Pakistan: 5 Muslim menerima hukuman mati karena membunuh satu keluarga Kristen

“Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.  (Injil Yohanes 16:1-4, ITB)

Masyarakat Kristen Pakistan protes diskriminasi Muslim atas Kristen di Pakistan.jpg

Masyarakat Kristen Pakistan membela saudara mereka yang teraniaya

Pengadilan Pakistan telah memberikan hukuman mati kepada lima Muslim yang terbukti menyiksa dan sepasang suami-isteri Kristen atas tuduhan pembakaran Kuran, menurut Morning Star News.

Ratusan warga desa Kot Radha Kishan, Pakistan terlibat dalam serangan atas Shahzad Masih (26 tahun) dan istrinya yang sedang hamil lima bulan, Shama (24 tahun), keduanya dilemparkan ke pembakaran batu bata yang sedang menyala.

Penduduk desa dihasut oleh para pemimpin Muslim yang menyerukan kekerasan terhadap pasangan yang  dituduh  membakar Kuran.

Pengadilan Anti-Teroris Hakim Chaudhry Azam telah memberikan hukuman mati ke Irfan Shakoor, Muhammad Hanif, Mehdi Khan, Riaz Kamboh dan Hafiz Ishtiaq, awal minggu lalu (Minggu ke 46), berikut hukuman denda 200.000 rupi Pakistan atau 1.900 Dollar AS. Delapan orang lainnya menerima dua tahun hukuman penjara.

Jaksa Riaz Anjum, yang mewakili ayah dari perempuan meninggal, mengatakan kepada Morning Star News bahwa meskipun pada awalnya lebih dari 50 orang telah didakwa membunuh, kebanyakan dari mereka dibebaskan setelah anggota keluarga Shahzad Masih mengirim pernyataan menyangkal bahwa mereka hadir saat perisitiwa itu terjadi.

“Meskipun demikian, ini adalah berita menggembirakan untuk komunitas Kristen di Pakistan,” ujar Anjum. “Keluarga almarhum orang telah menderita banyak tekanan, meskipun negara telah menjadi keluhan dalam hal untuk menggagalkan upaya apapun untuk menekan keluarga korban untuk mencapai penyelesaian dengan dakwaan yang kuat.”

“Tapi hukuman atas lima orang oleh pengadilan tidak suatu usaha yang kecil, dan saya berharap vonis ini akan dilihat sebagai peringatan keras menentang kekerasan sejenis terhadap para minoritas di masa depan,” katanya.

Masih dan istrinya bekerja sebagai buruh terikat di tempat pembakaran batu bata. Pasangan bertahan hidup dengan empat anak mereka.

Banyak oran Kristen Pakistan hidup di dalam perbudakan sampai saat ini, upah yang mereka dapat terlalu kecil untuk kebutuhan hidup sehari-hari, sehingga anak mereka meneruskan pekerjaan yang sama untuk membayar hutang kepada tuan mereka. Dan jika mereka protes karena pekerjaan ekstra yang tidak dibayar atau tidak ingin bekerja pada hari Minggu karena ingin beribadah, maka tuannya dengan mudah menutup mulut mereka dengan tuduhan ”membakar Kuran” atau ”menghina nabi Muhammad.” Ini jenis tuduhan umum yang telah diketahui oleh banyak organisasi Hak-hak Asasi Manusia baik di dalam maupun di luar Pakistan, seperti: Voice of Martyrs, ChrsitianPakistan, OpenDoor. Dan masyarakat Muslim di banyak desa di Pakistan dengan mudah dimanfaatkan oleh pemimpin agama Islam untuk banyak tujuan.

Sumber berita: Five Muslims Sentenced to Death For Killing Christian Couple in Pakistan (CBN News; 27/11/2016)

Baca lebih lanjut

Henan, Cina: Istri pendeta meninggal setelah dikubur hidup-hidup saat penghancuran gereja

Organisasi Kristen China Aid, melaporkan tindakan pembunuhan oleh perusahaan dukungan pemerintah Henan atas pendeta dan istri dari sebuah gereja di Zhumadian, Profinsi Henan. Ding Cuimei istri pendeta di Henan meninggal dunia setelah di kubur hidup-hidup

Kamis 14 April 2016, pendeta Li Jiangong dan istrinya, Ding Cuimei, melangkap ke depan sebuah bulldozer untuk menghentikan peruntuhan gedung gereja mereka.

“Kuburkan mereka hidup-hidup bagi saya,” seorang anggota dari team penghancuran berkata. “Saya akan bertanggung jawab bagi hidup mereka.”

Lalu pengemudi bulldozer itu menggaruk  Li dan Ding kedalam lembah dan menutupi tubuh mereka dengan tanah. Video: Peristiwa penguburan hidup-hidup Ding Cuimei

Menjerit untuk pertolongan, Li berhasil mengeluarkan dirinya sendiri dari urukan tanah, namun Ding, istrinya meninggal dunia sebelum ia bisa dikeluarkan.

“Membulldozer dan mengubur hidup-hidup Ding Cuimei, seorang wanita yang pendiam dan Kristen yang taat, adalah sadis dan tindakan pembunuhan,” Presiden organisasi China Aid, Bob Fu berkata.

“Perkara ini adalah suatu pelanggaran hak-hak kehidupan yang serius, kebebasan beragama dan aturan hukum. Pihak berwenang Cina harus segera pertanggungjawaban pembunuh mereka dan mengambil langkah-langkah konkret untuk melindungi kebebasan beragama anggota gereja rumah ini.” Mr. Fu menambahkan.

Berkaitan dengan menyebarnya kejadian ini di media, anggota pemerintah telah menekan pendeta Li tidak membongkar lebih jelas kejadian tersebut. Sementara, pendeta Li menuntut pengadilan untuk meneliti motiv dan kondisi-kondisi dibelakang pembunuhan istrinya.

Organisasi yang sama melaporkan penganiayaan di Republik Rakyak Cina telah melonjak 150 persen setahun belakangan ini, dengan hampir tiga ribu (3.000) orang Kristen ditangkap dan hampir seribu tiga ratus (1.300) lainnya dalam kondisi tahanan.

Meskipun perlawanan dari pihak pemerintah RRC, orang-oran Kristen di Henan tetap maju di dalam iman mereka, sekaligus memberi inpirasi dan semangat pada yang lain untuk pantang mundur.

RRC adalah negara yang pemerintahannya dikontrol oleh partai Komunis. Menekan setiap agama lainnya yang ada di tanah Cina: Falon Gong, Kristen, Islam, Tibet-Buddha dan lainnya. Gereja-gereja Rumah di RRC tidak mencampuri urusan politik pemerintah di dalam ajaran mereka. Mereka hanya ingin bebas beribadah tanpa dikontrol oleh pihak Partai Komunis.

Cina Aid adalah organisasi Kristen yang memperjuangkan kebebasan beragama di negara RRC.

Sumber: Church leader’s wife dead after buried alive during church demolition

Baca lebih lanjut

Video Kesaksian Majed El Shafie, ex-Muslim Mesir, diselamatkan Yeshua

Majed El Shafie, mantan Muslim, bersaksiBanyak orang di Timur Tengah, yang bahasa Arab adalah bahasa ibu mereka, sedang mengalami pengalaman nyata kebenaran isi Alkitab, Yeshua menampakan diri-Nya dan melakukan mujizat-mujizat yang luar biasa. Pengalaman pribadi Majed El Shafie, seorang mahasiswa hukum lahir dan besar  di Mesir adalah suatu kesaksian bahwa Alkitab adalah Firman Elohim dan Yeshua adalah Elohim Yang Mahakuasa.

Tulisan kesaksian di bawah ini adalah kumpulan dari beberapa sumber.  Semoga menjadi berkat bagi setiap orang yang membaca dan menyaksikan video kesaksian ini.

Kesaksian: Mantan Muslim Merasakan Mukjizat Yesus
Sid Roth: Jesus Supernaturally rescues Moslem from Islamic Police! (Judul asli video kesaksian)
Rev. Majed El Shafie – Egyptian Ex-Muslim Torture spurs man to fight for religious freedom by MIKE MASLANIK

Tujuh hari siksaan yang sangat berat di penjara yang paling  ditakuti di seluruh Mesir tidak membuat iman kepada Yeshua dari Majed El Shafie gugur, sebaliknya siksaan berat tersebut memacu dirinya untuk menolong orang-orang Kristen yang teraniaya di seluruh dunia.  Majed saat ini adalah pendiri One Free World Ministires yang berpusat di Toronto, Kanada.

Kesaksian Majed di acara It’s Supernatural!, dengan text bahasa Indonesia. Video kesaksian Majed di CBN (English) disertai cuplikan kondisi saat ia dipenjara klik di sini.

Majed terlahir di sebuah  keluarga Muslim sangat terpandang di Kairo, ibukota Mesir. Bapanya dan saudara laki-lakinya adalah para penasehat hukum yang sukses dan pamanya bekerja sebagai Hakim  Mahkamah Agung, Majed sendiri adalah seorang yang mahasiswa hukum  sebelum ia pindah dari Islam dan menjadi seorang Kristen.

”Ketika kamu lahir kedalam  sebuah keluarga seperti ini, kamu memiliki banyak buku tentang hukum, keadilan dan kebebasan,” Majed mengawali kesaksiannya.
Pada tahun ketiga pada kuliah  ilmu hukumnya di Alexandria, Majed terkejut mengetahui adalnya hukum yang melarang pembangunan gedung-gedung gereja, namun mengijinkan membangun bar-bar dan diskotik-diskotik. Dan hukum itu juga melarang merenovasi bangunan-bangunan gereja kuno. Orang-orang Kristen diperlakukan  lebih buruk dari masyarakat-masyarakat kelas dua.
[Mesir, dan negara-negara Afrika Utara, adalah negra-negara mayoritas Kristen sebelum orang-orang Islam merebut negara tersebut dengan pedang].

Terpukul oleh ketidak toleransian yang tidak masuk akal tersebut, ia mulai mencurigai ajaran Islam dan bertanya kepada dirinya sendiri, ”Mengapa ada pengainayaan terhadap pengikut ajaran Kristianiti?” Sebagai seorang calon sarjana hukum, dan di besarkan dalam keluarga yang selalu berurusan dengan masalah hukum,  ia berkesimpulan: “Musuh mencoba untuk menutupi sesuatu, ada sesuatu yang disembunyikan.” Pencarian kepada keadilan dan kebenaran mulai berlangsung dalam jiwa mahasiswa hukum ini.

Majed menghubungi teman baiknya, Tamer, seorang Kristen, menanyakan pertanyaan yang sama, “Tamer, kenapa ada penganiayaan terhadap orang-orang Kristen?”

Teman takut hubungan persahabatan mereka menjadi terpecah karena pertanyaan tersebut, maka ia memberikan Alkitabnya, dan berkata, ”Pada kitab ini, kamu dapat menemukan jawaban-jawaban untuk setiap pertanyaan yang kamu miliki.”

Saat pertama kali Majed membuka Alkitab tersebut ia membaca Injil Yohanes pasal 8 cerita tentang bagaimana Yeshua menangani kasus seorang wanita yang tertangkap basah saat berzinah, ”Saya temukan bahwa Alkitab berisi tentang keadilan, kasih dan pengampunan, lebih dari sekedar tentang hukum.” ia berkata. ”Ini adalah pertaman kalinya saya melihat pengampunan sejati.” 

Sejak itu ia mulai membaca Alkitab bersamaan dengna Kuran untuk memperbandingkan keduanya. Hampir setahun kemudian, ia datang kepada Tamer dan berkata, ”Tamer, saya sekarang tahu apa itu Kristianiti. Kristianiti bukanlah suatu agama. Kristianiti bukanlah pergi ke gereja setiap minggu dan bernyanyi “Haleluya,” “terpujilah YAHWEH” dan begitu lagi sampai Minggu depan. Kristianiti adalah suatu hubungan intim bersama Elohim. Saya percaya dan mau menerima Yeshua ke dalam hatiku.”

Majed berpindah ke dalam keyakinan Kristianiti dan memulai mengorganisasi jemaat bawah tanah yang telah menarik 24.000 (dua puluh empat ribu) jemaat hanya di dalam dua tahun saja. Ini benar-benar gereja bawah tanah, sebab mereka mengadakan ibadah mereka di goa-goa dipinggiran kota Alexandria.
Sementara ia memimpin gereja bawah tanah tersebut, ia berdiri melawan dua Goliat; hukum pemerintah yang tidak adil dan ajaran Kuran, yang dipakai pemerintah untuk membenarkan menganiaya para Kristen melalui bukunya.

Tahun 1998, pagi-pagi sekali  lima tentara dan dua polisi mendobrak pintu rumahnya  dan membawanya ke kantor polisi untuk diinPenganiayaan terhadap orang Kristen di Mesirtrogasi, polisi mencoba mendapatkan dari Majed nama-nama orang Kristen yang berhubungan dengan dirinya. Majed menolak. Polisi mengancam: ”Jika kamu ingin bermain keras, kami dapat bermain keras!”

Dia segera digiring ke Penjara Abu Za’abel di Kairo, suatu tempat yang dikenal di Timur Tengah sebagai  ”Neraka di Bumi.” Dia dipenjara dengan tuduhan perkara membangkitkan revolusi, mencoba merubah agama Mesir dari Islam menjadi Kristianiti dan ”menyembah dan mengasihi Yeshua Ha Mashiah.”

Di Abu Za’abal, nama dan indentitas resminya diganti, agar keluarga dan organisasi kemanusia tidak bisa menemukan dirinya; ini adalah praktek umum petugas penjara tersebut.

Sementara ia dipenjarakan, petugas penjara mengancam. Pada hari yang sama mereka membawa Majed ke bagian bawah penjara dan menyiksa dia selama tujuh hari berturut-turut; setiap hari tingkat siksaan semakin berat.

Pada hari pertama, kembali mereka bertanya siapa nama-nama rekan Kristennya. Majed tetap tutup mulut untuk hal itu. Maka mereka membotaki kepalanya dan menguyurnya dengan air panas dan kemudian air yang sangat dingin. Majed tetap tidak membuka rahasia

Hari kedua, mereka lalu menggantung dia terbalik, kaki diatas kepala dibawah. Dalam posisi seperti ini ia dipukuli dengan ban pinggang, disunduti oleh rokok yang membara dan jempol kuku kakinya dirusak. Majed tidak terguncang.

Hari ketiga, ia dibawah ke sebuah sel dan sementara ia berada di sana dengan segala lukanya, mereka memasukkan tiga anjing  ke dalam sel penjara tersebut. Anjing-anjing ini adalah binatang yang telah dilatih untuk menyerang manusia dan memakan daging manusia.
Ketika ia melihat tiga anjing digiring ke kamar selnya, ia pergi kepojok sel dan duduk disitu menutup wajah dengan tangannya menantikan penderitaan yang akan menimpa dirinya.

Anjing-anjing semakin dekat, namun tiba-tiba keajaiban terjadi, ia tidak lagi mendengar suara-suara mereka. Ia tidak mengerti, apa yang sedang terjadi, maka, “Saya angkat kedua tanganku dari mukaku untuk melihat apa yang sedang terjadi.” Ternyata ketiga anjing tersebut hanya duduk-duduk saja, sekalipun tuan mereka memerintahkan untuk menyerang. Merasa tidak percaya apa yang petugas ini saksikan, ia membawa ketiga anjing itu keluar dan meminta kepada rekannya tiga anjing yang lain. Ternyata peristiwa mujizat itu berulang lagi, bahkan seekor anjing menghampirinya dan mulai menjilati mukanya. [Telah diketahui umum, luka-luka pada kulit akan sembuh segera melalui air liur anjing]. Mereka melihat mujizat Elohim di depan mata mereka terjadi pada pemuda Kristen ini.

Hari keempat, petugas nomor 27, orang yang tinggi besar, memasuki selnya dan berkata, “Dengarkan, berikan nama-nama teman kamu dan saya akan melepaskanmu. Saya akan berikan kamu apa saja yang kamu mau, rumah besar, mobil baru, wanita-wanita cantik? Akan saya berikan!

”Saya terima tawaran kamu!” Majed berkata, ”Namun pertama-tama, saya belum makan selama tiga hari, bawalah makanan dan setelah itu kita bisa bicara.” Ia mendapat makanan.
”Sekarang kamu beri saya tahu nama orang-orang yang bekerja denganmu?” petugas itu berkata.
”Dengar, kelompok kami adalah kelompok yang sangat besar. Saya tidak bisa memberikan semua nama mereka dan saya sendiri tidak bisa mengingat semuanya. Namun, saya akan memberikan nama ketua kami. Kamu bisa tangkap dia dan dia bisa memberikan dengan tepat nama semua anggota.”
”Saya pikir kamu adalah pemimpinya.”
”Bukan tuan, saya hanyalah seorang pelayan,” Majed menjawab
”Nama ketua kami adalah Yeshua Ha Mashiah. Jika Anda bisa menangkap-Nya, tangkaplah.”

Penjaga nomor 27 ini marah besar. Ia menempeleng Majed sehingga terlempar ke tembok dan memerintahkan rekannya untuk membawa Majed ke ruang lainnya untuk  … di salibkan.

“Dalam penghinaan terakhir, para penjaga mencabut pakaianku, lalu mengikat kedua tangan dan kakiku serta leherku ke sebuah balok salib dan membiarkan saya tergantung di kayu salib tersebut selama dua dan setengah (2,5) hari. Diakhir 2,5 hari tersebut, mereka menoreh-noreh bahu sebelah kananku dengan pisau, lalu menaruh lemon (jeruk nipis) dan garam pada daging yang robek tersebut.”

Majed kehilangan kesadarannya, dan ketika ia terbangun ia ternyata ada dirumah sakit. ”Hanya satu hal yang saya ingat saat itu adalah rasa dan bau dari darahku sendiri,” Majed mengingat.

Ia sungguh kehausan saat itu, lalu dalam penglihatan malam, ia melihat Adonai Yeshua datang kepadanya dan memberi minum dari tangan-Nya dan berkata, “Jika kamu minum air-Ku, mengapa kamu masih butuh air yang lain?” Seminggu kemudian dia pulih total.
Seorang  penjaga penjara di rumah sakit itu memberikan informasi kepadanya bahwa langkah berikutnya ia akan ada dieksekusi, jadi ia melarikan diri melalui sebuah jendela belakang rumah sakit.

Pemerintah mengumumkan fatwa 100.000 dollar hadiah bagi kepalanya, ”Wajahku munjul di TV dan di koran-koran, jadi saya tahu bahwa saya tidak dapat tetap tinggal di Mesir,” katanya.
Dengan mengendarai sebuah jet ski ia melintasi Laut Merah, menyeberangi Padang gurun Sinai dan menyerahkan dirinyatah Israel, dimana di Israel yang ditahan selama 16 bulan sementara PBB dan Amnesty Internasional menyelidiki ceritanya sebelum pada akhirnya ia dianugrahi status pengungsi politik dan berimigrasi ke Toronto, Kanada.

[Perlu diingat berada di tahanan Israel bagi orang yang memiliki kasus seperti Majed ini, itu adalah tempat teraman. Hal ini disadari dengan baik oleh Mosab Hassan Yousef, putra dari pendiri dan pemimpin senior Organisasi Hamas, Sheikh Hassan Yousef. Ketika Mosab akhirnya membuka dirinya ke media bahwa ia telah pindah dari pembela Hamas menjadi agen mata-mata Israel, yang membuat pengikut Hamas mencap dia sebagai ”penghianat Islam” dan berita murtadnya Mosab sempat hangat dimedia internasional selama berbulan-bulan, dari pengakuan dirinya sendiri, baik di media maupun di bukunya Son of Hamas kita tahu bahwa Hassan Yousef, ayahnya, masih berada dipenjara Israel, dan Mosab berterima kasih kepada pemerintah Israel untuk keamanan ayahnya.]

Pada kesaksian ini ia berkata, ”Semua hal ini telah merubah kehidupanku. Saya sekarang tidak akan menyerah sebab saya tahu banyak orang sedang melalui itu (aniaya berat yang ia juga pernah alami).” – Setiap tahun, 165,000 orang Kristen dibunuh karena iman-iman mereka, ia memberi gambaran.

Kepada semua pemerintah yang menaniaya orang Kristen, Majed El Shafie menawarkan pesan ini:

”Orang-orang Kristen yang teraniaya mati berjatuhan, tetapi mereka tetap tersenyum. Mereka ada di dalam sebuah tanah pertambangan yang dalam, tetapi mereka memegang lampu YAHWEH, Kalian dapat membunuh pemimpi tersebut, namun kalian tidak akan dapat membunuh mimpinya.”  

Kesaksian serupa:
Hampir 100 Remaja Kristen Koptik Mesir Disiksa Pemerintah
Mark A. Gabriel, Ph.D.: Mengapa saya meninggalkan Islam
Abdullah (Saudi): Dari Neraka, ke Penjara karena Iman Kristennya.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Pakistan: Gadis cacat ditahan atas tuduhan menghina Islam

BBC: Polisi Pakistan telah menahan gadis 11 tahun berpenyakit mental Down syndrome, setelah sekelompok orang-orang yang marah menuduh gadis tersebut merusak beberapa halaman Kuran.  Mereka mendesak gadis Kristen ini ditangkap untuk menerima hukuman mati dan mengancam membakar rumah-rumah orang Kristen diluar ibukota Islamabad, koran lokal berkata.

WND: Rimsha Masih, nama dari gadis ini malang ini, ternyata hanya membakar halaman-halaman “Noorani Qaida,” yakni buku petunjuk yang dipakai untuk belajar dasar-dasar Kuran. Lapor Barnabas Aid (yayasan kemanusia) kepada WND.

Tuduhan ini berawal dari tetangga Rimsha, dan menyebar seperti kebakaran hutan yang tidak terkendali oleh karena tuduhan disebarkan di mesjid-mesjid.

Para orang Islam yang marah besar ini sempat memukul dengan keras gadis ini, keluarganya dan beberapa orang Kristen setempat. Dua rumah Kristen juga dibakar dan beberapa rumah mereka dirusak pagarnya juga pintu-pintu dan jendela-jendela. [Mengapa orang-orang Muslim begitu mudah dihasut dan berbuat dosa atas dasar hasutan? Seorang murid sekolah Alkitab di Sumatra dipukuli oleh masyarakat sampai mati hanya karena membakar kertas jimad bertulisan Arab, di awal th 90an]

Akibat penyalah gunaan hukum penghinaan agama Islam ini, sekarang Rimsha tinggal dipenjara Rawalpindi setelah penangkapannya pada tanggal 16 Agustus.   Lebih dari 800 orang Kristen terpaksa harus meninggalkan rumah mereka demi keselamatan. Untuk pemimpin gereja dan para yayasan kemanusia datang menolong memberikan makanan dan minuman.

Aidan Clay dari International Christian Concern’s Pakistan menyatakan lebih dari 46 orang yang dituduh menghina Islam sejak 1986 sampai 2011 telah terbunuh oleh kekerasan masyarakat yang marah sementara menunggu sidang pengadilan.

“Keadilan akanlah hanya berjalan ketika ratusan Muslim yang menuntut Rimsha dan menyerang rumah-rumah Kristen di Islamabad ditangkap dan diadili,” Clay berkata.

Clay atas nama umat Kristen meminta Presiden Asif Ali Zardari menahan mereka yang terlibat.

Para pembela HAM telah mendorong Pakistan untuk mereformasi hukum-hukum penghinaan kepada Allah (blasphemy) yang kontroversi tersebut, yang mana seorang dapat ada diperjarakan seumur hidup hanya karena menghina Koran.

Kebanyakan dari mereka yang dituduh mengina Allah telah dibunuh oleh orang-orang brutal tersebut, sementara para politikus yang menasehati untuk merubah hukum telah juga jadi sasaran kemarahan.

Tahun kemarin, Shahbaz Bhatti, menteri untuk masalah-masalah kaum minoritas dibunuh setelah meminta mencabut hukum penghinaan tersebut.

Kematiannya tiba hanya beberapa bulan setelah pembunuhan Salman Taseer Gubernur Punjab, yang juga berbicara tentang hal yang sama. Tamat.

Yeshua mengajar orang Kristen: Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. (Matius 5:43-45)

Berdoalah bagi saudara-saudari kita di Pakistan, agar iman mereka semakin kuat kepada Yeshua Ha Mashiah di dalam penganiayaan ini. Dan melalui kejadian ini, kiranya banyak orang-orang Islam dibukakan mata rohani mereka.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Gadis Kristen Pakistan 12 Tahun Di Perkosa Dan Disiksa Karena Tidak Mau Murtad

Cara orang Islam memenangkan jiwa di Pakistan. The Asian Human Right Commission  (The AHRC) melaporkan bahwa gadis 12 tahun diculik, dibawa kedesa lain lalu diperkosa, dipaksa menikah, delapan bulan lamanya ia dipukuli dan diperkosa oleh karena tidak mau pindah ke Islam, British Pakistani Christian Association melaporkan.

Pada suatu hari Anna, anak gadis dari bapa Arif Masih di kota Lahor, dikunjungi oleh teman perempuan Muslimnya, Nida, untuk ’sebuah perjalanan shopping.’ Nida membawa Anna ke dalam mobil dimana paman Nida, Muhammed Irfan, sudah siap di depan kemudi mobil tersebut. Korban di bawah ketempat yang jauh sebelum ia dimasukkan kedalam rumah dan diperkosa. Dua hari setelah pemerkosaan pertama tersebut tiga wanita dari sanak famili pemerkosa, dilaporkan dengan nama Mumtaz Bibi, Farzana Bibi dan Kiran Bibi beserta Nida teman Anna memaksa Anna untuk menandatangani surat pernikahan ’bersedia dinikahi oleh Mohammed Irfan,’ dibawah ancaman bahwa korban tidak akan dilepaskan jika tidak mau mendatangani surat perjanjian tersebut. Gadis kecil di bawah ancaman tiga wanita dewasa dan ditempat yang sangat asing akhirnya menandatangi surat pernikahan di bawah umur tersebut; Hukum pernikahan di Pakistan wanita boleh menikah setelah berumum 16 tahun. Anna tetap ditahan selama lebih dari 8 bulan,  sampai akhirnya Anna berhasil melarikan diri dan menelpon orang tuanya. The AHRC (Komisi Hak Asasi untuk Asian) dalam laporannya menulis gadis Kristen 12 tahun ini telah diperkosa lebih dari satu pria selama priode 8 bulan penculikan itu.

Korban selama delapan bulan masa penculikan tersebut telah dibawa ke beberapa pusat Islam dimana korban dipaksa untuk memeluk Islam dan dipukuli dengan keras ketika korban menolak permintaan mereka.

Pada minggu pertama September 2011, lebih dari 8 bulan setelah Anna hilang, gadis kecil ini menelpon keluarganya dari Tandianwalla, Faisalabad, 190 Km dari Lahor. Orang tuanya menjemput Anna dan melaporkan kasus ini kepada kantor polisi.

Polisi berdiam diri bahkan berpihak kepada pemerkosa. Keluarga korban kecewa sebab polisi tidak mengambil tindakan untuk melindungi gadis 12 tahun ini dan juga tidak bersedia melakukan pemeriksaan medis.

Para pemerkosa menghubungi polisi melalui jalur kelompok agama Islamnya dan menunjukkan surat pernikahan yang menyatakan bahwa satu dari pemerkosa, yaitu Muhammad Irfan adalah suami dari si korban. Ketika orang tua Anna kembali ke kantor polisi menyertakan nama-nama dari para pemerkosa polisi mengancam orang tua korban dengan mengatakan bahwa Anna telah menikah dan telah pindah ke Islam, jadi lebih baik kembalikan gadis kecil itu kepada suaminya. Dan polisi menambahkan jika orang tua dari korban ini monolak saran polisi tersebut maka pihak korban akan dihadapkan dengan ancaman pelanggaran tindakan kriminalitas.

Komisi Hak Asasi Manusia mendapat kabar dari masyarakat Kristen Pakitan bahwa keluarga Kristen ini sekarang sedang menyembunyikan diri dari para pelaku pemerkosa dan pihak kepolisian.

Berdoalah untuk Anna dan keluarga korban untuk memiliki kekuatan mebawa masalah sampai keadilan terwujud. Berdoa juga untuk pemerintah Pakistan agar mereka menggambil tanggung jawab untuk menegakkan keadilan dan pembelaan yang adil bagi semua rakyat Pakistan, termasuk gadis Kristen 12 tahun ini.

Bagi pembaca yang ingin memberi petisi untuk pembelaan Anna ini bisa menulis di sini:

Pemerintah Pakistan telah dikenal sangat lemah di dalam menegakkan keadilan bagi rakyatnya yang berasal dari kelompok minoritas.  Tahun lalu, Maret 2010, seorang Kristen dipukuli dengan enam pria berkampak sampai meninggal dunia oleh karen pria Kristen ini tidak mau berpindah ke Islam. Polisi telah mencatat laporan ini namun belum ada tindakan nyata, Compass Direct berkata.

Pengancaman dan pemaksaan terhadap orang-orang Kristen di negara Islam Pakistan  sangatlah umum, sementara di negara-negara Barat orang-orang Islam mengaku bahwa Islam adalah agama damai dan satu ajaran dengan kepercayaan orang-orang Yahudi dan Kristen. Baca : Pakistan: Azra Bibi Terbebas dari Perbudakan!

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Gereja-gereja di Negara Afrika Utara Dalam Tekanan Yang Berat

Kompas Direct mengabarkan penganiayaan yang semakin berat di negara-negara Afrika bagian utara.

Algeria. Gubernur profinsi Bejaia telah mengirim surat perintah (22 Mei) kepada presiden Gereja Protestant Algeria (GPA), dengan surat tembusan kepada polisi, untuk menutup 7 tempat ibadah orang Kristen, dengan alasan tempat ibadah tersebut “tidak sah” sebab tidak terdaftar.

“Semua bangunan yang dibuat secara permanen atau sedang dalam proses pembuatan untuk kegiatan ibadah agama lainnya diluar Muslim akan ditutup secara permanen di dalam seluruh negara, juga mereka yang tidak mendapat pengesahan kuasa dari Komisi Nasional,”  kata kepala polisi mengutip keputusan gubernur Bejaia.

Para pemimpin Kristen Algeria menolak perintah tersebut dengan alasan:

  1. Gubernur tidak punya kuasa atas seluruh negara
  2. Pemerintah selalu menolak untuk memberi permisi tempat ibadah Kristen beroperasi.

Hukum negara yang melarang aktivitas ibadah diluar agama Islam diperkenalkan tahun 2006.  Sejak ini aniaya semakin keras terhadap non Islam. gedung ibadah di Kabylie dibakar sekalipun mayoritas dari lokasi setempat adalah orang Kristen. Di lain lokasi, 6 orang Kristen ditangkap setelah mereka selesai pertemuan doa. Seorang pria 33 tahun ditangkap selama 5 hari karena membawa Alkitab dan buku pelajaran Kristen, ia juga didenda 460 Amerika Dollar dengan tambahan satu tahun perjara.

Sumber berita lain mengabarkan, walaupun aniaya semakin besar, perpindahan orang-orang Islam ke Kristianity tetap besar.

Orang Kristen di Algeria ada lebih dari 99 000 menurut Operation World, tulis Kompas.

Berdoalah untuk bangsa Algeria; Yeshua melalui Roh Kudusnya menguatkan iman dan menghibur mereka di dalam aniaya ini, semoga terang dan kebenaran yang sejati semakin kuat berkuasa di negeri ini.

Mesir. Jatuhnya presiden H. Mubarak dari jabatan oleh demontrasi atas nama ”Demokrasi” telah menambah berat tekanan orang Islam atas minoritas Kristen di negeri ini. Orang-orang Islam radikal semakin leluasa berbuat kejahatan, pencurian, pengerusakan dan pembunuhan terhadap bangsa mereka sendiri yang beraliran Kristen. Sedikitnya 12 meninggal dan 200 luka-luka setelah dua gedung gereja  dirusak, satu melalui bom-bom molotov dan beberapa rumah dan pertokoan orang Kriten dirusak pada Saptu 7 Mei 2011. Diawali dengan gossip bahwa sebuah gereja menahan seorang wanita Kristen yang ingin berpindah ke Islam, pemimpin gereja mengijinkan sekelompok imam Islam untuk masuk dan memeriksa gedung. Tidak ditemukan. Penyerangan atas gereja dilakukan, dan pihak keamanan baru datang setelah dua jam kemudian,

Hukum “menghina Allah”  (Blasphemy Law) di Mesir dan Sudan semakin megancam bukan saja para murtad Islam, tetapi juga orang-orang Islam (Shia dan Suuni) yang tidak setuju dengan hukum Islam tersebut. Beberapa orang Sunni dari latar belakang profesi seperti wartawan, bloggers, ahli hukum, professor universitas dan sastrawan telah dituduh menghina agama Islam, sekalipun mereka hanya tidak setuju dengan garis keras Islam.

Praktek dari hukum “menghina Allah” ini sering kali salah pakai dan terburuk adalah pemaksaan kehendak, tulis Komas Direct mengutip para korban:

  1. Orang Kristen yang berbicara hanya tentang imannya sendiri dapat dilaporkan ke polisi dan ditangkap.
  2. Orang-orang Kristen yang membela diri saat melindungi gedung ibadah mereka dari perusakan lebih sering menjadi korban penangkapan dan penyeksaan polisi dari pada orang-orang Islam yang merusak milik orang Kristen.
  3. Seorang guru warga Inggris di Sudan dipenjara oleh karena ia menyetujui 20 pendapat murid dari 23 untuk menamai boneka beruang mereka “Muhammad” untuk mengingat murid pria yang paling populer di kelas mereka.
  4. Pemerintah dapat menangkap siapapun (termasuk orang Islam) yang menentang mereka atas nama menghina Allah.
  5. Pihak pemerintah Mesir yang bersedia mengijinkan pembukaan kembali gedung gereja yang telah dirusak atau mengijinkan pendirian gedung gereja telah mendapat ancaman dari pihak Islam sebagai menghina Allah.

Berdoalah untuk bangsa-bangsa di Afrika Utara berdasarkan perkataan Yeshua ini:

Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh. 8:31-32).

Alkitab-alkitab berbahasa Arab semakin perlu untuk didatangkan. Hubungi organisasi Misi bagaimana Anda bisa terlibat di dalam percetakan dan pengiriman Alkitab tersebut.

Marokko. Hukum negara melarang penduduk Marokko menghadiri ibadah di luar agama Islam yang dilakukan oleh penduduk asing di Marokko. Namun belakangan ini orang Kristen asingpun mendapat ancaman dari pemerintah,  Pada bulan Maret tahun 2010, Compas menulis, total orang Kristen asing yang telah diusir telah mencapai 128 orang. Termasuk seorang wanita Spanyol yang bersuamikan orang Marokko.

Yang diusir diantaranya pekerja dari yayasan sosial, kemanusian, guru dan juga businessmen. Pemerintah hanya memberi dua jam waktu untuk meninggalkan tanah Marokko dan tanpa menyertakan surat legal deportasi kepada orang asing.

Jamaa Ait Bakrim (berusia 47 tahun), seorang Marokko yang berpindah ke Kristianiti,  telah dihukum penjara 15 tahun. Ia sudah terpenjara selama 6 tahun (sejak 2005).  Rachid (nama samaran) seorang Marokko Kristen lainnya, pembicara dari TV Kristen berbahasa arab yang terkenal Al Hayat Television berkata tentang Jamaa: “Dia menjadi Kristen. Dia menceritakan imannya itu kepada orang-orang disekitar dia. Di Marokko, dan ini juga terjadi pada saya secara pribadi, jika engkau menjadi Kristen kamu kemungkinan dianiaya oleh keluargamu, Jika kamu pegang itu untuk dirimu sendiri, tidak ada orang yang akan mengganggu kamu. Jika kamu menceritakan itu kepada orang lain dan mulai berbicara tentang itu (iman Kristen), itu adalah masalah lainnya.”

Rachid telah melarikan diri dari negaranya, “Para saudara dan saudari Marokko kami menderita, dan kami hanya berharap sesuatu akan jadi OK. Mereka tidak akan berubah jika kita tidak membawa masalah ini ke perhatian internasional,” Rachid berkata.

Rachid memohon orang-orang Kristen di seluruh dunia terus lobby dan berdoa agar saudara dan saudari Marocco mereka berdiri teguh dan menambah kebebasan mereka.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Film MALATYA, Cerita para martir pertama dari Jemaat Turkey modern

Film dokumentasi yang bersumber dari kisah nyata di kota Malatya, Turkey. Pada tanggal 18 April 2007, tiga laki-laki disiksa dan kemudian dibunuh di sebuah kantor  penyebaran Alkitab di Malatya, Turkey. Ketiga laki-laki tersebut adalah para pemimpin dari sebuah Jemaat dan pembunuh mereka adalah lima pemuda.

Turkey dan Yunani merupakan tempat lahirnya jemaat mula-mula untuk orang-orang bukan Yahudi dan Yahudi diperantauan. Jemaat ini dibangun  dari hasil pelayanan rasul Paulus dan Barnabas pada pertengahan abad pertama.

Film ini mendokumentasikan bagaimana Necati Aydin, 36, dan Ugur Yuksel, 32, and Tillmann Geske, 46, dibunuh secara brutal oleh karena memproklamirkan Yeshua Ha Mashiah adalah Raja segala raja dan Adonai (Master) segala adonai. Necati dan Ugur adalah dua diantara banyak orang-orang Islam Turkey modern yang berpindah ke Kristianiti, dan keduanya adalah martir Ha Mashiah untuk Turkey, mati karena iman Kristen mereka. Tillmann adalah orang Jerman.

Beberapa komentar setelah melihat film MALATYA:

  • “STUNNED AFTER VIEWING MALATYA, THE STORY OF THE FIRST MARTYRS OF THE MODERN TURKISH CHURCH”... Max Lucado
  • “Most Christians don’t have a clue what it means to be the confessing church in the heart of darkness..Malatya is a shattering wake-up call.” Tracy Groot, authur of “Madman”
  • “The Malatya film gives gritty, realistic, unassuming access into the lives of the widows and families, as well as the church-body that is still grieving in Turkey.” DesiringGod.org

Ketika polisi menyerbu gedung tempat pembunuhan, seorang pembunuh mencoba lari dengan melompa dari lantai ketiga ke jalan, membuat kakinya patah dan luka-luka di kepala, sementara empat lainnya tertangkap dengan pisau-pisau berdarah yang masih ada digenggaman tangan mereka.

Ketika salah satu tertuduh tertangkap, di depan polisi ia berkata: ”Kami tidak melakukannya untuk kami sendiri. Kami berbuat itu untuk agama (Islam) kami. Ini boleh menjadi pelajaran kepada para musuh Islam.” Cerita lengkap bisa dibaca di sini: Young Muslims in Turkey Murder Three Christians

Hasil persidangan terbaru menunjukkan bahwa motif utama pembunuhan ketiga pemimpin Jemaat Kristen tersebut adalah politik dalam negeri Turkey, menimbulkan ketidak stabilan untuk menumbangkan pemerintah sekuler (militer) yang saat itu berkuasa.

Penganiayaan di Turkey semakin kuat di bawah kepemimpinan partai politik yang baru ini.

Cerita serupa:
Christian Persecution in Turkey – CBN News

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Kristen Ethiopia diancam: ”Pindah ke Islam atau mati!”

 

Orang-orang Kristen di kota Besheno, Ethiopia, mendapat ancaman tertulis pada pintu-pintu rumah mereka: pindah ke Islam, meninggalkan kota atau menghadapi kematian, demikian laporan International Christian Concern (ICC) tertanggal 25 Januari 2011.

Orang Islam yang adalah mayoritas di kota Besheno telah bertahun-tahun menganiaya tetangga mereka yang Kristen. Pada 21 Mai 2004, beberapa orang Islam  membunuh anak perempuan seorang pemimpin Kristen. Secara terus menerus menyerang orang Kristen yang mendengarkan musik Kristen dan melihat video-video Kristen.

Tanggal 29 November 2010 pemimpin Kristen lainnya dianiaya dan masih dalam keadaan krisis saat ini. Dan beberapa hari kemudian beberapa pemimpin Kristen dibawa oleh sebuah mobil yang dikelilingi oleh 100 orang Islam untuk membuat ”perjanjian damai” kepada para pemimpin Islam; dua dari orang Kristen ini luka-luka berat dan yang lainnya luka-luka ringan. Pada 2 Januarinya, seorang Kristen diserang dengan pisau setelah memberi kesaksian penganiayaan ini di pengadilan.

Pemimpin pemerintahan setempat  menolak memberi perlindungan hak kebebasan beragama kepada orang-orang Kristen (5.82 % pada sensus nasional 2007). Gedung gereja dan tempat penguburan juga tidak diberikan.

Mayoritas penduduk Ethiopia secara umum adalah Kristen (Orthodok dan Protestan), namun di kota-kota tertentu misalnya bagian Selatan Ethiopia mayoritas adalah Islam.

”Ketika orang-orang Islam mayoritas, mereka menganiaya orang-orang Kristen,” kata pekerja ICC ini. Orang-orang Kristen yang tinggal di tanah orang Islam diperlakukan sebagai Dhimmi. Dhimmi, bahasa Arab yang berarti orang-orang bukan Islam adalah penduduk kelas dua.

Di belahan wilayah Ethiopia lainnya, dikabarkan bahwa ribuan orang-orang Islam secara suka rela memberi diri mereka di baptis setelah mereka mendengarkan berita Injil dan mengalami penampakan Yeshua Ha Mashiah  melalui mimpi serta melihat dan mengalami tanda-tanda ajaib. Bahkan Ex-PM Ethiopia  berpindah ke Kristen menurut Penginjil Daniel Tassew Haile, yang juga berasal dari Islam dan menjadi Kristen setelah milihat penampakan Yeshua, pada video www.internasionalrevival.org

Kebebasan beragama di negara ini menderita dibawah kekuasaan Komunis selama 17 tahun (1974-1991). Namun setelah Komunis tumbang, gereja-gereja tradisi dan agama Islam bangkit dan menjadi penganiaya orang-orang Protestan. Penganiayaan ini dipercayai membuat Protestan bertumbuh dengan cepat dari 9,8 % di tahun 1960 telah menjadi hampir 20% di tahun 2000.

Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, (Efesus 6:18)

Sumber:

  1. Ethiopian Muslims Warn Christians To Concert, Leave City Or Face Death
  2. Muslims post death threats of doors of Christian homes Believers
  3. Revival and Persecution in ETHIOPIA
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Gulshan Fatima; Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 6

Gulshan Esther (Fatimah); Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2 ;

Bg. 3 ; Bg. 4 ; Bg. 5 ; Bg.6 ; Bg. 7

BAB 10 HUBUNGAN PERSAUDARAAN [Mujizat kakaknya hidup kembali di Gujarat, debat kepercayaan, diusir ipar]
Bulan Desember tiba bersamaan dengannya datanglah masa persiapan untuk hari Natal. Bagian terbesar anak-anak itu akan pulang ke rumahnya, tapi ada beberapa yang tinggal. Jadi kami membuat dekorasi di ruangan makan dengan menempatkan sebuah pohon dengan menghiasinya dan membuat sebuah palungan sehingga terpancar rasa ingin tahu mengenai ceritera yang sederhana perihal bayi Ha Mashiah yang datang bagi wajah-wajah yang berbahagia dan bersukacita. Bagiku peristiwa ini juga merupakana suatu pengalaman – cicipan pertama bagiku untuk pesta Kristiani ini. Rasanya sesuai dengan bunyi nyanyian yang telah sering saya nyanyian waktu itu.

“Betapa tenangnya, betapa tenangnya, anugerah yang ajaib dikaruniakan, demikianlah Elohim menanamkan kedalam hati manusia berkat-berkat Surgawi.”

Tidaklah mengherankan bila orang-orang yang belum menjadi Kristen karena belum lagi diperkenalkan kepada sumber imannya juga mendapatkan berkat dengan nyanyian natal ini, apakah dalam bentuk hidangan ayam kalkun dan puding buah prem atau ayam pilau atau nasi manis. Kesukacitaan Natal menerobos semua batas penghalang.

Segera sesudah hari Natal saya mendapat kunjungan dari seorang tamu yang tidak kuharapkan membawa berita yang sangat buruk. Iparku, Blund Shah dari Rawalpindi datang ke sekolah menemui saya. Ia berdiri di ruang tamu, kelihatan lelah dan hancur hatinya serta memberitahukan padaku bahwa kakakku Anis sakit keras di Gujarat, di tempat mana ia telah tinggal selama 3 bulan di sebuah bungalow yang disewa, karena mendapatkan perawaan dokter keluarga selama masa mengandungnya yang menemui kesulitan lalu dari sana telah dimasukkan ke rumah-sakit. Bayinya meninggal dan para dokter di rumah-sakit tidak dapat menghentikan pendarahannya. “Ia sedang dalam keadaan yang mendekati kematian dan berulangkali selalu memanggil-manggil namamu. Dapatkah kau langsung pergi kesana bersamaku sekarang? Saya membawa mobil diluar.”

Permintaan ini merupakan suatu panggilan pulang yang tidak dapat kutolak. Sebuah pintu yang kukira tertutup untuk selamanya kini terbuka. “Oh Kakakku yang malang, tentu saja saya mau datang, tapi pertama-tama saya harus minta ijin dulu.” Saya mohon diri dan meninggalkan ruangan itu. Suatu bisikan kecil terdengar di dalam telingaku berkata: “Ia telah mati waktu kau tiba disana nanti. Percuma saja membuang-buang waktu kesana. Mereka tidak memperkenankan kau memberi kesaksian. Malah bisa saja mereka mencegahmu kembali kesini.”

Sebelum menghadap kepala sekolah, saya pergi kekamarku dan berdoa. Jawabannya kuterima dengan jelas: “Pergilah menjumpainya. Ia tidak akan mati. Aku akan memeliharanya agar hidup.” Saya meminta ijin untuk 2 hari, diperkenankan, lalu kumasukkan beberapa barang kecil kedalam tasku. Kami berangkat jam 5 sore. Setelah berkendaraan selama 3 jam, kami tiba dirumah di Gujarat dimana kami disambut dengan berita yang sangat mendukacitakan. “Ia telah meninggal,” kata dokter kakakku, ny. Khan. Ia meninggal pada jam 7 malam. Ia telah banyak kehilangan darah. Saya masuk keruangan dimana kakakku dibaringkan. Terlihat wajahnya menjadi kuning kelabu, kurus dan bibirnya biru. Suaminya berderai air mata dan dengan penuh simpati dipapah keluar ruangan itu oleh salah seorang keluarga. Ruangan itu penuh dengan orang-orang berkabung anggota keluarga dan tetangga – berita kematian itu menjalar dengan cepat dan orang-orang segera berdatangan untuk memberi penghormatan bagi almarhumah.

Saya berlutut dan menangis di sisi tempat tidur itu. “Yeshua”. kataku dalam hati. Engkau berkata bahwa ia akan hidup. Apa yang harus kulakukan? Ia sudah meninggal.”

Saya melanjuntukan doaku, “Yeshua, Engkaulah jalan, Kebenaran dan Hidup. Perbuatlah Mujizat ini dan bangkitkanlah dia”. Saya berdoa seperti ini sampai timbul keyakinan dalam diriku yang sangat kuat bahwa Yeshua telah berkata: “Ia tidak akan mati. Aku akan memeliharanya dan hidup”. Jadi saya berdoa: Tuhan [Elohim], hidupkanlah dia sehingga saya dapat bercakap-cakap dengannya sebentar tentang Engkau.” Kemudian, sesudah beberapa waktu lamanya saya mendengar suatu suara berkata: “Ia tidak mati. Ia hidup. Aku telah memberikan kehidupan padanya.”

Mendengar ini saya berdiri dan berkata kepada orang-orang disitu, “Kenapa anda semuanya menangis? Ia tidak mati – ia hidup.” Mereka menjadi ketakutan, dan berkata: “Ia gila. Masukkan dia kedalam kamar yang satu disana. Pintunya dikunci dari luar”.

Mereka mendorongku keluar dan lalu dimasukkan kedalam sebuah kamar tidur kosong. Saya mendengar pintu itu dikunci dari luar. Kini, saya benar-benar mejadi seorang yang dipenjarakan. Saya selanjutnya berdoa: “Tuhan [Elohim] bagkitkanlah kakakku, sehingga mereka dapat percaya bahwa ia hidup.” Waktu itu mereka mulai melakukan tahap-tahap akhir mempersiapkan jenazah. Tubuh kakakku telah dimandikan dan pakaiannya sudah diganti. Dia akan dimandikan lagi tapi tidak pada malam hari. Jadi kira-kira jam 8 pagi barulah terdengar bunyi anak kunci, palang pintu dibuka dan saya dibebaskan untuk memberi penghormatan terakhir bagi kakakku. Saya berdiri disamping tempat tidurnya bersama wanita-wanita lainnya. Istri “Maulvi” membacakan “Kalmas” bagi jenazah itu lalu bersama 3 wanita lainnya maju kedepan untuk mengangkat jenazah itu agar dimandikan buat terakhir kalinya. Saya melihat ada tanda kemerah-merahan pada tangan dan kakinya…..tanda kehidupan, tanda adanya darah…….Sesudah itu mereka hendak membalut tubuh kakakku dengan sehelai kain lalu menempatkannya kedalam sebuah peti.

Tiba-tiba kakakku menggerakkan lengannya, membuka matanya, langsung duduk dan memandang sekelilingnya dengan heran. “Apa yang terjadi?” Orang-orang berteriak, berjatuhan. Beberapa orang mencoba lari keruangan itu. Terjadi kepanikan luar biasa. Saya memeluk Anis dan ia bergantungan padaku. Orang-orang datang kembali. Lalu mereka semua memandang kepadaku. “Apa yang telah kau lakukan? Bagaimana mungkin seorang yang sudah mati duduk kembali?” Hatiku penuh diliputi dengan sukacita serta suatu perasaan dalam kebesaran Elohim, lalu saya berkata sambil tersenyum: “Tanyakan padanya apa yang telah terjadi.” Lalu Anis berceritera dengan lembut yang merupakan ciri khasnya. “Jangan takut padaku. Saya hidup.”

Suaminya bersama imam mauvi serta muazin dari mesjid datang berlari-lari masuk karena mendengar kejadian yang menggemparkan itu. Mauvi menumpangkan tangannya keatas kepala kakakku dan bertanya, “Batti, ceritakanlah yang sebenarnya padaku. Apa yang terjadi? Apa yang berlaku padamu? 14 jam yang lalu anda meninggal! Kami sedang mempersiapkan pemakamanmu!” Ia berkata, “Saya tidak mati!” “Dokter perempuan itu ada disana.” Anda telah meninggal. Tidak ada tanda-tanda kehidupan padamu,” tegasnya. “Saya tidak mati, saya sedang tidur!” kata kakak perempuanku, “Dalam tidurku saya bermimpi bahwa saya sedang menaiki sebuah tangga dan pada puncak tangga itu: ada seorang laki-laki memakai jubah putih mengenakan sebuah mahkota emas dan ada satu cahaya keluar dari dahinya. Saya melihat tangannya diatas saya dan terlihat suatu cahaya memancar dari tangannya itu. Ia berkata: Aku Yeshua Ha Mashiah, Raja diatas segala Raja. Aku akan mengirim engkau kembali dan pada waktu yang ditentukan Aku akan membawamu kesini lagi.”Lalu saya membuka mataku.” Hal ini diceritakannya dengan wajah yang memancarkan sukacita. Tidak ada kata-kata yang dapat melukiskan kegembiraan dan sukacita dalam keluarga kami. Saya mempergunakan kesempatan ini untuk menceritrakan kepada siapa saja yang mau mendengarkan tentang Nabi yang penuh dengan pekerjaan mujizat itu. Yang lebih besar dari nabi Yeshua. Bahkan suami Anis, yang merupaakan salah seorang yang dulunya sangat menentangku pada awalnya, sekarang berkata bahwa karena doakulah maka istrinya telah dapat hidup kembali.

“Siapakah Nabi Besar ini, yang telah kau lihat?” tanyanya sesudah 3 hari para tamu pulang. Saya mengambil Al-quran dan menunjukkan padanya tulisan-tulisan tentang Yeshua dalam surah Maryam. Kemudian saya menunjukkan padanya dalam Alkitabku kisah tentang kebangkitan Lazarus dalam Yohanes 11:43-44. “Sekarang, apakah kakak percaya bahwa Yeshua dapat membangkitkan orang mati?. Dikatakan disini bahwa Ia memanggil Lazarus: “Keluarlah! dan iapun keluar”. Dengan perlahan ia menjawab: “Ya, Saya percaya mujizat ini dari nabi Isa anak Maryam. Istriku memperoleh kembali kehidupannya untuk yang kedua kalinya.” Kelihatannya ia cukup senang dan menerima apa yang kujelaskan padanya. Pada diri Anis justru terjadi perubahan yang sangat besar. Bagiku ia selalu merupakan seorang kakak yang sangat saling mengasihi dengan saya, tapi kini dalam dirinya terlihat pancaran sukacita dan damai. Saya mendengarkan dia berceritra pada Mauvi dan istrinya segala seuatu tentang visinya dengan Yeshua dan saya perhatikan bahwa mereka mendengarkannya dengan penuh perhatian. Namun sesudah itu mereka mulai melirik padaku dengan perasaan tidak senang. “Ceritakanlah lebih banyak lagi tentang Yeshua.” bisiknya pada salah satu kesempatan singkat waktu kami sempat sendirian saja. Jadi saya memberikan padanya sebuah kitab perjanjian baru kecil dan ia berjanji akan membacanya walaupun ia merasa bahwa ia memerlukan seseorang membantunya agar dapat mengerti. Ia memulai dengan Injil matius dan saya jelaskan bagaimana Yeshua lahir demikian pula asal usulnya. “Teruslah berdoa untukku. Saya akan tetap setia terhadap apa yang telah kusaksikan sehingga saya dapat mengikut Dia yang telah memberi hidup padaku,” katanya, “Saya sudah menikah, karena itu saya membutuhkan lebih banyak dukungan doa.” Mataku penuh dengan airmata. Saya dapat memahami posisinya dengan sebaik-baiknya. Dengan semua kejadian ini, saya telah menempatkan “sunrise” dibelakang pikiranku, tapi tiba-tiba saya menyadari bahwa saya harus kembali. Yang sebenar-benarnya, saya begitu ingin pergi dan menceritakan kepada orang lain tentang mujizat-mujizat ini.

Ketika saya berangkat dengan bus kembali ke Lahore. Anis meremas-remas tanganku dan berkata, “Pintu rumahku terbuka untukmu. Kapan saja engkau mau, kau dapat kembali. Bahkan bila keluarga-keluarga lainnya tidak sudi lagi melihatmu, saya tetap melihatmu.”

Begitu bus bergerak keluar dari stasiun Gujarat dimuati penumpang baik dari pedalaman maupun dari kota, maka saya duduk merenungkan jalannya peristiwa-peristiwa yang terjadi selama kunjunganku, sekarang makin menghilang seolah-olah mimpi bahagia dibelakangku. Satu hal yang harus kugaris-bawahi – saya tetap mencintai keluarga-keluarga itu dengan dunia mereka, tapi saya tidak dapat lagi hidup di dalamnya. Saya adalah seorang jemaah, bukan pada perjalanan menuju ke Mekah, tapi pada satu perjalanan yang benar-benar langsung menuju kepada Elohim melalui Yeshua. “Sunrise” telah merupakan bagian dari perjalanan jemaahku. Sewaktu bus bergerak dengan cepat sepanjang jalan ke Lahore saya berharap-harap untuk bertemu dengan anak-anakku yang buta itu kembali. Namun kami semua tidak menyadari bahwa saya telah melakukan satu kesalahan besar. Pihak yang berwewenang di sekolah berkata demikian ketika saya menghadap kemudian, katanya sekarang ijinku telah lewat tiga hari. “Engkau meminta ijin dua hari dan telah kau ambil selama 5 hari.” Terjadi suatu tanya-jawab yang menyedihkan dan saya diberhentikan tanpa beroleh kesempatan yang layak untuk memberi penjelasan. Saya menyerahkan alasan-alasanku kepada Elohim dan biarlah Dia yang menjadi hakimku.

Beberapa menit kemudian saya telah berdiri di pinggir jalan Ravi di bawah sebuah tiang listrik; masih terpukul dan heran serta bingung terhadap kejadian-kejadian yang sebegitu mendadak. Saya merasa lapar – waktu makan siang sudah lewat dan saya belum lagi makan sesuatu sejak sarapan pagi-pagi sekali. Cuaca dingin dan berawan. Mungkin saja hari akan segera gelap waktu itu. Teringat olehku bahwa tukang cuci masih menyimpan beberapa potong pakaian dan peralatan tempat tidurku yang belum sempat dikembalikannya padaku. Wajah anak-anak kecil yang buta dan sabar muncul dihadapanku dan airmataku menitik. Mereka tidak akan mendengarkan lebih banyak ceritra dari Ba-jinya. Dan sayapun mengalami kesulitan dalam hal keuangan. Saya tidak memiliki uang cukup kecuali sedikit yang diberikan kakakku tadi pagi. Saya berdiri disitu kebingungan sambil menyadari bahwa tempat itu ada di daerah sunyi dan bagi seseorang yang baru murtad dari agamanya, tidak dapat mengharapkan banyak perlindungan di sini.

“Bapa,” seruku kepada Elohim, menyerahkan nasibku kedalam tanganNya, “ada orang-orang baik dan jahat dikota ini. Apakah ada sesuatu tempat bagi anakMu ini? Tunjukkanlah kepadaku kemana saya harus pergi.” Langsung jawabannya kuketahui: “Kembalilah ke Gujarat” Saya masih mempunyai cukup uang buat ongkosnya. Saya naik bus jam 2 sore pindah ke tonga dan membuat kakakku terkejut. Ia memelukku dan berkata dengan bahagia, “Saya begitu gembira kau kembali. Sekarang kau akan membantuku untuk mengerti tentang Alkitab itu.” Bahkan Blund Shah merasa girang melihat saya kembali karena dapat menemani istrinya.

Kakakku merasa rindu dan anak-anaknya, dua putri masing-masing 8 dan 5 tahun yang tinggal di Rawalpindi bersama kakek-neneknya. Iparku juga berada disana untuk mengawasi perusahaan busnya dimana ia termasuk sebagai pemegang sahamnya. Jadi, selama satu periode waktu, kakakku dan saya mendapat kesempatan yang menyenangkan dalam satu jalinan tali-persaudaraan yang baru tanpa ada suatu hambatan. Laksana dua anak domba, kami mencari dan memakan rumput di padang hijau dari Firman Elohim dan kelihatan jelas bahwa kakakku mengalami perubahan sepanjang tahap belajar yang dialaminya dalam kehidupan yang baru. Ia tidak lagi terlalu “main perintah” terhadap para pembantunya dan kadang-kadang melakukan sendiri sesuatu pekerjaan. Ia malah menyuruh para pelayan makan lebih dulu seraya berkata, “si miskin mempunyai hak lebih dahulu.” Ia telah menemukan Firman, “Hargailah orang lain lebih dari dirimu sendiri.” Ketika saya bertanya padanya untuk merasa yakin tentang dorongan apa yang memotivasinya, ia menjawab, “jadi bila esok saya meninggal saya akan tahu dimana saya berdiri, karena saya berusaha untuk menjadi salah seorang dari hambaNya yang setia.”

Hal yang menggembirakan ialah: reaksi para pembantunya. “Sejak Bibi kami hidup kembali, kelakuannya sudah seperti malaikat,” kata mereka kepadaku. Mereka malah bekerja lebih giat lagi untuknya, melayaninya dengan sepenuh hati. Kepadaku mereka menunjukkan perasaan hormat yang dalam. Suatu hari ia menanyakan padaku tentang baptisan dan mendengarkan penjelasanku dengan bersungguh-sungguh mengenai artinya. Kukatakan padanya, “Penting artinya bagimu agar dikuburkan bersama Yeshua Ha Mashiah dalam Baptisan jika kakak benar-benar menginginkan kehidupan. Ketika kita di Baptiskan, tubuh, jiwa dan roh kita dibersihkan, disucikan dan kita menjadi umatNYA.”

Lalu katanya, “Saya mau di Baptiskan karena sekarang saya sudah menjadi orang Kristen.” Dalam hatiku telah berubah dan saya mau melangkah lebih jauh lagi ke depan.”

Perasaanku gembira bercampur kuatir. Apakah ia menyadari sepenuhnya akan apa yang dihadapinya nanti karena mengambil langkah ini? Saya telah membayar mahal untuk pembaptisanku. Tapi Anis bersikeras, “Hatiku akan sangat berdukacita jika tidak dibaptiskan katanya, saya tidak beragama Islam ataupun Kristen.” Saya akan berada diluar katanya tegas dan saya mempertimbangkan hal ini. Apakah hakku untuk menolak menolongnya? Tapi segera saya lihat bahwa saya tidak dapat mencarikan bantuan dari seorang pendeta Kristen. Karena ini akan mengundang bahaya dari keluarga Blund Shah jika tidak dari pihak lain lagi. Saya harus melaksanakan upacara itu sendiri.

Suatu sore kami meminta pembantu mengisi bak mandi dari semen yang dalam itu dengan air hangat dan menyediakan beberapa helai handuk serta pakaian bersih. Lalu kami memintanya meninggalkan tempat itu. Kulihat lirikan matanya yang penuh tanda-tanya kearah kami ketika kami mentutup kamar mandi itu. Saya berdiri bersama Anis di dalam air dan bertanya padanya apakah ia mengaku percaya kepada Yeshua Ha Mashiah. Ia menjawab, “Sekarang saya menguburkan tubuhku yang lama dan menjadi baru di dalam Yeshua Ha Mashiah dan saya akan setia.” Lalu saya membaptiskan dia dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus dan menyerahkan dia ke dalam pemeliharaan Elohim. Waktu itu adalah suatu saat kemenangan. Sesudah itu Anis berkata kepadaku bahwa ketika ia berdoa rasanya seperti diangkat ke atas seakan-akan memakai sayap malaikat dan melihat dalam sebuah visi orang-orang berdiri mengelilingi dan memuliakan Yeshua.

Bagaimanapun saya mulai belajar bahwa bila saya merasakan sukacita atas sesuatu maka saya harus berhati-hati dan berjaga-jaga terhadap aktivitas kuasa-kuasa gelap yang jahat dan peristiwa inipun tidak terkecuali. Iparku mendengar tentang baptisan itu, Saya kira si pembantu itu yang memberitahukan sesuatu padanya dan ia menanyakan pada kakakku tentang apa yang kami lakukan. Anis kelihatan takut, “Ia menanyakan tentang hal itu semalam dan kujelaskan padanya apa arti Baptisan itu. Sekarang ia marah ia tidak menghendaki ataupun mau mengerti tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan salib itu. Saya tidak dapat menjelaskan padanya saya kira ia mencari kesempatan untuk beragumentasi denganmu. Tolong, janganlah membuatnya marah sebab bila demikian ia dapat mengusirmu.”

Saya mencoba menunjukkan pengertianku yang mendalam terhadap iparku namun akhirnya saya tidak dapat menghindari terjadinya sesuatu perdebatan dengan dia.

Ia menantangku untuk menjelaskan padanya perbedaan antara pembaca Al-quran dengan Alkitab. Tentu saja saya harus mengatakan padanya bahwa Yeshualah yang merupakan perbedaannya Ia adalah Jalan, kebenaran dan hidup. “Membaca Alkitab itu baik, tetapi tentang salib itu tidak baik!,” kata Blund Shah. “Bahkan dalam Alkitabmu dikatakan bahwa seseorang yang terkutuk saja yang akan mati disalib, jadi bagaimana mungkin seseorang yang dikutuk dapat memberi hidup pada orang lain!” Ia terlihat memandang kearahku dengan perasaan menang. Ia merasa bahwa saya terperangkap. Justru inilah merupakan pembukaan yang kuperlukan, saya membacakan kepadanya 1 Kor 1 : 18: Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Elohim. Ia tidak berkata apa-apa dengan, berapi-api saya bacakan untuknya Yohanes 1:29: Lihatlah Anak Domba Elohim, Yang menghapus dosa dunia. Kakakku duduk mendengarkan, matanya menatap jauh ke depan, tidak ikut campur. Saya menjelaskan pada iparku mulai dari Taurat. Dari akar-akar keislamannya dan menjelaskan bagaimana korban-korban darah sebagai pengganti manusia telah diperintahkan Elohim kepada Nabi Ibrahim tapi setelah Yeshua. Korban-korban ini tidak lagi diperlukan. Saya menunjukkan padanya mengenai hal ini dari Kejadian 22 : 11-12: “Jangan Bunuh anak itu dan jangan kau apa-apakan dia.” Lalu dari Yohanes 12 : 32, dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKU.” Saya katakan kepadanya bahwa karena pengorbanan Yeshua di kayu salib maka dosa-dosa kita diampuni. Penebusan yang sempurna dan lengkap.

Kujelaskan padanya bahwa mulanya saya menemukan pembacaan tentang hal ini dalam Al-quran lalu memperoleh pengertian yang lebih mendalam di Alkitab. Kuceritakan padanya mengenai para Nabi yang menubuatkan tentang kedatangan Ha Mashiah. Kepadanya juga saya utarakan bahwa Alkitab bukannya hanya sebuah buku melainkan firman Elohim yang Hidup dan bahwa apapun yang saya hadapi dalam hidup ini dapat saya jumpai pertolongan untuknya dalam Alkitab. Saya menutupnya dengan Kisah Para Rasul 4:11-12 Yeshua adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan–yaitu kamu sendiri–,namun ia telah menjadi batu penjuru. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”

Di ruangan duduk depan waktu menunjukkan jam 10 pagi dan ia duduk di sana kelihatannya terpesona. Kemudian ia sadar akan dirinya dan menatapku dengan seksama. “Apakah kau bermaksud menjadikan saya seorang Kristen juga? Kau tinggal disini dan makan dari mejaku, lalu memandang rendah akan kepercayaan Islam dengan cara sedemikian ini? Sekarang keluar dari sini dan kali ini jangan kembali lagi!”

Kakakku menyelipkan sedikit uang padaku seraya berbisik, “Jangan kembali ke Lahore. Pergilah ke Rawalpindi dan saya akan menemanimu bila saya datang kesana.” Ia memberikan sebuah alamat sahabat keluarga kami yang penting padaku, juga anggota Syiah, dimana suaminya adalah seorang pejabat tinggi pemerintah. Wanita ini memegang beberapa posisi penting dalam lembaga-lembaga sosial, perhubungan dengan perbaikan nasib wanita agar dapat memberikan pada mereka kedudukan yang lebih baik lagi. Mungkin ada lowongan pekerjaan padanya yang diberikan bagiku.

Ini merupakan kabar baik. Saya harus mendapatkan sesuatu pekerjaan. Jadi saya kembali ke stasiun bis dengan naik tonga dan pindah kesebuah bis menuju Rawalpindi. Tiga setengah jam kemudian saya sudah naik sebuah tonga lain lagi dan saya diturunkan di depan gerbang sebuah rumah tinggal yang mengesankan di jalan Peshawar. Saya mengirim sebuah nota menyebut namaku dan nama ayahku sehingga nyonya yang saya cari itu dapat mengetahui bahwa saya adalah sahabat dekat keluarga dan dapat mengingat siapa saya ini sebenarnya. Sesudah dipersilahkan saya masuk melewati gerbang tinggi yang dikelilingi dinding sambil merasa bahwa ini adalah langkah yang benar dan percaya akan hasilnya yang baik nanti.

BAB 11 TERPERANGKAP [‘pekerjaan’ di penjara, pimpinan-Nya sempurna]
Saya berdiri diruangan duduk rumah wanita yang kucari itu yang menatapku secara seksama. Beliau seorang wanita yang sangat cantik, perawakannya lebih tinggi dari saya, berkulit putih, rambut pendek. Ia mengenakan sebuah “Shalwar kameeze” merah muda serta sebuah baju dingin lengkap dengan syal bersulam disekeliling bahunya. Beliau tersenyum manis padaku. “Betapa baiknya anda meluangkan waktu mengunjungi saya. Rasanya kita belum pernah berjumpa sebelumnya! Suamiku sedang tidak dirumah sekarang. Ia di Islamabad sampai malam nanti. Ia seorang yang baik.” Saya katakan bahwa saya telah mendengar tentang suaminya yang adalah seorang yang penting. Nyonya menundukkan kepalanya yang anggun lalu meminta teh buat kami. Sambil menikmati teh dari mangkuk cina bercorak bunga-bungaan beliau melayani saya dengan percakapan yang sangat menyenangkan dan sopan, menanyakan tentang kesehatanku dan bagaimana perjalananku dari Gujarat. Beliau sangat prihatin mendengarkan keadaan Anis. Saya tidak meneruskan percakapan tentang hal ini secara terperinci karena merasa bahwa mungkin beliau tidak menghendaki para pelayan mendengarkan tentang apa yang akan kukatakan.

Selesai minum teh beliau mempersilahkan saya mengikutinya. Saya dibawa kekamar tidurnya, menutup pintunya, mempersilahkan saya duduk lalu mulai mengajukan pertanyaan yang sejak tadi belum diutarakan diantara kami, “Kenapa anda datang tanpa memakai kerudung? Dan mengapa seorang diri? Dalam keluargamu gadis-gadis tidak keluar rumah seperti ini. Apa yang terjadi atasmu? Apakah kau menemui sesuatu kesulitan?”

Saya mengenakan sebuah baju putih dengan Shalwar Kameeze dan ada sebuah selendang yang dililitkan sekeliling kepalaku. Sudah lama saya berhenti mengenakan Burka. Namun, saya tidak berkeinginan untuk bersoal jawab tentang hal itu sekarang.

Saya menjawab, “Nyonya merasa terkejut waktu melihat saya tidak memakai kerudung. Apakah nyonya tidak terkejut waktu melihat saya dapat berjalan? Nyonya kan tahu bahwa saya ini seorang yang lumpuh dan sakit ditempat tidurku selama 19 tahun!” Ibu ini berkata: “Saya tahu tentang hal itu. Sekarang ceritakan padaku, siapakah dokter yang mengobatimu sampai engaku dapat sembuh sempurna seperti itu?”
“Akan kutunjukkan dokterku kepada nyonya.” Saya membacakan baginya cerita tentang seorang lumpuh diangkut oleh 4 orang dan disembuhkan Yeshua dalam Markus 2:9-11. Kemudian kuberikan padanya Alkitab bahasa Urdu agar dibacanya sendiri. Diambilnya buku itu seolah-olah akan memegang seekor ular, memandangnya sekejap lalu mengembalikannya kepadaku. “Buku ini milik orang-orang Kristen,” katanya ketus.
“Benar, dan saya juga seorang Kristen,” jawabku. Beliau memegang lengan kursinya erat-erat, “Apakah tidak salah pendengaranku?”
“Itulah yang sebenarnya, sekarang saya telah menjadi milik pribadi yang memberikan kesembuhan padaku.”
“Sebenarnya apa yang kau maksudkan dengan hal itu?”

Maka saya menceritakan padanya cerita itu tanpa menyebut sesuatu nama Kristen. Tuan rumahku berusaha menenangkan dirinya. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan dengan langkah-langkah pendek di sekeliling ruangan itu lalu duduk berhadapan dengan saya lagi sambil condong ke depan, memandang padaku dengan sangat prihatin tapi lantas katanya, “Jika Yeshua menyembuhkanmu, apakah merupakan suatu keharusan untuk menjadi Kristen?”

“Dalam kasus saya, Ya. Saya telah menemukan hidup yang baru dan kini saya menjadi milik Pribadi itu yang telah memberikan padaku suatu hidup baru. Oleh sebab inilah saya telah diusir dari rumahku. Namun, saya tidak datang kemari untuk mendiskusikan agama dengan Nyonya. Saya datang untuk memohon bantuan Nyonya, sekiranya dapat membantuku mendapatkan pekerjaan pada salah satu lembaga kewanitaan yang Ibu pimpin. Dapatkah Ibu membantu ? Pekerjaan yang sederhanapun boleh, saya tidak mengharapkan pekerjaan dengan gaji besar”.

Terdiam sebentar. Beliau memperhatikan corak-corak permadani yang bagus itu. “Demikian rupanya, tidakkah kau tahu bahwa sebenarnya saya berpikir ada seseorang telah menculikmu dari rumahmu dan kau dapat lolos kemari untuk mencari pertolongan.” Beliau tertawa kecut. “Baiklah, kau akan bermalam di sini semalam dan besok saya akan mengatur sesuatu bagimu.”

Saya mendapat kamar sendiri dan makan malam yang dihidangkan oleh salah seorang pembantunya. Hubungan keluarga, walaupun sebegini jauh, bagaimanapun lebih erat dari yang saya perkirakan. Besok paginya sesudah saya sarapan sendirian di ruangan-makan, saya bertemu dengan suaminya. Beliau segera menegurku dengan sopan dan meminta saya meninggalkan Kristen. Tentu saja saya dengan cara yang sopan, saya menolak permintaannya. Di dalam diriku saya menggigil karena kini saya berhadapan dengan seseorang yang berpengaruh dalam pemerintahan. Baginya akan mudah sekiranya beliau mau menyikat saya seperti menghadapi seekor nyamuk yang mengganggu, walaupun saya adalah sahabat dekat keluarganya.
Beliau berkata, “Pikirkanlah tentang apa yang kau katakan. Masih ada waktu bagimu untuk kembali lagi ke Islam dan saya akan mengatur agar kau dapat berdamai lagi dengan keluargamu.”

Apakah secara tidak langsung tersirat di dalamnya sesuatu ancaman? Saya menarik napas dan menenangkan syarafku. Saya mempunyai suatu kesempatan kali ini yang tidak boleh kubiarkan berlalu.

“Terima kasih, namun maaf, tidak,” jawabku, “saya tidak bertengkar dengan mereka, saya tidak bermusuhan dengan siapapun, Pribadi yang saya percayai ialah Raja Damai dan Dia juga memberi Damai kepada Bapak.” Kata-kata itu keluar dari mulutku sebelum saya menyadarinya.

“Kenapa anda tidak meninggalkan kekristenan itu?” katanya dengan nada yang agak menunjukkan kehilangan kesabaran, “Jika anda tidak mau tinggal dengan kakak-kakakmu, mari tinggal bersama kami selama hidupmu.”

Tawaran ini baik sekali dan saya yakin beliau mengutarakan dengan tulus.

“Terima Kasih, tapi kekristenanku bukan hanya sekedar agama dimana seseorang dapat melepaskannya bila dia merasa bosan, melainkan merupakan suatu perubahan hidup bagiku. Jika saya berhenti hidup dalam Ha Mashiah maka saya akan mati.” Lalu saya menambahkan, “Sekiranya bapak tidak dapat membantu untuk mendapatkan sesuatu lowongan kerja bagi saya, katakanlah lalu saya akan pergi dan tidak akan mengganggu bapak lagi.”

“Oh ya kami akan mengatur sesuatu untukmu.” Beliau mengerdipkan matanya kepada istrinya sambil berjalan keluar. Saya mendengar istrinya memanggil sopir untuk menyiapkan mobil.

“Mari,” katanya dan kami masuk kedalam mobil dan berangkat menuju arah kota. Mobil itu berhenti diluar sebuah pintu gerbang besi yang besar dikelilingi dinding-dinding yang tinggi. Di atasnya saya dapat melihat sebuah bangunan beton yang besar. Sebuah tanda menyebutkan bahwa tempat itu ialah Penjara Pusat Rawalpindi. Jadi rupanya disinilah tempat saya bekerja.

Si sopir memanggil penjaga yang membuka pintu gerbang itu. Kawanku, Nyonya tersebut membawaku masuk ke kantor pengawas dan berbicara sebentar dalam bahasa Inggris, jelas rasanya tentang saya. Lalu pengawas membunyikan lonceng dan seorang wanita setengah baya muncul dengan setumpuk kunci yang bergemerincing bunyinya. Pengawas itu mengatakan sesuatu kepadanya yang tidak dapat kudengar dan mengangguk kearahku lalu wanita itu berkata, “Mari.” Nyonya, kawanku yang baik hati itu berkata, “Anda pergi bersama wanita ini. Tempat ini akan lebih baik buat anda.”

Saya berterima kasih padanya dengan hangat dan mengikuti wanita itu keluar melewati serambi. Sebuah gerbang yang dipalang dibuka lalu wanita itu membawa saya kedalam sebuah ruangan yang panjang seperti aula dengan langit-langitnya yang tinggi dan tidak berjendela. Cahaya yang masuk kesana datangnya dari gerbang berjeruji besi yang dipasangkan kesalah satu dinding. Ada satu lagi gerbang tertutup diseberangnya. Ada kira-kira 10 wanita berjongkok diatas tikar-tikar anyaman daun palem yang kotor, ada yang berbaring atau bersandar di dinding dengan sikap-sikap merengut atau acuh tak acuh. Saya mendengar bantingan pintu tertutup di belakangku lalu dikunci dan tanpa daya memandang ke arah wanita yang paling dekat denganku.

“Apa yang terjadi? Dimanakah pekerjaan yang akan kulakukan?,” saya bertanya. “Pekerjaan? Tidak ada pekerjaan disini. Kau berada di penjara, sama seperti kami. Apakah yang telah kau lakukan sehingga dijebloskan kesini?”

Saya memerlukan waktu satu-dua menit untuk menyadarinya. Apa yang dinamakan sahabat dekat keluarga ini telah menjebloskan saya ke penjara dengan alasan karena saya seorang Kristen. Saya telah dikelabui dan terperangkap. Saya berlari-lari ke pintu gerbang dan menggoncang-goncangkan palangnya. Tidak ada seorangpun yang datang, saya memanggil manggil, tidak ada yang menjawab, kecuali wanita muda yang telah berbicara padaku tadi.

“Engkau dapat berteriak-teriak sekuat-kuatmu tidak akan menolong untuk membuatmu keluar dari sini.” Saya berpaling padanya, “Tempat apakah ini?”

“Anda harus tahu, oh orang yang masih hijau, tempat ini ialah Penjara penitipan, tempat seseorang ditahan menunggu untuk diadili atau jika kau dapat menemukan seseorang yang akan menebusmu keluar.” Cara mengutarakannya lebih keras lagi, kedengarannya dari yang diucapkannya.

Saya berusaha untuk tetap tenang dan berpikir. Berapa lamakah saya akan di tahan disini? Kejahatan apa yang akan mereka tuduhkan padaku? Apakah menjadi pemeluk Kristen merupakan kejahatan? Jelas, menurut undang-undang dasar, menjadi kelompok minoritas bukanlah sesuatu kejahatan. Namun, menurut hukum Islam, saya telah melakukan sesuatu kejahatan yang sangat besar dan bagi keluargaku tindakanku telah menjadi suatu kenajisan. Pikiran itu mengingatkan saya, akan janji Anis untuk datang menemui saya. Saya yakin kakakku akan segera datang. Kemudian mataku tertuju kearah tasku-merupakan suatu keuntungan bagiku tas itu tidak mereka sita dariku. Dan Alkitabku ada di dalamnya bersama beberapa potong pakaian yang merupakan harta kekayaan tidak ternilai di tempat seperti itu.

Saya melihat sekelilingku lebih teliti lagi. Dimana saya dapat beristirahat disini? Panjang ruangan itu kira-kira 25 meter, ada tiga atau empat kamar disamping-sampingnya dimana diletakkan tempat-tempat tidur besi ditutup dengan selimut tebal berwarna gelap. Udara disini dingin karena aliran udara malam Himalaya, yang masuk melalui lobang berjeruji dari gerbang yang dipalang itu. Namun, sepintas lalu saya berkata kepada diriku bahwa saya tidak akan dapat tidur disini.

Kamar-kamar itu sangat gelap, tanpa aliran udara, tanpa jendela seperti kuburan-kuburan saja layaknya. Dan saya tidak mau di gigit hidup-hidup oleh seranga-serangga yang menghuni selimut-selimut itu. Diluar, dilantai yang dingin, keras dan kotor itu, wanita-wanita lainnya membuangkus diri mereka seluruhnya dengan seprei dan bertiduran di atas tikar-tikar kotor. Sambil membungkus diriku dengan kain sebanyak mungkin yang tersedia dan dapat dipakai, sepanjang malam saya duduk terus sambil terkantuk-kantuk memandang lewat jeruji-jeruji penjara ke langit malam yang bersih disinari bulan dan bintang-bintang. Kebersihan makanan merupakan, suatu masalah yang terus menerus menyakitkan hatiku, begitu juga yang dirasakan wanita-wanita lainnya.

Bau yang tidak sedap yang tercium didalam ruangan itu menunjukkan bahwa ada kamar kecil didekatnya sedangkan air untuk menyiram tidak cukup begitu juga peralatan untuk mencuci yang layak – yang ada hanya sedikit air sebanyak satu ‘muntuka’ atau ember dan merupakan jatah untuk dibagikan diantara kami selama sehari penuh oleh tukang air. Ada sebuah mangkuk yang dipasangkan rantai diikatkan pada bagian atas ember, dua gelas untuk minum dan sebuah ‘lotha’ untuk keperluan air wudhu. Saya tidak pernah melihat seorangpun yang menggunakannya selama saya disana. Bersembahyang merupakan hal yang sangat jauh dari pikiran mereka. Tiga kali sehari seorang penjaga penjara masuk membawa sesuatu yang merupakan makanan roti kering dan teh untuk sarapan serta pada waktu makan lainnya, sup miju-miju (lentil) encer, ‘chapatti’ yang kurang dimasak dan sesekali terong tawar. Rupa dari makanan ini- yang tidak akan saya berikan bahkan bagi para pengemis dirumahku – menyebabkan para narapidana naik pitam kadang-kadang mereka menyiramkan teh keatas penjaga yang jatuh, menyumpah-nyumpahinya begitu juga koki, polisi, pengadilan juga satu terhadap yang lain menggunakan kata-kata yang membuat saya menutup telingaku rapat-rapat.

Melewati gerbang berpalang itu, di kejauhan kami dapat melihat pada selang-seling waktu para anggota keluarga atau kawan-kawan dari narapidana datang memberikan penghiburan. Gerbang akan dibuka dan satu atau dua dari para wanita itu akan dibawa keluar ke kamar tamu untuk waktu singkat lalu kembali membawa oleh-oleh yang agak dapat memperbaiki keadaan hidup – seprei-seprei bersih, makanan. Segera nasi manis dan pilau serta potongan-potongan ayam dibagi-bagikan keliling tapi saya tidak mendapat bagian.

Tidak ada yang meberi perhatian atas kehadiranku atau berkeinginan untuk menuduhku dengan sesuatu tuduhan. Namun saya ketahui bahwa tempat ini hanyalah tempat tahanan sementara bagi mereka yang menunggu untuk di adili. Berapa lama gerangan seseorang dibiarkan merana ditempat ini tanpa diadili?

Saya bertanya pada petugas penjara, wanita setengah baya, “Kenapa saya berada disini?”

“Saya tidak tahu kenapa, pengawas penjara memerintahkan saya, katanya acuh, saya hanya menuruti perintah saja.”

Dari arah barat penjara yang satunya untuk pria yang dapat mendengarkan jeritan orang-orang yang sedang dipukul kuat-kuat. Wanita-wanita lainnya – sebagian terlibat dengan geng-geng di kota mengatakan bahwa cara ini dilakukan agar seseorang mengaku dan dapat dibuatkan tuduhan yang wajar atasnya. Saya juga mengetahui bahwa perempuanpun dipukuli oleh petugas wanita untuk maksud yang sama. Saya menunggu bertanya-tanya apakah hal semacam ini juga akan menimpa saya.

Selama seminggu pertama saya tidak dapat tidur di lantai keras itu atau memakan makanan penjara. Sekali menghirup bau sup saja telah menghilangkan napsu makanku. Saya tidak suka akan keadaan kotor atau caplak, bau atau pada mulanya para wanita bersamaku disitu. Namun, ketika diombang-ambingkan oleh kesangsian dan gelombang ketakutan maka saya akan mengambil Alkitab ku yang sangat berharga, dan saya mengalami bahwa lama kelamaan saya mulai dapat menyesuaikan keadaan dan perasaan damai mulai mengalir laksana sungai di hatiku. Saya membaca tentang Petrus dan Yohanes dalam penjara di Kisah Rasul 12 : 6-8. Terasa olehku bahwa bagi mereka pun hal ini merupakan suatu pukulan karena diperlakukan sebagai penjahat seperti halnya dengan saya. Namun keduanya mengucap syukur dan menyanyikan puji-pujian. Begitu juga Rasul Paulus, menulis dari dalam penjara: “Dalam segala hal aku mengucap syukur.” Baiklah bila demikian, saya akan mengucap syukur karena dapat membuktikan pada Elohim ketabahanku waktu menghadapi hal yang sama. Pada mulanya saya menggunakan waktu lowong utuk dimeditasikan atas Firman Elohim, saya mengasingkan diriku dari kawan-kawan seselku. Jelas bagiku kebanyakan dari mereka adalah penjahat-penjahat yang mencintai kejahatan. Anggota-anggota geng dan kelompok penjahat kota besar, pencuri, pencopet, penculik dan seorang yang melakukan pembunuhan di propinsi perbatasan barat laut yang membunuh suaminya. Oh. perasaan sombong yang bercokol dalam diri “penjara” ini merupakan obat mujarab untuk melenyapkannya. Karena hanya berdiam diri dan tenang sewaktu saya mencurahkan perhatian pada Alkitabku maka timbullah rasa hormat dan ingin tahu mereka terhadapku.Saya merupakan teka-teki yang pada akhirnya memerlukan penjelasan.

“Apa yang sedang kau baca dengan penuh perhatian itu?”
Saya memandang keatas pada sipenanya, seorang wanita muda yang pada wajahnya terlukis segala bentuk kejahatan.
“Kau telah membaca buku itu berhari-hari tanpa menghiraukan bahwa kami hadir disini. Pastilah itu sebuah buku yang bagus. Tentang apakah gerangan isinya?”
“Apakah anda benar-benar mau tahu tentang buku ini?”
“Yah, sesuatu untuk mengisi waktu lowongku,”
katanya (kuketahui namanya: Kalsoum). Wanita-wanita lainnya menghentikan kasak-kusuk mereka untuk mendengarkan percakapan kami. jadi saya mulai bercerita tentang Dia kepada wanita-wanita ini.
“Ini adalah sebuah cermin”.
“Bagaimana mungkin itu cermin? Saya kira itu buku”
ujar seorang lain (kuketahui namanya Khatoon) sambil memandang sekeliling pada kawan-kawannya untuk mendapatkan dukungan terhadap pendapatnya.
“Baiklah, inilah sebuah buku yang juga adalah Cermin karena disini kita melihat diri kita sendiri waktu menghadap Elohim yang akan menghakimi seluruh umat manusia.”
“Tidaklah merupakan suatu gambaran yang bagus,”
kata salah seorang dari mereka sambil tertawa kasar.

“Anda benar,” jawabku, “cermin ini menunjukkan pada kita apa yang kita lakukan yang disebut “Dosa,” dosa-dosa kita adalah hal yang buruk di mata manusia apalagi di mata Elohim. Manusia mengutuk dosa-dosa kita dan akan menghukum kesalahan yang kita perbuat. Tapi Elohim itu suci dan Dia akan lebih mengutuk kita lagi karena dosa kita. Dosa tidak membuat Elohim senang. Dosa menentang Dia, Dia harus mangukum dosa dengan kematian.” Wanita-wanita malang ini memperhatikan benar-benar penjelasanku, seperti menunggu hukuman baginya. Saya lanjuntukan, “Anda tentunya berpikir, ‘Jadi, tidak ada jalan keluar bagi kita. Kita harus menanggung hukuman bagi kita,’ Tapi cermin ini menunjukkan pada kita bahwa Elohim mempunyai dua jalan untuk berurusan dengan dosa kita. Jalan yang satu menuju kematian dan jalan yang lainnya memimpin kita kepada kehidupan dan kita dapat memilih jalan mana yang akan kita ambil.”

Suasana hening dipecahkan oleh Kalsoum yang bertanya, “Bagaimana caranya cermin itu melakukan semuanya ini?”

“Ditunjukkannya bahwa Elohim sendiri telah menyediakan satu jalan untuk mengampuni dosa kita. Dia sendiri memanggil kita orang-orang berdosa datang kepadaNya mengakui dosa dan kesalahan kita untuk diampuni. Buku ini memberitahukan kepada kita, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”(Mat 11:27-30).

Saya terkejut atas reaksi mereka atas firman ini mereka mendengarkan penjelasan ini dengan cermat. Seorang dari mereka berkata, “Kami tidak menyangkal bahwa kami dibebani oleh dosa. Itulah sebabnya kita dimasukkan ketempat ini. Tidak ada yang dapat melepaskan kita dari tanggung-jawab terhadap apa yang kita lakukan.”

Saya jelaskan padanya doktrin pengampunan sebagaimana difirmankan dalam 1 Yoh 1:8-9: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Dia adalah setia dan adil untuk mengampuni dosa kita dan membersihkan kita dari segala dosa kita.” Beberapa dari antara mereka sangat tergerak oleh firman ini, terlihat ada airmata dimatanya.

Mereka meminta padaku untuk mengajar mereka lebih jauh lagi. Jadi diatur, bahwa setiap pagi saya akan melakukan suatu penelahan Alkitab bersama mereka. Dalam waktu singkat saya mulai melihat suatu perubahan terjadi pada mereka yang terpancar melalui kerudung yang kotor. Mereka tidak hanya membagikan daging dan ‘pilaunya’ padaku atau memberi sehelai selimut bersih untuk tidur. Hasil terbaik ialah tujuh dari mereka mengaku dosanya dihadapan Elohim dan membenarkan tuduhan yang selama ini disangkalnya didepan para petugas yang berwajib termasuk si pembunuh dari propinsi perbatasan barat laut dan dua pencopet. Mereka meyakinkan kepadaku bahwa mereka tidak akan melakukan kejahatan lagi.Inilah pekerjaan yang diperuntukkan bagimu sehingga dimasukkan ke penjara,” kataku pada diriku sendiri setelah waktu sebulan berlalu dengan berbagai pengalamannya. Tiga dari mereka dibawa kepengadilan dan pergi dengan bercucuran air mata karena perpisahan denganku.

Namun kemudian sayapun dipanggil, pintu penjara dibuka, dan saya dibawa keruang duduk pimpinan penjara dimana saya bertemu dengan Anis yang sangat kuatir menunggu bersama teman kami yaitu Nyonya yang saya percayai itu-
beliau berusaha agar sedapat-dapatnya tidak kelihatan terlibat. Anis segera datang dan memelukku yang masih dalam keadaan kotor. Lalu ia berpaling ke Nyonya tersebut dan bertanya, “Apa yang telah dilakukan adikku sehingga dimasukkan kedalam penjara? Apakah ia membunuh seseorang?”

Adikmu telah berpindah agama. Ia telah murtad dari Islam. – Tindakan itu, suaranya dipertegas,- merupakan suatu dosa yang lebih berat dari membunuh!.

“Itu adalah keyakinan dia pribadi. Ia menemukan kebenaran dan tidak merasa takut untuk menyaksikannya dan nyonya tidak berhak menjebloskan seseorang karena alasan itu, kecuali tidak ada lagi undang-undang di Pakistan.”

Kawan kami tidak berkata apa-apa. Ia mengangkat bahunya, “Baiklah, jika anda mau membawanya pulang, silahkan.” Anis berpaling padaku, “Gulshan, sekarang kau harus pulang bersama.”

“Saya tidak suka melakukannya. Untuk apa saya harus pulang kerumah. Penjara ini lebih baik bagiku dari di rumahmu.”

Kelihatannya, perasaannya terluka. “Kenapa kau berkata begitu?”

“Karena suamimu menyalah-artikan tentang Yeshua dan SalibNya dan saya tidak mau mendengarkan hal semacam itu. Di penjara ini para wanita itu telah mendengarkanku dan menerima Yeshua. Saya dapat melakukan pekerjaan yang bermanfaat.”

Dengan berlinang air mata kakakku mengelus-elusku. “Engkau sangat mencintai Yeshua, saya rela memberikan hidupku untuk Yeshua.” Perasaan itu benar, semua yang telah terjadi hanyalah semakin menambahkan ketetapan iman dan percayaku. Saya telah ditempatkan pada keadaan putus asa yang kelam dan mengacaukan perasaanku. Namun, dalam kegelapan ada sinar cahaya.”

Anis berkata, “Saya juga mencintai Yeshua. Saya mau belajar lebih banyak tentang Dia darimu.” Lalu ia menceritrakan padaku apa yang terjadi dengan suaminya. Tidak lama setelah saya meninggalkan rumah, pada hari yang sama, suaminya mengalami kecelakaan lalulintas lalu masuk rumah-sakit selama sebulan. Saya tidak dapat dihubungi waktu itu karena jelas kewajibannya yang utama sebagai istri ialah mengurus suaminya. Ia melanjutkan, “Sekarang ia tidak akan melakukan sesuatu terhadapmu. Ia telah mengijinkan saya untuk menjemputmu pulang.” [Inilah makna dari Roma 8:28!!]

Betapa cepatnya keberuntungan itu berbalik. Pada suatu ketika saya berada dengan sampah masyarakat dari kelompok wanita di penjara dan memperoleh kenyataan betapa manisnya pengalamanku bersama mereka. Dalam waktu satu jam atau lebih sedikit setelahnya, saya sudah mandi didalam kamar mandi dirumah kakakku yang indah dikota satelit Rawalpindi, dengan para pelayan yang siap menunggu permintaanku – sambil mengira-ngira, berapa lama saya gerangan akan menikmati keadaan ini sebelum saya menerima perintah untuk keluar karena ketidak sanggupanku untuk berdiam diri tentang iman percayaku.

Bersambung ke Bab 12 (Bg.7)

Gulshan Esther (Fatimah); Kerudung Yang Terkoyak. Bg. 1 ; Bg. 2 ;

Bg. 3 ; Bg. 4 ; Bg. 5 ; Bg.6 ; Bg. 7

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

5 Muslim Pakistan tertuduh pidana perkosaan menyerang korbannya

Lahore, Pakistan 18 Maret 2010 (CDN). Karena takut akan tuduhan pengadilan, 5 pria Muslim menyerang dan mengancam membunuh keluarga yang telah mereka perkosa dengan tujuan keluarga korban pemerkosaan ini menarik tuduhan tersebut dari pengadilan.

Muhammad Sajjid bersenjatakan pistol, Muhammad Sharif dengan pisau belati dan Muhmmad Wajjad dan dua lainnya yang tidak diketahui indentitasnya bersenjatakan bambu mendatangi rumah korban pemerkosaan mereka pada tanggal 26 Pebuari sore. Mereka merusak dan memukuli dengan keras kedua wanita kakak-beradik berusia 15 dan 21 tahun.

Muniran Bibi berkata bahwa Sharif menusuk dia empat kali dengan belatinya, ”Mereka merobek pakaian saya, juga saudari perempuan saya dan sementara itu, Muhammad Sajjid terus-menerus menembakan pistolnya keudara untuk menterror kami.”

Pemimpin All Pakistan Minorities Alliance (Persatuan Semua Minoritas Pakistan) berkata bahwa pemerkosaan pada anak gadis terkecil itu terjadi pada bulan April 2007, ketika itu ia masih berusia 13 tahun. Ia diperkosa oleh empat pemuda Muslim dan setelah itu disembunyikan di suatu tempat. Hasil penyelidikan medis telah membuktian bahwa gadis 13 tahun ini telah berulang-ulang diperkosa.  Mereka telah merusak kehidupan gadis kecil ini.

Seorang tetangga dari keluarga korban yang meminta tidak disebutkan namanya berkata sejumlah besar orang berkumpul di depan rumah tersebut karena mendengar jeritan keluarga korban, menyebabkan kelima Muslim melarikan diri.

Ketika keluarga ini melaporkan ke polisi untuk pertolongan, para polisi menolak untuk mendaftarkan masalah penyerangan tersebut.

Ahli hukum Azra Shujaat, pemimpin dari Global Evangelical Ministries, berkata bahwa dengan menolak mencatat tuduhan-tuduhan pelanggaran kekerasan fisik dan membawa senjata illegal, polisi telah tunduk kepada kekuatan orang-orang Muslim kaya. Ia juga menyatakan bahwa bukti pada persidangan telah menunjukan bahwa mereka bertanggung jawab untuk pemerkosaan tersebut

Ferhan Mazher, pemimpin dari group hak-hak Kristen yang bernama Rays of Development Organization, berkata satu-satunya cara untuk “criminal-kriminal Muslim yang tidak dapat diterima ini” menghindari hukuman pengadilan adalah menyakinkan keluarga Kristen korban tersebut, melalui ancaman-ancaman dan kekerasan, untuk menarik tuduhan-tuduhan pengadilan.

Ingatlah mereka yang teraniaya dan doakan mereka.

Untuk informasi lebih jelas tentang korban Anda dapat menghubungi

Compass Direct News Service
PO Box 27250. Santa Ana CA 92799, USA
Phone: +1 949-862-0304; Fax: +1 949-752-6536
E-Mail: info@compassdirect.org

Galatia 5:19-23
(19-21)  Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu–seperti yang telah kubuat dahulu–bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Elohim.
(22-23)  Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Sumber berita: Compas Direct News

Baca juga:

  1. Iman seorang pembantu Kristen di Pakistan
  2. Pakistan: Azra Bibi terbebas dari Perbudakan
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Yahweh Yeshua Telah Membangkitkan Dominggus Kenjam Dari Kematian

“Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya.” Yohanes 5:21
Dominggus Hidup Kembali
Saudara-saudara yang dikasihi oleh Yahweh, dalam kesempatan ini saya akan bersaksi tentang peristiwa kematian dan kehidupan yang saya alami pada tanggal 15 Desember 1999. Peristiwa ini juga merupakan suatu tragedi bagi yayasan Doulos, Jakarta dimana STT Doulos ada di dalamnya dan saya adalah mahasiswa yang tinggal di asrama. Sebelum penyerangan dan pembakaran Yayasan Doulos tanggal 15 Desember itu, beberapa kali saya mendapat mimpi-mimpi sebagai berikut:

Minggu, 12 Desember 1999, saya bertemu dengan Yahweh Yeshua dan malaikat, saya terkejut dan bangun lalu berdoa selesai saya tidur kembali.
Senin, 13 Desember 1999, saya bermimpi lagi, dengan mimpi yang sama.
Selasa, 14 Desember 1999, dalam mimpi saya bertemu dengan seorang pendeta pada suatu ibadah KKR, isi khotbah yang disampaikan mengenai akhir zaman, adanya penganiayaan dan pembantaian.
Rabu, 15 Desember 1999, kurang lebih pukul 08.00 pagi, saya mendapatkan huruf “M” dengan darah di bawah kulit pada telapak tangan kanan saya. Dalam kebingungan dan sambil bertanya-tanya dalam hati, apakah saya akan mati? Saya bertanya kepada teman-teman dan pendapat mereka adalah bahwa kita akan memasuki millennium yang baru. Walaupun pendapat mereka demikian saya tetap merasa tidak tenang serta gelisah karena dalam pikiran saya huruf “M” adalah mati, bahwa saya akan mengalami kematian. Saya hanya bisa berdoa dan membuka Alkitab. Sekitar pukul 15.00 saya membaca firman Yahweh dari Kitab Yeremia 33:3 “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab Engkau.” Dan pada pukul 18.00, tanda huruf “M” di telapak tangan saya sudah hilang.

Kampus dan Asrama Mahasiswa Doulos Diserang
Pada malam hari tanggal 15 Desember 1999. Kegiatan berlangsung biasa di dalam asrama kampus STT Doulos.

Sebagian mahasiswa ada yang  sedang belajar, yang lain memasak di dapur dan ada pula yang sedang berdiam. Saya sendiri sedang berbaring di kamar. Kurang lebih jam 21.00 malam itu, saya dibangunkan oleh seorang teman sambil berteriak: “Domi, bangun, kita diserang!” Saya langsung bangun dalam keadaan panic, saya langsung berlari ke halaman kampus dan melihat sebagian kampus kami yang telah terbakar. Saat itu saya berkata kepada Yahweh: “Yahweh, saya mau lari kemana? Yahweh, kalau saya lari lewat pintu gerbang depan pasti saya dibacok.”

Sementara pikiran saya bertambah kalut ketika teringat akan tanda huruf “M” yang diberikan pada tangan saya. “Yahweh, apakah saya akan mati?” Saya menoleh ke belakang, ada beberapa teman sekamar yang lari menyelamatkan diri masing-masing.

Di belakang kampus kami dikelilingi pagar kawat duri setinggi 2 meter, saya tidak bisa melompat keluar dengan cara mengangkat kawat itu. Dengan tangan sedikit terluka akhirnya saya pun dapat keluar.

Kami sudah berada di luar pagar dengan keadaan takut dan gemetar karena di sana terdapat massa atau orang banyak yang tidak dikenal, mereka membawa golok, pentungan, batu dan botol berisi bensin atau Molotov. Kemudian kami berpisah dengan teman-teman, saya tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka.

Saya lari menuju kos kakak tingkat semester 10, yang letaknya tidak jauh dari kampus. Sementara saya berlari, saya tetap berdoa kepada Yahweh: “Yahweh berkati saya, ampuni dosa dan kesalahan saya.” Setiba di rumah kos itu, saya mengetuk pintu sebanyak 2 kali tetapi tidak ada yang membukakan pintu.

Ternyata di belakang saya ada 4 teman mahasiswi yang juga lari mengikuti dari belakang. Mereka memanggil saya: “Domi, ikut ke rumah kami” tetapi saya berkata kepada mereka, “biar saya bersembunyi di sini.” Masih berada di depan rumah kos tersebut, saya berdoa lagi “Oh.. Yahweh, apakah malam ini saya akan mati? Ampuni dosa dan kesalahan saya.”

Ditangkap oleh Massa
Saya mengetuk pintu lagi, tetapi tidak ada orang yang menjawab, saya berdoa kembali: “Yahweh.. ini hari terakhir untuk saya hidup.” Terdengar suara massa yang semakin mendekat kepada saya. Mereka berkata: “Itu mahasiswa Doulos, tangkap dia!” Ada juga yang berteriak: “Bantai dia, tembak!”
Seketika itu saya ditangkap dan saya hanya bisa berserah kepada Yahweh sambil berkata: “Yahweh saya sudah di tangan mereka, saya tidak bisa lari lagi.”
Kemudian tangan saya diikat ke belakang dan mata saya ditutup dengan kain putih. Saya tetap berdoa dalam keadaan takut dan gemetar: “Yahweh ampuni dosa saya, pada saat ini Engkau pasti di samping saya.” Tiba-tiba ada suara terdengar oleh saya entah dari mana, yang berkata: “Jangan takut, Aku menyertai engkau, Akulah Yahweh Elohimmu.” Setelah mendengar suara itu, rasa ketakutan dan kegentaran hilang, karena saya sudah pasrahkan kepada Yahweh.

Penganiayaan dan Kematian
Mereka membawa saya ke tempat yang gelap, saya dipukuli dan ditendang. Saya dihadapkan dengan massa uang jumlah orangnya lebih banyak, saat itu mereka ragu, apakah saya mahasiswa Doulos atau warga sekitarnya. Sebagian massa ada yang terus mendesak untuk memotong dan membunuh saya.

Saya berdoa lagi: “Yahweh, fisik saya kecil, kalau saya mati, saya yakin masuk sorga. Saat ini saya serahkan nyawa saya ke dalam tangan kasih-Mu, ampunilah mereka.” Saat itu kepala saya dipukul dari belakang dan terjatuh di atas batu, saya tidak sadar akan apa yang terjadi lagi.

Roh Saya Keluar Dari Tubuh
Kemudian … roh saya terangkat keluar dari tubuh saya, roh saya berbentuk seperti orang yang sedang start lari atau sedang jongkok, lalu lurus seperti orang yang berenang kemudian berdiri. Roh saya melihat badan saya dan berkata: “Kok badan saya tinggal” (sebanyak dua kali). Roh saya berdiri tidak menyentuh tanah dan tidak tahu mau berjalan kemana, karena di sekeliling saya gelap gulita, kurang lebih lima detik, roh saya berkata:
“Mau ke mana?”

Lima Malaikat Datang Menjemput Saya
Saat itu ada lima malaikat datang kepada saya, dua berada di sebelah kiri, dua di sebelah kanan dan satu malaikat berada di depan saya. Tempat yang tadinya gelap gulita telah berubah menjadi terang dan saya sudah tidak dapat melihat badan saya lagi. Roh saya dibawa oleh malaikat-malaikat tersebut menuju jalan yang lurus, dan pada ujung jalan itu sempit seperti lubang jarum. Roh saya berkata: “Badan saya tidak dapat masuk.” Tetapi malaikat yang di depan saya bisa masuk, lalu roh saya berkata lagi: “Badan rohani saya kecil pasti bisa masuk.” Kemudian roh saya masuk melalui lubang jarum tersebut.

“Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.” Lukas 16:22

Berada di Dalam Firdaus
Saat itu saya sudah berada di dalam sebuah halaman yang luas. Halaman itu sangat luas, indah dan tidak ada apa-apa. Roh saya berkata: “Kalau ada halaman pasti ada rumahnya.” Tiba-tiba saat itu ada rumah, saya dibawa masuk ke dalam rumah tersebut dan bertemu dengan banyak orang di kamar pertama. Roh saya berkata: “Ini orang-orang yang percaya kepada Yeshua Ha Mashiah, mereka ditempatkan di sini.” Mereka sedang bernyanyi, bertepuk tangan, ada yang berdiri, ada yang duduk dan ada yang meniup sangkakala.

“Di rumah Bapaku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Yohanes 14:2

Dibawa ke Ruangan Selanjutnya
Saya dibawa oleh malaikat-malaikat ke kamar selanjutnya atau kedua, sama dengan kamar yang pertama, hanya disini roh saya melihat orang-orang dengan wajah yang sama dan postur tubuh yang sama. Kemudian saya dibawa lagi ke kamar yang ketiga, yang sama dengan kamar yang pertama. Dan roh saya berkata: “Ini orang-orang yang percaya kepada Yeshua Ha Mashiah, ditempatkan di sini.” Lalu roh saya dibawa ke kamar yang keempat yaitu kamar yang terakhir, pada saat ini saya hanya sendiri, tidak disertai oleh malaikat-malaikat tadi. Kamar itu kosong, lalu roh saya berkata: “Ini penghakiman terakhir, saya masuk sorga atau neraka.”

“Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Elohim sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Elohim? Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa?” 1 Petrus 4:17-18

Bertemu dengan Yahweh Yeshua
Kemudian roh saya berjalan tiga sampai empat langkah, di depan saya ada sinar atau cahaya yang sangat terang seperti matahari, maka roh saya tidak dapat menatap. Saya menutup mata dan terdengar suara: “Berlutut!” Seketika itu roh saya berlutut, terlihat sebuah kitab terbuka dan dari dalamnya keluar tulisan yang masuk ke mata saya yang masih tertutup, tulisan timbul dan hilang terus menerus, roh saya berkata: “Yahweh…! ini perbuatan saya minggu lalu, bulan lalu, tahun lalu. Saya melakukan yang jahat dan saya tidak pernah mengaku dosa pribadi, sehingga Engkau mencatatnya di sini.”

“Yahweh…! Saya ingin seperti saudara-saudara di kamar pertama, yang selalu memuji dan memuliakan Engkau. Yahweh…! Saya tahu Engkau mati di atas kayu salib untuk menebus dosa saya, saya rindu seperti saudara-saudara yang berada di kamar pertama, kedua dan ketiga yang selalu memuji-muji Engkau.”
Sesudah itu tulisan yang keluar dari kitab itu hilang, buku manjadi bersih tanpa tulisan, kemudian buku itu hilang dan sinar yang terang itupun hilang dan ada suara berkata: “Pulang! Belum saatnya untuk melayani Aku.”

Saya melihat-lihat dari mana arah suara itu datang, saya melihat ada seorang di samping kanan. Orang tersebut badan-Nya seperti manusia, rambut hingga ke lehernya bersinar terang. Jubah-Nya putih hingga menutupi kedua tangan-Nya dan bawah jubah-Nya menutupi kaki-Nya. Ia menunggangi seekor kuda putih dengan tali les yang putih. Lalu roh saya berkata: “Ini Yahweh Yeshua, Dia seperti saya, Dia Elohim yang hidup.”

“Lalu aku melihat sorga terbuka; sesungguhnya, ada seekor kuda putih dan Ia yang menungganginya bernama: “Yang Setia dan Yang Benar” Ia menghakimi dan berperang dengan adil.” Wahyu 19:11

Kemudian Yahweh Yeshua tidak nampak lagi dan seketika itu roh saya dibawa pulang ke dalam tubuh saya. Saat itu juga ada nafas, ada pikiran dan saya berpikir, tadi saya bersama dengan Yahweh Yeshua. Setelah itu saya mencoba beberapa kali untuk bangun dan mengangkat kepala, tetapi tidak bisa, terasa sakit sekali, saya baru sadar bahwa leher saya telah dipotong dan hampir putus, kemudian saya dibuang ke semak-semak dengan ditutupi daun pisang. Saya merasa haus, lalu menggerakkan tangan mengambil darah tiga tetes dan menjilatnya, lalu badan saya mulai bergerak.

Saya berdoa: “Yahweh, lewat peristiwa ini saya telah bertemu dengan Engkau, dan Engkau memberikan nafas dan kekuatan yang baru sehingga aku hidup kembali, tapi Yahweh, Engkau gerakkan orang supaya ada yang membawa saya ke rumah sakit.”

Yahweh menjawab doa saya, malam itu ada orang yang mendekati saya dengan memakai lampu senter, lalu bertanya: “Kamu dari mana?” Saya tidak bisa menjawab, karena saya tidak dapat berbicara lewat mulut, tidak ada suara yang keluar, hanya hembusan nafas yang melalui luka-luka menganga pada leher. Kemudian orang tersebut memanggil polisi.

Puji Yahweh! Dikira sudah meninggal tetapi masih hidup. Mereka mengira saya sudah meninggal, mereka mengangkat dan membawa saya ke jalan raya. Kemudian polisi mencari identitas atau KTP saya, ternyata tidak ditemukan. Tanpa identitas, mereka bermaksud membawa saya ke sebuah rumah sakit lain, tetapi saya ingat kembali akan suara Yahweh dan takhta-Nya di sorga, ternyata ada kekuatan baru dari Yahweh Yeshua yang memampukan saya dapat berbicara.
Tiba-tiba saya berkata: “Nama saya Dominggus, umur saya 20 tahun, semester III, tinggal di asrama Doulos, saya berasal dari Timor.”
Orang-orang yang sedang melihat dan mendengar saya, berkata: “Wah, dia dipotong dari jam berapa? Sekarang sudah jam 02.30 pagi, tapi dia masih hidup.”

Perjalanan ke Rumah Sakit UKI
Kemudian mereka memasukkan saya ke dalam mobil dan meletakkan saya di bawah. Saya tetap mengingat peristiwa ketika Yahweh Yeshua dianiaya. Sementara mobil meluncur dengan kecepatan tinggi, saat melewati jalan berlubang atau tidak rata mobilpun berguncang dan saya merasa sangat sakit sekali pada luka di leher. Saya katakan kepada Yahweh: “Yahweh, apakah saya dapat bertahan di dalam mobil ini? Yahweh ketika Engkau di atas kayu salib, Engkau meminum cuka dan empedu, tetapi saya menjilat darah saya sendiri karena tidak ada orang yang menjagai saya.”
Saya membuka mata, ternyata memang tidak ada seorangpun yang menjagai saya, hanya seorang supir. Tetapi saya melihat beberapa malaikat berjubah puith menjaga dan mengelilingi saya. Saya katakan: “Yahweh ini malaikat-malaikat pelindung saya, mereka setia menjagai.” Saya harus berdoa agar tetap kuat.

Perawatan di Rumah Sakit
Setiba di rumah sakit, suara saya dapat normal kembali. Saya dapat berbicara dan bertanya kepada perawat: “Bapak saya mana?” perawat RS bertanya kepada saya: “Bapakmu siapa?” Saya jawab: “Bapak Ruyandi Hutasoit.” Ketika Bpk. Ruyandi menemui saya, ia berkata: “Dominggus.. leher kamu putus!” Jawab saya: “Bapak doakan saya, sebab saya tidak akan mati, saya telah bertemu dengan Yahweh Yeshua.” Lalu Bpk. Ruyandi mendoakan dan menumpangkan tangan atas saya.
Setelah itu saya mendapat perawatan, seorang dokter ahli saraf hanya menjahit kulit leher saya, karena luka bacokan sudah menembus sampai ke tulang belakang leher, sehingga cairan otak mengalir keluar, saluran nafas dan banyak saraf yang putus. Kemudian saya dirawat tiga hari di ruangan ICU dan selama perawatan saya tidak diberikan transfusi darah pendapat dokter pada saat itu adalah bahwa saya akan mati dan saya tidak diharapkan hidup, mengingat cairan otak yang telah keluar dan infeksi yang terjadi pada otak, yang semua itu akan menimbulkan cacat seumur hidup.

Mukjizat Kesembuhan Terjadi
Tanggal 19 Desember 1999 dengan panas badan 40°C dan seluruh wajah yang bengkak karena infeksi, saya dipindahkan keluar dari ruang ICU, dikarenakan ada pasien lain yang sangat memerlukan dan masih mempunyai harapan hidup yang lebih besar daripada saya.
Pada malam hari, roh saya kembali keluar untuk kedua kali dari tubuh saya, roh saya melihat suasana kamar dimana saya dirawat dan kemudian roh saya berjalan sejauh kurang lebih dua atau tiga kilometer dalam suasana terang di sekeliling saya. Tiba-tiba ada suara terdengar oleh saya: “Pulang..pulang…!”

Seketika itu juga, roh saya kembali ke dalam tubuh saya, suhu tubuh menjadi normal dan tidak ada lagi infeksi. Kemudian terdengar bunyi seperti orang menekukkan jari-jari pada leher saya, lalu otot, tulang, saluran nafas dan saraf-saraf tersambung dalam sekejab mata, saya merasa tidak sakit dan dapat menggerakkan leher. Sesudah itu saya diberi minum dan makan bubur.
Saya sudah hidup kembali, dengan kesehatan yang sangat baik. Puji Yahweh!
Keluar dari Rumah Sakit dalam Keadaan Sembuh Total

Saya berada di rumah sakit sejak tanggal 16 Desember 1999 dini hari dan keluar dari rumah sakit pada tanggal 29 Desember 1999, dengan berat badan normal dibanding dua minggu yang lalu karena banyak darah dan cairan yang telah keluar. Saya telah sembuh sempurna, tanpa cacat, tanpa perawatan jalan, saya hidup kembali dengan normal.

“Terima kasih Yahweh Yeshua, Engkau sungguh Elohim yang hidup dan ajaib, terpujilah nama-Mu kekal sampai selamanya, amin!”
(Oleh Dominggus, mahasiswa STT Doulos – 15 Desember 1999)

Yohanes  11:25-26  Jawab Yeshua: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,  (26)  dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?”

Gambar-gambar Dominggus terluka  sampai pulih kembali bisa dilihat di Pedson blogspot.com

Video Doulos:Kesaksian Seorang Mahasiswa:

Part 1Part 2

 

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

47 Rumah Orang Kristen Pakistan Dibakar Atas ’Tuduhan Penghujatan’

Punjab. Dua organisasi kemanusia Pakistan melaporkan bahwa 47 rumah milik orang Kristen di desa Korian, provinsi Punjab dibakar oleh sekelompok orang Muslim atas tuduhan anak laki Kristen merobek halaman kitab Alkuran.

Main hakim sendiri ini terjadi pada Selasa malam 28 July. Untung bahwa tidak ada korban jiwa, sebab ketika orang-orang Kristen mendengar berita akan adanya penyerangan ini dari mesjid speakePeta Pakistanr, mereka semua melarikan diri kehutan. Setelah merampasi harta benda masyarakat Kristen ini, orang-orang Muslim yang marah ini membakar rumah-rumah orang Kristen dengan bom-bom kimia.

Menurut laporan Sharing Life Ministries in Pakistan (SLMP), peristiwa bermula dari beberapa anak-anak laki Muslim rebut mulut dengan anak-anak laki Kristen, masalah ini telah diselesaikan oleh para tua-tua desa. Bagaimanapun anak-anak laki Muslim ini tidak puas dan menyebarkan gossip ’penghujatan atas Alkuran’, ini tercatat pada tanggal 25 July.

Selasa malam itu orang-orang Muslim membuat pengumuman dari mesjid desa untuk bergabung dan memberi pelajaran kepada ’orang’orang Kristen infidel’ karena melakukan penghujatan. Orang-orang Muslim dari desa-desa terdekat juga bergabung di mesjid tersebut menghasilkan lebih dari seribu orang.

Ketika laporan ini diadukan oleh beberapa pemimpin Kristen setempat ke pemerintah provinsi Punjab, polisi bagaimanapun tidak mendaftarkan laporan ini sampai laporan ini ditulis.

Penyalah gunaan Hukum Penghujatan yang dilegalkan oleh pemerinah Pakistan semakin nampak keburukannya.Membuat orang-orang Muslim bertidak sesuka hati mereka terhadap orang-orang Kristen di Pakistan. Pembakaran rumah-rumah tinggal dengan modus tuduhan yang sama dan dengan bom-bom kimia juga terjadi Shanti Nagar pada tahun 1998. Serangan pada desa Korian ini adalah tragedi ketiga kalinya di Pakistan dalam bulan July saja.

Lahor (30 Juni 2009). Perusakan rumah-rumah yang disertai dengan persampasan harta milik orang Kristen terjadi oleh karena tuduhan penghujatan terhadap agama Islam. Pukul 7 sore ketika seorang petani Kristen dengan anak prianya (10 tahun) pulang dari sawahnya, ketika mereka memasuki desa, seorang Muslim yang dikenal sebagai Muhammad Hussein dan keponankannya memarkir sepeda motornya ditengah jalan,  Masih, pengemudi traktor ini memohon Muhammad untuk mengeser motornya.  Diluar dugaan kedua pria ini menarik keluar Masih dari traktornya dan mulai memukulinya. Tidak cukup di situ, 15 sampai 20 orang Muslim menyerang keluarga ini dengan parang. Peristiwa yang tidak berprikemanusian ini rupanya tidak berhenti pada keluargan Masih saja, seorang pemimpin Islam, Muhammad Latif,  melalui spikir mesjid mengundang para Muslim untuk bersama-sama ’mengajar para Kristen sebuah contoh pelajaran.’ Lebih dari 500 orang Muslim berbondong-bondong dengan bersenjatakan tongkat dan parang merusak perkampungan Kristen dan merampas harta milik mereka. 110 rumah hancur, turbin air dirusak dan beberapa kendaraan dibakar.

Pakistan menempatkan urutan ke 13 pada daftar 2009 World Watch yang dibuat oleh Open Doors, suatu organisasi kemanusian Internasional.

Pokok Doa:

  • Berdoalah untuk orang-orang Kristen di Pakistan. kiranya Yeshua Ha Mashiah memberi mereka kekuatan imam dan kekuatan sorgawi untuk mengampuni musuh-musuh mereka yang tidak tahu apa yang perbuat.
  • Berdoalah juga untuk orang-orang Muslim di Pakistan agar Yeshua mengirim malaikat-malaikat-Nya untuk mencabut kain hitam yang menutupi mata rohani mereka. Mata mereka telah dibutakan oleh Setan, sehingga mereka berpikir bahwa berbohong, merampas milik orang lain dan merusak rumah dan kendaraan orang Kristen adalah perbuatan yang terpuji. Saudari Elizabeth dari Indonesai melalui kuasa Yahweh ia diperlihatkan isi neraka, di neraka ini ia melihat banyak sekali orang-orang bersorban (pemeluk agama Islam). Bawalah orang-orang Muslim di dalam doa-doa kita, kiranya Yahweh bermurah hati menunjukan jalan-Nya kepada mereka.

Diterjemahkan dari:

  1. 47 Pakistani Christian Homes Burned Over ‘Alleged Blasphemy’
  2. Muslims Attack 110 Homes of Christians in Pakistan

Bacaan yang berhubungan:

  1. Iman Seorang Pembantu Kristen di Pakistan
  2. Pakistan: Azra Bibi terlepas dari perbudakan
Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

 

  • Kalender

    • Juli 2020
      M S S R K J S
       1234
      567891011
      12131415161718
      19202122232425
      262728293031  
  • Cari