susah atau senang. Yang terutama adalah kita yakin bahwa dosa-dosa kita sudah diampuni dan agar kita mengikut Yeshua dari hari ke hari.” Katanya, “Saya rasa Dia ada di sini bersama kita sewaktu kita berbicara tentang Dia.” Kutunjukan padanya ayat, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” ( Matius 18:20 ) Waktu kita berdoa Dia mendengarkan. Guru kita selalu menyertai kita. Kita dapat mengerti karena RohNya memimpin kita.

Blund Shah tidak merasa gembira atas perhatian baru dari isterinya ini. “Jangan kau katakan kepada setiap orang bahwa Ha Mashiah telah membangkitkan engkau dari mati, kau diam saja!” pesannya kepada kakakku. Kelihatannya kakakku tidak begitu memperdulikan peringatan suaminya. Demi kepentingannya saya menjaga untuk tidak sembarangan bercerita kepada orang lain bahwa saya seorang Kristen, walaupun bila langsung ditanyakan kepadaku biasanya saya bercerita tentang visi dan penyembuhanku, dan kisah ini umumnya tidak memancing pertanyaan mereka lagi.

Anis dan suaminya mempunyai banyak kaum keluarga atau teman, dan setiap hari ada saja tamu yang berjamu di bungalownya yang menyenangkan itu. Dalam sebuah rumah tangga Shiah, diatur dengan keras agar apapun yang terjadi di bagian lain dari dunia Islam, di sini pembagian mendasar atas jenis kelamin tetap dipatuhi. Tamu pria dan wanita walaupun tiba bersama-sama harus duduk di bagian serambi yang terpisah atau ruangan tamu yang berbeda. Adakalanya bagiku sebagai seorang Kristen, merasa tidak sabaran atas pemisahan hubungan manusia seperti ini, terutama sebagaimana yang ku ketahui bahwa di dalam suatu persekutuan di mana Ha Mashiah mempersatukan umatnya maka kehidupan dapat berjalan dengan baik sekali tanpa adanya pemisahan seperti ini. Tetapi di negara kami yang didirikan atas ajaran agama, maka setiap segi kehidupan sosial kami menggunakan tolak ukur ajaran-ajaran agama dan tafsiran-tafsirannya.

Dalam kehidupan kota, dampak pemisahan ini lebih banyak dirasakan dan makin jelas bagiku dibandingkan dengan yang kurasakan di Jhang, karena Jhang terletak di pedalaman dan masih jauh lebih terbelakang dibandingkan dengan kota. Sebahagian dari diriku berfungsi sebagai penilai, bagiannya yang lain menikmati kesenangan-kesenangan masa lalu bersama teman-teman wanita, bercakap-cakap sesama wanita tanpa diganggu oleh kehadiran seorang pria pun.

Hatiku tenang rasanya mendengarkan semua ceritera yang terperinci mengenai siapa yang kawin dengan siapa, anak mana yang sakit dan yang mana yang sehat, apa yang dipelajari mereka di sekolah serta jurusan pekerjaan apa yang mereka ambil. Kini gadis-gadis juga mengikuti pendidikan, beberapa diantaranya malah ke perguruan tinggi, namun kemudian menghadapi kenyataan bahwa bidang pekerjaan bagi mereka tidaklah mudah diperoleh dan tidak selamanya disenangi.

Seorang anak perempuan nantinya dapat menjadi seorang dokter wanita atau guru bagi anak-anak perermpuan atau pun menjadi perawat. Makin sulit bagi mereka untuk masuk ke lingkungan kerja bersama para pria seperti di kantor. Namun untuk menahan agar anak-anak perempuan tetap belajar di rumah, makin sulit rasanya bagi para keluarga karena begitu banyak pemuda yang menunda-nunda perkawinannya selama mengikuti pendidikan di luar negeri.

Selalu ada kontradiksi antara syariat agama dengan kepentingan duniawi, seperti yang terjadi sebelum ini. Nah, masalah-masalah ini sekarang dihadapi oleh banyak keluarga – mereka menyalahkan pengaruh barat yang telah mengikis tolak ukur yang telah ada dan mengalihkannya sehingga berubah menjadi cara yang lebih dipilih untuk mendapatkan kebahagiaan – memetik impian yang paling muluk, masa depan yang terbaik bagi anak-anak lelaki mau pun perempuannya.

Saya mendengarkan dengan lebih sadar daripada dulu bahwa impian-impian seperti itu merupakan kuncup-kuncup yang mudah retak, dengan mudah dapat diterbangkan dengan angin kencang. Tekanan-tekanan semacam itu tidak akan mudah terhapus. Waktu itu kami menyadari betapa sulapan logika kehidupan dapat berproses menjadi suatu ledakan terhadap logika agamawi bila keadaan seperti ini terjadi berkali-kali dalam skala yang besar.

Anis menyatakan jalan pikiranku ini dalam kata-katanya yang sederhana, “Mereka cemas tentang masa depan anak-anaknya, tapi bagi mereka sendiri kemanakah tujuan hidupnya?” Baginya, suatu kehidupan yang tidak memiliki tujuan yang pasti tanpa Ha Mashiah seringkali merisaukannya. Merasakan kembali duduk-duduk pada kedua sisi ‘prudah’ menujukan kepadaku betapa kuat dan mantapnya dasar yang tealh kutemukan dalam hidupku. Kebahagiaanku kini tidaklah tergantung pada terpenuhinya ambisi pribadiku, tapi terletak pada melakukan kehendak Elohim. Karena itu tidak sesaatpun saya membiarkan diriku membayangkan bahwa masa tenang ini akan berlangsung terus, dan memang begitulah yang terjadi.

Dalam bulan Nopember ku ketahui bahwa iparku untuk periode tertentu akan pergi ke Lahore, karena urusan dagangnya.

“Kita semua harus pergi,” kata Anis, “dan kita harus tinggal di rumah Alim Shah.”

Saya kaget mendengar berita ini, “Baiklah tapi maaf, saya tidak dapat ke Lahore bersamamu, saudara kita Alim Shah berkata kepadaku bahwa pintu rumahnya tertutup bagiku karena saya telah mengingkari agama Islam.”

Wajah kakakku merengut seperti seorang anak yang mau menangis, “Saya memerlukan doamu dan saya juga memerlukan bantuanmu. Jika Alim Shah tidak mau menerimamu maka saya akan menyewa bungalow lain dan saya akan tinggal bersamamu.”

“Dan apa tindakan suamimu nanti, saya rasa ia akan menceraikanmu.” Saya memeluknya dan setuju untuk pergi bersama mereka. Kami akan melihat bagaimana penerimaan kakak lelakiku nantinya terhadapku.

Jadi, pada tanggal 28 Nopember jam 4 sore, kami berangkat dengan sebuah mobil dan abrang – barang diangkat dengan truk.

“Saya sangat senang berjumpa denganmu. Kau diterima dengan senang di rumahku, selamat datang.” Yang berbicara ini adalah kakakku Alim Shah. Saya tidak mempercayai pendengaranku, seolah-olah pembicaraan yang tidak menyenangkan hati di telepon tidak pernah terjadi.

Keluarga itu menumpang sementara bersama Alim Shah sampai mereka mendapatkan sebuah rumah. Saya mendapat sebuah kamar enak dan seorang pembantu diberikan kepadaku untuk membantuku. “Saya tahu kamu mempunyai kawan-kawan di sini,” kata kakak lelakiku dengan tak terduga sama sekali, “kepada sopirku sudah kukatakan agar membawamu ke mana saja yang kau kehendaki.”

Saya mengucapkan terima kasih kepadanya dengan hangat, tapi dalam hatiku saya merasa tidak tenang, hal itu rasanya terlalu baik untuk menjadi kenyataan. Ketika hari Minggu tiba, saya meminta sopir membawa saya ke gereja Methodeist di jalan Warris. Pendeta menjabat tanganku di depanku dan jemaat menyambutku dengan cukup ramah, tetapi tidak ada yang menyapa, “Apa Kabar? Kemana saja selama ini? Apakah anda memerlukan sesuatu?” Karena itu saya tidak menceritakan pada seorang pun tentang kesulitanku tetapi mempercayakannya kepada Elohim seperti biasa untuk pemecahannya.

Empat bulan kemudian, pada suatu malam di bulan Mei, saya sedang berdoa di kamarku sambil duduk di kursi dengan Alkitab terbuka di lututku. Saya mendengar bunyi gerakan kaki dan membuka mataku. Di seberangku, Almin Shah sedang memperhatikanku dengan tersenyum. Ada suatu tekanan perasaan terbersit padaku dan entah mengapa saya sampai membayangkan Harimau pada waktu itu.

“Kuharap engkau merasa bahagia di rumahku,” katanya dengan suara yang sangat mengasihi. “Kuharap engkau merasa cocok dengan Istriku dan senang dengan anak-anakku. Kuharap para pembantu tidak menyebabkan suatu masalah apapun atasmu.”

“Saya sangat bahagia di sini,” jawabku sepenuh hati.

“Kami sangat mencintaimu, dan kami mau kau tinggal bersama kami untuk kebaikan kita. Sebenarnya saya sedang mengurus pembangunnan sebuah bungalow bagimu di Goldberg” (tempat ini adalah bagian tepi kota yang modern bagi golongan yang cukup kaya, letaknya kira-kira 10 km dari sini). Ia melanjutkan, “Dan saya ingin agar kau turut berlibur denganku. Bulan depan saya akan berkunjung ke tempat-tempat bagi umat Islam… Mekah, Medinah. Maukah kau turut bersamaku?”

Ia sedang menggodaku, saya teringat akan ……..“Semua ini akan kuberikan kepadamu jika,….” ( Matius 4 :8-9 ).

“Saya tidak berkeberatan pergi bersamamu, tetapi hal ini tidak akan merubah iman percayaku,” jawabku.

Seakan-akan saya tidak berkata apa-apa, ia mengambil Alkitab dari pangkuanku dan melihat ke halaman-halamannya yang terbuka, “Yang kuhendaki darimu untuk semua yang akan kuberikan kepadamu ialah buku ini. Berikanlah Alkitab itu padaku dan saya akan membawanya ke depot Lembaga Alkitab sehingga kau tidak dapat membacanya lagi, dan berhentilah ke gereja, maka akan kuberikan kepadamu apapun yang kau kehendaki.”

Dengan nyaring saya menjawab, “Mazmur 119 : 115, “FirmanMU itu pelita bagi kakiku dan terang pada jalanku.” Inilah adalah Firman Elohim dan Ia memberitahukan padaku perbedaan antara yang benar dan yang salah, saya tidak akan memberikannya kepadamu……ini adalah bagian dari hidupku.” Saya melihat bahwa ia menjadi marah. Dengan cepat kutambahkan, “Saya tidak dapat berhenti untuk pergi ke gereja karena di situlah rumah Tuhan [Elohim]. Pengantin wanita sudah hampir siap sebab mempelai lelaki sudah hampir datang. Dan barangsiapa menyangkal Aku didepan manusia, Aku juga aka menyangkalinya didepan Bapakku yang di Sorga (Mat. 10:33).”

Ia melompat berdiri. Dilemparkannya Alkitab itu padaku, “Sebelum matahari terbit, tinggalkan rumahku, aku tidak sudi melihat mukamu lagi.”

Perangkap telah diberi umpan dan disentuh, tidak ada seorangpun yang datang mendekatiku malam itu, saya berbaring dengan perasaan berat, besok paginya tercipta suatu suasana yang tidak menyenangkan sama sekali. Kakak lelakiku tidak kelihatan, tidak ada berita tentang Anis atau suaminya. Pelayan hanya meletakkan sarapan begitu saja lalu pergi diam-diam. Dengan sedih saya mengemasi koporku dengan 4 atau 5 baju yang dijahit Anis untukku, pakaian-pakaian yang indah-indah yang dihadiahkan Alim Shah kutinggalkan karena ia telah berpesan, ‘jangan membawa sesuatu apapun dari rumah ini’. Koporku ada digang dan saya berjalan kesana ketika saya melihat Safdar Shah datang. Saya belum lagi berjumpa dengannya sejak saya meninggalkan Jhang, tapi ungkapan kata-kata bagi pertemuan yang membahagiakan langsung sirna ketika saya melihat apa yang dibawanya adalah sebuah bedil. Dia memegangku dipergelangan tangan dan menarik saya ke lantai dasar rumah itu.

“Duduk disitu dan jangan bergerak,” perintahnya.

Saya mematuhinya. Jika dirangsang, Safdar Shah dapat menjadi kasar. Ia pergi memanggil Alim Shah. Di rumah itu keadaan sunyi sekali, suasana diliputi ketakutan, kakak-kakakku lelaki turun kebawah, wajah mereka keras dan mantap. Jantungku berdebar-debar dan kakiku lemah seperti jerami rasanya, tetapi saya tetap duduk di atas sebuah sofa, berusaha untuk tetap tenang. Kakak-kakakku duduk menghadapi saya pada seberang meja. Saya mencoba memandang kearah matanya yang penuh kebencian, tetapi mereka sedang melihat ke bagian dalam dirinya seakan-akan tidak sadar akan pandanganku.

Safdar Shah mengoperkan bedil itu kepada Alim Shah, “Selesaikan kutuk keluarga ini!” perintahnya. Alim Shah menggenggam popor bedil dua laras itu dan dengan perlahan mengangkatnya dan dibidikkan ke kepalaku. Ia berkata dengan suara putus asa yang lemah, “Mengapa kau mau mati? Yang perlu kau perbuat hanyalah mengatakan bahwa kamu tidak lagi mengakui nabi Isa itu sebagai Anak Elohim dan bahwa kau akan berhenti ke Gereja. Kau akan kubiarkan hidup, karena aku tidak akan menembakmu!”

Wajahnya kelihatan tegang dan kurus dibalik laras bedil itu dan saya melihat betapa ia ditempatkan pada suatu keadaan terpaksa – cintanya kepadaku berperang melawan segala sesuatu yang telah diajarkan ayahku kepadanya. Bagikupun merupakan suatu saat yang sangat tidak menyenangkan. Saya telah dididik untuk menghormati kakak-kakak lelakiku sebagaimana diajarkan pada gadis-gadis Islam. Saya belum pernah membantah mereka sampai Yeshua masuk dalam kehidupanku dan saya berusaha untuk tidak berkata kasar pada mereka karena saya tahu bahwa saya dapat menyadarkan diriku pada cinta kasih mereka, kesopan-santunannya serta perlindungan mereka jika kuperlukan. Dalam hal inipun Ayahku telah memberikan pada mereka suatu perintah keramat untuk menjaga saya. Tapi tentu saja beliau tidak memperhitungkan kemungkinan terjadinya suatu krisis seperti ini. Saya sedang mengoyakkan semua ini dengan pertentangan-pertentangan antara tugas dan cinta. Tapi saya tidak boleh mundur. Saya tidak dapat berpaling lagi, juga pada saat ini.

“Dapatkah kakak menjamin bahwa jika kakak tidak menembak saya maka saya tidak akan mati? Dalam Al Qur’an ditulis bahwa begitu seseorang dilahirkan kedunia, dia pasti akan mati. Jadi, silahkan tembak saya tidak takut bila saya mati dalam nama Yeshua Ha Mashiah. Dalam Alkitabku tertulis, “Ia yang percaya padaku, walaupun ia mati, namun ia akan hidup” (Yoh. 11:25).

Safdar Shah berkata dalam keheningan, “Kau tidak mau membunuh si murtad ini dan bertanggung jawab atasnya. Ia telah menjadi suatu kutuk bagi kita. Lemparkan dia keluar!”

Mereka mendorong saya kedepan sambil menaiki tangga. Saya mengambil koporku di gang dan berjalan menuju pintu. Kakak-kakak lelakiku berjalan kembali dengan gontai menuju ke bungalow. Setiap senjata yang ditempa terhadap engkau tidak akan berhasil, dan setiap orang yang melontarkan tuduhan melawan engkau dalam pengadilan, akan engkau buktikan salah. Inilah yang menjadi bagian hamba-hamba YAHWEH dan kebenaran yang mereka terima dari pada-Ku, demikianlah firman YAHWEH”. Saya tahu dimana saya pernah membacanya (Yes.54:17), tapi saya tidak menyadari kalau Firman itu begitu tepat pada kenyataannya.

BAB 13 LILIN YANG MENYALA [Menumpang di keluarga Kristen, gaji pertama, dipecat karena iman]
“Ya Bapa, kemana saya harus pergi ?” Saya berdiri sendiri di jalan Samanabad sambil berusaha menahan air mata karena goncangan dan kepedihan pada peristiwa yang baru kualami, lalu memandang keatas kebawah mencari petunjuk tentang tindakan apa yang saya ambil berikutnya. Namun, sepanjang jalan besar itu sepi dari lalulintas dan keadaan deretan bungalow sepi di belakang dinding-dinding tinggi disinari cahaya matahari tipis dan tidak menunjukkan kehidupan mewah dibelakangnya. Rasanya, secara refleks saya berbalik kekanan lalu mulai berjalan menelusuri trotoar yang dilapisi semen menuju kearah penantian bis yang jauhnya hampir 2 km.

Waktu tiba disana, hatiku sudah bulat – John dan Bimla Emmanuel, seorang tukang kebun dikantor walikota, tinggal di Medina colony bersama istri dan 4 dari 5 anaknya. Keluarga ini menjadi jemaat dari Gereja di jalan Warris. Mereka pernah mengajakku kerumahnya sekali atau dua kali dan saya merasa senang disana, berceritera pada mereka tentang Tuhan [Elohim] dan Kuasa menyembuhkan & menyelamatkannya.

Mereka pernah berkata padaku, “Datanglah ke rumah kami setiap waktu, rumah kami terbuka bagimu.” Ditempat perhentian bis ada beberapa jenis transportasi, saya menggunakan rickshaw (sejenis becak) ke Muzang Chungi dan dari sana dengan minibis yang trayeknya Gurumangat. Dari sini berjalan kaki sedikit melintas rel kereta saya tiba di Medina Colony. Saya memilih berjalan sepanjang lorong yang bekas dilewati roda, berabu, diantara rumah-rumah. Menghindari got-got terbuka yang mengalir kearah sebuah ‘houdi’ atau tempat penampung kotoran manusia di dekatnya. Di rumah John Emmanuel, saya memegang ujung ‘kunda’ yang tergantung diluar dan mengetukkannnya kepintu kayu berlapis ganda di dinding yang tinggi itu.

Tak lama kemudian Bimla membukanya, menatapku dengan heran lalu mempersilahkan saya masuk. Kuceriterakan sedikit padanya tentang apa yang sudah terjadi dan memohonkan bantuan untuk memondokkan sementara. Ia melihat saya sedang gemetar lalu memelukku, “Anda diterima dengan hati yang sangat terbuka untuk tinggal bersama kami dan apapun yang kami miliki, andapun dapat turut menikmatinya bersama-sama.”

Ketika John Emmanuel pulang sore harinya dengan sepeda, ia mendengarkan ceriteraku dengan prihatin. “Jangan kuatir, saya adalah saudaramu dalam Ha Mashiah,” katanya meyakinkan saya. Pikirku, betapa anehnya perasaan ini dapat kurasakan terhadap seseorang yang bukan anggota keluargaku dan kehangatan terasa mengalir mendengarkan ke prihatinannya. Ternyata, persekutuan orang-orang yang benar-benar percaya pada Ha Mashiah dapat mengikat pengikut-pengikutnya dengan ikatan yang lebih kuat dari ikatan darah atau hasil perkawinan.

Rumah yang mereka sewa itu kecil, terdiri atas sebuah kamar tidur dan serambi. Pada satu sisi serambi ini ada dapur dan disisi lainnya kamar kecil. Saya mengira-ngira dimana saya akan tidur, nyatanya bersama anak-anaknya, yang sulung 8 tahun, diserambi. Tempat ini ditutup dengan gordin sehingga berubah menjadi sebuah kamar dengan hawa yang lebih sejuk. John dan Bimla tidur dihalaman dan hal ini biasa di lakukannya kalau rumahnya kecil dengan keluarga besar. Tidak ada rumput atau bunga-bungaan – tidak ada tempat untuk menanam sesuatu apapun. Dasar halamannya tanah liat yang keras bercampur jerami, dibersihkan dengan baik sehingga merupakan bagian tambahan dari rumah itu. Tapi ada tanaman di dalam pot-pot untuk menyemarakkan tempat itu. Akomodasi yang sederhana dibanding dengan kesenangan yang saya tinggalkan tapi rasanya hatiku senang sekali memiliki perasaan bebas untuk mengambil Alkitabku dan membacanya secara terbuka serta mengadakan persekutuan doa dan mempelajari Alkitab bersama John & Bimla. Untuk dapat sampai ketahap ini saya malah sudah menantang maut. Walaupun begitu, dimalam pertama, sambil tidur diatas ‘charpai’ dibawah selimut pada udara terbuka, saya tidak dapat tidur karena belum terbiasa dengan keadaan sekelilingku sebab pikiran-pikiranku menerawang dan adanya bunyi-bunyi dimalam hari yang menggangguku.

Di daerah itu orang-orang cepat tidur agar dapat segera bangun sebelum matahari terbit guna mempersiapkan perjalanan mereka ke kota untuk bekerja. Namun, sewaktu kesibukan sehari-hari dan bunyi-bunyian pompa air berhenti, keadaan menjadi sunyi senyap lalu diganti oleh bunyi lain yang menggelitik saya untuk mencari tahu sumber asalnya. Terdengar bunyi berdenyit dan tikus-tikus berlarian di belakang rumah-rumah itu saluran gotnya buruk sehingga terjadi genangan-genangan air tempat kodok berkelompok bergembira ria bersahut-sahutan dengan ributnya dan jangkrik bernyanyi di semak-semak. Tidak ada kelambu untuk melindungi diriku dari dengungan nyamuk yang menari-nari dengan tebalnya di sekelilingku. Bunyi gemerisik kecil diatas atap jerami membuat saya berpikir-pikir apakah cecak atau kakarlak yang mungkin akan jatuh menimpa kepalaku. Saya merasa iri pada anak-anak yang tidur dengan eloknya. Suara napasnya yang lembut menjadi lebih keras dan makin saya campur adukan bunyi-bunyi ini, kedengarannya laksana deburan ombak dikejauhan. Saya berusaha menutup telingaku rapat-rapat dan mengalihkan pandanganku ke langit cerah yang terlihat olehku dari bawah atap serambi. Saya mencoba agar dapat tidur dengan cara menghitung bintang yang berkedip-kedip namun malah hanya membuat saya lebih tidak bisa tidur lagi. Lalu bulan yang sendirian muncul ke panorama pemandanganku, memandikan sekitarnya dengan cahaya misterius yang begitu dicintai oleh para penyair dan orang-orang yang dilanda asmara. Lalu angin yang sombong laksana ‘Nawab’ yang merasa iri, dengan sombongnya mengumpulkan awan-awan yang tadinya masih tercerai berai menutup bulan itu dari pandangan mata yang masih merindukannnya. Saya menikmati pemandangan bulan dan bintang-bintang yang menari-nari di angkasa melewati penggantian waktu dan merasakan goncangan dan kesedihan atas berlalunya hari yang menuju kesuatu titik tujuan yang lebih pasti.

Saat ini merupakan bagian dari waktu dimana saat-saat kehidupan campur-baur yang berlangsung selama kehidupan ini. Saya melihat diriku sendiri, Gulshan Ester, miskin dan dibenci oleh orang-orang yang seharusnya mencintaiku dan telah berpaling dari pintu rumah mereka, kini telah bebas dari beban-beban yang merintangi. Kerudung kehidupan agamawi yang saya warisi sebelum ini, yang kurasakan pernah memisahkan saya dari satu Elohim yang tidak dapat diketahui oleh seorang pun telah dikoyakkan, diungkapkan dalam wujud Yeshua Ha Mashiah, Tuhanku [Elohimku]. Sekarang jalan pemuridan telah terbentang dan apakah menyenangkan atau menyakitkan, harus kujalani dalam ketaatanku. Tapi saya tidak sendirian. Ada satu yang menyertai saya, saya kuat dan akan memenuhi semua kebutuhanku.

Dengan rasa mengantuk saya menatap kelangit yang memudar warnanya menelan bintang-bintang dan menampilkan bintang pagi, kebanggaan fajar. Sambil memikirkan Yeshua, Fajar Pagi Pengharapanku yang diutus Elohim untuk menerangi hidupku, akhirnya saya tertidur pulas tanpa terganggu apa pun walau hanya untuk waktu yang pendek.

Saya terbangun, mataku berat tertimpa sinar pagi yang cerah, ketika si Gundu, bocah beruia 4 tahun menarik tanganku. Bahkan ketika saya berusaha untuk mencuci dengan air dari pompa di halaman, saya terkenang akan pikiran yang telah terbentuk semalam – saya perlu berpikir untuk mencari kerja sebab saya tidak dapat mengharapkan bahwa kawan-kawanku dapat bertahan untuk membiayai saya.

Kepala Sekolah wanita dari sekolah swasta untuk para gadis memandang saya dari atas ke bawah ketika saya berdiri di kantornya dengan perasaan bingung di hadapan wanita yang dingin tapi cekatan ini yang memiliki kharisma kewenangan. Namun saya pun berketetapan hati. Beliau membetulkan syalnya dan berkata dengan sopan, “Selamat pagi nyonya. Apakah saya dapat menolong anda? Apakah anak anda bersekolah di sini?”

“Tidak, saya tidak mempunyai anak yang bersekolah disini. Saya datang untuk mencari tahu apakah Ibu membutuhkan seorang guru disekolah Ibu.”

Ekspresinya berubah dari sikap sopan-santun karena ingin mencari tahu menjadi agak merendahkan diri. Terlihat olehku bahwa cara pendekatan langsung seperti ini dinilai kurang wajar. Sebenarnya saya harus menulis lamaran bukannya datang sebagaimana seorang pembantu atau tukang kebun mencari pekerjaan.

“Mata pelajaran apa saja yang dapat anda ajarkan dan kwalifikasi apa yang anda miliki?” “Saya dapat mengajar bahasa Urdu, pengetahuan agama Islam, sejarah, ilmu bumi dan matematika sampai tingkat pra-universitas.” saya menjawab.

Beliau memandangku dengan tajam seakan-akan menyusun pendapatnya, “Seorang guru yang pandai untuk para gadis,” katanya, “namun sayang sekali lowongan yang ada telah terisi dan saya tidak dapat menerima anda, tapi jika anda meninggalkan nama dan alamat pada sekretaris, saya akan menghubungi bila ada lowongan pekerjaan nanti.”

Beliau bangkit dari belakang kursi yang berat kelihatannya untuk mengantar saya keluar, tapi saya masih saja berdiri, merasa sedih sekali.

“Apakah ibu mungkin tahu kalau ada anak gadis yang memerlukan guru pribadi di rumah karena sesuatu alasan, barangkali sakit, atau orangtuanya tidak mengijinkan anaknya ke sekolah?” Dijawab: “Maaf, saya tidak tahu. Tapi jika saya tahu maka anda akan kuberitahu bila nama dan alamat anda ditinggalkan pada sekretaris.”

Selama 2 atau 3 minggu saya telah bolak-balik kekota, melewati Red Fort untuk mencari kerja, menjajakan kwalifikasiku dari satu sekolah ke sekolah yang lain, seakan-akan seorang penjaja-keliling. Saya memperoleh alamat-alamat itu dari Kantor Penempatan Tenaga dan para petugas biasanya terkejut karena lamaranku. Saya merupakan teka-teki bagi mereka, seorang wanita muda dari keluarga baik-baik, tangannya terlihat kurang memenuhi syarat untuk bekerja, ternyata tidak ditunjang oleh keluarganya.

Berulang kali John dan Bimla meyakinkan saya tentang dukungan mereka tapi saya tahu bahwa saya merupakan beban untuk seorang yang mempunyai gaji kecil seperti dia. Jadi saya berdoa memohonkan lowongan pekerjaan dan saya menelusuri jalan-jalan dibawah terik matahari, sepatuku bolong dan bila timbul perasaan marah atau kecil hati maka saya teringat pada Yeshua dan bagaimana ia menapak jalan-jalan itu untuk mati di atas kayu salib bagiku.

Ketika untuk keempat kalinya saya pergi ke Kantor Penempatan Tenaga, saya mendengar bahwa sebuah majalah mingguan yang berkantor di pasar Ol Anarkali membutuhkan seorang wartawati. Saya tahu nama Anarkali, bunga delima, sama dengan nama seorang pahlawan wanita yang terkenal dalam sejarah kami. Dia dipakukan secara tragis ke tembok hidup-hidup oleh seorang ‘mghul’ (kaisar) padahal ia tidak bersalah. Si wanita itu jatuh cita dengan saudara sedarahnya bernama Salim. “Seorang gadis malang dan sedang menghadapi bahaya,” pikirku dan mencoba mengingat apakah terdapat gejala untuk menerima hukuman seperti wanita itu. Mungkin tidak karena ia adalah anak kaisar tersebut.

Majalah itu pernah kulihat, seingatku mempunyai 4 halaman, ada gambar-gambar berwarna dari orang-orang terkenal dan agak berbau politik. Keadaanku yang sulit, membuat saya kuat dan memohon untuk diwawancarai. Besoknya jam 10 pagi saya datang ke lantai satu di kantor majalah itu di Old Anarkali. Penerbitnya berperawakan tinggi, lelaki yang tampan berkulit terang memakai jas hitam yang tidak tebal dan sangat sopan.

“Silahkan duduk,” katanya sambil menunjuk ke sebuah kursi yang terletak agak jauh dari mejanya yang mengkilap diatas permadani berbentuk segi empat. Ia membunyikan bel dan meminta minuman pada seorang pria muda yang datang membawakan coca-cola dingin bagiku. Minuman ini dihidangkan dalam sebuah botol di atas jerami. “Saya ingin tahu kenapa anda membutuhkan pekerjaan,” katanya dan giginya yang putih kelihatan waktu tersenyum.

Saya menjawab, “Saya yatim piatu dan saya berpendidikan. Saya ingin mendapat gaji sendiri.” Sebuah pena dengan ujung emas diatasnya dimain-mainkannya, dan tercium bau harum olehku mungkin dari parfum ‘after shave’ yang dipakainya.
“Tapi ceritrakan padaku,” katanya, “kenapa kakak-kakakmu tidak membantumu agar anda tidak perlu bekerja?”
“Oh mereka semua telah bekerja dan tinggal di rumahnya masing-masing dan saya tidak mau menjadi beban bagi mereka karena itulah saya memerlukan pekerjaan.”

Ia juga ingin tahu kemana saya telah melamar dan kuceritrakan padanya lamaran-lamaranku untuk mengajar yang menemui kegagalan. Cahaya yang menembus gorden bercorak kota-kotak tipis menimpa wajahku waktu kami berbicara dan saya melihat bahwa ia sedang melihat padaku dengan cermat. Lalu ia berketetapan hati tentang diriku, perasaanku cukup cepat. “Anda dapat mulai besok. Datanglah antara jam 08.30 dan 09.00 pagi dan jangan kuatir saya akan memberikan padamu beberapa pertanyaan yang akan kau ajukan waktu melakukan wawancara. Anda harus bekerja keras dan bekunjung kerumah-rumah atau kadang-kadang ke sekolah-sekolah.”
“Saya cukup berpengalaman mengunjungi rumah-rumah orang,” pikirku, tapi tidak kuutarakan.

Ia menjelaskan bahwa gaji pokokku sebesar 100 rupee sebulan. Jumlah ini akan ditambahkan pendapatan yang diperoleh dari para wanita yang membayar untuk wawancara pribadi. Prinsipnya ialah jika mereka membayar maka mereka bebas mengutarakan apa yang akan dikatakannya. Saya mendapat 20% dari jumlah itu. Ini merupakan sistim yang lebih menguntungkan mereka dibanding dengan bagianku, tapi saya tidak punya kekuatan untuk tawar menawar.

“Anda bukan beragama Islam,” katanya. Lebih terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan. “Saya beragama Kristen,” jawabku, lalu menunggu cukup lama rasanya dengan berdebar selama ia merenungkannya.

Akhirnya sambil memasukkan pena ke kantung jasnya ia bangkit dari kursinya dan berkata, “Baiklah, bukan masalah besar. Anda kelihatannya terpelajar seperti yang anda katakan dan tidak takut berhadapan dengan orang lain.” Ia membawa saya ke kantor penerbit dimana diperkenalkannya saya dengan tiga wartawan, seorang juru potret dan seorang penata tulisan. Saya diberi meja sendiri. Ada sebuah ruangan ketiga, tempat kami makan siang – diberi cuma-cuma. Yang bertugas disini ialah seorang ‘charpase’ atau pesuruh yang mengerjakan beberapa pekerjaan kasar, mengirim/menerima surat-surat, tugas-tugas pesuruh lainnya, mengambil makanan siang dan menyiapkan minuman.

Besok pagi saya tiba untuk bekerja pada jam yang ditentukan dan menghadapi rekan-rekan sekerjaku. Saya satu-satunya wanita diantara 7 pria, tapi jika saya sudah takut lebih dahulu maka ketakutan itu tidak beralasan – mereka semua sangat menghormatiku dengan sebutan ‘Ba-ji’ (saudara perempuan). Dalam waktu 4 hari saya berusaha mempelajari segala sesuatu sedapat-dapatnya termasuk 10 pertanyaan yang disodorkan. Saya bertekad untuk sukses.

Saya segera mengetahui bahwa berita-berita digodok di ruang berita, diperiksa penerbit sebelum diserahkan kepada penata tulisan untuk mengatur cetakannya ke dalam bahasa Urdu di atas lembar-lebar kertas yang lebar. Lalu penerbit akan memeriksa hasil kerja tersebut guna meyakinkan bahwa tidak ada kesalahan sebelum masuk ke percetakan. Salah satu tugasku ialah membantu bapak penerbit memeriksa hasil kerja si penata huruf sebelum dikirimkan ke percetakan. Kadang-kadang saya harus menemani si pesuruh ke kantor pos untuk membawa atau mengambil bungkusan-bungkusan. Apabila kiriman-kiriman majalah yang baru dicetak diterima maka saya bertugas melipat dan membubuhkan alamat-alamatnya. Saya menjadi terbiasa dengan label-label dan perekat serta merasa senang mempelajari tugas-tugasku yang baru ini sambil menunggu dengan perasaan was-was untuk melaksanakan wawancaraku yang pertama kali.

Jadwalnya ialah mewawancarai seorang istri bekas Menteri Luar Negeri yang telah berhenti dari tugas pemerintahan karena ada kesulitan pribadi dengan Perdana Mentri Bhutto. Hal ini berarti bahwa pertanyaan yang kuajukan haruslah sedemikian agar sedapat mungkin tidak mengganggu nyonya itu – namun sipenerbit meyakinkan padaku bahwa nyonya itu mungkin malah akan merasa senang bila diajukan pertanyaan yang sulit. Seperti biasanya, beliau benar.

Nyonya itu menerimaku dengan sangat ramah diruang duduk pribadinya dan mempersilahkanku duduk. Saya teringat akan pertemuanku dengan nyonya yang sopan dulu namun akhirya menjebloskan saya ke penjara. Saya mengakui bahwa sekarang saya merasa puas dapat menjadi salah seorang anggota mass-media yang mempunyai kemampuan lebih besar dibandingkan dengan di waktu-waktu lampau.

Kini saya menjadi seorang penyelidik. Kuajukan 10 pertayaanku satu demi satu. “Kenapa suami ibu berhenti? Apakah ibu senang atas keputusan yang diambil beliau? Dimana ibu mendapat pendidikan?” Dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaanku tidak terlalu tajam namun dengan mengajukannya kepada seorang wanita oleh wanita lain serta hasilnya akan dibaca oleh beribu-ribu wanita lain di seluruh negeri telah memberikan pertanda adanya perubahan-perubahan yang sedang terjadi dalam masyarakat pada waktu itu.

Altaf si juru potret menemani saya bersama yang lain pada wawancara itu. Jadi saya merasa yakin akan adanya perlindungan dan ia pun sangat gembira dapat bertemu dengan para wanita. Setengah dari masyarakatnya masih tersembunyi dari pandangan dan diperlukan sebagai milik pribadi oleh separuh bagian lainnya.

Suatu pemikiran moderen yang merayap masuk perlu menjalani perjalanan panjang untuk mengimbangi tradisi yang masih memisahkan pria dan wanita dalam satu bentuk genggaman yang kuat, baik dikalangan orang kaya dan terpelajar demikian pula di kalangan miskin dan awam. Dalam hal-hal lain Astaf juga berfaedah. Sesekali nyonya itu memakai bahasa Inggris waktu menjelaskan tentang kehidupannya. Ini membuat saya kikuk sebab oleh larangan kuno ayahku maka saya tidak dapat berbicara dalam bahasa ini merupakan ciri-ciri dari tingkat masyarakat dan pendidikan yang telah diterima maka saya memerlukannya. Tapi dengan pelan kawanku menterjemahkannya bagiku. Ia juga memikirkan mengenai pertanyaan lain untuk diajukan, bila pikiranku masih menerawang. Ketika semua pertayaan selesai diajukan, nyonya itu bertanya tentang diriku, “Sampai dimana pendidikanmu?” “Cukup untuk mewawancarai nyonya,” jawabku.

Beliau tertawa, “Jarang kita dapat bertemu dengan seorang wanita yang benar-benar terpelajar,” katanya.

Ketika diterbitkan ternyata tulisanku telah dikoreksi dengan baik oleh penerbit. Namaku ditulis Gulshan di bawah judulnya. Beliau tidak menambahkan namaku yang kedua “Esther”. Nyonya itu membayar 700 rupee dan saya menerima 140 dari jumlah itu. Saya menyerahkan 100 kepada John Emmanuel dan menyimpan yang 40. Pada mulanya tuan dan nyonya rumahku tidak mau menerima uangku tapi saya memaksanya. “Kami sangat berbahagia atas pertolongan Elohim bagimu,” kata mereka.

Ya, saya pun merasa bahagia juga. Untuk pertama kalinya dalam hidupku saya berhasil memperoleh gajiku sendiri dengan memanfaatkan pendidikan yang kuterima. Tanpa terasa, ingatan kemarahan dari wajah kakak-kakak lelakiku mulai menghilang ke latar belakang.

Pada kesempatan lain saya mewawancarai seorang Kepala Sekolah wanita SMA gadis-gadis di Lahore. Saya merasa gugup sebelum kesana karena takut membuat kekeliruan dengan pertanyaan-pertayaanku di depan wanita yang pandai, memiliki wibawa laksana sebuah ‘burka’ layaknya, namun si juru potret Altaf menguatkan hatiku, “Katakan padanya bahwa anda menginginkan beliau menjelaskan tentang segala sesuatu sehingga dapat dimengerti para pembaca. Lalu dengarlah baik-baik dan catat semuanya. Jangan takut mengajukan pertanyaan sederhana – kebanyakan pembaca anda tidak mau kalau anda bertindak terlalu pintar.”

Nasihat ini baik sekali. Saya duduk di sana dengan penuh kesederhanaan dan mendengarkan kuliah Kepala Sekolah itu tentang perbedaan antara sekolah swasta dan sekolah pemerintah. Keuntungan menyolok yang kuperoleh dari cara padang Kepala sekolah itu kelihatannya ialah beliau merasa dapat bertindak lebih bebas-dibawah pemilik sebelumnya beliau terlalu didikte dalam banyak hal sehingga biaya pendidikan sangat meningkat. Satu aspek yang merugikan sekarang ialah fasilitas yang tersedia makin sedikit. Sebagai tambahan atas informasi ini saya menulis tentang ruangan itu, kondisi sekolah di mana kami diajak mengadakan peninjauan dan melihat pemunculan gadis-gadis yang bersekolah disana.

Si juru potret sangat menyenangi wawancara ini karena ia diminta memotret banyak obyek termasuk para gadis di sana. Mereka tampil dengan cantiknya dalam ‘Shalwar kameeze’ nya yang putih dengan ‘dopatta’nya berwarna biru, inilah pakaian seragam mereka dan kupikir bahwa pengalaman ini sangat menarik karena gadis-gadis itu sering cekikikan sambil menutup mulutnya dengan ‘dopatta’nya.

Penerbit mengomentari tulisanku dengan “lumayan”. Beliau bukanlah orang yang mudah merasa puas. Tiga hari kemudian saya kembali kesana sesudah tulisanku dicetak untuk mengambil sisa pembayaran yang belum dilunaskan ke majalah kami – pewawancara selalu mendapatkan uang panjar sebelumnya. Saya menemui kepala sekolah yang kini memandangku dengan rasa ingin tahu sebab rupanya ia dapat mengetahui sedikit tentang kisahku yang diceritrakan oleh salah seorang stafnya yang beragama Kristen. “Kenapa anda pindah agama? Dapatkah saya membantu agar anda kembali ke iman Islam-mu?” kata kepala sekolah itu. Jadi di depan stafnya saya berceritra sedikit tentang hal ini.

“Anda bersikap hati-hati dan imanmu teguh” katanya. Kekuatiran-kekuatiraku mulai hilang sebab tidak ada kesulitan yang timbul terhadap apa yang kutulis. Lama kelamaan saya merasa bahwa pekerjaan menjadi lebih mudah dan mulai terbiasa melihat namaku dicetak menyertai tulisn-tulisanku. Suatu perasaan aneh timbul bila kupikirkan bahwa tulisanku dibaca di seluruh Pakistan dan mungkin memberikan aspirasi bagi para wanita muda sambil menunjukkan bahwa salah seorang kawan sejenisnya dapat berbuat sesuatu. Dan bagi saya yang menjadi contohnya, memiliki cara pemikiran dan ambisi yang menjurus ke arah yang berbeda sama sekali yaitu untuk melayani Tuhan [Elohim] dan melakukan kehendakNya. Jadi, mengapa saya di sini, bekerja di majalah ini – suatu pengalaman yang lain sama sekali dari apa yang telah terjadi sebelumnya. Jalan pengabdian ibadahku telah membawaku ke sini, tetapi untuk alasan apa? Hal ini adalah suatu teka-teki silang dan biasanya saya tidak terpengaruh oleh teka-teki ini dan hidup seadanya dari hari-kehari menelusuri 2 bagian terpisah dari hidupku, yang di luar dan di dalam, kehidupan bekerja dan kehidupan berdoa.

Namun, rekan-rekanku wartawan lainnya menyadari bahwa saya berbeda dengan mereka. Setelah kira-kira 2 minggu mereka dapat mengetahui bahwa saya beragama Kristen, walau pun tidak diketahuinya bahwa sebelumnya saya memeluk agama Islam. Mereka menggodaku tentang kepercayaan ini – anda percaya pada tiga Elohim, katanya sambil tertawa. Seharusnya saya mencoba menjelaskan bahwa tidaklah demikian, hanya ada satu Elohim dengan tiga manifestasinya – Bapa, Yeshua Ha Mashiah Anak Elohim dan bukan hanya seorang nabi saja serta Rohulkudus yang diturunkan pada hari Pentakosta untuk memenuhi orang-orang percaya dengan kehidupan Ha Mashiah, mengajar dan menyucikan mereka. Tapi sejak kanak-kanak, mereka telah diajar dan ditanamkan untuk berpikir bahwa agama Kristen telah merendahkan kemurnian yang percaya bahwa Elohim itu Tuhan [Elohim] Yang Maha Esa, jadi sekarang bagaimana saya dapat merubah jalan pikiran mereka ini?

Selama ini kuperhatikan bahwa tidak ada seorang pun di kantor itu yang melakukan sembahyang Azhar (sianghari) dan saya sangsikan sampai berapa dalam iman mereka terhadap kepercayaannya. Ruangan-ruangan kantor itu dibagi oleh papan-papan tripleks tebal dan si penerbit biasanya menghentikan godaan-godaan itu seraya masuk keruangan kami menyuruh kawan-kawanku diam dan berkata, “Jangan menggodanya. Ia hanya satu-satunya wanita dan anda tidak boleh berlaku kasar padanya.”

Pada suatu hari saya sedang menuruni anak tangga, jam 4 sore dalam perjalanan pulang ketika pemilik toko permen di sebelah kantor kami, bapak Jusuf menyapaku. “Assalam alaikum (kiranya damai turun atasmu),” katanya. Saya berhenti dan menunggu sampai beliau dekat “wa laikum salaam (kiranya damai serupa juga turun atas anda),” sahutku.

Katanya, “Nyonya, saya telah memperhatikanmu lewat selama ini dan kupikir anda tentulah seorang terpelajar untuk dapat bekerja di majalah itu. Saya sedang mencari seorang guru bagi ketiga anakku dan saya berpikir apakah kiranya anda menaruh minat untuk mengajar hal ini dan membicarakan tentang biaya untuk memberi pelajaran-pelajaran itu.”

Saya ragu-ragu. Gaji yang kuterima di majalah itu tidaklah besar, karena saya hanya bertugas sekali atau dua kali sebulan, tidak sama dengan rekan-rekanku pria yang berdinas luar setiap waktu malah sampai ke luar Lahore. Saya memasuki rumahnya bersamanya dan diperkenalkan dengan istri serta ketiga anaknya dan kami langsung dapat saling menyukai satu sama lain lalu menetapkan tentang urusan mengajar tersebut. Saya akan mengajar bahasa Urdu, matematika, agama Islam, sejarah dan Ilmu Bumi kepada anak-anak itu diluar jam sekolahnya dua jam sehari dari jam 4 sampai 6 sore. Saya meminta upahnya 150 rupee per bulan dengan makan malam tiap hari. Saya tidak akan datang pada hari Minggu. Pengaturan baru ini membawa akibat. Saya harus berpisah dengan kawan-kawanku yang baik hati di Medina Colony, sebab hari akan malam sebelum saya tiba dirumah dan bagi seorang wanita tidak aman berjalan sendirian di waktu malam hari. Ada banyak pencopet dan dan penculik dikota ini – kini saya menjadi cukup mengerti dengan sisi kehidupan jahat ini sejak pengalamanku di penjara tempoh hari. Jadi saya tiggal bersama Bapak & Nyonya Neelam. Alamatnya : Jalan Warris, dekat gereja tak jauh dari Old Anarkali. Saya mengenal Bapak Neelam waktu bekerja di “Sunrise” ketika beliau menjadi guru musik di sana.

Sampai bulan Desember saya sudah menulis 8 atau 9 ceritera semuanya dari ‘Gulshan’ atau kadang-kadang pelapor wanita kami dan saya merasa bahwa si penerbit senang dengan hasil-kerjaku,. Pada minggu kedua bulan itu saya dipanggil ke kantornya. “Anda telah melaksanakan pekerjaan lebih baik dari yang kuduga,” katanya. “Saya ingin memepertahankan anda di sini, namun ada satu hal yang perlu dibereskan jika saya mengambil tindakan tersebut – anda harus kembali ke iman Islam-mu.”

Saya duduk menjadi kaku seperti batu layaknya. Ia melanjutkan, “Sekarang ceriteranya kuketahui kenapa anda beragama Kristen. Namun, dengar baik-baik, jika kakak-kakakmu tidak membantumu, saya akan membantumu – hanya lepaskan kekristenanmu. Tidak, dengarkan anda dapat tinggal di rumahku. Anda akan menjadi pimpinan para wartawan. Saya akan mencari wartawati lain dan pendapatan yang akan anda terima seluruhnya perbulan berjumlah 1000 rupee.”

Karena desakan perasaan waktu menerima kenyataan ini saya bangkit setelah memahami tujuan pembicaraannya. Orang ini berhubungan dengan Alim Shah – mungkin mereka berkawan, pergi ke klub yang sama. Rupanya beliau telah lama tahu tentang diriku dan dengan sabar menunggu kesempatan baik ini. Hal ini merupakan ulangan ceritera lama yang sama.“Tunjukkan padanya betapa besar cinta-kasih satu sama lain di kalangan kita maka mungkin ia akan kembali lagi karena ia memerlukannya, daripada bekerja untuk dapat hidup dan tinggal menumpang dengan orang lain.” Dan saya, karena merasa begitu senang dengan kemajuan-kemajuan penulisanku telah gagal memperhitungkan kenapa orang ini telah menerima seseorang seperti saya yang belum berpengalaman? Dan kapankah mereka dapat diyakinkan bahwa saya tidak mau kembali lagi? Saya mengeluh.

“Janganlah bapak berpikir bahwa saya tidak merasa berterima kasih atas tawaran bapak. Saya sangat ingin bila dapat terus bekerja disini namun saya harus mengutarakan bahwa saya tidak dapat melepaskan kekristenannku. Yeshua adalah kehidupan bagiku. Apa yang saya dapatkan di dalam Dia, tidak dapat diberikan oleh agama lain.”

Beberapa waktu kemudian, di hari yang sama, istrinya masuk menemui saya dalam perjalanannya ke toko di Old Anarkali – menurut hematku adalah merupakan usaha terakhir untuk merubah pikiranku. Beliau memanggil saya masuk kantor suaminya ketika bapak penerbit sedang sibuk membaca hasil cetakan diruang wartawan.

“Anda cukup pandai” katanya. “Kenapa anda beragama Kristen?”

Pengungkapan ini menyedihkan hatiku. Bagi yang berfaham Islam fanatik dianggapnya yang beragama diluar Islam itu bodoh karena mempercayai suatu dusta.

Saya memahami bahwa wanita ini tidak memiliki penghayatan dan pendalaman rohani dan saya merasa tidak perlu untuk mengungkit-ungkit mengenai hal ini lagi. Dengan lembut saya menjawab, “Ibu tidak akan dapat mengerti terhadap tahapan yang telah saya capai sekarang. Elohim begitu nyata bagi saya.”

Beliau memandang dan wajahnya kelihatan tegang. Nyonya itu berlalu tanpa berkata sepatah kata lagi. Pada akhir jam kerja, bapak penerbit memberikan padaku sebuah amplop berisi uang sebesar 125 rupee di dalamnya. “Maafkan saya” katanya. “Namun anda tidak dapat meneruskan bekerja di sini lagi. Istriku dan saya sendiri memohon maaf dan menyesal karena anda harus pergi. Kami akan tetap mengingat anda.”

“Saya pun memohon maaf dan merasa sayang, namun Elohim akan memberikan pekerjaan lain bagiku,” kataku dengan tegap, namun dalam hatiku sebenarnya jauh dari berani.

Bapak penerbit itu kelihatan jelas bergumul dengan perasaan kemanusiaannya karena sewaktu saya berjalan menuju pintu beliau berkata, “Jika anda merasa melarat saya akan membantu, namun masalah iman ini tetap ada.”

“Jangan kuatir,” jawabku. “Elohim akan menolongku. Sebelum saya mencari pertolongan pada manusia, terlebih dahulu saya akan mencari pertolongan pada Elohim.”

Dan saya meninggalan kantornya. Para wartawan yang lain tidak senang atas kepergianku. “Anda telah begitu lama bersama kami dan sekarang anda pergi hanya karena masalah agama yang sepele itu. Oke, Nabi Isa itu telah menyembuhkan engkau – kenapa anda tidak membayarkan sejumlah uang saja dan dengan begitu persoalannya beres?”

“Dia jauh lebih berarti bagiku daripada sekedar hal yang demikian itu,” jawabku dan saya berjabatan tangan dengan mereka. Kemudian saya pergi dan menuruni tangga dengan perasaan dingin, kepalaku pusing disebabkan oleh guncangan pengusiran ini, tepat pada waktu saya baru mulai merasa aman dari serangan-serangan yang khusus seperti ini. Setibanya diluar saya bersandar ke dinding untuk menenangkan diriku. Tentunya ada satu alasan mengapa saya mejalani semua pengalaman yang menggoncangkan ini. Di dalam hatiku saya berseru kepada Bapakku di Surga dan Dia langsung memberikan jawaban dengan kata-kata yang menghiburkan. “Makin bertambah harimu berlalu maka kekuatanmu pun makin bertumbuh. Bukankah Aku telah memberi perintah kepadamu?” Saya tidak menyadari bahwa di hadapanku telah terbentang Tanah Perjanjianku yang Istimewa dan bahwa saya sedang dipersiapkan untuk masuk kedalamnya.

Bersambung ke Bg. 8 – Bab 14 Bersaksi

Gulshan Esther (Fatimah); Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2 ;Bg. 3 ; Bg. 4 ; Bg. 5 ; Bg.6 ; Bg. 7 ; Bg. 8

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Gulshan Fatima; Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 6

Gulshan Esther (Fatimah); Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2 ;

Bg. 3 ; Bg. 4 ; Bg. 5 ; Bg.6 ; Bg. 7

BAB 10 HUBUNGAN PERSAUDARAAN [Mujizat kakaknya hidup kembali di Gujarat, debat kepercayaan, diusir ipar]
Bulan Desember tiba bersamaan dengannya datanglah masa persiapan untuk hari Natal. Bagian terbesar anak-anak itu akan pulang ke rumahnya, tapi ada beberapa yang tinggal. Jadi kami membuat dekorasi di ruangan makan dengan menempatkan sebuah pohon dengan menghiasinya dan membuat sebuah palungan sehingga terpancar rasa ingin tahu mengenai ceritera yang sederhana perihal bayi Ha Mashiah yang datang bagi wajah-wajah yang berbahagia dan bersukacita. Bagiku peristiwa ini juga merupakana suatu pengalaman – cicipan pertama bagiku untuk pesta Kristiani ini. Rasanya sesuai dengan bunyi nyanyian yang telah sering saya nyanyian waktu itu.

“Betapa tenangnya, betapa tenangnya, anugerah yang ajaib dikaruniakan, demikianlah Elohim menanamkan kedalam hati manusia berkat-berkat Surgawi.”

Tidaklah mengherankan bila orang-orang yang belum menjadi Kristen karena belum lagi diperkenalkan kepada sumber imannya juga mendapatkan berkat dengan nyanyian natal ini, apakah dalam bentuk hidangan ayam kalkun dan puding buah prem atau ayam pilau atau nasi manis. Kesukacitaan Natal menerobos semua batas penghalang.

Segera sesudah hari Natal saya mendapat kunjungan dari seorang tamu yang tidak kuharapkan membawa berita yang sangat buruk. Iparku, Blund Shah dari Rawalpindi datang ke sekolah menemui saya. Ia berdiri di ruang tamu, kelihatan lelah dan hancur hatinya serta memberitahukan padaku bahwa kakakku Anis sakit keras di Gujarat, di tempat mana ia telah tinggal selama 3 bulan di sebuah bungalow yang disewa, karena mendapatkan perawaan dokter keluarga selama masa mengandungnya yang menemui kesulitan lalu dari sana telah dimasukkan ke rumah-sakit. Bayinya meninggal dan para dokter di rumah-sakit tidak dapat menghentikan pendarahannya. “Ia sedang dalam keadaan yang mendekati kematian dan berulangkali selalu memanggil-manggil namamu. Dapatkah kau langsung pergi kesana bersamaku sekarang? Saya membawa mobil diluar.”

Permintaan ini merupakan suatu panggilan pulang yang tidak dapat kutolak. Sebuah pintu yang kukira tertutup untuk selamanya kini terbuka. “Oh Kakakku yang malang, tentu saja saya mau datang, tapi pertama-tama saya harus minta ijin dulu.” Saya mohon diri dan meninggalkan ruangan itu. Suatu bisikan kecil terdengar di dalam telingaku berkata: “Ia telah mati waktu kau tiba disana nanti. Percuma saja membuang-buang waktu kesana. Mereka tidak memperkenankan kau memberi kesaksian. Malah bisa saja mereka mencegahmu kembali kesini.”

Sebelum menghadap kepala sekolah, saya pergi kekamarku dan berdoa. Jawabannya kuterima dengan jelas: “Pergilah menjumpainya. Ia tidak akan mati. Aku akan memeliharanya agar hidup.” Saya meminta ijin untuk 2 hari, diperkenankan, lalu kumasukkan beberapa barang kecil kedalam tasku. Kami berangkat jam 5 sore. Setelah berkendaraan selama 3 jam, kami tiba dirumah di Gujarat dimana kami disambut dengan berita yang sangat mendukacitakan. “Ia telah meninggal,” kata dokter kakakku, ny. Khan. Ia meninggal pada jam 7 malam. Ia telah banyak kehilangan darah. Saya masuk keruangan dimana kakakku dibaringkan. Terlihat wajahnya menjadi kuning kelabu, kurus dan bibirnya biru. Suaminya berderai air mata dan dengan penuh simpati dipapah keluar ruangan itu oleh salah seorang keluarga. Ruangan itu penuh dengan orang-orang berkabung anggota keluarga dan tetangga – berita kematian itu menjalar dengan cepat dan orang-orang segera berdatangan untuk memberi penghormatan bagi almarhumah.

Saya berlutut dan menangis di sisi tempat tidur itu. “Yeshua”. kataku dalam hati. Engkau berkata bahwa ia akan hidup. Apa yang harus kulakukan? Ia sudah meninggal.”

Saya melanjuntukan doaku, “Yeshua, Engkaulah jalan, Kebenaran dan Hidup. Perbuatlah Mujizat ini dan bangkitkanlah dia”. Saya berdoa seperti ini sampai timbul keyakinan dalam diriku yang sangat kuat bahwa Yeshua telah berkata: “Ia tidak akan mati. Aku akan memeliharanya dan hidup”. Jadi saya berdoa: Tuhan [Elohim], hidupkanlah dia sehingga saya dapat bercakap-cakap dengannya sebentar tentang Engkau.” Kemudian, sesudah beberapa waktu lamanya saya mendengar suatu suara berkata: “Ia tidak mati. Ia hidup. Aku telah memberikan kehidupan padanya.”

Mendengar ini saya berdiri dan berkata kepada orang-orang disitu, “Kenapa anda semuanya menangis? Ia tidak mati – ia hidup.” Mereka menjadi ketakutan, dan berkata: “Ia gila. Masukkan dia kedalam kamar yang satu disana. Pintunya dikunci dari luar”.

Mereka mendorongku keluar dan lalu dimasukkan kedalam sebuah kamar tidur kosong. Saya mendengar pintu itu dikunci dari luar. Kini, saya benar-benar mejadi seorang yang dipenjarakan. Saya selanjutnya berdoa: “Tuhan [Elohim] bagkitkanlah kakakku, sehingga mereka dapat percaya bahwa ia hidup.” Waktu itu mereka mulai melakukan tahap-tahap akhir mempersiapkan jenazah. Tubuh kakakku telah dimandikan dan pakaiannya sudah diganti. Dia akan dimandikan lagi tapi tidak pada malam hari. Jadi kira-kira jam 8 pagi barulah terdengar bunyi anak kunci, palang pintu dibuka dan saya dibebaskan untuk memberi penghormatan terakhir bagi kakakku. Saya berdiri disamping tempat tidurnya bersama wanita-wanita lainnya. Istri “Maulvi” membacakan “Kalmas” bagi jenazah itu lalu bersama 3 wanita lainnya maju kedepan untuk mengangkat jenazah itu agar dimandikan buat terakhir kalinya. Saya melihat ada tanda kemerah-merahan pada tangan dan kakinya…..tanda kehidupan, tanda adanya darah…….Sesudah itu mereka hendak membalut tubuh kakakku dengan sehelai kain lalu menempatkannya kedalam sebuah peti.

Tiba-tiba kakakku menggerakkan lengannya, membuka matanya, langsung duduk dan memandang sekelilingnya dengan heran. “Apa yang terjadi?” Orang-orang berteriak, berjatuhan. Beberapa orang mencoba lari keruangan itu. Terjadi kepanikan luar biasa. Saya memeluk Anis dan ia bergantungan padaku. Orang-orang datang kembali. Lalu mereka semua memandang kepadaku. “Apa yang telah kau lakukan? Bagaimana mungkin seorang yang sudah mati duduk kembali?” Hatiku penuh diliputi dengan sukacita serta suatu perasaan dalam kebesaran Elohim, lalu saya berkata sambil tersenyum: “Tanyakan padanya apa yang telah terjadi.” Lalu Anis berceritera dengan lembut yang merupakan ciri khasnya. “Jangan takut padaku. Saya hidup.”

Suaminya bersama imam mauvi serta muazin dari mesjid datang berlari-lari masuk karena mendengar kejadian yang menggemparkan itu. Mauvi menumpangkan tangannya keatas kepala kakakku dan bertanya, “Batti, ceritakanlah yang sebenarnya padaku. Apa yang terjadi? Apa yang berlaku padamu? 14 jam yang lalu anda meninggal! Kami sedang mempersiapkan pemakamanmu!” Ia berkata, “Saya tidak mati!” “Dokter perempuan itu ada disana.” Anda telah meninggal. Tidak ada tanda-tanda kehidupan padamu,” tegasnya. “Saya tidak mati, saya sedang tidur!” kata kakak perempuanku, “Dalam tidurku saya bermimpi bahwa saya sedang menaiki sebuah tangga dan pada puncak tangga itu: ada seorang laki-laki memakai jubah putih mengenakan sebuah mahkota emas dan ada satu cahaya keluar dari dahinya. Saya melihat tangannya diatas saya dan terlihat suatu cahaya memancar dari tangannya itu. Ia berkata: Aku Yeshua Ha Mashiah, Raja diatas segala Raja. Aku akan mengirim engkau kembali dan pada waktu yang ditentukan Aku akan membawamu kesini lagi.”Lalu saya membuka mataku.” Hal ini diceritakannya dengan wajah yang memancarkan sukacita. Tidak ada kata-kata yang dapat melukiskan kegembiraan dan sukacita dalam keluarga kami. Saya mempergunakan kesempatan ini untuk menceritrakan kepada siapa saja yang mau mendengarkan tentang Nabi yang penuh dengan pekerjaan mujizat itu. Yang lebih besar dari nabi Yeshua. Bahkan suami Anis, yang merupaakan salah seorang yang dulunya sangat menentangku pada awalnya, sekarang berkata bahwa karena doakulah maka istrinya telah dapat hidup kembali.

“Siapakah Nabi Besar ini, yang telah kau lihat?” tanyanya sesudah 3 hari para tamu pulang. Saya mengambil Al-quran dan menunjukkan padanya tulisan-tulisan tentang Yeshua dalam surah Maryam. Kemudian saya menunjukkan padanya dalam Alkitabku kisah tentang kebangkitan Lazarus dalam Yohanes 11:43-44. “Sekarang, apakah kakak percaya bahwa Yeshua dapat membangkitkan orang mati?. Dikatakan disini bahwa Ia memanggil Lazarus: “Keluarlah! dan iapun keluar”. Dengan perlahan ia menjawab: “Ya, Saya percaya mujizat ini dari nabi Isa anak Maryam. Istriku memperoleh kembali kehidupannya untuk yang kedua kalinya.” Kelihatannya ia cukup senang dan menerima apa yang kujelaskan padanya. Pada diri Anis justru terjadi perubahan yang sangat besar. Bagiku ia selalu merupakan seorang kakak yang sangat saling mengasihi dengan saya, tapi kini dalam dirinya terlihat pancaran sukacita dan damai. Saya mendengarkan dia berceritra pada Mauvi dan istrinya segala seuatu tentang visinya dengan Yeshua dan saya perhatikan bahwa mereka mendengarkannya dengan penuh perhatian. Namun sesudah itu mereka mulai melirik padaku dengan perasaan tidak senang. “Ceritakanlah lebih banyak lagi tentang Yeshua.” bisiknya pada salah satu kesempatan singkat waktu kami sempat sendirian saja. Jadi saya memberikan padanya sebuah kitab perjanjian baru kecil dan ia berjanji akan membacanya walaupun ia merasa bahwa ia memerlukan seseorang membantunya agar dapat mengerti. Ia memulai dengan Injil matius dan saya jelaskan bagaimana Yeshua lahir demikian pula asal usulnya. “Teruslah berdoa untukku. Saya akan tetap setia terhadap apa yang telah kusaksikan sehingga saya dapat mengikut Dia yang telah memberi hidup padaku,” katanya, “Saya sudah menikah, karena itu saya membutuhkan lebih banyak dukungan doa.” Mataku penuh dengan airmata. Saya dapat memahami posisinya dengan sebaik-baiknya. Dengan semua kejadian ini, saya telah menempatkan “sunrise” dibelakang pikiranku, tapi tiba-tiba saya menyadari bahwa saya harus kembali. Yang sebenar-benarnya, saya begitu ingin pergi dan menceritakan kepada orang lain tentang mujizat-mujizat ini.

Ketika saya berangkat dengan bus kembali ke Lahore. Anis meremas-remas tanganku dan berkata, “Pintu rumahku terbuka untukmu. Kapan saja engkau mau, kau dapat kembali. Bahkan bila keluarga-keluarga lainnya tidak sudi lagi melihatmu, saya tetap melihatmu.”

Begitu bus bergerak keluar dari stasiun Gujarat dimuati penumpang baik dari pedalaman maupun dari kota, maka saya duduk merenungkan jalannya peristiwa-peristiwa yang terjadi selama kunjunganku, sekarang makin menghilang seolah-olah mimpi bahagia dibelakangku. Satu hal yang harus kugaris-bawahi – saya tetap mencintai keluarga-keluarga itu dengan dunia mereka, tapi saya tidak dapat lagi hidup di dalamnya. Saya adalah seorang jemaah, bukan pada perjalanan menuju ke Mekah, tapi pada satu perjalanan yang benar-benar langsung menuju kepada Elohim melalui Yeshua. “Sunrise” telah merupakan bagian dari perjalanan jemaahku. Sewaktu bus bergerak dengan cepat sepanjang jalan ke Lahore saya berharap-harap untuk bertemu dengan anak-anakku yang buta itu kembali. Namun kami semua tidak menyadari bahwa saya telah melakukan satu kesalahan besar. Pihak yang berwewenang di sekolah berkata demikian ketika saya menghadap kemudian, katanya sekarang ijinku telah lewat tiga hari. “Engkau meminta ijin dua hari dan telah kau ambil selama 5 hari.” Terjadi suatu tanya-jawab yang menyedihkan dan saya diberhentikan tanpa beroleh kesempatan yang layak untuk memberi penjelasan. Saya menyerahkan alasan-alasanku kepada Elohim dan biarlah Dia yang menjadi hakimku.

Beberapa menit kemudian saya telah berdiri di pinggir jalan Ravi di bawah sebuah tiang listrik; masih terpukul dan heran serta bingung terhadap kejadian-kejadian yang sebegitu mendadak. Saya merasa lapar – waktu makan siang sudah lewat dan saya belum lagi makan sesuatu sejak sarapan pagi-pagi sekali. Cuaca dingin dan berawan. Mungkin saja hari akan segera gelap waktu itu. Teringat olehku bahwa tukang cuci masih menyimpan beberapa potong pakaian dan peralatan tempat tidurku yang belum sempat dikembalikannya padaku. Wajah anak-anak kecil yang buta dan sabar muncul dihadapanku dan airmataku menitik. Mereka tidak akan mendengarkan lebih banyak ceritra dari Ba-jinya. Dan sayapun mengalami kesulitan dalam hal keuangan. Saya tidak memiliki uang cukup kecuali sedikit yang diberikan kakakku tadi pagi. Saya berdiri disitu kebingungan sambil menyadari bahwa tempat itu ada di daerah sunyi dan bagi seseorang yang baru murtad dari agamanya, tidak dapat mengharapkan banyak perlindungan di sini.

“Bapa,” seruku kepada Elohim, menyerahkan nasibku kedalam tanganNya, “ada orang-orang baik dan jahat dikota ini. Apakah ada sesuatu tempat bagi anakMu ini? Tunjukkanlah kepadaku kemana saya harus pergi.” Langsung jawabannya kuketahui: “Kembalilah ke Gujarat” Saya masih mempunyai cukup uang buat ongkosnya. Saya naik bus jam 2 sore pindah ke tonga dan membuat kakakku terkejut. Ia memelukku dan berkata dengan bahagia, “Saya begitu gembira kau kembali. Sekarang kau akan membantuku untuk mengerti tentang Alkitab itu.” Bahkan Blund Shah merasa girang melihat saya kembali karena dapat menemani istrinya.

Kakakku merasa rindu dan anak-anaknya, dua putri masing-masing 8 dan 5 tahun yang tinggal di Rawalpindi bersama kakek-neneknya. Iparku juga berada disana untuk mengawasi perusahaan busnya dimana ia termasuk sebagai pemegang sahamnya. Jadi, selama satu periode waktu, kakakku dan saya mendapat kesempatan yang menyenangkan dalam satu jalinan tali-persaudaraan yang baru tanpa ada suatu hambatan. Laksana dua anak domba, kami mencari dan memakan rumput di padang hijau dari Firman Elohim dan kelihatan jelas bahwa kakakku mengalami perubahan sepanjang tahap belajar yang dialaminya dalam kehidupan yang baru. Ia tidak lagi terlalu “main perintah” terhadap para pembantunya dan kadang-kadang melakukan sendiri sesuatu pekerjaan. Ia malah menyuruh para pelayan makan lebih dulu seraya berkata, “si miskin mempunyai hak lebih dahulu.” Ia telah menemukan Firman, “Hargailah orang lain lebih dari dirimu sendiri.” Ketika saya bertanya padanya untuk merasa yakin tentang dorongan apa yang memotivasinya, ia menjawab, “jadi bila esok saya meninggal saya akan tahu dimana saya berdiri, karena saya berusaha untuk menjadi salah seorang dari hambaNya yang setia.”

Hal yang menggembirakan ialah: reaksi para pembantunya. “Sejak Bibi kami hidup kembali, kelakuannya sudah seperti malaikat,” kata mereka kepadaku. Mereka malah bekerja lebih giat lagi untuknya, melayaninya dengan sepenuh hati. Kepadaku mereka menunjukkan perasaan hormat yang dalam. Suatu hari ia menanyakan padaku tentang baptisan dan mendengarkan penjelasanku dengan bersungguh-sungguh mengenai artinya. Kukatakan padanya, “Penting artinya bagimu agar dikuburkan bersama Yeshua Ha Mashiah dalam Baptisan jika kakak benar-benar menginginkan kehidupan. Ketika kita di Baptiskan, tubuh, jiwa dan roh kita dibersihkan, disucikan dan kita menjadi umatNYA.”

Lalu katanya, “Saya mau di Baptiskan karena sekarang saya sudah menjadi orang Kristen.” Dalam hatiku telah berubah dan saya mau melangkah lebih jauh lagi ke depan.”

Perasaanku gembira bercampur kuatir. Apakah ia menyadari sepenuhnya akan apa yang dihadapinya nanti karena mengambil langkah ini? Saya telah membayar mahal untuk pembaptisanku. Tapi Anis bersikeras, “Hatiku akan sangat berdukacita jika tidak dibaptiskan katanya, saya tidak beragama Islam ataupun Kristen.” Saya akan berada diluar katanya tegas dan saya mempertimbangkan hal ini. Apakah hakku untuk menolak menolongnya? Tapi segera saya lihat bahwa saya tidak dapat mencarikan bantuan dari seorang pendeta Kristen. Karena ini akan mengundang bahaya dari keluarga Blund Shah jika tidak dari pihak lain lagi. Saya harus melaksanakan upacara itu sendiri.

Suatu sore kami meminta pembantu mengisi bak mandi dari semen yang dalam itu dengan air hangat dan menyediakan beberapa helai handuk serta pakaian bersih. Lalu kami memintanya meninggalkan tempat itu. Kulihat lirikan matanya yang penuh tanda-tanya kearah kami ketika kami mentutup kamar mandi itu. Saya berdiri bersama Anis di dalam air dan bertanya padanya apakah ia mengaku percaya kepada Yeshua Ha Mashiah. Ia menjawab, “Sekarang saya menguburkan tubuhku yang lama dan menjadi baru di dalam Yeshua Ha Mashiah dan saya akan setia.” Lalu saya membaptiskan dia dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus dan menyerahkan dia ke dalam pemeliharaan Elohim. Waktu itu adalah suatu saat kemenangan. Sesudah itu Anis berkata kepadaku bahwa ketika ia berdoa rasanya seperti diangkat ke atas seakan-akan memakai sayap malaikat dan melihat dalam sebuah visi orang-orang berdiri mengelilingi dan memuliakan Yeshua.

Bagaimanapun saya mulai belajar bahwa bila saya merasakan sukacita atas sesuatu maka saya harus berhati-hati dan berjaga-jaga terhadap aktivitas kuasa-kuasa gelap yang jahat dan peristiwa inipun tidak terkecuali. Iparku mendengar tentang baptisan itu, Saya kira si pembantu itu yang memberitahukan sesuatu padanya dan ia menanyakan pada kakakku tentang apa yang kami lakukan. Anis kelihatan takut, “Ia menanyakan tentang hal itu semalam dan kujelaskan padanya apa arti Baptisan itu. Sekarang ia marah ia tidak menghendaki ataupun mau mengerti tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan salib itu. Saya tidak dapat menjelaskan padanya saya kira ia mencari kesempatan untuk beragumentasi denganmu. Tolong, janganlah membuatnya marah sebab bila demikian ia dapat mengusirmu.”

Saya mencoba menunjukkan pengertianku yang mendalam terhadap iparku namun akhirnya saya tidak dapat menghindari terjadinya sesuatu perdebatan dengan dia.

Ia menantangku untuk menjelaskan padanya perbedaan antara pembaca Al-quran dengan Alkitab. Tentu saja saya harus mengatakan padanya bahwa Yeshualah yang merupakan perbedaannya Ia adalah Jalan, kebenaran dan hidup. “Membaca Alkitab itu baik, tetapi tentang salib itu tidak baik!,” kata Blund Shah. “Bahkan dalam Alkitabmu dikatakan bahwa seseorang yang terkutuk saja yang akan mati disalib, jadi bagaimana mungkin seseorang yang dikutuk dapat memberi hidup pada orang lain!” Ia terlihat memandang kearahku dengan perasaan menang. Ia merasa bahwa saya terperangkap. Justru inilah merupakan pembukaan yang kuperlukan, saya membacakan kepadanya 1 Kor 1 : 18: Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Elohim. Ia tidak berkata apa-apa dengan, berapi-api saya bacakan untuknya Yohanes 1:29: Lihatlah Anak Domba Elohim, Yang menghapus dosa dunia. Kakakku duduk mendengarkan, matanya menatap jauh ke depan, tidak ikut campur. Saya menjelaskan pada iparku mulai dari Taurat. Dari akar-akar keislamannya dan menjelaskan bagaimana korban-korban darah sebagai pengganti manusia telah diperintahkan Elohim kepada Nabi Ibrahim tapi setelah Yeshua. Korban-korban ini tidak lagi diperlukan. Saya menunjukkan padanya mengenai hal ini dari Kejadian 22 : 11-12: “Jangan Bunuh anak itu dan jangan kau apa-apakan dia.” Lalu dari Yohanes 12 : 32, dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKU.” Saya katakan kepadanya bahwa karena pengorbanan Yeshua di kayu salib maka dosa-dosa kita diampuni. Penebusan yang sempurna dan lengkap.

Kujelaskan padanya bahwa mulanya saya menemukan pembacaan tentang hal ini dalam Al-quran lalu memperoleh pengertian yang lebih mendalam di Alkitab. Kuceritakan padanya mengenai para Nabi yang menubuatkan tentang kedatangan Ha Mashiah. Kepadanya juga saya utarakan bahwa Alkitab bukannya hanya sebuah buku melainkan firman Elohim yang Hidup dan bahwa apapun yang saya hadapi dalam hidup ini dapat saya jumpai pertolongan untuknya dalam Alkitab. Saya menutupnya dengan Kisah Para Rasul 4:11-12 Yeshua adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan–yaitu kamu sendiri–,namun ia telah menjadi batu penjuru. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”

Di ruangan duduk depan waktu menunjukkan jam 10 pagi dan ia duduk di sana kelihatannya terpesona. Kemudian ia sadar akan dirinya dan menatapku dengan seksama. “Apakah kau bermaksud menjadikan saya seorang Kristen juga? Kau tinggal disini dan makan dari mejaku, lalu memandang rendah akan kepercayaan Islam dengan cara sedemikian ini? Sekarang keluar dari sini dan kali ini jangan kembali lagi!”

Kakakku menyelipkan sedikit uang padaku seraya berbisik, “Jangan kembali ke Lahore. Pergilah ke Rawalpindi dan saya akan menemanimu bila saya datang kesana.” Ia memberikan sebuah alamat sahabat keluarga kami yang penting padaku, juga anggota Syiah, dimana suaminya adalah seorang pejabat tinggi pemerintah. Wanita ini memegang beberapa posisi penting dalam lembaga-lembaga sosial, perhubungan dengan perbaikan nasib wanita agar dapat memberikan pada mereka kedudukan yang lebih baik lagi. Mungkin ada lowongan pekerjaan padanya yang diberikan bagiku.

Ini merupakan kabar baik. Saya harus mendapatkan sesuatu pekerjaan. Jadi saya kembali ke stasiun bis dengan naik tonga dan pindah kesebuah bis menuju Rawalpindi. Tiga setengah jam kemudian saya sudah naik sebuah tonga lain lagi dan saya diturunkan di depan gerbang sebuah rumah tinggal yang mengesankan di jalan Peshawar. Saya mengirim sebuah nota menyebut namaku dan nama ayahku sehingga nyonya yang saya cari itu dapat mengetahui bahwa saya adalah sahabat dekat keluarga dan dapat mengingat siapa saya ini sebenarnya. Sesudah dipersilahkan saya masuk melewati gerbang tinggi yang dikelilingi dinding sambil merasa bahwa ini adalah langkah yang benar dan percaya akan hasilnya yang baik nanti.

BAB 11 TERPERANGKAP [‘pekerjaan’ di penjara, pimpinan-Nya sempurna]
Saya berdiri diruangan duduk rumah wanita yang kucari itu yang menatapku secara seksama. Beliau seorang wanita yang sangat cantik, perawakannya lebih tinggi dari saya, berkulit putih, rambut pendek. Ia mengenakan sebuah “Shalwar kameeze” merah muda serta sebuah baju dingin lengkap dengan syal bersulam disekeliling bahunya. Beliau tersenyum manis padaku. “Betapa baiknya anda meluangkan waktu mengunjungi saya. Rasanya kita belum pernah berjumpa sebelumnya! Suamiku sedang tidak dirumah sekarang. Ia di Islamabad sampai malam nanti. Ia seorang yang baik.” Saya katakan bahwa saya telah mendengar tentang suaminya yang adalah seorang yang penting. Nyonya menundukkan kepalanya yang anggun lalu meminta teh buat kami. Sambil menikmati teh dari mangkuk cina bercorak bunga-bungaan beliau melayani saya dengan percakapan yang sangat menyenangkan dan sopan, menanyakan tentang kesehatanku dan bagaimana perjalananku dari Gujarat. Beliau sangat prihatin mendengarkan keadaan Anis. Saya tidak meneruskan percakapan tentang hal ini secara terperinci karena merasa bahwa mungkin beliau tidak menghendaki para pelayan mendengarkan tentang apa yang akan kukatakan.

Selesai minum teh beliau mempersilahkan saya mengikutinya. Saya dibawa kekamar tidurnya, menutup pintunya, mempersilahkan saya duduk lalu mulai mengajukan pertanyaan yang sejak tadi belum diutarakan diantara kami, “Kenapa anda datang tanpa memakai kerudung? Dan mengapa seorang diri? Dalam keluargamu gadis-gadis tidak keluar rumah seperti ini. Apa yang terjadi atasmu? Apakah kau menemui sesuatu kesulitan?”

Saya mengenakan sebuah baju putih dengan Shalwar Kameeze dan ada sebuah selendang yang dililitkan sekeliling kepalaku. Sudah lama saya berhenti mengenakan Burka. Namun, saya tidak berkeinginan untuk bersoal jawab tentang hal itu sekarang.

Saya menjawab, “Nyonya merasa terkejut waktu melihat saya tidak memakai kerudung. Apakah nyonya tidak terkejut waktu melihat saya dapat berjalan? Nyonya kan tahu bahwa saya ini seorang yang lumpuh dan sakit ditempat tidurku selama 19 tahun!” Ibu ini berkata: “Saya tahu tentang hal itu. Sekarang ceritakan padaku, siapakah dokter yang mengobatimu sampai engaku dapat sembuh sempurna seperti itu?”
“Akan kutunjukkan dokterku kepada nyonya.” Saya membacakan baginya cerita tentang seorang lumpuh diangkut oleh 4 orang dan disembuhkan Yeshua dalam Markus 2:9-11. Kemudian kuberikan padanya Alkitab bahasa Urdu agar dibacanya sendiri. Diambilnya buku itu seolah-olah akan memegang seekor ular, memandangnya sekejap lalu mengembalikannya kepadaku. “Buku ini milik orang-orang Kristen,” katanya ketus.
“Benar, dan saya juga seorang Kristen,” jawabku. Beliau memegang lengan kursinya erat-erat, “Apakah tidak salah pendengaranku?”
“Itulah yang sebenarnya, sekarang saya telah menjadi milik pribadi yang memberikan kesembuhan padaku.”
“Sebenarnya apa yang kau maksudkan dengan hal itu?”

Maka saya menceritakan padanya cerita itu tanpa menyebut sesuatu nama Kristen. Tuan rumahku berusaha menenangkan dirinya. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan dengan langkah-langkah pendek di sekeliling ruangan itu lalu duduk berhadapan dengan saya lagi sambil condong ke depan, memandang padaku dengan sangat prihatin tapi lantas katanya, “Jika Yeshua menyembuhkanmu, apakah merupakan suatu keharusan untuk menjadi Kristen?”

“Dalam kasus saya, Ya. Saya telah menemukan hidup yang baru dan kini saya menjadi milik Pribadi itu yang telah memberikan padaku suatu hidup baru. Oleh sebab inilah saya telah diusir dari rumahku. Namun, saya tidak datang kemari untuk mendiskusikan agama dengan Nyonya. Saya datang untuk memohon bantuan Nyonya, sekiranya dapat membantuku mendapatkan pekerjaan pada salah satu lembaga kewanitaan yang Ibu pimpin. Dapatkah Ibu membantu ? Pekerjaan yang sederhanapun boleh, saya tidak mengharapkan pekerjaan dengan gaji besar”.

Terdiam sebentar. Beliau memperhatikan corak-corak permadani yang bagus itu. “Demikian rupanya, tidakkah kau tahu bahwa sebenarnya saya berpikir ada seseorang telah menculikmu dari rumahmu dan kau dapat lolos kemari untuk mencari pertolongan.” Beliau tertawa kecut. “Baiklah, kau akan bermalam di sini semalam dan besok saya akan mengatur sesuatu bagimu.”

Saya mendapat kamar sendiri dan makan malam yang dihidangkan oleh salah seorang pembantunya. Hubungan keluarga, walaupun sebegini jauh, bagaimanapun lebih erat dari yang saya perkirakan. Besok paginya sesudah saya sarapan sendirian di ruangan-makan, saya bertemu dengan suaminya. Beliau segera menegurku dengan sopan dan meminta saya meninggalkan Kristen. Tentu saja saya dengan cara yang sopan, saya menolak permintaannya. Di dalam diriku saya menggigil karena kini saya berhadapan dengan seseorang yang berpengaruh dalam pemerintahan. Baginya akan mudah sekiranya beliau mau menyikat saya seperti menghadapi seekor nyamuk yang mengganggu, walaupun saya adalah sahabat dekat keluarganya.
Beliau berkata, “Pikirkanlah tentang apa yang kau katakan. Masih ada waktu bagimu untuk kembali lagi ke Islam dan saya akan mengatur agar kau dapat berdamai lagi dengan keluargamu.”

Apakah secara tidak langsung tersirat di dalamnya sesuatu ancaman? Saya menarik napas dan menenangkan syarafku. Saya mempunyai suatu kesempatan kali ini yang tidak boleh kubiarkan berlalu.

“Terima kasih, namun maaf, tidak,” jawabku, “saya tidak bertengkar dengan mereka, saya tidak bermusuhan dengan siapapun, Pribadi yang saya percayai ialah Raja Damai dan Dia juga memberi Damai kepada Bapak.” Kata-kata itu keluar dari mulutku sebelum saya menyadarinya.

“Kenapa anda tidak meninggalkan kekristenan itu?” katanya dengan nada yang agak menunjukkan kehilangan kesabaran, “Jika anda tidak mau tinggal dengan kakak-kakakmu, mari tinggal bersama kami selama hidupmu.”

Tawaran ini baik sekali dan saya yakin beliau mengutarakan dengan tulus.

“Terima Kasih, tapi kekristenanku bukan hanya sekedar agama dimana seseorang dapat melepaskannya bila dia merasa bosan, melainkan merupakan suatu perubahan hidup bagiku. Jika saya berhenti hidup dalam Ha Mashiah maka saya akan mati.” Lalu saya menambahkan, “Sekiranya bapak tidak dapat membantu untuk mendapatkan sesuatu lowongan kerja bagi saya, katakanlah lalu saya akan pergi dan tidak akan mengganggu bapak lagi.”

“Oh ya kami akan mengatur sesuatu untukmu.” Beliau mengerdipkan matanya kepada istrinya sambil berjalan keluar. Saya mendengar istrinya memanggil sopir untuk menyiapkan mobil.

“Mari,” katanya dan kami masuk kedalam mobil dan berangkat menuju arah kota. Mobil itu berhenti diluar sebuah pintu gerbang besi yang besar dikelilingi dinding-dinding yang tinggi. Di atasnya saya dapat melihat sebuah bangunan beton yang besar. Sebuah tanda menyebutkan bahwa tempat itu ialah Penjara Pusat Rawalpindi. Jadi rupanya disinilah tempat saya bekerja.

Si sopir memanggil penjaga yang membuka pintu gerbang itu. Kawanku, Nyonya tersebut membawaku masuk ke kantor pengawas dan berbicara sebentar dalam bahasa Inggris, jelas rasanya tentang saya. Lalu pengawas membunyikan lonceng dan seorang wanita setengah baya muncul dengan setumpuk kunci yang bergemerincing bunyinya. Pengawas itu mengatakan sesuatu kepadanya yang tidak dapat kudengar dan mengangguk kearahku lalu wanita itu berkata, “Mari.” Nyonya, kawanku yang baik hati itu berkata, “Anda pergi bersama wanita ini. Tempat ini akan lebih baik buat anda.”

Saya berterima kasih padanya dengan hangat dan mengikuti wanita itu keluar melewati serambi. Sebuah gerbang yang dipalang dibuka lalu wanita itu membawa saya kedalam sebuah ruangan yang panjang seperti aula dengan langit-langitnya yang tinggi dan tidak berjendela. Cahaya yang masuk kesana datangnya dari gerbang berjeruji besi yang dipasangkan kesalah satu dinding. Ada satu lagi gerbang tertutup diseberangnya. Ada kira-kira 10 wanita berjongkok diatas tikar-tikar anyaman daun palem yang kotor, ada yang berbaring atau bersandar di dinding dengan sikap-sikap merengut atau acuh tak acuh. Saya mendengar bantingan pintu tertutup di belakangku lalu dikunci dan tanpa daya memandang ke arah wanita yang paling dekat denganku.

“Apa yang terjadi? Dimanakah pekerjaan yang akan kulakukan?,” saya bertanya. “Pekerjaan? Tidak ada pekerjaan disini. Kau berada di penjara, sama seperti kami. Apakah yang telah kau lakukan sehingga dijebloskan kesini?”

Saya memerlukan waktu satu-dua menit untuk menyadarinya. Apa yang dinamakan sahabat dekat keluarga ini telah menjebloskan saya ke penjara dengan alasan karena saya seorang Kristen. Saya telah dikelabui dan terperangkap. Saya berlari-lari ke pintu gerbang dan menggoncang-goncangkan palangnya. Tidak ada seorangpun yang datang, saya memanggil manggil, tidak ada yang menjawab, kecuali wanita muda yang telah berbicara padaku tadi.

“Engkau dapat berteriak-teriak sekuat-kuatmu tidak akan menolong untuk membuatmu keluar dari sini.” Saya berpaling padanya, “Tempat apakah ini?”

“Anda harus tahu, oh orang yang masih hijau, tempat ini ialah Penjara penitipan, tempat seseorang ditahan menunggu untuk diadili atau jika kau dapat menemukan seseorang yang akan menebusmu keluar.” Cara mengutarakannya lebih keras lagi, kedengarannya dari yang diucapkannya.

Saya berusaha untuk tetap tenang dan berpikir. Berapa lamakah saya akan di tahan disini? Kejahatan apa yang akan mereka tuduhkan padaku? Apakah menjadi pemeluk Kristen merupakan kejahatan? Jelas, menurut undang-undang dasar, menjadi kelompok minoritas bukanlah sesuatu kejahatan. Namun, menurut hukum Islam, saya telah melakukan sesuatu kejahatan yang sangat besar dan bagi keluargaku tindakanku telah menjadi suatu kenajisan. Pikiran itu mengingatkan saya, akan janji Anis untuk datang menemui saya. Saya yakin kakakku akan segera datang. Kemudian mataku tertuju kearah tasku-merupakan suatu keuntungan bagiku tas itu tidak mereka sita dariku. Dan Alkitabku ada di dalamnya bersama beberapa potong pakaian yang merupakan harta kekayaan tidak ternilai di tempat seperti itu.

Saya melihat sekelilingku lebih teliti lagi. Dimana saya dapat beristirahat disini? Panjang ruangan itu kira-kira 25 meter, ada tiga atau empat kamar disamping-sampingnya dimana diletakkan tempat-tempat tidur besi ditutup dengan selimut tebal berwarna gelap. Udara disini dingin karena aliran udara malam Himalaya, yang masuk melalui lobang berjeruji dari gerbang yang dipalang itu. Namun, sepintas lalu saya berkata kepada diriku bahwa saya tidak akan dapat tidur disini.

Kamar-kamar itu sangat gelap, tanpa aliran udara, tanpa jendela seperti kuburan-kuburan saja layaknya. Dan saya tidak mau di gigit hidup-hidup oleh seranga-serangga yang menghuni selimut-selimut itu. Diluar, dilantai yang dingin, keras dan kotor itu, wanita-wanita lainnya membuangkus diri mereka seluruhnya dengan seprei dan bertiduran di atas tikar-tikar kotor. Sambil membungkus diriku dengan kain sebanyak mungkin yang tersedia dan dapat dipakai, sepanjang malam saya duduk terus sambil terkantuk-kantuk memandang lewat jeruji-jeruji penjara ke langit malam yang bersih disinari bulan dan bintang-bintang. Kebersihan makanan merupakan, suatu masalah yang terus menerus menyakitkan hatiku, begitu juga yang dirasakan wanita-wanita lainnya.

Bau yang tidak sedap yang tercium didalam ruangan itu menunjukkan bahwa ada kamar kecil didekatnya sedangkan air untuk menyiram tidak cukup begitu juga peralatan untuk mencuci yang layak – yang ada hanya sedikit air sebanyak satu ‘muntuka’ atau ember dan merupakan jatah untuk dibagikan diantara kami selama sehari penuh oleh tukang air. Ada sebuah mangkuk yang dipasangkan rantai diikatkan pada bagian atas ember, dua gelas untuk minum dan sebuah ‘lotha’ untuk keperluan air wudhu. Saya tidak pernah melihat seorangpun yang menggunakannya selama saya disana. Bersembahyang merupakan hal yang sangat jauh dari pikiran mereka. Tiga kali sehari seorang penjaga penjara masuk membawa sesuatu yang merupakan makanan roti kering dan teh untuk sarapan serta pada waktu makan lainnya, sup miju-miju (lentil) encer, ‘chapatti’ yang kurang dimasak dan sesekali terong tawar. Rupa dari makanan ini- yang tidak akan saya berikan bahkan bagi para pengemis dirumahku – menyebabkan para narapidana naik pitam kadang-kadang mereka menyiramkan teh keatas penjaga yang jatuh, menyumpah-nyumpahinya begitu juga koki, polisi, pengadilan juga satu terhadap yang lain menggunakan kata-kata yang membuat saya menutup telingaku rapat-rapat.

Melewati gerbang berpalang itu, di kejauhan kami dapat melihat pada selang-seling waktu para anggota keluarga atau kawan-kawan dari narapidana datang memberikan penghiburan. Gerbang akan dibuka dan satu atau dua dari para wanita itu akan dibawa keluar ke kamar tamu untuk waktu singkat lalu kembali membawa oleh-oleh yang agak dapat memperbaiki keadaan hidup – seprei-seprei bersih, makanan. Segera nasi manis dan pilau serta potongan-potongan ayam dibagi-bagikan keliling tapi saya tidak mendapat bagian.

Tidak ada yang meberi perhatian atas kehadiranku atau berkeinginan untuk menuduhku dengan sesuatu tuduhan. Namun saya ketahui bahwa tempat ini hanyalah tempat tahanan sementara bagi mereka yang menunggu untuk di adili. Berapa lama gerangan seseorang dibiarkan merana ditempat ini tanpa diadili?

Saya bertanya pada petugas penjara, wanita setengah baya, “Kenapa saya berada disini?”

“Saya tidak tahu kenapa, pengawas penjara memerintahkan saya, katanya acuh, saya hanya menuruti perintah saja.”

Dari arah barat penjara yang satunya untuk pria yang dapat mendengarkan jeritan orang-orang yang sedang dipukul kuat-kuat. Wanita-wanita lainnya – sebagian terlibat dengan geng-geng di kota mengatakan bahwa cara ini dilakukan agar seseorang mengaku dan dapat dibuatkan tuduhan yang wajar atasnya. Saya juga mengetahui bahwa perempuanpun dipukuli oleh petugas wanita untuk maksud yang sama. Saya menunggu bertanya-tanya apakah hal semacam ini juga akan menimpa saya.

Selama seminggu pertama saya tidak dapat tidur di lantai keras itu atau memakan makanan penjara. Sekali menghirup bau sup saja telah menghilangkan napsu makanku. Saya tidak suka akan keadaan kotor atau caplak, bau atau pada mulanya para wanita bersamaku disitu. Namun, ketika diombang-ambingkan oleh kesangsian dan gelombang ketakutan maka saya akan mengambil Alkitab ku yang sangat berharga, dan saya mengalami bahwa lama kelamaan saya mulai dapat menyesuaikan keadaan dan perasaan damai mulai mengalir laksana sungai di hatiku. Saya membaca tentang Petrus dan Yohanes dalam penjara di Kisah Rasul 12 : 6-8. Terasa olehku bahwa bagi mereka pun hal ini merupakan suatu pukulan karena diperlakukan sebagai penjahat seperti halnya dengan saya. Namun keduanya mengucap syukur dan menyanyikan puji-pujian. Begitu juga Rasul Paulus, menulis dari dalam penjara: “Dalam segala hal aku mengucap syukur.” Baiklah bila demikian, saya akan mengucap syukur karena dapat membuktikan pada Elohim ketabahanku waktu menghadapi hal yang sama. Pada mulanya saya menggunakan waktu lowong utuk dimeditasikan atas Firman Elohim, saya mengasingkan diriku dari kawan-kawan seselku. Jelas bagiku kebanyakan dari mereka adalah penjahat-penjahat yang mencintai kejahatan. Anggota-anggota geng dan kelompok penjahat kota besar, pencuri, pencopet, penculik dan seorang yang melakukan pembunuhan di propinsi perbatasan barat laut yang membunuh suaminya. Oh. perasaan sombong yang bercokol dalam diri “penjara” ini merupakan obat mujarab untuk melenyapkannya. Karena hanya berdiam diri dan tenang sewaktu saya mencurahkan perhatian pada Alkitabku maka timbullah rasa hormat dan ingin tahu mereka terhadapku.Saya merupakan teka-teki yang pada akhirnya memerlukan penjelasan.

“Apa yang sedang kau baca dengan penuh perhatian itu?”
Saya memandang keatas pada sipenanya, seorang wanita muda yang pada wajahnya terlukis segala bentuk kejahatan.
“Kau telah membaca buku itu berhari-hari tanpa menghiraukan bahwa kami hadir disini. Pastilah itu sebuah buku yang bagus. Tentang apakah gerangan isinya?”
“Apakah anda benar-benar mau tahu tentang buku ini?”
“Yah, sesuatu untuk mengisi waktu lowongku,”
katanya (kuketahui namanya: Kalsoum). Wanita-wanita lainnya menghentikan kasak-kusuk mereka untuk mendengarkan percakapan kami. jadi saya mulai bercerita tentang Dia kepada wanita-wanita ini.
“Ini adalah sebuah cermin”.
“Bagaimana mungkin itu cermin? Saya kira itu buku”
ujar seorang lain (kuketahui namanya Khatoon) sambil memandang sekeliling pada kawan-kawannya untuk mendapatkan dukungan terhadap pendapatnya.
“Baiklah, inilah sebuah buku yang juga adalah Cermin karena disini kita melihat diri kita sendiri waktu menghadap Elohim yang akan menghakimi seluruh umat manusia.”
“Tidaklah merupakan suatu gambaran yang bagus,”
kata salah seorang dari mereka sambil tertawa kasar.

“Anda benar,” jawabku, “cermin ini menunjukkan pada kita apa yang kita lakukan yang disebut “Dosa,” dosa-dosa kita adalah hal yang buruk di mata manusia apalagi di mata Elohim. Manusia mengutuk dosa-dosa kita dan akan menghukum kesalahan yang kita perbuat. Tapi Elohim itu suci dan Dia akan lebih mengutuk kita lagi karena dosa kita. Dosa tidak membuat Elohim senang. Dosa menentang Dia, Dia harus mangukum dosa dengan kematian.” Wanita-wanita malang ini memperhatikan benar-benar penjelasanku, seperti menunggu hukuman baginya. Saya lanjuntukan, “Anda tentunya berpikir, ‘Jadi, tidak ada jalan keluar bagi kita. Kita harus menanggung hukuman bagi kita,’ Tapi cermin ini menunjukkan pada kita bahwa Elohim mempunyai dua jalan untuk berurusan dengan dosa kita. Jalan yang satu menuju kematian dan jalan yang lainnya memimpin kita kepada kehidupan dan kita dapat memilih jalan mana yang akan kita ambil.”

Suasana hening dipecahkan oleh Kalsoum yang bertanya, “Bagaimana caranya cermin itu melakukan semuanya ini?”

“Ditunjukkannya bahwa Elohim sendiri telah menyediakan satu jalan untuk mengampuni dosa kita. Dia sendiri memanggil kita orang-orang berdosa datang kepadaNya mengakui dosa dan kesalahan kita untuk diampuni. Buku ini memberitahukan kepada kita, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”(Mat 11:27-30).

Saya terkejut atas reaksi mereka atas firman ini mereka mendengarkan penjelasan ini dengan cermat. Seorang dari mereka berkata, “Kami tidak menyangkal bahwa kami dibebani oleh dosa. Itulah sebabnya kita dimasukkan ketempat ini. Tidak ada yang dapat melepaskan kita dari tanggung-jawab terhadap apa yang kita lakukan.”

Saya jelaskan padanya doktrin pengampunan sebagaimana difirmankan dalam 1 Yoh 1:8-9: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Dia adalah setia dan adil untuk mengampuni dosa kita dan membersihkan kita dari segala dosa kita.” Beberapa dari antara mereka sangat tergerak oleh firman ini, terlihat ada airmata dimatanya.

Mereka meminta padaku untuk mengajar mereka lebih jauh lagi. Jadi diatur, bahwa setiap pagi saya akan melakukan suatu penelahan Alkitab bersama mereka. Dalam waktu singkat saya mulai melihat suatu perubahan terjadi pada mereka yang terpancar melalui kerudung yang kotor. Mereka tidak hanya membagikan daging dan ‘pilaunya’ padaku atau memberi sehelai selimut bersih untuk tidur. Hasil terbaik ialah tujuh dari mereka mengaku dosanya dihadapan Elohim dan membenarkan tuduhan yang selama ini disangkalnya didepan para petugas yang berwajib termasuk si pembunuh dari propinsi perbatasan barat laut dan dua pencopet. Mereka meyakinkan kepadaku bahwa mereka tidak akan melakukan kejahatan lagi.Inilah pekerjaan yang diperuntukkan bagimu sehingga dimasukkan ke penjara,” kataku pada diriku sendiri setelah waktu sebulan berlalu dengan berbagai pengalamannya. Tiga dari mereka dibawa kepengadilan dan pergi dengan bercucuran air mata karena perpisahan denganku.

Namun kemudian sayapun dipanggil, pintu penjara dibuka, dan saya dibawa keruang duduk pimpinan penjara dimana saya bertemu dengan Anis yang sangat kuatir menunggu bersama teman kami yaitu Nyonya yang saya percayai itu-
beliau berusaha agar sedapat-dapatnya tidak kelihatan terlibat. Anis segera datang dan memelukku yang masih dalam keadaan kotor. Lalu ia berpaling ke Nyonya tersebut dan bertanya, “Apa yang telah dilakukan adikku sehingga dimasukkan kedalam penjara? Apakah ia membunuh seseorang?”

Adikmu telah berpindah agama. Ia telah murtad dari Islam. – Tindakan itu, suaranya dipertegas,- merupakan suatu dosa yang lebih berat dari membunuh!.

“Itu adalah keyakinan dia pribadi. Ia menemukan kebenaran dan tidak merasa takut untuk menyaksikannya dan nyonya tidak berhak menjebloskan seseorang karena alasan itu, kecuali tidak ada lagi undang-undang di Pakistan.”

Kawan kami tidak berkata apa-apa. Ia mengangkat bahunya, “Baiklah, jika anda mau membawanya pulang, silahkan.” Anis berpaling padaku, “Gulshan, sekarang kau harus pulang bersama.”

“Saya tidak suka melakukannya. Untuk apa saya harus pulang kerumah. Penjara ini lebih baik bagiku dari di rumahmu.”

Kelihatannya, perasaannya terluka. “Kenapa kau berkata begitu?”

“Karena suamimu menyalah-artikan tentang Yeshua dan SalibNya dan saya tidak mau mendengarkan hal semacam itu. Di penjara ini para wanita itu telah mendengarkanku dan menerima Yeshua. Saya dapat melakukan pekerjaan yang bermanfaat.”

Dengan berlinang air mata kakakku mengelus-elusku. “Engkau sangat mencintai Yeshua, saya rela memberikan hidupku untuk Yeshua.” Perasaan itu benar, semua yang telah terjadi hanyalah semakin menambahkan ketetapan iman dan percayaku. Saya telah ditempatkan pada keadaan putus asa yang kelam dan mengacaukan perasaanku. Namun, dalam kegelapan ada sinar cahaya.”

Anis berkata, “Saya juga mencintai Yeshua. Saya mau belajar lebih banyak tentang Dia darimu.” Lalu ia menceritrakan padaku apa yang terjadi dengan suaminya. Tidak lama setelah saya meninggalkan rumah, pada hari yang sama, suaminya mengalami kecelakaan lalulintas lalu masuk rumah-sakit selama sebulan. Saya tidak dapat dihubungi waktu itu karena jelas kewajibannya yang utama sebagai istri ialah mengurus suaminya. Ia melanjutkan, “Sekarang ia tidak akan melakukan sesuatu terhadapmu. Ia telah mengijinkan saya untuk menjemputmu pulang.” [Inilah makna dari Roma 8:28!!]

Betapa cepatnya keberuntungan itu berbalik. Pada suatu ketika saya berada dengan sampah masyarakat dari kelompok wanita di penjara dan memperoleh kenyataan betapa manisnya pengalamanku bersama mereka. Dalam waktu satu jam atau lebih sedikit setelahnya, saya sudah mandi didalam kamar mandi dirumah kakakku yang indah dikota satelit Rawalpindi, dengan para pelayan yang siap menunggu permintaanku – sambil mengira-ngira, berapa lama saya gerangan akan menikmati keadaan ini sebelum saya menerima perintah untuk keluar karena ketidak sanggupanku untuk berdiam diri tentang iman percayaku.

Bersambung ke Bab 12 (Bg.7)

Gulshan Esther (Fatimah); Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2 ;

Bg. 3 ; Bg. 4 ; Bg. 5 ; Bg.6 ; Bg. 7

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

5 Muslim Pakistan tertuduh pidana perkosaan menyerang korbannya

Lahore, Pakistan 18 Maret 2010 (CDN). Karena takut akan tuduhan pengadilan, 5 pria Muslim menyerang dan mengancam membunuh keluarga yang telah mereka perkosa dengan tujuan keluarga korban pemerkosaan ini menarik tuduhan tersebut dari pengadilan.

Muhammad Sajjid bersenjatakan pistol, Muhammad Sharif dengan pisau belati dan Muhmmad Wajjad dan dua lainnya yang tidak diketahui indentitasnya bersenjatakan bambu mendatangi rumah korban pemerkosaan mereka pada tanggal 26 Pebuari sore. Mereka merusak dan memukuli dengan keras kedua wanita kakak-beradik berusia 15 dan 21 tahun.

Muniran Bibi berkata bahwa Sharif menusuk dia empat kali dengan belatinya, ”Mereka merobek pakaian saya, juga saudari perempuan saya dan sementara itu, Muhammad Sajjid terus-menerus menembakan pistolnya keudara untuk menterror kami.”

Pemimpin All Pakistan Minorities Alliance (Persatuan Semua Minoritas Pakistan) berkata bahwa pemerkosaan pada anak gadis terkecil itu terjadi pada bulan April 2007, ketika itu ia masih berusia 13 tahun. Ia diperkosa oleh empat pemuda Muslim dan setelah itu disembunyikan di suatu tempat. Hasil penyelidikan medis telah membuktian bahwa gadis 13 tahun ini telah berulang-ulang diperkosa.  Mereka telah merusak kehidupan gadis kecil ini.

Seorang tetangga dari keluarga korban yang meminta tidak disebutkan namanya berkata sejumlah besar orang berkumpul di depan rumah tersebut karena mendengar jeritan keluarga korban, menyebabkan kelima Muslim melarikan diri.

Ketika keluarga ini melaporkan ke polisi untuk pertolongan, para polisi menolak untuk mendaftarkan masalah penyerangan tersebut.

Ahli hukum Azra Shujaat, pemimpin dari Global Evangelical Ministries, berkata bahwa dengan menolak mencatat tuduhan-tuduhan pelanggaran kekerasan fisik dan membawa senjata illegal, polisi telah tunduk kepada kekuatan orang-orang Muslim kaya. Ia juga menyatakan bahwa bukti pada persidangan telah menunjukan bahwa mereka bertanggung jawab untuk pemerkosaan tersebut

Ferhan Mazher, pemimpin dari group hak-hak Kristen yang bernama Rays of Development Organization, berkata satu-satunya cara untuk “criminal-kriminal Muslim yang tidak dapat diterima ini” menghindari hukuman pengadilan adalah menyakinkan keluarga Kristen korban tersebut, melalui ancaman-ancaman dan kekerasan, untuk menarik tuduhan-tuduhan pengadilan.

Ingatlah mereka yang teraniaya dan doakan mereka.

Untuk informasi lebih jelas tentang korban Anda dapat menghubungi

Compass Direct News Service
PO Box 27250. Santa Ana CA 92799, USA
Phone: +1 949-862-0304; Fax: +1 949-752-6536
E-Mail: info@compassdirect.org

Galatia 5:19-23
(19-21)  Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu–seperti yang telah kubuat dahulu–bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Elohim.
(22-23)  Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Sumber berita: Compas Direct News

Baca juga:

  1. Iman seorang pembantu Kristen di Pakistan
  2. Pakistan: Azra Bibi terbebas dari Perbudakan
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

47 Rumah Orang Kristen Pakistan Dibakar Atas ’Tuduhan Penghujatan’

Punjab. Dua organisasi kemanusia Pakistan melaporkan bahwa 47 rumah milik orang Kristen di desa Korian, provinsi Punjab dibakar oleh sekelompok orang Muslim atas tuduhan anak laki Kristen merobek halaman kitab Alkuran.

Main hakim sendiri ini terjadi pada Selasa malam 28 July. Untung bahwa tidak ada korban jiwa, sebab ketika orang-orang Kristen mendengar berita akan adanya penyerangan ini dari mesjid speakePeta Pakistanr, mereka semua melarikan diri kehutan. Setelah merampasi harta benda masyarakat Kristen ini, orang-orang Muslim yang marah ini membakar rumah-rumah orang Kristen dengan bom-bom kimia.

Menurut laporan Sharing Life Ministries in Pakistan (SLMP), peristiwa bermula dari beberapa anak-anak laki Muslim rebut mulut dengan anak-anak laki Kristen, masalah ini telah diselesaikan oleh para tua-tua desa. Bagaimanapun anak-anak laki Muslim ini tidak puas dan menyebarkan gossip ’penghujatan atas Alkuran’, ini tercatat pada tanggal 25 July.

Selasa malam itu orang-orang Muslim membuat pengumuman dari mesjid desa untuk bergabung dan memberi pelajaran kepada ’orang’orang Kristen infidel’ karena melakukan penghujatan. Orang-orang Muslim dari desa-desa terdekat juga bergabung di mesjid tersebut menghasilkan lebih dari seribu orang.

Ketika laporan ini diadukan oleh beberapa pemimpin Kristen setempat ke pemerintah provinsi Punjab, polisi bagaimanapun tidak mendaftarkan laporan ini sampai laporan ini ditulis.

Penyalah gunaan Hukum Penghujatan yang dilegalkan oleh pemerinah Pakistan semakin nampak keburukannya.Membuat orang-orang Muslim bertidak sesuka hati mereka terhadap orang-orang Kristen di Pakistan. Pembakaran rumah-rumah tinggal dengan modus tuduhan yang sama dan dengan bom-bom kimia juga terjadi Shanti Nagar pada tahun 1998. Serangan pada desa Korian ini adalah tragedi ketiga kalinya di Pakistan dalam bulan July saja.

Lahor (30 Juni 2009). Perusakan rumah-rumah yang disertai dengan persampasan harta milik orang Kristen terjadi oleh karena tuduhan penghujatan terhadap agama Islam. Pukul 7 sore ketika seorang petani Kristen dengan anak prianya (10 tahun) pulang dari sawahnya, ketika mereka memasuki desa, seorang Muslim yang dikenal sebagai Muhammad Hussein dan keponankannya memarkir sepeda motornya ditengah jalan,  Masih, pengemudi traktor ini memohon Muhammad untuk mengeser motornya.  Diluar dugaan kedua pria ini menarik keluar Masih dari traktornya dan mulai memukulinya. Tidak cukup di situ, 15 sampai 20 orang Muslim menyerang keluarga ini dengan parang. Peristiwa yang tidak berprikemanusian ini rupanya tidak berhenti pada keluargan Masih saja, seorang pemimpin Islam, Muhammad Latif,  melalui spikir mesjid mengundang para Muslim untuk bersama-sama ’mengajar para Kristen sebuah contoh pelajaran.’ Lebih dari 500 orang Muslim berbondong-bondong dengan bersenjatakan tongkat dan parang merusak perkampungan Kristen dan merampas harta milik mereka. 110 rumah hancur, turbin air dirusak dan beberapa kendaraan dibakar.

Pakistan menempatkan urutan ke 13 pada daftar 2009 World Watch yang dibuat oleh Open Doors, suatu organisasi kemanusian Internasional.

Pokok Doa:

  • Berdoalah untuk orang-orang Kristen di Pakistan. kiranya Yeshua Ha Mashiah memberi mereka kekuatan imam dan kekuatan sorgawi untuk mengampuni musuh-musuh mereka yang tidak tahu apa yang perbuat.
  • Berdoalah juga untuk orang-orang Muslim di Pakistan agar Yeshua mengirim malaikat-malaikat-Nya untuk mencabut kain hitam yang menutupi mata rohani mereka. Mata mereka telah dibutakan oleh Setan, sehingga mereka berpikir bahwa berbohong, merampas milik orang lain dan merusak rumah dan kendaraan orang Kristen adalah perbuatan yang terpuji. Saudari Elizabeth dari Indonesai melalui kuasa Yahweh ia diperlihatkan isi neraka, di neraka ini ia melihat banyak sekali orang-orang bersorban (pemeluk agama Islam). Bawalah orang-orang Muslim di dalam doa-doa kita, kiranya Yahweh bermurah hati menunjukan jalan-Nya kepada mereka.

Diterjemahkan dari:

  1. 47 Pakistani Christian Homes Burned Over ‘Alleged Blasphemy’
  2. Muslims Attack 110 Homes of Christians in Pakistan

Bacaan yang berhubungan:

  1. Iman Seorang Pembantu Kristen di Pakistan
  2. Pakistan: Azra Bibi terlepas dari perbudakan
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

 

  • Kalender

    • Oktober 2017
      M S S R K J S
      « Jul    
      1234567
      891011121314
      15161718192021
      22232425262728
      293031  
  • Cari