Daftar 50 Teratas Negara Penganiaya Terburuk atas umat Kristen 2016 World Watch List

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yohanes 16:33)

Organisasi Open Doors telah mengelarkan The World Watch List 2016, yang adalah sebuah ranking 50 negara-negara teratas dimana orang-oran Kristen menghadapi penganiayaan terburuk oleh karana iman mereka. Sumber.

9 dari 10 negara pengaiaya umat Kristen sedunia tertinggi ditempati oleh negara-negara dimana Hukum Islam adalah hukum negara. Dan 37 dari 50 negara terdaftar terjadi di negara dimana penganut agama Islam adalah moyoritas. Persentasi umat beragama di tabel diambil dari Wikipedia.

1 R. KorUt 21 Qatar 41 Kuwait
2 Irak 22 Mesir 42 Kazakhstan
3 Eritrea 23 Myanmar 43 Indonesia
4 Afganistan 24 Palestina Ter. 44 Mali
5 Syria 25 Brunai 45 Turkey
6 Pakistan 26 R. Afrika Tengah (15%) 46 Kolombia
7 Somalia 27 Yordania 47 U. Arab Emirat
8 Sudan 28 Djibouti 48 Bahrain
9 Iran 29 Laos 49 Niger
10 Libya 30 Malaysia 50 Oman
11 Yemen 31 Tajikistan
12 Nigeria 32 Tunisia
13 Maldives 33 R.R.Cina
14 Arab Saudi 34 Azerbaijan
15 Uzbekistan 35 Bangladesh
16 Kenya (11%) 36 Tanzania (32%)
17 India (Hindu) 37 Algeria
18 Ethiopia (43,5/ 33,9)* 38 Bhutan (74,7)
19 Turkmenistan 39  Comoros
20 Vietnam 40 Mexico

*: Ethiopia mayoritas adalah Orthodox  (43,5%), dan kedua tertinggi adalah Muslim (22.9%)

Baca lebih lanjut

Supir taksi memukul istrinya, kemudian menyadari lebih baik masuk ke Sorga dengan mata satu daripada ke Neraka dengan mata lengkap

“Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Elohim dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka.” Markus 9:47

Sapru supir taxi Kristen bermata satu

Sapru, supir taksi bermata satu

Sapru, 48, dibesarkan di Asia Selatan dan menjadi ateis dan fanatik komunis. “Aku tidak pernah percaya sebelumnya kepada Yeshua Ha Mashiah atau Kristianiti,” katanya. Ia menyetir taksi untuk membiayai dirinya dan istrinya, Blessey.

Sebagian besar teman-temannya adalah pecandu alkohol dan ia menjadi kecanduan alkohol juga. Istrinya, bagaimanpun adalah seorang Kristen yang tangguh, seorang wanita pendoa yang merenungkan Alkitab setiap hari – tanpa sepengetahuan Sapru. “Jika saya melihat dia berdoa atau membaca Alkitab, saya pastilah tidak mengizinkan itu,” katanya. Meskipun kondisi kerohanian yang buruk dari suaminya,

Blessey tetap memegang janji-janji Elohim dan berdoa secara teratur untuk petobatan suaminya.

Suatu malam Sapru mabuk kembali, ribut dengan istrinya dan memukuli istrinya dengan kasarnya. Ia meninggalkan rumah, masuk ke taksi dan mengemudi. Dalam kondisi mabuk, taksi bertabrakan dengan sebuah truk dan ia terluka parah. “Mata kiri saya keluar dan hancur,” katanya. “Saya berhadapan muka dengan kematian.”

Ketika Blessey mendengar berita kecelakaan tersebut, ia bergegas ke rumah sakit dengan beberapa missionari, dipimpin oleh Pastor Paul dari Alkitab-alkitab untuk Mideast (the Bibles for Mideast). Mereka berlutut dihadapan Elohim di ruang doa rumah sakit. Blessey membaca Alkitab dengan suara keras dan berseru kepada Adonai untuk penyembuhan. “Dia meminta Elohim untuk memberikan hidup saya kembali sebagai sebuah ciptaan baru,” Sapru megingat.

Sementara dokter melakukan pembedahan untuk menyelamatkan hidupnya, Supra menghadapi Pengalaman Menjelang Kematian (NDE, near-death experience). “Jiwaku mengembara untuk mendapatkan tempat duduk di Sorga,” ia menceritakan. “Para malaikat tidak mengizinkan saya untuk masuk ke dalam Sorga tapi mendorong saya menuju neraka.”

Tetapi karena doa syafaat yang sunguh-sungguh dari Blessey, Sapru percaya Yesus memperpanjang anugrah dan belas kasihan-Nya kepada dirinya. “Yesus tidak mengijinkan saya untuk jatuh ke dalam neraka, tetapi memegang saya dengan aman pada tangan-Nya yang berlubang paku tersebut oleh sebab syafaat istriku.”

Adonai memperlihatkan kepadanya istrinya dan tim doa yang sedang berlutut dan berdoa dengan air mata mereka yang bercucuran untuk dia.

Ketika Sapru melihat mereka, hatinya tersayat. Kemudian Yeshua berpaling kepadanya dan berkata: ”Pergi, dengan selamat dan dibaptis dan hiduplah bagi Ku beserta dengan keluargamu.”

Selama operasi, ada sasat tertentu ketika jantung Sapru berhenti. “Para dokter berpikir untuk menyatakan kematian saya,” kenangnya. “Tapi setelah beberapa detik kemudian saya mulai bernapas.”

”Terima kasih Elohim; sekarang ia ok,” salah satu dokter mengatakan.

“Ketika Yeshua mengijinkan rohku untuk kembali ke tubuhku, saya mulai bernafas,” Sapru berkata.

Kemudian Adonai berbicara lagi kepadanya: ”Lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Elohim dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka . Biarlah itu menjadi kesaksian kamu untuk bersaksi tentang Aku.”

“Saya telah pulih, tetapi mata kiriku benar-benar telah terangkat keluar. Saya tidak khawatir tentang hal itu, karena Adonai ingin saya untuk bisa bersamanya di sorga tanpa sebuah mata. Dia mencintai saya, sehingga ia tidak mengijinkan saya untuk pergi ke neraka dengan kedua mata. Terpujilah Adonai untuk kasih-Nya yang luar biasa!”

“Saya mengakui semua dosaku dan menerima Adonai Yeshua sebagai Juruselamat dan Adonaiku. Dalam beberapa hari saya dibaptis selam dan bersaksi tentang Adonai Yeshua Ha Mashiah bersama dengan keluargaku.”

Meskipun ia hanya memiliki satu mata, dia tetap mengendarai taksinya. Majikannya, sekarang percaya kepada Yeshua, memberi dia sebuah mobil untuk dipakai.

“Saya punya dua putra. Saya sungguh senang melihat mereka bersukacita dalam Adonai karena pertobatanku dan kegiatan-kegiatan pelayananku.”

Diterjemahkan dari: Taxi driver beat his wife, then discovered it is better to enter heaven with one eye than hell with two

Baca lebih lanjut

Henan, Cina: Istri pendeta meninggal setelah dikubur hidup-hidup saat penghancuran gereja

Organisasi Kristen China Aid, melaporkan tindakan pembunuhan oleh perusahaan dukungan pemerintah Henan atas pendeta dan istri dari sebuah gereja di Zhumadian, Profinsi Henan. Ding Cuimei istri pendeta di Henan meninggal dunia setelah di kubur hidup-hidup

Kamis 14 April 2016, pendeta Li Jiangong dan istrinya, Ding Cuimei, melangkap ke depan sebuah bulldozer untuk menghentikan peruntuhan gedung gereja mereka.

“Kuburkan mereka hidup-hidup bagi saya,” seorang anggota dari team penghancuran berkata. “Saya akan bertanggung jawab bagi hidup mereka.”

Lalu pengemudi bulldozer itu menggaruk  Li dan Ding kedalam lembah dan menutupi tubuh mereka dengan tanah. Video: Peristiwa penguburan hidup-hidup Ding Cuimei

Menjerit untuk pertolongan, Li berhasil mengeluarkan dirinya sendiri dari urukan tanah, namun Ding, istrinya meninggal dunia sebelum ia bisa dikeluarkan.

“Membulldozer dan mengubur hidup-hidup Ding Cuimei, seorang wanita yang pendiam dan Kristen yang taat, adalah sadis dan tindakan pembunuhan,” Presiden organisasi China Aid, Bob Fu berkata.

“Perkara ini adalah suatu pelanggaran hak-hak kehidupan yang serius, kebebasan beragama dan aturan hukum. Pihak berwenang Cina harus segera pertanggungjawaban pembunuh mereka dan mengambil langkah-langkah konkret untuk melindungi kebebasan beragama anggota gereja rumah ini.” Mr. Fu menambahkan.

Berkaitan dengan menyebarnya kejadian ini di media, anggota pemerintah telah menekan pendeta Li tidak membongkar lebih jelas kejadian tersebut. Sementara, pendeta Li menuntut pengadilan untuk meneliti motiv dan kondisi-kondisi dibelakang pembunuhan istrinya.

Organisasi yang sama melaporkan penganiayaan di Republik Rakyak Cina telah melonjak 150 persen setahun belakangan ini, dengan hampir tiga ribu (3.000) orang Kristen ditangkap dan hampir seribu tiga ratus (1.300) lainnya dalam kondisi tahanan.

Meskipun perlawanan dari pihak pemerintah RRC, orang-oran Kristen di Henan tetap maju di dalam iman mereka, sekaligus memberi inpirasi dan semangat pada yang lain untuk pantang mundur.

RRC adalah negara yang pemerintahannya dikontrol oleh partai Komunis. Menekan setiap agama lainnya yang ada di tanah Cina: Falon Gong, Kristen, Islam, Tibet-Buddha dan lainnya. Gereja-gereja Rumah di RRC tidak mencampuri urusan politik pemerintah di dalam ajaran mereka. Mereka hanya ingin bebas beribadah tanpa dikontrol oleh pihak Partai Komunis.

Cina Aid adalah organisasi Kristen yang memperjuangkan kebebasan beragama di negara RRC.

Sumber: Church leader’s wife dead after buried alive during church demolition

Baca lebih lanjut

Skotlandia: Asah Shah dibunuh setelah mengepos ‘Very Happy Easter’

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin,” Yeshua berkata tentang tanda kesudahan zaman. (Matius 24:12)

Asad Shah Muslim Glasgow terbunuh di minggu Paskah 2016Asah Shah (40 tahun) ditemukan terluka parah karena ditusuk pisau sedikitnya 30 kali di luar tokonya di Shawlands, Glasgow. Peristiwa terjadi sekitar pukul 9 malam tanggal 21 Maret, Minggu Paskah.

Tambahan dari luka-luka tusukan di atas, nampak bahwa Tanveer Ahmed (32 tahun), pelaku pembunuhan, juga menginjak kepala Asah. Pemilik toko ini kemudian meninggal dunia di rumah sakit.

Asah Shah terbunuh empat jam setelah ia mengirim sebuah pesan video pada Facebooknya mengucapkan kepada seluruh orang Kristen selamat Paskah:*

“Good Friday and a very Happy Easter, especially to my beloved Christian nation. Let’s follow the real footstep of beloved holy Jesus Christ and get the real success in both worlds.” (Jumat Agung dan Paskah yang sungguh Bahagia, khususnya kepada negara Kristen yang saya cintai. Marilah ikuti langkah nyatakasih Yeshua Ha Mashiah dan mendapat sukses nyata dalam kedua dunia (kehidupan sekarang dan kehidupan kekal))

Namun di Pengadilan Tinggi Glasgow Ahmed (supir taxi) menyangkal bahwa ia membunuh Shah oleh karena pesan toleransi Shah kepada penduduk negara Kristen tersebut. Sebaliknya ia bangga dengan perbuatannya dan menyalahi aliran agama Islam yang dianut oleh Asah Shah, yakni Islam Ahmadiah. “Jika saya tidak melakukan ini, orang-orang (Muslim) lainnya akan melakukannya dan akanlah ada lebih pembunuhan dan kekerasan di dunia,” Tanveer Ahmed berkata.

Islam Sunni mengaggap aliran Islam Ahmadiah sebagai aliran sesat. Diperkirakan ada 500 Muslim Ahmadiah di Skotlandia dan lebih dari 10 juta di seluruh dunia.

Motif dari pembunuhan ini dinyatakan sebagai peristiwa “prejudis yang bersifat keagamaan.”

Laporan menulis, ”Bunga-bunga penghormatan telah ada di letakkan pada jalan dimana kejadian terjadi,” termasuk uang sejumlah 90.000 £ (pound sterling) telah terkumpul untuk mendukung keluarganya yang ditinggalkan” karena Asah telah mempromosikan “kasihi semua orang, jangan membenci siapapun.”

Baca lebih lanjut

Kesaksian Samaa Habib Berhadapan Muka Dengan Yeshua

Buku Face to face with Jesus kesaksian Samaa HabibIni adaalah kisah nyata perjalanan rohani seorang wanita ex-Muslim dari sebuah negara di Timur Tengah yang sedang menghadapi perang sipil. Ringkasan cerita di bawah ini diambil dari buku kesaksiannya: Face to Face with Jesus: A Former Muslim’s Extraordinary Journey to Heaven and Encounter with the God of Love by Samaa Habib & Bodie Thoene

Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut. (Wahyu 12:11)

Perang Sipil membawanya ke kursus Taekwondo dan berjumpa Yeshua
Samaa Habib lahir dari keluarga Muslim di sebuah negara Islam yang berpenduduk 98% Muslim dan dimana para radikal Muslim menganggap mutad ke Kristianiti sebagai penghianat yang layak untuk dihukum mati.
Ayah Samaa adalah seorang ahli hukum dan professor dalam bidang philosophy dan sekaligus seorang Mullah, pemimpin dan guru agama Islam. Ibunya juga seorang professor dalam bidang bahasa menguasai tiga bahasa; ibunya memberi sepuluh anak laki dan perempuan bagi ayahnya dan Samaa adalah puteri bungsu mereka.

Perang sipil antara Muslim Sunni dan Shia* telah membuat ekonomi negaranya menjadi sulit sampai tingkat kelaparan. Kekerasan yang dibuat oleh kedua pihak yang berperang telah menbuat banyak orang muslim termasuk Samaa haus mencari hubungan intim dengan Allah. Namun Allah tidak menjawab.
Kehidupan Samaa berubah secara drastis ketika ia mulai mengikuti kelas gratis Taekwondo (ilmu bela diri asal Korea), yang dipimpin oleh seorang missionari. Pria Kristen ini dengan berani berbicara secara terbuka tentang Yeshua dan Injil pada kelas-kelas Taekwondonya. Di sinilah Samaa menerima Alkitab untuk Anak-anak, saat itu ia berumur 14 tahun.
Ia mulai berkunjung ke gereja dan menerima mimpi dimana Yeshua menampakkan diri-Nya kepada dia. Sejak itu dia mulai berdoa untuk keluarganya. Anianya mulai melanda dirinya; saudara laki-lakinya memukulinya, dibenci oleh ayahnya dan mendapat ancaman dari par tetangganya. Ia sempat diserang beberapa kali, namun bagaimanapun ia mendapatkan perlindungan yang khusus dari Elohim dan tetap bersaksi.
Tentang pindahnya Samaa dan kakak-kakak wanitanya dari Islam ke Kristianiti ia menulis, ”Dalam Islam ayahku akanlah ada dibenarkan untuk membunuh kami.” [Namun, sama sekali tidak dibenarkan di dalam Kristianiti; pindah agama tidak bisa dijadikan alasan untuk melanggar 10 Perintah YAHWEH: “Jangan Membunuh!”, Keluaran 20:13]
Singkat cerita, enam dari 10 anak-anak Habib dan juga isterinya sudah berpindah ke Kristianiti, sementara ayahnya tetap di dalam Islam. Perang sesama kelompok Islam di negaranya dan prilaku baik dari keluarganya yang Kristen telah membuka mata ayahnya – menjadikan ia toleran terhadap Kristianiti.

Ibadah Minggu Gereja yang tidak terlupakan; “Itu bukanlah pesan yang menggembirakan, namun …”
“Kamu perlu makan pagi,” kakaknya berkata kepada Samaa sambil memberikan secangkir teh ketika melihat adiknya memeluk semua saudara-saudarinya dan memberi mereka ciuman pagi untuk segera pergi ke latihan koor bagi ibadah Minggu yang tidak akan terlupakan bagi keluarga Habib, khususnya dirinya sendiri.

Saya minun teh itu secepatnya sebelum mengambil sebuah delima dari mangkok buah dan berkata, “Tidak punya waktu lagi. Saya akan bernyanyi di koor dan ingin mengunjungi Adila sebelum praktek.” Adila kakak kandung perempuan Saaba hanya satu tahun lebih tua darinya. Adila sedang menjalani praktek kerja pelayanan gereja setelah ia menyelesaikan pelajaran Alkitab di Eropa, dan ia tinggal di gereja.
Bapanya memasuki dapur. “Sampaikan kasihku pada saudari mu Aila. Bawa dia pulang ke rumah. Mengapa ia tinggal di gereja sementara ia memiliki rumah dan ibu dan bapa?”
Saya akan sampaikan ke dia, papa. Tetapi papa tahukan itu adalah bagian dari sekolahnya.”
”Katakan kepadanya bahwa saya sayang padanya. Dan saya sayang kamu juga, putri kesayanganku,” papa bekata.
Saya mencium dia dan lari ke luar pintu.
”Selamat ya, putriku tersayang,” ia menjerit kepada ku. Pada saat itu, apakah ayahku merasakan sesuatu yang akan terjadi?
Saya secara pribadi tidak merasakan ancaman dari para terorris. Sebaliknya gereja kami telah diancam oleh orang pemerintah, Komisi untuk Masalah-masalah Agama telah mengancam untuk mencabut ijin gereja sebab kami telah mengadakan penginjilan di ibukota.
Kami semua tidak takut sama sekali. Sukacita dan damai Yeshua, yang melampaui segala pengertian telah memenuhi hati-hati dan pikiran-pikiran kami.
Pada ibadah Minggu itu, setelah jemaat menyanyikan lagu-lagu pujian, Missionari Johnny berkotbah sebab pendeta sedang pergi ke tempat lain. Johnny berkotbah tentang ”bersiap menghadapi aniaya” – ia menceritakan suatu cerita bagaimana seorang missionari di RRC dianiaya oleh karena imanya. Ketika akhirnya ia berhasil lolos ia harus hidup di atas kursi roda dan hidungnya telah terpotong. ”Itu bukan sebuah pesan yang menggembirakan, namun YAHWEH telah berkata kepada ku bahwa aniaya sedang datang,” kata Johnny dengan suara yang bergetar dan menambahkan, ”Kita harus ada siap untuk itu. Yeshua telah dianiaya saat hidup-Nya. Ia menderita dan kita akan juga. Apakah kalian siap dianiaya demi Dia? Apakah kalian siap mati untuk Dia?”

Dan setelah Johnny selesai berbicara ia kembali ke kursinya, asisten pendeta maju ke muka membacakan Matius 16:13-19 – ”Ia bertanya kepada para murid-Nya, ’Kata orang, siapakah Anak Manusia itu ? ….Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini? ….Maka jawab Simon Petrus: Engkau adalah Mashiah (Mesias), Putra Elohim yang hidup! …’
Ia kemudian berhenti sebentar lalu bertanya ke jemaat, ”Ketika seorang berkata kepada kalian, ’Siapakah Yeshua ini yang kamu bicarakan itu, Siapakah Dia?’ akankah kalian ada cukup berani , meskipun jika kamu akanlah ada dianiaya , untuk berkata seperti Petrus berkata: ‘Dia adalah Mashiah, Putra dari Elohim yang hidup.’”
Kolekte dilakukan dan lagu Glory, Glory Halleluyah dinyanyikan, dan tiba-tiba kilatan cahaya memancar diikuti suara yang menulikan telinga terdengar! Seluruh auditorium tiba-tiba diliputi asap hitam yang pekat.
Samaa melihat rohnya meninggalkan tubuhnya, meninggal dunia. Rohnya dibawa ke Sorga, melihat Yeshua. Dan Adonai memberi dia pilihan untuk kembali ke bumi. Samaa memilih kembali ke bumi untuk memberi hidupnya melayani Yeshua. Dia secara ajaib kembali sembuh dari luka-lukanya yang parah meskipun ada dianiaya oleh para dokter dan suster Muslim.
Dikemudian hari ia baru tahu bahwa para terroris telah menaruh bom di gereja mereka, dan ia berdiri tepat disebelah kanan bom yang meledak tersebut. Bom tersebut menelan beberapa korban jiwa dan melukai banyak jemaat. Itu terjadi pada waktu ia berusia 19 tahun.

Ia tetap bersaksi, pertama sebagai pelayan restoran, lalu sebagai seorang model dan karyawati real estate. Secara ajaib ia pergi ke Amerika Serikat untuk sekolah misi. Sekarang ia berkeliling dunia untuk membagikan kesaksiannya yang luar biasa tersebut.
Bodie Thoene adalah penyusun cerita kesaksian Samaa Habib. Ia penulis Amerika yang terkenal, telah menulis lebih dari 65 novel, dan telah menjual lebih dari 35 juta buku dan memenangkan delapan kali ECPA Gold Medallion Award.

*) Sunni dalam bahasa Arab mengandung arti ”seorang yang mengikuti tradisi-tradisi Nabi Muhammad” dan Shia dalam bahasa Arab mengandung arti ”kelompok atau pendukung partai rakyat (a group or supportive party of people). Tidak lama setelah Muhammad meninggal dunia, pengikut Sunni selalu memerangi pengikut Shia. Hal ini terjadi sampai hari ini.

Nama-nama tokoh di buku ini (terkecuali nama penyusun cerita) bukanlah nama sebenarnya, nama negara juga tidak disebut hal ini dilakukan demi keselamatan mereka dan penduduk Kristen dimana mereka tinggal.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Video Kesaksian Majed El Shafie, ex-Muslim Mesir, diselamatkan Yeshua

Majed El Shafie, mantan Muslim, bersaksiBanyak orang di Timur Tengah, yang bahasa Arab adalah bahasa ibu mereka, sedang mengalami pengalaman nyata kebenaran isi Alkitab, Yeshua menampakan diri-Nya dan melakukan mujizat-mujizat yang luar biasa. Pengalaman pribadi Majed El Shafie, seorang mahasiswa hukum lahir dan besar  di Mesir adalah suatu kesaksian bahwa Alkitab adalah Firman Elohim dan Yeshua adalah Elohim Yang Mahakuasa.

Tulisan kesaksian di bawah ini adalah kumpulan dari beberapa sumber.  Semoga menjadi berkat bagi setiap orang yang membaca dan menyaksikan video kesaksian ini.

Kesaksian: Mantan Muslim Merasakan Mukjizat Yesus
Sid Roth: Jesus Supernaturally rescues Moslem from Islamic Police! (Judul asli video kesaksian)
Rev. Majed El Shafie – Egyptian Ex-Muslim Torture spurs man to fight for religious freedom by MIKE MASLANIK

Tujuh hari siksaan yang sangat berat di penjara yang paling  ditakuti di seluruh Mesir tidak membuat iman kepada Yeshua dari Majed El Shafie gugur, sebaliknya siksaan berat tersebut memacu dirinya untuk menolong orang-orang Kristen yang teraniaya di seluruh dunia.  Majed saat ini adalah pendiri One Free World Ministires yang berpusat di Toronto, Kanada.

Kesaksian Majed di acara It’s Supernatural!, dengan text bahasa Indonesia. Video kesaksian Majed di CBN (English) disertai cuplikan kondisi saat ia dipenjara klik di sini.

Majed terlahir di sebuah  keluarga Muslim sangat terpandang di Kairo, ibukota Mesir. Bapanya dan saudara laki-lakinya adalah para penasehat hukum yang sukses dan pamanya bekerja sebagai Hakim  Mahkamah Agung, Majed sendiri adalah seorang yang mahasiswa hukum  sebelum ia pindah dari Islam dan menjadi seorang Kristen.

”Ketika kamu lahir kedalam  sebuah keluarga seperti ini, kamu memiliki banyak buku tentang hukum, keadilan dan kebebasan,” Majed mengawali kesaksiannya.
Pada tahun ketiga pada kuliah  ilmu hukumnya di Alexandria, Majed terkejut mengetahui adalnya hukum yang melarang pembangunan gedung-gedung gereja, namun mengijinkan membangun bar-bar dan diskotik-diskotik. Dan hukum itu juga melarang merenovasi bangunan-bangunan gereja kuno. Orang-orang Kristen diperlakukan  lebih buruk dari masyarakat-masyarakat kelas dua.
[Mesir, dan negara-negara Afrika Utara, adalah negra-negara mayoritas Kristen sebelum orang-orang Islam merebut negara tersebut dengan pedang].

Terpukul oleh ketidak toleransian yang tidak masuk akal tersebut, ia mulai mencurigai ajaran Islam dan bertanya kepada dirinya sendiri, ”Mengapa ada pengainayaan terhadap pengikut ajaran Kristianiti?” Sebagai seorang calon sarjana hukum, dan di besarkan dalam keluarga yang selalu berurusan dengan masalah hukum,  ia berkesimpulan: “Musuh mencoba untuk menutupi sesuatu, ada sesuatu yang disembunyikan.” Pencarian kepada keadilan dan kebenaran mulai berlangsung dalam jiwa mahasiswa hukum ini.

Majed menghubungi teman baiknya, Tamer, seorang Kristen, menanyakan pertanyaan yang sama, “Tamer, kenapa ada penganiayaan terhadap orang-orang Kristen?”

Teman takut hubungan persahabatan mereka menjadi terpecah karena pertanyaan tersebut, maka ia memberikan Alkitabnya, dan berkata, ”Pada kitab ini, kamu dapat menemukan jawaban-jawaban untuk setiap pertanyaan yang kamu miliki.”

Saat pertama kali Majed membuka Alkitab tersebut ia membaca Injil Yohanes pasal 8 cerita tentang bagaimana Yeshua menangani kasus seorang wanita yang tertangkap basah saat berzinah, ”Saya temukan bahwa Alkitab berisi tentang keadilan, kasih dan pengampunan, lebih dari sekedar tentang hukum.” ia berkata. ”Ini adalah pertaman kalinya saya melihat pengampunan sejati.” 

Sejak itu ia mulai membaca Alkitab bersamaan dengna Kuran untuk memperbandingkan keduanya. Hampir setahun kemudian, ia datang kepada Tamer dan berkata, ”Tamer, saya sekarang tahu apa itu Kristianiti. Kristianiti bukanlah suatu agama. Kristianiti bukanlah pergi ke gereja setiap minggu dan bernyanyi “Haleluya,” “terpujilah YAHWEH” dan begitu lagi sampai Minggu depan. Kristianiti adalah suatu hubungan intim bersama Elohim. Saya percaya dan mau menerima Yeshua ke dalam hatiku.”

Majed berpindah ke dalam keyakinan Kristianiti dan memulai mengorganisasi jemaat bawah tanah yang telah menarik 24.000 (dua puluh empat ribu) jemaat hanya di dalam dua tahun saja. Ini benar-benar gereja bawah tanah, sebab mereka mengadakan ibadah mereka di goa-goa dipinggiran kota Alexandria.
Sementara ia memimpin gereja bawah tanah tersebut, ia berdiri melawan dua Goliat; hukum pemerintah yang tidak adil dan ajaran Kuran, yang dipakai pemerintah untuk membenarkan menganiaya para Kristen melalui bukunya.

Tahun 1998, pagi-pagi sekali  lima tentara dan dua polisi mendobrak pintu rumahnya  dan membawanya ke kantor polisi untuk diinPenganiayaan terhadap orang Kristen di Mesirtrogasi, polisi mencoba mendapatkan dari Majed nama-nama orang Kristen yang berhubungan dengan dirinya. Majed menolak. Polisi mengancam: ”Jika kamu ingin bermain keras, kami dapat bermain keras!”

Dia segera digiring ke Penjara Abu Za’abel di Kairo, suatu tempat yang dikenal di Timur Tengah sebagai  ”Neraka di Bumi.” Dia dipenjara dengan tuduhan perkara membangkitkan revolusi, mencoba merubah agama Mesir dari Islam menjadi Kristianiti dan ”menyembah dan mengasihi Yeshua Ha Mashiah.”

Di Abu Za’abal, nama dan indentitas resminya diganti, agar keluarga dan organisasi kemanusia tidak bisa menemukan dirinya; ini adalah praktek umum petugas penjara tersebut.

Sementara ia dipenjarakan, petugas penjara mengancam. Pada hari yang sama mereka membawa Majed ke bagian bawah penjara dan menyiksa dia selama tujuh hari berturut-turut; setiap hari tingkat siksaan semakin berat.

Pada hari pertama, kembali mereka bertanya siapa nama-nama rekan Kristennya. Majed tetap tutup mulut untuk hal itu. Maka mereka membotaki kepalanya dan menguyurnya dengan air panas dan kemudian air yang sangat dingin. Majed tetap tidak membuka rahasia

Hari kedua, mereka lalu menggantung dia terbalik, kaki diatas kepala dibawah. Dalam posisi seperti ini ia dipukuli dengan ban pinggang, disunduti oleh rokok yang membara dan jempol kuku kakinya dirusak. Majed tidak terguncang.

Hari ketiga, ia dibawah ke sebuah sel dan sementara ia berada di sana dengan segala lukanya, mereka memasukkan tiga anjing  ke dalam sel penjara tersebut. Anjing-anjing ini adalah binatang yang telah dilatih untuk menyerang manusia dan memakan daging manusia.
Ketika ia melihat tiga anjing digiring ke kamar selnya, ia pergi kepojok sel dan duduk disitu menutup wajah dengan tangannya menantikan penderitaan yang akan menimpa dirinya.

Anjing-anjing semakin dekat, namun tiba-tiba keajaiban terjadi, ia tidak lagi mendengar suara-suara mereka. Ia tidak mengerti, apa yang sedang terjadi, maka, “Saya angkat kedua tanganku dari mukaku untuk melihat apa yang sedang terjadi.” Ternyata ketiga anjing tersebut hanya duduk-duduk saja, sekalipun tuan mereka memerintahkan untuk menyerang. Merasa tidak percaya apa yang petugas ini saksikan, ia membawa ketiga anjing itu keluar dan meminta kepada rekannya tiga anjing yang lain. Ternyata peristiwa mujizat itu berulang lagi, bahkan seekor anjing menghampirinya dan mulai menjilati mukanya. [Telah diketahui umum, luka-luka pada kulit akan sembuh segera melalui air liur anjing]. Mereka melihat mujizat Elohim di depan mata mereka terjadi pada pemuda Kristen ini.

Hari keempat, petugas nomor 27, orang yang tinggi besar, memasuki selnya dan berkata, “Dengarkan, berikan nama-nama teman kamu dan saya akan melepaskanmu. Saya akan berikan kamu apa saja yang kamu mau, rumah besar, mobil baru, wanita-wanita cantik? Akan saya berikan!

”Saya terima tawaran kamu!” Majed berkata, ”Namun pertama-tama, saya belum makan selama tiga hari, bawalah makanan dan setelah itu kita bisa bicara.” Ia mendapat makanan.
”Sekarang kamu beri saya tahu nama orang-orang yang bekerja denganmu?” petugas itu berkata.
”Dengar, kelompok kami adalah kelompok yang sangat besar. Saya tidak bisa memberikan semua nama mereka dan saya sendiri tidak bisa mengingat semuanya. Namun, saya akan memberikan nama ketua kami. Kamu bisa tangkap dia dan dia bisa memberikan dengan tepat nama semua anggota.”
”Saya pikir kamu adalah pemimpinya.”
”Bukan tuan, saya hanyalah seorang pelayan,” Majed menjawab
”Nama ketua kami adalah Yeshua Ha Mashiah. Jika Anda bisa menangkap-Nya, tangkaplah.”

Penjaga nomor 27 ini marah besar. Ia menempeleng Majed sehingga terlempar ke tembok dan memerintahkan rekannya untuk membawa Majed ke ruang lainnya untuk  … di salibkan.

“Dalam penghinaan terakhir, para penjaga mencabut pakaianku, lalu mengikat kedua tangan dan kakiku serta leherku ke sebuah balok salib dan membiarkan saya tergantung di kayu salib tersebut selama dua dan setengah (2,5) hari. Diakhir 2,5 hari tersebut, mereka menoreh-noreh bahu sebelah kananku dengan pisau, lalu menaruh lemon (jeruk nipis) dan garam pada daging yang robek tersebut.”

Majed kehilangan kesadarannya, dan ketika ia terbangun ia ternyata ada dirumah sakit. ”Hanya satu hal yang saya ingat saat itu adalah rasa dan bau dari darahku sendiri,” Majed mengingat.

Ia sungguh kehausan saat itu, lalu dalam penglihatan malam, ia melihat Adonai Yeshua datang kepadanya dan memberi minum dari tangan-Nya dan berkata, “Jika kamu minum air-Ku, mengapa kamu masih butuh air yang lain?” Seminggu kemudian dia pulih total.
Seorang  penjaga penjara di rumah sakit itu memberikan informasi kepadanya bahwa langkah berikutnya ia akan ada dieksekusi, jadi ia melarikan diri melalui sebuah jendela belakang rumah sakit.

Pemerintah mengumumkan fatwa 100.000 dollar hadiah bagi kepalanya, ”Wajahku munjul di TV dan di koran-koran, jadi saya tahu bahwa saya tidak dapat tetap tinggal di Mesir,” katanya.
Dengan mengendarai sebuah jet ski ia melintasi Laut Merah, menyeberangi Padang gurun Sinai dan menyerahkan dirinyatah Israel, dimana di Israel yang ditahan selama 16 bulan sementara PBB dan Amnesty Internasional menyelidiki ceritanya sebelum pada akhirnya ia dianugrahi status pengungsi politik dan berimigrasi ke Toronto, Kanada.

[Perlu diingat berada di tahanan Israel bagi orang yang memiliki kasus seperti Majed ini, itu adalah tempat teraman. Hal ini disadari dengan baik oleh Mosab Hassan Yousef, putra dari pendiri dan pemimpin senior Organisasi Hamas, Sheikh Hassan Yousef. Ketika Mosab akhirnya membuka dirinya ke media bahwa ia telah pindah dari pembela Hamas menjadi agen mata-mata Israel, yang membuat pengikut Hamas mencap dia sebagai ”penghianat Islam” dan berita murtadnya Mosab sempat hangat dimedia internasional selama berbulan-bulan, dari pengakuan dirinya sendiri, baik di media maupun di bukunya Son of Hamas kita tahu bahwa Hassan Yousef, ayahnya, masih berada dipenjara Israel, dan Mosab berterima kasih kepada pemerintah Israel untuk keamanan ayahnya.]

Pada kesaksian ini ia berkata, ”Semua hal ini telah merubah kehidupanku. Saya sekarang tidak akan menyerah sebab saya tahu banyak orang sedang melalui itu (aniaya berat yang ia juga pernah alami).” – Setiap tahun, 165,000 orang Kristen dibunuh karena iman-iman mereka, ia memberi gambaran.

Kepada semua pemerintah yang menaniaya orang Kristen, Majed El Shafie menawarkan pesan ini:

”Orang-orang Kristen yang teraniaya mati berjatuhan, tetapi mereka tetap tersenyum. Mereka ada di dalam sebuah tanah pertambangan yang dalam, tetapi mereka memegang lampu YAHWEH, Kalian dapat membunuh pemimpi tersebut, namun kalian tidak akan dapat membunuh mimpinya.”  

Kesaksian serupa:
Hampir 100 Remaja Kristen Koptik Mesir Disiksa Pemerintah
Mark A. Gabriel, Ph.D.: Mengapa saya meninggalkan Islam
Abdullah (Saudi): Dari Neraka, ke Penjara karena Iman Kristennya.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Pakistan: Gadis cacat ditahan atas tuduhan menghina Islam

BBC: Polisi Pakistan telah menahan gadis 11 tahun berpenyakit mental Down syndrome, setelah sekelompok orang-orang yang marah menuduh gadis tersebut merusak beberapa halaman Kuran.  Mereka mendesak gadis Kristen ini ditangkap untuk menerima hukuman mati dan mengancam membakar rumah-rumah orang Kristen diluar ibukota Islamabad, koran lokal berkata.

WND: Rimsha Masih, nama dari gadis ini malang ini, ternyata hanya membakar halaman-halaman “Noorani Qaida,” yakni buku petunjuk yang dipakai untuk belajar dasar-dasar Kuran. Lapor Barnabas Aid (yayasan kemanusia) kepada WND.

Tuduhan ini berawal dari tetangga Rimsha, dan menyebar seperti kebakaran hutan yang tidak terkendali oleh karena tuduhan disebarkan di mesjid-mesjid.

Para orang Islam yang marah besar ini sempat memukul dengan keras gadis ini, keluarganya dan beberapa orang Kristen setempat. Dua rumah Kristen juga dibakar dan beberapa rumah mereka dirusak pagarnya juga pintu-pintu dan jendela-jendela. [Mengapa orang-orang Muslim begitu mudah dihasut dan berbuat dosa atas dasar hasutan? Seorang murid sekolah Alkitab di Sumatra dipukuli oleh masyarakat sampai mati hanya karena membakar kertas jimad bertulisan Arab, di awal th 90an]

Akibat penyalah gunaan hukum penghinaan agama Islam ini, sekarang Rimsha tinggal dipenjara Rawalpindi setelah penangkapannya pada tanggal 16 Agustus.   Lebih dari 800 orang Kristen terpaksa harus meninggalkan rumah mereka demi keselamatan. Untuk pemimpin gereja dan para yayasan kemanusia datang menolong memberikan makanan dan minuman.

Aidan Clay dari International Christian Concern’s Pakistan menyatakan lebih dari 46 orang yang dituduh menghina Islam sejak 1986 sampai 2011 telah terbunuh oleh kekerasan masyarakat yang marah sementara menunggu sidang pengadilan.

“Keadilan akanlah hanya berjalan ketika ratusan Muslim yang menuntut Rimsha dan menyerang rumah-rumah Kristen di Islamabad ditangkap dan diadili,” Clay berkata.

Clay atas nama umat Kristen meminta Presiden Asif Ali Zardari menahan mereka yang terlibat.

Para pembela HAM telah mendorong Pakistan untuk mereformasi hukum-hukum penghinaan kepada Allah (blasphemy) yang kontroversi tersebut, yang mana seorang dapat ada diperjarakan seumur hidup hanya karena menghina Koran.

Kebanyakan dari mereka yang dituduh mengina Allah telah dibunuh oleh orang-orang brutal tersebut, sementara para politikus yang menasehati untuk merubah hukum telah juga jadi sasaran kemarahan.

Tahun kemarin, Shahbaz Bhatti, menteri untuk masalah-masalah kaum minoritas dibunuh setelah meminta mencabut hukum penghinaan tersebut.

Kematiannya tiba hanya beberapa bulan setelah pembunuhan Salman Taseer Gubernur Punjab, yang juga berbicara tentang hal yang sama. Tamat.

Yeshua mengajar orang Kristen: Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. (Matius 5:43-45)

Berdoalah bagi saudara-saudari kita di Pakistan, agar iman mereka semakin kuat kepada Yeshua Ha Mashiah di dalam penganiayaan ini. Dan melalui kejadian ini, kiranya banyak orang-orang Islam dibukakan mata rohani mereka.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja
  • Kalender

    • Maret 2017
      M S S R K J S
      « Feb    
       1234
      567891011
      12131415161718
      19202122232425
      262728293031  
  • Cari