Henan, Cina: Istri pendeta meninggal setelah dikubur hidup-hidup saat penghancuran gereja

Organisasi Kristen China Aid, melaporkan tindakan pembunuhan oleh perusahaan dukungan pemerintah Henan atas pendeta dan istri dari sebuah gereja di Zhumadian, Profinsi Henan. Ding Cuimei istri pendeta di Henan meninggal dunia setelah di kubur hidup-hidup

Kamis 14 April 2016, pendeta Li Jiangong dan istrinya, Ding Cuimei, melangkap ke depan sebuah bulldozer untuk menghentikan peruntuhan gedung gereja mereka.

“Kuburkan mereka hidup-hidup bagi saya,” seorang anggota dari team penghancuran berkata. “Saya akan bertanggung jawab bagi hidup mereka.”

Lalu pengemudi bulldozer itu menggaruk  Li dan Ding kedalam lembah dan menutupi tubuh mereka dengan tanah. Video: Peristiwa penguburan hidup-hidup Ding Cuimei

Menjerit untuk pertolongan, Li berhasil mengeluarkan dirinya sendiri dari urukan tanah, namun Ding, istrinya meninggal dunia sebelum ia bisa dikeluarkan.

“Membulldozer dan mengubur hidup-hidup Ding Cuimei, seorang wanita yang pendiam dan Kristen yang taat, adalah sadis dan tindakan pembunuhan,” Presiden organisasi China Aid, Bob Fu berkata.

“Perkara ini adalah suatu pelanggaran hak-hak kehidupan yang serius, kebebasan beragama dan aturan hukum. Pihak berwenang Cina harus segera pertanggungjawaban pembunuh mereka dan mengambil langkah-langkah konkret untuk melindungi kebebasan beragama anggota gereja rumah ini.” Mr. Fu menambahkan.

Berkaitan dengan menyebarnya kejadian ini di media, anggota pemerintah telah menekan pendeta Li tidak membongkar lebih jelas kejadian tersebut. Sementara, pendeta Li menuntut pengadilan untuk meneliti motiv dan kondisi-kondisi dibelakang pembunuhan istrinya.

Organisasi yang sama melaporkan penganiayaan di Republik Rakyak Cina telah melonjak 150 persen setahun belakangan ini, dengan hampir tiga ribu (3.000) orang Kristen ditangkap dan hampir seribu tiga ratus (1.300) lainnya dalam kondisi tahanan.

Meskipun perlawanan dari pihak pemerintah RRC, orang-oran Kristen di Henan tetap maju di dalam iman mereka, sekaligus memberi inpirasi dan semangat pada yang lain untuk pantang mundur.

RRC adalah negara yang pemerintahannya dikontrol oleh partai Komunis. Menekan setiap agama lainnya yang ada di tanah Cina: Falon Gong, Kristen, Islam, Tibet-Buddha dan lainnya. Gereja-gereja Rumah di RRC tidak mencampuri urusan politik pemerintah di dalam ajaran mereka. Mereka hanya ingin bebas beribadah tanpa dikontrol oleh pihak Partai Komunis.

Cina Aid adalah organisasi Kristen yang memperjuangkan kebebasan beragama di negara RRC.

Sumber: Church leader’s wife dead after buried alive during church demolition

Baca lebih lanjut

Skotlandia: Asah Shah dibunuh setelah mengepos ‘Very Happy Easter’

“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin,” Yeshua berkata tentang tanda kesudahan zaman. (Matius 24:12)

Asad Shah Muslim Glasgow terbunuh di minggu Paskah 2016Asah Shah (40 tahun) ditemukan terluka parah karena ditusuk pisau sedikitnya 30 kali di luar tokonya di Shawlands, Glasgow. Peristiwa terjadi sekitar pukul 9 malam tanggal 21 Maret, Minggu Paskah.

Tambahan dari luka-luka tusukan di atas, nampak bahwa Tanveer Ahmed (32 tahun), pelaku pembunuhan, juga menginjak kepala Asah. Pemilik toko ini kemudian meninggal dunia di rumah sakit.

Asah Shah terbunuh empat jam setelah ia mengirim sebuah pesan video pada Facebooknya mengucapkan kepada seluruh orang Kristen selamat Paskah:*

“Good Friday and a very Happy Easter, especially to my beloved Christian nation. Let’s follow the real footstep of beloved holy Jesus Christ and get the real success in both worlds.” (Jumat Agung dan Paskah yang sungguh Bahagia, khususnya kepada negara Kristen yang saya cintai. Marilah ikuti langkah nyatakasih Yeshua Ha Mashiah dan mendapat sukses nyata dalam kedua dunia (kehidupan sekarang dan kehidupan kekal))

Namun di Pengadilan Tinggi Glasgow Ahmed (supir taxi) menyangkal bahwa ia membunuh Shah oleh karena pesan toleransi Shah kepada penduduk negara Kristen tersebut. Sebaliknya ia bangga dengan perbuatannya dan menyalahi aliran agama Islam yang dianut oleh Asah Shah, yakni Islam Ahmadiah. “Jika saya tidak melakukan ini, orang-orang (Muslim) lainnya akan melakukannya dan akanlah ada lebih pembunuhan dan kekerasan di dunia,” Tanveer Ahmed berkata.

Islam Sunni mengaggap aliran Islam Ahmadiah sebagai aliran sesat. Diperkirakan ada 500 Muslim Ahmadiah di Skotlandia dan lebih dari 10 juta di seluruh dunia.

Motif dari pembunuhan ini dinyatakan sebagai peristiwa “prejudis yang bersifat keagamaan.”

Laporan menulis, ”Bunga-bunga penghormatan telah ada di letakkan pada jalan dimana kejadian terjadi,” termasuk uang sejumlah 90.000 £ (pound sterling) telah terkumpul untuk mendukung keluarganya yang ditinggalkan” karena Asah telah mempromosikan “kasihi semua orang, jangan membenci siapapun.”

Baca lebih lanjut

Kesaksian Samaa Habib Berhadapan Muka Dengan Yeshua

Buku Face to face with Jesus kesaksian Samaa HabibIni adaalah kisah nyata perjalanan rohani seorang wanita ex-Muslim dari sebuah negara di Timur Tengah yang sedang menghadapi perang sipil. Ringkasan cerita di bawah ini diambil dari buku kesaksiannya: Face to Face with Jesus: A Former Muslim’s Extraordinary Journey to Heaven and Encounter with the God of Love by Samaa Habib & Bodie Thoene

Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut. (Wahyu 12:11)

Perang Sipil membawanya ke kursus Taekwondo dan berjumpa Yeshua
Samaa Habib lahir dari keluarga Muslim di sebuah negara Islam yang berpenduduk 98% Muslim dan dimana para radikal Muslim menganggap mutad ke Kristianiti sebagai penghianat yang layak untuk dihukum mati.
Ayah Samaa adalah seorang ahli hukum dan professor dalam bidang philosophy dan sekaligus seorang Mullah, pemimpin dan guru agama Islam. Ibunya juga seorang professor dalam bidang bahasa menguasai tiga bahasa; ibunya memberi sepuluh anak laki dan perempuan bagi ayahnya dan Samaa adalah puteri bungsu mereka.

Perang sipil antara Muslim Sunni dan Shia* telah membuat ekonomi negaranya menjadi sulit sampai tingkat kelaparan. Kekerasan yang dibuat oleh kedua pihak yang berperang telah menbuat banyak orang muslim termasuk Samaa haus mencari hubungan intim dengan Allah. Namun Allah tidak menjawab.
Kehidupan Samaa berubah secara drastis ketika ia mulai mengikuti kelas gratis Taekwondo (ilmu bela diri asal Korea), yang dipimpin oleh seorang missionari. Pria Kristen ini dengan berani berbicara secara terbuka tentang Yeshua dan Injil pada kelas-kelas Taekwondonya. Di sinilah Samaa menerima Alkitab untuk Anak-anak, saat itu ia berumur 14 tahun.
Ia mulai berkunjung ke gereja dan menerima mimpi dimana Yeshua menampakkan diri-Nya kepada dia. Sejak itu dia mulai berdoa untuk keluarganya. Anianya mulai melanda dirinya; saudara laki-lakinya memukulinya, dibenci oleh ayahnya dan mendapat ancaman dari par tetangganya. Ia sempat diserang beberapa kali, namun bagaimanapun ia mendapatkan perlindungan yang khusus dari Elohim dan tetap bersaksi.
Tentang pindahnya Samaa dan kakak-kakak wanitanya dari Islam ke Kristianiti ia menulis, ”Dalam Islam ayahku akanlah ada dibenarkan untuk membunuh kami.” [Namun, sama sekali tidak dibenarkan di dalam Kristianiti; pindah agama tidak bisa dijadikan alasan untuk melanggar 10 Perintah YAHWEH: “Jangan Membunuh!”, Keluaran 20:13]
Singkat cerita, enam dari 10 anak-anak Habib dan juga isterinya sudah berpindah ke Kristianiti, sementara ayahnya tetap di dalam Islam. Perang sesama kelompok Islam di negaranya dan prilaku baik dari keluarganya yang Kristen telah membuka mata ayahnya – menjadikan ia toleran terhadap Kristianiti.

Ibadah Minggu Gereja yang tidak terlupakan; “Itu bukanlah pesan yang menggembirakan, namun …”
“Kamu perlu makan pagi,” kakaknya berkata kepada Samaa sambil memberikan secangkir teh ketika melihat adiknya memeluk semua saudara-saudarinya dan memberi mereka ciuman pagi untuk segera pergi ke latihan koor bagi ibadah Minggu yang tidak akan terlupakan bagi keluarga Habib, khususnya dirinya sendiri.

Saya minun teh itu secepatnya sebelum mengambil sebuah delima dari mangkok buah dan berkata, “Tidak punya waktu lagi. Saya akan bernyanyi di koor dan ingin mengunjungi Adila sebelum praktek.” Adila kakak kandung perempuan Saaba hanya satu tahun lebih tua darinya. Adila sedang menjalani praktek kerja pelayanan gereja setelah ia menyelesaikan pelajaran Alkitab di Eropa, dan ia tinggal di gereja.
Bapanya memasuki dapur. “Sampaikan kasihku pada saudari mu Aila. Bawa dia pulang ke rumah. Mengapa ia tinggal di gereja sementara ia memiliki rumah dan ibu dan bapa?”
Saya akan sampaikan ke dia, papa. Tetapi papa tahukan itu adalah bagian dari sekolahnya.”
”Katakan kepadanya bahwa saya sayang padanya. Dan saya sayang kamu juga, putri kesayanganku,” papa bekata.
Saya mencium dia dan lari ke luar pintu.
”Selamat ya, putriku tersayang,” ia menjerit kepada ku. Pada saat itu, apakah ayahku merasakan sesuatu yang akan terjadi?
Saya secara pribadi tidak merasakan ancaman dari para terorris. Sebaliknya gereja kami telah diancam oleh orang pemerintah, Komisi untuk Masalah-masalah Agama telah mengancam untuk mencabut ijin gereja sebab kami telah mengadakan penginjilan di ibukota.
Kami semua tidak takut sama sekali. Sukacita dan damai Yeshua, yang melampaui segala pengertian telah memenuhi hati-hati dan pikiran-pikiran kami.
Pada ibadah Minggu itu, setelah jemaat menyanyikan lagu-lagu pujian, Missionari Johnny berkotbah sebab pendeta sedang pergi ke tempat lain. Johnny berkotbah tentang ”bersiap menghadapi aniaya” – ia menceritakan suatu cerita bagaimana seorang missionari di RRC dianiaya oleh karena imanya. Ketika akhirnya ia berhasil lolos ia harus hidup di atas kursi roda dan hidungnya telah terpotong. ”Itu bukan sebuah pesan yang menggembirakan, namun YAHWEH telah berkata kepada ku bahwa aniaya sedang datang,” kata Johnny dengan suara yang bergetar dan menambahkan, ”Kita harus ada siap untuk itu. Yeshua telah dianiaya saat hidup-Nya. Ia menderita dan kita akan juga. Apakah kalian siap dianiaya demi Dia? Apakah kalian siap mati untuk Dia?”

Dan setelah Johnny selesai berbicara ia kembali ke kursinya, asisten pendeta maju ke muka membacakan Matius 16:13-19 – ”Ia bertanya kepada para murid-Nya, ’Kata orang, siapakah Anak Manusia itu ? ….Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini? ….Maka jawab Simon Petrus: Engkau adalah Mashiah (Mesias), Putra Elohim yang hidup! …’
Ia kemudian berhenti sebentar lalu bertanya ke jemaat, ”Ketika seorang berkata kepada kalian, ’Siapakah Yeshua ini yang kamu bicarakan itu, Siapakah Dia?’ akankah kalian ada cukup berani , meskipun jika kamu akanlah ada dianiaya , untuk berkata seperti Petrus berkata: ‘Dia adalah Mashiah, Putra dari Elohim yang hidup.’”
Kolekte dilakukan dan lagu Glory, Glory Halleluyah dinyanyikan, dan tiba-tiba kilatan cahaya memancar diikuti suara yang menulikan telinga terdengar! Seluruh auditorium tiba-tiba diliputi asap hitam yang pekat.
Samaa melihat rohnya meninggalkan tubuhnya, meninggal dunia. Rohnya dibawa ke Sorga, melihat Yeshua. Dan Adonai memberi dia pilihan untuk kembali ke bumi. Samaa memilih kembali ke bumi untuk memberi hidupnya melayani Yeshua. Dia secara ajaib kembali sembuh dari luka-lukanya yang parah meskipun ada dianiaya oleh para dokter dan suster Muslim.
Dikemudian hari ia baru tahu bahwa para terroris telah menaruh bom di gereja mereka, dan ia berdiri tepat disebelah kanan bom yang meledak tersebut. Bom tersebut menelan beberapa korban jiwa dan melukai banyak jemaat. Itu terjadi pada waktu ia berusia 19 tahun.

Ia tetap bersaksi, pertama sebagai pelayan restoran, lalu sebagai seorang model dan karyawati real estate. Secara ajaib ia pergi ke Amerika Serikat untuk sekolah misi. Sekarang ia berkeliling dunia untuk membagikan kesaksiannya yang luar biasa tersebut.
Bodie Thoene adalah penyusun cerita kesaksian Samaa Habib. Ia penulis Amerika yang terkenal, telah menulis lebih dari 65 novel, dan telah menjual lebih dari 35 juta buku dan memenangkan delapan kali ECPA Gold Medallion Award.

*) Sunni dalam bahasa Arab mengandung arti ”seorang yang mengikuti tradisi-tradisi Nabi Muhammad” dan Shia dalam bahasa Arab mengandung arti ”kelompok atau pendukung partai rakyat (a group or supportive party of people). Tidak lama setelah Muhammad meninggal dunia, pengikut Sunni selalu memerangi pengikut Shia. Hal ini terjadi sampai hari ini.

Nama-nama tokoh di buku ini (terkecuali nama penyusun cerita) bukanlah nama sebenarnya, nama negara juga tidak disebut hal ini dilakukan demi keselamatan mereka dan penduduk Kristen dimana mereka tinggal.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Kesaksian Majed El Shafie, ex-Muslim Mesir, diselamatkan Yeshua

Majed El Shafie, mantan Muslim, bersaksiBanyak orang di Timur Tengah, yang bahasa Arab adalah bahasa ibu mereka, sedang mengalami pengalaman nyata kebenaran isi Alkitab, Yeshua menampakan diri-Nya dan melakukan mujizat-mujizat yang luar biasa. Pengalaman pribadi Majed El Shafie, seorang mahasiswa hukum lahir dan besar  di Mesir adalah suatu kesaksian bahwa Alkitab adalah Firman Elohim dan Yeshua adalah Elohim Yang Mahakuasa.

Tulisan kesaksian di bawah ini adalah kumpulan dari beberapa sumber.  Semoga menjadi berkat bagi setiap orang yang membaca dan menyaksikan video kesaksian ini.

Kesaksian: Mantan Muslim Merasakan Mukjizat Yesus
Sid Roth: Jesus Supernaturally rescues Moslem from Islamic Police! (Judul asli video kesaksian)
Rev. Majed El Shafie – Egyptian Ex-Muslim Torture spurs man to fight for religious freedom by MIKE MASLANIK

Tujuh hari siksaan yang sangat berat di penjara yang paling  ditakuti di seluruh Mesir tidak membuat iman kepada Yeshua dari Majed El Shafie gugur, sebaliknya siksaan berat tersebut memacu dirinya untuk menolong orang-orang Kristen yang teraniaya di seluruh dunia.  Majed saat ini adalah pendiri One Free World Ministires yang berpusat di Toronto, Kanada.

Majed terlahir di sebuah  keluarga Muslim sangat terpandang di Kairo, ibukota Mesir. Bapanya dan saudara laki-lakinya adalah para penasehat hukum yang sukses dan pamanya bekerja sebagai Hakim  Mahkamah Agung, Majed sendiri adalah seorang yang mahasiswa hukum  sebelum ia pindah dari Islam dan menjadi seorang Kristen.

”Ketika kamu lahir kedalam  sebuah keluarga seperti ini, kamu memiliki banyak buku tentang hukum, keadilan dan kebebasan,” Majed mengawali kesaksiannya.
Pada tahun ketiga pada kuliah  ilmu hukumnya di Alexandria, Majed terkejut mengetahui adalnya hukum yang melarang pembangunan gedung-gedung gereja, namun mengijinkan membangun bar-bar dan diskotik-diskotik. Dan hukum itu juga melarang merenovasi bangunan-bangunan gereja kuno. Orang-orang Kristen diperlakukan  lebih buruk dari masyarakat-masyarakat kelas dua.
[Mesir, dan negara-negara Afrika Utara, adalah negra-negara mayoritas Kristen sebelum orang-orang Islam merebut negara tersebut dengan pedang].

Terpukul oleh ketidak toleransian yang tidak masuk akal tersebut, ia mulai mencurigai ajaran Islam dan bertanya kepada dirinya sendiri, ”Mengapa ada pengainayaan terhadap pengikut ajaran Kristianiti?” Sebagai seorang calon sarjana hukum, dan di besarkan dalam keluarga yang selalu berurusan dengan masalah hukum,  ia berkesimpulan: “Musuh mencoba untuk menutupi sesuatu, ada sesuatu yang disembunyikan.” Pencarian kepada keadilan dan kebenaran mulai berlangsung dalam jiwa mahasiswa hukum ini.

Majed menghubungi teman baiknya, Tamer, seorang Kristen, menanyakan pertanyaan yang sama, “Tamer, kenapa ada penganiayaan terhadap orang-orang Kristen?”

Teman takut hubungan persahabatan mereka menjadi terpecah karena pertanyaan tersebut, maka ia memberikan Alkitabnya, dan berkata, ”Pada kitab ini, kamu dapat menemukan jawaban-jawaban untuk setiap pertanyaan yang kamu miliki.”

Saat pertama kali Majed membuka Alkitab tersebut ia membaca Injil Yohanes pasal 8 cerita tentang bagaimana Yeshua menangani kasus seorang wanita yang tertangkap basah saat berzinah, ”Saya temukan bahwa Alkitab berisi tentang keadilan, kasih dan pengampunan, lebih dari sekedar tentang hukum.” ia berkata. ”Ini adalah pertaman kalinya saya melihat pengampunan sejati.” 

Sejak itu ia mulai membaca Alkitab bersamaan dengna Kuran untuk memperbandingkan keduanya. Hampir setahun kemudian, ia datang kepada Tamer dan berkata, ”Tamer, saya sekarang tahu apa itu Kristianiti. Kristianiti bukanlah suatu agama. Kristianiti bukanlah pergi ke gereja setiap minggu dan bernyanyi “Haleluya,” “terpujilah YAHWEH” dan begitu lagi sampai Minggu depan. Kristianiti adalah suatu hubungan intim bersama Elohim. Saya percaya dan mau menerima Yeshua ke dalam hatiku.”

Majed berpindah ke dalam keyakinan Kristianiti dan memulai mengorganisasi jemaat bawah tanah yang telah menarik 24.000 (dua puluh empat ribu) jemaat hanya di dalam dua tahun saja. Ini benar-benar gereja bawah tanah, sebab mereka mengadakan ibadah mereka di goa-goa dipinggiran kota Alexandria.
Sementara ia memimpin gereja bawah tanah tersebut, ia berdiri melawan dua Goliat; hukum pemerintah yang tidak adil dan ajaran Kuran, yang dipakai pemerintah untuk membenarkan menganiaya para Kristen melalui bukunya.

Tahun 1998, pagi-pagi sekali  lima tentara dan dua polisi mendobrak pintu rumahnya  dan membawanya ke kantor polisi untuk diinPenganiayaan terhadap orang Kristen di Mesirtrogasi, polisi mencoba mendapatkan dari Majed nama-nama orang Kristen yang berhubungan dengan dirinya. Majed menolak. Polisi mengancam: ”Jika kamu ingin bermain keras, kami dapat bermain keras!”

Dia segera digiring ke Penjara Abu Za’abel di Kairo, suatu tempat yang dikenal di Timur Tengah sebagai  ”Neraka di Bumi.” Dia dipenjara dengan tuduhan perkara membangkitkan revolusi, mencoba merubah agama Mesir dari Islam menjadi Kristianiti dan ”menyembah dan mengasihi Yeshua Ha Mashiah.”

Di Abu Za’abal, nama dan indentitas resminya diganti, agar keluarga dan organisasi kemanusia tidak bisa menemukan dirinya; ini adalah praktek umum petugas penjara tersebut.

Sementara ia dipenjarakan, petugas penjara mengancam. Pada hari yang sama mereka membawa Majed ke bagian bawah penjara dan menyiksa dia selama tujuh hari berturut-turut; setiap hari tingkat siksaan semakin berat.

Pada hari pertama, kembali mereka bertanya siapa nama-nama rekan Kristennya. Majed tetap tutup mulut untuk hal itu. Maka mereka membotaki kepalanya dan menguyurnya dengan air panas dan kemudian air yang sangat dingin. Majed tetap tidak membuka rahasia

Hari kedua, mereka lalu menggantung dia terbalik, kaki diatas kepala dibawah. Dalam posisi seperti ini ia dipukuli dengan ban pinggang, disunduti oleh rokok yang membara dan jempol kuku kakinya dirusak. Majed tidak terguncang.

Hari ketiga, ia dibawah ke sebuah sel dan sementara ia berada di sana dengan segala lukanya, mereka memasukkan tiga anjing  ke dalam sel penjara tersebut. Anjing-anjing ini adalah binatang yang telah dilatih untuk menyerang manusia dan memakan daging manusia.
Ketika ia melihat tiga anjing digiring ke kamar selnya, ia pergi kepojok sel dan duduk disitu menutup wajah dengan tangannya menantikan penderitaan yang akan menimpa dirinya.

Anjing-anjing semakin dekat, namun tiba-tiba keajaiban terjadi, ia tidak lagi mendengar suara-suara mereka. Ia tidak mengerti, apa yang sedang terjadi, maka, “Saya angkat kedua tanganku dari mukaku untuk melihat apa yang sedang terjadi.” Ternyata ketiga anjing tersebut hanya duduk-duduk saja, sekalipun tuan mereka memerintahkan untuk menyerang. Merasa tidak percaya apa yang petugas ini saksikan, ia membawa ketiga anjing itu keluar dan meminta kepada rekannya tiga anjing yang lain. Ternyata peristiwa mujizat itu berulang lagi, bahkan seekor anjing menghampirinya dan mulai menjilati mukanya. [Telah diketahui umum, luka-luka pada kulit akan sembuh segera melalui air liur anjing]. Mereka melihat mujizat Elohim di depan mata mereka terjadi pada pemuda Kristen ini.

Hari keempat, petugas nomor 27, orang yang tinggi besar, memasuki selnya dan berkata, “Dengarkan, berikan nama-nama teman kamu dan saya akan melepaskanmu. Saya akan berikan kamu apa saja yang kamu mau, rumah besar, mobil baru, wanita-wanita cantik? Akan saya berikan!

”Saya terima tawaran kamu!” Majed berkata, ”Namun pertama-tama, saya belum makan selama tiga hari, bawalah makanan dan setelah itu kita bisa bicara.” Ia mendapat makanan.
”Sekarang kamu beri saya tahu nama orang-orang yang bekerja denganmu?” petugas itu berkata.
”Dengar, kelompok kami adalah kelompok yang sangat besar. Saya tidak bisa memberikan semua nama mereka dan saya sendiri tidak bisa mengingat semuanya. Namun, saya akan memberikan nama ketua kami. Kamu bisa tangkap dia dan dia bisa memberikan dengan tepat nama semua anggota.”
”Saya pikir kamu adalah pemimpinya.”
”Bukan tuan, saya hanyalah seorang pelayan,” Majed menjawab
”Nama ketua kami adalah Yeshua Ha Mashiah. Jika Anda bisa menangkap-Nya, tangkaplah.”

Penjaga nomor 27 ini marah besar. Ia menempeleng Majed sehingga terlempar ke tembok dan memerintahkan rekannya untuk membawa Majed ke ruang lainnya untuk  … di salibkan.

“Dalam penghinaan terakhir, para penjaga mencabut pakaianku, lalu mengikat kedua tangan dan kakiku serta leherku ke sebuah balok salib dan membiarkan saya tergantung di kayu salib tersebut selama dua dan setengah (2,5) hari. Diakhir 2,5 hari tersebut, mereka menoreh-noreh bahu sebelah kananku dengan pisau, lalu menaruh lemon (jeruk nipis) dan garam pada daging yang robek tersebut.”

Majed kehilangan kesadarannya, dan ketika ia terbangun ia ternyata ada dirumah sakit. ”Hanya satu hal yang saya ingat saat itu adalah rasa dan bau dari darahku sendiri,” Majed mengingat.

Ia sungguh kehausan saat itu, lalu dalam penglihatan malam, ia melihat Adonai Yeshua datang kepadanya dan memberi minum dari tangan-Nya dan berkata, “Jika kamu minum air-Ku, mengapa kamu masih butuh air yang lain?” Seminggu kemudian dia pulih total.
Seorang  penjaga penjara di rumah sakit itu memberikan informasi kepadanya bahwa langkah berikutnya ia akan ada dieksekusi, jadi ia melarikan diri melalui sebuah jendela belakang rumah sakit.

Pemerintah mengumumkan fatwa 100.000 dollar hadiah bagi kepalanya, ”Wajahku munjul di TV dan di koran-koran, jadi saya tahu bahwa saya tidak dapat tetap tinggal di Mesir,” katanya.
Dengan mengendarai sebuah jet ski ia melintasi Laut Merah, menyeberangi Padang gurun Sinai dan menyerahkan dirinyatah Israel, dimana di Israel yang ditahan selama 16 bulan sementara PBB dan Amnesty Internasional menyelidiki ceritanya sebelum pada akhirnya ia dianugrahi status pengungsi politik dan berimigrasi ke Toronto, Kanada.

[Perlu diingat berada di tahanan Israel bagi orang yang memiliki kasus seperti Majed ini, itu adalah tempat teraman. Hal ini disadari dengan baik oleh Mosab Hassan Yousef, putra dari pendiri dan pemimpin senior Organisasi Hamas, Sheikh Hassan Yousef. Ketika Mosab akhirnya membuka dirinya ke media bahwa ia telah pindah dari pembela Hamas menjadi agen mata-mata Israel, yang membuat pengikut Hamas mencap dia sebagai ”penghianat Islam” dan berita murtadnya Mosab sempat hangat dimedia internasional selama berbulan-bulan, dari pengakuan dirinya sendiri, baik di media maupun di bukunya Son of Hamas kita tahu bahwa Hassan Yousef, ayahnya, masih berada dipenjara Israel, dan Mosab berterima kasih kepada pemerintah Israel untuk keamanan ayahnya.]

Pada kesaksian ini ia berkata, ”Semua hal ini telah merubah kehidupanku. Saya sekarang tidak akan menyerah sebab saya tahu banyak orang sedang melalui itu (aniaya berat yang ia juga pernah alami).” – Setiap tahun, 165,000 orang Kristen dibunuh karena iman-iman mereka, ia memberi gambaran.

Kepada semua pemerintah yang menaniaya orang Kristen, Majed El Shafie menawarkan pesan ini:

”Orang-orang Kristen yang teraniaya mati berjatuhan, tetapi mereka tetap tersenyum. Mereka ada di dalam sebuah tanah pertambangan yang dalam, tetapi mereka memegang lampu YAHWEH, Kalian dapat membunuh pemimpi tersebut, namun kalian tidak akan dapat membunuh mimpinya.”  

Kesaksian serupa:
Hampir 100 Remaja Kristen Koptik Mesir Disiksa Pemerintah
Mark A. Gabriel, Ph.D.: Mengapa saya meninggalkan Islam
Abdullah (Saudi): Dari Neraka, ke Penjara karena Iman Kristennya.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Pakistan: Gadis cacat ditahan atas tuduhan menghina Islam

BBC: Polisi Pakistan telah menahan gadis 11 tahun berpenyakit mental Down syndrome, setelah sekelompok orang-orang yang marah menuduh gadis tersebut merusak beberapa halaman Kuran.  Mereka mendesak gadis Kristen ini ditangkap untuk menerima hukuman mati dan mengancam membakar rumah-rumah orang Kristen diluar ibukota Islamabad, koran lokal berkata.

WND: Rimsha Masih, nama dari gadis ini malang ini, ternyata hanya membakar halaman-halaman “Noorani Qaida,” yakni buku petunjuk yang dipakai untuk belajar dasar-dasar Kuran. Lapor Barnabas Aid (yayasan kemanusia) kepada WND.

Tuduhan ini berawal dari tetangga Rimsha, dan menyebar seperti kebakaran hutan yang tidak terkendali oleh karena tuduhan disebarkan di mesjid-mesjid.

Para orang Islam yang marah besar ini sempat memukul dengan keras gadis ini, keluarganya dan beberapa orang Kristen setempat. Dua rumah Kristen juga dibakar dan beberapa rumah mereka dirusak pagarnya juga pintu-pintu dan jendela-jendela. [Mengapa orang-orang Muslim begitu mudah dihasut dan berbuat dosa atas dasar hasutan? Seorang murid sekolah Alkitab di Sumatra dipukuli oleh masyarakat sampai mati hanya karena membakar kertas jimad bertulisan Arab, di awal th 90an]

Akibat penyalah gunaan hukum penghinaan agama Islam ini, sekarang Rimsha tinggal dipenjara Rawalpindi setelah penangkapannya pada tanggal 16 Agustus.   Lebih dari 800 orang Kristen terpaksa harus meninggalkan rumah mereka demi keselamatan. Untuk pemimpin gereja dan para yayasan kemanusia datang menolong memberikan makanan dan minuman.

Aidan Clay dari International Christian Concern’s Pakistan menyatakan lebih dari 46 orang yang dituduh menghina Islam sejak 1986 sampai 2011 telah terbunuh oleh kekerasan masyarakat yang marah sementara menunggu sidang pengadilan.

“Keadilan akanlah hanya berjalan ketika ratusan Muslim yang menuntut Rimsha dan menyerang rumah-rumah Kristen di Islamabad ditangkap dan diadili,” Clay berkata.

Clay atas nama umat Kristen meminta Presiden Asif Ali Zardari menahan mereka yang terlibat.

Para pembela HAM telah mendorong Pakistan untuk mereformasi hukum-hukum penghinaan kepada Allah (blasphemy) yang kontroversi tersebut, yang mana seorang dapat ada diperjarakan seumur hidup hanya karena menghina Koran.

Kebanyakan dari mereka yang dituduh mengina Allah telah dibunuh oleh orang-orang brutal tersebut, sementara para politikus yang menasehati untuk merubah hukum telah juga jadi sasaran kemarahan.

Tahun kemarin, Shahbaz Bhatti, menteri untuk masalah-masalah kaum minoritas dibunuh setelah meminta mencabut hukum penghinaan tersebut.

Kematiannya tiba hanya beberapa bulan setelah pembunuhan Salman Taseer Gubernur Punjab, yang juga berbicara tentang hal yang sama. Tamat.

Yeshua mengajar orang Kristen: Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. (Matius 5:43-45)

Berdoalah bagi saudara-saudari kita di Pakistan, agar iman mereka semakin kuat kepada Yeshua Ha Mashiah di dalam penganiayaan ini. Dan melalui kejadian ini, kiranya banyak orang-orang Islam dibukakan mata rohani mereka.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Paul, remaja Afrika, mengorbankan dirinya demi keselamatan banyak orang

Kisah nyata seorang anak Afrika yang tertangkap oleh para pemuda bersenjata pada masa perang sipil di Kongo. Artikel ini adalah potongan  dari bab Pendahuluan buku Living Sacrifice yang ditulis oleh Dr. Helen Roseveare. Harapan saya cerita Paul, dan Dr. Helen, ini bisa menjadi kekuatan iman bagi setiap pembaca, khusunya bagi mereka yang hidupnya terancam oleh karena iman percaya mereka kepada Adonai Yeshua, dan mendorong minat  orang lain untuk mencintai dunia misi: mendoakan, mendanai, dan bahkan jika Elohim berkendak memberi diri Anda sendiri sebagai ambassador-Nya. Penjala Baja

Sedikit tentang Dr. Helen Roseveare. Dr. Helen Roseveare (lahir 1925) adalah dokter medis dari Inggris yang bekerja sebagai seorang misionari  melalui WEC (Evangelical Missions Agency) di Kongo, Afika dari tahun 1953-1973. Ia berada di sana menyaksikan sendiri kekerasan dan ketidak stabilan politik yang berbahaya di Kongo. Ibu telah membangun beberapa rumah sakit dan membuka sekolah medis di Kongo sementara ia memberitakan Injil Adonai Yeshua dan melakukan perawatan medisnya. Beliau juga fasih berbahasa Perancis dan bahasa setempat. Pelayanan kehidupannya telah difilmkan: Mama Luka Comes Home.
Buku-buku Dr. Helen yang lain diantaranya:

  • Enough; Digging Ditches: The Latest Chapter of An Inspirational Life
  • Living Faith: Willing to be stirred as a pot of paint
  • Faithfull Women and Their Extraordinary God

Hak-Nya untuk menuntut
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Elohim aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Elohim: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Roma 12:1)

[Kongo dimasa pemberontakan; ora et labora]
Paul, laki-laki Afrika murid sekolah berumum 9 tahun, ditangkap oleh seorang tentara pemberontak dan dipukul pada mukanya, dilempar ke tanah, ditendang dan dipukuli secara brutal dengan ujung pegangan senjata api, menolak untuk memberi informasi kepada intimidasi.

Peristiwa ini terjadi pada masa pemberontakan di Kongo tahun 1964. Paul harus membuat pilihan. Dia dapat melarikan diri, tetapi itu dapat berakibat kepada penangkapan orang-orang lain. Masih kecil sebagaimana ia ada, dia telah harus berpikir dengan cepat dan tepat, harga dari tindakan, mengetahui bahwa alternative untuk melarikan diri menaruh dia dalam posisi bahaya diri sendiri yang besar, tetapi dia tidak bodoh, dan dia tahu itu pastilah juga termasuk sakit fisik. Dia telah melihat orang-orang lain dipukuli, diancam dan sebagainya.

Dia masih dapat mendengar teriakan-teriakan yang menyedihkan dari seorang ibu dan putrinya yang ditangkap oleh para pemberontak di komplek rumah sakit bersalin. Dia telah ada di sekolah pagi itu ketika sebuah truck bermuatan gangster bersenjata dikemudikan kedalam desa itu. Seorang pemuda liar, bermata hitam dengan wajah kosong penuh kebencian, bersenjata tombak, berlari kedalam komplek sekolah, dan memerintahkan semuanya berdiri. Lainnya melakukan yang sama di gereja, pintu sebelah dari kelas Paul. Enam atau lebih lainnya telah menguasai komplek ibu-ibu hamil, klinik anak-anak, ruang-ruang perawatan, diluar unit pelayanan khusus, diseberang rumah yatim piatu.

Keributan, teriakan-teriakan dan kemarahan. Kemudian mereka kembali dengan dua wanita tersebut sebagai tawanan, gadis 16 tahun dengan kelopak mata yang bengkak karena kurangnya tidur bermalam-malam oleh karena ketakutan, dan ibunya, tujuh bulan  dengan anaknya, dalam kesakitan. Mereka dilempar ke dalam truck: kemudian gadis ini dipukuli, dan diintimidasi dengan buruknya dan kemudian diturunkan (dari truck), dipaksa masuk ke dalam kursi truck untuk menuntun para pemberontak ke tempat dimana ayahnya menyembunyikan diri. Ayahnya adalah seketaris dari pemerintah, ”regime terakhir,” sebab itu ditembak oleh regime pemberontak. Sebagaimana truck bergerak dengan kasar, ibu itu terjatuh; dan Paul mendengar teriakan-teriakan belas kasihan ibu tersebut ketika para tentara menendangi ibu dengan tertawa.

Pikiran Paul kembali dengan cepat kepada kejadian lain, satu minggu sebelumnya. Begitu banyak yang telah terjadi sejak itu, itu nampaknya bertahun-tahun lalu. Dia sedang tertidur dengan dua saudara laki-lakinya, ketika dia terbangung oleh  sebuah tembakan senjata disuatu tempat dikegelapan. Dia menegakkan palang pintu dan melihat pintu depan terbuka rusak, dan Susan, satu dari perawat-perawat senior berlari ke dalam rumah, membanting pintu dibelakangnya. Paul berlari dibelakang Susan, sungguh ketakutan, tidak tahu apa yang sedang terjadi. Paul tidak dapat mengikuti Susan. Dia kembali jongkok di tempat tanaman, merintih dan ketakutan, ketika para tentara mencari sekeliling rumahnya, berteriak dan marah. Dia tidak mengerti. Dia hanya tahu itu semuanya jahat, dan tanpa alasan, dan tidak seorangpun aman dari kejahatan mereka.

Selama delapan minggu pertama pemberontakan, tentara-tentara gerilyawan  telah memaksa mundur Tenatara Nasional hampir empat perlima dari Kongo. Semua tentara pemberontak telah diserahkan kedalam kendali dukun-dukun, supaya ”dilindungi” terhadap serangan pelor-pelor tentara pemerintah, yang akan ”merubah menjadi air” karena mereka melompat kedepan di dalam nama pahlawan martir mereka, Patrice Lumumba.

Lalu datang harinya ketika Presiden Kongo menerima  pertolongan dari Kolonel Mike Hoare dan para tentara putuh bersenjata. Ikatan berubah. Disiplin di Tentara Nasional berkembang, moral bangit, dan para pemberontak dipaksa mundur. Perang demi perang meletus, dan ratusan tentara pemberontak terbunuh.

Dalam keputusasaan, tentara gerilya mulai melibatkan anak-anak sekolah laki-laki usia 16 tahun  kedalam pasukannya. Kami melihat truk-truk dikemudikan melalui desa kami, di isi dengan para  remaja bernyanyi ”tentang peperangan.” Jarang sekali yang kembali. kami mendengar berita-berita mengerikan, teriakan perang para fanatik muda ”Mayi – mayi – Lumumba!” disertai teriakan-teriakan kesakitan dari rekan-rekan mereka yang sedang menuju kematian dibabat oleh kekuatan bersenjata yang lebih kuat.

Pada 23 Oktober, para gerilya memengepung 300 murid usia 14 tahun dari sekolah Roma Katolik. Mungkin berikutnya adalah giliran kami. Bagaimana kami melindungi para remaja kami? Kami tidak dapat mengerim mereka pulang sebab separuh dari mereka adalah anak-anak panti asuhan kami. Panti asuhan adalah rumah mereka.

Sebuah rencana kemungkinan dibuat untuk melindungi sebanyak mungkin jika serangan langsung atas sekolah terjadi. Setiap pagi, dua pekerja desa ditunjuk sebagai penjaga. Mereka pergi ke ujung utara dan selatan desa dan bersembunyi disemak-semak pada sisi jalan. Jika mereka menderngar suara kendaraan mendekati, mereka akan meniup pluit tanda bahaya dengan keras. (Saat itu semua kendaraan di wilayah tersebut berada di tangan para pemberontak). Orang pertama di desa yang mendengar peringatan peluit haruslah memukul drum, dan semuanya akan tahu apa yang harus dilakukan seterusnya. Ada sekitar empat menit dari alarm peringatan sampai tibanya kendaraan.

Seorang pengawas ditunjuk seminggu sekali di setiap kelas, tugasnya ialah mengumpulkan semua material sekolah, buku-buku, pensil, kotak-kotak kapur tulis dan penghapus memasukkannya  kedalam keranjang yang  telah tersedia: dan mendorong meja-meja dan kursi-kursi panjang (banches) sembarangan ke dalam bentuk berantakan, supaya nampak bahwa gedung (sekolah) tidak dipakai sejak tahun sekolah yang lalu, empat bulan yang lalu. Lari segera ke rumah saya dengan keranjang-keranjang tersebut, menaruhnya pada lemari, orang terakhir menutup pintu, dan lari mengikuti teman-teman kelas mereka, masuk kedalam hutan – semuanya berada di dalam empat menit periode peringatan.

[Hari pengujian iman bagi Paul]
Suatu hari, tiba-tiba peluit bertiup: drum dipukul dengan peringatan staccatonya: para guru pergi ke hutan bersama dengan para remaja yang mereka bawahi: para pengawas kelas segera ’membereskan’ (menyimpan peralatan sekolah dan memporak-porandakan semua kursi dan bangku) kelas-kelas. Paul, usia sembilan tahun, bertugas sebagai pengawas kelas empat pada minggu itu. Kecil untuk usianya, putra dari orang tua yang menderita penyakit lepra (Yayasan ini juga memiliki rumah perawatan para lepra). Paul kesulitan mencabut pin-pin yang ditusukkan pada papan tulis untuk menaruh gambar-gambar. Ia menarik kursi ke muka kelas namun masih belum terjangkau. Ia mencoba menunpukkan kursi lainnya, sementara ia melihat para pengawas kelas lainnya menyeberangi halaman dengan keranjang-keranjang mereka.

Pada akhirnya Paul siap. Sebagaimana ia sedang meninggalkan gedung sekolah, membawa keranjang dengan tergesa-gesa, empat pengawas lainnya sudah lenyap masuk ke hutan. Dia dapat mendengar suara truk yang mendekati. Kemudian Paul mendengar suara mesin yang mengeras, ketika truk berputar memasuki halaman desa. Dia tertangkap!

Nalurinya berkata kepadanya untuk lepaskan keranjang dan lari.

Namun saat yang bersamaan, pikiran lainnya muncul kedalam pikirannya. Keranjang akanlah ada di tengah-tengah jalan truk, dan itu berisis buku-buku latihan dengan tanggal hari ini! Para tentara akanlah melihat itu, dan mereka akan tahu bahwa sungguh ada sebuah sekolah, meskipun segala usaha untuk melenyapkan fakta itu. Mereka akan mencari sampai menemukan anak-anak … dan Paul kecil cukup sadar untuk mengerti bahwa hukuman sadis akan ditambahkan karena bersembunyi.

Jantung berdebar dengan takut, Paul bergumul sejenak di dalam mengambil keputusan.

Apakah cerita yang ia telah dengar belum lama ini di Sekolah Minggu, tentang gadis usia  12 tahun di negara Cina Komunis? Gadis ini tertangkap oleh para Tentara Merah ketika ia keluar dari rumah, dimana mereka mencurigai sebuah Gereja bawah tanah. Ditahan selama tiga hari untuk intrograsi, dia kadang-kadang telah dibawa keluar dihadapan pengadilan umum. Ditantang secara langsung oleh para tentara, dia tahu itu adalah pertanyaan kehidupan atau kematian.

“Kamu mengasihi Yeshua?”
Siap untuk berkata ”Tidak,” tertangkap di dalam wajah takutnya, gadis ini melihat gadis sebaya usianya di keramaian dengan perlahan membuat tanda salib pada dirinya.
Menguatkan dirinya sendiri, gadis ini dengan bangga menjawab: ”Ya, saya mengasihi Yeshua.”
Dan mereka menembak gadis itu.

”Jika gadis itu dapat melakukannya, saya juga dapat,” kata Paul kepada dirinya sendiri, melalui giginya yang tertutup rapat.
Dia bergumul menyeberang halaman rumah, melewati verandah, dan mendorong keranjang kedalam ruang depan. Tidak ada waktu tersisa: truk sudah tiba. Paul menutup kedua pintu, dan bersandar pada pintu double itu, dia berbalik menghadap para tentara.
Para gerilya keluar dari truk, kasar dan sungguh-sunguh. Mereka menyebar kesemua arah, mencari apa dan siapa yang mereka inginkan. Dua menghampiri rumahku dan berteriak dengan kasar kepada Paul.

”Wanafunzi ni wapi?” (Dimana teman-teman kelasmu?)

Hampir pingsan karena takut, Paul tidak dapat menjawab. Dia menggigit bibirnya untuk menguasai panik yang bertambah. Di dalam hatinya ia berdoa kepada Elohim untuk penguatan menghadapi masalah itu, supaya ia tahu apa yang ia harus lakukan. Hanya berusia sembilan tahun – dapatkah Elohim menolong dia? Dia baru saja mengetahui Adonai Yeshua sebagai Juruselamatnya beberapa bulan yang lalu. Yang pasti tidak ada seorangpun yang dapat menolong dia sekarang. Jari-jari pada tangan kanannya secara panik memutar di dalam kepalan tangan kirinya di belakang punggungnya, membuat tanda tuli dan buta ”P-M:” ”P-M,” sebagaimana bibir-bibirnya menbentuk formula tanpa suara ”piem” terus menerus.

Itu adalah kode rahasia kelompok remajanya Paul, P-M kependekan dari ”Pasipo Mupaka,” bagian dari motto, ”Kwa Yeye pasipo mupaka,” yang berarti ”Bagi DIA (Yeshua Ha Mashiah) tidak ada batasan” [sejenis ”bagi DIA segala sesuatu tidak ada yang mustahil”].

Mereka mencengkram Paul, mendorong dia dengan kasar ke lantai semen, memukuli dan menendangi dia. Menarik dia untuk berdiri, mereka berulang-ulang mengulangi pertanyaan mereka dengan marah.

Tiba-tiba Paul tahu apa yang ia harus lakukan. Pikirannya jernih, ketakutannya telah hilang. Jackie, laki-laki dari kelasnya tuli-bisu yang hanya dapat berkomunikasi melalui suara yang tidak jelas dan gerakan tangan. Paul pura-pura menjadi Jackie, gerakan mulut yang menghasilkan suara yang tidak jelas menjawab para tentara.

”Jangan coba-coba menghina kami,” mereka berteriak dalam kemarahan, mendorong Paul kembali ke lantai semen dan dengan kasar menendanginya di dalam keputusan asaan mereka. ”Ceritakan pada kami dimana mereka bersembunyi.”

Sebagaimana mereka menarik Paul untuk berdiri, anak laki ini, diisi dengan keberanian yang baru, kembali melakukan peragaan yang sama.

”Dibawah nafasku,” Paul bercerita kepadaku kemudian, ”saya terus mengulangi ’P-M, P-M, P-M,’ untuk mengingatkan diriku sendiri bahwa Yeshua mengasihi aku begitu besar sehingga Dia mati bagiku, sehingga saya aku dapat melewati segala sesuatu yang mereka lakukan, demi Dia.”

Tiba-tiba seorang tentara berkata: ”Kita membuang-buang waktu. Anak laki-laki ini pastilah ada tuli-bisu. Dia tidak dapat menolong kita.”

Mendorong Paul kebelakang pintu-pintu yang tertutup, mereka meninggalkan verandah bergabung dengan teman-teman mereka yang kembali dari dari berbagai arah. Dua kembali dari bangungan-bangunan sekolah. ”Tidak ada sekolah di sini. Tempatnya dalam kondisi berantakan, dan nampaknya sudah tidak digunakan selama berbulan-bulan.”
Naik ke truk, mereka mengemudi pergi.

Kembali dari rumah sakit dimana saya telah bertugas, saya datang masuk kerumahku melalui pintu belakang. Memasuki ruang duduk, saya terkejut melihat pintu double tertutup.

Ketika saya membuka pintu-pintu tersebut, Paul jatuh kedalam ruangan. Dia sudah dipukuli dengan berat, dan sangat gemetar. Saya mengangkat dan membawa dia ke sebuah sofa. Mendapatkan minuman panas untuk kami berdua, saya bertanya kepada dia apa yang telah terjadi. Dengan perlahan-lahan dia menyingkirkan coklatnya dan bercerita kepadaku. Lalu melihat kepadaku, dia bertanya:

“Sudahkan para tentara pergi, dokter?”
”Ya Paul, mereka sudah pergi.
”Apakah mereka menemukan anak-anak sekolah lainnya?”
”Tidak Paul, mereka tidak menemukan yang lainnya.
”Apakah saya telah menyelamatkan mereka dokter?”
“Ya Paul, kamu telah menyelamatkan mereka.”

Lalu keheningan terjadi sejenak. Melirik kepadaku, anak laki ini berkata dengan sederhana dan sangat tulus berkata: ”Tidak dokter, itu sungguh bukan saya, benarkan?” Itu adalah Adonai Yeshua di dalam saya.”

[Paul bertemu Yeshua; Dr. Helen juga mengalami hal serupa; bagaimana Elohim mengajar Dr. Helen belajar menghadapi aniaya]

Paul sudah mengenal Adonai Yeshua sebagai temannya dan Juruselamatanya hanya pada waktu yang singkat sebelumnya. Pada sebuah Youth Rally, penginjil bercerita bahwa Adonai kita akan kembali lagi sebagai Raja dan Hakim. Penginjil ini bertanya kepada murid-murid, apakah mereka telah siap bertemu dan menyambut Adonai dengan sukacita , atau mereka mencoba melarikan diri dan menyembunyikan wajah mereka dengan sikap malu.

”Apakah kamu ada sesuatu di hati kalian atau kehidupan kalian yang membuatmu akan ada malu, jika Adonai Yeshua datang hari ini?” tanya penginjil itu kepada murid-murid.

Paul pulang kerumah tanpa suara sama sekali, disertai perasaan yang kacau. Paginya, ketika ayahnya membaca Alkitab  dan berdoa dengan keluarga sebelum pergi bekerja, Paul mulai menangis, dan tanpa tertahan ia berkata: ”Saya tidak akan dapat bertemu Dia: saya pastilah akan malu!”

Ayahnya menenangkan Paul, dan meminta padanya untuk menerangkannya. Kemudian, melalui dorongan semangat dari kedua orang tuanya, Paul mengaku kepada Yeshua semua yang ada di dalam hatinya, dan meminta Elohim mengampuninya, sehingga Yeshua dapat menyelamatkannya dan Ia dapat hidup di dalam hatinya.

Sekarang ketika test itu tiba, dihadapkan dengan para tentara pemberontak yang sadis, Paul tidak ragu-ragu. Paul telah menemukan jalan bagaimana mengungkapkan kepada Elohim kasihnya untuk Elohimnya.

  • Berhakkah Elohim memohon dari Paul untuk berkehendak mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatakan teman-teman sekolahnya?
  • Berhakkah Dia memohon sejenis demontrasi kasih seperti itu?
  • Dapatkah seorang mempertanyakan hak Elohim atau tujuan dan motive dasar Elohim?
  • Mungkin Elohim tidak menuntut  demontrasi dari kasih, tetapi hanya menawarkan Paul kesempatan berharga untuk membagikan kasihnya?

Elohim sendiri begitu mengasihi Paul sehingga Ia telah memberikan Putra-Nya yang tunggal untuk mati menggantikan tempatnya untuk menebus Paul: sekarang  mereka (Elohim dan Paul) telah bersama-sama telah mendemontrasikan kasih tersebut untuk orang lain.

Sesaat saya telah merasakan hal yang sama, pada malam ketika tentara pemberontak pertama kali menangkap saya. Dipukuli, didorong ke lantai, ditendang- gigi patah, mulut dan hidung robek, tulang-tulang dada sakit- dikendalikan dengan todongan pistol ke dalam rumahku, dihina dan diancam. Itu adalah malam yang sangat gelap. Untuk sejenak, saya merasa Elohim telah gagal pada diriku. Dia dapat melangkah dan mencegah semua itu. Dia dapat menyelamatkan keluar dari tangan-tangan mereka. Mengapa Dia tidak berbicara?
Mengapa Dia tidak campur tangan?
Dan dalam keputusasaan, saya hampir berteriak melawan Dia: ”Itu terlalu besar untuk ditanggung!”

Namun kasih-Nya untuk daku membayar hidup-Nya sendiri. Dia memberi diri-Nya sendiri, dalam korban penebusan yang layak (sekali untuk selamanya) di Kalvary. Dia begitu mengasihi sehingga Dia memberikan segalanya. Pengorban-Nya adalah ungkapan kasih-Nya yang besar.

Di dalam kegelapan dan kesendirian, Dia bertemu dengan aku. Dia ada disana, mulia, agung, Elohim yang mahakuasa. Kasihnya membungkus aku. Tiba-tiba ”Mengapa?” jatuh tersingkir dari diriku dan damai yang sangat besar mengalir masuk.

”Ini semua bukanlah penderitaanmu: mereka tidak memukulimu. Ini semua adalah penderitaan-Ku: semua yang Aku minta dari mu adalah meminjam tubuhmu.”

  • Dapatkah saya melihat ”pengorbanan-pengorbanan” kecil di dalam terang Pengorbanan besar Kalvari dimana Ha Mashiah telah memberi semuanya (hormat, kemulian, dan bahkan nyawa-Nya) untuk saya?
  • Dapatkah saya melihat harga yang nampak kecil dibanding kepada kenyataan keuntungan (upah sorgawi)?
  • Apakah saya menerima hak-Nya untuk menuntut kesedianku membayar harga sedemikian rupa, supaya masuk kedalam kelayakan dan kesukaan ada dipakai di dalam tujuan-Nya?

Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” (Yohanes 14:21)

Jawab Yeshua: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, YAHWEH, Elohim kita, YAHWEH itu esa.
Kasihilah YAHWEH, Elohimmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” (Markus 12:29-31; Lihat Ulangan 6:4 dan Imamat 19:18).

Dr. Helen Rosseveare bercerita tentang pelayanannya di Kongo dan motifnya:

 

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja

Narapidana Korea Utara: Ibu-Ibu Membunuh Anak-anak Untuk Survive

Christian Broadcasting Network (CBN.com) mewawancarai seorang ibu yang berhasil melarikan diri dari kamp kerja paksa Korea Utara setelah 28 tahun mengalami dan menyaksikan sendiri kejahatan pemerintah Komunis Korea Utara. Diterjemahkan dari artikel aslinya: Inside N. Korea’s Prisons: Moms Kill Children to Survive. Wawancara TV dapat dilihat pada sumbernya.

Seoul – Korea Selatan. Bertemu dengan seorang wanita yang telah menyaksikan dan mengalami kejahatan yang susah untuk dibicarakan dan ia bicara tentang hal itu.

Untuk 28 tahun, Kim Hye Sook telah menderita sebagai seorang tawanan di dalam kamp konsentrasi tertua Korea Utara. Dia telah menyaksikan eksekusi (hukuman mati) setiap hari, kelaparan missal, dan ibu-ibu membunuh anak-anak mereka untuk survive (dapat tetap hidup).

Kim telah memberi kemurahan hati kepada CBN News berita televise Amerika pertama untuk mewawancarainya. Kami harus memperingati kalian bahwa gambar-gambar dan isi dari laporan ini tidak cocok untuk anak-anak.

Penderitaan di penjara.
Kim kemungkinan adalah narapidana yang melayani terlama pernah berhasil melarikan diri dari Korea Utara.

”Saya masuk ke kamp penjara ketika saya berumun 13 tahun dan berhasil keluar ketika saya 41,” wanita ini berkata.

Tahun itu adalah 1975. Suatu pagi petugas-petugas pemerintah Korut (Korea Utara) menyerbu masuk rumahnya dan menarik keluar semua anggota keluarganya-

”Semua keluargaku masuk penjara,” dia mengingat. ”Sebagian dibawa ke gunung-gunung; lainnya ditaruh di kamp kerja (paksa) yang berbeda-beda, semua (kesalahan) disebabkan oleh satu kesalahan dari kakek saya: dia melarikan diri ke Korea Selatan di waktu Perang Korea. [Perang Korea Utara (komunis) melawan Selatan (demokrasi). Telah diketahui secara umum bahwa pemerintah Korea Utara memenjarakan anak dan cucu yang tidak tahu apa-apa dari seorang yang dianggap penentang pemerintah].

Pusat Pendidikan Ulang No. 18 (’Rehabilitasi’ cuci otak)
Kim dan beberapa keluarganya dikirim ke Pusat Pendidikan Ulang No. 18, juga dikenal sebagai ”Bukchang.”

Saya telah kehilangan 7 anggota keluarga saya, termasuk nenek saya, ibu, saudara laki-laki, dan suami saya,” Kim berkata.

Hari ini ia memakai kaca mata  gelap untuk menghindari indentitasnya. ”Saya memakai kaca-mata oleh sebab saya memiliki keluarga di kamp,” dia berkata. ”Dua saudari perempuan dan satu laki-laki masih tetap di sana.”

Bukchang menampung sekitar 50.000 narapidana. Itu adalah satu dari enam kamp penjara politik yang dioperasikan oleh pemerintah Korut.

Group-group Hak asasi manusia memperkirakan sekitar 200.000 orang Korea Utara menderita dibelakan tembok-tembok dari kamp-kamp tahanan rahasia tersebut.

”Saya menghadiri kelas-kelas indoktrinasi,” Kim berkata. ”Sore harinya anak-anak dikirim untuk mendorong grobak-grobak batu bara, sering tanpa (mekanik) gigi pengaman.”

Diperlakukan Seperti Budak-budak
Kim berkata ia dipaksa bekerja 16 sampai 18 jam hari-hari kerja tanpa istirahat.

”Orang-orang meninggal di pertambangan-pertambangan. Ada beberapa pertambangan yang hancur, jadi banyak yang luka-luka, beberapa kehilangan kaki mereka, banyak yang terkubur hidup-hidup,” ia mengingat. “ Itu sungguh menakutkan.”

“Saya diperlakukan seperti seorang budah dan bahkan lelbih buruk laig. Saya sudah tidur. Itu tidak berprikemanusiaan. Tetapi saya tidak pernah menggerutu. Saya mengikuti semua peraturan. Saya harus menemukan cara untuk surveve

Para napi tidak punya cukup makanan untuk makan. Kim berkata sebuah keluarga  yang terdiri dari 7 biasanya hanya diberikan 10 pound jagung setiap bulan.

Kelaparan Yang menyebar
”1996 mengerikan. Pada tahun ini banyak orang yang meninggal karen kelaparan. Tidak ada yang untuk dimakan. Tidak ada rumput, tidak ada tumbuhan hidup.” Kim berkata.

”Kamu melihat kesekeliling dan terdapat tubuh-tubuh berserakan di seluruh kamp. Mula pertama saya terkejut tetapi kemudian menjadi tidak perduli pada semua itu.”

CBN bertanya kepada Kim apakah ada hari-hari ia merasa tidak lagi gunanya untuk hidup, perasaan ingin bunuh diri.

”Ya, saya telah berpikir untuk melakukan bunuh diri ratusan ribu kali di dalam 28 tahun itu,” ia mengakui. ”Tetapi kamp di buat sedemikian rupa bahwa selalu ada seseorang mengawasi kamu. Setiap napi ditugaskan mengawasi 4 atau 5 napi lainnya. Jadi jika sesuatu terjadi, napi lainnya akan melaporkan ke para penjaga sebab mereka tidak ingin mendapat masalah untuk mereka sendiri.

Hukuman mati Dimuka Umum.
Kim bercerita kepada CBN News bahwa ia menyaksikan hukuman mati dimuka umum yang tidak terhitung banyaknya.

”Sering para napi dibunuh hanya karena masalah yang sepele seperti mencuri makanan. Para petugas selalu mengumpulkan para napi lainnya untuk menonton hukuman mati tersebut. Itu suatu bentuk intimidasi. Tujuannya untuk memberikan ketakutan kepada para napi.”

Mungkin yang paling tidak enak bagi Kim adalah teman-teman napi membunuh anak-anak mereka untuk menghentikan kelaparan.

Ibu-ibu Membunuh Anak-anak
“Suatu waktu seorang ibu menaruh putrinya yang berumum 9 tahun kedalam kuali besi dan memasaknya. Gadis ini terlalu besar untuk kuali tersebut, ibu tersebuh harus memotong kaki-kakinya dan kepalanya untuk tubuhnya dapat masuk ke kuali tersebut.”

“Kejadian lainnya, seorang ibu membunuh putranya yang berumum 16 tahun, memotong-motong putranya kedalam potongan-potongan dan membawa potongan tesebut ke toko penjagalan untuk menukarnya dengan jagung.”

Kim berkata bahwa berbicara hal ini secara terperinci tidaklah mudah. “Itu susah berbicara tentang hal itu tetapi saya ingin dunia melelihat gambar-gambar ini dan mendengar kesaksian saya,” wanita ini berkata.

Retold in Tears
Dia melarikan diri dari Bukchang tahun 2003. Cerita lengkapnya dijaga rahasia untuk alas an-alasan keamanan. Sekarang wanita ini hidup di Korea Selatan.

Musim Panas Kim telah menerbitkan bukunya dipanggil, A Concentration Camp Retold in Tears. Didalamnya terdapat gambar-gambar yang ia telah gambar dari ingatan kesaksian horror tersebut.

“Saya mengucap syukur saya ada hidup tetapi saya tidak dapat melupakan kenyataan bahwa saya telah kehilangan separtuh dari kehidupan saya,“ wanita ini berkata.

Runtuhkan Tembok-tembok

Pada bulan September, Kim telah terbang ke Washington D.C. , untuk bersaksi dihadapan suatu pertemuan kongres Amerika Serikat tentang penyabetan, kelaparan, dan penyiksaan yang brutal yang ia telah saksikan di kamp Bukchang.

“Pesan saya untuk dunia adalah bahwa kita harus menutup kamp-kamp kerja (paksa) tersebut dan membebaskan para napinya,” Kim bersaksi

“Setiap hari orang-orang meninggal. Setiap hari orang-orang membunuh satu sama lain. Saya adalah bukti  hidup bahwa tidak ada hak-hak manusia di Korea Utara.”

Pelanggaran Hak Asasi Manusia di Korea Utara tergolong terburuk di dunia. Laporan lebih lengkap tentang pelanggaran HAM di Korea Utara dapat dilihat di sini: CSW.com Voice for the Voiceless.

Hak cipta dari artikel ini dimiliki oleh penjalabaja.wordpress.com. Artikel ini boleh diperbanyak dengan syarat alamat blog disertakan dengan lengkap dan bukan untuk tujuan komersial. Persiapkan Jalan Bagi Raja