Walid: Dari pencinta Hitler ke Yeshua

Kesaksian seorang Muslim Betlehem, Israel yang berjumpa Yeshua. Diterjemahkan  dari situs www.bible-koran.com.

Nama saya Walid, saya lahir di Betlehem, Israel. Ayah saya adalah seorang Muslim Palestina yang mengajar pelajaran bahasa Inggris dan agama Islam di Tanah Suci, dan ibu saya adalah seorang Amerika yang menikah dengan ayah saya selama studinya di Amerika Serikat pada tahun 1956.

Khawatir dengan cara hidup Amerika, orang tua saya pindah ke Israel pada tahun 1960 dengan dua anak dan sementara ibu saya masih mengandung saya, ketika kami tiba di Betlehem saya lahir, dan kemudian kami pindah ke tempat terendah di bumi, Yerikho.

Saya tidak lupa lagu pertama yang saya pernah pelajari di sekolah sebelum Perang Enam Hari terjadi berjudul “Arabs our beloved and Jews our dogs.” (orang-orang Arab ialah kekasih kami dan orang-orang Yahudi ialah anjing-anjing kami). Saya sering bertanya-tanya pada waktu itu siapakah orang-orang Yahudi, tetapi saya mengulangi kata-kata tersebut dengan sisa anak-anak lainnya tanpa mengerti maknanya.

Kemudian kami pindah kembali ke Betlehem dan ayahku mendaftarkan kami pada sebuah sekolah Anglikan-Lutheran karena sekolah ini memiliki kursus bahasa Inggris yang lebih baik, kakak laki-laki dan perempuan saya dan saya sendiri yang adalah Muslim di sekolah ini, kemudian ayah saya memindahkan saya ke sekolah pemerintah dimana saya tumbuh dalam iman Islam. Selama masa mudaku seperti ayah saya, saya selalu berkiblat ke Islam dan apa yang para guru muslim kami ajarkan. Percaya kepada nubuatan Muhammad, aku menawarkan hidup saya untuk ‘Jihad’ atau ‘Perang Suci’ sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan baik kemenangan atau mati syahid. Dalam Islam mati syahid adalah satu-satunya cara Anda dapat memastikan keselamatan dan masuk ke surga, terutama karena Allah [Islam] dan nabi-Nya Muhammad berjanji, sebagaimana Quran menyatakannya:

“Jangan berpikir tentang siapa yang dibunuh untuk jalan Allah (dalam Perang Suci), untuk mati, melainkan hidup dengan Allah mereka menerima berkat-Nya.”

Saat itu aku bersumpah untuk melawan musuh saya Yahudi, dengan keyakian bahwa saya melakukan kehendak Allah di bumi, dan saya menepati kata-kata saya karena saya telah ikut serta dalam banyak kerusuhan melawan tentara Israel, tidak ada yang bisa mengubah hati saya,  mati atau mukjizat dibutuhkan untuk merubahnya . Cara paling mudah untuk menggambarkan diri saya adalah bahwa saya adalah salah satu dari orang-orang yang dapat di lihat pada CNN melemparkan batu dan bom molotov di hari-hari Intifadah atau ‘Pemberontakan’, saya adalah salah satu dari teroris yang orang Yahudi menyebut kami, hal yang menarik ialah bahwa saya tidak hanya meneror tapi saya diteror oleh kepercayaan saya, karena saya harus mendapatkan kelayakan  [Allah] dan perbuatan baik yang cukup untuk masuk surga tapi tidak pernah yakin apakah perbuatan baik saya akan melebihi perbuatan buruk saya dalam skala ketika saya dihakimi oleh Allah, tentu mati memerangi orang-orang Yahudi akan memudahkan amarah Allah terhadap dosa saya dan saya akan diamankan di tempat yang bagus di surga dengan wanita-wanita cantik bermata lebar [“kismis-kismis putih” pada Quran bahasa Syro-Aramnya, harap baca buku Syro-Aramaic Reading of the Kuran] untuk memenuhi keinginan saya yang paling terdalam, cara lainya saya akan menang, dan teror adalah satunya.

Saya ingat murid-murid biasa bertanya kepada guru selama pelajaran-pelajaran agama Islam kami di Sekolah Tinggi Bethlehem, apakah orang-orang Muslim diijinkan memperkosa wanita-wanita Yahudi setelah kami mengalahkan mereka, jawaban guru ini adalah ”Para wanita yang tertangkap di medan perang harus memilih masalah ini, mereka adalah selir-selir dan perlu taat kepada tuan-tuan mereka, melakukan sex dengan tawanan budak adalah bukan sebuah ”masalah pilihan untuk para budak,” ini adalah bukti apa yang tertulis di Quran, itu dikatakan:

Diharamkan bagimu juga menikahi para perempuan, kecuali mereka yang berada di tanganmu sebagai budak, ini adalah hukum Allah untuk kamu. (An-Nisa/4:20) [Dari terjemahan asli artikelnya]

Dan dalam ayat lainnya Quran berkata:

O Prophet! We have made lawful to thee thy wives to whom thou hast paid their dowers; and those whom thy right hand possesses out of the prisoners of war whom Allah has assigned to thee; and daughters of thy paternal uncles and aunts, and daughters of thy maternal uncles and aunts, who migrated (from Makka) with thee; and any believing woman who dedicates her soul to the Prophet if the Prophet wishes to wed her;- this only for thee, and not for the Believers (at large); We know what We have appointed for them as to their wives and the captives whom their right hands possess;- in order that there should be no difficulty for thee. And Allah is Oft-Forgiving, Most Merciful. (al-Ahzab/33:50) [penekanan ditambahkan]

Kami tidak memiliki masalah dengan Muhammad mengambil keuntungan dari hak istimewa ini sebagaimana ia telah menikahi 14 wanita untuk dirinya sendiri dan beberapa selir yang ia telah kumpulkan dari rampasan perang, kami tidak pernah tahu berapa banyak isteri dia telah punya dan pertanyaan ini selalu diperdebatkan oleh kami, satu dari isteri-isteri ini diambil dari putra angkatnya sendiri Zaid, lainnya ialah para tawanan Yahudi yang dipaksa menjadi budak setelah Muhammad memenggal suami dan keluarga mereka.

Ibuku di sisi lain mencoba untuk mengajari saya pemikiran yang berbeda di rumah yang dia sebut ”rencana Elohim (Allah),” ia berbicara kepada saya tentang nubuatan Alkitab, dia mengatakan bahwa kembalinya orang Yahudi adalah pra-rencana  Elohim (Allah Israel) dan terpenuhi. Dia juga mengatakan kepada saya tentang banyaknya kejadian di masa depan harus dipenuhi dalam generasi kita yang mana sekarang ada dipermukaan setiap hari, dia mengatakan kepada saya tentang  para Meshiah (Kristus atau al-Masih) sesat dan palsu, tetapi semua itu tak banyak berpengaruh, karena hati saya telah diset pada memerangi orang Yahudi.

Ibuku dipengaruhi oleh beberapa Misionaris Amerika, yang diam-diam ia meminta untuk membaptisnya, dan ketika dia menolak untuk dibaptis di kolam yang penuh ganggang hijau, misionaris harus memohon ke YMCA di Yerusalem untuk mengosongkan kolam renang dari laki-laki, dan ibu saya dibaptis, tidak ada yang tahu dari keluarga kami.

Sering kali ibu saya membawa saya berkunjung ke beberapa museum di Israel, dan aku jatuh cinta dengan arkeologi, dan terpesona dengan itu, dalam banyak argumen dengan dia aku terus terang berkata bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen mengubah Alkitab, dia menjawab dengan membawa saya ke museum gulungan kitab suci di Yerusalem dan menunjukkan padaku kitab Yesaya, masih utuh tidak ada satu pengambilan gambar-gambar dari apapun kesalah Alkitab untuk membuktikan suatu korupsi, dan saya tidak bisa menanggapi ibuku.

Saya ingat ketika aku masih menyiksa ibu saya dengan menyebut dia seorang “kafir” dan Imperialis Amerika terkutuk yang menyatakan bahwa Yeshua adalah Anak Elohim. Aku akan menunjukkan padanya gambar-gambar di surat kabar tentang para remaja seharusnya martir sebagai akibat kekerasan dan menuntut dia untuk menjawab, saya benci dia dan selalu minta kepada ayahu saya ntuk menceraikannya dan menikah kembali dengan seorang wanita Muslim yang baik.
Orang tua saya khawatir banyak tentang saya saat aku dilempar ke dalam penjara oleh tentara Israel, ibu saya pergi kepada Perwakilan Amerika di Yerusalem untuk mencoba mengeluarkan saya, ia begitu stres rambutnya mulai gugur, di penjara saya belajar lebih banyak tentang seni terorisme dan ketika saya keluar saya lebih fanatik daripada sebelumnya.

Ketika saya lulus dari sekolah tinggi mereka mengirim saya ke Amerika Serikat untuk mencari perguran tinggi, dan tentu saja saya terlibat dengan banyak kegiatan sosial dan politik anti-Israel. Aku masih ingat lelucon sakit favorit saya, memberitahu teman-teman saya, bahwa saya benci Hitler sangat banyak karena dia tidak pernah menyelesaikan pekerjaan, yaitu: ia tidak pernah menyelesaikan masalah  orang Yahudi “sekali dan untuk semua”. [maksud Walid ialah memusnahkan orang Yahudi selama-lamanya. Alkitab menulis, bangsa Israel akan ada untuk selamanya].

Dengan Hitler menjadi idola saya, dan Muhammad nabi saya, saya melanjutkan hidup saya dengan memandang  rendah orang-orang Yahudi, Kristen, atau siapa saja yang tidak Muslim. Saya percaya bahwa suatu hari seluruh dunia akan menerima Islam, inilah yang diajar orang Muslim, mereka juga mengajarkan bahwa Muhammad adalah satu-satunya penebus kami dan nabi yang disukai Elohim.

Saya akan jujur; Sepanjang hidupku saya takut setiap kali saya membaca Quran, dari ayat satu ke ayat yang lainnya selalu ancaman api neraka untuk dosa ini dan itu, aku selalu bertanya-tanya tentang takdir saya, hilang dalam ketakutan dan keraguanku, aku benar-benar benci terhadap gagasan membunuh untuk keselamatan saya.

Pada suatu waktu di tahun 1992 saya terpesona ketika saya membaca sebuah buku  berjudul ARMAGEDDON, Appointment With Destiny, (Armageddon, Pertemuan janji dengan Tujuan,” oleh Grant Jeffrey. Beberapa hal yang dijelaskan dalam buku ini terdapat banyak nubuat terperinci tentang Yeshua: kelahiran, kehidupan, kematian dan kebangkitan-Nya, dan penciptaan kembali negara Israel. Banyak dari nubuatan yang terjadi tepat sebagaimana Elohim meletakkan mereka di dalam Alkitab! Yang juga mengagumkan saya, adalah untuk mengetahui –peluang-peluang bagi seorang manusia untuk memprediksi ratusan peristiwa bersejarah yang ditulis ratusan dan ribuan tahun sebelum mereka genap adalah satu dalam milyaran … apa yang lebih menarik adalah bahwa margin kesalahan haruslah ada nol (tidak ada sama sekali), khususnya ketika penggenapan dari banyaknya nubuat-nubuat ini adalah terjadi dalam generasi saya.

Pergumulan dimulai, saya bingung, bagaimana mungkin Alkitab ada palsu dan telah dikorupsi oleh orang-orang Yahudi jika tanah di mana saya telah menjadi besar telah berbicara dan berteriak, sebagaimana ribuan kepingan bukti arkeologi muncul dari tanah Israel, meneguhkan Alkitab, dan kitab Yesaya yang ditemukan di gua-gua Qumran oleh seorang Muslim kota tetangga Betlehem yang bernama Muhammad Deib, ia sedang mencari domba yang hilang, dari penemuan itu mereka menemukan sisa dari Perjanjian Lama yang mengkonfirmasikan Alkitab Perjanjian Lama di tangan kita hari ini dengan ratusan ayat-ayat yang meramalkan kedatangan Yeshua Ha Mashiah.

Saya harus membaca (past perfect tents) Alkitab untuk mengetahui siapakah Yeshua sesungguhnya adalah, dan akhirnya Elohim melayakkan saya mengerti sesungguhnya, saya membaca apa yang Yeshua katakan:

“Aku adalah Alfa dan Omega, firman Elohim YAHWEH, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.” (Wahyu 1:8)
Mashiah berkata juga kepada orang-orang Yahudi:
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku (I AM, God) telah ada.” (Yoh. 8:58)

Itu mengejutkan saya menemukan klaim-klaim sejenis antara Yeshua dan Mohammad. Klaim ini serius, sebagaimana Mohammad berkata:

“Aku adalah awal dari semua ciptaan dan nabi terakhir”,
dia juga mengatakan:
“Aku adalah nabi Allah, sementara Adam masih dibentuk dari tanah liat”,

Dan lebih lanjut ia mengklaim ada sebagai pendoa syafaat untuk para Muslim di hari Penghakiman, melalui semua klaim ini ia menjadi nabi terakhir dunia dan penyelamat.

Hal-hal ini telah membingungkan saya. Jika Muhammad mengklaim semua apa yang ia telah klaim maka siapakah Yeshua yang telah mengklaim sebagai penebus dan juruselamat kita, pertanyaan ini mengganggu saya banyak sekali, satu dari dua klaim pastilah ada bohong, jika ada dua penebus ini tentunya ada berhubungan dengan Elohim, sebab Elohim adalah satu-satunya penebus.

[Salah satu dari keduanya ini] Ha Mashiah atau Muhammad harus menjadi penebus dan perantara bagi umat manusia, Alkitab atau Quran harus benar. Saya menyadari bahwa kematian nabi Islam berbeda dari kematian Yesus, seperti Muhammad meninggal di pangkuan favorit istrinya “Aisha” sementara Yeshua mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia.

Bersumpah untuk membuat keputusan untuk “Kebenaran”, saya telat tidur sampai beberapa malam membandingkan banyak detail antara Quran dan Alkitab, di beberapa titik selama penelitian saya berdoa berkata: “ELOHIM, Engkau adalah pencipta langit dan bumi, Elohim Abraham, Musa, dan Yakub, Engkau adalah permulaan dan akhir, Engkau adalah ‘Kebenaran’, ‘satu-satunya Kebenaran’, pembuat kitab yang sejati, satu-satunya dan firman Elohim, Saya menderita untuk menemukan kebenaran-Mu, saya ingin melakukan kehendak-Mu dalam hidup saya, saya merindukan kasih-Mu dan dalam nama ‘Kebenaran’ aku meminta. AMIN!!!”

Hal itu mengejutkan saya menemukan bahwa Muslim dan seluruh Dunia mengakui tiga agama utama yang menyembah Elohim (God/Allah), meskipun Elohim berkata bahwa Dia adalah Satu dan Firman-Nya adalah Satu.

Saya dulu buta, tetapi hanya dengan Alkitab saya telah mulai melihat, maksud saya benar-benar MELIHAT!!!, dengan begitu banyak nubuatan Alkitab terpenuhi, menunjukkan kembalinya Israel dari kuburan. Yahweh mulai menunjukkan pengaruh setan yang telah mempengaruhi cara berpikir saya terlepas dari latar belakang Islamku yang mana saya telah biasa berpikir itu berasal dari Elohim.

Saya juga belajar bahwa Yeshua, orang yang berasal kampung saya ‘Beth-Lechem’ (Betlehem), yang berarti ‘Rumah Roti’, ketika ia berkata:

“Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. (Yohanes 6:35)

Kebenaran di depan mata saya sendiri, terus-menerus mengetuk hatiku, dan ingin masuk. Saya telah memanggil Kebenaran dan Ia telah menjawab, aku dulu buta dan mencari kebenaran, dan sekarang saya melihat, Dia telah mengetuk pintu saya dan saya telah membukanya, dan sekarang Ia telah membebaskan saya! Mashiah berkata:
Kata Yeshua kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yohanes 14:6)

Cara saya berpikir, perasaan saya, dan tujuan saya dalam hidup mulai berubah, mengetahui Kebenaran telah mentransfer cara berpikir saya dari percaya Hitler kepada percaya Mashiah, dari percaya kebohongan kepada mengetahui kebenaran, dari sakit rohani menjadi sembuh, dari hidup dalam kegelapan kepada melihat cahaya, dari terkutuk menjadi diselamatkan, dari keraguan kepada iman, dari benci kepada mengasihi, dan dari perbuatan jahat kepada kasih karunia Elohim melalui Ha Mashiah. Transformasi ini mengajarkan saya bahwa tanpa firman elohim (yang benar) hal-hal dapat terlihat baik di permukaan tetapi dalam intinya terletak penipuan. Saya lalu menerima Yeshua Ha Mashiah, sebagai Tuanku dan Juruselamat, yang mati untuk semua dosa kita, kepada Dia saya taat.

Yeshua berkata:

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (Matius 11:28)

Terima kasih Adonai Yeshua untuk penggenapan janji-Mu.

Jika Anda berkendak menghubungi Walid, Anda dapat mengirim e-mail ke padanya. [Dapat ditemukan di www.bible-koran.com]

Kesaksian lainnya dari bible-loran.com dapat ditemukan di sini:

  1. My testimony
  2. Mohammed: I knew the one true God
  3. Testimony of Siniraj Mohammed
  4. Thayer: Mhightier than death
  5. Son of the desert
  6. The testimony of Leah
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja
Iklan

Son of Hamas (Putra Hamas). Bab 9-12

Bab 9 – Persenjataan
Musim Dingin 1995 – Musim Semi 1996

Setelah Perjanjian Oslo, masyarakat internasional berharap Pemerintahan Palestina bisa mengontrol Hamas. Di hari Sabtu, 4 November, 1995, aku sedang menonton TV ketika laporan berita darurat tiba² diumumkan. Yitzhak Rabin ditembak ketika sedang kampanye perdamaian di Lapangan Raja² (Kings Square) di Tel Aviv. Tampaknya hal ini serius. Dua jam kemudian, penyiar mengatakan Yitzhak Rabin telah mati.

“Wow!” teriakku keras pada diri sendiri. “Ternyata orang Palestina mampu membunuh Perdana Menteri Israel! Ini seharusnya terjadi dari dulu.” Aku sangat senang atas kematiannya dan kerusakan yang diakibatkan pada PLO dan persetujuannya dengan Israel.

Lalu telepon berdering. Aku seketika mengenal suara orang di seberang. Orang itu adalah Yasser Arafat, dan dia ingin bicara dengan ayahku.

Aku mendengar saat ayah bicara di telepon. Dia tidak banyak bicara; sikapnya tetap ramah dan sopan, dan tampak setuju dengan apapun yang dikatakan Arafat di tempatnya.
“Aku mengerti,” kata ayah. “Selamat tinggal.” Lalu ayah berpaling padaku. “Arafat meminta agar kita mencegah Hamas merayakan kematian sang Perdana Menteri,” katanya. “Pembunuhan ini adalah kehilangan besar bagi Arafat karena Rabin menunjukkan keberanian besar dalam melakukan perjanjian damai dengan PLO.”

Kami kemudian mengetahui bahwa Yitzhak Rabin ternyata tidak dibunuh oleh orang Palestina. Dia ditembak dari belakang oleh mahasiswa hukum Israel (Yigal Amir). Banyak anggota Hamas yang kecewa atas fakta ini. Aku sendiri heran bahwa ternyata ada fanatik Yahudi yang bertujuan sama dengan Hamas.

Pembunuhan ini membuat dunia semakin menuntut Arafat untuk mengontrol daerah Palestina. Maka dia lalu melancarkan serangan besar²an terhadap Hamas. Para polisi PA datang ke rumah kami, meminta ayah untuk mempersiapkan diri, dan membawanya untuk ditawan di tempat tinggal Arafat. Arafat selalu memperlakukannya dengan rasa hormat dan keramahan terbaik.

Meskipun begitu, untuk pertamakalinya orang² Palestina memenjarakan sesama orang Palestina. Hal ini sungguh menyedihkan, tapi setidaknya mereka memperlakukan ayahku dengan hormat. Tidak seperti tawanan yang lain, ayah diberi kamar yang nyaman, dan Arafat kadangkala mengunjunginya untuk membicarkan berbagai masalah.

Tak lama kemudian semua pemimpin utama Hamas, dan juga ribuan anggotanya dimasukkan ke dalam penjara² Palestina. Banyak dari mereka yang disiksa saat interogasi. Sebagian bahkan mati. Tapi mereka yang berhasil menghindari penangkapan menjadi pelarian, dan terus melakukan serangan terhadap Israel.

Sekarang kebencianku jadi bercabang. Aku benci Pemerintah Israel dan Yasser Arafat, aku benci Israel, dan aku benci orang² Palestina yang sekuler. Mengapa ayahku yang cinta Allâh dan masyarakatnya harus sangat menderita, sedangkan orang² tak bertuhan seperti Arafat dan PLO-nya diberi kemenangan besar oleh orang² Israel – padahal Qur’an menyebut para Yahudi ini sebagai babi dan monyet? Masyarakat internasional bertepuk tangan memuji Israel karena mengakui hak teroris Arafat dan anteknya untuk eksis.
Aku berusia 17 tahun dan hanya beberapa bulan saja sebelum lulus SMA. Setiap kali aku mengunjungi ayah di penjara atau membawa makanan dari rumah dan hal lain yang menyenangkan dirinya, dia berpesan padaku, “Satu²nya hal yang harus kau lakukan adalah lulus ujian. Fokus pada sekolahmu. Jangan khawatir akan diriku. Aku tidak mau pendidikanmu terganggu.” Tapi hidup sudah tak bermakna lagi bagiku. Aku tidak bisa berpikir apapun selain bergabung dengan sayap militer Hamas dan membalas dendam pada Israel dan Pemerintah Palestina. Aku mengenang segala sesuatu yang telah kulihat dalam hidupku. Apakah semua perjuangan dan pengorbanan akan berakhir seperti ini, dalam perjanjian damai murahan dengan Israel? Jikalau aku mati berperang, setidaknya aku akan mati syahid dan masuk surga.

Ayahku tidak pernah mengajarku untuk membenci, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menghindari perasaan itu. Meskipun dia dengan penuh semangat menentang pendudukan, dan meskipun kupikir dia tidak akan ragu memerintahkan pemboman nuklir terhadap Israel jika dia memiliki bom tersebut, dia tidak pernah menjelek-jelekkan orang Yahudi, tidak seperti yang sering dilakukan para pemimpin Hamas rasis. Dia lebih tertarik pada elohim Qur’an daripada politik. Allâh telah memberi kami tanggung jawab untuk melenyapkan bangsa Yahudi, dan ayahku tidak mempertanyakan perintah itu, meskipun dia secara pribadi tidak punya masalah dengan mereka.

“Bagaimana hubunganmu dengan Allâh?” tanya ayah setiap kali aku menemuinya. “Apakah kau sholat hari ini? Meluangkan waktu baginya?” Dia tidak pernah berkata, “Aku ingin kau menjadi mujahid (pejuang gerilya) yang baik.” Pesannya padaku sebagai anak laki sulungnya selalu saja, “Berbuatlah baik terhadap ibumu, Allâh, dan masyarkatmu.”

Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa begitu penuh belas kasih dan pemaaf, bahkan terhadap para prajurit yang berkali-kali datang untuk menangkapnya. Dia memperlakukan mereka bagaikan anak². Ketika aku membawa makanan baginya di pusat PA, dia seringkali mengajak para penjaga untuk bergabung bersama kami dan makan makanan daging dan nasi yang khusus dimasak ibu. Beberapa bulan kemudian, para penjaga PA juga mengasihi ayahku. Sungguh mudah bagiku untuk mencintai ayah, tapi dia juga adalah orang yang sungguh sukar dimengerti.

Dengan penuh kemarahan dan nafsu balas dendam, aku mulai mencari senjata². Meskipun senjata tersedia di daerah kami saat itu, harganya sangat mahal, dan aku hanyalah pelajar SMA miskin yang tak berduit. Ibrahim Kiswani adalah teman kelas yang berasal dari desa di sebelah Yerusalem. Dia pun punya minat yang sama denganku dan dia berkata bahwa dia bisa menyediakan uang yang kami butuhkan – meskipun tidak cukup untuk beli senapan otomatis, tapi cukup untuk beli sebuah pistol. Aku bertanya pada saudara sepupuku Yousef Daud di mana aku bisa beli pistol.

Yousef dan aku tidaklah terlalu akrab, tapi aku tahu dia punya beberapa koneksi.
“Aku punya dua teman di Nablus yang mungkin bisa menolong,” katanya padaku. “Apa yang ingin kau lakukan dengan senjata itu?”
“Setiap keluarga punya senjata,” kataku berbohong. “Aku ingin melindungi keluargaku.”
Tapi ini bukan sepenuhnya bohong. Ibrahim tinggal di desa di mana setiap keluarga memang punya senjata untuk bela diri, dan dia bagaikan saudara dekat bagiku.
Selain karena ingin balas dendam, kupikir sebagai remaja tentunya menyenangkan untuk punya pistol. Aku tidak lagi tertarik dengan sekolah. Buat apa pergi ke sekolah di negara gila ini?
Akhirnya di suatu sore aku dihubungi per telepon oleh saudara sepupu Yousef.
“Oke, kita akan pergi ke Nablus. Aku tahu seseorang yang bekerja bagi pasukan keamanan PA. Kupikir dia bisa memberi kita sebuah pistol,” katanya.

Ketika kami tiba di Nablus, seseorang menemui kami di pintu rumah kecil dan membawa kami masuk. Di dalam rumah dia memperlihatkan senapan² mesin Swedia Carl Gustav M45 dan sebuah Port Said, jenis senjata serupa versi Mesir. Dia membawa kami ke tempat terpencil di pegunungan dan menunjukkan pada kami bagaimana menggunakan senjata² itu. Ketika dia bertanya apakah aku ingin mencoba, jantungku berdebar-debar. Aku tidak pernah menembak dengan sebuah senapan mesin sebelumnya, dan tiba² aku merasa takut.

“Tidak, aku percaya kamu,” kataku padanya. Aku beli dua buah senapan Gustav dan sebuah pistol dari orang itu. Aku menyembunyikan senjata² ini di pintu mobil, menaburi merica hitam di atasnya agar anjing² polisi Israel tidak berminat menciumnya di pos² penjagaan.

Sewaktu sedang menyetir mobil kembali ke Ramallah, aku menelpon Ibrahim.
“Hey, aku udah dapet barangnya, lho!”
“Benar begitu?”
“Iya, benar.”

Kami tahu sebaiknya tidak menggunakan kata² seperti pistol² atau senjata² karena kemungkinan telepon disadap Israel. Kami lalu berjanji bertemu di suatu tempat di mana Ibrahim lalu mengambil “barang²nya” dan kami lalu pisah.
Saat itu adalah musim semi 1996, dan aku baru saja berusia 18 tahun, dan sekarang bersenjata.

******************

Di suatu malam, Ibrahim menelponku, dan aku bisa mengetahui dari suaranya bahwa dia sangat marah.
“Senapan² mesinnya tidak berfungsi!” dia berteriak ke telepon.
“Ngomong apa sih kau?” aku berkata balik, berharap tiada yang mendengar percakapan kami.
“Senapan²nya tidak bisa dipakai,” dia mengulangi lagi, “Kita ditipu!”
“Aku tidak bisa bicara sekarang,” kataku padanya.
“Baik, tapi aku ingin bertemu denganmu malam ini.”
Ketika dia tiba di rumahku, aku seketika mengecamnya.
“Kau gila ya ngomong seperti itu di telepon?” kataku.
“Aku tahu, tapi senapan² mesinnya tidak berfungsi. Pistolnya sih oke, tapi senapan²nya tidak bisa digunakan untuk menembak.”
“Baiklah, senapan² itu tak bisa dipakai. Tapi apakah kau tahu cara menggunakannya dengan benar?”

Dia meyakinkan aku bahwa dia tahu benar bagaiman menggunakan senjata² tersebut, jadi aku berkata akan mengurus masalah itu. Karena ujian akhir SMA tinggal dua minggu lagi, aku sebenarnya tidak punya waktu. Meskipun demikian aku berjanji untuk membawa senjata² kembali pada Yousef.
“Wah, payah nih,” kataku pada Yousef ketika bertemu dengannya. “Pistolnya sih berfungsi dengan baik, tapi senapan² mesinnya tidak. Telepon temanmu di Nablus agar kami setidaknya bisa mendapat kembali uang kami.” Dia berjanji untuk mencoba.

Di keesokan harinya, saudara lakiku Sohayb memberitahu kabar menegangkan. “Pasukan keamanan Israel datang ke rumah tadi malam, mencari dirimu,” katanya dengan suara yang khawatir. Pikiranku pertama adalah, Kami kan belum membunuh siapapun! Aku ketakutan, tapi juga merasa penting karena tampaknya aku mulai dianggap berbahaya oleh pihak Israel. Ketika aku menjenguk ayahku kemudian, dia sudah mendengar bahwa prajurit² Israel mencari diriku.
“Apakah yang terjadi?” katanya tajam. Aku memberitahu apa yang terjadi dengan jujur, dan dia jadi sangat marah. Melalui kemarahannya, aku bisa melihat dengan jelas bahwa dia sebenarnya kecewa dan khawatir.
“Ini sangat serius,” dia memperingatkan aku. “Mengapa kau sampai mendapatkan masalah seperti ini? Kau seharusnya mengurus ibumu, adik² laki dan perempuanmu, dan bukannya lari dari pihak Israel. Tidakkah kau mengerti bahwa mereka akan menembakmu?”

Aku pulang, dan mulai mengepak pakaian dan buku² sekolah, dan meminta pelajar² Persaudaraan Muslim untuk menyembunyikan diriku sampai aku bisa mengikuti ujian akhir dan tamat SMA. Ibrahim ternyata tidak mengetahui keseriusan keadaan. Dia terus meneleponku, bahkan juga ke ponsel ayahku.
“Apa sih yang terjadi? Ada apa denganmu? Aku berikan semua uangku. Aku minta uang itu kembali.”

Aku beritahu dirinya bahwa pasukan keamanan telah mengunjungi rumahku, dan dia mulai berteriak-teriak dan tak berhati-hati lagi dengan kata²nya di telepon. Aku cepat² mematikan telepon sebelum dia bisa membahayakan dirinya lebih lanjut. Tapi keesokan harinya, IDF muncul di rumahnya, menggeledah, dan menemukan pistol itu. Mereka segera menangkapnya.  Aku merasa sangat putus asa. Aku percaya pada orang yang salah. Ayahku dipenjara, dan dia kecewa akan diriku. Ibuku sangat khawatir akan diriku. Aku harus menghadapi ujian akhir. Dan sekarang aku dicari-cari prajurit Israel.   Bagaimana mungkin keadaan bisa jadi lebih jelek daripada sekarang?

Bab 10 – Rumah Jagal
1996

Meskipun aku mencoba untuk berhati-hati, pasukan keamanan Israel berhasil melacakku. Mereka telah menyadap percakapan teleponku dengan Ibrahim. Sekarang beginilah nasibku, diborgol dan ditutup mata, dijejalkan ke bagian belakang Jeep, sambil berusaha menghindar sodokan popor senapan sebisa mungkin.

Akhirnya Jeep itu berhenti. Rasanya perjalanan berlangsung berjam-jam. Pengikat tangan terasa menusuk tajam ke pergelangan tanganku sewaktu prajurit menarik lenganku untuk berdiri dan mendorongku naik tangga. Aku sudah tidak merasakan apapun pada tanganku. Di sekitarku, aku mendengar suara orang² bergerak dan berteriak dalam bahasa Ibrani.

Aku dibawa masuk ke sebuah ruangan kecil di mana pengikat tangan dan mataku dibuka. Sambil memicingkan mata karena silau cahaya lampu, aku berusaha melihat keadaan. Kecuali sebuah meja kecil di sudut, ruangan itu kosong. Aku menduga-duga apakah yang nanti dilakukan para prajurit itu padaku. Interogasi? Pemukulan lagi? Siksaan? Aku tidak perlu menduga terlalu lama. Hanya dalam beberapa menit saja, seorang prajurit muda membuka pintu. Dia mengenakan cincin pada hidungnya, dan dia bicara dengan aksen Rusia. Dia adalah prajurit yang telah memukuliku di belakang Jeep. Sambil mencekal lenganku, dia menggiringku melalui koridor yang panjang dan berliku, dan akhirnya masuk ke ruang kecil. Tampak peralatan pengukur tekanan darah, monitor, komputer, dan TV kecil di atas sebuah meja tua. Bau yang memuakkan menerjang hidungku sewaktu aku masuk ruangan, sehingga rasanya mau muntah lagi.

Seorang lelaki memakai baju dokter masuk ruangan, dan dia tampak lelah dan murung. Dia tampak heran melihat muka dan mataku yang babak belur, yang sekarang sudah membengkak dua kali dari ukuran asli. Tapi andaikata dia mengkhawatirkan keadaanku, hal itu tak tampak sama sekali. Aku telah melihat dokter binatang yang lebih berbelas kasihan pada binatang yang diperiksanya daripada dokter yang sekarang memeriksaku.

Seorang penjaga berbaju polisi masuk. Dia membalikkan tubuhku, memasang kembali pengikat tangan, dan memasang penutup seluruh kepala berwarna hijau di kepalaku. Sekarang aku tahu sumber bau busuk itu. Penutup kepala itu baunya seperti belum pernah dicuci. Aromanya berasal dari gigi yang tak pernah digosok dan bau mulut ratusan tawanan yang mengenakannya. Aku berusaha menahan napas. Tapi setiap kali aku menarik napas, aku menghisap kain busuk itu ke dalam mulutku. Aku jadi panik dan tercekik tapi aku tidak bisa bebas dari kain penutup itu.

Penjaga memeriksa diriku, mengambil semuanya, termasuk sabuk dan tali sepatu. Dia mencekal penutup kepalaku dan menyeretku melalui koridor lagi. Belok kanan. belok kiri. Kanan. Kanan lagi. Aku tidak tahu sedang berada di mana dan kemana aku dibawa.

Akhirnya kami berhenti dan kudengar dia mengeluarkan kunci. Dia membuka pintu yang terdengar berat dan tebal. “Tangga,” katanya. Dan aku menuruni beberapa anak tangga. Melalui penutup kepala aku bisa melihat sinar yang berkejap, yang biasanya kau lihat di sirine mobil polisi.

Penjaga menarik lepas penutup kepala, dan aku aku berdiri di hadapan baris gorden. Di sebelah kanan aku melihat keranjang penuh penutup kepala. Kami menunggu beberapa menit sampai akhirnya suara dari balik gorden mengijinkan kami masuk. Penjaga memasang borgol di pergelangan kakiku dan menutupi kepalaku dengan penutup kepala lain. Dia lalu menarik bagian depannya sehingga aku turut maju menembus gorden.

Udara dingin menyembur dari lubang udara, dan musik terdengar keras dari arah lain. Koridor ini tentunya sempit sekali karena tubuhku kerap membentur tembok di sebelah kanan dan kiri. Aku merasa pusing dan lelah. Akhirnya kami berhenti lagi. Penjaga itu membuka pintu dan mendorong aku masuk. Dia melepaskan penutup kepala dan pergi, sambil mengunci pintu yang berat di belakangnya.

Aku melihat sekeliling, mengamati keadaan sekitar. Sel ini berukuran 6 kaki persegi (sekitar 2 meter persegi) – cukup untuk sebuah matras kecil dan dua buah selimut. Orang yang dulu tinggal di sini telah menggulung selimut menjadi bantal. Aku duduk di atas matras; rasanya lengket dan baunya seperti penutup kepala. Aku tutup hidungku dengan lengan bajuku, tapi lengan bajuku tercemar muntahanku. Sebuah lampu redup tergantung di atap langit, tapi tak ada tombol untuk mematikan atau menyalakannya. Celah kecil di pintu adalah satu²nya jendela di ruangan itu. Udara terasa sesak, lantai basah, dan tembok ditutupi lumut. Serangga merayap di mana². Semuanya terasa busuk, kotor, dan jelek.

Aku duduk di tempat itu untuk waktu yang lama, tidak tahu harus berbuat apa. Aku ingin buang air dan lalu berdiri menggunakan toilet karatan di sudut ruangan. Aku tekan handel untuk menyiram dan aku langsung menyesal. Kotoran bukannya masuk lubang, tapi air malahan meluap mengotori lantai, membuat matras basah.

Aku duduk di satu²nya sudut yang masih kering di ruangan itu dan mencoba berpikir. Benar² tempat yang menjijikan untuk bermalam! Mataku berdenyut-denyut dan terasa panas. Sukar bernapas di ruangan itu. Rasa panas sel sungguh tak tertahankan, dan bajuku yang penuh keringat melekat erat pada tubuhku.

Aku tidak makan dan minum sejak minum susu kambing di rumah ibu. Sekarang bau muntah susu itu melumuri semua baju dan celanaku. Terdapat sebuah pipa menjulur di dinding. Aku putar handelnya dengan harapan air akan keluar. Tapi yang keluar adalah cairan kental berwarna coklat.

Jam berapa sekarang? Apakah mereka akan meninggalkanku di sini sepanjang malam?
Kepalaku berdenyut-denyut. Aku tahu aku tidak akan bisa tidur. Yang bisa kulakukan hanyalah berdoa pada Allâh saja.
Lindungi aku, begitu pintaku. Selamatkan aku dan segera bawa aku kembali kepada keluargaku.
Melalui pintu baja tebal, aku bisa mendengar suara musik yang keras dari jarak jauh – lagu yang sama diulang-ulang terus-menerus. Aku mendengar lirik lagu untuk membantuku menghabiskan waktu.

‘They sentenced me to twenty years of boredom
(mereka menghukum aku 20 tahun penuh kebosanan)
For trying to change the system from within
(Karena mencoba mengubah sistem dari dalam)
I’m coming now, I’m coming to reward them
(Sekarang aku datang, aku datang untuk membalas mereka)
First we take Manhattan, then we take Berlin
(Pertama-tama kita ambil Manhattan, lalu Berlin)
[4]
[4] Leonar Cohen, “First We Take Manhattan” copyright @ 1988 Leonar Cohen, Stranger Music, Inc..

Dari jauh kudengar banyak pintu dibuka dan ditutup. Perlahan suara mendekat. Lalu seseorang membuka pintu selku, sebuah nampan biru didorong masuk, dan lalu pintu ditutup keras lagi. Aku melihat nampan yang sekarang berada di atas isi jamban yang tadi meluap. Di atas nampan itu terdapat sebutir telur rebus, sepotong roti, sesendok yougurt yang berbau masam, tiga butir zaitun, dan air dalam cangkir plastik. Ketika aku hendak meminum air itu, aku mencium baunya yang aneh. Aku minum sedikit dan lalu menggunakan air untuk mencuci tanganku. Aku makan semua yang ada di nampan, tapi aku masih lapar. Apakah ini sarapan pagi? Jam berapakah sekarang? Mungkin sore hari.

Ketika aku sedang berbaring memikirkan berapa lama aku berada di situ, pintu sellku dibuka. Seseorang – atau sesosok makhluk – berdiri di situ. Apakah dia itu manusia? Tubuhnya pendek, tampak setua 75 tahun, dan kelihatan seperti kera besar yang bungkuk. Dia berteriak padaku dengan aksen Rusia, mengutuk aku, mengutuk Allah, dan meludahi wajahku. Aku tidak bisa membayangkan hal yang lebih jelek lagi.

Rupanya makhluk ini adalah penjaga penjara karena dia lalu menyodorkan penutup kepala lagi dan memerintahkan aku untuk mengenakannya. Lalu dia menarik bagian muka penutup kepala dan menyeretku dengan kasar di sepanjang koridor. Dia membuka pintu sebuah kantor, mendorong aku masuk, dan memaksa aku duduk di sebuah kursi kecil yang rendah; kursi ini seperti kursi anak² di kelas SD. Kursi itu disekrup di lantai.

Dia memborgol tanganku, satu lengan diantara kaki² kursi dan lengan satunya lagi di bagian luar kursi. Lalu dia memborgol kakiku juga. Kursi kecil itu miring sehingga memaksaku membungkuk ke muka. Tidak seperti sellku, ruangan ini sangat dingin. Aku kira AC-nya dipasang di suhu beku.

Aku duduk di sana berjam-jam, gemeteran karena dingin yang menusuk, duduk miring menyakitkan, dan tak mampu bergerak ke posisi yang lebih nyaman. Aku mencoba bernapas sedikit melalui penutup kepala berbau busuk ini. Aku merasa lapar, lelah, dan mataku basih bengkak dengan darah.

Pintu dibuka dan seseorang menarik lepas penutup kepalaku. Aku heran melihat orang itu ternyata orang sipil dan bukan prajurit atau penjaga. Dia duduk di sisi meja. Kepalaku terletak sama tinggi dengan dengkulnya.
“Siapa namamu?” tanyanya.
“Aku Mosab Hassan Yousef.”
“Apakah kau tahu sedang berada di mana?”
“Tidak.”

Dia menggelengkan kepala dan berkata, “Sebagian orang menyebut tempat ini sebagai Malam Kelam. Yang lain menyebutnya sebagai Rumah Jagal. Kau dalam masalah besar, Mosab.”

Aku mencoba untuk tidak menunjukkan emosi apapun, mataku fokus memandang noda di dinding yang terletak di belakang kepala orang itu.
“Bagaimana keadaan ayahmu di penjara PA?” dia bertanya. “Apakah dia lebih senang berada di sana daripada di penjara Israel?”
Aku mengubah posisi dudukku sedikit, sambil tetap membisu.
“Apakah kau tahu bahwa inilah tempat yang sama ketika ayahmu pertama kali ditangkap?”

Jadi ternyata aku berada di: Pusat Tahanan Maskobiyeh di Yerusalem. Ayahku telah memberitahu aku tentang tempat ini. Dulu, tempat ini digunakan sebagai gereja Rusia Ortodox, dan sudah berdiri selama 6000 tahun. Pemerintah Israel merubahnya menjadi fasilitas keamanan ketat yang mencakup pusat² Kepolisian, kantor², dan pusat interogasi Shin Bet.

Gambar: Pusat Tahanan Maskobiyeh di Yerusalem. Gedung ini adalah bekas gereja Rusia Orthodox yang diubah Pemerintah Israel jadi Pusat Keamanan dan Penjara.  Daerah ini merupakan salah satu daerah tertua di Yerusalem.

Di ruang bawah tanah yang dalam adalah penjara yang gelap, kotor, hitam, mirip dengan ruang tahanan di jaman abad pertengahan yang sering kau lihat di film. Moskabiyeh memiliki reputasi yang sangat jelek.

Sekarang aku harus mengalami hukuman yang sama yang dialami ayahku. Ini adalah orang² yang sama yang telah memukuli dan menyiksa dia bertahun-tahun yang lalu. Mereka menghabiskan banyak waktu berurusan dengannya, dan mereka sangat kenal ayahkku. Mereka juga gagal mendapatkan keterangan apapun dari ayah. Dia tetap tegar dan bahkan menjadi lebih tegar lagi.
“Katakan padaku mengapa kau berada di sini.”
“Aku tak tahu.”
Perkiraanku, tentu saja ini karena aku membeli senjata² rusak yang tidak bisa dipakai. Punggungku terasa membara. Interogator mengangkat daguku.

“Kau mau jadi setegar ayahmu? Kau sungguh tak tahu apa yang menunggumu di luar ruangan ini. Katakan padaku tentang Hamas! Rahasia apa yang kau ketahui? Katakan padaku tentang gerakan pelajar Islam! Aku ingin tahu segalanya!”

Apakah dia benar² mengira aku ini begitu berbahaya? Aku sungguh tak percaya. Tapi, semakin lama kupikir, aku lalu menyadari bahwa memang begitulah yang dirasakannya. Dari sudut pandangnya, fakta bahwa aku ini adalah putra Syeikh Hassan Yousef yang membeli senapan² otomatis tentunya sudah cukup untuk merasa curiga padaku. Orang² memenjarakan dan menyiksa ayahku dan sekarang akan menyiksaku. Apakah mereka benar² percaya bahwa semua ini akan membuatku menyerah? Sudut pandangku sangatlah berbeda. Masyarakat kami sedang berjuang bagi kemerdekaan, bagi tanah kami.

Ketika aku tak menjawab pertanyaannya, orang itu menghantam meja dengan kepalan tangannya. Lagi, dia mengangkat daguku.
“Aku akan pulang istirahat bersama keluargaku. Silakan bersenang-senang di sini.”
Aku duduk di kursi itu selama berjam-jam, masih membungkuk ke depan dengan posisi tak nyaman. Akhirnya seorang penjaga masuk, membuka borgol tangan dan kaki, memasang kembali penutup kepala, dan menyeretku berjalan melewati koridor lagi. Suara Leonard Cohen terdengar semakin keras.

Kami berhenti, dan penjaga membentakku untuk duduk. Sekarang suara musik sungguh memekakkan telinga. Sekali lagi, tangan dan kakiku diborgol di kursi pendek yang bergetar akibat hentakan musik “First we take Manhattan, then we take Berlin!

Otot²ku terasa kejang karena udara dingin dan posisi duduk yang tak nyaman. Juga sukar bernapas dalam penutup kepala. Akan tetapi sekarang aku tahu bahwa aku tidaklah sendirian. Meskipun suara Leonar Cohen sangat keras, aku bisa mendengar rintihan orang² yang menderita kesakitan.
“Ada orang di sini?” aku berteriak melalui kerudung kepalaku yang berminyak.
“Siapa kau?” terdengar balasan teriakan suara berjarak dekat.
“Aku Mosab.”
“Berapa lama kau berada di sini?”
“Dua hari.”

Dia tak berkata apapun selama dua menit.
“Aku telah duduk di kursi ini selama tiga minggu,” akhirnya dia berkata.

“Mereka membiarkan aku tidur selama empat jam setiap minggu.” Aku terkejut. Ini tentunya bukan kabar yang ingin kudengar. Orang lain mengatakan dia ditangkap di saat yang sama dengan penangkapanku. Kuperkirakan ada dua puluh orang di ruangan itu.

Percakapan kami terhenti tiba² tatkala seseorang memukul bagian belakan kepalaku keras². Rasa sakit menyengat seluruh kepalaku, memaksaku mataku bekerjap air mata kesakitan di balik kerudung kepala.

“Jangan bicara!” bentak penjaga.  Setiap menit terasa bagaikan sejam, tapi aku tidak tahu lagi bagaimana rasanya sejam itu. Duniaku terasa berhenti. Di luar, aku tahu orang² bangun dan pergi bekerja, dan kembali ke rumah bertemu keluarga mereka. Teman² kelasku sedang belajar untuk menghadapi ujian akhir. Ibuku sedang masak, mencuci, memeluk, dan menciumi adik² laki dan perempuanku. Tapi di ruangan ini, semuanya duduk. Tiada seorang pun yang bergerak.

First we take Manhattan, then we take Berlin. First we take Manhattan, then we take Berlin. First we take Manhattan, then we take Berlin. First we take Manhattan, then we take Berlin.

Beberapa orang di sekitarku melolong menangis, tapi aku bertekad untuk tidak menangis. Aku yakin ayahku tidak pernah menangis. Dia kuat. Dia tidak menyerah.
Shoter! Shoter! (Penjaga! Penjaga!), salah seorang dari kami berteriak. Tiada yang menjawabnya karena musik begitu keras. Akhirnya, sang penjaga datang.
“Mau apa kamu?”
“Aku ingin buang air. Aku harus buang air!”
“Tidak boleh. Sekarang bukan waktu buang air.”
Dan dia lalu pergi.
“Shoter! Shoter!” orang ini menjerit.
Setengah jam kemudian, penjaga kembali. Orang yang berteriak berlaku liar. Sambil memaki orang itu, sang penjaga melepaskan borgol dan menyeretnya keluar. Beberapa menit kemudian, dia membawa orang itu kembali, memborgolnya lagi di kursi kecil, dan lalu pergi.
“Shoter! Shoter!” teriak yang lainnya.
Aku lelah dan merasa mual. Leherku sangat pegal. Aku tidak pernah menyadari sebelumnya betapa berat kepalaku. Aku mencoba menyenderkan kepalaku ke tembok di sebelahku. Tapi begitu aku hampir tertidur, penjaga datang dan memukul kepalaku untuk membangunkanku. Tampaknya satu²nya pekerjaannya adalah membuat kami tetap bangun dan diam. Aku merasa bagaikan dikubur hidup² dan sedang disiksa oleh malaikat maut Munkar dan Nakir setelah memberi jawaban pertanyaan yang salah.

Tentunya sudah pagi hari ketika aku mendengar penjaga berjalan bolak-balik. Dia melepaskan borgol kaki dan tangan tahanan dan menggiring orang itu keluar. Setelah beberapa menit, dia membawa orang itu kembali, memborgolnya lagi di kursi kecil, dan pergi ke orang berikutnya untuk melakukan hal yang sama. Akhirnya, dia tiba di giliranku.

Setelah membuka borgolku, dia menarik penutup kepalaku dan membawaku melalui koridor. Dia membuka pintu sel dan menyuruhku masuk. Ketika dia membuka kerudung kepala, aku bisa melihat bahwa dia ternyata orang tua bungkuk yang mirip kera besar yang dulu memberiku makan pagi. Dia mendorong nampan biru bersisi telor rebus, roti, yogurt, dan buah zaitun padaku dengan kakinya. Air comberan setinggi setengah inci menutupi lantai dan tersiram memenuhi nampan. Aku lebih baik mati kelaparan daripada makan makanan itu.
“Kau punya waktu dua menit untuk makan dan menggunakan jamban,” katanya padaku.

Yang kuinginkan hanyalah merenggangkan tubuh, berbaring, dan tidur, barang dua menit saja. Tapi aku hanya berdiri saja, dan waktu berlalu dengan cepatnya.
“Keluar! Keluar!”
Sebelum aku sempat berbuat apapun, penjaga telah menarik penutup kepalaku lagi, menggiring aku kembali ke ruangan di mana aku diborgol di kursi kecil lagi.
First we take Manhattan, then we take Berlin!

Bab 11 – Tawaran
1996

Sepanjang hari, pintu terbuka dan tertutup, sewaktu para tahanan ditarik penutup kepalanya untuk menghadapi pemeriksa yang satu ke pemeriksa yang lain. Dilepas borgol, diborgol lagi, ditanyai, dipukuli. Kadangkala pemeriksa mengguncang keras tahanan. Biasanya hanya dibutuhkan sepuluh kali guncangan sebelum akhirnya tahanan pingsan. Dilepas borgol, diborgol lagi, ditanyai. Pintu² dibuka dan pintu² ditutup.

Setiap pagi kami dibawa keluar untuk makan makanan di atas nampan biru, dan beberapa jam kemudian, kami diberi makan malam di atas nampan oranye. Jam demi jam. Hari demi hari. Makan pagi di atas nampan biru. Makan malam di atas nampan oranye. Aku dengan cepat belajar untuk menunggu waktu makan. Ini bukannya karena aku ingin makan, tapi karena aku ingin mendapat kesempatan untuk berdiri tegak.

Di malam hari setelah kami semua diberi makan, pintu² berhenti dibuka dan ditutup. Para pemeriksa pulang. Kegiatan hari itu berakhir sudah. Dan mulailah malam panjang tak berkesudahan. Orang² menangis, melolong, dan berteriak-teriak. Mereka tidak lagi terdengar sebagai manusia normal. Sebagian malah tidak jelas lagi apa yang mereka ucapkan. Para Muslim mulai melafalkan ayat² Qur’an, memohon kekuatan pada Allâh. Aku berdoa pula, tapi aku tidak mendapat tambahan kekuatan. Aku berpikir tentang Ibrahim yang tolol dan senjata² sial dan tingkahnya yang ceroboh karena menelpon ponsel ayahku.

Aku berpikir tentang ayahku. Hatiku sakit ketika menyadari semua hal yang harus ditanggungnya saat dipenjara. Tapi aku tahu sifat ayahku dengan baik. Bahkan ketika disiksa dan dihina sekalipun, dia tetap menerima nasibnya dengan tabah dan pasrah. Dia bahkan mungkin berteman dengan penjaga² yang diperintahkan untuk memukulinya. Dia juga mungkin bertanya secara tulus pada mereka tentang keadaan keluarganya, latar belakangnya, dan kesukaan mereka.

Ayahku adalah contoh jelas kesederhanaan, kasih, dan pengabdian; meskipun tingginya hanya 170 cm., dia berdiri sama tinggi dengan siapapun yang pernah kukenal. Aku sangat ingin menjadi seperti ayahku, tapi aku tahu perjalananku masih sangat panjang.

Di suatu sore, kegiatan rutinku tiba² terhenti. Seorang penjaga datang dan melepaskan diriku dari kursi kecilku. Aku tahu saat itu belum waktu makan malam, tapi aku tak bertanya apapun. Aku merasa senang bisa pergi ke mana pun, bahkan ke neraka sekalipun, jika ini berarti aku bisa bangkit berdiri dari kursi itu. Aku dibawa ke sebuah kantor kecil di mana aku diborgol lagi, tapi kali ini pada kursi biasa. Seorang petugas Shin Bet masuk ruangan dan memperhatikan diriku dari atas sampai bawah. Meskipun rasa sakit tidak separah sebelumnya, tapi aku tahu mukaku penuh bekas luka dari pukulan popor prajurit.

“Bagaimana keadaanmu?” katanya. “Apa yang terjadi pada matamu?”
“Mereka memukulku.”
“Siapa?”
“Prajurit² yang membawaku ke sini.”
“Itu perbuatan yang dilarang. Itu melanggar hukum. Aku akan periksa untuk mengetahui mengapa ini terjadi.”

Dia tampak yakin pada diri sendiri dan bicara dengan lembut dan penuh hormat padaku. Aku berpikir apakah dia sedang melakukan siasat agar aku bicara padanya.
“Kau akan menghadapi ujian tak lama lagi. Mengapa kau berada di sini?”
“Aku tak tahu.”
“Tentu saja kau tahu. Kau tidak bodoh, dan kami juga tidak bodoh. Namaku adalah Loai, kapten Shin Bet di daerahmu. Aku tahu tentang semua keluargamu dan lingkungan tetanggamu. Dan aku tahu segalanya akan dirimu.”

Dan dia rupanya benar. Ternyata dia bertanggung jawab atas setiap orang di lingkungan perumahan kami. Dia tahu siapa bekerja di mana, siapa yang masih bersekolah, apa yang mereka pelajari, istri mana yang baru saja punya anak, dan tentunya juga tahu berapa berat bayi yang baru lahir. Pokoknya semuanya.
“Kau punya pilihan. Aku datang jauh² hari ini untuk duduk dan bicara denganmu. Aku tahu penyidik yang lain tidak ramah padamu.”
Aku melihat wajahnya dengan seksama, mencoba mengetahui apa maksudnya. Orang ini berkulit terang, berambut pirang, dan dia bicara dengan ketenangan yang belum pernah kudengar sebelumnya. Expresi wajahnya ramah, bahkan tampak peduli akan diriku. Aku berpikir apakah ini bagian dari siasat Israel: semenit sebelumnya memukuli tahanan, dan lalu di menit berikutnya mencoba berbaik hati padanya.

“Apa yang ingin kau ketahui?” tanyaku.
“Dengar, kau tahu mengapa kami membawa kamu kemari. Kau harus menjelaskan segalanya, apapun yang kau ketahui.”
“Aku tidak tahu kamu ini ngomong apa.”
“Baiklah, aku akan mempermudah penjelasan bagimu.”

Di sebuah papan tulis putih di belakang meja dia menulis tiga huruf: Hamas, senjata², dan organisasi.
“Silakan jelaskan padaku tentang Hamas. Apa yang kau ketahui tentang Hamas? Bagaimana posisimu dalam Hamas?”
“Aku tak tahu.”
“Apakah kau tahu tentang senjata² yang mereka miliki, datang dari mana, bagaimana mereka mendapatkannya?”
“Tidak tuh.”
“Apakah kau tahu tentang gerakan pemuda Islam?”
“Tidak.”
“Baiklah. Terserah padamu. Aku tak tahu harus bilang apa padamu, tapi kau jelas memilih jalan yang salah… Dapatkah aku membawa makanan bagimu?”
“Tidak. Aku tidak ingin apapun.”

Loai meninggalkan ruangan dan kembali beberapa menit kemudian dengan membawa sepiring nasi ayam dan semangkuk sup. Baunya enak sekali, membuat perutku berbunyi nyaring. Sudah jelas itu adalah makanan yang disediakan bagi para pemeriksa.
“Silakan, Mosab, makanlah. Tak perlu jadi bersikap tegar. Makanlah dan rilekslah sedikit. Kau tahu bahwa aku mengenal ayahmu dalam waktu yang lama. Ayahmu adalah orang yang baik. Dia bukanlah orang yang fanatik. Kami tak tahu mengapa kamu jadi bermasalah seperti ini. Kami tidak bisa mengijinkan siapapun menyakiti warga Israel. Kami telah cukup menderita sepanjang hidup kami, dan kami tidak akan bersikap lunak terhadap orang yang mencoba menyakiti warga kami.”
“Aku tidak pernah menyakiti orang Israel manapun. Malah kamu yang menyakiti kami. Kamu menangkap ayahku.”
“Ya. Dia adalah orang yang baik, tapi dia pun menentang Israel. Dia membujuk orang² untuk berperang melawan Israel. Itulah sebabnya kami memenjarakan dia.”

Aku dapat melihat bahwa Loai benar² yakin bahwa aku ini berbahaya. Aku tahu dari pembicaraan dengan orang lain yang telah ditawan di penjara² Israel bahwa biasanya orang² Palestina tidak selalu diperlakukan sekeras perlakuan mereka terhadapku. Mereka pun tidak diinterogasi selama yang dialami diriku.

Yang aku tak tahu adalah bahwa saat itu Hassan Salameh ditangkap di saat yang bersamaan dengan penangkapanku.

Salameh melakukan berbagai serangan sebagai balas dendam atas pembunuhan terhadap gurunya, si pembuat bom Yahya Ayyash. Ketika Shin Bet mendengar aku bicara dengan Ibrahim melalui ponsel ayahku tentang usaha mencari senjata, mereka mengira aku tidak bekerja seorang diri. Malah mereka lalu yakin aku direkrut Al-Qassam.
Akhirnya Loai berkata, “Inilah saat terakhir aku mengajukan tawaran bagimu, setelah itu aku akan pergi. Aku masih banyak kerjaan. Kau dan aku bisa memecahkan masalah saat ini juga. Kita bisa membuat persetujuan. Kau tidak perlu lagi mengalami interogasi lebih lanjut. Kau ini hanya anak muda, dan kau butuh pertolongan.”

Ya, aku memang ingin jadi orang yang berbahaya, dan aku punya akal yang berbahaya. Tapi sudah jelas bahwa aku tidak bisa menjadi radikal. Aku merasa lelah duduk di kursi kecil dan ditutup dengan kerudung yang bau. Agen rahasia Israel ini menganggap aku lebih penting daripada keadaanku yang sebenarnya. Maka aku pun menceritakan semua kejadian mencari senjata, tanpa menyampaikan niatku sebenarnya adalah membunuh orang² Israel. Aku berkata padanya bahwa aku membeli senjata² untuk menolong temanku Ibrahim melindungi keluarganya.

“Sekarang kalian memiliki senjata²?”
“Ya.”
“Di mana senjata² itu sekarang?”
Aku berharap senjata² itu ada di rumahku karena aku akan menyerahkannya dengan segala senang hati pada pihak Israel. Tapi sekarang aku harus melibatkan saudara sepupuku.
“Baiklah. Begini masalahnya. Seseorang yang tak ada hubungannya dengan hal ini menyimpan senjata² itu.”
“Siapa dia?”
“Sepupuku Yousef menyimpan senjata² itu. Dia menikah dengan wanita Amerika, dan sekarang baru punya seorang bayi.”
Aku berharap mereka akan membiarkan keluarga itu, dan hanya mengambil senjata² saja, tapi kenyataan lebih rumit daripada harapanku.
Dua hari kemudian, aku mendengar suara² di sebelah dinding selku. Aku merunduk mendekati pipa berkarat yang menghubungkan selku dengan sel sebelah.

“Halo,” panggilku. “Adakah orang di situ?”
Diam saja.
Dan lalu …
“Mosab?”
Apa?!! Aku tidak percaya pada kupingku sendiri. Ternyata itu adalah sepupuku!
“Yousef? Apakah itu kamu?”

Aku sangat senang mendengar suaranya. Hatiku berdebar-debar. Orang itu ternyata Yousef! Tapi dia lalu mulai mencaci-maki diriku.
“Mengapa kau melakukan hal itu? Aku kan baru punya bayi…”

Aku lalu mulai menangis. Aku begitu merindukan untuk bicara dengan manusia lain sewaktu dipenjara. Sekarang saudaraku sendiri duduk di balik tembok, dan dia memaki-maki diriku. Dan tiba² aku sadar: orang² Israel sedang mendengarkan kami; mereka sengaja menempatkan Yousef di sebelah selku agar mereka bisa mendengarkan percakapan kami dan mengetahui apakah aku mengatakan keterangan yang sebenarnya. Tak jadi masalah bagiku. Aku juga telah mengatakan pada Yousef dulu bahwa aku ingin punya senjata untuk melindungi keluargaku, karena itu aku tak khawatir.

Begitu Shin Bet mengetahui bahwa kisahku benar, mereka memindahkanku ke sel yang lain. Lagi² aku sendirian saja dalam selku. Saat itu aku merenungkan bagaimana aku telah membuat kacau kehidupan saudara sepupuku, bagaimana aku telah menyakiti keluargaku, dan bahwa aku telah menyia-nyiakan duabelas tahun bersekolah – dan semua ini gara² aku percaya dengan Ibrahim sialan itu!

Aku tinggal dalam sel itu selama beberapa minggu tanpa kontak dengan manusia lain. Penjaga memasukkan makanan dari lubang di bawah pintu tanpa pernah mengatakan apapun padaku. Aku bahkan mulai rindu akan Leonard Cohen. Aku tak punya bahan bacaan, dan satu²nya cara menghabiskan waktu adalah menunggu makanan yang disajikan di atas nampan berwarna. Tiada kegiatan apapun selalin berpikir dan berdoa.

Akhirnya suatu hari aku dibawa lagi ke sebuah kantor. Di situ Loai telah menunggu untuk berbicara denganku.
“Jika kau bersedia bekerja sama dengan kami, Mosab, maka aku akan melakukan segala yang bisa kulakukan agar kau tidak usah lagi dipenjara.”
Sesaat muncul harapan. Mungkin aku bisa mengakalinya agar dia mengira aku bersedia bekerja sama dengannya dan setelah itu dia akan mengeluarkan aku dari penjara.

Kami berbicara sedikit mengenai berbagai hal yang umum. Lalu dia berkata, “Bagaimana pendapatmu jika aku menawarkanmu untuk bekerja bagi kami? Para pemimpin Israel juga duduk bersama dengan para pemimpin Palestina. Mereka telah berkelahi dalam kurun waktu yang lama, dan di akhir hari mereka berjabatan tangan dan makan malam bersama.”
“Islam melarangku untuk bekerja bagimu.”
“Di satu saat, Mosab, bahkan ayahmu sendiri juga akan datang, dan duduk dan berbicara dengan kami dan kami akan berbicara dengannya. Marilah bekerja sama dan membawa perdamaian bagi masyarakat.”
“Apakah begini caramu membawa perdamaian? Kami membawa perdamaian dengan menghentikan pendudukan.”

“Tidak, kami membawa perdamaian melalui orang² yang berani melakukan perubahan.”
“Aku tidak setuju. Hal itu tidak ada gunanya.”

“Apakah kau takut dibunuh sebagai orang yang bekerja sama bagi Israel?”
“Bukan begitu. Setelah semua penderitaan yang kami alami, aku tidak akan pernah bisa duduk dan bicara denganmu sebagai seorang teman, apalagi bekerja bagimu. Aku tidak bisa melakukan itu. Hal itu bertentangan dengan segala yang kupercaya.”

Aku masih benci segalanya di sekitarku. Pendudukan. PA. Aku telah jadi radikal karena aku ingin menghancurkan sesuatu. Tapi dorongan melakukan itulah yang membuatku mengalami segala macam masalah. Saat ini aku berada di penjara Israel, dan sekarang pria ini memintaku untuk bekerja baginya. Jika aku berkata ya, aku tahu resiko bahaya yang akan kutanggung – dalam kehidupan saat ini dan di akherat.
“Oke. Aku perlu berpikir sejenak tentang tawaranmu,” kudengar diriku berkata.

Aku kembali ke sel penjaraku dan berpikir tentang tawaran Loai. Aku telah mendengar kisah² tentang orang² yang berpura-pura setuju untuk bekerja bagi Israel tapi sebenarnya mereka adalah agen dobel (bekerja bagi Palestina dan juga bagi Israel). Mereka membunuh perekrut Israelnya, mencuri senjatanya, dan menggunakan segala kesempatan untuk menyakiti orang² Israel terlebih hebat lagi. Jika aku berkata ya pada Loai, kupikir Loai tentunya akan membebaskanku. Dia bahkan mungkin memberiku kesempatan untuk punya senjata api yang berfungsi baik kali ini, dan dengan senjata ini aku akan membunuhnya.

Api kebencian berkobar-kobar dalam tubuhku. Aku ingin balas dendam pada prajurit yang memukuliku habis²an. Aku ingin balas dendam pada Israel. Aku tidak peduli berapa harganya, bahkan jikalau pun nyawaku melayang. Tapi bekerja bagi Shin Bet mengandung lebih banyak resiko daripada sekedar membeli persenjataan. Mungkin lebih baik aku segera melupakannya, menyelesaikan waktu hukuman di penjara, pulang dan belajar, dekat dengan ibu, dan mengurus adik²ku.

Keesokan harinya, penjaga membawaku kembali ke kantor itu. Beberapa menit kemudian Loai masuk.
“Bagaimana keadaanmu hari ini? Tampaknya kau kelihatan lebih segar. Apakah kau mau minum sesuatu?”
Kami duduk dan minum kopi bersama seperti dua kawan lama.
“Bagaimana jika aku terbunuh?” tanyaku, meskipun sebenarnya dalam hati aku tak peduli begitu peduli jika terbunuh. Aku hanya ingin dia mengira aku berpikir begitu sehingga dia mengira aku jujur.

“Kuberitahu ya, Mosab,” kata Loai. “Aku telah bekerja bagi Shin Bet selama 18 tahun, dan selama itu, hanya satu orang saja yang ketahuan. Semua orang² lain yang terbunuh tak ada hubungannya dengan kami. Masyaratkat jadi curiga pada orang² itu karena mereka tak punya keluarga dan melakukan hal² yang mencurigakan, maka masyarakat lalu membunuh mereka. Tiada seorang pun yang akan tahu tentang dirimu. Kami akan merahasiakanmu sehingga kau tidak akan terungkap. Kami akan melindungimu dan mengurusmu.”

Aku mengamatinya untuk waktu yang lama.
“Baiklah,” aku berkata. “Aku bersedia melakukannya. Sekarang apakah kau bisa membebaskanku?”
“Wah, bagus,”
kata Loai dengan senyum lebar. “Sayangny, kami tidak bisa membebaskanmu sekarang. Karena kau dan saudara sepupumu ditangkap setelah Salameh ditangkap, kisahnya tercantum di halaman depan Al-Quds (koran utama Palestina). Setiap orang mengira kau ditangkap karena terlibat dengan pembuat bom itu. Jika kami melepaskanmu terlalu cepat, orang² akan curiga, dan kau bisa ketahuan sebagai orang yang bekerja sama dengan kami. Cara terbaik melindungimu adalah mengirimmu ke penjara – tidak untuk waktu yang lama, jangan khawatir. Kami akan memeriksa apakah ada pertukaran tahanan atau perjanjian pembebasan yang bisa kami gunakan untuk mengeluarkanmu dari sini. Begitu kau sudah pindah penjara, aku yakin Hamas akan menanganimu, terutama karena kau adalah putra Hassan Yousef. Kita akan bertemu lagi setelah kau bebas.”

Mereka membawaku kembali ke dalam sel, di mana aku harus tinggal di sana selama dua minggu lagi. Aku tidak sabar untuk meninggalkan Maskobiyeh. Akhirnya di suatu pagi, penjaga mengatakan padaku sudah saatnya pergi. Dia memborgolku, tapi kali ini tanganku terletak di depanku. Tidak usah lagi pakai penutup kepala bau. Dan untuk pertamakalinya selama 45 hari, aku melihat matahari dan menghirup udara segar. Aku menarik nafas dalam², mengisi paru²ku dengan udara segar dan menikmati hembusan angin di wajahku. Aku duduk di kursi belakang sebuah mobil van Ford. Saat itu adalah musim panas dan aku diborgol pada bangku metal yang jadi panas pula, tapi aku tak peduli. Aku merasa bebas!

Dua jam kemudian, kami tiba di penjara Megiddo, tapi aku lalu harus tetap duduk dalam van selama satu jam lagi, menunggu ijin untuk masuk. Saat akhirnya kami masuk, dokter penjara memeriksaku dan mengumumkan bahwa aku sehat. Aku lalu mandi dengan sabun dan diberi baju bersih dan peralatan mandi lainnya. Di waktu makan siang, aku makan makanan panas untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu.

Aku ditanyai dengan organisasi apa aku terlibat.

“Hamas,” jawabku. Di penjara² Israel, setiap organisasi diperbolehkan mengawasi anggota² mereka sendiri. Tujuannya adalah untuk menghentikan masalah sosial atau malah menciptakan konflik lebih besar dalam organisasi tersebut. Jika para tawanan menggunakan kekuatan mereka untuk berkelahi satu sama lain, maka mereka terlalu lemah untuk melawan Israel.

Sewaktu masuk ke penjara baru, semua tawanan wajib mengumumkan asal organisasi. Kami harus memilih berasal dari organisasi Hamas, Fatah, Jihad Islam, Barisan Depan Populer bagi Pembebasan Palestina (Popular Front for the Liberation of Palestine = PFLP), Gerakan Demokrasi bagi Pembebasan Palestina (Democratic Front for the Liberation of Palestine = DFLP), atau organisasi lain. Kita tidak bisa tidak berhubungan dengan apapun. Tawanan yang tidak berhubungan dengan apapun harus memilih untuk bergabung dengan organisasi apa. Di Megiddo, Hamas berkuasa total dalam penjara. Hamas adalah organisasi terkuat dan terbesar di sana. Hamas menetapkan aturan, dan semua tunduk padanya.

Ketika aku masuk, tawanan² yang lain menyambutku dengan hangat, menepuk pundakku dan menyelamati diriku karena bergabung bersama mereka. Di petang hari, kami duduk bersama dan membagi kisah kami. Setelah beberapa saat, aku mulai merasa tidak nyaman. Salah satu dari orang² ini tampaknya adalah pemimpin dari para tawanan, dan dia banyak tanya padaku – terlalu banyak pertanyaan. Meskipun dia adalah emir – julukan bagi ketua Hamas di penjara – aku tidak percaya padanya. Aku sudah banyak mendengar cerita tentang “burung,” istilah bagi mata² musuh dalam penjara.

Jika dia adalah mata² Shin Bet, pikirku, mengapa dia tidak percaya padaku? Bukankah mereka sudah menganggap aku bekerja bagi mereka? Tapi aku pura² tidak terganggu dan tidak bicara apapun selain yang telah kusampaikan pada para penanya di penjara yang dulu.
Aku berada di penjara Megiddo selama dua minggu, sholat dan puasa dan membaca Qur’an. Ketika tawanan² baru datang, aku memperingatkan mereka tentang si emir.
“Kau harus berhati-hati,” kataku, “Orang itu dan teman²nya tampaknya adalah burung².” Para tawanan baru itu dengan cepat memberitahu emir tentang kecurigaanku, dan keesokan harinya aku dikembalikan ke Maskobiyeh. Di pagi harinya, aku dibawa menghadap ke kantor.
“Bagaimana perjalananmu ke Megiddo?” tanya Loai.
“Menyenangkan,” kataku sarkastik.
“Tahu engga’, tak banyak orang yang bisa melihat burung di saat pertama kali dia melihatnya. Beristirahatlah sekarang. Dan suatu hari nanti kita akan melakukan sesuatu bersama.”
Ya, dan suatu hari nanti akan kutembak kepalamu, begitu pikirku sewaktu aku melihatnya berlalu. Aku merasa bangga bisa berpikiran radikal seperti itu.

Aku kembali dipenjara di situ selama 25 hari, tapi kali ini aku ditempatkan di sebuah sel bersama tiga tawanan lainnya, termasuk saudara sepupuku Yousef. Kami menghabiskan waktu dengan bicara dan berbagi cerita. Salah seorang mengatakan bahwa dia telah membunuh seseorang. Yang lain membual bahwa dia mengirim seorang pembom bunuh diri. Setiap orang punya kisah menarik untuk disampaikan. Kami duduk bersama, sholat, bernyanyi, dan mencoba melakukan kegiatan yang menyenangkan. Apapun kami lakukan untuk melupakan keadaan sekitar. Tempat itu bukanlah tempat yang layak bagi manusia.
Akhirnya, kami semua kecuali saudara sepupuku dikirim ke Megiddo. Tapi kali ini kami tidak akan bersama para burung lagi; kami menuju penjara sebenarnya. Dan sejak itu keadaan tidak akan pernah jadi sama seperti sebelumnya.

Bab 12 – Nomer 823
1996

Mereka dapat mencium bau kami saat kami datang.

Peta letak Megiddo di Israel. 

Rambut dan jenggot kami jadi panjang setelah tiga bulan tanpa gunting atau silet pencukur. Baju kami kotor sekali. Dibutuhkan waktu dua minggu untuk menghilangkan bau bekas penjara Maskobiyeh. Tubuh digosok kuat² sekali pun tidak sanggup menghilangkan bau. Hanya waktu yang akhirnya bisa menghilangkannya.

Kebanyakan tawanan awalnya ditempatkan terlebih dulu di mi’var, yang adalah sebuah unit di mana setiap orang diproses sebelum dipindahkan ke kamp penjara yang lebih besar. Akan tetapi, beberapa tawanan dianggap terlalu berbahaya untuk bergabung dengan tawanan² lainnya dan harus tetap tinggal di mi’var selama bertahun-tahun. Orang² ini, sudah bisa ditebak, semuanya adalah anggota Hamas.

Sebagai putra Syeikh Hassan, aku merasa terbiasa dikenal kemana pun aku pergi. Jika ayah adalah raja, maka aku adalah pangeran – pewaris takhta kekuasaan. Dan begitulah aku diperlakukan.
“Kami dengar kau berada di sini sebulan yang lalu. Pamanmu sekarang berada di sini. Dia akan segera mengunjungimu.”

Makan siang disajikan panas² dan mengenyangkan, meskipun tidak seenak makanan yang kumakan ketika dulu bersama para burung. Meskipun begitu aku tetap merasa senang. Sekalipun masih dipenjara, aku merasa lebih bebas. Ketika aku sedang seorang diri, aku memikirkan tentang Shin Bet. Aku telah berjanji pada mereka untuk bekerja bagi mereka, tapi mereka tak memberitahu aku apapun. Mereka tidak pernah menjelaskan bagaimana mereka akan berkomunikasi denganku atau apa sebenarnya yang dimaksud dengan bekerja sama. Mereka membiarkan aku begitu saja, tanpa ada nasehat apapun tentang bagaimana aku harus berlaku. Aku sangat heran. Aku juga tidak tahu siapa diriku sebenarnya sekarang. Kupikir ada kemungkinan aku telah dijebak.

Tempat mi’var ini dibagi dalam dua asrama yang besar – Ruang Delapan dan Ruang Sembilan – kedua ruang ini penuh dengan ranjang bertingkat. Bangunan asrama² berbentuk huruf L dan setiap bangunan ditempati 20 tawanan. Di sudut L terdapat lapangan olahraga dengan lantai semen yang dicat dan meja ping-pong rusak yang disumbangkan oleh Palang Merah. Kami diperbolehkan berolahraga dua kali sehari.

Tempat tidurku terletak di ujung Ruang Sembilan, dekat kamar mandi. Terdapat dua kamar kecil dan dua tempat mandi. Tempat buang air hanyalah sebuah lubang di lantai di mana kami harus berdiri atau jongkok, lalu setelah selesai buag air, kami siram sendiri kotoran dengan seember air. Ruangan ini panas dan lembab, dan baunya sungguh memuakkan.

Sebenarnya malah seluruh asrama juga begitu keadaannya. Orang² menderita sakit dan batuk²; sebagian malah tidak pernah mandi. Semua tawanan berbau mulut busuk. Asap rokok memenuhi ruangan dan kipas angin lemah tidak berarti apapun. Juga tak ada jendela ventilasi.

Kami dibangunkan setiap jam 4 pagi agar bersiap untuk sholat Fajar. Kami menunggu di antrian dengan handuk kami, masih dalam keadaan mengantuk dan bau. Lalu kami harus melakukan wudu. Untuk memulai membersihkan diri secara Islam sebelum sholat, kami membasuh tangan sampai ke pergelangan tangan, kumur², dan membersihkan lubang hidung dengan air. Kami gosok wajah kami dengan dua tangan dari jidat sampai ke dagu, dan dari kuping satu ke kuping yang lain, membasuh tangan sampai ke sikut, dan membasuh kepala dari jidat sampai ke belakang leher dengan tangan yang basah air. Akhirnya membasahi jari² tangan untuk membersihkan kuping bagian dalam dan luar, seluruh leher, dan membasuh kaki sampai ke pergelangan kaki. Lalu kami ulang semua proses ini dua kali lagi.

Pada jam 4:30 pagi, setelah semua selesai melakukan wudu, seorang imam – yang besar, sangar dengan jenggot lebat – melafalkan adhan. Lalu dia mulai melafalkan Al-Fatihah (Sura pertama Qur’an), dan kami lalu melakukan empat rakat (gerakan berdoa, berdiri, berlutut, dan bersujud).

Kebanyakan tawanan adalah Muslim anggota Hamas atau Jihad Islam, jadi melakukan sholat seperti ini sudah menjadi kegiatan rutin bagi kami. Tapi tawanan² lain yang sekuler dan komunis juga dipaksa bangun di waktu yang sama, meskipun mereka tidak ikut sholat. Dan tentu saja mereka tidak senang akan hal ini.

Seorang tawanan sudah menjalani setengah dari masa hukuman 15 tahun. Dia muak sekali dengan segala rutinitas Islam, dan dia menghabiskan waktu lama sekali untuk bangun subuh. Beberapa tawanan menepuknya, memukulnya, sambil membentak, “Bangun!” Akhirnya mereka menyiramkan air ke kepalanya. Aku kasihan padanya. Semua proses wudhu, sholat, dan pelafalan Qur’an memakan waktu satu jam. Setelah itu orang² kembali tidur. Tiada seorang pun yang bicara. Sunyi senyap.

Aku selalu tidak bisa tidur kembali, dan biasanya aku tidak tertidur setelah jam 7 pagi. Sewaktu akhirnya aku tertidur, seseorang berteriak,Adad! Adad! (Nomer! Nomer!). Ini adalah peringatan bahwa sekarang adalah saatnya melakukan penghitungan kepala.

Kami duduk di tempat tidur kami dengan punggung menghadap prajurit Israel yang menghitung kami, karena dia tak bersenjata. Dia hanya butuh waktu lima menit untuk menghitung kami dan lalu kami boleh tidur lagi.

Jalsa! Jalsa!” jerit emir pada jam 8:30 pagi. Ini adalah saat rapat dua kali sehari yang dilakukan organisasi Hamas dan Jihad Islam. Aku tidak bisa tidur dua jam penuh. Ini sungguh menjengkelkan. Sekali lagi, orang² berbaris ke kamar mandi untuk mempersiapkan diri menghadiri jalsa jam 9 pagi.

Di jalsa Hamas pertama hari itu, kami belajar aturan membaca Qur’an. Aku sudah tahu akan hal ini dari ayahku, tapi kebanyakan tawanan tidak mengetahuinya. Jalsa kedua hari itu membicarakan tentang Hamas, sikap disiplin di dalam penjara, pengumuman tentang tawanan² yang baru datang, dan kabar tentang kejadian di luar penjara. Tak ada rahasia atau rencana apapun, hanya berita umum saja.

Setelah setiap jalsa, kami seringkali menghabiskan waktu dengan nonton TV di bagian ujung ruangan, berhadapan dengan kamar kecil. Suatu pagi, aku sedang menonton kartun dan lalu sebuah iklan ditayangkan.

GEDEBUG! Sebuah papan kayu besar jatuh di hadapan layar TV.
Aku meloncat kaget dan melihat sekeliling.

“Ada apa?” Aku lalu mengetahui bahwa papan itu terikat pada tali besar yang diikatkan pada langit². Di sebelah ruangan tampak seorang tawanan memegang erat² ujung tali itu. Rupanya tugasnya adalah melihat segala yang dianggap haram dan menjatuhkan papan kayu di depan TV agar penonton tidak bisa melihatnya.
“Kenapa kau menjatuhkan papan kayu itu?” tanyaku.
“Untuk melindungi kamu sendiri,” katanya kasar.
“Melindungi? Dari apa?”
“Gadis di iklan itu,”
jelasnya. “Gadis itu kan tak pakai jilbab.”
Aku melihat emir. “Apakah dia serius tentang ini?”
“Ya, tentu saja,”
kata emir.
“Tapi kami semua punya TV di rumah kami, dan kami tidak melakukan hal seperti ini di rumah. Kenapa musti melakukannya di sini?”
“Berada di penjara membuat orang menghadapi godaan² yang tak lumrah,”
jelasnya. “Di sini tidak ada perempuan. Yang mereka tayangkan pada TV bisa menimbulkan masalah dan berakibat buruk bagi mereka. Karena itulah dibuat aturan seperti ini dan beginilah kami menanggulangi masalah itu.”

Tentu saja tidak semua orang setuju akan hal itu. Apa yang boleh atau tak boleh dilihat sangat tergantung dari orang yang memegang tali. Jika orang itu berasal dari Hebron, dia akan menjatuhkan papan untuk menutupi layar TV, bahkan jika yang muncul hanyalah sosok kartun wanita tanpa jilbab. Tapi jika orang itu berasal dari Ramallah, kami bisa nonton lebih bebas. Kami seharusnya bergiliran memegang tali, tapi aku tak mau menyentuh benda tolol itu.

Setelah makan siang, tiba waktunya untuk melakukan sholat Dhuhr, lalu setelah itu saat tenang. Kebanyakan tawanan tidur siang. Biasanya aku membaca buku. Dan di sore hari, kami diperbolehkan pergi ke lapangan olahraga untuk berjalan-jalan sedikit atau mengobrol dengan tawanan lain.
Hidup di penjara sangatlah membosankan bagi para anggota Hamas. Kami tak boleh bermain kartu. Kebebasan membaca buku dibatasi dan hanya boleh membaca Qur’an dan literatur Islam saja. Organisasi non-Hamas tidak menerapkan aturan sekeras itu.
Saudara sepupuku Yousef akhirnya muncul di suatu sore, dan aku sangat senang bertemu dengannya. Penjaga² Israel memperbolehkan kami menyimpan alat cukur, dan kami memangkas habis rambut kepalanya untuk menghilangkan bau penjara Moskabiyeh.

Yousef bukanlah anggota Hamas; dia adalah orang sosialis. Dia tidak percaya pada Allâh (elohim Islam), tapi percaya akan Elohim . Dengan begitu, dia lebih cocok jadi anggota Gerakan Demokrasi bagi Pembebasan Palestina (Democratic Front for the Liberation of Palestine = DFLP), DFLP berjuang untuk berdirinya Negara Palestina, dan ini tidak sama dengan tujuan Hamas yang bercita-cita mendirikan Negara Islam.

Beberapa hari setelah Yousef datang, pamanku yakni Ibrahim Abu Salem, datang menjenguk. Dia berada di penahanan administratif sejak dua tahun lalu, meskipun tiada tuduhan resmi yang diajukan padanya. Karena dia dianggap berbahaya bagi keamanan Israel, dia akan terus berada di sana untuk waktu yang lama. Sebagai Hamas VIP (Very Important Person = Orang Sangat Penting), pamanku Ibrahim diijinkan mengunjungi mi’var dan kamp penjara dan dari satu kamp ke kamp yang lain. Maka dia datang berkunjung ke mi’var untuk menengok keponakannya, agar yakin aku baik² saja, dan membawa beberapa baju bagiku – tanda peduli yang sangat bertentangan dengan sifatnya sebagai orang yang dulu suka memukuliku dan tidak peduli pada keluargaku saat ayah sedang dipenjara.

Dengan tinggi hampir mencapai 180 cm, Ibrahim Abu Salem adalah orang yang tinggi besar. Perutnya yang menonjol keluar – tanda kecintaannya pada makanan – membuat dia tampak gembul dan tidak berbahaya. Tapi aku tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Pamanku Ibrahim adalah orang yang kejam, mementingkan diri sendiri, pendusta, dan munafik – sangat bertolak belakang dengan ayahku.

Tapi di dalam tembok penjara Megiddo, paman Ibrahim diperlakukan bagaikan seorang raja. Semua tawanan menghormatinya, tidak peduli dari organisasi manapun , karena usianya, kemampuannya mengajar, pekerjaannya di universitas², dan prestasi politik dan akademinya. Biasanya, para pemimpin tawanan memanfaatkan kedatangannya dan memintanya untuk memberi kuliah.

Semua tawanan suka mendengarkan Ibrahim saat dia memberi kuliah. Dia tidak mengajar seperti dosen, tapi lebih sebagai penghibur. Dia suka membuat orang tertawa, dan jika dia mengajar tentang Islam, maka dia menyampaikan ajarannya dengan menggunakan bahasa yang sederhana sehingga siapapun bisa mengerti.

Akan tetapi, hari ini tiada seorang pun yang tertawa. Sebaliknya, semua tawanan duduk bersebelahan dengan diam saat Ibrahim bicara dengan kemarahan berkobar-kobar tentang orang² yang bekerja sama dengan Israel dan bagaimana mereka mempermalukan keluarga mereka dan merupakan musuh orang² Palestina. Dari caranya bicara, aku merasa dia sebenarnya berkata padaku, “Jika kau tahu sesuatu yang belum kau sampaikan padaku, Mosab, katakan padaku sekarang juga.”
Tentu saja aku tetap diam saja. Bahkan andaikata sekalipun Ibrahim curiga akan hubunganku dengan Shin Bet, dia tidak akan berani mengatakannya terus terang pada putra Syeikh Hassan Yousef.
“Jika kau butuh apapun,” katanya padaku sebelum pergi, “beritahu aku saja. Aku akan mencoba agar kau berada dekat denganku.”

Saat itu adalah musim panas 1996. Meskipun aku baru berusia 18 tahun, aku merasa bagaikan telah menjalani beberapa kehidupan dalam waktu beberapa bulan saja. Dua minggu setelah paman datang, seorang wakil tawanan, atau shawish, datang ke Ruangan Sembilan dan memanggil, “Delapan dua tiga!” Aku mendongak terkejut karena mendengar nomerku dipanggil. Lalu dia juga memanggil tiga atau empat nomer lain dan memberitahu kami agar mengumpulkan barang² kami.

Sewaktu kami keluar dari mi’var ke padang gurun, udara panas menerpaku bagaikan napas naga dan membuat kepalaku pusing sejenak. Sejauh mata memandang tak ada lain yang tampak selain ujung² bagian atas tenda coklat. Kami berbaris menuju bagian tenda pertama, bagian kedua, bagian ketiga. Ratusan tawanan datang berlari menuju pagar tinggi berantai untuk melihat tawanan² yang baru datang. Kami tiba di Bagian Lima, dan pintu gerbang terbuka. Lebih dari lima puluh orang mengelilingi, memeluk kami, dan menjabat tangan kami.

Kami dibawa ke bagian tenda administrasi dan ditanyai dari organisasi mana kami berasal. Lalu aku dibawa ke tenda Hamas, di mana emir menerimaku dan menjabat tanganku.
“Selamat datang,” katanya. “Senang berjumpa denganmu. Kami sangat bangga akan kamu. Kami akan menyiapkan tempat tidur bagimu dan memberi beberapa handuk dan barang² lain yang kau butuhkan.” Lalu dia mengatakan lelucon penjara, “Anggaplah seperti rumah sendiri dan nikmati tinggal di sini.”

Setiap bagian penjara terdiri dari 12 tenda. Setiap tenda berisi 20 tempat tidur dan tempat sepatu. Kapasitas maximum setiap bagian adalah 240 tawanan. Bayangkan bingkai empat persegi panjang, dihalangi dengan pagar kawat duri silet. Bagian Lima dibagi dalam kotak². Sebuah tembok yang bagian atasnya diberi kawat duri silet, membagi-bagi Bagian dari utara ke selatan, dan pagar rendah membagi tempat itu dari timur ke barat.

Kotak bagian Satu dan Two (sebelah kanan dan kiri atas) masing² memiliki tiga buah tenda Hamas. Kotak bagian Tiga (kanan bawah) memiliki empat tenda – masing² untuk Hamas, Fatah, kombinasi DFLP/PFLP, dan Jihad Islam. Dan Kotak bagian Empat (kiri bawah) memiliki dua tenda, satu untuk Fatah, dan satu lagi untuk DFLP/PFLP.

Kotak Empat memiliki sebuah dapur, WC, tempat mandi, dan tempat untuk shawish dan pekerja dapur, dan baskom² untuk wudhu. Kami berbaris di antrean untuk melakukan sholat di lapangan terbuka di Kotak Dua. Tentunya terdapat menara penjaga di setiap sudut. Pintu gerbang utama di Kotak Lima terletak di pagar kawat antara Kotak Tiga dan Empat.

Satu keterangan lagi: pagar dari timur ke barat memiliki pintu² gerbang diantara Kotak Satu dan Tiga dan Dua dan Empat. Pintu² dibiarkan terbuka hampir sepanjang hari, kecuali pada saat penghitungan kepala di mana pintu² ini ditutup agar penjaga bisa menghitung setiap bagian.

Aku ditempatkan di tenda Hamas di ujung atas Kotak bagian Satu, di ranjang ketiga dari kanan. Setelah penghitungan kepala, kami semua duduk² sambil ngobrol, dan lalu terdengar suara, “Barid, ya mujahidin! Barid!” (Surat bagi pejuang kemerdekaan! Surat!).

Suara itu milik sawa’id dari bagian lain, dan semua orang memperhatikannya. Sawa’id adalah petugas keamanan Hamas di dalam penjara, yang membagi-bagikan pesan dari satu bagian ke bagian lainnya. Kata Sawa’id dalam bahasa Arab berarti “tangan² yang melempar.”

Setelah terdengar teriakan itu, dua orang laki berlari ke luar tenda, menjulurkan tangan² mereka di udara dan melihat langit. Bagaikan sudah diatur saja, sebuah bola datang entah dari mana dan jatuh tepat di tangan² yang sudah siap itu. Beginilah cara para pemimpin Hamas di bagian kami menerima perintah² bersandi rahasia dari pemimpin di bagian lain. Setiap organisasi Palestina di penjara menggunakan cara ini untuk berkomunikasi. Masing² organisasi memiliki nama sandi tersendiri, sehingga jika suara diteriakkan, para “penangkap bola” tahu bahwa mereka harus lari ke tempat di mana bola itu akan jatuh.

Bola² ini dibuat dari roti yang diempukkan dengan air. Pesan dimasukkan ke dalamnya dan roti digulung bulat bagaikan bola sebesar bola softball, dikeringkan sampai mengeras. Tentu saja hanya pelempar dan penerima terbaik yang dipilih sebagai “tukang pos.”
Kejadian menarik itu berakhir dengan cepat. Lalu tiba saat makan malam.

Bersambung ke Bab 13-16

Bab 1-4 ; Bab 5-8 Bab 9-12 ; Bab 13-16 ; Bab 17-20 ; Bab 21-24

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Buku Son of Hamas (Putra Hamas). Bab 5-8

Bab 5 – Bertahan Hidup
1989-1990

Orang² Israel mengira jika mereka menangkap para ketua Hamas, maka keadaan akan jadi membaik. Tapi selama ayah dipenjara, intifada malah jadi semakin menggila. Di akhir tahun 1989, Amer Abu Sarhan dari Ramallah merasa tak tahan lagi melihat kematian orang² Palestina. Karena tiada yang punya pistol, dia lalu mengambil pisau dapur dan menusuk tiga orang Israel sampai mati, dan ini berakibat timbulnya revolusi. Kejadian ini menyebabkan naiknya tingkat kekerasan yang jauh lebih hebat.

Sarhan dianggap sebagai pahlawan oleh orang² Palestina yang telah kehilangan teman² dan anggota keluarga mereka, yang tanahnya dirampas, atau yang punya berbagai alasan lain untuk membalas dendam. Mereka asalnya bukanlah teroris. Mereka hanyalah orang² yang kehilangan harapan dan pilihan. Punggung mereka telah membentur tembok. Mereka tidak punya apapun lagi untuk jadi pertimbangan. Merka tidak peduli lagi akan tanggapan dunia atau pun nyawa mereka sendiri.

Bagi kami anak² di masa itu, pergi ke sekolah juga jadi masalah besar. Seringkali saat sedang berjalan ke sekolah, mobil² Jeep Israel berlalu-lalang di jalanan, sambil mengumumkan keras² lewat pengeras suara bahwa jam malam akan segera dimulai. Prajurit Israel sangat serius dalam melakukan larangan ini. Larangan ini bukan seperti di kota² besar AS di mana polisi akan memanggil orangtua seorang remaja yang tertangkap menyetir mobil setelah jam 11 malam. Di Palestina, jika jam malam sudah diumumkan dan masih saja berada di jalanan karena alasan apapun, maka kau akan ditembak. Tanpa peringatan, tanpa penangkapan. Mereka akan langsung menembakmu.

Di saat pertama jam malam diumumkan, aku masih berada di sekolah dan aku tidak tahu harus melakukan apa. Jarak pulang ke rumah adalah empat mil dan aku tidak mungkin bisa tiba di rumah sebelum jam malam dimulai. Jalanan sudah sepi, dan aku merasa takut. Aku tidak bisa diam di tempat saja. Meskipun aku hanyalah anak muda yang berusaha pulang ke rumah, jika prajurit melihat diriku, maka mereka akan menembakku. Banyak pemuda² Palestina yang telah ditembak.

Aku mulai bergerak sambil berlindung dari sebuah rumah ke rumah lainnya, melalui halaman² belakang, dan bersembunyi di semak² sepanjang jalan. Aku mencoba menghindari anjing menggonggong dan orang² bersenjata sedapat mungkin. Ketika akhirnya aku tiba di rumah, aku sangat lega melihat semua saudara laki dan perempuanku telah tiba di rumah dengan selamat.

Tapi jam malam hanya merupakan salah satu perubahan yang harus kami hadapi sebagai akibat intifada. Di banyak kejadian, seorang bermasker tiba² saja muncul di sekolah dan mengumumkan bahwa mogok kerja dimulai dan orang² harus pulang. Mogok kerja ini diperintahkan oleh sekelompok orang² Palestina untuk merugikan keuangan Israel dengan memperkecil pajak pendapatan yang dipungut Pemerintah dari para pemilik toko. Jika toko² tidak buka, maka para pemilik toko juga tidak membayar pajak penuh. Tapi orang² Israel tidak bodoh. Mereka lalu mulai menangkapi pemilik toko karena sengaja menghindar pajak. Jadi siapa sih yang sebenarnya menderita akibat usaha mogok kerja ini?

Terlebih lagi, berbagai organisasi Muslim ternyata juga saling berperang satu sama lain demi mendapatkan kedudukan dan kekuasaan. Mereka bersikap bagaikan anak² kecil memperebutkan bola sepak. Meskipun demikian, Hamas secara pasti semakin berkuasa dan mulai menantang dominasi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).

********************

PLO didirikan di tahun 1964 untuk mewakili masyarakat Palestina; tiga organisasi besar yang termasuk di dalamnya adalah:

  • Fatah, kelompok nasionalis sayap kiri;
  • Barisan Depan Populer bagi Pembebasan Palestina (Popular Front for the Liberation of Palestine = PFLP), yang adalah kelompok komunis; dan
  • Gerakan Demokrasi bagi Pembebasan Palestina (Democratic Front for the Liberation of Palestine = DFLP), juga berideologi komunis.

PLO menuntut Israel mengembalikan tanah yang merupakan daerah kekuasaan Palestina sebelum tahun 1948 dan memberikan hak bagi Palestina untuk menentukan nasib sendiri. Sampai saat ini, PLO berjuang melalui kampanye global hubungan masyarakat, perang gerilya, dan terorisme dari pusatnya, pertama-tama di Yordania, lalu di Lebanon dan Tunisia.

Tidak seperti Hamas dan Islamic Jihad, PLO tidak pernah jadi organisasi Islam. Kelompok ini beranggotakan orang² nasionalis, dan tidak semuanya adalah Muslim kaffah. Malah banyak dari antara mereka yang atheis. Bahkan sewaktu masih kecil aku memandang PLO sebagai organisasi yang korup dan mementingkan diri sendiri saja. Para pemimpin PLO mengirim orang² yang kebanyakan masih remaja untuk melakukan satu atau dua serangan teroris setiap tahun agar orang² terus menyumbangkan uang bagi perjuangan melawan Israel. Para fe’da’iyin muda tersebut hanya berfungsi sebagai api penyulut kemarahan dan kebencian dan agar sumbangan dana terus mengalir ke akun bank pribadi milik para pemimpin PLO. [2]
[2] Pembajakan pesawat pertama oleh PLO terjadi di tanggal 23 Juli, 1968, ketika aktivis PFLP menerbangkan El Al Boeing 707 ke Aljiers. Sekitar selusin awak Israel dan sepuluh kru pesawat disandera. Tiada korban jiwa. Tapi sebelas atlet Israel dibunuh empat tahun kemudian oleh teroris yang dipimpin PLO saat menyerang Olimpiade Munich. Di tanggal 11 Maret, 1978, prajurit² Fatah mendarat di pantai utara Tel Aviv, membajak sebuah bus, dan menyerang sepanjang jalan bebas hambatan di tepi pantai yang membunuh sekitar tiga puluh orang – dan melukai tujuh puluh orang lainnya.
Organisasi PLO dengan mudah merekrut para pengungsi Palestina yang berjumlah dua per tiga populasi Yordania. Dengan uang mengalir dari negara² Arab lainnya untuk mendukung perjuangannya, PLO menjadi kuat dan lebih bersenjata lengkap, bahkan lebih baik daripada tentara Yordania. Tak lama kemudian Yasser Arafat ingin menguasai seluruh negara dan mendirikan negara Palestina.

Di tahun² Intifada Pertama, perbedaan ideologi membuat Hamas dan PLO saling berseberangan terpisah jauh. Hamas adalah gerakan yang dimotori oleh minat relijius dan theologi Jihad, sedangkan PLO dimotori oleh sikap nasionalisme dan ideologi kekuasaan. Jika Hamas memerintahkan pemogokkan dan mengancam membakar toko² manapun yang tetap buka, maka para pemimpin PLO di seberang jalan mengancam membakar toko² yang tutup.

Meskipun begitu, kedua kelompok ini punya kebencian sama yang mendalam terhadap “Zionis.” Akhirnya, kedua kelompok setuju untuk menetapkan Hamas menyelenggarakan pemogokkan di tiap tanggal 9 setiap bulan, dan Fatah – badan PLO terbesar – menyelenggarakan pemogokkan di tiap tanggal 1 setiap bulan. Jikalau pemogokkan diumumkan, semua kegiatan harus berhenti. Kelas², perdagangan komersial, mobil² – semuanya. Tiada seorang pun yang bekerja, mendapatkan nafkah, atau belajar.

Seluruh Tepi Barat lumpuh, dan orang² berpenutup wajah melalukan demonstrasi, membakar ban², menulis grafiti di berbagai tembok, berteriak-teriak melarang bisnis apapun. Tapi siapapun bisa mengenakan penutup wajah dan mengaku sebagai PLO. Tiada yang tahu siapakah orang di balik penutup wajah tersebut; setiap orang tampaknya tergerak karena niat sendiri dan keinginan balas dendam pribadi semata. Kekacauan berkuasa.

Pihak Israel mengambil manfaat dalam kekacauan ini. Karena setiap orang bisa jadi pejuang intifada, pasukan keamanan Israel juga lalu mengenakan penutup wajah dan berbaur dalam demonstrasi². Mereka bisa berjalan masuk ke kota Palestina mana pun di siang hari sambil memakai pakaian seperti para feda’iyin. Dan karena tiada seorang pun yang mengetahui siapa orang yang berpenutup wajah, maka orang² lebih memilih taat pada perintah para feda’iyin ini daripada menanggung resiko dipukuli, bisnisnya dibakar, atau dituduh sebagai mata² Israel, yang bisa mengakibatkan hukuman gantung.

Sampai akhirnya kekacauan dan kebingungan mencapai titik yang sangat konyol. Satu atau dua kali setelah pengumuman jadwal ujian akhir, teman² dan aku membujuk pelajar yang lebih senior untuk datang ke sekolah mengenakan penutup wajah dan mengatakan terjadi pemogokkan. Kami mengira hal ini lucu.
Pendek kata, kami telah menjadi musuh diri kami sendiri yang terjelek.

Tahun² ini sangatlah sukar bagi keluarga kami. Ayahku masih berada di penjara, dan pemogokkan yang terus terjadi mengakibatkan kami tidak masuk sekolah selama hampir setahun penuh. Para pamanku, pemimpin² agama, dan setiap orang tampaknya merasa sudah jadi kewajiban mereka untuk mendisiplinkan diriku. Karena aku adalah anak laki sulung dan putra Syeikh Hassan Yousef, maka mereka menerapkan standard yang sangat tinggi bagiku. Jika aku tidak mencapai pengharapan mereka, mereka lalu memukuliku. Tidak peduli apapun yang kulakukan, bahkan kalau pun aku pergi ke mesjid lima kali sehari, semuanya tampak tidak cukup di mata mereka.

Suatu kali aku berlari-lari di dalam mesjid, sambil bermain bersama temanku. Imam mesjid mengejar kami. Ketika dia menangkapku, dia mengangkatku di atas kepalanya dan melemparkanku ke lantai menghajar punggungku. Rasanya seperti mau mati. Lalu dia terus-menerus memukuli dan menendangiku. Kenapa sih? Aku kan hanya melakukan yang biasanya dilakukan anak² lain. Tapi karena aku adalah putra Syeikh Hassan Yousef, maka aku diharapkan untuk berlaku lebih baik daripada anak² lain.

Aku berteman dengan anak laki yang ayahnya adalah pemimpin agama dan tokoh penting Hamas. Orang ini selalu saja membujuk orang lain untuk melemparkan batu. Baginya, tak jadi masalah jika putra² orang lain tertembak karena melempar batu, tapi tidak begitu jika yang jadi sasaran tembak adalah putranya sendiri. Ketika dia mengetahui kami seringkali melemparkan batu, dia memanggil kami ke rumahnya. Kami kira dia ingin berbicara dengan kami. Tapi dia mencabut paksa kabel dari alat pemanas dan mulai mencambuki kami sekuat tenaga sampai kami berdarah. Dia memutuskan persahabatan kami demi menyelamatkan nyawa putranya. Tapi akhirnya temanku ini meninggalkan rumah dengan kebencian terhadap ayahnya yang melebihi kebencian terhadap setan.

Selain dari usaha mendisiplinkan diriku, tak ada pihak yang menolong keluarga kami saat ayahku dipenjara. Sejak dia ditahan, kami kehilangan tambahan gaji yang didapatnya dari mengajar di sekolah Kristen. Sekolah itu berjanji tetap menjaga pekerjaan ayah sampai dia dibebaskan, tapi di lain pihak, kami tidak punya cukup uang untuk membeli kebutuhan hidup.

Ayahku adalah satu²nya orang di keluarga kami yang punya SIM, sehingga kami tak bisa menggunakan mobil kami. Ibuku harus berjalan jauh untuk pergi ke pasar, dan aku seringkali berjalan bersamanya untuk menolongnya mengangkut belanjaan. Kupikir perasaan malu lebih buruk daripada kebutuhan untuk hidup. Sewaktu berjalan ke pasar, aku merangkak di bawah kotak² makanan untuk memunguti makanan² busuk yang jatuh ke tanah. Ibuku harus menawar mati²an untuk bisa membeli sayuran layu yang tidak diminati siapapun. Dia mengatakan kami membeli sayuran ini untuk memberi makan ternak. Ibu harus terus menawar mati²an sampai sekarang karena ayahku telah dipenjara selama 13 kali – ini jauh lebih banyak daripada pemimpin Hamas mana pun. (Dia sedang berada di penjara saat aku menulis buku ini.)

Aku kira kenyataan bahwa tiada seorang pun yang membantu kami adalah karena mereka mengira keluarga kami punya banyak uang. Apalagi ayahku adalah pemimpin agama yang terkemuka dan pemimpin politik yang berpengaruh. Dan orang² mengira para sanak keluarga kami lainnya tentunya membantu kami. Tentu saja Allâh akan memenuhi kebutuhan kami. Tapi para paman tidak peduli akan kami. Allâh juga tak melakukan apapun. Karena itu ibuku mengurus ke tujuh anaknya seorang diri saja (adik laki kecil kami Mohammad baru saja lahir di tahun 1987).

Akhirnya ketika keadaan semakin mendesak, ibu berusaha meminjam uang pada teman ayahku – bukan agar dia bisa beli baju dan alat² kosmetik baru, tapi agar dia bisa menyediakan makanan setidaknya sehari sekali bagi anak²nya. Tapi orang ini tidak bersedia membantu ibu. Selain tidak mau membantu kami, dia memberitahu teman² Muslimnya bahwa ibu datang padanya mengemis uang.

“Dia kan menerima gaji dari Pemerintah Yordania,” begitu kata mereka, menghakimi ibuku. “Kenapa dia mengemis minta uang lagi? Apakah wanita ini mengambil kesempatan kala suaminya dipenjara untuk bisa jadi kaya?” Ibu tidak pernah minta tolong lagi.

“Mosab,” ibu berkata padaku suatu hari, “bagaimana jika aku membuat baklava dan makanan manis lainnya dan kau menjual makanan ini pada para pekerja di daerah industri?” Aku berkata aku akan senang melakukan apapun untuk menolong keluargaku. Maka setiap hari setelah sekolah, aku berganti pakaian, memenuhi nampan dengan penganan buatan ibu, dan pergi menjualnya sebanyak mungkin. Pertama-tama aku merasa malu, tapi akhirnya aku jadi berani dan mendatangi setiap pekerja dan memintanya untuk membeli dariku.

Di suatu hari di musim dingin, aku pergi seperti biasa menjual penganan. Tapi ketika aku tiba, tempat itu kosong. Tiada seorang pun yang harus bekerja di hari itu karena udara sangat dingin. Tanganku beku dan saat itu mulai turun hujan. Sambil mengangkat nampan sebagai payung di atas kepala, aku melihat sebuah mobil berisi beberapa orang datang dan parkir di pinggir jalan. Pengemudi mobil melihatku, membuka jendela, dan mengeluarkan kepalanya.
“Hey, nak, apa yang kau bawa?”
“Aku bawa baklava,” kataku sambil berjalan mendekati mobil.

Setelah melihat wajah orang itu, aku kaget karena orang itu ternyata pamanku Ibrahim. Teman²nya kaget sekali karena melihat kemenakan Ibrahim berjualan penganan di hari hujan yang dingin. Aku pun merasa malu karena mempermalukan pamanku. Aku tak tahu harus berkata apa, dan mereka pun membisu saja.

Pamanku membeli semua baklava, menyuruhku pulang dan berkata dia ingin bicara denganku setelah itu. Ketika kami tiba di rumah, dia sangat murka terhadap ibuku. Aku tidak tahu apa yang dikatakannya, tapi setelah dia pergi, ibu menangis. Keesokan harinya setelah sekolah, aku berganti pakaian dan berkata pada ibu bahwa aku siap untuk menjual penganan.
“Aku tak mau kau menjual baklava lagi,” katanya.
“Tapi aku semakin pandai menjual setiap hari! Aku pandai melakukan hal itu. Percayalah padaku.” Airmata bercucuran dari matanya. Dan aku tidak pernah boleh berjualan lagi.

Aku merasa marah. Aku tidak mengerti mengapa para tetangga dan keluarga kami tidak menolong kami. Selain itu, mereka berani menghakimi kami dalam usaha kami untuk menolong diri kami sendiri. Aku mengira alasan sebenarnya mereka tidak membantu kami adalah karena mereka takut jika pihak Israel mengira mereka menolong teroris. Tapi kami kan bukan teroris. Ayahku juga bukan teroris. Sedihnya, hal ini pun nantinya berubah pula.

Bab 6 – Kembalinya Seorang Pahlawan
1990


Ketika ayahku akhirnya kembali, keluarga kami seketika diperlakukan bagaikan keluarga kerajaan setelah tidak dipedulikan selama satu setengah  tahun. Sang pahlawan telah kembali. Aku tidak dianggap lagi sebagai kambing hitam, tapi sebagai pewaris kekuasaan. Saudara² lakiku dianggap sebagai para pangeran, saudara² perempuanku sebagai para putri raja, dan ibuku sebagai ratu. Tiada lagi yang berani menghakimi keluarga kami.

Ayahku mendapatkan kembali pekerjaannya di sekolah Kristen, selain juga menjabat imam di mesjid. Sekarang setelah tiba kembali di rumah, ayah berusaha membantu ibu mengurus rumah tangga sebanyak mungkin. Hal ini sangat meringankan bebas kami sebagai anak² yang membantu ibu. Kami sama sekali tidak kaya, tapi kami punya cukup uang untuk membeli makanan yang memadai dan kadangkala bahkan hadiah bagi pemenang permainan Bintang². Dan kami berlimpah dalam penghargaan dan penghormatan. Yang terbaik di atas segalanya, ayah sudah berada bersama kami lagi. Apa lagi yang kami butuhkan?

Semuanya dengan cepat kembali normal. Tentu saja normal di sini bermakna relatif. Kami tetap hidup di bawah kekuasaan Israel dan terjadi pembunuhan setiap hari di jalanan. Rumah kami tak jauh dari kuburan yang dijejali mayat² berdarah. Ayahku punya ingatan buruk akan penjara Israel di mana dia ditahan selama 18 bulan karena dituduh sebagai teroris. Daerah yang diduduki Israel sekarang semakin terperosok bagaikan hutan tak kenal hukum.

Satu²nya hukum yang dihormati Muslim adalah hukum Islam, ditetapkan dengan fatwa, atau aturan agama bagi masalah tertentu. Fatwa dibuat untuk membimbing Muslim sewaktu menerapkan Qur’an sebagai bimbingan hidup sehari-hari. Karena tiada badan pusat yang mengatur penetapan aturan, setiap syeikh mengeluarkan fatwa yang berbeda untuk masalah yang sama. Akibatnya, setiap orang hidup dengan aturan yang berbeda, sebagian lebih ketat dibandingkan yang lain.

Aku sedang bermain di dalam rumah bersama teman²ku di sore hari ketika kami mendengar suara² keras di luar. Membentak dan berkelahi bukanlah hal baru dalam dunia kami, tapi ketika kami keluar, kami lihat tetangga kami Abu Salim mengayunkan pisau besar. Dia sedang berusaha membunuh saudara sepupunya yang berusaha keras menghindari pisau berkilat tersebut. Seluruh tetangga berusaha mencegah Abu Salim, tapi orang ini tinggi besar. Dia adalah tukang jagal, dan dulu aku pernah melihatnya menjagal seekor sapi di halaman belakangnya, dan ini membuat seluruh tubuhnya berlumuran darah sapi yang kental dan merah. Aku jadi teringat apa yang dilakukannya terhadap binatang itu tatkala dia mengejar saudaranya.

“Ya,” kataku pada diri sendiri, “kami memang benar² hidup di tengah hutan.”
Tiada polisi yang bisa dipanggil, tiada pihak yang mengatur. Apa sih yang bisa kami lakukan selain menonton saja? Untungnya, saudara sepupu itu berlari cepat dan tidak kembali lagi.

Ketika ayahku kembali di malam hari, kami memberitahu dia apa yang terjadi. Ayahku hanya setinggi 170 cm dan tidak berotot besar. Tapi dia lalu mengunjungi rumah Abu Salim dan berkata, “Abu Salim, apa yang telah terjadi? Aku dengar ada pertengkaran ya hari ini?” Abu Salim lalu mengoceh tak hentinya tentang usahanya ingin membunuh saudara sepupunya.
“Kau tahu bahwa wilayah kita sedang diduduki sekarang,” kata ayahku, “dan kau tahu kita tak punya waktu untuk urusan omong kosong seperti ini. Kau menghadap dan minta maaf terhadap saudara sepupumu, dan dia pun harus minta maaf padamu. Aku tidak mau mendengar masalah seperti ini lagi.”

Sama seperti orang lain, Abu Salim menghormati ayahku. Dia percaya nasehatnya, bahkan dalam urusan seperti ini. Dia setuju untuk berdamai bersama saudaranya, dan dia lalu berkumpul bersama ayah dalam rapat dengan pria² lain di perumahan kami.

“Ini keadaan yang sekarang kita hadapi,” kata ayah perlahan. “Kita tidak punya pemerintahan di sini, dan semuanya kacau balau. Kita tidak bisa bertengkar satu sama lain, mencurahkan darah sesama kita. Kita bertengkar di jalanan, bertengkar di rumah kita, bertengkar dalam mesjid. Cukup sudah. Kita perlu duduk bersama setidaknya seminggu sekali dan mencoba memecahkan masalah seperti layaknya orang dewasa. Kita tidak punya polisi, dan kita tidak bisa membiarkan orang kita sendiri membunuh kelompok kita. Kita menghadapi masalah yang lebih besar. Aku ingin kalian semua bersatu. Aku ingin kalian saling tolong satu sama lain. Kita harus bersikap sebagai satu keluarga.”

Orang² setuju dengan usul ayahku. Mereka berkumpul bersama setiap malam Kamis untuk membicarakan masalah lokal dan membahas pertikaian diantara mereka.
Sebagai imam mesjid, sudah jadi tugas ayahku untuk memberi masyarakat harapan dan menolong mereka memecahkan masalah. Dia adalah wujud Pemerintahan yang terdekat yang bisa mereka miliki. Dia bagaikan seorang ayah bagi mereka. Tapi sekarang dia pun bicara dengan otoritas Hamas – dengan juga otoritas sebagai seorang Syeikh. Seorang Syeikh lebih berkuasa daripada sekedar imam dan lebih sebagai seorang jendral daripada seorang pemimpin agama.

Sejak ayahku pulang tiga bulan lalu, aku mencoba menghabiskan waktu dengannya sebanyak mungkin. Aku sekarang adalah presiden gerakan pelajar Islam di sekolah kami, dan aku ingin mengetahui semua tentang Islam dan belajar Qur’an. Di suatu malam Kamis, aku meminta ijin padanya untuk ikut rapat tetangga. Aku hampir jadi pria dewasa, kataku, dan aku ingin diperlakukan sebagai demikian.

“Tidak,” jawabnya, “kau tinggal di sini. Ini hanya untuk orang² dewasa saja. Aku akan beritahu kamu nanti apa yang terjadi.”
Aku kecewa, tapi mengerti akan keputusannya. Tiada kawanku yang boleh datang di rapat itu pula. Setidaknya aku akan tahu isi rapat setelah ayah kembali.

Maka dia pun pergi selama 2 jam. Ketika ibuku sedang sibuk menyiapkan ikan yang sedap untuk makan malam, seseorang mengetuk pintu belakang. Aku membuka pintu sedikit untuk melihat siapa yang mengetuk, dan kulihat Kapten Shai, orang yang sama yang dulu menangkap ayahku hampir dua tahun yang lalu.
Abuk mawjud?
“Tidak, dia tidak ada di sini.”
“Kalau begitu, buka pintu.”

Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan, maka kubuka pintu baginya. Kapten Shai bersikap sopan, sama seperti ketika dia pertama kali bertemu ayahku, tapi aku merasa dia tidak percaya padaku. Dia bertanya apakah dia boleh melihat-lihat, dan aku tahu bahwa aku tak punya pilihan selain mengijinkannya. Ketika dia mulai memeriksa setiap kamar, lemari, belakang pintu, aku berharap agar ayah tetap berada di rapat dan tidak pulang. Kami tidak punya ponsel di jaman itu, jadi aku tak dapat memperingatkannya. Tapi setelah aku berpikir lebih lanjut, aku menyadari bahwa punya ponsel pun tidak akan menolong. Ayah akhirnya akan pulang juga.

“Semua tetap diam,”
kata Kapten Shai pada kelompok prajurit yang berada di luar. Mereka semua berlindung di belakang semak² dan bangunan², menunggu ayahku. Sambil merasa putus asa, aku duduk di bawah meja dan mendengarkan. Tak lama kemudian terdengar suara keras, “Berhenti di tempat!” Lalu terdengar suara gerakan dan orang² berbicaras. Kami tahu ini bukan perkembangan yang baik. Apakah ayahku akan balik lagi ke penjara?

Beberapa menit kemudian ayah masuk rumah, menggelengkan kepalanya dan tersenyum minta maaf pada kami semua.
“Mereka ingin membawaku kembali,” katanya sambil mencium ibu dan lalu semua anak²nya satu per satu. “Aku tak tahu berapa lama aku akan pergi. Jangan nakal. Tiap orang saling bantu.”
Dia lalu mengenakan jaketnya dan pergi meninggalkan ikan gorengnya yang jadi dingin di atas piringnya.
Sekali lagi kami diperlakukan bagaikan orang buangan saja, bahkan juga oleh para tetangga kami yang ditolong ayah agar bisa selamat dari serangan sesama pihak atau dari pihak luar. Beberapa orang bertanya tentang ayahku dengan sikap khawatir, tapi sudah jelas bagiku bahwa mereka sebenarnya tidak peduli.

Meskipun kami tahu ayah berada di penjara Israel, tiada seorang pun yang memberitahu kami penjara yang mana. Selama tiga bulan kami mencari dia di tiap penjara, sampai akhirnya kami mendengar kabar bahwa dia dipenjara di fasilitas khusus di mana mereka menginterogasi orang² yang paling berbahaya. Kenapa kok begitu? Aku merasa heran. Hamas tidak pernah melakukan serangan teroris dan bahkan tidak bersenjata.

Begitu kami mengetahui di mana ayah ditahan, pejabat Israel mengijinkan kami menemuinya sekali sebulan untuk waktu 30 menit. Hanya dua orang yang boleh menemuinya setiap kali datang, sehingga kami bergiliran datang bersama ibu kami. Ketika pertama kali aku melihatnya, aku terkejut melihat dia membiarkan jenggotnya tumbuh, dan dia tampak lelah. Tapi kami senang sekali bertemu dengannya. Dia tidak pernah mengeluh. Dia hanya ingin tahu bagaimana keadaan kami, dan dia meminta kami menceritakan semua kisah detail kehidupan kami.

Sewaktu aku suatu kali datang menjenguknya, dia memberiku sekantung permen. Dia menjelaskan bahwa para narapidana diberi sebuah permen sehari. Dia tidak memakan permen bagiannya, tapi menyimpannya agar bisa diberikan pada kami. Kami simpan bungkus permen sampai di hari dia dibebaskan lagi.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba jua. Kami saat itu tidak menduga kedatangannya, dan dia tiba² saja muncul dari pintu, kami semua memeluknya erat², takut jikalau itu hanya mimpi saja. Kabar kedatagannya tersebar dengan cepat, dan selama enam jam berikutnya, orang² berdatangan memenuhi rumah kami. Begitu banyak yang datang sampai² gentong² air minum kami kering karena berusaha menyuguhi air minum bagi setiap tamu. Aku merasa bangga melihat bahwa orang² jelas sangat menghormati dan mengagumi ayahku, tapi di waktu yang sama aku pun marah. Kemanakah semua orang ini tatkala ayah berada di penjara?

Setelah semua orang pergi, ayah berkata padaku, “Aku tidak bekerja bagi orang² ini, bukan karena mengharap pujian dari mereka, atau berharap mereka nantinya akan mengurus diriku dan keluargaku. Aku bekerja bagi Allâh. Dan aku tahu kalian semua membayar harga yang mahal sama seperti diriku. Kau pun adalah budak Allâh, dan kau harus bersabar.”

Aku mengerti, tapi aku bertanya dalam hati apakah dia mengetahui dengan jelas seberapa besar penderitaan kami saat dia pergi.
Tatkala kami sedang bicara, terdengar ketukan lagi di pintu belakang. Prajurit² Israel menangkapnya lagi.

Bab 7 – Radikal
1990-1992

Di bulan Agustus 1990, ketika ayahku dipenjara untuk ketiga kalinya, Saddam Hussein menyerang Kuwait.
Orang² Palestina bagaikan gila karena kesenangan. Setiap orang berlarian ke jalanan, bersorak-sorai, dan mencoba melihat apakah ada misil yang turun bagaikan hujan ke Israel. Akhirnya saudara² Arab kami datang untuk menyelamatkan kami! Mereka akan menghajar keras Israel, tepat di jantungnya. Tak lama lagi kami akan merdeka!

Karena memperhitungkan kemungkinan terjadi serangan gas beracun seperti yang dilakukan Saddam terhadap 5.000 orang Kurdi di thaun 1988, maka Pemerintah Israel memberikan masker gas bagi setiap warga Israel. Tapi orang² Palestina hanya menerima satu masker gas untuk setiap rumah. Ibuku mendapat satu, tapi tujuh anak²nya tak punya perlindungan apapun. Maka kami mencoba bersikap kreatif dengan membuat masker sendiri. Kami juga membeli kain nylon dan menempelkannya di pintu² dan jendela² dengan plester. Tapi di pagi harinya, kelembaban udara menyebabkan semua plester terkelupas.

Kami terus menonton siaran TV Israel, dan kami bersorak setiap kali ada peringatan akan datangnya rudal² Iraq. Kami naik ke atas atap rumah untuk melihat rudal² Scud Iraq meledakkan Tel Aviv. Tapi kami tak melihat apapun.

Mungkin Al-Bireh bukanlah tempat yang tepat untuk melihat rudal, begitu pikirku. Aku lalu pergi ke rumah pamanku Daud di Al-Janiya, di mana kami bisa melihat jauh sampai ke Mediterania. Adik lakiku Sohayb ikut bersamaku. Dari atap rumah paman, kami melihat rudal yang pertama. Sebenarnya yang kami lihat hanyalah nyala api, tapi itu pun sudah menjadi pemandangan yang menakjubkan!

Ketika kami mendengar berita bahwa 40 rudal Scud mencapai Israel dan hanya 2 orang Israel yang terbunuh, kami sangat yakin bahwa Pemerintah Israel berdusta. Tapi ternyata kabar itu memang benar. Ketika Iraq berusaha membuat rudal meluncur dalam jangka panjang, maka rudal jadi kehilangan kekuatan dan akurasi tembakan.

Kami tetap tinggal di rumah paman Daud sampai tentara PBB mengusir Saddam Hussein balik ke Baghdad. Aku marah dan sangat kecewa.

“Mengapa perang ini selesai? Israel kan belum hancur? Ayahku juga masih berada di penjara Israel. Tentara Iraq masih harus terus melontarkan rudal!”
Ya, semua warga Palestina kecewa. Setelah berpuluh tahun tinggal di tanah yang diduduki, perang akhirnya dilakukan, rudal² dilontarkan ke Israel. Tapi meskipun begitu, tetap saja tak ada perubahan.

***********************

Setelah Perang Teluk I selesai, ayahku dibebaskan dari penjara. Ibuku mengatakan padanya bahwa dia ingin menjual mahar nikahnya untuk membeli sepetak tanah dan mendapat pinjaman untuk membangun rumah kami sendiri. Selama ini kami meminjam rumah saja, dan setiap kali ayah dipenjara, pemilik rumah berlaku curang dalam penagihan dan bersikap kasar terhadap ibu.

Ayahku terharu karena ibu rela menjual apa yang sangat berharga baginya, tapi dia juga khawatir tidak bisa terus membayar uang pinjaman karena dia bisa dipenjara lagi setiap saat. Meskipun begitu, mereka mengambil keputusan untuk membeli tanah dan membangun rumah di tahun 1992, dan di rumah inilah keluarga kami masih tinggal sampai hari ini di Betunia, dekat Ramallah. Saat itu aku berusia 14 tahun.

Kekerasan di Betunia tidaklah sehebat di Al-Bireh atau Ramallah. Aku mengunjungi mesjid dekat rumah kami yang baru dan ikut bergabung dalam jalsa, yakni kelompok yang menekankan penghafalan Qur’an dan mengajar kita prinsip² yang dianggap para pemimpin Islam akan mampu mendirikan negara Islam dunia.

Beberapa bulan setelah kami pindah, ayahku ditangkap lagi. Seringkali dia tidak didakwa dengan tuduhan tertentu. Karena kami sedang diduduki, hukum darurat mengijinkan Pemerintah Israel menangkap orang² yang dianggap terlibat dalam terorisme. Sebagai pemimpin rohani dan politik, ayahku jadi sasaran empuk.

Tampaknya ini jadi pola yang sama – dan meskipun kami dulu tidak menyadarinya, pola tangkap, lepaskan, dan tangkap lagi akan terus berlangsung selama bertahun-tahun, dan membuat jarak ayah dan keluarga kami semakin renggang. Di saat yang sama, Hamas juga jadi semakin ganas dan agresif karena anggota² muda Hamas menekan para ketua untuk melakukan lebih banyak penyerangan.

“Orang² Israel membunuhi anak² kita!” teriak mereka. “Kami melempar batu, dan mereka menembak kita dengan senapan. Kita sekarang sedang diduduki. PBB dan seluruh badan internasional, setiap orang merdeka di bumi mengakui hak kita untuk berperang. Allâh SAW sendiri mewajibkan kita untuk melakukan itu. Kenapa kita harus menunggu lagi?”

Pada umumnya, serangan² yang dilakukan selama ini dilakukan oleh pribadi² saja, dan tidak diorganisasi. Para pemimpin Hamas tidak punya kontrol atas anggotanya yang punya keinginan sendiri. Tujuan ayahku adalah kemerdekaan Islamiah, dan dia yakin bahwa dia wajib memerangi Israel untuk mendapatkan kemerdekaan. Tapi bagi para pemuda ini, berperang merupakan tujuan akhir mereka dan bukan untuk mengakhiri sesuatu.

Tepi Barat jadi sangat berbahaya, tapi terlebih lagi Gaza. Karena posisi geografisnya, pengaruh yang mendominasi Gaza adalah Persaudaraan Muslim (Muslim Brotherhood) fundamentalis di Mesir. Gaza adalah salah satu daerah terpadat di dunia – luas kamp penampungan ini tak lebih daripada 139 mil persegi dengan penghuni sebanyak lebih dari sejuta orang.

Para keluarga menggantungkan dokumen² pemilikan tanah dan kunci² rumah di tembok² mereka sebagai bukti bisa dan untuk mengingatkan tiap hari bahwa mereka dulu punya rumah dan pertanian yang bagus – ini adalah harta milik yang dirampas oleh pihak Israel setelah perang² terdahulu. Tempat ini merupakan tempat yang ideal untuk merekrut orang² baru. Para penduduk Gaza punya motivasai dan tekad besar. Mereka tidak hanya ditindas oleh orang² Israel saja, tapi juga oleh orang² Palestina – masyarakat mereka sendiri – yang memandang mereka sebagai warga kelas dua. Malah sebenarnya mereka dianggap sebagai pengganggu saja, karena kamp penampungan ini dibangun di tanah milik orang lain.

Kebanyakan para pemuda Hamas yang tak sabar berasal dari kamp² penampungan. Diantara mereka adalah Imad Akel. Imad adalah anak termuda dari tiga anak laki bersaudara. Imad sedang kuliah untuk jadi seorang farmasis ketika dia akhirnya merasa muak akan ketidakadilan dan merasa putus asa. Dia mengambil senjata dan menembak beberapa prajurit Israel, dan mengambil senjata mereka. Orang² lain lalu mengikuti perbuatannya, dan pengaruh Imad semakin besar. Sambil melakukan serangan sendiri tanpa perintah siapapun, Imad membentuk kelompok militer kecil dan pergi ke Tepi Barat, yang memiliki lebih banyak target serangan dan tempat lebih luas untuk bergerak. Aku tahu dari percakapan orang di kota itu bahwa Hamas sangat bangga akan dirinya, meskipun dia tidak punya kedudukan apapun dalam Hamas. Para pemimpin Hamas tidak mau kegiatannya bercampur dengan kegiatan Hamas. Karena itu mereka membentuk sayap militer bernama Brigade Ezzedem Al-Qassam yang diketuai oleh Imad. Tak lama kemudian dia menjadi orang Palestina yang paling dicari Israel.

Hamas sekarang bersenjata. Karena sekarang senapan² dengan cepat mengganti batu, tulisan grafiti, dan bom molotov, Israel menghadapi persoalan yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Jika dulu serangan PLO datang dari Yordania, Lebanon, dan Syria, sekarang serangan datang dari dalam daerah Israel sendiri.

Bab 8 – Mengipas Api
1992-1994

Di tanggal 13 Desember, 1992, lima anggota al-Qassam menculik polisi perbatasan Israel bernama Nissim Toledano dekat Tel Aviv. Mereka menuntut pihak Israel untuk melepaskan Syeikh Ahmed Yassin. Israel menolak. Dua hari kemudian, mayat Toledano ditemukan, dan Israel lalu melancarkan serangan keras terhadap Hamas. Dalam waktu sekejap, lebih dari 1.600 orang Palestina ditangkap. Lalu Israel mengambil keputusan untuk diam² mendeportasi 415 pemimpin Hamas, Jihad Islam (Islamic Jihad), dan Persaudaraan Muslim. Diantara mereka adalah ayahku, yang sedang dipenjara, dan tiga pamanku.

Aku baru berusia 14 tahun saat itu, dan kami tidak tahu apa yang sedang terjadi. Sewaktu berita mulai tersebar, kami akhirnya bisa mengumpulkan keterangan dari sana sini untuk menduga bahwa ayahku kemungkinan dimasukkan ke dalam kelompok guru, pemimpin agama, insinyur, dan pekerja sosial yang diborgol, ditutup mata, dan dimasukkan ke dalam bus. Beberapa jam setelah kabar tersebar, para pengacara dan pejuang HAM mulai mengajukan petisi protes. Bus² dihentikan saat Pengadilan Tinggi Israel bertemu pada jam 5 pagi untuk membahas tantangan² hukum yang diajukan. Selama 14 jam perdebatan, ayahku dan tawanan lain yang bakal dideportasi tetap berada dalam bus. Borgol dan penutup mata tetap dipasang. Tiada makanan. Tiada air minum. Tiada waktu jeda untuk buang air. Akhirnya, pihak pengadilan mendukung keputusan Pemerintah, dan bus² lalu menuju ke utara. Kami nantinya mengetahui bahwa bus² ini dilajukan ke daerah tak bertuan di sebelah selatan Lebanon yang ditutupi salju. Saat itu adalah pertengahan musim dingin, dan para penumpang bus diturunkan di tempat itu tanpa tersedia tempat bernaung. Baik pihak Israel maupun Lebanon tidak memperkenankan badan² kemanusiaan mengirim makanan atau obat²an. Beirut tidak mau mengirim orang² yang sakit dan terluka ke rumah sakit.

Di tanggal 18 Desember, Konsul Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi 799, yang meminta orang² yang dideportasi “dikembalikan dengan segera dengan selamat.” Israel menolak. Kami selalu bisa mengunjungi ayah ketika dia dipenjara, tapi karena perbatasan Lebanon ditutup, kami tidak bisa menemuinya di pengasingan. Dua minggu kemudian, kami akhirnya melihat dia di layar TV untuk pertama kalinya sejak dia dideportasi. Rupanya, para anggota Hamas telah menjulukinya sebagai sekretaris jendral kamp itu, dan merupakan orang kedua setelah Abel Aziz al-Rantissi, ketua Hamas yang lain.

Setiap hari setelah itu, kami menonton berita sambil berharap melihat wajah ayah lagi. Kadangkala kami bisa melihat dia memakai pengeras suara tanduk kerbau untuk memberikan pidato pada orang² yang diasingkan itu. Ketika musim semi tiba, dia bisa mengirim pada kami surat dan foto² yang diambil para wartawan dan anggota organisasi kemanusiaan. Akhirnya orang² yang diasingkan bisa memiliki ponsel dan kami bicara dengan ayah selama beberapa menit setiap minggu.

Dalam usaha menggalang simpati bagi orang² yang diasingkan, pihak media mewawancarai anggota² keluarga mereka. Saudara perempuanku Tasnim membuat seluruh dunia menangis tatkala dia menjerit,Baba! Baba! (Ayah! Ayah!) di hadapan kamera. Entah kenapa, keluarga kami tampaknya jadi wakil tak resmi atas keluarga² lainnya. Kami diundang untuk menghadiri protes, termasuk demonstrasi di hadapan kantor Perdana Menteri Israel di Yerusalem. Ayahku berkata pada kami bahwa dia merasa sangat bangga, dan kami pun senang melihat banyak dukungan dari masyarakat dunia, bahkan orang² Israel yang menuntut perdamaian. Enam bulan kemudian, kami mendengar bahwa 101 orang yang diasingkan diperbolehkan untuk pulang. Seperti keluarga² lainnya, kami sangat berharap ayah ada diantara mereka.
Tapi ternyata dia tidak ada.

Keesokan harinya, kami menemui para pahlawan yang telah kembali dari Lebanon untuk menanyakan apakah ada kabar tentang ayah. Tapi yang hanya bisa mereka sampaikan adalah bahwa dia baik² saja dan akan segera pulang. Tiga bulan berlalu sebelum akhirnya pihak Israel bersedia mengirim semua yang tersisa pulang. Kami senang sekali mendengar hal itu.

Di hari yang telah dijanjikan, kami menunggu dengan tak sabar di penjara Ramallah di mana sisa orang² yang diasingkan akan dibebaskan. Sepuluh orang keluar. Dua puluh. Dia ternyata tidak ada diantara mereka. Orang terakhir lewat di hadapan kami, dan prajurit berkata hanya itu saja yang ada. Tiada sedikit pun tanda² kehadiran ayah dan tiada keterangan apapun tentang keberadaannya. Keluarga² lain menyambut orang yang mereka kasihi dengan penuh suka cita, sedangkan kami diam saja di tengah² malam hari tanpa mengetahui di manakah ayah berada. Kami pulang ke rumah dengan rasa kecewa, putus asa, dan khawatir. Mengapa dia tidak ada diantara mereka? Di manakah dia sekarang?

Keesokan harinya, pengacara ayah memberitahu bahwa ayah kami dan beberapa orang yang dideportasi lainnya telah kembali dipenjara. Rupanya, katanya, deportasi ini tidak menguntungkan pihak Israel. Sewaktu di pengasingan, ayah dan para pemimpin Palestina lainnya malah jadi berita internasional, mendapatkan simpati dunia karena mereka menganggap hukuman yang dijatuhkan berlebihan dan melanggar kemanusiaan. Di seluruh dunia Arab, orang² ini dipandang sebagai pahlawan, dan dengan begitu mereka jadi lebih penting dan berpengaruh.

Deportasi ini juga menimbulkan efek lain yang sangat jelek bagi Israel. Tawanan² menggunakan waktu mereka di pengasingan untuk membangun hubungan antara Hamas dan Hezbollah, organisasi Islam politik dan militer di Lebanon. Pertemuan ini menciptakan hubungan yang bersejarah. Ayah dan para pemimpin Hamas seringkali meninggalkan kamp agar tak terlihat oleh media untuk bertemu dengan para pemimpin Hezbollah dan Persaudaraan Muslim. Hal ini tidak bisa mereka lakukan di dalam daerah Palestina.

Ketika ayah dan orang² tersebut berada di Lebanon, anggota² Hamas yang paling radikal masih bebas dan mereka menjadi jauh lebih ganas daripada sebelumnya. Dan sewaktu anggota² baru radikal berkuasa untuk sementara dalam Hamas, kesenjangan antara Hamas dan PLO semakin lebar.

Di saat itu, Israel dan Yasser Arafat mengadakan negosiasi rahasia, yang menghasilkan Perjanjian Oslo (Oslo Accords) di tahun 1993. Di tanggal 9 September, Arafat menulis surat pada PM Israel Yitzhak Rabin di mana Arafat mengakui secara resmi “hak Negara Israel untuk berdiri dengan aman dan damai” dan menolak “penggunaan terorisme dan segala aksi kekerasan.”

Rabin lalu juga mengakui PLO secara resmi sebagai “perkawilan masyarakat Palestina,” dan Presiden Bill Clinton mencabut larangan pihak Amerika untuk menghubungi PLO. Di tanggal 13 September, dunia terheran-heran melihat foto Arafat dan Rabin berjabatan tangan di Gedung Putih. Pengumpulan pendapat menunjukkan bahwa sebagian besar rakyat Palestina di Tepi Barat dan Baza mendukung isi Perjanjian tersebut, yang juga dikenal sebagai Deklarasi Prinsip (Declaration of Principles = DOP). Dokumen perjanjian ini kemudian menciptakan Otoritas Palestina (Palestinian Authority = PA); yang meminta tentara Israel ditarik dari Gaza dan Yerikho; mengembalikan kekuasaan pada penghuni daerah itu; dan membuka pintu bagi Arafat dan juga bagi PLO dari pengasingan di Tunisia.

Tapi ayahku menentang DOP. Dia tidak percaya akan Israel atau PLO dan karenanya tidak percaya pada proses perdamaian tersebut. Pemimpin Hamas lainnya, jelasnya, punya alasan sendiri dalam menentang DOP, termasuk menduga perjanjian damai itu sebenarnya adalah tongkat pemukul. Hidup berdampingan secara damai dengan Israel berarti berakhirnya Hamas. Dari sudut pandang mereka, organisasi Hamas tidak bisa hidup dalam lingkungan damai. Kelompok² perlawanan lain juga terus saja melakukan kekerasan. Sungguh sukar mencapai perdamaian di mana terdapat begitu banyak tujuan dan minat yang berbeda.

Karena itu, penyerangan terus dilakukan:
○ Seorang pria Israel ditusuk sampai mati pada tanggal 24 September oleh feda’iyin Hamas di sebuah perkebunan di Basra.
○ Barisan Depan Populer bagi Pembebasan Palestina dan Jihad Islam mengatakan bertanggung jawab atas kematian dua orang Israel di gurun pasir Yudea dua minggu kemudian.
○ Dua minggu setelah itu, Hamas menembak mati dua prajurit IDF di luar daerah perumahan Yahudi di Gaza.
Tapi semua pembunuhan ini tidak jadi berita utama media seperti pembantaian Hamas di hari Jum’at, 25 Februari, 1994.

Sewaktu perayaan Yahudi Purim dan bulan suci Muslim Ramadan, seorang dokter Yahudi yang lahir di Amerika bernama Baruch Goldstein masuk Mesjid Al-Haram Al-Ibrahimi di Hebron. Menurut tradisi, Adam dan Hawa, Abraham dan Sarah, Ishak dan Rebeka, dan Yakub dan Lea dikuburkan di mesjid ini. Tanpa peringatan apapun, Goldstein menembaki orang², membunuh 25 orang Palestina yang datang untuk sholat dan melukai lebih dari 100 orang lainnya sebelum dia sendiri akhirnya dipukuli sampai mati oleh massa yang mengamuk.

Kami duduk dan menonton melalui layar TV satu persatu mayat berdarah dibawa dari tempat suci itu. Aku sangat amat terkejut. Semuanya terasa bergerak secara lamban. Di satu saat jantungku berdebar dengan kemarahan yang belum pernah kurasakan sebelumnya, kemarahan yang mengejutkan dan lalu menenangkan diriku. Di menit kemudian, aku merasa beku karena rasa duka. Lalu aku tiba² marah lagi – dan lalu terasa beku lagi. Tapi aku tidak sendirian merasakan hal ini. Tampaknya emosi masyarakat Palestina juga bangkit dan tenggelam dalam ritme yang sureal, dan membuat kami merasa lelah.

Karena Goldstein memakai baju tentara militer Israel dan jumlah prajurit IDF di tempat itu lebih sedikit daripada biasanya, maka orang² Palestina yakin bahwa dia memang dikirim oleh Pemerintah di Yerusalem. Bagi kami, prajurit yang senang menarik pelatuk senjata atau warga sipil Yahudi sinting adalah sama saja dan tak ada bedanya. Hamas sekarang bicara dengan kemarahan meluap. Mereka ingin balas dendam atas pengkhianatan ini.

Pada tanggal 6 April, sebuah bom mobil meledakkan bus di Afula, menewaskan 8 dan melukai 44 orang. Hamas berkata ini adalah pembalasan dendam atas Hebron. Di hari yang sama, dua orang Israel ditembak mati dan empat lainnya terluka saat Hamas menyerang sebuah bus yang sedang berhenti di dekat Ashdod.

Seminggu kemudian, sejarah baru terjadi ketika untuk pertamakalinya Israel mengalami serangan bom bunuh diri pertama yang resmi. Di hari Rabu pagi, tanggal 13 April, 1994 – hari yang sama ayah akhirnya dibebaskan dari penjara setelah dideportasi ke Lebanon – seorang pemuda Palestina usia 21 tahun bernama Amar Salah Diab Amarna masuk ke stasiun bus Hadra yang terletak diantara Haifa dan Tel Aviv di Israel Tengah. Dia membawa tas penuh metal dan lebih dari dua kilogram bahan peledak aseton peroksaid yang dirakit sendiri. Pada jam 9:30, dia naik bus ke Tel Aviv. Sepuluh menit kemudian, sewaktu bus keluar dari stasiun, dia meletakkan tas di lantai dan meledakkannya.

Pecahan bom menembus para penumpang dalam bus, membunuh 6 orang dan melukai 30 orang. Bom pipa yang kedua meledak di tempat yang sama, saat para pekerja palang merah tiba. Ini merupakan “serangan kedua dari lima serangan” sebagai balas dendam bagi Hebron, demikian diumumkan dalam sebuah pamflet Hamas.

Aku merasa bangga atas Hamas dan menganggap serangan² ini sebagai kemenangan besar atas pendudukan Israel. Di usia 15 tahun, aku melihat segalanya dalam hitam dan putih saja. Ada pihak yang baik dan pihak yang jahat. Pihak yang jahat layak menerima segala musibah yang mereka alami. Aku melihat bagaimana besar kehancuran yang disebabkan oleh bom dua kilogram penuh dengan paku² dan kelereng² metal terhadap daging manusia. Kuharap pihak Israel menangkap pesan keras kami.
Mereka ternyata memang menangkap pesan dengan jelas.

Setiap kali terjadi pemboman bunuh diri, para sukarelawan Yahudi Ortodox yang dikenal sebagai ZAKA (Disaster Victim Identification = Pengenalan Korban Musibah) datang di tempat, mengenakan rompi kuning. Tugas mereka adalah mengumpulkan darah dan sisa² tubuh manusia – termasuk korban non-Yahudi dan pembom sendiri – dan semuanya lalu dibawa ke pusat forensik di Jaffa. Para ahli patologi di sana bertugas mengumpulkan data bagian² tubuh yang tersisa untuk mengetahui jati diri korban. Seringkali hanya test DNA saja yang bisa menghubungkan sisa tubuh seseorang dengan sisa tubuhnya yang lain.

Anggota keluarga korban yang belum menemukan keluarga mereka diantara yang terluka di rumah sakit-rumah sakit lokal akan dianjurkan untuk memeriksa di Jaffa, di mana akhirnya kebanyakan dari mereka jadi terkejut bercampur rasa duka yang besar.

Para ahli patologi seringkali menasehati para keluarga untuk tidak melihat sisa² tubuh korban. Mereka memberitahu bahwa sebaiknya pihak keluarga mengingat keluarga yang mereka cintai sebagaimana mereka utuh sewaktu masih hidup. Tapi kebanyakan dari keluarga tetap ingin menyentuh tubuh korban keluarga mereka, bahkan jika yang tersisa hanyalah sebuah tapak kaki saja.
Karena hukum Yahudi mewajibkan seluruh tubuh mayat dikubur di hari yang sama orang itu mati, mereka pertama mengubur sisa² tubuh yang berukuran besar. Bagian² tubuh yang kecil dikuburkan kemudian, setelah identifikasi DNA dilakukan, dan ini mengorek lagi luka yang telah diderita para anggota keluarga.

Meskipun Hadera adalah pembom bunuh diri resmi yang pertama, sebenarnya usahanya adalah usaha ketiga bom bunuh diri yang dilakukan, dan ini merupakan bagian dari fase uji coba yang dilakukan ahli bom Hamas bernama Yahya Ayyash dalam menyempurnakan hasil karyanya. Ayyash adalah mahasiswa teknik di Universitas Birzeit. Dia bukanlah Muslim radikal atau pejuang nasionalis. Dia marah hanya karena dia dulu pernah meminta ijin untuk melanjutkan studinya di negara lain, dan Pemerintah Israel menolak permintaannya. Karena itu dia lalu bikin bom² dan menjadi pahlawan bagi masyarakat Palestina dan menjadi orang yang paling dicari Israel.

Selain dua usaha bom bunuh diri yang gagal dan pemboman bunuh diri di tanggal 6 dan 13 April, Ayyah pada akhirnya bertanggungjawab atas kematian sedikitnya 39 orang dalam lima serangan bunuh diri berikutnya. Dia juga mengajar yang lain, seperti kawannya Hassan Salameh, untuk membuat bom.

******************

Selama Perang Teluk, Yasser Arafat mendukung serangan Saddam Hussein ke Kuwait, dan ini membuat dia dijauhi Amerika Serikat dan negara² Arab yang mendukung tentara sekutu melawan Iraq. Karena ini pulalah maka negara² itu mengalihkan dana bantuan keuangan dari PLO ke Hamas.

Meskipun begitu, Arafat tetap terpandang karena berhasil menciptakan Perjanjian Oslo. Setahun kemudian, dia, PM Israel Yitzhak Rabin, dan Menlu Israel Shimon Peres menerima Hadiah Perdamaian Nobel.
Perjanjian Oslo mewajibkan Arafat untuk mendirikan Pemerintahan Nasional Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Maka pada tanggal 1 Juli, 1994, dia berkunjung ke perbatasan Mesir yakni Rafah, dekat Gaza, dan lalu tinggal di sana.

“Kesatuan nasional,” katanya pada kumpulan massa yang merayakan dia kembali dari pengasingan, “adalah … perisai kita, perisai masyarakat kita. Kesatuan. Kesatuan. Kesatuan.” [3] Tapi daerah² Palestina sangatlah tidak bersatu.
[3] “Kembalinya Arafat: Kesatuan adalah Perisai Masyarakat Kita,” New York Times, 2 Juli, 1994, http://www.nytimes.com/1994/07/02/world … eople.html (diakses tanggal 23 November, 2009).

Hamas dan pendukungnya marah terhadap Arafat yang telah mengadakan pertemuan rahasia dengan Israel dan berjanji pada masyarakat Palestina bahwa mereka tidak perlu lagi berperang. Teman² kami masih berada di penjara² Israel. Kami tidak punya negara Palestina. Satu²nya otonomi yang kami miliki hanyalah kota Yerikho di Tepi Barat – kota kecil yang tak punya apapun – dan Gaza yang hanya sekedar kamp penampungan besar dan terlalu padat terletak dekat pantai.

Sekarang Arafat duduk bersama dengan orang² Israel di meja yang sama dan berjabatan tangan. “Bagaimana dengan darah orang² Palestina?” tanya kami pada satu sama lain. “Apakah dia menganggap darah itu murah sekali?”

Di lain pihak, sebagian orang Palestina beranggapan bahwa setidaknya PA menyerahkan Gaza dan Yerikho pada kami. Sedangkan apa yang dicapai Hamas selama ini bagi kami? Apakah Hamas berhasil membebaskan satu desa kecil Palestina saja?

Mungkin pemikiran mereka masuk akal. Tapi Hamas tidak percaya pada Arafat – terutama karena dia tidak keberatan akan Negara Palestina di dalam Israel dan bukannya merebut kembali seluruh daerah Palestina sebelum negara Israel berdiri.

“Kalian ingin kami berbuat apa?” tanya Arafat dan para juru bicaranya setiap kali mereka didesak. “Selama berpuluh tahun, kami memerangi Israel dan menyadari kami tidak akan bisa menang. Kami dibuang dari Yordania dan Lebanon dan terdampar di Tunisia yang jauhnya lebih dari 1.000 mil dari tempat asal. Masyarakat internasional juga menentang kami. Kami tak punya kekuatan. Uni Sovyet rubuh, dan membuat AS menjadi satu²nya negara adidaya, dan AS juga mendukung Israel. Kami diberi kesempatan untuk mendapatkan semua yang kami miliki sebelum terjadi Perang Enam Hari di 1967 dan untuk memerintah diri kami sendiri. Inilah kesempatan yang kami ambil.”

Beberapa bulan sebelum tiba di Gaza, Arafat mengunjungi Ramallah untuk pertama kalinya. Diantara lusinan para pemimpin agama, politik, dan bisnis, ayahku berdiri dalam barisan orang yang menyambut Arafat. Ketika pemimpin PLO itu tiba di hadapan Syeikh Hassan Yousef, dia mencium tangan ayahku, sebagai tanda bahwa dia mengakuinya sebagai pemimpin agama dan juga pemimpin politik.

Tahun berikutnya, ayahku dan para pemimpin Hamas sering bertemu dengan Arafat di kota Gaza dalam usaha rujuk dan menyatukan PA dan Hamas. Tapi pembicaraan gagal ketika Hamas akhirnya menolak untuk berpartisipasi dalam proses perdamaian. Perbedaan ideologi dan tujuan kami tidak dapat disatukan.

******************

Perubahan Hamas menjadi organisasi teroris sepenuhnya telah lengkap sudah. Banyak dari anggota mereka yang telah memanjat tangga Islam dan berada di puncak tangga. Para pemimpin politik moderat seperti ayahku tidak akan memberitahu para militan bahwa yang mereka lakukan salah. Para pemimpin itu tidak bisa mengatakan begitu; atas dasar apa perbuatan militan itu dianggap salah? Para militan itu didukung sepenuhnya oleh Qur’an.

Meskipun belum pernah membunuh orang secara langsung, ayahku setuju saja dengan serangan² yang dilakukan. Pihak Israel yang tak mampu menemukan dan menangkap militan² muda yang ganas, jadi mengarah pada sasaran empuk seperti ayahku. Kupikir mungkin mereka mengira karena ayah adalah pemimpin Hamas yang memerintahkan penyerangan² tersebut, keputusan memenjarakan ayah akan bisa menghentikan serangan. Tapi pihak Israel tidak pernah benar² berusaha untuk mencari tahu siapa dan apakah Hamas sebenarnya. Baru setelah bertahun-tahun penuh derita, akhirnya mereka bisa menyadari bahwa Hamas bukanlah organisasi biasa yang bertingkat dan punya aturan seperti organisasi yang umumnya dikenal orang. Hamas itu bagaikan hantu. Hamas adalah sebuah gagasan. Kau tidak dapat menghancurkan sebuah gagasan; kau hanya bisa membangkitkannya. Hamas itu bagaikan cacing pita yang jika dipotong kepalanya, maka kepala itu akan tumbuh jadi seekor cacing yang baru.

Masalahnya adalah tujuan dan cita² organisasi Hamas hanyalah ilusi belaka. Syria, Lebanon, Iraq, Yordania, dan Mesir telah  berkali-kali mencoba dan gagal untuk mendorong Israel tenggelam ke laut dan merubah tanah itu menjadi negara Palestina. Bahkan Saddam Hussein dan rudal² Scud-nya juga gagal. Agar jutaan pengungsi Palestina bisa mendapatkan kembali rumah, tanah pertanian, dan harta benda mereka yang hilang lebih dari 50 tahun yang lalu, Israel harus mau berganti tempat dengan mereka. Dan karena hal ini tidak akan pernah terjadi, maka Hamas itu bagaikan tokoh Sisyfus dalam mythologi Yunani – dia dikutuk selamanya untuk menggulirkan batu bundar besar pada bukit terjal yang menanjak, hanya untuk kemudian melihat batu itu menggelundung lagi ke bawah, dan tidak akan pernah mencapai puncak bukit.

Tokoh Sisyfus dalam dongeng Yunani.

Meskipun begitu, Muslim yang menyadari bahwa missi Hamas adalah sia² belaka tetap beriman bahwa Allâh suatu hari akan menghancurkan Israel, bahkan jika dia harus melakukannya melalui muzizat.

Bagi Israel, nasionalis PLO adalah masalah politik yang butuh solusi politik. Di lain pihak, Hamas adalah masalah Palestina yang diIslamisasikan, dan membuat itu jadi masalah agama. Dengan begitu, masalah ini hanya bisa dipecahkan melalui solusi agama, dan ini juga berarti masalah itu tidak akan pernah bisa dipecahkan karena kami beriman bahwa tanah itu milik Allâh. Titik. Pembicaraan selesai. Jadi bagi Hamas, masalah utama bukanlah kebijaksanaan politik Israel, melainkan keberadaan negara Israel itu sendiri.

Lalu bagaimana dengan ayahku? Apakah dia juga jadi seorang teroris? Di suatu sore, aku membaca berita utama di koran tentang bom bunuh diri (atau disebut sebagai “operasi syahid” oleh sebagian Hamas) yang membunuh banyak penduduk sipil, termasuk para wanita dan anak². Sungguh mustahil bagiku untuk menghubungkan kebaikan sifat ayahku dan kepemimpinannya dengan organisasi yang melakukan hal semacam itu. Aku menunjukkan artikel itu padanya dan bertanya pendapatnya akan perbuatan² membunuh seperti itu.
“Suatu kali,” jawabnya, “aku meninggalkan rumah dan diluar tampak sebuah serangga. Aku berpikir dua kali untuk membunuhnya atau tidak. Dan aku tak sanggup membunuhnya.” Jawaban tak langsung ini adalah caranya berkata bahwa dia secara pribadi tidak akan ikut dalam pembunuhan membabibuta seperti itu. Tapi warga sipil Israel bukanlah serangga.

Ayahku memang tidak merakit bom², mengikatkannya di tubuh pembom bunuh diri, dan menyeleksi target sasaran ledak. Bertahun-tahun kemudian aku mengenang jawaban ayahku ketika aku membaca kisah di Alkitab Perjanjian Baru tentang perajaman pemuda tak berdosa bernama Stefanus. Tertulis di situ bahwa, “Saulus berada di situ, memberi persetujuan Stefanus mati dibunuh” (Kisah Para Rasul 8:1).

Aku sangat mencintai ayahku, dan aku sangat mengagumi dirinya dan perjuangannya. Tapi bagi seorang pria yang tak tega untuk menyakiti serangga, dia tentunya menemukan cara untuk membenarkan tindakan meledakkan diri sendiri dengan tujuan membunuh orang lain menjadi serpihan daging, selama dia pribadi tidak membasahi tangannya dengan darah.
Pada saat itu, pandanganku terhadap ayah berubah menjadi lebih rumit.

Bersambung ke  Bab 9-12

Bab 1-4 ; Bab 5-8 ; Bab 13-16 ; Bab 17-20 ; Bab 21-24

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Son of Hamas (Putra Hamas). Bab 1-4

Bab 1 – Tertangkap
1996

Aku mengemudikan mobil Subaru putihku yang kecil di sudut jalan sempit yang menuju ke jalan bebas hambatan di luar kota Tepi Barat Ramallah. Dengan menginjak pedal rem perlahan, aku mendekati satu pos pemeriksaan yang terdapat di sepanjang jalanan ke dan dari Yerusalem.

“Matikan mesin! Hentikan mobil!” seseorang berteriak dalam bahasa Arab yang kurang baik.
Tanpa peringatan apapun, enam prajurit Israel meloncat keluar dari semak tempat persembunyian dan menghalangi mobilku, setiap orang membawa senapan otomatis, dan setiap senapan ditodongkan langsung pada kepalaku.

Rasa panik mencekik tenggorokanku. Aku hentikan mobil dan melempar kunci mobil ke luar jendela.
“Keluar! Keluar!”
Tanpa menunda lagi, salah seorang prajurit membuka pintu dan melemparkan aku ke tanah berdebu. Aku tidak sempat melindungi wajahku ketika pemukulan dilakukan. Tapi meskipun aku mencoba melindungi mukaku, sepatu² bot prajurit yang berat dengan cepat menemukan target lain: iga, ginjal, punggung, leher, kepala.

Dua dari mereka menyeretku dan memasukkanku ke dalam pos pemeriksaan, di mana aku dipaksa berlutut di belakang barikade yang terbuat dari semen. Tanganku diikat di belakang punggung dengan tali plastik tajam yang diikat terlalu erat. Seseorang lalu menutup mataku dan mendorongku masuk ke dalam sebuah jip dan jatuh ke lantai. Rasa takut bercampur marah kurasakan sewaktu aku bertanya-tanya kemanakah mereka akan membawaku dan berapa lama aku akan berada di sana. Aku hampir mencapai usia 18 tahun dan dua minggu lagi akan menjalani ujian akhir SMA. Apakah yang akan terjadi padaku?

Setelah perjalanan singkat, mobil Jeep itu berhenti. Seorang prajurit menarik diriku keluar dari bagian belakang Jeep dan membuka penutup mataku. Sambil memicingkan mata karena silau cahaya matahari, aku menyadari bahwa aku berada di Pusat Tentara Ofer. Tempat ini adalah pusat pertahanan militer Israel, dan Ofer merupakan fasilitas militer terbesar dan terketat di seluruh Tepi Barat.

Sewaktu kami berjalan ke bangunan utama, kami melewati beberapa tank bersenjata, yang ditutupi kanvas. Tank raksasa ini selalu membuatku ingin tahu setiap kali melihatnya dari luar daerah militer Israel. Tank² ini tampak seperti batu raksasa yang sangat besar.

Setelah berada di dalam gedung, kami bertemu dengan seorang dokter yang memeriksaku dengan cepat, untuk memastikan apakah aku mampu menanggulangi pemeriksaan keras. Tampaknya aku lulus karena dalam beberapa menit saja tanganku diikat dan mataku ditutup lagi, dan aku lalu didorong kembali masuk Jeep.

Tempatku berbaring kecil sekali, hanya cukup untuk kaki orang. Ketika aku berusaha menggerakkan badanku di tempat kecil itu, seorang prajurit kekar meletakkan sepatu botnya di pinggangku dan menekankan laras senjata M 16-nya pada dadaku. Uap bensin panas yang memenuhi bagian lantai Jeep menyesakkan tenggorokanku. Setiap kali aku berusaha menyesuaikan diri di tempat kecil tersebut, prajurit itu menekankan laras senjatanya lebih dalam ke dadaku.

Tanpa peringatan apapun, rasa sakit menusuk tajam di seluruh tubuhku dan membuat jari² kakiku mengejang kaku. Rasanya bagaikan sebuah roket meledakkan kepalaku. Pukulan di kepala ini datang dari bagian tempat duduk depan, dan aku lalu mengetahui bahwa salah satu prajurit tentunya telah menggunakan popor senapan untuk memukul kepalaku. Sebelum aku mampu melindungi diriku, dia memukulku lagi lebih keras di bagian mata. Aku mencoba menghindar dari jangkauannya tapi prajurit yang menggunakan tubuhku sebagai alas kakinya menarikku ke depan.

“Jangan bergerak atau aku tembak kamu!” bentaknya.
Tapi aku tidak bisa tak bergerak. Setiap kali temannya memukulku, tubuhku terhentak ke belakang dengan sendirinya.

Di bawah kain penutup, mataku mulai membengkak, dan mukaku terasa beku. Aku tidak merasa ada sirkulasi darah di bagian kakiku. Nafasku tersengal-sengal. Aku belum pernah mengalami rasa sakit sehebat itu. Tapi yang lebih buruk daripada rasa sakit adalah rasa takut berada di bawah kekuasaan orang² yang tak mengenal ampun dan tak manusiawi. Pikiranku melayang sewaktu aku berusaha mengerti motivasi para penyiksaku. Aku mengerti bahwa berperang dan membunuh karena rasa benci, amarah, balas dendam, dan bahkan karena terpaksa melakukannya. Tapi aku kan tidak melakukan apapun pada para prajurit ini. Aku bukanlah ancaman bagi mereka. Aku diikat, ditutup mata, dan tidak bersenjata. Apakah yang ada dalam diri mereka sehingga mereka begitu suka menyakitiku? Bahkan binatang yang paling sederhana sekalipun membunuh karena suatu alasan, dan bukan hanya karena kesenangan saja.

Aku memikirkan bagaimana perasaan ibuku jika dia mengetahui aku ditangkap. Karena ayahku sudah berada di penjara Israel, maka akulah satu²nya pria dalam keluargaku. Apakah aku akan dipenjara selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun seperti ayahku? Jika memang itu yang terjadi, apakah ibu kuat kehilangan aku pula? Aku mulai mengerti perasaan ayahku – khawatir akan keluarganya dan merasa sedih sekali membayangkan penderitaan keluarga yang mengkhawatirkan dirinya. Airmataku bergulir membayangkan wajah ibuku.

Aku juga berpikir apakah tahun² di SMA akan berlalu percuma begitu saja. Jika aku dipenjara di Israel, tentunya aku tidak akan bisa ikut ujian akhir SMA bulan depan. Pertanyaan dan jeritan berpacu dalam pikiranku kala pukulan² terus menerjang: Mengapa kau lakukan ini padaku? Apa yang telah aku lakukan padamu? Aku bukan seorang teroris! Aku hanyalah pemuda biasa saja. Mengapa kau memukuliku seperti ini?
Aku yakin aku pingsan berkali-kali, tapi setiap kali aku siuman, para prajurit masih berada di sana untuk kembali memukuliku. Aku tidak bisa menghindari serangan mereka. Yang dapat kulakukan hanyalah menjerit. Aku merasakan rasa mual dari tenggorakanku dan aku muntah².
Aku merasa sangat sedih sebelum akhirnya kehilangan kesadaran. Apakah ini akhir hidupku? Apakah aku akan mati sebelum hidupku benar² dimulai?

Bab 2 – Tangga Iman
1955-1977

Namaku adalah MOSAB HASSAN YOUSEF.
Aku adalah putra sulung dari Syeikh Hassan Yousef, yang merupakan satu dari tujuh pendiri organisasi Hamas. Aku lahir di desa Tepi Barat dekat Ramallah, dan aku adalah bagian dari keluarga² Islam yang paling relijius di Timur Tengah.

Kisahku dimulai dari kakekku, yakni Syeikh Yousef Dawood, yang merupakan pemimpin agama – atau imam – bagi desa Al-Janiya, yang terletak di bagian Israel yang disebut Alkitab sebagai Yudea dan Samaria. Aku sangat mencintai kakekku. Jenggotnya yang lembut dan putih menyentuh pipiku saat dia memelukku, dan aku bisa duduk berjam-jam mendengarkan suaranya yang lembut dalam melafalkan adhan – panggilan Muslim untuk sholat. Dan aku punya banyak kesempatan melakukan ini karena Muslim harus sholat lima kali sehari. Melafalkan adhan dan Qur’an tidaklah mudah, tapi jikalau kakekku melakukannya, suaranya sungguh mempesona.

Ketika aku masih kecil, sebagian pelafal adhan sangat menggangguku sehingga aku ingin menutup telinga. Tapi ayahku adalah adalah orang yang sabar, dan dia membawa pendengar untuk larut memahami makna adhan sewaktu dia menyanyikannya. Dia percaya setiap kata yang diucapkannya.

Sekitar 400 orang hidup di Al-Janiya sewaktu berada di bawah kekuasaan Yordania dan pendudukan Israel. Tapi masyarakat dusun kecil ini tidak tertarik akan politik. Terletak di daerah lembah beberapa mil barat daya Ramallah, Al-Janiya adalah tempat yang damai dan indah. Sinar mentari pagi mewarnai semua bagian dengan warna jingga dan ungu. Udaranya segar dan bersih, dan dari puncak bukit kau bisa melihat seluruh pemandangan dengan jelas sampai ke Mediterania.

Setiap jam 4 pagi, kakekku bangun untuk pergi ke mesjid. Setelah dia selesai melakukan sholat subuh, dia akan membawa keledai kecilnya ke lahan taninya, mengolah tanah, mengurus pohon² zaitun, dan minum air segar dari mata air yang keluar dari gunung. Tiada polusi udara karena hanya seorang saja di Al-Janiya yang punya mobil.

Ketika dia berada di rumah, kakekku mempersilakan para tamu berdatangan. Dia itu lebih dari sekedar imam – dia adalah segalanya bagi masyarakat desa. Dia berdoa bagi setiap bayi yang baru lahir dan membisikkan adhan di telinga mereka. Ketika ada orang mati, kakekku akan memandikannya dan mengurapi tubuhnya dan membungkusnya dengan kain. Dia pula yang menikahkan masyarakat, dan menguburkan masyarakat.

Ayahku, Hassan, adalah putra yang paling disayangi kakek. Bahkan sejak kecil, meskipun bukan kewajibannya, ayah sering ikut kakekku ke mesjid. Tiada saudara²nya yang lain yang peduli akan Islam seperti ayahku.

Sambil duduk di sebelah ayahnya, Hassa belajar melafalkan adhan. Dan juga seperti ayahnya, dia pun memiliki suara dan ketertarikan yang membuat orang menjawab panggilannya. Kakekku sangat bangga akan ayahku. Ketika ayah masih berusia 12 tahun, kakek berkata, “Hassan, kau telah menunjukkan bahwa kau berminat akan Elohim dan Islam. Maka aku akan mengirimmu ke Yerusalem untuk belajar Syariah.” Syariah adalah hukum agama Islam yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, dari keluarga dan kesehatan sampai ke bidang politik dan ekonomi.

Hassan tidak mengerti dan tidak tertarik bidang politik dan ekonomi. Dia hanya ingin menjadi seperti ayahnya saja. Dia ingin membaca dan melafalkan Qur’an untuk melayani masyarakat. Tapi dia nantinya akan mengetahui bahwa ayahnya bukanlah sekedar imam dan pelayan masyarakat yang dicintai saja.

Karena nilai² budaya dan tradisi selalu lebih berharga bagi orang² Arab daripada aturan dan hukum Pemerintah, maka orang seperti kakekku jadi pemimpin hukum tertinggi dalam masyarakat. Hal ini terutama terjadi jika pemimpin² negara adalah orang² sekuler yang lemah dan korup, sehingga perkataan imam berpengaruh lebih dianggap sebagai hukum.

Ayahku tidak dikirim ke Yerusalem hanya untuk belajar agama Islam saja; kakek ternyata hendak mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang pemimpin. Selama beberapa tahun setelah itu, ayahku hidup dan tinggal di kota tua Yerusalem, di sebelah mesjid Al-Aqsa – yang berkubah emas dan menjadi ciri khas Yerusalem di mata penduduk dunia. Di usia 18 tahun, ayah menyelesaikan studinya dan pindah ke Ramallah, di mana dia langsung ditunjuk menjadi imam mesjid. Karena besarnya keinginan untuk melayani Allah dan umat Muslim, ayah memulai pelayanan masyarakat dengan penuh semangat, sama seperti yang dilakukan kakek di Al-Janiya.

Tapi Ramallah bukanlah Al-Janiya. Ramallah adalah kota yang ramai, sedangkan Al-Janiya adalah dusun kecil nan sepi. Sewaktu ayah pertama kali masuk mesjid di Ramallah, dia sangat terkejut karena hanya mendapatkan lima orang tua saja yang sedang menunggunya. Umat Muslim yang lain tampaknya lebih suka mengunjungi kedai kopi, bioskop film porno, mabuk²an, atau berjudi. Bahkan orang yang seharusnya menyuarakan adhan lebih memilih memasang rekaman suara saja agar permainan kartunya tidak terganggu.

Hati ayah hancur melihat keadaan orang² ini, meskipun dia tidak tahu bagaimana caranya menyentuh hati mereka. Bahkan lima orang tua di mesjid mengakui bahwa mereka berada di mesjid karena merasa ajal sudah dekat dan ingin masuk surga, tapi setidaknya mereka bersedia berada di mesjid untuk mendengarkan khotbah. Maka ayah memulai kerja dengan sedikit orang yang ada. Dia memimpin orang² ini untuk bersholat, dan mengajari mereka Qur’an. Dalam waktu singkat saja mereka mengasihi ayah bagaikan malaikat yang dikirim dari surga.

Tapi di luar mesjid sih, lain ceritanya. Bagi kebanyakan orang, rasa cinta ayahku pada tuhan Qur’an hanya menunjukkan dengan jelas sikap mereka yang acuh tak acuh pada Islam, dan ini membuat mereka tersinggung.
“Mengapa anak kecil ini melafalkan adhan?” gerutu orang² itu, sambil menunjuk pada wajah ayahku yang masih muda. “Dia tidak layak tinggal di sini. Dia hanya pengacau saja.”
“Mengapa sih anak kecil ini mempermalukan kita? Hanya orang tua saja yang mau pergi ke mesjid.”
“Aku lebih suka jadi anjing daripada jadi orang seperti kamu,”
bentak salah satu dari mereka ke wajah ayah.

Ayahku diam saja menghadapi penindasan ini, dan tidak pernah balas membentak atau membela diri. Tapi rasa cinta dan kasihnya pada masyarakat ini tidak membuatnya putus asa. Dan dia terus saja melakukan pekerjaan yang diberikan kepadanya: memanggil umat Muslim untuk kembali pada Islam dan Allâh.

Dia membagi kekhawatirannya pada kakekku, yang dengan cepat menyadari bahwa ayahku memiliki ketangguhan dan potensi yang lebih besar daripadanya yang diperkirakannya. Kakek lalu mengirim ayah melanjutkan studi Islam ke Yordania. Nantinya kalian akan mengetahui bahwa orang² yang ditemui ayah di sana akhirnya akan mengubah sejarah keluargaku dan bahkan sejarah konflik Timur Tengah. Tapi sebelum aku melanjutkan, aku ingin berhenti sejenak untuk menjelaskan beberapa hal penting dalam sejarah Islam yang akan membantu kalian untuk mengerti mengapa berbagai solusi diplomatik yang tak terhingga jumlahnya kandas semua dan perdamaian tetap tak kunjung terjadi.

Diantara tahun 1517 sampai 1923, Islam – diwakili oleh kekalifahan Ottoman – menyebar dari pusatnya di Turki ke tiga benua. Tapi setelah beberapa ratus tahun penuh kejayaan dan kekuasaan, kekalifahan Ottoman jadi terpusat dan korup, sehingga mulai lemah.

Di bawah kekuasaan Turki, desa² Muslim di seluruh Timur Tengah jadi korban penindasan dan pemerasan pajak yang tinggi. Istanbul terletak terlalu jauh bagi sang Kalifah untuk melindungi umat Muslim yang setia dari penindasan para prajurit dan penguasa lokal.

Di abad ke 20, banyak Muslim yang kehilangan iman dan mulai mencari jalan keluar lain. Banyak dari mereka yang jadi atheis karena pengaruh komunisme. Umat Muslim yang lain mengubur masalah mereka dengan minuman keras, judi, dan pornografi, yang kebanyakan diperkenalkan oleh orang² Barat yang datang ke Timur Tengah karena perkembangan industri mineral.

Di Kairo, Mesir, seorang guru sekolah yang taat Islam bernama Hassan al-Banna menangisi keadaan masyarakatnya yang miskin, tak punya pekerjaan, dan tak bertuhan. Tapi dia menyalahkan pihak Barat, dan bukan pihak Turki, dan dia yakin bahwa satu²nya harapan bagi masyarakatnya, terutama generasi muda, adalah kembali pada Islam yang asli dan murni.

Dia lalu pergi ke kedai kopi, naik di atas meja, dan mulai berkhotbah tentang Allâh. Orang² mabuk menghinanya. Para pemimpin agama Islam menentangnya. Tapi kebanyakan orang mencintainya karena dia memberikan harapan bagi mereka.

Di bulan Maret 1928, Hassan al-Banna mendirikan Masyarakat Persaudaraan Muslim (Society of the Muslim Brothers). Tujuan organisasi baru ini adalah untuk membangun kembali umat Muslim sesuai dengan aturan Islam. Dalam waktu satu dasawarsa, setiap propinsi di Mesir telah memiliki cabang organisasi. Saudara laki al-Banna mendirikan cabang lain di daerah Palestina di tahun 1935. Dua puluh tahun kemudian, organisasi Persaudaraan Muslim ini memiliki anggota sebanyak setengah juta orang di Kairo saja.

Anggota² Persaudaraan Muslim kebanyakan berasal dari kalangan miskin dan kelas rendah – tapi mereka sangat setia pada tujuan perjuangan. Mereka menyumbang uang dari kantong mereka sendiri untuk menolong sesama Muslim, sama seperti yang diperintahkan Qur’an.

Banyak orang Barat yang menyamaratakan semua Muslim sebagai teroris, tidak mengerti akan sisi Islam yang menyiratkan kasih dan pengampunan. Sisi ini peduli akan kaum miskin, para janda, dan anak yatim, juga menyediakan pendidikan dan bantuan sosial. Hal ini menyatukan dan menguatkan umat Muslim. Sisi Islam inilah yang jadi motivasi utama para pemimpin Persaudaraan Muslim awal. Tentu saja ada sisi lain Islam yang mengajak semua Muslim melakukan Jihad melawan seluruh dunia sampai umat Muslim berhasil mendirikan kekalifahan Islam atas seluruh dunia, dipimpin oleh seorang manusia suci yang berkuasa dan berbicara bagi Allâh. Hal ini penting untuk dimengerti dan diingat sebelum maju ke kisah selanjutnya. Sekarang balik dulu lagi ke pelajaran sejarah …

Di tahun 1948, Persaudaraan Muslim berusaha melakukan kudeta terhadap Pemerintah Mesir, karena Persaudaraan Muslim menganggap Pemerintah Mesir bertanggung jawab atas keadaan Mesir yang semakin sekuler. Usaha penggulingan kekuasaan ini terhenti sebelum berakibat apapun, karena berhentinya Mandat Pemerintah Inggris dan Israel memproklamasikan diri sebagai negara Yahudi yang berdaulat.

Umat Muslim di seluruh Timur Tengah sangat marah. Berdasarkan Qur’an, jikalau musuh menyerang negara Muslim manapun, semua Muslim harus bersatu untuk berperang membela tanah Muslim. Menurut sudut pandang dunia Arab, orang asing telah menyerang dan menguasai Palestina, tempat Mesjid Al-Aqsa, yang merupakan tempat Islam paling suci ketiga setelah Mekah dan Medinah. Mesjid itu dibangun di tempat yang diyakini sebagai tempat di mana Muhammad dan Jibril pergi ke surga dan berbicara dengan Abraham, Musa, dan Yesus.

Mesir, Lebanon, Syria, Yordania, dan Iraq seketika menyerang negara baru Yahudi. Diantara 10.000 pasukan Mesir terdapat ribuan sukarelawan Persaudaraan Muslim. Akan tetapi persekutuan Arab ini kalah perang. Kurang dari setahun kemudian, tentara Arab telah diusir keluar Palestina.

Sebagai akibat perang, sekitar 3/4 juta masyarakat Arab Palestina lari atau keluar dari rumah² mereka di daerah yang sekarang menjadi milik Negara Israel.

Meskipun PBB mengeluarkan Resolusi 194, yang menetapkan bahwa “para pengungsi yang ingin kembali ke rumah mereka dan hidup dama dengan para tetangga lainnya diijinkan untuk melakukan itu” dan “ganti rugi dibayarkan atas barang milik orang² yang memilih untuk tidak kembali,” anjuran ini ternyata tidak pernah dilaksanakan. Puluhan ribu orang² Palestina yang meninggalkan Israel sewaktu Perang Arab-Israel tidak pernah mendapatkan kembali rumah² dan tanah mereka. Banyak para pengungsi dan keturunannya yang hidup di kamp² pengungsian yang diatur oleh PBB hingga saat ini.

Ketika para anggota Persaudaraan Muslim yang sekarang bersenjata kembali dari medan perang ke Mesir, usaha penggulingan kekuasaan atas Pemerintah Mesir dilakukan lagi. Namun rencana kudeta ini bocor, dan Pemerintah Mesir lalu melarang organisasi Persaudaraan Muslim, menyita semua asetnya, dan memenjarakan banyak anggotanya. Mereka yang berhasil melarikan diri lalu membunuh Perdana Menteri Mesir beberapa minggu kemudian.

Hassan al-Banna dibunuh pada tanggal 12 Februari, 1949, diperkirakan oleh pasukan keamanan rahasia Pemerintah. Tapi organisasi Persaudaraan Muslim tidak jadi hancur. Dalam waktu 20 tahun saja, hassan al-Banna telah membangkitkan Islam dari tidurnya dan menciptakan revolusi Islam dengan pasukan bersenjatanya. Dalam beberapa tahun berikutnya, organisasi ini terus berhasil menambah anggota dan pengaruh diantara umat Muslim, tidak hanya di Mesir saja, tapi juga di Syria dan Yordania.

Saat ayahku tiba di Yordania di pertengahan tahun 1970-an untuk belajar Islam, Persaudaraan Muslim telah berdiri dengan kuat dan dicintai masyarakat Muslim. Anggota² Persaudaraan Muslim melakukan segala hal yang disetujui ayahku – memperkuat iman Islam diantara umat Muslim, menyembuhkan mereka yang terluka, dan mencoba menyelamatkan masyarakat dari pengaruh korup lingkungannya. Ayah yakin bahwa orang² ini adalah pembaru relijius Islam, sama seperti Martin Luther dan William Tyndale bagi umat Kristen. Mereka hanya ingin menyelamatkan dan memperbaiki nasib rakyat, dan bukan untuk membunuh dan menghancurkan. Ketika ayah bertemu dengan sebagian pemimpin awal Persaudaraan Muslim, dia berkata, “Ya, inilah yang aku cari.”
Apa yang ayahku lihat di saat² awal jaman itu adalah Islam yang mencerminkan kasih dan pengampunan. Apa yang tak dilihatnya, yang mungkin dia sendiri tidak mau lihat, adalah sisi lain dari Islam.

Islam itu bagaikan sebuah tangga. Bagian tangga paling bawah adalah sholat dan pujian bagi Allâh. Tangga yang berikutnya adalah menolong Muslim mikin dan membutuhkan bantuan, mendirikan sekolah², dan mengadakan zakat. Tangga yang paling atas adalah Jihad.

Tangga ini tinggi. Hanya segelintir orang saja yang mau melihat apa yang ada di tangga paling atas. Dan kesadaran akan hal itu hanya perlahan saja berlangsung, dan bahkan hampir tidak mungkin terjadi. Hal ini bagaikan kucing mengincar burung. Si burung tidak pernah mengalihkan pandangan mata dari kucing, tapi dia diam saja sambil terus mengamati kucing maju mundur mengambil ancang² untuk menerkamnya. Burung itu tidak bisa menghitung jarak, dan tidak menyadari bahwa si kucing semakin datang mendekatinya sedikit demi sedikit, sampai, dalam waktu sekejap mata saja, cakar kucing telah basah oleh darah burung.

Muslim² tradisional berdiri di atas tangga paling bawah, hidup dalam rasa bersalah karena tidak melakukan ibadah Islam dengan taat. Di tangga paling atas terdapat Muslim fundamentalis, dan mereka inilah yang kalian lihat di berbagai berita membunuhi para wanita dan anak² demi kemuliaan tuhan Qur’an. Muslim moderat itu terletak di antara bagian bawah dan atas tangga.

Seorang Muslim moderat sebenarnya lebih berbahaya daripada Muslim fundamentalis. Akan tetapi, karena orang ini tampaknya tak berbahaya, kalian tidak akan tahu kapan orang ini akan naik memanjat tangga yang teratas. Kebanyakan para pembom bunuh diri awalnya adalah Muslim moderat.

Saat di mana ayahku menginjakkan kaki pertama kali di tangga paling bawah, dia tidak bisa membayangkan berapa jauh dia akan meninggalkan angan² Islam idealnya tatkala terus menaiki tangga. Setelah 35 tahun kemudian, aku ingin bertanya padanya:

Apakah kau ingat di mana kau memulai? Kau melihat semua Muslim tersesat, dan hatimu hancur akan mereka, dan kau ingin mereka kembali pada Allâh dan diselamatkan. Sekarang lihat para pembom bunuh diri yang membunuhi orang² yang tak bersalah. Apakah ini sesuai dengan niat awalmu?

Tapi bicara seperti itu pada ayah sendiri tidaklah lumrah dilakukan dalam masyarakat kami. Karenanya, dia terus saja menjalani jalan berbahaya tersebut.

Bab 3 – Persaudaraan Muslim (Muslim Brotherhood)
1977 – 1987

Ketika ayahku kembali ke daerah yang diduduki Israel setelah menyelesaikan studi di Yordania, dia sangat bersikap optimis dan penuh harapan bagi umat Muslim di mana pun. Dalam benaknya dia melihat masa depan cerah melalui organisasi Persaudaraan Muslim yang tampaknya moderat.

Ayah datang bersama Ibrahim Abu Salem, salah satu pendiri Persaudaraan Muslim di Yordania. Abu Salem datang untuk membawa nafas baru bagi organisasi Persaudaraan Muslim yang mandeg di Palestina. Dia dan ayah bekerja sama dengan baik, merekrut anggota pemuda² yang memiliki impian sama dan menyusun mereka dalam kelompok² aktivis kecil.
Di tahun 1977, dengan uang sebanyak 50 dinar di saku, Hassan menikahi saudara perempuan Ibrahim Abu Salem yakni Sabha Abu Salem. Aku lahir setahun kemudian.

Ketika aku berusia 7 tahun, keluarga kami pindah ke Al-Bireh, kota kembar dari Ramallah, dan ayahku menjadi imam di kamp pengungsian Al-Amari, yang  terletak di daerah perbatasan Al-Bireh. Sembilan belas kamp pengungsian terdapat di Tepi Barat, dan Al-Amari telah didirikan sejak tahun 1949 dan luasnya adalah 22 acre (8.9 hektar). Di tahun 1957, tenda² terpal diganti dengan perumahan bertembok yang saling berderet. Jalanan hanyalah selebar besar mobil, dan selokan padat dengan kotoran seperti sungai jamban. Kamp ini juga terlalu padat penduduk; airnya terlalu kotor untuk bisa diminum. Sebuah pohon berdiri sendirian di tengah² kamp. Para pengungsi bergantung sepenuhnya pada PBB untuk segala keperluan – perumahan, makanan, pakaian, obat²an, dan pendidikan.

Ketika ayahku mengunjungi mesjid untuk pertama kali, dia merasa kecewa karena hanya melihat dua baris orang bersholat, dengan jumlah 20 orang setiap baris. Beberapa bulan setelah dia berkhotbah di kamp, orang² mulai memenuhi mesjid dan lalu berlimpah ruah sampai ke jalanan. Selain sangat bertakwa pada Allâh, ayahku juga sangat mengasihi umat Muslim. Sebagai balasan, umat Muslim pun sangat mengasihinya.

Hassan Yousef sangat disukai masyarakat karena dia sama seperti mereka. Dia tidak pernah menganggap dirinya lebih tinggi daripada orang lain yang dilayaninya. Dia hidup sama seperti mereka hidup, makan makanan yang sama yang mereka makan, sholat sama seperti mereka sholat. Dia tidak mengenakan pakaian mewah. Dia dapat sedikit gaji dari Pemerintah Yordania – tak cukup untuk memenuhi kebutuhannya – yang adalah menyediakan fasilitas dan perawatan tempat² ibadah. Hari libur resminya adalah Senin, tapi dia tidak pernah memanfaatkannya. Dia tidak bekerja karena ingin dapat gaji; dia bekerja untuk menyenangkan Allâh. Baginya, ini merupakan tugas sucinya, tujuan hidupnya.

Di bulan September 1987, ayahku mengambil pekerjaan kedua sebagai guru Islam bagi murid² Muslim yang sekolah di sekolah Kristen di Tepi Barat. Karena ini kami sekeluarga makin jarang melihatnya – ini tidak dilakukannya karena dia tidak mencintai kami, tapi karena dia memang lebih mencintai Allâh daripada keluarganya. Yang tak kami sadari adalah semakin dekatnya saat di mana kami tidak lagi melihatnya sama sekali.

Sewaktu ayahku bekerja di luar, ibuku membesarkan anak² sendirian. Dia mengajarkan kami bagaimana menjadi Muslim yang baik, membangunkan kami untuk melakukansholat subuh ketika kami sudah cukup besar dan menganjurkan kami untuk puasa di bulan Ramadan. Kami enam bersaudara – saudara² lakiku Sohayb, Seif, dan Oways; saudara perempuanku Sabila dan Tasnim; dan aku sendiri. Bahkan dengan dua gaji dari dua pekerjaan ayah, kami pun masih kekurangan uang untuk bayar berbagai keperluan. Ibuku berusaha keras berhemat sekuat tenaga.

Sabila dan Tasnim mulai membantu ibu sejak usia yang sangat muda. Manis, murni dan cantik jelita, saudara² perempuanku ini tidak pernah mengeluh, meskipun mainan² mereka berdebu karena mereka tak punya kesempatan bermain. Mainan mereka malah berubah jadi peralatan rumah tangga di dapur.

“Kau bekerja terlalu keras, Sabila,” kata ibu pada saudara perempuaku yang tertua.
“Berhenti bekerja dan beristirahatlah.” Tapi Sabila hanya tersenyum dan terus bekerja.

Saudara lakiku Sohayb dan aku belajar dengan cepat bagaimana membuat api dan menggunakan oven. Kami membagi tugas memasak dan mencuci piring, dan kami semua mengurus Oways yang masih bayi.
Permainan kesenangan kami adalah Bintang². Ibuku menulis nama² kami di sebuah kertas, dan setiap malam sebelum tidur, kami berkumpul dalam sebuah lingkaran agar ibu bisa menghadiahi kami dengan “bintang²” tergantung dari apa yang telah kami lakukan hari itu. Di akhir bulan, anak yang dapat bintang terbanyak adalah pemenang; dan biasanya anak itu adalah Sabila. Tentu saja kami tak punya uang untuk membeli hadiah betulan, tapi tak jadi masalah. Bintang² itu lebih merupakan cara kami mendapatkan penghargaan dan penghormatan dari ibu, dan kami selalu menunggu dengan penuh semangat untuk melakukan permainan ini.

Mesjid Ali terletak setengah mil saja dari rumah kami, dan aku merasa bangga bisa berjalan sendiri ke sana. Aku sangat ingin jadi seperti ayahku, sama seperti dia dulu ingin jadi seperti ayahnya.

Di seberang jalan Mesjid Ali terdapat sebuah kuburan terbesar yang pernah aku lihat. Ini adalah kuburan bagi masyarakat Ramallah, Al-Bireh, dan kamp² pengungsian. Luas kuburan ini lima kali lebih besar dari seluruh kompleks perumahan kami, dan dikelilingi tembok setinggi 2 kaki (0,6 meter). Lima kali  sehari, ketika adhan berkumandang, aku berjalan ke mesjid dan nantinya pulang dari mesjid, dan selalu harus melalui ribuan kuburan ini. Bagi anak kecil seusiaku, tempat ini sangat seram, terutama di malam hari yang gelap pekat. Aku membayangkan akar² pohon besar memakan mayat² kubur.

Suatu kali seorang imam memanggil kami untuk sholat Zuhr (siang hari), aku membersihkan diri, memakai wewangian, berbaju rapih seperti ayahku, dan berjalan ke mesjid. Hari itu adalah hari yang cerah. Sewaktu aku sudah dekat mesjid, aku melihat lebih banyak mobil diparkir di luar Mesjid daripada hari biasa. Sekelompok orang tampak berdiri di pintu masuk. Aku melepaskan sepatu seperti biasa dan masuk mesjid. Dekat pintu bagian dalam tampak sebuah mayat yang ditutupi dengan kain katun putih dalam kotak terbuka. Aku belum pernah melihat mayat sebelumnya, dan meskipun aku seharusnya tidak terus memandangnya, tapi aku tetap tak bisa mengalihkan mata. Mayat itu dibungkus kain, dan hanya wajahnya saja yang tampak. Aku mengamati bagian dadanya dengan sedikit harapan dia akan mulai bernafas lagi.

Sang Imam memanggil kami untuk berbaris dan sholat. Aku berdiri di baris paling depan dengan orang² lain, dan mataku tetap terpaku pada mayat dalam kotak tersebut. Ketika kami selesai melafalkan ayat, sang Imam meminta mayat dibawa ke muka untuk didoakan. Delapan pria mengangkat kotak di atas bahu mereka dan seseorang berteriak, “La ilaha illallah! (Tiada ilah selain Allâh)” Bagaikan sudah diatur, orang² lain lalu menyahut, “La ilaha illallah! La ilaha illallah!”

Aku mengenakan sepatuku secepatnya dan mengikuti rombongan orang pergi ke kuburan. Karena aku pendek, aku harus berlari untuk bisa mengimbangi langkah kaki orang² dewasa agar tidak ketinggalan. Sebelumnya aku belum pernah masuk kuburan, tapi kali ini memberanikah diri karena masuk bersama banyak orang.
“Jangan injak kuburan orang,” seseorang berteriak. “Itu dilarang!”
Aku dengan hati² menyusup diantara orang² banyak sampai kami tiba di liang kuburan yang dalam dan terbuka. Aku melihat dasar lubang kubur selebar 8 kaki (2,4 meter), di mana seorang tua sedang berdiri. Aku mendengar anak² tetangga bicara tentang orang ini, namanya adalah Juma’a. Mereka bilang dia tidak pernah datang ke mesjid dan tidak percaya tuhan Qur’an, tapi dia menguburkan orang mati, kadangkala dua atau tiga mayat per hari.

Apakah dia tidak takut kematian sama sekali? Aku bertanya-tanya.
Orang² menurunkan mayat ke tangan² kokoh Juma’a. Mereka lalu memberinya botol cologne dan cairan hijau yang berbau segar dan enak. Juma’a membuka kain kafan dan menaburkan cairan² wewangian itu di atas tubuh mayat.
Juma’a lalu memiringkan mayat sehingga berbaring di sebelah kanan tubuh mayat, menghadap Mekah, dan memagari sekujur tubuh mayat dengan bongkahan semen. Empat orang lalu menutup kubur dengan sekop, dan imam lalu mulai berkhotbah. Dia memulainya seperti ayahku.
“Orang ini telah pergi,” dia berkata, pada saat yang sama tanah jatuh menutupi wajah, leher, dan tangan mayat. “Dia meninggalkan segalanya – uang, rumah, anak perempuan dan laki, dan istrinya. Begitulah nasib bagi kita semua.”

Dia mengajak kami untuk bertobat dan berhenti berbuat dosa. Lalu dia mengatakan hal yang belum pernah kudengar dari ayahku: “Jiwa orang ini akan segera kembali padanya dan dua malaikat maut Munkar dan Nakir akan datang dari langit untuk memeriksanya. Mereka akan mencekal tubuhnya dan mengguncangnya, sambil bertanya, ‘Siapakah Elohimmu?’ Jika dia menjawab dengan salah, maka para malaikat ini akan memukulinya dengan palu besar dan mengirim dia kembali masuk ke dalam tanah selama 70 tahun. “Allâh, kami minta kau memberi kami jawaban² yang benar jika saat kematian kami tiba!”

Aku melotot melihat kuburan dengan rasa takut. Tubuh itu hampir terkubur semuanya, dan aku bertanya-tanya berapa lama lagi sebelum pertanyaan² diajukan baginya.
“Dan jika jawaban²nya tidak memuaskan, berat tanah di atas tubuhnya akan menghancurkan tulang² rusuknya. Cacing² akan memakan tubuhnya secara perlahan. Dia akan disiksa ular berkepala 99 dan kalajengking berukuran sebesar leher unta sampai hari kiamat, tatkala penderitaannya mungkin mendapat pengampunan Allâh.”

Aku sungguh tak bisa percaya semua ini terjadi di dekat rumahku setiap kali mereka mengubur seseorang. Aku tidak pernah merasa nyaman dengan kuburan ini; tapi sekarang aku malah merasa lebih takut lagi. Aku merasa harus mengingat pertanyaan² itu, sehingga jika nanti aku mati dan ditanyai malaikat maut, aku bisa menjawab dengan benar.

Sang imam berkata bahwa pertanyaan akan langsung diajukan setelah orang terakhir meninggalkan kuburan. Aku pulang ke rumah, tapi tidak bisa melupakan apa yang dikatakannya. Aku lalu ingin kembali ke kuburan untuk mendengarkan siksa kubur. Aku ajak beberapa teman untuk menemaniku, tapi mereka semua menganggap aku gila. Karena itu aku harus datang sendirian saja. Dalam perjalanan kembali ke kuburan, tubuhku gemetar oleh rasa takut. Aku sungguh tak dapat menguasai rasa takut itu. Tak lama kemudian aku tiba di lautan kuburan. Aku ingin berlari, tapi rasa ingin tahuku lebih besar. Aku ingin mendengar pertanyaan² diucapkan, jeritan² – atau apa sajalah. Tapi aku ternyata tak mendengar apapun. Aku berjalan mendekat sampai bisa menyentuh batu nisan. Hanya sunyi senyap saja. Sejam berlalu, dan aku jadi bosan dan kembali pulang ke rumah.

Ibuku sedang sibuk di dapur. Aku katakan padanya bahwa aku pergi ke penguburan di mana imam mengatakan akan terjadi penyiksaan.
“Lalu bagaimana…?”
“Lalu aku kembali setelah orang² meninggalkan mayat itu, tapi aku tidak mendengar apapun tuh.”
“Penyiksaan hanya bisa didengar oleh binatang² saja,” jawab ibu, “orang sih tak bisa mendengarnya.”
Bagi anak usia 8 tahun, penjelasan ini masuk akal.

Setelah saat itu, aku memperhatikan penguburan yang dilakukan di tempat itu. Lama kelamaan aku jadi terbiasa dan hanya melihat untuk mengetahui siapakah yang mati. Kemaren, seorang wanita. Hari ini, seorang pria. Suatu hari, mereka menguburkan dua orang, dan lalu sejam kemudian, mereka membawa mayat baru. Ketika tiada mayat yang harus dikubur, aku berjalan-jalan di antara kuburan dan membaca keterangan orang² yang dikubur di situ. Seseorang telah mati sejak 100 tahun yang lalu. Yang lain sejak 25 tahun yang lalu. Siapa ya namanya? Asalnya dari mana? Kuburan itu jadi tempat bermainku.

Sama seperti aku, para temanku juga awalnya takut akan kuburan tersebut. Tapi kami saling menantang siapa yang berani memanjat tembok kuburan di malam hari. Karena tiada seorang pun yang mau disebut pengecut, maka kami semua akhirnya bisa menguasai rasa takut kami. Kami bahkan lalu bermain sepak bola di tanah lapang kuburan tersebut.

*****************

Sewaktu keluarga kami bertambah besar, begitu pula yang terjadi dengan organisasi Persaudaraan Muslim. Dalam waktu singkat, organisasi yang tadinya beranggotakan orang² miskin dan para pengungsi, mulai berubah dengan mengikutseratakan anggota² pria dan wanita muda yang berpendidikan, orang² bisnis dan profesional yang menyumbangkan uang mereka untuk mendirikan berbagai sekolah, badan sosial, dan klinik kesehatan.

Melihat perkembangan ini, banyak pemuda dalam gerakan Islam, terutama di Gaza, yang menganggap Persaudaraan Muslim perlu menempatkan diri dalam menghadapi pendudukan Israel. Kami telah mengurus masyarakat, kata mereka, dan kami akan terus melakukan hal itu. Tapi apakah kami akan terus menerima pendudukan wilayah untuk selamanya? Bukankah Qur’an telah memerintahkan kita untuk mengusir para penyerang Yahudi? Para pemuda ini tidak bersenjata, tapi mereka tangguh dan penuh tekad perang.

Ayahku dan para pemimpin Tepi Barat lainnya tidak setuju. Mereka tidak siap untuk mengulangi kesalahan Mesir dan Syria, di mana Persaudaraan Muslim berusaha melakukan kudeta dan gagal. Di Yordania, kata mereka, para saudara kami tidak berperang. Mereka berpartisipasi dalam Pemilu dan punya pengaruh kuat dalam masyarakat. Ayahku tidak menentang kekerasan, tapi dia berpendapat masyarakatnya cukup kuat untuk melawan militer Israel.

Selama beberapa tahun, perdebatan dalam Persaudaraan Muslim terus berlangsung dan tekanan untuk melakukan kekerasan bertambah besar. Karena frustasi melihat Persaudaraan Muslim tidak juga melakukan apapun, Fathi Shaqaqi mendirikan Palestina Islamic Jihad di akhir tahun 1970-an. Meskipun begitu, Persaudaraan Muslim tetap tidak melakukan kekerasan sampai 10 tahun kemudian.

Di tahun 1986, pertemuan rahasia dan bersejarah terjadi di Hebron, sebelah selatan Bethlehem. Ayahku juga hadir dalam pertemuan ini, meskipun dia tidak memberitahuku sampai bertahun-tahun kemudian. Tidak seperti penjelasan sejarah sebelumnya yang kurang tepat, tujuh orang berikut hadir dalam pertemuan tersebut:

○ Syeikh Ahmed Yassin yang memakai kursi roda, dan jadi pemimpin rohani organisasi baru
○ Muhammad Jamal al-Natsheh dari Hebron
○ Jamal Mansour dari Nablus
○ Syeikh Hassan Yousef (ayahku)
○ Mahmud Muslih dari Ramallah
○ Jamil Hamami dari Yerusalem
○ Ayman Abu Taha dari Gaza

Orang² yang menghadiri pertemuan ini akhirnya sudah siap untuk perang. Mereka sepakat untuk memulai pemberontakan sipil kecil²an – melempari batu dan membakar ban. Tujuan mereka adalah untuk membangkitkan, menyatukan, dan mengumpulkan masyarakat Palestina dan membuat mereka mengerti perlunya independen di bawah bendera Allâh dan Islam. [1]
Hamas lahir dari pertemuan itu. Dan ayahku memanjat beberapa tangga lagi untuk lebih dekat ke puncak tangga Islam.

[1] Tiada seorang pun yang tahu akan hal ini sebelumnya. Tiada penjelasan sejarah yang benar² tepat tentang terbentuknya Hamas. Contoh, Wikipedia mengatakan “Hamas didirikan di tahun 1987 oleh Syeikh Akhmed Yassin, Abdel Aziz al-Rantissi, dan Mohammad Taha oleh cabang Persaudaraan Muslim cabang Palestina di awal Intifada pertama…”
Penjelasan ini benar tentang dua orang dari tujuh tokoh pendiri Hamas, dan meleset satu tahun. Lihat Wiki: Hamas (diakses tanggal 20 November, 2009).
Website MidEastWeb mengatakan, “Hamas dibentuk sekitar bulan Februari 1988 untuk mengijinkan Persaudaraan Muslim ikut serta dalam Intifada pertama. Para pendiri Hamas adalah: Ahmad Yassin, ‘Abd al-Fattah Dukhan, Muhammed Shama’, Ibrahim al-Yazuri, Issa al-Najjar, Salah Shehadeh (dari Bayt Hanun) dan ‘Abd al-Aziz Rantisi. Dr. Mahmud Zahari biasanya juga tercantum sebagai pendiri asli Hamas. Para pemimpin lainnya adalah: Syeikh Khalil Qawqa, Isa al-Ashar, Musa Abu Marzuq, Ibrahim Ghusha, Khalid Mish’al.” Keterangan ini malah lebih tidak tepat dibandingkan Wikipedia. Lihat Hamas History (diakses pada tanggal 20 November, 2009).

Bab 4 – Melempar Batu
1987-1989

Hamas membutuhkan suatu peristiwa – peristiwa apapun – yang bisa membenarkan tindakan perlawanan. Peristiwa ini terjadi di bulan Desember 1987, meskipun semuanya berawal dari salah pengertian tragis semata.

Di Gaza, seorang penjual plastik Israel bernama Shlomo Sakal ditusuk sampai mati. Beberapa hari kemudian, empat orang dari kamp pengungsi Jabalia di Gaza terbunuh dalam kecelakaan lalu lintas biasa. Tapi lalu tersebar kabar bahwa mereka dibunuh orang² Israel yang membalas dendam atas kematian Sakal. Keributan massal lalu terjadi di Jabalia. Seorang pemuda berusia 17 tahun melempar bom molotov dan ditembak mati oleh prajurit Israel. Di Gaza dan Tepi Barat, semua orang turun ke jalanan. Hamas memimpin gerakan ini, membakar kemarahan massa yang kemudian jadi cara berperang baru melawan Israel. Anak² melemparkan batu² pada tank² Israel, dan foto² mereka bermunculan di berbagai sampul depan majalah² internasional di minggu yang sama.

Intifada pertama telah terjadi, dan perjuangan rakyat Palestina menjadi berita dunia. Ketika intifada dimulai, kuburan tempat bermain kami jadi berubah total. Setiap hari, mayat berdatangan lebih sering dari semula. Kemarahan dan dendam bergandengan tangan bercampur rasa sedih. Orang² Palestina mulai melemparkan batu pada orang² Yahudi yang berkendaraan melalui kuburan untuk mencapai perumahan Israel yang jauhnya satu mil dari tempat itu. Para penduduk Israel yang bersenjata dibunuhi. Ketika Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defence Force = IDF) datang di tempat itu, terjadi lebih banyak lagi baku tembak, luka², dan kematian.

Rumah kami terletak di tengah² segala kekacauan. Seringkali gentong² penampungan air di atas rumah kami bocor tertembak peluru² Israel. Tubuh² tak bernyawa para feda’iyin atau pejuang kemerdekaan yang dibawa ke kuburan kami tidak lagi hanya orang² lanjut usia saja. Kadangkala mayat masih berlumuran darah dan belum dimandikan, tidak dibungkus kain kafan. Setiap orang yang mati syahid dikubur secepatnya agar mayatnya tidak dicuri, diambil organ² tubuhnya, dijejali kain untuk kemudian dikembalikan ke keluarganya.

Terjadi begitu banyak kekerasan sehingga aku jadi bosan jika suasana kadangkala tenang. Teman² dan aku juga mulai melemparkan batu² – untuk membuat kekacauan dan juga agar dihormati orang lain karena mau berjuang bersama. Kami bisa melihat perumahan Israel dari kuburan, yang terletak di puncak gunung, dikelilingi pagar tinggi dan menara² penjaga. Aku terkadang berpikir tentang 500 penduduk yang hidup di sana dan mengendarai mobil baru – banyak dari mereka yang bersenjata. Mereka membawa senapan otomatis dan tampaknya bisa bebas menembaki siapapun yang mereka arah. Bagi anak usia 10 tahun, mereka tampak seperti makhluk asing dari planet lain.

Di suatu sore sebelum sholat maghrib, aku dan beberapa temanku bersembunyi di jalanan dan menunggu. Kami ingin melempari bus karena bus berukuran besar dan lebih mudah dilempar. Kami tahu bus datang setiap hari dengan jadwal yang sama. Selagi kami menunggu, terdengar suara imam dari pengeras suara, “Hayya ‘alas-salah” (Bergegaslah bersholat).

Ketika kami akhirnya mendengar derungan mesin disel, masing² lalu mengambil dua buah batu. Meskipun kami bersembunyi dan tidak dapat melihat jalanan, kami sangat mengenal suara bus tersebut. Di waktu yang tepat, kami loncat dan melemparkan batu² itu. Suara benturan batu dengan metal meyakinkan kami bahwa setidaknya beberapa batu tepat mengenai sasaran.

Tapi yang lewat ternyata bukan bus, melainkan sebuah mobil militer besar penuh dengan serdadu Israel yang jengkel dan marah. Kami cepat bersembunyi di dalam selokan karena mobil itu berhenti. Kami tak bisa melihat para prajurit dan mereka pun tidak bisa melihat kami. Maka mereka lalu mulai menembaki udara. Mereka terus menembak tanpa sasaran selama dua menit, dan dengan merunduk kami berhasil melarikan diri ke mesjid yang tak jauh dari situ.

Sholat sudah dimulai, tapi kupikir tak ada yang dapat berkonsentrasi akan apa yang mereka lafalkan. Setiap orang mendengarkan tembakan senjata otomatis di luar dan bertanya-tanya apakah yang telah terjadi. Aku dan temanku menyelip masuk di baris paling belakang, dengan harapan tak ada seorang pun yang tahu. Tapi setelah imam selesai mengucapkan doa, semua mata marah tertuju pada kami.

Dalam waktu beberapa detik saja, kendaraan IDF terdengar direm kuat² di bagian depan mesjid. Para prajurit lalu masuk memenuhi ruangan, memaksa kami semua keluar dan memerintahkan kami berbaring dengan muka menghadap tanah dan mereka lalu memeriksa KTP kami. Aku adalah orang terakhir yang keluar dan merasa takut jangan² para prajurit tahu bahwa akulah yang bertanggungjawab atas masalah yang terjadi. Kupikir tentunya mereka akan memukuliku sampai mati. Tapi ternyata tak ada yang menaruh perhatian padaku. Mungkin mereka pikir anak kecil seperti aku tidak akan berani melempar batu pada kendaraan IDF. Apapun alasannya, aku merasa lega karena mereka tidak mengarah padaku. Interogasi berlangsung berjam-jam, dan aku tahu banyak orang yang merasa marah padaku. Mereka mungkin tak tahu persis apa yang kulakukan, tapi mereka tampak yakin bahwa akulah yang melakukan penyerangan. Aku tak peduli. Sebenarnya aku merasa girang. Aku dan teman²ku telah berani menentang pasukan Israel yang kuat dan berhasil selamat tanpa segores luka pun. Rasa kemenangan ini membuat kami ketagihan dan bertindak semakin berani.

Aku dan seorang temanku bersembunyi lagi di lain hari, kali ini dekat dengan jalan raya. Sebuah mobil datang, dan aku berdiri lalu melempar batu sekeras mungkin. Batu itu mengenai jendela mobil dengan suara sangat keras, tapi tidak menghancurkan jendela. Aku bisa melihat wajah pengemudi, dan aku tahu dia ketakutan. Dia terus menyetir mobilnya sampai sejauh 40 yard, menginjak rem, dan lalu berbalik menuju ke arahku.

Aku lari menuju kuburan. Dia mengikutiku tapi berada di luar sambil memegang senjata M16 dekat tembok dan mengawasi kuburan untuk mencari diriku. Temanku lari ke arah yang berlawanan, membiarkan aku sendirian menghadapi seorang penduduk Israel yang marah dan bersenjata.

Aku tiarap di tanah diantara kuburan orang², karena mengetahui pengemudi mobil itu menunggu sampai aku mendongakkan kepala. Akhirnya aku tak tahan lagi mengekang rasa tegang, sehingga aku lalu loncat dan lari secepat mungkin. Untungnya saat itu hari sudah mulai gelap dan tampaknya orang itu takut masuk ke dalam daerah kuburan.

Aku belum berlari jauh tatkala kakiku menginjak lubang kuburan kosong. Aku jatuh ke dalam kubur ternganga yang dipersiapkan bagi mayat baru. Apa yang harus kulakukan, pikirku. Di atasku, orang Israel itu menembaki kuburan dengan pelurunya. Serpihan batu berjatuhan masuk ke dalam lubang kubur.

Aku meringkuk di sana tanpa bisa berkutik. Setelah sekitar setengah jam kemudian, aku mendengar orang bicara, jadi aku tahu orang itu sudah pergi dan aku bisa keluar kubur dengan aman.

Dua hari kemudian, aku sedang berjalan di jalanan, dan mobil yang sama lewat di depanku. Kali ini ada dua orang di dalam mobil, tapi pengemudinya adalah orang yang sama. Dia mengenalku dan dengan cepat meloncat keluar dari mobil. Aku berusaha melarikan diri, tapi kali ini aku kurang beruntung. Dia berhasil menangkapku, menampar mukaku dengan keras, dan menarikku masuk ke dalam mobil. Tiada yang berkata sepatah kata pun ketika kami melaju ke perumahan Israel. Kedua orang itu tampak gelisah dan memegang erat² senjata mereka, sambil kadang² melihat diriku yang duduk di bagian belakang. Aku bukanlah seorang teroris; aku hanyalah anak kecil yang ketakutan. Tapi mereka berlaku seperti pemburu ulung yang berhasil menangkap macan besar.

Di pintu gerbang, seorang prajurit memeriksa SIM pengemudi dan mempersilakan dia masuk. Apakah prajurit itu tidak merasa heran melihat kedua orang ini bersama seorang anak kecil Palestina bersama mereka? Aku tahu seharusnya aku merasa takut – dan memang aku takut – tapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat lingkungan sekitarku. Aku belum pernah masuk ke daerah perumahan Israel. Bagus sekali keadaannya. Jalanan bersih, kolam renang, pemandangan lembah yang indah dari puncak gunung.

Pengemudi membawaku ke pusat IDF di daerah itu, di mana prajurit merampas sepatuku dan menyuruhku duduk di lantai. Kukira mereka akan menembakku dan membiarkan tubuhku di jalanan. Tapi ketika hari mulai gelap, mereka menyuruhku pulang.
“Tapi aku tidak tahu jalan pulang,” protesku.
“Cepat mulai berjalan, atau kutembak kau,” kata salah satu dari antara mereka.
“Mohon kembalikan sepatuku.”
“Tidak. Cepat berjalan. Lain kali kalau kau melempar batu lagi, aku akan bunuh kamu.”

Rumahku terletak satu mil jauhnya dari tempat itu. Aku berjalan kaki hanya dengan kaos kaki, sambil mengertakkan gigi saat batu tajam menusuk tapak kakiku. Ketika ibuku melihat aku datang, dia berlari di tepi jalan dan memelukku erat² sampai aku sesak nafas. Dia diberitahu bahwa aku diculik penduduk Israel, dan dia sangat khawatir mereka akan membunuhku. Dia berkali-kali menegurku karena bertindak bodoh, sambil menghujani ciuman pada kepalaku dan memelukku erat² dalam dadanya.

Orang mungkin mengira aku tentunya sudah jera, tapi aku adalah anak kecil yang bodoh. Aku tidak sabar menunggu memberitahu teman²ku yang pengecut tentang pengalaman kepahlawananku. Di tahun 1989, sudah sering terjadi pasukan Israel mengetuk pintu rumah² kami dan masuk ke dalam rumah. Mereka selalu mencari orang² yang melempar batu yang melarikan diri lewat halaman belakang. Para prajurit ini bersenjata lengkap, dan aku tidak mengerti mereka begitu terganggu hanya karena beberapa batu saja.

Karena Israel mengontrol daerah² perbatasan, sangat sukar bagi orang² Palestina untuk mendapatkan senjata di Intifada Pertama. Aku tidak ingin seorang Palestina pun yang memiliki senjata di saat itu – mereka hanya punya batu dan bom molotov. Meskipun begitu kami mendengar berbagai kisah bahwa IDF menembaki orang² tak bersenjata dan memukuli orang dengan pentungan. Laporan lain mengatakan sebanyak 30.000 anak² Palestina terluka parah sehingga memerlukan perawatan medis. Semua itu sungguh tak masuk akal bagiku.

Di suatu malam, ayahku pulang ke rumah sangat larut. Aku duduk di jendela, mengamati mobil kecilnya yang berbelok ke sudut jalan, perutku mengeluarkan suara karena rasa lapar. Meskipun ibu menyuruhku untuk makan dengan anak² yang lebih kecil, aku menolak, karena ingin menunggu sampai ayah pulang. Akhirnya aku mendengar suara mesin mobil tuanya dan berteriak bahwa ayah sudah pulang. Ibuku seketika menyajikan makanan² hangat dan mangkok² di meja makan.

“Maaf aku datang sangat lambat,” kata ayah. “Aku harus pergi ke luar kota untuk menyelesaikan pertikaian antara dua keluarga. Mengapa kau tidak makan?”
Dia lalu berganti baju dengan cepat, mencuci tangannya, dan duduk di ruang makan.
“Aku sangat lapar,” katanya sambil tersenyum. “Aku belum makan apapun sepanjang hari.” Hal ini memang sudah biasa karena dia tidak punya cukup uang untuk makan di luar. Aroma sedap masakan ibu zukini yang dipenuhi bumbu merebak ke seluruh ruangan.

Sewaktu kami duduk dan mulai makan, aku merasakan rasa bangga yang meluap atas ayahku. Aku bisa melihat kelelahan di wajahnya, tapi aku tahu dia sangat senang melakukan tugasnya. Rasa sayangnya terhadap masyarakatnya hanya bisa tersaingi oleh pelayanannya pada Allâh. Sewaktu aku melihat dia berbicara pada ibu dan saudara²ku, aku berpikir bahwa dia sangat berbeda dari kebanyakan pria Muslim. Dia tidak pernah berpikir dua kali untuk membantu ibuku di rumah atau mengurus kami anak²nya. Dia mencuci kaos kakinya sendiri setiap malam, agar ibuku tidak usah melakukannya. Hal ini tidak lumrah dalam masyarakat yang menganggap sudah jadi penghargaan bagi wanita untuk bisa membersihkan kaki lelaki setelah keluar sepanjang hari.

Saat kami bersama di meja makan, masing² anak bergilir menceritakan pada ayahku apa yang mereka pelajari di sekolah dan apa yang mereka lakukan. Karena aku adalah anak tertua, aku membiarkan adik²ku bicara terlebih dahulu. Tapi ketika giliranku tiba untuk bicara, terdengar suara ketukan di pintu belakang. Siapakah yang bertamu di malam selarut ini? Mungkin ada yang butuh pertolongan.

Aku lari ke pintu dan membuka jendela kecil di pintu untuk mengintip. Aku tidak mengenal orang itu.

“Abuk mawjud?” dia bertanya dalam bahasa Arab yang lancar, yang berarti, “Apakah ayahmu ada di rumah?” Dia berpakaian seperti orang Arab, tapi aku bisa merasakan ada yang janggal dari orang ini.
“Ya, dia ada di rumah,” kataku. “Biar kupanggil dia.” Aku tidak membuka pintu rumah.
Ayahku ternyata telah berdiri di belakangku. Dia membuka pintu dan beberapa prajurit Israel masuk ke dalam rumah kami. Ibuku cepat² mengenakan jilbabnya. Tak mengenakan penutup kepala di depan keluarga sendiri tidak jadi masalah, tapi tidak jika di hadapan orang² asing.

“Apakah kau Syeikh Hassan?” tanya orang asing itu.
“Ya,” jawab ayahku, “Akulah Syeikh Hassan.”
Orang itu memperkenalkan diri sebagai Kapten Shai dan menjabat tangan ayahku.
“Bagaimana kabarnya?” tanya prajurit itu dengan sopan. “Bagaimana keadaan sekitar? Kami dari IDF, dan kami ingin kau ikut dengan kami untuk lima menit saja.”

Apakah yang mereka inginkan dari ayahku? Aku memandang wajahnya untuk membaca ekspresinya. Dia tersenyum ramah pada orang itu, tanpa sedikit pun rasa curiga atau marah di matanya.
“Baiklah, aku akan pergi denganmu,” katanya sambil mengangguk pada ibuku dan berjalan menuju pintu.
“Tunggu di dalam rumah dan ayahmu akan segera kembali,” kata prajurit itu padaku. Aku mengikuti mereka keluar, memandangi sekitar untuk mencari apakah ada prajurit yang lain. Ternyata tidak ada. Aku duduk di tangga depan untuk menunggu ayahku kembali. Sepuluh menit berlalu. Satu jam. Dua jam. Ayah tetap tak kunjung datang.

Kami tak pernah melewatkan malam hari tanpa ayah sebelumnya. Meskipun dia sibuk terus-menerus, dia selalu pulang ke rumah di malam hari. Dia membangunkan kami di saat subuh untuk melakukan sholat setiap pagi, dan dia juga yang mengantar kami ke sekolah setiap hari. Apa yang kami lakukan jika dia tidak pulang malam hari itu?

Ketika aku kembali masuk, saudara perempuanku Tasnim sudah tertidur di sofa. Airmata masih nampak basah di pipinya. Ibuku mencoba menyibukkan diri di dapur, tapi setelah jam² berlalu, dia tampak semakin gelisah dan marah.

Keesokan harinya, kami pergi ke Palang Merah untuk mencari tahu ke mana ayah dibawa. Orang yang bertugas di sana mengatakan bahwa ayah sudah jelas ditangkap IDF tapi IDF tidak mau memberi keterangan apapun pada Palang Merah selama sedikitnya 18 hari.

Kami kembali pulang ke rumah sambil terus menghitung hari selama dua setengah minggu. Selama waktu menunggu, kami tidak mendengar apapun. Ketika 18 hari telah berlalu, aku mengunjungi Palang Merah lagi untuk mencari keterangan. Mereka mengatakan belum mendapat keterangan baru.

“Tapi kau mengatakan 18 hari!” kataku, sambil berusaha keras menahan airmata. “Katakan saja di mana ayahku berada.”
“Nak, pulanglah,” kata orang itu. “Kau bisa kembali minggu depan.”

Aku kembali lagi dan lagi selama 40 hari, dan aku mendapatkan jawaban yang selalu sama: “Tiada keterangan baru. Kembali minggu depan.” Ini sangat aneh. Biasanya keluarga² para tahanan Palestina tahu di mana anggota keluarga mereka ditahan dalam waktu dua minggu penahanan.

Ketika seorang tahanan dibebaskan, kami bertanya padanya apakah dia melihat ayahku. Mereka semua tahu dia telah ditahan, tapi mereka tak tahu keterangan lain apapun. Bahkan pengacaranya juga tidak tahu apapun karena dia dilarang menemuinya.

Kami kemudian mengetahui bahwa dia dibawa ke Maskobiyeh, pusat interogasi Israel, di mana dia disiksa dan ditanyai. Shin Bet, badan rahasia keamanan Israel, tahu bahwa ayah adalah tokoh utama Hamas dan mengira dia mengetahui semua yang terjadi dan sedang direncanakan. Mereka bertekad mencari tahu akan hal itu dari dirinya.

Bertahun-tahun kemudian ayah akhirnya memberitahu aku apa yang terjadi dengannya. Selama berhari-hari dia diborgol dan digantung di langit². Mereka menyetrumnya sampai dia pingsan. Mereka menempatkan dia dengan orang² yang bekerja bagi IDF, dengan harapan ayah akan bicara dengan mereka. Tapi setelah ini gagal, mereka lalu memukulinya lagi. Tapi ayah tetap kuat. Dia tetap diam saja, tidak menyerahkan informasi apapun pada Israel yang bisa mencelakakan Hamas atau masyarakat Palestina.

Bersambung ke Bab 5-8
Bab 1-4 Bab 9-12 ; Bab 13-16 ; Bab 17-20 ; Bab 21-24 ; Bab 25-Tamat

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Buku SON OF HAMAS (PUTRA HAMAS). Pendahuluan

Son of Hamas (Putra Hamas) adalah sebuah buku otobiografi seorang pemuda Palestina, Mosab Hassan Yousef, anak dari seorang pemimpin Organisasi Islam Hamas. Sebuah buku yang penuh dengan masalah politik, konflik antara bangsa Israel dan Arab-Palestina yang berakar pada agama, dan setelah ”putra Hamas” melewati jalan-jalan kehidupan yang keras dan menyakitkan, akhirnya ia menemukan kedamaian yang teguh dalam jiwanya, segera setelah ia keluar dari penjara, yang ia yakin bahwa apa yang ia telah temukan ini adalah juga jawaban bagi bangsanya – Arab Palestina yang selalu jauh dari ketenangan dan kedamaian lebih dari setengah abad lamanya.

Edisi Indonesianya ini adalah hasil kerja keras Saudara Adadeh. Naskah asli diambil dari Indonesia.FaithFreedom.org pada “Buku-buku Inggris yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.”

Wawancara video:  Mosab “Son Of Hamas – Now A Christian” by Risen Magazine

Di bawah ini terjemahan buku Son of Hamas. Selamat membaca,
Salam sejahtera, Penjala Baja.

———————

SON OF HAMAS (PUTRA HAMAS)

Oleh Mosab Hassan Yousef, dibantu oleh Ron Brackin

Kisah mencekam penuh teror, pengkhianatan, intrik politik, dan pilihan² yang tak terbayangkan.

Bagi yang tercinta ayahku dan keluargaku yang terluka
Bagi korban² perseteruan Palestina – Israel
Bagi setiap umat manusia yang telah diselamatkan oleh Elohimku

Wahai keluargaku, aku sangat bangga dengan kalian; hanya Elohimku saja yang mengetahui segala hal yang telah kalian alami. Aku menyadari bahwa apa yang telah kulakukan menyebabkan luka yang dalam yang mungkin tak akan bisa sembuh di masa hidup ini dan mungkin kalian harus hidup dengan rasa malu untuk selamanya.

Aku bisa saja jadi seorang pahlawan dan membuat masyarakatku bangga akan diriku. Aku tahu jenis pahlawan apa yang mereka inginkan: seorang pejuang yang membaktikan dirinya dan keluarganya bagi kepentingan negara. Jikalau aku terbunuh, maka mereka akan menyampaikan kisah diriku pada generasi mendatang dan mereka akan merasa bangga terhadap diriku untuk selamanya, tapi pada kenyataannya aku bukanlah pahlawan yang mereka harapkan.

Sebaliknya, aku telah jadi pengkhianat di mata bangsaku. Meskipun dulu aku pernah membuat kalian bangga akan diriku, sekarang aku hanya membawa malu saja. Meskipun dulu aku adalah seorang pangeran bagimu, sekarang aku adalah orang asing di negeri orang yang melawan kesepian dan kegelapan.

Aku tahu kalian memandang aku sebagai seorang pengkhianat; tapi mohon untuk mengerti bahwa aku tidak bermaksud berkhianat pada kalian, tapi aku berkhianat pada angan² kalian akan sosok seorang pahlawan. Ketika negara² Timur Tengah – Yahudi dan Arab – mulai mengerti apa yang kumengerti, maka akan timbul perdamaian. Dan jika Elohimku telah ditolak karena menyelamatkan seluruh dunia dari hukuman neraka, maka aku tidak keberatan ditolak!

Aku tak tahu apa yang akan terjadi di masa datang, tapi aku tahu aku tidak merasa takut. Sekarang aku berikan apa yang menolong diriku untuk bisa selamat sampai sekarang: semua rasa bersalah dan rasa malu yang kutanggung selama bertahun-tahun hanyalah bayaran yang kecil saja jika semua ini bisa menyelamatkan bahkan satu nyawa seorang manusia saja.

Berapa banyak orang yang bisa menghargai apa yang telah kulakukan? Tidak banyak. Tapi itu tak jadi masalah. Aku percaya apa yang kulakukan dan aku tetap yakin sampai sekarang, dan keyakinan ini menjadi bahan bakar satu²nya bagiku dalam perjalanan panjang ini. Setiap tetesan darah orang tak berdosa yang berhasil diselamatkan dari kematian memberi harapan bagiku untuk terus berjuang sampai hari akhir.

Aku telah bayar, kau pun telah bayar, tapi tagihan perang dan damai terus berdatangan. Elohim menyertai kita semua dan memberi apa yang kita butuhkan untuk menanggung beban berat ini.

Daftar Isi
Peta Israel dan Daerah yang Diduduki
Sepatah Kata dari Pengarang
Kata Pengantar
Bab 1 – Tertangkap
Bab 2 – Tangga Iman
Bab 3 – Muslim Brotherhood (Persaudaraan Muslim)
Bab 4 – Melempar Batu
Bab 5 – Menyelamatkan Diri
Bab 6 – Kembalinya Seorang Pahlawan
Bab 7 – Radikal
Bab 8 – Mengipas Api
Bab 9 – Senjata²
Bab 10 – Rumah Jagal
Bab 11 – Penawaran
Bab 12 – Nomer 823
Bab 13 – Jangan Percaya Siapapun
Bab 14 – Kekacauan di Penjara
Bab 15 – Jalan ke Damaskus
Bab 16 – Intifada Kedua
Bab 17 – Tugas Rahasia
Bab 18 – Orang yang Paling Dicari
Bab 19 – Sepatu²
Bab 20 – Duri
Bab 21 – Permainan
Bab 22 – Perisai Pertahanan
Bab 23 – Perlindungan Illahi
Bab 24 – Tahanan yang Dilindungi
Bab 25 – Saleh
Bab 26 – Pandangan (Sebuah Visi) bagi Hamas
Bab 27 – Selamat Tinggal
Bagian Akhir
Catatan Tambahan
Waktu Kejadian

———————

Sepatah Kata dari Penulis
Waktu adalah tahapan – bagaikan sebuah benang yang merentang diantara jarak kelahiran dan kematian.
Akan tetapi, kejadian² adalah bagaikan sebuah permadani Persia – ribuan benang kaya warna tersulam membentuk pola dan gambar. Usaha apapun yang mencoba menyusun kejadian² dalam sekedar urutan kronologi belaka adalah bagaikan menguraikan benang² permadani dan merentangkannya jadi satu baris. Benang itu jadi tampak sederhana, tapi hilang sudah semua desain permadani yang utuh.

Kejadian² dalam buku ini adalah hasil terbaik usahaku mengingat ulang, dimulai dari pengalamanku saat ditawan di daerah yang dikuasai Israel. Peristiwa² yang terjadi kemudian terjalin bersama secara berurutan dan berhubungan satu sama lain.

Untuk memberikan referensi dan penjelasan nama² dan istilah² Arab, aku mencantumkan urutan waktu singkat di bagian Apendix, juga kamus, dan daftar para tokoh pelaku.

Karena alasan keamanan, aku sengaja tidak mencantumkan keterangan terinci tentang berbagai operasi rahasia yang dilakukan oleh Badan Keamanan Israel, yakni Shin Bet. Keterangan di buku ini tidak akan membahayakan perang global yang tengah berlangsung melawan terorisme, di mana Israel memerankan peranan utama.

Akhirnya, buku Son of Hamas, sama seperti Timur Tengah, adalah kisah yang terus berlanjut. Aku undang kalian untuk berhubungan denganku di blog-ku yakni http://www.sonofhamas.com, di mana aku akan membagi pandangan²ku tentang perkembangan berbagai daerah. Aku juga akan mencantumkan apa yang Elohim lakukan dengan bukuku, keluargaku, dan bagaimana Dia membimbingku saat ini.
MHY.

Kata Pengantar
Perdamaian di Timur Tengah telah jadi tujuan suci bagi para diplomat, perdana menteri, dan presiden selama lebih dari lima dasawarsa. Setiap wajah baru di panggung dunia mengira dia akan jadi orang yang berhasil memecahkan konflik Arab-Israel. Dan satu per satu gagal total sama seperti orang² yang dahulu telah mencoba.

Faktanya adalah, hanya segelintir orang² Barat yang bisa mengerti kepelikan Timur Tengah dan masyarakatnya. Tapi aku mengenal mereka – melalui latar belakangku yang unik. Aku adalah putra daerah di mana konflik itu terjadi. Aku adalah putra Islam, dan anak dari seseorang yang dituduh sebagai seorang teroris. Aku juga pengikut Yeshua.

Sebelum usia 21 tahun, aku sudah melihat hal² yang seharusnya tidak dilihat seorang pun: kemiskinan terparah, penyalahgunaan kekuasaan, penyiksaan, dan kematian. Aku menyaksikan perjanjian² di belakang layar antara para pemimpin utama Timur Tengah yang menjadi berita utama di seluruh dunia. Aku dipercaya dalam kalangan atas Hamas, dan aku juga berpartisipasi melakukan Intifada. Aku ditahan di penjara Israel yang paling ditakuti. Dan nantinya kalian akan lihat, aku menentukan pilihan² yang membuatku tampak sebagai pengkhianat di mata masyarakat yang kucintai.

Perjalanan hidupku yang tak lumrah telah membawaku ke tempat² gelap dan memberiku jalan masuk untuk mengetahui rahasia² besar. Dalam halaman² buku ini, aku akhirnya mengemukakan rahasia² yang lama tersembunyi, mengutarakan kejadian² dan proses² yang dulunya hanya diketahui oleh segelintir orang saja.

Mengungkapkan fakta seperti ini tampaknya akan membangkitkan gelombang kejut di sebagian Timur Tengah, tapi aku berharap hal ini akan mendatangkan ketenteraman bagi para keluarga koraban konflik yang tak berkesudahan ini.

Setelah pindah dan hidup bersama masyarakat Amerika sekarang, aku mengetahui banyak dari mereka yang bertanya-tanya tentang konflik Arab-Israel, tapi hanya sedikit jawaban² dan informasi yang tersedia.

Ini contoh beberapa pertanyaan yang kudengar:
○ Kenapa sih mereka itu tidak bisa hidup rukun di Timur Tengah?
○ Siapa sih yang benar? Orang Israel atau orang Arab?
○ Yang punya tanah itu siapa sih sebenarnya? Mengapa orang² Palestina tidak pindah saja ke negara² Arab?
○ Mengapa Israel tidak menyerahkan kembali saja tanah dan harta milik yang mereka kuasai setelah menang di Perang Enam Hari di tahun 1967?
○ Mengapa masih banyak orang² Palestina yang hidup di kamp pengungsian? Kenapa mereka tidak bikin negara sendiri saja?
○ Mengapa sih orang² Palestina sangat membenci orang² Israel?
○ Bagaimana Israel melindungi diri mereka dari para pembom bunuh diri dan serangan roket yang terus-menerus?

Semua ini adalah pertanyaan² yang baik. Tapi tak ada satu pun yang menyentuh akar permasalahan. Konflik masa kini sebenarnya berkaitan dengan permusuhan antara Sarah dan Hagar yang dijabarkan di Kitab Kejadian di Alkitab. Akan tetapi, untuk mengetahui realita politik dan budaya Timur Tengah, kita hanya perlu melihat apa yang terjadi setelah Perang Dunia I.

Ketika PD I berakhir, daerah Palestina, yang merupakan tempat tinggal bangsa Palestina selama beratus-ratus tahun, jatuh ke tangan kekuasaan Inggris. Pemerintah Inggris menentukan ketetapan aneh bagi daerah itu, yang tercantum dalam Deklarasi Balfour di tahun 1917: “Pemerintah sang Paduka menetapkan Palestina sebagai negara tempat tiinggal masyarakat Yahudi.”

Karena terdorong keputusan Pemerintah Inggris tersebut, maka ratusan ribu imigran Yahudi, terutama dari Eropa Timur, datang membanjiri daerah² Palestina. Setelah itu, pertikaian antara orang² Arab dan Yahudi tidak terhindari lagi.

Israel menjadi negara berdaulat di tahun 1948. Akan tetapi, daerah Palestina tetap tak punya kedaulatan. Tanpa adanya hukum negara yang berkuasa mengatur, maka yang jadi hukum tertinggi adalah hukum agama. Dan jika setiap orang bebas mengartikan dan memaksakan hukum seenaknya, maka terjadilah kekacauan. Bagi dunia luar, konflik Timur Tengah tak lain adalah adu tarik tambang memperebutkan tanah sejengkal saja. Tapi masalah sebenarnya adalah tiada seorang pun yang mengetahui akar permasalahan. Karena itulah, para negosiator dari Camp David sampai Oslo dengan penuh percaya diri terus memlintir kaki dan tangan pasien yang menderita sakit jantung.

Harap mengerti bahwa aku tidak lebih cerdas daripada para pemikir besar dunia. Aku sama sekali tidak. Tapi aku percaya bahwa Elohim telah memberiku sudut pandang yang unik dengan cara meletakkan diriku di berbagai pihak yang tengah menghadapi konflik yang seakan tak terpecahkan. Hidupku terpecah-belah bagaikan tanah kecil di Timur Tengah yang dikenal dengan nama Israel bagi sebagian orang, atau dengan nama Palestina bagi orang lain, atau tanah terjajah bagi pihak lain lagi.

Tujuanku adalah untuk menjelaskan dengan benar kejadian² penting, mengungkapkan rahasia², dan jika semua berlangsung dengan baik, maka kau akan mempunyai harapan bahwa hal yang mustahil akan bisa terjadi.

Bersambung ke Bab 1-4

Bab 5-8 Bab 9-12 ; Bab 13-16 ; Bab 17-20 ; Bab 21-24

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Penjala Baja (Persiapkan Jalan Bagi Raja)

Kesaksian Mosab Hassan Yousef Son of Hamas

Ringkasan hidup Mosab sebagai anak dari seorang ayah yang adalah satu dari tujuh pendiri Organisasi Hamas.

Suatu hari setelah bebas dari sebuah penjara Israel, Mosab berjalan  melewati Gerbang Damaskus di Yerusalem. Seseorang –  tanpa mengetahui siapa dirinya – mengundang dia untuk sebuah pelajaran Alkitab. Penasaran, ia menghadirinya. Mereka belajar Perjanjian Baru, dan memberi dia sebuah Alkitab Perjanjian Baru untuk dirinya sendiri. ”Saya mulai membaca pada bagian permulaan Injil Matius, ketika saya sampai pada paragraf ”Kotbah di bukit,” saya berpikir, Wow, Yeshua ini sungguh mengagumkan! Segala sesuatu yang Ia katakan adalah indah!  Saya tidak bisa berhenti membacanya. Setiap ayat nampak menjamah luka-luka dalam yang ada di dalam kehidupanku. Itu adalah suatu pesan yang sangat  sederhana, tetapi memiliki kuasa untuk menyembuhkan jiwaku dan memberi saya pengharapan. Kemudian saya membaca ini: ”Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. (Matius 5:43-45) … Saya tersambar petir oleh kata-kata ini. Belum pernah sebelumnya saya mendengar sesuatu seperti ini, tetapi saya tahu bahwa ini adalah pesan yang saya telah cari-cari di dalam seluruh kehidupanku.”

Berikut ini adalah wawancara Joel Resenberg dengan Mosab Hassan Yousef penulis buku Son of Hamas di hari Senin Maret 2010, berbicara bagaimana Elohim Abraham, Ishak dan Yakob secara supernatural telah merubah Mosab dari seorang pemimpin Muslim yang radikal dari Organisasi terrorist Hamas menjadi pengikut lahir baru dari Yeshua Ha Mashiah dan seorang teman dari Israel dan masyarakat Palestina.

JOEL: Bagaimana kehidupanmu telah berubah sejak menjadi seorang Kristen lahir baru? Bagaimana sikapmu telah berubah terhadap Israel sejak perpindahanmu yang dramatis?

MOSAB: Hati nurani saya tidak sama lagi. Ini tidak berarti saya telah menjadi seorang yang sempurna tetapi sedikitnya ketika saya melakukan kesalahan saya tahu bagaimana membetulkannya dan  menghindari itu di hari depan. Hari ini saya bebas dari dosa karena saya putra Raja. Ketika pertama saya mengerti bagaimana agama tidak sempurna secara umum – dan di dalam Islam khususnya – dan mengijinkan diriku sendiri untuk menerima Mashiah sebagai Juruselamat pribadiku dan keluar dari kotak agama, tidak hanya Israel nampak berbeda untuk diriku, saya mulai melihat segala sesuatu berbeda.

Saya ingat suatu hari ketika berjalan di Yerusalem tepat setelah saya belajar Firman Elohim yang berkata ”beri kepada mereka yang meminta” [Yeshua berkata di Matius 5:42, Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.”]. Ada seorang Yahudi tampa rumah di wilayah Yahudi Yerusalem, dan saya menjawab panggilan YAHWEH untuk membagi sesuatu dari dompet saya kepadanya.  Kemudian saya duduk dan menangis karena saya mendapat kesempatan untuk mengerti kasih tampa batas Elohim kepada setiap orang.  Itu telah mengejutkan saya bahwa sebelumnya saya tidak merasa kasihan kepada seorang Yahudi yang tampa rumah. Kemudian secara bertahap – melalui anugerah dan belah kasihan Elohim, melalui tahun-tahun – semua manusia menjadi sederajat bagiku. Bangsaku melihat matahari setiap hari tetapi tidak pernah bertanya diri mereka sendiri mengapa matahari bersinar pada kedua sisi Yerusalem, timur dan barat. Hal yang termudah bagiku dahulu ialah membenci musuhku tetapi tantangan yang nyata ialah mengasihi mereka. Kemudian hari saya sadar musuh saya ialah  bukan manusia lagi – bukan orang Israel, bukan orang Palestina – tetapi dosa dan kegelapan di dalam kita.

JOEL: Apa yang dapat pengikut-pengikut Yeshua lakukan dalam bentuk nyata dan praktik untuk mengasihi orang-orang Palestina dan menjangkau mereka dengan Injil Yeshua Ha Mashiah?

MOSAB: Ini adalah pertanyaan yang luar biasa bagusnya, terima kasih.  Orang-orang Kristen memiliki sebuah tugas yang sangat besar  untuk mengasihi sesamanya dan musuhnya. Setiap orang Kristen perlu memikul salib ’berat’ ini [tanda petik dari saya, sebab Yeshua bilang itu sesungguhnya ringan, tentu melalui kuasaNya di dalam kita; Matius 11:29-30]. Mengasihi orang-orang Muslim dan Palestina adalah tanggung jawab kita. Dan tukas kita sebagai orang Kristen  menunjukkan kasih Elohim kepada Muslim adalah lebih penting dari para pemerintah, PBB dan komunitas dunia. Mereka semua ini tidak tahu bagaimana berurusahan dengan permasalahan Islam. Kita tahu sebagai orang Kristen bahwa konfik tersebut adalah rohaniah dan bersifat ideologi. Kamu tidak dapat membunuh sebuah idea. Kamu harus menggantikannya. Pemerintah dapat mengirim tentara-tentara menukar regim atau membunuh para terrorist, tetapi mereka tidak punya jenis senjata  yang kita miliki – KASIH dan PENGHARAPAN dan ANUGERAH.

Saat ini, saya perlu dari saudara-saudari Kristen saya untuk mengerti sensitifnya missi pengharapan, kasih dan pengampunan kita.  Tampa nilai-nilai ini manusia akan merusak sendiri setiap sesuatu yang indah. Bangga akan Elohim kita dan bawa Ia kepada para Muslim. Bagaimana mungkin orang-orang Kristen malu akan Elohim yang mengasihi dan mengampuni? Elohim kita mengirim sebuah berita pengharapan besar melalui pengalamanku dengan Elohim. Dia berkata kepada orang-orang Israel, bangsaku dan setiap orang yang terlibat dalam konflik Timur Tengah bahwa kasih dan pengampunan yang tanpa syarat melalui contoh dari Yeshua Ha Mashiah di dalam hidup kita adalah pengharapan satu-satunya untuk damai di Timur Tengah dan seluruh dunia – damai dengan Elohim, dengan diri senidiri dan damai dengan sesama.

Kasih bukanlah sebuah idea, itu adalah sebuah kenyataan. YAHWEH kita telah menunjukan kepada kita kasih-Nya melalui pencurahan darah-Nya yang tidak bercela. Kasih-Nya adalah sebuat kenyataan kita hidup di dalam kehidupan kita setiap hari. Kita tidak dapat jadi sempurna, tetapi jika kita menunjukkan kepada dunia sedikit saja kasih Yahweh kita, kita akan mampu merubah seluruh dunia hanya dalam beberapa tahun saja. Keluar dari gedung-gedung gereja kalian. Tunjukan manusia siapa kita di dalam Mashiah dan siap Elohim kita. Manusia terluka dan luka-lukanya mengeluarkan darah. Mari sembuhkan itu dengan obat kasih, yakni kasih Yeshua!

JOEl: Apakah kamu kuartir pada keamananmu dengan terbitnya buku [Son of Hamas] ini?  Dan bagaimana dapat kami berdoa untuk mu dan keluargamu dengan terbitnya bukumu?

MOSAB: Pribadi yang telah menyelamatkan hidupku di masa lalu mampu untuk menyelamatkan itu saat ini dan di masa depan juga. Kematian fisik tidaklah suatu hal yang terburuk dapat terjadi pada seorang manusia. Kematian rohani lebih bahaya lagi. Ini bukanlah waktu untuk menyerah. Tujuan kita adalah untuk menbebaskan orang-orang dan senjata kita adalah kasih. Mereka dapat membenci kita tetapi kita akan tetap mengasihi mereka. Mereka dapat menyiksa kita tetapi kita akan berdoa untuk mereka dan mereka akan menuduh kita tetapi kita terus mengampuni mereka semagaimana kita telah diampuni!

Tamat.

Catatan kaki dari pewawancara:
Sabagai bukit bagaimana Elohim telah merubah dia, Mosab telah membahayakan hidupnya untuk menyelamatkan orang-orang Yahudi Israel dengan cara menjadi mata-mata untuk agent rahasia Shin Bet Israel. Dia juga membahayakan hidupnya untuk menyelamatkan bangsanya sendiri (Palestina) di West Bank dan Gaza. Saat ini dia tidak hanya berkehendak tetapi juga bersemangat  membagikan Kabar Baik dari kasih, pengampunan dan kuasa perubahan Yeshua kepada setiap orang yang ia dapat, walaupun keluarganya menolak dia secara umum dan menyakitkan dan bahwa terrorist dapat saja memburu dia dan membunuhnya.

Lebih banyak saya belajar tentang Mosab, lebih lagi saya temukan diri saya berpikir tentang kata-kata Rasul Paulus. Sebagai Saul dari Tarsus, dia adalah seorang terrorits agama. Tetapi dia mendapatkan pertemuan supernatural dengan Yeshua Ha Mashiah dan dirubah kedalam seorang manusia yang penuh kasih, hikmat dan berperngaruh untuk Yahweh sebagai hasilnya.

Di suratan Efesus 2:8-15, Rasul Paulus – di inpirasikan oleh Roh Kudus – menulis:
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Elohim, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Elohim, diciptakan dalam Mashiah Yeshua untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Elohim sebelumnya.

Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu–sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya “sunat”, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, — bahwa waktu itu kamu tanpa Mashiah, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Elohim di dalam dunia.

Tetapi sekarang di dalam Mashiah Yeshua kamu, yang dahulu “jauh”, sudah menjadi “dekat” oleh darah Mashiah. Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,

Diterjemahkan dari: Exlusive – How did the son of Hamas come to Christ? Part Two.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja
  • Kalender

    • Oktober 2017
      M S S R K J S
      « Jul    
      1234567
      891011121314
      15161718192021
      22232425262728
      293031  
  • Cari